Pembuktian Terbalik Dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Dan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang

102  56  Download (3)

Teks penuh

(1)

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku-buku

Chaerudin, Syaiful Ahmad, Syarif Fadillah, Startegi Pencegahan dan Penegakan Hukum Tindak Pidana Korupsi, P.T Refika Aditama, Bandung. 2008 Chazawi, Adami, Hukum Pembuktian Tindak Pidana korupsi, Penerbit P.T

Alumni. Bandung. 2008 (Buku I)

---, Hukum Pidana Materiil dan Formil Korupsi di Indonesia, Bayumedia Publishing, Malang. 2005 (Buku II)

Hamzah, Andi, Hukum Acara Pidana Indonesia, Sinar Grafika. Jakarta. 2005 ---, Pemberantasan Korupsi Melalui Hukum Pidana Nasional dan

Internasional, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta. 2006

---, Bunga Rampai Hukum Pidana dan Acara Pidana, Ghalia Indonesia, Jakarta. 1986

Hartanti, Evi, Tindak Pidana Korupsi, Sinar Grafika, Jakarta. 2006

Irman, Tb, Hukum Pembuktian Pencucian Uang, MQS Publishing & AYYCCS Group, Jakarta. 2006

Mulyadi, Lilik, Pembalikan Beban Pembuktian Tindak Pidana Korupsi, P.T. Alumni, Bandung. 2007 (Buku I)

---, Tindak Pidana Korupsi di Indonesia Normatif, Teoritis, Praktik dan Masalahnya, P.T. Alumni, Bandung. 2007 (Buku II)

---, Bunga Rampai Hukum Pidana Perspektif, Teoretis dan Praktik, P.T. Alumni, Bandung. 2008 (Buku III)

Nasution, Bismar, Rejim Anti-Money Laundering di Indonesia, Books Terrace & Library, Bandung, 2005

Nawawi, Barda, Kapita Selekta Hukum Pidana, PT. Citra Aditya Bakti. Bandung. 2003

Prodjohamidjojo, Martiman, Penerapan Pembuktian Terbalik Dalam Delik Korupsi (UU No. 31 Tahun 1999), Mandar Maju, Bandung. 2001

(2)

Sasangka, Hari dan Lily Rosita, Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana, Mandar Maju, Bandung. 2003

Saprudin, Yusuf, Money Laundering (Kasus L/C Fiktif BNI 1946), Pensil-324, Jakarta. 2006

Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. 1986

Sutedi, Adrian, Tindak Pidana Pencucian Uang, PT. Citra Aditya Bakti. Bandung. 2008

B. Peraturan Perundang-undangan

1. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP)

2. Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)

3. Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

4. Undang-undang Nomor 15 Tahun 2002 jo Undang-undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang

5. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 24 Tahun 1960 tentang Pengusutan, Penuntutan dan Pemeriksaan Tindak Pidana Korupsi

6. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

7. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1977 tentang Narkotika

8. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika

9. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia

(3)

C. Website

(4)

BAB III

KELEBIHAN DAN KELEMAHAN PEMBUKTIAN TERBALIK

A. Kelebihan Pembuktian Terbalik

1. Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

Kelebihan pembuktian terbalik yang ada dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 yaitu:

1. Bahwa dengan ketentuan yang terdapat pada Pasal 12 B dan 12 C yang mengatur mengenai pembuktian terbalik yang dikenal dengan gratifikasi yakni akan dapat mengarahkan pendidikan moral bangsa khususnya pegawai negeri dan penyelenggara negara ke arah moral yang terpuji, yakni: 90

a. Pertama, untuk tidak memidana pegawai negeri yang secara sukarela melaporkan tentang penerimaan gratifikasi.

b. Kedua, bertujuan sebagai pendidikan moral bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara. Dalam kurun waktu 30 hari kerja cukup bagi pegawai negeri untuk merenungkan dengan hati, memikirkan dengan masuk akal tentang haramnya penerimaan gratifikasi.

c. Ketiga, ditujukan untuk menentukan apakah penerimaan gratifikasi menjadi milik negara atau milik pegawai negeri yang menerima gratifikasi (Pasal 12 C ayat 3).

90

(5)

Ketentuan ini mengarahkan agar pegawai negeri dan penyelenggara negara dalam menerima gratifikasi agar melaporkan gratifikasi tersebut sehingga memberikan kepastian hukum tentang haram atau halalnya harta benda objek pemberian tersebut.

2. Pada hukum acara pidana, tersangka dan/atau terdakwa dilindungi hak-haknya. Ada dua hal penting yang ditujukan untuk melindungi tersangka/terdakwa, yaitu: pertama, perlindungan atas azas praduga tidak bersalah atau presumption of innocence. Kedua,tersangka/terdakwa dilindungi dari keadaan yang dapat menyebabkan mereka menyalahkan diri mereka sendiri atau non-self incrimination. Pada sistem pembuktian terbalik, tersangka/terdakwa justru dianggap telah bersalah sehingga diminta untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.91

Pada sistem pembuktian terbalik ini sebagai konsekuensinya maka kepada terdakwa juga diberikan hak untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi, sehingga dengan demikian akan tercipta suatu keseimbangan atas pelanggaran praduga tak bersalah (presumption of innocence) dan menyalahkan diri sendiri (non self-incrimination) dengan perlindungan hukum yang wajib diberikan pada setiap orang.

Sehingga terbukanya akses pengadilan untuk menindak semua pelaku dan jaringan yang terlibat dalam korupsi, melalui upaya tertuduh melakukan pembelaan bahwa dirinya tidak bersalah.

91

Bambang Widjojant

(6)

3. Mengenai sistem pembebanan pembuktiannya dapat dipandang sebagai kemajuan yang luar biasa dalam hukum pidana korupsi kita. Walaupun prinsip dasar sistem pembuktian tindak pidana korupsi tetap berpegang pada sistem negatif menurut UU yang terbatas (negatief wettelijk), khususnya dalam hal membentuk keyakinan hakim tentang kesalahan terdakwa dalam rangka menjatuhkan pidana, sebagaimana tercermin dalam pasal 183 KUHAP. Namun, soal pembebanan pembuktian telah jauh lebih maju, yakni beban pembuktian tidak lagi terfokus pada JPU untuk membuktikan kesalahan terdakwa terhadap tindak pidana yang didakwakan, melainkan ada tiga sistem berikut:92

a. Sistem pembebanan sepenuhnya pada terdakwa yang in casu jika terdakwa tidak berhasil membuktikan bahwa ia tidak bersalah mengenai tindak pidana yang didakwakan kepadanya, maka dia dianggap telah terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi tersebut (pada sistem terbalik).

b. Sistem pembebanan sebagian pada terdakwa, bila tidak berhasil membuktikan ketidakbersalahannya dalam tindak pidana korupsi yang didakwakan (yang in casu asal muasal kekayaannya yang didakwakan maupun yang belum/ tidak didakwakan), maka akan digunakan untuk memperkuat bukti yang sudah ada (in casu dari JPU) bahwa terdakwa telah bersalah melakukan tindak pidana korupsi. Sistem ini disebut dengan semi terbalik.

92

(7)

c. Khusus tindak pidana korupsi menerima pemberian gratifikasi berlaku sistem berimbang bersyarat. Jika penerimaan gratifikasi yang nilainya Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) atau lebih, maka berlaku sistem terbalik. Ada juga yang menyebutnya dengan sistem terbalik murni, yakni pembuktian ada pada terdakwa sendiri. Jika terdakwa berhasil membuktikan ketidakbersalahannya, maka keberhasilan terdakwa itu digunakan oleh majelis hakim untuk menyatakan bahwa dakwaan JPU tidak terbukti (pasal 37 ayat 2). Dalam hal demikian JPU pasif dan pembuktian JPU tidak diperlukan. Akan tetapi, dalam hal nilai penerimaan gratifikasi itu kurang dari Rp. 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) pembuktian ada pada JPU (dengan menggunakan sistem biasa). Jadi, syarat dalam sistem berimbang bersyarat dalam hal hendak menggunakan sistem terbalik atau sistem biasa yang diletakkan pada syarat nilai kurang atau lebih dan Rp. 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).

(8)

menghukum terdakwa, melainkan untuk menyita harta kekayaan hasil korupsi.93

Kemudian dengan tegas ketentuan Pasal 38C UU No. 20 Tahun 2001 menentukan pula, bahwa:

“Apabila setelah putusan pengadilan telah memperoleh kekuatan hukum tetap, diketahui masih terdapat harta benda milik terpidana yang diduga atau patut diduga juga berasal dari tindak pidana korupsi yang belum dikenakan perampasan untuk negara sebagaimana dimaksud dengan Pasal 38 B ayat (2), negara dapat melakukan gugatan perdata terhadap terpidana dan atau ahli warisnya.”

Pasal 38 C Undang-undang No.20 Tahun 2001 mempunyai dasar pemikiran bahwa untuk memenuhi rasa keadilam masyarakat terhadap pelaku tindak pidana korupsi yang menyembunyikan harta benda yang diduga atau patut diduga berasal dari tindak pidana korupsi. Harta benda tersebut diketahui setelah putusan pengadilan memperoleh kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde). Dengan titik tolak dimensi tersebut, negara memiliki hak untuk melakukan gugatan perdata kepada terpidana dan atau ahli warisnya terhadap harta benda yang diperoleh sebelum putusan pengadilan memperoleh kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) baik putusan tersebut didasarkan pada Undang-undang sebelum berlakunya Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi atau setelah berlakunya undang-undang tersebut. Tegasnya, Undang-undang Pemberantasan Korupsi ini untuk melakukan gugatan perdata kepada terpidana atau ahli warisnya terhadap harta benda

93

(9)

yang diperoleh sebelum putusan pengadilan memperoleh kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) tidaklah berlaku surut (retro aktif).94

2. Undang-undang Nomor 15 Tahun 2002 Jo Undang-undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang

Kelebihan Pembuktian Terbalik pada UU No. 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

1. Bahwa Undang-undang Pencucian Uang memungkinkan pembuktian terbalik dalam persidangan, yaitu pada Pasal 35 Undang-undang Nomor 25 Tahun 2003 menyebutkan terdakwa wajib membuktikan bahwa harta kekayaannya bukan merupakan hasil dari tindak pidana.

Tindak pidana pencucian uang merupakan tindak pidana yang berdiri sendiri sehingga tidak bergantung pada kejahatan asalnya walaupun tindak pidana asal tersebut menjadi sumber dari uang haram, misalnya pada tindak pidana korupsi maka tidak harus dibuktikan dulu korupsinya.

Yang dibalik bukan pidana, tetapi penelusuran aset dan asal-usul kekayaan terlebih dahulu. Prinsipnya adalah ikuti aliran uang maka akan ditemukan tindakan kriminalnya.95

94

Lilik Mulyadi, buku 2, op.cit. hal. 264

Sehingga dengan adanya Undang-undang Tindak Pidana Pencucian Uang ini seharusnya bisa memanfaatkan jerat pencucian uang untuk mengembalikan kerugian negara. Sebab dalam praktek, uang hasil korupsi sering dilarikan dengan modus pencucian uang.

95

Teten Masduki,

(10)

Oleh karena itu, jika upaya hukum perdata terhadap aset koruptor terhalang sistem pembuktian, maka penggunaan UU No. 25/2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (UU TPPU) sangat tepat terutama dengan adanya sistem pembuktian terbalik yang ada pada Pasal 35.

Dengan sistem ini, justru terdakwa yang harus membuktikan, bahwa harta yang didapatnya bukan hasil tindak pidana. Yaitu dengan mengetahui apa saja bentuk aset korupsi dan dimana disimpan serta atas nama siapa. Sehingga penggunaan pembuktian terbalik yang ada pada Pasal 35 sangat tepat karena UU TPPU ini digunakan untuk memburu aset-aset hasil korupsi.

2. Kemudian mengenai sita terhadap tindak kejahatan, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 pada Pasal 37 secara tegas menyatakan bila telah terbukti yang bersangkutan melakukan pencucian uang, hakim dapat mengeluarkan penetapan untuk merampas harta terdakwa yang telah disita sebelumnya.

(11)

B. Kelemahan Pembuktian Terbalik

1. Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

Kelemahan Pembuktian Terbalik pada Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi adalah:

1. Asas Pembalikan Beban Pembuktian sangat rawan terhadap pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia).

Hal ini dikatakan Muladi bahwa:

“…secara universal tidak dikenal pembuktian terbalik yang bersifat umum, sebab hal ini sangat rawan terhadap pelanggaran HAM. Seorang tidak dapat dituduh melakukan korupsi di luar “proceeding” (dalam kedudukan sebagai terdakwa), hanya karena dia tidak dapat membuktikan asal-usul kekeyaannya. Dengan demikian, sekalipun dalam hal ini berlaku asas praduga bersalah (presumption of guilt) dalam bentuk “presumption of corruption”, tetapi beban pembuktian terbalik tersebut harus dalam kerangka “proceeding” kasus atau tindak pidana tertentu yang sedang diadili berdasarkan undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang berlaku (presumption of corruption in certain cases). Tanpa adanya pembatasan semacam ini system pembuktian terballik pasti akan menimbulkan apa yang dinamakan “miscarriage of justice” yang bersifat kriminogin.”96

Indriyanto Seno Adji menyebutkan terdakwa tidak pernah dibebankan untuk membuktikan kesalahannya, bahkan tidak pernah diwajibkan untuk mempersalahkan dirinya sendiri (“non self incrimination”). Lebih jauh lagi bahwa terdakwa memiliki hak yang dinamakan “The Right to Remain Silent” (hak untuk diam). Kesemua ini merupakan bagian dari prinsip

96

(12)

perlindungan dan penghargaan HAM (Hak Asasi Manusia) yang tidak dapat dikurangi sedikit apapun dan dengan alasan apapun juga (“Non-Derogable Right”). Lebih detail Indriyanto Seno Adji menyebutkan:

“Bahwa sistem Pembalikan Beban Pembuktian hanya terbatas dan tidak diperkenankan menyimpang dari asas “Daad-daderstrafrecht”. KUH Pidana yang direncanakan bertolak dari pokok pemikiran keseimbangan mono-dualistik, dalam arti memperhatikan dua kepentingan, antara kepentingan masyarakat dan individu. Artinya, Hukum Pidana yang memperhatikan segi-segi objek dari perbuatan (daad) dan segi-segi subjektif dari orang/pembuat (dader). Dari pendekatan ini, sistem pembalikan beban pembuktian sangat tidak diperkenankan melanggar kepentingan dan hak-hak principal dari pembuat/ pelaku (tersangka/terdakwa). Bahwa penerapan sistem pembalikan beban pembuktian ini sebagai realitas yang tak dapat dihindari, khususnya terjadinya minimalisasi hak-hak dari “dader” yang berkaitan dengan asas “non self-incrimination” dan “presumption of innocence”. Walaupun demikian, adanya suatu minimalisasi hak-hak tersebut sangat dihindari akan terjadinya eliminasi hak-hak-hak-hak tersebut sangat dihindari akan terjadinya eliminasi hak-hak tersebut. Apabila terjadi, inilah yang dikatakan bahwa sistem pembalikan beban pembuktian berpotensi untuk terjadinya pelanggaran HAM.”97

2. Adanya ketidakjelasan dan ketidaksinkronan dalam ketentuan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001. Dikaji dari perumusan tindak pidana (materiile feit).

Mempergunakan asas pembuktian terbalik haruslah secara hati-hati sebab jikalau tidak maka akan melanggar hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi. Sebab seseorang tertuduh tidak dibebankan terhadap pembuktian dan juga tidak boleh mempersalahkan dirinya sendiri serta tidak boleh dianggap bersalah sebelum adanya putusan yang tetap.

Menurut Lilik Mulyadi, di satu sisi asas pembalikan beban pembuktian akan diterapkan kepada penerima gratifikasi berdasarkan Pasal 12 B ayat 97

(13)

(1) huruf a yang berbunyi: “yang nilainya Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) atau lebih, pembuktian bahwa gratifikasi tersebut bukan suap dilakukan oleh penerima gratifikasi”, akan tetapi di sisi lainnya tidak mungkin diterapkan kepada penerima gratifikasi oleh karena ketentuan pasal tersebut secara tegas mencantumkan redaksional, “setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap pemberian suap apabila berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya”, adanya perumusan semua unsur inti delik dicantumkan secara lengkap dan jelas dalam suatu pasal membawa implikasi yuridis adanya keharusan dan kewajiban Jaksa Penuntut Umum untuk membuktikan perumusan delik dalam pasal yang bersangkutan. Tegasnya, ketentuan pasal tersebut adalah salah susun sehingga apa yang akan dibuktikan sebaliknya malah tidak ada.98

“Memang, harus diakui perumusan Pasal 12 B UU No. 20 Tahun 2001 ini dari sisi pendekatan substansief (hukum pidan) meniadakan makna asas Pembalikan Beban Pembuktian manakala unsur (yang dianggap sebagai bestanddeel delict) yaitu yang berhubungan dengan jabatan (in zijn bedeming) dan yang melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan kewajiban (in stijd zijn plicht) dirumuskan secara tegas dan jelas pada Pasal 12 B UU No. 20 Tahun 2001, artinya kewajiban pembuktian adalah imperative pada Jaksa Penuntut Umum, bukan pada diri terdakwa lagi. Segala materiile feit yang dirumusakan sebagai delik dalam suatu produk hukum menjadi kewajiban imperative Jaksa Penuntut Umum untuk membuktikannya. Jadi, bagi kalangan yang melakukan pendekatan gramatikal, agak sulit mempertahankan makna Pasal 12 B UU No. 20 Tahun 2001 sebagai pengakuan asas Pembalikan Beban Pembuktian, meskipun Pasal 12 B ayat (1) huruf a menyatakan: “…pembuktian bahwa gratifikasi tersebut bukan merupakan suap dilakukan oleh penerima gratifikasi.”

Selain itu secara tajam diakui Indriyanto Seno Adji yang mengatakan:

98

(14)

Kemudian Andi Hamzah mengatakan:

“Jelas sekali rumusan ini sangat keliru. Pertama, dikatakan dianggap suap padahal memang sudah suap, karena seluruh bagian inti delik harus dibuktikan oleh penuntut umum, tidak ada yang tersisa yang dibebankan kepada tersangka/ terdakwa untuk dibuktikan sebaliknya. Yang kedua, tidak logis, karena tentu tidak ada orang yang mau melaporkan diri bahwa dia telah menerima suap, dia telah menerima gratifikasi yang berkaitan dengan jabatannya dan telah pula melalaikan kewajibannya.”99

3. Dalam penerapannya, sistem pembuktian terbalik belum dilakukan secara optimal oleh penuntut umum dan hakim dalam persidangan perkara korupsi. Salah satu kendalanya diduga berkaitan dengan belum konsistennya penerapan laporan harta kekayaan penyelenggara negara dan seluruh keluarga batihnya. Pada kondisi demikian agak sulit untuk melakukan konfirmasi dan cek silang atas harta kekayaan yang dimiliki terdakwa, jika dibandingkan dengan penghasilannya sebagai

Tidak mungkin seorang akan melaporkan gratifikasi dalam jumlah tertentu. Bagaimana mungkin seorang tersangka melaporkan dirinya sendiri telah melakukan delik suap, hal ini sama saja dengan bunuh diri. Penemuan dalam jumlah tertentu dalam melaporkan gratifikasi ini tentunya memberikan peluang kepada seseorang untuk masih melakukan tindak pidana korupsi, misalnya seseorang menerima uang sebesar Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan ia bisa saja melaporkan gratifikasinya sebesar Rp 10.000.000,00 (tiga puluh juta) atau kurang dari Rp 10. 000.000,00 (tiga puluh juta).

99

(15)

penyelenggara negara.100 KPK sebagai lembaga yang memiliki kewenangan melakukan pemeriksaan terbalik pun hanya memiliki kewenangan terbatas dalam melakukan pemeriksaan terhadap harta pejabat yang mencurigakan. KPK, imbuhnya, hanya berwenang menerima LHKPN. Pengumumannya pun setelah dapat kuasa dari pejabat.101

Keseriusan pemberantasan korupsi di Indonesia masih sangat diragukan. Buktinya, fungsi pencegahan tindak pidana korupsi oleh lembaga penegak hukum masih sangat lemah. Bahkan, tingkat kesadaran pejabat publiknya dalam menjalankan aturan perangkat hukum itu sendiri masih sangat rendah.102

4. Menurut Pasal 12 C ayat (1), apabila penerima melaporkan gratifikasi yang diterimanya kepada Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KP-TPK), maka gratifikasi itu tidak dianggap sebagai pemberian suap. Berarti juga, tidak dapat dipidana. Baru dapat dipidana apabila si penerima tidak melapor. Perumusan Pasal 12 C ayat (1) ini terkesan sebagai alasan penghapusan pidana. Dilihat secara substansial, hal ini dirasakan janggal, karena seolah-olah sifat melawan hukumnya perbuatan atau sifat patut dipidananya si penerima ditergantungkan pada ada/ tidaknya laporan (yang bersifat administratif procedural). Persyaratan administratif procedural untuk dipidananya Tindak Pidana Korupsi (TPK) ini dirasakan janggal,

100

Bambang Widjojant

101 Ibid 102

Denny Kailimang

(16)

sekiranya korupsi dipandang sebagai perbuatan yang “pada hakikatnya” sangat tercela (merupakan “rechtsdelict”, “mala per se”, atau “intrinsically wrong”).103

5. Kurang jelasnya aturan yang mengatur dimana letak pembuktian terbalik didalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juga merupakan sebab mengapa pembuktian terbalik yang terbatas dan berimbang tidak dapat diterapkan yaitu tidak dijelaskan dimana letak terdakwa untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah, yang juga menjadi titik lemah dari dari Undang-undang ini. Dan didalam prakteknya selama ini pengadilan belum membentuk sidang khusus untuk pembuktian terbalik mengenai asal-usul kekayaan.

6. Kemudian mengenai penyitaan atau pengembalian aset terdakwa atau ahli warisnya yang diduga hasil korupsi dilakukan melalui gugatan perdata oleh kejaksaan (Pasal 38 C), gugatan ini sebenarnya dapat digunakan mengejar harta kekayaan dari ahli waris pelaku korupsi, namun dalam hal gugatan secara perdata pembuktian adanya unsur kerugian negara bukan merupakan perkara yang mudah, pasalnya dalam hukum perdata tidak dikenal adanya pembuktian terbalik. Sehingga jaksa harus mampu membuktikan dalil secara nyata telah ada kerugian negara.

Upaya pengembalian kerugian negara dilakukan melalui proses perdata biasa, artinya gugatan perdata terhadap koruptor (tersangka,

103

(17)

terdakwa, terpidana, atau ahli warisnya) harus menempuh proses beracara biasa yang penuh formalitas.

Dengan demikian dapat diperkirakan, bahwa untuk sampai pada putusan pengadilan memperoleh kekuatan hukum tetap bisa memakan waktu bertahun-tahun dan belum tentu menang. Undang-undang mewajibkan pemeriksaan perkara pidana korupsi diberikan prioritas, sedang gugatan perdata yang berkaitan dengan perkara korupsi tidak wajib diprioritaskan. Di samping itu koruptor (tergugat) bisa menggugat balik dan kemungkinan malah dia yang menang dan justru pemerintah yang harus membayar tuntutan koruptor.

Sudah menjadi rahasia umum, putusan pengadilan dalam perkara

perdata di negara kita ini susah diperkirakan (unpredictable). Terhadap

terpidana perkara korupsi selain pidana badan (penjara) dan/atau denda,

juga dijatuhi pidana tambahan antara lain pembayaran uang pengganti

yang besarnya sebanyak-banyak sama dengan harta yang diperoleh dari

korupsi. Dalam praktik hampir tidak ada terpidana yang membayar uang

pengganti dengan berbagai dalih, misalnya tidak punya uang lagi atau aset.

7. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 menjelaskan bahwa pembuktian

(18)

harta kekayaan hasil korupsi dengan proses pidana terhadap yang bersangkutan. Jika perbuatan korupsi terdakwa tidak dapat dibuktikan, dalam perkara pidana, maka hampir tidak ada alasan untuk melakukan gugatan perdata.104

2. Undang-undang Nomor 15 Tahun 2002 Jo Undang-undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang

Kelemahan Pembuktian Terbalik pada UU No. 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pemcucian Uang.

1. Dalam Pasal 35 Undang-undang 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang yang mengatur mengenai Pembuktian Terbalik, bahwa dalam sidang pengadilan terdakwa wajib membuktikan bahwa harta kekayaannya bukan berasal dari tindak pidana, namun disini tidak jelas maksud pembuktian tersebut apakah dalam kontek untuk menghukum orang yang bersangkutan atau untuk menyita harta kekayaan yang bersangkutan.

Jika pembuktian terbalik dilakukan untuk menghukum terdakwa, ini jelas bertentangan dengan beberapa asas hukum pidana di Indonesia yaitu asas praduga tak bersalah (Presumption of innocence) dan non-self incrimination. Asas praduga tak bersalah telah lama dikenal dalam hukum di Indonesia, yang sekarang diatur dalam Pasal 8 UU No 4 Tahun 2004

104

(19)

tentang Kekuasaan Kehakiman dan Pasal 18 UU No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Asas ini intinya menyatakan setiap orang yang ditangkap, ditahan dan dituntut karena disangka melakukan tindak pidana berhak dianggap tidak bersalah sampai dibuktikan kesalahannya secara sah dalam sidang pengadilan. Sementara itu asas non-self incrimination ditemui dalam praktik dan dalam peraturan tertulis di Indonesia seperti dalam UU, tentang Hak Asasi Manusia.

Asas non- self incrimination dalam sistem hukum common - law dikenal dengan istilah the privilege against self incrimination, yaitu seseorang tidak dapat dituntut secara pidana atas dasar keterangan yang diberikannya atau dokumen yang ditunjukkannya. Sebagai konsekuensi tersangka atau terdakwa dapat diam dan tidak menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Asas ini berjalan dengan baik di negara yang menganut sistem hukum common law, akan tetapi di Indonesia apabila terdakwa tidak menjawab pertanyaan yang diajukan, maka hal tersebut dianggap menyulitkan jalannya persidangan hingga dapat memperberat hukum nantinya. Karenanya terdapat kecenderungan terdakwa akan menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya, hingga pada akhirnya tidak merugikan dirinya.105

2. Di dalam proses pengadilan terhadap tindak pidana pencucian uang yang terutama menyangkut tindak pidana asal yang menjadi sumber barang

105

(20)

haram kususnya pada tindak pidana berat seperti korupsi, walaupun Undang-undang Pencucian Uang sudah diterapkan dalam tuntutan, hakim lebih banyak memutus berdasarkan pembuktian adanya korupsi bukan pencucian uang sehingga pembuktian terbalik dalam UU TPPU kurang efektif hal tersebut karena dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 mengenai sanksi hukuman dinilai lebih berat dari pada sanksi hukuman yang terdapat pada Undang-undang Nomor 25 Tahun 2003 sehingga di dalam dakwaan primernya lebih memfokuskan pada UU No. 20 Tahun 2001.

3. Dalam Pasal 35 Undang-undang Tindak Pidana Pencucian Uang diatur pembuktian terbalik dengan rumusan bahwa dalam sidang pengadilan terdakwa wajib membuktikan bahwa harta kekayaannya bukan berasal dari tindak pidana. Namun, di sini tidak jelas maksud pembuktian tersebut, apakah dalam konteks pidana untuk menghukum orang yang bersangkutan atau untuk menyita harta yang bersangkutan. Hukum acara yang mengatur pembuktian terbalik ini pun belum ada sehingga dalam pelaksanaannya bisa menimbulkan kesulitan dalam penanganan kasus tindak pidana pencucian uang.106

106

Adrian Sutedi, Op.Cit. hal. 289-290

(21)

Uang dalam Kasus L/C Fiktif BNI 1946 Kantor Cabang Utama Kebayoran Baru.107

4. Bahwa salah satu penyebab mengapa pembuktian terbalik sulit diterapkan selain hukum acara yang mengatur pembuktian terbalik belum ada, juga ketidak seriusan para penegak hukum dalam menyelesaikan kasus money laundering menggunakan Undang-undang Pencucian Uang.

Salah satu contoh yaitu kasus L/C fiftif yang merugikan BNI hingga 1,7 miliar. Bobolnya dana BNI ini bermula ketika pada September 2002, BNI menyetujui mengucurkan dana kepada PT.Gramarindo dan PT. Perindo untuk memperlancar usaha ekspor perkebunan, pupuk cair dan industuri marmer dengan jaminan L/C terbitan empat Bank luar negeri yang semuanya bukan Bank korespenden BNI. Empat Bank tersebut yaitu Dubbai Bank Kenya Ltd., Rosbank Swizterland, Midle East Kenya Ltd, The Wallstreet Banking Corp. Setelah ada bank mediator yaitu American Bank dan Standart Chartered Bank, maka pada Oktober 2002 hingga Juli 2003, terkucurlah dana sebesar Rp1,7 triliun tersebut.

Ternyata semua bermasalah. L/C pun palsu, dana yang terkucur dari BNI pun bukan untuk usaha ekspor, akan tetapi dibagi-bagikan pada sejumlah perusahaan dan sebagian untuk membayar utang serta untuk proyek yang tidak sesuai dengan permohonan pinjaman tersebut. Pendek kata semua penuh dengan tipuan dan pemalsuan yang pada akhirnya L/C tersebut dapat dikatakan fiktif. walaupun karena keberhasilan mengungkap

107

(22)
(23)

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

Setelah memaparkan uraian-uraian diatas secara keseluruhan maka sebagai penutup dari penulisan ini akan saya kemukakan beberapa kesimpulan yang kemudian diikuti dengan beberapa saran yang diharapkan dapat berguna dan bermanfaat bagi perkembangan hukum khususnya mengenai Pembuktian Terbalik dalam Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diutarakan adalah sebagai berikut :

1. Sistem beban pembuktian terbalik, khususnya bagi terdakwa ditunjukkan agar harta bendanya tidak dijatuhkan pidana perampasan barang dan agar hasil pembuktian terdakwa tidak dapat digunakan oleh jaksa untuk memperkuat hasil pembuktiannya mengenai tindak pidana korupsi dalam perkara pokok.

Sebaliknya bagi jaksa, yang dalam hal ini pasif saja, bila terdakwa tidak berhasil membuktikan, ditunjukkan untuk 2 tujuan, ialah:

a. Sebagai dasar untuk memperkuat hasil pembuktiannya dengan menggunakan minimal dua alat bukti yang sah bahwa terdakwa telah melakukan korupsi, dan

(24)

Sedangkan bagi hakim, sebagai dasar pertimbangan hukum dalam putusan untuk menetapkan amar putusan pidana perampasan terhadap harta benda terdakwa tersebut untuk negara (pidana perampasan barang).

2. Bahwa pembuktian terbalik yang ada dalam UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan UU Tindak Pidana Pencucian Uang memiliki kelebihan atau keunggulan dan kendala-kendala ataupun kekurangan-kekurangan. Kelebihan pembuktian terbalik ini yaitu dengan adanya pembuktian terbalik, maka terbukanya akses pengadilan untuk menindak semua pelaku dan jaringan yang terlibat korupsi dan pencucian uang melalui upaya tertuduh melakukan pembelaan bahwa dirinya tidak bersalah. Pembuktian terbalik ditujukan untuk menyelamatkan harta kekayaan hasil korupsi dan pencucian uang, sehingga apabila terdakwa meninggal dunia di dalam proses peradilan pidana, dapat dilakukan gugatan perdata terhadap ahli warisnya.

Kelemahan pembuktian terbalik ini sehingga tidak berjalan efektif diantaranya yaitu masih diterapkannya asas retroaktif, peran jaksa yang masih dominan dalam pembuktian, serta perampasan harta milik terdakwa yang masih menemui kendala apabila dilakukan melalui gugatan perdata, serta dalam hukum acara tidak mengatur dimana pembuktian terbalik ini ditempatkan, maka untuk mengefektifkannya diperlukan :

(25)

bersalah diluar waktu kesempatan keterangan terdakwa. Sehingga apabila hukum acaranya lebih rinci, maka tahapannya jelas dan arahnya pun menjadi jelas.

b. Diperkenalkan suatu aturan yang mengatur penyitaan aset baik secara perdata atau pidana dengan hukum acara khusus atau luar biasa, misalnya dengan memberikan beban pembuktian mengenai harta kekayaannya yang berasal dari tindak pidana korupsi.

c. Apabila UU Korupsi mengalami kendala-kendala seperti diatas maka dapat dimanfaatkan UU TPPU untuk mengatasinya, sebab UU TPPU memiliki kelebihan didalam mengejar aset koruptor, dimana juga tujuan dari pembuktian terbalik ini adalah utamanya untuk menyita harta kekayaan yang berasal dari tindak pidana serta dalam UU ini juga diterapkan pembuktian terbalik dimana terdakwa wajib membuktikan bahwa hartanya bukan dari hasil pindak pidana yang jika dibandingkan dengan UU Korupsi dimana peran jaksa yang masih dominan dalam pembuktian.

(26)

B. Saran

Sebagai akhir dari tulisan ini, ada beberapa hal yang dapat dikemukakan sebagai saran, yaitu :

1. Pemakaian pola pembuktian terbalik dalam menangani kasus korupsi ataupun kasus pencucian uang di Indonesia perlu dilakukan selain untuk menyelamatkan harta negara yang dikorupsi, juga memudahkan Kejaksaan mengusut kasus korupsi.

2. Korupsi maupun pencucian uang merupakan kejahatan yang luar biasa

sehingga diperlukan penanganan khusus terhadapnya, oleh karena itu

pembuktian terbalik hendaknya juga harus diterapkan secara konsisten

3. Untuk mendukung efektifitas dari pembuktian terbalik maka diperlukan suatu laporan hasil kekayaan para penyelenggara negara secara periodik yang harus terbuka untuk masyarakat luas (transparency).

4. Penerapan pembuktian terbalik memang bukan segala-galanya untuk mewujudkan keberhasilan pemberantasan korupsi atau pencucian uang. Penerapan pembuktian terbalik akan berhasil, apabila aparat penegak hukum yang menjalankannya relatif bersih. Aparat penegak hukum tak terdorong untuk melakukan penyimpangan kekuasaan. Penerapan pembuktian terbalik akan berhasil, kalau masyarakat mempunyai kesempatan yang besar untuk melakukan pengawasan terhadap aparat penegak hukum atau pejabat yang disangka korup.

5. Bahwa untuk mendukung efektifitas penerapan pembuktian terbalik baik

(27)

suatu kombinasi atau kerjasama antara kewenangan luar biasa yang

dimiliki oleh KPK dengan PPATK mengenai peluang besar yang dimiliki

oleh Undang-undang Pencucian Uang dalam hal penegakan hukum

terhadap kasus korupsi maupun pencucian uang yang tindak pidana

(28)

BAB II

PENGATURAN PEMBUKTIAN TERBALIK DALAM UNDANG-UNDANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DAN

UNDANG-UNDANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

A. Sistem Pembuktian

Sistem pembuktian adalah pengaturan tentang macam-macam alat bukti yang boleh dipergunakan, penguraian alat bukti dan dengan cara-cara bagaimana alat-alat bukti itu dipergunakan dan cara bagaimana hakim harus membentuk keyakinannya.31

Tujuan dan guna pembuktian bagi para pihak yang terlibat dalam proses pemeriksaan persidangan adalah:

Pembuktian tentang benar tidaknya terdakwa melakukan perbuatan yang didakwakan, merupakan bagian yang terpenting acara pidana. Dalam hal ini pun hak asasi manusia dipertaruhkan. Bagaimana akibatnya jika seseorang yang didakwakan dinyatakan terbukti melakukan perbuatan yang didakwakan berdasarkan alat bukti yang ada disertai keyakinan hakim, padahal tidak benar. Untuk inilah maka hukum acara pidana bertujuan untuk mencari kebenaran materiil, berbeda dengan hukum acara perdata yang cukup puas dengan kebenaran formal.

32

a. Bagi penuntut umum, pembuktian adalah merupakan usaha untuk meyakinkan hakim yakni berdasarkan alat bukti yang ada, agar

31

Hari Sasangka dan Lily Rosita, Hukum Pembuktian dalam Perkara Pidana, Mandar Maju, Bandung. 2003. Hal. 11

32

(29)

menyatakan seorang terdakwa bersalah sesuai dengan surat atau catatan dakwaan.

b. Bagi terdakwa atau penasehat hukum, pembuktian merupakan usaha sebaliknya, untuk meyakinkan hakim yakni berdasarkan alat bukti yang ada, agar menyatakan terdakwa dibebaskan atau dilepaskan dari tuntutan hukum atau meringankan pidananya. Untuk itu terdakwa atau penasihat hukum jika mungkin harus mengajukan alat-alat bukt i yang menguntungkan atau meringankan pihaknya. Biasanya bukti tersebut disebut bukti kebalikan.

c. Bagi hakim, atas dasar pembuktian tersebut yakni dengan adanya alat-alat bukti yang ada dalam persidangan baik yang berasal dari penuntut umum atau penasihat hukum/ terdakwa dibuat dasar untuk membuat keputusan. Sejarah perkembangan hukum acara pidana menunjukkan bahwa ada beberapa sistem atau teori untuk membuktikan perbuatan yang didakwakan. Sistem atau teori pembuktian ini bervariasi menurut waktu dan tempat (negara). 1. Sistem atau Teori Pembuktian berdasarkan Undang-undang secara Positif

(Positief wetterlijk Bewijstheori)

(30)

sama sekali.33

Apabila dalam hal membuktikan telah sesuai dengan apa yang telah ditentukan terlebih dahulu dalam undang-undang, baik mengenai alat-alat buktinya maupun cara-cara mempergunakannya, maka hakim harus menarik kesimpulan bahwa kesalahan terdakwa melakukan tindak pidana telah terbukti. Keyakinan hakim sama sekali tidak penting dan bukan menjadi bahan yang boleh dipertimbangkan dalam hal menarik kesimpulan tentang kesalahan terdakwa melakukan tindak pidana.

Sistem ini disebut juga teori pembuktian formal (formele bewijstheorie).

34

Sistem ini mendasarkan kepada bahwa hakim hanya boleh menentukan kesalahan tertuduh, bila ada bukti minimum yang diperlukan oleh undang-undang. Jika bukti itu terdapat, maka hakim wajib menyatakan bahwa tertuduh itu bersalah dan dijatuhi hukuman, dengan tidak menghiraukan keyakinan hakim. Pokoknya: kalau ada bukti (walaupun sedikit) harus disalahkan dan dihukum.35

Sistem ini bertentangan dengan hak-hak asasi manusia, yang pada zaman sekarang sangat diperhatikan dalam hal pemeriksaan tersangka atau terdakwa oleh negara. Juga system ini sama sekali mengabaikan perasaan nurani hakim.

33

Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia. Sinar Grafika, Jakarta, 2005, Hal. 247 (buku 2)

34

Adami Chazawi, Hukum Pembuktian Tindak Pidana Korupsi. Penerbit P.T Alumni, Bandung, 2008, Hal. 27 (buku 1)

35

(31)

Hakim bekerja menyidangkan terdakwa seperti robot yang tingkah lakunya sudah deprogram melalui undang-undang.36

2. Sistem atau Teori Pembukt ian Berdasarkan Keyakinan Hakim Melulu

Sistem pembuktian ini menyandarkan diri pada alat bukti saja, yakni alat bukti yang telah ditentukan oleh undang-undang. Sistem ini yang dicari adalah kebenaran formal, sehingga sistem ini dipergunakan dalam hukum acara perdata.

Menurut sistem ini, hakim dalam menjatuhkan putusan tidak terikat dengan alat bukti yang ada. Darimana hakim menyimpulkan putusannya tidak menjadi masalah. Ia hanya boleh menyimpulkan dari alat bukti yang ada dalam persidangan atau mengabaikan alat bukti yang ada dalam persidangan.37

Disadari bahwa alat bukti berupa pengakuan terdakwa sendiri pun tidak selalu membuktikan kebenaran. Pengakuan pun kadang-kadang tidak menjamin terdakwa benar-benar telah melakukan perbuatan yang didakwakan. Oleh karena itu, diperlukan bagaimana pun juga keyakinan hakim sendiri.38

Sistem ini mengandung kelemahan yang besar. Sebagaimana manusia biasa, hakim bisa salah keyakinan yang telah dibentuknya, berhubung tidak ada kriteria, alat-alat bukti tertentu yang harus dipergunakan dan syarat serta cara-cara hakim dalam membentuk keyakinanya itu. Disamping itu, pada

36

Adami Chazawi, buku 1, op.cit. hal. 28

37

Hari Sasangka dan Lily Rosita, op.cit, hal. 14

38

(32)

sistem ini terbuka peluang yang besar untuk terjadi praktik penegakan hukum yang sewenang-wenang, dengan bertumpu pada alasan hakim telah yakin.39

Sistem ini memberi kebebasan kepada hakim terlalu besar, sehingga sulit diawasi. Disamping itu terdakwa atau penasehat hukumnya sulit untuk melakukan pembelaan. Dalam hal ini hakim dapat memidana terdakwa berdasarkan keyakinannya bahwa ia telah melakukan apa yang didakwakan.40

3. Sistem atau Teori Pembuktian Berdasar Keyakinan Hakim Atas Alasan Yang Logis (Laconviction Raisonnee)

Hakim menyatakan telah terbukti kesalahan terdakwa melakukan tindak pidana yang didakwakan dengan didasarkan keyakinannya saja, dan tidak perlu mempertimbangkan dari mana (alat bukti) dia memperoleh dan alasan-alasan yang dipergunakan serta bagaimana caranya dalam membentuk keyakinannya tersebut.

Sebagai jalan tengah, muncul sistem atau teori yang disebut pembuktian yang berdasar keyakinan hakim sampai batas tertentu (laconviction raisonnee) Menurut teori ini, hakim dapat memutuskan seseorang bersalah berdasar keyakinannya, keyakinan yang didasarkan kepada dasar-dasar pembuktian disertai dengan satu kesimpulan (conclusie) yang berlandaskan kepada peraturan-peraturan pembuktian tertentu. Jadi putusan hakim dijatuhkan dengan suatu motivasi.41

39

Adami Chazawi, buku 1, op.cit, hal. 25

40

Andi Hamzah, buku 2, op.cit., hal. 248

41

(33)

Walaupun UU menyebutkan dan menyediakan alat-alat bukti, tetapi sistem ini dalam hal menggunakannya dan menaruh kekuatan alat-alat bukti tersebut terserah dalam pertimbangan hakim dalam hal membentuk keyakinannya tersebut, asalkan alasan-alasan yang dipergunakan dalam pertimbangannya logis. Artinya, alasan yang dipergunakannya dalam hal membentuk keyakinan hakim masuk akal, artinya dapat diterima oleh akal orang pada umumnya.42

4. Sistem atau Teori Pembukt ian Berdasarkan Undang-undang secara Negatif (Negatief Wettelijk)

Pembuktian ini masih menyandarkan kepada keyakinan hakim. Hakim harus mendasarkan putusan terhadap seorang terdakwa berdasarkan alasan yang logis dapat diterima oleh akal dan nalar.

Menurut sistem ini, dalam hal membuktikan kesalahan terdakwa melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya, hakim tidak sepenuhnya mengandalkan alat-alat bukti serta dengan cara-cara yang ditentukan oleh undang-undang. Itu tidak cukup, tetapi harus disertai pula keyakinan bahwa terdakwa bersalah melakukan tindak pidana. Keyakinan yang dibentuk ini haruslah didasarkan atas fakta-fakta yang diperoleh dari alat bukti yang ditentukan dalam undang-undang. Kegiatan pembuktian didasarkan pada dua hal, yaitu alat-alat bukti dan keyakinan yang merupakan kesatuan tidak dipisahkan, yang tidak berdiri sendiri-sendiri.43

42

Adami Chazawi, buku 1, op.cit., hal. 26

43

(34)

Menurut sistem ini untuk menyatakan orang itu bersalah dan dihukum harus ada keyakinan pada hakim dan keyakinan itu harus didasarkan kepada alat-alat bukti yang sah, bahwa memang telah dilakukan sesuatu perbuatan yang terlarang dan bahwa tertuduhlah yang melakukan perbuatan itu.

Hukum acara pidana kita ternyata menganut sistem ini, seperti dapat ditarik kesimpulan dari Pasal 183 KUHAP, dahulu Pasal 294 HIR. yang berbunyi:“Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang, kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.”44

Dari kalimat tersebut nyata bahwa pembuktian harus didasarkan kepada undang-undang (KUHAP), yaitu alat bukti yang sah tersebut dalam pasal 184 KUHAP, disertai dengan keyakinan hakim yang diperoleh dari alat-alat bukti tersebut. Sebenarnya, sebelum diberlakukan KUHAP, ketentuan yang sama telah ditetapkan dalam Undang-undang pokok tentang Kekuasaan Kehakiman (UUPK) Pasal 6 ayat (2) yang berbunyi sebagai berikut:“ Tidak seorang pun dapat dijatuhi pidana, kecuali apabila pengadilan karena alat pembuktian yang sah menurut undang-undang mendapat keyakinan, bahwa seseorang yang dianggap dapat bertanggung jawab atas perbuatan yang dituduhkan atas dirinya.”45

44

Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. Titik Terang. Hal. 86

45

(35)

Sistem pembuktian ini berpangkal tolah pada aturan-aturan pembuktian yang ditetapkan secara limitative oleh undang-undang, tetapi hal itu harus diikuti dengan keyakinan hakim.

B. Kedudukan Asas Pembuktian Terbalik di dalam KUHAP

Pembuktian adalah suatu proses kegiatan untuk membuktikan sesuatu atau menyatakan kebenaran tentang suatu peristiwa.46 Pasal 183 menyatakan: “Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang, kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.”47

Sedangkan mengenai ketentuan alat bukti yang sah diatur dalam Pasal 184 KUHAP, yang berbunyi:48

1. Alat bukti yang sah ialah: a. Keterangan saksi; b. Keterangan ahli; c. Surat;

d. Petunjuk;

e. Keterangan terdakwa.

2. Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.

46

Adami Chazawi, Hukum Pidana Materiil dan Formil Korupsi di Indonesia, Bayumedia Publishing, Malang. 2005, Hal. 398 (buku 2)

47

Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. Titik Terang. Hal. 86

48

(36)

Alat bukti petunjuk sangat diperlukan dalam pembuktian suatu perkara terutama dalam kasus korupsi. Alat bukti petunjuk tidak mungkin berdiri sendiri, tetapi bergantung pada alat-alat bukti lain yang telah dipergunakan atau diajukan oleh jaksa penuntut umum dan penasehat hukun. Alat-alat bukti yang dapat dipergunakan untuk membangun alat bukti petunjuk ialah keterangan saksi, surat-surat dan keterangan tersangka (pasal 188 ayat 2 KUHAP).

Alat bukti petunjuk dalam hukum pidana formil korupsi tidak saja dibangun melalui tiga alat bukti dalam pasal 188 ayat 2, melainkan dapat diperluas di luar tiga alat bukti yang sah tersebut sebagaimana yang diterangkan dalam pasal 26 A Undang-undang No. 20 Tahun 2001 yaitu:49

a. Alat bukti lain yang berupa informasi yang diucapka, dikirim, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optic atau yang serupa dengan itu; dan

b. Dokumen, yakni setiap rekaman data atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang dalam kertas, benda fisik apa pun selain kertas maupun yang terekam secara elektronik yang berupa tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka, atau perforasi yang memiliki makna.

Ketentuan khusus mengenai pembuktian dalam hukum pidana formil korupsi yang dirumuskan dalam undang No. 31 Tahun 1999 Jo

Undang-49

(37)

undang No. 29 Tahun 2001 merupakan perkecualian dari hukum pembuktian yang ada dalam KUHAP.50

C. Pengaturan Pembuktian Terbalik

Di dalam KUHAP kewajiban pembuktian dibebankan sepenuhnya kepada Jaksa Penuntut Umum, hal ini sesuai dengan ketentuan pembuktian yang diatur dalam KUHAP Bab XVI bagian ke empat (Pasal 183 sampai dengan Pasal 232 KUHAP), sehingga status hukum atau kedudukan asas pembuktian terbalik di dalam sistem hukum acara pidana di Indonesia (KUHAP) tidak diatur.

Sesuai dengan pasal 183 KUHAP, maka jelaslah bahwa kedudukan asas pembuktian terbalik tidak dianut dalam sistem hukum acara pidana pada umumnya (KUHAP), melainkan yang sering diterapkan dalam proses pembuktian dalam peradilan pidana yaitu teori jalan tengah yakni gabungan dari teori berdasarkan undang-undang dan teori berdasarkan keyakinan hakim.

Dasar hukum munculnya peraturan di luar Kitab Undang-undang Hukum

Pidana (KUHP) adalah Pasal 103 KUHP. Didalam pasal tersebut dinyatakan:

“ketentuan dari delapan bab yang pertama dari buku ini berlaku juga

terhadap perbuatan yang dapat dihukum menurut peraturan

undang-undang lain, kecuali kalau ada undang-undang-undang-undang (wet) tindakan umum

pemerintahan (algemene maatregelen van bestuur) atau ordonansi

menentukan peraturan lain.51

50

Adami Chazawi, buku 2, op.cit, hal. 399

51

(38)

Jadi, dalam hal ketentuan dalam peraturan perundang-undangan mengatur lain daripada yang telah diatur di dalam KUHP, dapat diartikan bahwa suatu bentuk aturan khusus telah mengesampingkan aturan umum (Lex specialis derogate Legi Generali). Dengan kata lain Pasal 103 KUHP memungkinkan suatu ketentuan perundang-undangan di luar KUHP untuk mengesampingkan ketentuan-ketentuan yang telah diatur dalam KUHP.52

1. Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

Di Indonesia langkah-langkah pembentukan hukum positif guna

menghadapi masalah korupsi telah dilakukan selama beberapa masa perjalanan

sejarah dan melalui beberapa masa perubahan peraturan perundang-undangan.

Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) terdapat beberapa

ketentuan terhadap perbuatan oleh pejabat dalam menjalankan jabatannya. Lilik

Mulyadi mengangkat pendapat P.A.F. Lamintang yang mengatakan Tindak

Pidana Jabatan adalah:

“Sejumlah tindak pidana – tindak pidana tertentu, yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai sifat sebagai pegawai negeri. Agar tindak pidana – tindak pidana yang dilakukan oleh para pegawai negeri itu dapat disebut sebagai tindak pidana – tindak pidana jabatan, maka tindak pidana – tindak pidana tersebut harus dilakukan oleh para pegawai negeri yang bersangkutan dalam menjalankan tugas jabatan mereka masing-masing”.53

Pada KUHP Tindak Pidana jabatan yang berkorelasi dengan perbuatan

korupsi terdapat di dalam Bab XXVIII KUHP yaitu khususnya terhadap perbuatan

52

Evi hartanti. op.cit. hal 23

53

Lilik Mulyadi, Tindak Pidana Korupsi di Indonesia Normatif, Teoritis, Praktik dan

(39)

penggelapan oleh pegawai negeri (Pasal 415 KUHP), membuat palsu atau

memalsukan (Pasal 416 KUHP), menerima pemberian atau janji (Pasal 418, 419,

dan 420 KUHP) serta menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan

hukum (Pasal 423, 425 dan 435 KUHP). Pada hakikatnya, ketentuan-ketentuan

Tindak Pidana Korupsi itu ternyata kurang efektif dalam menanggulangi korupsi

seperti pendapat Soedjono Dirdjosisworo yang dikutip oleh Lilik Mulyadi,

sebagai berikut:

“Tindak Pidana Korupsi yang dapat dikenakan dalam pasal-pasal KUHP

saat itu dirasakan kurang bahkan tidak efektif menghadapi gejala-gejala

korupsi saat itu. Maka, dirasakan perlu adanya peraturan yang dapat lebih

memberi keleluasaan kepada penguasa untuk bertindak terhadap

pelaku-pelakunya”.54

Karena ketidakmampuan KUHP, penguasa militer dalam suasana negara

dalam keadaan perang mengeluarkan peraturan-peraturan. Istilah korupsi sebagai

istilah yuridis baru digunakan pada tahun 1957, yaitu dengan adanya Peraturan

Penguasa Militer yang berlaku di daerah kekuasaan Angkatan Darat.55

A. Masa Peraturan Penguasa Militer

Beberapa

peraturan yang mengatur mengenai tindak pidana korupsi di Indonesia sebagai

berikut:

1. Peraturan Penguasa Militer Nomor PRT/ PM/ 06/ 1957 dikeluarkan oleh

Penguasa Militer Angkatan Darat dan berlaku untuk daerah kekuasaan

Angkatan Darat. Latar belakang lahirnya peraturan ini adalah seperti

54

Ibid. hal 156

55

(40)

tercantum dalam konsideransnya bahwa berhubung tidak adanya

kelancaran dalam usaha memberantas perbuatan yang merugikan

keuangan dan perekonomian negara yang oleh khalayak ramai dinamakan

korupsi, perlu segera menetapkan tata kerja untuk dapat menerobos

kemacetan dalam usaha memberantas korupsi.56

2. Peraturan Penguasa Militer Nomor PRT/ PM/ 08/ 1957 tentang pemilikan

terhadap harta benda. Peraturan ini lahir untuk lebih mengefektifkan

peraturan yang sebelumnya. Dengan peraturan ini, Penguasa Militer

berwenang untuk mengadakan kepemilikan terhadap harta benda setian

orang atau badan di dalam daerahnya, yang kekayaannya diperoleh secara

mendadak dan mencurigakan. Dengan demikian, dalam pemilikan harta

benda itu memungkinkan adanya penyitaan terhadap:57

a. Harta benda atau berang yang dengan sengaja atau karena kelalaian

tidak diterangkan oleh pemiliknya atau pengurusnya;

b. Harta benda yang tidak terang siapa pemiliknya;

c. Harta benda orang yang kekayaannya oleh pemilik atau pemilik

pembantu harta dianggap diperoleh secara mendadak dan merugikan.

Selanjutnya status barang yang disita apabila tidak memiliki

syarat-syarat tertentu menjadi milik negara.

3. Peraturan Penguasa Militer Nomor PRT/ PM/ 011/ 1957 merupakan

peraturan yang menjadi hukum bagi kewenangan yang dimiliki oleh

pemilikan harta benda untuk melaksanakan penyitaan harta benda yang

56

Ibid, hal. 24

(41)

dianggap merupakan hasil perbuatan korupsi lainnya, sambil menunggu

putusan dari Pengadilan Tinggi.

4. Peraturan Penguasa Perang Pusat Kepala Staf Angkatan Darat Nomor

PRT/ PEPERPU/ 031/ 1958 serta peraturan pelaksanaannya.

5. Peraturan Penguasa Perang Pusat Kepala Staf Angkatan Laut Nomor PRT/

Z.1/ 1/ 7/ 1958 tanggal 17 April 1958

Maksud dan tujuan dari peraturan penguasa perang ini adalah agar di

dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dapat diberantas perbuatan korupsi yang

pada saat itu merajalela sebagai akibat dari suasana bahwa seakan-akan

pemerintah sudah tidak berwibawa lagi.58

Mengingat berlakunya Peraturan Penguasa Perang tersebut hanya bersifat

temporer saja, padahal perbuatan korupsi itu dapat pula dilakukan tidak dalam

keadaan perang, maka Pemerintah menganggap bahwa Peraturan Penguasa

Perang tersebut diganti dengan peraturan yang berbentuk Undang-undang.

59

Peraturan-peraturan penguasa militer ini merupakan suatu bentuk

kehendak penguasa (political will) pada saat itu untuk memberantas korupsi di

Indonesia yang mana dalam peraturan ini belumlah ada mengatur atau

menyinggung mengenai pembuktian terbalik. Meskipun masih terdapat

ketidaksempurnaan dalam perumusan peraturan tersebut, namun peraturan

Penguasa Militer itu merupakan modal awal yang berharga untuk disempurnakan

58

Ibid, hal. 25

59

(42)

dalam rangka mewujudkan suatu undang-undang tentang pemberantasan korupsi

yang dapat memenuhi tuntutan kebutuhan dan citra masyarakat Indonesia.

B. Masa Berlakunya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 24

Tahun 1960

Kebijakan legislasi pemberantasan korupsi sampai dengan sebelum tahun 1960 tidak mengatur pembalikan beban pembuktian dalam peraturan perundang-undangan korupsi disebabkan oleh perspektif kebijakan legislasi memandang perbuatan korupsi sebagai delik biasa sehingga penanggulangan korupsi cukup dilakukan secara konvensional dan tidak memerlukan perangkat hukum yang luar biasa (extra ordinary measures).60

Substansi pasal ini mewajibkan tersangka memberikan keterangan tentang

seluruh harta bendanya apabila diminta oleh Jaksa. Konsekuensinya, tanpa adanya

permintaan dari Jaksa tersangka tidak mempunyai kesempatan untuk memberi

Selanjutnya, kebijakan legislasi pembalikan beban pembuktian mulai terdapat dalam UU No. 24 Tahun 1969 tentang Pengusutan, Penuntutan dan Pemeriksaan Tindak Pidana Korupsi. Ketentuan Pasal 5 ayat (1) UU No. 24 Tahun 1960 menyebutkan:“Setiap tersangka wajib memberi keterangan tentang seluruh harta benda dan harta benda isteri/suami dan anak dan harta benda sesuatu badan hukum yang diurusnya, apabila diminta oleh Jaksa”.

60

(43)

keterangan tentang seluruh harta bendanya.61

Upaya pemberantasan tindak pidana korupsi dengan menggunakan

Undang-undang Nomor 24 Prp Tahun 1960 tampaknya kurang berhasil.

Berdasarkan kenyataan di lapangan, banyak ditemukan hal-hal yang tidak sesuai,

antara lain:

Dalam pasal ini, yang menentukan

tersangka dapat memberikan keterangan terletak pada Jaksa.

62

1. Adanya perbuatan yang merugikan keuangan atau perekonomian negara

yang menurut perasaan keadilan masyarakat harus dituntut dan dipidana,

tidak dapat dipidana karena tidak adanya rumusan tindak pidana korupsi

yang berdasarkan kejahatan atau pelanggaran yang dilakukan tersebut;

2. Pelaku tindak pidana korupsi hanya ditujukan kepada pegawai negeri,

tetapi kenyataannya orang-orang yang bukan pegawai negeri yang

menerima tugas atau bantuan dari suatu badan negara, dapat melakukan

perbuatan tercela seperti yang dilakukan pegawai negeri;

3. Perlu diadakan ketentuan yang mempermudah pembuktian dan

mempercepat proses hukum acara yang berlaku tanpa tidak

memperhatikan hak asasi tersangka atau terdakwa.

Berdasarkan berbagai pertimbangan itu, dilakukan penyempurnaan

terhadap Undang-undang Nomor 24 Prp Tahun 1960 sehingga dicabut dan diganti

dengan Undang-undang Nomor 3 tahun 1971.

61

Ibid. hal. 193

62

(44)

C. Masa Berlakunya Undang-undang Nomor 3 Tahun 1971

Kebijakan legislasi dalam UU No. 3 Tahun 1971 secara eksplisit telah

mengatur pembalikan beban pembuktian. Ketentuan Pasal 17 UU No. 3 Tahun

1971, selengkapnya berbunyi sebagai berikut:63

1. Hakim dapat memperkenankan terdakwa untuk kepentingan pemeriksaan memberikan keterangan tentang pembuktian bahwa ia tidak bersalah melakukan tindak pidana korupsi.

2. Keterangan tentang pembuktian yang dikemukakan oleh terdakwa bahwa ia tidak bersalah seperti dimaksud dalam ayat (1) hanya diperkenankan dalam hal:

a. Apabila terdakwa menerangkan dalam pemeriksaan, bahwa perbuatannya itu menurut keinsyafan yang wajar tidak merugikan keuangan atau perekonomian negara, atau

b. Apabila terdakwa menerangkan dalam pemeriksaan, bahwa perbuatannya itu dilakukan demi kepentingan umum.

3. Dalam hal terdakwa dapat memberikan keterangan tentang pembuktian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meka keterangan tersebut dipergunakan sebagai hal yang setidak-tidaknya menguntungkan baginya. Dalam hal demikian Penuntut Umum tetap mempunyai kewenangan untuk memberikan pembuktian yang berlawanan.

4. Apabila terdakwa tidak dapat memberi keterangan tentang pembuktian seperti dimaksud dalam ayat (1) meka keterangan tersebut dipandang sebagai hal yang setidak-tidaknya merugikan baginya. Dalam hal demikian Penuntut Umum diwajibkan member pembuktian bahwa terdakwa bersalah melakukan tindak pidana koorupsi.

Sistem pembuktian dalam ketentuan Pasal 17 UU No. 3 Tahun 1971 ini

dikenal dengan sistem pembagian pembuktian, yaitu merupakan suatu asas yang

mewajibkan terdakwa untuk membuktikan ketidakbersalahannya, tanpa menutup

kemungkinan jaksa melakukan hal yang sama untuk membuktikan kesalahan

terdakwa. Tegasnya, ketentuan Pasal 17 ini tidak menganut sistem pembuktian

63

(45)

terballik secara absolute karena terdakwa dan penuntut umum dapat saling

membuktikan.64

Selanjutnya, ketentuan Pasal 18 UU No. 3 Tahun 1971 tentang

kepemilikan harta benda pelaku selengkapnya berbunyi sebagai berikut:65

1. Setiap terdakwa wajib memberikan keterangan tentang seluruh harta bendanya dan harta benda isteri/ suami, anak dan setiap orang, serta badan yang diduga mempunyai hubungan dengan perkara yang bersangkutan apabila diminta oleh hakim.

2. Bila terdakwa tidak dapat memberi keterangan yang memuaskan disidang pengadilan tentang sumber kekayaan yang tidak seimbang dengan penghasilannya atau sumber penambahan kekayaannya maka keterangan tersebut dapat digunakan untuk memperkuat keterangan saksi bahwa terdakwa telah melakukan tindak pidana korupsi.

Ketentuan kedua pasal tersebut di satu sisi, dimensi pembalikan beban

pembuktian untuk kesalahan pelaku dan kepemilikan harta terdakwa hanya

diperkenankan sepanjang hakim memandang perlu untuk kepentingan

pemeriksaan. Konsekuensi logisnya, di sisi lain pembalikan beban pembuktian

tidak dimiliki terdakwa sebagai hak dan terdakwa baru dapat mempergunakan

pembalikan beban pembuktian sepanjang hakim memperkenankan untuk

keperluan pemeriksaan. 66

Ada tidaknya ketentuan tersebut tidak berpengaruh banyak terhadap hak

terdakwa untuk melakukan pembelaan diri. Dan di dalam persidangan, terdakwa

lazimnya akan menyangkal dakwaan yang diajukan kepadanya dan sedapat

mungkin berusaha lepas dari dakwaan jaksa penuntut umum.

64

Lilik Mulyadi, buku 2, op.cit. hal. 258

65

Pasal 18 Undang-undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

66

(46)

D. Undang-undang No. 31 Tahun 1999 jo Undang-undang No. 20 Tahun 2001

Mengenai pembalikan beban pembuktian sudah juga tetap diatur di dalam

UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001.

Ketentuan Pasal 37 berbunyi sebagai berikut:

1. Terdakwa mempunyai hak untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan

tindak pidana korupsi.

2. Dalam hal terdakwa dapat membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak

pidana korupsi, maka pembuktian tersebut dipergunakan oleh pengadilan

sebagai dasar untuk menyatakan bahwa dakwaan tidak terbukti.

Analisis hukum terhadap ketentuan Pasal 37 UU No. 31 Tahun 1999

menunjukkan bahwa terhadap pembalikan beban pembuktian terdakwa

mempunyai hak untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana

korupsi sehingga jikalau terdakwa dapat membuktikan bahwa ia tidak melakukan

tindak pidana korupsi, maka pembuktian tersebut dipergunakan oleh pengadilan

sebagai dasar untuk menyatakan bahwa dakwaan tidak terbukti.67

Sistem pembebanan pembuktian terbalik dalam pasal 37 berlaku sepenuhnya pada tindak pidana korupsi suap menerima gratifikasi, khususnya yang nilainya Rp. 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) atau lebih (pasal 12B ayat (1) huruf a), yakni kewajiban untuk membuktikan bahwa dirinya tidak melakukan tindak pidana korupsi, maka berlakulah pasal 37 ayat 2 yakni hasil pembuktian

67

(47)

bahwa terdakwa tidak melakukan tindak pidana korupsi tersebut dipergunakan oleh pengadilan sebagai dasar untuk menyatakan bahwa dakwaan tidak terbukti.68

Jika dipandang dari semata-mata hak, maka ketentuan Pasal 37 ayat (1)

tidaklah mempunyai arti apa-apa. Hak tersebut adalah hak dasar terdakwa yang

demi hukum telah melekat sejak ia diangkat statusnya menjadi tersangka atau

terdakwa. Ketentuan pada ayat (1) merupakan penegasan belaka atas sesuatu hak

terdakwa yang memang sudah ada. Justru, Pasal 37 ayat (2) lah yang memiliki arti

penting dalam hukum pembuktian. Inilah yang menunjukkan inti sistem terbalik,

walaupun tidak tuntas. Karena pada ayat (2) dicantumkan akibat hukumnya bila

terdakwa berhasil membuktikan, ialah hasil pembuktian terdakwa tersebut

dipergunakan oleh pengadilan untuk menyatakan bahwa dakwaan tidak terbukti.

Namun, tidak mencantumkan seperti hal bagaimana cara terdakwa membuktikan,

dan apa standar pengukurnya hasil pembuktian terdakwa untuk dinyatakan

sebagai hasil membuktikan dan tidak berhasil membuktikan.69

Ketentuan Pasal 37 ayat (2) inilah sebagai dasar hukum beban pembuktian

terbalik hukum acara pidana korupsi. Penerapan dari ketentuan ini, harus

dihubungkan atau ada hubungannya dengan Pasal 12 B dan Pasal 37 A ayat (3).

Hubungannya dengan Pasal 12 B, ialah bahwa sistem terbalik pada Pasal 37

berlaku pada tindak pidana korupsi suap menerima gratifikasi yang nilainya Rp 10

juta atau lebih (Pasal 12 B ayat (1) huruf a). Sedangkan hubungannya dengan

Pasal 37 A khusunya ayat (3), bahwa sistem terbalik menurut Pasal 37 berlaku

dalam hal pembuktian tentang sumber (asal) harta benda terdakwa dan lain-lain

68

Adami Chazawi, buku 2, op.cit. hal. 406

69

(48)

di luar perkara pokok pasal-pasal yang disebutkan dalam Pasal 37 A in casu

hanyalah Tindak Pidana Korupsi suap gratifikasi yang tidak disebut dalam Pasal

37 A ayat (3) tersebut.70

Apabila dianalisis berdasarkan penjelasan otentik pasal tersebut, ketentuan

Pasal 37 ayat (1) UU No. 20 Tahun 2001 sebagai konsekuensi berimbang atas

penerapan pembalikan beban pembuktian terhadap terdakwa. Terdakwa tetap

memerlukan perlindungan hukum yang berimbang atas pelanggaran hak-hak yang

mendasar yang berkaitan dengan asas praduga tidak bersalah dan menyalahkan

diri sendiri (non self-incrimmination), kemudian penjelasan ayat (2) menyatakan

ketentuan tersebut tidak menganut sistem pembuktian secara negatif menurut

undang-undang.71

“ Undang-undang ini juga menerapkan pembuktian terbalik yang bersifat terbatas dan berimbang, yakni terdakwa mempunyai hak untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi dan wajib

Sistem pembuktian terbalik menurut pasal 37 ini diterapkan pada tindak pidana selain yang dirumuskan dalam pasal 2, 3, 4, 13, 14, 15, 16 UU No. 31/ 1999 dan pasal 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, dan 12 UU No.20/ 2001, karena bagi tindak pidana menurut pasal-pasal yang disebutkan tadi pembuktiannya berlaku sistem semi terbalik.

Dalam UU No. 31 Tahun 1999 diatur dalam Pasal 37 yang merupakan hak

terdakwa dengan melakukan pembalikan beban pembuktian dengan sifat terbatas

dan berimbang. Hal ini secara eksplisit diterangkan dalam Penjelasan Umum UU

No. 31 Tahun 1999 yang berbunyi:

70 Ibid 71

(49)

memberikan keterangan tentang seluruh harta bendanya dan harta benda istri atau suami, anak, dan harta benda setiap orang atau korporasi yang diduga mempunyai huhungan dengan perkara yang bersangkutan, dan penuntut umum tetap berkewajiban membuktikan dakwaannya.”

Sedangkan ketentuan Pasal 37 A dengan tegasnya menyebutkan bahwa:

1. Terdakwa wajib memberikan keterangan tentang seluruh harta bendanya dan harta benda istri atau suami, anak dan harta benda setiap orang atau korporasi yang diduga mempunyai hubungan dengan perkara yang bersangkutan.

2. Dalam hal terdakwa tidak dapat membuktikan tantang kekayaan yang tidak seimbang dengan penghasilannya atau sumber penambahan kekayaannya, keterangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digunakan untuk memperkuat alat bukti yang sudah ada bahwa terdakwa telah melakukan tindak pidana korupsi.

3. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2) merupakan tindak pidana atau perkara pokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 13, Pasal 14, Pasal 15, dan Pasal 16 Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Pasal 5 sampai dengan Pasal 12 Undang-undang ini, sehingga Penuntut Umum tetap berkewajiban untuk membuktikan dakwaannya.

Mengenai kewajiban terdakwa untuk memberikan keterangan tentang harta kekayaannya tidak lagi menggunakan sistem pembuktian terbalik murni sebagaimana dirumuskan dalam pasal 37.72

72

Adami Chazawi, buku 2, op.cit. hal. 408

(50)

membuktikan bahwa terdakwa telah melakukan tindak pidana korupsi. Sistem pembuktian demikian biasa disebut dengan sistem semi terbalik, tetapi tidak tepat jika disebut sistem terbalik murni. Karena dalam hal tindak pidana korupsi tersebut terdakwa dibebani kewajiban untuk membuktikan tidak melakukan korupsi yang apabila tidak berhasil justru akan memberatkannya. Namun begitu, jaksa juga tetap berkewajiban untuk membuktikan bahwa terdakwa melakukan tindak pidana korupsi.73

Tindak Pidana korupsi selain suap menerima gratifikasi, penerapan

pembuktian tentang harta benda terdakwa yang telah didakwakan dilakukan

dengan cara yang dirumuskan dalam Pasal 37 A yang jika dihubungkan dengan

tindak pidana korupsi dalam perkara pokok, dapat disebut dengan sistem

pembuktian semi terbalik atau berimbang terbalik. Karena dalam hal terdakwa

didakwa melakukan tindak pidana korupsi (selain suap menerima gratifikasi) yang

sekaligus didakwa pula mengenai harta bendanya sebagai hasil korupsi atau ada

hubungannya dengan korupsi yang didakwakan, maka beban pembuktian

mengenai tindak pidana dan harta benda terdakwa yang didakwakan tersebut,

diletakkan masing-masing pada jaksa penuntut umum dan terdakwa secara

berlawanan dan berimbang. Karena beban pembuktian diletakkan secara

berimbang dengan objek pembuktian yang berbeda secara terbalik, maka sistem

pembuktian yang demikian dapat pula disebut dengan sistem pembuktian

berimbang terbalik. 74

73

Ibid, hal. 409

74

(51)

Dikaji dari hukum pembuktian, UU No. 31 Tahun 1999 pada asasnya tetap

mempergunakan teori pembuktian negatif. Selain itu, dikaji dari beban

pembuktian, UU tersebut tetap mengacu adanya kewajiban Penuntut Umum untuk

tetap membuktikan dakwaannya di samping juga terdakwa mempunyai hak

membuktikan pembalikan beban pembuktian (Pasal 37 ayat (1), (2), UU No. 31

Tahun 1999).75

1. setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara Negara dianggap pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban dan tugasnya, dengan ketentuan sebagai berikut :

Dalam undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 ditambahkan delik baru yaitu delik pemberian atau dikenal dalam undang-undang tersebut sebagai delik gratifikasi dalam Sistem Pembukt ian Terbalik (Pembalikan Beban Pembuktian) yang terdapat dalam Pasal 12 B dan 12 C. Menurut penjelasan Pasal 12 B (1) yang dimaksud dengan gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang , barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan Cuma-Cuma, dan fasilitas lainnya. Gratifikasi tersebut baik yang diterima di dalam negeri maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik.

Dalam Pasal 12 B Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 dinyatakan bahwa:

a. Yang nilainya Rp 10.000.000 (sepuluh juta rupiah) atau lebih, pembuktian bahwa gratifikasi tersebut bukan suap dilakukan oleh penerima gratifikasi.

75

(52)

b. Yang nilainya kurang dari Rp 10.000.000 (sepuluh juta rupiah), pembuktian gratifikasi tersebut siap dilakukan oleh penuntut umum. 2. Pidana bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara sebagaimana

dimaksud dalam ayat (1) adalah tindak pidana seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dau puluh) tahun, dan pidana denda paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Dilihat dari formulasinya, “gratifikasi” bukan merupakan jenis maupun kualifikasi delik. Yang dijadikan delik (“perbuatan yang dapat dipidana” atau “tindak pidana”) menurut Pasal 12 B ayat (2), bukan “gratifikasi”-nya, melainkan perbuatan “menerima gratifikasi “itu.76

1. batasan pengertian gratifikasi yang dianggap sebagai “pemberian suap”. Gratifikasi yang dianggap sebagai “pemberian suap” yaitu apabila gratifikasi (pemberian) itu:

Pasal 12 B ayat (1) tidak merumuskan tindak pidana Gratifikasi, tetapi hanya memuat ketentuan mengenai:

a. diberikan kepada “pegawai negeri” atau “penyelenggara negara”, dan b. berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban

dan tugasnya.

2. jenis-jenis gratifikasi yang dianggap sebagai “pemberian suap”. Ada 2 (dua) jenis gratifikasi, yaitu:

a. Gratifikasi yang bernilai Rp. 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) atau lebih, beban pembuktian (bahwa gratifikasi itu bukan suap) pada penerima;

76

(53)

b. Gratifikasi yang bernilai kurang dari Rp. 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah), beban pembuktian (bahwa gratifikasi itu merupakan suap) pada penuntut umum.77

Perlu diperhatikan bahwa untuk tindak pidana suap menerima grafikasi yang nilainya kurang dari Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah), sistem pembebanan pembuktian pasal 37 tidak berlaku. Karena menurut pasal 12B ayat (1) huruf b beban pembuktiannya ada pada jaksa PU untuk membuktikan bahwa terdakwa melakukan tindak pidana korupsi suap menerima grafikasi, padahal pasal 37 membebankan pembuktian kepada terdakwa. Untuk korupsi suap menerima grafikasi yang nilainya kurang dari 10 juta rupiah berlaku sistem pembuktian biasa dalam KUHAP dan tidak berlaku sistem yang ditentukan dalam pasal 37A maupun 38B, karena pasal 12B ayat (1) huruf b tidak disebutkan dalam pasal 37A maupun pasal 38B tersebut.

Dapat disimpulkan bahwa apabila semata-mata dilihat dari ketentuan pembebanan pembuktian menurut pasal 37 yang dapat dihubungkan juga dengan pasal 12B ayat (1) huruf a, maka sistem pembuktian disana menganut sistem pembebanan pembuktian terbalik murni. Akan tetapi, apabila sistem pembebanan pembuktian semata-mata dilihat dari pasal 12B ayat (1 huruf a dan b) tidak dipisahkan, maka sistem pembuktian seperti itu dapat disebut sistem pembuktian berimbang bersyarat, bergantung pada syarat-syarat tertentu-siapa yang memenuhi

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...