PERSONAL AND SITUASIONAL SCEPTISM ON AUDIT JUDGEMENTS
DISUSUN OLEH : AZKIA FIKI SANI
20130420363
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
SKEPTISISME PERSONAL DAN SKEPTISISME SITUASIONAL TERHADAP KEPUTUSAN AUDIT
PERSONAL AND SITUATIONAL SCEPTICISM ON AUDIT JUDGEMENTS
SKRIPSI
Diajukan guna memenuhi Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana pada
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Akuntansi
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
DISUSUN OLEH : AZKIA FIKI SANI
20130420363
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
Jadilah baik, benar, dan penuh
hormat, agar Dia yang Mahabaik
terus menuntun kita pada tangga
kebaikan, tangga kesuksesan.
(Anonim)
“Jika Anda tahu seberapa kerasnya
saya bekerja untuk mendapatkan
keahlian saya maka sesungguhnya
tidak ada yang perlu Anda kagumi.”
(Michael Angelo)
Persembahan
Skripsi ini Kupersembahkan untuk ...
Ibu dan Bapak tercinta
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kemudahan, karunia
dan rahmat dalam penulisan skripsi dengan judul “ Pengaruh Skeptisisme Personal dan Skeptisisme Situasional terhadap Keputusan Audit”. Skripsi ini disusun untuk
memenuhi salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Penulis mengambil
topik ini dengan harapan dapat memberikan masukan bagi organisasi dalam
penggunaan taktik mempengaruhi dalam pengambilan keputusan organisasional
dan memberikan ide pengembangan bagi penelitian selanjutnya.
Penyelesaian skripsi ini tidak lepas dari bimbingan dan dukungan berbagai
pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang
sebanyak-banyaknya kepada:
1. Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang
telah memberikan petunjuk, bimbingan dan kemudahan selama penulis
menyelesaikan studi.
2. Bapak Rudy Suryanto, SE., M.Acc., Akt. yang dengan penuh kesabaran
telah memberikan masukan dan bimbingan selama proses penyelesaian
karya tulis ini.
3. Ibu dan Bapak serta adikku yang senantiasa memberikan dorongan dan
perhatian kepada penulis hingga dapat menyelesaikan studi.
4. Semua pihak yang telah memberikan dukungan, bantuan, kemudahan
dan semangat dalam proses penyelesaian tugas akhir (skripsi) ini.
Sebagai kata akhir, penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam
skripsi ini. Oleh karena itu, kritik, saran dan pengembangan penelitian selanjutnya
sangat diperlukan kedalaman karya tulis dengan topik ini.
Yogyakarta, 23 Februari 2017
HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERNYATAAN ... iv
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... v
INTISARI ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
BAB I PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang Penelitian ... 1
B. Batasan Masalah ... 5
C. Rumusan Masalah ... 5
D. Tujuan Penelitian ... 5
E. Manfaat Penelitian ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7
A. Landasan Teori ... 7
1. Teori Identitas Sosial ... 7
B. Hasil Penelitian Terdahulu ... 8
1. Skeptisisme Profesional ... 8
2. Keputusan Audit – Ekspektasi Awal Kecurangan/Kekeliruan ... 10
C. Hipotesis ... 12
D. Model Penelitian ... 17
BAB III METODE PENELITIAN ... 18
A. Subyek Penelitian ... 18
B. Jenis Data ... 18
C. Desain Penelitian ... 18
D. Teknik Pengambilan Sampel ... 19
F. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 20
G. Uji Kualitas Instrumen ... 22
H. Uji Hipotesis dan Analisis Data ... 23
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 25
A. Gambaran Pelaksanaan Penelitian ... 25
B. Gambaran Umum Objek Penelitian ... 26
C. Uji Kualitas Instrumen ... 27
D. Hasil Penelitian (Uji Hipotesis) ... 36
E. Pembahasan (Interpretasi) ... 41
BAB V SIMPULAN, SARAN DAN KETERBATASAN PENELITIAN ... 46
A. Simpulan ... 46
B. Keterbatasan penelitian dan saran ... 47
DAFTAR PUSTAKA ... 48
LAMPIRAN 1: Angket Kuisioner Penelitian ... 50
LAMPIRAN 2: Data Jawaban Responden ... 60
4.1 Profil Responden ... 27
4.2 Deskriptif Statistik Hurtt (2010) ... 28
4.3 Deskriptif Statistik ... 29
4.4 Hasil Pengujian Validitas Skeptisisme Personal ... 30
4.5 Hasil Pengujian Reliabilitas Skeptisisme Personal ... 32
4.6 Hasil Pengujian Cek Manipulasi ... 32
4.7 Hasil Uji Normalitas ... 33
4.8 Uji Mann Whitney... 34
4.9 Hasil Uji Homogenitas ... 35
4.10 Hasil Uji Pos Hoc ... 35
4.11 Hasil Uji ANOVA ... 37
4.12 Hasil Statistik Skeptisisme ... 37
4.13 Hasil Statistik CSE ... 39
DAFTAR GAMBAR
PERNYATAAN
Dengan ini saya,
Nama : Azkia Fiki Sani
Nomor Mahasiswa : 20130420363
Menyatakan bahwa skripsi ini dengan judul: ”SKEPTISISME
PERSONAL DAN SKEPTISISME SITUASIONAL TERHADAP
KEPUTUSAN AUDIT” tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk
memperoleh gelar kesarjanaan disuatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang
pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau
diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini
dan disebutkan dalam daftar Pustaka. Apabila ternyata dalam skripsi ini diketahui
terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain
maka saya bersedia karya tersebut dibatalkan.
Yogyakarta, 20 Februari 2017
Materai 6000
INTISARI
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh skeptisisme personal dan skeptisisme situasional terhadap keputusan audit di Indonesia. Skeptisisme situasional yang berdasarkan pengalaman mengaudit tahun sebelumnya (
Client-spesific experience). Penelitian ini menggunakan ekperimen desain faktorial 2x3
antarsubjek dengan skeptisisme personal dibedakan menjadi tinggi dan rendah, dan pengalaman mengaudit sebelumnya (Client-spesific experience) dibedakan menjadi positif, netral dan negatif. Subjek yang mengikuti penelitian ini berjumlah 84 orang semuanya berasal dari mahasiswa S1 yang telah mendapatkan matakuliah audit. Diolah dan diuji menggunakan ANOVA dengan bantuan SPSS 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa auditor membuat keputusan audit berdasarkan pengalaman dengan klien pada tahun sebelumnya.
from previous years (Client-Specific Experience). The study uses an experiment factorial design 2x3 between subject with divides trait scepticism into high and low, and case of situational scepticism about audit experience from previous years into positive, neutral and negative. Subject in this study are 84 students from undergraduate have learned the course of audit. Using ANOVA as a tool analysis with 20 version SPSS. The result also shows that auditor make an audit judgement from their experience with client from previous years.
Keyword: Professional Scepticism, Personal Scepticism, Situational Scepticism,
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Kompleksitas transaksi bisnis dan standar akuntansi terus meningkat.
Menyebabkan semakin berkembang kebutuhan laporan keuangan untuk
pemenuhan informasi baik untuk pihak internal maupun eksternal. Adanya
audit laporan keuangan memiliki peran penting untuk mengurangi berbagai
risiko informasi yang terdapat pada laporan keuangan. Risiko informasi yang
dimaksud adalah laporan keuangan tidak benar dalam pemberian opini,
informasi kurang lengkap dan terjadinya bias dalam laporan keuangan itu
sendiri. Risiko informasi ini muncul disebabkan adanya konflik kepentingan
antara pihak internal dan eksternal, sehingga diperlukannya auditor untuk
mengaudit laporan keuangan.
Tujuan laporan keuangan diaudit adalah untuk memberikan informasi
yang benar kepada pembaca laporan keuangan serta tidak terdapat kesenjangan
harapan antara pembaca dan pemilik. Namun akhir-akhir ini banyak kasus yang
terjadi disebabkan ketidakmampuan auditor dalam mengurangi risiko informasi
seperti Ernst & Young ShinNihon LLC yang merupakan auditor independen
PT. Thosiba tidak dapat mengungkap penggelembungan laba senilai US $1.22
Ketidakmampuan auditor dalam mengurangi risiko informasi yang ada
disebabkan kegagalan auditor dalam menerapkan sikap skeptisisme. Menurut
Fransiska (2015) memiliki sikap profesional yang tinggi seharusnya
menyebabkan auditor akan lebih teliti dan cermat dalam melakukan penugasan
audit. Salah satu sikap profesional yang harus ada dalam diri auditor adalah
sikap skeptisisme profesional, dengan menerapkan sikap skeptisisme
profesional pada setiap auditor diharapkan dapat mengurangi risiko informasi
yang ada.
Kegagalan penerapan skeptisisme profesional yang tidak tepat oleh
auditor merupakan salah satu penyebab terjadinya defisiensi dan kegagalan
audit yang berdampak pada memburuknya reputasi jasa audit dan timbulnya
krisis kredibilitas (Gloria, 2015). Menurut penelitian Beasley et al (2001) dalam
Novianty (2008) yang didasarkan pada AAERs (Accounting and Auditing
Release) dari SEC selama 11 periode (Januari 1987- Desember 1997)
menyatakan penyebab kegagalan auditor dalam mendeteksi kecurangan adalah
rendahnya tingkat skeptisisme profesional audit.
Seorang auditor dalam melaksanakan seluruh kegiatan audit dari
penerimaan penugasan, perencanaan, pekerjaan lapangan hingga pelaporan
membutuhkan ekspektasi awal untuk melakukan pengungkapkan kecurangan
maupun kesalahan yang terjadi guna mempertahankan sikap skeptisisme
profesional. Ekspektasi awal dalam keputusan audit untuk menentukan
kemungkinan salah saji material dan faktor yang mempengaruhi salah saji
3
berdasarkan skeptisisme profesional auditor diduga memiliki potensi salah saji
material berupa kecurangan (fraud) atau kekeliruan (error).
Standar Akuntansi seksi 311 paragraf 7 menyatakan sebagai auditor
dalam audit laporan keuangan mempertimbangkan hal utama yaitu tentang
salah saji material yang dihasilkan oleh kecurangan (fraud) (IAPI, 2011).
Ekspektasi awal kecurangan atau kekeliruan dalam keputusan audit yang
dilakukan auditor dapat mempengaruhi prosedur audit dan pemberian opini.
Dalam pekerjaan audit, seorang auditor harus dapat mengembangkan
ekspektasi awal berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya dengan klien.
Walaupun pada tahun sebelumnya auditor mendapatkan pengalaman dengan
klien positif tetapi sikap skeptisisme profesional tetap harus dipertahankan.
Penelitian dari Payne dan Ramsay (2005) membuktikan bahwa
skeptisisme profesional dipengaruhi oleh fraud risk assessment (penaksiran
risiko kecurangan) yang diberikan oleh atasan auditor (auditor in charge)
sebagai pedoman dalam melakukan audit di lapangan. Payne dan Ramsay
(2005) juga mengungkapkan bahwa auditor yang berada pada level rendah
(auditor junior) cenderung lebih skeptis dibandingkan dengan auditor yang
berada pada level tinggi (auditor senior). Penelitian ini senada yang dilakukan
oleh Noviyanti (2008). Ini membuktikan semakin berpengalaman seorang
auditor maka semakin rendah sikap skeptisisme yang dimiliki menyebabkan
Dalam penelitian Popova (2013) yang menguji tentang pengaruh
skeptisisme profesional terhadap keputusan audit, Popova (2013) menggunakan
model skeptisisme profesional yang dikembangkan Hurtt (2010). Penelitian
Hurtt (2010) mengembangkan dua model skeptisisme yaitu skeptisisme
profesional yang berdasarkan dari karakter individu (personal) dan skeptisisme
profesional yang berdasarkan situasional. Popova (2013) memaparkan
skeptisisme situasional diperoleh dari pengalaman klien sebelumnya atau Client
Spesific Experience (CSE). Popova (2013) menguji pengaruh kedua model
terhadap keputusan audit yang diambil. Subjek penelitian yang digunakan oleh
Popova (2013) adalah siswa audit dengan asumsi bahwa skeptisisme yang
dihasilkan dari karakter personal mereka belum dipengaruhi oleh pengalaman
audit. Hasil penelitian Popova (2013) menjelaskan bahwa kedua model
skeptisisme berpengaruh positif dalam pengambilan keputusan.
Berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya terkait skeptisisme
profesional, peneliti tertarik untuk melakukan replikasi penelitian popova
(2013) guna mengetahui pengaruh kedua model skeptisisme yang
dikembangkan oleh Hurtt (2010) terhadap keputusan audit di Indonesia.
Penelitian ini tidak menambahkan variabel baru hanya mengembangkan
pengukuran skeptisisme. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa S1 yang
telah mendapat matakuliah audit. Pemilihan sample ini berdasarkan subjek
tidak terpengaruh oleh faktor-faktor lain seperti pengalaman mengaudit yang
5
B. Batasan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah, penulis membatasi pembahasan
untuk menghindari meluasnya permasalahan dalam penelitian ini. Oleh karena
itu permasalahan dalam penelitian ini dibatasi pada pengaruh variabel
skeptisisme personal, skeptisisme situasional terhadap keputusan audit.
C. Rumusan Masalah Penelitian
Permasalahan penelitian yang ingin diteliti pada penelitian ini disajikan
dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh skeptisisme profesional sebagai karakter personal
terhadap keputusan audit ?
2. Bagaimana pengaruh skeptisisme profesional dari pengalaman
mengaudit sebelumnya atau Client Spesific Experience (CSE) terhadap
keputusan audit ?
3. Bagaimana pengaruh perbandingan skeptisisme personal dengan
skeptisisme situasional berdasarkan pengalaman mengaudit sebelumnya
atau Client Spesific Experience (CSE) ?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijelaskan maka tujuan
penelitian ini adalah untuk memperoleh bukti empiris mengenai :
1. Pengaruh tingkat skeptisisme personal yang dimiliki auditor dalam
2. Pengaruh pengalaman mengaudit tahun sebelumnya atau Client Spesific
Experience (CSE) yang diperoleh auditor dalam mempengaruhi
pengambilan keputusan audit yang akan diambil.
3. Pengaruh perbedaan signifikan yang dihasilkan atas pengalaman
mengaudit tahun sebelumnya atau Client Spesific Experience (CSE)
positif dan negatif terlihat pada auditor yang memiliki tingkat skeptisisme
personal yang lebih rendah.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai
pihak, yaitu:
1. Bagi dunia akademis, hasil dari penelitian ini di harap dapat memberikan
manfaat untuk mengembangkan penelitian di bidang audit, khususnya
dalam hal tingkat skeptisisme dan pengalaman mengaudit yang diperoleh
auditor pada tahun sebelumnya terhadap keputusan audit.
2. Bagi praktisi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumber
pengetahuan tambahan mengenai tingkat skeptisisme dan pengalaman
mengaudit yang diperoleh auditor pada tahun sebelumnya terhadap
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Teori Identitas Sosial.
Menurut teori identitas sosial, penelitian Tajfel & Turner (1985)
menyatakan orang cenderung untuk mengklasifikasikan diri mereka sendiri
dan orang lain ke dalam berbagai kategori sosial (Ashforth dan Mael, 1989).
Dalam Ashfort & Mael (1989) berpendapat bahwa individu mendefinisikan
dirinya sendiri termasuk dari kelompok tertentu yang dianggap penting oleh
individu. Menurut Jhon Trunner’s & Michael Hagg (1992,1996) yang merupakan psikolog sosial dari Australia berpendapat manusia
mendefinisikan dirinya berdasarkan kelompok (Ginintasasi, 2016).
Kategorisasi pribadi berperan penting dalam berpikir serta melakukan
interaksi hubungan sosial. Penerapan teori identitas sosial terus meningkat
seiring dengan setiap individu bersosial dengan kelompok.
Seorang individu memiliki kecenderungan untuk berkelompok
dengan individu lain yang dirasa dapat menarik perhatian individu sendiri
(Ashfort & Mael, 1989). Ashfort & Mael (1989) berpendapat jika identitas
sosial disebabkan oleh persepsi kesatuan individu termasuk kelompok, yang
melibatkan pengalaman dari kegagalan maupun keberhasilan yang telah
dicapai. Maka berdasarkan teori tersebut setiap individu akan meningkatkan
Teori identitas sosial menyimpulkan bahwa individu yang bekerja di
dalam perusahaan serta memiliki kedekatan langsung dengan klien yang
mana merupakan bagian penting dalam sebuah pekerjaan. Seorang auditor
akan melakukan pekerjaan audit dengan klien untuk periode waktu yang
lama sehingga akan memunculkan identifikasi klien. Dalam Prihandono
(2013) menyatakan seorang auditor harus memahami bisnis klien, sistem
informasi akuntansi yang ada di dalam perusahaan klien dan mengetahui
karyawan inti di perusahaan klien, sehingga seorang audior akan melakukan
identifikasi terhadap klien.
Dalam penelitian ini, peneliti akan menghubungkan perilaku
skeptisisme situasional dengan teori identitas sosial. Teori ini
memungkinkan auditor berinteraksi dengan klien dalam waktu yang lama
sehingga dapat mempengaruhi pengalaman klien sebelumnya terhadap
keputusan yang diambil auditor. Identifikasi klien ini akan berdampak juga
pada pengambilan keputusan auditor.
B. Hasil Penelitian Terdahulu 1. Skeptisisme Profesional.
Skeptisisme profesional merupakan konsep yang sering dibahas
dalam standar profesional, dalam SAS no. 1 sikap skeptisisme profesional
adalah sikap yang mencakup pikiran pertanyaan dan penilaian kritis dalam
melakukan bukti audit (Nelson,2009). Auditor menggunakan pengetahuan,
keterampilan dan kemampuan dalam mengevaluasi bukti. Auditor tidak
9
(Nelson, 2009). Pandangan tersebut menurut O’Malley (2000) dalam
Nelson (2009) bahwa sikap skeptisisme profesional merupakan sikap netral.
Dengan kata lain, auditor mengumpulkan dan mengevaluasi bukti tetapi
tidak menganggap bias.
Dalam mendefinisikan sikap skeptisisme profesional dalam
berbagai literatur belum konsisten. Beberapa literatur berpendapat sikap
skeptisisme profesional merupakan sikap netral. Hurtt (2007)
mendefinisikan sikap skeptisisme profesional dalam berbagai karakteristik
skeptis seperti questioning mind, suspension of judgment dan search for
knowledge. Beberapa literatur lainnya berpendapat bahwa sikap skeptisisme
profesional merupakan dugaan keraguan. Nelson (2009) berpendapat
auditor dengan sikap skeptisisme profesional yang tinggi membutuhkan
pengumpulan bukti yang lebih banyak sebelum memberikan opini.
Peneliti juga ingin membuktikan penelitian skeptisisme yang telah
dijelaskan oleh Hurtt (2010) dan Popova (2013) yang dimplementasikan di
Indonesia. Hurtt (2010) menjelaskan bahwa skeptisisme profesional adalah
karakteristik individu multi-dimensi. Menurut Hurtt (2010) karakteristik
individu skeptisisme profesional di bagi menjadi dua yaitu sifat personal
yang dipengaruhi oleh diri sendiri dan sikap situasional yang dipengaruhi
faktor tertentu. Popova (2013) menerangkan sikap skeptisisme situasional
didasarkan pada pengalaman mengaudit sebelumnya (Client Spesific
tipe CSE (Client Spesific Experience) yaitu CSE negatif, CSE positif dan
netral.
Penyebab kegagalan audit adalah rendahnya sikap skeptisisme
profesional, sehingga menyebabkan tidak pekanya auditor terhadap
kecurangan yang ada, baik yang tidaksengaja maupun yang disengaja.
Auditor yang menerapkan sikap skeptisisme profesional akan kritis dalam
melakukan penugasan audit. Memperhitungkan resiko yang ada dan
mengumpulkan bukti audit. Faktor situasional juga merupakan salah satu
faktor penting dalam skeptisisme profesional. Sehingga peneliti
menghubungkan skeptisisme profesional personal dan situasional terhadap
keputusan audit. Ini memungkinkan jika memiliki skeptisisme profesional
personal tinggi dan skeptisisme profesional situasional tinggi pula akan
memberikan pengaruh terhadap ekpektasi awal auditor.
2. Keputusan Audit – Ekspektasi Awal Kecurangan/Kekeliruan.
Keputusan audit merupakan hal penting dalam audit eksternal
maupun internal. Auditor membuat keputusan audit selama proses
perencanaan audit. Okopny (1985) mengatakan keputusan audit sangat
penting dalam proses perencanaan audit. Auditor membuat penilaian
kepada klien ketika mereka menyajikan secara wajar atau tidak bagaimana
posisi keuangan perusahaan (Okopny, 1985). Keputusan audit digunakan
11
bukti tersebut digunakan dalam menyatakan pendapat dalam laporan
keuangan sehingga dapat dikatakan keputusan audit menentukan hasil audit.
Terjadinya tindakan kecurangan dalam laporan keuangan sangat
berbeda dengan kekeliruan (Koroy, 2008). Pendapat Loebbecke et.al (1989)
dalam Koroy (2008) menyatakan kecurangan dalam laporan keuangan sulit
untuk di deteksi sebab biasanya disembunyikan. Laporan keuangan yang
disembunyikan merupakan catatan akuntansi atau dokumen bukti transaksi.
Ketika auditor meminta bukti transaksi maka akan mendapatkan transaksi
palsu. Dalam SAS no. 99 menjelaskan kecurangan merupakan tindakan
yang disengaja menyebakan salah saji pada laporan keuangan (AICPA,
2003).
Fransiska (2015) mengatakan kecurangan di kategorikan menjadi
dua jenis yaitu misappropriation of assets dan fraudulent financial
reporting. Aren et.al (2014) memiliki pendapat bahwa kekeliruan
merupakan kesalahan dalam mendiskripskan dan menyimpulkan
perhitungan saat pengaplikasi standar akuntansi (Fransiska, 2015).
Keputusan audit dalam SAS no. 99 menjelaskan auditor harus mengatasi
kecenderungan terlalu percaya kepada klien dengan pendekatan audit sikap
skeptis dan pikiran yang mempertanyakan (Koroy, 2008).
Dalam penelitian ini, peneliti akan membuktikan bahwa
kecurangan atau kekeliruan dipengaruhi oleh karakter personal dan
pengalaman mengaudit sebelumnya.
C. Penurunan Hipotesis
1. Dampak dari Skeptisisme Profesional sebagai Karakter Personal terhadap Keputusan Audit.
Semua orang memiliki latar belakang yang berbeda dalam
mempercayai suatu hal. Kee & Knox (1970) dalam Noviyanti (2008)
menyatakan keyakinan yang dimiliki setiap orang dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu kepribadian dan karakter individu masing-masing.
Pada dasarnya, setiap karakter personal dalam individu masing-masing
dapat menentukan apakah suatu hal dapat dipercaya atau tidak (Nelson,
2009). Blerstaker dan Wright (2001) memiliki pendapat yang sama dengan
Nelson (2009). Blerstaker dan Wright (2001) berpendapat pengalaman dan
karakter personal memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan
audit.
Skeptisisme profesional salah satunya dibentuk oleh karakter
personal auditor. Skeptisisme profesional memiliki tingkat yang berbeda
antar individu. Hurtt (2008) berpendapat auditor yang memiliki tingkat
skeptisisme personal yang tinggi maka cenderung menyimpulkan salah saji
karena kecurangan. Sikap skeptisisme profesional memberikan pengaruh
dalam pengambilan keputusan audit atas salah saji material pada laporan
13
Suryanto et al (2016) berpendapat bahwa auditor yang
berpengalaman memiliki pengetahuan tentang kecurangan dan kekeliruan
lebih banyak, sehingga menghasilkan kinerja yang baik daripada dengan
auditor yang belum berpengalaman. Ini menerangkan, auditor senior
seharusnya memiliki tingkat skeptisisme personal yang tinggi dibandingkan
dengan auditor junior yang pengetahuan akan hal kecurangan dan
kekeliruan masih sedikit.
Popova (2013) mengatakan auditor dengan tingkat skeptisisme
tinggi akan lebih cenderung memilih kecurangan sebagai ekspektasi awal
atas risiko salah saji material dalam laporan keuangan. Auditor yang
memiliki tingkat skeptisisme tinggi cenderung tidak mempercayai
penjelasan klien sehingga cenderung menyimpulkan salah saji disebabkan
karena kecurangan. Ini mengarah pada penurunan hipotesis:
H1 : Auditor dengan tingkat skeptisisme personal yang tinggi memilih kecurangan sebagai ekspektasi awal dibandingkan dengan auditor yang
memiliki karakter skeptisisme lebih rendah.
2. Dampak Skeptisisme Profesional dari Pengalaman Mengaudit Sebelumnya atau Client Spesific Experience (CSE) terhadap Keputusan Audit.
Selama melaksanakan audit, auditor perlu meningkatkan ekspektasi
awal dalam pengambilan keputusan guna menyimpulkan laporan keuangan
salah saji atau tidak. Auditor dapat mengambangkan ekspektasi awal
mengatur tentang audit berkelanjutan, auditor seharusnya mampu
mempertahankan sikap skeptisisme profesional untuk melaksanakan
kegiatan audit dengan mengabaikan pengalaman mengaudit sebelumnya
dengan klien yang sama atau memiliki keyakinan awal terhadap kejujuran
dan integritas klien (AICPA, 2003).
Popova (2013) menjelaskan ketika auditor memiliki pengalaman
mengaudit sebelumnya atau Client Spesific Experience (CSE) negatif maka
auditor dapat beranggapan bahwa penjelasan yang diberikan klien kurang
dapat dipercaya sedangkan menurut Popova (2013) ketika auditor memiliki
pengalaman mengaudit sebelumnya atau Client Spesific Experiences (CSE)
positif penjelasan klien yang diberikan dapat dipercaya. Hasil ini tidak jauh
dengan berbeda dengan penelitian sebelumnya, auditor yang diberikan
penaksiran tingkat risiko kecurangan rendah akan kurang skeptis
dibandingkan dengan auditor yang diberikan tingkat risiko kecurangan
tinggi (Payne dan Ramsay, 2005).
Karakateristik seorang auditor mempengaruhi tingkat skeptisisme
profesional. Suryanto et al (2016) menjelaskan auditor yang berasal dari
jawa memiliki karakteristik halus, maka sikap skeptisisme auditor
termitigasi oleh karakteristik dari etnis jawa yang mementingkan
keharmonisan. Hal ini dapat menyebabkan auditor yang memiliki sikap
skeptisisme profesional akan memilih untuk menjaga keharmonisan dengan
15
Hasil ini mendukung penelitian Popova (2013) menunjukkan bahwa
pengalaman mengaudit klien pada tahun sebelumnya berpengaruh dalam
menentukan ekspektasi awal audit terhadap risiko salah saji material.
Auditor yang memiliki pengalaman mengaudit sebelumnya atau Client
Spesific Experiences (CSE) negatif beranggapan bahwa klien kurang dapat
dipercaya dan memilih ekspektasi awal sebagai kecurangan. Auditor yang
memiliki pengalaman mengaudit sebelumnya atau Client Spesific
Experiences (CSE) positif beranggapan bahwa klien dapat dipercaya dan
memilih ekspektasi awal sebagai ketidak sengajaan. Sehingga penurunan
hipotesis :
H2 : Auditor yang mendapatkan CSE negatif memilih kecurangan sebagai ekspektasi awal mereka dibandingkan dengan auditor yang
memperoleh CSE positif.
3. Perbandingan Skeptisisme Personal dengan Skeptisisme Situasional dari Pengalaman Mengaudit Sebelumnya atau Client Spesific Experience (CSE).
Auditor yang memiliki tingkat skeptisisme yang rendah diharapkan
lebih percaya kepada klien ini disebabkan setiap orang pada umumnya dapat
dipercaya. Kopp et al (2003) dalam Noviyanti (2008) mengatakan
kepercayaan dalam hubungan auditor dengan klien dapat mempengaruhi
sikap skeptisisme profesional. Oleh sebab itu, jika auditor kurang skeptis
diharapkan auditor memiliki keyakinan yang tinggi terhadap klien.
tingkat skeptisisme tinggi akan lebih teliti dalam melaksanakan kegiatan
audit dibandingkan dengan auditor yang memiliki tingkat skeptisisme
rendah.
Noviyanti (2008) berpendapat bahwa tingkat kepercayaan auditor
yang rendah terhadap klien, akan meningkatkan sikap skeptsisme
profesional sebaliknya tingkat kepercayaan auditor yang tinggi terhadap
klien akan menurunkan sikap skeptisisme profesional. Hasil ini mendukung
penelitian Popova (2013) mengatakan auditor dengan tingkat skeptisisme
yang lebih rendah cenderung lebih mempercayai klien sehingga ketika
auditor memperoleh pengalaman mengaudit sebelumnya atau Client
Spesific Experiences (CSE) positif, auditor cenderung menentukan
ekspektasi awal sebagai kekeliruan atas resiko salah saji laporan keuangan
sebaliknya, menurut Popova (2013) ketika auditor memperoleh pengalaman
mengaudit sebelumnya atau Client Spesific Experiences (CSE) negatif,
maka akan ada ketimpangan kepercayaan auditor dengan pengalaman
negatif yang dialami auditor yang menyebabkan auditor cenderung
memberikan ekspektasi awal berupa kecurangan atas resiko salah saji
laporan keuangan.
Maka dari itu, auditor yang memiliki pengalaman mengaudit
sebelumnya atau Client Spesific Experiences (CSE) negatif akan lebih
memilih kecurangan sebagi ekspektasi awal walaupun memiliki sikap
skeptisisme personal yang lebih rendah dibanding auditor yang memiliki
17
positif lebih memilih kekeliruan walaupun memiliki sikap skeptisisme
personal yang tinggi. Sehingga penurunan hipotesis :
H3 : Perbedaan paling signifikan yang dihasilkan atas CSE positif dan negatif yang diperoleh auditor pada tahun sebelumnya akan lebih terlihat
pada auditor yang memiliki tingkat skeptisisme personal yang lebih
rendah.
D. Model Penelitian
Skeptisisme Personal
Skeptisisme Situasional berdasarkan Client Spesific
Experience
Keputusan Audit Berdasarkan Ekspektasi Awal
Kecurangan dan Kekeliruan H1
H2
A. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa S1 yang telah belajar audit di
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Pemilihan sample ini dikarenakan
subjek tidak dipengaruhi oleh faktor lain seperti pengalaman mengaudit yang
dapat menimbulkan bias.
B. Jenis Data
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Metode eksperimen
merupakan penelitian kuantitatif. Metode eksperimen adalah satu-satunya data
riset yang mampu menunjukkan hubungan kausalitas antara variabel
independen dengan variabel dependen (Nahartyo dan Utami 2015). Metode
eksperimen memiliki syarat seperti adanya randomisasi, kontrol atas
manipulasi, serta adanya grup pembanding atau grup kontrol (Nahartyo dan
Utami 2015).
C. Desain Penelitian
Desain penelitian ini merupakan desain faktorial 2x3 antarsubjek (between
subject) dengan dua variabel independen. Variabel independen pertama,
skeptisisme personal yaitu skeptisisme tinggi dan rendah. Variabel independen
kedua, skeptisisme situasional yaitu pengalaman mengaudit sebelumnya atau
Client Spesific Experience (CSE) positif, negatif dan netral. Desain ini
19
Tabel 3.1 Matriks Eksperimen
D. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian metode eksperimen ini
menggunakan purposive sampling, dengan mahasiswa S1 yang telah belajar
audit di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Pemilihan sampel ini
dikarenakan subjek tidak dipengaruhi faktor lain seperti pengalaman mengaudit
dan waktu lama mengaudit. Subjek eksperimen yang terkumpul didistribusikan
ke beberapa manipulasi (CSE positif, CSE negatif dan netral) secara acak.
E. Teknik Pengumpulan Data
Sebelum melakukan eksperimen, peneliti melakukan pilot-test terlebih
dahulu terhadap 15 orang. Pilot- test ini berguna untuk mengevaluasi,
memberikan masukan terhadap kuisioner yang akan dijadikan eksperimen.
Penelitian eksperimen dilakukan dalam waktu 20-30 menit, dan terbagi menjadi
dua tahap. Tahap pertama, partisipan dikelompokkan berdasarkan tingkat
skeptisisme personal yang diukur menggunakan skala Hurtt (2010).
Pengukuran ini sama dengan yang dilakukan Popova (2013). Pada tahap
pertama ini diberikan waktu 20 menit untuk menjawab pertanyaan. Setelah itu
diberi jarak waktu selama satu minggu lalu masuk tahap kedua. CSE Positif
(B1)
CSE Negatif (B2)
CSE Netral (B3) Tinggi
(A1) Sel 1 (A1B1) Sel 2 (A1B2) Sel 3 (A1B3)
Rendah
(A2) Sel 4 (A2B1) Sel 5 (A2B2) Sel 4 (A2B3)
Faktor dan Level
Skeptisisme Situasional (B)
Pada tahap kedua, partisipan diberikan kasus yang berisi manipulasi
pengalaman mengaudit sebelumnya atau Client Spesific Experience (CSE).
Manipulasi ini terbagi menjadi 3 jenis yaitu CSE positif, CSE negative dan
netral. Pembagian kepada partisipan dilakukan secara acak. Dalam tahap kedua
ini diberikan waktu 30 menit untuk memecahkan persoalan yang diberikan.
Penelitian ini dilakukan pada awal jam kuliah. Setelah melakukan eksperimen,
data yang ada diolah menggunakan Statistical Product and Service Solutions
(SPSS) versi 20.
F. Operasional Variabel dan Peng ukurannya.
Dalam penelitian ini, dijelaskan indikator yang digunakan untuk mengukur
variabel penelitian baik variabel independen maupun variabel dependen.
Sementara skala yang digunakan untuk mengukur instrumen adalah skala likert
dan skala interval.
1. Skeptisisme Personal.
Skeptisisme personal diukur menggunakan Hurtt (2010). Skala
tersebut memiliki 30 pertanyaan dengan setiap 1 pertanyaan mewakili salah
satu dari 6 karakteristik skeptisisme profesional dari Hurtt (2010).
Karakteristik skeptisisme profesional dalam Hurtt (2010) yaitu search for
knowledge, suspension of judgment, self-determing, interpersonal
understanding, self-confidence, dan questioning mind. Instrument tersebut
menggunakan skala likert 6 poin. Converse dan Presser (1990)
menganjurkan untuk tidak memasukan skala pertengahan agar mencegah
21
11, 16, 17,19, 25 dan 26 dihitung penilaian secara terbalik. Penilaian
mengakumulasi jawaban partisipan, dengan skor 0 sampai 180 dimana skor
di atas nilai tengah (median) menunjukkan tingkat skeptisisme yang tinggi
sedangkan skor di bawah nilai tengah menunjukkan tingkat skeptisisme
yang rendah.
2. Skeptisisme Situasional.
Skeptisisme situasional diukur dengan instrumen dari Popova
(2013) dengan beberapa perubahan. Instrumen terdiri dari deskripsi yang
menggambarkan pengalaman mengaudit klien pada tahun sebelumnya,
deskripsi yang menggambarkan pengalaman mengaudit klien pada tahun
sekarang dan satu pertanyaan sebagai manipulation check yang disajikan
secara singkat dan jelas.
Deskripsi tentang pengalaman mengaudit di tahun sebelumnya
dibagi menjadi 3 yaitu CSE positif, CSE negatif dan netral. Sedangkan
deskripsi tentang pengalaman mengaudit klien pada tahun sekarang hanya
satu deskripsi yang sama. Setelah membaca kedua situasi yang berbeda
maka partisipan akan menjawab pertanyaan pertama sebagai manipulation
check untuk mengetahui apakah terjadi perubahan pemikiran dalam diri
partisipan atas deskripsi yang diberikan. Partisipan diminta untuk
menentukan apakah klien dapat dipercaya atau tidak dengan menggunakan
skala interval yang diberikan dari 1 hingga 10. Dengan poin 1 menunjukan
bahwa klien “sangat tidak dipercaya” dan poin 10 menunjukan klien “sangat
3. Keputusan Audit-Ekspektasi Awal berupa kecurangan atau kekeliruan.
Keputusan audit yang merupakan ekspektasi awal berupa
kecurangan atau kekeliruan merupan variabel dependen dalam penelitian
ini. Keputusan audit diukur dengan satu pertanyaan terkait deskripsi
pengalaman audit sebelumnya dan pengalaman audit tahun berjalan.
Partisipan menentukan ekspektasi awal audit dengan melihat apakah resiko
salah saji material yang ditemukan disebabkan oleh kecurangan atau
kekeliruan semata. Partisipan diminta menjawab dengan menggunakan
skala interval dari poin -10 hingga 10. Poin -10 menunjukkan kecurangan,
poin 0 menunjukkan netral dan poin 10 menunjukan kekeliruan.
G. Uji Kualitas Instrumen dan Data
Uji kualitas data terdiri dari menguji validitas dan reliabilitas data. Dalam
Nazaruddin dan Basuki (2015) pengujian validitas menggunakan metode
Korelasi Product Moment Karl Pearson. Uji Validitas ini dengan degree of
freedom (df) = (n-2) dan memiliki tingkat siginifikansi sebesar 95% (α= 0,05).
Memiliki kriteria pengujian jika r hitung > r tabel, maka pertanyaan dinyatakan
valid dan sebaliknya. Pengujian Reliabilitas menggunakan Alpha Croncbach.
Reliabilitas memiliki degree of freedom (df) = (n-2) dengan α= 0,05 maka jika
23
H. Uji Hipotesis dan Analisis Data 1. Uji Normalitas.
Uji normalitas digunakan untuk menentukan data yang telah
dikumpulkan berdistribusi normal atau diambil dari populasi normal.
Metode klasik dalam pengujian normalitas suatu data tidak rumit. Apabila
data yang digunakan sudah lebih dari 30 angka, maka sudah dapat
diasumsikan bahwa data berdistribusi normal (Nazaruddin dan Basuki,
2015).
2. Uji Homogenitas Data
Output ANOVA yang dihasilkan oleh SPSS perlu dilakukan uji
homogenity of variances, uji Anova. Penjelasan untuk uji penelitian sebagai
berikut :
a. Test Of Homogenity of Variances
Hipotesis yang perlu disiapkan adalah sebagai berikut :
H0 = Variansi populasi adalah sama
H1 = Variansi populasi adalah tidak sama
Menurut Nazaruddin dan Basuki (2015) untuk pengambilan
keputusan adalah :
a. Jika signifikan > 0,05 maka H0 diterima
3. Uji Hipotesis
Uji anova adalah uji perhitungan yang digunakan sebagai penetuan
analisis terhadap hipotesis diterima atau ditolak. Menurut Nazaruddin dan
Basuki (2015) untuk menentukan Ha yang diterima sehingga ketentuan
yang diikuti adalah sebagai berikut :
a. Jika F hitung > F tabel maka H0 ditolak
b. Jika F hitung < F tabel maka H0 diterima
c. Jika signifikan > 0,05 maka H0 diterima
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Pelaksanaan Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen desain faktorial 2x3
antarsubjek (between-subjek). Sampel yang digunakan adalah mahasiswa S1
yang telah mendapatkan matakuliah audit. Peneliti sebelum melakukan
penelitian eksperimen, melakukan pilot-test terlebih dahulu kepada 15
mahasiswa yang telah mendapatkan matakuliah audit pada tanggal 20
November 2016. Pilot-test ini bertujuan untuk memastikan bahwa kuisioner dan
kasus yang akan diberikan tidak menimbulkan bias.
Tanggal 25 November 2016 peneliti melakukan penelitian eksperimen
tahap pertama kepada 2 kelas matakuliah audit. Terdapat 48 mahasiswa yang
mengikuti penelitian tahap pertama. Tanggal 28 November 2016 peneliti juga
melakukan penelitian eksperimen tahap pertama kepada 1 kelas matakuliah
audit. Terdapat 38 mahasiswa yang mengikuti penelitian tahap pertama ini.
Pelaksanaan tahap pertama dilakukan pada awal perkuliahan. Pada kedua
tanggal tersebut peneliti membagikan kuisioner tentang skeptisisme personal
dengan waktu pengerjaan sekitar 20 menit. Kuisioner ini yang nantinya akan
menjadi pengukur tingkat skeptsisime personal subjek tinggi atau rendah.
Tanggal 2 Desember 2016 peneliti melakukan penelitian eksperimen tahap
penelitian tahap kedua. Tanggal 5 Desember 2016 peneliti juga melakukan
penelitian eksperimen tahap kedua kepada 1 kelas matakuliah audit. Terdapat
38 mahasiswa yang mengikuti penelitian tahap kedua. Pada kedua tanggal
tersebut penelitian dilakukan pada awal perkuliahan.
Pada tahap kedua peneliti membagikan kasus secara acak. Cara
melakukannya peneliti memberikan instruksi untuk berhitung dari 1 sampai 3
dan diulang sampai akhir. Subjek yang mendapatkan nomor 1 diberikan kasus
pengalaman mengaudit sebelumnya (CSE) positif, nomor 2 dan 3 diberikan
berturut kasus pengalaman mengaudit sebelumnya (CSE) negatif dan netral.
Pengerjaan kasus diberikan waktu sekitar 30 menit.
B. Gambaran Umum Obyek/Subyek Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Peneliti menggunakan mahasiswa mata kuliah pengauditan karena subjek telah
mendapatkan pelajaran audit. Penelitian ini dilakukan di jam awal perkuliahan
dengan menggunakan tiga kelas dan dibagi menjadi dua tahap penelitian.
Jumlah keseluruhan subjek adalah 91 dengan tingkat pengembalian kuisioner
penuh atau 100%. Tetapi, terdapat 7 kuisioner yang tidak diisi secara lengkap
sehingga tidak dapat diolah. Sehingga total subjek yang dapat diolah lebih lanjut
27
Table 4.1 Profil Responden
Sumber : Data primer diolah (2016)
Tabel profil subjek ini, menerangkan bahwa semua subjek telah menempuh
mata kuliah audit. Subjek yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 23 orang
lebih sedikit daripada subjek perempuan yaitu berjumlah 61 orang. Sebagian
besar subjek memiliki rentang usia sekitar 20-22 tahun dengan jumlah 71 orang
sisanya memiliki rentang usia kurang dari 20 tahun sejumlah 12 orang dan lebih
dari 22 tahun hanya 1 orang.
C. Uji Kualitas Instrumen dan Data 1. Analisis Deskriptif.
Penelitian yang dilakukan dibagi menjadi dua tahap. Pada tahap
awal subjek diberikan pertanyaan atau pernyataan terkait skeptisisme
personal dari skala Hurtt (2010). Setelah itu peneliti mengakumulasi nilai
jawaban dari subjek atas skala Hurtt (2010). Penilaian dilakukan
berdasarkan nilai tengah (median). Dapat dilihat di table berikut.
Keterangan Deskripsi Jumlah
Jumlah Responden 84
Laki-Laki 23
Perempuan 61
Jumlah Responden 84
< 20 tahun 12
21 - 22 tahun 71
> 22 tahun 1
Jumlah Responden 84
Sudah 84
Belum 0
Menempuh Mata Kuliah Audit Jenis Kelamin
Table 4.2 Deskriptif Statistik
Sumber : Data primer diolah (2016)
Tabel diatas menjelaskan bahwa subjek yang terdiri dari 84 sampel
memiliki nilai mean 133,61 dengan standar deviasi 5,449. Memiliki arti
bahwa subjek yang memiliki tingkat skeptisisme tinggi jumlahnya hampir
sama dengan subjek yang memiliki tingkat skeptisisme rendah. Dengan skor
minimum 114, skor maximum 142 dan median secara keseluruhan adalah
133. Nilai median ini menjadi dasar peneliti untuk mengelompokkan subjek
berdasarkan tingkat skeptisisme, tinggi atau rendah. Jika nilai keseluruhan
subjek kurang dari 133 maka memiliki tingkat skeptisisme rendah serta
sebaliknya. Jika nilai keseluruhan subjek lebih dari 133 maka memiliki
tingkat skeptisisme tinggi.
Pada tahap kedua atau tahap inti, setelah subjek dikelompokan
berdasarkan tingkat skeptisisme. Subjek akan mendapatkan kasus. Ada tiga
kasus yang diberikan kepada subjek. Setiap subjek mendapatkan kasus yang
berbeda beda, yang diharapkan dapat mempengaruhi pengambilan
keputusan. Dapat dilihat dalam table.
Valid 84
Missing 0
133.61 133.00
5.449 114
142 Minimum
Maximum N
Mean Median
29
Tabel 4.3 Deskriptif Statistik
Sumber : Data primer yang diolah (2016)
Berdasarkan table didapat beberapa karakteristik data. Subjek yang
memiliki tingkat skeptisisme tinggi berjumlah 43 sampel (mean = 0,42 dan
standar deviasi 3,325) yang terbagi menjadi tiga kasus pengalaman
mengaudit sebelumnya (CSE). CSE netral dengan 12 sampel (mean = 2,08
dan standar deviasi 1,564), CSE positif dengan 16 sampel (mean = 2,88 dan
standar deviasi 1,857) dan CSE negative dengan 15 sampel (mean = -3,53
dan standar deviasi 1,246).
Sedangkan subjek yang memiliki tingkat skeptisisme rendah
berjumlah 41 sampel (mean = 0,44 dan standar deviasi 3,178) dan terbagi
menjadi tiga kasus seperti tingkat skeptisisme tinggi. CSE netral dengan 15
sampel (mean = 1,93 dan standar deviasi 1,387), CSE positif dengan 12
sampel (mean = 3,00 dan standar deviasi 1,907) dan CSE negatif dengan 14
sampel (mean = -3,36 dan standar deviasi 1,336).
Total keseluruhan subjek yang memiliki tingkat skeptisisme tinggi
dan rendah serta mendapatkan pengalaman sebelumnya (CSE) positif,
negatif dan netral berjumlah 84 sampel (mean = 0,43 dan standar deviasi CSE Positif (B1) CSE Negatif (B2) CSE Netral (B3)
n = 16 n = 15 n = 12 n = 43
mean = 2.88 mean = -3.53 mean = 2.08 mean = 0.42 Std.dev = 1.857 Std.dev = 1.246 Std.dev = 1.564 Std.dev = 3.325
n = 12 n = 14 n =15 n = 41
mean = 3.00 mean = -3.36 mean =1.93 mean = 0.44
Std.dev = 1.907 Std.dev = 1.336 Std.dev = 1.387 Std.dev = 3.172
n = 28 n = 29 n = 27 n = 84
mean = 2.93 mean = -3.45 mean = 2.00 mean = 0.43 Std.dev = 1.844 Std.dev = 1.270 Std.dev = 1.441 Std.dev = 3.235
Faktor dan Level
Skeptisisme Situasional (B)
3,235). Total masing-masing pengalaman mengaudit sebelumnya (CSE)
adalah CSE positif berjumlah 28 sampel (mean = 2,93 dan standar deviasi
1,844). Total CSE negatif adalah 29 sampel (mean = -3,45 dan standar
deviasi 1,270). CSE netral memiliki total 27 sampel (mean = 2,00 dan
standar deviasi 1,441).
2. Uji Validitas.
Uji validitas itu dilakukan untuk mengukur tingkat keandalan alat
ukur. Pengujian validitas menggunakan Korelasi Product Moment Karl
Pearson untuk pengujian 84 sampel dan 30 pertanyaan sehingga
[image:43.595.145.481.399.676.2]menghasilkan data pada tabel berikut.
Tabel 4.4
Hasil Pengujian Validitas Skeptisisme Personal
Indikator Item Pearson Correlation Sig. 2 tailed Keterangan
1 .278* .010 Valid
2 .565** .000 Valid
3 .359** .001 Valid
4 .638** .000 Valid
5 .552** .000 Valid
6 .435** .000 Valid
7 .308** .004 Valid
8 -.124 .263 Tidak Valid
9 .519** .000 Valid
10 .536** .000 Valid
11 .602** .000 Valid
12 .493** .000 Valid
13 .522** .000 Valid
14 .577** .000 Valid
15 .091 .411 Tidak Valid
31
Sumber : Data primer yang diolah (2016)
Ada 3 item pembentuk variable memiliki korelasi (r) dengan skor
total masing-masing variable ≤ 0,25 dan signifikan ≥ 0,05 sehingga
menyebabkan tidak valid. Tetapi selain itu, seluruh item pembentuk variable
memiliki total masing-masing variable ≥ 0,25 dan signifikan ≤ 0,05
sehingga seluruh item dikatakan valid.
3. Uji Reliabilitas.
Uji reliabilitas itu dilakukan untuk mengetahui apakah instrument
dapat digunakan atau tidak. Menurut Nazaruddin dan Agus (2015)
reliabilitas menyimbolkan tingkat konsistensi. Pengujian reliabilitas
menggunakan Cronbach alpha dalam tingkat skeptisime menghasilkan data
seperti dibawah ini.
Indikator Item Pearson Correlation Sig. 2 tailed Keterangan
16 .294** .007 Valid
17 .071 .521 Tidak Valid
18 .481** .000 Valid
19 .405** .000 Valid
20 .499** .000 Valid
21 .565** .000 Valid
22 .483** .000 Valid
23 .218* .046 Valid
24 .502** .000 Valid
25 .486** .000 Valid
26 .327** .002 Valid
27 .472** .000 Valid
28 .337** .002 Valid
29 .565** .000 Valid
30 .590** .000 Valid
Tabel 4.5
Hasil Pengujian Reliabilitas Skeptisisme Personal
Sumber: Data primer yang diolah (2016)
Berdasarkan hasil yang diperoleh, skeptisisme personal memiliki
nilai alpha > 0,70 artinya reliabilitas tinggi, dapat disimpulkan seluruh item
reliabel dan seluruh tes konsisten secara internal.
4. Cek Manipulasi.
Pengecekan manipulasi dilakukan untuk menguji apakah pemberian
deskripsi kasus telah direspon oleh subjek dan keadaan yang diinginkan
sesuai dengan peneliti harapkan. Untuk itu subjek yang memberikan nilai
lebih dari 5 menunjukkan bahwa subjek percaya dengan klien dan yang
memberikan nilai dibawah 5 menunjukkan bahwa subjek tidak percaya
dengan klien.
Tabel 4.6
Hasil Pengujian Cek Manipulasi
Sumber : Data primer yang diolah (2016)
Hasil pengecekan manipulasi menunjukkan bahwa subjek yang
mendapatkan pengalaman mengaudit sebelumnya (CSE) negatif cenderung
tidak mempercayai klien hal ini dapat dilihat pada mean yaitu 4,276 (deviasi
standar 0,4137). Berbeda dengan subjek yang mendapatkan pengalaman
27 5.519 .3793
28 5.625 .3758
29 4.276 .4137 84 5.125 .7317
Sig.
105.269 .000 Netral
Positif
Negatif Total
N Mean
Std.
[image:45.595.150.482.508.628.2]33
mengaudit sebelumnya (CSE) positif dengan mean 5,625 (deviasi standar
0,3758) dan netral dengan mean 5,519 (deviasi standar 0,3793), mereka
cenderung mempercayai klien. Perbedaan tersebut signifikan pada α = 0,000
dengan f = 105,269. Jadi, pengalaman mengaudit sebelumnya (CSE)
berpengaruh signifikan terhadap tingkat kepercayaan klien. Hasil ini
menyimpulkan bahwa pengecekan manipulasi berhasil dilaksanakan dan
sesuai dengan peneliti inginkan.
5. Uji Normalitas.
Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah nilai terdistribusi normal
atau tidak. Uji normalitas merupakan pengujian yang paling banyak
dilakukan analisis parametrik. Data yang terdistribusi normal adalah yang
[image:46.595.166.557.467.573.2]memiliki sebaran yang normal. Dapat dilihat pada table berikut.
Table 4.7 Hasil Uji Normalitas
Sumber : Data primer yang diolah (2016)
Berdasarkan hasil yang diperoleh, uji normalitas menunjukkan dari hasil
keseluruhan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa signifikansi seluruh
pengalaman mengaudit sebelumnya (CSE) α < 0,05 yang artinya distribusi
data tidak normal. Sehingga data yang diambil dinyatakan terjadi
penyimpangan.
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Netral .223 27 .001 .813 27 .000
Positif .269 28 .000 .788 28 .000
Negatif .403 29 .000 .650 29 .000
CSE
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Tingkat_K epercayaa n
Untuk membuat data menjadi normal maka peneliti menggunakan uji
Mann Whitney atau uji dua sampel yang tidak berpasangan. Uji ini
merupakan uji non parametric. Uji Mann Whitney dilakukan untuk
mengetahui adanya perbedaan dua sampel yang tidak berhubungan. Uji
Mann Whitney ini diterima jika sig < α 0,05 dan ditolak jika sig > α 0,05.
[image:47.595.286.408.292.437.2]Dapat dilihat pada table berikut.
Tabel 4.8 Uji Mann Whitney
Sumber: Data primer yang diolah (2016)
Berdasarkan hasil yang diperoleh, nilai Asymp. Sig sebesar 0,000
karena nilai Asymp.Sig 0,000 < α 0,05 maka asumsi adanya perbedaan dua
sampel yang tidak berhubungan diterima. Jadi dapat disimpulkan ada
perbedaan yang signifikan tingkat kepercayaan klien terhadap pengalaman
mengaudit sebelumnya (CSE).
6. Uji Homogenitas.
Uji homogenitas bertujuan untuk menguji berlaku tidaknya asumsi
setiap kelompok berasal dari populasi yang sama dengan variansi yang sama
pula (Nazarudin dan Agus, 2015). Uji homogenitas kali ini menguji tingkat
kepercayaan terhadap klien berdasarkan pengalaman mengaudit
Tingkat_Keper cayaan
Mann-Whitney U
21.000
Wilcoxon W 456.000
Z -6.281
Asymp. Sig. (2-tailed)
.000
35
Tingkat_Kepercayaan Tukey HSD
Lower Bound
Upper Bound Netral Positif - 0.106 0.105 0.572 - 0.358 0.145
Negatif* 1.243 0.104 0.000 0.993 1.492 Positif Netral 0.106 0.105 0.572 - 0.145 0.358 Negatif* 1.349 0.103 0.000 1.102 1.596 Negatif Netral* - 1.243 0.104 0.000 - 1.492 - 0.993
Multiple Comparisons
95% Confidence Interval
(I) CSE (J) CSE
Mean Difference
(I-J)
Std. Error Sig.
sebelumnya (CSE) memiliki populasi dan variansi yang sama atau tidak. Ini
[image:48.595.231.438.170.242.2]dapat dilihat pada table berikut.
Table 4.9
Hasil Uji Homogenitas
Sumber : Data primer yang diolah (2016)
Berdasarkan pada hasil yang diperoleh dalam test of homogeneity of
variances, dimana dihasilkan signifikannya adalah 0,391 yang berarti lebih
besar dari α 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa asumsi setiap kelompok
berasal dari populasi dan variansi yang sama diterima. Artinya tingkat
kepercayaan terhadap klien berdasarkan pengalaman mengaudit
sebelumnya memiliki varian populasi yang sama.
7. Uji Tes Pos Hoc.
Uji Pos Hoc bertujuan untuk mengetahui kelompok mana yang
berbeda dan tidak berbeda (Nazarudin dan Agus, 2015). Uji Pos Hoc kali
ini menguji terdapat perbedaan pengalaman mengaudit sebelumnya (Client
Specific Experience) kepada tingkat kepercayaan terhadap klien. Ini dapat
dilihat pada table berikut.
Tabel 4.10 Hasil Uji Pos Hoc Levene
Statistic df1 df2 Sig.
[image:48.595.194.507.609.760.2]Sumber : Data primer yang diolah (2016)
Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat dilihat ada pengaruh yang
signifikan antara pengalaman mengaudit sebelumnya (CSE) negatif dengan
pengalaman mengaudit sebelumnya (CSE) positif dan pengalaman
mengaudit sebelumnya (CSE) netral. Ini dilihat dari pengalaman mengaudit
sebelumnya (CSE) negatif memiliki pengaruh 0,000 < sig 0,05 dengan
pengalaman mengaudit sebelumnya (CSE) positif dan pengalaman
mengaudit sebelumnya (CSE) netral. pengalaman mengaudit sebelumnya
(CSE) positif tidak memiliki pengaruh yang siginifikan dengan pengalaman
mengaudit sebelumnya (CSE) netral. Ini dapat dilihat pengalaman
mengaudit sebelumnya (CSE) positif memiliki pengaruh 0,572 > sig 0,05
dengan pengalaman mengaudit sebelumnya (CSE) netral.
D. Hasil Penelitian (Uji Hipotesis)
1. Dampak dari Skeptisisme Profesional sebagai Karakter Personal terhadap Keputusan Audit.
Pada hipotesis pertama, peneliti ingin mengetahui apakah subjek
yang memiliki tingkat skeptisisme tinggi cenderung tidak mempercayai
penjelasan klien sehingga menyimpulkan laporan keuangan salah saji
disebabkan karena kecurangan. Dengan hipotesis :
H1 : Auditor dengan tingkat skeptisisme personal yang tinggi memilih kecurangan sebagai ekspektasi awal dibandingkan dengan auditor yang
37
Peneliti menguji hipotesis pertama dengan menggunakan two way
ANOVA. Ini disebabkan karena peneliti akan mengamati 2 kriteria yaitu
kriteria skeptisisme dan CSE. Pada hipotesis pertama peneliti akan melihat
[image:50.595.175.495.223.389.2]uji efek faktor skeptisisme. Ini dapat dilihat dengan table berikut.
Tabel 4.11 Hasil Uji ANOVA
Sumber : Data primer yang diolah (2016)
Table 4.12
Hasil Statistik Skeptisisme
Sumber : Data primer yang diolah (2016)
Berdasarkan pada hasil yang diperoleh, tingkat skeptisisme tinggi
pada subjek dengan mean 0,475 cenderung memilih ketidaksengajaan
sebagai ekspektasi awal dan begitu pula tingkat skeptisisme rendah pada
subjek dengan mean 0,525. Subjek memilih ketidak sengajaan sebagai
ekspektasi awal. Ini mengindikasikan bahwa tingkat skeptisisme tidak
berpengaruh terhadap ekspektasi awal audit. Hasil ini didukung dengan
pengujian skeptisisme, berdasarkan pengujian angka sig 0,884 > 0,05
sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat skeptisisme subjek tidak
Lower Bound
Upper Bound
Tinggi .475 .240 -.003 .953
Rendah .525 .245 .037 1.013
Skeptisisme Mean Std. Error
95% Confidence Interval Source
Type III Sum of
Squares df
Mean
Square F Sig.
Corrected Model 678.024a 5 135.605 55.509 .000
Intercept 20.757 1 20.757 8.497 .005
Skeptis is m e .053 1 .053 .022 .884
CSE 673.855 2 336.927 137.920 .000
Skeptis is m e * CSE
.420 2 .210 .086 .918
Error 190.548 78 2.443
Total 884.000 84
Corrected Total 868.571 83
[image:50.595.222.475.424.519.2]berpengaruh signifikan terhadap ekspektasi awal audit berupa kecurangan
atau kekeliruan. Berdasarkan penjelasan diatas disimpulkan H1 tidak terdukung.
2. Dampak Skeptisisme Profesional dari Pengalaman Mengaudit Sebelumnya atau Client Spesific Experience (CSE) terhadap Keputusan Audit.
Pada hipotesis kedua, peneliti ingin mengetahui apakah subjek yang
diberikan kasus pengalaman mengaudit sebelumnya (CSE) negatif
beranggapan bahwa klien kurang dapat dipercaya dan memilih ekspektasi
awal sebagai kecurangan dalam laporan keuangan. Serta sebaliknya, subjek
yang diberikan kasus pengalaman mengaudit sebelumnya (CSE) positif
beranggapan bahwa klien dapat dipercaya dan memilih ekspektasi awal
sebagai ketidak sengajaan dalam laporan keuangan. Dengan hipotesis:
H2 : Auditor yang mendapatkan CSE negatif memilih kecurangan sebagai ekspektasi awal mereka dibandingkan dengan auditor yang
memperoleh CSE positif.
Sama seperti hipotesis pertama, peneliti menguji hipotesis kedua
dengan menggunakan two way ANOVA. Ini disebabkan karena peneliti
akan mengamati 2 kriteria yaitu kriteria skeptisisme dan CSE. Pada
hipotesis kedua peneliti akan melihat uji efek faktor CSE. Ini dapat dilihat
39
Tabel 4.13 Hasil Statistik CSE
Sumber : Data primer yang diolah (2016)
Berdasarkan hasil yang diperoleh, kasus pengalaman mengaudit
sebelumnya (CSE) netral yang diberikan pada subjek memiliki mean 2,008.
Hasil yang sama dengan kasus pengalaman mengaudit sebelumnya (CSE)
positif yang diberikan pada subjek memiliki mean 2,937. Ini
mengindikasikan bahwa subjek dengan kasus CSE netral dan positif
cenderung beranggapan bahwa ekspektasi awal atas salah saji material
berupa ketidak sengajaan. Ini berbeda dengan kasus pengalaman mengaudit
sebelumnya (CSE) negative yang diberikan pada subjek memiliki mean
-3,445. Ini mengindikasikan bahwa subjek cenderung beranggapan bahwa
ekspektasi awal atas salah saji materil berupa kecurangan.
Ini didukung dengan hasil dalam pengujian CSE pada tabel 4.13.
Berdasarkan pengujian angka sig 0,000 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan
bahwa pengalaman mengaudit sebelumnya (CSE) yang diperoleh subjek
berpengaruh secara signifikansi terhadap ekspektasi awal berupa
kecurangan atau kekeliruan. Berdasarkan penjelasan diatas dapat
disimpulkan H2 terdukung.
Lower Bound
Upper Bound
Netral 2.008 .303 1.406 2.611
Positif 2.938 .298 2.343 3.532
Negatif -3.445 .290 -4.023 -2.867 CSE Mean Std. Error
3. Perbandingan Skeptisisme Personal dengan Skeptisisme Situasional dari Pengalaman Mengaudit Sebelumnya atau Client Spesific Experience (CSE).
Pada hipotesis ketiga, peneliti ingin mengetahui apakah subjek yang
mendapatkan kasus pengalaman mengaudit sebelumnya (CSE) negatif lebih
memilih kecurangan sebagai ekspektasi awal walaupun subjek memiliki
tingkat skeptisisme rendah. Dengan hipotesis :
H3 : Perbedaan paling signifikan yang dihasilkan atas CSE positif dan negatif yang diperoleh auditor pada tahun sebelumnya akan lebih
terlihat pada auditor yang memiliki tingkat skeptisisme personal yang
lebih rendah.
Berbeda dengan hipotesis pertama dan kedua, pada hipotesis ketiga
ini peneliti menguji dengan menggunakan one way ANOVA. Ini disebabkan
karena peneliti akan mengamati perbandingan tingkat skeptisisme terhadap
ekspektasi awal berupa kecurangan atau kekeliruan. Ini dapat dilihat dengan
[image:53.595.141.484.592.722.2]menggunakan table berikut.
Tabel 4.14
Hasil Perbandingan Tingkat Skeptisisme
Sumber : Data primer yang diolah (2016)
Tingkat Skeptisisme CSE Mean Std.
Deviation F Sig. Positif 0,58 1,825
Netral 0,44 1,311
Negatif (0,40) 1,724
Positif 3,00 1,907
Netral 1,93 1,387 Negatif (3,36) 1,336 Tinggi
Rendah
0,245
0,000 1,459
41
Berdasarkan hasil yang diperoleh, tingkat skeptisisme tinggi lebih
cenderung memilih ekspektasi awal berupa kecurangan ini dapat dilihat dari
hasil mean pengalaman mengaudit sebelumnya (CSE) baik yang mendapat
positif (mean = 0,58), netral (mean = 0,44) dan negatif (mean = -0,40). Hasil
ini menunjukkan subjek tidak terpengaruh oleh pengalaman mengaudit
sebelumnya (CSE) baik positif, netral ataupun negatif. Peneliti
menyimpulkan tidak ada perbedaan signifikan ketika subjek memiliki
tingkat skeptisisme tinggi ( F=1,459 dan sig = 0,245).
Berbeda dengan hasil yang diperoleh subjek memiliki tingkat
skeptisisme rendah cenderung akan memilih ekspektasi awal berupa
kecurangan atau kekeliruan berdasarkan pengalaman mengaudit tahun
sebelumnya (CSE). Subjek yang mendapatkan pengalaman mengaudit
tahun sebelumnya (CSE) positif dan netral (mean= 3,00 dan mean= 1,93)
akan memilih kekeliruan sebagai ekspektasi awal salah saji material.
Berbeda dengan subjek yang mendapatkan pengalaman mengaudit tahun
sebelumnya (CSE) negatif (mean= -3,36) akan memilih kecurangan sebagai
ekspektasi awal salah saji material. Peneliti menyimpulkan ada perbedaan
yang signifikan ketika subjek memiliki tingkat skeptisisme rendah (F=
66,170 dan sig= 0,000). Sehingga berdasarkan penjelasan diatas
disimpulkan H3 terdukung.
E. Pembahasan
Pada hipotesis 1 menyatakan bahwa tingkat skeptisisme personal tinggi
ekspektasi awal dibandingkan dengan yang memiliki tingkat skeptisisme
personal rendah. Hipotesis ini tidak didukung oleh data empiris. Artinya
penelitian ini tidak berhasil membuktikan bahwa tingkat skeptisisme personal
berpengaruh dalam memberikan ekspektasi awal berupa kecurangan atau
kekeliruan untuk menentukan resiko salah saji material. Hasil pengujian
memiliki hasil yang sama dengan yang dilakukan oleh Popova (2013). Popova
(2013) menyimpulkan terdapat pengaruh skeptisisme personal tetapi pengaruh
tersebut tidak signifikan.
Hasil pengujian hipotesis 2 didukung oleh bukti empiris dalam penelitian
ini. Auditor memberikan ekspektasi awal berupa kecurangan dan kekeliruan
berdasarkan pengalaman mengaudit pada tahun sebelumnya (CSE). Temuan
penelitian ini menunjukkan auditor yang memiliki pengalaman mengaudit
sebelumnya (CSE) dengan klien akan memiliki kecenderungan untuk percaya
kepada klien atau tidak.
Subjek yang mendapatkan pengalaman mengaudit tahun sebelumnya (CSE)
positif dan netral akan memilih kekeliruan sebagai ekspektasi awal mereka.
Kondisi ini menyebabkan penentuan kesalahan dalam laporan keuangan
disebabkan karena kekeliruan atau ketidak sengajaan klien. Berbeda dengan
subjek yang mendapatkan pengalaman mengaudit sebelumnya (CSE) negatif
akan memilih kecurangan sebagai ekspektasi awal mereka. Ini menjadikan
penentuan kesalahan dalam laporan keuangan disebabkan karena kecurangan
43
Hasil pengujian hipotesis 3 di dukung oleh bukti empiris pada penelitian ini.
Auditor memberikan ekspektasi awal berupa kecurangan atau kekeliruan
terlihat ketika auditor memiliki tingkat skeptisisme personal yang rendah.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa auditor dengan tingkat skeptisisme
tinggi tidak akan terpengaruh atau cenderung tetap mempertahankan
skeptisisme profesionalnya ketika mendapatkan pengalaman mengaudit
sebelumnya (CSE) baik itu positif, netral ataupun negatif dalam memberikan
ekspektasi awal mereka terhadap resiko salah saji material yang ditemukan.
Berbeda dengan auditor yang memiliki tingkat skeptisisme personal rendah.
Mereka akan cenderung memberikan ekspektasi awal berupa kecurangan
ataupun kekeliruan ketika mendapatkan pengalaman mengaudit sebelumnya
(CSE). Pengalaman mengaudit sebelumnya (CSE) akan menjadi penentu bagi
auditor yang memiliki tingkat skeptisisme rendah dalam memberikan
ekspektasi awal mereka terhadap resiko salah saji material yang ditemukan.
Penelitian ini mengusulkan tingkat skeptisisme personal dalam
pengambilan keputusan audit harus diimbangi dengan informasi tentang klien.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat skeptisisme personal dalam
pengambilan keputusan ekspektasi awal berupa kecurangan atau kekeliruan
tidak dapat didukung oleh penelitian ini. Hasil penelitian ini sama dengan hasil
Popova (2013).
Popova (2013) menghasilkan kesimpulan bahwa skeptisisme profesional
dipengaruhi oleh dua faktor yaitu skeptisisme personal dan situasional. Popova
dalam membuat keputusan audit sehingga penilaian individu (skeptisisme
personal) jadi kurang meyakinkan. Temuan ini konsis