• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Jerami Padi Fermentasi Dengan Mod-71 Terhadap Performans Domba Sei Putih Jantan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pemanfaatan Jerami Padi Fermentasi Dengan Mod-71 Terhadap Performans Domba Sei Putih Jantan"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

PEMANFAATAN JERAMI PADI FERMENTASI DENGAN

MOD-71 TERHADAP PERFORMANS DOMBA

SEI PUTIH JANTAN

SKRIPSI

Oleh:

MHD. FIRMAN KETAREN 070306039

PROGRAM STUDI PETERNAKAN

FAKULTAS PERTANIAN

(2)

PEMANFAATAN JERAMI PADI FERMENTASI DENGAN

MOD-71 TERHADAP PERFORMANS DOMBA

SEI PUTIH JANTAN

SKRIPSI

Oleh:

MHD. FIRMAN KETAREN 070306039/ PETERNAKAN

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI PETERNAKAN

FAKULTAS PERTANIAN

(3)

Judul :Pemanfaatan Jerami Padi Fermentasi dengan MOD-71 terhadap Performans Domba Sei Putih Jantan.

Nama : Mhd. Firman Ketaren

NIM : 070306039

Program Studi : Peternakan

Disetujui Oleh, Komisi Pembimbing

Ir. Tri Hesti Wahyuni, M.Sc Prof. Dr. Ir. Zulfikar Siregar., MP

Ketua Anggota

Mengetahui,

Dr. Ir. Ma’ruf Tafsin, M.Si Ketua Program Studi

(4)

ABSTRAK

MHD. FIRMAN KETAREN,2013: Pemanfaatan Jerami Padi Fermentasi Dengan MOD-71 Terhadap Performans Domba Sei Putih Jantan. Dibimbing oleh TRI HESTI WAHYUNI dan ZULFIKAR SIREGAR.

Jerami padi yang difermentasi dengan MOD-71 berperan dalam peningkatan kandungan protein pakan yang berimplikasi pada peningkatan konsumsi bahan kering. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan jerami padi yang difermentasi dengan berbagai level MOD-71 terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, dan konversi pakan Domba Sei Putih.

Penelitian dilaksanakan di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara pada bulan Mei 2012 - Agustus 2012. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 3 kelompok. Penelitian ini menggunakan 12 ekor domba dengan bobot awal rata-rata 10,675 + 0,30 kg, 12,762 + 0,22 kg, dan + 14,637 + 0,24 kg. Perlakuan terdiri atas P0 (jerami padi tanpa fermentasi); P1 (jerami fermentasi dengan 2cc MOD-71); P2 (jerami fermentasi dengan 4cc MOD-71); dan P3 (jerami fermentasi dengan 6cc MOD-71).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jerami fermentasi MOD-71 tidak berbeda nyata (P > 0.05) terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan konversi pakan Domba Sei Putih. Hasil penelitian menunjukkan rataan konsumsi pakan 135,93 (g/ekor/hari). Rataan pertambahan bobot badan 5,20 (g/ekor/hari). Rataan konversi pakan 23,58.

(5)

ABSTRACT

MHD. FIRMAN KETAREN, 2013: Utilization of Fermented Rice Straw with MOD-71 on performance of Sei Putih Ram Lamb. Supervised by TRI HESTI WAHYUNI and ZULFIKAR SIREGAR.

Rice straw fermented with MOD-71 could be increasing the protein content of feed on the implications of increased consumption of dry matter. This study aims to determine the use of rice straw fermented with various levels of MOD-71 on feed intake, body weight gain and feed conversion of Sei Putih Ram Lamb.

Research was conducted at the Faculty of Agriculture, University of North Sumatra from May 2012 to August 2012. The design used in this study was a randomized block design (RBD) with 4 treatments and 3 groups. Which in use 12 Ram Lamb with initial body weight gain 10,675 + 0,30 kg , 12,762 + 0,22 kg , dan + 14,637 + 0,24 kg. The treatment consists of P0 (unfermented rice straw), P1 (straw fermented with 2cc MOD-71); P2 (straw fermented with 4cc MOD-71), and P3 (straw fermented with 6cc MOD-71).

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal 15 November 1988 anak dari

ayah Gembira Ketaren dan ibu Tiran br Ginting. Penulis merupakan putra kelima

dari lima bersaudara.

Tahun 2007 penulis lulus dari Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda

Medan dan pada tahun yang sama diterima sebagai mahasiswa Universitas

Sumatera Utara, Fakultas Pertanian pada Program Studi Peternakan melalui jalur

Mandiri.

Selama perkuliahan penulis aktif dalam organisasi mahasiswa baik internal

maupun eksternal seperti anggota HIMMIP (Himpunan Mahasiswa Muslim

Peternakan) periode 2009-2010 dan anggota IMAPET(Ikatan Mahasiswa

Peternakan). Penulis juga melaksanakan PKL di UD. SIMAS Kecamatan Pancur

Batu Deli Serdang pada tahun 2010. Penulis melaksanakan penelitian di

Laboratorium Biologi Ternak di Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita ucapkan kepada Allah SWT, karena atas berkat dan

rahmat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

Adapun judul dari skripsi ini adalah “Pemanfaatan Jerami Padi Fermentasi

Dengan MOD-71 Terhadap Performans Domba Sei Putih Jantan”. Skripsi ini

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. Tri Hesti Wahyuni, M.Sc

selaku ketua komisi pembimbing dan Prof. Dr. Ir Zulfikar Siregar, MP selaku

anggota pembimbing. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua

pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini,

oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat

membangun demi kesempurnaan skripsi ini.

Akhir kata penulis mengucapakan terimakasih kepada semua pihak yang

telah banyak membantu dalam penyelesaian skripsi ini, semoga dapat bermanfaat

(8)

DAFTAR ISI

Pertumbuhan dan Pertambahan Bobot Badan ... 5

Sistem Pencernaan Ternak Domba ... 6

Peran Mikroba Rumen ... 7

Fermentasi Bahan Pakan Dengan MOD-71 ... 8

Konsentrat ... 12

Pakan Berbasis Limbah Pertanian dan Perkebunan ... 13

Bahan Pakan Pelengkap ... 20

Parameter Penelitian ... 23

BAHAN DAN METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian ... 28

Bahan dan Alat Penelitian ... 28

Metode Penelitian ... 29

Parameter Penelitian ... 29

Pelaksanaan Penelitian ... 30

HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Pakan (BK) ... 32

Pertambahan Bobot Badan ... 34

Konversi Pakan (FCR) ... 37

Rekapitulasi Hasil Penelitian ... 40

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 41

Saran ... 41

(9)

DAFTAR TABEL

No hal

1. Kapasitas alat pencernaan pada manusia dan beberapa hewan ... 7

2. Kandungan nutrisi jerami padi ... 14

3. Komponen jerami padi ... 15

4. Kandungan nutrisi pakan asal limbah pertanian ... 15

5. Kandungan zat nutrisi onggok ... 16

6. Kandungan nilai gizi dedak padi ... 17

7. Kandungan nilai gizi kulit buah kakao... 18

8. Kandungan nilai gizi bungkil inti sawit ... 19

9. Kandungan nutrisi pada molases ... 21

10.Kandungan mineral ... 22

11.Rataan konsumsi pakan domba ... 32

12.Analisis keragaman konsumsi bahan kering ... 33

13.Rataan pertambahan bobot badan domba ... 35

14.Analisis keragaman PBB domba ... 36

15.Rataan konversi pakan domba ... 37

16.Analisis keragaman konversi pakan domba ... 38

(10)

DAFTAR GAMBAR

No hal 1. Grafik konsumsi pakan domba selama penelitian ... 33 2. Grafik rataan pertambahan bobot badan domba ... 35

(11)

ABSTRAK

MHD. FIRMAN KETAREN,2013: Pemanfaatan Jerami Padi Fermentasi Dengan MOD-71 Terhadap Performans Domba Sei Putih Jantan. Dibimbing oleh TRI HESTI WAHYUNI dan ZULFIKAR SIREGAR.

Jerami padi yang difermentasi dengan MOD-71 berperan dalam peningkatan kandungan protein pakan yang berimplikasi pada peningkatan konsumsi bahan kering. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan jerami padi yang difermentasi dengan berbagai level MOD-71 terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, dan konversi pakan Domba Sei Putih.

Penelitian dilaksanakan di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara pada bulan Mei 2012 - Agustus 2012. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 3 kelompok. Penelitian ini menggunakan 12 ekor domba dengan bobot awal rata-rata 10,675 + 0,30 kg, 12,762 + 0,22 kg, dan + 14,637 + 0,24 kg. Perlakuan terdiri atas P0 (jerami padi tanpa fermentasi); P1 (jerami fermentasi dengan 2cc MOD-71); P2 (jerami fermentasi dengan 4cc MOD-71); dan P3 (jerami fermentasi dengan 6cc MOD-71).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jerami fermentasi MOD-71 tidak berbeda nyata (P > 0.05) terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan konversi pakan Domba Sei Putih. Hasil penelitian menunjukkan rataan konsumsi pakan 135,93 (g/ekor/hari). Rataan pertambahan bobot badan 5,20 (g/ekor/hari). Rataan konversi pakan 23,58.

(12)

ABSTRACT

MHD. FIRMAN KETAREN, 2013: Utilization of Fermented Rice Straw with MOD-71 on performance of Sei Putih Ram Lamb. Supervised by TRI HESTI WAHYUNI and ZULFIKAR SIREGAR.

Rice straw fermented with MOD-71 could be increasing the protein content of feed on the implications of increased consumption of dry matter. This study aims to determine the use of rice straw fermented with various levels of MOD-71 on feed intake, body weight gain and feed conversion of Sei Putih Ram Lamb.

Research was conducted at the Faculty of Agriculture, University of North Sumatra from May 2012 to August 2012. The design used in this study was a randomized block design (RBD) with 4 treatments and 3 groups. Which in use 12 Ram Lamb with initial body weight gain 10,675 + 0,30 kg , 12,762 + 0,22 kg , dan + 14,637 + 0,24 kg. The treatment consists of P0 (unfermented rice straw), P1 (straw fermented with 2cc MOD-71); P2 (straw fermented with 4cc MOD-71), and P3 (straw fermented with 6cc MOD-71).

(13)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ketersediaan bahan pakan di Indonesia khususnya di Sumatera Utara

terutama ternak ruminansia yang berupa hijauan sangat fluktuatif tergantung

pada musim. Pada musim hujan hijauan pakan ternak sebagai pakan utama

ternak ruminansia melimpah, sedangkan pada musim kemarau sangat terbatas

sampai tidak ada produksi sama sekali tergantung lamanya musim kemarau

(Utomo, 1991).

Perubahan fungsi lahan dan iklim membatasi ketersediaan hijauan pakan

yang merupakan makanan pokok ternak ruminansia. Optimasi pemanfaatan

limbah pertanian dan agroindustri dapat memperbaiki ketersediaan pakan.

Integrasi dengan usaha pertanian merupakan alternatif untuk pengembangan

peternakan yang berkesinambungan.

Dalam usaha mencukupi kebutuhan pakan ternak, maka jerami padi dapat

digunakan sebagai bahan pakan alternatif untuk ternak ruminansia khususnya

ternak domba di Sumatera Utara dan Indonesia pada umumnya.

Pada tahun 2010 luas areal sawah di Sumatera Utara mencapai 702.308

hektar sedangkan jumlah jerami yang dihasilkan 7,5 ton per hektar dengan

perbandingan jerami dan gabah yang dihasilkan 3:2. Dengan luas areal sawah

702.308 hektar maka akan menghasilkan jerami sebanyak 5.267.310 ton/ha/tahun.

Kadar lignin yang tinggi pada jerami padi dan rendahnya kandungan

nutrisi sehingga dibutuhkan teknologi pengolahan terhadap jerami padi untuk

menurunkan kadar lignin dan meningkatkan daya cerna jerami padi dapat

(14)

Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk menelaah sejauh

mana peluang pemanfaatan jerami padi dipergunakan sebagai pakan untuk ternak

ruminansia. Penulis akan mengolah jerami padi tersebut dengan cara fermentasi

menggunakan MOD 71 menjadi pakan yang lebih baik dan mampu meningkatkan

kecernaan bahan kering dan bahan organik pada domba jantan lokal.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jerami padi

fermentasi dengan MOD71 terhadap performans domba lokal jantan.

Hipotesis Penelitian

Pemanfaatan jerami padi fermentasi dengan MOD71 akan berpengaruh

positif terhadap performans ternak domba Sei Putih jantan.

Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi kalangan

akademis, peneliti dan masyarakat tentang pemanfaatan jerami padi fermentasi

(15)

TINJAUAN PUSTAKA

Karakteristik Domba

Semua domba memiliki beberapa karakteristik yang sama kedudukanya

dalam sistematika hewan yaitu: Filum: Chordata, Sub Filum: Vertebrata

(bertulang belakang), Marga: Gnatostomata (mempunyai rahang), Kelas:

Mammalia (menyusui), Bangsa: Placentalia (mempunyai plasenta), Suku:

Ungulata (berkuku), Ordo: Artiodactyla (berkuku genap), Sub Ordo: Seledontia

(ruminansia), Famili: Bovidae, Sub Famili: Caprinus, Genus: Ovis, Spesies: Ovis

aries (Kartadisastra, 1997).

Ternak domba mempunyai beberapa keuntungan dalam pemeliharaan

yaitu : cepat berkembang biak, dapat beranak lebih dari satu ekor dan dapat

beranak dua kali dalam satu tahun, berjalan dengan jarak lebih dekat saat

digembalakan sehingga lebih mudah dalam hal pemeliharaan, pemakan rumput

sehinga mudah dalam pemberian pakan, sumber pupuk kandang dan keuangan

bagi peternak (Tomaszewska et al., 1993).

Domba Sei Putih

Domba Sei Putih adalah bangsa domba yang diperoleh dari persilangan yang dilakukan oleh Sub Balai Penelitian Ternak (SBPT) Sungei Putih Galang, Sumatera Utara bekerjasama dengan Small Ruminant-Collaborative Research Support Program (SR-CRSP) sejak tahun 1986. Komposisi darahnya adalah 50% domba lokal Sumatera, 25% domba St. Croix (Virgin Island) dan 25% domba Barbados Blackbelly

(16)

lokal Sumatera (± 40% lebih tinggi). Hal ini ditandai dengan laju pertumbuhan yang tinggi, tetapi jumlah anak per kelahiran, interval beranak dan mortalitas anak yang relatif rendah, 2) Adaptasi yang baik terhadap lingkungan termasuk resisten terhadap parasit internal, 3) Karkasnya lebih besar, dengan kualitas pakan yang baik, rata-rata bobot hidup domba jantan muda adalah 20 kg pada umur 7 bulan dan 30 kg pada umur 11 bulan, 4) Wolnya lebih sedikit dari pada domba Lokal Sumatera, domba Lokal ekor tipis dan domba Priangan. Berdasarkan alasan tersebut domba Sungei Putih disebut Hair Sheep (Gatenby and Batubara, 1994).

Ternak domba atau sering juga dikenal sebagai ternak ruminansia kecil,

merupakan ternak herbivora yang sangat popular dikalangan petani di Indonesia.

Jenis ternak ini lebih mudah dipelihara, dapat memanfaatkan limbah dan hasil

setiap tersedia setiap saat serta modal yang diperlukan relatif kecil dibandingkan

ternak besar (Setiadi and Inounu, 1991).

Pertumbuhan dan Pertambahan Bobot Badan Ternak

Pertumbuhan adalah pertambahan dalam bentuk dan berat jaringan

pembangun seperti urat daging, tulang, otak, jantung dan semua jaringan tubuh

(kecuali jaringan lemak), serta alat-alat tubuh lainnya. Lebih lanjut dikatakan

pertumbuhan murni adalah penambahan dalam jumlah protein dan zat-zar

mineral, sedangkan pertambahan akibat penimbunan lemak atau penimbunan air

bukanlah pertumbuhan murni (Anggorodi, 1984).

Selama pertumbuhan dan perkembangan, bagian dan komponen tubuh

mengalami perubahan. Jaringan-jaringan tubuh mengalami pertumbuhan

maksimal yang berbeda pula. Komponen tubuh secara kumulatif mengalami

(17)

Komposisi kimia komponen-komponen tubuh termasuk tulang, otot dan

lemak. Tulang, otot dan lemak merupakan komponen utama penyusun tubuh

(Soeparno, 1994).

Ternak yang mempunyai potensi genetik pertumbuhan yang tinggi akan

memiliki respon yang baik terhadap makanan yang diberikan dan memiliki

efisiensi produksi yang tinggi dan adanya keragaman yang besar dalam konsumsi

bahan kering rumput yang disebabkan oleh beda kualitas , daya cerna dan spesies

tanaman (Devendra and Burns,1970). Sedangkan pengurangan makanan akan

memperlambat kecepatan pertumbuhan dan bila pengurangan makanan sangat

parah akan menyebabkan hewan kehilangan berat badannya (Tillman et al.,1984).

Ternak yang masih muda membutuhkan lebih sedikit makanan

dibandingkan ternak yang lebih tua untuk setiap unit pertambahan bobot badan.

Sebab pertambahan bobot badan hewan muda sebagian disebabkan karena

pertumbuhan otot, tulang dan organ-organ vital, sedangkan untuk ternak yang

lebih tua pertambahan bobot badan tersebut disebabkan karena perletakan lemak

(Parakkasi, 1995).

Pola pertumbuhan ternak tergantung pada sistem manajemen atau

pengelolaan yang dipakai, tingkat nutrisi pakan yang tersedia, kesehatan dan

iklim. Menurut Tomaszewska et al.(1993) bahwa laju pertambahan bobot badan

dipengaruhi oleh umur, lingkungan dan genetik dimana berat tubuh awal fase

penggemukan berhubungan dengan berat dewasa.

Sistem Pencernaan Domba

Hewan herbivora seperti domba, sapi, kerbau disebut sebagai hewan

(18)

Pakan hewan ini banyak mengandung selulosa yang sulit dicerna oleh hewan pada

umumnya sehingga sistem pencernaannya berbeda dengan sistem pencernaan

hewan lain. Pada hewan ruminansia modifikasi lambung yang dibedakan menjadi

4 bagian, yaitu rumen (perut besar), retikulum (perut jala), omasum (perut kitab)

dan abomasum. Dengan ukuran yang bervariasi sesuai dengan umur dan makanan

alamiahnya. Kapasitas rumen 80%, retikulum 5%, omasum 7-8%, abomasum

7-8% (Prawirokusumo, 1994).

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa hijauan yang dicincang sekitar

5-10 cm akan lebih efisien dikonsumsi oleh domba, karena bentuknya yang kecil.

Dengan pencincangan, domba akan mengambil cincangan hijauan tersebut sesuai

dengan kapasitas mulutnya. Berbeda halnya dengan hijauan yang masih utuh,

domba mengambilnya dalam jumlah yang lebih banyak, dan sesekali berebut

dengan domba lainnya. Ada kalanya hijauan tersebut terlepas dan jatuh ke lantai

kandang yang kotor. Akhirnya hijauan tidak terkonsumsi. Pencincangan hijauan

membutuhkan beberapa tindakan lain agar tujuan efisiensi pemberian pakan

tercapai (Sodiq and Abidin, 2002).

Kapasitas alat pencernaan pada manusia dan beberapa hewan dapat dilihat

pada Tabel 1.

Tabel 1. Kapasitas alat pencernaan pada manusia dan beberapa hewan

(19)

Peran Mikroba Rumen

Adanya mikroba dan aktivitas fermentasi di dalam rumen merupakan

salah satu karakteristik yang membedakan sistem pencernaan ternak ruminansia

dengan ternak lain. Mikroba tersebut sangat berperan dalam mendegradasi

pakan yang masuk ke dalam rumen menjadi produk-produk sederhana yang

dapat dimanfaatkan oleh mikroba maupun induk semang dimana aktifitas

mikroba tersebut sangat tergantung pada ketersediaan nitrogen dan energi

(Offer and Robert, 1996). Kelompok utama mikroba yang berperan dalam

pencernaan tersebut terdiri dari bakteri, protozoa dan jamur yang jumlah

dan komposisinya bervariasi tergantung pada pakan yang dikonsumsi ternak

(Preston and Leng, 1987).

Mikroba rumen membantu ternak ruminansia dalam mencerna pakan yang

mengandung serat tinggi menjadi asam lemak terbang (Volatile Fatty Acids = VFA’s) yaitu asam asetat, asam propionat, asam butirat, asam valerat serta asam isobutirat dan asam isovalerat. VFA’s diserap melalui dinding rumen dan

dimanfaatkan sebagai sumber energi oleh ternak. Sedangkan produk metabolis

yang tidak dimanfaatkan oleh ternak yang pada umumnya berupa gas akan

dikeluarkan dari rumen melalui proses eruktasi (Barry et al., 1977). Namun yang

lebih penting ialah mikroba rumen itu sendiri, karena biomas mikroba yang

meninggalkan rumen merupakan pasokan protein bagi ternak ruminansia.

Sauvant et al. (1995) menyebutkan bahwa 2/3 – 3/4 bagian dari protein yang

diabsorbsi oleh ternak ruminansia berasal dari protein mikroba.

Kualitas pakan yang rendah seperti yang umum terjadi di daerah tropis

(20)

oleh protein mikroba rumen. Hampir sekitar 70 % kebutuhan protein dapat

dicukupi oleh mikroba rumen (Sutardi, 1980).

Produk akhir fermentasi protein akan digunakan untuk pertumbuhan

mikroba itu sendiri dan digunakan untuk mensintesis protein sel mikroba rumen

sebagai pasokan utama protein bagi ternak ruminansia. Menurut Arora (1995)

sekitar 47% sampai 71% dari nitrogen yang ada di dalam rumen berada dalam

bentuk protein mikroba.

Fermentasi Bahan Pakan dengan MOD-71

MOD-71 merupakan bioaktivator berbentuk cairan yang mengandung

isolat asli alam Indonesia, seperti Azotobacter, Bacillus, Nitromonas, Nitrobacter,

Pseudomonas, Chytophaga, Sporocytophaga, Micrococcus, Actinomycetes,

Streptomyces, sedangkan dari jenis fungi adalah Trichoderma, Aspergillus

Gliocladium dan Penicilium (Utomo, 2009).

MOD (Microorganism Decomposer) 71, yang merupakan suatu

kultur campuran dari berbagai mikroorganisme yang bermanfaat.

Sehingga membentuk suatu formula yang sangat berguna untuk melakukan

dekomposisi terhadap jerami padi. Fermentasi jerami padi menggunakn

MOD-71 dapat dilakukan secara aerob (memerlukan oksigen)

(http://organicindonesian vanilla.blogspot.com/2008/01, 2008).

Bacillus sp merupakan bakteri berbentuk batang, tergolong bakteri gram

positif pada kultur muda, motil (reaksi nonmotil kadang terjadi), menghasilkan

spora yang biasanya resisten pada panas, bersifat aerob (beberapa spesies bersifat

(21)

dalam penggunaan gula, sebagian melakukan fermentasi dan sebagian tidak

(Barrow, 1993).

Sejumlah kajian mengindikasikan bahwa Azotobacter merupakan

rizobakteri yang selalu terdapat di tanaman serealia seperti jagung dan gandum

(Hindersah and Simarmata, 2004) serta sayuran. Azotobacter merupakan bakteri

penambat nitrogen aerobik non-simbiotik yang mampu menambat nitrogen dalam

jumlah yang cukup tinggi, bervariasi + 2-15 mg nitrogen/gram sumber karbon

yang digunakan, meskipun hasil yang lebih tinggi seringkali dilaporkan

(Subba Rao, 1982).

Ciri-ciri Azotobacter lainnya adalah termasuk ke dalam bakteri Gram

negatif dan bergerak dengan flagel peritrik. Kisaran pH untuk pertumbuhan

dengan adanya nitrogen tambahan adalah 4,5-8,5 sedangkan pH optimal untuk

pertumbuhan dan pengikatan nitrogen adalah 7-7,5. Walaupun bakteri ini bersifat

aerobik, namun dapat tumbuh dengan kadar oksigen yang rendah. Setiap spesies

menghasilkan pigmen yang dapat larut dalam air sehingga menimbulkan warna

yang khas pada lingkungan habitatnya (Holt et al., 1994).

Bakteri dari famili Azotobacteraceae merupakan sebagian besar dari

bakteri pemfiksasi nitrogen yang hidup bebas. Meskipun Azotobacter adalah

bakteri aerob obligat, enzim nitrogenase yang dimilikinya yaitu enzim yang

mengkatalisis pengikatan N2, bersifat sensitif terhadap O2. Sehingga diduga

bahwa karakteristik Azotobacter yang mempunyai kapsul lendir yang tebal

membantu melindungi enzim nitrogenase dari O2. Azotobacter dapat tumbuh pada

berbagai macam jenis karbohidrat, alkohol, dan asam organik. Metabolisme

(22)

yang lain jarang dihasilkan. Azotobacter merupakan bakteri Gram negatif. Jenis

azotobacter diantaranya Azotobacterchlorococcum dan Azotobacter vinelandi.

Actinomycetes adalah kelom

yang tinggi. Bakteri ini pernah diklasifikasi sebagaiMycota) karena

ada anggotanya yang membentuk berkas-berkas m

Keadaan lingkungan yang aerobik akan menyebabkan terjadinya proses

oksidasi amoniak menjadi nitrit (NO2-) dan selanjutnya dioksidasi menjadi nitrat

(NO3-). Organisme yang melaksanakan nitrifikasi diantaranya Nitrosomonas sp

yang mengubah amoniak menjadi nitrit. Organisme yang mengubah nitrit menjadi

nitrat adalah Nitrobacter (Wikipedia, 2005). Menurut Schlegel dan Schmidt

(1994) Nitrifikan (penitrifikasi) adalah bakteri gram-negatif yang disatukan dalam

keluarga Nitrobacteraceae. Bakteri Nitrosomonas sp merupakan bakteri

kemolitrotropik yang menggunakan CO2 sebagai sumber karbon di dalam sintesa

biomassanya.

Nitrosomonas dan nitrobacter adalah terminologi bakteri Lithotrophic.

Mereka membutuhkan oksigen dan makanan untuk hidup dan membangun koloni

dimedia dengan permukaan yang keras dan bersih.

Trichoderma sp. dapat berfungsi sebagai biofungisida yaitu menghambat pertumbuhan beberapa jamur antara lain Rigidiforus lignosus, Fusarium oxysporum, Rizoctonia solani.

Lignin merupakan pembatas bagi kecepatan dan efisiensi dekomposisi

pada jerami padi dan bahan lain yang mengandung kadar lignin yang tinggi.

(23)

selulosa dengan berbagai dekomposer atau bioaktivator. Penggunaan mikroba

dekomposer dapat dilihat dari efektivitas dan efisiensi, biaya dan kemudahan

aplikasinya.

Fermentasi adalah proses metabolisme dimana enzim dari mikroorganisme

melakukan oksidasi, reduksi, hidrolisa dan reaksi kimia lainnya sehingga

terjadi perubahan kimia pada suatu substrat organik produk tertentu

(Saono, 1974 disitasi Sinaga, 2002).

Menurut jenis mediumnya proses fermentasi dibagi menjadi dua yaitu

fermentasi medium padat dan fermentasi medium cair. Fermentasi medium padat

merupakan fermentasi yang digunakan tidak larut tetapi cukup mengandung air

untuk keperluan mikroorganisme, sedangkan fermentasi medium cair adalah

proses fermentasi yang substratnya larut atau tersuspensi didalam fase cair

(Hardjo et al., 1989).

Pada proses fermentasi dibutuhkan dosis jamur tertentu dan waktu

fermentasi tertentu pula, makin banyak dosis jamur yang digunakan makin cepat

proses fermentasi berlangsung dan makin lama waktu yang digunakan makin

banyak bahan yang dirombak (Sulaiman, 1998), sedangkan menurut Winarno dan

Fardiaz (1979), menyatakan bahwa fermentasi kapang pada umumnya

membutuhkan waktu antara 2 sampai 5 hari.

Faktor-faktor yang mempengaruhi fermentasi menurut Kuswanto (1989)

adalah konsentrasi gula, pH fermentasi, temperatur, penambahan nutrisi seperti

nitrogen dan fosfor, ammonium sulfat, ammonium fosfat dan lain-lain yang

(24)

Konsentrat

Ternak ruminansia membutuhkan konsentrat untuk mengisi kekurangan

makanan yang diperolehnya dari hijauan. Pemberian konsentrat pada sapi tidak

sama dengan hewan lainnya (Novirma, 1991).

Teknik pemberian pakan juga perlu diperhatikan dengan kaitannya

dengan suplementasi konsentrat, untuk meningkatkan kecernaan bahan organik

sapi, pemberian konsentrat sebaiknya dilakukan dua jam sebelum pemberian

hijauan, tetapi menurut (Owen, 1979) konsentrat dapat diberikan secara

bersama-sama dengan hijauan sebagai pakan lengkap. Hal ini sejalan dengan pendapat

(Ibrahim, 1988) pada pemberian hijauan dan konsentrat secara bersama-sama

dalam bentuk campuran yang seragam, akan meningkatkan nilai guna hijauan

yang diberikan, terutama bila hijauan yang diberikan berkualitas rendah.

Menurut Williamson and Payne, (1993) dan Tillman et.al., (1991)

konsentrat merupakan bahan pakan tambahan yang diberikan untuk melengkapi

kekurangan nutrien yang didapat dari bahan pakan utama yaitu hijauan.

Konsentrat mempunyai kandungan energi, protein dan lemak yang relatif tinggi

dengan kandungan serat kasar yang rendah dibanding hijauan yang diberikan.

Pemberian ransum berupa kombinasi kedua bahan itu akan memberi peluang

terpenuhinya nutrien yang dibutuhkan. Konsentrat untuk domba umumnya disebut

pakan penguat atau bahan baku pakan yang memiliki kandungan serat kasar

kurang dari 18% dan mudah dicerna. Konsentrat terdiri dari biji-bijian yang

digiling halus, seperti jagung, bungkil kelapa, bungkil kedelai dan dedak

(25)

Konsentrat merupakan pakan penguat yang terdiri dari bahan yang

kaya akan kaarbohidrat dan protein. Konsentrat untuk domba memiliki kandungan

serat kasar kurang dari 18% dan mudah dicerna. Pemberian konsentrat terlalu

banyak akan meningkatkan konsentrasi energi pakan yang dapat menurunkan

tingkat konsumsi sehingga tingkat konsumsi energi sendiri dapat berkurang

(Parakkasi, 1995).

Pakan Berbasis Limbah Pertanian dan Perkebunan Jerami padi

Ternak ruminansia membutuhkan sejumlah serat kasar dalam ransumnya

agar proses pencernaan berlangsung secara optimal. Sumber utama serat kasar

adalah hijauan, oleh karena itu ada batasan minimal pemberian hijauan dalam

komponen ransum ternak ruminansia. Untuk penggemukan ternak ruminansia

misalnya, kebutuhan minimal hijauan berkisar antara 0.5–0.8% bahan kering dari

bobot badan ternak yang digemukkan. Apabila usaha penggemukan dilakukan

dalam waktu singkat maka diperlukan konsentrat yang banyak dalam komponen

ransumnya (Siregar, 1994).

Jerami padi merupakan hasil ikutan pertanian terbesar di Indonesia,

jumlahnya sekitar 20 juta ton per tahun. Produksinya per hektar sawah padi bisa

mencapai 12-15 ton, atau 4-5 ton bahan kering setiap kali panen, tergantung lokasi

dan varietas tanaman. Sejauh ini, pemanfaatan jerami padi sebagai pakan baru

mencapai 31-39%, sedangkan yang dibakar atau dikembalikan ke tanah sebagai

pupuk 36-62%, dan sekitar 7-16% digunakan untuk keperluan industri. Jerami

(26)

ternak ruminansia agar dapat meningkatkan produktivitasnya

(Purnama dan Taufikurrahman, 2000).

Jerami padi merupakan salah satu pakan alternatif yang paling banyak

dipakai untuk memenuhi kekurangan hijauan pakan ternak. Namun bahan pakan

tersebut berkualitas rendah karena rendahnya kandungan nutrien dan kurang dapat

dicerna. Dinding sel jerami padi banyak mengandung lignin dan silika, sehingga

menyebabkan selulosa dan hemiselulosa yang merupakan sumber energi bagi

ternak tidak dapat dicerna oleh mikroba di dalam rumen. Oleh karena itu agar

jerami padi dapat memenuhi syarat sebagai bahan pakan yang baik, maka

kualitasnya harus ditingkatkan (Akmal, 1994).

Tabel 2. Kandungan nutrisi jerami padi

Uraian Kandungan (%)

Sumber: Anggorodi ( 1995).

Komponen kandungan pada jerami dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Komponen Jerami Padi

Komponen Kandungan (%)

Jerami padi mempunyai lebih banyak lignin dari pada rumput-rumput

didaerah beriklim sedang. Jerami padi mempunyai kandungan lignin yang tinggi

sekali yaitu lebih dari 10% (Arora, 1995). Sedangkan menurut Kartadisastra

(1997), jerami padi mempunyai kandungan serat kasar lebih dari 18%. Jerami padi

(27)

diseluruh wilayah Indonesia. Hasil survey menunjukkan bahwa produksi limbah

pertanian di Pulau Jawa dan Bali kurang lebih 28.7 juta ton setiap tahun atau

berkisar antara 22.9-24.4 juta ton per tahun.

Jerami padi sebagai pakan ruminansia yang potensial untuk mengatasi

keterbatasan hijauan. Akan tetapi jerami padi rendah nutrisinya dan kecernaan

serta kandungan silika dan lignin yang tinggi membutuhkan suplementasi protein

dan energi dalam pengunaannya sebagai pakan (Chuzaemi et al., 1989).

Adapun kandungan nutrisi pakan dari beberapa limbah pertanian terdapat

pada Tabel 4 dibawah ini.

Tabel 4. Kandungan nutrisi pakan asal limbah pertanian

No Nama Bahan BK BK (%) PK (%) LK(%) SK (%) TDN(%)

Sumber : Hardianto, R (2003).

Onggok

Onggok merupakan hasil samping dari pembuatan tapioka ubi kayu.

Kandungan protein ubi kayu yang rendah kurang dari 5% membuat hasil samping

dari ubi kayu belum dimanfaatkan orang. Namun dengan teknik fermentasi

kandungan proteinnya dapat ditingkatkan, sehingga onggok yang terfermentasi

dapat digunakan sebagai bahan baku pakan unggas (Tarmudji, 2004).

Menurut Rasyid et al., (1996) onggok merupakan limbah pengolahan

tepung tapioka yang dapat digunakan sebagai ransum unggas dan ruminansia.

(28)

ayam belum banyak dimanfaatkan. Pada ayam broiler dapat digunakan sebesar

5-10% dalam ransum.

Tabel 5. Kandungan zat nutrisi onggok

Zat Nutrisi Kandungan Nutrisi (%)

Protein Kasar 1,6

Lemak Kasar 0,4

Serat Kasar 10,4

Calsium 0,8

Phospor 0,6

Energi Metabolis (kkal/Kg) 267

TDN 76

Sumber: Rasyid et al (1996).

Kelebihan onggok sebagai hasil samping pembuatan tepung tapioca selain

harganya murah, tersedia cukup, mudah didapat dan tidak bersaing dengan

kebutuhan manusia. Onggok merupakan bahan sumber energy yang mempunyai

kadar protein kasar rendah tapi kaya akan karbohidrat yang mudah dicerna

(BETN) bagi ternak serta penggunaannya dalam ransum mampu menurunkan

biaya ransum (Rasyid et al., 1996).

Dedak Padi

Dedak padi merupakan hasil ikutan dalam proses pengolahan gabah

menjadi beras yang mengandung bagian luar yang tebal, tetapi bercampur dengan

bagian penutup beras. Hal ini yang mempengaruhi tinggi rendahnya serat kasar

dedak. Bila dilihat dari penggolongan gabah menjadi beras dapat dipastikan serat

kasarnya tinggi (Rasyaf, 1992).

Dedak mempunyai harga yang relatif rendah tetapi kandungan gizinya

tidak mengecewakan. Dedak cukup mengandung energi dan protein, juga kaya

(29)

campuran formula ransum atau sebagai makanan tambahan (Rasyaf, 1990).

Adapun kandungan nutrisi dari dedak padi dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Kandungan nilai gizi dedak padi

Uraian Kandungan (%)

Bahan kering 89,6

Protein kasar 13,8

Lemak kasar 7,2

Serat kasar 8,0

TDN 67,0

Sumber: Laboratorium Ilmu Makanan Ternak Departemen Peternakan FP USU (2005).

Kulit Buah Kakao

Tanaman kakao di Sumatera Utara memiliki peran penting sebagai

komoditas sosial karena 50% dari luas arealnya merupakan perkebunan rakyat, di

samping komoditi ekspor. Sampai tahun 2005 kakao telah ditanam di wilayah

Indonesia seluas 668.919 ha dan 57.930,82 ha (7,25%) berada di Sumatera Utara

dengan produksi buah segar sebesar 160.015,29 ton/tahun. Dari buah segar akan

dihasilkan limbah kulit buah kakao sebesar 75% (Siregar, 2009).

Hasil ikutan pertanian dan perkebunan pada umumnya mempunyai

kualitas yang rendah karena berserat kasar tinggi dan dapat mengandung

antinutrisi. Kulit buah kakao mengandung lignin dan teobromin tinggi

(Aregheore, 2000). Selain mengandung serat kasar yang tinggi (40,03%) dan

protein yang rendah (9,71%) (Laconi, 1998), kulit buah kakao

mengandung selulosa 36,23%, hemiselulosa 1,14% dan lignin 20%-27,95%

(Ammirroenas, 1990). Lignin yang berikatan dengan selulosa menyebabkan

selulosa tidak bisa dimanfaatkan oleh ternak. Upaya peningkatan kualitas dan nilai

(30)

upaya strategis dalam meningkatkan ketersediaan ransum. Kandungan nilai gizi

kulit buah kakao dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Kandungan nilai gizi kulit buah kakao

Kandungan Zat Kadar Zat (%)

Sumber : *Laboratorium Ilmu Makanan Ternak FP-USU (2010). **Siregar (2009)

Bungkil Inti Sawit

Bungkil inti sawit adalah limbah hasil ikutan proses ekstraksi inti sawit.

Bahan ini dapat diperoleh dengan proses kimia atau secara mekanik. Walaupun

kandungan proteinnya baik namun kandungan serat kasarnya tinggi dan

palatabilitasnya rendah menyebabkan kurang sesuai untuk ternak unggas sehingga

lebih sering diberikan kepada ternak ruminansia, seperti sapi (Hutagalung, 1978).

Menurut Davendra (1997) bungkil inti sawit adalah limbah hasil ikutan

dari hasil ekstraksi inti sawit. Bahan ini diperoleh dengan proses kimiawi atau

cara mekanik. Walaupun kandungan proteinnya agak baik, tapi karena serat

kasarnya tinggi dan palatabilitasnya rendah menyebakan kurang cocok bagi ternak

monogastrik, melainkan lebih cocok bagi ternak ruminansia.

Hasil penelitian menunjukan bahwa ransum yang komponen utamanya

bungki inti sawit dapat diperbaiki daya cernanya, serat kasarnya dan

(31)

Tabel 8. Kandungan nilai gizi bungkil sawit

Uraian Kandungan (%)

Protein kasar 15,4a

TDN 81b

Serat kasar 16,9a

Lemak kasar 2,4a

Bahan kering 92,6a

Ca 0,10c

P 0,22c

Sumber : a. Laboratorium Ilmu Makanan Ternak FP USU (2005). b. Laboratorium Ilmu Makanan Ternak IPB, Bogor (2000). c. Siregar (2003).

Air

Komposisi tubuh domba, 70% dari berat badannya berupa berupa air.

Kekurangan air di dalam tubuh hingga mencapai 20% akan menyebabkan domba

mengalami dehidrasi yang bisa menyebabkan kematian. Karena itu, ketersedian

air bersih di dalam kandang untuk minum merupakan hal yang mutlak perlu.

Kebutuhan domba terhadap air tergantung pada banyak faktor, misalnya kondisi

fisiologis, kondisi hijauan, ataupun kondisi lingkungan. Domba yang masih muda

relatif membutuhkan air lebih banyak dibandingkan dengan domba tua. Jika

hijauan yang diberikan dan dikonsumsi sudah tua, yang umumnya berkadar air

rendah, domba akan membutuhkan air lebih banyak dibandingkan dengan hijauan

yang masih muda. Jika temperatur lingkungan cukup tinggi, domba akan

membutuhkan air lebih banyak daripada biasanya. Seekor domba membutuhkan

air sebanyak 1,5-2,5 liter per hari. Sebaiknya, air disediakan dalam jumlah yang

(32)

Bahan Pakan Pelengkap Molases

Molases atau tetes merupakan hasil samping pabrik gula tebu yang

berbentuk cairan kental agak kekuning-kuningan. Molases dapat diganti

sebagai bahan pakan ternak yang berenergi tinggi. Disamping rasanya manis yang

bisa memperbaiki aroma dan rasa pakan, keuntungan penggunaan molases

sebagai bahan pakan ternak adalah kadar karbohidratnya yang tinggi, mineral,

vitamin yang cukup sehingga dapat digunakan walau hanya sebagai pendukung

(Rangkuti et al., 1985).

Molases dapat digunakan sebagai pakan ternak. Keuntungan penggunaan

molases untuk pakan ternak adalah kadar karbohidrat tinggi (46-60% sebagai

gula), kadar mineral cukup disukai ternak. Molasses atau tetes tebu juga

mengandung vitamin B kompleks dan unsur-unsur mikro yang penting bagi

ternak. Molasses dapat diganti sebagai bahan pakan ternak yang berenergi tinggi.

Disamping rasanya manis juga dapat memperbaiki rasa pakan dan aroma.

Sedangkan kelemahannya adalah kadar kaliumnya yang tinggi dapat

menyebabkan diare bila dikonsumsi terlalu banyak (Rangkuti et al., 1995).

Kandungan nutrisi yang terdapat pada molases dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Kandungan nutrisi pada molasses

Zat Nutrisi Kandungan (%)

Bahan kering 92,6

Protein kasar 4,00

Lemak kasar 0,08

Serat Kasar 0,38

TDN 81,00

(33)

Mineral

Mineral merupakan salah satu zat yang mempunyai peranan pokok dalam

hal pertumbuhan dan reproduksi ternak domba, seperti metabolisme protein,

energi serta biosintesa zat – zat pakan esensial (Davendra dan Burns, 1994).

Adapun mineral yang esensial bagi domba terdiri dari 15 mineral yang

dibagi menjadi 7 makro mineral ( Ca, P, K, Na, Cl, Mg dan S ) dan 8 mikro

mineral ( Fe, I, Zn, Cu, Mn, Co, Mo, dan Se ). Cr, Va, Ni, Sn, Si dan As adalah

mineral yang mungkin tinggal menunggu waktu persetujuan pada ahli untuk

meresmikan menjadi elemen esensial yang baru (Parakkasi, 1995). Mineral –

mineral ini terdiri dari kation dan anion yang antara lainnya adalah Zn dan Co

(Anggorodi, 1994).

Menurut Murtidjo (1993) juga berpendapat bahwa di Indonesia yang

beriklim tropis defisiensi mineral tertentu merupakan kasus lapangan yang sering

terjadi, dimana hal ini dapat mengakibatkan ternak domba yang dipelihara

mengalami penurunan nafsu makan, efisiensi pakan tidak dicapai, terjadi

penurunan bobot tubuh dan gangguan kesuburan ternak bibit.

Tabel 10. Kandungan mineral.

(34)

Beberapa hasil penelitian yang dilakukan pada peternakan domba

diseluruh dunia menunjukkan bahwa kekurangan atau keracunan mineral

makro dan mikro menurunkan produksi wol, pertambahan bobot badan sudah

sampai pada tingkat yang serius dapat menyebabkan kematian pada domba

(Shunxiang, 1995).

Urea

Urea merupakan bahan pakan sumber nitrogen yang dapat difermentasi.

Urea dalam proporsi tertentu mempunyai dampak positif terhadap peningkatan

konsumsi serat kasar dan daya cerna (Kartadisastra, 1997).

Urea dengan rumus molekul Co (NH2)2 banyak digunakan dalam ransum

ternak ruminansia karena mudah di peroleh, harganya murah dan sedikit resiko

keracunan yang diakibatkannya dibanding burret. Secara fisik urea berbentuk

kristal berwarna putih dan higroskopis (Sodiq dan Abidin, 2002).

Urea sebagai bahan pakan ternak berfungsi sebagi sumber NPN (Non

Protein Nitrogen) dan mengandung lebih kurang 45% unsur Nitrogen sehingga

pemakaian urea mampu memperbaiki kualitas rumput yang diberikan kepada

domba, namun perlu diingat bahwa penggunaan urea terlalu tinggi konsentratnya

dalam rumen dapat menimbulkan keracunan (Hartadi, et al., 1990).

Urea diberikan pada ruminansia, akan melengkapi sebagian dari kebutuhan

protein ternak, karena urea tersebut disintesis menjadi protein oleh

mikroorganisme dalam rumen, namun untuk hal itu dibutuhkan sumber energi

(Anggorodi, 1994).

Penggunaan urea tidak boleh berlebih, apabila berlebih atau tidak dicerna

(35)

dibawa aliran darah kehati dibentuk kembali ammonium yang kemudian

disekresikan melalui urin (Parakkasi, 1995).

Garam

Garam merangsang sekresi saliva. Terlalu banyak garam akan

menyebabkan retensi air sehingga menimbulkan odema. Devisiensi garam lebih

sering terlihat pada hewan herbivora, hal ini disebabkan karena hijauan dan

butiran mengandung sedikit garam. Gejala devisiensi garam yaitu nafsu makan

menghilang, bulu kotor, makan tanah, keadaan badan tidak sehat, produksi

mundur dan berat badan turun (Anggorodi, 1994). Menurut Parakkasi ( 1995)

kebutuhan domba akan garam sebanyak 9 % dalam makanan.

Parameter Penelitian Pertambahan Bobot Badan

Pertumbuhan umumnya dinyatakan dengan pengukuran kenaikan bobot

badan melalui penimbangan berulang-ulang, yaitu setiap hari, setiap minggu atau

setiap waktu lainnya. Penimbangan ternak pada setiap jangka waktu tertentu

misalnya setiap minggu atau setiap bulan akan dapat mengetahui besarnya

pertambahan bobot badan ternak (Tillman et al., 1998)

Pertambahan bobot badan pada umumnya mengalami tiga tingkat

kecepatan yang berbeda-beda, yang pertama pertumbuhan tulang, diikuti dengan

pertumbuhan otot dan yang terakhir adalah pertumbuhan jaringan lemak

(Anggorodi, 1994)

Pertumbuhan umumnya dinyatakan dengan pengukuran kenaikan bobot

(36)

setiap waktu lainnya (Tillman et al., 1991). Penimbangan ternak pada setiap

jangka waktu tertentu misalnya setiap minggu atau setiap bulan akan dapat

mengetahui besarnya pertambahan bobot badan ternak. Pertambahan bobot badan

ternak tersebut dapat digunakan untuk mengontrol kecepatan pertumbuhan

(Kamal, 1994).

Pertumbuhan dinyatakan pada umumnya dengan pengukuran kenaikan

berat badan yang dengan mudah dilakukan dengan penimbangan berulang – ulang

dan di ketengahkan dengan penambahan berat badan tiap hari, tiap minggu atau

tiap waktu lainnya (Tillman, et al., 1991).

Parakkasi (1995) menyatakan bahwa proses pertumbuhan diartikan

sebagai pertambahan bobot badan sejak adanya konsepsi sampai dewasa. Apabila

demikian maka pertumbuhan tersebut dapat dinyatakan dalam pertambahan bobot

badan absolut dan relatif. Pertambahan bobot badan absolut (rata-rata) adalah

selisih bobot badan akhir dan awal dibagi dengan lama waktu pengamatan,

pertambahan bobot badan relatif, selisih antara bobot badan akhir dan bobot badan

awal dibagi bobot badan awal.

Menurut Rasyaf (1994) faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan

adalah managemen pemeliharaan. Ternak tidak akan memberikan jasa yang tinggi

kepada pemeliharanya, bila ia sendiri tidak dirawat dengan baik. Dan sebaliknya

bila ternak dipelihara dengan baik maka akan lain hasilnya.

Konsumsi Ransum Domba

Konsumsi pakan adalah jumlah pakan yang dikonsumsi oleh hewan

(37)

merupakan faktor penentu paling penting yang menentukan jumlah nutrien yang

didapat oleh ternak dan berpengaruh terhadap tingkat produksi (Parakkasi, 1999).

Suhu yang tinggi juga dapat menyebabkan nafsu makan menurun dan

meningkatnya konsumsi air minum. Hal ini mengakibatkan otot-otot daging

lambat membesar sehingga daya tahannya pun menurun (Tillman et al., 1993).

Pengukuran konsumsi pakan dipengaruhi oleh perbedaan ternak,

palatabilitas pakan dan seleksi terhadap hijauan pakan. Konsumsi pakan juga

mempunyai hubungan dengan kebutuhan energi ternak yang sering menyebabkan

konsumsi pakan ternak menjadi berbeda (Williamson dan Payne, 1993).

Konsumsi pakan yang rendah akan menyebabkan kekurangan zat makanan

yang dibutuhkan ternak dan akibatnya akan menghambat penimbunan lemak dan

daging. Apabila kebutuhan untuk hidup pokok sudah terpenuhi, kelebihan gizi

yang dikonsumsi akan ditimbun sebagai jaringan lemak dan daging

(Anggorodi, 1994).

Sedangkan ransum adalah campuran dari beberapa jenis bahan makanan

yang diberikan pada ternak dalam waktu 24 jam, makanan itu dapat diberikan

seluruhnya sekaligus atau dalam beberapa kali sebagian – sebagian dari padanya.

Ransum disebut sempurna apabila kombinasi beberapa bahan mkanan yang bila

dikonsumsi secara normal dapat mensuplai zat –zat makanan kepada ternak dalam

perbandingan jumlah dan bentuk sedemikian rupa sehingga fungsi – fungsi

fisiologis tubuh berjalan dengan normal. Dalam mengkonsumsi ransum ternak di

pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu tingkat energi, keseimbangan asam amino,

tingkat kehalusan ransum, keaktifan ternak , berat badan kecepatan pertumbuhan

(38)

Konversi Ransum Domba

Konversi pakan adalah perbandingan antara jumlah pakan yang

dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan yang dicapai dalam kurun waktu

yang sama. Konversi pakan merupakan suatu indikator yang dapat menerangkan

tingkat efisiensi penggunaan pakan, dimana semakin rendah angkanya berarti

semakin baik konversi pakan tersebut (Anggorodi, 1990).

Efisiensi penggunaan pakan dapat diketahui dari konversi pakan yakni

jumlah pakan yang dikonsumsi untuk mencapai pertambahan bobot badan per satu

kilogram bobot badan. Konsumsi pakan atau ransum yang diukur adalah bahan

kering sehingga efisiensi penggunaan pakan atau ransum dapat ditentukan

berdasarkan konsumsi bahan kering untuk mencapai satu kilogram pertambahan

bobot badan (Siregar, 1994).

Kualitas pakan menentukan konversi pakan. Pakan yang berkualitas baik

dapat menghasilkan pertambahan bobot badan yang tinggi. Penggunaan pakan

akan semakin efisien bila jumlah pakan yang dikonsumsi minimal namun

menghasilkan pertambahan bobot badan yang tinggi (Martawidjaja, 1998).

Faktor yang mempengaruhi konversi pakan yaitu lingkungan (suhu,

penyakit, makanan dan minuman), kemampuan genetik, nilai gizi pakan dan

(39)

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak, Program Studi

Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian ini

berlangsung selama 3 bulan dimulai dari bulan Mei 2012 sampai dengan bulan

Agustus 2012.

Bahan dan Alat Penelitian

Bahan yang digunakan antara lain: Domba lokal jantan sebanyak 12 ekor

dengan rataan bobot badan awal + 10,675 kg , + 12,762 kg , dan + 14,637 kg,

pakan konsentrat yang terdiri dari bungkil inti sawit, dedak padi, onggok,

molasses, urea, mineral mix dan garam. Jerami padi fermentasi sebagai pengganti

pakan rumput ternak, MOD71 untuk fermenasi jerami padi, obat-obatan seperti

obat cacing (kalbazen), anti bloat untuk obat gembung, Rhodallon untuk

desinfektan dan vitamin. Air minum diberikan secara ad libitium.

Alat yang digunakan antara lain: Kandang individual 12 unit dengan

ukuran 1 x 0,5 m beserta perlengkapannya, tempat pakan dan minum, timbangan

untuk menimbang bobot hidup berkapasitas 50 kg dengan kepekatan 2 kg,

timbangan berkapasitas 2 kg dengan kepekatan 10 g untuk menimbang pakan,

chooper digunakan untuk mencooper bahan pakan, grinder digunakan untuk

menghaluskan bahan pakan, thermometer digunakan untuk mengetahui suhu di

dalam dan diluar kandang, alat pembersih kandang, alat penerangan kandang, dan

alat tulis untuk menulis data.

(40)

Metode Penelitian

Adapun rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak

kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 3 kelompok. Perlakuan yang akan

diteliti sebagai berikut :

Ransum perlakuan yang diberikan adalah sebagai berikut :

P0: Ransum dasar tanpa fermentasi

P1: Ransum dasar + 2 cc MOD71 /1 Kg jerami P2: Ransum dasar + 4 cc MOD71 /1 Kg jerami P3: Ransum dasar + 6 cc MOD71 /1 Kg jerami

Model linier yang digunakan untuk rancangan acak kelompok (RAK) adalah :

Yij = µ + Ti + Bj + ∑ij

Konsumsi pakan diperoleh dengan menghitung selisih jumlah pakan yang

diberikan dengan sisa pakan setiap harinya dan dinyatakan dengan gram per ekor

per hari.

Konsumsi Pakan = Pakan yang diberikan (dalam % BK) – Pakan yang sisa

(dalam % BK).

Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH)

Pertambahan bobot badan dihitung dengan cara membagi selisih bobot

badan (bobot akhir – bobot awal) dengan lama hari penimbangan. Dilakukan

(41)

PBBH = bobot akhir – bobot awal (g/ekor) Lama pemeliharaan (hari)

Konversi pakan

Konversi pakan dihitung dengan cara membagi angka rata – rata konsumsi

bahan kering per ekor per hari dengan angka rata – rata produksi pertambahan

bobot badan per ekor per hari.

Konversi Pakan = pakan yang dikonsumsi (g/hari) PBBH (g/hari)

Pelaksanaan Penelitian Persiapan Kandang

Kandang dan semua peralatan dibersihkan dan dicuci, kemudian dilakukan

pengapuran pada lantai dan dinding kandang sebelum proses pemeliharaan.

Selanjutnya kandang dan semua peralatan disemprot dengan Rhodallon(dosis 10

ml / 2,5 liter air).

Pengacakan domba

Pemberian Pakan dan Air Minum

Pakan yang diberikan adalah konsentrat, jerami padi fermentasi dengan

MOD71 tanpa hijauan segar sesuai dengan perlakuan (0 ml untuk P0; 2 cc untuk

P1; 4 cc untuk P2 dan 6 cc untuk P3). Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari.

Pakan konsentrat diberikan pada pukul 07.00 WIB dan jerami padi diberikan

pukul 09.00 WIB. Pemberian pakan konsentrat kedua dilakukan pada pukul 15.00

dan pukul 16.00 untuk jerami padi. Pemberian air minum diberikan secara ad

libitum. Sisa pakan ditimbang pada waktu pagi keesokan harinya sesaat sebelum

(42)

Sebelum dilaksanakan penelitian diberikan waktu untuk adaptasi lingkungan dan

penyesuaian terhadap perlakuan pakan selama 10 hari.

Pemberian obat-obatan

Ternak domba sebelum pelaksanaan penelitian terlebih dahulu diberikan

obat cacing Nemasol dengan dosis 1 tablet/50 berat badan untuk menghilangkan

parasit dalam saluran pencernaan.

Penimbangan bobot badan

Penimbangan bobot badan domba dilakukan setelah masa adaptasi sebagai

bobot awal penelitian dan pengambilan data pertambahan bobot badan selama

(43)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Konsumsi Pakan

Konsumsi pakan adalah kemampuan ternak dalam menghabiskan sejumlah

pakan yang diberikan. Konsumsi pakan dapat dihitung dengan pengurangan

jumlah pakan yang diberikan dengan sisa pakan yang ada. Rataan konsumsi pakan

domba setiap perlakuan selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 11 berikut:

Tabel 11. Rataan konsumsi pakan domba selama penelitian (g/ekor/hari)

Perlakuan Kelompok Total Rataan

1 2 3

Keterangan : Superscript yang sama pada satu kolom menunjukan tidak adanya perbedaan dari setiap perlakuan.

Berdasarkan Tabel 11 dapat dilihat rataan konsumsi pakan domba sebesar

497.40g/ekor/hari. Perbedaan konsumsi pakan dari keempat perlakuan ini dapat

digambarkan sesuai dengan Gambar 1.

Gambar 1. Grafik konsumsi pakan domba selama penelitian

(44)

Untuk mengetahui pengaruh pemberian jerami terfermentasi MOD 71

terhadap konsumsi bahan kering domba maka dilakukan analisa ragam pada Tabel

12 dibawah ini:

Tabel 12. Analisis Keragaman Konsumsi Bahan Kering

SK DB JK KT F-Hit F.Tabel

Ket tn: tidak berbeda nyata

Hasil analisis keragaman pada Tabel 12 menunjukkan bahwa F hitung

lebih kecil dari F tabel sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian pakan

menggunakan jerami terfermentasi dengan MOD 71 dengan berbagai level (2 cc,

4 cc, dan 6 cc) dalam pakan domba lokal jantan memberikan pengaruh yang tidak

berbeda nyata terhadap konsumsi bahan kering. Hal ini menunjukkan bahwa

pemberian jerami fermentasi dengan MOD 71 tidak mempengaruhi konsumsi

bahan kering domba selama penelitian. Secara statistik diketahui bahwa rataan

konsumsi bahan kering pakan domba selama penelitian sebesar 543.70

g/ekor/hari, hal ini menunjukkan konsumsi bahan kering rata-rata domba masih

belum mencukupi sesuai dengan kebutuhan pokok bahan kering domba. Menurut

Ranjhan (1981) domba yang digemukkan membutuhkan bahan kering 4.5-5 %

dari bobot hidupnya. Domba dengan bobot badan 15 kg akan mengkonsumsi BK

sebanyak 750 g.

Rataan konsumsi pakan domba selama penelitian menunjukkan hasil yang

hampir sama, hal ini berarti domba mempunyai kemampuan dan palatabilitas yang

hampir sama dalam mengkonsumsi bahan kering pakan. Menurut Church (1988)

(45)

berpengaruh terhadap fisiologis ternak dalam ransangan penglihatan, penciuman,

dan rasa dalam mengkonsumsi pakan.

Pertambahan Bobot Badan

Pertumbuhan merupakan suatu indikator terjadinya deposisi nutrient

dalam jaringan tubuh. Pertambahan bobot badan (PBB) domba dalam penelitian

ini diperoleh dari hasil penimbangan bobot badan akhir dikurangi dengan bobot

badan awal penimbangan. Rataan pertambahan PBB domba setiap perlakuan

selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 13 berikut.

Tabel 13. Rataan pertambahan bobot badan domba selama penelitian (g/ekor/hari)

Perlakuan Kelompok Total Rataan

1 2 3

Keterangan : Superscript yang sama pada satu kolom menunjukan tidak adanya perbedaan dari setiap perlakuan.

Berdasarkan Tabel 13 dapat dilihat rataan PBB domba sebesar

21.13 g/ekor/hari. Perbedaan PBB Domba dari keempat perlakuan ini dapat

digambarkan sesuai dengan Gambar 2

Gambar 2. Grafik rataan pertambahan bobot badan domba

(46)

Untuk mengetahui pengaruh pemberian jerami terfermentasi MOD 71

terhadap PBB bahan kering domba maka dilakukan analisa ragam pada Tabel 14

dibawah ini:

Tabel 14. Analisis Keragaman PBB

SK DB JK KT F-Hitung F.0.05 F.0.01

Perlakuan 3 0.77 0.256 0.628tn 5.14 10.92

Kelompok 2 0.01 0.005 0.012tn 4.76 9.78

Galat 6 2.45 0.408

Total 11 3.23

Ket: tn: tidak berbeda nyata

Hasil analisis keragaman pada Tabel 14 menunjukkan bahwa F hitung

lebih kecil dari F tabel sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian pakan

menggunakan jerami terfermentasi dengan MOD 71 dengan berbagai level (2 cc,

4 cc, dan 6 cc) dalam pakan domba lokal jantan memberikan pengaruh yang tidak

berbeda nyata terhadap PBB domba. PBB yang tidak nyata dapat disebabkan

karena domba mengkonsumsi pakan yang jumlahnya tidak berbeda nyata.

Menurut Cole (1982) menyatakan bahwa laju pertumbuhan ternak setelah disapih

ditentukan oleh beberapa faktor antara lain, potensi pertumbuhan dari

masing-masing ternak dan pakan yang tersedia, hal ini didukung juga oleh

Soeparnao dan Davies (1987) yang menyatakan bahwa jenis, kandungan gizi dan

konsumsi pakan mempunyai pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan.

Dari hasil penelitian diketahui bahwa rataan PBB yang diberi perlakuan

jerami fermentasi MOD-71 (2, 4, dan 6 cc) dalam pakan selama penelitian

menunjukkan hasil yang tidak berbeda jauh dengan pakan kontrol tanpa jerami

fermentasi MOD-71. Hal ini menunjukkan penggunaan jerami fermentasi dengan

(47)

Rataan PBB omba yang diberi perlakuan berbagai level jerami fermentasi

dengan MOD-71 memberikan hasil PBB rata-rata sebesar 20.94, 22.39 dan 20.82

g/ekor/hari dengan rata-rata konsumsi bahan kering sebesar 488.78, 491.37, dan

543.70 g/ekor/hari, hasil yang dicapai pada penelitian ini ternyata belum

mencukupi kebutuhan bahan kering domba, sehingga hal ini menyebabkan rataan

PBB domba dan konsumsi bahan kering domba kurang maksimal. Hal ini

mungkin dikarenakan domba kurang adaptif dalam mengkonsumsi jerami.

Peralihan domba dalam mengkonsumsi rumput-rumputan dengan pakan jerami

sebelum pra penelitian dan penelitian mengalami konsumsi rataan yang hampir

sama, atau tidak terlihat perbedaan sama sekali.

Konversi Pakan (FCR)

Konversi Pakan

Konversi pakan adalah perbandingan atau rasio antar jumlah pakan yang

dikonsumsi oleh ternak dengan produk yang dihasilkan oleh ternak tersebut.

Rataan konversi pakan domba setiap perlakuan selama penelitian dapat dilihat

pada Tabel 15 berikut.

Tabel 15. Rataan konversi pakan domba selama penelitian

Perlakuan 1 2 3 Total Rataan

P0 22.28 23.19 23.17 68.64 22.88tn

P1 22.33 24.24 23.42 69.99 23.33tn

P2 22.50 21.88 21.50 65.88 21.96tn

P3 23.78 28.35 26.32 78.45 26.15tn

Total 90.89 97.66 94.41 282.96 94.32

Rataan 22.72 24.42 23.60 70.74 23.58

(48)

Berdasarkan Tabel 15 dapat dilihat rataan konversi pakan domba sebesar

23.58 Perbedaan konversi pakan domba dari keempat perlakuan ini dapat

digambarkan sesuai dengan Gambar 3

Gambar 3. Grafik konversi pakan selama penelitian

Untuk mengetahui pengaruh pemberian jerami terfermentasi MOD 71

terhadap konversi pakan domba maka dilakukan analisa ragam pada Tabel 16

dibawah ini:

Tabel 16. Konversi pakan domba selama penelitian

SK DB JK KT F-Hit F.0.05 F.0.01

dengan jerami fermentasi dengan MOD-71 menunjukkan tidak berbeda nyata

terhadap konversi pakan domba. Konsumsi bahan kering domba yang tidak

berbeda nyata yang juga menghasilkan pertambahan bobot badan domba yang

tidak berbeda nyata merupakan penyebab tidak berbeda nyatanya konversi

pakan yang dihasilkan. Tingkat konsumsi bahan kering yang tinggi menghasilkan

(49)

PBB yang tinggi pula. Kualitas dan kuantitas ransum yang baik menghasilkan

nilai konversi pakan yang semakin kecil, dengan kata lain efisiensi pakan yang

semakin baik dengan PBB yang semakin tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan

Anggorodi (1994) yang menyatakan bahwa konversi pakan adalah indikator teknis

yang dapat menggambarkan tingkat efesiensi penggunaan pakan, semakin rendah

angka konversi pakan berarti semakin efesien. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa

konversi pakan khususnya pada ternak ruminansia dipengaruhi oleh kualitas

pakan, besarnya PBB dan nilai kecernaan.

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa konsumsi bahan kering ransum

tertinggi terletak pada perlakuan P3 yaitu sebesar 543.70 gram/ekor/hari tetapi

menghasilkan rataan PBB terendah dan konversi pakan yang tertinggi bila

dibandingkan dengan semua perlakuan. Asumsi peneliti hal ini dikarenakan

terjadi kehilangan terbesar bahan kering yang dikonsumsi terutama dari jerami

dan hasil ikutan pertanian (konsentrat) terjadi dalam feses. Kaitan dengan

konversi pakan yaitu proporsi bagian pakan yang hilang dan pemanfaatan lain

mempengaruhi efesiensi pakan. Besaran nilai konversi pakan sangat tergantung

pada kecernaan dan metabolisme nutrisi dalam tubuh ternak, dengan kata lain

kecernaan sangat erat kaitannya dengan konsumsi bahan kering ransum yang

berimplikasi terhadap laju pertambahan bobot badan dan efesiensi penggunaan

ransum yang digunakan untuk hidup pokok dan produksi ternak. Hal ini sesuai

dengan pernyataan Martawidjaja et al., (1999) bahwa konversi pakan khususnya

pada ternak ruminansia dipengaruhi oleh kualitas pakan, besarnya pertambahan

(50)

Rekapitulasi Hasil Penelitian

Rekapitulasi hasil penelitian dari penggunaan jerami difermentasi dengan

MOD-71 terhadap performans domba dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17. Rekapitulasi hasil penelitian pemanfaatan jerami padi fermentasi dengan MOD 71 terhadap performans domba.

Perlakuan

Parameter Konsumsi Pakan

(g/ekor/hari)

PBB

(g/ekor/hari) Konversi Pakan

P0 465.76 tn 20.37tn 22.88tn

P1 488.78 tn 20.94tn 23.33tn

P2 491.37 tn 22.39tn 21.96tn

P3 543.70 tn 20.82tn 26.15tn

Keterangan : Superscript yang sama pada satu kolom menunjukan tidak adanya perbedaan dari setiap perlakuan.

Berdasarkan hasil rekapitulasi di atas diperoleh bahwa penggunaan jerami

fermentasi dengan MOD-71 memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata

terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan konversi pakan.

Level terbaik penggunaan jerami yang difermentasi dengan MOD-71

(51)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian pemanfaatan jerami padi fermentasi

menggunakan MOD-71 memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap

pertambahan bobot badan, konsumsi dan konversi.

Saran

Disarankan kepada para peternak untuk meningkatkan pemanfaatan jerami

(52)

DAFTAR PUSTAKA

Akmal, 1994, Pemanfaatan Wastelage Jerami Padi Sebagai Bahan Pakan Sapi FH Jantan. Tesis Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Amirroenas, D.E., 1990. Mutu Ransum Berbentuk Pellet dengan Bhan Serat Biomassa Pod Kakao (Theobroma cacao L.) untuk Pertumbuhan Sapi Perah Jantan. Thesis. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Anggorodi, R., 1995. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT Gramedia, Jakarta.

_________, R., 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT Gramedia, Jakarta.

_________, R., 1990. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT Gramedia, Jakarta.

_________, R., 1984. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT Gramedia, Jakarta.

Aregheore, E.M., 2000. Crop Residues and Agroindustrial By Product In Four Pacific Island Countries: Availability, Utilization and Potensial Value In Ruminant Nutrition. Asian-Aust. J. of Anim. Sci. 13 (Supplement B): 266-269.

Arlinda. 2011. Study Of Comparative Chemical Quality Of Compost Made From Oil Palm Bunches With Activator Of Activated Sludge Coca Cola, Cocomas And Bokashi Compost. Program studi kimia, Pascasarjana Universitas Andalas. Padang.

Arora, S. P. 1995. Pencernaan Mikrobia pada Ruminansia. Terjemahan Retno Muwarni Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, 2010. Statistika Indonesia. Biro Pusat Statistik Indonesia. Jakarta.

Barry, Thomson, and Amstrong. 1977. Peran Mikroba Rumen pada Ternak Ruminansia. 2012.

Church, D. C and W. G. Pond. 1988. Basic Animal Nutrition and Feeding. 3rd Edition. John Wiley and Sons, Inc., Canada.

(53)

Cole, V.G. 1982. Beef Cattle Production Guide, N.S.W. Up ed. Mac. Arthur Press. Parra Matta, NSW.

Davendra, C. dan M. Burns, 1994. Produksi Kambing di Daerah Tropis. Institut Teknologi Bandung dan Universitas Udayana Bali.

Fardiaz, 1989. Fisiologi Fermentasi. PAU IPB dan LSI IPB, Bogor.

Gatendy R. M and L. P. Batubara, 1994. Management Of Sheep In The Humid Tropics Experiences In North Sumatera Second Symposium On Sheep Production In Malaysia, 22-24 Nop 1994.

Hartadi, H. S., Reksohadiprodjo, A. D., Tillman, 1990. Tabel Komposisi Pakan untuk Ternak di Indonesia. UGM-Press, Yogyakarta.

Hardianto. R., 2000. Teknologi Complete Feed Sebagai Alternatif Pakan Ternak Ruminansia. Makalah BPTP Jawa Timur, Malang.

Hardianto R, 2003. Pemanfaatan Limbah Pertanian Dan Agroindustri Sebagai Bahan Baku Untuk Pengembangan Industri Pakan Ternak Complete Feed, Materi Program Magang dan Transfer Teknologi Pakan, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Jawa Timur.

Hardjo, S., N. S. Indrasti, B. Tajuddin., 1989. Bio-konversi Pemanfaatan Limbah Industri Pertanian, Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor.

Hindersah R. dan T. Simarmata. 2004. Potensi rizobakteri Azotobacter dalam meningkatkan kesehatan tanah. J. Nature Indonesia. 5: 127 – 133.

Holt, J.G., N.R Krieg, P.H.A Sneath, J.T Staley, and S.T Williams. 1994. Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelpia.

Hutagalung, R.I., 1978. Non- Tradisional Feedingstuffs for Livestock. Proceesing of Symphossium on Feedingstuffs for Livestock in SEA. MSAP, Jakarta.

Ibrahim, N. M. N. 1998. Non-Conventional Feed Resources and Fibrous Agricultural Residues Strategies fir Expand Utilitazion. International Development Research Center Indian Council of Agricultural Research. India.

Kamal, M., 1994. Nutrisi Ternak I. Laboratorium Makanan Ternak. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan. Universitas Gadjah Mada.

(54)

Kuswanto, K. R., 1989. Fermentasi Pangan. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi . Yogyakarta.

Laconi, E.B., 1998. Peningkatan Kualitas Kakao Melalui amoniasi dengan Urea dan Biofermentasi dengan Phanerochaete chrysosporium serta Penjabarannya dalam Formulasi Ransum Ruminansia. Disertasi. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Martawidjaja, M., 1999. Pengaruh Taraf Pemberian Konsentrat Terhadap Keragaan Kambing Kacang Betina Sapihan. Pada: Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Balai Penelitian Ternak. Bogor.

Murtidjo, B. A., 1993, Memelihara Domba, Kanisius, Yogyakarta.

Neshum,M. C R.A and L. E Card, 1979. Poultry Production, Lea and Febiger, Philadel.

Novirma, J. 1991. Penyediaan, Pemanfaatan dan Nilai Gizi Limbah Pertanian Sebagai Makanan Ternak di Sumatera Barat. Pusat Penelitian, Universitas Andalas, Padang.

Offer, Y. and Robert. 1996. Peran Mikroba Rumen pada Ternak Ruminansia.

Owen, J. B. 1979. Complet Diets for cattle and Sheep. Farming Press Ltd., Suffolk, England.

Parakkasi, A., 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia. UI Press, Jakarta.

________,, A., 1995. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia, UI Press, Jakarta.

________,, A., 1987. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia, UI Press, Jakarta.

Prawirokusumo, S., 1994. Ilmu Gizi Komparatif. UGM-Press, Yogyakarta.

Preston, dan Leng. 1987. Peran Mikroba Rumen pada Ternak Ruminansia.

Purnama P dan PN Taufikurrahman, 2000. Lembar Informasi Pertanian (Liptan) IP2TP Mataram No. 02 / Liptan/ 2000. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Mataram.

Gambar

Tabel 1. Kapasitas alat pencernaan pada manusia dan beberapa hewan
Tabel 2. Kandungan nutrisi jerami padi
Tabel 4. Kandungan nutrisi pakan asal limbah pertanian
Tabel 5. Kandungan zat nutrisi onggok
+7

Referensi

Dokumen terkait

penelitian menunjukan bahwa penggunaan pucuk tebu, pucuk batang jagung, pucuk batang daun ubi kayu dengan penambahan starbio layak digunakan dalam usaha peternakan domba sei

Hasil analisis ragam maka diperoleh hasil pemberian pakan jerami dengan berbagai perlakuan teknologi dalam pakan domba jantan lokal memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata

Tahap adaptasi dilakukan untuk membiasakan ternak mengkonsumsi pakan penelitian berupa konsentrat sebanyak 2,3% BK dari bobot badannya dan jerami padi yang

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pada perlakuan P1 konsumsi bahan kering ransum dan pertambahan bobot badan yang lebih tinggi dan tingkat konversi yang lebih rendah

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian pakan dengan menggunakan jerami padi tanpa fermentasi dan jerami padi fermentasi dengan probiotik Starbio terhadap pertumbuhan

Sekalipun level penggunaan jerami padi fermentasi dengan probiotik Starbio dari keempat perlakuan berbeda tetapi tetap saja memberikan hasil yang sama terhadap konsumsi pakan domba,

IOFC didapat dengan cara pendapatan usaha peternakan yang didapat dari berat badan ternak (bobot potong – bobot awal) dikali harga ternak per kilogramnya dikurangi dengan biaya

Pengamatan ini dilakukan di kandang percobaan Balai Penelitian Ternak, Bogor selama 4 bulan dengan menggunakan 18 ekor ternak kambing PE jantan muda umur 5-6 bulan dengan bobot