KABAR HARIAN
KOMPAS
DAN IMPLIKASINYA PADA
PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
KELAS IX SMP
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd.)
oleh
Uswatun Khasanah 109013000106
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
LEM BAR PENGBSAHAN
PEMBIMBII\G
SKRIPSI
PENGI"IT\TAAN DIKSI DALAM SURAT PEMBAC,{ SURAT KABAR HARIAN
KOMPAS
DAN IMPLTKASINYA PADA PIMBELAJARAN I}AHASA DAN SASTRA INDONOSIA
KELAS
IX
SMPDiajukan kepada Fakultas Ilnru Tarbi,vah dan Keguruan untuk memenuhi
Persyaratan Memperoleh Gerar sarjana
pe'cliciika'
(S. pd.)Mencapai Celar Sarjana Pendidikan
Yang Mengesahl<an, Pembimbing
NIP 19820628 2A09n 2 003
.}URUSAN PE}'IDIDIKAN BAHASA DAN SAST'RA IIVDONESIA
F-AKULTAS ILMTI TAITBIYAH DAN KEGT]II.L]AN
"UIN SYARIII HIDA\'ATULT,AH
JAKAI{TA
2{}i3
LEI\IBAR PENGESAIIAN UJI,A.N IVIUNAQASAH
Skripsi berjudul "Penggunaan Diksi Dalam Surat Pembaca Surat Kabar Harian Kompas dan Irnplikasinya Fada Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas IX SMP" diajukan kepada Fakultas Iimu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan telah dinyatakan lulus dalam ujian Munaqasah pada tanggal 23 Juli 2013 di hadapan dewan penguji. Oleh karena itu, penulis berhak memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S" Pd.) dalam bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
J akarta, 25 J anuari 20 | 4 Panitia Ujian
Ketua Panitia (Ketua Jurusan/Program Studi)
Dra. Mahmudah Fitrivah ZA. M. Pd.
NIP 19640212199703 2 001
Sekretaris Panitia (Sekretaris Jurusan/Prodi)
Dra. Hindun,M. Pd.
NrP. 19701zrs 2009122 00t Penguji I
Dra. HindunM" Pd"
NIP. 19701215 200912 2 001
Penguji II
Rosida Erowati. M. Hum NrP. 19771030200801 2 009
Mengetahui: Munaqasah
Tanggal
4_1.4.-.aoty
Tanda Tangan
ill (rnr,;
IJ
ebA,
zDtT9llrl-r
DekapFffi$s
Ilmu Tarbiyah dan Keguruans{+}Hfi::ili:'-'-,
4r{,-/'
)"t/
fuffi';1clti';i
fi'
ft''
CS.;i";
:: , "r4\dil.li -b./sllfl,(-; {i'
i
USWATUN KHASANAH, 109013000106, “Penggunaan Diksi dalam Surat Pembaca Surat Kabar Harian Kompas dan Implikasinya Pada Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dosen Pembimbing: Nuryani, M. A, Januari 2014.
Bahasa merupakan identitas suatu bangsa. Melalui pilihan kata yang digunakan oleh seseorang dapat mengenali perilaku dan kepribadiannya. Pembentukan karakter peserta didik dapat mengenalkan diksi yang baik dan tepat sesuai situasi dan kondisi. Pada surat kabar, pembaca hanya menjadi pembaca atau pendengar, namun mereka juga ingin didengar keluhan dan dapat menyalurkan ekspresi. Pembaca diharapkan menuliskan surat menggunakan bahasa yang santun dan mudah dipahami.
Permasalahan yang diteliti adalah bagaimana penggunaan diksi surat pembaca pada harian Kompas, serta bagaimana implikasinya terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMP kelas IX. Tujuannya untuk memperoleh deskripsi penggunaan diksi yang digunakan pada surat pembaca di harian Kompas dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia kelas IX SMP. Metode yang digunakan deskriptif analisis dengan sumber data surat pembaca surat kabar harian Kompas edisi bulan Juli 2013.
Hasil penelitian menunjukkan diksi yang digunakan pada surat pembaca surat kabar harian Kompas adalah istilah asing, kata serapan, konotasi, kata baku, kata umum, akronim, dan kata ilmiah. Implikasi pada peserta didik akan mudah membuat karangan, surat pembaca dalam menyampaikan kritik, serta keluhan dengan pilihan kata yang tepat, serta mampu membuat berita karena sudah dibekali pemilihan kata yang tepat dalam mengungkapkan perasaan, maksud dan menggambarkan situasi yang diceritakan.
ii
ABSTRACT
USWATUN KHASANAH, 109013000106, “The use of Diction on Readers’ Letters in Kompas Newspaper and its Implication on Teaching Indonesian Language and Literature Teaching, Faculty of Tarbiyah Science and Teacher Training, Syarif Hidayatullah Islamic State University, Jakarta. Advisor: Nuryani, M. A, January 2014.
Language is the identity of a nation. A person’s behavior and personality
can be determined by his or her word choice. Students’ character building can
introduce a good and appropriate diction according to the situation and condition. In a newspaper, readers ccan only be readers or listeners, but they also want their complaint to be heard, and to express something. A reader is expected to write a letter by using a polite-toned and easily understandable language.
The problem studied is about hon is used on readers' letters on Kompas
newspaper, and how it implies on learning Indonesian language and literature in the 7th grade of Junior High School. The aim of this research is for gaining a description of using diction on readers’ letters and its in implication on language learning mainly. The method used is descriptive analysis with a data source of
reader’s letter of Kompas newspaper, July 2013 issues.
The result of the research is the diction dominantly used is a foreign terms, adaption, connotation, raw words, general words, acronym, and scientific words.
It implies to students to make them easy on creating a story, reader’s letters to
criticize or suggest with a good word choice, and be enabled to create a news item since they have been trained with a good diction when they are expressing
feelings, intentions, and to describe a told situation.
iii
Puji syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah Allah karuniakan kepada penulis, sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan
skripsi yang berjudul “Penggunaan Diksi dalam Surat Pembaca Surat Kabar
Harian Kompas dan Implikasinya pada Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
IX SMP”. Namun penulis sadar bahwa selesainya skripsi ini bukan berarti tanpa
bantuan dari banyak pihak. Oleh karena itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan beberapa pihak berikut ini :
1. Nurlena Rifa’i, MA., Ph. D., selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UI N Syarif Hidayatullah Jakarta;
2. Dra. Mahmudah Fitriyah ZA, M. Pd., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan serta selaku dosen penasehat akademik;
3. Dr. Nuryani, S. Pd, M. Hum, selaku dosen pembimbing yang selalu sabar dalam membimbing penulis;
4. Ahmad Bahtiar, M. Hum, selaku dosen pembimbing PPKT yang selalu memberikan motivasi kepada penulis;
5. Dosen-dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, yang telah mengajarkan banyak hal. Terima kasih atas ilmu yang diberikan, semoga bermanfaat di kemudian hari;
6. Kedua orang tua saya yang banyak berjasa dalam pembuatan skripsi ini, baik materil maupun moril;
7. Keluarga yang telah memberikan motivasi, pelajaran hidup dan selalu sabar menghadapi penulis. Vivi, Dian, Nurul, Acel, Ami, Ruqoyah, Mbak Aya, Bang Adi, dan nama-nama yang tidak penulis sebutkan namanya; 8. Pada semua jajaran pengurus Harian Kompas, khususnya Pak Gunarso
sebagai penulis rubrik “Surat Pembaca”;
iv
Yessi, Bunga, Anjar, Ummul, Adi, dan lainnya yang tidak penulis sebutkan namanya);
10.Saudara seperjuangan yaitu teman-teman KAMMI UIN Syarif Hidayatullah (Karina, Yuli, Istiana, Dian, Amel, Irfan M, Ade Irfan, Yusuf, Melky, dan lainnya yang tidak penulis sebutkan namanya);
11.Saudara seperjuangan LDK Syahid (Hajiah, Habibah, Gema, Azizatul, Yeyen, Sri, Yunda, Indah, Iin, Ulfa, Vera, Okty, Hana, Nawal, dan lainnya yang tidak penulis sebutkan namanya);
12.Saudara seperjuangan KAPMI (Rohmah, Nourul, Haerudin, Restu, Hilma, Romi, Nurul, dan nama yang penulis sebutkan namanya);
13.Kawan-kawan PPKT sekaligus guru pamong SMP Mabad Rempoa; 14.Semua pihak yang membantu penulis dalam menyusun skripsi ini, yang
tidak penulis sebutkan satu per satu.
Penulis berharap semoga skripsi ini tidak hanya berhenti pada satu titik, tetapi harus terus berlanjut, sehingga akan berguna bagi orang lain, sebagaimana penulis mendapat pelajaran berharga selama mengerjakannya.
Ciputat, Januari 2014
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN MUNAQOSAH
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 4
C. Pembatasan Masalah ... 4
D. Perumusan Masalah ... 4
E. Tujuan Penelitian ... 4
F. Manfaat Penelitian ... 5
G. Sistematika Penulisan ... 5
BAB II LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN ... 7
A. Ruang Lingkup Diksi ... 7
1. Pengertian Diksi ... 7
2. Ketepatan dalam pemilihan kata ... 10
3. Macam-macam Diksi ... 12
4. Macam-macam Makna ... 14
5. Sebab-Sebab Perubahan Makna ... 17
6. Pemakaian Ragam Formal ... 18
B. Ruang Lingkup Media Massa Cetak ... 19
1. Pengertian Surat Kabar ... 19
2. Pengertian Media Massa Cetak ... 21
3. Pengertian Surat Pembaca ... 22
4. Syarat dan Ketentuan Surat Pembaca ... 23
5. Karakteristik Surat Pembaca ... 24
C. Hasil Penelitian yang Relevan ... 27
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 30
A. Model dan Langkah-langkah Penelitian... 30
1. Pendekatan ... 30
2. Sasaran ... 30
3. Data dan Sumber Data ... 30
4. Metode dan teknik Pengumpulan Data ... 31
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 37
A.Sejarah Sejarah Singkat Harian Kompas ... 37
1. Visi dan Misi Harian Kompas ... 38
a. Visi Harian Kompas ... 39
b. Misi Harian Kompas ... 39
B. Analisis Isi Rubrik Surat Pembaca Pada Surat Kabar Kompas ... 41
C. Deskripsi Data ... 41
D. Analisis Diksi Pada Teks Surat Pembaca Surat Kabar Kompas ... 47
E. Implikasi Terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP ... 78
BAB V PENUTUP ... 80
A. Simpulan ... 80
B. Saran ... 81
DAFTAR PUSTAKA ... 82
LAMPIRAN
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Melalui bahasa orang dapat mengidentifikasi kelompok masyarakat, bahkan dapat mengenali perilaku dan kepribadian masyarakat penuturnya. Oleh karena itu, masalah kebahasaan tidak terlepas dari kehidupan masyarakat penuturnya. Seiring dengan kemajuan zaman, bahasa Indonesia mengalami perkembangan sebagai akibat globalisasi serta perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sains.
Seiring dengan perkembangan zaman, perkembangan media cetak maupun elektronik di Indonesia mengalami kemajuan yang begitu pesat. Hal
ini dipicu karena “kehausan” masyarakat akan informasi yang ingin segera
diketahui sehingga kalangan media terus berlomba memberikan informasi yang terbaik untuk masyarakat. Perkembangan media membuat bahasa Indonesia semakin berkembang, seperti dalam ketetapan Majelis Permusyarawatan Rakyat No. II/MPR/1998 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara, Sektor Kebudayaan, butir f (GBHN, 1988:42) dinyatakan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia perlu ditingkatkan, serta penggunaan secara baik, benar, dan penuh kebanggaan perlu makin dimasyarakatkan sehingga bahasa Indonesia menjadi wahana komunikasi sosial dan ilmu pengetahuan yang mampu memperkukuh persatuan dan kesatuan serta mendukung pembangunan bangsa. Pembinaan dalam penggunaan bahasa lisan bertujuan agar pembicaraan dalam suatu pertemuan, seperti dalam diskusi dan seminar, dapat mengungkapkan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa. Selanjutnya pembinaan dalam penggunaan bahasa tulis bertujuan agar bahasa yang digunakan dalam media tulis tidak menyimpang dari norma-norma bahasa yang berlaku. Sejalan dengan itu, bahasa yang dipakai dalam surat kabar, majalah, dan media cetak yang lain sedapat-dapatnya menghindari kesalahan pemakaiana kaidah bahasa, baik dalam berita-beritanya, dalam ulasan dan komentarnya, maupun dalam iklan-iklannya.1
1
2
Sebagai sarana informasi, pendidikan, kontrol, sosial, dan hiburan, media massa cetak kita (sejak kapan pun) memang tak mungkin melepaskan diri dari penggunaan bahasa Indonesia (sebagai alat komunikasi). Terlebih lagi, sama-sama dirasakan, selama ini media massa cetak kita begitu diharapkan masyarakatnya menjadi pemimpin opini (opinion leader).
Pasalnya, masyarakatnya sangat “menaruh” kepercayaan terhadap sifat surat kabar pada umumnya. Yakni, mengedepankan akurasi data, menjaga prinsip pertimbangan berita (cover both side), dan memelihara keselarasan informasi.
Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan informasi, masyarakat mempunyai banyak pilihan media seperti: surat kabar, majalah, tabloid, radio, televisi, dan sebagainya. Media massa cetak sebagai media visual menghadirkan kata-kata verbal dan tanda-tanda visual lain di setiap penyajian. Karya jurnalistik yang disajikan dalam bentuk tulisan bisa berupa berita, pendapat atau opini, tajuk rencana, pojok, dan lain-lain. Bahasa yang digunakan media massa bersandar kepada bahasa baku, tetapi pemakaian bahasa baku di media massa memang berbeda. Struktur kalimatnya lebih longgar, tidak normatif. Pilihan katanya pun lebih bebas, tanpa beban perihal kebakuannya. Bahasa jurnalistik bersifat santai, meskipun harus tetap memperhatikan norma-norma kebahasaan. Maka dalam penggunaan bahasa dapat disebut sebagai ragam bahasa tengah-tengah atau medial. Antara ragam baku resmi dan santai, antara bahasa lisan dan tulisan. Dampak dari bentuk dan pilihan kata yang digunakan di media massa membentuk opini publik.
Karena penggunaan bahasa yang unik itu, maka penulis tertarik untuk membahas lebih dalam. Bahasa jurnalistik dapat dikatakan sebagai cerminan masyarakat. Pasalnya, bahasa yang digunakan media massa adalah bahasa yang hidup atau dipakai di masyarakat. Banyak penelitian yang menelaah media massa terutama Koran tapi sedikit yang membahas “Surat Pembaca”. Bagi pers Indonesia, surat pembaca bukan sekadar ajang saling menyampaikan unek-unek, tetapi juga bias sebagai tempat untuk tukar pendapat atau forum dialog mengenai banyak hal yang terjadi dalam masyarakat. Dengan adanya
rukbrik “Surat Pembaca”, pembaca tidak hanya menjadi pembaca atau
didengar. Mereka juga perlu tempat untuk menyalurkan ekspresi. Mereka juga ingin aspirasinya di dengar dan tidak hanya di cekoki berita-berita setiap harinya.
Sebagai media penyalur aspirasi itulah surat kabar juga menyediakan
ruang untuk apa yang disebut dengan “Surat Pembaca”. Isinya pun beragam.
Namun, umumnya berisi protes atas pelayanan publik. Mereka mengkritik lembaga Negara dan lembaga publik lainnya yang tidak mampu. Sebagian lagi menyampaikan pendapat atas suatu kejadian. Seperti tajuk, sebagai surat surat bersifat menggurui, menasehati, menegur, dan lain-lain.2
Surat yang dikirimkan oleh pembaca biasanya ditulis dengan isi yang sangat panjang dan dalam bahasa yang kurang menarik atau tidak teratur. Maka, untuk layak dimuat ia harus ditulis ulang. Biasanya surat kabar menyediakan petugas untuk itu yang disebut dengan rewriter man. Maksudnya adalah untuk membuat surat tersebut menjadi dapat dimengerti oleh pembaca lain. Selain memperbaiki bahasa, juga supaya emosi yang tidak terkendali dalam penyampaian saran atau pendapat yang ada dalam surat tersebut dapat diperlunak sehingga menjadi pantas dibaca orang banyak. Ruang surat pembaca juga sering dimanfaatkan para petugas humas atau organisasi kemasyarakatan lainnya sebagai saluran menyampaikan koreksi, komentar, atau pikiran atas isi berita mengenai lembaganya. Mereka berusaha menjaga agar citra lembaga atau perusahaanya tidak rrusak hanya karena ada berita yang salah akibat kecerobohan wartawan. Kalau koreksi itu memang betul, tentu redaktur tidak keberatan mengakui kekeliruannya.
Dengan adanya analisis diksi pada rubrik surat pembaca, dapat diaplikasikan dalam pelajaran membuat karangan atau memilih kata dalam hal berkomentar atau memberikan opini. Siswa dapat mudah menerapkan dalam pembelajaran bahasa, seperti dalam membuat karangan, artikel, menyampaikan opini atau kritikan dengan pilihan kata yang sesuai dan tepat. Salah satu media yang akan diteliti oleh penulis adalah surat kabar harian
Kompas. Kompas telah dipercaya oleh masyarakat dalam eksistensinya dalam pemberitaan dan penggunaan bahasa yang baik. Dalam harian Kompas
memiliki rubric sendiri untuk menampung komentar mengenai kebijakan atau
2
4
pelayanan publik, konten artikelnya di halaman opini, ataupun pemberitaan di
Kompas. Sebab inilah peneliti tertarik untuk meneliti, karena surat pembaca dibuat oleh berbagai karakteristik orang, dan berbagai kalangan masyarakat sehingga diksi yang digunakan beragam. Penulisan surat pembaca memiliki syarat-syarat yang khusus sepeti tajuk rencana.
B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa rubrik Surat Pembaca yang terdapat pada harian Kompas adalah rubrik yang membahas tentang komentar, usulan, kritikan, dan saran dari para pembaca yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Tujuan dari pembuatan rubrik tersebut sebagai wadah pembaca memberikan saran ataupun kritikan terhadap lembaga atau pelayanan publik.
Berdasarkan pandangan-pandangan tersebut, timbul keingintahuan dari penulis:
1. Diksi yang digunakan para pembaca dalam mengutarakan saran, kritik, dan komentar.
2. Gaya bahasa yang digunakan para pembaca dalam mengutarakan saran, kritik, dan komentar.
C. Pembatasan Masalah
Harian Kompas terbit setiap hari dengan berbagai macam pemberitaan, baik nasional maupun internasional. Sehingga banyak rubrik yang dimiliki
Kompas. Maka, agar penelitian ini lebih terarah dan pembahasan tidak terlalu meluas, peneliti merasa perlu membatasi masalah.
Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini yaitu hanya pada ketepatan diksi, kesesuaian diksi, struktur kalimat, dan pesannya yang
digunakan pada surat pembaca harian “Kompas”.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan masalah diketahui maka dapat dirumuskan beberapa hal, yaitu: 1. Bagaimana diksi yang digunakan para pembaca dalam surat pembaca
harian Kompas?
2. Bagaimana implikasinya pada pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di kelas IX SMP?
Berdasarkan perumusan masalah yang telah tercantum di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk:
1. Mendeskripsikan diksi yang digunakan para pembaca dalam surat pembaca.
2. Mendeskripsikan implikasinya pada pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di kelas IX SMP.
F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Akademis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dan dapat berguna bagi pengembangan pengetahuan ilmiah di bidang bahasa Indonesia, menambah khazanah bahasa, serta dapat menjadi tambahan referensi ilmiah tentang penelitian terhadap media massa cetak melalui rubrikasinya.
2. Manfaat Pendidik
Penelitian ini diharapkan akan menjadi suatu bahan masukan untuk menambah wawasan bagi para praktisi maupun pendidik bahasa Indonesia pada umumnya dalam mengenal unsur bahasa menjadi informasi yang menarik dengan memperhatikan tata bahasa yang akan disampaikan sehingga mudah dicerna oleh masyarakat. Serta memberikan motivasi bagi para pendidik khususnya pendidik bahasa Indonesia untuk lebih kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan perkembangan teknologi media khususnya media cetak sebagai media pembelajaran bahasa Indonesia.
G. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan yang digunakan oleh penulis adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisikan latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian , dan sistematika penulisan.
6
ketentuan pembuatan surat pembaca pada harian Kompas. Menguraikan pula penelitian yang relevan dengan hal yang diteliti dengan penulis, meliputi perbedaan dan persamaannya.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini menguraikan langkah-langkah dalam melakukan penelitian, pendekatan dan metode yang digunakan oleh peneliti.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini menguraikan profil singkat surat kabar harian Kompas, mendeskripsikan hasil penelitian yaitu pembahasan mengenai analisa penggunaan diksi pada rubrik surat pembaca pada harian Kompas dan implikasinya pada pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia kelas IX.
BAB V PENUTUP
7
LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN
A. Ruang Lingkup Diksi
Di dalam aktivitas tulis-menulis, diksi atau pilihan kata merupakan unsur yang sangat penting. Tidak hanya itu pada dasarnya diksi atau pilihan kata bertalian erat dengan masalah ketepatan dan kesesuaian dalam memilih kata-kata. Dikatakan tepat, agar gagasan sang penulis dapat diwakili oleh kata-kata yang tepat, sehingga pengungkapan gagasan itu dianggap logis.
Pemilihan kata yang tepat dalam ragam tulis berkaitan erat dengan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan-gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca, seperti yang dipikirkan penulis. Oleh karena itu, pemilihan kata yang tepat menyangkut masalah makna kata dan kosa kata seseorang. Penguasaan kosa kata yang kaya akan memungkinkan penulis lebih bebas memilih kata yang dianggapnya paling tepat mewakili pikirannya. Ketepatan makna kata menuntut pembicara untuk mengetahui bagaimana hubungan antara kata dengan referensinya.1
1. Pengertian Diksi
Untuk dapat memahami apa yang disebut kata atau pemilihan kata, kita perlu mengetahui pengertian dari pilihan kata atau diksi lebih dahulu. Sebelum itu pengertian kata itu sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa.2
Harimurti mengatakan kata adalah satuan terkecil dalam sintaksis yang berasal dari leksem yang telah mengalami proses morfologis.3 Jadi kata adalah satuan terkecil dalam sintaksis yang dapat berdiri sendiri, yang bisa diucapkan melalui lisan atau tulisan yang berasal dari wujud pikiran seseorang.
Pengertian diksi atau pilihan kata telah diuraikan oleh beberapa pakar. Diksi menurut Harimurti adalah pilihan kata dan kejelasan lafal untuk memperoleh efek tertentu dalam berbicara di depan umum atau dalam karang
1
Wati Kurniawati dan Buha Aritonang, Kosa Kata Dominan Surat Kabar Ibukota Dalam Kaitannya Dengan Pembentukan Opini Publik, (Jakarta: Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional, 2010) h. 63
2
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008) h. 633
33
8
mengarang.4 Dengan pemilihan kata yang tepat maka akan mendapat efek yang baik bagi pembaca bila pilihan kata pun baik, namun sebaliknya jika penulis memilih kata yang kurang tepat maka pembaca pun mendapat efek yang kurang baik dari pilihan kata tersebut.
Kunjana Rahardi dalam bukunya mengatakan diksi adalah pemilihan kata; pilihan kata; bagaimana kata dipilih untuk digunakaaan.5 Dengan banyaknya perbendaharaan kata yang dimiliki oleh penulis maka akan mudah untuk memilih kata yang digunakan untuk membuat karya ilmiah, essai, dan lain-lainnya.
Diksi menurut Dendy Sugono adalah bidang pemilihan kata.6 Jadi, kesalahan diksi meliputi kesalahan kalimat yang disesabkan oleh kesalahan penggunaan kata.7 Dengan memilih pilhan kata yang tepat menghindari kesalahan pada kalimat.
Diksi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan).8 Jadi, pilihan kata atau diksi adalah pemilihan kata yang tepat, sesuai, selaras dalam penggunaannya baik dalam lisan maupun tulisan.
Diungkapkan oleh Gorys Keraf, diksi bukan saja dipergunakan untuk menyatakan kata-kata mana yang dipakai untuk mengungkapkan suatu ide atau gagasan, tetapi juga meliputi persoalan fraseologi, gaya bahasa, dan ungkapan.9 Gaya bahasa sebagai bagian dari diksi bertalian dengan ungkapan-ungkapan yang individual atau karakteristik, atau yang memiliki nilai artistik yang tinggi.10 Suatu kekhilafan yang besar untuk menganggap bahwa persoalan pilihan kata adalah persoalan yang sederhana, persoalan yang tidak perlu dibicarakan atau dipelajari karena akan terjadi dengan sendirinya secara wajar pada setiap manusia.11
4
Ibid, h. 50
5
R. Kunjana Rahardi, Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, (Jakarta: Erlangga, 2009), h. 53
6
Dendy Sugono, Mahir Berbahasa Indonesia Dengan Benar, (Jakarta: Kompas Gramedia, 2009), h. 222
7
Ibid, h. 222
8
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Loc. Cit. h. 328
9
Gorys Keraf, Diksi dan Gaya Bahasa, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009), cet. 11, h. 22-23
10Ibid
, h. 22-23
11 Ibid
Diksi adalah pemilihan kata yang tepat dan sesuai untuk mengungkapkan sebuah gagasan atau ide, yang meliputi gaya bahasa. Dengan pemilihan kata yang tepat dapat membuat kalimat menjadi efektif dan terhindar dari kesalahan bahasa pada kalimat.
Masyarakat manusia kontemporer tidak akan berjalan tanpa komunikasi. Komunikasi, dalam hal ini dengan mempergunakan bahasa, adalah alat yang vital bagi masyarakat manusia. Mereka yang terlibat dalam jaringan komunikasi masyarakat kontemporer ini memerlukan persyaratan-persyaratan tertentu. Persyaratan itu antara lain: ia harus menguasai sejumlah besar kosa kata (perbendaharaan kata) yang dimiliki masyarakat bahasanya, serta mampu pula menggerakkan kekayaannya itu menjadi jaringan-jaringan kalimat yang jelas dan efektif, sesuai dengan kaidah-kaidah sintaksis yang berlaku, untuk menyampaikan rangkaian pikiran dan perasaannya kepada anggota-anggota masyarakat lainnya.’
Mereka yang luas kosa katanya akan memiliki pula kemampuan yang tinggi untuk memilih setepat-tepatnya kata mana yang paling harmonis untuk mewakili maksud atau gagasannya. Secara populer orang akan mengatakan bahwa kata meneliti sama artinya dengan kata menyelidiki, mengamati, dan
menyidik. Karena itu, kata-kata turunannya seperti penelitian, penyelidikan, pengamatan, dan penyidikan adalah kata yang sama artinya atau merupakan kata yang bersinonim.12
Mengenai diksi, pertama, pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokkan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam situasi. Kedua, pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar. Ketiga, pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar
12Ibid
10
kosa kata atau perbendaharaan kata atau kosa kata suatu bahasa adalah keseluruhan kata yang dimiliki oleh sebuah nuansa bahasa.13
Tentang ketepatan dan kesesuaian, yang menjadi persyaratan utama dalam diksi, dapat diuraikan sebagai berikut:
2. Ketepatan dalam Pemilihan Kata a. Memahami kata sebagai simbol
Kata mengandung dua aspek, yaitu aspek bentuk (ekspresi) dan aspek isi (makna). Aspek bentuk adalah aspek yang disimbolkan, aspek yang representatif, atau aspek yang dapat diserap dengan panca indera. Sedangkan, aspek isi adalah aspek yang menyimbolkan, aspek interpretatif, atau reaksi yang muncul akibat aspek bentuk. Simbol
(representatif) kata “polisi” yang menyimbolkan (interpretatif) makna
“tentram dan aman” tidak ada kaitannya sama sekali. Hubungan antara
simbol dan makna ini lebih bersifat arbitrer yang konvensional. Memahami kata sebagai simbol (aspek bentuk dan isi kata) akan menjaga ketepatan sang penulis dalam pemilihan kata.14
b. Memahami adanya struktur leksikal
Struktur leksikal adalah pelbagai macam pertalian makna (semantik) yang terdapat dalam sinonimi. sinonim kata. Wujudnya diantaranya, sinonimi, polisemi, hiponimi, dan antonimi. Sinonimi adalah dua kata atau lebih yang memiliki makna yang sama. Namun, dalam kaitan dengan ketepatan dalam memilih kata, persamaan makna ini dianggap tidak ada. Sebab, tiap kata mempunyai nuansa makna yang berbeda. Polisemi adalah sebuah kata yang memiliki bermacam-macam makna. Berdekatan dengan istilah polisemi ini adalah homonimi, yaitu persoalan yang menyangkut dua kata berlainan namun memiliki bentuk yang sama (homograf) atau bunyi yang sama (homofon). Hiponimi adalah kata yang maknanya merupakan bagian dari kata lain (superordinat).15
c. Memahami makna denotatif dan konotatif
13
Gorys Keraf, op. cit., h. 24
14Ibid
, h. 24
15Ibid
Makna denotatif adalah makna asli, makna konseptual, atau makna sebenarnya. Sedangkan, makna konotatif adalah makna tambahan yang diberikan kepada makna denotatif, makna asosiatif, atau makna yang timbul sebagai dampak adanya sikap sosial dan sikap pribadi.
d. Memahami makna kata umum dan kata khusus
Kata umum dan kata khusus dibedakan berdasarkan luas tidaknya cakupan makna yang dikandungnya. Sebuah kata yang mengacu kepada suatu hal atau kelompok yang luas bidang lingkupnya maka kata itu disebut kata umum. Bila ia mengacu kepada pengarahan-pengarahan yang khusus dan konkret maka kata-kata itu disebut kata khusus.
Misalnya kata merah merupakan sebuah istilah yang umum. Sebagai suatu istilah yang umum kata ini mencangkup sejumlah istilah yang lebih khusus seperti: merah darah, merah lembayung, merah tua, merah padam, merah menyala, dan sebagainya.16
e. Memahami adanya perubahan makna.
Perubahan-perubahan makna yang penting adalah: 1) Perluasan Arti
Perluasan arti adalah suatu proses perubahan makna yang dialami sebuah kata yang tadinya mengandung suatu makna yang khusus, tetapi kemudian meluas sehingga meliputi sebuah kelas makna yang lebih umum.17 Misalnya kata berlayar dulu dipakai dengan pengertian: bergerak di laut dengan menggunakan layar. Sekarang semua tindakan mengarungi lautan atau perairan dengan mempergunakan alat apa saja disebut berlayar.
2) Penyempitan Arti
Penyempitan arti sebuah kata adalah sebuah proses yang dialami sebuah kata di mana makna yang lama lebih luas cakupannya dari makna yang baru.18 Misalnya kata pala
16
Ibid, h. 90
17Ibid
, h. 97
18Ibid
12
tadinya berarti buah pada umumnya, sekarang hanya dipakai untuk menyebutkan jenis buah tertentu.
3) Ameliorasi
Ameliorasi adalah suatu proses perubahan makna, di mana arti yang baru dirasakan lebih tinggi atau lebih baik nilainya arti yang lama.19 Kata wanita dirasakan nilainya lebih tinggi dari kata perempuan.
4) Peyorasi
Peyorasi adalah suatu proses perubahan makna sebagai kebalikan dari ameliorasi. Dalam peyorasi arti yang baru dirasakan lebih rendah nilainya dari arti yang lama.20 Kata bini dianggap tinggi pada zaman lampau, sekarang yang dirasakan sebagai kata yang kasar.
5) Metafora
Metafora adalah perubahan makna karena persamaan sifat antara dua obyek. Ia merupakan pengalihan semantik berdasarkan kemiripan persepsi makna.21 Misalnya kata matahari, putri malam (untuk bulan), pulau (empat laut), semuanya dibentuk berdasarkan metafora.
6) Metonimi
Metonimi sebagai suatu proses perubahan makna terjadi karena hubungan yang erat antara kata-kata yang terlibat dalam suatu lingkungan makna yang sama, dan dapat diklasifikasi menurut tempat atau waktu, menurut hubungan isi dan kulit, hubungan antara sebab dan akibat.22 Misalnya kata kota tadinya berarti susunan batu yang dibuat mengelilingi sebuah tempat pemukiman sebagai pertahanan terhadap serangan dari luar. Sekarang tempat pemukiman itu disebut kota.
3. Macam-macam Diksi
19
Ibid, h. 98
20
Ibid, h. 98
21
Ibid, h. 98
22
Untuk menentukan ketepatan kata atau diksi maka diksi dibedakan atas beberapa macam kata. Menurut Gorys Keraf23 untuk menentukan ketepatan pengertian lebih baik memilih kata khusus daripada kata umum. Kata umum yang dipertentangkan dengan kata khusus harus dibedakan dari kata denotatif dan konotatif. Bila sebuah kata mengacu suatu hal atau kelompok yang luas bidang lingkupnya maka kata itu disebut kata umum. Bila ia mengacu kepada pengarahan-pengarahan yang khusus dan konkret maka kata-kata itu disebut kata khusus.24
a. Kata khusus 1) Nama Diri
Nama diri adalah istilah yang paling khusus, sehingga menggunakan kata-kata tersebut tidak akan menimbulkan salah paham. Bahwa nama diri ini merupakan kata khusus, tidak boleh disamakan dengan kata yang denotatif.
2) Daya Sugesti Kata Khusus
Kata-kata konkret dan khusus lebih banyak informasi kepada para pembaca. Memberi informasi yang jauh lebih banyak sehingga tidak mungkin timbul salah paham dan juga memberikan sugesti yang jauh lebih dalam.25
b. Kata Umum
1) Gradasi Kata Umum
Perbedaan antara yang khusus dan umum bagaimanapun juga akan selalu bersifat relatif. Sebuah istilah atau kata mungkin dianggap khusus bila dipertentangkan dengan istilah yang lain, tetapi akan dianggap umum bila harus dibandingkan dengan kata yang lain.26 Coba perhatikan skema relasional dari kata-kata di bawah ini:
Sangat Umum Kurang
Umum
Lebih Khusus Sangat Khusus Binatang
Olahragawan
Anjing Pemain bola
Herder Gelandang
Nero Ali
23
(2009: 89)
24
Gorys Keraf, op. cit., h. 90
25
Ibid, h. 90-91
26
14
Tumbuh-tumbuhan
Pohon tengah
Pohon asem
Pohon asam di belakang rumah saya
4. Macam-macam Makna
Pada umumnya makna kata pertama-tama dibedakan atas makna yang bersifat denotatif dan makna kata yang bersifat konotatif. Untuk menjelaskan kedua jenis makna ini, perhatikan terlebih dahulu kalimat-kalimat berikut:
Toko itu dilayani gadis-gadis manis Toko itu dilayani dara-dara manis
Toko itu dilayani perawan-perawan manis
Ketiga kata yang dicetak miring di ats memiliki makna yang sama, ketiganya mengandung referensi yang sama untuk referen yang sama, yaitu
wanita yang masih muda. Namun kata gadis boleh dikatakan mengandung asosiasi yang paling umum, yaitu menunjuk langsung ke wanita yang masih muda, juga mengandung sesuatu yang lain, yaitu “rasa indah” atau “rasa
puitis”, dengan demikian mengandung asosiasi yang lebih menyenangkan.
Sedangkan kata perawan, di samping menunjuk makhluk yang sama, juga mengandung asosiasi yang lain. Sama juga mengandung asosiasi yang lain.27
Bentuk-bentuk kata yang dipilih sedapat mungkin kata-kata baku. Kata-kata bukan baku yang lazimnya digunakan dalam komunikasi formal sedapat mungkin dihindari. Misalnya, untuk ini penggunaan kata bisa dan
ketimbang dapat dipertimbangkan.
1) Kedua kasus di atas bisa saja kita alami sehari-hari.
2) Itulah gambaran sekilas tentang Sudarmono, S. H., ketua umum DPP Golongan Karya Baru. Yang selama ini lebih dikenal dalam jabatannya sebagai Menteri Sekretaris Negara dan salah seorang pembantu terdekat Presiden Soeharto, ketimbang seorang politisi praktis.
27
Kata bisa dan ketimbang hanya pantas digunakan di dalam situasi-situasi yang formal atau tidak resmi. Di dalam situasi-situasi-situasi-situasi formal kata itu lebih tepat bila diganti dengan kata dapat dan daripada sehingga kalimat 1) dan 2) menjadi kalimat 3) dan 4) di bawah
3) Kedua kasus di atas dapat saja kita alami sehari-hari
4) Itulah gambaran sekilas tentang Sudarmono, S. H., ketua umum DPP Golongan Karya Baru. Yang selama ini lebih dikenal dalam jabatannya sebagai Menteri Sekretaris Negara dan salah seornag pembantu terdekat Presiden Soeharto, daripada seorang politisi praktis.28
a. Makna Denotatif
Makna denotatif disebut juga dengan beberapa istilah lain seperti: makna denotasional, makna kognitif, makna konseptual,
makna ideasional, makna referensial, atau makna proporsional. Disebut makna denotasional, referensial, konseptual, atau ideasional, karena makna itu menunjuk (denote) kepada suatu referen, konsep, atau ide tertentu dari suatu referen. Disebut makna kognitif karena makna itu bertalian dengan kesadaran atau pengetahuan, stimulus (dari pihak pembicara) dan respons (dari pihak pendengar) menyangkut hal-hal yang dapat diserap pancaindera (kesadaran) dan rasio manusia. Dan makna ini disebut juga makna proporsional karena ia bertalian dengan informasi-informasi atau pernyataan-pernyataan yang bersifat faktual.29
Memilih sebuah denotasi yang tepat, dengan sendirinya lebih mudah dari memilih konotasi yang tepat. Seandainya ada kesalahan-kesalahan dalam denotasi, maka hal itu mungkin disebabkan oleh kekeliruan atas kata-kata yang mirip bentuknya, kekeliruan tentang antonim, atau kekeliruan karena tidak jelas maksud dan referennya. Kekeliruan pertama terjadi karena masalah
28
M. Ramlan, dkk. Bahasa Indonesia yang Salah dan yang Benar, (Yogyakarta: Andi Offset, 1997 h.75
29
16
ejaan: gajih-gaji, darah-dara, interferensi-intervensi, bahwa-bawa, dan sebagainya. Kesalahan kedua mudah diperbaiki karena bersifat temporer, tetapi kesalahan ketiga adalah kesalahan yang paling berat.30
b. Makna Konotatif
Konotasi atau makna konotatif disebut makna konotasional, makna emotif, atau makna evaluate, makna konotatif adalah suatu jenis makna dimana stimulus dan respon mengandung nilai-nilai emosional.31
Konotasi pada dasarnya timbul karena masalah hubungan sosial atau hubungan interpersonal, yang mempertalian kita dengan orang lain. Pilihan kata atau diksi lebih banyak bertalian dengan pilihan kata yang bersifat konotatif. Bila sebuah kata mengandung konotasi yang salah, misalnya kurus-kering untuk menggantikan kata ramping dalam sebuah konteks yang saling melengkapi, maka kesalahan semacam itu mudah diketahui dan diperbaiki. Sangat sulit adalah perbedaan makna antara kata-kata yang bersinonim, tetapi mungkin mempunyai perbedaan arti yang besar dalam konteks tertentu. Misalnya kata mati, meninggal, wafat, gugur, mangkal, berpulang memiliki denotasi yang sama yaitu “peristwa dimana jiwa seseorang telah meninggalkan badannya”. Namun kata
meninggal, wafat, berpulang mempunyai konotasi tertentu, yaitu mengandung nilai kesopanan atau dianggap lebih sopan, sedangkan
mangkat mempunyai konotasi lain yaitu mengnadung nilai
“kebesaran”, dan gugur mengandung nilai keagungan dan
keluhuran. Sebaliknya kata persekol, uang muka, atau panjar
hanya mengandung makna denotatif.32 c. Konteks Nonlinguistik
Relasi yang pertama erat hubungannya dengan konteks nonlinguistik. Konteks nonlinguistik mencakup dua hal yaitu, hubungan antara kata dan barang atau hal, dan hubungan antara
30
Ibid,
31
Ibid,
32
bahasa dan masyarakat atau disebut juga konteks sosial. Konteks sosial contohnya penggunaan kata-kata istri kawan saya dan bini kawan saya; buaya darat itu telah melahap semua harta bendanya
dan orang itu telah melahap semua harta bendanya; kami minta maaf dan kami mohon ampun, semuanya dilakukan berdasarkan konteks sosial, atau situasi yang dihadapi. Faktor-faktor yang mengakibatkan suatu kata berubah maknanya.
1) Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Dulu kata kereta api bermakna kendaraan yang ditarik dengan lokomotif bertenaga uap dan berjalan di atas rel. kini, karena kemajuan teknologi, kendaraan tersebut tidak lagi menggunakan lokomotif bertenaga uap melainkan sudah menggunakan disel atau listrik. Jadi, kereta api berubah maknanya, yaitu kendaraan yang bergerak dengan menggunakan tenaga disel atau listrik.33
2) Perkembangan Sosial dan Budaya
Manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang hidup dalam kelompok atau disebut pula masyarakat. Pada dasarnya setiap manusia saling memengaruhi. Dalam kehidupan tersebut, manusia menghasilkan berbagai macam hal sebagai hasil kegiatan berpikir mereka. Perkembangan hubungan antar manusia (sosial) dan budaya ini mengakibatkan perubahan pada bahasa yang digunakan. Akibatnya, tentu saja membawa perubahan pula pada makna kata-kata yang digunakan.34
5. Sebab-sebab Perubahan Makna
Ada beberapa faktor yang menyebabkan perubahan makna. Dalam kaitan itu, Chaer menegaskan bahwa perubahan makna disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut.
33
Abdul Chaer dan Liliana Muliastuti, Semantik Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, 2003), h. 3.8
34
18
a. Perkembangan dalam ilmu dan teknologi. Misalnya, kata berlayar pada
mulanya bermakna „perjalanan di laut (di air) dengan menggunakan
perahu atau kapal yang digerakkan dengan tenaga layar’. Kendatipun
sekarang ini kapal-kapal besar tidak lagi menggunakan layar, tetapi sudah memakai tenaga mesin bahkan juga sebagian dengan menggunakan tenaga nuklir kata berlayar itu masih tetap digunakan.
b. Perkembangan sosial dan budaya, misalnya di dalam bahasa Sansekerta
kata saudara bermakna „seperut’ atau „satu kandungan’. Dewasa ini kata
itu, kendatipun masih digunakan dalam makna „orang lahir dari kandungan yang sama’, dipakai juga untuk menyebut atau menyapa siapa saja yang dianggap sederajat atau mempunyai status sosial yang sama.
c. Perbedaan bidang pemakaian, misalnya kata menggarap yang berasal dari bidang pertanian dengan segala jenis derivasinya, seperti dalam frasa menggarap sawah, tanah garapan, dan petani penggarap kini banyak juga digunakan dalam bidang-bidang lain dengan makna „mengerjakan’, seperti dalam frasa menggarap skripsi.
d. Adanya asosiasi, misalnya kata amplop yang berasal dari dunia administrasi atau surat menyurat. Makna aslinya adalah „sampul surat’. Tentu saja ke dalam amplop itu dapat dimasukkan benda lain, selain surat, misalnya uang. Dalam kaitan itu, asosiasi antara amplop dengan uang memiliki makna yang sama.35
Pemakaian diksi yang terdapat dalam surat kabar ibu kota ditinjau dari segi kelayakan stilistik ragam formal lebih dominan daripada ragam takformal dan unsur bahasa asing.
6. Pemakaian Ragam Formal
Dalam situasi resmi digunakan bahasa Indonesia ragam tinggi (high variety). Ragam tinggi digunakan untuk pidato resmi, ceramah, khotbah, dan kuliah; penyiaran lewat radio televisi; penulisan yang bersifat resmi; tajuk rencana dan artikel surat kabar; sastra, khususnya puisi. Dalam proses
35
pembakuan, ragam tinggi dianggap sebagai dasarnya.36 Contoh kalimat yang mengandung ragam formal adalah sebagai berikut.
a. Permohonan izin disampaikan menjelang pemilihan kepala daerah atau presiden baru mengeluarkan izin pemeriksaan justru menjelang pemilihan kepala daerah.
b. Hanya itulah cara meningkatkan daya saing Indonesia di mata investor. c. Terus terang kita mengkhawatirkan kecenderungan kita sekarang.
Ketiga contoh itu tampak bahwa diksi yang digunakan para penulis tajuk rencana tampil secara eksplisit, baik yang berfungsi mengisi slot unsur subjek, predikat, objek, maupun keterangan kalimat.
7. Pemakaian Ragam Takformal
Bahasa Indonesia memiliki ragam rendah (low variety). Bahasa Indonesia ragam rendah digunakan dalam percakapan sehari-hari, surat-menyurat yang bersifat pribadi, atau rubrik-rubrik tertentu dalam surat kabar, hubungan sosial yang bersifat tidak resmi (takformal atau takbaku).37 Contoh ragam takformal sebagai berikut:
a. Pembenahan sektor riil dalam paket kebijakan ini banyak menyentuh pada birokrasi yang sampai saat ini maih amburadul.
b. Duit yang dikumpulkan secara illegal oleh Rokhmin dan Andin memang disumbangkan kemana-mana: dari nelayan sampai calon presiden, seperti Amien Rais.
c. Kita, masyarakat, diberi waktu kalau tak mau dibilang „dipaksa’ melakukan penyesuaian.
Kata amburadul, duit, dibilang merupakan ragam takformal.
B. Ruang Lingkup Media Massa Cetak 1. Pengertian Surat Kabar
Surat kabar merupakan media massa tertua dibandingkan dengan jenis media massa lain. Surat kabar mengandung isi yang sangat beragam berupa editorial, berita, surat pembaca, komik, opini, teka-teki silang, iklan, dan data. Keberadaan surat kabar dimulai sejak ditemukannya mesin cetak oleh Johann Guterberg di
36
Wati Kurniawati dan Buha Oritonang, op. cit., h. 55
37
20
Jerman. Surat kabar pertama yang diterbitkan di Bremen Jerman pada tahun 1609. Kemudian pada tahun 1620 terbit surat kabar di Frankfrut, Berlin, Humberg, Vienna, Amsterdam, dan Antwerp.38
Keberadaan surat kabar terus berkembang hingga ke Indonesia yang dimulai sejak zaman Belanda. Pada tahun 1828 di Jakarta diterbitkan Javasche Courant.
Pada tahun 1835 di Surabaya terbit Soerabajasch Advertentiebland yang kemudian diganti namanya menjadi Soerabajasch Niews en Advertiebland.
Kemudian pada tahun 1885 di seluruh daerah yang dikuasai Belanda terdapat 16 surat kabar berbahasa Belanda, dan 12 surat kabar berbahasa Melayu diantaranya adalah Bintang Barat, HindiaNederland, Dinihari, Bintang Djohar (Bogor),
Selompret Melayu, dan Tjahaja Moelia, Pemberitaan Bahroe (Surabaya), dan surat kabar berbahasa Jawa Bromartini yang terbit di Solo.39
Ketika zaman Jepang, surat kabar yang ada di Indonesia diambil alih dan disatukan. Hal ini bertujuan untuk memperketat pengawasan terhadap isi surat kabar. Kantor berita Antara pun diambil alih yang kemudian diteruskan oleh kantor berita Yashima. Surat kabar pada saat itu digunakan sebagai alat propaganda pemerintah dan tentara Jepang.
Pada masa awal kemerdekaan, Indonesia pun melakukan perlawanana dengan menerbitkan surat kabar Berita Indonesia yang diprakarsai oleh Eddie Soeradie. Surat kabar ini digunakan sebagai propaganda bangsa Indonesia untuk melakukan perlawanan kepada Jepang. Akibatnya Berita Indonesia berulang kali dibredel, dan selama pembredelan para tenaga redaksinya ditampung oleh surat kabar Merdeka. Surat kabar perjuangan lainnya adalah Harian Rakyatan Rakjat, dan,
Soeara Indonesia, Soeara Merdeka, Kedaulatan Rakjat, dan Demokrasi.40
Kemudian pada zaman orde lama, persyaratan mendapat Surat Izin Terbit (SIT) diperketat. Hal ini dimanfaatkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan memengaruhi karyawan surat kabar untuk mogok kerja secara halus. Hal ini mengakibatkan banyaknya kolom surat kabar yang tidak terisi dengan berita, melainkan diisi iklan gratis sebagaimana yang dialami Soerabaja Post dan harian
Pedoman di Jakarta.
38
Mondry, Pemahaman Teori dan Praktik Jurnalistik, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2008), h. 30
39
Ibid, h. 30
40
Selanjutnya ketika zaman Orde Baru, pers tumbuh bebas tidak seperti zaman orde lama. Namun surat kabar yang nakal memberitakan kejelekan pemerintah pada saat itu, diberi ganjaran berupa pencabutan Surat Izin Terbit dan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), seperti Sinar Harapan, Detik, dan Tempo.
Pada zaman reformasi mengalirnya kebebasan pers yang ditandai dengan dengan tumbuh suburnya media massa. Ketika itu pemerintah memberikan kemudahan memperoleh SIUPP. Kemudian pada masa pasca reformasi, SIUPP dihapuskan. Akibatnya jumlah penerbitan pers di Indonesia meningkat drastis mencapai 1800-200 penerbit.41
2. Pengertian Media Massa Cetak
Surat kabar merupakan salah satu media massa cetak. Surat kabar menyajikan berbagai informasi yang harus dipenuhi oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan saat sekarang informasi sangat dibutuhkan.
Pada zaman ini informasi menjadi kebutuhan primer. Melalui sarana media massa informasi dapat diperoleh oleh masyarakat. Informasi sangat dibutuhkan untuk berbagai kepentingan sehingga masyarakat mencari melalui media cetak maupun media elektronik.
Media massa cetak merupakan media massa yang berbentuk tulisan cetak. Bentuk dari media massa berbeda-beda, diantaranya adalah surat kabar (Koran), majalah, tabloid, buletin, dan sebagainya.
Sebelum mengetahui pengertian dari surat pembaca, maka kita ketahui leih dahulu surat kabar itu sendiri apa karena surat pembaca berada di surat kabar. Surat kabar lahir pada abad 17. Surat kabar adalah terbitan berkala (biasanya harian) yang berisi berita yang dimultiplikasi secara masal.
Surat kabar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengandung arti lembaran-lembaran kertas bertuliskan berita dan sebagainya.
Asep Saeful Muhtadi lebih detail mengatakan bahwa surat kabar terbagi menjadi dua pengertian. Yakni dalam arti sederhana dan dalam arti lebih modern. Dalam arti sederhana adalah lembaran-lembaran yang dipublikasikan secara lokal, sedangkan dalam arti lebih modern adalah lembaran-lembaran kertas dengan jumlah halaman yang banyak serta dalam radiasi kelas Internasional. Lebih lanjut
41
22
ia mengatakan semua itu merupakan cikal bakal dunia persurat kabaran yakni kini terbit secara periodik.42
Menurut Onong Uchjana Effendy surat kabar adalah lembaran tercetak yang memuat laporan yang terjadi di masyarakat, dengan ciri-ciri: terbit secara periodik, bersifat umum, isinya termasa atau aktual, mengenai apa saja dan dari mana saja di seluruh dunia, yang mengandung nilai untuk diketahui khalayak pembaca.43 Jadi surat kabar adalah lembaran-lembaran kertas dengan jumlah tertentu dan terbit secara periodik.
Menurut Karl Batwizh mengemukakan lima syarat surat kabar:
a. Publisitas: artinya surat kabar diterbitkan untuk publik, untuk masyarakat umum, atau untuk siapa saja. Siapa pun boleh membelinya dan boleh membacanya. Isinya bertujuan agar diketahui masyarakat umum.
b. Periodisitas: artinya surat kabar tersebut terbit pada waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Periode terbit, jarak waktu antara dua terbitan bersifat teratur dan tetap. Misalnya, surat kabar harian sore terbit tiap sore hari, kecuali hari libur.
c. Aktualitas: artinya isinya aktual, belum pernah dimuat sebelumnya. Isi buku dapat dicetak ulang. Isi surat kabar yaitu isi bidang redaksi yakni hal-hal yang hangat (baru/aktual).
d. Universalitas: artinya isinya tidak mengenai satu persoalan saja. Misalnya, tidak hanya mengenai olahraga. Isinya mengenai semua persoalan yang menjadi perhatian manusia seperti pendidikan, politik, sosial, budaya, hukum, ekonomi, dan lain-lain.
e. Kontinuitas: artinya isinya berkesinambungan. Umpamanya surat kabar hari ini memuat berita pengadilan ketua DPR Akbar Tanjung. Hendaknya pada terbitan selanjutnya memuat pula berita persidangan Akbar Tanjung sampai vonis hakim dijatuhkan.44
3. Pengertian Surat Pembaca
Surat pembaca menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah surat yang dimuat dalam surat kabar dan sebagainya.45
42
Mondry. Op. cit. h, 29
4343 Aris Takomala, “Analisis Bahasa Jurnalistik Berita Utama Surat Kabar Republika Edisi Desember 2008,
“Skripsi pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jakarta, 2009, h. 17, tidak dipublikasikan.
44
Ibid, h. 18-19
45
Menurut Haris surat pembaca adalah opini singkat yang ditulis oleh pembaca dan dimuat dalam rubrik khusus surat pembaca. Surat pembaca biasanya berisi keluhan atau komentar pembaca tentang apa saja yang menyangkut kepentingan dirinya atau masyarakat. Panjang surat pembaca rata-rata 2-4 paragraf. Rubrik surat pembaca lebih merupakan layanan publik dari pihak redaksi terhadap masyarakat.46
Rubrik ini pembaca boleh menuliskan apa saja dan ditujukan kepada siapa saja. Syaratnya antara lain pembaca harus menyertakan fotokopi KTP atau identitas lain yang masih berlaku seperti fotokopi SIM atau kartu mahasiswa, misalnya tentang telepon umum yang tidak berfungsi, jalan berlubang, layanan kantor-kantor pemerintah, pihak perusahaan atau badan dan organisasi yang mengecewakan, atau makin banyaknya tayangan acara pada televisi yang dianggap menonjolkan sisi pornografi, kekerasan, dan sadisme.
4. Syarat dan Ketentuan Surat Pembaca a. Surat Masuk
1) Redaksi KOMPAS.com menerima surat pembaca yang berisi kritik, saran, pengaduan, serta tanggapan atas suatu masalah. Isi surat menjadi tanggungjawab pengirim.
2) Redaksi hanya akan menayangkan surat pembaca yang disertai identitas lengkap sesuai kolom yang ada.
3) Redaksi berhak untuk tidak menampilkan surat pembaca jika dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau berbau SARA.
4) Pembaca diharapkan menuliskan suratnya dalam bahasa yang santun dan mudah dipahami. Surat pembaca dikirimkan melalui form yang tersedia atau melalui email: [email protected]
b. Surat Tanggapan
1) Redaksi KOMPAS.com menerima tanggapan, sanggahan, penjelasan, atau jawaban terhadap surat yang dikirimkan pembaca.
2) Tanggapan yang ditayangkan hanya yang berasal dari instansi, perusahaan, atau pihak yang terkait dengan surat pembaca.
46
AS. Haris Sumadiria, Menulis Artikel dan Tajuk Rencana, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2005), h. 4
47
Kompas.com, Syarat dan Ketentuan. Artikel. diakses pada 21 September 2013 dari
24
3) Tanggapan harus dilengkapi identitas jelas disertai dengan bukti-bukti yang harus dilengkapi.48
5. Karakteristik Surat Pembaca
Artikel yang ditulis untuk konsumsi surat kabar memiliki tujuh karakteristik, yaitu:
a. Ditulis dengan atas nama (by line story)
Artikel adalah karya individual. Untuk kategori artikel opini, nama penulis biasanya dicantumkan di atas, di bawah judul. Sedangkan untuk artikel di luar kategori opini seperti artikel ringan dan artikel praktis, nama penulis biasanya agak disembunyikan dengan cara disimpan pada bagian akhir artikel, dan itu pun ditempatkan dalam kurung.
b. Mengandung gagasan aktual atau kontroversial
Artikel apa pun yang ditulis, hendaknya mengandung gagasan aktual, kontroversial, atau kedua-duanya. Gagasan aktual berarti gagasan yang sifatnya baru, belum banyak ditulis, diketahui, atau dibicarakan orang. Sesuatu yang berada di luar batas yang biasa atau lazim. Artikel haruslah menghindari gagasan usang, atau sesuatu yang datar-datar saja, monoton. Sesuatu yang usang, datar dan monoton, pasti tidak akan laku dijual, tidak akan dilirik dan diperhatikan pembaca. Hanya gagasan yang baru, segar, yang diasumsikan memberikan alternatif serta nilai manfaat tinggi bagi masyarakat yang akan diperhatikan, dibicarakan, dan dijadikan rujukan.
c. Menyangkut kepentingan sebagian terbesar khalayak pembaca
Artikel yang ditulis harus memberikan lebih banyak manfaat bagi kepentingan mayoritas masyarakat sesuai dengan pangsa surat kabar atau majalah yang memuat artikel tersebut.
d. Ditulis secara referensial dengan visi intelektual
Artikel bukanlah karya fiksi seperti halnya cerita pendek yang lebih banyak mengandalkan imajinasi. Artikel adalah karya nonfiksi yang bertumpu pada dunia kognisi. Suatu artikel lahir dari proses kreatif intelektual seseorang. Artikel yang ditulis secara referensial dengan visi intelektual, karena itu memiliki ciri, antara lain: logis, sistematis, analitis, akademis, dan etis.
48
e. Disajikan dalam bahasa yang sederhana, jelas, menarik, hidup, segar, popular, komunikatif.
Artikel konsumsi surat kabar dan atau majalah harus tunduk kepada bahasa jurnalistik. Ciri utama bahasa jurnalistik adalah sederhana, jelas, lugas, singkat, menarik, segar, ringan dicerna, gampang diingat, mudah dimengerti dan dipahami arti, maksud, dan arahnya (komunikatif).
f. Singkat dan tuntas
Singkat secara filosofi, berarti tidak bertele-tele, tidak mendayu-dayu dan berputar-putar, tidak mengerjai pembaca, tidak membuang-buang waktu yang sangat berharga bagi siapa pun. Singkat secara teknis, berarti disesuaikan dengan kapling atau ruangan yang tersedia, yang untuk setiap surat kabar relatif berbeda.
g. Orisinal
Orisinal menunjuk pada dua hal. Pertama, artikel yang kita tulis asli merupakan karya kita, bukan hasil menjiplak atau membajak.49
h. Sederhana
Sederhana berarti selalu mengutamakan dan memilih kata atau kalimat yang paling banyak diketahui maknanya oleh khalayak pembaca yang sangat heterogen, baik dilihat dari tingkat intelektualitasnya maupun karakteristik demografis dan psikografisnya.
i. Singkat
Singkat berarti langsung kepada pokok masalah (to the point), tidak bertele-tele, tidak berputar-putar, tidak memboroskan waktu pembaca yang sangat berharga. Ruangan atau kapling yang tersedia pada kolom-kolom halaman surat kabar, tabloid, atau majalah sangat terbatas, sementara isinya beraneka ragam.
j. Padat
Setiap kalimat dan paragraf yang ditulis memuat banyak informasi penting dan menarik untuk khalayak pembaca.
k. Lugas
49
26
Lugas berarti tegas, tidak ambigu, sekaligus menghindari eufimisme atau penghalusan kata atau kalimat yang bisa membingungkan khalayak pembaca sehingga terjadi perbedaan persepsi dan kesalahan konklusi.
l. Jelas
Jelas berarti mudah ditangkap maksudnya, tidak baur atau kabur. m. Menarik
Bahasa jurnalistik harus menarik. Menarik artinya mampu membangkitkan minat dan perhatian khalayak pembaca, memicu selera baca, serta membuat orang yang sedang tertidur, terjaga seketika. Bahasa jurnalistik berpijak pada prinsip: menarik, benar, dan baku.
Karakteristik yang dimiliki surat pembaca, memiliki kekurangan agar tercipta surat pembaca yang baik dan sesuai karakteristik. Surat kabar yang lebih banyak memuat kata atau istilah teknis, mencerminkan surat kabar itu:
1) Kurang melakukan pembinaan dan pelatihan terhadap wartawannya yang malas,
2) Tidak memiliki editor bahasa,
3) Tidak memiliki buku panduan peliputan dan penulisan berita serta laporan, atau
4) Tidak memiliki sikap profesional dalam mengelola penerbitan pers yang berkualitas.
Salah satu fungsi utama pers adalah edukasi, mendidik (to educated) fungsi ini bukan saja harus terpaku pada bahasanya. Pada bahasa tercermin pada materi isi berita, laporan, gambar, dan artikel-artikelnya melainkan juga harus tampak pada bahasanya. Pada bahasa tersimpul etika. Bahasa tidak saja mencerminkan etika orang itu. bahasa pers merujuk kepada bahasa baku. Bahasa baku artinya bahasa resmi sesuai dengan ketentuan tata bahasa serta pedoman ejaan yang disempurnakan berikut pedoman pembentukan istilah yang menyertainya.
Menurut Wayne N. Thompshon dalam Fundamentals of
Communication (1957) seperti dikutip Rakhmat50 bahwa untuk mendapatkan topik yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan khalayak
50
ramai maka, sumber ide yang kemudian diangkat menjadi sumber topik dapat dilacak dari, antara lain:
a. Pengalaman pribadi b. Hobi atau keterampilan
c. Pengalaman pekerjaan atau profesi, pelajaran sekolah, kuliah, penataran atau pelatihan
d. Pendapat dan hasil pengamatan pribadi
e. Peristiwa aktual, yakni peristiwa yang sedang atau baru terjadi dan menjadi sorotan serta pembicaraan publik
f. Peristiwa yang akan terjadi
g. Masalah abadi seperti agama, pendidikan, kemanusiaan
h. Masalah masyarakat yang belum selesai seperti kolusi, korupsi, nepotisme (KKN)
i. Kejadian khusus seperti peringatan atau perayaan hari-hari bersejarah j. Minat khalayak seperti kesehatan, penampilan, mode, pengembangan
diri.51
C. Hasil Penelitian yang Relevan
Penelitian yang mengambil objek diksi pada surat kabar, bukanlah yang pertama dilakukan. Penelitian semacam ini pernah dilakukan oleh beberapa ahli bahasa.
Chusnul Tri Handayani Maulita melakukan penelitian pada tahun 2013 yang berjudul Diksi Surat Pembaca dalam Surat Kabar Harian Jawa Pos. Hasil dari penelitian surat pembaca Jawa Pos edisi Mei 2011 ditemukan 6 jenis diksi, yaitu: diksi berupa makna konotasi, diksi berupa perubahan makna, diksi nonbaku, diksi berupa kata ilmiah, diksi berupa akronim, dan diksi berupa kata-kata/istilah asing. Dari 6 jenis diksi tersebut diperoleh 97 data dalam Surat Pembaca Jawa Pos edisi Mei 2011, di antaranya: 9 data diksi berupa makna konotasi, 2 data berupa diksi perubahan makna (metonimia), 12 data diksi berupa nonbaku, 27 data diksi berupa kata ilmiah, 14 data diksi berupa akronim, dan 33 data diksi berupa kata-kata/istilah asing (bahasa Inggris). Diksi berupa kata-kata/istilah asing yang digunakan dalam surat pembaca Jawa Pos adalah diksi berupa unsur bahasa Inggris. Diksi dari bahasa
51
28
Inggris ini merupakan diksi yang paling banyak dan terdapat hampir di setiap surat pembaca edisi Mei 2011.52
Penelitian Chusnul dengan peneliti sama menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian Chusnul menggunakan objek yang sama dengan peneliti, yaitu diksi pada surat kabar. Perbedaannya penelitian yang dilakukan Chusnul mengkaji tentang diksi pada Harian Jawa Pos, sedangkan penulis mengkaji tentang penggunaan diksi pada surat pembaca Harian Kompas. Chusnul meneliti Harian Jawa Pos edisi Mei 2011 sedangkan peneliti menggunakan Harian Kompas
edisi Juli 2013 sebagai objek penelitian.
Dwi Laksmi Karengga Ruci, pada tahun 2013 melakukan penelitian dengan
judul “Diksi dalam Judul-judul Berita Harian Lampu Hijau”. Walaupun menggunakan
objek yang sama dengan peneliti yaitu diksi dalam surat kabar. Penelitian yang dilakukan oleh Dwi menunjukkan bahwa dalam berita utama Lampu Hijau ditemukan persentase tindakan kriminal kejahatan terhadap jiwa seseorang paling dominan, lalu terjadi banyak proses morfologis khususnya prefiks –di yang memunculkan banyak fungsi (kehematan judul, mendampingi ungkapan khusus, menambah rasa ingin tahu pembaca), yang terakhir adalah berdasarkan aspek sintaksis judul-judul berita kriminal pada harian Lampu Hijau tidak memenuhi syarat ketentuan judul yang baik terlihat dari (cakupan judul yang terlalu luas, klausa judul yang masih terlalu panjang, maksud dari judul yang masih berbelit-belit serta menimbulkan makna yang kabur).53
Perbedaan penelitian Dwi Laksmi dengan peneliti yaitu, Dwi harian menggunakan surat kabar Lampu Hijau untuk menganalisis diksi judul-judul berita tindakan kriminal, sedangkan peneliti menggunakan surat kabar Kompas untuk menganalisis penggunaan diksi surat pembaca yang memiliki ketepatan diksi.
Penelitian Sofiana Cahaya Kamila (2009) berjudul “Karakteristik Diksi dan Gaya Bahasa Puisi Anak Surat Kabar Kompas (sebuah kajian psikologis-semantik)”.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang karakteristik diksi dan gaya bahasa bahasa untuk memperoleh diskripsi tentang karakteristik diksi dan gaya
52
Chusnul Tri Handayani Maulita, DIksi Surat Pembaca dalam Surat Kabar Harian Jawa Pos, artikel diakses pada 2 September 2013 dari
(file:SKRIPSI/SKRIPSI%20FIX/UBT%20Repository%20%20DIKSI%20SURAT%20PEMBACA%DALAM% 20SURAT%20KABAR%20HARIAN%20JAWA%20P20SURAT%20PEMBACA%20DALAM%20KABAR% HARIAN%20JAWA%20POS.htm).
53
Dwi Laksmi Karengga Ruci, Diksi dalam Judul-judul Berita Harian Lampu Hijau, artikel diakses pada tanggal 2 September 2013, dari
bahasa untuk mengungkapkan potensi psikologis puisi anak dan semantik dalam surat kabar Kompas edisi bulan April 2008. Perbedaanya dengan peneliti, bertujuan memperoleh penggunaan diksi pada harian Kompas melalui analisis isi.54
Perbedaan penelitian Sofiana dengan peneliti yaitu, Sofiana melakukan kajian psikologis-semantik terhadap diksi surat kabar Kompas, sedangkan peneliti menganalisis diksi surat pembaca dalam surat kabar Kompas. Sofiana menggunakan surat kabar Kompas edisi bulan April 2008, sedangkan peneliti menggunakan surat kabar Kompas edisi bulan Juli 2013.
Penelitian-penelitian tersebut bertujuan menganalisis surat kabar baik, rubrik maupun judul dari segi bahasa, isinya maupun psikologis. Penelitian ini dimaksudkan untuk melengkapi penelitian-penelitian sebelumnya, tentu dengan menggunakan teknik penelitian yang berbeda.
54
Sofiana Cahya Kamila, Karakteristik diksi dan Gaya Bahasa Puisis Anak Surat Kabar Kompas (sebuah kajian psikologisemantik) artikel diakses pada 2 September 2013 dari
(file:///SKRIPSI/SKRIPSI%20FIX/KARAKTERISTIK%20diksi%20dan%20gaya%20bahasa%20%puisi%20an
30
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Model dan Langkah-langkah Penelitian
Metode penelitian merupakan alat, prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian (dalam mengumpulkan data). Berdasarkan tujuan yang diharapkan dari penelitian ini, maka diterapkan metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang tidak menggunakan angka dalam mengumpulkan data dan dalam memberikan penafsiran terhadap hasilnya.1
1. Pendekatan
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, yaitu secara teoretis dan secara metodologis. Secara teoretis yang digunakan adalah pendekatan analisis diksi, yaitu pendekatan yang mengkaji diksi baik secara internal maupun eksternal. Selain secara teoretis, digunakan pendekatan isi (content analysis), alasan pemilihan pendekatan ini adalah karena penelitian ini berkaitan dengan data yang tidak berupa angka-angka, melainkan penggunaan bahasa dalam bentuk pemilihan kata.
2. Sasaran
Sasaran atau objek penelitian ini berupa sebuah kata atau frasa yang diambil dari kiriman surat pembaca dalam harian Kompas bulan Juli 2013. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini berupa deskripsi mengenai pemilihan diksi yang sesuai, pemilihan diksi yang tepat, dan pemilihan gaya bahasa.
3. Data dan Sumber Data
1
Data dalam penelitian ini adalah surat-surat pembaca harian
Kompas edisi bulan Juli 2013. Data dalam penelitian ini berupa diksi yang digunakan para pembaca dalam mengutarakan kritik, saran, dan komentar pada surat pembaca dalam harian Kompas.
Sumber data dalam penelitian ini adalah surat pembaca harian
Kompas yang dikirim ke redaksi Kompas. Cara pengambilan sumber data berdasarkan karakteristik tertentu yang dimiliki sumber data. Penentuan besar dan banyaknya sumber data bergantung kepada peneliti dengan berdasarkan pada acuan teori yang digunakan. Peneliti menggunakan sumber data utama yang digunakan dalam penelitian ini ialah surat kabar harian Kompas bulan Juli 2013 yang memuat surat pembaca.
4. Metode dan Teknik Pengumpulan Data
a. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif pada bagian analisis isi (content analysis). Analisis isi (content analysis) adalah penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis atau tercetak dalam medi