• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNSUR-UNSUR KONSUMTIVISME PADA KOMUNITAS DANDY (PESOLEK) (Analisis Isi dalam Film Legally Blonde)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "UNSUR-UNSUR KONSUMTIVISME PADA KOMUNITAS DANDY (PESOLEK) (Analisis Isi dalam Film Legally Blonde)"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

UNSUR-UNSUR KONSUMTIVISME

PADA KOMUNITAS

DANDY

(PESOLEK)

(Analisis Isi dalam Film Legally Blonde)

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang

Sebagai Persyaratan untuk mendapatkan Gelar Sarjana (S-1)

Oleh :

KURNIA HERIANI

NIM : 07 22 0227

Pembimbing 1 : Joko Susilo, S.Sos. M.Si. Pembimbing 2 : Dra. Tutik Sulistyowati, M.Si.

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

Nama : Kurnia Heriani

NIM : 07 22 0227

Konsentrasi : Audio Visual

Judul Skripsi : UNSUR-UNSUR KONSUMTIVISME PADA KOMUNITAS DANDY (PESOLEK)

(Analisis Isi dalam Film Legally Blonde)

Telah dipertahankan dihadapan Dewan Penguji Skripsi

Jurusan Ilmu Komunikasi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Muhammadiyah Malang

Dan dinyatakan LULUS

Pada hari : Rabu, Pk. 10.00-11.00 WIB

Tanggal : 2 Februari 2011

Tempat : R. 611

Mengesahkan,

DEKAN FISIP UMM

Dr. Wahyudi Winarjo, M.Si

Dewan Penguji :

1. Drs. Muslimin Machmud, M.Si Penguji I ……….

2. M. Himawan, M.Si Penguji II ……….

3. Joko Susilo, S.Sos. M.Si Penguji III ……….

(3)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmaanirrahim

Syukur Alhamdulillah penulis persembahkan kehadirat Allah SWT, yang

telah melimpahkan rahmat-NYA, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

dengan judul Unsur-Unsur Konsumtivisme Pada Komunitas Dandy (Pesolek), (Analisis Isi dalam Film Legally Blonde). Pada umumnya film Hollywood dikenal dengan sensasinya menciptakan film yang membangkitkan emosi, sensitivitas

penonton sehingga ketika menonton terasa seperti membaur dengan film tersebut.

Pun ketika film telah usai diputar terkadang masih membawa kesan khusus yang

akan diingat oleh penontonnya. Sejurus kemudian penonton akan menyuka film

tersebut. Ketertarikan peneliti dalam meneliti film ini adalah penyampaian tentang

gaya hidup perempuan cosmo yang merupakan representasi dari komunitas dandy

yang modern. Komunitas dandy memiliki karakteristik gaya hidup yang sarat

dengan konsumtivisme. Melalui tokoh utama “Elle” beserta teman-temannya,

unsur-unsur konsumtivisme tersebut diperlihatkan melalui film ini.

Disamping itu penelitian ini disusun sebagai persyaratan untuk

memperoleh gelar sarjana ( S-1 ) pada jurusan ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu

Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang.

Penulis menyadari bahwa tentunya skripsi ini tidak dapat diselesaikan

tanpa dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak, untuk itu penulis

mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Muhadjir Effendy, M.A.P selaku Rektor Universitas

(4)

2. Bapak Drs. Wahyudi Winarjo, M.Si. selaku Dekan FISIP.

3. Ibu Dra. Frida Kusumastuti, M.Si. selaku Kepala Jurusan Ilmu

Komunikasi.

4. Bapak Joko Susilo, S.Sos. M.Si. selaku Dosen Pembimbing yang telah

bersedia meluangkan waktu dan kesabarannya serta memberi pengarahan,

masukan, dan nasehat yang cukup besar dalam penyelesaian skripsi ini.

5. Ibu Dra. Tutik Sulistyowati, M.Si. selaku Dosen Pembimbing yang juga

bersedia meluangkan waktu dan kesabarannya dalam membimbing penulis

juga memberikan pengarahan serta nasehat hingga dapat

dirampungkannya skripsi ini.

Malang

(5)

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR JUDUL ………. i

LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI……… ii

LEMBAR PENGESAHAN ………... iii

LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ……… iv

BERITA ACARA BIMBINGAN SKRIPSI ……… v

KATA PENGANTAR ………... vi

DAFTAR ISI ……….. viii

DAFTAR TABEL ………. x

DAFTAR GAMBAR ………. xi

DAFTAR BAGAN ……….…… xiii

ABSTRAKSI ……….. xiv

BAB I. PENDAHULUAN ………. 1

A. LATAR BELAKANG ………. 1

B. RUMUSAN MASALAH ……… 11

C. TUJUAN PENELITIAN ………. 11

D. KEGUNAAN PENELITIAN ………. 12

1. Manfaat Praktis ………. 12

2. Manfaat Akademis ……… 12

(6)

A. KONSUMTIVISME ……… 13

B. GAYA HIDUP (LIFESTYLE) ………. 21

C. KOMUNITAS DANDY(PESOLEK) ………. 22

D. FILM SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI MASSA ……… 28

E. KOMUNITAS DANDY (PESOLEK) DALAM BINGKAI FILM ……….. 39 F. ANALISIS ISI ………. 46

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ……….. 49 A. RUANG LINGKUP PENELITIAN ………... 50

B. DEFINISI KONSEPTUAL DAN DEFINISI OPERASIONAL ….. 50

C. UNIT ANALISIS DAN SATUAN UKUR PENELITIAN……….. 55

D. SUMBER DATA ……….…. 56

E. TEHNIK PENGUMPULAN DATA ………..………. 57

F. TEHNIK ANALISA DATA ………. 59

BAB IV. OBYEK PENELITIAN ……….. 61

A. FILM ………. 61

B. TENTANG STUDIO FILM METRO GOLDWYN MAYER ……. 63

C. TENTANG FILM LEGALLY BLONDE………. 64

D. PROFIL ROBERT LUKETIC ………. 73

(7)

BAB V. ANALISIS DATA ………..……….. 75

A. ANALISA DATA ………... 75

B. UJI RELIABILITAS ………... 111

BAB VI. PENUTUP ……… 118

A. KESIMPULAN ……… 118

B. SARAN……….. 121

DAFTAR PUSTAKA ……… 123

(8)

DAFTAR TABEL

1. Tabel 1 Lembar Koding ……….………. 57

2. Tabel 2 Lembar Distribusi Frekuensi ………. 58

3. Tabel 3 Plot Film Legally Blonde………...… 66

5. Tabel 4 Lembar Koding Hasil Penelitian ……… 77

6. Tabel 5 Distribusi Frekuensi Kategori Insting Berperilaku Konsumtif ………...………...

78

7. Tabel 6 Distribusi Frekuensi Kategori Insting Terhadap Nilai Prestise ………...

79

8. Tabel 7 Expected Agreement Unit Analisis Kategori Insting Berperilaku Konsumtif …..………

114

9. Tabel 8 Expected Agreement Unit Analisis Kategori Insting Terhadap Nilai Prestise ……….……

(9)

DAFTAR GAMBAR

1. Gambar 1 Elle Sedang Berdandan …….……….. 80

2. Gambar 2 Bruisser Mengambil Surat ……..……….. 81

3. Gambar 3 Para Penghuni Asrama Sedang Berias ………. 82

4. Gambar 4 Elle Mengajak Sahabatnya Berbelanja ..……… 82

5. Gambar 5 Teman Elle Menyemprotkan Parfum Untuk Elle ……. 83

6. Gambar 6 Elle Diterima Magang ……… 83

7. Gambar 7 Di Salon ………. 84

8. Gambar 8 Elle Pergi ke Salon Untuk Manicure ..………... 85

9. Gambar 9 Elle di Salon ……….. 86

10. Gambar 10 Manicure………... 86

11. Gambar 11 Di Sebuah Pesta ……… 87

12. Gambar 12 Elle dan Pakaian Barunya …..……….. 88

13. Gambar 13 Memasuki Universitas Hardvard ………. 88

14. Gambar 14 Perkenalan Mahasiswa Baru ..………. 89

15. Gambar 15 Elle Bergaya Didepan Cermin .……… 90

16. Gambar 16 Elle Memasuki Ruang Sidang ………. 90

17. Gambar 17 Waktu Luang ………..……….. 91

18. Gambar 18 Bersama Sahabat Didalam Pesta ……….. 92

19. Gambar 19 Mendatangi Pesta ……….. 93

20. Gambar 20 Berolahraga di Kamar ……….. 93

21. Gambar 21 Hair Spadi Salon ………. 94

22. Gambar 22 Bercakap-cakap Tentang Restoran Mewah ………….. 95

(10)

24. Gambar 24 Jati diri Perempuan cosmo……… 96

25. Gambar 25 Majalah, make-up dan Tas Belanja milik Elle …….…. 97

26. Gambar 26 Memimpin Asrama dalam Video Essai ……… 98

27. Gambar 27 Perabotan Kamar Yang Diantar Oleh Truk ………….. 99

28. Gambar 28 Mobil Pribadi ……… 99

29. Gambar 29 Laptop Baru .………... 100

30. Gambar 30 Berolahraga Dengan Treadmill ... 100

31. Gambar 31 Enrique Mengeluh Tentang Sepatu Elle ... 101

32. Gambar 32 Elle Bergaya Saat Masuk Ruang Sidang ……….. 102

33. Gambar 33 Berbelanja Baju di Butik ……….. 103

34. Gambar 34 Amy Bertanya Tentang Perona Bibir ……… 105

35. Gambar 35 Elle Bercerita Tentang Cameron Diaz ……….. 105

36. Gambar 36 Perlengkapan Kecantikan Untuk Brooke ……….. 106

37. Gambar 37 Elle Mengklaim Lingkungannya Lebih Baik ...……… 107

38. Gambar 38 Elle Memimpin Rapat Evaluasi ………... 108

39. Gambar 39 Perkenalan Diri ………. 108

(11)

DAFTAR BAGAN

(12)

LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI

Nama : Kurnia Heriani

NIM : 07 22 0227

Jurusan : Ilmu Komunikasi

Konsentrasi : Audio Visual

Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Muhammadiyah Malang

Judul Skripsi : UNSUR-UNSUR KONSUMTIVISME PADA KOMUNITAS

DANDY (PESOLEK)

(Analisis Isi dalam Film Legally Blonde)

Menyetujui,

Pembimbing I

Joko Susilo, S.Sos. M.Si.

Pembimbing II

Dra. Tutik Sulistyowati, M.Si.

Mengetahui,

Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi

(13)

PERNYATAAN ORISINALITAS

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Kurnia Heriani

Tempat, tanggal lahir : Malang, 23-09-1982

Nomor Induk Mahasiswa : 07 22 0227

Jurusan : Ilmu Komunikasi

Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Menyatakan bahwa karya ilmiah (skripsi) dengan judul:

UNSUR-UNSUR KONSUMTIVISME PADA KOMUNITAS DANDY (PESOLEK)

(Analisis Isi dalam Film Legally Blonde)

adalah bukan karya tulis ilmiah (skripsi) orang lain, baik sebagian ataupun

seluruhnya, kecuali dalam bentuk kutipan yang telah saya sebutkan sumbernya.

Dengan surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan apabila

pernyataan ini tidak benar, saya bersedia mendapatkan sanksi sesuai dengan

ketentuan yang berlaku.

Malang Yang menyatakan,

(14)

BERITA ACARA BIMBINGAN SKRIPSI

6 Judul Skripsi : UNSUR-UNSUR KONSUMTIVISME PADA KOMUNITAS DANDY (PESOLEK)

(Analisis Isi dalam Film Legally Blonde) 7 Pembimbing : 1. Joko Susilo, S.Sos. M.Si.

2. Dra. Tutik Sulistyowati, M.Si. 9 Kronologi Bimbingan :

Tanggal Paraf Dosen Pembimbing Keterangan Pembimbing I Pembimbing II

23-11-2010 Acc Judul

26-01-2011 Acc Seluruh Naskah

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Adlin, Alfathri. 2006. Resistensi Gaya Hidup : Teori Dan Realitas. Jalasutra.

Yogyakarta

Al- Hamdi, Ridho. 2009. Berhala Itu Bernama Budaya Pop. Leutika. Yogyakarta

ASM, Munawaroh dan Aning S, Floriberta. 2004. Beauty Encyclopedia. Enigma

Publishing. Yogyakarta

__________. 2004. Inner Beauty. Enigma Publishing. Yogyakarta

Arifin, Anwar. 1998. Ilmu Komunikasi. Rajagrafindo Persada. Jakarta

Barker, Chris. 2004. Cultural Studies Teori Dan Praktik. Kreasi Wacana, Yogyakarta

Barker, Larry L. dan Gaut, Deborah A. 1996. Communication. Allyn&Bacon&A

Simon&Schuster Company. Massachusetts

Barnard, Malcolm. 1996. Fashion Sebagai Komunikasi. Jalasutra. Yogyakarta

Basri, Hasan, 2004. Remaja Berkualitas. Pustaka Pelajar. Yogyakarta

Bulaeng, Andi. 2004. Metode Penelitian Komunikasi Kontemporer. Andi. Yogyakarta

Bungin, Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif. Prenada Media Goup. Jakarta

Chaney, David. 1996. Life Styles (Sebuah Pengantar Komprehensif). Jalasutra.

Yogyakarta

Dayakisni, Tri, dan Yuniardi, Salis. 2004. Psikologi Lintas Budaya. UMM Press.

Malang

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai

Pustaka. Jakarta

Eco, Umberto. 1987. Tamasya Dalam Hiperealitas. Jalasutra. Yogyakarta

Effendy, Heru. 2002. Mari Membuat Film. Panduan. Yogyakarta

Fiske, John. 1990. Cultural And Communication Studies. Jalasutra. Yogyakarta

(16)

Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan (Edisi Kelima). Penerbit

Erlangga. Jakarta

Ibrahim, Idi Subandy. 2004. Lifestyle Ecstasy: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat

Komoditas Indonesia. Jalasutra. Yogyakarta

. 2007. Budaya Populer Sebagai Komunikasi: Dinamika Popscape dan

Mediascape di Indonesia Kontemporer. Jalasutra. Yogyakarta

Kartono, Kartini, 1992. Psikologi Wanita (Jilid 2). Mandar Maju. Bandung

Lie, Shirley. 2005. Pembebasan Tubuh Perempuan. PT Grasindo. Jakarta

Lusia, Amelita. 2006. Oprah Winfrey dan Rahasia Sukses Menaklukan Panggung

Talk Show. Gagasmedia. Jakarta

Meliono, Irmayanti dan Budianto. 2004. Ideologi Budaya. Yayasan Kota Kita. Jakarta

Melliana S., Annastasia. 2006. Menjelajah Tubuh Perempuan Dan Mitos Kecantikan.

LKiS. Yogyakarta

Mulyana, Deddy, M.A. 2005. Ilmu Komunikasi (Suatu Pengantar). PT Remaja

Rosdakarya. Bandung

Musdalifah. 2005. All About Perempuan. Arina Publishing. Jakarta

Perle, Liz. 2006. Money, A Memoir (Perempuan, Emosi, Dan Uang). Ufuk Press.

Jakarta

Rakhmat, Jalaluddin, 2001. Psikologi Komunikasi (Edisi Revisi). PT Remaja

Rosdakarya. Bandung

Rogers, Mary F. 2003. Barbie Culture. Bentang Budaya. Yogyakarta

Smiers, Joost. 2009. Art Under Pressure: Memperjuangkan Keanekaragaman

Budaya di Era Globalisasi. Insist. Yogyakarta

Sobur, Alex. 2001. Analisis Teks Media. PT Remaja Rosdakarya. Bandung

Storey, John. 1993. Teori Budaya Dan Budaya Pop. Penerbit Qalam. Yogyakarta

__________. 2007. Cultural Studies Dan Kajian Budaya Pop. Jalasutra. Yogyakarta

Strinati, Dominic. 2003. Popular Cuture (Pengantar Menuju Teori Budaya Populer).

(17)

Susanto, AB. 2001. Potret-Potret Gaya Hidup Metropolis. PT Kompas Media

Nusantara. Jakarta

Sutrisno, Mudji dan Putranto Hendar. 2005. Teori-Teori Kebudayaan. Kanisius.

Yogyakarta

Vardiansyah, Dani. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Ghalia Indonesia. Bogor

Wiryanto. 2000. Teori Komunikasi Massa. PT Grasindo. Jakarta

Wolf, Naomi. 2004. Mitos Kecantikan. Niagara. Yogyakarta

Yusuf, Syamsu. Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja. PT Remaja Rosdakarya.

Bandung

Sumber Lain:

Anggraini Wulan. 2006. Komunikasi Politik Dalam Film GIE: Studi Analisis Isi Dalam Film GIE Karya Riri Riza. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang

Bowo S.Ari. 2008. Kritik Sosial Dalam Film Drama Indonesia: Analisis Isi Pada Film Sayekti & Hanafi Versi Hanung Bramantyo. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang

Fahlevi Erwin. 2006. Pesan Janji Dalam Film: Analisis Isi Film Janji Joni Karya Joko Anwar. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang

Sofyan F. 2004. Representasi Perempuan Dalam Film, Analisis Semiotik Penggambaran Tokoh “Jess dan Jules” dalam Film “Bend It Like Beckham”. Universitas Airlangga. Surabaya

VCD (Video Compact Disc) Legally Blonde

(18)
(19)

Internet:

Ainiyuwanisa, Perlaku Konsumtif Pada Remaja Terhadap Chatting. 15 November 2009. ( http://ainiyuwanisa.wordpress.com)

Amriarriza Mazfiar, Perilaku Konsumtif, Sebuah Renungan Budaya. 30 Mei 2009. (http://citizennews.suarawarga.com)

Christya E, Konsep Konsumsi, Konsumen, Konsumtif & Konsumerisme. 24 Oktober 2010. ( http://erachristya.blogspot.com)

Ishlahuddin, Konsumtivisme. 23 Februari 2010.

(http://ishlahuddin.wordpress.com)

Purwanegara H, Konsumerisme, Ketika Ideologi Jadi Skizofrenik. 15 Juni 2007. (www.googgle.co.id)

Ronandha, Analisis Semiotik Makna Nasionalisme Pada Film Naga Bonar Jadi 2 Karya Deddy Mizwar. 14 Januari 2009. (http://indoskripsi.co.id)

Sembiring Amstrong JJ, Budaya Konsumerisme. 24 Februari 2009. (http://www.indowarta.com)

Wijaya Hadi, Budaya Konsumtif warga Demak pada hari Raya Lebaran 2009. 23 Desember 2009. (http://community.gunadarma.ac.id)

http://ameliealterego.multiply.com

http://filsafat-eka-wenats.blogspot.com

http://google.co.id/Cari-Ilmu-Online-Borneo

(20)

http://id.wikipedia.org

http://indowartanews.co.id

http://howstuffworks.com

http://okayana.blogspot.com

http://organisasi.org-Komunitas-Dan-Perpustakaan-Indonesia

http://www.sinarharapan.co.id

http://www.suaramerdeka.com/harian

http://www.wordiq.com

(21)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Diawali dengan membuka mata di pagi hari, manusia dengan segera

berinteraksi kembali dengan dunianya. Terlepas dari ada rencana atau tidak,

manusia secara nalurinya akan bereaksi atas kehendaknya yang kemudian

merangsang otak untuk berpikir lalu bertindak. Alur tersebut dapat menjadi

ilustrasi sederhana akan gambaran awal tentang komunikasi. Itulah mengapa

manusia dengan segala karakteristik dirinya memiliki pemeran utama

sebagai komunikator sekaligus komunikan. Manusia secara individu

diciptakan tidak untuk hidup sendiri akan tetapi hidup berdampingan dengan

individu lain. Kebutuhan ini jika dihubungkan dengan fungsi komunikasi

maka ia disebut dengan komunikasi sosial. Dengan latar belakang konsep

diri seperti jenis kelamin, agama, kesukuan, pendidikan, dan sebagainya,

seseorang dapat berkomunikasi dengan yang lain demi memenuhi

kebutuhan emosional dan intelektualnya. Dalam hal ini, keterikatan bisa

saling mempengaruhi yang membawa pada perubahan sikap, tindakan, dan

pola pikir.

Demikian juga kebutuhan yang sifatnya sebagai kepuasan akan

pemenuhan kebutuhan batiniah. Fungsi manusia sebagai makhluk

berbudaya menghantarkan kepada jiwa yang melahirkan seni dan mencintai

seni. Seni merupakan bagian dari perjuangan sosial melalui

(22)

2 sinisme, atau ketakutan yang dapat dibagikan bersama orang lain seperti

pemikiran-pemikiran mana yang diinginkan atau ekspresi-ekspresi mana

yang tidak disetujui. Apa yang dianggap indah, menghibur, lucu, atau

mengasyikkan akan tergantung pada konteks sosial tertentu.1

Secara alamiah manusia menghadirkan beragam bentuk seni didalam

kehidupannya. Sebagai kebutuhan, seni dapat diaktualisasikan kedalam

media-media yang sekaligus berperan membantu dalam proses pemenuhan

kebutuhan batin. Lahirnya beragam media baik yang informatif dan

menghibur merupakan apresiasi dari seni pula, termasuk film.

Menonton film bukan lagi dianggap kebutuhan mewah, film sudah

menjadi bagian hidup masayarakat, apalagi untuk kota besar. Kesempatan

besar itu telah dibuktikan Blitz Megaplex yang pada November 2006

membuka gerai pertamanya di Parijs van Java, Bandung. Baru berjalan

sekitar empat bulan, Blitz menguasai pasar 52% penonton Bandung.

Menurut Marketing Manager Blitz Megaplex, jumlah pengunjung rata-rata

berkisar antara 4.000—5.000 di hari kerja dan mencapai 7.500 di akhir

pekan. Harga tiket pun beragam, sesuai dengan yang berlaku pada jaringan

bioskop pada umumnya, Rp 25.000 (Senin), Rp 30.000 (Selasa—Jumat),

dan Rp 40.000 (Sabtu dan Minggu) dengan jadwal pemutaran dimulai pukul

12.00—22.00 (Minggu—Kamis) dan pukul 12.00—00.30 (Jumat dan

Sabtu). Dimaklumi jika hal-hal baru menjadi daya tarik, tapi itu sudah

menjadi awal yang baik jika selalu ada perbaikan. Ada sejumlah program

1

(23)

3 yang telah direncanakan untuk tetap menarik minat penonton bioskop,

terutama anak muda yang menjadi konsumen terbesar bioskop Indonesia.

Dia menambahkan, film-film yang ditampilkan pun banyak pilihan. Jika di

Bandung tersedia delapan layar, di Jakarta ada 11 layar yang akan

menayangkan beragam film, dari Hollywood, Hong Kong, atau film-film

dari beberapa festival film internasional.2

Globalisasi ekonomi dan digitalisasi menawarkan kondisi baru bagi

sebagian besar produksi, tidak terkecuali film. Film Hollywood telah

mengalami perubahan besar-besaran yang nyaris di semua tempat di dunia,

kebanyakan film yang ditonton berasal dari Hollywood. Keyakinan adanya

potensial laba yang muncul sebagai hasil dari dipadukannya ukuran super

besar, konglomerasi, dan globalisasi, merupakan motivasi dari

perusahaan-perusahaan film di Hollywood.3 Tiap minggunya ada empat produk

Hollywood masuk kedalam sirkulasi sinema Amerika. Menurut pengamatan

David Lieberman, jika sebuah film layar lebar tidak langsung meraih

sukses, bioskop-sioskop mengenyahkannya untuk film baru yang mungkin

dapat menarik minat lebih banyak pembeli karcis.4 Sepanjang tahun 2000,

para penonton bioskop di Amerika Serikat diperkirakan membelanjakan 7,7

juta milyar dollar Amerika untuk menonton film-film box office.5

Berbicara mengenai bisnis film sebagai bisnis raksasa, Karmitz

mengatakan, di balik industrial, ada juga aspek ideologis. Gambar dan suara

2

http://sinarharapan.co.id diakses pada tanggal 9 November 2010, pukul 12.19 WIB

(24)

4 selalu bisa dipakai untuk melakukan propaganda. Pertempuran sejati yang

berlangsung saat ini adalah memperebutkan siapa yang akan diperkenankan

mengontrol citra dunia, yang dengan itu akan dapat menjual gaya hidup

tertentu, budaya tertentu, produk-produk tertentu, dan gagasan-gagasan

tertentu.6 Bahkan film-film yang bernuansa hiburan pun tidak lepas dari

unsur-unsur tersebut. Adalah McQuail yang menyatakan bahwa film-film

apapun latarbelakang genre-nya sekalipun yang bermotif komersial, akan tetap ada unsur ideologinya. Sebagaimana diungkapkan, hal tersebut bisa

bersumber dari keinginan untuk merefleksikan realitas masyarakat ke dalam

sebuah film atau mungkin juga tumbuh dari keinginan yang berorientasi

manipulasi.7

Film pada hakikatnya adalah hasil dari budaya ketika berharganya

sebuah ide dalam menangkap gambar ke suatu alat yang sekejap dapat

dinikmati oleh insan hampir di seluruh belahan dunia. Ketika film sudah

menjadi bagian dari budaya, film-pun dapat menampilkan budaya itu

sendiri. Film terus berkembang, dan agak sulit untuk dekat dengan titik

jenuh para peminatnya. Karena pada kenyataannya, film menjadi urutan

kebutuhan akan kesenangan pribadi yang diperhitungkan. Film yang dapat

diterima adalah film yang secara holistik mampu membangkitkan

kesadaran, menyentuh batas perasaan dan terkadang menembus logika.

Namun tidak jarang, film yang menyuguhkan cerita sangat sederhana, yaitu

6

Ibid., hlm. 18

7Sofyan F, Representasi Perempuan Dalam Film, Analisis Semiotik Penggambaran Tokoh “Jess

(25)

5 film yang menceritakan realitas, fenomena disekitar asalkan kemasannya

dibuat beda, tidak monoton, akan menjadi sebuah film yang mengesankan.

Saat manusia mampu mengaktualisasikan dirinya, saat itulah

kemudian manusia menjadi makhluk satu-satunya yang berbudaya. Dengan

pola pikir yang dimiliki, manusia lantas dapat berkuasa atas ke-dirian-nya untuk memutuskan menjadi apa. Hasrat yang melekat kuat sehingga menembus batas faktual akan memicu sebuah gaya hidup yang pada

akhirnya menjelma kepada ciri khas dan pengkhususan. Gaya hidup

(lifestyle) adalah sesuatu yang sangat menarik untuk diamati, dipelajari dan direnungkan. Gaya hidup secara tidak terasa telah mengemudikan diri kita,

dari kita memulai aktivitas di pagi hari hingga memejamkan mata pada

malam hari. Sebelumnya, gaya hidup merupakan seperangkat perilaku dan

sikap yang bergantung pada aspek kultural yang berlaku di masyarakat.

Seperti gaya itu sendiri, sistem tata karma, cara menggunakan barang,

tempat dan waktu tertentu yang merupakan karakteristik dari masyarakat

tersebut.8

Situasi ini dibaca oleh kaum perindustrian, ketika konsumsi dan sikap

terhadap benda menjadi begitu diperhatikan maupun akibat dari pola-pola

gaya dari tatanan sosial maupun struktur sosial yang semakin modern.

Kebutuhan yang semula hanya untuk pemenuhan pokok dimanfaatkan

seakan-akan diolah menjadi kebutuhan yang benar-benar krusial.

Perpanjangan tangannya adalah melalui biro-biro periklanan profesional

8

(26)

6 yang teramat pandai dalam mempengaruhi konsumen. Yang didapat

kemudian konsumen bukan saja tergiur akan manfaat barang tersebut,

namun biro yang juga memiliki gaya sendiri, menyuntikkan unsur-unsur ideologi, faham yang membawa kepada keputusan konsumen terhadap

identitas serta kehidupannya. Derasnya arus informasi akan produk-produk

yang diklaim bermutu tinggi membawa dampak kepada pola konsumsi

negatif. Semakin tinggi tingkat keinginan karena pengaruh-pengaruh dari

media, maka masyarakat “dipaksa” untuk mempunyai daya beli yang tinggi

pula. Gaya hidup tersebut memicu budaya konsumtif. Sehingga konsumer

pada tataran kelompok yang memiliki ciri kekhususan terhadap gaya hidup

konsumtif dan mengkonsumsi barang atau jasa karena prestise, demi status sosialnya akan menganut konsumtivisme sebagai ideologinya.

Komunitas dandy (pesolek) adalah sekelompok orang yang tipikal sekali dengan konsumtivisme. Gaya hidupnya hampir didominasi oleh

bagaimana tampilan yang memikat dengan beberapa merk yang melekat,

gaya berkomunikasi verbal dan nonverbal yang bercirikan pesolekan

didalamnya, serta hedonis dalam pemanfaatan waktu luang. Lahirnya dandy

(komunitas pesolek) diawali dengan dinamika kebudayaan Inggris.

Dalam buku Chaney: 2004, Moers mengatakan salah satu contoh yang

paling mengemuka dalam sejarah modernitas yang telah menjalankan

aktivitas gaya hidup untuk menghidupkan prinsip-prinsip estetika desain

(27)

7 tersebut. Dirintis pada akhir abad ke-18 oleh Beau Brummel, seorang teman

pangeran Regent dari Inggris, gaya awal dandy terdiri dari dua karakteristik umum yang telah berlaku melalui berbagai macam penerapan gaya hidup

sebagai bentuk budaya mulai saat itu. Pertama adalah suatu upaya keras

mengangkat hierarki sosial yang mapan. Moers memberi contoh tentang

Disraeli sebagai seseorang dengan latar belakang sosial yang terstigma,

sebuah keluarga yahudi yang menggunakan dandyisme sebagai jalan masuk

kedalam kelompok elite dan menetapkan dirinya sebagai seorang tokoh

politik penting. Kedua, yaitu penolakan yang terus berlangsung atas bentuk

kegunaan sosial apa pun. Brummel dan rekan-rekannya membanggakan diri

dengan memburu gaya diatas fungsi, dan dengan perhatian yang berlebihan

terhadap setiap detail dari cara berbusana, hal-hal yang menyenangkan dari

bentuk sosial dan ketidakpedulian terhadap pertimbangan-pertimbangan

rasional yang rumit.9

Pada perkembangannya yaitu abad ke-12 dandy perempuan lahir dengan julukan cointrelles yang menunjukkan orang yang berpakaian indah dan berbicara dengan halus. Kemudian ini dianggap kuno pada abad ke-18

dan memiliki steorotipe kekakuan dalam hal keindahan dan berbagai

komunikasi. Sehingga berubah nama menjadi quaintrelles yang mengindikasikan keindahan sesungguhnya dalam pakaian dan ini

merupakan titik awal komponen filosofis terhadap pesolekan yang

meandakan adanya perbaikan dan pengembangan modern terhadap konsep

9

(28)

8

dandy perempuan.10 Keberadaan komunitas ini dilatarbelakangi dari kelompok kelas menegah atas yang mempunyai kapabilitas dan akses

terhadap pesolekan. Namun demikian sejarah dandy telah mengarungi berbagai dinamisasi hingga terjadi pada masa pascamodern yang

membentuk masyarakat dalam budaya kosmopolitanisme, diversitas dan

konsumsi.11

Budaya ini yang melahirkan para dandy gaya baru yang lebih

sophisticated (mutakhir) karena pengaruh globalisasi. Orientasinya-pun semakin berkembang menjadi konsumen aktif dalam pemenuhan

kebutuhannya sebagai pesolek yang dalam dewasa ini konteksnya lebih luas

lagi, tidak hanya urusan penampilan melainkan perangkat lain yang

menunjang identitasnya dalam tataran status sosial kelas menengah atas,

seperti selera dalam tipe tipe dekorasi dan perabotannya, mobil, tempat

tinggal dan tempat-tempat yang sifatnya eksotis dan menyenangkan.

John Berger mengatakan, sejak kecil wanita memiliki citra diri

sebagai seseorang yang digambarkan oleh orang lain. Itu sebabnya wanita

sangat peduli pada penampilannya.12 Di dalam struktur sosial masyarakat

Amerika, muncul stereotipe bahwa seorang gadis pirang mempunyai otak

yang dangkal dan sangat gemar dengan bentuk-bentuk kesenangan. “Elle”,

pemeran utama dalam film Legally Blonde sangat royal terhadap kekayaan yang dimilikinya, terlebih untuk kepentingannya sendiri. Dia adalah salah

10

http://wikipedia.org diakses pada tanggal 14 Oktober 2010, pukul 10.48 WIB

11

Sutrisno M & Putranto H, Teori-Teori Kebudayaan (Yogyakarta: Kanisius, 2009), hlm. 252

12

(29)

9 satu dari sekian banyak perempuan yang sangat minat terhadap penampilan

dan kecantikan. (Peach 1998) Gaya hidup ini dilatarbelakangi oleh

tumbuhnya definisi kecantikan dalam kultur mainstream di masyarakat

Amerika yaitu ada pada daya tarik fisik. Wanita yang cantik digambarkan

sebagai seorang yang bertubuh ramping (slim), memiliki kulit putih mulus, dan berambut pirang (blonde). Kondisi ini membuat para wanita memiliki anggapan bahwa kecantikan fisik merupakan hal yang sangat esensial.13.

Berikut merupakan bagan kebutuhan perempuan cosmo menurut Cristen Conger:14

Bagan 1:

Kebutuhan Perempuan Cosmo

Sumber : http://health.howstuffworks.com

Dari bagan diatas dapat diketahui bahwa tingkat kebutuhan terhadap

perawatan tubuh dan perlengkapan kecantikan lebih diutamakan daripada

kebutuhan terhadap pangan. Inilah yang menjadi bagian dari kehidupan

“Elle”, seorang perempuan yang mengklaim dirinya sebagai gadis cosmo.

13

Ibid.

14

(30)

10 Ketika Elle sedang mengalami goncangan emosi, karena lingkungan

yang tidak mendukung, dia pergi ke salon hanya untuk menghibur diri.

Dalam sistem kecantikan itu terdapat dimensi ras dan kelas. Standar

kecantikan ditentukan berdasarkan hirarki di antara wanita kulit berwarna

dan non-Anglo lainnya dengan warna kulit putih. Penampilan wanita kulit

putih berada diatas wanita kelompok berwarna. Itu sebabnya,

produk-produk fashion dan kecantikan dominan diarahkan untuk segmen wanita kulit putih kelas menengah keatas dengan iklan-iklan yang memajang

wanita kulit putih sebagai model.15

Dalam hal pemenuhan kebutuhan, dorongan serta minat terhadap

mengkonsumsi barang dan jasa yang digambarkan dalam film ini dilakukan

berulang-ulang. Elle Woods dikategorikan sebagai bagian dari masyarakat

dandy (pesolek) yang gemar dan faham terhadap fashion dan rajin sekali berdandan. Adalah ciri yang menonjol dari masyarakat tersebut,

bahwasanya bersolek dengan segala perlengkapannya termasuk pemilihan

brand, mode pakaian, biro jasa perawatan tubuh ternama, juga hasrat untuk membeli. Singkat kata Elle menjadi seorang pesolek ala cosmo, gadis modern yang porsi mengkonsumsi keperluan pribadi diorientasikan untuk

(31)

11 dengan menggunakan satu macam tujuan saja. Penelitian analisis isi ini

memfokuskan diri untuk mengeksplorasi kesan media yang terhadap

kelompok khusus dalam masyarakat.16

Sebagaian besar dalam film Legally Blonde ini menampilkan karakteristik yang dimiliki oleh Elle Woods merepresentasikan bentuk

konsumsi yang lebih terhadap fesyen, kerap mengkonsumsi jasa perawatan

diri dan aktivitas dalam pemanfaatan waktu luang. Sehingga muncul

keinginan untuk meneliti isi yang mengandung unsur-unsur konsumtivisme

pada setiap scene dalam film tersebut.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka rumusan masalahnya

adalah apa saja unsur-unsur konsumtivisme melalui komunitas dandy

direpresentasikan kedalam sebuah film dan seberapa besar persentase

kemunculan unsur-unsur konsumtivisme pada komunitas dandy (pesolek) dalam film Legally Blonde.

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui intensitas

prosentase kemunculan unsur-unsur konsumtivisme pada komunitas

dandy dalam film Legally Blonde.

16

(32)

12 D. KEGUNAAN PENELITIAN

Dari penelitian ini diharapkan memberi manfaat yaitu :

1. Manfaat secara akademis

a. Menambah wawasan keilmuan sesuai dengan bidang yang

ditempuh peneliti yaitu ilmu sosial kajian ilmu komunikasi dengan

konsentrasi audio visual, sehingga dapat dijadikan landasan untuk

penelitian serupa di kemudian hari.

b. Sebagai referensi terhadap mahasiswa ilmu komunikasi khususnya

tentang studi komunikasi dan budaya dalam lingkup penelitian ilmu

sosial dan budaya.

c. Sarana komunikasi evaluatif untuk penelitian-penelitian

selanjutnya dalam bidang ilmu yang sama.

2. Manfaat secara Praktis

Bahwa penelitian ini dapat memberikan wacana kepada khalayak

pada umumnya perihal budaya konsumtif yang dalam hal ini

tereprsentasi kedalam sebuah film. Sehingga diharapkan dapat

menelaah makna dan pesan sosial yang terkandung didalam film yang

dilihatnya. Kemudian mampu memilah mana pesan yang memberikan

manfaat positif dan mana yang mengandung unsur negatif dalam

Gambar

Tabel 1 Lembar Koding ………………….…………………….Tabel 2 Lembar Distribusi Frekuensi …………………………
Gambar 1 Elle Sedang Berdandan  …….……………………….. 80
Gambar 24 Jati diri Perempuan cosmo …………………………… 96

Referensi

Dokumen terkait

PESAN MORAL SOSIAL DALAM FILM SOEGIJA (Analisis Isi Pada Film Soegija Karya Garin

Penelitian ini menelaah unsur-unsur budaya berdasarkan teori Kluckhohn pada buku Koentjaranigrat yang terdapat pada film dokumenter Regards VI yang diterbitkan

JUDUL SKRIPSI : Kekerasan Terhadap Perempuan Dala m Film (Analisis Isi Pada Film Perempuan Berkalung Sorban Karya Hanung

PESAN KEMANUSIAAN DALAM FILM (Analisis Isi Pada Film 3Hati Dua Dunia, Satu Cinta).. S K R I P

KECENDERUNGAN KRITIK SOSIAL DALAM FILM DRAMA (Analisis Isi Pada Film Tanah Surga, Katanya Karya Herwin

Judul Skripsi : Kritik Sosial Dalam Film (Analisis Isi pada Film Identitas Karya Aria

Berdasarkan hasil penelitian ini, dari unsur sensualitas perempuan yang muncul didalam film Negeri Tanpa Telinga, dibagi menjadi dua sub-kategori yaitu, sensualitas verbal

PEMAKNAAN PENONTON TENTANG UNSUR KEKERASAN DALAM FILM “THE RAID 2 : BERANDAL” KARYA GARETH EVANS (Studi Resepsi Pada Anggota Komunitas Rumah Film Malang –