ANALISIS KARBOHIDRAT PRODUK BIOSINTESIS
PADA BUAH TERUNG BELANDA HASIL SAMBUNG PUCUK
ANTARA TERUNG BELANDA (Chiphomandra betaceae )
DENGAN RIMBANG (Solanum torvum swartz)
TESIS
Oleh
EVARIANI
087006011/KIM
PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
ANALISIS KARBOHIDRAT PRODUK BIOSINTESIS
PADA BUAH TERUNG BELANDA HASIL SAMBUNG PUCUK
ANTARA TERUNG BELANDA (Chiphomandra betaceae )
DENGAN RIMBANG (Solanum torvum swartz)
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Ilmu Kimia Pada Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Sumatera Utara
Oleh
EVARIANI 087006011/KIM
PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Tesis : Analisis Karbohidrat Produk Biosintesis pada
Buah Terung Belanda Hasil Sambung Pucuk
Antara Terung Belanda (Chiphomandra
betaceae) dengan Rimbang (Solanum torvum
swartz)
Nama Mahasiswa : Evariani
Nomor Pokok
: 087006011
Program studi : Ilmu Kimia
Menyetujui Komisi Pembimbing
( Dr.Rumondang Bulan,MS ) ( Dr.Ribu Surbakti.MS ) Ketua Anggota
Ketua Program Studi Ilmu Kimia, Dekan FMIPA,
Prof.Basuki Wirjosentono, MS, Ph.D Prof.Dr. Eddy Marlianto, MSc
Telah diuji pada
Tanggal 18 Mei 2010
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Dr. Rumondang Bulan,MS Anggota : Dr. Ribu Surbakti.MS
Prof. Basuki Wirjosentono, MS, Ph.D
Prof. Dr. Harry Agusnar, MSc, M.Phill
Prof. Dr. Yunazar Manjang
PERNYATAAN
ANALISIS KARBOHIDRAT PRODUK BIOSINTESIS
PADA BUAH TERUNG BELANDA HASIL SAMBUNG PUCUK
ANTARA TERUNG BELANDA (Chiphomandra betaceae )
DENGAN RIMBANG (Solanum torvum swartz)
TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, 18 Mei 2010 Penulis
ANALISIS KARBOHIDRAT PRODUK BIOSINTESIS PADA BUAH TERUNG BELANDA HASIL SAMBUNG PUCUK
ANTARA TERUNG BELANDA (Chiphomandra betaceae )
DENGAN RIMBANG (Solanum torvum swartz)
ABSTRAK
Telah dilakukan sambung pucuk antara terung belanda (Chiphomandra betaceae) yang berakar dangkal dengan rimbang (Solanum torvum swartz) yang berakar kuat sehingga dihasilkan tanaman baru terung belanda. Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh kekuatan akar rimbang sebagai penyerap air terhadap produk biosintesis telah dilakukan analisis karbohidrat pada buah dari tanaman baru terung belanda serta pengamatan terhadap perubahan sifat pada tanaman baru terung belanda.
Sambung pucuk dilakukan dengan tekhnik baji yaitu terung belanda sebagai batang atas dan rimbang sebagai batang bawah. Analisis karbohidrat dilakukan secara kualitatif dengan metode Benedict dan secara kuantitatif ditentukan sebagai gula pereduksi dengan metode Nelson Somogyi menggunakan spektrofotometer Genesis - 20. Selanjutnya perubahan sifat pada tanaman baru terung belanda diamati selama 6 bulan setelah penyambungan terhadap pertumbuhan batang, cabang, daun dan buah. Hasil analisis karbohidrat terhadap buah dari tanaman baru terung belanda dan blanko menunjukan bahwa terjadi peningkatan kadar karbohidrat pada buah tanaman baru terung belanda sebesar 40,09 %. Hasil pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman baru terung belanda dan tanaman blanko menunjukan bahwa pada tanaman baru terung belanda terjadi pembengkakan pada bekas luka sambungan, batang atas tumbuh lebih besar dari batang bawah, cabang lebih banyak, buah lebih banyak dan lebih keras. selanjutnya tidak terjadi perubahan pada bentuk ataupun warna pada daun dan buah.
Kata kunci : Chiphomandra betaceae, Solanum torvum swartz, sambung pucuk, tanaman baru, biosintesis karbohidrat, perubahan sifat.
ANALYSIS CARBOHYDRATE OF BIOSYNTHESIS PRODUCT
FROM THE FRUIT OF TAMARILLO GRAFTED BETWEEN TAMARILLO
(Chiphomandra betaceae )
AND TURKEY BERRYABSTRACT
It has done a grafting between tamarillo (Chiphomandra betaceae) that has shallow roots with turkey berry (Solanum torvum swartz) that has strong roots so that has result a new tamarillo plant. Next to know the effect from turkey berry roots strengh as water reserve to biosynthesis product has done analysis carbohydrate to the fruit from the new tamarillo plant and research to the change of characteristic to the new tamarillo plant.
Grafting was did by wadge technic, it is tamarillo as scion and turkey berry as rootstock. Analysis to carbohydrate was did with qualitative with Benedict methode and the quantitative by certain as sugar reducted with Nelson Somogyi methode used genesys – 20 spectrofotometer. And then, plant was research during six month after the grafting to the growing of stem, branch, leaves and fruit.
The result of the analysis carbohydrate with fruit from the new tamarillo plant and tamarillo blank showed that has increasing of carbohydrate value to the fruit of the new tamarillo plant as big as 40,09 %. The result of the research to the growing of the new tamarillo plant and tamarillo blank showed that to the new tamarillo plant it’s had swelling to the trace of the wound grafting, scion was growing bigger than rootstock, more branches, more fruit and harder. Then didn’t have change from shape or the colour from leaves and fruits.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini
yang berjudul “Analisis Karbohidrat Produk Biosintesis pada Buah Terung
Belanda Hasil Sambung Pucuk antara Terung Belanda (Chiphomandra
betaceae) dengan Rimbang (Solanum torvum swartz)”.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Gubernur Sumatera Utara c.q Ketua Bappeda Provinsi Sumatera Utara yang memberikan beasiswa kepada penulis sebagai mahasiswa Program Magister Ilmu Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati Kabupaten Asahan c.q Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Asahan yang telah memberi izin belajar.
Dengan selesainya tesis ini penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Rektor Universitas Sumatera Utara yakni Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, MSc(CTM), Sp.A(k) atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan. Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam yakni Bapak Prof.Dr. Eddy Marlianto, MSc, dan Ketua Program Studi Kimia Bapak Prof. Basuki Wirjosentono, MS, Ph.D atas kesempatan yang diberikan untuk menjadi mahasiswa Program Magister Ilmu Kimia.
Terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya juga ditujukan kepada :
1. Ibu Dr. Rumondang Bulan,MS dan Bapak Dr. Ribu Surbakti, MS selaku
pembimbing yang setiap saat dengan penuh perhatian memberi bimbingan dan saran dalam penyusunan tesis ini.
2. Bapak Kepala Sekolah beserta rekan-rekan guru di SMA Negeri I Kisaran yang telah memberi dukungan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan pada Program Studi Magister Ilmu Kimia Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Prof. Basuki Wirjosentono, MS, Ph.D, Prof. Dr. Harry Agusnar, MSc, M.Phill, Prof. Dr. Yunazar Manjang dan Ibu Dra. Emma Zaidar, MS selaku Dosen Penguji atas segala masukan dan saran yang diberikan untuk penyempurnaan tesis ini.
4. Kepala Laboratorium Biokimia FMIPA Universitas Sumatera Utara beserta staf dan asisten atas fasilitas yang diberikan.
5. Kepala Kantor BBI Dinas Pertanian Cabang Berastagi Sumatera Utara beserta staf atas petunjuk dan arahan serta fasilitas yang diberikan.
6. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Kimia Universitas
Sumatera Utara angkatan 2008 yang telah banyak membantu penulis selama menjalani perkuliahan dan penelitian.
7. Keluarga besar di Padang, di Medan dan dimanapun berada atas doa restu dan dukungan kepada penulis selama menjalani perkuliahan sampai selesainya tesis ini.
kesabaran dalam memberikan dorongan baik moril maupun materil sehingga penulis dapat menjalani perkuliahan dan menyelesaikan tesis ini.
Semoga kebaikan dan ketulusan yang telah diberikan menjadi amal ibadah yang mendapat ganjaran pahala dari Allah SWT. Akhirnya penulis berharap semoga tesis ini membawa manfaat bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Amin yaa Robbal Alamin.
Medan, 18 Mei 2010
Penulis
RIWAYAT HIDUP
Penulis adalah anak kedua dari tujuh bersaudara yang lahir pada tanggal 10 Oktober 1971 di kabupaten Agam Sumatera Barat dari pasangan Yusar St Syarif dan Nudiar.
Penulis menjalani Sekolah Dasar di SD Negeri No 3 Koto Tuo pada tahun 1979 sampai 1985. SMP Negeri IV Koto tahun 1985 sampai 1988. SMA Negeri IV Koto tahun 1988 sampai 1991 di kabupaten Agam Sumatera Barat. Pada tahun 1991 penulis diterima pada jurusan Pendidikan Kimia / S-1 FPMIPA IKIP Medan dan lulus pada tahun 1996. Sebagai penerima Beasiswa Tunjangan Ikatan Dinas, pada tahun 1998 sebagai Pegawai Negeri Sipil di SMA Negeri I Kisaran sampai sekarang.
D A F T A R I S I
Halaman
ABSTRAK i ABSTRACT ii
KATA PENGANTAR iii
RIWAYAT HIDUP v
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL viii
DAFTAR GAMBAR ix
DAFTAR LAMPIRAN x
BAB I : PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Perumusan masalah 5
1.3. Pembatasan masalah 5
1.4 Tujuan Penelitian 6
1.5..Manfaat Penelitian 6
1.6. Metodologi Penelitian 6
1.7. Waktu dan Tempat Penelitian 7
BAB II :TINJAUAN PUSTAKA 8
2.1. Tanaman Terung Belanda 8
2.2. Tanaman Rimbang 11
2.3.Bioteknologi Sambung pucuk 14
2.6. Karbohidrat 17
BAB III :METODE PENELITIAN 27
3.1. Bahan 27
3.2. Alat 28
3.3 Prosedur Penelitian 28
3.4. Bagan Penelitian 38
BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN 46
4.1.Hasil Penelitian 46
4.2. Pembahasan 59
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN 66
5.1. Kesimpulan 66
5.2. Saran 67
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
4.1 Berat sampel buah terung belanda untuk analisis I, II, III 46 4.2 Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Larutan Glukosa
Standar 47
4.3 Absorbansi Larutan Glukosa Standar pada 750 nm 49
4.4 Absorbansi larutan sampel buah terung belanda 52
4.5 Kadar Gula Reduksi Buah Dari Tanaman Baru Terung Belanda dan
Blanko 54 4.6 Hasil Pengamatan Keberhasilan Sambung Pucuk Antara
Terung Belanda Dengan Rimbang 57
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1 Deskripsi tanaman terung belanda 8
2.2 Deskripsi tanaman rimbang 12
2.3 Sambung pucuk dengan tekhnik baji 15
2.4 Struktur monosakarida 19
2.5 Reaksi terang pada fotosintesis 21
2.6 Reaksi gelap pada fotosintesis 22
4.1 Kurva panjang gelombang maksimum larutan glukosa standar 48
4.2 Kurva kalibrasi larutan glukosa standar 51
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Judul Halaman
LAMPIRAN 1. Perhitungan kadar gula reduksi buah terung belanda
LAMPIRAN 2. Dokumentasi sambung pucuk dan analisis buah terung belanda
ANALISIS KARBOHIDRAT PRODUK BIOSINTESIS PADA BUAH TERUNG BELANDA HASIL SAMBUNG PUCUK
ANTARA TERUNG BELANDA (Chiphomandra betaceae )
DENGAN RIMBANG (Solanum torvum swartz)
ABSTRAK
Telah dilakukan sambung pucuk antara terung belanda (Chiphomandra betaceae) yang berakar dangkal dengan rimbang (Solanum torvum swartz) yang berakar kuat sehingga dihasilkan tanaman baru terung belanda. Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh kekuatan akar rimbang sebagai penyerap air terhadap produk biosintesis telah dilakukan analisis karbohidrat pada buah dari tanaman baru terung belanda serta pengamatan terhadap perubahan sifat pada tanaman baru terung belanda.
Sambung pucuk dilakukan dengan tekhnik baji yaitu terung belanda sebagai batang atas dan rimbang sebagai batang bawah. Analisis karbohidrat dilakukan secara kualitatif dengan metode Benedict dan secara kuantitatif ditentukan sebagai gula pereduksi dengan metode Nelson Somogyi menggunakan spektrofotometer Genesis - 20. Selanjutnya perubahan sifat pada tanaman baru terung belanda diamati selama 6 bulan setelah penyambungan terhadap pertumbuhan batang, cabang, daun dan buah. Hasil analisis karbohidrat terhadap buah dari tanaman baru terung belanda dan blanko menunjukan bahwa terjadi peningkatan kadar karbohidrat pada buah tanaman baru terung belanda sebesar 40,09 %. Hasil pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman baru terung belanda dan tanaman blanko menunjukan bahwa pada tanaman baru terung belanda terjadi pembengkakan pada bekas luka sambungan, batang atas tumbuh lebih besar dari batang bawah, cabang lebih banyak, buah lebih banyak dan lebih keras. selanjutnya tidak terjadi perubahan pada bentuk ataupun warna pada daun dan buah.
Kata kunci : Chiphomandra betaceae, Solanum torvum swartz, sambung pucuk, tanaman baru, biosintesis karbohidrat, perubahan sifat.
ANALYSIS CARBOHYDRATE OF BIOSYNTHESIS PRODUCT
FROM THE FRUIT OF TAMARILLO GRAFTED BETWEEN TAMARILLO
(Chiphomandra betaceae )
AND TURKEY BERRYABSTRACT
It has done a grafting between tamarillo (Chiphomandra betaceae) that has shallow roots with turkey berry (Solanum torvum swartz) that has strong roots so that has result a new tamarillo plant. Next to know the effect from turkey berry roots strengh as water reserve to biosynthesis product has done analysis carbohydrate to the fruit from the new tamarillo plant and research to the change of characteristic to the new tamarillo plant.
Grafting was did by wadge technic, it is tamarillo as scion and turkey berry as rootstock. Analysis to carbohydrate was did with qualitative with Benedict methode and the quantitative by certain as sugar reducted with Nelson Somogyi methode used genesys – 20 spectrofotometer. And then, plant was research during six month after the grafting to the growing of stem, branch, leaves and fruit.
The result of the analysis carbohydrate with fruit from the new tamarillo plant and tamarillo blank showed that has increasing of carbohydrate value to the fruit of the new tamarillo plant as big as 40,09 %. The result of the research to the growing of the new tamarillo plant and tamarillo blank showed that to the new tamarillo plant it’s had swelling to the trace of the wound grafting, scion was growing bigger than rootstock, more branches, more fruit and harder. Then didn’t have change from shape or the colour from leaves and fruits.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang.
Terung belanda merupakan buah bergizi yang cukup banyak dikonsumsi
masyarakat, tumbuh di dataran tinggi dan relatif mahal. Tanaman terung belanda
hanya dijadikan tanaman selingan dan tanaman pagar sehingga hasil produksinya
tidak maksimal (Medan Bisnis online.com, 16 Februari 2009). Tanaman terung
belanda sering berproduksi tidak maksimal disebabkan pada saat berbuah lebat pohon
tumbang karena memiliki akar dangkal dan cabang yang rapuh (Dairi pers, 2007)
dan turunnya produksi buah disebabkan masalah hama terutama oleh infeksi virus
yang cepat menyebar (BPTP-SU,2006). Perlu pemikiran untuk membudidayakan
tanaman terung belanda karena harga buah terung belanda sudah berkisar Rp 4.000
hingga Rp 10.000 / kg. Masyarakat jarang memakan buah terung belanda secara
langsung karena mempunyai rasa agak asam. Buah terung belanda sering diolah
menjadi berbagai masakan seperti kari, acar dan sambal atau menjadi minuman segar
" jus terong belanda". Sekarang ini buah terung belanda sudah ada yang diolah
menjadi sirup terung belanda (Bangkit Tani Berastagi, Oktober 2009).
Menurut Yunus (2009), untuk mengatasi permasalahan pangan, penerapan
bioteknologi tanaman sangat diharapkan pada riset mendatang. Sebagai upaya
menghasilkan tanaman baru yang tahan terhadap hama dan kekeringan serta dapat
meningkatkan kuantitas dan kualitas nutrisi hasil tanaman.
Sebagai upaya pembudidayaan tanaman, bioteknologi berkembang pesat terutama di
negara maju. Memanipulasi organisme hidup untuk kepentingan manusia bukan hal
yang baru. Tanaman produk bioteknologi menyerupai tanaman asalnya, tetapi
memiliki sifat-sifat tertentu yang menyebabkan tanaman lebih baik. Tanaman tersebut
memberikan keuntungan bagi petani dan konsumen. Petani memperoleh hasil yang
lebih tinggi, sedangkan konsumen memperoleh hasil yang lebih menyehatkan,
sehingga tanaman produk bioteknologi telah banyak diperdagangkan di berbagai
negara. Bioteknologi tanaman menawarkan dua cara untuk membudidayakan
tanaman, yaitu secara modern dan secara konvensional. Bioteknologi modern sudah
maju dalam penerapan teknik biologi molekulernya, tetapi membutuhkan alat yang
canggih, biaya yang mahal dan butuh keahlian khusus dalam mengopersikan alat
serta pengaruh jangka panjang tidak dapat diprediksi. Sedangkan bioteknologi
konvensional masih terbatas dalam penerapan tekhnik biologi molekulernya, tetapi
dapat dilakukan dengan alat yang sederhana, biaya lebih murah, tidak membutuhkan
keahlian khusus dalam mengoperasikan alat serta pengaruh jangka panjang dapat
diprediksi (wikipedia,2009).
Penerapan bioteknologi modern tidak selamanya lebih baik dari bioteknologi
konvensional karena pengaruh jangka panjang yang tidak dapat diprediksi.
Perubahan genetika pada tanaman hasil bioteknologi modern tidak menutup
kemungkinan terjadinya sintesa senyawa organik yang tidak diinginkan, seperti
karena setelah diteliti pada biji hasil produksi mengandung suatu senyawa protein
CrY9 yang menyebabkan alergi pada konsumen (GMO, 2003).
Bioteknologi tanaman secara konvensional sudah banyak diaplikasikan untuk
mengatasi permasalahan pangan diantaranya dengan sambung pucuk. Manjerang
(1992) sudah melakukan sambung pucuk antara tomat dengan kentang dan Agustina
(2004) antara jeruk dengan jeruk dengan tujuan menghasilkan bibit unggul. Untuk
meningkatkan kuantitas sekaligus kualitas nutrisi pada buah, Surbakti (2002)
melakukan sambung pucuk antara tanaman ubi kayu racun dengan ubi kayu biasa
sampai tingkat produksi ubi kayu biasa mencapai 3 kali lipat dan kandungan
karbohidrat pada ubi kayu biasa naik 86 %. Selanjutnya Makhziah dan Mulyani
(2008) melakukan sambung pucuk waluh dengan melon sehingga meningkatkan
kadar glukosa buah melon 7,79 %.
Menurut Barus ( 2003) dalam penyambungan, terjadi penggabungan dua jaringan
hidup antara batang atas dan batang bawah. Jika sambungan berhasil maka dari
batang atas akan tumbuh tunas, dan berkembang menjadi cabang dengan perolehan
produksi buah yang tinggi dan kualitas yang baik. Di lain pihak batang bawah akan
berkembang sistem perakaran yang kokoh sehingga dapat beradaptasi pada kondisi
tanah yang kurang subur dan tahan terhadap penyakit. Tanaman hasil penyambungan
akan memiliki sifat-sifat unggul yang dimiliki oleh batang atas dan batang bawah.
Karena dalam penyambungan terjadi penggabungan dari dua sistem kehidupan maka
dibutuhkan kajian tentang hasil selanjutnya dari tanaman yang disambung tersebut.
Dengan alasan rimbang mempunyai akar yang kuat, tahan terhadap kekeringan dan
pucuk, seperti yang dilakukan Oda (2004) antara rimbang dengan beberapa tanaman
holtikultura untuk meningkatkan produksi buah di Jepang. Tarigan dan Pintubatu
(2006) sudah mencoba menyambung pucuk tanaman terung belanda dengan tanaman
rimbang agar pohon terung belanda tidak rubuh saat berbuah. Lahimsjah (2009)
menyambung pucuk terung, tomat dan cabe ke batang rimbang (takokak) dengan
alasan seni dan keindahan.
Dalam upaya meningkatkan produksi suatu tanaman, pendekatan melalui aktifitas
biosintesis karbohidrat (fotosintesis) dapat dilakukan, yakni dengan memanfaatkan
lingkungan dan potensi tanaman seperti suhu, cahaya, jaringan tanaman dan sistem
teknologi budidaya. Salah satunya dari segi potensi tanaman adalah akar. Sistem
perakaran sangat berpengaruh pada porsi air yang diserap untuk fotosintesis. Makin
panjang dan dalam akar menembus tanah makin banyak air yang dapat diserap
sehingga mempengaruhi hasil fotosintesis. Adapun hasil dari fotosintesis disimpan
pada akar, batang ataupun buah (Jumin, 1989).
Menurut Winarno (1992), karakteristik bahan makanan seperti rasa, warna dan
tekstur buah sangat ditentukan oleh kandungan karbohidrat terutama glukosa dan
fruktosa. Keduanya adalah monosakarida sebagai dasar untuk membedakan antara
gula reduksi dan gula non-reduksi yang dapat dianalisis secara kualitatif dan
kuantitatif .
Dari uraian tersebut diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan sambung pucuk
tanaman terung belanda sebagai batang atas dengan tanaman rimbang sebagai batang
melakukan analisis kualitatif dan kuantitatif terhadap karbohidrat buah terung
belanda hasil sambung pucuk dan membandingkan dengan tanpa sambung pucuk.
1.2. Perumusan Masalah.
1. Sejauhmana perubahan kadar karbohidrat pada buah terung belanda dari
tanaman baru hasil sambung pucuk dibandingkan dengan tanpa sambung
pucuk (blanko).
2. Bagaimana pengaruh sambung pucuk terung belanda dengan rimbang
terhadap tanaman baru terung belanda.
1.3. Pembatasan masalah
1. Analisis karbohidrat pada buah terung belanda dari tanaman baru hasil
sambung pucuk dan tanpa sambung pucuk (blanko) dilakukan secara
kualitatif dengan metode Benedict dan secara kuantitatif ditentukan sebagai
gula reduksi dengan metode Nelson Somogyi.
2. Sambung pucuk terung belanda dengan rimbang dilakukan dengan tekhnik
sambung baji tanpa memperhitungkan unsur hara, waktu tanam dan pH tanah.
3. Pengamatan terhadap tanaman baru terung belanda hasil sambung pucuk
1.4.Tujuan Penelitian.
1. Membandingkan kadar karbohidrat pada buah terung belanda dari tanaman
baru hasil sambung pucuk dengan kadar karbohidrat pada buah terung belanda
tanpa sambung pucuk (blanko).
2. Mengetahui perubahan sifat pada tanaman baru terung belanda setelah
disambung pucuk dengan rimbang.
1.5. Manfaat Penelitian.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat :
1. Memberikan informasi tentang perubahan kadar karbohidrat pada buah
dari tanaman baru terung belanda hasil sambung pucuk terung belanda
dengan rimbang.
2. Memberikan informasi tentang pengaruh sambung pucuk antara terung
belanda dengan rimbang terhadap tanaman baru terung belanda.
3. Memotivasi masyarakat khususnya petani untuk membudidayakan tanaman
terung belanda sehingga dapat meningkatkan produksi buah terung belanda.
1.6. Metodologi Penelitian.
Penelitian dilakukan dengan mempersiapkan batang bawah (rimbang) dan
batang atas (terung belanda), kemudian disambung pucuk dengan tekhnik sambung
baji. Selanjutnya dilakukan pengamatan terhadap tanaman baru terung belanda hasil
sambung pucuk dan buah terung belanda blanko diuji secara kualitatif dengan
pereaksi Benedict dan secara kuantitatif dengan metode Nelson Somogyi.
1.7. Waktu dan Tempat Penelitian.
Penelitian dilaksanakan mulai bulan Juli 2009 sampai April 2010 di kebun Balai
Benih Induk Dinas Pertanian Berastagi Tanah Karo untuk sambung pucuk terung
belanda dengan rimbang dan di Laboratorium Biokimia FMIPA Universitas Sumatera
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2. 1. Tanaman Terung Belanda (Chiphomandra betaceae).
Tanaman terung belanda berupa perdu yang rapuh dengan ketinggian 2 sampai 3
meter, pangkal batangnya pendek dan cabangnya lebat. Daun berada di ujung pucuk
dengan panjang 10 – 35 cm dan lebar 4 – 20 cm. Buah berbentuk oval dengan
diameter ± 4 cm. Daging buah agak asam, berwarna merah, jingga dan kuning. Kulit
buah tipis. Bijinya bulat pipih, tipis, dan keras(Srikumalaningsih, 2006).
Kingdom :Plantae
Subkingdom :Tracheobionta
Divisi :Spermatophyta
Sub divisi :Angiospermae
Kelas :Dicotyledonae
Bangsa : Solanales
Suku : Solanaceace
Marga : Solanum
Jenis : Chiphomandra betaceae
(www.plantamor.com, 2009)
Pemberian nama tanaman famili solanaceae ini bergantung pada daerah pertumbuhan dan penanamannya. Masyarakat di Sumatera Utara menyebutnya Tiung, Terong
Belanda, Terong Jepang atau Terong Berastagi. Secara umum di Indonesia bernama
Terung Belanda. Tanaman ini bukan tanaman asli Indonesia, melainkan tanaman
(dengan nama Tamarillo) yang didatangkan dari Amerika pada zaman penjajahan
Belanda (Tarigan dan Pintubatu, 2006).
Di daerah tropik terung belanda tumbuh di dataran tinggi, yakni pada 1000 m sampai
2000 m diatas permukaan laut. Pemilihan benih yang berkualitas dapat menghasilkan
tanaman terung belanda yang sama sifatnya dengan induknya. ((holtikultura, 2006)).
Pemupukan bagian bawah sebelum pemangkasan untuk mendorong pertumbuhan
pucuk, dan pemupukan bagian atas setelah buah terbentuk guna mendorong
pertumbuhan buah. Pengairan selama musim kemarau penting untuk
panen (Tarigan dan Pintubatu, 2006). Pada umur 1 sampai 2 tahun setelah
penyemaian bibit, terung belanda dapat dipanen beberapa kali sepanjang musim
panen yang lamanya antara 5 sampai 7 bulan setiap tahun. Tanaman terung belanda
dapat berbuah selama 5 sampai 8 tahun. Karena akar terung belanda dangkal maka
tidak tahan terhadap kekeringan dan tiupan angin. Penanganan pasca panen buah
terung belanda mudah dikelola karena dagingnya keras, kulitnya licin dan liat. Dalam
keadaan hangat, daya tahannya mencapai 1 minggu, sedangkan pada penyimpanan
dingin ± 3,5°C buah dapat disimpan selama 12 minggu. Buah ini dapat dibagi
menjadi 3 varietas, yaitu terung belanda merah, jingga, dan kuning (Http//www
.worldagrofestry.com, 2009). Masalah hama terutama disebabkan oleh infeksi virus,
antara lain virus-virus mosaik terung belanda, mosaik mentimun, mosaik Arab atau
beberapa virus yang belum teridentifikasi. Virus-virus tersebut cepat menyebar
hingga dapat menyebabkan turunnya produksi buah terung belanda (BPTP-SU,
2006).
Terung belanda mengandung provitamin A untuk kesehatan mata serta vitamin C
untuk mengobati sariawan dan meningkatkan daya tahan tubuh. Kandungan mineral
penting seperti potasium, fosfor dan magnesium mampu menjaga dan memelihara
kesehatan. Seratnya yang tinggi untuk mencegah kanker dan sembelit. Terung
belanda mengandung antosianin yang merupakan salah satu jenis antioksidan
penangkal radikal bebas untuk mencegah kanker. Buah terung belanda juga dapat
dimanfaatkan untuk masakan seperti acar, kari ataupun sambal. Buahnya yang
matang cocok dijadikan sirup, selai, jus, rujak, hiasan es krim atau menjadi bahan
sumber serat, beta-karoten, dan vitamin E serta mengandung banyak likopen dalam
varietas jingga dan merah ([email protected], 2009).
Setiap 100 g bagian buah terung belanda yang dapat dimakan mengandung komposisi
air 86 g, karbohidrat 11,2 g, protein 1,5 g, lemak 0,3 g, mineral 1.g kalsium 13 mg,
posfor 24 mg, besi 0,8 mg,vitamin A 0 mg,vitamin B 0,04 mg, dan vitamin C 17 mg
(Oey Kam Nio,1992).
2.2. Tanaman Rimbang (Solanum torvum swartz)
Tanaman ini termasuk tanaman perdu yang tumbuh tegak dengan tinggi
sekitar 3 m. Batang bulat, berkayu, bercabang, dan berduri. Daunnya tunggal,
berwarna hijau, ujung meruncing dengan panjang sekitar 27 - 30 cm dan lebar
20 - 24 cm. Bunga majemuk, bentuk bintang, berbulu, bertajuk lima, dan
runcing. Bijinya pipih, kecil, licin dan berwarna putih kekuningan. Berakar
tunggang menjalar di dalam tanah (Sirait, 2009).
Nama lain rimbang ini adalah terung pipit (melayu), terong pipit, cepokak, pokak
(Jawa), takokak (Sunda) . Sedangkan di negara lain sering disebut Turkey berry
Gambar 2.2. Deskripsi tanaman rimbang
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Solanales
Suku : Solanaceace
Marga : Solanum
Jenis : Solanum Torvum Swartz
(www.Plantamor.com.2009)
generatif. Perbanyakan dengan biji dilakukan dengan terlebih dahulu membuang
daging buah kemudian disemaikan. Setelah ketinggian benih sekitar 10 cm
dipindahkan ke lahan yang telah disiapkan dengan jarak tanaman 70 x 80 cm.
Pemeliharaan tanaman cepoka hanya dengan membersihkan gulma dan
menggemburkan tanah. Tanaman ini merupakan tanaman yang tahan terhadap
penyakit layu, tidak seperti jenis Solanaceae lainnya. Buah pertama cepoka dapat
dipanen setelah berumur sekitar 3 - 4 bulan dari waktu tanam (Sirait, 2009).
Rimbangmerupakan tanaman semak berakar kuat dan tahan serangan hama, sehingga
dapat digunakan sebagai batang bawah pada penyambungan tanaman, yaitu untuk
mengatasi penyakit yang mempengaruhi sistem akar, sehingga memungkinkan
tanaman berproduksi lebih lama. Buah segar yang hijau dapat dimakan langsung atau
digunakan dalam masakan. Ekstrak dari tanaman berguna untuk pengobatan penyakit
kulit. Di daerah Sumatera Utara buah rimbang sering ditambahkan kedalam masakan
dan menjadi lalapan yang sangat digemari (wikipedia,2009)
Setiap 100 g buah yang dapat dimakan terkandung air 89 g, karbohidrat 7,9 g, protein
2 g, lemak 0,1 g, mineral 1 g kalsium 50 mg, posfor 30 mg, besi 2 mg, vitamin A 225
mg, vitamin B 0,08 mg, dan vitamin C 80 mg (Oey Kam Nio,1992).
Kandungan senyawa kimia lainnya yaitu solasodin 0,84% pada daun, solasonin
0,1% pada buah yang sudah kuning, chlorogenin pada buah mentah dan jurubin
pada akar (Sirait, 2009).
2. 3. Bioteknologi Sambung Pucuk ( Grafting ).
Bioteknologi berkaitan dengan reaksi biologis oleh jasad hidup sebagai
organisme yang memiliki organel sel, jaringan dan molekul, seperti DNA, RNA,
protein dan enzim. Bioteknologi mempunyai banyak cabang, salah satu diantaranya
adalah bioteknologi tanaman.
Tanaman produk bioteknologi telah banyak diperdagangkan di berbagai negara.
Tanaman hasil bioteknologi menyerupai tanaman asalnya, tetapi memiliki sifat-sifat
tertentu yang menyebabkan tanaman lebih baik. Tanaman tersebut memberikan
keuntungan bagi petani dan konsumen. Petani memperoleh hasil yang lebih tinggi,
sedangkan konsumen memperoleh hasil yang lebih menyehatkan. Ada dua
bioteknologi tanaman, yaitu bioteknologi konvensional dan bioteknologi modern.
Pada bioteknologi modern penerapan tekhnik biologi molekulernya sudah maju,
penggunaan alat sudah cangih tetapi membutuhkan biaya mahal, butuh tenaga ahli
dan hasil tidak dapat diprediksi. Contoh nyata pada bioteknologi modern adalah
penggunaan tanaman transgenik yang membawa gen ketahanan terhadap hama dan
penyakit dengan cara fusi sel, fusi protoplasma dan rekombinasi segmen gen.
Sedangkan pada bioteknologi konvensional penerapan tekhnik biologi molekulernya
masih terbatas, penggunaan alat sederhana, membutuhkan biaya murah, tidak butuh
tenaga ahli dan hasil dapat diprediksi. Contoh dari bioteknologi konvensional adalah
penggunaan galur tanaman alami yang belum mengalami modifikasi dengan cara
okulasi dan sambung pucuk (wikipedia, 2009)
sebagai satu tanaman baru. Berdasarkan tekhnik sambungan maka sambung pucuk
terbagi atas :
a. Sambung baji (wedge grafting).
b. Sambung baji terbalik (interved wedge grafting) c. Sambung cumeti
d. Sambung celah lidah (whip and tongue grafting)
Sambung baji merupakan cara penyambungan yang paling mudah dilakukan. Cara ini
paling banyak dilakukan oleh penangkar bibit. Sambung baji dapat dilakukan dengan
memotong atau menyayat batang bawah dan batang atas dengan potongan bentuk
baji/ mata kampak/ bentuk huruf V. Calon batang atas yang telah dipotong dimasukan
ke celah batang bawah kemudian diikat.
b
a c
Gambar 2.3. Sambung pucuk dengan tekhnik baji. (a = batang bawah, b = batang
atas dan c = penyambungan batang bawah dengan batang atas)
Tanaman sebelah atas disebut entris atau scion, tanaman batang bawah disebut
mempengaruhi batang atas dan sebaliknya batang atas juga dapat mempengaruhi
batang bawah. Pengaruh batang bawah terhadap batang atas antara lain:
a. Mengontrol kecepatan tumbuh batang atas dan bentuk tajuknya.
b. Mengontrol pembungaan.
c. Mengontrol jumlah tunas dan hasil batang atas.
d. Mengontrol ukuran buah, kualitas buah, kemasakan buah.
e. Agar resisten terhadap hama dan penyakit tanaman.
Menurut Ashari (1995) sel-sel parenkim batang atas dan batang bawah
masing-masing mengadakan kontak langsung, saling menyatu dan membaur. Sel parenkim
tertentu mengadakan diferensiasi membentuk kambium sebagai kelanjutan dari
kambium batang atas dan batang bawah yang lama. Pada akhirnya terbentuk
jaringan/pembuluh dari kambium yang baru sehingga proses translokasi hara dari
batang bawah ke batang atas dan sebaliknya dapat berlangsung kembali. Agar proses
pertautan tersebut dapat berlanjut, sel atau jaringan meristem antara daerah potongan
harus terjadi kontak untuk saling menjalin secara sempurna. Ashari (1995)
mengemukakan bahwa hal ini hanya mungkin jika kedua jenis tanaman cocok
(kompatibel) dan irisan rata, serta pengikatan sambungan tidak terlalu lemah dan
tidak terlalu kuat, sehingga tidak terjadi kerusakan jaringan.
Setelah dilakukan penyambungan sel-sel batang bawah dan sel-sel batang atas yang
dilapisi oleh membran plasma yang terdiri dari senyawa fospat dan protein integral
masing-masing tetap melakukan pembelahan sel dan saling berinteraksi dengan
bantuan enzim difospatase. Semakin besar tanaman maka semakin tebal lapisan sel
batang bawah. Setelah terjadi perpaduan proses transportasi zat hara dan air serta
produk biosintesis dalam tanaman kembali berlangsung sebagaimana mestinya
(Finean JB, 1979)
Kompatibilitas adalah kemampuan dua jenis tanaman yang disambung untuk menjadi
satu tanaman baru. Kedua tanaman yang disambung akan menghasilkan persentase
kompatibilitas tinggi jika masih dalam satu spesies atau bahkan satu famili,
tergantung jenis tanaman masing-masing (Ashari, 1995). Sebaliknya menurut
Hartmann et al (1997) Inkompatibilitas antar jenis tanaman yang disambung dapat
dilihat dari kriteria sebagai berikut :
a. Tingkat keberhasilan sambungan rendah.
b. Pada tanaman yang sudah berhasil tumbuh, terlihat daunnya menguning, rontok,
dan mati tunas.
c. Mati muda, pada bibit sambungan .
d. Laju pertumbuhan antara batang bawah dengan batang atas berbeda.
e. Terjadinya pertumbuhan yang berlebihan pada batang atas maupun batang
bawah.
2. 4. Karbohidrat.
Karbohidrat adalah sumber energi utama bagi hampir seluruh penduduk dunia
khususnya bagi penduduk negara yang sedang berkembang. Semua karbohidrat
berasal dari tumbuh-tumbuhan. Karbohidrat juga mempunyai peranan penting dalam
menentukan karakteristik bahan makanan, misalnya rasa,warna dan tekstur buah
Karbohidrat adalah senyawa yang terdiri dari polihidroksi aldehid atau polihidroksi
keton yang dapat digolongan menjadi tiga yaitu monosakarida, 0ligosakarida dan
polisakarida.
Sebagian besar monosakarida dikenal sebagai heksosa, karena terdiri atas 6 atom
karbon. Atom-atom hidrogen dan oksigen terikat pada rantai atau cincin ini secara
terpisah atau sebagai gugus hidroksil (-OH). Ada tiga jenis heksosa yang penting
yaitu glukosa, fruktosa, dan galaktosa. Ketiga monosakarida ini mengandung jenis
dan jumlah atom yang sama, yaitu 6 atom karbon, 12 atom hidrogen, dan 6 atom
oksigen. Perbedaannya hanya terletak pada cara penyusunan atom-atom hidrogen dan
oksigen di sekitar atom-atom karbon. Perbedaan dalam susunan atom inilah yang
menyebabkan perbedaan dalam tingkat kemanisan, daya larut, dan sifat lain ketiga
monosakarida tersebut. Struktur kimianya dapat berupa struktur terbuka atau struktur
cincin. Struktur glukosa dan fruktosa digunakan sebagai dasar untuk membedakan
antara gula reduksi dan gula non-reduksi. Penamaan gula reduksi ialah didasarkan
pada adanya gugus aldehid (–CHO) dan keton (C=O) yang dapat mereduksi larutan
Cu2+ menjadi Cu+ yang ditandai dengan terbentuknya endapan merah bata.
Monosakharida yang mengandung enam karbon mempunyai formula molekul
C6H12O6. Termasuk di dalamnya glukosa (juga dikenal sebagai dekstrosa) yang
Gambar 2.4. struktur monosakarida
Glukosa Fruktosa Ribosa
Oligosakarida merupakan golongan karbohidrat yang molekulnya terdiri dari 2
sampai 10 unit monosakarida dan dapat larut dalam air serta banyak terdapat di alam
diantaranya sukrosa. Sukrosa terdapat dalam buah-buahan masak, dan getah pohon
serta tersebar luas di alam. Maltosa ditemukan dalam biji yang sedang tumbuh dan
mengandung dua molekul glukosa. Laktosa adalah gula susu dan hanya terdapat
dalam susu (atau hasil-hasil dari susu).
Polisakarida merupakan senyawa yang terdiri dari gabungan molekul monosakarida
yang berjumlah banyak (lebih dari 10 unit monosakarida) sehingga senyawa ini bisa
dihidrolisis menjadi banyak molekul monosakarida. Karbohidrat kompleks ini dapat
mengandung sampai tiga ribu unit gula sederhana yang tersusun dalam bentuk rantai
panjang lurus atau bercabang. Jenis polisakarida yang penting adalah pati, dekstrin,
glikogen, dan polisakarida nonpati/serat.
Biosintesis karbohidrat yaitu proses anabolisme atau pembentukan karbohidrat dari
juga dengan fotosintesis. Baik karbohidrat ataupun oksigen yang dihasilkan
fotosintesis, merupakan senyawa kimia yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup.
Fotosintesis pada tumbuhan bersifat autotrof yang berarti dapat mensintesis makanan
langsung dari senyawa anorganik. Energi untuk menjalankan proses ini berasal dari :
cahaya/ khlorofil
6H2O + 6CO2 6H12O6 + 6O2
lukosa dapat digunakan untuk membentuk senyawa organik lain seperti selulosa
dkk (2002), pada dasarnya rangkaian reaksi fotosintesis dapat
4. 1. Reaksi Terang.
cahaya diserap oleh molekul klorofil untuk dikumpulkan pada C
G
dan dapat pula digunakan sebagai bahan bakar. Proses ini berlangsung melalui
respirasi seluler yang terjadi baik pada hewan maupun tumbuhan. Pada tumbuhan,
organ utama tempat berlangsungnya fotosintesis adalah daun. Meskipun seluruh
bagian tubuh tumbuhan yang berwarna hijau mengandung kloroplas, namun sebagian
besar energi dihasilkan di daun. Di dalam daun terdapat lapisan sel yang disebut
mesofil yang mengandung kloroplas. Didalam khloroplas terdapat pigmen pemberi
warna hijau yang disebut klorofil. Klorofil menyerap cahaya yang akan digunakan
dalam fotosintesis. Cahaya akan menuju mesofil tempat terjadinya sebagian besar
proses fotosintesis.
Menurut lestari, R.
dibagi dua yaitu reaksi terang dan reaksi gelap.
2.
Di dalam daun,
pusat-pusat reaksi. Tumbuhan memiliki dua pigmen yang berfungsi aktif sebagai
menyerap cahaya dengan panjang gelombang 700 nanometer. Molekul klorofil
fotosistem II menyerap cahaya dengan panjang gelombang 680 nanometer. Kedua
fotosistem ini akan bekerja secara simultan dalam fotosintesis. Fotosintesis dimulai
ketika cahaya mengionisasi molekul klorofil pada fotosistem II, sehingga melepaskan
elektron yang akan ditransfer sepanjang rantai transpor elektron. Energi dari elektron
ini digunakan untuk fotofosforilasi yang menghasilkan ATP. Reaksi ini menyebabkan
fotosistem II mengalami defisit elektron yang harus segera diganti. Pada tumbuhan,
kekurangan elektron ini dipenuhi oleh elektron dari hasil ionisasi air yang terjadi
[image:37.612.120.519.341.680.2]bersamaan dengan ionisasi klorofil. Hasil ionisasi air ini adalah elektron dan oksigen.
Pada saat yang sa juga mengionisasi
fotosistem I, melepaskan elektron yang ditransfer sepanjang rantai transpor elektron
yang akhirnya mereduksi NADP menjadi NADPH.
2. 4. 2. Reaksi Gelap
ATP dan NADPH yang dihasilkan pada reaksi terang memicu berbagai
reaksi biokimia. Pada tumbuhan terjadi reaksi gelap pada siklus Calvin yang
mengikat karbon dioksida membentuk ribulosa dan akhirnya menjadi glukosa. Reaksi
ini disebut reaksi gelap adalah karena tidak bergantung pada cahaya.
Reak
2 dikonversi menjadi molekul organik (fixation) melalui
pe
3-phosphoglycerate menerima tambahan fosfat membentuk
1,3-spat).
enjadi RuBP melalui reaksi yang
idrat terjadi dengan reaksi:
+
+ 12e
si gelap dapat dibagi atas tiga tahap, yaitu :
a. Fiksasi karbon.
Sebuah molekul CO
ngikatan ke gula 5C (ribulose bisphosphate) yang dikatalisasi enzim RuBP
carboxylase (Rubisco). Selanjutnya gula 6C dipecah menjadi 3-phosphoglycerate.
b.Reduksi CO2.
Tiap molekul
Bisphosphoglycerate (fosforilasi). NADPH dioksidasi menjadi NADP dan elektron
yang ditransfer ke 1,3-Bisphosphoglycerate memecah molekul hingga tereduksi
menjadi Glyceraldehyde 3-phosphate.
c. Regenerasi RuBP (Ribulosa bipo
Glyceraldehyde 3-phosphate dikonversi m
melibatkan fosforilasi molekul oleh ATP.
Dari uraian diatas maka biosintesis karboh
6H2O 3O2 + 12H+ + 12e
6NADP+ + 12H+ + 12e 6NADPH + 6H
18 ADP + 18P 18ATP
6NADPH 6NADP+ + 6H+
6CO2 + 12 H+ +12e C6H1206 + 3O2
18ATP 18ADP + 18P
Menurut Jumin (1989) dari reaksi fotosintesis tersebut ada beberapa faktor utama yang
menentukan laju fotosintesis yaitu intensitas cahaya, konsentrasi karbondioksida, Suhu,
kadar air, kadar fotosintat (hasil fotosintesis) dan tahap pertumbuhan. Faktor tersebut
akan mempengaruhi kapasitas daun sebagai tempat terjadinya fotosintesis dan buah,
batang serta akar sebagai penyimpan hasil fotosintesis (produk biosintesis). Jika
intensitas cahaya, konsentrasi karbondioksida dan suhu tersedia pada kondisi tak
dibatasi, maka kadar air, kadar fotosintat (produk biosintesis) dan tahap pertumbuhan
akan mempengaruhi kapasitas daun, akar, batang dan buah. Banyaknya air sebagai
reaktan dan sebagai pelarut zat hara dalam tanaman sangat dipengaruhi oleh sistem
perakaran. Makin panjang dan dalam akar menembus tanah makin banyak air yang
diserap bila dibandingkan dengan perakaran yang pendek dan dangkal. Makin banyak
air maka makin banyak produk biosintesis yang dapat ditranslokasikan melalui floem
ke akar, batang dan buah. Pada tahap perkecambahan akar lebih banyak
membutuhkan produk biosintesis.
Uji kualitatif terhadap karbohidrat sebagai produk biosintesis dapat dilakukan dengan dua
cara yaitu menggunakan reaksi pembentukan warna dan menggunakan cara
kromatografi (TLC, GC dan HPLC). Dikarenakan efisiensi pengujian, pada umumnya
untuk pengujian secara kualitatif hanya digunakan reaksi pembentukan warna sebagai
dasar penentuan kandungan karbohidrat dalam suatu bahan. Sedikitnya ada tujuh
reaksi pembentukan warna, yaitu reaksi Molisch, reaksi Barfoed, reaksi Fehling, reaksi
Iodium, reaksi Benedict danreaksi Seliwanoff. Reaksi benedict merupakan reaksi yang
lebih mudah dan sederhana langkah kerjanya tetapi spesifik untuk kelompok
ini adalah gula yang mengandung gugus aldehida dan keton akan mereduksi ion Cu2+
dalam suasana alkalis menjadi Cu+, yang mengendap sebagai Cu2O (kupro oksida)
berwarna merah bata.
Untuk penetapan kadar karbohidrat (uji kuantitatif) dapat dilakukan dengan metode
fisika, kimia, enzimatik, dan kromatografi. Dalam metode kimia ada dua cara, yang
pertama dengan melihat metode SNI cara uji makanan dan minuman nomor SNI
01-2892-1992. Cara yang kedua dengan menggunakan metode Nelson Somogyi, yakni
dengan prinsip reaksi reduksi CuSO4 oleh gugus karbonil pada gula reduksi yang
setelah dipanaskan terbentuk endapan kupru oksida (Cu2O) kemudian ditambahkan
Na-sitrat dan Na-tatrat serta asam fosfomolibdat agar terbentuk suatu senyawa
komplek berwarna biru yang dapat diukur absorbansinya dengan spektrofotometer.
Spektrofotometer digunakan karena kemampuannya dalam menganalisis banyak
senyawa kimia serta kepraktisannya dalam hal preparasi sampel apabila dibandingkan
dengan beberapa metode analisis. Spektrofotometri uv-vis adalah pengukuran serapan
cahaya oleh suatu senyawa di daerah ultraviolet (200 – 350 nm) dan sinar tampak
(350 – 800 nm). Serapan cahaya uv atau cahaya tampak mengakibatkan transisi
elektronik, yaitu promosi elektron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah
ke orbital keadaan tereksitasi berenergi lebih tinggi. Panjang gelombang cahaya uv
atau cahaya tampak bergantung pada mudahnya promosi elektron. Molekul-molekul
yang memerlukan lebih banyak energi untuk promosi elektron, akan menyerap pada
panjang gelombang yang lebih pendek. Molekul yang memerlukan energi lebih
sedikit akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih panjang. Senyawa yang
yang lebih mudah dipromosikan dari pada senyawa yang menyerap pada panjang
gelombang lebih pendek
Prinsip penentuan spektrofotometer UV-Vis adalah aplikasi dari Hukum
Lambert-Beer, yaitu:
A = - log T = - log It / Io = ε . b . C
Dimana: A = Absorbansi dari sampel yang akan diukur .
ε = Koefisien ekstingsi.
T = Transmitansi.
b = Tebal kuvet yang digunakan.
I0 = Intensitas sinar masuk.
It = Intensitas sinar yang diteruskan.
C = Konsentrasi dari sampel. (Sastrohamidjojo, 1991).
BAB III
METODE PENELITIAN
3. 1. Bahan-bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
- Kalium Na – tatrat (C4H4KNaO6. 4H2O)
p.a. (E.merck)
- Natrium Karbonat anhidrat (Na2CO3)
p.a. (E.merck)
- Natrium Sulfat anhidrat (Na2SO4)
p.a. (E.merck)
- Tembaga Sulfat Pentahidrat (CuSO4.7H2O)
p.a. (E.merck)
- Asam Sulfat (H2SO4) p.a. (E.merck)
- Dinatrium hidroarsenat heptahidrat (Na2HASO4. 7 H2O) p.a. (E.merck)
- Glukosa anhidrat (C6H12O6)
p.a. (E.merck)
- Natrium sitrat ( C6H5O7Na3 ) p.a. (E.merck)
- Bibit Rimbang
- Tunas tanaman terung belanda
- Tanah humus
- Atonik (ZPT)
3. 2. Alat-alat
- Beker Gelas
Pyrex
- Tabung reaksi
Pyrex
- Rak tabung
- Labu ukur
Pyrex
- Gelas Ukur
Pyrex
- Hot Plate
MiltonRoy
- Penangas air
Fisher
- Neraca analitik
Metler Toledo
- Gelas Erlenmeyer
- Spektrofotometer uv-vis Genesys 20
- Inkubator
- Mortar
- Kain kasa
- Tali rafia
- Polybag
3. 3. Prosedur Penelitian
3. 3. 1. Persiapan Batang Bawah dan Batang Atas
Dilaksanakan sesuai dengan metode sambung pucuk terung
belanda dengan rimbang oleh Tarigan dan Pintubatu (2006).
a. Persiapan Batang Bawah
1) Tiga buah rimbang kering diambil bijinya dan disemaikan pada media
persemaian yang mengandung tanah humus.
2) Setelah berumur + 2 bulan bibit dipindahkan ke polybag. (12 bibit yang
akan disambung dan 4 cadangan).
3) Setelah bibit mempunyai diameter batang + 0,5 cm bibit disambung dengan
pucuk/tunas terung belanda (R1, R2, R3, R4, R5, R6, R7, R8, R9, R10 R11,
R12).
1) Dipersiapkan 3 tanaman terung belanda diatas 1 tahun yang bertunas banyak
sebagai pohon induk untuk disambung dan untuk blanko.
2) Setiap pohon (pohon 1,2,3) dipotong tunasnya sebanyak 4 tunas setiap pohon
(T1.1, T1.2, T1.3, T1.4, T2.1, T2.2, T2.3, T2.4, T3.1, T3.2, T3.3, T3.4).
3) Sisa tunas pada pohon induk dijadikan sumber buah untuk blanko yang tidak
disambung (Pohon blanko/ TB1,TB2,TB3).
3. 3. 2. Penyambungan Batang Bawah Dengan Batang Atas.
a) Pertumbuhan batang bawah ditunggu sampai diameter batang berukuran
+ 0,5 cm .
b) Dipotong + 15 cm diatas pangkal batang bawah dan dibuat sayatan
berbentuk huruf V dengan panjang + 1 – 1,5 cm (sebanyak 12
batang dan 4 cadangan).
c) Dipilih calon batang atas yang panjangnya tidak melebihi 5 cm dan
diameter tunas/pucuk yang sedikit lebih kecil dari batang bawah.
d) Pangkal tunas / pucuk batang atas disayat mengikuti bentuk sayatan yang
telah disediakan pada batang bawah (12 batang)
e) Batang atas diselipkan kebatang bawah, dan diikat rapat dengan tali rafia.
(S1R1T1.1, S2R2T1.2, S3R3T1.3, S4R4T1.4, S5R5T2.1, S6R6T2.2,
S7R7T2.3, S8R8T2.4, S9R9T3.1, S10R10T3.2, S11R11T3.3 ,
f) Jumlah daun dikurangi separuh dari jumlah daun yang ada, disisakan
daun yang terdekat dengan ujung pucuk, disungkup dengan botol plastik
untuk mengurangi penguapan yang berlebihan.
3. 3. 3. Pemelihraan Tanaman Baru Terung Belanda .
a) Tanaman yang baru disambung ditempatkan pada Green House
b) Dilakukan penyiraman dengan air jika kering dan tidak sampai
membasahi bekas sambungan.
c) Setelah sambungan berhasil, tanaman disemprot dengan atonik dosis 1
– 2 cc / liter air .
d) Memangkas tunas – tunas yang muncul pada batang bawah serta
melakukan pemupukan setelah penyambungan dan setelah terbentuk
bakal buah yang pertama.
e) Setelah pertumbuhan sambungan normal, tali pengikat dan plastik di
lepaskan agar perkembangan dan pertumbuhan batang tidak terganggu.
f) Persentase keberhasilan penyambungan sudah dapat dihitung dengan
membandingkan jumlah tanaman terung belanda yang berhasil
disambung, dan tumbuh dengan jumlah keseluruhan tanaman yang
3. 3. 4. Panen Buah Tanaman Baru Terung Belanda dan Buah Terung Belanda
Blanko.
Pada saat tanaman terung belanda sudah berbuah (sekitar 2 bulan
setelah penyambungan ) maka panen dilakukan dari tanaman baru hasil sambung
pucuk dan tanaman blanko yang sudah matang dalam jangka waktu yang bersamaan
terhitung semenjak terbentuknya bakal buah.
Panen dilakukan dengan mengambil satu buah terung belanda dari setiap pohon hasil
penyambungan S1R1T1.1, S2R2T1.2, S3R3T1.3, S4R4T1.4, S5R5T2.1, S6R6T2.2,
S7R7T2.3, S8R8T2.4, S9R9T3.1, S10R10T3.2, S11R11T3.3 , S12R12T3.4) dan
satu buah dari setiap pohon tanpa penyambungan (TB1,TB2,TB3) kemudian
dikelompokan menurut asal pohon induk (TS1, TS2, TS3) dan blanko
(TB1,TB2,TB3).
3. 3. 5. Persiapan Analisis Karbohidrat
Analisis karbohidrat pada buah dari tanaman baru terung belanda dan buah
terung belanda blanko dilaksanakan dengan mengacu pada analisis bahan makanan
menurut Sudarmadji (1984).
a. Pembuatan Pereaksi Nelson Somogyi.
- Larutan Nelson A
Dilarutkan 12,5 g natrium karbonat anhidrat 12,5 kalium natrium tatrat, 10 g
natrium bikarbonat, dan 100 g natrium sulfat anhidrat dalam 350 ml akuadest.
- Larutan Nelson B
Dilarutkan 7,5 g CuSO4 5 H2O dalam 50 ml akuades dan ditambahkan 1 tetes
H2SO4 (pekat).
Pereaksi Nelson dibuat dengan cara mencampurkan 25 ml bagian larutan
Nelson A dan 1 ml bagian larutan Nelson B. Pencampuran dilakukan pada setiap
hari akan digunakan.
b. Pembuatan Larutan Arsenomolybdat.
1) Dilarutkan 25 g Ammonium molybdat dalam 450 ml akuadest dan
ditambahkan 25 ml asam sulfat pekat.
2) Dilarutkan pada tempat yang lain 3 g Na2HASO4 7 H2O dalam 25 ml
akuades.
3) Larutan kedua dituangkan kedalam larutan yang pertama, dan disimpan dalam
botol berwarna cokelat.
4) Selanjutnya diinkubasi pada suhu 370 C selama 24 jam (hingga larutan
berwarna kuning).
c. Pembuatan Pereaksi Benedict.
1). Dicampurkan 17,3 g natrium sitrat dengan 10 g natrium karbonat anhidrat ke
dlm 80 ml air, diaduk, dan disaring.
2). Ditambahkan 1,73 g tembaga sulfat yg telah dilarutkan dlm 10 ml air.
3). Volume total dibuat menjadi 100 ml dengan penambahan air.
d. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum (650 –850 nm) Larutan Standar.
1) Ditimbang 40 mg Glukosa anhidrat dan dilarutkan dengan akuades sampai
2) Dipipet 25 ml larutan diatas dan diencerkan dengan akuades sampai 100 ml
(larutan glukosa 0,05 mg / ml).
3) Dipipet 1 ml larutan glukosa 0,05 mg / ml ke dalam tabung reaksi,
ditambahkam 1 ml pereaksi nelson dan ditutup tabung reaksi dengan kapas,
segera dipanaskan dalam penangas air mendidih selama 30 menit.
4) Diangkat dan didinginkan sampai suhunya mencapai 25o
5) Setelah dingin ditambahkan 1 ml larutan arsenomolybdat, dikocok sampai
semua endapan Cu2O larut sempurna, dan ditambahkan 7 ml akuadest,
kemudian dikocok sampai homogen.
6) Diukur serapan panjang gelombang pada 650 –850 nm dengan menggunakan
blanko akuades.
e. Persiapan Kurva Kalibrasi Larutan Glukosa Standar.
1) Dibuat larutan glukosa standar 0,02 ; 0,04 ; 0,06 ; 0,08 ; 0,10 ; 0,12 ; 0,14 ;
0,16 ; 0,18 dan 0,2 mg/ml dengan mengencerkan larutan glukosa 0,2 mg/ml
sebanyak 2,5 ; 5 ; 7,5 ; 10 ; 12,5 ; 15 ; 17,5 ; 20 ; 22,5 dan 25 ml kedalam
labu takar 25 ml.
2) Masing – masing larutan standar dipipet 1 ml dan dimasukan kedalam tabung
reaksi.
3) Kedalam masing-masing tabung ditambahkan 1 ml pereaksi Nelson somogyi
dan ditutup dengan kapas, segera dipanaskan dalam penangas air mendidih
selama 30 menit.
5) Setelah dingin ditambahkan 1 ml larutan arsenomolybdat, dikocok sampai
semua endapan larut sempurna, ditambahkan 7 ml akuadest, kemudian
dikocok sampai homogen.
6) Diukur serapan panjang gelombang pada 750 nm dengan menggunakan
blanko akuades.
7) Hasil pengukuran absorbansi dibuat dalam bentuk kurva kalibrasi.
3. 3. 6. Pembuatan Larutan Sampel Buah Tanaman Baru Terung Belanda dan
Blanko Untuk Analisis Karbohidrat.
a) Disediakan 1 buah terung belanda dari setiap pohon hasil penyambungan
(S1R1T1.1, S2R2T1.2, S3R3T1.3, S4R4T1.4, S5R5T2.1, S6R6T2.2,
S7R7T2.3, S8R8T2.4, S9R9T3.1, S10R10T3.2, S11R11T3.3 ,
S12R12T3.4) dan masing – masing 4 buah terung belanda blanko dari 3
pohon induk (TB1,TB2,TB3).
b) Masing – masing buah hasil sambung pucuk dikelompokan menurut
asal pohon induk TS1 (S1R1T1.1, S2R2T1.2, S3R3T1.3, S4R4T1.4),
TS2 (S5R5T2.1, S6R6T2.2, S7R7T2.3, S8R8T2.4), dan TS3 (S9R9T3.1,
S10R10T3.2, S11R11T3.3 , S12R12T3.4 ) serta buah terung belanda
blanko TB1,TB2 dan TB3.
c) Masing – masing buah (TS1,TS2,TS3,TB1,TB2,TB3) dicuci bersih dan
ditimbang untuk mengetahui berat sampel dalam 1 ml filtrat.
d) Buah dipotong kecil, dihaluskan dan disaring dengan kain kasa sehingga
e) Masing – masing filtrat diukur volumenya, untuk mengetahui berat
sampel dalam 1 ml filtrat.
f) Masing – masing filtrat diambil 1 ml dan diencerkan dengan akuades
dalam labu takar 100 ml sehingga diperoleh larutan sampel (1 ml filtrat /
100 ml larutan ).
3. 3. 7. Analisis Kualitatif Larutan Sampel Buah Tanaman Baru Terung
Belanda dan Blanko.
a) Dimasukan masing – masing 5 ml larutan sampel (1 ml filtrat / 100 ml
larutan ) dan 15 ml pereaksi Benedict ke dalam tabung reaksi,
Dicampurkan sampai homogen.
b) Dimasukkan ke dalam penangas air mendidih selama 5 menit.
c) Didinginkan perlahan-lahan, diperhatikan warna dan endapan yang
terbentuk.
3. 3. 8. Analisis kuantitatif Larutan Sampel Buah Tanaman Baru Terung
Belanda dan Blanko.
a) Masing – masing dipipet 1 ml larutan sampel ( 1 ml filtrat / 100 ml
larutan ) dan diencerkan dalam labu takar 25 ml sehingga diperoleh
larutan sampel ( 1 ml filtrat / 2500 ml larutan ).
b) Masing – masing dipipet 1 ml larutan sampel ( 1 ml filtrat / 2500 ml
pereaksi Nelson – Somogyi. Segera dipanaskan dalam penangas air
mendidih selama 30 menit.
c) Larutan didinginkan pada suhu 250C dan ditambahkan 1 ml larutan
arsenomolybdat, kemudian ditambahkan 7 ml akuades.
d) Setelah itu diukur absorbansi larutan pada panjang gelombang 750 nm
dengan menggunakan alat spektrofotometer uv – vis.
e) Dihitung kadar karbohidrat pada sampel sebagai kadar gula reduksi
dengan mensubstitusikan absorbansi larutan sampel ke persamaan
regresi linier dari kurva kalibrasi larutan glukosa standar dengan
rumus sebagai berikut
Y = a + bX
KGR = X . Fp ____________ x 100% S
Dimana :
Y = nilai absorbansi larutan sampel.
X = konsentrasi glukosa
a = slope
b = intersep
KGR = Kadar Gula Reduksi
Fp = Faktor pengenceran
3.4.Bagan Penelitian.
3.4.1. Persiapan Batang Bawah (Rimbang) dan Batang Atas (Terung Belanda).
3 pohon terung belanda yang subur diatas 1 tahun untuk persiapan batang atas 3 buah rimbang yang tua
untuk
persiapan batang bawah
diambil 4 tunas yang muda dan sedikit berkayu setiap pohon (12 tunas untuk disam bung) dan sisanya
untuk blanko Disemai, ditunggu ± 2 bulan
sampai diameter batan ± 0,5 cm
bibit tanaman
Diambil 12 bibit untuk disambung
dan 4 bibit untuk cadangan. dan dipindahkan ke polybag
Bibit rimbang untuk disambung
R1 R5 R9 R2 R6 R10 R3 R7 R11 R4 R8 R12
Tunas terung belanda untuk disambung
Tunas Terung belanda tidak disambung
Pohon blanko1
pohon blanko 2 Pohon1 pohon2 pohon3
T1.1 T2.1 T3.1 T1.2 T2.2 T3.2 T1.3 T2.3 T3.3
3.4.2. Penyambungan Batang Bawah (Rimbang) dengan Batang Atas (Terung
Belanda).
Batang berdiameter ± 0,5 cm Dipotong ± 5 cm dari ujung pucuk bentuk V terbalik dengan panjang torehan ± 1-1,5 cm Batang
berdiameter ± 0,5 cm Dipotong ± 15 cm dari pangkal bentuk V dengan panjang torehan ± 1-1,5 cm bib sambu
it rimbang untuk ng
R1 R5 R10 R2 R6 R9 R3 R7 R11
tunas terung belanda untuk disambung
T1.1 T2.1 T3.1 T1.2 T2.2 T3.2 T1.3 T2.3 T3.3 T1.4 T2.4 T3.4 bibit rimbang untuk
disambung
R1 R5 R10 R2 R6 R9 R3 R7 R11 R4 R8 R12
Terung belanda tidak disambung TB1 TB2 TB3 TB1 TB2 TB3 Tanaman Terung Belanda Blanko
S1R1 T1.1 S5R5 T2.1 S9R9T3.1 S2R2 T1. 2 S6R6T2. 2 S10R10T3.2 S3R3 T1. 3 S7R7 T2.3 S11R11T3.3 S4R4 T1. 4 S8R8 T2.4 S12R12 T3.4
3.4.3. Pemeliharaan Tanaman Terung Belanda Sambung Rimbang
Buah Tanaman Baru Terung Belanda Untuk Dianalisis
Buah Terung Belanda Blanko Untuk Dianalisis
TB1 TB2 TB3 Disemprot dengan Zpt (Atonik
dosis 1-2cc/liter air)
S3R3 T1. 3 S7R7 T2.3 S11R11 T3.3 S4R4 T1. 4 S8R8 T2.4 S12R12 T3.4 S1R1 T1.1 S5R5 T2.1 S9R9T3.1 S2R2 T1. 2 S6R6T2. 2 S10R10T3.2
Dipupuk dan dibuang tunas yang muncul pada batang bawah
Setelah normal tali pengikat dan sungkup plastik dilepas
Ditunggu berbuah ± 2 bulan Dihitung persentase keberhasilan sambungan.
Tanaman Baru Terung Belanda
S1R1 T1.1 S5R5 T2.1 S9R9T3.1 S2R2 T1. 2 S6R6T2. 2 S10R10T3.2 S3R3 T1. 3 S7R7 T2.3 S11R11T3.3 S4R4 T1. 4 S8R8 T2.4 S12R12 T3.4
Tanaman Terung Belanda Blanko
3.4.4. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Larutan Glukosa Standar
GLUKOSA ANHIDRAT
Larutan Glukosa 0,2 mg/ml
Larutan Glukosa 0,05 mg/ml
Ditimbang 40 mg.
Dilarutkan dengan akuadest sampai 200 ml
Dipipet 25 ml Diencerkan sampai 100 ml
Ditambah 1 ml pereaksi Nelson Ditutup dengan kapas
Dipanaskan dalam penangas air mendidih 30 menit
Diangkat dan didingikan sampai 250C
Ditambah larutan
Arsenomolibdat dikocok sampai endapan larut
Ditambah 7 ml akuades dikocok sampai homogen
Diukur serapan panjang gelombang pada 650-850 nm Dilakukan hal yang sama untuk blanko akuades
3.4.5. Pengukuran Absorbansi Larutan Glukosa Standar
Larutan glukosa standar
0,02 ; 0,04 ; 0,06 ; 0,08 ; 0,10 ; 0,12 ; 0,14 ; 0,16 ; 0,18 dan 0,2 mg/ml
LARUTAN GLUKOSA 0,2 mg/ml
Diencerkan dengan memipet masing – masing
2,5 ; 5 ; 7,5 ; 10 ; 12,5 ; 15 ; 17,5 ; 20 ; 22,5 dan 25 ml larutan kedalam labu takar 25 ml.
Ditambahkan air sampai tanda batas.
Kurva kalibrasi larutan glukosa standar
Masing – masing dipipet 1 ml ke dalam tabung reaksi.
Ditambah 1 ml pereaksi Nelson, dan ditutup dengan kapas.
Dipanaskan dalam penangas air mendidih 30 menit.
Diangkat dan didinginkan pada suhu 25 0 C
Ditambah 1 ml larutan Arseno molibdat, dikocok, ditambah 7 ml akuades dan diaduk sampai homogen
Diukur serapan pada panjang gelombang 750 nm
3.4.6. Pembuatan Larutan Sampel Buah Tanaman Baru Terung Belanda dan
Blanko Untuk Analisis Kualitatif dan Kuantitatif
Filtrat Filtrat Filtrat Filtrat Filtrat Filtrat TS1 TS2 TS3 TB1 TB2 TB3
Dikelompokan menurut asal pohon induk, dicuci, ditimbang, dipotong kecil, dihaluskan dan disaring dengan kain kasa
Masing – masing filtrat diukur volumenya dan diambil 1 ml fitrat untuk diencerkan dalam labu takar 100 ml
LARUTAN SAMPEL TS1, TS2, TS3, TB1, TB2, TB3
1 ml filtrat / 100 ml larutan Buah terung belanda hasil sambung pucuk
untuk dianalisis
Buah terung belanda blanko untuk dianalisis
TB1 TB2 TB3 S3R3 T1. 3 S7R7 T2.3 S11R11 T3.3
3.4.7. Analisis Kualitatif Larutan Sampel Buah Tanaman Baru Terung
Belanda Dan Blanko Dengan Metode Benedict
5 ml larutan sampel
Masing – masing dipipet 5 ml dan dimasukan kedalam tabung reaksi
Hasil
Ditambah 15 ml pereaksi Benedict
Dipanaskan selama 2 menit dalam penangas air mendidih.
Didinginkan hingga 25oC. Diperhatikan perubahan pada larutan.
LARUTAN SAMPEL TS1, TS2, TS3, TB1, TB2, TB3
3.4.8. Analisis Kuantitatif Larutan Sampel Buah Tanaman Baru Terung
Belanda dan Blanko Dengan Metode Nelson Somogyi.
LARUTAN SAMPEL
TS1, TS2, TS3, TB1, TB2, TB3 (1 ml filtrat/100 ml larutan)
LARUTAN SAMPEL
TS1, TS2, TS3, TB1, TB2, TB3 (1 ml filtrat / 2500 ml larutan)
1 ml larutan sample (1 ml filtrat / 2500 ml larutan)
Masing – masing dipipet 1 ml dan diencerkan dalam labu takar 25 ml
Larutan Homogen
Ditambah 1 ml pereaksi Nelson Dipanaskan selama 30 menit diatas penagas air mendidih.
Didinginkan hingga 25 0 C Ditambah 1 ml larutan
Arsenomolybdat dan dikocok Ditambah 7 ml akuades
Diukur absorbansi larutan pada panjang gelombang 750 nm Dilakukan perhitungan kadar gula reduksi
Masing – masing dipipet 1 ml dan dimasukan kedalam tabung reaksi
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian.
4.1.1. Hasil Analisis Karbohidrat
Analisis karbohidrat pada buah dari tanaman baru terung belanda dan blanko
dilaksanakan dengan memperoleh hasil sebagai berikut:
[image:62.612.134.530.345.691.2]a. Hasil penentuan berat sampel buah tanaman baru terung belanda dan blanko
Tabel 4.1. Berat Sampel Buah Terung Belanda Untuk Analisis I, II, III
Analisis ke/no
Sampel Berat sample (gram) Volume filtrate (ml) Berat Sampel (mg/ml)
I 1 2 3 4 5 6 II 1 2 3 4 5 6
III 1 2 3 4 5 6
TS1 135,2854 74 1828,181 TS2 170,7605 92 1856,092 TS3 128,7376 69 1865,762 TB1 145,8460 81 1800,568 TB2 132,2459 72 1836,749 TB3 151,7648 80 1897,060
TS1 128,5433 70 1836,333 TS2 135,7821 74 1834,893 TS3 134,8453 73 1847,196 TB1 131,4542 72 1825,753 TB2 142,3273 78 1824,709 TB3 133,4226 74 1803,008
b. Hasil analisis kualitatif larutan sampel dengan menggunakan pereaksi Benedict,
menunjukan semua larutan sampel dari buah tanaman baru terung belanda dan
buah terung belanda blanko (1 ml filtrat / 100 ml larutan) menghasilkan
perubahan warna larutan dari biru ke hijau dan dari hijau ke hijau kekuningan
serta terbentuk endapan merah bata.
c. Hasil penentuan panjang gelombang maksimum larutan glukosa standar 0,05
mg/ml dengan menggunakan spektrofotometer uv-vis pada 650 nm – 850 nm
diperoleh pada 750 nm yang dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.2. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Larutan Glukosa Standar
No Panjang gelombang (nm) Absorbansi
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21
650 0,415 660 0,441
670 0,477 680 0,515 690 0,553 700 0,584
710 0,621 720 0,652 730 0,677 740 0,692
750 0,696* 760 0,692 770 0,684
Gambar
Dokumen terkait
( dietary fiber ) yang dihasilkan dari air kelapa melalui proses fermentasi, yang melibatkan jasad renik (mikroba) yang dikenal dengan nama Acetobacter