• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keadilan Atas Sumber Daya Alam Dalam Per

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Keadilan Atas Sumber Daya Alam Dalam Per"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1

KEADILAN

ATAS

SUMBER DAYA ALAM

Dalam Perspektif Teori Egalitarian Global

Prof. Chris Amstrong

(2)

2 Prolog

Part I: Kesetaraan dan Sumber Daya Alam

1. Sumber Daya dan Hak Asasi

2. Kesetaraan dan Kritik yang Menyertainya

3. Tuntutan Kesetaraan

4. Pengembangan Kemanfaatan atas Sumber Daya Alam

5. Akomodasi terhadap Teori Keterikatan

Part II: Keunggulan Prinsip Kesetaraan 6. Melawan Kedaulatan Permanen

7. Kedaulatan adalah Absolut ?

8. Bea atas Sumber Daya

9. Kekayaan Alam di Laut

(3)

3 KEADILAN ATAS SUMBER DAYA ALAM

Dalam Kajian Teori Egaliter Global

Prolog

Konflik mengenai sumber daya alam mustahil untuk diabaikan dalam dunia kita.

Kita mafhum bahwa suku Amazon telah terusir secara brutal dari sebagian besar

wilayah hutan tropis yang telah dirusak. Kita mengerti bahwa faktor utama berbagai

perang sipil yang meluluhlantakan komunitas afrika adalah perang untuk

memenangkan kontrol distribusi minyak, berlian dan emas. Bahkan, kita mungkin

masih ingat bahwa kebutuhan akan sumber daya alam telah mendorong kolonialisasi

Eropa terhadap penjuru dunia, lalu menetapkan batas-batas teritorial negara-bangsa

koloninya. Bahkan negara-negara seperti Argentina, Pantai Gading dan Gold Coast

(sekarang Ghana) dinamai dari sumber daya alamyang ditemukan (atau dijarah) dari

wilayah tersebut. Selainnya, (termasuk Nigeria, Kamerun, Senegal dan Gambia)

dinamai dari nama sungai setempat menirukan penyebutan komunitas lokal.

Dikarenakan konsumsi sumber daya alam secara membabi buta, perebutan akses

atas sumber daya alam sepertinya tidak akan menunjukkan tanda-tanda surut. Hasrat

untuk menguasai kontrol atas sumber daya alam yang belum tereksplorasi telah

memotivasi negara-negara disekitar lingkar arktik saling klaim atas wilayah tersebut,

lalu menginvestasikan berjuta-juta untuk tekhnologi pengeboran lepas pantai. Para

sarjana ilmu politik sering memprediksi bahwa ‘waters wars’ akan menjadi bagian dari

masa depan kita, meski kita harus bersyukur prediksi itu belum terjadi hingga saat ini.1

Kita tahu bahwa ekonomi negara-negara Timur Tengah telah berubah karena ditopang

perminyakan, dan ditopang pula oleh konflik yang kadang mengikutinya. Tetapi

pro-kontra tentang siapa berhak atas sumber daya alam dan bagaimana sumberdaya alam

dipergunakan adalah masalah yang bersifat endemik. Ketika terjadi kampanye

kemerdekaan Skotlandia pada tahun 2014, perdebatan tentang kelangsungan negara

Skotlandia kerap memunculkan saling adu klaim tentang siapa yang akan menguasai

minyak di laut utara pada ujung-ujungnya, dan ekspektasi berapa income yang mungkin

(4)

4 didapat untuk otoritas pemerintahan di tahun-tahun mendatang. Sebagaimana yang

telah saya ulas, banyak dari warga negara Kanada mengkampanyekan serta melawan

terhadap dampak lingkungan dari jaringan pipa minyak dan eksploitasi penambangan

pasir di hutan Virginia dan mengkampanyekan perlindungan terhadap masyarakat adat

yang tinggal di sana.

Pemaparan diatas sangatlah jelas bahwa sumber daya alam adalah problematika

tersendiri bagi umat manusia. Kita semua membutuhkan beberapa jenis sumber daya

alam untuk bertahan hidup –termasuk air, udara, sinar matahari, dan beberapa jengkal

tanah untuk berdiam diatasnya. Dilain sisi, sumber daya alam yang besar sangatlah

berarti bagi negara yang memilikinya, batubara atau gas alam memberi garansi

pemasukan dari sektor sumber daya alam (yang mana pemasukan itu akan disalurkan

untuk keberlangsungan pembangunan ekonomi, atau dialokasikan bagi warga negara

sepenuhnya adalah pembahasan lain). Penguasa suatu negara akan marah jika

kedaulatan atas sumber daya alamnya diganggu, individu-individu mempertahankan

klaim atas peroperti sumber daya yang ditemukan diwilayahnya. Sementara ‘kutukan

sumber daya’ dalam literatur kepustakaan memberikan kesan bahwa negara (dengan sistem pemerintahan) lemah yang terdapat sumber daya melimpah dapat menjadi

sumber pemicu terjadinya kudeta dan perang sipil, ini hanya suatu ilustrasi, dan tentu

saja kebrutalan yang mengikutinya pula. Sumber daya begitu bernilai bagi manusia dan

mereka rela untuk membahayakan hidupnya serta saling membunuh.

Kenyataannya, bahwa sumber daya alam adalah problematika bagi keberadaan

manusia yang telah mengantarkan pada suatu kajian yang obyektif dan (usaha

perumusan) pola keadilan (Justice of Patterns) dalam mengakses atau mengontrol

terhadap sumber daya tersebut. Dan mendiskusikan hal itu sangatlah penting. Setelah

itu semua, Kita semua haruslah bisa menerima konsekuensi apapun, dimanapun yang

terjadi atas kontrol fisik sumber daya pada satu waktu tertentu. Oleh karena itu, sebisa

mungkin kita mampu mempertahankan semua kemanfaatan yang yang terkandung

dalam sumber daya tersebut atau situasi konflik akan sumber daya alam diselesaikan

dengan kekuatan mana yang lebih kuat.2 Jika tidak begitu, maka kita butuh aturan

2Padahal untuk membuat suatu peraturan yang baik dari peran yang prinsipil yaitu 'mungkin membuat

benar' bagaimanapun juga berperan memainkan politik sumber daya global, lihat Leif Wenar, Blood Oil

(5)

5

normatif (normative account) tentang regulasi terkait sumber daya alam -dan adanya

aturan tertulis/legal-normatif antara hak dan kewajiban bagi mereka untuk

mendistribusikannya diantara kita semua. Secara cermat, kita mungkin telah siap untuk

berargumentasi jika kita semua membutuhkan air, dan jika ketersediaan air lebih dari

cukup di dunia ini, maka masing-masing dari kita memiliki hak atas air yang cukup

untuk hidup. Lantas masihkah kita menuntut adanya prinsip-prinsip keadilan

(principle of justice)? Teori keadilan sendiri memilih dan menyeleksi secara ketat hal

urgen apa yang harusnya dipatuhi -terutama nilai-nilai moral disaat genting atau serius-

yang mana kita benar-benar terpanggil untuk penegakannya. Hak atas keadilan

(Entitlements of Justice) ditujukan bagi setiap individu yang mengklaim bahwa mereka

yang tidak terpenuhi rasa keadilannya dapat mengadu ke lembaga penegak hukum

untuk membela mereka atau, bahkan mereka mengambil tindakan inisiatif untuk

membela diri mereka sendiri. Tugas dari keadilan cukup berat bilamana mereka

menolak untuk mematuhi terciptanya keadilan, pada prinsipnya, mereka bisa dipaksa

untuk melakukan hal itu.3

Tujuan dari buku ini adalah untuk memberikan suatu bangunan konseptual guna

memikirkan isu-isu terkait keadilan atas sumber daya alam –termasuk juga

menjabarkan definisi sumber daya alam, memberikan keyword atas sumber daya yang

tersimpan yang mana hakikatnya untuk dinikmati- dari klaim pihak tertentu yang

memiliki sumber daya alam, serta memaparkan hakikat dan signifikansinya terhadap apa yang saya sebut ‘klaim khusus’ (special claims) atas sumber daya alam. Tentu saja, (tujuan) untuk mengembangkan bangunan konseptual ini agar dapat dimanfaatkan oleh

masyarakat dengan sendirinya. Oleh karena itu saya menginginkan suatu perdebatan

komperhensif dalam lingkup sumber daya alam itu sendiri. Tapi terpenting adalah

keberadaan buku ini tujuannya guna mempertahankan salah satu teori tertentu terkait keadilan atas sumber daya alam, yang saya sebut ‘teori egaliter global’ (global egalitarian theory). Teori tersebut berpendirian bahwasanya ruang lingkup yang tepat

(setidaknya secara signifikan mendekati) pada prinsip-prinsip keadilan secara umum.

3Untuk mendapatkan pemahaman lebih dari distributive justice, lihat Chris Armstrong, Global Distributive

(6)

6 Dan sejauh mana teori egaliter bisa ditegakan mencapai tujuannya maka kita harus

mempromosikannya kepada setiap manusia dimanapun mereka berada di dunia ini.4

Buku ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama, pengembangan teori

egalitarian atas sumber daya alam yang berkeadilan (Egalitarian Theory of Natural

Resource Justice). Disamping itu, buku ini bertujuan memberikan argumentasi atas

keunggulan teori egalitarian dibanding teori-teori lainnya, dan juga untuk

mempertahankan keunggulan sudut pandang egaliterianisme (egalitarian perspective)

dari teori-teori tandingan yang telah ditujukan pada teori ini. Tapi disisi lain, buku ini

juga bertujuan untuk mempertahankan account tertentu terkait tuntutan kesetaraan

(Demands of Equality) terkait sumber daya alam. Banyak pandangan egaliter

terkemuka berpendapat bahwa sumber daya alam terkait soal peraturan normatif

khusus dalam batas-batas tertentu; beberapa diantaranya bahkan menyatakan bahwa

sumber daya alam adalah satu-satunya hal yang mana kesetaraan harus menjadi

kepedulian terkait pendistribusiannya –atau secara umum, kesetaraan dalam hal value

atas sumber daya alam adalah bagian terpisah yang harus dirinci sendiri. Berangkat dari

semua pandangan-pandangan tersebut, posisi saya sendiri sepertinya akan terjelaskan

dengan sendirinya. Menolak pandangan bahwa sumber daya alam hanya soal sumber

keuntungan semata yang mana teori egalitarian harus memusatkan perhatiannya pada

hal tersebut. Sebaliknya pandangan ini bertujuan untuk memperoleh kembali (

re-claims) atas teori mereka sebagai salah satu keunggulannya terkait sumber daya

diantara banyaknya keunggulan teori ini. Argumentasi ini untuk mencapai kesetaraan

dalam mencapai konsepsi kesejahteraan (welfarist account of equality), dan

berargumentasi bahwa tujuan kita bukan meminta atas pemerataan sumber daya alam

(atau nilai keekonomiannya) tetapi akses lebih sama dalam rangkaian yang jauh lebih

luas dari hanya soal keuntungan dan kerugian yang terkait dengan kesejahteraan

manusia. Meskipun perdebatan mengenai akurasi peranan sumber daya alam yang

harus bekutat dalam sebuah teori egalitarian itu mungkin terdengar agak terdengar

janggal-misterius. Saya akan coba menunjukkan perspektif berbeda tentang bagaimana

permintaan atas kesetaraan dalam hal sumber daya alam memiliki implikasi yang cukup

4 Penggagas hukum egaliter global termasuknya Charles Beitz, Political Theory and International Relations

(7)

7 serius dalam serangkaian bentuk kajian mengenai perampasan sumber daya alam,

keadilan iklim dan keadilan antar generasi.

Isi dari bagian buku pertama adalah sebagai berikut, bab pertama dari buku ini

memberi definisi terkait sumber daya alam, memberikan penjelasan apa yang bisa kita

harapkan dan perbuat dari teori keadilan atas sumber daya alam, dan hal terpenting

adalah memperkenalkan konsepsi peraturan (conceptual account) yang menjadi

dasar/pijakan secara tepat bagi para pihak-pihak yang memiliki sumber daya alam,

disini juga mendiskusikan keanekaragaman sumber daya alam, dan beberapa cara yang

mungkin subtansial terhadap teori ini.

Bab kedua untuk memberikan argumentasi teori egalitarian sebagai pendekatan

atas isu-isu mengenai sumber daya alam, sebagai suatu pembanding sederhana atas

hak-hak asasi manusia yang mendasar. Misalnya, meskipun perlindungan hak-hak asasi

paling mendasar itu urgen dan penting, menjalankan tindakan itu tidaklah cukup untuk

(merepresentasikan) keadilan. Bab ini menjelaskan mengapa kesetaraan atas sumber

daya alam itu harus, dan mendekontruksi setiap implikasi (yang timbul) dari teori

egalitarian ini. Bagian ini juga membahas rintangan-rintangan utama bagi teori ini.

Contohnya, Banyak argumentasi beredar bahwa sumber daya alam itu tak bertalian

(inconsequential) dengan pembangunan ekonomi, dan oleh karena itu (dalam

batas-batas tertentu) kita tidak perlu menyibukkan diri dengan keadilan distribusif mereka;

bahwasannya teori egalitarian perhatianya tidak berhenti pada aturan hitam diatas

putih, dan (membahas) cara-cara agar bagaimana orang-orang tertentu menghargai

sumber daya alam; mereka mengabaikan fakta bahwa masyarakat sering bertindak

terhadap sumber daya alam yang dimiliki agar lebih memiliki nilai keekonomian

semata, yang mana klaim tersebut melemahkan ‘klaim khusus’ terkait sumber daya

sebagai result; atau bahkan jika kita amati dengan baik bahwasanya sumber daya alam

juga memiliki nilai politis bagi self-determination; atau membentuk pemerintahan yang

efektif berkat adanya sumber daya alam tersebut, kita memiliki alasan untuk sebisa

mungkin setiap masyarakat untuk mempertahankan kesetaraan kontrol atas sumber daya ‘mereka’, bukannya melihat sumber daya alam hanya sebagai aset untuk di re-distribusikan secara global. Saya merespon setiap permasalahan tersebut,

(8)

8 Bab ketiga memberi penjelasan peraturan terkait sumber daya alam haruslah

dirumuskan dalam metode teori egalitarian, sebagai suatu set penting dari keunggulan

dan kelemahan diantara banyaknya relevansinya terhadap keadilan. Teori ini secara

kritis tak memiliki titik temu –bahkan menolak– dengan argumen yang menyatakan

bahwa sumber daya alam adalah satu-satunya hal yang penting dari sudut pandang

keadilan distributif, dan pandangan yang menganggap bahwa kalaupun jika kita harus

memperhatikan mengenai beberapa cakupan yang lebih luas dari keunggulannya,

sumber daya alam atau nilai keekonomiannya hanyalah hal yang harus kita

distribusikan sehingga membawa kita lebih dekat dengan kesetaraan (dalam konsep

teori egalitarian). Sebaliknya, teori egalitarian membuktikan bahwa sumber daya alam,

dalam bentuk slogan bisa dikatakan; ‘sangatlah penting tapi bukanlah yang istimewa’

sebagai ujung tombak bagi kesejahteraan manusia (human welfare). Berangkat dari hal

itu, maka menelusuri permasalahan-permasalahan adalah penting tentang implikasinya

berupa akan adanya; (1)upaya perampasan sumber daya alam, (2) perlunya keadilan

iklim, dan (3) keadilan bagi generasi berikutnya.

Bab keempat mengulas subyek yang memiliki klaim khusus terhadap sumber

daya alam, yang mana teori egalitarian akan bergumul menganalisanya. Sementara itu,

kita semua secara keseluruhan mungkin merasa berhak mengklaim atas setiap sumber

daya alam di dunia ini. dilain sisi, beberapa pihak memiliki klaim yang sangat kuat atas

sumber daya alam tertentu. Nah, jika klaim khusus (special claims) tersebut tetap

dipertahankan, keberadaannya dapat mempersulit perspektif akan perlunya distribusi

sumber daya alam, atau kemanfaatan dan tanggung jawab yang terkandung didalamnya itu adalah bentuk ‘morally arbitrary’5 (bentuk tindakan kesewenang-wenangan). Bab ini juga menelusuri apakah bisa diterima klaim khusus tersebut berdasarkan pada apa yang saya sebut ‘Improvement’ terkait sumber daya alam. Secara khusus teori Improvement ini menggugurkan prinsip pertanggungjawaban katering (

responsibility-catering principle) yang akan dijadikan tameng terhadap klaim khusus mereka yang

menguntungkan pihak-pihak pemilik klaim khusus tersebut atas nilai keekonomian

sumber daya alam yang diberdayakan. Jika hal ini tetap dipertahankan, ini

dimungkinkan akan menjadi tameng bagi setiap negara guna memproteksi sumber daya

(9)

9

alamnya. Dengan argumentasi tersebut setiap negara akan mereduksi

pendistribusiannya secara global. Bahkan bila 'tidak diperbaiki' perspektif atas nilai

keekonomian sumber daya alam akan rentan adanya distribusi tidak adil,

bertambahnya nilai keekonomian sumber daya alam yang mungkin juga akan

menguntungkan bagi komunitas yang mengusahakannya. Tapi bagian ini menimbulkan

sejumlah kerancuan terkait klaim tanggung jawab katering atas 'pertambahan nilai'

keekonomiannya. Akibatnya, kadang-kadang adanya ‘teori perbaikan’ (improvement)

agak kurang mengena sasaran dalam hal kasus seperti ini.

Bab kelima berkaitan ulasan yang mengikuti klaim khusus, yaitu apa yang saya

sebut 'keterikatan’ (attachment). Hal ini seringkali (secara logis) memberi pemahaman

bahwa sumber daya alam tidak hanya soal hubungan antar manusia yang menjadikan

bahan bakar untuk diperjualbelikan sebagai komoditas ekonomi semata. Mungkin ada

beberapa sumber daya alam tertentu yang penting bagi masyarakat tertentu, yang tak

mungkin didistrisbusikan guna mendukung rencana hidup paling vital mereka. Jika

demikian, teori egalitarian global mungkin keliru untuk kita rekomendasikan kepada

masyarakat tersebut guna mendistribusikan sumber daya alamnya tanpa

memperhatikan ketergantungan masyarakat tersebut pada sumber daya itu.

Bab ini menunjukkan bahwa teori egalitarian tidak mengharuskan kita untuk

mendistribusikan sumber daya alam tanpa memperhatikan ketergantungan masyarakat

yang menyertainya. Variasi teori keadilan tersebut, saya sendiri termasuk

pendukungnya, memiliki alasan untuk mengindahkan pentingnya tujuan memberikan

perimbangan hakikat-makna bagi kehidupan perorangan dan kesetaraan (antar

sesama), dengan begitu, ada alasan untuk menelaah bagaimana dan sejauh apa

ketertarikan/keterikatan (attachment) dapat diakomodasi dalam teori egalitarian. Saya

berpendapat bahwa teori egalitarian sebisa mungkin dan haruslah memperhatikan

(hubungan) keterikatan/keterkaitan ini, dan lebih dari itu, kita bisa jauh (bertindak)

lebih permisif terhadap mereka dari apa yang diperkirakan. Tapi teori ‘keterkaitan/keterikatan’ (attachment) ini bukan berarti memberikan kita alasan untuk mempercayai bahwa tujuan hidup masyarakat tertentu lebih prioritas daripada

masyarakat lain. dan hal itu tidak menjadikan alasan kita untuk mengesampingkan

(10)

10 Jika Bagian pertama menegaskan teori egalitarian atas sumber daya alam yang

berkeadilan -di mana sumber daya alam diatur dalam porsi yang tepat-. Bagian kedua

mefokuskan diri tentang bagaimana pendekatan konsep keadilan (dalam perspektif

pemahaman egaliter global). Bahkan jika kita memiliki peraturan konseptual

(Conceptual Accounts) yang baik sekalipun dari adanya tuntutan keadilan ketika

membahas sumber daya alam, itu adalah permasalahan tersendiri tentang bagaimana

kita bisa membawa teori ini lebih dekat guna menghasilkan sasarannya -atau secara

lebih spesifik, bagaimana kita mungkin mempromosikan kesetaraan global lebih luas.

Kita sekarang, pada tahap ini, mungkin ‘mengangkat tangan’ dan mengatakan bahwa

kepentingan teori yang telah dipaparkan ini; adalah tujuan dari teori politis untuk

menggapai tujuannya, yang cocok dilakukan oleh politiskus, ekonom, para

administrator atau -bahkan mungkin- warga biasa untuk memperdebatkannya untuk

bagaimana mereka sebisa mungkin mendapat apa yang mereka inginkan. Tapi semua

itu bukan tujuan yang saya inginkan. Sebaliknya, bagian kedua menelaah cara-cara

bagaimana kita mungkin mencapai sasaran dari adanya keadilan yang egaliter. Hal ini

bukan maksud saya -sebagai penegasan kembali- untuk mengutarakan secara penuh

'teori peralihan' (theory of transition) atau bahkan secara lebih jauh teori guna

perubahan sosial dan politik.6 Sebaliknya (secara sederhana) niat saya adalah untuk

mengidentifikasi beberapa jalan keluar yang menjanjikan untuk penataan ulang

(reformasi terkait sumber daya alam) yang mungkin akan membawa kita pada satu

waktu kepada tatanan dunia yang lebih adil. Bahkan jika teori ini tidak memenuhi

kualifikasi tertentu untuk membicarakan tentang kemungkinan reformasi tatanan dunia

yang telah ditawarkan kepada kita –toh, pada kenyataannya mereka tak sanggup

memberi kualifikasi syarat-syarat bagi generasi berikutnya –jika berkomitmen tidak

hanya menganalisa tatanan dunia tetapi mengubah tatanan itu, sebuah amanah untuk

mengidentifikasi secercah cahaya yang kita tawarkan dimana dunia dewasa ini tidak

mungkin mengabaikannya.

Bagian kedua buku ini berisi sebagai berikut. Bab enam dimulai dengan

pembahasan status quo dalam politik internasional, yang mana didominasi oleh

6Untuk mendapatkan gambaran baik atas sumber daya dan tuntutan-tuntutan mengenai transitional theory,

lihat Gopal Sreenivasan, What is Non Ideal Theory? in Melissa Williams, Rosemary Nagy and Jon Elster

(11)

11

lembaga 'kedaulatan permanen' atas sumber daya alamnya dengan cara masing-masing

negara-bangsa menikmatinya secara penuh dan menikmati sebagian hak eksklusif atas

sumber daya yang berada dalam garis terluar perbatasan territorial. Teori Egalitarian

sering kali diasumsikan seperti sebuah rezim yang tidak dapat mempertahankan kontrol

negaranya, tapi peribahasa itu masih harus dibuktikan sejelas-jelasnya dari

‘kebenarannya’ dalam peraturan (dalam hukum internasional) yang begitu rumit untuk

negara terkait hak atas sumber daya alamnya yang telah dibuat dalam beberapa dekade

terakhir.

Klaim seperti diatas ada beragam cara, ada negara yang mengimprovisasi –atau

mendasarkan klaim mereka pada perundang-undangan tertentu yang berlaku di

yuridiksi negaranya atau dalam rezim yang longgar sering dikaitkan dengan tujuan

keadilan bagi hak-hak dasar warga negara, alasan efisiensi sumber daya atau

konservasi. Saya secara kritis menelaah berbagai argumen tersebut, dan bisa

menunjukan bahwa alasan mereka tidak memadai sebagai alasan pembenar oleh

lembaga pemerintahan atau negara, dan tentu saja negara-negara itu sering kali

mengingkarinya. Terlebih lagi, saya bisa menunjukkan argumen-argumen yang

memiliki bobot normatif, Argumentasi yang signifikansinya cocok dengan penyebaran

hak atas sumber daya dari negara-bangsa tertentu, baik ke bawah dalam arti bagi

masyarakat domestiknya, dan ke atas, yaitu ke lembaga-lembaga trans-nasional dan

global.

Mungkin kesimpulannya bahwa kita harus mencoba teori tersebut sebagai hal

yang urgen guna mengatasi (mendekonstruksi) kedaulatan lembaga negara, atau

setidaknya secara serius memenuhi syarat-syaratnya. Tapi mungkin keputusan tersebut

akan dianggap terlalu prematur. Bab ketujuh mengupas pandangan bahwa kita tidak

harus secara radikal mereformasi kedaulatan permanen negara, tetapi sebaiknya

berupaya untuk terus-menerus melakukan itu secara berkesinambungan. Mungkin

kedaulatan permanen adalah prinsip mendasar karena menciptakan lapangan kerja

terkait sumber daya alamnya bagi warga negara (meskipun penciptaan lapangan

pekerjaan tersebut tak akan memberi kontribusi terhadap tercapainya kesetaraan antar

berbagai negara). Selain itu, menjadikan sumber daya untuk lapangan pekerjaan bagi

warga negara yang miskin dianggap menjadi tujuan yang ingin diwujudkan, sedangkan

(12)

12 egalitarian global dapat memiliki prospek jauh lebih meyakinkan keberhasilannya (guna

mencapai kesetaraan domestik maupun global).

Dalam bab ini saya mengkaji gagasan prioritas kami untuk mereformasi sistem

perdagangan internasional dalam kaitan sumber daya sehingga mampu melindungi

hak-hak warga negara, dan secara khusus untuk mengantarkan pada sebuah tatanan

ideal 'akuntabilitas publik' berkenaan transaksi sumber daya alam.7 Saya mampu

menunjukkan bahwa teori egalitarian dapat menawarkan konsep bersyarat guna

mendukung reformasi akuntabilitas demikian rupa, sejauh mereka ada niat untuk

mempromosikan kesetaraan (meskipun saya memiliki alasan untuk meragukan mereka

akan mengaktualisasinya di seluruh aspek). Tapi saya berani bertaruh bahwa

mengaplikasikan gagasan pembaruan selain teori egalitarian tak ada yang lebih

ambisius. Saya juga langsung dihadapkan pada tantangan bersifat pragmatis yang

menuduh teori egalitarian global yang menjadi pro-kontra terlalu ambisius. Sisi positif

dari usulan mereformasi sistem perdagangan internasional atas sumber daya alam yang

mana hal itu hanya tergantung pada prinsip (dari 'akuntabilitas publik' atas sumber

daya) yang jelas-jelas diakui dalam hukum internasional. Tanggapan saya memiliki dua

unsur; (pertama) adalah negatif, saya bisa membuktikan bahwa prinsip tersebut tidak

secara jelas diatur dalam hukum internasional; secara praktis, hal ini sudah mereduksi

nilai kemanfaatan yang merupakan dasar akuntabilitas, dan (bentuk) pengakuan

mereka atas superioritas terkait pembaruan kesetaraan yang bersifat lebih ambisius.

(Kedua) sisi positifnya, saya setuju bahwasanya sangatlah penting bagi teori egalitarian

untuk mengidentifikasi –setidaknya– beberapa reformasi yang akan dicapai dengan

suatu cara yang mana kita dapat membuat kemajuan yang signifikan terkait ‘status quo’.

Kalaupun tujuan ini tidak bisa terlaksanakan sebagai suatu teori dalam satu waktu,

namun upaya ini cukup bermanfaat jika teoritisasi kami tujuannya adalah untuk

membuat perubahan. ini merupakan tantangan dimana bab-bab berikutnya dari buku

ini berupaya untuk memenuhinya.

Bab kedelapan mengkaji beberapa saran yang populer untuk memajukan

keadilan terkait sumber daya alam serta masalah perpajakannya. Bahkan, perpajakan

dalam sumber daya alam telah menyita perhatian luar biasa dari teori keadilan sumber

7 Leif Wenar, Blood Oil,. Lihat juga Thomas Pogge, World Proverty and Human Rights (Cambridge: Polity,

(13)

13 daya alam ini, tetapi pajak merupakan salah satu rangkaian dalam satu rangkaian besar

opsional yang kita miliki untuk memajukan keadilan sosial secara global. Karena itu

saya mulai pembahasan dengan beberapa pertanyaan umum seperti kapan, mengapa,

dan apa yang harus kita lakukan terhadap adanya pungutan pajak. Bab ini kemudian

membahas beberapa kekhawatiran tentang pajak sumber daya alam tertentu, dan

menjelaskan peran pajak sumber daya alam bisa memberi sumbangsih dalam proyek

kesetaraan (egaliter). Lantas hal itu mengajak kita untuk menelaah dimana basis tepat

menempatkan perpajakan, setidaknya untuk beberapa jenis pajak sumber daya alam.

Salah satu kesimpulan terpenting adalah bahwa pajak global tak berdiferensiasi atas

salah satu sumber daya alam yang tidak mungkin untuk memenuhi tuntutan prinsip

keadilan (global) dengan baik. Maka dari itu, sangat mungkin bahwa kemajuan dalam

mencapai sistem perpajakan global sumber daya alam akan dibangun secara bertahap,

bukan dalam satu kali fase, bukannya dicapai pada satu fase. Untuk kedua alasan itu,

ada baiknya menyelidiki beberapa usulan atas sistem perpajakan sumber daya alam

secara lebih spesifik. Salah satunya, pajak pelaku eksploitasi sumber daya alam yang

berada di luar batas-batas portal negaranya, akan dibahas dalam bab kesembilan. Bab

sembilan ini membahas dua hal lagi, yaitu: pajak karbon, dan pajak atas Aset Kekayaan

Kedaulatan (SovereignWealth Funds).

Bab kesembilan membahas sumber daya yang terkandung di laut lepas diseluruh

dunia, sumber yang cukup diabaikan oleh sistem politik (internasional) tetapi sangat

memiliki signifikansi penting bagi proses berlangsungnya ekosistem dan memiliki

potensi ekonomi besar. Bab ini menguraikan intrik politis yang telah dikobarkan terkait

sumber daya alam yang terkandung di laut lepas dalam beberapa dekade terakhir,

dimana ada protagonisme ketegangan terkait soal apakah sumber daya tersebut harus

di bawah kendali masing-masing negara atau tidak telah meninggalkan masalah

ketidakteraturan, ataukah harus dikelola secara global sebagai bagian dari ‘warisan

bersama’ umat manusia dan dieksploitasi sedemikian rupa untuk memperbaiki

kesenjangan global yang tajam. Bab ini membahas kontradiksi terkait sumber daya

alam dengan lebih rinci. Pertama, membahas mengenai hak penangkapan ikan, dimana

kita telah melihat kontrol negara diperluas dan eksploitasi dibatasi di wilayah dalam

yurisdiksi negaranya; itu menunjukkan bahwa pendekatan ini telah secara

(14)

14 Kemudian membahas sumber daya mineral yang terkandung dalam laut lepas (kawasan

laut internasional) yang masih berada diluar kontrol negara. Dibawah yuridiksi hukum

internasional, laut lepas diberlakukan berbeda terkait sumber daya perikananya.

Kesepakatan mengenai wilayah laut internasional telah dicapai, (yang mana

pengawasannya) dibawah naungan International Seabed Authority (ISA), untuk

memanfaatkan eksploitasi mineral di laut internasional yang benilai potensial untuk

mempromosikan kesetaraan global. Meskipun ada sejumlah rintangan, bab ini antusias

mengulas perkembangan tersebut dan mengidentifikasi sejumlah permasalahan yang

lebih luas, yang mungkin kita bisa mengambil kemanfaatanya guna memperjuangkan

dan menempatkan sumber daya alam berfungsi untuk mengkampanyekan kesetaraan

global. Salah satunya adalah bahwa lembaga yang mampu mempromosikan kesetaraan

sudah ada, yang mana konstituen yang cukup besar, terutama konstituen di negara

berkembang, yang menjadi tantantgan bagi mereka untuk melakukannya. Hal Itu

merupakan tantangan yang negara maju belum terpenuhi dengan baik hingga saat ini.

Tapi demi keadilan intra dan antar generasi, kita harus berharap bahwa ketidakmauan

negara negara-negara tersebut dapat diatasi.

Bab kesepuluh membahas terkait pembagian tanggung jawab konservasi. Hal ini

logis untuk memikirkannya karena keadilan atas sumber daya alam terkait juga

pelestarian, setidaknya dari beberapa sumber daya tersebut dalam satu waktu, apakah

hal ini akan dibiarkan begitu saja –sehingga, misalnya, mereka bisa lepas tanggung

jawab ketika telah memberikan biaya konservasi ekosistem yang vital tersebut, atau

secara aktif ikut peran serta dan (ikut juga dalam) pendanaan dalam perlindungan

terhadap ekosistem sumber daya alam dari berbagai ancaman. Bab ini membahas

biaya-biaya tersebut kemana dialokasikan. Secara khusus, bab ini memfokuskan diri pada dua

keywords terkait sumber daya alam yang secara khusus dari masing-masing keywords

itu mengenai pertanyaan dimana tanggung jawab konservasi akan dibebankan yang

mana akan memiliki konsekuensi pendistribusiannya yang cukup besar. Kata kunci

(keyword) pertama; membahas perlindungan hutan hujan. Ada banyak alasan –

diantaranya– untuk meyakini bahwa hutan hujan harus dipertahankan daripada

eksploitasi membabi buta guna kepentingan pembangunan ekonomi masyarakat lokal.

Bukan berhenti disitu saja, mereka juga berperan serta dalam menjaga kondisi iklim

(15)

15 keterbelakangannya akan berdampak oportunis, paling tidak jika masyarakat setempat

terjebak dalam kemiskinan sebagai akibat dari ketidakmampuan mereka untuk

menikmati secara arif sumber daya yang bernilai. Kedua, membahas kasus bahan bakar

fosil. Hal ini sering dikatakan jika kita ingin terus menikmati iklim yang sehat-aman,

maka kita harus meninggalkan minyak bumi -serta gas alam, dan batubara. Tapi sekali

lagi, hal itu akan memiliki konsekuensi melebar, paling tidak bagi mereka yang saat ini

bergantung pada ekeberadaan bahan bakar fosil untuk urat nadi perekonomian mereka.

Saya (mencoba) memberikan gambaran awal kapan saat yang tepat untuk menyatukan

pembiayaan ini secara umum, dan mengkaji beberapa mekanisme yang memungkinkan

kita untuk melakukan hal ini, dan menyelidiki beberapa mekanisme yang

memungkinkan kita untuk melakukan hal ini. Salah satu konsekuensi dari argumentasi

dalam bab ini adalah bahwa suatu gambaran umum terkait keadilan atas sumber daya

alam -dimana pihak atau masyarakat yang memiliki sumber daya berharga dikenakan

pajak guna dialihkan/disubsidikan dananya kepada mereka yang tidak memilikinya,

memang sangatlah rumit. Setidaknya dalam beberapa kasus yang signifikan, keadilan mungkin memerlukan ‘kemauan berbagi’ oleh pihak atau komunitas masyarakat yang saat ini mengontrol sumber daya yang berharga. Saya berkesimpulan setelah

mengamati beberapa lembaga yang sudah ada, dan mengamati lembaga yang mungkin

membantu kita untuk memperbaiki ketidakadilan global dengan menyebarkan manfaat

dan tanggung jawab dari sumber daya alam secara lebih adil. Seperti bab-bab lain di

bagian kedua, tujuannya adalah untuk mempertahankan rasa pengertian –rasa

pengertian dari banyaknya ketidakadilan yang mungkin bias diperbaiki, dan kesetaraan

dipromosikan, (hal itu semua bisa dilakukan) jika kita memiliki kemauan politik untuk

Referensi

Dokumen terkait

Konservasi air tanah adalah upaya melindungi dan memelihara keberadaan, kondisi dan lingkungan air tanah guna mempertahankan kelestarian atau kesinambungan ketersediaan

Eksploitasi sumber daya alam oleh masyarakat Majapahit yang masih dapat dilihat jejaknya hingga kini adalah benda-benda berbahan dasar tanah liat.. Benda-benda

Dari materi yang terdapat dalam ketiga sumber buku Ilmu Alamia Dasar (IAD) tersebut, Terutama tentang Pokok Pembahasan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup dapat

Memperbaiki pengelolaan pelaksanaan pembangunan yang dapat menjaga keseimbangan antara pemanfaatan, keberlanjutan, keberadaan, dan kegunaan sumber daya alam dan

Pada dasarnya sumber daya alam merupakan asset yang dimiliki suatu Negara yang meliputi tanah dan kekayaan alam seperti kesuburan tanah, keadaan iklim atau cuaca, hasil hutan,

Menurut saudara apakah masyarakat mempunyai kepentingan untuk mengambil sumber daya alam (hasil hutan) yang di dalam kawasan TWA Lau Debuk- Debuk?. Menurut saudara, benarkah

Untuk melestarikan lingkungan alam untuk meminimalisasi degradasi, dapat Untuk melestarikan lingkungan alam untuk meminimalisasi degradasi, dapat dilakukan dengan cara

Makalah ini membahas tentang Sumber Daya Alam (SDA) dalam pembangunan secara