Pola Komunikasi Wanita Karir Single Parent dengan Anaknya di Kota Bandung(Studi Deskriptif Mengenai Pola Komunikasi Wanita Karir Single Parent Dengan Anaknya di Kota Bandung)

98  26  Download (1)

Teks penuh

(1)

(Studi Deskriptif Mengenai Pola Komunikasi Wanita Karir Single

Parent Dengan Anaknya Di Kota Bandung)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana (S1) Pada Program Studi Ilmu Komunikasi Konsentrasi Humas

Oleh : Ufit Apirnayanti

NIM. 41809216

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI KONSENTRASI HUMAS FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA BANDUNG

(2)
(3)
(4)

xi

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN ... . i

SURAT PERNYATAAN ... . ii

LEMBAR PERSEMBAHAN ... . iii

ABSTRAK ... . iv

ABSTRACT ... . v

KATA PENGANTAR ... . vi

DAFTAR ISI ... . vii

DAFTAR TABEL ... . xvi

DAFTAR GAMBAR ... . xvii

DAFTAR LAMPIRAN ... . xviii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 11

1.2.1 Rumusan Makro ... 11

1.2.2 Rumusan Mikro ... 11

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian ... 11

1.3.1 Maksud Penelitian ... 11

(5)

xii

1.4.2.1 Kegunaan Bagi Peneliti ... 13

1.4.2.2 Kegunaan Bagi Universitas ... 13

1.4.2.3 Kegunaan Bagi Masyarakat ... 14

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 TINJAUAN PUSTAKA ... 15

2.1.1 Tinjauan Relevan ... 15

2.1.2 Tinjauan Tentang Komunikasi Antar Pribadi ... 17

2.1.2.1 Definisi Komunikasi Antar Pribadi ... 17

2.1.2.2 Karakteristik Komunikasi Antar Pribadi ... 19

2.1.2.3 Ciri-Ciri Komunikasi Antar Pribadi ... 20

2.1.2.4 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Komunikasi Antar Pribadi ... 21

2.1.2.5 Tujuan Komunikasi Antar Pribadi ... 23

2.1.2.6 Fungsi Komunikasi Antar Pribadi ... 24

2.1.3 Tinjauan Tentang Pola Komunikasi ... 25

2.1.3.1 Definisi Pola Komunikasi ... 25

2.1.4 Tinjauan Tentang Anak ... 28

2.1.4.1 Definisi Anak ... 28

(6)

xiii

2.1.6.1 Pengertian Single Parent ... 39

2.2 Kerangka Pemikiran ... 40

2.2.1 Kerangka Teoritis ... 40

2.2.2 Kerangka Konseptual ... 44

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian ... 51

3.1.1 Sejarah Wanita Karir ... 51

3.1.2 Sejarah Wanita Karir di Indonesia... 53

3.1.3 Wanita karir Menurut Islam ... 54

3.1.4 Motif Menjadi Wanita Karir ... 56

3.1.5 Pengertian Single Parent dan Masalahnya ... 57

3.1.6 Single Parent di Kota Bandung ... 61

3.2 Metode Penelitian ... 62

3.2.1 Desain Penelitian ... 63

3.2.2 Teknik Pengumpulan Data ... 64

3.2.2.1 Wawancara Mendalam atau In-depth Interview ... 64

3.2.2.2 Observasi Partisipan ... 65

3.2.2.3 Dokumentasi ... 66

(7)

xiv

3.2.3.2 Informan Kunci (Key Informan )... 69

3.2.4 Teknik Analisis Data... 70

3.2.4.1 Uji Keabsahan Data ... 72

3.2.5 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 74

3.2.5.1 Lokasi Penelitian ... 74

3.2.5.2 Waktu Penelitian ... 74

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Identitas Informan, Key Informan dan Informan Pendukung .. 80

4.1.1 Informan Penelitian (Wanita Karir Single Parent) ... 80

4.1.2 Key Informan dan Informan Pendukung ... 85

4.2 Deskripsi Hasil Penelitian ... 88

4.2.1 Proses Komunikasi Pada Wanita Karir Single Parent Dengan Anaknya ... 89

4.2.2 Hambatan Komunikasi Pada Wanita Karir Single Parent Dengan Anaknya ... 97

4.2.3 Harapan Wanita Karir Single Parent Terhadap Anaknya, dan Harapan Anaknya Terhadap Wanita Karir Single Parent Dalam Berkomunikasi ... 105

(8)

xv

5.2.1 Saran Untuk Wanita Karir Single Parent... 124

5.2.2 Saran Untuk Masyarakat ... 125

5.2.3 Saran Untuk Peneliti Selanjutnya ... 126

DAFTAR PUSTAKA ... 127

LAMPIRAN – LAMPIRAN ... 131

(9)

xvi

Tabel 3.1 Daftar Informan Penelitian ... 68

Tabel 3.2 Daftar Informan Kunci dan Informan Pendukung ... 69

Tabel 3.3 Waktu Penelitian ... 75

Tabel 4.1 Jadwal Wawancara Informan(Wanita Karir Single Parent) ... 78

(10)

xvii

Gambar 3.2 Komponen-Komponen Analisa Data Model Kualitatif ... 71

Gambar 4.1 Model Pola Komunikasi Wanita Karir Single Parent Dengan Anaknya Di Kota Bandung ... 71

Gambar L.1 Informan Penelitian Bernama Caskinah... 192

Gambar L.2 Informan Penelitian Bernama Merry W. Pangemanan ... 192

Gambar L.3 Informan Penenelitian Bernama Lilis Astuti... 193

Gambar L.4 Informan Kunci (seorang Dosen Psikolog) ... 193

Gambar L.5 Informan Pendukung 1 (salah satu anak informan) ... 194

(11)

xviii

Lampiran 2 Surat Rekomendasi Pembimbing ... 133

Lampiran 3 Berita Acara Bimbingan ... 134

Lampiran 4 Lembar Revisian Usulan Penelitian ... 135

Lampiran 5 Surat Pengantar Wawancara ... 136

Lampiran 6 Pedoman observasi ... 137

Lampiran 7 Transkrip observasi ... 138

Lampiran 8 Surat Rekomendasi Sidang ... 141

Lampiran 9 Pengajuan Pendaftaran Ujian Sidang Sarjana ... 142

Lampiran 10 Pertanyaan Penelitian ... 143

Lampiran 11 Pedoman Wawancara (wanita karir single parent) ... 144

Lampiran 12 Pedoman wawancara (psikolog/informan pendukung) ... 150

Lampiran 13 Biodata Informan ... 156

Lampiran 14 Biodata Informan Kunci ... 159

Lampiran 15 Biodata Informan Pendukung ... 160

Lampiran 16 Hasil Wawancara (Informan peneliti) ... 162

Lampiran 17 Hasil Wawancara (informan pendukung/psikolog) ... 162

(12)

vi Assalamuallaikum. Wr. Wb.

Puji dan syukur penulis panjatkan ke khadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Pola Komunikasi Wanita Karir

Single Parent Di Kota Bandung (Studi Deskriptif Mengenai Pola

Komunikasi Wanita Karir Single Parent di Kota Bandung)”. Tak lupa shalawat dan salam kepada junjungan nabi besar kita Rasulullah, Nabi Muhammad SAW serta para sahabat dan seluruh pengikutnya semoga rahmat dan hidayah selalu dilimpahkan padanya.

Berawal dari mimpi yang menjadikan kunci untuk melihat masa lampau serta yang akan datang, dengan ini sebuah keberhasilan mampu diraih oleh siapapun. Setiap insan di muka bumi ini pun haruslah memiliki mimpi untuk terus memotivasi diri kita menjadi lebih baik lagi. Kesuksesan seseorang di dunia ini tak luput dari hasil kerja keras yang mereka lakukan. Maka, apakah semua orang dapat menikmati kesuksesan tersebut asalkan ada kemauan serta terus bekerja keras.

(13)

vii

dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini perkenankanlah penulis mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak terutama yang terhormat:

1. Dr. Ir. Eddy Soeryanto Soegoto, selaku Rektor Universitas Komputer Indonesia sekaligus Entrepreneur, yang turut memberikan ilmunya secara khusus Entrepreneurship kepada peneliti, menyediakan sarana prasarana dalam kegiatan belajar mengajar maupun inspirasi-inspirasinya dalam berwirausaha. 2. Bapak Prof. Dr. Samugyo Ibnu Redjo, Drs., M.A selaku Dekan

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Komputer Indonesia, yang telah mengeluarkan surat pengantar penelitian. 3. Bapak Drs. Manap Solihat, M.Si selaku Ketua Program Studi

Ilmu Komunikasi dan Public Relations FISIP UNIKOM sekaligus sebagai dosen yang telah banyak memberikan pengetahuan dan berbagi ilmu serta wawasan selama peneliti melakukan perkuliahan serta memberikan pengesahan pada skripsi untuk disidangkan.

(14)

viii

peneliti yang senantiasa memberikan arahan, bimbingan, dan motivasi selama proses perkuliahan berlangsung.

6. Ibu Rismawaty, S.Sos., M.Si selaku Dosen Pembimbing peneliti yang senantiasa memberikan arahan, bimbingan, dan motivasi kepada peneliti sebelum peneliti melaksanakan penelitian skripsi. 7. Seluruh Bapak/Ibu Dosen Ilmu Komunikasi dan Public

Relations UNIKOM : Ibu Desayu Eka Surya, S.Sos., M.Si., Sangra Juliano P., S.I.Kom., M.I.Kom,. Inggar Prayoga, S.I.Kom., Adiyana Slamet, S.I.P., M.Si., Ari Prasetyo, S.Sos., M.I.Kom., Olih Solihin, S.os., M.I.Kom., Dr. Drs. H.M. Ali Syamsuddin Amin, S.Ag,. M.Si., dan Tine Agustin Wulandari, S.I.Kom., yang telah mengajarkan peneliti selama ini yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu. Yang telah memberikan ilmu dan pengetahuannya kepada peneliti selama perkuliahan berlangsung.

(15)

ix

meluangkan waktu serta memberikan apa yang telah dialami, dirasakan, dilihat, serta pemikiran-pemikiran lainnya sebagai data penelitian yang dibutuhkan oleh peneliti.

10. Linda Apirnayanti, adikku tersayang yang selalu memberikan dukungan, semangat, dan senyum canda tawa dalam kebersamaan yang senantiasa memberikan warna pada hidupku.

11. Temmi Nurma Yuniyansyah, kekasih yang selalu memberikan dukungan, semangat, serta arahan dan berbagi senyum canda tawa tangis dalam kebersamaan yang senantiasa memberikan warna pada hidupku.

12. Seluruh keluargaku, yang telah memberikan dukungan doa dan semangat.

(16)

x

15. Teman-Teman Seperjuangan Angkatan 2009, Teman-teman bimbingan 2009, IK Humas 3, IK Humas 1, Humas 2 & IK Jurnal Ayo semangat…teruskan langkah kita meraih harapan dan cita-cita kita. Terima kasih semuanya.

16. Dan semua pihak, yang telah membantu yang tidak bisa disebutkan satu per satu, terima kasih atas do’a dan dukungannya.

Peneliti menyadari bahwa dalam skripsi ini masih diperlukan penyempurnaan dari berbagai sudut, baik dari segi isi maupun pemakaian kalimat dan kata-kata yang tepat, oleh karena itu, peneliti mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk kesempurnaan penelitian ini, dan penelitian selanjutnya di masa yang akan datang.

Bandung, Juli 2013 Peneliti

(17)

127

Persada

Budyatna, M, Muthmainnah Nina. , 2004. Komunikasi Antar Pribadi, Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, Jakarta

Bogdan dan Taylor Lexy J. Moleong. 1988. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya

Devito, A. Joseph. 1997. Komunikasi Antar Manusia. Jakarta: Professional Books.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2004. Pola Komunikasi Orang Tua & Anak Dalam Keluarga Sebuah Perspektif Pendidikan Islam. Jakarta. Rineka Cipta Effendi, Uchjana, Onong. , 1994. Ilmu Komunikasi : Teori dan Praktek, PT.

Remaja Rosda Karya, Bandung

Gunarsa & Gunarsa. Psikologi Praktis : anak, remaja, dan keluarga. 1995. Jakarta: Gunung Mulia.

Hadari, Nawawi. , 2003. Metode Penelitian Bidang Sosial, Gajah Mada University Press, Yogyakarta

Huzaemah T. Yanggo, 2001. Fiqih Perempuan Kontemporer, Yogyakarta: Almawardi Prima

Kriyantoro, Rachmat. 2007. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Kuswarno, Engkus. , 2009. Metode Penelitian Komunikasi : Fenomenologi, Konsepsi, Pedoman dan Contoh Penelitiannya, Widya Padjajaran, Perpustakaan Pusat UII

Liliweri, Alo. 1997. Komunikasi Antarpribadi. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti Mulyana Deddy, M.A., Ph.D. 2010. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta : Rosda. Mulyana, Deddy. 2005, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung, Remaja

(18)

Meleong, Lexy J. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Omas Ihromi, 1990. Wanita Bekerja dan Masalah-Masalahnya” dalam Toety Hearty Nurhdy dan Aida Fitalaya s. Hubeis (edotor), Dinamika Wanita Indonesia seri 01:Multimensional, Jakarta: Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita

Pace, R Wayne .Faules , Don F. 2002. Komunikasi Organisai: Strategi Peningkata Kinerja Perusahaan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Rahkmat, Jalaluddin, DRS, 2008, Psikologi Komunikasi, Bandung : PT. Remaja

Ray Sitoresmin Prabuningrat, 1993. Sosok Wanita Muslimah Pandangan Seorang Artis. Yogyakarta: Tiara Wacana

Ruslan, Rosady. , 1998. Manajemen Humas dan Manajemen Komunikasi : Konsep dan Aplikasi, PT. Raja Grafindo, Jakarta

Santrock, W John, 2002, Life Span Development, Jakarta : Erlangga

Satori, Djam’an dan Aan Komariah, 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfabeta.

Sukmadinata. , 2006. Metode Penelitian Pendidikan, Remaja Rosdakarya, Bandung

Sjarkawi. Pembentukan Kepribadian Anak. 2006. Jakarta : Bumi Aksara

Sendjaja, Sasa Djuarsa. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Universitas Terbuka.

Sobur, Alex. Komunikasi Orang Tua dan Anak. 1985. Bandung: Angkasa

S.C.Utami Munandar, 2001. Wanita Karir Tantangan dan Peluang, “Wanita dalam Masyarakat Indonesia Akses, Pemberdayaan dan Kesempatan”.

Yogyakarta: Sunan Kalijaga Press

(19)

Sugiyono. , 2009. Metode Penelitian Pendidikan : Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D

Singarimbun, Masri , Effendi Sofian. , 1989. Metode Penelitian Survai, pustaka LP3ES Indonesia Anggota IKAPI, Jakarta

Wiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia

Penelitian Relevan

Kumia Aodranadia. 2012. Skripsi: Pola Komunikasi Orang Tua Muda Dalam Membentuk Perilaku Positif Anak Di Kota Bandung ( Studi Deskriptif Pola Komunikasi Orang Tua Muda Dalam Membentuk Perilaku Positif Anak Di Kota Bandung)

Bandung: Universitas Komputer Indonesia

Parihat. 2010. Skripsi: Pola Komunikasi Pada Wanita Karir Dengan Aank Remajanya (Studi Kasus Pola Komunikasi Pada Wanita Karir Dengan Anak Remajanya di Kota Bandung)

Bandung: UNISBA

Irna Gustina. 2012. Skripsi: Gaya Hidup Wanita Single Parent Di Kota Bandung Dalam Lingkungan Kerjanya (Studi Deskriptif Mengenai Gaya Hidup Wanita Single Parent dalam lingkungan kerjanya di Kota Bandung)

Bandung: Universitas Komputer Indonesia

Internet dan sumber lain

http://Dilema Wanita Karir _ Bangrahmat Online.htm // Diakses pada hari kamis, 20 februari 2013 pukul 13:42 wib

Karier Wanita dan Wanita Karier « BERFIKIR SEJENAK DEMI MASA DEPAN.htm // Diakses pada hari kamis, 20 februari 2013 pukul 13:47 wib

9.htm // Diakses pada hari jumat, 20 februari 2013 pukul 14:52 wib

Pengertian wanita karier.htm // Diakses pada hari jumat, 20 februari 2013 pukul 14:56 wib

(20)

http://eprints.upnjatim.ac.id/3439/1/file1.pdf // Diakses pada hari sabtu, 30 Maret 2013 pukul 15:21 wib

http://www.google.com/url?q=http://digilib.uin-suka.ac.id/3551/1/BAB%2520I,%2520V,%2520DAFTAR%2520PUSTAKA.pdf &sa=U&ei=ZvJnUdyFIMbRrQf_nID4Aw&ved=0CB4QFjACOAo&sig2=fsQcFe Ec5wOvBAmxrV2HbQ&usg=AFQjCNFZ1rDTuTCbZ8NDu7GCyVyG9DX7FQ // Diakses pada hari selasa, 26 Maret 2013 pukul 13:21 wib

Bauna’I, Wanita Karir dalam Perspektif Hukum Islam” Jurnal Keislaman dan Keilmuan Karsa, vol 11 // Diakses pada hari selasa, 26 Maret 2013 pukul 13:25 wib

http://www.scribd.com/doc/35446606/Single-Parent // Diakses pada hari selasa, 26 Maret 2013 pukul 13:33 wib

http://female.kompas.com/read/2011/09/07/18284955/Jangan.Takut.Menjadi.Sing le.Parent. // Diakses pada hari selasa, 26 Maret 2013 pukul 13:33 wib

http://newsinformationforyou.blogspot.com/2011/12/single-parent-struktur-keluarga-dan.html. // Diakses pada hari selasa, 26 Maret 2013 pukul 13:33 wib http://www.scribd.com/doc/57516479/Single-Parent. // Diakses pada hari selasa, 26 Maret 2013 pukul 13:33 wib

http://www.scribd.com/doc/73586294/Wanita-Karier // Diakses pada hari selasa, 26 Maret 2013 pukul 13:33 wib

(21)

1 1.1Latar Belakang Masalah

Seiring dengan perkembangan era globalisasi dan pengalaman yang menyajikan hal yang lain untuk para wanita. Jaminan untuk sukses secara finansial, diakui eksistensi dan menyandang predikat mandiri mengharuskan wanita menjemput impian dengan belajar ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, mendapatkan posisi yang tinggi, mendapatkan pekerjaan yang diakui/dihargai, dan mendapat posisi yang tinggi dalam dunia pekerjaan. Hal ini selanjutnya memberikan predikat kepada wanita yang memiliki pekerjaan dengan sebutan

“wanita karir”.

Segala jenis pekerjaan bisa ditempati oleh kaum hawa dari pekerjaan yang mengerahkan pemikiran sampai pekerjaan yang mendahulukan otot. Disinilah ada sisi wanita yang ingin menjadi ibu rumah tangga tapi ketika masalah financial menghadang keberlangsungan hidup berumah tangga dan mengharuskan perempuan ikut mengais rezeki dengan segala upaya menjadikan wanita keluar rumah dan bekerja.

Permasalahn muncul ketika ibu rumah tangga tersebut memiliki waktu yang lebih banyak untuk pekerjaannya atau anak tidak dapat diperhatikan atau memiliki penghasilan yang lebih tinggi yang hingga akhirnya berdampak pada perceraian.1

1

(22)

Sebagai wanita karir yang memiliki profesi dalam salah satu bidang bukan hanya sebagai seorang yang bekerja tetapi juga harus memiliki konsekuensi dan tanggung jawab bukan hanya sebagai seorang wanita karir saja tetapi juga memiliki peran lain yaitu sebagai seorang ibu rumah tangga, istri dan sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya.

Banyak kecenderungan diluar rumah seorang wanita karir itu kehidupan rumah tangganya banyak yang tidak berjalan harmonis mulai dari masalah dengan suaminya hingga dengan anaknya, Bertolak dari masalah fenomena yang terjadi peneliti ingin tahu hal apa saja yang mempengaruhi kehidupan seorang wanita karir tidak berjalan harmonis, apakah ada yang salah sehingga mengalami permasalahan mulai dari perpisahan dengan suaminya, apa ada yang salah sehingga komunikasi antara si anak dengan ibunya yang berprofesi sebagai seorang wanita karir tidak berjalan dengan efektif, apakah karena kurangnya intensitas pertemuan atau komunikasinya kurang sehingga pola asuhnya pun tidak efektif dan semakin membentuk pola komunikasi antara si anak dengan ibunya ini tidak mempunyai kedekatan hubungan.

Apakah seorang wanita itu harus identik sebagai ibu rumah tangga baru bisa memiliki pola komunikasi yang baik dengan anaknya. Disinilah peneliti ingin meneliti apakah jika seorang wanita yang tetap berkarir bisa menjalankan pola komunikasi yang baik, efektif dengan anaknya layaknya sebagai seorang ibu dan anak dan bisa membentuk pola tumbuh kembang anaknya.

(23)

Isu ini selalu di jadikan topik pembicaraan dalam berbagai seminar. Masalah emansipasi wanita seolah-olah sudah selesai, sebab dalam kehidupan sehari-hari telah terbuka peluang dan keberhasilan kaum wanita untuk mensejajarkan keberadaannya di samping laki-laki.

Dengan terbukanya peluang dan kesempatan yang luas bagi wanita untuk berkarir akan mengakibatkan berubahnya pola berpikir dan hidup mereka. Perubahan sikap ini secara tidak langsung menimbulkan masalah-masalah dalam keluarga, khususnya yang berkaitan dengan pendidikan dan pengasuhan anak. Disinyalir waktu yang tersedia untuk berkumpul dengan keluarga di rumah bagi wanita karir cenderung akan berkurang, sehingga komunikasi dengan anak dengan sendirinya akan berkurang pula.

Komunikasi merupakan kebutuhan dasar manusia dalam menjalani kehidupannya. Kegiatan komunikasi ini berlangsung dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, selama manusia hidup dan melakukan aktivitasnya. Kalau kita mengamati sekitar kita, maka kita akan melihat bahwa komunikasi merupakan aktivitas yang paling menonjol dalam suatu kehidupan bermasyarakat. Bahkan dapat dipastikan, di mana manusia hidup bersama-sama dengan orang lain maka disana selalu ada kegiatan komunikasi, karena komunikasi merupakan kebutuhan hidup manusia.

(24)

mengalami masalah yang kompleksitas, dimana dalam perkembangannya anak akan memiliki suatu cara pandang yang berbeda dengan orang tua. Perubahan yang sangat cepat ini mengharuskan adanya berbagai upaya orang tua terhadap anak, agar anak memiliki kemampuan untuk mengantisipasi dan mewarnai hidupnya.

Komunikasi juga sangat penting dalam keluarga. Komunikasi yang baik perlu dibangun secara harmonis dalam rangka membangun pendidikan yang baik. Pola komunikasi yang dibangun akan mempengaruhi perkembangan jiwa dan pola pikir anak, serta mempengaruhi kondisi kejiwaan anak, secara langsung dan tidak langsung. Sebuah keluarga akan berfungsi optimal bila didalamnya terdapat pola komunikasi yang terbuka, ada sikap saling menerima, mendukung, rasa aman dan nyaman serta memiliki kehidupan spiritual yang terjaga (Kriswanto. 2005:9).

Anak merupakan salah satu anugerah yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa terhadap manusia. Setiap orang tua selalu mendambakan seorang anak yang hadir di tengah-tengah kehidupan mereka. Maka dari itu orang tua seharusnya menjaga anak dengan sebaik-baiknya. Dalam hal ini, para orang tua harus mengasuh, mengajarkan, mendidik, dan mengasihi anak hingga kelak menjadi anak yang berguna dan berperilaku positif.

(25)

digunakan untuk membentuk perilaku anak, harus dapat menimbulkan limpahan penyebab bagi anak untuk percaya dan merasa aman dalam asuhan orang tua.

Dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi merupakan suatu tindakan yang memungkinkan kita mampu menerima dan memberikan informasi atau pesan sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Secara teoritis, kita mengenal beragam tindakan komunikasi berdasarkan pada konteks dimana komunikasi tersebut dilakukan, yaitu konteks komunikasi antarpribadi, komunikasi dengan diri sendiri, komunikasi kelompok, komunikasi organisasi, dan komunikasi massa. Jika di lihat dari beberapa konteks komunikasi di atas, konteks komunikasi yang berhubungan atau sesuai dengan penelitian ini adalah komunikasi antar pribadi.

Komunikasi antar pribadi dalam keluarga yang terjalin antara orang tua dan anak merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan perkembangan individu. Komunikasi yang diharapkan adalah komunikasi yang efektif dapat menimbulkan pengertian, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik dan tindakan. Demikian juga dalam lingkungan keluarga diharapkan terbina komunikasi yang efektif antara orang tua dengan anaknya, sehingga akan terjadi hubungan yang penuh kasih sayang dan harmonis. Hubungan yang demikian masih sangat diperlukan karena seorang anak masih banyak menghabiskan waktunya dalam lingkungan keluarga.

(26)

kehidupan manusia, tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai manusia sosial didalam hubungan interaksi dengan lingkungannya.

Menjadi orang tua bagi anaknya dalam masa kini dirasakan lebih sulit dari pada beberapa puluh tahun lalu. Perubahan-perubahan sosiologi dan teknis yang begitu pesat membawa dampak perubahan besar pula dalam hubungan anak dan orang tua. Perubahan itu membuat orang tua sulit menentukan cara mengasuh yang cocok dengan anaknya. Cara mengasuh yang bijak beberapa tahun yang lalu belum tentu bijak bagi anak pada era masa kini.

Wanita selalu menjadi topik yang mengasikkan untuk dibicarakan, khususnya di dalam kaitannya dengan peran antara karier dan ibu rumah tangga. Dengan bertambahnya kesempatan memperoleh pendidikan bagi rakyat, termasuk kaum wanita, maka makin banyak wanita yang memasuki lapangan pekerjaan. Suatu kenyataan yang tidak dapat di pungkiri adalah bahwa jumlah wanita Indonesia yang terjun sebagai tenaga kerja dan bekerja dengan imbalan telah mengalami peningkatan.

(27)

Secara definisi wanita karir bermakna, sebagai berikut :

a) Seorang wanita yang menjadikan karir atau pekerjaannya secara serius.

b) Perempuan yang memiliki karir atau yang menganggap kehidupan kerjanya dengan serius (mengalahkan sisi-sisi kehidupan yang lain).

Dari definisi akan wanita karir bisa dikatakan suatu kehidupannya diisi dengan hal-hal yang serius dan formal. Namun, apa yang dilakukannya memiliki peranan penting sebagai kebutuhan dalam penyampaian pesan agar tercapai secara baik. Dan tuntutan untuk selalu menyesuaikan dengan lingkungan yang berperan penting. Dengan itu, komunikasi setiap individu berbeda-beda dan memiliki berbagai cara dalam penyampaian pesannya. Ada yang kaku dan formal dan ada pula yang santai serta non formal.

Dengan meningkatkan peran wanita diranah publik, maka akan bertambah pula masalah-masalah yang timbul seperti bagaiman mengatur waktu dengan anak dan suami hingga mengurus tugas-tugas rumah tangga dengan baik. Ada yang menikmati peran gandanya, namun ada juga yang mersa kesulitan hingga akhirnya menimbulkan persoalan menjadi berkembang dan rumit.

(28)

Single parent adalah orang yang melakukan tugas sebagai orang tua (ayah dan ibu) seorang diri, karena kehilangan/terpisah dari pasangannya.

Single parent (Orang tua tunggal) – merupakan fenomena yang terjadi di beberapa kota besar, yang menghasilkan pandangan baru dalam sebuah struktur keluarga. Meluasnya fenomena menjadi orangtua tunggal, maka semakin banyak pula lah deskripsi definisi dari single parent itu sendiri. Menurut Gunawan(2006) single parent adalah orang yang melakukan tugas sebagai orang tua (ayah atau

ibu) seorang diri, karena kehilangan/terpisah dengan pasangannya.2

Sementara menurut Sager (dalam Duval & Miller,1985) single parent adalah orang tua yang memelihara dan membesarkan anak- anaknya tanpa kehadiran dan dukungan dari pasangannya.

Adapun alasan-alasan seorang wanita menjadi single parent, sebagai berikut.

1.Tinggal terpisah karena pasangannya bekerja/belajar di kota/negara lain; 2. kematian pasangan;

3. perceraian;

Single parent sendiri disebabkan dua hal, diinginkan (sengaja) dan tidak

diinginkan (tragedi). Dalam tulisan sebelumnya saya menuliskan persektif masyarakat terhadap single parent, yang hanya mengukur dari suatu status. Padahal masing-masing berbeda. Dalam kondisi yang disengaja, biasanya dianut oleh kaum feminist yang menginginkan kebebasan dalam menentukan komposisi suatu keluarga. Kaum feminist cenderung untuk mendobrak tatanan keluarga

2

(29)

karena dianggap sebagai pengukungan kebebasan berdasarkan jenis kelamin. Dalam kondisi seperti ini biasanya wanita sudah mempersiapkan dirinya secara matang. Mereka lebih mandiri dalam segi finansial dan memiliki prinsip yang dipegang dalam menjalani kehidupannya sebagai single parent.

Perannya sebagai ibu, yaitu menjalankan kodratnya sebagai perempuan, meliputi mengasuh dan membesarkan anaknya, serta hal-hal yang ada dalam rumah. Walaupun dalam kondisi bekerja, tetap harus memonitor apa yang terjadi di dalam rumah. mempersiapkan kemandirian untuk mental si anak juga sangat perlu. Kasih sayang adalah kunci segala-galanya. Memberi pengertian kepada anak pelan-pelan dengan menyesuaikan usianya. Tidak bisa dihindari, anak akan mengalami dampak psikologis yang akan memengaruhi terhadap perilakunya di rumah, sekolah, dan masyarakat. Menumbuhkan kepercayaan dirinya dan meningkatkan rasa nyaman merupakan tugas utama. Anak merupakan skala prioritas, karena tanpa itu sia-sia semua karir dan peran yang dijalani akan sia-sia. Dimana perannya menjadi wanita karir single parent yang bekerja keras untuk menafkahi anak–anaknya sehingga anak–anaknya bisa menjadi sukses. Jaman sekarang seorang wanita yang single parent banyak melakukan pekerjaannya sendiri atau mereka berkerja menjadi wanita single parent yang sukses dalam kariernya.

(30)

bagaimana seorang wanita karir single parent dapat memenuhi harapan idealnya bisa sukses mengelola dua tugas sekaligus, yaitu sukses dalam karir dan sukses dalam rumah tangga.

(31)

1.2Rumusan Masalah

Pada penelitian ini, peneliti merinci secara jelas dan tegas dari fokus pada rumusan masalah yang masih bersifat umum dengan subfokus-subfokus terpilih dan dijadikannya sebagai rumusan masalah makro dan mikro, yakni :

1.2.1 Rumusan Masalah Makro

Bagaimana pola komunikasi wanita karir single parent dengan anaknya di Kota Bandung?

1.2.2 Rumusan Masalah Mikro

1. Bagaimana proses komunikasi wanita karir single parent dengan anaknya di Kota Bandung?

2. Bagaimana hambatan komunikasi yang terjadi pada wanita karir single parent dengan anaknya di Kota Bandung?

3. Bagaimana harapan wanita karir single parent kepada anaknya, dan harapan anaknya kepada wanita karir single parent dalam komunikasi keluarganya di Kota Bandung?

1.3Maksud dan Tujuan Penelitian

(32)

1.3.1 Maksud Penelitian

Adapun maksud dari penelitian ini adalah untuk mengkaji

mengenai “Pola Komunikasi Wanita Karir Single Parent Dengan Anaknya

di Kota Bandung”.

1.3.2 Tujuan Penelitian

Agar penelitian ini mencapai hasil yang optimal maka terlebih dahulu perlu tujuan yang terarah dari penelitian ini. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui proses komunikasi wanita karir single parent dengan anaknya di Kota Bandung.

2. Untuk mengetahui hambatan komunikasi yang terjadi pada wanita karir single parent dengan anaknya di Kota Bandung.

3. Untuk mengetahui harapan wanita karir single parent kepada anaknya, dan anaknya kepada wanita karir single parent dalam komunikasi keluarganya di Kota Bandung.

1.4Kegunaan Penelitian

(33)

1.4.2 Kegunaan Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan-masukan bagi pengembangan ilmu komunikasi yang diperoleh oleh peneliti secara teoritis selama proses akademik. Baik Ilmu Komunikasi secara umum dan komunikasi antar pribadi secara khususnya mengenai bagaimana pola komunikasi wanita karir single parent dengan anaknya di kota Bandung.

1.4.2. Kegunaan Praktis

Adapun hasil penelitian ini secara praktis, diharapkan bisa memberikan suatu masukan atau referensi tambahan yang dapat diaplikasikan dan menjadi pertimbangan. Dan kegunaan secara praktis pada penelitian ini sebagai berikut:

1.4.2.1 Kegunaan Bagi Peneliti

Penelitian ini berguna secara praktis bagi peneliti sebagai aplikasi ilmu yang selama studi telah diterima secara teori, khususnya tentang pola komunikasi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam menambah wawasan serta sebagai salah satu rujukan untuk meneliti lebih lanjut dari sisi dan masalah penelitian yang sama dalam konteks komunikasi. Selain itu pula dapat menjadi acuan dan dapat memperdalam pengetahuan dan teori mengenai informasi yang berhubungan dengan studi ilmu komunikasi.

1.4.2.2 Kegunaan Bagi Universitas

(34)

akan melakukan penelitian di bidang dan kajian yang sama. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk seluruh mahasiswa untuk meningkatan pengetahuan mahasiswa memberikan pengetahuan tentang pola komunikasi wanita karir single parent dengan anaknya.

1.4.2.3 Bagi Masyarakat

(35)

15 2.1. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.1. Tinjauan Relevan

Berdasarkan studi pustaka, peneliti menemukan beberapa referensi penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang sedang dilakukan peneliti. Studi penelitian terdahulu sangat penting sebagai bahan acuan yang membantu peneliti dalam merumuskan asumsi dasar, untuk mengembangkan

(36)
(37)

seaching lingkungan kerjanya.

komunikasi, hambatan dan harapan wanita karir single parent kepada anaknya dan harapan anaknya kepada wanita karir single parent di kota Bandung

Sumber Peneliti 2013

2.1.2 Tinjauan Tentang Komunikasi Antar Pribadi 2.1.2.1 Definisi Komunikasi Antar Pribadi

Komunikasi intrapersonal dapat diartikan sebagai penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri. Jadi dapat diartikan bahwa komunikasi antarpribadi adalah komunikasi yang membutuhkan pelaku atau personal lebih dari satu orang. R Wayne Pace mengatakan bahwa komunikasi antarpribadi adalah Proses komunikasi yang berlangsung antara 2 orang atau lebih secara tatap muka.

Komunikasi antarpribadi menuntut berkomunikasi dengan orang lain. Komunikasi jenis ini dibagi lagi menjadi komunikasi diadik, komunikasi publik, dan komunikasi kelompok kecil. Komunikasi Interpersonal juga berlaku secara kontekstual bergantung kepada keadaan, budaya, dan juga konteks psikologikal. Komunikasi antarpribadi yang dikutip oleh Onong Uchjana Effendy berdasarkan definisi Joseph A Devito adalah :

“Proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau diantara sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa efek dan

(38)

messages between two persons, or among a small group of persons, with some effect and some immediate feedback ). ( Effendy, 2002 : 158)

Menurut Deddy Mulyana, komunikasi antarpribadi bisa diartikan sebagai:

“Komunikasi antara orang-orang secara tatap muka yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara

langsung baik secara verbal maupun nonverbal “( Mulyana, 2002 : 73 )

Berdasarkan definisi Devito diatas, komunikasi antarpribadi dapat berlangsung antara dua orang yang memang sedang berdua seperti, suami istri yang sedang bercakap-cakap, ataupun antara orang tua dan anak. Pentingnya situasi komunikasi antarpribadi ialah karena prosesnya memungkinkan berlangsung secara dialogis.

Komunikasi yang berlangsung secara dialogis selalu lebih baik daripada secara monologis. Monolog menunjukan suatu bentuk komunikasi dimana seorang berbicara, yang lain mendengarkan, jadi tidak ada interaksi, yang aktif hanya komunikator saja, sedangkan komunikan bersifat pasif. Situasi komunikasi seperti ini terjadi misalnya ketika seorang Ayah memberi nasihat kepada anaknya yang nakal.

Komunikasi antarpribadi yang dimaksud adalah proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang atau lebih secara tatap muka, seperti yang dinyatakan R. Wayne Pace. Menurut sifatnya komunikasi antarpribadi dapat dibedakan atas dua macam, yakni komunikasi diadik (dyadic Communication) dan komunikasi kelompok kecil (small group communication).

(39)

berlangsung dalam suasana yang bersahabat dan informal. Dialog berlangsung dalam situasi yang lebih intim, lebih dalam, dan lebih personal.

Fungsi komunikasi antarpribadi ialah berusaha meningkatkan hubungan insani (human relations), menghindari dan mengatasi konflik-konflik pribadi,mengurangi ketidakpastian sesuatu serta berbagai pengetahuan dan pengalaman dengan orang lain. Komunikasi antarpribadi dapat meningkatkan hubungan kemanusiaan diantara pihak-pihak yang berkomunikasi. Dalam hidup bermasyarakat seseorang bisa memperoleh kemudahan-kemudahan dalam hidupnya karena memiliki banyak sahabat. Melalui komunikasi antarpribadi juga kita dapat berusaha membina hubungan yang baik, sehingga menghindari dan mengatasi terjadinya konflik-konflik diantara kita.

2.1.2.2 Karakteristik Komunikasi Antar Pribadi

Komunikasi antarpribadi berlangsung antar dua individu, karenanya pemahaman komunikasi dan hubungan antar pribadi menempatkan pemahaman mengenai komunikasi dalam proses psikologis. Setiap individu dalam tindakan komunikasi memiliki pemahaman dan makna pribadi terhadap setiap hubungan dimana dia terlibat di dalamnya.

(40)

Menurut Judy C. Pearson dalam Sendjaja, komunikasi antar pribadi memiliki karakteristik sebagai berikut :

1. Komunikasi antarpribadi dimulai dengan diri pribadi / self 2. Komunikasi antarpribadi bersifat transaksional

3. Komunikasi antarpribadi mencakup aspek-aspek isi pesan dan hubungan antar persona

4. Komunikasi antarpribadi melibatkan pihak-pihak yang saling bergantung satu sama lainnya dalam proses komunikasi

5. Komunikasi antarpribadi tidak dapat diubah maupun diulang 2.1.2.3 Ciri-Ciri Komunikasi Antar Pribadi

Penyampaian pesan yang berlangsung antara dua orang atau sekelompok kecil ini memiliki ciri-ciri yang menunjukkan proses komunikasi antar pribadi yang berlangsung.

Menurut Barnlund sebagaimana dikutip oleh Alo Liliweri (1991) dalam bukunya Wiryanto, mengemukakan beberapa ciri yang mengenali komunikasi antar pribadi sebagai, berikut :

1. Bersifat spontan

2. Tidak mempunyai struktur 3. Terjadi secara kebetulan

4. Tidak mengejar tujuan yang direncanakan 5. Identitas keanggotaan tidak jelas, dan

6. Dapat terjadi hanya sambil lalu. (Wiryanto, 2004:33)

(41)

1. Arus pesan cenderung dua arah 2. Konteks komunikasinya dua orang 3. Tingkat umpan balik yang terjadi tinggi

4. Kemampuan mengatasi tingkat selektivitas, terutama selektivitas keterpaan tinggi

5. Kecepatan jangkauan terhadap khalayak yang besar relatif lambat, dan

6. Efek yang mungkin terjadi adalah perubahan sikap. (Wiryanto, 2004:35-36)

Ciri-ciri komunikasi antar pribadi yang dikemukakan para ahli lainnya pun turut mendukung akan fungsi dari komunikasi antar pribadi.

Menurut Reardon (1987) sebagaimana yang dikutip oleh Alo Liliweri mengemukakan juga bahwa komunikasi antar pribadi mempunyai enam ciri, yaitu:

1. Dilaksanakan atas dorongan berbagai faktor

2. Mengakibatkan dampak yang disengaja dan yang tidak disengaja

3. Kerap kali berbalas-balasan

4. Mengisyaratkan hubungan antar pribadi antara paling sedikit dua orang

5. Berlangsung dalam suasana bebas, bervariasi dan berpengaruh, dan

6. Menggunakan pelbagai lambang yang bermakna. (Liliweri, 1997:13)

Ciri-ciri tersebut ada pada komunikasi antar pribadi yang didalamnya memiliki jenis dari keberlangsungan komunikasi tersebut.

2.1.2.4 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Komunikasi Antar Pribadi Menurut Jalaludin Rakhmat komunikasi antar persona bisa dipengaruhi oleh 3 faktor seperti :

1. Persepsi Interpersonal

(42)

makna terhadap stimuli indrawi yang berasal dari seseorang ( komunikan ) berupa pesan verbal dan non verbal.

2. Konsep Diri

Konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Konsep diri sangat menentukan komunikasi antar persona karena faktor-faktor yang melingkupi seperti dibawah ini :

a. Nubuat yang Dipenuhi Sendiri

Maksudnya adalah setiap orang bertingkah laku sesuai dengan konsep dirinya.

b. Membuka Diri

Maksudnya adalah pengetahuan tentang diri kita akan meningkatkan komunikasi dan pada saat yang sama, berkomunikasi dengan orang lain meningkatkan pengetahuan tentang diri kita

c. Percaya Diri

Maksudnya adalah ketakutan untuk melakukan komunikasi atau communication apprehension disebabkan oleh kurangnya rasa percaya diri.

d. Selektivitas

(43)

( ingatan selektif). Selain itu konsep diri juga berpengaruh dalam penyandian pesan ( pesan selektif ).

3. Atraksi Interpersonal

Atraksi interpersonal adalah kesukaan kepada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang. Hal ini mempengaruhi komunikasi antar persona dalam hal penafsiran pesan, penilaian dan efektifitas komunikasi. 4. Hubungan Interpersonal

Hubungan interpersonal dapat diartikan sebagai hubungan antara seseorang dengan orang lain. Hubungan interpersonal yang baik akan menumbuhkan derajat keterbukaan orang untuk mengungkapkan dirinya, semakin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya sehingga makin efektif komunikasinya.

2.1.2.5 Tujuan Komunikasi Antar Pribadi

Sasa Djuarsa Sendjaja menjelaskan tujuan komunikasi antarpribadi dimana tujuan-tujuan yang dimaksud adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengenal diri sendiri 2. Untuk mengetahui dunia luar

3. Untuk menciptakan dan memelihara hubungan menjadi bermakna 4. Untuk mengubah sikap dan perilaku

5. Untuk bermain dan mencari hiburan

(44)

Tujuan komunikasi antarpribadi menurut Joseph A Devito terdiri atas 4 makna yakni :

1. Menyangkut penemuan diri (personal discovery). Dimana dengan berkomunikasi kita mampu lebih baik dalam memahami diri sendiri dan orang lain yang kita ajak berbicara.

2. Tujuan kita berkomunikasi adalah berhubungan dengan orang lain, membina dan memelihara hubungan dengan orang lain. 3. Dalam perjumpaan antar pribadi sehari-hari kita berusaha

mengubah sikap dan perilaku orang lain

4. Kita menggunakan banyak komunikasi untuk bermain dan menghibur diri. ( Devito, 1997 : 29-32 )

2.1.2.6 Fungsi Komunikasi Antar Pribadi

Komunikasi antar pribadi memiliki potensi yang dapat digunakan untuk memenuhi tujuan-tujuan dari proses komunikasi tersebut.

Dalam komunikasi antar pribadi memiliki fungsi-fungsi yang dijadikan sebagai proses perolehan atau pencapaian dari tujuan, dan fungsi komunikasi antar pribadi, yaitu:

1. Mendapatkan Informasi, Salah satu alasan kita terlibat dalam komunikasi interpersonal adalah agar kita dapat memperoleh pengetahuan tentang orang lain. Teori Penetrasi Sosial mengatakan bahwa kita mencoba untuk mendapatkan informasi tentang orang lain sehingga kita dapat berinteraksi dengan mereka secara lebih efektif.

(45)

bagaimana mereka mengatakan atau dalam konteks apa. Isi Pesan merujuk ke permukaan tingkat makna dari pesan dan Hubungan Pesan dilihat bagaimana pesan dikatakan. Keduanya akan dikirim secara bersamaan, tetapi masing-masing mempengaruhi arti yang ditugaskan untuk komunikasi.

3. Membangun Identitas, Komunikasi interpersonal adalah untuk membangun identitas. Peran kita bermain dalam hubungan kita membantu kita membangun identitas.

4. Kebutuhan interpersonal, Dalam komunikasi interpersonal karena kita perlu untuk mengekspresikan dan menerima kebutuhan interpersonal. William Schutz telah mengidentifikasi tiga kebutuhan, yaitu :

a.Inklusi adalah kebutuhan untuk membangun identitas dengan orang lain.

b.Kontrol adalah kebutuhan untuk latihan kepemimpinan dan membuktikan kemampuan seseorang.

c.Kasih sayang adalah kebutuhan untuk membangun hubungan dengan orang. Kelompok adalah cara terbaik untuk mendapatkan teman dan menjalin hubungan.

2.1.3 Tinjauan Tentang Pola Komunikasi 2.1.3.1 Definisi Pola Komunikasi

Pengertian komunikasi adalah bentuk atau model (lebih abstrak, suatu set peraturan) yang bisa dipakai untuk membuat atau menghasilkan suatu aatau bagian dari sesuatu, khususnya jika yang ditimbulkan cukup mencapai suatu jenis untuk pola dasar yang dapat ditunjukan atau terlihat. Istilah komunikasi bisa disebut juga sebagai model, tetapi maksudnya sama, yaitu sistem yang terdiri atas berbagai komponen yang berhubungan satu sama lain untuk mencapai tujuan pendidikan keadaan masyarakat.

(46)

Dimana komunikasi ini dipengaruhi oleh simbol dan norma yang dianut, yaitu :

1. Pola komunikasi satu arah

Pola komunikasi satu arah adalah proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan baik meggunakan media maupun tanpa media, tanpa ada umpan balik dari komunikan, dalam hal ini komunikan bertindak sebagai pendengar saja.

2. Pola komunikasi dua arah atau timbal balik (Two Way Traffic Communication)

Pola komunikasi dua arah yaitu komunikator dengan komunikan terjadi saling tukar fungsi dalam menjalani fungsi mereka. Namun pada hakiktnya yang memulai percakapan adalah komunikator utama, dan komunikator utama mempunyai tujuan tertentu melalui proses komunikasi tersebut. Prosesnya dialogis serta umpan baliknya secara langsung.

3. Pola komunikasi multi arah

Pola komunikasi multi arah yaitu proses komunikasi terjadi dalam suatu kelompok yang lebih banyak dimana komunikator dan komunikan akan saling bertuka pikiran secara logis. (Pace dan Faules, 2002:171)

Pola komunikasi terjadi dalam penyebaran pesan yang beurutan. Pace dan Faules mengemukakan bahwa penyampaian pesan berurutan merupakan bentuk komunikasi yang utama. Penyebaran informasi berurutan meliputi perkuasan bentuk penyebaran diadik, jadi pesan disampaikan dari Si A kepada Si B kepada Si C kepada Si D kepada Si E dalam serangkaian transaksi dua- orang. Dalam hal ini setiap individu orang ke 1(satu) (sumber pesan), mula-mula menginterpretasikan pesan yang diterimanya dan kemudian meneruskan hasil interpretasinya kepada orang berikutnya dalam rangkaian tersebut. (Pace dan Faules, 2002:172).

(47)

berlangsung dalam waktu yang tidak beraturan, jadi infomasi tersebut tiba di tempat yang berbeda dan pada waktu yang berbeda pula. Individu cenderung menyadari adanya informasi pada waktu yang berlainan. Karena adanya perbedaan dalam menyadari informasi tersebut, mungkin timbul masalah koordinasi. Adanya keterlambatan dalam penyebaran informasi akan menyebabkan informasi itu sulit digunakan untuk membuat keputusan karena ada orang yang belum memperoleh informasi. Bila jumlah orang yang harus diberi informasi cukup banyak, proses berurutan memerlukan waktu yang lebih lama lagi untuk menyamakan informasi kepada mereka (Pae dan Faules, 2002:173).

(48)

2.1.4 Tinjauan Tentang Anak 2.1.4.1 Definisi Anak

Anak adalah makhluk sosial seperti juga orang dewasa. Anak membutuhkan orang lain untuk dapat membantu mengembangkan kemampuannya, karena anak lahir dengan segala kelemahan sehingga tanpa orang lain anak tidak mungkin dapat mencapai taraf kemanusiaan yang normal. Menurut John Locke (Gunarsa, 1986) “Anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan”

Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang No 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan

Anak menyebutkan bahwa : ”Anak adalah seseorang yang belum mencapai umur

21 (dua puluh satu) tahun dan belum pernah kawin”.

Menurut John Locke dalam Gunarsa anak adalah: “Pribadi yang masih

bersih dan peka terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan.” (Gunarsa, 1986 : 37)

Selain John Lock Augustinus (dalam Suryabrata, 1987), yang dipandang sebagai peletak dasar permulaan psikologi anak, mengatakan bahwa:

“Anak tidaklah sama dengan orang dewasa, anak mempunyai

kecenderungan untuk menyimpang dari hukum dan ketertiban yang disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan pengertian terhadap realita kehidupan, anak-anak lebih mudah belajar dengan contoh-contoh yang diterimanya dari aturan-aturan yang bersifat memaksa”.

Sobur mengartikan anak sebagai: “Orang yang mempunyai pikiran, perasaan, sikap dan minat berbeda dengan orang dewasa dengan segala

(49)

Selain pendapat di atas, adapula pendapat dari Haditono dalam Damayanti menyatakan bahwa:

“Anak merupakan mahluk yang membutuhkan pemeliharaan, kasih sayang

dan tempat bagi perkembangannya. Selain itu anak merupakan bagian dari keluarga, dan keluarga memberi kesempatan bagi anak untuk belajar tingkah laku yang penting untuk perkembangan yang cukup baik dalam kehidupan bersama.

Dari definisi-definisi tentang anak dari para ahli, dapat dikatakan bahwa anak merupakan anugrah terbesar dari sang pencipta kepada sebuah keluarga. Kehadiran seorang anak merupakan pelengkap kebahagiaan dari suatu keluarga. Dengan demikian, banyak orang yang mengatakan bahwa anak merupakan titipan dari Tuhan yang harus dirawat dan dijaga. Dari hakikat inilah, maka menjadi tanggung jawab orang tua untuk mendidik, merawat, menjaga, termasuk membentuk kepribadian anak tersebut sehingga kelak dapat menjadi anak yang berguna dan berbakti baik kepada orang tua, orang lain, serta bangsa dan negara.

2.1.5 Tinjauan Tentang Wanita Karir

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia( Depdikbud, 1988), Karir berasal dari kata karier (Belanda) yang berarti pertama, perkembangan dan kemajuan dalam kehidupan, pekerjaan dan jabatan. Kedua, pekerjaan yang memberikan harapan untuk maju. Selain itu kata karir selalu dihubungkan dengan tingkat atau jenis pekerjaan seseorang. Wanita karir berarti yang berkecimpung dalam kegiatan profesi (usaha dan perusahaan).

(50)

1. Wanita yang aktif melakukan kegiatan-kegiatan untuk mencapai suatu kemajuan.

2. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan itu merupakan kegiatan-kegiatan professional sesuai dengan bidang yang ditekuninya, baik dibidang politik, ekonomi, pemerintahan, ilmu pengetahuan, ketentraman, social, budaya pendidikan, maupun di bidang-bidang lainnya.

3. Bidang pekerjaan yang ditekuni oleh wanita karir adalah pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya dan dapat mendatangkan kemajuan dalam kehidupan, pekerjaan, atau jabatan.

Dengan demikian dapat dirusmuskan bahwa “wanita karir” adalah wanita

yang menekuni sesuatu atau beberapa pekerjaan yang dilandasi oleh keahlian tertentu yang dimilikinya untuk mencapai suatu kemajuan dalam hidup, pekerjaan, atau jabatan.

Pengertian wanita karir sebagaimana dirumuskan diatas, nampaknya tidak identik dengan “wanita bekerja”. Menurut Omas Ihromi, wanita pekerja adalah mereka yang hasil karyanya akan mendapat imbalan uang. Meskipun imbalan tersebut tidak langsung diterimanya. Ciri-ciri dari wanita pekerja inilah ditekankan pada hasil berupa imbalan keuangan, pekerjaan tidak harus ikut dengan orang lain ia bisa bekerja sendiri yang terpenting dari hasi pekerjaannya menghasilkan uang dan kedudukannya bisa lebih tinggi dan lebih rendah dari wanita karir, seperti wanita yang terlibat dalam perdagangan.

(51)

jenis sebagai lawan laki-laki, wanita Kata wanita berasal dari bahasa Sansekerta,

artinya ”yang diinginkan”, ”yang dipuji”. Sedangkan, secara etimologis, kata

perempuan berasal dari ”empu” suatu gelar kehormatan yang berarti tuan juga

berarti orang yang ahli. Nilai rasa yang sering membedakan penggunaan kedua kata tersebut. Dalam penelitian ini menggunakan kata wanita karir bukan perempuan karir adalah terkait dengan istilah umum yang berlaku mengikuti perkembangan bahasa Indonesia saat ini, bahwa kata wanita menduduki posisi dan konotasi terhormat.

Pengertian dari wanita karir adalah seseorang wanita yang menjadikan pekerjaan atau karirnya sebagai prioritas utama dibandingkan hal-hal lainya. Sebagian wanita karir menghabiskan waktu dan kegiatanya dengan pekerjaanya, tidak jarang juga banyak yang tidak memperhatikan hal lainya. Penampilan dan fashion merupakan salah satu hal yang penting oleh seorang wanita, selain memberikan sebuah identitas, fashion juga menunjang untuk memikat daya tarik lawan jenis tentunya.

(52)

Menurut A. Fatih Syuhud secara definisi wanita karir bermakna:

a. seorang wanita yang menjadikan karir atau pekerjaannya secara serius

b. perempuan yang memiliki karir atau yang menganggap kehidupan kerjanya dengan serius (mengalahkan sisi-sisi kehidupan yang lain). Jadi, yang terpenting dari definisi tersebut bahwa wanita karir itu senantiasa menjalankan pekerjaannya dengan serius. Pekerjaan yang di maksud di sini tentu saja tidak melulu harus di sebuah perusahaan ataupun kerja kantoran. Wanita juga bisa melakukan karirnya tanpa mengabaikan tugasnya sebagai seorang istri sekaligus ibu.

Peran wanita karir adalah bagian yang dimainkan dan cara bertingkah laku wanita di dalam pekerjaan untuk memajukan dirinya sendiri. Wanita karir memiliki peran rangkap, yaitu peran yang melekat pada kodrat dirinya yang berkaitan dengan rumah tangga dan hakikat keibuan serta pekerjaan di luar rumah. Dengan demikian seorang wanita karir harus memenuhi berbagai persyaratan dan tidak mungkin dimiliki oleh setiap wanita.

Syarat-syarat menjadi wanita karir meliputi: 1. Memiliki kesiapan mental:

a. Wawasan yang memadai tentang bidang yang digelutinya beserta kaitannya dengan aspek-aspek yang lain.

(53)

2. Kesiapan jasmani, seperti kesehatan serta stamina yang memadai untuk menekuni bidang pekerjaan tertentu.

3. Kesiapan sosial.

a. Mampu mengembangkan keharmonisan hubungan antara karir dan kegiatan rumah tangga.

b. Mampu menumbuhkan saling pengertian dengan keluarga dekat dan tetangga.

c. Memiliki pergaulan yang luas tetapi dapat menjaga mertabat diri sehingga terhindar dari fitnah dan gosip. 4. Memiliki kemampuan untuk selalu meningkatkan prestasi kerja demi

kelangsungan karir di masa depan.

5. Menggunakan peluang dan kesempatan dengan baik.

6. Mempunyai pendamping yang mendukung dengan gagasan baru. Motivasi yang mendorong wanita terjun ke Dunia Karir antara lain:

1. Pendidikan. Pendidikan dapat melahirkan wanita karir dalam berbagai lapangan kerja.

(54)

3. Untuk ekonomis, agar tidak tergantung kepada suami, walaupun suami mampu memenuhi segala kebutuhan rumah tangga, karea sifat wanita adalah selagi ada kemampuan sendiri, tidak ingin selalu meminta kepada suami.

4. Untuk mencari kekayan sebanyak-banyaknya. 5. Untuk mengisi waktu luang.

6. Untuk mencari ketenangn dan hiburan 7. Untuk mengembangkan bakat.

2.1.5.1Macam-macam Wanita Karir

Setelah mempelajari pengertian wanita kakrir dan membandingkannya dengan wanita bekerja, maka untuk membahas wanita karir perlu dilihat terlebih dahulu tipe-tipe wanita karir karena inti wanita karir adalah wanita yang berkecimpung dalam kegiatan profesi. Wnita karir dibedakan kepada beberapa macam, yaitu:

1. Wanita yang perlu berpenampilan menarik atau tidak

Dalam kenyataannya ada wanita karir yang memang perlu tampil dengan pakaian indah, baik dan menarik, sehingga ia dapat menjalin relasi yang banyak dan meningkatkan karirnya, seperti misalnya wanita yang menjadi pimpinan dalam karirnya seperti penyanyi, penari, dan peragawati.

(55)

harus berhubungan langsung dengan orang lain seperti misalnya dose, dokter, peneliti lapangan, adapula wanita karir yang berhubungan langsung dalam membina karirnya, seperti misalnya penulis buku, desainer, pelukis.

3. Wanita karir yang bisa membina karirnya di dalam rumah dan di ruangan tertentu dan tidak. Wanita yang dapat membina karirnya di tempat tertentu, seperti di rumah atau di ruangan tertentu tanpa harus keluar.

Untuk memperjelas kedudukan wanita karir adanya pengklasifikasian keberadaan wanita karir yang dibedakan menjadi dua bentuk:

1. Wanita karir yang tidak terikat tali pernikahan maksudnya adalah wanita yang belum menikah atau wanita yang pernah menikah tetapi telah terjadi proses perceraian/talak yang aktif dalam bekerja pada bidang pekerjaa tertentu sesuai dengan keahlian dan keterampilan yang dimilikinya. Karena tidak ada ikatan pernikahan, maka wanita yang tergolong dalam golongan ini dapat bekerja dengan bebas tanpa adanya keterkaitan dan tanggung jawab kepada siapapun.

(56)

Terutam keterkaitan dalam hal penyeimbangan pemenuhan hak dan kewajiban di antara keduanya.

2.1.5.2Dampak Positif dan Negatif dari Wanita Karir

Terjunnya wanita dalam dunia karir, banyak membawa pengaruh terhadap segala aspek kehidupan, baik kehidupan pribadi dan keluarga, maupun kehidupan masyarakat sekitarnya. Hal ini menimbulkan dampak positif dan negatif.

Adapun pengaruh positif dengan adanya wanita karir antara lain:

1. Dengan berkarir, wanita dapat membatu meringankan beban keluarga yang tadinya hanya dipikul oleh suami yang mungkin kurang memenuhi kebutuhan, tetapi dengan adanya wanita karir berkiprah dalam mencari nafka, maka krisis ekonomi dapat ditanggulangi.

2. Dengan berkarir, wanita dapat memberikan pengertian dan penjelasan kepada keluarganya, utamanya kepada putra-putrinya tentang kegiatan-kegiatan yang diikutinya, sehingga kalau ia sukses dan berhasil dalam karirnya, putra-putrinya akan gembira dan bangga, bahkan menjadikan ibunya sebagai panutan dan suritauladan bagi masa depannya.

(57)

4. Dengan berkarir, wanita dalam mendidik anak-anaknya pada umumnya lebih bijaksana, demokratis an tidak otoriter, sebab dengan karirnya itu ia bisa memiliki pola pikir yang moderat.

5. Dengan berkarir, wanita yang menghadapi kemelut dalam rumah tangganya atau sedang mendapat gangguan jiwa, akan terhibur dan jiwanya akan menjadi sehat, sebagaimana disebutkan oleh Zakiyah Drajat dalam bukunya ”Islam dan Peran Wnita”, sebagai berikut.

”untuk kepentingan kesehatan jiwanya, wanita itu harus gesit bekerja, jiwa seorang tidak bekerja atau diam saja, maka ia melamun, berkhayal memikirkan atau mengenangkan hal-hal yang dalam kenyataan tidak dialami atau dirasakannya. Apabila orang terbiasa berkhayal, maka hayalan itu akan lebih mengasyikan dari pada bekerja dan berpikir secara obyektif. Orang-orang yang suka menghabiskan waktunya untuk berkhayal itu akan mudah diserang oleh gangguan dan

penyakit”.

(58)

1. Terhadap anak. Wanita yang hanya mengutamakan karirnya akan berpengaruh pada pembinaan dan pendidikan anak-anak maka tidak aneh kalau banyak terjadi hal-hal yang tidak diharapkan. Hal ini harus diakui sekalipun tidak bersifat menyeluruh bagi setiap individu yang berkarir.

2. Terhadap suami. Dibalik kebanggaan suami yang mempunyai isteri wanita karir yang maju, aktif, dan kreatif, pandai dan dibutuhkan masyarakat tidak mustahil menemui persoalan-persoalan dengan isterinya.

3. Terhadap rumah tangga. Kadang-kadang rumah tangga berantakan disebabkan oleh kesibukan ibu rumah tangga sebagai wanita karir yang waktunya banyak tersita oleh pekerjaannya di luar rumah.

4. Terhadap kaum laki-laki. Laki-laki banyak yang menganggur akibat adanya wanita karir, kaum laki-laki tidak memperoleh kesempatan untuk bekerja, karena jatahnya telah direnggut atau dirampas oleh kaum wanita.

5. Terhadap masyarakat. Wanita karir yang kurang memperdulikan segi-segi normative dalam pergaulan dengan lain jenis dalam lingkungan pekerjaan atau dalam kehidupan sehari-hari akan menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan suatu masyarakat.

6. Wanita lajang yang mementingkan karirnya kadang bisa menimbulkan

(59)

Di zaman teknologi sekarang ini, sosok wanita karir merupakan fenomena umum, memang tidak sedikit wanita yang berperan ganda selain menjadi wanita karir juga ibu rumah tangga untuk itu asal dapat menyiasati waktu dengan baik maka dampak negatif dapat ditanggulangi meskipun tidak sepenuhnya terselesaikan. Didalam melakukan suatu pekerjaan memang ada dampak positif dan negatif tetapi tidak hanya wanita karir namun pria karir juga. Namun memang kebanyakan yang lebih disosrot masyarakat dalam segala aspek adalah wanita karir.

2.1.6 Tinjauan Tentang Single Parent 2.1.6.1 Pengertian Single Parent

Single parent adalah orang yang melakukan tugas sebagai orang tua (ayah

dan ibu) seorang diri, karena kehilangan/terpisah dari pasangannya.

(60)

Single parent seiring dengan semakin meluasnya fenomena menjadi orangtua tunggal, maka semakin banyak pula lah deskripsi definisi dari single parent itu sendiri. Menurut Gunawan (2006)

Single parent adalah orang yang melakukan tugas sebagai orang tua(ayah

atau ibu) seorang diri, karena kehilangan/ terpisah dengan pasangannya. Sementara menurut Sager (dalam Duval & Miller,1985) orang tua tunggal (single parent) adalah orang tua yang memelihara dan membesarkan anak- anaknya tanpa

kehadiran dan dukungan dari pasangannya.

2.2 Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran merupakan alur pikir peneliti yang dijadikan sebagai skema pemikiran yang melatarbelakangi penelitian ini. Dalam kerangka pemikiran ini, peneliti akan mencoba menjelaskan pokok masalah penelitian. Penjelasan yang disusun akan menggabungkan antara teori dengan masalah yang diangkat dalam penelitian ini.

Penelitian ini didasari pula pada kerangka pemikiran secara teoritis maupun konseptual.

2.2.1 Kerangka Teoritis

Dalam kerangka penelitian ini, peneliti akan berusaha membahas masalah pokok dari penelitian ini. Yaitu membahas kata-kata kunci atau subfokus yang menjadi inti permasalahan pada penelitian.

(61)

proses penyampian informasi antar individu. Komunikasi merupakan faktor terpenting dalam menjalin hubungan antar individu baik dalam komunikasi antarpribadi, dalam hal ini wanita karir single parent akan dijadikan objek pada penelitian ini.

Dimana komunikasi antarpribadi merupakan komunikasi yang terjalin diantara dua orang dalam konteks adanya suatu kedekatan emosional.

Menurut Devito (1989), yang dikutip Onong Uchjana Effendy menyatakan bahwa :

“Komunikasi antarpribadi (interpersonal) adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera (Effendy,2003 : 30).

Dalam hal ini peneliti memfokuskan pada pola komunikasi sebagai bagian dari proses kumunikasi. Pengertian pola komunikasi menurut Pace dan Faules menyatakan bahwa :

“Pola komunikasi adalah bagaimana kebiasaan dari suatu kelompok untuk berinteraksi, bertukar informasi, pikiran dan pengetahuan. Pola komunikasi juga dapat dikatakan sebagai cara seseorang atau kelompok berinteraksi dengan menggunakan simbol-simbol yang telah disepakati sebelumnya”. (Pace dan Faules, 2002:171)

Bertolak dari definisi di atas maka peneliti, menetapkan sub fokus menganalisis fokus penelitian sebagai berikut :

1. Proses Komunikasi

(62)

komunikasi ini bertujuan untuk menciptakan komunikasi yang efektif (sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya). Proses komunikasi, banyak melalui perkembangan. ( Effendy, 2000 : 31)

proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Adakalanya seseorang menyampaikan buah pikirannya kepada orang lain tanpa menampakkan perasaan tertentu. Pada saat lain seseorang menyampaikan perasaanya kepada orang lain tanpa pemikiran. Tidak jarang pula seseorang menyampaikan pikirannya disertai perasaan tertentu, disadari atau tidak disadari. Komunikasi akan berhasil apabila pikiran disampaikan dengan menggunakan perasaan yang disadari, sebaliknya komunikasi akan gagal jika sewaktu menyampaikan pikiran, perasaan tidak terkontrol.

2. Hambatan

Hambatan terhadap proses komunikasi yang tidak disengaja dibuat oleh pihak lain tetapi lebih disebabkan oleh keadaan yang tidak menguntungkan. Misalnya karena cuaca, kebisingan kalau komunikasi di tempat ramai, waktu yang tidak tepat, penggunaan media yang keliru,

ataupun karena tidak kesamaan atau tidak “in tune” dari frame of

(63)

Hambatan yang terjadi pada pola komunikasi wanita karir single parent banyak terjadi, banyak hal pula yang akan mempengaruhi sehingga terjadi suatu hambatan itu akan menjadi salah satu faktor yang berpengaruh dalam pola komunikasi yang terjadi pada wanita karir single parent dengan anaknya ini. Dengan adanya hambatan-hambatan

yang terjadi pada pola komunikasi disini maka akan menimbulkan konflik yang terjadi pada kedua belah pihak yaitu wanita karir single parent dengan anaknya tersebut. Disinilah peneliti akan mengkaji bagaimana hambatan-hambatan itu bisa terjadi dan bagaimana cara untuk bisa mengurangi agar hambatan-hambatan itu bisa berkurang.

3. Harapan

Harapan (expentancy) adalah suatu kesempatan yang diberikan terjadi karena prilaku .Harapan merupakan propabilitas yang memiliki nilai berkisar nol yang berati tidak ada kemungkinan hingga satu yang berarti kepastian 1

Harapan mempengaruhi penerimaan pesan sehingga dapat menerima pesan sesuai dengan yang diharapkan. Dan dengan adanya harapan wanita karir single parent kepada anaknya, dan harapan anaknya kepada wanita karir single parent dalam komunikasi keluarganya yang memungkinkan keduanya untuk saling memberi penjelasan, kritik serta masukan agar dengan itu semua antara si wanita karir single parent dengan

1

(64)

anaknya maupun anaknya dengan wanita karir single parent ini bisa tau harapan-harapan apa saja yang bisa mereka tau sehingga adanya keterbukaan, percaya diri dalam menghadapi dan memecahkan masalah. Oleh karena itu harapan yang sudah mereka ketahui dapat menimbulkan kesenangan, yang berpengaruh pada hubungan yang lebih baik.

Dengan penjelasan definisi diatas peneliti berusaha menemukan hubungan-hubungan diantara variabel-variabel yang diukur. Definisi ini juga bertujuan untuk menjawab dan menjelaskan bagaimana keterkaitan antara pola komunikasi wanita karir single parent dengan anaknya.

2.2.2 Kerangka Konseptual

Kerangka pemikiran teoritis diatas diaplikasikan dalam kerangka pemikiran konseptual sesuai dengan penelitian yang akan dikaji yaitu Pola Komunikasi Wanita Karir Single Parent Dengan Anaknya di Kota Bandung. Berbicara mengenai pola komunikasi adalah mengenai sesuatu yang sangat dekat dengan diri kita yang memang sudah biasa kita lakukan sehari-hari yaitu berkomunikasi. Manusia berkomunikasi bisa secara verbal ataupun non verbal, pola komunikasi sendiri itu merupakan salah satu kajian komunikasi yang ingin dilakukan oleh wanita karir single parent yaitu memberikan informasi tambahan yang memperjelas maksud dari pola komunikasi wanita karir single parent tersebut.

(65)

menjadi harapan pada pola komunikasi yang terjadi pada wanita karir single parent dengan anaknya tersebut.

Komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) adalah komunikasi antara wanita karir single parent dengan anaknya secara tatap muka, yang memungkinkan setiap wanita karir single parent dengan anaknya menangkap reaksi secara langsung, baik verbal ataupun non verbal”.

Dalam penelitian ini peneliti berusaha menjelaskan tentang pola komunikasi wanita karir single parent dengan anaknya di kota Bandung, dalam

sub fokus di atas peneliti mengaplikasikan kedalam bentuk nyata diantaranya “

Proses komunikasi, hambatan dan harapan yang digunakan wanita karir single parent sebagai cara untuk berinteraksi dan juga bagaimana cara komunikasi yang efektif dengan anaknya di kota Bandung” yang merupakan sub judul dalam penelitian ini. Seperti yang sudah dijelaskan diatas tentang Proses komunikasi, hambatan, dan harapan yang digunakan maka peneliti akan mengaitkan dengan judul yang telah dibuat.

Dapat kita ketahui bahwa pola komunikasi wanita karir single parent pada sekarang ini banyak menggunakan berbagai pendekatan komunikasi dan dapat diklasifikasikan, hal ini dapat kita jumpai ketika kita sedang berkunjung di sebuah perusahaan-perusahaan semakin pesat dan terus berinovasi.

Figur

Tabel 2.1 Tinjauan Relevan

Tabel 2.1

Tinjauan Relevan p.35
Gambar 2.1

Gambar 2.1

p.69
Tabel 3.1 Daftar Informan Penelitian

Tabel 3.1

Daftar Informan Penelitian p.88
Gambar 3.2 Komponen-Komponen Analisa Data Model Kualitatif

Gambar 3.2

Komponen-Komponen Analisa Data Model Kualitatif p.91

Referensi

Memperbarui...