Studi Deskriptif Mengenai Derajat Optimisme Pada Wanita Single Parent Yang Bekerja di Kota "X".

Teks penuh

(1)

i Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK

Penelitian ini berjudul Studi Deskriptif Mengenai Derajat Optimisme pada Wanita Single Parent yang bekerja di Kota "X". Teori yang digunakan ialah optimisme yang bersumber dari Seligman (1990). Optimisme merupakan cara pandang individu dalam menghadapi suatu keadaan, baik dalam peristiwa baik atau peristiwa buruk.

Penelitian ini merupakan suatu penelitian deskriptif, melibatkan 62 responden yang dipilih menggunakan metode snowball sampling dengan rentang waktu pengambilan sampel selama 1 bulan. Pengukuran dilakukan menggunakan alat ukur Kuesioner Optimisme berdasarkan Attributional Style Questionaire (ASQ) yang dimodifikasi oleh peneliti berdasarkan alat ukur yang dibuat oleh Seligman, dan terdiri dari 48 item (Seligman 1990). Data yang diperoleh selanjutnya diolah dengan menggunakan distribusi frekuensi dan tabulasi silang antara data utama dengan data penunjang seperti usia, lamanya menjadi single parent, pekerjaan, explanatory style dari figur signifikan, feedback dari figur signifikan, masa krisis rentang kehidupan. Untuk uji validitasnya menggunakan uji validitas dari Spearman dan uji reliabilitas menggunakan Alpha Cronbach dengan menggunakan SPSS 17.

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa sebanyak 48,39% wanita single parent yang bekerja di kota "X" memiliki derajat optimisme tinggi dan sebanyak 51,61% memiliki derajat optimisme rendah.

(2)

ii Universitas Kristen Maranatha ABSTRACT

This study titled Descriptive Study Regarding the Degree of Optimism on Single Parent Women Who Work in the city “X”. The theory used is the optimism that comes from Seligman (1990). Optimism is the individual’s perspective in the face of a state, wheter in the event good or bad events.

This study is a descriptive study involving 62 respondents selected using snowball sampling method with smpling period for 1 month. Measurments were made using a measuring instrumentbased on the Attributional Style Questionnaire Optimsm Questionaire (ASQ) as modified by the researches based on the measurement tool made by Seligman, and consists of 48 item (Seligman 1990). The data obtained were them procesed using frequency distributions and cross tabulation btween the main data with supporting data such as age, duration of a single parent, work, explanatory style of significant figures, feedback from a significant figure, the life span of the crisis. To test its validity using Spearman’s test of the validity an riliability testing using Cronbach’s Alpha using SPSS 17.

From the results obtained that as many as 48,39% of single parent women who work in the city “X” has high degree of optimism and such ad 51,61% have a low degree of optimism.

(3)

vi Universitas Kristen Maranatha DAFTAR ISI

ABSTRAK………...i

ABSTRACT...ii

KATA PENGANTAR…………...………...………..………iii

DAFTAR ISI………...………...………….…………vi

DAFTAR BAGAN………...xi

DAFTAR TABEL………...xii

DAFTAR LAMPIRAN …………...xiii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah……..………...1

1.2 Identifikasi Masalah………….………10

1.3 Maksud dan Tujuan ………...11

1.4 Kegunaan Penelitian………...………..11

1.5 Kerangka Pikir……….12

1.6 Asumsi Penelitian……….21

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Optimisme………22

2.1.1 Pengertian Optimisme ……….22

(4)

vii Universitas Kristen Maranatha

2.1.2.1 Permanence………...23

2.1.2.2 Pervasiveness ...24

2.1.2.3 Personalization ...24

2.1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi Optimisme …………......…26

2.1.4 Keuntungan Optimisme …………...28

2.2 Keluarga………...………30

2.2.1 Gambaran Umum……….………30

2.2.1.1 Peran sebagai Orang Tua………...31

2.2.2 Definisi Single Parent ...31

2.2.2.1 Peran sebagai Single Parent ...32

2.3 Perceraian……….………35

2.3.1 Faktor- Faktor Penyebab Perceraian ………..…35

2.3.2 Dampak Perceraian………...……….35

2.4 Masa Dewasa Awal……….………37

2.4.1 Perkembangan Fisik Masa Dewasa Awal ………..38

2.4.2 Perkembangan Kognitif Masa Dewasa Awal ...….……….38

2.4.3 Perkembangan Sosial Masa Dewasa Awal ...39

2.4.4 Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal ...40

(5)

viii Universitas Kristen Maranatha BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian…………...………....43

3.2 Bagan Rancangan Penelitian ...43

3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional …..………...44

3.3.1 Variabel Penelitian………..………....44

3.3.2 Definisi Operasional ………...44

3.4 Alat Ukur………..………46

3.4.1 Kuesioner………46

3.4.2 Prosedur Pengisian ………...………47

3.4.3 Sistem Penilaian…………...………48

3.4.4 Data Pribadi dan Penunjang………....………50

3.4.5 Validitas………...………50

3.4.6 Reliabilitas………...………52

3.5 Populasi sasaran dan teknik penarikan sampel ………..………….53

3.5.1 Populasi ...………..…………53

3.5.2 Teknik Penarikan Sampel...………....53

(6)

ix Universitas Kristen Maranatha

3.6 Teknik Analisis Data………... 54

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ………...………...55

4.1.1 Gambaran Responden Berdasarkan Usia ...55

4.1.2 Gambaran Responden Berdasarkan Lamanya Responden Menjadi Single Parent ………...56

4.1.3 Gambaran Responden Berdasarkan Bidang Pekerjaan ………...56

4.1.4 Gambaran Hasil Penelitian ………..57

4.1.5 Gambaran Hasil Berdasarkan Dimensi Permanence ………..57

4.1.6 Gambaran Hasil Berdasarkan Dimensi Pervasiveness ………...…58

4.1.7 Gambaran Hasil Berdasarkan Dimensi Personalization ……….58

4.1.8Tabulasi Silang Antara Derajat Optimisme dengan Faktor yang Mempengaruhi ...………...59

4.2 Pembahasan ………...60

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan………...67

5.2 Saran………...68

5.2.1 Saran Teoritis………...68

(7)

x Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR PUSTAKA………70

DAFTAR RUJUKAN………72

(8)

xi Universitas Kristen Maranatha DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Tabel Kisi- Kisi Alat Ukur ... 46

Tabel 3.2. Kriteria Kelompok Derajat Optimisme Setiap Aspek ...49

Tabel 4.1 Gambaran Responden Berdasarkan Usia ... 55

Tabel 4.2. Gambaran Responden Berdasarkan Lamanya menjadi Single Parent . 56 Tabel 4.3 Gambaran Responden Berdasarkan Bidang Pekerjaan . ... 56

Tabel 4.4. Gambaran Hasil Pengukuran Derajat Optimisme ... 57

Tabel 4.5. Gambaran Hasil Berdasarkan Dimensi Permanence ... 57

Tabel 4.6. Gambaran Hasil Berdasarkan Dimensi Pervasiveness ... 58

Tabel 4.7. Gambaran Hasil Berdasarkan Dimensi Personalization ... 58

(9)

xii Universitas Kristen Maranatha DAFTAR BAGAN

Bagan 1.1. Skema Kerangka Pikir ……… ... .20

(10)

xiii Universitas Kristen Maranatha DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Persetujuan ( Informed Consent)

Lampiran 2 Kuesioner Penelitian

Lampiran 3 Hasil Data Optimisme dan Dimensi- Dimensinya

Lampiran 4 Gambaran Responden dan Tabulasi Silang

Lampiran 5 Reliabilitas dan Validitas Alat Ukur

(11)

1 Universitas Kristen Maranatha BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Dalam menjalani kehidupan, seorang manusia memiliki kodrat- kodrat

yang harus dijalaninya. Dalam memenuhi kodratnya untuk menikah, manusia

diberi dorongan untuk menarik perhatian lawan jenisnya guna mencari

pasangannya. Dimulai dengan tahap pengenalan, pacaran hingga akhirnya

memutuskan untuk menikah. Setiap pasangan yang menikah ingin membentuk

kehidupan yang berbahagia setelah memasuki jenjang pernikahannya. Pada

umumnya pasangan akan berbagi tugas dalam kehidupan berumah tangga yang

baru dibina. Tugas suami adalah sebagai kepala keluarga selaku pencari nafkah

agar kebutuhan keluarga terpenuhi, sedangkan istri bertugas sebagai pengurus

rumah tangga. Tugas tersebut akan bertambah setelah pasangan dikaruniai buah

hati. Mereka diharapkan untuk dapat membagi tugas bersama dalam hal

pengasuhan anak, mendidik anak, memenuhi semua kebutuhannya dan juga

menjaga kesejahteraan dari anaknya. Oleh karenanya secara tidak langsung

kebutuhan materi dalam keluarga menjadi

lebihbesar.(http://sabdaningtyas.com/site/index.php?option=com_content&task=c

ategory&sectionid=7&id=21&Itemid=74)

Kenyataannya pada beberapa pasangan tidak berakhir sampai disitu,

(12)

2

Universitas Kristen Maranatha memertahankan rumah tangganya. Banyak dari pasangan yang memutuskan untuk

mengakhiri perkawinanya dengan perceraian, menjauhi pasangan bahkan yang

secara terpaksa harus merelakan pasangannya tidak lagi ada disampingnya karena

dipanggil Sang Pencipta. Begitu banyak alasan yang mendasari keputusan

pasangan dalam mengakhiri penikahannya. Baik dari segi ekonomi, psikis dan

psikologisnya yang terkait dengan masalah pengasuhan anak bagi pasangan yang

telah dikaruniai buah hati. Jika demikian, maka salah satu pasangan akan menjadi

seorang single parent. (http://hariawan-acc.blogspot.com/2009/07/single-parent-dan-masalahnya.html)

Single parent adalah orang yang melakukan tugas sebagai orang tua (ayah dan ibu) seorang diri, karena kehilangan/ terpisah dengan pasangannya.

Dapat diartikan juga sebagai keadaaan ketika pasangan suami istri yang sudah

memiliki anak berpisah dan merawat buah hatinya tersebut secara individual tanpa

melibatkan pasangannya. Kewajiban sebagai wanita single parent dalam menjalankan peran ganda bukan merupakan hal yang mudah bagi seorang wanita,

terutama dalam hal membesarkan anak. Seorang wanita single parent membutuhkan perjuangan berat untuk membesarkan si buah hati, terkait dengan

masalah ekonomi, pemenuhan kebutuhan psikis (kebutuhan sandang, pangan,

papan, kesehatan, pendidikan dan kebutuhan lain yang berkaitan dengan materi)

juga memenuhi kebutuhan psikologis anak-anaknya (pemberian kasih sayang,

perhatian, rasa aman). Bukan hal yang mudah menjalankan dua peran tersebut

sekaligus dalam membentuk anak yang berprestasi di sekolah, juga dalam aspek

(13)

3

Universitas Kristen Maranatha dampak- dampak yang dirasakan oleh para wanita single parent. (http://okvina.wordpress.com/2008/01/05/ wanita-sebagai-single-parent-dalam-

membentuk-anak-yang-berkualitas/)

Berdasarkan data yang diperoleh dari kantor Pengadilan Agama Kota

“X” selama tahun 2010 sekitar 59,8% faktor penyebab perceraian berupa

meninggalkan kewajiban sebagai pasangan suami istri baik dalam hal ekonomi

maupun tidak adanya tanggung jawab. Sementara itu, sebanyak 39,5%

dipengaruhi oleh faktor terus-menerus berselisih mencakup gangguan orang

ketiga dan juga tidak adanya keharmonisan. Adapun, sebanyak 0,7% diantaranya

terjadi karena adanya faktor moral berupa poligami yang tidak sehat.

Dari permasalahan- permasalahan yang terjadi pada wanita single parent, masalah pemenuhan tanggung jawab mencakup pengasuhan anak dan juga keuanganlah yang paling sering muncul. Hal itu disebabkan karena pada awalnya,

kehidupan keluarga digantungkan pada suami sebagai pencari nafkah utama

sehingga istri menjadi bergantung dan bersandar kepada suaminya. Setelah

kepergian suaminya, istri harus memenuhi sendiri kebutuhan finansialnya agar

dapat memenuhi kebutuhannya dan keluarga

(http://hariawan-acc.blogspot.com/2009/07/single-parent-dan-masalahnya.html).

Seorang wanita single parent merasa putus asa karena statusnya yang

tidak lagi menikah dan mendapatkan pemenuhan kebutuhan fisik, psikis serta

ekonomi dari pasangannya. Bagi yang bercerai, istri dan suami masih harus duduk

(14)

4

Universitas Kristen Maranatha Sementara bagi yang ditinggal karena kematian, cenderung akan tergantung pada

harta peninggalan yang ada, dan istri sama sekali tidak mendapatkan bantuan

pengawasan, pendidikan serta santunan dana bagi kehidupan dan perkembangan

anaknya. (http://psikologi-online.com/keluarga-single-parent)

Dalam kehidupan bermasyarakat di negara ini, status wanita single parent

atau janda ini menjadi bahan pembicaraan dan image negatif di lingkungan khususnya bagi wanita single parent yang bercerai. Bagi yang bercerai akan

mendapat anggapan masyarakat bahwa dirinya tidak mampu memertahankan

rumah tangganya dengan baik, sehingga mereka dianggap gagal dan akan

diragukan kemampuanya dalam urusan tumah tangga, namun ada juga wanita

single parent yang mendapatkan simpati akan statusnya tersebut karena dianggap baru mendapatkan musibah dalam kehidupanya.

(http://psikologi-online.com/keluarga-single-parent)

Adanya tuntutan dari orang lain baik itu anak, keluarga besar, tempat ia

bekerja, kritikan lingkungan, sampai pada tuntutan dan keyakinan diri sendiri

untuk menembus dan juga untuk berjuang menghadapi permasalahan yang datang,

maka pada kondisi seperti inilah wanita single parent membutuhkan rasa

optimisme. Optimisme itu merupakan cara pandang dalam menghadapi berbagai

situasi atau dikenal dengan optimism (Selligman, 1990). Orang yang optimis akan bertahan dari ketidakberdayaan, tidak mudah mengalami depresi ketika

menghadapi kegagalan, dan akan lebih sedikit mengalami ketidakberdayaan yang

(15)

5

Universitas Kristen Maranatha Optimisme seseorang berhubungan dengan bagaimana individu

menjelaskan kepada dirinya sendiri mengapa suatu peristiwa terjadi. Seseorang

menjelaskan mengenai keadaan baik atau buruk yang dialaminya mencerminkan

bagaimana harapan seseorang atau seberapa besar energi yang dimiliki orang

tersebut untuk menghadapi situasi tersebut. Individu yang berpikir bahwa keadaan

baik merupakan hasil dari usaha yang dilakukannya merupakan karakteristik

indivdu yang optimis, sedangkan individu yang pesimis berpikir bahwa keadaan

yang baik dan menganggap bahwa lingkungan luar dirinya yang dapat

memberikan keadaan yang baik (Martin E.P Seligman,1990).

Secara umum kebanyakan wanita single parent akan menganggap bahwa kejadian yang menimpanya ini adalah suatu keadaan yang buruk namun

wanita single parent yang optimis, cenderung akan menganggap bahwa kejadian

buru k tersebut hanya berlangsung sementara saja, oleh karena itu mereka akan

mencari cara untuk dapat kembali memenuhi kebutuhan anak-anaknya.

Sedangkan wanita single parent yang pesimis, cenderung akan menganggap dan

menyalahkan orang lain atas kondisi yang menimpanya sehingga cenderung untuk

tidak berkembang dan memilih untuk menerima nasibnya, walaupun dapat untuk

bangkit, berkembang dan menjalani hidupnya secara normal kembali namun hal

tersebut akan membutuhkan waktu yang lama.

Wanita single parent seringkali mengalami kondisi emosional yang

menjadi masalah dikarenakan terjadi perubahan kemampuan dan kuantitas dalam

aktivitasnya sehari-hari. Khususnya bagi wanita single parent yang berada dalam

(16)

6

Universitas Kristen Maranatha tugas perkembangan berupa mandiri dalam hal ekonomi, mampu mengambil

suatu keputusan penting. Peran dari orang-orang terdekat dalam mendukung

mereka dapat membantu mereka untuk memandang hidup dan tujuan kedepannya

dengan lebih baik lagi sehingga derajat optimisme mereka dapat menjadi tinggi.

Karena dengan memiliki rasa optimisme yang tinggi akan mempengaruhi perilaku

wanita single parent dalam menjalankan kehidupannya seperti misalnya dapat

membagi waktu secara adil dalam mendidik dan mengasuh anak dengan bekerja

untuk memenuhi kebutuhan anak tersebut tanpa merasa terbebani dan

meninggalkan kewajibannya yang lain sebagai pengurus keluarga.

Optimisme akan membantu seseorang memandang berbagai masalah

bukan sebagai kesulitan melainkan sebagai tantangan. Selain itu, optimisme akan

mengarahkan seseorang pada perilaku dan sikap bermanfaat dalam mencari solusi

bagi berbagai masalah dan tujuan hidup dengan cara sebaik mungkin. Hal ini

dapat dilihat dari bagaimana seseorang memandang setiap kejadian apakah setiap

kejadian yang baik atau buruk akan terus berlangsung atau sementara dalam

kehidupannya (oleh Seligman (1990) disebut dengan permanence), mempengaruhi semua aspek atau aspek tertentu saja dalam kehidupannya (oleh

Seligman (1990) disebut dengan pervasiveness), dan menilai dirinya atau lingkungan sebagai penyebab dari setiap kejadian (oleh Seligman (1990) disebut

dengan personalization).

Data yang akurat mengenai pendataan jumah wanita single parent di

Indonesia di Badan Pusat Statistik (BPS) hanya sampai tahun 2007 dari 100 juta

(17)

7

Universitas Kristen Maranatha tercatat 2,4 juta diantaranya memiliki status perkawinan cerai hidup. Sementara

2,2 juta lainnya tercatat sebagai cerai mati dan sisanya tercatat sebagai belum

menikah dan menikah. Sementara tingkat pertumbuhan wanita single parent akan

terus meningkat sejalan pertambahan usia. Data wanita single parent dianggap

penting untuk dapat menjaring dan memfasilitasi para wanita single parent

tersebut untuk dapat berkembang setelah keterpisahan dengan pasangannya.

Namun, masih banyak yang enggan untuk melaporkan status pernikahannya

kepada instansi pemerintah khususnya pada RT/ RW setempat.

Berdasarkan data yang didapat dari Pengadilan Agama Kota “X”, selama

tahun 2010, terdapat 3199 kasus perceraian yang terjadi di Kota “X”. Rata-rata

angka perceraian tiap bulannya adalah sekitar 266 kasus. Dari semua kasus

tersebut sekitar 8-10% saja yang bercerai tanpa memiliki anak, sisanya tercatat

memiliki anak. Hal itu akan berdampak pada hak pengasuhan anak dan juga

tanggung jawab pasangan dalam pengasuhan anak tersebut yang cenderung untuk

diserahkan kepada sang Ibu.

Survey awal dilakukan secara acak kepada 20 responden wanita single

parent. Dari hasil survey awal tersebut didapatkan bahwa 45% dari masing- masing kriteria senang dan yakin akan dapat menjalankan perannya sebagai

wanita single parent. Sementara 25% diantaranya menjadi tertantang untuk

membuktikan mereka dapat sukses dengan statusnya tesebut, 15% diantaranya

membutuhkan dorongan besar dari lingkungan dalam menjalankan perannya, 10%

merasa terbebani oleh peran gandanya itu, 5% masih sangat tergantung pada

(18)

8

Universitas Kristen Maranatha mendapatkan status sebagai wanita single parent, 60% merasa sedih dan serta

berpikir tidak ada lagi yang dapat dilakukannya nanti, 40% menganggap biasa

saja dan berusaha untuk tetap menjalani kehidupan seperti pada umumnya

(permanence).

Hasil survey juga menunjukkan bahwa 65% dari mereka tidak

membatasi pergaulannya dengan lingkungan sosial, 20% merasa ada keterbatasan

untuk membina relasi yang akrab dengan lawan jenis, serta 15% yang lainnya

memilih untuk terus bertahan dengan status single nya sekarang ini. Sebanyak 100% berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara rajin berdoa

dan menjalankan ibadah agar mampu menjalani perannya sebagai kepala keluarga

yang harus bekerja dan memperhatikan tumbuh kembang anaknya.

(pervasiveness)

Dari hasil wawancara pada wanita single parent 50% merasa tidak

terganggu dengan status single parentnya dan tidak menghambat kegiatan sehari-

harinya dalam bekerja ataupun dalam bergaul, 30% merasa bahwa dengan

statusnya tersebut kegiatan sehari- harinya menjadi terbatasi, 20% merasa

terganggu dengan statusnya karena merasa diperlakukan berbeda oleh lingkungan

(personalization)

Wanita berinisial A merupakan seorang wanita single parent dimana ia

harus bercerai dengan suaminya ketika ia memiliki anak berusia 4 tahun. Sebelum

(19)

9

Universitas Kristen Maranatha Kini A menjadi disibukkan oleh pekerjaan dan kewajiban mengurus anak. Namun

A menikmati dan mensyukuri keadaannya sekarang ini walaupun A merasa hal

tersebut sangat menyita waktunya. Kata wanita single parent ataupun janda

kembang memang banyak didapat A dari orang-orang sekitar. Namun A tidak

perduli akan pendapat orang tersebut. Bagi A hidupnya saat ini terasa lebih baik

daripada A menjadi istri orang yang dianggapnya hanya menambah beban

hidupnya saja karena perlakuan suami A yang kasar dan sering mengkambing

hitamkan A atas kegagalannya sendiri. Hidup yang dijalani A kini dirasa A

memang berat namun inilah pilihan hidup untuk A dan juga anaknya. A merasa

bahwa keadaan yang seperti ini memang tidak ideal bagi A, terutama bagi

anaknya. Walau begitu A berusaha untuk tetap berkomunikasi, menghabiskan

waktu bersama yang berkualitas, juga banyak berdoa bersama dengan anaknya.

Lingkungan pun cenderung untuk menilai negatif tentang statusnya tersebut,

sehingga A dituntut untuk dapat menjaga nama baik keluarga dan dirinya pasca

perceraian. Harapan A dalam menjalani hidupnya sebagai wanita single parent

saat ini adalah semoga A dan anaknya dapat menjalankan hidup dengan baik.

B menjadi wanita single parent setelah ditinggal pergi suami untuk

selama-lamanya akibat mengalami kecelakaan empat bulan yang lalu. Dunia

serasa runtuh, apalagi dua anak B masih balita. B yang biasa menyandarkan diri

kepada suami, sejak itu harus melakukan apa-apa sendiri. Hidup menjadi begitu

berat, B sering menangis karena sedih, kesepian dan merasa tak berdaya. Meski B

bekerja dan karir B cukup baik, namun tanggung jawab membesarkan dua anak

(20)

10

Universitas Kristen Maranatha bisa membahagiakan anak dan menjadikan mereka terlantar. B juga sering tak

tahan mendengar perbincangan teman-teman yang kurang bisa ikut merasakan

penderitaan B yang ditinggal mati suami. Belakangan ini di kantor mulai muncul

komentar-komentar bernada miring, menyinggung status B sebagai wanita single

parent muda yang kesepian. Namun, justru dari situlah B mendapatkan perhatian dan dukungan yang tinggi dari lingkungan sekitarnya khususnya dari keluarga B

untuk dapat tegar pasca kematian pasangannya itu.

Hasil wawancara yang didapat tersebut merupakan gambaran dari

kesulitan yang dirasakan oleh wanita single parent. Penyebab mereka menjadi wanita single parent tersebut ada yang membuat subjek mengambil hikmah

dibalik semua kejadian dan percaya bahwa peristiwa buruk yang terjadi bukan

merupakan kesalahannya semata dan berusaha untuk menghadapinya, namun ada

juga yang menilai bahwa keadaan buruk itu akan dialami menetap dan cenderung

untuk menyalahkan diri sendiri. Dari hasil survey terlihat bahwa wanita single

parent memiliki derajat optimisme yang berbeda-beda dalam segi dimensinya (permanence, pervasiveness, dan personalization). Berdasarkan fakta yang telah diuraikan di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui derajat optimisme pada

wanita single parent yang bekerja di Kota”X”.

1.2 IDENTIFIKASI MASALAH

Dari penelitian ini ingin diketahui seperti apakah gambaran derajat

(21)

11

Universitas Kristen Maranatha 1.3 MAKSUD dan TUJUAN PENELITIAN

1.3.1 Maksud Penelitian

Maksud penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran mengenai

derajat optimisme pada wanita Single Parent yang bekerja di Kota “X”.

1.3.2 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran lebih lanjut

mengenai derajat optimisme pada wanita Single Parent yang bekerja di Kota “X

melalui dimensi-dimensinya, yaitu permanence, pervasiveness, dan personalization.

1.4 KEGUNAAN PENELITIAN

1.4.1 Kegunaan Teoretits

 Memberikan sumbangan informasi bagi ilmu psikologi, khususnya

Psikologi Klinis mengenai optimisme.

 Diharapkan dapat mendorong peneliti lain untuk mengembangkan dan

mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai optimisme pada wanita

(22)

12

Universitas Kristen Maranatha 1.4.2 Kegunaan Praktis

1.) Memberikan informasi kepada wanita single parent mengenai derajat optimisme dirinya yang diharapkan dapat mempertahankan atau

meningkatkan derajat optimisme dalam menjalani hidup sebagai single parent.

2.) Memberikan informasi kepada keluarga dan teman wanita single parent, mengenai derajat optimisme yang dimiliki wanita single parent sehingga keluarga dan teman dapat membantu memertahankan atau meningkatkan

derajat optimisme dalam menjalani hidup sebagai wanita single parent.

1.5 KERANGKA PIKIR

Bagi wanita pada tahap dewasa awal (20-40 tahun), masa tersebut

wanita single parent mampu melepaskan ketergantunganya dari oramg tua dan juga teman- temannya hingga mencapai taraf kemandirian baik secara ekonomi

maupun pengambilan keputusan. Dalam kemandirian ekonomi, dapat terlihat

dalam kemampuannya untuk mendapatkan pekerjaan penuh waktu yang kurang

lebih menetap sehingga mampu memenuhi kebutuhannya sendiri secara ekonomi.

Sedagkan dalam membuat keputusan, berhubungan dengan karir, nila- nila,

keluarga, dan hubungan dekat, serta gaya hidup. Pada masa ini seseorang akan

menjalani peran baru dalam kehidupanya terkait denan penyesuaian diri sebagai

(23)

13

Universitas Kristen Maranatha Keterpisahan antara suami dan istri dalam suatu hubungan rumah

tangga dapat menjadi suatu masalah bagi masing-masing pasangan yang

ditinggalkan. Kesulitan-kesulitan yang dialami dalam menjalani status sebagai

wanita single parent membuat para wanita single parent ini mengalami tekanan yang berat. Kesulitan yang sangat dirasakannya adalah ketika mereka menerima

kenyataan bahwa pasangannya tidak lagi ada disampingnya. Wanita single parent

tersebut menjadi sedih ketika mulai mengalami penurunan penghasilan sehingga

sulit untuk memenuhi kebutuhan diri dan anak-anaknya. Disaat seperti ini, wanita

single parent dituntut untuk dapat mengambil keputusan terkait dengan pemenuhan kebutuhan diri dan anak ke depannya mencakup merancang masa

depan bagi kehidupan keluarga kecilnya.

Kesulitan selanjutnya dialami ketika mereka harus seorang diri menjadi

pengurus rumah tangga dan pengurus buah hatinya. Karena di satu sisi mereka

dituntut untuk menjadi tulang punggung keluarga agar dapat menghidupi

keluarganya, namun disisi lain ia pun harus dapat berperan sebagai pendidik yang

baik bagi anaknya. Ia harus dapat tegas namun terlihat tulus dan menyayangi,

terlihat meyakinkan namun penuh kelembutan. Waktu untuk diri sendiri terkadang

menjadi tersisihkan oleh kebutuhan keluarga.

Perceraian dan kematian pasangan merupakan suatu stressor yang

dapat membuat wanita yang single parent menjadi tertekan dan merasa sedih, cemas, bahkan banyak hal yang dapat mengganggunya secara psikis. Bagi wanita/

istri yang terpisah dari pasangan karena kematian pasangan, hal ini akan terasa

(24)

14

Universitas Kristen Maranatha dukungan fisik dan moral, keuangan sampai masalah pengurusan anak dan rumah

tangganya harus dilakukan sendiri tanpa adanya sosok yang ada dibelakangnya.

Bagi yang ditinggalkan karena kematian pasangan itu sendiri dapat membuat istri

menjadi harus siap dengan segala resiko tanpa adanya campur tangan sedikit pun

dari suami. Sedangkan perceraian sendiri merupakan proses kulminasi dari

penyesuaian perkawinan yang buruk dan terjadi bila diantara suami- istri sudah

tidak mampu lagi mencari cara penyelesaian masalah yang dapat memuaskan

kedua belah pihak (Elizabeth B. Hurlock, 1994). Perceraian ini memunculkan

berbagai permasalahan bagi kedua belah pihak, khususnya dalam hal ini bagi

seorang wanita single parent.

Hal yang dikhawatirkan dari perceraian itu sendiri lebih merujuk pada

label janda atau wanita single parent yang akan melekat di dalam diri wanita yang

single parent akibat perceraian yang bersangkutan. Kurangnya dukungan terutama dari keluarga dan lingkungan sosialnya akan menjadi faktor yang dapat membuat

wanita yang single parent akibat perceraian semakin tertekan, jika wanita yang single parent akibat perceraian tidak mendapat dukungan maka akan merasa lebih berat lagi dalam dalam menjalani hidupnya tersebut sebagai seorang single parent. Terlebih lagi dengan keadaan budaya Indonesia ini yang masih cenderung tabu bila membahas perceraian atau kegagalan berumah tangga. Rasa malu akan

status wanita single parent itu membuat wanita bekerja yang single parent akibat

perceraian kurang dapat berfungsi secara optimal dalam lingkungannya.

Rasa tertekan tersebut dapat membuat konsentrasi dan semangat

(25)

15

Universitas Kristen Maranatha dapat membuat produktivitasnya menjadi menurun. Mereka menjadi kurang dapat

konsentrasi karena pikirannya terbagi. Jika keadaan tersebut berkelanjutan

akhirnya akan berdampak pada produktivitas mereka dalam bekerja juga dalam

penanganan anak mereka, mereka akan menjadi merasa ketakutan tidak dapat

memenuhi tanggung jawabnya tersebut. Jika demikian adanya mereka akan

menjadi mudah untuk menyerah pada situasi yang terjadi padanya. Untuk itu

dibutuhkan adanya optimisme pada wanita single parent. Karena optimisme itu

berarti cara pandang individu dalam menghadapi suatu keadaan, baik keadaan

yang baik (good situation) maupun keadaan yang buruk (bad situation). (Martin E

P Seligman ,1990).

Optimisme dapat membuat wanita single parent menjadi dapat

memandang dirinya sendiri lebih positif. Dengan adanya optimisme dalam diri

wanita single parent diharapkan dapat membantu untuk bertahan saat menghadapi

masa- masa sulit dalam menjalani sisa hidupnya dengan tetap memiliki keyakinan

untuk hal yang lebih baik. Selain itu juga diperlukan adanya harapan ketika

mengalami ketidakberuntungan, dengan keyakinan dan adanya harapan wanita

single parent dapat kembali bangkit dari penolakan- penolakan yang didapat dari masyarakat yang mereka rasakan dan melanjutkan hidup mereka.

Menurut Martin E.P Seligman (1990), optimisme bukanlah suatu obat

namun dapat melindungi dari depresi, bisa meningkatkan tingkat perolehan,

memperbaiki kesehatan fisik sehingga dapat membuat suatu keadaan lebih

(26)

16

Universitas Kristen Maranatha bersifat sementara dan mereka percaya bahwa peristiwa buruk itu bukanlah

kesalahannya sehingga mereka tidak menyalahkan diri sendiri dan menganggap

peristiwa buruk tersebut bersifat sementara dan berasal dari faktor diluar dirinya.

Seorang wanita single parent membutuhkan optimisme yang tinggi

karena dalam menjalani hidupnya sebagai yang bereperan ganda dalam

kehidupannya, seorang wanita single parent perlu merasa yakin terhadap aktivitas

yang dijalani dan percaya bahwa kesulitan yang dialami hanya sementara, pada

peristiwa tertentu saja, dan yang menyebabkan kesulitan tersebut adalah keadaan

di luar dirinya, serta menjadikan situasi yang sulit itu sebagai suatu tantangan

yang harus diselesaikannya. Jika mereka tidak yakin, maka kemungkinan untuk

menjalankan aktivitasnya mengalami kemunduran, serta akan menganggap

kondisi sekarang akan berlangsung lama dan menyalahkan dirinya sendiri

sehingga merasa ragu akan aktivitasnya tersebut. Optimisme akan mempengaruhi

sikap individu dalam memandang perisitwa, kejadian yang baik maupun buruk,

menjadi lebih yakin bahwa seluruh peristiwa pasti memliki jalan keluar dan

dirinya mampu menyelesaikannya.

Optimisme memiliki tiga dimensi yang menunjukan cara individu

memandang suatu peristiwa. Tiga dimensi tersebut adalah permanence, pervasiveness, dan personalization. Ketiga dimensi ini dilihat dalam dua keadaan, yaitu keadaan yang baik (good situation) dan keadaan yang buruk (bad situation).

Pada dimensi permanence, yang menjadi titik berat adalah kurun waktu, apakah suatu keadaan yang dialami akan menetap atau hanya sementara. Seorang wanita

(27)

17

Universitas Kristen Maranatha dia menjadi mampu mengasah bakat lamanya dan memperluas lingkungan

sosialnya. Hal baik seperti itu akan menetap (PmG-permanence), dan menganggap bahwa kemunduran hanya akan terjadi sementara (PmB-temporary) berarti wanita single parent tersebut memiliki optimisme tinggi pada dimensi

permanence. Tetapi sebaliknya jika wanita single parent menghadapi keadaan buruk dan dianggap sebagai keadaan yang menetap (PmB-permanence), serta bila

menganggap kemajuan hanya bersifat sementara (PmG-temporary) berarti wanita single parent tersebut memiliki optimisme rendah pada dimensi permanence.

Pada dimensi Pervasiveness, titik tolaknya adalah penjelasan yang universal dan spesifik. Wanita single parent yang menganggap adanya kemajuan

dari segi ekonomi dan kehidupan anak-anaknya dan menganggap kemajuaan akan

menyebar keseluruh keadaan (PvG-universal), serta menganggap kemunduran

hanya terjadi pada keadaan tertentu saja (PvG-specific) berarti memliki optimisme

tinggi pada dimensi pervasiveness. Sementara jika wanita single parent menganggap kemunduran dalam pemenuhan finansial dan kehidupan

anak-anaknya dan menganggap hal itu terjadi secara menyeluruh (PvB-universal), serta

menganggap kemajuan hanya terjadi di bagian tertentu saja (PvB-specific) berarti

wanita single parent memiliki derajat optimisme randah dalam dimensi

pervasiveness.

Pada dimensi ketiga yaitu personalization, yang ditekankan adalah mengenai penyebab suatu keadaan, apakah internal ataukah eksternal. Disini

dijelaskan, yang dapat menyebabkan hal buruk atau tidaknya adalah berasal dari

(28)

18

Universitas Kristen Maranatha parent merasa bahwa seluruh keadaan yang dia alami sekarang baik itu pekerjaan ataupun dalam pengawasan dan pengurusan anak dan keluarga kecilnya itu dapat

berjalan lebih baik setelah lepas dari pasangannya tersebut. (PsG-internal) dan

jika mereka menganggap bahwa dengan kejadian perpisahan dengan pasangannya

tersebut membuat karir dan juga kehidupan keluarga kecilnya khususnya anak

menjadi mengalami kemunduran yang diakbitkan oleh faktor-faktor di luar

dirinya seperti tuntutan lingkungan (PsB-eksternal). Sedangkan bila wanita single

parent itu mengalami kemajuan dan mengangap hal itu terjadi karena adanya faktor di luar dirinya atau lingkungan (PsG-eksternal) dan untuk kemunduran

keluarga dan anak-anak serta karirnya dari diri sendiri (PsB-internal) yang dapat

berarti wanita single parent tersebut memiliki derajat optimisme yang rendah.

Terdapat beberapa faktor yang melatarbelakangi seseorang apakah

memilki derajat optiisme tinggi atau rendah. Tiga hal yang mempengaruhi

pembentukan explanatory style dalam diri seseorang, yaitu explanatory style ibu (singnificant person), kritik orang dewasa, dan krisis yang dialami pada masa lalu

(Seligman, 1990).

Faktor pertama yang berpengaruh ialah explanatory style dari figur signifikan. Explanatory style dari figur siginifikan itu bukan diturunkan tapi

dipelajari dari lingkungan. Pembelajaran tersebut didapat melalui komunikasi

antara individu dengn figur yang dianggap signifikan seperti ibu, ayah, kakak,

keluarga dekat, dan teman. Misalnya ibunya yang juga seorang wanita single

(29)

19

Universitas Kristen Maranatha single parent, maka dirinya juga dapat demikian. Hal ini akan menambah keyakinan wanita single parent dalam menjalankan kehidupannya.

Faktor kedua yang berpengaruh ialah kritik dari orang dewasa, baik itu

kiritikan, saran, nasehat bahkan pujian bagi individu. Hal tersebut akan dijadikan

sebagai bahan masukan dalam menghadapi keadaanya sebagai wanita single

parent. Misalnya nasehat dari orangtua seperti jangan terlalu memikirkan pendapat orang mengenai statusnya sekarang ini karena akan berdampak pula

pada kondisi anaknya. Lebih baik memfokuskan diri dalam hal pengasuhan anak

agar anak tetap menjadi prioritas. Hal tersebut bisa dijadikan sebagai bahan

masukan bagi wanita single parent. Jika wanita single parent tersebut terbuka dalam menerima pandangan dan harapan yang tinggi dan bersifat positif dari

orang lain akan kehidupannya setelah terpisah dari pasangannya, maka mereka

akan memiliki optimisme yang tinggi. Sementara jika yang mereka dapatkan

adalah berupa harapan dan tuntutan yang berat dan tidak dapat ia lakukan, maka

mereka akan memiliki optimisme yang rendah. Selain tentang kehidupannya

sendiri, harapan dan tuntutan dari anaknya yang membutuhkan perhatian lebih

pun menjadi faktor yang dapat mempengaruhi derajat optimisme wanita single

parent.

Tuntutan pekerjaan, pandangan lingkungan mengenai statusnya,

perkembangan anak-anaknya, hal tersebut diatas akan berimbas pada derajat

optimisme mereka sesuai dengan kadar tuntutannya masing-masing. Tuntutan dan

(30)

20

Universitas Kristen Maranatha tertantang untuk maju dan menunjukan ia mampu ataupun sebaliknya. Mereka

menjadi mudah menyerah terhadap tuntutan dan kritkan yang datang padanya.

Faktor ketiga yang berpengaruh ialah masa krisis di masa lalu. Hal ini

akan dijadikan sebagai bahan masukan dalam menghadapi keadaanya.

Pengalaman sebelumnya ketika dihadapkan suatu masalah yang dianggap berat

dan dirasa berhasil maka akan dikembangkan kembali untuk menghadapi

masalahnya sebagai seorang wanita single parent sekarang ini.

(31)

21

Universitas Kristen Maranatha 1.6 ASUMSI PENELITIAN

1) Wanita Single Parent memiliki derajat optimisme yang berbeda-beda.

2) Optimisme merupakan hasil belajar dari lingkungan melalui pengalaman

hidup.

3) Derajat optimisme pada wanita single parent dapat diukur melalui tiga dimensi, yaitu permanence, pervasiveness, dan personalization.

4) Faktor yang mempengaruhi optimisme wanita single parent adalah explanatory style significant person, kritik orang dewasa, dan krisis masa kanak-kanak.

5) Karakteristik wanita single parent yang memiliki derajat optimisme tinggi yaitu cenderung memandang peristiwa baik (good situation) yang dialaminya

sebagai sesuatu yang bersifat permanent (PmG), universal (PvG), internal (PsG) dan cenderung memandang peristiwa buruk (bad situation) yang

dialaminya sebagai sesuatu yang bersifat temporary (PmB), specific (PvB), external (PsB).

6) Karakteristik wanita single parent yang memiliki derajat optimisme rendah yaitu cenderung memandang peristiwa baik (good situation) yang dialaminya

sebagai sesuatu yang bersifat temporary (PmB), specific (PvB), external (PsB) dan cenderung memandang peristiwa buruk (bad situation) yang

dialaminya sebagai sesuatu yang bersifat permanent (PmG), universal (PvG),

(32)

67 Universitas Kristen Maranatha BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh melalui pengolahan data

mengenai derajat optimisme pada wanita single parent yang bekerja di kota “X”,

dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

1. Wanita single parent yang bekerja yang memiliki derajat optimisme rendah

lebih banyak daripada yang memiliki derajat optimisme tinggi.

2. Sesuai dengan teori yang diungkapkan Seligman (1990), ditemukan bahwa

wanita single parent yang memiliki derajat optimisme tinggi memandang

bahwa good situation (keadaan baik) yang dialaminya bersifat permanent,

universal, dan internal. Dalam bad situation (keadaan buruk) sebagian wanita

single parent memandang bahwa keadaan yang dialaminya bersifat temporary,

specific, dan external, sebagian lagi memandang bahwa keadaan yang

dialaminya bersifat permanent, universal, dan internal.

3. Sesuai dengan teori yang diungkapkan Seligman (1990), ditemukan bahwa

wanita single parent yang memiliki derajat optimisme rendah memandang

bahwa good situation (keadaan baik) yang dialaminya bersifat temporary,

specific, dan internal. Dalam bad situation (keadaan buruk) wanita single

parent memandang bahwa keadaan yang dialaminya bersifat permanent,

(33)

68

Universitas Kristen Maranatha

5.2. Saran

5.2.1. Saran Teoritis

1. Dalam penelitian ini, kesesuaian antara teori dengan hasil penelitian pada

wanita single parent dapat memunculkan penelitian lebih lanjut mengenai

kontribusi dari masing- masing dimensi optimisme secara lebih mendalam

untuk melihat optimisme wanita single parent.

2. Penelitian ini tidak menghomogenkan responden wanita single parent,

sehingga ada baiknya pada penelitian selanjutnya dilakukan penelitian

mengenai perbedaan derajat optimisme antara yang bercerai dengan yang

mengalami keterpisahan karena kematian.

3. Karena pada penelitian ini dilakukan pada responden dengan jumlah yang

sedikit dibandingkan jumlah populasinya, maka untuk penelitian

selanjutnya diharapkan dapat lebih diperbanyak lagi jumlah responden

yang akan ditelitinya.

5.2.2. Saran Praktis

1. Hasil penelitian ini ditemukan lebih banyak wanita single parent yang

memiliki derajat optimisme rendah. Oleh karena itu, perlu dipikirkan bagi

wanita single parent untuk mendapatkan penanganan psikologis seperti

konseling, training, atau psiko-edukasi sehingga dapat meningkatkan

(34)

69

Universitas Kristen Maranatha 2. Kepada program studi psikologi untuk memikirkan program yang dapat

meningkatkan derajat optimisme pada wanita single parent, seperti

psiko-edukasi, konseling, dan atau training.

3. Bagi pihak keluarga dan wanita single parent disarankan untuk

memberikan dukungan yang lebih intens untuk membantu subjek melihat

sisi positif atau kelebihan-kelebihan yang masih dimiliki sehingga dapat

(35)

70 Universitas Kristen Maranatha DAFTAR PUSTAKA

Duval, Evellyn Millis. 1977. Marriage and Family Development. United States of America: Lippincott Company.

Hilgard, R. Ernest. 1998. Introduction to Psychology: A life Span Approach 5th edition, New York. USA: McGraw. Hill, Inc

Hurlock, Elizabeth. B. 1973. Adolescent Development. Tokyo: McGraw – Hil

Kogakusha Ltd

Kartono, Kartini. 1988. Psikologi Wanita. Bandung

Laswell, Marcia. And Laswell, Thomas. 1987. Marriage and the Family, 2nd Ed.

Belmont, CA: Wadsworth

Nazir, Moh., Ph.D. 2003. Metode Pnelitian. Jakarta: Ghalia Indo

Purwanto, Erwan Agus. 2007. Metode Penelitian Untuk Administras Publik dan

Masalah- Masalah Sosial. Yogyakarta: Gava Media

Santrock, John. W. 2002. Perkembangan Masa Hidup 5th Edition. Jakarta:

Erlangga

Santrock, John. 2004. Life span development, 9th ed. New York: McGraw Hills

Seligman, Martin E. P. Learned Optimism : How to change your mind and your

(36)

71 Universitas Kristen Maranatha

Seligman, Martin E. P. 1990. Menginstal Optimisme: Bagaimana cara mengubah pemikiran dan kehidupan anda. Diterjemahkan oleh Budhy Yogapranata. Bandung: PT. Karya Kita

(37)

72 Universitas Kristen Maranatha DAFTAR RUJUKAN

http://h4nim.blogsome.com/2006/07/08/perlukah-wanita-bekerja/, diunduh pada tanggal 2 September 2009

http://arifjulianto.wordpress.com/2008/06/05/tingginya-tingkat-perceraian-di-indonesia/ , diunduh pada tanggal 2 September 2009

creasoft.files.wordpress.com/2008/04/keluarga.pdf.

http://surabayapost.co.id/

http://psikologi-online.com/keluarga-single-parent , diunduh pada tanggal 5 April 2010

http://hariawan-acc.blogspot.com/2009/07/single-parent-dan-masalahnya.html, diunduh pada tanggal 2 September 2009

www.dinkes-kotasemarang.com

http://sabdaningtyas.com/site/index.php?option=com_content&task=category&se ctionid=7&id=21&itemid=74 , diunduh pada tanggal 5 April 2010

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...