• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Tingkat Kerusakan Hutan Mangrove Berdasarkan NDVI Dan Kriteria Baku Di Kawasan Hutan Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Tingkat Kerusakan Hutan Mangrove Berdasarkan NDVI Dan Kriteria Baku Di Kawasan Hutan Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS TINGKAT KERUSAKAN HUTAN MANGROVE

BERDASARKAN NDVI DAN KRITERIA BAKU DI KAWASAN HUTAN

KECAMATAN PERCUT SEI TUAN KABUPATEN DELI SERDANG

SKRIPSI

YOHANES GINTING 101201064

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

ANALISIS TINGKAT KERUSAKAN HUTAN MANGROVE

BERDASARKAN NDVI DAN KRITERIA BAKU DI KAWASAN HUTAN

KECAMATAN PERCUT SEI TUAN KABUPATEN DELI SERDANG

SKRIPSI

Oleh :

YOHANES GINTING 101201064/MANAJEMEN HUTAN

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

ANALISIS TINGKAT KERUSAKAN HUTAN MANGROVE

BERDASARKAN NDVI DAN KRITERIA BAKU DI KAWASAN HUTAN

KECAMATAN PERCUT SEI TUAN KABUPATEN DELI SERDANG

SKRIPSI

Oleh :

YOHANES GINTING 101201064/MANAJEMEN HUTAN

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(4)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Penelitian : Analisis Tingkat Kerusakan Hutan Mangrove Berdasarkan NDVI dan Kriteria Baku di Kawasan Hutan Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang

Nama : Yohanes Ginting NIM : 101201064 Program Studi : Kehutanan

Minat : Manajemen Hutan

Menyetujui Komisi Pembimbing

Dr. Anita Zaitunah, S.Hut., M.Sc. Dr. Budi Utomo, S.P., M.P. Ketua Anggota

Mengetahui

Siti Latifah, S.Hut, M.Si., Ph.D. Ketua Program Studi Kehutanan

(5)

ABSTRACT

YOHANES GINTING: Analysis of Degradation Level of Mangrove Forest Based on NDVI and Standard Criteria in Forest Region Percut Sei Tuan District Deli Serdang Regency. Supervised by ANITA ZAITUNAH and BUDI UTOMO

The activities of people caused the high rate of mangrove degradation in Percut Sei Tuan District, Deli Serdang Regency. The activities were found such as marine aquaculture in ponds, new settlements, or the oil palm plantations. This will obviously disturb the mangrove ecosystems and coastal ecosystems that are essential for the existence of migratory birds as well as wildlife habitat in water as spawning ground, nursery ground, and feeding ground areas. It also functions as a barrier for abrasion and seawater intrusion. This study seeked to analyze the extent of degradation in mangrove forests in Percut Sei Tuan District. There were two methods as well as direct and indirect. Direct analysis was intended to see degradation level of mangrove forest based on analysis in the field and then analyzed again the degradation rate, which refered to the Decree of the Minister of Environment of Indonesia, Number 201/2004 on the Criteria and Guidelines for Determining Damage of Mangrove Forests. The indirect method was to perform the analysis of degradation level of mangrove forests based on NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) using Landsat 8 satellite image. This research was expected to give figures of the current mangrove forest in Percut Sei Tuan District and the degradation level. The results showed that mangrove forest in Percut Sei Tuan District in damage category with 4,161% of crown closure and there was 36,43 ha in damage category based on NDVI value.

(6)

ABSTRAK

YOHANES GINTING: Analisis Tingkat Kerusakan Hutan Mangrove Berdasarkan NDVI dan Kriteria Baku di Kawasan Hutan Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang. Di bawah bimbingan ANITA ZAITUNAH dan BUDI UTOMO

Aktivitas warga menyebabkan tingginya tingkat kerusakan mangrove di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang. Kegiatan yang ditemukan seperti budidaya hasil laut di tambak, pemukiman baru, atau perkebunan kelapa sawit. Hal ini jelas akan mengganggu ekosistem mangrove dan ekosistem pesisir yang penting untuk keberadaan burung migran dan habitat satwa liar di perairan sebagai tempat mencari makan, berkembangbiak, dan memijah. Hutan mangrove juga berfungsi sebagai penghalang abrasi dan intrusi air laut. Penelitian ini menempuh jalur untuk menganalisis tingkat kerusakan hutan mangrove di kecamatan Percut Sei Tuan. Terdapat dua metode yang digunakan baik metode langsung dan tidak langsung. Analisis langsung yang dimaksudkan adalah untuk melihat tingkat kerusakan hutan mangrove berdasarkan analisis di lapangan kemudian dianalisis tingkat kerusakannya mengacu kepada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 201 tahun 2004 tentang pedoman baku penentuan kerusakan hutan mangrove. Analisis tidak langsung adalah untuk melakukan analisis tingkat kerusakan hutan mangrove berdasarkan NDVI (Normalized Difference Vegetation index) pada citra satelit landsat 8. Penelitian ini diharapkan memberi gambaran kondisi terkini hutan mangrove di Kecamatan Percut Sei Tuan dan tingkat kerusakannya. Hasil menunjukkan bahwa hutan mangrove di Kecamatan Percut Sei Tuan berada dalam kategori rusak dengan penutupan tajuk sebesar 4,161 % dan terdapat 36,43 ha dalam kategori rusak berdasarkan nilai NDVI.

Kata kunci : mangrove, kerusakan, NDVI, kriteria baku, Percut Sei Tuan

(7)

RIWAYAT HIDUP

Yohanes Ginting dilahirkan di Kota Medan, Propinsi Sumatera Utara pada tanggal 11 November 1991 dari bapak Malemta Ginting dan ibu Jamilah Sembiring Meliala. Penulis merupakan anak kelima dari enam bersaudara.

Tahun 2004 penulis lulus dari SD Negeri 028226 Binjai Timur, tahun 2007 lulus dari SMP Negeri 1 Binjai, tahun 2010 penulis lulus dari SMA Negeri 2 Binjai. Pada tahun 2010 penulis diterima sebagai mahasiswa di Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara melalui jalur Ujian Masuk Bersama Perguruan Tinggi Negeri (UMBPTN).

Selama mengikuti perkuliahan, penulis juga aktif mengikuti kegiatan organisasi di kampus, antar lain : sebagai anggota bidang Pendidikan Rain Forest Community tahun 2011-2013. Penulis juga pernah menjadi asisten Praktikum Hasil Hutan Non Kayu tahun 2012-2013, asisten Praktikum Silvikultur tahun 2012, asisten Praktikum Pemanenan Hasil Hutan tahun 2013-2014, asisten Praktikum Dasar Perlindungan Hutan tahun 2013, asisten Praktikum Hidrologi Hutan tahun 2013, asisten Praktikum Klimatologi Hutan tahun 2014, dan asisten lapangan Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan tahun 2013. Penulis mengikuti kegiatan Pengenalan Ekosistem Hutan sebagai peserta di Taman Hutan Raya dan Hutan Pendidikan Gunung Barus di Berastagi, Kabupaten Karo pada tahun 2012.

(8)
(9)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan kasihNya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Judul skripsi ini adalah “Analisis Tingkat Kerusakan Hutan Mangrove Berdasarkan NDVI dan Kriteria Baku di Kawasan Hutan Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang”.

Penelitian ini menganalisis tingkat kerusakan hutan mangrove berdasarkan nilai indeks NDVI pada citra landsat 8 dan analisis tingkat kerusakan mangrove berdasarkan kriteria baku penentuan kerusakan mangrove yang dikeluarkan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 201 Tahun 2004 tanggal 13 Oktober 2004. Informasi yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan upaya rehabilitasi hutan mangrove di kawasan hutan kecamatan Percut Sei Tuan, kabupaten Deli Serdang.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ayahanda Malemta Ginting dan Ibunda Jamilah Sembiring Meliala beserta keluarga atas dukungan dan doanya.

2. Dosen pembimbing penelitian, yaitu Dr. Anita Zaitunah, S.Hut., M.Sc. dan Dr. Budi Utomo, S.P., M.P.

(10)

Penulis mengharapkan skripsi ini dapat menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya oleh pihak-pihak terkait. Melalui skripsi ini juga dapat menjadi acuan untuk upaya rehabilitasi hutan mangrove di kawasan hutan Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang.

Penulis juga menyadari skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan maka untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan skripsi ini

Medan, September 2014

(11)

DAFTAR ISI

Hal.

ABSTRACT ... i

ABSTRAK ... ii

RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... .. ix

DAFTAR GAMBAR ... .. x

DAFTAR LAMPIRAN ... .. xi

PENDAHULUAN Latar Belakang ... .. 1

Tujuan Penelitian. ... .. 2

Manfaat Penelitian. ... .. 3

TINJAUAN PUSTAKA ... .... Ekosistem Mangrove ... 4

Penyebab Kerusakan Hutan Mangrove ... 5

Sistem Informasi Geografis (SIG) ... . 7

Penginderaan Jarak Jauh ... . 8

Aplikasi SIG dan Penginderaan Jauh dalam Pengelolaan Hutan Mangrove ... . 8

METODE PENELITIAN Waktu dan Lokasi Penelitian ... 10

Alat dan Bahan Penelitian ... 11

Data Citra ... 11

Pelaksanaan Penelitian ... 11

Pengumpulan Data ... 11

Analisis Vegetasi ... 12

Tingkat Kerusakan Hutan Mangrove dengan Kriteria Baku ... 15

Diagram Profil Pohon ... 15

Analisis NDVI untuk Penentuan Tingkat Kerusakan Hutan Mangrove ... 15

HASIL DAN PEMBAHASAN Kekayaan Jenis ... 18

Penutupan Tajuk dan Tingkat Kerusakan Hutan Mangrove ... 19

(12)

Gambaran Kondisi Fisik Hutan Mangrove di Lapangan ... 32

KESIMPULAN DAN SARAN

(13)

DAFTAR TABEL

No. Hal.

1. Informasi data citra ... 11

2. Data primer dan data sekunder ... 12

3. Kriteria baku dan pedoman penentuan kerusakan mangrove ... 15

4. Tingkat kerusakan berdasarkan nilai NDVI dan kerapatan kanopi ... 15

5. Kekayaan jenis mangrove pada tingkat semai, pancang, dan pohon ... 18

6. Penutupan tajuk vegetasi hutan mangrove pada 5 jalur seluas 5000 m2 ... 25

7. Indeks tingkat kerusakan hutan mangrove berdasarkan NDVI ... 31

(14)

DAFTAR GAMBAR

No. Hal.

1. Indeks nilai ... 10 2. Plot analisis vegetasi di hutan mangrove ... 12

3. Diagram alur analisis NDVI untuk penentuan kerusakan mangrove ... 17 4. Sebaran dan profil vegetasi secara vertikal dan horizontal pada jalur 1 ... 20

5. Sebaran dan profil vegetasi secara vertikal dan horizontal pada jalur 5 ... 21

6. Sebaran dan profil vegetasi secara vertikal dan horizontal pada jalur 11 ... 22 7. Sebaran dan profil vegetasi secara vertikal dan horizontal pada jalur 13 ... 23 8. Sebaran dan profil vegetasi secara vertikal dan horizontal pada jalur 19 ... 24

9. Kerusakan hutan mangrove yang dikonversi menjadi lahan sawit ... 26 10. Pengerukan lumpur menjadi lahan tambak (a) dan tambak (b) ... 26 11. Peta distribusi nilai NDVI di Kecamatan Percut Sei Tuan ... 28 12. Peta tingkat kerusakan hutan mangrove di kawasan hutan Kecamatan

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Hal.

1. Indeks nilai penting pada tingkat semai ... 36

2. Indeks nilai penting pada tingkat pancang ... 36

3. Indeks nilai penting pada tingkat pohon ... 37

4. Indeks keanekaragaman Shanon-Wienner ... 37

(16)

ABSTRACT

YOHANES GINTING: Analysis of Degradation Level of Mangrove Forest Based on NDVI and Standard Criteria in Forest Region Percut Sei Tuan District Deli Serdang Regency. Supervised by ANITA ZAITUNAH and BUDI UTOMO

The activities of people caused the high rate of mangrove degradation in Percut Sei Tuan District, Deli Serdang Regency. The activities were found such as marine aquaculture in ponds, new settlements, or the oil palm plantations. This will obviously disturb the mangrove ecosystems and coastal ecosystems that are essential for the existence of migratory birds as well as wildlife habitat in water as spawning ground, nursery ground, and feeding ground areas. It also functions as a barrier for abrasion and seawater intrusion. This study seeked to analyze the extent of degradation in mangrove forests in Percut Sei Tuan District. There were two methods as well as direct and indirect. Direct analysis was intended to see degradation level of mangrove forest based on analysis in the field and then analyzed again the degradation rate, which refered to the Decree of the Minister of Environment of Indonesia, Number 201/2004 on the Criteria and Guidelines for Determining Damage of Mangrove Forests. The indirect method was to perform the analysis of degradation level of mangrove forests based on NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) using Landsat 8 satellite image. This research was expected to give figures of the current mangrove forest in Percut Sei Tuan District and the degradation level. The results showed that mangrove forest in Percut Sei Tuan District in damage category with 4,161% of crown closure and there was 36,43 ha in damage category based on NDVI value.

(17)

ABSTRAK

YOHANES GINTING: Analisis Tingkat Kerusakan Hutan Mangrove Berdasarkan NDVI dan Kriteria Baku di Kawasan Hutan Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang. Di bawah bimbingan ANITA ZAITUNAH dan BUDI UTOMO

Aktivitas warga menyebabkan tingginya tingkat kerusakan mangrove di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang. Kegiatan yang ditemukan seperti budidaya hasil laut di tambak, pemukiman baru, atau perkebunan kelapa sawit. Hal ini jelas akan mengganggu ekosistem mangrove dan ekosistem pesisir yang penting untuk keberadaan burung migran dan habitat satwa liar di perairan sebagai tempat mencari makan, berkembangbiak, dan memijah. Hutan mangrove juga berfungsi sebagai penghalang abrasi dan intrusi air laut. Penelitian ini menempuh jalur untuk menganalisis tingkat kerusakan hutan mangrove di kecamatan Percut Sei Tuan. Terdapat dua metode yang digunakan baik metode langsung dan tidak langsung. Analisis langsung yang dimaksudkan adalah untuk melihat tingkat kerusakan hutan mangrove berdasarkan analisis di lapangan kemudian dianalisis tingkat kerusakannya mengacu kepada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 201 tahun 2004 tentang pedoman baku penentuan kerusakan hutan mangrove. Analisis tidak langsung adalah untuk melakukan analisis tingkat kerusakan hutan mangrove berdasarkan NDVI (Normalized Difference Vegetation index) pada citra satelit landsat 8. Penelitian ini diharapkan memberi gambaran kondisi terkini hutan mangrove di Kecamatan Percut Sei Tuan dan tingkat kerusakannya. Hasil menunjukkan bahwa hutan mangrove di Kecamatan Percut Sei Tuan berada dalam kategori rusak dengan penutupan tajuk sebesar 4,161 % dan terdapat 36,43 ha dalam kategori rusak berdasarkan nilai NDVI.

Kata kunci : mangrove, kerusakan, NDVI, kriteria baku, Percut Sei Tuan

(18)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Mangrove didefinisikan sebagai formasi tumbuhan yang khas yang terdapat di daerah pesisir yang dipengaruhi oleh tingkat salinitas tertentu. Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh umumnya pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut dan terdiri dari Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Lumnitzera, Excoecaria, Xylocarpus, Aegiceras, Scyphyphora, dan Nypa (Soerianegara (1987) dalam Noor et al., 2006).

Hutan mangrove merupakan ekosistem yang sangat penting dalam kelestarian sumber daya ikan. Mangrove merupakan habitat ikan, udang, kepiting, dan lainnya. Fungsi ekologis atau biologi ekosistem mangrove, antara lain adalah sebagai tempat memijah (spawning ground), tempat mencari makan (feeding ground), serta tempat berkembang biak (nursery ground) satwa terutama ikan, kepiting, udang yang selama ini sebagai komoditas primadona yang memberikan manfaat ekonomi bagi nelayan. Secara fisik hutan mangrove mempunyai peran untuk menahan abrasi pantai, menahan terjadinya intrusi air laut, penahan angin, menurunkan emisi gas rumah kaca seperti CO, CO2, SOx dan NOx di udara dan bahan-bahan pencemar di kawasan perairan pantai (Soerianegara (1987) dalam Noor et al., 2006).

(19)

sebesar 19,2 juta hektar. Luas hutan mangrove di Indonesia sangat beragam. Menurut Giesen (1993) luas mangrove Indonesia 2,5 juta hektar, Dit. Bina Program INTAG (1996) menyebutkan sebesar 3,5 juta hektar (Noor et al., 2006).

Berdasarkan data yang diperoleh dari Indonesia Maritime Institute pada tahun 2012 terdapat sebesar 48 persen atau 4,51 juta hektar hutan mangrove Indonesia masuk dalam kategori rusak sedang dan 23 persen atau 2,15 juta hektar dalam kategori rusak berat. Hal yang menjadi penyebab utama kerusakan hutan mangrove di Indonesia adalah akibat ulah manusia dalam bentuk kegiatan perluasan tambak dan penebangan kayu mangrove yang tidak terkontrol (Indonesia Maritime Institute, 2012).

Terdapat tiga faktor utama penyebab kerusakan mangrove, yaitu (1) pencemaran, (2) konversi hutan mangrove yang kurang memperhatikan faktor lingkungan dan (3) penebangan yang berlebihan. Pencemaran seperti pencemaran minyak dan logam berat, konversi lahan untuk budidaya perikanan (tambak), pertanian (sawah dan perkebunan), jalan raya, industri, produksi garam dan pemukiman, pertambangan dan penggalian pasir (Kusmana et al., 2003).

Tujuan Penelitian

Penelitian ini mempunyai tujuan, yaitu:

(20)

tanggal 13 Oktober 2004 tentang Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove.

2. Mengetahui tingkat kerusakan hutan mangrove di kawasan hutan Kecamatan Percut Sei Tuan berdasarkan NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) pada citra tahun 2014.

Manfaat Penelitian

(21)

TINJAUAN PUSTAKA

Ekosistem Mangrove

Mangrove merupakan istilah yang menyatakan komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah dengan jangkauan pasang surut. Ekosistem mangrove menyatakan ekosistem tumbuhan yang terdapat di kawasan pesisir (pasang surut) yang dimana tumbuhan dapat bertoleransi terhadap tingkat salinitas tertentu dan juga terdapat faktor biotik dan abiotik yang saling berinteraksi (Soerianegara (1987) dalam Noor et al., 2006).

Menurut Kuswadji (2001) ekosistem mangrove merupakan penghasil detritus, sumber nutrien, dan bahan organik yang dibawa ke ekosistem padang lamun oleh arus kuat. Sedangkan ekosistem lamun berfungsi sebagai penghasil bahan organik dan nutrien yang akan dibawa ke ekosistem terumbu karang. Selain itu, ekosistem lamun juga berfungsi sebagai penjebak sedimen (sediment trap) sehingga tersebut tidak menggangu kehidupan terumbu karang. Selanjutnya ekosistem terumbu karang dapat berfungsi sebagai pelindung pantai dari hempasan ombak (gelombang) dan arus laut.

(22)

daerah pesisir yang beranggapan bahwa mangrove hanyalah tumbuhan yang tidak mempunyai nilai jual atau tidak menghasilkan keuntungan apabila dipelihara kelestariannya. Mereka beranggapan mangrove hanyalah tumbuhan yang kayunya dapat dijadikan bahan bakar yang cukup baik terutama dari famili Rhizophoraceae serta kayunya tidak bagus untuk dijadikan bahan bangunan, sehingga apabila masyarakat ingin meningkatkan perekonomiannya tentu saja cara mudahnya adalah dengan usaha budidaya ikan di tambak yang lahannya diperoleh dari penebangan mangrove (Kuswadji, 2006).

Kondisi mangrove yang sudah rusak diperparah dengan banyaknya nelayan menggunakan metode yang salah dalam penangkapan ikan, yaitu dengan menggunakan alat tangkap langgai, katrol, dan layang juga menjadi penyebab hasil tangkapan nelayan menurun. Alat tangkap langgai merupakan salah satu alat tangkap ikan yang paling berbahaya digunakan karena selain menjaring ikan yang besar juga menyapu bersih ikan-ikan kecil, sehingga keberlangsungan dan ketersediaan ekosistem dan komunitas ikan di laut menjadi rusak dan turun populasinya (Kuswadji, 2006).

Penyebab Kerusakan Hutan Mangrove

Menurut Pasaribu (2004) permasalahan-permasalahan utama yang melatarbelakangi terjadinya degradasi hutan mangrove tidak terlepas dari beberapa hal, antara lain:

(23)

Kebanyakan masyarakat di pesisir bekerja sebagai nelayan tradisional. Meskipun cukup potensial namun tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir relatif masih rendah jika dibandingkan dengan kelompok masyarakat lain. Hal ini disebabkan terbatasnya peralatan yang dimiliki nelayan tradisional yang mengakibatkan penurunan hasil tangkap dan penghasilan nelayan. Dalam satu bulan nelayan tradisional hanya efektif bekerja 20 hari. Untuk mengisi waktu saat tidak melaut nelayan melakukan pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan seperti beternak kepiting, ikan kerapu, dan mencari kayu bakar. Pencarian kayu bakar dilakukan di hutan mangrove di sekitar mereka dengan penebangan yang tidak memenuhi aturan sehingga mengakibatkan percepatan kerusakan. 2. Penebangan liar (illegal logging)

Kayu mangrove termasuk bahan baku terbaik dalam pembuatan arang yang bernilai ekonomi untuk dipasarkan di dalam negeri dan diekspor ke luar negeri terutama Jepang. Dampak dari tingginya nilai arang bakau di pasar mengakibatkan masyarakat mendirikan dapur arang yang beroperasi secara liar. Untuk memenuhi bahan bakar tidak jarang masyarakat melakukan penebangan liar di kawasan lindung dan sempadan pantai yang seharusnya terlarang bagi pengampilan kayu.

3. Pembukaan tambak udang secara liar

(24)

kesadaran pengusaha dan masyarakat dalam melakukan pelestarian di daerah lindung dan sempadan. Pembukaan tambak tidak hanya dilakukan di kawasan hutan produksi yang secara umum diperkenankan, juga dijumpai oknum-oknum tertentu melakukan ekstensifikasi tambak sampai ke hutan lindung.

4. Persepsi yang keliru tentang mangrove

Banyak masyarakat maupun birokrat yang berhubungan dengan bidang kesehatan mempunyai pandangan yang keliru tentang mangrove. Mangrove dianggap sebagai tempat kotor untuk tempat bersarang dan berkembangbiak nyamuk malaria, lalat, dan berbagai jenis serangga lainnya. Hal ini telah mendorong terjadinya pembabatan mangrove yang berlebihan untuk mengatasi timbulnya wabah penyakit.

5. Lemahnya penegakan hukum

Pada dasarnya telah banyak peraturan perundangan yang bertujuan untuk mengatur dan melindungi sumberdaya mangrove melalui cara-cara pengelolaan yang didasarkan pada prinsip-prinsip kelestarian namun demikian belum dibarengi dengan pelaksanaan penegakan hukum yang memadai. Sehingga dari waktu ke waktu semakin banyak pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan tanpa upaya penegakan hukum yang berarti. Sistem Informasi Geografis (SIG)

(25)

daripada sistem informasi yang diaplikasikan untuk data geografi atau alat data base untuk analisis dan pemetaan suatu yang terdapat dan terjadi di bumi. SIG mulai dikenal pada tahun 1950-an. Pada mulanya penelitian-penelitian di bidang SIG terbatas dikalangan peneliti-peneliti botani, meteorologi, dan transportasi. Mereka mulai membuat peta-peta yang bersifat otomatis dan berusaha mempresentasikan kartografi berkomputer (Nasution dan Supriadi, 2007).

Kemampuan ArcView GIS pada berbagai serinya tidaklah diragukan lagi. ArcView GIS adalah software yang dikeluarkan oleh ESRI (Environmental Systems Research Institute). Perangkat lunak ini memberikan fasilitas teknis yang berkaitan dengan pengelolaan data spasial. Kemampuan grafis yang baik dan kemampuan teknis dalam pengelolaan data spasial tersebut memberikan kekuatan secara nyata pada ArcView untuk melakukan analisis spasial. Kekuatan analisis inilah yang pada akhirnya menjadikan ArcView banyak diterapkan pada berbagai pekerjaan sebagai seperti analisis pemasaran, perencanaan wilayah dan tata ruang, sistem informasi persil, pengendalian dampak lingkungan, bahkan militer (Budiyanto, 2007).

Penginderaan Jarak Jauh

(26)

Saat ini terdapat banyak program yang dapat menjalankan dan mengolah data-data spasial yang diperoleh dari citra satelit seperti ERDAS, ENVI, atau ErMapper. ErMapper sendiri merupakan salah satu program yang dapat dijalankan untuk melihat nilai NDVI pada citra satelit dan nilai NDVI itu dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis vegetasi ataupun yang tidak bervegetasi.

Aplikasi SIG dan Penginderaan Jauh dalam Pengelolaan Hutan

Mangrove

Pengelolaan hutan mangrove dapat dilakukan dengan aplikasi teknologi sistem informasi geografis dan penginderaan jauh. Melalui aplikasi teknologi ini dapat diketahui banyak informasi dari hutan mangrove, seperti tingkat kerusakan, kerapatan tajuk, estimasi karbon, dam lainnya. Menurut Fathurromah et al. (2011) analisis kerapatan tajuk dilakukan dengan metode NDVI (Normalized Difference Vegetation Index). NDVI merupakan pengukuran kesimbangan energi yang diterima dan energi yang dipancarkan oleh obyek bumi. Perhitungan luas tutupan lahan mangrove dilakukan dengan menggunakan fasilitas calculate geometry pada software ArcGIS 9.3, sedangkan untuk tool NDVI dapat digunakan di software ENVI 4.7.

Untuk menghitung kerapatan vegetasi dapat dilihat dari rasio saluran infra merah dekat (near infra red) dan saluran merah (red) dengan formula:

NDVI = (NIR-Red) / (NIR+Red)

(27)
(28)

METODE PENELITIAN

Waktu dan Lokasi Penelitian

[image:28.595.116.509.330.660.2]

Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2014 sampai dengan Juni 2014. Lokasi penelitian adalah hutan mangrove di Dusun Paloh Atong dan Paloh Getah, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Propinsi Sumatera Utara. Pengolahan data dilakukan di Laboratorium Manajemen Hutan Terpadu, Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.

(29)

Alat dan Bahan Penelitian

Alat yang digunakan adalah personal computer, GPS (Global Positioning System), ArcGIS 9.3, ERDAS Imagine 9.1, AutoCAD 2014, ENVI 4.7, hagameter, spidol, parang, pita ukur, tali plastik, kalifer, kertas label, tally sheet, dan kamera digital.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekosistem hutan mangrove di kecamatan Percut Sei Tuan, peta administrasi kecamatan Percut Sei Tuan dan citra landsat path/row: 129/057 yang diunduh dari situs earthexplorer.usgs.gov.

Data Citra

[image:29.595.115.483.471.563.2]

Citra satelit diunduh diunduh dari situs earthexplorer.usgs.gov dan keterangan tentang citra yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Informasi data citra

ID Citra LC81290572014097LGN 00

% Penutupan awan (% cover cloud) 10 %

Kualitas 9

Path/row 129/057

Tanggal akuisi 7 April 2014

Produk Landsat 8 OLI TIRS LIT

Pelaksanaan Penelitian

(30)

Pengumpulan Data

[image:30.595.109.497.279.553.2]

Pengumpulan data dibagi menjadi dua jenis data, yaitu berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari pengecekan langsung di lapangan (ground check). Data sekunder diperoleh dari instansi-instasi terkait atau literatur pendukung. Data-data yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Data primer dan sekunder

Nama data Jenis

data Su mb er T a h u n Peta Administrasi Kecamatan Percut Sei

Tuan Seku nder BP KH 2 0 1 4 Citra Landsat 8 Kecamatan Percut Sei

Tuan Seku nder US GS 2 0 1 4 Titik Sampel (Ground Check) Prim

er GP S 2 0 1 4 Analisis Vegetasi Prim

er Lan gsu ng 2 0 1 4 Analisis Vegetasi

Analisis vegetasi menggunakan metode kombinasi antara metode jalur (transect) dan metode jalur berpetak. Pada setiap titik yang telah ditentukan dibuat jalur dengan lebar 10 m dan panjang 100 meter (luas 1000 m2). Tiap-tiap jalur dibuat sub petak ukur dengan ukuran 2 m × 2 m untuk

(31)
[image:31.595.100.479.159.329.2]

tingkat semai, 5 m × 5 m untuk tingkat pancang, dan 10 m × 10 m untuk tingkat pohon (Kusmana, 1997).

Gambar 2. Plot analisis vegetasi di hutan mangrove Keterangan:

S : Semai P : Pancang Phn : Pohon

Data yang akan diperoleh dari analisis vegetasi ini adalah diameter pohon setinggi dada (dbh) serta nama jenis yang dianalisis. Kriteria tingkat pertumbuhannya, yaitu:

a. Semai adalah anakan pohon mulai dari kecambah sampai setinggi 1,5 m. b. Pancang adalah anakan setinggi lebih dari 1,5 m sampai Ø < 10 cm c. Pohon adalah tumbuhan berkayu dengan Ø > 10 cm

Setelah data hasil analisis vegetasi diperoleh maka dilakukan analisis data, yaitu:

Kerapatan Suatu Jenis (K)

K = 100%

Total Petak Luas

Jenis Suatu

Individu ×

S 2 2 P 5 5 P 1 0 S 2 2 P P h 1 0 5

Panjang tiap plot 100 m ke arah laut lepas 5

1 1

(32)

Kerapatan Relatif (KR)

KR = 100 %

Total Jenis Kerapatan Jenis Kerapatan ×

Frekuensi Suatu Jenis (F)

F =

Contoh Petak jenis ditemukan Petak

Frekuensi Relatif (FR)

FR =

Dominansi (D)

D =

contoh petak Luas spesies suatu dasar bidang Luas

Dominansi Relatif (DR)

DR =

spesies seluruh total Dominansi spesies suatu Dominansi

Indeks Nilai Penting (INP) = Kr + Fr (untuk tingkat semai dan panjang), dan

Kr + Fr + Dr (untuk tingkat pohon) Indeks Keanekaragaman (Indeks Shannon-Wiener), yaitu:

dimana:

H’ = indeks Shannon-Wiener

Pi = kelimpahan relatif dari spesies ke-i (ni/N) ni = jumlah individu suatu jenis ke-i

N = jumlah total untuk semua individu

(33)
(34)

Tingkat Kerusakan Hutan Mangrove dengan Kriteria Baku

[image:34.595.105.517.252.326.2]

Analisis tingkat kerusakan mangrove mengacu kepada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 201 Tahun 2004 tentang Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove, dapat dilihat di Tabel 3.

Tabel 3. Kriteria baku dan pedoman penentuan kerusakan mangrove

No Kriteria Penutupan Kerapatan Pohon/ha 1. Baik (sangat

padat)

≥ 75% ≥ 1500

2. Sedang ≥ 50 – < 75% ≥ 1000 - < 1500 3. Rusak < 50% < 1000

Digram Profil Pohon

Diagram profil pohon merupakan penampang struktur vegetasi mangrove yang digambarkan secara vertikal dan horizontal. Proses menggambar profil pohon dilakukan di software AutoCAD 2014. Pada hasil profil pohon secara horizontal dapat dilihat luas penutupan tajuk mangrove. Persentase penutupan tajuk mangrove dapat menjadi acuan penentuan tingkat kerusakan mangrove di lokasi yang menjadi area penelitian.

Analisis NDVI untuk Penentuan Tingkat Kerusakan Hutan Mangrove

(35)
[image:35.595.111.522.139.205.2]

Tabel 4. Tingkat kerusakan mangrove berdasarkan nilai NDVI dan kerapatan

kanopi

Kelas kerusakan mangrove

Kisaran nilai NDVI

Estimasi kerapatan kanopi Berat (-1) - 0,32 < 50% Sedang > 0,32 - 0,42 50 - 70% Tidak Rusak > 0,42 - 1 > 70 %

Proses analisis NDVI dilakukan pada citra satelit landsat 8 dengan path/row: 129/57 yang dimana akan melingkupi vegetasi mangrove yang terdapat di kecamatan Percut Sei Tuan. Formula NDVI merupakan rasio antara band NIR dan band Red yang dimana pada citra landsat 8 merupakan band 5 dan band 4. Berikut merupakan formula untuk mengetahui NDVI

NDVI = (NIR-Red) / (NIR+Red), maka NDVI = (Band 5-Band 4) / (Band 5+Band 4)

(36)
(37)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kekayaan Jenis

[image:37.595.115.513.272.467.2]

Berdasarkan analisis vegetasi di Dusun Paloh Atong dan Paloh Getah dijumpai enam jenis mangrove yang masuk ke dalam 4 famili. Berikut data analisis vegetasi pada Tabel 5.

Tabel 5. Kekayaan jenis mangrove pada tingkat semai, pancang, dan pohon Jenis Tingkat

pertumbuhan/ha N

o

Famili Nama lokal

Nama ilmiah Semai Pancan g

Pohon 1 Avicenniaceae Api-api Avicennia alba 587 596 37 2 Euphorbiaceae Buta-buta Excoecaria

agallocha

175 192 13 3 Rhizophoraceae Bakau

Minyak

Rhizophora apiculata

350 168 4 4 Rhizophoraceae Tengar Ceriops tagal 25 68 3 5 Combretaceae Teruntun Lumnitzera

racemosa

150 46 1 6 Rhizophoraceae Mata

Buaya

Bruguiera sexangula

- 36 1

Jumlah 1287 1106 59

Keterangan (-) : tidak ditemukan jenis

(38)

berkembang dalam substrat/lahan mangrove seperti kemampuan berkembangbiak, toleransi terhadap kadar garam tinggi, kemampuan bertahan terhadap perendaman oleh pasang surut dan memiliki akar nafas.

Penutupan Tajuk dan Tingkat Kerusakan Hutan Mangrove

Diagram profil vegetasi hutan mangrove menggambarkan kondisi hutan mangrove secara horizontal dan vertikal di Dusun Paloh Atong dan Paloh Getah, Kecamatan Percut Sei Tuan. Luas penutupan tajuk dilihat pada penampang horizontal. Diagram profil mangrove dapat disajikan di Gambar 4-8.

Diagram profil pada Gambar 4 menggambarkan kondisi fisik vegetasi hutan mangrove di jalur 1. Vegetasi yang terdapat di jalur satu hanya terdiri dari dua jenis yaitu api-api (Avicennia alba) dan buta-buta (Excoecaria agallocha). Total individu jenis pada tingkat pohon di jalur 1 adalah 13 pohon/1000 m2. Diagram profil jalur 5 terdiri dari tiga jenis tumbuhan mangrove yaitu Avicennia alba, Excoecaria agallocha, dan bakau minyak (Rhizophora apiculata) denga toatal individu yang dijumpai sebanyak 6 pohon/1000 m2.

(39)
(40)

Penampang horizontal jalur 1

0 m

100 m

Jarak (m) Penampang vertikal jalur 1

0 m

100 m

Jarak (m) Skala 1:500

Keterangan Gambar

Api-api (Avicennia alba)

[image:40.842.56.753.116.473.2]

Buta-buta (Excoecaria agallocha)

Gambar 4. Sebaran dan profil vegetasi secara vertikal dan horizontal pada jalur 1 1

5

1

(41)

Penampang horizontal jalur 5

0 m

100 m

Jarak (m) Penampang vertikal jalur 5

0 m

100 m

Jarak (m) Skala 1:500

Keterangan Gambar

Api-api (Avicennia alba)

[image:41.842.58.760.119.496.2]

Buta-buta (Excoecaria agallocha) Bakau Minyak (Rhizophora apiculata)

Gambar 5. Sebaran dan profil vegetasi secara vertikal dan horizontal pada jalur 5 1

5

1

(42)

Penampang horizontal jalur 11

0 m

100 m

Jarak (m) Penampang vertikal jalur 11

0 m

100 m

Jarak (m) Skala 1:500

Keterangan Gambar

[image:42.842.51.760.176.443.2]

Api-api (Avicennia alba)

Gambar 6. Sebaran dan profil vegetasi secara vertikal dan horizontal pada jalur 11 1

5

1

(43)

Penampang horizontal jalur 13

0 m

100 m

Jarak (m) Penampang vertikal jalur 13

0 m

100 m

Jarak (m) Skala 1:500

Keterangan Gambar

[image:43.842.57.793.113.481.2]

Api-api (Avicennia alba) Tengar (Ceriops tagal)

Gambar 7. Sebaran dan profil vegetasi secara vertikal dan horizontal pada jalur 13 1

5

1

(44)

Penampang horizontal jalur 19

0 m

100 m

Jarak (m) Penampang vertikal jalur 19

0 m

100 m

Jarak (m) Skala 1:500

Keterangan Gambar

Api-api (Avicennia alba) Tengar (Ceriops tagal)

[image:44.842.58.774.105.507.2]

Bakau Minyak (Rhizophora apiculata) Buta-buta (Excoecaria agallocha) Teruntun (Lumnitzera racemosa)

Gambar 8. Sebaran dan profil vegetasi secara vertikal dan horizontal pada jalur 19 1

5

1

(45)

Berdasarkan diagram profil pohon yang disajikan pada Gambar 4-8 dapat diketahui bahwa kelima jalur yang tergambar di diagram profil mempunyai keanekaragaman jenis yang rendah dan ini sesuai dengan pernyataan Irwanto (2006) yang menyatakan bahwa suatu komunitas dikatakan memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi jika komunitas itu disusun oleh banyak jenis, dan sebaliknya suatu komunitas dikatakan memiliki keanekaragaman jenis yang rendah jika komunitasnya disusun oleh sedikit jenis dan hanya ada sedikit jenis yang dominan.

[image:45.595.116.509.416.613.2]

Kondisi penutupan tajuk vegetasi hutan mangrove di dusun Paloh Atong dan Paloh Getah, kecamatan Percut Sei Tuan dapat dilihat di Tabel 6. Tabel 6. Penutupan tajuk vegetasi hutan mangrove pada 5 Jalur seluas 5000 m2

No Nama Lokal

Nama Latin Luas Penutupan

m2 %

1. Api-api Avicennia alba 116,95 2,339 2. Buta-buta Excoecaria

agallocha

59,175 1,1835 3. Bakau

Minyak

Rhizophora apiculata

9,675 0,1935 4. Tengar Ceriops tagal 19,325 0,3865 5. Teruntun Lumnitzera

racemosa

2,925 0,0585

Jumlah 208,05 4,161

Sisa Penutupan

4791,95 95,839

Total 5000 100

(46)

lima jalur dan khususnya di jalur 11 yang hanya terdapat jenis Avicennia alba. Mengacu kepada Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove yang diputuskan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup maka vegetasi hutan mangrove termasuk dalam kriteria rusak yaitu dengan jumlah di bawah 1000 pohon/ha serta luas penutupan tajuk di bawah 50 %.

Kerapatan pohon per hektar menggambarkan kerapatan tajuk di vegetasi mangrove. Semakin tinggi kerapatannya maka kondisi mangrove semakin baik dan semakin rendah kerapatannya maka kondisi mangrove semakin rusak.

[image:46.595.116.491.331.485.2]

(a) (b)

Gambar 9. Kerusakan hutan mangrove yang dikonversi menjadi lahan sawit (a) dan (b)

(47)

(a) (b)

Gambar 10. (a) Pengerukan lumpur menjadi lahan tambak dan (b) tambak

Faktor kedua adalah adanya konversi hutan mangrove menjadi lahan tambak. Lahan tambak umumnya sebagai tembat untuk budidaya hasil laut seperti udang, ikan kerapu, dan jenis ikan komersil lainnya. Seperti yang terlihat pada Gambar 10. Pada Gambar 10a. terlihat aktivitas pengerukan lumpur dengan alat berat excavator yang akan dijadikan lahan untuk tambak dan pada Gambar 10b. terlihat adanya lahan tambak yang dibangun di kawasan hutan mangrove.

Hutan mangrove juga mempunyai peranan dalam menekan emisi gas-gas rumah kaca dan juga membentuk iklim mikro yang akan lebih baik. Selain itu juga hutan mangrove mempunyai peranan penting dalam mencegah abrasi atau hembasan gelombang. Selain itu hutan mangrove mempunyai peranan dalam menjaga kelestarian ekosistem perairan lainnya seperti ekosistem ikan dan satwa air lainnya. Oleh karena itu kegiatan konversi hutan mangrove menjadi lahan tambak atau perkebunan kelapa sawit jelas akan menganggu ekosistem mangrove.

[image:47.595.119.508.82.233.2]
(48)

kemudian hari. Menurut Pasaribu (2004) terdapat beberapa faktor rusaknya hutan mangrove, antara lain :

1. Tingkat pendapatan masyarakat yang relatif rendah, 2. Penebanga liar (illegal logging),

3. Pembukaan tambak udang secara liar,

4. Persepsi masyarakat yang keliru tentang mangrove, dan 5. Lemahnya penegakan hukum.

Tingkat Kerusakan Hutan Mangrove Berdasarkan NDVI

(49)
[image:49.842.173.636.120.465.2]
(50)
[image:50.842.150.663.112.477.2]
(51)

Analisis untuk penentuan kerusakan hutan mangrove dilakukan dengan menganalisis citra satelit landsat 8 khusus untuk hutan mangrove di kecamatan Percut Sei Tuan. Analisis citra yang dimaksud adalah analisis NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) hutan mangrove di kecamatan Percut Sei Tuan.

Analisis NDVI dapat dijadikan acuan dalam penentuan kerapatan suatu vegetasi. Hal ini berkaitan dengan karakteristik setiap jenis penutupan vegetasi pada interaksinya dengan matahari. Putra (2010) menjelaskan bahwa klorofil pada proses fotosintesis banyak menyerap panjang gelombag 0,45 μm hingga 0,65 μm. Ini merupakan panjang gelombang yang paling efektif pada proses fotosintesis. PAR (Photosynthetically Active Radiation) berkisar 0,40 μm hingga 0,70 μm, maka klorofil akan cenderung menunjukkan penurunan penyerapan pada panjang gelombang di atas 0,65

μm. Maka panjang gelombang yang paling efektif diserap pada proses

fotosintesis ditangkap pada saluran merah (band Red) pada satelit landsat. Pada landsat 8 saluran merah berada pada saluran 4 (band 4).

(52)
[image:52.595.114.520.196.376.2]

berdasarkan rasio saluran merah dan saluran infra merah dekat. Berdasarkan hasil NDVI diperoleh indeks kerapatan hutan mangrove yang terbagi menjadi tiga kelas. Berikut ini disajikan hasil NDVI pada Tabel 5.

Tabel 7. Indeks tingkat kerusakan hutan mangrove berdasarkan NDVI Mangrov e Kera patan Man grov e Tingkat Kerusakan Hutan Mangrove Luas (ha) Warna pada Peta

(-1) - 0,32

Rend ah

Berat 36,43 0,32 -

0,42

Seda ng

Sedang 118,34 0,42 -

Rentang NDVI 1 Ting gi Rendah/tidak rusak 225,03 Luas total mangrove 379,8

Berdasarkan data pada Tabel 7. diketahui bahwa luas total hutan mangrove di kecamatan Percut Sei Tuan adalah seluas 379,8 ha yang terdiri dari 36,43 ha dalam kelas kerapatan rendah serta tingkat kerusakan berat, 118,34 ha dalam kelas kerapatan sedang serta tingkat kerusakan sedang, dan 225,03 ha dalam kelas kerapatan tinggi serta tingkat kerusakan rendah.

(53)
[image:53.595.168.457.114.181.2]

Tabel 8. Luas kawasan hutan di Kecamatan Percut Sei Tuan (BPKH, 2014) Fungsi Kawasan Luas (ha)

Hutan lindung (HL) 999,01 Hutan produksi konversi (HPK) 1028 Hutan produksi terbatas (HPT) 2447,46 Total luas kawasan hutan 4474,47

Jika dibandingkan data pada Tabel 7. dan Tabel 8. maka diketahui bahwa luas hutan mangrove yang dikenali pada citra satelit landsat 8 hanya sebesar 379,8 ha dari luas kawasan hutan di Kecamatan Percut Sei Tuan. Ini dapat dikatakan bahwa luas hutan mangrove di kawasan hutan di Kecamatan Percut Sei Tuan hanya 8,48 % dari luas total kawasan hutan di Kecamatan Percut Sei Tuan.

Kerusakan hutan mangrove disebabkan oleh banyaknya konversi hutan mangrove menjadi lahan penggunaan lain. Pada citra satelit landsat dapat terlihat hutan mangrove yang berada di kawasan pesisir semakin berkurang akibat dikonversi menjadi lahan tambak.

Gambaran Kondisi Fisik Hutan Mangrove di Lapangan

(54)
[image:54.595.119.511.113.426.2]
(55)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Tingkat kerusakan hutan mangrove berdasarkan acuan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 201 Tahun 204, maka vegetasi hutan mangrove di kecamatan Percut Sei Tuan masuk dalam kelas rusak. 2. Tingkat kerusakan hutan mangrove berdasarkan NDVI terbagi menjadi

tiga kelas dengan kerusakan berat seluas 36,43 ha, kerusakan sedang seluas 118,34 ha, dan kerusakan rendah (tidak rusak) seluas 225,03 ha dengan luas total hutan mangrove seluas 378,8 ha (8,49 %) dari luas total kawasan hutan di Kecamatan Percut Sei Tuan, yaitu seluas 4474,47 ha.

Saran

(56)

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Kabupaten Deli Serdang. 2005. Kecamatan Percut Sei Tuan dalam Angka 2004.

Barbour, G. M., J. K. Burk, dan J. K. Pitts. 1987. Terrestial Plant Ecology. The Benyamin/Cummings Publishing, Inc. New York.

Budiyanto, Eko. 2007. Avenue untuk Pengembangan Sistem Informasi Geografis.

Penerbit ANDI Yogyakarta. Yogyakarta.

Fathurromah, S., Karina, B. H.,dan Bramantiyo, M. 2011. Aplikasi Penginderaan Jauh untuk Hutan Pengelolaan Mangrove sebagai Salah Satu Sumberdaya Wilayah Pesisr (Studi Kasus di Delta Sungai Wulan Kabupaten Demak). UGM. Yogyakarta.

Indonesia Maritime Institute. 2012. Ekosistem mangrove: Merintis tergerus keserakahan. Diakses dari: http://www.indomaritimeinstitute.org. (tanggal akses 15 September 2013).

Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. PT. Bumi Aksara. Jakarta. Irwanto. 2006. Peranan Hutan Mangrove. Yogyakarta.

Kementerian Lingkungan Hidup. 2004. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 201 tentang Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove, Jakarta.

Kusmana, C. 1997. Metode Survei Vegetasi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Kusmana, C., S. Wilarso, I. Hilman, P. Pamoengkas, C. Wibowo, T. Tiryana, A. Triswanto, Yunasfi, dan Hamzah. 2003. Teknik Rehabilitasi Mangrove. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Kusmana, C. 2010. Tingkat Kerusakan Mangrove berdasarkan Nilai NDVI dan Kerapatan Kanopi. Jurnal Respon Mangrove terhadap Pencemaran.

Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

(57)

Mueller, D. and H. Ellenberg. 1974. Aims and Method of Vegetation Ecology. Jhon Willey and Son. New York.

Nasution, Z. dan Supriadi. 2007. Sistem Informasi Geografis. USU Press. Medan.

Noor, Rusila Yus, M. Khazali, dan I. N. N. Suryadiputra. 2006. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PHKA/WI-IP. Bogor.

Onrizal. 2010. Perubahan Tutupan Hutan Mangrove di Pantai Timur Sumatera Utara Periode 1977-2006. Jurnal Biologi Indonesia 6(2):163-177.

Pasaribu, N. 2004. Krisis Hutan Mangrove di Sumatera Utara dan Solusinya. Makalah Peribadi Falsafah Sains. Sekolah Pasca Sarjana IPB. Bogor.

Pierce, J. T. Conversion of Rular Land to Urban: A Canadian Profile dalam Profesional Geografer. No. 33. 1981.

Putra, E. H. 2011. Penginderaan Jauh dengan ERMapper. Graha Ilmu. Yogyakarta.

Spalding, M., Kainuma, M., and Collins, L. 2010. World Atlas of Mangroves. Earthscan. London.

Susilo F., A. Damar dan I. Setyobudiandi. 2010. Pengelolaan Ekosistem Mangrove di Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Jurnal Pertanian dan Biologi. Universitas Medan Area. 2:2085-1995.

Waas, H. J. D. dan B. Nababan. 2005. Pemetaan dan Analisis Indeks Vegetasi Mangrove di Pulau Saparua Maluku Tengah. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. Vol. 2 No. 1, 50-58, Juni 2010.

(58)

LAMPIRAN

Lampiran 1. Indeks nilai penting pada tingkat semai

Nama Lokal Nama Latin Σ In di vi d u Σ Sub Plot Dite muka n Suat u Jenis K (indivi du/ha) K R ( % )

F FR (%) IN P ( % )

Api-api Avicennia alba 4 7

17 587,5 4 5, 6 3 1 0 , 0 8 5 43, 589 89 ,2 2

Buta-buta Excoecaria agallocha

1 4

6 175 1

3, 5 9 2 0 , 0 3 15, 385 28 ,9 77 Bakau Minyak Rhizophora apiculata 2 8

12 350 2

7, 1 8 4 0 , 0 6 30, 769 57 ,9 53

(59)

9 4 2 , 0 0 5

64 50 6

Teruntun Lumnitzera racemosa

1 2

3 150 1

1, 6 5 0 0 , 0 1 5 7,6 92 19 ,3 42 Mata Buaya Bruguiera sexangula - - - -

Total 1

0 3

39 1287,5 1 0 0 0 , 1 9 5

100 20 0

Keterangan (-) : tidak ditemukan suatu jenis

Lampiran 2. Indeks nilai penting pada tingkat pancang

Nama Lokal Nama Latin Σ In di vi d u Σ Sub Plot Dite muka n Suat u Jenis K (indivi du/ha) K R ( % )

F FR (%) IN P ( % )

(60)

9 8 3, 8 8 8 , 4 4

105 ,9 93

Buta-buta Excoecaria agallocha

9 6

44 192 1

7, 3 5 9 0 , 2 2 21, 053 38 ,4 12 Bakau Minyak Rhizophora apiculata 8 4

34 168 1

5, 1 8 9 0 , 1 7 16, 268 31 ,4 57

Tengar Ceriops tagal 3 4

18 68 6,

1 4 8 0 , 0 9 8,6 12 14 ,7 6 Teruntun Lumnitzera

racemosa

2 3

17 46 4,

1 5 9 0 , 0 8 5 8,1 34 12 ,2 93 Mata Buaya Bruguiera sexangula 1 8

8 36 3,

2 5 5 0 , 0 4 3,8 28 7, 08 3

Total 5

5 3

209 1106 1 0 0 1 , 0 4

(61)

5 Lampiran 3. Indeks nilai penting pada tingkat pohon

Nama Lokal Nama Latin Σ In di vi d u Σ Sub Plot Dite muka n Suat u Jenis K (indivi du/ha) K R ( % )

F FR (%)

D D

R ( % ) IN P ( % )

Api-api Avicennia alba 7 4

45 37 6

3, 7 9 3 0 , 2 2 5 62, 5 0,4 88 4 67 ,6 08 19 3, 90 1 Buta-buta Excoecaria

agallocha

2 6

15 13 2

2, 4 1 4 0 , 0 7 5 20, 833 0,1 41 7 19 ,6 15 62 ,8 62 Bakau Minyak Rhizophora apiculata

8 7 4 6,

8 9 6 0 , 0 3 5 9,7 22 0,0 42 5, 81 4 22 ,4 32

(62)

5 Teruntun Lumnitzera

racemosa

1 1 0,5 0,

8 6 2 0 , 0 0 5 1,3 89 0,0 04 85 0, 67 1 2, 92 2 Mata Buaya Bruguiera sexangula

1 1 0,5 0,

8 6 2 0 , 0 0 5 1,3 89 0,0 04 05 0, 56 1 2, 81 2

Total 1

1 6

58 58 1

0 0 0 , 3 6

100 0,7 22 4 10 0 30 0

Lampiran 4. Indeks keanekaragaman Shanon-Wienner (H’)

Nama Lokal

Nama Latin H’ Se mai H’ Panc ang H’ Poho n Api-api Avicennia alba 0,3

66

0,33 3

0,28 9 Buta-buta Excoecaria

agallocha 0,2 55 0,30 4 0,33 5 Bakau Minyak Rhizophora apiculata 0,3 43 0,28 6 0,18 4 Tengar Ceriops tagal 0,0

69

0,17 1

(63)

racemosa 34 3 2 Mata

Buaya

Bruguiera sexangula

- 0,11 0

0,04 2

Total 1,2

67

1,33 7

1,04 6 Keterangan: 0<H’<2, maka keanekaragaman rendah

2<H’<3, maka keanekaragaman sedang

(64)

Lampiran 5. Gambaran kondisi fisik vegetasi hutan mangrove di lapangan Koordinat lokasi Kondisi fisik mangrove 98o45’32,226”E, 03o45’22,015”N

98o44’38,664”E, 03o45’55,812”N

98o44’12,993”E, 03o46’03,845”N

98o44’00,036”E, 03o45’44,313”N

98o43’48,929”E, 03o45’31,1”N

98o46’37,662”E, 03o43’41,297”N

(65)

98o46’31,326”E, 03o43’30,957”N

98o46’34,195”E, 03o43’27,511”N

Gambar

Gambar 1. Peta lokasi penelitian
Tabel 1. Informasi data citra
Tabel 2. Data primer dan sekunder
Gambar 2. Plot analisis vegetasi di hutan mangrove
+7

Referensi

Dokumen terkait

Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat jawa yang ada di desa Percut Sei Tuan Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang yang betjumlah ±. 3610

membantu penulis dalam penelitian.. Kajian Ekosistem Mangrove Di Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang. Jurusan Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu

Kabupaten Deli Serdang menempatkan Kecamatan Percut Sei Tuan menjadi salah satu.. konsentrasi utama pengembangan

Persentase Perilaku Harian Anakan Kuntul Kerbau ( Bubulcus ibis ) Pada Tiga Waktu Yang didapatkan dikawasan Hutan Mangrove Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei

RIZKA AMELIA: Potensi Karbon Hutan Mangrove Hasil Restorasi pada Lahan Bekas Tambak di Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara, di bumbing

Diagram profil 11 yang terdiri dari hanya satu spesies tumbuhan mangrove yaitu Avicennia alba dengan jumlah sebanyak 18 pohon/ 1000 m 2 , sedangkan pada diagram profil

Kawasan hutan mangrove di stasiun riset Yayasan Gajah Sumatera (YAGASU) Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan dipilih sebagai tempat penelitian karena

The diversity of mangrove species in the form of true mangroves and associated mangroves was also found on the coast of Percut Sei Tuan District.. Keywords: Mapping, Zonation,