• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Faktor yang Memengaruhi Ibu dalam Memilih Persalinan di Rumah oleh Bidan di Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Ruku Kabupaten Batubara Tahun 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Faktor yang Memengaruhi Ibu dalam Memilih Persalinan di Rumah oleh Bidan di Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Ruku Kabupaten Batubara Tahun 2013"

Copied!
125
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS FAKTOR YANG MEMENGARUHI IBU DALAM MEMILIH PERSALINAN DI RUMAH OLEH BIDAN DI WILAYAH KERJA

PUSKESMAS LABUHAN RUKU KABUPATEN BATUBARA TAHUN 2013

TESIS

Oleh

ELIYA WARDAYANI 117032184/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

ANALISIS FAKTOR YANG MEMENGARUHI IBU DALAM MEMILIH PERSALINAN DI RUMAH OLEH BIDAN DI WILAYAH KERJA

PUSKESMAS LABUHAN RUKU KABUPATEN BATUBARA TAHUN 2013

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi Kesehatan Reproduksi pada Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara

Oleh

ELIYA WARDAYANI 117032184/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(3)

Judul Tesis : ANALISIS FAKTOR YANG MEMENGARUHI IBU DALAM MEMILIH PERSALINAN DI RUMAH OLEH BIDAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LABUHAN RUKU KABUPATEN BATUBARA TAHUN 2013

Nama Mahasiswa : Eliya Wardayani Nomor Induk Mahasiswa : 117032184

Program Studi : S2 Kesehatan Masyarakat Minat Studi : Kesehatan Reproduksi

Menyetujui Komisi Pembimbing

Ketua

(Dr. Ir. Evawany Y Aritonang, M.Si)

Anggota

(Drs. Abdul Jalil Amri Arma, M.Kes)

Dekan

(Dr. Drs. Surya Utama, M.S)

(4)

Telah Diuji

pada Tanggal : 2 Desember 2013

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Dr. Ir. Evawany Y Aritonang, M.Si Anggota : 1. Drs. Abdul Jalil Amri Arma, M.Kes

(5)

PERNYATAAN

ANALISIS FAKTOR YANG MEMENGARUHI IBU DALAM MEMILIH PERSALINAN DI RUMAH OLEH BIDAN DI WILAYAH KERJA

PUSKESMAS LABUHAN RUKU KABUPATEN BATUBARA TAHUN 2013

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, Desember 2013

(6)

ABSTRAK

Tempat bersalin termasuk salah satu faktor yang dapat memengaruhi psikologis ibu bersalin. Pemilihan tempat dan penolong persalinan yang tidak tepat akan berdampak secara langsung pada kesehatan ibu. Pemilihan tempat persalinan dan penolong persalinan bisa dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya jarak fasilitas pelayanan kesehatan, alat transportasi, letak demografi, dan pengetahuan dalam mencari penolong persalinan yang tepat.

penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode Survey analitik cross sectional. Metode analisis yang digunakan adalah analisis faktor yaitu mereduksi variabel menjadi 1 atau 2 faktor yang memengaruhi ibu dalam memilih persalinan di rumah oleh bidan. Populasinya adalah seluruh ibu bersalin di rumah yang ditolong oleh bidan dengan sampel sejumlah 110 orang dengan Purposive Sampling menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi.

Hasil analisis faktor menunjukkan dari 12 variabel yang dianalisis hanya 8 variabel yang dapat diikutkan dalam analisis faktor dengan nilai MSA > 0,5. Dari 8 variabel terbentuk 2 Faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal memberikan kontribusi sebesar 70% dan faktor eksternal sebesar 77% dalam memengaruhi ibu dalam memilih persalinan di rumah. Dari faktor internal yang paling berpengaruh adalah lingkungan persalinan (85,5%) dan dari faktor eksternal yang berpengaruh adalah biaya persalinan (84,1%).

Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa faktor internal (lingkungan persalinan) dan faktor eksternal (biaya persalinan) memengaruhi ibu dalam memilih persalinan di rumah oleh bidan di wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Ruku. Sehingga perlu ditingkatkan profesionalisme bidan dalam memberikan pelayanan persalinan sehingga dapat memotivasi masyarakat untuk memilih bersalin di fasilitas kesehatan.

(7)

ABSTRACT

The location of childbirth is one of the factors which can psychologically influence mothers who are giving birth to babies. The wrong selection of location and childbirth aide will directly affect mothers’ health. The selection of the location and the aides of childbirth can be influenced by several factors such as the distance of health service facility, transportation, demographic location, and knowledge of searching for the right childbirth aide.

The research is quantitative with cross sectional analytic survey. The method of the analysis was factor analysis in which the variables were reduced to one or two factors which influenced mothers to select the home birth by midwives. The population was all mothers who gave birth to babies, aided by midwives at home, and 110 of them were used as the samples, using purposive sampling technique with inclusive and exclusive criteria.

The result of the factor analysis showed that of 12 variables, eight of them could be included in the factor analysis with MSA value > 0.05. Of the eight factors, two of them became internal and external factors. Internal factor contributed 70%, while external factor contributed 77% in influencing mothers to select the location of childbirth at home. From the internal factor, it was found that childbirth environment was the most influencing factor (85.5%), while from the external factor, it was found that childbirth expense was the most influencing factor (84.1%).

The conclusion of the research was that internal factor (childbirth environment) and external factor (childbirth expense) influenced mothers to select home birth by midwives in the working area of Labuhan Ruku Puskesmas. It is recommended that midwife professionalism should be improved in giving childbirth service so that people will be motivated to select health facility in giving birth to babies.

(8)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat

rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan tesis

dengan judul “Analisis Faktor yang Memengaruhi Ibu dalam Memilih Persalinan di Rumah oleh Bidan di Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Ruku Kabupaten Batubara Tahun 2013”.

Penulisan tesis ini merupakan salah satu persyaratan akademik untuk

menyelesaikan pendidikan pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat

Studi Kesehatan Reproduksi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera

Utara.

Dalam penyusunan tesis ini, penulis mendapatkan banyak bantuan, dorongan,

arahan, bimbingan serta masukan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada

kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada :

1. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K) selaku Rektor

Universitas Sumatera Utara.

2. Dr. Drs. Surya Utama, M.S selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. Ir. Evawany Y Aritonang, M.Si selaku sekretaris Program Studi S2 Ilmu

Kesehatan Masyarakat dan Ketua Komisi Pembimbing yang telah dengan sabar

dan penuh perhatian dalam memberikan arahan dan bimbingan sehingga tesis ini

(9)

4. Drs. Abdul Jalil Amri Arma, M.Kes selaku Anggota Komisi Pembimbing yang

telah memberikan arahan, bimbingan, dorongan dan semangat untuk

menyelesaikan tesis ini.

5. dr. Yusniwarti Yusad, M.Si dan Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes selaku penguji

yang telah meluangkan waktu untuk memberikan arahan dan bimbingan untuk

menyempurnakan tesis ini.

6. Dr. Buang selaku kepala puskesmas Labuhan Ruku yang telah memberikan izin

dan dukungan kepada penulis untuk menyelesaikan penelitian ini.

7. Terima kasih yang tak terhingga untuk kedua orang tua, Ayahanda Abdullah

Musaka dan Ibunda Resmiah yang telah banyak memberikan doa yang tak

terbatas serta dukungan moril kepada penulis.

8. Kepada suami tercinta Abdullah Harahap yang telah memberikan dukungan

moril dan materil serta doa dan izin kepada penulis untuk melanjutkan

pendidikan. Untuk buah hatiku Fayz Afdillah Mulia Harahap untuk cinta dan

sayangnya.

9. Untuk kakak dan adik-adik ku tercinta yang telah memberikan semangat serta

teman-teman seperjuangan di Kespro A yang saling mendukung untuk

menyelesaikan pendidikan S2.

10. Seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terima kasih atas

(10)

Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga

saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan. Untuk itu penilis terlebih

dahulu mengucapkan terima kasih.

Medan, Desember 2013 Penulis

(11)

RIWAYAT HIDUP

Eliya Wardayani, lahir 16 Maret 1984 di Tanjung Tiram, anak ke 2 dari empat

bersaudara, dari pasangan Abdullah Musaka dan Resmiah. Menikah dengan Kopda

Abdullah Harahap pada tahun 2009 dan dikaruniai seorang putra Fayz Afdillah Mulia

Harahap.

Pendidikan formal penulis dimulai dari TK Ade Irma Suryani Tanjung Tiram,

SD negeri 010149 Dahari Selebar, SLTP Negeri 1 Talawi, SMU negeri 1 Talawi.

Akademi Kebidanan Sentral Padangsisimpuan tahun 2003, Diploma IV Bidan

Pendidik Universitas Padjadjaran Bandung tahun 2007.

Mulai bekerja tahun 2006 sebagai staf Laboratorium di Akademi Kebidanan

Sentral Padangsidimpuan sampai tahun2009. Tahun 2010-2011 sebagai dosen dan

pudir I di Akademi Kebidanan Sentral Padangsidimpuan.

Penulis mengikuti pendidikan lanjutan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan

Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Minat Studi Kesehatan Reproduksi

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN... .. xii

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Permasalahan ... 12

1.3 Tujuan Penelitian ... 13

1.4 Hipotesis ... 13

1.5 Manfaat Penelitian ... 13

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 14

2.1 Persalinan ... 14

2.1.1.Pengertian Persalinan ... 14

2.1.2.Tahap Persalinan ... 16

2.1.3.Asuhan Persalinan ... 20

2.1.4.Tanda-tanda Persalinan ... 20

2.2 Persalinan di Rumah ... 21

2.2.1.Indikasi dan Persyaratan Persalinan di Rumah ... 21

2.2.2.Persiapan Persalinan di Rumah ... 23

2.2.3.Keuntungan dan Kekurangan Persalinan di Rumah ... 25

2.2.4.Faktor-faktor yang Memengaruhi Ibu dalam Memilih Persalinan di Rumah ... 26

2.3 Analisis Faktor ... 37

2.3.1.Pengertian ... 37

2.3.2.Tujuan Analisis Faktor ... 38

2.3.3.Model Analisis Faktor dan Statistik yang Relevan ... 38

2.3.4.Model Matematik dalam Analisis Faktor ... 40

2.3.5.Penentuan Banyaknya Faktor... . 41

2.3.6.Proses Dasar Analisis Faktor ... 43

2.4 Bidan ... 44

2.4.1.Defenisi ... 44

2.4.2.Pelayanan Kebidanan dan Praktik Kebidanan ... 44

(13)

2.5 Landasan Teori ... 48

2.5.1.Teori Prilaku Kesehatan ... 48

2.5.2.Penelitian yang Berhubungan dengan Pemilihan Tempat Persalinan dan Penolong Persalinan ... 51

2.6 Kerangka Konsep ... 53

BAB 3. METODE PENELITIAN ... 54

3.1 Jenis Penelitian ... 54

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 54

3.2.1. Lokasi Penelitian ... 54

3.2.2. Waktu Penelitian ... 54

3.3 Populasi dan Sampel ... 54

3.3.1. Populasi ... 54

3.3.2. Sampel ... 55

3.4 Metode Pengumpulan Data ... 56

3.4.1. Data Primer ... 56

3.4.2. Data Sekunder ... 56

3.4.3. Uji Validitas dan Reliabilitas ... 57

3.5 Defenisi Operasional ... 60

3.6 Metode Pengukuran ... 61

3.7.1. Variabel Dependen ... 61

3.7.2. Variabel Independen ... 61

3.7 Metode Analisa Data ... 61

BAB 4. HASIL PENELITIAN... 65

4.1Gambaran Umum Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Ruku ... 65

4.2 Distribusi Karakteristik Responden ... 66

4.3 Uji Kelayakan Faktor... 67

4.4 Analisis Faktor (Pembentukan Faktor) yang Memengaruhi Ibu dalam Memilih Persalinan di Rumah Oleh Bidan ... 69

4.5 Penamaan Faktor yang Terbentuk ... 75

BAB 5. PEMBAHASAN ... 78

5.1. Interpretasi Variabel yang Tereduksi ... 79

5.1.1. Variabel Umur ... 79

5.1.2. Variabel Paritas ... 79

5.1.3. Variabel Dukungan Penolong Persalinan ... 80

5.1.4. Variabel Akses Pelayanan Kesehatan ... 81

5.1.5. Analisis Keempat Variabel Tereduksi ... 82

5.2. Interpretasi Faktor ... 83

5.2.1 Faktor I (Faktor Internal) ... 83

5.2.2 Faktor II (Faktor Eksternal) ... 92

(14)

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 101

6.1 Kesimpulan ... 101

6.2 Saran ... 102

(15)

DAFTAR TABEL

No Judul Halaman

3.1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ... 58

3.2. Metode Pengukuran ... 63

4.1. Jumlah Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Ruku ... 65

4.2. Rekapitulasi KIA di Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Ruku Berdasarkan Desa/Kelurahan ... 66

4.3. Karakteristik Ibu yang Memilih Persalinan di Rumah dan Ditolong oleh Bidan di wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Ruku Tahun 2013.. . 67

4.4. Distribusi Besarnya Hubungan Variabel yang Memengaruhi Ibu dalam Memilih Persalinan di Rumah dan Ditolong Oleh Bidan di Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Ruku Kabupaten Batubara Tahun 2013 ... 70

4.5. Hasil Analisis Terbentuknya Faktor yang Memengaruhi Ibu dalam Memilih Persalinan di Rumah dan Ditolong Oleh Bidan di Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Ruku Kabupaten Batubara Tahun 2013 ... 71

4.6. Distribusi Proses Penentuan Variabel yang Memengaruhi Ibu dalam Memilih Persalinan di Rumah dan Ditolong Oleh Bidan di Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Ruku Kabupaten Batubara Tahun 2013 ... 72

4.7. Distribusi Penentuan Variabel yang Lebih Jelas dan Nyata Memengaruhi Ibu dalam Memilih Persalinan di Rumah dan Ditolong Oleh Bidan di Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Ruku Kabupaten Batubara Tahun 2013 ... 73

4.8. Distribusi Validasi Faktor yang Terbentuk ... 74

4.9. Distribusi Skor Pertanyaan Faktor Internal ... 75

(16)

DAFTAR GAMBAR

No Judul Halaman

2.1 Kerangka Konsep ... 53

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Halaman

1. Kuesioner Penelitian ... 107

2. Master Tabel ... 114

3. Hasil Pengolahan Data ... 118

(18)

ABSTRAK

Tempat bersalin termasuk salah satu faktor yang dapat memengaruhi psikologis ibu bersalin. Pemilihan tempat dan penolong persalinan yang tidak tepat akan berdampak secara langsung pada kesehatan ibu. Pemilihan tempat persalinan dan penolong persalinan bisa dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya jarak fasilitas pelayanan kesehatan, alat transportasi, letak demografi, dan pengetahuan dalam mencari penolong persalinan yang tepat.

penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode Survey analitik cross sectional. Metode analisis yang digunakan adalah analisis faktor yaitu mereduksi variabel menjadi 1 atau 2 faktor yang memengaruhi ibu dalam memilih persalinan di rumah oleh bidan. Populasinya adalah seluruh ibu bersalin di rumah yang ditolong oleh bidan dengan sampel sejumlah 110 orang dengan Purposive Sampling menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi.

Hasil analisis faktor menunjukkan dari 12 variabel yang dianalisis hanya 8 variabel yang dapat diikutkan dalam analisis faktor dengan nilai MSA > 0,5. Dari 8 variabel terbentuk 2 Faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal memberikan kontribusi sebesar 70% dan faktor eksternal sebesar 77% dalam memengaruhi ibu dalam memilih persalinan di rumah. Dari faktor internal yang paling berpengaruh adalah lingkungan persalinan (85,5%) dan dari faktor eksternal yang berpengaruh adalah biaya persalinan (84,1%).

Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa faktor internal (lingkungan persalinan) dan faktor eksternal (biaya persalinan) memengaruhi ibu dalam memilih persalinan di rumah oleh bidan di wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Ruku. Sehingga perlu ditingkatkan profesionalisme bidan dalam memberikan pelayanan persalinan sehingga dapat memotivasi masyarakat untuk memilih bersalin di fasilitas kesehatan.

(19)

ABSTRACT

The location of childbirth is one of the factors which can psychologically influence mothers who are giving birth to babies. The wrong selection of location and childbirth aide will directly affect mothers’ health. The selection of the location and the aides of childbirth can be influenced by several factors such as the distance of health service facility, transportation, demographic location, and knowledge of searching for the right childbirth aide.

The research is quantitative with cross sectional analytic survey. The method of the analysis was factor analysis in which the variables were reduced to one or two factors which influenced mothers to select the home birth by midwives. The population was all mothers who gave birth to babies, aided by midwives at home, and 110 of them were used as the samples, using purposive sampling technique with inclusive and exclusive criteria.

The result of the factor analysis showed that of 12 variables, eight of them could be included in the factor analysis with MSA value > 0.05. Of the eight factors, two of them became internal and external factors. Internal factor contributed 70%, while external factor contributed 77% in influencing mothers to select the location of childbirth at home. From the internal factor, it was found that childbirth environment was the most influencing factor (85.5%), while from the external factor, it was found that childbirth expense was the most influencing factor (84.1%).

The conclusion of the research was that internal factor (childbirth environment) and external factor (childbirth expense) influenced mothers to select home birth by midwives in the working area of Labuhan Ruku Puskesmas. It is recommended that midwife professionalism should be improved in giving childbirth service so that people will be motivated to select health facility in giving birth to babies.

(20)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Persalinan merupakan salah satu peristiwa penting dan senantiasa diingat

dalam kehidupan wanita. Setiap wanita memiliki pengalaman melahirkan tersendiri

yang dapat diceritakan ke orang lain. Memori melahirkan, peristiwa dan orang-orang

yang terlibat dapat bersifat negatif atau positif, dan pada akhirnya dapat menimbulkan

efek emosional dan reaksi psikososial jangka pendek dan jangka panjang.

(Henderson, 2006)

Aspek-aspek asuhan yang terbukti memengaruhi perasaan persalinan dan

kepuasan pengalaman persalinan meliputi komunikasi dan pemberian informasi,

penatalaksanaan nyeri, tempat melahirkan, dukungan sosial dan dukungan dari

pasangan serta dukungan dari pemberi asuhan.

Persalinan sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan tempat persalinan

berlangsung. Idealnya, setiap wanita yang bersalin dan tim yang mendukung serta

memfasilitasi usahanya untuk melahirkan bekerja sama dalam suatu lingkungan yang

paling nyaman dan aman bagi ibu yang melahirkan. (Varney, 2008)

Tempat bersalin termasuk salah satu faktor yang dapat memengaruhi

psikologis ibu bersalin. Pemilihan tempat bersalin dan penolong persalinan yang

(21)

pilihan tempat bersalin yaitu di rumah Ibu atau di unit pelayanan kesehatan.

(Rohmah, 2010)

Tempat yang paling ideal untuk persalinan adalah fasilitas kesehatan dengan

perlengkapan dan tenaga yang siap menolong sewaktu-waktu terjadi komplikasi

persalinan. Minimal di fasilitas kesehatan seperti puskesmas yang mampu

memberikan Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED).

Persalinan difasilitas kesehatan dengan perlengkapan dan tenaga yang siap

menolong sewaktu-waktu terjadi komplikasi persalinan. Minimal di fasilitas

kesehatan seperti puskesmas yang mampu memberikan pelayanan obstetrik dan

neonatal emergensi dasar (PONED). Dipahami belum seluruh Puskesmas mampu

untuk memberikan pelayanan dasar tersebut, minimal pada saat ibu melahirkan di

Puskesmas terdapat tenaga yang dapat segera merujuk jika terjadi komplikasi.

(Laporan Riskesdas 2010)

Pertolongan persalinan memenuhi kaidah 4 pilar safe motherhood, yang

salah satunya adalah persalinan bersih dan aman serta ditolong oleh tenaga kesehatan

yang terampil. Perlu diwaspadai adanya resiko infeksi dikarenakan paparan

lingkungan yang tidak bersih, alas persalinan yang tidak bersih, serta alat dan tangan

penolong yang tidak bersih karena mobilisasi dari pusat pelayanan kesehatan ke

rumah ibu. (Prasetyawati, A.E., 2012)

Menurut Depkes RI (2009), tujuan persiapan persalinan aman adalah agar

(22)

aman. Bahkan menurut Kemenkes RI (2011) persalinan dilakukan di fasilitas

kesehatan dan ditolong oleh tanaga kesehatan.

Pemilihan tempat bersalin dan penolong persalinan yang tidak tepat akan

berdampak secara langsung pada kesehatan ibu. Sampai saat ini angka kematian ibu

di Indonesia masih relatif tinggi dibandingkan dengan negara-negara tetangga.

Laporan survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) terakhir memperkirakan

angka kematian ibu adalah 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007. Bahkan

WHO, UNICEF, UNFPA, dan World Bank memperkirakan angka kematian ibu lebih

tinggi, yaitu 420 per 100.000 kelahiran hidup. (Prasetyawati, A.E., 2012)

Berdasarkan data Profil kesehatan Indonesia tahun 2011; cakupan

pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi kebidanan sejak

tahun 2008 sampai tahun 2011 cenderung mengalami peningkatan. Bahkan pada

tahun 2011 cakupan pertolongan persalinan oleh petugas kesehatan di Indonesia telah

mencapai 88,38 %. Akan tetapi, meningkatnya cakupan penolong kelahiran oleh

tenaga kesehatan di Indonesia belum diimbangi dengan peningkatan jumlah

persalinan di sarana pelayanan kesehatan.

Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar 2010, persalinan ibu anak terakhir

dari kelahiran lima tahun terakhir menunjukkan bahwa 55.4 % melahirkan di fasilitas

kesehatan seperti rumah sakit (pemerintah dan swasta), rumah bersalin, Puskesmas,

Pustu, praktek dokter atau praktek bidan. Terdapat 43,2% melahirkan di

rumah/lainnya dan hanya 1,4 persen yang melahirkan di polindes/poskesdes. Apabila

(23)

tenaga yang menolong proses persalinan adalah dokter (2,1%), bidan (51,9%),

paramedis lain (1,4%), dukun (40,2%), serta keluarga (4,0%).

Di Sumatera Utara berdasarkan profil kesehatan Indonesia tahun 2011

cakupan penolong persalinan 91,61% sudah ditolong oleh tenaga kesehatan. Namun

pemilihan tempat persalinan berdasarkan riskesdas 2010, 59,7% persalinan

berlangsung di rumah/lainnya, 38,6% melahirkan di fasilitas kesehatan dan 1,7%

yang melahirkan di Polindes/Poskesdes.

Fakta masih adanya angka persalinan di rumah, menuntut diperlukannya

pengoptimalan pemberdayaan sarana dan tenaga kesehatan yang ada untuk

persalinan. Oleh karena itu, untuk melakukan pertolongan persalinan dirumah harus

ada persiapan yang tepat, baik persiapan penolong, alat dan bahan yang dibawa

penolong, persiapan tempat, lingkungan dan keluarga. (Prasetyawati, A.E., 2012).

Melahirkan di rumah masih kontroversial di Amerika Serikat. American

Collage Obstetricians and Gynecologists (ACOG) dan American Medical Association

(AMA) menentang melahirkan di rumah. Mereka berpendapat bahwa rumah sakit

adalah tempat paling aman untuk melahirkan karena kemampuan pengelolaan rumah

sakit dan keahlian dari para staf rumah sakit segera tersedia jika komplikasi muncul

tiba-tiba.

Pemilihan tempat persalinan dan penolong persalinan bisa di pengaruhi oleh

beberapa hal, diantaranya jarak dengan fasilitas pelayanan kesehatan, alat

(24)

persalinan yang aman. Pengetahuan tersebut akan memengaruhi keputusan dalam

meminta bantuan penolong persalinan.

Faktor-faktor yang memengaruhi ibu dalam memilih penolong persalinan

oleh tenaga kesehatan adalah tenaga kesehatan dapat meminimalkan komplikasi

apabila terjadi komplikasi bisa segera diketahui dan dirujuk ke rumah sakit,

memberikan perhatian secara khusus disaat proses persalinan berlangsung,

memperhatikan kemajuan persalinan, waspada bila tiba-tiba timbul kelainan yang

akan mengganggu atau menghambat persalinan, melakukan kunjungan rumah, dan

memberikan pelayanan KB setelah melahirkan. (Rohmah, 2010)

Kepatuhan ANC juga memengaruhi ibu dalam memilih penolong persalinan.

Sesuai dengan penelitian Jekti (2011) tentang hubungan antara kepatuhan Antenatal

Care dengan pemilihan penolong persalinan dimana, ibu yang tidak patuh melakukan

ANC lebih suka memilih dukun sebagai penolong persalinan. Sebaliknya ibu yang

patuh melakukan ANC akan memilih tenaga kesehatan sebagai penolong persalinan.

Penelitian Dwilaksono (2007), tentang upaya peningkatan persalinan tenaga

kesehatan berdasarkan analisis Need dan Demand mengungkapkan bahwa Need dan

Deman ibu bersalin lebih condong ke tenaga dukun dibandingkan dengan tenaga

kesehatan dan tempat persalinan yang diinginkan (need) oleh ibu bersalin di

kecamatan Palengaan kabupaten Pamekasan adalah di rumah sendiri karena bisa

ditunggui suami atau keluarga. Dan Deman (kebutuhan) ibu yang melahirkan di

(25)

Di negara berkembang, dimana perempuan mungkin tidak mampu mambayar

biaya perawatan medis atau tidak dapat mengaksesnya, melahirkan dirumah mungkin

satu-satunya pilihan yang tersedia, dan bahkan wanita itu mungkin tidak dapat

dibantu oleh tenaga profesional, dan hanya dukun atau bahkan menolong sendiri

tanpa bantuan siapa pun.

Keterjangkauan masyarakat termasuk jarak akan fasilitas kesehatan akan

mempengaruhi pemilihan tempat persalinan dan penolong persalinan. Apalagi di

desa-desa yang jauh dari rumah sakit justru sebagian besar mereka melahirkan di

rumah. Diketahui bahwa akses terhadap pelayanan kesehatan yaitu merupakan

keterjangkauan lokasi tempat pelayanan, jenis dan kualitas pelayanan yang tersedia.

Penelitian Wulan (2011) tentang Analisis spasial pemilihan tempat

pertolongan persalinan di kelurahan Sendangmulyo Semarang terdapat beberapa

faktor yang memengaruhi ibu dalam memilih tempat persalinan yaitu tingkat

pendapatan responden yang dikelompokkan berdasarkan nilai UMR kota semarang

tahun 2011. Responden dengan pendapatan tinggi (> UMR) memilih rumah sakit

umum sebagai tempat persalinan, sedangkan responden dengan pendapatan rendah (<

UMR) lebih memilih persalinan di klinik bersalin atau di rumah sendiri dengan

didampingi oleh bidan.

Laporan Riskesdas 2010, persentase tempat ibu melahirkan menurut tempat

persalinan berdasarkan karakteristik tempat tinggal dan status ekonomi. Di pedesaan

umumnya persalinan dilakukan di rumah/lainnya, sedangkan di perkotaan melahirkan

(26)

tempat persalinan di fasilitas kesehatan, sebaliknya untuk persalinan di rumah makin

rendah status ekonomi, persentase persalinan di rumah makin besar. (Laporan

Riskesdas 2010).

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam Acta Obstetricia et

Gynecologica Scandinavica (2010), ada beberapa faktor yang menyebabkan ibu

memilih bersalin dirumah, diantaranya : lingkungan rumah yang nyaman, tidak suka

dengan rumah sakit atau rumah bersalin, dapat mengurangi stres, dan mempunyai

kontrol atau otonomi yang lebih besar terhadap diri sendiri.

Rumah merupakan lingkungan yang sudah dikenal wanita sehingga ia dapat

merasa nyaman dan relaks selama persalinan, tempat ia dapat mempertahankan

privasi dan dikelilingi oleh orang-orang yang diinginkannya, yang memberikan

dukungan dan ketenangan pada dirinya. Kehadiran pendamping selama proses

persalinan, sentuhan, hiburan dan dorongan untuk mendukung, kehadiran

pendamping sangat besar artinya karena dapat membantu ibu saat proses persalinan.

Pendamping ibu saat proses persalinan sebaiknya adalah orang yang peduli pada ibu

dan yang paling penting adalah orang yang diinginkan ibu untuk mendampingi ibu

selama proses persalinan. (Henderson, C., 2006 dan Rukiyah, 2009).

Pemilihan persalinan di rumah juga tidak terlepas dari banyaknya intervensi

medis yang tidak perlu di rumah sakit. Intervensi yang rutin atau tidak diperlukan

dalam persalinan, dalam beberapa tahun terakhir, telah semakin dikenal sebagai salah

(27)

meliputi, persalinan dengan menggunakan bantuan alat seperti vacum bahkan tak

jarang berakhir dengan secsio sesaria. (Henderson, C., 2006)

Menurut Raphael-Leff (1991) dalam Henderson (2006) mengungkapkan

bahwa efek jangka panjang dari beberapa intervensi seperti persalinan dengan

bantuan alat dapat meningkatkan kejadian depresi pascanatal, mengurangi

kepercayaan diri wanita dalam kemampuannya menjalani peran sebagai ibu. Bahkan

efek jangka panjang dapat menyebabkan stres pascatrauma karena merasa tidak

mampu mengendalikan diri mereka sendiri.

Penelitian Anthoni, dkk (2005) tentang faktor demografi ibu dalam

merencanakan persalinan di rumah di Belanda, maka 23,5% wanita primipara (usia

25-29 tahun) bersalin di rumah, 10,3% bersalin di rumah sakit dibawah pengawasan

bidan dan 66,1% melahirkan dirumah sakit dengan dokter kandungan setelah rujukan.

Pada kelompok multipara (usia 30-34 tahun) sekitar 42,8% persalinan di rumah,

15,0% bersalin di rumah sakit dibawah pengawasan bidan dan 42,1% melahirkan di

rumah sakit dengan dokter kandungan setelah rujukan.

Proses kehamilan dan persalinan merupakan suatu proses yang melibatkan

banyak orang, tidak hanya pasangan suami istri, tetapi meliputi seluruh anggota

keluarga baik dari pihak istri maupun suami. Di banyak daerah di Indonesia,

keputusan bahkan ditentukan oleh orang tua dari pihak istri atau suamidan kerabat

yang dituakan. Mereka menentukan semua hal penting yang berhubungan dengan

persalinan, memilih tempat persalinan, tenaga penolong persalinan, juga kebiasaan

(28)

perlu tidaknya ibu bersalin dibawa ke tempat pelayanan kesehatan atau rumah sakit

bila persalinan mengalami komplikasi. Sering terjadi seorang ibu sampai di rumah

sakit dalam keadaan sangat terlambat atau bahkan meninggal di perjalanan menuju

rumah sakit hanya karena setiap anggota keluarga tidak mencapai kata sepakat

membawanya berobat.

Uraian di atas telah menjelaskan mengenai pengaruh karakteristik persalinan

dan tingginya AKI di Indonesia. Persalinan institusional sebenarnya merupakan

pilihan terbaik dalam menurunkan AKI, tetapi mengoptimalkan persalinan non

institusional dan memperbaiki sistem rujukan di daerah merupakan pilihan yang

rasional saat ini.

Berdasarkan profil kesehatan Kabupaten Batubara persentase pertolongan

persalinan oleh Nakes mengalami penurunan. Tahun 2010 dengan jumlah persalinan

8372, persalinan oleh tenaga kesehatan sebanyak 8372 (100%) namun pada tahun

2011 jumlah persalinan 8326, persalinan oleh tenaga kesehatan hanya 7479

(88,83%).

Angka kematian ibu di Kabupaten Batubara mengalami peningkatan yakni,

dari 8362 kelahiran hidup terdapat 13 (15,62%) kematian ibu pada tahun 2010 dan

pada tahun 2011 dari 7422 kelahiran hidup terdapat 12 (16,16%) kematian ibu. Hal

ini berbanding terbalik dengan angka kematian bayi. Dimana AKB mengalami

penurunan yang cukup signifikan dari tahun 2010 terdapat 37 (4,43%) kematian bayi

dari 8362 kelahiran hidup dan pada tahun 2011 hanya 8 (1,08%) kematian bayi dari

(29)

Hasil survey awal yang telah dilakukan oleh penulis di Puskesmas Labuhan

Ruku yang terdiri dari 10 desa dan 1 kelurahan yang terdiri dari desa Sei Muka, desa

Tanah Datar, desa Benteng, desa Mesjid Lama, desa Sumber Tani, desa Indra Yaman,

desa Dahari Selebar, Desa Pahang, desa Dahari Indah, desa Padang genting dan

kelurahan Labuhan Ruku terdapat 736 persalinan normal pada tahun 2012.

Berdasarkan laporan bidan desa Dari 736 jumlah persalinan terdapat 449 (61%)

persalinan di rumah dan ditolong oleh bidan.

Tingginya angka persalinan di rumah di wilayah kerja puskesmas Labuhan

Ruku bukan tanpa masalah. Pada tahun 2011 terdapat 2 (dua) kematian ibu dan 4

(empat) kematian bayi. Dan menurut salah seorang bidan pada tahun 2012 didaerah

tempat bidan tersebut bertugas seorang ibu juga meninggal dalam perjalanan menuju

rumah sakit karena perdarahan.

Menurut bidan yang bertugas disalah satu desa yang ada diwilayah kerja

puskesmas Labuhan Ruku ternyata banyak dijumpai kasus retensio plesenta atau

perlekatan plasenta, partus tak maju atau partus macet. Dimana kasus-kasus ini dapat

menyebabkan kematian bila tidak mendapatkan penanganan segera. Kasus ini juga

tidak dapat dideteksi selama kehamilan sehingga persalinan di rumah harus

dipersiapkan dengan sistem rujukan yang memadai.

Sering juga para bidan mengalami dilema, dimana pasien tidak mau dirujuk

ke rumah sakit dengan berbagai alasan. Padahal kehamilan ibu beresiko bila di tolong

dirumah. Menurut salah seorang bidan tak jarang dia harus menolong persalinan letak

(30)

satu alasan mereka adalah faktor biaya. Walaupun biaya untuk si ibu gratis namun

biaya unuk makan dan transportasi ke tempat rujukan memerlukan biaya yang besar

sehingga mereka lebih memilih ditolong dirumah. Walaupun resiko yang harus

mereka terima adalah kehilangan anak mereka.

Persalinan di rumah bukan saja menimbulkan resiko bagi ibu tetapi juga bayi

yang dilahirkan. Tahun 2010 seorang bayi meninggal, dimana pada saat hamil ibu di

deteksi hamil dengan letak sungsang. Namun keluarga menolak untuk dibawa ke

rumah sakit. Akhirnya bayi meninggal karena leher bayi terjepit di jalan lahir.

Penulis juga melakukan wawancara kepada 5 orang ibu yang melakukan

persalinan di rumah, dimana faktor utama mereka memilih persalinan di rumah dan

ditolong oleh bidan adalah kepercayaan terhadap bidan, biaya yang relatif murah bila

di bandingkan di fasilitas kesehatan yang memerlukan biaya transportasi yang lebih

banyak. Selain itu persalinan di rumah jauh lebih praktis dimana ibu tidak repot

membawa perlengkapan persalinan kemana-mana, banyak keluarga yang menemani

mereka serta rasa aman dan nyaman karena privasi mereka terjaga.

Hasil wawancara diatas bila kita hubungkan dengan teori Lawrence Green

bahwa perilaku kesehatan dipengaruhi oleh tiga kelompok faktor. Faktor Predisposisi;

menyangkut pengetahuan tentang persalinan, pendidikan, kepercayaan terhadap

bidan, rasa takut terhadap intervensi medis, lingkungan persalinan, dan unsur lain

yang terdapat dalam diri individu/masyarakat seperti faktor demografi (umur, paritas,

(31)

sarana kesehatan yang mudah dijangkau. Serta faktor pendorong yaitu sikap dan

perilaku petugas kesehatan, masyarakat dan keluarga.

Dari banyaknya variabel diatas maka perlu dikaji variabel-variabel apa yang

sangat memengaruhi ibu dalam memilih persalinan di rumah sehingga upaya

pemerintah untuk menurunkan angka kematian ibu dan kematian bayi akibat

pemilihan tempat persalinan yang tidak di dukung oleh fasilitas medis yang memadai

dapat ditekan. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis faktor untuk mereduksi atau

meringkas variabel, dari variabel yang banyak diubah menjadi sedikit variabel yang

disebut dengan faktor yang paling dominan dalam memengaruhi ibu untuk memilih

persalinan dirumah.

Berdasarkan latar belakang diatas penulis ingin melakukan penelitian

tentang “Analisis Faktor Yang Memengaruhi Ibu Dalam Memilih Persalinan Di

Rumah oleh bidan Di Wilayah Puskesmas Labuhan Ruku Kabupaten Batu Bara”

1.2. Permasalahan

Tingginya angka persalinan di rumah yang disebabkan oleh banyak faktor

sehingga menimbulkan masalah terhadap kesehatan ibu akibat terlambat mendapat

rujukan bila terjadi kegawatdaruratan dalam persalinan, maka perlu dilakukan

penelitian “Analisis Faktor yang Memengaruhi Ibu dalam Memilih Persalinan di

(32)

1.3. Tujuan Penelitian

Untuk menganalisis faktor (umur, pendidikan, pendapatan keluarga, biaya

persalinan, kepercayaan terhadap bidan, akses pelayanan kesehatan, takut terhadap

intervensi medis, lingkungan persalinan, dukungan suami/keluarga, dukungan

penolong persalinan, paritas, dan pengetahuan tentang persalinan) yang memengaruhi

ibu dalam memilih persalinan di rumah.

1.4. Hipotesis

Ada faktor (umur, pendidikan, pendapatan keluarga, biaya persalinan,

kepercayaan terhadap bidan, akses pelayanan kesehatan, takut terhadap intervensi

medis, lingkungan persalinan, dukungan suami/keluarga, dukungan penolong

persalinan, paritas, dan pengetahuan tentang persalinan) yang paling dominan

memengaruhi ibu dalam memilih persalinan di rumah.

1.5. Manfaat Penelitian

1. Memberikan gambaran perilaku ibu dalam memilih tempat dan penolong

persalinan secara aman.

2. Mengetahui faktor yang memengaruhi ibu dalam memilih persalinan di rumah

(33)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Persalinan

2.1.1 Pengertian Persalinan

Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada

kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang

kepala yang berlangsung tidak lebih dari 18 jam tanpa komplikasi baik bagi ibu

maupun janin (sarwono, 2002)

Persalinan normal adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat

hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar dengan presentasi belakang

kepala tanpa memakai alat-alat atau pertolongan istimewa serta tidak melukai ibu dan

bayi, dan pada umumnya berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam

(Prawirohardjo, 1997)

Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang

terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi

belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam tanpa komplikasi baik pada ibu

maupun pada janin (Saifuddin, 2006)

Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar

dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia

kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit. Persalinan

(34)

(membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu

belum inpartu jika kontraksi uterus tidak mengakibatkan perubahan serviks

(JNPK-KR, 2007)

Persalinan adalah suatu proses yang dimulai dengan adanya kontraksi uterus

yang menyebabkan terjadinya dilatasi progresif dari serviks, kelahiran bayi, dan

kelahiran plasenta, dan proses tersebut merupakan proses alamiah. (Rohani, 2011)

Bentuk persalinan berdasarkan teknik :

1. Persalinan spontan, yaitu persalinan berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri dan

melalui jalan lahir.

2. Persalinan buatan, yaitu persalinan dengan tenaga dari luar dengan ekstraksi

forceps, ekstraksi vakum dan sectio sesaria

3. Persalinan anjuran yaitu bila kekuatan yang diperlukan untuk persalinan

ditimbulkan dari luar dengan jalan pemberian rangsang. (Rukiyah; Ai yeyeh; dkk,

2009)

Persalinan berdasarkan umur kehamilan :

1. Abortus adalah terhentinya proses kehamilan sebelum janin dapat hidup (viable),

berat janin di bawah 1.000 gram atau usia kehamilan di bawah 28 minggu.

2. Partus prematurus adalah persalinan dari hasil konsepsi pada umur kehamilan

28-36 minggu. Janin dapat hidup, tetapi prematur; berat janin antara 1.000-2.500

gram.

3. Partus matures/aterm (cukup bulan) adalah partus pada umur kehamilan 37-40

(35)

4. Partus postmaturus (serotinus) adalah persalinan yang terjadi 2 minggu atau lebih

dari waktu partus yang ditaksir, janin disebut postmatur.

5. Partus presipitatus adalah partus yang berlangsung cepat, mungkin di kamar

mandi, di atas kenderaan, dan sebagainya.

6. Partus percobaan adalah suatu penilaian kemajuan persalinan untuk memperoleh

bukti tentang ada atau tidaknya Cephalo pelvic Disproportion (CPD). (Rohani;

dkk, 2011)

2.1.2 Tahap Persalinan

Persalinan dibagi menjadi 4 tahap. Pada kala I serviks membuka dari 0

sampai 10 cm. Kala I dinamakan juga kala pembukaan. Kala II disebut juga dengan

kala pengeluaran, oleh karena kekuatan his dan kekuatan mengedan, janin di dorong

keluar sampai lahir. Dalam kala III atau disebut juga kala uri, plasenta terlepas dari

dinding uterus dan dilahirkan. Kala IV mulai dari lahirnya plasenta sampai 2 jam

kemudian. Dalam kala tersebut diobservasi apakah terjadi perdarahan post partum.

(Rohani; dkk, 2011)

a. Kala I (Kala Pembukaan)

Inpartu ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah karena serviks

mulai membuka dan mendatar. Darah berasal dari pecahnya pembuluh darah kapiler

sekitar kanalis servikalis karena pergeseran-pergeseran, ketika serviks mendatar dan

membuka.

Kala I persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan

(36)

Persalinan kala I dibagi menjadi 2 fase, yaitu fase laten dan fase aktif.

1. Fase laten, dimana pembukaan serviks berlangsung lambat dimulai sejak awal

kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan secara bertahap sampai

pembukaan 3 cm, berlangsung dalam 7-8 jam.

2. Fase aktif (pembukaan serviks 4-10 cm), berlangsung selama 6 jam dan dibagi

dalam 3 subfase.

a. Periode akselerasi : berlangsung selama 2 jam, pembukaan menjadi 4 cm.

b. Periode dilatasi maksimal : berlangsung selama 2 jam, pembukaan berlangsung

cepat menjadi 9 cm.

c. Periode deselerasi : berlangsung lambat, dalam 2 jam pembukaan jadi 10 cm

atau lengkap.

Pada fase aktif persalinan, frekuensi dan lama kontraksi uterus umumnya

meningkat (kontraksi dianggap adekuat jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu

10 menit dan berlangsung selama 40 detik atau lebih) dan terjadi penurunan bagian

terbawah janin. Berdasarkan kurve Friedman, diperhitungkan pembukaan pada

primigravida 1 cm/jam dan pembukaan multigravida 2 cm/ jam.

Mekanisme membukanya serviks berbeda antara primigravida dan

multigravida. Pada primigravida, ostium uteri internum akanmembuka lebih dulu,

sehingga serviks akan mendatar dan menipis, kemudian ostium internum sudah

sedikit terbuka. Ostium uteri internum dan eksternum serta penipisan dan pendataran

(37)

b. Kala II (Kala Pengeluaran Janin)

Kala II persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm)

dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala II pada primipara berlangsung selama 2 jam

dan pada multipara 1 jam.

Tanda dan gejala kala II

1. His semakin kuat, dengan interval 2 sampai 3 menit.

2. Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi.

3. Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rektum dan/atau vagina.

4. Perineum terlihat menonjol.

5. Vulva-vagina dan sfingter ani terlihat membuka.

6. Peningkatan pengeluaran lendir dan darah.

Diagnosis kala II ditegakkan atas dasar pemeriksaan dalam yang

menunjukkan :

1. Pembukaan serviks telah lengkap.

2. Terlihat bagian kepala bayi pada introitus vagina.

c. Kala III (Kala Pengeluaran Plasenta)

Kala III persalinan dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan

lahirnya plasenta dan selaput ketuban. Seluruh proses biasanya berlangsung 5-30

menit setelah bayi lahir.

Perubahan psikologis kala III

1. Ibu ingin melihat, menyentuh, dan memeluk bayinya.

(38)

3. Memusatkan diri dan kerap bertanya apakah vagina perlu dijahit.

4. Menaruh perhatian terhadap plasenta

d. Kala IV (Kala Pengawasan)

Kala IV dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir 2 jam setelah proses

tersebut. Observasi yang harus dilakukan pada kala IV :

1. Tingkat kesadaran.

2. Pemeriksaan tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi,dan pernapasan.

3. Kontraksi uterus.

4. Terjadinya perdarahan. Perdarahan dianggap masih normal jika jumlahnya tidak

melebihi 400 samapai 500 cc.

Asuhan dan pemantauan pada kala IV

1. Lakukan rangsangan taktil (seperti pemijatan) pada uterus, untuk merangsang

uterus berkontraksi.

2. Evaluasi tinggi fundus dengan meletakkan jari tangan secara melintang antara

pusat dan fundus uteri.

3. Perkirakan kehilangan darah secara keseluruhan.

4. Periksa perineum dari perdarahan aktif (misalnya apakah ada laserasi atau

episiotomi).

5. Evaluasi kondisi ibu secara umum.

6. Dokumentasikan semua asuhan dan temuan selama kala IV persalinan di halaman

belakang partograf segera setelah asuhan diberikan atau setelah penilaian

(39)

2.1.3 Asuhan Persalinan

Tujuan asuhan persalinan adalah memberikan asuhan yang memadai selama

persalinan, dalam upaya mencapai pertolongan persalinan yang bersih dan aman

dengan memperhatikan aspek sayang ibu dan sayang bayi.

Kebijakan pelayanan asuhan persalinan :

1. Semua persalinan harus dihindari dan dipantau oleh petugas kesehatan terlatih.

2. Rumah bersalin dan tempat rujukan dengan fasilitas memadai untuk menangani

kegawatdaruratan obstetrik dan neonatal harus tersedia 24 jam.

3. Obat-obatan esensial, bahan, dan perlengkapan harus tersedia bagi seluruh petugas

terlatih.

2.1.4 Tanda-tanda Persalinan

Tanda dan gejala inpartu

1. Timbul rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering, dan teratur.

2. Keluar lendir bercampur darah (bloody show) yang lebih banyak karena robekan

kecil pada serviks. Sumbatan mukus yang berasal dari sekresi servikal dari

proliferasi kelenjar mukosa servikal pada awal kehamilan, berperan sebagai barier

protektif dan menutup servikal selama kehamilan. Bloody show adalah

pengeluaran dari mukus.

3. Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya. Pemecahan membran yang

normal terjadi pada kala I persalinan. Hal ini terjadi pada 12% wanita, dan lebih

(40)

4. Pada pemeriksaan dalam : serviks mendatar dan pembukaan telah ada. Berikut ini

adalah perbedaan penipisan dan dilatasi serviks antara nulipara dan multipara.

a. Nulipara

Biasanya sebelum persalinan, serviks menipis sekitar 50-60% dan pembukaan

sampai 1 cm; dan dengan dimulainya persalinan, biasanya ibu nulipara

mengalami penipisan serviks 50-100%, kemudian terjadi pembukaan.

b. Multipara

Pada multipara sering kali serviks tidak menipis pada awal persalinan, tetapi

hanya membuka 1-2 cm. Biasanya pada multipara serviks akan membuka,

kemudian diteruskan dengan penipisan.

5. Kontraksi uterus mengakibatkan perubahan pada serviks (frekuensi minimal 2 kali

dalam 10 menit)

2.2. Persalinan di Rumah

2.2.1. Indikasi dan Persyaratan Persalinan di Rumah

Indikasi dilakukannya persalinan di rumah adalah sebagai berikut :

1. Multipara, Umumnya ibu yang baru pertama kali bersalin dianjurkan bersalin di

rumah sakit atau di klinik bersalin. Jika pada waktu melahirkan bayi pertama itu

tidak mengalami kesulitan, melahirkan bayi berikutnya di rumah sendiri dapat

diizinkan.

2. Selama melakukan asuhan antenatal tidak didapatinya adanya kelainan atau

(41)

3. Jauh dari tempat pelayanan kesehatan (tinggal di pemukiman pedesaan).

(Syafrudin, 2012 )

Mengingat fungsi pertolongan persalinan yang sangat berat, dalam

melakukan persalinan di rumah diperlukan pemenuhan persyaratan sebagai berikut :

1. Mengkonfirmasikan bahwa kehamilan bersifat fisiologis atau normal. Artinya, jika

tidak terdapat kelainan 3 P, yakni : power atau kekuatan dari si calon ibu; passage

atau jalan lahir; dan passanger yakni kondisi janin yang akan melaluinya. Kalau

ketiga faktor tersebut dalam keadaan baik, bisa disimpulkan bahwa persalinan

tersebut adalah fisiologis atau akan berlangsung normal.

2. Tersedianya tenaga penolong persalinan yang andal. Penolong persalinan tidak

harus seorang dokter ahli kebidanan dan kandungan, namun cukup seorang dokter

umum yang terampil dalam bidang tersebut atau bidan yang berpengalaman.

Memilih tenaga berkualifikasi seperti itu sebenarnya tidak terlalu sulit. Dalam

waktu yang tidak terlalu lama kita akan bisa memperoleh informasi tentang dokter

atau bidan mana yang andal sebagai penolong persalinan dan bersedia dimintai

pertolongan sewaktu-waktu. Meskipun berprofesi sebagai penolong persalinan,

mereka harus mengenal dengan baik siapa yang akan ditolong. Oleh karena itu

periksa kehamilan secara teratur penting dilakukan. Dokter yang memiliki banyak

pasien atau yang sangat sibuk bukanlah tipe penolong persalinan di rumah yang

ideal.

Seorang penolong persalinan yang baik tidak hanya berpengalaman,

(42)

pribadi yang berdedikasi tinggi dalam membimbing persalinan. Sebagai contoh,

proses pembukaan jalan lahir hingga sempurna biasanya dipimpin seorang bidan.

Selama proses ini sang calon ibu biasanya mengalami rasa sakit mulas yang makin

lama makin sering disertai nyeri dalam waktu yang relatif agak lama. Dalam

kondisi seperti ini sang penolong persalinan harus bisa menanamkan rasa percaya

diri, tenang, aman, terlindung, serta kepastian akan keselamatan pada sang calon

ibu yang ditolong.

3. Mempersiapkan satu kamar atau ruang bersalin di rumah. Tidak perlu harus

ruangan khusus. Kamar tidur keluarga dapat dipersiapkan merangkap sebagai

kamar bersalin. Kamar ini hendaknya bersih, tenang, serta memiliki penerangan

dan ventilasi udara yang baik.

4. Perlengkapan lain untuk kebutuhan ibu dan bayi. Ibu : dua helai kain panjang

bersih, satu gunting steril (minimal direbus dalam air mendidih selama lebih dari

15 menit), benang kasur steril, satu buah kateter urine logam steril untuk wanita,

sebuah neerbeken atau pispot bersih, serta sebuah baskom penampung ari-ari.

Sedangkan untuk bayinya : air hangat secukupnya untuk mandi, sebotol minyak

kelapa atau baby oil, baju, popok, baju hangat, sepotong kain kasa steril, dan 60 cc

alkohol 70%.

2.2.2. Persiapan Persalinan di Rumah

Adabeberapa persiapan menyangkut alat, persiapan ibu, persiapan keluarga,

dan bidan.

(43)

a. Perlengkapan yang diperlukan oleh ibu guna persalinan di rumah.

b. Perlengkapan yang diperlukan oleh bayi segera setelah lahir.

c. Tempat tidur untuk bersalin.

d. Peralatan bidan.

2. Persiapan ibu untuk bersalin. Pemeriksaan dan kegiatan terhadap ibu mencakup

hal berikut .

a. Observasi : keadaan umum, meliputi suhu, nadi, frekuensi napas, dan tekanan

darah.

b. Melakukan : inspeksi, palpasi, dan auskultasi abdomen.

c. Menghitung denyut jantung janin (DJJ)

3. Persiapan keluarga. Bantuan keluarga mencakup hal berikut.

a. Menyiapkan ruangan untuk ibu bersalin .

b. Mengupayakan ruangan dalam kondisi bersih, pencahayaannya cukup, dan

ventilasi bagus.

c. Menyiapkan segala sesuatu jika klien dirujuk.

4. Persiapan bidan

a. Menyiapkan segala yang diperlukan untuk persalinan.

b. Memakai tutup pakaian plastik.

(44)

2.2.3. Keuntungan dan Kekurangan Persalinan di Rumah 2.2.3.1. Keuntungan

1. Ibu terhindar dari perasaan cemas sebab suasana di rumah yang akrab membuat

ibu hamil merasa didukung keluarga dan teman atau tetangga. Selain itu, ibu juga

tidak merasa cemas bayinya akan tertukar.

2. Bagi keluarga, persalinan di rumah akan menghemat waktu, tenaga, dan biaya.

Keluarga tidak perlu repot membesuk atau menjenguk ke rumah sakit.

3. Bagi aspek fisiologis, aktivitas ibu di rumah akan memperbaiki sirkulasi darah,

merangsang peningkatan produksi ASI, dan mempercepat pemulihan kondisinya.

Aktivitas ibu dengan berjalan-jalan dalam beberapa hari setelah melahirkan akan

melancarkan pembekuan darah/darah kotor akibat pengaruh gaya gravitasi bumi.

4. Bagi aspek material/finansial, persalinan di rumah merupakan tindakan

penghematan yang banyak mendatangkan keuntungan serta akan menghemat biaya

karena sebagian biaya rumah sakit dan sewa kamar bersalin dapat dialihkan untuk

kebutuhan lain.

5. Bagi aspek psikologis, bayi merasa diterima, dinantikan, dirindukan, dan dicintai

oleh seisi rumah.

6. Bagi aspek imunologis, bayi secara bertahap akan dikenalkan antigen asing

sehingga respons kekebalan yang ditimbulkan lebih memadai dan berfungsi

melindungi dirinya kelak.

7. Ibu dan bayi dapat terhindar dari penyakit infeksi silang yang bisa terjadi di rumah

(45)

8. Bagi ibu yang telah mempunyai anak sebelumnya, ibu dan anak sebelumnya tidak

perlu berpisah lama dan ibu akan merasa nyaman karena dapat melakukan

kebiasaannya di lingkungan rumah sendiri.

9. Kamar selalu tersedia dan tak memerlukan pengangkutan ke rumah sakit.

2.2.3.2. Kekurangan

1. Penolong persalinan (dukun bayi, bidan atau tenaga lain) umumnya hanya satu.

2. Sanitasi, fasilitas, peralatan, dan persediaan air bersih mungkin kurang.

3. Jika memerlukan rujukan, diperlukan pengangkutan dan pertolongan pertama

selama perjalanan. Jika perjalanannya jauh atau lama, maka komplikasi yang

terjadi misalnya perdarahan atau kejang-kejang dapat lebih parah. Di rumah,

perawatan bayi prematur juga sulit. (Mubarak, 2012)

2.2.4. Faktor-faktor yang Memengaruhi dalam Memilih Persalinan di Rumah

Banyak ibu lebih memilih melahirkan di rumah, hal ini disebabkan oleh

beberapa faktor. Antara lain :

1. Umur

Karakteristik umur (beresiko tinggi dan beresiko rendah) memiliki

kecenderungan yang sama dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan. Umur

merupakan suatu variabel yang tidak bisa dimodifikasi, sesuatu yang harus diterima.

Pada kelompok umur berisiko tinggi memang dianjurkan untuk tidak hamil lagi,

namun demikian apabila sudah hamil maka sebaiknya disarankan untuk lebih

(46)

Sehingga apabila terjadi komplikasi kehamilan maupun persalinan dapat diketahui

lebih dini.

2. Pendidikan

Hubungan antara pendidikan dengan pola pikir, persepsi dan perilaku

masyarakat memang sangat signifikan, dalam arti bahwa semakin tinggi tingkat

pendidikan seseorang semakin rasional dalam pengambilan keputusan. Peningkatan

tingkat pendidikan akan mempengaruhi persepsi negatif terhadap nilai anak dan akan

menekan adanya keluarga besar.

Pendidikan yang ditempuh oleh seseorang merupakan salah satu faktor

demografi yang sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan individu maupun

masyarakat. (Kusmawati, 2006)

Tingkat pendidikan mempengaruhi kesadaran terhadap pentingnya kesehatan

sehingga mendorong seseorang untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan. Seseorang

dengan pendidikan tinggi akan lebih senang menggunakan pelayanan kesehatan

modern dari pada pelayanan tradisional, karena sudah mendapatkan informasi tentang

keuntungan dan kerugiannya. (Widiawati, 2008)

3. Biaya Persalinan

Biaya sering diartikan sebagai nilai suatu pengorbanan untuk memperoleh

suatu output tertentu. Pengorbanan itu dapat berupa uang, barang, tenaga, waktu

maupun kesempatan. Biaya persalinan sangat bervariasi, tergantung fasilitas yang

diinginkan. Selain fasilitas, jenis persalinan juga membedakan tarif layanan bersalin

(47)

tetapi bisa juga bertambah mahal jika disertai komplikasi yang butuh penanganan

lebih lanjut.

Penelitian Damsir (2005) tentang perilaku ibu bersalin yang berhubungan

dengan akses pencarian pelayanan kesehatan dikabupaten oku sumatra selatan

menyimpulkan bahwa pendapatan, biaya persalinan dan dukungan keluarga memiliki

hubungan yang signifikan dengan pencarian pelayanan kesehatan.

4. Pendapatan Keluarga

Keterbatasan dan ketidaktersediaan biaya menjadi salah satu kendala

masyarakat untuk memperoleh akses ke pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan

di fasilitas kesehatan.

Beberapa peneliti dalam Rini Susilowati (2001), menyatakan bahwa

pendapatan keluarga merupakan salah satu faktor determinan terhadap akses

pelayanan kesehatan. Kemampuan finansial keluarga mempengaruhi apakah keluarga

tersebut dapat membayar pelayanan kesehatan seperti membeli obat, membayar biaya

pelayanan, membayar biaya transportasi ke tempat pelayanan.

Menurut laporan Rikesdas persentase ibu melahirkan menurut tempat

persalinan berdasarkan status ekonomi, makin tinggi status ekonomi lebih memilih

tempat persalinan di fasilitas kesehatan, sebaliknya untuk persalinan di rumah makin

rendah status ekonomi, persentase persalinan di rumah makin besar.

5. Kepercayaan terhadap Bidan

Kepercayaan yaitu sikap untuk menerima suatu pernyataan atau pendirian,

(48)

merokok dapat menyebabkan kanker paru, maka dianggapnya hal itu benar, terlepas

dari apakah dia suka atau tidak suka merokok. Seringkali suatu kepercayaan tumbuh

dan berkembang dalam masyarakat dimana anggota-anggotanya mempunyai

kepentingan dan tujuan yang sama. Tidak jarang pula kepercayaan kelompok ini

(group belief) ditumbuhkan oleh pihak yang berwenang atau pemimpin masyarakat

yang disebar luaskan ke anggota masyarakat yang lain.

Pengalaman menunjukkan, lebih sulit untuk mengubah kepercayaan

kelompok dari pada kepercayaan individu, karena kepercayaan individu sifatnya lebih

subjektif dan relatif sedangkan kepercayaan kelompok memiliki intensitas yang lebih

kuat karena di dukung oleh individu-individu lain yang besar jumlahnya, apalagi jika

kepercayaan tersebut di dukung oleh tokoh-tokoh masyarakat. (Sarwono, 2012)

6. Akses Pelayanan

Keterjangkauan masyarakat termasuk jarak akan fasilitas kesehatan akan

memengaruhi pemilihan pelayanan kesehatan. Selain itu, jarak merupakan komponen

kedua yang memungkinkan seseorang untuk memanfaatkan pelayanan pengobatan.

Pada pemanfaatan pelayanan kesehatan salah satu pertimbangan yang menentukan

sikap individu memilih sumber perawatan adalah jarak tempat tinggal ke tempat

sumber perawatan. (Eryando, 2007)

Diketahui bahwa akses terhadap pelayanan kesehatan yaitu merupakan

keterjangkauan lokasi tempat pelayanan, jenis dan kualitas pelayanan yang tersedia.

(49)

kondisi di pelayanan kesehatan, seperti jenis pelayanan, tenaga kesehatan yang

tersedia dan jam praktek.

7. Rasa Takut terhadap Intervensi Medis

Pada model pengurangan rasa takut, agar pemberian informasi tentang suatu

tindakan pencegahan atau penyembuhan penyakit dapat dipahami dengan baik, maka

rasa takut si pasien perlu dikurangi dulu. Rasa takut tidak selamanya menimbulkan

reaksi penolakan atas tindakan yang dianjurkan. Kadang-kadang rasa takut itu justru

memacu individu untuk melakukan tindakan tersebut. Makin besar rasa takut itu,

makin kuat pula keinginan untuk melakukan tindakan yang dianjurkan.

Menurut Janis (1967) dalam Sarwono 2012 membuktikan bahwa jika

melampaui batas ambang tertentu, rasa takut itu justru akan menimbulkan reaksi

penolakan. Hubungan antara rasa takut dan penerimaan tindakan itu, menurur Janis,

membentuk seperti kurva. Bahwa sampai dengan tingkat tertentu dari rasa takut,

individu cenderung menerima tindakan yang dianjurkan. Tetapi jika rasa takut itu

sedikit sekali atau terlalu kuat, maka individu akan menolak anjuran tersebut.

Intervensi yang rutin atau tidak diperlukan dalam persalinan, dalam beberapa

tahun terakhir, telah semakin dikenal sebagai salah satu area yang menyebabkan

ketidakpuasan bagi banyak wanita. Intervensi meliputi intervensi medis, seperti

ruptura membran buatan, infus oksitosin intravena, persalinan dengan menggunakan

bantuan alat, episiotomi dan seksio sesaria. Kenyataannya, terkadang disadari bahwa

(50)

mendatangkan sedikit keuntungan, tidak efektif bahkan membahayakan. (Henderson,

2006)

8. Lingkungan Persalinan

Persalinan sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan tempat persalinan

berlangsung. Idealnya, setiap wanita yang bersalin dan tim yang mendukung serta

memfasilitasi usahanya untuk melahirkan bekerja sama dalam suatu lingkungan yang

paling nyaman dan aman bagi ibu yang melahirkan. Bagi banyak wanita, keluarga,

dan pemberi perawatan, tempat yang aman untuk melahirkan adalah di rumah.

Menurut World Health Organization (WHO) seorang wanita hamil berisiko

rendah harus melahirkan di tempat yang membuat wanita merasa aman. Tempat

tersebut terdapat di rumah, di sebuah klinik maternitas kecil, atau di rumah bersalin di

kota, atau mungkin di sebuah unit maternitas di rumah sakit yang lebih besar. Tempat

tersebut harus merupakan sebuah tempat dimana semua perhatian dan perawatan di

fokuskan pada kebutuhan dan keamanannya, sedekat mungkin dengan lingkungan

yang dikenalnya. (Varney, 2008)

Rumah merupakan lingkungan yang sudah dikenal wanita sehingga ia dapat

merasa nyaman dan rileks selama persalinan, tempat ia dapat mempertahankan

privasi dan dikelilingi oleh orang-orang yang diinginkannya, yang akan memberi

dukungan dan ketenangan pada dirinya.

9. Dukungan Suami/Keluarga

Dukungan sosial dan hubungan sosial yang baik akan memberikan

(51)

akan memberikan sumbangan penting bagi kesehatan. Dukungan sosial membantu

dalam pemenuhan sumber-sumber emosional dan praktis seseorang. Adanya

dukungan jaringan sosial dalam berkomunikasi dan hubungan saling menguntungkan

akan membuat seseorang merasa diperhatikan, dicintai, berharga dan bernilai.

Dukungan sosial memiliki efek perlindungan yang luar biasa terhadap kesehatan.

Hubungan yang saling mendukung kemungkinan akan memberikan dorongan bagi

terbentuknya pola-pola perilaku yang lebih sehat.

Dukungan keluarga mengacu pada dukunga sosial yang dipandang oleh

anggota keluarga. Dukungan keluarga (suami/istri) memandang bahwa orang yang

bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan.

Baik keluarga inti maupun keluarga besar berfungsi sebagai system pendukung bagi

anggota-anggotanya.

Dukungan sosial keluarga dapat berupa :

a. Dukungan sosial keluarga internal : seperti dukungan dari suami, istri dan

dukungan dari keluarga kandung.

b. Dukungan keluarga eksternal, yaitu dukungan keluarga eksternal bagi keluarga

inti (dalam jaringan kerja sosial keluarga). Baik keluarga inti maupun keluarga

besar berfungsi sebagai sistem pendukung bagi anggota-anggotanya.

10. Dukungan Penolong Persalinan

Keahlian bidan dalam mendukung dan memfasilitasi suatu pengalaman

persalinan yang positif adalah sangat penting. Salah satu pengaruh yang paling

(52)

oleh wanita. Dukungan yang membawa dampak positif adalah dukungan yang

bersifat fisik dan emosional.

Dukungan tersebut juga meliputi beberapa aspek perawatan seperti

menggosok punggung wanita atau memegang tangannya, mempertahankan kontak

mata, ditemani orang-orang yang ramah, dan diberi janji bahwa wanita yang berada

dalam persalinan tidak akan ditinggal sendirian.

Kemampuan memberi dukungan emosional untuk wanita dalam persalinan

merupakan sesuatu yang dikembangkan bidan. Pemberian dukungan emosional dapat

mencakup keterampilan komunikasi dan pemberian informasi. Pola asuh yang

ditawarkan selama kelahiran dapat memberi pengaruh positif pada ibu dan bidan.

Jenis dukungan yang diberikan oleh bidan dan tenaga lain pada saat persalinan

memiliki efek jangka panjang pada kehidupan wanita. Bidan memiliki wewenang

untuk meyakinkan bahwa wanita mempunyai dukungan yang adekuat dalam

lingkungan yang mendukung. (Henderson, 2006)

11. Paritas

Paritas adalah banyaknya kelahiran hidup yang dipunyai oleh seorang wanita

(BKKBN, 2006). Menurut Prawirohardjo (2009), paritas dapat dibedakan menjadi

primipara, multipara dan grandemultipara.

Primipara adalah wanita yang telah melahirkan seorang anak, yang cukup

besar untuk hidup di dunia luar (Varney, 2006). Multipara adalah wanita yang telah

(53)

adalah wanita yang telah melahirkan 5 orang anak atau lebih dan biasanya mengalami

penyulit dalam kehamilan dan persalinan (Manuaba, 2008).

Indikasi dilakukannya persalinan di rumah adalah multipara, Umumnya ibu

yang baru pertama kali bersalin dianjurkan bersalin di rumah sakit atau di klinik

bersalin. Jika pada waktu melahirkan bayi pertama itu tidak mengalami kesulitan,

melahirkan bayi berikutnya di rumah sendiri dapat diizinkan.

12. Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil ‘tahu’, dan ini terjadi setelah orang melakukan

penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindera

manusia, yakni : indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba.

Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk

terbentuknya tindakan seseorang (overt behaviour).

Karena dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasarkan

oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh

pengetahuan. Peneltian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang

mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), dalam diri orang tersebut terjadi proses

yang berurutan yaitu, Awarenes (Kesadaran), interest (merasa tertarik), evaluation

(menimbang-nimbang), trial (mencoba sesuatu), adoption (berperilaku).

Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa

(54)

Pengetahua yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan

yaitu :

a. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali

(recal) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau

rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, ‘tahu’ ini merupakan tingkatan

pengetahuan yang paling rendah.

b.Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar

tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasi materi tersebut secara

benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,

menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek

yang dipelajari.

c. Aplikasi (Aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah

di pelajari pada situasi dan kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan

sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan

sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat menggunakan rumus

statistik dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitian, dapat menggunakan

prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah (problem solving cyclel) di dalam pemecahan

Gambar

Gambar  2.1 Kerangka Konsep Penelitian
Tabel 3.1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur
Tabel 3.1 (Lanjutan)
Tabel 3.2. Metode Pengukuran
+7

Referensi

Dokumen terkait

Yang menjadi informan, yaitu orang-orang yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam keputusan ibu memilih penolong persalinan wilayah kerja Puskesmas Kabila

Faktor-faktor yang Memengaruhi Ibu Hamil Trimester III yang Mangalami Anemia dalam Memilih Penolong Persalinan di Wilayah.. Kerja Puskesmas

Dari hasil penelitian yang dilakukan kepada 5 ibu nifas terhadap perilaku ibu dalam memilih tenaga penolong persalinan diketahui bahwa 3 informan utama masih memilih tenaga penolong

Variabel yang paling dominan mempengaruhi pemilihan penolong persalinan adalah keterjangkauan artinya jika keterjangkauan ibu tidak baik maka peluang untuk memilih

Faktor sosial ekonomi cenderung berpengaruh terhadap keputusan seseorang untuk memilih pelayanan kesehatan dalam hal ini keputusan memilih pertolongan persalinan, faktor

Jenis penelitian ini adalah analitik atau explanatory dengan desain cross sectional yang bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keputusan ibu hamil

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi ibu memilih persalinan sectio caesarea tanpa indikasi medis di Rumah Sakit Umum Bunda

Hasil penelitian : Dari penelitian ini menujukan bahwa 5 ibu bersalin melakukan persalinan di rumah pada Wilayah Kerja Puskesmas Ameth karena disebabkan oleh faktor pengentahuan ibu