• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kelayakan dan Optimasi Usaha Budidaya Bayam Merah dan Kangkung Hidroponik Dengan Sistem NFT (Nutrient Film Technique) di PT. Joy Farm, Depok.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Kelayakan dan Optimasi Usaha Budidaya Bayam Merah dan Kangkung Hidroponik Dengan Sistem NFT (Nutrient Film Technique) di PT. Joy Farm, Depok."

Copied!
169
0
0

Teks penuh

(1)

1

I.

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pertambahan penduduk yang pesat akan menuntut pemenuhan kebutuhan pangan yang besar. Sementara itu, dengan perkembangan zaman, telah terjadi perubahan fungsi lahan pertanian menjadi berbagai macam kawasan pemukiman dan perindustrian sehingga luas lahan pertanian menjadi berkurang. Dengan adanya permasalahan ini, maka manusia dituntut untuk menemukan dan mengembangkan suatu teknologi tepat guna agar kegiatan budidaya pertanian dapat tetap berjalan. Salah satu teknologi yang telah ada dan dikembangkan adalah hidroponik.

Hidroponik merupakan budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamnya. Hidroponik berasal dari bahasa latin yang terdiri dari kata hydro yang berarti air, dan kata ponos yang berarti kerja (Soeseno,1998). Jadi definisi hidroponik adalah pengerjaan atau pengelolaan air yang digunakan sebagai media tumbuh tanaman dan juga sebagai tempat akar tanaman tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamnya. Tanaman memperoleh hara dari larutan garam mineral yang diberikan langsung ke akar tanaman, sehingga tanaman lebih memfokuskan energinya untuk pertumbuhan daripada mencari dan memperebutkan unsur hara. Dari segi prinsip dasarnya, hidroponik merupakan suatu upaya merekayasa faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh bagi perkembangan dan pertumbuhan tanaman. Dengan demikian, diharapkan ketergantungan tanaman terhadap alam dapat diperkecil seminimal mungkin. Prinsip rekayasa faktor lingkungan bagi tanaman memberikan kondisi dimana kegiatan budidaya hidroponik memiliki kelebihan dibandingkan dengan budidaya secara konvensional. Beberapa kelebihan dari teknologi hidroponik antara lain seperti kualitas tanaman yang lebih seragam, nutrisi lebih efektif dan efisien, musim panen dapat diatur, serta pekerjaan yang relatif bersih dan praktis.

(2)

2 Teknik ini cocok sekali diterapkan di daerah berlahan sangat tidak subur. Sistem ini juga bisa diterapkan di dataran tinggi maupun rendah dengan tujuan akhir hasil panen berkualitas (Untung, 2000).

NFT merupakan metode budidaya yang akar tanamannya berada di lapisan air dangkal tersirkulasi yang mengandung nutrisi sesuai kebutuhan tanaman. Perakaran bisa jadi berkembang di dalam larutan nutrisi dan sebagian lainnya di atas permukaan larutan. Aliran larutan sangat dangkal, jadi bagian atas perakaran berkembang di atas air yang meskipun lembab tetap berada di udara (Chadirin, 2006).

Dengan berkembangnya teknologi hidroponik ini diharapkan kegiatan budidaya pertanian dapat tetap terus berjalan meskipun telah banyak perubahan fungsi lahan.

PT. Joy Farm merupakan perusahaan yang relatif baru yang merupakan mitra dari Parung Farm yang memproduksi bayam merah dan kangkung menggunakan sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT). PT. Joy Farm memiliki lahan kebun seluas ± 2000 m2 yang terletak di Jl.

Menceng Kelurahan Bedahan Baru, Sawangan Baru - Depok. PT. Joy Farm terletak pada 6o26’ LS dan 106o46’ BT dengan ketinggian ± 200 m dpl dan

topografi permukaan yang relatif datar. Kebun ini memiliki dua bangunan greenhouse, yaitu greenhouse untuk nursery dan greenhouse untuk budidaya. Greenhouse merupakan suatu bangunan yang memiliki struktur atap atau dinding yang bersifat tembus cahaya, memungkinkan cahayanya yang dibutuhkan tanaman bisa masuk ke dalam bangunan tetapi tanaman tetap dapat terhindar dari kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan seperti curah hujan yang deras, tiupan angin yang kencang atau keadaan suhu yang terlalu tinggi yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman (Nelson dalam Lieng, 1996). Sarana produksi lain yang dimiliki adalah jaringan sistem NFT, serta tangki penampungan dan pembuatan nutrisi.

(3)

3 Kinerja teknis sistem hidroponik merupakan faktor penting untuk menentukan layak atau tidaknya sistem tersebut untuk diterapkan. Prastyo (2004) melakukan evaluasi kelayakan jaringan NFT talang air berdasarkan parameter seperti keseragaman inlet dan outlet, keseragaman kedalaman larutan nutrisi, serta keseragaman bobot tanaman. Dari hasil penelitiannya diperoleh nilai keseragaman yang mencapai 90%, sehingga sistem tersebut layak untuk diterapkan. Evaluasi kelayakan teknis terhadap sistem NFT yang diterapkan di PT. Joy Farm masih perlu dilaksanakan.

Kegiatan budidaya dengan menggunakan teknologi hidroponik membutuhkan investasi yang besar dibanding dengan kegiatan budidaya secara konvensional, sehingga harus memperhatikan besarnya modal yang dimiliki serta kehati-hatian dalam mengalokasikan modal tersebut. Maka penilaian terhadap kelayakan finansial serta optimasi pada usaha tani tersebut juga perlu dilakukan agar usaha yang dijalani mendapatkan keuntungan yang maksimum.

B. TUJUAN

Tujuan penelitian ini adalah :

1. Mengevaluasi kelayakan teknis sistem hidroponik NFT (Nutrient Film Technique) dengan asbes lapis terpal yang diterapkan di PT. Joy Farm. 2. Melakukan analisis kelayakan finansial pada usaha budidaya bayam merah

dan kangkung dengan sistem hidroponik NFT (Nutrient Film Technique) di PT. Joy Farm.

(4)

4

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. BAYAM

Bayam merupakan salah satu spesies dari genus amaranthus yang tumbuh di daerah beriklim tropis atau sedang. Tanaman bayam berasal dari daratan Amerika. Sampai sekarang, tumbuhan ini sudah tersebar di daerah tropis dan subtropis seluruh dunia. Di Indonesia, bayam dapat tumbuh sepanjang tahun dan ditemukan pada ketinggian 5-2000 m dpl, tumbuh di daerah panas dan dingin, tetapi tumbuh lebih subur di dataran rendah pada lahan terbuka yang udaranya agak panas. Bayam menghendaki tanah yang subur dan gembur. Derajat kemasaman (pH) yang diinginkan berkisar 6-7 (Aziz, 2002).

Tanaman bayam memiliki struktur tegak atau agak condong, tingginya mencapai 0,4 - 1 m dan bercabang. Batang lemah dan berair, daun bertangkai, berbentuk bulat telur, lemas, panjang 5-8 cm, ujung tumpul, pangkal runcing, serta warnanya hijau, merah, atau hijau keputihan. Bunga dalam tungkal yang rapat, bagian bawah duduk di ketiak, bagian atas berkumpul menjadi karangan bunga di ujung tangkai dan ketiak bercabang, bunga berbentuk bulir.

Pada umumnya bayam dikonsumsi sebagai sayuran hijau. Salah satu jenis bayam yang dapat dimakan adalah bayam cabut (Amaranthus tricolour, L.). Spesies ini ada yang berdaun merah dan hijau (Burkill, 1975). Dalam bayam merah atau Amaranthus tricolor Linn terdapat vitamin A, B1, B2, C dan niacin. Juga terdapat mineral seperti zat besi, kalsium, mangan dan fosfor. Seperti bahan sayuran yang lain, bayam merah juga mengandung banyak serat dan di dalam daunnya terdapat karotenoid, klorofil saponin. Sementara pada batangnya ditemui alkaloid, flavonoid dan polifenol.

(5)

5

B. KANGKUNG

Kangkung merupakan spesies dari genus ipoemea. Ada dua jenis tanaman kangkung yang dikenal dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat luas yaitu kangkung air (Ipoemea aquatic Forsk) dan kangkung darat (Ipoemea reptans Poir). Kangkung air mempunyai daun panjang dengan ujung agak tumpul barwarna hijau kelam, bunganya berwarna putih kekuning-kuningan atau kemerah-merahan dan biasa ditanam di pinggir kolam, di rawa-rawa, atau tempat berlumpur. Kangkung darat mempunyai daun yang panjang dengan ujung runcing, berwarna hijau keputihan dan bunganya berwarna putih dan ditanam di tempat yang agak kering. Dalam tanaman kangkung terdapat vitamin A, B, dan C serta bahan-bahan mineral terutama zat besi yang berguna bagi pertumbuhan dan kesehatan.

Tanaman kangkung berasal dari daerah Asia dan terdapat luas di India, Asia Tenggara, Taiwan, dan Cina yang kemudian menyebar ke Fiji, Hawai dan Florida. Kangkung termasuk tanaman yang sanggup melakukan adaptasi dengan baik pada kondisi lingkungan dengan kisaran yang luas. Kangkung dapat hidup dengan baik dari ketinggian tempat di dataran medium 800 meter di atas permukaan laut hingga ke daerah tepi pantai. Tanaman kangkung dapat tumbuh sepanjang tahun, baik pada dataran tinggi maupun dataran rendah pada semua kondisi tanah. Kondisi tanah yang baik adalah tanah yang banyak mengandung bahan organik dengan kandungan air yang cukup. Derajat kemasaman (pH) yang diinginkan untuk tanaman kangkung adalah 6.5. (Subhan et al dalam Pamungkas, 2004).

(6)

6

C. HIDROPONIK NFT (Nutrient Film Technique)

Pada tahun 1973, Cooper mengembangkan teknik hidroponik dengan memakai air sebagai medium tanam yang diedarkan ke tanaman secara tipis, supaya bagian atas dari akar masih berada di udara dan mendapat oksigen yang cukup. Fungsi medium tanah antara lain sebagai penyedia unsur hara, oksigen, air, dan sebagai tempat tegaknya tanaman. Pada teknik NFT, tanaman dipelihara dalam saluran panjang yang sempit, terbuat dari plat logam tipis tahan karat, yang mudah dibentuk. Jika tanaman dalam saluran tersebut dialiri air yang mengandung unsur makanan secara dangkal, maka di sekitar akar akan membentuk lapisan tipis (film) larutan mineral sebagai makanan tanaman. Oleh karena itu, teknik bercocok tanamnya disebut dengan nutrient film technique (Cooper dalam Maryam, 2004).

Nutrient Film Technique (NFT) adalah metode budidaya yang akar tanamannya berada di lapisan air dangkal tersirkulasi yang mengandung nutrisi sesuai kebutuhan tanaman. Beberapa syarat untuk membuat selapis nutrisi antara lain : kemiringan talang tempat mengalirnya larutan nutrisi ke bawah benar-benar seragam, kecepatan aliran nutrisi masuk tidak boleh terlalu cepat dipertimbangkan dengan kemiringan talang, lebar talang memadai untuk menghindari terbendungnya aliran nutrisi oleh kumpulan akar, dasar talang harus rata dan tidak melengkung untuk mencapai kedalaman larutan nutrisi yang disyaratkan (Chadirin, 2006).

Bahan untuk saluran disediakan dalam berbagai bentuk dan penampang lintang oleh berbagai pabrik peralatan NFT. Di antaranya adalah berpenampang segitiga. Bentuk tersebut dapat mencegah penguapan cairan yang disalurkan. Saluran tersebut harus terbuat dari lembaran stainless steel atau alumunium yang cukup tebal dasarnya, sehingga tidak akan bengkok atau berlekuk (Cooper dalam Maryam, 2004).

(7)

7 produsen yang membuat talang khusus NFT dengan ukuran tersebut. Para pengguna NFT di Indonesia memanfaatkan talang air rumah tangga yang lebarnya 13-17 cm dengan panjang 4 m yang disambung hingga mencapai 12 m. Talang air rumah tangga dipilih sebagai alternatif penerapan NFT karena bagian dasarnya berbentuk segi empat. Hal ini berpengaruh terhadap ketersediaan oksigen bagi tanaman. Bahan lain yang berbentuk bulat sebaiknya tidak digunakan, karena bentuk ini akan memungkinkan air menggenang di tengah sehingga terjadi de-oksigenasi (Untung, 2000).

D. ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS NFT (Nutrient Film Technique)

Kinerja teknis sistem hidroponik merupakan faktor penting dalam menentukan layak atau tidaknya sistem tersebut untuk diterapkan (Prastyo, 2004). Keseragaman irigasi/nutrisi yang diserap oleh tanaman merupakan parameter yang harus diperhatikan dalam sistem budidaya secara hidroponik dan nilainya harus sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman tersebut, karena menentukan kualitas produksi tanaman yang dihasilkan. Selain itu keseragaman irigasi/nutrisi juga menentukan tingkat efisiensi sistem budidaya yang diterapkan, sehingga dapat diketahui baik atau tidaknya sistem hidroponik tersebut untuk diterapkan ( Pamungkas, 2004).

Parameter umum yang digunakan untuk mengevaluasi keseragaman penyebaran air adalah koefisien keseragaman irigasi (CU/coefficient of uniformity) dengan rumus (Keller and Bleisner, 1990) :

Cu = 1 - x 100% ………... (1)

Dimana :

CU = Koefisien keseragaman (%). n = Jumlah titik pengamatan.

Xi = Pengukuran pada pengamatan ke i (i = 1,2,3,...,n). Xr = Nilai rata-rata hasil pengamatan.

{

∑ Xi - Xr

nXr

}

(8)

8 Keseragaman dari penyebaran air akan menentukan efisiensi distribusi air. Jika nilai keseragaman penyebaran air rendah, maka efisiensi distribusi air juga rendah. Hubungan antara nilai CU, persentase areal yang dibasahi dan nilai efisiensi distribusi dapat dilihat pada Tabel 1 (Keller and Bleisner, 1990).

Tabel 1. Hubungan CU dengan efisiensi distribusi. Area yang cukup terairi (%)

CU (%) 95 90 85 80 75 70 65 60 50

Efisiensi Distribusi (%)

94 88 90 92 94 95 96 97 98 100

92 83 87 90 92 93 95 96 97 100

90 79 84 87 89 92 93 95 97 100

88 75 81 84 87 90 92 94 96 100

86 71 77 82 85 88 91 93 96 100

84 67 74 79 83 86 89 92 95 100

82 63 71 77 81 85 88 91 94 100

80 59 68 74 79 83 87 90 94 100

78 55 65 71 77 81 86 89 93 100

76 50 61 69 75 80 84 88 92 100

74 46 58 66 73 78 83 87 92 100

72 42 55 64 70 76 82 86 91 100

70 38 52 61 68 75 80 85 90 100

68 34 49 58 66 73 79 85 90 100

66 30 45 56 64 71 78 84 89 100

56 9 29 43 54 63 71 79 86 100

(9)

9

Tabel 2. Kinerja Teknis sistem NFT (Prastyo, 2004)

Bedeng

Sedangkan penelitian Maryam pada tahun 2004 menunjukkan nilai rata-rata keseragaman irigasi sebesar 78.26 %. Rendahnya nilai keseragaman ini disebabkan karena faktor teknis yaitu lubang pada lateral tidak seragam dan konstruksi pipa manifold tidak datar.

E. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

Dalam melakukan analisis kelayakan finansial dilakukan analisis biaya pokok untuk mengetahui biaya yang diperlukan untuk menghasilkan setiap unit produk. Biaya pokok dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

K = Kapasitas produksi (unit produk/jam) X = jam kerja (jam/tahun)

(10)

10 Dalam perhitungan biaya pokok terdapat biaya penyusutan dan bunga modal, penyusutan merupakan penurunan nilai dari suatu alat/mesin akibat dari pertambahan umur pemakaian. Penyusutan dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

D = ... (3)

Keterangan :

D = Biaya penyusutan tiap tahun (Rp/tahun). P = Harga awal (Rp).

S = Harga akhir (Rp).

L = Perkiraan umur ekonomis (tahun).

Bunga modal merupakan bunga yang diterima apabila modal yang ada disimpan di bank. Bunga modal dari investasi pada mesin pertanian diperhitungkan sebagai biaya, karena uang yang dipergunakan untuk membeli alat tidak bisa dipergunakan untuk usaha lain. Bunga modal dapat dihitung dengan persamaan berikut :

I = ...(4)

Keterangan :

P = Harga awal (Rp).

i = Total tingkat bunga modal (i%/tahun). I = Total bunga modal (Rp/tahun).

N = Umur ekonomis alat (tahun).

Selanjutnya dalam analisis finansial terdapat beberapa indikator yang disebut kriteria investasi untuk mengukur kelayakan proyek. Kriteria investasi tersebut yaitu : Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net B/C dan Gross B/C.

P – S

L

(11)

11 Net Present Value (NPV) merupakan perbedaan antara nilai sekarang dari manfaat dan biaya. Dengan demikian, apabila NPV bernilai positif, dapat diartikan sebagai besarnya keuntungan yang diperoleh dari proyek. Sebaliknya NPV yang bernilai negatif menunujukan kerugian (Pramudya dan Dewi, 1992). Selisih antara manfaat dan biaya dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

NPV = ∑ ………..…………...(5)

Dimana :

NPV = Net Present Value Bt = manfaat tahun ke-t

Ct = biaya tahun ke-t i = Tingkat suku bunga t = umur proyek

Dalam metode NPV terdapat tiga kriteria kelayakan investasi, yaitu : 1. NPV > 0, maka proyek dapat dilaksanakan atau proyek dapat dilaksanakan

dengan memperoleh keuntungan sebesar nilai NPV.

2. NPV < 0, maka proyek tidak dapat dilaksanakan dan dipertimbangkan untuk mencari alternatif proyek lain yang mungkin lebih menguntungkan. 3. NPV = 0, maka proyek tidak untung dan tidak rugi, jadi tergantung kepada

penilaian subyektif pengambil keputusan.

Internal Rate of Return (IRR) merupakan tingkat suku bunga yang menjadikan NPV suatu proyek sama dengan nol. IRR biasa dinyatakan dalam persen (%). Dalam perhitungan nilai IRR dilakukan dengan cara mencoba-coba (trial dan error). Suatu usaha yang layak dilaksanakan akan mempunyai nilai yang lebih besar dari tingkat bunga komersial yang berlaku. Apabila nilai IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku maka usaha tidak layak untuk dilaksanakan. Persamaan yang digunakan dalam menghitung IRR adalah sebagai berikut :

(12)

12 IRR = i’ + (i”-i’) ………..(6)

Dimana :

IRR = Internal Rate of Return

i’ = Tingkat suku bunga pendugaan pertama. i” = Tingkat suku bunga pendugaa kedua NPV’ = Nilai NPV pada tingkat suku bunga i’ NPV” = Nilai NPV pada tingkat suku bunga i”

Nilai Net B/C menunjukkan besarnya tingkat tambahan manfaat pada setiap tambahan biaya sebesar 1 rupiah. Net B/C merupakan angka perbandingan antara jumlah NPV positif sebagai pembilang dengan jumlah NPV negatif sebagai penyebut. Net B/C dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Net B/C = ………...(7)

Pengambilan keputusan dapat dilakukan berdasarkan kriteria, bahwa jika nilai B/C ≥ 1 maka usaha layak secara finansial tetapi jika B/C < 1 maka usaha tidak layak secara finansial.

(13)

13

F. PROGRAM LINIER

Program linear adalah salah satu teknik dari riset operasi untuk memecahkan persoalan optimasi (maksimisasi atau minimisasi) dengan menggunakan persamaan atau pertidaksamaan linier dalam rangka untuk mencari pemecahan yang optimum dengan memperhatikan pembatasan-pembatasan yang ada (Soekartiwi, 1996).

Masalah optimasi bertujuan untuk memaksimumkan atau meminimumkan sebuah besaran tertentu yang disebut tujuan (objektif), yang bergantung pada sejumlah peubah masukan.

Model program linier memiliki dua macam fungsi, yaitu fungsi tujuan dan fungsi kendala. Fungsi tujuan merupakan suatu tujuan yang akan dicapai dalam optimasi, sedangkan fungsi kendala merupakan masalah keterbatasan sumberdaya yang harus dipecahkan untuk mencapai suatu hasil yang optimal.

Agar suatu persoalan dapat dipecahkan dengan teknik program linier, maka persoalan tersebut harus dapat dipecahkan secara matematis, jelas fungsi tujuan yang linier yang harus dibuat optimum, serta pembatasan-pembatasan dinyatakan dalam ketidaksamaan linier.

Setelah variabel keputusan, fungsi tujuan, dan fungsi kendala ditentukan maka suatu permasalahan tersebut dapat diringkas menjadi suatu persamaan matematik. Solusi dari model matematik yang dihasilkan akan memberikan berapa jumlah sumberdaya yang optimal untuk memaksimumkan keuntungan atau meminimumkan biaya ( Mulyono, 1991).

1. Bentuk umum model Program Linear

(14)

14 Maksimumkan atau minimumkan :

a. Fungsi tujuan : Z = c1x1 + c2x2 + …….+ cnxn………. b. Fungsi kendala : a11x1 + a12x1+……+ an1x≤ b1 (=;≥)

a21x2 + a22x2+ ……+ an1x≤ b2 (=;≥) …… + ……..+ ……+ ……≤ …… an1x+ an2x + ……+ anmx ≤ bm (=;≥) c. Asumsi : x1, x2, ……, xn ≥ 0

Keterangan :

Xn = Banyaknya kegiatan ke-n, dimana n = 1, 2, ….., m. Berarti di sini terdapat m variabel keputusan.

Z = nilai fungsi tujuan.

Cn = sumbangan per unit kegiatan n terhadap tujuan, untuk masalah maksimisasi cn menunjukan keuntungan atau penerimaan per unit, sementara untuk masalah minimisasi ini menunjukan biaya per unit.

bm = jumlah sumberdaya ke i (i = 1, 2, …., m). Berarti terdapat m jenis sumberdaya.

anm = banyaknya sumberdaya n yang diperlukan untuk menghasilkan satu unit barang ke m.

2. Asumsi Model Program Linear

Model Program Linear mengandung asumsi-asumsi implisit tertentu yang harus dipenuhi agar definisinya sebagai suatu masalah LP menjadi absah. Asumsi-asumsi dasar yang digunakan dalam program linier adalah (Mulyono, 1991) :

a. Linearity

(15)

15 b. Additivity

Nilai tujuan kegiatan tidak saling mempengaruhi. Asumsi ini berarti bahwa nilai tujuan kegiatan tidak saling mempengaruhi atau dianggap bahwa kenaikan dari tujuan yang diakibatkan oleh kenaikan suatu kegiatan dapat ditambahkan tanpa mempengaruhi bagian nilai tujuan yang diperoleh dari kegiatan lain.

c. Divisibility

Asumsi ini berarti bahwa nilai solusi yang diperoleh tidak harus berupa bilangan bulat. Keluaran yang dihasilkan oleh setiap kegiatan dapat berupa bilangan pecahan. Karena itu variabel keputusan merupakan variabel kontinyu sebagai lawan dari variabel diskrit atau bilangan bulat.

d. Deterministik

LP berarti secara tak langsung mengansumsikan suatu masalah keputusan dalam suatu kerangka statis di mana semua parameter diketahui dengan kepastian.

3. Penyelesaian Model LP

Masalah LP dapat diilustrasikan dan dipecahkan secara grafik jika hanya memiliki dua variabel keputusan. Suatu cara sederhana untuk menggambarkan masing-masing persamaan garis adalah dengan menetapkan salah satu variabel dalam suatu persamaan dengan nol dan kemudian mencari nilai variabel yang lain.

(16)

16 4. Penelitian terdahulu

Model LP telah banyak digunakan pada penelitian-penelitian yang bertujuan untuk melakukan optimasi produksi, termasuk produksi pertanian.

Sutarya (2003), meneliti tentang optimasi produksi dan distribusi sayuran di PD. Pacet Segar, Cianjur, Jawa Barat. Penelitian ini menekankan terhadap bagaimana perusahaan mampu bersaing di pasar bisnis sayuran dengan mengetahui kombinasi optimal sayuran yang diproduksi di PD. Pacet Segar. Pendekatan yang digunakan oleh penulis adalah dengan linear programming, dengan bantuan perangkat lunak lindo. Hasil analisis menunjukkan bahwa distribusi sayuran buah, daun, umbi, bunga, tunas, dan sayuran unggulan ke beberapa swalayan tertentu belum optimal.

Sondang (2004), meneliti tentang optimasi produksi anggrek yang dilaksanakan di Parung Farm. Peneliti menggunakan pendekatan linear programming dengan perangkat lunak (software) Lindo. Fungsi tujuan yang ditetapkan bertujuan untuk mengetahui tingkat produksi dan kombinasi yang optimal sehingga memberikan pendapatan yang maksimal dari kegiatan pengadaan tanaman anggrek di Parung Farm.

(17)

17

III.

METODOLOGI PENELITIAN

A. WAKTU DAN TEMPAT

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Mei sampai bulan Juli 2008 di PT. Joy Farm, Jl. Menceng Kelurahan Bedahan Baru, Sawangan Baru, Depok-Jawa Barat. Pengolahan data dilakukan di Bagian Sistem dan Manajemen Mekanisasi Pertanian, Departemen Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

B. PENGUMPULAN DATA

Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diambil dari hasil wawancara, diskusi, pengamatan dan pengukuran di lapangan. Sedangkan data sekunder meliputi arsip dan literatur perusahaan.

Untuk melakukan evaluasi kelayakan teknis, maka data yang diperlukan berasal dari pengukuran yang meliputi keseragaman pH, keseragaman EC, keseragaman kedalaman aliran, keseragaman inlet dan outlet serta keseragaman bobot tanaman. Alat dan bahan yang digunakan untuk pengukuran-pengukuran tersebut adalah :

1. EC meter. 2. pH meter.

3. Jaringan irigasi NFT.

4. Larutan nutrisi dan bak nutrisi. 5. Timbangan.

6. Pita ukur dan penggaris. 7. Gelas ukur.

8. Stopwatch.

9. Perlengkapan kerja seperti alat tulis, kalkulator, dan komputer.

(18)

18

Gambar 1. Skema jaringan NFT PT. Joy Farm. Ket :

1. Bed produksi yang terbuat dari lembaran asbes. 2. Pipa inlet.

3. Pipa ke bak nutrisi. 4. Arah aliran nutrisi.

Untuk melakukan analisis kelayakan finansial, maka data yang diperlukan adalah data produksi dan jenis biaya. Data produksi meliputi jumlah peralatan, kapasitas peralatan, jumlah tenaga kerja, jumlah bahan baku yang digunakan. Jenis biaya yang dikumpulkan antara lain biaya peralatan, biaya bahan baku.

Untuk melakukan optimasi produksi maka data yang diperlukan adalah data keuntungan penjualan masing-masing produk, biaya dan jumlah yang tersedia untuk masing-masing sumber daya.

C. ANALISIS DATA

Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi evaluasi kelayakan teknis, kelayakan finansial, dan optimasi produksi.

1. Evaluasi kelayakan teknis

Untuk melakukan evaluasi kelayakan teknis pada teknik hidroponik yang diterapkan dilakukan perhitungan keseragaman irigasi

1

2

3 Pompa

Bak

Nutrisi 1

(19)

19 dengan menghitung nilai variasi dari nilai konduktifitas listrik larutan (EC) dan pH larutan nutrisi pada masing-masing inlet dan outletnya, variasi nilai debit inlet dan outletnya, variasi kedalaman aliran, serta variasi bobot tanaman yang dihasilkan yang dihitung dengan menggunakan persamaan (1).

2. Analisis kelayakan finansial

Analisis kelayakan finansial yang dilakukan meliputi analisis biaya pokok, analisis Net Present Value ( NPV), analisis Benefit-Cost ratio (BC ratio) dan analisis Internal Rate of Return (IRR).

a. Analisis Biaya Pokok

Dalam analisis ini, biaya pokok tersebut diarahkan untuk perhitungan biaya yang dikeluarkan dalam usaha budidaya bayam merah dan kangkung dalam satuan Rp/kg. Dalam perhitungan biaya pokok ini terdapat komponen biaya tetap dan tidak tetap. Biaya pokok dapat dihitung menggunakan persamaan (2). Dalam perhitungan biaya pokok dihitung pula penyusutan dengan persamaan (3) dan bunga modal dengan persamaan (4).

b. Net Present Value ( NPV)

Apabila NPV bernilai positif dapat diartikan juga sebagai besarnya keuntungan yang diperoleh dari suatu usaha. Sebaliknya jika NPV bernilai negatif menunjukan kerugian atau usaha dikatakan tidak layak. Selisih manfaat dan biaya dihitung menggunakan persamaan (5).

c. Tingkat Pengembalian (Internal Rate of Return)

(20)

20 d. Rasio manfaat dan biaya (Benefit Cost Ratio)

Rasio manfaat dan biaya merupakan perbandingan antara nilai sekarang (present value) dari benefit yang positif dengan nilai sekarang (present value) dari benefit yang negatif. Perhitungan rasio manfaat dan biaya menggunakan persamaan (7) dan (8).

3. Optimasi produksi

Optimasi produksi budidaya bayam merah dan kangkung dengan sistem hidroponik NFT dilakukan dengan menerapkan pemrograman linear sebagai pemecahan masalah. Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :

a. Mempelajari latar belakang faktor-faktor perilaku dari parameter yang mempengaruhi sehingga mempermudah dalam pendefinisian masalah. b. Mendefinisikan masalah sebenarnya sehingga mendukung

terbentuknya suatu tujuan yang jelas.

c. Mempelajari sifat-sifat faktor produksi yang mempengaruhi sistem produksi dan parameter-parameter yang dapat diukur atau dihitung sehingga mempermudah pengambilan data primer.

Fungsi tujuan maksimum keuntungan

PT. Joy Farm memproduksi dua jenis sayuran yaitu bayam merah dan kangkung. Keuntungan dari masing-masing sayuran dihitung dengan cara mencari selisih antara harga jual dan biaya produksi. Yang dimaksud biaya produksi di sini adalah biaya pokok untuk memproduksi bayam merah dan kangkung.

(21)

21 Fungsi tujuan maksimisasi keuntungan adalah sebagai berikut :

Maksimumkan Z = C1X1 + C2X2

Dimana :

Z = Keuntungan hasil produksi (Rp/bulan).

C = Keuntungan masing-masing sayuran (Rp/bedeng).

X = Jumlah produksi masing-masing sayuran (bedeng/bulan).

Fungsi pembatas anggaran biaya untuk pembelian nutrisi dan bibit n1X1 + n2X2 ≤ N

Dimana :

n = Biaya pemakaian nutrisi dan bibit untuk masing-masing sayuran (Rp/bedeng). Nilai ini dihitung berdasarkan ketersediaan modal untuk pembelian nutrisi dan bibit.

N = Anggaran biaya untuk nutrisi dan bibit (Rp/bulan). X = Jumlah produksi masing-masing sayuran (bedeng/bulan).

Fungsi pembatas anggaran biaya untuk biaya listrik pemakaian pompa air p1X1 + p2X2 ≤ P

Dimana :

p =Biaya pemakaian listrik pompa air untuk masing- masing sayuran (Rp/bedeng). Nilai ini dihitung berdasarkan lama pemakaian pompa air dan daya yang digunakan oleh pompa tersebut

P = Anggaran biaya listrik pompa secara keseluruhan (Rp/bulan). X = Jumlah produksi masing-masing sayuran (bedeng/bulan).

Fungsi pembatas greenhouse X1 + X2 ≤ G

Dimana

G = Kapasitas greenhouse (bedeng)

(22)

22 Fungsi pembatas biaya tenaga kerja.

t1X1 + t2X2 ≤ T

Dimana

t = biaya tenaga kerja masing-masing sayuran (Rp/bedeng)

T = jumlah keseluruhan biaya tenaga kerja (Rp/bulan). X = Jumlah produksi masing-masing sayuran (bedeng/bulan).

(23)

23

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. EVALUASI KELAYAKAN TEKNIS

Parameter yang digunakan untuk melakukan evaluasi kelayakan teknis antara lain adalah keseragaman debit aliran, keseragaman konduktivitas listrik (EC), keseragaman derajat keasaman (pH), keseragaman kedalaman aliran, serta keseragaman bobot tanaman. Nilai keseragaman dapat dihitung dengan besarnya nilai koefisien keseragaman irigasi (CU/Coefficient Uniformity).

1. Keseragaman Debit Aliran

Pengukuran debit aliran pada sistem hidroponik NFT yang diterapkan di PT. Joy Farm terdiri dari debit inlet dan outlet pada masing-masing tanaman. CU inlet dan outlet setiap bed, dihitung dengan menggunakan data hasil pengukuran debit pada masing-masing bed kemudian dihitung dengan persamaan (1).

Tabel 3 dan Tabel 4 menunjukkan hasil pengukuran debit inlet pada bed-bed tanaman kangkung dan bayam merah.

Tabel 3. Data pengukuran debit inlet pada jaringan NFT kangkung.

(24)

24

Tabel 4. Data pengukuran debit inlet pada jaringan NFT bayam merah.

Bed Titik

Dari Tabel 3 dan Tabel 4 dapat dilihat bahwa hasil pengukuran debit

inlet pada jaringan NFT kangkung dan bayam merah berkisar antara 2 ml/detik – 13 ml/detik. Besar kecilnya nilai debit ini dipengaruhi oleh

kondisi jaringan NFT itu sendiri. Kebersihan pada pipa aliran nutrisi dan besarnya lubang inlet merupakan hal penting yang dapat mempengaruhi debit aliran. Keseragaman debit inlet pada jaringan NFT kangkung dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Nilai CU debit inlet pada jaringan NFT kangkung.

Bed

Keseragaman debit inlet tiap bed (%)

Rata-rata Standar Deviasi

(25)

25 adalah bed 4, dan yang terendah adalah bed 1. Namun jika dilihat berdasarkan nilai Standar Deviasinya maka bed 2 memiliki nilai keseragaman yang baik dari hari ke harinya. Sistem NFT yang diterapkan oleh PT. Joy Farm adalah closing loop, maka seharusnya besarnya air yang dialirkan adalah sama. Besar dan kecilnya nilai keseragaman tersebut disebabkan karena kondisi lubang inlet yang berbeda pada tiap bed. Pada bed 4 aliran air terlihat lebih baik dibandingkan pada bed 1. Hal ini dapat disebabkan oleh diameter dan posisi lubang inlet dari bed tersebut. Keseragaman debit inlet pada jaringan NFT bayam merah dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Nilai CU debit inlet pada jaringan NFT bayam merah.

Bed

Keseragaman debit inlet tiap bed (%)

(26)

26 tidak seragam sehingga menyebabkan aliran yang dihasilkanpun tidak seragam seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2. Selain itu banyaknya kotoran dan lumut di dalam pipa juga dapat menyebabkan lubang inlet tersumbat sehingga dapat memperkecil volume aliran dan akhirnya menyebabkan ketidakseragaman pada aliran inletnya.

Gambar 2. Aliran air pada inlet bed.

Untuk nilai debit outlet pada bed-bed tanaman kangkung dan bayam merah dapat dilihat pada Tabel 7 dan Tabel 8.

Tabel 7. Data pengukuran debit outlet pada jaringan NFT kangkung.

Bed Titik

Debit outlet tiap bed (ml/detik) Pengukuran 3 hari ke-

1 2 3 4 5

1 1 4.78 6.13 5.14 6.37 4.70 2 4.81 4.11 4.92 7.14 4.37 3 5.54 4.69 5.35 7.43 4.90 4 2.69 5.52 5.32 6.66 3.87 2 1 5.86 5.95 5.84 7.18 7.20 2 6.23 6.97 4.00 7.00 7.61 3 4.89 6.02 6.23 7.00 7.60 4 5.79 5.93 6.77 6.41 7.00 3 1 6.32 6.37 5.61 5.37 8.71 2 5.65 5.05 4.69 5.20 7.37 3 5.62 5.28 4.29 4.84 9.92 4 5.54 5.28 5.40 5.11 9.12 4 1 5.42 4.74 4.96 4.06 12.99

(27)

27

Tabel 8. Data pengukuran debit outlet pada jaringan NFT bayam merah.

Bed Titik

Dari Tabel 7 dan Tabel 8 dapat dilihat besarnya debit outlet berkisar

antara 2 ml/detik – 13 ml/detik untuk jaringan NFT kangkung dan 2 ml/detik – 12 ml/detik untuk jaringan NFT bayam merah. Besarnya debit

aliran pada outlet bervariasi baik pada jaringan NFT kangkung maupun pada jaringan NFT bayam merah. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan akar tanaman yang berada di sepanjang jalur aliran nutrisi. Keseragaman debit outlet pada jaringan NFT kangkung dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Nilai CU debit outlet pada jaringan NFT kangkung.

Bed

Keseragaman debit outlet tiap bed (%)

Rata-rata Standar Deviasi

(28)

28 Nilai keseragaman rata-rata tertinggi adalah bed 4 dan yang terendah adalah bed 1. Hal ini mengikuti pada inletnya, di mana keseragaman lubang inlet akan mempengaruhi aliran inletnya dan akhirnya juga akan mempengaruhi aliran outletnya. Selain itu pertumbuhan akar tanaman juga akan mempengaruhi aliran outletnya. Keseragaman debit outlet pada jaringan NFT bayam merah dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Nilai CU debit outlet pada jaringan NFT bayam merah.

Bed

Keseragaman debit outlet tiap bed (%)

Rata-rata Standar Deviasi

Dari Tabel 10 dapat dilihat bahwa nilai koefisien keseragaman outlet pada jaringan NFT bayam merah berkisar antara 77 % - 95 %. Jika dilihat dari rata-rata keseragamannya, nilai tertinggi adalah bed 3 dan yang terendah adalah bed 1. Seperti yang terjadi pada jaringan NFT kangkung, bahwa nilai koefisien keseragaman pada outlet ini tidak jauh berbeda dengan inletnya karena debit aliran pada inlet akan mempengaruhi debit pada outletnya.

Jika kita bandingkan antara kedua jaringan NFT tersebut maka dapat dilihat bahwa nilai keseragaman aliran pada jaringan NFT kangkung lebih baik daripada jaringan NFT bayam merah. Hal ini disebabkan karena kondisi lubang inlet pada jaringan NFT kangkung lebih baik dibandingkan dengan jaringan NFT bayam merah, baik dari segi keseragaman diameter lubang, posisi lubang dan kebersihannya. Dilihat dari nilai keseragamannya, kedua jaringan NFT tersebut sudah baik, namun perlu dilakukan pemeriksaan secara rutin agar debit yang dihasilkan besarnya tetap.

(29)

29 kebersihan aliran pipa pada inlet NFT asbes lebih baik dari NFT talang air sehingga diperoleh nilai keseragaman yang lebih tinggi.

2. Keseragaman Konduktifitas listrik (EC)

Dalam larutan, kation akan mencari kutub negatif anoda, sedangkan anion akan mencari kutub positif katoda. Penghantaran listrik ini disebut dengan konduktifitas atau biasa disebut elektro konduktifitas (EC, electro conductivity). Pengukuran EC dilakukan dengan menggunakan EC-meter seperti pada Gambar 3. Pengukuran keseragaman EC dilakukan untuk menentukan tingkat keseragaman daya serap tanaman terhadap ion-ion yang terkandung dalam larutan nutrisi.

Tabel 11 menyajikan data hasil pengukuran EC pada inlet dan outlet jaringan NFT kangkung. Dari tabel tersebut dapat dilihat besarnya EC pada inlet dan outlet jaringan NFT kangkung berkisar antara 2 mS/cm – 3.5 mS/cm, sedangkan standar nilai EC yang diterapkan oleh PT. Joy Farm untuk tanaman kangkung adalah 3 mS/cm – 3.5 mS/cm. Dalam hal ini penggunaan nilai EC harus lebih diperhatikan agar nilai EC masih berada pada batas yang diharapkan.

(30)

30

Tabel 11. Data pengukuran EC pada jaringan NFT kangkung.

Jam pengukuran meningkat. Hal ini disebabkan karena tingginya suhu di dalam greenhouse yang dapat mempengaruhi nilai EC. Penurunan nilai EC dapat dilakukan dengan cara menambahkan air pada bak nutrisi. Nilai keseragaman EC pada jaringan NFT kangkung dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Nilai CU EC pada jaringan NFT kangkung.

Titik

Keseragaman EC (%)

Rata-rata

Pengukuran 3 hari ke- Standar Deviasi

1 2 3 4 5

Inlet 94.01 93.39 88.96 88.87 97.99 92.66 3.84 Outlet 94.02 93.23 89.02 88.83 98.02 92.02 3.70

Dari Tabel 12 tersebut diketahui bahwa nilai keseragaman EC pada jarigan NFT kangkung berkisar antara 88% - 98%. Nilai keseragaman ini tidak berbeda antara inlet dan outletnya.

(31)

31 disajikan pada Tabel 14 dan Tabel 15.

Tabel 14. Data pengukuran EC pada inlet jaringanNFT bayam merah.

Jam Pengukuran EC inlet (mS/cm) Pengukuran 3 hari ke-

1 2 3 4 5 6 7

Tabel 15. Data pengukuran EC pada outlet jaringan NFT bayam merah.

Jam Pengukuran EC outlet (mS/cm) Pengukuran 3 hari ke-

1 2 3 4 5 6 7

(32)

32 Dari Tabel 14 dan Tabel 15, dapat dilihat bahwa penggunaan nutrisi yang dilakukan oleh PT. Joy Farm lebih besar dari standar yang ada. Standar yang dilakukan oleh PT. Joy Farm dalam menggunakan nutrisi adalah 2 mS/cm - 3 mS/cm, sedangkan standar yang ada untuk EC bayam adalah 1.4 mS/cm - 1.8 mS/cm (Tabel 13).

Untuk dapat mengetahui gambaran mengenai nilai EC yang diperoleh selama pengukuran, kita bisa melihatnya pada grafik yang disajikan pada Gambar 4 dan Gambar 5.

Ket : : Kebutuhan EC ( PT. Joy Farm)

Gambar 4. Grafik fluktuasi nilai EC pada nutrisi kangkung.

Ket : : Kebutuhan EC (PT. Joy Farm)

(33)

33 Gambar 4 menunjukkan fluktuasi nilai EC larutan nutrisi pada jaringan NFT kangkung dalam sehari pengukuran yang dilakukan dari jam 08.00 sampai 16.00 WIB. Berdasarkan grafik tersebut nilai EC berkisar antara 2.76 mS/cm – 3.45 mS/cm. Nilai EC berada di luar batas kebutuhan nilai EC terjadi pada pagi hari, yaitu pada pukul 08.00 dan 09.00, dimana pada pagi hari tersebut belum dilakukan penambahan nutrisi sehingga nilai EC masih rendah.

Gambar 5 menunjukkan fluktuasi nilai EC larutan nutrisi pada jaringan NFT bayam merah. Nilai EC pada nutrisi bayam merah sudah

berada dalam area kebutuhan nilai EC, yaitu berkisar antara 2 mS/cm – 3 mS/cm. Nilai keseragamannya dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16. Nilai CU EC pada jaringan NFT bayam merah.

Titik

Keseragaman EC (%)

Rata-rata

Pengukuran 3 hari ke- Standar Deviasi

1 2 3 4 5 6 7

Inlet 89.54 94.91 90.36 97.40 89.27 68.79 92.95 89.03 9.42 Outlet 89.26 95.14 90.35 97.22 89.16 68.78 92.72 88.95 9.39

Dari Tabel 16 dapat diketahui bahwa nilai koefisien keseragaman EC pada bed bayam berkisar antara 68 % - 97 %. Dari Kedua jaringan NFT, baik kangkung dan bayam merah masih terdapat nilai keseragaman yang berada di bawah 90 %, hal ini disebabkan karena adanya penambahan air dan larutan nutrisi pada saat irigasi berlangsung sehingga nilai EC berubah. Menjaga nilai EC agar tetap pada nilai yang sesuai kebutuhan tanaman sangat penting dilakukan, namun pada kenyataannya pengontrolan pada nilai EC masih perlu diperhatikan.

3. Keseragaman Derajat Keasaman (pH)

Derajat keasaman atau pH merupakan logaritma negatif pangkat sepuluh dari grammol H+/liter. Batas terendah dari pH ini adalah angka 0,

(34)

34 mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Dari hasil pengukuran tersebut nilai keseragaman pH disajikan pada Tabel 18.

Tabel 17. Data pengukuran pH kangkung.

Jam

Tabel 18. CU pH pada jaringan NFT kangkung.

Titik

Keseragaman pH (%)

Rata-rata

Pengukuran 3 hari ke- Standar Deviasi

1 2 3 4 5

Inlet 94.08 97.49 98.62 95.07 98.06 96.67 1.99 Outlet 94.10 97.51 98.85 95.12 98.01 96.72 2.24

(35)

35 Pada Tabel 19 dan Tabel 20 dapat dilihat data pengukuran pH bayam. Nilai yang di dapat juga masih ada yang melebihi batasnya sehingga akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Nilai keseragaman pH pada bayam merah disajikan pada Tabel 21.

Tabel 19. Data pengukuran pH inlet bayam

Jam Pengukuran pH inlet bayam Pengukuran 3 hari ke-

1 2 3 4 5 6 7

Tabel 20. Data pengukuran pH outlet bayam.

Jam Pengukuran pH outlet bayam Pengukuran 3 hari ke-

1 2 3 4 5 6 7

Tabel 21. CU pH pada jaringan NFT bayam merah.

Titik

Keseragaman pH (%)

Rata-rata

Pengukuran 3 hari ke- Standar Deviasi

1 2 3 4 5 6 7

(36)

36 Pada bayam merah seperti yang terlihat pada Tabel 21, diketahui bahwa nilai keseragaman pH berkisar antara 94% - 98%, dengan nilai rata-rata 96%. Hal ini juga menandakan bahwa daya larut unsur-unsur hara relatif seragam pada seluruh tanaman namun besarnya nilai pH harus tetap diperhatikan agar tanaman dapat tumbuh optimal.

4. Keseragaman kedalaman aliran

Kedalaman aliran pada media NFT merupakan tempat akar tanaman untuk menyerap unsur hara yang berada dalam larutan. Kedalaman aliran ini merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam merancang sistem hidroponik NFT.

Kedalaman aliran larutan yang diharapkan adalah 3 - 4 mm. Ketentuan ini diambil dengan pertimbangan bahwa kandungan oksigen larutan yang terbawah yang terdapat di kolam sedalam 1 meter hanya sekitar 1 ppm. Semakin ke atas atau berdekatan dengan udara, maka semakin tinggi konsentrasi oksigen terlarutnya (Sutiyoso, 2004).

Pengukuran yang dilakukan pada penelitian ini hanya dapat dilakukan pada inlet dan outletnya saja, karena permukaan bed yang berada di bagian tengah tertutup oleh sterofoam seperti pada Gambar 6 sehingga tidak dapat dilakukan pengukuran pada bagian tengah permukaan bed.

Pengukuran kedalaman aliran pada bagian tengah bed hanya dapat dilakukan pada saat sterilisasi bed (pencucian) seperti terlihat pada Gambar 7.

(37)

37

Gambar 7. Kondisi bed saat sterilisasi.

Dari Gambar 7 di atas dapat dilihat bahwa lipatan-lipatan pada terpal akan menyebabkan kedalaman aliran nutrisi tidak merata sepanjang jalurnya. Untuk dapat mengetahui gambaran mengenai kedalaman aliran nutrisi pada bed, Tabel 22, 23, 24, dan 25 menyajikan data pengukuran kedalaman inlet dan outletnya pada masing-masing jaringan NFT.

Tabel 22. Data kedalaman aliran inlet kangkung.

Bed Titik

Pengukuran kedalaman aliran inlet (mm) Pengukuran 3 hari ke-

1 2 3 4 5

(38)

38

Tabel 23. Data kedalaman aliran outlet kangkung.

Bed Titik Pengukuran kedalaman aliran outlet (mm) Pengukuran 3 hari ke-

1 2 3 4 5

Tabel 24. Data kedalaman aliran inlet bayam

Bed Titik Pengukuran kedalaman aliran inlet (mm) Pengukuran 3 hari ke-

(39)

39

Tabel 25. Data kedalaman aliran outlet bayam

Bed Titik Pengukuran kedalaman aliran outlet (mm) Pengukuran 3 hari ke-

1 2 3 4 5 6 7

Dari data hasil pengukuran seperti yang disajikan pada Tabel 22, 23, 24, dan 25, didapatkan kedalaman aliran pada outlet lebih besar dari inletnya dan besarnya nilai debit berkisar antara 3 mm - 6 mm. Hal ini disebabkan karena adanya lipatan terpal yang tidak teratur dan aliran air yang terbendung oleh perakaran sehingga permukaan air menjadi naik. Nilai keseragaman kedalaman aliran inlet dan outlet untuk masing-masing jaringan NFT dapat dilihat pada Tabel 26, 27, 28, dan 29.

Tabel 26. CU kedalaman aliran pada inlet NFT kangkung.

Bed Keseragaman kedalaman aliran pada inlet (%)

Rata-rata

Pengukuran 3 hari ke- Standar Deviasi

(40)

40

Tabel 27. CU kedalaman aliran pada outlet NFT kangkung.

Bed Keseragaman kedalaman aliran pada outlet (%)

Rata-rata

Pengukuran 3 hari ke- Standar Deviasi

1 2 3 4 5

Tabel 28. CU kedalaman aliran pada inlet NFT bayam.

Bed Keseragaman kedalaman aliran pada inlet (%)

Rata-rata

Pengukuran 3 hari ke- Standar Deviasi

1 2 3 4 5 6 7

Tabel 29. CU kedalaman aliran pada outlet NFT bayam

Bed Keseragaman kedalaman aliran pada outlet (%)

Rata-rata

Pengukuran 3 hari ke- Standar Deviasi

1 2 3 4 5 6 7

Berdasarkan Tabel 26, 27, 28, dan 29, dapat diketahui bahwa rata-rata nilai koefisien keseragaman pada masing-masing jaringan NFT adalah sebesar 82.72% untuk inlet NFT kangkung, 88.51% untuk outlet NFT kangkung, 90.52% untuk inlet NFT bayam, dan 85.48% untuk outlet pada NFT bayam.

(41)

41 dan permukaan bed yang tidak rata akibat lipatan terpal juga akan menyebabkan kedalaman aliran nutrisi bervariasi.

5. Keseragaman bobot tanaman

Usaha budidaya sistem hidroponik pada dasarnya bertujuan untuk mencapai hasil yang tinggi baik kualitas dan produksi. Keseragaman pada bobot tanaman merupakan salah satu parameter untuk mengevaluasi secara teknis dari sistem yang diterapkan. Produksi tanaman dapat dilihat dari bobot tanaman yang dihasilkan dan keseragaman bobotnya.

Bobot tanaman yang didapat dari hasil pengukuran bervariasi baik pada tanaman kangkung maupun bayam merah. Rata-rata bobot masing – masing tanaman per bed adalah 17.4 kg untuk kangkung dan 17.6 kg untuk bayam merah. Rata-rata bobot/lubang pada masing-masing tanaman adalah 17.38 gram/lubang untuk kangkung dan 17.58 gram/lubang untuk bayam merah.

Keseragaman bobot tanaman dalam penelitian ini dihitung berdasarkan variasi bobot pada tiap meter perseginya. Nilai yang diperoleh sangat bervariasi. Keseragaman bobot tanaman tiap meter persegi pada masing-masing tanaman disajikan dalam Tabel 30 di bawah ini.

Tabel 30. CU bobot tanaman kangkung dan bayam.

Bed Keseragaman bobot tanaman (%) Kangkung Bayam merah

1 73.24 73.24

2 71.94 67.94

3 75.78 79.95

4 67.94 73.24

Rata-rata 72.22 73.59

(42)

42 seragam karena lipatan terpal juga mempengaruhi daya serap tanaman terhadap unsur hara. Lipatan terpal menyebabkan kedalaman aliran bervariasi sehingga banyak akar tanaman yang terlipat yang mempengaruhi penyerapan unsur hara, dan pada akhirnya akan berpengaruh pada pertumbuhan tanaman. Banyaknya tanaman yang ditanam dalam satu lubang juga menyebabkan perolehan unsur hara pada masing-masing tanaman menjadi kurang baik sehingga pertumbuhan tanaman juga kurang baik.

6. Kinerja Teknis Sistem Hidroponik NFT

Evaluasi kelayakan sistem hidroponik yang dilakukan berdasarkan beberapa parameter yaitu keseragaman debit aliran, keseragaman konduktivitas listrik, keseragaman derajat keasaman, keseragaman kedalaman aliran, dan keseragaman bobot tanaman, menghasilkan nilai keseragaman yang bervariasi. Untuk mengetahui gambaran mengenai nilai keseragaman tersebut, maka dapat dilihat rekapitulasi nilai keseragaman yang disajikan pada Tabel 31 dan 32 berikut.

Tabel 31. Rekapitulasi nilai keseragaman pada jaringan NFT kangkung.

Bed

Tabel 32. Rekapitulasi nilai keseragaman pada jaringan NFT bayam merah.

(43)

43 Berdasarkan hasil tersebut maka secara umum sistem hidroponik dapat diterapkan, karena nilai koefisien keseragamannya mendekati 90%. Namun secara khusus nilai koefisien keseragaman masih kurang baik pada kedalaman aliran dan bobot tanaman, hal ini disebabkan karena terdapatnya lipatan pada terpal pelapis bed sehingga permukaan bed menjadi tidak rata. Untuk memperbaiki nilai keseragaman pada jaringan hidroponik ini maka dibutuhkan ketelitian dan perawatan yang rutin.

B. KELAYAKAN FINANSIAL

Dalam melakukan kegiatan usaha, faktor finansial menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan karena akan menentukan layak atau tidaknya suatu usaha untuk dilanjutkan.

PT. Joy Farm merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pertanian yang memproduksi sayuran hidroponik. Sayuran utama yang diproduksinya adalah bayam merah dan kangkung yang dipasarkan melalui mitra kerjanya yaitu Parung Farm. Hasil produksi PT. Joy Farm dapat dilihat pada Tabel 33.

Tabel 33. Data produksi sayuran di PT. Joy Farm tahun 2008.

Bulan Kangkung (kg) Bayam (kg) Total (kg)

September 396,45 588,41 984,86

Oktober 329,2 319,68 648,88

November 258,52 396,80 655,32

Desember 286,2 358,30 644,50

Total 6.791,59 4.309,68 11.101,27

(44)

44 disebabkan karena beberapa hal seperti lingkungan greenhouse yang masih memungkinkan datangnya hama melalui ventilasi yang tidak tertutup, serta perubahan cuaca yang dapat menimbulkan penyakit pada tanaman. Selain itu besarnya bibit yang belum memadai untuk dipindahkan ke bed produksi akan menyebabkan kekurangan bibit pada bed produksi, sehingga bed produksi tidak terisi dengan penuh.

Setiap harinya PT. Joy Farm merencanakan panen sebanyak empat bed (dua bed untuk kangkung dan dua bed untuk bayam merah, dengan ukuran bed 11 m2). Jika dianalisis berdasarkan umur panen tanaman, yaitu 22 hari untuk

bayam merah dan 15 hari untuk kangkung, maka seharusnya total bed yang dibutuhkan oleh PT. Joy Farm adalah 74 bed, sedangkan bed yang ada hanya 64 bed. Hal ini dapat mengakibatkan rolling tanaman menjadi tidak teratur, sehingga memaksakan untuk memanen tanaman sebelum waktunya dan pada akhirnya akan menyebabkan hasil produksi yang tidak stabil.

Hasil yang ingin dicapai oleh PT. Joy Farm ± 17 kg/bed. Harga jual produk adalah Rp 8.400/kg yang merupakan haga jual kontrak lama dengan pihak mitra. Apabila hasil tersebut konstan, maka dalam satu bulan panen akan dihasilkan 2.040 kg dengan total penjualan Rp 17.136.000. Hasil tersebut merupakan target yang harus dicapai oleh PT. Joy Farm.

Mengingat besarnya investasi yang diperlukan dalam melakukan usaha ini, untuk itu perlu dilakukan analisis kelayakan finansial untuk mengetahui layak atau tidaknya usaha yang dijalankan. Dalam melakukan analisis kelayakan finansial ini, dilakukan beberapa asumsi dan pendekatan, di antaranya adalah : 1. Harga yang digunakan adalah harga yang berlaku pada saat penelitian. 2. Produktifitas tanaman adalah rata-rata dalam satu tahun.

3. Lahan produksi dan investasi adalah milik sendiri.

4. Biaya-biaya yang dikeluarkan selama proyek berjalan dianggap tetap, baik biaya produksi maupun biaya tetap lainnya.

5. Harga jual kedua komoditi adalah Rp 8.400/kg.

(45)

45 greenhouse, karena greenhouse merupakan sarana utama untuk melakukan produksi.

7. Besarnya harga akhir 10% dari harga awal.

8. Berdasarkan asumsi nomor 3, tingkat suku bunga yang digunakan adalah 5% yang merupakan tingkat suku bunga tabungan di BRI pada tahun 2008. Sebagai pembanding, digunakan pula tingkat suku bunga 12% yang merupakan tingkat suku bunga pertanian negara berkembang (Gittinger, 1986), dan tingkat suku bunga 16% yang merupakan tingkat suku bunga pinjaman di BRI pada tahun 2008.

9. Selama proyek berjalan diasumsikan tidak ada kenaikan tingkat upah tenaga kerja regional.

Pada usaha budidaya tanaman secara hidroponik ini, terdapat biaya investasi dan juga operasional. Biaya investasi merupakan biaya yang dikeluarkan sebelum tanaman menghasilkan, seperti biaya bangunan dan alat-alat pertanian hidroponik (Tabel 34). Sedangkan biaya operasional adalah biaya yang dikeluarkan selama kegiatan usahatani berjalan, seperti biaya pembelian benih, nutrisi, tenaga kerja, perawatan, keamanan, bensin dan listrik (Tabel 35).

No Uraian Biaya Investasi (Rp) Umur ekonomis (tahun)

1 Greenhouse 47.348.000 5

2 Sistem hidroponik 61.530.200 5

3 Listrik dan genset 7.250.000 10

4 Kantor dan gudang 5.000.000 10

5 Alat bantu pertanian 7.252.000 5

6 Kendaraan 91.400.000 10

Total 219.780.200

(46)

46

Tabel 35. Biaya operasional usahatani hidroponik NFT dalam satu tahun.

Berdasarkan Tabel 34 di atas dapat dilihat bahwa total biaya investasi yang dikeluarkan untuk usaha hidroponik mencapai Rp 219.780.200 dan pada Tabel 35, dapat dilihat besarnya biaya operasional yang dikeluarkan selama satu tahun mencapai Rp 97.476.000.

Data investasi dan biaya operasional tersebut digunakan untuk menghitung biaya pokok produksi kangkung dan bayam. Hasilnya seperti diuraikan pada Lampiran 1 dan Lampiran 2, diperoleh biaya pokok untuk

tanaman kangkung adalah Rp 10.982/kg dan tanaman bayam adalah Rp 14.257/kg. Dari hasil tersebut telah diketahui bahwa usaha yang dilakukan

oleh PT. Joy Farm merugi, karena harga jual Rp 8.400/kg lebih rendah dari biaya pokok.

Sebagai gambaran mengenai usaha yang dilakukan oleh PT. Joy Farm, maka data investasi dan biaya operasional tersebut juga dimasukkan ke dalam perhitungan untuk menganalisis kelayakan finansial. Perhitungan dilakukan dengan 2 rancangan. Rancangan pertama yaitu analisis apabila total penjualan sesuai dengan target yang diharapkan, rancangan kedua dilakukan berdasarkan data produksi selama satu tahun. Analisis yang dilakukan meliputi perhitungan nilai sekarang bersih (Net Present Value, NPV), perbandingan manfaat biaya bersih (Net B/C ratio), Gross B/C, dan tingkat pengembalian internal (Internal Rate of Return, IRR). Analisis kelayakan usaha dilakukan dengan tingkat suku bunga sebesar 5%, 12% dan 16%.

No Uraian Biaya Operasional

Rp/Tahun

1 Benih bayam 2.100.000 2 Benih kangkung 10.800.000 3 Nutrisi 24.336.000 4 Gaji karyawan 33.240.000

5 Listrik 8.400.000

6 Keamanan 7.200.000 7 Perawatan 2.400.000

8 Bensin 9.000.000

(47)

47 Pada Lampiran 3, 4 dan 5 dapat dilihat cashflow perusahaan pada rancangan 1 (sesuai target produksi). Dari analisis tersebut didapat nilai NPV, Net B/C, Gross B/C, dan IRR seperti pada Tabel 36.

Tingkat suku bunga NPV (Rp) Net B/C Gross B/C IRR (%)

5% 293.589.578 2,34 1,45 42,29

12% 201.548.372 1,92 1,35 42,29

16% 160.519.186 1,73 1,29 42,29

Dari hasil perhitungan analisis kelayakan finansial pada usaha hidroponik dengan tingkat suku bunga 5%, 12% dan 16% berturut-turut diperoleh nilai NPV sebesar Rp 293.589.578, Rp 201.548.372, dan Rp 160.519.186. Hal ini menunjukkan bahwa usaha hidroponik yang dilakukan PT. Joy Farm jika produksi sesuai dengan target menurut nilai sekarang adalah layak pada tingkat suku bunga 5%, 12%, dan 16%.

Nilai Net B/C yang didapat pada usaha hidroponik ini pada tingkat suku bunga 5%, 12%, dan 16% berturut-turut adalah 2,34, 1,92, dan 1,73. Nilai ini menunjukkan bahwa penanaman investasi pada usaha hidroponik ini adalah masih layak dilakukan pada tingkat suku bunga 5%, 12% dan 16%, karena nilai B/C > 1.

Nilai Gross B/C yang diperoleh pada suku bunga 5%, 12%, dan 16% berturut-turut adalah 1,45, 1,35, dan 1,29. Hal ini menunjukkan bahwa usaha yang dilakukan menghasilkan penerimaan yang lebih besar dari pengeluaran sehingga masih layak untuk dilakukan.

Nilai IRR yang diperoleh dari uji kelayakan tersebut adalah sebesar 42,29%. Nilai tersebut masih berada di atas tingkat suku bunga 5%, 12% dan 16% artinya usaha yang dilakukan masih layak.

Dari hasil analisis tersebut dapat terlihat bahwa usaha yang dilakukan akan menguntungkan jika dilakukan produksi sesuai dengan target yang diharapkan. Namun pada kenyataannya pencapaian target tersebut belum

Tabel 36. Hasil uji kelayakan usaha hidroponik di PT. Joy Farm jika produksi sesuai target dengan harga jual Rp 8.400/kg.

(48)

48 sepenuhnya berhasil, disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah faktor teknis dan lingkungan yang dapat mempengaruhi angka produksi.

Pada Lampiran 6, 7, dan 8 dapat dilihat cashflow perusahaan pada rancangan 2 (berdasarkan data hasil produksi). Dari analisis tersebut didapat nilai NPV, Net B/C, Gross B/C dan IRR seperti pada Tabel 37 berikut.

Tingkat suku bunga NPV (Rp) Net B/C Gross B/C IRR (%)

5% -192.909.207 0,20 0,70 -

12% -203.249.185 0,15 0,65 -

16% -207.451.009 0,13 0,62 -

Dari hasil perhitungan uji kelayakan berdasarkan data produksi dalam satu tahun, didapat nilai NPV pada tingkat suku bunga 5%, 12%, dan 16% berturut-turut lebih kecil dari nol. Hal ini menunjukkan bahwa usaha budidaya hidroponik yang dilakukan oleh PT. Joy Farm menurut nilai sekarang secara finansial tidak layak untuk dilakukan karena akan menghasilkan kerugian sebesar nilai NPV tersebut.

Nilai Net B/C pada tingkat suku bunga 5%, 12%, dan 16% berturut-turut lebih kecil dari 1, begitupun pada nilai Gross B/C menghasilkan nilai lebih kecil dari 1 yang artinya usaha yang dilakukan menghasilkan penerimaan yang lebih kecil dari pengeluarannya dan belum mampu mengembalikan modal yang diinvestasikan di awal usaha. Hal ini menunjukkan bahwa penanaman investasi usaha hidroponik sangat tidak layak atau tidak menguntungkan, karena tidak memberikan nilai manfaat.

Nilai IRR tidak ditemukan karena usaha yang dilakukan untuk budidaya secara hidroponik ini tidak layak dilakukan. Besarnya modal awal yang ada alangkah lebih baik jika dipergunakan untuk usaha yang lebih menguntungkan.

PT. Joy Farm tetap menjalankan produksinya karena terikat kontrak lama dengan pihak mitra. Untuk dapat melanjutkan usaha hidroponik tersebut, agar tidak mengalami kerugian maka diperlukan alternatif pemecahan, di antaranya adalah dengan memperhatikan biaya produksi dan perbaikan manajemen

(49)

49 pemasaran. Untuk itu perlu diperhatikan agar total penerimaan tidak kurang dari jumlah pengeluaran.

Besarnya total penerimaan dipengaruhi oleh total produksi. Semakin tinggi total produksi, semakin tinggi pula total penerimaan. Untuk itu produktifitas tanaman harus dijaga agar tidak kurang dari target yang diharapkan, selain itu jumlah pengeluaran juga perlu dijaga agar ketika produksi menurun, total penerimaan masih berada di atas total pengeluaran sehingga meminimalkan kerugian.

Dari segi teknis dalam hal penggunaan nutrisi sebaiknya PT. Joy Farm menggunakan standar yang ada. Standar yang digunakan oleh PT. Joy Farm lebih besar dari standar yang ada, sehingga akan menyebabkan larutan nutrisi yang terlalu pekat dan dapat mempengaruhi produktifitas tanaman. Selain itu penggunaan nutrisi yang tepat juga akan menekan biaya yang dikeluarkan.

Meningkatkan harga jual produk juga penting. Dilihat dari segi pemasaran, telah diketahui bahwa produk hidroponik memiliki pasar tersendiri seperti di mall dan swalayan lainnya dengan harga jual yang tinggi. Harga jual yang ada di tingkat petani berkisar antara Rp. 17.000 – Rp. 18.000 per kg untuk sayuran daun hidroponik. Harga jual yang digunakan oleh PT. Joy Farm adalah sama untuk kedua jenis tanaman, yaitu seharga Rp 8.400/kg. Harga jual tersebut merupakan kontrak lama dengan pihak mitra. Jika kita lihat pada perhitungan sebelumnya, usaha yang dijalankan akan layak jika produksi memenuhi target, namun pada kenyataannya total produksi tidak memenuhi target sehingga usaha yang dilakukan belum menguntungkan dan belum mampu mengembalikan modal yang diinvestasikan di awal usaha. Dalam hal ini sebaiknya PT. Joy Farm melakukan negosiasi ulang mengenai harga jual dan mencari alternatif pemasaran agar mampu mengembangkan usahanya tanpa tergantung oleh kontrak dari pihak mitra.

(50)

50 pada Tabel 38 berikut (Cashflow pada harga Rp. 16.800/kg dapat dilihat pada Lampiran 9, 10, dan 11)

Tingkat suku bunga NPV (Rp) Net B/C Gross B/C IRR (%)

5% 210.772.933 1,96 1,32 32,33

12% 132.639.721 1,60 1,23 32,33

16% 97.879.653 1,45 1,18 32,33

Dari hasil analisis tersebut dapat dilihat bahwa dengan menaikkan harga jual produk menjadi RP. 16.800/kg akan didapatkan nilai NPV, Net B/C,Gross B/C dan IRR seperti yang terlihat pada Tabel 38. Nilai NPV pada tingkat suku bunga 5%, 12% dan 16% masih berada di atas nol.

Begitu juga dengan nilai Net B/C, pada tingkat suku bunga 5%, 12% dan 16% nilai B/C > 1. Nilai IRR yang didapat sebesar 32,33%. Dari analisis yang dilakukan berdasarkan ketiga kriteria investasi tersebut, dapat dikatakan bahwa usaha yang dilakukan akan layak pada tingkat suku bunga tersebut.

Apabila tidak mencapai kesepakatan dengan harga jual Rp. 16.800/kg, maka dilakukan negosiasi ulang dengan harapan harga jual yang disepakati masih memberikan kelayakan untuk PT. Joy Farm dalam melanjutkan usahanya. Harga jual yang memungkinkan agar PT. Joy Farm tetap dapat melanjutkan usahanya adalah Rp 14.200/kg. Dengan menggunakan harga jual tersebut akan diperoleh nilai NPV, Net B/C, Gross B/C dan IRR berturut-turut adalah seperti pada Tabel 39 berikut (Cashflow pada harga Rp. 14.200/kg dapat dilihat pada Lampiran 12, 13, dan 14)

Tingkat suku bunga NPV (Rp) Net B/C Gross B/C IRR (%)

5% 85.823.699 1,39 1,13 16,59

12% 28.674.107 1,13 1,05 16,59

16% 3.372.543 1,02 1,01 16,59

Tabel 38. Hasil uji kelayakan usaha hidroponik di PT. Joy Farm pada produksi riil dengan harga jual Rp 16.800/kg.

(51)

51 Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa dengan harga jual Rp 14.200/kg menghasilkan nilai NPV, Net B/C, Gross B/C dan IRR yang layak pada tingkat suku bunga 5%, 12%, dan 16%. Hal ini masih memberikan kelayakan bagi PT. Joy Farm untuk melanjutkan usahanya.

Kondisi tersebut akan dapat mencapai kondisi yang lebih baik apabila dalam melakukan kegiatan produksinya dilakukan pemanfaatan sumber daya atau aset dan sarana yang ada secara maksimal.

C. OPTIMASI PRODUKSI

1. Model matematis

a. Fungsi tujuan

Tujuan dari program linear dalam pemecahan masalah optimasi di PT. Joy Farm adalah untuk memaksimumkan keuntungan. Dalam hal ini keuntungan merupakan selisih antara harga jual dan biaya produksi. Harga jual yang digunakan adalah harga jual negosiasi kontrak baru antara PT. Joy Farm dengan mitra yaitu sebesar Rp 16.800/kg. Sedangkan biaya produksi yang dikeluarkan adalah Rp 14.257/kg untuk bayam merah dan Rp 10.982/kg untuk kangkung. Dengan demikian keuntungan yang akan diperoleh adalah Rp 2.543/kg untuk bayam merah dan Rp 5.818/kg untuk kangkung. Berdasarkan hal tersebut, maka fungsi tujuan dalam optimasi ini dapat dinyatakan sebagai berikut :

Maksimumkan Z = 2.543 X1 + 5.818 X2

b. Fungsi pembatas

Fungsi pembatas pada model ini terdiri dari lima fungsi. Fungsi tersebut menyatakan pembelian nutrisi dan bibit, listrik untuk pompa, kapasitas greenhouse, permintaan minimal, dan tenaga kerja pada proses produksi bayam merah (X1) dan kangkung (X2).

1) Pembelian Nutrisi dan bibit.

(52)

52 3.103.000 per bulan. Untuk pembelian bibit, tanaman bayam membutuhkan biaya Rp 2.100.000 per tahun atau Rp 175.000 per bulan, sedangkan bibit kangkung membutuhkan biaya Rp 10.800.000 per tahun atau Rp 900.000 per bulannya. Untuk Nutrisi masing-masing dialokasikan sebesar Rp 1.014.000 per bulan. Sehingga total biaya masing-masing tanaman untuk nutrisi dan bibit adalah Rp 1.189.000 per bulan untuk bayam merah dan Rp 1.914.000 per bulan untuk kangkung, maka biaya yang dikeluarkan masing-masing tanaman per bed adalah Rp 19.816 untuk bayam merah, dan Rp 31.900 untuk tanaman kangkung. Berdasarkan perhitungan tersebut maka fungsi pembatas pembelian nutrisi dan bibit dinyatakan sebagai berikut :

19.816 X1 + 31.900 X2 ≤ 3.103.000

2) Biaya listrik pemakaian pompa

(53)

53

1.453 X1 + 1.875 X2 ≤ 200.000

3) Kapasitas greenhouse

Kapasitas greenhouse untuk memproduksi kedua produk tersebut selama satu bulan adalah sebanyak 120 bed, maka fungsi pembatas untuk kapasitas greenhouse dapat dinyatakan sebagai berikut :

X1 + X2 ≤ 120

4) Biaya tenaga kerja

Faktor pembatas mengenai tenaga kerja, setiap bulannya PT. Joy Farm menggaji 6 karyawan yang bekerja di kebun PT. Joy Farm. Pembayaran gaji kepada karyawan tersebut didasarkan pada pengalaman dan lama bekerja, jadi setiap orangnya mendapatkan gaji yang berbeda. Total gaji yang dikeluarkan oleh PT. Joy Farm untuk tenaga kerja adalah sebesar Rp 33.240.000 per tahunnya atau Rp 2.770.000 tiap bulannya. Pembagian kerja 3 orang untuk menangani bayam merah dan 3 orang untuk menangani kangkung. Besarnya biaya tenaga kerja untuk masing-masing tanaman adalah Rp 1.570.000 untuk kangkung dan Rp 1.200.000 untuk bayam merah yang merupakan jumlah gaji dari tiap karyawan pada masing-masing tanaman. Tanaman kangkung membutuhkan perawatan ekstra karena apabila layu, tanaman menjadi cacat dan tidak bisa segar kembali (Gaji karyawan dapat dilihat pada Lampiran 15). Biaya tenaga kerja yang dikeluarkan per bed adalah Rp 26.166 untuk kangkung dan Rp 20.000 untuk bayam merah. Dari perhitungan tersebut maka fungsi pembatas untuk biaya tenaga kerja adalah sebagai berikut :

20.000 X1 + 26.166 X2 ≤ 2.770.000

5) Permintaan minimal mitra.

(54)

54 dibutuhkan 36 bed. Sedangkan untuk bayam merah adalah 15kg/hari atau 0,8 bed/hari sehingga dalam 1 bulan dibutuhkan 24 bed. Maka fungsi pembatas untuk permintaan minimal adalah sebagai berikut :

X1 ≥ 24 X2 ≥ 36

2. Hasil optimasi

Dari perhitungan yang dilakukan sesuai dengan proses optimasi menggunakan program linier, diperoleh hasil optimal dengan kombinasi jumlah bed yang harus diproduksi adalah 24 bed per bulan untuk bayam merah dan 82 bed per bulan untuk kangkung. Dari hasil tersebut didapatkan total keuntungan sebesar Rp 9.246.742 per bulan. Hasil dapat dilihat pada Lampiran 16.

Dengan hasil tersebut, untuk tanaman bayam merah diperlukan 24 bed per bulan, maka per harinya dapat dipanen sebanyak 0,8 bed. Dengan melihat umur panen bayam merah selama 22 hari, maka untuk dapat panen 0,8 bed per hari diperlukan total bed sebanyak 18 bed.

Untuk tanaman kangkung diperlukan 82 bed per bulan, maka per harinya dapat dipanen sebanyak 2,73 bed. Dengan melihat umur panen kangkung selama 15 hari, maka untuk dapat panen 2,73 bed per hari diperlukan total bed sebanyak 41 bed. Dari hasil optimasi tersebut dibutuhkan bed secara keseluruhan adalah 59 bed sedangkan PT. Joy Farm memiliki total bed 64. Dalam hal ini masih menyisakan bed sebanyak 5 bed sehingga produksi dapat lebih dimaksimalkan kembali.

Gambar

Tabel 11. Data pengukuran EC pada jaringan NFT kangkung.
Tabel 15. Data pengukuran EC pada outlet jaringan NFT  bayam merah.
Gambar 6. Sterofoam pada permukaan bed.
Gambar 7. Kondisi bed saat sterilisasi.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan penelitian tentang pengaruh manajemen aset terhadap tingkat optimalitas aset tetap (tanah dan bangunan) pada Pemerintah Daerah

Tanaman padi pada dasaranya memerlukan pengolahan tanah yang intensif, dibutuhkan tanah yang basah dan pada waktu tertentu diperlukan tanah

Hipotesis kedua (H2) yang diuji dalam penelitian ini adalah “terdapat hubungan positif antara intensitas komunikasi dengan tenaga ahli bidang kesehatan dan minat

(1) Otoritas Jasa Keuangan dapat memerintahkan Bank untuk melakukan perbaikan Rencana Pemulihan yang disampaikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (2) dan

Final Rendering merupakan tahap akhir dari pembuatan video Animasi 3D pada aplikasi Adobe Premiere Pro CS5 dengan output Animasi 3 Dimensi Pencegahan Cyber

Kelompok A merupakan kelompok kontrol positif, yang dibuat model kanker paru dengan pemberian DMBA dalam minyak jagung dengan dosis 20 mg/kgBB secara peroral sebanyak 10 kali, yaitu

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang menyebabkan anak menjadi disgrafia, serta mengetahui upaya yang dilakukan guru dan orang tua untuk mengatasi

2 Agung, “Pentingnya Pendidikan Bagi Manusia”, Official Website of Agung.. punah atau mati. Hal ini berarti bahwa pondok pesantren merupakan bagian yang tidak terpisahkan