• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komposisi dan kelirnpahan parasitoid lalat pengorok daun liriomyza sativae blanchard (Diptera: Agrornyzidae)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Komposisi dan kelirnpahan parasitoid lalat pengorok daun liriomyza sativae blanchard (Diptera: Agrornyzidae)"

Copied!
122
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
(13)
(14)
(15)
(16)
(17)
(18)
(19)
(20)
(21)
(22)
(23)
(24)
(25)
(26)
(27)
(28)
(29)
(30)
(31)
(32)
(33)
(34)
(35)
(36)
(37)
(38)
(39)
(40)
(41)
(42)
(43)
(44)
(45)
(46)
(47)
(48)
(49)
(50)
(51)
(52)
(53)
(54)
(55)
(56)
(57)
(58)
(59)
(60)
(61)
(62)
(63)
(64)
(65)
(66)
(67)

KOMPO51S1 DAN

KELIMPAMAN

PARASlTOlD

UMT

PENGOROK DAUN

Lirriomyza satMae

BLANCHARD

(DIPTERA: AGROMYZIDAE)

QLEH

:

SUSILAWATI

PROGRAM PASCASARJAMA

IP1STITUT PERTANfAN

BOGOR

(68)

SUStLAWATI.

Kompmisi

dan

K e h p a t t a n

Pardtoid LaM Peqpmk

Oaun

L j W y z a %&ere

Btanchard (Diptern:

AgmmpMae). Dibanrah bimbingan AUNU RAUF sebqai

Itetua,

NINA WRYANA dan DADAN HINOAYAMA sebgai snggo&. Lakt pngwok daun

F.

saiivae

mewpaitan hama pandatang

barn

di

Indonesia

yang

bersifat

M a g

dan hanyak mirnbulkan kentsakrrn pada tanawn sayurn di

dataran

fendah. Pengendalian yang umum diiakuhn petani adalah mengapiikasikan ins8irtisda dmgatr frekwnsi

satu

sarnpai dus kali Wnggu. Pengalaman menunjukkan bahwa pengendalian kimia isurang efektif dan

memiliki

&etc

samping yang merugibn. Ukh karena itu

p d u diupayakan

atternatif pmgmhiian

yang

kbitr ramah

lingkungan,

antara kin dangan petmanfaatan parasitoid.

Hingga saat ini diketahui 13 s p s k s parasitoid

yang

krasos'si dengan Liriomyza s?p, di Indonesia,

krdasarkan survei

yang khususnya dilakukan di dataran tinggi, Untuk

mertgebhui ke-aan

m w h

alami

di dataran rendah,

priu

dibkukan

sunrei

tamkhan. Penelrtian

bertujuan untuk

mngetd~ui parasitosd yang brasosiasi dengan

L.

safivae

di

dataran

mdah, sekallgus k m p W dan kdimpahannya, Survd ciitakukan di

dua

kicasi

pitu

Bogor (4-arat)

dm

Brmjar (KEdimantan-WaQn).
(69)

SURAT FEWNYATAAN

Saya msnyahkan dangan sebenar-banarnya h h w a m a l a

pernyataan

dalarn

tesis

saya yang berjudul Kompoalsi dsn Kelimpahun Patasbid Lalat Pengorok Dorun

Urlomyza

sattIvaa

Blancard

fDipt9rrr: Agromixidae) rnesrupokan gagasan atau

hasil

psnlslitian tssis says sendiri, dsngan pmbimbingsn Komisi Psrnbimbing,

k~acuali

yang dsngan

jslas

ditunjukkan rujukannya.

Tesis

ini bsfurn pernah diaju kan untu k

memperuleh gebr

pada

prugram

sejenis

di perguruan tinggi lain.

Semua

data

clan infomasi yang

digunahn

telah dinyatakan s-ra jslas dan dapat digertiksa kerbenerannya.
(70)

KQMPOSISI DAN KELIMPAHAN

PARASITOID

U L A T

PENGOROK DAUN

Uriomyza

s a m e

BLANCHARD

(DltPTERA

AGROMYZIDAE)

Teslis

sebagai

satah

satu syarat untuit mrnperobh gdar Magister Sains

pada

Program Studi Entomofagiff=iopatdogi

PROGRAM PASCASARJAWA

IMSTITUT

PERTANIAN BOGOR

(71)

Nama

PlRP

Program Studi

Dr, Ir, Nina Mawana, MS Angg-

: Kompuski dan

Kelirnpahan

Parasitaid

Lalat

Pengamk Daun Liriomyra sativae Bhncharrf (Diptera: Agrurnyzidm)

: Entornofogi

dan

Fitupatalagi

1

.

Kurnisi Pem bim bing

Prof. Dr. Ir. Aunu Rauf, MSC Ketua

ayana

2. Ketua Program Studi EntamalogilFitopatalogi

-

g:

":

::

*/

Tanggal

Lulus

:

U4

N a p m b r

2002

2

8

(72)

Penulis

dilahirkan

pada tanggal 17 Juli 1968 di

Martapura,

sebagai anak

k w a

dari

empat

~~

dari Ibu Hj

Ruminah

Atryad dan Ayah H.M. Aini Yahya.

Pendidikm

Sekdah

D w r hirmgga S k d a h Lanjubn Atas diseksaikan di Martapura dan gelar

Sarjana

(Sf) dip* tahun 1993 dari jurusan Hama dan Penyakit Turnkhan,

Faituks

Pertanian, Universitas Lambung

Mangkurat

Banjarbaru. SejaC September 2000 p n d i s

terdaftar sebagai

mahasiswa

Program

Pendidihn Magister ($2)

pa&

Program Pascasarjana, tnstitut

Pertanian

80gor dengan bsim dari

Proyek

Pengkajiisn Teicnologi Pertanian

Partisipatif

(PAATP), Badan Peneiitian dan Pengembangan Pertanian, Departem PeFtanian.

Panufis bekeja di

Baa

llnfomasi Pertanian Banjarbani, Kaiirnantan Sdatan rnulai tahun 3993 dan sejak tahun 1996 mmpai

seitarang

perruiis bertugas di Baiai Pengkajian Tekn-i Pertanian

(BPTP)

Pdangkaraya Kalimantan Tengah.
(73)

Puji syukur

k@ M i & IW Rabbi, &as karunia d m

hisdayah-Nya

panulis dapat menyeiesaikan tesis

yaw

bequdul Kmposbi

dan

Kalimpatran

Pamitoid

Lal@ Pangwok Osun U h y z a s a t h e Blanchad (DE-: A g m - ) .

Pada kesempatan ini penuEs menyampaikan penghargaan

dan

terirna

kasih

k-a

Bapak

Prof, Dr. Aunu fiauf semi

ketua

k M n i

pembimbing,

Ibu

Dr. Nina

Maryana

dan

Bapk Dr. Dadan Hindayana sebagd an- komi%i pembimbing,

yang

teiah banyak mernberikan

arattan,

masuhn, birnbingan

dan

dmngan

dad

pecsiapan

penelitian hingga desainya penuiin t M s ini. Pmulis juga menyampaikan terima kasih kepada Kepala Badan Pwwliitian dan Pengembangan Pertanian, Kepala Pusat Pendiian S o u E k m m i Perfanian clan KepaiEl W a i Pengbjian Tekndqjl Peftanian Kalimantan Tengah, serta Pmknpin P q e k Pengkajiin Teknoiagi Pwtanian Partisipatif (PAATP),

atas

ijin, icesempsltan $an dukungan b iyang dikrikan bpada penuls untulr

mengikuli

pendidikan program Magister ($2) di IPB, sehingga

proses

penyelesaian studi pnulis k j a l a n Ian=. Terirna h s i h juga

penulis

sampaikan

kepada

selunrh

kduarga,

khususnya

kepada

ayah,

ibu, rnertua

serh suami

dan atlanda tercinta yang s W u mernberibn dm. perhatian dan

domngan

ufituk msnyebsaikan sfucli ini. KepElda Bapak Bakir di Desa Cikuraum tidak iupa penuiis haturkan

ten'ma

kasih

atas

kemiaannya msminjamiran khan untuk digunaitan dahm penditian ini.

Kepada

Pak

W a w n

yang branyak membantu, baik di lapangan rnaupun

di IabFatorium, wrta teman-teman di

jurusan

UPT penuiis ucapkan terima

k s i h

atas

bantuan dan partislpasinya %lama

proses

studi dan penelitian hangsung.
(74)
(75)

1 lakasi,

waMu

dan jenis saymn mZlik m n i yang

dburvei

16 di W o r (Jawa Barat) dan 8anjar (Katimtan -n).

...

2 Pamitoid yang

brasusiad

dengan pngorok daun 20

L,

sativae dari pngurnpulan cwbh

d w n

di Bogor-Jakr

...

dan

Banjar-Kal sel...
(76)

DAFTAR GANIBAR

1 Jenis

dan

praporsi parasitoid

lalat

pengprok

yang

ditsmultan di

Bogor..

...

2 Jsnis dan proporsi parersitoid lalat pengorok yang

ditemu kan

di

Banjar

...

3 Komposisi

pamsitoid

yang bsfarsosiasi dsngan

L

.

satives

...

pad8 pertanaman

tamat

di Cibeureum 8ogor
(77)

2 Temp&

penampungan

dan pemeliharaan parasit aid

...

(78)

taM

pengarok daun Ijri0rn~rt:a sspp. merupakan hama pendatang baru di

Indonesia. Hama yang

krasaI

dari

bnua Amerika ini

diduga

rnasuk ke Indonesia melahi perdagangan bunga patang

dan

pruduk

sayuran

segar daFi Eu~opa ( b u f

1997). Pada tahun 1994

salafi

M u

s p e w

lalat

pengaruk

daun yaitu LiriOmysa huidobrensis {%#anchard) ditemukan rnmymng peeanaman kentang di Cisarua-

Bogor. Penyebaran L. huidobmnsis

ke

Indonesia diduga diikuti

pula

aleh spesies lainnya yaitu

tiriurnpa

sativae Blanchard, Spsies

yang

diwbut terakhir ini pads

tahun

1996 ditemukan menyerang be jenis tanaman sayuran seperti tirnun,

tomat ddan

kacang panjang di dataran

dengan

tingkat kentsakan

bririsar

30-

70% (Rauf 1997,4999)-

h l a t

pngorok

daun L. sativa

@ag

dan dikenat sebagai hama utarna

gada

pertanaman

tornat dan Florida (Murphy & LaSalla 4 999).

Kenrsakan

yang

ditirnbulkan aleh L.

safivae

pada tanaman tornat kamna

tusuhn

ovipositor imago dan kamkan larva pacla jaringan rnesofil daun.

Kerusakan

tersebut

menyebabkan

kemampuan tanaman dalam melakukan fotasintesis rnenjadi betkurang

(Minkenberg

& van Lanteren 1998). Serangan berat dapat mengakibatkan

daun

mengering dan gugur

s e k i u m

waktunya ingga menu runkan

kuantitas

dan kualitas

hasil.

Untuk

mengandalikan hama ini, i umumnya rnengaplikasikan insektisida dengan frekuensi satu sarnpai dua bli seminggu

(Rauf

1999). Penggunaan
(79)

insektisirja mmiadi kumng efeW (Rauf 1997).

Fenomem

lain yang =ring muncut akibat penggunaan pestisida addah t-inya resistensi hama, resurgensi serta

peledakart

hama sekunder.

Sakh satu akrnatif pengendalian yang dapat mmengurangi

darnpak

buruk tet-hadap lingkungan aciabh pengendalian hay&

(De

Bach 1973). Hingga saat ini

diketahui terdapat 13

spesies

paradtoid yang berasusiasi dengan Liriompa

spp.

di Indonesia, berdasarkan survei yang dilakukan

khususnya

di dataran tinggi. Ke 13

spesies tersebut tergofong ke dalarn

famil4

Eulophidae, Eucoitidsme, B r m i d a e dan

Pterorndidae

baik

sebagai ektoparasitaid mupun

endoparasktoid

{%uf

et a/. 2000). Narnun demiician p n e l i i n tentang parasiloid yang berasasiasi dengan L. sativae

belum pmah diiakuitan.

Tujuan

Psnetitian ini bertujuan untuk rnenentukan kampasisi dan irelimpahan spesies

parasitaid

L.

sativae pada pertanaman setyuran di dataran rendah. khususnya yang
(80)

Bbeirobgl

Eidornpna

safiwae

Lalat

pengomk daun

L. sativae

merupahn hama gmnting

pad& tanaman

tomat

dan bersifat poiiderg. Lebih dari 20 jenis tamman yang

t m a s u k

ke dahm famili

hama

L.

satbag (Ronald & Kes at

at.

2000). Hama ini brasaI dari

Pmerfb

yang

pada tahun 197 rkan

rnsnysrang

tanaman peftanhn dan tanaman

hias di

Ameri menyebar luas

ke

Amerika

Utara,

Amdka Selatan dan Amerika Teengah, a tahun 1990

i.

sativae tiitamukan di

j d r a h Arab (Deeming 1992).

Tahun

'I hama L.

sefivae

ditemukan di indanesia

Mususnya di daratr Ka

Sikius hidup

L.

same

pada tans- sayuran dapat Wangsung arrtara 15-21

trari.

Sikfus

ini sangat bervaritasi tergantutSg psmda inang dan ternpemtur (Ronald &

Kessing

1991). Manurut

Ism

& M a m m (1 991) perkembangan

L.

sativae

dari

telur hingga dewassx pada daun tamat di

Iatwmtoriurn

(pada suhu 25.15%) adaiat.1 17.74 hari, seang pada suhu 2%AoC dan Membaban 85*1Q% lama hdup N i n a L.

sathe lebih panjang

dari

pada jantan yaitu antara 27-28 hari (Frederick & Wtetlishcir 1994). Kemampuan menghasiikan ketumtlan dapat aitentukan

krdasarkan pada

ukuran

bet-& pupa

L.

mtivae. Pupa yang berukuran besar y&u >

700

pg ( ~ 3 . 8 mm)

mampu

rnenghasilkerrr Ireturunan

sebnyak

394 M n a

dengan

perkembangan

rnencapai

27

hari

dad telur hingga imago.

P u p

yang

krwituran

sedang

558-700 pg

dam

mnghaslkan

keturunan 333 M n a ,

sedang

pupa yang

berukuran itecil yaitu < 550 pg mampu rnenghasilican keturunan seknyak 340 W n a

(81)

Tdur betwama p&h,

k b e n t u k

bn@q dengan panjang 0.23

mrn

dan lebar

0.13

mm.

Teiur di(etakhn satu-sa4u di dabm jaringan mesdif, di

-ah

permukaan

daun sdama 3

hari

kernudian

tdur

akan mwbs, Imago betina dagat m h a s l b n

tetur =banyak

600-700 butir selama hidupnya, walaugun banyak dipmrakan hhwa

kdurunan

yang

dihasiikan

k n y a 2QU-300 tdur, Betina mampu mngirasiikan

tdur

30- 40

tdur

per

hari,

tetapi berkurang m u a i pertambahan umur imago (Ronald & Kessing

199

t

; John 2001).

Larva b m m a kuning

cerah

hingga kuning kehijauan, benrkuran

panjang

rnencapai 2.25 mm.

larva

terdirf dari @a instar yang setiap

instarnya

dapat

berlangsung 2-3 had, dengan stadium masing-masing instar

adaiah

1.3890.22, 0.80-1-

0.25 dan 1.6ZN.69 had. Larva instar 1,

2

dan

3 masing-masing

krukuran

panjang

0.55AB.18,

0.81

N.25

dan 1.46kU.11

m m

(lssae

&

Marcano

1991). Larva yang baru

kduar

dari

telur

=era mengorok

jaringan

mesofil daun,

dan

4inggA dalarn liang

k o m h

& a m

hidupnya,

Korokan rnelrabar dengan wmakin besarnyza

ukuran

larva. Voiume

jaringan

daun ya dimakan oleh farva instar 3 sebanyak 600

kati

lipat lebih banyak dari pada 1 r-1. Kait rnufut yang brwarna hitam dan keras ditinggalkan dahm ring iro

ah

berganti kulit dan dapat digunakan

untuk

mengetahui

tahap

instar, kafe a befbecfa pada setiap instar.

Larva

instar

akhir

a b n

keluat

dari daun da n diri ke tanah untuk k&epornpang (Parrella 1987).
(82)

mektairkan

talur

(CarRon

& Alkn 1981; Issac3 & Marcano f 991; Ronald & Kessing

t 991)

imago

L.

safivae

knrkuran k d yolitu panjang 1.5 mm, dengan wama h i m

k-atan dan twdapat bintik kuning pada fubuhnya yang W k u r a n panjang

.

Bagian

kepla brwarna kuning, abdomen b e m a kelabu dengan bintik kuning, dan

mesondurnnya

kfwarna

hitam keabuan, dengan mesapkura brwama kuning. Bagian toraks atas icelihatan h i m rneng-. Sekitar 114 sarnpai 1f3 bbagian tepi

mata

brwama hitam. Femur dan kaksa befiNarna kuning twang, s&angbn tibia-tarsi di

h g m n tungkai depan brwarna kuning kwklatan d m

di

tungkai W h n g befwama

hitam kecoklatan. imago W n a memikid atxioneen yang lebih panjaw dan kokah

dibandingkan

deilgan

jantan. Panjang =yap 1.25-1.75 mm. R&Pata ukuran imago betina

adalatr

1.5

rnm

sedang jantan rata-rats 1.3 mm.

Lama

hidup imago seiarna 10- 20 hafi

tergantung

kondisi lingkungan.

Latat

W n a menusuk pemukaan atas

daun

dengan

avipositmya, Icemudin mahn cairan

daun

yang keluar dari tusukan. Psnusukan juga dilakuitan &h lalat k i n a pacla saat mektakkan telurnya dalarn

jaringan

daun

(Carfton & Allen 1981 ; Is= & Marcana 1991 ; Ronald & Kessing 1991 ;

Jhan

2001).

Hama

t.

sativae msnrpakan hama

yang

bersifat @rfag dan sebagian b s a r

menyerang

tanarnan sayuran.

Di

Hawaii

h a m

ini menymng W h

dari

20 tanaman

yang

temasuk ke dahrrt famili Cucurbhwae, S o l a n a m

dan Brassicaceae.

(83)

3991). Menurut Jhan (2Wl),

s&ar

40 tanaman

yang

termasuk

k

dakm 10

farnili

tanaman diketahui sabagai hang hama L. sativae di

Fbrida.

Sedangkan di indanesia

L.

=&a8 dihparkan menyebabkan kerusctican pada tanaman ketirnun di d m h

pantai

utara,

Karawang, Jawa

Barat.

Selairw itu hama ini menyerang

Lum

acutangula,

Benimasa Aisprda, C w m i s

saihus,

P h a W u s vulgaris, V@na sesquivedalis, R&hus

wmrnunis dan

Sdanum

i y c o p e h m

(Rauf

1997,1999)

.

Faittar makanan yang mempengaruhi hama ini adalah jenis, kuantitas dan

kualitas gisi

tawman inang.

Setiap tanaman inang inernpunyai penganth

terhadap

prkembangan

popubsi,

daya

tahan

dan jumlah Wur

yaw

diletakkan (Minkenm 1990). Tanaman inang yang mempunyai kandungan

unsur

N yang tinggi dapat

rneningktiltkan a W i s makan dan jurnlah

telur

yang d i W W n sefiingga mengakibatkan serangan msnjadi

berat

dan krkarelasi positif dengan icelimpatran papulasi

Firiomyza

spp. di lapangan (Pardla 1987). P m s pemibhan tanaman inang

deh

imago betina Ijriampa antara Iain dipengstnrhi okh disiribusi

dan

kernpatan

trikoma

daun tanaman, serta icslndungan f e d a t (Minkenberg & menhein 1990).

Kerapatan

tfikurna

daun dapat menyebabkan umur hama menjadi kbih pendsic

atau

mati lebih awai karma terganggu proses pengamblan makanan

dan

peletahn tdur

(Raman

et 81.1994 ).

Kemampuan krtelur

imago

L. sativaa sangat

tergantung

pada kualitas dan

kua- sumbw makanan.

Jika

sumber

makanan sewmadu tetap terseclia, maka imago betina rnasih mampu rnenghasilkan

telur

tanpa

berkapuhsi

dan

rndetakbn

telurnya,

walaupun

telurnya gaga! menetas (Parcelfa 1987). Ketersedian krbqrai

jenis tanaman inang di lapangan

=lain

mernbantu prtumbuhan dan perkembangan
(84)

spp. memungkintran bagi m g g a

tersebut

untuir memencar W h

cepat

kt3

Wis

dan

m i a n tanaman hani yang M i h diwicai.

&brapa ParasaWd Pesnting

L.

Perkernbangan papuhsi tj&myz:a spp* di hpangan sangat dipengsruhi oQah

bberadaan

musuh

afami seperti parasitoid. Menumt Johnsun (1987) dan Muster & Whartan (1993), sedikitnya ada empaf famili

parasibid

penting dari orcfo Hymenoptera yang ditemukan bemsusiasi dengan Mat pengoruk

Firiompa

spp. y&u : Eubphidae. Eucoilidae, BraconMae

dan

Pteromaiidae. Sebanyak 13

s

-

parnoid ditemukan krasosiasi d q a n hama pengumk daun L. huid06- khususnya di dataran finggi

Indonesia, yang terdiri dari 10 specie3s hili

Eubphiae

yaitu As@w&s d&uc&

(Saucek), Crysuchan's sp., Cimpiius ernbiguus (Eaansan & LzaSdjdb), C I o s f e ~ ~ ~ ~ m s

sp., t-im@tarsenus van'mmis (Girauft), NWfysocharis

kumosa

(Westwoad).

N - m a n ' s sp., Pnigalio sp., Quadws%hus

sp.,

Zagmmmos8ma

sp.,

I famili Eucoilidae ystitu Gmnotoma sp., I farrtli Braconidae (Opirrs sp,) dan 4 famiti

PterumaEcIae yaitu

Spheggasbr

sp.

(Rauf

et

a/. 2000). Sedangkan parasitoid yang daminan memarasit

L.

satiwe pada k r k g a i nitanaman sayuran di dataran mndah

adalah

H.

varicomis, Opius

sp.

dan As-s

sp.

(Rauf

et

a!.

2000).

H. vadcornis. Spesies ini merupaitan saQh satu paras&oid himanoptera

yaw

daminan ditemukan pada hrbagai ian di ttlcfonesia dan krsifat sebagai

ektaparasitoid pada hrva instar-! sam r-2

Uriomys

sp. ( M d et a/. 1995,

Hidrayani 2002). Studi tentrang

bio

dan prifaku

H.

v a m i s yang
(85)

ielsar 0.1 1M.01 clengan mass

inkubad

sekitsr dua hari. Larva dikcaompaidran sekgai

instar

awal dan instar ianjut, yang dibedalcan

b e d a m n

ukucan dan w a r n

tubuh.

Lawa

instar awal -ma putih bening, sedangkan instar lsrnjut betwama

oranye

cerah

dan

bnrkuran

iebih

besar. Masa perkernbangan laws instar

awal dan

lanjut masingmasing 2.54iU.W dan 333a.25 heri. Chbn & Ku (2004) m w n

bahwa

farva N. vatkumis terrfiri dad empat instar, dengan total masa perkembangan lawa

sekitar 5 hati, H vawmis berlcepumpang dalam kordran di dekat kuii inang. Pupa

yang

h r u terbentuk berwarna putih, kemudian berubah rnenjadi kekuningan, dengan

mata

majemuk berwama kuning, kmwdiifi berubah mnjadi meratr dan akhirnya

krwarna coldat,

P d a

akhir maw pupa, selunrh tubuh berubah

msnjadi

hitarn. Stadia pupa berlangsung sehma

7.72k1.79

had. REaa-rata

waHu

yang diperlukan sejak

telur

H. variwmis

krwarna

hitarn, tungkai sebagbn besar bemama putih

kecuali

femur tungkai befaicang dan tarsi. Fanjang tubuh M n a b r k h r antara 1.18-2.05 mrn

dengan rataan 1.51H. 19 mm,

dan

jantan

0 - 1 -70

rnm

dengan rataan 1 -36H.30 mm. Panjang

sayap

W n a beririsar antara 0.96-1.62 mrn

dan

jaritan 038-1.27 mm. Imago

jantan

dapat

dikenab dad antenanya p n g menyisir

(pedtnafe).

Pada parasitaid ini, keturunan M n a dihasilkn dari teiur yang dibuahi. Lama hidup imago

betina Mih

lama (26.35k11.53 hari) dibandingkan jsnntan (2.72k1.27 had).

%lama

hidupnya

seekot k a n a ti.

vaticomis

marnpu meletakkan

telur

antara

16-92

dengan

rataan 51.65a9,9? butir,

dan

laju

peneluran

sekiiar

2

butir per

had.

Diketahui pula

bahwa

U-

van'mmis tergolong parasitoid

yang

b e d & sinavigenik.

Peniku pngenalan inang diarikan dengan pengingatan

{drumming)

dan
(86)

menyerttuhbn antena berirJ'~icali pada permutcaan daun. Intensitas sentukn antena

meningw saat

parasitaid

mmemukn karokan. Se6anjutnya pawsitaid

be-

medusuri kmkan mdakuhn kegiatan pemeriksaan

hang

saml seselrali mnusukkan

ovipositor

ke

dalam

korukan

secara singkat. Bila inang ddemukan pemariksaan kbih intensif, W n a

dahulu

mengitari inmg s e w m menusukkan avipositornya

yaw

b harnpir 2 menit. 8ih tusubn Mak msngenai inang,

karma

iawa da ar, parasitoid dapat kehiiangan jejak sehingga akhimya meninggalkan njutnya jika inang ddmukan, M a

biasanya menusu

kkan aviposito

wbli.

Tusiukan

prtama d d u

ditujukan

untuk

piumpuhan ina ntuk peiumpuhan b e m a dengan tusubn untuk @&kan telur. Tusukan peturnputran ini menyeWkan inang

rnsngaiami

keiumpuhan permanen

becdasar)ran

pngamatan pada larva hngsung

setelah

ditusuk

maupun

24 jam

setelah

penusuksn. Proses peiurnputaan pada H.

varicomis tidak selalu diikuti

afeh

proses oviposisi. Di

labratariurn

=banyak 64% kematian inang kamna plumpuhan dan %banyak 44% di lapangan. Kemdan

akibat

pelumpuhan

pedu

diperhitungkan

daIam

mengevaluasi ptensi dari suau spesies parasitaid (van DFiesckre 1983, Jervis & Kidd 1986).

Opius

sp.

Parasitoid ini rnerupakan endopara&oid

lanra-pupa

pada inang

L.

huidobrensis

di indanesia. 'Tdur Qpius sp. bwkntuk btljang dengan wama putrh

agak k~em dan ternbus pandafig, dimam

ststu

dari ujungnya

terfihat rnernbesar (Bodat et a/. 1995; Rustam 2002).

Panjang

tefur Q . B B . 0 3 mrn

dengan

wama bning

transparan. ktva instar-4 transparan

dan

be&& matil. Bagian kepala tmkleratisssi dengan baik dan W M a dari tlagian abdomen. Ruas abdomen sangat jelas terfiM
(87)

Q,6la0.02 mrn

(Rustam

20021,

Pmgamafan

t e M a p Opius dsskus (Mu-beck)

pada irrang t, Wr4i menunjuithn larva instar-2 sangat brbeda dengan instar-I,

dimana pengaitnya Mair hilang. Larva ktstar-2 bewma putih kmm,

panjangnya

antam 0.60-1.70 mm. Larva instar-2 m&i terfihat pada had ketiga setelah tdur

menetas kemutiin meningirat hingga hsnfi

rn,

Prapupa mulai

tertihat

pada awaf

ha#

kelima

dan

jumbh naaksimum

da

pads hari keenam,

ketujuh

dan keddapan. Prapupa &pat dibetfakan instar-2 oieh bkukan b e a r pada

safah

satu

ujungnya

dan terlihat adanya pewasan. Prapupa k w m a krem kekuningan dengan ukum 1.44 mrn ( B O W et al, 1995). Pacfa M i a pupa, tonjdm

bakal tungkai dan

antena

dapat dibedakm dengan

mudah.

w i n tubuh, icepafa,

tamits

dan abdomen dapat tdihat jelas. Awalnya pupa berwama kuning

pucat

dan lama kelamaan bemama

Hap.

Pupa fase terakhir bermma hitam duruhnya

dsngan ukuran pupa 9.52 mm.

Imago

0. &situs bmmrna hitam, d w a n

ukuran

yang hampir

sama

antara jantan

dan Wria,

yaitu

rats-rata 1.50 mm dan 1.49 mm. Jantan dan betina

sulit

dibedakan dengan

mafa

thnjang, dernikian juga

untuk

meiihat betina mefdaitan telur, karena hanya

dam

ddakukan dengan bantuan mikroskop

binakukr. Antenanya panjang dan h i m . Panjangnya taampir sama dsngan tubuhnya

(Bordat et a/. f 995).

0.

&situs

Wna

rang banr rnuncul langsung menusuit-hn avipositornya

ke

&lam tubuh iawa inang

tanpa

mernatikan &u mlumpuhkan-nya.

Larva inang tebp hidup dan msngarok

daun

hingga

menjadi pupa, dengan telur

larva

instar awal di dahmnya

0,

di&s terns brkemhng di daiarn

pupa

L. Wii,

selanjutnya imago keluar dad

pupa

(Bodat @i

al.

1995).

Gmnotomtr sp.

Jenis

ini mempakan endoparasibid larva-pupa dari Uriomy.aa
(88)

mnghasilkan keturunan yang

dunrhrtya

W n a ,

sedang

jantannya tidak pmah diketahui, Parfa keactaan tertmtu dam ~enjadi dsuterotoki dimana W n a yang tidak

brkopuksi mmpunyai ketunrnan jantan cfsn betina, tetapi jantannysx

tidak

hfiungsi. Dari segi pengendalian, parasitoid

dernikian

sangat rnenguntungkan (HuBaker &

Messenger 19'76; Arattaki et ah 2001).

PeneFZtian terhadap bidogi, mrfaeogi

dan

perilaku dad pamsitaici

ini

M u m

banyak

difakuhn. Berdasar pengamatan parasitaid di faboratarium

diketahui

bahwa bentuk telur adalah bnjang

krtangbi,

h w a m a krem keputihart, terdapat beberap insfar pada larva, yang dapat dibedakan dad ukuran dar;

warnanya.

Pupa Emnutoma

sp.

berwarna

d d a t kehifaman sarnpai h i m

pada

fase terakhir. Dari hasil

pengamatan

ini, dan

berdasar

studi

Memtur,

terdapnt

adanya

kemiripan b i i

Emnotoma

sp, dengan

parasitoid

dari jenis pengo& daun

lain

dad famiii yang sarna yaau Eanaspidium ufils (Bsatds5ey) (Hymdnoptera-Eucoilidae) yang

telah

ditefiti

ateh

Petcharat

&

Marshall

(1 988).

Menumt Petcharat & Marshall (1988)

tdur

G,

utilis bertangkai dengan panjang

rata-rata

0.32 mm. Latva

ferdiri

dari empa3 instar, yang

dap&

dibedakan oleh ukumn

kapsui

kepala, dengan rats-rata panjang Instar-1 adalah 0.44

mm.

Larva

Instar-f

t e h n t u k

di dahm pupa ifiang tiga hari h

teiur

dihkkan, k m m a kekuningan dan brbentuk eucoi~iform. Tubuh in

ak,

dangan panjang .i. 0.44 mm, bbar f

0.20 mm, dengan stadium

antara

ada instar-4,

2

dan 3 tidak

terdapat

mandibel.

tni

menunjukkan

bah

dari

lawa

instar ini

adalatr

brbagai hemolirnfa (Buena f 950; Pd&a 988).

Larva

instar-2 b r b n t u k agak

lonjong rnenyerupai setengah tin 0.89 mm dan labar 0.26

rnm

dangan

(89)

cfibedaltan

o k h

ukumn, panjangnya 0.97 mrn dm W r 0.44 rnm m a n

M t u m

6-7 hari.

Larva

instar-3 diternukan bemda pada bagian luar t u h h inang di dakm

puparium, Larva instar4 berkmbang di daiam

pupatiurn

mengikuti perkambangan pupa pamsitoid,

hanya larva

instar-4 ini yang mernliki mandiw.

Panjang

instar-4 adalah 3 . 4 4 mm dan War 0.69 mm dengan stadium 7-8 hari. Prapupa brukuran

panjang 1.21

rnm

dan b h r 0.54 mrn dengan W i u m 9-3 t han'. Pupa mililri tip

sksarat dengan panjang t .?0 mrn dan iebar 0.85

rnm

yang bertangsung s&ma 13-29

hafi. imago berwarna hitam, imago W n a memliiri

panjang

1.00-3 -40 mm,

antena

krjumhh 13 mas

dengan

bentuk

menasbih

(moddbm). Sayap depan

pala

bagtan tepinya terdapsa batik-brik icecil dan tidak terciapat lekukan pada ujufig sayapnya.

Pada

mesataraks

terdapat

notaulus yaitu suatu garis

yang

mempertemukan antara posterior dan

anterior

pada mesonoturn serangga (sueno 1950; Kmishi t 999). imago

parasitoid ini munwf pada hari ke 25-26

Mdah

telur diletakkan.

Lama

h i u p

imago

antam

8-9 ftari. Sekiar 83%

tdur

dihasilkan

pada

trari

ke

1-5 setehh imago m u m 1

(Petcham4

&

Marshall

1988; Arakaici st a/. 2201 ).

Pengendalhn

L.

sarivae

Ueberadaan

hama pengorak

tidumpa

spp. pada tanlaman sayumn umumnya suti dikendaiiksln. Saat ini jenis inwktisida yang banyak digunabn untuk

mengendalikan

Liriomyra

spp.

adalah yang hTbaREM aktif profen-, namun petmi &fu tidak

puas

dengan hasilnya (Rauf et

al.

2000).

Dlapwkan

puk bahwa jenis insektisida yang efefrtif mengandaiikan

Idat

pengorok daun

addah

a b a m d n

dan sirumazin (WeintPaub & ).lo& 1998). Namun Pumama (2001) rndapwhn btltrwa
(90)

kntang

cli

Indonesia

tehukti

&kZf rnenrsldan kmsakan daun, karena siromazin bersifat translamina seOlingga dapat m a t i k a n larva yaw ada

dalam

jaringan

daun.

Sadangkan

penggunaan ahmektin tidak h q m g m h terhadap

serangan

laM

p g a r o k

F.

huidobmsis.

'

Metode lain yang

dapat digumkan

untuk

mmgendaiikan papuiasi imago

iiriompa spp.

adalah

&wan menggurtabn perangkap kuning, karena

lalat

Limmyza spp. tertarik pada wama kuning. Penggunaan perangkap kuning berperekat sangat

efektif menekan

popufasi

hama pmgorok,

d

lapangan

karena

mampu menangkap

hama

sesuai perkemhngannya (Chavez 8 Raman 1987)). Perangkap kuning juga

sebagai dat yang mudah dan effisien untuk monitoring L. sativae

dan

pamsitoidnya. Atternat'& pengendalin

bin

yang dapat mgurangi dampak negatif brtradap musuh alami, rnanusia seda lingkungan

adalah

pengendalian dengan

memanfaatkan

musuh alami btupa parasitoid, Merrurut

Dautt

(1859)

parasitoid

daiam prkemkngannya akan menghancuhn hang yang diparasit

dad

t a h n yang

sama,,

tubuhnya relatif besar dibandingkan dengan inangnya dan yang menjadi parasit hanya

stadia

larva

sedang imagonya hidup bebas.

Dari

13

spesies

parasituid yang difemukan berasosiasi dengan hama pengmk daun di Indonesia selgerti yang dijelaskan

tertfahuiu,

diketahui bahwa parasitoid H.

van'cumis dan Opius sp, adalah jenis y a q sangat bedimpah pads ekosistern terbuh

(lapangan), sedang Grimohma sp. b k h clorninan di rumah

kaca.

Tetapi akhir-akhir ini

selain parasitoid N. vaiicamis dan

Qpius

sp.,

ditemukan juga A ~ sp.

cdan

s Gmmbrna

sp.

dalarn judah yang banyak di lapangan. Upaya pngendaiin hama L.

safivae

dengan rnernanfaatkan parasitaid-parasitaid tersebut M u m

banyak

dilakukan
(91)

K-asiian psmanfaatm parasitoid sebagai agms pangendabn hapti

sangat

tergmtung pacfa kebsediam pamitoid

yaw

hadir

secara

h i a h

d a m

jumtah yang

rnmwdai.

E3ila

Ireadan

hi

tidak

terpenuhi maka dapat

d i i p u h

dengan penamkhan jumhh p a d b i d melatui yakan massal di bbwatoriurn,

yang

merupaitan mian

dari

impkmentasi pen- untuk rnendapathn agms pengendalian

hay*

yang baik,

pngarok daun Unbrnyd:~

spp,

antara

Qain hri famili

Eulaphidae

DgIyphus isaea

(Watker)

yang

mampu m e n e h sefangan 1,

W

paBa tanaman hortikubrsji di

Prancis (Minkenkrg &

van Lranbren

1998), Chysmutornfla

~nc&&8n&is

(Crawford)

mampu rnengenddiran serangan L Wii

dan

L

safivae

pada tanaman sernangk,
(92)

Pmditian t d i r i dati survei pasibid

dm

pcobaan

lapangan,

Sutvei

diiakukan di dua d-h yaitu di Bogor (Jaw Barat) dan Kabupatm

-jar

dan Kada

Banjarbarn

(Kaiimanhn

Selatran). Kegintan suwd diiaksanabn sejak Wlan

&nuan'

hingga Juii 2002, Percobam iaplnngsln dilaicsanakan p d a pertanaman tomat di khan

petani di desa Cibeureurn, f3-r dan brhngsung krsarnaan dengan pelaksanaan

survei (Lampiran J).

Pemeliharaan

para&aid dlakukan di h b m b r i u r n EkoOogi dan P m g d u b n

Ham,

Jutusan Hama dan

Penyakit

Tumhhan,

lwtitut Perhnian

8agor. Idantifi-i parasitoid menggunakan kunci yang disusun &h Kanishi (19991, dsln selanjutnya

dilakuitan

icieMkasi

uhng

okh

Dr.

John

LaSalk

dPlri CSIRU-Australia, Tingkat parasitisasi dinyatakan sebagai persen, dan dihitung Masadcan perbandingan

knyaknya imago parasituid teftradap total imago (W dan parasitaid) yang mumi.

Suwei

P a n s b i d

Survei parasbid dilaitukan pada

b-ai

tanaman sayumn (Tabel 1). Setiap

jenis

Baun tanaman yang terserang latat

pengorok

dirnbii dan dimasuidcan ke dalarn

staples

plastik berdiamaer 20 cm d m tinggi 30 cm (Lampiran 2). ?sda bagian tengah

ventilasi kasa yang pada bagian

tengahnya

d i M lubang dan diemplkan m n g plastik tefbalik

sebagai

penarnpung imago

parasitoid

dan

L.

sativae yang mum!. Ssmua imago yang muncul dihitung

dan

dikaleksi dabm botal berisi

dMol

70%.
(93)

w a r n

L O W #timi pw@mbiIan JmCap tanaman

cont& daun Bogor (Jawa Barat)

8qmg Jengkol

Cibitung Tengah

Sinangneng

Cibaureum 26 April 2002 Kacang panjang

Margajaya 28 April 2W32 Tirnun, oyang, kaamg panjang

Sindang Barang 04 Mei M 0 2 Timun

Panrng U9 M i 2002 Tirnun

Balurnkrtg Jaya 12 Mei 2002 Errwn, ayong, kaang panjang

Cibumurn 15 Mei 2002 b a n g W ~ @ W

Darmaga 18 Juni 2002 Tirnun

&#jar (Kalimarrtan Watan)

Cindai Nus

Landasan UIin

Landasan UIin Braman

Banjarban!

Cindai Atus

(94)

Perkembangan Parasitoid pada Pertanaman Tomat

Lahan diolah dengan menggunakan cangkul dan dbuat guludan yang

mengarah timur-barat dengan ukuran 1 x 4 m, dan jarak antar guludan 0.5 m. Jumlah

guludan seluruhnya adalah 40 guludan. Setiap guludan ditanami dengan 2 baris

tanaman tomat yang setiap barisnya terdiri dari 8 tanaman, sehingga total tanaman per

guludan sebanyak 16 tanaman dengan jarak tanam 50 cm x 50 crn. Sekiar 2 rninggu

sebelum tanam, setiap lubang tanam diberi pupuk kandang sebanyak 0,5 kg.

Persiapan pertanaman dilakukan dengan cam menyemai benih tomat varietas

Ratna, yaitu varietas yang banyak ditanam di dataran rendah. Benih tomat direndam

terlebih dahulu dalam air hangat f 50°C selama 30 menit lalu ditiriskan. Selanjutnya

benih disemai pada bak plastik yang telah disiapkan yang berisi campuran tanah dan

pupuk kandang. Pada saat umur persemaian

+

1 minggu, tanaman dipindahkan ke

pot-pot kecil yang terbuat dari daun-daun pisang yang kering, setiap pot berisi satu

tanaman dan dibiarkan selama 5-7 hari. Setelah itu tanaman dipindahkan ke areal

pertanaman yang telah diberi pupuk kandang. Pemupukan pertama dilakukan pada

umur tanaman 2 minggu setelah tanam (mst), dengan dosis 120 kglha urea, 120 kglha

KC1 dan 150 kglha SP-36. Pemupukan kedua dilakukan pada saat tanaman tomat

berumur 35 hari setelah tanam dengan memberikan 129 kglha urea yang dibenamkan

di sekiar tanaman. Pada penelitian ini tidak dilakukan penyemprotan insektisida.

Pengamatan terhadap perkembangan parasitoid dilakukan sejak tanaman

berumur 8 minggu setelah tanam (mst). Setiap minggu sebanyak +_ 20 daun tomat

yang terserang L. sativae diambil secara acak. Daundaun tersebut kemudian

dimasukkan ke dalam stoples plastik kecil berdiameter 5 cm dan tinggi 7 cm yang

(95)

parasituid dan

F.

ssltivae prig m u d difriturrg,

kernudian

dimasukkan ke U r n botd

berisi dkohd

'70%.

Analisis Data

(96)

K m p W Parasbid yang Wasosiasi dengan

L

-88

Selama pmelitian Mangsung dgemukan Wanyak 19 v i e s

parasitaid

yang tergdong

ke

dafam ftga famifi (Tabel 2). k s a r a d a h

anggota

famili

Eulophidae (15 spesies), EdSiaca (3 dan sisanya & B m i d a e (4

spies),

Dafam s u m ini dijumpai 8

jenis

parasiloid yang wbelumnya

tidak

pernah dilaporiran brasosiasi

dengan

larva

Uriomyra

di indwtesia (Rauf & at. 2 W , Rauf &

Shepard 1989). Kedeiapan jmis pamsitoid itu adalah Asxudes

sp,

~ ~ sp, N S

B, Qiiadras&hus

sp.

A, NgOCh@aris

okarakii

(Kamijo), P w d i u s

sp.,

Sbmmesdus

sp., KiWfoma sp., dan

Nordanden'a

sp.

Enam s m e s yang disebut

terakhir rnuncul dad

daun

conbh yang brad dari Banjar, i(alirna-n Selatan.

Berdasarkan pda

hiupnya,

pamsitaid-parasituid tersebut &pat tiigolangkan

ke

dalam ektopamsitoid

dan

enrjopamsitaid (Taw 2). Hasil pengamahn

iangsung

di

labpatorium

dan

studi yang

tdah

dilakukan mengunglrapkan bahwa

M

varicomis

tergobng airtaparasitoid hrva sedangkan

Opius

fsp. sndapamsitoid larva-pupa (Bordat

%f

al.

1995, Rustam 2002). Jenis pamitoid yang diketahui sebagai

endoparasitoid

hnra-ianra pada inang

tirimpa

adalah N.

fomosa,

C.

pentheus, Cimspitld

ambiguus

(Hanson &

LaSaIe),

N.

okazafi, dan Q. iiriomyzae

(Chin

&

Ku

A998). Johnson et al. 1980 melapodcan batrwa

C.

parksi

Emclalah

W a i endaparasibii larva-pupa pada

L.

saliva% di Kalifornia. Patasitaid Clostemms Wbsc~atus

(Westwood) dibpwkan diduga s e w a i endoparasitoid pupa-pupa pada inaw

(97)
(98)

Sebagran

W

r

dad

spesirss padtoid yang c t i u k a n dikebhui mrniiiki banyak inang. Hal ini menunjukkan bahwa parasbid tersebut umumnya krsifat

genamlis. %lain diiernukan memarasit

L.

sativae di dataran

&h,

parasitoid- parasitoid tersebut

ditemukan

juga bemsosiasi dengan

Idat

pengarok daun

I .

huidobmsis di dataran tinggi Indonesia. Parasibid

Z.

bMineatum,

Clasktwwms

sp.

A, NeQchtySQCharis sp., dan PnbaIia sp. yang rfitemu kan seb#gai parasitad L. saiivaq

juga dikefahui menyerang pengoruk

daun

jemk

Phflbmistis

c&dIa

Stainton

(Lepidoptera: Gradllatiidae) di Texas (Legaspi & French 2UUI). Main itu

C i o s t e m ~ s sp, yang diketahui sebagai endoparasitoid kwa4arva pada

L

saEiva8

ternyata ditemukan sebagai endaparasitaitf pupa-pupa pada inang Phytomyra

h o W a

(Diptern: AgromywJae) di Jepang ( T a k e & Kamijo 1979).

Baragamnya

parasitaid

yang ditemukan rnenunjukkan

banyaknya

jenis parasitoid asii Indonesia sebagai

surnber

keamkaragarnan

hay*

yang dapat dirnanfdkan untuk mengendaiikan hama pmgorok L. sativatb.

Namun

dalam

pernilihan parasit- yang

akan

digunabn sebagai sgens pengendaiian

hay*

pedu

dipeftritungkan patensi dafi masing-masing pamitoid

icamna

bcberapa spesies

parasitoid dapat menyerang kbih dari

satu

inang bahkan & M a genera. Paradtoid

drarnikian wring banyak di akm, namun sulit meneiran hama tertantu yang rnenjarfi

sasaran. Hal

tersebut

dapat

terjadi

brena makanan selaiu tersedia sehingga parasitaid mslmpu krkemhng biak dengan baik, selain itu preferen4 dari parasitaid

yang

ciemikian

rendah tethadap inang

tertentu,

Kasus ini menyerupai fenomena yang dialarni predator generalis. 8mnbaurn (1 995) men yehtkan bahwa keberhasiaan
(99)

diphatikan adaW ebk paralids dari bekmpa piamsitokf separti

Ch~socharis

sp.,

N,

fosmosa

dan pamitoid H. van'comis (Cirim &

Ku

f 998), mengingat

64%

kematian

inang L, huidobmnsis di i a M o r i u m clan 41% di lapangan terjadi akibat plumputran

H. varicomis [Hirayani 2002).

Uomposisi dan

Tingkat

Parasitisasi ParasWd di Bogor

dan Banjar

Di Bagor ditemukan sebanyak 11 spesies parasitoid. Berdasarkan 438 ekur

imago yang

muncul,

parasitoid yang paiing umum adalah A. dduochii {S2.01%)

dan

Chrysocharis sp, (36.83%).

Sedangkan

proparsi

dari

pamsitod-pamsitoid

lainnya

bcarkisar

antam

0.22-4.24% (Gamhr 1). Keberhasihn p a d o i d A. delucchii yang

daminan di kedua lokasi sumi diiuga twpdi karma acfanya faktur

kamp&si

dari pamitoid tersebut, dimam A. Wucchii yang mntpakan endoparasitaid larva fase [image:99.601.107.467.467.670.2]

awaf mampu mendapatkan inangnya Iebih dahJu dari pada parasitoid lainnya.

Wain

itu waldu

pengambilern

sampef dapat juga mernpengaruhi

jenis parasitoid

yang muncul.
(100)

Dad pmgambiian contoh

di

Banjar, parasituid

yang

rnuncui krjurnlah 248 &or

yang terdiri dari 1'1 s p i e s , dmgan jwis yang palng hrlhpah adaiah A. cfaIuoch#

(41.53%) dan

H.

va-Q (25,89%)

(Garnbar

2). Sebagian besar dari parasito0& garasitaicj yang ditemukan ini diketahui juga memarasit

L.

huidobmnsis

(Rauf

et

al.

Garnbar 2. Jenis dan proparsi parasitaid

lala4

pengorok yang diternuitan di

Banjar

Dari spesies-spesies parasiloid yang ditemukan

d

kedua bkasi diketahui bahwa sebagian besar parasitoid muncul dari semua jenis tanaman inang yang

dikukksi, sehingga tidak

teclihat

adanya

kecenclmngan suatu parasitoid brtantu bWh dominan

m

a

salah

SI3fu jenis tanaman, dan sebnyak 15 spesies rnerupakan
(101)

Pada pengamatatt lsbaratdum tertradap dua tanaman inang yang berkda,

Mimymi

(2002)

melapodcan khwa parasbid H, va&umh yang memarasit

i.

huidQbrensis,

kbih

banyak (dua kaii lipat)

memilih

tanaman kaang rnerah dari padsl QnamafI ke-ng.

Wain

i4u Olkrera & 8urdat (1896) mengemukaim bahwa

kemampuan parasitoicf 0,

&&us

krkernbang hingga

imago

pada tanaman inang

Cumhita pep0 lebh k i k dibandingkan pad;n tanaman

Lympemkurn

eSCUIentum

baik dengan hama tunggal

L.

f-ii maupun

L.

hudubrensis.

Ha!

ini disebbkan daun

tanaman

C.

papo mengandurtg attraitfan

yang

rnenarik parasitaid

U . M t u s

untuk

msndatangi dan menemukan inangnya.

Oengan

dernikian ki~anya p i u kajian bbih

lanjut

tentang

pengamtr

tanaman

inang terhadap kebrhasilan pamitoid Liriomyza sp. dalarn memarasit inangnya

terutarna pada kundisi tingkungan

terbuka.

llngirat parasitisasi

pada

larva

L.

saWae pada beberap jenis sawtan di Bogor dan Banjar disajikan p d a Tabel 3. Secara

umum

tingkat parasitisasi di atas 30°h,

kecuali pada ketimun (17.41%) yang dikumpulican

dad

daerah Banjar. Pada saal dilakuiran pngambilan

contoh daun,

umur ketimun di tempat ini masih muda (mulai berbunga) sehingga diduga pupuhsi paradoid masih pada &hap awd perkernbangan.
(102)

p n g m k daun L. sativm di lapangan ir;nrena keragarnan pamitoiclnya

yang cukup

tinggi (patasitoid iawa, larva-pupa dan parasit4

pupa).

Di dahm habitat pertanian

keadaan

spesies musuh alami

yang

hanyak khususnya parasitoid dap& meningkatkern

jumiah kern-n dad hama sasaran, Hal lain yang

p t t u

dirhitungkn addah

keberadaan spesies-spesies pamsitoid

yang

mendominasi di hpangan

segerti

A.

deiumhii, Chrysacharis sp. dan

H.

vatkmiis. KeefeMifan

daFi

spesks-spesies yang dominan ini pada

akhimya

rnsnsntuican Wkat pneiranan tertradap popuhsi larva

L.

sativae di lapangan.

Peritamhangan Parasitoid pada Pcat4anaman Tomat

Pada saat penelitian dilakukan, serarigan

latat

pengarak daun L. sativae sangat

rendah.

Pada satu helai daun contoh clitemukan paling banyak 3 kamkan. Hal ini juga

didukung

aleh hasil

tangkapan

perangkap kuning yang

memperabh

rataan imago tettanghp kritisar 1-2

ekatlperangkaN24 jam

(Lampiran 4).

Serangan Mat

pengarak L.

safivae

yang

rendah dan kecif rnungkin bemubungan

dengan

tingkat parasitisasi

yang

sejak

8 mst telah rnencapai 48% (Tabel 4). Tingkat parasitid

meningkat

hingga 68% pada 1 1 mst.
(103)

PenMkman W h lanjut terhadap pamikoid menunjukkan batrwa daii t 4? ekor

yang muncul

dad

daun tomat, jsnis yang paling urnurn diternukan adam Q.

litiornyzm

(32,65%),

Chtysmhp1ris

sp.(21,09%), A. W m i i (1 9,05%),

Quadrsrstichus

sp.A

(12,2446) dan

N.

tbmrasa

(8,84%) (Earnbar 3). Spesies parasbid iainnya, temasuk

H.

varioomiis, masing-masing irrrrang

dari

3%. W i n rnelihat

&nya

peran parasitoid

yang mengaMbatkan mndatmya serangan laid pengoroir Masarkan

h a d

tangkapan

perangkap

kuning, hasil suwei pads prtanaman tmat yang diakuitan pada Agustus

2001 di daerah yang =ma m e n d a m n H. vaticomis sebagai parasitoid

yaw

paling dominan, yaitu 88.9% dad 45

ekw

parasit&

yang

brkumpul (Teguh, IcomuniW

ptibadi). Karnpasisi spesies parasitaid dapat berubah-ubah tergantung pade musim

dan fas+ perkernbangan tanaman (Johnson 1987; Palurnbo et a/. 3994). Namun

dmikian,

mndahnya

kelirnpahsn H. vaticomis dam juga diairibatkan deh kmpetlsi dengan

parasitaid

kin atau aleh terjadinya

hiperparasitisme.

Di

Jepang

dlapsrkan bafiwa Chrysdaris pentheus (Walker) dapat berperan

sebagai

hiwrpa-

yang

manyebabkan

mattalitas tinggi pada elrtoparasitaid

DgIyphus

isae

(Walker) (Takada &
(104)

Earnbar 3. Kornpusisi parasitaid yang bewosiasi dengan

L.

saiivae

pada pertanaman tomat dl

Cibeureum

Bugor

Implikasi brhadap PHT

L.

same

kini t&h

tersebar

dan menjadi hama penting pada brbzmgai jenis sayuran harnpir di selunth wibyah Indonesia (IPB-ACIAR 2002). Beragamnya jenis

parasitoid

yang

diternukan dan tingginya tingkat parasitisasi menunjukkan khwa

kornpbks pamitoid

asfi

fndanesia

berpeluang untuk dimnfaatkan dalam upaya pengendaliian hay&

t.

safivaa

Seiain

itu, patasitoid yang diternukan juga

rnernprtihatkan

kemgaman fungsianaf. Sebagiatl bersifat sebagai

ektuparasituid

larva, semian lagi Wagai andoparasitaid

fanra,

dan

yang Iainnya sbagai

endoparasitaid

lama-pupa (Tabel 2).

Dari segi

kelirnpabn,

yang ditunjukkan oleh hnyaknya imago yang munwl dad daun cantah, pamitoid yang dminan adalah A. defucchii* Q, liriomyzae,

Chrysochatrs sp.,

dan

U.

vatkurnis. Keempat spesies ini diperkimitan rnemilikj patensi

dalarn penekanan populasi dan serangan

L.

safivae

di dataran rendah. Dilaporkan
(105)

(hosf-deeding)

( C h i

& Ku 2001), mingga hrva

t.

safivae

yang rndi

kbih

banyak. Quadrastkhus

sp.

dikehtrui menyerang larva instar

awal

dan'

Litkmyzza

spp.

(Adactri

19981, begitu

pula

A. M u m

(LaSak,

komunikasi F N j M ) . P a d u d pW

memarasit larva instar

awsl

diharapkan mampu m e n q a h

daun

dmi kenrsakan yang I M h parah. Parasitaid yang cfmiitian dapat b e r p a n scPbagai

agens

#

-hay& yang &eW (Adachi 1 998).

Dalam hubungan dengan kenrsakan

yaw

ditimbuikannya, hlat pengorok daun pada umurnnya

tetgatong

hama

Mak langsung,

karena merusalr bagian tanaman yang

Malt langsung dikansumsi atau dipasarkan jdaun). Untuk Ramyang demikian,

kenrsakan daun hingga batas brtentu M u m rnenurunkan

has8

pawn.

Qleh

karma itu, terdspat peluang untuk memanfaatkan parasitairi W m mmgendabhn hama ini.

Untuk

lehh meningkatkan

peran

pamsitoid yang teiah

ada.

perlu diiakukart bebrapa tindakn seprti konsenrasi

cian

augrnentasi

yang

dspat dilakukan hiir di

lapangan rnaupun di rumah k c a (labratodum). Konsrvasi umumnya dibituiran di

lapangan, yaitu dengan menciptakan kondisi iingkungan

yang

kbih rnenguntungkan b g i perkernbangan musuh afarni, misalnya rnenyediakan sumkr maicanan tamkhan

bagi parasitad bentpa tanaman berbunga yang menghasilican nektar dan polen,

sekaligus

sebagai

tempat unklk

bedindung musuh ahmi. Selain itu pengurangan penggunaan pstisida dalam usahatani sayuran

marnpu

menjamin k-ngsungan

hidup musuh ahmi. Augrnentasi yang meliputi inundasi

dan

inakuksi dilakukan dengan perbanyakan masal (mass maring) rnusuh alami

yang

dimutai dad

labatarium sfau ntrnah kaca. inundasi merupakan upaya pbpasan musuh alami

dalam jumlah yang besar untuk tujuan pengendaiian jangka pendek dengm tujuan

(106)

pelepasan musuh

alami

pada awal

rnusirn

sebagai upaya meningkatkan popdasi musuh afemi dan diharapkan dapat berkembang k i k di lapangan (Gambar 4).

Garnbar 4. Peranan parasitoid daiam menekan kerusakan

akibat

Ialat

pengorak daun L.

safivae

*

Augmsntasi di laboratorium sekaligus

dapat

digunakan

untuk

rnengetahui

*

kctalitas

parasitoid rnelalui pengarmatan biologi dan perila ku parasitoid, sehingga Menekan

kanrsakan dan

kehilengan hasil

(107)

bahwa parasitoid Mat pengorok H. vatf'camis memiliki pedaku mekrmpuhh intangnya

sebelurn diBetalri telur, dan 64% kernatian inang di lapangan akibat peiurnpuhan.

Oengan

perilaku

demihian

ticlgkat kemgltian tam

karena H

varkumk meningirat Ban irerusakan yang iebih

prah

d mdbkan, Mingga pamattoid ini &kt# di lapangan dalam m e n e h papulasi L i r i a m ~ a spp.

S p e w parasitaid Mainnya y a q M u d i k i kmungkinannya digunakan

ddarn inundasi,

khususnya

di

rumah

Icaca addah G. mEcrwnorpCra.

Pamitoid

ini dikebhui rnmliiri poia reproduksi teliotoici, sehingga b b h

mudah dibkkan

secara

rnassal di hboratorium. Kekmediiaart

parasbid

M n a

dalam

jumiah yang banyak diharapkan dapat manekan serangan L, satiwae. di m a h kaca, Hal ini diukung

dengan

pengam-n sdama ini rang rnembktikm trahwa

Granatma

sp.

sangat

bedimpah di tabratoriurn, namun sangat jarang ditemukan di lapangan

(Rauf,

komunikasi pribadi). Untuk icepetluan inokulasi

kimnya

perfu diupayakn

agar

G.

miwamorpha marnpu bertshan dan berkemkng dengan baik di

lapangan.

Salah satu

upaya dapat difakukan adalah dengan mernanipuki faMor lingkungan yang dapat

(108)

%banyak 19 m i e s pamitoid

ditemum

krasosiasi

dengan

tafva L, sat&-.

Parasitoicl R c f e i W , Q. iiriom~ae,

C h t y m a t i s

sp., dan

M vsrkumk

memiliki

potensi untuk

dimanfaatkan sehgai &gens pmgenddian

hay&

krdasarkan pertimhngan

kdrnpahan

di lapangan dan priiakunya. Pemanaaian -pat parasitoid ini dahm pengendalian

hayEsti

m y a n y a ,

cfiaunjang

deh pemahaman mengenai bidagi

clan

ekologinya.

Dalarn meningkatkan peran parasfid untuk mertekan m n g a n Idat pengarok

daun L. satha, tindakan

konsenrasi

dan

augmentad

v r t i pngurangan penggunaan inseCttisida

dan

penyetjin sum& makinan tambatran di iapangan,
(109)

-

Adachi 1. 1998. H y ~ ~

parasitoids

u s

of

the peach leafminer, Lyomtia detk8IIa (Cinnaeus) (Lepdoptem: Lyonetiidae), Appl Entomoi Zoai 33(2): 299-304,

A r a b & N & Kin@ K. 1998.

Motes

on

the fauna of the wrpentine l e a f m h tifbrnyrra

tt#dii j8urgess) (Diptern: Agromymk) in Okinawa, southern Japan. Appl Entamol Zool334): 577-581.

Arakaki N, Q i h i T & Nona H. 2001, Pharthsnogenesis induced

by

wolbachia in

Grnnotoma

mkmmorpha (Hymenoptera-Eudlidae). EntmoI Science. 4(1):

9-15.

Bordat

D,

Cdy EV & Olivera

CR.

1995. Murphametric, hbglml and behavioral differences b b m e n

Hernipfarsenus

v a h m i s

and

Qpius dssihrs (Hym: Bramid-) parasitaids of

Liriomyza MWii

(Dip: AgrornyPdm). J App Ent 1 1 9: 423427.

Berrenbaum MR. 1995. 8ug in the

system.

Perseus books.

Massachusett.

USA. Buena

7".

1950. A glossary of entamobgy. EntamoOogica( Society. 356p.

Cadtun CA & Allen WW, 1981. The biolagy of Liriomyza f&dii an beans

and

chrysanthemums.

In : Schuster DJ ditor. Liriomyza leafminers.

Proc.

IFAS- Ind Conf Bid

Cont.

Lake

Buena Vista. Florida. p57.

Cfiavez GL & Ramen KV. 1987. Evaluation

of

trapping and trap types to

reduce

damage

to potatoes by $be leafminer, Liriomyza

huidobmnsis

(Diptera: Agrornyzidae) Insect Sci Appl8(3): 364372.

Chien

CC

&

Ku

SC. 1998

Gambar

Gambar 1. Jenis dan proporsi piamsWd IW pengorok yang diternukan

Referensi

Dokumen terkait

Particles with such labile PEG shield displayed up to 100- fold higher gene transfer activity in cell culture models compared with polyplexes with the analogous stable PEG shield,

Hasil uji normalitas ( Shapiro-Wilk Test ) (Tabel 1) menunjukkan data daya hambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus pada kelompok kontrol positif dan

Kontrak / Surat Perjanjian / SPMK / Referensi Kerja dan Pengalaman Kerja pada pekerjaan sejenis sesuai LDK, Berita Acara Serah Terima Pekerjaan serta Bukti

Dari studi yang dilakukan terhadap proyek/program kegiatan dari Pemerintah Kabupaten dengan mengambil sample kegiatan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas), komposting (TPST),

jika dipandang dari dimensi hukum dalam prespektif filosofis adalah tindakan yang melawan hukum, dan pada gilirannya hanya akan melahirkan sikap saralisasi aturan

mengatasi bencana banjir bandang dengan mengatur tata guna lahan sepanjang DAS di Kelurahan Lambung Bukit Kecamatan Pauh Kota Padang cukup baik dengan tingkat

Jika dilihat dari hasil penelitian membuktikan bahwa kinerja bidan dalam pelayanan ANC di empat puskesmas tersebut dikatakan baik namun dari pihak puskesmas yang