• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Determinan Ekspor Karet Alam Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Determinan Ekspor Karet Alam Indonesia"

Copied!
96
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS DETERMINAN EKSPOR KARET ALAM INDONESIA

TESIS

Oleh

BARTO SIMATUPANG

087018002/EP

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2010

S

E K

O L

A

H

P A

S C

A S A R JA N

(2)

ANALISIS DETERMINAN EKSPOR KARET ALAM INDONESIA

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Studi Ekonomi Pembangunan pada Sekolah Pascasarjana

Universitas Sumatera Utara

Oleh

BARTO SIMATUPANG

087018002/EP

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Judul Tesis : ANALISIS DETERMINAN EKSPOR KARET ALAM INDONESIA

Nama Mahasiswa : Barto Simatupang

Nomor Pokok : 087018002

Program Studi : Ekonomi Pembangunan

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Dr. Murni Daulay, M.Si) (Drs. Iskandar Syarief, M.A) Ketua Anggota

Ketua Program Studi Direktur

(Dr. Murni Daulay, M.Si) (Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B., M.Sc)

(4)

Telah diuji pada

Tanggal: 02 Maret 2010

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Dr. Murni Daulay, M.Si

Anggota : 1. Drs. Iskandar Syarief, M.A

2. Dr. Jonni Manurung, MS

3. Drs. Rahmad Sumanjaya, M.Si

(5)

ABSTRAK

Karet merupakan salah satu komoditi ekspor Indonesia yang mempunyai kontribusi cukup besar dalam menyumbang devisa negara. Secara umum ekspor karet ke seluruh negara tujuan menunjukkan kecenderungan berfluktuasi. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian seberapa besar pengaruh faktor luar seperti gross domestic product, harga karet alam, harga karet sintesis dan nilai tukar (kurs) terhadap permintaan ekspor karet alam Indonesia.

Penelitian ini menggunakan data panel, yang merupakan gabungan data time series rentang waktu 1999 – 2008 dan data cross section yaitu delapan negara tujuan ekspor. Data dianalisa menggunakan model Fixed Effect dengan Generalized Least Square (GLS).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel GDP dan kurs mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan ekspor karet alam Indonesia, sedangkan harga karet alam dan harga karet sintesis mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap permintaan ekspor karet alam Indonesia.

(6)

ABSTRACT

Rubber represent one of commodity export the Indonesia having big enough contribution in contributing state's stock exchange. In general export the rubber of target state show the tendency have fluctuation. Therefore require to be done by a research how big external factor influence like gross of domestic product, natural rubber price, price of rubber sintesis and exchange rate (kurs) to export demand the natural rubber Indonesia.

This research use the panel data, representing pooled of data of time series span the time 1999 – 2008 and data of cross section that is eight target state export. Data analysed to use the Model of Fixed Effect by Generalized Least Square (GLS).

Result of research indicate that the variable of GDP and rate have the positive influence and signifikan to export demand the natural rubber Indonesia, while price of natural rubber and price of rubber sintesis have the negative influence and signifikan to export demand the natural rubber Indonesia.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Yesus-ku, atas segala berkat dan kesempatan yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan perkuliahan dan tesis ini dengan judul “Analisis Determinan Ekspor Karet Alam Indonesia” sebagai tugas akhir pada Program Magister Ekonomi Pembangunan, Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah memberikan bimbingan, dukungan, dan bantuan selama proses penyelesaian tesis ini:

1. Ibu Dr. Murni Daulay, M.Si, selaku Pembimbing I dan Ketua Program Studi Ekonomi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara serta Bapak Drs. Iskandar Syarief, M.A sebagai Pembimbing II yang dengan arif dan bijaksana memberikan bimbingan, arahan dan dorongan sehingga mampu menyelesaikan perkuliahan dan tesis ini.

2. Bapak Dr. Jonni Manurung, MS, Drs. Rahmad Sumanjaya, M.Si dan Drs. Rujiman, M.A selaku Anggota Penguji, yang telah banyak memberikan koreksi dan saran dalam pembuatan tesis ini.

3. Ibu Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B., M.Sc, selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, beserta seluruh staf pengajar dan pegawai Program Magister Ekonomi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan pengajaran dan bimbingan selama perkuliahan. 4. Administaror Pelabuhan Utama Belawan yang telah memberikan ijin dan

(8)

5. Rekan-rekan mahasiswa Program Magister Ekonomi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Angkatan 14 atas kebersamaan dan kekeluargaan yang terbina selama perkuliahan dan kiranya tetap berlanjut di masa yang akan datang.

6. Hormat saya kepada Ayahanda Mauli Simatupang dan Ibunda Sondja br Gultom serta mertuaku Dahlan Tambunan (alm) dan Rosdjamai. Dan secara khusus, tesis ini saya dedikasikan untuk Istriku Ratna Ester Juwitawati serta anak kami Onward Fellix, Dian Ryan Hammerson, Karen Ratu Putri Hasian atas segala dorongan dan pengorbanan yang diberikan selama perkuliahan.

Tidak ada gading yang tidak retak, tesis ini juga tidak akan luput dari berbagai kekurangan namun diharapkan dapat berguna bagi semua pihak yang terkait dalam pengembangan dan peningkatan ekspor karet Indonesia. Penulis akan selalu berdoa dan berseru kepada Tuhan Yesus agar saya dan semua pihak yang telah memberikan bantuannya selama ini diberikan hikmat dan kepintaran karena keuntungannya melebihi perak dan hasilnya melebihi emas, ia lebih berharga daripada permata. Akhirnya semua baik, sungguh teramat baik Kau jadikan hidupku berarti. Amin.

Medan, 02 Maret 2010 Penulis,

(9)

RIWAYAT HIDUP

Nama : Barto Simatupang

Tempat dan Tanggal Lahir : Lobugala, 23 Oktober 1964 Jenis Kelamin : Laki-Laki

Agama : Kristen Protestan

Status : Menikah

Nama Orang Tua

Ayah : Mauli Simatupang

Ibu : Sondja br Gultom

Alamat Rumah : Jl. M. Idris, Gg. Komik No. 22-A, Medan

Pendidikan

1. Tahun 1970-1975 : SD Negeri Rahutbosi, Pangaribuan 2. Tahun 1976-1979 : SMP Negeri Pangaribuan

3. Tahun 1979-1982 : SMA Negeri Tarutung

4. Tahun 1983-1988 : Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Jurusan Administrasi Negara, USU–Medan

5. Tahun 1997-2000 : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Panca Bhakti Palu Jurusan Ekonomi Manajemen

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB I. PENDAHULUAN... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 6

1.3. Tujuan Penelitian ... 7

1.4. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 9

2.1. Teori Perdagangan Internasional... 9

2.2. Teori Permintaan dan Penawaran... 12

2.3. Elastisitas ... 17

2.4. Produk Domestik Bruto (PDB) ... 19

2.5. Faktor Harga... 21

2.6. Nilai Tukar Mata Uang (Kurs)... 22

2.7. Ekspor ... 24

2.8. Penelitian Terdahulu ... 26

2.9. Kerangka Berpikir ... 30

(11)

BAB III METODE PENELITIAN ... 32

3.1. Ruang Lingkup Penelitian... 32

3.2. Jenis dan Sumber Data ... 32

3.3. Model Analisis ... 34

3.4. Metode Analisis ... 35

3.4.1. Model Efek Tetap (Fixed Effect Model) ... 35

3.4.2. Model Efek Random (Random Effect Model) ... 36

3.4.3. Uji Chow (Chow Test) ... 37

3.4.4. Uji Haussman (Haussman Test) ... 38

3.5. Uji Kesesuaian (Test Goodness of Fit)... 39

3.6. Definisi Operasional... 40

BAB VI ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... 41

4.1. Deskripsi Ekspor Indonesia... 41

4.2. Ekspor Karet Indonesia ... 44

4.3. GDP Negara-negara Tujuan Utama Ekspor Karet Indonesia ... 49

4.4. Harga Karet ... 51

4.5. Kurs Mata Uang ... 54

4.6. Analisa Hasil Persamaan Regresi Panel... 56

4.6.1. Pemilihan Model Data Panel... 57

4.6.2. Estimasi Model Permintaan Ekspor Karet Alam Indonesia... 59

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 66

5.1. Kesimpulan ... 66

5.2. Saran ... 66

(12)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

1.1. Ringkasan Perkembangan Nilai Ekspor Indonesia Tahun 2004-2008

(Dalam Juta Dolar AS) ... 3

1.2. Produksi Karet Alam Negara Produsen Utama Tahun 2002-2007 (Dalam Ribu Ton) ... 4

1.3. Konsumsi Karet Negara Konsumen Utama Tahun 2002-2007 (Dalam Ribu Ton) ... 5

4.1. Ringkasan Perkembangan Nilai Ekspor Indonesia Tahun 2004-2008 (Dalam Juta US$)... 42

4.2. Neraca Ekspor-Impor Produk Pertanian Tahun 2002-2008 (Dalam Juta Ton dan Juta US$) ... 43

4.3. Perkembangan Ekspor Karet Indonesia Tahun 1999-2008... 45

4.4. Negara Tujuan Ekspor Karet Alam Indonesia Tahun 1999-2008 (000 Ton)... 49

4.5. GDP Negara Tujuan Ekspor Karet Alam Indonesia Tahun 1999-2008 (Milyar US Dolar) ... 50

4.6. Harga Karet Alam US$/Ton Tahun 1999-2008 ... 52

4.7. Harga Karet Sintetis US$/Ton Tahun 1999-2008 ... 53

4.8. Kurs Rupiah per Dolar Amerika Serikat 1999-2008... 55

4.9. Hasil Estimasi Common (PLS) dan Fixed Effect... 57

4.10. Hasil Uji Chow... 58

(13)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

2.1. Kurva Permintaan... 13

2.2. Kurva Penawaran Suatu Barang atau Komoditas ... 16

2.3. Kerangka Berpikir ... 30

4.1. Perkembangan Ekspor Karet Indonesia Tahun 1999-2008 ... 46

4.2. Harga Karet Alam dan Karet Sintetis US$/Ton Tahun 1999-2008 ... 54

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1. Variabel Penelitian ... 71

2. Output Regresi Data Panel Pada Pooled Least Square (PLS) ... 73

3. Output Regresi Data Panel Pada Fixed Effect (Noweghthing) ... 75

4. Output Regresi Data Panel Pada Random Effect (Noweghthing) ... 77

(15)

ABSTRAK

Karet merupakan salah satu komoditi ekspor Indonesia yang mempunyai kontribusi cukup besar dalam menyumbang devisa negara. Secara umum ekspor karet ke seluruh negara tujuan menunjukkan kecenderungan berfluktuasi. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian seberapa besar pengaruh faktor luar seperti gross domestic product, harga karet alam, harga karet sintesis dan nilai tukar (kurs) terhadap permintaan ekspor karet alam Indonesia.

Penelitian ini menggunakan data panel, yang merupakan gabungan data time series rentang waktu 1999 – 2008 dan data cross section yaitu delapan negara tujuan ekspor. Data dianalisa menggunakan model Fixed Effect dengan Generalized Least Square (GLS).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel GDP dan kurs mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan ekspor karet alam Indonesia, sedangkan harga karet alam dan harga karet sintesis mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap permintaan ekspor karet alam Indonesia.

(16)

ABSTRACT

Rubber represent one of commodity export the Indonesia having big enough contribution in contributing state's stock exchange. In general export the rubber of target state show the tendency have fluctuation. Therefore require to be done by a research how big external factor influence like gross of domestic product, natural rubber price, price of rubber sintesis and exchange rate (kurs) to export demand the natural rubber Indonesia.

This research use the panel data, representing pooled of data of time series span the time 1999 – 2008 and data of cross section that is eight target state export. Data analysed to use the Model of Fixed Effect by Generalized Least Square (GLS).

Result of research indicate that the variable of GDP and rate have the positive influence and signifikan to export demand the natural rubber Indonesia, while price of natural rubber and price of rubber sintesis have the negative influence and signifikan to export demand the natural rubber Indonesia.

(17)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perekonomian dunia yang mengglobal saat ini telah menciptakan kondisi saling ketergantungan ekonomi antar-negara. Tanpa melakukan kerjasama dan tukar menukar komoditi dengan negara lain baik untuk barang dan jasa, maupun komoditi lain seperti teknologi dan modal, maka suatu negara tidak akan dapat meningkatkan pembangunan perekonomiannya. Dunia telah menyadari bahwa tidak ada satu negara manapun yang mampu memenuhi semua kebutuhannya tanpa melakukan pertukaran dengan negara lain.

Dengan kondisi yang demikian, maka setiap negara sangat membutuhkan hubungan ekonomi dengan negara lain. Bahkan perlu meningkatkan hubungan ekonomi baik secara bilateral, regional, ataupun internasional. Akan sulit bagi kita menentukan bahwa ada suatu negara yang benar-benar telah mandiri memenuhi segala kebutuhannya sendiri tanpa bantuan negara lain. Negara maju seperti Amerika Serikat misalnya, masih saja membutuhkan negara lain seperti China dan Indonesia sebagai partner dagangnya (Susilo, 2008).

Bahkan dalam era globalisasi saat ini, hubungan antarnegara cenderung menimbulkan penyatuan aktivitas ekonomi baik di sektor riil maupun sektor

keuangan. Adapun faktor utama yang mendorong tingginya aliran barang

(18)

murah dengan daya angkut yang semakin besar, teknologi informasi, serta

proteksionisme yang semakin berkurang. Kemajuan teknologi telah memperpendek

jarak antarnegara produsen barang dan antarpengguna. Di samping itu, berbagai

kerjasama perdagangan internasional, baik yang bersifat multilateral maupun

bilateral, juga telah meningkatkan aliran barang dan jasa serta modal antarnegara.

Salah satu manfaat utama yang diperoleh dari perekonomian yang terintegrasi

tersebut adalah semakin terbukanya pasar ekspor untuk produk-produk domestik.

Ekspor diyakini akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan pada umumnya.

Fungsi penting komponen ekspor dari perdagangan luar negeri adalah negara memperoleh keuntungan dan pendapatan nasional naik, yang pada gilirannya menaikkan jumlah output dan laju pertumbuhan ekonomi. Dengan tingkat output yang lebih tinggi lingkaran setan kemiskinan dapat dipatahkan dan pembangunan ekonomi dapat ditingkatkan (Jhingan, 2000).

Ekspor juga dapat membantu semua negara dalam menjalankan usaha-usaha pembangunan mereka melalui promosi serta penguatan sektor-sektor ekonomi yang mengandung keunggulan komparatif, baik itu berupa ketersediaan faktor-faktor produksi tertentu dalam jumlah yang melimpah, atau keunggulan efisiensi alias produktivitas tenaga kerja (Mankiw, 2003).

Beberapa dekade terakhir, perekonomian Indonesia telah menunjukkan

integrasi yang semakin kuat dengan perekonomian global. Berbagai indikator

(19)

yang keluar dari Indonesia, dalam periode 1980-2008 telah terjadi peningkatan peranan ekspor nonmigas dalam PDB Indonesia, dari 8,4% menjadi 20,9% (Bank Indonesia, dalam http://bi.go.id, 2008).

Sebagai gambaran peningkatan ekspor Indonesia dapat dilihat dalam lima tahun terakhir 2004-2008 (Tabel 1.1). Jika pada tahun 2004 nilai ekspor non migas Indonesia mencapai 55.939,3 juta US$ atau 78,14 persen dari total nilai ekspor 71.584,6 juta US$, maka pada tahun 2008 ekspor nonmigas meningkat menjadi 107.894,1 juta US$ atau 78,74 persen dari total nilai ekspor Indonesia 137.020,4 juta US$. Dengan demikian peranan nonmigas dalam struktur ekspor secara rata-rata dalam periode 2004-2008 cukup dominan yaitu sebesar 78,94 persen dibandingkan ekspor migas yang hanya 21,06 persen.

Tabel 1.1. Ringkasan Perkembangan Nilai Ekspor Indonesia Tahun 2004-2008 (Dalam Juta Dolar AS)

Uraian 2004 2005 2006 2007 2008

Migas 15.645,3 19.231,6 21.209,5 22.088,6 29.126,3 Nonmigas 55.939,3 66.428,4 79.589,1 92.012,3 107.894,1

Total Ekspor 71.584,6 85.660,0 100.798,6 114.100,9 137.020,4

Sumber: BPS, diolah Departemen Perdagangan 2009.

(20)

ekspor nasional tidak dapat dianggap kecil mengingat Indonesia merupakan produsen karet no 2 (dua) terbesar di dunia dengan produksi sebesar 2,55 juta ton pada tahun 2007 (Tabel 1.2) setelah Thailand (produksi sebesar 2,97 juta ton) dan negara yang memiliki luas lahan karet terbesar di dunia dengan luas lahan mencapai 3,4 juta hektar di tahun 2007 (Parhusip, 2008).

Tabel 1.2. Produksi Karet Alam Negara Produsen Utama Tahun 2002-2007 (Dalam Ribu Ton)

Tahun Thailand Indonesia Malaysia India China Lain-lain

2002 2.615 1.630 805 641 468 1.181

2003 2.876 1.792 909 707 480 1.189

2004 2.984 2.066 1.098 743 486 1.224

2005 2.900 2.270 1.132 772 575 1.164

2006 3.130 2.415 1.280 853 600 1.242

2007 2.970 2.550 1.210 807 663 1.265

Sumber: IRSG (International Rubber Study Group) 2008.

Hasil studi International Rubber Study Group (IRSG), menyatakan bahwa permintaan karet alam dan sintetik dunia pada tahun 2035 adalah sebesar 31.3 juta ton untuk industri ban dan non ban, dan 15 juta ton diantaranya adalah karet alam.

Dari studi ini diproyeksikan pertumbuhan produksi Indonesia akan mencapai 3% per tahun, sedangkan Thailand hanya 1% dan Malaysia -2%. Pertumbuhan produksi untuk Indonesia dapat dicapai melalui peremajaan atau penanaman baru karet yang

(21)

Tabel 1.3. Konsumsi Karet Negara Konsumen Utama Tahun 2002-2007 (Dalam

Sumber: IRSG (International Rubber Study Group), 2008.

Dari uraian di atas, ada potensi yang cukup besar mengapa karet perlu dikembangkan di Indonesia. Sekarang ini konsumen karet dunia semakin meningkat. Sampai tahun 2005 konsumsi karet dunia naik dari 15 juta ton menjadi 20 juta ton. Selain itu harga karet dunia menembus 1 dollar AS per kilogram dan diyakini akan terus naik mendekati 1,77 dollar AS per kilogram seperti pada masa kejayaan karet pada tahun 1958. Dengan asumsi tersebut, maka ke depan prospek komoditas perkebunan yang paling menjanjikan adalah karet (Kompas, 5 April 2008).

(22)

pada negara tujuan utama ekspor karet alam Indonesia yaitu Amerika Serikat, Jepang dan China. Jika pada tahun 2002 ekspor karet alam Indonesia ke Amerika Serikat sebesar 593,10 ribu ton, dan turun menjadi 564,80 ribu ton tahun 2005 hingga 450,80 ribu ton tahun 2008. Meskipun relatif lebih stabil, trend yang sama juga terjadi ke Jepang. Jika pada tahun 2002 sebesar 208,10 ribu ton naik menjadi 229,40 ribu ton di tahun 2003, selanjutnya turun menjadi 207,70 ribu ton di tahun 2006 dan tahun 2008 naik menjadi 270,41 ribu ton. Tidak demikian halnya ke Negara China, periode 2002-2008 secara terus menerus mengalami peningkatan dari hanya 65,25 ribu ton tahun 2002 naik menjadi 380,80 ribu ton pada tahun 2008 (Sumber: Statistik Perdagangan, Departemen Perdagangan 2009, data diolah).

Dengan fenomena yang demikian penulis tertarik untuk menganalisis seberapa besar pengaruh yang ditimbulkan oleh faktor luar seperti pendapatan, harga karet alam, harga karet sintetis, nilai tukar terhadap permintaan karet alam Indonesia dengan judul: “ANALISIS DETERMINAN EKSPOR KARET ALAM INDONESIA”.

1.2. Perumusan Masalah

Sejalan dengan latar belakang yang telah disampaikan sebelumnya maka perumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:

(23)

2. Bagaimana pengaruh harga karet alam dunia terhadap permintaan ekspor karet Indonesia?

3. Bagaimana pengaruh harga karet sintetis terhadap permintaan ekspor karet Indonesia?

4. Bagaimana pengaruh nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah terhadap permintaan ekspor karet Indonesia?

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini sebagai berikut:

1. Untuk menganalisis pengaruh dari GDP riil negara tujuan ekspor, terhadap permintaan ekspor karet Indonesia.

2. Untuk menganalisis pengaruh dari harga karet alam terhadap permintaan ekspor karet Indonesia.

3. Untuk menganalisis pengaruh dari harga karet sintetis terhadap permintaan ekspor karet Indonesia.

4. Untuk menganalisis pengaruh nilai tukar Dolar Amerika Serikat terhadap Rupiah terhadap permintaan ekspor karet Indonesia.

1.4. Manfaat Penelitian

(24)

2. Sebagai informasi bagi pihak yang mempunyai kegiatan di bidang ekspor dan pengembangan karet.

3. Sebagai bahan referensi bagi pihak lain yang berniat untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan ekspor karet.

(25)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Teori Perdagangan Internasional

Perdagangan internasional bukanlah sesuatu hal yang baru, namun sebuah paparan teoritis yang sistematis baru dikembangkan sekitar abad keenambelas dan ketujuhbelas. Dimulai dari teori Merkantilisme yang menganggap pertumbuhan ekonomi suatu negara tumbuh sebagai akibat adanya pengeluaran dari negara lain. Suatu negara dapat mempertinggi kekayaannya dengan cara menjual barang-barangnya ke luar negeri (Sukirno, 2008).

Para penganut merkantilisme yang dipelopori oleh Mun (1571-1641) dengan karyanya Englands Treasure by Foreign Trade sependapat bahwa, satu-satunya cara bagi sebuah negara untuk menjadi kaya dan kuat adalah dengan melakukan sebanyak mungkin ekspor dan sedikit mungkin impor. Surplus ekspor yang dihasilkan kemudian dibentuk dalam logam-logam mulia khususnya emas dan perak. Semakin banyak logam mulia yang dimiliki suatu negara semakin kaya dan kuatlah negara tersebut. Selanjutnya, dengan mendorong ekspor dan mengurangi impor, pemerintah akan dapat mendorong output dan kesempatan kerja nasional (Salvatore, 1996).

(26)

kemakmuran bila dilaksanakan melalui mekanisme perdagangan bebas. Melalui perdagangan bebas, para pelaku ekonomi diarahkan untuk melakukan spesialisasi dalam upaya peningkatan efisiensi (Rahardja dan Manurung, 2006). Setiap negara akan memperoleh manfaat perdagangan internasional karena melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang jika negara tersebut memiliki keunggulan mutlak, serta mengimpor barang jika negara tersebut memiliki ketidakunggulan mutlak (Hamdy, 2001).

Jika sebuah negara lebih efisien daripada (atau memiliki keunggulan absolut terhadap) negara lain dalam memproduksi sebuah komoditi, namun kurang efisien dibanding (atau memiliki kerugian absolut terhadap) negara lain dalam memproduksi komoditi lainnya, maka kedua negara tersebut dapat memperoleh keuntungan dengan cara masing-masing melakukan spesialisasi dalam memproduksi komoditi yang memiliki keunggulan absolut, dan menukarkannya dengan komoditi lain yang memiliki kerugian absolut (Salvatore, 1996).

Lebih lanjut teori perdagangan internasional dikemukakan oleh David Ricardo dengan prinsip-prinsip perdagangan internasional yang dikenal dengan nama The Theory of Comparative Advantage atau The Theory of Relative Cost yaitu mencoba

melihat keuntungan/kerugian dalam perbandingan relatif. Teori ini menyatakan bahwa suatu negara akan menghasilkan dan kemudian mengekspor suatu barang yang memiliki comparative advantage terbesar dan mengimpor barang yang memiliki comparative disadvantage, yaitu suatu barang yang dapat dihasilkan dengan lebih

(27)

besar. Teori ini pada dasarnya menyatakan bahwa nilai suatu barang ditentukan oleh banyaknya tenaga kerja yang dicurahkan untuk memproduksi barang tersebut. Makin banyak tenaga kerja yang dicurahkan untuk memproduksi suatu barang, makin mahal barang tersebut (Nopirin, 1999).

Suatu negara akan memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage) dalam memproduksi suatu barang kalau biaya pengorbanannya dalam memproduksi barang tersebut (dalam satuan barang lain) lebih rendah daripada negara-negara lainnya. Perdagangan antara dua negara akan menguntungkan kedua belah pihak jika masing-masing negara memproduksi dan mengekspor produk yang keunggulan komparatifnya ia kuasai (Krugman dan Obstfeld, 2000) diterjemahkan (Basri, 2004).

Selanjutnya Eli Heckscher dan Bertin Ohlin mengembangkan teori perdagangan internasional yang dikenal dengan teori Heckscher–Ohlin (H–O), menyatakan bahwa sumber utama perdagangan internasional adalah adanya perbedaan karunia sumber-sumber daya antarnegara. Teori ini sangat menekankan saling keterkaitan antara perbedaan proporsi faktor-faktor produksi antarnegara dan perbedaan penggunaannya dalam memproduksi berbagai macam barang, sehingga teori ini sering disebut sebagai teori proporsi faktor produksi (factor proportion theory) (Krugman dan Obstfeld, 2000) diterjemahkan (Basri, 2004).

(28)

(Hamdy, 2001). Sebuah negara akan mengekspor komoditi yang produksinya lebih banyak menyerap faktor produksi yang relatif melimpah dan murah di negara itu, dan dalam waktu bersamaan ia akan mengimpor komoditi yang produksinya memerlukan sumber daya yang relatif langka dan mahal di negara itu. Singkatnya, sebuah negara yang relatif kaya atau berkelimpahan tenaga kerja akan mengekspor komoditi-komoditi yang relatif padat tenaga kerja dan mengimpor komoditi-komoditi-komoditi-komoditi yang relatif padat modal (yang merupakan faktor produksi langka dan mahal di negara yang bersangkutan) (Salvator, 1996).

2.2. Teori Permintaan dan Penawaran

Secara teoritis ekspor suatu barang dipengaruhi oleh suatu penawaran (supply) dan permintaan (demand). Dalam teori perdagangan internasional disebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor dapat dilihat dari sisi permintaan dan sisi penawaran (Krugman dan Obstfeld, 2000) diterjemahkan (Basri, 2004). Dari sisi permintaan, ekspor dipengaruhi oleh harga ekspor, nilai tukar riil, pendapatan dunia dan kebijakan devaluasi. Sedangkan dari sisi penawaran, ekspor dipengaruhi oleh harga ekspor, harga domestik, nilai tukar riil, kapasitas produksi yang bisa diproksi melalui investasi, impor bahan baku, dan kebijakan deregulasi.

Menurut Sukirno (2003), ada beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah permintaan, yaitu:

1. Harga barang itu sendiri.

(29)

3. Pendapatan rumah tangga dan pendapatan rata-rata masyarakat 4. Corak distribusi dalam pendapatan masyarakat.

5. Cita rasa masyarakat. 6. Jumlah penduduk.

7. Ramalan mengenai keadaan di masa yang akan datang.

Dalam analisis permintaan paling sederhana, dapat digambarkan sebuah kurva (curve) yang memuat hubungan antara harga sebuah barang dengan kuantitas yang diminta.

Sebagaimana Gambar 2.1 dapat dijelaskan, jika harga suatu barang pada P0 maka jumlah yang diminta adalah Q0. Adanya perubahan harga sebesar P0P1 mengakibatkan perubahan permintaan sebesar Q0Q1. Demikian sebaliknya, perubahan

0 D

D

H

ar

ga

Jumlah Permintaan Q2

Q1 Q0 P2

P0 P1

Sumber: Suherman Rosyidi (2006)

(30)

harga sebesar P0P2 mengakibatkan perubahan permintaan sebesar Q0Q2. Sifat dari kurva permintaan ini adalah mempunyai arah kurva (slope) yang negatif. Artinya, semakin meningkat harga barang maka jumlah barang yang diminta akan menurun. Demikian sebaliknya bila harga barang turun, maka jumlah yang diminta akan menurun.

Ada empat hal paling dominan yang menyebabkan terjadinya perubahan permintaan, yaitu:

a. Tingkat pendapatan per kapita (per capita income) masyarakat. Semakin besarnya pendapatan selalu berarti semakin besarnya permintaan. Jika terjadi kenaikan pendapatan masyarakat, maka kurva permintaan akan bergeser ke kanan. Namun apabila terjadi penurunan pendapatan masyarakat, maka kurva permintaan akan bergeser ke kiri.

b. Cita rasa atau selera (taste) konsumen terhadap barang itu. Cita rasa atau selera masyarakat pada umumnya akan berubah dari waktu ke waktu. Selera menggambarkan bermacam-macam pengaruh budaya dan sejarah. Selera mungkin mencerminkan kebutuhan psikologis dan fisiologis sejati, selera mungkin mencakup kecanduan yang terjadi secara artifisial dan selera mungkin juga mengandung sebuah unsur yang kuat dari tradisi atau agama.

(31)

Sedangkan kenaikan harga barang komplementer akan menggeser kurva permintaan ke kiri dan penurunan harga barang komplementer akan menggeser kurva permintaan ke kanan.

d. Harapan atau perkiraan konsumen (consumer expectation) terhadap harga barang yang bersangkutan. Permintaan suatu barang akan berubah searah dengan ekspektasi masyarakat terhadap harga barang yang bersangkutan. Maksudnya adalah ekspektasi konsumen terhadap harga barang di masa mendatang, yakni apakah harga itu akan naik, turun atau tetap. Perkiraan itu amat menentukan. Jika konsumen mengira bahwa harga suatu barang akan naik bulan depan maka sebelum harga barang itu betul-betul naik, kurva permintaan akan bergeser ke kanan. Sebaliknya, jika konsumen mengira bahwa harga akan turun bulan depan, kurva permintaan akan bergeser ke kiri.

Berbeda dengan permintaan (demand), dari sisi penawaran (supply) para penjual mempunyai sikap yang sebaliknya dari sikap para pembeli. Mereka berkecenderungan akan menawarkan lebih banyak barang apabila harganya tinggi dan mengurangi jumlah harga yang ditawarkannya apabila harganya bertambah rendah. Dengan menganggap hal lainnya tetap (ceteris paribus), jumlah barang yang ditawarkan berhubungan positif dengan harga barang.

(32)

Berdasarkan Gambar 2.2 dapat dijelaskan tentang hubungan jumlah barang atau komoditas yang ditawarkan di pasar pada berbagai tingkat harga, yang diwakili oleh kurva SS. Sifat dari kurva penawaran ini adalah mempunyai arah kurva (slope) yang positif. Artinya, semakin meningkat harga barang atau komoditas maka jumlah barang atau komoditas yang ditawarkan di pasar akan meningkat juga. Begitu sebaliknya bila harga barang atau komoditas itu turun, maka jumlah barang atau komoditas yang ditawarkan di pasar akan menurun. Misalkan pada kondisi awal harga barang atau komoditas di H0 dan jumlah yang ditawarkan adalah Q0. Jika harga naik dari H0 ke H1, maka jumlah barang atau komoditas yang ditawarkan akan meningkat dari Q0 ke Q1. Demikian juga bila harga turun dari H0 ke H2, maka jumlah yang ditawarkan akan menurun dari Q0 ke Q2.

0

S

S

H

ar

ga

Jumlah Penawaran Q2

Q1 Q0 H2

H0 H1

Sumber: Ratya Anindita (2008)

(33)

Keyakinan ahli-ahli ekonomi klasik bahwa penawaran akan selalu menciptakan permintaan dapat dengan jelas dilihat dari pandangan Jean Baptiste Say (Sukirno, 2003), seorang ahli ekonomi klasik bangsa Perancis. Ia mengatakan: “Penawaran menciptakan sendiri permintaan atasnya” atau “Supply creates its own

demand”.

Menurut pendapatnya dalam setiap perekonomian jarang sekali masalah kelebihan produksi. Masalah kelebihan produksi, apabila hal itu terjadi, adalah masalah sementara. Mekanisme pasar akan membuat penyesuaian-penyesuaian sehingga akhirnya jumlah produksi akan turun di sektor-sektor yang mengalami kelebihan produksi dan akan naik di sektor-sektor di mana permintaan ke atas produksi mereka sangat berlebihan. Berdasarkan kepada pandangan yang seperti ini ahli-ahli ekonomi klasik berkeyakinan bahwa di dalam suatu perekonomian sering sekali terwujud keadaan di mana jumlah keseluruhan penawaran barang-barang dalam perekonomian (penawaran agregat) pada penggunaan tenaga penuh akan selalu diimbangi oleh keseluruhan permintaan atas barang-barang tersebut (permintaan agregat) yang sama besarnya.

2.3. Elastisitas

(34)

a. Elastisitas harga, adalah mengukur seberapa banyak kuantitas permintaan atas suatu barang berubah mengikuti perubahan harga barang tersebut. Ukuran ini dinyatakan sebagai persentase perubahan kuantitas yang diminta dibagi persentase perubahan harga. Berdasar pengamatan ada beberapa asas umum yang dapat di kedepankan sebagai hal-hal yang menentukan elastisitas harga dari permintaan, yaitu:

1) Kebutuhan versus kemewahan. 2) Ketersediaan subtitusi.

3) Definisi pasar. 4) Rentang waktu.

b. Elastisitas (harga) silang, yaitu ukuran untuk menentukan seberapa besar perubahan kuantitas yang diminta untuk suatu barang ketika harga barang lainnya berubah. Dirumuskan sebagai persentase perubahan kuantitas yang diminta dari barang 1 dibagi dengan persentase perubahan harga dari barang 2. Positif atau negatifnya nilai elastisitas harga silang ini tergantung pada apakah kedua barang tersebut subtitusi atau komplemen.

(35)

2.4. Produk Domestik Bruto (PDB)

Menurut Lipsey (1995), Gross Domestic Product (GDP) atau disebut juga dengan Produk Domestik Bruto (PDB) adalah pendapatan nasional yang diukur dari sisi pengeluaran yaitu jumlah pengeluaran konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah dan ekspor-impor. GDP dikategorikan menjadi dua, yaitu nominal dan riil. Dikatakan GDP nominal, apabila GDP total yang dinilai pada harga-harga sekarang. Sedangkan GDP yang dinilai pada harga periode dasarnya disebut GDP riil, sering disebut sebagai pendapatan nasional riil.

Menurut Samuelson (2002), PDB adalah jumlah output total yang dihasilkan dalam batas wilayah suatu negara dalam satu tahun. PDB mengukur nilai barang dan jasa yang di produksi di wilayah suatu negara tanpa membedakan kewarganegaraan pada suatu periode waktu tertentu. Dengan demikian warga negara yang bekerja di negara lain, pendapatannya tidak dimasukan ke dalam PDB.

Sukirno (2008) mendefinisikan PDB sebagai nilai barang dan jasa dalam suatu negara yang diproduksi oleh faktor-faktor produksi milik warga negara tersebut dan warga negara asing. Secara umum PDB dapat diartikan sebagai nilai akhir barang-barang dan jasa yang diproduksi di dalam suatu negara selama periode tertentu (biasanya satu tahun).

(36)

periode tersebut. Pendapatan nasional pada harga konstan adalah nilai barang-barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dalam periode tertentu, berdasarkan harga yang berlaku pada suatu tahun tertentu yang dipakai dasar untuk dipergunakan seterusnya dalam menilai barang-barang dan jasa yang dihasilkan pada periode/tahun berikutnya.

Nicholson (1998) menyatakan ketika pendapatan total seseorang meningkat, dengan asumsi harga-harga tidak berubah (ceteris paribus), kita mungkin mengharapkan kuantitas yang dibeli untuk setiap barang juga akan meningkat. Barang-barang yang mengikuti kecenderungan demikian disebut barang-barang normal (normal good). Sebagian besar barang merupakan barang normal, jika pendapatan meningkat, dalam prakteknya orang cenderung untuk membeli lebih banyak barang. Permintaan barang-barang mewah (luxury) akan meningkat lebih cepat jika pendapatan naik, tetapi permintaan barang untuk keperluan sehari-hari (necessity) akan meningkat lebih lambat. Selain itu Nicholson (1998) juga menyebutkan barang-barang inferior, yang sifatnya apabila pendapatan seseorang meningkat maka individu akan mengurangi konsumsinya. Jadi apabila pendapatan seseorang meningkat maka akan mengalihkan konsumsinya pada barang yang lebih mahal.

(37)

Peningkatan impor sebagai akibat meningkatnya PDB negara importir dapat terlihat dari dua mekanisme sebagai berikut (Herlambang, 2001):

1. Kenaikan PDB negara importir menyebabkan meningkatnya investasi. Peningkatan investasi menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan barang impor antara lain barang-barang modal dan bahan baku sebagai input dalam proses produksi yang ditawarkan (supply) oleh negara lain.

2. Kenaikan PDB negara importir menyebabkan meningkatnya kebutuhan produk final (final product) karena tidak semua dipenuhi oleh produksi dalam negeri.

2.5. Faktor Harga

Harga suatu produk merupakan ukuran terhadap besar kecilnya nilai kepuasan seseorang terhadap produk yang dibeli. Selain itu, harga suatu produk juga pada dasarnya merupakan rangkuman dari sejumlah informasi yang menyangkut ketersediaan sumberdaya, kemungkinan produksi dan preferensi konsumen. Dalam menunjang kegiatan transaksi perdagangan, informasi harga suatu komoditas merupakan faktor kunci besarnya penawaran dan permintaan.

(38)

Makin rendah harga suatu barang, makin banyak permintaan terhadap barang tersebut, sebaliknya makin tinggi harga suatu barang makin rendah permintaan terhadap barang tersebut (ceteris paribus) (Sukirno, 2003). Selanjutnya hukum penawaran (law of supply) menyebutkan kuantitas barang yang ditawarkan akan meningkat ketika harga barang tersebut meningkat (Mankiw, 2003).

Secara teoritis, Anindita (2008) menyebutkan bahwa harga akan mempengaruhi berbagai aspek melalui:

a. Harga mempengaruhi pembentukan pendapatan.

b. Harga mempengaruhi kesejahteraan (produsen dan konsumen).

d. Harga mempengaruhi pendapatan ekspor (export earning) karena perdagangan memberlakukan tarif antarnegara termasuk berbagai ketentuan WTO (World Trade Organization).

e. Harga menyebabkan fluktuasi pendapatan. f. Harga menyebabkan fluktuasi produk pertanian.

2.6. Nilai Tukar Mata Uang (Kurs)

(39)

di Amerika. Besarnya jumlah mata uang yang diperlukan untuk memperoleh satu unit valuta asing disebut dengan kurs mata uang asing.

Para ekonom membedakan nilai tukar (kurs) menjadi dua yaitu kurs nominal dan kurs riil. Kurs nominal (nominal exchange rate) adalah suatu nilai di mana seseorang dapat memperdagangkan mata uang suatu negara dengan mata uang negara lainnya. Sebagai contoh, jika antara Dolar Amerika Serikat dan Yen Jepang adalah 120 yen per Dolar, maka orang Amerika Serikat bisa menukar 1 Dolar untuk 120 Yen di pasar uang. Sebaliknya orang Jepang yang ingin memiliki Dolar akan membayar 120 Yen untuk setiap Dolar yang dibeli. Ketika orang-orang mengacu pada “kurs” diantara kedua negara, mereka biasanya mengartikan kurs nominal (Mankiw, 2003).

Kurs riil (real exchange rate) adalah nilai di mana seseorang dapat memperdagangkan barang dan jasa dari suatu negara dengan barang dan jasa dari negara lain. Nilai tukar riil adalah nilai tukar nominal yang sudah dikoreksi dengan harga relatif yaitu harga-harga di dalam negeri dibandingkan dengan harga-harga di luar negeri. Nilai tukar dapat dihitung dengan menggunakan rumus di bawah ini:

Di mana Q adalah nilai tukar riil, S adalah nilai tukar nominal, P adalah tingkat harga domestik dan P* adalah tingkat harga di luar negeri (Mankiw, 2003).

(40)

berarti nilai mata uang asing menguat kursnya (harganya) akan menyebabkan ekspor meningkat dan impor cenderung menurun. Jadi kurs valuta asing mempunyai hubungan yang searah dengan volume ekspor. Apabila nilai kurs Dolar Amerika Serikat meningkat, maka volume ekspor juga akan meningkat (Sukirno, 2000).

Hal ini juga dijelaskan oleh Salvatore (1996) bahwa dalam melakukan transaksi perdagangan antarnegara-negara, mereka menggunakan mata uang asing bukan mata uang negaranya. Mereka membutuhkan mata uang standar seperti US$ untuk bertransaksi. Apabila mata uang domestik terapresiasi terhadap mata uang asing maka harga impor bagi penduduk domestik menjadi lebih murah, tetapi apabila nilai mata uang domestik terdepresiasi maka nilai mata uang asing menjadi lebih mahal yang mengakibatkan ekspornya bagi pihak luar negeri menjadi lebih murah.

2.7. Ekspor

Ekspor (export) adalah berbagai macam barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri lalu di jual di luar negeri (Mankiw, 2003). Ditinjau dari sudut pengeluaran, ekspor merupakan salah satu faktor terpenting dari Gross Nasional Product (GNP), sehingga dengan berubahnya nilai ekspor maka pendapatan

(41)

Kegiatan ekspor adalah sistem perdagangan dengan cara mengeluarkan barang-barang dari dalam negeri keluar negeri dengan memenuhi ketentuan yang berlaku. Ekspor merupakan total barang dan jasa yang dijual oleh sebuah negara ke negara lain, termasuk diantara barang-barang, asuransi, dan jasa-jasa pada suatu tahun tertentu (Winardi, 2006).

Fungsi penting komponen ekspor dari perdagangan luar negeri adalah negara memperoleh keuntungan dan pendapatan nasional naik, yang pada gilirannya menaikkan jumlah output dan laju pertumbuhan ekonomi. Dengan tingkat output yang lebih tinggi lingkaran setan kemiskinan dapat dipatahkan dan pembangunan ekonomi dapat ditingkatkan (Jhingan, 2000).

Selain menambah peningkatan produksi barang untuk dikirim ke luar negeri, ekspor juga menambah permintaan dalam negeri, sehingga secara langsung ekspor memperbesar output industri-industri itu sendiri, dan secara tidak langsung permintaan luar negeri mempengaruhi industri untuk mempergunakan faktor produksinya, misalnya modal, dan juga menggunakan metode-metode produksi yang lebih murah dan efisien sehingga harga dan mutu dapat bersaing di pasar perdagangan internasional.

(42)

harga barang yang diekspor tersebut haruslah paling sedikit sama baiknya dengan yang diperjualbelikan dalam pasaran luar negeri. Cita rasa masyarakat di luar negeri terhadap barang yang dapat diekspor ke luar negeri sangat penting peranannya dalam menentukan ekspor sesuatu negara. Secara umum boleh dikatakan bahwa semakin banyak jenis barang yang mempunyai keistimewaan yang sedemikian yang dihasilkan oleh suatu negara, semakin banyak ekspor yang dapat dilakukan (Sukirno, 2008).

Menurut Mankiw (2003), berbagai faktor yang dapat mempengaruhi ekspor, impor, dan ekspor neto suatu negara, meliputi:

1. Selera konsumen terhadap barang-barang produksi dalam negeri dan luar negeri. 2. Harga barang-barang di dalam dan di luar negeri.

3. Kurs yang menentukan jumlah mata uang domestik yang dibutuhkan untuk membeli mata uang asing.

4. Pendapatan konsumen di dalam negeri dan luar negeri. 5. Ongkos angkutan barang antarnegara.

6. Kebijakan pemerintah mengenai perdagangan internasional.

2.8. Penelitian Terdahulu

(43)

asumsi klasik (multikolinieritas, heteroskedastisitas, autokorelasi). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara nilai ekspor timah putih Indonesia ke Singapura dengan variabel-variabel yang mempengaruhinya yaitu harga timah putih, konsumsi dalam negeri, biaya transportasi dan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika. Hasil dari penelitian Devi dapat diketahui bahwa variabel harga timah putih, biaya tranportasi, konsumsi dalam negeri dan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika secara bersama-sama berpengaruh terhadap ekspor timah putih Indonesia. Selain itu, secara statistik variabel-variabel independen yang terdiri dari harga timah putih, biaya transportasi, konsumsi dalam negeri dan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika mampu menjelaskan variasi pada variabel dependen yaitu ekspor timah putih Indonesia sebesar 87,39 % (R squared = 0,864321).

(44)

GDP riil Singapura berpengaruh tehadap ekspor tembakau tetapi pada variabel nilai tukar Dolar Singapura ke Rupiah tidak berpengaruh secara nyata terhadap ekspor tembakau Indonesia oleh Singapura.

Sumanti (2005). Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran ekspor komoditi pertanian (minyak sawit, karet alam dan kakao) dari Indonesia dengan sistem persamaan dengan menggunakan Engle-Grenger dan Johansen co-integration untuk melihat hubungan keseimbangan jangka

panjang serta prosedur model koreksi kesalahan (error-correction model) untuk melihat efek dinamik dan kecepatan penyesuaian dalam jangka pendek. Variabel terikat yang digunakan adalah kuantitas ekspor minyak sawit, karet alam dan kakao. Sementara variabel-variabel penjelasnya adalah produksi, harga relatif yang merupakan rasio harga internasional dengan indeks harga pedagang besar, nilai tukar, dan produk domestik bruto (PDB) riil Indonesia, serta dummy kebijakan pemerintah untuk ekspor minyak sawit.

(45)

Penelitian yang dilakukan oleh Sukendra (2007) menganalisis tentang faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan ekspor sepatu olah raga dan sepatu kulit Indonesia (tahun 2002-2006). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel GDP riil berpengaruh positif terhadap permintaan ekspor sepatu olah raga, variabel harga relatif berpengaruh negatif terhadap permintaan ekspor sepatu kulit, variabel nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara mitra dagang berpengaruh positif terhadap permintaan ekspor sepatu kulit. Besarnya elastisitas permintaan ekspor terhadap kedua kelompok komoditi alas kaki diperoleh bahwa elastisitas permintaan sepatu kulit lebih besar dibandingkan dengan sepatu olah raga.

(46)

yang diekspor. Penurunan pajak ekspor sebesar 10% akan meningkatkan harga minyak sawit dalam negeri sebesar 14.83 persen.

Penelitian yang dilakukan oleh Sanjaya (2008) menganalisis tentang beberapa faktor yang berpengaruh terhadap ekspor kopi Propinsi Bali periode 1990-2006. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga ekspor kopi, kurs Dolar Amerika Serikat dan kebijakan ekspor kopi secara serempak berpengaruh secara signifikan terhadap ekspor kopi. Kurs Dolar Amerika Serikat paling dominan mempengaruhi ekspor kopi. Secara parsial harga ekspor kopi tidak signifikan pengaruhnya terhadap ekspor kopi sedangkan ekspor kopi tidak memiliki perbedaan signifikan sebelum dan sesudah ada kebijakan ekspor kopi.

2.9. Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir, Analisis Determinan Ekspor Karet Indonesia adalah:

Gambar 2.3. Kerangka Berpikir Harga Karet Sintetis

Kurs US Dolar ($) GDP

(47)

2.10. Hipotesis Penelitian

Menurut Umar (2007): “Hipotesis adalah suatu perumusan sementara mengenai suatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu dan juga dapat menuntun dan mengarahkan penyelidikan selanjutnya”. Berdasarkan landasan teori dan hasil penelitian empiris sebelumnya, maka hipotesis yang akan dirumuskan dalam penelitian ini adalah, sebagai berikut:

1. Kenaikan GDP riil negara tujuan ekspor akan berpengaruh positif terhadap permintaan ekspor karet Indonesia, ceteris paribus.

2. Kenaikan harga karet alam dunia akan berpengaruh negatif terhadap permintaan ekspor karet Indonesia, ceteris paribus.

3. Kenaikan harga karet sintetis akan berpengaruh negatif terhadap permintaan ekspor karet Indonesia, ceteris paribus.

(48)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian dalam tulisan ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor karet alam Indonesia ke negara Amerikat Serikat, Jepang, China, Jerman, Inggris, Perancis, Belanda dan Italia yang meliputi GDP Negara tujuan ekspor, harga karet alam, harga karet sintetis dan kurs US dolar.

3.2. Jenis dan Sumber Data

Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder tahunan, yang merupakan data time series dan cross section (data panel) dengan rentang waktu dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2008 dan diolah menggunakan software Eviews 4.1.

(49)

Menurut Baltagi (2001) keuntungan menggunakan data panel dalam suatu penelitian adalah:

a. Bila data panel berhubungan dengan individu, perusahaan, negara, daerah dan lain-lain pada waktu tertentu, maka data tersebut adalah heterogen. Tehnik penaksiran data panel yang heterogen secara eksplisit dapat dipertimbangkan dalam perhitungan;

b. Memberikan data yang lebih informatif, lebih bervariasi, derajad kebebasan yang lebih efisien, serta menghindarkan kolinieritas antarvariabel;

c. Data panel lebih baik dalam hal untuk studi mengenai dynamics of adjustment, yang memungkinkan estimasi masing-masing karakteristik individu maupun karakteristik antarwaktu secara terpisah;

d. Mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam mengidentifikasi dan mengukur pengaruh yang biasa tidak dapat dideteksi oleh data cross section ataupun time series saja.

e. Data panel meminimalkan bias yang dihasilkan oleh agregasi individu atau perusahaan karena unit data lebih banyak.

f. Studi data panel lebih memuaskan untuk menentukan perubahan dinamis dibandingkan dengan studi berulang dari cross-section.

(50)

3.3. Model Analisis

Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh GDP Riil, harga karet alam, harga karet sintetis dan kurs US Dolar terhadap ekspor karet alam Indonesia ke Negara Amerikat Serikat, Jepang, China, Jerman, Inggris, Perancis Belanda dan Italia dianalisis dengan menggunakan fungsi persamaan:

EKSPOR = f (GDP, HargaA, HargaS, Kurs$)... 3.1)

Selanjutnya fungsi tersebut dispesifikasikan ke dalam model ekonometrik sebagai berikut:

EKSPORit =

á

0+

á

1 GDPit+

á

2 HargaAit

+

á

3 HargaSit

+

á

4 Kurs$it+

µ

it

... 3.2)

Di mana:

EKSPOR = Ekspor Karet Indonesia (Ribu Ton)

GDP = GDP Riil negara tujuan ekspor (Milyar US$) HargaA = Harga karet alam (US$)

HargaS = Harga karet sintetis (US$)

Kurs$ = Nilai US dolar ($) terhadap uang rupiah

µ

= Kesalahan Pengganggu

á0 = Konstanta

á1, á2,á3, á4 = Koefisien Regresi

i = Jumlah Observasi (8 Negara)

t = Banyaknya waktu (1999 – 2008)

(51)

3.4. Metode Analisis

Metode yang digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor karet alam Indonesia dilakukan dengan model regresi least squares pooled data dengan teknik:

3.4.1. Model Efek Tetap (Fixed Effect Model)

Penaksiran model regresi data panel Fixed Effect bergantung pada asumsi titik potong, koefesien slope, dan error term. Ada beberapa kemungkinan dari fixed effect yakni: 1) Semua koefesien konstan antarwaktu dan anggota panel, 2) Koefesien slope konstan tetapi titik potong bervariasi antaranggota panel, 3) Koefesien slope konstan tetapi titik potong bervariasi antaranggota panel dan waktu, 4) Semua koefisien bervariasi antaranggota panel, dan 5) Semua koefisien bervariasi antaranggota panel dan waktu (Manurung, Manurung dan Saragih, 2005).

Pendekatan metode kuadrat terkecil biasa adalah asumsi intercept dan slope dari persamaan regresi (model) yang dianggap konstan baik antarkomoditas maupun antarwaktu (all coefficients constant across time and individuals). Adanya variabel-variabel yang tidak semuanya masuk dalam persamaan model memungkinkan adanya intercept yang tidak konstan. Atau dengan kata lain, intercept ini mungkin akan

(52)

mengasumsikan bahwa komponen error tidak berkorelasi dengan variabel bebas yang mungkin sulit dipenuhi.

3.4.2. Model Efek Random (Random Effect Model)

Penaksiran model regresi data panel Random Effect akan menghasilkan model regresi dengan error term yang terdiri dari dua komponen, yaitu komponen cross section spesifik perusahaan dan komponen error. Komponen error merupakan

kombinasi time series error dan cross section error. Asumsi error component model atau random effect model adalah komponen error tidak berkorelasi satu sama lain dan tidak autokorelasi antara cross section dan time series. Perbedaan penting antara fixed effect model (FEM) dan random effect model (REM) adalah pada FEM setiap unit

cross section mempunyai nilai titik potong tetap dari semua observasi N, sedangkan

pada REM nilai titik potong b0 menjelaskan nilai rata-rata semua titik potong cross section dan komponen error menjelaskan deviasi titik potong anggota panel dari nilai

rata-rata. Komponen error ini tidak diamati atau unobservable or latent variable. Oleh sebab itu asumsi di atas harus mengikuti: E(Eit) = 0 dan var(Eit) = ó2å + ó2e dan

(53)

besar jarak antar dua periode waktu tersebut, 2) struktur korelasi tetap sama untuk semua unit cross section dan identik untuk semua anggota panel.

3.4.3. Uji Chow (Chow Test)

Untuk mengetahui model Pooled Least Square (PLS) atau Fixed Effect Model (FEM) yang akan dipilih untuk estimasi data dapat dilakukan dengan uji F-test atau uji Chow Test. Pooled Least Square (PLS) adalah restricted model di mana ia menerapkan intercept yang sama untuk seluruh individu. Seperti yang telah ketahui, terkadang asumsi bahwa setiap unit cross section memiliki perilaku yang sama cenderung tidak realistis mengingat dimungkinkan saja setiap unit cross section memiliki perilaku yang berbeda. Untuk itu dipergunakan Chow Test. Dasar penolakan terhadap hipotesa nol tersebut adalah dengan menggunakan F Statistik seperti yang dirumuskan oleh Chow sebagai berikut:

( RSSS-URSS ) / ( N-1)

CHOW = ………... (3.4) URSS / ( NT – N –K )

Di mana:

RRSS = Restricted Residual Sum Square (merupakan Sum of Square Residual yang diperoleh dari estimasi data panel dengan model pooled least square/common intercept)

URSS = Unrestricted Residual Sum Square (merupakan Sum of Square Residual yang diperoleh dari estimasi data panel dengan model fixed effect)

(54)

K = Jumlah variabel penjelas

Pengujian ini mengikuti distribusi F statistik yaitu FN-1, NT-N-K. Jika nilai CHOW Statistics (F Stat) hasil pengujian lebih besar dari F Tabel, maka cukup bukti

untuk melakukan penolakan terhadap hipotesa nol sehingga model yang akan digunakan adalah model fixed effect, begitu juga sebaliknya.

3.4.4. Uji Haussman (Haussman Test)

Pengujian ini dilakukan untuk menentukan apakah model fixed effect atau random effect yang dipilih. Pengujian ini dilakukan dengan hipotesa sebagai berikut:

Ho : Model Random Effect H1 : Model Fixed Effect

Dasar penolakan H0 adalah dengan menggunakan pertimbangan statistik Chi Square. Jika Chi Square statistik > Chi Square table maka H0 ditolak (model yang digunakan adalah Fixed Effect), dan sebaliknya.

Menurut Judge ada empat pertimbangan pokok untuk memilih FEM dan REM, yaitu:

1. Jika jumlah time series (T) besar dan jumlah cross section (N) kecil maka nilai taksiran parameter berbeda kecil, sehingga pilihan didasarkan pada kemudahan perhitungan, yaitu FEM.

2. Bila N besar dan T kecil penaksiran dengan FEM dan REM menghasilkan perbedaan yang signifikan. Pada REM diketahui bahwa

á

0i =

á

0 +

å

i, di mana

å

i

(55)

atau tidak acak. Bila diyakini bahwa individu atau cross section tidak acak maka FEM lebih tepat, sebaliknya jika cross section acak maka REM lebih tepat. 3. Jika komponen error åi individu berkorelasi maka penaksir REM adalah bias dan

penaksir FEM tidak bias.

4. Jika N besar dan T kecil serta asumsi REM dipenuhi maka penaksir REM lebih efisien dari penaksir FEM (Manurung, Manurung dan Saragih, 2005).

Apabila pada model efek tetap, perbedaan individu dan atau antarwaktu dicerminkan melalui intercept, maka pada model efek random, perbedaan tersebut diakomodasi lewat error. Tehnik ini juga memperhitungkan bahwa error mungkin berkorelasi sepanjang time series dan cross section.

3.5. Uji Kesesuaian (Test Goodness of Fit)

Estimasi terhadap model dilakukan dengan menggunakan model yang tersedia pada program statistik Eviews versi 4.1. Koefisien yang dihasilkan dapat dilihat pada out put regresi berdasarkan data yang dianalisis untuk kemudian diinterpretasikan

serta dilihat signifikansi tiap-tiap variabel yang diteliti.

a. R² (koefisien determinasi) bertujuan untuk mengetahui kekuatan variabel bebas (independent variable) menjelaskan variabel terikat (dependent variabel).

(56)

c. Uji parsial (t-test), dimaksudkan untuk mengetahui signifikansi statistik koefisien regresi secara parsial. Jika thit > ttabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima.

3.6. Definisi Operasional

Untuk keseragaman persepsi, dalam penulisan ini ditetapkan batasan-batasan operasional sebagai berikut:

1. Ekspor adalah volume karet alam yang diekspor dalam satuan ribu ton.

2. GDP riil adalah nilai pendapatan negara tujuan ekspor karet alam Indonesia dalam satu tahun dalam satuan milyar US Dolar.

3. Harga karet alam adalah nilai atau harga karet alam yang diekspor dihitung dengan satuan US$/ton.

4. Harga karet sintetis adalah satuan nilai atau harga karet sintetis dunia dalam satuan US $/ton.

(57)

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskripsi Ekspor Indonesia

Salah satu manfaat utama yang diperoleh dari perekonomian yang semakin terintegrasi dengan perekonomian dunia adalah semakin terbukanya pasar ekspor untuk produk-produk domestik. Terbukanya pasar ekspor itu sendiri tentu saja tidak serta merta akan memberikan manfaat yang optimal terhadap perekonomian domestik. Struktur dan kinerja ekspor mempunyai peranan yang besar terhadap manfaat yang dapat diperoleh serta bagaimana gejolak ekonomi di negara lain mempengaruhi perdagangan dan perekonomian secara keseluruhan.

Struktur dan kinerja ekspor Indonesia yang sebelumnya sangat ditentukan sektor migas, sejak tahun 1987 telah mengalami pergeseran di mana peranan sektor non-migas memberi kontribusi yang lebih besar dalam penerimaan ekspor. Hal ini dapat dilihat dari aliran barang yang keluar dari Indonesia, dalam periode 1980-2008 telah terjadi peningkatan peranan ekspor nonmigas dalam PDB Indonesia, dari 8,4

persen menjadi 20,9 persen (Bank Indonesia, 2008).

(58)

Tabel 4.1. Ringkasan Perkembangan Ekspor Indonesia Tahun 2004-2008 (Dalam Juta US$)

Uraian 2004 2005 2006 2007 2008

Migas 15.645,3 19.231,6 21.209,5 22.088,6 29.126,3 Nonmigas 55.939,3 66.428,4 79.589,1 92.012,3 107.894,1

Total Ekspor 71.584,6 85.660,0 100.798,6 114.100,9 137.020,4

Sumber: BPS, diolah Departemen Perdagangan, 2009.

Meskipun peranan nonmigas dalam struktur penerimaan ekspor Indonesia tahun 2008 hanya mengalami kenaikan yaitu 0,6 persen dibandingkan tahun 2004, akan tetapi secara rata-rata peranan nonmigas dalam struktur ekspor periode tahun 2004-2008 cukup dominan yaitu sebesar 78,94 persen dibandingkan ekspor migas yang hanya 21,06 persen.

Di sisi eksternal, meski terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi global, secara keseluruhan ekspor Indonesia pada tahun 2008 masih dapat tumbuh atau lebih tinggi yaitu 137.020,4 juta US$ dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya 114.100,9 juta US$. Tingginya pertumbuhan ekspor terutama ditopang oleh tingginya harga minyak dunia yang diikuti oleh kenaikan harga komoditas primer terutama pertanian dan pertambangan. Selain itu, perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara mitra dagang seperti Amerika Serikat dan Eropa masih mampu diimbangi oleh tingginya permintaan ekspor dari China dan beberapa kawasan Asia-Pasifik lainnya.

(59)

cukup signifikan. Apabila pada tahun 2004 ekspor hanya 15.1 juta ton/tahun maka pada tahun 2008 telah mencapai 22,8 juta ton/tahun atau selama periode tersebut rata-rata ekspor produk pertanian mencapai 19,32 juta ton/tahun seperti yang diperlihatkan pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2. Neraca Ekspor – Impor Produk Pertanian Tahun 2002-2008 (Juta Ton dan Juta US$)

Volume Ekspor (Juta Ton) Nilai (Juta US$)

Tahun

Ekspor Impor Neraca Ekspor Impor Neraca

2002 11.6 13.6 (2.0) 5,518.3 4,007.2 1,511.1 2003 11.6 13.5 (1.9) 6,417.7 4,269.9 2,147.8 2004 15.1 13.0 2.1 8,544.0 4,885.5 3,658.5 2005 18.1 13.2 4.9 10,564.0 5,229.6 5,334.4 2006 19.4 13.1 6.3 13,593.4 5,406.4 8,187.0 2007 21.5 13.4 8.1 14,839.2 6,303.7 8,535.5 2008 22.8 13.2 9.6 15,039,3 6,639.2 8,400.1 Sumber: BPS, diolah Departemen Perdagangan, 2009.

(60)

pertanian khususnya kinerja ekspor impor yang telah memberikan nilai tambah dan devisa bagi negara.

Di samping itu, nilai ekspor komoditas perkebunan yang selalu jauh lebih tinggi dari nilai impor merupakan andalan sektor pertanian dalam menutupi devisa yang dikeluarkan untuk kekurangan biaya impor komoditas pertanian lainnya (baik tanaman pangan, hortikultura, maupun peternakan). Devisa dari ekspor komoditas perkebunan bahkan mampu memberikan nilai positif terhadap total neraca perdagangan sektor pertanian.

4.2. Ekspor Karet Indonesia

Karet sebagai bagian dari komoditas pertanian Indonesia merupakan kebutuhan yang vital bagi kehidupan manusia sehari-hari, hal ini terkait dengan mobilitas manusia dan barang yang memerlukan komponen yang terbuat dari karet seperti ban kendaraan, conveyor belt, sabuk transmisi, dock fender, sepatu dan sandal. Kebutuhan karet alam maupun sintetis terus meningkat sejalan dengan meningkatnya standar hidup manusia.

(61)

menyerap 12,8 juta pekerja, dengan perincian bahwa setiap hektar perkebunan karet menyerap 4 pekerja (Kompas, 05 Januari 2010).

Secara umum perkembangan ekspor karet Indonesia ke seluruh negara importir pada rentang waktu tahun 1999-2008 cenderung menunjukkan pertumbuhan yang terus meningkat sebagaimana dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3. Perkembangan Ekspor Karet Indonesia Tahun 1999-2008

Tahun Volume (Ton/M3)

1999 2000 2001 2002

1.494.543 1.379.612 1.453.382 1.495.987

2003 1.660.919

2004 1.662.210

2005 1.874.261

2006 2.285.997

2007 2.406.776

2008 2.893.993

Sumber: BPS, diolah Pusat Data Departemen Perdagangan, 2009.

(62)

Tahun

1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008

Volume (Ton/M3)

Gambar 4.1. Perkembangan Ekspor Karet Indonesia Tahun 1999-2008

Diperkenalkannya karet sintetis pada dekade 1950-an, menyebabkan kebutuhan karet alam mengalami penurunan karena banyak fungsi karet alam yang tergantikan oleh karet sintetis. Hal ini disebabkan kebutuhan karet sintetis relatif lebih mudah dipenuhi karena sumber bahan baku relatif tersedia. Apalagi karet sintetis, yang bahan bakunya sebagian besar terbuat dari minyak bumi, dapat diproduksi dalam jumlah sesuai kebutuhan tanpa mempengaruhi harga. Namun demikian keunggulan karet alam masih belum bisa ditandingi oleh karet sintetis, terutama daya elastisitas dan plastisitasnya yang lebih bagus. Hal ini bisa dilihat dalam pembuatan ban radial meskipun bahan bakunya karet sintetis, tetap saja membutuhkan pasokan karet alam. Dengan demikian, secara perlahan kebutuhan dunia terhadap karet alam

(63)

dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan seiring berkembangnya industri yang menggunakan bahan baku karet di negara-negara maju. Kenaikan kebutuhan tersebut dipicu oleh kemajuan industri kendaraan bermotor yang memiliki ketergantungan yang besar terhadap pasokan karet alam, misalnya industri ban yang merupakan pemakai terbesar karet alam.

Dewasa ini jumlah produksi karet alam dan karet sintetis adalah 1 : 2. Walaupun jumlah produksi karet alam rendah, bahkan hanya setengah dari produksi karet sintetis tetapi sesungguhnya jumlah produksi dan konsumsi kedua jenis karet ini hampir sama. Dua jenis karet ini sebenarnya memiliki pasar tersendiri. Akan tetapi karet alam dan karet sintetis sesungguhnya tidak saling mematikan atau bersaing penuh. Keduanya mempunyai sifat saling melengkapi atau komplementer (Zuhra, 2006, dalam www.library.usu.ac.id).

Beberapa jenis ban seperti ban radial walaupun dalam pembuatannya dicampur dengan karet sintetis, tetapi jumlah karet alam yang digunakan tetap besar, yaitu dua kali lipat komponen karet alam untuk pembuatan ban non-radial. Jenis-jenis ban yang besar kurang baik bila dibuat dari bahan karet sintetis yang lebih banyak. Porsi karet alam yang dibutuhkan untuk ban berukuran besar adalah jauh lebih besar. Ban pesawat terbang bahkan dibuat hampir semuanya dari bahan karet alam.

(64)

karet alam, hal ini menyebabkan defisit pasokan karet alam dunia sekaligus merupakan peluang Indonesia untuk mengisinya.

Indonesia sebagai produsen karet alam terbesar kedua di dunia setelah Thailand, memiliki peluang yang masih cukup besar untuk dapat dikembangkan secara lebih luas pada semua subsistem dari hulu hingga hilir. Besarnya potensi sumberdaya yang dimiliki Indonesia seperti lahan, iklim, tenaga, plasma yang memadai akan meningkatkan peluang tersebut. Potensi pengembangan karet diarahkan berdasarkan produk yang dihasilkan maupun inovasi teknologi. Dengan demikian ekspor karet Indonesia setiap tahun akan terus mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan.

Menurut Zuhra (2006), beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu meningkatkan daya saing karet alam terhadap karet sintetis adalah:

1. Peningkatan produksi karet per satuan luas. 2. Penurunan biaya produksi.

3. Peningkatan mutu dan penyajian. 4. Pengembangan kegunaan.

Gambar

Tabel 1.1. Ringkasan Perkembangan Nilai Ekspor Indonesia Tahun 2004-2008 (Dalam Juta Dolar AS)
Tabel 1.2. Produksi Karet Alam Negara Produsen Utama Tahun 2002-2007 (Dalam Ribu Ton)
Tabel 1.3. Konsumsi Karet Negara Konsumen Utama Tahun 2002-2007 (Dalam Ribu Ton)
Gambar 2.1. Kurva Permintaan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sementara pada saat menjalankan ujian tahap kedua, mereka diharuskan mencari gulungan di dalam hutan, dan tanpa diduga sebelumnya, Naruto, Sasuke dan Sakura diserang oleh Orochimaru

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian dengan pendekatan eksperimen yaitu suatu penelitian yang berusaha mencari pengaruh variabel tertentu

Susu dengan kualitas baik atau kualitas A (No. 1. jika jumlah bakteri yang terdapat dalam susu segar tidak lebih dari 1!!.!!! setiap milliliter. Bakteri-bakteri koli tidak  dalam

Pada perkembangannya, Mulyana (1964:1) mengatakan bahwa, “semantik ialah bidang pengkajian makna kata dalam konteks bahasa tertentu. Wilayah kajiannya meluas sampai pada

akibat pembakaran, beton akan mengalami penurunan kuat desak dan berat jenis yang bervariasi tergantung tingginya suhu dan lamanya pembakaran, sehingga akan mempengaruhi kuat

arti inkulturasi sesuai dengan pemaknaan yang ada pada liturgi, maka akan dibandingkan unsur fisik antara Budaya Jawa dan budaya Gereja Katolik untuk mencari kesesuaian makna

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat Surabaya tentang isi pesan iklan Layanan Masyarakat Versi SME

Proses perhitungan jarak antar citra di dalam klasifikasi k-NN untuk fitur tekstur menggunakan nilai absolut dari selisih nilai parameter fitur tekstur masing-masing citra