IMPLIKATUR PERCAKAPAN PADA MASYARAKAT SAMBU
KAJIAN PRAGMATIK
S K R I P S I
OLEH
ANNA MIA N. BUTAR-BUTAR
100701059
DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan tinggi
dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang
pernah di tulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang tertulis diacu dalam
naskah ini dan disebutkan daftar pustaka. Apabila pernyataan yang saya buat ini
tidak benar, saya bersedia menerima sanksi berupa pembatalan gelar sarjana yang
saya peroleh.
Medan, Maret 2015
Implikatur Percakapan pada Masyarakat Sambu
Kajian Pragmatik
Oleh:
Anna Mia N. Butar-Butar
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul “Implikatur Percakapan pada Masyarakat Sambu”
yang bertujuan untuk mengetahui implikatur dan jenis-jenis ilokusi yang terdapat
dalam percakapan pada masyarakat Sambu. Adapun Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode padan. Metode padan adalah alat penentunya
berasal dari luar terlepas dan tidak menjadi bagian bahasa yang bersangkutan.
Kemudian dikembangkan dengan menggunakan teknik lanjutan yaitu teknik
dengan menggunakan teknik baca markah (BM) sebagai teknik analisis data.
Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai percakapan yang
memiliki implikatur dimana pun kita berada. Peneliti memusatkan objek
penelitian pada masayarakat yang berada dipasar Sambu. Dengan menggunakan
teori implikatur dari H.Paul Grice yang menekankan pada maksud dalam
komunikasi tercemin dalam penjelasan tentang makna yang tidak alamiah dan
teori ini dikuasai oleh satu hukum atau kaidah pragmatik yang disebut kaidah
penggunaan bahasa yang terbagi menjadi 4 maksim yaitu maksim kualitas,
maksim kuantitas, maksim relevansi dan maksim pelaksanaan. Serta
menggunakan teori tindak tutur dari John R.Searle yang berfokus pada tindak
ilokusi yang terbagi menjadi 5 jenis yaitu representatif, direktif, komisif, ekspresif
PRAKATA
Puji dan Syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
segala kasih dan berkat-Nya, akhirnya selesai sudah penyusunan skripsi ini yang
berjudul : Implikatur Percakapan pada Masyarakat Sambu Kajian Pragmatik.
Penyusunan skripsi ini merupakan persyaratan akademis dalam mencapai gelar
sarjana sastra di Universitas Sumatera Utara.
Dalam penulisan skripsi ini penulis banyak menerima bantuan dan
dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A, selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak prof. Dr. Ikhwanuddin Nasution, M.Si, selaku ketua Departemen
Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Drs. Haris Sutan Lubis, M.S.P, selaku sekretaris Departemen Sastra
Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Drs. Asrul Siregar, M.Hum sebagai Dosen Pembimbing I dalam
penulisan skripsi ini yang telah banyak memberikan bimbingan, motivasi,
serta saran-saran pada penulis sejak awal penelitian sampai dengan selesainya
penulisan skripsi ini.
5. Bapak Drs. T. Aiyub Sulaiman selaku Pembimbing II dalam penulisan skripsi
ini yang telah banyak memberikan bimbingan dan penyempurnaan skripsi ini.
6. Bapak dan Ibu staf pengajar Departemen Sastra Indonesia Universitas
Sumatera Utara yang telah banyak membantu penulis dalam mengikuti
7. Staf administrasi yang telah membantu penulis dalam hal administrasi di
Departemen Sastra Indonesia Universitas Sumatera Utara.
8. Ayahanda M. Butar-Butar dan ibunda S. Br. Sianturi selaku orang tua saya,
yang telah membesarkan dan mendidik saya. Saya mutlak berterima kasih dan
sekaligus meminta maaf kepada beliau karena hanya dengan dukungan
beliaulah saya dapat melanjutkan pendidikan saya hingga perguruan tinggi.
Saya menyadari, tanpa beliau, mustahil saya bisa menjadi sekarang. Begitu
banyak pengorbanan yang beliau berikan kepada saya, dari kecil hingga
dewasa. Pengorbanan serta kasih sayang yang tak terhitung dan tak terhingga
banyaknya. Demikian juga dengan saudara-saudara saya yang telah
memberikan dukungan dalam penyusunan skripsi ini.
9. Abang/kakak ipar saya yaitu Sonny Surya S.E /Liedzne Yanthi Br. Sianturi
S.Psi, Tota Riau Br Butar-Butar SPd /Unedo Aristov Panjaitan, Riau Uli Br.
Butar-Butar SPd /Ferry Christian Nababan SPd, dan adik saya Liat Farida Br.
Butar-Butar (calon S.Psi) yang juga telah banyak memberikan dukungan
penuh, motivasi, saran, doa restu dan telah membantu menyemangati penulis
dalam mengerjakan tugas ini.
10.Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Buday Batubara (calon
S.Kom) yang tak pernah henti untuk memberikan semangat, motivasi, doa
restu, pemikiran serta membantu membuat penulis untuk tetap fokus dan
semangat dalam mengerjakan skripsi ini serta mendukung penuh apapun yang
11.Buat sahabat-sahabat penulis yang tidak bisa disebutkan satu persatu baik dari
sahabat sepermainan maupun yang berjuang bersama yang memberikan
semangat untuk menyelesaikan skripsi ini.
12.Terkhusus buat teman penulis yaitu Pablo dan Pedro yang senantiasa membuat
penulis gembira dan semangat dalam mengerjakan serta menyelesaikannya
dari penelitian sampai akhir penyelesaian skripsi ini.
13.Semua rekan-rekan angkatan 2010 yang berjuang bersama dan yang
memberikan dukungan, bantuan, dan kerjasama semasa mengikuti kuliah
maupun dalam penyusunan skripsi ini.
14.Buat kakak stambuk 2008 yaitu kak Novita Sari Perangin-angin yang tak henti
mendoakan penulis supaya semangat dalam mengerjakan skripsi ini.
15.Semua pihak yang mustahil saya sebutkan satu per satu, yang telah berjasa
kepada saya. Kiranya Tuhan Yang Maha Esa membalas kebaikan mereka.
Walaupun telah berusaha memberikan yang terbaik, penulis menyadari
masih banyak kekurangan dalam skripsi ini. Penulis mengharapkan kritik dan
saran dari pembaca.
Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan
kiranya Yesus Kristus memberkati kita semua. AMIN!
Medan, Maret 2015
Penulis
Anna Mia N Butar-Butar
DAFTAR ISI
PERNYATAAN ... i
ABSTRAK ... ii
PRAKATA ... iii
DAFTAR ISI ... iv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 5
1.3 Batasan Masalah ... 5
1.4 Tujuan Penelitia ... 6
1.5 Manfaat Penelitian ... 6
BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep ... 7
2.1.1 Implikatur ... 7
2.1.2 Pasar ... 8
2.1.3 Masyarakat Sambu ... 8
2.2 Landasan Teori ... 8
2.2.1 Pragmatik ... 8
2.2.2 Implikatur ... 9
2.2.3 Tindak Tutur... 12
2.3 Tinjauan Pustaka ... 13
BAB III METODE PENELITIAN ... 15
3.1.1 Lokasi penelitian ... 15
3.1.2 Waktu Penelitian ... 15
3.2 Sumber Data ... 15
3.3 Metode dan Teknik ... 16
3.3.1 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ... 16
3.3.2 Metode dan Teknik Analisis Data ... 16
BAB IV IMPLIKATUR PERCAKAPAN PADA MASYARAKAT SAMBU 4.1 Menentukan Implikatur Percakapan Pada Masyarakat Sambu .. 19
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ... 56
5.2 Saran ... 57
DAFTAR PUSTAKA ... v
LAMPIRAN ... vi
Lampiran 1 Surat Penelitian ... vi
Implikatur Percakapan pada Masyarakat Sambu
Kajian Pragmatik
Oleh:
Anna Mia N. Butar-Butar
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul “Implikatur Percakapan pada Masyarakat Sambu”
yang bertujuan untuk mengetahui implikatur dan jenis-jenis ilokusi yang terdapat
dalam percakapan pada masyarakat Sambu. Adapun Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode padan. Metode padan adalah alat penentunya
berasal dari luar terlepas dan tidak menjadi bagian bahasa yang bersangkutan.
Kemudian dikembangkan dengan menggunakan teknik lanjutan yaitu teknik
dengan menggunakan teknik baca markah (BM) sebagai teknik analisis data.
Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai percakapan yang
memiliki implikatur dimana pun kita berada. Peneliti memusatkan objek
penelitian pada masayarakat yang berada dipasar Sambu. Dengan menggunakan
teori implikatur dari H.Paul Grice yang menekankan pada maksud dalam
komunikasi tercemin dalam penjelasan tentang makna yang tidak alamiah dan
teori ini dikuasai oleh satu hukum atau kaidah pragmatik yang disebut kaidah
penggunaan bahasa yang terbagi menjadi 4 maksim yaitu maksim kualitas,
maksim kuantitas, maksim relevansi dan maksim pelaksanaan. Serta
menggunakan teori tindak tutur dari John R.Searle yang berfokus pada tindak
ilokusi yang terbagi menjadi 5 jenis yaitu representatif, direktif, komisif, ekspresif
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Linguistik atau ilmu bahasa merupakan cabang ilmu yang mengaji perihal
bahasa. Kajian linguistik ini terbagi dalam beberapa bidang ilmu bahasa yaitu
fonologi, semantik, sintaksis, pragmatik, morfologi, dan semiotik. Fonologi
adalah kajian tentang bunyi-bunyi bahasa. Semantik mengaji relasi tanda dan
objek yang mungkin dimaksudkan. Sintaksis merupakan suatu kajian relasi
gramatikal satuan-satuan linguistik dengan yang lain termasuk struktur
gramatikal, frase dan kalimat yang merupakan hasil relasi gramatikal.
Pragmatik merupakan salah satu kajian dari ilmu linguistik yang secara
umum mempelajari hubungan bahasa dengan konteks dan hubungan
pemakaian bahasa dengan pemakai/penuturnya. Morfologi mengaji tentang
bentuk kata. Semiotik mengaji bahasa verbal, lambang, simbol, tanda serta
pereferensian dan pemaknaannya dalam wahana kehidupan. Semiotik juga
dibagi atas 3 cabang yaitu semantik, sintaksis dan juga pragmatik. Dalam hal
ini yang menjadi perhatian penulis adalah pragmatik. Dalam tindak
operasionalnya, kajian pragmatik itu berupaya menjelaskan bagaimana bahasa
itu melayani penuturnya dalam pemakaian? Apa yang dilakukan penutur
dalam tindak tutur itu? Tata tutur apa yang beroperasi sehingga bertutur
dengan penutur, mitra tutur serta konteks alam tutur itu?. Dalam bidang
pragmatik dapat diklasifikasikan 5 bagian yang menjadi topik pembahasan
yaitu pra-anggapan, pertuturan, implikatur, deiksis dan struktur wacana
(Samsuri,1987/88:2).
Tidak setiap peristiwa dan tidak semua penutur selalu bersifat eksplisit
atau langsung. Berbicara itu ibarat bermain bilyard, lebih lebih bagi remaja.
Mereka cenderung menggunakan bahasa teka-teki agar sukar ditebak.
Implikatur merupakan tebakan tidak langsung dari suatu penggunaan bahasa
atau suatu tindak tutur, mulai dari yang paling sederhana sampai yang rumit.
Implikatur adalah satu hal yang sangat penting diperhatikan agar percakapan
berkat adanya kesepakatan bersama. Kesepakatan itu antara lain berupa
kontak tak tertulis bahwa ihwal yang dibicarakan itu harus saling berhubungan
dan berkaitan. Hubungan atau keterkaitan itu sendiri tidak terdapat pada
masing-masing kalimat (yang dipersambungkan itu) secara lepas artinya
makna keterkaitan itu tidak terungkap secara literal pada kalimat itu sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai percakapan yang
memiliki implikatur dimana pun kita berada. Peneliti memusatkan objek
penelitian pada masyarakat yang berada dipasar Sambu. Pasar merupakan
tempat berkumpulnya masyarakat yang menjajakan jualannya masing-masing.
Seperti kita ketahui dipasar banyak hal yang terjadi, seperti terjadinya tawar
menawar antara penjual dan pembeli, pembongkaran barang-barang baru
(buka bal) dan lain-lain. Para pedagang yang ada dipasar Sambu datang dari
berbagai daerah dan berbagai suku seperti suku batak Toba, batak Karo, Jawa,
Aceh, Padang, Melayu dan sebagainya dan bermacam-macam pekerjaan ada
disana. Dari beragam pekerjaan dan latar belakang suku banyak kita jumpai
bahasa dan kata yang memiliki arti yang baik dan kotor yang diucapkan para
pedagang, pembeli, preman atau yang lainnya. Misalnya:
1. Pembeli: Pak, jambunya sekilo brapa?
Penjual: 8 ribu Bu. Ambil 2 kg Rp.15 ribu Bu
Pembeli: 2 kg gak bisa Rp 10 ribu pak?
Penjual: haha, ibu cari ditempat lain aja lah. Modalnya aja gak dapat segitu
malah minta dibawah modal. Lain kali nawar yang betul lah, njing!
2. A: kau udah makan?
B: belum datang mama, masih dijalan.
Jika kita mengamati kedua contoh diatas terjadi implikasi-implikasi
pertuturan. Bila dilihat dari maknanya, kalimat penjual agak aneh. Mengapa
penjual mengatakan sesuatu nama binatang yang jelas-jelas mitra tuturnya
mencapai harga dasar atau modalnya tidak seharusnya si penjual
menertawakan bahkan memaki si Ibu.
Pada kalimat 2 dijelaskan bahwa A menanyakan apakah si B sudah makan
atau tidak. B sebenarnya belum makan karena ibunya belum datang membawa
makanan. Dan ibunya ada didalam perjalanan menuju pasar atau tempat
mereka membuka usaha atau berjualan.
Dari contoh di atas, penulis tertarik melakukan penelitian karena ingin
mengetahui dan meneliti adanya penghubung yang hilang dalam sebuah
pertuturan atau percakapan di pasar Sambu dan juga ingin meneliti kata atau
suatu makna yang seharusnya tidak dikatakan menjadi diucapkan seperti pada
contoh di atas. Aturan atau sopan santun dalam sebuah pertuturan pada
masyarakat Sambu sudah jarang kita temui. Mereka mengatakan bahasa yang
tidak seharusnya diujarkan menjadi bebas diucapkan dan sembarangan, tidak
peduli usia, jenis kelamin, pekerjan dan lain sebagainya. Dikarenakan
bermacam-macam suku budaya, tingkat pendidikan yang rendah serta kualitas
solidaritasnya yang minim atau kurang.
Teori implikatur dicetuskan oleh H.Paul Grice yang menekankan pada
maksud dalam komunikasi tercemin dalam penjelasan tentang makna yang
tidak alamiah dan teori ini dikuasai oleh satu hukum atau kaidah pragmatik
yang disebut kaidah penggunaan bahasa. Kaidah ini mencakup tentang
bagaimana percakapan dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Yang terdiri
dari dua pokok kaidah yaitu (1) prinsip kooperatif yang menyatakan didalam
percakapan, sumbangkanlah apa yang diperlukan pada saat terjadi percakapan
itu dengan memegang tujuan dari percakapan itu, dan (2) empat maksim
percakapan yang meliputi maksim kualitas, maksim kuantitas, maksim
relevansi, dan maksim pelaksanaan.
1. Maksim kualitas mewajibkan setiap peserta percakapan mengatakan
yang sebenarnya, Kontribusi peserta percakapan hendaknya disertai
2. Maksim kuantitas memberikan informasi yang cukup, relatif
memadai, dan seinformatif mungkin. Informasi demikian itu tidak
boleh melebihi informasi yang sebenarnya yang dibutuhkan si mitra
tutur.
3. Maksim relevansi mengharuskan bahwa setiap peserta pembicaraan
harus memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah
pembicaraan.
4. Maksim pelaksanaan mengharuskan setiap peserta percakapan
berbicara secara langsung, jelas, tidak kabur, tidak berlebih-lebihkan
serta runtut.
Implikatur percakapan merupakan konsep yang cukup penting dalam
pragmatik karena empat hal (Levinson, 1983:97) yaitu:
a. Konsep implikatur memungkinkan penjelasan fakta-fakta kebahasaan yang
tidak terjangkau oleh teori linguistik.
b. Konsep implikatur memberikan penjelasan tentang makna berbeda dengan
yang dikatakan secara lahiriah.
c. Konsep implikatur dapat menyederhanakan struktur dan isi deskripsi
semantik.
d. Konsep implikatur dapat menjelaskan beberapa fakta bahasa secara tepat.
Teori tindak tutur dikemukakan oleh John R.Searle (1983) dalam
bukunya Speech Acts : An Essay in the Philosophy of Language. Ia
mengatakan tindak tutur dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu: (1) tindak lokusi
yang mengaitkan suatu topik dengan suatu keterangan dalam sebuah
ungkapan, (2) tindak ilokusi yang melakukan ssesuatu dengan maksud dan
fungsi tertentu, dan (3) tindak perlokusi yang merupakan hasil atau efek yang
ditimbulkan oleh ungkapan pada pendengar sesuai dengan situasi dan kondisi
pengucapan kalimat.
Dalam setiap tindak tutur haruslah ada pihak pembicara (penulis) dan
ada pihak penyimak (pembaca). Setiap situasi tindak tutur tentu mengandung
pembicara maupun penyimak terlibat dalam suatu kegiatan yang berorientasi
pada tujuan tertentu. Searle mengklasifikasikan tindak ilokusi berdasarkan
maksud kedalam lima kategori yaitu:
1. Representatif atau Assertif yang tujuannya untuk menanyakan,
mengusulkan, membual, mengeluh, mengemukakan pendapat, dan
melaporkan.
2. Direktif yang tujuannya untuk menghasilkan suatu efek berupa
tindakan yang dilakukan oleh penutur seperti memesan, memerintah,
memohon, menuntut, memberi nasihat.
3. Komisif yang terikat pada suatu tindakan dimasa depan seperti
menjanjikan, penawaran.
4. Ekspresif yang tujuannya untuk mengutarakan sikap psikologis
penutur terhadap keadaan yang tersirat dalam ilokusi seperti mengucapkan
terimakasih, mengucapkan selamat, mengucapkan belasungkawa, memuji,
memberi maaf, menuduh, dan sebagainya.
5. Deklarasi yang menggambarkan perubahan dalam suatu keadan
hubungan seperti memberi nama, menjatuhkan hukuman, mengucilkan
atau membuang, mengangkat, membabtis, mengundurkan diri dan
sebagainya.
1.2Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah yaitu
“Bagaimanakah implikatur dan tindak tutur yang terdapat dalam percakapan
pada masyarakat Sambu?”.
1.3Batasan Masalah
Suatu penelitian harus dibatasi supaya penelitian terarah dan tujuan
penelitian tercapai. Ruang lingkup penelitian ini terbatas pada implikatur
pertuturan atau percakapan pada masyarakat Sambu. Pada penelitian ini
penulis akan membatasi tindak tutur seperti yang dikemukakan oleh Searle
dan menentukan implikasi atau implikatur yang dikemukakan oleh Grace.
berada di Sambu baik para pedagang, pembeli, pengantar barang dan yang
lainnya.
1.4Tujuan Penelitian
Pada dasarnya setiap penelitian itu mempunyai tujuan tertentu yang
memberikan arah dan pelaksanaan tersebut. Hal ini dilakukan supaya tujuan
dapat tercapai dengan baik. Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui implikatur dan jenis-jenis ilokusi yang
terdapat dalam percakapan pada masyarakat Sambu.
1.5Manfaat Penelitian Secara Teoritis:
Menambah pengetahuan dan wawasan pembaca dalam memahami
hasil penelitian.
Menambah sumber referensi bagi peneliti lain yang ingin melakukan
penelitian yang berkaitan dengan implikatur dalam bidang pragmatik.
Secara Praktis:
Dapat dijadikan sumber acuan bagi peneliti selanjutnya tentang
implikatur bidang pragmatik.
Dapat memberikan pengetahuan baru tentang implikatur masyarakat
BAB II
KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep
Konsep adalah gambaran mental dari objek, proses, atau apa pun yang ada
di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami sesuatu hal
lain.
2.1.1 Implikatur
Impilkatur merupakan satu hal yang sangat penting diperhatikan agar
percakapan dapat berlangsung dengan lancar berkat adanya kesepakatan
bersama. Kesepakatan itu berupa kontrak tak tertulis bahwa yang dibicarakan
itu harus saling berhubungan atau berkaitan. Pada masing-masing kalimat
artinya makna keterkaitan itu tidak terungkap secara literal.
Menurut Gunpers (dalam Lubis, 1991:68), implikatur merupakan proses
yang ditentukan oleh situasi konteks. Selalu benar apa yang dimaksud oleh
sipembicara tidak sama dengan apa yang ditanggap sipendengar, sehingga
jawaban si pendengar tidak dapat atau sering juga terjadi sipembicara
mengulangi kembali ucapannya dengan kalimat yang lain agar dapat
ditanggapi sipendengar. Teori implikatur dicetuskan oleh H.Paul Grice yang
menekankan pada maksud dalam komunikasi tercemin dalam penjelasan
tentang makna yang tidak alamiah (makna NN). Bagi Grice (1957:385) ‘A
berarti sesuatu NN oleh X’ sama dengan berkata:
A menginginkan ujaran X menghasilkan suatu efek tertentu pada khalayak
dengan cara mengenal maksud ini.
Menurut definisi ini, penutur tidak cukup hanya bermaksud menyebabkan
efek tertentu pada pendengarnya melalui penggunaan ujarannya, malahan efek
ini hanya dapat dicapai dengan tepat apabila maksud untuk menghasilkan efek
ini diketahui oleh pendengar. Komponen kedua definisi ini sangat penting
diciptakannya, namun yang tidak ingin dikomunikasikan penutur dan yang
tidak diketahui oleh pendengar. Oleh karena itu, dia tidak merupakan bagian
dari maksud komunikasi penutur.
2.1.2 Pasar
Pasar merupakan salah satu dari berbagai sistem, institusi, prosedur,
hubungan sosial dan infrastruktur dimana usaha menjual barang, jasa, dan
tenaga kerja untuk orang-orang dengan imbalan uang. Barang dan jasa yang
dijual menggunakan alat pembayaran yang sah. Seperti kita ketahui di pasar
banyak terjadi penawaran dan permintaan, tempat penjual yang ingin menukar
barang atau jasa dengan uang yang sah, dan pembeli yang ingin menukar uang
dengan barang atau jasa.
2.1.3 Masyarakat Sambu
Masyarakat adalah sekelompok orang yang berada di Sambu yang
membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian
besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok
tersebut. Masyarakat Sambu berasal dari berbagai suku, ada suku Batak, Karo,
Jawa dan lain sebagainya yang datang untuk membeli sesuatu (berbelanja)
atau pun menawarkan sesuatu (berjualan). Bermacam-macam kegiatan yang
dilakukan masyarakat Sambu seperti berjualan, membuka bal, melakukan
penawaran dan ada juga yang menawarkan jasa. Masyarakat Sambu itu
memiliki tingkat kekeluargaan yang cukup tinggi hanya saja perkataan yang
dilontarkan sedikit kasar dan kata yang dikeluarkan itu berintonasi kuat atau
keras sehingga membuat sebagian orang banyak mengira tidak baik.
2.2 Landasan Teori 2.2.1 Pragmatik
Pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang mempelajari kondisi
mencakup dua macam hal, yaitu konteks yang bersifat sosial dan sosietal.
Konteks sosial adalah konteks yang timbul sebagai akibat dari munculnya
interaksi antar anggota masyarakat dalam suatu masyarakat sosial dan budaya
tertentu (adanya solidaritas), sedangkan konteks sosietal adalah konteks yang
faktor penentunya merupakan kedudukan anggota masyarakat dalam
institusi-institusi sosial yang ada didalam masyarakat sosial dan budaya tertentu
(adanya kekuasaan).
Dalam pragmatik juga dilakukan kajian tentang praanggapan, tindak tutur,
implikatur, dan aspek-aspek struktur wacana (Soemarno, 1998:169). Dalam
penelitian ini pembicaraan mengenai kajian pragmatik lebih dibatasi pada
implikatur dan tindak tutur yang merupakan bagian dari suatu tuturan atau
percakapan.
2.2.2 Implikatur
Menurut Gunpers (dalam Lubis,191:68), inferensi (implikatur) merupakan
proses interpretasi yang ditentukan oleh situasi dan konteks. Mengacu pada
pernyataan bahwa selalu benar apa yang dimaksud oleh si pembicara tidak
sama dengan apa yang ditanggap oleh si pendengar, sehingga terkadang
jawaban si pendengar tidak dapat dimengerti atau sering juga terjadi si
pembicara mengulangi kembali ucapannya mungkin dengan cara atau kalimat
yang lain supaya dapat ditanggapi oleh si pendengar.
Berlangsungnya situasi percakapan seperti di atas dikuasai oleh satu
hukum atau kaidah pragmatik umum menurut H. Paul Grice (dalam
Soemarno, 1998:170) yang disebut kaidah penggunaan bahasa. Kaidah ini
mencakup peraturan tentang bagaimana percakapan dapat dilakukan secara
efektif dan efisien. Yang terdiri dari dua pokok kaidah yaitu (1) prinsip
kooperatif yang menyatakan dalam percakapan, sumbangkanlah apa yang
diperlukan pada saat terjadi percakapan itu dengan memegang tujuan dari
percakapan itu, dan (2) empat maksim percakapan yang meliputi maksim
Maksim kualitas mewajibkan setiap peserta percakapan mengatakan yang
sebenarnya. Kontribusi peserta percakapan hendaknya disertai bukti-bukti atau
fakta-fakta yang memadai.
Contoh:
1“Silakan menyontek saja biar nanti saya mudah menilainya!”
2 “Jangan menyontek, nilainya bisa nol (0) nanti!”
Tuturan (2) jelas lebih memungkinkan terjadinya kerjasama antara penutur
dengan mitra tutur. Tuturan (1) dikatakan melanggar maksim kualitas karena
mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan yang seharusnya
dilakukan seseorang. Akan merupakan sesuatu kejanggalan apabila di dalam
dunia pendidikan terdapat seorang dosen yang mempersilakan siswanya
melakukan penyontekan pada saat ujian berlangsung.
Maksim kuantitas memberikan informasi yang cukup, relatif memadai, dan
seinformatif mungkin. Informasi demikian itu tidak boleh melebihi informasi
yang sebenarnya yang dibutuhkan si mitra tutur.
Misalnya:
1 “Lihat itu Susi Susanti mau bertanding lagi”
2 “Lihat itu Susi Susanti yang mantan pemain badminton atau bulu tangkis
kelas atas itu mau bertanding lagi”
Tuturan 1 dan 2 dituturkan oleh seorang pengagum Susi Susanti kepada
rekannya yang juga mengagumi pemain bulu tangkis legendaris itu. Tuturan
itu dimunculkan pada waktu mereka bersama-sama melihat salah satu acara
bulu tangkis ditelevisi.
Maksim relevansi mengharuskan bahwa setiap peserta pembicaraan harus
Contoh:
3 (1)“Mia, `teman kamu datang”
(2)“Saya lagi mandi, Bu!”
Tuturan (2) di atas sepintas tidak ada hubungannya, tetapi bila diamati
hubungan implikasionalnya dapat diterangkan. Tuturan (2) mengimplikasikan
bahwa saat itu ia tidak dapat menjumpai teman-temannya dikarenakan sedang
mandi. Contoh (3) di atas dapat dipakai sebagai salah satu bukti bahwa
maksim relevansi dalam prinsip kerjasama tidak selalu harus dipenuhi dan
dipatuhi dalam pertuturan sesungguhnya. Hal seperti itu dapat dilakukan
khususnya apabila tuturan tersebut dimaksudkan untuk mengungkapkan
maksud-maksud yang khusus sifatnya.
Maksim pelaksanaan mengharuskan setiap peserta percakapan berbicara
secara langsung, jelas, tidak kabur, tidak berlebih-lebihkan serta runtut.
Contoh:
4 (+) ”Ayo cepat dibuka”
(-) “Sebentar dulu, masih panas”
Tuturan 4 di atas memiliki kadar kejelasan yang rendah. (+) sama sekali
tidak memberikan kejelasan tentang apa yang sebenarnya diminta oleh si mitra
tutur. Kata dibuka memiliki ketaksaan dan kekaburan yang tinggi dan
mengakibatkan maknanya menjadi sangat kabur. Dapat dikatakan bahwa kata
itu dimungkinkan penafsirannya bermacam-macam. Sama halnya dengan (-)
yaitu pada kata panas yang memiliki ketaksaan yang mengakibatkan banyak
persepsi atau penafsiran karena dalam tuturan tersebut tidak jelas apa
sebenarnya yang masih panas itu.
Salah satu kaidah percakapan bahwa pembicaranya mengikuti dasar-dasar
atau maksim di atas. Apabila terdapat tanda-tanda bahwa salah satu dasar atau
maksim tersebut tidak diikuti atau dipatuhi maka ujaran tersebut mempunyai
2.2.3 Tindak Tutur
Searle mengatakan bahwa dalam komunikasi bahasa terdapat tindak tutur.
Ia mengatakan bahwa komunikasi bahasa bukan hanya sekedar lambang, kata,
atau bahkan kalimat tetapi merupakan hasil dari lambang, kata atau kalimat
yang berwujud pada perilaku. Artinya tindak tutur merupakan hasil atau
produk dari suatu kalimat dalam kondisi tertentu dan kesatuan terkecil dari
komunikasi bahasa. Sebagaimana bahasa dapat berwujud pertanyaan,
pernyataan, dan perintah (dalam Rani, 2004:158).
Tindak tutur dalam suatu kalimat merupakan penentu makna kalimat itu
yang ditentukan oleh tindak tutur yang berlaku pada kalimat yang diujarkan.
Teori tindak tutur adalah teori yang lebih cenderung meneliti makna kalimat.
Teori tindak tutur yang dikemukakan oleh John R.Searle (1983) dalam
bukunya Speech Acts : An Essay in the Philosophy of Language. Ia membagi
tindak tutur menjadi 3 macam yaitu:
1. Tindak ‘lokusi’ yaitu mengaitkan suatu topik dengan suatu keterangan
dalam sebuah ungkapan. Dalam tindak ini yang dipermasalahkan adalah
maksud untuk memberitahu si penutur (dalam Lubis, 1991:9).
2. Tindak ‘ilokusi’ adalah tindakan yang melakukan sesuatu dengan maksud
dan fungsi tertentu. Pada tindak tutur ini, penutur mengungkapkan kalimat
bukan dimaksudkan untuk memberi tahu penutur tetapi ada keinginan
penutur untuk melakukan suatu tindakan.
3. Tindak ‘perlokusi’ merupakan hasil atau efek yang ditimbulkan oleh
ungkapan pada pendengar sesuai dengan situasi dan kondisi pengucapan
kalimat itu (Nababan, 1998:18).
Dalam ilmu bahasa dapat kita samakan tindak lokusi itu dengan ‘prediksi’,
tindak ilokusi dengan ‘maksud kalimat’, dan tindak perlokusi dengan ‘akibat
suatu ungkapan’. Atau dengan kata lain dapat kita katakan bahwa lokusi
adalah makna dasar atau referensi kalimat itu, ilokusi adalah sebagai daya
dan lain-lain, sedangkan perlokusi merupakan hasil dari ucapan tersebut
terhadap pendengar.
Contoh: kamu cantik sekali hari ini!
Dari kalimat di atas, tindak lokusi hanya sebagai pernyataan bahwa dia
(seseorang) itu cantik. Tindak ilokusinya dapat berupa pujian atau ejekan
(hinaan). Dikatakan pujian jika ia memang benar-benar cantik dari hari
sebelumnya dan ejekan jika dia tidak sesungguhnya cantik. Dari segi
perlokusinya dapat membuat seseorang menjadi muram mukanya dan dapat
juga mengucapkan terimakasih kepadanya.
2.3Tinjauan Pustaka
Dewana (2001) dalam skripsinya Pasangan Bersesuaian dalam Wacana
Persidangan (Analisis Implikatur percakapan). Dia menyimpulkan bahwa
penerapan prinsip kerja sama serta empat maksim percakapan pasangan
bersesuaian yang terdapat pada analisis implikatur percakapan dalam wacana
persidangan adalah pola panggilan-jawab, pola permintaan-penerimaan, pola
permintaan informasi-pemberian, pola penawaran-penerimaan, dan pola
penawaran-penolakan.
Anina (2006) meneliti tentang Implikatur Percakapan dalam Wacana
Humor Berbahasa Indonesia. Dia menyimpulkan bahwa wacana humor
berbahasa Indonesia memilik karakteristik wujud lingual implikatur
percakapan seperti kalimat deklaratif, interogatif, imperatif. Selain itu,
implikatur percakapan dalam wacana humor berbahasa Indonesia memiliki
fungsi menghibur, menyindir, mengejek, dan memerintah.
Maharani (2007) dalam skripsinya Tindak Tutur Percakapan pada Komik
Asterix menganalisis tentang percakapan yang terdapat dalam komik Asterix
dari segi tindak tutur percakapannya yang terbagi atas tiga jenis tindak tutur
yaitu tindak lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Maharani menyimpulkan bahwa
denotasinya, sedangkan tindak ilokusi dan perlokusi tidak semua tuturan
memiliki kedua tindak tersebut.
Ida Vandayani Manurung (2012), dalam skripsinyan implikatur tindak
tutur humor abang japang di harian sinar Indonesia baru. Dia menyimpulkan
tindak tutur dan implikatur yang terdapat pada humor abang japang
cenderung mengarah pada suatu sindiran, baik sindiran yang mengarah kepada
pembaca maupun sindiran yang mengarah kepada pemerintah khususnya. Dari
segi tindak tutur yang dikemukakan oleh Searle, yang mengklasifikasikan
tindak ilokusi kedalam lima kategori, dalam humor abang japang terdapat
kelima kategori tersebut, yaitu representative, direktif, komisif, ekspresif, dan
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.1.1 Lokasi Penelitian
Lokasi adalah letak atau tempat. Yang menjadi lokasi penelitian ini adalah
Pasar Sambu, Kelurahan Gg Buntu, Kecamatan Medan Timur, Medan. Alasan
mengapa saya memilih Sambu sebagai lokasi penelitian karena saya ingin
meneliti kata atau makna yang seharusnya tidak dikatakan menjadi diucapkan
seperti contoh yang terdapat dalam latar belakang.
3.1.2 Waktu Penelitian
Waktu adalah seluruh rangkaian saat proses, perbuatan, atau keadaan
berada atau langsung. Penulis melakukan penelitian terhadap objek mulai dari
Juli-Agustus 2014.
3.2 Sumber Data
Sumber data adalah subjek dari mana data itu diperoleh (KBBI, 2003:
994). Sumber data dalam penelitian ini ialah para pedagang atau pembeli yang
ada dalam lingkungan atau wilayah Sambu, Medan. Untuk mendapatkan data
khususnya data lisan dibutuhkan informan. Informan yang baik harus
memenuhi beberapa kriteria yaitu:
1. Masyarakat yang bekerja/berdagang di wilayah Sambu, Medan.
2. Berusia 35-65 tahun dan tidak pikun sehingga mampu memberikan
informasi berupa data yang representatif.
3. Tidak cacat wicara
4. Berpendidikan serendah-rendahnya setingkat SD
5. Bisa diajak berkomunikasi
6. Bersedia menjadi informan
7. Jujur dan tidak dikucilkan masyarakat atau para pedagang setempat,
8. Mempunyai pengetahuan dan keterampilan berbahasa memadai
(Samarin,1998:55-70 dari no 2-8).
3.3Metode dan Teknik
3.3.1 Meode dan Teknik Pengumpulan Data
Metode adalah cara atau prosedur yang harus dilaksanakan dalam
memecahkan masalah penelitian sedangkan teknik adalah cara melaksanakan.
Menurut Sudaryanto (1993: 137), metode adalah cara yang dilaksanakan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak karena data
yang ada merupakan data lisan. Disebut “metode simak” atau “penyimakan”
karena memang berupa penyimakan, dilakukan dengan menyimak, yaitu
menyimak penggunaan bahasa (Sudaryanto, 1993:133). Metode dilakukan
dengan menyimak tuturan yang akan disampaikan oleh para pedagang atau
pembeli yang ada di Pasar Sambu, Medan.
Metode simak memiliki teknik lanjutan yaitu teknik rekam (Sudaryanto,
1993: 134). Peneliti terlibat langsung dalam dialog, konversasi, imbal wicara
atau ikut serta dalam proses pembicaraan. Hal ini yang diperhatikan oleh
peneliti adalah isi pembicaraan, makna tuturan atau perkataan yang digunakan.
Kemudian dilanjutkan dengan teknik catat sebagai teknik lanjutan akhir dari
metode simak. Dalam hal ini penulis melakukan pencatatan terhadap data
relevan yang sesuai dengan sasaran dan tujuan penelitian. Teknik pencatatan
dilakukan dengan mencatat kata-kata yang diucapkan oleh para informan.
3.3.2 Metode dan Teknik Analisis Data
Setelah data terkumpul, mulailah diadakan analisis terhadap data untuk
menyelesaikan permasalahan penelitian yang telah ditetapkan. Kemudian data
diolah dengan menggunakan metode padan. Metode padan adalah alat
penentunya berasal dari luar terlepas dan tidak menjadi bagian bahasa yang
bersangkutan (Sudaryanto, 1993:15). Kemudian dikembangkan dengan
penelitian ini berupa data dalam bentuk lisan, maka dapat diketahui mitra
wicaranya akan (a) bertindak menuruti atau menentang apa yang dituturkan
lawan bicaranya, (b) berkata dengan isi yang informatif, (c) tergerak
emosinya, (d) diam namun menyimak dan berusaha memahami apa yang
dituturkan lawan bicaranya (Sudaryanto, 1993:13-52).
Contoh:
A: mana kau, kami lapar?
B: iya, mati lampu tadi dirumah.
Contoh data (A) dan data (B) dianalisis dengan menggunakan teori
implikatur dan tindak tutur. Tuturan pada data (A) akan dianalisis sebagai
berikut:
Langkah pertama untuk menganalisis implikaturnya adalah menentukan
makna dasar. Makna dasar tuturan (A) menanyakan keberadaan atau posisi dia
(B) saat itu dan makna dasar (B) menjawab pertanyaan (A). Kemudian
mengetahui apakah tuturan (A) dan tuturan (B) mematuhi empat maksim
percakapan yang dikemukakan Grice atau tidak.
Empat maksim percakapan tersebut yaitu:
1. Maksim kuantitas mewajibkan setiap peserta tuturan memberikan
kontribusi yang secukupnya atau sebanyak yang dibutuhkan oleh mitra
tutur. Tuturan pada data (A) dan data (B) bersifat kooperatif karena telah
memberikan kontribusi yang secara kuantitas memadai dan mencukupi.
2. Maksim kualitas mewajibkan setiap peserta pertuturan mengatakan
hal yang sebenarnya dan berdasarkan bukti-bukti yang memadai. Tuturan
data (A) dan data (B) bersifat kooperatif karena menuturkan hal yang
sebenarnya.
3. Maksim relevansi mewajibkan setiap peserta pertuturan
memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah pembicaraan.
Tuturan pada data (A) dan data (B) tidak relevansi karena tidak
memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah pembicaraan.
4. Maksim pelaksanaan mewajibkan setiap peserta pertuturan
berlebih-lebihan serta runtut. Data (A) data (B) diungkapkan secara
langsung.
Berdasarkan empat maksim percakapan yang dikemukakan Grice, maka
dapat disimpulkan bahwa tuturan pada data (A) dan data (B) memiliki
implikatur karena melanggar salah satu dari keempat maksim tersebut yaitu
maksim relevansi.
Langkah selanjutnya menentukan tindak ilokusinya. Searle
mengklasifikasian tindak ilokusi berdasarkan maksud kedalam lima kategori
yaitu:
1. Representatif atau Assertif yang tujuannya untuk menanyakan,
mengusulkan, membual, mengeluh, mengemukakan pendapat, dan
melaporkan.
2. Direktif yang tujuannya untuk menghasilkan suatu efek berupa
tindakan yang dilakukan oleh penutur seperti memesan, memerintah,
memohon, menuntut, memberi nasihat.
3. Komisif yang terikat pada suatu tindakan dimasa depan seperti
menjanjikan, penawaran.
4. Ekspresif yang tujuannya untuk mengutarakan sikap psikologis
penutur terhadap keadaan yang tersirat dalam ilokusi seperti mengucapkan
terimakasih, mengucapkan selamat, mengucapkan belasungkawa, memuji,
memberi maaf, menuduh, dan sebagainya.
5. Deklarasi yang menggambarkan perubahan dalam suatu keadaan
hubungan seperti memberi nama, menjatuhkan hukuman, mengucilkan
atau membuang, mengangkat, membabtis, mengundurkan diri dan
sebagainya.
Berdasarkan kelima kategori diatas maka tindak tutur pada data (A) dan
BAB IV
IMPLIKATUR PERCAKAPAN PADA MASYARAKAT SAMBU
4.1 Menentukan Implikatur Percakapan Pada Masyarakat Sambu
Setelah data terkumpul maka akan dianalisis dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
Data 1 (Senin, 02 Februari 2015):
Penjual :beli bu, beli kak. Mangga manis ini, sekilo Rp. 8000.
Ambil 2 kilo Rp. 15.000 aja nah inang.
Pembeli :aah, yang mahalan lah itu pak. Kurangilah harganya
Penjual :bah, janganlah bu. Harganya udah pas itu, cantik dan
manis mangganya ini. Cobalah dulu ibu lihat nah.
Pembeli :kurangilah pak, biar kita langganan ya.
Penjual :janganlah bu, udah murah itu. Gak rugilah ibu kalo beli
manggaku ini. Udahlah manis ga busuk lagi.
Pembeli :gausahlah pak, ga mau dikurangin pun.
Penjual :ga bakal nyesallah ibu kalo beli manggaku. Ibu
putar-putarlah dulu ya, udah murah ku kasih gak mau kau. kalo
mau balik lagi kesini (muka sinis dan kesal).
Pembeli :(pergi meninggalkan penjual mangga).
Penjual :(merepet ke penjual sebelah).
Contoh percakapan di atas dapat dianalisis dengan teori implikatur dan
tindak tutur. Tuturan pada sipenjual dan sipembeli akan dianalisis sebagai
berikut:
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menganalisis implikaturnya
dengan cara menentukan makna dasarnya. Makna dasar dalam tuturan
sipembeli adalah menawar harga mangga yang ingin dibelinya dan jika
sipenjual memberikan tawarannya maka sipembeli ingin menjadikan tempat
ditawarkan sesuai dengan ucapan sipenjual). Sipenjual tetap bersikeras dengan
harga awalnya karena modalnya saja tidak mencukupi. Dan setelah sipembeli
berlalu, sipenjual malah mengoceh atau menceritakan kepada tetangganya
(sesama penjual). Sipenjual kesal karena si ibu tidak jadi membeli barang
dagangannya dan melampiaskan kekesalannya kepada sesama penjual dengan
cara menceritakan atau mengoceh, seharusnya sikap sipenjual tidak harus
menceritakan karena si ibu tidak jadi membeli. Dalam pasar sudah biasa
diadakannya tawar menawar dan sudah biasa pula bahwa barang yang sudah
ditawar tidak jadi dibeli sipembeli.
Langkah berikutnya adalah menentukan implikaturnya. Dan untuk dapat
menentukan implikatur tuturan pada data di atas, terlebih dahulu harus
diketahui apakah tuturan dat diatas mematuhi empat maksim percakapan yang
dikemukakan oleh Grice atau tidak. Setelah itu dapat diputuskan apabila data
diatas terbukti telah melanggar salah satu dari empat maksim Grice, maka
tuturan tersebut memiliki implikatur.
Empat maksim percakapan tersebut yaitu:
1. Maksim kuantitas mewajibkan setiap peserta tuturan memberikan
kontribusi yang secukupnya atau sebanyak yang dibutuhkan oleh mitra
tutur. Tuturan pada data (penjual) dan data (pembeli) bersifat kooperatif
karena telah memberikan kontribusi yang secara kuantitas memadai dan
mencukupi.
2. Maksim kualitas mewajibkan setiap peserta pertuturan mengatakan
hal yang sebenarnya dan berdasarkan bukti-bukti yang memadai. Tuturan
data (penjual) dan data (pembeli) tidak bersifat kooperatif karena tidak
menuturkan hal yang sebenarnya. Data (penjual) mengatakan bahwa
mangganya bagus dan tidak busuk tetapi tidak memberikan bukti bahwa
perkataan si penjual itu benar. Dia (penjual) tidak membelah salah satu
mangga miliknya supaya si Ibu (pembeli) percaya akan ucapannya
(penjual).
3. Maksim relevansi mewajibkan setiap peserta pertuturan
Tuturan pada data (penjual) dan data (pembeli) relevansi karena
memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah pembicaraan.
4. Maksim pelaksanaan mewajibkan setiap peserta pertuturan
berbicara secara langsung, tidak tabu, tidak taksa atau ambigu, dan tidak
berlebih-lebihan serta runtut. Data (penjual) dan data (pembeli)
diungkapkan secara langsung.
Berdasarkan empat maksim percakapan yang dikemukakan Grice, maka
dapat disimpulkan bahwa tuturan pada data (penjual) dan data (pembeli)
memiliki implikatur karena melanggar salah satu dari keempat maksim
tersebut yaitu maksim kualitas karena tidak memberikan bukti bahwa mangga
tersebut tidak busuk.
Langkah selanjutnya menentukan tindak ilokusinya. Searle
mengklasifikasian tindak ilokusi berdasarkan maksud tindak ilokusi kedalam
lima kategori yaitu:
1. Representatif atau Assertif yang tujuannya untuk menanyakan,
mengusulkan, membual, mengeluh, mengemukakan pendapat, dan
melaporkan.
2. Direktif yang tujuannya untuk menghasilkan suatu efek berupa
tindakan yang dilakukan oleh penutur seperti memesan, memerintah,
memohon, menuntut, memberi nasihat.
3. Komisif yang terikat pada suatu tindakan dimasa depan seperti
menjanjikan, penawaran.
4. Ekspresif yang tujuannya untuk mengutarakan sikap psikologis
penutur terhadap keadaan yang tersirat dalam ilokusi seperti mengucapkan
terimakasih, mengucapkan selamat, mengucapkan belasungkawa, memuji,
memberi maaf, menuduh, dan sebagainya.
5. Deklarasi yang menggambarkan perubahan dalam suatu keadan
hubungan seperti memberi nama, menjatuhkan hukuman, mengucilkan
atau membuang, mengangkat, membabtis, mengundurkan diri dan
sebagainya.
Berdasarkan kelima kategori di atas maka tindak tutur pada data
yaitu untuk menanyakan, mengusulkan, membual, mengeluh, mengemukakan
pendapat, dan melaporkan.
Data 2 (Kamis, 05 Februari 2015):
A : ayok makan, aku masak tadi. Banyak ku bawa buat kita.
B : ahh, gaenak masakanmu.
A : ayolah. Banyak ku masak, biar makan samanya kita.
B : gak ahh. Kaulah makan, udah kenyang aku. Lagian cukup untuk
satu orangnya makananmu itu.
A : yaudahlah.
B : ya
Contoh percakapan di atas dapat dianalisis dengan teori implikatur dan
tindak tutur. Tuturan pada data (A) dan data (B) akan dianalisis sebagai
berikut:
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menganalisis implikaturnya
dengan cara menentukan makna dasarnya. Makna dasar tuturan data (A)
menawarkan makanan yang sengaja dibawa untuk dibagikan kepada temannya
(B) dan data (B) menolak masakan yang diberikan (A) karena menurut dia (B)
bahwa masakannya (A) tidak enak. Kemudian mengetahui apakah tuturan (A)
dan tuturan (B) mematuhi empat maksim percakapan yang dikemukakan Grice
atau tidak.
Empat maksim percakapan tersebut yaitu:
1. Maksim kuantitas mewajibkan setiap peserta tuturan memberikan
kontribusi yang secukupnya atau sebanyak yang dibutuhkan oleh mitra
tutur. Tuturan pada data (A) dan data (B) bersifat kooperatif karena telah
memberikan kontribusi yang secara kuantitas memadai dan mencukupi.
2. Maksim kualitas mewajibkan setiap peserta pertuturan mengatakan
hal yang sebenarnya dan berdasarkan bukti-bukti yang memadai. Tuturan
data (A) dan data (B) bersifat kooperatif karena menuturkan hal yang
3. Maksim relevansi mewajibkan setiap peserta pertuturan
memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah pembicaraan.
Tuturan pada data (A) dan data (B) relevansi karena memberikan
kontribusi yang relevan dengan masalah pembicaraan.
4. Maksim pelaksanaan mewajibkan setiap peserta pertuturan
berbicara secara langsung, tidak tabu, tidak taksa atau ambigu, dan tidak
berlebih-lebihan serta runtut. Data (A) data (B) diungkapkan secara
berlebihan yaitu makanan yang dibawa (A) hanya cukup untuk satu orang
tetapi dia melebih-lebihkan.
Berdasarkan empat maksim percakapan yang dikemukakan Grice, maka
dapat disimpulkan bahwa tuturan pada data (A) dan data (B) memiliki
implikatur karena melanggar salah satu dari keempat maksim tersebut yaitu
maksim pelaksanaan.
Langkah selanjutnya menentukan tindak ilokusinya. Searle
mengklasifikasian tindak ilokusi berdasarkan maksud kedalam lima kategori
yaitu:
1. Representatif atau Assertif yang tujuannya untuk menanyakan,
mengusulkan, membual, mengeluh, mengemukakan pendapat, dan
melaporkan.
2. Direktif yang tujuannya untuk menghasilkan suatu efek berupa
tindakan yang dilakukan oleh penutur seperti memesan, memerintah,
memohon, menuntut, memberi nasihat.
3. Komisif yang terikat pada suatu tindakan dimasa depan seperti
menjanjikan, penawaran.
4. Ekspresif yang tujuannya untuk mengutarakan sikap psikologis
penutur terhadap keadaan yang tersirat dalam ilokusi seperti mengucapkan
terimakasih, mengucapkan selamat, mengucapkan belasungkawa, memuji,
memberi maaf, menuduh, dan sebagainya.
5. Deklarasi yang menggambarkan perubahan dalam suatu keadan
hubungan seperti memberi nama, menjatuhkan hukuman, mengucilkan
atau membuang, mengangkat, membabtis, mengundurkan diri dan
Berdasarkan kelima kategori diatas maka tindak tutur pada data (A) dan
data (B) termasuk kedalam kategori ilokusi representatif yaitu untuk
menanyakan, mengusulkan, membual, mengeluh, mengemukakan pendapat,
dan melaporkan.
Data 3 (Selasa, 10 Februari 2015):
Ada 4 orang yang berkunjung atau berbelanja di Sambu. Mereka
lihat monja atau pakaian bekas yang dijual disana. Pada saat mereka melihat-
melihat-lihat tiba-tiba hujan turun dan mereka mencari tempat berteduh agar tidak
terkena hujan. 2 orang diantara mereka berteduh didepan penjual celana bekas,
2 lainnya mencari kebutuhannya (pakaian monja atau bekas) disamping
tempat jualan yang sebelumnya. Karena cuaca sedang tidak bersahabat, para
penjual mengepak atau berberes-beres barangnya supaya tidak terkena hujan.
Pengunjung 1 : eehe, malah ujan pun. Lupa pula kita bawa payung.
Pengunjung 2 : iya pula yah. Aku pun udah basah karena kena ujan tadi..
mananya orang kakak ini. Kok ditinggalin kita.
Pengunjung 1 : itu, ditempat sebelah milih-milih baju mereka.
Penjual : nah beli dek celana goyangnya (keper). Ku kasih murah
karena ujan ini.
Pengunjung 1 : enggak bou (sambil tersenyum).
Penjual : kalo kalian gamau beli janganlah kalian didepan sini. Jadi
menghalangi pembeli yang mau beli celanaku. Pindahlah
kalian jadi ga nampak jualanku kalo kalian disini, ntah
ngapainlah kalian disini. Pergilah pergi sana! (sambil
berbicara yang tidak ingin didengar).
Pengunjung 1: ayoklah dek pindah, udah habis kita direpetin (diomelin).
Contoh percakapan di atas dapat dianalisis dengan teori implikatur dan
tindak tutur. Tuturan pada sipenjual dan sipengunjung akan dianalisis sebagai
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menganalisis implikaturnya
dengan cara menentukan makna dasarnya. Makna dasar tuturan sipengunjung
memang halus dan tidak ingin membeli dagangannya sipenjual. Sipenjual
tidak harus merepeti para Pengunjung apalagi mengeluarkan kata-kata yang
tidak seharusnya dikatakan. Jika Penjual memang ingin supaya dagangannya
laku atau laris tidak seharusnya sipenjual marah dan mengeluarkan kata kasar.
Kemudian mengetahui apakah tuturan (sipengunjung) dan tuturan (sipenjual)
mematuhi empat maksim percakapan yang dikemukakan Grice atau tidak.
Empat maksim percakapan tersebut yaitu:
1. Maksim kuantitas mewajibkan setiap peserta tuturan memberikan
kontribusi yang secukupnya atau sebanyak yang dibutuhkan oleh mitra
tutur. Tuturan pada data (sipengunjung) dan data (sipembeli) bersifat
kooperatif karena telah memberikan kontribusi yang secara kuantitas
memadai dan mencukupi.
2. Maksim kualitas mewajibkan setiap peserta pertuturan mengatakan
hal yang sebenarnya dan berdasarkan bukti-bukti yang memadai. Tuturan
data (sipengunjung) dan data (sipenjual) bersifat kooperatif karena
menuturkan hal yang sebenarnya.
3. Maksim relevansi mewajibkan setiap peserta pertuturan
memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah pembicaraan.
Tuturan pada data (sipengunjung) dan data (sipenjual) tidak relevansi
karena tidak memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah
pembicaraan.
4. Maksim pelaksanaan mewajibkan setiap peserta pertuturan
berbicara secara langsung, tidak tabu, tidak taksa atau ambigu, dan tidak
berlebih-lebihan serta runtut. Data (sipengunjung) data (sipenjual)
diungkapkan secara langsung.
Berdasarkan empat maksim percakapan yang dikemukakan Grice, maka
dapat disimpulkan bahwa tuturan pada data (sipengunjung) dan data (si
maksim tersebut yaitu maksim relevansi karena tidak memberikan jawaban
atau kontribusi yang relevan dengan masalah pembicaraan tersebut.
Langkah selanjutnya menentukan tindak ilokusinya. Searle
mengklasifikasian tindak ilokusi berdasarkan maksud kedalam lima kategori
yaitu:
1. Representatif atau Assertif yang tujuannya untuk menanyakan,
mengusulkan, membual, mengeluh, mengemukakan pendapat, dan
melaporkan.
2. Direktif yang tujuannya untuk menghasilkan suatu efek berupa
tindakan yang dilakukan oleh penutur seperti memesan, memerintah,
memohon, menuntut, memberi nasihat.
3. Komisif yang terikat pada suatu tindakan dimasa depan seperti
menjanjikan, penawaran.
4. Ekspresif yang tujuannya untuk mengutarakan sikap psikologis
penutur terhadap keadaan yang tersirat dalam ilokusi seperti mengucapkan
terimakasih, mengucapkan selamat, mengucapkan belasungkawa, memuji,
memberi maaf, menuduh, dan sebagainya.
5. Deklarasi yang menggambarkan perubahan dalam suatu keadan
hubungan seperti memberi nama, menjatuhkan hukuman, mengucilkan
atau membuang, mengangkat, membabtis, mengundurkan diri dan
sebagainya.
Berdasarkan kelima kategori di atas maka tindak tutur pada data
(sipengunjung) dan data (sipenjual) termasuk kedalam kategori ilokusi
representatif yaitu untuk menanyakan, mengusulkan, membual, mengeluh,
mengemukakan pendapat, dan melaporkan.
Data 4 (Rabu, 11 Februari 2015):
X : haloo, mana kau. Udah kau bawa makanan? Udah jam berapa ini,
sampai sekarang juga ga kau bawa makanan sama kami. Yang
apanya kau kerjain disana hah? Ngurus makanan aja pun ga bisa
Y : iya, sabarlah kak. Mama masih mandi. Bentar lagi kami nyusul
kalian pun. Baru bangun mama tadi
X : ba nunga pahatop mai. Nunga male hian hami da (yaudah
cepatlah itu, udah lapar kali kami lah). Unang dipaleleng hamu I
(jangan kalian lama-lamakan lagi itu).
Y : ollo, ette majo (iya, tunggulah).
Contoh percakapan di atas dapat dianalisis dengan teori implikatur dan
tindak tutur. Tuturan pada data (X) dan data (Y) akan dianalisis sebagai
berikut:
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menganalisis implikaturnya
dengan cara menentukan makna dasarnya. Makna dasar tuturan data (X)
menanyakan keberadaan si adek (Y) yang ditunggu-tunggunya. Dia
menanyakan karena (X) sudah lapar tapi belum datang juga ke Sambu atau
tempat (X) bekerja. Jawaban (Y) seharusnya menjawab pertanyaan (X).
Kemudian mengetahui apakah tuturan (X) dan tuturan (Y) mematuhi empat
maksim percakapan yang dikemukakan Grice atau tidak.
Empat maksim percakapan tersebut yaitu:
1. Maksim kuantitas mewajibkan setiap peserta tuturan memberikan
kontribusi yang secukupnya atau sebanyak yang dibutuhkan oleh mitra
tutur. Tuturan pada data (X) dan data (Y) bersifat kooperatif karena telah
memberikan kontribusi yang secara kuantitas memadai dan mencukupi.
2. Maksim kualitas mewajibkan setiap peserta pertuturan mengatakan
hal yang sebenarnya dan berdasarkan bukti-bukti yang memadai. Tuturan
data (X) dan data (Y) bersifat kooperatif karena menuturkan hal yang
sebenarnya.
3. Maksim relevansi mewajibkan setiap peserta pertuturan
memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah pembicaraan.
Tuturan pada data (X) dan data (Y) tidak relevansi karena tidak
memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah pembicaraan.
4. Maksim pelaksanaan mewajibkan setiap peserta pertuturan
berlebih-lebihan serta runtut. Data (X) data (Y) diungkapkan secara
langsung.
Berdasarkan empat maksim percakapan yang dikemukakan Grice, maka
dapat disimpulkan bahwa tuturan pada data (X) dan data (Y) memiliki
implikatur karena melanggar salah satu dari keempat maksim tersebut yaitu
maksim relevansi.
Langkah selanjutnya menentukan tindak ilokusinya. Searle
mengklasifikasian tindak ilokusi berdasarkan maksud kedalam lima kategori
yaitu:
1. Representatif atau Assertif yang tujuannya untuk menanyakan,
mengusulkan, membual, mengeluh, mengemukakan pendapat, dan
melaporkan.
2. Direktif yang tujuannya untuk menghasilkan suatu efek berupa
tindakan yang dilakukan oleh penutur seperti memesan, memerintah,
memohon, menuntut, memberi nasihat.
3. Komisif yang terikat pada suatu tindakan dimasa depan seperti
menjanjikan, penawaran.
4. Ekspresif yang tujuannya untuk mengutarakan sikap psikologis
penutur terhadap keadaan yang tersirat dalam ilokusi seperti mengucapkan
terimakasih, mengucapkan selamat, mengucapkan belasungkawa, memuji,
memberi maaf, menuduh, dan sebagainya.
5. Deklarasi yang menggambarkan perubahan dalam suatu keadaan
hubungan seperti memberi nama, menjatuhkan hukuman, mengucilkan
atau membuang, mengangkat, membabtis, mengundurkan diri dan
sebagainya.
Berdasarkan kelima kategori diatas maka tindak tutur pada data (X) dan
data (Y) termasuk kedalam kategori ilokusi repesentatif yaitu untuk
menanyakan, mengusulkan, membual, mengeluh, mengemukakan pendapat,
Data 5 (Rabu, 11 Februari 2015):
Ida : sadi on namboru (berapa ini namboru)? (sambil menunjukkan
beberapa celana lea yang bekas).
Penjual: nadia boru (yang mana nak/dek)?
Ida : nion namboru (sambil menunjukkan lea yang dipilihnya).
Penjual: molo I Rp. 40.000 ma baen da boru (kalau itu Rp. 40.000 lah
bayar ya nak/dek).
Ida : bah, arga do hape. Boi do moru kan namboru? (bah, mahalnya
ternyata. Bisanya dikurangikan namboru?)
Penjual: ndang arga I boru, bereng ma bagak dope. (gak mahal itu,
lihatlah masih cantiknya)
Ida : morui ma namboru, asa hubuat sada. Molo adong dope na sor
tu ahu asa ahu buat da bou (kurangilah namboru biar aku ambil
satu. Kalau ada lagi yang cocok untukku ya ku ambil namboru)
(sambil membujuk si ibu penjual supaya dikurangi harga celana lea
nya).
Penjual: ndang boi boru, nunga pas argana na hubaen i. bagak salawarna
pas muse argana tu anak kos. molo dituhor ho ndang kecewa ma
boru (gak bias nak/dek, sudah pas harganya itu. Masih cantik
celana leanya pas pula harganya untuk anak kos. kalau kau beli gak
kecewa lah nak/dek).
Ida : morui ma da namboru (kurangilah ya namboru).
Penjual: ndang boi boru, nunga pas i. molo dang olo ho, lului ma tu na
asing da. (gak bisa nak/dek, sudah harga pas itu. kalau kau ga mau,
Ida :oh, mauliate ma namboru da. (oh, terimakasih lah ya namboru).
(pergi meninggalkan tempat namboru itu).
Sewaktu Ida pergi, penjual itu berkata sambil merepet kepada Ida. Hanya
saja Ida tidak memperhatikan perkataan yang diucapkan oleh sipenjual.
Sipenjual mengatakan yang kurang enak didengar yaitu somaila, holanna
manawar ale ndang jadi dituhor, ehee tahe portibion tahe (gak malu, hanya
menawar saja tapi ga jadi dibeli. Ehee dunia).
Sebagian masyarakat yang berjualan disana sedikit garang karena sebagian
orang yang ada dipasar itu preman yang menganggap dirinya hebat. Karena
kurangnya sopan santun mengakibatkan percakapan atau omongan yang
dikeluarkan bebas keluar dari mulut penggunanya. Sipengguna tidak
memikirkan dampak dari omongan yang dikeluarkannya, apakah lawan bicara
atau mitra tutur itu sakit hati karena tersinggung ataupun merasa jengkel dan
malah tidak sedikit ada yang menanggapi omongan sipengguna yang berakhir
dengan pertengkaran argument atau adu mulut.
Contoh percakapan di atas dapat dianalisis dengan teori implikatur dan
tindak tutur. Tuturan pada data (sipenjual) dan data (Ida) akan dianalisis
sebagai berikut:
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menganalisis implikaturnya
dengan cara menentukan makna dasarnya. Makna dasar tuturan data (Ida)
menawar harga barang (celana lea) yang disukai dan ingin membelinya. Dia
(Ida) ingin membeli celana lea tersebut dan menawar harganya karena
menurutnya (Ida) harganya terlalu mahal dan jika harga diturunkan dia (Ida)
akan membeli 2 celana lae tersebut. Tetapi si Penjual tidak mengurangi harga
celana lea tersebut. Bahkan tidak mengindahkan permintaan pengunjung (Ida)
yaitu jika dikurangi dari harga sebelumnya, dia (Ida) akan membeli 2 potong
celana lea dan bisa saja dia (Ida) menjadikan tempat tersebut menjadi toko
langganannya. Kemudian mengetahui apakah tuturan dari data (sipenjual) dan
tuturan dari data (Ida) mematuhi empat maksim percakapan yang
Empat maksim percakapan tersebut yaitu:
1. Maksim kuantitas mewajibkan setiap peserta tuturan memberikan
kontribusi yang secukupnya atau sebanyak yang dibutuhkan oleh mitra
tutur. Tuturan pada data (sipenjual) dan data (Ida) bersifat kooperatif
karena telah memberikan kontribusi yang secara kuantitas memadai dan
mencukupi.
2. Maksim kualitas mewajibkan setiap peserta pertuturan mengatakan
hal yang sebenarnya dan berdasarkan bukti-bukti yang memadai. Tuturan
data (sipenjual) dan data (Ida) bersifat kooperatif karena menuturkan hal
yang sebenarnya.
3. Maksim relevansi mewajibkan setiap peserta pertuturan
memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah pembicaraan.
Tuturan pada data (sipenjual) dan data (Ida) relevansi karena memberikan
kontribusi yang relevan dengan masalah pembicaraan.
4. Maksim pelaksanaan mewajibkan setiap peserta pertuturan
berbicara secara langsung, tidak tabu, tidak taksa atau ambigu, dan tidak
berlebih-lebihan serta runtut. Data (sipenjual) data (Ida) diungkapkan
memang secara langsung tetapi melebih-lebihkan yaitu mengatakan bahwa
celana lea tersebut memiliki kualitas yang masih bagus dan sesuai dengan
harga yang ditawarkan. Seharusnya celana lea tersebut harganya bisa
dikurangi sedikit dari harga yang ditawarkan karena kualitas celana yang
baru dengan celana lea yang sudah bekas itu pasti berbeda.
Berdasarkan empat maksim percakapan yang dikemukakan Grice, maka
dapat disimpulkan bahwa tuturan pada data (penjual) dan data (Ida) memiliki
implikatur karena melanggar salah satu dari keempat maksim tersebut yaitu
maksim pelaksanaan.
Langkah selanjutnya menentukan tindak ilokusinya. Searle
mengklasifikasian tindak ilokusi berdasarkan maksud kedalam lima kategori
1. Representatif atau Assertif yang tujuannya untuk menanyakan,
mengusulkan, membual, mengeluh, mengemukakan pendapat, dan
melaporkan.
2. Direktif yang tujuannya untuk menghasilkan suatu efek berupa
tindakan yang dilakukan oleh penutur seperti memesan, memerintah,
memohon, menuntut, memberi nasihat.
3. Komisif yang terikat pada suatu tindakan dimasa depan seperti
menjanjikan, penawaran.
4. Ekspresif yang tujuannya untuk mengutarakan sikap psikologis
penutur terhadap keadaan yang tersirat dalam ilokusi seperti mengucapkan
terimakasih, mengucapkan selamat, mengucapkan belasungkawa, memuji,
memberi maaf, menuduh, dan sebagainya.
5. Deklarasi yang menggambarkan perubahan dalam suatu keadaan
hubungan seperti memberi nama, menjatuhkan hukuman, mengucilkan
atau membuang, mengangkat, membabtis, mengundurkan diri dan
sebagainya.
Berdasarkan kelima kategori di atas maka tindak tutur pada data (Penjual)
dan data (Ida) termasuk kedalam kategori ilokusi representatif yaitu
mengemukakan pendapatnya (Ida) untuk mengurangi harga celana lea dari
harga yang ditetapkan oleh sipenjual. Dan sipenjual mengeluh karena Ida tidak
jadi membeli celana lea tersebut.
Data 6 (Selasa, 17 Februari 2015):
Di sore hari, ada 3 orang wanita yang berkunjung serta berbelanja di
Sambu. Nama ketika wanita itu adalah Uli, Mia, dan Tari. Mereka berbelanja
di pasar Sambu, membeli kebutuhan atau pun yang diinginkan ke 3 wanita
tersebut. Ke 3 wanita ini merupakan suku Batak asli namun karena ketiganya
berkulit putih dan memakai kacamata jadi tidak begitu tampak seperti orang
Batak. Mereka menawar buah jambu untuk dibawa pulang kekosnya sembari
menunggu angkot.
Uli : berapa buahnya sekilo bu?
Penjual : pilihlah dek yang mana.
Uli : jambu ini berapa sekilo bu?
Penjual: Rp. 9000 sakilo I dek (Rp.9000 sekilo itu dek).
Uli : bah, mahal ya. Bisa kurang bu? Rp.6000 sekilo ya
Penjual: gak dapat dek. Mau berapa kilo sama adek?
Uli : kalo dikurangi biar kami ambil 2 kg bu.
Penjual: Rp.8000 lah sekilo, ambil lah nah.
Mia : kurangilah buk ya
Tiba-tiba suami si Ibu penjual datang dan marah-marah. Perbincangan si
Ibu dengan ketiga wanita tadi didengar dan si Bapak tidak menyetujui
permintaan pembeli tadi. Datang sambil marah-marah dengan menggunakan
bahasa Batak
Penjual : ndang boi morui. Modal na sajo ndang dapot, mangido dope
argana na ditoru ni modal. Walu ribu pe nunga rugi hami, nion
ijalo ho ma onom ribu. Tusadai ma hamu, unang be tuhor puna
hon. So I boto hamu nunga naik sude, sahera te pe. (gak bisa
kurang lagi. Modalnya saja gak dapat, malah kau minta
harganya dibawah modal. Harga Rp. 8000 pun udah rugi kami,
ini malah minta Rp. 6000 lagi. Pergilah kalian kesana, jangan
lagi beli daganganku ini. Udah naik semua harga, kayak taik pun
kalian). (si penjual mengira bahwa mereka bertiga tidak mengerti
bahasa Batak. Nyatanya mereka mengerti dan membalas omongan
si Bapak penjual).
Uli : gausah ngomong gitu pak, kami ngerti apa yang bapak
katakan. Sama-sama Bataknya kita. Kalo bapak gamau ngasih
yaudah, gausah ngomongnya gitu. Harusnya bapak itu baik-baik
bilangnya karena kamipun baik-baik nanya nya. Jangan nyolot gini
lah.
gamau ngasih bilang, gausah sembarangan omonganmu. Baik kami
nanyaknya kek gitu jawabmu. Daganganmu semua ini bisanya ku
beli sampe kau pun bisanya ku beli. Sombong kali kau jualan, ntah
apalah yang kau sombongkan (berkata sambil emosi menanggapi
omongan si Bapak penjual).
Penjual: (sambil merepet penuh amarah…). Nunga-nunga, tusadai
ma hamu. Unang be dijolo ni puna hon. Mangigi ahu mamereng
hamu, tusan ma hamu. Lao ma hamu tusan asa unang hubereng
muse. Tusan lao ho!. (udahlah, pergilah kalian kesana. Jangan
didepan warungku ini. Malas atau benci aku lihat kalian. Pergilah
kalian kesana biar jangan aku lihat lagi. Pergi sana!). Sambil
mengusir Uli, Mia, Tari.
Tari : ayok kita pergi, aku pun benci lihat orang yang sok
patentengan atau sok jago. Kalo kek gitu sifatnya gakkan ada yang
mau beli. Sombong kali jadi orang.
Mia : iya ayoklah. Kesana kita yok. (berlalu dari tempat si Penjual
tadi dan pergi mencari angkot untuk pulang kekos mereka).
Contoh percakapan di atas dapat dianalisis dengan teori implikatur dan
tindak tutur. Tuturan pada data (Uli), (Mia), (Tari) dan data (Penjual) akan
dianalisis sebagai berikut:
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menganalisis implikaturnya
dengan cara menentukan makna dasarnya. Makna dasar tuturan data (Uli),
(Mia), dan data (Tari) melakukan penawaran pada sebuah tempat penjualan
buah-buahan. Mereka bertiga manawar buah yang ingin dibelinya. Pada
awalnya si Penjual (perempuan) masih melayani mereka bertiga (Uli, Mia, dan
Tari) dengan biasa tanpa ada unsur emosi dan amarah. Tetapi datang suami
sipenjual marah-marah tanpa sebab dan langsung ngomong senaknya tanpa
melihat siapa lawan bicaranya. Si Bapak penjual tidak terima bahwa
dagangannya dijual dengan harga murah, dengan ketidakterimaannya itu dia
(suami sipenjual) bebas mengatakan bahkan menyepelekan mereka bertiga
mengetahui apakah tuturan (Uli, Mia, dan Tari) dan tuturan (Penjual)
mematuhi empat maksim percakapan yang dikemukakan Grice atau tidak.
Empat maksim percakapan tersebut yaitu:
1. Maksim kuantitas mewajibkan setiap peserta tuturan memberikan
kontribusi yang secukupnya atau sebanyak yang dibutuhkan oleh mitra
tutur. Tuturan pada data (Uli, Mia, dan Tari) dan data (penjual) bersifat
kooperatif karena telah memberikan kontribusi yang secara kuantitas
memadai dan mencukupi.
2. Maksim kualitas mewajibkan setiap peserta pertuturan mengatakan
hal yang sebenarnya dan berdasarkan bukti-bukti yang memadai. Tuturan
data (Uli, Mia, dan Tari) dan data (sipenjual) tidak bersifat kooperatif
karena tidak menuturkan hal yang sebenarnya dan tidak disertai bukti.
3. Maksim relevansi mewajibkan setiap peserta pertuturan
memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah pembicaraan.
Tuturan pada data (Uli, Mia, dan Tari) dan data (sipenjual) tidak relevansi
karena tidak memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah
pembicaraan.
4. Maksim pelaksanaan mewajibkan setiap peserta pertuturan berbicara
secara langsung, tidak tabu, tidak taksa atau ambigu, dan tidak
berlebih-lebihan serta runtut. Data (Uli, Mia, dan Tari) dan data (sipenjual)
diungkapkan secara berlebihan yaitu mengatakan yang tak sepatutnya
dikatakan.
Berdasarkan empat maksim percakapan yang dikemukakan Grice, maka
dapat disimpulkan bahwa tuturan pada data (Uli, Mia, dan Tari) dan data
(siPenjual) memiliki implikatur karena melanggar tiga dari keempat maksim
tersebut yaitu maksim kualitas, maksim relevansi dan maksim pelaksanaan.
Langkah selanjutnya menentukan tindak ilokusinya. Searle
mengklasifikasian tindak ilokusi berdasarkan maksud kedalam lima kategori