• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Vektor Penyakit

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Vektor Penyakit"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

I. Vektor Penyakit

Bagian ini menjabarkan definisi vektor penyakit, khususnya arthropoda yang berperan sebagai pembawa dan penular penyakit pada manusia. Definisi operasional vektor penyakit, sesuai Depkes RI (2010), menekankan peran arthropoda dalam transmisi penyakit. Chandra (2007) menambahkan bahwa penyakit yang ditularkan melalui vektor (vectorborne disease atau arthropodborne disease) merupakan penyakit penting, sering bersifat endemik atau epidemik, dan berpotensi fatal. Pemahaman konsep ini penting bagi mahasiswa untuk memahami epidemiologi penyakit dan strategi pengendaliannya. Materi ini dapat diaplikasikan dalam pembelajaran melalui studi kasus penyakit tertentu dan simulasi pengendalian vektor. Mahasiswa diharapkan mampu mengidentifikasi berbagai jenis vektor dan mekanisme penularan penyakit.

2.1.1 Mekanisme Transmisi Penyakit melalui Vektor

Bab ini menjelaskan dua mekanisme utama penularan penyakit melalui vektor: transmisi mekanis dan transmisi biologis. Pada transmisi mekanis, arthropoda hanya bertindak sebagai pembawa agen penyakit secara pasif, misalnya lalat yang membawa bakteri penyebab diare dari kotoran ke makanan. Transmisi biologis, sebaliknya, melibatkan multiplikasi atau perubahan siklus hidup agen penyakit di dalam tubuh arthropoda sebelum ditularkan. Pengetahuan tentang mekanisme ini penting bagi mahasiswa untuk memahami kompleksitas penularan penyakit dan merancang strategi intervensi yang tepat sasaran. Aplikasi pembelajaran dapat berupa studi kasus dan analisis epidemiologi penyakit tertentu yang ditularkan melalui vektor, mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis dan memecahkan masalah.

2.1.2 Prinsip Pengendalian Vektor

Bagian ini menguraikan prinsip-prinsip pengendalian vektor menurut Chandra (2007), meliputi pengendalian lingkungan (misalnya, sanitasi), pengendalian kimia (penggunaan insektisida), dan pengendalian biologi (misalnya, pemeliharaan ikan pemangsa jentik). Mahasiswa perlu memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing metode, serta implikasi lingkungan dan kesehatan masyarakatnya. Pembelajaran dapat diintegrasikan dengan studi kasus pengendalian vektor di berbagai konteks, seperti di rumah sakit, sekolah, atau komunitas. Mahasiswa dilatih untuk menganalisis dampak berbagai strategi pengendalian dan mengevaluasi keberhasilannya.

II. Gambaran Umum tentang Lalat

Bagian ini memberikan gambaran umum tentang lalat (ordo Diptera), mencakup klasifikasi, siklus hidup, dan tata hidupnya. Penjelasan mengenai morfologi lalat (kepala, toraks, abdomen, enam kaki) serta keragaman spesiesnya (60.000-100.000 spesies) penting untuk pemahaman dasar entomologi. Mahasiswa diharapkan mampu mengidentifikasi jenis-jenis lalat yang relevan secara medis dan kesehatan masyarakat. Studi kasus dan praktik identifikasi lalat dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang aspek biologi dan ekologi lalat.

2.2.1 Klasifikasi Lalat

Sub-bab ini menyajikan klasifikasi taksonomi lalat dari Kingdom hingga Spesies, mencakup famili-famili penting seperti Muscidae, Calliphoridae, Sarcophagidae, dan genus-genus seperti Musca, Chrysomya, Stomoxys. Memahami klasifikasi lalat membantu mahasiswa memahami hubungan kekerabatan antar spesies dan karakteristiknya. Aktivitas pembelajaran seperti pembuatan kunci determinasi lalat dapat mengasah kemampuan taksonomi mahasiswa.

2.2.2 Siklus Hidup Lalat

Sub-bab ini menjelaskan siklus hidup lalat yang mengalami metamorfosis sempurna (telur, larva, pupa, dewasa), waktu perkembangannya (7-22 hari), dan karakteristik setiap stadium. Pemahaman siklus hidup lalat sangat penting untuk merancang strategi pengendalian yang efektif. Pembelajaran dapat diperkaya dengan observasi langsung siklus hidup lalat di laboratorium, analisis gambar mikroskopik, dan pembuatan diagram siklus hidup.

2.2.3 Tata Hidup Lalat

Sub-bab ini menjelaskan aspek ekologi lalat, termasuk tempat perindukan, peristirahatan, jarak terbang, kebiasaan makan, lama hidup, pengaruh temperatur dan kelembaban, respons terhadap cahaya dan aroma. Mahasiswa perlu memahami faktor-faktor lingkungan yang memengaruhi populasi lalat. Studi kasus tentang distribusi lalat di berbagai lingkungan dan perannya dalam penyebaran penyakit dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa.

2.2.4 Lalat sebagai Vektor Penyakit

Bagian ini membahas peran lalat sebagai vektor penyakit secara mekanis dan potensi penularan berbagai penyakit melalui bulu-bulu tubuh, kaki, dan bagian mulutnya. Mahasiswa diharapkan memahami bagaimana lalat berperan dalam rantai penularan penyakit dan pentingnya pengendalian lalat untuk mencegah wabah penyakit. Diskusi kasus wabah penyakit yang ditularkan melalui lalat akan memperdalam pemahaman mahasiswa.

2.2.5 Karakteristik Lalat Rumah (Musca domestica) dan Lalat Hijau (Chrysomya megacephala)

Bagian ini menjelaskan karakteristik morfologi dan peran dalam penularan penyakit dari dua spesies lalat penting: Musca domestica dan Chrysomya megacephala. Mahasiswa diajak untuk membandingkan karakteristik kedua spesies dan menganalisis perbedaan perannya dalam penularan penyakit. Diskusi mengenai dampak ekonomi dan kesehatan akibat infestasi kedua jenis lalat akan melengkapi pemahaman mahasiswa.

2.2.6 Pengendalian Lalat

Bagian ini menjelaskan berbagai metode pengendalian lalat, meliputi perbaikan sanitasi dan hygiene lingkungan, serta pengendalian langsung melalui cara fisik (perangkap, kertas lengket), kimia (insektisida), dan biologi. Mahasiswa perlu memahami prinsip-prinsip pengendalian terpadu hama (IPM) dan memilih metode yang tepat sesuai konteks. Simulasi pengendalian lalat di berbagai setting (rumah, sekolah, pasar) akan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menerapkan pengetahuan.

III. Insektisida

Bagian ini membahas definisi dan klasifikasi insektisida, mekanisme kerja (racun lambung, racun kontak, racun pernapasan), dan dampak penggunaannya terhadap kesehatan manusia. Pemahaman ini penting bagi mahasiswa untuk memahami risiko dan manfaat penggunaan insektisida dalam pengendalian vektor. Analisis studi kasus tentang keracunan insektisida dan dampak lingkungannya dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa akan pentingnya penggunaan pestisida secara bertanggung jawab.

2.3.1 Repellent

Sub-bab ini menjelaskan repellent sebagai alternatif insektisida, mencakup definisi, mekanisme kerja, dan contoh-contohnya (DEET, ethyl hexanediol). Mahasiswa diharapkan mampu membandingkan repellent dengan insektisida dan mengidentifikasi keunggulan serta keterbatasan masing-masing. Diskusi tentang penggunaan repellent yang aman dan efektif dapat memperdalam pemahaman mahasiswa.

2.3.2 Dampak Penggunaan Insektisida Sintetis Terhadap Kesehatan

Sub-bab ini membahas dampak akut dan kronis penggunaan insektisida sintetis terhadap kesehatan manusia, meliputi efek pada sistem saraf, hati, sistem kekebalan, dan keseimbangan hormon. Mahasiswa diharapkan mampu menganalisis risiko kesehatan akibat paparan insektisida dan menyusun strategi mitigasi risiko. Studi kasus mengenai dampak kesehatan akibat penggunaan insektisida dan strategi pencegahan akan memperkuat pemahaman mahasiswa.

IV. Insektisida Nabati

Bagian ini membahas insektisida nabati sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan insektisida sintetis, mencakup definisi, cara pembuatan, keunggulan, dan kelemahannya. Mahasiswa perlu memahami potensi dan keterbatasan insektisida nabati dalam pengendalian vektor. Studi kasus tentang pemanfaatan tanaman tertentu sebagai insektisida nabati dan evaluasi efektivitasnya akan menambah wawasan mahasiswa.

2.4.1 Cara Pembuatan Insektisida Nabati

Sub-bab ini menjelaskan berbagai metode pembuatan insektisida nabati, baik secara sederhana maupun di laboratorium. Mahasiswa dilatih untuk memahami prinsip-prinsip dasar pembuatan insektisida nabati dan faktor-faktor yang memengaruhi kualitasnya. Praktikum pembuatan insektisida nabati dapat memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa.

2.4.2 Keunggulan dan Kelemahan Insektisida Nabati

Sub-bab ini membahas keunggulan dan kelemahan insektisida nabati dibandingkan insektisida sintetis. Mahasiswa diharapkan mampu mengevaluasi penerapan insektisida nabati dalam konteks pengendalian vektor dan mempertimbangkan aspek keberlanjutan. Diskusi mengenai pertimbangan ekonomi dan sosial budaya dalam penggunaan insektisida nabati akan melengkapi pemahaman mahasiswa.

V. Gambaran Umum tentang Tanaman Cengkeh (Syzigium aromaticum)

Bagian ini memberikan gambaran umum tentang tanaman cengkeh, mencakup morfologi, klasifikasi, manfaat, dan kandungan kimianya (terutama eugenol). Pemahaman ini penting sebagai latar belakang penelitian yang menggunakan ekstrak daun cengkeh sebagai insektisida nabati. Mahasiswa diharapkan mampu menghubungkan karakteristik tanaman cengkeh dengan potensinya sebagai insektisida.

2.5.1 Morfologi Tanaman Cengkeh

Sub-bab ini menjelaskan karakteristik morfologi tanaman cengkeh, meliputi bentuk pohon, akar, batang, daun, bunga, dan buah. Mahasiswa diharapkan mampu mengidentifikasi bagian-bagian tanaman cengkeh dan memahami perannya dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pengamatan langsung tanaman cengkeh atau melalui gambar/video akan memperkuat pemahaman mahasiswa.

2.5.2 Klasifikasi Tanaman Cengkeh

Sub-bab ini menyajikan klasifikasi taksonomi tanaman cengkeh dari divisi hingga spesies, serta nama daerah dan asingnya. Mahasiswa diharapkan mampu memahami posisi taksonomi tanaman cengkeh dan hubungan kekerabatannya dengan tumbuhan lain. Aktivitas pembelajaran seperti studi literatur tentang klasifikasi tumbuhan dapat mengasah kemampuan taksonomi mahasiswa.

2.5.3 Manfaat Tanaman Cengkeh

Sub-bab ini membahas berbagai manfaat tanaman cengkeh, baik secara ekonomi (industri rokok, farmasi, wewangian) maupun pengobatan tradisional. Mahasiswa diharapkan mampu menghubungkan kandungan kimia tanaman cengkeh dengan manfaatnya. Studi kasus tentang pemanfaatan tanaman cengkeh dalam berbagai industri dan pengobatan akan meningkatkan pemahaman mahasiswa.

2.5.4 Kandungan Kimia Tanaman Cengkeh

Sub-bab ini menjelaskan kandungan kimia utama tanaman cengkeh, terutama eugenol, serta senyawa kimia lain seperti eugenin, asam oleanolat, asam galatanat, dan vanillin. Mahasiswa perlu memahami peran eugenol sebagai komponen aktif yang berpotensi sebagai insektisida. Diskusi mengenai sifat-sifat kimia eugenol dan mekanisme kerjanya sebagai insektisida akan melengkapi pemahaman mahasiswa.

VI. Gambaran Umum tentang Ikan Asin

Bagian ini memberikan gambaran umum tentang ikan asin, meliputi pengertian, proses pengolahan (penggaraman dan pengeringan), dan permasalahan yang dihadapi selama proses pengeringan (infestasi lalat). Pemahaman ini penting sebagai konteks penelitian yang meneliti pengaruh ekstrak daun cengkeh terhadap jumlah lalat yang hinggap pada ikan asin selama proses pengeringan.

2.6.1 Pengertian Ikan Asin

Sub-bab ini mendefinisikan ikan asin dan menjelaskan pentingnya ikan asin sebagai komoditas perikanan di Indonesia. Mahasiswa diharapkan memahami proses pengawetan ikan melalui penggaraman dan tujuannya. Diskusi tentang berbagai jenis ikan yang diolah menjadi ikan asin dan pasarnya akan memperkaya pemahaman mahasiswa.

2.6.2 Pengolahan Ikan Asin

Sub-bab ini menjelaskan proses pengolahan ikan asin, meliputi penggaraman (kering, basah, kench salting, dan perebusan) dan penjemuran. Mahasiswa perlu memahami faktor-faktor yang memengaruhi kualitas ikan asin. Studi kasus tentang teknik pengolahan ikan asin tradisional dan modern dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa.

VII. Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian

Bagian ini menjelaskan kerangka konsep dan hipotesis penelitian. Kerangka konsep menggambarkan variabel-variabel yang diteliti dan hubungan antar variabel, sementara hipotesis penelitian menyatakan dugaan sementara tentang hasil penelitian. Mahasiswa diharapkan mampu memahami desain penelitian dan interpretasi hasil penelitian.

Gambar

Gambar 2.1. Siklus Hidup Lalat (Watson dkk dalam Hanidhar, 2007)
Gambar 2.2. (a) Telur Lalat dan (b) Larva Lalat (Arkive, 2012)
Gambar 2.3 (a) Kepompong dan (b)  Lalat Dewasa (Arkive, 2012)
Gambar 2.4. Bagan Penularan Penyakit oleh Lalat
+4

Referensi

Dokumen terkait

Adapun tanda dan gejala yang umum ditemukan atau sangat serius terjadi pada lanjut usia menurut Buffer (2010), yaitu: sendi terasa kaku pada pagi hari, bermula

Badan Standardisasi Nasional menyatakan bahwa susu kental manis (SKM) adalah produk olahan susu berbentuk cairan kental yang diperoleh denganmenghilangkan atau menguapkan sebagian

a) Tidak dapat menggambarkan asupan makanan sehari –hari bila hanya dilakukan recall satu hari. b) Ketepatannya sangat tergantung pada daya ingat responden. c) The flat slope

(3) Diare dengan dehidrasi ringan-sedang disertai gejala klinis intoleransi laktosa yang jelas, dapat diberikan susu formula bebas laktosa. 3) Makanan sehari-hari sesuai

Pemberian pagi dan sore untuk mencegah diuresis malam hari; diuretic ringan biasanya di kombinasi dengan tiazid untuk meminimalkan hipokalemia; karena hipokalemia dengan

Musca domestica dikenal sebagai lalat rumah (housefly). Ia adalah spesies yang tinggal di sekitar manusia di seluruh dunia. Umumnya lalat ini ditemui pada manusia, makanan,

Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan pertama bayi yang memiliki peran penting dalam tumbuh kembang anak karena terbukti memiliki manfaat sangat besar untuk

Oleh karena itu, makanan yang diberikan pada waktu pagi hari perlu diperhatikan agar orang sakit dapat makan dalam jumlah yang cukup, sehingga jika pada waktu makan siang nafsu makan