• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Trust Pada Istri Yang Menjalani Commuter Marriage Tipe Adjusting

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Gambaran Trust Pada Istri Yang Menjalani Commuter Marriage Tipe Adjusting"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

GAMBARAN TRUST PADA ISTRI YANG MENJALANI

COMMUTER MARRIAGE TIPE ADJUSTING

 

 

Proposal Skripsi

Guna Memenuhi Persyaratan Mata Kuliah Skripsi

oleh :

PUTRI ARIDA

051301124

 

   

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’alamin. Puji dan syukur yang tiada habisnya saya

panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan karunia dan kasih sayang-Nya

akhirnya saya dapat menyelesaikan proposal skripsi ini. Sholawat beriring salam

tak lupa saya haturkan kepada baginda nabi Muhammad SAW, semoga kita

termasuk kedalam orang-orang yang mendapat syafaat di hari akhir. Amin.

Proposal skripsi yang berjudul “gambaran trust pada istri yang menjalani

commuter marriage tipe adjusting ” ini dibuat guna memenuhi persyaratan Mata

Kuliah Seminar di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada kedua

orang tua saya, almarhum Papa Drs.Nazief Chatib yang selalu memberikan kasih

sayang dan nesehatnya yang akan selalu saya ingat, serta mama Delliati yang

selalu mendoakan dan memberikan kasih sayangnya kepada saya. Kepada kedua

kakak saya K’ewi dan Mimi serta kedua abang ipar saya B’yus dan B’fajar terima

kasih atas dukungannya baik moril maupun materil, dan buat ketiga ponakan

kecilku alif, satria, dan azriel yang selalu memberikan kecerian kepada saya.

Terima kasih atas kasih sayang, perhatian,dan juga dukungan kalian selama ini,

pin sayang kalian semua.

Terima kasih juga kepada Ibu Aprilia Fadjar P., M.Si. Psikolog selaku

dosen pembimbing yang dengan sabar telah membimbing saya dan memberi

masukan yang berguna selama mengerjakan proposal skripsi ini hingga selesai,

(3)

M.Si. Psikolog selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan yang

bermanfaat bagi proposal skripsi ini. Kepada sahabat-sahabat saya Ayu Uni, Ayu

Binze, Pristi, Eka, Diana dan juga Anggie yang selalu memberikan dukungan dan

semangat kepada saya di saat- saat sulit.

Peneliti sadar proposal penelitian ini pastilah tidak sempurna. Kritik,

masukan, dan saran yang membangun dari para pembaca sangat diharapkan guna

memperbaiki kekurangan yang ada. Akhir kata, semoga proposal ini dapat

bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Juni 2009

Peneliti

(4)

DAFTAR ISI

II.A.2. Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Commuter Marriage 14

II.A.3. Jenis-Jenis Commuter Marriage 16

II.B. Trust 17

II.B.1. Definisi Trust 17

II.B.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Trust 19

II.B.3. Jenis-Jenis Trust 20

II.B.4. Komponen Trust 21

II.B.5. Membangun Trust 24

II.B.6. Menurunkan Trust 26

II.C. Kerangka Berpikir Penelitian 28

(5)

A. Identifikasi Variabel Penelitian ... 39

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 39

1. Religiusitas ... 39

2. Sikap terhadap Kematian ... 40

C. Populasi, Sampel dan Metode Pengambilan Sampel ... 40

1. Populasi dan Sampel ... 40

2. Metode Pengambilan Sampel ... 41

D. Metode dan Alat Pengambilan Data ... 42

1. Skala Religiusitas ... 42

2. Skala Sikap terhadap Kematian ... 43

E. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ... 44

1. Validitas Alat Ukur ... 44

2. Reliabilitas Alat Ukur ... 45

F. Daya Beda Aitem ... 45

G. Metode Analisa Data ... 46

IV ANALISA DATA A. Analisa Data 1. Gambaran umum subjek penelitian 47

(6)

Gambaran Trust pada Istri yang Menjalani Commuter Marriage tipe

adjusting

Putri Arida dan Aprilia Fadjar P., M.Si. Psikolog

ABSTRAK

Trust adalah keyakinan dan kesediaan seseorang untuk mempercayai integritas, kemampuan, karakter dan kebenaran yang dimiliki oleh pihak lain.

Dalam mempercayai pihak lain tersebut terdapat resiko harapan dan

kepercayaanya tidak terpenuhi. Dalam mempercayai seseorang ada dua hal yang

terjadi yaitu kemampuan untuk mempercayai orang lain dan kesedian untuk

mengambil resiko.

Trust dalam penelitian ini akan diungkap menggunakan alat ukur berupa skala trust yang dikembangkan mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Johnson & Johnson (1997) yang terdiri dari 5 aspek yaitu keterbukaan, saling

berbagi, penerimaan, dukungan dan niat untuk bekerjasama

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tujuan dari penelitian ini adalah

untuk mengetahui bagaimana gambaran trust pada istri yang menjalani commuter

marriage tipe adjusting. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam

penelitian ini adalah incidental sampling. Menurut Hadi (2000), incidental

sampling diperoleh semata-mata dari keadaan-keadaan insidental atau kebetulan.

Responden dalam penelitian ini sebanyak 60 orang.

Hasil penelitian menunjukkan subjek penelitian yang termasuk dalam kategori

(7)

sedang sebanyak 20 orang ( 33,3%), dan tidak ada subjek yang berada pada

kategri rendah.

(8)

Gambaran Trust pada Istri yang Menjalani Commuter Marriage tipe

adjusting

Putri Arida dan Aprilia Fadjar P., M.Si. Psikolog

ABSTRAK

Trust adalah keyakinan dan kesediaan seseorang untuk mempercayai integritas, kemampuan, karakter dan kebenaran yang dimiliki oleh pihak lain.

Dalam mempercayai pihak lain tersebut terdapat resiko harapan dan

kepercayaanya tidak terpenuhi. Dalam mempercayai seseorang ada dua hal yang

terjadi yaitu kemampuan untuk mempercayai orang lain dan kesedian untuk

mengambil resiko.

Trust dalam penelitian ini akan diungkap menggunakan alat ukur berupa skala trust yang dikembangkan mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Johnson & Johnson (1997) yang terdiri dari 5 aspek yaitu keterbukaan, saling

berbagi, penerimaan, dukungan dan niat untuk bekerjasama

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tujuan dari penelitian ini adalah

untuk mengetahui bagaimana gambaran trust pada istri yang menjalani commuter

marriage tipe adjusting. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam

penelitian ini adalah incidental sampling. Menurut Hadi (2000), incidental

sampling diperoleh semata-mata dari keadaan-keadaan insidental atau kebetulan.

Responden dalam penelitian ini sebanyak 60 orang.

Hasil penelitian menunjukkan subjek penelitian yang termasuk dalam kategori

(9)

sedang sebanyak 20 orang ( 33,3%), dan tidak ada subjek yang berada pada

kategri rendah.

(10)

PENDAHULUAN

I.A. Latar belakang

Perkawinan merupakan salah satu tahap penting dalam siklus kehidupan

seseorang, disamping siklus lainnya seperti kelahiran, perceraian, atau kematian

(Pangkahila, 2004). Menurut Hurlock (1997), perkawinan adalah salah satu

bentuk lembaga sosial yang penting dan tidak akan pernah berakhir. Selain itu,

Berhm (1992), menyatakan bahwa perkawinan merupakan ekspresi akhir dari

suatu hubungan yang mendalam dimana dua individu berikrar di depan umum

didasarkan pada keinginan untuk menetapkan hubungan sepanjang hidupnya.

Melalui proses perkawinan, maka seorang individu membentuk sebuah

lembaga sosial yang disebut keluarga. Dalam keluarga yang baru terbentuk inilah,

kemudian terdapat peran dan status sosial baru sebagai suami atau istri, dimana

umumnya dalam keluarga yang baru terbentuk tersebut, suami dan istri tinggal

dalam satu rumah bersama dengan anak-anak mereka (Mahyudin, 2008).

Ada berbagai alasan dimana terdapat keadaan pada suatu keluarga tidak

dapat tinggal dalam satu atap (Mahyudin, 2008). Keadaan tersebut banyak terjadi

pada fenomena saat ini yang memperlihatkan bahwa ada sebagian pasangan

suami istri tidak tinggal dalam satu rumah, yaitu dengan menjalani perkawinan

jarak jauh misalnya, suami yang harus dimutasikan ke lain kota oleh tempatnya

bekerja dan istri tetap tinggal dikota asal. Umumnya, mereka memilih kondisi

tersebut karena mempertahankan profesi atau pekerjaan masing-masing (dalam

Seputar Indonesia, 2008). Meningkatnya kebutuhan hidup dan tingginya

(11)

memilih untuk tinggal berpisah untuk meniti karir di luar kota atau bahkan di

negeri yang berbeda. Banyak diantara mereka yang harus meninggalkan pasangan

dan anak-anaknya, sehingga mereka harus berpisah untuk sementara waktu.

Perpisahan secara fisik antara suami dengan istri merupakan hal yang berat karena

mereka harus saling berjauhan dan tidak dapat bertemu setiap saat (Purnamasari,

2008). Hal tersebut biasa disebut dengan perkawinan jarak jauh atau lebih dikenal

dengan commuter marriage.

Keadaan diatas terjadi pada seorang wanita, dengan inisial VV. VV dan

suaminya sudah menjalani perkawinan jarak jauh selama kurang lebih 2 tahun

sejak awal perkawinan. VV menjalani perkawinan jarak jauh karena VV harus

tetap melanjutkan pendidikan di kota asal dan suaminya yang ditugaskan di kota

yang berbeda. Berikut kutipan wawancara peneliti dengan VV.

“…kakak sedih kali waktu pisah sama suami…tapi mau gimana lagi, walaupun berat ya harus dijalani.”

(komunikasi personal, 16 Maret 2009)

Di Amerika Serikat perkawinan commuter semacam ini telah banyak

terjadi, pada tahun 2005 jumlahnya meningkat 30% menjadi 3.6 juta pasangan,

padahal di tahun 2000 jumlahnya masih 2.7 juta (Time, 2007). Johnson (dalam

Marriage and Family Encyclopedia, 2009) memperkirakan bahwa 700.000 sampai

1 juta pasangan di Amerika menjalani gaya hidup commuting. Berdasarkan data

yang di peroleh bahwa pada tahun 1995, 61% pasangan yang menikah adalah

keduanya bekerja, tetapi berbeda pada tahun 1990, 53.5%, tahun 1980, 46.3%,

(12)

Menurut Gerstel & Gross; Orton & Crossman, Commuter marriage

merupakan keadaan perkawinan yang terbentuk secara sukarela dimana pasangan

yang sama-sama bekerja mempertahankan dua tempat tinggal yang berbeda lokasi

geografisnya dan pasangan tersebut terpisah paling tidak tiga malam per minggu

selama minimal tiga bulan (dalam Marriage and Family Encyclopedia, 2009).

Torsina (dalam Ekasari.dkk, 2007), menyatakan bahwa commuter marriage

merupakan pernikahan yang karena alasan khusus menyebabkan pasangan suami

istri tidak dapat tinggal serumah. Rhodes (2002) juga menambahkan bahwa

pasangan yang tinggal di rumah yang berbeda juga disebut commuter marriage.

Ada banyak alasan pasangan perkawinan untuk menjalani commuter

marriage. Alasan yang paling umum adalah untuk mempertahankan pekerjaan

atau karir. Seperti yang dikatakan Anderson (dalam Marriage and Family

Encyclopedia, 2009), beberapa faktor yang mempengaruhi commuter marriage

adalah meningkatnya jumlah tenaga kerja wanita, meningkatnya jumlah pasangan

yang sama-sama bekerja dan meningkatnya jumlah wanita yang mencari karir

dengan training khusus. Faktor lain yang juga mempengaruhi commuter marriage

adalah pekerjaan yang menuntut orang untuk berpindah-pindah sehingga banyak

pasangan yang harus berpisah untuk sementara waktu. Pasangan menjalani

commuter marriage karena masing-masing memiliki pekerjaan di lokasi geografis

yang terpisah jauh sehingga pasangan tersebut tidak dapat berada ditempat tinggal

yang sama. Dengan menjalani commuter marriage masing-masing pasangan tetap

menjalani pekerjaan mereka, sambil mempertahankan hubungan pernikahan.

(13)

mencapai tujuan karir yang memungkinkan mereka untuk dapat tinggal bersama

(Farris, dalam Marriage and Family Encyclopedia, 2009).

Hal diatas sesuai dengan hasil wawancara peneliti dengan responden

penelitian EP.

”...kakak udah lebih dari 4 tahun pisah sama suami. Kita pisah bukan karna terjadi apa-apa, tapi kita pisah karna suami harus pindah kerja di Kalimantan dan kakak juga harus kerja di sini. Sebenarnya kakak pengen

ikut suami tapi masih blom bisa, karna kita berdua masih mau kerja dan butuh pekerjaan ini buat masa depan kitadan keluarga. Sekarang juga kita lagi fokus sama kerjaan agar lebih mapan lagi.”

(komunikasi personal, 5 februari 2009)

Selain alasan untuk mempertahankan pekerjaan, commuter marriage juga

sering dijalani dengan tujuan untuk mencari penghasilan lebih baik. Pasangan

suami istri akan mencari pekerjaan yang lebih baik, untuk memperbaiki keadaan

ekonomi dan untuk pencapaian jenjang karir (Ekasari, Wahyuningsih, &

Setyaningrum, 2007).

Pada pasangan commuter marriage terdapat beberapa masalah yaitu

seperti kelelahan terhadap peran (Anderson & Spruill, 1993, Gerstel & Gross,

1982, 1983, 1984; Winfield, 1985), pekerjaan yang mengganggu waktu untuk

bersama (Gerstel & Gross, 1984; Winfield, 1985), durasi perpisahan (Gerstel &

Gross, 1984), kurangnya kebersamaan (Winfield, 1985), kurangnya kekuatan ego

(Winfield, 1985) dan penurunan kompetensi sebagai profesional (Gerstel &

Gross, 1984; Winfield, 1985).

Selain masalah yang terjadi diatas, pada pasangan commuter marriage

juga terjadi keterpisahan fisik, keterpisahan fisik ini memunculkan banyak

(14)

Ekasari.dkk, 2007), bahwa banyak masalah yang akan muncul pada pasangan

commuter marriage, diantaranya komunikasi karena pasangan suami istri tidak

dapat bertemu setiap hari untuk mengetahui keadaan atau kegiatan

masing-masing. Dampak dari keterpisahan fisik tersebut adalah merasa kesepian,

pasangan suami istri tidak dapat mencurahkan isi hati, tidak dapat bermesraan,

kerinduan untuk melakukan kegiatan keseharian bersama pasangan, dan

berkurangnya frekuensi hubungan seksual. Jika pasangan suami istri tersebut telah

mempunyai anak, maka istri harus memenuhi kebutuhan anak-anaknya atau jika

sakit, istri harus menyelesaikan sendiri tanpa bantuan suami. Anak bisa

kehilangan figur ayah, dan istri merasa berat untuk memerankan dua figur secara

bersamaan (dalam Ekasari. dkk, 2007).

Hal diatas juga dapat terlihat dalam wawancara peneliti dengan responden

EP.

“…Rasanya sepi kalo suami lagi gak di sini, apalagi kalo lagi kangen, gak tau mau ngapain…”

“… Sebenernya yang buat masalah kalo kita jauh tu adalah sinyal telpon. Suami kakak kan di Kalimantan, jadi kalo mau telpon susah, harus cari sinyal dulu. Makanya jarang komunikasi...”

(komunikasi personal, 6 april 2009)

Dalam commuter marriage kurangnya kehadiran pasangan dan

terhambatnya kontak nonverbal juga dapat mempengaruhi keintiman pasangan

(Scoot, 2002). Menurut Thompson & Walker (dalam Papalia, 2003) pada wanita

keintiman memerlukan adanya rasa saling berbagi perasaan dan kepercayaan,

sedangkan pria cenderung mengekspresikan keintiman melalui hubungan seksual,

(15)

Jadi, kurangnya kehadiran pasangan dapat mempengaruhi kepercayaan atau trust

pada wanita.

Kehadiran anak dalam keluarga commuter marriage menyebabkan

kehidupan keluarga menjadi lebih kompleks. Pada keluarga yang memiliki anak,

biasanya anak tinggal bersama dengan istri di daerah asal sedangkan suami

bekerja di daerah lain (Scoot, 2002). Roehling & Bultman (2002) menjelaskan

bahwa pasangan yang tidak tinggal bersama anak-anak dapat fokus pada karir,

namun pasangan lain, biasanya istri yang tinggal dengan anak merasakan peran

sebagai orang tua tunggal. Oleh sebab itu, kehidupan istri menjadi lebih kompleks

dan merasakan peran sebagai orang tua tunggal dimana harus memperhatikan dan

menjaga anak. Istri pada pasangan commuter marriage sering kali merasa

mempunyai peran sebagai orang tua tunggal dan konflik peran meskipun

pasangan commuter marriage menganut peran egalitarian, dimana pasangan

suami istri mempunyai peran yang sama dalam keluarga. Namun, ketika salah

satu pasangan meninggalkan keluarga, pasangan tersebut akan menyerahkan

perannya dalam keluarga kepada pasangan yang tinggal dengan keluarga.

Harriett Gross (dalam Marriage and Family Encyclopedia, 2009),

menyatakan bahwa ada dua tipe dari pasangan commuter marriage, yang pertama

adalah pasangan adjusting, yaitu pasangan suami istri yang usia perkawinnanya

cenderung lebih muda, menghadapi perpisahan perkawinan atau commuter

marriage di awal perkawinan, dan memiliki sedikit atau tidak ada anak. Yang

kedua, pasangan established, yaitu pasangan suami istri yangusia perkawinannya

(16)

dewasa dan telah keluar dari rumah. Dalam commuter marriage sendiri, trust

menjadi masalah besar bagi pasangan adjusting karena pasangan ini telah

menjalani commuter marriage di awal perkawinan dimana diantara mereka belum

tercipta keyakinan sepenuhnya.

Pasangan yang menjalani commuter marriage juga mengalami perasaan

khawatir dan kurang mempercayai pasangan (Ekasari, dkk, 2007). Seperti yang

tergambar dari wawancara dengan VV mengenai masalah yang terjadi selama

menjalani perkawinan jarak jauh atau commuter marriage:

“….kalo jarak jauh gini ya pasti ada aja masalahnya. Khawatir, curiga, takut, sedih, gak percaya sama pasangan kita, ya semua la.. pokoknya jadi satu. Ada aja pikiran kayak gitu. Kakak pernah saking curiganya sama suami sampe marah dan kesel, cuma gara-gara ada temen ceweknya yang nyanyi waktu suami lagi telpon kakak. Kakak uda curiga aja, sampe marah-marah sama suami tapi suami kakak langsung bilang itu temennya dan bilang ke kakak harus percaya sama dia….”

(komunikasi personal, februari 2009)

Kepercayaan atau trust sendiri merupakan aspek penting dalam semua

hubungan, terutama dalam hubungan perkawinan. Perkawinan tanpa rasa saling

percaya mungkin bisa mengakibatkan hal yang buruk seperti perceraian. Dalam

perkawinan commuter ini diperlukan trust, selain juga kejujuran, kesetiaan dan

komitmen (Maines, dalam Marriage and Family Encyclopedia, 2009). Farris

menyatakan bahwa keberhasilan yang sangat penting dalam commuter marriage

adalah dasar kepercayaan atau trust, dukungan dari pasangan, komitmen yang

kuat pada perkawinan dan pasangan, serta komunikasi yang terbuka antara

pasangan (dalam Rusconi, 2002). Apabila salah satu pasangan mulai tidak

(17)

aman dan tidak nyaman (Sadarjoen, 2007). Maines (dalam Marriage and Family

Encyclopedia, 2009), menyatakan bahwa dalam perkawinan jarak jauh atau

commuter marriage, trust dan komitmen cenderung dinilai tinggi bagi pasangan

yang berhasil menegosiasikannya.

Hal di atas sesuai dengan hasil wawancara peneliti dengan responden yaitu

DA:

“aku percaya sama suami aku...entah kenapa rasa percaya ini sangat kuat...walaupun kita beda kota tapi itu gak jadi masalah sama aku.. mungkin karena setiap waktu dia selalu perhatiin aku... setiap hari kita selalu telpon dan sms, selalu kasih kabar dan berbagi cerita. aku percaya

banget sama dia...yang pastinya kita berdua udah punya komitmen .”

(komunikasi personal, februari 2010)

Trust adalah persepsi bahwa pasangan memiliki kebaikan dan kejujuran

yang besar (dalam Trust, 2002). Menurut Johnson & Johnson (1997), trust

merupakan aspek dalam suatu hubungan secara terus menerus berubah serta

bervariasi. Henslin (dalam King, 2002) memandang trust sebagai harapan dan

kepercayaan individu terhadap reliabilitas orang lain. Pondasi dari trust meliputi

saling menghargai satu dengan yang lainnya dan menerima adanya perbedaan

(Carter, 2001). Menurut Johnson & Johnson (1997) tingkat trust dalam sebuah

hubungan dapat berubah sesuai dengan kemampuan dan kemauan setiap orang

untuk dapat percaya (trusting) dan dapat dipercaya (trustworthy).

Trust juga merupakan suatu proses dan hal utama yang mendasari dalam

suatu hubungan (McLean, 2005). Menurut Hendrick & Hendrick (1992) trust

(18)

Adanya rasa percaya merupakan suatu keharusan di dalam suatu hubungan. Suatu

hubungan tumbuh dari rasa saling percaya, dan tidak dapat bertahan tanpa rasa

saling percaya (Ridwan, 2007).

Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melihat bagaimana

gambaran trust pada istri yang menjalani commuter marriage tipe adjusting.

I.B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah

sebagai berikut: “Bagaimana gambaran trust pada istri yang menjalani commuter

marriage tipe adjusting?”.

I.C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan dalam pelitian ini, maka yang menjadi tujuan

dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran trust pada istri

yang menjalani commuter marriage tipe adjusting.

I.D. Manfaat Penelitian

I.D.1 Manfaat Teoritis

Secara teoritis penelitian ini diharapkan memberi gambaran dan

pemahaman mengenai bagaimana trust pada pasangan commuter marriage.

(19)

a. Sebagai masukan bagi para calon pasangan suami istri yang akan

menjalani perkawinan jarak jauh atau commuter marriage dan pasangan

suami istri yang melakukan perkawianan jarak jauh atau commuter

marriage agar dapat menjalani dan mengisi hari-hari dalam kehidupannya

dengan lebih baik.

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi atau acuan bagi

penelitian selanjutnya khususnya pada penelitian yang berkaitan dengan

trust pada pasangan commuter marriage.

I.E. Sistematika Penulisan

Proposal ini dibagi atas tiga bab, dan masing-masing bab dibagi atas

beberapa sub bab. Sistematika penulisan penelitian ini adalah:

 Bab I: Pendahuluan.

Bab ini terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi masalah, tujuan

penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

 Bab II: Landasan Teori.

Bab ini menguraikan landasan teori yang mendasari masalah yang menjadi

objek penelitian yang meliputi landasan teori dari kepuasan perkawinan

dan commuter marriage.

(20)

Bab ini terdiri atas identifikasi variabel penelitian, definisi operasional,

populasi dan sampel, metode pengambilan sampel, alat ukur yang

digunakan, validitas dan reliabilitas alat ukur dan metode analisis data.

 Bab IV: Analisa Data dan Pembahasan.

Bab ini terdiri dari gambaran umum subjek penelitian, hasil penelitian,

interpretasi data dan pembahasan.

 Bab V: Kesimpulan dan Saran

Bab ini berisi kesimpulan dan saran dari hasil penelitian yang telah

(21)

BAB II

LANDASAN TEORI

II.A. Commuter Marriage

II.A.1. Definisi Commuter Marriage

Melalui proses perkawinan, maka seorang individu membentuk sebuah

lembaga sosial yang disebut keluarga. Dalam keluarga yang baru terbentuk inilah,

kemudian terdapat peran dan status sosial baru sebagai suami atau istri, dimana

umumnya dalam keluarga yang baru terbentuk tersebut, suami dan istri tinggal

dalam satu rumah bersama dengan anak-anak mereka. Namun, dengan berbagai

alasan terdapat keadaan dimana suatu keluarga tidak dapat tinggal satu atap,

karena salah satu pasangan harus ditugaskan diluar kota seperti, suami yang harus

bekerja misalnya di lepas pantai, atau untuk mempertahankan profesi atau

pekerjaan masing-masing pasangan di kota yang berbeda. Pasangan suami istri

yang dalam kurun waktu tertentu tingggal terpisah inilah yang dapat dikatakan

sebagai pasangan commuter marriage.

Commuter sendiri berasal dari kata “Commuting” yang berarti perjalanan

yang selalu dilakukan seseorang antara satu tempat tinggal dengan tempat bekerja

atau tempat belajar. Marriage dapat diterjemahkan sebagai perkawinan yaitu

pengikatan janji nikah yang dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud

(22)

Dari beberapa definisi tentang commuter marriage, salah satu yang kerap

dipakai sebagai acuan adalah definisi dari Gerstel and Gross; Orton and Crossman

(dalam, Marriage and Family Encyclopedia 2009) . Definisi tersebut adalah

sebagai berikut:

Commuter marriage is a voluntary arrangement where

dual-career couples maintain two residences in different geographic locations

and are separated at least three nights per week for a minimum of three

months”.

Terjemahan:

Commuter marriage merupakan keadaan perkawinan yang

terbentuk secara sukarela dimana pasangan yang sama-sama bekerja

mempertahankan dua tempat tinggal yang berbeda lokasi geografisnya dan

(pasangan tersebut) terpisah paling tidak tiga malam per minggu selama

minimal tiga bulan.

Dari pengertian diatas dapat dikatakan bahwa commuter marriage

merupakan kondisi perkawinan dimana pasangan suami istri harus tinggal terpisah

secara geografis dalam jangka waktu tertentu, perpisahan tersebut bersifat

sementara tidak untuk selamanya. Lebih lanjut lagi, kondisi keterpisahan itu telah

diputuskan oleh pasangan suami istri secara sukarela tanpa paksaan pihak lain,

(23)

Sejalan dengan pernyataan tersebut, Rhodes (2002) menyatakan bahwa

commuter marriage adalah:

“Men and women in dual-career marriages who desire to stay

married, but also voluntarily choose to pursue careers to which they feel a

strong commitment. They establish separate homes so they can do so”.

Terjemahan:

Pria dan wanita dalam perkawinan dual-career yang ingin tetap

berada dalam ikatan perkawinan, tetapi juga secara sukarela

memilih untuk tetap berkarir dengan komitmen yang kuat. Mereka

memutuskan untuk berpisah rumah sehingga mereka tetap bisa

berkarir.

Maksud daripengertian diatas bahwa commuter marriage adalah pasangan

suami istri yang sama-sama bekerja dan telah berkomitmen untuk tetapmenjalani

karir sambil mempertahankan perkawinannya, dan memilih untuk berpisah

tempat tinggal yang merupakan konsekuensi agar mereka dapat menjalani

karirnya.

Torsina (dalam Ekasari.dkk, 2007), menyatakan bahwa commuter

marriage merupakan pernikahan yang karena alasan khusus menyebabkan

pasangan suami istri tidak dapat tinggal serumah. Rhodes (2002) juga

menambahkan bahwa pasangan yang tinggal di rumah yang berbeda juga disebut

(24)

merupakan kondisi yang mengharuskan suami dan istri tinggal terpisah karena

berbagai alasan khusus, selain karena tuntutan pekerjaan juga dapat disebabkan

oleh tuntutan pendidikan, atau keadaan ekonomi keluarga. Jadi meskipun Gerstel

and Gross; Orton and Crossman (dalam, Marriage and Family Encyclopedia

2009) dan Rhodes (2002) menyatakan bahwa commuter marriage merupakan

pasangan dual career, sebenarnya konsep commuter marriage mencakup lingkup

yang lebih luas; bisa pasangan dual career, bisa pasangan single career.

Jadi, dari beberapa defenisi yang ada maka peneliti berpendapat bahwa

commuter marriage adalah kondisi perkawinan dimana pasangan suami istri

secara rela berpisah lokasi tempat tinggal dengan pasangannya karena ada suatu

keadaan tertentu, seperti menjalani pekerjaan atau menyelesaikan pendidikan,

dilokasi geografis yang berbeda dengan tempat tinggalnya sambil tetap

mempertahankan perkawinan mereka. Kondisi commuter marriage tersebut telah

disepakati masing-masing pasangan perkawinan.

II.A.2. Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Commuter Marriage

Ada beberapa faktor utama yg mempengaruhi terjadinya commuter

marriage menurut Anderson (1992), yaitu sebagai beikut:

a) Meningkatnya jumlah tenaga kerja wanita, dengan banyaknya wanita

yang memilih untuk bekerja maka semakin banyak juga pasangan yang

menikah yang menjalani commuter marriage.

b) Meningkatnya jumlah pasangan yang sama-sama bekerja. Pada saat ini

(25)

disebabkan karena tuntuan ekonomi atau gaya hidup, yang

meningkatkan kemungkinan keluarga menjalani keadaan commuter.

c) Meningkatnya jumlah wanita yang mencari karir dengan training

khusus, yang mana mengharuskan mereka untuk tinggal dikota yang

berbeda dengan pasangannya

d) Faktor lain yang juga mempengaruhi commuter marriage adalah

pekerjaan yang menuntut orang untuk berpindah-pindah lokasi

geografis mereka harus berpisah dengan pasangannya untuk sementara

waktu. Misalnya, salah satu pasangan dituntut untuk bekerja diluar

kota untuk sementara waktu dan sementara pasangannya tetap tinggal

untuk menjaga anak-anak.

Selain faktor yang telah dikemukakan diatas, Mardien & Prihantina (dalam

Ekasari.dkk, 2007), juga menjelaskan beberapa faktor penyebab terbentuknya

commuter marriage, sebagai berikut :

1. Karir dan pekerjaan. Tuntutan studi dan karir tidak jarang membuat

suami istri terpisah oleh jarak. Misalnya istri tidak bisa tinggal

bersama dengan suami yang bertugas atau menjalani pendidikan dikota

berbeda untuk kurun waktu tertentu, karena harus menjaga anak-anak

yang masih sekolah.

2. Tuntutan ekonomi dan pola hidup. Misalnya, untuk individu yang

hendak meningkatkan perekonomian keluarga dengan menjadi tenaga

(26)

3. Penolakan hidup bersama, yaitu istri menolak untuk pindah mengikuti

suami dengan berbagai alasan, seperti; suami belum memiliki tempat

tinggal sendiri, menunggu harta orangtua atau keluarga, atau menjaga

orangtua yang kondisi kesehatanya kurang baik.

II.A.3. Jenis - Jenis Commuter Marriage

Berikut terdapat beberapa jenis commuter marriage. Menurut Harriett

Gross (dalam marriage and family encyclopedia, 2009), ada dua tipe dari

pasangan commuter marriage, yaitu:

1. Pasangan adjusting, yaitu pasangan suami istri yang usia

perkawinnanya cenderung lebih muda, menjalani commuter marriage

di awal pernikahan, dan memiliki sedikit atau tidak ada anak.

2. Pasangan established, yaitu pasangan suami istri yang usia

perkawinannya lebih tua, telah lama bersama dalam perkawinan dan

memiliki anak yang sudah dewasa yang telah keluar dari rumah.

Pasangan established cenderung lebih sedikit mengalami stress dalam

commuter marriage daripada pasangan adjusting. Kondisi ini disebabkan oleh

perbedaan dalam hal dominasi masalah perkawinan. Trust menjadi masalah yang

lebih besar bagi pasangan adjusting, sementara mempertahankan kenikmatan

dalam hubungan menjadi masalah utama pasangan established.

Dalam pernyataan diatas telah disebutkan bahwa pasangan adjusting lebih

(27)

kecemasan yang lebih besar ketika mereka akan tinggal terpisah di kota yang

berbeda, dan memandang bahwa keadaan tersebut akan membahayakan keutuhan

perkawinan mereka. Begitu juga halnya dengan trust, yang menjadi masalah besar

bagi pasangan adjusting. Hal ini disebabkan karena pasangan ini menjalani

commuter marriage di tahap awal perkawinan, dimana diantara mereka belum

tercipta keyakinan sepenuhnya. Akibatnya, timbul rasa takut kehilangan

keintiman antara suami istri dalam menjalani rutinitas sehari-hari yang baru

mereka jalani.

II.B. TRUST

II.B.1 Definisi Trust

Dari beberapa definisi tentang trust, salah satunya adalah dari American

Heritage Dictionary (dalam Geller, 1999). Dikatakan bahwa trust is "confidence

in the integrity, ability, character, and truth of a person or thing".

Terjemahan bebas:

Trust merupakan keyakinan akan integritas, kemampuan, karakter

dan kebenaran dari seseorang atau sesuatu.

Dalam pengertian diatas terlihat bahwa trust merupakan keyakinan atau

kepercayaan satu pihak akan integritas, kemampuan, karakter dan kebenaran yang

dimiliki oleh pihak lain. Jadi trust menyangkut dua pihak, pihak pertama memiliki

trust yang ditujukan kepada pihak kedua. Pihak pertama memberikan kepercayaan

terhadap kemampuan atau kebenaran dari pihak kedua.

Sealain itu, menurut Worchel (dalam, Lau & Lee 1999) trust merupakan

(28)

dengan resiko tertentu. Sedangkan, Moorman, Deshpande, dan Zaltman (dalam

Darsono, 2008) mendefinisikan trust sebagai kesediaan (willingness) individu

untuk menggantungkan dirinya pada pihak lain yang terlibat dalam pertukaran

informasi karena individu mempunyai keyakinan (confidence) kepada pihak lain

tersebut. Seperti yang tergambar pada definisi-definisi diatas, resiko terjadi karena

adanya ketidak selarasan keyakinan dengan kenyataan. Misalnya, pihak lain yang

dipercaya mengkhianati kepercayaan yang diberikan, bahwa integritas,

kemampuan, karakter dan kebenaran pihak lain tersebut tidak sesuai dengan

kenyataan.

Hal ini juga selaras dengan pernyataan, Lewis dan Weigert (dalam Lau

dan Lee, 1999) bahwa trust merupakan keyakinan yang penuh resiko. Sesuai

dengan pandangan Boon dan Holmes (dalam Lau dan Lee, 1999), yang

mendefinisikan trust sebagai tahapan yang melibatkan keyakinan akan adanya

pengharapan positip tentang motif orang lain dan respek terhadap orang lain

dalam situasi yang beresiko. Dari pernyataan tersebut terlihat bahwa dalam

mempercayai orang lain terdapat suatu resiko. Bila seseorang memberikan

kepercayaan kepada orang lain, maka ia juga akan menghadapi resiko bahwa

kepercayaannya tersebut tidak terpenuhi.

Jadi, dari beberapa definisi yang telah disampaikan diatas maka peneliti

berpendapat bahwa trust adalah keyakinan dan kesediaan seseorang untuk

mempercayai integritas, kemampuan, karakter dan kebenaran yang dimiliki oleh

pihak lain. Dalam mempercayai pihak lain tersebut terdapat resiko harapan dan

(29)

terjadi yaitu kemampuan untuk mempercayai orang lain dan kesedian untuk

mengambil resiko.

II.B.2 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Trust

Kepercayaan kita terhadap pihak lain dipengaruhi oleh beberapa faktor

menurut Rakhmat (1992), ada tiga faktor yang berhubungan dengan trust, yaitu :

a. Karakteristik dan maksud orang lain. Orang akan menaruh kepercayaan

kepada seseorang yang dianggap memiliki kemampuan, keterampilan atau

pengalaman. Trust dipengaruhi oleh persepsi kita terhadap maksud atau

keinginan orang lain dalam hubungannya dengan maksud atau keinginan

kita. Kita akan percaya pada orang yang mempunyai maksud atau

keinginan yang sama dengan kita.

b. Hubungan kekuasaan. Trust tumbuh apabila orang-orang mempunyai

kekuasaan terhadap orang lain. Bila saya tahu bahwa anda akan patuh dan

tunduk kepada saya, saya akan mempercayai anda.

c. Sifat dan kualitas komunikasi. Bila komunikasi bersifat terbuka, maksud

dan tujuan sudah jelas, bagi kedua pihak maka trust berkembang dengan

baik.

Selain itu ada bebrapa faktor utama yang dapat menumbuhkan trust yakni

mengembangkan komunikasi yang didasarkan pada sikap percaya: menerima,

empati dan kejujuran.

Menerima adalah sikap yang melihat orang lain sebagai manusia, sebagai

(30)

orang lain atau rela menanggung akibat-akibat perilakunya, karena bisa saja

individu tidak menyetujui perilaku pihak lain tersebut karena pihak lain itu

sebagai manusia yang patut dihargai. Menerima berarti tidak menilai pribadi

orang hanya berdasarkan perilakunya yang kita senangi saja (Rakhmat, 1992).

Empati adalah faktor kedua yang menumbuhkan trust pada diri orang lain.

Menurut Hogg & Vaughan (2002), empati adalah kemampuan untuk merasakan

pengalaman orang lain baik itu emosi, sikap dan perasaan orang lain.

Kejujuran adalah faktor ketiga yang menumbuhkan trust. Kita tidak

menaruh kepercayaan kepada orang yang tidak jujur atau sering menyembunyikan

pikiran dan pendapatnya. Kita menaruh kepercayaan kepada orang yang terbuka,

atau tidak mempunyai pretense yang dibuat-buat. Kejujuran menyebabkan prilaku

kita dapat diduga. Ini mendorong orang lain untuk percaya kepada kita (Rakhmat,

1992).

II.B.3 Jenis-jenis Trust

Menurut Johnson, George & Swap (dalam Feldman, 1995), trust dibagi

dalam dua bentuk yaitu :

a. Reliability trust

Reliabilitas trust merupakan rasa percaya yang didasari harapan bahwa

pasangan akan melakukan apa yang telah pasangannya katakan.

b. Emotional trust

Emotional trust terjadi ketika rasa percaya terbentuk karena ikatan

(31)

secara emosional dengannya dan perasaan emosional tersebut dapat

menghubungkan kedua pasangan.

II.B.4 Komponen Trust

Menurut Johnson & Johnson (1997) komponen trust meliputi untuk dapat

percaya (trusting) dan dapat dipercaya (trustworthy). Trusting mencakup

keterbukaan (openness) dan saling berbagi (sharing), dan trustworthy mencakup

penerimaan (acceptance), dukungan (support) serta niat untuk bekerjasama

(cooperative intentions)

Yang dimaksud dengan tingkah laku trusting adalah :

1. Kemauan untuk mengambil resiko terhadap akibat yang baik ataupun

buruk.

2. Perilaku yang melibatkan keterbukaan diri dan kemauan untuk diterima

dan didukung secara terbuka oleh orang lain.

Aspek-aspek trusting adalah :

1. Openness yaitu kesediaan membagi informasi, ide-ide, pemikiran,

perasaan dan reaksi mengenai isu-isu yang terjadi.

2. Sharing yaitu menawarkan bantuan material dan sumber daya kepada

orang lain dengan tujuan untuk membantu pihak lain menuju penyelesaian

tugas.

Yang dimaksud dengan tingkah laku trustworthy adalah :

1. Kemampuan untuk merespon terhadap resiko yang telah diambil orang

lain yang meyakinkan bahwa orang tersebut akan menerima akibat yang

(32)

2. Perilaku yang melibatkan penerimaan terhadap kepercayaan orang lain.

Aspek-aspek trustworthy adalah :

1. Acceptance yaitu melakukan komunikasi dengan orang lain dan

menghargai pendapat mereka tentang suatu hal yang sedang dibicarakan.

2. Support yaitu komunikasi dengan orang lain diketahui kemampuannya dan

percaya bahwa dia mempunyai kapabilitas yang dibutuhkan.

3. Cooperative intentions yaitu harapan bahwa seseorang dapat bekerja sama

dan bahwa orang lain juga dapat bekerja sama untuk mencapai pemenuhan

tujuan.

Penerimaan (acceptance) mungkin merupakan komponen yang pertama

dan paling dalam yang muncul dalam suatu hubungan. Acceptance terhadap orang

lain biasanya disertai dengan acceptance terhadap diri sendiri. Seorang individu

harus dapat menerima diri mereka sendiri sebelum mereka dapat sepenuhnya

menerima orang lain. Jika seseorang merasa tidak diterima, maka frekuensi dan

partisipasinya dalam berhubungan dengan orang lain akan berkurang. Untuk

membangun trust dan memperdalam hubungan dengan orang lain, setiap individu

harus bisa mengkomunikasikan acceptance, support dan cooperativeness

(Johnson & Johnson, 1997).

Menurut Johnson & Johnson (1997), kunci membangun dan

mempertahankan trust adalah menjadi trustworthy. Semakin tinggi acceptance

dan supportive seseorang terhadap orang lain, maka orang lain akan semakin

dapat mengemukakan pemikirannya, ide-ide, kesimpulan-kesimpulan, perasaan

(33)

orang lain, maka semakin dalam dan personal pemikiran yang akan dibagikan

orang lain. Jika seseorang ingin meningkatkan trust maka trustworthiness harus

ditingkatkan.

Keterampilan utama yang penting dalam mengkomunikasikan acceptance,

support dan cooperativeness melibatkan pengekspresian kehangatan, pengertian

yang akurat dan keinginan bekerja sama. Ada bukti-bukti yang menyatakan

bahwa ekspresi semacam itu dapat meningkatkan trust dalam suatu hubungan

bahkan ketika ada konflik yang tidak terselesaikan antara individu yang terlibat

(Johnson & Johnson, 1997).

II.B.5 Membangun Trust

The Dynamics of Interpersonal Trust

High acceptance, support, Low acceptance, support,

and cooperativeness and cooperativeness

(34)

Johnson & Johnson (1997) mengatakan bahwa untuk dapat membangun

hubungan secara efektif dan mencapai hasil maksimal, setiap individu harus

mengembangkan hubungan trust yang saling menguntungkan. Trust dibangun

melalui tahap-tahap trusting dan trustworthy. Misalnya jika seseorang (A)

mengambil resiko untuk membuka diri, dia mungkin akan mendapat konfirmasi

ataupun tidak, tergantung pada apakah individu (B) merespon dengan penerimaan

atau penolakan. Jika individu (B) mengambil resiko dengan penerimaan atau

kooperatif, dia juga akan mendapat konfirmasi ataupun tidak, tergantung apakah

individu tadi (A) terbuka atau tertutup.

Jika individu menyatakan pendapatnya dan tidak menerima penerimaan

yang dibutuhkannya, maka individu tersebut mungkin akan menarik diri dari

hubungan yang sudah terjalin tersebut. jika individu diterima, ia akan tetap

mengambil resiko dengan berani terbuka mengenai apa yang dipikirkan dan

dilihatnya sehingga dapat mengembangkan hubungannya dengan orang lain.

Interpersonal trust dibangun dengan resiko dan konfirmasi serta

dihancurkan dengan resiko dan diskonfirmasi. Tanpa resiko tidak akan ada trust,

dan hubungan tersebut tidak akan mengalami perkembangan. Langkah-langkah

dalam membangun trust adalah sebagai berikut :

1. Individu A mengambil resiko dengan mengemukakan pemikirannya,

informasi, kesimpulan, perasaan dan reaksi terhadap suatu situasi kepada

individu B.

2. Individu B merespon dengan acceptance, support dan cooperativeness

(35)

pemikirannya, informasi, kesimpulan dan perasaan serta reaksi terhadap

suatu situasi kepada individu A.

Cara lain membangun trust adalah :

1. Individu B mengkomunikasikan acceptance, support, dan cooperativeness

terhadap individu A.

2. Individu A merespon dan mengemukakan pemikirannya, informasi,

kesimpulan, perasaan dan reaksi terhadap situasi kepada individu B.

II.B.6 Menurunkan Trust

Untuk meningkatkan trust, seseorang harus membuka diri dan mau dikritik

untuk melihat apakah orang lain menyalahgunakan hal tersebut. Banyak

percobaan yang diperlukan sebelum tingkat trust antara dua orang menjadi sangat

tinggi. Hanya sekali pengkhianatan untuk membangun distrust, dan sekali distrust

terbangun, maka distrust tersebut akan secara ekstrim melakukan perlawanan

terhadap perubahan. Distrust sulit untuk berubah karena data menimbulkan suatu

persepsi bahwa walaupun seseorang berusaha untuk memperbaiki diri,

pengkhianatan akan berulang kembali di masa yang akan datang (Johnson &

Johnson, 1997).

Terbentuknya distrust merupakan hal negatif karena beberapa alasan.

Pertama ketika seseorang distrust kepada orang lain, maka hubungan yang

dibangun akan sia-sia (Kerr, dalam Johnson & Johnson, 1997). Kedua, ketika

individu tidak memiliki trust satu dengan yang lainnya mereka sering

(36)

meningkatkan konflik yang destruktif antara seorang individu dengan individu

lain (Johnson & Johnson, 1997).

Ada tiga jenis perilaku yang dapat menurunkan trust dalam suatu

hubungan (Johnson & Johnson, 1997). Pertama, adanya penolakan, ejekan dan

tidak menghargai sebagai respon terhadap keterbukaan orang lain. Membuat

lelucon yang merugikan orang lain, menertawakan saat seseorang membuka diri,

menghakimi perilakunya, atau menjadi diam merupakan cara untuk

menyampaikan penolakan dan dapat merusak trust dalam hubungan. Kedua, tidak

adanya openness yang timbal balik. Jika seseorang tertutup dan seseorang lagi

terbuka, maka trust tidak akan terjadi. Terakhir, adalah menolak untuk

mengemukakan pemikiran, informasi, saran, perasaan dan reaksi setelah orang

lain telah menunjukan adanya acceptance, support dan cooperativeness.

II. C. Gambaran Trust Pada Istri yang Menjalani Commuter Marriage

Bagi kebanyakan orang, hubungan perkawinan dipandang sebagai

hubungan yang sangat intim dan merupakan hubungan yang berlangsung lama

bila dibandingkan dengan semua hubungan dekat yang ada (Lemme, 1995). Dari

hasil penelitian tentang perkawinan, kualitas perkawinan yang baik ditandai oleh

komunikasi yang baik, keintiman dan kedekatan, seksualitas, kejujuran dan

kepercayaan yang kesemuanya itu menjadi sangat penting untuk menjalin relasi

perkawinan yang memuaskan (dalam Sadarjoen, 2005).

Dalam perkawinan jarak jauh atau commuter marriage, trust dan

(37)

menegosiasikannya (Maines, 1993). Dalam perkawinan commuter ini juga

diperlukan trust, kejujuran dan kesetiaan. Apabila salah satu pasangan mulai

tidak jujur dan tidak percaya maka pasangan yang lain akan sendirinya merasa

tidak aman dan tidak nyaman (Sadarjoen, 2007). Keberhasilan yang sangat

penting dalam commuter marriage adalah dasar kepercayaan atau trust, dukungan

dari pasangan, komitmen yang kuat pada perkawinan dan pasangan, dan

komunikasi yang terbuka antara pasangan (Farris, 1978).

Kepercayaan atau trust sendiri merupakan aspek penting dalam semua

hubungan, terutama dalam hubungan perkawinan. Menurut Hendrick & Hendrick

(1992) trust merupakan faktor yang diperlukan untuk tercapainya hubungan yang

sukses. Menurut Johnson & Johnson (1997), trust merupakan aspek dalam suatu

hubungan secara terus menerus berubah serta bervariasi. Henslin (dalam King,

2002) memandang trust sebagai harapan dan kepercayaan individu terhadap

reliabilitas orang lain. Pondasi dari trust meliputi saling menghargai satu dengan

yang lainnya dan menerima adanya perbedaan (Carter, 2001). Individu yang

memiliki trust tinggi cenderung lebih disukai, lebih bahagia, dianggap lebih

menarik oleh pasangannya, lebih mudah beradaptasi, dan dianggap sebagai orang

yang paling dekat dibandingkan individu yang memiliki trust rendah (Marriages,

2001).

Menurut Johnson & Johnson (1997) tingkat trust dalam sebuah hubungan

dapat berubah sesuai dengan kemampuan dan kemauan setiap orang untuk dapat

percaya (trusting) dan dapat dipercaya (trustworthy). Dalam commuter marriage

(38)

menjalani commuter marriage di awal perkawinan dimana diantara mereka belum

tercipta keyakinan sepenuhnya.

Roehling & Bultman (2002) menjelaskan bahwa pasangan yang tidak

tinggal bersama anak-anak dapat fokus pada karir, namun pasangan lain, biasanya

istri yang tinggal dengan anak merasakan peran sebagai orang tua tunggal. Oleh

sebab itu, kehidupan istri menjadi lebih kompleks dan merasakan peran sebagai

orang tua tunggal. Dalam commuter marriage kurangnya kehadiran pasangan dan

terhambatnya kontak nonverbal juga dapat mempengaruhi keintiman pasangan

(Scoot, 2002). Menurut Thompson & Walker (dalam Papalia, 2003) pada wanita

(39)

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.

Metode deskriptif merupakan metode yang bertujuan untuk menggambarkan

secara sistematik dan akurat, fakta, karakteristik mengenai populasi atau

mengenai bidang tertentu (Hadi, 2000). Hasan (2003) menyatakan bahwa jenis

penelitian ini tidak mempersoalkan jalinan hubungan antar variabel, dan tidak

melakukan pengujian hipotesis. Hasil penelitiannya berupa deskripsi mengenai

variabel-variabel tertentu dengan menyajikan frekuensi, angka rata-rata atau

kualifikasi lainnya untuk setiap kategori disuatu variabel. Dalam pengolahan dan

analisis data menggunakan pengolahan statistik yang bersifat deskriptif.

A. Identifikasi Variabel Penelitian

Variabel yang hendak diteliti dalam penelitian ini adalah trust pada istri

yang menjalani commuter marriage tipe adjusting.

B. Defenisi Operasional Variabel

Trust adalah keyakinan dan kesediaan seseorang untuk mempercayai

(40)

kepercayaanya tidak terpenuhi. Dalam mempercayai seseorang ada dua hal yang

terjadi yaitu kemampuan untuk mempercayai orang lain dan kesedian untuk

mengambil resiko. Trust dalam penelitian ini akan diungkap menggunakan alat

ukur berupa skala trust yang dikembangkan mengacu pada teori yang

dikemukakan oleh Johnson & Johnson (1997) yang terdiri dari 5 aspek yaitu

keterbukaan yaitu membagi informasi, ide-ide, pemikiran, perasaan dan reaksi

mengenai isu-isu yang terjadi. Saling berbagi yaitu menawarkan bantuan material

dan sumber daya kepada orang lain dengan tujuan untuk membantu pihak lain

menuju penyelesaian tugas. Penerimaan yaitu komunikasi penuh penghargaan

terhadap orang lain. Dukungan yaitu komunikasi dengan orang lain diketahui

kemampuannya dan percaya bahwa dia mempunyai kapabilitas yang dibutuhkan.

Niat bekerjasama yaitu pengharapan bahwa seseorang dapat bekerja sama dan

bahwa orang lain juga dapat bekerja sama untuk mencapai pemenuhan tujuan.

Trust terhadap istri yang menjalani commuter marriage dilihat dari

besarnya skor yang diperoleh dari skala. Adapun skala yang digunakan adalah

skala model Likert dan diberikan kepada istri yang menjalani commuter marriage.

Semakin tinggi skor yang diperoleh maka semakin tinggi trust yang dimiliki oleh

subjek, begitu juga sebaliknya semakin rendah skor yang diperoleh maka semakin

rendah trust yang dimiliki subjek.

C. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah seluruh objek yang dimaksudkan untuk diteliti. Populasi

(41)

sifat yang sama (Hadi,1991). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah

istri yang menjalani commuter marriage.

Adapun karakteristik populasi penelitian ini adalah:

a. Wanita yang berpisah dengan pasanganya dikarenkan penempatan karir atau

menjalani pendidikan didaerah lain. Hal tersebut menyebabkan pasangan

suami istri tidak dapat tinggal dalam satu rumah setidaknya tiga malam dalam

satu minggu sedikitnya tiga bulan.

b. Wanita yang telah menikah dengan usia perkawinan maksimal 13 tahun. Hal

ini sesuai dengan karakteristik dari commuter marriage tipe adjusting dimana

berpisah dengan pasangan dari awal perkawinan sampai dengan usia

perkawinan 13 tahun.

c. Mempunyai anak yang berusia kurang dari 13 tahun.

d. Suami dan istri mempunyai tempat tinggal masing-masing dikarenakan

perpisahan mereka dapat berlangsung lama.

Sugiarto (2003) berpendapat bahwa untuk penelitian yang akan

menggunakan analisis data dengan statistik, besar sampel yang paling kecil adalah

30, walaupun ia juga mengakui bahwa banyak peneliti lain menganggap bahwa

sampel sebesar 100 merupakan jumlah yang minimum. Menurut Azwar (2005),

secara tradisional statistika menganggap jumlah sampel yang lebih dari 60 subjek

sudah cukup banyak. Adapun jumlah subjek yang digunakan dalam uji coba alat

ukur adalah 80 orang, sedangkan subjek yang dijadikan sampel dalam penelitian

(42)

2. Metode pengambilan sample

Metode pengambilan sample adalah cara yang digunakan untuk

mengambil sampel dari populasi dengan menggunakan prosedur tertentu agar

diperoleh sampel yang dapat mewakili populasi (Hadi, 2000). Metode

pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah incidental

sampling. Menurut Hadi (2000), incidental sampling diperoleh semata-mata dari

keadaan-keadaan insidental atau kebetulan.

D. Alat Ukur yang Digunakan

Alat ukur merupakan metode pengumpulan data dalam kegiatan penelitian

yang mempunyai tujuan untuk mengungkap fakta mengenai varabel yang diteliti.

Metode yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah

metode self-reports. Metode self-reports berasumsi bahwa subjek adalah orang

yang paling tahu tentang dirinya sendiri, apa yang dinyatakan subjek kepada

peneliti adalah benar dan dapat, dan interpretasi subjek tentang

pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah sama dengan apa yang dimaksudkan

oleh peneliti (Hadi, 2000). Sesuai dengan metode self-reports, maka penelitian ini

menggunakan skala trust untuk memperoleh gambaran trust pada istri yang

menjalani commuter marriage.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan lima komponen trust yaitu

(43)

berbentuk pernyataan dengan empat pilihan respon, yaitu SS (sangat sesuai), S

(sesuai), TS (tidak sesuai), STS (sangat tidak sesuai). Setiap pilihan tersbut

memiliki skor masing-masing tergantung dari jenis aitem, apakah favorabel atau

tidak favorabel. Untuk aitem favorabel, SS diberi skor empat, S diberi skor tiga,

TS diberi skor dua, STS diberi skor satu. Sedangkan untuk aitem yang tidak

favorabel, SS diberi skor satu, S diberi skor dua, TS diberi skor tiga, STS diberi

skor empat. Selain aitem-aitem tersebut, didalam alat ukur juga tertera identitas

diri yang harus diisi oleh subjek penelitian. Identitas tersebut meliputi, nama, usia,

pekerjaan, kota tempat tinggal, anak, alasan menjalani perkawinan jarak jauh,

lama menjalani perkawinan jarak jauh, itensitas interaksi, media yang digunakan

dalam berinteraksi dengan pasangan.

1. Validitas Alat Ukur

Untuk mengetahui apakah skala psikologi mampu menghasilkan data yang

akurat sesuai dengan tujuan ukurnya, diperlukan suatu pengujian validitas

(Azwar, 2004). Didalam penelitian ini akan diuji validitasnya berdasarkan

validitas isi. Validitas isi tes ditentukan melalui pendapat profesional (profesional

judgement) dalam proses telaah soal (Azwar, 2000). Pendapat profesional

(profesional judgement) di peroleh dengan cara berkonsultasi dengan dosen

pembimbing.

2. Daya Beda Aitem

Daya beda suatu alat ukur dalam penelitian sangat diperlukan karena

(44)

melakukan fungsinya. Daya beda aitem dilakukan untuk mengukur konsistensi

internal tiap-tiap aitem pada skala dengan mengkorelasikan skor aitem dengan

skor total (Azwar, 2000).

Pengujian daya diskriminasi aitem menghendaki dilakukannya komputasi

korelasi antara distribusi skor aitem dengan suatu kriteria yang relevan, yaitu

distribusi skor skala itu sendiri. Komputasi ini akan menghasilkan koefisien

korelasi aitem total (rix) yang dikenal dengan sebutan parameter daya beda aitem.

Kriteria pemilihan aitem berdasarkan korelasi aitem menggunakan batasan rix

≥0.30. Semua aitem yang mencapai koefisien korelasi minimal 0.30, daya

pembedanya dianggap memuaskan. Aitem yang memiliki harga rix < 0.30 dapat

diinterpretasikan sebagai aitem yang memiliki daya diskriminasi rendah (Azwar,

2000). Penelitian ini menggunakan batasan rix ≥ 0.30.

Pengujian daya diskriminasi aitem pada skala sikap dilakukan dengan

mengkorelasikan antara skor tiap aitem dengan skor total, dengan menggunakan

teknik korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan program SPSS versi 16.

3. Reliabilitas Alat Ukur

Prosedur pengujian reliabilitas yang akan digunakan dalam penelitian ini

adalah koefisien reliabilitas alpha. Data untuk menghitung koefisien reliabilitas

alpha diperoleh melalui penyajian suatu bentuk skala yang dikenakan hanya sekali

(45)

Reliabilitas dinyatakan oleh koefisien reliabilitas (rxx) yang angkanya

berada dalam rentang 0 sampai dengan 1. Koefisien reliabilitas yang semakin

mendekati angka 1 menandakan semakin tinggi reliabilitas. Sebaliknya, koefisien

yang semakin mendekati angka 0 berarti semakin rendah reliabilitas yang

dimiliki. Teknik koefisien alpha untuk menguji reliabilitas alat ukur dihitung

dengan bantuan program SPSS versi 16.

4. Hasil uji coba alat ukur

Tujuan dilakukannya uji coba alat ukur adalah untuk mengetahui

sejauhmana alat ukur dapat mengungkap dengan tepat apa yang ingin diukur dan

seberapa jauh alat ukur menunjukkan kecermatan atau ketelitian pengukuran atau

dengan kata lain dapat menunjukkan keadaan sebenarnya (Azwar, 2004). Setelah

alat ukur disusun, maka tahap selanjutnya yang dilakukan adalah melakukan uji

coba alat ukur. Uji coba dilakukan pada 80 wanita yang telah menikah yang

berdomisili di kota Medan. Dalam skala trust pada istri yang menjalani commuter

marriage yang disebarkan terdapat 80 aitem. Tabel 1 menunjukan blue print skala

trust pada istri yang menjalani commuter marriage sebelum dilakukan uji coba.

Tabel 1. Blue Print Distribusi Aitem Skala Trust Pada Istri yang

Menjalani Commuter Marriage Sebelum Uji Coba

No.

Komponen Trust

Nomor Aitem Total

1.

Keterbukaan 1, 6, 11, 15, 19, 22, 26, 27, 31, 34, 37, 41, 45, 50, 52, 59, 63, 67,

(46)

72, 80.

Hasil uji coba alat ukur diolah melalui tiga kali pengujian

agar memperoleh reliabilitas yang memnuhi standar ukur dan indeks daya beda

aitem diatas 0,30. Reliabilitas alat ukur yang diujicobakan adalah 0,96. Aitem

yang memiliki daya beda tinggi (diatas 0,30) bergerak dari 0,30 sampai dengan

0,70 (N=68). Tabel 2 menunjukkan blue print skala trust pada istri yang

menjalani commuter marriage setelah dilakukan uji coba.

Tabel 2. Blue Print Distribusi Aitem Skala Trust Pada Istri yang

Menjalani Commuter Marriage Setelah Uji Coba.

o.

Kompone n Trust

Nomor Aitem Total

(47)

.

Nomor yang ditebalkan berarti memiliki daya diskrimisnasi <0,30

Setelah memperoleh reliabilitas yang memnuhi standar ukur,

peneliti melakukan penomoran aitem baru untuk skala penelitian yang sebenarnya

sebagaimana yang tertera pada tabel 3.

Tabel 3. Blue Print Distribusi Aitem Skala Trust pada Istri yang

Menjalani Commuter Marriage yang Digunakan dalam Penelitian.

o.

Kompone n Trust

Nomor Aitem Total

(48)

.

E. Prosedur Pelaksanaan Penelitian

Prosedur pelaksanaan penelitian terdiri dari tiga tahap.

Ketiga tahap tersebut yaitu persiapan penelitian, pelaksanaan penelitian, dan

pengolahan data.

1. Persiapan penelitian

Tahap persiapan penelitian terdiri dari:

a. Pembuatan alat ukur

Penelitian ini menggunakan alat ukur berupa skala trust pada istri

yang menjalani commuter marriage yang disusun oleh peneliti

berdasarkan lima komponen yang diungkapkan oleh Johnson & Johnson

(1997). Skala ini terdiri dari 80 aitem. Penyusunan skala ini

dioperasionalisasikan dalam bentuk-bentuk aitem pernyataan dan

(49)

b. Uji coba alat ukur

Setelah alat ukur disusun, maka tahap selajutnya yang dilakukan

adalah melakukan uji coba alat ukur. Uji coba alat ukur dilakukan pada

tanggal 6 Maret 2010 sampai 9 Maret 2010 kepada 80 wanita yang telah

menikah yang berdomisili di kota Medan. Subjek diminta memberi respon

pada alat ukur berupa skala trust pada istri yang menjalani commuter

marriage. Peneliti terlebih dahulu meminta izin dan kesedian subjek untuk

mengisi skala. Kemudian peneliti menanyakan apakah subjek telah

menikah serta apakah usia perkawinan subjek belum mencapai 13 tahun.

Apabila subjek telah memenuhi karakteristik awal tersebut yang telah

ditentukan untuk menjadi sampel penelitian, maka peneliti menyerahkan

skala tersebut. Hasil uji coba ini diolah melalui tiga kali pengujian

reliabilitas agar memperoleh reliabilitas yang memenuhi standar ukur.

c. Revisi alat ukur

Setelah penelti melakukan uji coba alat ukur maka peneliti menguji

validitas dan reliabilitas skala. Setelah diketahui aitem-aitem yang

memenuhi validitas dan reliabilitasnya, maka kemudian peneliti menyusun

aitem-aitem tersebut ke dalam alat ukur yang digunakan untuk mengambil

data penelitian. Skala dibuta dalam bentuk buku dari kertas A4 yang

(50)

2. Pelaksanaan penelitian

Setelah alat ukur direvisi, maka dilaksanakan penelitian pada subjek yang

memenuhi ciri-ciri populasi. Penelitian dilakukan di kota Medan. Peneliti

mendapat bantuan dari beberapa orang kerabat, teman untuk mencari tahu

informasi mengenai berapa banyak istri yang menjalani perkawinan jarak jauh dan

juga di bantu dalam penyebaran skala penelitian. Pengambilan data dilakukan

dengan memberikan alat ukur berupa skala trust pada istri yang menjalani

commuter marriage. Subjek diminta memberi respon pada skala tersebut. Tetapi

sebelumnya peneliti terlebih dahulu meminta izin dan kesediaan subjek untuk

mengisi skala. Kemudian peneliti menanyakan apakah subjek menjalani

perkawinan jarak jauh serta apakah usia perkawinan subjek belum mencapai 13

tahun. Apabila subjek telah memenuhi karakteristik awal tersebut yang telah

ditentukan untuk menjadi sampel penelitian, maka peneliti menyerahkan skala

tersebut. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 10 Maret 2010 sampai 18 Maret

2010 dengan melibatkan 60 orang subjek.

3. Pengolahan data

Setelah diperoleh data dari skala trust pada istri yang

menjalani commuter marriage, maka dilakukan pengolah data. Pengolahan data

(51)

Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

analisa statistik. Alasan yang mendasari digunakannya analisa statistik adalah

karena statistik dapat menunjukan kesimpulan (generalisasi) penelitian.

Pertimbangan lain yang mendasari adalah statistik bekerja dengan angka, statistik

bersifat objektif dan universal (Hadi, 2000).

F. Metode Analisa Data

Hadi (2000) menyatakan bahwa penelitian deskriptif

menganalisa dan menyajikan fakta secara sistematis sehingga dapat lebih mudah

dipahami dan disimpulkan. Kesimpulan yang diberikan selalu jelas dasar

faktualnya sehingga semuanya selalu dapat dikembalikan langsung pada data

yang diperoleh. Untuk mendapatkan skor skala digunakan statistik deskriptif.

Data yang akan diolah yaitu skor minimum, skor maksimum, mean dan standar

deviasi. Hadi (2000) menyatakan bahwa uraian kesimpulan dalam penelitian

deskriptif didasari oleh angka yang diolah tidak terlalu mendalam. Data yang

berhasil dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan bantuan program

(52)

BAB IV

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

Pada bab berikut ini akan diuraikan mengenai keseluruhan hasil

penelitian. Pembahasan akan dimulai dengan memberikan gambaran umum

subjek penelitian dilanjutkan dengan hasil penelitian, analisa dan interpretasi data

penelitian serta pembahasan.

B. Analisa Data

3. Gambaran umum subjek penelitian

Penelitian ini melibatkan 60 subjek penelitian yang dapat dikelompokan

berdasarkan usia, status pekerjaan, kota tempat tinggal, dan lama menjalani

perkawinan jarak jauh, dan intensitas bertemu.

a. Pengelompokan subjek berdasarkan usia

Pengelompokan subjek berdasarkan usia terdiri atas

Berdasarkan teori Levinson (Monks, 2002), penyebaran subjek penelitian

menurut usia dapat digambarkan seperti pada tabel dibawah ini:

Tabel 4. Penyebaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia

(53)

21-25 11 18,3%

26-30 26 43,3%

31-35 12 20%

36-40 10 16,6%

41-45 1 1,66%

Total 60 100%

Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat bahwa subjek terbanyak adalah subjek

dengan rentang usia 26-30 tahun sebanyak 26 orang (43,3%), sedangkan yang

paling sedikit adalah subejek pada kelompok usia 41-45 tahun sebanyak 1 orang

(1,66%).

b. Pengelompokan subjek berdasarkan status pekerjaan

Berdasarkan status pekerjaan, penyebaran subjek penelitian dapat

digambarkan seperti tabel dibawah ini:

Tabel 5. Penyebaran Subjek Penelitian Berdasarkan Status Pekerjaan

Status Pekerjaan Jumlah (N) Presentase

Pegawai Swasta 15 25%

Pegawai BUMN 6 10%

PNS 17 28,3%

Guru 8 13,3%

Wirausaha 6 10%

Dokter 3 5%

Mahasiswa 3 5%

(54)

Social Worker 1 1,66%

Total 60 100%

Berdasarkan tabel 5, sebagian besar subjek penelitian adalah pegawai

negeri sipil, yaitu sebanyak 17 orang (28,3 %), sedangkan subjek peneltian yang

lebih sedikit adalah yang berstatus perawat dan social worker yaitu 1 orang

(1,66%).

c. Pengelompokan subjek berdasarkan beda kota tempat tinggal subjek

dengan pasangan

Berdasarkan beda kota dengan pasangan, penyebaran subjek penelitian

dapat digambarkan seperti pada tabel dibawah ini:

Tabel 6. Penyebaran Subejek Penelitian Berdasarkan Beda Kota Tempat

Tinggal dengan Pasangan

Beda Kota Jumlah (N) Persentase

Satu Propinsi 17 28,3%

Beda Propinsi 24 40%

Beda Pulau 13 21,6%

Beda Negara 6 10%

(55)

Berdasarkan tabel 6, jumlah subjek penelitian yang terbanyak menjalani

perkawinan jarak jauh beda propinsi, yaitu 24 orang (40%). Sedangkan yang

paling sedikit adalah subjek penelitian yang menjalani perkawinan jarak jauh pada

beda negara yaitu 6 orang (10%).

d. Pengelompokan subjek berdasarkan lama menjalani perkawinan jarak

jauh

Berdasarkan lama menjalani perkawinan jarak jauh, penyebaran subjek

penelitian dapat digambarkan seperti pada tabel dibawah ini:

Tabel 7. Penyebaran Subjek Penelitian Berdasarkan Lama Menjalani

Perkawinan Jarak Jauh

Lama Menjalani Perkawinan Jarak Jauh

Jumlah (N) Persentase

4 bulan – 1 tahun 22 36,6%

1 – 3 tahun 26 43,3%

3 – 5 tahun 7 11.6%

>5 – 7 tahun 5 8.33%

Total 60 100%

Berdasarkan tabel 7 terlihat bahwa kebanyakan subjek penelitian

menjalani perkawinan jarak jauh 1 – 3 tahun sebanyak 26 orang (43,3%).

(56)

e. Pengelompokan subjek berdasarkan intensitas pertemuan

Berdasarkan intensitas pertemuan, penyebaran subjek penelitian dapat

digambarkan seperti tabel dibawah ini:

Tabel 8. Penyebaran Subjek Penelitian Berdasarkan Intensitas Pertemuan

Intensitas pertemuan/tahun

Jumlah (N) Presentase

1-10 8 13,3%

11-20 27 45%

21-30 10 16,6%

31-40 2 3,33%

41-50 13 21,6%

Berdasarkan tabel 8 terlihat bahwa kebanyakan subjek memiliki intensitas

pertemuan 11-20, yaitu 27 orang (45%). Sedangkan yang paling sedikit adalah

subjek penelitian yang memiliki intensitas pertemuan 31-40, yaitu 2 orang

(3,33%).

4. Hasil Penelitian

Tujuan dari analisa ini adalah untuk menjelaskan atau mendeskripsikan

karakteristik variabel yang diteliti, dalam hal ini adalah trust pada istri yang

menjalani commuter marriage. Trust pada istri yang menjalani commuter

marriage dikelompokan dalam tiga kategori berdasarkan model distribusi normal,

(57)

istri yang menjalani commuter marriage, trust rendah pada istri yang menjalani

commuter marriage.

Tabel 9. Pengkateogisasian Trust pada Istri yang Menjalani Commuter Marriage

X < (µ-1.0σ) Rendah

(µ-1.0σ) ≤ X < (µ+1.0σ)

Sedang

(µ+1.0σ) ≤ X Tinggi

Keterangan tabel 9:

µ: mean

σ: standar deviasi

Sebelum melakukan kategorisasi berdasarkan model distribusi normal,

asumsi bahwaskor subjek pada kelompoksnya merupakan estimasi terhadap skor

subjek dalam opulasi dan bahwa skor subjek dalam populasinya terdistribusi

secara normal harus terpenuhi. Untuk itu, dilakukan uji normalitas

Kolmogrof-Smirnov untuk mengetahui apakah data telah teristribusi normal. Hasil uji

Gambar

figure 1.1 The dynamics of interpersonal trust (Johnson & Johnson, 1997)
Tabel 1. Blue Print Distribusi Aitem Skala Trust  Pada Istri yang
Tabel 2. Blue Print Distribusi Aitem Skala Trust  Pada Istri yang
Tabel 3. Blue Print Distribusi Aitem Skala Trust  pada Istri yang
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penyesuaian perkawinan serta faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam penyesuaian perkawinan pada istri yang menjalani

aspek dalam kualitas hubungan pada individu dewasa awal yang menjalani

Hal ini dapat terjadi karena istri yang menjalani commuter marriage tipe adjusting dan tipe established memiliki banyak kesamaan seperti pekerjaan suami, penghasilan suami,

antara perilaku asertif dengan penyesuaian perkawinan pada istri yang menjalani.

Untuk memudahkan alur pikir penelitian mengenai penyesuaian istri terhadap suami yang baru menjalankan commuter marriage setelah menikah 10 tahun, maka dapat dijelaskan bahawa

Commuter marriage sebagai pernikahan yang diidentikkan dengan kurangnya waktu yang dihabiskan bersama pasangan membuat peneliti tertarik untuk meneliti. mengenai gambaran

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan untuk mengatahui gambaran penyesuaian pernikahan pada wanita yang menjalani commuter marriage.. Penelitian

Pada hasil tabel di atas, ditemukan bahwa sebagian besar tingkat kepuasan hubungan subjek yang menjalani commuter marriage masuk dalam kategori sedang dengan nilai