ANALISIS FAKTOR YANG MEMENGARUHI IBU DALAM MEMILIH PERSALINAN DI RUMAH OLEH BIDAN DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS LABUHAN RUKU KABUPATEN BATUBARA TAHUN 2013
TESIS
Oleh
ELIYA WARDAYANI 117032184/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
ANALISIS FAKTOR YANG MEMENGARUHI IBU DALAM MEMILIH PERSALINAN DI RUMAH OLEH BIDAN DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS LABUHAN RUKU KABUPATEN BATUBARA TAHUN 2013
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Minat Studi Kesehatan Reproduksi pada Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara
Oleh
ELIYA WARDAYANI 117032184/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
Judul Tesis : ANALISIS FAKTOR YANG MEMENGARUHI IBU DALAM MEMILIH PERSALINAN DI RUMAH OLEH BIDAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LABUHAN RUKU KABUPATEN BATUBARA TAHUN 2013
Nama Mahasiswa : Eliya Wardayani Nomor Induk Mahasiswa : 117032184
Program Studi : S2 Kesehatan Masyarakat Minat Studi : Kesehatan Reproduksi
Menyetujui Komisi Pembimbing
Ketua
(Dr. Ir. Evawany Y Aritonang, M.Si)
Anggota
(Drs. Abdul Jalil Amri Arma, M.Kes)
Dekan
(Dr. Drs. Surya Utama, M.S)
Telah Diuji
pada Tanggal : 2 Desember 2013
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Dr. Ir. Evawany Y Aritonang, M.Si Anggota : 1. Drs. Abdul Jalil Amri Arma, M.Kes
PERNYATAAN
ANALISIS FAKTOR YANG MEMENGARUHI IBU DALAM MEMILIH PERSALINAN DI RUMAH OLEH BIDAN DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS LABUHAN RUKU KABUPATEN BATUBARA TAHUN 2013
TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, Desember 2013
ABSTRAK
Tempat bersalin termasuk salah satu faktor yang dapat memengaruhi psikologis ibu bersalin. Pemilihan tempat dan penolong persalinan yang tidak tepat akan berdampak secara langsung pada kesehatan ibu. Pemilihan tempat persalinan dan penolong persalinan bisa dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya jarak fasilitas pelayanan kesehatan, alat transportasi, letak demografi, dan pengetahuan dalam mencari penolong persalinan yang tepat.
penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode Survey analitik cross sectional. Metode analisis yang digunakan adalah analisis faktor yaitu mereduksi variabel menjadi 1 atau 2 faktor yang memengaruhi ibu dalam memilih persalinan di rumah oleh bidan. Populasinya adalah seluruh ibu bersalin di rumah yang ditolong oleh bidan dengan sampel sejumlah 110 orang dengan Purposive Sampling menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi.
Hasil analisis faktor menunjukkan dari 12 variabel yang dianalisis hanya 8 variabel yang dapat diikutkan dalam analisis faktor dengan nilai MSA > 0,5. Dari 8 variabel terbentuk 2 Faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal memberikan kontribusi sebesar 70% dan faktor eksternal sebesar 77% dalam memengaruhi ibu dalam memilih persalinan di rumah. Dari faktor internal yang paling berpengaruh adalah lingkungan persalinan (85,5%) dan dari faktor eksternal yang berpengaruh adalah biaya persalinan (84,1%).
Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa faktor internal (lingkungan persalinan) dan faktor eksternal (biaya persalinan) memengaruhi ibu dalam memilih persalinan di rumah oleh bidan di wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Ruku. Sehingga perlu ditingkatkan profesionalisme bidan dalam memberikan pelayanan persalinan sehingga dapat memotivasi masyarakat untuk memilih bersalin di fasilitas kesehatan.
ABSTRACT
The location of childbirth is one of the factors which can psychologically influence mothers who are giving birth to babies. The wrong selection of location and childbirth aide will directly affect mothers’ health. The selection of the location and the aides of childbirth can be influenced by several factors such as the distance of health service facility, transportation, demographic location, and knowledge of searching for the right childbirth aide.
The research is quantitative with cross sectional analytic survey. The method of the analysis was factor analysis in which the variables were reduced to one or two factors which influenced mothers to select the home birth by midwives. The population was all mothers who gave birth to babies, aided by midwives at home, and 110 of them were used as the samples, using purposive sampling technique with inclusive and exclusive criteria.
The result of the factor analysis showed that of 12 variables, eight of them could be included in the factor analysis with MSA value > 0.05. Of the eight factors, two of them became internal and external factors. Internal factor contributed 70%, while external factor contributed 77% in influencing mothers to select the location of childbirth at home. From the internal factor, it was found that childbirth environment was the most influencing factor (85.5%), while from the external factor, it was found that childbirth expense was the most influencing factor (84.1%).
The conclusion of the research was that internal factor (childbirth environment) and external factor (childbirth expense) influenced mothers to select home birth by midwives in the working area of Labuhan Ruku Puskesmas. It is recommended that midwife professionalism should be improved in giving childbirth service so that people will be motivated to select health facility in giving birth to babies.
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan tesis
dengan judul “Analisis Faktor yang Memengaruhi Ibu dalam Memilih Persalinan di Rumah oleh Bidan di Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Ruku Kabupaten Batubara Tahun 2013”.
Penulisan tesis ini merupakan salah satu persyaratan akademik untuk
menyelesaikan pendidikan pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat
Studi Kesehatan Reproduksi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera
Utara.
Dalam penyusunan tesis ini, penulis mendapatkan banyak bantuan, dorongan,
arahan, bimbingan serta masukan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada :
1. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K) selaku Rektor
Universitas Sumatera Utara.
2. Dr. Drs. Surya Utama, M.S selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara.
3. Dr. Ir. Evawany Y Aritonang, M.Si selaku sekretaris Program Studi S2 Ilmu
Kesehatan Masyarakat dan Ketua Komisi Pembimbing yang telah dengan sabar
dan penuh perhatian dalam memberikan arahan dan bimbingan sehingga tesis ini
4. Drs. Abdul Jalil Amri Arma, M.Kes selaku Anggota Komisi Pembimbing yang
telah memberikan arahan, bimbingan, dorongan dan semangat untuk
menyelesaikan tesis ini.
5. dr. Yusniwarti Yusad, M.Si dan Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes selaku penguji
yang telah meluangkan waktu untuk memberikan arahan dan bimbingan untuk
menyempurnakan tesis ini.
6. Dr. Buang selaku kepala puskesmas Labuhan Ruku yang telah memberikan izin
dan dukungan kepada penulis untuk menyelesaikan penelitian ini.
7. Terima kasih yang tak terhingga untuk kedua orang tua, Ayahanda Abdullah
Musaka dan Ibunda Resmiah yang telah banyak memberikan doa yang tak
terbatas serta dukungan moril kepada penulis.
8. Kepada suami tercinta Abdullah Harahap yang telah memberikan dukungan
moril dan materil serta doa dan izin kepada penulis untuk melanjutkan
pendidikan. Untuk buah hatiku Fayz Afdillah Mulia Harahap untuk cinta dan
sayangnya.
9. Untuk kakak dan adik-adik ku tercinta yang telah memberikan semangat serta
teman-teman seperjuangan di Kespro A yang saling mendukung untuk
menyelesaikan pendidikan S2.
10. Seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terima kasih atas
Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga
saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan. Untuk itu penilis terlebih
dahulu mengucapkan terima kasih.
Medan, Desember 2013 Penulis
RIWAYAT HIDUP
Eliya Wardayani, lahir 16 Maret 1984 di Tanjung Tiram, anak ke 2 dari empat
bersaudara, dari pasangan Abdullah Musaka dan Resmiah. Menikah dengan Kopda
Abdullah Harahap pada tahun 2009 dan dikaruniai seorang putra Fayz Afdillah Mulia
Harahap.
Pendidikan formal penulis dimulai dari TK Ade Irma Suryani Tanjung Tiram,
SD negeri 010149 Dahari Selebar, SLTP Negeri 1 Talawi, SMU negeri 1 Talawi.
Akademi Kebidanan Sentral Padangsisimpuan tahun 2003, Diploma IV Bidan
Pendidik Universitas Padjadjaran Bandung tahun 2007.
Mulai bekerja tahun 2006 sebagai staf Laboratorium di Akademi Kebidanan
Sentral Padangsidimpuan sampai tahun2009. Tahun 2010-2011 sebagai dosen dan
pudir I di Akademi Kebidanan Sentral Padangsidimpuan.
Penulis mengikuti pendidikan lanjutan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan
Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Minat Studi Kesehatan Reproduksi
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR LAMPIRAN... .. xii
BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Permasalahan ... 12
1.3 Tujuan Penelitian ... 13
1.4 Hipotesis ... 13
1.5 Manfaat Penelitian ... 13
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 14
2.1 Persalinan ... 14
2.1.1.Pengertian Persalinan ... 14
2.1.2.Tahap Persalinan ... 16
2.1.3.Asuhan Persalinan ... 20
2.1.4.Tanda-tanda Persalinan ... 20
2.2 Persalinan di Rumah ... 21
2.2.1.Indikasi dan Persyaratan Persalinan di Rumah ... 21
2.2.2.Persiapan Persalinan di Rumah ... 23
2.2.3.Keuntungan dan Kekurangan Persalinan di Rumah ... 25
2.2.4.Faktor-faktor yang Memengaruhi Ibu dalam Memilih Persalinan di Rumah ... 26
2.3 Analisis Faktor ... 37
2.3.1.Pengertian ... 37
2.3.2.Tujuan Analisis Faktor ... 38
2.3.3.Model Analisis Faktor dan Statistik yang Relevan ... 38
2.3.4.Model Matematik dalam Analisis Faktor ... 40
2.3.5.Penentuan Banyaknya Faktor... . 41
2.3.6.Proses Dasar Analisis Faktor ... 43
2.4 Bidan ... 44
2.4.1.Defenisi ... 44
2.4.2.Pelayanan Kebidanan dan Praktik Kebidanan ... 44
2.5 Landasan Teori ... 48
2.5.1.Teori Prilaku Kesehatan ... 48
2.5.2.Penelitian yang Berhubungan dengan Pemilihan Tempat Persalinan dan Penolong Persalinan ... 51
2.6 Kerangka Konsep ... 53
BAB 3. METODE PENELITIAN ... 54
3.1 Jenis Penelitian ... 54
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 54
3.2.1. Lokasi Penelitian ... 54
3.2.2. Waktu Penelitian ... 54
3.3 Populasi dan Sampel ... 54
3.3.1. Populasi ... 54
3.3.2. Sampel ... 55
3.4 Metode Pengumpulan Data ... 56
3.4.1. Data Primer ... 56
3.4.2. Data Sekunder ... 56
3.4.3. Uji Validitas dan Reliabilitas ... 57
3.5 Defenisi Operasional ... 60
3.6 Metode Pengukuran ... 61
3.7.1. Variabel Dependen ... 61
3.7.2. Variabel Independen ... 61
3.7 Metode Analisa Data ... 61
BAB 4. HASIL PENELITIAN... 65
4.1Gambaran Umum Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Ruku ... 65
4.2 Distribusi Karakteristik Responden ... 66
4.3 Uji Kelayakan Faktor... 67
4.4 Analisis Faktor (Pembentukan Faktor) yang Memengaruhi Ibu dalam Memilih Persalinan di Rumah Oleh Bidan ... 69
4.5 Penamaan Faktor yang Terbentuk ... 75
BAB 5. PEMBAHASAN ... 78
5.1. Interpretasi Variabel yang Tereduksi ... 79
5.1.1. Variabel Umur ... 79
5.1.2. Variabel Paritas ... 79
5.1.3. Variabel Dukungan Penolong Persalinan ... 80
5.1.4. Variabel Akses Pelayanan Kesehatan ... 81
5.1.5. Analisis Keempat Variabel Tereduksi ... 82
5.2. Interpretasi Faktor ... 83
5.2.1 Faktor I (Faktor Internal) ... 83
5.2.2 Faktor II (Faktor Eksternal) ... 92
BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 101
6.1 Kesimpulan ... 101
6.2 Saran ... 102
DAFTAR TABEL
No Judul Halaman
3.1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ... 58
3.2. Metode Pengukuran ... 63
4.1. Jumlah Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Ruku ... 65
4.2. Rekapitulasi KIA di Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Ruku Berdasarkan Desa/Kelurahan ... 66
4.3. Karakteristik Ibu yang Memilih Persalinan di Rumah dan Ditolong oleh Bidan di wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Ruku Tahun 2013.. . 67
4.4. Distribusi Besarnya Hubungan Variabel yang Memengaruhi Ibu dalam Memilih Persalinan di Rumah dan Ditolong Oleh Bidan di Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Ruku Kabupaten Batubara Tahun 2013 ... 70
4.5. Hasil Analisis Terbentuknya Faktor yang Memengaruhi Ibu dalam Memilih Persalinan di Rumah dan Ditolong Oleh Bidan di Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Ruku Kabupaten Batubara Tahun 2013 ... 71
4.6. Distribusi Proses Penentuan Variabel yang Memengaruhi Ibu dalam Memilih Persalinan di Rumah dan Ditolong Oleh Bidan di Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Ruku Kabupaten Batubara Tahun 2013 ... 72
4.7. Distribusi Penentuan Variabel yang Lebih Jelas dan Nyata Memengaruhi Ibu dalam Memilih Persalinan di Rumah dan Ditolong Oleh Bidan di Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Ruku Kabupaten Batubara Tahun 2013 ... 73
4.8. Distribusi Validasi Faktor yang Terbentuk ... 74
4.9. Distribusi Skor Pertanyaan Faktor Internal ... 75
DAFTAR GAMBAR
No Judul Halaman
2.1 Kerangka Konsep ... 53
DAFTAR LAMPIRAN
No Judul Halaman
1. Kuesioner Penelitian ... 107
2. Master Tabel ... 114
3. Hasil Pengolahan Data ... 118
ABSTRAK
Tempat bersalin termasuk salah satu faktor yang dapat memengaruhi psikologis ibu bersalin. Pemilihan tempat dan penolong persalinan yang tidak tepat akan berdampak secara langsung pada kesehatan ibu. Pemilihan tempat persalinan dan penolong persalinan bisa dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya jarak fasilitas pelayanan kesehatan, alat transportasi, letak demografi, dan pengetahuan dalam mencari penolong persalinan yang tepat.
penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode Survey analitik cross sectional. Metode analisis yang digunakan adalah analisis faktor yaitu mereduksi variabel menjadi 1 atau 2 faktor yang memengaruhi ibu dalam memilih persalinan di rumah oleh bidan. Populasinya adalah seluruh ibu bersalin di rumah yang ditolong oleh bidan dengan sampel sejumlah 110 orang dengan Purposive Sampling menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi.
Hasil analisis faktor menunjukkan dari 12 variabel yang dianalisis hanya 8 variabel yang dapat diikutkan dalam analisis faktor dengan nilai MSA > 0,5. Dari 8 variabel terbentuk 2 Faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal memberikan kontribusi sebesar 70% dan faktor eksternal sebesar 77% dalam memengaruhi ibu dalam memilih persalinan di rumah. Dari faktor internal yang paling berpengaruh adalah lingkungan persalinan (85,5%) dan dari faktor eksternal yang berpengaruh adalah biaya persalinan (84,1%).
Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa faktor internal (lingkungan persalinan) dan faktor eksternal (biaya persalinan) memengaruhi ibu dalam memilih persalinan di rumah oleh bidan di wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Ruku. Sehingga perlu ditingkatkan profesionalisme bidan dalam memberikan pelayanan persalinan sehingga dapat memotivasi masyarakat untuk memilih bersalin di fasilitas kesehatan.
ABSTRACT
The location of childbirth is one of the factors which can psychologically influence mothers who are giving birth to babies. The wrong selection of location and childbirth aide will directly affect mothers’ health. The selection of the location and the aides of childbirth can be influenced by several factors such as the distance of health service facility, transportation, demographic location, and knowledge of searching for the right childbirth aide.
The research is quantitative with cross sectional analytic survey. The method of the analysis was factor analysis in which the variables were reduced to one or two factors which influenced mothers to select the home birth by midwives. The population was all mothers who gave birth to babies, aided by midwives at home, and 110 of them were used as the samples, using purposive sampling technique with inclusive and exclusive criteria.
The result of the factor analysis showed that of 12 variables, eight of them could be included in the factor analysis with MSA value > 0.05. Of the eight factors, two of them became internal and external factors. Internal factor contributed 70%, while external factor contributed 77% in influencing mothers to select the location of childbirth at home. From the internal factor, it was found that childbirth environment was the most influencing factor (85.5%), while from the external factor, it was found that childbirth expense was the most influencing factor (84.1%).
The conclusion of the research was that internal factor (childbirth environment) and external factor (childbirth expense) influenced mothers to select home birth by midwives in the working area of Labuhan Ruku Puskesmas. It is recommended that midwife professionalism should be improved in giving childbirth service so that people will be motivated to select health facility in giving birth to babies.
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Persalinan merupakan salah satu peristiwa penting dan senantiasa diingat
dalam kehidupan wanita. Setiap wanita memiliki pengalaman melahirkan tersendiri
yang dapat diceritakan ke orang lain. Memori melahirkan, peristiwa dan orang-orang
yang terlibat dapat bersifat negatif atau positif, dan pada akhirnya dapat menimbulkan
efek emosional dan reaksi psikososial jangka pendek dan jangka panjang.
(Henderson, 2006)
Aspek-aspek asuhan yang terbukti memengaruhi perasaan persalinan dan
kepuasan pengalaman persalinan meliputi komunikasi dan pemberian informasi,
penatalaksanaan nyeri, tempat melahirkan, dukungan sosial dan dukungan dari
pasangan serta dukungan dari pemberi asuhan.
Persalinan sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan tempat persalinan
berlangsung. Idealnya, setiap wanita yang bersalin dan tim yang mendukung serta
memfasilitasi usahanya untuk melahirkan bekerja sama dalam suatu lingkungan yang
paling nyaman dan aman bagi ibu yang melahirkan. (Varney, 2008)
Tempat bersalin termasuk salah satu faktor yang dapat memengaruhi
psikologis ibu bersalin. Pemilihan tempat bersalin dan penolong persalinan yang
pilihan tempat bersalin yaitu di rumah Ibu atau di unit pelayanan kesehatan.
(Rohmah, 2010)
Tempat yang paling ideal untuk persalinan adalah fasilitas kesehatan dengan
perlengkapan dan tenaga yang siap menolong sewaktu-waktu terjadi komplikasi
persalinan. Minimal di fasilitas kesehatan seperti puskesmas yang mampu
memberikan Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED).
Persalinan difasilitas kesehatan dengan perlengkapan dan tenaga yang siap
menolong sewaktu-waktu terjadi komplikasi persalinan. Minimal di fasilitas
kesehatan seperti puskesmas yang mampu memberikan pelayanan obstetrik dan
neonatal emergensi dasar (PONED). Dipahami belum seluruh Puskesmas mampu
untuk memberikan pelayanan dasar tersebut, minimal pada saat ibu melahirkan di
Puskesmas terdapat tenaga yang dapat segera merujuk jika terjadi komplikasi.
(Laporan Riskesdas 2010)
Pertolongan persalinan memenuhi kaidah 4 pilar safe motherhood, yang
salah satunya adalah persalinan bersih dan aman serta ditolong oleh tenaga kesehatan
yang terampil. Perlu diwaspadai adanya resiko infeksi dikarenakan paparan
lingkungan yang tidak bersih, alas persalinan yang tidak bersih, serta alat dan tangan
penolong yang tidak bersih karena mobilisasi dari pusat pelayanan kesehatan ke
rumah ibu. (Prasetyawati, A.E., 2012)
Menurut Depkes RI (2009), tujuan persiapan persalinan aman adalah agar
aman. Bahkan menurut Kemenkes RI (2011) persalinan dilakukan di fasilitas
kesehatan dan ditolong oleh tanaga kesehatan.
Pemilihan tempat bersalin dan penolong persalinan yang tidak tepat akan
berdampak secara langsung pada kesehatan ibu. Sampai saat ini angka kematian ibu
di Indonesia masih relatif tinggi dibandingkan dengan negara-negara tetangga.
Laporan survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) terakhir memperkirakan
angka kematian ibu adalah 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007. Bahkan
WHO, UNICEF, UNFPA, dan World Bank memperkirakan angka kematian ibu lebih
tinggi, yaitu 420 per 100.000 kelahiran hidup. (Prasetyawati, A.E., 2012)
Berdasarkan data Profil kesehatan Indonesia tahun 2011; cakupan
pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi kebidanan sejak
tahun 2008 sampai tahun 2011 cenderung mengalami peningkatan. Bahkan pada
tahun 2011 cakupan pertolongan persalinan oleh petugas kesehatan di Indonesia telah
mencapai 88,38 %. Akan tetapi, meningkatnya cakupan penolong kelahiran oleh
tenaga kesehatan di Indonesia belum diimbangi dengan peningkatan jumlah
persalinan di sarana pelayanan kesehatan.
Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar 2010, persalinan ibu anak terakhir
dari kelahiran lima tahun terakhir menunjukkan bahwa 55.4 % melahirkan di fasilitas
kesehatan seperti rumah sakit (pemerintah dan swasta), rumah bersalin, Puskesmas,
Pustu, praktek dokter atau praktek bidan. Terdapat 43,2% melahirkan di
rumah/lainnya dan hanya 1,4 persen yang melahirkan di polindes/poskesdes. Apabila
tenaga yang menolong proses persalinan adalah dokter (2,1%), bidan (51,9%),
paramedis lain (1,4%), dukun (40,2%), serta keluarga (4,0%).
Di Sumatera Utara berdasarkan profil kesehatan Indonesia tahun 2011
cakupan penolong persalinan 91,61% sudah ditolong oleh tenaga kesehatan. Namun
pemilihan tempat persalinan berdasarkan riskesdas 2010, 59,7% persalinan
berlangsung di rumah/lainnya, 38,6% melahirkan di fasilitas kesehatan dan 1,7%
yang melahirkan di Polindes/Poskesdes.
Fakta masih adanya angka persalinan di rumah, menuntut diperlukannya
pengoptimalan pemberdayaan sarana dan tenaga kesehatan yang ada untuk
persalinan. Oleh karena itu, untuk melakukan pertolongan persalinan dirumah harus
ada persiapan yang tepat, baik persiapan penolong, alat dan bahan yang dibawa
penolong, persiapan tempat, lingkungan dan keluarga. (Prasetyawati, A.E., 2012).
Melahirkan di rumah masih kontroversial di Amerika Serikat. American
Collage Obstetricians and Gynecologists (ACOG) dan American Medical Association
(AMA) menentang melahirkan di rumah. Mereka berpendapat bahwa rumah sakit
adalah tempat paling aman untuk melahirkan karena kemampuan pengelolaan rumah
sakit dan keahlian dari para staf rumah sakit segera tersedia jika komplikasi muncul
tiba-tiba.
Pemilihan tempat persalinan dan penolong persalinan bisa di pengaruhi oleh
beberapa hal, diantaranya jarak dengan fasilitas pelayanan kesehatan, alat
persalinan yang aman. Pengetahuan tersebut akan memengaruhi keputusan dalam
meminta bantuan penolong persalinan.
Faktor-faktor yang memengaruhi ibu dalam memilih penolong persalinan
oleh tenaga kesehatan adalah tenaga kesehatan dapat meminimalkan komplikasi
apabila terjadi komplikasi bisa segera diketahui dan dirujuk ke rumah sakit,
memberikan perhatian secara khusus disaat proses persalinan berlangsung,
memperhatikan kemajuan persalinan, waspada bila tiba-tiba timbul kelainan yang
akan mengganggu atau menghambat persalinan, melakukan kunjungan rumah, dan
memberikan pelayanan KB setelah melahirkan. (Rohmah, 2010)
Kepatuhan ANC juga memengaruhi ibu dalam memilih penolong persalinan.
Sesuai dengan penelitian Jekti (2011) tentang hubungan antara kepatuhan Antenatal
Care dengan pemilihan penolong persalinan dimana, ibu yang tidak patuh melakukan
ANC lebih suka memilih dukun sebagai penolong persalinan. Sebaliknya ibu yang
patuh melakukan ANC akan memilih tenaga kesehatan sebagai penolong persalinan.
Penelitian Dwilaksono (2007), tentang upaya peningkatan persalinan tenaga
kesehatan berdasarkan analisis Need dan Demand mengungkapkan bahwa Need dan
Deman ibu bersalin lebih condong ke tenaga dukun dibandingkan dengan tenaga
kesehatan dan tempat persalinan yang diinginkan (need) oleh ibu bersalin di
kecamatan Palengaan kabupaten Pamekasan adalah di rumah sendiri karena bisa
ditunggui suami atau keluarga. Dan Deman (kebutuhan) ibu yang melahirkan di
Di negara berkembang, dimana perempuan mungkin tidak mampu mambayar
biaya perawatan medis atau tidak dapat mengaksesnya, melahirkan dirumah mungkin
satu-satunya pilihan yang tersedia, dan bahkan wanita itu mungkin tidak dapat
dibantu oleh tenaga profesional, dan hanya dukun atau bahkan menolong sendiri
tanpa bantuan siapa pun.
Keterjangkauan masyarakat termasuk jarak akan fasilitas kesehatan akan
mempengaruhi pemilihan tempat persalinan dan penolong persalinan. Apalagi di
desa-desa yang jauh dari rumah sakit justru sebagian besar mereka melahirkan di
rumah. Diketahui bahwa akses terhadap pelayanan kesehatan yaitu merupakan
keterjangkauan lokasi tempat pelayanan, jenis dan kualitas pelayanan yang tersedia.
Penelitian Wulan (2011) tentang Analisis spasial pemilihan tempat
pertolongan persalinan di kelurahan Sendangmulyo Semarang terdapat beberapa
faktor yang memengaruhi ibu dalam memilih tempat persalinan yaitu tingkat
pendapatan responden yang dikelompokkan berdasarkan nilai UMR kota semarang
tahun 2011. Responden dengan pendapatan tinggi (> UMR) memilih rumah sakit
umum sebagai tempat persalinan, sedangkan responden dengan pendapatan rendah (<
UMR) lebih memilih persalinan di klinik bersalin atau di rumah sendiri dengan
didampingi oleh bidan.
Laporan Riskesdas 2010, persentase tempat ibu melahirkan menurut tempat
persalinan berdasarkan karakteristik tempat tinggal dan status ekonomi. Di pedesaan
umumnya persalinan dilakukan di rumah/lainnya, sedangkan di perkotaan melahirkan
tempat persalinan di fasilitas kesehatan, sebaliknya untuk persalinan di rumah makin
rendah status ekonomi, persentase persalinan di rumah makin besar. (Laporan
Riskesdas 2010).
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam Acta Obstetricia et
Gynecologica Scandinavica (2010), ada beberapa faktor yang menyebabkan ibu
memilih bersalin dirumah, diantaranya : lingkungan rumah yang nyaman, tidak suka
dengan rumah sakit atau rumah bersalin, dapat mengurangi stres, dan mempunyai
kontrol atau otonomi yang lebih besar terhadap diri sendiri.
Rumah merupakan lingkungan yang sudah dikenal wanita sehingga ia dapat
merasa nyaman dan relaks selama persalinan, tempat ia dapat mempertahankan
privasi dan dikelilingi oleh orang-orang yang diinginkannya, yang memberikan
dukungan dan ketenangan pada dirinya. Kehadiran pendamping selama proses
persalinan, sentuhan, hiburan dan dorongan untuk mendukung, kehadiran
pendamping sangat besar artinya karena dapat membantu ibu saat proses persalinan.
Pendamping ibu saat proses persalinan sebaiknya adalah orang yang peduli pada ibu
dan yang paling penting adalah orang yang diinginkan ibu untuk mendampingi ibu
selama proses persalinan. (Henderson, C., 2006 dan Rukiyah, 2009).
Pemilihan persalinan di rumah juga tidak terlepas dari banyaknya intervensi
medis yang tidak perlu di rumah sakit. Intervensi yang rutin atau tidak diperlukan
dalam persalinan, dalam beberapa tahun terakhir, telah semakin dikenal sebagai salah
meliputi, persalinan dengan menggunakan bantuan alat seperti vacum bahkan tak
jarang berakhir dengan secsio sesaria. (Henderson, C., 2006)
Menurut Raphael-Leff (1991) dalam Henderson (2006) mengungkapkan
bahwa efek jangka panjang dari beberapa intervensi seperti persalinan dengan
bantuan alat dapat meningkatkan kejadian depresi pascanatal, mengurangi
kepercayaan diri wanita dalam kemampuannya menjalani peran sebagai ibu. Bahkan
efek jangka panjang dapat menyebabkan stres pascatrauma karena merasa tidak
mampu mengendalikan diri mereka sendiri.
Penelitian Anthoni, dkk (2005) tentang faktor demografi ibu dalam
merencanakan persalinan di rumah di Belanda, maka 23,5% wanita primipara (usia
25-29 tahun) bersalin di rumah, 10,3% bersalin di rumah sakit dibawah pengawasan
bidan dan 66,1% melahirkan dirumah sakit dengan dokter kandungan setelah rujukan.
Pada kelompok multipara (usia 30-34 tahun) sekitar 42,8% persalinan di rumah,
15,0% bersalin di rumah sakit dibawah pengawasan bidan dan 42,1% melahirkan di
rumah sakit dengan dokter kandungan setelah rujukan.
Proses kehamilan dan persalinan merupakan suatu proses yang melibatkan
banyak orang, tidak hanya pasangan suami istri, tetapi meliputi seluruh anggota
keluarga baik dari pihak istri maupun suami. Di banyak daerah di Indonesia,
keputusan bahkan ditentukan oleh orang tua dari pihak istri atau suamidan kerabat
yang dituakan. Mereka menentukan semua hal penting yang berhubungan dengan
persalinan, memilih tempat persalinan, tenaga penolong persalinan, juga kebiasaan
perlu tidaknya ibu bersalin dibawa ke tempat pelayanan kesehatan atau rumah sakit
bila persalinan mengalami komplikasi. Sering terjadi seorang ibu sampai di rumah
sakit dalam keadaan sangat terlambat atau bahkan meninggal di perjalanan menuju
rumah sakit hanya karena setiap anggota keluarga tidak mencapai kata sepakat
membawanya berobat.
Uraian di atas telah menjelaskan mengenai pengaruh karakteristik persalinan
dan tingginya AKI di Indonesia. Persalinan institusional sebenarnya merupakan
pilihan terbaik dalam menurunkan AKI, tetapi mengoptimalkan persalinan non
institusional dan memperbaiki sistem rujukan di daerah merupakan pilihan yang
rasional saat ini.
Berdasarkan profil kesehatan Kabupaten Batubara persentase pertolongan
persalinan oleh Nakes mengalami penurunan. Tahun 2010 dengan jumlah persalinan
8372, persalinan oleh tenaga kesehatan sebanyak 8372 (100%) namun pada tahun
2011 jumlah persalinan 8326, persalinan oleh tenaga kesehatan hanya 7479
(88,83%).
Angka kematian ibu di Kabupaten Batubara mengalami peningkatan yakni,
dari 8362 kelahiran hidup terdapat 13 (15,62%) kematian ibu pada tahun 2010 dan
pada tahun 2011 dari 7422 kelahiran hidup terdapat 12 (16,16%) kematian ibu. Hal
ini berbanding terbalik dengan angka kematian bayi. Dimana AKB mengalami
penurunan yang cukup signifikan dari tahun 2010 terdapat 37 (4,43%) kematian bayi
dari 8362 kelahiran hidup dan pada tahun 2011 hanya 8 (1,08%) kematian bayi dari
Hasil survey awal yang telah dilakukan oleh penulis di Puskesmas Labuhan
Ruku yang terdiri dari 10 desa dan 1 kelurahan yang terdiri dari desa Sei Muka, desa
Tanah Datar, desa Benteng, desa Mesjid Lama, desa Sumber Tani, desa Indra Yaman,
desa Dahari Selebar, Desa Pahang, desa Dahari Indah, desa Padang genting dan
kelurahan Labuhan Ruku terdapat 736 persalinan normal pada tahun 2012.
Berdasarkan laporan bidan desa Dari 736 jumlah persalinan terdapat 449 (61%)
persalinan di rumah dan ditolong oleh bidan.
Tingginya angka persalinan di rumah di wilayah kerja puskesmas Labuhan
Ruku bukan tanpa masalah. Pada tahun 2011 terdapat 2 (dua) kematian ibu dan 4
(empat) kematian bayi. Dan menurut salah seorang bidan pada tahun 2012 didaerah
tempat bidan tersebut bertugas seorang ibu juga meninggal dalam perjalanan menuju
rumah sakit karena perdarahan.
Menurut bidan yang bertugas disalah satu desa yang ada diwilayah kerja
puskesmas Labuhan Ruku ternyata banyak dijumpai kasus retensio plesenta atau
perlekatan plasenta, partus tak maju atau partus macet. Dimana kasus-kasus ini dapat
menyebabkan kematian bila tidak mendapatkan penanganan segera. Kasus ini juga
tidak dapat dideteksi selama kehamilan sehingga persalinan di rumah harus
dipersiapkan dengan sistem rujukan yang memadai.
Sering juga para bidan mengalami dilema, dimana pasien tidak mau dirujuk
ke rumah sakit dengan berbagai alasan. Padahal kehamilan ibu beresiko bila di tolong
dirumah. Menurut salah seorang bidan tak jarang dia harus menolong persalinan letak
satu alasan mereka adalah faktor biaya. Walaupun biaya untuk si ibu gratis namun
biaya unuk makan dan transportasi ke tempat rujukan memerlukan biaya yang besar
sehingga mereka lebih memilih ditolong dirumah. Walaupun resiko yang harus
mereka terima adalah kehilangan anak mereka.
Persalinan di rumah bukan saja menimbulkan resiko bagi ibu tetapi juga bayi
yang dilahirkan. Tahun 2010 seorang bayi meninggal, dimana pada saat hamil ibu di
deteksi hamil dengan letak sungsang. Namun keluarga menolak untuk dibawa ke
rumah sakit. Akhirnya bayi meninggal karena leher bayi terjepit di jalan lahir.
Penulis juga melakukan wawancara kepada 5 orang ibu yang melakukan
persalinan di rumah, dimana faktor utama mereka memilih persalinan di rumah dan
ditolong oleh bidan adalah kepercayaan terhadap bidan, biaya yang relatif murah bila
di bandingkan di fasilitas kesehatan yang memerlukan biaya transportasi yang lebih
banyak. Selain itu persalinan di rumah jauh lebih praktis dimana ibu tidak repot
membawa perlengkapan persalinan kemana-mana, banyak keluarga yang menemani
mereka serta rasa aman dan nyaman karena privasi mereka terjaga.
Hasil wawancara diatas bila kita hubungkan dengan teori Lawrence Green
bahwa perilaku kesehatan dipengaruhi oleh tiga kelompok faktor. Faktor Predisposisi;
menyangkut pengetahuan tentang persalinan, pendidikan, kepercayaan terhadap
bidan, rasa takut terhadap intervensi medis, lingkungan persalinan, dan unsur lain
yang terdapat dalam diri individu/masyarakat seperti faktor demografi (umur, paritas,
sarana kesehatan yang mudah dijangkau. Serta faktor pendorong yaitu sikap dan
perilaku petugas kesehatan, masyarakat dan keluarga.
Dari banyaknya variabel diatas maka perlu dikaji variabel-variabel apa yang
sangat memengaruhi ibu dalam memilih persalinan di rumah sehingga upaya
pemerintah untuk menurunkan angka kematian ibu dan kematian bayi akibat
pemilihan tempat persalinan yang tidak di dukung oleh fasilitas medis yang memadai
dapat ditekan. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis faktor untuk mereduksi atau
meringkas variabel, dari variabel yang banyak diubah menjadi sedikit variabel yang
disebut dengan faktor yang paling dominan dalam memengaruhi ibu untuk memilih
persalinan dirumah.
Berdasarkan latar belakang diatas penulis ingin melakukan penelitian
tentang “Analisis Faktor Yang Memengaruhi Ibu Dalam Memilih Persalinan Di
Rumah oleh bidan Di Wilayah Puskesmas Labuhan Ruku Kabupaten Batu Bara”
1.2. Permasalahan
Tingginya angka persalinan di rumah yang disebabkan oleh banyak faktor
sehingga menimbulkan masalah terhadap kesehatan ibu akibat terlambat mendapat
rujukan bila terjadi kegawatdaruratan dalam persalinan, maka perlu dilakukan
penelitian “Analisis Faktor yang Memengaruhi Ibu dalam Memilih Persalinan di
1.3. Tujuan Penelitian
Untuk menganalisis faktor (umur, pendidikan, pendapatan keluarga, biaya
persalinan, kepercayaan terhadap bidan, akses pelayanan kesehatan, takut terhadap
intervensi medis, lingkungan persalinan, dukungan suami/keluarga, dukungan
penolong persalinan, paritas, dan pengetahuan tentang persalinan) yang memengaruhi
ibu dalam memilih persalinan di rumah.
1.4. Hipotesis
Ada faktor (umur, pendidikan, pendapatan keluarga, biaya persalinan,
kepercayaan terhadap bidan, akses pelayanan kesehatan, takut terhadap intervensi
medis, lingkungan persalinan, dukungan suami/keluarga, dukungan penolong
persalinan, paritas, dan pengetahuan tentang persalinan) yang paling dominan
memengaruhi ibu dalam memilih persalinan di rumah.
1.5. Manfaat Penelitian
1. Memberikan gambaran perilaku ibu dalam memilih tempat dan penolong
persalinan secara aman.
2. Mengetahui faktor yang memengaruhi ibu dalam memilih persalinan di rumah
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Persalinan
2.1.1 Pengertian Persalinan
Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada
kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang
kepala yang berlangsung tidak lebih dari 18 jam tanpa komplikasi baik bagi ibu
maupun janin (sarwono, 2002)
Persalinan normal adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat
hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar dengan presentasi belakang
kepala tanpa memakai alat-alat atau pertolongan istimewa serta tidak melukai ibu dan
bayi, dan pada umumnya berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam
(Prawirohardjo, 1997)
Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang
terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi
belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam tanpa komplikasi baik pada ibu
maupun pada janin (Saifuddin, 2006)
Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar
dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia
kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit. Persalinan
(membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu
belum inpartu jika kontraksi uterus tidak mengakibatkan perubahan serviks
(JNPK-KR, 2007)
Persalinan adalah suatu proses yang dimulai dengan adanya kontraksi uterus
yang menyebabkan terjadinya dilatasi progresif dari serviks, kelahiran bayi, dan
kelahiran plasenta, dan proses tersebut merupakan proses alamiah. (Rohani, 2011)
Bentuk persalinan berdasarkan teknik :
1. Persalinan spontan, yaitu persalinan berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri dan
melalui jalan lahir.
2. Persalinan buatan, yaitu persalinan dengan tenaga dari luar dengan ekstraksi
forceps, ekstraksi vakum dan sectio sesaria
3. Persalinan anjuran yaitu bila kekuatan yang diperlukan untuk persalinan
ditimbulkan dari luar dengan jalan pemberian rangsang. (Rukiyah; Ai yeyeh; dkk,
2009)
Persalinan berdasarkan umur kehamilan :
1. Abortus adalah terhentinya proses kehamilan sebelum janin dapat hidup (viable),
berat janin di bawah 1.000 gram atau usia kehamilan di bawah 28 minggu.
2. Partus prematurus adalah persalinan dari hasil konsepsi pada umur kehamilan
28-36 minggu. Janin dapat hidup, tetapi prematur; berat janin antara 1.000-2.500
gram.
3. Partus matures/aterm (cukup bulan) adalah partus pada umur kehamilan 37-40
4. Partus postmaturus (serotinus) adalah persalinan yang terjadi 2 minggu atau lebih
dari waktu partus yang ditaksir, janin disebut postmatur.
5. Partus presipitatus adalah partus yang berlangsung cepat, mungkin di kamar
mandi, di atas kenderaan, dan sebagainya.
6. Partus percobaan adalah suatu penilaian kemajuan persalinan untuk memperoleh
bukti tentang ada atau tidaknya Cephalo pelvic Disproportion (CPD). (Rohani;
dkk, 2011)
2.1.2 Tahap Persalinan
Persalinan dibagi menjadi 4 tahap. Pada kala I serviks membuka dari 0
sampai 10 cm. Kala I dinamakan juga kala pembukaan. Kala II disebut juga dengan
kala pengeluaran, oleh karena kekuatan his dan kekuatan mengedan, janin di dorong
keluar sampai lahir. Dalam kala III atau disebut juga kala uri, plasenta terlepas dari
dinding uterus dan dilahirkan. Kala IV mulai dari lahirnya plasenta sampai 2 jam
kemudian. Dalam kala tersebut diobservasi apakah terjadi perdarahan post partum.
(Rohani; dkk, 2011)
a. Kala I (Kala Pembukaan)
Inpartu ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah karena serviks
mulai membuka dan mendatar. Darah berasal dari pecahnya pembuluh darah kapiler
sekitar kanalis servikalis karena pergeseran-pergeseran, ketika serviks mendatar dan
membuka.
Kala I persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan
Persalinan kala I dibagi menjadi 2 fase, yaitu fase laten dan fase aktif.
1. Fase laten, dimana pembukaan serviks berlangsung lambat dimulai sejak awal
kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan secara bertahap sampai
pembukaan 3 cm, berlangsung dalam 7-8 jam.
2. Fase aktif (pembukaan serviks 4-10 cm), berlangsung selama 6 jam dan dibagi
dalam 3 subfase.
a. Periode akselerasi : berlangsung selama 2 jam, pembukaan menjadi 4 cm.
b. Periode dilatasi maksimal : berlangsung selama 2 jam, pembukaan berlangsung
cepat menjadi 9 cm.
c. Periode deselerasi : berlangsung lambat, dalam 2 jam pembukaan jadi 10 cm
atau lengkap.
Pada fase aktif persalinan, frekuensi dan lama kontraksi uterus umumnya
meningkat (kontraksi dianggap adekuat jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu
10 menit dan berlangsung selama 40 detik atau lebih) dan terjadi penurunan bagian
terbawah janin. Berdasarkan kurve Friedman, diperhitungkan pembukaan pada
primigravida 1 cm/jam dan pembukaan multigravida 2 cm/ jam.
Mekanisme membukanya serviks berbeda antara primigravida dan
multigravida. Pada primigravida, ostium uteri internum akanmembuka lebih dulu,
sehingga serviks akan mendatar dan menipis, kemudian ostium internum sudah
sedikit terbuka. Ostium uteri internum dan eksternum serta penipisan dan pendataran
b. Kala II (Kala Pengeluaran Janin)
Kala II persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm)
dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala II pada primipara berlangsung selama 2 jam
dan pada multipara 1 jam.
Tanda dan gejala kala II
1. His semakin kuat, dengan interval 2 sampai 3 menit.
2. Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi.
3. Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rektum dan/atau vagina.
4. Perineum terlihat menonjol.
5. Vulva-vagina dan sfingter ani terlihat membuka.
6. Peningkatan pengeluaran lendir dan darah.
Diagnosis kala II ditegakkan atas dasar pemeriksaan dalam yang
menunjukkan :
1. Pembukaan serviks telah lengkap.
2. Terlihat bagian kepala bayi pada introitus vagina.
c. Kala III (Kala Pengeluaran Plasenta)
Kala III persalinan dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan
lahirnya plasenta dan selaput ketuban. Seluruh proses biasanya berlangsung 5-30
menit setelah bayi lahir.
Perubahan psikologis kala III
1. Ibu ingin melihat, menyentuh, dan memeluk bayinya.
3. Memusatkan diri dan kerap bertanya apakah vagina perlu dijahit.
4. Menaruh perhatian terhadap plasenta
d. Kala IV (Kala Pengawasan)
Kala IV dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir 2 jam setelah proses
tersebut. Observasi yang harus dilakukan pada kala IV :
1. Tingkat kesadaran.
2. Pemeriksaan tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi,dan pernapasan.
3. Kontraksi uterus.
4. Terjadinya perdarahan. Perdarahan dianggap masih normal jika jumlahnya tidak
melebihi 400 samapai 500 cc.
Asuhan dan pemantauan pada kala IV
1. Lakukan rangsangan taktil (seperti pemijatan) pada uterus, untuk merangsang
uterus berkontraksi.
2. Evaluasi tinggi fundus dengan meletakkan jari tangan secara melintang antara
pusat dan fundus uteri.
3. Perkirakan kehilangan darah secara keseluruhan.
4. Periksa perineum dari perdarahan aktif (misalnya apakah ada laserasi atau
episiotomi).
5. Evaluasi kondisi ibu secara umum.
6. Dokumentasikan semua asuhan dan temuan selama kala IV persalinan di halaman
belakang partograf segera setelah asuhan diberikan atau setelah penilaian
2.1.3 Asuhan Persalinan
Tujuan asuhan persalinan adalah memberikan asuhan yang memadai selama
persalinan, dalam upaya mencapai pertolongan persalinan yang bersih dan aman
dengan memperhatikan aspek sayang ibu dan sayang bayi.
Kebijakan pelayanan asuhan persalinan :
1. Semua persalinan harus dihindari dan dipantau oleh petugas kesehatan terlatih.
2. Rumah bersalin dan tempat rujukan dengan fasilitas memadai untuk menangani
kegawatdaruratan obstetrik dan neonatal harus tersedia 24 jam.
3. Obat-obatan esensial, bahan, dan perlengkapan harus tersedia bagi seluruh petugas
terlatih.
2.1.4 Tanda-tanda Persalinan
Tanda dan gejala inpartu
1. Timbul rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering, dan teratur.
2. Keluar lendir bercampur darah (bloody show) yang lebih banyak karena robekan
kecil pada serviks. Sumbatan mukus yang berasal dari sekresi servikal dari
proliferasi kelenjar mukosa servikal pada awal kehamilan, berperan sebagai barier
protektif dan menutup servikal selama kehamilan. Bloody show adalah
pengeluaran dari mukus.
3. Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya. Pemecahan membran yang
normal terjadi pada kala I persalinan. Hal ini terjadi pada 12% wanita, dan lebih
4. Pada pemeriksaan dalam : serviks mendatar dan pembukaan telah ada. Berikut ini
adalah perbedaan penipisan dan dilatasi serviks antara nulipara dan multipara.
a. Nulipara
Biasanya sebelum persalinan, serviks menipis sekitar 50-60% dan pembukaan
sampai 1 cm; dan dengan dimulainya persalinan, biasanya ibu nulipara
mengalami penipisan serviks 50-100%, kemudian terjadi pembukaan.
b. Multipara
Pada multipara sering kali serviks tidak menipis pada awal persalinan, tetapi
hanya membuka 1-2 cm. Biasanya pada multipara serviks akan membuka,
kemudian diteruskan dengan penipisan.
5. Kontraksi uterus mengakibatkan perubahan pada serviks (frekuensi minimal 2 kali
dalam 10 menit)
2.2. Persalinan di Rumah
2.2.1. Indikasi dan Persyaratan Persalinan di Rumah
Indikasi dilakukannya persalinan di rumah adalah sebagai berikut :
1. Multipara, Umumnya ibu yang baru pertama kali bersalin dianjurkan bersalin di
rumah sakit atau di klinik bersalin. Jika pada waktu melahirkan bayi pertama itu
tidak mengalami kesulitan, melahirkan bayi berikutnya di rumah sendiri dapat
diizinkan.
2. Selama melakukan asuhan antenatal tidak didapatinya adanya kelainan atau
3. Jauh dari tempat pelayanan kesehatan (tinggal di pemukiman pedesaan).
(Syafrudin, 2012 )
Mengingat fungsi pertolongan persalinan yang sangat berat, dalam
melakukan persalinan di rumah diperlukan pemenuhan persyaratan sebagai berikut :
1. Mengkonfirmasikan bahwa kehamilan bersifat fisiologis atau normal. Artinya, jika
tidak terdapat kelainan 3 P, yakni : power atau kekuatan dari si calon ibu; passage
atau jalan lahir; dan passanger yakni kondisi janin yang akan melaluinya. Kalau
ketiga faktor tersebut dalam keadaan baik, bisa disimpulkan bahwa persalinan
tersebut adalah fisiologis atau akan berlangsung normal.
2. Tersedianya tenaga penolong persalinan yang andal. Penolong persalinan tidak
harus seorang dokter ahli kebidanan dan kandungan, namun cukup seorang dokter
umum yang terampil dalam bidang tersebut atau bidan yang berpengalaman.
Memilih tenaga berkualifikasi seperti itu sebenarnya tidak terlalu sulit. Dalam
waktu yang tidak terlalu lama kita akan bisa memperoleh informasi tentang dokter
atau bidan mana yang andal sebagai penolong persalinan dan bersedia dimintai
pertolongan sewaktu-waktu. Meskipun berprofesi sebagai penolong persalinan,
mereka harus mengenal dengan baik siapa yang akan ditolong. Oleh karena itu
periksa kehamilan secara teratur penting dilakukan. Dokter yang memiliki banyak
pasien atau yang sangat sibuk bukanlah tipe penolong persalinan di rumah yang
ideal.
Seorang penolong persalinan yang baik tidak hanya berpengalaman,
pribadi yang berdedikasi tinggi dalam membimbing persalinan. Sebagai contoh,
proses pembukaan jalan lahir hingga sempurna biasanya dipimpin seorang bidan.
Selama proses ini sang calon ibu biasanya mengalami rasa sakit mulas yang makin
lama makin sering disertai nyeri dalam waktu yang relatif agak lama. Dalam
kondisi seperti ini sang penolong persalinan harus bisa menanamkan rasa percaya
diri, tenang, aman, terlindung, serta kepastian akan keselamatan pada sang calon
ibu yang ditolong.
3. Mempersiapkan satu kamar atau ruang bersalin di rumah. Tidak perlu harus
ruangan khusus. Kamar tidur keluarga dapat dipersiapkan merangkap sebagai
kamar bersalin. Kamar ini hendaknya bersih, tenang, serta memiliki penerangan
dan ventilasi udara yang baik.
4. Perlengkapan lain untuk kebutuhan ibu dan bayi. Ibu : dua helai kain panjang
bersih, satu gunting steril (minimal direbus dalam air mendidih selama lebih dari
15 menit), benang kasur steril, satu buah kateter urine logam steril untuk wanita,
sebuah neerbeken atau pispot bersih, serta sebuah baskom penampung ari-ari.
Sedangkan untuk bayinya : air hangat secukupnya untuk mandi, sebotol minyak
kelapa atau baby oil, baju, popok, baju hangat, sepotong kain kasa steril, dan 60 cc
alkohol 70%.
2.2.2. Persiapan Persalinan di Rumah
Adabeberapa persiapan menyangkut alat, persiapan ibu, persiapan keluarga,
dan bidan.
a. Perlengkapan yang diperlukan oleh ibu guna persalinan di rumah.
b. Perlengkapan yang diperlukan oleh bayi segera setelah lahir.
c. Tempat tidur untuk bersalin.
d. Peralatan bidan.
2. Persiapan ibu untuk bersalin. Pemeriksaan dan kegiatan terhadap ibu mencakup
hal berikut .
a. Observasi : keadaan umum, meliputi suhu, nadi, frekuensi napas, dan tekanan
darah.
b. Melakukan : inspeksi, palpasi, dan auskultasi abdomen.
c. Menghitung denyut jantung janin (DJJ)
3. Persiapan keluarga. Bantuan keluarga mencakup hal berikut.
a. Menyiapkan ruangan untuk ibu bersalin .
b. Mengupayakan ruangan dalam kondisi bersih, pencahayaannya cukup, dan
ventilasi bagus.
c. Menyiapkan segala sesuatu jika klien dirujuk.
4. Persiapan bidan
a. Menyiapkan segala yang diperlukan untuk persalinan.
b. Memakai tutup pakaian plastik.
2.2.3. Keuntungan dan Kekurangan Persalinan di Rumah 2.2.3.1. Keuntungan
1. Ibu terhindar dari perasaan cemas sebab suasana di rumah yang akrab membuat
ibu hamil merasa didukung keluarga dan teman atau tetangga. Selain itu, ibu juga
tidak merasa cemas bayinya akan tertukar.
2. Bagi keluarga, persalinan di rumah akan menghemat waktu, tenaga, dan biaya.
Keluarga tidak perlu repot membesuk atau menjenguk ke rumah sakit.
3. Bagi aspek fisiologis, aktivitas ibu di rumah akan memperbaiki sirkulasi darah,
merangsang peningkatan produksi ASI, dan mempercepat pemulihan kondisinya.
Aktivitas ibu dengan berjalan-jalan dalam beberapa hari setelah melahirkan akan
melancarkan pembekuan darah/darah kotor akibat pengaruh gaya gravitasi bumi.
4. Bagi aspek material/finansial, persalinan di rumah merupakan tindakan
penghematan yang banyak mendatangkan keuntungan serta akan menghemat biaya
karena sebagian biaya rumah sakit dan sewa kamar bersalin dapat dialihkan untuk
kebutuhan lain.
5. Bagi aspek psikologis, bayi merasa diterima, dinantikan, dirindukan, dan dicintai
oleh seisi rumah.
6. Bagi aspek imunologis, bayi secara bertahap akan dikenalkan antigen asing
sehingga respons kekebalan yang ditimbulkan lebih memadai dan berfungsi
melindungi dirinya kelak.
7. Ibu dan bayi dapat terhindar dari penyakit infeksi silang yang bisa terjadi di rumah
8. Bagi ibu yang telah mempunyai anak sebelumnya, ibu dan anak sebelumnya tidak
perlu berpisah lama dan ibu akan merasa nyaman karena dapat melakukan
kebiasaannya di lingkungan rumah sendiri.
9. Kamar selalu tersedia dan tak memerlukan pengangkutan ke rumah sakit.
2.2.3.2. Kekurangan
1. Penolong persalinan (dukun bayi, bidan atau tenaga lain) umumnya hanya satu.
2. Sanitasi, fasilitas, peralatan, dan persediaan air bersih mungkin kurang.
3. Jika memerlukan rujukan, diperlukan pengangkutan dan pertolongan pertama
selama perjalanan. Jika perjalanannya jauh atau lama, maka komplikasi yang
terjadi misalnya perdarahan atau kejang-kejang dapat lebih parah. Di rumah,
perawatan bayi prematur juga sulit. (Mubarak, 2012)
2.2.4. Faktor-faktor yang Memengaruhi dalam Memilih Persalinan di Rumah
Banyak ibu lebih memilih melahirkan di rumah, hal ini disebabkan oleh
beberapa faktor. Antara lain :
1. Umur
Karakteristik umur (beresiko tinggi dan beresiko rendah) memiliki
kecenderungan yang sama dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan. Umur
merupakan suatu variabel yang tidak bisa dimodifikasi, sesuatu yang harus diterima.
Pada kelompok umur berisiko tinggi memang dianjurkan untuk tidak hamil lagi,
namun demikian apabila sudah hamil maka sebaiknya disarankan untuk lebih
Sehingga apabila terjadi komplikasi kehamilan maupun persalinan dapat diketahui
lebih dini.
2. Pendidikan
Hubungan antara pendidikan dengan pola pikir, persepsi dan perilaku
masyarakat memang sangat signifikan, dalam arti bahwa semakin tinggi tingkat
pendidikan seseorang semakin rasional dalam pengambilan keputusan. Peningkatan
tingkat pendidikan akan mempengaruhi persepsi negatif terhadap nilai anak dan akan
menekan adanya keluarga besar.
Pendidikan yang ditempuh oleh seseorang merupakan salah satu faktor
demografi yang sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan individu maupun
masyarakat. (Kusmawati, 2006)
Tingkat pendidikan mempengaruhi kesadaran terhadap pentingnya kesehatan
sehingga mendorong seseorang untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan. Seseorang
dengan pendidikan tinggi akan lebih senang menggunakan pelayanan kesehatan
modern dari pada pelayanan tradisional, karena sudah mendapatkan informasi tentang
keuntungan dan kerugiannya. (Widiawati, 2008)
3. Biaya Persalinan
Biaya sering diartikan sebagai nilai suatu pengorbanan untuk memperoleh
suatu output tertentu. Pengorbanan itu dapat berupa uang, barang, tenaga, waktu
maupun kesempatan. Biaya persalinan sangat bervariasi, tergantung fasilitas yang
diinginkan. Selain fasilitas, jenis persalinan juga membedakan tarif layanan bersalin
tetapi bisa juga bertambah mahal jika disertai komplikasi yang butuh penanganan
lebih lanjut.
Penelitian Damsir (2005) tentang perilaku ibu bersalin yang berhubungan
dengan akses pencarian pelayanan kesehatan dikabupaten oku sumatra selatan
menyimpulkan bahwa pendapatan, biaya persalinan dan dukungan keluarga memiliki
hubungan yang signifikan dengan pencarian pelayanan kesehatan.
4. Pendapatan Keluarga
Keterbatasan dan ketidaktersediaan biaya menjadi salah satu kendala
masyarakat untuk memperoleh akses ke pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan
di fasilitas kesehatan.
Beberapa peneliti dalam Rini Susilowati (2001), menyatakan bahwa
pendapatan keluarga merupakan salah satu faktor determinan terhadap akses
pelayanan kesehatan. Kemampuan finansial keluarga mempengaruhi apakah keluarga
tersebut dapat membayar pelayanan kesehatan seperti membeli obat, membayar biaya
pelayanan, membayar biaya transportasi ke tempat pelayanan.
Menurut laporan Rikesdas persentase ibu melahirkan menurut tempat
persalinan berdasarkan status ekonomi, makin tinggi status ekonomi lebih memilih
tempat persalinan di fasilitas kesehatan, sebaliknya untuk persalinan di rumah makin
rendah status ekonomi, persentase persalinan di rumah makin besar.
5. Kepercayaan terhadap Bidan
Kepercayaan yaitu sikap untuk menerima suatu pernyataan atau pendirian,
merokok dapat menyebabkan kanker paru, maka dianggapnya hal itu benar, terlepas
dari apakah dia suka atau tidak suka merokok. Seringkali suatu kepercayaan tumbuh
dan berkembang dalam masyarakat dimana anggota-anggotanya mempunyai
kepentingan dan tujuan yang sama. Tidak jarang pula kepercayaan kelompok ini
(group belief) ditumbuhkan oleh pihak yang berwenang atau pemimpin masyarakat
yang disebar luaskan ke anggota masyarakat yang lain.
Pengalaman menunjukkan, lebih sulit untuk mengubah kepercayaan
kelompok dari pada kepercayaan individu, karena kepercayaan individu sifatnya lebih
subjektif dan relatif sedangkan kepercayaan kelompok memiliki intensitas yang lebih
kuat karena di dukung oleh individu-individu lain yang besar jumlahnya, apalagi jika
kepercayaan tersebut di dukung oleh tokoh-tokoh masyarakat. (Sarwono, 2012)
6. Akses Pelayanan
Keterjangkauan masyarakat termasuk jarak akan fasilitas kesehatan akan
memengaruhi pemilihan pelayanan kesehatan. Selain itu, jarak merupakan komponen
kedua yang memungkinkan seseorang untuk memanfaatkan pelayanan pengobatan.
Pada pemanfaatan pelayanan kesehatan salah satu pertimbangan yang menentukan
sikap individu memilih sumber perawatan adalah jarak tempat tinggal ke tempat
sumber perawatan. (Eryando, 2007)
Diketahui bahwa akses terhadap pelayanan kesehatan yaitu merupakan
keterjangkauan lokasi tempat pelayanan, jenis dan kualitas pelayanan yang tersedia.
kondisi di pelayanan kesehatan, seperti jenis pelayanan, tenaga kesehatan yang
tersedia dan jam praktek.
7. Rasa Takut terhadap Intervensi Medis
Pada model pengurangan rasa takut, agar pemberian informasi tentang suatu
tindakan pencegahan atau penyembuhan penyakit dapat dipahami dengan baik, maka
rasa takut si pasien perlu dikurangi dulu. Rasa takut tidak selamanya menimbulkan
reaksi penolakan atas tindakan yang dianjurkan. Kadang-kadang rasa takut itu justru
memacu individu untuk melakukan tindakan tersebut. Makin besar rasa takut itu,
makin kuat pula keinginan untuk melakukan tindakan yang dianjurkan.
Menurut Janis (1967) dalam Sarwono 2012 membuktikan bahwa jika
melampaui batas ambang tertentu, rasa takut itu justru akan menimbulkan reaksi
penolakan. Hubungan antara rasa takut dan penerimaan tindakan itu, menurur Janis,
membentuk seperti kurva. Bahwa sampai dengan tingkat tertentu dari rasa takut,
individu cenderung menerima tindakan yang dianjurkan. Tetapi jika rasa takut itu
sedikit sekali atau terlalu kuat, maka individu akan menolak anjuran tersebut.
Intervensi yang rutin atau tidak diperlukan dalam persalinan, dalam beberapa
tahun terakhir, telah semakin dikenal sebagai salah satu area yang menyebabkan
ketidakpuasan bagi banyak wanita. Intervensi meliputi intervensi medis, seperti
ruptura membran buatan, infus oksitosin intravena, persalinan dengan menggunakan
bantuan alat, episiotomi dan seksio sesaria. Kenyataannya, terkadang disadari bahwa
mendatangkan sedikit keuntungan, tidak efektif bahkan membahayakan. (Henderson,
2006)
8. Lingkungan Persalinan
Persalinan sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan tempat persalinan
berlangsung. Idealnya, setiap wanita yang bersalin dan tim yang mendukung serta
memfasilitasi usahanya untuk melahirkan bekerja sama dalam suatu lingkungan yang
paling nyaman dan aman bagi ibu yang melahirkan. Bagi banyak wanita, keluarga,
dan pemberi perawatan, tempat yang aman untuk melahirkan adalah di rumah.
Menurut World Health Organization (WHO) seorang wanita hamil berisiko
rendah harus melahirkan di tempat yang membuat wanita merasa aman. Tempat
tersebut terdapat di rumah, di sebuah klinik maternitas kecil, atau di rumah bersalin di
kota, atau mungkin di sebuah unit maternitas di rumah sakit yang lebih besar. Tempat
tersebut harus merupakan sebuah tempat dimana semua perhatian dan perawatan di
fokuskan pada kebutuhan dan keamanannya, sedekat mungkin dengan lingkungan
yang dikenalnya. (Varney, 2008)
Rumah merupakan lingkungan yang sudah dikenal wanita sehingga ia dapat
merasa nyaman dan rileks selama persalinan, tempat ia dapat mempertahankan
privasi dan dikelilingi oleh orang-orang yang diinginkannya, yang akan memberi
dukungan dan ketenangan pada dirinya.
9. Dukungan Suami/Keluarga
Dukungan sosial dan hubungan sosial yang baik akan memberikan
akan memberikan sumbangan penting bagi kesehatan. Dukungan sosial membantu
dalam pemenuhan sumber-sumber emosional dan praktis seseorang. Adanya
dukungan jaringan sosial dalam berkomunikasi dan hubungan saling menguntungkan
akan membuat seseorang merasa diperhatikan, dicintai, berharga dan bernilai.
Dukungan sosial memiliki efek perlindungan yang luar biasa terhadap kesehatan.
Hubungan yang saling mendukung kemungkinan akan memberikan dorongan bagi
terbentuknya pola-pola perilaku yang lebih sehat.
Dukungan keluarga mengacu pada dukunga sosial yang dipandang oleh
anggota keluarga. Dukungan keluarga (suami/istri) memandang bahwa orang yang
bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan.
Baik keluarga inti maupun keluarga besar berfungsi sebagai system pendukung bagi
anggota-anggotanya.
Dukungan sosial keluarga dapat berupa :
a. Dukungan sosial keluarga internal : seperti dukungan dari suami, istri dan
dukungan dari keluarga kandung.
b. Dukungan keluarga eksternal, yaitu dukungan keluarga eksternal bagi keluarga
inti (dalam jaringan kerja sosial keluarga). Baik keluarga inti maupun keluarga
besar berfungsi sebagai sistem pendukung bagi anggota-anggotanya.
10. Dukungan Penolong Persalinan
Keahlian bidan dalam mendukung dan memfasilitasi suatu pengalaman
persalinan yang positif adalah sangat penting. Salah satu pengaruh yang paling
oleh wanita. Dukungan yang membawa dampak positif adalah dukungan yang
bersifat fisik dan emosional.
Dukungan tersebut juga meliputi beberapa aspek perawatan seperti
menggosok punggung wanita atau memegang tangannya, mempertahankan kontak
mata, ditemani orang-orang yang ramah, dan diberi janji bahwa wanita yang berada
dalam persalinan tidak akan ditinggal sendirian.
Kemampuan memberi dukungan emosional untuk wanita dalam persalinan
merupakan sesuatu yang dikembangkan bidan. Pemberian dukungan emosional dapat
mencakup keterampilan komunikasi dan pemberian informasi. Pola asuh yang
ditawarkan selama kelahiran dapat memberi pengaruh positif pada ibu dan bidan.
Jenis dukungan yang diberikan oleh bidan dan tenaga lain pada saat persalinan
memiliki efek jangka panjang pada kehidupan wanita. Bidan memiliki wewenang
untuk meyakinkan bahwa wanita mempunyai dukungan yang adekuat dalam
lingkungan yang mendukung. (Henderson, 2006)
11. Paritas
Paritas adalah banyaknya kelahiran hidup yang dipunyai oleh seorang wanita
(BKKBN, 2006). Menurut Prawirohardjo (2009), paritas dapat dibedakan menjadi
primipara, multipara dan grandemultipara.
Primipara adalah wanita yang telah melahirkan seorang anak, yang cukup
besar untuk hidup di dunia luar (Varney, 2006). Multipara adalah wanita yang telah
adalah wanita yang telah melahirkan 5 orang anak atau lebih dan biasanya mengalami
penyulit dalam kehamilan dan persalinan (Manuaba, 2008).
Indikasi dilakukannya persalinan di rumah adalah multipara, Umumnya ibu
yang baru pertama kali bersalin dianjurkan bersalin di rumah sakit atau di klinik
bersalin. Jika pada waktu melahirkan bayi pertama itu tidak mengalami kesulitan,
melahirkan bayi berikutnya di rumah sendiri dapat diizinkan.
12. Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil ‘tahu’, dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindera
manusia, yakni : indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba.
Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk
terbentuknya tindakan seseorang (overt behaviour).
Karena dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasarkan
oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh
pengetahuan. Peneltian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang
mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), dalam diri orang tersebut terjadi proses
yang berurutan yaitu, Awarenes (Kesadaran), interest (merasa tertarik), evaluation
(menimbang-nimbang), trial (mencoba sesuatu), adoption (berperilaku).
Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa
Pengetahua yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan
yaitu :
a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali
(recal) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau
rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, ‘tahu’ ini merupakan tingkatan
pengetahuan yang paling rendah.
b.Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasi materi tersebut secara
benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,
menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek
yang dipelajari.
c. Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
di pelajari pada situasi dan kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan
sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan
sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat menggunakan rumus
statistik dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitian, dapat menggunakan
prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah (problem solving cyclel) di dalam pemecahan