KARYA TULIS
SIFAT PANAS, AKUSTIK DAN ELEKTRIK PADA KAYU
Disusun Oleh:
APRI HERI ISWANTO, S.Hut, M.Si NIP. 132 303 844
DEPARTEMEN KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
KATA PENGANTAR
Puji syukur pada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan karya tulis mengenai “Sifat Panas, Akustik Dan
Elektrik Pada Kayu “.
Tulisan ini merupakan bagian terjemahan dari buku Science and Technology
of Wood. Structure, Properties, Utilization (G. Tsoumis, 1991) mengenai Thermal, Acoustical dan Electrical Properties. Makalah berisi tentang gambaran
umum secara singkat mengenai sifat-sifat lain dari kayu yang berkaitan dengan
kemampuan kayu sebagai konduktor ataupum resistor terhadap panas, bunyi (akustik),
dan listrik. Penulis berharap semoga karya tulis ini dapat memberikan tambahan
informasi dibidang fisika kayu.
Akhirnya penulis tetap membuka diri terhadap kritik dan saran yang
membangun dengan tujuan untuk menyempurnakan karya tulis ini.
Nopember, 2008
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ...i
DAFTAR ISI...ii
DAFTAR TABEL...iii
SIFAT PANAS PADA KAYU...1
SIFAT AKUSTIK PADA KAYU ...6
SIFAT LISTRIK PADA KAYU...9
DAFTAR TABEL
No Keterangan Halaman
SIFAT PANAS PADA KAYU
1. Expansion and Contraction (ekspansi dan konstraksi).
Seperti bahan yang lain, kayu akan mengalami pengembangan dimensi jika
dipanaskan dan mengalami pengurangan dimensi jika didinginkan. Fenomena ini
dinamakan expansion and contraction. Sifat ini pada prakteknya kurang mendapat
perhatian karena pengaruhnya yang sangat kecil jika dibandingkan dengan
pengembangan dan penyusutan dimensi yang diakibatkan oleh perubahan kadar air,
walaupun perubahan kadar air juga dipengaruhi oleh perubahan panas.
Expansion diukur dengan coeficient of thermal expansion (koefisien ekspansi
suhu), yang mengacu pada kondisi kayu kering tanur dan ukuran pemanjangan unit
ukuran panjang suatu materi jika suhunya dinaikkan 1oC.
Koefisien ekspansi berbeda pada tiga bidang penampakan kayu. Sangat kecil
pada bidang axial (longitudinal), dan arah radial lebih kecil daripada tangensial.
Besar koefisien ekspansi dari beberapa jenis kayu dapat dilihat pada tabel
berikut :
Tabel 1. Ekspansi Suhu dari beberapa jenis kayu di Amerika Koefisien Ekspansi (x 10-6) Spesies
Sebagai perbandingan, koefisien ekspansi dari kaca adalah 9 x 10-6, baja 11 x 10-6
dan aluminium 24 x 10-6.
Hubungan antara ekspansi dan panas mendekati linear pada tiga arah
penampakan kayu. Hubungan antara ekspansi dan kerapatan juga linear, tetapi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jika kayu basah di panaskan dalam air,
dikukus, atau dalam larutan pengawet, akan mengalami ekspansi pada bidang
tangensial dan konstraksi pada bidang radial. Ini akan menimbulkan retak (sebagai
contoh adalah saat perlakuan pendahuluan pemanasan log untuk pembuatan vinir).
Pada suhu dibawah 0 oC, kayu akan cepat mengalami kontraksi, juga akan
mengalami pecah ujung dan mengalami frost cracks (retak) pada kayu pohon hidup.
Ekspansi dari contoh kayu pada perubahan suhu dari T1 ke T2(oC, F), dapat
Jika koefieien ekspansi diketahui, maka ekspansi dapat dihitung dengan
rumus :
d1 = perubahan temperatur.
2. Konduktivitas Panas
Sifat konduktifitas panas merupakan kebalikan dari sifat insulasi panas dari
kayu atau bahan lainnya. Kayu memiliki sifat konduktor yang jelek karena
bahannya yang berpori. Konduktifitas panas dinyatakan dalam koefisien
konduktifitas panas (k). Ini adalah ukuran jumlah panas dalam kalori yang mengalir
selama satu unit waktu melalui bahan setebal 1 cm dengan permukaan 1 cm2, jika
perubahan suhu sebesar 1 oC dikenakan diantara dua permukaan. Satuan koefisien
konduktifitas panas adalah cal.cm/s.cm2.oC.
Konduktifitas panas dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah
Konduktifitas panas arah axial 2 kali lebih besar daripada arah radial maupun
tangensial. Koefisien dari konduktifitas panas pada beberapa kayu pada suhu 20 oC,
adalah sebagai berikut :
• Axial 0.191 - 0.284 kcal.m./h.oC
• Radial 0.104 - 0.151 kcal.m./h.oC
• Tangensial 0.090 – 0.140 kcal.m./h.oC
Besarnya konduktifitas pada arah axial dipengaruhi oleh morfologi serat dan
susunan axial dari sel kayu. Antara arah radial dan tangensial tidak ada perbedaan
yang berarti. Pada arah radial, konduktifitas panas lebih besar (antara 5 s/d 10%),
hal ini banyak dipengaruhi oleh jari-jari kayu. Bahkan pada beberapa penelitian,
perbedaan konduktifitas juga dipengaruhi oleh perbedaan kerapatan kayu awal dan
kayu akhir. Akhirnya perbedaan konduktifitas antara axial dan tranversal (radial dan
tangensial) ditemukan banyak disebabkan karena perbedaan ultrastruktur dari kayu
yaitu sudut mikrofibril. Semakin besar sudut mikrofibril menunjukkan semakin
kecil perbedaan konduktifitas antara axial dan tranversal.
Konduktifitas panas semakin meningkat dengan meningkatnya kerapatan
kayu, kadar air dan suhu. Jika kadar air kayu dinaikkan atau diturunkan diatas titik
jenuh serat sebesar 1 %, maka konduktifitas panas bertambah atau berkurang
sebesar 0.7 sampai 1.18 %. Pada umumnya, kayu yang memiliki kadar air diatas 40
% memiliki 1/3 kali dari ukuran konduktifitas panas kayu kering.
Konduktifitas panas juga dipengaruhi oleh ekstraktif. Kayu dengan kadar
ekstraktif tinggi (biasanya memiliki warna kayu lebih gelap) memiliki konduktifitas
panas yang lebih besar (contoh yang sama ditemukan pada kayu pine yang
disebabkan karena oleoresin).
3. Kalor Jenis
Panas jenis dari suatu benda adalah banyaknya panas yang dibutuhkan untuk
menaikkan suhu satu bagian massa sebesar 1 oC. Karena panas spesifik dari air
adalah 1 (dimana dibutuhkan 1 cal untuk menaikkan suhu dari 1 gram air dari 15oC
ke 16oC), maka panas spesifik dari benda lain termasuk kayu adalah perbandingan
banyakkya kalori yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu satu bagian air sebesar 1
o C.
Panas spesifik dari kayu lebih tinggi dari logam atau bahan yang lain, ini
berarti dibutuhkan lebih banyak kalori untuk menaikkan suhu tiap bagian kayu dari
pada logam atau bahan lainnya. Sifat ini sangat sejalan dengan sifat kayu yang
sangat buruk dalam menghantarkan panas (sifat konduktifitas panas), sehinga kayu
cocok sebagai bahan pegangan yang membutuhkan penghantar panas yang lama.
Hal ini juga sangat penting dalam proses industri kayu seperti pengeringan,
penambahan pengawet dan perekatan. Panas spesifik tidak dipengaruhi oleh jenis
dan kerapatan kayu tetapi meningkat jika suhu dan kadar air meningkat.
4. Difusi Kalor
Merupakan ukuran tingkat perubahan suhu pada suatu material, ketika terjadi
perubahan suhu lingkungan. Kayu memiliki difusi panas yang lebih rendah bila
dibandingkan dengan baja.
5. Pembakaran
Kayu dapat terbakar. Sifat ini sangat berguna bagi penggunaan yang
berhubungan dengan panas dan energi, tetapi harus diperhatikan jika digunakan
sebagai material konstruksi. Kayu terbakar pada temperatur yang sangat tinggi,
menghasilkan dekomposisi kimia dan gas yang mudah terbakar. Secara umum,
tahap-tahap perubahan kayu terhadap panas adalah sebagai berikut :
a. Penguapan air dalam kayu ( sampai 100 oC)
b. Penguapan bahan volatil (95 – 150 oC)
c. Perubahan struktur karbon dan mengeluarkan gas yang mudah terbakar
secara perlahan (150 – 200 oC)
d. Percepatan keluarnya gas yang mudah terbakar, diikuti dengan pengapian
dan cahaya (200 – 300 oC).
e. Seluruh bagian kayu terbakar dan terjadinya proses pembentukan arang
Kecepatan terbakarnya kayu dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya
adalah spesies, kelembaban, suhu, ukuran dan tipe struktur kayu.
Faktor lain yang mempengaruhi antara lain adalah adanya zat ekstraktif
seperti resin. Struktur kayu yang mempengaruhi kecepatan terbakarnya kayu antara
lain adalah kayu keras dengan pembuluh terbuka dan tanpa tilosis lebih mudah
terbakar.
Kecepatan terbakar lebih cepat 2 kali lipat arah axial dibandingkan dengan
arah transversal. Kadar air kayu memperlambat proses pengapian dan proses
pembakaran. Dengan bertambahnya suhu, kayu lebih mudah terbakar. Tetapi
pengecualian untuk kayu dengan dimensi cukup besar akan sulit terbakar, dan
kekuatannya menurun secara berangsur-angsur dibandingkan dengan logam yang
langsung melengkung (bending) pada suhu tinggi diatas 100 oC. Fenomena ini
dipengaruhi oleh rendahnya konduktifitas panas dan tingginya panas spesifik dari
kayu sehingga memperlambat proses terbakar.
6. Nilai Kalor
Pada saat terbakar, kayu menghasilkan panas. Jumlah panas yang di
timbulkan oleh 1 g atau 1 kg kayu sampai semuanya terbakar dinamakan nilai panas
(heating value). Rata-rata nilai panas pada kayu kering tanur adalah 4500 cal/g.
Nilai panas dipengaruhi oleh kadar air, ekstraktif, susunan kimia kayu dan jenis
kayu.
Kadar air kayu menurunkan nilai panas. Nilai panas dari kayu kering udara 15
% lebih kecil daripada kayu kering tanur.
Ekstraktif merupakan faktor penting dalam menentukan nilai panas. Sebagai
contoh, oleoresin memiliki nilai panas 8500 kcal/kg, sehingga kayu lunak yang
memiliki resin memiliki nilai panas yang tinggi.
Pengaruh dari komposisi kimia diturunkan dari nilai panas lignin (6100
kcal/kg) lebih besar daripada nilai panas selulosa (4150 – 4350 kcal/kg).
Penggunaan nilai panas dari kayu sangat tergantung dari bagaimana cara kayu
panas yang termanfaatkan. Sedangkan pada tungku yang lebih baik, nilai panas
yang dimanfaatkan bisa mencapai 70 %.
Sebagai tambahan, proses-proses pemanfaatan kayu lainnya dapat dilakukan
dengan proses pyrolysis (carbonization, destructive destilation, liquification),
gasification dan hydrolysis.
SIFAT AKUSTIK PADA KAYU
1. Kayu sebagai sumber bunyi
Kayu seringkali digunakan sebagai alat musik, sebagai contoh adalah
xylophone (alat instrumen yang dibuat dari susunan kayu dari berbagai ukuran).
Contoh lain adalah kulintang dan gamelan jawa yang terbuat dari kayu. Suara
dihasilkan dari kayu yang dipukul dengan material lain, baik kayu maupun metal.
Pada beberapa gereja juga sering ditemukan material bel yang terbuat dari kayu
untuk menghasilkan alunan suara.
Nada yang dihasilkan oleh kayu, baik tinggi maupun rendah tergantung dari
frekuensi getaran. Frekuensi dipengaruhi oleh ukuran kayu, kerapatan dan
elastisitas kayu. Dimensi yang kecil, kadar air rendah dan elastitisitas yang tinggi
akan membentuk nada tinggi.
2. Gelombang suara dari sumber lain.
Jika gelombang suara dari sumber lain mengenai kayu, sebagian energi
akustik dipantulkan, sebagian masuk kedalam kayu. Kayu akan bergetar, suara asli
akan diperkuat, atau dikeluarkan sebagian atau diserap semuanya.
2.1. Consonance – resonance.
Penguatan bunyi (consonance) terjadi jika kayu digunakan sebagai resonator.
Faktor yang mempengaruhinya antara lain, frekuensi getaran, ukuran resonator dan
kondisi permukaan kayu (kayu yang dilapisi pernis lebih baik dalam meresonansi
bunyi). Resonator tidak merubah sumber bunyi, melainkan memperkeras atau
Kayu digunakan sebagai resonator pada alat musik seperti biola dan gitar.
Pilihan kayu yang digunakan oleh para violins profesional antara lain adalah kayu
spruce dengan kriteria elastisitas yang tinggi dalam hubungannya dengan kerapatan,
serat lurus, papan radial (quarter sawn), struktur yang homogen, lingkaran tumbuh
yang lebih besar dari 2 mm, lingkaran tumbuh yang bertakik (berlekuk), proporsi
kayu akhir yang rendah (maksimal 25 %), dari umur kayu yang tua (diatas 130
tahun) dan diameter lebih dari 40 cm.
Faktor yang mempengaruhi dari resonator yang lain antara lain adalah
ketebalan dan model dari resonator, impregnasi kimia, bor kecil atau lobang pada
bodi resonator dan faktor lainnya.
Selain spruce, kayu lain yang digunakan sebagai resonator adalah fir, pine,
beberapa kayu keras dan kayu dari daerah tropis.
2.2. Absorbtion of Sound (Penyerapan bunyi).
Bagian dari energi akustik yang mengenai kayu sebagian atau seluruhnya
dapat di serap, dibiaskan dan dipantulkan. Energi akustik ini tentunya akan
menimbulkan friksi molekuler dan menimbulkan perubahan energi dari energi
akustik menjadi energi panas (thermal energy).
Kemampuan kayu untuk menyerap suara diukur dengan coefficient of sound
absorbtion (koefisien penyerapan suara) yang ditunjukkan dengan persentase
penyerapan suara. Kayu memiliki kemampuan menyerap suara lebih baik dari
material lainnya, hal ini disebabkan karena struktur kayu yang berpori, tetapi secara
umum penyerapannya masih dibawah 10 %. Koefisien penyerapan suara
dipengaruhi oleh kerapatan dan faktor lain seperti elastisitas (MOE), kadar air,
suhu, intensitas dan frekuensi suara dan kondisi permukaan kayu. Kayu dengan
kerapatan dan elastisitas rendah pada suhu dan kadar air tinggi menyerap lebih
banyak suara; penyerapan lebih besar pada suara dengan frekuensi rendah dan lebih
Kapasitas insulasi suara pada kayu dapat diperbaiki sampai 90 % dengan
menyediakan ruang kosong didalam dinding pemisah. Pada produk kayu seperti
fiberboard, kerapatan yang rendah dan lubang bor dapat menaikan insulasi suara.
3. Kecepatan suara (Cepat rambat suara).
Kecepatan suara di dalam massa kayu bervariasi tergantung arah axial dan
tranversal. Pada arah axial, kecepatan suara berkisar antara 3500-5000 m (10.000 –
15.000 ft) /s. Sedangkan pada arah tranversal lebih rendah. Sebagai perbandingan,
kecepatan suara di udara 340 m (1100 ft)/s, air 1440 m (4750 ft) / s, kaca 5000 –
6000 m (15.000 – 20.000 ft)/s.
Kecepatan, secara teori dihitung berdasarkan persamaan :
ro E
V =
dimana : V = kecepatan suara (m atau ft /s)
E = Modulus of elastisitas (N/mm2.psi)
ro = kerapatan kering tanur.
Perbedaan kecepatan suara pada arah axial dan tranversal dipengaruhi oleh
elastisitas yang berbeda. Pada arah tranversal, elastisitas lebih kecil dan bahkan
kecepatan suara mendekati nol.
Kadar air menurunkan kecepatan suara, sebab dengan penambahan kadar air
MOE berkurang dan kerapatan bertambah. Kecepatan juga berkurang dengan
bertambahnya suhu, sebab bertambahnya suhu akan menurunkan kerapatan
sehingga menimbulkan ekspansi.
Perbedaan kecepatan suara pada arah axial dan tranversal memungkinkan
penggunaan kayu yang berbeda sesuai dengan fungsinya. Sebagai contoh, kayu
yang digunakan pada bagian depan biola, menggunakan kayu tipis, serat kayu lurus
dengan rasio kecepatan suara pada axial dan tranversal yang tinggi. Sedangkan serat
berpadu dari kayu maple dengan rasio kecepatan suara pada axial dan tranversal
SIFAT ELEKTRIK PADA KAYU
1. Resistansi
Resistansi (hambatan) adalah sifat suatu bahan dalam menahan arus listrik,
sifat ini kebalikan dari konduktifitas. Resistansi diukur dalam ohm (Ω), dan
konduktifitas adalah kebalikannya (1/Ω). Resistansi suatu konduktor yang diukur
dari potongan melintang pada unit panjang disebut resistivitas yang dikukur dalam
ohm-meter atau ohm-centimeter. Semakin besar resistivitas suatu bahan
menunjukkan bahan tersebut merupakan konduktor yang jelek. Kebalikan dari
resistivitas disebut konduktifitas spesifik diukur dalam(1/Ω cm).
Resistansi dari kayu dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah
spesies, struktur, kerapatan, suhu dan kadar air. Faktor kadar air adalah faktor
terbesar dari faktor lainnya.
Kayu kering tanur merupakan material yang tidak dapat mengalirkan arus
melalui massanya. Namun demikian, dengan meningkatnya kadar air maka
resistansi listrik akan mengalami penurunan dan kayu jenuh air memiliki sifat
hampir seperti air dalam hal resitansinya.
Perubahan resistansi dengan perubahan kadar air sangat nyata pada kondisi 0
% sampai titik jenuh serat, diatas titik jenuh serat, perubahannya sangat kecil.
Resistivitas kayu kering tanur bervariasi antara 3 x 10 17 dan 3 x 10 18
ohm.cm. Akan mengalami penurunan pada kondisi kayu kering udara sampai 108
dan berkisar antara 106 – 105 ohm.cm pada saat titik jenuh serat. Ini menunjukkan
bahwa antara titik 0 dan titik jenuh serat, penurunannya lebih dari ribuaan kali,
sedangkan diatas titik jenuh serat, perubahannya hanya sekitar 50 kali.
Kayu kering tanur memiliki resistivitas sama dengan porcelain (3 x 1014) dan
parafin (1 x 10 16). Kebalikannya, resistivitas konduktor sangat rendah, sebagai
Spesies kayu tidak terlalu penting pengaruhnya terhadap resistansi. Faktor
lain antara lain komponen kimia (seperti ion logam) yang terdapat dalam dinding
sel dan ekstraktif.
Struktur berpengaruh terhadap resistansi dan berbeda antara arah axial dan
transversal. Resistansi arah tranversal lebih besar 2 sampai 8 kali (2.3 s/d 4.5 pada
kayu lunak dan 2.5 s/d 8 kali pada kayu keras). Perbedaan antara radial dan
tangensial sangat kecil.
Efek dari kerapatan masih belum jelas. Pada kondisi kadar air yang sama ada
analogi bahwa jika kerapatan dinaikkan 2 kali lipat maka resistansi menjadi
separuhnya (konduktifitas menjadi 2 kali lipat). Tetapi pada beberapa penelitian
menunjukkan bahwa konduktifitas tidak berpengaruh terhadap kerapatan,
melainkan komposisi kimia kayu seperti kandungan lignin. Konduktifitas akan
meningkat dengan meningkatnya kandungan lignin.
Resistansi dari kayu kering tanur akan naik dengan penurunan suhu dan akan
mengalami penggandaan setiap 12.5 oC menurunkan suhu, sifat ini kebalikan dari
metal.
Aplikasi praktis dari perbedaan kadar air dan resistansi digunakan dalam alat
yang dinamakan moisture meter elektrik. Juga digunakan untuk pegangan dan
beberapa alat listrik yang memerlukan sifat resistansi dari kayu.
Impregnasi kayu dengan pengawet, khususnya pengawet larut air, akan
menurunkan resistansi. Sebaliknya impregnasi kayu dengan bahan pengawet larut
minyak akan menurunkan konduktifitas (seperti resin fenol). Hal ini disebabkan
karena resin menurunkan sifat higroskopis dari kayu.
2. Dielektric properties (Sifat dielektrik).
Sifat dielektrik adalah konduktor lemah terhadap arus listik, atau bahan
insulasi listrik, khususnya perubahan bahan tersebut dalam medan listrik. Kayu
adalah bahan dielektrik pada saat kering tanur atau memiliki kadar air yang rendah.
Sifat ini sangat penting dalam pembuatan moisture meter elektrik dan perekatan
pada kenyataannya tidak bisa. Perekatan dengan resin sistetis dan pengeringan
mungkin dapat dilakukan, jika arah arus listrik diubah dengan cepat, bahan
dielektrik akan mengalami pemanasan karena friksi elektron dari
molekul-molekulnya. Panas ini berasal dari pembentukan medan magnet dan bukan dari
resistansi elektrik dari bahan dielektrik.
Dielectric constant (konstanta dielektrik), juga disebut electric permeability
(permeabilitas elektrik) adalah ukuran dari nilai insulasi bahan yang dihasilkan dari
arus frekuensi tinggi. Konstanta dielektrik dari ruang hampa adalah 1, cairan atau
zat padat memiliki nilai lebih besar, dan konstan dielektrik dari air adalah 81.
Konstanta dielektrik dari kayu bervariasi antara 2 dan 3, meningkat dengan
kerapatan, kadar air dan suhu dan menurun dengan peningkatan frekuensi dari arus
bolak-balik, ukurannya sekitar 1,5 kali lebih besar pada arah axial daripada arah
tranversal. Pada kerapatan 0.4 – 0.6 g/cm3, konstanta dielektrik kayu kering tanur
adalah 1.8 s/d 2.2 Pada kadar air 10 %, bervariasi dari 2.7 ke 3,5 dan pada kadar air
20 % bervariasi dari 4.0 ke 5.4. Pada kayu basah, konstanta dielektriknya adalah 81.
Beberapa jenis moisture meter didasarkan atas hubungan antara kadar air dan
konstanta dielektrik, dimana kurvanya naik sampai titik jenuh serat dan lurus diatas
titik jenuh serat. Kelemahan dari alat ini adalah pembacaannya yang dipengaruhi
oleh kerapatan.
Power factor adalah ukuran menyangkut tingkat dimana energi listrik di serap
oleh bahan dielektrik, energi ini ditampilkan dalam bentuk panas. Nilainya berkisar
antara 0 dan 1. Sifat ini sangat penting dalam perekatan kayu dan pengeringan kayu
dengan arus frekuensi tinggi. Beberapa tipe dari moisture meter juga menggunakan
hubungan antara kadar air dengan power factor, karena semakin naik dengan
meningkatnya kadar air, kerapatan dan frekuensi arus listrik.
3. Sifat lain dalam hubungannya dengan listrik.
Kayu menunjukkan piezoelectric effect. Seperti bahan lain, kecuali kaca,
polarisasi elektrik juga terjadi pada kayu (sama dan kebalikan dari beban listrik
yang dikenakan pada sisi lain dari potongan) dibawah tekanan mekanis
(compression dan tension). Juga deformasi (pertambahan dan pengurangan ukuran)
dipengaruhi oleh serat berpadu, kerapatan dan sudut datang. Penelitian
menunjukkan bahwa efek ini dapat menduga kekuatan atau titik paling lemah,
keduanya penting dalam menentukan tingkat kekuatan dari kayu strutural.
Sifat lain adalah kelemahan magnetik yaitu sifat yang mengukur status
magnetisasi di dalam hubungannya dengan medan magnet, nilainya positif atau
negatif. Kayu memiliki kelemahan magnetik yang rendah, bekisar dari -0.2 sampai
+0.5 x106 pada beberapa spesies tergantung dari kerapatan. Sebagai bahan
perbandingan, parafin – 0.58 x 10 6, karet + 1.1 x 106 dan besi + 720 x 106. Kadar
air memiliki efek positif, sebab kelemahan magnetik dari air dua kali dari kayu.
REFERENSI
Simpson, W and Anton Ten wolde. 1999. Physical Properties and Moisture Relation of Wood. Wood Hand Book: Wood as an Engineering Material. Forest Product Laboratory. USA