Psychological Well-Being yang Positif pada Janda Lansia Suku Batak Toba yang Tinggal dengan Anak (Anak Laki-laki)

146  Download (1)

Teks penuh

(1)

PSYCHOLOGICAL WELL-BEING YANG POSITIF PADA JANDA LANSIA SUKU BATAK TOBA YANG TINGGAL

DENGAN “ANAK” (ANAK LAKI-LAKI)

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi

oleh

ANGGUN RS SITANGGANG

101301075

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

Psychological Well-Being yang Positif pada Janda Lansia Suku Batak Toba yang Tinggal dengan Anak (Anak Laki-laki)

Anggun RS Sitanggang dan Eka Ervika

ABSTRAK

Seorang janda lansia suku Batak Toba dituntut untuk melakukan tugas perkembangannya,living arrangement yang diikat oleh adat Batak Toba yaitu tinggal dengan anak (anak laki-laki). Janda lansia akan diperhadapkan dengan tempat tinggal baru dan keluarga anak yaitu anak, parumaen (menantu perempuan), sertapahompu (cucu).Tinggal dengan anak menjadi suatu tantangan bagi janda lansia dimana dirinya harus tetap mampu melakukan realisasi diri. Kemampuan merealisasikan diri ini akan menunjukkan psychological well-beingpada individu tersebut.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran psychological well-being pada janda lansia suku Batak Toba yang tinggal dengan anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan jumlah responden sebanyak 2 orangyang diperoleh melalui konstruk operasional (operational construct sampling). Penelitian dilakukan di kelurahan Parongil, kabupaten Dairi, Sumatera Utara dengan metode pengumpulan data yaitu wawancara mendalam.

Hasil penelitian menunjukkan peningkatan psychological well-being pada kedua responden setelah tinggal dengananak. Pada kedua respondenditemukan perbedaan pada dimensi pertumbuhan personal. Selain itu, janda lansia jugadapat mencapai tujuan hidup dalam Batak Toba yaituhasangapon.

(3)

Positive Psychological Well-Being of Tobanese Older Widow who lives with her Adult Son

Anggun RS Sitanggang and Eka Ervika

ABSTRAK

A Tobanese Older Widow is asked for doing her development task, living arrangement which tied with Tobanese tradition that is living with her adult son. After living with her adult son, a Tobanese older widow has to deal with her adult son’s house and living with her adult son, her daughter in law, and her grandchildren. Living with her adult son becomes a new challenge for the Tobanese older widow. She has to be able to do the self-realization. Her capability of self-realization will shows her psychological well-being.

This study aims to describe how psychological well-being of the Tobanese older widow who lives with her adult son. This study uses a phenomenon qualitative method and by 2 subjects. The procedure of selecting subjects in this research is based on operational construct sampling. This study located in kelurahan Parongil, kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Meanwhile, the data collection method used is depth interview.

This study’s result shows that subjects’s psychological well-being is getting better after living with their adult son. This study also shows a difference between both subject in personal growth dimension. Not only that, but also Tobanese Older Widows are able to reach Tobanese’s goal of life, Hasangapon.

(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberi berkat, kekuatan, dan kasih-Nya yang melimpah dalam penyelesaian skripsi ini. Adapun judul skripsi ini adalah psychological well-being yang positif pada janda lansia suku Batak Toba yang tinggal dengan anak (anak laki-laki). Penyusunan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Psikologi Fakultas Psikologi USU Medan.

Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, baik dari masa perkuliahan sampai penyusunan skripsi ini sangat sulit bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Prof. Dr. Irmawati, psikolog selaku dekan Fakultas Psikologi USU, 2. Ibu Eka Ervika, M.Si, psikolog selaku dosen pembimbing penelitian ini, 3. Pak Ari Widiyanta, M.Si., psikolog dan Ibu Debby Anggraini Daulay,

M.Psi., psikolog selaku dosen penguji dalam penelitian ini,

4. Ibu Arliza Juairiani Lubis, M.Si., psikolog selaku dosen pembimbing akademik selama masa perkuliahan di Fakultas Psikologi USU,

5. Kedua responden yang telah bersedia membantu dan menjadi responden dalam penelitian ini. Semoga semua harapannya dikabulkan oleh Tuhan, 6. Kedua orang tua, khususnya Mama Tiasa Nainggolan (Lo Quek Lann) yang

selalu memberi kasih sayang, perhatian, semangat, dukungan materi, serta doa yang tiada henti sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Semoga selalu diberkati oleh Tuhan,

7. Keluarga besar Pinopatar Nainggolan yang telah membantu baik secara moril maupun materi, memberi dukungan, dan doa,

(5)

9. Gereja Penuai Indonesia (Indonesia Harvest Church) yang menjadi keluarga dan mendukung secara spiritual selama ini, terkhusus departemen Pastoral dan youth usher ministry,

10.Cell Group USU sebagai keluarga yang mendoakan, menguatkan, dan membantu supaya kembali bersemangat selama mengerjakan skripsi ini khususnya Join, Angela, Eka, Mia, Renita, Intan, dan Naomi.

11.Student Usher Ministry yaitu adikku Bazi, Rani, Nona, Jenny, Putri, Elisa, dan Galih yang memberi semangat, doa, serta mengerti keadaanku selama mengerjakan skripsi ini,

12.Sahabat terbaikku, Floria Cristin yang selalu mendukung dan menyemangati walaupun jarak berjauhan tapi tetap menaruh kasih di setiap waktunya, 13.Seluruh teman-teman mahasiswa angkatan 2010 di Fakultas Psikologi USU

khususnya Liliyana, Sri Riski Amanda, Vera Gandhi, Deepraj, dan Riana, Irene, Weillon, Nurul Mukhlisah, Irene, Efriyanti, dan Khairunnisah yang memberi dukungan, kritik, dan bantuan dalam menyelesaikan skripsi ini,

Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam skripsi ini. Oleh karena itu, peneliti mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi kesempurnaan skripsi ini.

Peneliti berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan mohon maaf jika ada kesalahan yang ditemukan pada skripsi ini. Akhir kata, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberkati semua pembaca. Terima kasih.

Medan, 16 Juli 2014

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

Kata Pengantar ... i

Daftar Isi ... iii

Daftar Tabel ……… vi

Daftar Lampiran……….. vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ………... 1

B. Perumusan Masalah ... 11

C. Tujuan Penelitian ... 11

D. Manfaat Penelitian ... 11

E. Sistematika Penulisan ... 12

BAB II LANDASAN TEORI ... 14

A. Psychological Well-Being ... 14

1. Definisi Psychological Well-Being ... 14

2. Dimensi Psychological Well-Being ... 17

3. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Psychological Well-Being ... 22

B. Suku Bangsa Batak Toba………. 25

1. Suku Bangsa Batak Toba……… 25

3. Prinsip Keturunan………... 27

4. Hamoraon, Hasangapon, dan Hagabeon………… 28

(7)

1. Janda Lansia………. 29

2. Dekade Kehidupan Lansia……… 30

3. Tugas Perkembangan Lansia………..….…….. 32

4. Perubahan pada Lansia……….….….... 34

D. Psychological Well-Being yang Positif pada Janda Lansia Suku Batak Toba yang Tinggal dengan Anak (Anak Laki-laki)………...…. 39

E. Paradigma Berpikir ……….. 42

BAB III METODE PENELITIAN ... 43

A. Penelitian Kualitatif Fenomenologis ………... 43

B. Responden, Prosedur Pengambilan Responden, dan Lokasi Penelitian... 44

1. Karakteristik Responden Penelitian……… 44

2. Jumlah Responden Penelitian ..……….. 45

3. Prosedur Pengambilan Responden…………....………. 45

4. Lokasi Penelitian ………... 46

C. Metode Pengumpulan Data………... 46

D. Alat Bantu Pengumpulan Data... 47

1. Alat Perekam (Handphone)...……. 47

2. Pedoman Wawancara... 47

E. Kredibilitas Penelitian... 48

F. Prosedur Penelitian ………. 49

(8)

2. Tahap Pelaksanaan Penelitian ………... 50

3. Tahap Pencatatan Data ……….... 52

4. Prosedur Analisa Data ………... 52

BAB IV HASIL ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN... 55

A. HASIL ANALISIS DATA……… ………... 55

1. Responden A (Nenek LM)……….………… 55

a. Identitas Diri……….……… 55

b. Jadwal Pelaksanaan Wawancara……….………… 56

c. Gambaran Responden A………....……. 56

d. Gambaran Dimensi Psychological Well-Being pada Responden A………….…………..……… 60

2. Responden B (Nenek DM)……….………… 79

a. Identitas Diri……….……… 79

b. Jadwal Pelaksanaan Wawancara……….………… 79

c. Gambaran Responden B………....……. 80

d. Gambaran Dimensi Psychological Well-Being pada Responden B………….…………..……… 87

C. Pembahasan………... 107

BAB V Kesimpulan, Diskusi, dan Saran... 123

A. Kesimpulan……….……... 118

B. Diskusi…...……….……... 125

C. Saran……...……….……... 128

(9)
(10)

Psychological Well-Being yang Positif pada Janda Lansia Suku Batak Toba yang Tinggal dengan Anak (Anak Laki-laki)

Anggun RS Sitanggang dan Eka Ervika

ABSTRAK

Seorang janda lansia suku Batak Toba dituntut untuk melakukan tugas perkembangannya,living arrangement yang diikat oleh adat Batak Toba yaitu tinggal dengan anak (anak laki-laki). Janda lansia akan diperhadapkan dengan tempat tinggal baru dan keluarga anak yaitu anak, parumaen (menantu perempuan), sertapahompu (cucu).Tinggal dengan anak menjadi suatu tantangan bagi janda lansia dimana dirinya harus tetap mampu melakukan realisasi diri. Kemampuan merealisasikan diri ini akan menunjukkan psychological well-beingpada individu tersebut.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran psychological well-being pada janda lansia suku Batak Toba yang tinggal dengan anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan jumlah responden sebanyak 2 orangyang diperoleh melalui konstruk operasional (operational construct sampling). Penelitian dilakukan di kelurahan Parongil, kabupaten Dairi, Sumatera Utara dengan metode pengumpulan data yaitu wawancara mendalam.

Hasil penelitian menunjukkan peningkatan psychological well-being pada kedua responden setelah tinggal dengananak. Pada kedua respondenditemukan perbedaan pada dimensi pertumbuhan personal. Selain itu, janda lansia jugadapat mencapai tujuan hidup dalam Batak Toba yaituhasangapon.

(11)

Positive Psychological Well-Being of Tobanese Older Widow who lives with her Adult Son

Anggun RS Sitanggang and Eka Ervika

ABSTRAK

A Tobanese Older Widow is asked for doing her development task, living arrangement which tied with Tobanese tradition that is living with her adult son. After living with her adult son, a Tobanese older widow has to deal with her adult son’s house and living with her adult son, her daughter in law, and her grandchildren. Living with her adult son becomes a new challenge for the Tobanese older widow. She has to be able to do the self-realization. Her capability of self-realization will shows her psychological well-being.

This study aims to describe how psychological well-being of the Tobanese older widow who lives with her adult son. This study uses a phenomenon qualitative method and by 2 subjects. The procedure of selecting subjects in this research is based on operational construct sampling. This study located in kelurahan Parongil, kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Meanwhile, the data collection method used is depth interview.

This study’s result shows that subjects’s psychological well-being is getting better after living with their adult son. This study also shows a difference between both subject in personal growth dimension. Not only that, but also Tobanese Older Widows are able to reach Tobanese’s goal of life, Hasangapon.

(12)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dewasa ini, populasi manusia lanjut usia (selanjutnya disebut “lansia”) diprediksikan akan semakin meningkat. Berdasarkan data statistik tahun 2010, jumlah lansia di Indonesia sekitar 18 juta jiwa dan pada tahun 2030 diperkirakan akan meningkat menjadi 80 juta jiwa (Menkokesra). Data statistik tersebut menunjukkan bahwa beberapa tahun ke depan akan terjadi peledakan jumlah lansia di Indonesia (BPS, dalam Sumarno 2012).

Craig (1996) membagi masa lansia ke dalam empat dekade kehidupan yaitu young-old (60-69 tahun), middle- old (70-79 tahun), old- old (80-89 tahun), dan very old-old (90-99). Masa lansia pada umumnya ditandai dengan terjadinya penurunan fungsi diri secara fisik, kognitif, serta psikososial. Selain itu, stressor pada masa lansia juga akan bertambah sehingga membuat setiap tindakannya semakin berisiko. Oleh karena itu, lansia dituntut untuk bertindak dengan lebih selektif. Kondisi ini memunculkan pandangan pada lansia bahwa mereka adalah individu yang lemah dan tidak berdaya. Pensiun pekerjaan dan kematian pasangan hidup memperburuk keadaan seorang lansia (Papalia, 2007).

(13)

maupun duda (Lemme, 1995). Kematian pasangan menjadi suatu peristiwa yang paling traumatik bagi seorang wanita (Matlin, 2008). Harapan hidup wanita yang lebih tinggi menyebabkan kebanyakan wanita dapat menjalani masa lansianya dan berkesempatan menjadi seorang janda (Papalia, 2007). Sebuah hasil penelitian menunjukkan bahwa seorang wanita dengan status janda memiliki well-being yang rendah hingga 8 tahun setelah kematian suaminya (Matlin, 2008).

Tugas perkembangan akan membantu seorang janda lansia mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya dan tindakan yang harus dilakukannya. Pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan (selanjutnya disebut living arrangement) adalah salah satu tugas perkembangan seorang lansia. Living arrangement berfungsi untuk mengatur kembali kehidupan lansia dan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan seorang lansia yaitu dengan cara menentukan bersama siapa akan melanjutkan kehidupannya (Hurlock, 2000).

Seorang janda lansia akan diperhadapkan dengan tiga pilihan living arrangement antara lain: living alone dimana lansia memutuskan untuk tinggal sendiri tanpa orang lain di rumahnya. Living with adult children terjadi ketika janda lansia memutuskan untuk tinggal bersama anak yang sudah dewasa. Living in institutions dimana lansia tinggal di sebuah institusi yang bukan keluarga dan difasilitasi dengan rumah perawatan. Bagi lansia yang sudah menjadi janda atau duda pada umumnya living alone dan living with adult children menjadi pilihan yang paling umum (Papalia, 2007).

(14)

mengikat dan mengatur seseorang dalam bermasyarakat (Koentjaraningrat, 2002). Masyarakat Batak Toba adalah subsuku bangsa Batak yang memiliki nilai budaya yang turun-temurun dan menjadi aturan dalam bermasyarakat (Rajamarpodang, 1992).

Prinsip keturunan patrilineal menjadi salah satu aturan yang diberlakukan masyarakat Batak Toba (Rajamarpodang, 1992). Prinsip keturunan ini membuat anak laki-laki (selanjutnya disebut “anak”) mendominasi semua aspek kehidupan seorang Batak Toba (Vergouwen, 1964). Wanita atau ibu Batak Toba umumnya menganggap anak sebagai sosok yang harus bertanggung jawab dalam keluarga layaknya seorang suami yang bertanggung jawab pada istri dan keluarganya (Rajamarpodang, 1992). Selain itu, kehidupan masyarakat Batak Toba juga tidak terlepas dari nilai lainnya seperti tiga tujuan hidup yaitu hamoraon, hasangapon, dan hagabeon (Harahap dan Siahaan, 1987).

(15)

Toba di Kab. Dairi yaitu Sipayung (58 tahun) dan Sianturi (73 tahun) sebagai berikut:

“Itu dari sisi tanggung jawabnya tadi, kalau lansia itu harus tinggal di keluarga anak-nya (anak laki-laki) ”.

(Sipayung, Komunikasi Personal, 31 Oktober 2013) “Bagaimanapun keadaan anak laki-laki, lebih tinggi kedudukannya daripada anak laki-laki. makanya anak laki-laki disebut raja. Orang tua akan menjadi tidak berwibawa ketika tinggal bersama marga orang lain (anak perempuannya yang sudah menikah). Kalo dalam batak, ga mungkin marga lain menanggungjawabi orang tuanya marga lain.”

(Sipayung, Komunikasi Personal, 31 Oktober 2013) “Sebagai orang tuanya itu, anak- nya (anak laki-laki) harus bertanggung jawab terhadap orang tuanya. Karena orang tuanya juga tidak sanggup lagi mencari nafkah kan, anaknya inilah yang menanggungjawabi apa yang dipentingkan keperluan orang tuanya itu. Orang tua harus ditanggungjawabi orang itu di rumah anak bukan di rumah boru (anak perempuan). Karena boru (anak perempuan) kan sudah di rumah orang lain dia itu ”.

(16)

Psychological well-being berfokus pada perkembangan manusia dan eksistensi seseorang dalam menghadapi tantangan hidup (Keyes, Ryff, Shmotkin, 2002). Psychological well-being yang baik dapat dapat mengarahkan tindakan seseorang dan mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya (Walterman, 1984 dalam Ryff, 1989). Setelah tinggal di rumah anak,berbagai tantangan baru akan dihadapi oleh janda lansia yang mana dapat mempengaruhi kemampuan realisasi diri janda lansia tersebut. Hal ini dapat membuat seorang janda lansia kehilangan atau mencapai psychological well-being di hidupnya.

Ketergantungan terhadap keluarga anak menjadi salah satu tantangan yang sering terjadi pada janda lansia ketika tinggal dengan keluarga anak (Hurlock, 2000). Seorang janda lansia cenderung akan ketergantungan pada keluarga anak baik secara ekonomi maupun kebutuhan lainnya sehingga harus disediakan oleh keluarga anak (Degenova, 2008). Sementara keluarga anak memiliki tanggung jawab lainnya seperti merawat anak-anak dan mencukupi kebutuhan keluarga sehingga terkadang keluarga anak tidak dapat memenuhi seluruh permintaan janda lansia. Sebagai akibatnya, janda lansia dapat menjadi marah dan kecewa kepada keluarga anak. Hal ini diungkapkan oleh seorang janda lansia sebagai berikut:

“Kalau terlambat dikasih aku makan, aku langsung marah. Misalnya baru datang anakku Pak Rano ini dari ladang, Mamak sudah makan katanyalah itu. Belum makan aku, kerja kalian itulah terus kalian kerjakan. Ku bilanglah seperti itu pura-pura ku besarkan suaraku.”

(17)

lansia merasa sulit menerima perubahan kendali atas anaknya yang telah menikah sehingga selalu memperlakukan anak seperti ketika anak masih muda (Degenova, 2008). Hal ini kerap membuat hubungan antara janda lansia dengan parumaen diwarnai dengan ketidakharmonisan (Degenova, 2008). Tidak jarang dijumpai dimana janda lansia dan parumaen kurang saling memahami satu sama lain. Janda lansia cenderung menganggap parumaen tidak mengerti keadaannya dan senang bersungut-sungut. Hal ini diungkapkan oleh janda lansia berikut ini:

“Masalah dengan parumaen, tapi hanya sebentar. Orang zaman sekarang susah saling mengerti. Setelah saling menjelaskan dan mengerti, ooh kata seorang ooh kata yang lain….”

(komunikasi personal, 25 April 2014) Tinggal dengan keluarga anak juga tidak jarang membuat janda lansia mengkhawatirkan keadaan keluarga anak. Seorang janda lansia akan merasa terbeban ketika keluarga anak memiliki masalah baik di bidang keuangan, pernikahan, kesehatan, dan masalah lainnya. Melihat keadaan ini kerap terlihat janda lansia ikut membantu setiap kekurangan keluarga anak (Degenova, 2008). Janda lansia akan merasa senang apabila dirinya dapat membantu keluarga anak sebaik bantuan yang diterimanya dari keluarga anak (Marks, 1995; Degenova, 2008). Hal ini diungkapkan oleh seorang janda lansia sebagai berikut:

“Andai enggak ku kasih uang itu sakit hatilah anakku ini samaku. Syukurlah sudah senang dia karena ku kasih itu. Karena uang itupun sebenarnya enggak ku pakai-pakai. Di rumah sajanya aku terus. Kenapa enggak ku kasihkan saja itu.”

(18)

pengalaman hidupnya, seorang janda lansia dapat membagikan hal baik terhadap pahompunya. Sebagai orang tua di tengah-tengah keluarga anak, janda lansia beranggapan bahwa dirinya harus menjadi contoh yang baik bagi keluarga anak terutama pahompu. Janda lansia berupaya untuk memberikan nasihat-nasihat yang dapat membantu pahompu menjadi lebih baik lagi. Hal ini diungkapkan oleh seorang janda lansia sebagai berikut:

“Harus baiklah sebagai ompung supaya pahompuku juga baik samaku. Kalau enggak baik aku sama orang tuanya, mana mungkin baik pahompuku ini samaku.”

(komunikasi personal, 5 Juni 2014) Tantangan lain yang akan dihadapi seorang janda lansia adalah pensiun dimana dirinya kehilangan status, peran, dan prestasi yang dicapainya selama ini (Hurlock, 2000). Perubahan drastis terjadi pada status seorang janda lansia dimana awalnya sebagai pekerja yang sibuk dan memiliki banyak aktivitas, sekarang berubah menjadi seorang pengangguran yang tidak menentu (Hurlock, 2000). Seorang janda lansia akan mengalami perubahan tidak hanya dalam tempat tinggal namun juga penurunan dalam status sosial ekonomi seperti pelayanan kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan. Pensiun umumnya dapat memperburuk penilaian seorang janda lansia terhadap dirinya (Papalia, 2007). Kondisi ini turut berpengaruh terhadap psychological well-being janda lansia tersebut (Lopez, J., Hidalgo, T., Bravo, B.N., Martinez, I.P., Pretel, F.A., Postigo, J.M.L., & Rabadan, F.E., 2010).

(19)

baik yang terjalin antara janda lansia dengan keluarga anak turut mempengaruhi perasaan janda lansia setelah di rumah anak. Setelah tinggal dengan anak, umumnya janda lansia tidak dibebani oleh tanggung jawab rumah tangga lagi. Kebutuhan janda lansia seperti makanan, pakaian, maupun kebutuhan lainnya umumnya telah disediakan oleh keluarga anak. Selain itu, janda lansia diperlakukan sebagai sosok orang tua yang berhak memberikan berbagai masukan bagi keluarga anak. Hal ini diungkapkan oleh janda lansia sebagai berikut:

“Senanglah. Kaulah dulu enggak mungkin enggak senang. Enggak ku sangka dibeli perlengkapanku seperti itu. Kapan kau beli itu, ku bilanglah. Sudah lama ku beli, Mak katanyalah itu. Makasih banyak ya, Tuhan. Karena Tuhanlah keluargaku ini bisa merawat aku sebaik ini. Iyalah memang. Karena kalau akunya mana bisa lagi ku atur seperti itu. Itu yang ada itulah ku pakai biasanya. Tapi enggak pernah itu beli yang paling murah. Janganlah dulu yang paling mahal, tapi yang lumayan dibelinya. Semua yang dibelinya lumayan harganya.”

(RB.W3. 020614/b.1874-1883/h.29) Setelah beberapa lama tinggal dengan anak, janda lansia akan cenderung merasa lebih senang dan keadaannya semakin membaik. Rasa nyaman dan betah cenderung akan mewarnai hari-hari janda lansia setelah tinggal dengan anak. Janda lansia beranggapan bahwa dirinya berumur panjang setelah tinggal dengan keluarga anak sehingga enggan berpindah ke tempat lain. Hal ini terlihat melalui pernyataan kedua responden penelitian ini sebagai berikut:

“Ah, enggak mau aku. Berat pindah-pindah ini, lagian lebih enaknya di sini.”

(komunikasi personal, 25 April 2014) “Tambah panjang umurku. Iya, makin panjang umur aku. Senang perasaanku, enggak ada beban setelah tinggal di sini.”

(20)

Selain itu, tuntutan adat yang mengharuskan seorang orang tua lansia tinggal di rumah anak memberikan kenyamanan dan pandangan bahwa dirinya telah berhasil sebagai seorang Batak Toba. Seorang janda lansia menganggap dirinya sebagai tempat bertanya dan penasihat di tengah-tengah keluarga anak. Hal ini menunjukkan bahwa janda lansia tersebut telah mencapai tujuan hidup Batak Toba yaitu hasangapon setelah tinggal di rumah anak. Seseorang yang telah mencapai hasangapon adalah seseorang yang dapat memberi kebijakan, arif, dan menjadi teladan di tengah-tengah masyarakat (Harahap dan Siahaan, 1987). Hal ini diungkapkan oleh seorang janda lansia sebagai berikut:

“.. Kalau kita lakukan semua adat Batak itu, benar-benarlah kita jadi orang berhasil.”

(komunikasi personal, 31 Mei 2014) Setiap pengalaman baik pengalaman positif maupun negatif akan memberi penilaian tersendiri bagi seorang janda lansia. Sama halnya dengan janda lansia yang tinggal dengan anak, setiap janda lansia menginterpretasikan pengalaman-pengalamannya di rumah anak dengan cara yang berbeda-beda. Perbedaan cara dan kemampuan ini akan turut berperan dalam menentukan apakah janda lansia tersebut merasa senang atau tidak di rumah anak. Setiap penilaian akan pengalaman hidupnya akan mempengaruhi psychological well-being janda lansia tersebut (Ryff dan Singer, 1996).

(21)

seseorang berkeinginan untuk memperbaiki kehidupannya sehingga dikatakan bahwa individu itu memiliki psychological well-being yang tinggi (Bradburn, dalam Ryff dan Keyes, 1995).

Ryff (1989) mengungkapkan bahwa individu dengan psychological well-being yang tinggi akan mampu menerima dirinya sendiri, menjalin hubungan positif dengan orang lain, berotonomi, mampu menguasai lingkungan, bertujuan hidup, dan selalu mengalami pertumbuhan sebagai seorang individu. Latar belakang usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi, life event, dan keagamaan yang berbeda akan mempengaruhi psychological well-being janda lansia tersebut. Keputusan seorang janda lansia suku Batak Toba untuk tinggal dengan anak pada dasarnya menjadi satu upaya dimana janda lansia diperhadapkan dengan tugas perkembangannya yaitu living arrangement namun terikat dengan adat Batak Toba yaitu keharusan untuk tinggal dengan anak. Keadaan inilah yang akan mempengaruhi psychological well-being seorang janda lansia yang tinggal dengan anak.

(22)

Batak Toba yang mencapai tujuan hidupnya. Oleh karena itu, peneliti bermaksud untuk melihat gambaran psychological well-being pada janda lansia suku Batak Toba yang tinggal dengan anak.

B. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah psychological well-being pada janda lansia suku Batak Toba yang tinggal dengan anak dengan menggunakan dimensi-dimensi yang dikemukan oleh Ryff (1989) yaitu penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi?

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran psychological well being pada janda lansia suku Batak Toba yang tinggal dengan anak melalui gambaran dimensi penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan personal pada janda lansia tersebut.

D. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat Teoritis

(23)

psychological well being pada janda lansia suku Batak Toba yang tinggal dengan anak.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi janda lansia dimana seorang janda lansia semakin mengenali dirinya, dan menerima keadaannya, serta melalui penelitian ini dapat memiliki acuan dalam mengatasi setiap tantangan yang dialaminya terutama setelah tinggal dengan keluarga anak.

E. SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bab I Pendahuluan

Bab I Pendahuluan berisi uraian mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.

2. Bab II Tinjauan Pustaka

Bab II Tinjauan Pustaka berisi tinjauan teori-teori penunjang penelitian ini meliputi teori psychological well being, suku bangsa Batak Toba, janda lansia, dan dinamika psychological well being pada janda lansia suku Batak Toba yang tinggal dengan anak, serta diakhiri dengan pembuatan paradigma penelitian. 3. Bab III Metode Penelitian

(24)

pengambilan responden, lokasi penelitian, metode pengumpulan data, alat bantu pengumpulan data, kredibilitas penelitian, serta prosedur penelitian.

4. Bab IV Hasil Analisis Data

Bab IV Hasil Analisis Data berisi penjabaran hasil analisis data ke dalam bentuk penjelasan yang lebih terperinci dan runtut disertai data pendukung lainnya.

5. Bab V Kesimpulan, Diskusi, dan Saran

(25)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. PSYCHOLOGICAL WELL-BEING 1. Definisi Psychological Well-Being

Konsep well-being pada awalnya berasal dari seorang filsuf Yunani Aristippus of Cyrene (435 – 356 B.C.) yang mengungkapkan sebuah doktrin yaitu hedonism/ hedonic well-being yang berarti kebaikan mendasar adalah kesenangan dan kenyamanan. Hedonic well-being didefinisikan sebagai efek positif yang tinggi, efek negatif yang rendah, dan kepuasan hidup yang tinggi. Konsep subjective well-being hedonic bukanlah satu-satunya cara untuk melihat well-being pada diri seseorang (Boslovic & Jengic, 2008).

(26)

Konsep psychological well-being oleh Ryff (1989) merujuk kepada konsep eudemonia dan sebagai pembanding konsep hedonistic of subjective well-being (Boslovic & Jengic, 2008). Psychological well-being pada dasarnya berfokus pada perkembangan manusia dan eksistensi seseorang dalam menghadapi tantangan hidup (Keyes, Ryff, Shmotkin, 2002). Psychological well-being bukan hanya kepuasan hidup dan keseimbangan antara afek positif dan afek negatif namun juga melibatkan persepsi dari keterlibatan dengan tantangan-tantangan selama hidup (Ryff, 1989). Psychological well-being berupa perasaan yang mengarahkan seseorang bertindak dan kemampuan untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya (Walterman, 1984 dalam Ryff, 1989).

Ryff (1989) mendefinisikan psychological well-being dan dimensi-dimensinya dengan mempertimbangkan konsep-konsep seperti self-actualization dari Maslow (1968), fully functioning person dari Roger (1961), individuation dari Jung (1933), dan maturity dari Allport (1961). Ryff (1989) juga merujuk pada teori-teori perkembangan kehidupan manusia seperti psychosocial stage model dari Erikson (1959), kecenderungan dasar dalam memenuhi hidup dari Buhler (1935), deskripsi perubahan kepribadian pada masa dewasa dan lansia dari Neugarten (1968), serta kriteria positif kesehatan mental dari Jahoda (1958). Integrasi dari teori kesehatan mental, klinis, dan life-span development tersebut merupakan gambaran dari psychological well-being oleh Ryff.

(27)

itu hidup sehingga mampu untuk merealisasikan dirinya secara tepat. Kedua, sangat berpengaruh terhadap kesehatan dengan memperbaiki regulasi sistem fisiologis secara efektif. Psychological well-being pada dasarnya merupakan suatu kemampuan untuk merealisasikan diri dan mengoptimalkan kehidupannya (Ryff, 1989). Realisasi diri adalah kemampuan individu untuk tetap bertumbuh yaitu dengan mampu mengatasi setiap tantangan hidupnya dan memenuhi setiap kebutuhannya (Ryff & Singer, 2008).

Ryff (1989) mendefinisikan psychological well-being sebagai suatu dorongan untuk menyempurnakan dan merealisasikan potensi diri. Dorongan ini dapat menyebabkan seseorang menjadi pasrah terhadap keadaan sehingga memiliki psychological well-beingnya rendah atau berupaya memperbaiki kehidupannya sehingga psychological well-beingnya meningkat (Bradburn, dalam Ryff dan Keyes, 1995). Ryff (1989) mengungkapkan bahwa individu dengan psychological well-being yang tinggi akan mampu menerima dirinya sendiri, menjalin hubungan positif dengan orang lain, berotonomi, mampu menguasai lingkungan, bertujuan hidup, dan selalu mengalami pertumbuhan sebagai seorang individu.

(28)

kebutuhannya, bertujuan hidup yang terarah, dan mengalami pertumbuhan dalam dirinya.

2. Dimensi Psychological Well-Being

Setiap dimensi psychological well-being ini memiliki tantangan yang berbeda-beda dimana setiap individu harus berusaha untuk mengatasinya dan sehingga dapat berfungsi secara positif (Ryff, 1989; Ryff & Keyes, 1995; Keyes, Ryff, Shmotkin, 2002). Menurut Ryff (1989), Ryff & Singer (2008), dan Ryff & Keyes (1995) ada enam dimensi psychological well-being yaitu:

a. Penerimaan Diri (Self-Acceptance)

Kemampuan untuk mengenali diri sendiri dan berupaya untuk menerima setiap tindakan, motivasi, dan perasaannya merupakan ciri utama dari kesehatan mental sebagaimana yang diungkapkan oleh Jahoda. Penerimaan diri merupakan karakteristik dari seorang yang mencapai self-ectualization (Maslow), optimal functioning (Rogers), dan maturity (Allport). Menurut Erikson dan Neugarten, seseorang harus bisa menerima dirinya, termasuk masa lalu dirinya. Penerimaan diri bersifat jangka panjang, melibatkan kesadaran, dan berupa penerimaan akan kelebihan dan kekurangan seseorang (Ryff dan Singer, 2006).

(29)

dalam dimensi penerimaan diri akan merasa tidak puas akan dirinya, kecewa akan masa lalu, meragukan kemampuannya, dan mengharapkan keadaan yang berbeda dengan keadaan dirinya pada kenyataan (Ryff dan Keyes, 1995).

b. Hubungan Positif dengan Orang lain (Positive Relations with Others)

Menurut Jahoda, kemampuan untuk mencintai merupakan komponen utama dari kesehatan mental. Maslow berpendapat bahwa seorang self-ectualizer akan memiliki perasaan empati yang kuat terhadap setiap makhluk dan memiliki kapasitas cinta yang besar, persahabatan yang karib, dan pengenalan yang baik akan orang lain. Kematangan seseorang akan terlihat dari kehangatan yang dimilikinya dalam berhubungan dengan orang lain seperti yang diungkapkan Allport. Erikson mengatakan bahwa pada masa dewasa seseorang dituntut untuk memiliki kesatuan yang dekat dengan orang lain atau memiliki intimacy dan mampu mengarahkan orang lain (generativity) (Ryff dan Singer, 2006).

(30)

terisolasi dan frustasi dalam hubungan interpersonal, tidak berkeinginan untuk terikat dengan orang lain (Ryff dan Keyes, 1995).

c. Otonomi (Autonomy)

Maslow mengambarkan seorang self-actualizer mengurus kebutuhannya sendiri dan mampu bertahan terhadap tekanan. Roger mengungkapkan bahwa seseorang yang mencapai optimal functioning akan menggunakan internal locus of control dalam bertindak, tidak memperhatikan penerimaan orang lain, tetapi mengevaluasi seseorang dengan standar personal. Menurut Jung, karakteristik seseorang yang individuation akan bebas dari setiap aturan, tidak bergantung pada keyakinan kolektif, ketakutan, dan hukum massa. Erikson, Neugarten, dan Jung mencatat pentingnya penentuan keputusan berdasarkan batin dan memperoleh kebebasan atas norma sepanjang hidupnya (Ryff dan Singer, 2006).

(31)

d. Penguasaan Lingkungan (Environment Mastery)

Jahoda menyatakan bahwa salah satu ciri kesehatan mental adalah mampu memilih dan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan kondisi fisiknya. Erikson menjelaskan mengenai pentingnya kemampuan untuk memanipulasi dan mengendalikan lingkungan yang komplek, serta kapasitas untuk bertindak dan mengubah dunia sekitar dengan aktivitas fisik dan mental. Allport mengatakan bahwa kemampuan untuk memperluas diri dengan cara mampu berpartisipasi atas orang lain merupakan ciri lain dari maturity (Ryff dan Singer, 2006).

Dimensi penguasaan lingkungan menekankan pada kemampuan untuk menguasai lingkungan di sekitarnya serta mampu menciptakan dan memperoleh lingkungan yang menguntungkan dirinya (Ryff, 1989). Individu yang baik dalam dimensi penguasaan lingkungan akan memiliki keyakinan untuk menguasai dan mampu mengelola lingkungannya, menggunakan kesempatan dengan efektif, dan mampu memilih dan menciptakan konteks yang sesuai dengan nilai dan kebutuhan dirinya. Sebaliknya, individu yang kurang baik dalam dimensi penguasaan lingkungan akan mengalami kesulitan dalam mengelola kesehariannya, merasa tidak mampu untuk mengubah dan memperbaiki lingkungannya, tidak menyadari adanya kesempatan, dan kurang mampu mengendalikan lingkungan luar (Ryff dan Keyes, 1995).

e. Tujuan Hidup (Purpose in Life)

(32)

tujuan hidup yang jelas. Erikson menyatakan bahwa perubahan tujuan dan target pada diri seseorang akan menggambarkan setiap tahap kehidupan yang berbeda (Ryff dan Singer, 2006).

Dimensi tujuan hidup menjelaskan tentang seseorang yang berfungsi secara positif akan memiliki tujuan dan arahan dimana semuanya itu akan memunculkan perasaan akan makna hidup (Ryff, 1989). Seseorang yang baik dalam dimensi tujuan hidup akan memiliki tujuan hidup yang jelas dan hidupnya lebih terarah, memegang keyakinan yang memberikan tujuan hidup, dan memiliki target yang hendak dicapai dalam kehidupannya. Sementara seseorang yang kurang baik dalam dimensi tujuan hidup memiliki makna hidup yang tidak baik, target yang sedikit, kurang memiliki arahan hidup, tidak memiliki tujuan di masa lalu, dan tidak memiliki keyakinan bahwa hidup ini berarti (Ryff dan Keyes, 1995).

f. Pertumbuhan Personal (Personal Growth)

(33)

Dimensi pertumbuhan personal menjelaskan tentang keberlanjutan dari pertumbuhan dan perkembangan, serta individu menyadari potensi dirinya untuk dikembangkan menjadi suatu hal yang baru (Ryff, 1989). Individu yang baik dalam dimensi pertumbuhan personal memiliki perasaan akan perkembangan yang berlanjut, melihat dirinya semakin bertumbuh dan meluas, terbuka atas pengalaman baru, merealisasikan potensi diri, melihat perubahan yang positif dalam diri dan perilakunya sepanjang waktu, serta berubah dalam cara merefleksikan diri menjadi lebih mengenali dirinya dan efektif. Sementara individu yang kurang baik dalam dimensi pertumbuhan personal mengalami stagnasi personal, kurang mengalami perubahan sepanjang waktu, bosan dan kehilangan minat atas hidupnya, dan merasa tidak mampu untuk mengembangkan sikap dan perilaku baru (Ryff dan Keyes, 1995).

3. Faktor- faktor yang Mempengaruhi Psychological Well-Being a. Usia

Beberapa dimensi psychological well-being berubah signifikan seiring bertambahnya usia dan beberapa dimensi lainnya akan tetap stabil. Secara umum, pertumbuhan personal dan tujuan hidup pria dan wanita akan menurun. Lansia akan selalu mengingat kehidupannya di masa lalu dan tidak memiliki keinginan untuk berkembang di masa yang akan datang (Lopez, J., Hidalgo, T., Bravo, B.N., Martinez, I.P., Pretel, F.A., Postigo, J.M.L., & Rabadan, F.E., 2010).

(34)

Dimensi otonomi dan penguasaan lingkungan seorang lansia akan meningkat (Lopez, J., Hidalgo, T., Bravo, B.N., Martinez, I.P., Pretel, F.A., Postigo, J.M.L., & Rabadan, F.E., 2010). Berkurangnya tantangan psikologis di akhir kehidupan dan kehidupan sosial yang sudah terbatas menjadi pendukung meningkatnya dimensi otonomi dan penguasaan lingkungan (Ryff & Singer, 1996).

b. Jenis Kelamin

Ryff (1989) mengungkapkan ditemukan perbedaan tingkat psychological well-being pada wanita dan pria terutama pada dimensi hubungan positif dengan orang lain. Perbedaan ini dikarenakan gender stereotype yang telah melekat sejak kecil dalam diri pria sebagai sosok yang agresif dan mandiri, sedangkan wanita adalah sosok yang pasif, tergantung, dan memiliki sensitifitas yang tinggi terhadap perasaan orang lain (Papalia, 2007). Selain itu, wanita juga dianggap memiliki hubungan yang lebih akrab dengan kehidupan sosial daripada pria, sementara pria memiliki pergaulan hanya dengan lingkungan professional mereka. Oleh karena itu, wanita lebih terintegrasi secara sosial dan lebih tinggi dalam hubungan positif dengan orang lain dibandingkan pria (Lopez, J., Hidalgo, T., Bravo, B.N., Martinez, I.P., Pretel, F.A., Postigo, J.M.L., & Rabadan, F.E., 2010). c. Status Sosial Ekonomi

(35)

memiliki tujuan hidup, mampu menerima dirinya, mengalami pertumbuhan personal, dan dapat menguasai lingkungannya dengan baik. Keadaan ekonomi yang semakin membaik cenderung akan meningkatkan psychological well-being. Selain itu, sebuah penelitian menunjukkan bahwa lingkungan tempat tinggal akan mempengaruhi psychological well-being dan kesehatan individu tersebut. Hal ini dikarenakan kehadiran orang lain di sekitar individu dan kebebasan individu dalam bertindak di lingkungan tempat tinggalnya (Lopez, J., Hidalgo, T., Bravo, B.N., Martinez, I.P., Pretel, F.A., Postigo, J.M.L., & Rabadan, F.E., 2010).

d. Life Event

Pengalaman individu sejak awal kehidupan akan mempengaruhi persepsi yang dimilikinya terhadap suatu keadaan.Sebagai contoh, pada masa lansia akan ditemukan berbagai masalah kesehatan fisik pada wanita lansia. Hal ini akan mengarahkan seorang wanita lansia untuk membandingkan dirinya dengan wanita lansia lainnya terutama wanita lansia yang sehat. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa setelah membandingkan dirinya dengan wanita lansia lainnya, penilaian wanita lansia terhadap dirinya akan berubah. Penilaian ini dapat berpengaruh terhadap well-being wanita lansia tersebut selama hidupnya (Ryff & Singer, 1996).

(36)

kehilangan atau memperoleh psychological well-being dalam hidupnya (Ryff & Singer, 1996).

e. Keagamaan

Aktivitas keagamaan seperti berdoa, membaca kitab suci, dan kehidupan rohani yang berkualitas sangat berkaitan dengan well-being seseorang terutama wanita lansia (Koenig, Smiley, dan Gonzales, 1988; Santrock, 2009). Aktivitas keagamaan menyediakan kebutuhan psikologis yang penting bagi seorang lansia, membantu lansia dalam menghadapi kematiannya, menemukan makna hidupnya, dan menerima setiap penurunan yang terjadi di usia tuanya (Daaleman, Perera, dan Studenski, 2004; Santrock, 2009). Suatu penelitian menunjukkan bahwa meskipun kehadiran seorang lansia di gereja berkurang namun perasaan religiusitas dan kekuatan atau kenyamanan yang diterima dari agama akan tetap stabil bahkan meningkat (Idler, Kasl, dan Hays, 2001; Santrock, 2009). Hal ini menunjukkan bahwa keagamaan berperan penting dalam membantu seorang lansia terutama janda lansia menjalani kehidupannya.

B. SUKU BANGSA BATAK TOBA 2. Suku Bangsa Batak Toba

(37)

perpaduan pikiran atau logika, tata cara perilaku atau etika, perasaan atau estetika, dan keterampilan atau praktika dalam rangka perkembangan hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan Tuhan (Rajamarpodang, 1992). Oleh karena itu, disimpulkan bahwa kebudayaan merupakan nilai, karya, ataupun tindakan yang terdapat dalam suatu kelompok masyarakat, bersifat mengikat, dan mengatur kehidupan dalam bermasyarakat.

Seorang ahli Antrologi, J.J. Honigmann mengungkapkan tiga wujud kebudayaan yaitu ideas, activities, dan artifact. Wujud pertama yaitu ide, gagasan, nilai, norma, dan peraturan dalam suatu kebudayaan akan terlihat dalam adat-istiadat yang diberlakukan. Wujud kedua yaitu activities terdiri atas aktivitas-aktivitas manusia dalam berinteraksi dengan orang lain dan berdasarkan adat tata kelakuan. Wujud ketiga yaitu artifact berupa karya konkret dari semua masyarakat. Ketiga wujud kebudayaan ini akan mengatur dan mengarahkan tindakan dan karya manusia dalam bermasyarakat (Koentjaraningrat, 2002).

(38)

apa yang dianggap baik atau tidak baik dalam kehidupannya (Koentjaraningrat, 2002).

3. Prinsip Keturunan

Prinsip keturunan masyarakat Batak Toba adalah patrilineal yaitu garis turunan etnis adalah dari laki-laki (Rajamarpodang, 1992). Berdasarkan prinsip patrilineal, anak laki-laki memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kelanjutan generasi (Rajamarpodang, 1992). Bagi masyarakat Batak Toba, anak laki-laki dianggap sangat penting yaitu sebagai penerus keturunan (marga ayah), pengganti kedudukan dalam acara adat dan tanggung jawab adat, serta pembawa nama dalam silsilah kekerabatan dalam masyarakat Batak Toba (Pardosi, 1989). Secara khusus bagi seorang wanita atau ibu, anak laki-laki dianggap sebagai penanggung jawab dalam keluarga sebagaimana tanggung jawab yang dimiliki oleh seorang suami terhadap istri dan keluarganya (Rajamarpodang, 1992). Keberadaan anak laki-laki dalam masyarakat Batak Toba menjadi sangat penting dan sangat diharapkan.

(39)

anak laki-laki. Selain itu, masyarakat Batak Toba yang pada dasarnya adalah monogami akan melakukan poligami sebagai upaya untuk memperoleh anak laki-laki (Rajamarpodang, 1992).

5. Hamoraon, Hasangapon, dan Hagabeon

Masyarakat Batak Toba memiliki tiga tujuan hidup yang hendak dicapai yaitu:

a. Hagabeon

Masyarakat Batak Toba mengartikan hagabeon sebagai keluarga yang besar, menjadi panutan masyarakat, dan panjang umur. Sumber daya manusia menjadi sangat penting bagi masyarakat Batak Toba. Kekuatan yang tangguh hanya dapat dibangun dengan jumlah manusia yang banyak (Harahap dan Siahaan, 1987).

b. Hamoraon

Masyarakat Batak mengartikan hamoraon bukan hanya sekadar harta kekayaan saja, tetapi mengenai jumlah keturunan terutama anak laki-laki (Sihombing, 1986). Seseorang yang memiliki hamoraon artinya telah mapan dalam karakter ekonominya. Salah satu ungkapan masyarakat Batak Toba yaitu “anakkonki do hamoraon di au” menunjukkan bahwa anak laki-laki merupakan kekayaan bagi seorang Batak Toba (Harahap dan Siahaan, 1987).

c. Hasangapon

(40)

hasangapon adalah seseorang yang dapat memberi kebijakan, memiliki kearifan, dan teladan bagi masyarakat. Hasangapon merupakan hasil yang diperoleh setelah mencapai hagabeon dan hamoraon (Harahap dan Siahaan, 1987).

C. JANDA LANSIA 1. Janda Lansia

Kehilangan anggota keluarga, sahabat, pasangan merupakan suatu hal yang umum terjadi pada masa lansia. Kematian pasangan hidup menimbulkan dukacita mendalam pada pasangan yang ditinggalkan. Kematian pasangan hidup juga melahirkan satu status baru bagi seorang lansia dimana dirinya disebut sebagai duda atau janda (Craig, 1996).

Menjadi janda atau duda menjadi suatu tantangan baru dimana lansia harus mengatasi dukacita yang dialaminya sepeninggalan pasangan. Selain itu, seorang janda ataupun duda lansia dituntut untuk membangun kehidupan baru sebagai orang tua tunggal dan kakek atau nenek tunggal (Lemme, 1995). Kematian pasangan hidup menyebabkan hilangnya peran dan identitas lansia sebagai seorang pasangan yang telah terjalin lama, intim, dan memiliki peran personal bagi mereka (Berk, 2007).

(41)

pasangan telah mengalami penyakit yang parah, maka pasangan yang ditinggalkan telah menyiapkan dirinya sebelum pasangan meninggal dunia. Penyesuaian atas kematian pasangan menjadi sangat sulit dilakukan dimana seorang janda lansia harus menyesuaikan diri kembali pada kehidupannya yang disertai perasaan dukacita bercampur kelegaan (Brubaker, 1985; Lemme, 1995).

Kesepian menjadi masalah terbesar yang dialami oleh lansia pada umumnya sepeninggalan pasangan mereka (Berk, 2007). Upaya mengatasi kesepian ini tergantung pada usia, dukungan sosial, dan kepribadian pada lansia tersebut. Dukungan sosial yang bersumber dari keluarga, teman, rekan kerja, dan kegiatan menyenangkan lainnya menjadi faktor yang sangat dibutuhkan dalam mengatasi masalah setelah kematian pasangan (Lemme, 1995).

Janda lansia berupaya untuk memperoleh dukungan dari keluarga, teman, rekan kerja, maupun melakukan hobinya (Lopata, 1979; Craig, 1996). Pada umumnya, janda lansia lebih banyak mendapat dukungan dan bantuan dari anaknya (Spitze & Logan, 1989, 1990; Craig, 1996). Anak sangat berperan dalam menyediakan dukungan bagi janda lansia.

2. Dekade Kehidupan Lansia

Craig (1996) membagi usia lansia ke dalam 4 dekade kehidupan yaitu: a. Young Old (60-90 tahun)

(42)

diakibatkan oleh pensiun, berkurangnya rekan kerja, dan hubungan yang mulai renggang dengan teman akan terjadi pada usia ini. Kebanyakan pensiunan akan menjadi mentor, memberi nasihat, dan melakukan usaha-usaha yang sederhana (Craig, 1996).

b. Middle-Aged-Old (70-79 tahun)

Pada usia 70-an kebanyakan lansia akan berjuang dari kehilangan keluarga, sahabat, dan rekan kerja, terutama pasangan hidup. Selain itu, kesehatan lansia menjadi lebih bermasalah di usia ini. Penurunan kesehatan ini akan memicu penurunan kesehatan yang lebih lanjut bahkan ketidakmampuan pada dekade berikutnya (Craig, 1996).

c. Old-Old (80-89 tahun)

Pada usia ini seorang lansia akan hidup dalam proses yang berkelanjutan dimana akan selalu mengingat pengalaman dulu hingga saat ini yang tersimpan dalam memorinya. Kebanyakan lansia pada usia ini akan kesulitan dalam beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Mereka membutuhkan bantuan baik dalam mengelola hubungan sosial maupun berbudaya (Craig, 1996). d. Very Old-Old (90-99 tahun)

(43)

3. Tugas Perkembangan Lansia

Menurut Havighurst (Hurlock, 2000), tugas-tugas perkembangan seorang lansia adalah:

a. Menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan

Lansia diharapkan untuk menyesuaikan diri dengan berkurangnya kekuatan dan penurunan kesehatan secara bertahap. Lansia akan melakukan perbaikan dan perubahan peran yang pernah dilakukan baik terhadap dirinya sendiri maupun dengan orang lain. Lansia juga diharapkan untuk mencari kegiatan lain sebagai pengganti atas kegiatan terdahulu yang dilakukannya saat masih muda (Hurlock, 2000).

b. Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan berkurangnya penghasilan keluarga

Bagi beberapa lansia mengikuti kegiatan-kegiatan sosial sangat sulit untuk dilaksanakan karena keadaan kesehatan dan pendapatan yang berkurang setelah pensiun. Hal ini membuat banyak lansia terpaksa mundur dari kegiatan-kegiatan sosial. Oleh karena itu, lansia diharapkan untuk menyusun kembali pola hidup yang disesuaikan dengan kondisi dirinya saat ini (Hurlock, 2000).

c. Menyesuaikan diri dengan kematian atau hilangnya pasangan hidup

(44)

sendiri. Hal ini memberikan tuntutan baru bagi janda lansia untuk melakukan perubahan pada aturan hidup (Hurlock, 2000).

d. Membentuk hubungan dengan orang-orang yang seusia

Ketika anak-anak mulai bertumbuh dewasa dan mulai memiliki kesibukan sendiri, hubungan anak dengan orang tua menjadi berkurang. Oleh karena itu, lansia dituntut untuk membangun hubungan dengan orang lain yang seusia mereka. Hal ini merupakan salah satu upaya untuk mengatasi kesepian yang sering dialami oleh lansia, terutama ketika pasangan telah meninggal dunia, menghadapi pensiun, dan kegiatan sosial yang mulai berkurang (Hurlock, 2000). e. Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan

Pengaturan kehidupan fisik ini sering disebut dengan istilah living arrangement. Setiap lansia diperhadapkan dengan tiga pilihan yaitu living alone (tinggal seorang diri di rumah sendiri), living with adult children (tinggal bersama anak yang sudah dewasa dan menikah), dan living in institutions (tinggal di instritusi seperti panti jompo) (Papalia, 2007). Pada masa lansia akan muncul suatu pertimbangan apakah keinginan dan kebutuhan yang biasa mereka penuhi pada masa-masa sebelumnya masih dapat terpenuhi atau tidak. Setiap tempat tinggal akan mempengaruhi bagaimana keadaan psikologis lansia tersebut dan pemenuhan kebutuhannya sehari-hari (Hurlock, 2000).

f. Menyesuaikan diri dengan peran sosial secara luwes

(45)

namun hal ini dianggap sulit oleh beberapa lansia. Pada masa lansia, setiap lansia akan bergabung dengan kelompok yang sebagian besar dan ditolak oleh masyarakat. Hal ini berkaitan dengan ageism yang muncul pada masyarakat. Sebagai akibatnya, lansia kurang termotivasi untuk terlibat dengan masyarakat dan muncul anggapan bahwa itu tidak menghasilkan suatu kebanggaan bagi mereka (Hurlock, 2000).

4. Perubahan pada Lansia

a. Perubahan Kemampuan Motorik pada Lansia

Beberapa perubahan fisik terjadi pada masa lansia dan sering dikaitkan dengan aging pada lansia. Kulit lansia menjadi lebih pucat, berbercak, kurang elastis, dan kulit keriput. Urat nadi mulai terlihat pada bagian tangan. Rambut beruban dan menjadi lebih tipis. Lansia terlihat lebih pendek dikarenakan penipisan tulang yang terlihat pada bagian belakang leher. Keadaan ini menyebabkan lansia khususnya lansia wanita dapat mengalami osteoporosis (Papalia, 2007).

(46)

motorik akan membatasi lansia dalam melakukan berbagai tindakan (Papalia, 2007).

b. Hubungan dengan Anak dan Cucu 1. Hubungan dengan Anak

Hubungan antara orang tua lansia dengan anak pada umumnya semakin hari kurang memuaskan. Keadaan ini tidak terlepas dari pengaruh kemampuan lansia dalam menyesuaikan diri terhadap anak serta memahami kebutuhan dan keadaan mereka di usia saat ini (Hurlock, 2000). Di samping itu, hubungan orang tua lansia dan anak di masa lalu juga dapat menentukan hubungan yang dijalin saat ini (Hurlock, 2000). Hubungan baik yang terjalin di masa lalu akan dapat melahirkan hubungan baik di masa mendatang, dan sebaliknya (Wilson, Shuey, dan Elder, 2003; Santrock, 2009). Terkhusus bagi wanita, pada umumnya hubungan ibu dan anak menjadi lebih baik dibandingkan dengan hubungan ayah dan anak. Wanita dianggap lebih luwes menyesuaikan diri dengan anak daripada pria. Selain itu, hubungan ibu dan anak dianggap sebagai suatu hubungan yang berkelanjutan sejak anak lahir (Hurlock, 2000).

(47)

Di samping ketergantungan pada lansia, kebanyakan lansia merasa sulit melepaskan peran otoriternya terhadap anak (Hurlock, 2000). Lansia kesulitan menyesuaikan diri dengan “kehilangan” anaknya dan memunculkan masalah seperti overprotective dan ikut campur masalah keluarga anak. Beberapa anak terkadang lebih menghiraukan perkataan orang tua dibandingkan pasangannya sehingga tidak jarang terjadi masalah antara pasangan anak maupun orang tua lansia (Degenova, 2008).

Ketergantungan dan peran otoriter orang tua menjadi suatu hal negatif dalam hubungan antara orang tua dan anak namun di sisi lain terdapat suatu hal yang dapat menciptakan hubungan baik antara orang tua dan anak. Di masa tua, kebanyakan lansia menganggap dirinya tidak berguna dan hal ini berpengaruh terhadap well-being lansia tersebut. Di ketidakberdayaannya kebanyakan lansia akan mengalami perasaan positif ketika mereka mampu menyediakan bantuan bagi orang lain yang membutuhkan. Salah satu contohnya adalah banyak lansia yang khawatir dengan keadaan anak tanpa menghiraukan usia anak saat ini (Newman dan Newman, 2006).

(48)

seperti masalah pernikahan, keuangan, kesehatan, dan masalah lainnya, orang tua akan merasa terbeban dengan keadaan tersebut. Tak jarang orang tua akan terlibat dalam membantu setiap masalah yang dialami oleh anaknya. Orang tua akan merasa senang apabila dirinya dapat membantu anak sebaik bantuan yang diterimanya dari anak (Marks, 1995; Degenova, 2008). Memberikan bantuan terhadap anak walaupun tidak dibalas akan berpengaruh terhadap psychological well-being seorang orang tua daripada hanya menerima bantuan dari anak. Oleh karena itu dikatakan bahwa kehidupan anak dapat mempengaruhi psychological well-being seorang orang tua (Degenova, 2008).

2. Hubungan dengan Cucu

(49)

Suatu hasil penelitian menunjukan bahwa hubungan cucu dan nenek atau kakek akan sangat dipengaruhi oleh usia cucu (Hurlock, 2000). Cucu yang berusia remaja pada dasarnya lebih mampu memahami perkataan nenek atau kakeknya mengenai keadaan yang terjadi dibandingkan anak-anak (Degenova, 2008). Ketika cucu masih berusia kanak-kanak, nenek atau kakek biasanya berperan sebagai babysitter cucu atau teman bermain cucu terutama jika tinggal serumah. Apabila cucu sudah memasuki usia tengah baya, cucu turut bertanggung jawab terhadap kakek atau nenek mereka. Pada umumnya, lansia menganggap cucu merupakan gambaran kepribadian dan nilai-nilai dimilikinya selama ini (Craig, 1996).

c. Kehidupan Pensiun

(50)

D. PSYCHOLOGICAL WELL-BEING YANG POSITIF PADA JANDA LANSIA SUKU BATAK TOBA YANG TINGGAL DENGAN “ANAK” (ANAK LAKI- LAKI)

Setiap janda lansia pada dasarnya dituntut untuk memenuhi setiap tugas perkembangannya di masa tua (Hurlock, 2000). Salah satu tugas perkembangan janda lansia adalah pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan (selanjutnya disebut living arrangement)(Papalia, 2007). Living arrangement berfungsi dalam mengatur kembali kehidupan seorang janda lansia dengan mempertimbangkan cara pemenuhan kebutuhan janda lansia dan penentuan bersama siapa dirinya tinggal dan melanjutkan kehidupannya (Hurlock, 2000).

Penentuan living arrangement tidak terlepas dari pengaruh nilai budaya janda lansia tersebut (Papalia, 2007). Setiap suku bangsa memiliki adat istiadat masing-masing dimana jika dilanggar akan memberi sanksi atas orang tersebut misalnya suku bangsa Batak Toba (Sihombing, 1986). Kehidupan masyarakat Batak Toba juga tidak terlepas dari nilai lainnya seperti hamoraon, hasangapon, dan hagabeon. Hamoraon, hasangapon, dan hagabeon merupakan tiga tujuan hidup masyarakat Batak Toba yang harus terpenuhi (Harahap dan Siahaan, 1987).

(51)

nilai tersebut melahirkan suatu adat di tengah-tengah masyarakat Batak Toba bahwa orang tua yang sudah lansia diharuskan tinggal dengan anak. Kekukuhan adat ini mendorong janda lansia untuk tinggal dengan anak dan diharapkan agar setiap tujuan hidup yaitu hamoraon, hasangapon, dan hagabeon dapat tercapai pada diri janda lansia tersebut.

Lingkungan tempat tinggal baru dan keluarga anak baik anak, menantu perempuan (selanjutnya disebut “parumaen”), dan cucu (selanjutnya disebut “pahompu”) menjadi suatu tantangan bagi seorang janda lansia. Seorang janda lansia dituntut untuk mampu merealisasikan dirinya setelah berada di rumah anak. Seseorang yang mampu merealisasikan dirinya adalah mereka yang mengalami pertumbuhan dan mampu memenuhi kebutuhannya (Ryff & Singer, 2006). Kemampuan merealisasikan diri merupakan poin penting penentu psychological well-being (Ryff & Singer, 2006). Psychological well-being berupa perasaan yang mengarahkan seseorang bertindak dan kemampuan untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya (Walterman, 1984 dalam Ryff, 1989).

(52)

lainnya (Hurlock, 2000). Kepada anak, janda lansia seringkali tidak melepaskan peran otoriternya sehingga tidak jarang ditemukan perselisihan antara janda lansia dan pasangan anaknya yaitu parumaen (Degenova, 2008).

(53)

E. PARADIGMA BERPIKIR

Janda Lansia Suku Batak Toba yang Tinggal dengan Anak

2. Hubungan Positif dengan Orang Lain 3. Otonomi

(54)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. PENELITIAN KUALITATIF FENOMENOLOGIS

Penelitian kualitatif fenomenologis adalah suatu pendekatan penelitian kualitatif yang berfokus pada pengalaman-pengalaman subjektif manusia dan interpretasi dari segala sesuatu hal yang ada di sekelilingnya. Penelitian kualitatif fenomenologis menekankan pada aspek subjektif dari perilaku seorang individu. Peneliti dengan pendekatan fenomenologis akan berupaya untuk masuk ke dunia konseptual responden sedemikian rupa sehingga mendapat pemahaman mengenai apa dan bagaimana arti dari fenomena yang diteliti bagi responden tersebut. Fenomenologis tidak berasumsi bahwa peneliti mengetahui arti dari fenomena yang ditelitinya bagi responden. Peneliti fenomenologis meyakini bahwa setiap individu memiliki cara masing-masing dalam menginterpretasikan pengalaman- pengalamannya dan penilaian akan pengalaman tersebut merupakan gambaran diri seorang individu (Moleong, 2004).

(55)

dihadapinya. Ketika seorang janda lansia mampu merealisasikan dirinya, maka janda lansia tersebut akan mencapai psychological well-being.

Psychological well being akan berbeda-beda bergantung pada bagaimana seorang janda lansia menilai setiap pengalaman atau tantangan setelah di rumah anak. Selain itu, faktor seperti usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi, life-event, dan keagamaan seorang janda lansia turut mempengaruhi psychological well-beingnya. Oleh karena itu, penelitian kualitatif fenomenologis digunakan untuk mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai pengalaman subjektif responden berupa psychological well-being pada janda lansia suku Batak Toba yang tinggal dengan anak.

B. RESPONDEN, PROSEDUR PENGAMBILAN RESPONDEN, DAN LOKASI PENELITIAN

1. Karakteristik Responden Penelitian

Adapun karakteristik responden yang digunakan dalam penelitian ini telah disesuaikan dengan tujuan penelitian yaitu sebagai berikut:

a. Merupakan janda lansia b. Bersuku Batak Toba

(56)

2. Jumlah Responden Penelitian

Menurut Patton (Poerwandari, 2007), desain penelitian kualitatif memiliki sifat yang luwes sehingga tidak ada aturan yang pasti dalam jumlah responden yang harus diambil. Jumlah responden sangat tergantung pada apa yang dianggap bermanfaat dan dapat dilakukan dengan waktu dan sumber daya yang tersedia. Sarantakos (Poerwandari, 2007) mengatakan bahwa prosedur penentuan subjek dalam penelitian kualitatif umumnya mempertimbangkan karakteristik berikut ini:

a. Tidak menggunakan jumlah sampel yang besar,

b. Tidak ditentukan secara kaku sehingga dapat berubah baik jumlah maupun karakteristik sampel sesuai dengan kebutuhan penelitian, dan

c. Tidak diarahkan pada keterwakilan dalam jumlah atau peristiwa acak, melainkan pada kecocokan konteks.

Karakteristik di atas mengungkapkan bahwa jumlah responden penelitian kualitatif tidak dapat ditentukan secara tegas. Berdasarkan karakteristik tersebut, peneliti merencanakan dua orang responden yaitu dua orang janda lansia suku Batak Toba yang tinggal dengan anak (anak laki-laki). Peneliti memiliki keterbatasan dalam menemukan responden penelitian ini.

3. Prosedur Pengambilan Responden

(57)

sesuai dengan tujuan penelitian. Hal ini dilakukan agar subjek benar-benar representatif artinya dapat mewakili fenomena yang diteliti (Poerwandari, 2007).

4. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian direncanakan di kelurahan Parongil, kabupaten Dairi, Sumatera Utara, sesuai dengan tempat tinggal responden penelitian. Pengambilan data akan dilakukan di rumah responden penelitian. Lokasi pengambilan data ini dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kenyamanan dan keinginan responden.

C. METODE PENGUMPULAN DATA

(58)

D. ALAT BANTU PENGUMPULAN DATA 1. Alat Perekam (Handphone)

Alat perekam yang digunakan dalam penelitian ini adalah handphone yang berguna untuk mempermudah dalam pengolahan informasi dari responden. Alat perekam (handphone) juga membantu peneliti dalam mengingatkan kembali hasil wawancara yang telah dilakukan. Jika hasil wawancara yang diperoleh kurang jelas atau belum memenuhi kebutuhan peneliti, maka peneliti dapat menanyakan kembali kepada responden.

2. Pedoman Wawancara

(59)

E. KREDIBILITAS PENELITIAN

Kredibilitas merupakan istilah untuk menggantikan konsep validitas dalam penelitian kuantitatif. Suatu penelitian kualitatif yang memiliki kredibilitas tinggi adalah penelitian yang berhasil mencapai tujuan yang ditentukan dan dapat mendeskripsikan setting, proses, dan pola interaksi dari isu yang diteliti. Kredibilitas juga ditentukan oleh keakuratan peneliti dalam mengidentifikasi dan mendeskripsikan responden penelitian tersebut (Poerwandari, 2007).

Adapun upaya peneliti dalam menjaga kredibilitas dan objektifitas penelitian ini, antara lain dengan:

1. Memilih responden yang sesuai dengan karakteristik penelitian yaitu janda lansia suku Batak Toba berusia 60 tahun ke atas yang tinggal dengan anak (anak laki-laki) dimana terdapat parumaen (menantu perempuan) dan pahompu (cucu) dalam rumah yang sama.

2. Membuat pedoman wawancara berdasarkan dimensi psychological well-being (Ryff, 1989) sebagai upaya untuk memperoleh gambaran dari psychological well-being responden ketika tinggal dengan anak (anak laki-laki). Kemudian dilakukan standarisasi pedoman wawancara dengan dosen pembimbing melalui proses professional judgement.

3. Menggunakan open-ended question dan wawancara mendalam (in depth-Interview) untuk mendapatkan data yang akurat.

(60)

membutuhkan penjelasan lebih mendalam sehingga dapat ditanyakan pada wawancara berikutnya untuk memastikan keakuratan data responden. 5. Melibatkan dosen pembimbing dalam berdiskusi, memberikan kritik dan

saran mulai dari awal proses penelitian sampai pada tersusunnya hasil penelitian.

F. PROSEDUR PENELITIAN 1. Tahap Persiapan Penelitian

Pada tahap persiapan penelitian, peneliti melakukan beberapa langkah sebagai persiapan penelitian sebagai berikut:

a. Mengumpulkan data

Peneliti mengumpulkan berbagai informasi dan teori-teori yang mengenai psychological well-being yang dikemukakan oleh Ryff.

b. Menyusun pedoman wawancara

Pedoman wawancara merupakan sejumlah pertanyaan yang disusun berdasarkan landasan teori yang digunakan yaitu psychological well-being oleh Ryff. Pedoman wawancara bertujuan untuk menghindari penyimpangan tujuan penelitian yang mungkin terjadi selama wawancara dan mengarahkan peneliti atas apa yang hendak dilakukan selanjutnya. Pedoman wawancara disusun dengan melalui professional judgement bersama dosen pembimbing.

(61)

telah menyepakati bahwa dirinya akan berpartisipasi sebagai responden dalam penelitian ini tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Peneliti juga menjelaskan tujuan dan manfaat penelitian yang dilakukannya.

d. Mempersiapkan alat-alat penelitian

Peneliti mempersiapkan alat-alat pendukung dalam proses pengumpulan data seperti alat perekam (handphone) dan pedoman wawancara yang telah melalui professional judgement.

e. Persiapan untuk mengumpulkan data

Sebagai persiapan untuk mengumpulkan data, sebelum memulai penelitian peneliti mengumpulkan informasi mengenai calon responden penelitian. Selain itu, peneliti memastikan bahwa calon responden tersebut telah memenuhi kriteria yang ditentukan dalam penelitian. Peneliti menghubungi calon responden untuk menjelaskan penelitian dilakukannya, dan menanyakan kesediaan calon responden untuk berpartisipasi dalam penelitiannya, serta memberikan informed consent. f. Membangun Rapport dan menentukan jadwal wawancara

Peneliti bertemu kembali dengan responden dan membangun rapport. Setelah itu, peneliti dan responden penelitian menentukan dan menyepakati waktu dan lokasi bertemu selanjutnya untuk melakukan wawancara penelitian.

2. Tahap Pelaksanaan Penelitian

a. Mengkonfirmasi ulang waktu dan tempat wawancara

(62)

dilakukan setiap wawancara berakhir. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa responden tidak berhalangan untuk melakukan wawancara pada waktu yang telah ditentukan bersama.

b. Melakukan wawancara berdasarkan pedoman wawancara

Peneliti memulai wawancara berdasarkan pedoman wawancara yang telah dibuat sebelumnya. Kepada setiap responden dilakukan enam kali wawancara untuk mendapatkan data yang maksimal. Saat wawancara berlangsung, peneliti juga melakukan observasi terhadap lingkungan tempat wawancara dan responden penelitian.

c. Memindahkan rekaman hasil wawancara ke dalam bentuk transkrip verbatim Setelah wawancara selesai dilakukan dan hasil wawancara telah diperoleh, peneliti kemudian memindahkan hasil wawancara ke dalam verbatim tertulis. Peneliti melakukan coding dengan membubuhkan kode-kode pada materi yang diperoleh. Coding bertujuan untuk mengorganisasi dan mensistematisasi setiap data secara lengkap dan mendetail sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari (Poerwandari, 2007).

d. Melakukan analisa data

(63)

e. Menarik kesimpulan, membuat diskusi, dan memberi saran

Peneliti menarik kesimpulan untuk menjawab rumusan permasalahan. Setelah itu, membuat diskusi untuk menjelaskan data yang tidak dapat dijelaskan dengan teori atau penelitian sebelumnya. Kemudian peneliti memberi saran yaitu saran praktis dan metodologis sesuai dengan kesimpulan dan data hasil penelitian.

3. Tahap Pencatatan Data

Untuk memudahkan pencatatan data, peneliti menggunakan alat perekam sebagai alat bantu sehingga data yang diperoleh dapat dipertanggung jawabkan dan lebih akurat. Sebelum wawancara dimulai, peneliti meminta izin kepada responden untuk merekam wawancara yang akan dilakukan dengan handphone sebagai alat perekam.

4. Prosedur Analisa Data

Data yang diperoleh dari pendekatan kualitatif adalah berupa kata-kata dan kemudian dilakukan analisis data. Beberapa tahapan dalam menganalisis data kualitatif menurut Poerwandari (2007), yaitu :

a. Organisasi Data

Highlen dan Finley (Poerwandari, 2007) menyatakan bahwa organisasi data bertujuan untuk :

1. Memperoleh data yang baik,

Figur

Tabel 1. Deskripsi Data Responden A

Tabel 1.

Deskripsi Data Responden A p.66
Tabel 2. Jadwal Wawancara Responden A

Tabel 2.

Jadwal Wawancara Responden A p.67
Tabel 4. Deskripsi Data Responden B

Tabel 4.

Deskripsi Data Responden B p.89
Tabel 5. Jadwal Wawancara Responden B

Tabel 5.

Jadwal Wawancara Responden B p.89

Referensi

Memperbarui...