HUBUNGAN KONSEP DIRI TERHADAP PENERIMAAN PERUBAHAN FISIK REMAJA PUTRI PADA MASA PUBERTAS DI SLTP KEMALA
BHAYANGKARI 1 MEDAN
FATWIANY 095102040
KARYA TULIS ILMIAH
PROGRAM D-IV BIDAN PENDIDIK FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PROGRAM D-IV BIDAN PENDIDIK FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2010 Fatwiany
Hubungan Konsep Diri terhadap Penerimaan Perubahan Fisik Remaja Putri pada Masa Pubertas di SLTP Kemala Bhayangkari 1 Medan
ix + 40 hal + 4 tabel + 1 skema + 9 lampiran
Abstrak
Salah satu tugas dan fungsi mandiri bidan, yaitu mengkaji status kesehatan, kebutuhan anak remaja, dan melakukan bimbingan serta penyuluhan kepada remaja. Sehingga bidan harus mengetahui apa saja yang terjadi pada masa pubertas, kemudian bagaimana harus menangani remaja dalam menghadapi masa pubertas. Pubertas merupakan periode yang singkat. Namun, sebagai periode yang sulit bagi remaja dan mempengaruhi keadaan fisik dan psikologis remaja di masa selanjutnya. Remaja putri tampak kurang menyukai perubahan fisik ketika beranjak remaja, khususnya mengenai pertambahan lemak tubuh. Perubahan fisik ini dapat menyebabkan remaja putri seringkali merasa malu dan menutup diri terhadap lingkungan. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi hubungan antara konsep diri terhadap penerimaan perubahan fisik remaja putri pada masa pubertas di SLTP Kemala Bhayangkari 1 Medan. Penelitian ini bersifat deskriptif korelasi, dengan populasi 167 orang dan sebanyak 117 orang yang dijadikan sebagai sampel. Analisa data menggunakan uji statistik chi-squere. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja putri pada masa pubertas di SLTP Kemala Bhayangkari 1 Medan yang konsep dirinya berada dalam kategori baik yaitu 88,03% dan sebanyak 11,97% yang konsep dirinya tidak baik. Remaja putri pada masa pubertas memiliki penerimaan yang positif terhadap perubahan fisik, yaitu sebanyak 78,63%, dan penerimaan negatif terhadap perubahan fisik, yaitu sebanyak 21,37%. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan nilai p=0,002, ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara konsep diri terhadap penerimaan perubahan fisik remaja putri pada masa pubertas. Oleh karena itu, diharapkan kepada pelayanan kebidanan lebih memperhatikan pendidikan kesehatan pada remaja tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada masa pubertas untuk mempersiapkan remaja dalam menghadapi masa pubertas.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmad
dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan
judul “ Hubungan Konsep Diri terhadap Penerimaan Perubahan Fisik Remaja Putri pada
Masa Pubertas ” yang diajukan untuk memenuhi salah syarat dalam menyelesaikan
pendidikan pada Program D IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara.
Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis mendapatkan bimbingan, masukan,
dan arahan dari berbagai pihak, sehingga penulis dapat membuat Karya Tulis Ilmiah ini
tepat pada waktunya. Dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan
terimakasih kepada ;
1. dr. Dedi Ardinata, M.Kes. selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara.
2. dr. Murniati Manik, MSc. SpKK. selaku Ketua Program D IV Bidan Pendidik
Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
3. Nur Asnah Sitohang, S.Kep. Ns. M.Kep. selaku pembimbing yang telah
memberikan bimbingan, bantuan dan arahan selama penyusunan Karya Tulis
Ilmiah.
4. Seluruh staf SLTP Kemala Bhayangkari 1 Medan.
5. Seluruh staf dan Dosen Program D IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan
6. Papa, Umi dan Kakak serta Adik yang penulis cintai yang telah memberikan
dukungan serta do’a yang tiada henti-hentinya kepada penulis dalam membuat
Karya Tulis Ilmiah ini.
7. Melia Pebrina, AMKeb dan Fenny Fernando,AMKeb yang telah membantu pada
pengumpulan data dalam penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini.
8. Rekan-rekan mahasiswa program D IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatra Utara yang telah memberikan dukungan dan masukan
kepada penulis.
9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah
memberikan bantuan dan dukungan pada penulis dalam penyusun Karya Tulis
Ilmiah ini.
Penulis menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih terdapat kekurangan, untuk
itu masukan dan saran yang membangun sangatlah diharapkan demi perbaikan dimasa
yang akan datang. Akhirnya hanya kepada Allah penulis berserah diri, semoga penelitian
ini dapat bermanfaat bagi semua.
Medan, 30 November 2009
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... . v
DAFTAR SKEMA ... . vi
DAFTAR LAMPIRAN ... .. vii
I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan penelitian 1. Tujuan Umum ... 4
2. Tujuan Khusus ... 4
D. Manfaat penelitian 1. Bagi Institusi Pendidikan... 5
2. Bagi Remaja Putri ... 5
3. Bagi Penelitian ... 5
II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Diri ... 6
1. Pengertian Konsep Diri... ... 6
2. Komponen-komponen Konsep Diri ... 8
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri ... 8
4. Pembentukan Konsep Diri ... 9
C. Remaja ... 10
1. Pengertian Remaja dan Pubertas ... 10
2. Kurun Waktu Masa Remaja ... 11
3. Ciri-ciri Perkembangan Remaja ... 12
4. Perubahan Fisik pada Remaja... 14
5. Penyebab Perubahan pada Masa Pubertas ... 17
III KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS, DAN DEFENISI OPERASIONAL A. Kerangka Konsep ... 20
B. Hipotesis ... 21
C. Definisi Operasional ... 21
IV METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 23
B. Populasi dan sampel ... 23
1. Populasi ... 23
2. Sampel ... 23
C. Tempat Penelitian ... 25
D. Waktu Penelitian ... 25
E. Etika Penelitian ... 25
F. Instrumen Penelitian ... 26
G. Uji Validitas dan Reliabilitas ... 28
1. Uji Validitas ... 28
2. Uji Reliabilitas ... 29
H. Prosedur Pengumpulan Data ... 29
V HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil ... 31
B. Pembahsan ... 34
1.Interpretasi dan Diskusi Hasil ... 34
2. Keterbatasan Penelitian ... 37
3. Implikasi terhadap Pelayanan Kebidanan ... 38
VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 39
B. Saran ... 39
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1. Jumlah Sampel dengan Stratified Random Sampling ... 24
Tabel 5.1. Distribusi Konsep Diri Remaja Putri di SLTP Kemala Bhayangkari
1 Medan ... 31
Tabel 5.2. Distribusi Penerimaan Perubahan Fisik Remaja Putri pada Masa
Pubertas di SLTP Kemala Bhayangkari 1 Medan ... 32
Tabel 5.3. Hubungan Konsep Diri terhadap Penerimaan Perubahan Fisik Remaja
Putri pada Masa Pubertas ... 33
DAFTAR SKEMA
Skema 1. Kerangka Konsep Hubungan Konsep Diri terhadap Penerimaan Perubahan
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Lembar konsultasi Karya Tulis Ilmiah
Lampiran 2 : Lembar Informed Consent
Lampiran 3 : Lembar Kuesioner
Lampiran 4 : Lembar Content Validity Index
Lampiran 5 : Lembar Hasil Uji Reliabilitas SPSS
Lampiran 6 : Master Data Penelitian
Lampiran 7 : Hasil Out Put Data Penelitian
Lampiran 8 : Surat Izin Penelitian
Lampiran 9 : Surat Pernyataan Telah Selesai Penelitian dari SLTP Kemala
PROGRAM D-IV BIDAN PENDIDIK FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2010 Fatwiany
Hubungan Konsep Diri terhadap Penerimaan Perubahan Fisik Remaja Putri pada Masa Pubertas di SLTP Kemala Bhayangkari 1 Medan
ix + 40 hal + 4 tabel + 1 skema + 9 lampiran
Abstrak
Salah satu tugas dan fungsi mandiri bidan, yaitu mengkaji status kesehatan, kebutuhan anak remaja, dan melakukan bimbingan serta penyuluhan kepada remaja. Sehingga bidan harus mengetahui apa saja yang terjadi pada masa pubertas, kemudian bagaimana harus menangani remaja dalam menghadapi masa pubertas. Pubertas merupakan periode yang singkat. Namun, sebagai periode yang sulit bagi remaja dan mempengaruhi keadaan fisik dan psikologis remaja di masa selanjutnya. Remaja putri tampak kurang menyukai perubahan fisik ketika beranjak remaja, khususnya mengenai pertambahan lemak tubuh. Perubahan fisik ini dapat menyebabkan remaja putri seringkali merasa malu dan menutup diri terhadap lingkungan. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi hubungan antara konsep diri terhadap penerimaan perubahan fisik remaja putri pada masa pubertas di SLTP Kemala Bhayangkari 1 Medan. Penelitian ini bersifat deskriptif korelasi, dengan populasi 167 orang dan sebanyak 117 orang yang dijadikan sebagai sampel. Analisa data menggunakan uji statistik chi-squere. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja putri pada masa pubertas di SLTP Kemala Bhayangkari 1 Medan yang konsep dirinya berada dalam kategori baik yaitu 88,03% dan sebanyak 11,97% yang konsep dirinya tidak baik. Remaja putri pada masa pubertas memiliki penerimaan yang positif terhadap perubahan fisik, yaitu sebanyak 78,63%, dan penerimaan negatif terhadap perubahan fisik, yaitu sebanyak 21,37%. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan nilai p=0,002, ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara konsep diri terhadap penerimaan perubahan fisik remaja putri pada masa pubertas. Oleh karena itu, diharapkan kepada pelayanan kebidanan lebih memperhatikan pendidikan kesehatan pada remaja tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada masa pubertas untuk mempersiapkan remaja dalam menghadapi masa pubertas.
BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang
Masa remaja dikenal sebagai salah satu periode dalam rentang kehidupan manusia
yang memiliki beberapa keunikan tersendiri. Keunikan tersebut bersumber dari
kedudukan masa remaja sebagai periode transisional antara masa kanak-kanak dan masa
dewasa atau yang lebih kita kenal dengan pubertas. Kita semua mengetahui bahwa
antara anak-anak dengan orang dewasa ada beberapa perbedaan yang selain bersifat
biologis atau fisiologis juga bersifat psikologis. (Agustiani, 2006 hlm. 25)
Masa ini sikap individu mengalami berbagai perubahan baik fisik maupun psikis.
Perubahan yang tampak jelas adalah perubahan fisik, dimana tubuh berkembang pesat
sehingga mencapai bentuk tubuh orang dewasa yang disertai pula dengan
berkembangnya kapasitas reproduktif. Selain itu remaja juga berubah secara kognitif dan
mulai mampu berpikir abstrak seperti orang dewasa. Pada periode ini pula remaja mulai
melepaskan diri secara emosional dari orang tua dalam rangka menjalankan peran
sosialnya yang baru sebagai orang dewasa.(Al-mighwar, 2006 hlm. 19)
Pada masa pubertas dapat dikatakan bahwa ciri umum yang menonjol pada masa
remaja adalah berlangsungnya perubahan itu sendiri, yang dalam interaksinya dengan
lingkungan sosial membawa berbagai dampak pada perilaku remaja.
Pubertas merupakan periode yang singkat, namun bagi sebagian orang dianggap
sebagai periode yang sulit bagi remaja dan mempengaruhi keadaan fisik dan psikologis
Remaja putri tampak kurang menyukai perubahan fisik ketika beranjak remaja,
khususnya mengenai pertambahan lemak tubuh. Perubahan fisik ini dapat menyebabkan
remaja putri seringkali merasa malu dan menutup diri terhadap lingkungan. Berbeda
dengan remaja putra yang menyukai peningkatan massa otot yang mereka alami seiring
pubertas. Namun bagaimanapun perasaan yang mengganggu itu harus secepatnya
disingkirkan. Semua itu merupakan tahapan memasuki masa pubertas yang tidak
seorang pun dapat menghindarinya. (Al-mighwar, 2006 hlm.70)
Hierarki kebutuhan Maslow menyatakan bahwa tingkat yang paling tinggi dalam
kebutuhan manusia adalah tercapainya kebutuhan aktualisasi diri. Untuk mencapai
aktualisasi diri diperlukan konsep diri yang sehat. Konsep diri seseorang tidak terbentuk
sejak lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil dan pengalaman unik seseorang dalam dirinya
sendiri, dengan orang terdekat dan dengan realitas dunia.(Sunaryo, 2004 hlm.3)
Perubahan peran, fisik dan psikologis mempengaruhi konsep diri seseorang dan
konsep diri berpengaruh kuat terhadap tingkah laku seseorang. Dengan mengetahui
konsep diri seseorang, kita akan lebih mudah memahami tingkah laku orang tersebut.
(Agustiani,2006 hlm.138)
Konsep diri merupakan semua ide, fikiran, kepercayaan dan pendirian yang
diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhungan dengan
orang lain. Hal ini termasuk persepsi individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi
dengan orang lain dan lingkungan (Stuart & Sundeen, 1998, dalam Sipahutar, 2008,
Gangguan konsep diri ¶ 1,
oktober 2009)
Berdasarkan hasil survey yang didapatkan dari sepuluh siswi SLTP Kemala
badan yang mereka alami saat melewati masa pubertas sehingga membuat mereka
kurang percaya diri untuk tampil di depan umum, ada yang merasa takut wajahnya tidak
cantik lagi karena tumbuhnya jerawat, bahkan lima diantaranya merasa terganggu karena
perubahan bentuk tubuh mereka membuat mereka tidak bisa menarik perhatian orang
lain untuk melihatkan bakat yang dimilikinya.
Salah satu tugas mandiri bidan yaitu mengkaji status kesehatan dan kebutuhan
anak remaja dan fungsi bidan sebagai pelaksana yaitu melakukan bimbingan dan
penyuluhan kepada individu dan keluarga, serta masyarakat khususnya kaum remaja,
sehingga bidan harus mengetahui apa saja yang terjadi pada masa remaja dan bagaimana
harus menangani remaja dalam menghadapi masalah khususnya yang berhubungan
dengan perubahan fisik. (Soepardan, 2007 hlm.38)
Selain itu tugas sebagai dosen atau tenaga pendidik, yaitu mampu memberikan
bimbingan serta konseling kepada peserta didik yang menghadapi masalah di antaranya
melalui bimbingan sosial pribadi. Dengan bimbingan pribadi dan sosial ini diharapkan
dapat membantu siswa yang menghadapi masalah dalam diri siswa itu sendiri baik di
lingkungan sekolah maupun dalam berinteraksi di masyarakat.(Sukardi, 2003 hlm.37)
Berdasarkan uraian sebelumnya, maka peneliti tertarik untuk mengadakan
penelitian mengenai “ hubungan konsep diri terhadap penerimaan perubahan fisik
remaja putri pada masa pubertas di SLTP Kemala Bhayangkari 1 Medan”
B.Rumusan Masalah
Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu dan
berdasarkan hasil survey awal yang didapatkan peneliti masih banyak siswi yang
putri pada masa pubertas, maka dari itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
tentang hubungan konsep diri terhadap penerimaan perubahan fisik remaja putri pada
masa pubertas.
C.Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Untuk mengidentifikasi hubungan antara konsep diri terhadap penerimaan
perubahan fisik remaja putri pada masa pubertas di SLTP Kemala Bhayangkari 1
Medan.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi konsep diri remaja putri pada masa pubertas di SLTP
Kemala Bhayangkari 1 Medan.
b. Mengidentifikasi penerimaan terhadap perubahan fisik remaja putri pada masa
pubertas di SLTP Kemala Bhayangkari 1 Medan.
c. Mengidentifikasi hubungan antara konsep diri terhadap penerimaan perubahan
D.Manfaat Penelitian
1. Bagi Institusi Pendidikan D-IV Kebidanan
Sebagai bahan masukan untuk penambahan ilmu pengetahuan serta acuan dalam
pengembangan ilmu kebidanan yang berkaitan dengan perkembangan remaja pada
masa pubertas.
2. Bagi Remaja Putri
Sebagai bekal pengetahuan bagi remaja dalam menghadapi masa pubertas serta
mengetahui perubahan yang terjadi sehingga remaja dapat menerima serta
mengerti hal-hal yang mungkin terjadi selama masa pubertas.
3. Bagi Penelitian
Menjadi bahan referensi atau perbandingan bagi peneliti selanjutnya yang
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Diri
1. Pengertian Konsep diri
Willoughby, King & polatajko (1996, dalam Wong,et al 2009, hlm 121)
mengemukakan bahwa konsep diri adalah bagaimana individu menggambarkan dirinya
sendiri. Istilah konsep diri mencakup konsep, keyakinan, dan pendirian yang ada dalam
pengetahuan seseorang tentang dirinya sendiri dan yang mempengaruhi hubungan
individu tersebut dengan orang lain. Konsep diri tidak ada saat lahir tetapi berkembang
perlahan-lahan sebagai hasil pengalaman dan dengan sesuatu yang nyata di lingkungan.
Konsep diri merupakan gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya, yang
dibentuk melalui pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan
lingkungan. Konsep diri bukan merupakan faktor bawaan, melainkan berkembang dari
pengalaman yang terus menerus dan terdiferensiasi. Dasar dari konsep diri individu
ditanamkan pada saat-saat dini kehidupan anak dan menjadi dasar yang mempengaruhi
tingkah lakunya kemudian hari (Agustiani, 2006, hlm.138).
Konsep diri adalah cara individu dalam melihat pribadinya secara utuh,
menyangkut fisik, emosi, intelektual, sosial dan spritual. Termasuk didalamnya adalah
persepsi individu tentang sifat dan potensi yang dimilikinya, interaksi individu dengan
orang lain maupun lingkungannya, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan
William H. Fitts (1971, dalam Agustiani, 2006, hlm 138) mengemukakan bahwa
konsep diri merupakan aspek penting dalam diri seseorang, karena konsep diri seseorang
merupakan kerangka acuan dalam berinteraksi dengan lingkungan. Fitts mengatakan
bahwa konsep diri berpengaruh kuat terhadap tingkah laku seseorang. Dengan
mengetahui konsep diri seseorang, kita akan lebih mudah meramalkan dan memahami
tingkah laku orang tersebut. Pada umumnya tingkah laku individu berkaitan dengan
gagasan-gagasan tentang dirinya sendiri.
Berdasarkan berbagai pendapat sebelumnya, dinyatakan bahwa konsep diri
memiliki peran yang sangat penting terlebih jika dikaitkan dengan siswa remaja yang
memiliki konsep diri yang rentan terhadap modifikasi atau perubahan. Siswa remaja
khususnya remaja putri memiliki pandangan tentang dirinya sendiri. Oleh karena itu
dapat dipahami bahwa konsep diri seseorang terutama remaja putri cenderung untuk
tidak konsisten karena perubahan kondisi fisik maupun psikologisnya dan dalam hal ini
disebabkan karena sikap orang lain yang dipersepsikannya juga mengalami perubahan
(Kartono, 2007, hlm.148).
Oleh karena itu dapat disimpulkan, bahwa konsep diri merupakan pandangan,
asumsi serta kesan siswa tentang karakteristik yang dimilikinya baik secara fisik maupun
psikis, penerimaan, penilaian, penghargaan dan keyakinan yang terdapat dalam diri
siswa yang dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Apabila siswa memiliki konsep diri
yang positif, maka ia akan mengembangkan sifat-sifat seperti percaya diri, rasa berharga
dan kemampuan untuk menilai dirinya secara realistis, sedangkan siswa yang memiliki
konsep diri yang cenderung negatif akan mengembangkan sikap merasa tidak mampu
dan rendah diri sehingga muncul perilaku kurang percaya diri.
Menurut Sunaryo (2004, hlm 32) mengemukakan lima komponen konsep diri,
yaitu : (a) Gambaran diri, adalah sikap individu terhadap tubuhnya, baik secara sadar
maupun tidak sadar, meliputi : performance, potensi tubuh, fungsi tubuh, serta persepsi
dan perasaan tentang ukuran dan bentuk tubuh ; (b) Ideal diri, adalah persepsi individu
tentang perilakunya, disesuaikan dengan standar pribadi yang terkait dengan cita-cita,
harapan, dan keinginan, tipe orang yang diidam-idamkan, dan nilai yang ingin dicapai ;
(c) Harga diri, adalah penilaian individu terhadap hasil yang ingin dicapai dengan cara
menganalisis seberapa jauh perilaku individu tersebut sesuai dengan ideal diri. Harga
diri dapat diperoleh melalui orang lain dan diri sendiri. Aspek utama harga diri adalah
dicintai, disayangi, dikasihi, orang lain dan mendapat penghargaan dari orang lain ; (d)
Peran diri adalah pola perilaku, sikap, nilai dan aspirasi yang diharapkan individu
berdasarkan posisinya di masyarakat ; (e)Identitas diri, adalah kesadaran akan diri
pribadi yang bersumber dari pengamatan dan penilaian, sebagai sintesis semua aspek
konsep diri dan menjadi satu kesatuan yang utuh.
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri
Syamsu Yusuf (2000, hlm 76) mengemukakan terdapat delapan faktor yang
mempengaruhi perkembangan konsep diri, yaitu; (a) Kondisi fisik ; (b)Kematangan
biologis ; (c) Dampak media massa ; (d) Tuntutan sekolah ; (e)Pengalaman ajaran agama
; (f) Masalah ekonomi keluarga ; (g) Hubungan dalam keluarga ; (h) Harapan orang tua.
Menurut Fitts (1997 dalam Agustiani, 2006 hlm 139) konsep diri seseorang dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut ; (a) Pengalaman, terutama
pengalaman interpersonal, yang memunculkan perasaan positif dan perasaan berharga ;
(b) Kompetensi dalam area yang dihargai oleh individu dan orang lain ; (c)Aktualisasi
4. Pembentukan Konsep Diri
Masa bayi, konsep diri terutama adalah kesadaran tentang eksistensi mandiri
seseorang yang dipelajari di masa lalu sebagai hasil dari kontak sosial dan pengalaman
dengan orang lain. Anak usia sekolah lebih menyadari perbedaan di antara orang lain,
lebih sensitif terhadap tekanan sosial, dan menjadi lebih sibuk memikirkan masalah
kritikan-diri dan evaluasi-diri. Selama masa remaja awal, anak lebih berfokus pada
perubahan fisik dan emosi yang terjadi dan pada penerimaan teman sebaya. Konsep diri
diperjelas selama masa remaja akhir ketika anak muda mengatur konsep diri mereka
disekitar nilai, tujuan, dan kompetensi yang didapat selama masa kanak-kanak (Wong, et
al. 2009, hlm. 121).
Masa anak-anak konsep diri yang dipunyai seseorang biasanya berlainan dengan
konsep diri yang dipunyai ketika ia memasuki usia remaja. Pada dasarnya, konsep diri
itu tersusun atas tahapan-tahapan. Selama masa anak akhir konsep diri yang terbentuk
sudah agak stabil. Tetapi dengan mulainya masa pubertas terjadi perubahan drastis pada
konsep diri. Remaja yang masih muda mempersepsikan dirinya sebagai orang dewasa
dalam banyak cara, namun bagi orang tua ia tetap masih seorang anak-anak. Walaupun
ketidaktergantungan dari orang dewasa masih belum mungkin terjadi dalam beberapa
tahun, remaja mulai terarah pada pengaturan tingkah laku sendiri (Agustiani,2006
hlm.138).
B. Penerimaan diri
Menurut Hurlock (1973, dalam Sobur, 2003, hlm.504), penerimaan diri adalah
suatu tingkat kemampuan dan keinginan individu untuk hidup dengan segala
yang tidak bermasalah dengan dirinya sendiri. Calhoun dan Acocella (1990)
menambahkan bahwa individu yang bisa menerima diri secara baik tidak memiliki
beban perasaan terhadap diri sendiri, sehingga lebih banyak memiliki kesempatan untuk
beradaptasi dengan lingkungan. Kesempatan itu membuat individu mampu melihat
peluang-peluang berharga yang memungkinkan diri berkembang.
Istilah konsep diri merujuk pada pengetahuan yang disadari mengenai berbagai
persepsi diri, seperti karakteristik fisik, kemampuan, nilai, ideal diri dan pengharapan
serta ide-ide dirinya sendiri dalam hubungannya dengan orang lain. Semakin mereka
berfikir positif terhadap dirinya sendiri, semakin mereka percaya diri dalam mencoba
kembali guna meraih kesuksesan (wong,et al. 2009 hlm.567).
C. Remaja
1. Pengertian Remaja dan Pubertas
Masa remaja merupakan suatu periode transisi antara masa kanak-kanak dan masa
dewasa ―merupakan waktu kematangan fisik, kognitif, sosial dan emosional yang cepat
pada anak laki-laki untuk mempersiapkan diri menjadi laki-laki dewasa dan anak
perempuan untuk mempersiapkan diri menjadi wanita dewasa. Batasan yang tegas pada
remaja sulit ditetapkan, tetapi periode ini biasanya digambarkan pertama kali dengan
penampakan karakteristik seks sekunder pada sekitar usia 11 sampai 12 tahun dan
berakhir dengan berhentinya pertumbuhan tubuh pada usia 18 sampai 20 tahun (Wong,et
al. 2009 hlm.585).
Pubertas adalah proses kematangan, hormonal dan pertumbuhan yang terjadi
ketika organ-organ reproduksi mulai berfungsi dan karakteristik seks sekunder mulai
Masa puber merupakan periode transisi dan tumpang tindih. Dikatakan transisi
sebab pubertas berada dalam peralihan antara masa kanak-kanak dengan masa remaja.
Tumpang tindih sebab beberapa ciri biologis-psikologis kanak-kanak masih dimilikinya,
sementara beberapa ciri remaja juga dimilikinya. Jadi masa puber meliputi tahun-tahun
akhir masa kanak-kanak dan tahun awal masa remaja. Menjelas anak matang secara
seksual, ia masih disebut ”anak puber”, begitu matang secara seksual ia disebut ”remaja”
atau ”remaja muda” (Al-mighwar, 2006 hlm 70).
Masa pubertas disebut sebagai masa bangkitnya kepribadian ketika minatnya lebih
ditujukan kepada perkembangan pribadi sendiri. Pribadi itulah yang menjadi pusat
pikirannya (Zulkifli,2005 hlm.70).
2. Kurun waktu masa remaja
Wong,et al (2009, hlm 585) mengemukakan masa remaja terdiri atas tiga subfase
yang jelas, yaitu: (a) Masa remaja awal usia 11-14 tahun ; (b) Masa remaja pertengahan
usia 15-17 tahun ; (c) Masa remaja akhir usia 18-20 tahun
Al-Mighwar (2006 hlm.20) menjelaskan masa puber terjadi secara bertahap, yaitu
: (a) Tahap Prapubertas, tahap ini disebut juga tahap pematangan yaitu pada satu atau
dua terakhir masa kanak-kanak. Pada masa ini anak dianggap sebagai ”prapuber”,
sehingga ia tidak disebut seorang anak dan tidak pula seorang remaja. Pada tahap ini,
ciri-ciri seks sekunder mulai tampak, namun organ-organ reproduksinya belum
berkembang secara sempurna ; (b) Tahap Puber, tahap ini disebut juga tahap matang,
yaitu terjadi pada garis antara masa kanak-kanak dan masa remaja. Pada tahap ini,
kriteria kematangan seksual mulai muncul. Pada anak perempuan terjadi haid pertama
dan pada anak laki-laki terjadi mimpi basah pertama kali. Dan mulai berkembang
Pascapuber, pada tahap ini menyatu dengan tahun pertama atau kedua masa remaja.
Pada tahap ini, ciri-ciri seks sekunder sudah berkembang dengan baik dan organ-organ
seks juga berfungsi secara matang
Wong,et al (2009, hlm. 585) mengatakan bahwa pubertas dibagi atas tiga tahap
yaitu: (a) Prapubertas, yaitu periode sekitar 2 tahun sebelum pubertas ketika anak
pertama kali mengalami perubahan fisik yang menandakan kematangan seksual ;
(b)Pubertas, merupakan titik pencapaian kematangan seksual, ditandai dengan keluarnya
darah menstruasi pertama kali pada remaja putri sedangkan pada remaja putra indikasi
seksualitasnya kurang jelas ; (c) Pascapubertas, merupakan periode 1 sampai 2 tahun
setelah pubertas, ketika pertumbuhan tulang telah lengkapdan fungsi reproduksinya
terbentuk dengan cukup baik.
3. Ciri-ciri Perkembangan Remaja
Menurut Wong,et al (2009 hlm.585) perkembangan remaja terlihat pada:
(a) Perkembangan biologis, perubahan fisik pada pubertas merupakan hasil aktivitas
hormonal di bawah pengaruh sistem saraf pusat. Perubahan fisik yang sangat jelas tampak
pada pertumbuhan peningkatan fisik dan pada penampakan serta perkrmbangan
karakteristik seks sekunder ; (b) Perkembangan psikologis, teori psikososial tradisional
menganggap bahwa krisis perkembangan pada masa remaja menghasilkan terbentuknya
identitas (Erikson,1963). Pada masa remaja mereka mulai melihat dirinya sebagai
individu yang lain ; (c) Perkembangan kognitif, berfikir kognitif mencapai puncaknya
pada kemampuan berfikir abstrak. Remaja tidak lagi dibatasi dengan kenyataan dan aktual
yang merupakan ciri periode berfikir konkret, remaja juga memerhatikan terhadap
kemungkinan yang akan terjadi ; (d) Perkembangan moral, anak yang lebih muda hanya
memperoleh autonomi dari orang dewasa, mereka harus mengganti seperangkat moral
dan nilai mereka sendiri ; (e)Perkembangan spiritual, remaja mampu memahami konsep
abstrak dan menginterpretasi analogi serta simbol-simbol. Mereka mampu berempati,
berfilosofi dan berfikir secara logis ; (f)Perkembangan sosial, untuk memperoleh
kematangan penuh, remaja harus membebaskan diri mereka dari dominasi keluarga dan
menetapkan sebuah identitas yang mandiri dari wewenang orang tua. Masa remaja adalah
masa dengan kemampuan bersosialisasi yang kuat terhadap teman sebaya dan teman
dekat.
Agustiani (2006 hlm.29) mengemukakan masa remaja menjadi tiga bagian, yaitu :
(a) Masa remaja awal (12-15 tahun), pada masa ini individu mulai meninggalkan peran
sebagai anak-anak dan berusaha mengembangkan diri sebagai individu yang unik dan
tidak tergantung pada orangtua. Fokus dari tahap ini adalah penerimaan terhadap bentuk
dan kondisi fisik serta adanya konformitas yang kuat dengan teman sebaya ; (b) Masa
remaja pertengahan (15-18 tahun), masa ini ditandai dengan berkembangnya
kemampuan berpikir yang baru. Teman sebaya masih memiliki peran yang penting,
namun individu sudah lebih mampu mengarahkan diri sendiri. Pada masa ini remaja
mulai mengembangkan kematangan tingkah laku. Belajar mengendalikan impulsivitas,
dan membuat keputusan-keputusan awal yang berkaitan dengan tujuan vaksional yang
ingin dicapai. Selain itu penerimaan dari lawan jenis menjadi penting bagi individu ; (c)
Masa remaja akhir (19-22 tahun), masa ini ditandai oleh persiapan akhir untuk
memasuki peran-peran orang dewasa. Selama periode ini remaja berusaha memantapkan
tujuan vaksional dan mengembangkan sense of personal identity. Keinginan yang kuat
untuk menjadi matang dan diterima dalam kelompok teman sebaya dan orang dewasa,
3. Perubahan fisik pada masa remaja
Awal pubertas, ekstremitas tumbuh lebih cepat daripada batang tubuh.
Pertumbuhan ekstremitas kemudian berhenti, tetapi batang tubuh terus tumbuh dengan
baik sampai remaja. Pertumbuhan batang tubuh yang paling besar biasanya pada tulang
pelvis. Lebarnya bertambah lebih cepat dari pada ukuran antero-posterior. Rongga pelvis
memanjang dan pintu panggul melebar, untuk mempersiapkan fungsi kehamilan
(Henderson, 2005 hlm.3).
Terjadi pertumbuhan yang cepat pada remaja, termasuk pertumbuhan organ-organ
reproduksi (organ seksual) untuk mencapai kematangan, sehingga mampu
melangsungkan fungsi reproduksi. Perubahan ini ditandai dengan munculnya :
a. Tanda-tanda seks primer, yaitu yang berhubungan langsung dengan organ seks
(terjadinya haid pada remaja putri dan terjadinya mimpi basah pada remaja laki-laki).
b. Tanda- tanda seks sekunder, yaitu : (1) Pada remaja laki-laki terjadi perubahan
suara, timbulnya jakun, penis dan buah zakar bertambah besar, terjadinya ereksi dan
ejakulasi, dada lebih besar, badan berotot, tumbuhnya kumis, jambang dan rambut di
sekitar kemaluan dan ketiak; (2) Pada remaja putri : panggul melebar, petumbuhan
rahim dan vagina, payudara membesar, tumbuhnya rambut di ketiak dan sekitar
kemaluan (pubis)
Perubahan fisik pada pubertas merupakan hasil aktivitas hormonal di bawah
pengaruh sistem saraf pusat, walaupun semua aspek fungsi fisiologis berinteraksi secara
bersama-sama. Perubahan fisik yang sangat jelas tampak pada pertumbuhan peningkatan
fisik dan pada penampakan serta perkembangan karakteristik seks sekunder. Perubahan
yang tidak tampak jelas adalah perubahan fisiologis dan kematangan neurogonad yang
kelamin di tentukan berdasarkan karakteristik pembeda ; karakteristik seks primer
merupakan organ eksternal dan internal yang melaksanakan fungsi reproduktif (mis.,
ovarium, uterus, uterus, payudara, penis) ; karakteristik seks sekunder merupakan
perubahan yang terjadi di seluruh tubuh sebagai hasil dari perubahan hormonal (mis.,
perubahan suara, munculnya rambut pubertas dan bulu pada wajah, penumpukan lemak)
tetapi tidak berperan langsung dalam reproduksi (Wong,et al. 2009 hal 585).
Menurut Al-Mighwar (2006, hlm.26) perubahan-perubahan fisik yang penting dan
terjadi selama masa remaja adalah sebagai berikut :
a. Perubahan Ukuran Tubuh
Pertumbuhan tinggi dan berat badan merupakan perubahan fisik mendasar yang
pertama pada masa pubertas. Hurlock berpendapat bahwa pertambahan tinggi badan
anak-anak perempuan mencapai rata-rata 3 inci per tahun, dalam tahun sebelum haid,
bahkan bisa saja mencapai 5 hingga 6 inci. Peningkatan berat tubuh bukan hanya
disebabkan lemak, tetapi juga semakin bertambah beratnya tulang dan jaringan otot.
Pada anak perempuan, peningkatan berat tubuh yang paling besar terjadi sesaat sebelum
dan sesudah haid. Pada awal terjadinya pertumbuhan pesat, lemak cenderung
menumpuk, terutama di sekitar perut, putting susu, pinggul, paha, pipi, leher dan rahang.
Biasanya lemak itu akan hilang dengan sendirinya pada saat akhir masa puber dan
pesatnya pertumbuhan tinggi badan.
b. Perubahan Bentuk Tubuh
Perubahan bentuk tubuh merupakan perubahan fisik mendasar kedua. Akibat
terjadinya kematangan yang lebih cepat dari daerah-daerah tubuh yang lain, sekarang
daerah-daerah tubuh tertentu yang tadinya kecil menjadi besar. Gejala ini tampak jelas
dewasa walaupun perubahannya terjadi sebelum akhir masa puber pada akhir masa
remaja.
c. Ciri Kelamin Primer
Pertumbuhan dan perkembangan ciri-ciri seks primer, yaitu organ-organ seks
merupakan perubahan fisik mendasar yang ketiga. Organ-organ reproduksi wanita
tumbuh selama masa puber dengan tingkat kecepatan yang bervariasi. Haid dianggap
sebagai petunjuk pertama bahwa mekanisme reproduksi anak perempuan menjadi
matang. Gejala ini merupakan awal dari serangkaian pengeluaran darah, lendir dan
jaringan sel yang hancur dari uterus secara berkala, dan akan berhenti saat wanita
mencapai menopause.
d. Ciri Kelamin Sekunder
Ciri-ciri seksual pada remaja putri seperti pinggul menjadi tambah lebar dan
bulat, kulit lebih halus dan pori-pori bertambah besar. Selanjutnya ciri sekunder lainnya
ditandai oleh kelenjar lemak dan keringat menjadi lebih aktif, dan sumbatan kelenjar
lemak dapat menyebabkan jerawat.
Ciri-ciri seks sekunder pada wanita antara lain : (Al-Mighwar, 2006 hlm.29)
a. Pinggul yang membesar dan membulat sebagai akibat membesarnya tulang
pinggul dan berkembangnya lemak bawah kulit.
b. Buah dada dan putting susu semakin tampak menonjol, dan dengan
berkembangnya kelenjar susu, payudara menjadi semakin lebih besar dan lebih bulat
c. Tumbuhnya rambut di kemaluan, ketiak, lengan dan kaki, dan kulit wajah.
Semua rambut, kecuali rambut wajah mula-mula lurus dan terang warnanya, kemudian
menjadi lebih subur, lebih kasar, lebih gelap dan agak keriting.
d. Kulit menjadi lebih kasar, lebih tebal, agak pucat dan lubang pori-pori
bertambah besar.
e. Suara dari suara kanak-kanak menjadi merdu (melodious), suara serak dan
suara yang pecah jarang sekali terjadi.
f. Kelenjar keringat lebih aktif, dan kulit lebih menjadi kasar dibanding kulit
anak-anak. Sumbatan kelenjar lemak dapat menyebabkan jerawat. Kelenjar keringat di
ketiak mengeluarkan banyak keringat dan baunya menusuk sebelum dan selama masa
haid.
g. Otot semakin kuat dan semakin besar, terutama pada pertengahan dan
menjelang akhir masa puber, sehingga memberikan bentuk pada bahu, lengan dan
tungkai kaki.
4. Penyebab Perubahan Pada Masa Pubertas
Usia mulainya pubertas dan perkembangannya dipengaruhi oleh berbagai faktor
biologis, psikososial dan lingkungan. Faktor terpenting tampaknya adalah kesehatan
umum individu (Henderson,2005 hlm.3).
Santrock J (2003, hlm.84) mengemukakan berbagai riset menemukan bahwa
sebelum anak matang secara seksual, pengeluaran hormon seks jarang terjadi. Akan
tetapi, dengan semakin meningkatnya jumlah hormon yang dikeluarkan, struktur dan
fungsi organ-organ seks akan semakin matang. Hubungan yang erat antara kelenjar
pituitary yang ada pada dasar otak telah terbentuk dengan gonad atau kelanjar seks. Jadi
kelenjar pituitary memproduksi dua hormon, yaitu hormon pertumbuhan yang
berpengaruh dalam menentukan besarnya individu, hormon gonadotropik yang
merangsang gonad untuk meningkatkan aktivitasnya. Sebelum datangnya masa puber,
jumlah hormon gonadotropik bertambah secara bertahap, demikian pula kepekaan
gonad terhdadap hormon gonadotropik . Dalam kondisi itulah terjadinya
perubahan-perubahan masa puber ; (b) Peranan Gonad, seiring pertumbuhan dan perkembangan
gonad, bertambah besarlah organ-organ seks, yaitu ciri-ciri seks primer dan fungsinya
pun menjadi matang. Begitu pula ciri-ciri seks sekunder, seperti berkembangnya rambut
kemaluan ; (c) Interaksi Kelenjar Pituitary dan Gonad, hormon yang telah diproduksi
gonad, yang telah dirangsang oleh hormon gonadotropik yang diproduksi oleh kelenjar
pituitary, kemudian bereaksi terhadap kelenjar ini dan secara berangsur-angsur
mengakibatkan penurunan jumlah hormon pertumbuhan yang diproduksi sehingga
menjadikan proses pertumbuhan terhenti. Interaksi antara hormon gonadotropik dan
gonad terus berlangsung sepanjang kehidupan reproduksi individu, kemudian berkurang
secara perlahan saat wanita mendekati menopause.
Wong,et al (2009, hlm.585) mengatakan bahwa secara umum peristiwa pubertas
disebabkan oleh pengaruh hormon dan dikendalikan oleh kelenjar hipofisis anterior
(adenohiposis) sebagai respons terhadap stimulasi dari hipotalamus. Stimulasi gonad
memiliki fungsi ganda,yaitu: (a) Produksi dan pelepasan gamet―produksi sperma pada
pria dan kematangan serta pelepasan ovum pada wanita ; (b) Sekresi hormon seks yang
sesuai , yaitu estrogen dan progesteron dari ovarium (wanita) dan testosteron dari testis
BAB III
KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS, DAN DEFENISI OPERASIONAL A.Kerangka Konsep
Konsep adalah abstraksi dari suatu realita agar dapat dikomunikasikan dan
membentuk suatu teori yang menjelaskan keterkaitan antar variabel, baik variabel yang
diteliti maupu n yang tidak diteliti (Nursalam, 2003 hlm.55). Variabel Independen dalam
penelitian ini adalah komponen dari konsep diri dan variabel dependen adalah
penerimaan terhadap perubahan fisik remaja putri pada masa pubertas.
Variabel Independen Variabel Dependen
B.
Skema. 1. Skema kerangka konsep
B. Hipotesis
Hipotesis pada penelitian ini adalah ada hubungan konsep diri dengan penerimaan
perubahan fisik remaja putri pada masa pubertas.
C. Defenisi Operasional
Komponen Konsep diri ;
• Gambaran diri
• Ideal diri
• Harga diri
• Peran diri
• Identitas diri
Perubahan fisik remaja putri pada
BAB IV
METODE PENELITIAN A.Desain Penelitian
Penelitian ini, menggunakan desain penelitian deskrptif korelasional dengan
pendekatan cross sectional.
B.Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi penelitian ini adalah seluruh pelajar putri SLTP Kemala Bhayangkari 1
Medan mulai dari kelas VII sampai kelas IX yang sudah menstruasi sebanyak 167 orang.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang mewakili populasi.
)
Dari rumus di atas dapat kita lihat jumlah sampel yang akan dijadikan responden pada
penelitian ini, yaitu :
117
Dengan demikian jumlah sampel minimal yang diteliti adalah 117 siswi. Sampel
pada penelitian ini diambil dari setiap kelas dilakukan dengan stratified random
sampling dari setiap kelas VII, VIII dan IX, yaitu dengan cara membagi populasi
terdapat sifat yang berbeda, kemudian dilakukan pengambilan sampel pada setiap strata
berdasarkan perimbangan (proporsional). Untuk mengetahui sampel masing-masing
kelas/strata digunakan rumus :
ni = N Ni
x n
Keterangan : ni = besar sampel disetiap strata
N = populasi keseluruhan
Penelitian dilakukan di SLTP Kemala Bhayangkari 1 Medan, karena mudah bagi
peneliti untuk menjangkau tempat penelitian dan pada survey awal di SLTP Kemala
Bhayangkari 1 Medan masih ditemukan siswi yang kurang menyadari perubahan fisik
D.Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilakukan pada bulan Januari sampai dengan bulan Mei 2010.
E.Etika Penelitian
Penelitian ini dilakukan setelah peneliti mendapat persetujuan dari institusi
pendidikan yaitu Program Studi D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan USU dan
izin kepala Sekolah SLTP Kemala Bhayangkari 1 Medan. Dalam penelitian ini terdapat
beberapa hal yang berkaitan dengan permasalahan etik, yaitu ; memberikan penjelasan
kepada calon responden tentang tujuan dan prosedur pelaksanaan penelitian. Apabila
calon responden bersedia, maka calon responden dipersilahkan untuk menandatangani
informed consent. Tetapi jika calon responden tidak bersedia, maka calon responden
berhak untuk menolak dan mengundurkan diri. Responden juga berhak mengundurkan
diri selama proses pengumpulan data berlangsung. Kerahasiaan catatan mengenai data
responden dijaga dengan cara tidak menuliskan nama responden pada instrumen
penelitian, tetapi menggunakan inisial. Data-data yang diperoleh dari responden juga
hanya digunakan untuk kepentingan penelitian.
F. Instrumen penelitian
Instrumen pada penelitian ini berupa kuesioner yang dibuat oleh peneliti
berdasarkan tinjauan teoritis. Kuesioner yang dibagikan terdiri dari :
1. Data pengungkapan konsep diri sebanyak 35 pernyataan yang terdiri dari :
gambaran diri sebanyak tujuh pernyataan, ideal diri sebanyak tujuh pernyataan, harga
sebanyak tujuh pernyataan. Untuk menilai konsep diri, dilakukan penyekoran dengan
kriteria penyekoran dengan menggunakan skala Guttman yang menyediakan 2 alternatif
jawaban, yaitu ; a) Bila bentuk pernyataan positif jawabannya “ya” maka skor dari
pernyataan itu 1, namun jika jawabannya “tidak” skor dari pernyataan itu 0; b) Bila
bentuk pernyataan negatif jawabannya “ya” maka skor dari pernyataan itu 0, namun jika
jawabannya tidak maka skor dari pernyataan itu 1.
Untuk mendapatkan kriteria digunakan perhitungan berikut :
- Menentukan skor terbesar dan terkecil
Skor terbesar : 35
Skor terkecil : 0
- Menentukan nilai rentangan (R)
Rentang = Skor terbesar – Skor tekecil
= 35-0
= 35
- Menentukan nilai panjang kelas (i)
kelas
- Menentukan skor kategori
Baik : 18 sampai 35
2. Data pengungkapan tentang penerimaan perubahan fisik remaja putri sebanyak
dua puluh enam pertanyaan. Untuk menilai penerimaan perubahan fisik diukur dari
setiap siswi yang dijadikan sampel dilakukan dengan cara mengisi kuesioner dengan
menggunakan skala likert yang menggunakan empat kategori untuk setiap pernyataan
sebagai berikut : a) Bila bentuk pernyataan positif, alternatif jawaban ; sangat setuju
(SS) skornya 4, setuju (S) skornya 3, tidak setuju (TS) skornya 2, sangat tidak setuju
(STS) skornya 1 ; b) Bila bentuk pernyataan negatif, alternatif jawaban ; sangat setuju
(SS) skornya 1, setuju (S) skornya 2, tidak setuju (TS) skornya 3, sangat tidak setuju
(STS) skornya 4. Selanjutnya variabel penerimaan perubahan fisik ini di interpretasikan
dengan menggunakan skor, yaitu :
- Menentukan skor terbesar dan terkecil
Skor terbesar : 80
Skor terkecil : 20
- Menentukan nilai rentangan (R)
Rentang = Skor terbesar – Skor tekecil
= 80-20
= 60
- Menentukan nilai panjang kelas (i)
kelas
Positif : Apabila jawaban responden lebih dari 30
Negatif : Apabila jawaban responden kurang dari 30
G.Uji Validitas dan Reliabilitas
1. Uji Validitas
Uji Validitas dimaksudkan agar pertanyaan yang termuat dalam kuesioner bisa
mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh instrumen atau kuesioner tersebut. Suatu
pertanyaan dikatakan valid dan dapat mengukur variabel penelitian yang dimaksud jika
nilai koefisien validitasnya lebih dari atau sama dengan 0.60. Uji validitas dilakukan
dengan content validity oleh dosen keperawatan jiwa Fakultas Keperawatan USU Ibu
Jenny Marlindawani Purba, S.Kep. MNS. pada tanggal 28 November 2009 dengan hasil
CVI 0.984.
2. Uji Reliabilitas
Uji Reliabilitas dimaksudkan untuk mengukur tingkat kestabilan atau
kekonsistenan jawaban yang diberikan responden atas pertanyaan dari kuesioner.
Sekumpulan pertanyaan untuk mengukur suatu variabel dikatakan reliabel dan berhasil
mengukur dimensi variabel yang kita ukur jika koefisien reliabilitasnya lebih dari 0.6
sudah memadai syarat reliabilitas. Uji reliabilitas dilakukan pada tanggal 1 desember
2009 pada 15 siswi SLTPN 9 Sunggal yang mempunyai kriteria sama dengan sampel,
lalu data diolah dengan mencari nilai koefisien reliabilitas, di dapatkan nilai Alpha
Cronbach = 0,76. Berarti instrumen sudah dinyatakan reliabel.
H. Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan pengisian kuesioner oleh responden untuk
putri pada masa pubertas. Prosedur pengumpulan data yang dilakukan adalah :
mengajukan surat permohonan izin penelitian pada institusi pendidikan program studi
D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatra Utara, dan
mengajukan surat permohonan izin melaksanakan penelitian di SLTP Kemala
Bhayangkari 1 Medan. Setelah mendapat izin, kemudian peneliti dibantu dengan dua
mahasiswa D-IV Bidan Pendidik yaitu Melia Pebrina,AMKeb dan Fenny
Fernando,Amkeb serta guru bimbingan konseling SLTP Kemala Bhayangkari 1 Medan
ibu Debby dalam melaksanakan pengumpulan siswi yang menjadi sampel penelitian di
satu kelas. Sampel yang dikumpulkan adalah 41 siswi dari kelas VII, 78 siswi dari kelas
VIII dan 48 siswi dari kelas XI. Selanjutnya peneliti menjelaskan kepada calon
responden tentang tujuan dan manfaat penelitian. Kemudian meminta persetujuan dari
calon responden untuk menjadi responden dengan menandatangani informed concent,
setelah itu peneliti memberikan penjelasan tetang artinya konsep diri, penerimaan diri,
perubahan fisik dan masa remaja. Setelah memberikan penjelasan, peneliti dan dua
mahasiswa D IV bidan pendidik yang membantu peneliti memberikan kuesioner kepada
responden untuk mengidentifikasi tentang komponen dalam konsep diri dan penerimaan
remaja terhadap perubahan fisik remaja. Lembar kuesioner diisi oleh masing-masing
siswi dengan waktu 15 menit tanpa diskusi dengan siswi lainnya. Dalam pengisian
kuesioner responden diawasi oleh peneliti, Melia Pebrina,AMKeb, Fenny
Fernando,AMKeb dan ibu Debby. Selanjutnya , data yang telah terkumpul dianalisis.
I. Analisis Data
1. Analisa univariat
Analisis ini digunakan untuk mendeskripsikan masing-masing variabel yang
remaja putri pada masa pubertas. Data- data yang bersifat kategorik pada konsep diri dan
penerimaan perubahan fisik dicari frekuensi dan proporsinya. Kemudian hasil disajikan
dalam bentuk tabel.
2. Analisa bivariat
Penganalisaan secara bivariat, pengujian data dilakukan dengan menggunakan uji
statistik chi-cquere dengan derajat kepercayaan 95% . Pedoman dalam menerima
hipotesis : apabila nilai probabilitas (p) < 0,05 maka Ho ditolak, apabila (p) > 0,05 maka
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil
Dalam hasil ini disajikan hasil pengolahan data mengenai gambaran konsep diri,
komponen konsep diri, penerimaan perubahan fisik dan analisis hubungan antara
konsep diri dengan penerimaan perubahan fisik remaja putri pada masa pubertas.
Tabel 5.1
Distribusi Konsep Diri Remaja Putri di SLTP Kemala Bhayangkari 1 Medan
Konsep Diri Frekuensi Persentase (%)
Baik 103 88,03
Tidak Baik 14 11,97
Jumlah 117 100
Berdasarkan tabel 5.1. dapat digambarkan bahwa remaja put ri di SLTP Kemala
Bhayangkari 1 Medan sebagian besar (88,03%) memiliki konsep diri baik dan 11,97%
Tabel 5.2
Distribusi Penerimaan Perubahan Fisik Remaja Putri pada Masa Pubertas di SLTP Kemala Bhayangkari 1 Medan
Penerimaan Frekuensi Persentase (%)
Positif 92 78,63
Negatif 25 21,37
Jumlah 117 100
Berdasarkan tabel 5.2 dapat digambarkan bahwa dari 117 responden sebagian besar
(78,63%) memiliki penerimaan positif terhadap perubahan fisik dan yang
Tabel 5.3
Hubungan Konsep Diri terhadap Penerimaan Perubahan Fisik Remaja Putri pada Masa Pubertas
Berdasarkan Tabel 5.3 dapat digambarkan bahwa responden yang memiliki konsep
diri baik sebanyak 83,5% menerima perubahan fisik dengan positif, konsep diri baik
sebanyak 16,5% menerima perubahan fisik dengan negatif, konsep diri tidak baik 42,9%
menerima perubahan fisik dengan positif, sedangkan konsep diri tidak baik sebanyak
57,1 % dengan penerimaan perubahan fisik negatif.
Hasil analisis diperoleh nilai p = 0,002 berarti terdapat hubungan yang signifikan
sehingga dapat disimpulkan konsep diri memiliki hubungan yang bermakna dengan
penerimaan perubahan fisik remaja putri. Di dapatkan pula nilai OR = 6,745 yang
artinya remaja yang mempunyai konsep diri baik mempunyai 6,745 kali penerimaan
perubahan fisik secara positif dibandingkan dengan remaja yang mempunyai konsep diri
B.Pembahasan
1. Interprestasi Dan Diskusi Hasil
a. Konsep Diri Remaja Putri di SLTP Kemala Bhayangkari 1 Medan
Berdasarkan tabel 5.1 konsep diri remaja putri pada SLTP Kemala Bhayangkari
1 Medan sebagian besar (88,03%) memiliki konsep diri baik, 11,97% responden
memiliki konsep diri tidak baik. Hal ini menunjukkan bahwa konsep diri remaja putri di
SLTP Kemala Bhayangkari 1 Medan sebagian besar mungkin telah memiliki gambaran
tentang dirinya sendiri dan menyadari akan pandangan orang lain tentang dirinya. Hal
ini dapat dilihat baik dari berbagai komponen konsep diri di antaranya tentang gambaran
diri, ideal diri, harga diri, peran diri dan identitas diri, yang menyangkut perasaan
seseorang tentang dirinya, sikapnya terhadap keberadaan dirinya sekarang dan masa
depannya, sikapnya terhadap keberhargaan, kebanggaan dan keterhinaannya. (Azwar,
2007 hlm.7)
Selain itu, hal ini terjadi karena remaja putri di SLTP Kemala Bhayangkari 1
Medan telah mengetahui bagaimana seharusnya bergaul dengan orang sekitar dan
didukung dengan letak wilayah SLTP Kemala Bhayangkari 1 Medan yang tidak
merupakan daerah terpencil sehingga mereka bisa dengan mudah menyesuaikan diri
dengan lingkungannya.
Namun, pada penelitian ini masih ada beberapa siswa yang memiliki konsep diri
yang tidak baik, hal ini terjadi karena siswi tersebut merasa tidak mampu
mengembangkan sikap dan merasa rendah diri jika dibandingkan dengan
konflik dalam dirinya, kebimbangan dan bahkan putus asa untuk bisa menyesuaikan diri
dengan teman-temannya atau lingkungan disekitar tempat tinggalnya.
b. Penerimaan Perubahan Fisik Remaja
Berdasarkan tabel 5.2. digambarkan sebagian besar responden, memiliki
penerimaan positif terhadap perubahan fisik, yaitu sebanyak 92 responden (78,63%). Hal
ini menunjukkan bahwa sebagian besar remaja putri di SLTP Kemala Bhayangkari 1
Medan dapat menerima dirinya dengan apa yang ada pada dirinya tanpa merasa malu
atau takut dengan perubahan yang terjadi pada dirinya. Individu yang bisa menerima diri
secara baik tidak memiliki beban perasaan terhadap diri sendiri, sehingga lebih banyak
memiliki kesempatan untuk beradaptasi dengan lingkungan. Kesempatan itu membuat
individu mampu melihat peluang-peluang berharga yang memungkinkan diri
berkembang. (Sobur, 2003 hlm.17)
Berdasarkan tabel 5.2 juga dapat digambarkan bahwa masih ada responden yang
memiliki penerimaan negatif terhadap perubahan fisik, yaitu sebanyak 21,37% (25
responden). Hal ini berarti masih ada siswi remaja putri memiliki penerimaan secara
negatif terhadap perubahan fisik, penerimaan diri yang negatif bisa terjadi dikarenakan
remaja tersebut merasa prihatin dan gelisah akan tubuhnya yang berubah dan merasa
tidak puas dengan penampilan dirinya juga mungkin karena adanya konflik dalam
dirinya.
c. Hubungan Konsep Diri Terhadap Penerimaan Perubahan Fisik
Berdasarkan hasil analisis chi-square pada konsep diri siswi SLTP Kemala
5% dan p-value (0,002) sehingga terdapat adanya hubungan antara konsep diri terhadap
penerimaan perubahan fisik remaja putri pada masa pubertas.
Hal ini juga didukung oleh Burn yang mengatakan bila seseorang diterima,
disetujui dan disukai tentang sebagai apa dia dan dia sadar akan hal ini, maka suatu
konsep diri yang positif seharusnya menjadi miliknya.
Remaja yang sedang berkembang, baik fisik maupun ciri seksualnya, akan
memperlihatkan suatu sikap dalam perubahan fisik dan biologis yang dialaminya.
Pemahaman terhadap perubahan yang terjadi pada remaja putri ini akan mempengaruhi
sikap penerimaan dirinya. Hal ini dikarenakan remaja hidup bersama dengan segala
karakter dirinya. Sikap sebagai salah satu aspek penerimaan diri, dapat diartikan sebagai
kesiapan reaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu. Tidak keliru bila
kesiapan dalam diri dipahami sebagai suatu kecenderungan potensial untuk bereaksi
apabila remaja dihadapkan pada stimulus yang menghendaki adanya respon. (Azwar,
2007 hlm.7)
Menurut Hurlock (1994), konsep diri remaja sebelumnya cenderung memiliki
pandangan yang baik mengenai dirinya sendiri kemudian menjadi berubah memiliki
pandangan yang tidak realistik mengenai penampilan dirinya karena perubahan pada
fisiknya. Pengambilan sikap positif atau negatif dalam menghadapi perubahan fisiknya
ini ditentukan oleh sikapnya sendiri.
Hakikatnya bila seseorang diterima, disetujui dan disukai tentang sebagai apa dia
dan dia sadar akan hal ini, maka suatu konsep diri yang positif seharusnya menjadi
miliknya. Bila orang lain, orangtua, teman-teman sebayanya, guru-guru,
memperolok-olok dia, meremehkan dia, menolak dia, mengkritik dia, mengenai tingkah laku ataupun
kemungkinan besar akan timbul. Sebagaimana seseorang dinilai oleh orang lain begitu
pula dia akan menilai dirinya sendiri.
Hal ini berarti bahwa terdapat hubungan antara konsep diri remaja putri terhadap
penerimaan perubahan fisik pada masa pubertas. Semakin tinggi penerimaan diri
terhadap perubahan fisiknya maka konsep dirinya semakin tinggi dan semakin rendah
penerimaan diri terhadap perubahan fisiknya maka konsep dirinya semakin rendah.
Namun, menurut Calhoun dan Acocella (1990, dalam Sobur,2003, hlm.17),
bahwa dasar dari konsep diri yang positif bukanlah kebanggaan yang besar tentang diri,
tetapi berupa penerimaan diri dan kualitas ini lebih mungkin mengarah pada kerendahan
hati dan kedermawaan daripada keangkuhan dan keegoisan. Sehingga meskipun seorang
remaja tersebut telah memiliki konsep diri yang positif tapi harus tetap menjaga agar
konsep diri tersebut tidak berubah menjadi suatu sifat yang merugikan bagi dirinya
maupun orang lain.
2. Keterbatasan Penelitian
Pemilihan responden pada penelitian ini yakni 117 orang siswi SLTP Kemala
Bhayangkari 1 Medan. SLTP Kemala Bhayangkari ini berada di pusat kota Medan yang
mana siswi remaja putri sudah banyak yang mendapatkan pengetahuan dan pendidikan
tentang masa pubertas, sehingga dari hasil penelitian diperoleh responden dominan
memiliki konsep diri baik. Maka dalam penelitian selanjutnya dianjurkan untuk melihat
hubungan konsep diri pada remaja putri di SLTP yang berada jauh dari kota, yang belum
memiliki pengetahuan yang luas tentang perubahan-perubahan pada masa pubertas
sehingga dapat membandingkan konsep diri remaja pada masa pubertas di perkotaan
3. Implikasi Terhadap Pelayanan Kebidanan
Berdasarkan hasil penelitian ini telah diketahui bahwa remaja yang mempunyai
konsep diri baik dapat menerima perubahan bentuk fisiknya secara positif saat
menghadapi masa pubertas. Jadi dalam melakukan pelayanan kebidanan pada remaja
dapat diberikan informasi mengenai perubahan yang terjadi pada masa pubertas dan jika
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Remaja putri pada masa pubertas di SLTP Kemala Bhayangkari 1 Medan yang konsep dirinya berada dalam kategori baik yaitu 88,03% (103 responden), dan sebanyak
11,97% (14 responden) yang konsep dirinya tidak baik.
Remaja putri pada masa pubertas memiliki penerimaan yang positif terhadap
perubahan fisik, yaitu sebanyak 78,63% (92 responden), dan penerimaan negatif
terhadap perubahan fisik, yaitu sebanyak 21,37% (25 responden).
Terdapat hubungan yang signifikan antara konsep diri terhadap penerimaan
perubahan fisik remaja putri pada masa pubertas.
B.Saran
1. Bagi Institusi Pendidikan D-IV Kebidanan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa remaja yang mempunyai konsep diri
baik dapat menerima perubahan bentuk fisik pada masa pubertas secara positif.
Oleh karena itu, penting bagi pelayanan kebidanan memberikan pendidikan
tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada masa pubertas untuk
mempersiapkan remaja dalam menghadapi masa pubertas.
2. Bagi Remaja Putri
Bagi remaja yang masih memiliki konsep diri tidak baik, sebaiknya berusaha
suatu konsep diri yang positif yang akan membawa kebaikan bagi perkembangan
kepribadian diri mereka selanjutnya.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Bagi peneliti selanjutnya diharapkan melakukan penelitian tentang hubungan
konsep diri terhadap penerimaan perubahan bentuk fisik remaja putri pada
masa pubertas di daerah yang jauh dari kota, agar dapat dilihat perbedaan
konsep diri remaja putri yang tinggal di daerah kota dengan remaja putri yang
DAFTAR PUSTAKA
Agustiani, H. (2006). Psikologi perkembangan pendekatan ekologi kaitannya dengan
konsep diri, Bandung : PT.Refika Aditama.
Al-Mighwar, M. (2006). Psikologi remaja, Bandung : Pustaka Setia.
Wong, D. Dkk. (2009). Buku ajar keperawatan untuk pediatrik, Jakarta: EGC.
Sunaryo. (2004). Psikologi keperawatan, Jakarta : EGC
Sukardi, DK. (2003). Pengantar pelaksanaan program bimbingan dan konseling di
sekolah, Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Soepardan, S. (2007). Konsep kebidanan, Jakarta: EGC.
Yusuf, S. (2000). Psikologi perkembangan, Bandung: PT. Remaja rosdakarya.
Kartono, K. (2007). Psikologi anak, Bandung: CV.Mandar Maju.
Sipahutar. (2008). Gangguan konsep diri,
Oktober 2009.
Sobur, A. (2003). Psikologi umum dalam lintasan sejarah, Bandung : Pustaka Setia.
Henderson, C.(2005). Buku ajar konsep kebidanan, Jakarta: EGC.
Santrock, J. (2003). Adolescence perkembangan remaja, Jakarta: Erlangga.
Azwar, S.(2007). Sikap manusia teori dan pengukurannya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Riduan. (2007). Belajar mudah penelitian untuk guru, karyawan dan peneliti pemula, Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2007). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan R & D, Bandung:
Alfabeta.
Lampiran 2
Lembar Persetujuan Menjadi Responden
Saya yang bernama Fatwiany (095102040) adalah mahaiswi Program Studi D-IV
Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatra Utara. Saat ini saya sedang
melakukan penelitian tentang “Hubungan Konsep Diri Terhadap Penerimaan Perubahan
Fisik Remaja Putri Pada Masa Pubertas di SLTP Kemala Bhayangkari 1 Medan”.
Penelitian ini merupakan salah satu kegiatan dalam menyelesaikan tugas akhir di
Program Studi D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatra Utara.
Untuk keperluan tersebut saya mohon kesediaan siswi SLTP Kemala
Bhayangkari 1 Medan untuk menjadi responden dalam penelitian ini. Selanjutnya saya
mohon kesediaannya untuk mengisi kuesioner ini dengan jujur. Jika bersedia silahkan
menandatangani lembar persetujuan ini sebagai bukti kesediaan anda.
Partisipasi anda dalam penelitian ini bersifat sukarela, sehingga anda bebas untuk
mengundurkan diri setiap saat tanpa ada sanksi apapun. Identitas pribadi anda dan semua
informasi yang diberikan akan dirahasiakan dan hanya digunakan untuk keperluan
penelitian ini.
Terima kasih atas partisipasi anda dalam penelitian ini.
Medan, Januari 2010
Peneliti Responden
Lampiran 3
KUESIONER TENTANG KONSEP DIRI DAN PERUBAHAN FISIK REMAJA PUTRI PADA MASA PUBERTAS
Biodata Responden
Nama :………..
Kelas :………..
Umur :………...tahun
Umur mendapat haid pertama kali :………..tahun
Tinggi badan saat ini : ±…… …..cm
Berat badan saat ini : ±……… ..kg
Alamat :………..
………
Petunjuk :
• Berikan tanda chek list (
√
) pada jawaban yang saudara pilih dengan keadaan yang
sebenarnya.
• Pada setiap pernyataan terdapat 2 alternatif jawaban yaitu :
Ya Jika pernyataan sesuai dengan yang anda alami dan rasakan
Tidak Jika pernyataan tidak sesuai dengan yang anda alami dan rasakan
• Pahamilah bahwa jawaban anda merupakan kenyataan yang sesungguhnya yang anda alami, bukan merupakan rekayasa.
• Jawablah seluruh pertanyaan dengan jujur sehingga hasil yang anda dapat merupakan gambaran diri anda yang sebenarnya.
a. Kuesioner Tentang Pengungkapan Konsep Diri Siswa
NO Pernyataan
Ya Tidak Item Konsep terhadap Gambaran Diri
1. Saya merasa tinggi badan saya tidak sesuai dengan yang
diinginkan
2. Saya merasa berat badan saya sesuai dengan yang diinginkan
3. Saya merasa penampilan saya disukai banyak orang
5. Saya menyukai bentuk wajah saya
6. Saya menyukai bentuk tubuh saya saat ini
7. Saya tidak suka kalau berat badan saya bertambah
Item Konsep terhadap Ideal Diri
8. Saya berharap berat badan saya sesuai dengan tinggi badan saya
9. Saya ingin disukai oleh semua guru disekolah
10. Saya berharap mendapat predikat bintang kelas di sekolah
11. Saya berharap semua teman sekolah menyukai saya
12. Saya senang sebagai siswa disekolah ini
13. Saya ingin keluarga memberikan kasih sayang kepada saya
14. Saya ingin menjadi bagian dalam kelompok remaja di lingkungan
rumah
Item Konsep terhadap Harga Diri
15. Saya merasa semua teman sekolah menyukai saya
16. Teman-teman saya di sekolah mengatakan bahwa saya cocok
menjadi sahabat
17. Saya merasa lingkungan tempat tinggal menyukai saya
18. Saya berani bertanggungjawab atas apa yang telah saya lakukan
19. Saya merasa rendah diri karena kurang diterima di kalangan teman
sekelas
20. Saya merasa layak mendapat pujian dari orang lain
21. Saya merasa keluarga selalu memberikan dukungan kepada saya
Item Konsep terhadap Peran Diri
22. Saya merasa tidak terbebani dengan tugas-tugas sekolah
23. Saya merasa terpanggil untuk membantu pekerjaan dirumah.
24. Saya merasa dapat melakukan kewajiban saya sebagai pelajar di
sekolah
25. Saya dapat membagi waktu saya untuk mengerjakan tugas di
sekolah dengan tugas di rumah
orang lain
27. Saya selalu dibutuhkan keluarga untuk mengemukakan pendapat
28. Saya selalu ikut berpartisipasi dalam organisasi pemuda di sekitar
rumah saya
Item Konsep terhadap Identitas Diri
29. Saya bangga sebagai seorang remaja putri
30. Saya tidak pernah menyesal menjadi seorang perempuan
31. Saya senang dengan kelompok belajar saya
32. Saya senang dapat mengikuti pelajaran di sekolah
33. Saya dapat bergaul dengan tetangga di sekitar rumah
34. Saya puas dengan prestasi belajar saya saat ini
35. Saya mempunyai kelompok belajar yang handal
b. Kuesioner Tentang Perubahan Fisik Remaja Putri
NO Pernyataan SS S TS STS
1. Saya bersyukur karena tidak memiliki wajah yang cacat
2. Saya memiliki berat badan yang tidak seimbang dengan tinggi badan saya
3. Saya merasa pertumbuhan ukuran tubuh saya seperti teman yang lainnya
4. Saya merasa terganggu dengan perubahan bentuk tubuh saya
5. Saya terganggu memiliki perut yang gendut/buncit
6. Saya merasa terganggu dengan haid yang saya alami
7. Saya merasa terganggu karena pinggul yang membesar
8. Saya bangga memiliki ukuran pinggul yang ideal
9. Saya senang memiliki tinggi badan yang sesuai dengan berat badan saya
10. Saya merasa takut akan timbul jerawat sewaktu haid
11. Saya bersyukur karena tidak memiliki jerawat
12. Saya merasa senang karena telah mendapat haid
13. Saya merasa kaki saya lebih panjang daripada badan saya
15. Saya merasa suara saya berubah menjadi lebih merdu
16. Saya merasa terganggu dengan tumbuhnya rambut disekitar kemaluan
17. Saya merasa terganggu dengan perubahan suara ini
18. Saya merasa terganggu memiliki kulit yang kasar
19. Saya takut jika payudara saya akan tumbuh semakin membesar