• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHASA INDONESIA DARIYA, IMA, LINA, MAYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BAHASA INDONESIA DARIYA, IMA, LINA, MAYA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

DARIYA NAWAR .S (01) KHARISMA AYU (10) LINA DEWI JULIANA (11) MUTIARA MAYA .S (31)

TUGAS 1 HALAMAN 60-63 1.

a. Informasi dalam orientasi tahap 1:

Di Hollywood terdapat sebuah tradisi dimana mereka mengembangkan tradisi film musikal sejak tahun 1930 - 1960 an. berpaku pada hal oposisi biner, dan hal ini ada dalam film Rumah Tanpa Jendela.

b. Informasi dalam orientasi tahap 2:

Dalam film tersebut, terdapat tokoh Aldo yang terinspirasi dari model biner dalam dongen yang berjudul " The prince and The pauper " Karya Mark Twain. Disini Aldo mewakili tokoh yang kaya namun memiliki kekurangan dan si Rara adalah tokoh yang miskin dan memiliki impian yang kemudian hari harus ia bayar mahal.

c. Informasi dalam tafsiran isi tahapan 1 :

Sesuai dengan tradisi opposite attracks , dalam cerita tersebut terdapat Aldo dan Rara yang memiliki status sosial ekonomi yang jauh berbeda. Dimulai karena suatu kecelakaan kecil dan kemudian mereka menjadi bersahabat. Namun karena kehadiran Rara membuat keluarga dari pihak Aldo terganggu sedangkan dari pihak teman - teman Rara justru membuat mereka semakin terobsesi untuk memiliki rumah berjendela karena melihat rumah Aldo yang memiliki jendela.

d. Informasi dalam tafsiran isi tahap 2 :

Kesulitan dalam sebuah film musikal adalah penyampaiannya pada penonton, tertama film musikal anak-anak. Namun dalam film ini tampak jelas dari dua pihak narasi yaitu Aldo dan Rara yang di wakilkan dengan gambaran yang jelas bahwa Aldo adalah tokoh yang kaya dan Rara adalah tokoh yang miskin dengan apa yang mereka miliki dan kenakan.Dan dalam film ini pun tersampaikan dengan jelas pesan moralnya yaitu saling menghargai meski kita berbeda status sosial ekonomi atau fisik.

e. Informasi dalam tafsiran isi tahap 3 :

Pada film Rumah Tanpa Jendela ini terdapat pesan moral yang disampaikan adalah bersyukur, Seperti yang tampak pada tokoh Rara yang menginginkan rumah yang berjendela atau kemewahan dan kemudian Aldo memberikan akses untuk semua itu, namun di sisi lain Rara di anggap tidak bersyukur atas takdirnya sehingga ia harus membayar mahal dengan orang tuanya yang meninggal , neneknya masuk rumah sakit dan rumahnya yang kebakaran.

d. Informasi dalam tafsiran isi tahap 4 :

Namun disisi lain dari film ini si kaya pun mendapatkan sebuah pelajaran yang berharga juga bahwa mereka ( keluarga Aldo ) patutnya bersyukur karena mereka masih memiliki keluarga yang utuh dan harta yang berlimpah. Oleh karena itu mereka membalas budi dengan memberikan tempat tinggal bagi Rara dan mboknya di vila mereka yang jauh dari Jakarta dan membayar semua biaya rumah sakit , jadi mereka dapat membalas budi serta tidak terganggu kenyaman mereka dirumah.

e. Informasi dalam tafsiran isi tahap 5 :

(2)

f. Informasi dalam tafsiran isi tahap 6 :

Jendela dalam film ini merupakan metafora yang mengena dimana jendela merupakan sebuah alat untuk mengakses baik dari luar atau dalam dan juga melihat. Jadi intinya baik miskin atau kaya diminta untuk sama-sama bersyukur atas apa yang telah mereka miliki.

g. Informasi dalam tafsiran isi tahap 7 :

Dalam kondisi yang di sajikan oleh film Rumah Tanpa Jendela ini lebih di tujukan pada anak-anak kelas menengah keatas yang memungkinkan mereka mengakses bioskop, jadi oleh karena itu diharapkan kelak mereka akan menjadi pribadi yang baik saat dewasa dan bila mereka kaya mereka akan semakin meperkaya diri tanpa perlu mempertanyakan mengapa ada kemiskinan dan yang miskin tidak terlalu kentara.

h. Informasi dalam tafsiran evaluasi tahap 1 :

Dalam film ini disayangkan hanya banyak penekanan adegan dramatis saja dibanding dengan lagu-lagu atau tarian yang merupakan karakteristik dari film musikal.

i. Informasi dalam tafsiran evaluasi tahap 2 :

Bila di perhatikan lebih , maka penggambaran dalam film ini tidak berlebihan.

j. Informasi dalam tafsiran rangkuman:

Dari paparan mengenai film tersebut , dapat disimpulkan bahwa film Rumah Tanpa Jendela itu menginginkan kita untuk belajar bersyukur dan bagaimana kita merespon keadaan sosial ekonomi yang ada di Indonesia ini.

2.

1. Pujian :

Jendela dalam film ' Rumah Tanpa Jendela ' merupakan sebuah metafora yang mengena.

1. Kritikan :

Sayang , sebagai sebuah film musikal tidak banyak yang di sumbangkan oleh lagu-lagu yang dinyanyikan dan di tarikan dalam film ini , kecuali penekanan dramatis belaka.

2. Pujian :

Penggambaran dalam film tersebut tidak berlebihan.

2. Kritikan :

Dalam hal ini , film musikal mengamini konsep " film yang menghimbur " sebagai utopia itu sendiri . Namun , pertanyaanya adalah utopia menurut siapa?

3. Pujian :

Film ini mengambarkan dengan jelas bagaimana kondisi mayarakat Indonesia yang

terfragmentasi dalam kelas-kelas sosial - ekonomi atau gaya hidup yang di bayangkan oleh kelas menengah keatas

3. Kritikan :

(3)

TUGAS 2 HALAMAN 64-76

Mengidentifikasi Kaidah Kebahasaan Teks "Dongeng Utopia

Masyarakat Borjuis"

1. Kosa Kata

No. Kosakata Arti Kosakata

1. Adaptasi Penyesuaian terhadap lingkungan

2. Akses Jalan masuk

3. Bioskop Tempat untuk menonton pertunjukan film dengan menggunakan layar lebar.

4. Borjuis Kelas masyarakat dari golongan menengah ke atas

5. Destruktif Bersifat merusak

6. Eksploitasi Pemanfaatan untuk keuntungan sendiri

7. Fragmentasi Pencuplikan (cerita dsb)

8. Gender Suatu konsep kultural yang merujuk pada karakteristik yang membedakan

antara wanita dan pria baik secara biologis, perilaku, mentalitas, dan sosial

budaya.

9. Harmonis Bersangkut paut dengan (mengenai) harmoni; kondisi seiya sekata diantara

anggota keluarga

10. Inspirasi Ilham

11. Klasik Mempunyai nilai atau mutu yang diakui dan menjadi tolok ukur

kesempurnaan yang abadi; tertinggi

12. Kolektif Secara bersama; secara gabungan

(4)

suatu rangsangan (karena keracunan, sakit parah, dsb)

14. Kompensasi Ganti rugi

15. Kutub Ujung poros atau sumbu bumi

16. Logika Jalan pikiran yang masuk akal

17. Metafora Pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya,

melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan

18. Model Pola (contoh, acuan, ragam, dsb) dari sesuatu yang akan dibuat atau

dihasilkan

19. Obsesi Gangguan jiwa berupa pikiran yang selalu menggoda seseorang dan sangat

sukar dihilangkan

20. Oposisi biner Berpaku pada hal-hal yang berlawanan

21. Paradoks Pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran

22. Protektif Sifat orang untuk menjaga dan melindungi sesuatu yang disayanginya secara berlebihan

23. Ras Golongan bangsa berdasarkan ciri-ciri fisik; rumpun bangsa:

24. Realita sosial Suatu peristiwa yang memang benar terjadi di tengah - tengah masyarakat.

25. Sindrom Himpunan gejala atau tanda yang terjadi serentak (muncul bersama-sama)

dan menandai ketidaknormalan tertentu; hal-hal (seperti emosi atau

tindakan) yang biasanya secara bersama-sama membentuk pola yang dapat

diidentifikasi

26. Sekolah singgah Tempat belajar yang hanya menumpang

(5)

28. Tradisi Adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan di masyarakat; Sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi

bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu

negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama

29. Utopia Sistem sosial politik yang sempurna yang hanya ada di bayangan (khayalan)

dan sulit atau tidak mungkin diwujudkan di kenyataan

30. Villa Rumah mungil di luar kota atau di pegunungan; rumah peristirahatan

(digunakan hanya pada waktu liburan)

2.

Kata Asing

No. Kata Asing Arti

1. Leisure activity Aktivitas yang menyenangkan,dilakukan pada waktu senggang

2. Opposite attracks Tertarik pada suatu hal yang berlawanan

3. Privilege Hak istimewa yang tidak bisa didapat oleh setiap orang.

4. Self-reference Referensi untuk pribadi

5. Scene Adegan

5. Taken-for-granted Tidak menganggap atau tidak menghargai nilai dari suatu hal karena

sudah sangat biasa terjadi.

3. Verba/Kata Kerja

No. Kata Dasar Verba Nomina

1. Ulas Mengulas Ulasan

2. Nilai Menilai Penilaian

(6)

4. Kritik Mengkritik Kritikan

5. Ukur Mengukur Ukuran

6. Komentar Mengomentari Pengomentar

7. Tafsir Menafsirkan Tafsiran

8. Kupas Mengupas Kupasan

3. Antonim (lawan kata)

Kata

Antonim

Keterbatasan

Kelebihan

Ketidakadilan

Keadilan

Pertemanan

Permusuhan

Ketakutan

Keberanian

Penolakan

Penerimaan

Pertemuan

Perpisahan

Kemewahan

Kesederhanaan

Perusak

Perbaikan

Ketenangan

Kegaduhan

Pemenuhan

Pengosongan

Perbedaan

Persamaan

Si- kaya

Si-Miskin

Penyederhanaan

Penjabaran

Kenyamanan

Kegelisahan

5. Verba Aktif dan Pasif

No. Kata Dasar Verba Aktif Verba Pasif

1. Kembang mengembang, mengembangkan Dikembangkan

2. Acu Mengacu Diacu

3. Paku Memaku Dipaku

4. Lawan Melawan Dilawan

5. Utama Mengutamakan Diutamakan, Terutama

6. Kaitan Mengaitkan Dikaitkan, Terkait

(7)

8. Inspirasi Menginspirasikan Diinspirasikan, Terinspirasi

9. Alami Mengalamikan Dialamikan

10. Jendela Menjendelakan Dijendelakan

11. Belajar Mengajar Diajar

12. Mukim Memukimkan Dimukimkan

13. Obsesi Mengobsesikan Diobsesikan, Terobsesi

14. Gambar Menggambarkan Digambarkan, Tergambar

15. Rusak Merusak Dirusak

16. Tenang Menenangkan Ditenangkan

17. Mewah Memewahkan Dimewahkan

6. Nomina

No. Nomina Umum Nomina Khusus

1. film Sanggar

2. rumah Hollywood

3. impian Aldo

4. keluarga Rara

5. majalah si Mbok

6. buku Komunitas

7. jendela Mobil

8. negara Krayon

9. polisi Kolam renang

10. vila Kamera

11. jakarta Bioskop

7. nomina turunan

Nomina Turunan

(8)

Penanda Penghidupan Impian Permukiman Kecenderungan

Perusak Penggambaran Rangkaia n

Pertemuan Kebutuhan

Pembuat Pemenuhan Kalangan Persahabatan Ketenangan

Pembantu Penyederhanaa n

Hiburan Permasalaha n

Kemewahan

Penonton Pemaknaan Paparan Perbedaan Ketakutan

- Penawaran Khayalan - Kemiskinan

8. Pronomina

Beberapa contoh pronomina dalam “Dongeng Utopia Masyarakat Borjuis” antara lain sebagai berikut.

1. Sebuah impian yang harus ia bayar mahal di kemudian hari.

2. Namun, permasalahan dari film musikal anak-anak adalah bahwa ia menawarkan resolusi yang dibayangkan oleh pembuat film agar bisa dipahami oleh anak-anak.

3. Oleh sebab itu, perbedaan si miskin dan si kaya dalam film ini adalah ia yang berpunya dan ia yang tak-berpunya.

4. Namun, keinginan Rara itu dimaknai sebagai keinginan yang berlebihan ketika ia“dihukum” dengan kompensasi yang harus ia bayar.

5. Sang pangeran adalah tokoh Aldo, seorang anak laki-laki dari keluarga kaya-raya dengan sindrom mental, yang membuatnya mengalami “penolakan” dari komunitasnya(anggota keluarga).

6. Aldo mewakili ide paradoks keluarga borjuis yang pemenuhan kebutuhan fisiknya berlebihan, tetapi jiwanya kering dan mengakibatkan dilema personal. 7. Rumah itu ditempati Rara bersama nenek (Si Mbok) dan ayahnya.

8. Rara mewakili narasi kemiskinan dalam segala keterbatasan materialnya: rumah tanpa jendela, sekolah seadanya, dan kerja sampingan.

9. Rara menginginkan hal yang tak mungkin menjadi miliknya, yaitu kemewahan berupa rumah berjendela.

10. Logika pemaknaan tersebut bekerja ketika Rara yang larut dalam kesenangan borjuis (pesta ulang tahun kakak Aldo) pulang untuk menemukan rumahnya habis terbakar, Si Mbok tergeletak koma dan ayahnya meninggal dunia.

11. Keinginan Rara untuk memiliki sesuatu, alih-alih dimaknai sebagai hasrat kepemilikan yang lumrah dimiliki semua orang, justru dianggap sebagai sesuatu yang menyalahi/mengingkari takdirnya sebagai orang yang tidak berpunya.

12. Oleh karena itu, untuk “membayar” pelajaran yang mereka dapat ini, keluarga Aldo menolong Rara dan Si Mboknya dengan membayarkan biaya rumah sakit serta memberikan penghidupan di villa milik mereka di luar Jakarta.

(9)

14. Jendela memungkinkan seseorang untuk mengakses dunia lain (dari dalam atau dari luar) tanpa meninggalkan tempatnya.

15. Dengan si miskin berlapang dada menerima kondisinya dan si kaya belajar bersyukur dari kemalangan si miskin, masyarakat borjuis yang sempurna dan harmonis akan tercipta.

16. Sebuah dongeng untuk membuai mereka dalam mimpi-mimpi borjuis, agar mereka nanti terbangun sebagai manusia-manusia borjuis dewasa yang diharapkan bisa meneruskan tatanan masyarakat, yang kemiskinan dan kekayaan ternaturalisasi sebagai takdir dan karenanya tidak perlu dipertanyakan.

17. Satu-satunya yang terwakili oleh scene-scene musikal dan gerak kamera serta editing yang kadang hiperaktif adalah energi dan semangat kanak-kanak.

9. Adjektiva

No. Adjektiva Frasa Adjektiva

1. kumuh permukiman kumuh

2. kering jiwanya kering

3. dramatis penekanan dramatis

4. cilik gadis cilik

5. dramatis penekanan dramatis

6. utuh keluarga yang utuh

7. berlebihan fisiknya berlebihan

8. baik keadaanya baik

9. dilemana mengakibatkan dilema personal

6. Konjungsi

No. Konjungsi Kalimat

1. Koordinatif:

• dan

• atau • tetapi

Aldo mewakili ide paradoks keluarga borjuis yang pemenuhan

kebutuhan fisiknya berlebihan, tetapi jiwanya

kering danmengakibatkan dilema personal.

Rara tinggal di sebuah rumah tidak berjendela yang terbuat

dari seng, tripleks, dan kayu bekas di salah satu kawasan

permukiman kumuh.

Rumah itu ditempati Rara bersama nenek (Si

Mbok) dan ayahnya.

Mengikuti tradisi opposite attracks, Aldo dan Rara bertemu

(10)

Hal itu tergambar pada kondisi keluarga Aldo dan

teman-teman Rara, antara si miskin dan si kaya.

Persahabatan Aldo dan Rara tidak berjalan mulus.

Ibu dan kakak perempuan Aldo menganggap teman-teman

baru Aldo sebagai perusak ketenangan di rumah mereka.

Penyederhanaan posisi berlawanan si miskin dan si kaya

terwakili oleh narasi sosialekonomi Aldo dan Rara.

Aldo, si kaya, memiliki berbagai privilege (mobil mewah,

rumah mewah, supir, pembantu, dan sekolah khusus).

Rara mewakili narasi kemiskinan dalam segala keterbatasan

materialnya:

rumah

tanpa

jendela,

sekolah

seadanya, dan kerja sampingan.

Oleh sebab itu, perbedaan si miskin dan si kaya dalam film ini

adalah ia yang berpunya dan ia yang tak-berpunya.

Aldo memungkinkan Rara mengakses ini dan bahkan yang

lebih lagi: kolam renang, mobil, buku, dan krayon.

Logika pemaknaan tersebut bekerja ketika Rara yang larut

dalam kesenangan borjuis (pesta ulang tahun kakak Aldo)

pulang untuk menemukan rumahnya habis terbakar, Si Mbok

tergeletak komadan ayahnya meninggal dunia.

Lebih jauh lagi, kemalangan Rara tersebut digunakan sebagai

pelajaran yang bisa dipetik bagi keluarga Aldo, bahwa mereka

harus bersyukur atas semua yang mereka punyai

(harta dankeluarga yang utuh), sementara ada orang-orang

yang tidak berpunya seperti Rara.

Oleh karena itu, untuk “membayar” pelajaran yang mereka

dapat ini, keluarga Aldo menolong Rara dan Si Mboknya

dengan membayarkan biaya rumah sakit serta memberikan

penghidupan di villa milik mereka di luar Jakarta.

Hal ini paling tampak dalam posisi biner permasalahan

Aldo danRara.

Dengan si miskin berlapang dada menerima

kondisinya dan si kaya belajar bersyukur dari kemalangan si

miskin, masyarakat borjuis yang sempurna dan harmonis akan

tercipta.

Sebuah dongeng untuk membuai mereka dalam mimpi-mimpi

borjuis, agar mereka nanti terbangun sebagai

manusia-manusia borjuis dewasa yang diharapkan bisa meneruskan

tatanan masyarakat, yang kemiskinan dan kekayaan

ternaturalisasi sebagai takdir dan karenanya tidak perlu

dipertanyakan.

Karena hanya dalam kondisi itulah, si kaya termungkinkan

ada danbisa melanjutkan upaya memperkaya diri mereka;

dengan membiarkan kemiskinan ada dan ‘tidak tampak’ di

depan mata.

Sayang, sebagai sebuah film musikal, tidak banyak yang

disumbangkan oleh lagu-lagu yang dinyanyikan dan ditarikan

dalam film ini, kecuali penekanan dramatis belaka.

(11)

musikal dan gerak kamera serta editing yang kadang

hiperaktif adalah energi dansemangat kanak-kanak.

Penekanan pada kolektivitas ini merupakan salah satu

“karateristik” film musikal klasik Hollywood yang ingin menjual

ideide soal komunitas dan stabilitas sosial, baik relasi

interkomunitas (konflik keluarga Aldo) maupun antarkomunitas

(konflik antara keluarga Aldo dan komunitas Rara).

Film tersebut menggambarkan keluarga

baik-baik dan protektif untuk meyakinkan bahwa pergaulan Rara

terbebas dari eksploitasi maupun perilaku destruktif yang

merupakan bagian dari kehidupan masyarakat miskin di

belahan dunia manapun.

Tradisi film musikal yang dikembangkan di Hollywood

mengacu pada kecenderungan film-film musikal klasik tahun

1930-1960-an, berpaku pada hal-hal yang berlawanan (oposisi

biner), terutama berkaitan dengan gender, ras, agama, latar

belakang, atautemperamen.

Dengan begitu, mereka melakukan kewajiban membalas budi

tanpa perlu mengorbankan kenyamanan dengan berbagi

kepemilikan ataupun terlibat secara dekat.

Dalam model utopia (khayalan) yang terdapat di dalam film

tersebut,

anak-anak

menjadi

“penanda”

dari

kelahiran atau takdir manusia.

Jendela dalam film “Rumah Tanpa Jendela” merupakan sebuah

metafora yang mengena. Jendela memungkinkan seseorang

untuk mengakses dunia lain (dari dalam atau dari luar) tanpa

meninggalkan tempatnya.

Jendela adalah rasa syukur atau konsep penerimaan atas

suatu kondisi.

Film ini menawarkan model utopia dalam merespons kondisi

masyarakat Indonesia yang terfragmentasi dalam kelas-kelas

sosial-ekonomi, yaitu utopia atau kondisi hidup ideal yang

dibayangkan oleh kelas menengah atas.

Aldo mewakili ide paradoks keluarga borjuis yang pemenuhan

kebutuhan fisiknya berlebihan, tetapi jiwanya kering dan

mengakibatkan dilema personal.

2. Subordinatif: • sesudah • sebelum • sementara • jika • agar • supaya • meskipun • alih-alih

Lebih jauh lagi, kemalangan Rara tersebut

digunakan sebagaipelajaran yang bisa dipetik bagi keluarga

Aldo, bahwa mereka harus bersyukur atas semua yang mereka

punyai (harta dan keluarga yang utuh), sementara ada

orang-orang yang tidak berpunya seperti Rara.

Jendela memungkinkan orang melihat, bukan

terlibat jikadibandingkan dengan pintu yang menyediakan

akses untuk masuk/ keluar.

Namun, permasalahan dari film musikal anakanak adalah

bahwa ia menawarkan resolusi yang dibayangkan oleh

pembuat film agarbisa dipahami oleh anak-anak.

Sebuah dongeng untuk membuai mereka dalam mimpi-mimpi

(12)

manusia-• sebagai • sebab

• karena

• maka

manusia borjuis dewasa yang diharapkan bisa meneruskan

tatanan masyarakat, yang kemiskinan dan kekayaan

ternaturalisasi sebagai takdir dan karenanya tidak perlu

dipertanyakan.

Sementara itu, si miskin diwakili oleh tokoh Rara, gadis cilik

yang sesekali bekerja sebagai ojek payung di sanggar lukis

tempat Aldo belajar.

Ibu dan kakak perempuan Aldo menganggap teman-teman

baru Aldo sebagai perusak ketenangan di rumah mereka.

Namun, keinginan Rara itu dimaknai sebagai keinginan yang

berlebihan ketika ia “dihukum” dengan kompensasi yang harus

ia bayar.

Keinginan Rara untuk memiliki sesuatu, alih-alih

dimaknai sebagaihasrat kepemilikan yang lumrah dimiliki

semua orang, justru dianggap sebagai sesuatu yang

menyalahi/mengingkari takdirnyasebagai orang yang tidak

berpunya.

Permasalahan

yang

dimiliki

anak-anak

ini

diperlihatkan sebagaisesuatu yang alami dengan lebih

menekankan cara menghadapi permasalahan alih-alih

mempertanyakan penyebabnya.

Dongeng semacam inilah yang ditawarkan “Rumah Tanpa

Jendela” pada penonton yang mereka sasar, tidak lain tentu

anak-anak kelas menengah atas yang mampu mengakses

bioskop sebagaibagian dari leisure activity.

Sebuah dongeng untuk membuai mereka dalam mimpi-mimpi

borjuis, agar mereka nanti terbangun sebagai

manusia-manusia borjuis dewasa yang diharapkan bisa meneruskan

tatanan masyarakat, yang kemiskinan dan kekayaan

ternaturalisasi sebagai takdir dan karenanya tidak perlu

dipertanyakan.

Sayang, sebagai sebuah film musikal, tidak banyak yang

disumbangkan oleh lagu-lagu yang dinyanyikan dan ditarikan

dalam film ini, kecuali penekanan dramatis belaka.

Dalam hal ini, film musikal mengamini konsep “film yang

menghibur” sebagai utopia

itu

sendiri.

Namun,

pertanyaannya adalah utopia menurut siapa?

Karena hanya dalam kondisi itulah, si kaya termungkinkan

ada dan bisa melanjutkan upaya memperkaya diri mereka;

dengan membiarkan kemiskinan ada dan ‘tidak tampak’ di

depan mata.

3. Korelatif:

• Baik …

maupun …, •tidakhanya…,

tetapi….

Layaknya dongeng anak-anak dalam majalah Bobo, film

“Rumah Tanpa Jendela” menyampaikan ajaran moral pada

anak-anak untuk menghadapi realita sosial dalam masyarakat

yang terfragmentasi dalam perbedaan, baik secara struktur

sosial-ekonomimaupun kondisi fisik/mental.

Penekanan pada kolektivitas ini merupakan salah satu

(13)

• demikian… sehingga …

• entah…entah

• jangankan…

pun …

interkomunitas

(konflik

keluarga

Aldo) maupun antarkomunitas (konflik antara keluarga Aldo

dan komunitas Rara).

4. Antarkalimat: • sungguhpun demikian • sekalipun demikian • meskipun demikian • selanjutnya

• sesudah itu • setelah itu

• di samping itu

• sebaliknya

• akan tetapi

Dengan begitu, mereka melakukan kewajiban membalas

budi tanpa perlu mengorbankan kenyamanan dengan berbagi

kepemilikan ataupun terlibat secara dekat.

Sementara itu, si miskin diwakili oleh tokoh Rara, gadis cilik

yang sesekali bekerja sebagai ojek payung di sanggar lukis

tempat Aldo belajar.

Sementara itu, kemewahan rumah Aldo dengan banyak

jendela menularkan obsesi untuk memiliki rumah berjendela di

kalangan teman-teman Rara.

Sementara itu, Rara mewakili narasi kemiskinan dalam

segala keterbatasan materialnya: rumah tanpa jendela,

sekolah seadanya, dan kerja sampingan.

Oleh sebab itu, perbedaan si miskin dan si kaya dalam film

ini adalah ia yang berpunya dan ia yang tak-berpunya.

Oleh karena itu, untuk “membayar” pelajaran yang mereka

dapat ini, keluarga Aldo menolong Rara dan Si Mboknya

dengan membayarkan biaya rumah sakit serta memberikan

penghidupan di villa milik mereka di luar Jakarta.

7. Kata Depan

Berikut merupakan contoh kata depan atau preposisi.

Beberapa preposisi yang terdapat di dalam bahasa Indonesia, seperti di, ke, pada, dari, secara, dan bagi.

1. Aldo mewakili ide paradoks keluarga borjuis yang pemenuhan kebutuhan fisiknya berlebihan, tetapi jiwanya kering dan mengakibatkan dilema personal. Sementara itu, si miskin diwakili oleh tokoh Rara, gadis cilik yang sesekali bekerja sebagai ojek payung di sanggar lukis tempat Aldo belajar.

2. Rara tinggal di sebuah rumah tidak berjendela yang terbuat dari seng, tripleks, dan kayu bekas di salah satu kawasan permukiman kumuh.

3. Ibu dan kakak perempuan Aldo menganggap teman-teman baru Aldo sebagai perusak ketenangan di rumah mereka.

4. Sementara itu, kemewahan rumah Aldo dengan banyak jendela menularkan obsesi untuk memiliki rumah berjendela di kalangan teman-teman Rara.

5. Oleh karena itu, untuk “membayar” pelajaran yang mereka dapat ini, keluarga Aldo menolong Rara dan Si Mboknya dengan membayarkan biaya rumah sakit serta memberikan penghidupan di villa milik mereka di luar Jakarta. 6. Dalam model utopia (khayalan) yang terdapat di dalam film tersebut,

(14)

7. Karena hanya dalam kondisi itulah, si kaya termungkinkan ada dan bisa melanjutkan upaya memperkaya diri mereka; dengan membiarkan kemiskinan ada dan ‘tidak tampak’ di depan mata.

8. Film tersebut menggambarkan keluarga baik-baik dan protektif untuk meyakinkan bahwa pergaulan Rara terbebas dari eksploitasi maupun perilaku destruktif yang merupakan bagian dari kehidupan masyarakat miskin di belahan dunia manapun.

9. Film tersebut diadaptasi dari cerpen “Jendela Rara” karya Asma Nadia. 10. Kisah dalam film tersebut terinspirasi dari model biner dalam dongeng

moral berjudul The Prince and The Pauper karya Mark Twain.

11. Sang pangeran adalah tokoh Aldo, seorang anak laki-laki dari keluarga kaya-rayadengan sindrom mental, yang membuatnya mengalami “penolakan” dari

komunitasnya (anggota keluarga).

12. Namun, permasalahan dari film musikal anakanak adalah bahwa ia menawarkan resolusi yang dibayangkan oleh pembuat film agar bisa dipahami oleh anak-anak.

13. Dalam model utopia (khayalan) yang terdapat di dalam film tersebut, anak-anak menjadi “penanda” dari kelahiran atau takdir manusia.

14. Kekurangan pada diri Aldo yang mewakili aspek natural takdir disandingkan dengan kemiskinan Rara sehingga membuat kemiskinan ternaturalisasikan lewat logika pemahaman yang sama, alih-alih hasil dari ketidakadilan distribusi kekayaan yang didukung negara, film ini menggambarkan kemiskinan sebagai bagian dari takdir manusia.

15. Jendela memungkinkan seseorang untuk mengakses dunia lain (dari dalam atau dariluar) tanpa meninggalkan tempatnya.

16. Dongeng semacam inilah yang ditawarkan “Rumah Tanpa Jendela” pada penonton yang mereka sasar, tidak lain tentu anak-anak kelas menengah atas yang mampu mengakses bioskop sebagai bagian dari leisure activity.

17. Dari paparan tadi, dapat disimpulkan bahwa film “Rumah Tanpa Jendela” memungkinkan kita bicara mengenai posisi biner kelas sosial-ekonomi lewat model film musikal klasik ala Hollywood

18. Lebih jauh lagi, kemalangan Rara tersebut digunakan sebagai pelajaran yang bisa dipetik bagi keluarga Aldo, bahwa mereka harus bersyukur atas semua yang mereka punyai (harta dan keluarga yang utuh), sementara ada orang-orang yang tidak berpunya seperti Rara.

19. Dengan begitu, mereka melakukan kewajiban membalas budi tanpa perlu mengorbankan kenyamanan dengan berbagi kepemilikan ataupun terlibat secaradekat.

20. Layaknya dongeng anak-anak dalam majalah Bobo, film “Rumah Tanpa Jendela” menyampaikan ajaran moral pada anak-anak untuk menghadapi realita sosial dalam masyarakat yang terfragmentasi dalam perbedaan, baik secara struktur sosial-ekonomi maupun kondisi fisik/mental.

21. Mengikuti tradisi opposite attracks, Aldo dan Rara bertemu secara tidak sengaja dalam sebuah kecelakaan kecil.

22. Tradisi film musikal yang dikembangkan di Hollywood mengacu pada kecenderungan film-film musikal klasik tahun 1930-1960-an, berpaku pada hal-hal yang berlawanan (oposisi biner), terutama berkaitan dengan gender, ras, agama, latar belakang, atau temperamen.

(15)

24. Penekanan pada kolektivitas ini merupakan salah satu “karateristik” film musikal klasik Hollywood yang ingin menjual ideide soal komunitas dan stabilitas sosial, baik relasi interkomunitas (konflik keluarga Aldo) maupun antarkomunitas (konflik antara keluarga Aldo dan komunitas Rara).

25. Lagipula, memakai perspektif realisme sosial dalam menilai film musikal adalah sia-sia, mengingat film musikal sendiri menawarkan utopia dalam bentuk hiburandengan mengacu pada diri sendiri (self-reference)

8. Artikel

Artikel adalah kata tugas yang membatasi makna jumlah nomina. Artikel yang terdapat di dalam model teks ulasan adalah sang dan si. Artikel sang merupakan salah satu artikel yang mengacu ke makna tunggal, selain sri, hang, dan dang.

1. Sang pangeran adalah tokoh Aldo, seorang anak laki-laki dari keluarga kaya-raya dengan sindrom mental, yang membuatnya mengalami “penolakan” dari komunitasnya (anggota keluarga).

2. Sementara itu, si miskin diwakili oleh tokoh Rara, gadis cilik yang sesekali bekerja sebagai ojek payung di sanggar lukis tempat Aldo belajar.

3. Hal itu tergambar pada kondisi keluarga Aldo dan teman-teman Rara, antara si miskin dan si kaya

4. Penyederhanaan posisi berlawanan si miskin dan si kaya terwakili oleh narasi sosial-ekonomi Aldo dan Rara

5. Oleh sebab itu, perbedaan si miskin dan si kaya dalam film ini adalah ia yang berpunya dan ia yang tak-berpunya

6. Logika pemaknaan tersebut bekerja ketika Rara yang larut dalam kesenangan borjuis (pesta ulang tahun kakak Aldo) pulang untuk menemukan rumahnya habis terbakar, Si Mbok tergeletak koma dan ayahnya meninggal dunia. 7. Oleh karena itu, untuk “membayar” pelajaran yang mereka dapat ini, keluarga Aldo menolong Rara dan Si Mboknya dengan membayarkan biaya rumah sakit serta memberikan penghidupan di villa milik mereka di luar Jakarta.

8. Dengan si miskin berlapang dada menerima kondisinya dan si kaya belajar bersyukur dari kemalangan si miskin, masyarakat borjuis yang sempurna dan harmonis akan tercipta

9. Karena hanya dalam kondisi itulah, si kaya termungkinkan ada dan bisa melanjutkan upaya memperkaya diri mereka; dengan membiarkan kemiskinan ada dan ‘tidak tampak’ di depan mata.

(16)

Referensi

Dokumen terkait

wacana kepercayaan dan kepentingan rakyat, mengutamakan kepentingan bangsa dan negara serta amanat konstitusi sehingga tampak bahwa pesan- pesan yang disampaikan

Objek yang diamati adalah karakter dari nilai moral tanggung jawab yang ada pada film animasi tiga dimensi Petualangan Iko di Dunia Maya melalui visualisasi, perilaku

Hal menarik, peneliti melihat pesan-pesan moral yang ditampilkan juga belum ada dalam film-film kartun yang ditayangkan di televisi nasional memiliki nilai-nilai sesuai

Berdasarkan tokoh-tokoh dalam film Moga Bunda Disayang Allah dapat disimpulkan bahwa pesan cerita yang ingin disampaikan yakni, senantiasa tolong-menolong terhadap sesama dengan

Sebagai film yang ditonton oleh banyak penonton anak, karakter dalam kedua film tadi dapat menjadi panutan atau contoh terutama untuk anak perempuan, film dengan

Berdasarkan uraian yang telah disampaikan, peneliti ingin mengungkap pesan moral dalam film dengan menggunakan metode analisis isi karena dengan analisis isi dapat

Agar pesan atau informasi yang disampaikan mudah dipahami, surat hendaknya ditulis dengan menggunakan bahasa efektif, yaitu jelas, lugas, dan komunikatif agar dapat mengungkapkan

Modul ajar ini membahas tentang teks fabel untuk siswa kelas IV semester II, mencakup pemahaman isi, tokoh, dan pesan moral