• Tidak ada hasil yang ditemukan

Preferensi Konsumsi Beberapa Produk Suplemen Penstimulasi Stamina (Studi Kasus di Kota Bogor)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Preferensi Konsumsi Beberapa Produk Suplemen Penstimulasi Stamina (Studi Kasus di Kota Bogor)"

Copied!
126
0
0

Teks penuh

(1)

PREFERENSI KONSUMSI BEBERAPA

PRODUK SUPLEMEN PENSTIMULASI STAMINA

(Studi Kasus di Kota Bogor)

Tahrir Aulawi

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

SURAT PERNYATAAN

MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Preferensi Konsumsi Beberapa Produk Suplemen Penstimulasi Stamina (Studi Kasus di Kota Bogor) adalah hasil karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Oktober 2005

(3)

ABSTRAK

TAHRIR AULAWI. Preferensi Konsumsi Beberapa Produk Suplemen Penstimulasi Stamina (Studi Kasus di Kota Bogor). Di bimbing oleh H. Musa Hubeis dan Fransiska R Zakaria.

Produk suplemen merupakan produk yang mengandung satu atau lebih vitamin, mineral, tumbuhan atau bahan yang berasal dari tumbuhan, asam amino, konsentrat, metabolit, konstituen, ekstrak, atau kombinasi beberapa bahan tersebut sebagai sumber asupan energi yang dapat dikonsumsi saat beraktivitas berat dan atau berolahraga untuk memulihkan stamina.

Trend produk suplemen telah merambah Indonesia yang ditandai beredarnya produk Lipovitan sebelum merek- merek seperti Kratingdaeng, Hemaviton, Extra Joss dan lain- lain. Faktor yang diduga sangat mendukung pertumbuhan bisnis ini adalah kemampuan produsen menciptakan citra produk suplemen sebagai produk minuman kesehatan (health drink), minuman berenergi tinggi (energy drink) atau minuman untuk olahragawan (sport drink) yang dapat meningkatkan dan mempertahankan stamina melalui berbagai media promosi informasi dengan

positioning yang berbeda dari produk sebelumnya sebagai kekuatan preferensi

konsumen.

Komponen preferensi yang mempengaruhi konsumsi adalah karakteristik individu seperti umur, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan dan pengetahuan gizi. Karakteristik produk yang meliputi rasa, warna, aroma, kemasan, tekstur dan harga. Karakteristik lingkungan meliputi jumlah anggota keluarga, tingkat sosial, pekerjaan, musim dan mobilitas.

Perkembangan produk suplemen ya ng pesat, sangat menarik untuk dilakukan pengkajian lebih mendalam terhadap preferensi produk suplemen dan seberapa jauh semua peubah saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain terhadap preferensi konsumsi produk suplemen yang sudah beredar, khususnya di kota Bogor

Tujuan penelitian adalah menganalisis tingkat kepuasan dan pengetahuan gizi konsumen terhadap pemenuhan kebutuhan dan keinginannya serta mengidentifikasi faktor- faktor kunci yang berpengaruh terhadap preferensi konsumsi produk suplemen. Penelitian dilakukan dengan teknik survei terhadap 150 orang berusia 17 – 45 tahun, dengan alat bantu kuesioner untuk mendapatkan data primer. Data sekunder diperoleh dari Kantor Statistik Kota Bogor, dan Kantor Tenaga Kerja Kota Bogor yang dianalisa secara deskriptif untuk profil responden, analisis indeks untuk preferensi responden dan analisis regresi untuk faktor- faktor penentu konsumsi.

(4)

efeknya cepat terasa (9,3%), kandungannya alami (6,7%) dan alasan terendah hanya tersedia merek tersebut (0,7%).

Tingkat preferensi konsumsi produk suplemen penstimulasi stamina di Kota Bogor tinggi, ditandai dengan tingkat kepuasan responden terhadap produk suplemen, yakni 44,6% puas, 32% sangat puas, agak puas 16,0% dan 5,3% kurang puas, serta 2,0% menyatakan tidak puas. Tingkat kepuasan responden terhadap atribut produk dengan nilai indeks tertinggi (123,0) pada instrumen ukuran kemasan dan terendah (75,0) pada instrumen warna kemasan, atribut harga dengan nilai indeks tertinggi (114,6) pada instrumen harga terjangkau dan terendah (93,2) pada instrumen harga normal dan tingkat kepuasan responden terhadap atribut lokasi penjualan dengan nilai indeks tertinggi (116,2) dengan instrumen produk mudah diperoleh dan terendah pada instrumen kesediaan produk kontinyu (111,2), serta atribut promosi dengan nilai indeks tertinggi terdapat pada instrumen peran tokoh (118,2) dan yang terendah pada instrumen potongan harga (91,8).

Terdapat empat faktor yang mendasari pilihan konsumen terhadap produk suplemen penstimulasi stamina, secara berurutan yaitu mutu produk (rasa, aroma, tekstur, warna dan kemasan), tempat pembelian, harga dan kemudahan dalam mendapatkan produk suplemen penstimulasi stamina tersebut. Proses pengambilan keputusan yang dilakukan konsumen dimulai dari menerima stimulus, memahami permasalahan, mencari informasi tentang produk, menilai dan memilih, membeli dan evaluasi yang diakhiri dengan perilaku konsumen setelah membeli.

Produsen harus melakukan segmentasi pasar, memperluas jaringan pemasaran dan mencari terobosan baru untuk penguasaan pasar melalui penggalian informasi top of mind, sehingga dapat memenuhi kepuasan konsumen. Sebelum memutuskan untuk mengkonsumsi produk suplemen, konsumen sebaiknya mempertimbangkan kebutuhan, mencari informasi yang berhubungan dengan produk, mencari alternatif, memutuskan dan mengevaluasi sesegera mungkin, agar kondisi negatif dapat diminimalisir.

(5)

Hak cipta milik Tahrir Aulawi, tahun 2005

Hak cipta dilindungi

(6)

Judul Tesis : Preferensi Konsumsi Beberapa Produk Suplemen Penstimulasi Stamina

(Studi Kasus di Kota Bogor) Nama : Tahrir Aulawi

NRP : F 251 020 221

Disetujui Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. H. Musa Hubeis, MS, Dipl. Ing, DEA Prof. Dr. Ir. Fransiska R. Zakaria, MSc

Ketua Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Ilmu Pangan Dekan Sekolah Pascasarjana

Prof. Dr. Ir. Betty Sri Laksmi Jenie, M.S Prof. Dr. Ir. Hj. Sjafrida Manuwoto, M.Sc

(7)

PREFERENSI KONSUMSI BEBERAPA

PRODUK SUPLEMEN PENSTIMULASI STAMINA

(Studi Kasus di Kota Bogor)

Tahrir Aulawi

Tesis

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Ilmu Pangan

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(8)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberi nikmat rezeki, kesehatan dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul Preferensi Konsumsi Beberapa Produk Suplemen Penstimulasi Stamina (Studi Kasus di Kota Bogor).

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tidak terhingga kepada abah Bukhari Ardhi dan mama Hamrah AM atas dorongan moril dan materil, serta kasih sayang yang telah diberikan, terima kasih kepada kakak Afwani Hardis dan suami Masdar, S.Pd, kakak Dewi Harpita, abang Arhadi dan istri Yanti, serta adikku Khairullah, A.Md atas do’a dan dorongan semangat. Terima kasih yang sangat mendalam penulis ucapkan kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ir. H. Musa Hubeis, M.S, Dipl. Ing, DEA dan Ibu Prof. Dr. Ir. Fransiska R. Zakaria, M.Sc selaku pembimbing, serta Bapak Dr. Ir. Yadi Haryadi, M.Sc sebagai penguji tesis.

2. Ibu Prof. Dr. Ir. Sjafrida Manuwoto, M.Sc selaku Dekan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor dan Ibu Prof. Dr. Ir. Betty Sri Laksmi Jenie, M.Si selaku ketua Program Studi Ilmu Pangan yang telah banyak memberi saran. 3. Segenap dosen Program Studi Ilmu Pangan Institut Pertanian Bogor yang

telah memberikan bekal pengetahuan untuk penyusunan tesis ini.

4. Bapak Prof. Dr. Ir. Zulkifli Lubis, MAppSc, Bapak Prof. Dr. Ir. Sumono, M.S, Ibu Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa H, M.Sc, Bapak Ir. Said Umar, M.Si dan Bapak Dr. Ir. Zulfikar Siregar, MP selaku dosen di Universitas Sumatera Utara yang telah memberi motivasi dan rekomendasi untuk melanjutkan studi ke strata dua.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Saran dan perbaikan dari pembaca dengan senang hati langsung ditujukan ke alamat E- mail: [email protected]

Bogor, Oktober 2005

(9)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Sungai Salak Kabupaten Indragiri Hilir pada tanggal 14 Juli 1974 sebagai anak ke empat dari lima bersaudara dari pasangan Bukhari Ardhi dan Hamrah AM. Pendidikan Sarjana ditempuh di Program Studi Peternakan Universitas Sumatera Utara, lulus pada tahun 2000. Tahun 2001, penulis mengikuti pendidikan Akta IV, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Medan dan menamatkannya pada tahun 2002. Kesempatan untuk melanjutkan ke Program Magister di Program Studi Ilmu Pangan pada Sekolah Pascasarjana IPB tahun 2002 dan menamatkannya pada tahun 2005.

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Perumusan Masalah ... 2

Tujua n Penelitian ... 3

Manfaat Penelitian ... 3

TINJAUAN PUSTAKA Produk Suplemen ... 4

Komponen Produk Suplemen Penstimulasi Stamina ... 8

Kebijakan Terkait Tentang Produk Suplemen Penstimulasi Stamina .. 14

Preferensi Konsumen ... 15

Pengambilan Keputusan Konsumsi Produk Suplemen Penstimulasi Stamina ... 22

Faktor-Faktor Penentu Konsumsi Produk Suplemen Penstimulasi Stamina ... 27

Kerangka Pemikiran ... 31

METODOLOGI PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian ... 34

Penentuan Responden ... 34

Bahan Penelitian ... 35

Metode Penelitian ... 35

Analisis Data ... 36

HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Validitas dan Reliabilitas ... 41

Kondisi Umum Wilayah Kota Bogor ... 42

Karakteristik Produk Suplemen Penstimulasi Stamina ... 45

Karakteristik Responden ... 58

Preferensi Konsumen ... 66

Proses Pengambilan Keputusan ... 77

Faktor-Faktor Penentu Konsumsi Produk Suplemen Penstimulasi Stamina ... 88

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 92

Saran ... 93

DAFTAR PUSTAKA ... 94

(11)

DAFTAR TABEL

No. Halama n

1 Produsen dan kapasitas produksi produk suplemen, 2004 ... 6

2 Sebaran industri produk suplemen menurut permodalan, 2004 ... 7

3 Pemanis buatan yang diizinkan BPOM dan aturan pakainya ... 12

4 Perkembangan produksi produk suplemen, 2000-2004 ... 31

5 Kerangka dan ukuran responden berdasarkan lapisan populasi ... 34

6 Sebaran angkatan kerja yang bekerja menurut kelompok usia dan prediksi di Kota Bogor, baik dalam angka maupun %, dari tahun 2001-2008 ... 42

7 Sebaran angkatan kerja yang bekerja menurut tingkat pendidikan dan prediksi di Kota Bogor, baik dalam angka maupun %, dari tahun 2001-2008 ... 43

8 Komposisi dan klaim produk suplemen Lipovitan ... 44

9 Komposisi dan klaim produk suplemen Hemaviton Jreng ... 45

10 Komposisi dan klaim produk suplemen Kratingdaeng ... 47

11 Komposisi dan klaim produk suplemen Extra Joss ... 48

12 Komposisi dan klaim produk suplemen Fit-Up ... 49

13 Komposisi dan klaim produk suplemen Kuku Bima Ener G ! ... 50

14 Sebaran responden berdasarkan usia terhadap produk suplemen ... 58

15 Sebaran responden berdasarkan tingkat pendidikan terhadap produk sup lemen penstimulasi stamina ... 59

16 Sebaran responden berdasarkan jenis pekerjaan terhadap produk suplemen penstimulasi stamina ... 60

17 Sebaran responden berdasarkan tingkat pendapatan terhadap produk suplemen penstimulasi stamina ... 62

18 Sebaran responden menurut suku terhadap produk suplemen penstimulasi stamina ... 64

19 Sebaran responden menurut pernikahan terhadap produk suplemen penstimulasi stamina ... 64

20 Sebaran responden berdasarkan jumlah anggota keluarga ... 65

(12)

22 Sebaran responden berdasarkan tingkat kepuasan setelah

meminum produk suplemen penstimulasi stamina ... 67 23 Sebaran nilai indeks terhadap atribut produk suplemen

penstimulasi stamina ... 68 24 Sebaran nilai indeks terhadap atribut harga produk suplemen

penstimulasi stamina ... 70 25 Tingkat kepuasan responden berdasarkan atribut promosi

produk suplemen penstimulasi stamina ... 72 26 Kepuasan responden terhadap atribut lokasi penjualan

produk suplemen penstimulasi stamina ... 75 27 Sebaran responden berdasarkan tempat dan yang membeli

produk suplemen penstimulasi stamina ... 76 28 Sebaran responden berdasarkan sumber informasi utama ... 78 29 Sebaran responden berdasarkan cara mencari informasi produk

suplemen penstimulasi stamina ... 79 30 Sebaran responden berdasarkan kesadaran, kesehatan dan

kebugaran sebelum dan setelah mengetahui informasi ... 80 31 Sebaran responden berdasarkan pengetahuan jenis merek

produk suplemen penstimulasi stamina ... 81 32 Sebaran responden berdasarkan merek produk suplemen

yang pertama sekali diminum dan sering dikonsumsi ... 82 33 Sebaran responden berdasarkan umur terhadap lama waktu

mengkonsumsi produk suplemen penstimulasi stamina ... 83 34 Sebaran responden berdasarkan frekuensi konsumsi

produk suplemen penstimulasi stamina ... 84 35 Sebaran responden berdasarkan kepuasan setelah meminum

produk suplemen penstimulasi stamina ... 85 36 Sebaran responden berdasarkan ada tidaknya pengaruh sex

setelah mengkonsumsi produk suplemen berdasarkan usia ... 86 37 Sebaran responden berdasarkan saat apa mengkonsumsi

produk suplemen penstimulasi stamina ... 88 38 Sebaran responden berdasarkan pengetahuan sebelum dan setelah

diminta menuliskan komposisi ... 89 39 Sebaran responden berdasarkan alasan memilih merek terbaik ... 90 40 Sebaran responden berdasarkan alasan menggunakan merek

(13)

DAFTAR GAMBAR

No. Halaman

1 Rumus bangun tiamin dan riboflavin ... 8

2 Rumus bangun vitamin B6 ... 10

3 Pemanis bua tan yang diizinkan BPOM dan aturan pakainya ... 12

4 Model perilaku konsumen ... 18

5 4 P dalam bauran pemasaran ... 21

6 Tahap-tahap pengolahan informasi ... 24

7 Piramida kesadaran merek ... 20

8 Diagram alir kerangka pemikiran ... 33

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman

1 Lembar kuesioner ... 98

2 Pokok penelitian, jenis data, sumber data dan metode pengumpulan ... 103

3 Peubah segmentasi untuk pasar konsumen ... 104

4 Siklus hidup keluarga ... 105

5 Gambaran umum wilayah Kota Bogor tahun 2004 ... 106

6 Peta Kota Bogor ... 108

7 Angkatan kerja menurut lapangan usaha, status pekerjaan, kelompok umur dan tingkat pendidikan di Kota Bogor tahun 2002 ... 109

8 Pemanis buatan dan batas maksimum penggunaannya ... 110

9 Zat warna yang digunakan sebagai bahan berbahaya ... 111

(15)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Dewasa ini, produk suplemen semakin berkembang yang ditandai dengan makin banyaknya produk suplemen yang beredar dipasaran, seperti Lipovitan, Kratingdaeng, Extra Joss, Himaviton Jreng, M-150, Vit Up. Hal ini dipengaruhi oleh tingginya permintaan konsumen, meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan dan peningkatan stamina. Produk suplemen merupakan sumber asupan energi yang dapat dikonsumsi pada saat beraktivitas berat dan berolahraga untuk memulihkan stamina dan meningkatkan vitalitas bagi konsumen.

Faktor yang diduga sangat mendukung pertumbuhan bisnis ini adalah kemampuan produsen menciptakan citra produk suplemen sebagai produk minuman kesehatan (health drink), minuman berenergi tinggi (energy drink) atau minuman untuk olahragawan (sport drink), yang dapat meningkatkan dan mempertahankan stamina, melalui berbagai media promosi.

Selain promosi melalui iklan untuk memperluas pangsa pasar, produsen mensponsori berbagai kegiatan olah raga agar konsumen lebih cepat mengenal produk dan manfaatnya, beberapa perusahaan membuka kounter-kounter khusus di lapangan- lapangan golf, klub-klub olah raga dan memberikan produknya secara gratis. Bahkan beberapa perusahaan lainnya mulai menekan keuntungan denga n menurunkan harga, sehingga produk dapat dibeli oleh semua lapisan masyarakat. Hal ini akan menjadi preferensi konsumen terhadap produk suplemen.

(16)

Melihat perkembangan produk suplemen, sangat menarik untuk dilakukan pengkajian yang lebih mendalam terhadap preferensi produk suplemen dan seberapa jauh semua peubah saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain terhadap preferensi konsumsi produk suplemen yang sudah beredar, khususnya di Kota Bogor.

Perumusan Masalah

Preferensi merupakan gambaran kesan yang mengarah kepemahaman dan ingatan sehingga terbentuk persepsi serta tersimpan dan melekat dalam pikiran konsumen yang diwujudkan dalam bentuk sikap seseorang yang ditunjukkan dengan derajat suka atau tidak suka terhadap suatu jenis produk suplemen. Komponen preferensi yang mempengaruhi konsumsi produk suplemen terdiri dari beberapa komponen yaitu karakteristik individu yang meliputi umur, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan dan pengetahuan gizi; karakteristik produk yang meliputi rasa, warna, aroma, kemasan, tekstur dan harga; karakteristik lingkungan yang meliputi jumlah anggota keluarga, tingkat sosial, pekerjaan, musim dan mobilitas.

Produsen yang secara terus menerus menanamkan asosiasi-asosiasi produk suplemen kepada konsumen, baik melalui iklan atau promosi, maka dalam benak konsumen akan terbentuk preferensi produk tersebut. Jika preferensi telah terbentuk dan suatu produk dianggap baik oleh konsumen, maka konsumen akan melakukan pembelian dan jika konsumen merasa puas dengan produk suplemen tersebut, konsumen menjadi loyal. Hal inilah yang menjadi tujuan utama setiap produsen. Dengan demikian informasi tentang preferensi produk suplemen penstimulasi stamina menjadi sangat penting.

(17)

Tujuan Penelitian

a. Menganalisis tingkat kepuasan dan citra atribut terhadap pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen.

b. Mengidentifikasi faktor- faktor dominan yang berpengaruh terhadap preferensi konsumsi produk suplemen penstimulasi stamina.

c. Mengetahui tingkat kontribusi komponen-komponen penyusun preferensi produk suplemen penstimulasi stamina.

Manfaat Penelitian

(18)

TINJAUAN PUSTAKA

Produk Suplemen

Produk suplemen pada dasarnya merupakan pangan olahan, karena dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 7 tahun 1996 tentang pangan dikatakan bahwa, pangan olahan adalah makanan dan minuman hasil proses dengan cara atau metode tertentu dengan atau tanpa bahan tambahan (Syah et al. 2005). Berdasarkan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM, 1996), minuman suplemen adalah salah satu bentuk produk makanan suplemen yang mengandung satu atau lebih vitamin, mineral, tumbuhan atau bahan yang berasal dari tumbuhan, asam amino, bahan yang digunakan untuk meningkatkan angka kecukupan gizi, atau konsentrat, metabolit, konstituen, ekstrak, atau kombinasi beberapa bahan tersebut.

Bisnis minuman di Indonesia sedikitnya telah mengalami lima periode perkembangan. Periode pertama sekitar tahun 60-an ditandai dengan mulai dipasarkannya jenis minuman soft drink. Sekitar tahun 70-an mulai dikenal minuman yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, misalnya teh botol yang saat itu sempat menguasai pasaran. Produk tersebut selanjutnya digantikan oleh air mineral pada tahun 90-an. Periode 1990-1995 dikenal produk baru yang disebut minuman sari buah (fruit juice) dan akhirnya pada tahun 1995, minuman kesehatan (suplemen) mulai banyak diproduksi dan dipasarkan (Yunita, 1997).

Berbagai produk minuman baru yang oleh produsen sering disebut sebagai minuman kesehatan (health drink), meliputi produk yang diklaim sebagai minuman untuk meningkatkan kesehatan, minuman berenergi tinggi

(energy/stamina drink) atau minuman untuk olahragawan (sport drink), minuman

isotonik (isotonik drink) dan minuman kesehatan dari susu (milk base). Minuman berenergi dibedakan menjadi dua, yaitu dengan dasar vitamin dan mineral

(vitamin base) dan minuman dengan dasar ginseng (ginseng base). Minuman

(19)

Trend produk suplemen telah merambah Indonesia yang ditandai beredarnya produk Lipovitan produksi PT. Taisho Indonesia (TI). Produk Lipovitan dapat dikatakan sebagai biangnya, karena sebelum merek- merek seperti Kratingdaeng, Hemaviton dan Extra Joss, Lipovitan sudah menguasai pasar lebih dari 10 tahun. Di tengah maraknya produk suplemen, merek Lipovitan yang menjadi pioner dalam industri produk suplemen justru menurun, walaupun tetap melakukan upaya pemasaran dan periklanan. Lipovitan tertinggal jauh dibanding produk suplemen Kratingdaeng, Hemaviton dan Extra Joss. Lipovitan mulai goyah pada awal 1990-an setelah hadirnya produk suplemen Kratingdaeng dengan menawarkan cita rasa dan konsep pemasaran yang strategis pada tahun 1993 (Durianto et al, 2004a).

Sementara PT. Bintang Toejoe pada tahun 1994 meluncurkan langkah spektakuler dengan produk suplemen Extra Joss dalam bentuk serbuk yang di kemas sachet dengan harga jual murah (Hidayat, 2002). Tiga kekuatan produk suplemen Extra Joss tersebut mendapat minat konsumen yang umumnya sering mengkonsumsi produk suplemen dalam bentuk cair kemasan botol dan harga relatif mahal. Permintaan dan prospek pasar menjanjikan ini, mendorong produsen lain untuk mencari positioning baru yang berbeda dari produk terdahulu. Salah satu kelebihan yang ditawarkan produsen adalah komposisi. Hemaviton Energy Drink produksi PT. Tempo Scan Pacifik memposisikan diri sebagai produk suplemen yang cenderung memiliki atribut seksualitas, seperti yang melekat pada produk sebelumnya, Hemaviton kapsul. Tidak dapat dipungkiri (Yunita, 1997), produk-produk suplemen sangat dekat dengan atribut seksual. Apalagi unsur ginseng dan madu selain vitamin dijadikan kekuatan utama untuk menstimulasi stamina. Oleh karena itu, konsumen semakin tertarik untuk mengkonsumsi produk suplemen, sehingga pertumbuhan produk terus berkembang di Indonesia.

(20)

Hingga saat ini, kurang lebih terdapat 42 perusahaan yang memperoleh izin untuk memproduksi produk suplemen dengan total kapasitas sebesar 164 juta liter per tahun (Tabel 1).

Tabel 1. Produsen dan kapasitas produksi produk suplemen, 2004 No Produsen Kapasitas

(L) Merek Wilayah

1 Perusahaan Tandu Rusa Banteng Sulawesi

Utara 2 PT. Asia Health Energi

Beverages

55.000.000 Kratingdaeng Kratingdaeng-S Kratingdaeng Low Sugar

Jawa Barat

3 PT. Bintang Toejoe 1.250.000 Extra Joss, Carnitine, Extra Joss LG

DKI Jakarta

4 PT. Bud icita Multirasa 1.100.000 Panther DKI Jakarta 5 PT. Cipta Rasa Sempurna Energic DKI Jakarta 6 PT. Everfresh

Indobeverage

Turbo Jawa Tengah

7 PT. Henson Farma Ultra Joss Jawa Timur

8 PT. Inti Guna Sari Power Yess DKI Jakarta

9 PT. Jamu Air Mancur 1.400.000 Mukasa Jawa Tengah

10 PT. Jamu Iboe Jaya Gingseng

Prakoso Plus

Jawa Timur

11 PT. Jamu Jitu Amstrong Jawa Timur

12 PT. Konimex

Pharmaceutical Lab. Ind.

990.000 Fit-Up Jawa Tengah

13 PT. Kurnia Alam Segar Enerjos Jawa Timur

14 PT. Leo Agung Raya 500.000 Leo Gingseng Jawa Tengah 15 PT. M-150 Indonesia/PT.

Osotspa ABC Indonesia

M-150, Shark DKI Jakarta

16 PT. Madu Nusantara Bee Jelly DKI Jakarta

17 PT. Mentari Anugerah Sakti

Kuat Josss Jawa Tengah

18 PT. Molek Ayus Enerfos Jawa Barat

19 PT. Monysaga Prima Bomba, Saga

Energi

Jawa Barat 20 PT. Nala Vini Eka

(Navika) Beverages

Qolbu DKI Jakarta 21 PT. Panjangjiwo

Panganmakmur

Stamina Plus Jawa Timur 22 PT. Pradja

Pharmaceutical Industries

1.200.00 Bacchus D, Matador

Jawa Barat 23 PT. Rama Pharmaceutical

Industry

Vitas Plus Gingseng

(21)

No Produsen Kapasitas

(L) Merek Wilayah

24 PT. Saka Farma 150.000 Sakatonik Grenk

Jawa Tengah 25 PT. Saka Farma Sehat Saka Gingseng Jawa Tengah 26 PT. Sari Enesis Indah Nature Gold DKI Jakarta 27 PT. Schering Indonesia 102.000 Ginsana DKI Jakarta 28 PT. Serasi Indah Sehat Terajana Jawa tengah

29 PT. Sido Muncul Kuku Bima

Ener G !

Jawa Tengah 30 PT. Simex

Pharmaceutical Indonesia

Xtra Jreng DKI Jakarta 31 PT. Sinde Budi Sentosa

Pharmaceutical

150.000 Wonbi-D, Ena’O

Jawa Barat 32 PT. Soho Industri

Pharmasi

Heparfit DKI Jakarta 33 PT. Taisho Indonesia 3.950.000 Lipovitan, Zena Jawa Barat 34 PT. Tempa Scan Pacific 1.700.000 Hemaviton

Energy Drink, Hemaviton Jreng

Jawa Barat

35 PT. Triyasa Nagamas Farma

595.000 Nagatan, Nagatan-G

DKI Jakarat 36 PT. Ultra Prima Abadi 1.000.000 Galian Bugar Jawa timur 37 PT. Ultrajaya Milk Ind 175.000 Ultra Joss Jawa Barat 38 PT. Universal Prima

Indomandiri

Ener Bee Jawa Barat

39 PT. Wing Surya Energi Joss DKI Jakarta

40 PT. Woltrow Multika Ginger Spice DKI Jakarta

41 Sinar Pusaka Krakatau

Berenergi

Jawa Tengah 42 PT. Sari Nusantara

Beverages

Starting DKI Jakarta Sumber: Badan Pusat Statistik, 2004.

(22)

Komponen Produk Suplemen Penstimulasi Stamina

1. Vitamin

Vitamin dibagi atas kelarutannya, yaitu vitamin larut dalam air dan vitamin larut dalam minyak (Linder, 1992). Sementara Wina rno (1982) mengemukakan bahwa, vitamin yang larut air mudah diserap ke dalam darah, tidak melalui saluran lymphe dan tidak dapat ditimbun di dalam tubuh. Vitamin yang ditambahkan ke dalam produk suplemen umumnya berupa vitamin yang larut dalam air (Hidayat, 2002).

Produk suplemen sebagian besar mengandung multivitamin B dan zat non gizi, stimulant dan flavouring. Jenis vitamin yang banyak digunakan adalah vitamin B komplek, yaitu vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), niasin

(asam nikotinat, niasinamida), vitamin B6 (pyridoxine) asam pantotenat,

inositol dan vitamin B12 (Sianokobalamin).

Tiamin hidro klorida

Tiamin pirofosfat (kokarboksilase)

Riboflavin (6,7-dimetil-9-(1-D-ribitil)- isoaloksazina) Gambar 1. Rumus bangun tiamin dan riboflavin (Winarno, 1982)

N N

NH2HCL

N S

CH3

CH2 CH2OH

H3C

N N

NH2

N S

CH3

CH2 CH2

H3C

O O

O P P

OH

OH OH

N

N

H3C N

H3C

O

(23)

Semua bahan pangan baik hewani maupun nabati mengandung vitamin

B1 (tiamin) (Hendler, 2001). Menurut Winarno (1982), tiamin berperan

sebagai koenzim dalam reaksi-reaksi yang menghasilkan energi dari karbohidrat dan memindahkan energi membentuk senyawa kaya energi. Kekurangan tiamin akan terjadi polyneuritis yang disebabkan terganggunya transmisi syaraf atau jaringan syaraf menderita kekurangan energi. Hal yang sama diungkapkan Tallaksen et al. (1997) bahwa, vitamin B1 dikenal esensial

bagi tubuh untuk fungsi pertumbuhan, menambah nafsu makan, memperbaiki fungsi saluran pencernaan dan memelihara proses kehidupan sel-sel dalam tubuh. Winarno (1982) mengatakan bahwa, vitamin B2 (riboflavin) larut dalam air dan memberi warna fluoresens kuning-kehijauan merupakan komponen suatu sistem enzim yang dikenal sebagai flavoprotein dan terlibat dalam reaksi-reaksi metabolisme intermediet.

Niasin merupakan dua komponen koenzim, yaitu nicotinamide adenine

dinucleotide (NAD) dan nicotinamide adenine dinucleotide phosphate

(NADP) (Hendler and Rorvik, 2001) yang berfungsi sebagai katalis reaksi-reaksi reduksi dan oksidasi guna menjaga sistem syaraf dan sistem pencernaan, menurunkan kolesterol dan trigliserida dalam darah (Carpenter. 1981), serta menjaga agar suplai energi dalam jaringan tubuh berjalan normal (Winarno, 1982).

Vitamin B6 (pyridoxine HCl) merupakan kelompok piridina dengan

keasaman tinggi (Winarno, 1982) yang terdiri dari piridoksin, piridoksal dan piridoksamina (Hanna, 1997). Vitamin B6 berfungsi sebagai koenzim piridoksal fosfat yang banyak berperan dalam reaksi enzim, terutama dalam metabolisme asam amino, membantu fungsi otak, produksi energi (Tsuge, 1997), mencegah stress, memacu pembentukan sel darah merah, memelihara keseimbangan cairan tubuh dan pengaturan eksresi air (Griffith, 1988). Menurut Winarno (1982), vitamin B12 (sianokobalamin) merupakan senyawa

(24)

Piridoksin

Piridoksal

Piridoksamina

Gambar 2. Rumus bangun vitamin B6 (Winarno, 1982)

2. Kafein

Kafein merupakan derivate xantin berbentuk serbuk berwarna putih dan

sedikit rasa pahit yang dapat mempengaruhi sistem syaraf pusat dan otot sehingga mencegah rasa mengantuk, menaikkan daya tangkap pancaindra, mempercepat daya pikir dan mempengaruhi rasa lelah (Konarek et al. 1994), mempengaruhi sistem pernapasan, sistem pembuluh darah dan jantung, mempercepat laju sperma, serta mempertahankan ereksi, sering dimanfaatkan untuk menciptakan efek penstimulasi stamina (Ashurst, 1998) dan menumbuhkan kewaspadaan tingkat tinggi (Martindale, 1997). Oleh karena itu, setiap mengkonsumsi kopi 85–200 mg atau 1-3 cangkir/hari stamina terasa meningkat, bersemangat dan tidak mudah lelah atau mengantuk (Yunita, 1997).

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) menetapkan kandungan

kafein dalam produk suplemen tidak boleh melebihi 50 mg. Jika dikonsumsi

C

CH2OH

C

HO C

CH N

C CH2OH

H3C

C

CHO C

HO C

CH N

C CH2OH

H3C

C

CH2NH2

C

HO C

CH N

C CH2OH

(25)

melebihi dosis, dalam jangka panjang konsumen akan terkena penyakit

jantung, darah tinggi, ginjal dan penyakit gula serta efek kecanduan yang

diindikasikan dengan rasa lesu jika tidak mengkonsumsi produk suplemen (BPOM, 1996). Hal senada dikemukakan Linder (1992) bahwa, konsumsi

kafein berlebih dapat menyebabkan peningkatan denyut jantung,

pembengkakan pembuluh darah, tekanan darah tinggi, peningkatan aktivitas usus, pengeluaran asam lambung, gagal ginjal, (Martindale, 1997) rasa gelisah, susah tidur, sering buang air kecil, nafsu makan turun dan iritasi pada lambung sehingga produksi getah lambung meningkat.

3. Pemanis buatan

Pemanis buatan yang ditambahkan ke dalam produk suplemen merupakan pengganti gula, karena mempunyai kelebihan dibandingkan dengan pemanis alami yaitu rasanya lebih manis, membantu mempertajam penerimaan terhadap rasa manis, tidak mengandung kalori dan harga lebih murah. Pemanis buatan yang paling umum digunakan dalam pengolahan pangan di Indonesia adalah aspartam, sorbitol, sakarin dan siklamat yang mempunyai tingkat kemanisan masing- masing 30-80 dan 300 kali gula alami (Syah et al. 2005).

Menurut Permenkes 208/Menkes/Per/IV/85, pemanis buatan hanya digunakan untuk penderita diabetes dan penderita yang memerlukan diet rendah kalori, yaitu aspartam, sakarin dan sorbitol. Aspartam merupakan molekul dipeptida dari asam amino fenilalanin sebagai metil ester dan L-asam aspartat dengan tingkat kemanisan mencapai 160-220 kali sukrosa dan stabil pada kisaran pH 3 hingga 5, serta titik isoelektriknya 5,2 (Brannen et al, 1990), sementara sakarin yang merupakan pemanis buatan tanpa energi (

non-nutritive) memiliki daya kemanisan 300 kali lipat lebih kuat dibanding gula

(26)

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengeluarkan Surat Keputusan Kepala Badan POM No. HK.00.05.5.1.4547 tahun 2004 tentang Persyaratan Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pemanis Buatan dalam produk pangan. Surat keputusan ini merupakan panduan bagi produsen dalam menambahkan pemanis buatan untuk produk yang dihasilkan, dan sebagai rujukan konsumen untuk memilih dan menggunakan produk yang aman bagi kesehatan.

Tabel 3. Pemanis buatan yang diizinkan BPOM dan aturan pakainya No Pemanis buatan ADI mg/kg Berat badan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Acesulfam-K (Acesulfame-K) Alitam (Alitame)

Aspartame (Aspartame) Siklamat (Cyclamate) Neotam (Neotame) Sakarin (Saccharin) Sukralosa (Sucralose) Isomalt

Laktitol (Lactitol) Maltitol

Manitol (Mannitol) Sarobitol

Xilitol (Xylitol)

15 0.34

50 11 2 5 10-15 Not specified Not specified Not specified Not specified Not specified Not specified Keterangan: Not specified berarti dapat digunakan dalam pangan tanpa pembatas selain dari pada sesuai dengan Cara Produksi Pangan yang Baik (GMP).

Acceptable daily intake (ADI). Sumber: Syah et al, 2005.

4. Mineral

Secara alamiah, air telah mengandung bermacam- macam mineral, seperti fluor, kalsium, magnesium, iodium, natrium, kalium dan lain- lain. Kadar mineral dalam air minum sangat bervariasi dan terbatas jumlahnya, yang ditentukan oleh sumber air dan proses pengolahannya, sehingga beralasan bahwa, mineral sangat penting ditambahkan ke dalam berbagai jenis produk suplemen. Winarno (1982) mengemukakan bahwa, mineral dapat dibagi atas mineral makro dan mikro.

(27)

and Law, 1997). Sementara Fessenden and Fessenden (1997) mengemukakan bahwa, metabolisme tubuh cenderung me manfaatkan kembali mineral yang ada di dalam tubuh daripada membuangnya.

Menurut Linder (1992), natrium, klor, kalsium, fosfor, magnesium dan belerang yang terdapat dalam tubuh cukup besar. Natrium dan klorida biasanya berhubungan erat, baik sebagai bahan makanan maupun fungsinya dalam tubuh. Griffith (1988) mengatakan bahwa, natrium dan klorida membantu mempertahankan tekanan osmotik sehingga cairan tidak keluar dari darah dan masuk ke dalam sel, disamping membantu menjaga keseimbangan asam dan basa dengan mengimbangi zat-zat yang membentuk asam, transmisi syaraf, kontraksi otot dan absorpsi glukosa. Kalsium dalam sel tubuh berbentuk ion yang berperan pada pembentukan tulang, transmisi impuls syaraf, kontraksi otot, penggumpalan darah, proses penyerapan vitamin B12,

struktur dan pengaturan permeabilitas membran sel, serta keaktifan enzim (Winarno, 1982).

Iodium merupakan komponen esensial tiroksin dan kelenjar tiroid (Griffith, 1988). Ohtaki et al. (1985) mengungkapkan bahwa, tiroksin mempunyai peran dalam meningkatkan laju oksidasi dalam sel-sel tubuh, sehingga meningkatkan basal metabolic rate (BMR), menghambat proses fosforilasi oksidatif, sehingga terbentuk nya adenosin tripospat (ATP) berkurang dan lebih banyak dihasilkan panas.

(28)

Kebijakan Terkait Tentang Produk Suplemen Penstimulasi Stamina

Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (Dirjen POM) memberi batasan mengenai suplemen sebagai produk yang digunakan untuk melengkapi makanan dan mengandung satu atau lebih bahan-bahan seperti, vitamin, mineral, asam amino, bahan yang digunakan untuk meningkatkan angka kecukupan gizi dalam bentuk konsentrat, metabolit, ekstrak atau kombinasi dari bahan-bahan sebelumnya (BPOM, 1996).

Pemerintah melalui Departemen Perindustrian cq. Dewan Standarisasi Nasional telah melakukan standarisasi terhadap produk suplemen untuk menjaga mutu produksi. Standar mutu produk atau yang dikenal dengan nama Standar Nasional Indonesia (SNI) dibentuk pemerintah dengan pertimbangan melindungi produsen, menunjang ekspor non migas, mendukung perkembangan agroindustri dan melindungi konsumen.

Undang-undang Republik Indonesia No. 7 tahun 1996 tentang pangan pasal 38 meyatakan bahwa, setiap orang yang memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia untuk diedarkan harus bertanggungjawab atas keamanan, mutu, dan gizi pangan (Syah et al. 2005). Keamanan pangan merupakan kondisi yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain dalam penyelenggaraan kegiatan atau proses produksi, penyimpanan, pengangkutan, dan atau peredaran pangan demi kepentingan kesehatan manusia. Mutu pangan dimaksud adalah jaminan yang wajib dilakukan oleh produsen, sesuai dengan jenis pangan yang diproduksi. Sementara gizi pangan yang dimaksud dalam ketentuan UU tersebut adalah setiap orang yang memproduksi pangan olahan tertentu untuk diperdagangkan wajib menyelenggarakan tata cara pengolahan pangan yang dapat menghambat proses penurunan atau kehilangan kandungan gizi bahan baku pangan yang digunakan.

(29)

lain yang belum disetujui. Penandaan dapat mencantumkan klaim fungsi gizi dengan ketentuan hanya menjelaskan peran gizi dalam mekanisme tubuh seperti; kalsium membantu perkembangan tulang gigi yang kuat (BPOM, 1996).

Terkait dengan iklan produk suplemen, dijelaskan dalam UU No. 8 Tahun 1999 tentang Hukum Perlindungan Konsumen bahwa (a) iklan harus sesuai dengan indikasi jenis produk; (b) iklan tidak boleh menyatakan/memberi kesan bahwa vitamin dan mineral selalu dibutuhkan untuk melengkapi makanan yang sudah sempurna nilai gizinya; (c) iklan tidak boleh menyatakan memberi kesan bahwa penggunaan vitamin/mineral adalah syarat mutlak bagi semua orang; (d) iklan tidak boleh menyatakan bahwa kesehatan, kegairahan dan kecantikan akan dapat diperoleh hanya dari menggunakan vitamin dan mineral; (e) iklan tidak boleh mengandung pernyataan tentang peningkatan kemampuan sex secara langsung atau tidak langsung (Widjaya dan Yani, 2000).

Preferensi Konsumen

1. Teori preferensi

Preferensi merupakan gambaran sikap seseorang yang ditunjukkan dengan derajat suka atau tidak suka terhadap suatu jenis makanan dan atau minuman (Sanjur, 1982). Sikap suka atau tidak suka terhadap pangan ya ng diperoleh dari pengalaman belum menjadi perbuatan (action), tetapi dari sikap seseorang dapat diramalkan perbuatannya sebagai salah satu alasan yang membentuk preferensi. Menurut Assael (1992) preferensi merupakan kesan yang mengarah kepemahaman dan ingatan sehingga terbentuk persepsi serta tersimpan dan melekat dalam pikiran konsumen. Setiap individu memiliki persepsi yang berbeda–beda terhadap obyek rangsangan yang sama, hal ini di pengaruhi oleh penerimaan ransangan, perubahan makna informasi, dan pengingatan sesuatu secara selektif. Sementara Engel et al. (1998) mendefinisikan preferensi adalah evaluasi menyeluruh yang memungkinkan orang memiliki respon dengan cara menguntungkan atau tidak.

(30)

produk dibandingkan produk lainnya, artinya pilihan konsumen tidak bersifat

independent, karena dipengaruhi oleh pendapatan dan harga. Lebih jauh

(Mowen and Minor, 1999) mengatakan bahwa, teori preferensi mempunyai implikasi kuat dan banyak dipakai dalam menjelaskan perilaku konsumen.

Berdasarkan definisi di atas, ada tiga anggapan yang digunakan dalam menerangkan teori preferensi yaitu (1) konsumen harus dapat memberikan

urutan kesukaan terhadap berbagai jenis barang dan jasa yang ada; (2) pemberian urutan kesukaan, haruslah berlaku tetap (consistent or transitive)

artinya urutan itu berlaku juga jika diband ingkan dengan barang lainnya; (3) konsumen adalah rasional, artinya jumlah barang dan jasa yang banyak lebih disukai dari pada jumlah yang sedikit.

2. Faktor yang mempengaruhi preferensi

Menurut Sanjur (1982), ada tiga faktor utama yang mempengaruhi preferensi konsumen terhadap suatu jenis produk yang disukai dan diyakini mempunyai peranan besar dalam menentukan mutu produk dan kepuasan konsumen, yaitu (1) karakteristik individu, meliputi umur, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan dan pengetahuan gizi; (2) karakteristik produk, meliputi rasa, warna, aroma, kemasan, tekstur dan harga; (3) karakteristik lingkungan, meliputi jumlah anggota keluarga, tingkat sosial, pekerjaan, musim dan mobilitas. Semua peubah tersebut saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain.

Pendapat ini diperkuat Krisnadi (2003) yang menyatakan bahwa, jumlah dan jenis produk suplemen yang dikonsumsi, selain dipengaruhi preferensi juga dipengaruhi sosial budaya setempat serta karakteristik produk itu sendiri. Hal senada juga dikemukakan Sutisna (2001) bahwa, interaksi dengan keluarga, teman, kombinasi rasa, warna, aroma dan bentuk produk serta penyajian merupakan hal yang paling banyak mempengaruhi preferensi.

Sedangkan menurut Sanjur (1982) faktor yang mempengaruhi terhadap

food preference adalah (1) intrinsik, seperti penampakan, aroma, temperatur,

(31)

psikologis dan aspek biologis; (4) personal, seperti tingkat harapan, kepribadian, selera, suasana hati, emosi, persepsi dan pengaruh orang lain; (5) sosial ekonomi, seperti pendapatan keluarga, harga makanan, status sosial dan keamanan; (6) pendidikan, seperti status pengetahuan, individu dan keluarga serta pengetahuan tentang gizi; (7) kultur, agama dan daerah, seperti asal kultur, latar belakang agama, kepercayaan, tradisi serta letak daerah.

Preferens i konsumen terhadap suatu produk pada dasarnya bersifat plastis dan akan semakin terpengaruh dengan adanya pendekatan produsen melalui media masa seperti radio, televisi, pamflet, iklan dan sebagainya, beberapa diantaranya telah mencapai daerah terpencil dan hal ini tentu sangat efektif untuk merubah kebiasaan konsumsi, terutama pada usia muda dan akan bersifat permanen bila seseorang telah berusia tua dengan gaya hidup yang kuat (Sutisna, 2001). Disamping itu, faktor lingkungan dan budaya, pengaruh waktu dan kondisi konsumen saat disediakan, perasaan dan saat terakhir mengkonsumsi (Nurismanto, 2000), yang ditunjukkan dengan sikap penerimaan hedonik atau cita rasa makanan yang dapat diukur secara verbal dengan skala atau ekspresi wajah (Razin and Vollmecke, 1986).

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor yang

mempengaruhi preferensi konsumen terhadap suatu produk adalah (1) perbedaan individu, yakni kebutuhan dan motivasi, gaya hidup, tingkat

pengetahuan dan sikap; (2) faktor lingkungan, yakni budaya, sosial ekonomi, jumlah keluarga, kelompok acuan, situasi konsumen.

3. Preferensi konsumen terhadap produk

(32)

Sebelum membeli atau tidak terhadap tawaran produsen, menurut Kotler (2000) konsumen harus mempertimbangkan (1) atribut, yaitu mutu, harga, fungsi (fitur), desain, dan layanan purna jual; (2) merek, merek (branding) sangat penting bagi keberhasilan produk; (3) kemasan, kemasan (packaging) berpengaruh terhadap daya tarik konsumen, sehingga menimbulkan citra

(image) produk; (4) label, pemberian label (labeling) berhubungan dengan

kebutuhan konsumen dan atau ketentuan pemerintah; (5) pendesainan layanan produk pendukung (product-support services). Hal senada diungkapkan oleh Engel et al. (1998) bahwa, konsumen sebelum membeli perlu menilai mutu harga, (Yunita, 1997) warna, sanitasi, daya tahan, status dan garansi suatu produk secara obyektif, hal ini dilakukan untuk mengurangi resiko.

[image:32.596.125.503.446.734.2]

Kenyataannya, konsumen cenderung kurang mengetahui produk yang sebenarnya dibutuhkan, tetapi memilih berdasarkan kebiasaan, tingkat keterlibatan rendah dan tidak dapat membedakan antara merek, sehingga tidak membentuk sikap yang kuat terhadap merek produk dan menimbulkan perasaan yakin bahwa produk tersebut bermanfaat bagi dirinya tanpa mengevaluasi (Gambar 4).

Gambar 4. Model perilaku konsumen (Assael, 1984) Individu

konsumen

Penerapan perilaku konsumen terhadap strategi pemasaran Pengaruh

lingkungan

Pengambilan keputusan oleh konsumen

Tanggapan konsumen Umpan balik

ke konsumen

(33)

4. Preferensi konsumen terhadap harga

Uang yang dibayar konsumen terhadap produk atau jasa, merupakan apresiasi konsumen terhadap kepuasan yang diperoleh dari pembelian produk atau jasa. Menurut Peter and Olson (2000), harga meliputi biaya produksi, laba usaha dan tingkat kompetisi. Sementara Kotler (2000) mengatakan bahwa, harga adalah nilai yang dipertukarkan konsumen untuk suatu manfaat atas pengkonsumsian, penggunaan, kepemilikan barang atau jasa.

Penentuan harga oleh suatu perusahaan dilakukan untuk mencapai keseimbangan antara laba dengan tingkat kepuasan konsumen (Mowen and Minor, 1999), disamping segmen pasar yang jelas dan mencapai tingkat penjualan yang sesuai dengan perencanaan perusahaan (Assael, 1984). Artinya, harga tidak boleh lebih rendah dari biaya rataan per produk, jika produsen ingin memperoleh keuntungan.

Namun, faktor harga tidak selalu dapat digunakan untuk memenangkan persaingan, karena (Simamora, 2003) harga tidak dapat digunakan sebagai alat untuk memenangkan persaingan. Harga rendah bukan andalan, jika atribut yang diperhatikan konsumen adalah keindahan produk. Oleh sebab itu, produsen harus melakukan analisis terhadap sejumlah peubah finansial dan non- finansial dalam konteks lingkungan bisnis secara keseluruhan dan menggunakan pengalaman untuk fokus memberikan kepuasan.

5. Preferensi konsumen terhadap distribusi

(34)

Simamora (2003) mengatakan bahwa, distribusi produk perlu didesain dengan cara: (1) menganalisis kebutuhan pelanggan, mencakup ukuran pembelian (loz size), waktu tunggu (waiting time), kenyamanan tempat

(spatial convenience), variasi produk (product variety), dan dukungan layanan;

(2) menetapkan sasaran dan pembatas saluran, yakni menetapkan sasaran konsumen yang ingin dilayani dan berapa service level yang diinginkan dengan mempertimbangkan faktor pembatas perusahaan; (3) mengidentifikasi, alternatif utama distribusi dibentuk dengan mempertimbangkan tipe saluran pemasaran (types of business intermediaries), luas saluran pemasaran (number

of intermediaries) dan tanggungjawab masing- masing saluran pemasaran yang

berpartisipasi dalam saluran; (4) evaluasi alternatif-alternatif saluran utama, untuk mengevaluasi mana yang paling sesuai, produsen dapat menggunakan kriteria-kriteria ekonomi, kriteria pengendalian dan kriteria adaptif.

6. Preferensi konsumen terhadap promosi

Promosi merupakan salah satu peubah yang digunakan oleh produsen untuk menarik minat pembeli dengan memberikan stimulus melalui daya persuasinya dalam menciptakan brand awareness dan membentuk persepsi terhadap produk (Mowen and Minor, 1999). Kotler (2000) mengemukakan bahwa, promosi adalah kegiatan yang ditujukan untuk mempengaruhi konsumen agar menjadi kenal dan senang untuk membeli produk tersebut. Sementara Peter and Olson (2000) mengatakan promosi adalah arus informasi dalam bentuk iklan untuk mengarahkan seseorang atau organisasi kepada tindakan pertukaran dalam pemasaran sehingga konsumen menjadi yakin.

(35)
[image:35.596.115.513.161.549.2]

needs and wants, cost to the customer, convenience, dan communication (4C) atau dengan kata lain, bauran pemasaran digunakan untuk memberikan kebutuhan, keinginan dan kepuasan konsumen terhadap suatu produk.

Gambar 5. 4 P dalam bauran pemasaran (Kotler, 2000)

Pencapaian bauran pemasaran produk, menurut Peter and Olson (2000) harus memberikan manfaat (1) kegunaan bentuk (form utility), perubahan bentuk menjadi produk bernilai; (2) kegunaan tempat (place utility) sehingga mudah didatangi konsumen; (3) kegunaan waktu (time utility), produk mudah diperoleh pada saat diinginkan; (4) kegunaan informasi (information utility), dapat memberikan informasi maupun hal- hal yang berkaitan dengan produk; (5) kegunaan kepemilikan (possession utility), terjadi pada saat konsumen membeli produk dan kepemilikan dialihkan dari penjual kepada konsumen.

Produk (

product

)

Keanekaragaman produk Pengembangan

Pelayanan Kemasan Kualitas Desain Bentuk Merek Ukuran Jaminan

Pemasaran

Distribusi (

place

)

Ruang lingkup Pengangkutan Penyortiran Persediaan Saluran Lokasi

Promosi (

promotion

)

Pesan Sasaran Anggaran

Metoda

Harga (

price

)

Daftar harga Rabat Potongan Syarat kredit

(36)

Pengambilan Keputusan Konsumsi Produk Suplemen Penstimulasi Stamina

1. Penerimaan stimulus

Stimulus merupakan isyarat, baik yang bersifat sosial (dari teman, rekan kerja, anggota keluarga atau orang lain yang tidak berhubungan dengan produsen), komersial (disponsori sebuah perusahaan pedagang atau yang berhubungan dengan produsen), maupun non-komersial (pemerintah atau majalah konsumen) atau suatu alat pendorong yang bersifat fisik (rasa haus, dingin, panas, lapar dan lain- lain) untuk memotivasi seseorang dalam bertindak (Engel et al. 1998).

Kotler (2000) berpendapat bahwa, stimulus yang bertentangan dengan harapan seringkali mendapat perhatian lebih besar bila dibandingkan dengan yang sesuai harapan. Hal inilah yang dikatakan Sumarwan (2003) bahwa, konsumen yang memperhatikan stimulus (suara yang keras, warna yang indah, atau huruf yang besar) karena daya tarik dari stimulus tersebut, pada dasarnya konsumen tersebut tidak sukarela (involuntarily attention). Oleh sebab itu, produsen harus kreatif berkomunikasi dengan konsumen, agar apa yang disampaikan memperoleh perhatian dan respon serius dari konsumen. Perilaku konsumen untuk mengenal stimulus, mencari informasi tentang stimulus yang dibutuhkan dan diikuti evaluasi alternatif berupa solusi penyelesaian dan tahap keputusan pembelian, diakhiri dengan perilaku konsumen setelah membeli dengan landasan kepuasan.

2. Tahap pencarian dan mengolah informasi

Menurut Engel et al. (1998) dan Kotler (2000), informasi dapat menjadi stimulus dalam pengenalan dan pemahaman masalah, sehingga menjadi faktor penting yang mempengaruhi proses penentu konsumsi. Pencarian informasi

(informasi search) dapat dilakukan ke dalam (pengalaman), atau ke luar

(37)

Sumarwan (2003) mengungkapkan bahwa, puluhan atau ratusan informasi yang didapat konsumen akan diolah dan akhirnya diputuskan untuk membeli atau menolak berdasarkan persepsi yang terbentuk. Pengolahan informasi diawali ketika salah satu pancaindera menerima input dalam bentuk stimulus, baik berbentuk produk, bau, rasa, nama merek, kemasan, iklan dan nama produsen yang dikemas dan ditampilkan dalam bentuk iklan, baik yang ditayangkan di televisi, radio maupun spanduk.

Jika dalam ketidakpastian (informasi sama sekali belum lengkap) dan konflik (dua atau lebih saling bertentangan dalam situasi kompetitif), pengambilan keputusan akan berjalan sulit dan memiliki tingkat resiko yang tinggi, namun pada prinsipnya keputusan yang diambil konsumen tidak terlepas dari kondisi lingkungan (Sutisna, 2001), pengaruh konsumen sebagai individu, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya (Assael, 1982).

Engel et al. (1998) mengutip pendapat McGuire menyatakan bahwa, ada lima tahap pengolahan informasi (the information-processing model), yaitu (1) pemaparan (exposure) stimulus, konsume n menyadari keberadaan stimulus tersebut melalui pancaindera, (2) perhatian (attention), yakni kapasitas pengolahan yang dialokasikan konsumen terhadap stimulus; (3) pemahaman

(comprehension), yaitu interpretasi terhadap makna stimulus; (4) penerimaan

(acceptance), yang berkaitan dengan dampak persuasif stimulus kepada

konsumen; (5) retensi (retention), yakni pengalihan makna stimulus dan persuasi ke ingatan jangka panjang (long-term memory), sehingga mempengaruhi stimulus baru (exposure, attention dan comprehension).

3. Pemahaman masalah

Perilaku konsumen pada prinsipnya untuk memahami ”why do

consumers do what they do” yang sangat menentukan dalam proses

pengambilan keputusan untuk membeli produk suplemen sebagai awal dari pengenalan masalah, yaitu berupa desakan yang membangkitkan tindakan untuk memenuhi dan memuaskan keinginan konsumen.

(38)

telah teruji dan dapat memecahkan masalah yang akan dikonsumsi. Sementara Mowen and Minor (1999) mengatakan bahwa, tahap ini merupakan pemberi makna kepada stimulus, tergantung bagaimana stimulus diklasifikasikan dan dielaborasi dalam kaitannya dengan pengetahuan konsumen.

Sumarwan (2003) mengemukakan bahwa, stimulus yang diterima konsumen cenderung dikelompokkan menjadi satu kesatuan yang saling berhubungan (perceptual organization atau stimulus organization) untuk memperoleh makna menyeluruh (1) gambar dan latar belakang (figure and

ground), yakni obyek atau stimulus yang ditempatkan di latar belakang dari

tampilan iklan; (2) pengelompokan (grouping), yakni kemudahan untuk mengingat informasi dalam bentuk kelompok dengan prinsip kedekatan

(proximity), karena dianggap memiliki hubungan yang erat, dan prinsip

[image:38.596.118.511.472.707.2]

kesamaan (similarity), karena kesamaan bentuk, nama, atau lainnya dan prinsip kesinambungan (continuity), penyatuan obyek ke dalam satu kesatuan tanpa terpisah-pisah; (3) closure, yakni konsumen dituntut untuk memahami suatu objek dalam arti yang utuh walaupun ada bagian dari obyek yang hilang atau tidak lengkap. Tahap-tahap pengolahan informasi lebih lengkap dimuat pada Gambar 6.

Gambar 6.Tahap-tahap pengolahan informasi (Engel et al. 1998)

Stimulus

Memori

Pemaparan

Perhatian

Retensi Pemahaman

(39)

4. Evaluasi alternatif

Setiap alternatif harus dievaluasi (evaluation alternative) berdasarkan suatu kriteria tertentu atau prioritas (Kotler, 2000). Kegiatan evaluasi berusaha memisahkan antara alternatif yang dipertaha nkan (memenuhi syarat) dan yang ditinggalkan (tidak memenuhi syarat), karena konsumen cenderung mempertimbangkan satu atau lebih aspek-aspek, seperti aspek teknis, ekonomis, gizi dan kesehatan (mutu dan kuantitas), sosial-budaya-agama, atau kombinasi dari berbagai aspek tersebut (Peter and Olson, 2000).

Menurut Engel et al. (1998), kriteria yang digunakan konsumen selama pengambilan keputusan akan bergantung pada beberapa faktor, yaitu pengaruh situasi dan kesamaan alternatif pilihan, motivasi, keterlibatan dan pengetahuan. Selain itu, (Nurismanto, 2000) evaluasi yang dilakukan konsumen terhadap citra suatu produk dapat berupa penilaian merek, pelayanan, harga, mutu, toko dan penilaian terhadap produsen secara keseluruhan.

Tingkat kerumitan proses evaluasi alternatif yang dilakukan konsumen sangat tergantung kepada model pengambilan keputusan yang dijalani konsumen. Jika pengambilan keputusan adalah kebiasaan, maka konsumen hanya membentuk keinginan untuk membeli ulang produk yang sama seperti yang telah dib eli sebelumnya. Apabila konsumen tidak memiliki pengetahuan mengenai produk yang akan dibelinya, kemungkinan konsumen lebih mengandalkan rekomendasi dari teman atau kerabatnya mengenai produk yang akan dibelinya.

Menurut Mowen and Minor (1999), proses evaluasi alternatif akan mengikuti pola apakah mengikuti model pengambilan keputusan (the

decision-making persepective), model eksperiental (the experiental

perspective), atau model perilaku (the behavioral perspective). Jika konsumen

berada dalam kondisi keterlibatan tinggi terhadap produk (high-involvement

dicision making), maka proses evaluasi alternatif akan melalui tahapan

pembentukan kepercayaan, pembentukan sikap, dan keinginan berperilaku

(40)

5. Tahap membeli

Pembelian produk suplemen yang dilakukan konsumen dapat digolongkan ke dalam tiga jenis (Engel et al, 1998), yaitu (1) pembelian yang terencana sepenuhnya, yakni konsumen telah menentukan pilihan produk dan merek jauh sebelum pembelian dilakukan; (2) pembelian yang separoh terencana, yakni keinginan konsumen untuk membeli suatu produk, namun tidak mengetahui merek yang akan dibeli hingga dapat informasi yang lengkap dari pramuniaga atau display di swalayan; (3) pembelian yang tidak terencana, yakni keinginan untuk membeli sering muncul di toko atau mal.

Kotler (2000) mengatakan, pada tahap pembelian konsumen harus mengambil tiga keputusan, yaitu apa yang dibeli, kapan membeli, dimana membeli, siapa yang membeli dan bagaimana cara pembelian. Simamora (2003) mengilustrasikan pembelian sebagai fungsi dari dua determinan (1) niat, dikelompokkan atas (a) produk dan merek; (b) kelas produk. Niat pembelian kategori satu disebut pembelian terencana sepenuhnya, karena seringkali merupakan hasil dari keterlibatan tinggi dan pemecahan ma salah yang diperluas. Engel et al. (1998) mengatakan, niat pembelian dapat dipandang sebagai pembelian terencana, walaupun pilihan sering diputuskan ditempat penjualan; (2) pengaruh lingkungan dan atau perbedaan individu.

Keputusan membeli berkaitan denga n kapan membeli, dimana membeli dan bagaimana membayar yang ditentukan oleh mutu, merek produk. Apabila membeli produk suplemen hanya sekedar satu proses yang bersifat low

involvement decision, maka untuk menjadi penggemar dan membeli merek

produk secara rutin, diperlukan proses habituation yang panjang.

6. Tahap perilaku setelah membeli dan konsumsi

(41)

kepuasan. Sebaliknya, akan terjadi penolakan jika harapan konsumen tidak sesuai atau bahkan menimbulkan masalah ketidak puasan.

Engel et al. (1998) mendefinisikan kepuasan dengan satisfaction is defined here as a post-consumption evaluation that a chosen alternative at

least meets or exceeds expectations. Mowen and Minor (1999) mengartikan

kepuasan sebagai consumer satisfaction is defined as the overall attitude consumers have toward a good or service after they have acquire and used it.

It is a postchoice evaluative judgement resulting from a specific purchase

selection and the experience of using/consuming it.

Faktor-Faktor Penentu Konsumsi Produk Suplemen Penstimulasi Stamina

1. Pengalaman mengkonsumsi

Secara umum, faktor-faktor yang diduga menjadi penentu persepsi dan konsumsi sangat berkaitan dengan proses kognitif yang dipengaruhi pengalaman, serta konsep pribadi yang dikelompokkan ke dalam beberapa faktor, yaitu: (1) faktor demografi (umur, pendapatan, pendidikan dan tahap siklus hidup); (2) faktor sosial (budaya, kelas sosial, kelompok rujukan dan pengeluaran waktu); dan (3) faktor psikologi (sikap, kepribadian, tingkat kesadaran akan kelas sosial, motivasi, resiko yang dirasakan, pendapatan para tokoh, dan lain- lain) (Sutisna, 2001).

Jika pengalaman konsumen saat mengkonsumsi merasakan sesuai dengan yang dijanjikan, maka rasa puas dan kemungkinan untuk melakukan pembelian ulang sangat besar (Sutisna, 2001). Bukan hanya itu, kemungkinan memberikan referensi kepada orang lain tentang produk suplemen yang berkaitan dengan klaim, rasa dan harga terjangkau akan cepat tersebar. Tetapi sebaliknya, jika konsumen merasakan produk suplemen tidak sesuai yang dijanjikan, konsumen akan kecewa yang diwujudkan dengan tidak melakukan pembelian ulang, lebih berbahaya lagi, jika konsumen mengekspresikan kekecewaannya kepada pihak lain, atau media massa.

(42)

stamina dan menyegarkan (menghilangkan rasa kantuk). Rasa menyegarkan, peningkat stamina dan tidak mengantuk ini disebabkan oleh kafein yang memang terkandung di dalam produk suplemen. Martindale (1997) mengemukakan bahwa, sensasi segar ditimbulkan dari kafein dosis tertentu dan jika dosisnya melebihi 50 mg justru akan merusak kesehatan.

2. Pengetahuan konsumen akan gizi

Mowen and Minor (1999) mendefinisikan pengetahuan

konsumen sebagai ”

the amount of experience with and

information about particular products or services a person has

”.

E ngel

et al.

(1998) mengartikan ”

at a general level, knowledge

can be defined as the information stored within memory. The

subset of total information relevant to consumers functioning in

the marketplace is called consumer knowledge

”. Dari dua

definisi tersebut Sumarwan (2003) mengartikan bahwa,

pengetahuan konsumen merupakan semua informasi yang

dimiliki konsumen mengenai berbagai macam produk dan

jasa, serta pengetahuan lainnya yang terkait dengan produk

dan jasa.

Pengetahuan konsumen menurut Mowen and Minor (1999)

terbagi atas tiga kategori, yaitu (1) pengetahuan objektif

(

objective knowledge

), yakni informasi yang benar mengenai

kelas produk yang diingat konsumen dalam jangka panjang; (2)

pengetahuan subjektif (

subjective knowledge

), yakni persepsi

konsumen mengenai apa dan berapa banyak yang diketahui

mengenai kelas produk; (3) pengetahuan lainnya yang

berkaitan dengan suatu produk.

Memilih suatu produk suplemen memang tidak terlepas

dari masalah selera, namun tidak melupakan segi kesehatan

dan gizi. Jika konsumen memiliki pengetahuan positif tentang

produk (kelas produk, bentuk produk, merek, model/ fitur),

maka kemampuan untuk memilih mutu produk dengan

(43)

menerapkan pengetahuan gizi dalam memilih dan cara

pemanfaatan produk sesuai dengan kebutuhan.

3. Merek produk suplemen

Merek merupakan nama, istilah, tanda, simbol, desain atau kombinasi yang ditujukan untuk mengidentifikasi produk dari produsen sehingga mudah dikenali konsumen (Sumarwan, 2003). Pendapat senada dikemukakan Durianto et al. (2004a) bahwa, merek bukan terletak di kemasan produk, tetapi dalam persepsi konsumen. Bahkan Aaker (1997) mempertegas, merek lebih penting dari produk itu sendiri.

Dinamika kompetisi yang ketat antara merek, menuntut merek harus mempunyai kedudukan unik, jika dibandingkan dengan merek lain, sehingga diperlukan positioning merek yang tajam dan menggambarkan diferensiasi dibandingkan dengan pesaing (Aaker, 1997). Dalam hal ini, merek harus diasosiasikan dengan sejumlah atribut dalam bentuk manfaat yang ditawarkan oleh merek dan berbeda dengan pesaing. Oleh sebab itu, Sumarwan (2003) mengatakan merek (brand) adalah janji produsen sebagai jaminan mutu terhadap atribut produk, manfaat, nilai merek, budaya, kepribadian, dan pemakai produk tersebut.

Agar komunikasi dapat terbentuk dan menimbulkan asosiasi kuat antara merek dan atributnya, setiap positioning merek harus diiringi positioning

claim, yakni serangkaian kata yang menggambarkan sebuah janji dan dengan

sendirinya harus ditepati (Sutisna, 2001). Janji inilah yang membedakan dengan merek pesaing dan menjadi daya tarik agar konsumen mencoba, sehingga terbentuk ikatan emosional antara produsen dan konsumen untuk membangkitkan kesadaran merek (brand awareness). Menurut Durianto et al. (2004a), kesadaran merek merupakan key of brand asset atau kunci pembuka untuk masuk ke elemen lainnya guna memperluas pasar yang berpengaruh terhadap persepsi dan tingkah laku.

Aaker (1997) membagi brand awareness (Gambar 7), yaitu (1) unaware

of brand (tidak menyadari merek), konsumen tidak menyadari adanya suatu

merek; (2) brand recognition (pengenalan merek), pengenalan merek akan muncul setelah dilakukan pengingatan kembali lewat bantuan (aided recall);

(44)
[image:44.596.137.490.189.381.2]

terhadap suatu merek tanpa bantuan (unaided recall); (4) top of mind (puncak pikiran), merek utama yang ada dalam benak konsumen. Dari uraian di atas dapat ditarik benang merah bahwa, merek merupakan suatu aset penting dan berharga bagi perusahaan.

Gambar 7. Piramida kesadaran merek (Aaker, 1997)

4. Karakteristik demografi

Sanjur (1982) mengatakan bahwa, faktor demografi terdiri dari usia, jenis kelamin, pendapatan, pendidikan dan pekerjaan. Konsumen dengan karakteristik demografi dan karakteristik sosial ekonomi yang sama cenderung memiliki perilaku konsumsi yang sama, jika dibandingkan dengan konsumen yang memiliki karakteristik demografi dan sosial ekonomi berbeda (Kotler, 2000). Kotler (2000) dan Sutisna (2001) mengilustrasikan, pertama, pembelian produk atau merek tertentu dipengaruhi oleh faktor sumber daya ekonomi (daya beli) yang dimiliki sekarang atau di masa akan datang. Kedua, usia mempengaruhi persepsi seseorang untuk membuat keputusan dan dapat mempengaruhi selera terhadap beberapa produk. Hal senada diungkapkan Sumarwan (2003) bahwa, keputusan konsumen mengkonsumsi berhubungan dengan faktor daya beli, usia, jenis kelamin dan status perkawinan.

Brand Recall

Unaware of Mind Brand Recognition

(45)

Kerangka Pemikiran

Produk suplemen pada dasarnya terkait dengan banyak aspek, mulai dari perizinan, pengadaan bahan baku, kapasitas mesin hingga permintaan pasar. Secara umum, meskipun berfluktuasi terdapat kecenderungan peningkatan produksi produk suplemen, karena kecenderungan meningkatnya total konsumsi masyarakat, masuknya beberapa industri baru dan produk impor yang secara langsung memacu produsen untuk meningkatkan produksi.

[image:45.596.141.466.506.639.2]

Sebagai contoh adalah produk Lipovitan yang dalam sebulan dapat diproduksi sekitar 1,5-2 juta botol, artinya dalam tahun 2001, produksi PT. Taisho Indonesia mampu menghasilkan antara 2.700-3.600 ton produk suplemen. Secara umum, pada tahun 2000 total produksi nasional produk suplemen mencapai 40.9 ribu ton. Tahun 2004 seiring dengan persaingan bisnis produk suplemen ini cenderung meningkat dengan semakin banyaknya perusahaan yang menanamkan modal untuk memperebutkan pangsa pasar, total produksi produk suplemen meningkat lagi 14% menjadi 84.8 ribu ton. Rataan peningkatan produksi selama lima tahun terakhir mencapai 20%. Laju pertumbuhan total produksi terbesar terjadi pada tahun 2002 yaitu 34%. Sedangkan laju pertumbuhan terkecil pada tahun 2003 yaitu 9% (BPS, 2004).

Tabel 4. Perkembangan produksi produk suplemen, 2000-2004 Tahun Produksi (Ton eq ’000 Liter) %

2000 2001 2002 2003 2004

40.852 50.750 67.926 74.300 84.817

24% 34% 9% 14%

Rataan 20%

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2004.

(46)

selalu diingat konsumen. Perkembangan produk suplemen, perlu diketahui dari tingkat permintaan dan kesukaan, frekuensi, serta motivasi konsumsi konsumen yang ditandai dengan kepuasan terhadap janji yang diberikan.

(47)
[image:47.596.86.531.77.738.2]

Keterangan: --- Ruang lingkup penelitian

Gambar 8. Diagram alir kerangka pemikiran Produk Minuman Suplemen

Pemberian Merek

Marketing Mix

Produk

Merek-merek produk suplemen yang ada dipasar

Harga Promosi Lokasi

Brand Awareness Brand Perceived Quality Brand Loyality

Brand Awareness Struktur Equation Modelling

Brand Equitay Terkuat

Proses Keputusan

Stimulus Pemahaman masalah

Pencarian informasi Penilaian alternatif

Pembelian dan kepuasan

Sikap Konsumen Perbedaan

Individu

- Kebutuhan & Motivasi - Gaya hidup - Pengetahuan - Pendidikan - Pengolahan

informasi dan persepsi - Sikap

Faktor Lingkungan

- Budaya - Sosial

ekonomi - Jumlah

keluarga - Kelompok

acuan - Situasi

(48)

METODOLOGI PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian mengenai preferensi konsumsi beberapa produk suplemen penstimulasi stamina dilaksanakan pada bulan September-Desember 2004 di Kota Bogor. Alasan pemilihan Kota Bogor sebagai lokasi penelitian. Pertama, seluruh jenis produk suplemen yang merupakan objek penelitian terdapat atau dapat ditemui. Kedua, kemudahan teknis di lapangan.

Penentuan Responden

[image:48.596.114.512.469.655.2]

Responden pada penelitian ini adalah langsung dari konsumen di lapangan yang berada di Kota Bogor. Penentuan responden dalam penelitian ini menggunakan metode stratified random sampling di enam kecamatan di wilayah Kota Bogor yang mengkonsumsi produk suplemen minimal dua kali dalam dua bulan terakhir. Dari kelompok-kelompok tersebut konsumen dipilih secara acak untuk dijadikan responden sebanyak 150 orang dengan jender laki- laki.

Tabel 5. Kerangka dan uk uran responden berdasarkan lapisan populasi

Lapisan populasi Jumlah Responden (N) Ukuran Responden (n)

Pelajar dan Mahasiswa

(SMU 1, SMU 3, MAN 1, Univ. Pakuan, Unisba dan IPB). PNS/BUMN/Bank (PT. POS, BRI, BNI ’46, Dosen, Telkom) Wiraswasta

Wartawan/Sales P Boy/Cleaning S

TNI, Polri dan Satpam Supir angkutan umum

96 76 60 30 40 48

41 33 27 12 17 20

(49)

Bahan Penelitian

Penelitian ini menggunakan produk supelemen yang telah atau sedang beredar di pasaran dalam bentuk serbuk, cair maupun tablet dengan kemasan botol atau sachet, yakni Extra Joss, Kratingdaeng, M-150, Fit-Up, Kuku Bima Ener G!, Lipovitan. Pemilihan tersebut didasarkan pada penelitian survei Yunita (1997) di Kota Bogor yang mengemukakan bahwa, produk minuman suplemen yang pernah dikonsumsi konsumen adalah Kratingdaeng, M-150, Sakagingseng, Lipovitan, Panther, Fit-Up, Bacchus-D, Nagatan.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode survei. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer adalah data mengenai konsep diri, pengalaman, persepsi terhadap klaim dan manfaat, pengetahuan gizi, potensi pasar, pola pembelian, pola penggunaan dan karakteristik konsumen, proses-proses pengambilan keputusan, serta kepuasan dan ketidakpuasan yang dialami konsumen jika dikaitkan dengan atribut produk, harga, lokasi penjualan dan promosi produk suplemen yang diperoleh dari kuesioner dan wawancara.

Kuesioner terdiri dari (1) pertanyaan tertutup (closed ended question), yakni alternatif jawaban telah tersedia, sehingga responden hanya memilih salah satu alternatif jawaban yang dianggap paling sesuai; (2) pertanyaan terbuka (open

ended question), yakni pertanyaan yang jawabannya diisi sesuai dengan alasan

responden atau tidak terdapat dalam pilihan yang tersedia, mengacu pada hasil identifikasi atribut sebelumnya.

Agar sahih, maka butir-butir pertanyaan pada kuesioner dianalisis dengan korelasi product moment (Ancok, 1989), yaitu :

N (S XY)- (S X S Y)

r = , dimana

√ { N SX2 - (S X2)}{N S Y2(S Y2)}

r = Koefisien korelasi product moment

N = Jumlah respnden X = Butir soal ke- x

(50)

Sementara itu, proses wawancara menggunakan bahasa Indonesia yang dilaksanakan tidak hanya di rumah tempat tinggal, tetapi berlangsung di tempat-tempat sesuai waktu dan kesepakatan dengan responden. Perpindahan tempat-tempat dan waktu wawancara terseb

Gambar

Gambar 4.  Model perilaku konsumen (Assael, 1984)
Gambar 5.  4 P dalam bauran pemasaran (Kotler, 2000)
Gambar 6. Tahap-tahap pengolahan informasi (Engel et al. 1998)
Gambar 7. Piramida kesadaran merek (Aaker, 1997)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Impulse buying adalah pembelian tidak terencana yang terjadi ketika konsumen melakukan pembelian dengan sedikit pertimbangan atau bahkan tidak ada sama sekali

Menurut Engel et al (1995) perilaku konsumen dikatakan sebagai suatu tindakan atau perbuatan yang dilakukan seorang individu atau disebut konsumen yang secara langsung

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik konsumen (faktor intenal resonden) dan mengkaji (hubungan) engaruh dari fator mutu produk (aroma, mutu

Menurut Qardhawi ada 3 norma dasar yang hendaknya menjadi landasan dalam perilaku konsumen muslim (Anto, 2003: 139-140). Inilah prinsip-prinsip yang perlu dipegang oleh

Menurut Qardhawi ada 3 norma dasar yang hendaknya menjadi landasan dalam perilaku konsumen muslim (Anto, 2003: 139-140). Inilah prinsip-prinsip yang perlu dipegang oleh

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Preferensi Konsumen Keluarga MilenialTerhadap Pembelian Produk Pangan di Pasar Modern dan Tradisional .... Uji Instrumen

Menganalisis faktor yang mempengaruhi preferensi konsumen keluarga milenial dalam pembelian produk pangan di pasar tradisional dan pasar modern di Kota Makassar.. Kegunaan Penelitian

Analisis Perbandingan Preferensi Konsumen Milenial dalam Pembelian Buah Segar Studi Kasus Pasar Tradisional Daya dan Pasar Modern Transmart Daya.. Jurnal Agribisnis