PENGEMBANGAN BUKU SISWA SEBAGAI PERANGKAT
PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU BERBASIS
NILAI-NILAI BUDAYA MASYARAKAT LOKAL
PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 055985
PEKAN SELESAI KABUPATEN
LANGKAT
TESIS
Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Pendidikan
Program Studi Pendidikan Dasar
Oleh:
NURLIA GINTING
NIM. 8136182039
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
i ABSTRAK
Nurlia Ginting (2015). Pengembangan Buku Siswa Sebagai Perangkat Pembelajaran Tematik Terpadu Berbasis Nilai-Nilai Budaya Masyarakat Lokal pada Siswa Kelas V SD Negeri 055985 Pekan Selesai Kabupaten Langkat.
Penelitian ini merupakan penelitian Research & Development (R&D), yang mengedepankan
nilai-nilai budaya sebagai kearifan lokal. Nilai-nilai
budaya yang dimaksudkan di sini adalah budaya Melayu Langkat.
Keunggulan lokal merupakan segala sesuatu yang merupakan ciri khas
kedaerahan yang mencakup aspek ekonomi, budaya, komunikasi,
ekologi, agama, dan lain-lain. Keunggulan lokal adalah hasil bumi,
kreasi seni, tradisi, budaya, pelayanan, jasa, sumber daya alam, sumber
daya manusia atau lainnya yang menjadi keunggulan suatu daerah.
Populasi penelitian adalah seluruh SD di Kabupaten Langkat. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purpossive sampling, sesuai dengan kebutuhan penelitian, yaitu Sekolah Dasar Negeri 055985 Pekan Selesai Kabupaten Langkat. Adapun informan kunci yang dijadikan pada penelitian ini adalah kepala sekolah, Dinas Pendidikan Kabupaten Langkat, guru, dan sesepuh adat melayu di Langkat. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan beberapa cara, yaitu: (1) wawancara mendalam, (2) observasi, (3) studi dokumentasi. Desain penelitian R&D menggunakan pendekatan model Dick dan Cerey, yang dikembangkan oleh Walter Dick dan Lou Carey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang pengembangan buku paket sebagai perangkat pembelajaran tematik terpadu berbasis nilai-nilai budaya masyarakat Melayu di Langkat, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa permasalahan yang dihadapi siswa saat ini adalah kurangnya apresiasi terhadap nilai-nilai budaya masyarakat Melayu di Langkat seiring dengan perkembangan jaman saat ini. Berangkat dari permasalahan dimaksud, maka tema yang diangkat pada pengembangan buku tersebut adalah “Bangga sebagai Bangsa Indonesia”, dengan subtema “ Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya”.
ii ABSTRACT
Nurlia Ginting (2015). Book Development Student For Thematic Learning Tool Based Integrated Cultural Values in Local Communities in Class V Elementary School 055985 Finished Langkat week.
This study is a Research & Development (R & D), which emphasizes cultural values as local wisdom. Cultural values is meant here is the Malay culture Langkat. Local excellence is everything that is the hallmark of regionalism which include economic aspects, culture, communications, ecology, religion, and others. Local excellence is the result of the earth, the creation of art, tradition, culture, sevices, natural resources, human resources, or other that are the hallmark of an area. The population is all SD in Langkat. The sampling technique is done with purposive sampling, in accordance with the needs of research, namely the State Primary School 055985 Finished Langkat week. The key informants were used in this study is the principal, Langkat District Education Office, teachers and indigenous elders wither in Langkat. Data collection techniques done in several ways, namely: (1) deep interview, (2) observation, (3) study the documentation. R & D research design approach Dick and Cerey models, developed by Walter Dick and Lou Carey. The results showed that Based on the result of research and discussion about the development of textbooks as a learning device based integrated thematic cultural values of the Malay community in Langkat, it can be concluded that the problems faced by young people today is the lack of appreciation of cultural values in the Malay community Langkat along with the development of the currenr era. Departing from the problems mentioned, the theme for the development of the book is “Proud as Indonesia”, with the subtheme “Indonesia as a civilized nation”.
iii
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Alhamdullilah puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas
Rahmat dan Karunia-Nya, sehingga penulis mampu menyelesaikan tesis ini
dengan baik. Tesis ini berjudul “Pengembangan Buku Siswa Sebagai
Perangkat Pembelauaran Tematik Terpadu Berbasis Nilai-Nilai Budaya Masyarakat Lokal Pada Siswa Kelas V SD Negeri 055985 Pekan Selesai Kabupaten Langkat”. Penelitian ini merupakan tugas akhir untuk memenuhi persyaratan dalam memperoleh gelar Magister Pendidikan di Universitas Negeri
Medan. Dalam menyelesaikan penulisan tesis ini, penulis mendapat bimbingan
dari para dosen dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada
kesempatan ini penulis tidak lupa menyampaikan ucapan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd., selaku Rektor Universitas Negeri
Medan, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk
menempuh pendidikan Pascasarjana (S-2).
2. Bapak Prof. Dr. H. Abdul Muin Sibuea, M.Pd., selaku Direktur PPs
Universitas Negeri Medan yang telah membantu dan mengizinkan
iv
3. Bapak Dr. Phil. Ichwan Azhari, M.S. dan Bapak Dr. Dede Ruslan, M.Si.,
selaku Dosen Pembimbing I dan II yang telah membimbing dan
meluangkan waktunya serta telah memberikan nasehat dan arahan kepada
penulis selama penulisan tesis ini.
4. Bapak Dr. Deni Setiawan M.Si., selaku Ketua Prodi Pendidikan Dasar PPs
Universitas Negeri Medan yang banyak membantu dalam memberikan
arahan kepada penulis dalam penulisan tesis.
5. Ibu Prof. Dr. Anita Yus M.Pd., selaku sekretaris Prodi Pendidikan Dasar
PPs Universitas Negeri Medan yang banyak membantu dalam memberikan
arahan kepada penulis dalam penulisan tesis.
6. Bapak Dr. Deny Setiawan, M.Si., Bapak Dr. Hidayat, M.Si., dan Ibu Prof.
Dr. Anita Yus, M.Pd., selaku penguji yang telah banyak memberi masukan
dan saran demi perbaikan tesis ini.
7. Putra, selaku Pegawai Prodi Pendidikan Dasar PPs Universitas Negeri
Medan yang telah membantu penulis sejak dalam perkuliahan hingga
penyelesaian tesis.
8. Kepala Sekolah SD Negeri 055985 Pekan Selesai Kabupaten Langkat, Ibu
Hj.Sri Rosmawati, S.Pd dan seluruh keluarga besar SD Negeri 055985
Pekan Selesai Kabupaten Langkat.
9. Ayahanda dan Ibunda tercinta (Alm). H. Makmur Ginting dan Hj. Rencana
Kacaribu, yang telah memberikan dukungan dan bantuan kepada penulis
v
10. Abang dan Kakak saya Abdul Rasyid Ginting, S.Kep Ns dan Emmy
Depari, SE, Kakak dan Abang saya Agustina Ginting M.Pd dan Irwansyah
Sitepu, SE, (Almh) Kakak saya Fitri Amelia Ginting,SH serta
keponakan-keponakanku tersayang Annisa, Daffa, Arkhan, dan Aufa.
11. Sohib-sohibku Akmalun Nazli, M.Pd, Nina Hasanah, Yasmin Sofia Nst,
Fira Astika Wanhar.
12. Teman – teman B – 1 (Bg Pian,M.Pd, Mirza, Mardo, Fitri, Kak Mayang,
Icha, Bg Helmi,M.Pd, Bu Cut, Pak Teuku, Bg Haris dll) yang telah
memberikan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
13. Seluruh pihak yang membantu dalam penyusunan Tesis ini yang tidak
dapat disebutkan satu persatu, terima kasih atas dukungan dan
motivasinya.
Semoga Allah SWT memberikan balasan yang terbaik atas bantuan dan
bimbingan yang diberikan. dengan penuh harap kiranya tesis ini bermanfaat bagi
yang membutuhkannya. Amin
Medan, Juli 2015 Penulis
vi
DAFTAR ISI
TEMBAR PERSETUJUAN ...
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR TABET ... ix
BAB I PENDAHUTUAN ... 1
1.1. Latar Belakang Masalat ... 1
1.2. Rumusan Masalat ... 15
1.3. Tujuan Penelitian ... 16
1.4. Manfaat Penelitian ... 16
BAB II KAJIAN TEORETIS ... 17
2.1. Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu ... 17
2.2. Konsep Kearifan Lokal... 27
2.3. Konsep Pembelajaran Berbasis Budaya ... 32
2.4. Pengembangan Model Pembelajaran ... 38
2.4.1. Model Pembelajaran ... 38
2.4.2. Pengembangan Pembelajaran Menurut Plomp ... 43
2.4.3. Model Pengembangan Pembelajaran Menurut Dick & Carey. 46 BAB III METODE PENETITIAN ... 63
3.1. Jenis Penelitian ... 63
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian ... 64
3.3. Populasi dan Sampel... 65
vii
3.5. Desain Penelitian ... 66
BAB IV HASIT DAN PEMBAHASAN ... 74
4.1. Hasil Penelitian ... 74
4.1.1 Investigasi Awal ... 75
4.1.2. Perancangan ... 80
4.1.3. Realisasi ... 90
4.1.4. Pengujian, Evaluasi, dan Revisi ... 90
4.2. Pembatasan ... 93
BAB V SIMPUTAN DAN SARAN ... 98
5.1. Simpulan ... 98
5.2. Saran ... 99
DAFTAR PUSTAKA ... 101
viii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Konsep Rumah Jaman Dulu Ke Rumah Modern ... 6
Gambar 2. Perubahan cara Menonton Sepak Bola ... 6
Gambar 3. Cerita tentang hayati di Raja Ampat, Papua ... 7
Gambar 4. Model Perencanaan Pendidikan adaptasi Plomp, 1997 ... 46
Gambar 5. Model Pengembangan Pembelajaran Menurut Dick & Carey ... 61
Gambar 6. Desain Penelitian Pengembangan Buku Paket ... 70
Gambar 7. Skema LangkahMLangkah Prosedur Penelitian ... 71
ix
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Kompetensi Inti Kelas V SD ... 83
Tabel 2. Kompetensi Dasar Bahasa Indonesia Kelas V SD ... 83
Tabel 3. Kompetensi Dasar PKn Kelas V SD ... 84
Tabel 4. Kompetensi Dasar IPS Kelas V SD ... 85
Tabel 5. Kompetensi Dasar SBdP Kelas V SD ... 85
Tabel 6. Kompetensi Dasar PJOK Kelas V SD ... 86
Tabel 7. Kompetensi Dasar Matematika Kelas V SD ... 87
1 1
BABBIB
PENDAHULUANB
1.1.BLatarBBelakangBMasalahB
B Pembelajaran pada tingkat satuan pendidikan SD harus memperhatikan
karakteristik peserta didik yang menghayati pengalaman belajar sebagai satu
kesatuan yang utuh. Pengemasan pembelajaran dirancang secara tepat karena akan
berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman belajar peserta didik.
Pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual, baik
didalam maupun antar mata pelajaran akan memberi peluang bagi terjadinya
pembelajaran yang efektif dan lebih bermakna. Pengalaman belajar dalam
kurikulum sebelumnya, yang cenderung disipliner, sarat beban materi kognitif,
over lapping antar materi yang sama di mata pelajaran berbeda, kesemuanya
merupakan alasan pembelajaran tematik penting diterapkan di SD.
Pembelajaran tematik merupakan pendekatan pembelajaran yang
melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman belajar yang
bermakna bagi peserta didik. Pembelajaran tematik berorientasi pada praktek
pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan secara efektif akan
membantu menciptakan kesempatan yang luas bagi siswa untuk melihat dan
membangun konsep-konsep yang saling berkaitan. Pembelajaran ini memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk memahami masalah yang kompleks
dilingkungan sekitarnya dengan pandangan yang utuh, sehingga peserta didik
memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi, mengumpulkan, menilai dan
2
Pembelajaran tematik menekankan pada penerapan konsep belajar sambil
melakukan sesuatu (learning by doing).
Dalam pelaksanaannya, pembelajaran tematik bertolak dari satu topik atau
tema yang dipilih dan dikembangkan oleh beberapa guru kelas secara
bersama-sama. Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam
proses belajar. Penerapan pembelajaran tematik di SD adalah upaya mengimbangi
gejala penjejalan berbagai buku mata pelajaran yang sering terjadi dalam proses
pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Banyaknya buku mata pelajaran yang
harus dipelajari oleh peserta didik dikhawatirkan akan mengganggu
perkembangan peserta didik, karena terlalu banyak menuntut peserta didik untuk
mengerjakan aktivitas atau tugas-tugas yang melebihi kapasitas dan kebutuhan
mereka. Dengan demikian, peserta didik kehilangan sesuatu yang seharusnya bisa
mereka kerjakan. Jika dalam proses pembelajaran peserta didik hanya merespon
segalanya dari guru, maka mereka akan kehilangan pengalaman pembelajaran
yang alamiah dan langsung (direct experiences). Pengalaman-pengalaman
sensorik yang membentuk dasar kemampuan pembelajaran abstrak peserta didik
menjadi tidak tersentuh, padahal hal merupakan karakteristik utama
perkembangan anak usia SD. Pembelajaran tematik sebagai pendekatan baru
dianggap penting untuk dikembangkan di SD.
Pandangan psikologis yang melandasai pembelajaran tematik terpadu,
bahwa perkembangan peserta didik yang terpadu untuk melihat diri sendiri dan
sekitarnya secara utuh (holistik). Pada dasarnya, masing-masing peserta didik
3
pembelajaran, berarti bukan pengalaman orang lain (guru) yang ditransfer melalui
berbagai bentuk media. Pembelajaran tematik terpadu memungkinkan peserta
didik untuk menemukan pola dan hubungan dari berbagai disiplin ilmu.
Pembelajaran tematik mengadopsi prinsip pembelajaran PAKEM yaitu
pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Aktif bahwa pembelajaran
peserta didik secara fisik maupun mental dalam hal mengemukakan penalaran
atau alasan, mengemukakan kaitan yang satu dengan yang lain,
mengkomunikasikan ide, mengemukakan bentuk representasi yang tepat, dan
menggunakan semua itu untuk memecahkan masalah. Kreatif berarti dalam
pembelajaran peserta didik melakukan serangkaian proses pembelajaran secara
runtut dan berkesinambungan yang meliputi memahami masalah, merencanakan
pemecahan masalah, melaksanakan rencana pemecahan masalah, memeriksa
ulang pelaksanaan masalah. Efektifartinya berhasil mencapai tujuan sebagaimana
yang diharapkan. Menyenangkan berarti sifat terpesona dengan keindahan,
kenyamanan, dan kemanfaatanya sehingga mereka terlibat dengan asyik dalam
belajar sambil bermain.
Proses pembelajaran tematik terpadu harus dirancang sedemikian rupa
oleh para guru dengan memperhatikan potensi dan karakteristik daerah, salah
satunya mengedepankan nilai-nilai budaya sebagai kearifan lokal. Lebih
dipertegas lagi bahwa pemerintah sangat serius mengembangkan pendidikan
karakter dan budaya bangsa di negara ini (Sulhan, 2011:57).
Kearifan lokal merupakan bagian dari konstruksi budaya yang mengacu
4
masyarakat yang dikenal, dipercayai dan diakui sebagai elemen-elemen penting
yang mampu mempertebal kohesi sosial di antara warga masyarakat. Kearifan
lokal secara dominan masih diwarnai nilai-nilai adat seperti bagaimana suatu
kelompok sosial melakukan prinsip-prinsip konservasi, manajemen dan
eksploitasi sumber daya alam. Perwujudan bentuk kearifan lokal yang merupakan
pencerminan dari sistem pengetahuan yang bersumber pada nilai budaya di
berbagai daerah di Indonesia, memang sudah banyak yang hilang dari ingatan
komunitasnya. Namun, di sebagian kalangan komunitas itu walaupun sudah tidak
lengkap lagi atau telah berakulturasi dengan perubahan baru dari luar, masih
tampak ciri-ciri khasnya dan masih berfungsi sebagai pedoman hidup masyarakat.
Eksplorasi terhadap kekayaan luhur budaya bangsa, sangat perlu untuk
dilakukan, sekaligus berupaya untuk mengkritisi eksistensinya terkait dengan
keniscayaan adanya perubahan budaya, ruang eksplorasi dan pengkajian kearifan
lokal menjadi tuntunan tersendiri bagi eksplorasi khasanah budaya bangsa pada
umumnya. Keunggulan lokal merupakan segala sesuatu yang merupakan ciri khas
kedaerahan yang mencakup aspek ekonomi, budaya, komunikasi, ekologi, agama,
dan lain-lain. Keunggulan lokal adalah hasil bumi, kreasi seni, tradisi, budaya,
pelayanan, jasa, sumber daya alam, sumber daya manusia atau lainnya yang
menjadi keunggulan suatu daerah (Ahmadi, 2012:9).
Dua hal yang melatarbelakangi pentingnya pembelajaran berbasis
nilai-nilai budaya masyarakat, yaitu: tantangan yang dihadapi lembaga pendidikan
dasar di era globalisasi dan sistem pendidikan di sekolah yang cenderung parsial
5
Pertama, globalisasi mengakibatkan pencapaian tujuan pendidikan tingkat satuan
pendidikan dasar untuk meletakkan dasar keterampilan hidup mandiri semakin
kompleks. Tiga kekuatan besar yang akan mempengaruhi kehidupan individu
Indonesia di era globalisasi, yakni masyarakat madani (civil society),
negara-bangsa (nation-state), dan globalisasi (Tilaar, 2006:140-141). Oleh karena itu,
agar tidak terombang-ambing dalam tiga kekuatan besar tersebut, manusia
Indonesia harus memiliki dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Nilai-nilai Pancasila merupakan kristalisasi dari Nilai-nilai-Nilai-nilai budaya lokal yang
merupakan nilai-nilai yang pertama dikenal oleh seorang manusia Indonesia. Hal
ini menekankan pentingnya sejak dini dan melembaga untuk memelihara dan
mengembangkan budaya masyarakat lokal sebagai bagian integral dari pendidikan
nasional, agar siswa tidak tercabut dari akar nilai-nilai budayanya.
Kedua, secara konsepsional, pembelajaran tematik terpadu dekat dengan
lingkungan. Oleh karena itu, pembelajaran tematik seharusnya memanfaatkan
secara optimal potensi lingkungan agar lebih bermakna. Kenyataannya di
Indonesia, hal ini belum dilakukan guru. Pembelajaran di SD cenderung tidak
kontekstual. Potensi lingkungan setempat, khususnya budaya lokal, tidak
dimanfaatkan oleh guru secara optimal dalam proses pembelajaran. Pembelajaran
tetap mengutamakan pengembangan aspek intelektual dengan buku teks pegangan
guru menjadi sumber belajar utama.
Beberapa kesimpulan hasil penelitian dari Pargito di Lampung (2000:112);
Hadi di Jawa Timur (1997:101); Samion di Kalimantan Barat (2002:25); serta
6
bahwa siswa kurang mengapresiasi budayanya. Artinya, bahwa siswa tidak
mengerti dan tidak memahami budaya sendiri akibat pembelajaran kurang
mengeksplor nilai-nilai budaya masyarakat. Analisis awal terkait pemanfaatan
nilai-nilai budaya Bangsa Indonesia pada Buku Kelas V SD berbasis tematik
terpadu pada tema 9 “lingkungan sahabat kita”, secara eksplisit buku tersebut
telah memanfaatkan nilai-nilai budaya lokal Bangsa Indonesia dalam bentuk
gambar atau deskripsi/cerita. Sebagai misal: dalam buku tersebut telah dimuat
kegiatan masyarakat
pulau Kalimantan
dalam berdagang di
pasar yang
memanfaatkan sungai
sebagai pasar
terapung. Dalam buku
tersebut juga dimuat
perubahan nilai-nilai
sosial dan budaya
masyarakat terkait
konsep rumah
masyarakat jaman dulu
GambarB1.BKonsepBRumahBJamanBDuluBKeBRumahBModernB
7
sebagai peninggalan budaya menjadi sebuah bangunan rumah modern yang sama
sekali telah meninggalkan nilai-nilai budaya. Selain itu, perubahan cara menonton
permainan sepak bola yang dulunya harus ditonton secara langsung, namun saat
ini dapat ditonton melalui media elektronik atau melalui permainan game
elektronik. Dalam hal upacara adat, juga dimuat bagaimana karakter masyarakat
di suatu daerah untuk melaksanakan perayaan upacara adat. Pada tema 5 “Bangga
sebagai Bangsa Indonesia”
juga dimuat Kepulauan di
Papua Barat. Ini
menceritakan kekayaan
hayati laut yang ada di Raja
Ampat, Papua Barat. Selain
itu, pada tema 5 juga memuat
gambar-gambar kegiatan masyarakat lokal; pemandangan laut, pegunungan, dan
lain sebagainya, (Utami & Murti, 2014: 51-100).
Mencermati analisis awal terhadap isi buku di atas, jelas bahwa materi
yang dimuat mengandung nilai-nilai budaya Bangsa Indonesia. Nilai-nilai budaya
tersebut harus dipertahankan dan diperkenalkan kepada masyarakat agar tidak
punah akibat kemajuan dan perkembangan jaman saat ini. Namun, dalam konteks
Sumatera Utara, nilai-nilai budaya masyarakat Sumatera Utara belum nampak
pada muatan materi pada buku tersebut. Artinya, dalam tataran persekolahan di
Sumatera Utara, perlu harus mengembangkan pembelajaran yang mengedepankan
8
konsep, potensi, serta karakteristik Sumatera Utara sebagai bahan ajar pada bagian
buku dimaksud.
Pandangan-pandangan di atas menegaskan bahwa ada permasalahan dalam
pendidikan di SD yang memerlukan solusi. Hal ini, membutuhkan upaya untuk
memperbaiki kualitas pembelajaran di SD agar lebih bermakna sebagai upaya
meningkatkan apresiasi siswa terhadap budaya lokal. Upaya perbaikan kualitas
pembelajaran ini mengemukakan tiga komponen yang berpengaruh pada proses
pembelajaran, yakni raw input (karakteristik siswa), instrumentalinput (kebijakan,
kurikulum, personalia, sarana-prasarana), dan enviromentalinput (lingkungan)
(Sukmadinata, 2006:7).
Masalah di atas juga terjadi di awal penerapan model konstruktivis di
sekolah-sekolah di Amerika (mulai tahun 1950an sampai tahun 1970an). Mary
Kennedy (Schifter dan Fosnot, 1993: 12) menyatakan bahwa, a history of reform
efforts, most of which have left teaching unchanged. Davis (1990)
mengungkapkan dua hal penyebab kegagalan terkait penggunaan budaya lokal
dalam pembelajaran, (1) harapan tradisional yang berbeda jauh dari tujuan dan
metode program-program konstruktivis, dan (2) kurangnya pemahaman guru
terhadap pendekatan konstruktivis. Pembelajaran lebih diupayakan bermakna
dalam budaya lokal dan dalam proses pembelajarannya memasukkan sistem
budaya dan nilai-nilai budaya yang terdapat pada masyarakat di daerah siswa
berada. Harapan ini didasari oleh pernyataan Vygotsky (Taylor, 1993: 1) bahwa:
9
dan simbol-simbol. Fakta dan simbol-simbol dari lingkungan budaya mempengaruhi perkembangan pemahaman individu.
Kutipan ini memberi petunjuk bahwa, pemanfaatan aspek-aspek budaya
dalam pembelajaran dapat menstimulus fungsi mental yang lebih tinggi. Konsep
dan prinsip pembelajaran berbasis konstruktivis dapat dipahami lewat pendekatan
budaya. Konsep dan prinsip tematik terpadu dapat ditemukan kembali melalui
pemecahan masalah yang bersumber dari fakta dan lingkungan budaya. Pola
interaksi sosial yang dipahami siswa dalam sistem budayanya dapat dijadikan pola
interaksi edukatif yang mengatur aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
Proses pemahaman siswa berangkat dari konsep awal (pemanfaatan pengalaman
budaya dan pengetahuan) yang dimiliki siswa dalam memecahkan masalah.
Interaksi sosial di antara siswa secara spontan akan tercipta disebabkan
pemahaman sistem budaya dari dalam diri siswa dan guru.
Ditinjau dari kerangka pengembangan pembaharuan sistem pendidikan,
penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah berbasis budaya lokal
(budaya Melayu) adalah sesuai dengan ide desentralisasi pendidikan yang sedang
dikumandangkan saat ini. Bahwa desentralisasi merupakan upaya perbaikan
efektivitas dan efisiensi pendidikan dan diharapkan dapat menumbuhkembangkan
kemampuan daerah untuk meningkatkan potensinya secara mandiri adalah dua
aspek yang mendapat insentif dari penerapan model ini. Oleh karena itu,
pengembangan buku paket yang berorientasi pada pemahaman, pemecahan
masalah, berbasis budaya lokal (budaya Melayu) sangat diperlukan guna
memperkaya pengetahuan siswa, memampukan siswa menghadapi tantangan
10
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Langkat. Langkat merupakan bagian
integral dari wilayah Negara Kesatuan Kesatuan Republik Indonesia terletak di
paling utara Sumatera Utara dan berbatasan langsung dengan Provinsi NAD.
Secara etnis, penduduk Langkat aslinya Suku Melayu, walaupun Suku Jawa lebih
besar populasinya lebih kurang 35% dan suku Melayu 27%, (Arifin, 2012:1-2).
Sementara suku-suku yang lain, seperti: Batak Toba, Karo, Cina, dan lain
sebagainya merupakan suku minoritas. Data kependudukan Kabupaten Langkat
pada tahun 2014 berjumlah 976.535 jiwa. Dengan menggunkan nilai r (rata- rata
pertumbuhan), tahun 2015 jumlah penduduk tersebut meningkat sekitar 1.023.510
jiwa dan akan berjumlah sekitar 1.033,173 jiwa pada tahun 2016. Tahun 2017,
jumlah penduduk Kabupaten Langkat diperkirakan akan meningkat menjadi
sekitar 1.042.927 jiwa. Pada tahun akhir proyeksi, yaitu tahun 2018, jumlah
penduduk Kabupaten Langkat diperkirakan akan berjumlah sekitar 1.052.773
jiwa, (BPS Kabupaten Langkat, 2015).
Melihat perkembangan jumlah penduduk di Kabupaten Langkat, pada
tahun 2015 diproyeksikan bahwa jumlah penduduk asli Melayu sebesar
358.228,5 jiwa (35% dari jumlah penduduk tahun 2015 di Langkat). Artinya
bahwa mayoritas penduduk Langkat bersuku Melayu yang merupakan bonus
demografi bagi masyarakat Langkat.
Masyarakat Langkat sangat kental dengan budaya Melayu. Dalam konteks
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, masyarakat Langkat menciptakan budaya
Melayu. Unsur-unsur kebudayaan ini mencakup: agama, bahasa, organisasi,
11
gagasan, kegiatan, maupun artefak. Sebagai contoh: peninggalan bersejarah nilai
Budaya Melayu, yaitu Pusat Kerajaan Aru I bernama Kota Sipinang di Hulu
Sungai Besitang yang telah punah dan menjadi hutan di Kawasan Taman Nasional
Gunung Leuser (TNGL); Istana Sultan Langkat: Istana Darul Salam di masa
Kesultanan T. Azis Abdul Jalil Rahmadsyah; puing Tambang Minyak Pulau
Berandan, dan lain sebagainya, juga punah seiring dengan berjalannya waktu.
Masyarakat Melayu memiliki kesenian yang terdiri dari berbagai cabang
seni seperti musik, tari, teater, rupa, arsitektur, dan lainnya. Setiap cabang seni ini
terdiri dari berbagai genrenya masing-masing. Misalnya di dalam tarian Melayu
ada genre tari Anak Kala, Serampang Dua Belas, Hadrah, Mak Inang Pulau
Kampai, Zapin Serdang, Zapin Deli, Zapin Bunga Hutan, Selabat Laila, dan
lain-lain, (Takari, 2013: 1).
Kesenian Melayu adalah ekspresi dari kebudayaan masyarakat Melayu. Di
dalamnya terkandung sistem nilai Melayu, yang dijadikan pedoman dan tunjuk
ajar dalam berkebudayaan. Kesenian Melayu menjadi bahagian yang integral dari
institusi adat. Kesenian Melayu juga mengandung filsafat hidupdan
konsep-konsep tentang semua hal dalam budaya, seperti ketuhanan, kosmologi,
globalisasi, akulturasi, inovasi, enkulturasi, dan lain-lainnya. Kesenian Melayu
dalam rangka mengisi zaman yang dilalui pastilah mengalami kesinambungan
(kontinuitas) dan disertai dengan perubahan. Kesinambungan adalah meneruskan
apa-apa yang telah diciptakan sebelumnya, dan mengaplikasikannya secara
12
Permainan tradisional masyarakat Melayu cukup banyak. GasingB
merupakan salah satunya yang sampai saat ini masih eksis di beberapa daerah di
Langkat, meski pengaruh modernisasi terus menerpa sesuai dengan
perkembangan zaman. Gasing merupakan sejenis permainan yang boleh berputar
pada paksinya sambil mengimbang pada satu titik. Gasing merupakan permainan
tradisional orang-orang Melayu sejak dahulu. Selain itu, main Congkak
merupakan salah satu permainan rakyat Melayu yang biasanya dimainkan oleh
kalangan wanita dewasa dan anak-anak perempuan. Permainan ini bersifat umum
bagi masyarakat. Main Congkak hanyalah suatu permainan pengisi waktu
senggang, yang dimainkan sekadar untuk menghibur diri. Permainan tersebut
tidak ada hubungan dengan upacara adat atau dari kepercayaan masyarakat
setempat. Permainan Tali Merdeka adalah sebutan untuk mereka pendukung
kebudayaan Melayu. Inti dari permainan ini adalah melompat tali karet yang
tersimpul. Penamaan permainan ini ada kaitannya dengan tingkah laku atau
perbuatan yang dilakukan pemain itu sendiri, khususnya pada lompatan yang
terakhir. Pada lompatan ini (yang terakhir), tali direnggangkan oleh pemegangnya
setinggi kepalan tangan yang diacungkan ke udara. Kepalan tangan tersebut
hampir mirip dengan apa yang dilakukan oleh para pejuang ketika mengucapkan
kata “merdeka”. Gerakan tangan yang menyerupai simbol kemerdekaan itulah
yang kemudian dijadikan sebagai nama permainan yang bersangkutan,
(http://muhammadfajarpb.blogspot.com/2013/10/permainan-rakyat-melayu.html,
13
Masyarakat Melayu juga terkenal dengan makanan tradisionalnya, salah
satunya Manisan Halua. Halua adalah sejenis manisan yang terbuat dari berbagai
macam buah yang tumbuh di Kabupaten Langkat. Buah-buahan seperti seperti
pepaya, cabai, labu, wortel, daun pepaya, buah gelugur, buah renda, terong,
kolang kaling, buah gundur, yang sudah dibersihkan, diberikan gula untuk
kemudian diendapkan selama beberapa hari. Setelah dicampur dengan gula yang
dipanaskan, atau pun dimasukkan langsung dalam manisan yang sudah dibentuk.
Biasanya Manisan Halua sering dibuat saat Lebaran Idul Fitri untuk disajikan
kepada para tamu yang datang ke rumah ketika berlebaran,
(https://id.berita.yahoo.com/ini-si-manis-halua-kuliner-lebaran-khas-melayu-044131909.html, diakses Desember 2014).
Lebih khusus, penelitian difokuskan pada siswa kelas V SDN 055985
Pekan Selesai Kabupaten Langkat. Jumlah seluruh peserta didik mulai kelas I
sampai kelas VI di sekolah tersebut sebanyak 433 orang murid. Dari surve awal
yang dilakukan ke sekolah, diperoleh informasi bahwa sekitar 70% murid adalah
bersuku Melayu, dan beberapa tenaga pendidik dan tenaga kependidikan di
sekolah tersebut juga bersuku Melayu, Dari data demografi sekolah ini,
merupakan alasan dan sangat dimungkinkan pengembangan buku paket pada
pembelajaran tematik terpadu berbasis nilai-nilai budaya Melayu.
Analisis awal terhadap perangkat pembelajaran yang dirancang oleh guru
di sekolah tersebut, belum mengintegrasikan nilai-nilai budaya masyarakat
setempat. Buku-buku, baik buku guru dan juga buku siswa masih menggunakan
14
Artinya, kekhususan materi ajar yang dimuat pada buku tersebut belum
menunjukkan nilai-nilai budaya dan sosial masyarakat Melayu di Langkat.
Keberhasilan dalam pembelajaran juga sangat bergantung pada bahan ajar
yang digunakan. Bahan ajar adalah sekumpulan sumber belajar yang
memungkinkan siswa dan guru melakukan kegiatan pembelajaran (Hobri,
2010:31). Hal yang sama juga diutarakan oleh Mawaddah (2011:72) bahwa bahan
ajar merupakan seperangkat materi yang disusun secara sistematis sehingga
tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar. Salah
satu bahan ajar yang dimaksudkan adalah buku siswa.
Buku adalah bahan ajar yang membuka kesempatan bagi siswa untuk
belajar menurut kecepatannya masing-masing, menurut caranya masing-masing
dan menggunakan teknik yang berbeda-beda untuk memecahkan masalah tertentu
berdasarkan latar belakang pengetahuan dan kebiasaaannya masing-masing
(Mbulu, 2001:90). Buku adalah berupa paket yang berisikan saran-saran untuk
guru, materi pelajaran untuk siswa yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan
(Saliwangi, 1989:38). Maka untuk mencapai keberhasilan pembelajaran di kelas
seyogyanya didukung oleh buku siswa sebagai sarana belajar bagi siswa di
sekolah.
Untuk itu, semestinya guru tidak hanya menggunakan buku-buku teks
yang telah ada. Hal ini mengingat buku yang dikembangkan oleh orang lain sering
kali tidak cocok untuk siswa. Ada sejumlah alasan ketidakcocokan, misalnya:
lingkungan sosial, geografis, budaya, dan lain sebagainya. Sehingga buku siswa
15
Karakteristik siswa misalnya tahapan perkembangan siswa, kemampuan awal,
latar belakang keluarga, dan lain-lain. Selain itu, lingkungan sosial budaya dan
geografis menjadi pertimbangan penting dalam mengembangkan buku siswa.
Oleh karena itu,buku siswa yang dikembangkan sendiri dapat disesuaikan dengan
karakteriktik siswa sebagai sasaran. Dengan demikian, maka sebuah buku ajar
harus dapat dijadikan sebuah bahan ajar sebagai pengganti fungsi guru. Kalau
guru memiliki fungsi menjelaskan sesuatu, maka buku harus mampu menjelaskan
sesuatu dengan bahasa yang mudah diterima peserta didik sesuai dengan tingkat
pengetahuan dan usianya.
Untuk menjaga nilai-nilai budaya masyarakat Melayu agar tidak punah
dengan perkembangan jaman saat ini, khususnya pada anak usia sekolah sebagai
generasi muda, harus dimulai dari pendidikan. Salah satu cara yang tepat
dilakukan adalah pengembangan buku siswa sebagai perangkat pembelajaran
tematik terpadu berbasis nilai-nilai budaya dan sosial masyarakat Melayu di
Kabupaten Langkat melalui proses penelitian.
1.e.B RumusanBMasalahB
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan permasalahan
penelitian ini adalah: “bagaimana pengembangan buku siswa sebagai perangkat
pembelajaran tematik terpadu berbasis nilai-nilai budaya masyarakat Melayu di
16
1.3.B TujuanBPenelitianB
Tujuan penelitian adalah mengembangkan buku siswa sebagai perangkat
pembelajaran tematik terpadu berbasis nilai-nilai budaya masyarakat Melayu di
SDN 055985 Pekan Selesai Kabupaten Langkat.
1.4.B ManfaatBPenelitianB
Berdasarkan permasalahan dan tujuan yang akan dicapai pada penelitian
ini, adapun manfaat penelitian adalah:
a. Secara teoritis
Sebagai sumbangan pemikiran ilmiah dalam memajukan pendidikan,
khususnya pendidikan dasar ditingkat satuan pendidikan Sekolah Dasar
dengan cara mengembangkan pembelajaran tematik terpadu berbasis
nilai-nilai budaya masyarakat Melayu.
b. Secara praktis
- Sebagai informasi dan masukan kepada pihak sekolah untuk
meningkatkan mutu pendidikan dengan cara mengembangkan
pembelajaran tematik terpadu berbasis nilai-nilai budaya masyarakat
Melayu.
- Sebagai salah satu syarat bagi peneliti untuk memperoleh gelar Magister
Pendidikan (M.Pd) pada Program Studi Pendidikan Dasar.
- Sebagai bahan pengembangan wawasan bagi peneliti lain yang ingin
1 98
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang pengembangan buku
siswa sebagai perangkat pembelajaran tematik terpadu berbasis nilai-nilai
budaya masyarakat Melayu di Langkat, maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa permasalahan yang dihadapi siswa saat ini adalah kurangnya
apresiasi terhadap nilai-nilai budaya masyarakat Melayu di Langkat seiring
dengan perkembangan jaman saat ini.
Berangkat dari permasalahan dimaksud, maka tema yang diangkat pada
pengembangan buku tersebut adalah “Bangga sebagai Bangsa Indonesia”,
dengan subtema “Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya”. Materi
sebagai bahan ajar yang akan dituangkan pada buku tersebut adalah Budaya
masyarakat Melayu di langkat, dan submateri dibagi menjadi 4 bagian yaitu:
Kesenian tradisional; Makanan tradisional; peninggalan bersejarah; dan
Permainan tradisional. Materi dan submateri diintegrasikan kepada beberapa
mata pelajaran, seperti: Bahasa Indonesia, IPS, PKn, Seni Budaya &
Prakarya (SBdP), Pendididkan Jasmani Olah Raga dan Kesehatan (PJOK),
Matematika, dan IPA, dengan menentukan kompetensi inti dan kompetensi
dasar masing-masing mata pelajaran dimaksud.
Penyusunan draft desain buku siswa dimulai dengan rancangan cover,
99
oleh tenaga ahli, kemudian dilakukan revisi akan saran dan perbaikan dari
tenaga ahli untuk penyempurnaan buku siswa dimaksud.
5.2. Saran
1. Bagi pemerintah
Pemerintah melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Langkat hendaknya
memberi dukungan terkait penggunaan buku siswa berbasis nilai-nilai
budaya masyarakat lokal, salah satunya budaya masyarakat Melayu di
Langkat, yang masih bersifat prototipe.
2. Bagi kepala sekolah
Kepala sekolah hendaknya lebih selektif dalam memilih buku-buku siswa
berbasis nilai-nilai budaya masyarakat Sumatera Utara, khususnya budaya
masyarakat Melayu di Langkat.
Kepala sekolah hendaknya dapat bekerjasama dengan beberapa guru,
dosen, serta tenaga ahli yang berkompeten untuk merancang dan
mendesain kebutuhan buku dimakud.
3. Bagi guru
Sebelum menggunakan buku ini, disarankan kepada guru agar lebih
memahami maksud dan tujuan pembelajaran pada buku siswa dan dapat
merancang perangkat pembelajaran RPP, media pembelajaran sesuai
100
4. Bagi peneliti lain
Bagi peneliti lain yang berminat untuk melakukan penelitian serupa
hendaknya dapat mengkaji nilai-nilai budaya masyarakat yang lain seperti
101
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi. 2011. Strategi Pembelajaran Sekolah Terpadu. Jakarta: Prestasi Pustaka Publiaher.
Arifin, Zainal. 2012. Langkat Dalam Sejarah dan Perjuangan Kemerdekaan. Medan: Mitra Medan.
Ayatrohaedi. 1986. Kepribadian Budaya Bangsa (Lokal Genius). Jakarta: Pustaka Jaya.
BPS Kabupaten Langkat 2015.
Borg, W. R. and Gall, M. D. 1989. Educational Research: An Introduction. New York: longman.
Depdiknas. 2004. Kurikulum TK (Pedoman Penyusunan Silabus). Dikdasmen, Direktorat Pendidikan TK dan SD.
Davis, Robert, B. 1990. Learning discovery and constructivism. Rutgers University: Journal of Teacher Education Mathematics, Vol. 3, No 23.
Dick and Carey. 1996. The Sistematic Design of Instruction. Fourth Edition. Harper Collins: College Publisher.
Dick, W., Carey, L., & Carey, J. O. 2001. The Systematic Design of Instruction. USA: Addison-Wesley Educational Publisher Inc.
Dirjen Dikti. 2005. Pedoman Umum: Pengembangan Sistem Asesmen Berbasis Kompetensi. Jakarta: Depdiknas.
Fogarty, R. 1991. How to Integrate the Curricula. Palatine, Illinois: IRI/Skylight Publishing, Inc.
Gall, M. D., Gall, J. P., & Borg, W. R. 2003. Educational Research: An introduction. Seventh Edition. Boston: Pearson Education, Inc.
Geertz, Clifford. 1973. The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books, Inc., Publishers.
Gerlach, Vernon S. &Ely, Donald P. 1980. Teaching & Media: A Systematic Approach. Second Edition. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall, Inc.
102
Hadi, N. 1997. Pemanfaatan Sumber Belajar oleh Guru dan Pengaruhnya
terhadap Hasil Belajar dalam Pengajaran Pendidikan IPS (Studi Kasus di Kelas III SDN Kauman I dan SDN Kauman II Kotamadia Malang-Jawa Timur. Tesis S2 PS PIPS SPs UPI, Bandung.
Heinich, R., Molenda, M., Rusell, J. D., & Smaldino. 2002. Instructinal Media and Technology for Learning, 7th edition. New Jersey: Prentice Hall, Inc.
Hernawan, Asep Hery.Pengembangan Model Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar Kelas Awal. http://www.google.co.id, diunduh Oktober 2014.Jakarta.
Hobri. 2010. Metodologi Penelitian Pengembangan. Jember: Pena Salsabila.
Kusumawijaya, M. 2007. Sinergikan Seni melalui Pendidikan. Kompas, tanggal
14 Februari 2007. Jakarta, diakses Oktober 2014.
Moendardjito. 1986. Negara yang Demokratis. Jakarta: Yayasan Koidor
Pengabdian.
O’Neil F., William. 1981. Educational Ideologies;ContemporaryExpressions of Educational Philosophies. Santa Monica, California: Goodyear Publishing Company.
Pargito. 2000. Pembelajaran IPS dengan Model Pengalaman Belajar di SD Daerah Pedesaan Tertinggal (IDT). Bandung: Tesis S2 PS PIPS UPI.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 67 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah.
Plomp, Tjeerd. 1997. Educational and training system design. Enschede, The Netherlands: Univercity of Twente.
Poerwadarminta, W.J.S. 1983. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Prabowo. 2000. Pembelajaran Fisika dengan Pendekatan Terpadu dalam Menghadapi Perkembangan IPTEK Milenium III. Makalah. Disampaikan pada Seminar dan Lokakakarya Jurusan Fisika FMIPA UNESA bekerja sama dengan Himpunan Fisika Indonesia (HFI) dengan tema: Optimalisasi Peranan Fisika Menghadapi Perkembangan IPTEK Milenium III Tanggal 10 Februari 2010. Unesa.
103
Richey, Rita C, Klein. 2007. Design and Development Research.
London: Lawrence Erlbaum Associates. Inc.
Romiszowski, A.J. 1986. Developing Auto Instructional Matrials. New
York:Nichols Publishing Com.
Samion, A.R. 2002. Pengembangan Kreativitas Mengajar Guru dalam
Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Bandung: Disertasi S3 PS PIPS SPs UPI.
Sapri, J. 2000. Model Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal Kewirausahaan
dalam Mensukseskan Wajar 9 Tahun di SMPN Wilayah Pantai Propinsi Bengkulu.Bengkulu: Lembaga penelitian UNIB.
Sasongko, R. N. 2004. Penerapan Model Pembelajaran Interaktif Akademis Emosional Berbasis Kompetensi untuk Peningkatan Mutu Proses dan Hasil Belajar. Bengkulu . Lembaga Penelitian UNIB.
Schifter, D. & Fosnot, C.T. 1993. Restructuring Mathematics Education. New York: Teacher College, Columbia University.
Seels, B.B. & Richey, R.C. 1994. Instructional Technology: The Definition and Domains of The Field. Washington: AECT.
Soetarno, 2004. Ragam Budaya Indonesia. Direktorat Pembinaan Pendidikan TenagaKependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi, Dirjen Dikti: Depdiknas.
Subroto, H.T, dan Herawati, I.S. 2005. Pembelajaran Terpadu. Jakarta: UT.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&B. Bandung: Alfabeta.
Sujadi. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Sukayati. 2004. Pembelajaran Tematik di SD Merupakan Penerapan dari
Pembelajaran Terpadu. Yogyakarta: Depdiknas.
Sukayati dan Wulandari, Sri. 2009. Pembelajaran Tematik di SD. Jakarta: Depdiknas, Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan.
Sukmadinata. 2006. Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengah.
104
Sulhan, N. 2011. Panduan praktis pengembangan karakter dan budaya bangsa sinergi sekolah dengan rumah. Surabaya: JP Press Media Utama (Jawa Pos Grup).
Supriyadi, Gering. 2003.Budaya Kerja Pegawai Negeri Sipil. Lembaga
Administrasi.
Susilana, Rudi, Riyana, Cepi. 2007. Media Pembelajaran. Bandung: CV. Wacana Prima.
Takari, Muhammad. 2013. Kesenian Melayu: Kesinambungan, Perubahan, dan Strategi Budaya. Batam: Departemen Etnomusikologi FIB USU dan Majlis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI).
Taylor, Lyn. 1993. Vygotskyan Scientific Concepts: Implications for Mathematics Education. Focus on Learning Problems in Mathematics Vol. 15, 2-3. Tilaar, H. A. R. 2006. Standarisasi Pendidikan Nasional: Tinjauan Kritis. Jakarta:
Rineka cipta.
Tomlison, Brian (ed). 1998. Material Development in Language Teaching. Cambridge: Cambridege University.
Undang-undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisem Pendidikan Nasional. 2003.
Utami, Dwi Tyas & Murti, Irma K.A. 2014. Ilmu Pengetahuan Sosial: Buku Pendamping Tematik Terpadu. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Van Den Akker J. 1999. Principles and Methods of Development
Research. Design Approaches and Tools in Education and Training. Dortrech: Kluwer Academic Publishers.
Wagiran. 2009. Pengembangan Model Pendidikan Kearifan Lokal di Wilayah Provinsi DIY dalam Mendukung Perwujudan Visi Pembangunan DIY menuju Tahun 2025 (Tahun Pertama). Penelitian. Yogyakarta: Biro Administrasi Pembangunan.
(http://muhammadfajarpb.blogspot.com/2013/10/permainan-rakyat-melayu.html
(https://id.berita.yahoo.com/ini-si-manis-halua-kuliner-lebaran-khas-melayu.html