PROFIL FOTO THORAKS PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN TB DI
RUMAH SAKIT HAJI ADAM MALIK TAHUN 2012
Oleh:
Mery Friyanti P
110100239
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
PROFIL FOTO THORAKS PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN TB DI
RUMAH SAKIT HAJI ADAM MALIK TAHUN 2012
Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran
KARYA TULIS ILMIAH
Oleh:
MERY FRIYANTI P
110100239
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ABSTRAK
ABSTRACT
Background: Type 2 diabetic and TB are found to have high prevalence in Indonesia. Type 2 diabetic is a risk factor to get infection such as TB and one of ways to diagnose the type 2 diabetic patients with TB is by using chest x-ray. The aim of this study is to know chest x-ray profile of the type 2 diabetic with TB in H.Adam Malik hospital in 2011. Method of the study: the data were obtained from medical record installation of the patients who suffered from diabetic TB. Design of the study is descriptive.There are 102 patients who suffer from diabetic TB. Result: Higher prevalence in men is 66,7% compared to women is 33,3% with diabetic TB. Age group of 41-50 years old has prevalence 11,8% of diabetic TB,51-60 yeas old has prevalence 45,1% and >60 years old has prevalence 43,1%. Upper lobes of the lung of the infiltrate location have 18,6%, middle lobe of the lung have 3,9%,middle to lower lobes has 4,9%, and lower lobes have 72,5%. Conclusion: Type 2 diabetic with TB shows different chest x-ray appearance from type 2 diabetic without TB. Suggestion: make more profound study related to type 2 diabetic and TB in the future.
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur saya panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga saya dapat menyusun karta tulis ilmiah ini dengan judul “Profil Foto Thoraks Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan TB Di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik (RSUPHAM) Tahun 2012” tepat pada waktunya. Karya Tulis Ilmiah ini dibuat dalam rangka pembelajaran dan juga untuk mencukupi salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran. Saya menyadari bahwa tanpa bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan karya tulis ilmiah ini, sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikannya. Oleh karena ini saya mengucapkan terima kasih kepada :
1. dr. Asnawi Arif,Sp.PD selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga dan pikiran untuk membimbing saya dalam penyusunan karya tulis ilmiah saya, sehingga saya dapat menyelesaikan tepat waktu.
2. dr. Iman Helmi Effendi,Mked(OG),Sp.OG(K) dan dr. Widiraharjo,Sp.P(K) Selaku dosen penguji yang telah meluangkan waktu untuk memberikan banyak saran dan input dalam pembuatan karya tulis ilmiah saya.
3. Seluruh staf pengawas di rekam medis yang telah mengizinkan dan membantu saya untuk melakukan penelitian.
4. Seluruh pimpinan dan staf Medical Education Unit, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah membantu melancarkan perjalanan saya dalam menyiapkan karya tulis ilmiah ini.
5. Kepada kedua orang tua saya yang sudah mendukung dalam pembuatan karya tulis ilmiah saya sampai selesai.
6. Kepada abang,kakak saya Richard,S.pd,Sri Rohimah,S.pd,Encik terkhusus untuk Dian, terima kasih atas bantuannya yang banyak membantu dalam pengerjaan dan penyelesaian karya ilmiah saya.
7. Tidak lupa kepada sahabat saya kakak Risna Aruan,terima kasih atas bantuannya dalam penyelesaian karya ilmiah saya.
Akhir kata, saya berharap Tuhan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu saya, semoga karya ilmiah ini dapat diterima dan bermanfaat bagi pengembangan ilmu selanjutnya.
Medan, 28 November 2014
DAFTAR ISI
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA………..………...4
2.1.Diabetes Melitus………...4
2.3.Efek Diabetes Terhadap manifestasi Radiologi Tuberkulosis………...…………....17
BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIOANAL………...…19
3.1.Kerangka Konsep Penelitian………..………...19
3.2.Defenisi Operasional………...………..………...19
BAB 4 METODE PENELITIAN………..…………..………...21
4.1.Jenis Penelitian……..……….……….……….………..21
4.2.Tempat dan Waktu Penelitian……..….….………..……..21
4.2.1.Tempat Penelitian…………..………...………...21
4.3.Populasi dan Sempel Penelitian………….…………...………..………...21
4.3.1.Populasi……….…....………..……..………...21
4.3.2.Sampel………..……….21
4.4.Teknik Pengumpulan Data………...………..22
4.5.Pengolahan dan Analisi Data………....…...………..22
BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……….………23
5.1 Hasil Penelitian……...………...23
5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian……….…….23
5.1.2 Deskripsi Karakteristik Responden………..24
5.2 Pembahasan………...26
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN………..28
6.1 Kesimpulan……….…...28
6.2 Saran………...28
DAFTAR PUSTAKA……….………...……….29
ABSTRAK
ABSTRACT
Background: Type 2 diabetic and TB are found to have high prevalence in Indonesia. Type 2 diabetic is a risk factor to get infection such as TB and one of ways to diagnose the type 2 diabetic patients with TB is by using chest x-ray. The aim of this study is to know chest x-ray profile of the type 2 diabetic with TB in H.Adam Malik hospital in 2011. Method of the study: the data were obtained from medical record installation of the patients who suffered from diabetic TB. Design of the study is descriptive.There are 102 patients who suffer from diabetic TB. Result: Higher prevalence in men is 66,7% compared to women is 33,3% with diabetic TB. Age group of 41-50 years old has prevalence 11,8% of diabetic TB,51-60 yeas old has prevalence 45,1% and >60 years old has prevalence 43,1%. Upper lobes of the lung of the infiltrate location have 18,6%, middle lobe of the lung have 3,9%,middle to lower lobes has 4,9%, and lower lobes have 72,5%. Conclusion: Type 2 diabetic with TB shows different chest x-ray appearance from type 2 diabetic without TB. Suggestion: make more profound study related to type 2 diabetic and TB in the future.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diabetes melitus adalah penyakit akibat kelainan metabolik dengan karakteristik peningkatan kadar glukosa darah yang diakibatkan karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya(Purnamasari, 2009). WHO memperkirakan kenaikan jumlah penderita DM naik dari 8,4 juta orang pada tahun 2000 menjadi 21,3 juta pada tahun 2030. International Diabetes Federation (IDF) juga memperkirakan kenaikan penderita DM dari 7,0 juta orang pada tahun 2009 menjadi 12,0 juta pada tahun 2030 (PERKENI, 2011).
Di Indonesia prevalensi DM yang terdiagnosis oleh dokter sebesar 1,5%. Penyebaran prevalensi DM yang terdiagnosis dokter adalah DI Yogyakarta (2,6%), DKI Jakarta (2,5%), Sulawesi Utara (2,4%), Kalimantan Timur (2,3%) sedangkan prevalensi DM yang terdiagnosis dokter atau gejala adalah Sulawesi Tengah (3,7%), Sulawesi Utara (3,6%), Sulawesi Selatan (3,4%), dan Nusa tenggara Timur (3,3%).Di sumatera utara sendiri, diabetes yang terdiagnosis sebanyak 1,8% dan terdiagnosis dengan gejala sebanyak 2,3%. Prevalensi diabetes sesuai diagnosis dokter dan gejala meningkat sesuai pertambahan usia namun cenderung menurun mulai usia >65 tahun. Prevalensi DM cenderung lebih tinggi pada masyarakat dengan tingkat pendidikan tinggi dan angka kuintil kepemilikan yang tinggi (Riskesdas, 2013).
Tuberculosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Micobacterium tuberculosis. Menurut data WHO 2012, ada 8,6 juta kasus TB baru dan 1,3 juta mengalami kematian di dunia. Kebanyakan kasus TB baru dan kasus yang mengalami kematian adalah pria, tetapi kasus pada wanita juga tinggi. Pada tahun 2012, diperkirakan 2,9 juta kasus TB baru dan 410 000 mengalami kematian pada wanita. Kasus TB di Asia tenggara tercatat sekitar 2 331 445. Prevalensi TB paru di Sumatera Utara sekitar 0,2%. Dari seluruh penduduk Indonesia yang terdiagnosis TB hanya 44,4% yang di obati dengan obat program (Riskesdas, 2013).
terkontrol merupakan resiko yang besar untuk terkena TB. Beberapa penelitian mengemukakan bahwa negara yang memiliki prevalensi diabetes yang tinggi juga memiliki peningkatan jumlah TB secara signifikan.Di dunia,70% pasien diabetes tinggal di negara endemik TB. Indonesia menduduki peringkat ke tiga untuk masalah penyakit TB dan peringkat ke empat untuk masalah penyakit diabetes. Frekuensi diabetes dengan TB di Indonesia adalah 14,8%. Banyak penelitian yang mengeksplorasi hubungan TB dengan Diabetes melitus yang mengatakan Diabetes merupakan faktor resiko independen terhadap penyakit infeksi saluran pernafasan bawah. Guptan dan Sanusi dalam Nasution Ely mengemukakan 126 penderita DM ternyata 9 pasien mengalami TB paru (Nasution Ely,2008).Diabetes diperkirakan meningkatkan resiko terjadinya TB 1,5 % menjadi 7,8% yang membuat DM merupakan faktor resiko yang independen untuk terjadinya TB(Baghaei et al, 2013).
Sampai saat ini belum jelas apakah DM dapat mempengaruhi gambaran foto toraks pasien dengan TB. Penelitian klinis menunjukkan hasil yang ambigu. Beberapa penelitian menunjukkan ada temuan yang berbeda sehubungan dengan efek DM terhadap profil foto toraks pasien TB(Baghaei et al, 2013). Weaver dalam Dooley&chaisson menunjukkan 20% pasien menunjukkan infiltrat di lapangan paru bawah, Bacako F dkk dalam Wulandari dan sugiri menunjukkan infiltrate di lapangan paru bawah sebesar 21%. Menurut Chiang et al, dari 581 penderita TB dengan DM tipe 2 menunjukkan 265 pasien menunjukkan infiltrat di lapangan paru
atas, 77 pasien di lapangan paru bawah. Menurut Reviono, dari 10 pasien Tb dengan DM menunjukkan 4 infiltrat di lapangan paru astas dan 1 di lapangan paru bawah. Secara
klinis,gambaran tersebut sangat penting mengingat bahwa infiltrate di lapangan paru bawah akan salah diagnosis sebagai kanker atau community-acquired pneumonia (Dooley and Chaisson, 2009). Ada juga penelitian yang menunjukkan gambaran berbeda yaitu lesi berbentuk kavitas pada paru lebih dominan pada pasien TB dengan DM tipe 2(Baghaei et al, 2013).Berdasarkan masalah tersebut di atas, penulis tertarik melakukan penelitian mengenai profil foto toraks pasien TB dengan diabetes melitus tipe 2 yang dirawat di rumah sakit Haji Adam Malik.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah di kemukakan di atas, maka rumusan masalah ini adalah:
1. Bagaimana gambaran foto toraks pasien DM tipe 2 dengan TB?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui profil foto thoraks pasien Diabetes Melitus tipe 2 dengan TB
1.3.2 Tujuan Khusus
Yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui insiden DM tipe 2 dengan TB.
2. Untuk mengetahui letak infiltrat apakah di lapangan paru atas,tengah atau lapangan paru bawah
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah:
1. Mengetahui gambaran foto toraks pasien DM tipe 2 dengan TB 2. Sebagai data untuk penelitian selanjutnya
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Diabetes Melitus
2.1.1 Definisi Diabetes Melitus
Diabetes melitus (DM) adalah suatu penyakit metabolik dengan ciri hiperglikemia. Berdasarkan etiologinya, hiperglikemia terjadi karena sekresi insulin yang menurun, penggunaan glukosa yang menurun dan produksi glukosa yang meningkat yang disebabkan oleh interaksi genetik dan faktor lingkungan. Hiperglikemia kronik berhubungan dengan kerusakan bahkan kegagalan beberapa organ seperti mata,ginjal ,saraf,jantung dan pembuluh darah(Powers, 2008 ).
2.1.2 Diagnosis Diabetes Melitus
Menurut PERKENI, diagnosis diabetes melitus didasarkan kepada kadar glukosa darah. Pemeriksaan glukosa dilakukan secara enzimatik dengan bahan darah berasal dari darah plasma vena. Adapun kriteria diagnosis diabetes melitus adalah sebagai berikut:
1. Gejala klasik DM + glukosa plasma sewaktu ≥ 200mg/dL(11,1 mmol/L). Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir.
2. Gejala klasik DM + glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dL (7,0 mmol/L). Puasa diartikan pasien tidak mendapat kalori tambahan sedikitnya 8 jam.
3. Glukosa plasma 2 jam pada TTGO ≥ 200 mg/dL (11,1 mmol/L). TTGO dilakukan dengan standar WHO menggunakan beban glukosa yang setara dengan 75 gr glukosa anhidrus yang dilarutkan ke dalam air.
Cara pelaksanaan TTGO yaitu:
1. 3 hari sebelum pemeriksaan tetap makan seperti kebiasaan sehari-hari.
2. Berpuasa paling sedikit 8 jam (mulai malam hari) sebelum pemeriksaan, minum air putih tanpa gula tetap diperbolehkan
3. Diperiksa konsentrasi glukosa darah puasa.
5. Berpuasa kembali sampai pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan 2 Jam setelah minum larutan glukosa selesai.
6. Diperiksa glukosa darah 2 jam sesudah beban glukosa.
7. Selama proses pemeriksaan subyek yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok Hasil pemeriksaan glukosa darah 2 jam pasca pembebanan dibagi menjadi 3 yaitu: 1. <140 mg/dL : Normal
2. 140 - <200 mg/DL : Toleransi glukosa terganggu 3. ≥200 mg/dL : Diabetes
2.1.3 Klasifikasi Diabetes militus
Menilai tipe diabetes bergantung pada temuan yang didapat saat melakukan diagnosis dan banyak penderita diabetes yang mengidap tidak hanya satu tipe diabetes saja. Sebagai contoh, penderita yang didiagnosis sebagai diabetes gestasional setelah melahirkan akan mengalami hiperglikemia yang terdiagnosis sebagai diabetes mellitus tipe 2.
Klasifikasi Diabetes Melitus : 1. Diabetes melitus tipe 1
Dekstruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolute A. Melalui proses imunologi
B. Idiopati
2. Diabetes melitus tipe 2
Bervariasi mulai yang pedominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relative sampai yang predominan gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin.
3. Diabetes melitus tipe lain
A. Defek genetik fungsi sel beta
- MODY 3 (Kromosom 12, HNF-1α) - MODY 1 (kromosom 20 HNF -4α) - MODY 2 (kromosom 7,glukokinase)
- Diabetes neonates transien - Diabetes neonates permanen - DNA mitokondria
- Lainnya
B. Defek genetik kerja insulin - Resistensi insulin tipe A - Leprechaunism
- Sindrom Rabson Mendenhall - Diabetes lipoatrofik
- Lainnya
C. Penyakit eksokrin pankreas - Pakreatitis
- Trauma/pankreatektomi - Neoplasma
- Fibrosis kistik hemokromatosis - Pankreatopati fibrokalkulus - Lainnya
D. Endokrinopati - Akromegali - Sindrom cushing - Feokromositoma
- Hipertiroidisme somatostatinoma - Aldosteronoma
- Lainnya E. Karena obat/zat kimia
- Aldosteronoma F. Infeksi
- Rubella congenital - CMV
- Lainnya G. Imunologi (jarang)
- Sindrom stiffman
- Antibody antireseptor insulin - Lainnya
H. Sindrom genetik lain - Sindrom down - Sindrom klinefelter - Sindrom turner - Sindrom wolfram’s - Ataksia Friedreich’s - Chorea Huntington
- Sindrom Laurence moon biedl distrofi miotonik - Porfiria
- Sindrom prader willi - Lainnya
4. Diabetes kehamilan (ADA,2014)
2.1.4 Mekanisme Pembentukan dan Sekresi Insulin
Insulin dihasilkan oleh sel beta pankreas. Insulin dikeluarkan ke dalam darah untuk mengatur kadar glukosa darah ketika sel beta dirangsang oleh kadar glukosa yang meningkat dalam darah. Hormon glukagon,yang dihasilkan oleh sel alfa pankreas,secara bersama-sama bekerja mengatur kadar glukosa darah.
Kemudian,dengan batuan enzim peptidase lagi proinsulin diurai menjadi insulin dan peptida-C yang siap untuk dikeluarkan secara bersama-sama melalui membrane sel (Purnamasari, 2009).
Mekanisme sekresi insulin terjadi dalam beberapa tahapan yaitu tahap pertama ketika glukosa melewati membrane sel melalui GLUT (Glukosa Transporter) kemudian glukosa akan mengalami proses glikolisis dan fosforilasi di dalam sel sehingga membentuk molekul ATP. ATP yang terbentuk kemudian berfungsi untuk membuka dan menutup kanal kalium di membran sel. Penutupan kanal kalium menyebabkan ion K tidak keluar dari dalam sel yang menyebabkan terjadinya proses depolarisasi membrane sel dan pembukaaan kanal kalsium yang menyebabkan kalsium masuk ke dalam sel. Suasana seperti ini diperlukan untuk mekanisme sekresi insulin yang cukup rumit dan belum sepenuhnya dapat dijelaskan (Purnamasari, 2009).
2.1.5 Dinamika Sekresi Insulin
Secara normal insulin di sekresikan oleh sel beta dalam dua fase yang berbentuk bifasik untuk mengontrol kadar glukosa tetap dalam batas normal. Sekresi fase 1 (acute insulin secretion response=AIR) adalah sekresi yang terjadi segera setelah sel beta mendapat
Glucose signaling
Glucose GLUT-2
Glucose
Glucose-6-phosphate
ATP
Insulin + C peptide
Gb.1 Mekanisme sekresi insulin pada sel beta akibat stimulasi
Glukosa ( Kramer,95 )
rangsangan,muncul dan berakhir dengan cepat. Pada fase 1 terbentuk puncak yang tinggi karena diperlukan untuk mengantisipasi kadar glukosa yang meningkat setelah makan. Fase 1 diperlukan untuk mengendalikan kadar glukosa postprandial. Setelah fase 1 berlangsung,muncul fase 2 (sustained phase,latent phase) yaitu sekresi insulin meningkat secara perlahan dan bertahan dalam jangka waktu lama. Tinggi puncak pada fase 2 ditentukan oleh jumlah glukosa di akhir fase 1. Jika proses sekresi pada fase 1 tidak maksimal maka terjadi peningkatan sekresi insulin pada fase 2 sebagai mekanisme kompensasi untuk mempertahankan kadar glukosa postprandial dalam batas normal. Gambar di bawah memperlihatkan dinamika sekresi insulin pada keadaan normal dan disfungsi sel beta (toleransi glukosa terganggu dan diabetes melitus tipe 2)(Purnamasari,2009)
2.1.6 Patogenesis Diabetes Melitus Tipe 2
Diabetes mellitus terjadi karena defisiensi insulin dan berkurangnya sensitifitas jaringan terhadap insulin.Hal tersebut terjadi karena gangguan pada fase 1 yang menimbulkan inadekuat sekresi insulin sehingga terjadi hiperglikemia akut pascaprandial selama 10-30 menit setelah diberikan beban glukosa. Kemudian terjadi peningkatan kerja fase 2 sekresi insulin yang belum menimbulkan gangguan kadar glukosa,tetapi pada tahap dekompensasi barulah timbul keadaan toleransi glukosa terganggu yang selanjutnya apabila terjadi inadekuat mekanisme kompensasi maka terjadi peningkatan glukosa darah postprandial. Keadaan hiperglikemik yang terjadi sejak toleransi glukosa terganggu secara berulang-ulang yang diikuti oleh dislipidemia menimbulkan
dampak buruk berupa kerusakan jaringan yang terjadi melalui stress oksidatif maupun proses glikosilasi yang meluas. Resistensi insulin muncul saat proses konvergensi toleransi glukosa terganggu menjadi diabetes mellitus tipe 2 karena pada tahap tersebut terjadi hiperglikemia dan kerusakan jaringan (Purnamasari,2009)
2.2 Tuberkulosis
2.2.1 Defenisi Tuberkulosis
Tuberculosis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh Micobacterium tuberculosis yang berukuran antara 1 dan 5 µm yang sudah di ketahui selama hampir 125 tahun dengan penularan melalui droplet yang terhirup. (West 2013; Wouk,2010)
Terdapat dua jenis tuberculosis yaitu tuberculosis laten dan tuberculosis aktif. Tuberculosis laten yaitu manusia pembawa bakteri tidak mengalami sakit dan tidak menularkan bakteri M.tuberculosis kepada orang lain, sedangkan tuberculosis aktif yaitu penderita yang terinfeksi mengalami sakit dan menularkan bakteri M.tuberculosis kepada orang lain melalui droplet. (Wouk,2010)
2.2.2 Anatomi paru-paru
(Netter,2011)
2.2.3 Klasifikasi Tuberculosis
Sampai saat ini belum terdapat kesepakatan tentang keseragaman klasifikasi tuberculosis. Dari sistem lama klasifikasi tersebut adalah:
1. Pembagian secara patologis
- Tuberculosis primer (childhood tuberculosis)
- Tuberculosis postprimer (adult tuberculosis) 2. Pembagian secara aktivitas radiologis
- Tuberculosis paru aktif (Koch Pulmonum )
- Tuberculosis nonaktif
- Bentuk aktif yang mulai menyembuh (Quiescent)
2.2.4 Patogenesis
a. Tuberculosis primer
M.tuberculosis sering menyerang paru-paru dan menginfeksi intestinal,oropharing dan kulit melalui inokulasi dengan frekuensi yang jarang. Bacil M.tuberculosis sampai di alveoli dan memicu munculnya reaksi infeksi lokal di subpleura. Pada binatang percobaan di temukan neutrofil tidak mampu menghalau bakteri sehingga monosit,derivat makrofag,memfagositosis bakteri tersebut. Dalam beberapa jam, bakteri dibawa ke kelenjar getah bening terdekat. Makrofag terus mengagregasinya sementara bakteri terus bermultiplikasi.
Lesi akibat makrofag yang terinfeksi melalui pengumpulan monosit terus membesar sehingga setelah beberapa minggu sel T yang diperantarai respon imun melunakkan jaringan nekrosis hingga seperti keju (Barnes et al,2008)
b. Tuberculosis pascaprimer
Bakteri M.tuberculosis yang dorman selama bertahu-tahun pada tuberculosis primer akan berkembang menjadi tuberculosis pascaprimer atau TB sekunder akibat penurunan sistem imun seperti malnutrisi,alkohol,diabetes mellitus,AIDS,dan gagal ginjal. (Wulandari dan Sugiri,2013)
1. Direabsorbsi kembali dan sembuh tanpa meninggalkan cacat
2. Sarang yang mula-mula meluas,tetapi segera menyembuh dengan serbukan jaringan fibrosis.ada yang membungkus diri menjadi keras,terjadi perkapuran. Sarang dini yang meluas sebagai granuloma berkembang menghancurkan jaringan ikat sekitarnya dan bagian tengahnya mengalami nekrosis menjadi lembek dan membentuk jaringan kaseosa(jaringan keju). Apabila jaringan keju dibatukkan keluar maka terbentuk kavitas yang awalnya berdinding tipis dan lama-kelamaan menebal karena infiltrasi jaringan fibroblas dalam jumlah besar sehingga menjadi kavitas sklerotik (kronik). Perkejuan dan kavitas terjadi karena hidrolisis protein lipid dan asam nukleat oleh enzim yang diproduksi oleh makrofag dan proses yang berlebihan antara sitokin dan TNF-nya.(Amin dan Bahar, 2009)
2.2.5 Diagnosis
Diagnosis tuberculosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinik,pemeriksaan fisik,pemeriksaan radiologi dan pemeriksaan penunjang lainnya.
a. Gejala Klinis
Demam subfebril dan terkadang dapat mencapai 40-41 C yang hilang timbul tergantung dari sistem imun dan ringan beratnya infeksi.
Batuk atau batuk darah karena iritasi bronkus sebagai reaksi tubuh untuk membuang produk radang . Sifat batuk pertama yaitu batuk kering yang akan berkembang menjadi batuk produktif ketika terjadi peradangan. Batuk darah merupakan keadaan yang lanjut karena pecahnya pembuluh darah. Batuk darah biasa terjadi pada tuberculosis kavitas, tetapi bisa pada ulkus dinding bronkus.
Sesak nafas terjadi pada penyakit lanjut yang menginfiltrasi setengah bagian paru-paru (Amir dan bahar,2009).
Nyeri dada muncul apabila infiltrasi radang mengenai pleura yang mengakibatkan pleuritis akibat gesekan kedua pleura saat inspirasi dan ekspirasi.
b. Pemeriksaan Fisik
Lokasi kelainan lesi TB paru yang paling dicurigai adalah pada apeks paru. Pada infiltrat yang luas didapatkan perkusi yang redup dan auskultasi suara nafas bronchial,ronki basah,kasar dan nyaring sedangkan pada infiltrat yang diliputi oleh penebalan pleura didapatkan suara nafas vesikuler melemah.bila kavitas cukup besar pada perkusi didapatkan suara hipersonor dan pada auskultasi suara amforik (Amir dan Bahar,2009).
Pada TB paru yang lanjut dengan fibrosis yang luas ditemukan atrofi dan retraksi otot-otot interkostal dengan bagian paru yang sakit menciut dan menarik isi mediastinum dan bagian paru yang sehat menjadi lebih hiperinflasi. (Amir dan Bahar, 2009).
c. Pemeriksaan Radiologi
Foto rontgen dada adalah pemeriksaan yang sensitive tetapi bukan pemeriksaan yang spesifik untuk mendiagnosis TB. Pemeriksaan standar yang dilakukan adalah foto toraks PA(Albert et al,2008). Menurut Nasution Ely,pada pemeriksaaan foto thoraks memberikan gambaran bermacam-macam yaitu:
• Adanya kavitas tunggal atau ganda
• Bayangan bercak milier
• Bayangan berawan atau bercak
• Bayangan lesi di lapangan atas paru atau segmen apical lobus bawah
• Kalsifikasi
• Bayangan efusi pleura,umumnya unilateral
• Destroyed lobe sampai destroyed lung
• Schwartze
Luasnya lesi yang tampak pada foto thoraks dapat dibagi sebagai berikut: 1. Lesi minimal (Minimal lesion)
2. Lesi sedang (moderately advance lession)
Proses penyakit lebih luas dari lesi minimal dan dapat menyebar dengan densitas sedang, tetapi luas proses tidak boleh luas dari satu paru atau jumlah dari proses yang paling banyak seluas satu paru atau bila proses tadi mempunyai densitas lebih padat, lebih tebal maka proses tersebut tidak boleh lebih dari sepertiga pada satu paru dan proses ini dapat/tidak disertai kavitas. Bila disertai kavitas maka diameter semua kavitas tidak boleh lebih dari 4 cm.
3. Lesi Luas (Far Advance)
Kelainan lebih luas dari lesi sedang.
Gambaran foto toraks bervariasi bergantung pada infeksi pertama yang muncul. Pasien dengan TB paru primer memiliki gambaran radio opak pada lapangan paru bawah dan adanya efusi pleura. Reaktivasi TB melibatkan bagian apikal dan posterior lobus bawah paru dan bagian superior lobus paru atas (Albert et al,2008).
d. Pemeriksaan Sputum
Pemeriksaan sputum merupakan pemeriksaan yang paling spesifik dan pemeriksaan primer dalam menegakkan diagnosis TB (Khogali et al,2013).
Menurut Amin dan bahar,sputum dapat diperoleh dengan cara bronkoskopi diambil dengan brushing atau bronchial washing atau bronchoalveolar lavage (BAL),bilasan lambung.
Cara pengambilan dahak dilakukan tiga kali (SPS) : 1. Sewaktu / spot (dahak sewaktu saat kunjungan 2. Pagi (keesokan harinya)
3. Sewaktu atau spot (pada saat mengantarkan dahak pagi) atau setiap pagi 3 hari berturut-turut.
Kriteria sputum BTA positive adalah bila sekurang-kurangnya ditemukan 3 batang kuman BTA pada satu sediaan.
Cara pemeriksaan sediaan sputum yang dilakukan adalah : 1. Pemeriksaan sediaan langsung dengan mikroskop biasa 2. Pemeriksaan sediaan langsung dengan mikroskop flouresens 3. Pemeriksaan dengan biakan (kultur)
2.2.6 Pencegahan
Pencegahan tergantung pada beberapa strategi yaitu:
1. Identifikasi pasien dengan TB aktif,isolasi dan membuat pasien tidak menularkan penyakitnya secepat mungkin untuk meminimalisasi penyebaran.
2. Mengidentifikasi pasien yang mengalami infeksi laten baru
3. Melakukan skrining secara berkala khususnya pada populasi berisiko tinggi untuk mengidentifikasi individu yang mengalami perkembangan infeksi laten sejak skrining terakhir (Ringel, 2012)
2.3 Efek Diabetes Terhadap Manifestasi Radiologi Tuberkulosis
Diabetes yang tidak terkontrol dapat menyebabkan banyak komplikasi diantaranya adalah neuropati, gangguan pada pembuluh darah,dan meningkatkan angka kejadian infeksi yang dalam hal ini infeksi terhadap kuman Mikobacterium tuberculosis karena gangguan fungsi endotel kapiler vascular paru dan perubahan kurva disosiasi oksigen akibat kondisi hiperglikemia sehingga menyebabkan kegagalan mekanisme pertahanan melawan infeksi (Wulandari dan Sugiri, 2013). Mekanisme diabetes menyebabkan tuberculosis bersifat multifaktorial dan mekanisme sebenarnya masih belum diketahui secara pasti yang berhubungan dengan hiperglikemia dan sedikitnya kadar insulin yang memberikan pengaruh terhadap berkurangnya fungsi makrofag dan limfosit sehingga menimbulkan penurunan sistem imunitas.
Sel imun yang berperan penting terhadap infeksi tuberculosis adalah fagosit(makrofag alveolus) dan limfosit. Diabetes mempengaruhi fagosit dengan memberikan efek kemotaksis, fagositosis, aktivasi, dan presentasi antigen sebagai respon terhadap infeksi Micobacterium tuberculosis. Pada diabetes, sistem kemotaksis monosit tersebut mengalami gangguan dan gangguan tersebut tidak memperbaiki kerja insulin. Penelitian yang dilakukan terhadap pasien tuberculosis menunjukkan adanya inaktivasi fagosit dan penurunan produksi hydrogen peroksida. Fagosit berfungsi untuk aktivasi limfosit dan kemudian akan berikatan melalui Fc reseptor dan menghasilkan interleukin 2 untuk meningkatkan proliferasi sel T. Defisiensi insulin menyebabkan gangguan ikatan Fc reseptor (Dooley and Chaisson,2009).
Aktivitas menghancurkan yang dimiliki makrofag berasal dari interferon γ yang bergantung pada nitric oxide. Penurunan sistem imunitas pada pasien diabetes dan penurunan fungsi fagosit dan sel T merupakan kemungkinan faktor predisposisi terhadap infeksi seperti tuberculosis. (Dooley and Chaisson,2009)
Akibat diabetes terdapat manifestasi radiologi yang masih menimbulkan perdebatan. Patel dkk,Faurholt-Jepsen dan Jeon&Murray dalam Wulandari dan Sugiri menunjukkan tidak ada perbedaan profil foto thoraks pasien TB dengan atau tanpa DM tipe 2. Namun,beberapa penelitian yang lain menunjukkan adanya lokasi infiltrat pada lapangan paru bawah pada gambaran foto thoraks.penelitian yang lain menunjukkan gambaran lesi kavitas dengan diameter lebih dari 2 cm jika melibatkan lapangan paru bawah.
BAB 3
KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL
3.1 Kerangka Konsep Penelitian
Gambar 3.1 Kerangka konsep penelitian Profil Foto Toraks Pasien TB dengan DM Tipe 2 yang Dirawat di RSUP HAM Medan
3.2 Defenisi Operasionil
Letak infiltrat Nominal observasi
DM tipe 2 dengan TB paru
Foto thoraks paru
- Usia
letak infiltrat Usia Lama waktu
hidup
Rekam medis
<40 41-50 51-60 >60
Nominal Observasi
Jenis kelamin
Keadaan laki-laki atau perempuan
Rekam medis
-Laki-laki -Perempuan
BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah studi deskriptif. Penelitian dilakukan secara observasional dengan hanya sekali pengamatan dan diharapkan dapat memberikan gambaran tentang profil foto toraks pasien TB dengan DM tipe 2 yang dirawat di RSUP HAM Medan.
4.2 Tempat dan Waktu Penelitian
4.2.1 Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di instalasi rekam medis RSUP HAM Medan dengan menggunakan data rekam medis pasien yang terdiagnosis menderita penyakit DM tipe 2 dengan TB. Lokasi ini dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa RSUP HAM Medan adalah rumah sakit rujukan terutama dari wilayah Sumatera Utara sehingga profil foto thoraks pasien TB dengan DM tipe 2 di Sumatera Utara,khususnya Medan, dapat diperoleh melalui data rekam medis pasien RSUP HAM Medan.
4.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan September 2014
4.3 Populasi dan Sampel
4.3.1 Populasi
Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien DM tipe 2 di RSUP HAM Medan.
4.3.2 Sampel
4.4. Teknik Pengumpulan Data
Data dikumpulkan dengan cara mengumpulkan data sekunder yaitu semua rekam medis pasien yang terdiagnosis menderita penyakit DM tipe 2 dengan TB di RSUP HAM Medan pada tahun 2012.
4.5. Pengolahan dan Analisa Data
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 HASIL PENELITIAN
5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSUP H.Adam Malik Medan yang berlokasi di jalan Bunga Lau No.17,kelurahan Kemenangan Tani,kecamatan Medan Tuntungan. Rumah sakit Haji Adam Malik adalah rumah sakit bertipe A pada tahun 1990 sesuai dengan SK Menkes No.335/Menkes/SK/VII/1990.Pada tahun 1991 rumah sakit ini dijadikan sebagai rumah sakit pendidikan sesuai dengan SK Menkes No.502/Menkes/SK/IX/1991 serta sebagai pusat rujukan wilayah pembangunan A yang yang meliputi provinsi Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darusalam,Sumatera Barat, dan Riau.
Pada tahun 1993, tepatnya pada tanggal 11 Januari 1993 secara resmi pusat pendidikan fakultas kedokteran USU Medan dipindahkan ke RSUP H. Adam Malik sebagai tanda dimulainya Soft opening yang kemudian diresmikan oleh bapak presiden RI pada tanggal 21 Juli 1993. Bedasarkan Surat keputusan Menteri keuangan No.280/KMK.05/2007 dan Surat Keputusan Mentri Kesehatan dengan No.756/Menkes/SK/VI/2007 tepatnya pada juni 2007 RSUP H. Adam Malik telah berubah status menjadi Badan Layanan Umum (BLU). Pada tahun 2009, RSUP. H. Adam Malik berubah status menjadi Badan Layanan Umum (BLU) penuh. Hal terdebut ditetapkan dengan penerbitan surat Keputusan Menteri Keuangan No.214/KMK.05/2009 pada tanggal 10 Juni 2009.
5.1.2 Deskripsi Karakteristik Responden
Responden pada penelitian ini adalah dari rekam medis yang didapat dari instalasi rekam medis rumah sakit H.Adam Malik dari pasien yang didiagnosis positif menderita diabetes melitus tipe 2 dengan TB paru.Adapun jumlah pasien yang menderita diabetes melitus tipe 2 sebanyak 493 dan jumlah pasien yang menderita diabetes melitus tipe 2 dengan TB paru sebanyak 102 pasien. Adapun variabel yang dibahas dalam analisa ini adalah umur, jenis kelamin, dan letak infiltrat.
Tabel 5.1 Distribusi pasien diabetes mellitus berdasarkan jenis kelamin
Dari tabel di atas terlihat pasien wanita lebih banyak mengalami diabetes mellitus tipe 2 daripada perempuan pasien laki-laki.
Tabel 5.2 Distribusi pasien diabetes melitus berdasarkan umur
Frekuensi Persen
Dari table terlihat pasien dengan kelompok umur 51-60 tahun lebih banyak mengalami diabetes melitus tipe 2.
Frekuensi Persen
laki laki 207 42.0
perempuan 286 58.0
Tabel 5.3 Distribusi pasien diabetes mellitus yang mendapat komplikasi TB paru
Frekuensi Persen
tidak 391 79.3
ya 102 20.7
Total 493 100.0
Dari tabel di atas terlihat lebih banyak pasien yang tidak mendapatkan komplikasi TB paru pada pasien diabetes mellitus tipe 2 daripada pasien yang mendapat komplikasi TB paru.
Tabel 5.4 Distribusi pasien diabetes melitus tipe 2 dengan TB paru berdasarkan jenis kelamin
Dari tabel terlihat pasien laki-laki lebih banyak mengalami diabetes melitus tipe 2 serta TB paru daripada perempuan.
Hasil dari tabel menunjukkan kategori umur 51-60 tahun lebih banyak mengalami diabetes melitus tipe 2 dan TB paru.
5.6 Tabel distribusi letak infiltrat pasien TB dengan diabetes melitus tipe 2
Frekuensi Persen
Lapangan atas paru 19 18.6
lapangan tengah paru 4 3.9
lapangan tengah sampai bawah 5 4.9
lapangan bawah paru 74 72.5
Total 102 100.0
Tabel di atas menunjukkan infiltrat lebih banyak terletak di lapangan bawah paru.
5.2 PEMBAHASAN
membunuh bakteri M.tuberculosis maka bakteri akan bermultiplikasi dalam paru-paru (Rehm Jürgen et al,2009).
Umur yang paling banyak menderita DM tipe 2 dan TB paru adalah kelompok umur 51-60 tahun yaitu 45,1%. Hasil ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan Nasution Ely pada 100 responden,kelompok umur 51-60 tahun lebih banyak mengalami DM tipe 2 dan TB paru yaitu sebanyak 37,2% (Nasution Ely,2008). Umur yang tua mendapat DM tipe 2 dengan TB paru lebih tinggi dikarenakan kontrol gula darah yang buruk (Balakrishnan et al, 2012). Namun,penelitian lain menunjukkan hasil yang berbeda. Kuo Ming Chun menunjukkan kelompok umur yang lebih muda yaitu kelompok umur <40 tahun memiliki pevalensi yang tinggi untuk mengalami DM tipe 2 dengan TB paru. Hal ini dikarenakan usia untuk menderita DM tipe 2 sudah menurun yaitu sudah di dapat di usia yang lebih muda (Kuo Ming Chun et al,2013).
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
1.Penderita TB dengan DM tipe 2 lebih banyak di alami oleh laki-laki (66,7%) di banding dengan perempuan (33,3%).
2.Kelompok umur yang lebih banyak mengalami TB dengan diabetes melitus tipe 2 adalah kelompok umur 51-60 tahun.
3.Lapangan paru bawah adalah lokasi terbanyak infiltrat pada pasien TB dengan diabetes melitus tipe 2.
6.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini adalah:
1. Memberikan edukasi kepada masyarakat berupa penyuluhan agar dapat mencegah penyakit diabetes melitus tipe 2 dan TB paru.
DAFTAR PUSTAKA
Albert,Richard.,Spiro,Stephen.,Jett,James,2008.Clinical.respiratory.Medicine.Phil adelphia:Elsevier.
Amin Z.,Bahar A,2009.Tuberkulosis Paru Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat penerbitan Ilmu Penyakit Dalam : Fakultas Kedokteran,2230-2239.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,2013. Riset Kesehatan Dasar 2013. Kementrian
Kesehatan RI. Available from:
Baghaei et al, 2013.Diabetes Mellitus and Tuberculosis Facts And Controversies. Available from:
Balakrishnan Shibu et al,2012.High Diabetes Prevalence Among Tuberculosis Cases in Kerala,India.Available from: Barnes, Peter.,Davies,Peter.,Gordon, Sthephen, 2008. Clinical Tuberculosis.Boca Raton: CRC
Press.
Chest.radiology,2010.Available.from
Chiang et al,2014.Glycemic Control And Radiographic Manifestation of Tuberculosis in Diabetic Patients.Available from
Netter,Frank,2011.Atlas.of.Human.anatomy.Available.from
Diabetes Care, 2014 .American Diabetes Association.Available from:
Dooley and Chaisson, 2009.Tuberculosis and diabetes mellitus: Convergence of two epidemics. Available from April 2014]
Khogali et al,2013. Diagnosis of pulmonary tuberculosis in a pastoralist population in Ethiopia:
are three sputum specimens needed?.Available from:
Kuo,Ming Chun et al,2013.Type 2 Diabetes An Independent Risk Factor for Tuberculosis:A Nationwide Population-Based Study.Available from:
20 November 2014]
Nasution,Ely,2008.Profil Penderita Tuberculosis Paru dengan Diabetes mellitus Dihubungkan dengan Kadar Gula Darah Puasa.Tesis.Available from:
20
November 2014]
Niazi and Kalra, 2012.Diabetes and tuberculosis: a review of the role of optimal glycemic control. Available from 2014]
Patel et al,2011.Radiological Presentation of Patients Pulmonary Tuberculosis with Diabetes
Mellitus.Available from:
Powers,Alvin C, 2008. Harrison’s Principle of Internal Medicine. New York : Mc Graw Hill Medical, 2275-2287
Purnamasari, Dyah., 2009. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat penerbitan Ilmu Penyakit Dalam : Fakultas Kedokteran,1880-1899.
Raghuraman et al, 2014. Prevalence of Diabetes Mellitus Among Tuberculosis Patients in Urban Puducherry.Available from [ Accesed 8 April 2014]
Rehm Jürgen et al,2009.The Association Between Alcohol Use,Alcohol Use Disorder and Tuberculosis (TB). A Systematic Review. Available from:
Reviono et al,2013. Perbandingan Klinis, Radiologis dan Konversi Kultur Penderita Multidrug Resistant Tuberculosis dengan Diabetes dan Non Diabetes di Rumah Sakit Dr. Moewardi.Available from
Ringel, Edward., 2012. Buku Saku Hitam Kedokteran Paru. Jakarta : PT. Indeks.
Skowronski et al, 2014. Tuberculosis and Diabetes mellitus- an Underappreciated Asssociation. AMS. Available from: http://www.ncbi.nlm.gov/ pmc/articles/PMC4223145/ [Accesed 20 Novenber 2014]
Suleiman et al, 2012. Role of Diabetes in the Prognosis and Therapeutic Outcome of
Tuberculosis.Available from:
West, John B, 2013. Pulmonary Pathophysiology. Philadelphia: Lippincott William&Wilkins. Wouk, Henry, 2010. Health Alert. Tuberculosis. New York: Marshall Cavendish
CURRICULUM VITAE
Nama : Mery Friyanti P
Tempat/ tanggal lahir : Lubuk Pakam, 08 Juli 1991 Pekerjaan : Mahasiswa
Agama : Kristen
Alamat : Jalan Jamin Ginting,Gang Pelita Jaya, No 12, Medan Nomor Telepon : 089613131135
Orang Tua : Renti Manik
Riwayat Pendidikan : SD Advent Lubuk Pakam SMP Advent Lubuk Pakam
LAMPIRAN
Statistics pasien DM tipe 2
kategori Jenis Kelamin Pasien DM tipe 2
Frequency Percent Valid Percent
kategori Umur pasien (tahun) pasien DM tipe 2 Statistics
N Valid 493
Missing 0
Mean 2.09
Median 2.00
Std. Deviation .670
Percentiles 25 2.00
50 2.00
75 3.00
Kategori Umur pasien DM tipe 2
Frequency Percent Valid Percent
kategori TB Paru Pasien
Frequency Percent Valid Percent
umur (tahun)
N Valid 493
Missing 0
Mean 57.06
Median 56.00
Std. Deviation 7.268
Percentiles 25 52.00
50 56.00
75 62.00
umur (tahun) pasien DM tipe 2
77 4 .8 .8 99.2
78 1 .2 .2 99.4
79 2 .4 .4 99.8
84 1 .2 .2 100.0
Total 493 100.0 100.0
Statistic pasien DM tipe 2 dengan TB
Jenis kelamin pasien DM tipe 2 dengan TB
Frequency Percent Valid Percent
umur pasien DM tipe 2 dengan TB paru
jenis kelamin
pasien umur pasien
infiltrat pasien paru denga 4 kategori
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent Valid lapangan atas paru kanan
5 4.9 4.9 4.9
lapangan atas paru kiri 7 6.9 6.9 11.8
kedua lapangan atas paru
7 6.9 6.9 18.6
lapangan tengah paru
kanan 4 3.9 3.9 22.5
kategori infiltrasi pasien dengan 4 kategori
Frequency Percent Valid Percent
kategori umur pasien DM tipe 2 dengan TB paru
Frequency Percent Valid Percent
nama pasien jenis kelamin umur (tahun)