DAFTAR PUSTAKA
Anastasi, A. &Urbina, S. (1997). Psychological Testing (7th edition). New Jersey:
Prentice-Hall
Attamimi, N. (1984). Informasi Tes :Tes Kraepelin. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM
Azwar, S. (2010).Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Azwar, S. (2012).Penyusunan Skala Psikologi (Edisi II). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Azwar, S. (2013).Dasar-Dasar Psikometri.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Cudeck, R. (2000). Exploratory Factor Analysis dalam Tinsley. H.E. & Brown, S.D,Handbook of Applied Multivariate Statistics and Matheatical
Modelling, hal. 265-96. San Diego : Academic Press
Coaley, K. (2010).An Introduction to Psychological Assessment and
Psychometrics.London: Sage Publication Ltd.
Ellington, A.J.(2003). A Meta-Analysis of the Effects of Calculators on Students’
Achievement and Attitude Levels in Precollege Mathematics Classes.Journal for Research in Mathematics Education, 34 (5), 433-463
Fitriani, W. (2012) Bias Budaya dalam Tes Psikologi.Ditinjau dari Aspek Testee
dan Alternatif Solusinya.Ta’dib, Vol 15 (2)
Indrawati. S. W. (Tanpa Tahun). Tes Psikologi (Tes Kraepelin). [Online]. http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/195010101980022-SITI_WURYAN_INDRAWATI/TES_KRAEPELIN.pdf. Diakses pada tanggal 11 Oktober 2015.
Japar, M. 2013. Pemahaman Individu : Teknik Tes ( Sebagai Pijakan Layanan
Bimbingan Konseling). Magelang : UPT Perpustakaan Universitas
Muhammadiyah Magelang
Kano, Y. &Azuma, Y.(2003).Use of SEM Programs to Precisely Measure Scale
Reliability. New Development in Psychometrics, SpringerVerlag,141-148
Kaplan, R. M. & Saccuzzo D. P. (2005).Psychological Testing: Principles,
Applications, and Issues (Sixth Edition). Belmont: Thomson Wadsworth.
Marnat, G.G. (2003). Handbook of Psychological Assessment (Fourth
edition).John Wiley & Sons, Inc.
Matsumoto, D. & Juang, L. (2008).Culture&Psychology (4th Edition). Thomson
Wadsworth
McCauliff, E. ( 2004). The Calculator in the Elementary Classroom : Making a
Useful Tool out of an Ineffective Crutch. Journal of Graduate Studies of Vilanova University, 27, 1-13
Osterlind, S. J. (2010). Modern Measurement: Theory, Principles, and
Applications of Mental Appraisal (Second Edition). United States of
America:Pearson Education, Inc.
Padilla J. &Benitez,I.(2014).ValidityEvidence Based on Response Process.
Psicothema, 26 (1) , 136-144
Suhr, Diana D. (2005). Principal Component Analysis vs. Exploratory Factor
Analysis.Sugi 30. Paper 203-30
Sukadji, S. (1993).Kecepatan Kerja dan Ketelitian Kerja yang Diukur Menggunakan Tes Kraepelin dan Hubungannya Dengan Berhintung dan Minat Hitung-Menghitung pada Siswa Kelas 1 SLTA.Jurnal Psikologi, XX (1)
Trninić, V, dkk. (2013). Appropriateness and Limitations of Factor Analysis
Methods Utilised in Psychology and Kinesiology - Part 2. Physical Culture, 67(1): 5-17
Wijanto, S. H. (2008). Structural equation modeling dengan lisrel
8.8.Yogyakarta: Graha Ilmu
Wolf, dkk. (2013). Sample Size Requirements for Structural Equation Models: An
Evaluation of Power, Bias and Solution Propriety. Educ Psychol Meas,
BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian kuantitatif deskriptif.Azwar(2010) menyatakan bahwa penelitian kuantitatif menekankanpada data angka dengan jumlah sampel besar yang kemudian diolah dengan metode statistika.Analisis karakteristik psikometris tes Kraepelin menggunakan data dari respon subjek setelah mengikuti tes.Sebagai tes bakat, penilaian tes Kraepelin menggunakan pendekatan kuantitatif sehingga data yang diperoleh dalam bentuk angka.Selain itu, penelitian deskriptif menurutAzwar adalah penelitian yang menggambarkan secara akurat fakta dan karakterisitik suatu populasi atau bidang tertentu. Fakta-fakta yang ada dianalisis dan disajikan dalam bentuk yang lebih sistematik sehingga mudah dimengerti dan dibuat kesimpulan.Penelitian ini tegolong penelitian deskriptif karena mendeskripsikan kualitas tes Kraepelin sebagai tes bakat dalam mengukur kecepatan, ketelitian, keajegan, dan ketahanan kerja.
B. Data Penelitian
semakin baik validitas dan reliabilitasnya. Oleh karena itu, jumlah data yang dianalisis pada penelitian iniadalah 518 data.
C. Prosedur Pelaksanaan Penelitian 1. Mengkaji Literatur
Hal pertama yang dilakukan peneliti adalah mengkaji literatur-literatur yang ada mengenai topik yang akan diteliti yaitu mengenai Tes Kraepelin. Peneliti juga mencari literatur yang menjelaskan mengenai pengujian karakteristik psikometris pada tes Kraepelin yang sudah pernah dilakukan sebelumnya. Selanjutnya, peneliti mengkaji literatur-literatur yang membahas mengenai berbagai cara pengujian karakteristik psikometri yang berupa validitas dan reliabilitasnya.
2. Membuat Proposal Penelitian
Setelah peneliti menemukan materi yang dibutuhkan, peneliti membuat proposal penelitian yang berisikan rancangan penelitian yang akan dilakukan. Proposal ini terdiri dari 3 bab, yaitu pendahuluan, tinjauan pustaka dan metode penelitian.
3. Mengurus Izin Penelitian
4. Menganalisis data
Setelah memperoleh semua data tes Kraepelin yang dibutuhkan, analisis data akan mulai dilakukan. Data yang diperoleh disusun secara sistematis dalam tabel dengansoftware Microsoft Excel 2010. Analisis validitas dan reliabilitas kemudian dilakukan dengan menggunakan program LISREL 8.8for Windows.
D. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi untuk memperoleh data sekunder.Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak kedua, biasanya dari pihak berwenang (Wijanto, 2008). Pada penelitian ini, data akan diperoleh dari unit P3M Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara, biro psikologi Humanika Consulting dan PT. Inti Indosawit Subur.
E. Analisis Data 1. Anilisis Validitas
Penelitian ini akan menguji validitias tes Kraepelin berdasarkan bukti struktur internal dengan analisis faktor konfirmatori atau yang biasa disebut CFA (Confirmatory Factor Analysis). Metode yang digunakan untuk melihat apakah skor yang diperoleh dari tes Kraepelin memangmasih mengukur keempat faktor dari tes ini adalah Structural Equation Model (SEM). SEM adalah metode
multivariate untuk menganalisa dimensi laten dari data psikologis yang dapat
tetapi saling berhubungan satu sama lain. Metode SEM juga dapat menunjukkan konsep yang tidak tampak melalui variabel laten dan hanya bisa diperkirakan melalui variabel tampak (Wijanto, 2008).
Adapun tahapan penggunaan SEM untuk melakukan CFA menurut Wijanto (2008) adalah sebagai berikut
a. Spesifikasi model
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menspesifikasikan model penelitian yang akan dianalisis. Spesifikasi dilakukan dengan menentukan variabel laten dan variabel tampak yang ada dalam penelitian serta hubungan antar variabel. Selanjutnya, hubungan antara variabel laten dan variabel tampak digambarkan dalam path diagram (Wijanto, 2008).
b. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan melalui data sekunder, data yang diperoleh dari
database yang telah ada, sesuai dengan spesifikasi model yang telah ditentukan.
c. Pembuatan program SIMPLIS dan menjalankannya
Berdasarkan spesifikasi model dan data yang telah ada, program SIMPLIS dibuat dan dijalankan dengan program LISREL 8.8.
d. Analisis keluaran program SIMPLIS
Analisis terhadap hasil keluaran program SIMPLIS yang telah dijalankan terdiri dari :
1) Memeriksa adanya offending estimate, seperti negative error variance dan
standardized loading factor yang nilainya lebih besar dari 1, serta nilai
2) Menganalisis validitas model pengukuran dengan memeriksa nilai t dari
standardized loadingfactor dari setiap faktor harus ≥ 1,96 dan standardized
loading factor (λ) harus ≥ 0,70.
3) Menguji Goodness Of Fit (GOF) atau kecocokan keseluruhan model pengukuran dengan memeriksa nilai-nilai yang tertera dalam Tabel 1.
Tabel 1. Perbandingan Ukuran-ukuran GOF
Ukuran GOF Tingkat Kecocokan yang Bisa Diterima
Goodness-of-FitIndex
(GFI)
Nilai berkisar antara 0-1, dengan nilai lebih tinggi adalah lebih baik.
GFI ≥ 0.90 adalah good-fit, sedangkan
freedom yang diharapkan terjadi dalam
populasi dan bukan dalam sampel.
RMSEA≤0.08 adalah good fit,
sedangkan RMSEA < 0.05 adalah close
fit. Tucker-Lewis Index atau
Non-Normed Fit Index
(TLI atau NNFI)
Nilai berkisar antara 0-1, dengan nilai lebih tinggi adalah lebih baik.
TLI ≥ 0.90 adalah good-fit, sedangkan 0.80 ≤ TLI < 0.90 adalah marginal fit. Normed Fit Index (NFI) Nilai berkisar antara 0-1, dengan nilai
lebih tinggi adalah lebih baik.
NFI ≥ 0.90 adalah good-fit, sedangkan
4) Menganalisis reliabilitas model pengukuran dengan melihat nilai construct
reliability (CR) dan variance extracted (VE) dari nilai-nilai standardized
2. Analisis Reliabilitas
Analisis reliabilitas melalui SEM menggunakan ukuran reliabilitas komposit dan ukuran ekstrak varian. Reliabilitas komposit suatu konstruk dihitung sebagai:
...(9)
Keterangan:
Std.loading = standardized loadings
= kesalahan pengukuran
Ukuran ekstrak varian (variance extracted) dapat dihitung dengan formula:
...(10)
atau
...(11)
Keterangan:
Std.loading = standardized loadings
= kesalahan pengukuran
N = jumlah variabel tampak
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini berjumlah 518 orang. Subjek penelitian diambil dari populasi peserta tes Kraepelin yang berusia antara 15 hingga 44 tahun, dan tidak dibatasi oleh jenis kelamin, agama, suku, tingkat pendidikan ataupun usia subjek. Peneliti memperoleh data penelitian dengan metode data sekunder dari pihak lain yang berwenang. Sebagian besar data yang diperoleh peneliti tidak memiliki data demografis subjek yang lengkap. Hal ini menyebabkan informasi mengenai subjek penelitian yang dapat diberikan hanya berupa jenis kelamin.
1. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin
Subjek penelitian terdiri dari 385 orang pria dan 133 orang wanita. Data jenis kelamin dari subjek penelitian disajikan pada tabel 2.
Tabel 2. Distribusi Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah Persentase
Pria 385 74,32%
Wanita 133 25,68%
2. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Kecepatan Kerja, Ketelitian Kerja, Keajegan Kerja dan Ketahanan Kerja
a. Deskripsi Subjek Berdasarkan Kecepatan Kerja, Ketelitian Kerja, Keajegan Kerja danKetahanan Kerja
Nilai kecepatan kerja dari subjek penelitian berada di antara 6,75 sampai dengan 43,3 dengan rata-rata 22,97 dan standar deviasi sebesar 6,8. Nilai ketelitian kerja yang paling sedikit adalah 0 sedangkan nilai terbanyak adalah 67. Rata-rata nilai ketelitian kerja subjek penelitian adalah 3,88 dengan standar deviasi 7,4.
Keajegan kerja subjek yang dicapai subjek berada dalam rentang 4 sampai 45,dengan rata-rata 13,16 dan standar deviasi 5,22. Nilai ketahanan kerja dari seluruh subjek penelitian berada di antara -13,96 sampai 15,89. Rata-ratanilai ketahanan kerja subjek penelitian sebesar 0,89 dan standar deviasi 3,19. Statistik deskriptif keempat faktor yang diperoleh dari 518 subjek disajikan dalam tabel 3.
Tabel 3. Statistik Deskriptif Nilai Kecepatan Kerja,Ketelitian Kerja, Keajegan Kerja dan Ketahanan Kerja
b. Kategorisasi Subjek Berdasarkan Kecepatan Kerja, Ketelitian Kerja, Keajegan Kerja dan Ketahanan Kerja
tidak normal. Kategorisasi subjek dilakukan berdasarkan signifikansi perbedaan data.Setiap faktor yang diukur tes Kraepelin terdiri dari tiga kategori nilai, yaitu kategori rendah, sedang dan tinggi. Nilai yang tergolong kategori tengah ditentukan berdasarkan rumus:
µ - t(α/2, n-1)(SD/ ) ≤ X ≤ µ + t(α/2, n-1)(SD/ )
Tabel 4. Kategorisasi Subjek Berdasarkan Nilai Kecepatan Kerja,Ketelitian Kerja Kesalahan, Keajegan Kerja dan Ketahanan Kerja
Faktor Rentang Nilai Kategori Jumlah / Persentase
Kecepatan Kerja
1. Analisis Bukti Validitas Berdasarkan Struktur Internal
Validitas tes Kraepelin berdasarkan bukti struktur internal dianalisis dengan menggunakan analisis faktor konfirmatori atau yang biasa disebut CFA. Peneliti melakukan analisis CFA dengan menggunakan program LISREL 8.8 for
Windows student edition. Dalam melakukan analisis ini, peneliti terlebih dahulu
melakukan uji kecocokan model, dan kemudian mengevaluasi nilai t serta muatan faktor pada setiap faktor yang diukur tes Kraepelin.
a. Uji Kecocokan Model
Uji kecocokan model dilakukan dengan memeriksa apakah nilai GOF model yang diajukan memperoleh nilai yang baik. Nilai GOF model didapatkan dari analisis program LISREL 8.8 setelah peneliti melakukanbeberapa modifikasi bedasarkan saran dari program. Hasil nilai GOF model dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Nilai GOF Tes Kraepelin
Keterangan: GF = Good-Fit; CF = Close Fit
Uji kecocokan model tes Kraepelin dilakukan dengan memeriksa lima nilai GOF, yaitu GFI, RMSEA, NNFI, NFI, dan AGFI. Nilai-nilai GOF tersebut dapat dijelaskan dengan kategoriClose Fit (untuk ukuran RMSEA) yang artinya memiliki tingkat kecocokan sangat tinggi, Good-Fityang artinya mempunyai tingkat kecocokan model tinggi, atau kategori Marginal Fityang artinya mempunyai tingkat kecocokan model yang sedang. Berdasarkan nilai GOF model pada tabel 5, ukuran GFI, NNF, NFI, dan AGFI menunjukkan hasil good-fit, dan ukuran RMSEA menunjukkan hasil closefit. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa model pengukuran teoritis tes Kraepelin yang diajukan penelitimemang sesuai dan didukung oleh data empirik.
b. Analisis Nilai t dan Nilai Muatan Faktor pada Setiap Faktor Tes Kraepelin
Model pengukuran tes Kraepelin memiliki tingkat kecocokan yang cukup baik, sehingga peneliti dapat menggunakannya untuk menganalisa nilai t dan nilai muatan faktor guna memeriksa validitas model pengukuran. Nilai t dan nilai muatan faktor yang diperoleh setiap faktor tes Kraepelin diberikan pada tabel 6.
Tabel 6. Nilai t dan Nilai Muatan Faktor pada Setiap Faktor Tes Kraepelin Faktor Nilai t Nilai Muatan Faktor (λ) Keterangan
Kecepatan Kerja 32,80 1,00 Valid
Ketelitian Kerja -3,42 -0,21 Tidak Valid
Keajegan Kerja 2,96 0,15 Tidak Valid
Ketahanan Kerja -6,38 -0,24 Tidak Valid
mengungkapkan faktor laten bakat, yaitu kecepatan kerja. Faktor-faktor lainnya seperti ketelitian kerja, keajegan kerja dan ketahanan kerja tidak terbukti valid digunakan untuk mengukur bakat peserta tes.
2. Analisis Reliabilitas
Analisis reliabilitas tes Kraepelin pada penelitian ini dilakukan dengan menghitung nilai Construct Reliability (CR) dan Variance Extracted (VE). Perhitungan analisis reliabilitas tes Kraepelin menghasilkan niai CR sebesar 0,47 dan nilai VE sebesar 0,28.
C. Pembahasan
Tes Kraepelin adalah tes bakat yang masih banyak digunakan dalam dunia psikologi, khususnya dalam seleksi karyawan, tes masuk sekolah dan konseling kejuruan. Sebagai tes bakat, terdapat empat faktor yang diukur yaitu kecepatan kerja, ketelitian kerja, keajegan kerja dan ketahanan kerja. Hasil pengukuran keempat faktor ini menggambarkan bakat atau potensi seseorang yang akan muncul saat berada di bawah situasi menekan. Hasil tes Kraepelin haruslah tepat dan konsisten dalam mengukur semua faktor tersebut agar dapat menggambarkan potensi seseorang dan menjadi dasar dalam pengambilan keputusan yang tepat.
dapat lagi digunakan untuk mengungkapkan potensi seseorangdengan tepat atau sudah tidak valid. Jika dibandingkan dengan hasil uji validitas tes Kraepelin yang terakhir dilakukan pada tahun 1967, keempat faktor tersebut sebelumnya telah terbukti tepat digunakan untuk mengukur bakat. Akan tetapi, pada saat ini hanya terdapat satu faktor kecepatan kerja yang masih terbukti berkualitas baik untuk menggambarkan potensi seseorang dalam situasi penuh tekanan.
Perubahan karakteristik psikometri hasil tes Kraepelin sangat wajar terjadi ketika pengujian dilakukan sekitar 50 tahun setelah pengujian sebelumnya. Perubahan ini dapatterjadidikarenakan waktu merupakan salah satu faktor yang dikemukakan Coaley (2010) dapat mempengaruhi validitas alat tes. Seiring berjalannya waktu, terjadi perubahan eksternal seperti perkembangan teknologi kalkulator yang turut mempengaruhi kualitas tes Kraepelin. Perkembangan penggunaan kalkulator saat ini menyebabkan penurunan kemampuan dasar berhitung(McCauliff, 2004) dan peningkatansikap positif terhadap matematika (Ellington, 2003). Sebagai tes yang mengukur kemampuan primer number, validitas tes Kraepelin juga berubah ketika kemampuan berhitung serta sikap individu terhadap matematika telah berubah. Osterlind (2010) juga menyatakan bahwa perubahan interpretasi validitas tes sangatlah rentan terjadi sehingga hasil uji validitas penelitian ini harus terus dipantau dan diperbaharui.
Semakin tinggi nilai kecepatan kerja yang diperoleh subjek, makasemakin tinggi tempo kerja. Nilai inimenunjukkan subjek yang memiliki potensibaik di bawah tekanan pekerjaan.Faktor ketelitian kerja memiliki nilai muatan faktor negatif yang berarti memiliki hubungan negatif atau berlawanan dengan faktor laten bakat. Jika nilai ketelitian kerja semakin tinggi, maka potensi peserta tes semakin rendah untuk bekerja di bawah tekanan. Arah hubungan faktor kecepatan kerja yang positif dan faktor ketelitian kerja yang negatif masih sesuai dengan arah hubungan faktor-faktor tes Kraepelin yang seharusnya.
Perubahan arah hubungan faktor dalam tes Kraepelin untuk menjelaskan bakat terjadi pada faktor keajegan kerja dan ketahanan kerja. Faktor keajegan kerja seharusnya memiliki hubungan negatif dengan bakat seseorang. Subjek dengan nilai keajegan kerja tinggi seharusnya menunjukkan kestabilan emosi rendah dan berpotensi rendah dalam situasi menekan. Akan tetapi, hasil penelitian ini menunjukkan hubungan positif antara faktor kestabilan kerja dan faktor laten bakat. Dengan kata lain, nilai faktor keajegan kerja yang semakin besar saat ini menggambarkan potensi seseorang yang semakin baik dalam situasi menekan.
Berdasarkan hasil analisis reliabilitas, reliabilitas konstruk tes Kraepelin adalah 0,47 dan variance extracted yang diperoleh adalah 0,28. Wijanto (2008) menyatakan sebuah alat tes dapat dikatakan reliabel apabila nilai reliabilitas
konstruk ≥ 0,70 dan nilai variance extracted ≥ 0,50. Nilai ini menunjukkan tes
Kraepelin tidak dapat dipercaya lagi untuk mengukur kecepatan, ketelitian, keajegan dan ketahanan kerja guna menggambarkan bakat peserta tes saat ini.
Reliabilitas sebuah tes sangat bergantung pada waktu penggunaan tes (Osterlind, 2010). Dengan waktu penggunaan yang berjarak sejauh 50 tahun, maka perubahan reliabilitas tes Kraepelin akan terjadi. Pengujian reliabilitas yang dilakukan pada tahun 1967 lalu menunjukkan nilai reliabilitas rata-rata di atas 0,8. Menurut Coaley (2010), tes bakat dapat dikatakan reliabel jika memiliki nilai reliabilitas minimal 0,8. Ketika tes digunakan untuk seleksi karyawan dengan membandingkan nilai karyawan satu sama lain, tes dapat dikatakan reliabel apabila memiliki nilai reliabilitas minimal 0,85. Dengan kata lain, tes Kraepelin memiliki reliabilitas yang sangat baik sekitar 50 tahun yang lalu namun tidak reliabel lagi saat ini.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berasal dari hasil tes yang diadministrasikan dan diskoring oleh masing-masing
tester dari unit P3M Fakultas Psikologi USU, biro psikologi Humanika
Counseling dan PT. Inti Indosawit Subur. Penyekoran hasil tes Kraepelin
mempengaruhi hasil penelitian ini.Dengan kata lain, kurangnya kontrol peneliti terhadap administrasi tes turut mempengaruhi hasil pengujian validitas dan reliabilitas dari tes Kraepelin.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian karakteristik psikometris tes Kraepelin, disimpulkan bahwa hasil pengukuran tes ini tidak tepat dan tidak dapat dipercaya untuk menggambarkan bakat melalui faktor kecepatan kerja, ketelitian kerja, keajegan kerja dan ketahanan kerja.
B. SARAN 1. Saran Praktis
a. Penggunaan tes Kraepelin sebagai dasar pengambilan keputusan dalam menggambarkan bakat seseorang berdasarkan faktor kecepatan kerja, ketelitian kerja, keajegan kerja dan ketahanan kerja sebaiknya dipertimbangkan kembali.
2. Saran Metodologis
a. Peneliti selanjutnya sebaiknya mengontrol keseluruhan proses adminitrasi tes dan penyekoran hasil tes untuk memastikan tes Kraepelin telah diadministrasikan dan diskoring dengan cara yang sama.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tes Kraepelin
1. Sejarah Perkembangan Tes Kraepelin
Emil Kraepelin adalah seorang psikiater asal Jerman yang hidup antara tahun 1856-1926.Pada awal kariernya, ia pernah mengikuti Wilhelm Wundt sebagai muridnya(Kuncoro&Nuryati Atamimi, 1984; Japar, 2013).Kraepelin menciptakan sebuah tes yang bertujuan untuk membedakan antara orang yang normal dengan abnormal. Tes ini awalnya diberi nama Simple Arithmetic Test yang kemudian dikenal dengan tes Kraepelin (Mangunsong, dkk. , 1993).
Kraepelin memiliki pemikiran bahwa terdapat perbedaan pada proses sensori sederhana, sensori motor, perceptual dan tingkah laku(Japar, 2013). Tes ini awalnya diciptakan sebagai tes kepribadian untuk mengukur faktor dasar dari karakteristik individu seperti memori, efek latihan, kerentanan terhadap kelelahan dan distraksi (Anastasi&Urbina, 1997).Dengan mengubah fokus pada penilaian dan intepretasi hasil tes, tes ini sekarang telah berkembang menjadi tes bakat (Mangunsong, dkk. , 1993).
tahun 1980 juga telah melakukan pembakuan norma tes ini untuk siswa-siswa lulusan SMEA dan STM di Yogyakarta dan pada tahun 1981 untuk siswa lulusan SMA jurusan IPA dan IPS di Yogyakarta (Attamimi, 1984).
2. Penelitian Terdahulu Tes Kraepelin
Sutarlinah Sukadji pada tahun 1993 melakukan penelitian tentang Tes Kraepelin karena menduga adanya bias pada tes ini. Tes ini diduga bias karena menggunakan kemampuan berhitung untuk mengukur kecepatan dan ketelitian kerja. Penelitian dilakukan dengan subjek 641 siswa SMA, STM, SMEA Yayasan Pendidikan Menengah di Tebet Jakarta Selatan.Hasil yang diperoleh yaitu ada hubungan positif dan signifikan antara kemampuan berhitung dengan kecepatan dan ketelitian kerja yang diukur dengan tes Kraepelin. Selain itu, ia juga menemukan bahwa kemampuan berhitung yang mengandung unsur penalaran lebih berpengaruh pada kecepatan kerja, sedangkan skor berhitung yang berunsur kemampuan verbal lebih berperan dalam ketelitian (Sukadji, 1993).
B. Karakteristik Psikometri 1. Validitas
a. Definisi
diungkapkan Garrett menjadi asumsi yang salah karena mengabaikan konsep psikologis yang terdapat di dalamnya.Cureton pada tahun 1950 mendefinisikan valditas sebagai hubungan korelasional antara skor yang diamanati dan skor murni.Konsep ini kemudian juga tidak digunakan lagi karena lebih sesuai dengan definisi reliabilitas yang digunakan sekarang (Osterlind, 2010).
Konsep validitas telah berubah dari berorientasi pada tesnya menjadi orientasi skor hasil pengukurannya.Landy mengungkapkan validitas mengungkapkan kebenaran dari hasil tes.Hasil tes sangat bergantung pada tujuan penggunaan tes. Vernon menyatakan bahwa sebuah tes tidak dapat dikatakan valid atau tidak jika tidak dihubungkan dengan tujuan penggunaan tes(Coaley,2010).
Messick (1989)mengungkapkan validitas adalah penilaian evaluasi yang terintegrasi mengenai derajat bukti empiris dan teoritis mendukung kesesuaian inferensial berdasarkan skor tes yang diperoleh. Penilaian yang dilakukan harus berdasarkan bukti-bukti empiris dan berbasiskan teori. Objek yang dinilai menurut Messick adalah skor sebuah test atau output dari sebuah tes (Osterlind, 2010).
Validitas adalah prinsip dasar dalam pengukuran ilmu psikologi.Validitas dapat didefinisikan sebagai kesesuaian antara skor sebuah tes dengan kualitas yang dipercaya dapat diukur oleh tes tersebut.Untuk mengetahui sesuai atau tidaknya skor yang telah diperoleh, maka harus dilakukan pengujian sistematis untuk menyimpulkan apakah hasil tes tersebut didukung oleh bukti-bukti yang ada (Kaplan&Saccuzzo, 2005).
Terdapat beberapa sumber bukti validitas yang dapat digunakan untuk mendukung hasil dari sebuah tes agar dapat dikatakan valid.Perbedaan jenis bukti validitas ini tidak berarti menggambarkan bentuk validitas yang berbeda-beda.Pengkategorian bukti validitas ini hanya untuk mempermudah para ahli untuk melakukan pembedaan (Kaplan&Saccuzzo, 2005).
1) Bukti validitas berdasarkan isi tes
Bukti validitas dapat diperoleh dengan melihat konstruk pengukuran sebuah atribut tertentu.Tes yang dikatakan baik apabila konstruk tes tersebut sesuai dengan blueprint yang direncanakan pembuat tes. Mengacu pada blueprint, akan diketahui tujuan awal perancangan tes tersebut sehingga dapat membantu proses evaluasi validitas. Azwar (2013) mengemukakan tujuan dari evaluasi validasi ini adalah untuk melihat sejauhmana aitem dalam sebuah tes mewakili keseluruhan aspek yang ingin diukur (aspek representasi) dan sejauh mana aitem tersebut dapat menggambarkan perilaku yang ingin diukur (aspek relevansi).Untuk menganalisa validitas ini dapat dilakukan melalui penilaian ahli untuk melihat relevansi isi tes, atau dengan metode statistic yaitu analisis faktor(Kaplan&Saccuzzo, 2005).
2) Bukti validitas berdasarkan proses respon
respon ini sering digunakan dalam perkembangan sebuah tes dan dalam evaluasi karakteristik psikometri sebuah tes (Padilla&Benitez, 2014).
Bukti validitas berdasarkan proses respon diperoleh dengan mengevaluasi proses mental atau kognitif yang digunakan peserta tes untuk menghasilkan sebuah respon. Proses respon perlu dibuktikan khususnya untuk tes yang melibatkan analisa penalaran berhitung(Osterlind, 2010).Terdapat beberapacara untuk mendapatkan bukti validitas berdasarkan bukti respon. Padilla&Benitez (2014) membagi cara-cara tersebut dalam dua kategori. Kategori pertama adalah metode yang langsung meneliti proses psikologis atau operasi kognitif seseorang seperti thinking aloud, focus group dan wawancara. Kategori selanjutnya adalah dengan melalui indikator tidak langsung yang masih membutuhkan intepretasi tambahan seperti waktu respons dan gerakan mata. Osterlind (2010) juga mengemukakan beberapa cara yang dapat digunakan untuk menganalisa proses respon secara statistik yaitu analisa variabel laten, structural equation modeling (SEM), hierarchicallinear modeling (HLM), conjectural analysis, path analysis dan meta-analisis.
3) Bukti validitas berdasarkan struktur internal
a) Common FactorModel
Model faktor umum ini sejalan dengan teori faktor tunggal yang diungkapkan oleh Charles Spearman. Asumsi dasar dari model ini yaitu setiap faktor mempunyai suatu kesamaan yang juga diukur oleh faktor lain yang disebut
commonality, dan juga mempunyai keunikan yang dimiliki setiap faktor
berbeda-beda(Osterlind, 2010). Hasil tes dari peserta tes pada dasarnya tidak hanya mengandung pengetahuan si peserta terhadap konstruk yang diukur tetapi juga derajat seberapa tinggi suatu fakor mengukur konstruk tes tersebut. Dengan kata lain, model ini akan mencari seberapa kuat faktor-faktor dalam tes berhubungan dengan konstruk dari tes (Coaley, 2010).
yang rendah terhadap faktor-faktor lain, maka tes tersebut dapat dikatakan
factorally pure. Semakin mendekati kriteria factorally pure, maka semakin valid
sebuah alat tes.
Metode analisis faktor berdasarkan tujuannya terbagi atas dua metode yaitu Exploratory Factor Analysis (EFA) dan Confirmatory Factor
Analysis(CFA). Tinsley& Brown (dalam Cudeck, 2000 ) menyatakan penggunaan
metode EFA bertujuan untuk megetahui jumlah dari faktor laten yang mendasari sebuah variabel dan seberapa besar pengaruhi setiap faktor terhadap variabel tersebut. Metode CFA digunakan untuk memastikan hubungan variabel laten dengan variabel tampak bersifat reflektif. Dengan kata lain, variabel-variabel tampak memang merupakan pengukuran dari variabel laten (Wijanto, 2008). Metode statistik yang dapat digunakan untuk melakukan CFA adalah
Hierarchical Linear Modelling (HLM) dan Structural Equation Model (Osterlind,
2010).
ketika akan menggunakan metode analisis faktor (Trninić, dkk., 2013; Wolf, dkk., 2013).
b) Multitrait-Multimatrix Method (MTMM)
MMTM adalah prosedur yang dapat digunakan untuk menganalisis hubungan dan pola antar data dari sebuah tes (Osterlind, 2010). Asumsi dasar dari metode ini adalah mencari persamaan dan perbedaan antara data dari alat tes yang diuji dengan data dari alat tes lain, baik yang mengukur atribut yang sama ataupun berbeda. Apabila hasil dari sebuah tes menghasilkan intepretasi konvergen dengan hasil dari tes lain yang mengukur atribut sejenis, dan menghasilkan intepretasi divergen dengan hasil dari tes lain yang mengukur atribut berbeda, maka tes tersebut dapat dikatakan valid. Melalui MMTM, validitas kovergen dan diskriminan juga dapat diestimasi melalui matriks korelasi antara skor tes yang diuji dengan skor tes lainnya (Azwar, 2013).
4) Bukti validitas berdasarkan hubungan dengan variabel lain
dengan mengkorelasikan hasil tes dengan kriteria validitas yang telah ditentukan dengan berbagai pertimbangan (Kaplan&Saccuzzo, 2005).
5) Bukti validitas berdasarkan pertimbangan eksternal
Bukti-bukti validitas dapat juga diperoleh dengan melihat faktor-faktor eksternal seperti tampilan alat tes – face validity, kemampuan hasil tes digeneralisasikan ke situasi baru – validity generalization, dan konsekuensi sosial dari penggunaan sebuah tes – consequential validity evidence(Osterlind, 2010).
Pemerolehan bukti validitas yang mendukung sebuah tes merupakan proses yang terus berlanjut. Semakin sering sebuah tes digunakan, maka semakin banyak yang harus dipelajari mengenai tes tersebut.Dunnette & Borman menyatakan bahwa pengguna tes tidak pernah boleh merasa puas dan yakin dirinya telah cukup tahu mengenai metode pengukuran yang mereka pilih (Kaplan&Saccuzzo, 2005).
c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Validitas
faktor eksternal seperti perkembangan teknologi, perpaduan budaya, perubahan bahasa dan lain sebagainya. Intepretasi validitas sangatlah rentan berubah sehingga pengujian validitas harus terus dipantau dan diperbaharui (Osterlind, 2010).
Coaley (2010) juga menambahkan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pengukuran validitas, yaitu :
1) Batasan jangkauan data
Jangkauan data yang terbatas dapat dikarenakan peserta tes yang mempunyai skor yang mirip sehingga variasi datanya rendah. Seperti yang diungkapkan Azwar (2013) bahwa kelompok dengan variasi data yang lebih besar akan menghasilkan skor dengan koefisien valitas yang lebih tinggi. Batasan jangkauan data juga dapat terjadi ketika sebuah kelompok lebih homogen dalam karakteristik usia, jenis kelamin, kepribadian. Variabel-variabel ini dapat menjadi variabel moderator yang mempersempit jangkauan data.
2) Hilangnya sampel
Hilangnya sampel di tengah penelitian meningkatkan terjadinya peneyempitan jangkauan data.Untuk mengatasi sebagian sampel yang hilang, dapat digunakan formula matematis statistik yang telah dikoreksi atau program tertentu yang menghitung koefisien validitas.Koefisien validitas kemudian dapat diperkirakan seakan tidak terjadi kehilangan sampel.
3) Ukuran sampel
kemungkinan terjadinya kesalahan pengukuran. Begitu juga sebaliknya, dengan sampel yang lebih banyak maka error juga semakin kecil. Azwar (2013) menyatakan bahwa tes dengan tingkat kesalahan pengukuran yang lebih rendah akan mempunyai validitas yang lebih tinggi.
4) Atenuasi
Efek atenuasi adalah menurunnya nilai sebuah statistik karena hilangnya asosiasi murni antar konstruk pengukuran (Osterlind, 2010). Dengan kata lain, menurunnya nilai validitas dikarenakan hilangnya asosiasi dengan skor laten. Skor tampak yang diperoleh juga dipengaruhi oleh kesalahan pengukuran yg terjadi pada prediktor dan kriteria validasi sehingga menjauhi skor murni (Azwar, 2013).Johnson dan Ree menyatakan bahwa efek ini dapat diatasi dengan rumus koreksi statistika berikut untuk mengestimasi koefisien validitas yang lebih tepat (Coaley, 2010).
...(4)
Keterangan :
koefisien validitas koresi untuk atenuasi
= varians nilai kelompok tidak mengalami atenuasi = varians nilai kelompok yang mengalami atenuasi
= korelasi antara skor tes dengan pengukuran kriteria dalam keadaan
5) Kontaminasi kriteria
Kriteria yang terkontaminasi adalah kriteria validasi yang melibatkan faktor-faktor eksternal yang tidak sesuai atau tidak berhubungan dengan pengukuran yang dilakukan.Koefisien validitas dapat menjadi rendah disebabkan oleh bias dan variasi pengukuran yang menjadi kriteria. Validitas akan menjadi lebih tinggi apabila dampak dari faktor yang lain yang tidak berhubungan dengan kriteria dapat diminimalisir (Coaley, 2010).
6) Asumsi mengenai kriteria validitas yang salah
Terdapat dua buah asumsi yang dapat mempengaruhi koefisien validitas sebuah pengukuran.Yang pertama adalah asumsi linearitas koefisien validitas antara sebuah tes dengan kritera pengukurannya.Asumsi ini memprediksikan koefisien validitas sebuah tes akan semakin tinggi apabila tes lain yang menjadi criteria pengukuran semakin mampu mengukur dengan akurat, dan sebaliknya. Asumsi kedua yaitu pemikiran bahwa sebuah tes dan criteria pengukurannya akan mengukur suatu atribut yang sama persis. Pada kenyataannya, dua tes bisa saja mengukur atribut yag mirip namun tidak akan sama persis.
d. Analisa Koefisien Validitas
Koefisien validitas yang dikuadratkan adalah persentasi dari variasi kriteria yang dapat diketahui dengan informasi dari hasil tes. Dengan kata lain, koefisien yang dikuadratkan ini menjelaskan seberapa besar variansi data yang dimiliki bersama antaradua kelompok yang dibandingkan (Kaplan&Saccuzzo, 2005 ; Osterlind, 2010).
2. Reliabilitas a. Definisi
Reliabilitas dapat didefinisikan sebagai ketepatan, keakuratan, atau kekonsistenan dari hasil-hasil pengukuran berulang Pengukuran berulang yang dilakukan harus independen dan melibatkan variabel yang parallel atau sama. Dalam mendefinisikan reliabilitas sebuah pengukuran sangat bergantung pada konteks penggunaan suatu pengukuran. Sebuah pengukuran yang sama bisa saja mempunyai tingkat reliabilitas yang berbeda apabila dilakukan dalam konteks yang berbeda(Osterlind, 2010).
Reliabilitas tes juga berarti keakuratan tes.Tidak adanya error dalam sebuah pengukuran juga dapat menggambarkan reliabilitas sebuah pengukuran. Sebuah pengukuran akan semakin reliabel apabila tingkat error dalam hasil pengukuran semakin rendah.Secara sederhana, reliabilitas dapat dikatakan berbanding terbalik dengan tingkat error (Coaley, 2010).
korelasi kuadrat antara skor tampak dengan skor murni. Indeks reliabilitas didefinisikan sebagai korelasi antara skor tampak dengan skor murni.Kedua definisi di atas mengandung skor murni yang merupakan variabel teoritis dan tidak dapat dihitung nilainya.Gulliksen (1950) kemudian mengemukakan teori reliabilitas yang dapat diaplikasikan dalam psikometri.Ia mengemukakan konsep koefisien reliabilitas yang merupakan korelasi antara skor tampak dari dua tes parallel (Osterlind, 2010).
b. Pengukuran Parallel
Reliabilitas dalam pengukuran mental hanya dapat dihitung dari beberapa pengukuran berulang yang sifatnya parallel. Pada awalnya, pengukuran parallel dilakukan dengan cara meminta peserta tes yang sama berpartisipasi dalam beberapa administrasi tes yang identik. Pada kenyataanya, metode ini sulit dilakukan sehingga para ahli psikometri membentuk beberapa cara untuk menghasilkan pengukuran yang parallel agar dapat mengestimasi nilai reliabilitas (Osterlind, 2010).
1) Test-retest
kondisi administrasi tes bersifat konstan sama yang hampir tidak mungkin dapat dilakukan (Osterlind, 2010).
Estimasi reliabilitas yang banyak digunakan adalah dengan pengulangan dua kali dikarenakan dua kali pengukuran dianggap sudah mendekati bentuk tes parallel. Azwar (2013) menyatakan koefisien reliabilitas yang diperoleh lewat cara ini sangat rentan terhadap perubahan. Hal ini dikarenakan peserta tes sangat mungkin untuk mengalami perubahan saat jeda antara tes pertama dengan tes kedua.
Kelemahan dari metode ini adalah adanya carryover effect.Efek ini terjadi ketika tes pertama mempengaruhi nilai dari tes kedua.Salah satu jenis dari efek ini adalah adanya efek latihan. Pada tes yang kedua diikuti oleh peserta tes, akan sangat memungkinkan ia memperoleh hasil yang lebih bagus karena kemampuannya telah bertambah saat mengikuti tes yang pertama. Untuk mengatasi hal ini, maka jeda antara kedua tes tersebut haruslah dipilih dan dievaluasi dengan baik (Kaplan&Saccuzzo, 2005).
Selang waktu antara dua tes sangatlah signifikan berpengaruh pada reliabilitas.Reliabilitas cenderung menurun apabila selang waktunya semakin lama.Selang waktu beberapa hari sampai beberapa minggu menghasilkan estimasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan selang waktu yang lebih lama.Jika selang waktu antara kedua tes cukup singkat, maka reliabilitas yang diperoleh adalah
2) Bentuk tes alternatif
Apabila pengulangan administrasi tes tidak dapat dilakukan, maka tes hanya dapat dilakukan sekali. Bentuk pengukuran parallel untuk tes yang hanya dilakukan sekali adalah dengan menggunakan bentuk alternatif dari tes yang mengukur atribut yang sama (Osterlind, 2010). Bentuk tes alternatif ini dapat digunakan untuk mengurangi carryover effect yang merupakan kelemahan dari metode test-retest.
3) Metode konsistensi internal
Tidak semua alat tes mempunyai bentuk alternatifnya. Untuk tes yang hanya mempunyai satu bentuk saja, maka pengukuran parallel dapat dilakukan dengan membagi dua tes tersebut. Setiap bagian tes yang telah dibagi dianggap sebagai satu pengukuran. Estimasi reliabilitas yang dilakukan dengan cara ini menghasilkan split-half reliability.Pembagian tes menjadi dua bagian dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu membagi dengan angka genap dan ganjil atau dengan membagi dua tes berdasarkan letak awal dan akhir dari isi tes. Kelemahan dari penggunaan cara ini adalah memperpendek panjang tes yang juga mempengaruhi nilai reliabilitas (Osterlind, 2010). Azwar (2013) menyatakan bahwa pengukuran reliabilitas dengan metode konsistensi inernalberarti menguji konsistensi antar bagian atau antar item dalam sebuah tes.
c. Perhitungan Koefisien Reliabilitas
1) Spearman-Brown Formula
Formula Spearman-Brown ini dapat digunakan untuk menghitung reliabilitas pada tes yang telah dibagi dua. Spearman-Brown mengasumsikan data yang terdistribusi normal dari sebuah pengukuran mental apabila dibagi dua akan menghasilkan dua distribusi data yang sama dan normal serta memiliki standar deviasi yang sama. Formula Spearman-Brown sebagai berikut :
...(5)
Keterangan :
koefisien reliabilitas
koefisien antara kedua belahan tes
2) Kuder-Richardson Reliability Coefficient
Kuder dan Richardson mengemukakan metode pengujian reliabilitas untuk tes yang hanya diadministrasikan sekali (Kaplan&Saccuzzo, 2005). Mereka mengembangkan metode estimasi reliabilitas yang fokus pada varians interkorelasi item untuk mengukur konsistensi pengukurannya. Konsep dasar dari metode ini adalah dengan mengkorelasikan setiap item dengan keseluruhan item yang lain satu per satu. Formula yang dikemukakan yaitu :
...(6)
Keterangan :
= koefisien reliabilitas
= banyak aitem dalam tes. = varians skor tes.
Kuder dan Richardson merevisi formula mereka karena dianggap terlalu panjang bahkan untuk tes yang memiliki sedikit item.Perhitungan dengan rumus koreksi ini lebih sederhana namun menghasilkan nilai yang lebih rendah.Koreksi formula tersebut menjadi :
...(7)
Keterangan:
= koefisien reliabilitas
= mean dari tes 3) Coefficient Alpha
Cronbach mengembangkan formula Kuder-Richardson yang menekankan pada struktur internal sebuah tes.Ia berasumsi bahwa setiap aitem mengukur sebuah trait tunggal, memiliki korelasi antar item yang sama dengan kelompok data yang besar, dan mempunyai varians yanag sama dengan sampel besar (Coaley, 2010). Menurutnya, varians antar item mendasari perhitungan varians keseluruhan tes yang akan digunakan untuk mengestimasi koefisien reliabilitas.
...(8)
Keterangan:
= Koefisien reliabilitas
d. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Reliabilitas 1) Tujuan, waktu dan konteks penggunaan tes
Reliabilitas tes sangat bergantung pada tujuan penggunaan tes, waktu dan kondisi dimana sebuah tes digunakan. Jika tujuan penggunaan tes berbeda, maka reliabilitas dari sebuah tes juga akan berubah. Sebuah tes bisa saja dikatakan reliabel untuk mengukur suatu variabel tertentu namun tidak variabel untuk tujuan pengukuran yang lain(Osterlind, 2010).
2) Atenuasi
Koefisien reliabilitas selalu lebih rendah daripada indeks reliabilitas.Hal ini dikarenakan terjadinya atenuasi.Koefisien reliabilitas yang membandingkan skor tampak dari pengukuran pertama dan kedua mengalami penyempitan karena tidak mengasosiasikan skor sebuah tes dengan skor murninya(Osterlind,2010). 3) Panjang tes
4) Heterogenitas kelompok
Kelompok yang heterogen adalah kelompok yang variasi atau perbedaan distribusi data dalam kelompok.Gulliksen berasumsi bahwa reliabilitas dapat berubah jika terdapat perbedaan varians kelompok (Osterlind, 2010).Pada dasarnya, tes yang dikenakan pada kelompok sampel yang lebih heterogen akan menghasilkan koefisien reliabilitas yang lebih tinggi(Azwar,2013).
e. Analisa Koefisien Reliabilitas
Tingkat reliabilitas yang baik untuk setiap tes adalah berbeda-beda, tergantung pada penggunaan dari tes tersebut. Pada kebanyakan penelitian, nilai reliabilitas yang berkisar antara 0,7 sampai 0,8 sudah tergolong baik.Sebuah tes yang memiliki fokus pengukuran yang sangat sempit biasanya baru bisa mempunyai nilai reliabilitas yang sangat tinggi.Sedangkan untuk tes yang memiliki konstruk yang kompleks cenderung memiliki reliabilitas yang rendah (Kaplan&Saccuzzo, 2005).
C. Karakteristik Psikometri Tes Kraepelin
Tes Kraepelin adalah tes yang dibuat pada akhir abad ke-19 di Jerman.Tes yang berisikan angka-angka sederhana ini mulai digunakan di Indonesia pada tahun 1900-an. Tes ini merupakan tes yang masih digunakan hingga saat ini, khususnya dalam bidang pendidikan dan pekerjaan, meskipun tes Kraepelin termasuk tes yang cukup tua.Mengingat hal ini, tes Kraepelin harus diuji secara berulang untuk melihat apakah tes masih baik untuk digunakan atau tidak.
Data mengenai karakteristik psikometris tes Kraepelin yang terakhir ditemukan berasal dari pengujian validitas dan reliabilitasnya pada tahun 1960-an, atau lebih dari 50 tahun yang lalu.Seperti yang telah diungkapkan Osterlind (2010), validitas dan reliabilitas sangat rentan berubah apabila sebuah tes digunakan pada waktu dan konteks yang berbeda. Tes Kraepelin pada awalnya dibuat untuk membedakan antara orang normal dan abnormal. Dalam perkembangannya, tes ini telah beralih fungsi menjadi tes bakat. Setelah lebih dari 50 tahun tes Kraepelin digunakan tanpa ada pengujian ulang terhadap karakteristik psikometrisnya, fungsi tes Kraepelin untuk mengukur bakat sangat mungkin berubah.
jumlah besar dan tidak terbatas pada kriteria populasi apapun. Hal ini bertujuan untuk memperluas jangkauan data dan heterogenitas dari kelompok data. Efek atenuasi juga dikoreksi secara statistik dalam analisis SEM. Kriteria validitas tidak akan terkontaminasi dengan faktor eksternal karena pengujian tes Kraepelin dilakukan terhadap struktur internal dari tes itu sendiri. Hal yang tidak kalah penting dalam penelitian ini adalah tujuan penggunaan tes ini. Pengujian validitas dan reliabilitas tes Kraepelin tidak terlepas dari tujuan penggunannya untuk mengukur bakat peserta tes. Penelitian ini bertujuan untuk menguji validitas dan reliabilitas tes Kraepelin mengukur bakat dalam bidang pendidikan dan pekerjaan. Pengujian validitas tes Kraepelin sudah pernah dilakukan pada tahun 1965-1967. Validitas tes Kraepelin dapat berubah setelah waktu yang sangat lama. Waktu dapat memunculkan berbagai perubahan yang menyebabkan faktor-faktor dalam tes Kraepelin tidak mampu mengukur bakat lagi. Oleh karena itu, pengujian struktur internal tes Kraepelin harus dilakukan. Dengan membandingkan skor-skor yang diperoleh dari tes ini, peneliti ingin melihat apakah hasil tes ini memang masih valid untuk mengukur faktor kecepatan kerja, ketelitian kerja, keajegan kerja, dan ketahanan kerja. Cara untuk melakukan pengujian validitas berdasarkan struktur internal adalah dengan melakukan analisis faktor konfirmatori melalui
Structural Equation Model (SEM). Analisis faktor dilakukan untuk melakukan
Reliabilitas tes Kraepelin juga sangat rentan berubah. Salah satu faktor yang menyebabkan perubahan reliabilitas tes Kraepelin adalah waktu penggunaan tes (Osterlind, 2010). Reliabilitas tes Kraepelin terakhir diperoleh dari penelitian tahun 1967 dan kemungkinan besar telah berubah saat ini. Pengujian terhadap reliabilitas tes Kraepelin dilakukan dengan formula koefisien alfa. Dengan formula ini, setiap faktor akan dipasangkan dengan faktoryang lain untuk melihat varians dari keseluruhan tes. Nilai varians ini kemudian digunakan untuk mengestimasi nilai reliabilitas(Osterlind, 2010).Tes Kraepelin sebagai tes bakat akan dikatakan berkualitas baik apabila memiliki nilai reliabilitas minimal 0,8.Ketika tes Kraepelin dipakai sebagai tes seleksi kerja, nilai subjek akan dibandingkan dengan subjek lainnya. Untuk fungsi seleksi karyawan, tes Kraepelin harus memiliki nilai reliabilitas minimal 0,85. Hal ini berdasarkan nilai koefisien reliabilitas minimum untuk tes psikologi yang dikemukakan oleh Coaley (2010).
Analisis reliabilitas berdasarkan formulasi Cronbach Alpha (α) bisa dilakukan dengan Structural Equation Model (Kano&Azuma, 2003). Pada penelitian ini, pengukuran reliabilitas tes Kraepelin dilakukan dengan mengukur reliabilitas konstruk (Construct Reliability) dan ekstrak varian (Variance
Extracted). Reliabilitas konstruk menunjukkan konsistensi pengukuran konstruk
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada beberapa tahun belakangan ini, penggunaan tes psikologi sudah semakin banyak dan luas. Hampir setiap orang sudah mengenal tes psikologi atau lebih dikenal dengan istilah psikotes.Tes psikologi awalnya hanya berfungsi untukmengukur perbedaan antar individu atau perbedaan respon seorang individu dalam situasi yang berbeda-beda.Saat ini, tes psikologi tidak hanya dipakai dalam perencanaan pendidikan dan pekerjaan, tetapi juga mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.Tes psikologi juga digunakan untuk meningkatkan pemahaman diri seseorang dan kemudian meningkatkan dirinya. Peserta tes akan mendapatkan umpan balik dari hasil tes yang diikutinya untuk membantu dalam proses pengambilan keputusan (Anastasi & Urbina, 1997).
tes yang mengukur kemampuan seseorang dalam bidang khusus dan mengukur potensi yang dapat dikembangkan secara optimal.Kemampuan aktual diukur dengan tes prestasi yang bertujuan melihat efek dari suatu program pembelajaran.Tes kepribadian digunakan untuk mengukur atribut bukan kemampuan. Dengan kata lain, tes ini berfungsi untuk mengetahui gambaran kepribadian seseorang dalam berbagai konteks kehidupan.
Tes psikologi dapat diaplikasikan dalam berbagai konteks kehidupan manusia seperti pendidikan, pekerjaan dan juga klinis.Diantara ketiga jenis konteks ini, tes psikologi paling banyak diaplikasikan dalam konteks pendidikan dan pekerjaan.Dalam konteks pendidikan, tes psikologi digunakan untuk identifikasi kecepatan belajar anak, seleksi masuk sekolah dan perguruan tinggi, dan dalam pemilihan jurusan.Pada konteks pekerjaan, tes psikologi diterapkan dalam perekrutan, penugasan, promosi dan pemberhentian karyawan (Anastasi&Urbina, 1997).
Terdapat berbagai jenis tes yang digunakan dalam bidang pendidikan dan pekerjaan seperti tes kepribadian, intelegensi, dan bakat. Sesuai dengan tujuan penggunan tes psikologi dalam kedua konteks ini, tes bakat paling baik digunakan untuk melihat apakah seseorang akan cocok dengan pendidikan atau pekerjaan tertentu. Hal ini dikarenakan tes bakat berfungsi untuk mengukur potensi optimal seseorang untuk belajar dan kemungkinan seseorang untuk sukses dalam pekerjaan tertentu (Kaplan & Saccuzzo, 2005; Japar, 2013).
Anastasi & Urbina (1997) menyatakan bahwa tes bakat adalah tes yang khusus dikembangkan untuk penggunaan di bidang pendidikan dan pekerjaan.Sebagai tes yang akan membantu pengambilan keputusan dalam kedua ranah ini, tentunya alat ukur yang mengukur bakat individu harus memberikan hasil yang tepat dan akurat. Munandir (dalam Japar, 2013) juga menyatakan bahwa usaha untuk menemukan, mengenal, dan memahami bakat seseorang sangatlah penting. Berbagai usaha untuk menemukan bakat seseorang telah banyak dilakukan para ilmuwan dengan mengembangkan berbagai jenis tes bakat. Secara garis besar, tes bakat terbagi menjadi multiple aptitude batteries yaitu tes yang dapat mengukur beberapa kemampuan khusus sekaligus dan tes bakat khusus.Contoh tes multiple aptitude batteries yang digunakan di Indonesia adalah
Differential Aptitude Test (DAT), General Attitude TestBattery(GATB),Flanagan
Aptitude Classification Test (FACT), dan contoh tes bakat khusus adalah tes
Kraepelin dan tes Pauli.
penelitian terbaru mengenai keberfungsian tes Kraepelin setelah sekian lama. Jika dibandingkan dengan tes-tes bakat yang lain, tidak banyak peneliti yang melakukan penelitian untuk melihat apakah tes Kraepelin ini masih baik untuk digunakan atau tidak. Padahal, tes ini masih sering dimasukkan dalam serangkaian tes psikologi khususnya dalam tes seleksi masuk sekolah dan dalam konseling kejuruan.Beberapa perusahaan tertentu dalam seleksi karyawannya juga ada yang meminta menggunakan tes ini.
Tes Kraepelin masih digunakan hingga saat ini bukan tanpa alasan.Tes ini memiliki banyak kelebihan.Tes ini dapat diberikan kepada siapa saja karena isi tesnya hanya berupa perhitungan aritmatika sederhana. Perhitungan aritmatika menurut Matsumoto (2008) merupakan proses psikologis manusia yang universal.Penggunaan angka yang universal dalam tes menjadi salah satu kelebihan tes Kraepelin dibandingkan dengan tes yang menggunakan bahasa.Penggunaan bahasa dalam tes akan menimbulkan makna berbeda karena biasanya bahasa terjemahan tidak benar-benar memiliki makna yang setara dengan bahasa aslinya (Fitriani, 2012).
banyak dilakukan sedangkan tidak terdapat penelitian terbaru mengenai tes Kraepelin sejak tahun 1960-an.
Tes Kraepelin adalah tes yang diciptakan Emil Kraepelin, seorang psikiatris asal Jerman pada akhir abad 19. Pada awalnya, tes ini dibuat oleh Kraepelin untuk digunakan sebagai tes kepribadian dalam setting klinis. Dalam perkembangannya hingga saat ini, tes ini telah berubah menjadi tes bakat yang digunakan dalam bidang psikologi industri organisasi, psikologi pendidikan, psikologi klinis dan bidang lain yang membutuhkan(Attamimi, 1984).
Tes Kraepelin yang dipakai di Indonesia juga bukanlah tes yang sama persis disusun oleh Kraepelin. Tes ini sering juga disebut tes koran.Tes yang dipakai di Indonesia adalah hasil modifikasi oleh Fakultas Psikologi Universitas Gajahmada (UGM) dan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI).Tes ini sudah digunakan dari sebelum tahun 1965 hingga sampai saat ini. Tes Kraepelin yang telah dimodifikasi di Indonesia digunakan untuk mengukur performa maksimum seseorang (Japar, 2013).Hal ini dilakukan dengan mengukur empat fakor yaitu : kecepatan kerja, ketelitian kerja, keajegan kerja dan ketahanan kerja (Attamimi, 1984 ; Mangunsong, dkk., 1993 ; Japar, 2013).
validitas masing-masing 0.54, 0.57, 0.52, 0.40; Darochim Effendi (1966) di Magelang dengan koefisien validitas masing-masing 0.47 , 0.58, 0.32 , 0.33 ; Ang Hwa Lie (1967) di Gresik dengan koefisien validitas 0.49, 0.42, 0.60, 0,42. Penelitian reliabilitas juga pernah dilakukan pada tahun 1967 oleh Thukul Santosa di Magelang dengan koefisien reliabilitas masing-masing 0.875 , 0.758, 0.870, 0.912 (Attamimi, 1984).
Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, diketahui bahwa tes Kraepelin cukup baik karena memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi untuk mengukur keempat faktor yang diukurnya. Akan tetapi, penelitian mengenai validitas dan reliabilitas tes Kraepelin ini dilakukan pada tahun 60-an dan sudah lebih dari 50 tahun yang lalu. Hingga saat ini, belum ada penelitian baru yang mengujikembali validitas dan reliabilitasnya.
Tes Kraepelin sebagai tes yang sudah lama ada dan masih digunakan seharusnya dianalisa secara berkala untuk melihat apakah tes ini masih baik atau tidak.Apabila kualitas tes sudah menurun,saran tes sebaiknya dipertimbangkan lagi untuk menghindari kesalahan pengambilan keputusan.Akan tetapi, jika kualitas tes Kraepelin masih baik, maka tes dapat terus digunakan.Selain itu, penggunaan tes Kraepelin juga dapat direkomendasikan kepada para praktisi karena masih berkualitas baik, dan mempunyai berbagai kelebihan yang telah disebutkan sebelumnya.
penelitian mengenai kualitas sebuah tes sangat rentan berubah seiring berubahnya waktu, maka validitas tes Kraepelin harus diuji kembali untuk melihat kualitas tes ini pada penggunaannya sekarang.
Terdapat beberapa jenis bukti yang dapat digunakan untuk menguji validitas sebuah tes, di antaranya yaitu bukti validitas berdasarkan konten tes, proses respon, struktur internal, variabel lain dan pertimbangan eksternal (Osterlind, 2010). Berdasarkan konten tes, bentuk dan isi tes Kraepelin masih sama sejak pertama kali digunakan di Indonesia 50-an tahun yang lalu. Meskipun bentuk dan isi tes ini masih sama hingga sekarang, sangatlah penting untuk memastikan apakah tes ini memang masih mengukur keempat faktor yang telah disebutkan sebelumnya. Hal ini dapat dilakukan dengan menguji struktur internal sebuah tes. Menguji struktur internal dari sebuah alat tes artinya membandingkan antara hasil tes peserta dengan apa yang seharusnya diukur tes tersebut berdasarkan struktur yang telah ada(Coaley, 2010). Respon subjek terhadap setiap faktor akan langsung diuji terhadap faktor-faktor dalam testersebut.
kerja. Jika tidak, maka tes Kraepelin telah berubah fungsi mengukur atribut yang lain.
Sebuah tes yang berkualitas baik juga harus memiliki konsistensidalam pengukuran.Pengguna tes harus melihat kestabilanskor dari beberapa pengukuran parallel yang dilakukan secara acak, yang disebut reliabilitas tes (Osterlind, 2010). Marnat (2003) menyatakan bahwa sebuah tes harus dilihat reliabilitasnya dari derajat kestabilan, konsistensi, prediktabilitas dan akurasinya. Reliabilitas sebuah tes juga harus diuji secara berkala karena berubah sesuai dengan tujuan, waktu dan konteks penggunaan tes (Osterlind, 2010). Penelitian reliabilitas tes Kraepelin yang terakhir dilakukan pada tahun 1967. Dengan selang waktu lebih dari 50 tahun, reliabilitas tes Kraepelin mungkin telah berubah. Oleh karena itu, reliabilitas tes Kraepelin juga harus diuji kembali.
Berdasarkanpemaparan di atas, peneliti memilih tes Kraepelin untuk dianalisa karakteristik psikometrisnya yang berupa validitasberdasarkan bukti struktur internal dan reliabilitasnya .Hal ini sangat penting karena belum ada pengujian karakteristik psikometrisnya untuk waktu yang sangat lama, padahal masih sering digunakan.Peneliti ingin melihat apakah tes Kraepelin masih valid dan reliabel dalam menggambarkan bakat ditinjau darifaktor kecepatan kerja, ketelitian kerja, keajegan kerja dan ketahanan kerja, guna melihat apakah tes ini masih baik untuk digunakan atau tidak.
Peneliti melihat perlunya dilakukan pengujian ulang terhadap validitas dan reliabilitas dari tes Kraepelin.Pengujian validitas serta reliabilitas yang sebelumnya dilakukan sudah lebih dari lima puluh tahun yang lalusehingga sangat penting untuk melihat apakah tes ini masih baik untuk digunakan sekarang. Peneliti merumuskan masalah dalam penelitian ini dalam dua pertanyaan, yaitu : 1. Berapakah nilai koefisien reliabilitas tes Kraepelin?
2. Apakah tes Kraepelinterbukti valid berdasarkan struktur internal tes untuk mengukur bakat melalui faktor kecepatankerja, ketelitian kerja, keajegan kerja, dan ketahanan kerja?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalahuntuk melihat apakah tes Kraepelin masih baik digunakan untuk mengungkap bakatmelalui faktor kecepatan, ketelitian, keajegan dan ketahanan kerja dengan menguji validitas dan reliabilitasnya.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik dari segi teoritis maupun dari segi praktis.
1. Manfaat Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagiilmu psikologi dalam hal pengkajian alat ukur dan juga untuk melengkapi karakteristik psikometris dari tes Kraepelin.
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi kepada para praktisi sebagai pengguna tes mengenai karakteristik tes Kraepelin. Informasi ini dapat bermanfaat sebagai bahan pertimbangan sebelum menggunakan tes ini khususnya dalam praktek konseling pendidikan maupun pekerjaan.
F. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan penelitian ini adalah : Bab I : Pendahuluan
Bab ini berisikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka berpikir penelitian, dan sistematika penulisan penelitian. Bab II : Tinjauan Pustaka
Bab ini berisikan teori mengenai sejarah perkembangan Tes Kraepelin, penelitian tentang tes Kraepelin, teori mengenai validitas dan reliabilitas, serta karakteristik psikometri Tes Kraepelin.
BabIII : Metode Penelitian
Bab ini berisikan mengenai metode penelitian yaitu jenis penelitian, data dalam penelitian, prosedur pelaksanaan penelitian, metode pengumpulan data, dan analisis data.
Bab IV : Hasil dan Pembahasan
Bab ini berisikan gambaran subjek penelitian, deskripsi hasil analisis validitas dan reliabilitas, serta pembahasan mengenai seluruh hasil yang diperoleh dalam penelitian ini.
Penggunaan tes psikologi sudah semakin luas saat ini. Hasil yang diperoleh dari tes psikologi banyak digunakan untuk membantu proses pengambilan keputusan peserta tes. Tes psikologi haruslah berkualitas baik sehingga hasil pengukurannya tepat dan dapat dipercaya. Terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi kualitas sebuah tes. Oleh karena itu, sebuah tes psikologi harus terus diuji agar memiliki kualitas yang tetap baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik psikometri tes Kraepelin. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah tes Kraepelin masih baik digunakan untuk mengukur bakat melalui empat faktor yang diukurnya dengan cara mengevaluasi reliabilitas konstruk tes dan validitas berdasarkan struktur internal. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari beberapa biro psikologi dan perusahaan yang menggunakan tes Kraepelin. Hasil estimasi reliabilitas tes dan validitas berdasarkan struktur internal menunjukkan bahwa tes Kraepelin sudah tidak valid dan tidak reliabel dalam mengungkapkan bakat melalui keempat faktor yang diukurnya. Berdasarkan hasil tersebut, maka penggunaan tes Kraepelin harus kembali dipertimbangkan.
Kata Kunci : Tes Kraepelin, Reliabilitas Konstruk, Bukti Validitas Berdasarkan Struktur Internal
1
Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara 2
Psychological test is becoming more widely used nowadays. It is often used to aid the decision making process regarding a test participant. A psychological test has to have a good quality so that the result of which will be accurate and reliable. There are some factors determining the quality of a test. Therefore, psychological test must be assesed every now and then in order to maintain the quality of it. The main goal of this study is to find out the psychometric characteristic of Kraepelin test. This is to decide whether Kraepelin test is still qualified to measure one’s aptitude through four factors it measures by evaluating test construct realibility and validity based on internal structure. This study used secondary data collected from psychology firms and companies applying Kraepelin test. The estimation of test construct reliability and validity based on internal structures showed that Kraepelin
test is no longer valid and reliable in discovering one’s aptitude through the factors
it measures. In accordance to the result found in this study, the usage of Kraepelin test needs to be reconsidered.
Keyword : Kraepelin Test, Construct Reliability, Validity Evidence Based on Internal Structure
1
Student of Faculty of Psychology, University of North Sumatera 2
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi persyaratan
Ujian SarjanaPsikologi
Oleh:
CATHERINE FEBRIANTY
121301036
FAKULTAS PSIKOLOGI
Penggunaan tes psikologi sudah semakin luas saat ini. Hasil yang diperoleh dari tes psikologi banyak digunakan untuk membantu proses pengambilan keputusan peserta tes. Tes psikologi haruslah berkualitas baik sehingga hasil pengukurannya tepat dan dapat dipercaya. Terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi kualitas sebuah tes. Oleh karena itu, sebuah tes psikologi harus terus diuji agar memiliki kualitas yang tetap baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik psikometri tes Kraepelin. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah tes Kraepelin masih baik digunakan untuk mengukur bakat melalui empat faktor yang diukurnya dengan cara mengevaluasi reliabilitas konstruk tes dan validitas berdasarkan struktur internal. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari beberapa biro psikologi dan perusahaan yang menggunakan tes Kraepelin. Hasil estimasi reliabilitas tes dan validitas berdasarkan struktur internal menunjukkan bahwa tes Kraepelin sudah tidak valid dan tidak reliabel dalam mengungkapkan bakat melalui keempat faktor yang diukurnya. Berdasarkan hasil tersebut, maka penggunaan tes Kraepelin harus kembali dipertimbangkan.
Kata Kunci : Tes Kraepelin, Reliabilitas Konstruk, Bukti Validitas Berdasarkan Struktur Internal
1
Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara 2
Psychological test is becoming more widely used nowadays. It is often used to aid the decision making process regarding a test participant. A psychological test has to have a good quality so that the result of which will be accurate and reliable. There are some factors determining the quality of a test. Therefore, psychological test must be assesed every now and then in order to maintain the quality of it. The main goal of this study is to find out the psychometric characteristic of Kraepelin test. This is to decide whether Kraepelin test is still qualified to measure one’s aptitude through four factors it measures by evaluating test construct realibility and validity based on internal structure. This study used secondary data collected from psychology firms and companies applying Kraepelin test. The estimation of test construct reliability and validity based on internal structures showed that Kraepelin
test is no longer valid and reliable in discovering one’s aptitude through the factors
it measures. In accordance to the result found in this study, the usage of Kraepelin test needs to be reconsidered.
Keyword : Kraepelin Test, Construct Reliability, Validity Evidence Based on Internal Structure
1
Student of Faculty of Psychology, University of North Sumatera 2