TESIS
Oleh
HENDRA KUSUMA
097011101/M.Kn
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
TESIS
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
Oleh
HENDRA KUSUMA
097011101/M.Kn
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
Program Studi : Kenotariatan
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Prof. Muhammad Abduh, SH)
Pembimbing Pembimbing
(Dr. Pendastaren Tarigan, SH, MS) (Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH, MHum)
Ketua Program Studi, Dekan,
(Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN) (Prof. Dr. Runtung, SH, MHum)
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Muhammad Abduh, SH, MS.
Anggota : 1. Dr. Pendastaren Tarigan, SH, MS
2. Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH, MHum
Nama : HENDRA KUSUMA
Nim : 097011101
Program Studi : Magister Kenotariatan FH USU
Judul Tesis : ANALISIS YURIDIS, ATAS PERAN DAN KEDUDUKAN NOTARIS SEBAGAI PEJABAT LELANG KELAS II
Dengan ini menyatakan bahwa Tesis yang saya buat adalah asli karya saya sendiri
bukan Plagiat, apabila dikemudian hari diketahui Tesis saya tersebut Plagiat karena
kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi
Magister Kenotariatan FH USU dan saya tidak akan menuntut pihak manapun atas
perbuatan saya tersebut.
Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dalam keadaan
sehat.
Medan,
Yang membuat Pernyataan
likudasi akan menjadi lebih efektif dan efisien. Karena lelang tersebut bersifat perdata yang merupakan jual beli di dalam KUHPerdata. Notaris ditunjuk sebagai Pejabat Lelang Kelas II karena Notaris memiliki pemahaman, pengetahuan dan keahlian hukum yang baik terutama dalam bidang Hukum Perdata.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kedudukan Notaris sebagai Pejabat Lelang Kelas II tidak bertentangan dengan Undang-undang Jabatan Notaris dan apakah semua Risalah Lelang yang dibuat Notaris sebagai Pejabat Lelang adalah Akta Otentik.
Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis empiris yaitu data dalam penelitian ini diperoleh dari studi kepustakaan dan wawancara kepada Notaris sebagai Pejabat Lelang Kelas II serta Pejabat KP2LN di Medan, sedangkan teknik analisis dilakukan secara kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh Notaris untuk diangkat sebagai Pejabat Lelang Kelas II berdasarkan Pasal 6 Kepmenkeu Nomor 175/KMK.06/2010 tentang Pejabat Lelang dan Permenkeu Nomor 93/PMK.06/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang adalah sehat jasmani dan rohani, memiliki kemampuan melaksanakan lelang dibuktikan dengan rekomendasi dari Kepala KP2LN setempat dan lulus ujian Profesi Pejabat Lelang dan Penilai, mengikuti diklat Profesi Pejabat Lelang dan Penilai atau Diklat Lelang III (Khusus), tidak pernah terkena sanksi administrasi, tidak pernah dijatuhi hukuman pidana, dan memiliki integritas yang tinggi yang dinyatakan dengan surat rekomendasi dari organisasi profesi Notaris dengan kriteria yang ada pada Kode Etik Profesi Notaris yaitu melaksanakan kode etik profesi dengan baik serta setia kepada organisasi profesi, adil, mandiri, jujur, dengan penuh rasa tanggung jawab dan tidak memihak.
Risalah Lelang yang dibuat oleh Notaris sebagai Pejabat Lelang Kelas II adalah akta otentik, karena sesuai dengan Pasal 1868 KUH Perdata yaitu dibuat menurut Undang-undang, dibuat oleh/atau dihadapan Pejabat lelang Kelas II, wilayah kerja Pejabat Lelang ditentukan oleh Menteri Keuangan. Artinya Risalah Lelang berguna sebagai alat bukti yang sempurna bagi para pihak yaitu penjual dan pembeli (pemenang lelang), hal ini untuk melindungi para pihak terhadap kemungkinan perbuatan hukum pihak ketiga.
and the auction of the assets of liquidated banks, for the auction is in civil matters which are stipulated in the Civil Code. A notary is appointed as an Auctioneer Class II because he has good understanding, knowledge, and judicial skill especially in the civil law.
The aim of the research was to know whether the position of a notary as an Auctioneer Class II was not contrary to the Law on Notarial and whether oil the Auction Deed written by a Notary as an Auctioneer are authentic.
The research used judicial empirical method which means that the data were obtained from library research and interviews with the Notary as the Auctioneer Class II and with KP2LN officials in Medan, and analyzed qualitatively.
The result of the research showed that some requirements which should be fulfilled by a Notary to be appointed to be an Auctioneer Class II, based on Article 6 of the Decree of the Ministry of Finance No. 175/KMK.06/2010 on the Auctioneer and the Decree of the Minister of Finance No. 93/PMK.06/2010 on the operational Manual of the Implementation of Auction. The requirements are as follows: the Notary must be physically and emotionally healthy, have the ability to carry out the auction with the Letter of Recommendation from the Head of local KP2LN, pass the examination of Auctioneer and Assessor, follow education and training for Auctioneer and Assessor or education and training for Auction III (Special), never be imposed on administrative sanction or imprisoned, and have high integrity recommended by Notarial Professional Organization with the criteria stipulated in Ethical Code of Notarial Profession, that is, he has to implement proper professional ethic code and be loyal to professional organization, just, independent, honest, responsible, and impartial.
The Auction Deed written by the Notary as the Auctioneer Class H is authentic because it is in line with Article 1868 of the Civil Code, according to law, made by/ before the Auctioneer Class II, and the working area of the Auctioneer is determined by the Finance Minister. It means that the Auction Deed is beneficial as the ultimate evidence for the parties concerned; the seller and the purchaser (the winner of the auction), and this will protect the parties concerned from the third party’s legal acts.
Pejabat Lelang Kelas II” ini dapat terlaksana. Penyusunan tesis ini merupakan salah
satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan (MKn) pada Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyusunan tesis ini, berbagai pihak telah banyak memberikan
dorongan, bantuan serta masukan sehingga tesis ini dapat diselesaikan dengan baik,
oleh karena itu ucapan terima kasih dari lubuk hati yang terdalam dan
setulus-tulusnya, penulis sampaikan secara khusus kepada: Bapak Prof. Muhammad
Abduh, SH, Bapak Dr. Pendastaren Tarigan, SH, MS, Bapak Prof. Dr.
Syafruddin Kalo, SH, M.Hum, selaku Komisi Pembimbing yang telah memberikan
bimbingan dan pengarahan dengan tulus dan ikhlas untuk kesempurnaan tesis ini,
juga kepada Dosen Penguji Ujian TesisBapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH,
MS, CN dan Ibu Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, M.Hum, yang telah
memberikan masukan terhadap kesempurnaan tesis ini.
Selanjutnya ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya, kepada:
1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K),
selaku Rektor Universitas Sumatera Utara, atas kesempatan dan fasilitas yang
diberikan Universitas Sumatera Utara dalam menyelesaikan pendidikan di
Fakultas Hukum, Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera
Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, MHum, selaku Dekan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara, atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada
Penulis dalam menyelesaikan pendidikan ini.
3. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN, selaku Ketua Program
5. Bapak dan Ibu Dosen pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan bimbingan dan ilmu
yang sangat bermanfaat bagi Penulis selama mengikuti kegiatan proses belajar
mengajar pada masa perkuliahan.
6. Seluruh Staff/Pegawai di Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara,Bu Fat, Winda, Sari, Lisa, Afni, Bang Aldi, Ken,
Rizal, Hendri, yang dengan penuh kesabaran telah banyak memberikan bantuan
kepada Penulis, selama menjalani perkuliahan.
7. Sahabat-sahabatku Mahasiswa dan Mahasisiwi di Program Studi Magister
Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, khususnya Angkatan
Tahun 2009 :Kak Sere, Joe,Pak Azhar, Pak Mursil, Ade, Bang Zulkarnaen,
Tommy, Rio, Andi, Mighdad, Kiki, Rini, Toni, Artha, Pak Bambang, Bang
Arman, Pak Yono, Kak Sri, Kak Bekka, Moses, dan Richard, terima kasih
untuk masukan juga dukungan dalam perkuliahan dan penyelesaian tesis ini,
semoga setelah selesainya studi ini persahabatan kita bisa tetap terjalin meskipun
kita tidak bersama-sama lagi.
8. Dengan penuh hormat dan Sayang atas kebersamaan, perhatian, terutama
dukungan doa, moril dan materiil, yang tiada henti, kepada:
a. Kedua orangtuaku, Zulkifli (Alm) dan Astuti Sutarni yang telah
membesarkan, merawat serta tiada hentinya selalu mencurahkan kasih sayang,
nasehat, motivasi dan perhatiannya kepadaku, sehingga dapat menyelesaikan
semua studiku dengan baik.
b. Istriku Tercinta Nur Aminah Siregar, SH dan Nur Raisah Kusuma serta
M. Faiz Kusuma anak-anakku, yang selalu memberikan segala hal yang
semua bantuan, dan kebaikan yang telah diberikan, Penulis berharap semoga Tuhan
Yang Maha Esa yang akan memberikan balasan yang setimpal, agar kita semua selalu
diberikan rahmat dan karunia Nya. Penulisan tesis ini telah diupayakan semaksimal
mungkin, namun Penulis menyadari bahwa penulisan tesis ini masih banyak
kekurangan, oleh karenanya kritik dan saran yang bersifat membangun, sangat
Penulis harapkan guna menyempurnakan tesis ini. Salam Sejahtera.
Medan, Mei 2012 Penulis
N a m a : HENDRA KUSUMA
Tempat/Tgl Lahir : Bandung/19 Februari 1981
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Status : Menikah
Alamat : JL. Garuda Gg. PTP VIII No. 17 Medan
Nama Istri : Nur Aminah Siregar, SH
Nama Anak : - Nur Raisah Aulia Kusuma
- - M. Faiz Kusuma
II. IDENTITAS ORANG TUA
Nama Ayah : Zulkifli (Alm)
Nama Ibu : Astuti Sutarni
III. PENDIDIKAN FORMAL
1. SD Negeri No. 12757 Pandan dari tahun 1987 sampai tahun 1993.
2. SMP Negeri 3 Pandan dari tahun 1993 sampai tahun 1996.
3. SMA N 2 Plus Matauli Sibolga dari tahun 1996 sampai tahun 1999.
4. Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara dari tahun 2000
sampai tahun 2005
5. Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera
ABSTRACT... ii
KATA PENGANTAR... iii
RIWAYAT HIDUP... vi
DAFTAR ISI... vii
BAB I PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang... 1
B. Perumusan masalah ... 8
C. Tujuan Penelitian ... 8
D. Manfaat Penelitian... 8
E. Keaslian Penelitian ... 9
F. Kerangka Teori dan Konsepsi ... 9
1. Kerangka Teori ... 9
2. Kerangka Konsepsi ... 34
G. Metode Penelitian ... 35
a. Spesifikasi Penelitian ... 35
b. Jenis dan Sumber Data ... 36
c. Alat Pengumpul Data... 37
d. Analisa Data... 37
BAB II KEDUDUKAN NOTARIS SEBAGAI PEJABAT LELANG KELAS II APAKAH BERTENTANGAN DENGAN UUJN ... 39
A. Notaris Sebagai Pejabat Lelang Kelas II ... 39
B. Akta Risalah Lelang ... 43
BAB IV TUGAS NOTARIS DALAM MENGEMBANGKAN
PERANNYA SEBAGAI PEJABAT LELANG KELAS II ... 83
A. Notaris Sebagai Media Sosialisasi Lelang ... 83
B. Upaya Lain Yang Perlu Dilakukan ... 97
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 99
A. Kesimpulan ... 99
B. Saran ... 101
likudasi akan menjadi lebih efektif dan efisien. Karena lelang tersebut bersifat perdata yang merupakan jual beli di dalam KUHPerdata. Notaris ditunjuk sebagai Pejabat Lelang Kelas II karena Notaris memiliki pemahaman, pengetahuan dan keahlian hukum yang baik terutama dalam bidang Hukum Perdata.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kedudukan Notaris sebagai Pejabat Lelang Kelas II tidak bertentangan dengan Undang-undang Jabatan Notaris dan apakah semua Risalah Lelang yang dibuat Notaris sebagai Pejabat Lelang adalah Akta Otentik.
Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis empiris yaitu data dalam penelitian ini diperoleh dari studi kepustakaan dan wawancara kepada Notaris sebagai Pejabat Lelang Kelas II serta Pejabat KP2LN di Medan, sedangkan teknik analisis dilakukan secara kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh Notaris untuk diangkat sebagai Pejabat Lelang Kelas II berdasarkan Pasal 6 Kepmenkeu Nomor 175/KMK.06/2010 tentang Pejabat Lelang dan Permenkeu Nomor 93/PMK.06/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang adalah sehat jasmani dan rohani, memiliki kemampuan melaksanakan lelang dibuktikan dengan rekomendasi dari Kepala KP2LN setempat dan lulus ujian Profesi Pejabat Lelang dan Penilai, mengikuti diklat Profesi Pejabat Lelang dan Penilai atau Diklat Lelang III (Khusus), tidak pernah terkena sanksi administrasi, tidak pernah dijatuhi hukuman pidana, dan memiliki integritas yang tinggi yang dinyatakan dengan surat rekomendasi dari organisasi profesi Notaris dengan kriteria yang ada pada Kode Etik Profesi Notaris yaitu melaksanakan kode etik profesi dengan baik serta setia kepada organisasi profesi, adil, mandiri, jujur, dengan penuh rasa tanggung jawab dan tidak memihak.
Risalah Lelang yang dibuat oleh Notaris sebagai Pejabat Lelang Kelas II adalah akta otentik, karena sesuai dengan Pasal 1868 KUH Perdata yaitu dibuat menurut Undang-undang, dibuat oleh/atau dihadapan Pejabat lelang Kelas II, wilayah kerja Pejabat Lelang ditentukan oleh Menteri Keuangan. Artinya Risalah Lelang berguna sebagai alat bukti yang sempurna bagi para pihak yaitu penjual dan pembeli (pemenang lelang), hal ini untuk melindungi para pihak terhadap kemungkinan perbuatan hukum pihak ketiga.
and the auction of the assets of liquidated banks, for the auction is in civil matters which are stipulated in the Civil Code. A notary is appointed as an Auctioneer Class II because he has good understanding, knowledge, and judicial skill especially in the civil law.
The aim of the research was to know whether the position of a notary as an Auctioneer Class II was not contrary to the Law on Notarial and whether oil the Auction Deed written by a Notary as an Auctioneer are authentic.
The research used judicial empirical method which means that the data were obtained from library research and interviews with the Notary as the Auctioneer Class II and with KP2LN officials in Medan, and analyzed qualitatively.
The result of the research showed that some requirements which should be fulfilled by a Notary to be appointed to be an Auctioneer Class II, based on Article 6 of the Decree of the Ministry of Finance No. 175/KMK.06/2010 on the Auctioneer and the Decree of the Minister of Finance No. 93/PMK.06/2010 on the operational Manual of the Implementation of Auction. The requirements are as follows: the Notary must be physically and emotionally healthy, have the ability to carry out the auction with the Letter of Recommendation from the Head of local KP2LN, pass the examination of Auctioneer and Assessor, follow education and training for Auctioneer and Assessor or education and training for Auction III (Special), never be imposed on administrative sanction or imprisoned, and have high integrity recommended by Notarial Professional Organization with the criteria stipulated in Ethical Code of Notarial Profession, that is, he has to implement proper professional ethic code and be loyal to professional organization, just, independent, honest, responsible, and impartial.
The Auction Deed written by the Notary as the Auctioneer Class H is authentic because it is in line with Article 1868 of the Civil Code, according to law, made by/ before the Auctioneer Class II, and the working area of the Auctioneer is determined by the Finance Minister. It means that the Auction Deed is beneficial as the ultimate evidence for the parties concerned; the seller and the purchaser (the winner of the auction), and this will protect the parties concerned from the third party’s legal acts.
A. Latar Belakang
Negara Republik Indonesia sebagai negara hukum berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjamin kepastian,
ketertiban, dan perlindungan hukum, yang berintikan kebenaran dan keadilan. Untuk
menjamin kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum dibutuhkan alat bukti
tertulis yang bersifat otentik mengenai keadaan, peristiwa, atau perbuatan hukum
yang diselenggarakan melalui jabatan tertentu.
Notaris merupakan jabatan tertentu yang menjalankan profesi dalam
pelayanan hukum kepada masyarakat, perlu mendapatkan perlindungan dan jaminan
demi tercapainya kepastian hukum. Jasa Notaris dalam proses pembangunan makin
meningkat sebagai salah satu kebutuhan hukum masyarakat.
Notaris sebagai pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik
dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 30
Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (untuk selanjutnya disebut UUJN). Notaris
berwenang membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan
ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang
dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik,
salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga
ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh
Undang-undang.
Hubungan profesi notaris dengan masyarakat dan negara telah diatur dalam
UUJN berikut peraturan perundang-undangan lainnya. Sementara hubungan profesi
notaris dengan organisasi profesi notaris diatur melalui kode etik notaris yang
ditetapkan dan ditegakkan oleh organisasi notaris. Keberadaan kode etik notaris
merupakan konsekuensi logis dari dan untuk suatu pekerjaan yang disebut sebagai
profesi. Bahkan ada pendapat yang menyatakan bahwa notaris sebagai pejabat umum
yang diberikan kepercayaan harus berpegang teguh tidak hanya pada peraturan
perundang-undangan semata, namun juga pada kode etik profesinya, karena tanpa
kode etik, harkat dan martabat dari profesinya akan hilang.
Terdapat hubungan antara kode etik dengan UUJN. Hubungan pertama
terdapat dalam Pasal 4 UUJN mengenai sumpah jabatan. Notaris melalui sumpahnya
berjanji untuk menjaga sikap, tingkah lakunya dan akan menjalankan kewajibannya
sesuai dengan kode etik profesi, kehormatan, martabat dan tanggung jawabnya
sebagai notaris, namun bagaimana halnya apabila Notaris diberikan tanggung jawab
yang lain sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 175/PMK.06/2010
tentang Pejabat Lelang Kelas II.
Berdirinya Unit Lelang Negara dapat dikaitkan dengan lahirnya Vendu
Stbl. 1908 No. 190 (untuk selanjutnya disebut VI) yaitu pada bulan Februari 1908,
sehingga diperkirakan pada saat itulah mulai berdirinya unit lelang Negara. Jumlah
unit operasional di seluruh Indonesia (saat itu masi Hindia Belanda) pada saat itu juga
tidak dapat diketahui secara pasti. Demikian halnya sampai saat terjadinya perubahan
perubahan VR pada tahun 1940 dengan S.1940 No. 56 tidak diketahui jumlah
operasional lelang.1
Sejak lahirnya VR tahun 1908, unit lelang di lingkungan Departemen
keuangan dengan kedudukan dan tanggung jawab langsung di bawah Menteri
Keuangan. Adapun struktur Organisasi pada masa itu yitu pada tingkat Pusat adalah
Inspeksi Urusan Lelang. Sedangkan, di tingkat Daerah/unit operasional; kantor lelang
negeri, pegawainya merupakan pegawai organik Departemen Keuangan dan Kantor
Pejabat Lelang Kelas II yang dirangkap oleh Notaris, Pejabat Pemda Tingkat II
(Bupati atau Walikota), tapi semenjak tahun 1983 seluruhnya dirangkap oleh Pejabat
dari Direktorat Jenderal Pajak.
Sejarah lahirnya kelembagaan lelang Negara tersebut di atas menunjukkan
bahwa Lembaga Lelang Negara di Indonesia sudah cukup lama namun pada
kenyataannya lelang di Indonesia masih merupakan suatu kegiatan yang jarang
dipergunakan secara sukarela oleh masyarakat. Orang berpandangan negatif tentang
lelang disebabkan mereka mempunyai pemikiran bahwa lelang selalu berkaitan
dengan eksekusi pengadilan, walaupun kenyataann dalam kenyataannya hal itu tidak
1Prof. Muhammad Abduh, SH, Materi Perkuliahan Pasca Sarjana Program Magister
dapat dipungkiri karena sebagian besar lelang dilaksanakan sebagai tindak lanjut
pelaksanaan putusan pengadilan terhadap pihak yang kalah dalam perkara. Polderman
memberikan pengertian lelang sebagai alat untuk mengadakan perjanjian atau
persetujuan yang paling menguntungkan untuk si penjual dengan cara menghimpun
para peminat. Syarat utamanya adalah menghimpun para peminat untuk mengadakan
perjanjian jual beli yang paling menguntungkan si penjual.2
Lembaga lelang di Indonesia bukan hanya sebagai lembaga eksekusi
pengadilan, dan diharapkan masyarakan dapat memanfaatkan lembaga ini untuk
melakukan lelang secara sukarela, yaitu lelang di luar eksekusi, sebagai salah satu
cara penjualan barang selain penjualan yang biasa terjadi.
Keberhasilan lelang sukarela ini kurang dikenal oleh masyarakat padahal
dengan melakukan penjualan secara lelang ada beberapa manfaat yang akan
dinikmati oleh masyarakat. Kekurangtahuan masyarakat mengakibatkan apa yang
diharapkan pemerintah yaitu masyarakat memanfaatkan lembaga lelang kurang
tercapai dan mengakibatkan kebaikan atau manfaat lelang tidak dapat pula dirakasan
oleh masyarakat.
Lelang atau penjualan di muka umum, memberikan beberapa manfaat atau
kebaikan dibanding dengan penjualan yang lainnya, yaitu adil, cepat, aman
mewujudkan harga yang tinggi dan memberikan kepastian hukum.
2Rohmat Soemitro, Peraturan dan Instruksi Lelang, PT. Eresco, Bandung 1987, hal.
Di dalam pelaksanaan lelang ada beberapa pihak yang terlibat, yaitu Pembeli,
Penjual, dan Pejabat Lelang (dulu disebut juru lelang), dan pengawas lelang (dulu
disebutSuperintendent).
Pada saat lelang dilaksanakan, jalannya acara lelang menjadi tanggung jawab
seorang juru lelang, untuk selanjutnya dalam tesis ini disebut sebagai Pejabat Lelang,
Pejabat Lelang ini terdiri dari 2 (dua), yaitu pejabat lelang kelas I yang bertugas di
Kantor Lelang Negara (KLN) sekarang disebut Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang
Negara (KP2LN), dan Pejabat Lelang kelas II yang bertugas diluar KP2LN, yaitu di
Kantor Lelang Kelas II atau Balai Lelang.
Pejabat Lelang kelas I berdasarkan pasal 4 ayat (1) Keputusan Menteri
Keuangan (selanjutnya disebut Kepmenkeu) Nomor 347/KMK.01/2008 tentang
pejabat lelang Kelas I adalah pegawai Direktorat Piutang dan Lelang Negara
(DJPLN) yang telah diangkat sebagai Pejabat Lelang. Pejabat Lelang keas II
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 175/PMK.06/2010 tentang Pejabat
Lelang Kelas II (selanjutnya akan disebut juga sebagai PMK tentang Pejabat Lelang
Kelas II) adalah orang-orang tertentu yang berasal dari Notaris, Penilai, Lulusan
Pendidikan dan Pelatihan Keuangan yang diselenggarakan Badan Pendidikan dan
Pelatihan Keuangan Departemen Keuangan atau Pensiunan Pegawai Negeri Sipil
(PNS) di DJPLN diutamakan yang perna menjadi Pejabat Lelang Kelas I.
Peraturan tersebut dapat diartikan, bahwa seorang Notaris dapat menjadi
sebagai seorang Notaris, tetapi juga dapat sekaligus menjalankan tugas sebagai
seorang Pejabat Lelang.
Terjadinya krisis moneter yang melanda dunia, tidak terkecuali Indonesia,
membuat dunia usaha dan bisnis di ambang kehancuran. Banyak perusahaan yang
gulung tikar karena krisis tersebut. Aset-aset yang mereka miliki dijual untuk
menambah modal, ada juga yang dijual untuk membayar utang-utangnya. Ketika
berinvestasi, baik itu untuk membeli tanah, gedung atau investasi lainnya, tidak
sedikit uang yang dikeluarkan. Sekarang ketika dana sangat dibutuhkan
barang-barang tersebut tidak mungkin di jual begitu saja dengan harga berapa saja asal cepat
menjadi uang. Lelang merupakan cara yang tepat untuk menjual barang-barang
tersebut dengan harga yang tinggi dan dana yang cepat cair. Balai lelang adalah
tempat yang tepat untuk mengajukan permohonan lelang karena pelayanan yang
mereka berikan profesional dengan harga bersaing.
Pertumbuhan ekonomi dunia, mempengaruhi Indonesia, terutama invesasi
yang semakin besar, Lembaga Lelang di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh
tersebut, dengan makin besarnya peluang untuk pelaksanaan lelang. Hal ini akan
menyulitkan KLN yang pada waktu itu berjumlah 30 berada di 27 Propinsi.3 Untuk
mengantisipasi keadaan tersebut pada tahun 1996 Pemerintah melalui Menteri
Keuangan mengeluarkan peraturan berupa Kepmenkeu Nomor 47/KMK.01/1996
tentang Balai Lelang, yang mengijinkan berdirinya balai Lelang Swasta. Dengan
3Rian Sudiarto, Bisnis Balai Lelang Swasta Cepat dan Murah, Majalah Swa 06/XIV/19
peraturan tersebut mulailah berdiri beberapa Balai Lelang, yang pada saat itu masih
berupa Balai Lelang dari Luar Negeri yang mendirikan cabang di Indonesia dengan
ijin Operasional dan Badan Urusan Piutang Negara dan Lelang Negara (BUPLN)
Departemen Keuangan, tapi hanya berupa Penyelenggaraan Pelelangan.4Pengetahuan
lelang di Indonesia masih kurang sehingga perlu belajar dari Balai Lelang luar negeri
tersebut.
Terdapat masalah mengenai Lelang di Indonesia, yaitu Pemerintah Republik
Indonesia bertujuan mengembangkan lelang sebagai sarana perdagangan, tetapi
masyarakat mempunyai konotasi yang buruk terhadap lelang, selain itu kurang
mengenai lembaga lelang yang merupakan lembaga perdagangan Sedangkan
Masyarakat Indonesia masih menggunakan Hukum Adat. Ditambah lagi sekarang
dalam melaksanakan lelang masyarakat dapat menghubungi atau mengajukan
permohonan lelang ke beberapa lembaga, yaitu KP2LN, Balai Lelang atau Kantor
Pejabat lelang Kelas II. Hal ini membingungkan masyarakat, karena masyarakat tidak
mengetahui lembaga mana yang harus dipilih apabila akan menjual barang miliknya
secara langsung karena keterbatasan informasi dan pengetahuan yang dimiliki.
Penanggulangannya adalah perlu adanya peran aktif dari Notaris untuk
mengidentifikasi hambatan atau kesulitan-kesulitan sebagai pejabat lelang dan
mengembangkan perannya sebagai Notaris yang menjadi Pejabat Lelang dalam
masyarakat sehingga masyarakat dapat mengerti dan dapat menggunakan jasa Notaris
sebagai suatu kebutuhan dalam dunia perekonomian.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan Uraian-Uraian di atas, maka ada beberapa hal yang menjadi
pokok permasalahan dalam penelitian ini yaitu :
1. Bagaimana Kedudukan Notaris Sebagai Pejabat Lelang Kelas II Apakah
Bertentangan Dengan UUJN ?
2. Apakah Kendala yang dihadapi Notaris sebagai Pejabat Lelang Kelas II ?
3. Bagaimanakah Notaris dapat mengembangkan perannya sebagai Pejabat Lelang
Kelas II ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan di atas maka tujuan
penelitiannya adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apakah ketentuan kewenangan membuat Akta Risalah Lelang
yang dalam Undang-undang Jabatan Notaris tidak bertentangan dengan Peraturan
Lelang ?
2. Untuk mengetahui Apakah Kesulitan yang dihadapi oleh Notaris sebagai Pejabat
Lelang Kelas II
3. Untuk mengetahui Bagaimana Notaris dapat mengembangkan perannya sebagai
Pejabat Lelang Kelas II .
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat atau kontribusi baik
secara teoritis maupun secara praktis, yaitu :
Diharapkan dengan penelitian ini dapat member manfaat dalam bidang ilmu
pengetahuan hukum khususnya bidang keperdataan terutama mengenai Notaris
Sebagai Pejabat Lelang Kelas II.
2. Secara Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan (input) bagi
semua pihak, yaitu bagi masyarakat pada umumnya dan bagi pemerintah
khususnya, dalam pelaksanaan lelang yang dilakukan oleh Notaris sebagai
Pejabat Lelang Kelas II yang sesuai dengan hukum positif yang berlaku di
Indonesia.
E. Keasilian Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian dan penelusuran yang telah dilakukan, baik
terhadap hasil-hasil penelitian yang sudah ada, maupun sedang dilakukan, khususnya
pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, belum ada penelitian yang
membahas mengenai Analisis Yuridis Atas Peran dan Kedudukan Notaris sebagai
Pejabat Lelang Kelas II.
F. Kerangka Teori dan Konsepsi
1. Kerangka Teori
Teori digunakan untuk menerangkan dan menjelaskan gejala spesifik untuk
fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya.5 Kerangka teori adalah
kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis mengenai suatu kasus atau
permasalahan yang menjadi bahan perbandingan penulis dibidang hukum.6 Suatu
kerangka teori bertujuan untuk menyajikan cara-cara untuk mengorganisasikan dan
menginterpretasikan hasil-hasil penelitian dan menghubungkannya dengan hasil-hasil
penelitian terdahulu.7 Kata lain dari kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau
butir-butir pendapat, teori, tesis, mengenai suatu kasus atau permasalahan yang
menjadi bahan perbandingan atau pegangan teoritis dalam penelitian.8
1.1. Pengertian Lelang
Lelang menurut sejarahnya berasal dari bahasa latin Auctio yang berarti
peningkatan harga secara bertahap. Para ahli menemukan di dalam literatur Yunani
bahwa lelang telah dikenal sejak 450 tahun sebelum Masehi. Beberapa jenis lelang
yang populer pada saat itu antara lain adalah lelang karya seni, tembakau, kuda,
budak dan sebagainya.9
Di Indonesia, sejarah kelembagaan lelang sudah cukup lama dikenal. VR
(Stbl. Tahun 1908 Nomor 189 diubah dengan Stbl. 1940 Nomor 56) yang masih
berlaku sebagai dasar hukum lelang, menyatakan :10
“Penjualan di muka umum ialah pelelangan dan penjualan barang, yang diadakan di muka umum dengan penawaan harga yang makin meningkat,
5 JJJ M. Wuismen,Penelitian Ilmu Sosial, Jilid 1, Penyunting M. Hisman, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 1996, halaman. 203.
6 M.Solly Lubis,Filsafat Ilmu dan Penelitian, Mandar Maju Bandung 1994, halaman 27. 7 Burhan Ashshofa,Metode Penelitian Hukum,Rineka Cipta Jakarta, 1998, halaman 23. 8 M.Solly Lubis,Op.Cit.halaman 23.
9
FX.Ngadijarno,Badan Lelang; Teori dan Praktek,Jakarta: Departemen Keuangan Republik Indonesia, Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, 2008, hal.3.
dengan persetujuan harga yang makin menurun atau dengan pendaftaran harga, atau dimana orang-orang yang di undang atau sebelumnya sudah diberi tahu tentang pelelangan atau penjualan, atau kesempatan yang diberikan kepada orang-orang yang berlelang atau membeli untuk menawar harga, menyetujui harga atau mendaftarkan”
Bachtiar Sibarani menyatakan dalam Jurnal Keadilan bahwa Penjualan Lelang
pada hakekatnya adalah penjualan barang kepada orang banyak atau dimuka umum
melaui mekanisme lelang, pada dasarnya menghasilkan penjualan dengan harga
tinggi dan wajar, oleh karena itu penggunaan mekanisme lelang sebagaimana
mekanisme pasar telah direstui dan diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan
yang berlaku di Indonesia.11
Pasal 1 ayat 1 Kepmenkeu nomor 93 /PMK.06/2010 Petunjuk Pelaksanaan
Lelang, untuk selanjutnya disebut Juklak Lelang dikatakan
“ Lelang adalah penjualan barang yang terbuka untuk umum baik secara langsung maupun melalui media elektronik dengan cara penawaran harga secara lisan dan atau tertulis yang didahului dengan usaha mengumpulkan peminat”.
Menurut tim Penyusun Rancangan Undang-Undang Lelang Direktorat Jendral
Piutang dan Lelang Negara Biro Hukum Sekretariat Jendral Departemen Keuangan
Pengertian Lelang adalah cara penjualan barang yang terbuka untuk umum dengan
penawaran secara kompetisi yang didahului dengan pengumuman lelang dan atau
upaya mengumpulkan peminat.12
Pengertian lelang yang telah disebutkan di atas, Unsus Pokoknya yaitu :
11
Bachtiar Sibarani, Masalah Hukum Privatisasi Lelang,Jurnal Keadilan Vol.4 No.1 (2006) hal. 18.
12 DR. Purnama T. Sianturi, SH, M.Hum, Perlindungan Hukum Terhadap Pembeli Barang
1. Saat dan tempat tertentu.
2. Dilakukan di depan umum dengan mengumpulkan peminat melaui cara
pengumuman.
3. Dilaksanakan dengan cara penawaran yang khusus, yaitu tertulis dan atau lisan.
4. Penawaran tertinggi dinyatakan sebagai pemenang.
5. Dilakukan di hadapan pejabat Lelang
Perubahan dalam pengertian lelang pada Kepmenkeu No. 93 /PMK.06/2010
tentang Juklak Lelang adalah pada saat sekarang Lelang dapat dilakukan dengan
menggunakan media elektronik.
1.2. Jenis Lelang
Jenis Lelang dibedakan berdasarkan sebab barang di jual dan penjual dalam
hubungannya dengan barang yang akan dilelang. Sifat lelang ditinjau dari sudut sebab
barang dilelang dibedakan antara lelang eksekusi dan lelang non eksekusi. Lelang
eksekusi adalah lelang untuk melaksanakan putusan/penetapan pengadilan atau
dokumen yang dipersamakan dengan itu sesuai dengan perundang-undangan yang
berlaku. Lelang non eksekusi adalah lelang selain lelang eksekusi yang meliputi
lelang non eksekusi wajib dan lelang nen eksekusi sukarela. Sifat lelang ditinjau dari
sudut penjual dalam hubungannya dengan barang yang akan dilelang, dibedakan
antara lelang yang sifatnya wajib, yang menurut peraturan perundang-undangan wajib
melalui kantor lelang dan lelang yang sifatnya sukarela atas permintaan masyarakat.
negara/daerah dan kekayaan negara yang dipisahkan sesuai peraturan yang berlaku.
Lelang Non Eksekusi sukarela adalah lelang untuk melaksanakan kehendak
perorangan atau badan untuk menjual barang miliknya.13
a. Lelang yang bersifat Eksekusi dan Wajib.
1) Lelang Eksekusi Panitia Urusan Putang Negara (PUPN)
Lelang Eksekusi PUPN adalah pelayanan lelang yang diberikan kepada
PUPN/BUPLN dalam rangka proses penyelesaian pengurusan piutang Negara
atas barang jaminan/sitaan milik penanggung hutang yang tidak membayar
hutangnya kepada negara berdasarkan Undang-undang No. 49 Prp tahun 1960
tentang Panitia Pengurusan Piutang Negara.
2) Lelang Eksekusi Pengadilan Negeri (PN)/Pengadilan Agama (PA)
Lelang Eksekusi Pengadilan Negeri (PN)/Pengadilan Agama (PA) adalah lelang
yang diminta oleh panitera PN/PA untuk melaksanakan keputusan hakim
pengadilan yang telah berkekuatan pasti khususnya dalam rangka perdata,
termasuk lelang hak tanggungan, yang oleh pemegang hak tanggungan telah
diminta fiat eksekus kepada ketua pengadilan.
3) Lelang Barang temuan dan sitaan, rampasan Kejaksaan/penyidik
Lelang barang temuan dan sitaan, rampasan Kejaksaan/Penyidik adalah Lelang
yang dilaksanakan terhadap barang temuan dan lelang dalam kerangka acara
pidana sebagaimana diatur dalam KUHAP yang antara lain meliputi lelang
eksekusi barang yang telah diputus dirampas untuk Negara, termasuk dalam
kaitan itu adalah lelang eksekusi pasal 45 KUHAP yaitu lelang barang bukti yang
mudah rusak, busuk dan memerlukan biaya penyimpanan tinggi.
Barang temuan adalah barang-barang yang ditemukan oleh penyidik dan telah
diumumkan dalam jangka waktu tertentu tidak ada yang mengaku sebagai
pemiliknya. Barang temuan kebanyakan berupa hasil hutan yang disita oleh
penyidik tetapi tidak ditemukan tersangkanya dan telah diumumkan secara patut,
tetapi tidak ada yang mengaku sebagai pemiliknya. Lelang barang rampasan
adalah lelang eksekusi barang yang telah diputus dirampas untuk negara. Dalam
lelang barang rampasan pemohon lelang sekaligus sebagai penjual adalah Kepala
Kejaksaan Negeri, berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kejaksaan mengenai
pelelangan/penjualan barang rampasan. Lelang barang sitaan adalah lelang
terhadap barang-barang yang disita sebagai barang bukti sitaan perkara pidana
yang karena pertimbangan sifatnya cepat rusak/busuk, berbahaya atau biaya
penyimpanannya terlalu tinggi dijual mendahului keputusan pengadilan
berdasarkan pasal 45 KUHP . lelang atas barang bukti sitaan telah disita yang
sifatnya cepat rusak/busuk dan biaya penyimpanan tinggi, maka Kejaksaan
Negeri yang menangani perkara permohonan lelang kekantor lelang. Lelang
barang buki sitaan memerliukan izin dari ketua pengadilan tempat perkara
berlangsung. Uang hasil lelang dipergunakan sebagai bukti dalam perkara.
Lelang Sita Pajak adalah lelang atas sitaan pajak sebagai tindak lanjut penagihan
piutang pajak kepada negara baik pajak pusat maupun pajak daerah. Dasar hukum
dari pelaksanaan lelang ini adalah Undang-undang Nomor 19 tahun 1997.
5) Lelan Eksekusi barang Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Barang tak bertuan)
Lelang Barang Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dapat diadakan terhadap barang
yang dinyatakan tidak dikuasai, barang yang dikuasai Negara dan barang yang
menjadi milik Negara. Direktorat Bea dan Cukai telah mengelompokkan barang
menjadi tiga, yaitu barang yang dinyatakan tidak dikuasai, barang yand dikuasai
Negara dan barang yang menjadi milik Negara. Lelang barang tak bertuan
dimaksudkan untuk menyebut lelang yang dilakukan terhadap barang yang dalam
jangka waktu yang ditentukan tidak dibayar bea masuknya.
6) Lelang Eksekusi Pasal 6 Undang-undang Hak Tanggungan (UUHT)
Lelang eksekusi yang dilakukan berdasarkan pasal 6 UUHT, yang memberikan
hak kepada pemegang Hak tanggungan pertama untuk menjual sendiri secara
lelang terhadap objek hak tanggungan apabila cidera janji. Pelaksanaan Lelang
Eksekusi hak tanggungan didasarkan pasal 6 UUHT.
7) Lelang Eksekusi Fidusia
Lelang eksekusi fidusia adalah lelang terhadap Objek fidusia karena debitor
cidera janji, sebagaimana diatur Undang-undang fidusia. Parate eksekusi fidusia,
akan menjual secara lelang barang agunan kredit yang diikat fidusia, jika debitor
cedera janji.
b. Lelang Non Eksekusi Wajib
Lelang barang inventaris instansi pemerintah pusat/pemerintah daerah adalah
lelang yang dilakukan dalam rangka penghapusan barang milik/dikuasai negara,
termasuk dalam pengertian barang milik/dikuasai negara adalah aset pemerintah
pusat/daerah, ABRI maupun sipil. Barang yang dimiliki negara adalah barang
yang pengadaannya bersumber dari dana yang berasal dari APBN, APBD serta
sumber-sumber lainnya atau barang yang dinyata-nyata dimiliki negara
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku tidak termasuk
kekayaan Negara yang dipisahkan. Undang-undang No. 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara Pasa 48 ayat
(1) Penjualan benda milik negara/daerah dilakukan dengan cara lelang, kecuali
dalam hal-hal tertentu.
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan
pemerintah. INPRES No. 9 Tahun 1970 tentang penjualan dan atau
pemindahtanganan barang-barang yagn dimiliki/dikuasai Negara, mengatur
barang milik/kekayaan Negara/Daerah harus dijual secara Lelang.
c. Lelang Secara Sukarela
Lelang Sukarela/Swasta adalah jenis pelayanan lelang atas permohonan
masyarakat secara sukarela. Jenis pelayanan lelang ini sedang dikembangkan
untuk dapat bersaing dengan berbagai bentuk jual beli Individual/jual beli biasa
yang di kenal di masyarakat. Lelang sukarela yang saat ini sudah berjalan antara
lain lelang barang-barang milik kedutaan/korps diplomatik, lelang barang seni
seperti carpet dan lukisan, lelang sukarela yang diadakan oleh Balai Lelang.
2) Lelang Sukarela BUMN (Persero)
Pasal 37 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 12 tahun 1998 tentang Perusahan
Perseroan (Persero) mengatur, bagi persero tidak berlaku Instruksi Presiden
Nomor 9 Tahun 1970 tentang penjualan dan atau pemindahtanganan
barang-barang yang dimiliki/dikuasai Negara, yang harus melalui kantor lelang. Dalam
penjelasan pasal 37 dinyatakan guna memberikan keleluasaan pada Persero dan
Persero terbukadalam melaksanakan usahanya maka penjualan dan pengalihan
barang yang dimiliki/dikuasai Negara, dinyatakan tidak berlaku. Persero tidak
wajib menjual barangnya melalui Lelang atau dapat menjua asetnya tanpa melalui
Lelang. Jika Persero memilih cara penjualan lelang, maka lelang tersebut
termasuk jenis lelang sukarela.
1.3. Pihak Dalam Lelang
Lelang pada dasarnya merupakan jual beli, hanya cara penjualannya
dilakukan dengan cara yang khusus seperti disebutkan dalam pengertian lelang, tidak
Pihak dalam jual beli adalah Penjual dan Pembeli, yang melakukan perjanjian,
terjadi pada saat pejabat lelang untuk kepentingan si penjual menunjuk penawar yang
tertinggi dan mencapai harga limit sebagai pembeli lelang.14 serta harus dilakukan di
hadapan Pejabat Lelang.
Berdasarkan pasal 1a VR yang menyatakan :
“Menurut ketentuan dalam ayat berikut dan pasal ini penjualan di muka umum tidak boleh diadakan kecuali di depan juru lelang. Dengan peraturan pemerintah dapat dilakukan penjualan di muka umum dibebaskan dari campur tangan juru lelang. Seorang yang berbuat bertentangan dengan ketentuan dalam pasal ini, didenda paling banyak sepuluh ribu rupiah; perbuatannya yang dapat dipidana dipandang sebagai pelanggaran”.
Bachtiar sibarani dalam Jurnal Hukum Bisnis menyatakan bahwa:15
1. Lelang yang dilakukan di hadapan Pejabat Lelang antara lain:
a. Lelang eksekusi Pengadilan
b. lelang eksekusi BUPLN
c. Lelang barang milik Pemerintah Pusat/Daerah
d. Lelang milik BUMN/D
2. Lelang yang dibebasan dari campur tangan Pejabat Lelang, antara lain adalah :
a. Lelang ikan segar (stb 1908;642)
b. Lelang yang dilaksanakan oleh Perum Pegadaian (stb. 1926;133, 1921;29,
1933;341, 1935;453).
14 Purnama T. Sianturi, “Tanggung Jawab Kantor Lelang Negara, Penjual, Pembeli dan
Balai Lelang Dalam Penjualan Aset Badan Penyehatan Perbankan Nasional (Studi Kasus di Kantor Lelang Negara Medan Kurun Waktu 1999-2000)”, Tesis Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, Medan, hal. 102.
15Bachtiar Sibarani, Kendala dan Prospek Lelang Negara; Sebuah Tinjauan Hukum,Jurnal
c. Lelang kayu kecil (Stb. 1912;128, 1914;397, 1935;453)
d. Lelang hasil perkebunan atas biaya penduduk Indonesia di tempat-tempat
yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan (Stb.1915, 1943;63, 1938;371 dan 464)
e. Lelang hewan-hewan tangkapan polisi (Stb.1918;125, 1925;34, 1934;56)
f. Lelang harta peninggalan anggota tentara yang tidak mempunyai anggota
keluarga (Stb. 1872;208, 1874;147, pasal 12)
g. Lelang buku-buku perpustakaan yang dilakukan oleh anggotanya (Stb.
1914;56)
h. Lealng yang dilakukan oleh juru sita berkenaan dengan eksekusi hukuman
sesuai HIR Pasal 200 ayat (2) /Rbg Pasal 215 ayat (2).
i. Lelang cengkeh yang dilakukan oleh KUD berdasarkan Keppres no. 8/1980 Jo
Kepmenperdag Nomor 29/KP/1/1980.
j. Lelang aset-aset bank di Bawah BPPN berdasarkan Surat Edaran DJPLN
Nomor SE-03/PL/2003 tentang Pengecualian Alas Penyelenggaraan Lelang
yang Dilakukan Sendiri Oleh BPPN Jo PP nomor 17/1999 tentang BPPN Jo
UU Nomor 71/1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan UU
Nomor 10/1998 Pasal 37 A.
Dalam Jual beli secara Lelang para pihak adalah :
1. Penjual
Pasal 1 ayat 8 Kepmenkeu No. 93 /PMK.06/2010 tentang Juklak Lelang
peraturan perundang-undangan atau perjanjian berwenang melakukan penjualan
secara lelang.
2. Pembeli
Pasal 1 ayat 9 Kepmenkeu Nomor 93 /PMK.06/2010 tentang Juklak Lelang
menyatakan Pembeli adalah orang atau badan yang mengajukan penawaran
tertinggi yang mencapai atau melampaui nilai limit yang disahkan sebagai
pemenang lelang oleh pejabat lelang.
Berdasarkan Pasal 40 Kepmenkeu Nomor 93 /PMK.06/2010 tentang Juklak
Lelang dikatakan bahwa pejabat Lelang, Pejabat Penjual, Pemandu Lelang,
Hakim, Jaksa, Panitera, Juru Sita, Pengacara/Advokat, Notaris, PPAT, Penilai dan
Pegawai DJPLN, yang terkait dengan pelaksanaan lelang dilarang menjadi
Pembeli.
3. Pejabat Lelang
Pasal 1 ayat (5) Kepmenkeu Nomor 93 /PMK.06/2010 tentang Juklak Lelang
memberikan pengertian Pejabat Lelang ( Vendumeester sebagaimana dimaksud
dalam VR) adalah orang yang khusus diberi wewenang oleh Menteri keuangan
untuk melaksanakan Penjualan barang secara lelang berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Pejabat Lelang merupakan salah satu pihak yang harus hadir dalam
kecuali untuk lelang tertentu seperti lelang ikan dan lelang Perum Pegadaian,
Pelaksanaan Lelang tersebut dapat dikenakan sankasi berupa pembatalan penjualan.
Pelaksanaan Penjualan secara Lelang diawasi seorang Pengawas Lelang
berdasarkan pasal 1 ayat 7 Kepmenkeu Nomor 93 /PMK.06/2010 tentang Juklak
Lelang, Pengertian Pengawas Lelang adalah pejabat yang diberi wewenang oleh
Menteri Keuangan untuk mengawasi pelaksanaan lelang yang dilakukan oleh Pejabat
Lelang, yaitu Kepala Kantor, yang bertanggung jawab atas dipatuhinya
peraturan-peraturan lelang oleh Pejabat Lelang sebagaimana Pelaksana lelang dalam acara
Lelang. Pengawasan yang dilakukan meliputi pengawasan administratif, keuangan
dan bertindak sebagai pemutus bila terlibat perselisihan.16
1.4. Tata Cara Lelang
Pasal 5 ayat 1 dan 2 VR menetapkan
“ Seorang yang menghendaki mengadakan penjualan di muka umum, memberitahukan hal itu pada Juru Lelang atau di tempat-tempat ang dalam kantor ada pemegang buku, pada pemegang buku, dengan menyampaikan pada dan atau hari-hari kapan penjualan ingin diadakan. Permintaan ditulis dalam daftar dari mana yang berkepentingan atas permintaannya dapat melihatnya”
Pasal 2 ayat (1) Kepmenkeu Nomor 93 /PMK.06/2010 tentang Juklak Lelang
menyatakan setiap Penjual yang bermaksud melakukan penjualan secara lelang
mengajukan permohonan lelang secara tertulis disertai dengan dokumen yang
disyaratkan kepada kepala kantor lelang.
Tata cara lelang ditetapkan Direktur Piutang dan Lelang Negara dalam
keputusan Nomor 38/PL/2002 tentang Tata Cara Administrasi dan Lelang Negara
yang meliputi tahapan :
1. Persiapan Lelang
Dalam persiapan lelang terdapat beberapa hal yang harus dilaksanakan guna
kelancaran pelaksanaan lelangnya. Hal ini untuk menghindari kemungkinan adanya
sengketa hukum di kemudian hari. Beberapa kegiatan antara lain persiapan-persiapan,
kelengkapan dokumen, jadwal waktu pengumuman, persyaratan-persyaratan hukum
sebagai dasar hukum pelaksanaan lelang itu sendiri dan sebagainya. Adapun proses
yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
A. Permohonan lelang
Permohonan lelang diajukan secara tertulis kepada Pejabat Lelang Kelas II
disertai dokumen persyaratan lelang bersifat umum dan khusus.
B. Waktu dan Tempat Lelang
Waktu Lelang
1. Setelah permohonan lelang diteliti kelengkapan dokumen dan keabsahannya,
waktu lelang ditetapkan.
2. Penetapan hari dan tanggal lelang memperhatikan jadwal dari pejabat lelang
dan keinginan si penjual
4. Lelang di luar jam dan hari kerja harus dengan seijunSuperintenden (Pasal 8
KMK No. 304/KMK.01/2002)
Tempat Lelang
1. Lelang barang bergerak dilaksanakan di tempat barang itu berada
2. Lelang barang tidak bergerak dilaksanakan ditempat yang dikehendaki
penjual, dengan ketentuan tetap harus memperhatikan wilayah kerja dan
jabatan Pejabat Lelang Kelas II.
3. Lelang barang bergerak atas contoh dapat dilaksanakan tidak ditempat barang
itu berada tetapi harus dengan persetujuan Superintenden. Terhadap barang
contoh tersebut harus dibubuhi segel KP2LN.
4. Bila objek lelang tersebar diwilayah kerja beberapa KP2LN, selanjutnya akan
dilelang di satu KP2LN, perlu ijinSuperintended.
5. Lelang non eksekusi dapat dilaksanakan di luar wilayah kerja tempat barang
berada, setelah mendapat persetujuan ;
i. Direktur Jendral untuk barang-barang yang berada dalam wilayah antar
Kantor Wilayah DJPLN; atau
ii. Kepala Kantor Wilayah DJPLN setempat untuk barang –barang yang
berada dalam wilayah kantor wilayah DJPLN setempat.
6. Dalam hal lelang dilaksanakan di luar wilayah kerja tempat Pejabat Lelang
Kelas II berada, maka pejabat lelang yang melaksanakan lelang membukukan
tersebut kemudian membuat laporan yang ditujukan kepaad KP2LN tempat
barang berada dengan tembusan kepada Direktur Jenderal c.q. Direktur
Lelang Negara dan Kpala Kantor Wilayah pelaksanaan lelang
selambat-lambatnya 10 hari setelah pelaksanaan lelang. Hasil lelang akan
diperhitungkan sebagai kompensasi pencapaian target dari KP2LN yang
melaksanakan lelang kepada KP2LN tempet barang berada.
7. Dalam hal Lelang Eksekusi, KP2LN dapat mensyaratkan kepada Penjual
untuk menggunakan tempat dan fasilitas lelang yang disediakan oleh DJPLN.
Pelaksanaan Lelang di Luar Hari dan Jam Kerja.
Untuk Pelaksanaan lelang di luar hari dan Jam kerja, penjual harus
mengajukan permohonan dispensasi pelaksanaan lelang di luar hari dan jam kerja
secara tertulis kepada Kepala Kantor Wilayah dalam hal pelaksanaan lelang
dilakukan oleh Pejabat Lelang. Terhada permohonan tersebut, Kepala Kantor Wilayah
dapat memberikan atau menolak permohonan lelang diluar hari dan jam kerja yang
disampaikan oleh penjual.
Lelang di Luar Wilayah Kerja
Untuk pelaksanaan lelang di luar wilayah kerja Pejabat lelang, penjual
mengajukan permohonan persetujuan lelang di luar wilayah kerja secara tertulis
kepada KP2LN untuk barang-barang yang berada dalam wilayah antar Kantor
KP2LN dapat memberikan atau menolak permohonan lelang di luar wilayah
kerja tersebut yang disampaikan kepada penjual.
Syarat Lelang
Syarat-syarat umum dalam setiap pelaksanaan lelang pada prinsipnya adalah :
1. Dilakukan di hadapan Pejabat Lelang atau ditutup dan disahkan oleh Pejabat
Lelang dalam hal lelang internet.
2. Terbuka untuk umum yang dihadiri oleh penjual dan 1 (satu) orang peserta atau
lebih
3. Pengunguman Lelang.
4. Harga Lealgn dibayarkan secara tunai selambat-lambatnya 3 (tiga) hari Kerja
setelah pelaksanaan lelang.
Penjual dapat mengajukan syarat-syarat khusus secara tertulis kepada Pejabat
Lelang dengan ketentuan tidak boleh bertentangan dengan peraturan umum lelang
dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Adapun syarat-syarat tambahan lelang tersebut antara lain :
1. Jadwal penjelasan lelang kepada peserta lelang sebelum pelaksanaan lelang
(Aanwidjzing).
2. Jangka waktu bagi calon pembeli untuk melihat dan meneliti secara fisik barang
yang akan dilelang.
3. Jangka waktu pembayaran harga lelang.
Tata Cara Pengumuman Lelang
Setiap penjualan secara lelang harus didahului dengan Pengumuman Lelang
yang dilakukan oleh penjual. Pada prinsipnya, pengumuman lelang harus dilakukan
melalui surat kabar harian, selebaran, atau tempelan yang mudah dibaca oleh umum
dan/atau melalui media elektronik termasuk internet di wilayah kerja tempat baran
akan di jual. Dalam hal tidak ada surat kabar harian, maka pengumuman lelang
diumumkan dalam yang terbit di tempat yang terdekat dan beredar diwilayah kerja
Pejabat Lelang tempat barang akan dijual. Sejauh mungkin pengumuman lelang
tersebut dimuat di surat kabar harian yang memiliki peredaran luas dan diperkirakan
dibaca oleh kalangan bisnis.
Adapun maksud diadakan pengumuman lelang ini adalah :
a. Agar dapat diketahui oleh masyarakat luas, sehingga bagi yang berminat dapat
menghadiri pelaksanaan lelang (menghimpun peminat lelang/aspek publikasi).
b. Memberikan kesempatan kepada pihak ketiga yang merasa dirugikan untuk
mengajukan sanggahan/Verzet(aspek legalitas).
c. Sebagai Shock Therapy bagi masyarakat agar menimbulkan efek jera, sehingga
diharapkan Debitur yang tadinya bermalas-malasan memenuhi kewajibannya
akan timbul kesadaran untuk melunasi kewajiban-kewajibannya karena takut
barang miliknya bisa saja dilelang sebagai bagian pelunasan hutang-hutangnya.17
17 F.X. Sutardjo, Prospek Dan Tantangan Lelang Di Era Globalisasi, Makalah Perkuliahan
Tata cara pengumuman lelang telah diatur dalam surat Keputusan Menteri
Keuangan No. 304/KMK.01/2002 tentang petunjuk pelaksanaan lelang.
Pengumuman lelang sekurang-kurangnya memuat :
a. Identitas penjual
b. Hari, tanggal, waktu dan tempat pelaksanaan lelang dilaksanakan.
c. Jenis dan jumlah barang .
d. Lokasi, luas tanah, jenis hak atas tanah, dan ada/tidak adanya bangunan, khusus
untuk barang tidak bergerak berupa tanah dan/atau bangunan.
e. Jumlah, dan jenis/Spesifikasi, khusus untuk barang bergerak.
f. Jangka waktu melihat barang yang akan dilelang.
g. Uang jaminan penawaran lelang meliputi besaran, jangka waktu, cara dan tempat
penyetoran, dalam hal dipersyaratkan adanya uang jaminan penawaran lelang.
h. Jangka waktu pembayaran harga lelang dan
i. Harga limit, sepanjang hal itu diharuskan dalam peraturan perundang-undangan
atau atas kehendak penjual/pemilik barang.
C. Pelaksanaan Lelang
Pada prinsipnya prosedur lelang cukup sederhana dan tidak berbelit-belit,
Adapun urutan-urutannya yaitu sebagai berikut :
1. Siapapun yang berminat untuk melakukan penjualan barang secara lelang harus
mengajukan permohonan lelang kepada pejabat lelang kelas II setempat. Setiap
barang yang akan dilelang, serta bukti-bukti kewenangan menjual dari
permohonan lelang, dan harus sudah diserahkan ke Pejabat Lelang Kelas II paling
lambat 3 (tiga) hari sebelum pelaksanaan lelang.
2. Permohonan lelang dapat menentukan syarat-syarat lelang asalkan persyaratan
tersebut tidak bertentangan dengan ketentuan lelang yang berlaku dan harus
diserahkan selambat-lambatnya 3 (tiga) hari sebelum pelaksanaan lelang.
3. Setelah Pejabat lelang kelas II meneliti permohonan lelang beserta kelengkapan
dokumen dan memperoleh keyakinan atas legvalisasi subyek dan obyek lelang,
maka dengan memperhatikan keinginan Pemohon Lelang/Penjual.
Pemohon lelang wajib mengumumkan lelang barang-barang yang akan
dilelang di surat kabar harian dan atau media cetak elektronik lainnya.
Pada tahap pelaksanaan lelang hal-hal yang harus dilakukan adalah sebagai
berikut :18
1. Pejabat Lelang mengecek peserta Lelang/Kuasanya, kehadirannya, keabsahannya
sebagai peserta lelang dengan bukti setoran uang jaminan.
2. Pejabat Lelang memimpin lelang dengan memulai pembacaan kepala risalah
Lelang. Pembacaan tersebut diikuti dengan tanya jawab tentang pelaksanaan
lelang antara peserta lelang, pejabat penjual dan pejabat lelang. Pertanyaan yang
mengenai barang dijawab oleh penjual, sedang pertanyaan yang mengenai
pembayaran, surat-surat penting dan lain-lainnya dijawab oleh pejabat lelang.
3. Peserta lelang mengajukan penawaran lelang, yang dilakukan setelah pejabat
lelang membacakan kepala risalah lelang.
4. Cara penawaran.
a. Penawaran Lisan dilakukan dengan cara
i. Pejabat Lelang mulai menawarkan barang mulai dari nilai Limit.
ii. Melaksanakan penawaran dengan harga naik-naik dengan kelipatan
kenaikan ditetapkan oleh pejabat lelang.
iii. Penawar tertinggi yang telah mencapai atau melampaui nilai limit
ditetapkan sebagai pembeli oleh pejabat lelang.
b. Penawaran tertulis dilakkan dengan cara
i. Formulir penawaran lelang yang disediakan oleh kantor lelang, dibagikan
kepada peserta lelang.
ii. Setelah Pejabat Lelang membacakan kepala Risalah Lelang, Peserta Lelang
diberi kesempatan untuk mengisi dan mengajukan penawaran tertulis
kepada pejabat lelang sesuai waktu yang telah ditentukan.
iii. Pejabat lelang menerima amplop yang berisikan nilai limit dari pejabat
penjual dan menunjukkan amplop tersebut kepada peserta lelang.
Penyerahan harga limit dari pejabat penjual kepada pejabat lelang dalam
amplop tertutup. Hal ini tidak berlaku, jika nilai limit telah diketahui
iv. Pejabat lelang membuka surat penawaran bersama-sama dengan pejabat
penjual.
v. Pejabat lelang dan pejabat penjual membubuhkan paraf masing-masing
pada surat penawaran yang disaksikan oleh peserta lelang dan penawaran
tersebut dicatat dalam daftar rekapitulasi penawaran lelang.
vi. Jika penawaran belum mencapai nilai limit, maka lelang dilanjutkan
dengan cara penawaran lisan dengan harga naik-naik, jika tidak ada
penawar yang bersedia menaikkan penawaran secara lisan naik-naik, maka
lelang dinyatakan ditahan, barang tidak terjual.
vii.Jika terdapat dua atau lebih penawaran tertinggi yang sama dan telah
mencapai nilai limit, maka untuk menentukan pemenang lelang, para
penawar yang mengajukan penawaran tertinggi yang sama tersebut
dilakukan penawaran kembali secara lisan untuk menaikkan penawaran
lisannya sehingga terdapat satu orang penawar tertinggi. Penawar tertinggi
tersebut ditunjuk sebagai pemenang lelang/pembeli lelang.
Setelah proses penawaran lelang selesai, risalah lelang ditutup dengan
ditandatangani oleh pejabat lelang. Pejabat penjual. Dalam hal barang yang dilelang
barang tetap. Pembeli turut menandatangani risalah lelang, tetapi untuk barang
3. Tahap Pasca Lelang
Pasca Lelang menyangkut pembayaran harga lelang, penyetoran hasil lelang
dan pembuatan risalah lelang. Pada tahap pelaksanaan lelang hal-hal yang harus
dilakukan adalah sebagai berikut :19
1. Pembayaran harga lelang. Waktu pembayaran menurut ketentuan 3 x 4 jam
setelah lelang. Bea lelang pemberi dipungut sesuai peraturan Pemerintah Nomor
44 tahun 2003 dan uag miskin berdasarkan pasal 18 VR. Atas pembayaran
tersebut pembeli lelang berdasarkan bukti pelunasan yang diterbitkan kantor
lelang meminta dokumen kepemilikan barang yang dibelinya ke Penjual.
2. Penyetoran hasil lelang. Pejabat lelang setelah menerima hasil lelang melakukan
penyetoran hasil lelang kepada yang berhak. Bea lelang, uang miskin, pajak
penghasilan disetor ke kas Negara, sedang harga lelang dikurang bea lelang
penjual disetorkan kepada penjual.
3. Pembuatan Risalah Lelang. Pejabat lelang membuat risalah lelang berupa minut,
salinan, petikan dan grose risalah lelang, pejabat lelang memberikan petikan
lelang kepada pembeli lelang beserta kuitansi lelang. Etikan risalah lelang khusus
barang tetap diberikan kepada pembeli, setelah pembeli menunjukkan bukti
pembayaran Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan.
4. Pengembalian uang jaminan peserta lelang yang tidak menang, uang jaminan
lelang dari peserta yang tidak ditunjuk sebagai pemenang/pembeli lelang. Harus
dikembalikan kepada penyetor yang bersangkutan selambat-lambatnya satu hari
kerja sejak dilengkapinya persyaratan permintaan penembalian uang jaminan dari
peserta lelang.20
5. Biaya-biaya Yang Dikeluarkan Dalam Lelang
Di dalam pelaksanaan lelang ada biaya-biaya yang dikenakan baik kepada
penjual maupun kepada pembei sebagai pemasukan untuk kas Negara, sebagai dana
rutin. Biaya yang dikeuarkan oleh pembeli dan atau Penjual adalah :
1. Bea Lelang10 VR menyatakan bahwa mengenai penjualan dimuka umum Bea
Lelang dihitung menurut peraturan yang ditentukan dengan peraturan pemerintah.
Pasal 1 ayat 14 Kepmenkeu No. 93 /PMK.06/2010 tentang Juklak Lelang
memberi pengertian Bea Lelang adalah pungutan negara atas pelaksanaan lelang
berdasarkan Peraturan Pemerintah tentang Bea Lelang
2. Uang Miskin
Pasa 18 VR menyatakan
“ untuk orang-orang miskin dikurangkan uang miskin kecuali ketentuan dalam ayat keempat dari pasal ini, uang miskin berjumlah untuk penjualan barang-barang disebut dalam ayat pertama dari pasal 6, empat perseribu dari jumlah yang diserahkan. Untuk penjualan barang-barang bergerak lain daripada yang dimaksud dalam pasal ini, uang miskin berjumlah tujuh perseribu dari jumlah diserahkan. Jika barang dimaksud dalam ayat kedua dari pasal ini dijual dalam satu bagian dengan barang-barang dimaksud dalam ayat keiga dari pasal ini, untuk semuanya harus dibayar uang miskin dimaksud dalam ayat ketiga dari pasal ini”
Pasal 1 ayat 15 Kepmenkeu No. 93 /P MK.06/2010 tentang Juklak Lelang
memberi pengertian Uang miskin adalah uang yang dipungut dari pembeli lelang
sebagai penerimaan negara bukan pajak yang disetor ke kas Negara. Uang miskin
ini oleh pemerintah dialokasikan untuk masyarakat yang memerlukan melalui
Dinas Sosial.
3. Pajak
Pasal 19 VR menyatakan :
“ Pajak lelang, sejak tentang hal itu dalam pasal 10 dimaksud dalam peraturan pemerintah tidak ditentukan sebaliknya, dibayar oleh penjual. Uang miskin dibayar oleh pembeli, kecuali jika diperlukan bahwa pembayaran harga pembelian tidak akan dilakukan oleh pemerintah, dalam hal mana uang miskin dibayar oleh penjual. Jika atau sejauh bea lelang yang harus dibayar tidak daat diperhitungkan dengan cara ditentukan dalam pasal 34, pajak lelang harus seperti uang miskin yang harus dibayar oleh penjual, dibayar dalam delapan hari sesudah penjualan. Jika penjual tidak membayar dalam jangka waktu tersebut, didenda seperti apa yang harus dibayar menurut ketentuan pasal 23”
Berdasarkan pasal 42 ayat (2) Kepmenkeu No. 93 /PMK.06/2010 tentang Juklak
Lelang pajak yang dibayar adalah pajak penghasilan (PPn), dan berdasarkan pasa
35 keputusan DJPLN nomor PER-03/KN/2010 tentang Petunjuk Teknis
Pelaksanaan Lelang, pajak yang dikenakan kepada pembeli adalah BPHTB
karena pada saat pengambilan Risalah Lelang Pembeli harus menunjukkan bukti
setoran pelunasan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yaitu
pajak yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan21di mana
21
pemindahan hak melalui penunjukan pembeli dalam lelang merupakan objek
BPHTB.
4. Bea Materai
Pasal 38 ayat 4 VR menyatakan bahwa Bea Materai untuk minut Berita Acara
menjadi beban penjual. Pasal 34 keputusan DJPLN Nomor PER-03/KN/2010
tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Lelang menyatakan Bea Materai Untuk
Minut Risalah Lelang dibebankan kepada pembeli, dan salinan Risalah Lelang
kedua, ketiga dan seterusnya dibebankan kepada penjual.
2. Kerangka Konsepsi
Konsep atau pengertian merupakan unsur pokok dari suatu penelitian. Jika
masalahnya dan kerangka konsep teoritisnya sudah jelas, biasanya sudah diketahui
pula fakta mengenai gejala-gejala yang menjadi pokok perhatian, dan suatu konsep
sebenarnya adalah defenisi secara singkat dari kelompok fakta atau gejala itu, “Oleh
karena itu konsep merupakan defenisi dari apa yang perlu diamati, konsep
menentukan adanya hubungan empiris diantara variable-variable yang diteliti”.22
Analisis Yuridis adalah suatu tinjauan terhadap pelaksanaan suatu peraturan
perundang-undangan (Statute Approach) yang berhubungan dengan permasalahan
yang diteliti.
22
Notaris adalah Pejabat Umum yang berwenang untuk membuat akta otentik
dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini (pasal 1
UUJN).
Pejabat Lelang adalah orang yang berdasarkan peraturan perundang-undangan
diberi wewenang khusus untuk melaksanakan penjualan barang secara lelang (pasal 1
angka 1 PMK tentang pejabat lelang kelas II).
Pejabat Lelang kelas II adalah Pejabat Lelang swasta yang berwenang
melaksanakan Lelang Non Eksekusi Sukarela (pasal 1 angka 2 PMK tentang Pejabat
Lelang Kelas II).
Notaris dapat merangkap jabatan sebagai Pejabat Lelang Kelas II. Pengaturan
hukum bagi Notaris yang ditetapkan dan diangkat menjadi Pejabat Lelang Kelas II
diatur dalam peraturan lelang (Vendu Reglement) dan pasal 7 Instruksi Lelang (Vendu
Instructie) juncto pasal 4 ayat (3) Keputusan Mentri Keuangan Republik Indonesia
Nomor 451/KMK.01/2002 tentang Pejabat Lelang juncto Peraturan Mentri Keuangan
Republik Indonesia Nomor 175/PMK.06/2010 tentang Pejabat Lelang Kelas II.
G. Metode Penelitian
a) Spesifikasi Penelitian
Sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian, maka sifat penelitian ini
deskriptif analitis, yaitu analisis data yang berdasarkan pada teori hukum yang
bersifat umum diaplikasikan untuk menjelaskan tentang seperangkat data yang lain.23
23Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada Jakarta, 2001,
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah yuridis normatif yaitu
penelitian dengan melakukan penelusuran terhadap norma-norma hukum yang
terdapat dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ronald Dworkin menyebut metode penelitian Yuridis Normatif tersebut juga
sebagai penelitian doktrinal atau doctrinal research, yaitu suatu penelitian yang
menganalisis baik hukum sebagailaw is it written in the bok,maupun hukum sebagai
law as it is decided by the judge through judicial process.24
b) Jenis dan Sumber Data
Pada penelitian hukum, bahan pustaka merupakan data dasar yang dalam
penelitian digolongkan sebagai data sekunder. Data sekunder tersebut mempunyai
ruang lingkup yang sangat luas, sehingga meliputi surat-surat pribadi, buku-buku
harian, buku-buku sampai dokumen-dokumen resmi yang dikeluarkan oleh
Pemerintah.25
Dalam penelitian ini data sekunder yang digunakan, yaitu :
a) Bahan-bahan hukum primer, yaitu berhubungan dengan Undang-undang,
Peraturan Pemerintah dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan Pelelangan.
24Bismar Nasution, Metode Penelitian Hukum Normatif dan Perbandingan Hukum.
Disampaikan pada dialog Interaktif tentang Penelitian Hukum dan Hasil Penulisan Hukum pada Majalah Akreditasi, Fakultas Hukum USU, Tanggal 18 Februari 2003, hal.2
25
b) Bahan hukum sekunder, yaitu bahan yang memberikan penjelasan mengenai
bahan hukum primer, berupa hasil penelitian, artikel, buku-buku referensi, media
informasi lainnya.
c) Bahan hukum tersier, yaitu bahan hukum penunjang yang memberi petunjuk dan
penjelasan terhadap bahan hukum sekunder, berupa kamus hukum, kamus umum,
dan jurnal.
c. Alat Pengumpul Data
Untuk mendapatkan hasil yang objektif dan dapat dibuktikan kebenarannya
serta dapat dipertanggungjawabkan hasilnya, maka data dalam penelitian ini
diperoleh melalui alat pengumpul data dengan cara Study kepustakaan (library
research), yaitu pengumpulan data dengan melakukan penelaahan kepada bahan
pustaka atau data sekunder yang meliputi bahan hukum primer, bahan hukum
sekunder dan bahan hukum tersier.
d. Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian tesis ini adalah analisis data
kualitatif, yaitu analisis data yang tidak mempergunakan angka-angka tetapi
berdasarkan atas peraturan perundang-undangan, pandangan-pandangan para ahli,
jurnal-jurnal hukum serta tulisan-tulisan pada Blog Internet hingga dapat menjawab
permasalahan dari penelitian ini.
Semua data yang diperoleh disusun secara sistematis, diolah dan diteliti serta
analisis, sedangkan evaluasi dan penafsiran dilakukan secara kualitatif yang dicatat
satu persatu untuk dinilai kemungkinan persamaan jawaban. Oleh karena itu data
yang telah dikumpulkan kemudian diolah, dianalisis secara kualitatif dan
diterjemahkan secara logis sistematis untuk selanjutnya ditarik kesimpulan dengan
menggunakan metode pendekatan deduktif.26Kesimpulan adalah merupakan jawaban
khusus atas permasalahan yang diteliti, sehingga diharapkan akan memberikan solusi
atas permasalahan dalam penelitian ini.
26 Sutansyo Wigjosoebroto,Apakah Sesungguhnya Penelitian Itu, Kertas Kerja, Universitas