PEMBERDAYAAN WANITA DALAM
MENGELOLA LINGKUNGAN
Ameilia Zuliyanti Siregar, S.Si, M.Sc
Departemen Hama & Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian USU Jl. Dr. A. Sofyan No. 3 Kampus USU Medan 20154
Pendahuluan
Mengapa umat manusia cenderung mencemari bumi?Dulu, salah satu alasan yang mudah adalah bahwa manusia tidak menyadari konsekuensi-konsekuensi ekologi dari aktivitas-aktivitas yang mencemari. Namun sekarang, walaupun sudah tahu mengapa masih terus mencemari? Meminjam alasan para antropolog dan sosiolog misalnya mengajukan tiga alasan, karena: keterpaksaan, ketidaktahuan (ignoransi), dan keserakahan. Para ahli filsafat mengajukan dalih karena pandangan hidupnya, dan beberapa psikolog mengkajinya dari pendekatan CAP (Cognitive, Affective & Phychomotoric) (Pegg,1994). Bagaimana dengan para ekonom? Alasan kunci ialah bahwa ekonomi dari situasi itu sendiri cenderung lebih murah untuk mengotori (baca: mencemari).
Perubahan lingkungan hidup di bumi terjadi karena perkembangan budaya manusia yang ditopang oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini merupakan hak azasi manusia, selama perubahan yang terjadi tidak menyebabkan kerusakan di muka bumi yang akhirnya menjadi bumerang bagi kehidupan generasi muda manusia di masa depan. Segala sesuatu yang diciptakan di bumi ini tentu mempunyai makna dan peranan masing-masing bagi kehidupan. Hanya sebagian kecil yang kita ketahui makna dan peranannya dalam kehidupan manusia, baik yang menguntungkan untuk menopang eksesitensi kita maupun yang merugikan atau mengancam kehidupan. Secara alamiah perubahan yang terjadi disebabkan perjuangan hidup (baca: untuk survive), tetapi seringkali dalam kenyataannya perubahan itu terjadi akibat eksploitasi yang berlebihan terhadap sumber daya yang menghasilkan limbah yang bertumpuk dan menyebabkan pencemaran serta kerusakan lingkungan.
Tugas dan tanggung jawab pemerintah memang berat. Belum selesai kasus banjir, tanah longsor di Jawa Barat akibat tumpukan sampah hingga kasus Lapindo yang masih belum dapat diatasi hingga saat ini merupakan tanggung jawab kita bersama untuk mencari alternatif solusi yang terbaik. Bahkan secara obyektif harus kita akui, bahwa yang menimbulkan kerugian maupun ancaman pun sebenarnya makna dan peranannya adalah agar kita waspada, berhati-hati dan membatasi diri dalam perilaku. Manusia tidak dibenarkan berbuat sekehendak hatinya sendiri. Tragis sungguh syair Ebiet G. Ade yang disitir dari lagu supaya kita bertanya pada rumput yang bergoyang! Cukuplah beban berat yang dipikul pemerintah dengan tebusan jutaan jiwa akibat ulah segelintir orang yang tidak bertanggung jawab dalam merusak dan mencemari lingkungan.
Pencemaran Lingkungan
merupakan bentuk limbah. Bahkan apabila tetangga saya memelihara kambing, baginya kulit pisang bukan merupakan limbah, melainkan sumber daya. Pencemaran lingkungan terjadi apabila ada materi, makhluk hidup, energi dan informasi yang masuk, dimasukkan atau berada di suatu sistem yang menyebabkan menurunnya makna dan peruntukan sistem itu. Jadi kalau kulit pisang berada di dalam lemari pakaian, misalnya jelas akan menjadi limbah karena peruntukan lemari untuk manusia untuk menyimpan pakaian.
Krisis kearifan
Dengan perkembangan teknologi telah banyak digunakan teknik radiasi terionisasi (50% untuk bidang kedokteran, 3% untuk tenaga nuklir, 10% untuk percobaan persenjataan dan sebagainya) serta penggunaan berbagai bahan kimia (pestisida, amina, amida, hidrokarbon, berbagi senyawa N dan sebagainya) yang bersifat mutagenik (Darmono, 2001). Sebagai akibatnya terjadi peningkatan mutasi gen manusia yang menyebar diantara populasi manusia secara terselubung. Apabila mutasi gen ini terjadi pada gen yang terkait dalam kromosom X, maka hal itu akan berdampak temurun sehingga mengakibatkan makin merosotnya daya tahan alami (resilence) manusia, yang hanya dapat dipertahankan dengan dukungan teknologi yang canggih dengan biaya yang semakin mahal.
Disamping itu, penggunaan rumah kaca memberi dampak dengan meningkatnya suhu bumi secara global atau perubahan iklim secara keseluruhan. Dalam keadaan normal, gas rumah kaca (55% CO2, sisanya adalah hidrokarbon, NOx, SO2, O3 dan sebaginya) menyebabkan pemanasan bumi sehingga suhunya menjadi rata-rata 13ºC. Tetapi apabila lapisan gas ini makin menebal, selimut gas kamar kaca ini mengakibatkan refleksi balik sinar (panas) matahari akan semakin banyak yang memantul kembali ke bumi. Kenaikan gas rumah kaca ini juga diakibatkan oleh pembalakan hutan.
Manakala industri (khususnya pengecoran logam, pembangkit listrik batu bara, dan penggunaan energi fosil pada umumnya) yang melepaskan berton-ton limbah NOx, SO2,
kabut atau debu dengan pH di bawah 5.6. Air dengan keasaman seperti ini dapat merusak hutan, mengaratkan benda logam, merusak berbagai bangunan dari marmer, tegel dan beton. Akibatnya air danau dan sungai akan menurun pH-nya dan akan mempengaruhi kehidupan air (tumbuhan, ikan, plankton, benthos dan sebagainya) serta mempengaruhi kehidupan manusia. Sebagian gas berasal dari kenderaan bermotor (45%), rumah tangga (33%), dan industri (14%) dan sumber lainnya (Soemarwoto, 1999).
Lapisan ozon yang menyelimuti bumi telah mengalami kerusakan oleh bahan kimia seperti halon (bahan pemadam kebakaran) dan CFC (chlorofluorocarbon) yang dihasilkan oleh aerosol (gas penyemprot minyak wangi), mesin pendingin (refrigerator, air conditioner), pembuatan plastik atau karet busa (foam) untuk berbagai keperluan.
Oleh sinar matahari yang kuat berbagi gas ini diuraiakan menjadi chlorine dan chlorinemonoxide yang menjadi katalisator terurainya molekul ozon menjadi oksigen
(Fardiaz, 1992). Lubang ozon ini terdapat di atas Antartika dan Kutub Utara. Penyerapan sinar ultraviolet oleh kulit dalam jumlah berlebihan akan menyebabkan kanker kulit, kerusakan mata (cataract), gangguan pada rantai makanan laut dan kerusakan pada tanaman budidaya.
Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi serta perkembangan industri yang semakin pesat merupakan dorongan pertumbuhan ekonomi yang mengakibatkan eksploitasi sumber daya yang berlebihan. Hal ini menimbulkan berbagai pemborosan sumberdaya alam serta dihasilkannya berbagai limbah yang mengakibatkan merosotnya kualitas lingkungan. Berbagai biaya yang seharusnya dipikul oleh suatu kegiatan, ditimpakan kepada pihak lain, atau kepada lingkungan atau kepada sesuatu yang menjadi milik umum. Belum lagi kerugian jiwa yang harus dikorbankan. Berbagai limbah cair maupun gas telah mencemari air dan udara yang menjadi milik umum dan merupakan bagian vital dari kehidupan. Dr. Soedjatmoko menyatakan sebagai akibat adanya gejala krisis (kemunduran) kearifan atau kebijakan manusia, maka secara lokal dan global lingkungan hidup harus menanggung beban sebagai akibat kemunduran kualitas lingkungan.
Limbah
Di Indonesia umumnya limbah diperhitungkan menurut volumenya. Kalaupun ada yang diperhitungkan dalam berat (tonase) umumnya bersifat perkiraan. Limbah rumah tangga diberbagai kota di Indonesia berkisar anatar 0.13-3.69 liter/orang/hari, sedang total limbah yang dihasilkan berkisar antara 0.24-4.55 liter/minggu. Limbah berdasarkan bentuknya terbagai empat kelompok, yaitu: limbah cair (berasal dari suatu kegiatan/proses yang menghasilkan sesuatu yang tidak diperlukan dan dibuang ke perairan seperti sungai, danau dan laut. Contohnya: limbah cair industri dan limbah cair rumah tangga/deterjen); emisi (gas/debu yang dihasilkan oleh suatu kegiatan yang dilepaskan ke udara. Contohnya: hidrokarbon, CO2, CO, NOx, SO2, CFC, O3, asam, alkohol, fenol, Pb, asap, kabut, jelaga); limbah padat (materi yang tersia-siakan berupa partikel yang apdat tidak berselaput, mempunyai dimensi panjang, lebar dan ketebalan yang tetap. Contohnya: kertas, botol, kaleng, kotoran hewan, sisa tumbuhan, bahan organik, non flying ash, kulit kerang, plastik, dan logam); serta limbah beracun dan berbahaya (B3) (limbah yang sifat dan jumlahnya baik yang langsung atau pun tidak
perdagangan, pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan laboratorium serta sarana transportasi) (Darmono, 2001; Fardiaz, 1999; Sastrawijaya, 1991).
Pengelolaan Limbah
Pengelolaan limbah khususnya dan pengelolaan lingkungan umumnya belum merupakan sesuatu yang menarik pihak bisnis dan masyarakat karena belum terlihat adanya pengertian yang cukup baik untuk mendorong peran serta mereka. Berbagai upaya dapat dilakukan untuk deteksi secara dini atau preventif kemunduran kualitas lingkungan melalui sembilan langkah berikut ini:
1. Penghematan sumber daya.
Sumber daya terbatas (ruang, lahan, air, mineral dan sebaginya) harus dimanfaatkan secara hemat yang akan berdampak positif terhadap peningkatan daya dukung. Diantaranya dilakukan dengan sistem pertukaran limbah (waste exchange) dan menciptakan taman industri.
2. Pemanfaatan sumber daya secara rasional dan efisien.
Sumber daya yang pulih (renewable) harus diutamakan penggunaannya. Pemanfaatan kayu, daun, gas bio, cahaya, energi surya, angin sebagai pendingin, kompos dari limbah pekarangan dan rumah tangga dapat dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan dengan aktivitas rumah tangga secara teknologi sederhana atau pun aktivitas industri yang canggih dan modern.
3. Bahan pakai ulang.
4. Daur ulang limbah.
Pendaurulangan limbah dari produksi maupun konsumsi perlu dijadikan pegangan dalam berbagai kebijaksanaan pembangunan industri. Salah satu contoh adalah pabrik kertas yang harus mempunyai unit untuk mendaurulang limbah kertas, sedikitnya sebanyak limbah dari produksinya yang dikonsumsi konsumen. Tentu saja pabrik harus membayar air yang dipergunakan dan harus pula membayar pembuangan limbah cair. Daur ulang merupakan alternatif solusi yang dapat menghemat biaya produksi dan sumber daya. Hal ini dapat dikaitakan dengan makna dan sasaran dari Keputusan Menteri Negara dan Lingkungan Hidup Nomor 03/MNKLH/II/1991 tentang Baku Mutu Limbah Cair yang Sudah Beroperasi dan Nomor 51/MNKLH/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri.
5. Mengetahui umur produk.
Umur produk perlu diusahakan untuk diperpanjang melalui berbagai cara di rumah tangga maupun menggunakan teknologi. Ada kecenderungan produk industri berumur pendek karena produk yang dihasilkan berorientasi ekonomis yang mengejar keuntungan sesaat daripada memikirkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan. Disamping itu pada taraf rumah tangga, seringkali kita mencari kemudahan dan kepuasan untuk sesering mungkin menyesuaikan selera dengan produk yang ditawarkan sehingga produk up to date lebih sering dijumpai daripada produk kadaluarsa. Bagi produsen, produk berumur pendek akan memacu
pertumbuhan industri, tetapi akan mencemari lingkungan lebih daripada produksi yang lebih tahan lama. Penelitian pabrik mobil di Jerman menunjukkan bahwa melipatgandakan umur sebuah mobil dapat ditempuh hanya dengan menambah 10-20% biaya produksi. Hal ini tentu menuntut orientasi pertumbuhan ekonomi yang disesuaikan dampaknya terhadap lingkungan.
6. Substitut.
teknologi dan rumah tangga dipaksa untuk mampu mencari dan menemukan substitusi bahan, materi, atau sumber daya lainnya. Misalnya industri bata yang mungkin merusak tanah subur sawah diganti dengan industri batako yang menggunakan bahan dari lahan/bukit yang gersang, logam disubstitusikan dengan kayu, plastik diganti dengan kertas tahan air dan seterusnya.
7. Menghindari manipulasi konsumen.
Konsumen, khusunya ibu rumah tangga seringkali menjadi korban perkembangan teknologi yang sepintas lalu canggih, memenuhi selera kemewahan dan kemudahan tetapi merangsang pola konsumtif. Terpacunya model-model baru TV, lemari es, handphone, mobil, alat rumah tangga dan sebagainya. Orientasi teknologi seharusnya diarahkan pada orientasi teknologi berwawasan lingkungan lebih bersih (green consumerism) seperti di negara maju yang dipelopori anak-anak, diikuti oleh orang
tua yang menolak untuk mengkonsumsi produk industri yang mencemari lingkungan. Indonesia model ini mulai berkembang tapi belum sampai tahap kesadaran sepenuhnya karena segelintir orang yang berpunya menggunakan cara ini, manakala yang lainnya lebih memfokuskan diri untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
8. Orientasi pada rakyat.
9. Pengelolaan lingkungan intensif.
Salah satu citra pembanguan dengan teknologi lebih bersih perlu dicapai dengan memperlakukan pengelolaan limbah secara intensif. Dalam hal ini Indonesia masih jauh tertinggal dengan negara berteknologi maju. Industri kita masih terlalu banyak menghasilkan limbah, sedang industri pengelolaan limbah belum berkembang secara seimbang dengan limbah yang dihasilkan. Sistem flat beds, zero waste, waste exchange belum optimal dilakukan di bidang industri. Di Inggris pada tahun 2000
telah terjadi penjualan barang dan jasa dalam bisnis pencegahan dan pengelolan limbah sebanyak 48, 6 milyar dengan keuntungan 7, 2 milyar dan menyerap tenaga kerja sebanyak 417000 orang (lebih kurang 0.3% dari seluruh tenaga kerja).
Pemberdayaan Wanita
Masalah limbah, pencemaran lingkungan dan penangulangannya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan. Kebijakan dan program pembangunan, termasuk yang menimbulkan dampak serta mencemari lingkungan lebih banyak ditentukan kaum pria. Dalam hubungan ini tidak jelas, bahkan nampak kabur peranan yang menentukan kaum wanita, padahal dalam ucapan seringkali disebut-sebut ”wanita adalah pathner pembangunan” (Soewondo,1984). Dalam membicarakan hak azasi manusia seringkali
meluas lingkupnya dengan tuntutan menyamakan atau mensejajarkan hak wanita dengan hak pria. Saya berpendapat bahwa hal itu kurang tepat, setidak-tidaknya perlu dipertanyakan lebih jauh karena masalahnya yang lebih mendasar makna dasar adanya pria dan wanita. Dari maknanya, hak itu adalah sisi bersebelahan yang menyatu dengan kewajiban. Disinilah mulai tampak adanya sesuatu yang hakiki bahwa kewajiban pria dan wanita memang berbeda denagn cukup bermakna.
herediter, ibu juga merupakan nurturer yang memberi pengaruh non genetik dalam
pembentukan watak dan kepribadian anak. ”Pendidikan” ini sudah dimulai semenjak anak masih dalam kandungan, dilahirkan, bahkan sampai mencapai kedewasaan.
Pemberdayaan wanita dalam mengelola lingkungan sangat dituntut, berperan aktif dan bertanggung jawab besar. Tentu saja ini tidak berarti perlu dihalangi tugas wanita yang sama atau lebih tinggi dari pria. Kita tetap mendorong wanita untuk berprestasi di bidang akademik, menjadi sarjana, pakar atau guru besar, bidang pemerintahan (menjadi bupati, gubernur, menteri atau presiden), dan bidang wirausaha (menjadi bankir atau pemilik hotel berbintang lima). Disamping itu, seorang wanita tetap harus berperan sebagai seorang ibu bagi keluarganya (Seargent, 1981). Dalam hubungannya dengan masalah limbah, kemunduran kualitas lingkungan dan pemberdayaan wanita berada di peringkat atas yang ”membawahi” peran serta anak-anak dan bapak melalui pendidikan, ajakan, karya, panutan, pengaturan dan pengawasan dalam membentuk pola sikap dan pola pikir berwawasan lingkungan.
Penutup
Referensi:
1. Darmono. 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemaran. UI Press, Jakarta.
2. Fardiaz S. 1992. Polusi Air dan Udara. Kanisius, Jakarta.
3. Pegg M.1994. Kepemimpinan Positif. Seri Manajemen No. 157. Cetakan 1. Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta.
4. Pokja Advokasi Kebijakan Publik. Tindakan Khusuus Sementara Menjamin Keterwakilan Perempuan. Sekretariat Nasional Koalisi Perempuan Indonesia Kerjasama dengan The Asia Foundation. Jakarta.
5. Salim E. 1996. Aspek Mental Daalam Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta.
6. Sargent AG. 1981. The Androgynous Manage. A Division of American Management Associations.
7. Sastrawijaya AT. 1991. Pencemaran Lingkungan. Rineka Cipta, Jakarta.
8. Soemarwoto O. 1999. Analisis Mengenai dampak Lingkungan. UGM Press, Yogyakarta.
9. Soewondo N. 1984. Kedudukan Wanita Indonesia Dalam Hukum dan Masyarakat. Jakarta.