• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat Pengetahuan dan Sikap Perawat Tentang Pengurangan Bahaya Fisiologis Imobilisasi pada Pasien Stroke di Ruang RA4 RSUP H. Adam Malik Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Tingkat Pengetahuan dan Sikap Perawat Tentang Pengurangan Bahaya Fisiologis Imobilisasi pada Pasien Stroke di Ruang RA4 RSUP H. Adam Malik Medan"

Copied!
113
0
0

Teks penuh

(1)

RSUP H. Adam Malik Medan

SKRIPSI

Oleh Puspa A Sihaloho

111101035

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

RSUP H. Adam Malik Medan

SKRIPSI

Oleh Puspa A Sihaloho

111101035

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)
(4)
(5)

RSUP H. Adam Malik Medan

Nama : Puspa A Sihaloho

NIM : 111101035

Program : Sarjana Keperawatan

Tahun : 2015

Abstrak

Stroke adalah penyakit atau gangguan fungsional otak berupa kelumpuhan saraf akibat terhambatnya aliran darah ke otak. Kelumpuhan pada pasien stroke mengakibatkan imobilisasi. Setiap sistem tubuh beresiko terjadi gangguan jika terjadi perubahan mobilisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi pada pasien stroke dengan menggunakan desain penelitian deskriptif. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juni 2015 yang melibatkan 16 orang

perawat dengan metode pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 9 orang responden (56,2%) memiliki tingkat pengetahuan baik, 7 orang responden (43,8%) memiliki tingkat pengetahuan cukup dan 0 responden memiliki tingkat pengetahuan kurang. Sedangkan untuk sikap diperoleh bahwa hampir seluruh responden yaitu 15 orang responden (93,8%) memiliki sikap positif dan hanya 1 orang responden (6,2%) memiliki sikap negatif. Perawat diharapkan dapat aktif dan selalu berinisiatif untuk mendapatkan informasi atau pengetahuan baru tentang perkembangan ilmu keperawatan khususnya tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi pada pasien stroke. Saran untuk Rumah Sakit adalah agar meningkatkan kualitas tenaga kesehatan Indonesia khususnya perawat demi tercapainya kualitas pelayanan kesehatan yang prima.

(6)

Medan

Name of Student : Rinata Br. Panjaitan

Std. ID Number : 111101072

Department : S1 (Undergraduate) Nursing

Academic Year : 2014-2015

ABSTRACT

Breast cancer is the most common disease found in women. Breast cancer and its treatment give impact to the physical and psychological condition of the patients. This impact influences the quality of the patients’ life. Furthermore, life quality is individual perceptions about life viewed from four domains such as physical, psychological, social, and environmental domain. The study in this research is aimed at identifying the life quality of women diagnosed with breast cancer who were being hospitalized at Central General Hospital of Haji Adam Malik Medan. This research applied analytical descriptive method and purposive sampling technique. The data were collected through interviews using questionnaires consisting of demographical data questionnaire and World Healt Organization Wualiti of Life questionnaire (WHOQOL – BREF) that have gone through the validity test by Wulandari (2004) whose samples were 30 women with breast cancer. The results of this research show that the quality of the hospitalized patients with breast cancer at Central General Hospital of Haji Adam Malik Medan is categorized into good quality (83.3%). Finally, it is suggested to the nurses to provide a holistic nursing care to the patients in order to improve the quality of the patients’ life.

(7)

Puji dan syukur kepada Allah Bapa di surga karena berkat dan kasih

karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Tingkat

Pengetahuan Dan Sikap Perawat Tentang Pengurangan Bahaya Fisiologis

Imobilisasi Pada Pasien Stroke di Ruang RA4 RSUP H. Adam Malik Medan”.

Selama mengerjakan skripsi ini penulis mendapatkan banyak bantuan dan

dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis

menyampaikan terima kasih kepada:

1. Dekan Fakultas Keperawatan Bapak dr. Dedi Ardinata, M.Kes, Ibu

Erniyati, S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan I, Ibu Evi Karota Bukit,

S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan II, Bapak Ikhsanuddin Ahmad

Harahap, S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan III.

2. Bapak Achmad Fathi S.Kep, Ns.,MNS selaku dosen pembimbing

akademik yang telah memberikan begitu banyak bimbingan dan arahan

selama saya mengikuti perkuliahan di Fakultas Keperawatan.

3. Ibu Fatwa Imelda S.Kep, Ns, M.Biomed selaku dosen pembimbing yang

telah menyediakan waktu dan memberi saran serta kritik yang bermanfaat

kepada saya dalam penyusunan skripsi ini.

4. Ibu Nur Asiah, S.Kep, Ns, M.Biomed selaku dosen penguji I dan Ibu

Nurbaiti, S.Kep, Ns, M.Biomed selaku dosen penguji II yang bersedia

menguji saya dan memberikan masukan untuk perbaikan penyusunan

(8)

Tarigan S.Kp, M.Kes selaku dosen Fakultas Keperawatan yang telah

menguji validitas kuesioner tingkat pengetahuan dan sikap perawat serta

memberikan tanggapan dan saran kepada penulis.

6. Kepada seluruh dosen Fakultas Keperawatan yang telah mendidik penulis

selama proses perkuliahan dan staf non akademik yang telah membantu

memfasilitasi secara administrasi.

7. Seluruh keluarga tercinta, Ayahanda F Sihaloho, Ibunda L Sianturi, serta

saudara-saudari saya (Kak Jenny, Kak Melda, Bang Jhonson, Kak Ester,

Adik Asri dan Adik Risna) atas setiap dukungan doa, daya dan dana yang

diberikan.

8. Saudari KTB saya (Kak Junita, Tetty, Renta, Rinata, Ria dan Ira), terima

kasih untuk doa dan semangat yang diberikan.

9. Teman-teman seperjuangan Fkep stambuk 2011 terimakasih untuk

bantuan dan semangat yang telah diberikan.

10.Pihak RSUP H. Adam Malik Medan yang telah memberikan saya izin

untuk melakukan penelitian dan memberikan informasi terkait dengan

penelitian.

11.Pihak RSU Pirngadi yang telah memberikan saya izin untuk melakukan uji

reliabilitas penelitian.

12.Kepada seluruh pihak yang tidak dapat saya sebutkan namanya satu per

(9)

yang telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini, dan semoga skripsi ini

bermanfaat bagi dunia keperawatan.

Medan, Agustus 2015

(10)

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN ORISINALITAS... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

ABSTRAK ... iv

PRAKATA ... vi

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL... xi

DAFTAR SKEMA ... xii

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

1. Latar belakang ... 1

2. Rumusan masalah ... 5

3. Pertanyaan penelitian ... 5

4. Tujuan penelitian ... 5

5. Manfaat penelitian ... 6

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 7

1. Pengetahuan ... 7

1.1 Definisi pengetahuan ... 7

1.2 Jenis pengetahuan ... 7

1.3 Tingkat pengetahuan ... 9

1.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan ... 10

1.5 Pengukuran pengetahuan ... 12

2. Sikap... 13

2.1 Definisi sikap ... 13

2.2 Komponen pokok sikap ... 12

2.3 Tingkatan sikap ... 15

2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dan pengubahan sikap ... 16

2.5 Pengukuran sikap ... 17

3. Konsep sroke ... 17

3.1 Defenisi stroke ... 17

3.2 Klasifikasi stroke ... 18

3.3 Faktor resiko stroke ... 19

3.4 Manifestasi klinis ... 19

3.5 Penyebab stroke ... 20

3.6 Mobilitas pada pasien stroke ... 21

4. Bahaya fisiologis imobilisasi ... 22

(11)

1. Kerangka konseptual ... 30

2. Definisi operasional ... 31

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN ... 32

1. Desain penelitian ... 32

2. Populasi dan sampel penelitian ... 32

3. Waktu dan lokasi penelitian ... 32

4. Pertimbangan etik ... 33

5. Instrumen penelitian ... 33

6. Uji validitas dan reliabilitas ... 35

7. Pengumpulan data ... 36

8. Analisa data ... 37

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 40

1. Hasil penelitian ... 40

1.1 Karakteristik demografi responden ... 40

1.2 Tingkat pengetahuan perawat ... 42

1.2 Sikap perawat ... 42

2. Pembahasan ... 47

2.1 Tingkat pengetahuan perawat ... 47

2.2 Sikap perawat ... 51

BAB 6 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 54

1. Kesimpulan ... 54

2. Rekomendasi ... 54

3. Keterbatasan penelitian ... 59

DAFTAR PUSTAKA ... 57

LAMPIRAN ... 60

1. Lembar persetujuan menjadi responden... 60

2. Instrumen penelitian ... 61

3. Hasil uji reliabilitas ... 68

4. Master tabel ... 72

5. Hasil pengolahan data ... 75

6. Taksasi dana penelitian ... 87

7. Riwayat hidup ... 88

8. Lembar persetujuan validitas ... 104

9. Surat etik penelitian... 105

10.Surat izin survei awal ... 106

(12)

14.Surat izin pengambilan data dari RSUP Haji Adam Malik... 112

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Definisi Operasional ... 31

Tabel 1 Distribusi frekuensi dan persentasi karakteristik perawat

di Ruang RA4 RSUP H. Adam Malik Medan………40

Tabel 2 Distribusi frekuensi dan persentase tingkat pengetahuan perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi pada pasien stroke di Ruang RA4 RSUP H. Adam Malik Medan……….42

Tabel 3 Distribusi frekuensi dan persentase jawaban responden tentang tingkat pengetahuan perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi pada pasien stroke di Ruang RA4 RSUP H. Adam Malik Medan ... ………...42

Tabel 4 Distribusi frekuensi dan persentase sikap perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi pada pasien stroke

di Ruang RA4 RSUP H. Adam Malik Medan………44

Tabel 5 Distribusi frekuensi dan persentase jawaban sikap

perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi

(14)

DAFTAR SKEMA

(15)

RSUP H. Adam Malik Medan

Nama : Puspa A Sihaloho

NIM : 111101035

Program : Sarjana Keperawatan

Tahun : 2015

Abstrak

Stroke adalah penyakit atau gangguan fungsional otak berupa kelumpuhan saraf akibat terhambatnya aliran darah ke otak. Kelumpuhan pada pasien stroke mengakibatkan imobilisasi. Setiap sistem tubuh beresiko terjadi gangguan jika terjadi perubahan mobilisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi pada pasien stroke dengan menggunakan desain penelitian deskriptif. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juni 2015 yang melibatkan 16 orang

perawat dengan metode pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 9 orang responden (56,2%) memiliki tingkat pengetahuan baik, 7 orang responden (43,8%) memiliki tingkat pengetahuan cukup dan 0 responden memiliki tingkat pengetahuan kurang. Sedangkan untuk sikap diperoleh bahwa hampir seluruh responden yaitu 15 orang responden (93,8%) memiliki sikap positif dan hanya 1 orang responden (6,2%) memiliki sikap negatif. Perawat diharapkan dapat aktif dan selalu berinisiatif untuk mendapatkan informasi atau pengetahuan baru tentang perkembangan ilmu keperawatan khususnya tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi pada pasien stroke. Saran untuk Rumah Sakit adalah agar meningkatkan kualitas tenaga kesehatan Indonesia khususnya perawat demi tercapainya kualitas pelayanan kesehatan yang prima.

(16)

Medan

Name of Student : Rinata Br. Panjaitan

Std. ID Number : 111101072

Department : S1 (Undergraduate) Nursing

Academic Year : 2014-2015

ABSTRACT

Breast cancer is the most common disease found in women. Breast cancer and its treatment give impact to the physical and psychological condition of the patients. This impact influences the quality of the patients’ life. Furthermore, life quality is individual perceptions about life viewed from four domains such as physical, psychological, social, and environmental domain. The study in this research is aimed at identifying the life quality of women diagnosed with breast cancer who were being hospitalized at Central General Hospital of Haji Adam Malik Medan. This research applied analytical descriptive method and purposive sampling technique. The data were collected through interviews using questionnaires consisting of demographical data questionnaire and World Healt Organization Wualiti of Life questionnaire (WHOQOL – BREF) that have gone through the validity test by Wulandari (2004) whose samples were 30 women with breast cancer. The results of this research show that the quality of the hospitalized patients with breast cancer at Central General Hospital of Haji Adam Malik Medan is categorized into good quality (83.3%). Finally, it is suggested to the nurses to provide a holistic nursing care to the patients in order to improve the quality of the patients’ life.

(17)

1. Latar Belakang

Stroke adalah penyakit atau gangguan fungsional otak berupa kelumpuhan

saraf (deficit neurologic) akibat terhambatnya aliran darah ke otak (Junaidi, 2011).

Menurut Organisasi kesehatan dunia (WHO) stroke adalah adanya tanda-tanda

klinik yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (global) dengan

gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan

kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskular. Stroke

merupakan penyakit yang paling sering menyebabkan cacat berupa kelumpuhan

anggota gerak, gangguan bicara, proses berpikir daya ingat, dan bentuk-bentuk

kecacatan yang lain sebagai akibat gangguan fungsi otak (Muttaqin, 2008).

Menurut berbagai literatur, insiden stroke perdarahan antara 15% - 30%

dan stroke iskemik antara 70% - 85%. Akan tetapi, untuk negara-negara

berkembang atau Asia kejadian stroke perdarahan sekitar 30% dan iskemik 70%.

Stroke iskemik disebabkan antara lain oleh trombosis otak (penebalan dinding

arteri) 60%, emboli 5% (sumbatan mendadak) dan lain-lain 35%. Di Amerika

diperkirakan setiap tahunnya masih terjadinya sekitar 500.000 pasien stroke baru

dan sekitar 150.000 yang meninggal berkenaan dengan stroke (Iskandar, 2011).

Prevalensi stroke di Indonesia berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan

sebesar 7 per seribu penduduk dan yang terdiagnosis tenaga kesehatan atau gejala

(18)

kesehatan tertinggi di Sulawesi Utara (10,8‰), diikuti DI Yogyakarta (10,3‰),

Bangka Belitung dan DKI Jakarta masing-masing 9,7 per seribu penduduk.

Prevalensi Stroke berdasarkan terdiagnosis tenaga kesehatan dan gejala tertinggi

terdapat di Sulawesi Selatan (17,9‰), DI Yogyakarta (16,9‰), Sulawesi Tengah

(16,6‰), diikuti Jawa Timur sebesar 16 per seribu penduduk. Prevalensi penyakit

stroke pada kelompok yang didiagnosis tenaga kesehatan serta yang didiagnosis

tenaga kesehatan atau gejala meningkat seiring dengan bertambahnya umur,

tertinggi pada umur ≥75 tahun (43,1‰ dan 67,0‰). Prevalensi stroke yang

terdiagnosis tenaga kesehatan maupun berdasarkan diagnosis atau gejala sama

tinggi pada laki-laki dan perempuan. Prevalensi stroke di kota lebih tinggi dari di

desa, baik berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan (8,2‰) maupun berdasarkan

diagnosis tenaga kesehatan atau gejala (12,7‰). Sementara di Sumatera Utara

prevalensi stroke berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan (6,0‰) dan terdiagnosis

tenaga kesehatan dan gejala (10,3‰) (RISKESDAS, 2013).

Kelumpuhan adalah salah satu ketidakmampuan yang paling sering dari

stroke. Kelumpuhan biasanya ada pada sisi tubuh berlawanan dengan sisi otak

yang rusak oleh stroke, dan dapat berdampak pada wajah, lengan, kaki, atau

seluruh sisi tubuh tersebut. Kelumpuhan satu sisi ini disebut hemiplegia jika

melibatkan ketidakmampuan total untuk bergerak atau hemiparesisjika kurang

dari kelemahan total. Pasien stroke dengan hemiparesis atau hemiplegia dapat

memilliki kesulitan dalam aktivitas sehari-hari seperti berjalan dan menggenggam

benda. Beberapa pasien stroke memiliki masalah dengan menelan, disebut

(19)

menelan. Kerusakan otak bagian bawah, serebellum, dapat berdampak pada

kemampuan tubuh untuk mengoordinasikan pergerakan, sebuah ketidakmampuan

disebut ataxia, mengakibatkan masalah dengan postur tubuh, berjalan dan

keseimbangan (National Institute of Neurological Disorder and Stroke, 2008).

Kelumpuhan yang dialami pasien stroke sebagai akibat kerusakan saraf

lokal mengakibatkan pasien stroke mengalami keterbatasan mobilisasi. Potter &

Perry (2006) menyatakan bahwa apabila ada perubahan mobilisasi, maka setiap

sistem tubuh berisiko terjadi gangguan. Tingkat keparahan dari gangguan tersebut

tergantung pada umur klien, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan, serta

tingkat imobilisasi yang dialami. Bahaya fisiologis yang terjadi pada pasien

imobilisasi mempengaruhi sistem metabolik, sistem respiratori, sistem

kardiovaskuler, sistem muskuloskeletal, sistem integumen dan sistem eliminasi.

Potter & Perry (2006) memaparkan bahaya fisiologis yang terjadi pada

pasien imobilisasi sebagai berikut: perubahan metabolik berupa laju metabolik

yang terganggu yaitu metabolisme karbohidrat, lemak dan protein,

ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, ketidakseimbangan kalsium dan

gangguan pencernaan; perubahan respiratorik berupa komplikasi paru-paru yaitu

atelektasis dan pneumonia hipostatik; perubahan kardiovaskuler yaitu hipotensi

ortostatik, peningkatan beban kerja jantung dan pembentukan trombus; perubahan

muskuloskeletal yaitu kehilangan daya tahan, penurunan massa otot, atrofi dan

penurunan stabilitas; perubahan sistem integumen yaitu dekubitus; perubahan

(20)

Penelitian Suheri (2009) pada pasien tirah baring menyatakan bahwa dari

45 orang pasien tirah baring yang di rawat di RSUP Haji Adam Malik Medan

sebanyak 88,8% mengalami luka dekubitus derajat I pada hari kelima perawatan

dengan diagnosa yang paling banyak adalah pasien stroke sebanyak 33,3%, head

injury 11,1%, fraktur 15,6%, sisanya adalah pasien bedrest yang memerlukan

perawatan lama.

Perawat dan ahli terapi rehabilitasi membantu pasien yang mampu untuk

menampilkan secara progresif latihan-latihan yang banyak dan rumit, seperti

mandi, berpakaian dan menggunakan toilet, dan mereka menganjurkan pasien

untuk mulai menggunakan tungkai dan lengan selama melakukan latihan-latihan

tersebut. Mulai untuk mewajibkan kembali kemampuan akan aktivitas hidup

sehari-hari merupakan langkah awal bagi penderita stroke untuk mandiri

(National Institute of Neurological Disorder and Stroke, 2008).

Perawat sebagai petugas kesehatan memiliki peran penting dalam upaya

meminimalkan bahaya fisiologis imobilisasi pada pasien stroke. Perawat

mempunyai peranan yang sangat besar dalam memberikan asuhan keperawatan

dan dukungan pada pasien stroke dan keluarganya. Perawat harus memiliki

pengetahuan dan sikap yang mendukung dalam upaya meminimalkan bahaya

fisiologis imobilisasi pada pasien stroke untuk peningkatan pelayanan kesehatan

yang bermutu. Untuk itu penulis tertarik untuk meneliti pengetahuan dan sikap

perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi pada pasien stroke di

(21)

2. Perumusan Masalah

Bagaimana tingkat pengetahuan dan sikap perawat tentang pengurangan bahaya

fisiologis imobilisasi di Ruang RA4 RSUP Haji Adam Malik Medan?

3. Pertanyaan Penelitian

3.1. Bagaimana gambaran tingkat pengetahuan perawat tentang pengurangan

bahaya fisiologis imobilisasi pada pasien stroke di Ruang RA4 RSUP Haji Adam

Malik Medan?

3.2. Bagaimana gambaran sikap perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis

imobilisasi pada pasien stroke di Ruang RA4 RSUP Haji Adam Malik Medan?

4. Tujuan Penelitian

4.1. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan perawat tentang pengurangan bahaya

fisiologis imobilisasi pada pasien stroke di Ruang RA4 RSUP Haji Adam Malik

Medan.

4.2. Untuk mengetahui sikap perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis

imobilisasi pada pasien stroke di Ruang RA4 RSUP Haji Adam Malik Medan.

5. Manfaat Penelitian

5.1. Pendidikan keperawatan

Penelitian ini digunakan sebagai penambah informasi dalam pendidikan

keperawatan untuk memperluas khasanah berpikir keperawatan khususnya

(22)

5.2. Pelayanan keperawatan

Penelitian ini merupakan tambahan pengetahuan bagi layanan keperawatan

dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan untuk kesejahteraan umat

manusia khususnya dalam hal pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi pada

pasien stroke.

5.3. Penelitian keperawatan

Penelitian ini digunakan sebagai bahan referensi untuk penelitian yang

akan datang dalam ruang lingkup yang sama serta bisa memacu peneliti lainnya

untuk meneliti perilaku perawat yang mencakup tiga domain yaitu, sikap,

pengetahuan dan keterampilan tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi

(23)

1. Tingkat Pengetahuan

1.1. Defenisi Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang

melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi

melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman,

rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan

telinga (Notoatmodjo, 2007).

1.2. Jenis Pengetahuan

Budiman & Agus (2013) menyatakan bahwa jenis pengetahuan di

antaranya sebagai berikut:

1.2.1.Pengetahuan Implisit

Pengetahuan implisit adalah pengetahuan yang masih tertanam dalam

bentuk pengalaman seseorang dan berisi faktor-faktor yang tidak bersifat nyata

seperti keyakinan pribadi, perspektif, dan prinsip. Pengetahuan implisit sering kali

berisi kebiasaan dan budaya bahkan bisa tidak disadari. Contoh sederhana:

seseorang mengetahui tentang bahaya merokok bagi kesehatan, namun ternyata

dia merokok.

1.2.2.Pengetahuan Eksplisit

Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang telah didokumentasikan

atau disimpan dalam wujud nyata, bisa dalam wujud perilaku kesehatan.

(24)

dengan kesehatan.Contoh sederhana: seseorang yang telah mengetahui tentang

bahaya merokok bagi kesehatan dan ternyata dia tidak merokok.

1.3. Tingkat Pengetahuan

Ranah kognitif berorientasi kepada kemampuan berfikir, mencakup

kemampuan intelektual yang paling sederhana yaitu mengingat, sampai dengan

kemampuan untuk memecahkan masalah (problem solving). Pada ranah ini

individu dituntut untuk menghubungkan dan menggabungkan gagasan, metode

atau prosedur yang sebelumnya telah dipelajari untuk memecahkan masalah

tersebut (Nurhidayah, 2010).

Benyamin Bloom (1908) dalam Notoadmojo (2010) menyatakan bahwa

pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu:

1.3.1. Tahu (Know)

Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada

sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Misalnya: tahu bahwa buah tomat banyak

mengandung vitamin C. Untuk mengetahui atau mengukur bahwa orang tahu

sesuatu dapat menggunakan pertanyaan-pertanyaan, misalnya: apa tanda-tanda

anak yang kurang gizi, apa penyebab penyakit TBC, dan sebagainya.

1.3.2. Memahami (comprehension)

Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak

sekadar dapat menyebutkan, tetapi harus dapat menginterpretasikan secara benar

(25)

pemberantasan penyakit demam berdarah, bukan hanya sekedar menyebutkan 3 M

(Mengubur, Menutup, dan Menguras), tetapi juga harus dapat menjelaskan

mengapa melakukan 3 M tersebut.

1.3.3. Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang

dimaksud dapat mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi

yang lain. Misalnya, seseorang yang telah paham metodologi penelitian, ia akan

mudah membuat proposal penelitian di mana saja.

1.3.4. Analisis (analysis)

Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan/atau

memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang

terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi bahwa

pengetahuan seseorang itu sudah sampai pada tingkat analisis adalah apabila

orang tersebut telah dapat membedakan, memisahkan, mengelompokkan,

membuat diagram (bagan) terhadap pengetahuan objek tersebut. Misalnya, dapat

membedakan antara nyamuk Aedes Agepty dengan nyamuk biasa.

1.3.5. Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau

meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen

pengetahuan yang dimiliki. Misalnya, dapat membuat atau meringkas dengan

(26)

1.3.6. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini didasarkan

pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku di

masyarakat. Misalnya, seorang ibu dapat menilai atau menentukan seorang anak

menderita malnutrisi atau tidak.

1.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Budiman & Agus (2013) menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi

pengetahuan sebagai berikut:

1.4.1.Pendidikan

Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan

kemampuan di dalam dan di luar sekolah (baik formal maupun non formal),

berlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin

tinggi pendidikan seseorang, makin mudah orang tersebut untuk menerima

informasi. Namun, perlu ditekankan bahwa seorang yang berpendidikan rendah

tidak berarti mutlak berpengetahuan rendah pula. Pengetahuan seseorang tentang

sesuatu objek juga mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan negatif dimana

kedua aspek inilah yang akhirnya akan menentukan sikap seseorang terhadap

objek tertentu. Semakin banyak aspek positif dari objek yang diketahui, maka

(27)

1.4.2. Informasi/media massa

Informasi adalah suatu teknik untuk mengumpulkan, menyiapkan,

menyimpan, memanipulasi, mengumumkan, menganalisis, dan menyebarkan

informasi dengan tujuan tertentu (Undang-Undang Teknologi Informasi).

Informasi tidak dapat diuraikan (intangible) tetapi informasi tersebut dapat

dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, yang diperoleh dari data dan pengamatan

terhadap dunia sekitar kita, serta diteruskan melalui komunikasi. Informasi

mencakup data, teks, gambar, suara, kode, program komputer, dan basis data.

1.4.3. Sosial, budaya, dan ekonomi

Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang adalah tanpa melalui

penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk. Dengan demikian, seseorang

akan bertambah pengetahuannya walaupun tidak melakukan. Status ekonomi

seseorang juga akan menentukan tersedianya suatu fasilitasyang diperlukan untuk

kegiatan tertentu sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi

pengetahuan seseorang.

1.4.4. Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik

lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap

proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan

tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik ataupun tidak, yang

(28)

1.4.5. Pengalaman

Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk

memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali

pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi masa

lalu. Pengalaman belajar dalam bekerja yang dikembangkan memberikan

pengetahuan dan keterampilan profesional, serta pengalaman belajar selama

bekerja akan dapat mengembangkan kemampuan mengambil keputusan yang

merupakan manifestasi dari keterpaduan menalar secara ilmiah dan etik yang

bertolak dari masalah nyata dalam bidang kerjanya.

1.4.6. Usia

Usia memengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin

bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya

sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik. Pada usia madya,

individu akan lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan sosial, serta

lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya menyesuaikan diri

menuju usia tua. Namun pada usia tua, individu akan mengalami kemunduran

baik fisik maupun mental.

1.5. Pengukuran Pengetahuan

Budiman & Agus (2013) menyatakan bahwa menurut Skinner, bila

seseorang mampu menjawab mengenai materi tertentu baik secara lisan maupun

tulisan, maka dikatakan seseorang tersebut mengetahui bidang tersebut.

(29)

Pengukuran bobot pengetahuan seseorang ditetapkan menurut hal-hal sebagai

berikut:

1. Bobot I : tahap tahu dan pemahaman.

2. Bobot II : tahap tahu, pemahaman, aplikasi, dan analisis.

3. Bobot III : tahap tahu, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.

Pengukuran dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang

menanyakan tentang isi materi yang diukur dari subjek penelitian atau responden.

Arikunto (2006) membuat kategori tingkat pengetahuan seseorang menjadi tiga

tingkatan yang didasarkan pada nilai persentase yaitu sebagai berikut:

1. Tingkat pengetahuan kategori Baik jika nilainya ≥ 75%.

2. Tingkat pengetahuan kategori Cukup jika nilainya 56–74%.

3. Tingkat pengetahuan kategori Kurang jika nilainya < 55%.

2. Sikap

2.1 Defenisi Sikap

Sikap adalah juga respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek

tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan

(senang-tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik, dan sebagainya).

Campbell (1950) mendefinisikan sangat sederhana, yakni: “an individual’s

attitude is syndrome of response consistency with regard to object.” Jadi jelas, di

(30)

merespons stimulus atau objek, sehingga sikap itu melibatkan pikiran, perasaan,

perhatian, dan gejala kejiwaan yang lain (Notoatmodjo, 2010).

Sikap yang terdapat pada diri individu akan memberi warna atau corak

tingkah laku ataupun perbuatan individu yang bersangkutan. Dengan memahami

atau mengetahui sikap individu, dapat diperkirakan respon atau perilaku yang

akan diambil oleh individu yang bersangkutan. Kecenderungan bertindak dari

individu, berupa respon tertutup terhadap stimulus ataupun objek tertentu adalah

suatu sikap (Sunaryo, 2004).

2.2. Komponen Pokok Sikap

Menurut Allport (1954) dalam Notoatmodjo (2010) sikap terdiri dari 3

komponen pokok, yaitu:

2.2.1. Kepercayaan atau keyakinan, ide, dan konsep terhadap objek. Artinya,

bagaimana keyakinan dan pendapat atau pemikiran seseorang terhadap objek.

Sikap orang terhadap penyakit kusta misalnya, berarti bagaimana pendapat atau

keyakinan orang tersebut terhadap penyakit kusta.

2.2.2. Kehidupan emosional atau evaluasi orang terhadap objek, artinya

bagaimana penilaian (terkandung di dalamnya faktor emosi) orang tersebut

terhadap objek. Seperti contoh di atas tersebut, berarti bagaimana orang menilai

terhadap penyakit kusta, apakah penyakit yang biasa saja atau penyakit yang

membahayakan.

2.2.3. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave), artinya sikap adalah

(31)

adalah ancang-ancang untuk bertindak atau berperilaku terbuka (tindakan).

Misalnya, tentang contoh sikap terhadap penyakit kusta di atas, adalah apa yang

dilakukan seseorang bila ia menderita penyakit kusta.

2.3. Tingkatan Sikap

Menurut Notoadmojo (2010) berdasarkan intensitasnya sikap mempunyai

tingkat-tingkat sebagai berikut:

2.3.1.Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau menerima stimulus

yang diberikan (objek). Misalnya, sikap seseorang terhadap periksa hamil (ante

natal care), dapat diketahui atau diukur dari kehadiran si ibu untuk mendengarkan

penyuluhan tentang ante natal care di lingkungannya.

2.3.2.Menanggapi (responding)

Menanggapi di sini diartikan memberikan jawaban atau tanggapan

terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi. Misalnya, seorang ibu yang

mengikuti penyuluhan ante natal care tersebut ditanya atau diminta menanggapi

oleh penyuluh, kemudian ia menjawab atau menanggapinya.

2.3.3.Menghargai (valuing)

Menghargai diartikan subjek,atau seseorang memberikan nilai yang positif

terhadap objek atau stimulus, dalam arti, membahasnya dengan orang lain dan

bahkan mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain merespons.

(32)

suaminya, atau bahkan mengajak tetangganya untuk mendengarkan penyuluhan

ante natal care.

2.3.4.Bertanggung jawab (responsible)

Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab terhadap

apa yang telah diyakininya. Seseorang yang telah mengambil sikap tertentu

berdasarkan keyakinannya, dia harus berani mengambil risiko bila ada orang lain

yang mencemoohkan atau adanya risiko lain. Contoh tersebut di atas, ibu yang

sudah mau mengikuti penyuluhan ante natal care, ia harus berani untuk

mengorbankan waktunya, atau mungkin kehilangan penghasilannya, atau diomeli

oleh mertuanya karena meninggalkan rumah dan sebagainya.

2.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan dan Pengubahan Sikap

Pada manusia sebagai faktor sosial, pembentukan sikap tidak lepas dari

pengaruh interaksi satu sama lainnya (eksternal). Di samping itu manusia juga

individu, sehingga apa yang datang dari dalam dirinya (internal) juga

mempengaruhi pembentukan sikap (Notoatmodjo, 2003).

2.4.1.Faktor internal

Dalam hal ini individu menerima, mengolah dan memilih segala sesuatu

yang datang dari luar, serta menentukan mana yang akan diterima dan mana yang

tidak. Faktor internal menyangkut motif dan sikap yang bekerja dalam diri

individu pada saat itu serta mengarahkan minat, perhatian (faktor psikologis) juga

(33)

2.4.2.Faktor eksternal

Merupakan stimulus untuk membentuk dan menentukan sikap. Stimulus

tersebut dapat bersifat langsung, misalnya individu dengan individu, individu

dengan kelompok. Dapat juga bersifat tidak langsung yaitu melalui perantara alat

komunikasi.

2.5. Pengukuran Sikap

Budiman & Agus (2013) menyatakan bahwa ranah afektif tidak dapat

diukur seperti halnya ranah kognitif, karena dalam ranah afektif kemampuan yang

diukur adalah: menerima (memperhatikan), merespons, menghargai,

mengorganisasi, dan menghayati. Skala yang digunakan untuk mengukur ranah

afektif seseorang terhadap kegiatan suatu objek di antaranya menggunakan skala

Likert.

Hasil pengukuran berupa kategori sikap, yakni mendukung (positif),

menolak (negatif), dan netral. Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan

berperilaku pada seseorang. Oleh sebab itu, pernyataan yang diajukan dibagi ke

dalam dua kategori, yakni pernyataan positif dan pernyataan negatif.

3. Konsep Stroke

3.1. Defenisi Stroke

Menurut WHO stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang

cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (global) dengan gejala-gejala yang

(34)

penyebab lain yang jelas selain vaskular. Stroke merupakan penyakit yang paling

sering menyebabkan cacat berupa kelumpuhan anggota gerak, gangguan bicara,

proses berpikir daya ingat, dan bentuk-bentuk kecacatan yang lain sebagai akibat

gangguan fungsi otak (Muttaqin, 2008).

Stroke adalah gangguan fungsional otak fokal maupun global akibat

terhambatnya aliran darah ke otak karena perdarahan ataupun sumbatan dengan

gejala dan tanda sesuai bagian otak yang terkena, yang dapat sembuh sempurna,

sembuh dengan cacat ,atau kematian (Junaidi, 2011).

3.2. Klasifikasi Stroke

Menurut Muttaqin (2008) stroke terbagi atas:

3.2.1.Stroke hemoragi

Merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan subaraknoid.

Disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada area otak tertentu. Biasanya

kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat

istirahat. Perdarahan otak dibagi dua, yaitu:

3.2.1.1.Perdarahan intraserebral. Pecahnya pembuluh darah(mikroaneurisma)

terutama karena hipertensi mengakibatkan darah masuk ke dalam jaringan otak,

dan menimbulkan edema otak.

3.2.1.2.Perdarahan subaraknoid. Perdarahan ini berasal dari pecahnya aneurisma

berry atau AVM. Aneurisma yang pecahnya ini berasal dari pembuluh darah

(35)

3.2.2.Stroke nonhemoragik

Dapat berupa iskemia atau emboli dan trombosis serebral, biasanya terjadi

saat setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau di pagi hari. Tidak terjadi

perdarahan namun terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnya

dapat timbul edema sekunder. Kesadaran umumnya baik.

3.3. Faktor Resiko Stroke

Menurut Muttaqin (2008) beberapa faktor penyebab stroke antara lain:

1. Hipertensi, merupakan faktor resiko utama

2. Penyakit kardiovaskular-embolisme serebral berasal dari jantung

3. Kolesterol tinggi

4. Obesitas

5. Peningkatan hematokrit meningkatkan risiko infark serebral

6. Diabetes-terkait dengan aterogenesis terakselerasi

7. Kontrasepsi oral (khususnya dengan hipertensi, merokok, dan kadar estrogen

tinggi)

8. Merokok

9. Penyalahgunaan obat (khususnya kokain)

10. Konsumsi alkohol

3.4. Manifestasi Klinis

• Mulut mencong (facial drop)

Normal: kedua sisi muka bergerak simetris

(36)

• Gangguan bicara dan bahasa

Normal: dapat mengucapkan kata/kalimat dengan benar dan jelas

Abnormal: tidak mampu/bicara rero/pelo/cadel, kalimat yang salah

• Lengan lemah (arm drift)

Normal: kedua lengan dapat bergerak bersamaan dan sejajar

Abnormal: salah satu lengan bergerak turun/tidak sejajar

3.5. Penyebab Stroke

Menurut Muttaqin (2008), penyebab stroke adalah sebagai berikut:

3.5.1.Trombosis serebral

Trombosis ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami oklusi

sehingga menyebabkan iskemi jaringan otak yang dapat menimbulkan oedema

dan kongesti di sekitarnya.

3.5.2.Hemoragi

Perdarahan intrakranial atau intraserebral termasuk perdarahan dalam

ruang subaraknoid atau ke dalam jaringan otak sendiri. Perdarahan ini dapat

terjadi karena aterosklerosis dan hipertensi.

3.5.3.Hipoksia umum

Hipertensi yang parah, henti jantung-paru, curah jantung turun akibat

aritmia.

3.5.4. Hipoksia setempat

Spasme arteri serebral, yang disertai perdarahan subaraknoid,

(37)

3.6. Mobilitas Pada Pasien Stroke

Stroke adalah penyakit saraf motorik atas/upper motoric nerve (UMN) dan

mengakibatkan kehilangan kontrol volunter terhadap gerakan motorik. Oleh

karena UMN bersilangan, gangguan kontrol motor volunter pada salah satu sisi

tubuh dapat menunjukkan kerusakan pada UMN di sisi yang berlawanan dari otak

(Muttaqin, 2008). Apabila stroke merusak bagian sebelah kanan otak, maka sisi

tubuh yang di sebelah kiri yang terkena pengaruhnya. Sedangkan jika kerusakan

terjadi pada bagian otak sebelah kiri, maka kelumpuhan dan kelemahan motorik

(daya gerak) tubuh pada sisi sebelah kanan terjadi. Apabila sisi sebelah kanan

mengalami kerusakan, maka pasien akan mengalami kesulitan-kesulitan dengan

persepsi spasial. Seringkali salah satu sisi tubuhnya terabaikan, tidak menyadari

keberadaan sisi sebelah kiri tubuhnya (Shimberg, 1998).

Mobilisasi atau rehabilitasi dini di tempat tidur merupakan suatu program

rehabilitasi yang segera dilakukan, khususnya selama beberapa hari sampai

minggu setelah terkena stroke. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya

kekakuan otot (kontraktur), mengoptimalkan pengobatan sehubungan masalah

medis dan menyediakan bantuan psikologis pasien dan keluarganya. Bila usaha

ini dilakukan dengan segera, maka kekakuan otot dapat berkurang secara cepat

perhari sekitar 3%. Pengerelaksasian kekakuan otot (dekondisioning) mulai

dilakukan dalam waktu 24-48 jam pertama. Pada kondisi ini katabolisme

meningkat, depresi psikologis, stasis pembuluh vena, kapasitas vital menurun,

perlambatan gerakan saluran cerna. Stasis urinaria juga dapat dijumpai. Terapi

(38)

koma sekalipun dengan menggerakkan anggota tubuhnya. Program awal

rehabilitasi/mobilisasi dini dilakukan secepatnya. Pasien yang diperbolehkan

mengangkat kepala, duduk, dan berdiri maka perbaikan fungsi dapat diharapkan

dengan lebih baik (Junaidi, 2011).

4. Bahaya Fisiologis Imobilisasi 4.1. Perubahan fisiologis imobilisasi

Potter & Perry (2006) menyatakan bahwa apabila ada perubahan

mobilisasi, maka setiap sistem tubuh beresiko terjadi gangguan. Tingkat

keparahan dari gangguan tersebut tergantung pada umur klien, dan kondisi

kesehatan secara keseluruhan, serta tingkat imobilisasi yang dialami.

4.1.1.Perubahan metabolik

Imobilisasi mengganggu fungsi metabolik normal, antara lain laju

metabolik; metabolisme karbohidrat, lemak dan protein; ketidakseimbangan

cairan dan elektrolit; ketidakseimbangan kalsium; dan gangguan pencernaan.

Keberadaan proses infeksius pada klien imobilisasi mengalami peningkatan BMR

(Basal Metabolic Rate) diakibatkan karena demam atau penyembuhan luka.

Demam dan penyembuhan luka meningkatkan kebutuhan oksigen selular

(McCance dan Huether, 1994).

Defisiensi kalori dan protein merupakan karakteristik klien yang

mengalami penurunan selera makan sekunder akibat imobilisasi. Jika lebih

banyak nitrogen (produk akhir pemecahan asam amino) yang diekskresikan dari

(39)

keseimbangan nitrogen negatif, dan kehilangan berat badan, penurunan massa

otot, dan kelemahan akibat katabolisme jaringan. Kehilangan protein

menunjukkan penurunan massa otot terutama pada hati, jantung, paru-paru,

saluran pencernaan, dan sistem kekebalan (Long et al,1993).

4.1.2.Perubahan sistem respiratori

Klien imobilisasi berisiko tinggi mengalami komplikasi paru-paru dimana

yang paling umum adalah atelektasis dan pneumonia hipostatik. Pneumonia

hipostatik adalah peradangan paru-paru akibat stasisnya sekresi. Atelektasis dan

pneumonia hipostatik, keduanya sama-sama menurunkan oksigenasi,

memperlama penyembuhan, dan menambah ketidaknyamanan (Long et al, 1993).

Sekret yang menetap menumpuk di bronkus dan paru menyebabkan pertumbuhan

bakteri yang selanjutnya berkembang menjadi pneumonia. Infeksi pulmonal tetap

berkembang meskipun dilakukan intervensi untuk pencegahannya.

4.1.3.Perubahan sistem kardiovaskuler

Hipotensi ortostatik adalah penurunan tekanan darah sistolik 25 mmHg

dan diastolik 10 mmHg ketika klien bangun dari posisi berbaring atau duduk ke

posisi berdiri. Pada klien imobilisasi, terjadi penurunan sirkulasi volume cairan,

pengumpulan darah pada ekstremitas bawah, dan penurunan respons otonom.

Faktor-faktor tersebut mengakibatkan penurunan aliran balik vena, diiikuti oleh

penurunan curah jantung yang terlihat pada penurunan tekanan darah (McCance

dan Huether, 1994). Ditandai dengan sakit kepala ringan, pusing, kelemahan,

kelelahan, kehilangan energi, gangguan visual, dispnea, ketidaknyaman kepala

(40)

Klien juga berisiko terjadi pembentukan trombus. Trombus adalah

akumulasi trombosit, fibrin, faktor-faktor pembekuan darah dan elemen sel-sel

darah yang menempel pada dinding bagian anterior vena atau arteri,

kadang-kadang menutup lumen pembuluh darah.

4.1.4.Perubahan sistem muskuloskeletal

Pengaruh imobilisasi pada sistem muskuloskeletal meliputi gangguan

mobilisasi permanen. Keterbatasan mobilisasi mempengaruhi otot klien melalui

kehilangan daya tahan, penurunan massa otot, atrofi, penurunan stabilitas,

gangguan metabolisme kalsium dan gangguan mobilisasi sendi.

Penurunan stabilitas terjadi akibat kehilangan daya tahan, penurunan

massa otot, atrofi, dan kelainan sendi yang aktual. Sehingga klien tersebut tidak

mampu bergerak terus-menerus dan sangat berisiko untuk jatuh. Imobilisasi dapat

mengakibatkan kontraktur sendi. Kontraktur sendi adalah kondisi abnormal dan

biasa permanen yang ditandai oleh sendi fleksi dan terfiksasi.hal ini disebabkan

tidak digunakannya, atrofi dan pemendekan serat otot. Jika terjadi kontraktur

maka sendi tidak dapat mempertahankan rentang gerak dengan penuh (Lehmkuhl

et al, 1990).

4.1.5.Perubahan sistem integumen

Dekubitus terjadi akibat iskemia dan anoksia jaringan. Jaringan yang

tertekan, darah membelok, dan konstriksi kuat pada pembuluh darah akibat

tekanan persisten pada kulit dan struktur di bawah kulit, sehingga respirasi seluler

terganggu, dan sel menjadi mati (Ebersole dan Hess, 1994). Dekubitus adalah

(41)

berpengaruh terhadap populasi klien khusus-lansia dan yang imobilisasi

(Alterescu dan Alterescu, 1992). Kerusakan integritas kulit mempunyai dampak

yang bermakna pada tingkat kesejahteraan, asuhan keperawatan, dan lamanya

perawatan di rumah sakit.

4.1.6.Perubahan eliminasi urin

Eliminasi urin klien berubah oleh adanya imobilisasi. Pada posisi tegak

lurus, urin mengalir keluar dari pelvis ginjal lalu masuk ke ureter dan kandung

kemih akibat gaya gravitasi. Ginjal yang membentuk urin harus masuk ke dalam

kandung kemih melawan gaya gravitasi. Akibat kontraksi peristaltik ureter yang

tidak cukup kuat melawan gaya gravitasi, pelvis ginjal menjadi terisi sebelum urin

masuk ke dalam ureter. Kondisi ini disebut statis urin dan meningkatkan risiko

infeksi saluran perkemihan dan batu ginjal.

4.2. Pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi

4.2.1. Sistem Metabolik

Ketika mengkaji fungsi metabolik, perawat menggunakan pengukuran

antropometrik untuk mengevaluasi atrofi otot, menggunakan pencatatan asupan

dan haluaran serta data laboratorium untuk mengevaluasi status cairan, elektrolit

maupun kadar serum protein, mengkaji penyembuhan luka untuk mengevaluasi

status cairan, elektrolit maupun kadar serum protein, mengkaji penyembuhan luka

untuk mengevaluasi perubahan transport nutrient, mengkaji asupan, makanan dan

(42)

Pada umumnya anoreksia terjadi pada klien imobilisasi.asupan makanan

klien harus dikaji terlebih dahulu sebelum nampan diberikan, untuk menentukan

jumlah yang dimakan. Ketidakseimbangan nutrisi dapat dihindari apabila perawat

mengkaji pola makan klien dan makanan yang disukai sebelum keadaan

imobilisasi.

Jika klien tidak bisa makan, nutrisi harus diberikan melalui parenteral dan

enteral. Pemberian makanan enteral meliputi pemberian melalui selang

nasogastrik, gastrostomi, jejunostomi dengan cairan tinggi protein, tinggi kalori

dengan tambahan vitamin lengkap, mineral, dan elektrolit.

4.2.2. Sistem Pernafasan

Perawat harus memotivasi klien bernafas dalam dan batuk setiap 1 sampai

2 jam. Klien yang waspada dapat diajarkan untuk bernafas dalam dan menguap

setiap jam. Kegiatan ini mengembangkan semua lobus paru dan mencegah

atelektasis. Batuk dapat mengurangi statis sekresi pulmonal. Sekret yang stagnasi

dapat dikurangi dengan mengubah posisi klien setiap dua jam. Perubahan

mereposisikan paru yang menggantung dan memobilisasikan sekret. Pada klien

yang tidak sadar dengan jalan nafas buatan, perawat dapat mengembangkan dada

dan paru dengan menggunakan ambu bag.

4.2.3. Sistem Kardiovaskuler

Ketika klien dipindahkan dari posisi telentang ke kursi, klien harus diubah

posisinya bertahap. Ketika melakukan prosedur ini, perawat harus mencatat

adanya perubahan ortostatik. Perawat mengumpulkan tanda vital dasar pada klien

(43)

yang tinggi selama beberapa waktu agar tubuh beradaptasi terhadap setiap

perubahan tanda vital. terus-menerus memantai klien adanya pusing dan sakit

kepala ringan, dan menanyakan apakah klien melihat bintik-bintik. Meskipun

tidak semua klien mengalami mengalami hipotensi ortostatik, klien harus dipantau

tanda vitalnya ketika klien mencoba duduk atau berdiri pertama kali.

Cara paling efektif untuk mengatasi trombosis vena profunda (deep vein

trombosis, DVT) adalah melalui program pemberian profilaksis yang tepat. Hal

ini dimulai dengan identifikasi klien yang beresiko, dilanjutkan pada klien

imobilisasi atau beresiko lainnya. Stocking kompresi bertahap dapat mencegah

DVT selama klien yang tepat dan regimen yang tepat (Evans, 1991). Stocking

seharusnya tidak dipakai jika terdapat kondisi lokal yang mempengaruhi kaki

(mis. lesi kulit, gangren atau menerima ligasi vena). Stocking harus digunakan

dengan tepat dan dilepaskan serta kembali dipasang minimal dua kali sehari.

Apabila klien diduga terjadi DVT maka perawat harus melaporkan segera. Kaki

harus ditinggikan tanpa ada penekanan trombus. Keluarga, klien, dan tenaga

kesehatan tidak dibenarkan melakukan pemijitan di area tersebut karena bahaya

pengeluaran trombus.

4.2.4. Sistem Muskuloskeletal

Klien imobilisasi harus mendapatkan beberapa latihan untuk mencegah

otot yang tidak digunakan secara berlebihan, atrofi, dan kontraktur sendi. Jika

klien tidak mampu menggerakkan sebagian ataupun seluruh bagian tubuhnya,

maka perawat harus melakukan latihan rentang gerak pasif untuk semua sendi

(44)

jika salah satu ekstremitas paralisis, klien diajarkan menggunakan setiap sendinya

secara mandiri melalui latihan rentang gerak.

Klien tirah baring harus melakukan latihan rentang gerak aktif yang

dimasukkan dalam jadwal sehari-hari. Klien melakukan latihan ini dalam aktivitas

sehari-harinya. Salah satu contoh latihan aktif dalam aktivitas sehari-hari adalah

mengambil buku di samping tempat tidur untuk melatih bahu (abduksi). Latihan

rentang gerak aktif mempertahankan fungsi sistem muskuloskeletal. Perawat juga

harus merencanakan intervensi untuk mengembalikan mobilisasi pada klien yang

mampu melakukan aktivitas normal bertahap.

4.2.5. Sistem Integumen

Resiko utama pada kulit akibat keterbatasan mobilisasi adalah dekubitus.

Oleh karena itu intervensi keperawatan berfokus pada pencegahan dan

penatalaksanaan. Intervensi keperawatan adalah sebagai berikut: memeriksa kulit

secara sistematik minimal satu kali sehari, khususnya di bagian penonjolan tulang;

membersihkan kulit pada waktu kotor pada interval waktu tertentu;

meminimalkan faktor lingkungan yang menyebabkan kulit kering; tidak

melakukan pemijatan di atas daerah penonjolan tulang; meminimalkan paparan

kulit dari kelembapan akibat inkontinensia, keringat atau cairan luka; pemberian

posisi yang sesuai untuk meminimalkan cedera kulit akibat friksi dan gaya gesek

dengan teknik memindahkan dan bergerak yang benar.

4.2.6. Sistem Eliminasi

Intervensi keperawatan untuk mempertahankan fungsi optimal pada

(45)

distensi kandung kemih dan mencegah statis urin, terbentuk batu, dan infeksi.

Untuk mencegah distensi kandung kemih, perawat mengkaji frekuensi dan jumlah

haluaran urin. Klien dengan urin yang menetes terus-menerus dan kandung kemih

yang distensi menujukkan inkontinensia overflow. Jika klien imobilisasi tidak

dapat mengontrol eliminasi urinnya secara sadar maka perawat harus

memasukkan kateter sementara atau menetap untuk mencegah distensi. Perawat

juga harus mencatat frekuensi dan konsistensi defekasi. Diet kaya buah-buahan,

sayur-sayuran, dan dalam jumlah banyak mendukung peristaltik normal. Jika

klien tidak mampu mempertahankan pola eliminasi bowel normal maka dokter

(46)

1. Kerangka Konseptual

Kerangka konsep penelitian di bawah ini menjelaskan pengetahuan dan

sikap perawat dalam upaya untuk mengurangi bahaya fisiologis imobilisasi pada

pasien stroke.

Perawat

Pengetahuan perawat tentang

pengurangan bahaya fisiologis

imobilisasi pada pasien stroke

• Baik

• Cukup

• Kurang

Sikap perawat tentang

pengurangan bahaya fisiologis

imobilisasi pada pasien stroke

• Positif

(47)
[image:47.595.108.549.166.729.2]

2. Definisi Operasional

Tabel 2.1 Variabel, defenisi operasional, alat ukur, hasil ukur dan skala

No. Variabel Defenisi

Operasional

Alat Ukur Hasil Ukur Skala

1.

2.

Pengetahuan

Sikap

•Pengetahuan

adalah segala

sesuatu yang

diketahui dan

dipahami oleh

perawat dalam

pengurangan

bahaya fisiologis

imobilisasi padasistem

metabolik, sistem respiratori, sistem kardiovaskuler, sistem

muskuloskeletal, sistem integumen

dan sistem

eliminasi pasien

stroke

•Sikap adalah

respon/perasaan positif atau negatif

perawat dalam

mengurangi

bahaya fisiologis

imobilisasi pada

sistem metabolik, sistem respiratori, sistem

kardiovaskuler, sistem

muskuloskeletal, sistem integumen

dan sistem

eliminasi.

Kuesioner terdiri dari 20

pertanyaan dengan 3 hasil ukur yaitu pengetahu

an baik,

cukup, kurang serta pilihan jawaban bentuk pilihan ganda Kuesioner terdiri dari 15

pertanyaan positif dengan 2 hasil ukur yaitu positif dan negatif serta pilihan jawaban: selalu, sering, kadang-kadang dan tidak pernah

•Baik: apabila

responden

mendapat skor

14-20,

•Cukup: apabila

responden mendapat skor 7-13,

•Kurang: apabila

responden mendapat skor 0-6.

•Positif: apabila

responden

mendapat skor, 38-60,

•* MEtif: apabila

mendapat skor

15-37.

Interval

(48)

1. Desain Penelitian

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif yang

bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan sikap perawat

tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi pada pasien stroke di Ruang

RA4 RSUP H. Adam Malik.

2. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh perawat yang bertugas di

Ruang RA4 RSUP H. Adam Malik yang berjumlah 16 orang dengan latar

belakang pendidikan SPK, DIII Keperawatan dan S1 Keperawatan.

Sesuai dengan Arikunto (2002) yang menjelaskan bahwa bila populasi

kurang dari 100 orang maka sampel yang dipilih dengan menggunakan total

sampling yaitu semua populasi yang ada dijadikan sampel penelitian.

3. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama 11 bulan di RSUP H. Adam Malik pada

bulan September 2014 – Juni 2015. Alasan peneliti memilih RSUP H. Adam

Malik sebagai tempat penelitian karena rumah sakit ini merupakan rujukan bagi

pasien stroke di wilayah SUMUT. Peneliti melakukan penelitian secara spesifik di

Ruang RA4 karena ruangan tersebut adalah ruangan khusus bagi pasien stroke

(49)

4. Pertimbangan Etik

Pertimbangan etik penelitian bertujuan untuk melindungi hak-hak

subjektif untuk menjamin kerahasiaan identitas responden dan kemungkinan

terjadinya ancaman terhadap responden. Sebelum pelaksanaan penelitian, peneliti

memperkenalkan diri terlebih dahulu serta menjelaskan maksud dan tujuan

penelitian kepada responden. Responden membaca serta memahami isi dan surat

persetujuan (informed consent) sebagai bukti kesediaan menjadi responden.

Responden berhak menolak atau pun mengundurkan diri selama proses penelitian.

Untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak mencantumkan nama

responden pada lembar pengumpulan data (kuesioner).

5. Instrumen Penelitian

Untuk memperoleh informasi dari responden, peneliti mengumpulkan data

menggunakan alat berupa kuesioner yang disusun sendiri oleh peneliti dengan

berpedoman pada konsep teori di tinjauan pustaka. Instrumen ini terdiri dari 3

bagian yaitu kuesioner data demografi responden, kuesioner tingkat pengetahuan

perawat dan kuesioner sikap perawat dalam mengurangi bahaya fisiologis

imobilisasi.

5.1. Kuesioner Data Demografi

Instrumen penelitian tentang pengumpulan data demografi berisi nama

(inisial), umur, tingkat pendidikan, dan lama kerja. Data demografi responden

(50)

5.2. Kuesioner Pengetahuan

Kuesioner pengetahuan perawat terdiri dari pertanyaan dengan metode

multiple choice. Kuesioner terdiri dari 20 pertanyaan dimana untuk setiap

pertanyaan yang dijawab benar diberi nilai 1 dan jika salah diberi nilai 0. Nilai

tertinggi yang diperoleh adalah 20 dan terendah adalah 0. Berdasarkan rumus

statistik menurut Sudjana (2002)

p=rentang/banyak kelas

Dimana p merupakan panjang kelas dengan rentang sebesar 20 (selisih

nilai tertinggi dan nilai terendah) dan banyak kelas sebanyak 3 kelas (pengetahuan

baik, cukup, kurang) maka didapatkan panjang kelas sebesar 6. Dengan

menggunakan p=6 dan nilai terendah 0 sebagai batas bawah kelas interval

pertama, maka pengetahuan perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis

imobilisasi pada pasien stroke adalah sebagai berikut:

0 – 6 = pengetahuan kurang

7 – 13 = pengetahuan cukup

14 – 20= pengetahuan baik

5.3. Kuesioner Sikap

Kuesioner sikap perawat terdiri dari pertanyaan dengan pilihan jawaban

Selalu (SL), Sering (SR), Kadang-kadang (KK), dan Tidak Pernah (TP).

(51)

Likert merupakan skala yang dapat dipergunakan untuk mengukur sikap,

pendapat, dan persepsi seseorang tentang suatu gejala atau fenomena tertentu.

Untuk pernyataan positif jawaban SL diberi nilai 4, SR diberi nilai 3, KK diberi

nilai 2 dan TP diberi nilai 1 dan untuk pernyataan negatif jawaban SL diberi nilai

1, SR diberi nilai 2, KK diberi nilai 3 dan TP diberi nilai 4. Namun kuesioner

yang digunakan peneliti terdiri dari 15 pernyataan yang keseluruhannya adalah

pernyataan positif. Nilai tertinggi yang diperoleh adalah 60 dan terendah adalah

15. Berdasarkan rumus statistik menurut Sudjana (2002)

p=rentang kelas/banyak kelas

Dimana p merupakan panjang kelas dengan rentang sebesar 45 (selisih

nilai tertinggi dan terendah) dan banyak kelas sebanyak 2 kelas (sikap positif dan

negatif) maka didapatkan panjang kelas sebesar 22. Dengan menggunakan p = 22

dan 15 sebagai batas interval pertama maka sikap perawat dalam upaya

pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi pada pasien stroke adalah sebagai

berikut:

15-37 = sikap negatif

38-60 = sikap positif

6. Uji Validitas dan Reliabilitas

6.1. Uji Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan

(52)

mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkap data dari variabel yang

diteliti secara tepat (Arikunto, 2010). Uji yang dilakukan adalah dengan cara

validitas isi (content validity) yang diuji oleh dosen yang ahli dengan nilai=1.

6.2. Uji Reliabilitas

Reliabilitas ialah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat

pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan

sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten atau tetap asas (ajeg) bila

dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama, dengan

menggunakan alat ukur yang sama. Namun perlu dicatat bahwa uji perhitungan

reliabilitas hanya dilakukan pada pertanyaan-pertanyaan yang sudah memiliki

validitas (Notoadmojo, 2010).

Uji reliabilitas dilakukan pada bulan Mei 2015 di RSU Pirngadi Medan

terhadap 10 orang responden yang memiliki karakteristik yang sama dengan

sampel yang akan diteliti di lokasi penelitian. Uji reliabilitas dilakukan dengan

menggunakan SPSS untuk analisa cronchbach alpa dengan hasil koefisien

reliabilitas untuk variabel pengetahuan adalah 0,712 dan untuk variabel sikap

adalah 0,792. Hal ini dapat diterima untuk instrumen yang baru, sesuai pendapat

Polit & Hunger (1995) bahwa suatu instrumen dikatakan reliabel jika memiliki

nilai reliabilitas lebih dari 0, 70.

7. Pengumpulan Data

Data penelitian diambil di Ruang RA4 RSUP H. Adam Malik Medan selama 2

(53)

1. Mengajukan permohonan izin pelaksanaan penelitian pada Fakultas

Keperawatan Universitas Sumatera Utara dan izin uji etik Keperawatan

penelitian pada Komisi Etik.

2. Mengirim surat ijin penelitian dari Fakultas Keperawatan USU ke tempat

penelitian di RSUP H. Adam Malik Medan. Setelah mendapat persetujuan

dari RSUP H. Adam Malik Medan, peneliti memulai penelitian.

3. Peneliti meminta kesediaan responden untuk mengikuti penelitian.

4. Peneliti menjelaskan tentang prosedur, manfaat penelitian dan cara

pengisian kuesioner.

5. Setelah mendapat persetujuan responden, pengisian kuesioner dimulai.

6. Kuesioner dikumpulkan kembali oleh peneliti dan diperiksa

kelengkapannya. Apabila ada yang tidak lengkap, dilengkapi saat itu juga.

Selanjutnya data dikumpulkan untuk dianalisa.

8. Analisa Data

Data yang terkumpul lalu diolah. Hasil pengolahan dan analisis data yang

akan diproses dengan bantuan komputer bergantung pada kualitas data. Proses

pengolahan data harus melalui tahap-tahap berikut:

8.1. Editing

Hasil wawancara, angket, atau pengamatan dari lapangan harus dilakukan

penyuntingan (editing) terlebih dahulu. Secara umum editing adalah merupakan

(54)

8.2. Coding

Setelah semua kuesioner diedit atau disunting, selanjutnya dilakukan

peng”kodean” atau “coding”, yakni mengubah data berbentuk kalimat atau huruf

menjadi data angka atau bilangan

8.3. Data Entry

Data yakni jawaban-jawaban dari masing-masing responden yang dalam

bentuk “kode” (angka atau huruf) dimasukkan ke dalam program atau “software”

komputer. Salah satu paket program yang paling sering digunakan untuk

menganalisa data penelitian adalah paket program SPSS for Window.

8.4. Cleaning

Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden selesai

dimasukkan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan-kemungkinan

adanya kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan sebagainya, kemudian dilakukan

pembetulan atau koreksi.

Metode statistik untuk analisa data yang digunakan dalam penelitian ini

adalah dalam bentuk statistik univariat. Statistik univariat adalah suatu prosedur

utuk menganalisa data dari satu variabel yang bertujuan untuk mendeskripsikan

suatu hasil penelitian (Polit & Hunger, 1999).

Untuk data demografi disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi. Begitu

(55)

pengukurannya dalam ordinal sehingga tampilan datanya dalam bentuk distribusi

(56)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini diuraikan hasil penelitian dan pembahasan tentang

pengetahuan dan sikap perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi

pada pasien stroke di Ruang RA4 RSUP Haji Adam Malik Medan. Penelitian ini

telah dilaksanakan mulai dari bulan September 2014 sampai dengan juni 2015

dengan jumlah responden sebanyak 16 orang perawat.

1. Hasil Penelitian

Hasil penelitian dijabarkan mulai dari deskripsi karakteristik responden,

tingkat pengetahuan perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi

pada pasien stroke dan sikap perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis

(57)
[image:57.595.115.528.205.577.2]

1.1 Karakteristik Responden

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Perawat yang Merawat Pasien Stroke

di Ruang RA4 di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2015

Karakteristik Responden Jumlah

Persentase

Umur

- 20-29 tahun 0 0

- 30-39 tahun 6 37,5

- >40 tahun 10 62,5

Tingkat Pendidikan

- SPK 7 43,8

- DIII Keperawatan 4 25,0

- S1 Keperawatan 5 31,2

- S2 Keperawatan 0 0

Lama Bekerja

- <3 tahun 0 0

- 3-6 tahun 0 0

- >6 tahun 16 100,0

Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan diperoleh data karakteristik

responden berdasarkan umur terbanyak berada pada rentang usia >40 tahun yaitu

62,5% (n=10) sementara responden yang berada pada rentang usia 30-39 tahun

adalah 37,5% (n=6) dan responden yang berada pada rentang usia 20-29 tahun

adalah 0% (n=0). Berdasarkan tingkat pendidikan responden terbanyak adalah

Gambar

Tabel 2.1 Variabel, defenisi operasional, alat ukur, hasil ukur dan skala
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Perawat yang Merawat Pasien Stroke
Tabel 2. Distribusi frekuensi tingkat pengetahuan responden tentang pengurangan
Tabel 3. Distribusi frekuensi jawaban responden tentang tingkat pengetahuan
+3

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tindakan perawat dalam pencegahan infeksi saluran kemih pada pasien yang terpasang kateter dengan menggunakan desain deskriptif

Bagi perawat, yang memiliki pengetahuan tinggi, sikap positif dan baik dalam melaksanakan perencanaan pemulangan pasien agar mempertahankan dan meningkatkan kemampuannya kearah

Kesimpulan : Ada hubungan antara komunikasi oleh perawat dan jaminan rasa aman oleh perawat dengan tingkat kepuasan keluarga pasien imobilisasi stroke di Unit Stroke RSUD

pasien post operasi adalah mengkaji perasaan klien, menetapkan respon fisiologis klien terhadap nyeri, lokasi nyeri, tingkat keparahan, dan kualitas nyeri.. 2 Tingkat keparahan

Utami, (2009) Hubungan antara pengetahuan dengan sikap perawat dalam pemenuhan kebutuhan spiritual pasien di BRSUD Sukoharjo. Dibuka pada tanggal 16

terhadap objek atau stimulus, dalam arti, membahasnya dengan orang lain dan.. bahkan mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain

Pengetahuan Perawat tentang Perawatan Paliatif pada Pasien Kanker di RSUP Haji Adam Malik

“ Hubungan Tekanan Darah dengan Tingkat Keparahan pada Pasien Stroke.. Akut di