• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode "Earned Value" Pada Jasa Konstruksi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Metode "Earned Value" Pada Jasa Konstruksi"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

METODE “EARNED VALUE”

PADA JASA KONSTRUKSI

MONOGRAF

IR. MANDIYO PRIYO, MT

Jurusan Teknik Sipil

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

(4)

METODE “EARNED VALUE” PADA JASA KONSTRUKSI

@ IR. MANDIYO PRIYO, MT

Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI)

ISBN: 978-979-98053-7-9

Halaman: viii, 75 hal

Penulis: Ir. Mandiyo Priyo, MT

Editor:

Proof Reader:

Layout & Desain Cover: Dian Sidiq Wibowo

Cetakan Pertama 2012

Diterbitkan Oleh:

Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (LP3 UMY)

Dilarang mengcopy, memperbanyak tanpa seijin penerbit. Hak Cipta dilindungi oleh undang-undang.

(5)

PRAKATA

Proyek konstruksi berkembang semakin besar dan rumit

dewasa ini baik dari segi fisik maupun biaya. Pada prakteknya suatu

proyek mempunyai keterbatasan akan sumber daya, baik berupa

manusia, material, biaya ataupun alat. Hal ini membutuhkan suatu

manajemen proyek mulai dari fase awal proyek hingga fase

penyelesaian proyek. Dengan meningkatnya tingkat kompleksitas

proyek dan semakin langkanya sumber daya maka dibutuhkan juga

peningkatan sistem pengelolaan proyek yang baik dan terintegrasi.

Dalam proses konstruksi, konsep pengendalian proyek

konstruksi merupakan salah satu tahapan yang memberikan nilai

apakah suatu proyek dapat disebut mencapai tujuannya, atau terjadi

kekurangan-kekurangan sehingga kualitas pencapaian tujuannya

tidak maksimal.

Oleh sebab itu, banyak upaya yang sudah dilakukan untuk

menciptakan teknik-teknik pengendalian untuk mendeteksi

terjadinya penyimpangan-penyimpangan sedini mungkin. Ada

(6)

laporan harian/mingguan/bulanan, Cash-flow, pemanfaatan

diagram batang, kurva S, Earned Value dan lain sebagainya.

Earned Value sendiri merupakan salah satu teknik

pemantauan pada proses konstruksi yang didasari konsep integrasi

antara biaya dan waktu. Teknik ini merupakan pengembangan lebih

lanjut dari teknik pemanfaatan kurva-S yang didasari konsep

kumulatif biaya yang dikeluarkan. Dengan mengintegrasikannya

dengan waktu serta prestasi nyata pekerjaan di lapangan, maka

Earned Value diharapkan dapat lebih mengakomodasi kebutuhan

pemantauan kinerja proyek. Kelebihannya adalah kemungkinan

untuk memprediksi kondisi akhir proyek ditinjau dari segi

waktu/jadwal dan biaya.

Penggunaan konsep earned value di Amerika Serikat dimulai

pada akhir abad 20 di industri manufaktur. Pada tahun 1960an

Departemen Pertahanan Amerika Serikat mulai mengembangkan

konsep ini. Ada 35 kriteria yang disebut Cost/Schedule System

Criteria (C/SCSC). Namun, C/SCSC lebih dipertimbangkan sebagai

alat pengendalian finansial yang memerlukan keahlian analitis yang

kuat dalam menggunakannya. Pada tahun 1995 hingga 1998 Earned

Value Management (EVM) ditransfer untuk kepentingan industry

(7)

semenjak itu EVM tidak hanya digunakan oleh Departemen of

Defence, namun juga digunakan oleh kalangan industri lainnya

seperti NASA dan United States Department of Energy. Tinjauan

EVM juga dimasukkan dalam PMBOK Guide® First Edition pada

tahun 1987 dan edisi-edisi berikutnya. Usaha untuk

menyederhanakan EVM mencapai titik momentumnya pada tahun

2000, yaitu ketika beberapa pemerintah Negara bagian di Amerika

Serikat mengharuskan penggunaan EVM untuk semua proyek

pemerintah.

Berdasarkan fakta tersebut, kami mencoba menyusun

sebuah bacaan yang kiranya dapat dijadikan sebuah wacana bagi

para pembaca sekalian terutama rekan-rekan dosen maupun

mahasiswa yang menekuni bidang teknik sipil. Tulisan ini

menguraikan konsep dasar Earned Value Method sebagai

instrumen pengendalian proyek konstruksi beserta penerapannya

untuk pengendalian proyek bangunan gedung, jembatan dan jalan.

Kami sadar sepenuhnya bahwa tidak ada sesuatu yang

sempurna demikian juga tulisan ini, saran, kritik dan segala bentuk

masukan yang membangun sangat diharapkan untuk

(8)

Kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan

buku ini disampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih.

Ucapan terima kasih berikutnya kami sampaikan kepada penerbit

Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Universitas

Muhammadiyah Yogyakarta (LP3 UMY) yang telah membantu

menerbitkan buku ini.

April 2011 Penyusun

(9)

DAFTAR ISI

PRAKATA ... iii

DAFTAR ISI ...vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

BAB II KONSEPEARNED VALUE METHOD ... 5

2.1. KINERJA SUATU PROSES KONSTRUKSI ... 5

2.2. KURVA – S ... 6

2.3. PENGENDALIAN PROYEK KONSTRUKSI ... 7

2.4. MANAJEMEN WAKTU ... 17

2.5. MANAJEMEN BIAYA ... 19

2.6. KONSEP EARNED VALUE ... 21

2.7. PENILAIAN KINERJA PROYEK DENGAN KONSEP EARNED VALUE ... 25

2.8. KRITERIA EARNED VALUE MANAGEMENT SYSTEM ... 30

BAB III EARNED VALUE PADA GEDUNG ... 35

3.1. Proyek ... Error! Bookmark not defined. 3.2. Hasil Penelitian ... 36

3.3. Analisis Data ... 41

3.4. Aplikasi Metode Earned Value ... 56

(10)

BAB IV

EVALUASI KINERJAPROYEK JEMBATAN ... 63

4.1. Pendahuluan ... 63

4.2. Evaluasi Kinerja dengan Konsep ”Earned Method” ... 64

4.3. KESIMPULAN ... 73

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

Pelaksanaan kegiatan suatu proyek berlangsung lebih cepat

dari jadwal yang direncanakan, belum tentu menggunakan biaya

yang telah dialokasikan secara efisien. Apabila hal itu terjadi, maka

pada akhir pekerjaan jumlah biaya pelaksanaan akan melampui

anggaran yang direncanakan pada saat awal perencanaan. Sebagai

akibatnya prestasi pekerjaan tidak tercapai seperti yang telah

direncanakan tersebut. Oleh karena itu diperlukan adanya analisis

biaya dan waktu secara terpadu, Agar pada saat pelaporan

pekerjaan dapat diketahui secara akurat prestasinya, dan total biaya

dan waktu yang diperlukan dalam penyelesaian proyek. Berdasarkan

hasil analisis tersebut, maka dapat dilakukan perbaikan yang

diperlukan agar pekerjaan mencapai sasaran.

Pada umumnya tidak ada satu proyek yang dalam

melaksanakan kegiatannya dapat berjalan dengan lancar dari awal

hingga akhir tanpa mengalami perubahan dari rencana awal,

(12)

disebabkan karena kurangnya data-data dan informasi yang

diperlukan pada saat menyusun rencana awal, sehingga beberapa

aspek dalam perencanaan dibuat berdasarkan prakiraan keadaan

yang akan dating.

Setelah proyek berjalan, data-data dan informasi pada

rencana awal harus dianalisis dan dibandingkan dengan hasil

pelaksanaan fisik di lapangan, kemudian dilakukan

perbaikan-perbaikan yang diperlukan, bahkan sering kali juga harus dilakukan

perencanaan ulang agar pekerjaan dapat mencapai sasaran.

Untuk menganalisis dan membandingkan apakag hasil

pekerjaan mencapai sasaran yang telah ditetapkan atau tidak,

diperlukan adanya pengendalian yang dapat dipakai sebagai tolok

ukur dan metode pengukuran yang mampu memberikan indikasi

terhadap pencapaian sasaran yang diinginkan, yaitu pengendalian :

biaya, mutu dan waktu.

Perencanaan dan Pengendalian Biaya dan Wakru

merupakan bagian dari menajemen proyek konstruksi secara

keseluruhan. Selain penilaian dari segi kualitas, prestasi suatu

proyek dapat pula dinilai dari segi biaya dan waktu. Biaya yang

telah dikeluarkan dan waktu yang digunakan dalam menyelesaikan

(13)

terhadap rencana. Adanya penyimpangan biaya dan waktu yang

signifikan mengindikasikan pengelolaan proyek yang buruk. Dengan

adanyan indikator prestasi proyek dari segi biaya dan waktu ini

memungkinkan tindakan pencegahan agar pelaksanaan proyek

berjalan sesuai dengan rencana.

Konsep earned value merupakan salah satu alat yang

digunakan dalam pengelolaan proyek yang mengintegrasikan biaya

dan waktu. Konsep earned balue menyajikan tiga dimensi yaitu

penyelesaian fisik dari proyek (the percent complete) yang

mencerminkan rencana penyerapan biaya (budgeted cost), biaya

actual yang sudah dikeluarkan atau yang disebut dengan actual

cost serta apa yang didapatkan dari biaya yang sudah dikeluarkan

atau yang disebut earned value. Dari ketiga dimensi tersebut,

dengan konsep earned value, dapat dihubungkan antara kinerja

biaya dengan waktu yang berasal dari perhitungan varian dari biaya

dan waktu (Flemming dan Koppelman, 1994).

Berdasarkan uraian di atas secara umum dapat disimpulkan

bahwa konsep earned value method sebagai instrumen

pengendalian proyek konstruksi dibutuhkan oleh seorang manajer

proyek ( project manager ) untuk mengelola proyek yang

(14)

seorang manajer proyek dapat mengindentifikasi kinerja keseluruhan

proyek maupun paket-paket pekerjaan di dalamnya dan kemudian

memprediksi kinerja biaya dan waktu penyelesaian proyek. Hasil

dari evaluasi kinerja proyek tersebut dapat digunakan sebagai early

warming jika terdapat inefisiensi kinerja dalam penyelesaian proyek

sehingga dapat dilakukan kebijakan-kebijakan manajemen dan

perubahan metode pelaksanaan agar pembengkakan biaya dan

(15)

BAB II

KONSEP

EARNED VALUE METHOD

2.1.

KINERJA SUATU PROSES KONSTRUKSI

Dalam manajemen konstruksi, dibutuhkan pengetahuan

terhadap beberapa variabel yang antara lain adalah pengendalian

biaya dan waktu. Tujuan dari pengendalian ini adalah tercapainya

tujuan dari proyek itu sendiri, yaitu memenuhi persyaratan tuntutan

semua pihak yang terkait dalam proyek konstruksi tersebut. Pihak

pemilik proyek berkeinginan agar proyek tersebut hemat dalam

biaya dengan mutu yang baik dan dapat secepatnya berfungsi.

Demikian pula dengan pihak kontraktor, menginginkan bahwa

proyek tersebut dapat memberikan keuntungan yang sepadan

dalam waktu secepatnya. Berdasarkan hal tersebut, maka

pemenuhan kebutuhan pihak-pihak terkait menjadi penting

sehingga perlu disiasati dengan metode yang dapat diterima oleh

(16)

Beberapa metode telah dikembangkan yang tujuannya

adalah untuk mengendalian prestasi kerja dan biaya yang

dikeluarkan dalam suatu teknik presentasi yang mudah dibaca.

Metode tersebut salah satunya adalah dengan membuat diagram

kurva S sepanjang jadwal proyek. Pengembangan teknik tersebut

dilakukan melalui metode Earned Value yang mengintegrasikan

kedua variabel pengendalian yaitu waktu dan biaya.

2.2.

KURVA

S

Salah satu hasil dari teknik penjadwlan adalah adanya biaya

yang diperlukan pada suatu kurun waktu dalam durasi proyek. Pada

tahap perencanaan pelaksanaan, kebutuhan biata tersebut

dijabarkan dalam per satuan waktu, sehingga kebutuhan per satuan

waktu tersebut dapat diketahui berdasarkan perencanaan awalnya.

Kurva-S mengasumsikan bahwa biaya yang dikeluarkan

tersebut sama dengan prestasi kerja yang dihasilkan pada suatu

satuan waktu. Artinya penekanan pengendalian terfokus pada biaya.

Metode ini pada dasarnya dapat diterapkan pada kondisi yang

penggunaan perhitungan didukung oleh standar yang baik. Artinya

mark-up dilakukan semata-mata untuk menetakan margin yang

(17)

maupun harga satuannnya. Apabila ada, itu pun relatif bukan untuk

menetapkan margin tersebut di atas. Konsep perhitungan

penetapan kurva-S adalah dengan mengakumulasikan biaya per

satuan waktu, berurutan sesuai dengan jadwal yang direncanakan,

sehingga apabila dirumuskan menjadi :

1 -n cum n n

cum

C

C

C

………. (1)

C = Biaya

N = Periode waktu

cum = Cummulative

Apabila nilai kumulatif tersebut dikonversikan ke dalam

persentasi, maka akan diperoleh prestasi kerja per satuan waktu.

Hasil ini menunjukkan bahwa prestasi kerja dihitung semata-mata

berdasarkan biaya yang dikeluarkan atau hanya volume yang

dihasilkan dalam nilai sesuai dengan harga satuannya.

2.3.

PENGENDALIAN PROYEK KONSTRUKSI

Sistem manajemen proyek pembangunan merupakan proses

kegiatan merencanakan, mengorganisasi, memimpin dan

mengendalikan suatu kegiatan dan sumber daya sehingga seluruh

(18)

Sumber Daya dalam hal ini mencakup Man, Machine, Material,

Money, Method, Maintenance. Menurut PMBOK (Project

Management Body of Knowledge) yang diterbitkan oleh PMI (Project

Management Institute) Amerika, Sistem Manajemen Proyek dapat

diuraikan ke dalam 9 kategori bidang manajemen yakni Ruang

Lingkup Proyek, Integrasi Proyek, Waktu Proyek, Biaya Proyek, Mutu

Proyek, Sumber Daya Manusia, Komunikasi Proyek, Risiko Proyek,

dan Pengadaan Proyek. Dari seluruh kegiatan manajemen proyek

tersebut, kegiatan proyek banyak didominasi oleh kegiatan

pengendalian proyek.

Secara umum, Sistem Pengendalian Proyek diperlukan untuk

menjaga kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan.

Perencanaan pada prinsipnya dibuat sebagai bahan acuan untuk

pelaksanaan. Bahan acuan tersebut selanjutnya menjadi standar

pelaksanaan proyek yang meliputi jadwal, anggaran, dan spesifikasi

teknis. Selama proses pengendalian, pemantauan harus dilakukan

selama pelaksanaan proyek sehingga dapat diketahui prestasi dan

kemajuan proyek yang telah dicapai. Informasi hasil pemantauan ini

berguna sebagai bahan evaluasi terhadap performance yang telah

dicapai pada saat pelaporan. Evaluasi kemajuan proyek dilakukan

(19)

hasil pemantauan dengan standar perencanaan yang telah dibuat

sebelumnya. Pelaksanaan evaluasi kemajuan proyek dapat

dilakukan dengan perangkat software khusus sehingga jika terjadi

keterlambatan, akan segera cepat diketahui dan langkah-langkah

antisipasi dapat dilakukan sedini mungkin. Hasil evaluasi kemajuan

proyek ini berguna bagi pengambilan keputusan terhadap

masalah-masalah yang timbul. Selain itu hasil evaluasi dapat digunakan

untuk menindaklanjuti pelaksanaan pekerjaan secara tepat dengan

melakukan tindakan koreksi (corrective action) terhadap pekerjaan

yang telah dicapai.

Definisi Pengendalian menurut R.J. Mockler (1972) adalah

usaha sistematis untuk menentukan standar yang sesuai dengan

sasaran perencanaan, merancang sistem informasi,

membandingkan pelaksanaan dengan standar, menganalisis adanya

penyimpangan antara pelaksanaan dan standar, kemudian

mengambil tindakan koreksi yang diperlukan agar sumber daya

dapat digunakan secara efektif dan efisien dalam rangka mencapai

sasaran.

Mengikuti menjadi tertunda atau tidak dapat diselesaikan

(20)

2.3.1. Jenis-Jenis Pengendalian Proyek

Dalam sistem pengendalian proyek, di samping memerlukan

perencanaan yang realistis sebagai tolok ukur pencapaian sasaran,

juga harus dilengkapi dengan teknik dan metode yang dapat segera

mengetahui tanda-tanda penyimpangan.

Pengendalian proyek konstruksi terdiri dari beberapa jenis

pengendalian yakni pengendalian biaya, pengendalian jadwal,

pengendalian material), pengendalian dokumen, pengendalian

instalasi dan pengawasan, pengendalian konstruksi, pengendalian

mutu dan perijinan.

Secara rinci jenis-jenis pengendalian proyek konstruksi

dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Pengendalian Biaya (Cost Control)

Pengendalian biaya meliputi proses-proses yang diperlukan

untuk memastikan bahwa proyek selesai dengan dana yang telah

disepakati. Pengendalian biaya tidak hanya merupakan

pemantauan/pemonitoran biaya dan perekaman jumlah data, tetapi

juga analisa data agar tindakan koreksi dapat dilakukan sebelum

terlambat. Pengendalian biaya dilakukan oleh seluruh personil baik

dalam struktur organisasi manajemen proyek Owner maupun

(21)

bertanggung jawab terhadap pengendalian biaya proyek, termasuk

manajemen pendanaan, persetujuan dan pembayaran tagihan dari

Kontraktor Utama serta pengendalian dana/budget. Metode

pengendalian biaya harus secara jelas didefinisikan dan

diimplementasikan.

b. Pengendalian Jadwal (Schedule Control)

Pengendalian jadwal meliputi proses-proses yang

diperlukan untuk memastikan penyelesaian pembangunan tepat

waktu. Mengatur pembangunan proyek dengan waktu yang tepat,

sesuai biaya yang disetujui serta performance yang baik sangat sulit

dilakukan. Adapun pengendalian jadwal pada fase konstruksi adalah

jadwal milestone, jadwal rekayasa, konstruksi dan startup, program

analisis tenaga kerja, Critical Path Method (CPM), jadwal konstruksi

3 bulanan, jadwal kerja mingguan dan harian, jadwal subkontrak,

jadwal startup, dan Daftar Punch konstruksi.

c. Pengendalian Material (Material Control)

Pemakaian material merupakan bagian terpenting yang

memiliki persentase yang cukup besar dari total biaya proyek. Oleh

(22)

tepat untuk memilih, membeli, mengirim, menerima, menyimpan,

mendistribusikan dan menghitung material menjadi sangat penting.

Pengendalian material yang mencakup sistem dan komponen

utama yang tercakup dalam kontrak harus dilakukan oleh Kontraktor

Utama. Kegagalan pengendalian material akan berakibat fatal

sehingga membengkakkan biaya.

d. Pengendalian Dokumen (Document Control)

Dokumen yang dimaksud adalah drawing, spesifikasi,

prosedur, laporan dan lain-lain tidak hanya mengkomunikasikan

informasi antara berbagai kelompok rekayasa tetapi juga

mendefinisikan kondisi tapak. Meskipun pengendalian dokumen

dilakukan oleh divisi tertentu di dalam suatu organisasi proyek,

namun manajer proyek dari seluruh partner yang terlibat dalam

pembangunan harus mereview, menyetujui, dan menjaga daftar

dokumen-dokumen yang masih berlaku. Dokumentasi ini juga

merupakan bagian dari sistem jaminan mutu. Penyimpanan

dokumen yang rapi dan terdokumentasi dengan baik akan

memudahkan pelacakan kembali. Untuk hal tersebut diperlukan

adanya identifikasi, status, dan daftar dokumen. Identifikasi

(23)

yang dihasilkan, serta kelompok atau personil yang

bertanggungjawab terhadap dokumen tersebut. Sedangkan status

dokumen berupa dokumen draft atau dokumen final.

e. Pengendalian Instalasi dan Pengawasan (Installation and

Supervision Control)

Pada kontrak Turnkey, pengendalian instalasi dan

pengawasan merupakan tanggung jawab Kontraktor Utama. Owner

telah mendelegasikan tanggung jawab instalasi dan pengawasan

kepada Kontraktor Utama. Namun demikian Owner tetap melakukan

pengawasan terhadap kerja Kontraktor Utama.

f. Pengendalian Konstruksi (Construction Control)

Peran dan tanggung jawab Owner tergantung pada

seberapa besar bagian proyek yang telah didelegasikan kepada

Kontraktor Utama. Hal tersebut tergantung pada tipe kontrak dan

tanggung jawab manajemen proyek.

g. Pengendalian Mutu (Quality Control)

Manajemen Mutu proyek meliputi proses-proses yang

(24)

kebutuhan yang diperlukan. Manajemen mutu meliputi seluruh

kegiatan dari fungsi manajemen keseluruhan yang menentukan

kebijakan mutu, sasaran, dan tanggung jawab serta melaksanakan

kegiatan seperti rencana mutu, jaminan mutu, kendali mutu,

peningkatan mutu dan sistem mutu. Jaminan mutu dan kendali mutu

harus dilakukan pada fase pra-kontrak sebagai bagian dari

spesifikasi penawaran dan juga pada pengadaan material dan

peralatan. Masing-masing struktur organisasi manajemen proyek

yang terlibat sebagai partner pembangunan mempunyai kewajiban

menyusun sistem manajemen mutu masing-masing dan

melaksanakannya sesuai dengan ruang lingkup pekerjaannya.

Owner bertanggung jawab penuh terhadap efektifitas seluruh

kegiatan program jaminan mutu.

2.3.2. Proses Pengendalian

Proses pengendalian berjalan sepanjang daur hidup proyek

guna mewujudkan performa yang baik di dalam setiap tahap.

Perencanaan dibuat sebagai bahan acuan bagi pelaksanaan

pekerjaan. Bahan acuan tersebut selanjutnya akan menjadi standar

pelaksanaan pada proyek yang bersangkutan meliputi, spesifikasi

(25)

Pemantauan harus dilakukan selama masa pelaksanaan

proyek untuk mengetahui prestasi dan kemajuan yang telah dicapai.

Informasi hasil pemantauan ini berguna sebagai bahan evaluasi

performa yang relah dicapai pada saat pelaporan. Evaluasi

dilakukan dengan cara membandingkan kemajuan yang dicapai

berdasarkan hasil pemantauan dengan standar yang telah dibuat

berdasarkan perencanaan.

Hasil evaluasi berguna untuk pengambilan tindakan yang

akurat terhadap permasalahan-permasalahan yang timbul selama

masa pelaksanaan. Berdasarkan hasil evaluasi ini pula, tindak lanjut

pelaksanaan pekerjaan dapat diputuskan dengan tepat dengan

melakukan koreksi terhadap performa yang telah dicapai. Proses di

(26)

Gambar 3.1 Siklus pengendalian dalam proyek konstruksi

2.3.3.Fungsi Pengendalian Proyek

Pengendalian memiliki dua fungsi yang sangat penting, yaitu:

a. Fungsi Pemantauan

Dengan pemantauan yang baik terhadap semua kegiatan proyek

akan memaksa unsur-unsur pelaksana untuk bekerja secara cakap

dan jujur serta akan menjadi motifasi utama untuk mencapai

performa yang tinggi.

b. Fungsi Manajerial

Pada proyek-proyek yang kompleks dan mudah terjadi perubahan

(dinamis) penerapan pengendalian dan sistem informasi yang baik

(27)

bagian-bagian pekerjaan yang mengalami kejanggalan atau memiliki

performa yang kurang baik. Dengan demikian dapat dengan segera

dilakukan usaha untuk mengatasi atau meminimalkan kejanggalan

tersebut.

2.4.

MANAJEMEN WAKTU

Manajemen waktu pada suatu proyek (Project Time

Management) memasukkan semua proses yang dibutuhkan

dalam upaya untuk memastikan waktu penyelesaian proyek (PMI

2000). Ada lima proses utama dalam manajemen waktu proyek,

yaitu :

Pendefisian Aktivitas. Merupakan proses identifikasi semua

aktivitas spesifik yang harus dilakukan dalam rangka

mencapai seluruh tujuan dan sasaran proyek (project

deliveriables). Dalam proses ini dihasilkan pengelompokkan

semua aktivitas yang menjadi ruang lingkup proyek dari level

tertinggi hingga level yang terkecil atau disebut Work

Breakdown Strucuture (WBS).

Urutan Aktivitas. Proses pengurutan aktivitas melibatkan

identifikasi dan dokumentasi dari hubungan logis yang

(28)

akurat untuk mendukung pengembangan jadwal sehingga

diperoleh jadwal yang realisitis. Dalam proses ini dapat

digunakan alat bantu komputer untuk mempermudah

pelaksanaan atau dilakukaan secara manual. Teknik secara

manual masih efektif untuk proyek yang berskala kecil atau

di awal tahap proyek yang berskala besar, yaitu bila tidak

diperlukan pendetailan yang rinci.

Estimasi Durasi Aktivitas. Estimasi durasi aktivitas adalah

proses pengambilan informasi yang berkaitan dengan

lingkup proyek dan sumber daya yang diperlukan yang

kemudian dilanjutkan dengan perhitungan estimasi durasi

atas semua aktivitas yang dibutuhkan dalam proyek yang

digunakan sebagai input dalam pengembangan jadwal.

Tingkat akurasi estimasi durasi sangat tergantung dari

banyaknya informasi yang tersedia.

Pengembangan Jadwal. Pengembangan jadwal berarti

menentukan kapan suatu aktivitas dalam proyek akan

dimulai dan kapan harus selesai. Pembuatan jadwal proyek

merupakan proses iterasi dari proses input yang melibatkan

(29)

Pengendalian Jadwal. Pengendalian jadwal merupakan

proses untuk memastikan apakah kinerja yang dilakukan

sudah sesuai dengan alokasi waktu yang sudah

direncanakan. Hal yang perlu diperhatikan dalam

pengendalian jadwal adalah :

a. Pengaruh dari faktor – faktor yang menyebabkan

perubahan jadwal dan memastikan perubahan yang

terjadi disetujui

b. Menentukan perubahan dari jadwal

c. Melakukan tindakan bila pelaksanaan proyek berbeda

dari perencanaan awal proyek

2.5.

MANAJEMEN BIAYA

Manajemen biaya proyek (project cost management)

melibatkan semua proses yang diperlukan dalam pengelolaan

proyek untuk memastikan penyelesaian proyek sesuai dengan

anggaran biaya yang telah disetujui. Hal utama yang sangat

diperhatikan dalam manajemen biaya proyek adalah biaya dari

sumber daya yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek,

(30)

1. Perencanaan Sumber Daya. Perencanaan sumber daya

merupakan proses untuk menentukan sumber daya dalam

bentuk fisik (manusia, peralatan, material) dan jumlahnya

yang diperlukan untuk melaksanakan aktivitas proyek.

Proses ini sangat berkaitan erat dengan proses estimasi

biaya.

2. Estimasi Biaya. Estimasi biaya adalah proses untuk

memperkirakan biaya dari sumber daya yang dibutuhkan

untuk menyelesaikan proyek. Bila proyek dilaksanakan

melalui sebuah kontrak, perlu dibedakan antara perkiraan

biaya dengan nilai kontrak. Estimasi biaya melibatkan

perhitungan kuantitatif dari biaya-biaya yang muncul untuk

menyelesaikan proyek. Sedangkan biaya yang didapat dari

proses estimasi merupakan salah satu pertimbangan dari

keputusan yang diambil.

3. Penganggaran Biaya. Penganggaran biaya adalah proses

membuat alokasi biaya untuk masing-masing aktivitas dari

keseluruhan biaya yang mucul pada prose estimasi. Dari

proses ini didapatkan cost baseline yang digunakan untuk

(31)

4. Pengendalian Biaya. Pengendalian biaya dilakukan untuk

mendeteksi apakah biaya aktual pelaksanaan proyek

menyimpang dari rencana atau tidak. Semua penyebab

penyimpangan biaya harus terdokumentasi dengan baik

sehingga langkah-langkah perbaikan dapat dilakukan.

2.6.

KONSEP EARNED VALUE

Sejalan dengan perkembangan tingkat kompleksitas

proyek yang semakin besar, seringkali terjadi keterlambatan

penyelesaian proyek dan pembengkakan biaya. Sistem

pengelolaan yang digunakan biasanya memisahkan antara

sistem akuntansi untuk biaya dan sistem jadwal proyek

konstruksi. Dari sistem akuntansi biaya dapat dihasilkan laporan

kinerja dan prediksi biaya proyek, sedangkan dari sistem jadwal

dihasilkan laporan status penyelesaian proyek. Informasi

pengelolaan proyek dari kedua sistem tersebut saling

melengkapi, namun dapat menghasilkan informasi yang berbeda

mengenai status proyek. Dengan demikian, dibutuhkan suatu

sistem yang mampu mengintegrasikan antara informasi waktu

(32)

dapat digunakan sebagai alat ukur kinerja yang

mengintegrasikan antara aspek biaya dan aspek waktu.

Flemming dan Koppelman (1994) menjelaskan konsep

earned value dibandingkan manajemen biaya tradisional. Seperti

dijelaskan pada Gambar 1.a, manajemen biaya tradisional hanya

menyajikan dua dimensi saja yaitu hubungan yang sederhana

antara biaya aktual dengan biaya rencana. Dengan manajemen

biaya tradisional, status kinerja tidak dapat diketahui. Pada

Gambar 1.a dapat diketahui bahwa biaya aktual memang lebih

rendah, Namun dalam kenyataannya bahwa biaya aktual yang

lebih rendah dari rencana ini tidak menunjukkan bahwa kinerja

yang telah dilakukan telah sesuai dengan target rencana.

Sebaliknya, konsep earned value memberikan dimensi yang

ketiga selain biaya aktual dan biaya rencana. Dimensi yang

ketiga ini adalah besarnya pekerjaan secara fisik yang telah

diselesaikan atau disebut earned value/percent complete.

Dengan adanya dimensi ketiga ini, seorang manajer proyek

akan dapat lebih memahami seberapa besar kinerja yang

dihasilkan dari sejumlah biaya yang telah dikeluarkan (Gambar

(33)

Untuk mengetahui apakah pelaksanaan suatu proyek

pada saat pelaporan masih sesuai dengan anggaran biaya dan

jadwal waktu yang direncanakan atau tidak, digunakan earned

value method yang memadukan unsure-unsur terkait berupa

prestasi. Biaya, dan waktu. Dengan memadukan unsure-unsur

tersebut diharapkan dapat menjawab apakah kemajuan

pelaksanaan prroyek senilai dengan bagian anggaranya bila

diukur dengan rencana semula. Ada tiga elemen dasar yang

menjadi acuan dalam menganalisa kinerja dari proyek

berdasarkan konsep earned value. Ketiga elemen tersebut

adalah:

1. Budgeted Cost for Work Scheduled (BCWS) atau Rencana

biaya berdasarkan jadwal merupakan anggaran biaya yang

(34)

terhadap waktu. BCWS dihitung dari akumulasi anggaran

biaya yang direncanakan untuk pekerjaan dalam periode

waktu tertentu. BCWS pada akhir poyek (penyelesaian 100

%) disebut Budget at Completion (BAC). BCWS juga

menjadi tolak ukur kinerja waktu dari pelaksanaan proyek.

BCWS merefleksikan penyerapan biaya rencana secara

kumulatif untuk setiap paket-paket pekerjaan berdasarkan

urutannya sesuai jadwal yang direncanakan.

2. Actual Cost for Work Performed (ACWP) atau Biaya nyata

berdasarkan progres pekerjaan adalah representasi dari

keseluruhan pengeluaran yang dikeluarkan untuk

menyelesaikan pekerjaan dalam periode tertentu. ACWP

dapat berupa kumulatif hingga periode perhitungan kinerja

atau jumlah biaya pengeluaran dalam periode waktu

tertentu.

3. Budgeted Cost for Work Performed (BCWP) atau Rencana

biaya berdasarkan progres nyata dilapangan adalah nilai

yang diterima dari penyelesaian pekerjaan selama periode

waktu tertentu. BCWP inilah yang disebut earned value.

BCWP ini dihitung berdasarkan akumulasi dari

(35)

menghitung BCWP diantaranya : Fixed formula, Milestone

weights, Milestone weights with percent complete, Unit

complete, Percent complete dan Level of effort.

2.7.

PENILAIAN KINERJA PROYEK DENGAN KONSEP

EARNED VALUE

Penggunaan konsep earned value dalam penilaian kinerja

[image:35.420.61.363.260.477.2]

proyek dijelaskan dalam Gambar 2 (Soemardi BW et al, 1997).

Gambar 2.2 Kurva S Earned Value

Beberapa istilah yang terkait dengan penilaian ini

(36)

1)

Cost Variance (CV)

Cost variance merupakan selisih antara nilai yang diperoleh

setelah menyelesaikan paket-paket pekerjaan dengan biaya

aktual yang terjadi selama pelaksanaan proyek. Cost variance

positif menunjukkan bahwa nilai paket-paket pekerjaan yang

diperoleh lebih besar dibandingkan dengan biaya yang

dikeluarkan untuk mengerjakan paket-paket pekerjaan tersebut.

sebaliknya nilai negatif menunjukkan bahwa nilai paket-paket

pekerjaan yang diselesaikan lebih rendah dibandingkan dengan

biaya yang sudah dikeluarkan.

CV = ACWP - BCWP... (1)

2)

Schedule Variance (SV)

Schedule variance digunakan untuk menghitung penyimpangan

antara BCWS dengan BCWP. Nilai positif menunjukkan bahwa

paket-paket pekerjaan proyek yang terlaksana lebih banyak

dibanding rencana. Sebaliknya nilai negatif menunjukkan kinerja

pekerjaan yang buruk karena paket-paket pekerjaan yang

terlaksana lebih sedikit dari jadwal yang direncanakan.

(37)

3)

Cost Performance Index (CPI)

Faktor efisiensi biaya yang telah dikeluarkan dapat diperlihatkan

dengan membandingkan nilai pekerjaan yang secara fisik telah

diselesaikan (BCWP) dengan biaya yang telah dikeluarkan dalam

periode yang sama (ACWP).

CPI = ACWP/BCWP... (3)

Nilai CPI ini menunjukkan bobot nilai yang diperoleh (relatif

terhadap nilai proyek keseluruhan) terhadap biaya yang

dikeluarkan. CPI kurang dari 1 menunjukkan kinerja biaya yang

buruk, karena biaya yang dikeluarkan (ACWP) lebih besar

dibandingkan dengan nilai yang didapat (BCWP) atau dengan

kata lain terjadi pemborosan.

4)

Schedule Performance Index (SPI)

Faktor efisiensi kinerja dalam menyelesaikan pekerjaan dapat

diperlihatkan oleh perbandingan antara nilai pekerjaan yang

secara fisik telah diselesaikan (BCWP) dengan rencana

pengeluaran biaya yang dikeluarkan berdasar rencana pekerjaan

(BCWS).

(38)

Nilai SPI menunjukkan seberapa besar pekerjaan yang mampu

diselesaikan (relatif terhadap proyek keseluruhan) terhadap

satuan pekerjaan yang direncanakan. Nilai SPI kurang dari 1

menunjukkan bahwa kinerja pekerjaan tidak sesuai dengan yang

diharapkan karena tidak mampu mencapai target pekerjaan yang

sudah direncanakan.

5)

Budget Estimate to Compelete (BETC)

Bila dianggap kinerja biaya pada pekerjaan tersisa adalah tetap,

maka BETC adalah merupakan perkiraan biaya yang diperlukan

untuk menyelesaikan pekerjaan tersisa, sehingga BETC adalah

anggaran pekerjaan tersisa dibagi dengan indek kinerja biaya.

Perkiraan biaya pekerjaan tersisa dapat dihitung berdasarkan

rumus sebagai berikut:

BETC = (BAC – BCWP) / CPI ...(5)

6)

Budget Estimate at Completion (BEAC)

BEAC adalah jumlah pengeluaran sampai pada saat pelaporan

ditambah perkiraan biaya untuk pekerjaan tersisa. Perkiraan

(39)

tersisa cukup untuk menyelesaikan pekerjaan yang tersisa.

Rumus untuk menghitung perkiraan biaya total proyek sebagai

berikut:

BEAC = ACWP + BETC...(6)

7)

Schedule Estimate to Complete (SETC)

Bila dianggap kinerja jadwal pada pekerjaan tersisa tetap, seperti

pada saat pelaporan, maka SETC adalah waktu pekerjaan tersisa

dibagi indek kinerja jadwal atau seperti ditunjukkan pada rumus

berikut:

SETC = (SAC – tBCWS) / SPI...(7)

8)

Schedule Estimate at Completion (SEAC)

SEAC adalah jumlah waktu pelaksanaan pekerjaan sampai pada

saat pelaporan ditambah perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk

menyelesaikan pekerjaan tersisa. Hal ini dimaksudkan agar

pelaksana dapat memprediksi selesainya pekerjaan, adapun

perhitungannnya dapat dilihat pada rumus berikut :

(40)

Cara menginterpretasikan hasil perhitungan cost variance (CV)

dan schedule variance (SV) disajikan pada Tabel 2.1 sedangkan

Cost Performance Index (CPI) dan Schedule Performance Index

(SPI) ditampilkan pada Grafik 2.1.

2.8.

KRITERIA EARNED VALUE MANAGEMENT SYSTEM

Walaupun konsep earned value terlihat sederhana, namun

implementasinya dalam pengelolaan proyek tidaklah mudah karena

harus didukung oleh sistem manajemen yang mampu menyediakan

input data yang lengkap dalam perhitungan kinerja proyek. Bila

kinerja proyek buruk, sistem akan mampu menelusuri bagian mana

yang bermasalah yang menyebabkan pembengkakan biaya dan

terjadinya keterlambatan pelaksanaan proyek. Dengan demikian,

langkah perbaikan dapat dilakukan dan semua data terdokumentasi

dengan baik untuk keperluan di masa datang pada pengelolaan

proyek berikutnya. Fleming dan Koppelman (1994) menjelaskan 10

kriteria bagi terselenggaranya pengelolaan proyek yang berdasarkan

pada konsep earned value, sebagai berikut:

Komitmen manajemen. Pada penerapan konsep earned value,

harus ada kebulatan tekad dari manajer proyek untuk

(41)

pada proyek yang ditanganinya. Komitmen juga harus ada pada

organisasi utama perusahaan dalam mendukung keputusan

penggunaan konsep earned value pada manajemen proyek.

Menetapkan lingkup proyek dengan work breakdown structure

(WBS). Pada setiap proyek, hal pertama yang harus dilakukan

adalah menentukan lingkup proyek agar pada saat

pelaksanaannya lingkup proyek tidak meluas yang menyebabkan

kegagalan proyek. Salah satu teknik yang dapat digunakan dan

terbukti ampuh dalam membatasi lingkup proyek adalah dengan

WBS. WBS memperlihatkan hirarki perencanaan pekerjaan yang

berorientasi pada produk yang dihasilkan proyek. WBS menjadi

acuan dalam menentukan aktivitas dan sumber daya yang akan

digunakan untuk mencapai sasaran proyek.

Menciptakan management control cells (cost account). Cost

account adalah pertemuan antara level terendah WBS dengan

fungsi dari organisasi. Cost account harus memiliki empat

elemen yaitu: memperlihatkan pekerjaan di level tugas;

mempunyai kerangka waktu pelaksanaan yang spesifik bagi

masing-masing tugas; mempunyai anggaran biaya untuk

penggunaan sumber daya; dan mempunyai pihak yang

(42)

Menetapkan tanggung jawab fungsional untuk setiap bagian

terkecil dari manajemen proyek (project’s management control

cells). Dibutuhkan organisasi proyek yang dalam strukturnya

terdapat pembagian tanggung jawab yang jelas. Organisasi

proyek dibagi dalam divisi dan subdivisi. Masing-masing divisi

dan subdivisi mempunyai tugas dan tanggung jawab yang

berbeda-beda. Tugas dan tanggung jawab ini sesuai dengan

kepemilikan cost account masing-masing divisi dan

subdividivisi.

Membuat earned value baseline. Langkah selanjutnya adalah

menetapkan baseline yang digunakan dalam menghitung kinerja

proyek. Basis ukuran kinerja proyek harus memasukkan semua

cost account dan biaya-biaya tidak langsung proyek seperti

biaya tak terduga dan profit. Untuk memperolah basis ukuran

kinerja proyek, digunakan proses perencanaan formal proyek

mulai dari proses estimasi, penjadwalan dan penganggaran.

Untuk keperluan pengendalian, pihak manajemen harus

menentukan batasan untuk penilaian kinerja proyek.

Penggunaan proses formal penjadwalan proyek. Penggunaan

earned value membutuhkan alat bantu pengendalian proyek

(43)

pengendalian proyek dibuat melalui proses penjadwalan. Alat

bantu ini menunjukkan kerangka waktu dari masing-masing

paket pekerjaan dan anggaran biayanya.

Pengelolaan biaya tidak langsung (indirect cost). Biaya tidak

langsung perlu dikelompokkan tersendiri/terpisah dari biaya

langsung proyek. Terkadang biaya tidak langsung mempunyai

porsi yang lebih besar dari biaya keseluruhan proyek. Oleh

karena itu biaya tidak langsung proyek perlu diperhatikan dan

ditangani secara baik.

Secara periodik, mengestimasi biaya penyelesaian proyek. Salah

satu manfaat dari konsep earned value adalah mampu

memprediksi biaya penyelesaian proyek (EAC). Dengan dasar

kinerja aktual proyek (SPI dan CPI), dapat diprediksi secara

akurat berapa lagi dana yang dibutuhkan untuk

menyelesaikannya.

Pelaporan status proyek. Batasan varian yang sudah ditentukan

manajemen menjadi acuan kapan manajemen akan bertindak.

Bila kinerja proyek berada diluar batasan yang telah ditetapkan,

hal tersebut merupakan sinyal peringatan bagi pihak manajemen

untuk bertindak. Penerapan earned value dalam menajemen

(44)

exception. Management by exception adalah tipe sistem

manajemen yang baru melakukan tindakan ketika ada

penyimpangan.

Menyusun historical database. Pembentukan historical database

memungkinkan perbaikan proyek yang akan dikerjakan menjadi

lebih baik. Historical database digunakan sebagai acuan dalam

(45)

BAB III

EARNED VALUE

PADA KONSTRUKSI GEDUNG

3.1.

STUDI KASUS

Data yang digunakan adalah data pelaksanaan Proyek

Renovasi Bangunan Gedung Bank BNI Kantor Capem Slamet Riyadi

Surakarta , Pemilik Proyek (owner) adalah Bank BNI yang dalam

dalam ini diwakili oleh Pimpinan Kantor Wilayah 05 PT. Bank Negara

Indonesia (Persero) luas bangunan proyek ini 390 m2 terdiri atas 3

lantai dengan nilai kontrak sebesar Rp 2.650.000.000,- (Dua milyar

enam ratus lima puluh ribu rupiah). Pelaksanaan proyek ini dibagi

dalam 3 tahap dan pada tahap + dengan rencana anggaran sebesar

Rp 565.454.700,-

(46)

3.2.

HASIL PENELITIAN

Dari data hasil penelitian diperoleh rekapitulasi BCWS,

BCWP, dan ACWP sebagai berikut :

[image:46.420.46.356.178.550.2]

1. Rekapitulasi BCWS (Budgeted Cost for Work Schedule)

Tabel 3.1 Rencana Anggaran Biaya Langsung (BCWS)

s.d minggu ke-32

Minggu ke-

Bobot

Rencana

Anggaran BCWS

1 0.005482 Rp 565.454.700,00 Rp 3.099.822,67

2 0.007822 Rp 565.454.700,00 Rp 4.422.986,66

3 0.005352 Rp 565.454.700,00 Rp 3.026.313,55

4 0.004728 Rp 565.454.700,00 Rp 2.673.469,82

5 0.012192 Rp 565.454.700,00 Rp 6.894.023,70

6 0.015432 Rp 565.454.700,00 Rp 8.726.096,93

7 0.01196 Rp 565.454.700,00 Rp 6.762.838,21

Total 0.062968 Rp Rp 35.605.551,55

8 0.026443 Rp 565.454.700,00 Rp 14.952.318,63

9 0.053797 Rp 565.454.700,00 Rp 30.419.765,50

10 0.65277 Rp 565.454.700,00 Rp 36.911.186,45

11 0.075105 Rp 565.454.700,00 Rp 42.468.475,24

(47)

13 0.074987 Rp 565.454.700,00 Rp 42.401.751,59

14 0.06828 Rp 565.454.700,00 Rp 38.609.246,92

Total 0.504753 Rp Rp 285.414.956,19

15 0.06457 Rp 565.454.700,00 Rp 36.511.409,98

16 0.06277 Rp 565.454.700,00 Rp 35.493.591,52

17 0.059907 Rp 565.454.700,00 Rp 33.874.694,71

18 0.054452 Rp 565.454.700,00 Rp 30.790.139,32

19 0.050663 Rp 565.454.700,00 Rp 28.647.631,47

20 0.043419 Rp 565.454.700,00 Rp 24.551.477,62

21 0.034712 Rp 565.454.700,00 Rp 19.628.063,55

22 0.033521 Rp 565.454.700,00 Rp 18.954.607,00

Total 0.908767 Rp Rp 513.866.571,35

23 0.026507 Rp 565.454.700,00 Rp 14.988.507,73

24 0.025327 Rp 565.454.700,00 Rp 14.321.271,19

25 0.024334 Rp 565.454.700,00 Rp 13.759.774,67

26 0.015065 Rp 565.454.700,00 Rp 8.518.575,06

(48)
[image:48.420.45.356.106.532.2]

2. Rekapitulasi BCWP (Budgeted Cost for Work Performance)

Tabel 3.2 Biaya Yang Harus Dikeluarkan (BCWP)

s.d Progress 94%

Minggu ke-

Bobot

Rencana

Anggaran BCWP

1 0.000238 Rp 565.454.700,00 Rp 134.578,22

2 0.00062 Rp 565.454.700,00 Rp 350.581,91

3 0.007753 Rp 565.454.700,00 Rp 4.383.970,29

4 0.027124 Rp 565.454.700,00 Rp 15.337.393,28

5 0.030923 Rp 565.454.700,00 Rp 17.485.555,69

6 0.015006 Rp 565.454.700,00 Rp 8.485.213,23

7 0.045293 Rp 565.454.700,00 Rp 25.611.139,73

Total 0.126957 Rp Rp 71.788.432,35

8 0.143317 Rp 565.454.700,00 Rp 81.039.271,24

9 0.063597 Rp 565.454.700,00 Rp 35.961.222,56

10 0.01208 Rp 565.454.700,00 Rp 6.830.692,78

11 0.01208 Rp 565.454.700,00 Rp 6.830.692,78

12 0.028143 Rp 565.454.700,00 Rp 15.913.591,62

13 0.073689 Rp 565.454.700,00 Rp 41.667.791,39

(49)

Total 0.752998 Rp Rp 425.786.258,19

15 0.007136 Rp 565.454.700,00 Rp 4.035.084,74

16 0.028012 Rp 565.454.700,00 Rp 15.839.517,06

17 0.00786 Rp 565.454.700,00 Rp 4.444.473,94

18 0.01661 Rp 565.454.700,00 Rp 9.392.202,57

19 0.024094 Rp 565.454.700,00 Rp 13.624.065,54

20 0.076217 Rp 565.454.700,00 Rp 43.097.260,87

21 0.014687 Rp 565.454.700,00 Rp 8.304.833,18

22 0.01664 Rp 565.454.700,00 Rp 9.409.166,21

(50)
[image:50.420.44.369.84.532.2]

3. Rekapitulasi ACWP (Actual Cost of Work Performance)

Tabel 3.3 Biaya yang dikeluarkan (ACWP) s.d Progress 94%

Minggu ke- Bobot Prestasi Bobot Prestasi Kumulatif

Lap. Keu. Eiil

Mingguan

ACWP

1 0.000238 0.000238 Rp 121.120,39 Rp 121.120,39

2 0.00062 0.000858 Rp 315.523,70 Rp 436.644,09

3 0.007753 0.008611 Rp 3.945.573,03 Rp 4.382.217,12

4 0.027124 0.035735 Rp 13.803.653,14 Rp 18.185.870,26

5 0.030923 0.066658 Rp 15.736.999,19 Rp 33.922.869,45

6 0.015006 0.081664 Rp 7.636.691,46 Rp 41.559.560,91

7 0.045293 0.126957 Rp 23.050.024,40 Rp 64.609.585,31

8 0.143317 0.270274 Rp 72.935.339,82 Rp 137.544.925,13

9 0.063597 0.333871 Rp 32.365.298,39 Rp 169.910.023,52

10 0.01208 0.345951 Rp 6.147.623,14 Rp 173.057.646,66

11 0.01208 0.358031 Rp 6.147.623,14 Rp 182.205.269,80

12 0.028143 0.386174 Rp 14.322.231,62 Rp 196.527.501,42

13 0.073689 0.459863 Rp 37.501.010,04 Rp 234.028.511,46

14 0.293135 0.752998 Rp 149.179.098,30 Rp 383.207.609,76

(51)

16 0.028012 0.788146 Rp 14.255.564,51 Rp 401.094.750,32

17 0.00786 0.796006 Rp 4.000.026,31 Rp 405.094.776,63

18 0.01661 0.712616 Rp 8.452.981,81 Rp 413.547.758,44

19 0.024094 0.83671 Rp 12.261.658,25 Rp 425.809.416,70

20 0.076217 0.912927 Rp 38.787.532,50 Rp 464.496.949,20

21 0.014687 0.927614 Rp 7.474.349,42 Rp 471.971.298,62

22 0.01664 0.944254 Rp 8.468.249,09 Rp 480.439.547,71

3.3.

ANALISIS DATA

Metode Nilai Hasil (Earned Value Method) merupakan

perkalian antara total anggaran yang disediakan dengan pekerjaan

yang telah diselesaikan (%). Analisis data ini dilakukan dengan cara

manual. Dari data-data yang ada dapat dianalisis yaitu untuk

memprediksikan kondisi akhir penyelesaian proyek mengenai

perkiraan biaya dan jadwal yang diperlukan.

Langkah-langkah yang digunakan dalam penyelesaian proyek yaitu:

1. Mencari nilai hasil (BCWP)

2. Mencari varian biaya dan waktu (CV dan SV)

3. Mencari indeks kinerja dan waktu ( CPI dan SPI)

(52)

Dengan rumus – rumus yang ada dapat dianalisis hasil

perhitungan – perhitungan sebagai berikut :

1. Sampai dengan akhir minggu ke-7

a. Parameter

BCWP = BAC x (%) penyelesaian fisik

= Rp 565.454.700 x 12,6957 % = Rp 71.788.432,35

BCWS = BAC x (%) rencana

= Rp 565.454.700 x 6,2968 % = Rp 35.605.551,55

ACWP = Rp 64.609.585,31

CV = BCWP - ACWP

= Rp 71.788.432,35 – Rp 64.609.585,31

= Rp 7.178.847,04

SV = BCWP – BCWS

= Rp 71.788.432,35 – Rp 35.605.551,55

= Rp 36.182.880,8

Atau SV / (BCWS / 7 minggu)

= Rp 36.182.880,8 / (Rp 35.551,55 / 7 minggu)

= 7,114 minggu = 49,798 hari

CPI = BCWP / ACWP

= Rp 71.788.432,35 / Rp 64.609.585,31

(53)

SPI = BCWP / BCWS

= Rp 71.788.432,35 / Rp 35.605.551, 55

= 2,016 > 1 = baik

b. Baik (Cost)

Menghitung perkiraan biaya sampai akhir proyek

BETC = (BAC – BCWP) / CPI

= (Rp 565.454.700 – Rp 71.788.432,35) / 1,111

= Rp 444.344.075,3

BEAC = ACWP + BETC

= Rp 64.609.585,31 + Rp 444.344.075,3

= Rp 508.953.660,6 < Rp 656.454.700

Proyek mengalami penurunan, untuk mengembalikan pada biaya

rencamna maka harus dicapai CPI sebesar CPI to-go yaitu:

CPI to-go = (BAC – BCWP) / (BAC – ACWP)

= (Rp 565.454.700 – Rp 71.788.432,35) /

(Rp 565.454.700 – Rp 64.609.585,31)

= 0,986

c. Jadwal

Dengan cara yang sama, maka perkiraan jadwal penyelesaian

(54)

SETC = (SAC – tBCWP) / SPI

= (26 – 7) / 2,016 = 9,425 minggu

SEAC = tBCWP + SETC

= 7 + 9,425 = 16,425 minggu < 26 minggu

Durasi proyek akan lebih pendek dari rencana 26 minggu, untuk

mengembalikan pada durasi rencana maka SPI sebesar SPI

to-go yaitu :

SPI to-go = (BAC – BCWP) / (BAC – BCWS)

= (Rp 565.454.700 – Rp 71.788.432,35) /

(Rp 565.454.700 – Rp 35.605.551,55)

= 0,935

2. Sampai dengan akhir minggu ke-14

a. Parameter

BCWP = BAC x (%) penyelesaian fisik

= Rp 565.454.700 = 75,2998 % = Rp 425.786.285,2

BCWS = BAC x (%) rencana

= Rp 565.454.700 x RP 50,4753 %

= Rp 285.414.856,2

ACWP = Rp 383.207.609,8

CV = BCWP – ACWp

(55)

= Rp 42.578.648,2

SV = BCWP – BCWS

= Rp 425.786.258,2 – Rp 285.414.956,2

= Rp 140.371.302

Atau SV / (BCWS / 14 minggu)

= Rp 140.371.302/(Rp 285.414.956,2 / 14 minggu)

= 6,885 minggu = 48,195 hari

CPPI = BCWp / ACWP

= Rp 425.786.258,2 / Rp 383.207.609,8 = 1,111 > 1

= baik

SPI = BCWP / BCWS

= Rp 425.786.258,2 / Rp 285.414.956,2 = 1,492 > 1

= baik

b. Biaya (Cost)

Menghitung perkiraan biaya sampai akhir proyek

BETC = (BAC – BCWP) / CPI

= (Rp 565.454.700 – Rp 425.786.258,2 ) / 1,111

= Rp 125.714.169

BEAC = ACWP + BETC

= Rp 383.609,8 + Rp 125.714.169

(56)

Proyek mengalami keuntungan, untuk mengembalikan pada

biaya rencana maka harus dicapai CPI sebesar CPI to-go yaitu :

CPI to-go = (BAC – BCWP) / (BAC – ACWP)

= (Rp 565.454.700 – Rp 425.786.258,2) /

(Rp 565.454.700 – Rp 383.207.609,8)

= 0,766

c. Jadwal (Schedule)

Dengan cara yang sama, maka perkiraan jadwal penyelesaian

proyek adalah :

SETC = (SAC – tBCWP) / SPI

= (26 – 14) / 1,492 = 8,043 minggu

SEAC = tBCWp = SETC

= 14 + 8,043 = 22,043 minggu < 26 minggu

Durasi proyek akan lebih pendek dari rencana 26 minggu, untuk

mengembalikan pada durasi rencana maka SPI sebesar SPI

to-go yaitu :

SPI to-go = (BAC – BCWP) / (BAC – (BCWA)

= (Rp 565.454.700 – Rp 425.786.258.2) /

(Rp 565.454.700 – Rp 285.414.956,2)

(57)

3. Sampai dengan akhir minggu ke-22

a. Parameter

BCWP = BAC x (%) penyelesaian fisik

= Rp 565.454.700 x 94,4254 % = Rp 533.932.862,3

BCWS = BAC x (%) rencana

= Rp 565.454.700 x 90,8767 % = Rp 513.866.571,4

ACWP = Rp 480.539.547,7

CV = BCWP – ACWP

= Rp 533.932.862,3 – Rp 480.539.547,7 –

Rp 53.393.314,6

SV = BCWP – BCWS

= Rp 533.932.862,3 – Rp 513.866.571,4

= Rp 20.066.290,9

Atau SV / (BCWS / 22 minggu)

= Rp 20.066.290,9 / (Rp 613.866.571,4 /

22 minggu)

= 0,859 minggu = 6, 013 hari

CPI = BCWP / ACWP

= Rp 533.932.862,3 / Rp 480.539.547,7 = 1,111 > 1

(58)

SPI = BCWP / BCWS

= Rp 533.932.862,3 / Rp 513.866.571,4 = 1,039 > 1

= baik

b. Biaya (Cost)

Menghitung perkiraan biaya sampai akhir proyek

BETC = (BAC – BCWP) / CPI

= (Rp 565.454.700 – Rp 533.932.862,3) / 1,111

= Rp 28.372.491,18

BEAC = ACWP + BETC

= Rp 480.539.547,7 = Rp 28.372.491,18

= Rp 508.912.038,9 < Rp 565.454.700

Proyek mengalami keuntungan, untuk mengembalikan pada

biaya rencana maka harus dicapai CPI sebesar CPI to-go yaitu :

SPI to-go = (BAC – BCWP) / (BAC – (BCWA)

= (Rp 565.454.700 – Rp 533.932.862,3) /

(Rp 565.454.700 – Rp 480.539.547,7)

= 0,371

c. Jadwal (Schedule)

Dengan cara yang sama, maka perkiraan jadwal penyelesaian

(59)

SETC = (SAC – tBCWP) / SPI

= (26 – 22) / 1,039 = 3,849 minggu

SEAC = tBCWp = SETC

= 22 + 3,849 = 26,849 minggu < 26 minggu

Durasi proyek akan lebih pendek dari rencana 26 minggu, untuk

mengembalikan pada durasi rencana maka SPI sebesar SPI

to-go yaitu :

SPI to-go = (BAC – BCWP) / (BAC – (BCWA)

= (Rp 565.454.700 – Rp 533.932.862,3) /

(Rp 565.454.700 – Rp 513.866.571,4)

= 0,611

Hasil perhitungan disajikan pada Tabel 3.4, Gambar 3.1; Tabel 3.5,

(60)
(61)
(62)
(63)
(64)
(65)
(66)

3.4.

APLIKASI METODE

EARNED VALUE

Berdasarkan hasil analisis yang disajikan pada Tabel 3.4,

Gambar 3.1, Tabel 3.5, Gambar 3.2, dan Tabel 5.6, gambar 3.3

dapat dibahas lebih lanjut sebagai berikut :

1. Prediksi Kondisi Proyek Berdasarkan Nilai Varians

a. Penyelesaian pekerjaan pada minggu I, II, dan III terlihat nilai

varians jadwal (Schedule Variance, SV) bernilai negatif dan

nilai varians biaya (Cost Variance, CV) bernilai positif, hal ini

menggambarkan bahwa pekerjaan selesai terlambat dengan

menelan biaya lebih rendah daripada anggaran (Behind

Schedule, Under Cost).

b. Penyelesaian pekerjaan pada minggu IV s.d XXII terlihat nilai

varians jadwal (Schedule Variance, SV) bernilai positif dan

nilai varians biaya (Cost Variance, CV) bernilai positif, hal ini

menggambarkan bahwa pekerjaan terlaksana lebih cepat

daripada jadwal dengan biaya lebih kecil daripada anggaran

(Ahead af Schedule, Under Cost).

2. Prediksi Kondisi Proyek Berdasarkan Indeks Kinerja (Prestasi)

a. Pada minggu I, II, III angka indeks kinerja jadwal (Schedule

(67)

indeks kinerja biaya (Cost Performance Index, CPI) bernilai

lebih dari satu, hal ini berarti bahwa pelaksanaan lebih lama

dari jadwal yang direncanakan dan biaya lebih kecil dari

anggaran.

b. Pada minggu IV s.d XXII angka index kinerja jadwal (Schedule

Performance Index, SPI) bernilai lebih dari satu dan angka

indeks kinerja biaya (Cost Performance Index, CPI) bernilai

lebih dari satu, hal ini berarti bahwa penyelenggaraan proyek

lebih baik dari perencanaan, dalam arti pengeluaran lebih

kecil dari anggaran atau waktu penyelesaian lebih cepat dari

jadwal rencana.

3. Prediksi Kondisi Akhir Proyek

a. Dari hasil analisis pada saat pelaporan (minggu VII), maka

prediksi total biaya (Budgeted Estimate At Complete, BEAC)

yaitu Rp 508.953.660,6 lebih kecil dari anggaran (Budgeted At

Completion, BAC) Rp 565.454.700 berarti proyek itu

mengalami keuntungan. Sedangkan prediksi jadwal

penyelesaian proyek (Schedule Estimate At Completed,

(68)

(Schedule at Completion, SAC) 26 minggu berarti durasi

proyek akan lebih pendek dari rencana jadwal.

b. Dari hasil analisis pada saat pelaporan (minggu XIV), maka

prediksi total biaya (Budgeted Estimate At Completed, BEAC)

yaitu Rp 508.921.778,8 lebih kecil dari anggaran proyek itu

mengalami keuntungan. Sedangkan prediksi jadwal

penyelesaian proyek (Schedul Estimate At Completed, SEAC)

yaitu 22,043 minggu lebih kecil dari rencana jadwal (Schedule

at Completion, SAC) 26 minggu berarti durasi proyek akan

lebih pendek dari rencana jadwal.

c. Dari hasil analisis pada saat pelaporan (minggu XII), maka

prediksi total biaya (Budgeted Estimate At Completed, BEAC)

yaitu Rp 508.912.038,9 lebih kecil dari anggaran (Budgeted at

Completion, BAC) Rp 565.454.700 berarti proyek mengalami

keuntungan. Sedangkan prediksi jadwal penyelesaian proyek

(Schedule Estimate At Complete, SEAC) yaitu 25,849 minggu

lebih kecil dari rencana jadwal (Schedule at Completion, SAC)

26 minggu berarti durasi proyek akan lebih pendek dari

(69)

4. Realisasi pelaksanaan proyek pada saat pelaporan (minggu XXII)

terjadi item pekerjaan yang belum dilaksanakan yaitu Plat Lt. 2

dan Plat R. Kluis Lt. 2 yang mengakibatkan (Budgeted Estimate

at Completed, BEAC) Rp 508.912.038,9 lebih kecil dari

(Budgeted of Completion, BAC) Rp 565.454.700.

3.5.

RINGKASAN

1. Pada kajian pengendalian waktu dan biaya dengan

menggunakan Metode Nilai Hasil (Earned Value Method)

dapat mengungkapkan nilai varians biaya dan jadwal pada

saat pelaporan yaitu akhir minggu 7, akhir minggu

ke-14, dan akhir minggu ke-22, keduanya bernilai positif

berarti pekerjaan terlaksana lebih cepat dari jadwal dan

menelan biaya lebih kecil dari anggaran (Ahead of

Schedule, Under Cost).

2. Dengan Metode Nilai Hasil juga dapat mengungkapkan

prestasi / kinerja biaya dan kinerja jadwal pada saat

pelaporan yaitu akhir minggu ke-7, akhir minggu ke-14,

(70)

1(satu), berarti penggunaan biaya lebih kecil dari

anggaran dan pelaksanaan proyek lebih cepat dari jadwal.

3. Pada pekerjaan Tahap I (4 Oktober 2001 – 31 maret 2002)

Pembangunan Proyek Renovasi bangunan Gedung Bang

BNI Kantor Capem Slamet Riyadi Surakarta prediksi

kondisi akhir penyelesaian proyek pada saat pelaporan :

a. Minggu VII

Mengalami kemajuan jadwal sebesar SEAC 16,425

minggu dari jadwal semula SAC 26 minggu, dengan

menelan biaya BEAC Rp 508.953.660,6 lebih kecil dari

anggaran BAC Rp 565.454.700.

b. Minggu XIV

Mengalami kemajuan jadwal sebesar SEAC 22,043

minggu dari jadwal semula SAC 26 minggu, dengan

menelan biaya BEAC Rpp 508.921.778,8 lebih kecil

dari anggaran BAC Rp 565.454.700.

c. Minggu XXII

Mengalami kemajuan jadwal sebesar SEAC 25,849

(71)

menelan biaya BEAC Rp 508.912.038,9 lebih kecil dari

(72)
(73)

BAB IV

EVALUASI KINERJA

PROYEK JEMBATAN

4.1.

PENDAHULUAN

Data yang digunakan untuk evaluasi ini adalah data

pelaksanaan Proyek Pengantian Jembatan Jladri Kabupaten

Kebumen, Jawa Tengah. Data proyek yang digunakan untuk analisis

ini adalah data yang terkait dengan waktu pelaksanaan dan

pembiyaan proyek, yaitu : rencana anggaran biaya, time schedule,

laporan kemajuan proyek (progres reeport) dan laporan mingguan

(74)

4.2.

EVALUA“I KINERJA DENGAN KON“EP EARNED

METHOD

4.2.1. Tiga Elemen Dasar : BCWS, BCWP dan ACWP

Dari data proyek yang diperoleh pada penelitian ini

didapatkan rekapitulasi tiga elemen dasar BCWS, BCWP dan ACWP

[image:74.420.57.350.210.404.2]

sebagai berikut :

Tabel 4.1. Rekapitulasi BCWS, BCWP dan ACWP

Minggu ke - ACWP BCWP BCWS 1 2 3 4 16.599.538,44 24.885.264,05 90.216.104,00 110.907.487,83 13.699.380,00 20.537.480,00 74.454.160,00 114.451.250,00 7.765.300,00 14.603.400,00 19.007.600,00 73.828.300,00 5 6 7 8 242.165.797,72 296.064.029,02 344.077.144,00 373.607.445,33 249.903.580,00 305.523.990,00 355.071.240,00 489.190.720,00 129.576.200,00 241.419.700,00 351.061.100,00 462.556.900,00 9 10 11 12 450.996.800,30 484.526.581,46 551.621.550,08 666.160.982,00 590.522.090,00 634.425.010,00 722.277.210,00 872.251.810,00 554.813.300,00 635.479.700,00 733.531.100,00 807.243.500,00 13 14 15 16 707.964.842,14 726.557.952,39 761.245.199,18 810.394.790,00 879.970.750,00 903.081.210,00 946.196.010,00 1.007.286.900,00 871.104.400,00 959.536.100,00 989.901.900,00 1.019.688.200,00

(75)

4.2.2. Varian Jadwal - Biaya, Indeks Kinerja, Perkiraan Biaya dan

Waktu Penyelesaian Proyek.

Berdasarkan hasil perhitungan Tiga Elemen Dasar (Tabel .1) dengan

rumus - rumus yang ada dilakukan perhitungan Varian Jadwal -

Biaya, Indeks kinerja, Perkiraan Biaya dan Waktu Penyelesaian

(76)
[image:76.420.44.366.105.415.2]

Tabel 4.2. Evaluasi kondisi proyek pada akhir minggu ke-4, 8,12, dan 16 No. Kelompo k Analisa Evaluasi Minggu ke -4 Evaluasi Minggu ke- 8 Evaluasi Minggu ke- 12 Evaluasi Minggu ke- 16

1. ACWP Rp.110.907.487,83 Rp.373.607.445,33 Rp.666.160.982,00 Rp. 810.394.790,00

2. BCWP Rp.114.451.250,00 Rp.489.190.720,00 Rp.872.251.810,00 Rp.1.007.286.900,00

3. BCWS Rp. 73.828.300,00 Rp.462.556.900,00 Rp.807.243.500,00 Rp.1.019.688.200,00

4. CV Rp. 3.543.762,17 Rp.115.583.274,67 Rp.206.090.828,00 Rp.196.892.110,00

5. SV 2,20 minggu 0,4606 minggu 0,9663 minggu - 0,1946 minggu

6. CPI 1,0319 1,3094 1,3093 1,2429

7. SPI 1,5502 1,0576 1,0805 0,9878

8. BETC Rp.1.012.257.728,46 Rp.511.539.086,61 Rp.219.008.775,68 Rp.122.063.802,40

9. BEAC Rp.1.123.165.216,29 Rp.885.146.531,94 Rp.885.169.757,68 Rp.932.458.529,40

10. SETC 70,96 hari 75,64 hari 51,83 hari 26,32 hari

(77)
(78)
(79)
(80)
(81)

Berdasarkan Tabel 4.2 dan Gambar 4.1, 4.2, 4.3 dan 4.4 dapat

diberikan pembahasan sebagai berikut :

1. Interpretasi Schedule Variance dan Cost Variance (SV dan

CV).

o Minggu ke-4, 8 dan 12.

Schedule Variance (Varian Jadwal) yang bernilai positif :

SV-4 = 2,20 minggu, SV-8 = 0,4606 minggu dan SV-12 =

0,9663 minggu menunjukkan pelaksanaan pekerjaan

berjalan lebih cepat dari jadwal.

Cost Variance ( Varian Biaya ) yang bernilai positif : CV-4 =

Rp. 3.543.762,12, CV-8 = Rp. 115.583.274,67 dan CV-12 =

Rp. 206.090.828,00 menunjukkan biaya yang diperlukan

untuk menyelesaikan proyek lebih kecil dari anggaran.

o Minggu ke-16

Schedule Variance yang bernilai negatif : SV-16 = -0,1946

minggu menunjukkan pelaksanaan pekerjaan lebih lambat

dari jadwal.

Cost Variance yang bernilai positif : CV-16 = Rp.

196.892.110,00 menunjukkan biaya yang diperlukan untuk

(82)

2. Interpretasi Schedule Performance Index (SPI) dan Cost

Performance Index (CPI)

o Minggu ke-4, 8 dan 12.

SPI-4 = 1,5502; SPI-8 = 1,0576 dan SPI-12 = 1,0805 yang

ketiganya bernilai lebih besar dari 1 menunjukkan

pelaksanaan pekerjaan berjalan lebih cepat dari jadwal.

CPI-4 =1,0319 ; CPI-8 = 1,3094 dan CPI-12 = 1, 3093

yang ketiganya bernilai lebih besar dari 1 menunjukkan biaya

yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek lebih kecil dari

anggaran.

o Minggu ke-16

SPI-16 = 0,9878 yng bernilai lebih kecil dari 1 menunjukkan

pelaksanaan pekerjaan lebih lambat dari jadwal.

CPI-16 = 1,2429 yang bernilai lebih besar dari 1

menunjukkan biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan

proyek lebih kecil dari anggaran.

3. Perkiraan Biaya dan Waktu Penyelesaian Proyek.

Pada evaluasi pada minggu ke-16 didapat nilai perkiraan

biaya total proyek (BEAC) = Rp. 932.458.529,40 lebih kecil

(83)

diprediksi akan mengalami keuntungan sebesar Rp.

226.541.470,60.

Dari aspek waktu, nilai perkiraan waktu total proyek (SEAC)

diperoleh sebesar 136,32 hari yang berarti lebih lambat dari

waktu rencana 136 hari. Ini berarti proyek telah terlambat

0,32 hari.

4.3.

KESIMPULAN

1.

Pelaksanaan proyek pada akhir minggu ke-4, 8 dan 12, dari

nilai varian jadwal yang bernilai positif : SV = 2,20 minggu;

0,4606 minggu; 0,9663 minggu menunjukkan pelaksanaan

pekerjaan berjalan lebih cepat dari jadwal, dari nilai varian

biaya yang bernilai positif : CV = Rp. 3.543.762,17 ; Rp.

115.583.274,67 dan Rp. 206.090.828,00 menunjukkan biaya

yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek lebih kecil dari

anggaran. Hal ini diperkuat dengan nilai indeks kinerja

jadwal dan biaya yang semuanya lebih besar dari 1.

2.

Evaluasi minggu ke-16 dari nilai SV = -0,1946 minggu

menunjukkan pelaksanaan pekerjaan lebih lambat dari

(84)

biaya yang diperluakan untuk menyelesaikan proyek lebih

kecil dari anggaran. Hal ini juga diperkuat dengan nilai

indeks kinerja SPI < 1 dan CPI > 1.

3.

Perkiraan Biaya dan Waktu Penyelesaian Proyek.

Pada evaluasi pada minggu ke-16 didapat nilai perkiraan

biaya total proyek (BEAC) = Rp. 932.458.529,40 lebih kecil

dari biaya total anggaran Rp. 1.159.000.000,00. Proyek

diprediksi akan mengalami keuntungan sebesar Rp.

226.541.470,60.

Sedangkan dari aspek waktu didapat nilai perkiraan waktu

total proyek (SEAC) sebesar 136,32 hari yang berarti lebih lambat

dari waktu rencana 136 hari. Ini berarti proyek terlambat 0,32 hari.

Nilai keterlambatan sebesar 0,32 hari tidak signifikan dibandingkan

dengan waktu pelaksanaan

Gambar

Gambar 3.1 Siklus pengendalian dalam proyek konstruksi
Gambar 2.2 Kurva S Earned Value
Tabel 3.1 Rencana Anggaran Biaya Langsung (BCWS)
Tabel 3.2 Biaya Yang Harus Dikeluarkan (BCWP)
+4

Referensi

Dokumen terkait

Biaya material yang diperlukan untuk pekerjaan proyek mengalami. perubahan yang tidak sesuai dengan

Dari informasi kondisi proyek diatas, dapat disimpulkan bahwa pekerjaan pada minggu ke-4 tepat dari jadwal yang sudah direncanakan dengan biaya lebih besar dari anggaran. Faktor

Data yang didapat dari proyek antara lain Time Schedule proyek, Rencana Anggaran Biaya (RAB), laporan mingguan proyek dan biaya aktual, kemudian dilakukan analisa

Hasil perhitungan perkiraan biaya akhir proyek sebesar Rp 24,749,232,344.50 dengan waktu penyelesaian proyek 227 hari yang berarti lebih lambat dari jadwal

Hasil yang diperoleh dari perhitungan data dengan cara perhitungan maju dan perhitungan mundur adalah kemungkinan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek tersebut,

o Apabila kecendrungan kinerja waktu dan biaya proyek seperti pada minggu ke – 20 ( akhir waktu rencana ), maka dapat diperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek

Pada bulan ke-9 hingga bulan ke-15 terdapat kecenderungan bahwa nilai pekerjaan yang dilaksanakan atau BCWP lebih rendah dari rencana pengeluaran biaya atau BCWS, namun nilai pekerjaan

Detail Indikator Earned Value Method Parameter Rumus Indikator Dasar BAC Keseluruhan biaya proyek yang direncanakan PV Anggaran pekerjaan yang direncanakan PV = % bobot rencana