PROPOSAL SKRIPSI
STUDI TINGKAT PEMAHAMAN PNS MUSLIM
TERHADAP ZAKAT PROFESI DI KOTA MEDAN
OLEH
ARSAN ROLANDA
080501124
PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN
DEPARTEMEN EKONOMI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman PNS muslim terhadap zakat profesi di Kota medan. Penelitian ini mengetengahkan 3 permasalahan yaitu : tingkat pemahaman PNS terhadap zakat profesi, langkah-langkah dalam pengimplementasian zakat profesi, dan kendala yang mungkin terjadi dalam pengimplementasian zakat profesi.
Penelitian ini bersifat deskriptif analitis. Data yang gunakan adalah data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan melalui kuesioner yang disebarkan kepada PNS muslim Kota Medan dan observasi langsung ke objek penelitian, sedangkan data sekunder diperoleh dari buku, literatur, internet, dan media-media lainnya. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan menggunakan program komputer SPSS VERSI 16,0.
Dari 100 responden yang diteliti, 60 menyatakan paham dan 40 tidak paham terhadap zakat profesi. Hanya 38 responden dari 60 responden yang paham zakat profesi yang bersedia memberitahu skala tingkat pemahaman terhadap zakat profesi. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa tingkat pemahaman PNS muslim Kota Medan terhadap zakat profesi relatif baik dengan rata-rata pemahaman bernilai 6,55. Langkah-langkah yang diperlukan dalam pengimplementasian zakat profesi adalah : sosialisasi, pembuatan perda, dan pembelajaran akan zakat profesi tersebut. kendala yang terjadi dalam penerapan zakat profesi tersebut adalah : kurangnya sosialisasi, dukungan yang kurang dari pemimpin dan anggota instansi, faktor lingkungan, dan pengetahuan agama dari para PNS
ABSTRACT
The purpose of this research is to determine the level of understanding of muslim civil servants about profession tithe in Medan. This research set forth three problems they are the level of understanding of muslim civil servants about profession tithe, the steps in implementation of profession tithe, and obstacle maybe happened in implementation of profession tithe.
This research characteristic is descriptive analysis. The data in this research are primary data and secondary data. The collecting of the primary data is done by giving questionnaire to muslim civil servants in Medan and observation to the research objects, while secondary data are obtained from books, literature, internet, and other media. The descriptive analysis method by using computer SPSS 16.0 version.
From 100 respondens that observed, 60 are clarify they understand and 40 othres not understand about profession tithe. Only 38 respondens from 60 that understand about profession tithe willing to tell the scale of the level of understanding about profession tithe. The result obtained that level of understanding of muslim civil servants in Medan about profession tithe are relative good with average of understanding 6,55. The steps needed in implementation of profession tithe are sosialiszation, Perda, and learning of profession tithe. The obstacle happening to applicate profession tithe are less of sosialiszation, less supported from leadership and membership of the instance, area factor, and religion knowledege from the civil servants.
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH S.W.T atas
rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini guna memenuhi
salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas
Ekonomi Universitas Sumatera Utara. Shalawat beriringkan salam juga penulis
sampaikan kepada junjungan ummat Islam nabi besar Muhammad S.W.A yang
atas perjuangannya kita dapat sampai hingga saat sekarang ini.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih dan juga penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada dosen pembimbing, bapak Irsyad Lubis SE. M.Soc.Sc,
PhD atas waktunya yang selalu memberikan nasehat dan bimbingan hingga
skripsi ini dapat penulis selesaikan. Tidak lupa terima kasih juga penulis
sampaikan kepada :
1. Orang tua penulis, bapak Roslan HAST SH dan ibunda Dra
Daswati yang selalu memberi dukungan baik moril maupun
materil kepada penulis.
2. Bapak Drs. H. Arifin Lubis, MM. Ak, selaku Plt dekan Fakultas
Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Wahyu Ario Pratomo, SE, M.Ec, selaku ketua Departemen
Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi USU dan Bapak
Syahrir Hakim Nasution SE, MSi selaku sekretaris Departemen
4. Bapak Irsyad Lubis SE, M.Soc.Sc, Ph.D selaku Ketua Program
Studi S1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi USU dan
bapak Paidi Hidayat SE, MSi selaku Sekretaris Program Studi S1
Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi USU.
5. Kepada seluruh ajaran dosen dan staff Fakultas Ekonomi,
Departemen dan Program Studi Ekonomi Pembangunan USU
yang belum dapat penulis sebutkan.
6. Kepada seluruh jajaran Pemerintahan Kota Medan dan seluruh
staf dan pegawai Departemen Agama Kota Medan yang telah
membantu penulis dalam penyediaan data-data yang penulis
perlukan untuk menyelesaikan skripsi ini.
7. Kepada adinda Alhasti Dwi Rolanda, Juarsan Try Rolanda, dan
Hanni Diani Kwartini yang selalu memberikan dukungan kepada
penulis serta saudari Rizky Silvia Lubis SE yang juga
memberikan dukungan kepada penulis hingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini.
8. Serta seluruh pihak yang telah membantu penulis baik secara
langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat penulis
Senada dengan pribahasa “tidak ada gading yang tak retak” dan
kesempurnaan hanya milik ALLAH S.W.T atas dasar itu penulis menyadari
banyak kesalahan dan kekhilafan dalam penulisan skripsi ini. Hal tersebut
didasari karena keterbatasan ilmu yang penulis miliki, literatur yang kurang, dan
lain sebagainya. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun demi mendapatkan hasil yang lebih baik. Amin
Medan. Januari 2013 Penulis
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang ... 1
1.2.Perumusan Masalah ... 8
1.3.Tujuan Penelitian ... 8
1.4.Manfaat Penelitian ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Zakat …………... 10
2.2. Zakat Profesi ………... 11
2.2.1. Pengertian Zakat Profesi …... 11
2.2.2. Landasan Hukum Zakat Profesi ………. 12
2.2.3. Nisab Zakat Profesi …………... 16
2.2.4. Haul Zakat Profesi ………... 18
2.2.5. Cara Mengeluarkan Zakat Profesi ……….. 19
2.3. Kerangka Konseptual ……… 21
2.4. Penelitian Terdahulu ... 22
BAB III METODE PENELITIAN 3.1.Jenis Penelitian ... 24
3.2.Tempat dan Waktu penelitian ... 24
3.3.Batasan Dan Definisi Operasional ……… 24
3.3.1. Batasan Operasional ……….. 24
3.3.2. Definisi Operasional ………. 25
3.4.Populasi dan Sampel Penelitian... 26
3.5.Jenis Dan Metode Pengumpulan Data ……….. 27
3.5.1. Jenis Data ……….. 27
3.5.2. Metode Pengumpulan Data ………... 27
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Kota Medan ……….... 29 4.2. Deskriptif Penelitian ………. 33
4.2.1. Profil Responden ……….. 33
4.2.2. Data Responden Berdasarkan Jenis Kelamin .……….. 33
4.2.3. Data Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ….. 34
4.2.4. Data Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Dan
Golongan ... 36
4.2.5. Data Responden Berdasarkan Lama Jadi PNS Dan
Golongan ……….. 38
4.3. Analisis Data ……… 41
4.3.1. Pemahaman Responden Terhadap Zakat dan Zakat
Profesi ………... 41
4.3.2. Langkah-Langkah Yang Perlu Dilakukan Dalam
Mengimplementasikan Zakat Profesi ………... 58
4.3.3. Hambatan Yang Dihadapi Dalam Penerapan Zakat
Profesi ………... 63 4.4. Pembahasan ………... 68 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan ... 73 5.2. Saran ... 74
DAFTAR TABEL
No. Tabel Judul Halaman
4.1 Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Kota Medan ... 31
4.2 Data Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ……... 33
4.3 Data Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan …………... 35
4.4 Data Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Dan Golongan 37
4.5 Data Responden Berdasarkan Lama Jadi PNS Dan Golongan ... 39
4.6 Pemahaman Zakat Berdasarkan Jenis Kelamin ………. 42
4.7 Pemahaman Zakat Berdasarkan Pendidikan Terakhir ……… 43
4.8 Mengetahui Zakat Profesi Berdasarkan Pendidikan Terakhir …... 45
4.9 Pemahaman Zakat Profesi Berdasarkan Pendidikan Terakhir …... 46
4.10 Tingkat Pemahaman Responden Terhadap Zakat Profesi ………. 47
4.11 Tabel Hasil Statistik Tingkat Pemahaman Responden ………….. 48
4.12 Pemahaman Responden Terhadap Zakat Dan Zakat Profesi
Berdasarkan Pendidikan Terakhir ………..
50
4.13 Pernah Membayar Zakat Profesi Berdasarkan Lama Menjadi PNS 51
4.14 Pernah Membayar Zakat Profesi Berdasarkan Pemahaman Zakat
Dan Zakat Profesi ………..
53
4.15 Alasan Membayar Zakat Profesi ……… 55
4.16 Pemahaman Responden Terhadap Zakat Profesi Dengan Adanya
Perda ………..
57
4.17 Kendala Yang Akan Dihadapi Berdasarkan Pilihan Responden … 63
4.18 Kendala Eksternal Yang Akan Dihadapi Berdasarkan Pilihan
Responden ……….
65
4.19 Kendala Internal Yang Akan Dihadapi Berdasarkan Pilihan
Responden ……….
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Judul Halaman
2.1 Kerangka Konseptual Pemahaman PNS Terhadap
Zakat Profesi ………... 22
4.1 Struktur Pemerintahan Kota Medan ……… 32
4.2 Data Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ……….. 34
4.3 Data Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir … 36
4.4 Sosialisasi Berdasarkan Prioritas Menurut Responden 59
4.5 Tahap Pembelajaran Berdasarkan Prioritas Menurut
Responden ………...
60
4.6 Pembuatan Perda Berdasarkan Prioritas Menurut
Responden ………...
61
4.7 Pengoptimalan Zakat Profesi Berdasarkan Prioritas
Menurut Responden ……….
DAFTAR SINGKATAN
BAZ = Badan Amil Zakat
Gubsu = Gubernur Sumatera Utara
Perda = Peraturan Daerah
PNS = Pegawai Negeri Sipil
RI = Republik Indonesia
ZIS = Zakat Infaq Shadaqah
SWT = Subhanahu wata'ala
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman PNS muslim terhadap zakat profesi di Kota medan. Penelitian ini mengetengahkan 3 permasalahan yaitu : tingkat pemahaman PNS terhadap zakat profesi, langkah-langkah dalam pengimplementasian zakat profesi, dan kendala yang mungkin terjadi dalam pengimplementasian zakat profesi.
Penelitian ini bersifat deskriptif analitis. Data yang gunakan adalah data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan melalui kuesioner yang disebarkan kepada PNS muslim Kota Medan dan observasi langsung ke objek penelitian, sedangkan data sekunder diperoleh dari buku, literatur, internet, dan media-media lainnya. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan menggunakan program komputer SPSS VERSI 16,0.
Dari 100 responden yang diteliti, 60 menyatakan paham dan 40 tidak paham terhadap zakat profesi. Hanya 38 responden dari 60 responden yang paham zakat profesi yang bersedia memberitahu skala tingkat pemahaman terhadap zakat profesi. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa tingkat pemahaman PNS muslim Kota Medan terhadap zakat profesi relatif baik dengan rata-rata pemahaman bernilai 6,55. Langkah-langkah yang diperlukan dalam pengimplementasian zakat profesi adalah : sosialisasi, pembuatan perda, dan pembelajaran akan zakat profesi tersebut. kendala yang terjadi dalam penerapan zakat profesi tersebut adalah : kurangnya sosialisasi, dukungan yang kurang dari pemimpin dan anggota instansi, faktor lingkungan, dan pengetahuan agama dari para PNS
ABSTRACT
The purpose of this research is to determine the level of understanding of muslim civil servants about profession tithe in Medan. This research set forth three problems they are the level of understanding of muslim civil servants about profession tithe, the steps in implementation of profession tithe, and obstacle maybe happened in implementation of profession tithe.
This research characteristic is descriptive analysis. The data in this research are primary data and secondary data. The collecting of the primary data is done by giving questionnaire to muslim civil servants in Medan and observation to the research objects, while secondary data are obtained from books, literature, internet, and other media. The descriptive analysis method by using computer SPSS 16.0 version.
From 100 respondens that observed, 60 are clarify they understand and 40 othres not understand about profession tithe. Only 38 respondens from 60 that understand about profession tithe willing to tell the scale of the level of understanding about profession tithe. The result obtained that level of understanding of muslim civil servants in Medan about profession tithe are relative good with average of understanding 6,55. The steps needed in implementation of profession tithe are sosialiszation, Perda, and learning of profession tithe. The obstacle happening to applicate profession tithe are less of sosialiszation, less supported from leadership and membership of the instance, area factor, and religion knowledege from the civil servants.
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Zakat merupakan satu dari lima Rukun Islam yang wajib dilaksanakan
oleh setiap muslim. Setiap muslim mempunyai kewajiban membayar zakat bila
harta kekayaannya telah mencapai nisab dan haulnya. Bahkan keimanan seorang
muslim belum sempurna sebelum ia membayar zakat. Bila dirincikan, zakat
menempati urutan ketiga dari lima rukun Islam, yaitu setelah mengucap dua
syahadat dan kewajiban melaksanakan shalat maka kewajiban muslim selanjutnya
adalah membayar zakat. Setelah ketiga hal tersebut, kewajiban selanjutnya adalah
melaksanakan puasa dan menunaikan ibadah haji.
Jika dilihat dari makna yang terkandung didalam Rukun Islam, setelah
seorang manusia bersaksi/berjanji bahwa tuhan hanya ALLAH, kemudian orang
tersebut akan melaksanakan kewajibannya yaitu shalat 5 waktu maka kewajiban
selanjutnya adalah membayar zakat. Shalat dapat melatih kedisiplinan dan
ketaatan seorang muslim serta dapat menghindari pribadi dari perbuatan yang
tercela. Namun, dampaknya hanya dapat dirasakan oleh individu sendiri. Setelah
kewajiban itu seorang muslim akan melakukan ibadah yang bernama zakat.
Kewajiban membayar zakat mempunyai arti tersendiri, yaitu selain melakukan
ibadah kepada ALLAH juga dapat membantu masyarakat yang kurang mampu.
Jika dipahami lebih mendalam, zakat memberikan 2 hubungan sekaligus, pertama
dan yang kedua hubungan horizontal yaitu hubungannya dengan masyarakat
umumnya dan para asnaf khususnya (hablumminannas).
Bila dilihat dari berbagai aspek, zakat sangat berkaitan dalam aspek
kehidupan manusia, seperti: aspek ketuhanan, aspek sosial, dan aspek ekonomi.
Dari aspek ketuhanan, zakat merupakan kewajiban seorang muslim untuk
melaksanakannya, bahkan banyak ayat-ayat Al-qur’an yang menyebut dan
membahas masalah zakat didalamnya. Setidaknya ada 27 ayat Al-qur’an yang
menyebut kewajiban zakat dan kewajiban zakat secara bersamaan, yang artinya
kewajiban zakat hampir mempunyai kesetaraan dengan kewajiban shalat
(Hasmizar, 2009:1).
Dari aspek sosial, zakat dapat memperkecil jurang strata-sosial antar si
miskin dan si kaya serta tanggung jawab yang diberikan oleh ALLAH kepada
orang kaya untuk memperhatikan orang-orang yang tidak mampu. Selain itu,
zakat dapat juga sebagai jaminan sosial untuk para asnaf yang diberikan oleh
ALLAH (Ibid).
Dari aspek ekonomi, zakat dapat meningkatkan taraf hidup para asnaf,
meningkatkan perekonomian para asnaf, dan bisa juga menggerakkan roda
ekonomi suatu negara dalam jangka panjang dalam artian zakat tersebut didorong
untuk menjadi zakat produktif (Ibid). Namun pada umumnya zakat hanya
diberikan dalam bentuk yang konsumtif, tetapi hal tersebut juga dapat membantu
para asnaf yang menerimanya (Ibid).
Mannan (dalam Khoirun Nisa’, 2011:3) menyebut zakat sebagai aktivitas
keagamaan. Artinya, seorang muslim yang membayar zakat meyakini tindakannya
sebagai manifestasi keamanan dan ketaatan. Kedua, unsur pemerataan dan
keadilan yang menunjukkan tujuan zakat sebagai redistribusi kekayaan. Ketiga,
unsur kematangan dan produktifitas yang menekankan waktu pembayaran sampai
lewat satu tahun-ukuran normal bagi manusia untuk mengusahakan penghasilan.
Keempat, unsur kebebasan dan nalar. Artinya, kewajiban zakat hanya berlaku bagi
manusia yang sehat jasmani dan rohani yang merasa bertanggung jawab untuk
membayarkannya demi diri dan umat. Kelima, unsur etik dan kewajaran. Artinya,
zakat ditarik secara wajar sesuai kemampuan, tanpa meninggalkan beban yang
justru menyulitkan sipembayar zakat.
Berkenaan dengan zakat harta yang selalu dinamis, sejak tahun 1980-an
mengalami dinamika berarti, yakni berkembangnya pemikiran mengenai
“sumber” nya yang berasal dari pekerjaan/profesi atau keahlian khusus yang
mendatangkan penghasilan besar, seperti konsultan, dokter spesialis, notaris,
penasehat hukum, pegawai negeri, pilot, nahkoda, komisioner, dan lain-lain.
Inilah yang disebut zakat profesi, yakni zakat harta yang dapat diperoleh
sewaktu-waktu dari pekerjaan profesinya (Nukthoh Arfawie Kurde, 2005:22). Demikian
pula dengan pemanfaatan atau penyalurannya, dengan munculnya wacana tentang
pendayagunaan zakat harta dalam bentuk konsumtif dan produktif, seperti bantuan
modal usaha bagi para mustahik, koperasi, perbaikan jalan, madrasah, rumah
Di Indonesia sendiri dalam pelaksanaan pengeluaran zakat telah mendapat
legalitas hukum yang mana telah diatur di dalam Undang-undang Nomor 38 tahun
1999 tentang pengelolaan zakat. Pada tahun 2003 Menteri Agama juga membuat
Keputusan Menteri Agama RI Nomor 373 yang mengatur tentang pelaksanaan
undang-undang tersebut. Di dalam undang-undang tersebut disebutkan jenis harta
yang wajib di zakati, salah satunya yaitu zakat hasil pendapatan dan jasa (Khoirun
Nisa’, 2011:3).
Zakat profesi memang belum dikenal secara luas oleh masyarakat, dan
bahkan tidak kenal sama sekali, karena zakat profesi belum lama diperkenalkan di
tengah-tengah masyarakat Indonesia, termasuk pegawai negeri. Zakat profesi
adalah kewajiban zakat yang dikenakan atas penghasilan tiap-tiap pekerjaan atau
keahlian profesional tertentu, baik itu dikerjakan sendirian ataupun dilakukan
bersama-sama dengan orang / lembaga lain yang dapat mendatangkan penghasilan
(uang) yang memenuhi nisab (batas minimum harta untuk bisa berzakat)
(Nukthoh Arfawie Kurde, 2005:1-2).
Didaerah Sumatera Utara belum ada legalitas tentang zakat profesi atau
perda yang behubungan dengan zakat profesi. Beberapa tahun yang lalu, tepatnya
tahun 2010 Gubsu membuat suatu kebijakan yang berhubungan dengan zakat,
infaq, Shadaqah (ZIS) yaitu Surat Gubsu Nomor 451/10546 tanggal 29 Oktober
2010 yang menyatakan bahwa mulai Januari 2011 jajaran PNS pemerintah
Melalui Surat Gubsu Nomor 451/10546 tanggal 29 Oktober 2010,
Gubernur Sumatera Utara membuat kebijakan yaitu setiap PNS muslim dijajaran
pemerintah provinsi Sumatera Utara mulai Januari 2011 akan dipungut infaq
bulan. “Setiap PNS Muslim akan dipungut Infaq bulanan yaitu golongan I
Rp5.000, golongan II Rp10.000, golongan III Rp15.000 dan golongan IV
Rp20.000,” kata Wagubsu Gatot Pujonugroho pada sosialisasi optimalisasi
pengumpulan Zakat, Infaq dan Shadaqah (ZIS) di kalangan pegawai negeri sipil
(PNS) Muslim Pemprovsu di Aula Martabe Kantor Gubsu, Rabu (15/12/2010).
Demikianlah yang diutarakan oleh Wagubsu Gatot Pujonugroho, namun hal
tersebut bukanlah zakat yang sebagaimana yang diwajibkan oleh rukun Islam
melainkan hanya sebagai infaq dengan ketentuan tertentu.
Bila berkaca dari Surat Gubsu Nomor 451/10546 tanggal 29 Oktober
2010, kebijakan tersebut bukanlah suatu yang berhubungan dengan zakat profesi
dikalangan para PNS pemerintah provinsi Sumatera Utara melainkan hanya infaq.
Sumatera Utara dalam ruang lingkup penerapan zakat profesi belumlah
terimplementasi secara nyata, demikian yang penulis dapat ungkapkan sebab
belum adanya peraturan atau surat yang secara nyata mewajibkan para PNS untuk
membayar zakat profesi. Namun, bila seorang PNS melakukannya hal tersebut
hanyalah sebuah kepatuhan PNS tersebut terhadap perintah rukun Islam yang
wajib ia kerjakan. Demikian juga dengan Kota Medan. Sejauh ini Kota Medan
belum mengeluarkan perda mengenai zakat profesi. Namun bila Kota Medan
Utara maka PNS dijajaran pemerintah Kota Medan dipungut infaq bulan sesuai
dengan Surat Gubsu Nomor 451/10546 tanggal 29 Oktober 2010.
Terlepas dari permasalahan pro dan kontra zakat profesi, ada
permasalahan lain dari zakat tersebut, yaitu tentang pemahaman akan zakat itu
sendiri dari subjek zakat (muzakki), kesadaran akan berzakat, serta permasalahan
lainnya. Sasaran dari zakat profesi ini tentunya untuk para pekerja baik pekerja
yang bekerja untuk dirinya sendiri maupun yang bekerja untuk orang lain, seperti
dokter, pengacara, PNS, dan lain-lain. Untuk PNS sendiri beberapa daerah pernah
melakukan kewajiban zakat untuk profesi mereka sebagai PNS.
Provinsi Aceh, Banten, Nusa Tenggara Barat, dan lain-lain telah
menerapkan kewajiban zakat profesi untuk para PNS dalam lingkungan
pemerintahan tersebut. Provinsi Aceh misalnya, melalui Qanun Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Pengelolaan Zakat
Bab VIII pasal 26 telah mewajibkan masyarakat Aceh untuk membayar zakat
penghasilan/profesi. Kendala utama dalam penerapan Qanun tersebut adalah
optimalisasi dari zakat profesi itu karena tergarap hanya kalangan PNS semata,
sementara masyarakat lain yang mempunyai penghasilan yang telah sampai nisab
dan haul untuk dikeluarkan zakatnya tidak tergarap. Provinsi Banten dengan
Peraturan Daerah Provinsi Banten Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Pengelolaan
Zakat Bab III pasal 5 mewajibkan masyarakat untuk membayar zakat dari
Kabupaten Bima mewajibkan zakat profesi untuk PNS dengan
diberlakukannya Perda Kab. Bima No. 9/2002 tentang zakat. Berita terkini dari
zakat profesi di Kota Bima adalah zakat profesi yang terkumpul lebih dari 400
juta, hal tersebut sungguh suatu pencapaian yang maksimal. Sebelumnya ketua
BAZDA Kota Bima menyebutkan bahwa pada tahun 2011 zakat profesi di Kota
Bima belumlah optimal disebabkab oleh masih dalam proses pembelajaran.
Walaupun demikian, hal tersebut layak mendapat apresiasi atas apa yang telah
dilakukan oleh Pemko Bima dengan menerapkan zakat profesi dikalangan PNS
khususnya dan masyarakat luas umumnya.
Kota Medan sendiri, hingga sekarang belum menerapkan kewajiban zakat
profesi untuk para PNS. Ya, untuk suatu perda atau legalitas yang dapat diberi
sanksi tegas bila seseorang tidak melakukannya atau tidak mentaatinya belum ada
dikeluarkan oleh pemerintah Kota Medan. Tentunya untuk suatu ketaatan dalam
melaksanakan Rukun Islam, suatu pengharapan yang nantinya yang mungkin
akan membuat pemerintah kota Medan memberlakukan zakat profesi untuk para
PNS. Namun, terlepas dari hal tersebut ada hal yang lebih penting yaitu
bagaimana pemahaman dari PNS sendiri akan zakat profesi itu. Hal tersebut perlu
adanya sosialisasi dari BAZ untuk para PNS nantinya.
Berdasarkan dari latar belakang masalah di atas penulis tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul “Studi Tingkat Pemahaman PNS Muslim
1.2.Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka perumusan masalah yang dapat
diambil sebagai dasar dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana tingkat pemahaman PNS muslim Kota Medan terhadap zakat
profesi.
2. Langkah apa yang dilakukan pemerintah Kota Medan untuk
mengimplementasikan zakat profesi bagi PNS muslim di Kota Medan.
3. Apa hambatan dan kendala yang dihadapi pemerintah Kota Medan dalam
menetapkan dan menerapkan zakat profesi terhadap PNS di Kota Medan
serta solusinya.
1.3.Tujuan Penelitian
Menurut latar belakang dan rumusan masalah yang telah dikemukakan
sebelumnya maka penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui tingkat pemahaman PNS muslim terhadap zakat profesi di
Kota Medan.
2. Mengetahui langkah-langkah yang dapat dilakukan pemerintah Kota
Medan untuk mengimplementasikan zakat profesi di Kota Medan.
3. Mengetahui kendala dan hambatan yang dihadapi dalam menetapkan dan
1.4.Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah, khususnya kementerian agama.
2. Sebagai bahan masukan kepada instansi terkait khususnya LAZ Kota Medan
3. Sebagai bahan studi atau literatur tambahan terhadap penelitian yang sudah
ada sebelumnya.
4. Sebagai informasi dan masukan untuk lembaga akademis sehingga dapat
dijadikan sebagai bahan referensi untuk menambah khazanah ilmu
pengetahuan.
5. Sebagai tambahan wawasan dan ilmu pengetahuan bagi penulis.
6. Sebagai bahan studi dan literatur bagi mahasiswa atau mahasiswi ataupun
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Pengertian Zakat
Ditinjau dari segi bahasa, kata zakat merupakan bentuk kata dasar
(masdar) dari zaka yang berarti berkah, tumbuh, bersih, dan baik. Zaka, berarti
tumbuh dan berkembang, bila dikaitkan dengan sesuatu bisa juga berarti orang itu
baik bila dikaitkan dengan seseorang (Nuruddin Mhd Ali, 2006:6). Dari segi
istilah fiqih, zakat berarti sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah yang
diserahkan kepada orang-orang yang berhak (Yusuf Qardhawi, 1996:34).
Mazhab Maliki mendefinisikan zakat dengan mengeluarkan sebagian dari
harta yang khusus yang telah mencapai nishab (batas kuantitas minimal yang
mewajibkan zakat) kepada orang-orang yang berhak menerimanya (Wahbah
Al-Zuhayly, 1995:83). Menurut mazhab Hanafi mendefinisikan dengan menjadikan
sebagian harta yang khusus dari harta yang khusus sebagai milik orang yang
khusus, yang ditentukan oleh syariat karena Allah (Ibid). Menurut mazhab
Syafi’i, zakat adalah sebuah ungkapan keluarnya harta atau tubuh sesuai dengan
cara khusus (Wahbah Al-Zuhayly, 1995:84). Menurut mazhab Hanbali, zakat
ialah hak yang wajib (dikeluarkan) dari harta yang khusus untuk kelompok yang
khusus pula (Ibid).
Dari beberapa defenisi diatas, penulis menyimpulkan: zakat adalah suatu
harta khusus yang wajib dikeluarkan oleh individu kepada orang khusus (yang
telah ditentukan Allah) dengan ketentuan tertentu. Kata khusus dalam kalimat
kepada harta yang telah bersih yaitu bebas dari hutang dan diperoleh dari cara
yang halal sesuai syariat Islam. Orang khusus dalam kalimat mengacu kepada
para asnaf yang telah ditetapkan oleh Allah dan kata “ketentuan tertentu”
mengacu kepada haul dan hisab harta tersebut.
Para pemikir Islam kontemporer mendefinisikan zakat sebagai harta yang
ditetapkan oleh pemerintah atau pejabat berwenang, kepada masyarakat umum
atau individu yang mengikat dan final, tanpa mendapat imbalan tertentu yang
dilakukan pemerintah sesuai dengan kemampuan pemilik harta, yang dialokasikan
untuk memenuhi kebutuhan delapan golongan yang telah ditentukan oleh
al-Qur’an, serta untuk memenuhi tuntutan politik bagi keuangan Islam (Nuruddin
Mhd Ali, 2006:7).
2.2.Zakat Profesi
2.2.1. Pengertian Zakat Profesi
Zakat profesi adalah zakat yang dikenakan pada tiap pekerjaan atau
keahlian profesional tertentu, baik yang dilakukan sendirian maupun yang
dilakukan bersama dengan orang/lembaga lain yang mendatangkan penghasilan
(uang) yang memenuhi nisab (batas minimum untuk berzakat). Zakat ini
dinamakan pula zakat pendapatan (dari pekerjaan profesional) (Nukthoh Arfawie,
2005:25).
Yusuf Qardawi ketika menulis tentang masalah pencaharian dan profesi,
beliau membagi profesi ini menjadi dua bagian yakni Kasb al-amal dan Mihan
al-hurrah. Kasb al-amal adalah pekerjaan seseorang yang tunduk pada perseroan
dimaksud dengan Mihan al-hurrah adalah pekerjaan bebas, tidak terikat pada
orang lain, seperti pekerjaan seorang dokter, dengan praktek swasta dengan segala
profesinya, pemborong, pengacara, notaris dan PPAT nya, seniman, arsitek,
penjahit, tukang kayu, dan lain sebagainya (Nukthoh Arfawie, 2005:26).
Dari beberapa pengertian diatas, penulis menyimpulkan bahwa zakat
profesi adalah zakat yang harus dikeluarkan individu atau lembaga dari suatu
pekerjaan yang menghasilkan (uang) atau lainnya yang telah mencapai haul dan
nisab, baik yang dikerjakan sendiri ataupun dengan bekerja untuk orang lain.
Pekerjaan apapun yang dikerjakan oleh individu baik bekerja sendiri maupun
orang lain, bila telah mencapai haul dan nisab diwajibkan untuk mengeluarkan
zakat dari pekerjaannya tersebut.
2.2.2. Landasan Hukum Zakat Profesi 1. Al-Qur’an
Dasar hukum zakat profesi dapat diambil dari mafhum terjemahan ayat
sebagai berikut :
“Hai orang-orang yang beriman, infaqkanlah sebahagian dari hasil usahamu
yang baik-baik dan sebahagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk
kamu …” (terjemahan QS Al-Baqarah, 2:267)
“Dan Dia-lah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak
berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya,
zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya).
tunaikanlah haknya pada hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan
zakatnya)…” ( terjemahan QS Al-An’am, 6:141)
Beberapa ayat tersebut menunjukkan kewajiban zakat. Dalam garis
besarnya obyek zakat meliputi keseluruhan hasil usaha (min thayyibati ma
kasabtum) dan keseluruhan komoditas yang mencakup flora dan fauna (min ma
akhrajna lakum min al-ardli). Pada prinsipnya sistem zakat adalah sistem
pemerataan kesejahteraan masyarakat yang diatur melalui penarikan harta dari
orang-orang kaya dan disalurkan kepada orang-orang miskin.
2. Al-Hadist
Zakat (pendapatan dan jasa) yang berbunyi : “Dari Ibnu Abbas RA
berkata: bahwa ketika Nabi SAW mengutus Mu’adz ke negeri Yaman
beliau memberikan amanat (kepadanya): Sesungguhnya engkau akan
menghadapi masyarakat Ahli Kitab, maka ajaklah mereka untuk bersaksi
bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah;
apabila mereka telah taat kepadamu mengenai hal itu, maka beritahukan
kepada mereka bahwa Allah mewajibkan shalat lima waktu sehari
semalam; apabila mereka telah taat kepadamu mengenai hal itu, maka
beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan shadaqah (zakat)
kepada mereka, yang diambil dari orang-orang kaya dan disalurkan
kepada orang-orang miskin dari kalangan mereka. Apabila mereka telah
taat kepadamu mengenai hal itu, maka kamu hendaklah berhati hati,
hindarilah doa orang-orang yang teraniaya, karena antara doanya
dengan Allah tidak ada hijab” (HR Bukhari-Muslim).
Dari hadist diatas, secara garis besar telah mewajibkan seseorang
untuk mengeluarkan zakat.
3. Ijtihhad
Ulama’ berbeda pendapat mengenai hukum zakat penghasilan atau
profesi. Mayoritas ulama madzhab empat tidak mewajibkan zakat
penghasilan pada saat menerima kecuali sudah mencapai nishab dan sudah
sampai setahun (haul), namun para ulama mutaakhirin seperti Yusuf Al
Qaradhawi dan Wahbah Az-Zuhaili, menegaskan bahwa zakat penghasilan
itu hukumnya wajib pada saat memperolehnya, meskipun belum mencapai
satu tahun. Hal ini mengacu pada pendapat sebagian sahabat yaitu Ibnu
Abbas, Ibnu Mas’ud dan Mu’awiyah, Tabiin Az-Zuhri, Hasan
Al-Bashri, dan Makhul juga pendapat Umar bin Abdul Aziz dan beberapa
ulama fiqh lainnya.
Adapun kewajiban zakatnya adalah 2,5%, berdasarkan keumuman
nas yang mewajibkan zakat uang, baik sudah mencapai satu haul atau
ketika menerimanya. Jika sudah dikeluarkan zakatnya pada saat
menerimanya, maka ia tidak wajib mengeluarkan zakat lagi pada akhir
tahun. Dengan demikian ada kesamaan antara pegawai yang menerima
panen, tanpa ada perhitungan haul. Menurut al-Qaradhawi nishab zakat
profesi senilai 85 gram emas dan jumlah zakat yang wajib dikeluarkan
adalah 2,5%. Landasan fikih (at-takyif al-fiqhi) zakat profesi ini menurut
Al-Qaradhawi adalah perbuatan sahabat yang mengeluarkan zakat untuk
al-maal al-mustafaad (harta perolehan). Al-maal al-mustafaad adalah
setiap harta baru yang diperoleh seorang muslim melalui salah satu cara
kepemilikan yang disyariatkan, seperti waris, hibah, upah pekerjaan, dan
yang semisalnya. Al-Qaradhawi mengambil pendapat sebagian sahabat
(seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud) dan sebagian tabi’in (seperti
Az-Zuhri, Hasan Bashri, dan Makhul) yang mengeluarkan zakat dari al-maal
al-mustafaad pada saat menerimanya, tanpa mensyaratkan haul (dimiliki
selama satu tahun qamariyah). Bahkan al-Qaradhawi melemahkan hadis
yang mewajibkan haul bagi harta zakat, yaitu hadis Ali bin Abi Thalib
RA, bahwa Nabi SAW bersabda”Tidak ada zakat pada harta hingga
berlalu atasnya haul.” (HR Abu Dawud).
4. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 1999 TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT
Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun
1999 Tentang Pengelolaan Zakat Bab IV pasal 11 bahwa harta-harta yang
dikeanai zakat adalah adalah :
a. Emas, perak dan uang;
b. Perdagangan dan perusahaan;
d. Hasil pertambangan;
e. Hasil peternakan;
f. Hasil pendapatan dan jasa;
g. Rikaz
2.2.3. Nisab Zakat Profesi
Untuk wajib zakat diisyaratkan mencapai nisab, artinya harta yang dimiliki
sudah mencapai nisab. Jadi tidak diwajibkan zakat kecuali bagi orang yang telah
memiliki harta yang sudah mencapai nisab (Nukthoh Arfawie Kurde,
2005:26-27). Nisab menurut syara’ ialah “ukuran yang ditetapkan oleh penentu hukum
sebagai tanda untuk wajibnya zakat, baik berupa emas, perak, dan lain-lain. Atau
dalam istilah bahasa nisab adalah jumlah harta benda minimum yang dikenakan
zakat (Nukthoh Arfawie Kurde, 2005:27).
Kalau nisab penghasilan/profesi dikembalikan kepada mal mustafad, maka
para ulama fiqih sepakat bahwa zakat dari mal mustafad ialah pada waktu
menerimanya apabila telah mencapai satu nisab. Ini berarti pula bahwa, PNS staff
perusahaan, dan lain-lain yang gajinya perbulan sudah mencapai seharga 94 gram
emas baru diwajibkan zakat (Ibid). Akan tetapi apabila profesi PNS atau staff
perusahaan dikembalikan kepada pendapat ulama-ulama mutaakhirin, maka akan
ditemukan beberapa pendapat yang kemudian dipilih untuk menjadi
pegangan(Ibid). Pendapat-pendapat tersebut adalah:
1. Pendapat Dr. Yusuf Qardawi yang menganalogikan zakat profesi dengan
zakat uang, yaitu 2,5% dari sisa pendapatan bersih (yaitu pendapatan
pakaian, cicilan rumah dan lain-lain). Sistem yang dipergunakan ini
adalah dengan mengumpulkan gaji atau penghasilan yang diterima
berkali-kali itu dalam waktu tertentu (Nukthoh Arfawie Kurde, 2005:29).
2. Pendapat Syaikh Muhammad al-Ghazali yang telah membahas masalah
ini dalam bukunya “Islam Wa Awdha al-iqtishadiya”. Beliau
menyebutkan bahwa dasar penetapan wajib zakat dalam Islam hanyalah
modal, bertambah, berkurang atau tetap, setelah lewat setahun, seperti
zakat uang dan zakat perdagangan yang zakatnya 1/10 atau 1/20.
Berdasarkan hal tersebut, seorang dokter, pengacara, insinyur, pengusaha,
PNS, karyawan dan sebangsanya, wajib mengeluarkan zakat dari
pendapatannya yang besar. Dengan demikian saat menerima gaji adalah
haul bagi seorang profesional dan karyawan, sedangkan nisabnya adalah
10% dari sisa pendapatan bersih (Nukthoh Arfawie Kurde, 2005:29-30).
3. Pendapat mazhab Imamiah (atau biasa disebut mazhab Ahlul-Bait) yang
menetapkan zakat profesi sebesar 20% dari setiap hasil pendapatan
lainnya. Pendapat mereka ini berdasarkan atas pemahaman firman Allah
tentang ghanimah: “Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian)
harta rampasan perang. Katakan: harta rampasan perang itu
kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertaqwalah kepada Allah dan
perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah
dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman”
2.2.4. Haul zakat profesi
Berkenan dengan haulnya zakat profesi, para ulama berbeda pendapat.
Menurut Abdur Rahman Hasan, Muhammad Abu Zahrah, dan Abdul Wahab
Khallaf mengatakan bahwa pencaharian dan profesi dapat diambil zakatnya
apabila sudah setahun (haul) tanpa kurang ditengah-tengah (Nukthoh Arfawie
Kurde, 2005:34).
Menurut Al-Qardawi; bahwa pendapatan atau uang hasil pekerjaan profesi
itu adalah termasuk mal mustafad, artinya harta yang baru dimilikinya melalui
cara kepemilikan yang sah menurut undang-undang maka dengan demikian
disepakati bahwa zakat dari mal mustafad ialah pada waktu menerimanya (tanpa
haul) apabila telah mencapai nisab (Ibid).
Menurut Nukthoh Arfawie Kurde, dari berbagai pendapat seperti yang
telah dikemukakan, adalah pendapat Al-Qardawi yang lebih dekat dari atmosfir
Indonesia, yaitu zakat uang ini berarti pula bahwa kalau telah mencapai nisab,
maka zakatnya adalah 2,5% dari harta yang dimiliki, namun Nukthoh Arfawie
Kurde kurang sependapat dengan Al-Qardawi mengenai pendapatan bersih yang
wajib kena pajak. Menurut hemat Nukthoh Arfawie Kurde, pendapatan bersih
seseorang akan sangat bergantung pada gaya hidup seseorang. Misalkan saja, dari
2 orang yang berpendapatan sama, tentu mempunyai nilai saving atau net income
yang berbeda. Hal ini disebabkan kecenderungan yang berbeda dari keduanya
dalam membelanjakan pendapatan mereka. Oleh karena itu, bila dipakai
pihak, prinsip tersebut akan mendorong orang hidup berlebihan atau boros, hanya
dengan dalih untuk menghindari zakat. Oleh karenanya, menurut Nukthoh
Arfawie Kurde yang menjadi penghitungan nisab adalah pendapatan bruto (kotor)
selama 1 tahun, bukan pendapatan bersih (Nukthoh Arfawie Kurde, 2005:35).
Secara pribadi Penulis sendiri setuju dengan pendapat yang dikemukakan
oleh bapak Nukthoh Arfawie Kurde yang haulnya berdasarkan pendapatan kotor
dari individu, dengan demikian individu tidak mempunyai alasan untuk
menghindari zakat. Namun ada hal yang bertentangan dengan hal tersebut, yaitu
syarat zakat yang berkaitan dengan harta yang dizakatkan, yaitu harta tersebut
dimiliki penuh. Pertentangan terjadi antara pendapatan kotor dan harta yang
dimiliki penuh, dalam pendapatan kotor sudah pasti terdapat kewajiban yang
harus dilunasi oleh individu yaitu berupa utang kepada orang atau lembaga yang
ia utang sebelumya. Hal tersebutlah yang menjadi pertentangan dari masalah
zakat profesi dari kasb al-amal.
2.2.5.Cara pengeluaran zakat profesi
Ulama-ulama salaf yang berpendapat bahwa harta penghasilan wajib
zakat, diriwayatkan mempunyai 2 cara dalam mengeluarkan zakatnya:
1. Az-Zuhri berpendapat bahwa bila seseorang mempunyai penghasilan dan
ingin membelanjakannya sebelum bulan wajib zakat datang, maka
hendaknya ia segera mengeluarkan zakat itu terlebih dahulu dari
hendaknya ia mengeluarkan zakatnya bersamaan dengan kekayaannya
yang lain-lain (Yusuf Qardawi, 1999:484).
Hal serupa atau dekat dengan pendapat tersebut adalah pendapat
Auza’i tentang seseorang yang menjual hambanya atau rumahnya, bahwa
ia wajib mengeluarkan zakat sesudah menerima uang penjualan di
tangannya, kecuali bila ia mempunyai bulan tertentu untuk mengeluarkan
zakat uang penjualan tersebut bersamaan dengan hartanya yang lain
tersebut (Ibid).
2. Makhul berpendapat bahwa bila seseorang harus mengeluarkan zakat
pada bulan tertentu kemudian memperoleh uang tetapi kemudian
dibelanjakannya, maka uang itu tidak wajib zakat, yang wajib zakat hanya
uang yang sudah datang bulan untuk mengeluarkan zakat itu. Tetapi bila
ia tidak harus mengeluarkan zakat pada bulan tertentu kemudian
memperoleh uang, maka ia harus mengeluarkan zakatnya pada waktu
uang tadi diperoleh (Yusuf Qardawi, 1999:485).
Pendapat itu dengan demikian memberikan keistimewaan kepada
orang-orang yang mempunyai uang yang harus dikeluarkan zakatnya pada
bulan tertentu itu, dan tidak memberikan keistimewaan kepada orang yang
tidak mempunyai uang seperti itu. Yaitu membolehkan orang-orang yang
pertama tadi membelanjakan penghasilannya tanpa mengeluarkan zakat
kecuali bila masih bersisa sampai bulan tertentu yang dikeluarkan
zakatnya bersamaan dengan kekayaan yang lain, sedangkan mereka yang
waktu menerima penghasilan tersebut. Kesimpulannya: memberikan
keringanan kepada orang yang mempunyai kekayaan lain dan memberi
beban berat kepada orang yang tidak mempunyai kekayaan selain
penghasilan tersebut (Ibid).
2.3. Kerangka konseptual
Adapun kerangka pemikiran penulis yang menjadi pijakan dalam
penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut:
Gambar 2.1
Kerangka Konseptual Pemahaman PNS terhadap Zakat Profesi
Dari skema diatas dapat dijelaskan bahwa zakat secara umum harus
dibayar oleh muzakki. Disamping dibayarkan, muzakki juga harus memahami
secara betul tentang zakat itu sendiri. Demikian halnya dengan zakat profesi yang
sedang penulis teliti, para muzakki (PNS khususnya) diwajibkan untuk
membayarkannya sesuai dengan nisab dan haul yang berlaku. Selain membayar,
muzakki juga dituntut untuk mengerti secara keseluruhan tentang zakat profesi itu
sendiri. Dalam penelitian ini, penulis juga ingin mengetahui langkah-langkah
yang dapat dilakukan pemerintah Kota Medan untuk dapat mengimplementasikan Zakat
Zakat Profesi Langkah
pengimplementasian Pemahaman PNS
zakat profesi untuk para PNS khususnya dan masyarakat Kota Medan umumnya.
Selain hal tersebut, penulis juga ingin mengetahui hambatan dan kendala yang
dihadapi dalam implementasi zakat profesi.
2.4. Penelitian Terdahulu
Nur Iman Ramadhona, S.H (2006) dalam penelitiannya yang berjudul
“Analisa Yuridis Tentang Zakat Bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dilihat Dari
Perspektif Hukum Islam”. Hasil penelitiannya tersebut menyatakan bahwa
Konsepsi zakat terhadap gaji yang diterima Pegawai Negeri Sipil (PNS)
merumuskan konsepsi fiqih zakat baru, dengan memahami semangat, jiwa serta
maksud dari prinsip-prinsip yang melekat pada syari’at diwajibkannya. Apabila
para ulama menggunakan metode qiyas (analogi) dalam berijtihad sebagai upaya
memperluas jangkauan zakat bukan berarti bid’ah karena mengada-ada yang tidak
pernah di-syariat-kan baik oleh al-Qur’an maupun al-Hadits. Akan tetapi,
merupakan suatu tuntutan kebutuhan zaman modern, mengingat sifat dan
karakteristik hukum Islam itu yaitu sempurna, elastis, dan dinamis, sistematis
serta bersifat ta’aqquli (tidak bisa dirasionalisasika) dan ta’abbudi (bersifat
rasional).
Henny Suciati, S.H (2008) dalam penelitiannya yang berjudul “Zakat
Profesi Dalam Perspektif Hukum Islam Dan Undang-Undang No 38 Tahun 1999
Tentang Pengelolaan Zakat serta Pemanfaatannya Di Kota Semarang”. Hasil
penelitian tersebut menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat yang
Sumber Daya Manusia (SDM) pengelola zakat, sehingga berpengaruh pada
tingkat kepercayaan masyarakat kepada badan-badan atau lembaga zakat.
Khoirun Nisa (2011) dalam penelitiannya yang berjudul “Studi
Perkembangan Zakat Profesi Pegawai Negeri Sipil ( PNS ) Di Kota Malang” .
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan jumlah zakat profesi
yang dibayarkan oleh PNS Kota Malang ke BAZ dari tahun 2007 hingga tahun
2011 hal tersebut dikarenakan rendahnya kesadaran PNS Kota Malang untuk
membayar zakat profesi serta hal tersebut didukung akan dicabutnya anjuran PNS
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif analitis.
Penelitian deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti suatu kelompok
manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu
kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah
untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan
akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang
diselidiki (Moh. Nazir, 2005:54-57).
3.2.Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kota Medan yaitu Pemerintah Kota Medan.
Penelitian ini dilakukan dalam kurun waktu 3 bulan dimulai dari tanggal 21 Juni
2012 sampai dengan 21 September 2012.
3.3.Batasan dan Definisi Operasional 3.3.1. Batasan operasional
Untuk menghindari timbulnya salah pengertian dan salah penafsiran
terhadap istilah-istilah judul, penulis memberikan penegasan istilah sehingga
ruang lingkupnya tidak terlalu luas dan lebih mendalam, yaitu sebagai berikut.
1.
Pemahaman adalah suatu kemampuan seseorang dalam mengartikan,menafsirkan, menerjemahkan, atau menyatakan sesuatu dengan caranya
sendiri tentang pengetahuan yang pernah diterimanya ( Sadiman, Arif.
2. Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah salah satu jenis Kepegawaian Negeri
di samping anggota TNI dan Anggota POLRI (UU No 43 Th 1999).
Pengertian Pegawai Negeri adalah warga negara RI yang telah memenuhi
syarat yang ditentukan, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi
tugas dalam suatu jabatan negeri, atau diserahi tugas negara lainnya, dan
digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku (pasal 1
ayat 1 UU 43/1999)
3. Zakat profesi adalah zakat yang dikenakan pada tiap pekerjaan atau
keahlian profesional tertentu, baik yang dilakukan sendirian maupun yang
dilakukan bersama dengan orang/lembaga lain yang mendatangkan
penghasilan (uang) yang memenuhi nisab (batas minimum untuk berzakat)
(Nukthoh Arfawie, 2005:25).
3.3.2. Definisi Operasional
1. Tingkat pemahaman adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa
mengerti seseorang terhadap suatu persoalan atau yang lainnya, dalam hal
ini adalah pengetahuan PNS terhadap zakat profesi.
2. Zakat profesi adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh seseorang dalam
3.4.Populasi dan Sampel
Populasi merujuk pada sekumpulan orang atau objek yang memiliki
kesamaan dalam satu atau beberapa hal yang membentuk masalah pokok dalam
suatu penelitian (Muhamad, 2008 : 161). Populasi dalam penelitian ini adalah
PNS muslim Kota Medan, dimana jumlah populasinya 11181 orang per Juli 2012.
Sampel merupkan bagian atau sejumlah cuplikan tertentu yang diambil
dari suatu populasi dan diteliti secara rinci (Muhamad, 2008:162). Sampel dalam
penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus Slovin dengan rumus :
n = N
(1+N× e2)
Dimana :
n = ukuran sampel
N = ukuran populasi
e = persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel
yang masih dapat ditolerir atau diinginkan.
Maka jumlah sampel yang diperoleh adalah :
n = 11181
(1+11181 × 0,12)
n = 99,1135
n = 100 orang
Teknik pengambilan sampel dilakukan melalui simple random sampling
yang artinya cara penarikan sampel anggota dilakukan secara acak tanpa
administrated survey, yaitu responden diminta untuk mengisi sendiri kuesioner
yang diberikan.
3.5.Jenis dan Metode Pengumpulan Data 3.5.1. Jenis data
1. Data primer
Data primer merupakan data yang diperoleh dari sumber pertama baik
individu maupun kelompok, yaitu kuesioner yang diberikan kepada PNS
Kota Medan
2. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak yang berwenang dari
pemerintah Kota Medan, buku, literatur, media internet, serta bahan
bacaan lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini.
3.5.2. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan sebagai berikut :
1. Observasi yaitu dengan melakukan pengamatan langsung terhadap objek
yang akan diteliti, dalam hal ini pengamatan langsung ke kantor
Pemerintah kota Medan untuk mengetahui pemahaman PNS terhadap
zakat profesi
2. Studi Kepustakaan yaitu mengumpulkan data dan informasi melalui telaah
berbagai literatur yang relevan yang berhubungan dengan permasalahan
yang ada di dalam penulisan skripsi ini, dapat diperoleh dari buku-buku,
3. Kuesioner, penulis membuat daftar pertanyaan yang relevan dengan
penelitian yang dilakukan. Kuesioner ini ditujukan kepada para PNS.
Jawaban atas pertanyaan ini di gunakan sebagai pelengkap dan pendukung
kebenaran data-data yang ada.
3.6.Teknik Analisis
Dalam penelitian ini penulis menggunakan program komputer SPSS
(Statistic Product and Service Solution) versi 16,0. Metode analisis yang
digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode analisis deskriptif, dimana
data yang diperoleh dianalisis sehingga diperoleh berbagai gambaran yang
menunjukkan pemahaman PNS terhadap zakat profesi. Disamping itu dilakukan
pula dengan bentuk analisis lain seperti: grafik tabulasi silang (cross tab), tabel,
frekuensi, dan gambar (grafik).
Grafik tabulasi silang (cross tab) dapat membantu penulis dalam
menganalisis hubungan antar variabel sehingga akan memudahkan penulis dalam
pengambilan kesimpulan yang berhubungan dengan variabel-variabel tersebut.
Tabel dan grafik juga dapat membantu penulis dalam pengorganisasian data
sehingga dapat memudahkan dalam hal penyajian yang juga akan menghasilkan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1.Gambaran Umum Kota Medan
Kota Medan merupakan ibu kota provinsi Sumatera Utara. Kota ini
merupakan kota terbesar yang ada di pulau Sumatera, yakni memiliki luas 26.510
hektar ( 265,10 km2) atau 3,6% dari keseluruhan wilayah Sumatera Utara. Secara
geografis kota Medan berada pada 3° 30' – 3° 43' Lintang Utara dan 98° 35' - 98°
44' Bujur Timur. Untuk itu topografi kota Medan cenderung miring ke utara dan
berada pada ketinggian 2,5 - 37,5 meter di atas permukaan laut.
Sebagai salah satu daerah otonom berstatus kota di propinsi Sumatera
Utara, kedudukan, fungsi dan peranan Kota Medan cukup penting dan strategis
secara regional. Bahkan sebagai Ibukota Propinsi Sumatera Utara, Kota Medan
sering digunakan sebagai barometer dalam pembangunan dan penyelenggaraan
pemerintah daerah
Kota Medan memiliki posisi strategis sebagai gerbang (pintu masuk)
kegiatan perdagangan barang dan jasa, baik perdagangan domestik maupun luar
negeri (ekspor-impor). Hal ini dapat dilihat dari letak kota Medan secara
geografis yang memiliki kedudukan strategis sebab berbatasan langsung dengan
Selat Malaka di bagian Utara, sehingga relatif dekat dengan kota-kota atau negara
yang lebih maju seperti Pulau Penang Malaysia, Singapura dan lain-lain. Posisi
geografis Medan ini telah mendorong perkembangan kota dalam dua kutub
pertumbuhan secara fisik, yaitu daerah Belawan dan pusat Kota Medan saat ini.
barang/jasa yang relatif besar. Hal ini tidak terlepas dari jumlah penduduknya
yang relatif besar dimana tahun 2007 diperkirakan telah mencapai 2.083.156 jiwa.
Demikian juga secara ekonomis dengan struktur ekonomi yang didominasi sektor
tertier dan sekunder, Kota Medan sangat potensial berkembang menjadi pusat
perdagangan dan keuangan regional/nasional.
Berdasarkan data kependudukan tahun 2005, penduduk Medan
diperkirakan telah mencapai 2.036.018 jiwa, dengan jumlah wanita lebih besar
dari pria, (1.010.174 jiwa > 995.968 jiwa). Jumlah penduduk tersebut diketahui
merupakan penduduk tetap, sedangkan penduduk tidak tetap diperkirakan
mencapai lebih dari 500.000 jiwa, yang merupakan penduduk komuter. Dengan
demikian Medan merupakan salah satu kota dengan jumlah penduduk yang besar.
Berdasarkan
2.109.339 jiwa. Penduduk Medan terdiri atas 1.040.680 laki-laki dan 1.068.659
perempuan.
Dilihat dari struktur umur penduduk, Medan dihuni lebih kurang
1.377.751 jiwa berusia produktif (15-59 tahun). Selanjutnya dilihat dari tingkat
pendidikan, rata-rata lama sekolah penduduk telah mencapai 10,5 tahun. Dengan
demikian, secara relatif tersedia tenaga kerja yang cukup, yang dapat bekerja pada
berbagai jenis perusahaan, baik jasa, perdagangan, maupun industri manufaktur.
Laju pertumbuhan penduduk Medan periode tahun 2000-2004 cenderung
mengalami peningkatan, tingkat pertumbuhan penduduk pada tahun 2000 adalah
penduduk mengalami peningkatan dari 7.183 jiwa per km² pada tahun 2004
menjadi 7.681 jiwa per km² (lebih lengkapya lihat ditabel 4.1). Jumlah penduduk
paling banyak ada di Kecamatan Medan Deli, disusul Medan Helvetia dan Medan
Tembung. Jumlah penduduk yang paling sedikit, terdapat di Kecamatan Medan
Baru, Medan Maimun, dan Medan Polonia. Tingkat kepadatan Penduduk tertinggi
ada di kecamatan Medan Perjuangan, Medan Area, dan Medan Timur. Pada
ta
wanita adalah 71 tahun. Mayoritas penduduk Kota Medan sekarang adalah suku
Jawa, dan suku-suku dari Tapanuli (Batak, Mandailing, Karo). Di kota ini banyak
pula orang keturunan India dan Tionghoa. Medan merupakan salah satu Kota di
Indonesia yang memiliki populasi orang Tionghoa yang cukup banyak.
Tabel 4.1
Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Kota Medan Tahun Jumlah
Sumber : BPS Kota Medan
Secara konstitusional Negara Indonesia dibagi dalam daerah propinsi dan
daerah yang lebih kecil (Kota-Kabupaten). Masing-masing daerah pada dasarnya
memiliki sifat otonom dan atministratif. Adanya daerah, menjadikan adanya
pemerintahan daerah, pertimbangan situasional, historis, politis, psikologis dan
tehnis pemerintahan, merupakan latar belakang pemikiran strategis perlunya
adanya Pemerintahan Daerah. Pemerintah Daerah Kota Medan adalah Walikota
Medan beserta perangkat daerah otonom yang lain sebagai unsur penyalenggara
pemerintah daerah. Secara garis besar struktur organisasi Pemerintah Kota Medan,
dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 4.1
Struktur Pemerintahan Kota Medan
4.2.Deskriptif Penelitian 4.2.1. Profil Responden
Profil responden adalah data-data mengenai responden yang penulis teliti.
Responden pada penelitian ini adalah PNS pemerintah Kota Medan, penulis Walikota (Mayor)
Wakil Walikota (Vice Mayor)
mendapatkan data melalui observasi langsung ke lapangan yaitu ke pemerintahan
Kota Medan yang kemudian penulis mengajukan pertanyaan dalam bentuk
kuesioner kepada PNS yang dijadikan responden. Jawaban dari pertanyaan
tersebut akan disajikan dalam bentuk tabel, grafik, frekuensi, dan tabulasi silang
(cross tab) yang kemudian akan penulis analisis.
4.2.2. Data Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Data responden berdasarkan jenis kelamin dapat digunakan untuk
perbandingan gender terhadap sampel yang penulis teliti. Melalui tabel berikut,
penulis akan memperlihatkan perbandingan baik secara jumlah maupun
persentase responden yang penulis teliti.
Tabel 4.2
Data Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Frekuensi Persentase
Laki-laki 52 52,0
Perempuan 48 48,0
Total 100 100
Sumber : Data Primer
Tabel 4.2 diatas, terlihat hasil dari pengolahan data yang telah penulis
lakukan terhadap 100 responden yang dipilih secara acak. Hasil yang tertera di
tabel menunjukkan bahwa jumlah responden laki-laki lebih besar dari pada
responden perempuan yaitu dengan frekuensi 52 orang laki-laki atau 52% dari
semua sampel dan frekuensi responden perempuan 48 orang atau 48% dari sampel
yang penulis teliti. Dari hasil penelitian ini, terlihat bahwa frekuensi laki-laki
pemerintah Kota Medan didominasi oleh laki-laki. Untuk lebih jelas akan penulis
sajikan dalam bentuk gambar, sebagai berikut :
Gambar 4.2
Data Responden Berdasarkan Jenis Kelamin 4.2.3. Data Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Setiap PNS/responden sudah pasti mempunyai pendidikan yang ia
selesaikan sebelum ia bekerja di pemerintahan Kota Medan. Pada tabel 4.3
penulis akan menyajikan tabel data responden berdasarkan tingkat pendidikan.
Berikut tabelnya :
Tabel 4.3
Data Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan Frekuensi Persentase
SMA 18 18,0
Diploma 5 5,0
Sarjana 70 70,0
S2 7 7,0
Total 100 100,0
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel4.3 diatas, terlihat bahwa sebagian besar responden
dengan persentase sebesar 70% dari semua responden, kemudian responden
dengan pendidikan terakhir SMA berada dibawahnya dengan jumlah 18 orang
atau dengan persentase 18% dari semua responden. Selanjutnya responden
dengan tingkat pendidikan terakhir S2 berada ditingkat selanjutnya dengan jumlah
responden 7 orang atau dengan persentase 7% dari semua responden dan terakhir
responden dengan pendidikan terakhir diploma yaitu dengan jumlah 5 orang atau
5% dari semua responden. Dari sampel yang penulis teliti, sebagian besar
merupakan orang-orang yang memiliki pendidikan tinggi yaitu mencapai 77%
yang meliputi 70% sarjana dan 7% S2 dengan demikian bisa dikatakan bahwa
orang-orang tersebut sudah paham akan kewajibannya sebagai hamba ALLAH,
terlepas dari faktor-faktor lain. Dengan tidak mengucilkan atau
mendeskriminasikan responden dengan tingkat pendidikan lainnya, para
responden yang memiliki pendidikan SMA dan diploma juga harus memenuhi
kewajibannya sebagai hamba ALLAH. Untuk lebih jelasnya, penulis menyajikan
Gambar 4.3
Data Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir
4.2.4. Data Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Golongan
Golongan yang didapat oleh seorang PNS tidak lepas dari tingkat
pendidikan terakhir yang ia selesaikan tanpa memperdulikan berapa lama
responden tersebut menjadi seorang PNS. Dalam hal ini penulis ingin
menampilkan kedua hal tersebut dalam satu tabel yang akan penulis jelaskan
Tabel 4.4
Data Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Golongan Golongan Pendidikan Terakhir Total Persentase
SMA Diploma Sarjana S2
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 4.4, terlihat bahwa responden yang memiliki golongan
II dengan pendidikan terakhir SMA berjumlah 11 orang, dengan pendidikan
terakhir Diploma berjumlah 2 orang, dan dengan pendidikan terakhir sarjana
berjumlah 2 orang. Dengan demikian secara keseluruhan responden yang
memiliki golongan II berjumlah 15 orang atau 15%. Responden yang memiliki
golongan III dengan pendidikan terakhir SMA berjumlah 6 orang, dengan
pendidikan terakhir Diploma berjumlah 3 orang, dengan pendidikan terakhir
sarjana berjumlah 44 orang, dengan pendidikan terakhir S2 berjumlah 3 orang
sehingga semua responden yang memiliki golongan III berjumlah 56 orang atau
56% dari semua responden. Responden yang memiliki golongan IV dengan
pendidikan terakhir SMA berjumlah 1 orang, dengan pendidikan terakhir sarjana
berjumlah 24 orang, dan dengan pendidikan S2 berjumlah 4 orang maka secara
keseluruhan responden yang memiliki golongan IV berjumlah 29 orang atau 29%
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat
pendidikan seorang PNS maka semakin tinggi pula golongan yang dia miliki. Hal
tersebut terbukti dari 7 orang responden yang pendidikan terakhirnya S2, 4 orang
diantaranya memiliki golongan IV atau 57% memiliki golongan IV. Demikian
halnya dengan responden dengan tingkat pendidikan terakhirnya SMA yang
berjumlah 18 orang, 11 0rang dari mereka memiliki golongan II atau 61% dari
mereka memiliki golongan II. Hal tersebut belumlah seutuhnya benar sebab
untuk membuktikan hal tersebut penulis perlu meneliti faktor-faktor lain yang
berkaitan, namun untuk penelitian dan hasil tabulasi silang yang penulis lakukan
hal tersebut telah teruji dengan tabel yang penulis tampilkan dan dari data-data
yang penulis input dari responden yang penulis ambil.
4.2.5. Data Responden Berdasarkan Lama Jadi PNS Dan Golongan
Golongan yang dimiliki oleh seorang responden tidak terlepas dari
lamanya responden tersebut menjadi PNS. Penulis mencoba membuat suatu
hipotesis bahwa lamanya seorang PNS menjadi PNS akan berbanding lurus
terhadap golongan yang ia miliki saat ini. Untuk membuktikan hal tersebut,
penulis akan menampilkan tabel data responden berdasarkan lama menjadi PNS
Tabel 4.5
Data Responden Berdasarkan Lama Jadi PNS dan Golongan Lama Menjadi
Sumber : Data Primer
Dari data yang ada didalam tabel 4.5 terlihat bahwa responden dengan
lama menjadi PNS > 1 tahun s/d 5 tahun yang memiliki golongan II berjumlah 11
orang dan yang memiliki golongan III berjumlah 19 orang sehingga jumlah
responden dengan lama menjadi PNS > 1 tahun s/d 5 tahun adalah 30 orang atau
30% dari semua responden. Responden dengan lama menjadi PNS > 5 tahun s/d
10 tahun yang memiliki golongan II berjumlah 1 orang, yang memiliki golongan
III berjumlah 11 orang , dan yang memiliki golongan IV berjumlah 3 orang maka
secara keseluruhan responden dengan lama menjadi PNS > 5 tahun s/d 10 tahun
adalah 15orang atau 15% dari semua responden. Untuk responden dengan lama
menjadi PNS > 10 tahun s/d 15 tahun yang memiliki golongan II berjumlah 1
orang, yang memiliki golongan III berjumlah 9 orang, dan yang memiliki
golongan IV berjumlah 7 orang, jadi semua responden dengan lama menjadi PNS
> 10 tahun s/d 15 tahun berjumlah 17 orang atau 17% dari semua responden.
golongan II berjumlah 2 orang, yang memiliki golongan III berjumlah 17 orang,
dan yang memiliki golongan IV berjumlah 19 orang secara keseluruhan responden
dengan lama menjadi PNS > 15 tahun berjumlah 38 orang atau 38% dari semua
responden.
Dari data yang penulis kemukakan terlihat bahwa jumlah responden yang
memiliki golongan IV dengan lama menjadi PNS > 15 tahun sebanyak 19 orang
atau 50% dari semua responden dengan lama menjadi PNS > 15 tahun, hal
tersebut sudah mendominasi dari keseluruhan responden dengan lama menjadi
PNS > 15 tahun. Sedangkan responden dengan lama menjadi PNS > 1 tahun s/d
5 tahun yang memiliki golongan II berjumlah 11 orang atau 36% dari semua
responden dengan lama menjadi PNS >1 tahun s/d 5 tahun, hal tersebut masih
dibawah responden dengan lama menjadi PNS > 1 tahun s/d 5 tahun yang
memiliki golongan III yaitu sebanyak 19 orang atau 74% dari semua responden
dengan lama menjadi PNS > 1 tahun s/d 5 tahun. Pada hal ini, hipotesis yang
penulis kemukakan tidak benar seutuhnya sebab responden dengan lama menjadi
PNS > 1 tahun s/d 5 tahun yang memiliki golongan II lebih kecil dari responden
dengan golongan III yaitu 36% berbanding 74%. Penulis beranggapan bahwa
tingginya golongan suatu responden tidak seutuhnya dipengaruhi oleh lama
menjadi PNS namun ada faktor lain, seperti pendidikan terakhir serta lainnya.
4.3.Analisis Data
Pada bagian penulis akan menjelaskan hasil temuan penulis dari kuesioner
yang penulis bagikan kepada para responden. Data-data yang dari kuesioner
tersebut akan penulis input ke program SPSS (Statistic Product and Service
Solution) versi 16.0, yang kemudian akan penulis interpretasikan. Penulis juga
akan menganalisis hasil temuan tersebut untuk mendapatkan hasil yang lebih
spesifik. Berikut hasil yang penulis dapatkan :
4.3.1. Pemahaman Responden Terhadap Zakat Dan Zakat Profesi
Penulis akan memulainya dari hal yang paling umum menurut penulis
yakni pemahaman responden terhadap zakat secara umum. Kemudian akan
penulis lanjutkan kepada pemahaman para responden terhadap zakat profesi.
Namun dikarenakan istilah “zakat profesi” adalah suatu istilah asing ditelinga para
responden, maka penulis akan melihat seberapa asing atau seberapa tahukah
responden akan zakat profesi ini. Namun dalam hal ini penulis tidak
mendalaminya dikarenakan fokus dari penelitian penulis adalah tingkat
pemahaman dari zakat profesi tersebut. Berikut hasil yang penulis dapatkan dan
Tabel 4.6
Pemahaman Zakat Berdasarkan Jenis Kelamin Pemahaman
Dari tabel 4.6 diatas, terlihat bahwa 39 orang dari responden menyatakan
bahwa mereka paham sepenuhnya akan zakat atau 39% dari semua responden
yang penulis teliti dengan rincian 18 orang perempuan dan 21 orang laki-laki atau
dengan perbandingan persentase 46% : 54% dari responden yang menyatakan
mereka paham sepenuhnya tentang zakat. Selanjutnya 42 orang dari responden
menyatakan bahwa mereka paham sebagian saja dari zakat secara umum atau 42%
dari semua responden dengan rincian 19 orang perempuan dan 23 orang laki-laki
atau dengan perbandingan persentase 45% : 55% dari responden yang menyatakan
bahwa mereka paham sebagian saja tentang zakat. Responden yang menyatakan
paham sedikit saja tentang zakat sebanyak 16 orang atau 16% dari semua
responden yang penulis teliti dengan rincian 5 perempuan dan 11 laki-laki dengan
perbandingan persentase 31% : 69% dari responden yang menyatakan paham