Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Ibu Dengan Ketepatan Pemberian MP-ASI Pada Bayi Di Kelurahan Tigabalata Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun Tahun 2015

93  23  Download (1)

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU DENGAN

KETEPATAN PEMBERIAN MP-ASI PADA BAYI DI

KELURAHAN TIGA BALATA KECAMATAN

JORLANGN HATARAN KABUPATEN

SIMALUNGUN TAHUN 2015

SKRIPSI

OLEH:

DEVI CHRISTIN DAMAYANI SIMBOLON

NIM : 121021084

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

SIMALUNGUN TAHUN 2015

Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Kesehatan Masyarakat

OLEH:

DEVI CHRISTIN DAMAYANI SIMBOLON

NIM : 121021084

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)
(4)

ii

selain ASI yang diberikan kepada bayi setelah bayi berusia 6 bulan. Selain MP-ASI, ASI harus tetap diberikan kepada bayi, paling tidak sampai 24 bulan. Penyebab terjadinya gangguan tumbuh kembang bayi adalah karena pemberian MP-ASI oleh ibu yang belum sesuai dengan ketepatan waktu pemberian, frekuensi, jenis, jumlah bahan makanan, dan cara pembuatannya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui adanya hubungan pengetahuan dan sikap ibu dengan ketepatan pemberian MP-ASI pada bayi dikelurahan Tigabalata Kec Jorlang Hataran Kab Simalungun Tahun 2015.

Jenis Penelitian adalah survei yang bersifat analitik dengan menggunakan

cross sectional, populasi dalam penelitian adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi 24 bulan yaitu sebanyak 57 bayi dan dijadikan sebagai total sampel. Data diperoleh dengan wawancara menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji

chi-square.

Dari hasil uji chi-square (α<0,05), menunjukkan ada hubungan yang

signifikan antara pengetahuan dengan ketepatan pemberian MP-ASI pada bayi diperoleh nilai p = 0,002. Dan ada hubungan yang signifikan antara sikap ibu dengan ketepatan pemberian MP-ASI pada bayi diperoleh nilai p = 0,029.

Diharapkan kepada petugas kesehatan yang bekerja di Puskesmas Tigabalata lebih rutin melakukan penyuluhan tentang MP-ASI yang tepat kepada ibu-ibu secara personal. Juga kepada ibu yang mempunyai bayi untuk lebih sering mengikuti kegiatan posyandu dan penyuluhan yang diadakan didesa tersebut serta lebih meningkatkan pengetahuan dan mencari informasi kesehatan terutama pemberian MP-ASI.

(5)

iii

ABSTRACT

Breastfeeding supplementary food is a supplementary food other than breast milk given to the baby after the baby is 6 months old. In addition to breastfeeding supplementary food, breast milk should still be given to the baby, at least until 24 months. The cause of the baby's growth disorders is due to the provision of complementary feeding by mothers who do not conform with the precision timing, frequency, type, number of foodstuffs, and the weave. The objective of the research was to investigate the relation between knowledge and mother attitude with the breastfeeding supplementary food in giving to the babies at the Tiga Balata village in 2015.

This type of research is a survey of analytical by using cross sectional design,the population in the study were all women who had a baby 24 months as many as 57 infants and serve as the total sample. Data was obtained through interviews using a questionnaire and analyzed by chi-square test.

From the results of the chi-square test (α < 0.05), indicating there is a significant relationship between the knowledge with accuracy of the breastfeeding supplementary food obtained p = 0.002. And there is a significant relationship between the attitude of a mother with the breastfeeding supplementary food to the babies obtained p = 0.029.

Expected to health workers who work at the health center Tiga Balata more routine counseling on appropriate complementary feeding to mothers personally. Also to mothers who have babies to more frequent follow Posyandu activities and counseling are held in villages as well as increased knowledge and search for health information, especially the provision of complementary feeding.

(6)

iv

Tempat/Tanggal Lahir : Tigabalata / 03 Desember 1989

Agama : Kristen Protestan

Status Pernikahan : Menikah

Anak ke : 3 Dari 4 Bersaudara

Nama Ayah : M.Simbolon (Alm.)

Nama Ibu : T.Silalahi (Alm.)

Alamat Rumah : Jl. Gunung Kuncir no.11 Parluasan Balata Kecamatan

Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun

RIWAYAT PENDIDIKAN

1. 1995-2001 : SD Negeri No. 091494 Tiga Balata

2. 2001-2004 : SMP Negeri 1 Tiga Balata

3. 2004-2007 : SMA RK Budi Mulia Pematang Siantar

4. 2007-2010 : DIII Akademi Kebidanan Agatha Pematang Siantar

(7)

v

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas

segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

yang berjudul “Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Ibu Dengan Ketepatan

Pemberian MP-ASI Pada Bayi Di Kelurahan Tigabalata Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun Tahun 2015”, guna memenuhi salah satu

syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat.

Dalam penyusunan skripsi mulai dari awal hingga akhir selesainya skripsi

ini penulis banyak mendapat bimbingan, dukungan dan bantuan dari berbagai

pihak, oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih

kepada:

1. Bapak Dr. Drs. Surya Utama, M.S, selaku Dekan Fakultas Kesehatan

Masyarakat Universitas Sumatera Utara

2. Bapak Drs. Heru Santosa, MS, Ph.D selaku ketua Departemen Kependudukan

dan Biostatistik Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Drs. Heru Santosa, MS, Ph.D selaku Dosen Pembimbing I skripsi yang

juga telah banyak memberikan bimbingan, pengarahan dan masukan dalam

penyelesaian skripsi ini.

4. Ibu Asfriyati, SKM, M.Kes selaku Dosen Pembimbing II skripsi yang telah

banyak memberikan bimbingan, saran, dukungan, serta arahan dalam

penyelesaian skripsi ini.

5. Bapak Abdul Jalil Amri, M.Kes selaku Penguji I yang telah banyak

(8)

vi

7. Bapak dr. Surya Dharma, MPH selaku Dosen Pembimbing Akademik yang

telah banyak memberikan masukan kepada penulis selama kuliah di FKM

USU.

8. Seluruh Dosen dan Staf di FKM USU, terutama Departemen Kependudukan

dan Biostatistik yang telah memberikan bekal ilmu selama penulis mengikuti

pendidikan.

9. Kepala Kelurahan Ibu Sarmida Lona Gultom, ST yang telah memberikan izin

kepada penulis untuk melakukan penelitian.

10.Berbagai pihak di wilayah kerja Puskesmas di Kelurahan Tiga Balata yang

telah memberikan perhatian dan bantuan selama melakukan penelitian.

11.Teristimewa untuk Alm orang tuaku tercinta, Ayahanda Maruli Simbolon, SE

dan Ibunda Tinorma Silalahi. Ayahanda dan Ibunda adalah inspirasi terbesar

dalam pencapaian tujuan hidupku. Abang ipar, keponakan dan kakakku

tersayang Lisda Simbolon, SE beserta abang dan adikku Darwin Simbolon,

SH, Aditya Simbolon SS, dan seluruh keluarga besar yang turut memberikan

doa, dukungan dan semangatnya kepada penulis.

12.Kepada Suami terkasih dan tercinta Brig. Indra S Manik, SH yang telah

banyak memberikan doa, dukungan dan semangatnya kepada penulis.

13.Teman-teman seperjuangan (Yulia Sitorus, Dhewi Tambunan, Adek

Purnamasari, Febru Aritonang, Juspen Simarmata, Martha Sihombing, Sri

(9)

vii

Reproduksi terima kasih atas dukungan, bantuan, motivasi, dan

kebersamaannya.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini,

serta masih diperlukan penyempurnaan, hal ini tdak terlepas dari keterbatasan,

kemampuan, pengetahuan dan pengalaman yang penulis miliki. Semoga skripsi

ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan penelitian selanjutnya.

Medan, Oktober 2015 Penulis

(10)

viii

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 MP-ASI (Makanan Pendamping Air susu Ibu) ... 9

(11)

ix

4.3.1 Hubungan Pengetahuan dengan Ketepatan Pemberian MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun ... 36

4.3.2 Hubungan Sikap Dengan Ketepatan Pemberian MP-ASI ... 37

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Ketepatan Pemberian MP-ASI ... 39

5.2 Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Ketepatan Pemberian MP-ASI Pada Bayi ... 40

5.3 Hubungan Antara Sikap Ibu Dengan Ketepatan Pemberian MP-ASI Pada Bayi ... 42

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 45

6.2 Saran ... 45

(12)

x

Kec. Jorlang Hataran Kab. Simalungun ... 27

Tabel 4.2 Distribusi Pengetahuan Responden Tentang MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kec Jorlang Hataran

Kab Simalungun ... 28

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden Tentang MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kec Jorlang Hataran

Kab Simalungun ... 29

Tabel 4.4 Distribusi Sikap Responden Tentang MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kec Jorlang Hataran

Kab Simalungun ... 30

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Sikap Responden Tentang MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kec Jorlang Hataran

Kab Simalungun ... 32

Tabel 4.6 Distribusi Ketepatan Pemberian MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kec Jorlang Hataran Kab Simalungun ... 33

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Ketepatan Pemberian MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kec Jorlang Hataran

Kab Simalungun ... 35

Tabel 4.8 Jadwal Pemberian MP-ASI, Menurut Umur, Frekuensi Pemberian Per Hari, dan Jumlah Responden

Yang Tidak Tepat ... 35

Tabel 4.9 Hubungan Pengetahuan Dengan Ketepatan Pemberian MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kec Jorlang Hataran

Kab Simalungun ... 36

Tabel 4.10 Hubungan Sikap Dengan Ketepatan Pemberian MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kec Jorlang Hataran

(13)

xi

DAFTAR GAMBAR

(14)

xii Lampiran 2 : Master Data

Lampiran 3 : Hasil Output Univariat dan Bivariat

Lampiran 4 : Surat Izin Penelitian

(15)

ii

ABSTRAK

Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) adalah makanan tambahan selain ASI yang diberikan kepada bayi setelah bayi berusia 6 bulan. Selain MP-ASI, ASI harus tetap diberikan kepada bayi, paling tidak sampai 24 bulan. Penyebab terjadinya gangguan tumbuh kembang bayi adalah karena pemberian MP-ASI oleh ibu yang belum sesuai dengan ketepatan waktu pemberian, frekuensi, jenis, jumlah bahan makanan, dan cara pembuatannya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui adanya hubungan pengetahuan dan sikap ibu dengan ketepatan pemberian MP-ASI pada bayi dikelurahan Tigabalata Kec Jorlang Hataran Kab Simalungun Tahun 2015.

Jenis Penelitian adalah survei yang bersifat analitik dengan menggunakan

cross sectional, populasi dalam penelitian adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi 24 bulan yaitu sebanyak 57 bayi dan dijadikan sebagai total sampel. Data diperoleh dengan wawancara menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji

chi-square.

Dari hasil uji chi-square (α<0,05), menunjukkan ada hubungan yang

signifikan antara pengetahuan dengan ketepatan pemberian MP-ASI pada bayi diperoleh nilai p = 0,002. Dan ada hubungan yang signifikan antara sikap ibu dengan ketepatan pemberian MP-ASI pada bayi diperoleh nilai p = 0,029.

Diharapkan kepada petugas kesehatan yang bekerja di Puskesmas Tigabalata lebih rutin melakukan penyuluhan tentang MP-ASI yang tepat kepada ibu-ibu secara personal. Juga kepada ibu yang mempunyai bayi untuk lebih sering mengikuti kegiatan posyandu dan penyuluhan yang diadakan didesa tersebut serta lebih meningkatkan pengetahuan dan mencari informasi kesehatan terutama pemberian MP-ASI.

(16)

iii

breast milk given to the baby after the baby is 6 months old. In addition to breastfeeding supplementary food, breast milk should still be given to the baby, at least until 24 months. The cause of the baby's growth disorders is due to the provision of complementary feeding by mothers who do not conform with the precision timing, frequency, type, number of foodstuffs, and the weave. The objective of the research was to investigate the relation between knowledge and mother attitude with the breastfeeding supplementary food in giving to the babies at the Tiga Balata village in 2015.

This type of research is a survey of analytical by using cross sectional design,the population in the study were all women who had a baby 24 months as many as 57 infants and serve as the total sample. Data was obtained through interviews using a questionnaire and analyzed by chi-square test.

From the results of the chi-square test (α < 0.05), indicating there is a significant relationship between the knowledge with accuracy of the breastfeeding supplementary food obtained p = 0.002. And there is a significant relationship between the attitude of a mother with the breastfeeding supplementary food to the babies obtained p = 0.029.

Expected to health workers who work at the health center Tiga Balata more routine counseling on appropriate complementary feeding to mothers personally. Also to mothers who have babies to more frequent follow Posyandu activities and counseling are held in villages as well as increased knowledge and search for health information, especially the provision of complementary feeding.

(17)

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan dan minuman yang paling

sempurna bagi bayi selama bulan-bulan pertama kehidupannya (Margaret

Lowson, 2003). Sejak awal kelahirannya sampai bayi berusia 6 bulan, ASI

merupakan sumber nutrisi utama bayi. Komposisi ASI sempurna sesuai kebutuhan

bayi sehingga walaupun hanya mendapatkan ASI dibeberapa bulan kehidupannya,

bayi bisa tumbuh optimal. ASI sangat bermanfaat untuk kekebalan tubuh bayi

karena didalamnya terdapat zat yang sangat penting yang sudah terbukti melawan

berbagai macam infeksi, seperti ISPA, peradangan telinga, infeksi dalam darah

dan sebagainya.

Pencapaian tumbuh kembang optimal pada bayi, dalam Global Strategy for Infant and Young Child Feeding. WHO/UNICEF merekomendasikan empat

hal penting yang harus dilakukan yaitu pertama memberikan air susu ibu kepada

bayi segera dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir, kedua memberikan hanya air susu ibu (ASI) saja atau pemberian ASI secara eksklusif sejak lahir sampai bayi

berusia 6 bulan, ketiga memberikan makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI)

sejak bayi berusia 6 bulan sampai 24 bulan, dan keempat meneruskan pemberian

ASI sampai anak berusia 24 bulan atau lebih. MP ASI harus mudah dicerna, harus

disesusaikan dengan umur dan kebutuhan bayi dan MP ASI harus mengandung

(18)

Pemberian ASI eksklusif pada bayi di bawah usia dua bulan berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2006-2007 hanya

mencakup 67% dari total bayi yang ada. Persentase tersebut menurun seiring

dengan bertambahnya usia bayi, yakni, 54% pada bayi usia 2-3 bulan dan 19%

pada bayi usia 7-9 bulan. Yang lebih memprihatinkan, 13% bayi di bawah dua

bulan telah diberi susu formula dan satu dari tiga bayi usia 2-3 bulan telah diberi

makanan tambahan (Sentra Laktasi Indonesia, 2010).

Semakin meningkatnya umur bayi, kebutuhan akan zat gizi semakin

bertambah karena tumbuh kembang, sedangkan Air Susu Ibu (ASI) yang

dihasilkan ibunya kurang memenuhi kebutuhan gizi. Oleh sebab itu mulai usia 6

bulan selain ASI, bayi mulai diberikan makanan pendamping air susu ibu

(MP-ASI) agar kebutuhan gizinya terpenuhi (Depkes RI, 2006). Makanan Pendamping

ASI (MP-ASI) merupakan makanan lain yang selain ASI. Makanan ini dapat

berupa makanan yang disiapkan secara khusus atau makanan keluarga yang

dimodifikasi (Lilian Juwono, 2003).

Anak– anak yang diberikan makanan pendamping ASI setelah berumur 6

bulan umumnya lebih cerdas dan memiliki daya tahan tubuh lebih kuat,

mengurangi risiko terkena alergi akibat makanan. Sedangkan jika makanan

pendamping ASI diberikan terlalu dini justru dapat meningkatkan angka kematian

bayi, menggangu sistem pencernaan pada bayi, dan apabila terlambat memberikan

juga akan membuat bayi kekurangan gizi (Kodrat, 2010). Salah satu penyebab

(19)

3

adalah rendahnya mutu MP-ASI dan tidak sesuainya pola asuh yang diberikan

(Depkes RI, 2007).

Masalah gangguan tumbuh kembang pada bayi dan anak usia dibawah 2

tahun (balita) merupakan masalah yang perlu ditanggulangi dengan serius. Usia

dibawah 2 tahun merupakan masa yang amat penting sekaligus masa kritis dalam

proses tumbuh kembang bayi dan anak usia 12-24 bulan harus memperoleh

asupan gizi sesuai dengan kebutuhannya. Hasil survei menunjukkan bahwa salah

satu penyebab terjadinya gangguan tumbuh kembang bayi, dan anak usia 12-24

bulan di Indonesia adalah rendahnya mutu MP-ASI, dan tidak sesuainya pola asuh

yang diberikan sehingga beberapa zat gizi tidak dapat mencukupi kebutuhannya

khususnya energi dan zat gizi mikro terutama zat besi (Fe) dan Seng (Zn).

(Depkes RI, 2004).

Dalam menanggulangi dan mencegah kurang gizi pada balita, maka ibu

harus mengetahui dengan benar tentang MP-ASI dan bagaimana cara pemberian

yang tepat pada anak. Menteri pemberdayaan perempuan mengatakan sekitar 6,7

juta balita atau 27,3% dari seluruh balita di Indonesia menderita kurang gizi. Hal

ini akibat pemberian ASI dan MP-ASI yang salah (Depkes RI, 2006).

Upaya untuk mencapai target diatas, dilakukan sejumlah kegiatan yang

bertumpu pada perubahan perilaku dengan cara mewujudkan Keluarga Sadar Gizi

(Kadarzi). Melalui penerapan perilaku Keluarga Sadar Gizi, keluarga didorong

untuk memberikan ASI eksklusif pada bayi sejak lahir sampai berusia 6 bulan dan

memberikan MP-ASI yang cukup dan bermutu kepada bayi dan anak usia 6-24

(20)

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemberian MP ASI meliputi kapan

MP-ASI harus diberikan, jenis bentuk dan jumlahnya (Krisnatuti, 2000). Pada saat

bayi tumbuh dan menjadi lebih aktif, akan mencapai usia tertentu ASI saja tidak

cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Dengan demikian, makanan

tambahan diberikan untuk mengisi kesenjangan antara kebutuhan nutrisi total

pada anak dengan jumlah yang didapatkan dari ASI . Pada usia enam bulan

pencernaan bayi mulai kuat, sehingga pemberian makanan pendamping ASI harus

setelah usia enam bulan. (Sentra Laktasi Indonesia, 2010).

Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2005,

menyebutkan bahwa kurang lebih 40% bayi usia kurang dari dua bulan sudah

diberi makanan pendamping ASI. Disebutkan juga bahwa bayi usia nol sampai

dua bulan diberi makanan pendamping cair (21-25%), makanan lunak/lembek

(20,1%), dan makanan padat (13,7%). Pada bayi usia tiga sampai lima bulan yang

mulai diberikan makanan pendamping cair (60,2%), lumat/lembek (66,25%) dan

padat (45,5%).

Dari beberapa penelitian diketahui bahwa keadaan kurang gizi pada bayi

dan anak disebabkan makanan pendamping ASI yang tidak tepat dan

ketidaktahuan ibu tentang manfaat dan cara pemberian makanan pendamping ASI

yang benar sehingga berpengaruh terhatap pemberian makanan pendamping ASI

(Depkes RI, 2006).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mujirah pada tahun 2009 di poli

tumbuh kembang anak RSUD Dr. Soetomo Surabaya selama bulan Agustus 2008

(21)

5

diperkenalkan MP-ASI berupa buah-buahan, tepung-tepungan, sayur-sayuran,

daging ikan dan telur secara dini.

Menurut Soetjiningsih (2002), pengalaman telah menunjukkan bahwa

terbentuknya cara pemberian makanan bayi yang tepat serta lestarinya pemakaian

ASI sangat tergantung kepada informasi yang diterima oleh ibu-ibu. Informasi

yang diperoleh terkadang sangat minim, karena pengetahuan yang tidak

dimilikinya sehingga sikap pun akan mengikuti. Penelitian yang dilakukannya

mengenai hubungan pengetahuan dan sikap ibu memberikan MP-ASI pada bayi

berumur kurang dari 6 bulan di kelurahan Beji Depok menunjukkan hasil

hubungan pengetahuan tinggi yang memberikan MP-ASI 7,7 % dan pengetahuan

rendah 75%, ibu yang bersikap baik tidak memberikan MP-ASI 37,8 % dan ibu

yang tidak bersikap baik yang memberikan MP-ASI 46,2%.

Survey awal yang dilakukan peneliti di Kelurahan Tiga Balata yang

didapatkan dari 10 ibu yang memiliki bayi usia dibawah 24 bulan pemberian

MP-ASI sudah diberikan pada bayi sejak usia dibawah enam bulan adalah 70%.

Didapatkan hasil 4 orang menyatakan kurang memahami pengetahuan tentang

MP-ASI, ibu tidak mengerti berapa jumlah, porsi, jenis, frekuensi dan bentuk

yang tepat untuk memberikan makanan pendamping ASI pada anaknya. Sehingga

ibu memberikan makanan pendamping disamakan dengan makanan orang dewasa

hanya jumlahnya yang berbeda. Tiga orang ibu mengatakan mengenalkan

makanan tambahan seperti susu formula dan makanan lunak kurang dari 6 bulan

agar anaknya kenyang dan tertidur pulas, jika anak diberi makan pisang sewaktu

(22)

bertambah dan lebih cepat besar. Hal ini disebabkan karena ketidaktahuan ibu

tentang manfaat dan cara pemberian MP-ASI yang benar dan kebiasaan

pemberian MP-ASI yang tidak tepat sehingga berpengaruh terhadap sikap ibu

dalam pemberian MP-ASI. Menurut petugas kesehatan di kelurahan Tiga Balata

apabila diadakan penyuluhan, kebanyakan para ibu memilih tidak hadir dengan

berbagai alasan diantaranya jarak yang jauh, anak yang rewel dan pekerjaan

rumah yang menumpuk.

Info yang diperoleh dari ibu-ibu kader dan petugas kesehatan di kelurahan

Tiga Balata masih banyak ibu-ibu yang memberikan MP-ASI yang tidak tepat

baik dari segi umur bayi, jenis makanan dan frekuensi pemberiannya . Hal ini

dapat dilihat dari banyaknya kasus pada bayi yang mengalami gangguan sistem

pencernaan.

Berdasarkan hal tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

tentang hubungan tingkat pengetahuan dan sikap ibu dengan ketepatan pemberian

makanan pendamping ASI di Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran

Kabupaten Simalungun.

1.2 Perumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalah dari penelitian ini adalah: Apakah

ada Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Ibu Dengan Ketepatan Pemberian MP-ASI

Pada Bayi di Kelurahan Tigabalata Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten

(23)

7

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui adanya Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Ibu Dengan

Ketepatan Pemberian MP-ASI Pada Bayi Di Kelurahan Tigabalata Kecamatan

Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun Tahun 2015.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui adanya hubungan pengetahuan ibu dengan ketepatan

pemberian MP-ASI pada bayi di Kelurahan Tiga Balata kecamatan Jorlang

Hataran kabupaten Simalungun tahun 2015.

2. Untuk mengetahui adanya hubungan sikap ibu dengan ketepatan

pemberian MP-ASI pada bayi di Kelurahan Tiga Balata kecamatan Jorlang

Hataran kabupaten Simalungun tahun 2015.

1.4 Hipotesis Penelitian

1. Ada hubungan pengetahuan ibu dengan ketepatan pemberian MP-ASI pada

bayi.

2. Ada hubungan sikap ibu dengan ketepatan pemberian MP-ASI pada bayi.

3. Ada hubungan pengetahuan dan sikap ibu dengan ketepatan pemberian

MP-ASI pada bayi.

1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Bagi Peneliti

Sebagai suatu pengalaman belajar dalam kegiatan penelitian, sehingga

dapat memperoleh pengalaman dan meningkatkan wawasan peneliti tentang

(24)

1.5.2 Bagi Ibu

Sebagai bahan informasi tentang manfaat dan ketepatan pemberian

MP-ASI sehingga dapat memberikan pemahaman kepada ibu untuk berperilaku

mengubah sikap dan menambah pengetahuan ibu tentang pemberian MP-ASI.

1.5.3 Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai bahan informasi data sehingga diharapkan dapat wacana keilmuan

terutama dalam bidang keperawatan anak.

1.5.4 Bagi Institusi Kesehatan

Khususnya kepada Puskesmas, hasil penelitian ini dapat sebagai bahan

(25)

9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 MP-ASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu) 2.1.1 Pengertian MP-ASI

MP-ASI adalah makanan tambahan selain ASI yang diberikan kepada bayi

setelah bayi berusia 6 bulan. Selain MP-ASI, ASI harus tetap diberikan kepada

bayi, paling tidak sampai 24 bulan. MP-ASI merupakan makanan tambahan bagi

bayi. Makanan ini harus menjadi pelengkap yang dapat memenuhi kebutuhan

bayi. Hal ini menunjukkan bahwa MP-ASI berguna untuk menutupi kekurangan

zat-zat giji yang terkandung dalam ASI(Krisnatuti & Yenrina,2000).

MP-ASI dapat juga disebut makanan pelengkap atau makanan padat,

adalah makanan tambahan yang secara berangsusr-angsur diberikan kepada bayi

untuk memenuhi kebutuhan gizi, sebelum bayi diberikan makanan anak. Sesudah

anak disapih, makanan tambahan lama kelamaan akan menjadi makanan pokok.

Sari buah atau buah-buahan segar, makanan lumat dan makanan lembek secara

berturut-turut dapat diberikan sebagai makanan tambahan (RSCM & Persatuan

Ahli Gizi Indonesia,1994).

2.1.2 Tujuan MP-ASI

Pemberian MP-ASI bertujuan untuk melengkapi zat gizi bayi yang sudah

berkurang. Mengembangkan kemampuan bayi untuk menerima bermaca-macam

(26)

untuk mengunyah dan menelan, mencoba baradaptasi terhadap makanan yang

mengandung kadar energi tinggi(Suhardjo, 2003).

Bayi perlu mendapatkan tambahan energi dan zat-zat gizi yang diperlukan,

karena ASI tidak dapat memenuhi kebutuhan bayi secara terus

menerus(Krisnatuti, 2000).

2.1.3 Syarat-syarat MP-ASI

Agar pemberian MP-ASI dapat terpenuhi dengan sempurna maka perlu

diperhatikan sifat-sifat bahan makanan yang akan digunakan. Makanan tambahan

untuk bayi harus mempunyai sifat fisik yang baik, yaitu rupa dan aroma yang

layak. Selain itu dilihat dari segi kepraktisannya, makanan tambahan bayi

sebaiknya sudah disiapkan dengan waktu pengolahan waktu yang singkat.

Makanan pendamping ASI harus memenuhi persyaratan khusus tentang jumlah

zat-zat gizi yang diperlukan bayi, seperti protein, energi, lemak, vitamin, mineral,

dan zat-zat tambahan lainnya. MP-ASI hendaknya mengandung protein bermutu

tinggi dengan jumlah yang mencukupi (Roger, 1999).

1. Makanan yang dianjurkan:

1) Bubur tepung beras atau beras merah yang dimasak dengan menggunakan

cairan atau kaldu daging dan sayuran, susu formula (ASI) atau air.

2) Buah-buahan yang dihaluskan atau menggunakan blender seperti pepaya,

pisang, apel, melon dan alpukat.

3) Sayur-sayuran dan kacang-kacangan yang direbus kemudian dihaluskan

menggunakan blender.

(27)

11

5) Ikan yang diblender sebaiknya ikan yang digunakan adalah ikan yang

tidak berduri.

2. Makanan yang tidak dianjurkan

1) Makanan yang mengandung protein gluten yaitu tepung terigu barley, biji

gandum dan kue yang terbuat dari tepung terigu. Makanan tersebut dapat

membuat perut bayi kembung, mual dan diare pada bayi.

2) Hindari pemberian garam, gula, bumbu masak atau penyedap rasa.

3) Makanan terlalu berlemak.

4) Buah-buahan yang terlalu asam seperti jeruk dan sirsak.

5) Makanan terlalu pedas atau bumbu terlalu tajam.

6) Buah-buahan yang mengandung gas seperti durian, cempedak. Sayuran

yang mengandung gas seperti kol, kembang kol, lobak. Kedua makanan

tersebut dapat membuat perut bayi kembung.

7) Kacang tanah pada bayi dapat menyebabkan alergi atau pembengkakan

pada tenggorokan sehingga bayi sulit bernapas.

8) Kadangkala telur dapat memacu alergi, berikan secara bertahap dan

dengan porsi kecil. Jika bayi alergi segera hentikan.

9) Madu dapat mengandung spora yang sangat membahayakan bayi

(Lituhayu R, 2008).

2.1.4 Mutu MP-ASI

Mengingat MP-ASI sangat dibutuhkan untuk dapat memenuhi asupan zat

gizi pada bayi usia 6-12 bulan yang sering disebut usia kritis, maka MP-ASI

(28)

fisik, meliputi anatara lain aroma, konsistensi kelenturan, penampilan dan rasa; b)

mutu kimiawi yaitu berupa komposisi zat gizi dan jumlah masing-masing zat gizi

yang terkandung dalam status tertentu; c) kepadatan energi atau energi density

(ED) yaitu jumlah energi yang dihasilkan dalam satu gram produk siap makan

menghasilkan 120-140 kalori; dan d) mutu biologi, meliputi mutu protein seperti

nilai Protein Efficiency Ratio (PER) atau protein skor atau komposisi asam amino, dan ketersediaan hayati, vitamin dan mineral (Depkes, 2002).

Mempersiapakan MP-ASI yang bermutu baik tidak dapat didasari hanya

kepada insting seorang ibu. Pengetahuan dan praktek diperlukan secara khusus

dalam teknologi rumah tangga, agar dapat memenuhi kebutuhan bayi yang relatif

lebih tinggi untuk setiap kilogram berat badan dibandingkan dengan kebutuhan

orang dewasa. Susunan hidangan disesuaikan dengan pola makanan disesuaiakan

dengan faal bayi serta memperhatikan kebersihan lingkungan dan perorangan

(Suhardjo,2003).

2.1.5 Waktu Pemberian MP-ASI

Menurut Lituhayu R (2008) MP-ASI sebaiknya diberikan setelah anak

berusia 6 bulan. Hal ini dikarenakan :

1) Pemberian makan setelah bayi berumur 6 bulan memberikan perlindungan

besar dari berbagai macam penyakit. Hal ini disebabkan sistem imun bayi

berusia kurang dari 6 bulan belum sempurna, sehingga pemberian makan

yang terlalu dini sama saja dengan membuka pintu gerbang masuknya

(29)

13

2) Sistem pencernaan bayi berumur 6 bulan sudah relatif sempurna dan siap

menerima MP-ASI.

3) Mengurangi resiko terkena alergi akibat makanan. Saat bayi berumur

kurang dari 6 bulan, sel-sel di sekitar usus belum siap mengolah

kandungan dari makanan.

4) Menunda pemberian MP-ASI hingga 6 bulan melindungi bayi dari

obesitas di kemudian hari.

2.1.6 Jadwal Pemberian MP-ASI

Hasil penelitian Rosidah (2003) menunjukkan bahwa pengetahuan dan

sikap ibu dalam pemberian MP-ASI dengan baik berhubungan secara signifikan

dengan perkembangan bayi. Penelitian juga menunjukkan adanya pengaruh

pemberian MP-ASI terhadap peningkatan berat badan bayi. Semakin baik cara

pemberian MP-ASI maka semakin meningkat berat badannya dan berat badan

bayi yang normal juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan bayi. Cara

pemberian makanan tambahan yang dipraktekkan oleh ibu-ibu pada umumnya

sudah memenuhi syarat pertumbuhan dan perkembangan bayinya. Sangat banyak

alasan yang menyebabkan seseorang mengkonsumsi makanan tambahan

(MP-ASI), selain agar kebutuhan gizinya terpenuhi, yang paling penting adalah agar

pertumbuhan dan perkembangan anak bisa tumbuh dengan baik (Clark,1998).

Hal-hal yang perlu diketahui mengenai cara pemberian makanan tambahan dapat

(30)

Tabel 2.1 Jadwal Pemberian MP-ASI, Menurut Umur Bayi, Jenis, Makanan dan Frekuensi Pemberian

Umur Bayi Jenis Makanan Frekuensi Pemberian

per hari

- Beras merah/ kentang/ labu/

(31)

15

2.1.7 Resiko Pemberian Makanan Pendamping ASI Terlalu Dini

Menurut Krisnatuti Yenrina (2008), bayi belum siap menerima makanan

semi padat sebelum berusia 6 bulan, selain itu makanan tersebut belum diperlukan

sepanjang bayi tetap mendapatkan ASI, kecuali pada keadaan tertentu.

Banyak resiko yang ditemukan pada jangka pendek maupun panjang jika

bayi diberikan makanan pendamping terlalu dini antara lain :

a. Resiko Jangka Pendek

Salah satu resiko jangka pendek dari pemberian MP-ASI terlalu dini

adalah penyakit diare, defisiensi besi dan anemia.

Harus diperhatikan bahwa apabila makanan pendamping ASI sudah

diberikan kepada bayi sejak dini (dibawah usia 6 bulan) maka asupan gizi yang

diperoleh bayi tidak sesuai dengan kebutuhan. Selain itu system pencernaan

bayi akan mengalami gangguan seperti sakit perut, sembelit (susah buang air

besar) dan alergi. (Arisman,2009)

b. Resiko Jangka Panjang

Obesitas (kegemukan) & Penyakit Kronis

Kelebihan dalam memberikan makanan adalah salah satu faktor resiko

utama dari pemberian susu formula dan MP-ASI yang terlalu dini pada bayi.

Sama seperti orang dewasa kelebihan berat badan anak terjadi akibat

ketidakseimbangan antara energi yang masuk dan keluar.

Karena sistem pencernaan belum siap menerima makanan yang diberikan

selain ASI, maka berdampak menimbulkan penyakit kronis dan dapat

(32)

2.2 Hal yang Berhubungan Dengan Ketepatan Pemberian MP-ASI 2.2.1 Pengetahuan (Knowledge)

Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang

melakukan pengindraan terhadap suatu subjek tertentu. Pengindraan terjadi

melalui panca indra manusia yakni : indra penglihatan, pendengaran, penciuman,

rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia melalui mata dan telinga

(Notoadmodjo, 2007).

Pengetahuan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) adalah

Pengetahuan tentang Makanan tambahan yang diberikan pada bayi berusia 4-6

bulan sampai bayi berusia 24 bulan. (Yenrina, 2008 ). Peranan MP-ASI sama

sekali bukan untuk menggantikam ASI, melainkan hanya untuk melengkapi ASI

(Krisnatuti, 2000).

Pengetahuan yang rendah juga berdampak terhadap praktek pemberian

makanan tambahan. Secara umum makanan dan minuman yang diberikan kepada

bayi umur 0 – 6 bulan adalah susu formula, air putih, dan madu. Pemberian ASI

yang tidak sampai umur 6 bulan karena ASInya sedikit disebabkan karena ibu

bekerja dan kurangnya keyakinan terhadap kemampuan memproduksi ASI untuk

memuaskan bayinya sehingga mendorong ibu untuk memberikan susu formula.

Pemberian makanan tambahan seperti susu formula menjadi salah satu penyebab

ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada bayinya (Nana, 2013).

Hasil penelitian Atika Pratiwi terhadap pengetahuan ibu tentang MP-ASI

pada Anak Usia 6-24 bulan di Posyandu Dusun Tlangu Desa Bulan Kec.Wonosari

(33)

17

dari responden atau 92% (52 orang) berpengetahuan baik dan 8% (4 orang)

berpengetahuan cukup.

Hasil penelitian Dheny di posyandu karyamulya jetis jaten tentang

hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan Pemberian Makanan Pendamping ASI

menunjukkan bahwa dari responden tingkat pengetahuan baik, memberikan

MP-ASI dengan sebanyak 66,7%, sedangkan yang memberikan MPMP-ASI dengan

tingkatan cukup sebanyak 16,7%, kelompok ibu yang tingkat pengetahuannya

kurang memberikan MP-ASI sebanyak 3,3%.

2.2.2 Sikap (Attitude)

Sikap adalah reaksi respon seorang yang masih tertutup terhadap suatu

stimulus atau objek. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sikap adalah

tanggapan atau persepsi seorang terhadap apa yang diketahuinya. Jadi sikap tidak

dapat langsung dilihat secara nyata, tetapi hanya dapat ditafsirkan sebagai perilaku

yang tertutup bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka

(Notoadmojo, 2010).

Sikap terdiri dari beberapa tingkatan yakni :

a) Menerima (Receiving)

Diartikan orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan

(Objek).

b) Merespon (Responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan

(34)

c) Menghargai (Valuting)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan dan mendiskusikan dengan orang

lain terhadap suatu masalah.

d) Bertanggungjawab (Responsible)

Bertanggungjawab terhadap sesuatu yang dipilihnya dengan segala resiko

adalah merupakan sikap yang paling tinggi.

2.3Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian ini bertujuan untuk melihat Hubungan

Pengetahuan Dan Sikap Ibu Dengan Ketepatan Pemberian MP-ASI Pada Bayi di

Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun Tahun

2015. Berdasarkan tinjauan teroritis maka kerangka konsep dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut:

Variabel Independen Variabel Dependent

Gambar 2.1

Kerangka Konsep Penelitian

Pengetahuan

Sikap

(35)

19

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini memakai metode survei yang bersifat deskriptif analitik

dengan pendekatan cross sectional yaitu pengambilan data yang bertujuan untuk

mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap ibu dengan ketepatan pemberian

MP-ASI pada bayi di Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran

Kabupaten Simalungun Tahun 2015 dengan cara pendekatan, wawancara dan

pengumpulan data menggunakan kuesioner.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi

Lokasi penelitian dilakukan di Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang

Hataran Kabupaten Simalungun Tahun 2015.

3.2.2 Waktu

Waktu penelitian dilakukan pada bulan Mei – Oktober 2015.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi

umur 24 bulan di Kelurahan Tigabalata Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten

(36)

3.3.2 Sampel

Sampel penelitian adalah seluruh populasi di Kelurahan Tiga Balata

Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun yaitu sebanyak 57 orang.

Sampel yang menjadi subyek penelitian harus memenuhi Kriteria Inklusi,

yaitu kriteria atau ciri-ciri yang perlu dipenuhi oleh setiap anggota populasi yang

dapat diambil sebagai sampel (Notoatmodjo, 2010).

1). Ibu yang mempunyai bayi umur 24 bulan

2). Bayi yang diberi dan bayi yang tidak diberi MP-ASI

3). Ibu yang bersedia menjadi responden.

3.4 Jenis dan Cara Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan menurut Riwidikdo (2009), merupakan kegiatan

penelitian untuk mengumpulkan data. Data yang diperoleh terdiri dari :

3.4.1 Data Primer

Data primer dalam penelitian ini berupa kuesioner yaitu data yang

diperoleh langsung dari sumbernya. Kuesioner tersebut berisi daftar pertanyaan

yang berhubungan dengan masalah penelitian yang langsung diisi oleh responden.

3.4.2 Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang di dapat tidak secara langsung dari objek

penelitian (Riwidikdo, 2009). Data yang akan dikumpulkan berkaitan dengan

tujuan penelitian seperti batasan wilayah penelitian, dan lain-lain yang diperoleh

dari profil Kelurahan dan profil Puskesmas di Tiga Balata Kecamatan Jorlang

(37)

21 pada bayi sejak usia 6-24 bulan

2 Pengetahuan Hasil penginderaan atau

(38)

3.6 Aspek Pengukuran

3.6.1 Aspek Pengukuran Variabel Dependen

Pengukuran variabel dependen yaitu pemberian MP-ASI pada bayi usia

0-24 bulan terdiri dari 10 pernyataan diukur dengan menggunakan skala nominal

dengan kategori yaitu:

1.Tepat : Jika responden menjawab dengan benar semua pernyataan

2.Tidak Tepat : Jika responden tidak dapat menjawab dengan benar semua

pernyataan

3.6.2 Aspek Pengukuran Variabel Independen 1. Pengetahuan

Untuk pertanyaan Pengetahuan Ibu tentang pemberian MP-ASI pada bayi

sebanyak 12 pertanyaan dengan menggunakan sistem scoring. Setiap jawaban

yang benar diberi skor 1 dan jawaban yang salah diberi skor 0. Total skor adalah

12 dan total skor minimal adalah 0.

Menurut Arikunto 2007, pengetahuan dikategorikan menjadi 3 kategori ,

yaitu:

1. Baik : Jika jawaban benar dengan nilai ≥ 75% dengan total score (10-12).

2. Cukup : Jika jawaban benar dengan nilai 40%-75% dengan total score

(5-9).

3. Kurang : Jika jawaban benar dengan nilai < 40% dengan total score (0-4).

2. Sikap

Kuesioner pengukuran sikap berisi 9 pernyataan yang terdiri dari 4

(39)

23

terdapat pada nomor 1,3,5, 7dan 9. Pengukuran dengan alternatif jawaban sebagai

berikut:

Pernyataan Positif Nilai Pernyataan Negatif Nilai

Sangat setuju 4 Sangat setuju 1

Setuju 3 Setuju 2

Tidak setuju 2 Tidak setuju 3

Sangat tidak setuju 1 Sangat tidak setuju 4

Dengan Kategori:

1. Baik : Jika responden dapat menjawab ≥ 50% dengan total score

(23-36).

2. Tidak Baik : jika responden dapat menjawab < 50% dengan total score

(9-22).

3.7 Pengolahan Data

Setelah data terkumpul maka langkah yang dilakukan selanjutnya adalah

pengolahan data terdiri dari 3 tahap :

a. Editing (Penyuntingan Data)

Hasil wawancara atau angket yang diperoleh atau dikumpulkan melalui

kuesioner perlu disunting (edit) terlebih dahulu. Apabila ternyata masih ada data

atau informasi yang tidak lengkap, dan tidak mungkin dilakukan wawancara

(40)

b. Coding Sheet (Lembaran Kode)

Lembaran atau kartu kode adalah instrument berupa kolom-kolom untuk

merekam data secara manual. Lembar atau kartu kode berisi nomor responden,

dan nomor-nomor pertanyaan.

c. Data Entry (Memasukkan Data)

Mengisi kolom-kolom atau kotak-kotak lembar kode atau kartu kode

sesuai dengan jawaban masing-masing pertanyaan.

3.8 Analisis Data

Hasil analisa data disajikan dalam tabel distribusi frekuensi dan presentasi.

Adapun tahap dari analisa data adalah :

1. Analisis Univariat

Analisis univariat dimaksudkan untuk menggambarkan masing-masing

variabel independen dan dependen dengan menggunakan tabel distribusi

frekuensi.

2. Analisis Bivariat

Analisis Bivariat dimaksudkan untuk melihat hubungan kedua variabel

yaitu variabel independen dan variabel dependen dengan menggunakan uji Chi Squaredengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05) antara lain:

1. Ho ditolak jika p<α (0,05) maka terdapat hubungan antara variabel

independen (pengetahuan, sikap) dengan variabel dependen (ketepatan

(41)

25

2. Ho diterima jika p>α (0,05) maka tidak terdapat hubungan antara variabel

independen (pengetahuan, sikap) dengan variabel dependen (ketepatan

(42)

26

4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

4.1.1 Data Geografi

Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran memiliki luas lahan

865 Ha. Jarak kantor kelurahan ke kantor camat sekitar 0,5km. Kelurahan Tiga

Balata berbatasan dengan:

- Sebelah Utara : Kecamatan Siantar

- Sebelah Selatan : Dusun Pinangratus

- Sebelah Timur : Desa Dolok Marlawan

- Sebelah Barat : Pematang Siantar

4.1.2 Gambaran Demografi

Jumlah penduduk tahun 2015 adalah 3.512 jiwa, dengan jumlah kepala

keluarga 896 KK yang terdiri dari Jumlah penduduk laki-laki 1738 jiwa dan

perempuan sebanyak 1774 jiwa.

Di kelurahan Tiga balata terdapat satu Puskesmas Tiga Balata, terdapat

tenaga kesehatan yang terdiri dari 1 dokter umum,1 dokter gigi, 3 bidan desa, 3

(43)

27

4.2. Analisis Univariat

4.2.1. Karakteristik Responden

Karakteristik meliputi umur, pendidikan, pekerjaan, suku dan usia bayi. Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik Responden Di Kelurahan Tiga Balata

Kec. Jorlang Hataran Kab. Simalungun

No Karakteristik Jumlah

Dari Tabel 4.1 diketahui bahwa jumlah responden yang tertinggi berumur

25-35 tahun yaitu sebanyak 36 orang (63,2%) dan responden yang terendah

berumur <25 tahun yaitu sebanyak 10 orang (17,5%). Diketahui juga bahwa yang

paling banyak responden memiliki tingkat pendidikan SLTA yaitu sebanyak 33

orang (57,9%), sementara terendah adalah SD sebanyak 4 orang (7,0%).

Diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki pekerjaan petani/buruh yaitu

(44)

Diketahui juga sebagian besar responden bersuku batak sebanyak 48 orang

(84,2%), dan yang terendah bersuku melayu sebanyak 3 orang (5,3%).

4.2.2. Pengetahuan Responden

Tabel 4.2 Distribusi Pengetahuan Responden Tentang MP-ASI diKelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun

No Pertanyaan Salah Benar

n % N %

1 Makanan pendamping ASI 28 49,1 29 50,9

2 Pengertian makanan pendamping ASI kali diberikan kepada bayi usia >6 bulan dalam sehari kepada bayi yang berusia 6-8 bulan sampai 1 tahun dapat diberikan nasi tim

31 54,4 26 45,6

10 Pemberian makanan tambahan sebaiknya pada usia

33 57,9 24 42,1

11 Makanan tambahan dapat mengurangi resiko alergi makanan

34 59,6 23 40,4

12 Pada usia berapakah sebaiknya bayi disapih

31 54,4 26 45,6

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar responden

(45)

29

pengukuran pengetahuan seperti umur sebaiknya diberikan makanan tambahan

(57,9%), jenis makanan yang pertama kali diberikan kepada bayi usia >6 bulan

(50,9%), yang merupakan makanan pendamping ASI (63,2%), makanan tambahan

itu diberikan dalam sehari kepada bayi yang berusia 6-8 bulan (63,2%), bayi pada

diberi makanan tambahan (56,1%), pemberian makan bayi sebelum usia 6 bulan

terhadap kesehatan bayi (61,4%), umur lebih dari 6 bulan sampai 1 tahun dapat

diberikan nasi tim (54,4%), pemberian makanan tambahan sebaiknya pada usia

(57,9%), makanan tambahan dapat mengurangi resiko alergi makanan (59,6%),

dan pada usia berapakah sebaiknya bayi disapih (54,4%).

Berdasarkan hasil tersebut maka pengetahuan seputar MP-ASI di

Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun

dikategorikan pada Tabel 4.3 sebagai berikut:

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden Tentang MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun

Dari Tabel 4.3 diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki

pengetahuan kategori kurang dengan ketepatan pemberian MP-ASI pada bayi

(46)

baik dengan ketepatan pemberian MP-ASI pada bayi yaitu sebanyak 7 orang

(12,3%).

4.2.3. Sikap Responden

Tabel 4.4 Distribusi Sikap Responden tentang MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun

No Pernyataan Jumlah

n %

1 Bayi 4 bulan memerlukan makanan khusus

Sangat Setuju 5 8,8

3 Bayi 0-6 bulan lebih gemuk, makanannya harus

ditambah dengan susu formula

bulan dapat berpengaruh pada pencernaannya

Sangat Tidak Setuju 8 14,0

Tidak Setuju 18 31,6

Setuju 22 38,6

Sangat Setuju 9 15,8

5 Pemberian makanan selain ASI kepada bayi

sebelum bayi berusia 6 bulan

Sangat Setuju 17 29,8

Setuju 15 26,3

Tidak Setuju 21 36,8

Sangat Tidak Setuju 4 7,0

6 Menunda pemberian makanan padat dapat

mengurangi resiko alergi makanan pada bayi

Sangat Tidak Setuju 6 10,5

(47)

31

sebagai makanan pertama pada usia >6 bulan

Sangat Tidak Setuju 11 19,3

Tidak Setuju 19 33,3

Setuju 23 40,4

Sangat Tidak Setuju 4 7,0

9 Pada bayi berusia 7-9 bulan diberikan lebih dari 6 kali makanan tambahan setiap hari

Sangat Setuju 12 21,1

Setuju 22 38,6

Tidak Setuju 16 28,1

Sangat Tidak Setuju 7 12,3

Jumlah 57 100,0

Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui bahwa sikap responden dengan

ketepatan pemberian MP-ASI pada bayi sebagian besar setuju dengan pernyataan

“bayi 4 bulan memerlukan makanan khusus” sebanyak 23 orang (40,4%), untuk

pernyataan tentang bayi >6 bulan boleh diberikan makanan tambahan sebagian

responden menjawab setuju yaitu sebanyak 29 orang (50,9%), pernyataan bayi 0-6

bulan lebih gemuk, makanannya harus ditambah dengan susu formula sebagian

responden menjawab setuju yaitu sebanyak 26 orang (45,6%), pernyataan tentang

pemberian makanan pada bayi sebelum <6 bulan dapat berpengaruh pada

pencernaannya sebagian responden menjawab setuju yaitu sebanyak 22 orang

(38,6%), pernyataan tentang pemberian makanan selain ASI kepada bayi sebelum

(48)

orang (36,8%), pernyataan tentang menunda pemberian makanan padat dapat

mengurangi resiko alergi makanan pada bayi sebagian responden menjawab tidak

setuju yaitu sebanyak 24 orang (42,1%), pernyataan tentang pemberian makanan

pada usia 6 bulan dapat membantu bagi mengatasi rasa lapar dan tidak akan

menangis sebagian responden menjawab setuju yaitu sebanyak 28 orang (49,1%),

pernyataan tentang memberi makanan lumat seperti bubur susu sebagai makanan

pertama pada usia >6 bulan sebagian responden menjawab setuju yaitu sebanyak

23 orang (40,4%), pernyataan tentang pada bayi berusia 7-9 bulan diberikan lebih

dari 6 kali makanan tambahan setiap hari sebagian responden menjawab setuju

yaitu sebanyak 22 orang (38,6%).

Berdasarkan hasil tersebut maka sikap ibu seputar MP-ASI di Kelurahan

Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun dikategorikan

pada Tabel 4.5 sebagai berikut:

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Sikap Responden tentang MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun

Dari tabel 4.5 diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki sikap

kategori tidak baik dengan ketepatan pemberian MP-ASI pada bayi yaitu

sebanyak 33 orang (57,9%), dan terendah memiliki sikap kategori baik dengan

(49)

33

4.2.4. Ketepatan Pemberian MP-ASI

Tabel 4.6 Distribusi Ketepatan Pemberian MP-ASI di kelurahan Tiga Balata kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun

No Pertanyaan Jumlah

n %

1 Pemberian makanan pendamping ASI pada bayi usia 0-6 bulan

Ya 9 15,8

Tidak 48 84,2

2 Pemberian ASI saja sampai bayi usia 6 bulan

Ya 46 80,7

5 Pemberian susu formula pada anak usia <6 bulan

Ya 9 15,8

Tidak 48 84,2

6 Pemberian makanan lumat seperti bubur sebagai makanan pertama bayi berusia diatas 6 bulan

Ya 47 82,5 pada bayi usia >12 bulan

Ya 47 82,5

Tidak 10 17,5

9 Pemberian makanan tambahan (bubur tim,sayuran,pisang,dll) pada bayi usia 7 bulan

Ya 49 86,0

Tidak 8 14,0

10 Pemberian makanan tambahan (daging/ikan) pada bayi usia 9 bulan atau lebih

Ya 45 78,9

Tidak 12 21,1

(50)

Berdasarkan tabel 4.6 dapat diketahui bahwa dari pertanyaan pemberian

makanan pendamping ASI pada usia 0-6 bulan dengan ketepatan pemberian

MP-ASI yang menjawab paling banyak yaitu Tidak sebanyak 48 orang (84,2%),

pemberian ASI saja sampai bayi usia 6 bulan yang menjawab paling banyak yaitu

Ya sebanyak 46 orang (80,7%), pemberian makanan tambahan pada bayi saat

berumur 4 bulan yang menjawab paling banyak yaitu Tidak sebanyak 48 orang

(84,2%), pemberian makan bayi berusia <6 bulan jika bayi rewel atau menangis

jawaban responden tertinggi yaitu Tidak sebanyak 42 orang (73,7%), pemberian

susu formula pada anak usia <6 bulan jawaban responden tertinggi yaitu Tidak

sebanyak 48 orang (84,2%), pemberian makanan lumat seperti bubur sebagai

makanan pertama bayi berusia diatas 6 bulan jawaban responden tertinggi yaitu

Ya sebanyak 47 orang (82,5%), pemberian makanan tambahan 3-4 kali sehari

pada bayi usia >9 bulan jawaban responden tertinggi yaitu Ya sebanyak 46 orang

(80,7%), pemberian makanan orang dewasa pada umumnya pada bayi usia >12

bulan jawaban responden tertinggi yaitu Ya sebanyak 47 orang (82,5%),

Pemberian makanan tambahan (bubur tim,sayuran,pisang,dll) pada bayi usia 7

bulan jawaban responden tertinggi yaitu Ya sebanyak 49 orang (86,0%), dan

Pemberian makanan tambahan (daging/ikan) pada bayi usia 9 bulan atau lebih

jawaban responden tertinggi yaitu Ya sebanyak 45 orang (78,9%).

Berdasarkan hasil tersebut maka ketepatan pemberian MP-ASI di

Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun dapat

(51)

35

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Ketepatan Pemberian MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun

No Ketepatan Pemberian MP-ASI Jumlah %

1 Tepat 26 45,6

2 Tidak Tepat 31 54,4

Jumlah 57 100,0

Dari tabel 4.7 diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki

ketidaktepatan pemberian MP-ASI yaitu sebanyak 31 orang (54,4%), dan

terendah memiliki ketepatan pemberian MP-ASI kategori tepat dengan ketepatan

pemberian MP-ASI pada bayi yaitu sebanyak 26 orang (45,6%).Dapat dijelaskan

ketidaktepatan responden dalam pemberian MP-ASI sebagai berikut:

Tabel 4.8 Jadwal Pemberian MP-ASI, Menurut Umur, MP-ASI, Frekuensi Pemberian per Hari, dan Jumlah Responden Yang Tidak Tepat

Umur MP-ASI Frekuensi Pemberian

(52)

Lanjutan Tabel 4.8 Jadwal Pemberian MP-ASI, Menurut Umur, MP-ASI,

Maka dapat disimpulkan bahwa responden yang paling banyak tidak tepat

dalam pemberian MP-ASI pada usia 7 bulan dan 9 bulan sebanyak 12 orang.

4.3. Analisis Bivariat

Analisis bivariat digunakan untuk mengidentifikasi hubungan variabel

independen (pengetahuan,sikap) dengan variabel dependen yaitu ketepatan

pemberian MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran

Kabupaten Simalungun.

4.3.1. Hubungan Pengetahuan dengan Ketepatan Pemberian MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun

Tabel 4.9 Hubungan Pengetahuan dengan Ketepatan Pemberian MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun

No Pengetahuan Ketepatan Pemberian MP-ASI Jumlah Nilai p

(53)

37

Berdasarkan tabel 4.8 diperoleh 7 responden yang berpengetahuan baik,

yang pengetahuannya baik dengan tepat pemberian MP-ASI yaitu sebanyak 7

orang (100%). 12 responden yang berpengetahuan cukup, yang pengetahuannya

cukup dengan ketepatan pemberian MP-ASI yaitu sebanyak 7 orang (58,3%) dan

yang pengetahuannya cukup tidak tepat pemberian MP-ASI yaitu sebanyak 5

orang (41,7%). Sedangkan 38 responden yang berpengetahuan kurang, yang

pengetahuannya kurang dengan ketepatan pemberian MP-ASI yaitu sebanyak 12

orang (31,6%) dan yang pengetahuannya kurang dengan ketidaktepatan

pemberian MP-ASI yaitu sebanyak 26 orang (68,4%).

Hasil uji statistik chi-square diperoleh nilai p value = 0,002 (p<0,05), Maka dapat disimpulkan ada hubungan secara signifikan antara pengetahuan

responden dengan ketepatan pemberian MP-ASI pada bayi.

4.3.2. Hubungan Sikap Dengan Ketepatan Pemberian MP-ASI

Tabel 4.10 Hubungan Sikap Dengan Ketepatan Pemberian MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun

No Sikap Ketepatan Pemberian MP-ASI Jumlah Nilai p

Tepat Tidak Tepat

n % n % n %

1 Baik 15 62,5 9 37,5 24 100

2 Tidak baik 11 33,3 22 66,7 33 100 0,029

(54)

Berdasarkan tabel 4.9 diperoleh 24 responden yang sikapnya baik, yang

sikap baik dengan ketepatan pemberian MP-ASI yaitu sebanyak 15 orang (62,5%)

dan yang sikapnya baik dengan tidak tepat pemberian MP-ASI yaitu sebanyak 9

orang (37,5%). Sedangkan 33 responden yang sikapnya tidak baik dengan

ketepatan pemberian MP-ASI yaitu tepat sebanyak 11 orang (33,3%), dan yang

sikapnya tidak baik dengan tidak tepat pemberian MP-ASI yaitu sebanyak 22

orang (66,7%). Hasil uji statistik chi-square diperoleh nilai p value = 0,029 (p<0,05), Maka dapat disimpulkan ada hubungan secara signifikan antara sikap

(55)

39

BAB V PEMBAHASAN

5.1. Ketepatan Pemberian MP-ASI

Hasil analisis univariat dari 57 responden yang tinggal di Kelurahan Tiga

Balata Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun menunjukkan bahwa

sebagian besar responden tidak tepat dalam pemberian MP-ASI pada bayi yaitu

sebanyak 31 orang (54,4%), dan sebanyak 26 orang (45,6%) yang tepat dalam

pemberian MP-ASI pada bayi. Rata-rata ibu yang tinggal di Kelurahan tidak tepat

dalam pemberian makanan pendamping ASI dikarenakan pada saat bayi menangis

yang membuat ibu merasa bayinya kelaparan sehingga ibu memberikan susu

formula dan makanan tambahan lainnya. Padahal jika makanan pendamping ASI

diberikan terlalu dini dan tidak sesuainya pola asuh yang diberikan justru dapat

menggangu sistem pencernaan pada bayi, dan apabila terlambat memberikan juga

akan membuat bayi kekurangan gizi serta gangguan tumbuh kembang bayi.

Persentasi ketepatan pemberian MP-ASI tidak ada setengah dari sampel

yang diambil, ibu merasa dengan memberikan makanan tambahan bayi akan sehat

serta bayi cepat tumbuh besar. Selain itu adapula ibu yang beralasan bahwa

khawatir akan tidak naiknya berat badan anak, serta bayi yang sering menangis

dan rewel yang membuat ibu memberikan makanan pendamping ASI yang tidak

sesuai dengan usia bayi. Padahal anak– anak yang diberikan makanan

(56)

daya tahan tubuh lebih kuat, serta mengurangi risiko terkena alergi akibat

makanan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan oleh Atik Setyaningsih

(2007) menunjukkan bahwa sebanyak 17 responden (56,7%) yang memberikan

MP-ASI sejak dini, sedangkan yang tidak memberikan MP-ASI sejak dini

sebanyak 13 (43,3%). Hal ini dikarenakan di Desa Glonggong, Kecamatan

Nogosari Kabupaten Boyolali masih belum mengetahui tentang pemberian

MP-ASI yang benar dan tepat. Sehingga dibutuhkan peran serta tenaga kesehatan

dalam memberikan informasi tentang pemberian MP-ASI.

5.2. Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Ketepatan Pemberian MP-ASI pada bayi

Pengetahuan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) adalah

Pengetahuan tentang Makanan tambahan yang diberikan pada bayi berusia 6

bulan sampai bayi berusia 24 bulan. Peranan MP-ASI sama sekali bukan untuk

menggantikan ASI, melainkan hanya untuk melengkapi ASI. (Yenrina, 2008 )

Pengetahuan tentang MP-ASI sangat penting untuk di dapat karena dengan

pengetahuan dan informasi yang dimiliki oleh para ibu mengenai segala zat gizi

yang diperlukan dan manfaat MP-ASI sehingga ibu dapat memberikan makanan

pendamping yang tepat. Pengetahuan tentang MP-ASI seorang ibu juga besar

pengaruhnya bagi perubahan sikap dan perilaku didalam pemilihan bahan

makanan yang selanjutnya berpengaruh pada tumbuh kembang dan gizi anak yang

bersangkutan. Sebagian besar ibu yang memiliki pengetahuan baik dan cukup

(57)

41

namun dalam penelitian yang dilakukan tentang pola pemberian ASI dan MP-ASI

baik pada anak 24 bulan masih tidak tepat.

Dari hasil analisa statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh nilai p value = 0,002 (p<0,05), artinya ada hubungan secara signifikan antara pengetahuan responden dengan ketepatan pemberian MP-ASI pada bayi.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Irvani (2005) di Cimahi,

bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara variabel pengetahuan dengan

variabel ketepatan pemberian MP-ASI. Responden yang memiliki pengetahuan

yang kurang lebih cenderung tidak tepat dalam pemberian MP-ASI dibanding

responden yang memiliki pengetahuan yang baik.

Umumnya pengetahuan ibu di Kelurahan Tiga Balata sangat kurang

karena kurangnya informasi tentang MP-ASI dan kurangnya minat ibu untuk

mencari informasi. Terbukti dengan jawaban responden melalui kuesioner yang

peneliti berikan yaitu umur sebaiknya diberikan makanan tambahan, rata-rata ibu

tidak mengetahuinya. Dan terdapat ibu yang mengetahui umur sebaiknya

diberikan makanan tambahan tetapi tetap memberikan makanan pendamping tidak

sesuai usia bayi. Pemberian MP-ASI yang tidak sesuai umur bayi dapat

mengakibatkan terjadinya kekurangan gizi pada bayi dan rentannya bayi terhadap

penyakit,karena sistem imun yang dibentuk tidak sempurna. Kemudian untuk

pertanyaan berapa kalikah makanan tambahan itu diberikan dalam sehari kepada

bayi yang berusia 6-8 bulan, rata-rata ibu menjawab tidak tentu,tergantung bayi

(58)

menangis ataupun sedang tidur bayi harus dibangunkan untuk diberi makan,

karena untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi.

Peneliti menemukan bahwa pengetahuan ibu dapat diperoleh dari beberapa

faktor baik formal seperti pendidikan yang didapat di sekolah-sekolah maupun

non formal yang diantaranya dapat diperoleh bila ibu aktif dalam kegiatan

posyandu, PKK maupun kegiatan penyuluhan kesehatan masyarakat.

Hasil penelitian Bahri (2011) dimana sebagian besar ibu kurang

mengetahui tentang makanan pendamping ASI yaitu sebesar 86,8%. Rendahnya

pengetahuan responden di duga disebabkan antara lain kurangnya informasi,

kurang jelasnya informasi dan kurangnya kemampuan responden untuk

memahami informasi yang diterima.

5.3. Hubungan Antara Sikap Ibu Dengan Ketepatan Pemberian MP-ASI Pada Bayi

Hasil analisa statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh nilai p

value = 0,029 (p<0,05), artinya ada hubungan secara signifikan antara sikap ibu

dengan ketepatan pemberian MP-ASI pada bayi. Sikap merupakan reaksi tertutup

dan belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas akan tetapi merupakan

predisposisi tindakan suatu perilaku.

Dari hasil penelitian yang dilakukan kepada ibu yang tinggal di Kelurahan

Tiga Balata memiliki sikap tidak baik yaitu tentang ketepatan pemberian MP-ASI,

seperti masih banyak ibu yang setuju bahwa bayi usia 4 bulan memerlukan

(59)

43

ditambah dengan susu formula. Padahal di usia tersebut pencernaan bayi belum

dapat menerima makanan selain ASI yang dapat menyebabkan bayi alergi, diare

maupun konstipasi. Makanan pendamping ASI adalah makanan tamabahan yang

diberikan pada bayi usia 6-24 bulan. Peranan MP-ASI sama sekali bukan untuk

menggantikan ASI, melainkan hanya untuk melengkapi ASI. Kemudian masih

ada ibu yang setuju pada bayi berusia 7-9 bulan diberikan lebih dari 6 kali

makanan tambahan setiap hari, padahal bayi di usia tersebut kebutuhan akan

asupan zat gizi sebaiknya diberi makanan tambahan pendamping air susu ibu 2-4

kali sehari.

Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Lianda (2010) mengenai hubungan

pengetahuan dan sikap ibu terhadap pemberian MP-ASI yaitu ada hubungan sikap

dengan pemberian MP-ASI. Namun berbeda dengan hasil penelitian yang

dilakukan oleh Atika (2009) di Dusun Tlangu Kecamatan Wonosari Klaten

Sebagian responden memiliki sikap positif tentang MP-ASI pada anak usia 6-24

bulan sebanyak 45 responden (80%). Hal tersebut dapat dipengaruhi banyak

faktor diantaranya informasi,pengaruh orang lain yang dianggap penting,

kebudayaan, media massa, dan lembaga pendidikan.

Pengetahuan tentang MP-ASI yang kurang mempengaruhi perilaku/sikap

ibu yang diakibatkan oleh masih kurangnya minat ibu untuk mencari informasi

mengenai MP-ASI dan jarangnya ibu mengikuti penyuluhan tentang makanan

pendamping ASI yang diadakan petugas kesehatan yang ada di Kelurahan Tiga

Balata. Alasan ibu adalah karena anak yang rewel, jarak yang jauh dari lokasi

(60)

Umumnya alasan ibu memberikan makanan pendamping ASI yang tidak

tepat sesuai usia bayi adalah karena bayi sering menangis sehingga ibu

menganggap bahwa bayinya masih lapar, ibu merasa dengan memberikan

makanan tambahan bayi akan sehat serta bayi cepat tumbuh besar. Selain itu

(61)

45

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Dari hasil analisis statistik yang telah dilakukan dan pembahasan yang

telah dikemukakan, dapat diambil kesimpulan yaitu :

1 Ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan ketepatan pemberian MP-ASI

pada bayi di Kelurahan Tiga Balata Kec. Jorlang Hataran Kab. Simalungun.

Dimana kurangnya pengetahuan yang dimiliki maka kurang perilaku yang

dilakukan dalam pemberian MP-ASI yang tepat dengan nilai p = 0,002.

2 Adanya hubungan antara sikap ibu dengan ketepatan pemberian MP-ASI

pada bayi di Kelurahan Tiga Balata Kec. Jorlang Hataran Kab. Simalungun.

Dimana dengan sikap yang tidak baik maka responden dalam pemberian

MP-ASI juga tidak tepat dengan nilai p = 0,029.

6.2 Saran

1 Diharapkan kepada pihak petugas kesehatan yang bekerja di Puskesmas yang

berada di kelurahan tersebut, lebih meningkatkan program komunikasi,

informasi dan edukasi (KIE) khususnya tentang makanan pendamping ASI

pada ibu-ibu hamil maupun ibu yang mempunyai bayi umur 6-24 bulan

dalam bentuk melakukan penyuluhan tentang MP-ASI yang tepat kepada

Figur

Tabel 2.1 Jadwal Pemberian MP-ASI, Menurut Umur Bayi, Jenis, Makanan

Tabel 2.1

Jadwal Pemberian MP-ASI, Menurut Umur Bayi, Jenis, Makanan p.30
Gambar  2.1

Gambar 2.1

p.34
Tabel 4.1  Distribusi Karakteristik Responden Di Kelurahan Tiga Balata Kec. Jorlang Hataran Kab

Tabel 4.1

Distribusi Karakteristik Responden Di Kelurahan Tiga Balata Kec. Jorlang Hataran Kab p.43
Tabel 4.2 Distribusi Pengetahuan Responden Tentang MP-ASI diKelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun

Tabel 4.2

Distribusi Pengetahuan Responden Tentang MP-ASI diKelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun p.44
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden Tentang MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran

Tabel 4.3

Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden Tentang MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran p.45
Tabel 4.4  Distribusi Sikap Responden tentang MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun

Tabel 4.4

Distribusi Sikap Responden tentang MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun p.46
Tabel 4.5  Distribusi Frekuensi Sikap Responden tentang MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran

Tabel 4.5

Distribusi Frekuensi Sikap Responden tentang MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran p.48
Tabel 4.7  Distribusi Frekuensi Ketepatan Pemberian MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran

Tabel 4.7

Distribusi Frekuensi Ketepatan Pemberian MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran p.51
Tabel 4.8 Jadwal Pemberian MP-ASI, Menurut Umur, MP-ASI, Frekuensi Pemberian per Hari, dan Jumlah Responden Yang Tidak Tepat

Tabel 4.8

Jadwal Pemberian MP-ASI, Menurut Umur, MP-ASI, Frekuensi Pemberian per Hari, dan Jumlah Responden Yang Tidak Tepat p.51
Tabel 4.9  Hubungan Pengetahuan dengan Ketepatan Pemberian MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun

Tabel 4.9

Hubungan Pengetahuan dengan Ketepatan Pemberian MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun p.52
Tabel 4.10  Hubungan Sikap Dengan Ketepatan Pemberian MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran

Tabel 4.10

Hubungan Sikap Dengan Ketepatan Pemberian MP-ASI di Kelurahan Tiga Balata Kecamatan Jorlang Hataran p.53

Referensi

Memperbarui...