• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Pemberian Pakan Buatan Sendiri, Pabrik dan Alami terhadap Bobot Ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Pemberian Pakan Buatan Sendiri, Pabrik dan Alami terhadap Bobot Ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.)"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Lampiran 1. Pakan Ikan

Berbagai jenis pakan ikan yang diberikan terhadap ikan gurami :  Pakan Buatan Sendiri

Pakan Buatan Pabrik

(3)

Lampiran 2. Tabel Hasil Perhitungan Kadar Protein

Data diatas diperoleh dengan menggunakan rumus:

% N = − L NHC ,

 Pakan Buatan Sendiri (Nomor 1 pada lampiran 2)

%N = , − , L , N ,

(4)

Lampiran 3. Tabel Hasil Perhitungan Kadar Abu N

O

Sampel Berat sampel (g)

Berat cawan porselen (g)

Berat cawan porselen + abu (g)

Kadar abu (%)

1. A 2 21,17 21,37 10

2. B 2 22,81 22,97 8

3. C 2 21,23 21,33 5

Catatan : A = Pakan Buatan Sendiri B = Pakan Pabrik

C = Pakan Alami

Kadar abu diperoleh dengan rumus:

Kadar Abu = e e e + − e e e

e e x %

 Pakan Buatan Sendiri ( Nomor 1 pada lampiran 3)

Kadar abu = , − , × %

= 10%

(5)

Lampiran 4. Tabel Hasil Perhitungan Kadar Air

NO Sampel Ws (g) Wo (g) Wi (g) Kadar air (%)

1. A 2,0207 55,9579 55,8669 4,5

2. B 2,0030 57,5934 57,5080 4,3

3. C 2,0156 44,9724 43,2876 83,6

Catatan : A = Pakan Buatan Sendiri B = Pakan Pabrik

C = Pakan Alami

Data diatas diperoleh dengan menggunakan rumus:

% Kadar Air = W +W − Wi

W x 100%

Keterangan :

- Wo : Berat cawan porselen - Ws : Berat Sampel

- Wi : Berat cawan + Sampel setelah dikeringkan  Pakan Buatan Sendiri ( Nomor 1 pada lampiran 4)

% Kadar Air = , + , − ,

, x 100%

= 4,5%

(6)

Lampiran 5. Tabel Hasil Perhitungan Kadar Karbohidrat NO Sampel Kadar air

(%)

Kadar abu (%)

Kadar lemak (%)

Kadar Protein (%)

1. A 4,5 10 6,631 32,655

2. B 4,3 8 4,917 30,992

3. C 83,6 5 8,126 38,653

Catatan : A = Pakan Buatan Sendiri B = Pakan Pabrik

C = Pakan Alami

Penetapan kadar karbohidrat dilakukan dengan metode carbohidrat by difference :

Kadar karbohidrat = 100% - (kadar air + kadar abu + kadar lemak + kadar protein)  Pakan Buatan Sendiri (Nomor 1 pada lampiran 5)

Kadar karbohidrat = 100% - (4,5 + 10 + 6,631 + 32,655)

= 46,22%

(7)

Lampiran 6. Tabel Hasil Perhitungan Kadar Lemak

No Sampel Ws (g) Wo (g) Wi (g) Kadar Lemak (%) 1 A 2,0207 122,6282 122,7622 6,631 2 B 2,0030 122,6352 122,7337 4,917 3 C 2,0156 122,6365 122,8003 8,126

Catatan : A = Pakan Buatan Sendiri B = Pakan Pabrik

C = Pakan Alami

Data diatas diperoleh dengan menggunakan rumus: % Kadar Lemak = ��−��

� x 100%

Keterangan :

- Wo : Berat Labu Alas - Ws : Berat Sampel

- Wi : Berat Labu Alas + Berat Ekstrak Sampel  Pakan Buatan Sendiri (Nomor 1 pada lampiran 6)

% Kadar Lemak = , − ,

, x 100%

= 6,631%

(8)

Lampiran 7. Tabel Hasil Perhitungan Kadar Serat

No Sampel Ws (g) Wo (g) Wi (g) Kadar Serat (%)

1 A 2,0207 1,0840 1,1740 4,453

2 B 2,0030 1,0534 1,133 3,974

3 C 2,0156 1,1046 1,1724 3,363

Catatan : A = Pakan Buatan Sendiri B = Pakan Pabrik

C = Pakan Alami

Data diatas diperoleh dengan menggunakan rumus:

% Kadar Serat = ��−��

� x 100%

Keterangan :

- Wo : Berat Kertas Saring - Ws : Berat Sampel

- Wi : Berat Kertas Saring + Berat Residu  Pakan Buatan Sendiri (Nomor 1 pada lampiran 7)

% Kadar Serat = , − ,

, x 100%

= 4,453%

(9)

Lampiran 8. Perhitungan Uji Biologis Pada Ikan

(10)

Lampiran 9. Bobot Ikan Sebelum dan Sesudah Pengamatan Untuk Pakan Buatan Sendiri, Pakan Buatan Pabrik dan Pakan Alami

 Ikan gurami dengan pemberian pakan buatan sendiri

Gambar A. Ikan gurami sebelum Gambar B. Ikan gurami sesudah perlakuan (8,9 gram) perlakuan (17,5 gram)  Ikan gurami dengan pemberian pakan buatan pabrik

Gambar A. Ikan gurami sebelum Gambar B. Ikan gurami sesudah perlakuan (15,5 gram) perlakuan (27,3 gram)  Ikan gurami dengan pemberian pakan alami

(11)

Lampiran 10. Standart Makanan Ikan

No. Nutrisi Persentase

1. Protein 30%-35%

2. Lemak Min 3%

3. Serat kasar Max. 4%

4. Abu Max. 12%

5. Air Max. 12%

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Afrianto, E dan E. Liviawati. 2005. Pakan Ikan. Yogyakarta : Kanisius.

Agung. 2007. Panduan lengkap Budidaya Gurami. Jakarta : Agromedia Pustaka. Alam, J. 2010. Effects of some Artificial Diets on the Growth Performance,

Survival Rate and Biomass of the Fry of Climbing perch. Journal of Nature and Science. Bangladesh : University of Dhaka.

Buwono, I. 2010. Kebutuhan Asam Amino Esensial Ransum Ikan. Yogyakarta : Kanisius.

Dani, N. 2005. Komposisi Pakan Buatan untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Kandungan Protein Ikan Tawes (Puntius javanicus Blkr.). Jurnal SAINS. Vol.7. Surakarta : Universitas Sebelas Maret.

Darmono. 1993. Tatalaksana Usaha Sapi Kereman. Yogyakarta : Kanisius.

Dharmawan, B. 2010. Usaha Pembuatan Pakan Ikan Konsumsi. Yogyakarta : Pustaka Baru Press.

Djarijah, A. 1996. Pakan Ikan Alami. Yogyakarta : Kanisius.

Khairuman. 2002. Membuat Pakan Ikan Konsumsi. Jakarta : Agromedia Pustaka. Khairuman. 2003. Pembenihan dan pembesaran Gurami secara Intensif. Jakarta :

Agromedia Pustaka.

Khairuman. 2008. Peluang Usaha Budidaya Cacing Sutra. Jakarta : Agromedia Pustaka.

Kordi, K. 2004. Pakan Ikan : Formulasi, Pembuatan dan Pemberian. Jakarta : PT Perca.

Kordi, K. 2014. Panen Untung dari Akuabisnis Ikan Gurami. Yogyakarta : Andi Publisher.

Lingga dan Susanto. 1989. Ikan Hias Air Tawar. Jakarta : Penebar Swadaya. Lukito, A. 2007. Panduan Lengkap Lobster Air Tawar. Jakarta : Penebar

Swadaya.

Mujiman, A.1991. Makanan Ikan. Jakarta : Penebar Swadaya.

(13)

Olele, N. 2011. Comparative Study on the Use of Natural and Artificial Based

Rasidi. 1998. Formulasi Pakan Lokal Alternatif untuk Unggas. Jakarta : Penebar Swadaya.

Ricky, B. 2008. Usaha Pemeliharaan Gurami (Osphronemus gouramy sp.). Jakarta : Penebar Swadaya.

Sahwan, M.F. 2002. Pakan Ikan dan Udang. Jakarta : Penebar Swadaya.

Santi. 2004. Studi Pembuatan Pakan Ikan dari Campuran Ampas Tahu, Ampas Ikan, Darah Sapi Potong dan Daun Keladi yang disesuaikan dengan Standar Mutu Pakan Ikan. Prosiding Skripsi. Medan : Universitas Sumatera Utara.

Sarwono, B dan Yan P. S. 2003. Membuat Aneka Tahu. Jakarta : Niaga Swadaya.

Sudarmadji, S. 1996. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta : Liberty.

Suharno, B. 1998. Beternak Itik secara Intensif. Jakarta : Niaga Swadaya.

Sumantadinata, K. 1983. Pengembangbiakan Ikan Peliharaan di Indonesia. Jakarta : Sastra Hudaya.

Sumeru, S. 1992. Pakan Udang Windu (Penaeus Monodon). Yogyakarta : Kanisius.

Suryana, D. 2013. Membuat Tepung. Yogyakarta : Andi.

Susanto, H. 2000. Budidaya Ikan Gurame. Yogyakarta : Kanisius.

Tiana, H.A. 2004. Memilih dan Membuat Pakan Tepat untuk Koi. Jakarta : Agromedia.

Tim Lentera. 2002. Pembesaran Ikan Air Tawar di Kolam Air Deras. Jakarta : Agromedia Pustaka.

Widiyati, E. 1996. Limbah untuk Pakan Ternak. Surabaya : Trubus Agrisarana. Winarno, F. G. 1984. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : Gramedia.

(14)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Alat

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : - Akuarium

- Aerator

- Ayakan Fisher

- Blender National

- Cetakan

- Kjeldhal apparatus Gallenkamp

(15)

3.2Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : - Ampas ikan teri

- Ampas tahu - Darah sapi potong - Daun keladi - Tepung tapioka - Cacing sutra - Pelet pabrik - Ikan gurami - Aquades - Selenium

- H2SO4(p) 98% p.a (E-Merck)

- NaOH pellet

- H3BO3 3% p.a (E-Merck)

- Indikator tashiro

- HCl(p) 37% p.a (E-Merck)

- n – Heksan p.a (E-Merck)

- Etanol p.a (E-Merck)

(16)

3.3Prosedur Penelitian

3.3.1 Pembuatan Larutan

3.3.1.1 Pembuatan Larutan NaOH 30%

Sebanyak 75 g NaOH pellet dilarutkan dengan 200 ml aquadest dalam beaker glass, diaduk hingga larut, dimasukkan ke dalam labu takar 250 ml, ditambahkan dengan aquadest hingga garis tanda, dihomogenkan.

3.3.1.2 Larutan H3BO3 3%

Sebanyak 3 g Kristal H3BO3 dilarutkan dengan 75 ml aquadest dalam beaker

glass, diaduk hingga larut, lalu dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml, ditambahkan dengan aquadest hingga garis tanda, dihomogenkan.

3.3.1.3 Larutan HCl 0,1 N

Sebanyak 0,92 ml HCl(p) 37% dilarutkan dengan 75 ml aquadest dalam beaker

glass, diaduk hingga larut, lalu dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml, ditambahkan dengan aquadest hingga garis tanda, dihomogenkan.

3.3.1.4 Larutan H2SO4 1,25%

Sebanyak 3,25 % ml H2SO4(p) 98% dilarutkan dengan 200 ml aquadest dalam

beaker glass, diaduk hingga larut, lalu dimasukkan ke dalam labu takar 250 ml, ditambahkan dengan aquadest hingga garis tanda, dihomogenkan.

3.3.1.5 Larutan NaOH 3,25 %

(17)

3.3.2 Penyiapan Sampel

Ampas tahu, ampas ikan teri, daun keladi dan darah sapi potong masing-masing dikeringkan. Setelah kering dihaluskan dan diayak dengan ayakan 100 mesh hingga diperoleh tepung ampas tahu, tepung ikan, tepung daun dan tepung darah.

3.3.3 Pembuatan Pelet Ikan

Diambil 25 g tepung ampas tahu, 25 g tepung ikan, 25 g tepung daun, 20 g tepung darah dan 5 g tepung tapioka, dicampur lalu diaduk dan ditambahkan aquadest perlahan-lahan hingga merata (homogen). Setelah diperoleh adonan yang rata, lalu dilakukan pencetakan berbentuk pelet. Lalu dikeringkan dalam oven dengan suhu 60 oC. Setelah kering pakan dianalisa kadar protein, kadar abu, kadar air, kadar karbohidrat, kadar lemak, dan kadar serat kasar.

3.3.4 Penentuan Kadar Protein

Pelet ditimbang sebanyak 1 g dan dimasukkan ke dalam labu kjeldahl 500 ml. Ditambahkan 0,2 g selenium dan 15 ml H2SO4(aq) 98%. Dipanaskan diatas

kjeldahl apparatus sampai larutan menjadi jernih kehijauan (sekitar 2 jam).

Didinginkan kemudian dimasukkan ke dalam labu alas lalu ditambahkan 100 ml aquadest kemudian ditambahkan NaOH(aq) 30% sampai menjadi basa. Didestilasi selama beberapa menit dan ditampung destilat dalam erlenmeyer yang berisi H3BO3 3% dan indikator tashiro sampai larutan bewarna hijau. Dititasi larutan

dengan HCl 0,1 N sampai larutan bewarna ungu. Dicatat volume HCl 0,1 N yang terpakai sebagai V1. Dilakukan titrasi untuk blanko yaitu titrasi asam borat tanpa

adanya NH3. Dicatat volume sebagai V2.

3.3.5 Penentuan Kadar Air

(18)

3.3.6 Penentuan Kadar Abu

Ditimbang pelet sebanyak 2 g dalam sebuah cawan porselen yang telah diketahui beratnya. Dikeringkan di dalam oven. Diabukan di dalam tanur pengabuan pada suhu maksimum 600 oC selama 3 jam. Didinginkan dalam desikator. Kemudian

ditimbang hingga diperoleh bobot tetap.

3.3.7 Penentuan Kadar Karbohidrat (by difference)

Penentuan Karbohidrat secara by difference dihitung sebagai 100% dikurangi kadar air, abu, lemak, dan protein.

3.3.8 Penentuan Kadar Lemak

(19)

3.3.9 Penentuan Kadar Serat

Dimasukkan 2 gram pelet yang telah dihilangkan kandungan lemaknya dengan n-heksan menggunakan metode soxlet selama 2 jam kedalam beaker glass. Ditambahkan 50 ml H2SO4(aq) 1,25% dan didihkan selama 30 menit sambil ditutup

dengan cawan petri/kaca arloji. Ditambahkan 50 ml NaOH(aq) 3,25% dan didihkan

selama 30 menit sambil ditutup dengan kaca arloji. Disaring dengan kertas saring whatman no 42. Dicuci dengan H2SO4(aq) 1,25% yang telah dipanaskan panas.

Dicuci dengan aquadest panas. Dicuci dengan etanol 96%. Dimasukkan ke dalam cawan timbang yang telah diketahui beratnya. Dikeringkan di dalam oven pada suhu 105oC. Didinginkan di dalam desikator. Ditimbang sampai berat konstan. Dihitung kadar seratnya.

3.3.10 Uji Biologis terhadap Ikan Gurami

(20)

3.4 Bagan Penelitian

3.4.1 Skema Penelitian

Pembuatan Pelet Ikan

Pakan Buatan Sendiri

Kadar

Protein Kadar Air KadarAbu

Kadar Karbohidrat

Kadar

Lemak KadarSerat Biologis

(21)

3.4.2 Pembuatan Pelet Ikan

25 g Tepung ikan 25 g Tepung ampas tahu 25 g Tepung daun 20 g Tepung darah 5 g Tepung tapioka

100 g Sampel

Dicampur

Ditambah 200 ml air

Dibuat adonan hingga homogen

Adonan tepung

Dicetak bentuk pelet

Pelet

Dikeringkan dalam oven dengan suhu 60o C

Hasil

Kadar

Protein Kadar Air

Kadar Abu

Kadar Karbohidrat

Kadar

(22)

3.4.3 Penentuan Kadar Protein

1 g Pelet

Dimasukkan ke dalam labu kjeldahl Ditambahkan 0,2 g selenium

Ditambahkan 15 mL H2SO4(p) 98% Dipanaskan di atas kjeldahl apparatus

Larutan Bening Kehijauan

Didinginkan

Dimasukkan ke dalam labu alas Ditambahkan 100 mL aquadest

Ditambahkan NaOH(aq) 30% hingga menjadi basa Didestilasi selama beberapa menit

Ditampung destilat dalam erlenmeyer yang berisi H3BO3 3% dan indikator tashiro

Larutan Hijau

Dibilas ujung kondensor dengan aquadest Dititrasi dengan larutan standard HCl 0,1N

Larutan Ungu

Dihitung %N Dihitung %P

(23)

2 g Pelet

Dikeringkan dalam oven pada suhu 106 oC selama 3 jam

Didinginkan di dalam desikator Ditimbang

Dihitung kadar airnya

Hasil

2 g Pelet

Dimasukkan kedalam cawan porselen yang telah diketahui beratnya

Dipanaskan dalam tanur pada suhu 600 oC selama 3 jam hingga diperoleh abu berwarna keputih

Abu

Didinginkan dalam desikator

Ditimbang

Diulangi sampai diperoleh berat

Dihitung kadar abunya

Hasil

3.4.4 Penentuan Kadar Air

(24)

3.4.6 Penentuan Kadar Karbohidrat

Berat Aliquot (100%)

dikurangkan kadar protein (%)

dikurangkan kadar lemak (%)

dikurangkan kadar air (%)

dikurangkan kadar protein (%)

(25)

3.4.7 Penentuan Kadar Lemak

Dimasukkkan ke dalam beaker glass

Ditambahkan 30 ml HCl(aq) 25% dan 20 ml aquades

Ditutup beaker glass dengan kaca arloji

Didihkan selama 15 menit

Disaring dalam keadaan panas dan dicuci dengan akuades panas

Dikeringkan kertas saring dan isinya pada suhu 100 - 105 oC

Dibungkus dengan kertas saring

Dimasukkan ke dalam alat soklet

Diekstraksi dengan larutan n-heksan selama 2-3 jam pada suhu 80 oC

Didestilasi larutan n-heksan dari ekstrak lemak pada suhu 105 oC

Didinginkan dalam desikator

Ditimbang sampai berat konstan

Dihitung kadar lemak 2 g pelet

(26)

3.4.8 Penentuan Kadar Serat Kasar

Pelet

Dimasukkan 2 g pelet ikan yang telah dihilangkan kandungan lemaknya dengan n-heksan menggunakan metode soxlet selama 2 jam kedalam beaker glass

Ditambahkan 50 ml H2SO4(aq) 1,25%

Didihkan selama 30 menit dan ditutup cawan petri Ditambahkan 50 ml NaOH(aq) 3,25%

Didihkan selama 30 menit dan ditutup cawan petri Disaring

Dicuci dengan H2SO4(aq) 1,25% Dicuci dengan aquadest panas Dicuci dengan etanol 96%

Dimasukkan kedalam cawan timbang yang telah diketahui beratnya Dikeringkan didalam oven pada suhu 105 oC

Didinginkan didalam desikator Ditimbang

Dihitung kadar seratnya

(27)

Ikan

Dimasukkan ke dalam akuarium yang dilengkapi aerator

Diberi pakan ikan 2 kali sehari

Dilakukan pergantian air setiap 2 hari sekali

Ditimbang bobot ikan setiap 7 hari sekali selama 42 hari

Hasil

3.4.9 Uji Biologis terhadap Ikan Gurami

(28)

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

4.1.1. Data Pakan Buatan Sendiri

Pakan buatan sendiri dari variasi berat tepung ampas tahu, tepung ikan, tepung daun, tepung darah dan tepung tapioka dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

(29)

4.1.2. Hasil Analisa Kandungan Zat Gizi Pakan Ikan

Pada penelitian ini dilakukan analisa terhadap pakan ikan yaitu analisa kadar protein, kadar air, kadar abu, karbohidrat, lemak dan serat kasar. Hasil analisa dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel. 4.2. Hasil Analisa Kandungan Zat Gizi Pakan Ikan

No. Zat Gizi Hasil Analisa (%)

A B C

1. Protein 32,65 30,99 38,65

2. Air 4,50 4,30 83,60

3. Abu 10 8 5

4. Karbohidrat 46,22 51,82 35,37

5. Lemak 6,63 4,91 8,12

6. Serat Kasar 4,45 3,97 3,36

(30)

4.1.3. Data Dosis Pemberian Pakan Ikan

Pada penelitian ini dilakukan pemberian pakan ikan sebanyak dua kali. Dosis pemberian pakan ikan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel. 4.3. Dosis Pemberian Pakan Ikan Hari

Ke-

Dosis Pemberian Pakan Ikan (g)

A B C

0 0,44 0,77 0,61

7 0,59 0,94 0,62

14 0,62 0,95 0,65

21 0,67 1,01 0,66

28 0,7 1,11 0,67

35 0,82 1,31 0,68

42 0,87 1,36 0,69

(31)

4.1.4. Hasil Uji Biologis Ikan Gurami

Berdasarkan hasil analisa kandungan zat gizi pada pakan ikan dengan berbagai pemberian pakan berupa pakan buatan sendiri, pakan buatan pabrik dan pakan alami terhadap ikan gurami yang memiliki kandungan zat gizi yang berbeda. Selanjutnya pakan ikan tersebut diuji secara biologis selama 42 hari. Hasil uji biologis dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut :

Tabel. 4.4. Data Hasil Pertambahan Berat Ikan Gurami Hari

ke-

Pertambahan Berat Ikan Gurami

A (g) B (g) C (g)

0 8,9 15,5 12,2

7 11,9 18,9 12,4

14 12,5 19,1 13

21 13,4 20,3 13,2

28 14 22,3 13,4

35 16,5 26,2 13,7

42 17,5 27,3 13,9

(32)

Hasil pertambahan bobot ikan gurami (%) ditunjukan dalam tabel 4.5 sebagai berikut :

Tabel 4.5 Hasil Pertambahan Bobot Ikan (%) Jumlah

Keterangan : A = Pakan Buatan Sendiri B = Pakan Buatan Pabrik C = Pakan Alami

4.2. Pembahasan

4.2.1. Pakan Buatan Sendiri

Dari hasil penelitian diketahui bahwa, kondisi fisik pakan buatan sendiri berupa pelet yang baik adalah variasi 25 g tepung ampas tahu, 25 g tepung ikan, 25 g tepung daun, 20 g tepung darah dan 5 g tepung tapioka sebagai perekat. Hal ini dilihat dari dapat menyatunya seluruh bahan yang digunakan dengan baik dan pelet dapat mengapung diatas permukaan air selama ± 10 menit.

(33)

Daya apung dari pakan buatan sendiri ini lebih rendah jika dibandingkan dengan pakan buatan pabrik yang memiliki daya apung ± 20 menit. Hal ini disebabkan perbedaan teknologi pembuatan pakan buatan. Dimana pakan buatan pabrik dicetak dengan alat ekstruder, sedangkan pakan buatan sendiri dengan alat-alat sederhana dalam skala laboratorium. Selain itu, pakan buatan pabrik dibuat dari proses gelatinasi dengan temperatur , kelembapan dan kecepatan feeder screw yang tetap, sedangkan pakan buatan sendiri ini menggunakan cetakan sederhana dengan tekanan yang berbeda-beda sehingga menghasilkan pelet buatan yang berbeda ukurannya.

4.2.2. Analisa Kandungan Zat Gizi Pelet Ikan 4.2.2.1 Kadar Protein

Dari hasil analisa protein dengan metode Kjedahl diperoleh kadar protein pakan buatan sendiri 32,655%, pakan buatan pabrik 30,992% dan pakan alami 38,653% , dimana kadar protein kasar diperoleh dari persentase kandungan nitrogen dikalikan dengan faktor koreksi (Fk) untuk makanan ikan besar Fk adalah 6,25.

Hal ini disebabkan karena tingginya kadar protein yang terkandung didalam tepung darah sapi 71,45% dan tepung tahu 23,55%. Hal ini menyebabkan hasil pakan buatan sendiri mengandung protein yang tinggi.

(34)

4.2.2.2 Kadar Abu

Hasil analisa kadar abu pada pakan ikan yaitu pakan buatan sendiri 10%, pakan buatan pabrik 8% dan pakan alami 5%. Hal ini karena komposisi bahan dari masing-masing perlakuan mempunyai persentase yang berbeda-beda. Kadar abu pada pakan ikan menunjukkan indikator besarnya kandungan untuk mineral yang terdapat dalam pakan tersebut (Jangkaru, 1974). Dan menurut standart makanan ikan (lampiran 10) kadar abu adalah maksimal 12%, maka hasil analisa yang diperoleh telah dapat memenuhi syarat sebagai pakan ikan.

4.2.2.3 Kadar Air

Menurut Sahwan (2002) kadar air pakan sebaiknya lebih baik tidak lebih besar dari 10%. Jadi, kadar air pada pakan buatan sendiri 4,5% dan pakan buatan pabrik 4,3% ini masih dalam batasan kisaran ideal. Tingkat kekeringan pakan ikan sangat menentukan daya tahan pakan karena apabila pakan buatan mengandung banyak air maka akan menjadi lembab. Dalam kondisi ini apabila pakan disimpan terlalu lama akan ditumbuhi jamur. Dengan demikian, kualitas dari pakan akan menurun, bahkan dapat berbahaya bagi ikan. Kadar air pada pakan ini sudah relatif rendah sehingga dapat disimpan dalam waktu yang cukup lama. Dan menurut standart makanan ikan kadar air pakan adalah maksimal 12%, maka hasil analisa diperoleh telah dapat memenuhi syarat sebagai pakan ikan.

4.2.2.4 Kadar Karbohidrat

Pada ikan, karbohidrat merupakan salah satu sumber energi setelah protein dan lemak yang didapat dari pakan. Kadar karbohidrat dalam makanan ikan menurut Mujiman (1991) berkisar 10-50%. Dari hasil analisa perhitungan kasar (proximate

analysis) atau juga disebut Carbohydrate by difference. Diperoleh kadar

(35)

4.2.2.5 Kadar Lemak

Lemak dalam makanan mempunyai peranan yang penting sebagai sumber tenaga. Lemak tergolong mudah teroksidasi sehingga penggunaannya dalam pembuatan pakan buatan jumlahnya dibatasi. Jika kandungan lemak yang digunakan terlalu tinggi sebaiknya ditambahkan bahan antioksidan untuk menghambat terjadinya proses oksidasi tersebut. Dalam kaitan dengan pakan buatan, penggunaan lemak berpengaruh terhadap rasa dan tekstur pakan yang dibuat ( Mujiman, 1991).

Menurut Mujiman (1991), kebutuhan lemak untuk ikan air tawar berkisar 4-18 %, sedangkan menurut standart makanan ikan (lampiran 10) minimal 3%. Dari tabel 4.2 diatas dapat dilihat bahwa kadar lemak pakan ikan ini telah memenuhi persyaratan sebagai pakan ikan.

4.2.2.6 Kadar Serat

Kandungan serat kasar yang tinggi dalam pakan ikan akan mempengaruhi daya cerna dan penyerapan didalam alat pencernaan ikan. Selain itu, kandungan serat kasar yang tinggi akan menyebabkan meningkatkannya sisa metabolisme dan akan mempercepat penurunan kualitas air. Kandungan serat kasar yang tinggi (lebih dari 8%) akan mengurangi kualitas pakan ikan, sedangkan kandungan serat kasar yang rendah (dibawah 8%) akan menambah baik struktur pakan ikan dalam bentuk pelet (Kordi, 2014).

(36)

4.2.3. Dosis Pemberian Pakan Ikan

Jumlah pakan yang diberikan 5% dari berat total ikan yang dipelihara dengan frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore. Tujuan penerapan teknik pemberian pakan adalah untuk menekan sesedikit mungkin pakan terbuang percuma (Kordi, 2004).

4.2.4. Uji Biologis Ikan Gurami

Uji biologis dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh makanan terhadap pertumbuhan ikan. Makanan yang kandungan gizinya yang cukup tinggi belum tentu berpengaruh baik terhadap pertumbuhan ikan hal ini dipengaruhi oleh sifat bahan baku yang digunakan mudah atau sukar dicerna oleh ikan tersebut sehingga dapat diserap oleh usus ikan. Uji biologis selama 1-1,5 bulan, dimana dilakukan pengukuran pertambahan berat ikan setiap minggunya (Mujiman,A.1991).

Data pada tabel 4.5 dapat ditunjukan melalui gambar 4.1 sebagai berikut:

Gambar 4.1. Grafik pertambahan bobot ikan gurami (%) terhadap pakan ikan

(37)

Menurut Sudarman (1988), bahwa kecepatan pertumbuhan tergantung pada jumlah pakan yang dikomsumsikan, kualitas air dan faktor lain seperti keturunan, umur dan daya tahan serta kemampuan ikan tersebut memanfaatkan pakan, selanjutnya Supratno (1999) menambahkan bahwa jumlah pakan yang dikomsumsi harus lebih banyak daripada jumlah yang digunakan untuk pemeliharaan tubuh dan aktivitas agar ikan dapat melangsungkan pertumbuhannya.

(38)

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Kandungan gizi pada pakan buatan sendiri yaitu protein 32,65%, air 4,50%, abu 10%, karbohidrat 46,22%, lemak 6,63% dan serat kasar 4,45% yang mana telah memenuhi standart makanan ikan.

2. Pengaruh pemberian pakan ikan terhadap ikan gurami menghasilkan pertambahan bobot optimum yaitu pakan buatan sendiri sebesar 33,70% menjadi 96,62% pada hari ke 42.

5.2Saran

(39)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pakan Ikan

2.1.1 Pakan Alami

Pakan alami adalah makanan yang keberadaannya tersedia di alam. Sifat pakan alami yang mudah dicerna digunakan sebagai pakan benih ikan karena benih ikan memiliki alat percernaan yang belum sempurna. Oleh karena itu, pakan alami merupakan pakan yang tepat untuk benih, sehingga kematian yang tinggi pada benih ikan dapat dicegah (Lingga, 1989).

Keunggulan dari pakan alami sebagai pakan benih ikan antara lain pakan alami memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi, mudah dicerna, gerakan pakan menarik perhatian ikan (Djarijah, 1995). Ukuran diameter pakan yang relatif kecil sehingga benih ikan mudah memakannya, dan tidak mencemari media pemeliharaan dibandingkan dengan pakan buatan (Lingga, 1989).

Kerugian yaitu seringkali pakan alami bersifat musiman, sehingga pada saat tertentu sulit didapat. Dapat membawa hama dan penyakit, seperti cacing sutra, yang hidup pada lumpur tercemar, sehingga bisa mengimpor bakteri terhadap lingkungan akuarium. Hama seperti larva capung atau hydra bisa secara tidak sengaja masuk ke akuarium dan memangsa burayak (Dharmawan, 2010).

(40)

Cacing sutra sering digunakan dalam pembudidayaan ikan hias. Kandungan gizi dari cacing sutra, terdiri dari protein 57,50%, lemak 13,50%, serat kasar 2,04%, abu 3,60% dan kadar air sebesar 87,19%. Keunggulannya adalah memiliki kandungan protein yang mampu memacu pertumbuhan ikan lebih efesien (Lingga, 1989).

2.1.2 Pakan Buatan

Pakan merupakan sumber energi dan materi bagi kehidupan dan pertumbuhan ikan. Zat yang terpenting dalam pakan adalah protein. Jumlah dan kualitas protein mempengaruhi pertumbuhan optimal ikan. Karena zat ini merupakan bagian terbesar dari daging ikan. Karena itu, dalam menentukan kebutuhan zat makanan, kebutuhan protein perlu dipenuhi terlebih dahulu (Khairuman, 2003).

Pakan yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1. Pakan harus dapat dimakan oleh ikan, maksudnya kondisi pakan harus baik dan ukuran pakan harus sesuai dengan ukuran mulut ikan.

2. Pakan harus mudah dicerna.

3. Pakan harus dapat diserap oleh tubuh ikan.

Apabila ketiga persyaratan diatas dapat dipenuhi, pemberian pakan akan memberikan manfaat yang optimal bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan (Khairuman, 2002).

(41)

Berdasarkan tingkat kebutuhannya pakan buatan dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu (1) pakan tambahan, (2) pakan suplemen, dan (3) pakan utama. Pakan tambahan adalah pakan pakan yang sengaja dibuat untuk memenuhi kebutuhan pakan. Dalam hal ini, ikan yang dibudidayakan sudah mendapatkan pakan dari alam, namun jumlahnya belum memadai untuk tumbuh dengan baik sehingga perlu diberi pakan buatan sebagai pakan tambahan. Pakan suplemen adalah pakan yang sengaja dibuat untuk menambah komponen nutrisi tertentu yang tidak mampu disediakan pakan alami. Sementara pakan utama adalah pakan yang sengaja dibuat untuk menggantikan sebagian besar pakan alami (Dharmawan, 2010).

Dalam pembuatan pakan ikan, pertama-tama perlu diperhatikan tentang pemilihan bahannya. Bahan-bahan tersebut harus memenuhi beberapa syarat, yaitu:

- Tidak merupakan makanan pokok manusia, sehingga tidak merupakan saingan (Mujiman, 1991).

2.1.3 Jenis-jenis Pakan

Berdasarkan bahan bakunya, pakan buatan memiliki dua karakter, yakni pakan pakan basah dan pakan kering.

a. Pakan basah

(42)

Pada bentuk emulsi, bahan-bahan yang terlarut menyatu dengan air sebagai pelarutnya. Apabila dipegang, terasa agak liat mirip lem encer. Contohnya adalah sari kacang kedelai yang sudah diramu dengan vitamin serta tambahan protein dari kuning telur. Pakan berbentuk suspensi, bahan terlarutnya tidak menyatu dengan pelarutnya karena mengandung partikel-partikel halus yang tidak dapat larut. Contohnya adalah bubuk spirulina yang ditebarkan dalam kolam pemeliharaan ikan. Pakan bentuk pasta adalah pakan hasil adonan yang berbentuk gumpalan - gumpalan.

b. Pakan kering

Pakan kering adalah pakan ikan yang bahan penyusunnya mengandung sedikit kadar air, yakni sekitar 5-20 persen. Persentase kandungan air ini sengaja dibuat agar pakan bisa disimpan lebih lama dan mengapung diperairan. Kandungan air yang ada dalam pakan digunakan untuk melarutkan komposisi bahan-bahan penyusunnya agar mudah diramu. Bentuk pakan kering cukup beragam, seperti granule (butiran), flake (remah), pellet (bulat), dan stick (batang) (Tiana, 2004).

2.1.4. Pelet

Pelet adalah bentuk pakan buatan yang terdiri dari beberapa macam bahan yang diramu dan dijadikan adonan, kemudian dicetak sehingga bentuknya merupakan batangan kecil-kecil. Panjangnya biasanya berkisar antara 1-2 cm. Jadi pelet tidak berupa tepung, tidak berupa butiran dan juga tidak berupa larutan (Mujiman, 1991).

(43)

2.2 Bahan Baku 2.2.1 Ampas tahu

Ampas tahu merupakan hasil sisa perasan bubur kedelai. Ampas ini mempunyai sifat cepat basi dan berbau tidak sedap kalau tidak segera ditangani dengan cepat. Pemanfaatan ampas tahu menjadi pakan merupakan pengolahan yang paling mudah karena hanya dengan cara mengeringkannya. Ampas tahu yang dihasilkan segera dikeringkan. Dalam kondisi kering, ampas tahu dapat disimpan lama (Sarwono, 2003).

Biasanya para pengusaha tahu akan membuang ampas tahu begitu saja dan dibiarkan sampai membusuk. Ampas tahu dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ikan dalam kondisi masih baik atau tidak busuk. Ampas tahu merupakan sumber protein (Khairuman, 2002). Kandungan gizi tepung ampas tahu adalah protein 23,55%, lemak 5,54%, karbohidrat 26,92%, serat kasar 16,53%, abu 17,03% dan air 10,43% (Mujiman, 1991).

2.2.2 Tepung ikan

Tepung ikan yang baik berasal dari jenis ikan yang kadar lemaknya rendah. Bau khusus suatu jenis ikan kadang-kadang juga mempengaruhi daya tariknya, sehingga lebih merangsang. Ikan-ikan rucah (tidak bernilai ekonomis penting) dari sisa-sisa hasil pengolahan biasanya merupakan bahan baku yang penting untuk pembuatan tepung ikan (Mujiman, 1991). Tepung ikan yang berbau tengik, menandakan bahwa kualitas tepung ikan sudah menurun, demikian juga dengan kandungan gizinya. Sehingga tidak ekonomis lagi jika digunakan dalam pembuatan makanan ternak atau ikan (Suryana, 2013).

(44)

2.2.3 Tepung darah

Darah ternak merupakan limbah dari rumah pemotongan hewan/ ternak. Limbah ini dapat diolah menjadi tepung darah dan dapat digunakan sebagai bahan baku pakan ikan, karena mengandung nutrisi yang cukup tinggi. Namun, tepung darah sukar dicerna oleh ikan. Oleh karena itu, bahan baku ini disarankan hanya digunakan sebagai bahan campuran dengan jumlah tidak melebihi 10% (Kordi, 2004).

Darah hewan tersebut dipanaskan sampai 100oC sehingga membentuk gumpalan, kemudian dikeringkan dan dipres (tekanan tinggi) untuk mengeluarkan serum yang tersisa. Setelah itu dikeringkan dengan pemanasan lagi dan akhirnya digiling. Tepung darah hewan ini biasanya berwarna coklat gelap dengan bau yang khas (Darmono, 1993).

Darah yang berasal dari hewan yang dipotong ditampung lalu diolah menjadi tepung. Seekor ternak bila dipotong akan menghasilkan darah sekitar 7-9% dari bobot badannya (Suharno, 1998). Kandungan gizi tepung darah adalah protein 71,45%, lemak 0,42%, karbohidrat 13,12%, abu 5,45%, serat 7,95% dan air 5,19 (Dharmawan, 2010).

2.2.4 Daun keladi

Makanan yang sering dimakan oleh ikan tawar adalah daun keladi (Colocasia

estulata Schott), ketela pohon (Manihot utilissima Bohl), pepaya (Carica papaya

Linn). Konon yang paling bagus untuk makanan ikan adalah daun keladi. Namun

(45)

2.2.5 Tepung Tapioka

Tepung tapioka atau tepung kanji berfungsi sebagai perekat agar bahan baku yang ada dalam pakan dapat bersatu menjadi campuran yang homogen dan sebagai pengikat antar komponen. Dengan demikian pakan tidak mudah hancur terurai kembali ketika dimasukkan kedalam air. Bahan jadi perekat tersebut juga dapat berfungsi sebagai sumber berbagai zat makanan. Tepung tapioka tersebut apabila kita larutkan dalam air panas akan menghasilkan larutan kental yang lekat seperti lem encer. Jumlah penggunaan bahan perekat ini dapat mencapai 10% dari seluruh bobot ramuan (Mujiman, 1991). Kandungan nutrisi bahan tepung tapioka adalah protein 8,09%, lemak 1,30%, karbohidrat 77,30%, abu 0,06% dan air 13,25% (Lukito, 2007).

2.3 Kandungan Nutrisi Pakan

Yang dimaksud dengan nutrisi untuk ikan adalah kandungan gizi yang dikandung pakan, yang diberikan kepada ikan peliharaan. Apabila pakan yang diberikan ikan peliharaan mempunyai kandungan nutrisi yang cukup tinggi, maka hal ini tidak saja akan menjamin hidup dan aktivitas ikan, tetapi juga akan mempercepat pertumbuhannya. Beberapa komponen nutrisi yang penting dan tersedia dalam pakan ikan antara lain protein, karbohidrat, lemak, dan serat kasar (Kordi, 2004).

2.3.1 Protein

(46)

Protein merupakan unsur yang paling penting dalam penyusunan formulasi pakan karena usaha budidaya diharapkan pertumbuhan ikan yang cepat. Dalam hal ini, protein mempunyai tiga fungsi bagi tubuh yaitu:

a. Sebagai zat pembangun yang membentuk berbagai jaringan baru untuk pertumbuhan, mengganti jaringan yang rusak, maupun yang bereproduksi. b. Sebagai zat pengatur yang berperan dalam pembentukan enzim dan hormon

penjaga serta pengatur berbagai proses metabolisme didalam tubuh ikan.

c. Sebagai zat pembakar karena unsur karbon yang terkandung didalamnya dapat difungsikan sebagai sumber energi pada saat kebutuhan energi tidak terpenuhi oleh karbohidrat dan lemak (Sahwan, 2002).

Kebutuhan protein masing-masing jenis ikan berbeda-beda. Jumlah protein yang dibutuhkan ikan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain ukuran ikan, suhu air, jumlah pakan yang dimakan ikan, ketersediaan dan kualitas pakan alami, dan kualitas protein (Kordi, 2004). Pada umumnya ikan membutuhkan makanan yang kadar proteinnya berkisar antara 20-60 persen. Sedang kadar optimum berkisar antara 30-36 persen. Apabila protein dalam pakan kurang dari 6 persen, maka ikan tidak dapat tumbuh (Mujiman, 1991).

Pakan buatan terdiri dari beberapa macam campuran bahan pakan yang berasal dari protein hewani maupun nabati. Sumber protein hewani antara lain tepung ikan, telur ayam, tepung tulang dan tepung darah. Sumber protein nabati bisa diperoleh dari limbah industri pertanian seperti bungkil kacang tanah, ampas tahu, kedelai dan sorghum (Tiana, 2004).

(47)

2.3.2 Lemak

Lemak adalah senyawa organik yang tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik melalui ekstraksi eter. Lemak juga sering diistilahkan dengan fat, lipid, minyak atau lemak kasar. Beberapa jenis vitamin juga terlarut dalam lemak, yaitu vitamin A, D, E, dan K (Lukito, 2007).

Lemak berfungsi sebagai sumber energi yang paling besar diantara protein dan karbohidrat, satu gram lemak dapat menghasilkan 9 kkal per gram, sedangkan karbohidrat dan protein hanya menghasilkan 4 kkal per gram. Lemak juga menjadi sumber asam lemak, pospolipid, kolestrol dan sebagai pelarut pada proses penyerapan vitamin A, D, E, dan K. Selain itu, lemak berfungsi membantu proses metabolisme, osmoregulasi, dan menjaga keseimbangan daya apung ikan dalam air serta untuk memelihara bentuk dan fungsi jaringan (Kordi, 2004).

Kandungan lemak pakan ikan rata-rata berkisar antara 4-18%. Kandungan lemak pakan ini sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, misalnya ukuran ikan, kondisi lingkungan (suhu), dan adanya sumber tenaga lain (Mujiman, 2004). Kisaran kadar lemak yang tidak terlalu rendah ataupun tidak terlalu tinggi, disamping dapat memperbaiki daya awet pakan juga dapat memperbaiki (mempertinggi) kualitas pakan (Puspowardoyo, 2000).

2.3.3 Karbohidrat

(48)

Karbohidrat merupakan salah satu komponen sumber energi. Selain itu berperan dalam menghemat penggunaan protein sebagai sumber energi. Apabila pakan yang diberikan kekurangan karbohidrat, ikan akan kurang efesien dalam penggunaan pakan berprotein untuk menghasilkan energi dan kebutuhan metabolik lainnya (Afrianto, 2005).

Kebutuhan karbohidrat pada pakan ikan bergantung dari jenis ikannya. Menurut Wilson, hanya ikan herbivor dan omnivor yang dapat memanfaatkan karbohidrat tanaman. Watanabe , mengatakan bahwa kadar karbohidrat optimum untuk ikan omnivor adalah 20-40%, sedangkan untuk ikan karnivor antara 10-20% (Kordi, 2014).

Kemampuan ikan untuk memanfaatkan karbohidrat ini tergantung pada kemampuannya untuk menghasilkan enzim amilase. Dan kemampuan ini tergantung pula pada jenis ikannya. Apabila makan karbohidrat lebih dari 12 persen, maka pada hatinya akan terjadi timbunan glikogen yang berlebihan, dan dapat menyebabkan angka kematian yang tinggi. Tapi ikan pemakan segala, dapat hidup baik dengan makanan yang kadar karbohidratnya sampai 50% atau bahkan lebih (Mujiman, 1991).

Bahan-bahan pakan yang banyak mengandung karbohidrat adalah jagung, beras, tepung terigu, dedak halus, tepung tapioka, tepung sagu dan beberapa bahan lainnya. Sebagian bahan diatas, selain sebagai sumber karbohidrat, juga berfungsi sebagai bahan perekat (binder) dalam pembuatan pakan ikan (Kordi, 2004).

2.3.4 Serat kasar

(49)

Menurut Mujiman (1991) dalam jumlah tertentu serat kasar diperlukan juga antara lain untuk membentuk gumpalan kotoran, sehingga mudah dikeluarkan dari dalam usus. Kandungan serat kasar yang tinggi dalam pakan ikan akan mempengaruhi daya cerna dan penyerapan didalam alat pencernaan ikan. Selain itu, kandungan serat kasar yang tinggi akan menyebabkan meningkatkannya sisa metabolisme dan akan mempercepat penurunan kualitas air. Kandungan serat kasar yang tinggi (lebih dari 8%) akan mengurangi kualitas pakan ikan, sedangkan kandungan serat kasar yang rendah (dibawah 8%) akan menambah baik struktur pakan ikan dalam bentuk pelet (Kordi, 2014).

2.4 Uji Kualitas Pakan Buatan

Pakan yang diberikan pakan ikan harus diuji dulu dengan beberapa uji yaitu uji fisik, kimiawi, dan biologis. Uji-uji tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah pantas, berguna, berkualitas suatu pakan diberikan pada ikan (Dharmawan, 2010).

2.4.1 Uji Fisik

Dalam hal ini yang perlu dilakukan adalah pengujian fisik terhadap pakan buatan berbentuk pelet, yaitu antara lain mengenai kehalusan bahan bakunya, daya tahannya didalam air, dan daya mengapungnya (Mujiman, 1991).

Uji kehalusan bahan baku pakan dilakukan dengan menggiling bahan baku pakan sampai halus. Semakin banyak bagian bahan pakan yang halus, semakin baik bahan pakan tersebut. Semakin halus bahan pakan menyebabkan semakin memudahkan untuk pembuatan pelet yang berkualitas. Beberapa faktor yang menyebabkan bahan pakan menjadi halus antara lain yaitu kandungan serat kasar, kandungan air dan kekerasan bahan pakan (Dharmawan, 2010).

(50)

Daya apung pakan buatan dapat diukur dengan menjatuhkan atau menebarkan pakan tersebut kedalam bejana kaca yang telah diisi air hingga kedalaman 15-25 cm. Waktu yang diperlukan oleh pakan sejak ditebarkan hingga tenggelam didasar bejana, adalah merupakan ukuran daya apungnya. Paling tidak harus dapat melayang selama 5 menit (Afrianto, 2005).

2.4.2 Uji Kimiawi

Pengujian kimiawi ini dimaksudkan untuk mengetahui kandungan zat-zat gizi dari makanan yang bersangkutan, yaitu mengenai kadar protein, lemak, serat kasar dan kandungan air. Pengujian ini dilakukan didalam laboratorium. Untuk mengetahui tentang kadar air sangat penting. Sebab apabila kadar airnya masih terlalu tinggi, pakan tersebut cepat rusak dan jamuran. Pelet yang baik kadar airnya tidak boleh lebih dari 10 persen (Mujiman, 1991).

a. Analisa kadar protein dengan metode Kjeldhal

Kadar protein dalam ransum atau pakan dapat ditentukan dengan prosedur Kjeldahl, yaitu dengan cara menentukan jumlah nitrogen (N) yang terdapat dalam ransum, kecuali N yang berasal dari nitrat, nitrit, dan senyawa N siklik. Setelah diketahui jumlah N-nya, selanjutnya dapat dihitung kadar protein kasarnya dengan rumus ∑N% x faktor protein.

(51)

b. Analisa lemak dengan metode sokletasi

Penentuan kadar lemak pada cara kering, bahan dibungkus atau ditempatkan dalam thimble. Kemudian dikeringkan dalam oven untuk menghilangkan airnya. Karena sampel kering maka pelarut yang dipilih harus bersifat tidak menyerap air. Pelarut yang banyak digunakan adalah petroleum eter karena lebih murah, kurang berbahaya terhadap kebakaran dan lebih selektif dalam pelarutan lipida. Pemanasan sebaiknya menggunakan penangas air untuk menghindari kebakaran. Pada akhir ekstraksi yaitu kira-kira 4-6 jam, labu godok diambil dan ekstrak dituangkan kedalam botol timbang yang telah diketahuinya beratnya. Kemudian pelarut diuapkan diatas penangas air sampai pekat. Selanjutnya dikeringkan pada suhu 100oC. Berat residu dalam botol timbang dinyatakan sebagai berat lemak atau minyak (Sudarmadji, 1996).

c. Analisa karbohidrat

Ada beberapa cara analisis yang dapat digunakan untuk memperkirakan kandungan karbohidrat dalam bahan makanan. Yang paling mudah adalah dengan cara perhitungan kasar (proximate analysis) atau juga disebut Carbohydrate by

difference. Yang dimaksud dengan proximate analysis adalah suatu analisis

dimana kandungan karbohidrat termasuk serat kasar diketahui bukan melalui analisis tetapi melalui perhitungan, sebagai berikut :

% karbohidrat = 100% - % (protein + lemak + abu + air)

Perhitungan Carbohydrate by difference adalah penentuan karbohidrat dalam bahan makanan secara kasar, dan hasilnya ini biasanya dicantumkan dalam daftar komposisi bahan makanan (Winarno, 1992).

d. Analisa serat kasar

(52)

Langkah-langkah yang dilakukan dalam analisa adalah:

1. Defatting yaitu menghilangkan lemak yang terkandung dalam sampel

menggunakan pelarut lemak.

2. Digestion terdiri dari dua tahapan yaitu pelarutan dengan asam dan

pelarutan dengan basa.

Penyaringan harus segera dilakukan setelah digestion selesai karena penundaan penyaringan dapat mengakibatkan lebih rendahnya hasil analisa karena terjadi perusakan serat lebih lanjut oleh bahan kimia yang dipakai (Sudarmadji, 1996).

2.4.3 Uji Biologis

Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui sampai seberapa jauh pengaruh pakan tersebut terhadap pertumbuhan ikan yang diumpani. Pakan yang kandungan gizinya cukup tinggi belum tentu berpengaruh baik terhadap pertumbuhan. Sebab apabila bahan bakunya merupakan bahan yang sukar dicerna, maka zat gizi yang terkandung didalam pakan yang bersangkutan tidak banyak diserap oleh usus ikan (Mujiman, 1991).

(53)

2.5 Ikan Gurami

Ikan gurami merupakan ikan asli perairan Indonesia yang sudah menyebar ke seluruh perairan Asia Tenggara dan Cina. Gurami termasuk salah satu dari 12 komoditas untuk pemenuhan gizi masyarakat gurami banyak dikembangkan oleh para petani, hal ini dikarenakan permintaan pasar yang cukup tinggi dan pemeliharaannya yang relatif mudah. Namun salah satu jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi ini memiliki pertumbuhan yang lambat tetapi dapat diatasi dengan pemberian pakan berkualitas dalam jumlah yang cukup (Ricky, 2008).

Klasifikasi ikan gurami sebagai berikut :

Filum : Cordata Subfilum : Vertebrata Kelas : Pisces Bangsa : Labirinthici Suku : Anabantidae Marga : Osphronemus

(54)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pakan merupakan faktor yang memegang peranan sangat penting dan menentukan dalam keberhasilan usaha perikanan dan ketersediaan pakan merupakan salah satu faktor utama untuk menghasilkan produksi maksimal. Syarat pakan yang baik adalah mempunyai nilai gizi yang tinggi, mudah diperoleh, mudah diolah, mudah dicerna, harga relatif murah, tidak mengandung racun. Jenis pakan disesuaikan dengan bukaan mulut ikan, dimana semakin kecil bukaan mulut ikan maka semakin kecil ukuran pakan yang diberikan, dan juga disesuaikan dengan umur ikan (Khairuman, 2003).

Pakan yang diberikan harus memiliki kualitas yang tinggi. Laju pertumbuhan ikan akan terhambat, jika pakan yang diberikan tidak sesuai atau kualitas pakan yang rendah. Kandungan protein dalam pakan berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan, karena ikan membutuhkan protein sebagai sumber energi untuk perkembangan tubuh dan kelangsungan hidup (Zonneveld, 1991).

(55)

Bahan yang dipakai untuk pakan buatan, misalnya ampas tahu adalah sisa industri yang masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan yang memiliki kandungan karbohidrat dan protein yang cukup tinggi. Ikan-ikan rucah yang tidak bernilai ekonomis, darah sapi potong yang terbuang, semua ini masih dapat menjadi sumber protein bagi ikan. Daun keladi yang biasanya tumbuh disekitar kolam dapat juga digunakan sebagai pakan ikan.

Untuk mendapatkan pertumbuhan ikan yang optimum, perlu ditambahkan pakan tambahan yang berkualitas tinggi, yaitu pakan yang memenuhi kebutuhan nutrisi ikan. Nilai gizi pakan ikan pada umumnya dilihat dari komposisi zat gizinya, seperti kandungan protein, lemak dan karbohidrat (Sumantadinata, 1983).

Dani (2005) telah melakukan penelitian tentang Komposisi Pakan Buatan untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Kandungan Protein Ikan Tawes (Puntius

javanicus Blkr.). Pakan buatan dengan komposisi 42% tepung ikan, 8% tepung

jagung, 14% dedak, 30% tepung daun turi, 4% tepung kanji, dan 2% premix vitamin menghasilkan pertumbuhan ikan tawes paling baik sebesar 385,37% dan kandungan protein daging paling tinggi sebesar 18,43%.

Olele (2011) telah melakukan Studi Perbandingan Pakan alami dan Buatan terhadap Pembudidayaan Ikan Lele Dumbo. Pakan alami belatung memberikan hasil yang terbaik dengan bobot ikan yaitu 14,02 g, panjang harian sebesar 117,5 mm, dan kelangsungan hidup 100%.

(56)

Santi (2004) telah melakukan penelitian tentang Studi Pembuatan Pakan Ikan dari Campuran Ampas Tahu, Ampas Ikan, Darah Sapi Potong dan Daun Keladi yang disesuaikan dengan Standar Mutu Pakan Ikan. Diperoleh karakterisasi dari pelet ikan sebagai berikut yaitu kadar protein 31,1925%, lemak 6,0102%, karbohidrat 4,4033% dan serat kasar 4,8290%.

Berkaitan dengan hal tersebut diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh pemberian pakan buatan sendiri, pabrik dan alami terhadap bobot ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.). Hal ini karena pada penelitian sebelumnya hanya melakukan uji kimia terhadap pelet ikan sehingga peneliti tertarik untuk melakukan uji biologis terhadap ikan gurami.

1.2Perumusan Masalah

1. Apakah kandungan protein, lemak, karbohidrat dan serat kasar dalam pakan buatan sendiri telah memenuhi standar makanan ikan?

(57)

1.3Pembatasan Masalah

Dalam penelitian ini objek masalah dibatasi sebagai berikut:

1. - Ampas ikan yang digunakan diperoleh dari Pajak Sore Padang Bulan. - Ampas tahu yang digunakan diperoleh dari desa Tj. Beringin.

- Daun keladi yang digunakan diperoleh dari daerah Sei Padang. - Darah sapi yang diperoleh dari rumah potong hewan di Mabar.

- Tepung tapioka yang digunakan diperoleh dari Pasar Sore PadangBulan. - Cacing sutra yang digunakan diperoleh dari Pajak USU.

- Pelet Pabrik yang digunakan diperoleh dari Pajak USU. - Ikan gurami yang digunakan diperoleh dari Tanjung Morawa.

2. Variasi sampel ditentukan dengan metode penyusunan formulasi pakan yaitu : Metode percobaan dimana perbandingan berat tepung ikan : tepung ampas tahu : tepung daun talas : tepung darah sapi: tepung tapioka adalah 25 : 25 : 25 : 20 : 5.

3. Lama pengamatan terhadap uji biologis pada ikan gurami dilakukan selama 42 hari.

4. Bentuk pakan buatan yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk butiran / pelet.

(58)

1.5Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat khususnya kepada para petani ikan, tentang jenis pakan ikan yang optimal bagi pertumbuhan ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac).

1.6Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Biokimia / Kimia Bahan Makanan (KBM) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sumatera Utara, Medan.

1.7Metodologi Penelitian

1. Penelitian ini adalah eksperimen yang dilakukan di Laboratorium. Ampas ikan, ampas tahu, daun keladi, darah sapi potong dikeringkan. Kemudian dihaluskan dan diayak dengan menggunakan ayakan berukuran 100 mesh hingga diperoleh tepung ikan, tepung ampas tahu, tepung daun talas dan tepung darah sapi. Masing-masing tepung dicampur dengan perbandingan berat tepung ikan : tepung ampas tahu : tepung daun talas : tepung darah sapi : tepung tapioka : 25 : 25 : 25 : 20 : 5. Dan selanjutnya diproses menjadi pakan berbentuk pelet, kemudian dikeringkan pada suhu 60oC. Pelet inilah yang selanjutnya dianalisa kadar protein, kadar air, kadar abu, kadar karbohidrat, kadar lemak dan kadar serat.

(59)

PENGARUH PEMBERIAN PAKAN BUATAN SENDIRI, PABRIK DAN ALAMI TERHADAP BOBOT IKAN

GURAMI (Osphronemus gouramy Lac.)

ABSTRAK

Penelitian pengaruh pemberian pakan buatan sendiri, pabrik dan alami terhadap bobot ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) telah dilakukan. Pakan buatan sendiri dibuat dari pencampuran 25 g tepung ikan, 25 g tepung ampas tahu, 25 g tepung daun, 20 g tepung darah dan 5 g tepung tapioka dengan variasi tertentu. Campuran diolah dan dicetak dengan diameter ± 3 mm berbentuk silinder lalu dikeringkan dalam oven pada suhu 60oC, dimana pelet yang diperoleh dapat mengapung di atas permukaan air ± 10 menit. Selanjutnya pelet tersebut di analisa dengan uji kadar protein, kadar air, kadar abu, kadar karbohidrat, kadar lemak dan kadar serat. Kandungan gizi pada pakan buatan sendiri antara lain protein 32,655%, air 4,5%, abu 10%, karbohidrat 46,22%, lemak 6,631% dan serat kasar 4,453. Serta uji biologis terhadap ikan gurami selama 42 hari. Pengaruh pemberian pakan ikan terhadap ikan gurami menghasilkan pertambahan bobot optimum yaitu pakan buatan sendiri sebesar 33,70% menjadi 96,62% pada hari ke 42.

(60)

GIVING EFFECT OF HOMEMADE FEED, FACTORY AND NATURAL WEIGHT OF GOURAMY FISH

(Osphronemus gouramy Lac.)

ABSTRACT

(61)

PENGARUH PEMBERIAN PAKAN BUATAN SENDIRI,

PABRIK DAN ALAMI TERHADAP BOBOT IKAN

GURAMI (Osphronemus gouramy Lac.)

SKRIPSI

PAULINA AULIYA LUBIS

110802001

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(62)

PENGARUH PEMBERIAN PAKAN BUATAN SENDIRI, PABRIK DAN ALAMI TERHADAP BOBOT IKAN

GURAMI (Osphronemus gouramy Lac.)

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Sains

PAULINA AULIYA LUBIS 110802001

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(63)

PERSETUJUAN

Judul : Pengaruh Pemberian Pakan Buatan Sendiri, Pabrik dan Alami terhadap Bobot Ikan Gurami (Osphronemus

gouramy Lac.)

Kategori : Skripsi

Nama : Paulina Auliya Lubis

Nomor Induk Mahasiswa : 110802001

Program : Sarjana (S1) Kimia

Departemen : Kimia

Fakultas : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Disetujui di

Medan, Februari 2016

Komisi Pembimbing :

Pembimbing II Pembimbing I

Dr. Rumondang Bulan Nst,MS Dra. Emma Zaidar Nst, M.Si NIP: 195408301985032001 NIP: 195512181987012001

Diketahui/Disetujui oleh

Departemen Kimia FMIPA USU Ketua,

(64)

PERNYATAAN

PENGARUH PEMBERIAN PAKAN BUATAN SENDIRI, PABRIK DAN ALAMI TERHADAP BOBOT IKAN

GURAMI (Osphronemus gouramy Lac.)

SKRIPSI

Saya mengakui skripsi ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.

Medan, Februari 2016

(65)

PENGHARGAAN

Bismillahirrohmanirrohim, Assalamualaikum, Wr...Wb

Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Penulis kemudahan dan jalan hingga Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Sholawat dan salam Penulis hadiahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umatnya ke alam penuh ilmu pengetahuan.

Penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Ayahanda tersayang H. Pirman Lubis, S.T dan Ibunda Hj.Nurhotiah Siregar atas segala doa, kasih sayang, bimbingan, waktu, materi dan segala pengorbanan sehingga penulis dapat menyelesaikan perkuliahan sampai saat ini. Untuk keluarga penulis Kakanda Paida Hafni, SE dan keluarga, Abangda Pandent Mhd Noor, SH dan Hafijun Rahman yang telah memberikan doa dan motivasi dalam kuliah dan menyelesaikan skripsi ini.

Terimakasih Penulis ucapkan sebesar-besarnya kepada Ibu Dra. Emma Zaidar Nst, M.Si selaku pembimbing I dan Ibu Dr. Romandang Bulan Nst, M.S selaku pembimbing II atas segala bimbingan, ilmu dan waktu yang telah diberikan kepada Penulis dalam menyelesaikan skripsi Penulis ini. Terimakasih kepada Ibu Dr.Rumondang Bulan Nst, M.S selaku Ketua Departemen Kimia FMIPA USU dan Bapak Drs.Albert Pasaribu,M.Sc selaku Sekretaris Departemen Kimia FMIPA USU yang telah memberikan kemudahan terhadap apa yang Penulis perlukan selama ini, serta seluruh staf pegawai Departemen Kimia FMIPA USU yang telah membantu segala keperluan Penulis selama ini.

Terima kasih juga Penulis ucapkan kepada seluruh teman-teman seperjuangan Kimia 2011, kakak dan abang Kimia 2008-2010, dan adik-adik Kimia 2012-2014. Keluarga Besar Laboratorium Biokimia/KBM yang telah menemani Penulis dalam proses perkuliahan hingga penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu segala saran yang bersifat membangun demi perbaikan skripsi ini sangat Penulis harapkan. Akhir kata Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca sekalian.

(66)

PENGARUH PEMBERIAN PAKAN BUATAN SENDIRI, PABRIK DAN ALAMI TERHADAP BOBOT IKAN

GURAMI (Osphronemus gouramy Lac.)

ABSTRAK

Penelitian pengaruh pemberian pakan buatan sendiri, pabrik dan alami terhadap bobot ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) telah dilakukan. Pakan buatan sendiri dibuat dari pencampuran 25 g tepung ikan, 25 g tepung ampas tahu, 25 g tepung daun, 20 g tepung darah dan 5 g tepung tapioka dengan variasi tertentu. Campuran diolah dan dicetak dengan diameter ± 3 mm berbentuk silinder lalu dikeringkan dalam oven pada suhu 60oC, dimana pelet yang diperoleh dapat mengapung di atas permukaan air ± 10 menit. Selanjutnya pelet tersebut di analisa dengan uji kadar protein, kadar air, kadar abu, kadar karbohidrat, kadar lemak dan kadar serat. Kandungan gizi pada pakan buatan sendiri antara lain protein 32,655%, air 4,5%, abu 10%, karbohidrat 46,22%, lemak 6,631% dan serat kasar 4,453. Serta uji biologis terhadap ikan gurami selama 42 hari. Pengaruh pemberian pakan ikan terhadap ikan gurami menghasilkan pertambahan bobot optimum yaitu pakan buatan sendiri sebesar 33,70% menjadi 96,62% pada hari ke 42.

(67)

GIVING EFFECT OF HOMEMADE FEED, FACTORY AND NATURAL WEIGHT OF GOURAMY FISH

(Osphronemus gouramy Lac.)

ABSTRACT

(68)
(69)

BAB 3. Metode Penelitian

(70)

BAB 5. Kesimpulan

5.1 Kesimpulan 45

5.2 Saran 45

Daftar Pustaka 46

(71)

DAFTAR TABEL

Nomor Tabel

Judul Halaman

4.1 Variasi Berat Tepung 35

4.2 Hasil Analisa Kandungan Zat Gizi Pakan Ikan 36

4.3 Dosis Pemberian Pakan Ikan 37

(72)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Gambar

Judul Halaman

4.1 Grafik pertambahan / penurunan bobot ikan gurami terhadap pakan ikan

(73)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Lampiran

Judul Halaman

1 Pakan Ikan 49

2 Tabel Hasil Perhitungan Kadar Protein 50

3 Tabel Hasil Perhitungan Kadar Abu 51

4 Tabel Hasil Perhitungan Kadar Air 52

5 Tabel Hasil Perhitungan Kadar Karbohidrat 53

6 Tabel Hasil Perhitungan Kadar Lemak 54

7 Tabel Hasil Perhitungan Kadar Serat 55

8 Perhitungan Uji Biologis Pada Ikan 56

9 Bobot Ikan Sebelum Dan Sesudah Pengamatan Untuk Pakan Buatan Sendiri, Pakan Buatan Pabrik dan Pakan Alami

58

(74)

DAFTAR SINGKATAN

BETN = Bahan ekstrak tanpa nitrogen BJ = Berat jenis

Gambar

Gambar A. Ikan gurami sebelum                  perlakuan (15,5 gram)
Tabel 4.1. Variasi Berat Tepung
Tabel. 4.2. Hasil Analisa Kandungan Zat Gizi Pakan Ikan
Tabel. 4.3. Dosis Pemberian Pakan Ikan
+2

Referensi

Dokumen terkait

DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP AKTIVITAS ENZIM PENCERNAAN, EFISlENSI PAKAN,.. DAN PERTUMBUHAN

Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan h a t a n adalah saat awal pemberiannya, karena berhubungan *ngan kemampuan benih untuk mencerna pakan buatan.. Kemam- @an

: Pengaruh Kadar a-starch Pakan Yang Berbeda Terhadap Efisiensi Pakan dan Pertumbuhan Juvenil Ikan Gurami.. (Osphronemus

Pengaruh Lanjut Pemberian Pakan Berselulosa Tinggi Terhadap Efisiensi Pemanfaatan Pakan dan Pertumbuhan Benih Ikan Gurami (Osphronemus. gouramy

Pengaruh Lanjut Pemberian Pakan Berselulosa Tinggi Terhadap Efisiensi Pemanfaatan Pakan dan Pertumbuhan Benih Ikan Gurami (Osphronemus. gouramy

Hasil penelitian silase tepung bulu ayam dalam pakan buatan terhadap pertumbuhan mutlak, efisiensi pemanfaatan pakan, protein efisiensi rasio, rasio konversi pakan,

Pada pakan yang diberi perlakuan taurine, baik yang ditambahkan pada pakan alami ataupun pakan komersil, memiliki rerata pertambahan berat lebih tinggi

Hasil pengamatan menunjukkan kombinasi pakan buatan dan jenis hijauan yang tepat pada pembesaran benih gurame memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap perttumbuhan,