Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Oleh:
Denti Ria Riyanti
1112018200028
JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
i
Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Jakarta.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa aktif peran komite sekolah turut serta berpartisipasi megelola sekolah dengan tujuan meningkatkan mutu pendidikan di MI Pembangunan UIN Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriftif,metode ini dilaksanakan sebagai upaya untuk mencari informasi sedalam-dalamnya mengenai peran komite sekolah melaluistudi dokumen, wawancara dan observasi langsung.
Sejak diberlakukannya otonomi daerah, terjadi desentralisasi pendidikan, yaitu adanya pelimpahan sebagai kewenangan pemerintah pusat ke daerah, termasuk kewenangan dalam pengelolaan pendidikan. mendorong munculnya kebijakan yang menekankan bahwa tanggung jawab pengelolaan pendidikan bukan hanya oleh pemerintah tapi juga oleh sekolah dan masyarakat dalam rangka mendekatkan pengambilan keputusan ke tingkat yang paling dekat dengan peserta didik diwujudkan dengan adanya komite sekolah yang memiliki peran dalam memberikan saran, mensupport kegiatan sekolah, sebagai pengawas, sebagai mediator.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa komite sekolah di MI Pembangunan UIN Jakarta telah melaksanakan tugas sebagaimana fungsinya dengan cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari program komite sekolah yang sudah terealisasikan dan telah berjalan dengan baik hingga saat ini, seperti Parent Teaching Daytujuannya untuk melatih orang tua mengajar di kelas dan memotivasi siswa agar memiliki cita-cita, pemeriksaan kantin bersih dan makanan sehat tujuannya untuk menjaga kesehatan siswa, pengajian orang tua siswa untuk menjaga silaturahmi dengan orang tua, kegiatan wakaf untuk melatih siswa belajar memberi dan beramal, pemberian penyuluhan dan motivasi berupa reward kepada pegawai kebersihan tujuannya untuk menciptakan sekolah yang bersih agar kegiatan belajar mengajar dan kegiatan-kegiatan lainnya terasa nyaman, mengadakan seminar motivasi untuk siswa tujuannya agar siswa terbebas dari ancaman narkoba, dan kekerasan.
ii
Teachers’ Training, Syarif Hidayatullah State Islamic University of Jakarta, 2016. The purpose of this study was to know the role of school committee actively participated in organizing schools with the goal improving the educationalquality in MI Pembangunan UIN Jakarta. This study used qualitative and methods used in this research is descriptive analysis method. This method was implemented as an attempt to find the information profusely about the role of school committee through the study of documents, interviews and direct observation.
Since the regional autonomy, decentralization of education, namely the delegation as central to local government authority, including authority in the management of education. encourage the emergence of policies that emphasize that the responsibility for the management of education not only by government but also by the school and the community in order to bring decision-making to the level closest to the learners realized by the school committees that have a role in providing advice, support school activities, as supervisor, as a mediator.
These results indicate that the school committee in MI PembangunanUIN Jakarta has undertaken the task as its function quite well. It can be seen from the program ofschools committee that have been done and have been going well so far, such as Parent Teaching Day, inspection canteen clean and healthy, recitals parents, committee meetings, social events to boarding schools, provision of counseling and motivating in form of reward to employee of cleaning serviceto make a clean school so that teaching and learning activities and other activities feels comfortable and conducting motivational seminars for students to encourage them free from the threat of drugs and violence.
iii
ungkapan rasa syukur atas segala limpahan nikmat, rahmat dan hidayah-Nya. Berkat doa dan dukungan orang tua dan keluarga besar dan arahan dosen pembimbing yang tidak pernah lelah membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini sehingga, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang sederhana ini dengan baik sebagai syarat untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan. Skripsi ini berjudul “Peran Komite Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Sekolah di MI Pembangunan UIN Jakarta”.
Shalawat beserta salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muahmmad SAW yang telah membawa umatnya dari zaman kegelapan ke zaman terang benderang seperti sekarang ini. Dengan risalah yang dibawanya yaitu Agama Islam yang akan menyelamatkan dan mengantarkan pemeluknya menuju kebahagiaan yang ada di dunia dan akhirat.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan ini masih banyak kekurangan dan kelemahan. Tanpa bantuan serta dorongan dari berbagai pihak yang secara moril maupun materil, dimungkinkan skripsi ini tidak akan selesai. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan pemnghargaan yang setinggi-tingginya dan menghaturkan ucapan terimakasih kepada:
1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Dr. Hasyim Asy’ari, M.Pd, selaku Ketua Jurusan Manajemen Pendidikan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Drs. Mu’arif SAM, selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah membimbing penulis terkait kegiatan akademik selama perkuliahan. 4. Prof. Dr. Husni Rahim, selaku dosen pembimbing I yang telah bersedia
iv
memberikan banyak ilmu pengetahuan dan bimbingan serta pengalaman kepada penulis selama menikuti perkuliahan. Semoga amal baik mereka mendapatkan ridho Allah SWT.
7. Pimpinan dan staf Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Perpustakaan Kementrian pendidikan dan kebudayaan. Yang telah membantu penulis dalam mengumpulkan bahan-bahan referensi dalam menyelesaikan skripsi.
8. Drs. H. Sugiono, selaku Kepala Sekolah MI Pembangunan UIN Jakarta, yang telah banyak membantu penulis dalam mengumpulkan data dan mengizinkan penulis melakukan penelitian di sekolah tersebut sehingga penulis merasa sangat terbantu dalam menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
9. Drg. Silvia Wahyuni, selaku Ketua Umum Komite Sekolah MI Pembangunan UIN Jakarta, beserta seluruh jajarannya, yang telah banyak membantu penulis dengan sepenuh hati dan ikhlas sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
10. Bapak dan Mamah terhebat, Rusmini dan Alm. Dani, yang telah mendidik, membimbing dan membesarkan penulis dengan penuh kasih sayang terbaik untuk belajar memaknai kehidupan, memberikan bantuan moril dan materil yang luar biasa yang tidak akan pernah bisa terbalas dan terbayar dengan apapun.
v
moril dan saran yang di berikan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
14. Sahabat-sahabatku seperjuangan terutama Nurul Ro’fah, Syipa Pauziah, Adelia Khaerunnisa, Rizka Zayyana, Santi Eka Wati, Widda Durriah, Windi Melsyarah, Mantik Sari Zahiah, Rikkah, Rittah Riani Romdin, Ika Oktavianti, Fitri Supriatin (Fizma), Nurfitriyani, Septi Nurhikmah, Syarifatul Hilwa, Zurqotunnajah (Mami), Nuning Yulistika, Juliana Sapitri, Agustian Mulyandari, Mila Astuti, Khalillurohman, Abdul Basit, Achmad Suhandi, Aziz Abdillah, Hamdan Syamsudin, Harsya Bachtiar, Ali Ridho, Ibrahim Aris Sumantri, Irvansyah Fazar, Ahmad Solahuddin, Abdul Azis, Agung WS, Agung Prasetio, Akbar, Farras Muhammad, Bunglon FC, Power Ranger, Hayaters. Terima kasih atas semua pengalaman yang berharga yang takkan pernah terlupakan canda dan tawa kalian mampu memberikan energi positif yang di berikan kepada penulis dan telah memberikan kritik dan saran yang membengun penulis menyelesaikan skripsi ini. Semoga kita dapat di pertemukan kembali.
15. Teman-teman seperjuangan jurusan Manajemen Pendidikan kelas A dan B yang telah memberikan banyak semangan dan motivasi kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
vi
Jakarta, 03 Oktober 2016 Penulis
vii
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 5
C. Pembatasan Masalah ... 5
D. Perumusan Masalah ... 6
E. Tujuan Penelitian ... 6
F. Manfaat Penelitian ... 6
BAB II KAJIAN TEORI A. Mutu Pendidikan ... 7
1. Pengertian Mutu Pendidikan ... 7
2. Standar Mutu Pendidikan ... 12
3. Kebijakan Penjaminan Mutu Pendidikan ... 13
4. Membangun Mutu Pendidikan ... 14
5. Upaya Menjaga Mutu Pendidikan Di Sekolah ... 16
B. Komite sekolah ... 17
1. Pengertian Komite Sekolah ... 17
2. Landasan Pembentukan Komite Sekolah ... 20
3. Nama, Kedudukan, Sifat dan Tujuan Komite Sekolah ... 23
4. Peran Dan Fungsi Komite Sekolah ... 25
5. Organisasi ... 28
6. Hubungan Komite Sekolah Dengan Mutu ... 29
7. Partisipasi Orang Tua dan Masyarakat Di Sekolah ... 30
8. Menggalang Partisipasi Orang Tua ... 34
viii
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 49
B. Metode penelitian ... 50
C. Teknik Pengumpulan Data ... 51
D. Teknik Analisi Data ... 53
E. Instrumen Penelitian ... 53
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Gambaran lokasi penelitian ... 57
1. Profil MI Pembangunan ... 57
2. Sarana Prasarana ... 59
3. Sejarah Madrasah Pembangunan UIN Jakarta... 61
4. Struktur Organisasi ... 64
5. Visi dan Misi ... 65
6. Tujuan ... 66
7. Kurikulum ... 67
8. Guru ... 70
9. Siswa ... 75
10.Kegiatan Ekstrakurikuler ... 80
11.Panca Prestasi Siswa ... 84
B. Deskripsi Hasil Penelitian Komite Sekolah ... 88
1. Profil Komite Sekolah ... 88
2. Visi Misi Komite Sekolah ... 89
3. Tujuan Pembentukan Komite Sekolah ... 90
4. Keanggotaan Komite Sekolah ... 90
5. Organisasi Komite Sekolah ... 92
6. Pembiayaan Komite Sekolah ... 96
7. Peran Komite Sekolah ... 97
ix
BAB V PENUTUP
C.Kesimpulan... 115 D.Saran ... 116
x
Tabel 2.3 Perbedaan Penelitian 41
Tabel 2.4 Perbedaan Penelitian 42
Tabel 2.5 Perbedaan Penelitian 43
Tabel 2.6 Perbedaan Penelitian 44
Tabel 3.1 Jadwal Kegiatan 49
Tabel 3.2 Daftar Ceklis Dokumen 54 Tabel 3.3 Kisi-kisi Pedoman Wawancara 55 Tabel 3.4 Pedoman Observasi 56 Tabel 4.1 Data Fisik Bangunan Madrasah Ibtidaiyah UIN Jakarta 58
Tabel 4.2 Fasilitas Kantor 59
Tabel 4.3 Fasilitas Lainnya 60
Tabel 4.4 Data Siswa Kelas I 74
Tabel 4.5 Data Siswa Kelas II 75
Tabel 4.6 Data Siswa Kelas III 76
Tabel 4.7 Data Siswa Kelas IV 77
Tabel 4.8 Data Siswa Kelas V 78
Tabel 4.9 Data Siswa Kelas VI 79
xi
1
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Saat ini lembaga pendidikan sedang bersaing untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dengan cara memberikan pelayanan terbaik agar menghasilkan keluaran yang berkualitas. Untuk mencapai pendidikan bermutu harus ada kerja sama antara pemerintah, orang tua siswa, dan masyarakat karena pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Semua orang sepakat untuk meningkatkan mutu pendidikan demi tercapainya tujuan bersama. Untuk mencapai tujuan tersebut harus adanya perencanaan yang menjadi peranan penting dalam menentukan tingkat efektivitas pelaksanaan program. Masalah mutu pendidikan merupakan salah satu masalah nasional yang dihadapi dan mendapat perhatian sungguh-sungguh dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia. Mengingat mutu pendidikan merupakan sumber dari kemajuan dan kesejahteraan bangsa.
Pendidikan menjadi corak dan mutu kehidupan setiap orang di dunia. Tidak mengherankan bila semua orang dari berbagai pihak berpendapat bahwa pendidikan adalah wilayah strategis bagi kehidupan manusia. Sehingga program pendidikan di rancang dan di atur dengan begitu sempurna agar mendapatkan hasil yang diinginkan.
Memasuki abad ke-21, isu tentang perbaikan sektor pendidikan di Indonesia mencuat ke permukaan, tidak hanya dalam jalur pendidikan umum, tetapi semua jalur dan jenjang pendidikan. Bersamaan dengan itu, di awal abad ke-21 ini, prestasi pendidikan di Indoseia tertinggal jauh di bawah negara-negara Asia lainnya, seperti Singapura, Jepang, dan Malaysia. Bahkan jika dilihat dari indeks sumber daya manusia, yang salah satu indikatornya adalah sektor pendidikan.1 Posisi Indonesia belum
1
memperlihatkan peningkatan yang signifikan bahkan masih fluktuatif, terkadang naik dan terkadang turun kembali.
Reformasi pendidikan di Indonesia menjadi lebih kongkrit setelah periode reformasi yang dimulai pada tahun 1998. Reformasi pendidikan pada periode ini telah membawa dampak yang cukup besar, ada dua kebijakan yang telah di kembangkan pada periode ini yaitu otomasisasi dan demokratisasi.
Otonomi Sekolah merupakan kewenangan yang diberikan pemerintah kepada sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan sekolah berdasarkan aspirasi masyarakat sekolah dan stakeholder lainnya menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Salah satu model desentralisasi yang diterapkan dalam manajemen persekolahan adalah School based management atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). School based management diharapkan menumbuhkan kreativitas dan pemberdayaan kemampuan semua sumber demi tercapainya kemandirian. Pada MBS terkandung nilai pokok bagi tumbuhnya keunggulan sekolah. Bahwa MBS merupakan suatu model desentralisasi dikemukakan Deemer dan Davis (1996) yakni: School Based Management sebagai suatu model desentralisasi dan kolaburasi dalam pengambilan keputusan pendidikan yang dutujukan untuk pencapaian tujuan pendidikan.2
Manajemen berbasis sekolah hadir dengan membawa warna baru dalam dunia pendidikan sebagai upaya dalam meningkatkan mutu pendidikan. Berwujud otonomi pemerintah memberikan kewenangan kepada sekolah untuk mengelola manajemen sekolahnya sendiri untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan. Program MBS sendiri menjadikan para siswa lebih ekspresif, lebih berani lebih interaktif, dan lebih pintar. Program MBS membawa banyak perubahan terhadap sekolah.
Dunia pendidikan Indonesia di era globalisasi saat ini bertahap mengalami perubahan. Perubahan itu tidak lepas dari kebijakan yang
2Engkoswara, dkk, “
diterapkan oleh pemerintah dalam proses peningkatan kualitas dan menyongsong millennium development goals. Tentu disamping itu juga mengalami keterbatasan yang menuntut usaha bersama dalam proses menuju kemajuan dan keunggulan.3
Pelibatan aktif stakeholder dalam pengambilan keputusan dan perencanaan organisasi meningkatkan kemungkinan tindakan yang berhasil.4
Pelibatan masyarakat dan orang tua dalam maningkatkan mutu sekolah sebagai salah satu implikasi dimulai dengan dibentuknya suatu wadah yang dapat menampung aspirasi, dukungan, dan pendapat dari masyarakat maupun orang tua. Hubungan antara sekolah dengan masyarakat dan orang tua harus terjalin secara kekeluargaan agar terjadi kerja sama untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan kualitas sekolah, pelibatan ini diwujudkan dalam bentuk komite sekolah.
Di dalam Islam orang tua memegang peranan penting terhadap pendidikan anak. Anak adalah amanah yang dititipkan Allah kepada orang tua, dan juga ujian yang diberikan Allah kepada para orang tua. Sebagaimana yang tertulis didalam surat al-anfal ayat 28 :5
Artinya: Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.
Petunjuk yang dapat membedakan antara yang haq dan yang batil, dapat juga diartikan disini sebagai pertolongan.
Maka dari itu penulis meneliti apakah orang tua sangat berperan aktif dalam membantu sekolah untuk mencerdaskan anak dan
3
Syahraini Tambak, Membangun Bangsa Melalui Pendidikan, (Yogyakarta, Graha Ilmu, 2013), h. 22.
4
N. McGinn-T Welsh, Desentralisasi Pendidikan, (Jakarta, PT Logos Wacana Ilmu, 2003), h 87.
5
meningkatkan mutu pendidikan, karena sekolah dikatakan bermutu dilihat dari input, proses dan output. Lulusan yang bermutu berasal dari sekolah yang bermutu. Orang tua dan sekolah berperan penting dalam memberikan dukungan serta fasilitas terhadap bakat minat anak. Orang tua siswa harus menyediakan waktu sebanyak mungkin untuk berkunjung ke sekolah dan ke kelas guna mengontrol pendidikan anaknya.6
Penulis memilih MI Pembangunan sebagai objek penelitian.MI Pembangunan adalah salah satu sekolah yang memiliki Komite Sekolah yang berperan aktif mendukung sekolah dalam mensukseskan program sekolah dan memberikan dukungan dan saran serta ikut mengawasi dalam semua kegiatan sekolah, dukungan tersebut berupa pikiran, tenaga, dan materi. Dan setiap kegiatan yang ada di sekolah itu di ketahui oleh komite sekolah. Komite Sekolah menjembatani komunikasi antara orang tua dan kepala sekolah, serta membantu orang tua dalam menyampaikan keluhan-keluhan kepada kepala sekolah. Namun kehadiran anggota komite dalam rapat hanya 75% dari 1.379 orang tua siswa sedangkan kehadiran pengurus komite 80% dari 45 orang. Semua anggota komite sekolah adalah orang tua siswa Madrasah Pembangunan terdiri dari orang tua MI, MTs, dan MA. Meskipun sudah ada program khusus untuk orang tua namun kehadiran dalam rapat masih belum mencapai 100% karena adanya kesibukan pribadi dari masing-masing anggota maupun pengurus. Komite sekolah di MI Pembangunan belum melakukan pendekatan yang lebih intens lagi kepada orang tua siswa yang belum bisa hadir dalam rapat atau dalam kegiatan-kegiatan sekolah dengan mendatangai orang tua siswa ke rumahnya selain untuk menjalin kedekatan komite sekolah juga bisa membicarakan perkembangan ananknya di sekolah agar lebih jelasnya sebaiknya guru pun ikut dengan komite sekolah untuk mendatangi orang tua siswa.
Namun itu semua tidak menjadi kendala komite sekolah karena ikatan kekeluargaan antara pengurus komite sekolah dengan orang tua
6
siswa terjalin dengan baik. Program komite sekolah dalam rangka meningkatkan komunikasi dengan orang tua melalui sosial media cukup efektif namun orang tua lebih merasa puas dengan datang langsung ke ruang komite untuk bertanya ataupun mengadukan keluhannya. Ada faktor yang menghambat komite sekolah yaitu guru dan orang tua, tidak semua guru di MI Pembangunan UIN Jakarta yang bisa di ajajak untuk bekerja sama, dan tidak semua orang tua bisa hadir ketika rapat dan kegiatan sekolah lainnya dengan alasan urusan pribadi.
Oleh karena itu penelitian ini dilakukan di MI Pembangunan UIN Jakarta. Penulis ingin melihat seberapa besar peran Komite Sekolah didalam mengembangkan mutu pendidikan. Maka dari itu, penulis tertarik mengkaji dan meneliti lebih dalam permasalahan tersebut dalam bentuk
skripsi yang berjudul “Peran Komite Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Di Mi Pembangunan Uin Jakarta”.
B. Identifikasi Masalah
Dari uraian mengenai latar belakang masalah yang telah disebutkan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut :
1. Terdapatnya hambatan komunikasi antara komite sekolah dengan guru
2. Kurangnya efektifnya bentuk komunikasi Komite Sekolah dengan orang tua siswa melalui media sosial
3. Terdapatnya hambatan peran komite sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di MI Pembangunan UIN Jakarta.
4. Kehadiran anggota komite dalam rapat masih kurang maksimal
C. Pembatasan Masalah
1. Bentuk-bentuk komunikasi Komite Sekolah dengan kepala sekolah, orang tua siswa, dan guru di MI Pembangunan
2. Peran Komite Sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di MI Pembangunan UIN Jakarta.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, penulis dapat merumuskan bahwa masalah yang sangat penting dan pokok
yang akan diteliti adalah “Bagaimana Peran Komite Sekolah dalam
Meningkatkan Mutu Pendidikan Di MI Pembangunan UIN Jakarta”.
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan apa yang telah dirumuskan pada perumusan masalah, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar Peran Komite Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi semua pihak, diantaranya :
1. Bagi peneliti, hasil penelitian yang diperoleh dapat memberikan pengalaman langsung kepada peneliti dalam mengembangkan unsur-unsur dalam manajemen sebagai strategi dalam meningkatkan mutu pendidikan. Dapat memberikan gambaran terhadap pelaksanaan Komite Sekolah dan peningkatan mutu pendidikan di MI Pembangunan.
2. Bagi sekolah, sekolah dapat mengetahui peran komite sekolah dan masalah yang dihadapi dalam meningkatkan mutu pendidikan 3. Bagi komite Sekolah, Komite Sekolah dapat mengetahui potensi
7
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Mutu Pendidikan
1. Pengertian Mutu Pendidikan
Mutu merupakan topik penting dalam diskusi tentang pendidikan sekarang ini. Mutu menciptakan lingkungan bagi pendidik, orang tua, pejabat pemerintah, wakil-wakil masyarakat, dan pemuka bisnis untuk bekerja sama guna memberikan kepada para siswa sumber-sumber daya yang dibutuhkan untuk memenuhi tantangan masyarakat, bisnis dan akademik sekarang dan masa depan.1
Mutu adalah sebuah proses terstruktur untuk memperbaiki keluaran yang dihasilkan. Mutu bukanlah benda magis atau sesuatu yang rumit. Mutu didasarkan pada akal sehat. Fokus mutu didasari upaya positif yang dilakukan individu.2
Menurut jarome S. Arcaro Mutu adalah sebuah proses terstruktur untuk memperbaiki keluaran yang dihasilkan. Mutu pendidikan yang dimaksud disini adalah kemampuan lembaga pendidikan dalam mendayagunakan sumber-sumber pendidikan untuk meningkatkan kemampuan belajar seoptimal mungkin.3
Mutu adalah kemampuan (ability) yang dimiliki oleh suatu produk atau jasa (services) yang dapat memenuhi kebutuhan atau harapan, kepuasan (statisfaction) pelanggan (customers) yang dalam pendidikan dikelompokan menjadi dua, yaitu siswa atau mahasiswa sebagai pembelajar (leaners) dan eksternal customer yaitu masyarakat dan dunia industri. Mutu tidak berdiri sendiri artinya banyak faktor
1
Jarome S. Arcaro, Pendidikan Berbasis Mutu : Prinsip-Psrinsip Perumusan Dan Tata Langkah Penerapan, (Yogyakarta, Pustaka Belajar, 2007), h. 75.
2
Ibid, h. 77.
3
untuk mencapainya dan untuk memelihara mutu. Dalam kaitannya ini peran dan fungsi sistem menjamin mutu (Quality Assurance System) sangat dibutuhkan.4
Dalam Dictionary of Education, pendidikan merupakan: (a) proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya dalam masyarakat dimana dia hidup, (b) proses sosial dimana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah), sehingga mereka dapat memperoleh dan mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individual yang optimum.5
Mutu pendidikan merupakan kesesuaian antara kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dengan layanan yang diberikan oleh pengelola pendidikan. kerangka filosofi pendidikan dalam pengembangan sekolah bermutu adalah kesesuaian input, proses, dan hasil sekolah dengan kebutuhan para pemangku kepentingan. Kerangka filosofi ini harus menjadi kerangka berpikir seluruh komponen penyelenggaraan pendidikan di dalam satuan pendidikan.
Pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dengan pendidikan terdiri dari pihak internal dan eksternal. Stakeholder pendidikan internal meliputi: peserta didik, guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan lainnya. Sedangkan stakeholder pendidikan eksternal meliputi: calon peserta didik, orang tua, pemerintah (pusat daerah), masyarakat umum, dan masyarakat khusus (seperti dunia usaha dan dunia inustri).
Pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder) antara lain meliputi pihak-pihak internal dan pihak-pihak eksternal :6
4
Nanang Fattah, Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012), h. 2.
5Udin Syaefudin Sa’ud, Abin Syamsuddin Makmun,
perencanaan pendidikan, (Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 2014), h. 6.
6
1. Pihak internal 1) Orang tua siswa 2) Siswa
3) Guru
4) Pegawai sekolah/madrasah 5) Komite sekolah/madrasah 6) Kepala sekolah/madrasah
7) Kepala desa/kelurahan, pemuka agama, dan tokoh masyarakat lainnya
8) Unsur masyarakat lainnya (kalo ada), termasuk di dalamnya kelompok petani atau nelayan, atau golongan etnis minoritas atau pengusaha, dan lain-lain, sesuai dengan keadaan setempat 2. Pihak eksternal
1) Standar akreditasi Ban S/M
2) Standar kriteria sekolah/madrasah mandiri/standar internasional (RM/S BI atau M/S BI)
3) Standar kriteria sekolah/madrasah nasional (S/MSN)
4) Standar kriteria sekolah/madrasah dan PT favorit pada tingkat lanjutan
Proses pendidikan yang bermutu adalah proses pendidikan yang memiliki kesesuaian dengan kebutuhan stakeholder internal dan eksternal. Secara umum, orientasi manajemen mutu sekolah adalah peningkatan mutu layanan pendidikan, memperbaiki produktivitas dan efisiensi pendidikan melalui perbaikan kinerja sekolah, serta peningkatan mutu kinerja dalam upaya menghasilkan lulusan pendidikan yang memuaskan atau memenuhi kebutuhan stakeholders.7
Pendidikan bermutu adalah pendidikan yang mampu melakukan proses pematangan kualitas peserta didik yang dikembangkan dengan cara membebaskan peserta didik dari ketidaktahuan, ketidakmampuan, ketidakberdayaan, ketidakbenaran, ketidakjujuran, dan dari buruknya akhlak dan keimanan.8
Dalam hal ini sekolah di tuntut untuk bisa memberikan kepuasan kepada pengguna jasa pendidikan dengan cara meningkatkan kinerja personil sekolah (kepala sekolah, guru, dan karyawan). Sekolah harus lebih kreatif dalam mengembangkan program sekolah, menigkatkan kualitas belajar mengajar dan mengelola manajemen dengan baik agar dapat menghasilkan lulusan yang bermutu.
Pendidikan adalah hal penting bagi kehidupan manusia, karena manusia akan sulit berkembang dan terbelakang tanpa pendidikan dan yang dibutuhkan adalah pendidikan yang bermutu. Kemajuan suatu bangsa di tentukan oleh seberapa besar bangsa tersebut menganggap penting terhadap pendidikan. Sekolah adalah tempat untuk melaksanakan pendidikan didalam PP. No. 47 Tahun 2008 tentang wajib belajar selama 9 tahun terdiri dari Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs). Kemajuan zaman di tentukan oleh majunya pendidikan maka dari itu program wajib belajar untuk menjawab kebutuhan dan tantangan zaman, sekolah sebagai sarana
7
Ridwan Abdullah Sani, Penjaminan Mutu Sekolah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2015), h. 6.
8
pendidikan diharapkan dapat memberikan kualitas yang sangat baik dan peran aktif dari semua pihak yang menginginkan pendidikan bermutu (kepala sekolah, guru, staf pendidikan, pemerintah, masyarakat dan orang tua).
Oleh karena itu sekolah sebagai pusat pendidikan harus bisa melaksanakan fungsinya secara optimal dalam meningkatkan mutu pendidikan, agar dapat meningkatkan martabat bangsa.
Sekolah bermutu ditandai dengan pengelola yang bermutu, yang terdiri dari kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan lainnya yang didukung orang tua melalui komite sekolah. Terciptanya pendidikan bermutu karena adanya kerjasama dari (stakeholders) sekolah yang bertanggungjawab atas kemajuan pendidikan. Pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan (output) yang memiliki kemampuan atau kompetensi akademik maupun kompetensi kejuruan, yang dilandasi oleh kompetensi personal dan sosial, yang secara menyeluruh disebut sebagai kecakapan hidup (life skill). Pendidikan kecakapan hidup adalah pendidikan yang bermutu, baik quality in fact maupun quality in perception.9 Agar terciptanya output yang sesuai dengan yang diharapkan maka harus lebih menekankan terhadap proses pengolahan.
Input, merupakan langkah awal sekolah dalam seleksi masuk. Proses, merupakan penggabungan dari langkah-langkah yang terorganisasi agar dapat menghasilkan output yang sesuai harapan secara maksimal. Output, adalah hasil dari pengolahan product yang telah di proses secara struktural dari yang biasa menjadi luar biasa.
Menurut standar ISO 8402 Quality Manajemen and Quality Assurance Vocabulary (1994), mutu pendidikan adalah “keseluruhan gambaran dan karakteristik suatu produk atau jasa yang berkaitan dengan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang
9
dinyatakan secara langsung/tersurat maupun secara tidak
langsung/tersirat”.10
Dari beberapa devinisi di atas dapat disimpulkan bahwa mutu pendidikan adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari output pendidikan yang mampu menghasilkan produk/keluaran yang baik dan layanan jasa pendidikan yang memenuhi keinginan dan kebutuhan pelanggan atau pengguna jasa pendidikan. Mutu adalah pelayanan terbaik dari pemberi jasa pendidikan kepada pengguna jasa pendidikan melalui kinerja yang optimal yang dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan karena inti dari mutu adalah kepuasan. Pelanngan adalah wasit terhadap mutu dan institusi sendiri tidak akan mampu bertahan tanpa mereka.11
2. Standar Mutu Pendidikan
Standar mutu pendidikan yang disebut Standar Nasional Pendidikan (SNP). Di dalam undang-undang No 20 tahun 2003, pasal 35 ayat 1 dinyatakan bahwa Standar Nasional Pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala.12
Pembangunan pendidikan nasional meliputi tiga pilar pembangunan pendidikan, yaitu (1) perluasan dan pemerataan akses memperoleh pendidikan, (2) peningkatan mutu dan relevansi pendidikan dan daya saing, dan (3) peningkatan efisiensi dan efektivitas pengelolaan pendidikan. pada awalnya, pembangunan pendidikan di negeri ini, menitikberatkan pada pembangunan
10
Ali Ramadhan, Manajemen Perkantoran, (Bandung, CV Pustaka Setia, 2014), h. 281.
11
Edward Sallis, Manajemen Mutu Terpadu, (Jogjakarta, IRCiSod, 2010), h. 55-56.
12
pendidikan pilar pertama. Namun, ketiga pilar tersebut saling melengkapi dan memengaruhi dalam sistem pendidikan nasional.13
3. Kebijakan Penjaminan Mutu Pendidikan
Pendidikan diharapkan mempunyai pengaruh yang signifikan pada pembentukan SDM (human capital) dalam aspek kognitif, afektif, ataupun keterampilan, baik dalam aspek fisik, mental maupun spiritual. Hal ini jelas menuntut kualitas penyelenggaraan pendidikan yang baik agar kualitas hasil pendidikan dapat benar-benar berperan optimal dalam kehidupan masyarakat. Komitmen bangsa dalam bidang pendidikan paling tidak menunjukan adanya suatu keinginan yang kuat untuk menjadikan pendidikan sebagai faktor penting dalam pembangunan, sehingga upaya-upaya untuk selalu memperbaiki, mengembangkan dan membangun dunia pendidikan harus dipahami dalam konteks sumbangannya bagi pembangunan bangsa, karena pada akhirnya pendidikan akan menentukan kualitas SDM/human capital, dan kualitas hasil pendidikan yang bagus akan membentuk human capital yang berkualitas, yang sangat penting dalam menunjang kehidupan masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan.
Dalam upaya untuk terus meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, penjaminan mutu menjadi suatu keharusan. Penjaminan mutu (quality assurance) pada dasarnya merupakan suatu upaya untuk menjamin agar proses yang berjalan dalam organisasi/lembaga pendidikan dapat memenuhi standar atau bahkan melebihi standar mutu yang telah ditetapkan. Dalam Peraturan Pemerintah No. 19 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 91 Ayat 1, 2, dan 3 tentang penjaminan mutu pendidikan disebutkan bahwa:14
13
Suparlan, Manajemen Berbasis Sekolah, (Jakarta, PT Bumi Aksara, 2013), h. 38.
14
1) Setiap satuan pendidikan pada jalur formal dan non formal wajib melakukan penjaminan mutu.
2) Penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada Ayat 1 bertujuan untuk memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan.
3) Penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada Ayat 1 dilakukan secara bertahap, sistematis, dan terencana dalam suatu program penjaminan mutu yang memiliki target dan kerangka waktu yang jelas.
Dengan melihat Pasal 91 dari PP 19/2005, tampak bahwa penjaminan kualitas merupakan suatu kewajiban bagi lembaga pendidikan. Dalam melakukan penjaminan kualitas pendidikan, agar sesuai konteks diperlukan peninjauan pendidikan dalam lingkup tatarannya. Dalam upaya untuk mengkaji masalah pendidikan, pemahaman akan kondisi kualitas yang ada merupakan suatu hal penting yang dapat membantu memahami posisi dan kondisi pendidikan.
4. Membangun Mutu Pendidikan
Selama satu dekade pertama pada milenium ketiga ini, Indonesia telah mengikuti beberapa survei internasional sebagai upaya untuk melakukan benchmarking mutu pendidikan dalam strandar global. Kendati hasilnya belum sesuai dengan harapan banyak pihak, keikutsertaan tersebut dipandang penting untuk mengukur sejauh mana pencapaian pendidikan dasar dan menengah kita selama ini dibandingkan dengan pencapaian negara-negara di seluruh dunia, untuk kemudian diambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengejar ketertinggalan.
satu sisi, kita harus membangun mutu pendidikan (the persuit of excellence) sesuai dengan rujuk-mutu (benchmarking) kompetensi global agar kita tidak tersisih di dalam persaingan antarbangsa- di sisi yang lain, pendidikan kita juga harus menimbang mutu pendidikan dalam keragaman dan kearifan lokal agar siswa kita hidup menapak di buminya sendiri.
Membangun mutu pendidikan salah satunya adalah melalui peningkatan kualitas membaca. Literasi membaca juga merupakan salah satu kemampuan utama yang diperoleh para siswa pada proses perkembangan awal mereka di bangku sekolah dan kemudian menjadi landasan untuk belajar mata pelajaran lainnya. Kemampuan dasar ini juga dapat mereka gunakan untuk bersenang-senang dengan membaca buku yang menarik perhatian mereka, serta yang lebih penting lagi, sejalan dengan perkembangan dan pertumbuhan intelektualitasnya, kemampuan dasar ini dapat digunakan untuk survive dalam kehidupannya nyata di masyarakat luas.
kemampuan untuk memahami dan menggunakan bahasa atau tulis yang diperlukan oleh masyarakat dan/atau yang berharga individu.
Interaksi siswa yang baru belajar membaca itu juga membangun makna dalam berbagai konteks (Guice, 1995). Interaksi sosial siswa dalam kegiatan membaca dapat membantu mereka memperoleh pemahaman terhadap bahan bacaannya. Lingkungan kelas atau perpustakaan sekolah yang ditata dengan baik dapat meningkatkan motivasi dan kemampuan membaca siswa, memberi peluang untuk membangun perspektif tentang bahan bacaan, dan memandang kegiatan membaca sebagai kegiatan berbagai pengalaman dengan teman-teman sekelasnya. Keadaan ini dapat diperluas di luar kegiatan di sekolah ketika siswa kita itu membahas hasil membacanya itu di rumah dengan keluarga dan teman-temannya.15
5. Upaya Menjaga Mutu Pendidikan Di Sekolah
Upaya menjaga mutu berarti prosedur yang harus dilakukan untuk menjamin agar standar tersebut terpenuhi. Di dalam dunia pendidikan, suatu proses yang dibakukan dalam situasi yang baku pula seringkali menghasilkan output yang berbeda, atau bahkan tak menghasilkan sama sekali. Dengan kata lain, kondisi-kondisi yang berkenaan dengan input dan pross dalam program pendidikannya merupakan suatu syarat yang tidak menjamin bagi terjadinya output. Selain itu, hal-hal (variabel) yang mempengaruhi output pendidikan (misalnya prestasi belajar) jumlahnya banyak sekali dan biasanya saling berinteraksi satu sama lain.
Sebagian besar input dan proses yang terdapat dalam program pendidikan adalah suatu yang disyaratkan namun tidak menjamin tercapainya output yang bermutu. Namun demikian, agar mutu dapat dicapai, persyaratan tertentu tentang input dan proses itu harus
15
terpenuhi. Oleh sebab itu, menjaga mutu output perlu dilakukan pengecekan terus menerus (audit) terhadap kondisi input dan proses. Dengan melihat keterkaitan antara hasil pengecekan tersebut dan mutu output yang telah tampak (yang tentunya merupakan hasil dari input dan proses yang diperiksa), maka orang dapat menentukan cara-cara/strategi bagi perbaikan dan peningkatan mutu. Setiap upaya pengendalian mutu selalu didahului oleh pengecekan terhadap mutu output yang telah dihasilkan, lalu dihubungkan dengan input dan prosesnya, kemudian di ambil keputusan tentang penyesuaian pada input dan proses tersebut agar output yang berikutnya menjadi lebih baik.
Sebagai suatu sistem yang terdiri dari input, proses, dan output, maka yang dimaksud dengan mutu pendidikan dalam hal ini ialah mutu ouput dari sistem pendidikan tersebut yang wujudnya adalah perkembangan atau kemajuan pada diri murid. Ini berarti bahwa suatu sistem pendidikan dengan input yang berupa sarana dan prasarana dan dana yang berlimpah sekalipun, jika tidak menghasilkan lulusan dengan tingkatan mutu yang diinginkan, adalah sistem pendidikan yang bermutu rendah. Begitu pula dengan jumlah peserta didik atau murid. Meskipun seratus persen anak usia sekolah telah mengikuti dan lulus sekolah, misalnya tetapi jika kualifikasi atau mutu lulusan amat rendah tentu tak akan dikatakan bahwa sistem persekolahan tersebut bermutu.16
B. Komite Sekolah
1. Pengertian Komite Sekolah
Menyadari bahwa pentingnya proses peningkatan kualitas sumber daya manusia, banyak upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu salah satunya adalah
16
dibentuknya suatu wadah yang melibatkan masyarakat karena masyarakat adalah stakeholder pendidikan yang memiliki kepentingan akan keberhasilan pendidikan. Salah satu wujud aktualissinya adalah Komite Sekolah yang dibentuk untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan di sekolah/madrasah berperan meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan. Komite dibentuk untuk mewadahi dan meningkatkan partisipasi para stakeholder sekolah untuk turut merumuskan, menetapkan, melaksanakan, dan memonitor pelaksanaan kebijakan sekolah dan pertanggungjawaban yang terfokus pada kualitas pelayanan terhadap peserta didik secara proporsional dan terbuka. Komite juga mewadahi partisipasi para stakeholder untuk turut serta dalam manajemen sekolah sesuai dengan peran dan fungsinya, berkenaan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program sekolah secara proporsional dalam rangka mewujudkan
“Masyarakat Sekolah” yang memiliki loyalitas terhadap peningkatan
mutu sekolah.
Menurut Djam’an Satori (2001), sebagai konsekuensi untuk
mengakomodasi aspirasi, harapan dan kebutuhan stakeholder sekolah, maka perlu dikembangkan adanya wadah untuk menampung dan menyalurkannya. Wadah tersebut berfungsi sebagai forum dimana representasinya para stakeholder sekolah terwakili secara proporsional. Dalam berbagai dokumen ada yang ada dan konsensus yang telah muncul dalam berbagai forum, wadah ini diberi nama
Komite Sekolah. badan sejenis ini di Australia disebut “school council”.
Dalam pengertian lain, Djam’an Satori menyebutkan bahwa
komite sekolah merupakan suatu badan yang berfungsi sebagai forum resmi untuk mengakomodasikan dan membahas hal-hal yang menyangkut kepentingan kelembagaan sekolah.17
17
Komite Sekolah atau Dewan Sekolah adalah sebuah lembaga yang dibentuk untuk meningkatkan partisipasi dari para guru, orang tua, dan tokoh masyarakat dalam proses pengambilan keputusan tentang pengelolaan sekolah.18
Komite Sekolah adalah badan mandiri yang mewadahi peranserta masyarakat dalam rangka penigkatan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan di satuan pendidikan. Dibentuk berdasarkan musyawarah yang demokratis oleh stakeholder pendidikan. Nama generik, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-msing satuan pendidikan BP3, Komite Sekolah dan atau Majelis Sekolah yang sudah ada dapat memperluas fungsi, peran, dan keanggotaannya sesuai dengan acuan ini. 19
Dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 044/U/2002 tanggal 2 April 2002 disebutkan, bahwa Dewan Pendidikan adalah badan yang mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan di kabupaten/ kota. Nama badan ini bisa disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan daerah masing-masing, seperti Dewan Pendidikan, Majelis Pendidikan, atau nama lain yang disepakati bersama.20
Dewan Sekolah (DS) atau Komite Sekolah (KS) adalah lembaga/badan khusus yang dibentuk berdasarkan musyawarah yang demokratis oleh para stakeholders pendidikan di tingkat sekolah sebagai representasi dari berbagai unsur yang bertanggungjawab terhadap peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Dewan sekolah ini terdiri dari unsur-unsur: wakil orang tua siswa, wakil guru-guru, kepala sekolah, wakil tokoh masyarakat, wakil pengusaha/industri, wakil pemerintah daerah, dan wakil pejabat pengendali pendidikan.
18
Wahyu Dwi Mulyono, jurnal pendidikan vokasi, h. 15.
19
Bedjo Sujanto, Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah : Model Pengelolaan Sekolah di Era Otonomi Daerah, (Jakarta, CV. Sagung Seto, 2007), h. 61.
20
Dewan/Komite Sekolah merupakan wadah yang berfungsi sebagai forum untuk mempresentasikan segala aspirasi, prakarsa, dan partisipasi para stakeholder sekolah secara proporsional.21
Berdasarkan definisi diatas Komite Sekolah adalah badan mandiri yang dibentuk berdasarkan musyawarah yang demokratis oleh para stakeholders pendidikan, yang mewadahi peran serta masyarakat untuk meningkatkan partisipasi orang tua, masyarakat, tokoh masyarakat dan partisipasi para guru. Wadah tersebut berfungsi sebagai forum resmi dalam rangka meningkatkan mutu sekolah, pengambilan keputusan, pemerataan.
2. Landasan Pembentukan Komite
Proses pembentukan Komite Sekolah merupakan proses awal yang sangat menentukan dalam pelaksanaan peran dan fungsi Komite Sekolah. proses pembentukan Komite Sekolah harus menganut tiga prinsip manajemen modern, yakni (1) demokratis, (2) transparan, dan (3) akuntabel. Jika proses pembentukan Komite Sekolah sama sekali tidak menganut tiga prinsip tersebut, dapat dipastikan bahwa Komite Sekolah tersebut hanya akan menjadi Komite Sekolah yang asal terbentuk dan tidak pernah dapat melaksanakan peran dan fungsinya secara optimal.22
Ketentuan mengenai Dewan Sekolah dan Komite Sekolah tertuang dalam UU Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propernas) 2000-2004. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa UU Nomor 25 Tahun 2000 tentang Propernas
merupakan “ibu” yang melahirkan Dewan Sekolah dan Komite
Sekolah. Dengan demikian, Dewan Sekolah dan Komite Sekolah (DS/KS) lahir dari satu rahim propenas. Sedang kelahirannya dibina oleh Departemen Pendidikan Nasional bersama Bappenas,
21
Opcit, Engkoswara, dkk, h. 297.
22
Sri Renani Pantjastuti, dkk, Komite Sekolah : Sejarah dan Prospeknya di Masa Depan,
Departemen Dalam Negeri, Departemen Agama, yang akhirnya berhasil melahirkan Keputusan Mendiknas Nomor 004/U/2002 tanggal 2 April 2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.
Secara yuridis formal, hampir semua sekolah telah memiliki perangkat Komite Sekolah sebagai wakil masyarakat dalam membantu program pendidikan. Komite Sekolah telah menunjukan perannya sebagai mitra sekolah, terutama bagi kepala sekolah dan guru dalam merancang dan melaksanakan program pendidikan, baik program pembangunan fisik maupun non fisik seperti program pembangunan pembelajaran dikelas.23
Dasar hukum utama pembentukan Komite Sekolah untuk pertama kalinya adalah Undang-Undang No 25 Tahun 2000 tentang pembangunan Nasional (Propenas) tentang pembentukan Komite Sekolah kemudian dijabarkan dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No 044/U/2002 yang merupakan acuan utama pembentukan Komite Sekolah. Disebutkan sebagai acuan karena pembentukan Komite Sekolah di berbagai satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan. Demikian pula sebutan Komite Sekolah dapat berbeda di setiap satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan. Namun demikian ada prinsip yang harus dipahami dalam pembentukan Komite Sekolah.
Komite Sekolah harus dibentuk berdasarkan pada prakarsa masyarakat yang peduli pendidikan, bukan didasarkan pada arahan atau intruksi dari lembaga pemerintahan. Pembentukan Komite Sekolah harus dilakukan secara trasnparan, akuntabel, dan demokratis. Transparan berarti pembentukan Komite Sekolah dilakukan secara terbuka dan diketahui oleh masyarakat khususnya masyarakat lingkungan sekolah mulai dari tahap pembentukan panitia persiapan, sosialisasi oleh panitia persiapan, penentuan kriteria calon anggota,
23
pengumuman calon anggota, proses pemilihan, sampai penyampaian hasil pemilihan kepada masyarakat. Akuntabel berarti pembentukan Komite Sekolah yang dilakukan oleh panitia persiapan harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat baik secara subtansi maupun finansial. Demokratis berarti bahwa proses pembentukan Komite Sekolah dilakukan dengan melibatkan seluruh masyarakat khusunya masyarakat lingkungan sekolah, baik secara musyawarah mufakat maupun melalui pemungutan suara.
Sejak awal disosialisasikan pembentukan Komite Sekolah melalui Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No 004/U/2002 diperkirakan Komite Sekolah telah terbentuk di hampir lebih 200 ribu satuan pendidikan mulai jenjang SD/MI sampai jenjang sekolah menengah. Namun diperkirakan pula pembentukan Komite Sekolah tersebut tidak atau belum mengikuti prinsip pembentukan Komite Sekolah yang diharapkan. Oleh karena itu perlu di sosialisasikan kembali mekanisme pembentukan Komite Sekolah yang baku.
Pembentukan Komite Sekolah diawali dengan pembentukan panitia persiapan atas prakarsa masyarakat atau dipelopori oleh orang tua/wali peserta didik, tokoh masyarakat/pemimpin informal, atau kepala satuan pendidikan. Panitia persiapan sekurang-kurangnya 5 orang terdiri atas kalangan praktisi pendidikan (guru, kepala satuan pendidikan, penyelenggara pendidikan), pemerintah pendidikan (LSM berorientasi atau peduli pendidikan, tokoh masyarakat/pemimpin informal, tokoh agama, dunia usaha/dunia industri), serta orang tua/wali peserta didik.24
Sesuai dengan semangat otonomi daerah, khususnya dibidang pendidikan, Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No 044/U/2002 tersebut hanya merupakan acuan, bukan merupakan petunjuk pelaksana, (Juklak) atau petunjuk teknis (Juknis).
24
3. Nama, Kedudukan, Sifat dan Tujuan Komite Sekolah
a) Nama
Nama lembaga yang disebutkan dalam UU Nomor 25 Tahun 2000 adalah Dewan Sekolah di tingkat kabupaten/kota dan Komite Sekolah di tingkat satuan pendidikan. Dalam Kepmen 004/U/2002 juga dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, nama itu menjadi Dewan Pendidikan di kabupaten/kota, provinsi dan nasional dan Komite Sekolah di tingkat satuan pendidikan. Perubahan nama Dewan Sekolah menjadi Dewan Pendidikan mempunyai maksud agar cakupannya menjadi lebih luas, yakni bukan hanya untuk jalur pendidikan sekolah, tetapi juga meliputi pendidikan luar sekolah atau jalur pendidikan nonformal. Nama Komite Sekolah masih tetap digunakan. Meskipun demikian, perlu di tegaskan di sini, bahwa nama Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah dikenal sebagai nama generik, yakni nama yang bersifat umum, yang dalam praktik di lapangan, daerah dan atau satuan pendidikan dapat menggunakan kata lain, berdasarkan kesepakatan rapat pengurus Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Sebagai contoh, nama Majelis Madrasah digunakan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Malang, dan sekolah-sekolah yang sejenis. Nama lain pun masih dimungkinkan untuk dapat digunakan, sejauh peran dan fungsinya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. b) Kedudukan
dan SMK/MAK yang berlokasi dala satu kompleks yang sama dan hanya dibentuk satu Komite Sekolah saja.
c) Sifat
Komite Sekolah merupakan badan yang bersifat mandiri, tidak mempunyai hierarkis dengan sekolah maupun lembaga pemerintah lainnya. Komite Sekolah dan sekolah memiliki kemandirian masing-masing tetapi tetap sebagai mitra yang harus saling bekerja sama sejalan dengan konsep Menejemen Berbasis Sekolah (MBS).
d) Tujuan
Menurut Kepmendiknas No. 044/U/2002 tanggal 2 April 2002, Dewan Pendidikan bertujuan untuk:
1) Mewadahi dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan dan program pendidikan.
2) Meningkatkan tanggung jawab dan peran serta aktif dari seluruh lapisan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan.
3) Menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan bermutu.25
Format kelembagaan Dewan Sekolah/Komite Sekolah diarahkan kepada hal-hal seperti berikut:
1) Mewadahi dan meningkatkan peranserta para stakeholder pendidikan di tingkat sekolah dalam merumuskan dan menetapkan berbagai kebijakan pengelolaan sekolah, pengembangan program sekolah, monitoring pelaksanaan kegiatan pendidikan sekolah, dan pertanggungjawaban mutu pendidikan sekolah secara demokratis dan transparan.
2) Mewadahi dan meningkatkan peranserta para stakeholder pendidikan di tingkat sekolah dalam memecahkan
25
masalah pendidikan yang dihadapi sekolah, dan membantu pemerintah memonitoring pengelolaan pendidikan disekolah; 3) Memfasilitasi upaya peningkatan kinerja dan profesionalisme
kepala sekolah, guru, dan staf lain yang terlibat dalam proses pendidikan anak sekolah sesuai dengan visi, misi, dan tujuan yang hendak dicapai oleh sekolah;
4) Menyediakan berbagai fasilitas yang dibutuhkan sekolah dalam upaya meningkatkan proses belajar mengajar, pengadaan dan pemeliharaan fasilitas pendukung belajar yang baik, pengadaan dan pemeliharaan fasilitas sekolah yang baik, dan peningkatan kualitas staf yang sesuai dengan kebutuhan sekolah;
5) Mengembangkan dan menetapkan program kurikulum efektif yang sesuai dengan kebutuhan anak dan masyarakat, kebutuhan dan tuntutan global, serta berbagai inovasi yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan di sekolah;
6) Memfasilitasi dan mengontrol penerapan sistem manajemenn sekolah yang transparan dan demokratis dalam pendayagunaan berbagai sumber daya yang tersedia sesuai dengan prioritas kebutuhan pelaksanaan program sekolah dalam mencapai tujuan yang ditetapkan;26
4. Peran dan Fungsi Komite Sekolah
Dalam buku Sri Renani Pantjastuti dkk, di sebutkan bahwa Komite Sekolah mengemban empat peran dan fungsi sebagai berikut, (1) pemberi pertimbangan, (2) pendukung, (3) pengawas, dan (4) mediator. Keempat peran Komite Sekolah tersebut bukan peran yang berdiri sendiri, melainkan peran yang sering terkait antara peran satu dengan peran yang lainnya.27
26
Ibid, Engkoswara, dkk, h. 298.
27
1. Pemberi pertimbangan (advisory agency), Komite Sekolah memiliki peran sebagai advisor agency, badan yang memberikan pertimbangan kepada sekolah atau yayasan. Idealnya, sekolah dan yayasan pendidikan harus meminta pertimbangan kepada Komite Sekolah dalam merumuskan kebijakan, program.
2. Pemberi dukungan (supproting agency), Komite Sekolah memiliki peran sebagai supporting agency, badan yang memberikan dukungan berupa dana, tenaga, dan pikiran. 3. Melakukan pengawasan (controlling agency), Komite Sekolah
memiliki peran sebagai controling agency, badan yang melaksanakan pengawasan sosial kepada sekolah.
4. Mediator, Komite Sekolah memiliki peran sebagai mediator antara sekolah dengan orang tua dan masyarakat. Keberadaan Komite Sekolah di lembaga pendidikan swasta akan menjadi tali pengikat ukhuwah antara sekolah dengan orang tua dan masyarakat. Dengan demikian diharapkan akan menjadi kunci keberhasilan upaya peningkatan pendidikan.
Dalam Modul Pemberdayaan Komite Sekolah ada beberapa fungsi Komite Sekolah yaitu :
1) Menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat.
2) Memberikan masukan, pertimbangan dan rekomendasi kepada satuan pendidikan dalam hal:
3) Kebijakan kinerja satuan pendidikan
4) Penyusunan Rencana Anggaran dan Pendapatan dan Belanja sekolah (RAPBS)
d. Hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan
5) Mendorong orangtua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan guna mendukung peningkatan mutu pemerataan pendidikan.
6) Menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan
7) Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan28
Sebagai mitra sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan Komite Sekolah memiliki peran yang tertera pada pasal 56 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Secara spesifik disebutkan bahwadi dalam masyarakat ada Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah/madrasah, yang berperan sebagai berikut:29
1) Masyarakat berperan dalam meningkatkan mutu pelayanan pendidikan yang meliputi perencanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan melalui dewan pendidikan dan Komite Sekolah/madrasah.
2) Dewan Pendidikan sebagai lembaga mandiri dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana, dan prasarana serta pengawasan pendidikan ditingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota yang tidak mempunyai hubungan hirarkis.
3) Komite Sekolah/madrasah sebagai lembaga mandiri dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dan memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana prasarana serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan.
28
Opcit, Yadi Haryadi, dkk, (Modul 1), h 5.
29
Oleh karena itu, diharapkan Komite Sekolah bukan lagi
sebagai: “stempel” dan tidak juga sebagai “eksekutor” bagi kepala
sekolah. Komite Sekolah seharusnya dapat menjadi wahana pemersatu antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dan dapat membantu dalam mengelola program sekolah serta dapat berperan aktif dalam meningkatkan mutu sekolah.
5. Organisasi
Keanggotaan Komite Sekolah terdiri atas :30 1. Unsur masyarakat dapat berasal dari:
1) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bidang pendidikan; 2) Tokoh masyarakat;
3) Tokoh pendidikan;
4) Yayasan penyelenggara pendidikan (sekolah, luar sekolah, madrasah, pesantren);
5) Dunia usaha/industri/asosiasi profesi; 6) Organisasi profesi tenaga pendidikan; 2. Komite Sekolah.
1) Unsur birokrasi/legislative dapat dilibatkan sebagai anggota Komite Sekolah (maksimal 4-5 orang).
2) Jumlah anggota Komite Sekolah maksimal 17 (tujuh belas) orang dan jumlahnya gasal.
b. Kepengurusan Dewan Pendidikan
1. Pengurus sekurang-kurangnya terdiri atas: 1) Ketua:
2) Sekretaris; 3) Bendahara;
4) Pengurus dipilih dari dan oleh anggota;
5) Ketua bukan dari unsur pemerintah daerah dan DPRD.
30
2. Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) Dewan Pendidikan wajib memiliki AD dan ART;
Anggaran Dasar sebagaimana dimaksud sekurang-kurangnya memuat:
1) Nama dan tempat kedudukan: 2) Dasar, tujuan dan kegiatan; 3) Keanggotaan dan kepengurusan;
4) Hak dan kewajiban anggota dan pengurus; 5) Keuangan;
6) Mekanisme kerja dan rapat-rapat;
7) Perubahan AD dan ART dan pembubaran organisasi.
Komite Sekolah adalah sekumpulan masyarakat yang peduli akan peningkatan mutu pendidikan. Komite Sekolah merupakan badan mandiri yang berada di bawah kepala sekolah dan menjalankan program-program yang diberikan oleh kepala sekolah. Adanya Komite Sekolah dapat meningkatkan rasa kepemilikan masyarakat terhadap sekolah dan meningkatkan peran masyarakat dalam mengelola dan mensukseskan program-program sekolah.
6. Hubungan Komite Sekolah Dengan Mutu
dengan orang tua sehingga dapat meningkatkan komunikasi antara orang tua dan sekolah.
Penyelenggaraan pendidikan memerlukan dukungan masyarakat yang memadai. Pelibatan masyarakat dan orang tua dalam pelayanan pendidikan yang bertujuan meningkatkan mutu pendidikan dibutuhkan kerjasama secara sinergis agar menciptakan pengajaran dan pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan. Untuk meningkatkan peran serta orang tua secara aktif sekolah harus menjalin hubungan kekeluargaan dengan orang tua siswa.
Pelibatan masyarakat dan orang tua diwujudkan dalam bentuk komite sekolah. Komite sekolah merupakan badan atau lembaga non profit dan non politis, dibentuk berdasarkan musyawarah yang demokratis oleh para stakeholder pendidikan pada tingkat satuan pendidikan sebagai representasi dari berbagai unsur yang bertanggungjawab terhadap peningkatan mutu proses hasil pendidikan. Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perorangan, kelompok keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana,dan pengguna hasil pendidikan.
7. Partisipasi Orang Tua dan Masyarakat di Sekolah
Partisipasi penting untuk meningkatkan rasa memiliki, peningkatan rasa memiliki akan meningkatkan rasa tanggung jawab, dan peningkatan tanggung jawab akan meningkatkan dedikasi/kontribusi. Partisipasi adalah proses dimana stakeholders terlibat aktif baik dalam pengambilan keputusan, pembuatan kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan/pengevaluasian pendidikan di sekolah.
pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa yang di dukung oleh partisipasi orang tua dan masyarakat.
Masyarakat adalah Pihak/orang/lembaga yang memiliki perhatian pada pendidikan seperti tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, guru, wali murid, institusi pemerintah, perusahaan, dan pihak-pihak lain yang peduli.31
Diera otonomi ini, patisipasi masyarakat sebagai kekuatan kontrol dalam pelaksanaan berbagai program pemerintah menjadi sangat penting. Dibidang pendidikan partisipasi ini lebih strategis lagi. Karena partisipasi tersebut bisa menjadi semacam kekuatan kontrol bagi pelaksanaan dan kualitas pendidikan disekolah-sekolah. Apalagi saat ini DEPDIKNAS mulai menerapkan konsep Manajemen Berbasis Sekolah (school-based-management). Karena itulah gagasan tentang perlunya sebuah Komite Sekolah yang berperan sebagai lembaga yang menjadi mitra sekolah yang menyalurkan partisipasi msyarakat (semacam lembaga legislatif) menjadi kebutuh yang sangat nyata dan tak terhindarkan. Dengan adanya Komite Sekolah, kepala sekolah dan para penyelenggara serta pelaksanaan pendidikan disekolah secara subtansial akan bertangungjawab Kepada Komite tersebut.
Penyelenggaraan pendidikan harus melibatkan masyarakat untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Partisipasi masyarakat di dalam pendidikan sudah ditetapkan didalam undang-undang, walaupun demikian dalam pelaksanaannya masih belum dapat tercapai. Hubungan masyarakat dengan sekolah masih dalam paradigma lama yaitu masih bersifat satu arah dan bersifat birokratis dan hierarkis. Masyarakat dan sekolah masih saling defensif. Sekolah masih memandang masyarakat sebagai orang lain atau pihak yang berada di luar sekolah (Depdiknas, 2007, pp.10-13) Masalah yang dihadapi dalam penyelenggaraan desentralisasi pendidikan kejuruan adalah
31
lemahnya kapasitas kemitraan antara pendidikan kejuruan denga masyarakat pada umumnya dan dunia usaha atau dunia industri (DU/DI) pada khususnya (Slamet, 2005, P. 8).
Jika selama ini garis pertanggungjawaban kepala sekolah dan para penyelenggara pendidikan di sekolah bertangungjawab kepada pemerintah, dalam hal ini kepada Dirjen DIKDASMEN, maka dengan konsep Manajemen Berbasis Sekolah pertanggungjawaban itu kepada Komite Sekolah. Pemerintah dalam hal ini hanya memberikan legalitas saja. Selama ini Komite Sekolah memang telah dibentuk oleh pemerintah, tapi perannya terbatas hanya untuk mengawasi dana Jaringan Pengaman Sosial (JPS). Komite Sekolah yang baru ini tentu tidak terbatas hanya untuk mengawasi dana JPS saja, melainkan juga berperan bagi upaya peningatkan mutu pendidikan disekolah, berfungsi untuk terus menjaga trensparasi dan akuntabilitasi sekolah, serta menyalurkan partisipasi masyarakat pada sekolah.
Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3) sebagaimana diatur dalam keputusan menteri pendidikan dan kebudayan nomor 0293/U/1993 juga perlu disesuaikan dengan nuansa dan paradigma perkembangan pendidikan nasional. Karena itu, Komite Sekolah yang baru ini adalah gabungan peran dari Komite Sekolah JPS, organisasi orang tua siswa dan BP3.
Meningkatkan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama dukungan dari semua pihak menjadi kekuatan untuk menciptakan pendidikan bermutu, salah satunya adalah dukungan dari masyarakat, dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, pada pasal 54 di kemukakan bahwa:32
1) Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perorangan, kelompok keluarga, organisasi profesi, pengusaha,
32
dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan.
2) Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana,dan pengguna hasil pendidikan.
Secara lebih spesifik, pada pasal 56 di sebutkan bahwa di masyarakat ada Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah atau Komite Madrasah, yang berperan sebagai berikut:
1) Masyarakat berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan yang meliputi perencanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan melalui dewan pendidikan dan komite sekolah/madrasah.
2) Dewan pendidikan sebagai lembaga mandiri di bentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan, arahan, dan dukungan tenaga, sarana, dan prasarana serta pengawasan pendidikan di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota yang tidak mempunyai hubungan hierarkis.
3) Komite Sekolah/madrasah sebagai lembaga mandiri di bentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dan memberikan pertimbangan, arahan, dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan.
Upaya-upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dan para pengelola sekolah tersebut belum seluruhnya dapat memenuhi harapan masyarakat. Hal ini sering diungkapkan oleh para pejabat pendidikan (kepala dinas, pengawas, kepala sekolah, guru) dalam berbagai forum ilmiah dan kesempatan. Berbagai hambatan masih ditemui di lapangan, yang disebabkab oleh kompleksitas permasalahn pendidikan sejalan dengan kebutuhan masyarakat yang makin kompleks. Kebutuhan masyarakat akan pendidikan berkualitas, seringkali masih dihadapkan oleh kondisi internal lembaga pendidikan, seperti terbatasnya ketersediaan guru yang bermutu, biaya pendidikan yang terbatas, sarana belajar mengajar yang belum memadai, serta lingkungan sekolah yang kurang kondusif. Selain itu perubahan standar keberhasilan belajar yang semakin tinggi untuk melayani kebutuhan pasar, ternyata makin sulit dikejar, akibat lingkungan belajar yang kurang mendukung.
8. Menggalang Partisipasi Orang Tua
Partisipasi orang tua merupakan keterlibatan secara nyata dalam suatu kegiatan, partisipasi itu bisa berupa gagasan, kritik membangun, dukungan dan pelaksanaann pendidikan. Dalam konteks MBS dan KBK, partisipasi orang tua sangat diperlukan, karena sekolah merupakan partner orang tua dalam mengantarkan cita-cita dan membentuk pribadi peserta didik.
Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan dan kemajuan sekolah, oleh karena itu penting mengkaji dan memahami cara-cara yang dapat ditempuh untuk menggalang partisipasi orang tua terhadap kegiatan pendidikan sekolah.
1. Melibatkan orang tua secara proporsional, dan profesional dalam mengembangkan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program sekolah.
2. Menjalin komunikasi secara intensif. Secara proaktif sekolah menghubungi orang tua peserta didik.33
9. Tujuan Partisipasi Orang Tua dan Masyarakat di Sekolah
Orang tua dan masyarakat adalah bagian penting dari pendidikan di sekolah, termasuk dalam mengatasi perundangan. Hubungan sekolah dengan masyarakat pada hakikatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik di sekolah. Dalam hal ini, sekolah sebagai sistem sosial merupakan bagian integral dari sistem sosial yang lebih besar, yaitu masyarakat. Sekolah dan masyarakat memiliki hubungan yang sangat erat dalam mencapai tujuan sekolah atau pendidikan. Oleh karena itu, sekolah berkewajiban untuk memberi penerangan tentang tujuan-tujuan, program-program, kebutuhan serta keadaan masyarakat. Sebaliknya, sekolah juga harus mengetahui dengan jelas apa kebutuhan, harapan, dan tuntutan masyarakat, terutama terhadap sekolah. Dengan perkataan lain, antara sekolah dan masyarakat harus dibina suatu hubungan yang harmonis.
Pelibatan orangtua dan masyarakat dalam program sekolah bertujuan antara lain untuk (1) memajukan kualitas pembelajaran dan pertumbuhan peserta didik; (2) memperkokoh tujuan serta meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat; dan (3) menggairahkan masyarakat untuk menjalin hubungan dengan sekolah. Hubungan yang harmonis antara sekolah dan masyarakat ini semakin dirasakan pentingnya pada masyarakat yang telah menyadari dan memahami pentingnya pendidikan bagi anak-anak. Namun, tidak
33