Tinjauan Yuridis Terhadap Pembakaran Dan/Atau Penenggelaman Kapal Perikanan Berbendera Asing Sebagai Upaya Mengurangi Tindak Pidana Pencurian Ikan

113  21  Download (0)

Teks penuh

(1)

IKAN

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Oleh

SARAH NOVA NIM : 110200136

DEPARTEMEN HUKUM PIDANA

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

IKAN

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Oleh

SARAH NOVA NIM : 110200136

Departemen Hukum Pidana

(Dr. M. Hamdan,S.H.,M.H.) NIP 19570326198660111001

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

(Prof. Dr. Alvi Syahrin,S.H.,M.S.) (Alwan, S.H., M.Hum.)

NIP 196303311987031101 NIP 196005201998021001

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(3)

dan kasih karuniaNya yang tiada berkesudahan dan telah memberikan penulis kekuatan dan kemampuan untuk menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PEMBAKARAN DAN/ATAU PENENGGELAMAN KAPAL PERIKANAN BERBENDERA ASING

SEBAGAI UPAYA MENGURANGI TINDAK PIDANA PENCURIAN

IKAN” yang membahas penerapan pembakaran dan/atau penenggelaman kapal perikanan berbendera asing yang melakukan pencurian ikan sebagai salah satu cara untuk mengurangi tindak pidana pencurian ikan, guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Selama penyusunan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak dukungan, semangat, saran, motivasi dan doa dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

2. Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum., selaku Pembantu Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

(4)

PidanaFakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan dukungan dan masukan dalam penulisan skripsi ini, terimakasih bu.

6. Ibu Liza Erwina, S.H, M.Hum., selaku Sekretaris Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

7. Bapak Prof. Dr. Alvi Syahrin, S.H,.M.S., selaku Dosen Pembimbing I yang telah memberikan masukan terhadap penulisan skripsi ini ;

8. Bapak Alwan , S.H., M.H., selaku Dosen Pembimbing II penulis ;

9. Bapak Azwar Mahyuzar, S.H., selaku Dosen Penasehat Akademik penulis; 10.Bapak/Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara seluruhnya

(5)

DAFTAR ISI……….iii

ABSTRAKSI………..v

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang……… 1

B. Perumusan Masalah……… 6

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan……… 7

D. Keaslian Penulisan……….. 8

E. Tinjauan Pustaka………. 8

1. Pengertian Tindak Pidana………. 8

2. Pengertian Tindak Pidana Pencurian Ikan (Illegal Fishing)………...11

3. Pengertian Kapal Perikanan……… 13

4. Kebijakan Penanggulangan Kejahatan……… 15

F. Meetode Penelitian……… 21

G. Sistematika Penulisan……… 23

BAB II TUGAS DAN FUNGSI PENGAWAS PERIKANAN SERTA HAK DAN KEWAJIBAN KAPAL PERIKANAN YANG MELAKUKAN PENANGKAPAN IKAN DI WILAYAH LAUT INDONESIA A. Pengawasan Terhadap Perikanan di Wilayah Laut Indonesia………….. 25

(6)

BAB III PEMBAKARAN DAN/ATAU PENENGGELAMAN KAPAL

PERIKANAN BERBENDERA ASING YANG MELAKUKAN TINDAK

PIDANA PENCURIAN IKAN

A. Penyebab Terjadinya Tindak Pidana Pencurian Ikan……… 56 B. Tindak Pidana Pencurian Ikan yang Dilakukan Oleh Kapal Berbendera

Asing………. 68 C. Penerapan Pembakaran dan/atau Penenggelaman Kapal Perikanan

Berbendera Asing Yang Melakukan Tindak Pidana Pencurian Ikan……… 81

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan………... 96

(7)

Masalah penangkapan atau pencurian ikan (illegal fishing) di Indonesia sangat marak terjadi. Peraturan hukum yang dibuat tentang Perikanan tentunya dibuat juga untuk menekan jumlah peningkatan tindak pidana pencurian (illegal fishing). Tercatat selama Tahun 2013, Kementrian Kelautan dan Perikanan berhasil memeriksa 3.871 kapal ikan yang diduga melakukanillegal fishing. Angka tersebut bukanlah angka yang sedikit, melainkan angka yang patut untuk diperhitungkan. Oleh karena itu selain terdapat ketentuan pidana yang mengatur tindak pidana pencurian ikan, dalam Undang-Undang Perikanan juga terdapat suatu tindakan khusus yang dapat dilakukan terhadapat kapal perikanan berbendera asing. Tindakan khusus tersebut berupa pembakaran dan/atau penenggelaman kapal perikanan berbendera asing yang melakukan pencurian ikan sebagaimana diatur dalam pasal Pasal 69 ayat (4) Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan.

Sarah Nova

Indonesia sebagai Negara kepulauan sejalan dengan terdapatnya laut yang merupakan dua pertiga dari bagian wilayah Indonesia. Indonesia memiliki luas wilayah perairan seluas 5,8 juta km2 yang terdiri dari laut territorial seluas 0,3 juta km2 , perairan nusantara seluas 2,8 juta km2, dan perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) seluas 2,7 juta km2. Dengan memiliki laut yang demikian luasnya, Indonesia juga memiliki kekayaan laut yang sangat banyak mulai dari potensi Perikanan tangkap, industri kelautan, jasa kelautan, transportasi, hingga wisata bahari. Hal ini dapt dilihat dari potensi Perikanan bidang Penangkapan sebesar 6,4 juta ton/ tahun, potensi Perikanan umum sebedar 305.650 ton/tahun dan pada tahun 2011, produksi Perikanan tangkap Indonesia sebesar 5.408.900 ton. Potensi ini membuat banyak orang ingin mengambil sumberdaya ikan di Indonesia, termasuk pula pihak asing. Banyak kapal perikanan asing yang melakukan penangkapan ikan di Indonesia, bukan hanya secara legal tetapi secara illegal pun ada. Tiap tahunnya, jumlah peningkatan tindak pidana pencurian ikan di Indonesia yang dilakukan kapal perikanan berbendera asing pun semakin banyak.

Permasalahan yang timbul adalah bagaimana penerapan tindakan khusus yakni pembakaran dan/atau penenggelaman kapal perikanan berbendera asing dapat dilakukan untuk mengurangi tindak pidana pencurian ikan (illegal fishing)

Metode penelitian yang dipakai dalam menyusun skripsi ini adalah metode penelitian normative yaitu dengan mengumpulkan bahan-bahan dari buku, majalah, artikel, internet, peraturan perundang-undangan dan hasil tulisan ilmiah lainnya yang erat kaitannya dengan maksud dan tujuan dari penyusunan skripsi ini.

(8)

Masalah penangkapan atau pencurian ikan (illegal fishing) di Indonesia sangat marak terjadi. Peraturan hukum yang dibuat tentang Perikanan tentunya dibuat juga untuk menekan jumlah peningkatan tindak pidana pencurian (illegal fishing). Tercatat selama Tahun 2013, Kementrian Kelautan dan Perikanan berhasil memeriksa 3.871 kapal ikan yang diduga melakukanillegal fishing. Angka tersebut bukanlah angka yang sedikit, melainkan angka yang patut untuk diperhitungkan. Oleh karena itu selain terdapat ketentuan pidana yang mengatur tindak pidana pencurian ikan, dalam Undang-Undang Perikanan juga terdapat suatu tindakan khusus yang dapat dilakukan terhadapat kapal perikanan berbendera asing. Tindakan khusus tersebut berupa pembakaran dan/atau penenggelaman kapal perikanan berbendera asing yang melakukan pencurian ikan sebagaimana diatur dalam pasal Pasal 69 ayat (4) Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan.

Sarah Nova

Indonesia sebagai Negara kepulauan sejalan dengan terdapatnya laut yang merupakan dua pertiga dari bagian wilayah Indonesia. Indonesia memiliki luas wilayah perairan seluas 5,8 juta km2 yang terdiri dari laut territorial seluas 0,3 juta km2 , perairan nusantara seluas 2,8 juta km2, dan perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) seluas 2,7 juta km2. Dengan memiliki laut yang demikian luasnya, Indonesia juga memiliki kekayaan laut yang sangat banyak mulai dari potensi Perikanan tangkap, industri kelautan, jasa kelautan, transportasi, hingga wisata bahari. Hal ini dapt dilihat dari potensi Perikanan bidang Penangkapan sebesar 6,4 juta ton/ tahun, potensi Perikanan umum sebedar 305.650 ton/tahun dan pada tahun 2011, produksi Perikanan tangkap Indonesia sebesar 5.408.900 ton. Potensi ini membuat banyak orang ingin mengambil sumberdaya ikan di Indonesia, termasuk pula pihak asing. Banyak kapal perikanan asing yang melakukan penangkapan ikan di Indonesia, bukan hanya secara legal tetapi secara illegal pun ada. Tiap tahunnya, jumlah peningkatan tindak pidana pencurian ikan di Indonesia yang dilakukan kapal perikanan berbendera asing pun semakin banyak.

Permasalahan yang timbul adalah bagaimana penerapan tindakan khusus yakni pembakaran dan/atau penenggelaman kapal perikanan berbendera asing dapat dilakukan untuk mengurangi tindak pidana pencurian ikan (illegal fishing)

Metode penelitian yang dipakai dalam menyusun skripsi ini adalah metode penelitian normative yaitu dengan mengumpulkan bahan-bahan dari buku, majalah, artikel, internet, peraturan perundang-undangan dan hasil tulisan ilmiah lainnya yang erat kaitannya dengan maksud dan tujuan dari penyusunan skripsi ini.

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Negara Republik Indonesia yang lahir sejak Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan Negara yang merdeka dan berdaulat. Wilayah Indonesia terbentang mulai dari Sabang hingga Merauke dan terdiri atas pulau-pulau besar sampai pulau-pulau kecil. Dengan demikian, Negara Republik Indonesia merupakan Negara Kepulauan1

Laut merupakan sumber makanan bagi kehidupan manusia, sebagai jalan raya perdagangan, sebagai sarana penaklukan, sebagai tempat pertempuran, sebagai tempat untuk rekreasi dan alat pemersatu bangsa. Di abad ke-20 ini fungsi laut telah meningkat dengan ditemukannya bahan-bahan tambang dan galian yang berharga di dasar laut dan dimungkinkannya usaha-usaha mengambil kekayaan

. Kondisi Geografis Indonesia sebagai Negara kepulauan sejalan dengan terdapatnya laut yang merupakan dua pertiga dari bagian wilayah Indonesia. Hal ini menyebabkan bukan hanya wilayah daratan Negara Republik Indonesia saja yang luas, akan tetapi wilayah laut Indonesia juga demikian luasnya. Indonesia memiliki luas wilayah perairan seluas 5,8 juta km2 yang terdiri dari laut territorial seluas 0,3 juta km2 , perairan nusantara seluas 2,8 juta km2, dan perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) seluas 2,7 juta km2.

1

Gatot Suparmono, Hukum Acara Pidana dan Hukum Pidana di Bidang Perikanan,

(10)

alam tersebut, baik di airnya maupun di dasar laut dan tanah bawahnya.2 Indonesia yang memilki laut yang luas ini tentu menyimpan banyak kekayaan laut di dalamnya yang dapat meliputi sumberdaya alam hayati laut yakni perikanan, terumbu karang, bahan tambang dan lainnya. Potensi perikanan yang termasuk dalam kekayaan laut di Indonesia dapat dilihat dari bidang penangkapan ikan sebesar 6,4 juta ton/tahun, perikanan umum sebesar 305.650 ton/tahun serta potensi kelautan kurang lebih 4 miliar USD/tahun. Produk perikanan tangkap di Indonesia pada tahun 2007 sendiri mencapai 4.924.430 ton.3

Walaupun Indonesia belum maksimal dalam pengelolaan ikan tangkapnya, pengembangan usaha perikanan terus dilakukan demi tercapainya tujuan pemanfaatan sumber daya hayati laut sebaik mungkin. Pengembangan usaha kelautan dan perikanan ini juga dapat digunakan untuk mendorong pemulihan ekonomi diperkirakan sebesar US$82 miliar per tahun.Indonesia memiliki

. Secara umum, besaran potensi hasil laut dan perikanan Indonesia harusnya mencapai 3000 triliun per tahun, akan tetapi yang sudah dimanfaatkan hanya sekitar 225 triliun atau sekitar 7,5% saja. Dan jika dibandingkan dengan Negara lain yang wilayahnya tidaklah lebih besar daripada Indonesia akan tetapi memiliki produksi ikan tangkap yang sama bahkan lebih dari Indonesia, maka kondisi produksi ikan tangkap di Indonesia berada dalam kondisi tidak baik.

2

Frans E. Lidkadja dan Daniel F. Bassic, Hukum Laut dan Undang-Udnang Perikanan,

Jakarta : Ghalia Indonesia, 1985, hal. 21.

3

(11)

kesempatan untuk menjadi penghasil produk perikanan terbesar dunia, karena kontribusi perikanan pada 2004-2009 terus mengalami kenaikan.

Hasil produksi ikan tangkap Indonesia yang mulai membaik ini membuat Negara-negara yang memiliki hasil produksi perikanan dan kelautan yang berada dibawah Indonesia atatupun yang setara dengan Indonesia ingin menikmati hasil peroduksi perikanan dan kelautan Indonesia pula. Akan tetapi, keinginan Negara-negara ataupun warga Negara-negaranya tidak didukung dengan itikad atau tindakan mereka yang sesuai dengan aturan yang berlaku. Banyak terdapat kapal-kapal berbendera asing yang melakukan perbuatan yang melanggar ketentuan hukum yang berlaku. Pelanggaran hukum yang dilakukan salah satunya ialah pencurian ikan (illegal fishing). Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat, setahun rata-rata ada 100 kapal ikan asing yang ditangkap, baik karena mencuri ikan maupun izinnya tidak lengkap. Bahkan pada tahun 2001 sampai 2012 ada skitar 2469 kasus pencurian ikan yang terjadi di wilayah laut Negara Republik Indonesia. Ini mempengaruhi kondisi produksi perikanan Indonesia dan dapat menyebabkan kerugian tersendiri bagi Negara Indonesia.

(12)

dilepaskan dari tujuan penanggulangan kejahatan. Kebijakan penanggulangan kejahatan dengan hukum pidana ini merupakan bagian dari kebijakan penegakan hukum. Barda Nawawi juga menyatakan bahwa kebijakan penanggulangan kejahatan lewat pembuatan peraturan-perundang-undangan pidana merupakan bagian integral dari potik social yang dapat diartikan sebagai segala usaha yang rasional untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dan sekaligus mencakup perlindungan masyarakat. 4 Undang-Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan masih memiliki kekurangan untuk mencapai tujuan penanggulangan kejahatan dan penegakan hukum tersebut, oleh karena itu dibuatlah Undang-Undang Nomor 45 tahun 2009 tentang Perubahan terhadap Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan. Dalam Undang-undang Nomor 45 tahun 2009 ini ada beberapa perubahan dari Undang-Undang perikanan yang lama, yakni mengenai tentang pengawasan dan penegakan hukum yang menyangkut masalah mekanisme koordinasi antara instansi penyidik dalam penanganan penyidik tindak pidana di bidang perikanan, masalah pengelolaan perikanan antara lain ke pelabuhan perikanan dan konservasi, perizinan, dan kesyahbandaraan, perluasan yurisdikasi pengadilan perikanan Negara RI, penerapa sanksi pidana (Pidana penjara atau pidana denda), hukum acara, fasilitas dalam penegakan hukum di bidang perikanan, termasuk penerapan tindakan hukum berupa penenggelaman dan/atau pembakaran kapal asing yang beroprasi di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia.5

4

Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1996, hal. 29-30.

5

Gatot Suparmono, op.cit., hal 9.

(13)

pidana pencurian ikan (illegal fishing), dan bukan hanya fungsi pengawasan yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait saja, akan tetapi sanksi-sanksi pidana berupa denda dan penjara dalam Undang-Undang ini juga mendukung terciptanya tujuan penanggulangan tersebut. Terdapat aturan sanksi untuk pencurian ikan, hukumannya tak hanya berlaku bagi operator di atas kapal, tetapi juga dapat menjerat pemilik kapal dan pemilik perusahaan sesuai Pasal 8. Kapal asing pencuri ikan juga boleh dibakar dan ditenggelamkan diatur dalam Pasal 69,6

6

Harian Nasional Kompas Online.

bahkan membayar denda hingga Rp 20 miliar. Aturan dan sanksi yang ada dalam undang-undang ini dapat dikatakan memadai. Akan tetapi perlu penindakan secara tegas terhadap para pencuri ikan ini perlu dilakukan, bukan hanya aturan tertulis semata yang ada dalam Undang-undang Perikanan, tetapi tindakan nyata yang dilakukan oleh aparatur penegak hukum juga diperlukan. Setelah 5 tahun Undang-Undang Nomor 45 tahun 2009, tidak terjadi impelementasi yang baik terhadap tindakan khusus yakni penenggelaman dan/atau pembakaran ataupun sanski untuk kapal asing yan melakukan pencurian ikan. Pada pembekalan Peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan ke-51 dan ke-52 Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) 2014 di Istana Negara, Jakarta, Selasa 18 November 2014, Presiden Republik Indonsia Joko Widodo memerintahkan agar Tentara Nasional Indonesia dan Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti langsung menenggelamkan kapal yang tertangkap melakukan pencurian ikan di laut Indonesia. Langkah ini harus dilakukan untuk membuat jera warga negara asing yang mencuri ikan di perairan

(14)

Indonesia.7

B.Perumusan Masalah

Persoalan penenggelaman atau pembakaran kapal asing ini bukanlah hal yang baru dalam aturan hukum perikanan Indonesia , karena pada Pasal 69 ayat 4 telah dikatakan demikian.

Hal inilah yang melatarbelakangi penulisan skripsi ini dan menuangkannya dalam sebuah skripsi yang berjudul “Tinjauan Yuridis terhadap Pembakaran dan/atau Penenggelaman Kapal Perikanan Berbendera Asing sebagai Upaya Mengurangi Tindak Pidana Pencurian Ikan”

Berdasarkan latar belakang di yang telah dijelaskan , menunjukkan bahwa masih banyaknya jumlah kapal berbendera asing yang melakukan pencurian ikan di wilayah laut Indonesia dan sangat merugikan sektor perikanan Indonesia. Selain sanksi pidana penjara dan denda, sesuai dengan Pasal 69 ayat 4 tentang tindakan khusus yaitu melakukan pembakaran dan/atau penenggelaman kapal perikanan berbendera asing yang melakukan tindak pidana pencurian ikan di wilayah laut Indonesia juga memegang peranan penting dalam upaya menanaggulangi terjadinya tindak pidana pencurian ikan.

Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam penulisan skripsi ini, yaitu :

1. Bagaimanakah tugas dan fungsi pengawas perikanan di wilayah laut Indonesia serta hak dan kewajiban kapal perikanan yang melakukan penangkapan ikan di wilayah laut Indonesia?

7

(15)

2. Bagaimanakah pembakaran dan/atau penenggelaman kapal perikanan berbendera asing yang melakukan pencurian ikan di wilayah laut?

C.Tujuan dan Manfaat Penulisan

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang telah dijelaskan terlebih dahulu, makan penulisan skripsi ini bertujuan untuk :

1. Untuk mengetahui bagaimana pengawasan perikanan termasuk tugas dan fungsi pengawas perikanan serta hak dan kewajiban kapal perikanan yang melakukan penangkapan ikan di wilayah laut Indonesia.

2. Untuk mengetahui hal-hal apa yang berhubungan dengan pembakaran dan/atau penenggelaman kapal perikanan berbendera asing yang melakukan tindak pidana pencurian ikan serta apa yang dimaksud dengan pembakaran dan/atau penenggelaman kapal perikanan berbendera asing yang melakukan tindak pidana pencurian ikan di wilayah laut Indonesia itu sendiri.

Adapun manfaat penulisan ini adalah : 1. Secara teoritis :

Dengan penulisan skripsi ini diharapkan dapat menambah wawasan atau ilmu pengetahuan penulis di bidang perikanan khususnya mengenai pengawasan terhadap perikanan, tugas dan fungsi pengawas perikanan serta hak dan kewajiban kapal perikanan dalam melakukan penangkapan ikan. 2. Secara praktis :

(16)

serta apa yang dimaksud dengan pembakaran dan/atau penenggelaman kapal perikanan berbendera asing yang melakukan tindak pidana pencurian ikan.

D.Keaslian Penulisan

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang diperoleh dari Perpusatakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, adapun skripsi yang berjudul “Tinjauan Yuridis terhadap Pembakaran dan/atau Penenggelaman Kapal Perikanan Berbendera Asing sebagai Upaya Mengurangi Tindak Pidana Pencurian Ikan” belum pernah dikemukakan. Permasalahan yang diajukan belum pernah dibahas oleh permasalahan skripsi lainnya. Adapun judul skripsi tersebut diatas merupakan tulisan yang masih baru, belum pernah ada tulisan lain dalam bentuk skripsi mengenai masalah ini dan belum pernah dibahas oleh mahasiswa lain di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Maka penulisan skripsi ini masih orisinil, dengan demikian penulis dapat mempertanggungjawakan secara ilmiah.

E.Tinjauan Kepustakaan

1. Pengertian Tindak Pidana

(17)

maka harus dijelaskan secara ilmiah sehingga pemahamannya tidak sama dengan istilah biasa yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari.8

a. Handeling : perbuatan manusia

Istilah “peristiwa pidana” atau “tindak pidana” merupakan terjemahan dari istilah bahasa Belanda yakni “Strafbar feit” atau “delict”. Dalam merumuskan undang-undang, pembuat undang-undang juga menggunakan istilah peristiwa pidana , perbuatan pidana, atau tindak pidana. Sebelum membahas lebih lanjut tentang tindak pidana, terlebih dahulu kita bahas pengertian tindak pidana atau istilah tindak pidana yang digunakan oleh para ahli hukum pidana. Para ahli hukum pidana pun memiliki beberapa penggunaan istilah “peristiwa pidana” atau “tindak pidana ini berikut juga pengertiannya. Menurut D. Simsons, peristiwa pidana itu adalah “Een Strafbaargestelde, onrechtmatige, met schuld in verband staande handeling van een toerekeningsvatbaar persoon” atau Perbuatan salah dan melawan hukum yang diancam pidana dan dilakukan oleh seorang yang mampu bertanggungjawab. Perumusan Simons tersebut menunjukkan unsur-unsur peristiwa pidana adalah sebagai berikut :

Dengan handeling dimaksudkan tidak saja “een doen” (perbuatan) tetapi juga “een nalaten” atau “niet doen” (melalaikan atau tidak berbuat)

b. Perbuatan manusia itu harus melawan hukum

c. Perbuatan itu diancam dengan pidana (strafbaar gesteld) oleh undang-undang

8

(18)

d. Harus dilakukan oleh seseorang yang mampu bertanggungjawab

(toerekeningsvatbaar)

e. Perbuatan itu harus terjadi karena kesalahan (schuld) si pembuat

Jika Simons membagi unsur-unsur yang menunjukkan suatu peritiwa pidana maka berbeda dengan Vos. Menurut Vos, terlebih dahulu mengemukaan arti delict sebagai “tatbestandmassigheit” dan delik sebagai “wesenschau”. Makna tatbestandmassingheit merupakan kelakuan yang mencocoki lukisan ketentuan yang dirumuskan dalam undang-undang yang bersangkutan, maka disitu ada delik. Sedangkan makna “wesenschau” merupakan kelakukan yang mencocoki ketentuan yang dirumuskan dalam undang-undang yang bersangkutan maka baru merupakankan delik apabila kelakuan itu “dem wesen nach” yaitu menurut sifatnya cocok dengan makna dari ketentuan yang dirumuskan dalam undang-undang yang bersangkutan.9 Dengan kata lain menurut Vos, peristiwa pidana adalah suatu peristiwa yang dinyatakan dapat dipidana oleh undang-undang. 10

a. Defenisi menurut teori memberikan pengetian “strafbaar feit” adalah suatu pelanggara terhadap norma , yang dilakukan karena kesalahan si pelanggar dan diancam dengan pidana untuk mempertahankan tata hukum dan penyelamatan kesejahteraan umum

Menurut Pompe pengertian strafbaar feit dibedakan :

9

Bambang Poernomo. Asas asas hukum Pidana. Yogyakarta: Ghalia Indonesia, 1994. hal 90-91.

10

(19)

b. Defenisi menurut hukum positif, merumuskan pengertian “strafbaarfeit”

adalah suatu kejadian (feit) yang oleh peraturan perundang-undangan dirumuskan sebagai perbuatan yang dapat dihukum.

Selain defenisi menurut teori dan menurut hukum positif yang dikemukakan oleh Pompe, terdapat pula definisi tindak pidana menurut J.E Jonkers. J.E Jonkers membagi definisi strafbaar feit menjadi dua bagian pengertian, yakni:11

a. Defenisi pendek memberikan pengertian strafbaar feit adalah suatu kejadian (feit) yang dapat diancam pidana oleh undang-undang.

b. Defenisi panjang atau lebih mendalam memberikan pengertian strafbaar feit adalah suatu kelakuan yang melawan hukum berhubung dilakukan dengan sengaja atau alpa oleh orang yang dapat dipertanggungjawabkan. 2. Pengertian Tindak Pidana Pencurian Ikan (Illegal Fishing)

Di dalam Undang-Undang Nomor 45 tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan, pada Pasal 1 angka 1 pengertian perikanan adalah :

“Perikanan adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan, sampai dengan pemasaran yang dilaksakan dalam suatu sistem bisnis perikanan.”

Tindak pidana dibidang perikanan yang diatur dalam Undang-Undang Perikanan hanya mencakup 2 (dua) macam delik yaitu delik kejahatan

(misdrijven) dan delik pelanggaran (overtredingen). Disebut kejahatan karena perbuatan pelaku bertentangan dengan kepentingan hukum, sedangkan delik

11

(20)

pelanggaran merupakan perbuatan yang tidak menaati larangan atau keharusan yang ditentukan penguasa Negara.12

Berdasarkan pada penjelasan diatas dan sesuai dengan aturan hukum yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 45 tahun 2009 tentang Perubahan Undan-Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan maka tindak pidana penangkapan ikan secara tidak sah atau illegal fishing adalah kegiatan penangkapan ikan yang memakai Surat Penangkapan Ikan (SPI) palsu, tidak

Tindak Pidana Pencurian Ikan / illegal fishing termasuk dalam delik kejahatan karena bertentangan dengan kepentingan hukum atau aturan hukum yang ada. Pengertian atau defenisi tindak pidana pencurian ikan atau illegal fishing dalam peraturan perundang-undangan termasuk Undang-undang perikanan memang tidak dijelaskan secara terperinci dan tegas. Menurut Contemporary English Indonesian Dictionary , “illegal” berarti tidak sah, dilarang atau bertentangan dengan hukum, sedangkan “fishing”

artinya penangkapan ikan sebagai mata pencaharian atau tempat menangkap ikan. Berdasarkan penjelasan defenisi kata “illegal fishing” diatas maka secara singkat dapat dikatakan bahwa “illegal fishing” adalah penangkapan ikan secara tidak sah atau melanggar ketentuan hukum yang berlaku. Dalam dunia internasional dikenal istilah Illegal, Unreporterd and Unregulated (IUU) Fishing Practices. Dalam istilah diatas termasuk juga wacana mengenai illegal fishing. Dalam IUU Fishing

, secara singkat illegal fishing adalah penangkapan ikan secara tidak sah di perairan wilayah atau ZEE suatu negara atau tidak memiliki izin dari negara tersebut.

12

(21)

dilengkapi dengan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI), isi dokumen tidak sesuai dengan kapal dan jenis alat tangkapnya, menangkap jenis atau ukuran ikan yang dilarang, serta kegiatan penangkapan ikan secara illegal di wilayah perairan atau ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) suatu negara dengan tidak memiliki izin dari negara pantai.13

3. Kapal Perikanan

Kapal, adalah kendaraan pengangkut penumpang dan barang di laut

(sungai dan sebagainya) seperti halny

Kapal biasanya cukup besar untuk membawa

Sedangkan dalam istil

yang lebih kecil. Secara kebiasaannya kapal dapat membawa perahu tetapi perahu tidak dapat membawa kapal. Ukuran sebenarnya dimana sebuah perahu disebut kapal selalu ditetapkan oleh undang-undang dan peraturan atau kebiasaan setempat. Berabad-abad kapal digunakan oleh manusia untuk mengarungi sungai atau lautan yang diawali oleh penemuan perahu. Biasanya manusia pada masa lampau menggunaka daya muat maka dibuatlah perahu atau rakit yang berukuran lebih besar yang dinamakan kapal. Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan kapal pada masa lampau menggunakan kayu, bambu ataupun batang-batang papirus seperti yang digunakan bangsa mesir kuno kemudian digunakan bahan bahan logam seperti besi/baja karena kebutuhan manusia akan kapal yang kuat. Untuk penggeraknya manusia pada awalnya menggunaka

13

Ed : Anjarotni, dkk, Analisis dan Evaluasi Hukum Tentang Pengadilan Perikanan ,

(22)

dengan bantuan layar diesel serta Nuklir.

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD), tentang pengertian kapal dirumuskan dalam Pasal 309 ayat (1) sebagai berikut :

“semua alat pelayaran dengan nama atau sifat apapun juga”

Berdasarkan rumusan tersebut diatas, maka masih belum dapat diberikan pengertian yang jelas tentang kapal karena tidak dimuat dari arti kata alat pelayaran dalam KUHD tersebut maupun dalam penjelasannya. Mengenai “alat pelayaran”, Wirjono Pradjodikoro, SH menyatakan :

“kebanyakan ahli hukum di Negeri Belanda dan juga Jurisprudensi disana mengambil pengertian ini dalam arti yang sangat luas, yaitu meliputi semua alat yang dibikin oleh manusia untuk berada dan bergerak di air dengan alat itu. Jadi tidak diperdulikan, apakah alat tersebut dapat digerakkan sendiri atau ditarik oleh alat lain”14

Selanjutnya dalam Pasal 209 ayat 2 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang merumuskan bahwa Kapal meliputi juga semua alat-alat perkapalan, yang selanjutnya pada Pasal 309 ayat 3 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang dijelaskan lebih lanjut tentang “alat-alat perkapalan” yakni semua barang yang tidak merupakan bagian dari tubuh kapal, tetapi ditujukan untuk tetap dipakai bersama-sama tubuh kapal dalam pelayaran. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang yang berlaku sendiri tidak ditemukan pengertian dari kapal itu sendiri. Dengan demikian , maka dapat dikatakan bahwa kapal perikanan termasuk dalam bagian pengertian kapal itu sendiri. Pengertian kapal perikanan terdapat dalam beberapa Undang. Menurut

14

(23)

Undang Nomor 31 tahun 200 tentang Perikanan padal 1 ayat 9 dikatakan pengertian kapal perikanan ialah:

“kapal, perahu, atau alat apung lain yang dipergunakan untuk melakukan penangkapan ikan, mendukung operasi penangkapan ikan, pembudidayaan ikan, pengangkutan ikan, pengolahan ikan, pelatihan perikanan, dan penelitian/ eksplorasi perikanan”

Pengertian kapal perikanan tersebut diatas sama dengan pengertian kapal perikanan yang terdapat dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor PER. 05/MEN/2007 tentang Penyelenggaraan Sistem Pemantauan Kapal Perikanan.

4. Kebijakan Penanggulangan kejahatan

Upaya atau kebijakan untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan kejahatan termasuk bidang “kebijakan kriminal” (criminal policy). Prof.Sudarto mengemukakan tiga arti mengenai kebijakan penanggulangan kejahatan atau kebijakan kriminal, yaitu:15

a. Dalam arti sempit, ialah keseluruhan asas dan metode yang menjadi dasar dari reaksi terhadap pelanggaran hukum yang berupa pidana;

b. Dalam arti luas, ialah keseluruhan fungsi dari aparatur penegak hukum, termasuk di dalamnya cara kerja dari aparat kepolisian, kejaksaaan, dan pengadilan;

c. Dalam arti paling luas , ialah keseluruhan kebijakan, yang dilakukan melalui perundang-undangan dan badan-badan resmi , yang bertujuan untuk menegakkan norma-norma sentral dalam kehidupan masyarakat.

15

(24)

Kebijakan atau upaya penanggulangan kejahatan pada hakikatnya merupakan bagian integral dari upaya perlindungan masyarakat (social defence)

dan upaya mencapai kesejahteraan masyarakat (social walfare). Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa tujuan akhir atau tujuan utama dari kebijakan kriminal ialah perlindungan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.16

a. Kebijakan diluar Hukum Pidana (Non-Penal policy)

Hal ini berarti bahwa masalah kejahatan tidak hanya dapat mengandalkan penerapan hukum pidana saja, tetapi juga melihat akar lahirnya persoalan kejahatan ini dari persoalan sosial, sehingga kebijakan sosial juga sangat penting dilakukan.

Kebijakan penanggulangan kejahatan dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan penal (penerapan hukum pidana) dan pendekatan non penal (pendekatan di luar hukum pidana). Integrasi dua pendekatan ini disyaratkan dan diusulkan dalam United Nations Congress on the Prevention of Crime and the Treatment of Offenders.

Upaya non-penal ini bersifat tindakan preventif atau pencegahan sebelum terjadinya suatu tindak pidana atau kejahatan17

16

Barda Nawawi Arief, op. cit., hal 2.

17

Teguh prasetro, Abdul Halim, Politik Hukum Pidana, Yogyakarta : Pustaka Pelajar , 2005, hal. 17.

(25)

non-penal menduduki posisi kunci atau strategis dari keseluruhan upaya politik atau kebijakan kriminal (criminal policy).18

1. Bahwa masalah kejahatan merintangi kemajuan untuk pencapaian kualitas kehidupan yang layak bagi semua orang (the crime impedes progress towards the attainment of an acceptable quality of life for

all people);

Pernyataan diatas juga didukung oleh hasil dari Kongres PBB tentang the Prevention of Crime and the Treatment of Offenders. Kongres PBB ke-6 tahun 1980 yang berlangsung di Caracas, Venzuela menyatakan dalam pertimbangan resolusinya mengenai Crjime Trend and Crime Prevention Strategis, antara lain :

2. Bahwa strategi pencegahan kejahatan harus didasarkan pada penghapusan sebab-sebab dan kondisi-kondisi yang menimbulkan kejahatan (Crime prevention strategis should be based upon the elemination of causes and condition giving rise to crime);

3. Bahwa penyebab utama banyaknya terjadi kejahatan di berbagai negara adalah disebabkan oleh ketimpangan sosial, diskriminasi rasial dan dikriminasi nasional, standart hidup yang rendah , pengangguran dan kebodohan diantara sebagian besar penduduk

(the main course of crime in many countries are social inequality,

ratial and national dicrimination, low standart of living,

18

(26)

unemployment and illiteracy among broad section of the

population).

Kondisi sosial yang ditengarai diatas sebagai faktor penyebab timbulnya kejahatan, seperti yang dikemukakan diatas adalah masalah-masalah yang sulit dipecahkan bila hanya mengandalkan pendekatan penal semata. Oleh karena itulah pemecahan masalah diatas didukung oleh pendekatan non-penal berupa kebijakan sosial dan pencegahan kejahatan berbasiskan masyarakat. 19 Menurut Hoefnagels adalah pendekatan pencegahan kejahatan tanpa menggunakan sarana pemidanaan (prevention without punishment) yaitu antara lain perancangan kesehatan masarakat (communtiy planning mental health), social network, social worker and child welfare (kesejahteraan anak dan pekerja sosial), serta penggunaan hukum civil dan hukum administrasi (administrative and civil law.)20

b. Kebijakan Hukum Pidana (Penal policy)

Jadi upaya non-penal yakni pencegahan sebelum terjadinya kejahatan merupakan upaya yang dilakukan dengan memperbaiki kualitas kondisi sosial yang ada yaitu masyarakat itu sendiri, sehingga dengan diperbaikinya kualitas tersebut dapat diharapkan mengurangi perilaku kejahatan dalam masyarakat.

Istilah “kebijakan berasal dari bahasa Inggris “policy” atau bahasa belanda

“politiek”. Istilah di dalam bahsa Indonesia sering diterjemahkan dengan

19

Mahmud Mulyadi. Criminal Policy- Pendekatan Integral Penal Policy dan Non-Penal Policy dalam Penanggulangan masalah Kejahatan kekerasan.

20

(27)

kata “politik” , oleh karena itu kebijakan hukum pidana sering disebut juga politik hukum pidana, maka tidak terlepas dari pembicaraan dari politik hukum secara keseluruhan karena hukum pidana adalah salah satu bagian dari ilmu hukum, oleh karena itu sangat penting dibicarakan mengenai kebijakan hukum atau politik hukum. Menurut Prof. Soedarto, politik hukum atau kebijakan hukum adalah usaha untuk mewujudkan peraturan-peraturan yang baik dengan situasi dan kondisi tertentu. Secara mendalam juga dikemukakan bahwa politik hukum merupakan kebijakan negara melalui alat-alat kelengkapannya yang berwenang menetapkan peraturan-peraturan yang dikehendaki dan diperkirakan dapat digunakan untuk mengekspresikan apa yan terkandung dalam masyarakat dalam mencapai apa yang dicita-citakan.21 Lebih lanjut Soedarto mengungkapkan bahwa melaksanakan politik hukum pidana berarti mengadakan pemilihan dalam rangka mencapai hasil perundang-undangan pidana yang paling baik dengan memenuhi syarat keadilan dan daya guna. Marc Ancel pernah menyatakan bahwa “modern criminal science” terdiri dari tiga komponen

“Criminology”, “Criminal Law” dan “Penal Policy”.22

21

Sudarto. Hukum Pidana dan Perkembangan Masyarakat (Kajian Terhadap Pembaharuan Hukum Pidana), Bandung: Sinar Baru, 1983, hal 18.

22

Marc Ancel. Social Defence, A modern Approach to Criminal Problems. London : Routledge & Kegan Paul , 1965, hal 4-5.

(28)

pengadilan yang menerapkan undang-undang dan juga kepada penyelenggara atau pelaksana putusan pengadilan.

Berdasarkan pengertian tentang politik hukum sebagaimana dikemukakan diatas, maka secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa politik hukum pidana merupakan upaya menentukan kearah mana pemberlakuan hukum pidana Indonesia masa yang akan datang dengan melihat penegakan hukum saat ini. Hal ini juga berkaitan dengan konseptualisasi hukum pidana yang paling baik untuk diterapkan. Dengan demikian , penal policy atau politik (kebijakan) hukum pidana pada intinya, bagaimana hukum pidana dapat dirumuskan dengan baik dan memberi pedoman kepada pembuat undang-undang (kebijakan legislatif), kebijakan aplikasi (kebijakan yudikatif) dan pelaksana hukum pidana (kebijakan eksekutif).23

Hukum pidana harus menjadi salah satu instrumen pencegah kemungkinan terjadinya kejahatan. Ini juga berarti bahwa penerapan hukum pidana harus mempunyai pengaruh yang efektif untuk mencegah sebelum terjadinya suatu kejahatan. Dengan demikian, jika politik kriminil menggunakan politik hukum pidana, maka ia harus merupakan langkah-langkah yang dibuat secara sengaja dan sadar. Memilih dan menetapkan hukum pidana sebagai sarana menanggulangi kejahatan harus benar-benar memperhitungkan segala faktor yang dapat mendukung berfungsinya atau berkerjanya hukum pidana dalam kenyataan. Kemudian, dalam setiap kebijakan yang dilakukan dan diambil oleh pemerintah dalam suatu sistem pembagunan harus dilihat dalam tiga kerangka , yaitu struktur,

23

(29)

substansi dan kultur. Hal ini penting agar pihak berwenang sebagai pengambil keputusan jangan sampai tejebak kebijakan yang bersifat pragmatis, yaitu suatu kebijakan yang didasarkan pada kebutuhan sesaat (jangka pendek) sehingga tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Akhirnya justtru merugikan masyarakat sendiri dan tidak dapat mencegah dan menangulangi kejahatan.

F. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif. Dalam penelitian hukum normatif dilakukan dengan meneliti peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan, berbagai literatur dan bahan-bahan kepustakaan hukum yang berkaitan dengan skripsi ini. Perolehan data dalam penelitian hukum normatif juga berasal dari data sekunder. Metode penelitian ini dipilih unjtuk mengetahui pembakaran dan penenggelaman kapal perikanan berbendera asing yang melakukan tindak pidana pencurian ikan sebagai upaya penanggulangan tindak pidana pencurian ikan.

2. Data dan sumber data

Data yang digunakan dalam skripsi ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari :

(30)

b. Bahan hukum sekunder, yaitu semua dokumen yang merupakan informasi atau hasil kajian tentang tindak pidana dibidang perikanan, buku-buku karya ilmiah dan beberapa sumber ilmiah serta sumber internet yang berkaiatan dengan permasalahan dalam skripsi ini.

c. Bahan hukum tersier, yaitu semua dokumen yang berisi konsep-konsep dan keterangan-keterangan yang mendukung bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus, ensikloperdia dan sebagainya. 3. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah sudi kepustakaan (library research), yaitu dengan melakukan penelitian terhadap berbagai sumber bacaan seperi buku-buku pendapat sarjana , bahan kuliah, artikel dan berita yang diperoleh dari internet yang bertujuan mencari atau memperoleh konsepsi-konsepsi, teori-teori atau bahan-bahan yang berkeaan dengan tindak pidana di bidang perikanan.

4. Analisis data

Ada dua analisis data yang diketahui yakni metode analsisi data kualitatif dan metode kuantitatif. Dalam penulisan skripsi ini metode analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif dimana data yang berupa asas, konsepsi, doktrin hukum serta kaedah hukum dianalisis secara kualitatif.

G. Sistematika Penulisan

(31)

makna dari penulisan skripsi ini. Keseluruhan daripada sistematika tersebut adalah satu kesatuan yang saling berkesinambungan dan berhubungan antara satu sama lain yang dapat dilihat sebagai berikut :

BAB I : Bab pertama ini merupakan bab pendahuluan, pada bab ini dimuat apa yang menjadi latar belakang penulis dalam menulis skripsi ini, kemudian apa masalah yang dapat dirumuskan dalam rumusan masalah, tujuan dan menfaat penulisan skripsi ini, keaslian penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan BAB II : Bab kedua merupakan bab pembahasan, pada bab pembahasan ini

akan membahas mengenai pengawasan sektor perikanan di Negara Republik Indonesia khususnya pada wilayah laut Indonesia, tugas dan fungsi pengawas perikanan serta hak dan kewajiban kapal perikanan yang melakukan penangkapan ikan di wilayah laut Indonesia.

BAB III : Bab ketiga ini juga merupakan bab pembahasan, pada bab ini akan membahas mengenai penyebab terjadinya tindak pidana pencurian ikan, kemudian tindak pidana pencurian ikan yang dilakukan oleh kapal berbendera asing, dan bagaimana penerapan pembakaran dan/atau penenggelaman kapal perikanan berbendera asing yang melakukan tindak pidana pencurian ikan.

(32)

BAB II

TUGAS DAN FUNGSI PENGAWAS PERIKANAN SERTA HAK DAN

KEWAJIBAN KAPAL PERIKANAN YANG MELAKUKAN

PENANGKAPAN IKAN DI WILAYAH LAUT INDONESIA

A. Pengawasan Terhadap Perikanan di Wilayah Laut Indonesia

Wilayah Indonesia yang sering disebut dengan kepulauan nusantara

(archipelago; group of many island) merupakan wilayah yang sangat strategis. Kesatuan wilayah yang terdiri atas daratan, Perairan, dan dirgantara adalah salah satu kesatuan yang menyatu dalam bangsa Indonesia dalam rangka wawasan nusantara. Dari tiga matra wilayah Republik Indonesia maka wilayah Perairan (lautan) merupakan bahagian yang terluas disbanding dengan wilayah daratannya. Kondisi riel ini yang membuat sejak zaman nenek moyang dahulu Negara dan bangsa Indonesia dikenal sebagai negara dan bangsa bahari (maritim), dimana sangat banyak kegiatan yang berhubungan dengan lautan.24 Keberadaan negara Indonesia merupakan karunia dari Allah SWT, terutama keberadaan Negara Indonesia sebagai Negara Kepulauan.25

24

Hasim Purba, Hukum Pengangkutan di Laut, Medan : Pustaka Bangsa Press, 2005, hal. 1

25

Supriadi dan Alimuddin, Hukum Perikanan di Indonesia, Jakrta : Sinar Grafika, 2011, hal. 3.

(33)

mil laut dan lebar laut tersebut diukur dari garis dasar yang menghubungkan titik luar dari pulau-pulau Indonesia yang terluar dikenal dengan “point to point theory”.26

a. Laut Teritorial

Hal ini kemudian didukung dengan diadakannya Konvensi Hukum Laut Internasional tahun 1982 atau United Nation on the Law of the Sea 1982,

yang kemudian wilayah laut tersebut dibagi atas :

Batas laut teritorial adalah suatu batas laut yang ditarik dari sebuah garis dasar dengan jarak 12 mil ke arah laut. Garis dasar adalah garis khayal yang menghubungkan titik-titik dari ujung-ujung terluar pulau di Indonesia. Laut yang terletak di sebelah dalam garis dasar merupakan laut Pedalaman. Di dalam batas laut teritorial ini, Indonesia mempunyai hak kedaulatan sepenuhnya. Negara lain dapat berlayar di wilayah ini atas izin Pemerintah Indonesia.27

b. Landas Kontinen

Istilah landas kontinen atau landas benua (continental shelf) pada mulanya adalah istilah dalam ilmu geologi (geology), khususnya geologi kelautan

(marine geology). 28

26

H. Djoko Tribawono. Hukum Perikanan Indonesia edisi kedua, Bandung : PT Citra Aditya Bakti, hal. 48.

Undang-undang 1 tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia adalah sebagai tindak lanjut Pengumuman Pemerintah tentang Landas Kontinen yang dikeluarkan tanggal 17 Februari 1969, memuat asas-asas dan dasar-dasar pokoknya kebijaksanaan Pemerintah tentang landas kontinen Indonesia. Yang dimaksud dengan landas

diakses tanggal 1 Maret 2015.

28

(34)

kontinen Indonesia sebagaimana tercantum dalam pasal 1 adalah dasar laut dan tanah dibawahnya diluar wilayah Perairan sebagaimana yang diatur dalam UU 4 Prp 1960 sampai kedalaman 200 meter atau lebih, dimana masih mungkin diadakan eksplorasi dan ekploitasi nkekayaan alam. Kekayaan alam meliputi mineral dan sumber tidak bernyawa lainnya di dasar dan atau didalam lapisan tanah dibawahnya bersam-sama dengan organisme hidup yang termasuk dalam jenis sedinter. Jenis sedinter ini adalah organisme yang pada masa Perkembangannya tidak bergerak, baik diatas maupun di dasar laut. Batas landas kontinen diukur mulai dari garis pangkal darimana lebar laut teritorial diukur dengan jarak paling jauh adalah 200 mil. Kalau ada dua negara yang berdampingan mengusai laut dalam satu landas kontien dan jaraknya kurang dari 400 mil, batas kontinen masing negara ditarik sama jauh dari garis dasar masing-masing. Kewajiban negara ini adalah tidak mengganggu lalu lintas Pelayaran damai di dalam batas landas kontinen.

c. Zona Ekonomi Eksklusif

(35)

1. Letak dari zona ekonomi eksklusif ini secara geografis adalah diluar laut teritorial. Dengan demikian, zona ekonomi eksklusif bukanlah bagian dari laut teritorial karena letaknya yang diluar laut terotorial.

2. Letaknya yang secara geografis berada diluar laut teritorial bukanlah berarti berjauhan dengan laut teritorial, melainkan berdampingan atau berbatasan langsung dengan laut teritorial. Ini berarti antara keduanya dibedakan oleh suatu garis batas. Garis batas ini ditinjau dari laut teritorial adalah merupakan garis atau batas luar (outer limit) dari laut teritorial itu sendiri.

3. Lebar zona ekonomi eksklusif tersebut adalah 200 mill laut. Karena itu merupkn hasil kesepakatan negara-negara Peserta dalam Konferensi Hukum Lau PBB 1973-1982 yang berhasil disepakati melalui Perundingan-Perundingan yang cukup lama.

4. Pengukuran mengenai lebar 200 mil laut tersebut dilakukan dari garis pangkal. Garis pangkal yang dimaksud adalah garis pangkal darimana lebar laut teritorial diukur. Garis pangkal itu bisa berupa garis pangkal normal, garis pangkal lurus, ataupun garis pangkal kepulauan.

(36)

sudah merupakan laut teritorial yang merupakan bagian wilayah negara pantai dan tunduk pada kedaulatan negara pantai itu sendiri. 6. Zona ekonomi eksklusif dengan demikian bukanlah merupakan

bagian wilayah negara pantai dan oleh karena itu tidak tunduk pada kedaulatan negara pantai. Negara pantai hanya memiliki hak-hak berdaulat dan yurisdiksi yang sifatnya eksklusi pada zona ekonomi eksklusifnya 29

Dengan demikian luasnya laut Indonesia, Indonesia juga memiliki kekayaan laut yang sangat banyak mulai dari potensi Perikanan tangkap, industri kelautan, jasa kelautan, transportasi, hingga wisata bahari. Perikanan merupakan salah satu kekayaan alam laut Indonesia yang patut untuk dibanggakan. Hal ini dapt dilihat dari potensi Perikanan bidang Penangkapan sebesar 6,4 juta ton/ tahun, potensi Perikanan umum sebedar 305.650 ton/tahun dan pada tahun 2011, produksi Perikanan tangkap Indonesia sebesar 5.408.900 ton.30

a. Masa Ordonansi Belanda

Pencapaian jumlah tersebut menunjukkan bahwa Perikanan Indonesia memiliki sumberdaya yang baik. Dengan jumlah potensi yang demikian besar, tentu Indoneisa harus memiliki Peraturan yang mengatur tentang Perikanan Indonesia. Sejarah Peraturan Perikanan dibagi atas tiga bagian masa, yakni :

Dalam masa Belanda, ada dilekuarkan beberapa ordonansi, siantaranya ialah :

29

I Wayan Parthiana,op.cit., hal. 105

(37)

Ordonansi Perikanan mutiara dan bunga karang (pada tahun 1916), ordonansi Perikanan untuk melindungi ikan (pada tahun 1920), Ordonansi Penangkapan ikan pantai (pada tahun 1927), Ordonansi Penangkapan ikan pantai (pada tahun 1927), Ordonansi Perburuan ikan paus (pada tahun 1927), Peraturan Pendaftaran kapal-kapal nelayan laut Asing (pada tahun 1938), Ordonansi laut teritorial dan lingkungan maritim (pada tahun 1939)

b. Masa Pasca Kemerdekaan

Adapun aturan-aturan mengenai Perikanan yang dikeluarkan dalam kurun waktu pasca kemerdekaan sampai keluarnya Undang-Undang Nomor 9 tahun 1985 tentang Perikanan, beberapa diantaranya ialah:

1. SK Mentan No.327/1972, menetapkan bahwa untuk menjaga kelestariannya maka Duyung (Dugong-dugong) dinyatakan sebagai satwa yang dilindungi yang dilindungi.

2. SK Mentan No.214/1973, Tentang larangan ekspor/Perdagangan ke luar negeri

3. SK Mentan No.40/1974, Mewajibkan kepada setiap usaha Penangkapan udang untuk memanfaatkan hasil sampingan yang diPerolehnya.

(38)

5. SK Mentan No.123/1975, Melarang semua kegiatan Penangkapan kembung layar selar Melarang semua kegiatan Penangkapan kembung, layar, selar, lemuru, dan ikan-ikan Pelagis sejenisnya dengan menggunakan purse seine berukuran mata jaring

6. SK Mentan No.35/1975, Menetapkan bahwa lumba-lumba air tawar (Pesut) dan lumbalumba air laut sebagai satwa liar yang dilindungi.

c. Masa Undang-Undang Perikanan :

1. UU No.5 thn 1983 tentang ZEE di Indonesia 2. UU No.9 thn 1985 tentang Perikanan

3. UU No.31 thn 2004 tentang Perikanan

4. Undang-Undang Nomor 45 tahun 2009 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan

Dengan berlakunya Undang-Undang Perikanan, maka semua ordonansi yang dikeluarkan pada masa Pemerintahan Belanda yang bertentangan dengan Undang-Udnang Perikanan dinyatakan tidak berlaku lagi. Kemudian dengan dikeluarkannya Udnang-Undang Nomor 31 tahun 2004, maka Undang-Undang Nomor 9 tahun 1985 dinyatakan dicabut dan tidak berlaku lagi.

Sektor Perikanan yang memiliki potensi yang kaya tersebut, menyebabkan banyak nelayan asing maupun lokal memiliki kapal besar dengan teknologi tinggi melakukan kegiatanillegal fishing di Perairan Indonesia.31

31

Syamsumar Dam, Politik Kelautan, Jakarta : Bumi Aksara, 2011, hal. 115.

(39)

Perikanan merupakan masalah yang sering menajdi bahan pembicaraan masyarakat ataupun aparat Penegak hukum dalam bidang Perikanan, hal ini baik dikarenakan potensi Perikanan yang menguntungkan ataupun karena terjadinya tindak pidana Perikanan yang merugikan sektor Perikanan Indonesia. Oleh karena itu Perautran mengenai Perikanan yang hanya sekedar saja tidak mampu mengatasi persoalan yang terjadi pada masa sekarang ini. Selain dengan adanya Peraturan Perikanan, harus ada upaya Pengawasan terhadap sektor Perikanan Indonesia. Pengawasan terhadap sektor Perikanan pada masa sekarang ini harus ditingkatkan dalam hal pengawasan terhadap kegiatan penangkapan ikan. kegiatan penangkapan ikan tersebut harus dilakukan dengan efisien dan efektif. Efisiensi dan efektivitas penangkapan ikan ditunjang juga oleh Perkembangan teknologi Perikanan. Hal tersebut dikarenakan terjadinya gangguan terhadap kelestarian sumber daya ikan tidak hanya disebabkan tekanan Pemanfaatan lebih (over fishing), yang juga disebabkan oleh Penggunaan alat tangkap hasil temuan kemajuan teknologi yang sebenarnya terlarang digunakan. Untuk mencegah dan mmberantasnya perlu dilakukan Pengawasan yang dikenal dengan monitoring, controlling, surveillance. 32

32

H. Djoko tribawono, op.cit. , hal. 7.

(40)

Peraturan mengenai Pengawasan Perikanan di Indonesia diatur dalam bebrapa Peraturan baik undang-undang maupun Peraturan menteri, yakni Undang-Undang Nomor 45 tahun 2009 tentang Perubahan Undang-Undang-udanng Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan, Undang-Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan, Peraturan Menteri Perikanan dan Kelautan Nomor Per. 05/Men/2007 tentang Penyelenggaraan Sistem Pemantauan Kapal Perikanan, Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 17/PERMEN-KP/2014 tentang Tugas Pengawas Perikanan. Dalam Peraturan Menteri Nomor 17/PERMEN-KP/2014 pasal 1 angka 2 dijelaskan bahwa Pengawasan Perikanan adalah kegiatan yang ditujukan untuk menjamin terciptanya tertib Pelaksanaan ketentuan Peraturan Perundang-undangan di bidang Perikanan.

(41)

Pemantauan kapal Perikanan. Dalam rangka mengefektifkan dan efisiensi dari Pemantauan kapal Perikanan, maka direktorat Jendral Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikananan menerbitkan Surat Keputusan Nomor Kep19/DJ-P2SDKP/2008 tentang Petunjuk Teknis Oprasional Pengawasan Kapal Perikanan. Dalam Pasal 2 dikatakan bahwa Petunjuk teknis dan oprasional Pengawasan kapal Perikanan ditetapkan dengan maksud sebagai acauan Pengawasan Perikanan dalam melaksanakan tugas Pengawasan sumber daya Perikanan. Petunjuk oprasional Pengawasan Perikanan ditetapkan dengan tujuan terciptanya suatu kesan kesepahaman dalam melaksanakan Pengawasan.

Dalam rangka Pelaksanaan Pengawasan kapal Perikanan yang berkaitan dengan usaha Perikanan tangkap secara terpadu, maka Perlu ditentukan sasaran yang akan dijadikan dasar untuk melaksakan Pengawasan kapal Perikanan secara intensif. Dalam Pasal 3 dinyatakan pula bahwa objek Pengawasan kapal Perikanan meliputi :

a. Dokumen Perizinan kapal Perikanan b. Fisik kapal Perikanan

c. Alat Penangkapan ikan d. Alat bantu Penangkapan ikan e. Ikan hasil tangkapan

f. Ikan yang diangkut g. Daerah Penangkapan

(42)

Oleh karena itu efektifitas Pengawasan kapal Perikanan harus ditunjang pula oleh tempat-tempat tertentu untuk melakukan Pengawasan. Hal ini sesuai ketentuan yang termaktub dalam Pasal 4 SK tersebut, dinyatakan bahwa Pengawasan kapal Perikanan dilakukan di :

(a) Wilayah Pengelolaan ikan republik Indonesia (WPP RI)

(b) Pelabuhan Perikanan dan/atau Pelabuahn bukan Pelabuhan Perikanan; (c) Pelabuhan umum yang ditetapkan sebagai Pelabuhan pangkalan (d) Pangkalan Pendaratan ikan

(e) Sentra-sentra kegiatan nelayan

B. Tugas dan Kewenangan Pengawas Perikanan

(43)

otoritas lain yang diarahkan untuk mencapai kelangsungan produktivitas sumber daya hayati Perairan dan tujuan yang telah disepakati. Karena aspek kajian dari perikanan tersebut merupakan hal-hal yang penting dan tidak sembarang maka melakukan Pengawasan terhadap sektor Perikanan di Wilayah laut Indonesia merupakan hal yang wajib. Karena Pengawasan ini juga merupakan upaya untuk menanggulangi tindak pidana Perikanan. Upaya monitoring, controlling dan surveilling adalah serangkaian dari Pengawasan yang dilakukan untuk mencegah segala tindakan yang bertentangan dengan aturan Perundang-undangan di bidan Perikanan. Yang melakukan Pengawasan terhadap Perikanan ialah Pengawas Perikanan. Dalam kaitan ini, Petugas diberi kewenangan Penuh melakukan Penyidikan membantu Pejabat Penyidik umum untuk berwenang. Kewenangan seperti ini sebelumnya tidak terdapat dalam ordonansi Perikanan yang dulu yakni aturan mengenai Perikanan sebelum dikeluarkannya Undang-Undang Perikanan yang sekarang. Menurut Undang-Undang Nomor 45 tahun 2009 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan Pasal 66 ayat 2, Pengawas Perikanan bertugas untuk mengawasi tertib Pelaksanaan ketentuan Peraturan Perundang-undangan di bidang Perikanan.

(44)

merupakan Direktorat Jenderal yang bertanggung jawab untuk melakukan Pengawasan di bidang sumberdaya kelautan dan Perikanan. Dalam melakukan Pengawasan Ditjen PSDKP berkoordinasi denga Bakorkamla dan Polair.33

1. Direkrut dari PNS di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan Adapun struktur Organisasi yang ada dalam Direktorat Jenderal Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (Ditjen PSDKP) ialah Sekretariat Direktorat Jenderal, Direktorat Pengawasan Sumber Daya Perikanan, Direktorat Pengawasan Sumber Daya Kelautan, Direktorat Pengawasan Sumber Daya Kelautan, Direktorat Pemantau Sumber Daya KP Dan Pengembangan Infrastruktur Pengawasan, Direktorat Penanganan Pelanggaran.

Adapun yang termasuk Pengawas Perikanan ialah :

Personel Pengawas Perikanan direkrut dari PNS (Pegawai Negeri Sipil) di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (Pasal 66 A ayat 1 Undang-Undang Perikanan), dengan dasar Pemikiran selaku Pegawai di lembaga tersebut mempunyai latar belakang Pengetahuan Perikanan. Dalam Pasal 66 ayat 3, Petugas Peikanan dapat ditetapkan sebagai Pejabat fungsional. Pengawas Perikanan memang merupakan jabatan fungsional sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 16 tahun 1994 jo Surat Edaran MENPAN Nomor SE/07/M.PAN/2004. Jabatan fungsional adalah jabatan yang menunjukkan tugas dan tanggungjawab, wewenang dan hak seorang Pegawai engeri sipil dalam suatu satuan organisasi yang dalam

33

(45)

Pelaksanaan tugasnya didasarkan pada keahlian dan/atau keterampilan tertentu serta bersifat mandiri. Pada hakikatnya, jabatan fungsional sebagai jabatan teknis yang tidak tercantum dalam struktur organisasi, namun sangat diPerlukan dalam tugas-tugas pokok dalam organisasi Pemerintah. Jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil terdiri atas jabatan fungsional keahlian dan jabatan fungsional keterampilan. Penetapan jabatan fungsional keahlian dan jabatan fungsional keterampilan ditetapkan dengan kriteria sebagai berikut :

a. Mempunyai metodologi, teknik analisis, teknik dan prosedur kerja yang didasarkan atas disiplin ilmu Pengertahuan dan atau Pelatihan teknis tertentu serta sertifikasi

b. Memiliki etika profesi yang ditetapkan oleh organisasi profesi c. Dapat disusun dalam suatu jenjang jabatan berdasarkan :

(1) Tingkat keahlian, bagi jabatan fungsional keahlian,

(2) Tingkat keterampilan, bagi jabatan fungsional keterampilan d. Pelaksanaantugas bersifat mandiri

e. Jabatan fungsioanl tersebut diPerlukan dalam Pelaksanaan tugas pokok dan fungsi organisasi34

2. Diarahkan sebagai Penyidik

Sebagai Pengawas Perikanan yang melakukan tugas mengawasi Pelaksanaan Pengelolaan Perikanan di lapangan sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan di bidang Perikanan. Dulunya, Pengawas Perikanan

34

(46)

terdiri atas Penyidik PNS Perikanan dan non Penyidik (Pasal 66 ayat 3 UU no. 2004). Dengan diubahnya UU Perikanan, Pengawas Perikanan sekarang hanyalah Pejabat PN non Penyidik saja (Pasal 66 A ayat 1 UU No. 45 tahun 2009). Dengan menjalankan tugas sebagai Pengawas Perikanan dan memiliki Pengalaman dan kemampuan serta keterampilan yang cukup dalam Pengawasan di lapangan. Dengan bekal demikian tersebut diarahkan Personel Pengawas Perikanan untuk dapat dididik dan diangkat menjadi Penyidik PNS Perikanan. Pengawas Perikanan yang awalnya melakukan Pengawasan di bidang teknis dan administratif di bidang Perikanan, ketika diangkat menjadi Penyidik PNS Perikanan harus sudah siap menjalankan tugas Pengawasan di bidan gteknis yuridis untuk memproses suatu kejadian atau Peristiwa pidana di bidang Perikanan menjadi suatu Perkara utnuk dilimpahkan ke kejaksaan.

(47)

Perundang-undangan di bidangPerikanan. Pengawas Perikanan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1, dalam melaksakan tugasnya memiliki wewenang: (a) Memasuki tempat-tempat yang akan dilakukan Pemeriksaan

(b) Meminta dokumen untuk diPeriksa

(c) Mengambil contoh ikan atau bahan yang diPerlukan untuk Pengujian laboratorium

(d) Memeriksa kapal Perikanan

(e) Memeriksa dokumen Perizinan dan dokumen kapal Pendukung lainnya (f) Memeriksa alat tangkap dan alat bantu Penangkapan

(g) Menyetujuo/membongkar muat hasil tangkapan

(h) Menunda keberangkatan kapal Perikanan dalam hal tidak terPenuhi Persyaratan administrasi Perizinan dan teknis kelaikan oprasional (i) Menurunkan alat tangkap yang tidak sesuai dengan ukuran yang telah

ditentukan

(j) Menerbitkan surat layak oprasi kapal Perikanan

(k) Merekomendasikan sanksi administrasi bagi kapal Perikanan yang melakukan Pelanggaran kepada Direktur Jendral

Mengenai wewenang Pengawas Perikanan dalam melaksanakan tugas juga terdapat dalam Pasal 66 C Undang-Undang Nomor 45 tahun 2009 tentang Perubahan Undang-undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan, yakni :

(48)

d. memeriksa sarana dan prasarana yang digunakan untuk kegiatan Perikanan;

e. memverifikasi kelengkapan dan keabsahan SIPI dan SIKPI; f. mendokumentasikan hasil Pemeriksaan;

g. mengambil contoh ikan dan/atau bahan yang diPerlukan untuk keperluan Pengujian laboratorium;

h. memeriksa Peralatan dan keaktifan sistem Pemantauan kapal Perikanan;

i. menghentikan, memeriksa, membawa,menahan, dan menangkap kapal dan/atau orang yang diduga atau patut diduga melakukan tindak pidana Perikanan di wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia sampai dengan diserahkannya kapal dan/atau orang tersebut di Pelabuhan tempat Perkara tersebut dapat diproses lebih lanjut oleh Penyidik;

j. menyampaikan rekomendasi kepada Pemberi izin untuk memberikan sanksi sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan;

(49)
(50)

Selain dilengkapi dengan senjata api, pengawas perikanan juga dilengkapi dengan Kapal Pengawas Perikanan dalam melaksanakan tugasnya. Kapal Pengawas Perikanan adal kelautan dan Perikanan. Dalam Peraturan Mentreri Kelautan dan Perikanan Nomor PER. 05/MEN/2007 yang dimaksud dengan Kapal Pengawas Perikanan adalah kapal Pemerintah yang diberi tanda-tanda tertentu untuk melaksanakan Pengawasan dan Penegakan hukum di bidang Perikanan. Dalam melakukan Pengawasan berkoordinasi dengan TNI Angkatan Laut, Polair dan Bakorkamla..Kapal Pengawas Perikanan merupakan Satuan Unit Kerja di bawah Direktorat Kapal Pengawas Ditjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kapal Pengawas Perikanan diawaki oleh beberapa awak kapal Pengawas Perikanan. Kapal Pengawas Perikanan mempunyai tugas dan fungsi untuk melaksanakan gelar oPerasi Pengawasan Perikanan di laut.35 Kapal Pengawas Perikanan (fishery patrol ship) dalam dunia Pelayaran sering disebut "Kapal Putih", Hal ini karena kapal Pengawas Perikanan berwarna dominan putih mengingat warna abu-abu maupun kamuflase hanya boleh untuk kapal militer.36

35

Heru Triharyanto, 2014. “Pengaruh Pelatihan dan Motivasi Kerja Terhadap Pengembangan Karir Awak Kapal Pengawas Perikanan pada Ditjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP)”. Universitas Terbuka, Vol. 1 No. 1 2014.

Dalam Pasal 69 UU Perikanan Nomor 45 tahun 2009 juga dijelaskan bahwa fungsi dari kapal Perikanan adalah untuk melaksanakan Pengawasan dan Penegakan hukum di bidang Perikanan dalam wilayah Pengelolaan Perikanan negara Republik Indonesia. Kapal Pengawas Perikanan dapat menghentikan, memeriksa,

(51)

membawa, dan menahan kapal yang diduga atau patut diduga melakukan Pelanggaran di wilayah Pengelolan Perikanan negara Republik Indonesia ke Pelabuhan terdekat untuk Pemrosesan lebih lanjut. Penahanan kapal ini dapat dilakukan dalam rangka tindakan membawa kapal ke Pelabuhan terdekat dan/atau menunggu proses selanjutnya yang bersifat sementara. Dalam melaksanakan fungsinya, kapal Perikanan juga dapat melakukan tindakan khusus berupa Pemabakaran dan atau Penenggelaman kapal Perikanan yang berbendera asing berdasarkan bukti Permulaan yang cukup.

Untuk kepentingan Pengawasan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan sekarang ini telah memiliki kapal Pengawas Perikanan sebanyak 40 unit. Dari jumlah tersebut sebanyak 17 unit yang dilengkapi senajta api. Dengan data itu tampak bahwa tidak semua kapal Perikanan dilengkapi dengan senjata api, hanya sekitar 40% kapal yang dilengkapi dan pihak kementerian kelautan dan Perikanan juga sudah memPertimbangkan daerah-daerah Pengawasan mana yang rawan dan memerlukan senjata api.37

C. HAK DAN KEWAJIBAN KAPAL PERIKANAN DALAM

MELAKUKAN PENANGKAPAN IKAN

Kapal Perikanan adalah kapal atau Perahu atau alat apung lainnya yang digunakan untuk melakukan kegiatan Penangkapan ikan termasuk melakukan survei atau eksplorasi Perikanan atau Pengertian sempit yang menyatakan bahwa kapal Perikanan adalah kapal yang secara khusus diPergunakan untuk menangkap

37

(52)

ikan termasuk menampung, menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan. Berdasarkan beberapa defeinisi yang telah disebutkan diatas, maka dapat diketahui bahwa kapal ikan sangat beragam dari kekhususan Penggunaannya hingga ukurannya. Kapal-kapal ikan tersebut dapat terdiri dari Perahu berukuran kecil berupa Perahu sampan (Perahu tanpa motor) yang digerakkan dengan tenaga dayung atau layar, perahu motor tempel yang terbuat dari kayu hingga pada kapal ikan berukuran besar yang terbuat dari kayu, fibre glass maupun besi baja dengan tenaga Penggerak mesin diesel. Jenis dan bentuk kapal ikan ini berbeda sesuai dengan tujuan usaha, keadaan Perairan, daerah Penangkapan ikan (fishing ground)

dan lain-lain, sehingga menyebabkan ukuran kapal yang berbeda pula.38

1. Kecepatan

Menurut Setianto, Kapal Perikanan sebagaimana layaknya kapal Penumpang dan kapal niaga lainnya maupun kapal barang, harus memenuhi syarat umum sebagai kapal. Berkaiatan dengan fungsinya yang sebagian besar untuk kegiatan Penangkapan ikan, maka harus juga memenuhi syarat khusus untuk mendukung keberhasilan kegiatan tersebut yang meliputi: kecepatan, olah gerak/mneuver, ketahanan stabilitas, kemamapuan jelajah, konstruksi, mesin Penggerak, fasilitas Pengawetan dan prosesing serta Peralatan Penangkapan.

Kapal Penangkap ikan biasanya membutuhkan kecepatan yang tinggi, karena untuk mencari dan mengejar gerombolan ikan. Disamping iitu juga

38

(53)

untuk mengangkut hasil tangkapan dalam keadaan segar sehingga dibutuhkan waktu relatif singkat.

2. Olah Gerak

Kapal Perikanan memerlukan olah gerak/manuver kapal yang baik terutama pada waktu operasi Penangkapan dilakukan. Misalnya pada waktu mencari, mengejar gerombolan ikan, Pengoperasian alat tangkap dan sebagainya.

3. Ketahanan Stabilitas

Kapal Perikanan harus mempunyai ketahanan stabilitas yang baik terutama pada waktu operasi Penangkapan ikan dilakukan. Ketahanan terhadap hempasan angin, gelombang dan sebagainya. Dalam hal ini kapal Perikanan sering mengalami oleng yang cukup tinggi.

4. Jarak Pelayaran/Kemampuan jelajah

Kapal Perikanan harus mempunyai kemampuan jelajah, untuk menempuh jarak yang sangat tergantung pada kondisi lingkungan Perikanan, seperti: Pergerakan gerombolan ikan, fishing ground dan musim ikan. Sehingga jarak Pelayaran bisa jauh, sebagai contoh Tuna Long Line.

5. Konstruksi

(54)

6. Mesin Penggerak

Mesin Penggerak utama kapal (mesin engine) kapal Perikanan, ukurannya harus kecil tetapi mempunyai kekuatan yang besar dan ketahanan harus tetap hidup dalam kondisi olengan maupun trim dalam waktu yang lama, mudah dioPerasikan maju dan mundur dimatikan maupun dihidupkan. 7. Fasilitas Pengawetan dan Pengolahan

Kapal Perikanan biasanya digunakan juga untuk mengangkut hasil tangkapan sampai ke Pelabuhan. Dalam Pengangkutan diharapkan hasil tangkapan tetap dalam keadaan segar, untuk itu kapal Perikanan harus dilengkapi dengan tempat Penyimpanan ikan/palka yang berinsulasi dan biasanya untuk menyimpan es tetapi ada yang dilengkapi dengan mesin Pendingin tempat Pembekuan ikan, bahkan ada juga yang dilengkapi dengan sarana Pengolahan.

8. Perlengkapan Penangkapan

Kapal Perikanan biasanya membutuhkan Perlengkapan Penangkapan, seperti: Line hauler, net hauler, trawl winch, purse winch, power block dan sebagainya.Perlengkapan Penangkapan, tergantung pada alattangkap yang digunakan dalam operasional39

Klasifikasi kapal Perikanan baik ukuran, bentuk, kecepatan maupun konstruksinya sangat ditentukan oleh Peruntukkan kapal Perikanan tersebut. Demikian pula dengan kapal Penangkap, masing-masing memiliki ciri khas,

(55)

ukuran, bentuk, kecepatan dan perlengkapan yang berbeda. Kapal Perikanan secara umum terdiri dari:

1) Kapal Penangkap ikan

Kapal Penangkap Ikan adalah kapal yang dikonstruksi dan digunakan khusus untuk menangkap ikan sesuai dengan alat Penangkap dan teknik Penangkapan ikan yang digunakan termasuk manampung, menyimpan dan mengawetkan.

2) Kapal Pengangkut hasil tangkapan

Kapal Pengangkut hasil tangkapan adalah kapal yang dikonstruksi khusus dan dilengkapi dengan palka khusus yang digunakan untuk menampung, menyimpan, mengawetkan dan mengangkut ikan hasil tangkapan.

3) Kapal survey

Kapal survey adalah kapal yang dikonstruksi khusus untuk melakukan kegiatan survey Perikanan dan Kelautan.

4) Kapal latih

Kapal latih adalah kapal yang dikonstruksi untuk Pelatihan Penangkapan ikan.

5) Kapal Pengawas Perikanan

Kapal Pengawas Perikanan adalah Kegiatan-kegiatan Pengawasan kapal-kapal Perikanan.40

Dalam Undang-Undang Perikanan juga disebutkan fungsi daripada kapal perikanan yakni terdapat dalam Pasal 34 :

40

(56)

(1) Kapal Perikanan berdasarkan fungsinya meliputi: a. kapal Penangkap ikan;

b. kapal Pengangkut ikan; c. kapal Pengolah ikan; d. kapal latih Perikanan;

e. kapal Penelitian/eksplorasi Perikanan; dan

f. kapal Pendukung operasi Penangkapan ikan dan/atau Pembudidayaan ikan.

Secara spesifik lagi dijelaskan defenisi Kapal Perikanan Menurut Undang-Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan adalah kapal, Perahu, atau alat apung lain yang digunakan untuk melakukan Penangkapan ikan, mendukung oPerasi Penangkapan ikan, Pembudidayaan ikan, Pengangkutan ikan, Pengolahan ikan, Pelatihan Perikanan, dan Penelitian/eksplorasi Perikanan. Dari defenisi diatas memang terlihat bahwa kapal Perikanan memang selalu identik dengan Penangkapan ikan. selain mengatur tentang defenisi dari kapal perikanan itu sendiri, Undang-Undang Perikanan juga mengatur mengenai apa yang wajib dilakukan oleh kapal Perikanan baik nasional maupun asing terutama dalam hal Penangkapan ikan. Adapun yang menjadi kewajiban orang atau pihak dan kapal negara Republik Indonesia maupun asing dalam melakukan pengelolaan dan penangkapan perikan adalah :

1. Wajib memiliki Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP)

(57)

Perikanan melakukan perbaikan dan penyempurnaan atas peraturan perizinan di bidang perikanan. Untuk itu Departemen Eksplorasi Laut dan Perikanan mengawali dengan Kepmen Eksplorasi Laut dan Perikanan Nomor 45 tahun 2000 tentang Perizinan Usaha Perikanan yang terdiri dari 32 pasal. Untuk melakukan usaha penangkapan ikan di wilayah pengelolaan perikanan (WPP), setiap perusahaan perikanan wajib memiliki izin usaha perikanan (IUP). WPP meliputi Sembilan wilayah perairan seperti tercantum dalam Pasal 3, yakni :

a. Perairan Selat Malaka

b. Perairan Laut Natuna dan Laut Cinta Selatan c. Perairan Laut Jawa dan Selat Sunda

d. Perairan Laut Flores dan Selat Makassar e. Perairan Laut Banda

f. Laut Mluku, perairan Teluk Tomini, dan Selat Seram g. Perairan Laut Sulawesi dan Samudra Pasifik

h. Perairan Laut Arafura i. Perairan Samudra Hindia

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...