• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Tingkat Pemahaman PNS Muslim Terhadap Zakat Profesi Di Kota Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Studi Tingkat Pemahaman PNS Muslim Terhadap Zakat Profesi Di Kota Medan"

Copied!
96
0
0

Teks penuh

(1)

PROPOSAL SKRIPSI

STUDI TINGKAT PEMAHAMAN PNS MUSLIM

TERHADAP ZAKAT PROFESI DI KOTA MEDAN

OLEH

ARSAN ROLANDA

080501124

PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN

DEPARTEMEN EKONOMI PEMBANGUNAN

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman PNS muslim terhadap zakat profesi di Kota medan. Penelitian ini mengetengahkan 3 permasalahan yaitu : tingkat pemahaman PNS terhadap zakat profesi, langkah-langkah dalam pengimplementasian zakat profesi, dan kendala yang mungkin terjadi dalam pengimplementasian zakat profesi.

Penelitian ini bersifat deskriptif analitis. Data yang gunakan adalah data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan melalui kuesioner yang disebarkan kepada PNS muslim Kota Medan dan observasi langsung ke objek penelitian, sedangkan data sekunder diperoleh dari buku, literatur, internet, dan media-media lainnya. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan menggunakan program komputer SPSS VERSI 16,0.

Dari 100 responden yang diteliti, 60 menyatakan paham dan 40 tidak paham terhadap zakat profesi. Hanya 38 responden dari 60 responden yang paham zakat profesi yang bersedia memberitahu skala tingkat pemahaman terhadap zakat profesi. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa tingkat pemahaman PNS muslim Kota Medan terhadap zakat profesi relatif baik dengan rata-rata pemahaman bernilai 6,55. Langkah-langkah yang diperlukan dalam pengimplementasian zakat profesi adalah : sosialisasi, pembuatan perda, dan pembelajaran akan zakat profesi tersebut. kendala yang terjadi dalam penerapan zakat profesi tersebut adalah : kurangnya sosialisasi, dukungan yang kurang dari pemimpin dan anggota instansi, faktor lingkungan, dan pengetahuan agama dari para PNS

(3)

ABSTRACT

The purpose of this research is to determine the level of understanding of muslim civil servants about profession tithe in Medan. This research set forth three problems they are the level of understanding of muslim civil servants about profession tithe, the steps in implementation of profession tithe, and obstacle maybe happened in implementation of profession tithe.

This research characteristic is descriptive analysis. The data in this research are primary data and secondary data. The collecting of the primary data is done by giving questionnaire to muslim civil servants in Medan and observation to the research objects, while secondary data are obtained from books, literature, internet, and other media. The descriptive analysis method by using computer SPSS 16.0 version.

From 100 respondens that observed, 60 are clarify they understand and 40 othres not understand about profession tithe. Only 38 respondens from 60 that understand about profession tithe willing to tell the scale of the level of understanding about profession tithe. The result obtained that level of understanding of muslim civil servants in Medan about profession tithe are relative good with average of understanding 6,55. The steps needed in implementation of profession tithe are sosialiszation, Perda, and learning of profession tithe. The obstacle happening to applicate profession tithe are less of sosialiszation, less supported from leadership and membership of the instance, area factor, and religion knowledege from the civil servants.

(4)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH S.W.T atas

rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini guna memenuhi

salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas

Ekonomi Universitas Sumatera Utara. Shalawat beriringkan salam juga penulis

sampaikan kepada junjungan ummat Islam nabi besar Muhammad S.W.A yang

atas perjuangannya kita dapat sampai hingga saat sekarang ini.

Penulis mengucapkan banyak terima kasih dan juga penghargaan yang

setinggi-tingginya kepada dosen pembimbing, bapak Irsyad Lubis SE. M.Soc.Sc,

PhD atas waktunya yang selalu memberikan nasehat dan bimbingan hingga

skripsi ini dapat penulis selesaikan. Tidak lupa terima kasih juga penulis

sampaikan kepada :

1. Orang tua penulis, bapak Roslan HAST SH dan ibunda Dra

Daswati yang selalu memberi dukungan baik moril maupun

materil kepada penulis.

2. Bapak Drs. H. Arifin Lubis, MM. Ak, selaku Plt dekan Fakultas

Ekonomi Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Wahyu Ario Pratomo, SE, M.Ec, selaku ketua Departemen

Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi USU dan Bapak

Syahrir Hakim Nasution SE, MSi selaku sekretaris Departemen

(5)

4. Bapak Irsyad Lubis SE, M.Soc.Sc, Ph.D selaku Ketua Program

Studi S1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi USU dan

bapak Paidi Hidayat SE, MSi selaku Sekretaris Program Studi S1

Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi USU.

5. Kepada seluruh ajaran dosen dan staff Fakultas Ekonomi,

Departemen dan Program Studi Ekonomi Pembangunan USU

yang belum dapat penulis sebutkan.

6. Kepada seluruh jajaran Pemerintahan Kota Medan dan seluruh

staf dan pegawai Departemen Agama Kota Medan yang telah

membantu penulis dalam penyediaan data-data yang penulis

perlukan untuk menyelesaikan skripsi ini.

7. Kepada adinda Alhasti Dwi Rolanda, Juarsan Try Rolanda, dan

Hanni Diani Kwartini yang selalu memberikan dukungan kepada

penulis serta saudari Rizky Silvia Lubis SE yang juga

memberikan dukungan kepada penulis hingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini.

8. Serta seluruh pihak yang telah membantu penulis baik secara

langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat penulis

(6)

Senada dengan pribahasa “tidak ada gading yang tak retak” dan

kesempurnaan hanya milik ALLAH S.W.T atas dasar itu penulis menyadari

banyak kesalahan dan kekhilafan dalam penulisan skripsi ini. Hal tersebut

didasari karena keterbatasan ilmu yang penulis miliki, literatur yang kurang, dan

lain sebagainya. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang

membangun demi mendapatkan hasil yang lebih baik. Amin

Medan. Januari 2013 Penulis

(7)

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang ... 1

1.2.Perumusan Masalah ... 8

1.3.Tujuan Penelitian ... 8

1.4.Manfaat Penelitian ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Zakat …………... 10

2.2. Zakat Profesi ………... 11

2.2.1. Pengertian Zakat Profesi …... 11

2.2.2. Landasan Hukum Zakat Profesi ………. 12

2.2.3. Nisab Zakat Profesi …………... 16

2.2.4. Haul Zakat Profesi ………... 18

2.2.5. Cara Mengeluarkan Zakat Profesi ……….. 19

2.3. Kerangka Konseptual ……… 21

2.4. Penelitian Terdahulu ... 22

BAB III METODE PENELITIAN 3.1.Jenis Penelitian ... 24

3.2.Tempat dan Waktu penelitian ... 24

3.3.Batasan Dan Definisi Operasional ……… 24

3.3.1. Batasan Operasional ……….. 24

3.3.2. Definisi Operasional ………. 25

3.4.Populasi dan Sampel Penelitian... 26

3.5.Jenis Dan Metode Pengumpulan Data ……….. 27

3.5.1. Jenis Data ……….. 27

3.5.2. Metode Pengumpulan Data ………... 27

(8)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Kota Medan ……….... 29 4.2. Deskriptif Penelitian ………. 33

4.2.1. Profil Responden ……….. 33

4.2.2. Data Responden Berdasarkan Jenis Kelamin .……….. 33

4.2.3. Data Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ….. 34

4.2.4. Data Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Dan

Golongan ... 36

4.2.5. Data Responden Berdasarkan Lama Jadi PNS Dan

Golongan ……….. 38

4.3. Analisis Data ……… 41

4.3.1. Pemahaman Responden Terhadap Zakat dan Zakat

Profesi ………... 41

4.3.2. Langkah-Langkah Yang Perlu Dilakukan Dalam

Mengimplementasikan Zakat Profesi ………... 58

4.3.3. Hambatan Yang Dihadapi Dalam Penerapan Zakat

Profesi ………... 63 4.4. Pembahasan ………... 68 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan ... 73 5.2. Saran ... 74

(9)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

4.1 Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Kota Medan ... 31

4.2 Data Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ……... 33

4.3 Data Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan …………... 35

4.4 Data Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Dan Golongan 37

4.5 Data Responden Berdasarkan Lama Jadi PNS Dan Golongan ... 39

4.6 Pemahaman Zakat Berdasarkan Jenis Kelamin ………. 42

4.7 Pemahaman Zakat Berdasarkan Pendidikan Terakhir ……… 43

4.8 Mengetahui Zakat Profesi Berdasarkan Pendidikan Terakhir …... 45

4.9 Pemahaman Zakat Profesi Berdasarkan Pendidikan Terakhir …... 46

4.10 Tingkat Pemahaman Responden Terhadap Zakat Profesi ………. 47

4.11 Tabel Hasil Statistik Tingkat Pemahaman Responden ………….. 48

4.12 Pemahaman Responden Terhadap Zakat Dan Zakat Profesi

Berdasarkan Pendidikan Terakhir ………..

50

4.13 Pernah Membayar Zakat Profesi Berdasarkan Lama Menjadi PNS 51

4.14 Pernah Membayar Zakat Profesi Berdasarkan Pemahaman Zakat

Dan Zakat Profesi ………..

53

4.15 Alasan Membayar Zakat Profesi ……… 55

4.16 Pemahaman Responden Terhadap Zakat Profesi Dengan Adanya

Perda ………..

57

4.17 Kendala Yang Akan Dihadapi Berdasarkan Pilihan Responden … 63

4.18 Kendala Eksternal Yang Akan Dihadapi Berdasarkan Pilihan

Responden ……….

65

4.19 Kendala Internal Yang Akan Dihadapi Berdasarkan Pilihan

Responden ……….

(10)

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman

2.1 Kerangka Konseptual Pemahaman PNS Terhadap

Zakat Profesi ………... 22

4.1 Struktur Pemerintahan Kota Medan ……… 32

4.2 Data Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ……….. 34

4.3 Data Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir … 36

4.4 Sosialisasi Berdasarkan Prioritas Menurut Responden 59

4.5 Tahap Pembelajaran Berdasarkan Prioritas Menurut

Responden ………...

60

4.6 Pembuatan Perda Berdasarkan Prioritas Menurut

Responden ………...

61

4.7 Pengoptimalan Zakat Profesi Berdasarkan Prioritas

Menurut Responden ……….

(11)

DAFTAR SINGKATAN

BAZ = Badan Amil Zakat

Gubsu = Gubernur Sumatera Utara

Perda = Peraturan Daerah

PNS = Pegawai Negeri Sipil

RI = Republik Indonesia

ZIS = Zakat Infaq Shadaqah

SWT = Subhanahu wata'ala

(12)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman PNS muslim terhadap zakat profesi di Kota medan. Penelitian ini mengetengahkan 3 permasalahan yaitu : tingkat pemahaman PNS terhadap zakat profesi, langkah-langkah dalam pengimplementasian zakat profesi, dan kendala yang mungkin terjadi dalam pengimplementasian zakat profesi.

Penelitian ini bersifat deskriptif analitis. Data yang gunakan adalah data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan melalui kuesioner yang disebarkan kepada PNS muslim Kota Medan dan observasi langsung ke objek penelitian, sedangkan data sekunder diperoleh dari buku, literatur, internet, dan media-media lainnya. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan menggunakan program komputer SPSS VERSI 16,0.

Dari 100 responden yang diteliti, 60 menyatakan paham dan 40 tidak paham terhadap zakat profesi. Hanya 38 responden dari 60 responden yang paham zakat profesi yang bersedia memberitahu skala tingkat pemahaman terhadap zakat profesi. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa tingkat pemahaman PNS muslim Kota Medan terhadap zakat profesi relatif baik dengan rata-rata pemahaman bernilai 6,55. Langkah-langkah yang diperlukan dalam pengimplementasian zakat profesi adalah : sosialisasi, pembuatan perda, dan pembelajaran akan zakat profesi tersebut. kendala yang terjadi dalam penerapan zakat profesi tersebut adalah : kurangnya sosialisasi, dukungan yang kurang dari pemimpin dan anggota instansi, faktor lingkungan, dan pengetahuan agama dari para PNS

(13)

ABSTRACT

The purpose of this research is to determine the level of understanding of muslim civil servants about profession tithe in Medan. This research set forth three problems they are the level of understanding of muslim civil servants about profession tithe, the steps in implementation of profession tithe, and obstacle maybe happened in implementation of profession tithe.

This research characteristic is descriptive analysis. The data in this research are primary data and secondary data. The collecting of the primary data is done by giving questionnaire to muslim civil servants in Medan and observation to the research objects, while secondary data are obtained from books, literature, internet, and other media. The descriptive analysis method by using computer SPSS 16.0 version.

From 100 respondens that observed, 60 are clarify they understand and 40 othres not understand about profession tithe. Only 38 respondens from 60 that understand about profession tithe willing to tell the scale of the level of understanding about profession tithe. The result obtained that level of understanding of muslim civil servants in Medan about profession tithe are relative good with average of understanding 6,55. The steps needed in implementation of profession tithe are sosialiszation, Perda, and learning of profession tithe. The obstacle happening to applicate profession tithe are less of sosialiszation, less supported from leadership and membership of the instance, area factor, and religion knowledege from the civil servants.

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Zakat merupakan satu dari lima Rukun Islam yang wajib dilaksanakan

oleh setiap muslim. Setiap muslim mempunyai kewajiban membayar zakat bila

harta kekayaannya telah mencapai nisab dan haulnya. Bahkan keimanan seorang

muslim belum sempurna sebelum ia membayar zakat. Bila dirincikan, zakat

menempati urutan ketiga dari lima rukun Islam, yaitu setelah mengucap dua

syahadat dan kewajiban melaksanakan shalat maka kewajiban muslim selanjutnya

adalah membayar zakat. Setelah ketiga hal tersebut, kewajiban selanjutnya adalah

melaksanakan puasa dan menunaikan ibadah haji.

Jika dilihat dari makna yang terkandung didalam Rukun Islam, setelah

seorang manusia bersaksi/berjanji bahwa tuhan hanya ALLAH, kemudian orang

tersebut akan melaksanakan kewajibannya yaitu shalat 5 waktu maka kewajiban

selanjutnya adalah membayar zakat. Shalat dapat melatih kedisiplinan dan

ketaatan seorang muslim serta dapat menghindari pribadi dari perbuatan yang

tercela. Namun, dampaknya hanya dapat dirasakan oleh individu sendiri. Setelah

kewajiban itu seorang muslim akan melakukan ibadah yang bernama zakat.

Kewajiban membayar zakat mempunyai arti tersendiri, yaitu selain melakukan

ibadah kepada ALLAH juga dapat membantu masyarakat yang kurang mampu.

Jika dipahami lebih mendalam, zakat memberikan 2 hubungan sekaligus, pertama

(15)

dan yang kedua hubungan horizontal yaitu hubungannya dengan masyarakat

umumnya dan para asnaf khususnya (hablumminannas).

Bila dilihat dari berbagai aspek, zakat sangat berkaitan dalam aspek

kehidupan manusia, seperti: aspek ketuhanan, aspek sosial, dan aspek ekonomi.

Dari aspek ketuhanan, zakat merupakan kewajiban seorang muslim untuk

melaksanakannya, bahkan banyak ayat-ayat Al-qur’an yang menyebut dan

membahas masalah zakat didalamnya. Setidaknya ada 27 ayat Al-qur’an yang

menyebut kewajiban zakat dan kewajiban zakat secara bersamaan, yang artinya

kewajiban zakat hampir mempunyai kesetaraan dengan kewajiban shalat

(Hasmizar, 2009:1).

Dari aspek sosial, zakat dapat memperkecil jurang strata-sosial antar si

miskin dan si kaya serta tanggung jawab yang diberikan oleh ALLAH kepada

orang kaya untuk memperhatikan orang-orang yang tidak mampu. Selain itu,

zakat dapat juga sebagai jaminan sosial untuk para asnaf yang diberikan oleh

ALLAH (Ibid).

Dari aspek ekonomi, zakat dapat meningkatkan taraf hidup para asnaf,

meningkatkan perekonomian para asnaf, dan bisa juga menggerakkan roda

ekonomi suatu negara dalam jangka panjang dalam artian zakat tersebut didorong

untuk menjadi zakat produktif (Ibid). Namun pada umumnya zakat hanya

diberikan dalam bentuk yang konsumtif, tetapi hal tersebut juga dapat membantu

para asnaf yang menerimanya (Ibid).

Mannan (dalam Khoirun Nisa’, 2011:3) menyebut zakat sebagai aktivitas

(16)

keagamaan. Artinya, seorang muslim yang membayar zakat meyakini tindakannya

sebagai manifestasi keamanan dan ketaatan. Kedua, unsur pemerataan dan

keadilan yang menunjukkan tujuan zakat sebagai redistribusi kekayaan. Ketiga,

unsur kematangan dan produktifitas yang menekankan waktu pembayaran sampai

lewat satu tahun-ukuran normal bagi manusia untuk mengusahakan penghasilan.

Keempat, unsur kebebasan dan nalar. Artinya, kewajiban zakat hanya berlaku bagi

manusia yang sehat jasmani dan rohani yang merasa bertanggung jawab untuk

membayarkannya demi diri dan umat. Kelima, unsur etik dan kewajaran. Artinya,

zakat ditarik secara wajar sesuai kemampuan, tanpa meninggalkan beban yang

justru menyulitkan sipembayar zakat.

Berkenaan dengan zakat harta yang selalu dinamis, sejak tahun 1980-an

mengalami dinamika berarti, yakni berkembangnya pemikiran mengenai

“sumber” nya yang berasal dari pekerjaan/profesi atau keahlian khusus yang

mendatangkan penghasilan besar, seperti konsultan, dokter spesialis, notaris,

penasehat hukum, pegawai negeri, pilot, nahkoda, komisioner, dan lain-lain.

Inilah yang disebut zakat profesi, yakni zakat harta yang dapat diperoleh

sewaktu-waktu dari pekerjaan profesinya (Nukthoh Arfawie Kurde, 2005:22). Demikian

pula dengan pemanfaatan atau penyalurannya, dengan munculnya wacana tentang

pendayagunaan zakat harta dalam bentuk konsumtif dan produktif, seperti bantuan

modal usaha bagi para mustahik, koperasi, perbaikan jalan, madrasah, rumah

(17)

Di Indonesia sendiri dalam pelaksanaan pengeluaran zakat telah mendapat

legalitas hukum yang mana telah diatur di dalam Undang-undang Nomor 38 tahun

1999 tentang pengelolaan zakat. Pada tahun 2003 Menteri Agama juga membuat

Keputusan Menteri Agama RI Nomor 373 yang mengatur tentang pelaksanaan

undang-undang tersebut. Di dalam undang-undang tersebut disebutkan jenis harta

yang wajib di zakati, salah satunya yaitu zakat hasil pendapatan dan jasa (Khoirun

Nisa’, 2011:3).

Zakat profesi memang belum dikenal secara luas oleh masyarakat, dan

bahkan tidak kenal sama sekali, karena zakat profesi belum lama diperkenalkan di

tengah-tengah masyarakat Indonesia, termasuk pegawai negeri. Zakat profesi

adalah kewajiban zakat yang dikenakan atas penghasilan tiap-tiap pekerjaan atau

keahlian profesional tertentu, baik itu dikerjakan sendirian ataupun dilakukan

bersama-sama dengan orang / lembaga lain yang dapat mendatangkan penghasilan

(uang) yang memenuhi nisab (batas minimum harta untuk bisa berzakat)

(Nukthoh Arfawie Kurde, 2005:1-2).

Didaerah Sumatera Utara belum ada legalitas tentang zakat profesi atau

perda yang behubungan dengan zakat profesi. Beberapa tahun yang lalu, tepatnya

tahun 2010 Gubsu membuat suatu kebijakan yang berhubungan dengan zakat,

infaq, Shadaqah (ZIS) yaitu Surat Gubsu Nomor 451/10546 tanggal 29 Oktober

2010 yang menyatakan bahwa mulai Januari 2011 jajaran PNS pemerintah

(18)

Melalui Surat Gubsu Nomor 451/10546 tanggal 29 Oktober 2010,

Gubernur Sumatera Utara membuat kebijakan yaitu setiap PNS muslim dijajaran

pemerintah provinsi Sumatera Utara mulai Januari 2011 akan dipungut infaq

bulan. “Setiap PNS Muslim akan dipungut Infaq bulanan yaitu golongan I

Rp5.000, golongan II Rp10.000, golongan III Rp15.000 dan golongan IV

Rp20.000,” kata Wagubsu Gatot Pujonugroho pada sosialisasi optimalisasi

pengumpulan Zakat, Infaq dan Shadaqah (ZIS) di kalangan pegawai negeri sipil

(PNS) Muslim Pemprovsu di Aula Martabe Kantor Gubsu, Rabu (15/12/2010).

Demikianlah yang diutarakan oleh Wagubsu Gatot Pujonugroho, namun hal

tersebut bukanlah zakat yang sebagaimana yang diwajibkan oleh rukun Islam

melainkan hanya sebagai infaq dengan ketentuan tertentu.

Bila berkaca dari Surat Gubsu Nomor 451/10546 tanggal 29 Oktober

2010, kebijakan tersebut bukanlah suatu yang berhubungan dengan zakat profesi

dikalangan para PNS pemerintah provinsi Sumatera Utara melainkan hanya infaq.

Sumatera Utara dalam ruang lingkup penerapan zakat profesi belumlah

terimplementasi secara nyata, demikian yang penulis dapat ungkapkan sebab

belum adanya peraturan atau surat yang secara nyata mewajibkan para PNS untuk

membayar zakat profesi. Namun, bila seorang PNS melakukannya hal tersebut

hanyalah sebuah kepatuhan PNS tersebut terhadap perintah rukun Islam yang

wajib ia kerjakan. Demikian juga dengan Kota Medan. Sejauh ini Kota Medan

belum mengeluarkan perda mengenai zakat profesi. Namun bila Kota Medan

(19)

Utara maka PNS dijajaran pemerintah Kota Medan dipungut infaq bulan sesuai

dengan Surat Gubsu Nomor 451/10546 tanggal 29 Oktober 2010.

Terlepas dari permasalahan pro dan kontra zakat profesi, ada

permasalahan lain dari zakat tersebut, yaitu tentang pemahaman akan zakat itu

sendiri dari subjek zakat (muzakki), kesadaran akan berzakat, serta permasalahan

lainnya. Sasaran dari zakat profesi ini tentunya untuk para pekerja baik pekerja

yang bekerja untuk dirinya sendiri maupun yang bekerja untuk orang lain, seperti

dokter, pengacara, PNS, dan lain-lain. Untuk PNS sendiri beberapa daerah pernah

melakukan kewajiban zakat untuk profesi mereka sebagai PNS.

Provinsi Aceh, Banten, Nusa Tenggara Barat, dan lain-lain telah

menerapkan kewajiban zakat profesi untuk para PNS dalam lingkungan

pemerintahan tersebut. Provinsi Aceh misalnya, melalui Qanun Provinsi

Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Pengelolaan Zakat

Bab VIII pasal 26 telah mewajibkan masyarakat Aceh untuk membayar zakat

penghasilan/profesi. Kendala utama dalam penerapan Qanun tersebut adalah

optimalisasi dari zakat profesi itu karena tergarap hanya kalangan PNS semata,

sementara masyarakat lain yang mempunyai penghasilan yang telah sampai nisab

dan haul untuk dikeluarkan zakatnya tidak tergarap. Provinsi Banten dengan

Peraturan Daerah Provinsi Banten Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Pengelolaan

Zakat Bab III pasal 5 mewajibkan masyarakat untuk membayar zakat dari

(20)

Kabupaten Bima mewajibkan zakat profesi untuk PNS dengan

diberlakukannya Perda Kab. Bima No. 9/2002 tentang zakat. Berita terkini dari

zakat profesi di Kota Bima adalah zakat profesi yang terkumpul lebih dari 400

juta, hal tersebut sungguh suatu pencapaian yang maksimal. Sebelumnya ketua

BAZDA Kota Bima menyebutkan bahwa pada tahun 2011 zakat profesi di Kota

Bima belumlah optimal disebabkab oleh masih dalam proses pembelajaran.

Walaupun demikian, hal tersebut layak mendapat apresiasi atas apa yang telah

dilakukan oleh Pemko Bima dengan menerapkan zakat profesi dikalangan PNS

khususnya dan masyarakat luas umumnya.

Kota Medan sendiri, hingga sekarang belum menerapkan kewajiban zakat

profesi untuk para PNS. Ya, untuk suatu perda atau legalitas yang dapat diberi

sanksi tegas bila seseorang tidak melakukannya atau tidak mentaatinya belum ada

dikeluarkan oleh pemerintah Kota Medan. Tentunya untuk suatu ketaatan dalam

melaksanakan Rukun Islam, suatu pengharapan yang nantinya yang mungkin

akan membuat pemerintah kota Medan memberlakukan zakat profesi untuk para

PNS. Namun, terlepas dari hal tersebut ada hal yang lebih penting yaitu

bagaimana pemahaman dari PNS sendiri akan zakat profesi itu. Hal tersebut perlu

adanya sosialisasi dari BAZ untuk para PNS nantinya.

Berdasarkan dari latar belakang masalah di atas penulis tertarik untuk

melakukan penelitian dengan judul “Studi Tingkat Pemahaman PNS Muslim

(21)

1.2.Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka perumusan masalah yang dapat

diambil sebagai dasar dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana tingkat pemahaman PNS muslim Kota Medan terhadap zakat

profesi.

2. Langkah apa yang dilakukan pemerintah Kota Medan untuk

mengimplementasikan zakat profesi bagi PNS muslim di Kota Medan.

3. Apa hambatan dan kendala yang dihadapi pemerintah Kota Medan dalam

menetapkan dan menerapkan zakat profesi terhadap PNS di Kota Medan

serta solusinya.

1.3.Tujuan Penelitian

Menurut latar belakang dan rumusan masalah yang telah dikemukakan

sebelumnya maka penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui tingkat pemahaman PNS muslim terhadap zakat profesi di

Kota Medan.

2. Mengetahui langkah-langkah yang dapat dilakukan pemerintah Kota

Medan untuk mengimplementasikan zakat profesi di Kota Medan.

3. Mengetahui kendala dan hambatan yang dihadapi dalam menetapkan dan

(22)

1.4.Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah, khususnya kementerian agama.

2. Sebagai bahan masukan kepada instansi terkait khususnya LAZ Kota Medan

3. Sebagai bahan studi atau literatur tambahan terhadap penelitian yang sudah

ada sebelumnya.

4. Sebagai informasi dan masukan untuk lembaga akademis sehingga dapat

dijadikan sebagai bahan referensi untuk menambah khazanah ilmu

pengetahuan.

5. Sebagai tambahan wawasan dan ilmu pengetahuan bagi penulis.

6. Sebagai bahan studi dan literatur bagi mahasiswa atau mahasiswi ataupun

(23)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Pengertian Zakat

Ditinjau dari segi bahasa, kata zakat merupakan bentuk kata dasar

(masdar) dari zaka yang berarti berkah, tumbuh, bersih, dan baik. Zaka, berarti

tumbuh dan berkembang, bila dikaitkan dengan sesuatu bisa juga berarti orang itu

baik bila dikaitkan dengan seseorang (Nuruddin Mhd Ali, 2006:6). Dari segi

istilah fiqih, zakat berarti sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah yang

diserahkan kepada orang-orang yang berhak (Yusuf Qardhawi, 1996:34).

Mazhab Maliki mendefinisikan zakat dengan mengeluarkan sebagian dari

harta yang khusus yang telah mencapai nishab (batas kuantitas minimal yang

mewajibkan zakat) kepada orang-orang yang berhak menerimanya (Wahbah

Al-Zuhayly, 1995:83). Menurut mazhab Hanafi mendefinisikan dengan menjadikan

sebagian harta yang khusus dari harta yang khusus sebagai milik orang yang

khusus, yang ditentukan oleh syariat karena Allah (Ibid). Menurut mazhab

Syafi’i, zakat adalah sebuah ungkapan keluarnya harta atau tubuh sesuai dengan

cara khusus (Wahbah Al-Zuhayly, 1995:84). Menurut mazhab Hanbali, zakat

ialah hak yang wajib (dikeluarkan) dari harta yang khusus untuk kelompok yang

khusus pula (Ibid).

Dari beberapa defenisi diatas, penulis menyimpulkan: zakat adalah suatu

harta khusus yang wajib dikeluarkan oleh individu kepada orang khusus (yang

telah ditentukan Allah) dengan ketentuan tertentu. Kata khusus dalam kalimat

(24)

kepada harta yang telah bersih yaitu bebas dari hutang dan diperoleh dari cara

yang halal sesuai syariat Islam. Orang khusus dalam kalimat mengacu kepada

para asnaf yang telah ditetapkan oleh Allah dan kata “ketentuan tertentu”

mengacu kepada haul dan hisab harta tersebut.

Para pemikir Islam kontemporer mendefinisikan zakat sebagai harta yang

ditetapkan oleh pemerintah atau pejabat berwenang, kepada masyarakat umum

atau individu yang mengikat dan final, tanpa mendapat imbalan tertentu yang

dilakukan pemerintah sesuai dengan kemampuan pemilik harta, yang dialokasikan

untuk memenuhi kebutuhan delapan golongan yang telah ditentukan oleh

al-Qur’an, serta untuk memenuhi tuntutan politik bagi keuangan Islam (Nuruddin

Mhd Ali, 2006:7).

2.2.Zakat Profesi

2.2.1. Pengertian Zakat Profesi

Zakat profesi adalah zakat yang dikenakan pada tiap pekerjaan atau

keahlian profesional tertentu, baik yang dilakukan sendirian maupun yang

dilakukan bersama dengan orang/lembaga lain yang mendatangkan penghasilan

(uang) yang memenuhi nisab (batas minimum untuk berzakat). Zakat ini

dinamakan pula zakat pendapatan (dari pekerjaan profesional) (Nukthoh Arfawie,

2005:25).

Yusuf Qardawi ketika menulis tentang masalah pencaharian dan profesi,

beliau membagi profesi ini menjadi dua bagian yakni Kasb al-amal dan Mihan

al-hurrah. Kasb al-amal adalah pekerjaan seseorang yang tunduk pada perseroan

(25)

dimaksud dengan Mihan al-hurrah adalah pekerjaan bebas, tidak terikat pada

orang lain, seperti pekerjaan seorang dokter, dengan praktek swasta dengan segala

profesinya, pemborong, pengacara, notaris dan PPAT nya, seniman, arsitek,

penjahit, tukang kayu, dan lain sebagainya (Nukthoh Arfawie, 2005:26).

Dari beberapa pengertian diatas, penulis menyimpulkan bahwa zakat

profesi adalah zakat yang harus dikeluarkan individu atau lembaga dari suatu

pekerjaan yang menghasilkan (uang) atau lainnya yang telah mencapai haul dan

nisab, baik yang dikerjakan sendiri ataupun dengan bekerja untuk orang lain.

Pekerjaan apapun yang dikerjakan oleh individu baik bekerja sendiri maupun

orang lain, bila telah mencapai haul dan nisab diwajibkan untuk mengeluarkan

zakat dari pekerjaannya tersebut.

2.2.2. Landasan Hukum Zakat Profesi 1. Al-Qur’an

Dasar hukum zakat profesi dapat diambil dari mafhum terjemahan ayat

sebagai berikut :

Hai orang-orang yang beriman, infaqkanlah sebahagian dari hasil usahamu

yang baik-baik dan sebahagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk

kamu …” (terjemahan QS Al-Baqarah, 2:267)

Dan Dia-lah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak

berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya,

zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya).

(26)

tunaikanlah haknya pada hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan

zakatnya)…” ( terjemahan QS Al-An’am, 6:141)

Beberapa ayat tersebut menunjukkan kewajiban zakat. Dalam garis

besarnya obyek zakat meliputi keseluruhan hasil usaha (min thayyibati ma

kasabtum) dan keseluruhan komoditas yang mencakup flora dan fauna (min ma

akhrajna lakum min al-ardli). Pada prinsipnya sistem zakat adalah sistem

pemerataan kesejahteraan masyarakat yang diatur melalui penarikan harta dari

orang-orang kaya dan disalurkan kepada orang-orang miskin.

2. Al-Hadist

Zakat (pendapatan dan jasa) yang berbunyi : “Dari Ibnu Abbas RA

berkata: bahwa ketika Nabi SAW mengutus Mu’adz ke negeri Yaman

beliau memberikan amanat (kepadanya): Sesungguhnya engkau akan

menghadapi masyarakat Ahli Kitab, maka ajaklah mereka untuk bersaksi

bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah;

apabila mereka telah taat kepadamu mengenai hal itu, maka beritahukan

kepada mereka bahwa Allah mewajibkan shalat lima waktu sehari

semalam; apabila mereka telah taat kepadamu mengenai hal itu, maka

beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan shadaqah (zakat)

kepada mereka, yang diambil dari orang-orang kaya dan disalurkan

kepada orang-orang miskin dari kalangan mereka. Apabila mereka telah

taat kepadamu mengenai hal itu, maka kamu hendaklah berhati hati,

(27)

hindarilah doa orang-orang yang teraniaya, karena antara doanya

dengan Allah tidak ada hijab” (HR Bukhari-Muslim).

Dari hadist diatas, secara garis besar telah mewajibkan seseorang

untuk mengeluarkan zakat.

3. Ijtihhad

Ulama’ berbeda pendapat mengenai hukum zakat penghasilan atau

profesi. Mayoritas ulama madzhab empat tidak mewajibkan zakat

penghasilan pada saat menerima kecuali sudah mencapai nishab dan sudah

sampai setahun (haul), namun para ulama mutaakhirin seperti Yusuf Al

Qaradhawi dan Wahbah Az-Zuhaili, menegaskan bahwa zakat penghasilan

itu hukumnya wajib pada saat memperolehnya, meskipun belum mencapai

satu tahun. Hal ini mengacu pada pendapat sebagian sahabat yaitu Ibnu

Abbas, Ibnu Mas’ud dan Mu’awiyah, Tabiin Az-Zuhri, Hasan

Al-Bashri, dan Makhul juga pendapat Umar bin Abdul Aziz dan beberapa

ulama fiqh lainnya.

Adapun kewajiban zakatnya adalah 2,5%, berdasarkan keumuman

nas yang mewajibkan zakat uang, baik sudah mencapai satu haul atau

ketika menerimanya. Jika sudah dikeluarkan zakatnya pada saat

menerimanya, maka ia tidak wajib mengeluarkan zakat lagi pada akhir

tahun. Dengan demikian ada kesamaan antara pegawai yang menerima

(28)

panen, tanpa ada perhitungan haul. Menurut al-Qaradhawi nishab zakat

profesi senilai 85 gram emas dan jumlah zakat yang wajib dikeluarkan

adalah 2,5%. Landasan fikih (at-takyif al-fiqhi) zakat profesi ini menurut

Al-Qaradhawi adalah perbuatan sahabat yang mengeluarkan zakat untuk

al-maal al-mustafaad (harta perolehan). Al-maal al-mustafaad adalah

setiap harta baru yang diperoleh seorang muslim melalui salah satu cara

kepemilikan yang disyariatkan, seperti waris, hibah, upah pekerjaan, dan

yang semisalnya. Al-Qaradhawi mengambil pendapat sebagian sahabat

(seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud) dan sebagian tabi’in (seperti

Az-Zuhri, Hasan Bashri, dan Makhul) yang mengeluarkan zakat dari al-maal

al-mustafaad pada saat menerimanya, tanpa mensyaratkan haul (dimiliki

selama satu tahun qamariyah). Bahkan al-Qaradhawi melemahkan hadis

yang mewajibkan haul bagi harta zakat, yaitu hadis Ali bin Abi Thalib

RA, bahwa Nabi SAW bersabda”Tidak ada zakat pada harta hingga

berlalu atasnya haul.” (HR Abu Dawud).

4. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 1999 TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT

Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun

1999 Tentang Pengelolaan Zakat Bab IV pasal 11 bahwa harta-harta yang

dikeanai zakat adalah adalah :

a. Emas, perak dan uang;

b. Perdagangan dan perusahaan;

(29)

d. Hasil pertambangan;

e. Hasil peternakan;

f. Hasil pendapatan dan jasa;

g. Rikaz

2.2.3. Nisab Zakat Profesi

Untuk wajib zakat diisyaratkan mencapai nisab, artinya harta yang dimiliki

sudah mencapai nisab. Jadi tidak diwajibkan zakat kecuali bagi orang yang telah

memiliki harta yang sudah mencapai nisab (Nukthoh Arfawie Kurde,

2005:26-27). Nisab menurut syara’ ialah “ukuran yang ditetapkan oleh penentu hukum

sebagai tanda untuk wajibnya zakat, baik berupa emas, perak, dan lain-lain. Atau

dalam istilah bahasa nisab adalah jumlah harta benda minimum yang dikenakan

zakat (Nukthoh Arfawie Kurde, 2005:27).

Kalau nisab penghasilan/profesi dikembalikan kepada mal mustafad, maka

para ulama fiqih sepakat bahwa zakat dari mal mustafad ialah pada waktu

menerimanya apabila telah mencapai satu nisab. Ini berarti pula bahwa, PNS staff

perusahaan, dan lain-lain yang gajinya perbulan sudah mencapai seharga 94 gram

emas baru diwajibkan zakat (Ibid). Akan tetapi apabila profesi PNS atau staff

perusahaan dikembalikan kepada pendapat ulama-ulama mutaakhirin, maka akan

ditemukan beberapa pendapat yang kemudian dipilih untuk menjadi

pegangan(Ibid). Pendapat-pendapat tersebut adalah:

1. Pendapat Dr. Yusuf Qardawi yang menganalogikan zakat profesi dengan

zakat uang, yaitu 2,5% dari sisa pendapatan bersih (yaitu pendapatan

(30)

pakaian, cicilan rumah dan lain-lain). Sistem yang dipergunakan ini

adalah dengan mengumpulkan gaji atau penghasilan yang diterima

berkali-kali itu dalam waktu tertentu (Nukthoh Arfawie Kurde, 2005:29).

2. Pendapat Syaikh Muhammad al-Ghazali yang telah membahas masalah

ini dalam bukunya “Islam Wa Awdha al-iqtishadiya”. Beliau

menyebutkan bahwa dasar penetapan wajib zakat dalam Islam hanyalah

modal, bertambah, berkurang atau tetap, setelah lewat setahun, seperti

zakat uang dan zakat perdagangan yang zakatnya 1/10 atau 1/20.

Berdasarkan hal tersebut, seorang dokter, pengacara, insinyur, pengusaha,

PNS, karyawan dan sebangsanya, wajib mengeluarkan zakat dari

pendapatannya yang besar. Dengan demikian saat menerima gaji adalah

haul bagi seorang profesional dan karyawan, sedangkan nisabnya adalah

10% dari sisa pendapatan bersih (Nukthoh Arfawie Kurde, 2005:29-30).

3. Pendapat mazhab Imamiah (atau biasa disebut mazhab Ahlul-Bait) yang

menetapkan zakat profesi sebesar 20% dari setiap hasil pendapatan

lainnya. Pendapat mereka ini berdasarkan atas pemahaman firman Allah

tentang ghanimah: “Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian)

harta rampasan perang. Katakan: harta rampasan perang itu

kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertaqwalah kepada Allah dan

perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah

dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman”

(31)

2.2.4. Haul zakat profesi

Berkenan dengan haulnya zakat profesi, para ulama berbeda pendapat.

Menurut Abdur Rahman Hasan, Muhammad Abu Zahrah, dan Abdul Wahab

Khallaf mengatakan bahwa pencaharian dan profesi dapat diambil zakatnya

apabila sudah setahun (haul) tanpa kurang ditengah-tengah (Nukthoh Arfawie

Kurde, 2005:34).

Menurut Al-Qardawi; bahwa pendapatan atau uang hasil pekerjaan profesi

itu adalah termasuk mal mustafad, artinya harta yang baru dimilikinya melalui

cara kepemilikan yang sah menurut undang-undang maka dengan demikian

disepakati bahwa zakat dari mal mustafad ialah pada waktu menerimanya (tanpa

haul) apabila telah mencapai nisab (Ibid).

Menurut Nukthoh Arfawie Kurde, dari berbagai pendapat seperti yang

telah dikemukakan, adalah pendapat Al-Qardawi yang lebih dekat dari atmosfir

Indonesia, yaitu zakat uang ini berarti pula bahwa kalau telah mencapai nisab,

maka zakatnya adalah 2,5% dari harta yang dimiliki, namun Nukthoh Arfawie

Kurde kurang sependapat dengan Al-Qardawi mengenai pendapatan bersih yang

wajib kena pajak. Menurut hemat Nukthoh Arfawie Kurde, pendapatan bersih

seseorang akan sangat bergantung pada gaya hidup seseorang. Misalkan saja, dari

2 orang yang berpendapatan sama, tentu mempunyai nilai saving atau net income

yang berbeda. Hal ini disebabkan kecenderungan yang berbeda dari keduanya

dalam membelanjakan pendapatan mereka. Oleh karena itu, bila dipakai

(32)

pihak, prinsip tersebut akan mendorong orang hidup berlebihan atau boros, hanya

dengan dalih untuk menghindari zakat. Oleh karenanya, menurut Nukthoh

Arfawie Kurde yang menjadi penghitungan nisab adalah pendapatan bruto (kotor)

selama 1 tahun, bukan pendapatan bersih (Nukthoh Arfawie Kurde, 2005:35).

Secara pribadi Penulis sendiri setuju dengan pendapat yang dikemukakan

oleh bapak Nukthoh Arfawie Kurde yang haulnya berdasarkan pendapatan kotor

dari individu, dengan demikian individu tidak mempunyai alasan untuk

menghindari zakat. Namun ada hal yang bertentangan dengan hal tersebut, yaitu

syarat zakat yang berkaitan dengan harta yang dizakatkan, yaitu harta tersebut

dimiliki penuh. Pertentangan terjadi antara pendapatan kotor dan harta yang

dimiliki penuh, dalam pendapatan kotor sudah pasti terdapat kewajiban yang

harus dilunasi oleh individu yaitu berupa utang kepada orang atau lembaga yang

ia utang sebelumya. Hal tersebutlah yang menjadi pertentangan dari masalah

zakat profesi dari kasb al-amal.

2.2.5.Cara pengeluaran zakat profesi

Ulama-ulama salaf yang berpendapat bahwa harta penghasilan wajib

zakat, diriwayatkan mempunyai 2 cara dalam mengeluarkan zakatnya:

1. Az-Zuhri berpendapat bahwa bila seseorang mempunyai penghasilan dan

ingin membelanjakannya sebelum bulan wajib zakat datang, maka

hendaknya ia segera mengeluarkan zakat itu terlebih dahulu dari

(33)

hendaknya ia mengeluarkan zakatnya bersamaan dengan kekayaannya

yang lain-lain (Yusuf Qardawi, 1999:484).

Hal serupa atau dekat dengan pendapat tersebut adalah pendapat

Auza’i tentang seseorang yang menjual hambanya atau rumahnya, bahwa

ia wajib mengeluarkan zakat sesudah menerima uang penjualan di

tangannya, kecuali bila ia mempunyai bulan tertentu untuk mengeluarkan

zakat uang penjualan tersebut bersamaan dengan hartanya yang lain

tersebut (Ibid).

2. Makhul berpendapat bahwa bila seseorang harus mengeluarkan zakat

pada bulan tertentu kemudian memperoleh uang tetapi kemudian

dibelanjakannya, maka uang itu tidak wajib zakat, yang wajib zakat hanya

uang yang sudah datang bulan untuk mengeluarkan zakat itu. Tetapi bila

ia tidak harus mengeluarkan zakat pada bulan tertentu kemudian

memperoleh uang, maka ia harus mengeluarkan zakatnya pada waktu

uang tadi diperoleh (Yusuf Qardawi, 1999:485).

Pendapat itu dengan demikian memberikan keistimewaan kepada

orang-orang yang mempunyai uang yang harus dikeluarkan zakatnya pada

bulan tertentu itu, dan tidak memberikan keistimewaan kepada orang yang

tidak mempunyai uang seperti itu. Yaitu membolehkan orang-orang yang

pertama tadi membelanjakan penghasilannya tanpa mengeluarkan zakat

kecuali bila masih bersisa sampai bulan tertentu yang dikeluarkan

zakatnya bersamaan dengan kekayaan yang lain, sedangkan mereka yang

(34)

waktu menerima penghasilan tersebut. Kesimpulannya: memberikan

keringanan kepada orang yang mempunyai kekayaan lain dan memberi

beban berat kepada orang yang tidak mempunyai kekayaan selain

penghasilan tersebut (Ibid).

2.3. Kerangka konseptual

Adapun kerangka pemikiran penulis yang menjadi pijakan dalam

penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut:

Gambar 2.1

Kerangka Konseptual Pemahaman PNS terhadap Zakat Profesi

Dari skema diatas dapat dijelaskan bahwa zakat secara umum harus

dibayar oleh muzakki. Disamping dibayarkan, muzakki juga harus memahami

secara betul tentang zakat itu sendiri. Demikian halnya dengan zakat profesi yang

sedang penulis teliti, para muzakki (PNS khususnya) diwajibkan untuk

membayarkannya sesuai dengan nisab dan haul yang berlaku. Selain membayar,

muzakki juga dituntut untuk mengerti secara keseluruhan tentang zakat profesi itu

sendiri. Dalam penelitian ini, penulis juga ingin mengetahui langkah-langkah

yang dapat dilakukan pemerintah Kota Medan untuk dapat mengimplementasikan Zakat

Zakat Profesi Langkah

pengimplementasian Pemahaman PNS

(35)

zakat profesi untuk para PNS khususnya dan masyarakat Kota Medan umumnya.

Selain hal tersebut, penulis juga ingin mengetahui hambatan dan kendala yang

dihadapi dalam implementasi zakat profesi.

2.4. Penelitian Terdahulu

Nur Iman Ramadhona, S.H (2006) dalam penelitiannya yang berjudul

“Analisa Yuridis Tentang Zakat Bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dilihat Dari

Perspektif Hukum Islam”. Hasil penelitiannya tersebut menyatakan bahwa

Konsepsi zakat terhadap gaji yang diterima Pegawai Negeri Sipil (PNS)

merumuskan konsepsi fiqih zakat baru, dengan memahami semangat, jiwa serta

maksud dari prinsip-prinsip yang melekat pada syari’at diwajibkannya. Apabila

para ulama menggunakan metode qiyas (analogi) dalam berijtihad sebagai upaya

memperluas jangkauan zakat bukan berarti bid’ah karena mengada-ada yang tidak

pernah di-syariat-kan baik oleh al-Qur’an maupun al-Hadits. Akan tetapi,

merupakan suatu tuntutan kebutuhan zaman modern, mengingat sifat dan

karakteristik hukum Islam itu yaitu sempurna, elastis, dan dinamis, sistematis

serta bersifat ta’aqquli (tidak bisa dirasionalisasika) dan ta’abbudi (bersifat

rasional).

Henny Suciati, S.H (2008) dalam penelitiannya yang berjudul “Zakat

Profesi Dalam Perspektif Hukum Islam Dan Undang-Undang No 38 Tahun 1999

Tentang Pengelolaan Zakat serta Pemanfaatannya Di Kota Semarang”. Hasil

penelitian tersebut menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat yang

(36)

Sumber Daya Manusia (SDM) pengelola zakat, sehingga berpengaruh pada

tingkat kepercayaan masyarakat kepada badan-badan atau lembaga zakat.

Khoirun Nisa (2011) dalam penelitiannya yang berjudul “Studi

Perkembangan Zakat Profesi Pegawai Negeri Sipil ( PNS ) Di Kota Malang” .

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan jumlah zakat profesi

yang dibayarkan oleh PNS Kota Malang ke BAZ dari tahun 2007 hingga tahun

2011 hal tersebut dikarenakan rendahnya kesadaran PNS Kota Malang untuk

membayar zakat profesi serta hal tersebut didukung akan dicabutnya anjuran PNS

(37)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1.Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif analitis.

Penelitian deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti suatu kelompok

manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu

kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah

untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan

akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang

diselidiki (Moh. Nazir, 2005:54-57).

3.2.Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kota Medan yaitu Pemerintah Kota Medan.

Penelitian ini dilakukan dalam kurun waktu 3 bulan dimulai dari tanggal 21 Juni

2012 sampai dengan 21 September 2012.

3.3.Batasan dan Definisi Operasional 3.3.1. Batasan operasional

Untuk menghindari timbulnya salah pengertian dan salah penafsiran

terhadap istilah-istilah judul, penulis memberikan penegasan istilah sehingga

ruang lingkupnya tidak terlalu luas dan lebih mendalam, yaitu sebagai berikut.

1.

Pemahaman adalah suatu kemampuan seseorang dalam mengartikan,

menafsirkan, menerjemahkan, atau menyatakan sesuatu dengan caranya

sendiri tentang pengetahuan yang pernah diterimanya ( Sadiman, Arif.

(38)

2. Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah salah satu jenis Kepegawaian Negeri

di samping anggota TNI dan Anggota POLRI (UU No 43 Th 1999).

Pengertian Pegawai Negeri adalah warga negara RI yang telah memenuhi

syarat yang ditentukan, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi

tugas dalam suatu jabatan negeri, atau diserahi tugas negara lainnya, dan

digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku (pasal 1

ayat 1 UU 43/1999)

3. Zakat profesi adalah zakat yang dikenakan pada tiap pekerjaan atau

keahlian profesional tertentu, baik yang dilakukan sendirian maupun yang

dilakukan bersama dengan orang/lembaga lain yang mendatangkan

penghasilan (uang) yang memenuhi nisab (batas minimum untuk berzakat)

(Nukthoh Arfawie, 2005:25).

3.3.2. Definisi Operasional

1. Tingkat pemahaman adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa

mengerti seseorang terhadap suatu persoalan atau yang lainnya, dalam hal

ini adalah pengetahuan PNS terhadap zakat profesi.

2. Zakat profesi adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh seseorang dalam

(39)

3.4.Populasi dan Sampel

Populasi merujuk pada sekumpulan orang atau objek yang memiliki

kesamaan dalam satu atau beberapa hal yang membentuk masalah pokok dalam

suatu penelitian (Muhamad, 2008 : 161). Populasi dalam penelitian ini adalah

PNS muslim Kota Medan, dimana jumlah populasinya 11181 orang per Juli 2012.

Sampel merupkan bagian atau sejumlah cuplikan tertentu yang diambil

dari suatu populasi dan diteliti secara rinci (Muhamad, 2008:162). Sampel dalam

penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus Slovin dengan rumus :

n = N

(1+N× e2)

Dimana :

n = ukuran sampel

N = ukuran populasi

e = persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel

yang masih dapat ditolerir atau diinginkan.

Maka jumlah sampel yang diperoleh adalah :

n = 11181

(1+11181 × 0,12)

n = 99,1135

n = 100 orang

Teknik pengambilan sampel dilakukan melalui simple random sampling

yang artinya cara penarikan sampel anggota dilakukan secara acak tanpa

(40)

administrated survey, yaitu responden diminta untuk mengisi sendiri kuesioner

yang diberikan.

3.5.Jenis dan Metode Pengumpulan Data 3.5.1. Jenis data

1. Data primer

Data primer merupakan data yang diperoleh dari sumber pertama baik

individu maupun kelompok, yaitu kuesioner yang diberikan kepada PNS

Kota Medan

2. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak yang berwenang dari

pemerintah Kota Medan, buku, literatur, media internet, serta bahan

bacaan lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini.

3.5.2. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan sebagai berikut :

1. Observasi yaitu dengan melakukan pengamatan langsung terhadap objek

yang akan diteliti, dalam hal ini pengamatan langsung ke kantor

Pemerintah kota Medan untuk mengetahui pemahaman PNS terhadap

zakat profesi

2. Studi Kepustakaan yaitu mengumpulkan data dan informasi melalui telaah

berbagai literatur yang relevan yang berhubungan dengan permasalahan

yang ada di dalam penulisan skripsi ini, dapat diperoleh dari buku-buku,

(41)

3. Kuesioner, penulis membuat daftar pertanyaan yang relevan dengan

penelitian yang dilakukan. Kuesioner ini ditujukan kepada para PNS.

Jawaban atas pertanyaan ini di gunakan sebagai pelengkap dan pendukung

kebenaran data-data yang ada.

3.6.Teknik Analisis

Dalam penelitian ini penulis menggunakan program komputer SPSS

(Statistic Product and Service Solution) versi 16,0. Metode analisis yang

digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode analisis deskriptif, dimana

data yang diperoleh dianalisis sehingga diperoleh berbagai gambaran yang

menunjukkan pemahaman PNS terhadap zakat profesi. Disamping itu dilakukan

pula dengan bentuk analisis lain seperti: grafik tabulasi silang (cross tab), tabel,

frekuensi, dan gambar (grafik).

Grafik tabulasi silang (cross tab) dapat membantu penulis dalam

menganalisis hubungan antar variabel sehingga akan memudahkan penulis dalam

pengambilan kesimpulan yang berhubungan dengan variabel-variabel tersebut.

Tabel dan grafik juga dapat membantu penulis dalam pengorganisasian data

sehingga dapat memudahkan dalam hal penyajian yang juga akan menghasilkan

(42)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1.Gambaran Umum Kota Medan

Kota Medan merupakan ibu kota provinsi Sumatera Utara. Kota ini

merupakan kota terbesar yang ada di pulau Sumatera, yakni memiliki luas 26.510

hektar ( 265,10 km2) atau 3,6% dari keseluruhan wilayah Sumatera Utara. Secara

geografis kota Medan berada pada 3° 30' – 3° 43' Lintang Utara dan 98° 35' - 98°

44' Bujur Timur. Untuk itu topografi kota Medan cenderung miring ke utara dan

berada pada ketinggian 2,5 - 37,5 meter di atas permukaan laut.

Sebagai salah satu daerah otonom berstatus kota di propinsi Sumatera

Utara, kedudukan, fungsi dan peranan Kota Medan cukup penting dan strategis

secara regional. Bahkan sebagai Ibukota Propinsi Sumatera Utara, Kota Medan

sering digunakan sebagai barometer dalam pembangunan dan penyelenggaraan

pemerintah daerah

Kota Medan memiliki posisi strategis sebagai gerbang (pintu masuk)

kegiatan perdagangan barang dan jasa, baik perdagangan domestik maupun luar

negeri (ekspor-impor). Hal ini dapat dilihat dari letak kota Medan secara

geografis yang memiliki kedudukan strategis sebab berbatasan langsung dengan

Selat Malaka di bagian Utara, sehingga relatif dekat dengan kota-kota atau negara

yang lebih maju seperti Pulau Penang Malaysia, Singapura dan lain-lain. Posisi

geografis Medan ini telah mendorong perkembangan kota dalam dua kutub

pertumbuhan secara fisik, yaitu daerah Belawan dan pusat Kota Medan saat ini.

(43)

barang/jasa yang relatif besar. Hal ini tidak terlepas dari jumlah penduduknya

yang relatif besar dimana tahun 2007 diperkirakan telah mencapai 2.083.156 jiwa.

Demikian juga secara ekonomis dengan struktur ekonomi yang didominasi sektor

tertier dan sekunder, Kota Medan sangat potensial berkembang menjadi pusat

perdagangan dan keuangan regional/nasional.

Berdasarkan data kependudukan tahun 2005, penduduk Medan

diperkirakan telah mencapai 2.036.018 jiwa, dengan jumlah wanita lebih besar

dari pria, (1.010.174 jiwa > 995.968 jiwa). Jumlah penduduk tersebut diketahui

merupakan penduduk tetap, sedangkan penduduk tidak tetap diperkirakan

mencapai lebih dari 500.000 jiwa, yang merupakan penduduk komuter. Dengan

demikian Medan merupakan salah satu kota dengan jumlah penduduk yang besar.

Berdasarkan

2.109.339 jiwa. Penduduk Medan terdiri atas 1.040.680 laki-laki dan 1.068.659

perempuan.

Dilihat dari struktur umur penduduk, Medan dihuni lebih kurang

1.377.751 jiwa berusia produktif (15-59 tahun). Selanjutnya dilihat dari tingkat

pendidikan, rata-rata lama sekolah penduduk telah mencapai 10,5 tahun. Dengan

demikian, secara relatif tersedia tenaga kerja yang cukup, yang dapat bekerja pada

berbagai jenis perusahaan, baik jasa, perdagangan, maupun industri manufaktur.

Laju pertumbuhan penduduk Medan periode tahun 2000-2004 cenderung

mengalami peningkatan, tingkat pertumbuhan penduduk pada tahun 2000 adalah

(44)

penduduk mengalami peningkatan dari 7.183 jiwa per km² pada tahun 2004

menjadi 7.681 jiwa per km² (lebih lengkapya lihat ditabel 4.1). Jumlah penduduk

paling banyak ada di Kecamatan Medan Deli, disusul Medan Helvetia dan Medan

Tembung. Jumlah penduduk yang paling sedikit, terdapat di Kecamatan Medan

Baru, Medan Maimun, dan Medan Polonia. Tingkat kepadatan Penduduk tertinggi

ada di kecamatan Medan Perjuangan, Medan Area, dan Medan Timur. Pada

ta

wanita adalah 71 tahun. Mayoritas penduduk Kota Medan sekarang adalah suku

Jawa, dan suku-suku dari Tapanuli (Batak, Mandailing, Karo). Di kota ini banyak

pula orang keturunan India dan Tionghoa. Medan merupakan salah satu Kota di

Indonesia yang memiliki populasi orang Tionghoa yang cukup banyak.

Tabel 4.1

Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Kota Medan Tahun Jumlah

Sumber : BPS Kota Medan

Secara konstitusional Negara Indonesia dibagi dalam daerah propinsi dan

daerah yang lebih kecil (Kota-Kabupaten). Masing-masing daerah pada dasarnya

memiliki sifat otonom dan atministratif. Adanya daerah, menjadikan adanya

pemerintahan daerah, pertimbangan situasional, historis, politis, psikologis dan

tehnis pemerintahan, merupakan latar belakang pemikiran strategis perlunya

(45)

adanya Pemerintahan Daerah. Pemerintah Daerah Kota Medan adalah Walikota

Medan beserta perangkat daerah otonom yang lain sebagai unsur penyalenggara

pemerintah daerah. Secara garis besar struktur organisasi Pemerintah Kota Medan,

dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 4.1

Struktur Pemerintahan Kota Medan

4.2.Deskriptif Penelitian 4.2.1. Profil Responden

Profil responden adalah data-data mengenai responden yang penulis teliti.

Responden pada penelitian ini adalah PNS pemerintah Kota Medan, penulis Walikota (Mayor)

Wakil Walikota (Vice Mayor)

(46)

mendapatkan data melalui observasi langsung ke lapangan yaitu ke pemerintahan

Kota Medan yang kemudian penulis mengajukan pertanyaan dalam bentuk

kuesioner kepada PNS yang dijadikan responden. Jawaban dari pertanyaan

tersebut akan disajikan dalam bentuk tabel, grafik, frekuensi, dan tabulasi silang

(cross tab) yang kemudian akan penulis analisis.

4.2.2. Data Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Data responden berdasarkan jenis kelamin dapat digunakan untuk

perbandingan gender terhadap sampel yang penulis teliti. Melalui tabel berikut,

penulis akan memperlihatkan perbandingan baik secara jumlah maupun

persentase responden yang penulis teliti.

Tabel 4.2

Data Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Frekuensi Persentase

Laki-laki 52 52,0

Perempuan 48 48,0

Total 100 100

Sumber : Data Primer

Tabel 4.2 diatas, terlihat hasil dari pengolahan data yang telah penulis

lakukan terhadap 100 responden yang dipilih secara acak. Hasil yang tertera di

tabel menunjukkan bahwa jumlah responden laki-laki lebih besar dari pada

responden perempuan yaitu dengan frekuensi 52 orang laki-laki atau 52% dari

semua sampel dan frekuensi responden perempuan 48 orang atau 48% dari sampel

yang penulis teliti. Dari hasil penelitian ini, terlihat bahwa frekuensi laki-laki

(47)

pemerintah Kota Medan didominasi oleh laki-laki. Untuk lebih jelas akan penulis

sajikan dalam bentuk gambar, sebagai berikut :

Gambar 4.2

Data Responden Berdasarkan Jenis Kelamin 4.2.3. Data Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Setiap PNS/responden sudah pasti mempunyai pendidikan yang ia

selesaikan sebelum ia bekerja di pemerintahan Kota Medan. Pada tabel 4.3

penulis akan menyajikan tabel data responden berdasarkan tingkat pendidikan.

Berikut tabelnya :

Tabel 4.3

Data Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan Frekuensi Persentase

SMA 18 18,0

Diploma 5 5,0

Sarjana 70 70,0

S2 7 7,0

Total 100 100,0

Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel4.3 diatas, terlihat bahwa sebagian besar responden

(48)

dengan persentase sebesar 70% dari semua responden, kemudian responden

dengan pendidikan terakhir SMA berada dibawahnya dengan jumlah 18 orang

atau dengan persentase 18% dari semua responden. Selanjutnya responden

dengan tingkat pendidikan terakhir S2 berada ditingkat selanjutnya dengan jumlah

responden 7 orang atau dengan persentase 7% dari semua responden dan terakhir

responden dengan pendidikan terakhir diploma yaitu dengan jumlah 5 orang atau

5% dari semua responden. Dari sampel yang penulis teliti, sebagian besar

merupakan orang-orang yang memiliki pendidikan tinggi yaitu mencapai 77%

yang meliputi 70% sarjana dan 7% S2 dengan demikian bisa dikatakan bahwa

orang-orang tersebut sudah paham akan kewajibannya sebagai hamba ALLAH,

terlepas dari faktor-faktor lain. Dengan tidak mengucilkan atau

mendeskriminasikan responden dengan tingkat pendidikan lainnya, para

responden yang memiliki pendidikan SMA dan diploma juga harus memenuhi

kewajibannya sebagai hamba ALLAH. Untuk lebih jelasnya, penulis menyajikan

(49)

Gambar 4.3

Data Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

4.2.4. Data Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Golongan

Golongan yang didapat oleh seorang PNS tidak lepas dari tingkat

pendidikan terakhir yang ia selesaikan tanpa memperdulikan berapa lama

responden tersebut menjadi seorang PNS. Dalam hal ini penulis ingin

menampilkan kedua hal tersebut dalam satu tabel yang akan penulis jelaskan

(50)

Tabel 4.4

Data Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Golongan Golongan Pendidikan Terakhir Total Persentase

SMA Diploma Sarjana S2

Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel 4.4, terlihat bahwa responden yang memiliki golongan

II dengan pendidikan terakhir SMA berjumlah 11 orang, dengan pendidikan

terakhir Diploma berjumlah 2 orang, dan dengan pendidikan terakhir sarjana

berjumlah 2 orang. Dengan demikian secara keseluruhan responden yang

memiliki golongan II berjumlah 15 orang atau 15%. Responden yang memiliki

golongan III dengan pendidikan terakhir SMA berjumlah 6 orang, dengan

pendidikan terakhir Diploma berjumlah 3 orang, dengan pendidikan terakhir

sarjana berjumlah 44 orang, dengan pendidikan terakhir S2 berjumlah 3 orang

sehingga semua responden yang memiliki golongan III berjumlah 56 orang atau

56% dari semua responden. Responden yang memiliki golongan IV dengan

pendidikan terakhir SMA berjumlah 1 orang, dengan pendidikan terakhir sarjana

berjumlah 24 orang, dan dengan pendidikan S2 berjumlah 4 orang maka secara

keseluruhan responden yang memiliki golongan IV berjumlah 29 orang atau 29%

(51)

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat

pendidikan seorang PNS maka semakin tinggi pula golongan yang dia miliki. Hal

tersebut terbukti dari 7 orang responden yang pendidikan terakhirnya S2, 4 orang

diantaranya memiliki golongan IV atau 57% memiliki golongan IV. Demikian

halnya dengan responden dengan tingkat pendidikan terakhirnya SMA yang

berjumlah 18 orang, 11 0rang dari mereka memiliki golongan II atau 61% dari

mereka memiliki golongan II. Hal tersebut belumlah seutuhnya benar sebab

untuk membuktikan hal tersebut penulis perlu meneliti faktor-faktor lain yang

berkaitan, namun untuk penelitian dan hasil tabulasi silang yang penulis lakukan

hal tersebut telah teruji dengan tabel yang penulis tampilkan dan dari data-data

yang penulis input dari responden yang penulis ambil.

4.2.5. Data Responden Berdasarkan Lama Jadi PNS Dan Golongan

Golongan yang dimiliki oleh seorang responden tidak terlepas dari

lamanya responden tersebut menjadi PNS. Penulis mencoba membuat suatu

hipotesis bahwa lamanya seorang PNS menjadi PNS akan berbanding lurus

terhadap golongan yang ia miliki saat ini. Untuk membuktikan hal tersebut,

penulis akan menampilkan tabel data responden berdasarkan lama menjadi PNS

(52)

Tabel 4.5

Data Responden Berdasarkan Lama Jadi PNS dan Golongan Lama Menjadi

Sumber : Data Primer

Dari data yang ada didalam tabel 4.5 terlihat bahwa responden dengan

lama menjadi PNS > 1 tahun s/d 5 tahun yang memiliki golongan II berjumlah 11

orang dan yang memiliki golongan III berjumlah 19 orang sehingga jumlah

responden dengan lama menjadi PNS > 1 tahun s/d 5 tahun adalah 30 orang atau

30% dari semua responden. Responden dengan lama menjadi PNS > 5 tahun s/d

10 tahun yang memiliki golongan II berjumlah 1 orang, yang memiliki golongan

III berjumlah 11 orang , dan yang memiliki golongan IV berjumlah 3 orang maka

secara keseluruhan responden dengan lama menjadi PNS > 5 tahun s/d 10 tahun

adalah 15orang atau 15% dari semua responden. Untuk responden dengan lama

menjadi PNS > 10 tahun s/d 15 tahun yang memiliki golongan II berjumlah 1

orang, yang memiliki golongan III berjumlah 9 orang, dan yang memiliki

golongan IV berjumlah 7 orang, jadi semua responden dengan lama menjadi PNS

> 10 tahun s/d 15 tahun berjumlah 17 orang atau 17% dari semua responden.

(53)

golongan II berjumlah 2 orang, yang memiliki golongan III berjumlah 17 orang,

dan yang memiliki golongan IV berjumlah 19 orang secara keseluruhan responden

dengan lama menjadi PNS > 15 tahun berjumlah 38 orang atau 38% dari semua

responden.

Dari data yang penulis kemukakan terlihat bahwa jumlah responden yang

memiliki golongan IV dengan lama menjadi PNS > 15 tahun sebanyak 19 orang

atau 50% dari semua responden dengan lama menjadi PNS > 15 tahun, hal

tersebut sudah mendominasi dari keseluruhan responden dengan lama menjadi

PNS > 15 tahun. Sedangkan responden dengan lama menjadi PNS > 1 tahun s/d

5 tahun yang memiliki golongan II berjumlah 11 orang atau 36% dari semua

responden dengan lama menjadi PNS >1 tahun s/d 5 tahun, hal tersebut masih

dibawah responden dengan lama menjadi PNS > 1 tahun s/d 5 tahun yang

memiliki golongan III yaitu sebanyak 19 orang atau 74% dari semua responden

dengan lama menjadi PNS > 1 tahun s/d 5 tahun. Pada hal ini, hipotesis yang

penulis kemukakan tidak benar seutuhnya sebab responden dengan lama menjadi

PNS > 1 tahun s/d 5 tahun yang memiliki golongan II lebih kecil dari responden

dengan golongan III yaitu 36% berbanding 74%. Penulis beranggapan bahwa

tingginya golongan suatu responden tidak seutuhnya dipengaruhi oleh lama

menjadi PNS namun ada faktor lain, seperti pendidikan terakhir serta lainnya.

(54)

4.3.Analisis Data

Pada bagian penulis akan menjelaskan hasil temuan penulis dari kuesioner

yang penulis bagikan kepada para responden. Data-data yang dari kuesioner

tersebut akan penulis input ke program SPSS (Statistic Product and Service

Solution) versi 16.0, yang kemudian akan penulis interpretasikan. Penulis juga

akan menganalisis hasil temuan tersebut untuk mendapatkan hasil yang lebih

spesifik. Berikut hasil yang penulis dapatkan :

4.3.1. Pemahaman Responden Terhadap Zakat Dan Zakat Profesi

Penulis akan memulainya dari hal yang paling umum menurut penulis

yakni pemahaman responden terhadap zakat secara umum. Kemudian akan

penulis lanjutkan kepada pemahaman para responden terhadap zakat profesi.

Namun dikarenakan istilah “zakat profesi” adalah suatu istilah asing ditelinga para

responden, maka penulis akan melihat seberapa asing atau seberapa tahukah

responden akan zakat profesi ini. Namun dalam hal ini penulis tidak

mendalaminya dikarenakan fokus dari penelitian penulis adalah tingkat

pemahaman dari zakat profesi tersebut. Berikut hasil yang penulis dapatkan dan

(55)

Tabel 4.6

Pemahaman Zakat Berdasarkan Jenis Kelamin Pemahaman

Dari tabel 4.6 diatas, terlihat bahwa 39 orang dari responden menyatakan

bahwa mereka paham sepenuhnya akan zakat atau 39% dari semua responden

yang penulis teliti dengan rincian 18 orang perempuan dan 21 orang laki-laki atau

dengan perbandingan persentase 46% : 54% dari responden yang menyatakan

mereka paham sepenuhnya tentang zakat. Selanjutnya 42 orang dari responden

menyatakan bahwa mereka paham sebagian saja dari zakat secara umum atau 42%

dari semua responden dengan rincian 19 orang perempuan dan 23 orang laki-laki

atau dengan perbandingan persentase 45% : 55% dari responden yang menyatakan

bahwa mereka paham sebagian saja tentang zakat. Responden yang menyatakan

paham sedikit saja tentang zakat sebanyak 16 orang atau 16% dari semua

responden yang penulis teliti dengan rincian 5 perempuan dan 11 laki-laki dengan

perbandingan persentase 31% : 69% dari responden yang menyatakan paham

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Pemahaman PNS terhadap Zakat Profesi
Tabel 4.1 Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Kota Medan
Gambar 4.1 Struktur Pemerintahan Kota Medan
Tabel 4.2 Data Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
+7

Referensi

Dokumen terkait

a. Kondisi eksternal yang dihadapi oleh badan/instansi pelaksana tidak akan menimbulkan gangguan atau kendala yang serius. Beberapa kendala/hambatan pada saat implementasi

J: Sebenarnya saya barn memahami apa itu zakat profesi. Sebelumnya saya hanta mengetahui sebalas zakal litrah dan zakat mal. Tapi sckarang :;cmcnjak ada sosial isasi

Zakat profesi jika dikelola dengan baik mampu membantu mengatasi kemiskinan yang sampai saat ini belum juga dientaskan, zakat profesi ini dikeluarkan oleh

Hambatan dan Kendala yang Dihadapi dalam Peningkatan Potensi Ekonomi Tanah Wakaf di Kota Medan1. Bapak/Ibu diminta untuk memberi tanda (√) untuk menjawab pertanyaan di

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA MEDAN.. Analisis Pendayagunaan Zakat Produktif Dalam Upaya Mengentaskan Kemiskinan di Kota Medan Studi Pada Badan Amil

Zakat Profesi adalah zakat yang dikenakan pada setiap penghasilan dari pekerjaan, baik dilakukan sendiri maupun bersama orang/Lembaga lain,yang mendatangkan

Sehubungan dengan hal tersebut maka timbul permasalahan kendala-kendala apa saja yang dihadapi konsumen dalam praktik perjanjian pembiayaan sepeda motor di Kota Medan,

Peran Unit Pengumpul Zakat Terhadap Kepatuhan membayar Zakat Profesi Pada Unit Pengumpul Zakat Universitas Mulawarman Dalam menjalankan perannya Unit Pengumpul Zakat Universitas