GAMBARAN TRUST PADA ISTRI YANG MENJALANI
COMMUTER MARRIAGE TIPE ADJUSTING
Proposal Skripsi
Guna Memenuhi Persyaratan Mata Kuliah Skripsi
oleh :
PUTRI ARIDA
051301124
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil’alamin. Puji dan syukur yang tiada habisnya saya
panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan karunia dan kasih sayang-Nya
akhirnya saya dapat menyelesaikan proposal skripsi ini. Sholawat beriring salam
tak lupa saya haturkan kepada baginda nabi Muhammad SAW, semoga kita
termasuk kedalam orang-orang yang mendapat syafaat di hari akhir. Amin.
Proposal skripsi yang berjudul “gambaran trust pada istri yang menjalani
commuter marriage tipe adjusting ” ini dibuat guna memenuhi persyaratan Mata
Kuliah Seminar di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada kedua
orang tua saya, almarhum Papa Drs.Nazief Chatib yang selalu memberikan kasih
sayang dan nesehatnya yang akan selalu saya ingat, serta mama Delliati yang
selalu mendoakan dan memberikan kasih sayangnya kepada saya. Kepada kedua
kakak saya K’ewi dan Mimi serta kedua abang ipar saya B’yus dan B’fajar terima
kasih atas dukungannya baik moril maupun materil, dan buat ketiga ponakan
kecilku alif, satria, dan azriel yang selalu memberikan kecerian kepada saya.
Terima kasih atas kasih sayang, perhatian,dan juga dukungan kalian selama ini,
pin sayang kalian semua.
Terima kasih juga kepada Ibu Aprilia Fadjar P., M.Si. Psikolog selaku
dosen pembimbing yang dengan sabar telah membimbing saya dan memberi
masukan yang berguna selama mengerjakan proposal skripsi ini hingga selesai,
M.Si. Psikolog selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan yang
bermanfaat bagi proposal skripsi ini. Kepada sahabat-sahabat saya Ayu Uni, Ayu
Binze, Pristi, Eka, Diana dan juga Anggie yang selalu memberikan dukungan dan
semangat kepada saya di saat- saat sulit.
Peneliti sadar proposal penelitian ini pastilah tidak sempurna. Kritik,
masukan, dan saran yang membangun dari para pembaca sangat diharapkan guna
memperbaiki kekurangan yang ada. Akhir kata, semoga proposal ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Juni 2009
Peneliti
DAFTAR ISI
II.A.2. Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Commuter Marriage 14
II.A.3. Jenis-Jenis Commuter Marriage 16
II.B. Trust 17
II.B.1. Definisi Trust 17
II.B.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Trust 19
II.B.3. Jenis-Jenis Trust 20
II.B.4. Komponen Trust 21
II.B.5. Membangun Trust 24
II.B.6. Menurunkan Trust 26
II.C. Kerangka Berpikir Penelitian 28
A. Identifikasi Variabel Penelitian ... 39
B. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 39
1. Religiusitas ... 39
2. Sikap terhadap Kematian ... 40
C. Populasi, Sampel dan Metode Pengambilan Sampel ... 40
1. Populasi dan Sampel ... 40
2. Metode Pengambilan Sampel ... 41
D. Metode dan Alat Pengambilan Data ... 42
1. Skala Religiusitas ... 42
2. Skala Sikap terhadap Kematian ... 43
E. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ... 44
1. Validitas Alat Ukur ... 44
2. Reliabilitas Alat Ukur ... 45
F. Daya Beda Aitem ... 45
G. Metode Analisa Data ... 46
IV ANALISA DATA A. Analisa Data 1. Gambaran umum subjek penelitian 47
Gambaran Trust pada Istri yang Menjalani Commuter Marriage tipe
adjusting
Putri Arida dan Aprilia Fadjar P., M.Si. Psikolog
ABSTRAK
Trust adalah keyakinan dan kesediaan seseorang untuk mempercayai integritas, kemampuan, karakter dan kebenaran yang dimiliki oleh pihak lain.
Dalam mempercayai pihak lain tersebut terdapat resiko harapan dan
kepercayaanya tidak terpenuhi. Dalam mempercayai seseorang ada dua hal yang
terjadi yaitu kemampuan untuk mempercayai orang lain dan kesedian untuk
mengambil resiko.
Trust dalam penelitian ini akan diungkap menggunakan alat ukur berupa skala trust yang dikembangkan mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Johnson & Johnson (1997) yang terdiri dari 5 aspek yaitu keterbukaan, saling
berbagi, penerimaan, dukungan dan niat untuk bekerjasama
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui bagaimana gambaran trust pada istri yang menjalani commuter
marriage tipe adjusting. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam
penelitian ini adalah incidental sampling. Menurut Hadi (2000), incidental
sampling diperoleh semata-mata dari keadaan-keadaan insidental atau kebetulan.
Responden dalam penelitian ini sebanyak 60 orang.
Hasil penelitian menunjukkan subjek penelitian yang termasuk dalam kategori
sedang sebanyak 20 orang ( 33,3%), dan tidak ada subjek yang berada pada
kategri rendah.
Gambaran Trust pada Istri yang Menjalani Commuter Marriage tipe
adjusting
Putri Arida dan Aprilia Fadjar P., M.Si. Psikolog
ABSTRAK
Trust adalah keyakinan dan kesediaan seseorang untuk mempercayai integritas, kemampuan, karakter dan kebenaran yang dimiliki oleh pihak lain.
Dalam mempercayai pihak lain tersebut terdapat resiko harapan dan
kepercayaanya tidak terpenuhi. Dalam mempercayai seseorang ada dua hal yang
terjadi yaitu kemampuan untuk mempercayai orang lain dan kesedian untuk
mengambil resiko.
Trust dalam penelitian ini akan diungkap menggunakan alat ukur berupa skala trust yang dikembangkan mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Johnson & Johnson (1997) yang terdiri dari 5 aspek yaitu keterbukaan, saling
berbagi, penerimaan, dukungan dan niat untuk bekerjasama
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui bagaimana gambaran trust pada istri yang menjalani commuter
marriage tipe adjusting. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam
penelitian ini adalah incidental sampling. Menurut Hadi (2000), incidental
sampling diperoleh semata-mata dari keadaan-keadaan insidental atau kebetulan.
Responden dalam penelitian ini sebanyak 60 orang.
Hasil penelitian menunjukkan subjek penelitian yang termasuk dalam kategori
sedang sebanyak 20 orang ( 33,3%), dan tidak ada subjek yang berada pada
kategri rendah.
PENDAHULUAN
I.A. Latar belakang
Perkawinan merupakan salah satu tahap penting dalam siklus kehidupan
seseorang, disamping siklus lainnya seperti kelahiran, perceraian, atau kematian
(Pangkahila, 2004). Menurut Hurlock (1997), perkawinan adalah salah satu
bentuk lembaga sosial yang penting dan tidak akan pernah berakhir. Selain itu,
Berhm (1992), menyatakan bahwa perkawinan merupakan ekspresi akhir dari
suatu hubungan yang mendalam dimana dua individu berikrar di depan umum
didasarkan pada keinginan untuk menetapkan hubungan sepanjang hidupnya.
Melalui proses perkawinan, maka seorang individu membentuk sebuah
lembaga sosial yang disebut keluarga. Dalam keluarga yang baru terbentuk inilah,
kemudian terdapat peran dan status sosial baru sebagai suami atau istri, dimana
umumnya dalam keluarga yang baru terbentuk tersebut, suami dan istri tinggal
dalam satu rumah bersama dengan anak-anak mereka (Mahyudin, 2008).
Ada berbagai alasan dimana terdapat keadaan pada suatu keluarga tidak
dapat tinggal dalam satu atap (Mahyudin, 2008). Keadaan tersebut banyak terjadi
pada fenomena saat ini yang memperlihatkan bahwa ada sebagian pasangan
suami istri tidak tinggal dalam satu rumah, yaitu dengan menjalani perkawinan
jarak jauh misalnya, suami yang harus dimutasikan ke lain kota oleh tempatnya
bekerja dan istri tetap tinggal dikota asal. Umumnya, mereka memilih kondisi
tersebut karena mempertahankan profesi atau pekerjaan masing-masing (dalam
Seputar Indonesia, 2008). Meningkatnya kebutuhan hidup dan tingginya
memilih untuk tinggal berpisah untuk meniti karir di luar kota atau bahkan di
negeri yang berbeda. Banyak diantara mereka yang harus meninggalkan pasangan
dan anak-anaknya, sehingga mereka harus berpisah untuk sementara waktu.
Perpisahan secara fisik antara suami dengan istri merupakan hal yang berat karena
mereka harus saling berjauhan dan tidak dapat bertemu setiap saat (Purnamasari,
2008). Hal tersebut biasa disebut dengan perkawinan jarak jauh atau lebih dikenal
dengan commuter marriage.
Keadaan diatas terjadi pada seorang wanita, dengan inisial VV. VV dan
suaminya sudah menjalani perkawinan jarak jauh selama kurang lebih 2 tahun
sejak awal perkawinan. VV menjalani perkawinan jarak jauh karena VV harus
tetap melanjutkan pendidikan di kota asal dan suaminya yang ditugaskan di kota
yang berbeda. Berikut kutipan wawancara peneliti dengan VV.
“…kakak sedih kali waktu pisah sama suami…tapi mau gimana lagi, walaupun berat ya harus dijalani.”
(komunikasi personal, 16 Maret 2009)
Di Amerika Serikat perkawinan commuter semacam ini telah banyak
terjadi, pada tahun 2005 jumlahnya meningkat 30% menjadi 3.6 juta pasangan,
padahal di tahun 2000 jumlahnya masih 2.7 juta (Time, 2007). Johnson (dalam
Marriage and Family Encyclopedia, 2009) memperkirakan bahwa 700.000 sampai
1 juta pasangan di Amerika menjalani gaya hidup commuting. Berdasarkan data
yang di peroleh bahwa pada tahun 1995, 61% pasangan yang menikah adalah
keduanya bekerja, tetapi berbeda pada tahun 1990, 53.5%, tahun 1980, 46.3%,
Menurut Gerstel & Gross; Orton & Crossman, Commuter marriage
merupakan keadaan perkawinan yang terbentuk secara sukarela dimana pasangan
yang sama-sama bekerja mempertahankan dua tempat tinggal yang berbeda lokasi
geografisnya dan pasangan tersebut terpisah paling tidak tiga malam per minggu
selama minimal tiga bulan (dalam Marriage and Family Encyclopedia, 2009).
Torsina (dalam Ekasari.dkk, 2007), menyatakan bahwa commuter marriage
merupakan pernikahan yang karena alasan khusus menyebabkan pasangan suami
istri tidak dapat tinggal serumah. Rhodes (2002) juga menambahkan bahwa
pasangan yang tinggal di rumah yang berbeda juga disebut commuter marriage.
Ada banyak alasan pasangan perkawinan untuk menjalani commuter
marriage. Alasan yang paling umum adalah untuk mempertahankan pekerjaan
atau karir. Seperti yang dikatakan Anderson (dalam Marriage and Family
Encyclopedia, 2009), beberapa faktor yang mempengaruhi commuter marriage
adalah meningkatnya jumlah tenaga kerja wanita, meningkatnya jumlah pasangan
yang sama-sama bekerja dan meningkatnya jumlah wanita yang mencari karir
dengan training khusus. Faktor lain yang juga mempengaruhi commuter marriage
adalah pekerjaan yang menuntut orang untuk berpindah-pindah sehingga banyak
pasangan yang harus berpisah untuk sementara waktu. Pasangan menjalani
commuter marriage karena masing-masing memiliki pekerjaan di lokasi geografis
yang terpisah jauh sehingga pasangan tersebut tidak dapat berada ditempat tinggal
yang sama. Dengan menjalani commuter marriage masing-masing pasangan tetap
menjalani pekerjaan mereka, sambil mempertahankan hubungan pernikahan.
mencapai tujuan karir yang memungkinkan mereka untuk dapat tinggal bersama
(Farris, dalam Marriage and Family Encyclopedia, 2009).
Hal diatas sesuai dengan hasil wawancara peneliti dengan responden
penelitian EP.
”...kakak udah lebih dari 4 tahun pisah sama suami. Kita pisah bukan karna terjadi apa-apa, tapi kita pisah karna suami harus pindah kerja di Kalimantan dan kakak juga harus kerja di sini. Sebenarnya kakak pengen
ikut suami tapi masih blom bisa, karna kita berdua masih mau kerja dan butuh pekerjaan ini buat masa depan kitadan keluarga. Sekarang juga kita lagi fokus sama kerjaan agar lebih mapan lagi.”
(komunikasi personal, 5 februari 2009)
Selain alasan untuk mempertahankan pekerjaan, commuter marriage juga
sering dijalani dengan tujuan untuk mencari penghasilan lebih baik. Pasangan
suami istri akan mencari pekerjaan yang lebih baik, untuk memperbaiki keadaan
ekonomi dan untuk pencapaian jenjang karir (Ekasari, Wahyuningsih, &
Setyaningrum, 2007).
Pada pasangan commuter marriage terdapat beberapa masalah yaitu
seperti kelelahan terhadap peran (Anderson & Spruill, 1993, Gerstel & Gross,
1982, 1983, 1984; Winfield, 1985), pekerjaan yang mengganggu waktu untuk
bersama (Gerstel & Gross, 1984; Winfield, 1985), durasi perpisahan (Gerstel &
Gross, 1984), kurangnya kebersamaan (Winfield, 1985), kurangnya kekuatan ego
(Winfield, 1985) dan penurunan kompetensi sebagai profesional (Gerstel &
Gross, 1984; Winfield, 1985).
Selain masalah yang terjadi diatas, pada pasangan commuter marriage
juga terjadi keterpisahan fisik, keterpisahan fisik ini memunculkan banyak
Ekasari.dkk, 2007), bahwa banyak masalah yang akan muncul pada pasangan
commuter marriage, diantaranya komunikasi karena pasangan suami istri tidak
dapat bertemu setiap hari untuk mengetahui keadaan atau kegiatan
masing-masing. Dampak dari keterpisahan fisik tersebut adalah merasa kesepian,
pasangan suami istri tidak dapat mencurahkan isi hati, tidak dapat bermesraan,
kerinduan untuk melakukan kegiatan keseharian bersama pasangan, dan
berkurangnya frekuensi hubungan seksual. Jika pasangan suami istri tersebut telah
mempunyai anak, maka istri harus memenuhi kebutuhan anak-anaknya atau jika
sakit, istri harus menyelesaikan sendiri tanpa bantuan suami. Anak bisa
kehilangan figur ayah, dan istri merasa berat untuk memerankan dua figur secara
bersamaan (dalam Ekasari. dkk, 2007).
Hal diatas juga dapat terlihat dalam wawancara peneliti dengan responden
EP.
“…Rasanya sepi kalo suami lagi gak di sini, apalagi kalo lagi kangen, gak tau mau ngapain…”
“… Sebenernya yang buat masalah kalo kita jauh tu adalah sinyal telpon. Suami kakak kan di Kalimantan, jadi kalo mau telpon susah, harus cari sinyal dulu. Makanya jarang komunikasi...”
(komunikasi personal, 6 april 2009)
Dalam commuter marriage kurangnya kehadiran pasangan dan
terhambatnya kontak nonverbal juga dapat mempengaruhi keintiman pasangan
(Scoot, 2002). Menurut Thompson & Walker (dalam Papalia, 2003) pada wanita
keintiman memerlukan adanya rasa saling berbagi perasaan dan kepercayaan,
sedangkan pria cenderung mengekspresikan keintiman melalui hubungan seksual,
Jadi, kurangnya kehadiran pasangan dapat mempengaruhi kepercayaan atau trust
pada wanita.
Kehadiran anak dalam keluarga commuter marriage menyebabkan
kehidupan keluarga menjadi lebih kompleks. Pada keluarga yang memiliki anak,
biasanya anak tinggal bersama dengan istri di daerah asal sedangkan suami
bekerja di daerah lain (Scoot, 2002). Roehling & Bultman (2002) menjelaskan
bahwa pasangan yang tidak tinggal bersama anak-anak dapat fokus pada karir,
namun pasangan lain, biasanya istri yang tinggal dengan anak merasakan peran
sebagai orang tua tunggal. Oleh sebab itu, kehidupan istri menjadi lebih kompleks
dan merasakan peran sebagai orang tua tunggal dimana harus memperhatikan dan
menjaga anak. Istri pada pasangan commuter marriage sering kali merasa
mempunyai peran sebagai orang tua tunggal dan konflik peran meskipun
pasangan commuter marriage menganut peran egalitarian, dimana pasangan
suami istri mempunyai peran yang sama dalam keluarga. Namun, ketika salah
satu pasangan meninggalkan keluarga, pasangan tersebut akan menyerahkan
perannya dalam keluarga kepada pasangan yang tinggal dengan keluarga.
Harriett Gross (dalam Marriage and Family Encyclopedia, 2009),
menyatakan bahwa ada dua tipe dari pasangan commuter marriage, yang pertama
adalah pasangan adjusting, yaitu pasangan suami istri yang usia perkawinnanya
cenderung lebih muda, menghadapi perpisahan perkawinan atau commuter
marriage di awal perkawinan, dan memiliki sedikit atau tidak ada anak. Yang
kedua, pasangan established, yaitu pasangan suami istri yangusia perkawinannya
dewasa dan telah keluar dari rumah. Dalam commuter marriage sendiri, trust
menjadi masalah besar bagi pasangan adjusting karena pasangan ini telah
menjalani commuter marriage di awal perkawinan dimana diantara mereka belum
tercipta keyakinan sepenuhnya.
Pasangan yang menjalani commuter marriage juga mengalami perasaan
khawatir dan kurang mempercayai pasangan (Ekasari, dkk, 2007). Seperti yang
tergambar dari wawancara dengan VV mengenai masalah yang terjadi selama
menjalani perkawinan jarak jauh atau commuter marriage:
“….kalo jarak jauh gini ya pasti ada aja masalahnya. Khawatir, curiga, takut, sedih, gak percaya sama pasangan kita, ya semua la.. pokoknya jadi satu. Ada aja pikiran kayak gitu. Kakak pernah saking curiganya sama suami sampe marah dan kesel, cuma gara-gara ada temen ceweknya yang nyanyi waktu suami lagi telpon kakak. Kakak uda curiga aja, sampe marah-marah sama suami tapi suami kakak langsung bilang itu temennya dan bilang ke kakak harus percaya sama dia….”
(komunikasi personal, februari 2009)
Kepercayaan atau trust sendiri merupakan aspek penting dalam semua
hubungan, terutama dalam hubungan perkawinan. Perkawinan tanpa rasa saling
percaya mungkin bisa mengakibatkan hal yang buruk seperti perceraian. Dalam
perkawinan commuter ini diperlukan trust, selain juga kejujuran, kesetiaan dan
komitmen (Maines, dalam Marriage and Family Encyclopedia, 2009). Farris
menyatakan bahwa keberhasilan yang sangat penting dalam commuter marriage
adalah dasar kepercayaan atau trust, dukungan dari pasangan, komitmen yang
kuat pada perkawinan dan pasangan, serta komunikasi yang terbuka antara
pasangan (dalam Rusconi, 2002). Apabila salah satu pasangan mulai tidak
aman dan tidak nyaman (Sadarjoen, 2007). Maines (dalam Marriage and Family
Encyclopedia, 2009), menyatakan bahwa dalam perkawinan jarak jauh atau
commuter marriage, trust dan komitmen cenderung dinilai tinggi bagi pasangan
yang berhasil menegosiasikannya.
Hal di atas sesuai dengan hasil wawancara peneliti dengan responden yaitu
DA:
“aku percaya sama suami aku...entah kenapa rasa percaya ini sangat kuat...walaupun kita beda kota tapi itu gak jadi masalah sama aku.. mungkin karena setiap waktu dia selalu perhatiin aku... setiap hari kita selalu telpon dan sms, selalu kasih kabar dan berbagi cerita. aku percaya
banget sama dia...yang pastinya kita berdua udah punya komitmen .”
(komunikasi personal, februari 2010)
Trust adalah persepsi bahwa pasangan memiliki kebaikan dan kejujuran
yang besar (dalam Trust, 2002). Menurut Johnson & Johnson (1997), trust
merupakan aspek dalam suatu hubungan secara terus menerus berubah serta
bervariasi. Henslin (dalam King, 2002) memandang trust sebagai harapan dan
kepercayaan individu terhadap reliabilitas orang lain. Pondasi dari trust meliputi
saling menghargai satu dengan yang lainnya dan menerima adanya perbedaan
(Carter, 2001). Menurut Johnson & Johnson (1997) tingkat trust dalam sebuah
hubungan dapat berubah sesuai dengan kemampuan dan kemauan setiap orang
untuk dapat percaya (trusting) dan dapat dipercaya (trustworthy).
Trust juga merupakan suatu proses dan hal utama yang mendasari dalam
suatu hubungan (McLean, 2005). Menurut Hendrick & Hendrick (1992) trust
Adanya rasa percaya merupakan suatu keharusan di dalam suatu hubungan. Suatu
hubungan tumbuh dari rasa saling percaya, dan tidak dapat bertahan tanpa rasa
saling percaya (Ridwan, 2007).
Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melihat bagaimana
gambaran trust pada istri yang menjalani commuter marriage tipe adjusting.
I.B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut: “Bagaimana gambaran trust pada istri yang menjalani commuter
marriage tipe adjusting?”.
I.C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan dalam pelitian ini, maka yang menjadi tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran trust pada istri
yang menjalani commuter marriage tipe adjusting.
I.D. Manfaat Penelitian
I.D.1 Manfaat Teoritis
Secara teoritis penelitian ini diharapkan memberi gambaran dan
pemahaman mengenai bagaimana trust pada pasangan commuter marriage.
a. Sebagai masukan bagi para calon pasangan suami istri yang akan
menjalani perkawinan jarak jauh atau commuter marriage dan pasangan
suami istri yang melakukan perkawianan jarak jauh atau commuter
marriage agar dapat menjalani dan mengisi hari-hari dalam kehidupannya
dengan lebih baik.
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi atau acuan bagi
penelitian selanjutnya khususnya pada penelitian yang berkaitan dengan
trust pada pasangan commuter marriage.
I.E. Sistematika Penulisan
Proposal ini dibagi atas tiga bab, dan masing-masing bab dibagi atas
beberapa sub bab. Sistematika penulisan penelitian ini adalah:
Bab I: Pendahuluan.
Bab ini terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.
Bab II: Landasan Teori.
Bab ini menguraikan landasan teori yang mendasari masalah yang menjadi
objek penelitian yang meliputi landasan teori dari kepuasan perkawinan
dan commuter marriage.
Bab ini terdiri atas identifikasi variabel penelitian, definisi operasional,
populasi dan sampel, metode pengambilan sampel, alat ukur yang
digunakan, validitas dan reliabilitas alat ukur dan metode analisis data.
Bab IV: Analisa Data dan Pembahasan.
Bab ini terdiri dari gambaran umum subjek penelitian, hasil penelitian,
interpretasi data dan pembahasan.
Bab V: Kesimpulan dan Saran
Bab ini berisi kesimpulan dan saran dari hasil penelitian yang telah
BAB II
LANDASAN TEORI
II.A. Commuter Marriage
II.A.1. Definisi Commuter Marriage
Melalui proses perkawinan, maka seorang individu membentuk sebuah
lembaga sosial yang disebut keluarga. Dalam keluarga yang baru terbentuk inilah,
kemudian terdapat peran dan status sosial baru sebagai suami atau istri, dimana
umumnya dalam keluarga yang baru terbentuk tersebut, suami dan istri tinggal
dalam satu rumah bersama dengan anak-anak mereka. Namun, dengan berbagai
alasan terdapat keadaan dimana suatu keluarga tidak dapat tinggal satu atap,
karena salah satu pasangan harus ditugaskan diluar kota seperti, suami yang harus
bekerja misalnya di lepas pantai, atau untuk mempertahankan profesi atau
pekerjaan masing-masing pasangan di kota yang berbeda. Pasangan suami istri
yang dalam kurun waktu tertentu tingggal terpisah inilah yang dapat dikatakan
sebagai pasangan commuter marriage.
Commuter sendiri berasal dari kata “Commuting” yang berarti perjalanan
yang selalu dilakukan seseorang antara satu tempat tinggal dengan tempat bekerja
atau tempat belajar. Marriage dapat diterjemahkan sebagai perkawinan yaitu
pengikatan janji nikah yang dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud
Dari beberapa definisi tentang commuter marriage, salah satu yang kerap
dipakai sebagai acuan adalah definisi dari Gerstel and Gross; Orton and Crossman
(dalam, Marriage and Family Encyclopedia 2009) . Definisi tersebut adalah
sebagai berikut:
“Commuter marriage is a voluntary arrangement where
dual-career couples maintain two residences in different geographic locations
and are separated at least three nights per week for a minimum of three
months”.
Terjemahan:
Commuter marriage merupakan keadaan perkawinan yang
terbentuk secara sukarela dimana pasangan yang sama-sama bekerja
mempertahankan dua tempat tinggal yang berbeda lokasi geografisnya dan
(pasangan tersebut) terpisah paling tidak tiga malam per minggu selama
minimal tiga bulan.
Dari pengertian diatas dapat dikatakan bahwa commuter marriage
merupakan kondisi perkawinan dimana pasangan suami istri harus tinggal terpisah
secara geografis dalam jangka waktu tertentu, perpisahan tersebut bersifat
sementara tidak untuk selamanya. Lebih lanjut lagi, kondisi keterpisahan itu telah
diputuskan oleh pasangan suami istri secara sukarela tanpa paksaan pihak lain,
Sejalan dengan pernyataan tersebut, Rhodes (2002) menyatakan bahwa
commuter marriage adalah:
“Men and women in dual-career marriages who desire to stay
married, but also voluntarily choose to pursue careers to which they feel a
strong commitment. They establish separate homes so they can do so”.
Terjemahan:
Pria dan wanita dalam perkawinan dual-career yang ingin tetap
berada dalam ikatan perkawinan, tetapi juga secara sukarela
memilih untuk tetap berkarir dengan komitmen yang kuat. Mereka
memutuskan untuk berpisah rumah sehingga mereka tetap bisa
berkarir.
Maksud daripengertian diatas bahwa commuter marriage adalah pasangan
suami istri yang sama-sama bekerja dan telah berkomitmen untuk tetapmenjalani
karir sambil mempertahankan perkawinannya, dan memilih untuk berpisah
tempat tinggal yang merupakan konsekuensi agar mereka dapat menjalani
karirnya.
Torsina (dalam Ekasari.dkk, 2007), menyatakan bahwa commuter
marriage merupakan pernikahan yang karena alasan khusus menyebabkan
pasangan suami istri tidak dapat tinggal serumah. Rhodes (2002) juga
menambahkan bahwa pasangan yang tinggal di rumah yang berbeda juga disebut
merupakan kondisi yang mengharuskan suami dan istri tinggal terpisah karena
berbagai alasan khusus, selain karena tuntutan pekerjaan juga dapat disebabkan
oleh tuntutan pendidikan, atau keadaan ekonomi keluarga. Jadi meskipun Gerstel
and Gross; Orton and Crossman (dalam, Marriage and Family Encyclopedia
2009) dan Rhodes (2002) menyatakan bahwa commuter marriage merupakan
pasangan dual career, sebenarnya konsep commuter marriage mencakup lingkup
yang lebih luas; bisa pasangan dual career, bisa pasangan single career.
Jadi, dari beberapa defenisi yang ada maka peneliti berpendapat bahwa
commuter marriage adalah kondisi perkawinan dimana pasangan suami istri
secara rela berpisah lokasi tempat tinggal dengan pasangannya karena ada suatu
keadaan tertentu, seperti menjalani pekerjaan atau menyelesaikan pendidikan,
dilokasi geografis yang berbeda dengan tempat tinggalnya sambil tetap
mempertahankan perkawinan mereka. Kondisi commuter marriage tersebut telah
disepakati masing-masing pasangan perkawinan.
II.A.2. Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Commuter Marriage
Ada beberapa faktor utama yg mempengaruhi terjadinya commuter
marriage menurut Anderson (1992), yaitu sebagai beikut:
a) Meningkatnya jumlah tenaga kerja wanita, dengan banyaknya wanita
yang memilih untuk bekerja maka semakin banyak juga pasangan yang
menikah yang menjalani commuter marriage.
b) Meningkatnya jumlah pasangan yang sama-sama bekerja. Pada saat ini
disebabkan karena tuntuan ekonomi atau gaya hidup, yang
meningkatkan kemungkinan keluarga menjalani keadaan commuter.
c) Meningkatnya jumlah wanita yang mencari karir dengan training
khusus, yang mana mengharuskan mereka untuk tinggal dikota yang
berbeda dengan pasangannya
d) Faktor lain yang juga mempengaruhi commuter marriage adalah
pekerjaan yang menuntut orang untuk berpindah-pindah lokasi
geografis mereka harus berpisah dengan pasangannya untuk sementara
waktu. Misalnya, salah satu pasangan dituntut untuk bekerja diluar
kota untuk sementara waktu dan sementara pasangannya tetap tinggal
untuk menjaga anak-anak.
Selain faktor yang telah dikemukakan diatas, Mardien & Prihantina (dalam
Ekasari.dkk, 2007), juga menjelaskan beberapa faktor penyebab terbentuknya
commuter marriage, sebagai berikut :
1. Karir dan pekerjaan. Tuntutan studi dan karir tidak jarang membuat
suami istri terpisah oleh jarak. Misalnya istri tidak bisa tinggal
bersama dengan suami yang bertugas atau menjalani pendidikan dikota
berbeda untuk kurun waktu tertentu, karena harus menjaga anak-anak
yang masih sekolah.
2. Tuntutan ekonomi dan pola hidup. Misalnya, untuk individu yang
hendak meningkatkan perekonomian keluarga dengan menjadi tenaga
3. Penolakan hidup bersama, yaitu istri menolak untuk pindah mengikuti
suami dengan berbagai alasan, seperti; suami belum memiliki tempat
tinggal sendiri, menunggu harta orangtua atau keluarga, atau menjaga
orangtua yang kondisi kesehatanya kurang baik.
II.A.3. Jenis - Jenis Commuter Marriage
Berikut terdapat beberapa jenis commuter marriage. Menurut Harriett
Gross (dalam marriage and family encyclopedia, 2009), ada dua tipe dari
pasangan commuter marriage, yaitu:
1. Pasangan adjusting, yaitu pasangan suami istri yang usia
perkawinnanya cenderung lebih muda, menjalani commuter marriage
di awal pernikahan, dan memiliki sedikit atau tidak ada anak.
2. Pasangan established, yaitu pasangan suami istri yang usia
perkawinannya lebih tua, telah lama bersama dalam perkawinan dan
memiliki anak yang sudah dewasa yang telah keluar dari rumah.
Pasangan established cenderung lebih sedikit mengalami stress dalam
commuter marriage daripada pasangan adjusting. Kondisi ini disebabkan oleh
perbedaan dalam hal dominasi masalah perkawinan. Trust menjadi masalah yang
lebih besar bagi pasangan adjusting, sementara mempertahankan kenikmatan
dalam hubungan menjadi masalah utama pasangan established.
Dalam pernyataan diatas telah disebutkan bahwa pasangan adjusting lebih
kecemasan yang lebih besar ketika mereka akan tinggal terpisah di kota yang
berbeda, dan memandang bahwa keadaan tersebut akan membahayakan keutuhan
perkawinan mereka. Begitu juga halnya dengan trust, yang menjadi masalah besar
bagi pasangan adjusting. Hal ini disebabkan karena pasangan ini menjalani
commuter marriage di tahap awal perkawinan, dimana diantara mereka belum
tercipta keyakinan sepenuhnya. Akibatnya, timbul rasa takut kehilangan
keintiman antara suami istri dalam menjalani rutinitas sehari-hari yang baru
mereka jalani.
II.B. TRUST
II.B.1 Definisi Trust
Dari beberapa definisi tentang trust, salah satunya adalah dari American
Heritage Dictionary (dalam Geller, 1999). Dikatakan bahwa trust is "confidence
in the integrity, ability, character, and truth of a person or thing".
Terjemahan bebas:
Trust merupakan keyakinan akan integritas, kemampuan, karakter
dan kebenaran dari seseorang atau sesuatu.
Dalam pengertian diatas terlihat bahwa trust merupakan keyakinan atau
kepercayaan satu pihak akan integritas, kemampuan, karakter dan kebenaran yang
dimiliki oleh pihak lain. Jadi trust menyangkut dua pihak, pihak pertama memiliki
trust yang ditujukan kepada pihak kedua. Pihak pertama memberikan kepercayaan
terhadap kemampuan atau kebenaran dari pihak kedua.
Sealain itu, menurut Worchel (dalam, Lau & Lee 1999) trust merupakan
dengan resiko tertentu. Sedangkan, Moorman, Deshpande, dan Zaltman (dalam
Darsono, 2008) mendefinisikan trust sebagai kesediaan (willingness) individu
untuk menggantungkan dirinya pada pihak lain yang terlibat dalam pertukaran
informasi karena individu mempunyai keyakinan (confidence) kepada pihak lain
tersebut. Seperti yang tergambar pada definisi-definisi diatas, resiko terjadi karena
adanya ketidak selarasan keyakinan dengan kenyataan. Misalnya, pihak lain yang
dipercaya mengkhianati kepercayaan yang diberikan, bahwa integritas,
kemampuan, karakter dan kebenaran pihak lain tersebut tidak sesuai dengan
kenyataan.
Hal ini juga selaras dengan pernyataan, Lewis dan Weigert (dalam Lau
dan Lee, 1999) bahwa trust merupakan keyakinan yang penuh resiko. Sesuai
dengan pandangan Boon dan Holmes (dalam Lau dan Lee, 1999), yang
mendefinisikan trust sebagai tahapan yang melibatkan keyakinan akan adanya
pengharapan positip tentang motif orang lain dan respek terhadap orang lain
dalam situasi yang beresiko. Dari pernyataan tersebut terlihat bahwa dalam
mempercayai orang lain terdapat suatu resiko. Bila seseorang memberikan
kepercayaan kepada orang lain, maka ia juga akan menghadapi resiko bahwa
kepercayaannya tersebut tidak terpenuhi.
Jadi, dari beberapa definisi yang telah disampaikan diatas maka peneliti
berpendapat bahwa trust adalah keyakinan dan kesediaan seseorang untuk
mempercayai integritas, kemampuan, karakter dan kebenaran yang dimiliki oleh
pihak lain. Dalam mempercayai pihak lain tersebut terdapat resiko harapan dan
terjadi yaitu kemampuan untuk mempercayai orang lain dan kesedian untuk
mengambil resiko.
II.B.2 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Trust
Kepercayaan kita terhadap pihak lain dipengaruhi oleh beberapa faktor
menurut Rakhmat (1992), ada tiga faktor yang berhubungan dengan trust, yaitu :
a. Karakteristik dan maksud orang lain. Orang akan menaruh kepercayaan
kepada seseorang yang dianggap memiliki kemampuan, keterampilan atau
pengalaman. Trust dipengaruhi oleh persepsi kita terhadap maksud atau
keinginan orang lain dalam hubungannya dengan maksud atau keinginan
kita. Kita akan percaya pada orang yang mempunyai maksud atau
keinginan yang sama dengan kita.
b. Hubungan kekuasaan. Trust tumbuh apabila orang-orang mempunyai
kekuasaan terhadap orang lain. Bila saya tahu bahwa anda akan patuh dan
tunduk kepada saya, saya akan mempercayai anda.
c. Sifat dan kualitas komunikasi. Bila komunikasi bersifat terbuka, maksud
dan tujuan sudah jelas, bagi kedua pihak maka trust berkembang dengan
baik.
Selain itu ada bebrapa faktor utama yang dapat menumbuhkan trust yakni
mengembangkan komunikasi yang didasarkan pada sikap percaya: menerima,
empati dan kejujuran.
Menerima adalah sikap yang melihat orang lain sebagai manusia, sebagai
orang lain atau rela menanggung akibat-akibat perilakunya, karena bisa saja
individu tidak menyetujui perilaku pihak lain tersebut karena pihak lain itu
sebagai manusia yang patut dihargai. Menerima berarti tidak menilai pribadi
orang hanya berdasarkan perilakunya yang kita senangi saja (Rakhmat, 1992).
Empati adalah faktor kedua yang menumbuhkan trust pada diri orang lain.
Menurut Hogg & Vaughan (2002), empati adalah kemampuan untuk merasakan
pengalaman orang lain baik itu emosi, sikap dan perasaan orang lain.
Kejujuran adalah faktor ketiga yang menumbuhkan trust. Kita tidak
menaruh kepercayaan kepada orang yang tidak jujur atau sering menyembunyikan
pikiran dan pendapatnya. Kita menaruh kepercayaan kepada orang yang terbuka,
atau tidak mempunyai pretense yang dibuat-buat. Kejujuran menyebabkan prilaku
kita dapat diduga. Ini mendorong orang lain untuk percaya kepada kita (Rakhmat,
1992).
II.B.3 Jenis-jenis Trust
Menurut Johnson, George & Swap (dalam Feldman, 1995), trust dibagi
dalam dua bentuk yaitu :
a. Reliability trust
Reliabilitas trust merupakan rasa percaya yang didasari harapan bahwa
pasangan akan melakukan apa yang telah pasangannya katakan.
b. Emotional trust
Emotional trust terjadi ketika rasa percaya terbentuk karena ikatan
secara emosional dengannya dan perasaan emosional tersebut dapat
menghubungkan kedua pasangan.
II.B.4 Komponen Trust
Menurut Johnson & Johnson (1997) komponen trust meliputi untuk dapat
percaya (trusting) dan dapat dipercaya (trustworthy). Trusting mencakup
keterbukaan (openness) dan saling berbagi (sharing), dan trustworthy mencakup
penerimaan (acceptance), dukungan (support) serta niat untuk bekerjasama
(cooperative intentions)
Yang dimaksud dengan tingkah laku trusting adalah :
1. Kemauan untuk mengambil resiko terhadap akibat yang baik ataupun
buruk.
2. Perilaku yang melibatkan keterbukaan diri dan kemauan untuk diterima
dan didukung secara terbuka oleh orang lain.
Aspek-aspek trusting adalah :
1. Openness yaitu kesediaan membagi informasi, ide-ide, pemikiran,
perasaan dan reaksi mengenai isu-isu yang terjadi.
2. Sharing yaitu menawarkan bantuan material dan sumber daya kepada
orang lain dengan tujuan untuk membantu pihak lain menuju penyelesaian
tugas.
Yang dimaksud dengan tingkah laku trustworthy adalah :
1. Kemampuan untuk merespon terhadap resiko yang telah diambil orang
lain yang meyakinkan bahwa orang tersebut akan menerima akibat yang
2. Perilaku yang melibatkan penerimaan terhadap kepercayaan orang lain.
Aspek-aspek trustworthy adalah :
1. Acceptance yaitu melakukan komunikasi dengan orang lain dan
menghargai pendapat mereka tentang suatu hal yang sedang dibicarakan.
2. Support yaitu komunikasi dengan orang lain diketahui kemampuannya dan
percaya bahwa dia mempunyai kapabilitas yang dibutuhkan.
3. Cooperative intentions yaitu harapan bahwa seseorang dapat bekerja sama
dan bahwa orang lain juga dapat bekerja sama untuk mencapai pemenuhan
tujuan.
Penerimaan (acceptance) mungkin merupakan komponen yang pertama
dan paling dalam yang muncul dalam suatu hubungan. Acceptance terhadap orang
lain biasanya disertai dengan acceptance terhadap diri sendiri. Seorang individu
harus dapat menerima diri mereka sendiri sebelum mereka dapat sepenuhnya
menerima orang lain. Jika seseorang merasa tidak diterima, maka frekuensi dan
partisipasinya dalam berhubungan dengan orang lain akan berkurang. Untuk
membangun trust dan memperdalam hubungan dengan orang lain, setiap individu
harus bisa mengkomunikasikan acceptance, support dan cooperativeness
(Johnson & Johnson, 1997).
Menurut Johnson & Johnson (1997), kunci membangun dan
mempertahankan trust adalah menjadi trustworthy. Semakin tinggi acceptance
dan supportive seseorang terhadap orang lain, maka orang lain akan semakin
dapat mengemukakan pemikirannya, ide-ide, kesimpulan-kesimpulan, perasaan
orang lain, maka semakin dalam dan personal pemikiran yang akan dibagikan
orang lain. Jika seseorang ingin meningkatkan trust maka trustworthiness harus
ditingkatkan.
Keterampilan utama yang penting dalam mengkomunikasikan acceptance,
support dan cooperativeness melibatkan pengekspresian kehangatan, pengertian
yang akurat dan keinginan bekerja sama. Ada bukti-bukti yang menyatakan
bahwa ekspresi semacam itu dapat meningkatkan trust dalam suatu hubungan
bahkan ketika ada konflik yang tidak terselesaikan antara individu yang terlibat
(Johnson & Johnson, 1997).
II.B.5 Membangun Trust
The Dynamics of Interpersonal Trust
High acceptance, support, Low acceptance, support,
and cooperativeness and cooperativeness
Johnson & Johnson (1997) mengatakan bahwa untuk dapat membangun
hubungan secara efektif dan mencapai hasil maksimal, setiap individu harus
mengembangkan hubungan trust yang saling menguntungkan. Trust dibangun
melalui tahap-tahap trusting dan trustworthy. Misalnya jika seseorang (A)
mengambil resiko untuk membuka diri, dia mungkin akan mendapat konfirmasi
ataupun tidak, tergantung pada apakah individu (B) merespon dengan penerimaan
atau penolakan. Jika individu (B) mengambil resiko dengan penerimaan atau
kooperatif, dia juga akan mendapat konfirmasi ataupun tidak, tergantung apakah
individu tadi (A) terbuka atau tertutup.
Jika individu menyatakan pendapatnya dan tidak menerima penerimaan
yang dibutuhkannya, maka individu tersebut mungkin akan menarik diri dari
hubungan yang sudah terjalin tersebut. jika individu diterima, ia akan tetap
mengambil resiko dengan berani terbuka mengenai apa yang dipikirkan dan
dilihatnya sehingga dapat mengembangkan hubungannya dengan orang lain.
Interpersonal trust dibangun dengan resiko dan konfirmasi serta
dihancurkan dengan resiko dan diskonfirmasi. Tanpa resiko tidak akan ada trust,
dan hubungan tersebut tidak akan mengalami perkembangan. Langkah-langkah
dalam membangun trust adalah sebagai berikut :
1. Individu A mengambil resiko dengan mengemukakan pemikirannya,
informasi, kesimpulan, perasaan dan reaksi terhadap suatu situasi kepada
individu B.
2. Individu B merespon dengan acceptance, support dan cooperativeness
pemikirannya, informasi, kesimpulan dan perasaan serta reaksi terhadap
suatu situasi kepada individu A.
Cara lain membangun trust adalah :
1. Individu B mengkomunikasikan acceptance, support, dan cooperativeness
terhadap individu A.
2. Individu A merespon dan mengemukakan pemikirannya, informasi,
kesimpulan, perasaan dan reaksi terhadap situasi kepada individu B.
II.B.6 Menurunkan Trust
Untuk meningkatkan trust, seseorang harus membuka diri dan mau dikritik
untuk melihat apakah orang lain menyalahgunakan hal tersebut. Banyak
percobaan yang diperlukan sebelum tingkat trust antara dua orang menjadi sangat
tinggi. Hanya sekali pengkhianatan untuk membangun distrust, dan sekali distrust
terbangun, maka distrust tersebut akan secara ekstrim melakukan perlawanan
terhadap perubahan. Distrust sulit untuk berubah karena data menimbulkan suatu
persepsi bahwa walaupun seseorang berusaha untuk memperbaiki diri,
pengkhianatan akan berulang kembali di masa yang akan datang (Johnson &
Johnson, 1997).
Terbentuknya distrust merupakan hal negatif karena beberapa alasan.
Pertama ketika seseorang distrust kepada orang lain, maka hubungan yang
dibangun akan sia-sia (Kerr, dalam Johnson & Johnson, 1997). Kedua, ketika
individu tidak memiliki trust satu dengan yang lainnya mereka sering
meningkatkan konflik yang destruktif antara seorang individu dengan individu
lain (Johnson & Johnson, 1997).
Ada tiga jenis perilaku yang dapat menurunkan trust dalam suatu
hubungan (Johnson & Johnson, 1997). Pertama, adanya penolakan, ejekan dan
tidak menghargai sebagai respon terhadap keterbukaan orang lain. Membuat
lelucon yang merugikan orang lain, menertawakan saat seseorang membuka diri,
menghakimi perilakunya, atau menjadi diam merupakan cara untuk
menyampaikan penolakan dan dapat merusak trust dalam hubungan. Kedua, tidak
adanya openness yang timbal balik. Jika seseorang tertutup dan seseorang lagi
terbuka, maka trust tidak akan terjadi. Terakhir, adalah menolak untuk
mengemukakan pemikiran, informasi, saran, perasaan dan reaksi setelah orang
lain telah menunjukan adanya acceptance, support dan cooperativeness.
II. C. Gambaran Trust Pada Istri yang Menjalani Commuter Marriage
Bagi kebanyakan orang, hubungan perkawinan dipandang sebagai
hubungan yang sangat intim dan merupakan hubungan yang berlangsung lama
bila dibandingkan dengan semua hubungan dekat yang ada (Lemme, 1995). Dari
hasil penelitian tentang perkawinan, kualitas perkawinan yang baik ditandai oleh
komunikasi yang baik, keintiman dan kedekatan, seksualitas, kejujuran dan
kepercayaan yang kesemuanya itu menjadi sangat penting untuk menjalin relasi
perkawinan yang memuaskan (dalam Sadarjoen, 2005).
Dalam perkawinan jarak jauh atau commuter marriage, trust dan
menegosiasikannya (Maines, 1993). Dalam perkawinan commuter ini juga
diperlukan trust, kejujuran dan kesetiaan. Apabila salah satu pasangan mulai
tidak jujur dan tidak percaya maka pasangan yang lain akan sendirinya merasa
tidak aman dan tidak nyaman (Sadarjoen, 2007). Keberhasilan yang sangat
penting dalam commuter marriage adalah dasar kepercayaan atau trust, dukungan
dari pasangan, komitmen yang kuat pada perkawinan dan pasangan, dan
komunikasi yang terbuka antara pasangan (Farris, 1978).
Kepercayaan atau trust sendiri merupakan aspek penting dalam semua
hubungan, terutama dalam hubungan perkawinan. Menurut Hendrick & Hendrick
(1992) trust merupakan faktor yang diperlukan untuk tercapainya hubungan yang
sukses. Menurut Johnson & Johnson (1997), trust merupakan aspek dalam suatu
hubungan secara terus menerus berubah serta bervariasi. Henslin (dalam King,
2002) memandang trust sebagai harapan dan kepercayaan individu terhadap
reliabilitas orang lain. Pondasi dari trust meliputi saling menghargai satu dengan
yang lainnya dan menerima adanya perbedaan (Carter, 2001). Individu yang
memiliki trust tinggi cenderung lebih disukai, lebih bahagia, dianggap lebih
menarik oleh pasangannya, lebih mudah beradaptasi, dan dianggap sebagai orang
yang paling dekat dibandingkan individu yang memiliki trust rendah (Marriages,
2001).
Menurut Johnson & Johnson (1997) tingkat trust dalam sebuah hubungan
dapat berubah sesuai dengan kemampuan dan kemauan setiap orang untuk dapat
percaya (trusting) dan dapat dipercaya (trustworthy). Dalam commuter marriage
menjalani commuter marriage di awal perkawinan dimana diantara mereka belum
tercipta keyakinan sepenuhnya.
Roehling & Bultman (2002) menjelaskan bahwa pasangan yang tidak
tinggal bersama anak-anak dapat fokus pada karir, namun pasangan lain, biasanya
istri yang tinggal dengan anak merasakan peran sebagai orang tua tunggal. Oleh
sebab itu, kehidupan istri menjadi lebih kompleks dan merasakan peran sebagai
orang tua tunggal. Dalam commuter marriage kurangnya kehadiran pasangan dan
terhambatnya kontak nonverbal juga dapat mempengaruhi keintiman pasangan
(Scoot, 2002). Menurut Thompson & Walker (dalam Papalia, 2003) pada wanita
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.
Metode deskriptif merupakan metode yang bertujuan untuk menggambarkan
secara sistematik dan akurat, fakta, karakteristik mengenai populasi atau
mengenai bidang tertentu (Hadi, 2000). Hasan (2003) menyatakan bahwa jenis
penelitian ini tidak mempersoalkan jalinan hubungan antar variabel, dan tidak
melakukan pengujian hipotesis. Hasil penelitiannya berupa deskripsi mengenai
variabel-variabel tertentu dengan menyajikan frekuensi, angka rata-rata atau
kualifikasi lainnya untuk setiap kategori disuatu variabel. Dalam pengolahan dan
analisis data menggunakan pengolahan statistik yang bersifat deskriptif.
A. Identifikasi Variabel Penelitian
Variabel yang hendak diteliti dalam penelitian ini adalah trust pada istri
yang menjalani commuter marriage tipe adjusting.
B. Defenisi Operasional Variabel
Trust adalah keyakinan dan kesediaan seseorang untuk mempercayai
kepercayaanya tidak terpenuhi. Dalam mempercayai seseorang ada dua hal yang
terjadi yaitu kemampuan untuk mempercayai orang lain dan kesedian untuk
mengambil resiko. Trust dalam penelitian ini akan diungkap menggunakan alat
ukur berupa skala trust yang dikembangkan mengacu pada teori yang
dikemukakan oleh Johnson & Johnson (1997) yang terdiri dari 5 aspek yaitu
keterbukaan yaitu membagi informasi, ide-ide, pemikiran, perasaan dan reaksi
mengenai isu-isu yang terjadi. Saling berbagi yaitu menawarkan bantuan material
dan sumber daya kepada orang lain dengan tujuan untuk membantu pihak lain
menuju penyelesaian tugas. Penerimaan yaitu komunikasi penuh penghargaan
terhadap orang lain. Dukungan yaitu komunikasi dengan orang lain diketahui
kemampuannya dan percaya bahwa dia mempunyai kapabilitas yang dibutuhkan.
Niat bekerjasama yaitu pengharapan bahwa seseorang dapat bekerja sama dan
bahwa orang lain juga dapat bekerja sama untuk mencapai pemenuhan tujuan.
Trust terhadap istri yang menjalani commuter marriage dilihat dari
besarnya skor yang diperoleh dari skala. Adapun skala yang digunakan adalah
skala model Likert dan diberikan kepada istri yang menjalani commuter marriage.
Semakin tinggi skor yang diperoleh maka semakin tinggi trust yang dimiliki oleh
subjek, begitu juga sebaliknya semakin rendah skor yang diperoleh maka semakin
rendah trust yang dimiliki subjek.
C. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah seluruh objek yang dimaksudkan untuk diteliti. Populasi
sifat yang sama (Hadi,1991). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah
istri yang menjalani commuter marriage.
Adapun karakteristik populasi penelitian ini adalah:
a. Wanita yang berpisah dengan pasanganya dikarenkan penempatan karir atau
menjalani pendidikan didaerah lain. Hal tersebut menyebabkan pasangan
suami istri tidak dapat tinggal dalam satu rumah setidaknya tiga malam dalam
satu minggu sedikitnya tiga bulan.
b. Wanita yang telah menikah dengan usia perkawinan maksimal 13 tahun. Hal
ini sesuai dengan karakteristik dari commuter marriage tipe adjusting dimana
berpisah dengan pasangan dari awal perkawinan sampai dengan usia
perkawinan 13 tahun.
c. Mempunyai anak yang berusia kurang dari 13 tahun.
d. Suami dan istri mempunyai tempat tinggal masing-masing dikarenakan
perpisahan mereka dapat berlangsung lama.
Sugiarto (2003) berpendapat bahwa untuk penelitian yang akan
menggunakan analisis data dengan statistik, besar sampel yang paling kecil adalah
30, walaupun ia juga mengakui bahwa banyak peneliti lain menganggap bahwa
sampel sebesar 100 merupakan jumlah yang minimum. Menurut Azwar (2005),
secara tradisional statistika menganggap jumlah sampel yang lebih dari 60 subjek
sudah cukup banyak. Adapun jumlah subjek yang digunakan dalam uji coba alat
ukur adalah 80 orang, sedangkan subjek yang dijadikan sampel dalam penelitian
2. Metode pengambilan sample
Metode pengambilan sample adalah cara yang digunakan untuk
mengambil sampel dari populasi dengan menggunakan prosedur tertentu agar
diperoleh sampel yang dapat mewakili populasi (Hadi, 2000). Metode
pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah incidental
sampling. Menurut Hadi (2000), incidental sampling diperoleh semata-mata dari
keadaan-keadaan insidental atau kebetulan.
D. Alat Ukur yang Digunakan
Alat ukur merupakan metode pengumpulan data dalam kegiatan penelitian
yang mempunyai tujuan untuk mengungkap fakta mengenai varabel yang diteliti.
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah
metode self-reports. Metode self-reports berasumsi bahwa subjek adalah orang
yang paling tahu tentang dirinya sendiri, apa yang dinyatakan subjek kepada
peneliti adalah benar dan dapat, dan interpretasi subjek tentang
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah sama dengan apa yang dimaksudkan
oleh peneliti (Hadi, 2000). Sesuai dengan metode self-reports, maka penelitian ini
menggunakan skala trust untuk memperoleh gambaran trust pada istri yang
menjalani commuter marriage.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan lima komponen trust yaitu
berbentuk pernyataan dengan empat pilihan respon, yaitu SS (sangat sesuai), S
(sesuai), TS (tidak sesuai), STS (sangat tidak sesuai). Setiap pilihan tersbut
memiliki skor masing-masing tergantung dari jenis aitem, apakah favorabel atau
tidak favorabel. Untuk aitem favorabel, SS diberi skor empat, S diberi skor tiga,
TS diberi skor dua, STS diberi skor satu. Sedangkan untuk aitem yang tidak
favorabel, SS diberi skor satu, S diberi skor dua, TS diberi skor tiga, STS diberi
skor empat. Selain aitem-aitem tersebut, didalam alat ukur juga tertera identitas
diri yang harus diisi oleh subjek penelitian. Identitas tersebut meliputi, nama, usia,
pekerjaan, kota tempat tinggal, anak, alasan menjalani perkawinan jarak jauh,
lama menjalani perkawinan jarak jauh, itensitas interaksi, media yang digunakan
dalam berinteraksi dengan pasangan.
1. Validitas Alat Ukur
Untuk mengetahui apakah skala psikologi mampu menghasilkan data yang
akurat sesuai dengan tujuan ukurnya, diperlukan suatu pengujian validitas
(Azwar, 2004). Didalam penelitian ini akan diuji validitasnya berdasarkan
validitas isi. Validitas isi tes ditentukan melalui pendapat profesional (profesional
judgement) dalam proses telaah soal (Azwar, 2000). Pendapat profesional
(profesional judgement) di peroleh dengan cara berkonsultasi dengan dosen
pembimbing.
2. Daya Beda Aitem
Daya beda suatu alat ukur dalam penelitian sangat diperlukan karena
melakukan fungsinya. Daya beda aitem dilakukan untuk mengukur konsistensi
internal tiap-tiap aitem pada skala dengan mengkorelasikan skor aitem dengan
skor total (Azwar, 2000).
Pengujian daya diskriminasi aitem menghendaki dilakukannya komputasi
korelasi antara distribusi skor aitem dengan suatu kriteria yang relevan, yaitu
distribusi skor skala itu sendiri. Komputasi ini akan menghasilkan koefisien
korelasi aitem total (rix) yang dikenal dengan sebutan parameter daya beda aitem.
Kriteria pemilihan aitem berdasarkan korelasi aitem menggunakan batasan rix
≥0.30. Semua aitem yang mencapai koefisien korelasi minimal 0.30, daya
pembedanya dianggap memuaskan. Aitem yang memiliki harga rix < 0.30 dapat
diinterpretasikan sebagai aitem yang memiliki daya diskriminasi rendah (Azwar,
2000). Penelitian ini menggunakan batasan rix ≥ 0.30.
Pengujian daya diskriminasi aitem pada skala sikap dilakukan dengan
mengkorelasikan antara skor tiap aitem dengan skor total, dengan menggunakan
teknik korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan program SPSS versi 16.
3. Reliabilitas Alat Ukur
Prosedur pengujian reliabilitas yang akan digunakan dalam penelitian ini
adalah koefisien reliabilitas alpha. Data untuk menghitung koefisien reliabilitas
alpha diperoleh melalui penyajian suatu bentuk skala yang dikenakan hanya sekali
Reliabilitas dinyatakan oleh koefisien reliabilitas (rxx) yang angkanya
berada dalam rentang 0 sampai dengan 1. Koefisien reliabilitas yang semakin
mendekati angka 1 menandakan semakin tinggi reliabilitas. Sebaliknya, koefisien
yang semakin mendekati angka 0 berarti semakin rendah reliabilitas yang
dimiliki. Teknik koefisien alpha untuk menguji reliabilitas alat ukur dihitung
dengan bantuan program SPSS versi 16.
4. Hasil uji coba alat ukur
Tujuan dilakukannya uji coba alat ukur adalah untuk mengetahui
sejauhmana alat ukur dapat mengungkap dengan tepat apa yang ingin diukur dan
seberapa jauh alat ukur menunjukkan kecermatan atau ketelitian pengukuran atau
dengan kata lain dapat menunjukkan keadaan sebenarnya (Azwar, 2004). Setelah
alat ukur disusun, maka tahap selanjutnya yang dilakukan adalah melakukan uji
coba alat ukur. Uji coba dilakukan pada 80 wanita yang telah menikah yang
berdomisili di kota Medan. Dalam skala trust pada istri yang menjalani commuter
marriage yang disebarkan terdapat 80 aitem. Tabel 1 menunjukan blue print skala
trust pada istri yang menjalani commuter marriage sebelum dilakukan uji coba.
Tabel 1. Blue Print Distribusi Aitem Skala Trust Pada Istri yang
Menjalani Commuter Marriage Sebelum Uji Coba
No.
Komponen Trust
Nomor Aitem Total
1.
Keterbukaan 1, 6, 11, 15, 19, 22, 26, 27, 31, 34, 37, 41, 45, 50, 52, 59, 63, 67,
72, 80.
Hasil uji coba alat ukur diolah melalui tiga kali pengujian
agar memperoleh reliabilitas yang memnuhi standar ukur dan indeks daya beda
aitem diatas 0,30. Reliabilitas alat ukur yang diujicobakan adalah 0,96. Aitem
yang memiliki daya beda tinggi (diatas 0,30) bergerak dari 0,30 sampai dengan
0,70 (N=68). Tabel 2 menunjukkan blue print skala trust pada istri yang
menjalani commuter marriage setelah dilakukan uji coba.
Tabel 2. Blue Print Distribusi Aitem Skala Trust Pada Istri yang
Menjalani Commuter Marriage Setelah Uji Coba.
o.
Kompone n Trust
Nomor Aitem Total
.
Nomor yang ditebalkan berarti memiliki daya diskrimisnasi <0,30
Setelah memperoleh reliabilitas yang memnuhi standar ukur,
peneliti melakukan penomoran aitem baru untuk skala penelitian yang sebenarnya
sebagaimana yang tertera pada tabel 3.
Tabel 3. Blue Print Distribusi Aitem Skala Trust pada Istri yang
Menjalani Commuter Marriage yang Digunakan dalam Penelitian.
o.
Kompone n Trust
Nomor Aitem Total
.
E. Prosedur Pelaksanaan Penelitian
Prosedur pelaksanaan penelitian terdiri dari tiga tahap.
Ketiga tahap tersebut yaitu persiapan penelitian, pelaksanaan penelitian, dan
pengolahan data.
1. Persiapan penelitian
Tahap persiapan penelitian terdiri dari:
a. Pembuatan alat ukur
Penelitian ini menggunakan alat ukur berupa skala trust pada istri
yang menjalani commuter marriage yang disusun oleh peneliti
berdasarkan lima komponen yang diungkapkan oleh Johnson & Johnson
(1997). Skala ini terdiri dari 80 aitem. Penyusunan skala ini
dioperasionalisasikan dalam bentuk-bentuk aitem pernyataan dan
b. Uji coba alat ukur
Setelah alat ukur disusun, maka tahap selajutnya yang dilakukan
adalah melakukan uji coba alat ukur. Uji coba alat ukur dilakukan pada
tanggal 6 Maret 2010 sampai 9 Maret 2010 kepada 80 wanita yang telah
menikah yang berdomisili di kota Medan. Subjek diminta memberi respon
pada alat ukur berupa skala trust pada istri yang menjalani commuter
marriage. Peneliti terlebih dahulu meminta izin dan kesedian subjek untuk
mengisi skala. Kemudian peneliti menanyakan apakah subjek telah
menikah serta apakah usia perkawinan subjek belum mencapai 13 tahun.
Apabila subjek telah memenuhi karakteristik awal tersebut yang telah
ditentukan untuk menjadi sampel penelitian, maka peneliti menyerahkan
skala tersebut. Hasil uji coba ini diolah melalui tiga kali pengujian
reliabilitas agar memperoleh reliabilitas yang memenuhi standar ukur.
c. Revisi alat ukur
Setelah penelti melakukan uji coba alat ukur maka peneliti menguji
validitas dan reliabilitas skala. Setelah diketahui aitem-aitem yang
memenuhi validitas dan reliabilitasnya, maka kemudian peneliti menyusun
aitem-aitem tersebut ke dalam alat ukur yang digunakan untuk mengambil
data penelitian. Skala dibuta dalam bentuk buku dari kertas A4 yang
2. Pelaksanaan penelitian
Setelah alat ukur direvisi, maka dilaksanakan penelitian pada subjek yang
memenuhi ciri-ciri populasi. Penelitian dilakukan di kota Medan. Peneliti
mendapat bantuan dari beberapa orang kerabat, teman untuk mencari tahu
informasi mengenai berapa banyak istri yang menjalani perkawinan jarak jauh dan
juga di bantu dalam penyebaran skala penelitian. Pengambilan data dilakukan
dengan memberikan alat ukur berupa skala trust pada istri yang menjalani
commuter marriage. Subjek diminta memberi respon pada skala tersebut. Tetapi
sebelumnya peneliti terlebih dahulu meminta izin dan kesediaan subjek untuk
mengisi skala. Kemudian peneliti menanyakan apakah subjek menjalani
perkawinan jarak jauh serta apakah usia perkawinan subjek belum mencapai 13
tahun. Apabila subjek telah memenuhi karakteristik awal tersebut yang telah
ditentukan untuk menjadi sampel penelitian, maka peneliti menyerahkan skala
tersebut. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 10 Maret 2010 sampai 18 Maret
2010 dengan melibatkan 60 orang subjek.
3. Pengolahan data
Setelah diperoleh data dari skala trust pada istri yang
menjalani commuter marriage, maka dilakukan pengolah data. Pengolahan data
Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
analisa statistik. Alasan yang mendasari digunakannya analisa statistik adalah
karena statistik dapat menunjukan kesimpulan (generalisasi) penelitian.
Pertimbangan lain yang mendasari adalah statistik bekerja dengan angka, statistik
bersifat objektif dan universal (Hadi, 2000).
F. Metode Analisa Data
Hadi (2000) menyatakan bahwa penelitian deskriptif
menganalisa dan menyajikan fakta secara sistematis sehingga dapat lebih mudah
dipahami dan disimpulkan. Kesimpulan yang diberikan selalu jelas dasar
faktualnya sehingga semuanya selalu dapat dikembalikan langsung pada data
yang diperoleh. Untuk mendapatkan skor skala digunakan statistik deskriptif.
Data yang akan diolah yaitu skor minimum, skor maksimum, mean dan standar
deviasi. Hadi (2000) menyatakan bahwa uraian kesimpulan dalam penelitian
deskriptif didasari oleh angka yang diolah tidak terlalu mendalam. Data yang
berhasil dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan bantuan program
BAB IV
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
Pada bab berikut ini akan diuraikan mengenai keseluruhan hasil
penelitian. Pembahasan akan dimulai dengan memberikan gambaran umum
subjek penelitian dilanjutkan dengan hasil penelitian, analisa dan interpretasi data
penelitian serta pembahasan.
B. Analisa Data
3. Gambaran umum subjek penelitian
Penelitian ini melibatkan 60 subjek penelitian yang dapat dikelompokan
berdasarkan usia, status pekerjaan, kota tempat tinggal, dan lama menjalani
perkawinan jarak jauh, dan intensitas bertemu.
a. Pengelompokan subjek berdasarkan usia
Pengelompokan subjek berdasarkan usia terdiri atas
Berdasarkan teori Levinson (Monks, 2002), penyebaran subjek penelitian
menurut usia dapat digambarkan seperti pada tabel dibawah ini:
Tabel 4. Penyebaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia
21-25 11 18,3%
26-30 26 43,3%
31-35 12 20%
36-40 10 16,6%
41-45 1 1,66%
Total 60 100%
Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat bahwa subjek terbanyak adalah subjek
dengan rentang usia 26-30 tahun sebanyak 26 orang (43,3%), sedangkan yang
paling sedikit adalah subejek pada kelompok usia 41-45 tahun sebanyak 1 orang
(1,66%).
b. Pengelompokan subjek berdasarkan status pekerjaan
Berdasarkan status pekerjaan, penyebaran subjek penelitian dapat
digambarkan seperti tabel dibawah ini:
Tabel 5. Penyebaran Subjek Penelitian Berdasarkan Status Pekerjaan
Status Pekerjaan Jumlah (N) Presentase
Pegawai Swasta 15 25%
Pegawai BUMN 6 10%
PNS 17 28,3%
Guru 8 13,3%
Wirausaha 6 10%
Dokter 3 5%
Mahasiswa 3 5%
Social Worker 1 1,66%
Total 60 100%
Berdasarkan tabel 5, sebagian besar subjek penelitian adalah pegawai
negeri sipil, yaitu sebanyak 17 orang (28,3 %), sedangkan subjek peneltian yang
lebih sedikit adalah yang berstatus perawat dan social worker yaitu 1 orang
(1,66%).
c. Pengelompokan subjek berdasarkan beda kota tempat tinggal subjek
dengan pasangan
Berdasarkan beda kota dengan pasangan, penyebaran subjek penelitian
dapat digambarkan seperti pada tabel dibawah ini:
Tabel 6. Penyebaran Subejek Penelitian Berdasarkan Beda Kota Tempat
Tinggal dengan Pasangan
Beda Kota Jumlah (N) Persentase
Satu Propinsi 17 28,3%
Beda Propinsi 24 40%
Beda Pulau 13 21,6%
Beda Negara 6 10%
Berdasarkan tabel 6, jumlah subjek penelitian yang terbanyak menjalani
perkawinan jarak jauh beda propinsi, yaitu 24 orang (40%). Sedangkan yang
paling sedikit adalah subjek penelitian yang menjalani perkawinan jarak jauh pada
beda negara yaitu 6 orang (10%).
d. Pengelompokan subjek berdasarkan lama menjalani perkawinan jarak
jauh
Berdasarkan lama menjalani perkawinan jarak jauh, penyebaran subjek
penelitian dapat digambarkan seperti pada tabel dibawah ini:
Tabel 7. Penyebaran Subjek Penelitian Berdasarkan Lama Menjalani
Perkawinan Jarak Jauh
Lama Menjalani Perkawinan Jarak Jauh
Jumlah (N) Persentase
4 bulan – 1 tahun 22 36,6%
1 – 3 tahun 26 43,3%
3 – 5 tahun 7 11.6%
>5 – 7 tahun 5 8.33%
Total 60 100%
Berdasarkan tabel 7 terlihat bahwa kebanyakan subjek penelitian
menjalani perkawinan jarak jauh 1 – 3 tahun sebanyak 26 orang (43,3%).
e. Pengelompokan subjek berdasarkan intensitas pertemuan
Berdasarkan intensitas pertemuan, penyebaran subjek penelitian dapat
digambarkan seperti tabel dibawah ini:
Tabel 8. Penyebaran Subjek Penelitian Berdasarkan Intensitas Pertemuan
Intensitas pertemuan/tahun
Jumlah (N) Presentase
1-10 8 13,3%
11-20 27 45%
21-30 10 16,6%
31-40 2 3,33%
41-50 13 21,6%
Berdasarkan tabel 8 terlihat bahwa kebanyakan subjek memiliki intensitas
pertemuan 11-20, yaitu 27 orang (45%). Sedangkan yang paling sedikit adalah
subjek penelitian yang memiliki intensitas pertemuan 31-40, yaitu 2 orang
(3,33%).
4. Hasil Penelitian
Tujuan dari analisa ini adalah untuk menjelaskan atau mendeskripsikan
karakteristik variabel yang diteliti, dalam hal ini adalah trust pada istri yang
menjalani commuter marriage. Trust pada istri yang menjalani commuter
marriage dikelompokan dalam tiga kategori berdasarkan model distribusi normal,
istri yang menjalani commuter marriage, trust rendah pada istri yang menjalani
commuter marriage.
Tabel 9. Pengkateogisasian Trust pada Istri yang Menjalani Commuter Marriage
X < (µ-1.0σ) Rendah
(µ-1.0σ) ≤ X < (µ+1.0σ)
Sedang
(µ+1.0σ) ≤ X Tinggi
Keterangan tabel 9:
µ: mean
σ: standar deviasi
Sebelum melakukan kategorisasi berdasarkan model distribusi normal,
asumsi bahwaskor subjek pada kelompoksnya merupakan estimasi terhadap skor
subjek dalam opulasi dan bahwa skor subjek dalam populasinya terdistribusi
secara normal harus terpenuhi. Untuk itu, dilakukan uji normalitas
Kolmogrof-Smirnov untuk mengetahui apakah data telah teristribusi normal. Hasil uji