RSUP H. Adam Malik Medan
SKRIPSI
Oleh Puspa A Sihaloho
111101035
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
RSUP H. Adam Malik Medan
SKRIPSI
Oleh Puspa A Sihaloho
111101035
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
RSUP H. Adam Malik Medan
Nama : Puspa A Sihaloho
NIM : 111101035
Program : Sarjana Keperawatan
Tahun : 2015
Abstrak
Stroke adalah penyakit atau gangguan fungsional otak berupa kelumpuhan saraf akibat terhambatnya aliran darah ke otak. Kelumpuhan pada pasien stroke mengakibatkan imobilisasi. Setiap sistem tubuh beresiko terjadi gangguan jika terjadi perubahan mobilisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi pada pasien stroke dengan menggunakan desain penelitian deskriptif. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juni 2015 yang melibatkan 16 orang
perawat dengan metode pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 9 orang responden (56,2%) memiliki tingkat pengetahuan baik, 7 orang responden (43,8%) memiliki tingkat pengetahuan cukup dan 0 responden memiliki tingkat pengetahuan kurang. Sedangkan untuk sikap diperoleh bahwa hampir seluruh responden yaitu 15 orang responden (93,8%) memiliki sikap positif dan hanya 1 orang responden (6,2%) memiliki sikap negatif. Perawat diharapkan dapat aktif dan selalu berinisiatif untuk mendapatkan informasi atau pengetahuan baru tentang perkembangan ilmu keperawatan khususnya tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi pada pasien stroke. Saran untuk Rumah Sakit adalah agar meningkatkan kualitas tenaga kesehatan Indonesia khususnya perawat demi tercapainya kualitas pelayanan kesehatan yang prima.
Medan
Name of Student : Rinata Br. Panjaitan
Std. ID Number : 111101072
Department : S1 (Undergraduate) Nursing
Academic Year : 2014-2015
ABSTRACT
Breast cancer is the most common disease found in women. Breast cancer and its treatment give impact to the physical and psychological condition of the patients. This impact influences the quality of the patients’ life. Furthermore, life quality is individual perceptions about life viewed from four domains such as physical, psychological, social, and environmental domain. The study in this research is aimed at identifying the life quality of women diagnosed with breast cancer who were being hospitalized at Central General Hospital of Haji Adam Malik Medan. This research applied analytical descriptive method and purposive sampling technique. The data were collected through interviews using questionnaires consisting of demographical data questionnaire and World Healt Organization Wualiti of Life questionnaire (WHOQOL – BREF) that have gone through the validity test by Wulandari (2004) whose samples were 30 women with breast cancer. The results of this research show that the quality of the hospitalized patients with breast cancer at Central General Hospital of Haji Adam Malik Medan is categorized into good quality (83.3%). Finally, it is suggested to the nurses to provide a holistic nursing care to the patients in order to improve the quality of the patients’ life.
Puji dan syukur kepada Allah Bapa di surga karena berkat dan kasih
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Tingkat
Pengetahuan Dan Sikap Perawat Tentang Pengurangan Bahaya Fisiologis
Imobilisasi Pada Pasien Stroke di Ruang RA4 RSUP H. Adam Malik Medan”.
Selama mengerjakan skripsi ini penulis mendapatkan banyak bantuan dan
dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis
menyampaikan terima kasih kepada:
1. Dekan Fakultas Keperawatan Bapak dr. Dedi Ardinata, M.Kes, Ibu
Erniyati, S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan I, Ibu Evi Karota Bukit,
S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan II, Bapak Ikhsanuddin Ahmad
Harahap, S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan III.
2. Bapak Achmad Fathi S.Kep, Ns.,MNS selaku dosen pembimbing
akademik yang telah memberikan begitu banyak bimbingan dan arahan
selama saya mengikuti perkuliahan di Fakultas Keperawatan.
3. Ibu Fatwa Imelda S.Kep, Ns, M.Biomed selaku dosen pembimbing yang
telah menyediakan waktu dan memberi saran serta kritik yang bermanfaat
kepada saya dalam penyusunan skripsi ini.
4. Ibu Nur Asiah, S.Kep, Ns, M.Biomed selaku dosen penguji I dan Ibu
Nurbaiti, S.Kep, Ns, M.Biomed selaku dosen penguji II yang bersedia
menguji saya dan memberikan masukan untuk perbaikan penyusunan
Tarigan S.Kp, M.Kes selaku dosen Fakultas Keperawatan yang telah
menguji validitas kuesioner tingkat pengetahuan dan sikap perawat serta
memberikan tanggapan dan saran kepada penulis.
6. Kepada seluruh dosen Fakultas Keperawatan yang telah mendidik penulis
selama proses perkuliahan dan staf non akademik yang telah membantu
memfasilitasi secara administrasi.
7. Seluruh keluarga tercinta, Ayahanda F Sihaloho, Ibunda L Sianturi, serta
saudara-saudari saya (Kak Jenny, Kak Melda, Bang Jhonson, Kak Ester,
Adik Asri dan Adik Risna) atas setiap dukungan doa, daya dan dana yang
diberikan.
8. Saudari KTB saya (Kak Junita, Tetty, Renta, Rinata, Ria dan Ira), terima
kasih untuk doa dan semangat yang diberikan.
9. Teman-teman seperjuangan Fkep stambuk 2011 terimakasih untuk
bantuan dan semangat yang telah diberikan.
10.Pihak RSUP H. Adam Malik Medan yang telah memberikan saya izin
untuk melakukan penelitian dan memberikan informasi terkait dengan
penelitian.
11.Pihak RSU Pirngadi yang telah memberikan saya izin untuk melakukan uji
reliabilitas penelitian.
12.Kepada seluruh pihak yang tidak dapat saya sebutkan namanya satu per
yang telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini, dan semoga skripsi ini
bermanfaat bagi dunia keperawatan.
Medan, Agustus 2015
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN ORISINALITAS... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
ABSTRAK ... iv
PRAKATA ... vi
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL... xi
DAFTAR SKEMA ... xii
BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
1. Latar belakang ... 1
2. Rumusan masalah ... 5
3. Pertanyaan penelitian ... 5
4. Tujuan penelitian ... 5
5. Manfaat penelitian ... 6
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 7
1. Pengetahuan ... 7
1.1 Definisi pengetahuan ... 7
1.2 Jenis pengetahuan ... 7
1.3 Tingkat pengetahuan ... 9
1.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan ... 10
1.5 Pengukuran pengetahuan ... 12
2. Sikap... 13
2.1 Definisi sikap ... 13
2.2 Komponen pokok sikap ... 12
2.3 Tingkatan sikap ... 15
2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dan pengubahan sikap ... 16
2.5 Pengukuran sikap ... 17
3. Konsep sroke ... 17
3.1 Defenisi stroke ... 17
3.2 Klasifikasi stroke ... 18
3.3 Faktor resiko stroke ... 19
3.4 Manifestasi klinis ... 19
3.5 Penyebab stroke ... 20
3.6 Mobilitas pada pasien stroke ... 21
4. Bahaya fisiologis imobilisasi ... 22
1. Kerangka konseptual ... 30
2. Definisi operasional ... 31
BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN ... 32
1. Desain penelitian ... 32
2. Populasi dan sampel penelitian ... 32
3. Waktu dan lokasi penelitian ... 32
4. Pertimbangan etik ... 33
5. Instrumen penelitian ... 33
6. Uji validitas dan reliabilitas ... 35
7. Pengumpulan data ... 36
8. Analisa data ... 37
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 40
1. Hasil penelitian ... 40
1.1 Karakteristik demografi responden ... 40
1.2 Tingkat pengetahuan perawat ... 42
1.2 Sikap perawat ... 42
2. Pembahasan ... 47
2.1 Tingkat pengetahuan perawat ... 47
2.2 Sikap perawat ... 51
BAB 6 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 54
1. Kesimpulan ... 54
2. Rekomendasi ... 54
3. Keterbatasan penelitian ... 59
DAFTAR PUSTAKA ... 57
LAMPIRAN ... 60
1. Lembar persetujuan menjadi responden... 60
2. Instrumen penelitian ... 61
3. Hasil uji reliabilitas ... 68
4. Master tabel ... 72
5. Hasil pengolahan data ... 75
6. Taksasi dana penelitian ... 87
7. Riwayat hidup ... 88
8. Lembar persetujuan validitas ... 104
9. Surat etik penelitian... 105
10.Surat izin survei awal ... 106
14.Surat izin pengambilan data dari RSUP Haji Adam Malik... 112
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Definisi Operasional ... 31
Tabel 1 Distribusi frekuensi dan persentasi karakteristik perawat
di Ruang RA4 RSUP H. Adam Malik Medan………40
Tabel 2 Distribusi frekuensi dan persentase tingkat pengetahuan perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi pada pasien stroke di Ruang RA4 RSUP H. Adam Malik Medan……….42
Tabel 3 Distribusi frekuensi dan persentase jawaban responden tentang tingkat pengetahuan perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi pada pasien stroke di Ruang RA4 RSUP H. Adam Malik Medan ... ………...42
Tabel 4 Distribusi frekuensi dan persentase sikap perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi pada pasien stroke
di Ruang RA4 RSUP H. Adam Malik Medan………44
Tabel 5 Distribusi frekuensi dan persentase jawaban sikap
perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi
DAFTAR SKEMA
RSUP H. Adam Malik Medan
Nama : Puspa A Sihaloho
NIM : 111101035
Program : Sarjana Keperawatan
Tahun : 2015
Abstrak
Stroke adalah penyakit atau gangguan fungsional otak berupa kelumpuhan saraf akibat terhambatnya aliran darah ke otak. Kelumpuhan pada pasien stroke mengakibatkan imobilisasi. Setiap sistem tubuh beresiko terjadi gangguan jika terjadi perubahan mobilisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi pada pasien stroke dengan menggunakan desain penelitian deskriptif. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juni 2015 yang melibatkan 16 orang
perawat dengan metode pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 9 orang responden (56,2%) memiliki tingkat pengetahuan baik, 7 orang responden (43,8%) memiliki tingkat pengetahuan cukup dan 0 responden memiliki tingkat pengetahuan kurang. Sedangkan untuk sikap diperoleh bahwa hampir seluruh responden yaitu 15 orang responden (93,8%) memiliki sikap positif dan hanya 1 orang responden (6,2%) memiliki sikap negatif. Perawat diharapkan dapat aktif dan selalu berinisiatif untuk mendapatkan informasi atau pengetahuan baru tentang perkembangan ilmu keperawatan khususnya tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi pada pasien stroke. Saran untuk Rumah Sakit adalah agar meningkatkan kualitas tenaga kesehatan Indonesia khususnya perawat demi tercapainya kualitas pelayanan kesehatan yang prima.
Medan
Name of Student : Rinata Br. Panjaitan
Std. ID Number : 111101072
Department : S1 (Undergraduate) Nursing
Academic Year : 2014-2015
ABSTRACT
Breast cancer is the most common disease found in women. Breast cancer and its treatment give impact to the physical and psychological condition of the patients. This impact influences the quality of the patients’ life. Furthermore, life quality is individual perceptions about life viewed from four domains such as physical, psychological, social, and environmental domain. The study in this research is aimed at identifying the life quality of women diagnosed with breast cancer who were being hospitalized at Central General Hospital of Haji Adam Malik Medan. This research applied analytical descriptive method and purposive sampling technique. The data were collected through interviews using questionnaires consisting of demographical data questionnaire and World Healt Organization Wualiti of Life questionnaire (WHOQOL – BREF) that have gone through the validity test by Wulandari (2004) whose samples were 30 women with breast cancer. The results of this research show that the quality of the hospitalized patients with breast cancer at Central General Hospital of Haji Adam Malik Medan is categorized into good quality (83.3%). Finally, it is suggested to the nurses to provide a holistic nursing care to the patients in order to improve the quality of the patients’ life.
1. Latar Belakang
Stroke adalah penyakit atau gangguan fungsional otak berupa kelumpuhan
saraf (deficit neurologic) akibat terhambatnya aliran darah ke otak (Junaidi, 2011).
Menurut Organisasi kesehatan dunia (WHO) stroke adalah adanya tanda-tanda
klinik yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (global) dengan
gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan
kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskular. Stroke
merupakan penyakit yang paling sering menyebabkan cacat berupa kelumpuhan
anggota gerak, gangguan bicara, proses berpikir daya ingat, dan bentuk-bentuk
kecacatan yang lain sebagai akibat gangguan fungsi otak (Muttaqin, 2008).
Menurut berbagai literatur, insiden stroke perdarahan antara 15% - 30%
dan stroke iskemik antara 70% - 85%. Akan tetapi, untuk negara-negara
berkembang atau Asia kejadian stroke perdarahan sekitar 30% dan iskemik 70%.
Stroke iskemik disebabkan antara lain oleh trombosis otak (penebalan dinding
arteri) 60%, emboli 5% (sumbatan mendadak) dan lain-lain 35%. Di Amerika
diperkirakan setiap tahunnya masih terjadinya sekitar 500.000 pasien stroke baru
dan sekitar 150.000 yang meninggal berkenaan dengan stroke (Iskandar, 2011).
Prevalensi stroke di Indonesia berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan
sebesar 7 per seribu penduduk dan yang terdiagnosis tenaga kesehatan atau gejala
kesehatan tertinggi di Sulawesi Utara (10,8‰), diikuti DI Yogyakarta (10,3‰),
Bangka Belitung dan DKI Jakarta masing-masing 9,7 per seribu penduduk.
Prevalensi Stroke berdasarkan terdiagnosis tenaga kesehatan dan gejala tertinggi
terdapat di Sulawesi Selatan (17,9‰), DI Yogyakarta (16,9‰), Sulawesi Tengah
(16,6‰), diikuti Jawa Timur sebesar 16 per seribu penduduk. Prevalensi penyakit
stroke pada kelompok yang didiagnosis tenaga kesehatan serta yang didiagnosis
tenaga kesehatan atau gejala meningkat seiring dengan bertambahnya umur,
tertinggi pada umur ≥75 tahun (43,1‰ dan 67,0‰). Prevalensi stroke yang
terdiagnosis tenaga kesehatan maupun berdasarkan diagnosis atau gejala sama
tinggi pada laki-laki dan perempuan. Prevalensi stroke di kota lebih tinggi dari di
desa, baik berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan (8,2‰) maupun berdasarkan
diagnosis tenaga kesehatan atau gejala (12,7‰). Sementara di Sumatera Utara
prevalensi stroke berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan (6,0‰) dan terdiagnosis
tenaga kesehatan dan gejala (10,3‰) (RISKESDAS, 2013).
Kelumpuhan adalah salah satu ketidakmampuan yang paling sering dari
stroke. Kelumpuhan biasanya ada pada sisi tubuh berlawanan dengan sisi otak
yang rusak oleh stroke, dan dapat berdampak pada wajah, lengan, kaki, atau
seluruh sisi tubuh tersebut. Kelumpuhan satu sisi ini disebut hemiplegia jika
melibatkan ketidakmampuan total untuk bergerak atau hemiparesisjika kurang
dari kelemahan total. Pasien stroke dengan hemiparesis atau hemiplegia dapat
memilliki kesulitan dalam aktivitas sehari-hari seperti berjalan dan menggenggam
benda. Beberapa pasien stroke memiliki masalah dengan menelan, disebut
menelan. Kerusakan otak bagian bawah, serebellum, dapat berdampak pada
kemampuan tubuh untuk mengoordinasikan pergerakan, sebuah ketidakmampuan
disebut ataxia, mengakibatkan masalah dengan postur tubuh, berjalan dan
keseimbangan (National Institute of Neurological Disorder and Stroke, 2008).
Kelumpuhan yang dialami pasien stroke sebagai akibat kerusakan saraf
lokal mengakibatkan pasien stroke mengalami keterbatasan mobilisasi. Potter &
Perry (2006) menyatakan bahwa apabila ada perubahan mobilisasi, maka setiap
sistem tubuh berisiko terjadi gangguan. Tingkat keparahan dari gangguan tersebut
tergantung pada umur klien, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan, serta
tingkat imobilisasi yang dialami. Bahaya fisiologis yang terjadi pada pasien
imobilisasi mempengaruhi sistem metabolik, sistem respiratori, sistem
kardiovaskuler, sistem muskuloskeletal, sistem integumen dan sistem eliminasi.
Potter & Perry (2006) memaparkan bahaya fisiologis yang terjadi pada
pasien imobilisasi sebagai berikut: perubahan metabolik berupa laju metabolik
yang terganggu yaitu metabolisme karbohidrat, lemak dan protein,
ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, ketidakseimbangan kalsium dan
gangguan pencernaan; perubahan respiratorik berupa komplikasi paru-paru yaitu
atelektasis dan pneumonia hipostatik; perubahan kardiovaskuler yaitu hipotensi
ortostatik, peningkatan beban kerja jantung dan pembentukan trombus; perubahan
muskuloskeletal yaitu kehilangan daya tahan, penurunan massa otot, atrofi dan
penurunan stabilitas; perubahan sistem integumen yaitu dekubitus; perubahan
Penelitian Suheri (2009) pada pasien tirah baring menyatakan bahwa dari
45 orang pasien tirah baring yang di rawat di RSUP Haji Adam Malik Medan
sebanyak 88,8% mengalami luka dekubitus derajat I pada hari kelima perawatan
dengan diagnosa yang paling banyak adalah pasien stroke sebanyak 33,3%, head
injury 11,1%, fraktur 15,6%, sisanya adalah pasien bedrest yang memerlukan
perawatan lama.
Perawat dan ahli terapi rehabilitasi membantu pasien yang mampu untuk
menampilkan secara progresif latihan-latihan yang banyak dan rumit, seperti
mandi, berpakaian dan menggunakan toilet, dan mereka menganjurkan pasien
untuk mulai menggunakan tungkai dan lengan selama melakukan latihan-latihan
tersebut. Mulai untuk mewajibkan kembali kemampuan akan aktivitas hidup
sehari-hari merupakan langkah awal bagi penderita stroke untuk mandiri
(National Institute of Neurological Disorder and Stroke, 2008).
Perawat sebagai petugas kesehatan memiliki peran penting dalam upaya
meminimalkan bahaya fisiologis imobilisasi pada pasien stroke. Perawat
mempunyai peranan yang sangat besar dalam memberikan asuhan keperawatan
dan dukungan pada pasien stroke dan keluarganya. Perawat harus memiliki
pengetahuan dan sikap yang mendukung dalam upaya meminimalkan bahaya
fisiologis imobilisasi pada pasien stroke untuk peningkatan pelayanan kesehatan
yang bermutu. Untuk itu penulis tertarik untuk meneliti pengetahuan dan sikap
perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi pada pasien stroke di
2. Perumusan Masalah
Bagaimana tingkat pengetahuan dan sikap perawat tentang pengurangan bahaya
fisiologis imobilisasi di Ruang RA4 RSUP Haji Adam Malik Medan?
3. Pertanyaan Penelitian
3.1. Bagaimana gambaran tingkat pengetahuan perawat tentang pengurangan
bahaya fisiologis imobilisasi pada pasien stroke di Ruang RA4 RSUP Haji Adam
Malik Medan?
3.2. Bagaimana gambaran sikap perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis
imobilisasi pada pasien stroke di Ruang RA4 RSUP Haji Adam Malik Medan?
4. Tujuan Penelitian
4.1. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan perawat tentang pengurangan bahaya
fisiologis imobilisasi pada pasien stroke di Ruang RA4 RSUP Haji Adam Malik
Medan.
4.2. Untuk mengetahui sikap perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis
imobilisasi pada pasien stroke di Ruang RA4 RSUP Haji Adam Malik Medan.
5. Manfaat Penelitian
5.1. Pendidikan keperawatan
Penelitian ini digunakan sebagai penambah informasi dalam pendidikan
keperawatan untuk memperluas khasanah berpikir keperawatan khususnya
5.2. Pelayanan keperawatan
Penelitian ini merupakan tambahan pengetahuan bagi layanan keperawatan
dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan untuk kesejahteraan umat
manusia khususnya dalam hal pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi pada
pasien stroke.
5.3. Penelitian keperawatan
Penelitian ini digunakan sebagai bahan referensi untuk penelitian yang
akan datang dalam ruang lingkup yang sama serta bisa memacu peneliti lainnya
untuk meneliti perilaku perawat yang mencakup tiga domain yaitu, sikap,
pengetahuan dan keterampilan tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi
1. Tingkat Pengetahuan
1.1. Defenisi Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman,
rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan
telinga (Notoatmodjo, 2007).
1.2. Jenis Pengetahuan
Budiman & Agus (2013) menyatakan bahwa jenis pengetahuan di
antaranya sebagai berikut:
1.2.1.Pengetahuan Implisit
Pengetahuan implisit adalah pengetahuan yang masih tertanam dalam
bentuk pengalaman seseorang dan berisi faktor-faktor yang tidak bersifat nyata
seperti keyakinan pribadi, perspektif, dan prinsip. Pengetahuan implisit sering kali
berisi kebiasaan dan budaya bahkan bisa tidak disadari. Contoh sederhana:
seseorang mengetahui tentang bahaya merokok bagi kesehatan, namun ternyata
dia merokok.
1.2.2.Pengetahuan Eksplisit
Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang telah didokumentasikan
atau disimpan dalam wujud nyata, bisa dalam wujud perilaku kesehatan.
dengan kesehatan.Contoh sederhana: seseorang yang telah mengetahui tentang
bahaya merokok bagi kesehatan dan ternyata dia tidak merokok.
1.3. Tingkat Pengetahuan
Ranah kognitif berorientasi kepada kemampuan berfikir, mencakup
kemampuan intelektual yang paling sederhana yaitu mengingat, sampai dengan
kemampuan untuk memecahkan masalah (problem solving). Pada ranah ini
individu dituntut untuk menghubungkan dan menggabungkan gagasan, metode
atau prosedur yang sebelumnya telah dipelajari untuk memecahkan masalah
tersebut (Nurhidayah, 2010).
Benyamin Bloom (1908) dalam Notoadmojo (2010) menyatakan bahwa
pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu:
1.3.1. Tahu (Know)
Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada
sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Misalnya: tahu bahwa buah tomat banyak
mengandung vitamin C. Untuk mengetahui atau mengukur bahwa orang tahu
sesuatu dapat menggunakan pertanyaan-pertanyaan, misalnya: apa tanda-tanda
anak yang kurang gizi, apa penyebab penyakit TBC, dan sebagainya.
1.3.2. Memahami (comprehension)
Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak
sekadar dapat menyebutkan, tetapi harus dapat menginterpretasikan secara benar
pemberantasan penyakit demam berdarah, bukan hanya sekedar menyebutkan 3 M
(Mengubur, Menutup, dan Menguras), tetapi juga harus dapat menjelaskan
mengapa melakukan 3 M tersebut.
1.3.3. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang
dimaksud dapat mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi
yang lain. Misalnya, seseorang yang telah paham metodologi penelitian, ia akan
mudah membuat proposal penelitian di mana saja.
1.3.4. Analisis (analysis)
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan/atau
memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang
terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi bahwa
pengetahuan seseorang itu sudah sampai pada tingkat analisis adalah apabila
orang tersebut telah dapat membedakan, memisahkan, mengelompokkan,
membuat diagram (bagan) terhadap pengetahuan objek tersebut. Misalnya, dapat
membedakan antara nyamuk Aedes Agepty dengan nyamuk biasa.
1.3.5. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau
meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen
pengetahuan yang dimiliki. Misalnya, dapat membuat atau meringkas dengan
1.3.6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini didasarkan
pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku di
masyarakat. Misalnya, seorang ibu dapat menilai atau menentukan seorang anak
menderita malnutrisi atau tidak.
1.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Budiman & Agus (2013) menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi
pengetahuan sebagai berikut:
1.4.1.Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan
kemampuan di dalam dan di luar sekolah (baik formal maupun non formal),
berlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin
tinggi pendidikan seseorang, makin mudah orang tersebut untuk menerima
informasi. Namun, perlu ditekankan bahwa seorang yang berpendidikan rendah
tidak berarti mutlak berpengetahuan rendah pula. Pengetahuan seseorang tentang
sesuatu objek juga mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan negatif dimana
kedua aspek inilah yang akhirnya akan menentukan sikap seseorang terhadap
objek tertentu. Semakin banyak aspek positif dari objek yang diketahui, maka
1.4.2. Informasi/media massa
Informasi adalah suatu teknik untuk mengumpulkan, menyiapkan,
menyimpan, memanipulasi, mengumumkan, menganalisis, dan menyebarkan
informasi dengan tujuan tertentu (Undang-Undang Teknologi Informasi).
Informasi tidak dapat diuraikan (intangible) tetapi informasi tersebut dapat
dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, yang diperoleh dari data dan pengamatan
terhadap dunia sekitar kita, serta diteruskan melalui komunikasi. Informasi
mencakup data, teks, gambar, suara, kode, program komputer, dan basis data.
1.4.3. Sosial, budaya, dan ekonomi
Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang adalah tanpa melalui
penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk. Dengan demikian, seseorang
akan bertambah pengetahuannya walaupun tidak melakukan. Status ekonomi
seseorang juga akan menentukan tersedianya suatu fasilitasyang diperlukan untuk
kegiatan tertentu sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi
pengetahuan seseorang.
1.4.4. Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik
lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap
proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan
tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik ataupun tidak, yang
1.4.5. Pengalaman
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk
memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali
pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi masa
lalu. Pengalaman belajar dalam bekerja yang dikembangkan memberikan
pengetahuan dan keterampilan profesional, serta pengalaman belajar selama
bekerja akan dapat mengembangkan kemampuan mengambil keputusan yang
merupakan manifestasi dari keterpaduan menalar secara ilmiah dan etik yang
bertolak dari masalah nyata dalam bidang kerjanya.
1.4.6. Usia
Usia memengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin
bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya
sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik. Pada usia madya,
individu akan lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan sosial, serta
lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya menyesuaikan diri
menuju usia tua. Namun pada usia tua, individu akan mengalami kemunduran
baik fisik maupun mental.
1.5. Pengukuran Pengetahuan
Budiman & Agus (2013) menyatakan bahwa menurut Skinner, bila
seseorang mampu menjawab mengenai materi tertentu baik secara lisan maupun
tulisan, maka dikatakan seseorang tersebut mengetahui bidang tersebut.
Pengukuran bobot pengetahuan seseorang ditetapkan menurut hal-hal sebagai
berikut:
1. Bobot I : tahap tahu dan pemahaman.
2. Bobot II : tahap tahu, pemahaman, aplikasi, dan analisis.
3. Bobot III : tahap tahu, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
Pengukuran dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang
menanyakan tentang isi materi yang diukur dari subjek penelitian atau responden.
Arikunto (2006) membuat kategori tingkat pengetahuan seseorang menjadi tiga
tingkatan yang didasarkan pada nilai persentase yaitu sebagai berikut:
1. Tingkat pengetahuan kategori Baik jika nilainya ≥ 75%.
2. Tingkat pengetahuan kategori Cukup jika nilainya 56–74%.
3. Tingkat pengetahuan kategori Kurang jika nilainya < 55%.
2. Sikap
2.1 Defenisi Sikap
Sikap adalah juga respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek
tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan
(senang-tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik, dan sebagainya).
Campbell (1950) mendefinisikan sangat sederhana, yakni: “an individual’s
attitude is syndrome of response consistency with regard to object.” Jadi jelas, di
merespons stimulus atau objek, sehingga sikap itu melibatkan pikiran, perasaan,
perhatian, dan gejala kejiwaan yang lain (Notoatmodjo, 2010).
Sikap yang terdapat pada diri individu akan memberi warna atau corak
tingkah laku ataupun perbuatan individu yang bersangkutan. Dengan memahami
atau mengetahui sikap individu, dapat diperkirakan respon atau perilaku yang
akan diambil oleh individu yang bersangkutan. Kecenderungan bertindak dari
individu, berupa respon tertutup terhadap stimulus ataupun objek tertentu adalah
suatu sikap (Sunaryo, 2004).
2.2. Komponen Pokok Sikap
Menurut Allport (1954) dalam Notoatmodjo (2010) sikap terdiri dari 3
komponen pokok, yaitu:
2.2.1. Kepercayaan atau keyakinan, ide, dan konsep terhadap objek. Artinya,
bagaimana keyakinan dan pendapat atau pemikiran seseorang terhadap objek.
Sikap orang terhadap penyakit kusta misalnya, berarti bagaimana pendapat atau
keyakinan orang tersebut terhadap penyakit kusta.
2.2.2. Kehidupan emosional atau evaluasi orang terhadap objek, artinya
bagaimana penilaian (terkandung di dalamnya faktor emosi) orang tersebut
terhadap objek. Seperti contoh di atas tersebut, berarti bagaimana orang menilai
terhadap penyakit kusta, apakah penyakit yang biasa saja atau penyakit yang
membahayakan.
2.2.3. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave), artinya sikap adalah
adalah ancang-ancang untuk bertindak atau berperilaku terbuka (tindakan).
Misalnya, tentang contoh sikap terhadap penyakit kusta di atas, adalah apa yang
dilakukan seseorang bila ia menderita penyakit kusta.
2.3. Tingkatan Sikap
Menurut Notoadmojo (2010) berdasarkan intensitasnya sikap mempunyai
tingkat-tingkat sebagai berikut:
2.3.1.Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau menerima stimulus
yang diberikan (objek). Misalnya, sikap seseorang terhadap periksa hamil (ante
natal care), dapat diketahui atau diukur dari kehadiran si ibu untuk mendengarkan
penyuluhan tentang ante natal care di lingkungannya.
2.3.2.Menanggapi (responding)
Menanggapi di sini diartikan memberikan jawaban atau tanggapan
terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi. Misalnya, seorang ibu yang
mengikuti penyuluhan ante natal care tersebut ditanya atau diminta menanggapi
oleh penyuluh, kemudian ia menjawab atau menanggapinya.
2.3.3.Menghargai (valuing)
Menghargai diartikan subjek,atau seseorang memberikan nilai yang positif
terhadap objek atau stimulus, dalam arti, membahasnya dengan orang lain dan
bahkan mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain merespons.
suaminya, atau bahkan mengajak tetangganya untuk mendengarkan penyuluhan
ante natal care.
2.3.4.Bertanggung jawab (responsible)
Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab terhadap
apa yang telah diyakininya. Seseorang yang telah mengambil sikap tertentu
berdasarkan keyakinannya, dia harus berani mengambil risiko bila ada orang lain
yang mencemoohkan atau adanya risiko lain. Contoh tersebut di atas, ibu yang
sudah mau mengikuti penyuluhan ante natal care, ia harus berani untuk
mengorbankan waktunya, atau mungkin kehilangan penghasilannya, atau diomeli
oleh mertuanya karena meninggalkan rumah dan sebagainya.
2.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan dan Pengubahan Sikap
Pada manusia sebagai faktor sosial, pembentukan sikap tidak lepas dari
pengaruh interaksi satu sama lainnya (eksternal). Di samping itu manusia juga
individu, sehingga apa yang datang dari dalam dirinya (internal) juga
mempengaruhi pembentukan sikap (Notoatmodjo, 2003).
2.4.1.Faktor internal
Dalam hal ini individu menerima, mengolah dan memilih segala sesuatu
yang datang dari luar, serta menentukan mana yang akan diterima dan mana yang
tidak. Faktor internal menyangkut motif dan sikap yang bekerja dalam diri
individu pada saat itu serta mengarahkan minat, perhatian (faktor psikologis) juga
2.4.2.Faktor eksternal
Merupakan stimulus untuk membentuk dan menentukan sikap. Stimulus
tersebut dapat bersifat langsung, misalnya individu dengan individu, individu
dengan kelompok. Dapat juga bersifat tidak langsung yaitu melalui perantara alat
komunikasi.
2.5. Pengukuran Sikap
Budiman & Agus (2013) menyatakan bahwa ranah afektif tidak dapat
diukur seperti halnya ranah kognitif, karena dalam ranah afektif kemampuan yang
diukur adalah: menerima (memperhatikan), merespons, menghargai,
mengorganisasi, dan menghayati. Skala yang digunakan untuk mengukur ranah
afektif seseorang terhadap kegiatan suatu objek di antaranya menggunakan skala
Likert.
Hasil pengukuran berupa kategori sikap, yakni mendukung (positif),
menolak (negatif), dan netral. Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan
berperilaku pada seseorang. Oleh sebab itu, pernyataan yang diajukan dibagi ke
dalam dua kategori, yakni pernyataan positif dan pernyataan negatif.
3. Konsep Stroke
3.1. Defenisi Stroke
Menurut WHO stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang
cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (global) dengan gejala-gejala yang
penyebab lain yang jelas selain vaskular. Stroke merupakan penyakit yang paling
sering menyebabkan cacat berupa kelumpuhan anggota gerak, gangguan bicara,
proses berpikir daya ingat, dan bentuk-bentuk kecacatan yang lain sebagai akibat
gangguan fungsi otak (Muttaqin, 2008).
Stroke adalah gangguan fungsional otak fokal maupun global akibat
terhambatnya aliran darah ke otak karena perdarahan ataupun sumbatan dengan
gejala dan tanda sesuai bagian otak yang terkena, yang dapat sembuh sempurna,
sembuh dengan cacat ,atau kematian (Junaidi, 2011).
3.2. Klasifikasi Stroke
Menurut Muttaqin (2008) stroke terbagi atas:
3.2.1.Stroke hemoragi
Merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan subaraknoid.
Disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada area otak tertentu. Biasanya
kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat
istirahat. Perdarahan otak dibagi dua, yaitu:
3.2.1.1.Perdarahan intraserebral. Pecahnya pembuluh darah(mikroaneurisma)
terutama karena hipertensi mengakibatkan darah masuk ke dalam jaringan otak,
dan menimbulkan edema otak.
3.2.1.2.Perdarahan subaraknoid. Perdarahan ini berasal dari pecahnya aneurisma
berry atau AVM. Aneurisma yang pecahnya ini berasal dari pembuluh darah
3.2.2.Stroke nonhemoragik
Dapat berupa iskemia atau emboli dan trombosis serebral, biasanya terjadi
saat setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau di pagi hari. Tidak terjadi
perdarahan namun terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnya
dapat timbul edema sekunder. Kesadaran umumnya baik.
3.3. Faktor Resiko Stroke
Menurut Muttaqin (2008) beberapa faktor penyebab stroke antara lain:
1. Hipertensi, merupakan faktor resiko utama
2. Penyakit kardiovaskular-embolisme serebral berasal dari jantung
3. Kolesterol tinggi
4. Obesitas
5. Peningkatan hematokrit meningkatkan risiko infark serebral
6. Diabetes-terkait dengan aterogenesis terakselerasi
7. Kontrasepsi oral (khususnya dengan hipertensi, merokok, dan kadar estrogen
tinggi)
8. Merokok
9. Penyalahgunaan obat (khususnya kokain)
10. Konsumsi alkohol
3.4. Manifestasi Klinis
• Mulut mencong (facial drop)
Normal: kedua sisi muka bergerak simetris
• Gangguan bicara dan bahasa
Normal: dapat mengucapkan kata/kalimat dengan benar dan jelas
Abnormal: tidak mampu/bicara rero/pelo/cadel, kalimat yang salah
• Lengan lemah (arm drift)
Normal: kedua lengan dapat bergerak bersamaan dan sejajar
Abnormal: salah satu lengan bergerak turun/tidak sejajar
3.5. Penyebab Stroke
Menurut Muttaqin (2008), penyebab stroke adalah sebagai berikut:
3.5.1.Trombosis serebral
Trombosis ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami oklusi
sehingga menyebabkan iskemi jaringan otak yang dapat menimbulkan oedema
dan kongesti di sekitarnya.
3.5.2.Hemoragi
Perdarahan intrakranial atau intraserebral termasuk perdarahan dalam
ruang subaraknoid atau ke dalam jaringan otak sendiri. Perdarahan ini dapat
terjadi karena aterosklerosis dan hipertensi.
3.5.3.Hipoksia umum
Hipertensi yang parah, henti jantung-paru, curah jantung turun akibat
aritmia.
3.5.4. Hipoksia setempat
Spasme arteri serebral, yang disertai perdarahan subaraknoid,
3.6. Mobilitas Pada Pasien Stroke
Stroke adalah penyakit saraf motorik atas/upper motoric nerve (UMN) dan
mengakibatkan kehilangan kontrol volunter terhadap gerakan motorik. Oleh
karena UMN bersilangan, gangguan kontrol motor volunter pada salah satu sisi
tubuh dapat menunjukkan kerusakan pada UMN di sisi yang berlawanan dari otak
(Muttaqin, 2008). Apabila stroke merusak bagian sebelah kanan otak, maka sisi
tubuh yang di sebelah kiri yang terkena pengaruhnya. Sedangkan jika kerusakan
terjadi pada bagian otak sebelah kiri, maka kelumpuhan dan kelemahan motorik
(daya gerak) tubuh pada sisi sebelah kanan terjadi. Apabila sisi sebelah kanan
mengalami kerusakan, maka pasien akan mengalami kesulitan-kesulitan dengan
persepsi spasial. Seringkali salah satu sisi tubuhnya terabaikan, tidak menyadari
keberadaan sisi sebelah kiri tubuhnya (Shimberg, 1998).
Mobilisasi atau rehabilitasi dini di tempat tidur merupakan suatu program
rehabilitasi yang segera dilakukan, khususnya selama beberapa hari sampai
minggu setelah terkena stroke. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya
kekakuan otot (kontraktur), mengoptimalkan pengobatan sehubungan masalah
medis dan menyediakan bantuan psikologis pasien dan keluarganya. Bila usaha
ini dilakukan dengan segera, maka kekakuan otot dapat berkurang secara cepat
perhari sekitar 3%. Pengerelaksasian kekakuan otot (dekondisioning) mulai
dilakukan dalam waktu 24-48 jam pertama. Pada kondisi ini katabolisme
meningkat, depresi psikologis, stasis pembuluh vena, kapasitas vital menurun,
perlambatan gerakan saluran cerna. Stasis urinaria juga dapat dijumpai. Terapi
koma sekalipun dengan menggerakkan anggota tubuhnya. Program awal
rehabilitasi/mobilisasi dini dilakukan secepatnya. Pasien yang diperbolehkan
mengangkat kepala, duduk, dan berdiri maka perbaikan fungsi dapat diharapkan
dengan lebih baik (Junaidi, 2011).
4. Bahaya Fisiologis Imobilisasi 4.1. Perubahan fisiologis imobilisasi
Potter & Perry (2006) menyatakan bahwa apabila ada perubahan
mobilisasi, maka setiap sistem tubuh beresiko terjadi gangguan. Tingkat
keparahan dari gangguan tersebut tergantung pada umur klien, dan kondisi
kesehatan secara keseluruhan, serta tingkat imobilisasi yang dialami.
4.1.1.Perubahan metabolik
Imobilisasi mengganggu fungsi metabolik normal, antara lain laju
metabolik; metabolisme karbohidrat, lemak dan protein; ketidakseimbangan
cairan dan elektrolit; ketidakseimbangan kalsium; dan gangguan pencernaan.
Keberadaan proses infeksius pada klien imobilisasi mengalami peningkatan BMR
(Basal Metabolic Rate) diakibatkan karena demam atau penyembuhan luka.
Demam dan penyembuhan luka meningkatkan kebutuhan oksigen selular
(McCance dan Huether, 1994).
Defisiensi kalori dan protein merupakan karakteristik klien yang
mengalami penurunan selera makan sekunder akibat imobilisasi. Jika lebih
banyak nitrogen (produk akhir pemecahan asam amino) yang diekskresikan dari
keseimbangan nitrogen negatif, dan kehilangan berat badan, penurunan massa
otot, dan kelemahan akibat katabolisme jaringan. Kehilangan protein
menunjukkan penurunan massa otot terutama pada hati, jantung, paru-paru,
saluran pencernaan, dan sistem kekebalan (Long et al,1993).
4.1.2.Perubahan sistem respiratori
Klien imobilisasi berisiko tinggi mengalami komplikasi paru-paru dimana
yang paling umum adalah atelektasis dan pneumonia hipostatik. Pneumonia
hipostatik adalah peradangan paru-paru akibat stasisnya sekresi. Atelektasis dan
pneumonia hipostatik, keduanya sama-sama menurunkan oksigenasi,
memperlama penyembuhan, dan menambah ketidaknyamanan (Long et al, 1993).
Sekret yang menetap menumpuk di bronkus dan paru menyebabkan pertumbuhan
bakteri yang selanjutnya berkembang menjadi pneumonia. Infeksi pulmonal tetap
berkembang meskipun dilakukan intervensi untuk pencegahannya.
4.1.3.Perubahan sistem kardiovaskuler
Hipotensi ortostatik adalah penurunan tekanan darah sistolik 25 mmHg
dan diastolik 10 mmHg ketika klien bangun dari posisi berbaring atau duduk ke
posisi berdiri. Pada klien imobilisasi, terjadi penurunan sirkulasi volume cairan,
pengumpulan darah pada ekstremitas bawah, dan penurunan respons otonom.
Faktor-faktor tersebut mengakibatkan penurunan aliran balik vena, diiikuti oleh
penurunan curah jantung yang terlihat pada penurunan tekanan darah (McCance
dan Huether, 1994). Ditandai dengan sakit kepala ringan, pusing, kelemahan,
kelelahan, kehilangan energi, gangguan visual, dispnea, ketidaknyaman kepala
Klien juga berisiko terjadi pembentukan trombus. Trombus adalah
akumulasi trombosit, fibrin, faktor-faktor pembekuan darah dan elemen sel-sel
darah yang menempel pada dinding bagian anterior vena atau arteri,
kadang-kadang menutup lumen pembuluh darah.
4.1.4.Perubahan sistem muskuloskeletal
Pengaruh imobilisasi pada sistem muskuloskeletal meliputi gangguan
mobilisasi permanen. Keterbatasan mobilisasi mempengaruhi otot klien melalui
kehilangan daya tahan, penurunan massa otot, atrofi, penurunan stabilitas,
gangguan metabolisme kalsium dan gangguan mobilisasi sendi.
Penurunan stabilitas terjadi akibat kehilangan daya tahan, penurunan
massa otot, atrofi, dan kelainan sendi yang aktual. Sehingga klien tersebut tidak
mampu bergerak terus-menerus dan sangat berisiko untuk jatuh. Imobilisasi dapat
mengakibatkan kontraktur sendi. Kontraktur sendi adalah kondisi abnormal dan
biasa permanen yang ditandai oleh sendi fleksi dan terfiksasi.hal ini disebabkan
tidak digunakannya, atrofi dan pemendekan serat otot. Jika terjadi kontraktur
maka sendi tidak dapat mempertahankan rentang gerak dengan penuh (Lehmkuhl
et al, 1990).
4.1.5.Perubahan sistem integumen
Dekubitus terjadi akibat iskemia dan anoksia jaringan. Jaringan yang
tertekan, darah membelok, dan konstriksi kuat pada pembuluh darah akibat
tekanan persisten pada kulit dan struktur di bawah kulit, sehingga respirasi seluler
terganggu, dan sel menjadi mati (Ebersole dan Hess, 1994). Dekubitus adalah
berpengaruh terhadap populasi klien khusus-lansia dan yang imobilisasi
(Alterescu dan Alterescu, 1992). Kerusakan integritas kulit mempunyai dampak
yang bermakna pada tingkat kesejahteraan, asuhan keperawatan, dan lamanya
perawatan di rumah sakit.
4.1.6.Perubahan eliminasi urin
Eliminasi urin klien berubah oleh adanya imobilisasi. Pada posisi tegak
lurus, urin mengalir keluar dari pelvis ginjal lalu masuk ke ureter dan kandung
kemih akibat gaya gravitasi. Ginjal yang membentuk urin harus masuk ke dalam
kandung kemih melawan gaya gravitasi. Akibat kontraksi peristaltik ureter yang
tidak cukup kuat melawan gaya gravitasi, pelvis ginjal menjadi terisi sebelum urin
masuk ke dalam ureter. Kondisi ini disebut statis urin dan meningkatkan risiko
infeksi saluran perkemihan dan batu ginjal.
4.2. Pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi
4.2.1. Sistem Metabolik
Ketika mengkaji fungsi metabolik, perawat menggunakan pengukuran
antropometrik untuk mengevaluasi atrofi otot, menggunakan pencatatan asupan
dan haluaran serta data laboratorium untuk mengevaluasi status cairan, elektrolit
maupun kadar serum protein, mengkaji penyembuhan luka untuk mengevaluasi
status cairan, elektrolit maupun kadar serum protein, mengkaji penyembuhan luka
untuk mengevaluasi perubahan transport nutrient, mengkaji asupan, makanan dan
Pada umumnya anoreksia terjadi pada klien imobilisasi.asupan makanan
klien harus dikaji terlebih dahulu sebelum nampan diberikan, untuk menentukan
jumlah yang dimakan. Ketidakseimbangan nutrisi dapat dihindari apabila perawat
mengkaji pola makan klien dan makanan yang disukai sebelum keadaan
imobilisasi.
Jika klien tidak bisa makan, nutrisi harus diberikan melalui parenteral dan
enteral. Pemberian makanan enteral meliputi pemberian melalui selang
nasogastrik, gastrostomi, jejunostomi dengan cairan tinggi protein, tinggi kalori
dengan tambahan vitamin lengkap, mineral, dan elektrolit.
4.2.2. Sistem Pernafasan
Perawat harus memotivasi klien bernafas dalam dan batuk setiap 1 sampai
2 jam. Klien yang waspada dapat diajarkan untuk bernafas dalam dan menguap
setiap jam. Kegiatan ini mengembangkan semua lobus paru dan mencegah
atelektasis. Batuk dapat mengurangi statis sekresi pulmonal. Sekret yang stagnasi
dapat dikurangi dengan mengubah posisi klien setiap dua jam. Perubahan
mereposisikan paru yang menggantung dan memobilisasikan sekret. Pada klien
yang tidak sadar dengan jalan nafas buatan, perawat dapat mengembangkan dada
dan paru dengan menggunakan ambu bag.
4.2.3. Sistem Kardiovaskuler
Ketika klien dipindahkan dari posisi telentang ke kursi, klien harus diubah
posisinya bertahap. Ketika melakukan prosedur ini, perawat harus mencatat
adanya perubahan ortostatik. Perawat mengumpulkan tanda vital dasar pada klien
yang tinggi selama beberapa waktu agar tubuh beradaptasi terhadap setiap
perubahan tanda vital. terus-menerus memantai klien adanya pusing dan sakit
kepala ringan, dan menanyakan apakah klien melihat bintik-bintik. Meskipun
tidak semua klien mengalami mengalami hipotensi ortostatik, klien harus dipantau
tanda vitalnya ketika klien mencoba duduk atau berdiri pertama kali.
Cara paling efektif untuk mengatasi trombosis vena profunda (deep vein
trombosis, DVT) adalah melalui program pemberian profilaksis yang tepat. Hal
ini dimulai dengan identifikasi klien yang beresiko, dilanjutkan pada klien
imobilisasi atau beresiko lainnya. Stocking kompresi bertahap dapat mencegah
DVT selama klien yang tepat dan regimen yang tepat (Evans, 1991). Stocking
seharusnya tidak dipakai jika terdapat kondisi lokal yang mempengaruhi kaki
(mis. lesi kulit, gangren atau menerima ligasi vena). Stocking harus digunakan
dengan tepat dan dilepaskan serta kembali dipasang minimal dua kali sehari.
Apabila klien diduga terjadi DVT maka perawat harus melaporkan segera. Kaki
harus ditinggikan tanpa ada penekanan trombus. Keluarga, klien, dan tenaga
kesehatan tidak dibenarkan melakukan pemijitan di area tersebut karena bahaya
pengeluaran trombus.
4.2.4. Sistem Muskuloskeletal
Klien imobilisasi harus mendapatkan beberapa latihan untuk mencegah
otot yang tidak digunakan secara berlebihan, atrofi, dan kontraktur sendi. Jika
klien tidak mampu menggerakkan sebagian ataupun seluruh bagian tubuhnya,
maka perawat harus melakukan latihan rentang gerak pasif untuk semua sendi
jika salah satu ekstremitas paralisis, klien diajarkan menggunakan setiap sendinya
secara mandiri melalui latihan rentang gerak.
Klien tirah baring harus melakukan latihan rentang gerak aktif yang
dimasukkan dalam jadwal sehari-hari. Klien melakukan latihan ini dalam aktivitas
sehari-harinya. Salah satu contoh latihan aktif dalam aktivitas sehari-hari adalah
mengambil buku di samping tempat tidur untuk melatih bahu (abduksi). Latihan
rentang gerak aktif mempertahankan fungsi sistem muskuloskeletal. Perawat juga
harus merencanakan intervensi untuk mengembalikan mobilisasi pada klien yang
mampu melakukan aktivitas normal bertahap.
4.2.5. Sistem Integumen
Resiko utama pada kulit akibat keterbatasan mobilisasi adalah dekubitus.
Oleh karena itu intervensi keperawatan berfokus pada pencegahan dan
penatalaksanaan. Intervensi keperawatan adalah sebagai berikut: memeriksa kulit
secara sistematik minimal satu kali sehari, khususnya di bagian penonjolan tulang;
membersihkan kulit pada waktu kotor pada interval waktu tertentu;
meminimalkan faktor lingkungan yang menyebabkan kulit kering; tidak
melakukan pemijatan di atas daerah penonjolan tulang; meminimalkan paparan
kulit dari kelembapan akibat inkontinensia, keringat atau cairan luka; pemberian
posisi yang sesuai untuk meminimalkan cedera kulit akibat friksi dan gaya gesek
dengan teknik memindahkan dan bergerak yang benar.
4.2.6. Sistem Eliminasi
Intervensi keperawatan untuk mempertahankan fungsi optimal pada
distensi kandung kemih dan mencegah statis urin, terbentuk batu, dan infeksi.
Untuk mencegah distensi kandung kemih, perawat mengkaji frekuensi dan jumlah
haluaran urin. Klien dengan urin yang menetes terus-menerus dan kandung kemih
yang distensi menujukkan inkontinensia overflow. Jika klien imobilisasi tidak
dapat mengontrol eliminasi urinnya secara sadar maka perawat harus
memasukkan kateter sementara atau menetap untuk mencegah distensi. Perawat
juga harus mencatat frekuensi dan konsistensi defekasi. Diet kaya buah-buahan,
sayur-sayuran, dan dalam jumlah banyak mendukung peristaltik normal. Jika
klien tidak mampu mempertahankan pola eliminasi bowel normal maka dokter
1. Kerangka Konseptual
Kerangka konsep penelitian di bawah ini menjelaskan pengetahuan dan
sikap perawat dalam upaya untuk mengurangi bahaya fisiologis imobilisasi pada
pasien stroke.
Perawat
Pengetahuan perawat tentang
pengurangan bahaya fisiologis
imobilisasi pada pasien stroke
• Baik
• Cukup
• Kurang
Sikap perawat tentang
pengurangan bahaya fisiologis
imobilisasi pada pasien stroke
• Positif
2. Definisi Operasional
Tabel 2.1 Variabel, defenisi operasional, alat ukur, hasil ukur dan skala
No. Variabel Defenisi
Operasional
Alat Ukur Hasil Ukur Skala
1.
2.
Pengetahuan
Sikap
•Pengetahuan
adalah segala
sesuatu yang
diketahui dan
dipahami oleh
perawat dalam
pengurangan
bahaya fisiologis
imobilisasi padasistem
metabolik, sistem respiratori, sistem kardiovaskuler, sistem
muskuloskeletal, sistem integumen
dan sistem
eliminasi pasien
stroke
•Sikap adalah
respon/perasaan positif atau negatif
perawat dalam
mengurangi
bahaya fisiologis
imobilisasi pada
sistem metabolik, sistem respiratori, sistem
kardiovaskuler, sistem
muskuloskeletal, sistem integumen
dan sistem
eliminasi.
Kuesioner terdiri dari 20
pertanyaan dengan 3 hasil ukur yaitu pengetahu
an baik,
cukup, kurang serta pilihan jawaban bentuk pilihan ganda Kuesioner terdiri dari 15
pertanyaan positif dengan 2 hasil ukur yaitu positif dan negatif serta pilihan jawaban: selalu, sering, kadang-kadang dan tidak pernah
•Baik: apabila
responden
mendapat skor
14-20,
•Cukup: apabila
responden mendapat skor 7-13,
•Kurang: apabila
responden mendapat skor 0-6.
•Positif: apabila
responden
mendapat skor, 38-60,
•* MEtif: apabila
mendapat skor
15-37.
Interval
1. Desain Penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif yang
bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan sikap perawat
tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi pada pasien stroke di Ruang
RA4 RSUP H. Adam Malik.
2. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh perawat yang bertugas di
Ruang RA4 RSUP H. Adam Malik yang berjumlah 16 orang dengan latar
belakang pendidikan SPK, DIII Keperawatan dan S1 Keperawatan.
Sesuai dengan Arikunto (2002) yang menjelaskan bahwa bila populasi
kurang dari 100 orang maka sampel yang dipilih dengan menggunakan total
sampling yaitu semua populasi yang ada dijadikan sampel penelitian.
3. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 11 bulan di RSUP H. Adam Malik pada
bulan September 2014 – Juni 2015. Alasan peneliti memilih RSUP H. Adam
Malik sebagai tempat penelitian karena rumah sakit ini merupakan rujukan bagi
pasien stroke di wilayah SUMUT. Peneliti melakukan penelitian secara spesifik di
Ruang RA4 karena ruangan tersebut adalah ruangan khusus bagi pasien stroke
4. Pertimbangan Etik
Pertimbangan etik penelitian bertujuan untuk melindungi hak-hak
subjektif untuk menjamin kerahasiaan identitas responden dan kemungkinan
terjadinya ancaman terhadap responden. Sebelum pelaksanaan penelitian, peneliti
memperkenalkan diri terlebih dahulu serta menjelaskan maksud dan tujuan
penelitian kepada responden. Responden membaca serta memahami isi dan surat
persetujuan (informed consent) sebagai bukti kesediaan menjadi responden.
Responden berhak menolak atau pun mengundurkan diri selama proses penelitian.
Untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak mencantumkan nama
responden pada lembar pengumpulan data (kuesioner).
5. Instrumen Penelitian
Untuk memperoleh informasi dari responden, peneliti mengumpulkan data
menggunakan alat berupa kuesioner yang disusun sendiri oleh peneliti dengan
berpedoman pada konsep teori di tinjauan pustaka. Instrumen ini terdiri dari 3
bagian yaitu kuesioner data demografi responden, kuesioner tingkat pengetahuan
perawat dan kuesioner sikap perawat dalam mengurangi bahaya fisiologis
imobilisasi.
5.1. Kuesioner Data Demografi
Instrumen penelitian tentang pengumpulan data demografi berisi nama
(inisial), umur, tingkat pendidikan, dan lama kerja. Data demografi responden
5.2. Kuesioner Pengetahuan
Kuesioner pengetahuan perawat terdiri dari pertanyaan dengan metode
multiple choice. Kuesioner terdiri dari 20 pertanyaan dimana untuk setiap
pertanyaan yang dijawab benar diberi nilai 1 dan jika salah diberi nilai 0. Nilai
tertinggi yang diperoleh adalah 20 dan terendah adalah 0. Berdasarkan rumus
statistik menurut Sudjana (2002)
p=rentang/banyak kelas
Dimana p merupakan panjang kelas dengan rentang sebesar 20 (selisih
nilai tertinggi dan nilai terendah) dan banyak kelas sebanyak 3 kelas (pengetahuan
baik, cukup, kurang) maka didapatkan panjang kelas sebesar 6. Dengan
menggunakan p=6 dan nilai terendah 0 sebagai batas bawah kelas interval
pertama, maka pengetahuan perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis
imobilisasi pada pasien stroke adalah sebagai berikut:
0 – 6 = pengetahuan kurang
7 – 13 = pengetahuan cukup
14 – 20= pengetahuan baik
5.3. Kuesioner Sikap
Kuesioner sikap perawat terdiri dari pertanyaan dengan pilihan jawaban
Selalu (SL), Sering (SR), Kadang-kadang (KK), dan Tidak Pernah (TP).
Likert merupakan skala yang dapat dipergunakan untuk mengukur sikap,
pendapat, dan persepsi seseorang tentang suatu gejala atau fenomena tertentu.
Untuk pernyataan positif jawaban SL diberi nilai 4, SR diberi nilai 3, KK diberi
nilai 2 dan TP diberi nilai 1 dan untuk pernyataan negatif jawaban SL diberi nilai
1, SR diberi nilai 2, KK diberi nilai 3 dan TP diberi nilai 4. Namun kuesioner
yang digunakan peneliti terdiri dari 15 pernyataan yang keseluruhannya adalah
pernyataan positif. Nilai tertinggi yang diperoleh adalah 60 dan terendah adalah
15. Berdasarkan rumus statistik menurut Sudjana (2002)
p=rentang kelas/banyak kelas
Dimana p merupakan panjang kelas dengan rentang sebesar 45 (selisih
nilai tertinggi dan terendah) dan banyak kelas sebanyak 2 kelas (sikap positif dan
negatif) maka didapatkan panjang kelas sebesar 22. Dengan menggunakan p = 22
dan 15 sebagai batas interval pertama maka sikap perawat dalam upaya
pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi pada pasien stroke adalah sebagai
berikut:
15-37 = sikap negatif
38-60 = sikap positif
6. Uji Validitas dan Reliabilitas
6.1. Uji Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan
mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkap data dari variabel yang
diteliti secara tepat (Arikunto, 2010). Uji yang dilakukan adalah dengan cara
validitas isi (content validity) yang diuji oleh dosen yang ahli dengan nilai=1.
6.2. Uji Reliabilitas
Reliabilitas ialah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat
pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan
sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten atau tetap asas (ajeg) bila
dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama, dengan
menggunakan alat ukur yang sama. Namun perlu dicatat bahwa uji perhitungan
reliabilitas hanya dilakukan pada pertanyaan-pertanyaan yang sudah memiliki
validitas (Notoadmojo, 2010).
Uji reliabilitas dilakukan pada bulan Mei 2015 di RSU Pirngadi Medan
terhadap 10 orang responden yang memiliki karakteristik yang sama dengan
sampel yang akan diteliti di lokasi penelitian. Uji reliabilitas dilakukan dengan
menggunakan SPSS untuk analisa cronchbach alpa dengan hasil koefisien
reliabilitas untuk variabel pengetahuan adalah 0,712 dan untuk variabel sikap
adalah 0,792. Hal ini dapat diterima untuk instrumen yang baru, sesuai pendapat
Polit & Hunger (1995) bahwa suatu instrumen dikatakan reliabel jika memiliki
nilai reliabilitas lebih dari 0, 70.
7. Pengumpulan Data
Data penelitian diambil di Ruang RA4 RSUP H. Adam Malik Medan selama 2
1. Mengajukan permohonan izin pelaksanaan penelitian pada Fakultas
Keperawatan Universitas Sumatera Utara dan izin uji etik Keperawatan
penelitian pada Komisi Etik.
2. Mengirim surat ijin penelitian dari Fakultas Keperawatan USU ke tempat
penelitian di RSUP H. Adam Malik Medan. Setelah mendapat persetujuan
dari RSUP H. Adam Malik Medan, peneliti memulai penelitian.
3. Peneliti meminta kesediaan responden untuk mengikuti penelitian.
4. Peneliti menjelaskan tentang prosedur, manfaat penelitian dan cara
pengisian kuesioner.
5. Setelah mendapat persetujuan responden, pengisian kuesioner dimulai.
6. Kuesioner dikumpulkan kembali oleh peneliti dan diperiksa
kelengkapannya. Apabila ada yang tidak lengkap, dilengkapi saat itu juga.
Selanjutnya data dikumpulkan untuk dianalisa.
8. Analisa Data
Data yang terkumpul lalu diolah. Hasil pengolahan dan analisis data yang
akan diproses dengan bantuan komputer bergantung pada kualitas data. Proses
pengolahan data harus melalui tahap-tahap berikut:
8.1. Editing
Hasil wawancara, angket, atau pengamatan dari lapangan harus dilakukan
penyuntingan (editing) terlebih dahulu. Secara umum editing adalah merupakan
8.2. Coding
Setelah semua kuesioner diedit atau disunting, selanjutnya dilakukan
peng”kodean” atau “coding”, yakni mengubah data berbentuk kalimat atau huruf
menjadi data angka atau bilangan
8.3. Data Entry
Data yakni jawaban-jawaban dari masing-masing responden yang dalam
bentuk “kode” (angka atau huruf) dimasukkan ke dalam program atau “software”
komputer. Salah satu paket program yang paling sering digunakan untuk
menganalisa data penelitian adalah paket program SPSS for Window.
8.4. Cleaning
Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden selesai
dimasukkan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan-kemungkinan
adanya kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan sebagainya, kemudian dilakukan
pembetulan atau koreksi.
Metode statistik untuk analisa data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah dalam bentuk statistik univariat. Statistik univariat adalah suatu prosedur
utuk menganalisa data dari satu variabel yang bertujuan untuk mendeskripsikan
suatu hasil penelitian (Polit & Hunger, 1999).
Untuk data demografi disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi. Begitu
pengukurannya dalam ordinal sehingga tampilan datanya dalam bentuk distribusi
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini diuraikan hasil penelitian dan pembahasan tentang
pengetahuan dan sikap perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi
pada pasien stroke di Ruang RA4 RSUP Haji Adam Malik Medan. Penelitian ini
telah dilaksanakan mulai dari bulan September 2014 sampai dengan juni 2015
dengan jumlah responden sebanyak 16 orang perawat.
1. Hasil Penelitian
Hasil penelitian dijabarkan mulai dari deskripsi karakteristik responden,
tingkat pengetahuan perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis imobilisasi
pada pasien stroke dan sikap perawat tentang pengurangan bahaya fisiologis
1.1 Karakteristik Responden
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Perawat yang Merawat Pasien Stroke
di Ruang RA4 di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2015
Karakteristik Responden Jumlah
Persentase
Umur
- 20-29 tahun 0 0
- 30-39 tahun 6 37,5
- >40 tahun 10 62,5
Tingkat Pendidikan
- SPK 7 43,8
- DIII Keperawatan 4 25,0
- S1 Keperawatan 5 31,2
- S2 Keperawatan 0 0
Lama Bekerja
- <3 tahun 0 0
- 3-6 tahun 0 0
- >6 tahun 16 100,0
Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan diperoleh data karakteristik
responden berdasarkan umur terbanyak berada pada rentang usia >40 tahun yaitu
62,5% (n=10) sementara responden yang berada pada rentang usia 30-39 tahun
adalah 37,5% (n=6) dan responden yang berada pada rentang usia 20-29 tahun
adalah 0% (n=0). Berdasarkan tingkat pendidikan responden terbanyak adalah