• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep radd dalam perseptif pemabagian kewarisan Islam: studi analisis terhadap pasal 193 kompilasi hukum Islam dan fiqh klasik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Konsep radd dalam perseptif pemabagian kewarisan Islam: studi analisis terhadap pasal 193 kompilasi hukum Islam dan fiqh klasik"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan kepada fakultas Syariah dan Hukum untuk memenuhi salah satu syarat mencapai Gelar Sarjana Syariah (S.Sy)

Oleh :

AHMAD SAUKANI NIM : 106044101385

Di bawah bimbingan

Drs. H. A. Basiq Djalil, SH., MA. Nip. 1955 0505 1982031012

K O N S E N T R A S I P E R A D I L A N A G A M A

PROGRAM STUDI AHWAL AL-SYAHSIYYAH

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

J A K A R T A

(2)

OUTLINE

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah C. Tujuan dan Manfaat Penelitian D. Tinjauan Pustaka

E. Kerangka Teori dan Konseptual F. Metode Penelitian

(3)

C. Ahli Waris Dzawil Purud D. Ahli Waris Ashabah

E. Seputar Hijab Dalam Waris

F. Cara Menentukan dan Menyelesaikan Warisan

BAB III PEMBAHASAN TENTANG RADD A. Pengertian Radd

B. Rukun-Rukun Radd

C. Pendapat Para Ulama Tentang Radd D. Ahli Waris Yang Mendapat Radd E. Penyelesaian Masalah Radd

BAB IV ANALISA PERSPEKTIF KONSEP RADD A. Sejarah Singkat Kompilasi Hukum Islam

B. Konsep Radd dan Alasan Pembuatan Klausal Pasal 193 Dalam Kompilasi Hukum Islam

C. Konsep Radd Menurut Pendapat Para Ulama

D. Analisis Perbedaan Konsep Dalam Kompilasi Hukum Islam dan Fiqh Klasik

BAB V PENUTUP

(4)
(5)

KEWARISAN ISLAM (Studi Analisis Terhadap Pasal 193 Kompilasi Hukum Islam dan Fiqh Klasik) telah diujikan dalam sidang Munaqasyah Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 31 Agustus 2010. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Syariah (S.sy) pada program studi Ahwal al-Syahsiyyah.

Jakarta, 31 Agustus 2010

Mengesahkan,

Dekan Fakultas Syariah dan Hukum

Prof. Dr. H. M. Amin Suma, SH, MA, MM

NIP: 195505051982031012

PANITIA UJIAN

1. Ketua : Drs. H. A. Basiq Djalil, SH, MA (……….) NIP: 1950 0306 197603 1001

2. Sekretaris : Kamarusdiana, S.Ag, MH (………...) NIP: 1972 0224 199803 1003

3. Pembimbing : Drs. H. A. Basiq Djalil, SH, MA (……….) NIP: 1950 0306 197603 1001

4. Penguji I : Prof. Dr. H. Hasanuddin AF, MA (……….) NIP: 150050917

5. Penguji II : Dr. KH. A. Juaini Syukri, Lc, MA (……….) NIP: 1955 0706 1992031001

(6)

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 31 Agustus 2010

(7)

Puji syukur kehadirat-Nya, sebagai Dzat yang maha indah dan terpuji, dimana seluruh pujian dijagad ini dipersembahkan untuk-Nya, takkan pernah terasa cukup untuk mengungkapkan rasa syukur dan terimakasih atas segala rahmat dan cinta yang diberikan kepada hamba-Nya.

Salam sejahtera semoga senantiasa tercurah kepada manusia agung, Muhammad SAW yang menjadi panutan ummat islam, yang selalu dinantikan syafaatnya dihari pembalasan.

Tidak ada kata yang tepat yang dapat penulis untaikan, selain syukur untuk menunjukkan betapa ALLAH memberikan kekuatan fisik dan psikis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “KONSEP RADD DALAM PERSPEKTIF PEMBAGIAN KEWARISAN ISLAM (Studi Analisis Terhadap Pasal 193

Kompilasi Hukum Islam dan Fiqh Klasik)”

Penulis sadari, bahwa selesainya tugas ini adalah tanpa menafikan semua pihak, baik yang terlibat secara langsung atau tidak, tanpa uluran tangan mereka tidak mungkin selesai skripsi ini. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarya kepada:

1. Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, S.H., M.A., M.M., selaku dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

(8)

3. Prof. Dr. H. Hasanudin AF, MA. dan Dr. H. A. Juaini Syukri. LC., MA yang telah menguji penulis dalam ujian skripsi ini, dan telah memberikan saran, arahan dan masukan untuk kesempurnaan skripsi ini.

4. Kamarusdiana S.Ag., M.H., selaku sekretaris Program Studi Ahwal Al-Syahshiyyah, terimakasih atas pelayanan yang sangat memuaskan dan bantuan yang tidak terlupakan.

5. Bapak dan Ibu dosen yang penulis hormati, yang telah memberikan tenaga dan pikirannya, untuk mendidik penulis agar kelak menjadi manusia yang berguna di dunia dan diakhirat, semoga do’a dan didikannya menjadi berkah dan dapat menuntun penulis untuk memasuki kehidupan yang lebih baik. 6. Pegawai Perpustakaan Utama serta Perpustakaan Syariah dan Hukum

Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, yang juga meberikan bantuan berupa bahan-bahan yang menjadi referensi dalam penulisan skripsi ini.

7. Ayahanda dan Ibunda yang senantiasa mendorong, membimbing, mendidik penulis dan teramat berjasa, arif mendidik, tiada hentinya berdoa untuk penulis agar menjadi manusia yang berguna. Abanganda Erwin Lubis dan Ilham Lubis yang selama ini memberikan bantuan financial dan motivasi kepada penulis agar menjadi orang yang sukses. Kakakku Sakdiah Lubis,

(9)

iii

8. Teman-teman jurusan Peradilan Agama angkatan 2006, yang selalu menjadi guru, teman berdiskusi dilokal, semoga apa yang kita cita-citakan dapat terlaksana. Teman-teman Himpunan Mahasiswa Mandailing Natal Hasonangan, Ikhwan Efendi, Khoirul Anwar, Muhammad Syarif, Wahyu, Pangala, Parjuangan, Moraganti, Siti Aisyah, Hamna Sari, dan sahabat lainnya yang tidak disebutkan namanya satu persatu, yang akan selalu menjadi guru, teman satu ide dan satu perjuangan.

Akhirnya, kepada semua pihak yang telah membantu penulisan skripsi ini, penulis berdo’a semoga Allah SWT., senantiasa mencurahkan rahmat dan hidayahnya. Kemudian harapan penulis, skripsi ini bermanfa’at bagi para pembaca.

Jakarta, 27 Agustus 2010

Penulis

(10)

DAFTAR ISI... .. iv

BAB I : PENDAHULUAN………. A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 7

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8

D. Tinjauan Pustaka ... 9

E. Metode Penelitian ... 10

F. Sistematika Penulisan ... 12

BAB II : KEWARISAN DALAM ISLAM... A. Pengertian dan Dasar Hukum Waris ... 14

B. Rukun, Syarat, Sebab dan Penghalang Dalam Waris ... 22

C. Ahli Waris dan Bagiannya ... 28

D. Asal Masalah dan Tashihul Masalah... 39

E. Hijab Dalam Waris... 45

F. Cara Menentukan dan Menyelesaikan Warisan... 48

BAB III : RADD DALAM KEWARISAN... A. Pengertian Radd ... 52

B. Rukun dan Syarat Radd... 54

C. Pendapat Ulama Tentang Radd... 55

(11)

v

A. Sejarah Singkat Kompilasi Hukum Islam ... 72 B. Konsep Radd dan Alasan Pembuatan Klausul Pasal

193 Dalam Kompilasi Hukum Islam ... 80 C. Konsep Radd Dalam Pandangan Ulama Beserta

Aplikasinya ... 82 D. Analisis Penulis... 84 BAB V : PENUTUP...

(12)

A. Latar Belakang Masalah

Proses perjalanan kehidupan manusia adalah lahir, hidup dan mati, semua tahap itu membawa pengaruh dan akibat hukum pada lingkungan, terutama dengan orang yang dekat dengannya, baik dekat dalam arti nasab maupun dalam arti lingkungan. Kelahiran membawa akibat timbulnya hak dan kewajiban bagi dirinya dan bagi orang lain, serta timbulnya hubungan hukum antara dia dengan orang tua, kerabat dan masyarakat lingkungannya. Demikian juga kematian seseorang membawa pelajaran dan akibat hukum pada diri, keluarga, masyarakat dan lingkungan sekitarnya.1

Hukum diciptakan untuk memelihara hak dan tanggung jawab, baik berkaitan dengan masalah individu, keluarga, kelompok masyarakat maupun suatu lembaga.2 Dari seluruh hukum yang berlaku dalam masyarakat, maka hukum perkawinan dan kewarisanlah yang menentukan dan mencerminkan system kekeluargaan, sekaligus merupakan salah satu bagian perdata.3

1

Usman Suparman dan Somawinata Yusuf, Fiqh Mawaris Hukum Kewarisan Islam

(Jakarta: Bayu Media Pratama, 2002), h.1.

2

Pipin Syarifin, Pengantar Ilmu Hukum (Jakarta: Pustaka Setia, 1999 ), h.1.

3

Parman Ali, Kewarisan Dalam Al-Qur'an Suatu Kajian Hukum Dengan Pendekatan Tafsir Tematik (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999), h. 2.

(13)

Dikalangan ummat Islam apabila terjadi kematian, yang mati itu meninggalkan harta, maka peralihan hartanya harus merujuk kepada ajaran agama, karena Al-Qur'an sudah menjelaskan secara eksplisit tentang pembagian warisan melalui pendekatan matematis, yang menggunakan angka pecahan. Meskipun Al-Qur'an sudah menjelaskan secara terperinci tentang bagian masing-masing ahli waris, namun tidak semua ummat Islam mengetahuinya secara baik.4

Bila kematian yang menimbulkan kewarisan itu terjadi didalam suatu keluarga, dan diantara keluarga ada yang mengetahui cara pembagiannya maka keluarga itu mengurus sendiri harta peninggalannya, sesuai dengan ajaran agama. Tetapi kalau tidak ada, boleh meminta petunjuk kepada orang yang paham tentang pembagian, sesuai dalam ajaran Al-Qur'an. Maka kalau sudah menerima bagian masing-masing, persoalan selesai sudah.5

Namun, karena objek ini adalah harta benda, sering timbul ketidak puasan disebagian anggota keluarga, disamping disebabkan oleh ketidak tahuannya dengan ajaran agama, juga disebabkan keserakahannnya dan rasa egois. Kalau urusannya sudah timbul persengketaan yang tidak dapat diselesaikan secara kekeluargaan, maka hal ini memerlukan penyelesaian pihak yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan untuk memaksakan keputusannya, inilah yang dinamakan lembaga "qadha" atau

4

A Sukris Surmadi, Transidensi Keadilan Hukum Waris Islam Trans Formatif (Jakarta: Raja Grafind Persada,1997), h. 1.

5

(14)

peradilan. Dengan demikian lembaga peradilan itu merupakan langkah terakhir dalam penyelesaian urusan kewarisan.6

Peradilan yang menjalankan ajaran agama dalam bentuk yang resmi di Indonesia, telah ditetapkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1882 melalui stbl. No. 152 Tahun 1882 tentang pendirian Raad Agama (yang menjadi cikal bakal Pengadilan Agama) untuk pulau jawa dan Madura. Dalam Stbl ini ditetapkan salah satu wewenang absolutnya adalah kewarisan. Setelah Indonesia merdeka, pemerintah Indonesia mengeluarkan peraturan pemerintah No. 45 Tahun 1957 tentang pembentukan Mahkamah Syariah Provinsi untuk seluruh Indonesia diluar Jawa, Madura dan Kalimantan Selatan dan Timur. Dalam Peraturan Pemerintah ini ditetapkan salah satu wewenang Peradilan Agama adalah kewarisan.

Eksistensi Peradilan Agama semakin kuat dengan lahirnya Undang-Undang No 50 Tahun 2009 perubahan kedua atas Undang-Undang No 7 Tahun 1989. Bila dilihat kewenagan absolut Peradilan Agama semakin luas hal ini terlihat dalam pasal 49 disebutkan “Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara ditingkat pertama antara orang- orang yang beragama Islam dibidang perkawinan, waris, hibah, wakaf, zakat, infak, sedekah dan ekonomi syariah”. Setelah diperluas kewenangan Pengadilan Agama dan eksistensinya

6

(15)

semakin kuat semakin jelaslah posisi Peradilan Agama sebagai kekuasaan kehakiman dibidang perdata Islam.7

Didalam pasal ini disebutkan bahwa kewarisan bagi ummat Islam, diseluruh Indonesia penyelesaiannya menjadi wewenang Pengadilan Agama. Tentang hukum yang digunakan dalam menyelesaikan kewarisan itu adalah hukum islam tentang kewarisan. Hakim dalam memutus perkara merujuk pada kitab-kitab fikih, khususnya fikih yang berkembang di Indonesia pada umumnya adalah mengikuti mazhab Imam Syafi'i, tanpa menutup adanya aliran fiqih atau mazhab lain, meskipun kecil. Karena dalam menentukan hukum, hakim dalam memutuskan yang merujuk kepada fikih menghasilkan penetapan yang berbeda-beda dalam suatu kasus kewarisan, baru menimbulkan masalah.

Hal ini mendorong pemuka Negara untuk merumuskannnya dalam satu bentuk kesatuan, setelah melalui proses panjang. Mahkamah Agung sebagai pemegang kekuasaan peradilan di Indonesia bersama Menteri Agama, dengan melibatkan Ulama, para pakar fiqih, ahli hukum dan pemuka masyarakat lainnya, berhasil mengeluarkan Kompilasi Hukum Islam Indonesia. Kompilasi Hukum Islam yang mengatur urusan perkawinan, kewarisan dan perwakafan ini disebar luaskan melalui Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 yang dikeluarkan pada tanggal 10

7

(16)

Juni 1991 yang meminta sedapat mungkin menerapkan Kompilasi Hukum Islam di Peradilan Agama yang ada diseluruh Indonesia.8

Kompilasi Hukum Islam yang mengatur kewarisan terdiri dari 23 pasal, dari pasal 171 sampai dengan pasal 193. Didalam Kompilasi Hukum Islam pasal mengenai kewarisan sebahagian ada yang tidak sesuai dengan pikih yang berkembang di Indonesia, khususnya mazhab Syafi'i buktinya kalau kita amati dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Islam Indonesia banyak memperaktekkan pendapatnya.

Salah satu pasal Kompilasi hukum Islam yang tidak sesuai dengan pendapat yang berkembang di Indonesia adalah pasal 193 mengenai Radd disebutkan "Apabila dalam pembagian harta warisan diantara para ahli waris Dzawil furud menunjukkan angka pembilang lebih kecil daripada angka penyebut, sedangkan tidak ada ahli waris ashabah, maka pembagian harta warisan tersebut dilakukan secara rad, yaitu sesuai dengan hak masing-masing ahli waris, sisanya dibagi secara berimbang diantara mereka".

Masalah radd terjadi apabila pembilang lebih kecil dari pada penyebut dan pada dasarnya adalah kebalikan masalah aul. Namun demikian penyelesaian masalahnya tentu berbeda dengan masalah aul, karena aul pada dasarnya kurangnya bagian yang akan dibagi, sedangkan pada radd ada kelebihan setelah diadakan pembagian. Didalam Kompilasi Hukum Islam masalah radd boleh diberikan kepada

8

(17)

siapa saja sesuai dengan kata-kata "sisanya dibagi secara berimbang diantara mereka", maksudnya sisa harta sesudah diberikan hak masing-masing ahli waris masih ada sisa, sisanya ini diberikan kepada ahli waris dzawil furud yang mendapat warisan. Padahal bila kita lihat pendapat Imam Syafi'i sisa harta tidak boleh diberikan kepada ashabul furudh bahkan wajib diberikan kepada Baitul Maal.9

Tetapi di Kompilasi Hukum Islam membolehkan kepada siapa saja. Jadi ada perbedaan antara Kompilasi Hukum Islam dengan fikih yang berkembang di Indonesia khususnya Mazhab Syafi'i dan Jumhur Ulama. Menjadi masalah ialah, hukum materil Pengadilan Agama yaitu Kompilasi Hukum Islam berbeda dengan pemahaman masyarakat Islam Indonesia yang banyak diperaktekkan dalam kehidupan sehari-hari, baik ia pembagian waris yang dibagi diantara keluarga yang mengetahui cara pembagiannya, yang tidak masuk ke Pengadilan Agama. Maka sisa harta ini perlu ada kejelasan untuk siapa diberikan biar tidak terjadi perselisihan diantar para ahli waris karena menyangkut harta benda yang masih bisa menjadi objek persengketaan.

Dari permasalahan ini, penulis ingin meneliti tentang hal ini, karena

merupakan hal yang menarik untuk dibahas dengan judul: "Konsep Radd Dalam Persfektip Pembagian Kewarisan Islam (Studi Analisis

Terhadap Pasal 193 Kompilasi Hukum Islam dan Fiqh Klasik)"

9

(18)

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah

Agar lingkup pembahasan Skripsi ini tidak terlalu luas, maka penulis membatasi penelitian ini hanya pada seputar masalah “Konsep Radd Dalam Persfektip Pembagian Kewarisan Islam (Studi Analisis Terhadap Pasal 193

Kompilasi Hukum Islam dan Fiqh Klasik). Yang dimaksud persfektip adalah sudut pandangan, pandangan.10 Pandangan para Ulama terhadap konsep radd dalam pembagian warisan dan pandangan kompilasi hukum Islam terhadap konsep radd yang ada. Pandangan ini meliputi pendapat, alasan-alasan yang dikemukakan dalam mempertahankan argumen konsep radd yang ada.

Sedangkan konsep Radd adalah sisa harta yang harus diberikan kepada waris sesudah mendapatkan bagian masing–masing. Persoalan Radd secara garis besar terjadi pada dua kemungkinan, Pertama radd dalam hal ada suami atau istri, kedua

radd dalam hal suami atau istri tidak ada.11 Didalam pembahasan ini titik berat yang dicari adalah konsep yang ada dalam Kompilasi Hukum Islam dengan pendapat para ulama.

2. Perumusan Masalah

Di Dalam Kompilasi Hukum Islam disebutkan bahwa radd diberikan kepada ahli waris dzawil furud termasuk kepada suami atau istri, sedangkan menurut Imam

10

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Depertemen Pendidikan Dan Kebudayaan (Jakarta: Balai Pustaka, 1998),h.675.

11

Suhwardi K Lubis dan Komis Simanjuntak, Hukum Waris Islam Lengkap Dan Praktis

(19)

Syafi’i dan Imam Malik, radd itu harus diberikan kepada Baitul Mal. Dan menurut Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Abu Hanifah suami atau istri tidak boleh mendapatkan radd.12 Hal ini yang ingin penulis telusuri dalam penulisan skripsi ini. Rumusan tersebut diatas penulis rinci dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:

1. Apakah perbedaan dan persamaan konsep Radd yang ada dalam Kompilasi Hukum Islam dan Fiqh Klasik ?

2. Apa yang menjadi dasar bagi ulama Indonesia membuat konsep Radd dalam Kompilasi Hukum Islam berbeda dengan pendapat jumhur ulama ? 3. Bagaimanakah aplikasi pembagian Radd ?

4. Bagaimana relevansi konsep radd dalam perkembangan sosio-kultur masyarakat Indonesia sekarang ini?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penyusunan skripsi ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk menemukan perbedaan dan persamaan antara Kompilasi Hukum Islam dan Jumhur Ulama tentang status hukum radd.

2. Untuk mengetahui alasan yang jelas dari para ulama Indonesia tentang perbedaan radd dalam Kompilasi Hukum Islam dengan jumhur ulama. 3. Mengetahui dasar hukum yang dipakai dalam penentuan radd dalam

Kompilasi Hukum Islam.

12

(20)

4. Untuk mengetahui konsep radd dan penyelesaiannya dalam kewarisan Islam.

Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Untuk memberikan gambaran hukum yang jelas tentang konsep radd yang ada dalam Kompilasi Hukum Islam dan Fiqh Klasik.

2. Menambah khasanah keilmuan khususnya bagi penulis dan pada umumnya pada pembaca.

3. Pengembangan kuwalitas pengetahuan hukum waris, khususnya tentang cara pembagiannya kalau ada masalah radd.

4. Bagi Peradilan Agama untuk mengetahui secara jelas tentang konsep dalam Kompilasi Hukum Islam masalah radd.

D. Tinjaun (review) kajian terdahulu

(21)

2. Respon Perempuan Terhadap Sistem Pembagian 2:1 Dalam Hukum Kewarisan Islam (Studi di RT 04/05 Kel Bojong kulur Kec. Gunung putri Kab. Bogor) pada tahun 2008 yang ditulis oleh Eli Nurmalia, Jurusan Peradilan Agama. Dalam skrifsinya Eli Nurmalia membahas tentang respon perempuan terhadap sistem yang ada dalam waris 2:1 dengan penelitian lapangan. Eli menyimpulkan bahwa mereka menerima sistem pembagian tersebut karena dirasa sudah merupakan wujud keadilan ALLAH dengan melihat tentang kewajiban laki-laki lebih besar dalam nafkah. Perbedaan dengan skripsi saya yaitu saya membahas tentang konsep Radd sedangkan Eli membahas tentang pembagian 2:1.

3. Penyelesaian Gugatan Kewarisan Anak Perempuan Dengan Saudara Kandung (Studi analisis putusan Pengadilan Agama) pada tahun 2008 yang ditulis oleh Elfit Nufitra Mubarok jurusan Peradilan Agama. Dalam skrifsi ini membahas tentang penyelesaian gugatan di pengadilan Agama terhadap kewarisan anak perempuan dengan saudara kandung, dengan menganalisis dua putusan Pengadilan Agama Cibadak dan Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Elfit Muftra Mubarak menyimpulkan bahwasanya status hukum kewarisan anak perempuan dengan saudara kandung harus mengikuti pendapat KHI, bedanya dengan skripsi yang saya bahas adalah Elfit membahas tentang kewarisan anak perempuam dengan saudara kandung sedangkan saya membahas tentang konsep radd antara KHI dengan jumhur Ulama.

F. Metode Penelitian

(22)

1. Jenis Penelitian

Pada prinsipnya penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) yaitu penelitian yang kajiannya dilaksanakan dengan menelaah dan menelusuri berbagai literatur, karena suatu yang di kaji adalah Kompilasi Hukum Islam, dengan demikian penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersipat deskriftif, yaitu data yang terkumpul berbentuk kata–kata, gambar, bukan angka.13 2. Pendekatan Penelitian

Secara Normatif yaitu hukum doktriner yang dilakukan dalam penelitian untuk mendapatkan dasar pemikiran, perumusan dan operasi awal konsep. Sedangkan secara histories menelusuri sejarah Kompilasi Hukum Islam Khususnya klausal pasal, selanjutnya menganalisa antara konsep dan klausal Kompilasi Hukum Islam.

3. Jenis Dan Sumber Data

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis data berupa data primer dan data skunder, dan dari kedua sumber data tersebut penulis menginterpretasikan sesuai permasalahan yang diangkat penulis. Adapun data primer adalah Kompilasi Hukum Islam, kitab waris dan kitab waris dari beberapa mazhab seperti Sarhu Matnu Ruhbiyyah, Fiqh Muqaran, Ahkam Mawaris Fi as-Syariati Islamiyyah

al-Mazahibu al-Arba’ah dan lain-lainnya.

Sedangkan sumber data skunder adalah, penulis ambil dari karya–karya lainnya yang tentunya berhubungan dengan pokok masalah yang penulis bahas dalam skrifsi ini, seperti artikel–artikel, internet dan sebagainya.

13

(23)

4. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data

Sedangkan pengumpulan data, tekhnik yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) yaitu mengumpulkan data dari berbagai literatur yang relevan dengan pokok masalah yang dijadikan sumber penulisan karya ini.

Dalam menganalisa data yang terkumpul, penulis memakai metode deskriftip analisis, yaitu kegiatan menganalisa dengan cara tertentu sehingga dapat lebih mudah dipahami dan disimpulkan, proses analisis data atau pengolahan data, dimulai dengan menelaah seluruh data yang diperoleh dari berbagai sumber, kemudian reduksi data dengan membuat abtraksi penyederhanaan sebagai usaha membuat rangkuman inti dan untuk menjawab permasalahan yang telah dirumuskan.

5.Tekhnik Penulisan

Sedangkan teknis penulisan dalam skripsi ini mengacu kepada buku pedoman penulisan skripsi yang diterbitkan oleh, Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri ( UIN ) Syarif Hidayatullah Jakarta.

G. Sistematika Penulisan

Adapun mengenai sistematika penulisan, dalam hal ini peneliti membaginya dalam lima bab yang secara garis besar adalah sebagai berikut :

(24)

Bab Kedua membahas kewarisan dalam Islam meliputi: pengertian dan dasar hukum waris. rukun, syarat, sebab dan penghalang waris, ahli waris dan bagiannya, asal masalah dan tashihul masalah, hijab dalam waris, dan cara menentukan dan menyelesaikan warisan.

Bab Ketiga mengkaji tentang radd dalam kewarisan meliputi: pengertian radd, rukun dan syarat radd, pendapat para ulama tentang radd, radd dalam kompilasi hukum Islam dan fiqh klasik, penyelesaian masalah radd.

Bab Keempat membahas tentang analisa perspektif konsep radd meliputi: sejarah singkat Kompilasi Hukum Islam, konsep radd dan alasan pembuatan klausal pasal 193 dalam Kompilasi Hukum Islam, konsep radd menurut pendapat para ulama, analisis penulis.

Bab Kelima merupakan bab penutup: kesimpulan dan saran-saran.

(25)

A. Pengertian Waris

Kata waris berasal dari bahas Arab yang diambil dari kata “waritsa”

(

ثرو

)

“yaritsu”

(

ث

)

, “wirtsan”

(

ْرو

)

, isim failnya “waaritsun” ( ثراو) yang artinya

ahli waris.1 Sedangkan Faraidh bentuk jamak dari faridhah, berarti faraidh berasal

dari kata “faradha”

(

ض

) “yapridhu” (

ض

ْﺮ

), “Fardhan” (

ْﺮ

), yang artinya

menentukan.2

Dalam literatur hukum Islam ditemui beberapa istilah untuk menamakan

hukum kewarisan islam, seperti faraidh, fikih mawaris, dan hukm al-Waris. Kata

yang lazim faraidh, kata ini digunakan oleh an-Nawawi dalam kitab fiqih Minhaj

al-Thalibin, oleh al-Mahally dalam komentarnya atas matan minhaj, disebutkan alasan

penggunannya dikarenakan lebih banyak terdapat bagian yang ditentukan, oleh

karena itu, hukum ini dinamakan faraidh.3

1

Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia,(Jakarta:Hidakarya Agung, 1990) Cet Ke-8. hal. 496.

2

Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwir Kamus arab-Indonesia (Surabaya: Pusat Progressif, 1997) Cet ke-14, hal,104. Lihat juga Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, hal. 313.

3

Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam (Jakarta: Prenada Media, 2005) hal. 5.

(26)

Ilmu waris disebut juga fiqh al-Mawaris, fikih tentang warisan, dan tata cara

menghitung harta waris yang ditinggalkan.4

Dengan demikian perbedaan dalam penamaan ini terjadi karena perbedaan

dalam arah yang dijadikan titik utama dalam pembahasan. Dikatakan ilmu waris

karena dalam ilmu waris ini dibahas hal-hal yang berkaitan dengan harta peninggalan,

dikatakan ilmu faraidh karena membahas tentang bagian-bagian tertentu, yang sudah

ditetapkan ukurannya bagi setiap ahli waris.5

Memang pada awalnya pembahasan ilmu ini didalam literatur hukum islam

hanya didapatkan sebagai bagian dari kitab fiqh, yang ada pada judul bab al-Faraidh

atau faslul Faraidh. Kemudian masa berikutnya barulah secara khusus dibahas dalam

kitab yang berdiri sendiri misalnya kitab, Syarhu as-Saydis Syarif ala as-Sirajiya oleh

Muhammad al-Jurjaniy Tahun 814 Hijiriyyah. Kitab Matnu al-Rahbiyyah oleh

Muhammad Ali bin Muhammad Ali bin Hukum al-Ruhby Tahun 577 Hijiriyyah.

al-Furratu al-Faid oleh Sayyid Ali bin Qosim al-Abbasy Tahun 1300 H. Terakhir dalam

abad sekarang terdapat kitab khusus yang menggunakan namanya dengan memakai

kata mawaris atau miras semisal al-Mawaris Fi al-Syariati al-Islamiyyah karya

Hasanain Muhammad Makhluf Tahun 1954 Masehi. Muhazzarah fi Mirazi

al-Muqaran Karya Abdurrahim al-Kisyka Tahun 1959 Masehi. Attirkah Wa al-Miras fi

al-Islami karya Yusuf Musa Tahun 1960 Masehi. Ahkamu at-Tirkati wa al-Mawaris

4

Komite Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Al-Azhar, Ahkam Mawaris Fil-Fiqh Al-Islami (Mesir: Arrisalah Al-Dauliyyah, 2000) Terjemah H. Addys Aldizardan Fathurrahman. Penulis

(Jakarta: Senayan Abadi Publishing, 2004) h. 13.

5

(27)

Karya Abu Zahrah Tahun 1963 Masehi.6 Kitab yang terbaru sekarang adalah Ahkam

al-Mawaris Fi al-Syariati al-Islami al-Mazahibu al-Arba’ah karya Muhammad

Muhyidin Abdul Hamid Tahun 1996 Masehi.

Di Indonesia penyebutan fiqh mawaris disebut juga hukum kewarisan islam,

hukum warisan, hukum kewarisan dan hukum waris, yang sebenarnya terjemahan

bebas dari kata mawaris. Bedanya, fiqh mawaris menunjukkan identitas hukum waris

islam, sementara hukum warisan mempunyai konotasi umum, bisa mencakup hukum

waris adat atau hukum waris yang diatur dalam kitab undang-undang hukum

perdata.7

Para ahli faraidh banyak memberikan defenisi tentang ilmu faraidh atau fiqh

mawaris. Walaupun defenisi-defenisi yang mereka kemukakan secara redaksional

berbeda, namun defenisi–defenisi tersebut mempunyai pengertian sama. faraidh

secara etimologis memiliki beberapa arti sebagai berikut

(

ْ

ا

)

artinya ketetapan

atau kepastian

(

ﺮ ﺪ

ْ

ا

)

suatu ketentuan

(

ل

اﺰْﻻا

) menentukan

(

ا

)

penjelasan

(

ل

ْ

ﻻا

)

menghalalkan

(

ء

ا

)

pemberian.

Sedangkan secara terminologi ialah penetapan kadar warisan bagi ahli waris

berdasarkan ketentuan syara’ yang tidak bertambah, kecuali dengan radd

6

Ahmad Kuzari, Sistem Ashabah Dasar Pemindahan Hak Milik Atas Harta Tinggalan,

(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996) hal. 3.

7

(28)

(mengembalikan sisa harta kepada penerima warisan) dan tidak berkurang kecuali

dengan aul.8

Dan menurut Ahmad Kamil al-Hudhuri., ilmu faraidh menurut etimologi

ialah: “memindahkan sesuatu dari tempat ketempat yang lain” dan menurut

terminologi ialah: “hak yang diterima ahli waris dari bagian-bagian yang ditetapkan

sesudah meninggal pewaris.” 9

Menurut Syekh Muhammad Umar al-Bakari., ilmu faraidh ialah: “suatu ilmu

hitung untuk mengetahui bagian-bagian tertentu penerima waris dari harta yang

ditinggalkan pewaris.”10

Menurut al-Syarbini., mendefenisikan ilmu faraidh yaitu: “ilmu fiqh yang

berkaitan dengan pewarisan, pengetahuan tentang cara perhitungan yang dapat

menyelesaikan pewarisan tersebut, dan pengetahuan tentang bagian-bagian yang

wajib dari harta peninggalan bagi setiap pemilik hak waris (ahli waris).”11

Menurut Amir Syarifuddin., ilmu faraidh ialah: “hak-hak kewarisan yang

jumlahnya telah ditentukan secara pasti dalam al-Qur’an dan Sunnah.”12

8

Komite Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Al-Azhar, Ahkam Mawaris Fil-Fiqh Al-Islami, h.13.

9

Ahmad Kamil al-Hudhuri, al-Mawarisu al-Islamiyyah, (Mesir: Lajnatu at-Taqrib, 1366 H/1966 M) hal. 4.

10

Syekh Muhammad Umar al-Bakri. Hasiyyah Matnu al-Ruhbiyyah (Semarang: Usaha Keluarga, Tth ) h. 3.

11

Muhammad al-Syarbini al- Khatib, Mughni al-Muhtaj, juz 3 (Kairo: Musthafa al-Baby al- Halaby,1958) hal. 3.

12

(29)

Menurut Hasbi Ash-Shiddieqy., mendefenisikan faraidh secara etimologis

adalah: “bagian yang telah ditetapkan oleh syara’ untuk waris seperti ½ ¼.”

sedangkan secara terminologis adalah : “suatu ilmu dengan dialah dapat kita ketahui

orang yang menerima pusaka, kadar yang diterima oleh tiap-tiap waris dan cara

membaginya.”13

Dengan demikian ilmu faraidh mencakup 3 unsur didalamnya:

1. Pengetahuan tentang kerabat-kerabat yang menjadi ahli waris

2. Pengetahuan bagian setiap ahli waris

3. Pengetahuan cara menghitung yang dapat berhubungan dengan pembagian

harta warisan.

Dasar Hukum Waris

1. Al-Qur’an

Al-Qur’an menjelaskan ketentuan-ketentuan pembagian warisan secara jelas,

antara lain: ayat pertama, berbicara tentang bagian anak laki-laki dan

perempuan.

(...)

13

(30)

Artinya: “Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.”(Q.S. al-Nisa, 4:7)

Ayat kedua, berbicara tentang warisan anak laki-laki dan perempuan serta ayah

dan ibu (al-furu’ dan al-ushul), seperti termaktub dalam firman Allah SWT.

(...)

(31)

seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. al-Nisa, 4:11)

Ayat ketiga, berbicara jika si mayyit tidak mempunyai keturunan yang mewarisi

adalah ushul.

(...)

(32)

dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. jika kamu mempunyai anak, Maka Para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), Maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.” (Q.S. al-Nisa, 4:12)

2. Al-Sunnah

Hadis yang menjadi ketentuan pembagian warisan antara lain:

ْﻮ

س

ْ

ﺎ ْ ا

ْﺋ

و

ه

ْ

ْ

ا

و

ْس

ْ

ا

ْ

ْ

ا

ْس

ر

ﷲا

ْ

ا

ﷲا

ْ

و

ْ

ل

:

اْﻮ ْا

اﺮ ا

ﺎﻬ ْهﺎ

ﻮﻬ

ْوﻻ

ر

ذ

ﺮآ

)

اور

ﺎ ْا

ر

ى

(

14

Artinya “Bercerita kepada kami Musa bin Ismail bercerita kepada kami Wahib bin Thawus dari ayahnya dari Abdullah ibnu abbas semoga ALLAH meridhoinya dari Nabi SAW bersabda: “Berikanlah harta warisan kepada orang-orang yang berhak. Sesudah itu, sisanya, untuk orang laki-laki yang lebih utama.” (H.R. Bukhari)

Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Daud.

ا

ْ

ْ

ْ

و

ْ

ْ

ْﺪ

,

و

ه

ﺬا

ﺪْ

ْ

ْﺪ

,

و

ه

ﻻا

ْﺷ

,

ل

:

ْﺪ

ﺮ ا

ْز

ق

,

ْ

اْ

و

ْس

ْ

ا

ْ

,

ْ

اْ

ْس

ل

:

ل

14
(33)

Artinya”Ahmad bin Solih dan Mukhlid bin Holid, ini hadis muhklid, dia itu ashbah berkata ia, bercerita kepada kami Abdul Razak, bercerita kepada kami Mu’mar dari anak Thawus dari ayahnya dari Abdullah bin Abbas berkata ia, Bersabda Rasulullah SAW: Bagikanlah harta waris diantara para ahli waris menurut kitab Allah, maka jika ada sisa laki-laki lebih utama” (H.R Muslim dan Abu Dawud)

3. Ijma’ dan Ijtihad. Para shahabat, tabi’in, generasi pasca shahabat dan tabi’it

tabi’in, generasi pasca tabi’in telah berijma’ tentang legalitas ilmu faraidh dan

tiada seorangpun yang menyalahi ijma’ tersebut.

B. Rukun, Syarat, Sebab dan Penghalang Dalam Waris. 1. Rukun Waris

Rukun secara etimologi yaitu apabila posisinya kuat dijadikan sandaran.

Sedangkan menurut terminologi adalah keberadaan sesuatu yang menjadi bagian atas

keberadaan sesuatu yang lain.16

Maka Rukun Waris Ada Tiga Macam:

a.Al-Muwarrits, yaitu orang yang meninggal dunia baik mati hakiki (yaitu

kematian seseorang yang dapat diketahui tanpa harus melalui pembuktian,

15

Abi Dawud Sulaiman Bina Lias’at al-Muhtani al-Azdi, Sunan Abi Dawud, (Berut: Daar ibn Hizam, 1998) hal. 45.

16

(34)

bahwa seseorang telah meninggal dunia) maupun mati hukmi (yaitu

kematian seseorang secara yuridis ditetapkan melalui keputusan hakim

dinyatakan telah meninggal dunia. Ini bisa terjadi dalam kasus seseorang

yang dinyatakan hilang tanpa diketahui dimana dan bagaimana keadaannya,

setelah dilakukan upaya-upaya tertentu. Melalui keputusan hakim, orang

tersebut dinyatakan meninggal dunia). Dan mati taqdiri (yaitu perkiraan

seseorang telah meninggal dunia. Misalnya seseorang yang diketahui ikut

berperang).17

b. Al-Warits, yaitu adalah orang yang dinyatakan mempunyai hubungan

kekerabatan baik karena hubungan darah, hubungan sebab perkawinan, atau

karena akibat memerdekakan hamba sahaya.

c. Al-Mauruts yaitu harta benda yang menjadi warisan

2. Syarat-Syarat Waris

Syarat menurut etimologi adalah tanda, sedangkan menurut terminologi sesuatu

karena ketiadaannya tidak akan ada hukum.18

Syarat Waris Ada Tiga Macam:

a. Meninggalnya pewaris dengan sebenarnya, maupun secara hukum, seperti

keputusan hakim atas kematian orang yang mafqud (hilang)

17

Ahmad Rofiq, Fiqh Mawaris, Hal. 4

18

(35)

b. Hidupnya ahli waris setelah kematian pewaris, walaupun secara hukum

seperti anak dalam kandungan.

c. Tidak adanya salah satu penghalang dari penghalang-penghalang pewarisan.19

Mengenai syarat yang ketiga (tidak adanya penghalang pewarisan) diantara

para ahli faraidh, ada yang menyatakan bahwa hal tersebut tidak termasuk

kedalam syarat pewarisan, yang menjadi syarat pewarisan yang ketiga adalah:

Mengetahui sebab-sebab yang mengikat ahli waris dengan si mayyit, seperti

garis kekerabatan, perkawinan dan perwalian.20

3. Sebab-Sebab Waris

Sebab menurut etimologi adalah sesuatu yang menyampaikan kepada sesuatu

yang lain baik sesuatu tersebut bisa diraba seperti tali. Sedangkan menurut

terminologi adalah hal yang mengharuskan keberadaan hal yang lain, sehingga hal

yang lain itu menjadikan hal yang lain tidak ada secara substansial.21 Contoh api

merupakan sebab terjadinya kebakaran.

Sebab-sebab mewariskan yang disepakati ulama ada tiga macam

a. Kekerabatan

b. Pernikahan

c. Wala’ (membebaskan budak)

19

Sayid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, (Semarang: Toha Putera, 1972) hal. 426-427.

20

Usman Suparman dan Yusuf Somawinata, Fiqh Mawaris Hukum Kewarisan Islam,

(Jakarta: Gaya Media Pratama,2002) Cet ke-2, hal, 25.

21

(36)

Sebab-sebab mewariskan yang diperselisihkan ulama yaitu Baitul Mal.22

4. Penghalang Mendapatkan Waris

Penghalang menurut etimologi adalah penghalang diantara dua hal. Sedangkan

menurut terminologi adalah sesuatu yang mengharuskan ketiadaan sesuatu yang lain.

Tentu saja ketiadaan sesuatu yang lain itu, tidak serta merta bermakna secara

substansial. Dengan demikian, penghalang adalah keberadaannya, syarat adalah

ketiadaannya, dan sebab adalah keberadaan dan ketiadannya.23

Penghalang mewarisi yang disepakati ada tiga macam

a. Berlainan Agama yaitu berlainnya agama orang yang menjadi pewaris

dengan orang yang yang menjadi ahli waris. Mengenai kedudukan

berlainan agama sebagai penghalang warisan telah menjadi ijma’ ulama.24

Namun demikian menurut Muadz, Muawiyyah, Ibnu al-Musayyab,

Masruq dan an-Nakha’i berpendapat bahwa penghalang warisan

perbedaan agama, tidak termasuk bagi orang muslim untuk mewarisi harta

peninggalan ahli warisnya yang non muslim.25

b. Perbudakan yaitu seorang budak tidak dapat mewarisi dan mewariskan

harta peninggalan dari dan kepada ahli warisnya. Ia tidak dapat mewarisi

karena dipandang tidak cakap mengurus harta milik, dan status

22

Komite Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Al-Azhar, Ahkam Al-Mawaris Fi al-Fiqh Al-Islami, h. 41.

23

Ibid, hal 46.

24

Usman Suparman dan Yusuf Somawinata, Fiqh Mawaris Hukum Kewarisan Islam, hal, 37.

25

(37)

keluargannya terputus dengan ahli warisnya. Para ulama telah sepakat

bahwa perbudakan sebagai penghalang warisan.

c. Pembunuhan. Jumhur ulama telah sepakat dalam menetapkan

pembunuhan sebagai penghalang kewarisan adalah pembunuhan yang

disengaja dan disertai permusuhan. Hanya fuqaha dari golongan khawarij

saja yang membolehkannya. Mereka juga beralasan bahwa ayat-ayat

mawarits itu memberikan faedah yang umum, tidak dikecualikan si

pembunuh. Oleh keumumannya ayat tersebut harus diamalkan.

Sedangkan selainnya masih diperselisihkan. Ulama Syafi’i

berpendapat pembunuhan itu mutlak menjadi penghalang pewarisan, baik

dilakukan secara langsung maupun tidak langsung, baik dilakukan karena

menjalankan hak maupun bukan, baik pembunuhnya orang yang baligh

maupun orang yang belum baligh. Ulama Hanafiyyah berpendapat bahwa

pembunuhan yang menjadi halangan adalah (1) pembunuhan yang

bersanksi qishas, yaitu yang dilakukan berdasarkan kesengajaan dengan

mempergunakan alat-alat yang dapat dianggap menghancurkan anggota

badan orang lain. (2) pembunuhan yang bersanksi kaffarat, yaitu

pembunuhan yang dituntut sebagai penebus kelalainnya dengan

membebaskan seorang budak wanita Islam atau kalau tidak mungkin, ia

(38)

mirip sengaja, atau pembunuhan yang dianggap silap.26 Ulama

Malikiyyah berpendapat sesungguhnya pembunuhan yang menjadi

penghalang pewarisan ialah pembunuhan yang disengaja dan disertai

permusuhan, baik dilakukan langsung maupun tidak langsung.27 Ulama

Hanabilah berpendapat pembunuhan yang menjadi penghalang pewarisan

adalah pembunuhan tanpa hak yang dibebani sanksi qishos, diyat dan

kafarat.

Penghalang mewarisi yang tidak disepakati

a. Riddah yaitu keluar dari Islam. Orang tersebut disebut murtad, baik

dalam keadaan dapat membedakan secara sadar, maupun dalam keadaan

bercanda. Yang diperselisihkan apakah kemurtadan menjadi penghalang

yang diiringi dengan kekafiran yang sesungguhnya? Dalam hal ini ada

dua pendapat, yaitu (1) Kebanyakan para Ulama berpendapat bahwa

kemurtadan menjadi penghalang untuk mewarisi bila diiringi dengan

kekufuran. Dengan demikian, tidak ada perbedaan antara kekafiran yang

datang secara tiba-tiba dengan kekafiran yang dilakukan sejak awal,

keduanya tetap menjadi penghalang. Namun satu hal yang penting, makna

kekufuran sebenarnya secara hukum sudah mencakup bentuk-bentuk

kekufuran yang lainnya. (2) Kalangan mazhab Syafi’iyyah berpendapat

26

Fathurrahman, Ilmu Waris (Bandung: Al-Maarif, 1975) Cet Ke-4, hal, 86.

27

(39)

bahwa kemurtadan merupakan penghalang mewarisi yang independen,

tidak bisa digabungkan dengan persoalan berlainan agama.28

b. Berlainan Negara yang dimaksud adalah berlainan atau perbedaan jenis

pemerintah antara dua Negara. Jumhur Ulama termasuk didalamnya

Imam Malik dan sebagian ulama-ulama Hanafiyyah, berpendapat bahwa

berlainan Negara antara orang-orang non muslim tidak menjadi

penghalang untuk saling mewarisi diantara mereka. Sebab nash tentang

penghalang itu bersipat umum dan dapat mencakup kepada mereka juga.

Nash yang melarang saling mewarisi antara dua orang ahli waris yang

sama agamanya itu dapat saling mewarisi, meskipun berlainan

Negaranya. Selama dalil yang bersifat umum ini tidak ada yang

mentakhsisnya, maka dalil tersebut wajib diamalkan. Sedangkan Imam

Abu Hanafiyah dan sebagian ulama Hanabilah menyatakan bahwa

berlainan Negara antara orang-orang non muslim menjadi penghalang

pewarisan mereka, karena terputusnya ismah (ikatan kekuasaan) dan tidak

adanya hubungan perwalian, justru terakhir ini menjadi dasar warisan.29

C. Ahli Waris dan Bagiannya

1. Golongan Ahli Waris

28

Komite Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Al-Azhar, Ahkam Al-Mawaris Fil-Fiqh Al-Islami. Hal, 62.

29

(40)

Golongan ahli waris yang telah disepakati hak warisnya terdiri atas 15 orang

laki-laki dan 10 orang perempuan.30 mereka adalah:

Kelompok ahli waris laki-laki

a. Anak laki-laki

b. Cucu laki-laki pancar laki-laki dan seterusnya kebawah

c. Bapak

d. Kakek shohih dan seterusnya keatas

e. Saudara laki-laki kandung.

f. Saudara laki-laki sebapak

g. Saudara laki-laki seibu

h. Anak laki-laki saudara laki-laki sekandung

i. Anak laki-laki saudara laki-laki sebapak

j. Paman sekandung

k. Paman sebapak

l. Anak laki-laki paman sekandung

m. Anak laki-laki paman sebapak

n. Suami

o. Orang laki-laki yang memerdekakan budak.

Kelompok ahli waris perempuan

a. Anak perempuan

30

(41)

b. Cucu perempuan pancar laki- laki

c. Ibu

d. Nenek dari pihak bapak dan seterusnya keatas

e. Nenek dari pihak ibu dan seterusnya keatas

f. Saudara perempuan sekandung

g. Saudara perempuan sebapak

h. Saudara perempuan seibu

i. Isteri

j. Orang perempuan yang memerdekakan budak

Dari kedua puluh lima ahli waris tersebut sebagian mempunyai bagian (fardh)

tertentu, yakni bagian yang telah ditentukan kadarnya (Furudhul muqaddarah),

mereka disebut ahli waris ashabul furudh atau dzawil furudh; sebagian lainnya tidak

mempunyai bagian tertentu, tetapi mereka menerima sisa pembagian setelah diambil

oleh ahli waris ashabul furudh, mereka disebut ahli waris ashabah.31

Golongan ahli waris yang masih diperselisihkan hak warisnya adalah keluarga

terdekat (zul arham), yang tidak disebutkan didalam kitab Allah tentang bagiannya

(fardh) atau tentang usbhat, mereka dikenal dengan sebutan ahli waris dzawil arham.

2. Bagian Ahli Waris

31

(42)

Bagian-bagian yang telah ditentukan dalam al-Qur’an hanya ada enam, yakni

1/2, 1/4, 1/8, 1/3, 2/3 dan 1/6.32

Para ulama, dalam mengkaji pembahasan tentang bagian-bagian yang telah

ditentukan al-Qur’an (fardh dan ash-habul furudnya) menggunakan dua metode.

Pertama, membahas setiap fardh secara terperinci, misalnya menyebutkan bagian

separuh (1/2), kemudian menyebutkan ahli waris yang mendapatkan bagian separuh,

menyebutkan bagian seperempat (1/4) dengan menyertakan ahli waris yang

mendapatkan bagian itu, dan seterusnya. Kedua, menyebutkan ashabul furudh beserta

uraian seputar kondisi mereka satu persatu. Misalnya, menyebutkan suami

adakalanya mewarisi setengah (1/2) harta peninggalan dan adakalanya mewarisi

seperempat (1/4) bagian, atau menyebutkan ibu pada satu kondisi dia mewarisi (1/3),

adakalanya dia mewarisi bagian (1/6), dan adakalanya pada kondisi yang lain, si ibu

dapat mewarisi satu pertiga (1/3) dari sisa harta waris.33

Dalam mengurutkan Bagian ahli waris ini, akan dipakai pada metode yang

kedua, sekaligus klasifikasi fardh dan ashabah.

a. Ahli waris dzawil furudh

Ahli waris dzawil furudh adalah para ahli waris yang mempunyai bagian

tertentu yang telah ditetapkan oleh syara’ (dalam al-Qur’an) yang bagiannya itu tidak

32

Usman Suparman dan Yusuf Somawinata, hal. 66.

33

(43)

akan bertambah atau berkurang kecuali dalam masalah–masalah yang terjadi radd

atau aul.

Ahli Waris tetap menjadi dzawil furudh dan tidak bisa menjadi ashabah,

Berjumlah 7 orang yaitu:

1) Ibu: seperenam (1/6) bila bersama keturunan si mayyit, juga ketika ada

dua orang saudara atau lebih, atau sepertiga (1/3) utuh ketika tidak ada

keturunan simayyit dan tidak ada saudara, atau sepertiga (1/3) sisa jika

orang yang ada bersama ibu dan bapak adalah suami atau istri, dan hanya

pada dua kelompok ahli waris yang ditinggalkan, yang dikenal dengan

umariyyatain atau al-Gharrowain.

2) Nenek dari jalur ayah: seperenam (1/6), baik sendiri maupun

bersama-sama dengan ahli waris yang lainnya. Dengan syarat tidak ada ayah.

3) Nenek dari jalur ibu: seperenam (1/6), baik sendiri maupun bersama-sama

dengan ahli waris yang lainnya. Dengan syarat tidak ada ibu.

4) Saudara laki-laki seibu: seperenam (1/6), bila hanya seorang diri, dan

sepertiga (1/3), bila bersama –sama dengan ahli waris lainnya.

5) Saudara perempuan seibu: seperenam (1/6), bila hanya seorang diri, dan

sepertiga (1/3), bila bersama-sama dengan yang lain.

6) Suami: setengah (1/2) bila tidak bersama dengan keturunan si mayyit dan

(44)

7) Istri: seperempat (1/4) bila tidak bersama keturunan simayyit dan

seperdelapan (1/8) bila bersama keturunan si mayyit.34

Ahli Waris sewaktu-waktu bisa fardh dan ashobah yaitu:

8) Ayah

9) Kakek

Keduanya dapat mewarisi jalan fardh 1/6 ketika tidak ada keturunan si

mayyit. Namun, keduanya juga dapat mewarisi dengan cara ashabah, yakni ketika

mereka tidak bersama-sama keturunan simayyit secara mutlak.

Keduanya juga dapat mewarisi secara fardh dan tashib, secara bersama-sama

dengan keturunan si mayyit. Dengan syarat sisa harta waris yang telah dibagikan

kepada ashabul furudh lebih dari seperenam (1/6) bagian. Namun, jika sisa harta

waris hanya seperenam (1/6) bagian itu. Demikian pula, jika sisa harta waris tidak

mencapai seperenam (1/6) bagian. Jika kondinya demikian, asal masalahnya

dinaikkan untuk menyempurnakan bagian seperenam (1/6). Tidak menutup

kemungkinan, dalam satu kasus, harta waris telah habis di bagikan atau tidak tersisa

sama sekali. Dalam kondisi ini, asal masalahnya di aulkan menjadi seperenam.35

Contoh:

Mewarisi hanya jalan fardh

Ayah 1/6

34

Komite Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Al-Azhar, Ahkam Al-Mawaris Fil-Fiqh Al-Islami, hal. 106.

35

(45)

Anak laki-laki sisa

Mewarisi jalan Ashobah

Istri 1/4

Ayah Sisa

Mewarisi dengan jalan fardh dan tashib secara bersamaan

Anak perempuan 1/2 3

Ibu 1/6 1

Ayah 1/6 + sisa 1 secara fardh + 1 secara tashib = 2

Ahli waris yang mewarisi jalan fardh pada suatu ketika dan disaat lain mewarisi

dengan jalan ashobah. Ahli waris semacam ini ada 4 orang yaitu:

10)Seorang anak perempuan atau lebih

11)Seorang cucu perempuan dari seorang keturunan laki- laki atau lebih

12)Seorang saudara perempuan sekandung atau lebih

13)Dan seorang saudara perempuan seayah atau lebih

Jika tidak, empat orang tadi disebut sebagai kelompok ahli waris yang

mendapatkan bagian separuh (1/2) dan dua pertiga (2/3). Mereka dapat mewarisi

harta peninggalan dengan jalan fardh, jika mereka tidak bersama ahli waris yang

mengashobahkan mereka. Sedangkan bagian tetap mereka adalah adalah separoh

(1/2) jika sendiri dan dua pertiga (2/3) jika bersama-sama. Mereka juga mendapatkan

(46)

mereka. Akan tetapi, mereka tidak menyatu dalam waris mewarisi secara fardh dan

waris mewarisi secara tashib.36

Contoh waris mewarisi secara fardh

1 anak perempuan 1/2

Paman kandung sisa

Contoh waris mewarisi secara tashib

Istri 1/8

1 anak perempuan sisa

1 orang anak laki-laki sisa

b. Ahli Waris Ashabah

Kata ashabah merupakan jama’ dari tashib yang berarti kerabat seorang dari

pihak bapaknya. Dalam memberikan defenisi ashabah atau tashib pada hakikatnya

ulama faraidh mempunyai kesamaan persepsi dan maksud, antar lain:

Sebagaimana dikemukakan Rifa’i Arief yang dikutip oleh Usman Suparman dan

Yusuf Soawinata yaitu: “bagian yang tidak ditentukan dengan kadar tertentu seperti

mengambil seluruh harta atau menerima seluruh harta atau menerima sisa setelah

pembagian ashabul furudh”.37 Menurut Fathurrahman ashabah ialah: “ahli waris

yang tidak mendapat bagian yang sudah dipastikan besar kecilnya yang telah

36

Ibid, hal.101.

37

(47)

disepakati oleh seluruh fuqaha. Seperti ashabul furudh dan yang belum disepakati

seperti dzawil arham”.38

Dalam kitab Matnur al-Ruhbiyyah ashabah adalah ahli waris yang tidak mendapat

bagian yang sudah dipastikan besar kecilnya, yang telah disepakati oleh seluruh

fuqoha (seperti ashabul furudh) dan yang belum disepakati oleh mereka (seperti

dzawil arham) serta mereka mendapatkan sisa harta peninggalan setelah dikurangi

bagian furudh.39

Sayid Sabiq membagi ashabah atas dua bagian, yakni ashabah nasabiyyah yaitu

berdasarkan kekerabatan dan ashabah sababiyyah yaitu berdasarkan adanya sebab

memerdekakan hamba sahaya. Mengenai ashabah nasabiyyah para ahli faraidh

membaginya menjadi tiga bagian yaitu: Pertama, ashabah bil nafsi. Kedua, ashabah

bil ghair. Ketiga, Ashabah ma’al ghair.40

Adapun rincian ashabah nasabiyyah sebagai berikut:

1) Ahabah bi an-Nafsi ialah tiap-tiap kerabat yang lelaki yang tidak diselangi

dalam hubungannya dengan yang meninggal oleh seorang wanita.41

Orang- orang yang menjadi ahli waris ashabah bi an-Nafsi berjumlah 12

orang. Yaitu: Anak laki, cucu laki dari anak laki, saudara

laki-laki sekandung, saudara laki-laki-laki-laki se ayah, anak laki-laki-laki-laki dari saudara laki-laki-laki-laki

38

Fathurrahman, Ilmu Waris, hal. 339.

39

Muhammad Sabatul al-Maridini, Sarhu al-Matnu al-Ruhbiyyah, hal. 23.

40

Sayid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, Hal.432

41

(48)

sekandung, anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah, paman sekandung,

Paman seayah, anak laki-laki dari paman sekandung, anak laki-laki dari

paman seayah, laki-laki yang memerdekakan budak, perempuan yang

memerdekakan budak.42

2) Ashabah bi al-Ghoir ialah tiap wanita yang mempunyai furudh tapi dalam

mawaris menerima ashabah, memerlukan orang lain dan dia bersekutu

dengannya untuk menerima ashabah.43

Orang-orang yang menjadi ashabah bi al-Ghoir adalah sekelompok anak

perempuan bersama seorang atau sekelompok anak laki-laki, dan seorang

atau sekelompok saudara perempuan dengan seorang atau sekelompok

saudara laki-laki, mana kala kelompok laki-laki tersebut menjadi waris

ashabah bi an-Nafsi.44

3) Ashabah ma’a al-ghoir ialah tiap wanita yang memerlukan orang lain dalam

menerima ashabah, sedangkan orang lain itu bersekutu menerima ashabah

tersebut.45

Adalah seorang atau sekelompok saudara perempuan, baik sekandung

maupun sebapak, yang mewaris bersama-sama dengan seorang atau

42

Usman Suparman dan Yusuf Somawinata, Fiqh MawarisHukum Kewarisan Islam, hal. 75.

43

Ahmad Kuzari, Sistem Ashabah Dasar Pemindahan Hak Milik Atas Harta Tinggalan, hal. 92.

44

Usman Suparman dan Yusuf Somawinata, Fiqh MawarisHukum Kewarisan Islam, hal. 77.

45

(49)

sekelompok anak perempuan atau cucu perempuan pancar laki-laki, manakala

tidak ada anak laki-laki, cucu laki-laki pancar laki-laki, atau bapak, serta tidak

ada saudaranya yang laki-laki, yang menjadikannya sebagai ahli waris bil

ghoir. Jadi saudara perempuan sekandung atau sebapak mempunyai tiga

keadaan, yaitu sebagai penerima warisan secara fardh manakala tidak

bersama-sama dengan saudara laki- lakinya sebagai ashabah bi ghoir

manakala bersama dengan saudara laki-lakinya; dan sebagi ashabah ma’al

ghair manakala bersama-sama dengan anak perempuan atau cucu perempuan

pancar laki-laki.46

c. Dzawil Arham

Semula istilah dzawil arham mempunyai arti yang luas, yakni mencakup

seluruh keluarga yang mempunyai hubungan kerabat dengan orang yang

meninggal.47 Para Ulama faraidh memberikan definisi dzawil arham yaitu setiap

kerabat yang bukan (tidak termasuk) ashabul furud dan bukan (tidak termasuk)

golongan ashabah. Penyebutan ini dimaksudkan untuk membedakan orang-orang

yang termasuk dzawi al-arham dengan orang orang–orang yang termasuk ash-habul

furudh dan ashabah.48 Orang-orang yang kelompok dzawil arham antara lain:49

46

Hasanain Muhammad Makhluf, Al-Mawaris FI al-Syari’ al-Islamiyyah, (Kairo: Lajnah Al-Bayyan al-Araby, 1958) hal. 102-103.

47

Usman Suparman dan Yusuf Somawinata, Fiqh MawarisHukum Kewarisan Islam, hal. 79..

48

Komite Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Al-Azhar, Ahkam Al-Mawaris Fil-Fiqh Al-Islami, hal. 339.

49

(50)

1) Cucu perempuan pancar perempuan dan seterusnya kebawah.

2) Cucu laki-laki pancar perempuan dan seterusnya kebawah

3) Anak perempuan saudara laki-laki sekandung dan seterusnya ke bawah

4) Anak perempuan saudara laki-laki sebapak dan seterusnya kebawah.

5) Anak laki-lakisaudara perempuan sekandung dan seterusnya kebawah.

6) Anak perempuan saudara perempuan sekandung da seterusnya kebawah

7) Anak laki-laki saudara perempuan sekandung dan seterusnya kebawah

8) Kakek dari pihak ibu dan seterusnya kebawah

Mengenai hak waris dzawil arham, para fuqaha masih berselisih pendapat.

Sebagian mereka menyatakan bahwa dzawil arham sama sekali tidak dapat menerima

warisan, dan sebagian lainnya menyatakan bahwa dalam keadaan tertentu, yakni

mana kala tidak ada lagi golongan ashabul furudh dan ashabah, dzawil arham dapat

menerima warisan. Golongan yang menyatakan bahwa dzawil arham sama sekali

tidak menerima warisan adalah, Zaid bin Tsabit, Ibnu Abbas, Sa’id bin Musayyab,

Sufyan al-Tsauri, Imam Malik, Imam Syafi’i dan ibn hazm. Imam Malik dan Imam

Syafi’i berpendapat bahwa tidak ada hak waris bagi dzawil arham dan harta warisan

tersebut diberikan ke Baitul Mal.50

50

(51)

Golongan yang menyatakan bahwa dzawil arham berhak menerima warisan

adalah Ali, Ibn Mas’ud, Syuraih al-Qadhi, Ibnu Sirrin,’Atho’ Mujahid, Imam Abu

Hanifah dan Imam Ibnu Hanbali.51

D. Asal Masalah dan Tashihul Masalah

1. Asal Masalah

Asal masalah dalam hukum waris adalah bilangan yang paling sedikit atau kecil

yang bisa diambil darinya, bagian para ahli waris secara benar tanpa ada bilangan

pecahan, dan besarnya bagian itu berbeda sesuai dengan perebedaan para ahli waris

yang ada.52

Yang dimaksud dengan asal masalah ialah kelipatan persekutuan terkecil (KPT)

yang dapat dibagi oleh setiap penyebut furudhul muqaddarah para ahli waris ashabul

furudh. Untuk mengetahui besarnya asal masalah, terlebih dahulu diperhatikan

jumlah macam penyebut yang terdapat pada masalah yang akan diselesaikan, tanpa

memperhitungkan jumlah macam pembilang. Apabila jumlah macam penyebutnya

telah diketahui, maka penentuan masalahnya.53

51

Yusuf Musa, Al-Tirkah Wa al-Mirats Fi al-Islam, (Mesir: Daar al-Kitab al-Araby, 1959) hal. 278.

52

Komite Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Al-Azhar, Ahkam Al-Mawaris Fil-Fiqh Al-Islami, hal. 297.

53

Usman Suparman dan Yusuf Somawinata, Fiqh Mawaris Hukum Kewarisan Islam, hal.100

*Tamatsul berasal dari kata “tamaatsala”

(

)

“yatamaatsalu”

(

)

“tamaatsulan”

)

(52)

Pertama, Tamatsul* yaitu apabila hanya ada satu macam penyebut baik hanya

satu pecahan maupun beberapa pecahan yang mempunyai penyebut yang sama, maka

asal masalahnya adalah bilangan penyebut itu sendiri.54

Contoh: 1/2 asal masalahnya 2

1/3 asal masalahnya 3

Kedua, Tadakhul* yaitu jika bilangan terbesar dari penyebutnya dapat dibagi

(menghasilkan bilangan bulat) oleh bilangan penyebut lainnya, maka asal masalahnya

adalah bilangan penyebut tersebut.55

Contoh: 1/2 dan 1/4 Asal masalahnya 4

1/2 dan 1/6 Asal masalhnya 6

Ketiga,Tawafuq* yaitu jika bilangan-bilangan penyebut tersebut bukan tadakhul,

tetapi diantaranya ada bilangan-bilangan yang dapat dibagi oleh bilangan yang sama

(tawafuq), maka asal masalahnya adalah hasil perkalian bilangan tawafuq tersebut

dibagi dua.56

*Tadakhul berasal dari kata “tadaakhala”

(

اﺪ

)

yatadaakhilu”

(

اﺪ

)

“tadaakhulan”

)

اﺪ

(

artinya terjalin, saling memasuki.

54

Ibid, hal. 100.

55

Ibid, hal. 100

*Tawafuq berasal dari kata “tawaafako” (

ﻮا

)

“yatawaafiku”(

اﻮ

) “tawaafukon”

(

اﻮ

) artinya bersepakat.

*Tabayyyun berasal dari kata “tabayyana”( ) “yatabayyanu” ( ) “tabayyunan” (

) artinya tampak, jelas.

56

(53)

Contoh:1/4 dan 1/6 Asal masalahnya 12

1/6 dan 1/8 Asal masalahnya 24

Keempat, Tabayyun* yaitu jika bilangan-bilangan penyebut tidak bisa dibagi

oleh bilangan penyebut terkecilnya atau tidak bisa dibagi dengan bilangan yang

sama, selain angka satu, maka asal masalahnya adalah hasil perkalian dari

bilangan-bilangan tabayyun tersebut.57

Contoh: 1/3 dan 1/2 Asal masalahnya 6

1/3 dan 1/4 Asal masalahnya 12

Dalam masalah yang hanya terdapat ahli waris ashabah asal masalahnya

adalah jumlah kepala mereka, dengan ketentuan bahwa seorang laki-laki sama dengan

bagian dua orang perempuan, apabila ada ahli waris yang perempuannya. Dalam

masalah yang terdiri atas dua orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan asala

masalahnya adalah 5; setiap anak laki-laki mendapat 2/5 dan anak perempuan 1/5.58

2. Tashihu al-Masalah

Tashihul masalah yaitu mencari angka masalah terkecil yang bisa menetapkan

saham-saham para ahli waris tanpa angka pecahan. Yakni satu kelompok ahli waris

tidak mendapatkan bagian secara genap.59 Apabila hasil pembagian saham yang

57

Ibid, hal. 102.

58

Ibid, hal. 103.

59

(54)

berupa pecahan tersebut terdapat hanya pada satu kelompok, maka penentuan tashihul

masalahnya dapat ditempuh sebagai berikut:

Pertama, Melihat adadur- ruus (jumlah kepala) dan jumlah saham para ahli

waris pada kelompokyang memerlukan tashih, apakah kedudukannya tabayyun,

tawafuq, atau tadakhul.60

Kedua, Apabila kedudukannya sudah diketahui maka penyelesaian tashihul

masalahnya adalah: i. Jika tabayyun dikalikan dengan jumlah kepala:61

JUMLAH KEPALA JUMLAH SAHAM DIKALIKAN DENGAN 2 2 3 3 5 7 3 5 4 7 3 2 2 2 3 3 5 7

ii. Jika tawafuq dikalikan dengan hasil pembagian jumlah kepala dengan pembagi tawafuq tersebut, seperti:

JUMLAH KEPALA JUMLAH SAHAM DIKALIKAN

DENGAN 4 4 6 6 8 8 6 10 4 15 6 10

2, yakni 4:2 2, yakni 4:2 3, yakni 6:2 2, yakni 6:3 4, yakni 8:2 4, yakni 8:2

60

Usman Suparman dan Yusuf Somawinata, Fiqh Mawaris Hukum Kewarisan Islam, hal.105

61

(55)

iii. Jika tadkhul dikalikan dengan hasil pembagian jumlah kepala dengan

jumlah saham, seperti62

JUMLAH KEPALA JUMLAH SAHAM DIKALIKAN

DENGAN 4 6 6 8 8 9 15 15 2 2 3 2 4 3 3 5

2, yakni 4:2 3, yakni 6:2 2, yakni 6:3 4, yakni 8:2 2, yakni 8:4 3, yakni 9:3 5, yakni 15:3 3, yakni 15:5

Apabila hasil pembagian saham yang berupa pecahan, pecahan tersebut

terdapat pada beberapa kelompok, maka pentashihannya adalah dengan cara

mengalikan asal masalah dan saham-sahamnya dengan KPK dari angka-angka

pengali kelompok tersebut, seperti:63

JUMLAH KEPALA JUMLAH SAHAM DIKALIKAN

DENGAN 3 3 3 4 3 12 4 16 4 1 2 3 2 7 3 16 3

3

}

= 3, yaitu KPKnya 3

4

(56)

6 15

3 7

1 4

5 10

9 } = 180, yaitu KPKnya

6 15

3

7 } = 21, yaitu KPKnya

Contoh:

Seorang meninggal dunia. Ia meninggalkan seorang istri, ibu, 3 anak perempuan, dan

cucu laki-laki pancar laki-laki, berapakah bagian masing-masing ahli waris tersebut

apabila sipewaris meninggalkan harta warisan sebesar Rp 720.000.000.00.’

Jawab:

Asal Masalah = 24

Istri 1/8 : 1/8 x 24 = 3

Ibu 1/6 : 1/6 x 24 = 4

3 Anak Perempuan 2/3 : 2/3 x 24 = 16

5 Anak laki-laki Ashabah : (24-23) = 1

Pancar Laki-laki 24

Jadi kalau dibagi masih bisa menjadi pecahan pentashihannya untuk masalah ini

dikalikan dengan KPK-nya dari 3 dan 5, yaitu 15. Jadi penyelesaiannya sebagai

berikut:

Istri = 3 x 15 = 45

Ibu = 4 x 15 = 60

3 Anak Perempuan = 16 x 15 = 240

(57)

Pancar Laki-Laki 360

Istri = 45/360 x 720.000.000.00.’ = Rp 90.000.000.00.’

Ibu = 60/360 x 720.000.000.00.’ = Rp 120.000.000.00.’

3 Anak Perempuan =240/360 x 720.000.000.00.’ = Rp 480.000.000.00.’

Masing-masing 80/360 x 720.000.000.00.’ = Rp 160.000.000.00.’

5 Cucu Laki-Laki = 15/360 x 720.000.000.00.’ = Rp 30.000.000.00.’

Pancar Laki-Laki

masing-masing adalah = 3/360 x 720.000.000.00.’ = Rp 6.000.000.00.’

E. Hijab Dalam Waris

Hijab secara harfiah artinya satir, penutup atau penghalang. Dalam fiqh

Mawaris istilah hijab digunakan untuk menjelaskan ahli waris hubungan

kekerabatannya jauh, yang kadang-kadang atau seterusnya terhalang hak-hak

kewarisanya oleh ahli waris yag lebih dekat. Ahli waris yang menghalangi disebut

hajib, dan ahli waris yang terhalang disebut dengan mahjub keadaan menghalangi

disebut hijab.64

Hijab dilihat dari akibatnya, ada dua macam, pertama, Hijab nuqsan, yaitu

menghalangi yang berakibat mengurangi bagian ahli waris yang mahjub seperti suami

yang seharusnya menerima bagian setengah karena bersama anak laki-laki maupun

perempuan, bagiannya terkurangi menjadi 1/4. Ibu yang sedianya menerima bagian

64

(58)

1/3, karena bersama dengan anak, atau saudara dua orang atau lebih, terkurangi

bagiannya menjadi 1/6.

Kedua, Hijab hirman, yaitu menghalangi secara total. Akibatnya hak-hak

waris ahli waris yang termahjub tertutup sama sekali dengan adanya ahli waris yang

menghalangi. Misalnya saudara perempuan sekandung yang semula berhak menerima

bagian 1/2, tetapi karena bersama dengan anak laki-laki.65

Berikut adalah daftar Hajib-Mahjub Hirman

65

Ibid, hal. 90 1 Kakek Terhalang

Oleh Adanya Ayah 2 Nenek Garis Ibu Ibu 3 Cucu Laki-Laki Anak Laki-Laki 4 Saudara Laki-Laki/ Perempu an Kandung

Ayah Anak Laki-Laki Cucu Laki-Laki 5 Nenek garis Ayah Ayah Ibu 6 Saudara laki-laki seayah

Ayah Anak Laki-Laki Cucu Laki-Laki Sdr Laki-Laki Sekandung 7 Saudara Perempu an Seayah

Ayah Anak Laki-Laki Cucu Laki-Laki Sdr Laki-Laki Sekandung Saudara Peremp uan Seayah 8 Saudara Lk/Pr Seibu

(59)

9 Anak Laki2 Saudara Laki2 sekandun g

Ayah Anak Laki-Laki Cucu Laki-Laki Sdr Laki-Laki Sekandung Saudara Peremp uan Seayah Kakek 10 Anak Laki2 Sdr seayah

Ayah Anak Laki-Laki Cucu Laki-Laki Sdr Laki-Laki Sekandung/ Seayah Saudara Peremp uan Sekand ung/ Seayah Kakek 11 Paman Sekandu ng

Ayah Anak Laki-Laki Cucu Laki-Laki Sdr Laki-Laki Sekandung/ Seayah Saudara Peremp uan Sekand ung/ Seayah Kakek Dan Anak Laki2 sdr Laki2 skdg 12 Paman Seayah

Ayah Anak Laki-Laki Cucu Laki-Laki Sdr Laki-Laki Sekandung/ Seayah Saudara Peremp uan Sekand ung/ Seayah Kakek Dan Paman Sekan dung 13 Anak Laki2 Paman Sekandu ng

Ayah Anak Laki-Laki Cucu Laki-Laki Sdr Laki-Laki Sekandung/ Seayah Saudara Peremp uan Sekand ung/ Seayah Kakek Dan Paman Skdg/ Seaya h 14 Anak Laki2 Paman Seayah

Ayah Anak Laki-Laki Cucu Laki-Laki Sdr Laki-Laki Sekandung/ Seayah Saudara Peremp uan Sekand ung/ Seayah Kakek Dan Paman Skdg/ Seaya h Dan Anak Laki2 Paman Skdg

F. Cara Menentukan Dan Menyelesaikan Warisan

Jika kita ingin membagi harta waris kepada orang-orang yang berhak, kita

(60)

semua utang dan melaksanakan semua wasiat simayyit, yang tidak lebih dari 1/3 harta

waris, kita harus mengetahui siapa saja yang berhak mendapatkan warisan. Dan harus

diketahui siapa yang terlarang menerima warisan. Kita harus mengikuti

langkah-langkah berikut ini.

1. Menentukan bagian-bagian ash-habul furudh jika mereka ada

2. Menjelaskan asal masalah

3. Menentukan bagian set

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi yang penulis angkat merupakan upaya untuk memberikan informasi seakurat mungkin, menjelaskan kepada masyarakat atau audien yang tidak sepakat meneliti

Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) dijelaskan bahwa hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris,