SKRIPSI
Oleh
Riahta Sitanggang 111101108
berkat dan rahmatNyalah penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Pengalaman keluarga dalam berkomunikasi dengan pasien stroke di RSUD Dr.
Pirngadi Medan.”
Terima kasih kepada Papa dan Mama serta kedua abang (Hendra dan
Hutama) penulis yang selalu mendoakan dan memberikan dukungan baik secara
moral maupun materil.
Selama proses skripsi ini penulis menerima dukungan materil serta moril,
kritik serta saran dari berbagai pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis juga
mengucapakan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan skripsi ini, yaitu :
1. dr. Dedi Ardinata, M.Kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara.
2. Erniyati, S.Kp., MNS selaku Pembantu Dekan 1 Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara.
3. Rika Endah Nurhidayah, S.Kp., M.Pd selaku dosen pembimbing yang
telah memberikan bimbingan dan masukan selama proses pembuatan
skripsi ini.
4. Setiawan, S.Kp., MNS., Ph.D selaku dosen penguji I yang banyak
memberi saran dalam metode penelitian skripsi ini.
5. Ners. Asrizal, M.Kep., RN., WOC(ET)N., CHt.N selaku dosen penguji II
7. Kepada sahabat penulis yaitu Ester, Ayu, Maristha, Agnes, Afriani, Yosi,
dan Yetty serta teman seperjuangan dalam menyusun skripsi yaitu Lady,
Wita, dan Abdi yang telah membantu dan memberikan dukungan dalam
menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwasannya dalam penulisan skripsi ini masih banyak
terdapat kekurangan, untuk itu dengan kerendahan hati penulis menerima segala
kritik dan saran yang sifatnya membangun dari para pembaca demi kebaikan dan
kesempurnaan skripsi ini.
Medan, Juli 2015
Penulis,
Halaman judul ……… i
Bab 3. Metodologi penelitian ……….. 28
1. Desain Penelitian ……… 28
2. Partisipan ……… 28
3. Lokasi dan waktu penelitian ……….. 29
3.1 Lokasi penelitian ……….. 29
3.2 Waktu penelitian ……….. 30
4. Pertimbangan etik ……… 30
5. Instrumen penelitian ……… 31
2. Pembahasan……… 49
Bab 5. Kesimpulan dan saran……… 57
1. Kesimpulan……… 57
2. Saran……….. 57
Daftar pustaka ……… 59
Lampiran-lampiran Lampiran 1. Informed consent ……… 62
Lampiran 2. Lembar persetujuan menjadi partisipan……… 64
Lampiran 3. Kuesioner data demografi……… 65
Lampiran 4. Panduan wawancara………. 66
Lampiran 5. Validasi pertanyaan………. 67
Lampiran 6. Surat komite etik………. 71
Lampiran 7. Surat izin penelitian……….. 72
Lampiran 8. Surat selesai penelitian………. 74
Lampiran 9. Jadwal tentatif penelitian……….. 75
Lampiran 10. Taksasi dana………. 76
Lampiran 11. Lembar bukti bimbingan………... 77
Lampiran 12. Riwayat hidup………... 78
Tabel 1.1 Karakteristik partisipan………. 36
Tahun Akademik : 2014 / 2015
ABSTRAK
Komunikasi adalah elemen dasar dari interaksi manusia yang memungkinkan seseorang untuk menetapkan, mempertahankan, dan meningkatkan kontak dengan oranglain. Keluarga mengalami hambatan dalam berkomunikasi dengan pasien. Hambatan tersebut yaitu kurangnya pengetahuan tentang berkomunikasi dengan klien, gangguan fisik yang dialami klien dan gangguan psikis yang dialami klien. Penelitian ini menggunakan metode fenomenologi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeskplorasi pengalaman keluarga dalam berkomunikasi dengan pasien stroke di RSUD Dr. Pirngadi Medan. Teknik pengumpulan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah partisipan sebanyak delapan orang. Analisa data pada penelitian ini menggunakan metode Colaizzi. Penelitian ini menemukan ada lima tema yaitu cara keluarga berkomunikasi dengan klien, hambatan saat berkomunikasi dengan klien, usaha yang dilakukan keluarga untuk mengatasi hambatan saat berkomunikasi dengan klien, perasaan keluarga saat berkomunikasi dengan klien. Kesimpulan dari penelitian ini keluarga sulit untuk mengerti bahasa yang digunakan pasien. Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber pengetahuan dan informasi bagi perawat untuk mengajarkan keluarga cara berkomunikasi dengan pasien stroke yang mengalami gangguan komunikasi.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Stroke merupakan penyakit gangguan fungsional otak akut fokal maupun
global akibat terhambatnya aliran darah ke otak karena perdarahan (stroke
hemoragik) ataupun sumbatan (stroke iskemik) dengan gejala dan tanda sesuai
bagian otak yang terkena, yang dapat sembuh sempurna, sembuh dengan cacat,
atau kematian. Stroke Iskemik merupakan suatu penyakit yang diawali dengan
terjadinya serangkaian perubahan dalam otak yang terserang yang apabila tidak
ditangani dengan segera berakhir dengan kematian otak tersebut. Sedangkan
stroke hemoragik merupakan penyakit gangguan fungsional otak akut fokal
maupun global akibat terhambatnya aliran darah ke otak yang disebabkan oleh
perdarahan suatu arteri serebralis. Darah yang keluar dari pembuluh darah dapat
masuk ke dalam jaringan otak sehingga terjadi hematom (Junaidi, 2011).
Stroke dapat menyerang siapa saja dan kapan saja, tanpa memandang
usia (Depkes, 2013). Di Indonesia, 8 dari 1000 orang terkena stroke. Stroke
merupakan penyebab utama kematian pada semua umur, dengan proporsi 15,4%.
Setiap 7 orang yang meninggal di Indonesia, 1 diantaranya karena stroke (Depkes,
2013). Menurut WHO (2011), Indonesia telah menempati peringkat ke-97 dunia
untuk jumlah penderita stroke terbanyak dengan jumlah angka kematian mencapai
138.268 orang atau 9,70% dari total kematian yang terjadi pada tahun 2011. Riset
Kesehatan Dasar (2013) melaporkan prevalensi stroke di Indonesia berdasarkan
(10,3‰), Bangka Belitung dan DKI Jakarta masing-masing 9,7 per mil.
Prevalensi stroke di Sumatera Utara mencapai 10, 3%.
Berbagai fakta menunjukkan bahwa sampai saat ini, stroke masih
merupakan masalah utama di bidang neurologi maupun kesehatan pada umumnya.
Untuk mengatasi masalah penting ini diperlukan strategi penangulangan stroke
yang mencakup aspek preventif, terapi rehabilitasi, dan promotif.
Stroke memerlukan penanganan yang serius karena stroke dapat
mengakibatkan penderitanya kehilangan fungsi tubuh seperti kemampuan untuk
berkomunikasi dan berfikir. Menurut Junaidi (2011) tanda dan gejala pasien
stroke mengalami gangguan bicara yaitu bicaranya pelo, relo, atau cadel; tidak
mampu bicara atau memahami bahas lisan (afasia, disfasia); tidak mampu
mengeluarkan suara walaupun ia mengerti bahasa lisan (disartria); kesulitan
memilih kata-kata yang tepat untuk diucapkan atau ditulis; kesulitan memahami
tulisan, mengeluarkan kata-kata tanpa makna/tidak dapat dimengerti oranglain dan
salah memahami lelucon.
Bahasa merupakan sesuatu yang paling kompleks dari perilaku yang
ditunjukkan oleh manusia, karena bahasa melibatkan memori, belajar,
keterampilan penerimaan pesan, proses, dan ekspresi. Sehingga harus hati-hati
dalam melakukan asesmennya. Gangguan bahasa dapat melibatkan gangguan
kepada bidang-bidang lainnya, dan ini paling sulit untuk diidentifikasi secara tepat
sifat permasalahannya.
Oleh karena itu bahasa sebagai alat komunikasi mempunyai peran yang
bagian yang penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita berbicara dengan
oranglain, kita membaca koran, kita bekerja, dan belajar. Kita juga menggunakan
bahasa untuk mengungkapkan pemikiran kita dengan jelas. Juga untuk
merencanakan masa depan kita. Akan tetapi, jika terjadi gangguan komunikasi
seperti yang dialami pasien stroke, misalnya afasia maka komunikasi pun tidak
berjalan sesuai yang diharapkan.
Association Internationale Aphasie (AIA, 2011) telah memberitahukan
kepada masyarakat bahwa penderita afasia dapat mengalami kesulitan akan
banyak hal. Hal-hal tersebut sebelumnya merupakan sesuatu yang biasa terjadi di
kehidupannya sehari-hari, seperti: melakukan percakapan; berbicara dalam grup
atau lingkungan yang gaduh; membaca buku, koran, majalah atau papan
petunjuk di jalan raya; pemahaman akan lelucon atau menceritakan lelucon;
mengikuti program di televisi atau radio; menulis surat atau mengisi formulir,
bertelefon, berhitung, mengingat angka, atau berurusan dengan uang;
menyebutkan namanya sendiri atau nama-nama anggota keluarga. Penderita
afasia mengalami kesulitan menggunakan bahasa, tetapi mereka bukan orang
tidak waras.
Gangguan komunikasi yang dialami pasien stroke akan berpengaruh pada
pada kualitas hidupnya. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Kariasa (2009)
menunjukkan bahwa pasien paska serangan stroke mengalami gangguan fisik dan
fungsional tubuh yang bersifat jangka panjang dan menimbulkan gangguan respon
Penderita stroke memerlukan bantuan orang lain khususnya keluarga
untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan juga membantu pasien untuk
meningkatkan kualitas hidupnya. Selain itu lingkungan keluarga juga merupakan
lingkungan yang cocok untuk stimulasi kemampuan berbahasa pasien, karena
stimulasi tersebut dapat dilakukan secara tidak formal, dapat memilih waktu yang
tepat, saat pasien dalam keadaan bermotivasi dan anggota keluarga cukup
mengenal hal ihwal keadaan pasien (Kusumoputro & Sidiarto, 2009).
Dalam penelitian yang dilakukan R.E Saragih (2012) diketahui bahwa
terdapat perubahan pola hidup keseharian penderita post stroke seperti pola
makan, pola aktivitas sehari-hari dan adanya komunikasi yang tidak efektif.
Ketidakefektifan komunikasi tersebut, ditunjukkan pada aspek citra diri,
lingkungan (fisik dan sosial), kecerdasan, bahasa tubuh, kondisi fisik dan
psikis.
Penyakit stroke bisa merepotkan pihak keluarga pasien. Terutama keluarga
yang masih membutuhkan tenaga dan pikiran pasien dalam mensejahterakan
keluarganya seperti istri dan anak-anak. Kondisi pasien stroke ini membuat istri
pasien mendapatkan dampak dari kondisi psikologis yang dialami suaminya,
dimana suaminya mengalami kesulitan dalam bekerja karena mengalami
kelumpulan, kesulitan dalam komunikasi karena pasien mengalami gangguan
bicara, gangguan kognitif, dan dalam penyesuaian emosi.
Salah satu aspek yang mempengaruhi kepuasan perkawinan adalah
komunikasi antara suami-istri, dimana mereka saling berbagi dan saling menerima
menyebabkan kesulitan dalam berkomunikasi karena mengalami gangguan bahasa
(afasia). Seperti penelitian yang dilakukan Pasaribu (2011) menunjukan adanya
perubahan pada aspek-aspek kepuasan dalam perkawinan yang terjadi pada istri
yang memiliki suami penderita stroke, aspek tersebut salah satunya yaitu aspek
komunikasi.
Komunikasi pada pasien stroke pada dasarnya diperlukan peningkatan
kesabaran dan hubungan kepercayaan yang kuat agar terciptanya komunikasi yang
efektif. Dalam artikel Borthwick S (2012) “Communication impairment in
patients following stroke” menjelaskan berbagai gangguan komunikasi yang dapat
terjadi pasca stroke dan intervensi yang dapat dilakukan untuk membantu pasien
berkomunikasi sehingga kebutuhan pasien dapat terpenuhi. Dari artikel tersebut
dapat dijadikan salah satu panduan keluarga untuk berkomunikasi pada pasien
stroke.
Melihat betapa pentingnya komunikasi dalam kehidupan sehari-hari,
peneliti tertarik untuk mengeksplorasi lebih mendalam bagaimana pengalaman
keluarga dalam berkomunikasi dengan pasien stroke sehari-hari. Penelitian ini
dilakukan dengan pendekatan fenomenologi, dengan fenomenologi diperoleh
informasi baru yang lebih banyak secara komprehensif dan wawancara mendalam
kepada anggota keluarga pasien stroke.
1.2Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengalaman
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah mengeksplorasi secara mendalam
pengalaman keluarga dalam berkomunikasi dengan pasien stroke.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Praktik Keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang
pengalaman keluarga dalam berkomunikasi dengan pasien stroke sehingga dapat
diidentifikasi intervensi keperawatan dalam merawat pasien stroke di rumah sakit.
1.4.2 Bagi Pendidikan Keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih
berguna bagi perawat pendidik untuk dipelajari tentang cara berkomunikasi
dengan pasien stroke.
1.4.3 Bagi Penelitian Keperawatan
Hasil Penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan riset keperawatan.
Data yang ditemukan dapat dipakai sebagai data dasar penelitian selanjutnya
terkait permasalahan yang muncul tentang pengalaman keluarga dalam
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
1. Konsep Keluarga
1.1 Pengertian Keluarga
Menurut Friedman (1998 dalam Achjar, 2010) keluarga merupakan
sekumpulan orang yang dihubungkan oleh perkawinan, adopsi, dan kelahiran
yang bertujuan mempertahankan budaya umum, meningkatkan perkembangan
fisik, mental, emosional, dan sosial dari individu-individu di dalamnya terlihat
dari pola interaksi yang saling ketergantungan untuk mencapai tujuan bersama.
Menurut Dion & Betan (2013) menyimpulkan bahwa keluarga adalah :
1. Terdiri dari dua orang atau lebih yang memiliki ikatan atau lebih yang
memiliki ikatan atau persekutuan berupa perkawinan atau persekutuan yang
dibentuk.
2. Terdapat hubungan yang dibentuk melalui adanya hubungan darah, adopsi dan
kesepakatan yang dibuat.
3. Tinggal bersama di bawah satu atap atau antara satu anggota dengan yang lain
memiliki tempat tinggal yang berbeda karena sesuatu urusan tertentu akan
tetapi untuk sementara waktu.
4. Memiliki peran masing-masing dan bertanggung jawab terhadap tugs yang
diberikan.
5. Ada ikatan emosional yang sulit untuk ditinggalkan oleh setiap anggota
6. Antara anggota keluarga saling berinteraksi, interelasi dan interdependensi.
1.2 Tipe Keluarga
Menurut Setiadi (2008) membagi keluarga menjadi dua tipe, yaitu :
1. Secara Tradisional
a. Keluarga Inti (Nuclear Family) adalah terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang
diperoleh dari keturunan atau adopsi atau keduanya.
b. Keluarga Besar (Extended Family) adalah keluarga inti ditambah anggota
keluarga lain yang masih mempunyai hubungan darah (kakek-nenek,
paman-bibi).
2. Secara Modern
a. Tradisional Nuclear yaitu keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah
ditetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam suatu ikatan perkawinan, satu
atau keduanya dapat bekerja di luar rumah.
b. Reconstituted Nuclear adalah pembentukan baru dari kelurga inti melalui
perkawinan kembali.
c. Niddle Age / Aging Couple adalah suami sebagai pencari uang, istri di
rumah atau keduanya bekerja di rumah, anak-anak sudah meninggalkan
rumah karena sekolah/ perkawinan/ meniti karir.
d. Dyanic Nuclear adalah suami istri yang sudah berumur dan tidak
mempunyai anak yang keduanya atau salah satu bekerja di luar rumah.
e. Single Parent adalah satu orangtua sebagai akibat perceraian atau
kematian pasangannya dan anak-anaknya dapat tinggal di rumah atau di
f. Dual Carrier adalah suami istri atau keduanya orang karir dan tanpa anak.
g. Commuter Married adalah suami istri atau keduannya orang karir dan
tinggal terpisah pada jarak tertentu.
h. Single Adult adalah wanita atau pria yang tinggal sendiri dengan tidak
adanya keinginan untuk menikah.
i. Three Generation yaitu tiga generasi atau lebih tinggal dalam satu rumah.
j. Institusional yaitu anak-anak atau orang dewasa tinggal dalam suatu panti.
k. Comunal yaitu satu rumah terdiri dari dua atau lebih pasangan yang
monogami dengan anak-anaknya dan bersama-sama dalam penyediaan
fasilitas.
l. Group Marriage adalah satu perumahan terdiri dari orangtua dan
keturunannya di dalam satu kesatuan keluarga dan tiap individu adalah
kawin dengan yang lain dan semua adalah orangtua dari anak-anak.
m. Unmaried Parent and Child yaitu ibu dan anak dimana perkawinan tidak
dikehendaki, anaknya diadopsi.
n. Cohibing Coiple yaitudua orang atau satu pasangan yang tinggal bersama
tanpa kawin.
o. Gay and Lesbian Family yaitu keluarga yang dibentuk oleh pasangan
yang berjenis kelamin sama.
1.3 Fungsi Pokok Keluarga
Terdapat beberapa fungsi keluarga menurut Friedman (1998) ; Setiawati &
1. Fungsi afektif, yaitu dalam memenuhi kebutuhan pemeliharaan kepribadian
anggota keluarga. Merupakan respon keluarga terhadap kondisi dan situasi
yang dialami tiap anggota keluarga baik senang maupun sedih, dengan melihat
bagaimana cara keluarga mengekspresikan kasih sayang.
2. Fungsi sosialisasi, yaitu melakukan pembinaan sosialisasi anak, membentuk
nilai dan moral yang diyakini anak, memberikan batasan prilaku yang boleh
dan tidak boleh pada anak,meneruskan nilai-nilai budaya keluarga.
3. Fungsi perawatan kesehatan, yaitu melindungi keamanan dan kesehatan
seluruh anggota keluarga serta menjamin pemenuhan kebutuhan
perkembangan fisik, mental dan spiritual.
4. Fungsi ekonomi, yaitu memenuhi kebutuhan keluarga seperti sandang,
pangan, dan kebutuhan lainnya melalui keefektifan sumber dana keluarga.
5. Fungsi biologis, yaitu bukan hanya ditujukan untuk meneruskan keturunan
tetapi untuk memelihara dan membesarkan anak untuk kelanjutan generasi
selanjutnya.
6. Fungsi psikologis, yaitu memberikan kasih sayang dan rasa aman,
memberikan perhatian diantara anggota keluarga, membina pendewasaan
kepribadian anggota keluarga dan memberikan identitas keluarga.
7. Fungsi pendidikan, yaitu memberikan pengetahuan, keterampilan, membentuk
prilaku anak, mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa, mendidik anak
1.4 Tugas Keluarga dalam Bidang Kesehatan
Ada lima tugas keluarga yang dijabarkan oleh Friedman (1998 dalam
Achjar, 2010) yang sampai saat ini masih dipakai dalam asuhan keperawatan
keluarga. Tugas kesehatan keluarga tersebut yaitu :
1. Mengenal masalah kesehatan keluarga. Kesehatan merupakan kebutuhan
keluarga yang tidak boleh diabaikan karena tanpa kesehatan segala sesuatu
tidak akan berarti dan karena kesehatanlah kadang seluruh kekuatan sumber
daya dan dana keluarga habis.
2. Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga. Tugas ini
merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat
sesuai dengan keadaan keluarga, dengan pertimbangan siapa di antara
keluarga yang mempunyai kemampuan memutuskan untuk menentukan
tindakan keluarga.
3. Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan. Perawatan dapat
dilakukan di institusi pelayanan kesehatan atau di rumah apabila keluarga
telah memiliki kemampuan melakukan tindakan untuk pertolongan pertama.
4. Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga.
5. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di sekitarnya bagi keluarga.
Keluarga mempunyai peranan sangat penting dalam upaya peningkatan
kesehatan dan pengurangan resiko penyakit dalam masyarakat karena keluarga
merupakan unit terkeil dalam masyarakat. Bila terdapat masalah satu anggota
keluarga akan menjadi satu unit keluarga karena ada hubungan kuat antara
Peran keluarga sangat penting dalam setiap aspek keperawatan kesehatan
anggota keluaranya untuk itu keluarga lah yang berperan dalam menentukan cara
asuhan yang diperlukan oleh keluarga. Status sehat dan sakit para anggota
keluarga dan keluarga saling mempengaruhi.
2. Konsep Komunikasi 2.1 Pengertian Komunikasi
Komunikasi adalah elemen dasar dari interaksi manusia yang
memungkinkan seseorang untuk menetapkan, mempertahankan, dan
meningkatkan kontak dengan oranglain. Karena komunikasi dilakukan setiap hari,
kebanyakan orang menganggap bahwa komunikasi adalah sesuatu yang mudah.
Namun sebenarnya komunikasi adalah proses kompleks yang melibatkan tingkah
laku dan hubungan serta memungkinkan individu berasosiasi dengan orang lain
dan lingkungan sekitarnya. Komunikasi adalah proses interpersonal yang
melibatkan perubahan verbal dan nonverbal dari informasi dan ide. Komunikasi
mengacu tidak hanya pada isi tetapi juga pada perasaan dan emosi dimana
individu menyampaikan hubungan. Kebisuan juga merupakan sebuah makna
komunikasi ( Potter & Perry, 2005).
Komunikasi sangat diperlukan dalam hubungan antar individu di
kehidupan sehari-hari. Kerjasama dan koordinasi yang baik akan tercapai saat
komunikasi yang dibangun baik dan hubungan yang harmonis akan tercapai saat
komunikasi yang dibangun baik pula. Setiap komunikasi memiliki tujuan
masing-masing, baik antara penyampaian informasi dan yang mencari informasi
2.2 Tingkatan Komunikasi
Komunikasi terjadi pada tingkat :
1. Komunikasi intrapersonal, yaitu terjadi di dalam diri individu, merupakan
model bicara seorang diri atau dialog internal yang terjadi secara konstan dan
tanpa disadari.
2. Komunikasi interpersonal, yaitu interaksi antara dua orang atau di dalam
kelompok kecil. Komunikasi interpersonal yang sehat menimbulkan terjadinya
pemecahan masalah, berbagai ide, pengambilan keputusan dan perkembangan
pribadi.
3. Komunikasi publik atau umum, yaitu interaksi dengan sekumpulan orang
dalam jumlah yang besar.
2.3 Bentuk Komunikasi
1. Komunikasi verbal meliputi kata-kata yang diucapkan maupun yang ditulis.
Kata-kata adalah media yang digunakan untuk mengekspresikan ide atau
perasaan, menimbulkan respons emosional, atau menggambarkan objek,
obsevasi, kenangan, atau kesimpulan. Agar terciptanya komunikasi yang
efektif perlu diperhatikan : (1) Kejelasan dan ringkasan, (2) Kosakata, (3)
Makna denotatif dan konotatif, (4) Kecepatan, (5) Waktu dan relevansi, (6)
Humor
2. Komunikasi non-verbal adalah transmisi pesan tanpa menggunakan kata-kata,
dan merupakan salah satu cara yang terkuat bagi seseorang untuk
mengirimkan pesan kepada oranglain. Gerakan tubuh memberi makna yang
Penampilan personal, (2) Intonasi, (3) Ekspresi wajah, (4) Postur dan gaya
berjalan, (5) Gerakan tubuh, (6) Sentuhan
2.4 Faktor- faktor yang mempengaruhi komunikasi
1. Perkembangan
Usia seseorang berpengaruh terhadap cara seseorang berkomunikasi baik
dari segi bahasa maupun proses pikir orang tersebut. Sangat perlu mempelajari
bahasa sesuai umur ketika berkomunikasi, sehingga komunikasi dapat berjalan
lancar (Priyanto, 2009).
2. Nilai
Nilai adalah keyakinan yang dianut seseorang. Jalan hidup seseorang
dipengaruhi oleh keyakinan, pikiran dan tingkah lakunya. Nilai seseorang
berbeda satu sama lainnya (Mundakir, 2006). Nilai adalah standar yang
mempengaruhi perilaku seseorang termasuk dalam berkomunikasi (Priyanto,
2009).
3. Persepsi
Persepsi adalah pandangan pribadi seseorang terhadap suatu kejadian
atau peristiwa. Persepsi sendiri dibentuk dari harapan atau pengalaman.
Perbedaan persepsi dapat menghambat komunikasi (Priyanto, 2009). Persepsi
akan sangat mempengaruhi jalannya komunikasi karena proses komunikasi harus
ada persepsi dan pengertian yang sama tentang pesan yang disampaikan dan
4. Latar Belakang
Bahasa dan gaya bahasa akan sangat dipengaruhi oleh faktor budaya.
Budaya akan membatasi seseorang bertindak atau berkomunikasi (Priyanto,
2009). Faktor ini memang sedikit pengaruhnya namun peling tidak dapat
dijadikan pegangan dalam bertutur kata, bersikap dan melangkah dalam
berkomunikasi (Mundakir, 2006).
5. Emosi
Emosi adalah subjektif seseorang dalam merasakan situasi yang terjadi
disekelilingnya. Kekuatan emosi seseorang dipengaruhi oleh bagaimana
kemampuan atau kesanggupan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain
(Mundakir, 2006). Emosi seperti marah, sedih, dan senang akan dapat
mempengaruhi seseorang dalam berkomunikasi dengan orang lain (Priyanto,
2009).
6. Jenis Kelamin
Setiap jenis kelamin baik wanita maupun pria mempunyai gaya
komunikasi yang berbeda-beda. Disebutkan bahwa wanita dan laki-laki
mempunyai perbedaan gaya dalam berkomunikasi (Priyanto, 2009).
7. Pengetahuan
Tingkat pengetahuan akan mempengaruhi komunikasi yang dilakukan.
Seseorang yang tingkat pengetahuannya rendah akan sulit merespon pertanyaan
yang mengandung bahasa verbal dengan tingkat pengetahuan yang lebih tinggi
8. Peran dan Hubungan
Peran seseorang mempengaruhi dalam menjalin hubungan dengan orang
lain. Komunikasi akan berlangsung terbuka, rileks dan nyaman bila dilakukan
dengan kelompok yang mempunyai peran sama (Mundakir, 2006).
9. Lingkungan
Lingkungan interaksi akan mempengaruhi komunikasi yang efektif.
Suasana yang bising dan tidak adanya privasi akan menimbulkan kerancuan,
ketegangan, dan ketidaknyamanan (Priyanto, 2009). Banyak orang bersedia
melayani komunikasi dalam lingkungan yang nyaman. Lingkungan yang kacau
akan dapat merusak pesan yang dikirim oleh kedua belah pihak (Mundakir, 2006).
10.Jarak
Jarak dapat mempengaruhi komunikasi. Jarak tertentu dapat menimbulkan
rasa aman. Seperti misalnya orang akan merasa terancam bila orang yang tidak
dikenal tiba-tiba berada pada jarak yang sangat dekat dengan dirinya (Priyanto,
2009).
2.5 Tujuan Komunikasi
Dalam buku saku komunikasi keperawatan (2009) dijelaskan bahwa tujuan
komunikasi adalah sebagai berikut :
1. Supaya yang disampaikan dapat mengerti
2. Memahami orang lain, komunikator harus mengerti aspirasi orang lain, jangan
memaksakan kehendak
3. Supaya gagasan dapat diterima orang lain, melalui pendekatan persuasif bukan
4. Menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu, kegiatan yang banyak
mendorong dengan cara yang baik
2.6 Proses Komunikasi
Proses komunikasi adalah bagaimana komunikator menyampaikan pesan
kepada komunikannya, sehingga dapat menciptakan suatu persamaan makna
antara komunikan dengan komunikatornya. Proses komunikasi ini bertujuan untuk
menciptakan komunikasi yang efektif atau sesuai dengan tujuan komunikasi pada
umumnya (Nurhasanah, 2010).
Gambar 1.1 Proses Komunikasi
Komunikasi terjadi bila ada sumber informasi yang merupakan bahan atau
materi yang akan disampaikan oleh komunikator. Sebelum informasi disampaikan
komunikator perlu melakukan penyandian (encoding) untuk mengubah ide dalam
otak ke dalam suatu sandi yang cocok dengan transmitter. Contoh dari bentuk
penyandian ini adalah kata-kata dalam komunikasi non verbal, anggukan kepala,
sentuhan, kontak mata dan sebagainya. Setelah pesan disandikan kemudian
saluran atau media. Ketepatan komunikan dalam menafsirkan pesan (decoding)
dipengaruhi oleh banyak hal misalnya pengetahuan, pengalaman, fungsi alat indra
yang digunakan dan sebagainya. Komunikasi berlangsung efektif bila terjadi feed
back yang baik antara penerima pesan dengan pembawa pesan sebelum terjadinya
perubahan atau efek sebagai dampak dari komunikasi (Mundakir, 2006)
2.7 Hambatan Komunikasi
Menurut Mundakir (2006) secara umum hambatan yang terjadi selama
komunikasi yaitu:
1. Kurangnya penggunaan sumber komunikasi yang tepat
2. Kurangnya perencanaan dalam berkomunikasi
3. Penampilan, sikap, dan kecakapan yang kurang tepat selama berkomunikasi
4. Kurangnya pengetahuan
5. Perbedaan persepsi
6. Perbedaan harapan
7. Kondisi fisik dan mental yang kurang baik
8. Pesan yang tidak jelas
9. Prasangka yang buruk
10.Transmisi/ media yang kurang baik
11.Perbedaan status, pengetahuan, dan bahasa
12.Distorsi (kesalahan informasi)
Sedangkan menurut Nurhasanah (2010) membagikan hambatan
komunikasi menjadi lima jenis sebagai berikut :
2. Biologis, yaitu hambatan karena ketidaksempurnaan anggota tubuh
3. Intelektual, yaitu hambatan yang berhubungan dengan kemampuan
pengetahuan
4. Psikis, yaitu hambatan yang menyangkut faktor kejiwaan, emosional, tidak
saling percaya, dan penilaian menghakimi.
5. Kultural, yaitu hambatan yang berkaitan dengan nilai budaya dan bahasa
2.8 Gangguan Komunikasi pada Pasien Stroke
Komunikasi terdiri atas komponen dua arah, yaitu :
1. Menyatakan perasaan (kemampuan berbicara, gerak isyarat, ekspresi wajah,
tulisan, hitungan, penanganan matematika)
2. Menerima (dapat mengerti gerak isyarat orang lain, mengerti apa yang orang
lain katakan kepada kita, dapat memahami bacaan pada saat membaca, dapat
menerima konsep waktu sebuah jam)
Kebayakan para penderita stroke yang dapat bertahan mengalami
kesulitan-kesulitan pada satu atau lebih bagian dari keduanya, baik komunikasi
yang menyatakan perasaan atau yang menerima. Penurunan kemampuan ini dapat
beragam dari yang paling ringan sampai yang paling berat.
Penderita stroke banyak yang mengalami gangguan komunikasi mulai dari
pemahaman bahasa, berbicara, membaca dan menulis, sampai menggunakan
simbol dan isyarat dalam berkomunikasi. Menurut catatan, 90 persen masalah
komunikasi terjadi pada penderita yang mengalami kerusakan otak kirinya,
Tiga jenis gangguan komunikasi yang umum dialami menurut Djohan
(2006), yaitu :
1. Aphasia berupa lemahnya kemampuan menggunakan bahasa akibat kerusakan
otak. Pada receptive aphasia terjadi ketidakmampuan untuk mengolah, dan
menginterpretasikan simbol-simbol bahasa, sedangkan pada expressive
aphasia klien tidak dapat memformulasikan pikirannya dalam kata-kata.
2. Dysarthria berupa gangguan bicara karena rusaknya sistem saraf yang
mengontrol mekanisme produksi bicara termasuk struktur bernafas, meneguk,
menyuarakan, dan menggerakkan lidah, bibir, rahang, dan langit-langit mulut
yang berguna untuk artikulasi dan resonansi. Penderita hanya berbicara secara
monoton dan sengau karena kesulitan koordinasi nafas dan bicara.
3. Apraxia adalah gangguan merencanakan dan memposisikan urutan kata secara
tepat karena adanya gangguan pada otot bicara yang berkaitan dengan
artikulasi kata-kata. Rangkaian suara bahasa yang disampaikan terganggu.
Klien berusaha mengucapkan suatu rangkaian kata tetapi yang dihasilkan
kacau.
Kerusakan otak kiri dapat mempengaruhi pusat berbicara dan komunikasi,
pasien akan mengalami afasia (ketidakmampuan berkomunikasi secara verbal)
dan jika otak kanan maka dapat mempengaruhi proses berfikir, memori,
perhitungan tertulis dan kemampuan untuk menyatakan waktu (Hegner &
Caldwell, 2003).
Menurut Mulyatsih & Ahmad (2010) secara umum afasia terbagi atas tiga,
1. Afasia motorik
Ketidakmampuan pasien mengungkapkan atau mengekspresikan kata-kata,
tetapi mampu memahami apa yang dikatakan orang lain kepadanya.
2. Afasia sensorik
Pasien tidak mampu memahami pembicaraan orang lain meskipun
pendengarannya baik, tetapi pasien dapat mengeluarkan kata-kata. Akibatnya
pasien afasia sensorik terlihat tidak nyambung kalau diajak berbicara, oleh
karena otak tidak mampu menginterpretasikan pembicaraan oranglain
meskipun fungsi pendengaran baik.
3. Afasia global
Pasien mengalami kerusakan otak luas dan menyerang pusat ekspresi dan
pusat pengertian bicara di otak kiri sehingga pasien tidak mampu memahami
pembicaraan orang lain dan tidak mampu menggungkapkan kata-kata secara
verbal.
Dengan demikian, afasia adalah gangguan kemampuan berbahasa. Tidak
ada dua orang penderita afasia yang persis sama. Afasia berbeda dari satu orang
dengan yang lain. tingkat keparahan dan luasnya cakupan afaia tergantung dari
lokasi dan kepaarahan cedera otak, kemampuan berbahsa sebelum afasia, dan
keparahan cedera otak, kemampuan berbahasa sebelum afasia, dan kepribadian
seseorang.
Menurut Kusumoputro & Sidiarto (2009), masalah lain yang mungkin
1. Kelumpuhan separuh tubuh, dapat setengah lumpuh atau lumpuh total dan
biasanya sebelah kanan.
2. Pasien tidak dapat mengucapkan kata-kata dengan baik karena ada gangguan
gerakan otot bibir dan lidahnya. Ia tahu akan kesalahan yang diperbuatnya,
akan tetapi tidak sanggup memperbaikinya.
3. Bicaranya menjadi lambat dan sulit karena otot mulut, lidah dan tenggorokan
kurang berfungsi dengan baik. Selain itu, keadaan ini sering menimbulkan
kesukaran untuk mengunyah dan menelan.
4. Beberapa pasien dapat mengalami penciutan lapangan pandang sehingga
kurang dapat melihat satu sisi. Biasanya kalau ada kelumpuhan tubuh sisi kiri,
maka lapangan pandang sisi kiri juga kurang dapt dilihatnya.
5. Pasien afasia dapat menunjukkan gejala selalu mengucapkan kata atau kalimat
yang sama. Ia tidak dapat melepas kata atau kalimat tersebut, seolah-olah
melekat padanya.
6. Dapat pula terjadi pasien tidak dapat membaca jam dan tidak mengetahui
waktu.
7. Pasien afasia sukar berkonsentrasi dan mudah teralih perhatiannya serta
mengalami kesulitan dalam berhitung.
8. Pasien afasia dapat pula cepat marah, mudah tersinggung dan murung,
terutama pada awal penyakitnya.
Beberapa penderita afasia dapat mengerti bahasa dengan baaik, tetapi
mengalami kesulitan untuk mendapatkan kata-kata yang tepat atau membuat
diucapkan susah atau tidak dapat dimengerti oleh lawan bicaranya. Penderita
seperti ini sering mengalami masalah besar dalam memahami bahasa. Perlu
iningat seseorang yang menderita afasia secara umum memiliki kapasitas
intelektual yang penuh (Association Internatianate Aphasie, 2011)
2.9 Berkomunikasi dengan Pasien Stroke
Hal yang harus dipahami keluarga adalah pasien stroke tetap
membutuhkan kesempatan untuk mendengar pembicaraan orang lain secara
normal. Bila keluarga mengabaikan pasien stroke yang mengalami gangguan
berkomunikasi, misalnya mendiamkan atau menganggap seolah-olah pasien tidak
memahami pembicaraan, maka pasien akan merasa frustasi dan sakit hati.
Menurut Mulyatsih & Ahmad (2010) cara berkomunikasi dengan pasien
afasia, yaitu :
1. Usahakan agar wajah kita menghadap lurus kearah pasien. Hal ini akan
membantu pasien untuk melihat bibir dan ekspresi wajah kita.
2. Usahakan menggunakan kalimat yang pendek dan berikan penekanan pada
kata yang penting. Jika memungkinkan gunakan ekspresi wajah, gerakan
tubuh dan irama suara sehingga pasien dapat memahami perkataan kita. Bila
pasien tidak mengerti perkataan kita, usahakan untuk mengucapkan dengan
kalimat yang artinya sama.
3. Anjurkan dan berikan kesempatan kepada pasien untuk berkomunikasi secara
total, yaitu dengan mempergunakan ekspresi wajah dan gerakan tubuh. Jangan
4. Agar memahami pembicaraan pasien, sebaiknya kita mendengarkan secara
cermat dan memperhatikan kata-kata kunci, selanjutnya mengira-ngira apa
yang ingin pasien katakan. Jangan gusar bila tebakan kita salah, minta maaf
dan anjurkan pasien untuk mengulang kata-katannya.
5. Untuk membantu pasien memahami pembicaraan orang lain, usahakan
berbicara perlahan, tenang, intonasi suara normal dan jangan berteriak.
Gunakan bahasa orang dewasa, kalimat pendek dan berikan rangsangan visual
jika memungkinkan.
Seringkali pasien stroke dengan afasia, khususnya afasia motorik merasa
frustasi karena tidak mampu mengungkapkan apa yang diinginkannya, sehingga
pasien marah atau bahkan mengamuk. Salah satu upaya yang dapat dilakukan
untuk mengatasinya yaitu dengan menggunakan papan komunikasi yang berisi
gambar atau simbol aktifitas kegiatan harian pasien. Papan komunikasi bukan
digunakan untuk melatih tetapi sebagai media komunikasi untuk mengantisipasi
keinginan pasien yang sulit dimengerti sehingga pasien tidak frustasi. Untuk
mempercepat pemulihan, pasien stroke dengan afasia dianjurkan untuk berlatih
dengan terapis wicara secara teratur minimal 2 kali seminggu (Mulyatsih, 2008).
Dreher (1981 dalam Bastable, 2002) memberikan saran-saran untuk
meningkatkan komunikasi dengan penderita disartria sebagai berikut:
1. Pastikan bahwa lingkungan sekitar tenang karena harus mendengarkan orang
yang otot bicaranya lemah dan tidak terkoordinasi. Pendengar yang cermat
2. Minta pembicara untuk mengulang bagian pesan yang tidak jelas. Konsentrasi
dan niat hati akan meningkatkan kejelasan.
3. Jangan sederhanakan pesan. Disartria tidak mempengaruhi pemahaman.
4. Ajukan pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban pendek, agar penderita
tidak lelah karena berusaha keras menghasilkan bunyi.
5. Dorong penderita agar mau lebih banyak menggunakan gerakan oral untuk
menghasilkan setiap suku kata, memperlambat cara bicaranya, dan berbicara
lebih keras.
6. Minta pasien yang sangat sulit berkomunikasi untuk menggunakan bahasa
tubuh, menulis, atau menuding pesan pada papan komunikasi.
Anggota keluarga akan sangat membantu bila mereka bisa
mengidentifikasi cara terbaik memotivasi pasien. Mereka juga dapat mengadopsi
bagaimana cara berkomunikasi dengan isyarat. Komunikasi yang intens dan dekat,
meski dengan isyarat, bisa mempercepat kesembuhan. Keluarga bisa memulainya
dengan mengetahui masalah emosi, fisik, dan medis yang dialami pasien.
3. Riset Fenomenologi
Fenomenologi adalah suatu pendekatan dalam mempelajari makna dari
pengalaman manusia menjalani suatu fase dalam kehidupannya. Tujan penelitian
fenomenologi adalah memahami makna dari pengalaman kehidupan yang dialami
oleh partisipan dan menjelaskan perspektif filosopi yang mendasari fenomena
tersebut (Dharma, 2013).
Fokus utama fenomenologi adalah pengalaman nyata. Dalam pandangan
terhadap orang-orang biasa dalam situasi tertentu. Hal yang disajikan adalah
deskripsi mengenai bagaimana pengalaman orang lain dan apa maknanya bagi
mereka (Saryono & Anggraeni, 2013).
Dalam studi fenomenologi, jumlah partisipan yang terlibat tidaklah banyak.
Jumlah partisipan lebih kurang 10 orang. Terdapat dua macam penelitian
fenomenologi yaitu fenomenologi deskriptif dan fenomenologi interpretif.
Fenomenologi deskriptif berfokus pada penyelidikan fenomena, kemudian
pengalaman yang seperti apakah yang terlihat dalam fenomena. Sementara itu,
bagaimana mereka menafsirkan pengalaman tersebut disebut fenomenologi
interpretif (Polit & Beck, 2012).
Hasil penelitian dalam studi fenomenologi diperoleh melalui proses analisis
data. Fenomenologist dalam proses analisis data untuk fenomenologi deskriptif
adalah Colaizzi (1978), Giorgi (1985), dan Van Kaam (1989). Ketiga tokoh
tersebut berpedoman pada filosofi Husserl yang mana fokus utamanya adalah
mengetahui gambaran sebuah fenomena (Polit & Beck, 2012).
Menurut Lincoln & Guba (1985 dalam Polit & Beck, 2012) untuk
memperoleh hasil penelitian fenomenologi yang dapat dipercaya maka data
divalidasi dengan beberapa kriteria yaitu,
1. Credibility merupakan kriteria untuk memenuhi nilai kebenaran dari data
dan informasi yang dikumpulkan, artinya hasil penelitian harus dapat
dipercaya oleh semua pembaca secara kritis dan dari responden sebagai
informan. Cara memperoleh tingkat kepercayaan hasil penelitian yaitu
yang terus menerus (persistent observation), triangulasi (triangulation),
diskusi dengan teman sejawat (peer debriefing), mengadakan pengecekan
anggota (member checking), analisis kasus negatif (negative case
analysis), dan pengecekan atas kecukupan referensial (referencial
adequacy checks).
2. Transferbility yaitu apakah hasil penelitian dapat diterapkan pada situasi
yang lain. Kriteria ini digunakan untuk memenuhi kriteria bahwa hasil
penelitian yang dilakukan dalam komteks (setting) tertentu dapat ditransfer
ke subjek lain yang memiliki tipologi yang sama.
3. Dependability yaitu kriteria untuk menilai apakah proses penelitian
kualitatif bermutu atau tidak, dengan mengecek apakah peneliti sudah
cukup hati-hati, apakah membuat kesalahan dalam
mengkonseptualisasikan rencana penelitiannya, pengumpulan data, dan
pengintepretasiannya. Teknik terbaik yang digunakan adalah dependability
audit dengan meminta dependent dan independent auditor untuk mereview
aktifitas peneliti.
4. Confirmability yaitu dilakukan dengan membicarakan hasil penelitian
dengan orang yang tidak ikut dan tidak berkepentingan dalam penelitian
dengan tujuan agar hasil dapat lebih objektif. Konfirmabilitas merupakan
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
1. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
fenomenologi. Desain fenomenologi dipilih agar dapat dieksplorasi lebih
mendalam pengalaman keluarga dalam berkomunikasi dengan pasien stroke di
RSUD Dr. Pirngadi Medan. Pendekatan fenomenologi adalah suatu ilmu yang
memiliki tujuan untuk mejelaskan fenomena dalam bentuk pengalaman hidup.
Penggunaan desain penelitian dengan pendekatan fenomenologi bertujuan untuk
memperoleh data yang lebih komprehensif, mendalam, kredibel, dan bermakna
(Saryono & Anggraeni, 2013).
Bogdan dan Taylor (1975 dalam Moleong, 2012) menjelaskan metode
kualitatif merupakan sebuah prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang maupun
perilaku yang dapat diamati. Sejalan dengan definisi tersebut, Kirk dan Miller
(1986 dalam Moleong, 2012) mendefinisikan metode kualitatif adalah tradisi
tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung dari
pengamatan pada manusia baik dalam kawasannya maupun dalam
peristilahannya.
2. Partisipan
Jumlah partisipan dalam penelitian ini adalah 8 orang (Polit, Beck &
dan kecukupan informasi sampai mencapai saturasi data, yaitu peneliti tidak lagi
memperoleh informasi baru dari partisipan.
Pemilihan partisipan dalam penelitian ini menggunakan metode purposive
sampling, yaitu metode pemilihan partisipan dalam suatu penelitian dengan
menentukan terlebih dahulu kriteria yang dimasukkan dalam penelitian, dimana
partisipan yang diambil dapat memberikan informasi yang berharga bagi
penelitian (Saryono & Anggraeni, 2013).
Adapun kriteria partisipan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Keluarga (ayah/ibu, suami/istri, abang/kakak, dan anak) dari pasien stroke
yang mengalami gangguan komunikasi.
2. Merawat pasien selama di rumah sakit.
3. Bersedia menjadi partisipan yang dinyatakan secara verbal atau dengan
menandatangani surat pernyataan persetujuan penelitian.
4. Mampu menceritakan pengalamannya sehingga diperoleh informasi yang
lebih kaya (rich information).
3. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSUD Dr. Pirngadi Medan dengan
pertimbangan, yang pertama adalah pengurangan biaya dalam penelitian karena
merupakan rumah sakit terdekat dari rumah peneliti dan yang kedua adalah
3.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan dari September 2014 sampai Juli 2015, yaitu
mulai penyusunan proposal sampai dengan selesai penelitian, sedangkan untuk
pengumpulan data dilakukan pada Maret 2015 sampai April 2015.
4. Pertimbangan Etik
Dalam penelitian ini dilakukan pertimbangan etik, yaitu memberikan
penjelasan kepada calon partisipan penelitian tentang tujuan dan prosedur
pelaksanaan penelitian. Pengambilan data dilakukan setelah peneliti mendapatkan
ethical clearence dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara. Setelah mendapatkan izin, selanjutnya peneliti
mencari partisipan yang sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.
Selanjutnya, jika calon partisipan setuju menjadi partisipan dalam
penelitian ini maka peneliti memberikan informed consent untuk ditandatangani.
Peneliti tidak memaksa jika partisipan tidak setuju karena dalam penelitian ini
partisipan bersifat sukarela dan tidak dipaksa.
Untuk menjaga kerahasiaan identitas partisipan maka peneliti tidak
mencantumkan nama dari partisipan (anonymity). Nama partisipan dibuat dengan
inisial. Selanjutnya identitas partisipan juga dirahasiakan (confidentiality), hanya
informasi yang diperlukan yang akan dituliskan dan dicantumkan dalam
penelitian.
Peneliti juga meminimalisasi dampak yang merugikan bagi partisipan
(nonmaleficence), yaitu ketidaknyamanan yang mungkin terjadi selama proses
hak partisipan terkait dengan kebebasan memilih waktu dan tempat, bebas untuk
berhenti sewaktu-waktu apabila ada urusan, untuk kemudian dilanjutkan lagi
wawancara sesuai kesepakatan.
5. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terbagi dua bagian.
Instrumen pertama merupakan Kuesioner Data Demografi (KDD) yang berisikan
data umum partisipan (inisial, usia, jenis kelamin, agama, suku, pendidikan
terakhir dan pekerjaan) dan hubungan partisipan dengan pasien (lihat lampiran 3).
Instrumen kedua merupakan panduan wawancara yang berisikan empat
butir pertanyaan, yaitu cara berkomunikasi dengan pasien, kendala dan hambatan
dalam berkomunikasi, cara mengatasi kendala dan hambatan, dan usaha yang
dilakukan untuk membantu klien dapat berbicara (lihat lampiran 4). Panduan
wawancara telah divalidasi terlebih dahulu sebelum digunakan dalam penelitian
ini.
6. Pengumpulan Data
Setelah mendapat izin dari bagian pendidikan Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara dan memperoleh ethical clearance dari Komisi Etik
Penelitian Kesehatan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara,
selanjutnya peneliti meminta izin kepada direktur RSUD Dr. Pirngadi Medan
untuk memperoleh data calon partisipan melalui rekam medik.
Selanjutnya peneliti melakukan pilot study. Pilot study adalah suatu cara
untuk melakukan studi awal dalam skala kecil atau suatu tes yang digunakan
study dilakukan untuk menguji apakah peneliti sebagai instrumen sudah cukup
baik dalam melakukan wawancara dan melakukan analisa data kualitatif.
Sebelum dilakukan wawancara mendalam, peneliti melakukan pendekatan
kepada partisipan dengan pertemuan 1-2 kali untuk meningkatkan hubungan
saling percaya antara peneliti dan partisipan dengan cara peneliti memperkenalkan
diri, menjelaskan maksud, tujuan dan pengumpulan data yang dilakukan terhadap
partisipan. Jika partisipan bersedia untuk menjadi partisipan dalam penelitian ini,
maka partisipan menandatangani informed consent dan mengisi kuesioner data
demografi.
Selanjutnya penelit melakukan wawancara mendalam (in-depth interview),
yaitu salah satu cara pengumpulan data melalui percakapan dan proses tanya
jawab antara peneliti dengan partisipan yang bertujuan untuk memperoleh
pengetahuan tentang makna-makna subjektifitas yang dipahami oleh individu
(Poerwandari (1998) dalam Saryono & Anggraeni, 2013).
Wawancara mendalam (in-deph interview) dilakukan sekitar 45 menit
selama satu kali pertemuan. Peneliti menggunakan panduan wawancara yang telah
divalidasi untuk memandu peneliti dalam pengumpulan informasi. Peneliti juga
menggunakan alat perekam suara (tape recorder) untuk merekam wawancara dan
catatan lapangan (field note) untuk mencatat bahasa non verbal partisipan selama
wawancara.
Kemudian peneliti membuat transkrip hasil wawancara setiap kali selesai
dilakukannya wawancara dengan partisipan dan jika ada hal-hal yang kurang jelas
dalam arti bahwa dengan dilakukan wawancara dengan partisipan lain tidak akan
ditemukan informasi yang baru (Sugiono, 2010).
7. Analisa Data
Analisa data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data
yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan
cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit,
melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan
yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh
diri sendiri dan orang lain (Sugiyono, 2010).
Teknik analisa data dalam penelitian kualitatif didasarkan pada pendekatan
yang digunakan. Analisa data dilakukan sepanjang penelitian dan dilakukan
secara terus menerus dari awal sampai akhir penelitian (Saryono & Anggraeni,
2013).
Dalam menganalisis data penelitian, peneliti menggunakan metode
Colaizzi. Proses analisa data menurut Colaizzi (1978 dalam Polit & Beck, 2012)
yaitu: (1) membaca semua transkrip wawancara untuk mendapatkan perasaan dari
partisipan, (2) meninjau setiap transkrip dan menarik kesimpulan dari setiap
pernyataan yang signifikan, (3) menguraikan arti dari pernyataan yang signifikan,
(4) mengelompokkan makna-makna tersebut kedalam kelompok-kelompok tema,
(5) mengintegrasikan hasil kedalam bentuk deskriptif, (6) membuat deskripsi
lengkap dari fenomena yang diteliti sebagai identifikasi pernyataan setegas
mungkin, (7) memvalidasi apa yang telah ditemukan kepada partisipan sebagai
8. Tingkat Keabsahan Data (Thrusthworhiness of Data)
Lincoln dan Guba (1985 dalam Polit & Beck, 2012) menyatakan bahwa
penelitian kualitatif termasuk fenomenologi perlu ditingkatkan kualitas dan
integritas dalam proses penelitian melalui tingkat keabsahan data
(thrusthworhiness of data). Tingkat keabsahan data yang dilakukan pada
penelitian ini yaitu, credibility dengan teknik prolonged engagement. Prolonged
engagement yang dilakukan peneliti adalah mengadakan pertemuan dengan
partisipan sebelum dilakukannya penelitian untuk menjalin hubungan yang baik
yaitu dengan cara memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan penelitian.
Dengan demikian peneliti dan partisipan semakin akrab, terbuka, dan saling
mempercayai sehinga informasi yang diperoleh lebih lengkap.
Cara lain yang dilakukan untuk memperoleh tingkat kepercayaan hasil
penelitian ini antara lain: 1) mencatat hal-hal penting serinci mungkin mencakup
catatan pengamatan obyektif terhadap setting, partisipan maupun hal lain yang
terkait; 2) mendokumentasikan secara lengkap dan rapi data yang terkumpul,
proses pengumpulan data maupun strategi analisisnya; 3) menyertakan pihak yang
dapat memberikan kritik dan saran yang memberi pertanyaan kritis terhadap
peneliti yaitu pembimbing peneliti; dan 4) melakukan pengecekan data kembali
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Penelitian
Bagian ini menjelaskan tentang hasil penelitian yang telah dilakukan.
Bagian ini terdiri dari dua bagian, bagian pertama menceritakan secara singkat
gambaran kerakteristik partisipan yang ikut dalam penelitian ini. Bagian kedua
adalah analisis dari masing-masing tema yang muncul dari pengalaman keluarga
dalam berkomunikasi dengan pasien stroke.
1.1 Karakteristik Partisipan
Partisipan dalam penelitian ini adalah anggota keluarga dari pasien stroke
yang mengalami gangguan dalam berkomunikasi. Jumlah partisipan 8 orang.
Hasil penelitian berdasarkan karakteristik partisipan yang akan dipaparkan
mencakup usia, jenis kelamin, agama, suku, pendidikan terakhir, pekerjaan, dan
hubungan dengan pasien. Dari data yang diperoleh (tabel 4.1.1) menunjukkan
mayoritas partisipan berjenis kelamin perempuan 5 orang (62,5%), usia partisipan
24-35 tahun 3 orang (37,5%) dan 48-59 tahun 3 orang (37,5%), agama Islam 6
orang (75%), suku mandailing 3 orang (37,5%), pendidikan terakhir SMA 3 orang
(37,5%) dan Sarjana 3 orang (37,5%), pekerjaan wiraswasta 5 orang (62,5%), dan
Tabel 1.1
Karakteristik Partisipan
Data Demografi Partisipan Frekuensi Persentase (%)
1.2 Pengalaman keluarga dalam berkomunikasi dengan pasien stroke di RSUD Dr. Pirngadi Medan
Berdasarkan hasil analisis ditemukan 4 tema yaitu: (1) Cara keluarga
berkomunikasi dengan klien, (2) Hambatan saat berkomunikasi dengan klien, (3)
dengan klien, (4) Perasaan keluarga saat berkomunikasi dengan klien. Tema-tema
ini dibahas secara terperinci untuk memaknai pengalaman keluarga dalam
berkomunikasi dengan pasien stroke di RSUD Dr. Pirngadi Medan.
1. Cara berkomunikasi dengan klien
Hasil wawancara yang dilakukan terhadap delapan partisipan didapatkan
ada dua jenis cara komunikasi yang dilakukan, yaitu berkomunikasi secara lisan
dan menggunakan gerakan tubuh.
a. Berkomunikasi secara lisan
Sebanyak dua dari delapan partisipan menyatakan bahwa cara
berkomunikasi yang dilakukan adalah secara lisan. Hal ini tergambar dari kategori
yaitu tidak menuliskan kata yang diucapkan kepada klien. Hal ini dapat dilihat
dari pernyataan partisipan berikut ini:
“Yah nggak ada. Ngomong ya ngomong aja kayak biasa...”
(Partisipan 2)
“Kalau saya ngomong biasa aja paling bapaklah yang menjawabnya pake isyarat. Kalau nulis kan dia juga sulit, kasian juga..”
(Partisipan 8)
b. Menggunakan gerakan tubuh
Hasil wawancara yang dilakukan terhadap delapan partisipan, gerakan
tubuh verbal yang digunakan terdiri atas dua kategori yaitu memberikan sentuhan
Seorang dari delapan partisipan mengatakan cara berkomunikasi yang
dilakukan yaitu dengan cara memberikan sentuhan. Hal ini dapat dilihat dari
pernyataan berikut :
“Kalau pegang tangannya selalu, cium tangannya, cium kaki..”
(Partisipan 2)
Dua dari delapan partisipan mengungkapkan cara berkomunikasi yang
dilakukan yaitu mendekat saat berkomunikasi dengan klien. Hal ini dapat dilihat
dari pertanyaan berikut ini :
“Yah cara berkomunikasi, kita berbicara dekatkan ke telinga lah..”
(Partisipan 4)
“Saya pun gak pernah jauh dari dia. Jadi dia pun bisa dengarkan saya..” (Partisipan 5)
2. Hambatan saat berkomunikasi dengan klien
Hasil wawancara yang dilakukan dengan delapan partisipan terdapat tiga
hambatan dalam berkomunikasi. Hambatan tersebut tidak hanya berasal dari
keluarga tetapi juga faktor dari klien. Hambatan tersebut yaitu kurangnya
pengetahuan tentang berkomunikasi dengan klien, gangguan fisik yang dialami
klien, dan gangguan psikis yang dialami klien.
a. Kurangnya pengetahuan tentang berkomunikasi dengan klien
Dari pernyataan partisipan, terdapat tiga kategori untuk kurangnya
pengetahuan tentang berkomunikasi dengan klien yaitu tidak mengerti dengan
ucapan klien, salah mengartikan maksud klien, dan mengalami kesulitan saat
Empat partisipan mengatakan tidak mengerti dengan ucapan klien. Hal ini
dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut:
“Tapi yah ada juga yang saya gak ngerti maksudnya, sewaktu dia cuma bisa ngasih kode. Ntah apa lah. Terakhir “eeehh” “eeeehh” jadi bingung juga kita..”
(Partisipan 3)
“Kadang ngerti kadang nggak lah..”
(Partisipan 4)
“Kalau bapak ini ngomongnya kadang saya nggak ngerti. Anak-anak pun gak ngerti juga.”
(Partisipan 6)
“Adalah. Itu tadi “eh..” katanya, ntah apa maksudnya. Ntah mau berak dia, gak tahu lah.”
(Partisipan 7)
Empat dari delapan partisipan mengatakan hambatan yang dialami yaitu
salah mengartikan maksud klien. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan berikut :
“Pernah jugalah. Minta koran kemaren itu. “kola..kola..” katanya saya pikir minta kolak, saya beli kolak ternyata nyuruh beli koran.”
(Partisipan 6)
“Tapi pernahlah macam ada yang mau dibilangnya, “ehh..ehh..” katanya sambil dipegangnya itu bahunya. Terus saya bilang, yang mana sakit bang? “eh..eh..” katanya lagi. Ternyata ada bedak di punggungnya, lupa saya ambil..”
Seorang partisipan mengungkapkan bahwa mengalami kesulitan saat
berkomunikasi dengan klien. Pernyataan ini sesuai dengan ungkapan:
“Kalau kesulitan yah pasti ada dek, soalnya kan gak bisa berbicara, setelah pindah ke ruang inap bicaranya baru satu-satu bisa diucapkan..”
(Partisipan 1)
b. Gangguan fisik yang dialami klien
Dari hasil wawancara yang dilakukan terhadap delapan partisipan, terdapat
empat kategori yaitu klien sulit mengucapkan kata-kata, klien tidak bisa menulis,
klien tidak bisa membaca, dan klien merasa sakit saat berkomunikasi.
Dari hasil wawancara terhadap delapan partisipan, ada delapan partisipan
mengatakan bahwa yang menjadi hambatan saat berkomunikasi yaitu klien sulit
mengucapkan kata-kata. Hal ini dapat dilihat dari beberapa pernyataan partisipan
sebagai berikut :
“Mamak ini kalau mau bilang nabil susah kali. Awaknya mikir-mikir terus apalah yang mau dibilang mamak ini. Terus saya bilang nabil mak?”
(Partisipan 1)
“Cuma bisa bilang “eehh..ehh..” gak ada kata yang keluar cuma suara aja lah yang keluar..”
(Partisipan 3)
“Dia macam mau bilang apa tapi ntah apa. Makanya saya suruh tulis, mau apa. Soalnya kita kan gak ngerti maksudnya..”
(Partisipan 5)
“Kalau kita ajarin ngomong, dia bisa cuma gak jelas. Cuma bisa bilang “iya”, “aa” itu lah jelas. Kebanyakan cuma bisa bilang “eee”..”
Tiga partisipan mengatakan bahwa klien tidak bisa menulis sehinggga
menjadi hambatan bagi keluarga untuk dapat mengerti ucapan klien. Hal ini dapat
dilihat dari beberapa penyataan partisipan berikut :
“Gak mau nulis dia. Udah saya kasih pulpen sama buku..”
(Partisipan 5)
“Tapi mau nulis gak bisa lemas, sekarang pun masih lemas juga tangannya. Itulah saya bilang, bang kalau warga minta tanda tangan abang gimana. Dia minta lah pulpen mau nulis, tapi tetap nggak bisa.”
(Partisipan 6)
Seorang partisipan mengatakan bahwa klien tidak dapat membaca.
Pernyataan ini sesuai dengan ungkapan :
“Nggak. Sewaktu sakit itu nggak bisa lah. Apalagi mau nulis nggak bisa. Cuma hanya bahasa isyarat-isyarat ajalah..”
(Partisipan 3)
Seorang partisipan mengungkapkan bahwa klien merasa sakit saat
berkomunikasi. Adapun pernyataan tersebut diungkapkan sebagai berikut :
“Kadang dia bilang pedih kalau kebanyakan ngomong.”
(Partisipan 2)
c. Gangguan psikis yang dialami klien
Hasil wawancara terhadap delapan partisipan, terdapat dua kategori
gambaran gangguan psikis yang dialami klien yaitu klien mudah marah dan klien
mudah menangis. Gangguan psikis yang dialami klien menjadi hambatan saat
keluarga berkomunikasi dengan klien. Hal ini dapat dilihat dari beberapa
“Tapi dia tuh bawaannya emosi aja “ehh..ehh..” keg gitu lah cemana lah mau dibilang macam mau marah gitu. Cuma karena sejak sakit ini lah gampang marah dia padahal waktu sehat dulu dia jarang kali marah..”
(Partisipan 3)
“Tapi pernah juga gitu kan, tanpa sebab keluar air matanya. Gak tahu juga lah kenapa.”
(Partisipan 3)
“Orang stroke ini sensitif perasaannya, cengeng. Nanti tiba-tiba mau nangis…Misalnya pernah juga kan tiba-tiba aja dia nangis, kita tanya karena ini itu. Nggak juga. Jadi apa gitu yakan, gak ngerti kita. Dia tetap aja nangis doang..”
(Partisipan 8)
3. Usaha yang dilakukan keluarga untuk mengatasi hambatan saat berkomunikasi dengan klien
Hasil wawancara yang dilakukan terhadap delapan partisipan, didapatkan
usaha yang dilakukan keluarga untuk mengatasi hambatan berkomunikasi dengan
klien yaitu meminta klien untuk menunjuk, meminta klien menggunakan bahasa
verbal, dan sering berkomunikasi dengan klien.
a. Meminta klien untuk menunjuk
Dari hasil wawancara yang dilakukan terhadap delapan partisipan, lima
partisipan mengungkapkan bahwa salah satu cara untuk mengatasi hambatan yaitu
meminta klien untuk menunjuk yang tergambar dari kategori yaitu meminta klien
untuk memberitahu dengan mengarahkan kepada yang ingin diucapkan. Hal ini
dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut :
(Partisipan 1)
“Kalau saya nggak ngerti, saya tanya terus saya suruh dia tunjuk…Cuma saya tanya lah, abang mau apa? Dia liatin itu disekitar dia terus kalau dia minta sesuatu ditunjuknya lah itu. “ehh..” katanya sambil ditunjuk nya kan, jadi tahu lah apa mau nya.”
(Partisipan 6)
“Nggak ada. Sulit pun nggak. Gimana ya, kalau misalnya abang gak ngerti gitu abang ajak jalan bapak, abang tuntun dia nunjukin apa yang dia mau. Bapak ini main nunjuk aja. Kalau mau nonton gitu, ditunjuknya tv. Yah itu ajalah gak ada yang sulit juga, karena juga udah terbiasa.”
(Partisipan 8)
b. Meminta klien menggunakan bahasa verbal
Dari hasil wawancara yang dilakukan, terdapat dua kategori yang
menggambarkan cara keluarga meminta klien menggunakan bahasa verbal yaitu
meminta mengulangi ucapan yang disampaikan klien dan meminta klien untuk
berbicara pelan-pelan.
Dua partisipan mengungkapkan bahwa cara partisipan dapat mengerti
ucapan klien yaitu meminta mengulangi ucapan yang disampaikan klien. Hal ini
dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut :
“Kalau nggak ngerti maksud mamak yah, disuruh ulang.”
(Partisipan 2)
“Kadang pun saya gak ngerti maksudnya. Saya bilang apa? “uang” katanya, terus saya bilang mau uang?”
Seorang partisipan mengatakan bahwa cara untuk mengatasi hambatan
dalam berkomunikasi yaitu meminta klien untuk berbicara pelan-pelan.
Pernyataan ini sesuai dengan ungkapan :
“Jadi kalau dia mau cakap saya suruh pelan-pelan saya dengarkan. Misalnya mau bilangkan jangan lupa kunci rumah, “angan eeh..ehh.. mah unci” lama-lama saya ngerti juga apa maksudnya. Anaknya lah yang sama sekali gak ngerti apa cakapnya. Kalau saya karena saya suruh pelan-pelan cakapnya bang, jadi akhirnya saya tahu juga jadinya.”
(Partisipan 6)
c. Sering berkomunikasi dengan klien
Salah satu cara untuk mengatasi hambatan dalam berkomunikasi yaitu
sering berkomunikasi dengan klien yang tergambar dari dua kategori yang
didapatkan dari hasil wawancara yaitu sering bertemu dengan klien dan sudah
terbiasa berkomunikasi dengan klien.
Seorang dari delapan partisipan mengatakan karena sering bertemu dengan
klien sehingga partisipan dapat mengerti bahasa yang digunakan klien. Hal ini
dapat dilihat dari pernyataan partisipan berikut :
“Karena sudah setiap hari jumpa jadi ngertilah apa saja kegiatan ayah ini. Belajar dari pengalaman aja. Karena sering jumpa itu sering berkomunikasi juga jadi ngerti lah mau ayah ini. Misalnya kalau orang gak pernah jumpa sama dia, mana tahu lah dia apa seleranya. Ini ayah awak, jadi gak adalah yang sulit.”
(Partisipan 3)
Seorang partisipan mengatakan tidak merasa sulit berkomunikasi dengan
klien karena sudah terbiasa berkomunikasi dengan klien. Pernyataan ini sesuai