• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Waktu Terhadap Derajat Grafting Maleat Anhidrat Dalam High Density Polyethylene (HDPE) Dengan Inisiator Benzoil Peroksida

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pengaruh Waktu Terhadap Derajat Grafting Maleat Anhidrat Dalam High Density Polyethylene (HDPE) Dengan Inisiator Benzoil Peroksida"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH WAKTU TERHADAP DERAJAT GRAFTING

MALEAT ANHIDRAT DALAM HIGH DENSITY

POLYETHYLENE (HDPE) DENGAN

INISIATOR BENZOIL PEROKSIDA

SKRIPSI

HALOMOAN HARAHAP

050822020

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PENGARUH WAKTU TERHADAP DERAJAT GRAFTING MALEAT ANHIDRAT DALAM HIGH DENSITY POLYETHYLENE ( HDPE )

DENGAN INISIATOR BENZOIL PEROKSIDA

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar sarjana sains

HALOMOAN HARAHAP 050822020

JURUSAN KIMIA EKSTENSI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

PERSETUJUAN

Judul :PENGARUH WAKTU TERHADAP DERAJAT

GRAFTING MALEAT ANHIDRAT DALAM HIGH DENSITY POLYETHYLENE ( HDPE ) DENGAN INISIATOR BENZOIL PEROKSIDA

Kategori :SKRIPSI

Nama :HALOMOAN HARAHAP

Nomor Induk Mahasiswa :050822020

Program Studi :SARJANA ( S 1 ) KIMIA EKSTENSI

Departemen :KIMIA

Fakultas :MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN

ALAM ( FMIPA ) UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Diluluskan di Medan, Maret 2009

Komisi Pembimbing

Pembimbing 2 Pembimbing I

Drs. Amir Hamzah Siregar, MSi Drs. Darwin Yunus Nasution, MS

NIP 131.945.358 NIP 130.936.280

Diketahui / Disetujui oleh

(4)

PERNYATAAN

PENGARUH WAKTU TERHADAP DERAJAT GRAFTING MALEAT ANHIDRAT DALAM HIGH DENSITY POLYETHYLENE (HDPE)

DENGAN INISIATOR BENZOIL PEROKSIDA

SKRIPSI

Saya mengakui bahwa skripsi ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.

Medan, Maret 2009

(5)

PENGHARGAAN

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT,atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan. Karena penulisan skripsi ini merupakan syarat bagi mahasiswa untuk menyelesaikan studi di perguruan tinggi. Setiap mahasiswa yang telah menulis karya ilmiah dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama studi di perguruan tinggi.

Penulis berusaha dan berupaya dengan segala kemampuan yang ada, namun penulis menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna seperti yang diharapkan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis menerima saran dan masukan yang membangun guna kesempurnaan skripsi ini.

Selanjutnya dalam mempersiapkan skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan berupa bimbingan dan petunjuk.Untuk ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Orangtua saya, buat ayahanda Sengan Harahap. dan Ibunda Maisaroh Nst yang telah melahirkan saya dan membesarkan saya hingga sekarang ini. Terimakasih atas dukungan doa dan materinya hingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini. 2. Bapak Drs. Darwin Yunus Nst, MS, dan Drs Amir Hamzah Siregar ,MSi, selaku

dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu dan pikirannya dalam memberi petunjuk,saran dan bimbingan kepada penulis

3. Bapak Prof. Dr. Eddy Marlianto,M.Sc., selaku dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

4. Ibu Dr. Rumondang Bulan Nst,MS, selaku ketua departemen kimia dan Drs. Firman Sebayang, M.S selaku sekretaris jurusan kimia.

5. Seluruh staf pengajar yang telah memberikan ilmu dan bimbingan selama penulis menjadi mahasiswa

6. bang Edi selaku staf laboratorium kimia polimer yang banyak membantu.

7. B’Iwan Sitepu, dek Siska selaku teman seperjuangan penulis selama mengikuti Penelitian hingga penyusunan tulisan ini.

8. Seluruh rekan mahasiswa di Kimia,FMIPA –USU, khususnya kepada adek2

komisariat Hajrul, Mail, dan juga mak Ros, fahmi, serta teman-teman lain yang tidak dapat saya sebutkan.

9. Hendra Bangsawan, Ilham, Waldi selaku teman seperjuangan saya dikala suka dan duka yang telah memberikan dorongan selama saya kuliah.

10.Saudara-saudaraku seperti bang Irpan (keluarga), bang Sahnan (keluarga) Fauzan Fikri, kak Yanti (keluarga), kak Nurlan (keluarga), dek Noya, yang selalu memberikan dukungan hingga selesainya skripsi ini.

11.Saudara-saudaraku yang tidak dapat saya paparkan satu persatu dalam karya ilmiah ini.

(6)

PENGARUH WAKTU TERHADAP DERAJAT GRAFTING MALEAT ANHIDRAT DALAM HIGH DENSITY POLYETHYLENE (HDPE)

DENGAN INISIATOR BENZOIL PEROKSIDA

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh waktu terhadap derajat grafting antara maleat anhidrat pada high density polyethylene ( HDPE ) dengan inisiator benzoil peroksida. Proses grafting dilakukan dengan teknik pencampuran reaktif dalam internal mixer dengan komposisi HDPE : MA : BPO (96 : 3 : 1 (% gr)) pada suhu 145oC dan waktu yang bervariasi (30, 60, 90, 120, 150) menit. Selanjutnya dilakukan penentuan derajat grafting dengan metode titrasi. Dan analisis FTIR untuk mengukur apakah telah terjadi reaksi grafting.

Hasil penelitian diperoleh bahwa proses grafting maleat anhidrat pada High Density Polyethylene (HDPE) dapat terjadi dengan kondisi maksimum pada waktu 90 menit.

(7)

THE TIME INFLUENCE TO GRAFTING DEGREE OF MALEAT ANHIDRAT IN HIGH DENSITY POLYETHYLENE (HDPE)

WITH INISIATOR BENZOIL PEROXIDE

ABSTRACT

A research has been conducted about the time influence to grafting degree between maleat anhidrat at high density polyethylene (HDPE) with inisiator benzoil peroxide. The process of grafting is conducted with mixing reaktif technique in internal mixer with composition HDPE : MA : BPO (96 : 3 : 1 (% gr)) at temperature 145o C and the time has variation (30,60, 90, 120, 150) minutes. And then it is conducted the determination of grafting degree with titration method. And analyse of FTIR to measure what have been happened the grafting reaction.

(8)

DAFTAR ISI

1.7 Metodelogi Penelitian ... 3

Bab 2 Tinjauan Pustaka……… .. 4

2.9 Analisa Spektroskopi infra merah (IR) .... ... 14

Bab 3 Metodelogi Penelitian… ... 17

3.1 Alat dan Bahan... ... 17

3.1.1 Alat... ... 17

(9)

3.2 Prosedur Kerja... 18

3.2.1 Preparasi alat ... 18

3.2.2 Preparasi sampel ... 18

3.2.3 Proses Grafting ... 18

3.2.4 Menghitung derajat grafting metode titrasi ... 19

3.2.5 Pembuatan larutan KOH 0,05 N ... 19

3.2.6 Uji Spektroskopi FTIR. ... 19

3.3 Bagan Penelitian... 20

3.3.1 Campuran polimer ... 20

3.3.2 Menghitung derajat grafting melalui titrasi ... 21

3.3.3 Uji kualitatif dengan metode FTIR ... 22

Bab 4 Hasil dan Pembahasan ... 23

4.1 Hasil Pencampuran Polimer... 23

4.2 Perhitungan ... 24

4.3 Pembahasan ... 25

4.3.1Pengaruh Konsentrasi Maleat anhidrida terhadap derajat grafting ... 26

4.4 Analisa FTIR ... 26

Bab 5 Kesimpulan dan Saran ... 28

5.1 Kesimpulan ... 28

5.2 Saran ... 28

(10)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Sifat fisika dan mekanika polietilena ... 5

Table 2.2 Nomenklatur dari peroxide compounds ... 10

Tabel 2.3 Sifat – sifat maleat anhidrat ... 13

Tabel 2.4 Korelasi gugus fungsional untuk polietilena termodifikasi ... 16

Tabel 4.1 Data hasil pencampuran polimer ... 23

Tabel 4.2 Perbandingan pengaruh waktu terhadap derajat grafting ... 26

Tabel 4.1 Bilangan gelombang HDPE murni ... 27

(11)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 polimerisasi polietilena ... 4

Gambar 2.2 penguraian benzoil peroksida ... 11

Gambar 2.3 Pembentukan Anhidrida maleat ... 12

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Hasil FTIR untuk Polietilena murni... 29 Lampiran 2 Hasil FTIR untuk

(13)

DAFTAR SINGKATAN

HDPE = HIGH DENSITY POLETHYLENE MA = Maleat Anhidrida

BPO = Benzoil Peroksida

FTIR = Fourier Transform Infrared Spektroskopy g = Grafting

(14)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Polietilena adalah salah satu polimer terbesar penggunaan dan produksinya pertahun.

Berdasarkan data Environmental Protection Agency ( EPA ) Amerika Serikat

diketahui bahwa penggunaan polietilena di Amerika tahun 1998 sekitar 45,5 % dari

total plastik yang digunakan yaitu sekitar 9136750 ton, sedangkan di Indonesia

berdasarkan Biro Pusat Statistik ( BPS ) 1.528.623 ton pada tahun 2004 dengan

perkiraan laju pertumbuhan tujuh sampai sembilan persen pertahun.

Dalam hal lain pencampuran polietilena dengan bahan polimer lain misalnya

pulp dan serat tandan kosong kelapa sawit untuk meningkatkan sifat degradasinya

cenderung tidak berlangsung secara homogen karena sifat kedua bahan polimer yang

mempunyai kepolaran yang berbeda. (Rosen, H. 1982) menyatakan bahwa

kompatibilitas olefin dengan bahan pengisi selulosa sangat rendah karena kepolaran

berbeda. Untuk meningkatkan kompatibilitas campuran polimer dapat dilakukan

dengan menggunakan bahan penghubung ( coupling agent ) yang dapat meningkatkan

(15)

Cara lain untuk memperkecil kepolaran adalah dengan teknik modifikasi

struktur bahan polimer ( Brown, 1992, Dedecker dan Groeninck, 1996 ), (Mousa

Ghaemy, 2002) telah melakukan modifikasi struktur polietilena dengan penambahan

maleat anhidrat secara grafting, dengan teknik refluks. Dengan menggunakan pelarut

toluene, pada waktu 30 menit, 60 menit, dan 90 menit.

Dalam penelitian ini akan dilakukan modifikasi struktur high density

polyethylene (HDPE) dengan maleat anhidrida dan inisiator benzoil peroksida dengan

cara pencampuran reaktif di dalam alat internal mixer pada suhu 1450 C dengan

variasi waktu.

1.2. Perumusan Masalah

Reaksi grafting dilakukan dengan pencampuran HDPE dan maleat anhidrida

dengan inisiator benzoil peroksida. Pencampuran dilakukan dengan variasi waktu

sehingga diperoleh derajat grafting hasil yang lebih tinggi . Akan tetapi efisiensi

pencangkokan maleat anhidrat dengan HDPE perlu ditingkatkan dengan bantuan

inisiator benzoil peroksida.

Dengan demikian permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

Bagaimana pengaruh waktu terhadap derajat grafting

1.3. Pembatasan Permasalahan

1. Dalam penelitian ini menggunakan perbandingan HDPE : maleat anhidrat :

benzoil peroksida adalah konstan yaitu ( 96% : 3% : 1%).

2. Pelarut yang digunakan Xylen, metanol, dan inisitor yang digunakan BPO

3. Waktu yang digunakan masing – masing 30 menit, 60 menit, 90 menit, 120

menit, 150 menit, pada suhu 145o C.

4. Karakterisasi dengan uji FTIR dan penentuan derajat grafting

(16)

Untuk mengetahui bagaimana pengaruh variasi waktu terhadap derajat

grafting.

1.5. Manfaat penelitian

Adapun hasil penelitian ini diharapkan menghasilkan HDPE yang bergugus

fungsi polar sehingga mempunyai kompatibilitas yang baik terhadap pencampuran

dengan bahan pengisi lain seperti serat selulosa. Manfaat lain untuk memberikan

informasi reaksi grafting antara maleat anhidrida dengan HDPE .

1.6. Lokasi penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di laboratorium polimer FMIPA USU dan

perekaman spektrum FTIR dilakukan di laboratorium bea cukai Belawan.

1.7. Metodologi penelitian

Adapun tahap – tahapnya adalah :

1. Reaksi grafting dari HDPE dengan maleat anhidrat dan inisiator benzoil

peroksida dalam hot mixer dengan variasi waktu 30 menit, 60 menit, 90 menit,

120 menit, 150 menit, pada suhu 145oC.

2. Uji karakterisasinya menggunakan spektrofotometer infra merah (FTIR) dan

derajat grafting

Variabel – variable yang digunakan adalah sebagai berikut :

1. Variabel bebas : Variasi waktu yang digunakan yaitu 30 menit, 60

menit, 90 menit, 120 menit, 150 menit

2. Variabel terikat : Infra merah (IR) gugus fungsi maleat anhidrat pada

(HDPE) derajat grafting maleat anhidrat pada HDPE.

3. Variabel tetap : Suhu 145o C

Perbandingan HDPE : MA : BPO ( 96% : 3% : 1%)

(17)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Polietilena

Polietilena dibuat dengan jalan polimerisasi gas etilen yang dapat diperoleh

dengan memberi hidrogen gas petrolium pada pemecahan minyak (nafta), gas alam

atau asetilena. Polimerisasi etilena ditunjukkan pada reaksi di bawah ini (Surdia,

Saito, 1995).

Gambar.2.1. Polimerisasi Etilena

C C

H

H

H

H

n C C

H H

. .

H H

(18)

Polietilen adalah salah satu dari poliolefin yang paling banyak digunakan

sebagai bahan dasar untuk pembuatan berbagai jenis peralatan rumah tangga dan

kemasan makanan maupun minuman.Pemanfaatannya yang sangat luas

dimungkinkan karena polimer ini memiliki banyak sifat-sifat yang bermanfaat antara

lain daya tahan terhadap zat kimia dan benturan yang baik, mudah dibentuk dan

dicetak, ringan dan harganya yang murah (Piasecki. 2000).

Akan tetapi, karena kekristalan dan sifat hidrofobnya yang tinggi, energi

permukaanya yang rendah, serta terbatasnya situs aktif yang ada pada permukaan PE,

membatasi pemanfaatan PE tersebut dalam beberapa bidang aplikasinya seperti

perekatan, pengecatan, dan pencetakan.Secara umum, beberapa sifat tertentu seperti

komposisi kimia, hidrofilitas, kekasaran, kekristalan, daya hantar listrik, daya adhesi,

dan kelumasan dibutuhkan untuk pemanfaatan polimer tersebut (Chaimbault,

P.Cassel, S .Clude, S. Debaig,C. 1999 ; Piasecki. 2000.). Untuk meningkatkan

kesesuaian sifatnya (compatibility), salah satu cara yang sudah dikembangkan adalah

dengan memodifikasi permukaan PE agar dapat berinteraksi dengan bahan lain

sehingga memenuhi persyaratan sesuai dengan peruntukan yang diinginkan

Polietilena adalah bahan termoplastik yang transparan, berwarna putih dan

mempunyai titik leleh yang bervariasi antara 110 – 137 oC. Umumnya polietilena

bersifat resisten terhadap zat kimia. Pada suhu kamar polietilena tidak larut dalam

pelarut organik dan pelarut anorganik, polietilena dapat teroksidasi di udara pada suhu

tinggi dengan sinar ultraviolet. Struktur rantai polietilena dapat berupa linear,

bercabang atau berikatan silang (Billmeyer.1984)

Salah satu metoda modifikasi yang diketahui efektif untuk memasukkan sifat-

sifat yang diinginkan ke dalam PE adalah teknik grafting (tempel/cangkok) Kelebihan

teknik grafting ini adalah PE dapat difungsionalisasi berdasarkan sifat yang dimiliki

oleh monomer yang terikat secara kovalen tanpa mempengaruhi struktur dasar PE.

Modifikasi suatu polimer dengan teknik grafting melibatkan pembentukan situs aktif

berupa radikal bebas atau ion terlebih dahulu pada polimer induk. Pembentukan situs

aktif pada polimer induk dapat dilakukan dengan dua cara, yakni metode kimia dan

metode fisika. Dengan metode kimia, radika terbentuk pada PE akibat abstraksi atom

(19)

(azobisisobutyronitrile), atau bahan pengoksidasi seperti garam cerium (Malcom, P. S.

1989)

Secara kimia polietilena sangat lembab. Polimer ini tidak larut dalam pelarut

apapun pada suhu kamar, tetapi menggembung oleh hidrokarbon dan tetraklorometana

(karbon tetra klorida). Polietilena tahan terhadap asam dan basa, tetapi dapat dirusak

oleh asam nitrat pekat. Polietilena tidak tahan terhadap cahaya dan oksigen

(Cowd.1991).

Jenis polietilena yang banyak digunakan adalah LDPE (low density

polyethylene) yang mempunyai rantai bercabang dan HDPE (high density

polyethylene) yang tidak mempunyai cabang tetapi merupakan rantai utama yang

lurus. LDPE bersifat lentur, ketahanan listrik yang baik, kedap air, lebih lunak

daripada HDPE. HDPE memiliki kecendrungan tidak tahan terhadap perubahan

cahaya sehingga mudah berubah warna oleh pengaruh cahaya matahari.

Tabel 2.1. Sifat Fisik dan Mekanik Polietilena

Sifat Fisik dan Mekanik LDPE Rantai Cabang HDPE Rantai Lurus

Berat jenis (g/cm 3) 0,91 – 0,94 0,95 - 0,97

Konstanta dielektrik 2,28 2,32

Resitivitas (ohm cm) 6 x 105 6x105

2.1.1. Sifat-sifat Kimia Polietilena

(20)

hidrokarbon aromatik dan larutan hidrokarbon yang terkloronasi diatas temperatur 70

o

C, tetapi tidak ada pelarut yang dapat melarutkan polietilena secara sempurna pada

temperatur biasa. Karena bersifat non polar polietilena tidak mudah diolah dengan

merekat. Perlu perlakuan tambahan tertentu secara oksidasi pada permukaan atau

pengubahan struktur permukaannya oleh sinar elektron yang kuat (Surdia, Saito,

1995).

2.1.2. Sifat-sifat listrik

Polietilena merupakan polimer non polar yang khas memiliki sifat-sifat listrik

yang baik terutama sangat baik dalam sifat khas frekuensi tinggi, banyak dipakai

sebagai bahan isolasi untuk radar, TV dan berbagai alat komunikasi.

Pada tahun 1953 Karl Ziegler,dari Jerman menemukan proses polimerisasi

dengan menggunakan katalis senyawa koordinasi antara alkil alumunium dengan

halida logam transisi dalam sintesis polietilena linier atau sintesis polietilena secara

polimerisasi radikal hanya menghasilkan rantai cabang yang tak reguler. Tidak lama

kemudian, Natta mengadakan modifikasi katalis yang digunakan oleg Ziegler untuk

mensinteisis polimer kristalin. Liner isotaktik tinggi dari monomer -Oleofin tak polar

misalnya propilena. Metode polimerisasi ini kemudian berkembang pesat dan sangat

penting artinya dalam industri sintesis poliolefin (Wirjosentono, 1996).

2.2. Plastisasi Polimer

Pemakaian bahan polimer untuk memenuhi setiap segi kebutuhan manusia

memerlukan bahan dengan sifat mekanis dari yang lunak dan ulet sampai yang keras

dan kuat. Beberapa jenis polimer dengan struktur kimia rantai yang berbeda akan

membentuk bahan dengan sifat mekanis yang berbeda pula. Akan tetapi untuk

mendapatkan suatu bahan dengan kekerasan tertentu pula rancangan struktur kimia

rantai sangat sulit dilakukan dan memerlukan biaya yang besar. Untuk itu dalam

pengolahan membentuk bahan-setengah-jadi/barang-jadi, ke dalam bahan polimer

murni biasanya ditambahkan suatu zat cair/padat untuk meningkatkan sifat

(21)

pemlastis. Di samping itu pemlastis dapat pula meningkatkan elastisitas bahan,

membuat lebih tahan beku dan menurunkan suhu-alir, sehingga pemplastis

kadang-kadang disebut juga dengan ekastikator antibeku atau pelembut. Jelaslah bahwa

plastisasi akan mempengaruhi semua sifat fisik dan mekanis polimer seperti kekuatan

tarik, elastisitas kekerasan, sifat listrik, suhu lair, suhu transisi kaca dan sebagainya

(Wirjosentono, 1995).

Adapun pemplastis yang sering digunakan merupakan golongan ftalat ester

seperti dimetil ftalat, dibutil ftalat, diheksil ftalat, dioktil ftalat dan didesil ftalat.

Menurut (Goudung, D. U. 2004.), plastisiser seperti DOP (dioktil flatat) yang

digunakan secara komersil bersifat racun dan karsinogenik.

Proses plastisasi polimer pada prinsipnya adalah dispersi molekul pemplastis

kedalam fasa polimer. Jika pemlastis mempunyai gaya interaksi dengan polimer,

proses dispersi akan berlangsung dalam skala molekul dan terbentuk larutan

polimer-pemlastis yang disebut dengan kompatibel.

Sifat fisik dan mekanis polimer-terplastisasi yang kompatibel ini akan

merupakan fungsi distribusi dari sifat komposisi pemplastis yang masing-masing

komponen dalam sistem. Bila antara pemplastis dengan polimer tidak terjadi

campuran koloid yang tak mantap (polimer dan pemplastis tidak kompatibel) dan

menghasilkan sifat fisik polimer berkualitas rendah. Karena itu, ramalan karakteristik

polimer yang terplastisasi dapat dilakukan dengan variasi komposisi pemlastis.

Jika terjadi interaksi polimer-polimer cukup kuat, maka molekul pemplastis

akan terdifusi kedalam rantai polimer (rantai polimer amorf membentuk satuan

struktur globular yang disebut bundle) menghasilkan plastisasi infrastruktur intra

bundle. Dalam Hal ini molekul pemlastis akan berada diantara rantai polimer dan

mempengaruhi mobilitas rantai yang dapat meningkatkan plastisasi sampai batas

kompatibilitas yaitu sejumlah yang dapat terdispersi (terlarut) dalam polimer. Jika

jumlah pemplastis melebihi batas ini, maka akan terjadi sistem yang heterogen dan

plastisasi melebihi tidak efisien lagi (Wirjosentono. 1995).

(22)

Sesuai teori ini gaya intermolekuler antara molekul – molekul pemplastis,

molekul – molekul polimer dan molekul – molekul pemlastis polimer harus seimbang

untuk menghasilkan gel yang stabil. Oleh karena itu polaritas pemplastis yang

mengandung satu atau lebih gugus polar dan non polar harus sesuai dengan polaritas

dari partikel polimer. Polaritas molekul pemplastis bergantung pada adanya gugus –

gugus yang mengandung oksigen, posfat dan sulfur. Pemplastis – pemplastis yang

mengandung gugus ester polar, fenil terpolarisasi dan alkil nonpolar dapat juga

bertindak sebagai gugus yang menyelubungi polimer. Namun orientasi dan arah gugus

– gugus polar pemplastis menentukan interaksinya dengan dipol – dipol polimer

(Meier.1990).

2.4. Kompatibilitas

Kompatibilitas pemplastis dengan bahan polimer adalah hal yang penting.

Kompatibilitas yang baik menunjukkan campuran pemlastis dan polimer yang stabil

dan homogen. Kompatibilitas campuran ditentukan oleh interaksi molekul polimer –

pemplastis, bahan aditif, tekanan, suhu, kelembaban dan cahaya.

Kompatibilitas campuran dapat ditentukan melalui panas reaksi campuran,

transisi gelas, morfologi, sifat mekanikal dinamis secara viskosimetrik

(Chattopadhyay.2000). Pemlastis bisa saja kompatibel pada suhu proses namun dapat

keluar kembali dari polimer (blooming) pada suhu kamar. Polimer pemplastis selalu

berada dalam kesetimbangan dinamis pada suhu tertentu, begitu Suhu berubah

efektifitas gaya – gaya juga berubah. Pada kondisi normal, difusi selalu terjadi yaitu

sejumlah tertentu pemlastis berada di permukaan polimer karena kesetimbangan

adsorpsi/ desorpsi antara polimer dan pemlastis terganggu (Zhong.dkk.1998).

Proses pemplastis, prinsipnya adalah terjadinya dispersi molekul pemplastis ke

dalam fase polimer. Bilamana pemplastis mempunyai gaya interaksi dengan polimer,

proses dispersi akan berlangsung dalam skala molekul dan terbentuk larutan polimer

pemlastis sehingga keadaan ini disebut kompatibel. Interaksi antara pemlastis –

polimer ini sangat dipengaruhi oleh sifat afinitas kedua komponen. Kalau afinitas

(23)

disini molekul pemlastis akan berada diantara rantai polimer dan mempengaruhi

mobilitas rantai (Efendi,2001).

Sifat fisik dan mekanis yang terplastisasi merupakan fungsi distribusi dari sifat

dan komposisi masing – masing komponen dalam sistem, karenanya ramalan

karakterisasi polimer yang terplastisasi mudah dilakukan dengan variasi komposisi

pemlastis. Secara umum variasi jumlah pemlastis akan efektif (mempunyai efek

plastisasi) sampai bahan kompatibel. Hasil analisis mekanik yang dilakukan

menunjukkan bahwa membran – membran yang lebih kuat dan lebih liat (kenyal)

dihasilkan ketika sedikit pemplastis yang digunakan dalam membran. Hasil uji

pemplastis ini menunjukkan bahwa pemplastis yang mempunyai berat molekul yang

relatif rendah akan memperbaiki kekuatan dan keliatan membran. Ketika sejumlah

kecil pemplastis ditambahkan pada suatu polimer, pemplastis ini akan menyebabkan

molekul polimer bergerak ke dalam konfigurasi energi yang lebih rendah. Dalam

konfigurasi ini molekul – molekul menjadi kurang bergerak, dengan demikian akan

meningkatkan kekuatan dan keliatan yang baik dari polimer. Sebaliknya jika

pemplastis yang ditambahkan terlalu banyak molekul – molekul polimer banyak

bergerak, akibatnya terjadi penurunan kekuatan dan keliatan polimer (Nirwana,2001).

2.5. Pemplastis Polimer

Persyaratan mendasar yang harus dipenuhi oleh pemplastis adalah bahwa

semua gaya intermolekuler antara pemplastis-pemplastis, polimer-polimer dan antara

pemplastis-polimer harus berada dalam besaran yang sama.Untuk mejadi pemplastis

yang efisien maka suatu senyawa dengan berat molekul rendah harus memiliki afinitas

yang cukup untuk mengatasi interaksi antara polimer-polimer dengan cara mensolvasi

polimer pada titik kontak interaksi. Untuk memberikan fleksibilitas yang baik pada

suhu rendah, senyawa ini juga harus memiliki mobilitas yang cukup untuk

berpartisipasi dalam kesetimbangan sistem dan harus dapat berdifusi melalui sistem

tersebut. ( Rudin, 1982 ).

(24)

dalam resin yang keras atau kaku, sehingga akumulasi gaya antarmolekul, pada rantai

panjang akan menurun, akibat kelenturan, pelunaka dan pemanjangan resin akan

bertambah (Finar,I.L.1986). Dengan berkurangnya gaya antar molekul, menyebabkan

gerakan bagian rantai lebih mudah bergerak, akibatnya bahan yang tadinya keras

(kaku) akan menjadi lembut pada suhu kamar (Cowd, 1991).

2.6 Inisiator

Inisiator sering digunakan untuk membentuk radikal bebas

Table 2.2 Nomenklatur dari peroxide compounds

Nama Campuran yang Umum

Alkil peroksida RO OR

Acil peroksida

Alkoksil radikal RO.

Alkil peroksi radikal ROO.

(25)

Benzoloksil φ-CO2·

Benzoilperoksi φ-C(O)O2·

Kebanyakan polimer sintetik secara komersil dapat dihasilkan melalui proses

polimerisasi reaksi rantai yang kadang-kadang disebut polimerisasi adisi. Penggunaan

terbanyak dari inisiator organik seperti benzoil peroksida sering digunakan sebagai

perekat yang bagiannya sama dari suatu inisiator dan suatu cairan seperti dibutil flatat.

Peroksida organik mudah diuraikan dan peroksida organik harus dipegang hati-hati.

Peruraian mereka mungkin dipercepat dengan pemanasan. Penambahan dalam jumlah

sedikit dari amina tersier seperti :{ C6H6N(CH2)2} atau N,N – dimetil anilin atau

dengan garam-garam organik dari logam-logam kuat seperti kobal naphthenat.

Kemantapan relatif dari peroksida organik biasanya dinyatakan dalam waktu paruh,

rata-rata peruraian pada beberapa temperatur spesifik adalah sebanding untuk

konsentrasi dari pemicu / inisiator dan waktu paruhnya. (Seymour, 1975 )

2.6.1 Benzoil Peroksida

Kebanyakan pemicu yang digunakan secara luas adalah radikal bebas yang dihasilkan

dari peruraian peroksida. Peroksida organik seperti benzoil peroksida diuraikan

dengan mudah untuk menghasilkan radikal bebas benzoil. Kemudian radikal bebas

benzoil diuraikan untuk membentuk karbon dioksida (CO2) dan radikal bebas fenil

dapat digambarkan sebagai berikut

(26)

Gambar 2.2 Penguraian Benzoil peroksida

Radikal bebas fenil itu kemudian ditambahkan ke sebuah monomer vinil seperti

stirena (C6H5CH=CH2). Untuk menghasilakn sebuah radikal bebas yang baru dapat

merambat (propagasi) dengan monomer-monomer vinil lainnya. (Parker, 1994)

2.7. Asam Maleat Anhidrat

Anhidrat maleat dengan berat molekul 98,06, larut dalam air, meleleh pada

temperatur 57- 60 0C, mendidih pada 202 0C dan spesifik grafiti 1,5.

Anhidrat maleat adalah senyawa vinil tidak jenuh merupakan bahan mentah

dalam sintesa resin polieste, pelapisan permukaan karet, deterjen, bahan aditif dan

minyak pelumas, plastisizer dan kopolimer. Anhidrat maleat mempunyai sifat kimia

khas yaitu adanya ikatan etilenik dengan gugus karbonil didalamnya, ikatan ini

berperan dalam reaksi adisi.( Arifin, 1996 )

Dalam penelitian ini maleat anhidrat diharapkan menempel ( tergrafting ) pada

polimer polietilena dengan variasi waktu yang maksimum, sehingga polimer yang

bersifat non polar dapat berubah menjadi sedikit polar sehingga dapat dihasilkan

suatu produk yang lebih baik.

Anhidrida maleat masih digunakan dalam penelitian polimer. Anhidrida

maleat dapat dibuat dari asam maleat, seperti reaksi dibawah ini :

(27)

O + 2 CH3COOH

HC C O

Gambar 2.3 Pembentukan Anhidrida Maleat

Adapun beberapa gambaran sifat-sifat maleat anhidrat dapat di jelaskan dalam tabel

berikut ini Tabel : 2.3. sifat – sifat maleat anhidrat

Deskripsi Berwarna atau padatan putih

Bentuk molekul C4H2O3

Berat molekul 98.06 g/mol

Titik didih 202 oC

Titik cair 52.8 oC

Tekanan 0,1 torr 25 oC

Kelarutan Larut dalam air, eter, asetat,

kloroform, aseton, etil asetat,

benzena.

HSDB., (1995).

2.7.1. Asam maleat

Asam maleat atau Asam (Z)-butenadioat atau asam toksilat adalah

yang merupakan

berikatan dengan dua gugus asam karboksilat. Asam maleat adalah

asam butenadioat, sedangkan

kurang stabil; perbedaa

maleat sangatlah berbeda dengan asam fumarat. Asam maleat larut dalam air,

sedangkan asam fumarat tidak; titik lebur asam maleat adalah (130-139°C), juga lebih

(28)

dengan

dikarboksilat. Dalam bidang industri, asam maleat diturunkan dari

dengan

prose

Gambar 2.4 Asam Maleat

Wikipedia Bahasa Melayu, ensiklopedia bebas.

2.8. Proses Reaksi Grafting

Berlangsungnya reaksi ini dalam ekstruder ialah :

 Granul polimer dilelehkan pada daerah awal umpan ekstrudernya.

 Katalis Peroksida diinjeksikan kedalam ekstruder, membentuk loka aktif pada rantai utama polimer.

 Monomer diinjeksikan kelelehan tadi, terkadang katalis dan monomernya tercampur.

 Komponen-komponen dicampur dengan laju geser tinggi.

 Monomer dan produk samping dikeluarkan dari campuran lelehan pada daerah pengatsiran vakum.

 Lelehan reaksi diekstruksi dan dipeletkan sebagai bahan baku granul dan dibentuk menjadi produk akhir.

Hartomo, A.J., (1993),

2.9. Analisa Spektrofotometri Infra merah (IR)

Merupakan suatu cara untuk menentukan dan merekam hasil spekta residu dan

serapan infra merah didefinisikan sebagai daerah yang memiliki panjang gelombang

dari 1 – 500 µ. Setiap gugus dalam molekul mempunyai karakteristik sendiri, maka

(29)

polimer. Intensitas pita serapan adalah uluran konsentrasi di gugus yang khas yang

dimiliki oleh polimer (Seymour, 1975)

Intrumen yang digunakan untuk mengukur resapan radiasi infra merah pada

berbagai panjang gelombang disebut spektrofometer infra merah. (Fessenden, F.,

1997)

Alat spektrofotometer infra merah pada dasarnya terdiri dari komponen –

komponen pokok yang sama dengan alat spektrofotometer ultra lembayung dan sinar

tampak, yaitu terdiri dari sumber sinar, monokromator berikut alat – alat optik seperti

cermin dan lensa, sel tempat cuplikan, detektor amplifier dan alat dengan skala

pembacaan atau alat perekam spektrum (recorder) akan tetapi disebabkan kebanyakan

bahan dalam menstransmisikan radiasi infra merah berlainan dengan sifatnya dalam

menstransmisikan radiasi ultra lembayung, sinar tampak, sifat dan kemampuan

komponen alat tersebut diatas berbeda untuk kedua jenis alat spektrofotometer itu.

Keuntungan pemakaian sistem berkas rangkap pada alat spektrofotometer

adalah :

1. Memperkecil pengaruh penyerapan sinar infra merah oleh CO2 dan uap air dari

udara.

2. Sistem berkas rangkap mengurangi pengaruh ketidak stabilan pancaran sumber

sinar dan detektor.

3. Mengurangi pengaruh hamburan (scattering) sinar infra merah oleh partikel –

partikel debu yang ukurannya mendekati nilai rata – rata panjang gelombang

infra merah.

4. Kalau blanko yang digunakan adalah pelarut dari cuplikan dengan sistem

berkas rangkap itu pita – pita serapan pelarut tidak akan timbul pada spektrum

yang direkam.

5. Perekaman otomatis dapat dilakukan (scanning). (Noerdin, D., 1985).

Sistem analisa spektroskopi infra merah (IR) telah memberikan keunggulan

dalam mengkarakterisasi senyawa organik dan formulasi material polimer. Analisa

infra merah (IR) akan menentukan gugus fungsi dari molekul yang memberikan

(30)

dengan membandingkan spektrum yang telah dikenal. Pita serapan yang khas

ditunjukan oleh monomer penyusun material dan struktur molekulnya.

Umumnya pita serapan polimer pada spektrum infra merah (IR) adalah

adanya ikatan C-H regangan pada daerah 2880 cm-1 yang sampai 2900 cm -1 dan

regangan dari gugus fungsi lain yang mendukung suatu analisa material. (Hummel,

D.O., 1985).

Sistem analisis spektroskopi IR telah memberikan keunggulan dalam

mengkarakterisasi senyawa organik dan susunan materi polimer. Analisa IR akan

menentukan gugus fungsi dari molekul yang memberikan regangan pada daerah

serapan inframerah. Tahap awal identifikasi bahan polimer, maka harus diketahui pita

serapan yang karakteristik untuk masing-masing polimer dengan membandingkan

spektrum yang telah dikenal.

Pita serapan yang khas ditunjukkan oleh monomer penyusun material dan

struktur molekulnya. (Hummel, D.O 1985)

Tabel 2.4 Korelasi gugus fungsional untuk polietilena termodifikasi

Graft Monomer Gugus fungsionil Ir Peak ( s ) ( cm-1 )

(31)

BAB 3

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat

Adapun alat-alat yang digunakan adalah sebagai berikut :

(32)
(33)

Dihidupkan alat Internal Mixer selama 1 jam sampai suhu mencapai 145o C

3.2.2 Preparasi Sampel

Ditimbang HDPE , MA, BPO masing –masing sesuai dengan perbandingan berikut

dalam jumlah massa total 30 g :

Sampel HDPE ( % ) MA ( % ) BPO ( %)

1 96 3 1

2 96 3 1

3 96 3 1

4 96 3 1

5 96 3 1

- Massa HDPE masing – masing 28,8 g

- Massa asam maleat anhidrat masing – masing 0,9 g

- Massa benzoil peroksida masing – masing 0,3 g

3.2.3 Proses Grafting

1. Dimasukkan Sampel I HDPE kedalam alat internal mixer.

2. Dihidupkan strirer pada alat dan setelah 5 menit kemudian barulah

dimasukkan maleat anhidrat dan benzoil peroksida dan diamati sampai

bercampur selama 30 menit.

3. Setelah bercampur alat internal mixer dimatikan lalu dikeluarkan hasilnya dan

didinginkan dengan penambahan es batu pada suhu kamar.

4. Prosedur yang sama dilakukan untuk sample berikutnya dengan variasi waktu

masing – masing 60 menit, 90 menit, 120 menit, 150 menit.

(34)

1. Polimer HDPE yang sudah tergrafting hasil dari internal mixer ditimbang 1

gram

2. kemudian direfluks dengan 100 ml xylen, dan dipanaskan hingga larut

3. Setelah larut ditambahkan aseton untuk membentuk endapan, lalu disaring

dengan kertas saring wathman yang terhubung dengan pompa vakum

4. Dicuci berulang-ulang dengan metanol.

5. Endapan yang diperoleh dikeringkan dalam Oven pada suhu 1200 C

6. Endapan yang sudah kering kemudian direfluks kembali dengan 100 ml xylen,

dan dipanaskan hingga larut.

7. Ditambahkan 1 tetes air dan direfluks 15 menit

8. Ditambahkan indikator fenofthalin 1 %

9. Lalu dititrasi dengan 0,05 N KOH dalam keadaan panas.

10.Titrasi dihentikan bila terjadi perubahan warna dari putih menjadi merah

jingga

11.Dicatat volume titran KOH yang terpakai dan dihitung derajat graftingnya

(MAH % ).

3.2.5 Pembuatan larutan KOH 0,05 N

Ditimbang 2,8 g KOH dilarutkan dengan metanol kemudian dimasukkan

kedalam labu takar 1000 ml sehingga diperoleh larutan KOH 0,05 N dalam

methanol

3.2.6 Uji Spektroskopi FTIR

Endapan kering yang diperoleh dari hasil refluks dengan derajat grafting

paling banyak di cetak tekan panas pada suhu 145 0 C akan didapat film

campuran polimer. Film spesimen ini dijepit pada tempat sampel kemudian

diletakkan pada alat kearah sinar infra merah. Hasil akan direkam pada kertas

berskala aluran kurva bilangan gelombang terhadap intensitas, hasilnya akan

(35)

3.3. Bagan Penelitian 3.3.1 Campuran Polimer

Dimasukkan Sampel I kedalam alat internal

mixer

Dihidupkan stirer dan ditambahkan asam maleat

anhidrat serta benzoil peroksida

Diamati sampai sample bercampur

Dilakukan hal yang sama untuk sampel

berikutnya dengan variasi waktu

3.3.2 Menghitung Derajat Grafting

Dilarutkan dengan 100 ml xylen

Direfluks dan dipanaskan Polimer ( HDPE)

Campuran HDPE tergrafting

1 gram HDPE tergrafting

(36)

Disaring dan dicuci kembali dengan metanol

20ml

Dikeringkan di dalam Oven pada suhu 1200C

Selama 6 jam

Direfluks dengan 100 ml xylen, dan dipanaskan

hingga larut

Ditambahkan 1 tetes air dan direfluks kembali

15 menit

Ditambahkan indikator PP 1 %

Dititrasi dengan KOH 0,05 N dalam metanol

pada keadaan panas

Titrasi dihentikan bila perubahan warna dari

putih menjadi merah jingga

Dicatat volume titran dan dihitung derajat

graftingnya ( MAH % )

3.3.3 Uji kualitatif dengan metode FTIR

Di masukkan kedalam alat Press untuk dibentuk menjadi film

Waktu 15 menit Suhu 145 0C Endapan Basah

Endapan kering

Larutan Sampel

(37)

Dimasukkan kedalam alat FTIR

Uji kualitatif HDPE-g-MA dengan metode FTIR

Di masukkan kedalam alat Press untuk dibentuk menjadi film

Waktu 15 menit Suhu 145 0C

Dimasukkan kedalam alat FTIR

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

FILM HDPE MURNI

PEREKAMAN DAN KARAKTERISASI FTIR

Endapan kering HDPE Tergrafting yang telah dikeringkan dalam oven

FILM HDPE-g-MA

(38)

Pada penelitian ini pencampuran antara HDPE dengan Maleat anhidrat dan

BPO dengan variasi waktu penggraftingan menghasilkan campuran dengan variasi

komposisi seperti dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.1 data hasil pencampuran polimer

(39)

Grafik 4.1.1 Derajat Grafing (MAH %) vs Waktu

4.2 PERHITUNGAN

Sampel 1 :

Bilangan asam = 1,1 x 0,05 x 56,1

Sampel 1 : Derajat Grafting =

0,915

= 3,37

3,37 x 98

112,2 Bil. asam = ml KOH x N KOH x 56,1

Berat endapan

MAH = No. asam x 98 2 x 56,1

(40)

4.3 PEMBAHASAN

Reaksi radikal bebas dari monomer kedalam hidrokarbon ( polyolefin ) adalah jenis

inisiasi melalui alkoksi radikal yang dibentuk dari dekomposisi peroksida.

Pencangkokan maleat anhidrat kedalam HDPE terjadi ketika polimer tersebut menjadi

radikal.

4.3.1 Pengaruh Waktu Terhadap Derajat Grafting

Pengaruh waktu terhadap Derajat Grafting tertera pada tabel berikut:

Tabel 4.2. Perbandingan pengaruh waktu Terhadap Derajat Grafting

Waktu Derajat Grafting ( % )

Pengaruh variasi waktu terhadap derajat grafting tertera pada tabel 4.2 Pada

penelitian ini, penentuan derajat grafting dilakukan dengan metode titrasi. Dari tabel

4.2 diperoleh pada waktu 30 menit derajat graftingnya 2,95 % kemudia persentase

derajat grafting terus bertambah pada posisi 60 menit dan mencapai titik puncak

hingga pada waktu 90 menit. Ini menunjukkan bahwa kenaikan derajat grafting

disebabkan oleh formasi cross-lingking polimer, dan poli (maleat anhidrat )

bertambah. Hasil ini didukung oleh Gaylor dan Cowoker yang telah meneliti proses

grafting maleat pada polietilena.

Persentase derajat grafting mulai konstan setelah melewati waktu 90 menit sampai

pada waktu 150 menit. Ini disebabkan oleh karena terjadinya homopolimerisasi, yang

menyebabkan monomer –monomer maleat anhidrida cenderung membentuk diri

(41)

oleh Mousa Ghaemy, Solaimon Roohina ( 2002 )yang telah meneliti proses grafting

maleat pada polietilena.

4.4 Analisa FTIR campuran polietilena/ Maleat Anhidrat/ Benzoil Peroksida

Penerapan spektroskopi infra merah dalam penelitian polimer mencakup dua

aspek yaitu aspek kualitatif dan aspek kuantitatif. Penelitian ini lebih menekankan

aspek kualitatif karena berupa penentuan struktur dengan cara mengamati frekuensi –

frekuensi yang khas dari gugus fungsi spectra FTIR yang didapat yaitu dengan cara

membandingkan spektra polietilena murni dengan spektra campuran High Density

Polyethilene (HDPE) dengan maleat anhidrat dan benzoil peroksida yang dapat dilihat

pada lampiran

Bilangan Gelombang FTIR HDPE murni dapat dilihat sebagi berikut :

Tabel 4.1 Bilangan Gelombang High Density Polyethilene (HDPE) murni

Sampel Bil Gelombang ( cm -1 ) Gugus Fungsi

Polietilena ( HDPE )

2851,0- 2926 CH2

1462,97-1472,83 C – H

3607,77 OH

Bilangan gelombang FTIR campuran HDPE dengan maleat anhidrat dan

benzoil peroksida

Tabel 4.2 Bilangan Gelombang HDPE + MA + BPO

Sampel Bil Gelombang ( cm -1 ) Gugus Fungsi

Polietilena ( HDPE )

(42)

Dapat dilihat pada tabel 4.2 hasil spektra FTIR menunjukkan telah terjadi interaksi

antara HDPE, MA dan BPO yang terlampir dalam gambar. Hal ini ditunjukkan

dengan munculnya puncak serapan bilangan gelombang 2916,58 cm-1 khas untuk CH2

dari HDPE dan maleat anhidrat yang didukung puncak serapan bilangan gelombang

pada daerah 1731,91 dan, 1897,33 cm-1 ( serapan gugus karbonil )dari anhidrida

maleat dan munculnya bilangan gelombang 1641,94 cm-1 untuk C=C dari anhidrat

maleat menunjukkan terbentuknya ikatan rangkap karena adanya radikal dari benzoil

(43)

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

Waktu yang paling optimum untuk derajat grafting dengan HDPE adalah pada

waktu 90 menit.

5.2 SARAN

Dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan inisiator lain seperti

methyl, metoxyl, acethyl dan juga monomer lain seperti anhidrida asetat atau

(44)

DAFTAR PUSTAKA

Al-Malaika, S. And Scott, G. 1983. In Degradation and Stabilisation of Polyolefins.

Allen, N. S., (ed). Aplied Science Publisher. London.

ASTM D-638-72 Type IV. 1990. Standard Test Method for Tensile Properties of

Plastic.

Billmeyer, Jr. F. W. 1984. Textbook of Polymer Science. 3rd ed. Jhon Wiley & Sons

Inc. New York

Brown. 1992. S. B. 1993. Strategies for Compatibilization of Immiscible Polymer

Blends. In Proceeding of 34th IUPAC International Symposium on

Macromolecule. Prague.

Chaimbault,P.Cassel,S.Clude,S.Debaig,C.1999. Direct Analysis of Industrial

Oligoglycerols by Liquid Chromatography with Evaporative Light – Scattering

Detection of Mass Spectrometry. Short Communation Chromatografia. Vol 51

Chattopadhyay, S. 2000. Compability Studies on Solution of Polymer Blends by

Viscometric and Phase Separation Technique. J. Appl. Polym. Sci. hal

888-889.

Cowd,M.A.1991.Kimia Polimer .Penerbit ITB.Bandung

Efendi,H.M. 2000. Modifikasi dan Penggunaan Pemlastis Turunan Asam Oleat pada

Matriks Polivinil Klorida. Tesis Program Pasca Sarjana USU.Medan.

Fessenden, F., 1997. Kimia Organik . Edisi ketiga. Erlangga. Jakarta.

Finar,I.L.1986. Organic Chemistry. Mc Graw. Volume 1, 6 th Ed. Longman

Inc.NewYork.

Goudung,D.U.2004.Catalytic Epoksidation Of Methyl Lindeate, J.Am.Oil.Chem.Socs.

Vol.81.No.4

Grasie, N. And G. Scott. 1985. Polymer Degradation & Stabilisation. 1st ed.

Cambridge University Press. Cambridge.

Hartomo, A.J.. 1993. Politeknik Pemrosesan Polimer Praktis . Andi Offset,

(45)

Hummel, D.O.1985 Infrared Spectra Polymer in The Medium And Long Wavelength

Region . Jhon Willey & Sons, London.

HSDB..1995. Hazardous Substance Data Bank National Library of Medicine . edisi

7/31/95, Micromedex Inc, Bethesda

Malcom, P. S. 1989. Kimia Polimer. Terjemahan Paramita. Jakarta.

Meier, L. Plastic Additives Handbook. 3rd ed. Hanser Publisher. Munich. Germany.

Noerdin, D.1985. Elusidasi Struktur Senyawa Organik Dengan Cara Spektroskopi

Ultra Lembayung dan Infra Merah . angkasa. Bandung

Nirwana.2001. Pengikatan Asam Lemak Jenuh dan Tak Jenuh dalam Matriks Polivinil

Klorida. Tesis Program Pasca Sarjana USU.Medan.

Piasecki. 2000. Synthesis And Surface Properties Of Chemodegradable Anionic

Surfactans Diastreomeric (2-N-Alkyl-1,3-Dioxan-5-yl) Sulafates.

J.Am.Oil.Chem.Socs.Vol.74,1

Rosen, H. 1982. Fundamental Principles of Polymeric Materials. Jhon Willey and

Sons. New York.

Rudin.A.1982. The Elements of Polymer Science and Engineering. Academic Press Inc.London ltd.

Surdia, Saito. 1995. Pengetahuan Bahan Teknik. Pradnya Paramita. Jakarta.

Wikipedia Bahasa Melayu, ensiklopedia bebas.

Wirjosentono, B,1995. Perkembangan Industri Polimer di Indonesia. Orasi Ilmiah

Lustrul VI. FMIPA USU. Medan.

Wirjosentono, B. 1996. Compatibilisation of Pulp Filler on Polyethylene Matrix. in

Procedding of International workshop on Green Polymer, Bandung. Bogor,

247.

Zhong, Zhikai, Sixun Zheng, Kejia Yang and Qipeng Guo. 1998. Miscibility Phase

Behavior and Mechanical Properties of Ternary Blends of Poly(Vinyl

Cholride/Plystyrene/Chlorinated Polyethylene-Graft Polystyrene. J. App.

(46)
(47)

Gambar

Table 2.2 Nomenklatur dari peroxide compounds ........................................
Gambar 2.1 polimerisasi polietilena .............................................................
Gambar.2.1. Polimerisasi Etilena
Tabel 2.1. Sifat Fisik dan Mekanik Polietilena
+7

Referensi

Dokumen terkait

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh waktu sintering terhadap sifat fisik dan kekuatan tarik material komposit. antara High Density Polyethylene

Perubahan sifat dari polipropilena murni dan PP-g-MA sebelum dan sesudah pemurnian dengan derajat grafting maksimum diduga karena adanya proses degradasi yang

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai penggunaan limbah karet industri dan high density polyethylene (HDPE) bekas dalam campuran aspal dan pasir

Perubahan sifat dari polipropilena murni dan PP-g-MA sebelum dan sesudah pemurnian dengan derajat grafting maksimum diduga karena adanya proses degradasi yang

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai penggunaan limbah karet industri dan high density polyethylene (HDPE) bekas dalam campuran aspal dan pasir

Studi ini dilakukan untuk mendapatkan karakteristik tegangan tembus material isolasi polimer jenis high density polyethylene (HDPE) yang diberi perlakuan stress mekanik dengan

Penambahan linear low density polyethylene (LLDPE) ke dalam bahan utama yaitu high density polyethylene (HDPE) pada penelitian ini diharapkan dapat diperoleh jerigen yang

i PERBANDINGAN KOMPOSISI LIMBAH HDPE HIGH DENSITY POLYETHYLENE DAN SERAT RUMPUT PAYUNG SEBAGAI KOMPOSIT TERHADAP KUAT TEKAN DAN KEKERASAN SKRIPSI Bidang Studi Material Ditujukan