• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN BUKU SISWA SEBAGAI PERANGKAT PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU BERBASIS NILAI-NILAI BUDAYA MASYARAKAT LOKAL PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 055985 PEKAN SELESAI KABUPATEN LANGKAT.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGEMBANGAN BUKU SISWA SEBAGAI PERANGKAT PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU BERBASIS NILAI-NILAI BUDAYA MASYARAKAT LOKAL PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 055985 PEKAN SELESAI KABUPATEN LANGKAT."

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN BUKU SISWA SEBAGAI PERANGKAT

PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU BERBASIS

NILAI-NILAI BUDAYA MASYARAKAT LOKAL

PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 055985

PEKAN SELESAI KABUPATEN

LANGKAT

TESIS

Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Pendidikan

Program Studi Pendidikan Dasar

Oleh:

NURLIA GINTING

NIM. 8136182039

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)
(3)
(4)
(5)

i ABSTRAK

Nurlia Ginting (2015). Pengembangan Buku Siswa Sebagai Perangkat Pembelajaran Tematik Terpadu Berbasis Nilai-Nilai Budaya Masyarakat Lokal pada Siswa Kelas V SD Negeri 055985 Pekan Selesai Kabupaten Langkat.

Penelitian ini merupakan penelitian Research & Development (R&D), yang mengedepankan

nilai-nilai budaya sebagai kearifan lokal. Nilai-nilai

budaya yang dimaksudkan di sini adalah budaya Melayu Langkat.

Keunggulan lokal merupakan segala sesuatu yang merupakan ciri khas

kedaerahan yang mencakup aspek ekonomi, budaya, komunikasi,

ekologi, agama, dan lain-lain. Keunggulan lokal adalah hasil bumi,

kreasi seni, tradisi, budaya, pelayanan, jasa, sumber daya alam, sumber

daya manusia atau lainnya yang menjadi keunggulan suatu daerah.

Populasi penelitian adalah seluruh SD di Kabupaten Langkat. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purpossive sampling, sesuai dengan kebutuhan penelitian, yaitu Sekolah Dasar Negeri 055985 Pekan Selesai Kabupaten Langkat. Adapun informan kunci yang dijadikan pada penelitian ini adalah kepala sekolah, Dinas Pendidikan Kabupaten Langkat, guru, dan sesepuh adat melayu di Langkat. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan beberapa cara, yaitu: (1) wawancara mendalam, (2) observasi, (3) studi dokumentasi. Desain penelitian R&D menggunakan pendekatan model Dick dan Cerey, yang dikembangkan oleh Walter Dick dan Lou Carey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang pengembangan buku paket sebagai perangkat pembelajaran tematik terpadu berbasis nilai-nilai budaya masyarakat Melayu di Langkat, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa permasalahan yang dihadapi siswa saat ini adalah kurangnya apresiasi terhadap nilai-nilai budaya masyarakat Melayu di Langkat seiring dengan perkembangan jaman saat ini. Berangkat dari permasalahan dimaksud, maka tema yang diangkat pada pengembangan buku tersebut adalah “Bangga sebagai Bangsa Indonesia”, dengan subtema “ Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya”.

(6)

ii ABSTRACT

Nurlia Ginting (2015). Book Development Student For Thematic Learning Tool Based Integrated Cultural Values in Local Communities in Class V Elementary School 055985 Finished Langkat week.

This study is a Research & Development (R & D), which emphasizes cultural values as local wisdom. Cultural values is meant here is the Malay culture Langkat. Local excellence is everything that is the hallmark of regionalism which include economic aspects, culture, communications, ecology, religion, and others. Local excellence is the result of the earth, the creation of art, tradition, culture, sevices, natural resources, human resources, or other that are the hallmark of an area. The population is all SD in Langkat. The sampling technique is done with purposive sampling, in accordance with the needs of research, namely the State Primary School 055985 Finished Langkat week. The key informants were used in this study is the principal, Langkat District Education Office, teachers and indigenous elders wither in Langkat. Data collection techniques done in several ways, namely: (1) deep interview, (2) observation, (3) study the documentation. R & D research design approach Dick and Cerey models, developed by Walter Dick and Lou Carey. The results showed that Based on the result of research and discussion about the development of textbooks as a learning device based integrated thematic cultural values of the Malay community in Langkat, it can be concluded that the problems faced by young people today is the lack of appreciation of cultural values in the Malay community Langkat along with the development of the currenr era. Departing from the problems mentioned, the theme for the development of the book is “Proud as Indonesia”, with the subtheme “Indonesia as a civilized nation”.

(7)

iii

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Alhamdullilah puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas

Rahmat dan Karunia-Nya, sehingga penulis mampu menyelesaikan tesis ini

dengan baik. Tesis ini berjudul “Pengembangan Buku Siswa Sebagai

Perangkat Pembelauaran Tematik Terpadu Berbasis Nilai-Nilai Budaya Masyarakat Lokal Pada Siswa Kelas V SD Negeri 055985 Pekan Selesai Kabupaten Langkat”. Penelitian ini merupakan tugas akhir untuk memenuhi persyaratan dalam memperoleh gelar Magister Pendidikan di Universitas Negeri

Medan. Dalam menyelesaikan penulisan tesis ini, penulis mendapat bimbingan

dari para dosen dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada

kesempatan ini penulis tidak lupa menyampaikan ucapan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd., selaku Rektor Universitas Negeri

Medan, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk

menempuh pendidikan Pascasarjana (S-2).

2. Bapak Prof. Dr. H. Abdul Muin Sibuea, M.Pd., selaku Direktur PPs

Universitas Negeri Medan yang telah membantu dan mengizinkan

(8)

iv

3. Bapak Dr. Phil. Ichwan Azhari, M.S. dan Bapak Dr. Dede Ruslan, M.Si.,

selaku Dosen Pembimbing I dan II yang telah membimbing dan

meluangkan waktunya serta telah memberikan nasehat dan arahan kepada

penulis selama penulisan tesis ini.

4. Bapak Dr. Deni Setiawan M.Si., selaku Ketua Prodi Pendidikan Dasar PPs

Universitas Negeri Medan yang banyak membantu dalam memberikan

arahan kepada penulis dalam penulisan tesis.

5. Ibu Prof. Dr. Anita Yus M.Pd., selaku sekretaris Prodi Pendidikan Dasar

PPs Universitas Negeri Medan yang banyak membantu dalam memberikan

arahan kepada penulis dalam penulisan tesis.

6. Bapak Dr. Deny Setiawan, M.Si., Bapak Dr. Hidayat, M.Si., dan Ibu Prof.

Dr. Anita Yus, M.Pd., selaku penguji yang telah banyak memberi masukan

dan saran demi perbaikan tesis ini.

7. Putra, selaku Pegawai Prodi Pendidikan Dasar PPs Universitas Negeri

Medan yang telah membantu penulis sejak dalam perkuliahan hingga

penyelesaian tesis.

8. Kepala Sekolah SD Negeri 055985 Pekan Selesai Kabupaten Langkat, Ibu

Hj.Sri Rosmawati, S.Pd dan seluruh keluarga besar SD Negeri 055985

Pekan Selesai Kabupaten Langkat.

9. Ayahanda dan Ibunda tercinta (Alm). H. Makmur Ginting dan Hj. Rencana

Kacaribu, yang telah memberikan dukungan dan bantuan kepada penulis

(9)

v

10. Abang dan Kakak saya Abdul Rasyid Ginting, S.Kep Ns dan Emmy

Depari, SE, Kakak dan Abang saya Agustina Ginting M.Pd dan Irwansyah

Sitepu, SE, (Almh) Kakak saya Fitri Amelia Ginting,SH serta

keponakan-keponakanku tersayang Annisa, Daffa, Arkhan, dan Aufa.

11. Sohib-sohibku Akmalun Nazli, M.Pd, Nina Hasanah, Yasmin Sofia Nst,

Fira Astika Wanhar.

12. Teman – teman B – 1 (Bg Pian,M.Pd, Mirza, Mardo, Fitri, Kak Mayang,

Icha, Bg Helmi,M.Pd, Bu Cut, Pak Teuku, Bg Haris dll) yang telah

memberikan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

13. Seluruh pihak yang membantu dalam penyusunan Tesis ini yang tidak

dapat disebutkan satu persatu, terima kasih atas dukungan dan

motivasinya.

Semoga Allah SWT memberikan balasan yang terbaik atas bantuan dan

bimbingan yang diberikan. dengan penuh harap kiranya tesis ini bermanfaat bagi

yang membutuhkannya. Amin

Medan, Juli 2015 Penulis

(10)

vi

DAFTAR ISI

TEMBAR PERSETUJUAN ...

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR TABET ... ix

BAB I PENDAHUTUAN ... 1

1.1. Latar Belakang Masalat ... 1

1.2. Rumusan Masalat ... 15

1.3. Tujuan Penelitian ... 16

1.4. Manfaat Penelitian ... 16

BAB II KAJIAN TEORETIS ... 17

2.1. Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu ... 17

2.2. Konsep Kearifan Lokal... 27

2.3. Konsep Pembelajaran Berbasis Budaya ... 32

2.4. Pengembangan Model Pembelajaran ... 38

2.4.1. Model Pembelajaran ... 38

2.4.2. Pengembangan Pembelajaran Menurut Plomp ... 43

2.4.3. Model Pengembangan Pembelajaran Menurut Dick & Carey. 46 BAB III METODE PENETITIAN ... 63

3.1. Jenis Penelitian ... 63

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian ... 64

3.3. Populasi dan Sampel... 65

(11)

vii

3.5. Desain Penelitian ... 66

BAB IV HASIT DAN PEMBAHASAN ... 74

4.1. Hasil Penelitian ... 74

4.1.1 Investigasi Awal ... 75

4.1.2. Perancangan ... 80

4.1.3. Realisasi ... 90

4.1.4. Pengujian, Evaluasi, dan Revisi ... 90

4.2. Pembatasan ... 93

BAB V SIMPUTAN DAN SARAN ... 98

5.1. Simpulan ... 98

5.2. Saran ... 99

DAFTAR PUSTAKA ... 101

(12)

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Konsep Rumah Jaman Dulu Ke Rumah Modern ... 6

Gambar 2. Perubahan cara Menonton Sepak Bola ... 6

Gambar 3. Cerita tentang hayati di Raja Ampat, Papua ... 7

Gambar 4. Model Perencanaan Pendidikan adaptasi Plomp, 1997 ... 46

Gambar 5. Model Pengembangan Pembelajaran Menurut Dick & Carey ... 61

Gambar 6. Desain Penelitian Pengembangan Buku Paket ... 70

Gambar 7. Skema LangkahMLangkah Prosedur Penelitian ... 71

(13)

ix

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kompetensi Inti Kelas V SD ... 83

Tabel 2. Kompetensi Dasar Bahasa Indonesia Kelas V SD ... 83

Tabel 3. Kompetensi Dasar PKn Kelas V SD ... 84

Tabel 4. Kompetensi Dasar IPS Kelas V SD ... 85

Tabel 5. Kompetensi Dasar SBdP Kelas V SD ... 85

Tabel 6. Kompetensi Dasar PJOK Kelas V SD ... 86

Tabel 7. Kompetensi Dasar Matematika Kelas V SD ... 87

(14)

1 1

BABBIB

PENDAHULUANB

1.1.BLatarBBelakangBMasalahB

B Pembelajaran pada tingkat satuan pendidikan SD harus memperhatikan

karakteristik peserta didik yang menghayati pengalaman belajar sebagai satu

kesatuan yang utuh. Pengemasan pembelajaran dirancang secara tepat karena akan

berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman belajar peserta didik.

Pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual, baik

didalam maupun antar mata pelajaran akan memberi peluang bagi terjadinya

pembelajaran yang efektif dan lebih bermakna. Pengalaman belajar dalam

kurikulum sebelumnya, yang cenderung disipliner, sarat beban materi kognitif,

over lapping antar materi yang sama di mata pelajaran berbeda, kesemuanya

merupakan alasan pembelajaran tematik penting diterapkan di SD.

Pembelajaran tematik merupakan pendekatan pembelajaran yang

melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman belajar yang

bermakna bagi peserta didik. Pembelajaran tematik berorientasi pada praktek

pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan secara efektif akan

membantu menciptakan kesempatan yang luas bagi siswa untuk melihat dan

membangun konsep-konsep yang saling berkaitan. Pembelajaran ini memberikan

kesempatan kepada peserta didik untuk memahami masalah yang kompleks

dilingkungan sekitarnya dengan pandangan yang utuh, sehingga peserta didik

memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi, mengumpulkan, menilai dan

(15)

2

Pembelajaran tematik menekankan pada penerapan konsep belajar sambil

melakukan sesuatu (learning by doing).

Dalam pelaksanaannya, pembelajaran tematik bertolak dari satu topik atau

tema yang dipilih dan dikembangkan oleh beberapa guru kelas secara

bersama-sama. Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam

proses belajar. Penerapan pembelajaran tematik di SD adalah upaya mengimbangi

gejala penjejalan berbagai buku mata pelajaran yang sering terjadi dalam proses

pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Banyaknya buku mata pelajaran yang

harus dipelajari oleh peserta didik dikhawatirkan akan mengganggu

perkembangan peserta didik, karena terlalu banyak menuntut peserta didik untuk

mengerjakan aktivitas atau tugas-tugas yang melebihi kapasitas dan kebutuhan

mereka. Dengan demikian, peserta didik kehilangan sesuatu yang seharusnya bisa

mereka kerjakan. Jika dalam proses pembelajaran peserta didik hanya merespon

segalanya dari guru, maka mereka akan kehilangan pengalaman pembelajaran

yang alamiah dan langsung (direct experiences). Pengalaman-pengalaman

sensorik yang membentuk dasar kemampuan pembelajaran abstrak peserta didik

menjadi tidak tersentuh, padahal hal merupakan karakteristik utama

perkembangan anak usia SD. Pembelajaran tematik sebagai pendekatan baru

dianggap penting untuk dikembangkan di SD.

Pandangan psikologis yang melandasai pembelajaran tematik terpadu,

bahwa perkembangan peserta didik yang terpadu untuk melihat diri sendiri dan

sekitarnya secara utuh (holistik). Pada dasarnya, masing-masing peserta didik

(16)

3

pembelajaran, berarti bukan pengalaman orang lain (guru) yang ditransfer melalui

berbagai bentuk media. Pembelajaran tematik terpadu memungkinkan peserta

didik untuk menemukan pola dan hubungan dari berbagai disiplin ilmu.

Pembelajaran tematik mengadopsi prinsip pembelajaran PAKEM yaitu

pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Aktif bahwa pembelajaran

peserta didik secara fisik maupun mental dalam hal mengemukakan penalaran

atau alasan, mengemukakan kaitan yang satu dengan yang lain,

mengkomunikasikan ide, mengemukakan bentuk representasi yang tepat, dan

menggunakan semua itu untuk memecahkan masalah. Kreatif berarti dalam

pembelajaran peserta didik melakukan serangkaian proses pembelajaran secara

runtut dan berkesinambungan yang meliputi memahami masalah, merencanakan

pemecahan masalah, melaksanakan rencana pemecahan masalah, memeriksa

ulang pelaksanaan masalah. Efektifartinya berhasil mencapai tujuan sebagaimana

yang diharapkan. Menyenangkan berarti sifat terpesona dengan keindahan,

kenyamanan, dan kemanfaatanya sehingga mereka terlibat dengan asyik dalam

belajar sambil bermain.

Proses pembelajaran tematik terpadu harus dirancang sedemikian rupa

oleh para guru dengan memperhatikan potensi dan karakteristik daerah, salah

satunya mengedepankan nilai-nilai budaya sebagai kearifan lokal. Lebih

dipertegas lagi bahwa pemerintah sangat serius mengembangkan pendidikan

karakter dan budaya bangsa di negara ini (Sulhan, 2011:57).

Kearifan lokal merupakan bagian dari konstruksi budaya yang mengacu

(17)

4

masyarakat yang dikenal, dipercayai dan diakui sebagai elemen-elemen penting

yang mampu mempertebal kohesi sosial di antara warga masyarakat. Kearifan

lokal secara dominan masih diwarnai nilai-nilai adat seperti bagaimana suatu

kelompok sosial melakukan prinsip-prinsip konservasi, manajemen dan

eksploitasi sumber daya alam. Perwujudan bentuk kearifan lokal yang merupakan

pencerminan dari sistem pengetahuan yang bersumber pada nilai budaya di

berbagai daerah di Indonesia, memang sudah banyak yang hilang dari ingatan

komunitasnya. Namun, di sebagian kalangan komunitas itu walaupun sudah tidak

lengkap lagi atau telah berakulturasi dengan perubahan baru dari luar, masih

tampak ciri-ciri khasnya dan masih berfungsi sebagai pedoman hidup masyarakat.

Eksplorasi terhadap kekayaan luhur budaya bangsa, sangat perlu untuk

dilakukan, sekaligus berupaya untuk mengkritisi eksistensinya terkait dengan

keniscayaan adanya perubahan budaya, ruang eksplorasi dan pengkajian kearifan

lokal menjadi tuntunan tersendiri bagi eksplorasi khasanah budaya bangsa pada

umumnya. Keunggulan lokal merupakan segala sesuatu yang merupakan ciri khas

kedaerahan yang mencakup aspek ekonomi, budaya, komunikasi, ekologi, agama,

dan lain-lain. Keunggulan lokal adalah hasil bumi, kreasi seni, tradisi, budaya,

pelayanan, jasa, sumber daya alam, sumber daya manusia atau lainnya yang

menjadi keunggulan suatu daerah (Ahmadi, 2012:9).

Dua hal yang melatarbelakangi pentingnya pembelajaran berbasis

nilai-nilai budaya masyarakat, yaitu: tantangan yang dihadapi lembaga pendidikan

dasar di era globalisasi dan sistem pendidikan di sekolah yang cenderung parsial

(18)

5

Pertama, globalisasi mengakibatkan pencapaian tujuan pendidikan tingkat satuan

pendidikan dasar untuk meletakkan dasar keterampilan hidup mandiri semakin

kompleks. Tiga kekuatan besar yang akan mempengaruhi kehidupan individu

Indonesia di era globalisasi, yakni masyarakat madani (civil society),

negara-bangsa (nation-state), dan globalisasi (Tilaar, 2006:140-141). Oleh karena itu,

agar tidak terombang-ambing dalam tiga kekuatan besar tersebut, manusia

Indonesia harus memiliki dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Nilai-nilai Pancasila merupakan kristalisasi dari Nilai-nilai-Nilai-nilai budaya lokal yang

merupakan nilai-nilai yang pertama dikenal oleh seorang manusia Indonesia. Hal

ini menekankan pentingnya sejak dini dan melembaga untuk memelihara dan

mengembangkan budaya masyarakat lokal sebagai bagian integral dari pendidikan

nasional, agar siswa tidak tercabut dari akar nilai-nilai budayanya.

Kedua, secara konsepsional, pembelajaran tematik terpadu dekat dengan

lingkungan. Oleh karena itu, pembelajaran tematik seharusnya memanfaatkan

secara optimal potensi lingkungan agar lebih bermakna. Kenyataannya di

Indonesia, hal ini belum dilakukan guru. Pembelajaran di SD cenderung tidak

kontekstual. Potensi lingkungan setempat, khususnya budaya lokal, tidak

dimanfaatkan oleh guru secara optimal dalam proses pembelajaran. Pembelajaran

tetap mengutamakan pengembangan aspek intelektual dengan buku teks pegangan

guru menjadi sumber belajar utama.

Beberapa kesimpulan hasil penelitian dari Pargito di Lampung (2000:112);

Hadi di Jawa Timur (1997:101); Samion di Kalimantan Barat (2002:25); serta

(19)

6

bahwa siswa kurang mengapresiasi budayanya. Artinya, bahwa siswa tidak

mengerti dan tidak memahami budaya sendiri akibat pembelajaran kurang

mengeksplor nilai-nilai budaya masyarakat. Analisis awal terkait pemanfaatan

nilai-nilai budaya Bangsa Indonesia pada Buku Kelas V SD berbasis tematik

terpadu pada tema 9 “lingkungan sahabat kita”, secara eksplisit buku tersebut

telah memanfaatkan nilai-nilai budaya lokal Bangsa Indonesia dalam bentuk

gambar atau deskripsi/cerita. Sebagai misal: dalam buku tersebut telah dimuat

kegiatan masyarakat

pulau Kalimantan

dalam berdagang di

pasar yang

memanfaatkan sungai

sebagai pasar

terapung. Dalam buku

tersebut juga dimuat

perubahan nilai-nilai

sosial dan budaya

masyarakat terkait

konsep rumah

masyarakat jaman dulu

GambarB1.BKonsepBRumahBJamanBDuluBKeBRumahBModernB

(20)

7

sebagai peninggalan budaya menjadi sebuah bangunan rumah modern yang sama

sekali telah meninggalkan nilai-nilai budaya. Selain itu, perubahan cara menonton

permainan sepak bola yang dulunya harus ditonton secara langsung, namun saat

ini dapat ditonton melalui media elektronik atau melalui permainan game

elektronik. Dalam hal upacara adat, juga dimuat bagaimana karakter masyarakat

di suatu daerah untuk melaksanakan perayaan upacara adat. Pada tema 5 “Bangga

sebagai Bangsa Indonesia”

juga dimuat Kepulauan di

Papua Barat. Ini

menceritakan kekayaan

hayati laut yang ada di Raja

Ampat, Papua Barat. Selain

itu, pada tema 5 juga memuat

gambar-gambar kegiatan masyarakat lokal; pemandangan laut, pegunungan, dan

lain sebagainya, (Utami & Murti, 2014: 51-100).

Mencermati analisis awal terhadap isi buku di atas, jelas bahwa materi

yang dimuat mengandung nilai-nilai budaya Bangsa Indonesia. Nilai-nilai budaya

tersebut harus dipertahankan dan diperkenalkan kepada masyarakat agar tidak

punah akibat kemajuan dan perkembangan jaman saat ini. Namun, dalam konteks

Sumatera Utara, nilai-nilai budaya masyarakat Sumatera Utara belum nampak

pada muatan materi pada buku tersebut. Artinya, dalam tataran persekolahan di

Sumatera Utara, perlu harus mengembangkan pembelajaran yang mengedepankan

(21)

8

konsep, potensi, serta karakteristik Sumatera Utara sebagai bahan ajar pada bagian

buku dimaksud.

Pandangan-pandangan di atas menegaskan bahwa ada permasalahan dalam

pendidikan di SD yang memerlukan solusi. Hal ini, membutuhkan upaya untuk

memperbaiki kualitas pembelajaran di SD agar lebih bermakna sebagai upaya

meningkatkan apresiasi siswa terhadap budaya lokal. Upaya perbaikan kualitas

pembelajaran ini mengemukakan tiga komponen yang berpengaruh pada proses

pembelajaran, yakni raw input (karakteristik siswa), instrumentalinput (kebijakan,

kurikulum, personalia, sarana-prasarana), dan enviromentalinput (lingkungan)

(Sukmadinata, 2006:7).

Masalah di atas juga terjadi di awal penerapan model konstruktivis di

sekolah-sekolah di Amerika (mulai tahun 1950an sampai tahun 1970an). Mary

Kennedy (Schifter dan Fosnot, 1993: 12) menyatakan bahwa, a history of reform

efforts, most of which have left teaching unchanged. Davis (1990)

mengungkapkan dua hal penyebab kegagalan terkait penggunaan budaya lokal

dalam pembelajaran, (1) harapan tradisional yang berbeda jauh dari tujuan dan

metode program-program konstruktivis, dan (2) kurangnya pemahaman guru

terhadap pendekatan konstruktivis. Pembelajaran lebih diupayakan bermakna

dalam budaya lokal dan dalam proses pembelajarannya memasukkan sistem

budaya dan nilai-nilai budaya yang terdapat pada masyarakat di daerah siswa

berada. Harapan ini didasari oleh pernyataan Vygotsky (Taylor, 1993: 1) bahwa:

(22)

9

dan simbol-simbol. Fakta dan simbol-simbol dari lingkungan budaya mempengaruhi perkembangan pemahaman individu.

Kutipan ini memberi petunjuk bahwa, pemanfaatan aspek-aspek budaya

dalam pembelajaran dapat menstimulus fungsi mental yang lebih tinggi. Konsep

dan prinsip pembelajaran berbasis konstruktivis dapat dipahami lewat pendekatan

budaya. Konsep dan prinsip tematik terpadu dapat ditemukan kembali melalui

pemecahan masalah yang bersumber dari fakta dan lingkungan budaya. Pola

interaksi sosial yang dipahami siswa dalam sistem budayanya dapat dijadikan pola

interaksi edukatif yang mengatur aktivitas siswa selama proses pembelajaran.

Proses pemahaman siswa berangkat dari konsep awal (pemanfaatan pengalaman

budaya dan pengetahuan) yang dimiliki siswa dalam memecahkan masalah.

Interaksi sosial di antara siswa secara spontan akan tercipta disebabkan

pemahaman sistem budaya dari dalam diri siswa dan guru.

Ditinjau dari kerangka pengembangan pembaharuan sistem pendidikan,

penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah berbasis budaya lokal

(budaya Melayu) adalah sesuai dengan ide desentralisasi pendidikan yang sedang

dikumandangkan saat ini. Bahwa desentralisasi merupakan upaya perbaikan

efektivitas dan efisiensi pendidikan dan diharapkan dapat menumbuhkembangkan

kemampuan daerah untuk meningkatkan potensinya secara mandiri adalah dua

aspek yang mendapat insentif dari penerapan model ini. Oleh karena itu,

pengembangan buku paket yang berorientasi pada pemahaman, pemecahan

masalah, berbasis budaya lokal (budaya Melayu) sangat diperlukan guna

memperkaya pengetahuan siswa, memampukan siswa menghadapi tantangan

(23)

10

Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Langkat. Langkat merupakan bagian

integral dari wilayah Negara Kesatuan Kesatuan Republik Indonesia terletak di

paling utara Sumatera Utara dan berbatasan langsung dengan Provinsi NAD.

Secara etnis, penduduk Langkat aslinya Suku Melayu, walaupun Suku Jawa lebih

besar populasinya lebih kurang 35% dan suku Melayu 27%, (Arifin, 2012:1-2).

Sementara suku-suku yang lain, seperti: Batak Toba, Karo, Cina, dan lain

sebagainya merupakan suku minoritas. Data kependudukan Kabupaten Langkat

pada tahun 2014 berjumlah 976.535 jiwa. Dengan menggunkan nilai r (rata- rata

pertumbuhan), tahun 2015 jumlah penduduk tersebut meningkat sekitar 1.023.510

jiwa dan akan berjumlah sekitar 1.033,173 jiwa pada tahun 2016. Tahun 2017,

jumlah penduduk Kabupaten Langkat diperkirakan akan meningkat menjadi

sekitar 1.042.927 jiwa. Pada tahun akhir proyeksi, yaitu tahun 2018, jumlah

penduduk Kabupaten Langkat diperkirakan akan berjumlah sekitar 1.052.773

jiwa, (BPS Kabupaten Langkat, 2015).

Melihat perkembangan jumlah penduduk di Kabupaten Langkat, pada

tahun 2015 diproyeksikan bahwa jumlah penduduk asli Melayu sebesar

358.228,5 jiwa (35% dari jumlah penduduk tahun 2015 di Langkat). Artinya

bahwa mayoritas penduduk Langkat bersuku Melayu yang merupakan bonus

demografi bagi masyarakat Langkat.

Masyarakat Langkat sangat kental dengan budaya Melayu. Dalam konteks

memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, masyarakat Langkat menciptakan budaya

Melayu. Unsur-unsur kebudayaan ini mencakup: agama, bahasa, organisasi,

(24)

11

gagasan, kegiatan, maupun artefak. Sebagai contoh: peninggalan bersejarah nilai

Budaya Melayu, yaitu Pusat Kerajaan Aru I bernama Kota Sipinang di Hulu

Sungai Besitang yang telah punah dan menjadi hutan di Kawasan Taman Nasional

Gunung Leuser (TNGL); Istana Sultan Langkat: Istana Darul Salam di masa

Kesultanan T. Azis Abdul Jalil Rahmadsyah; puing Tambang Minyak Pulau

Berandan, dan lain sebagainya, juga punah seiring dengan berjalannya waktu.

Masyarakat Melayu memiliki kesenian yang terdiri dari berbagai cabang

seni seperti musik, tari, teater, rupa, arsitektur, dan lainnya. Setiap cabang seni ini

terdiri dari berbagai genrenya masing-masing. Misalnya di dalam tarian Melayu

ada genre tari Anak Kala, Serampang Dua Belas, Hadrah, Mak Inang Pulau

Kampai, Zapin Serdang, Zapin Deli, Zapin Bunga Hutan, Selabat Laila, dan

lain-lain, (Takari, 2013: 1).

Kesenian Melayu adalah ekspresi dari kebudayaan masyarakat Melayu. Di

dalamnya terkandung sistem nilai Melayu, yang dijadikan pedoman dan tunjuk

ajar dalam berkebudayaan. Kesenian Melayu menjadi bahagian yang integral dari

institusi adat. Kesenian Melayu juga mengandung filsafat hidupdan

konsep-konsep tentang semua hal dalam budaya, seperti ketuhanan, kosmologi,

globalisasi, akulturasi, inovasi, enkulturasi, dan lain-lainnya. Kesenian Melayu

dalam rangka mengisi zaman yang dilalui pastilah mengalami kesinambungan

(kontinuitas) dan disertai dengan perubahan. Kesinambungan adalah meneruskan

apa-apa yang telah diciptakan sebelumnya, dan mengaplikasikannya secara

(25)

12

Permainan tradisional masyarakat Melayu cukup banyak. GasingB

merupakan salah satunya yang sampai saat ini masih eksis di beberapa daerah di

Langkat, meski pengaruh modernisasi terus menerpa sesuai dengan

perkembangan zaman. Gasing merupakan sejenis permainan yang boleh berputar

pada paksinya sambil mengimbang pada satu titik. Gasing merupakan permainan

tradisional orang-orang Melayu sejak dahulu. Selain itu, main Congkak

merupakan salah satu permainan rakyat Melayu yang biasanya dimainkan oleh

kalangan wanita dewasa dan anak-anak perempuan. Permainan ini bersifat umum

bagi masyarakat. Main Congkak hanyalah suatu permainan pengisi waktu

senggang, yang dimainkan sekadar untuk menghibur diri. Permainan tersebut

tidak ada hubungan dengan upacara adat atau dari kepercayaan masyarakat

setempat. Permainan Tali Merdeka adalah sebutan untuk mereka pendukung

kebudayaan Melayu. Inti dari permainan ini adalah melompat tali karet yang

tersimpul. Penamaan permainan ini ada kaitannya dengan tingkah laku atau

perbuatan yang dilakukan pemain itu sendiri, khususnya pada lompatan yang

terakhir. Pada lompatan ini (yang terakhir), tali direnggangkan oleh pemegangnya

setinggi kepalan tangan yang diacungkan ke udara. Kepalan tangan tersebut

hampir mirip dengan apa yang dilakukan oleh para pejuang ketika mengucapkan

kata “merdeka”. Gerakan tangan yang menyerupai simbol kemerdekaan itulah

yang kemudian dijadikan sebagai nama permainan yang bersangkutan,

(http://muhammadfajarpb.blogspot.com/2013/10/permainan-rakyat-melayu.html,

(26)

13

Masyarakat Melayu juga terkenal dengan makanan tradisionalnya, salah

satunya Manisan Halua. Halua adalah sejenis manisan yang terbuat dari berbagai

macam buah yang tumbuh di Kabupaten Langkat. Buah-buahan seperti seperti

pepaya, cabai, labu, wortel, daun pepaya, buah gelugur, buah renda, terong,

kolang kaling, buah gundur, yang sudah dibersihkan, diberikan gula untuk

kemudian diendapkan selama beberapa hari. Setelah dicampur dengan gula yang

dipanaskan, atau pun dimasukkan langsung dalam manisan yang sudah dibentuk.

Biasanya Manisan Halua sering dibuat saat Lebaran Idul Fitri untuk disajikan

kepada para tamu yang datang ke rumah ketika berlebaran,

(https://id.berita.yahoo.com/ini-si-manis-halua-kuliner-lebaran-khas-melayu-044131909.html, diakses Desember 2014).

Lebih khusus, penelitian difokuskan pada siswa kelas V SDN 055985

Pekan Selesai Kabupaten Langkat. Jumlah seluruh peserta didik mulai kelas I

sampai kelas VI di sekolah tersebut sebanyak 433 orang murid. Dari surve awal

yang dilakukan ke sekolah, diperoleh informasi bahwa sekitar 70% murid adalah

bersuku Melayu, dan beberapa tenaga pendidik dan tenaga kependidikan di

sekolah tersebut juga bersuku Melayu, Dari data demografi sekolah ini,

merupakan alasan dan sangat dimungkinkan pengembangan buku paket pada

pembelajaran tematik terpadu berbasis nilai-nilai budaya Melayu.

Analisis awal terhadap perangkat pembelajaran yang dirancang oleh guru

di sekolah tersebut, belum mengintegrasikan nilai-nilai budaya masyarakat

setempat. Buku-buku, baik buku guru dan juga buku siswa masih menggunakan

(27)

14

Artinya, kekhususan materi ajar yang dimuat pada buku tersebut belum

menunjukkan nilai-nilai budaya dan sosial masyarakat Melayu di Langkat.

Keberhasilan dalam pembelajaran juga sangat bergantung pada bahan ajar

yang digunakan. Bahan ajar adalah sekumpulan sumber belajar yang

memungkinkan siswa dan guru melakukan kegiatan pembelajaran (Hobri,

2010:31). Hal yang sama juga diutarakan oleh Mawaddah (2011:72) bahwa bahan

ajar merupakan seperangkat materi yang disusun secara sistematis sehingga

tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar. Salah

satu bahan ajar yang dimaksudkan adalah buku siswa.

Buku adalah bahan ajar yang membuka kesempatan bagi siswa untuk

belajar menurut kecepatannya masing-masing, menurut caranya masing-masing

dan menggunakan teknik yang berbeda-beda untuk memecahkan masalah tertentu

berdasarkan latar belakang pengetahuan dan kebiasaaannya masing-masing

(Mbulu, 2001:90). Buku adalah berupa paket yang berisikan saran-saran untuk

guru, materi pelajaran untuk siswa yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan

(Saliwangi, 1989:38). Maka untuk mencapai keberhasilan pembelajaran di kelas

seyogyanya didukung oleh buku siswa sebagai sarana belajar bagi siswa di

sekolah.

Untuk itu, semestinya guru tidak hanya menggunakan buku-buku teks

yang telah ada. Hal ini mengingat buku yang dikembangkan oleh orang lain sering

kali tidak cocok untuk siswa. Ada sejumlah alasan ketidakcocokan, misalnya:

lingkungan sosial, geografis, budaya, dan lain sebagainya. Sehingga buku siswa

(28)

15

Karakteristik siswa misalnya tahapan perkembangan siswa, kemampuan awal,

latar belakang keluarga, dan lain-lain. Selain itu, lingkungan sosial budaya dan

geografis menjadi pertimbangan penting dalam mengembangkan buku siswa.

Oleh karena itu,buku siswa yang dikembangkan sendiri dapat disesuaikan dengan

karakteriktik siswa sebagai sasaran. Dengan demikian, maka sebuah buku ajar

harus dapat dijadikan sebuah bahan ajar sebagai pengganti fungsi guru. Kalau

guru memiliki fungsi menjelaskan sesuatu, maka buku harus mampu menjelaskan

sesuatu dengan bahasa yang mudah diterima peserta didik sesuai dengan tingkat

pengetahuan dan usianya.

Untuk menjaga nilai-nilai budaya masyarakat Melayu agar tidak punah

dengan perkembangan jaman saat ini, khususnya pada anak usia sekolah sebagai

generasi muda, harus dimulai dari pendidikan. Salah satu cara yang tepat

dilakukan adalah pengembangan buku siswa sebagai perangkat pembelajaran

tematik terpadu berbasis nilai-nilai budaya dan sosial masyarakat Melayu di

Kabupaten Langkat melalui proses penelitian.

1.e.B RumusanBMasalahB

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan permasalahan

penelitian ini adalah: “bagaimana pengembangan buku siswa sebagai perangkat

pembelajaran tematik terpadu berbasis nilai-nilai budaya masyarakat Melayu di

(29)

16

1.3.B TujuanBPenelitianB

Tujuan penelitian adalah mengembangkan buku siswa sebagai perangkat

pembelajaran tematik terpadu berbasis nilai-nilai budaya masyarakat Melayu di

SDN 055985 Pekan Selesai Kabupaten Langkat.

1.4.B ManfaatBPenelitianB

Berdasarkan permasalahan dan tujuan yang akan dicapai pada penelitian

ini, adapun manfaat penelitian adalah:

a. Secara teoritis

Sebagai sumbangan pemikiran ilmiah dalam memajukan pendidikan,

khususnya pendidikan dasar ditingkat satuan pendidikan Sekolah Dasar

dengan cara mengembangkan pembelajaran tematik terpadu berbasis

nilai-nilai budaya masyarakat Melayu.

b. Secara praktis

- Sebagai informasi dan masukan kepada pihak sekolah untuk

meningkatkan mutu pendidikan dengan cara mengembangkan

pembelajaran tematik terpadu berbasis nilai-nilai budaya masyarakat

Melayu.

- Sebagai salah satu syarat bagi peneliti untuk memperoleh gelar Magister

Pendidikan (M.Pd) pada Program Studi Pendidikan Dasar.

- Sebagai bahan pengembangan wawasan bagi peneliti lain yang ingin

(30)

1 98

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang pengembangan buku

siswa sebagai perangkat pembelajaran tematik terpadu berbasis nilai-nilai

budaya masyarakat Melayu di Langkat, maka dapat ditarik kesimpulan

bahwa permasalahan yang dihadapi siswa saat ini adalah kurangnya

apresiasi terhadap nilai-nilai budaya masyarakat Melayu di Langkat seiring

dengan perkembangan jaman saat ini.

Berangkat dari permasalahan dimaksud, maka tema yang diangkat pada

pengembangan buku tersebut adalah “Bangga sebagai Bangsa Indonesia”,

dengan subtema “Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya”. Materi

sebagai bahan ajar yang akan dituangkan pada buku tersebut adalah Budaya

masyarakat Melayu di langkat, dan submateri dibagi menjadi 4 bagian yaitu:

Kesenian tradisional; Makanan tradisional; peninggalan bersejarah; dan

Permainan tradisional. Materi dan submateri diintegrasikan kepada beberapa

mata pelajaran, seperti: Bahasa Indonesia, IPS, PKn, Seni Budaya &

Prakarya (SBdP), Pendididkan Jasmani Olah Raga dan Kesehatan (PJOK),

Matematika, dan IPA, dengan menentukan kompetensi inti dan kompetensi

dasar masing-masing mata pelajaran dimaksud.

Penyusunan draft desain buku siswa dimulai dengan rancangan cover,

(31)

99

oleh tenaga ahli, kemudian dilakukan revisi akan saran dan perbaikan dari

tenaga ahli untuk penyempurnaan buku siswa dimaksud.

5.2. Saran

1. Bagi pemerintah

Pemerintah melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Langkat hendaknya

memberi dukungan terkait penggunaan buku siswa berbasis nilai-nilai

budaya masyarakat lokal, salah satunya budaya masyarakat Melayu di

Langkat, yang masih bersifat prototipe.

2. Bagi kepala sekolah

Kepala sekolah hendaknya lebih selektif dalam memilih buku-buku siswa

berbasis nilai-nilai budaya masyarakat Sumatera Utara, khususnya budaya

masyarakat Melayu di Langkat.

Kepala sekolah hendaknya dapat bekerjasama dengan beberapa guru,

dosen, serta tenaga ahli yang berkompeten untuk merancang dan

mendesain kebutuhan buku dimakud.

3. Bagi guru

Sebelum menggunakan buku ini, disarankan kepada guru agar lebih

memahami maksud dan tujuan pembelajaran pada buku siswa dan dapat

merancang perangkat pembelajaran RPP, media pembelajaran sesuai

(32)

100

4. Bagi peneliti lain

Bagi peneliti lain yang berminat untuk melakukan penelitian serupa

hendaknya dapat mengkaji nilai-nilai budaya masyarakat yang lain seperti

(33)

101

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi. 2011. Strategi Pembelajaran Sekolah Terpadu. Jakarta: Prestasi Pustaka Publiaher.

Arifin, Zainal. 2012. Langkat Dalam Sejarah dan Perjuangan Kemerdekaan. Medan: Mitra Medan.

Ayatrohaedi. 1986. Kepribadian Budaya Bangsa (Lokal Genius). Jakarta: Pustaka Jaya.

BPS Kabupaten Langkat 2015.

Borg, W. R. and Gall, M. D. 1989. Educational Research: An Introduction. New York: longman.

Depdiknas. 2004. Kurikulum TK (Pedoman Penyusunan Silabus). Dikdasmen, Direktorat Pendidikan TK dan SD.

Davis, Robert, B. 1990. Learning discovery and constructivism. Rutgers University: Journal of Teacher Education Mathematics, Vol. 3, No 23.

Dick and Carey. 1996. The Sistematic Design of Instruction. Fourth Edition. Harper Collins: College Publisher.

Dick, W., Carey, L., & Carey, J. O. 2001. The Systematic Design of Instruction. USA: Addison-Wesley Educational Publisher Inc.

Dirjen Dikti. 2005. Pedoman Umum: Pengembangan Sistem Asesmen Berbasis Kompetensi. Jakarta: Depdiknas.

Fogarty, R. 1991. How to Integrate the Curricula. Palatine, Illinois: IRI/Skylight Publishing, Inc.

Gall, M. D., Gall, J. P., & Borg, W. R. 2003. Educational Research: An introduction. Seventh Edition. Boston: Pearson Education, Inc.

Geertz, Clifford. 1973. The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books, Inc., Publishers.

Gerlach, Vernon S. &Ely, Donald P. 1980. Teaching & Media: A Systematic Approach. Second Edition. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall, Inc.

(34)

102

Hadi, N. 1997. Pemanfaatan Sumber Belajar oleh Guru dan Pengaruhnya

terhadap Hasil Belajar dalam Pengajaran Pendidikan IPS (Studi Kasus di Kelas III SDN Kauman I dan SDN Kauman II Kotamadia Malang-Jawa Timur. Tesis S2 PS PIPS SPs UPI, Bandung.

Heinich, R., Molenda, M., Rusell, J. D., & Smaldino. 2002. Instructinal Media and Technology for Learning, 7th edition. New Jersey: Prentice Hall, Inc.

Hernawan, Asep Hery.Pengembangan Model Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar Kelas Awal. http://www.google.co.id, diunduh Oktober 2014.Jakarta.

Hobri. 2010. Metodologi Penelitian Pengembangan. Jember: Pena Salsabila.

Kusumawijaya, M. 2007. Sinergikan Seni melalui Pendidikan. Kompas, tanggal

14 Februari 2007. Jakarta, diakses Oktober 2014.

Moendardjito. 1986. Negara yang Demokratis. Jakarta: Yayasan Koidor

Pengabdian.

O’Neil F., William. 1981. Educational Ideologies;ContemporaryExpressions of Educational Philosophies. Santa Monica, California: Goodyear Publishing Company.

Pargito. 2000. Pembelajaran IPS dengan Model Pengalaman Belajar di SD Daerah Pedesaan Tertinggal (IDT). Bandung: Tesis S2 PS PIPS UPI.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 67 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah.

Plomp, Tjeerd. 1997. Educational and training system design. Enschede, The Netherlands: Univercity of Twente.

Poerwadarminta, W.J.S. 1983. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Prabowo. 2000. Pembelajaran Fisika dengan Pendekatan Terpadu dalam Menghadapi Perkembangan IPTEK Milenium III. Makalah. Disampaikan pada Seminar dan Lokakakarya Jurusan Fisika FMIPA UNESA bekerja sama dengan Himpunan Fisika Indonesia (HFI) dengan tema: Optimalisasi Peranan Fisika Menghadapi Perkembangan IPTEK Milenium III Tanggal 10 Februari 2010. Unesa.

(35)

103

Richey, Rita C, Klein. 2007. Design and Development Research.

London: Lawrence Erlbaum Associates. Inc.

Romiszowski, A.J. 1986. Developing Auto Instructional Matrials. New

York:Nichols Publishing Com.

Samion, A.R. 2002. Pengembangan Kreativitas Mengajar Guru dalam

Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Bandung: Disertasi S3 PS PIPS SPs UPI.

Sapri, J. 2000. Model Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal Kewirausahaan

dalam Mensukseskan Wajar 9 Tahun di SMPN Wilayah Pantai Propinsi Bengkulu.Bengkulu: Lembaga penelitian UNIB.

Sasongko, R. N. 2004. Penerapan Model Pembelajaran Interaktif Akademis Emosional Berbasis Kompetensi untuk Peningkatan Mutu Proses dan Hasil Belajar. Bengkulu . Lembaga Penelitian UNIB.

Schifter, D. & Fosnot, C.T. 1993. Restructuring Mathematics Education. New York: Teacher College, Columbia University.

Seels, B.B. & Richey, R.C. 1994. Instructional Technology: The Definition and Domains of The Field. Washington: AECT.

Soetarno, 2004. Ragam Budaya Indonesia. Direktorat Pembinaan Pendidikan TenagaKependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi, Dirjen Dikti: Depdiknas.

Subroto, H.T, dan Herawati, I.S. 2005. Pembelajaran Terpadu. Jakarta: UT.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&B. Bandung: Alfabeta.

Sujadi. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Sukayati. 2004. Pembelajaran Tematik di SD Merupakan Penerapan dari

Pembelajaran Terpadu. Yogyakarta: Depdiknas.

Sukayati dan Wulandari, Sri. 2009. Pembelajaran Tematik di SD. Jakarta: Depdiknas, Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan.

Sukmadinata. 2006. Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengah.

(36)

104

Sulhan, N. 2011. Panduan praktis pengembangan karakter dan budaya bangsa sinergi sekolah dengan rumah. Surabaya: JP Press Media Utama (Jawa Pos Grup).

Supriyadi, Gering. 2003.Budaya Kerja Pegawai Negeri Sipil. Lembaga

Administrasi.

Susilana, Rudi, Riyana, Cepi. 2007. Media Pembelajaran. Bandung: CV. Wacana Prima.

Takari, Muhammad. 2013. Kesenian Melayu: Kesinambungan, Perubahan, dan Strategi Budaya. Batam: Departemen Etnomusikologi FIB USU dan Majlis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI).

Taylor, Lyn. 1993. Vygotskyan Scientific Concepts: Implications for Mathematics Education. Focus on Learning Problems in Mathematics Vol. 15, 2-3. Tilaar, H. A. R. 2006. Standarisasi Pendidikan Nasional: Tinjauan Kritis. Jakarta:

Rineka cipta.

Tomlison, Brian (ed). 1998. Material Development in Language Teaching. Cambridge: Cambridege University.

Undang-undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisem Pendidikan Nasional. 2003.

Utami, Dwi Tyas & Murti, Irma K.A. 2014. Ilmu Pengetahuan Sosial: Buku Pendamping Tematik Terpadu. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Van Den Akker J. 1999. Principles and Methods of Development

Research. Design Approaches and Tools in Education and Training. Dortrech: Kluwer Academic Publishers.

Wagiran. 2009. Pengembangan Model Pendidikan Kearifan Lokal di Wilayah Provinsi DIY dalam Mendukung Perwujudan Visi Pembangunan DIY menuju Tahun 2025 (Tahun Pertama). Penelitian. Yogyakarta: Biro Administrasi Pembangunan.

(http://muhammadfajarpb.blogspot.com/2013/10/permainan-rakyat-melayu.html

(https://id.berita.yahoo.com/ini-si-manis-halua-kuliner-lebaran-khas-melayu.html

Gambar

Gambar 1.
Tabel 1.  Kompetensi Inti Kelas V SD  .................................................................
gambar atau deskripsi/cerita. Sebagai misal: dalam buku tersebut telah dimuat

Referensi

Dokumen terkait

Selama kegiatan tersebut terdapat beberapa program kerja dan kegiatan yang telah dilakukan mahasiswa KKN diantaranya: sosialisasi, focus group discussion, pembuatan 110

Salah satu faktor yang amat menentukan dalam upaya meningkatkan kualitas SDM melalui pendidikan adalah pendidik (guru/dosen), melalui mereka pendidikan diimplementasikan

Berdasarkan hasil dari mutu fisik sediaan gel ekstrak bunga pacar air merah (Impatiens balsamina L .) yang meliputi uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji

Kinerja merupakan suatu yang dinilai dari apa yang dilakukan oleh seseorang karyawan, kinerja karyawan yang maningkat akan turut mempengaruhi atau meningkatkan prestasi

Pelaksanaan pendekatan baru menerusi kemahiran kerja berpasukan dan kemahiran pengurusan diri adalah untuk mengubah peranan individu pelajar melalui aktiviti

Penggunaan mulsa plastik hitam perak memberikan hasil tidak berbeda nyata pada komponen pertumbuhan seperti jumlah daun, luas daun, dan bobot segar total tanaman

Olga kokee olevansa suomalainen negatiivisten suomalaisten piirteiden (masentuneisuus ja pihiys) kautta. Nämä stereotyyppiset ominaisuudet tuovat esille sen, miten

Berdasarkan uji-t pada taraf 5% (Tabel 3), perlakuan formulasi bakteri dengan penambahan CMC tidak berbeda nyata dengan perlakuan formulasi bakteri tanpa penambahan CMC terhadap