KARAKTERISTIK MORFOLOGI DAN KERAGAMAN
SIFAT-SIFAT KUALITATIF SAPI ACEH
FAKHRUL RIZAL
070306006
PROGRAM STUDI PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
KARAKTERISTIK MORFOLOGI DAN KERAGAMAN
SIFAT-SIFAT KUALITATIF SAPI ACEH
SKRIPSI
Oleh :
FAKHRUL RIZAL
070306006
PROGRAM STUDI PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
KARAKTERISTIK MORFOLOGI DAN KERAGAMAN
SIFAT-SIFAT KUALITATIF SAPI ACEH
SKRIPSI
Oleh :
FAKHRUL RIZAL
070306006 /PETERNAKAN
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar sarjana di Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara
PROGRAM STUDI PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
Judul : Karakteristik Morfologi dan Keragaman Sifat-Sifat Kualitatif Sapi Aceh
Nama : Fakhrul Rizal
Nim : 070306006
Program Studi : Peternakan
Disetujui oleh Komisi pembimbing
Prof. Dr. Ir. Sayed Umar, MS Hamdan S. Pt., M. Si
Ketua Anggota
Mengetahui
Dr. Ir. Ristika Handarini, MP Ketua Program Studi Peternakan
ABSTRAK
FAKHRUL RIZAL : Karakteristik Morfologi dan Keragaman Sifat-Sifat Kualitatif Sapi Aceh. Dibimbing oleh SAYED UMAR dan HAMDAN.
Sapi Aceh merupakan plasma nutfah sapi lokal Indonesia yang perlu dipertahankan dan dikembangkan sebagai kekayaan sumberdaya genetik Indonesia yang memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap penyakit, parasit, pakan kualitas rendah serta sistem pemeliharaan yang ekstensif. Masuknya ternak eksotik dari luar negeri ke Indonesia disamping dapat memperbaiki kualitas sapi lokal juga dikhawatirkan akan menghilangkan sumberdaya genetik ternak lokal apabila persilangan dilakukan tanpa evaluasi, kontrol dan tanpa memperhitungkan arti penting sapi asli Indonesia. Oleh karena itu, dilakukan penelitian analisis morfometrik dan fenotipik (warna dan bentuk tanduk) pada 205 ekor sapi Aceh (174 betina dan 31 jantan) di Kabupaten Aceh Besar, Kota Banda Aceh, Kabupaten Bireun, Kabupaten Pidie Jaya dan Kabupaten Aceh Barat. Data fenotipik dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan Excel dan data morfometrik dianalisis dengan Analisis komponen Utama menggunakan program SPSS 18.
Hasil Analisis Komponen Utama (AKU) menunjukkan bahwa panjang badan dan dalam dada sebagai Komponen Utama pada sapi Aceh. Sapi Aceh mempunyai warna yang beragam dan dominan berwarna merah bata (25,37%) dan coklat muda (22,44%). Sapi Aceh umumnya bertanduk akan tetapi terdapat 10,24% yang tidak bertanduk (kupung) pada jantan dan betina. Sebaiknya dilakukan penyuluhan untuk memberi imformasi bahwa Sapi Aceh sebagai plasma nutfah sapi potong lokal Indonesia berpotensi untuk dikembangkan dan dilestarikan sebagai upaya meningkatkan kesejahtraan masyarakat Indonesia.
ABSTRACT
FAKHRUL RIZAL: Morphological Characteristics and Diversity Attributes of Qualitative Aceh Cattle. Supervised by SAYED UMAR and HAMDAN.
Aceh cattle is Indonesian local cattle germplasm that need to be maintained and developed as a wealth of genetic resources Indonesia has a high adaptability to disease, parasites, low quality feed and extensive maintenance system. The import of exotic animals to Indonesian in addition to improving the quality of local beef would also tend to eliminate the local animal genetic resources in an intersection without evaluation, control and without taking into account the importance of native cattle to Indonesian. Therefore, research done phenotypic and morphometric analysis (color and horn shape) in 205 Aceh cattles (174 females and 31 males) in Aceh Besar District, Banda Aceh City, Bireuen District, Pidie Jaya District and Aceh Barat District. Phenotypic data were analyzed descriptively used Excel and the morphometric data were analyzed by Principal Component Analysis (PCA) used SPSS 18.
The results of Principal Component Analysis (PCA) indicates that the body length and chest depth as the Principal Components in Aceh cattle. Aceh Cattle has a variety of colors and red brick dominant (25.37%) and nutbrown (22.44%). Aceh Cattle generally horned but where 10.24% are not horns (kupung) on males and females. Counseling should be do as the given information of Aceh Cattle as Indonesian local beef germplasm potentian to be developed and preserved for the Indonesian public walfare.
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Banda Aceh pada tanggal 1 Desember 1988 anak dari ayah Ir. Abdullah Yunus dan ibu Nurul Hayati. Penulis merupakan putra ketiga dari sembilan bersaudara.
Tahun 2007 penulis lulus dari SPP- SPMA Saree Aceh Besar Nanggroe Aceh Darussalam dan pada tahun yang sama diterima sebagai mahasiswa Universitas Sumatera Utara, Fakultas Pertanian pada Program Studi Peternakan melalui jalur Undangan.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan banyak rahmatNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal penelitian.
Adapun judul dari proposal saya adalah ”Karakteristik Morfologi dan Keragaman Sifat-Sifat Kualitatif Sapi Aceh” sebagai salah satu syarat untuk melaksanakan penelitian.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih sebesar besarnya kepada Ayahanda Tercinta Abdullah Yunus dan kepada Ibunda Tercinta Nurul hayati serta kakanda dan adinda semua yang telah banyak memberi doa dan dorongan sehingga saya dapat menyelesaikan Skripsi ini. Ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Sayed Umar, MS selaku ketua komisi pembimbing, dan Bapak Hamdan, S.Pt.,M.Si selaku anggota pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu, memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penulisan Skripsi.
Akhir kata penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam penulisan skripsi penelitian.
Medan, Desember 2012
DAFTAR ISI
Profil Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Sapi Aceh ... 4
Klasifikasi Bangsa Sapi ... 6
Sapi lokal Indonesia ... 7
Karakteristik Sapi Aceh ... 8
Populasi dan Penyebaran Sapi Aceh ... 11
Asal Usul Sapi Aceh ... 12
Keunggulan Sapi Aceh ... 14
Manajemen Pemeliharaan Sapi Aceh ... 16
Sumber Daya Genetik Ternak ... 18
Sifat Kualitatif dan Kuantitatif ... 20
METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian ... 21
Bahan dan Alat Penelitian ... 22
Metode Penelitian ... 22
Pengumpulan Data ... 22
Analisis Data ... 24
Parameter Penelitian ... 26
HASIL DAN PEMBAHASAN Ukuran-Ukuran Tubuh Sapi Aceh ... 27
Analisis Komponen Utama (Principal Componen Analysis) ... 33
Keragaman Warna Sapi Aceh ... 38
Keragaman Bentuk Tanduk Sapi Aceh ... 42
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 47
Saran ... 47
DAFTAR PUSTAKA ... 48
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Populasi dan penyebaran sapi lokal Indonesia ... 7
Tabel 2. Populasi sapi lokal di Provinsi Aceh tahun 2011 ... 8
Tabel 3. Ukuran Tubuh dan berat Badan sapi Aceh betina... 28
Tabel 4. Ukuran tubuh dan berat badan sapi Aceh jantan... 28
Tabel 5. Akar ciri, proporsi dan kumulatif dari Komponen Utama (KU)... 31
Tabel 6. Vektor ciri dari masing-masing Komponen Utama (KU) ... 32
Tabel 7. Persamaan Skor Ukuran dan Skor Bentuk tubuh sapi Aceh ... 34
Tabel 8. Pola warna tubuh sapi Aceh ... 36
Tabel 9. Pola warna berdasarkan jenis kelamin sapi Aceh ... 40
Tabel 10. Bentuk-bentuk tanduk sapi Aceh ... 41
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1. Berat badan sapi Aceh sesuai dengan bertambahnya umur ... 27
Grafik 2. Lingkar dada sapi Aceh sesuai dengan bertambahnya umur ... 29
Grafik 3. Lebar dada sapi Aceh sesuai dengan bertambahnya umur ... 30
Grafik 4. Dalam dada sapi Aceh sesuai dengan bertambanya umur ... 30
Grafik 5. Tinggi pundak sapi Aceh sesuai bertambahnya umur ... 31
Grafik 6. Panjang badan sapi Aceh sesuai dengan bertambanya umur... 31
Grafik 7. Perbedaan ukuran tubuh sapi Aceh pada tahun berbeda ... 32
Grafik 8. Pola warna sapi Aceh di Provinsi Aceh ... 39
Grafik 9. Pola warna sapi Aceh berdasarkan jenis kelamin ... 41
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Surat Keputusan Penetapan Rumpun Sapi Aceh ... 52
Lampiran 2. Lokasi pengambilan sampe penelitian Sapi Aceh ... 55
Lampiran 3. Jumlah sampel Sapi Aceh menurut kabupaten/kota di Aceh . 55 Lampiran 4. Pola warna Sapi Aceh menurut kabupaten/kota di Aceh ... 53
Lampiran 5. Statistik Deskriptif Sapi Aceh ... 53
Lampiran 6. Kontribusi (Communalities) ... 53
Lampiran 7. Test KMO dan Bartlett’s ... 53
Lampiran 8. Penjelasan total keragaman ... 54
Lampiran 9. Skor komponen koefisien matrik ... 54
ABSTRAK
FAKHRUL RIZAL : Karakteristik Morfologi dan Keragaman Sifat-Sifat Kualitatif Sapi Aceh. Dibimbing oleh SAYED UMAR dan HAMDAN.
Sapi Aceh merupakan plasma nutfah sapi lokal Indonesia yang perlu dipertahankan dan dikembangkan sebagai kekayaan sumberdaya genetik Indonesia yang memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap penyakit, parasit, pakan kualitas rendah serta sistem pemeliharaan yang ekstensif. Masuknya ternak eksotik dari luar negeri ke Indonesia disamping dapat memperbaiki kualitas sapi lokal juga dikhawatirkan akan menghilangkan sumberdaya genetik ternak lokal apabila persilangan dilakukan tanpa evaluasi, kontrol dan tanpa memperhitungkan arti penting sapi asli Indonesia. Oleh karena itu, dilakukan penelitian analisis morfometrik dan fenotipik (warna dan bentuk tanduk) pada 205 ekor sapi Aceh (174 betina dan 31 jantan) di Kabupaten Aceh Besar, Kota Banda Aceh, Kabupaten Bireun, Kabupaten Pidie Jaya dan Kabupaten Aceh Barat. Data fenotipik dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan Excel dan data morfometrik dianalisis dengan Analisis komponen Utama menggunakan program SPSS 18.
Hasil Analisis Komponen Utama (AKU) menunjukkan bahwa panjang badan dan dalam dada sebagai Komponen Utama pada sapi Aceh. Sapi Aceh mempunyai warna yang beragam dan dominan berwarna merah bata (25,37%) dan coklat muda (22,44%). Sapi Aceh umumnya bertanduk akan tetapi terdapat 10,24% yang tidak bertanduk (kupung) pada jantan dan betina. Sebaiknya dilakukan penyuluhan untuk memberi imformasi bahwa Sapi Aceh sebagai plasma nutfah sapi potong lokal Indonesia berpotensi untuk dikembangkan dan dilestarikan sebagai upaya meningkatkan kesejahtraan masyarakat Indonesia.
ABSTRACT
FAKHRUL RIZAL: Morphological Characteristics and Diversity Attributes of Qualitative Aceh Cattle. Supervised by SAYED UMAR and HAMDAN.
Aceh cattle is Indonesian local cattle germplasm that need to be maintained and developed as a wealth of genetic resources Indonesia has a high adaptability to disease, parasites, low quality feed and extensive maintenance system. The import of exotic animals to Indonesian in addition to improving the quality of local beef would also tend to eliminate the local animal genetic resources in an intersection without evaluation, control and without taking into account the importance of native cattle to Indonesian. Therefore, research done phenotypic and morphometric analysis (color and horn shape) in 205 Aceh cattles (174 females and 31 males) in Aceh Besar District, Banda Aceh City, Bireuen District, Pidie Jaya District and Aceh Barat District. Phenotypic data were analyzed descriptively used Excel and the morphometric data were analyzed by Principal Component Analysis (PCA) used SPSS 18.
The results of Principal Component Analysis (PCA) indicates that the body length and chest depth as the Principal Components in Aceh cattle. Aceh Cattle has a variety of colors and red brick dominant (25.37%) and nutbrown (22.44%). Aceh Cattle generally horned but where 10.24% are not horns (kupung) on males and females. Counseling should be do as the given information of Aceh Cattle as Indonesian local beef germplasm potentian to be developed and preserved for the Indonesian public walfare.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Di Indonesia terdapat beberapa sapi lokal yang memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap makanan yang berkualitas rendah, sistem pemeliharaan yang ekstensif dan memiliki daya tahan tehadap penyakit serta parasit. Keungulan yang dimiliki oleh sapi lokal ini perlu dipertahankan sebagai plasma nutfah Indonesia dan perlu dikembangkan sebagai kekayaan genetik yang dimiliki Indonesia. Bangsa sapi tersebut adalah sapi bali, sapi pesisir, sapi Madura dan sapi Aceh.
Sapi Aceh merupakan sapi yang tersebar di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Populasi sapi Aceh di Nanggroe Aceh Darussalam diperkirakan sekitar 590.315 ekor dengan pertumbuhan populasi sebesar 4,4% . Keberadaan sapi Aceh tersebar di 21 kabupaten/kota di Provinsi Aceh. Populasi sapi Aceh di Aceh Timur 100.992 ekor, Aceh Utara 97.394 ekor, Aceh Besar 96.789 ekor, Bireun 69.692 ekor, Pidie 61.738 ekor (populasi sapi Aceh secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel 2 (Diskeswannak Aceh, 2011) pertumbuhan populasi sapi Aceh di Aceh Utara sebesar 5,1%, Aceh Besar 3,3% Aceh Timur 4,9%, Bireuen 4,8% dan Pidie 3,5% (Ditjennak, 2011).
Kendala dalam meningkatkan populasi dan produkivitas sapi lokal yaitu : sarana dan prasarana, keterbatasan modal, keterampilan peternak dan populasi genetik serta faktor kebutuhan ekonomi masyarakat sebagai pemilik ternak yang cenderung menjual ternak terbaiknya agar memperoleh harga jual yang tinggi (Ahmad, 2003).
Masuknya ternak-ternak eksotik dari luar negeri ke Indonesia disamping dapat memperbaiki kualitas ternak lokal, dikhawatirkan juga dapat mengakibatkan terjadinya erosi sumber daya genetik ternak lokal apabila dilakukan persilangan tanpa evaluasi, kontrol dan tanpa memperhitungkan arti penting sapi asli Indonesia.
Seekor ternak menunjukkan fenotipnya (P) sebagai pengaruh-pengaruh seluruh gen atau genotipnya (G), lingkungan (E) dan interaksi antara genotip dan lingkungan (lGE) (Martojo, 1992; Hardjosubroto, 1994). Karakter fenotip ternak dapat diketahui melalui ukuran-ukuran tubuh (Otsuka et al, 1982; Surjoatmodjo, 1993), warna, pola warna tubuh dan pertumbuhan tanduk (Wiley, 1981; Warwick et al, 1990; Riwantoro, 2005).
Tujuan Penelitian
Menganalisis koefisien keragaman dan frekuensi gen, mengetahui keragaman fenotip dan genotip sapi dan karakteristik morfologi tubuh yang khas yang dimiliki sapi Aceh.
Hipotesa Penelitian
Sapi Aceh memiliki karakteristik yang khas sebagai penciri bagi sapi Aceh dan memiliki hubungan yang erat dengan bangsa sapi Bos indicus (sapi zebu).
Kegunaan Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
Profil Provinsi Aceh
Provinsi Aceh yang beribukota di Banda Aceh, membentang 2˚ – 6˚ LU dan 95˚– 98˚ BT. Provinsi seluas 58.375,63 km2 ini memiliki 119 pulau besar dan kecil, 35 gunung, 73 sungai besar, dan dua buah danau (BPS, 2009; Bappeda Provinsi Aceh, 2007). Batas wilayah Provinsi Aceh sebelah Utara dengan Selat Malaka, Sebelah selatan berbatasan dengan Sumatera Utara, Sebelah timur dengan Selat Malaka, dan sebelah barat dengan laut Indonesia. Ketinggian rata-rata Provinsi Aceh adalah 125 meter dari permukaan laut. Secara administratif terbagi ke dalam 18 Kabupaten dan 5 Kota, 276 kecamatan, 731 mukim, dan 6.424 desa.
Karena letaknya dilalui garis katulistiwa, iklim di Aceh adalah tropis, yang dalam setahun terdiri dari musim kemarau dan hujan. Secara umum, musim kemarau berlangsung dari bulan Maret sampai Agustus dan musim hujan dari bulan September sampai Februari. Curah hujan sekitar 1000-2000 mm di daerah pantai, 1500-2000 mm di daerah tinggi dan di pantai barat daya. Suhu di dataran yang lebih rendah adalah 25° C dan dataran tinggi 27° C dengan kelembaban udara antara 60-90%.
Profil Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Sapi Aceh
No. 331/Kpts/Org/5/1978 tanggal 25 Mei 1978 (tahun berdirinya BPT dan HMT) selanjutnya dengan adanya SK Mentan No. 282/Kpts/T.210/4/2002 tanggal 6 April 2002 maka BPT dan HMT berubah namanya menjadi BPTU (Balai Pembibitan Ternak Unggul) Sapi Aceh Indrapuri – Aceh.
Dalam perkembangannya BPTU Sapi Aceh terjadi pasang surut konflik dan musibah tsunami beberapa tahun yang lalu sehingga sangat berpengaruh terhadap kegiatan dan kelangsungan balai. BPTU Sapi Aceh mempunyai visi “Terwujudnya Pembibitan Sapi Aceh di UPT dan Masyarakat guna pelestarian plasma nutfah” dan misi “Meningkatkan produktifitas Sapi Aceh untuk meningkatkan persediaan bibit sapi Aceh, meningkatkan pendapatan peternak, dan melestarikan sumber daya peternakan Sapi Aceh dan plasma nutfah.
Pada saat ini BPTU sapi Aceh Indrapuri didukung oleh sumber daya manusia sebanyak 121 orang yang terdiri dari 83 orang PNS/CPNS dan 38 orang tenaga harian lepas yang latar belakang pendidikannya tediri dari Magister, Dokter hewan, sarjana peternakan/pertanian dan sarjana lainnya, Sarjana Muda, Snakma, SLTP dan SD. BPTU Sapi Aceh mempunyai topografi berbukit-bukit, berlembah juga datar dibagian tengah dengan ketinggian 30-80 meter dari permukaan laut. Sedangkan iklim di BPTU adalah beriklim panas dengan suhu rata-rata 27,5 o
rumput 49 Ha untuk padang pengembalaan dan 80 Ha untuk rumput potong (BPTU,2010).
Klasifikasi Bangsa Sapi
Menurut Blakely dan Bade, (1992) bangsa sapi mempunyai klasifikasi taksonomi sebagai berikut : Kingdom Animalia, Phylum Chordata, Subphylum Vertebrata, Class Mamalia, Sub class Theria, Infra class Eutheria, Ordo Artiodactyla, Sub ordo Ruminantia, Infra ordo Pecora, Famili Bovidae, Genus Bos (cattle), Group
Taurinae, Spesies Bos taurus (sapi Eropa), Bos indicus (sapi India/sapi zebu), Bos sondaicus (banteng/sapi Bali).
Grup Genus Spesies liar Spesies domestikasi
Sapi Lokal Indonesia
Menurut Wiyono dan Aryogi, (2007); Noor, (2000) Sapi potong lokal Indonesia sebagai ternak asli mempunyai keragaman genetik yang cukup besar dan terbukti mampu beradaptasi pada kondisi lingkungan tropis yang kering, kuantitas dan kualitas pakan yang terbatas, relatif tahan serangan penyakit tropis dan parasit, serta performans reproduksinya cukup efisien, sehingga berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai materi genetik dalam pengembangan sapi potong yang unggul, walaupun produksinya lebih rendah dari ternak impor.
Perkembangan keragaman genetik bangsa-bangsa sapi di Indonesia mengalami pertambahan dengan adanya migrasi sapi zebu dalam pembentukan bangsa-bangsa sapi lokal Indonesia. Saparto (2004) dan Sutopo (2001) menyatakan bahwa sejak tahun 1806 sampai tahun 1812 telah didatangkan sapi zebu dari India untuk memperbaiki ukuran badan dan meningkatkan produksi daging dari sapi-sapi lokal. Dengan demikian secara konsekuen dapat diasumsikan bahwa populasi sapi Indonesia merupakan hasil hybrid individuals antara sapi asli (native stock) dengan bangsa zebu.
Tabel 1. Populasi dan penyebaran sapi lokal Indonesia N
o
Jenis Sapi Rataan Populasi (ekor)
Di Indonesia terdapat Bos (Bibos) banteng yang diyakini sebagai nenek moyang sapi yang menurunkan sapi-sapi lokal yang ada di Indonesia. Diperkirakan pulau Jawa merupakan pusat domestikasi dari keturunan Bibos ini dan menyebar ke daerah lain (Pane, 1993) Saparto (2004) menyatakan bahwa bangsa sapi Jawa terlihat di pulau Jawa, sehingga dinamakan sapi Jawa Sugeng (1996) menyatakan bahwa para ahli berpendapat sapi Jawa merupakan sapi lokal yang berasal dari persilangan Bos Indicus (Zebu) dan Bos sundaicus atau Bos bibos. Bos bibos merupakan sumber asli bangsa-bangsa sapi Indonesia.
Tabel 2. Populasi sapi lokal di Provinsi Aceh tahun 2011
No Kabupaten/Kota
Sumber : Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan, 2011
Karakteristik Sapi Aceh
Sapi Aceh merupakan satu dari empat bangsa sapi lokal indonesia (Aceh, Pesisir, Madura dan Bali). Sapi Sumba-ongole dan Java-Ongole (PO) juga dianggap sebagai bangsa sapi lokal Indonesia (Martojo, 2003; Dahlanuddin et al., 2003). Ternak-ternak asli telah terbukti dapat beradaptasi dengan lingkungan lokal termasuk makanan, ketersedian air, iklim dan penyakit. Dengan demikian, ternak-ternak inilah yang paling cocok untuk dipelihara dan dikembangkan di Indonesia, walaupun produksinya lebih rendah dari ternak impor (Noor, 2004).
Sapi Aceh memiliki bentuk badan kecil, padat dan kompak dengan pundak pada jantan berpunuk, sedangkan pada betina tidak berpunuk namun bagian pundaknya tidak rata sedikit menonjol dibanding sapi Bali betina. Diantara satu daerah dengan kabupaten yang lain dalam provinsi Aceh terdapat sedikit perbedaan baik dalam konformasi tubuh, tanduk maupun warna bulu. Hal ini mungkin disebabkan asal usul persilangan yang berbeda dari sapi India (Hisar, Benggala) dan sebagainya. Pada daerah pesisir dan sepanjang pantai Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara dan Aceh Timur, demikian juga pantai Barat dan Selatan akan ditemui sapi Aceh yang bentuk badannya beragam dan umumnya bertanduk lebih panjang dengan warna bulu merah/coklat tua dibagian pinggul dan sapi di daerah Pidie memiliki bentuk fisik sedikit agak kecil mungkin disebabkan karena telah terjadi inbeeding dalam waktu yang lama (Umartha, 2005).
Penyebaran sapi Aceh lebih banyak pada daerah pesisir pantai dan dataran rendah, dimana menyatu dengan kehidupan masyarakat serta digunakan sebagai tenaga kerja pengolah lahan pertanian, penarik gerobak, angkutan barang hasil pertanian disamping sebagai penghasil daging dan ternak potong (Umartha, 2005). Sapi Aceh banyak dipelihara petani disekitar bantaran sungai (krueng) seperti Krueng Aceh, Krueng Pesangan dan Krueng Peusangan. Saat ini jumlah Sapi Aceh terutama induk sebanyak 281.398 ekor tersebar di kabupaten dan kota dalam Provinsi Aceh (Diskeswannak, 2011).
Menurut Keputusan Menteri Pertanian (2011) Sapi Aceh Merupakan salah satu rumpun sapi lokal Indonesia yang mempunyai sebaran asli geografis di Provinsi Aceh, telah dibudidayakan secara turun temurun dan mempunyai keseragaman bentuk fisik dan komposisi genetik serta kemampuan adaptasi dengan baik pada keterbatasan lingkungan.
Pola warna bulu anak bervariasi, umumnya berwarna coklat atau merah bata. Warna lainnya adalah putih kelabu, hitam, coklat tua dan coklat dengan garis-garis hitam. Warna bulu anak akan berubah sesuai dengan bertambah dewasanya anak sapi. Bila anak sapi dilahirkan dengan warna coklat merah atau merah bata, maka setelah dewasa warna bulunya menjadi hitam atau mempunyai spot warna hitam. Hal ini terutama terjadi pada bagian leher, muka dan daerah paha (Ali, 1980).
Menurut Namikawa et al, (1982), sapi Sumatera (Aceh dan Pesisir) memiliki bermacam-macam warna yaitu hitam, coklat kehitaman, coklat kuning dan abu-abu putih yang didominasi oleh warna coklat kuning.
Pada umur 3-4 bulan tanduk belum berkembang (Ali, 1980). Pada sapi betina dewasa bentuk tanduk melengkung dan ukurannya kecil, sedangkan pada jantan lengkung kecil sampai besar dengn warna tanduk hitam keabu-abuan.
Menurut Abdullah., dkk 2006 bahwa pada umumnya sapi Aceh bertanduk, tetapi terdapat juga sapi Aceh yang yang tidak bertanduk sebesar 7% hanya dijumpai pada betina. Panjang dan bentuk pertumbuhan tanduk beragam dan terus memanjang seiring dengan pertumbuhan sapi. Sapi yang mempunyai tanduk seperti sapi Aceh umumnya dijumpai pada sapi Bali, Madura, PO, dan sapi Pesisir. Namun, disamping ada sapi Aceh yang memiliki tanduk hanya berupa bungkul kecil (18%) seperti yang dimiliki pada sebagian sapi PO, juga ditemukan sapi Aceh yang tidak bertanduk (kupung) sebesar 7%.
Populasi dan Penyebaran sapi Aceh
5,1%, Aceh Besar 3,3% Aceh Timur 4,9%, Bireuen 4,8% dan Pidie 3,5% (Ditjennak, 2011).
Persilangan yang semakin luas dengan bangsa sapi eksotik yang dilakukan tanpa evaluasi, kontrol dan memperhitungkan arti penting sapi asli, dikhawatirkan dapat mengakibatkan erosi sumber daya genetiknya, sehingga mengancam keberadaan sapi asli pada masa yang akan datang. Kehilangan gen-gen penting pada ternak asli yang telah beradaptasi dengan lingkungan setempat akan sulit bahkan tidak akan tergantikan (Abdullah, et al., 2008b
Asal usul sapi Aceh
).
Sapi Aceh pada mulanya diduga dimasukkan oleh pedagang India pada masa kerajaan Islam pertama di Peureulak yang terbentuk tahun 847M (225 H). Karena pada masa itu sudah terjalin hubungan kerja sama antarnegara dan perdagangan bebas di Aceh terutama lada yang ingin dikuasai seluruhnya oleh pedagang-pedagang dari mesir, Parsi dan Gujarat (catatan sejarah Aceh, catatan Marcopolo 1256 dan Ibnu Bathutah 1345). Perdagangan yang ramai sudah lama terjalin antara Aceh dengan Malaka. Pedagang Arab, Cina, serta India yang datang yang datang ke Aceh, mereka membawa sapi-sapi dari India ke Aceh. Pada abad ke-19 telah menjadi kebiasaan mengimpor ternak melalui Selat Malaka, khususnya ke Pidie dan Aceh Timur Laut (Peureulak) (Merkens, 1926; Abdullah., et al., 2008b
Kehidupan masyarakat Aceh dalam beternak telah berlangsung sangat lama sekali. Masyarakat Aceh telah beternak sebelum mereka beragama Islam, berarti ketika masih menganut agama Hindu. Sapi Hissar serta beberapa bangsa sapi turunan
zebu lainnya yang dulunya banyak dijumpai sepanjang pantai Utara-Timur dari daerah Aceh kini telah banyak berkurang. Kekurangan tersebut selain penyembelihan, perdagangan sapi dari Aceh ke Medan, kematian dan tsunami. Sapi zebu yang terdapat di Aceh pada tahun 1950-an lebih sering dikenal dengan sebutan bangsa sapi Benggala, dan ada pula pada wilayah Aceh tertentu menyebut sapi India atau leumo Klieng. Hal ini dikarenakan pada masa itu banyak orang India yang memelihara dan mengusahakan sapi turunan zebu. Sekarang ini banyak sapi turunan temperate tidak dijumpai lagi di Nanggroe Aceh Darussalam.Sapi turunan temperate ini kurang sesuai dalam beradaptasi terhadap kondisi iklim tropik di Aceh dan ditambah lagi dengan kondisi pakan yang kurang memadai dan tidak menguntungkan bagi kehidupan pertumbuhan dan produksi ternak sapi ( Basri, 2006).
Keunggulan Sapi Aceh
Sapi Aceh mempunyai keunggulan yang sangat menonjol,terutama pada daya reproduksinya, karena sapi Aceh tergolong ternak masak dini dengan birahi postpartum sangat singkat. Disamping itu sapi Aceh mempunyai kemampuan menyesuaikan diri yang relatif cepat terhadap lingkungan baru pada beberapa faktor pendukung lokal yang tersedia, terutama kemampuan adaptasi atas berbagai pakan lokal, baik terhadap jenis pakan serat segar dan kering yang berasal dari dedaunan, rumput dan leguminosa. Menurut Gunawan (1998) Sapi Aceh mempunyai daya tahan terhadap lingkungan yang buruk seperti krisis pakan, air dan pakan berserat tinggi, penyakit parasit, temperatur panas dan sistem pemeliharaan ekstensif tradisional.
Keunggulan yang dimiliki oleh sapi Aceh sebagai sapi potong lokal: (1) Merupakan plasma nutfah Indonesia (2) Tingkat adaptasi terhadap lingkungan tropis sangat baik (3) Kapabilitas terhadap pakan berkualitas rendah (4) Relatif tahan terhadap parasit internal dan eksternal (5) Produktivitas baik (6) Karkas berkisar 49% (7) Struktur daging memiliki jaringan lebih halus, padat dan lebih baik dari sapi Brahman dan Peranakan Ongole (Deptan, 2011).
Menurut ILRI (1995) sapi Aceh merupakan sapi tipe kecil yang ditemukan di daerah Aceh. Sapi Aceh resisten terhadap temperatur tinggi sehingga berpotensi untuk dimanfaatkan. Ketahanan ternak lokal terhadap lingkungan yang ekstrim telah diuji melalui hewan percobaan mencit (Mus musculus) oleh Abdullah et al. (2005) bahwa mencit liar yang telah teradaptasi dengan lingkungan dengan segala perubahan yang ada mempunyai gen daya produksi dan reproduksi yang lebih unggul terhadap stres lingkungan dibandingkan mencit laboratorium.
Manajemen Pemeliharaan Sapi Aceh
Sapi Aceh Umumnya ditangani oleh masyarakat pedesaan dengan sistem tradisional, yaitu peran alam masih dominan, skala usaha kecil, pengadaan bibit, pemberian pakan, pemeliharaan dan perkandangan masih mengikuti cara-cara lama secara turun-temurun. Pengobatan ternak sakit dilakukan sendiri kecuali jika sakit berlanjut, maka kadang akan diupah tenaga kesehatan hewan untuk mengobatinya. Kandang sederhana beratap rumbia dengan dinding dari bahan kayu atau daun kelapa umumnya dibangun di dalam pekarangan rumah atau kebun milik peternak. Pada saat menjelang malam tiba, peternak membuat perapian sampai mengeluarkan asap didalam kandang sapi untuk mengusir nyamuk dan memberi kehangatan bagi ternak sapinya.
Sebelum diberlakukan Operasi Jaring Merah (DOM) di Aceh, apabila dilakukan perjalanan darat dari Banda Aceh melalui bagian timur Aceh menuju perbatasan dengan Sumatera Utara, maka akan ditemui sapi Aceh beristirahat sepanjang jalan lintas Sumatera ( karena kondisi badan jalan beraspal yang hangat dipanasi sinar mata hari pada siang hari) sehingga ada sebutan “ Aceh memiliki kandang terpanjang di dunia“.
Pemeliharaan Sapi di Aceh Besar dan Kota Banda Aceh, umumnya dilakukan secara mengikat sapi di lapangan rumput atau lahan sawah dan ditemui juga sapi-sapi digembalakan. Para peternak di Seulimum, Jantho dan sekitarnya yang bertempat tinggal dekat bukit, mengembalakan sapi-sapinya sampai ke kaki pegunungan bukit barisan. Namun sapi jantan umumnya digemukkan dalam kandang secara semi intensif (kereman) dan sapi diberikan pakan rumput lapangan, rumput gajah dan rumput raja serta batang pisang.
Pemeliharaan sapi di Kabupaten Pidie dan Aceh Utara , hampir seluruh sapi dilepas ke lapangan- lapangan rumput atau sawah-sawah yang baru dipanen pada pagi hari dan sapi tersebut membentuk beberapa kelompok. Pemberian pakan pada sapi Aceh disaat musim tanam dan musim kemarau hanya mengandalkan jerami padi dan sangat sedikit diberikan rumput segar bahkan rumput kering.
Penggemukan sapi Aceh jantan terintegrasi dengan kebun kelapa sawit dapat ditemukan di Cot Girek, Aceh Utara. Sapi dilepas digembalakan sepanjang hari dalam areal kebun sawit yang luas. Kandang- kandang dibangun dekat pemukiman penduduk . Pada sore hari, sapi peliharaan kembali ke kandang dan mendapatkan tambahan pakan rumput gajah yang telah disediakan pemiliknya dikandang. Penampilan sapi-sapi penggemukan tersebut cukup baik dan dalam waktu singkat sangat bernilai ekonomis untuk dijual (Abdullah., 2009).
kepada produksi optimal , bukan kepada produksi maksimal yang membutuhkan input besar ( Diskeswannak., 2011).
Kepemilikan sapi di Aceh umumnya merupakan warisan keluarga secara turun-temurun, pembelian atau milik orang lain. Ada aturan bagi hasil ( mawaih) dalah usaha pemeliharaan sapi di Aceh. Apabila sapi yang di pelihara merupakan betina milik orang lain untuk menghasilkan anak, maka anak sapi yang lahir pertama dihargakan satu bagian (0,25%) bagi pemilik modal dan tiga bagian (0,75%) untuk pemelihara sapi, dan anak yang lahir berikutnya dibagi dua bagian deng perbandingan 1 : 1. Apabila sapi jantan milik orang lain yang dipelihara untuk digemukkan, maka perjanjian dari hasil penjualan sapi, labanya dibagi dua bagian yang sama yaitu separuh (50%) untuk pemilik modal dan separuh lagi (50%) untuk pemelihara sapi (Abdullah., 2009).
Sumber Daya Genetik Ternak
Sejarah sumber daya genetik ternak (SDGT) dimulai 12.000 sampai 14.000 tahun yang lalu. Ribuan tahun yang lalu setelah seleksi oleh alam dan manusia, hanyutan genetik, inbreeding dan crossbreeding berkontribusi terhadap keragaman SDGT dan memungkinkan dilakukan budidaya ternak dalam berbagai lingkungan dan sistem produksi (Pusat penelitian dan pengembangan Peternakan., 2009)
Sumber daya genetik ternak asli akan cenderung punah akibat permintaan pasar yang baru, persilangan yang tidak terkendali, pergantian breed (pergantian bangsa sapi yang ada dengan bangsa sapi yang baru) dan kegiatan mekanisasi pertanian ( pergantian penggunaan tenaga sapi dengan tenaga mesin untuk mengolah lahan pertanian) (FAO, 2000).
Program impor ternak telah menimbulkan dua masalah besar: (1) interaksi antara faktor genetik dengan faktor lingkungan. Masalah ini timbul pada pengimporan ternak hidup dan embrio, (2) adanya kemungkinan hilangnya ternak-ternak asli Indonesia akibat persilangan antara ternak-ternak asli dengan ternak-ternak impor yang kurang terencana.
Persilangan antar bangsa sapi yang tidak diatur secara professional dengan hanya mengedepankan aspek ekonomi tanpa memperhatikan aspek pelestarian sumberdaya genetiknya, maka penerus generasi bangsa Indonesia berpotensi kehilangan sumberdaya genetik ternaknya yang mungkin saja memiliki banyak keunggulan.
genotip pada frekuensi ini dikatakan berada dalam keseimbangan atau biasa disebut dengan keseimbangan Hardy-Weinberg (Warwick et al., 1990).
Beberapa faktor yang menyebabkan perubahan keseimbangan hukum Hardy-weinberg dalam populasi yaitu adanya: (1) Hanyutan genetik (genetic drift), (2) Arus gen (gene flow), (3) Mutasi, (4) Perkawinan tidak acak, dan (5) Seleksi alam.
Sifat Kualitatif dan Kuantitatif
Performans atau penampilan individu ditentukan oleh dua faktor yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik ditentukan oleh susunan gen dan kromosom yang dimiliki oleh ternak. Selama kehidupan suatu organisme sifat turunannya akan berinteraksi dengan lingkungan dan interaksi ini akan menentukan rupa atau bentuk individu tersebut pada waktu tertentu dan perkembangannya pada waktu mendatang.
Sifat kuantitatif adalah ciri dari makhluk yang dapat diukur, dihitung atau diskors. Karakter ini ditentukan oleh banyak pasang gen (poligenik) dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan (Wiley, 1981), sedangkan sifat kualitatif seperti warna, pola warna, sifat bertanduk atau tidak bertanduk dapat dibedakan tanpa harus mengukurnya. Sifat kualitatif biasanya hanya dikontrol oleh sepasang gen (Noor, 2008).
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan mulai bulan Desember 2011 sampai dengan April 2012 di Provinsi Aceh. Lokasi penelitian Meliputi Kabupaten Aceh Besar (6 kecamatan dan 13 desa), Kota Banda Aceh (1 Kecamatan dan 1 desa), Kabupaten Bireun (1 Kecamatan dan 1 desa), Kabupaten pidie Jaya (2 kecamatan dan 2 desa), Kabupaten Aceh Barat (1 kecamatan dan 1 desa).
Bahan dan Alat Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 205 ekor sapi Aceh yang terdiri dari 31 ekor jantan dan 174 ekor betina yang telah mencapai umur dewasa tubuh (24 bulan) sehingga tidak mengalami pertumbuhan lagi dan dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin.
Alat
Peralatan yang digunakan adalah timbangan ternak, tongkat ukur, pita ukur, kamera digital Canon 14 mega pixel.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan dengan pengamatan dan pengukuran langsung terhadap sampel. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling, yaitu sampel ditentukan berdasarkan kriteria sudah mencapai umur dewasa tubuh (24 bulan). Data sekunder yang berhubungan dengan penelitian diperoleh dari Dinas Peternakan Nanggroe Aceh Darussalam dan instansi terkait. Penggolongan umur ditentukan berdasarkan pemunculan dan penanggalan gigi seri dan diperkirakan sudah mencapai dewasa tubuh.
Pengumpulan Data
(2) Lebar dada, diukur dari antara tuberositas humeri sinister dan dexter dengan menggunakan tongkat ukur dalam cm, (3) Dalam dada, diukur dari bagian tertinggi pundak sampai dasar dada menggunakan tongkat ukur dalam cm, (4) Tinggi pundak , diukur dari bagian tertinggi pundak melalui belakang scapula tegak lurus ke tanah dengan menggunakan tongkat ukur dalam cm, (5) Panjang badan, diukur dari tuber ischii sampai dengan tuberositas humeri dengan menggunakan tongkat ukur dalam cm.
Terdapat kesulitan dalam melakukan penimbangan ternak di lokasi penelitian, sehingga untuk menduga bobot badan sapi Aceh digunakan rumus Johnson W=LG2 /300 (W=berat badan dalam pound, L = panjang badan dalam inch, G = lingkar dada dalam inch) yang telah di jabarkan oleh Abdullah (2008a) menjadi: BB = LG2
Sifat-sifat fenotip kualitatif yang diamati yaitu warna, pola warna tubuh, bentuk pertumbuhan tanduk sapi yang dikelompokkan berdasarkan umur dan jenis kelamin. Pengamatan bentuk tanduk dengan cara mengamati arah pertumbuhan
tanduk berawal dari kepala sampai ujung tanduk. Setiap individu dicatat arah pertumbuhannya.
Analisis Data
Pengolahan data menggunakan program SPSS versi 18 dan ditabulasi data sheet Excel. Analisis data ditabulasi menurut lokasi sampel, dan jenis kelamin. Data ukuran tubuh ternak dilakukan dengan menggunakan analisis multivariat yaitu dengan menggunakan Principal Component Analisis (PCA) atau Analisis Komponen Utama (AKU) untuk mengetahui gambaran hubungan antar bangsa sapi dan digunakan sebagai upaya matematis untuk menyederhanakan variabel menjadi variabel baru, namun variabel baru masih tetap dapat menentukan sebagian besar informasi data asalnya. Analisis data ditabulasi menurut jenis kelamin dan umur sampel.
Karakteristik ukuran tubuh dilakukan dengan menghitung nilai rataan, simpangan baku (S), dan koefisien keragaman (KK) dari setiap sifat yang diamati seperti petunjuk Steel dan Torrie (1995) dengan menggunakan Principal Component Analysis (PCA) atau Analisis Komponen Utama (AKU). Sedangkan untuk warna, pola warna dan bentuk pertumbuhan tanduk dilakukan dengan menghitung keragaman genetik, keragaman fenotip, frekuensi gen dan frekuensi genetik.
Keterangan :
x = nilai rataan
N = jumlah sampel yang diperoleh Xi = ukuran ke-i dari sifat x
S = Simpangan baku
KK = koefisien keragaman
Keragaman genetik, Keragaman fenotip, Frekuensi gen, Frekuensi genetik
Data ukuran tubuh selanjutnya dianalisis dengan menggunakan Analisis Komponen Utama (AKU). Pengolahan data dengan menggunakan AKU dilakukan berdasarkan pengelompokan berdasarkan jenis kelamin dari sapi Aceh dengan model matematika sebagai berikut (Gaspersz, 1992):
Yp = a1pX1 + a2pX2 + a3pX3 + a4pX4 + ....+ anpX
= komponen utama ke-p
1p, a2p, ... anp X
= vektor ciri/vektor Eigen ke-1,...., n pada komponen utama ke-p 1, X2,...,Xn
Dua komponen utama yang keragaman totalnya tertinggi digunakan sebagai persamaan ukuran tubuh.
= peubah-peubah yang diamati
Selanjutnya skor komponen utama yang diperoleh dari persamaan ukuran tubuh disajikan dalam bentuk diagram. Vektor ukuran pada sumbu X dan vektor bentuk pada sumbu Y.
Untuk data kualitatif , perhitungan proporsi fenotif ukuran tubuh didasarkan pada jumlah fenotipe yang muncul dibagi jumlah ternak yang diamati total, dikali 100% :
Persentase Fenotipe = ����� ℎ�������� ���� ������
Parameter Penelitian
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan mulai bulan Desember 2011 sampai dengan April 2012 di Provinsi Aceh. Lokasi penelitian Meliputi Kabupaten Aceh Besar (6 kecamatan dan 13 desa), Kota Banda Aceh (1 Kecamatan dan 1 desa), Kabupaten Bireun (1 Kecamatan dan 1 desa), Kabupaten pidie Jaya (2 kecamatan dan 2 desa), Kabupaten Aceh Barat (1 kecamatan dan 1 desa).
Bahan dan Alat Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 205 ekor sapi Aceh yang terdiri dari 31 ekor jantan dan 174 ekor betina yang telah mencapai umur dewasa tubuh (24 bulan) sehingga tidak mengalami pertumbuhan lagi dan dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin.
Alat
Peralatan yang digunakan adalah timbangan ternak, tongkat ukur, pita ukur, kamera digital Canon 14 mega pixel.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan dengan pengamatan dan pengukuran langsung terhadap sampel. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling, yaitu sampel ditentukan berdasarkan kriteria sudah mencapai umur dewasa tubuh (24 bulan). Data sekunder yang berhubungan dengan penelitian diperoleh dari Dinas Peternakan Nanggroe Aceh Darussalam dan instansi terkait. Penggolongan umur ditentukan berdasarkan pemunculan dan penanggalan gigi seri dan diperkirakan sudah mencapai dewasa tubuh.
Pengumpulan Data
(2) Lebar dada, diukur dari antara tuberositas humeri sinister dan dexter dengan menggunakan tongkat ukur dalam cm, (3) Dalam dada, diukur dari bagian tertinggi pundak sampai dasar dada menggunakan tongkat ukur dalam cm, (4) Tinggi pundak , diukur dari bagian tertinggi pundak melalui belakang scapula tegak lurus ke tanah dengan menggunakan tongkat ukur dalam cm, (5) Panjang badan, diukur dari tuber ischii sampai dengan tuberositas humeri dengan menggunakan tongkat ukur dalam cm.
Terdapat kesulitan dalam melakukan penimbangan ternak di lokasi penelitian, sehingga untuk menduga bobot badan sapi Aceh digunakan rumus Johnson W=LG2 /300 (W=berat badan dalam pound, L = panjang badan dalam inch, G = lingkar dada dalam inch) yang telah di jabarkan oleh Abdullah (2008a) menjadi: BB = LG2
Sifat-sifat fenotip kualitatif yang diamati yaitu warna, pola warna tubuh, bentuk pertumbuhan tanduk sapi yang dikelompokkan berdasarkan umur dan jenis kelamin. Pengamatan bentuk tanduk dengan cara mengamati arah pertumbuhan
tanduk berawal dari kepala sampai ujung tanduk. Setiap individu dicatat arah pertumbuhannya.
Analisis Data
Pengolahan data menggunakan program SPSS versi 18 dan ditabulasi data sheet Excel. Analisis data ditabulasi menurut lokasi sampel, dan jenis kelamin. Data ukuran tubuh ternak dilakukan dengan menggunakan analisis multivariat yaitu dengan menggunakan Principal Component Analisis (PCA) atau Analisis Komponen Utama (AKU) untuk mengetahui gambaran hubungan antar bangsa sapi dan digunakan sebagai upaya matematis untuk menyederhanakan variabel menjadi variabel baru, namun variabel baru masih tetap dapat menentukan sebagian besar informasi data asalnya. Analisis data ditabulasi menurut jenis kelamin dan umur sampel.
Karakteristik ukuran tubuh dilakukan dengan menghitung nilai rataan, simpangan baku (S), dan koefisien keragaman (KK) dari setiap sifat yang diamati seperti petunjuk Steel dan Torrie (1995) dengan menggunakan Principal Component Analysis (PCA) atau Analisis Komponen Utama (AKU). Sedangkan untuk warna, pola warna dan bentuk pertumbuhan tanduk dilakukan dengan menghitung keragaman genetik, keragaman fenotip, frekuensi gen dan frekuensi genetik.
Keterangan :
x = nilai rataan
N = jumlah sampel yang diperoleh Xi = ukuran ke-i dari sifat x
S = Simpangan baku
KK = koefisien keragaman
Keragaman genetik, Keragaman fenotip, Frekuensi gen, Frekuensi genetik
Data ukuran tubuh selanjutnya dianalisis dengan menggunakan Analisis Komponen Utama (AKU). Pengolahan data dengan menggunakan AKU dilakukan berdasarkan pengelompokan berdasarkan jenis kelamin dari sapi Aceh dengan model matematika sebagai berikut (Gaspersz, 1992):
Yp = a1pX1 + a2pX2 + a3pX3 + a4pX4 + ....+ anpX
= komponen utama ke-p
1p, a2p, ... anp X
= vektor ciri/vektor Eigen ke-1,...., n pada komponen utama ke-p 1, X2,...,Xn
Dua komponen utama yang keragaman totalnya tertinggi digunakan sebagai persamaan ukuran tubuh.
= peubah-peubah yang diamati
Selanjutnya skor komponen utama yang diperoleh dari persamaan ukuran tubuh disajikan dalam bentuk diagram. Vektor ukuran pada sumbu X dan vektor bentuk pada sumbu Y.
Untuk data kualitatif , perhitungan proporsi fenotif ukuran tubuh didasarkan pada jumlah fenotipe yang muncul dibagi jumlah ternak yang diamati total, dikali 100% :
Persentase Fenotipe = ����� ℎ�������� ���� ������
Parameter Penelitian
HASIL DAN PEMBAHASAN
Ukuran- ukuran tubuh sapi AcehRataan ukuran tubuh sapi Aceh yang diukur meliputi lingkar dada, lebar dada, dalam dada, tinggi pundak dan panjang badan dan penimbangan bobot badan sapi Aceh yang dikelompokkan berdasarkan umur dan jenis kelamin yang berbeda tertera pada tabel 3 dan tabel 4.
Grafik 1: Bobot badan sapi Aceh sesuai dengan bertambahnya umur
Penaksiran bobot badan sapi Aceh diperoleh dari rumus lingkar dada dan panjang badan (bagian metode penelitian). Rataan bobot badan sapi Aceh betina pada kelompoh umur 2 tahun 106,85 Kg dan pada jantan 117,51 Kg, pada kelompok umur 3 tahun pada sapi Aceh betina 114,15 Kg dan pada jantan 124,95 Kg, pada kelompok umur 4 tahun betina memiliki rataan berat 118,6 Kg dan pada jantan 125,6 Kg. Pertambahan bobot badan sapi Aceh sesuai dengan pertambahan umur dapat dilihat pada grafik 1.
2 tahun 3 tahun 4 tahun 5 tahun
Tabel 3. Ukuran tubuh dan bobot badan sapi Aceh betina Keterangan : BB = Bobot badan (Kg), LiDa = Lingkar dada (Cm), LeDa = Lebar dada (Cm), DaDa = Dalam dada (Cm), TiPu = Tinggi pundak (Cm), PaBa
= Panjang badan (Cm), n = jumlah sampel, s = Simpangan baku dan KK = Koefisien keragaman (%).
Tabel 4. Ukuran tubuh dan bobot badan sapi Aceh jantan
No Ukuran
Keterangan : BB = Bobot badan (Kg), LiDa = Lingkar dada (Cm), LeDa = Lebar dada (Cm), DaDa = Dalam dada (Cm), TiPu = Tinggi pundak (Cm), PaBa
Grafik 2: Lingkar dada sapi Aceh sesuai dengan bertambahnya umur Rataan lingkar dada sapi Aceh betina pada kelompoh umur 2 tahun 126,71 cm dan pada jantan 125,72 cm, pada kelompok umur 3 tahun pada sapi Aceh betina 134,23 cm dan pada jantan 135,37 cm, pada kelompok umur 4 tahun betina memiliki rataan lingkar dada 135,9 cm dan pada jantan 137 cm. Pertambahan ukuran lingkar dada sapi Aceh sesuai dengan pertambahan umur dapat dilihat pada grafik 2.
Rataan lebar dada sapi Aceh betina pada kelompoh umur 2 tahun 34 cm dan pada jantan 33,72 cm, pada kelompok umur 3 tahun pada sapi Aceh betina 33,93 cm dan pada jantan 34,75 cm, pada kelompok umur 4 tahun betina memiliki rataan lebar dada 34,03 cm dan pada jantan 34,66 cm. Pertambahan ukuran lebar dada sapi Aceh sesuai dengan pertambahan umur dapat dilihat pada grafik 3.
126.71
2 tahun 3 tahun 4 tahun 5 tahun
Grafik 3: Lebar dada sapi Aceh sesuai dengan bertambahnya umur
Rataan dalam dada sapi Aceh betina pada kelompok umur 2 tahun 52,25 cm dan pada jantan 48,8 cm, pada kelompok umur 3 tahun pada sapi Aceh betina 53.78 cm dan pada jantan 52,12 cm, pada kelompok umur 4 tahun betina memiliki rataan dalam dada 52,16 cm dan pada jantan 50.33 cm. Ukuran dalam dada sapi Aceh sesuai dengan pertambahan umur dapat dilihat pada grafik 4.
Grafik 4: Dalam dada sapi Aceh sesuai dengan bertambahnya umur
34 33.93 34.03
2 tahun 3 tahun 4 tahun 5 tahun
L
2 tahun 3 tahun 4 tahun 5 tahun
Grafik 5: Tinggi pundak sapi Aceh sesuai dengan bertambahnya umur Rataan tinggi pundak sapi Aceh betina pada kelompok umur 2 tahun 86,07 cm dan pada jantan 92 cm, pada kelompok umur 3 tahun pada sapi Aceh betina 92,65 cm dan pada jantan 94,62 cm, pada kelompok umur 4 tahun betina memiliki rataan tinggi pundak 93,89 cm dan pada jantan 97,33 cm. Pertambahan ukuran tinggi pundak sapi Aceh sesuai dengan pertambahan umur dapat dilihat pada grafik 5.
Grafik 6: Panjang badan sapi Aceh sesuai dengan bertambahnya umur
86.07
2 tahun 3 tahun 4 tahun 5 tahun
Rataan panjang badan sapi Aceh betina pada kelompoh umur 2 tahun 84,94 cm dan pada jantan 86,85 cm, pada kelompok umur 3 tahun pada sapi Aceh betina 85,36 cm dan pada jantan 86,12 cm, pada kelompok umur 4 tahun betina memiliki rataan panjang badan 87,25 cm dan pada jantan 92,33 cm. Ukuran panjang badan sapi Aceh sesuai dengan pertambahan umur dapat dilihat pada grafik 6.
Rataan keseluruhan ukuran tubuh berbeda dengan laporan Merkens (1926), yaitu rataan ukuran sapi Aceh jantan lingkar dada 160,8 cm, lebar dada 35,5 cm, dalam dada 62,8 cm, tinggi pundak 115,5 cm dan panjang badan 126,0 cm. Perbedaan ukuran tubuh sapi Aceh dapat dilihat pada grafik 7.
Grafik 7: Perbedaan ukuran tubuh sapi Aceh pada tahun berbeda (Sumber: Merkens, 1926 dan Abdullah, 2008).
Penurunan ukuran tubuh sapi Aceh dapat terjadi karena beberapa kemungkinan. Pertama, terjadinya seleksi negatif pada sapi Aceh dimana ternak-ternak terbaik (berukuran besar) dipotong, dijual dan dikeluarkan dari populasinya.
Lebar Dada Dalam Dada Tinggi
Sehingga yang tertinggal dalam populasi adalah ternak-ternak yang berukuran kecil dan mendapat kesempatan untuk berkembang biak dan tetap digunakan sebagai pejantan dan induk. Kedua, Bekerjanya ekspresi gen sapi Aceh terhadap perubahan kondisi lingkungan. Ketiga, alih fungsi lahan peternakan dari lahan yang produktif untuk perkembangan ternak sapi Aceh ke lahan yang kritis dengan sumberdaya lahan yang tidak produktif untuk perkembangan ternak. Keempat, eksploitasi sumberdaya genetic sapi Aceh dengan sapi eksotik (sapi luar) agar mendapat sapi yang berukuran besar tanpa memikirkan hilangnya sumberdaya genetik sapi Aceh.
Analisis Komponen Utama (Principal Component Analysis)
Analisis komponen utama digunakan sebagai upaya matematis untuk menyederhanakan banyaknya variable menjadi variabel baru, namun variabel baru tersebut masih tetap dapat menerangkan sebagian besar informasi data asalnya. Hasil Analisis Komponen Utama ada dua, yaitu : (1) “Eigenvalue” (Akar cirri) dan (2) “Eigenvector” (Vektor ciri). Nilai dan kontribusi Akar cirri untuk gabungan jenis kelamin, jantan dan betina disajikan pada table. 5.
Tabel 5. Akar ciri, proporsi dan kumulatif dari komponen utama (KU)
Kelamin Komponen Utama
(KU)
Akar Ciri
Kontribusi Kumulatif (%)
Gabungan I 1,732 0,583 34,634
dari himpunan variabel-variabel asal. Sebagaimana dapat dilihat pada pada table 1 bahwa kontribusi Komponen Utama Pertama (KU-I) sebesar 58,30%: 88,30% dan 40,80% masing masing untuk gabungan jenis kelamin, jantan dan betina. Kontribusi tersebut dapat diartikan sebagai ragam terbesar dari kombinasi linear variabel-variabel asal yang diamati. Sementara itu Komponen Utama Kedua (KU-II) memberikan kontribusi 40,30%, 57,50% dan 75,80% masing-masing untuk gabungan jenis kelamin, jantan dan betina. Kumulatif dari KU-I dan KU-II secara bersama-sama mampu menjelaskan keragaman sebesar 59,35%, 73,529% dan 57,327%, masing-masing untuk gabungan jenis kelamin, jantan dan betina. Dalam analisis ini hanya menggunakan KU-I dan KU-II. Hasil penelitian Saparto (2004) yang menggunakan beberapa variabel kranium sapi Jawa dan beberapa bangsa sapi potong di Indonesia menunjukkan kontribusi I sebesar 65,00% dan KU-II 11,21%. Peneliti lain Hayashi et al. (1982) yang menggunakan beberapa variabel bangsa sapi asli di Asia menunjukkan hasil I sebesar 65,3% dan KU-II sebesar 9,3%.
Tabel 6. Vektor ciri dari masing-masing Komponen Utama (KU) Variabel yang
diamati
Gabungan Jantan Betina
KU-I KU-II KU-I KU-II KU-I KU-II
KU-I yang semakin membesar. Sedangkan pada nilai variabel (negatif) dengan membesarnya nilai variabel, tidak menghasilkan skor KU-I yang makin membesar. Koefisien terbesar pada variabel panjang badan dan dalam dada pada sapi Aceh (gabungan jenis kelamin) dan sapi Aceh jantan yaitu sebesar 0,481 dan 0454 panjang badan dan 0,676 dan 0,600 dalam dada. Sedangkan pada sapi Aceh betina yang mempunyai koefisien terbesar adalah panjang badan (0,476) dan lebar dada (0,661). Menurut Hayashi et al,(1982) Dalam Saparto (2004) bahwa analisis morfometrikal, KU-I ini dapat diterima sebagai faktor ukuran (“as a size factor”). Hal ini mengartikan bahwa panjang badan dan dalam dada sapi Aceh (gabungan jenis kelamindan jantan), yang mempunyai skor KU-I besar maka ukuran panjang badan dan dalam dada sapi Aceh makin membesar. Sedangkan pada sapi Aceh betina KU-I tertinggi terdapat pada panjang badan dan lebar dada.
Tabel 7: Persamaan Skor Ukuran dan Skor Bentuk tubuh sapi Aceh
Kelamin Variabel Persamaan
Gabungan Ukuran Y = 0,309X1 + 0,117X2 – 0,266X3 + 0,451X4 + 0,481X5 Bentuk Y = 0,342X1 + 0,420X2 + 0,676X3 + 0,020X4 – 0,143X Jantan
5 Ukuran Y = 0,220X1 + 0,368X2 – 0,147X3 + 0,315X4 + 0,454X5 Bentuk Y = 0,377X1 – 0,036X2 + 0,600X3 + 0,148X4 – 0,379X Betina
5 Ukuran Y = 0,391X1 + 0,186X2 – 0,150X3 + 0,425X4 + 0,476X5 Bentuk Y = 0,073X1 + 0,661X2 + 0,557X3 – 0,214X4 – 0,066X5
Keterangan : X
1 = Lingkar dada; X2 = Lebar dada; X3 = Dalam dada; X4 = Tinggi pundak; X5 = Panjang
badan
Pada gabungan jenis kelamin dan jantan, yang menjadi penciri ukuran pada sapi Aceh adalah adalah panjang badan (X5) dan dalam dada (X3) sebagai penciri bentuk. Pada sapi Aceh betina panjang badan (X5) menjadi penciri ukuran sedangkan lebar dada sebagai penciri bentuk.
Pada gambar 2 menyajikan diagram kerumunan (scatter plot) data Sapi Aceh jantan dan Sapi Aceh Betina. Berdasarkan perolehan skor ukuran (sumbu-X) dan bentuk (sumbu-Y).Ukuran dan bentuk sapi Aceh betina lebih seragam dibandingkan dengan sapi Aceh Jantan, dan Sapi Aceh jantan lebih beragam dari segi ukuran dan bentuk. Sebaran skor ukuran dan bentuk pada sapi Aceh jantan yang lebih luas menunjukkan ukuran dan bentuk sapi Aceh jantan beragam dari ukuran dan bentuk yang relatif kecil hingga ukuran dan bentuk yang relatif besar dibandingkan sapi Aceh betina. Tumpang tindih ditemukan pada beberapa individu Sapi Aceh jantan dan betina, yang menggambarkan bahwa pada sebagian kecil Sapi Aceh memiliki skor ukuran dan skor bentuk yang relatif sama antara sapi Aceh jantan dan betina.
Pada diagram diatas tampak sapi Aceh di wilayah Aceh Barat dan Banda Aceh dan Bireun mempunyai ukuran dan bentuk lebih kecil dibandingkan sapi Aceh di Aceh Besar, BPTU dan Pidie Jaya. Sapi Aceh yang berada di wilayah Aceh Besar, BPTU dan Pidie Jaya mempunyai keseragaman dari segi ukuran dan bentuk (relatif sama) dibandingkan sapi Aceh yang berada di Aceh Barat dan Banda Aceh dan Bireuen.
Keragaman warna sapi Aceh
Pada populasi sapi Aceh yang teramati menunjukkan warna yang beragam. Warna tubuh dominan pada sapi Aceh adalah merah bata dan coklat muda. Disamping warna itu terdapat sapi yang berwarna coklat, hitam, putih, coklat kehitaman, putih kemerahan dan putih keabuan. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Abdullah (2008a
Warna-warna yang diidentifikasi secara umum dikelompokkan ke dalam warna merah bata, coklat, hitam, putih dan kombinasi yang mengarah kepada warna terang dan warna gelap.
), secara kualitatif sapi Aceh memiliki warna yang beragam, warna tubuh dominan pada sapi Aceh adalah merah bata dan coklat muda.
Tabel 8. Pola warna tubuh sapi Aceh
Kelompok Warna Warna Tubuh Proporsi (%) Jumlah (%)
Terang Putih 12,19 45,36
Putih Keabuan 4,39
Putih Kemerahan 6,34
Coklat Muda 22,44
Gelap Merah Bata 25,37 54,64
Coklat 7,32
Coklat Kehitaman 12,19
Variasi dari warna sapi Aceh yang terdapat di Nanggroe Aceh Darussalam yaitu merah bata 25,37% diikuti berturut-turut coklat muda (22,44%), Coklat kehitaman dan Putih (12,19%), Hitam (9,76%), Coklat (7,32%), Putih kemerahan (6,34%) dan Putih keabuan (4,39%).
Grafik 8: Pola warna sapi Aceh di Nanggroe Aceh Darussalam
Warna yang digolongkan ke dalam warna yang gelap adalah merah bata, coklat, hitam dan coklat kehitaman. Terdapat 54,64% sapi Aceh yang menunjukkan warna gelap (Merah bata, coklat, hitam, coklat kehitaman) dari keseluruhan populasi sampel penelitian dan 45,36% dari sapi Aceh menunjukkan warna yang terang (Coklat muda, putih kemerahan, putih dan putih keabuan).
Pada sapi Aceh jantan dijumpai warna yang lebih gelap pada bagian leher sampai kepala. Warna yang gelap digolongkan dalam warna tubuh tipe liar seperti terdapat pada banteng. Menurut fries Ruvinsky (1999) dalam Abdullah (2008a) tubuh tipe liar antara lain memilki sifat pigmentasi yang solid dan cenderung memiliki warna lebih gelap pada kepala dan leher. Warna yang lebih gelap pada leher dan kepala juga dilaporkan oleh Utomo (2011) terjadi pada sapi Katingan di Kalimantan Tengah. Perubahan warna pada sapi Aceh jantan di bagian leher, gumba dan kepala juga terjadi pada sapi Bali, akan tetapi pada sapi Bali perubahan warna jantan terjadi pada seluruh warna tubuh.
Grafik 9: Pola warna sapi Aceh berdasarkan jenis kelamin
Warna tubuh sapi Aceh yang beragam juga dijumpai pada sapi Katingan di Kalimantan Tengah (Utomo, 2011) dan sapi Pesisir Sumatera Barat (Sarbaini, 2004). Namun warna yang beragam tidak ditemukan pada sapi Bali, sapi Madura, dan Sapi Ongol. Warna yang beragam pada sapi Aceh di duga akibat masuknya sapi bangsa zebu dari India dan terjadi persilangan dengan sapi lokal yang ada di Aceh, sehingga terbentuk warna yang beragam. Warna putih atau putih keabuan
yang terdapat pada sapi Aceh merupakan warna-warna yang mirip dan dimiliki sapi Tharparkar, Guzerat, ongole, Nellore, Krisna valley, Hariana, Halikar dari India. Warna coklat kehitaman, merupakan yang mirip Kankrey juga dari India, sedangkan warna kelompok gelap yang dominan merah bata dan hitam menyerupai warna yang dimiliki sapi Bali dan Banteng.
Tabel 9: Pola warna berdasarkan jenis kelamin sapi Aceh
Pola Warna Betina Persentase (%) Jantan Persentase (%)
Putih 23 13.22 2 6.45
Berdasarkan jenis kelamin sapi Aceh, persentase warna merah bata pada sapi Aceh terdapat 22,41% pada betina dan 41,93% pada sapi Aceh jantan. Pada warna coklat muda terdapat 21,83% pada sapi Aceh betina dan 25,80% pada sapi Aceh jantan.
Keragaman Bentuk Tanduk Sapi Aceh
Hasil penelitian menunjukkan bahwa umumnya sapi Aceh bertanduk, tetapi terdapat 10,24% yang tidak bertanduk (kupung) dijumpai pada jantan dan betina. Panjang dan bentuk tanduk beragam dan terus memanjang seiring pertumbuhan sapi Aceh. Pola tanduk dominan yang dijumpai pada sapi Aceh adalah kesamping melengkung keatas yaitu sebesar 22,44%.
melengkung keatas; (3) Menyamping keatas menyerupai huruf V; (4) Hanya membentuk lingkaran tanduk pendek; (5) Tidak bertanduk (kupung); (6) Kesamping lurus; (7) Kesamping melengkung kebawah; (8) Menyamping keatas kedepan; (9) Tidak simetris (ke samping, tanduk kiri keatas, tanduk kanan kebawah atau sebaliknya).
Tabel 10: Bentuk-bentuk tanduk sapi Aceh
Bentuk Tanduk Jumlah Persentase (%)
Kesamping melengkung keatas kedepan 17 8,30
Kesamping melengkung keatas 46 22,44
Menyamping keatas menyerupai huruf V 28 13,66
Hanya membentuk lingkaran tanduk pendek 44 21,46
Tidak bertanduk (kupung) 21 10,24
Kesamping lurus 6 2,93
Kesamping melengkung kebawah 13 6,34
Menyamping keatas kedepan 22 10,73
Tidak simetris 8 3,90
Jumlah 205 100
Grafik 10 : Bentuk pertumbuhan tanduk sapi Aceh
Pada sapi Aceh betina dominan (25,86%) memiliki tanduk yang arah pertumbuhannya kesamping melengkung keatas, sedangkan pada sapi Aceh jantan dijumpai 51,61% yang bertanduk berupa bungkul kecil seperti tanduk sapi Peranakan Ongol.
Tabel 11: Bentuk-bentuk tanduk sapi Aceh berdasarkan jenis kelamin
Bentuk Tanduk Jenis Kelamin
Betina (%) Jantan (%)
Kesamping melengkung keatas kedepan 17 9,77 0 0
Kesamping melengkung keatas 45 25,86 1 3,23
Menyamping keatas menyerupai huruf V 20 11,49 8 25,80
Hanya membentuk lingkaran tanduk pendek 28 16,09 16 51,61
Tidak bertanduk (kupung) 16 9,20 5 16,61
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Sapi Aceh memiliki rataan lingkar dada 133,10 cm, lebar dada 34,07 cm, dalam dada 52,20 cm tinggi pundak 92,34 cm dan panjang badan 86,41 cm. Hasil Analisis Komponen Utama menunjukkan panjang badan dan dalam dada merupakan Komponen Utama yang mempengaruhi ukuran dan bentuk sapi Aceh.
Sapi Aceh umumnya bertanduk, tetapi terdapat 10,24% yang tidak bertanduk (kupung) dijumpai pada jantan dan betina. Pola tanduk yang dominan dijumpai pada sapi Aceh adalah kesamping melengkung keatas yaitu sebesar 22,44%.
Sapi Aceh mempunyai warna yang beragam dan dominan berwarna merah bata (25,37%) dan coklat muda (22,44%). Warna yang beragam pada sapi Aceh mirip dengan warna pada sapi India (Bos Indicus).
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, M.A.N., R.R Noor, H. Martojo, D.D. Solihin, dan , E. Handiwirawan, 2006. Keragaman Fenotipik Sapi Aceh di Nanggroe Aceh Darussalam. http:// repository.ipb.ac.id/ 20 April 2011 (08.46).
Abdullah, M.A.N., 2008. Karakterisasi Genetik Sapi Aceh Menggunakan Analisis Keragaman Fenotipik, Daerah D-Loop DNA Mitokondria dan DNA Mikrosatelit [Disertasi]. Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Abdullah, M.A.N., R.R Noor, E. Handiwirawan, 2008. Identifikasi Penanda Genetik daerah D-loop pada Sapi Aceh.
http : // eprints.undip.ac.id/ 20 April 2011 (08.50).
Abdullah, M.A.N., 2009. Karakteristik Genetik Spesifik Sapi Aceh. Deregulasi dan
Peningkatan Brand Image Pembibitan. Aceh
Ahmad, D., 2003. Karakterisasi morfologi sapi lokal di Kecamatan Tanjung Mutiara Kabupaten Agam Sumatera Barat.
Ali, I., 1980. Regresi dari Lingkar Dada, Panjang Badan dan Tinggi Gumba Terhadap Berat Hidup, Berat Karkas dan persentase karkas dari Sapi-Sapi Aceh.
Fakultas Kedoktoran Hewan dan Peternakan Usyiah, Banda Aceh.
Basri, H., 2006. Konsep Pemikiran Tentang Penelusuran Arah Pembibitan Sapi Aceh.
Jurusan Peternakan-Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh.
BPTU Sapi Aceh., 2010. Profil Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Sapi Aceh.
Indrapuri. Aceh
Choi, Y. J., D.S Yim, B.D Cho, J.S Cho, K.J Na and M.G Baik, 1996. Analysis of RFLP in the Bovine Growt Hormone Gen Related to Growt Performance and Carcass Quality of Korean Native Cattle. Meat Science 45 (3) 405-410. Dahlanuddin D.V., J.B Tien, Liang and D.B Adams, 2003. An exploration of risk
factor for Bovine Spongiform enceplolopathy in Ruminant Production System in the Tropics. Rev. Sci. Tech. of Int. Epiz 22 : 271-281.
http:
Ditjennak, 2011. Peta potensi wilayah sumber bibit sapi potong lokal dan rencana pengembangannya.
Ditjennak, 2011. Kunjungan Kerja Menteri Pertanian RI ke BPTU Sapi Aceh. http:
Diwyanto, K., 1982. Pengamatan Fenotip Domba Priangan Serta Hubungan Antara Ukuran Tubuh dan Bobot Badan. (Tesis). Bogor IPB. Program Pasca Sarjana Program Studi Ilmu Ternak.
FAO (Food and Agriculture Organization), 2000. World Watch List for Domestic Animal Diversity 3rd Ed. FAO, Rome.
Hardjosubroto, W., 1994. Aplikasi Pemuliabiakan di Lapangan. Gramedia widiasarana Indonesia. Jakarta.
Hayashi, Y., J. Nishida and H. Martojo. 1982. Multivariate craniometrics of wild banteng, Bos banteng and five types of native cattle in Eastern Asia. Dalam Dalam: Saparto, 2004. Studi kraniometri sapi Jawa dan beberapa bangsa sapi potong Indonesia [tesis] Program studi magister ilmu ternak PCS Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro.
ILRI (International Livestock Research Institute). 1995. Global Agenda for Livestock Research. Proceedings of the Consultation for the South-East Asia Region. 10-13 May 1995 ILRI, Los Banos, The Philippines.
Keputusan Menteri Pertanian, 2011. Penetapan Rumpun Sapi Aceh.
Machugh, D.A., 1996. Molecular Biogeography And Genetic Structure Of Domesticated Cattle [Thesis) Departement of genetic, Trinity College, University of Dublin. Irlandia.
Martojo, H., 1992. Peningkatan Mutu Genetik Ternak. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Bioteknologi IPB, Bogor.
http://www.agrin.ttri.gov.tw 20 April 2011
Martojo, H., 2003. Indegenous Bali cattle: The Best Suited Cattle Breed For Sustainable Small Farm in Indonesia. Laboratory of Animal Breeding and Genetics, Faculty of Animal Science, Bogor Agricultural Univesity, Indonesia.
Muladno, 2010. Menata Pembibitan Ternak di Indonesia Dalam Menjamin Ketersediaan Bibit/Benih Ternak Indonesia. Orasi Ilmiah Guru Besar. Fakultas Peternakan IPB.
Namikawa, T., Y. Matsuda, K. Kondo, B. Pangestu, and H. Martojo, 1982. Blood Groups and Blood Protein Polymorphisms of Differens Types of Cattle in Indonesia. Di tto 35-46.
Noor, RR., 2000. Genetika Ternak. Penebar Swadaya. Jakarta.
Otsuka, J., T. Namikawa, K. Kozawa, and H. Martojo, 1982. Statistical Analysis on Body Measurement of East Asian Native Cattle and Banteng. The Origin and Phylogeny of Indonesia Native Livestock. The Research Group of Overseas Scientific Survey. Tokyo. Japan.
Pane, I., 1993. Pemuliabiakan Ternak Sapi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan., 2009. Status Terkini Dunia Sumberdaya Genetik Ternak Untuk pangan dan Pertanian. Bogor. Indonesia.
Riantoro, 2005. konservasi Plasma Nutfah domba garut dan strategi pengembangannya secara berkelanjutan (disertasi). Bogor IPB. Sekolah Pasca Sarjana, Program studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan.
Sarbaini, 2004. Kajian Keragaman Karakter eksternal dan DNA mikrosatelit sapi Pesisir di Sumatera Barat [disertasi]. Bogor : Institut Pertanian Bogor. Sekolah Pascasarjana. Program Studi Ilmu Ternak.
Sulaiman, A., 1988. Identifikasi Jenis-Jenis Sapi di Kecamatan Padang Bolak dan Barumun Tengah, Kabupaten Tapanuli Selatan. Thesis. Jurusan Peternakan dan Mixed Farming Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Saparto, 2004. Studi Kraniometri Sapi Jawa dan Beberapa Bangsa Sapi Potong Indonesia. Tesis. PPS Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang.
http://eprints.undip.ac.id 20 April 2011 (20.30)
Sutopo, K. Namura, Y. Sugimoyo, and T. Amano, 2001. Genetic Relationship among Indonesia Native Cattle. V. Anim. Genet., 28 (2) : 3-11.
Soller, M., and V.S Beckman, 1982. Restriction Treqment Longth Polymorphims an
Umartha, B. A., 2005. Mengenal Karakteristik Sapi Aceh. Balai Pembibitan Ternak
Unggul (BPTU) Indrapuri. Aceh.
Utomo, B. N., 2011. Keragaman Fenotip dan Genetik, Profil Reproduksi serta Strategi Pelestarian dan Pengembangan Sapi Katingan di Kalimantan Tengah [disertasi]. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.
Warwick, E.J., J.M Astuti, W. Hardjosubroto, 1990. Pemuliaan Ternak. UGM Press. Yogyakarta.