Identifikasi Peubah Sosial Penentu Keberhasilan Pelestarian Jalak Bali (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912)

70 

Teks penuh

(1)

IDENTIFIKASI PEUBAH SOSIAL PENENTU

KEBERHASILAN PELESTARIAN JALAK BALI

(Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912)

INTAN PURNAMASARI

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Identifikasi Peubah Sosial Penentu Keberhasilan Pelestarian Jalak Bali (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912) adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Juli 2013

Intan Purnamasari

(4)

ABSTRAK

INTAN PURNAMASARI. Identifikasi Peubah Sosial Penentu Keberhasilan Pelestarian Jalak Bali (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912). Dibimbing oleh ARZYANA SUNKAR dan YANTO SANTOSA.

Jalak bali (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912) adalah satwa endemik yang saat ini habitat alaminya hanya terdapat di Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Jalak bali termasuk kedalam satwa terancam punah berdasarkan kategori IUCN. Kegiatan pelestarian jalak bali dapat dilakukan di dalam maupun di luar habitat alaminya, salah satunya melalui kegiatan penangkaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peubah sosial masyarakat Desa Sumberklampok yang berperan dalam keberhasilan pelestarian jalak bali. Penelitian dilakukan di Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng Provinsi Bali pada bulan Februari sampai Maret 2013. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi dan wawancara kepada 79 responden yang terdiri dari 19 orang anggota kelompok penangkar dan 60 orang non anggota kelompok penangkar yang dipilih secara acak. Peubah-peubah yang diamati adalah karakteristik responden, peubah budaya dan peubah pelestarian jalak bali yang dianalisis menggunakan uji chi square pada selang kepercayaan 95% dengan menggunakan software SPSS versi 20. Uji chi square menunjukkan bahwa terdapat korelasi nyata antara karakteristik responden dan peubah budaya, dengan peubah pelestarian jalak bali sebagai berikut: cerita rakyat, pengetahuan, keanggotaan dalam organisasi penangkar dan penghasilan responden berkorelasi dengan lama menangkar jalak bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peubah sosial penentu keberhasilan pelestarian jalak bali di penangkaran Desa Sumberklampok adalah peubah ekonomi dan budaya.

Kata kunci: Desa Sumberklampok, jalak bali, peubah pelestarian, penangkaran

INTAN PURNAMASARI.Identification of Determinant Societal Variables for Successful Bali Mynah (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912) Conservation. Supervised by ARZYANA SUNKAR and YANTO SANTOSA.

(5)

sampling. Respondents’ characteristics, cultural variables and bali mynah preservation variables were observed. Data was analyzed using chi square test ran on SPSS version 20. Results showed that cultural variables were significantly correlated with preservation variables. Folklore about bali mynah, knowledge of bali mynah, participation in captive breeding organization and income had significant correlations with length of period in conducting captive breeding. The research further concluded that the determinant societal variables in achieving successful bali mynah preservation could be categorized as economic and cultural variables.

(6)

Pelestarian Jalak Bali (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912). Dibimbing oleh ARZYANA SUNKAR dan YANTO SANTOSA.

Jalak bali (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912) adalah satwa endemik yang saat ini habitat alaminya hanya terdapat di Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Jalak bali termasuk kedalam satwa terancam punah berdasarkan kategori IUCN. Kegiatan pelestarian jalak bali dapat dilakukan di dalam maupun di luar habitat alaminya, salah satunya melalui kegiatan penangkaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peubah sosial masyarakat Desa Sumberklampok yang berperan dalam keberhasilan pelestarian jalak bali. Penelitian dilakukan di Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng Provinsi Bali pada bulan Februari sampai Maret 2013. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi dan wawancara kepada 79 responden yang terdiri dari 19 orang anggota kelompok penangkar dan 60 orang non anggota kelompok penangkar yang dipilih secara acak. Peubah-peubah yang diamati adalah karakteristik responden, peubah budaya dan peubah pelestarian jalak bali yang dianalisis menggunakan uji chi square pada selang kepercayaan 95% dengan menggunakan software SPSS versi 20. Uji chi square menunjukkan bahwa terdapat korelasi nyata antara karakteristik responden dan peubah budaya, dengan peubah pelestarian jalak bali sebagai berikut: cerita rakyat, pengetahuan, keanggotaan dalam organisasi penangkar dan penghasilan responden berkorelasi dengan lama menangkar jalak bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peubah sosial penentu keberhasilan pelestarian jalak bali di penangkaran Desa Sumberklampok adalah peubah ekonomi dan budaya.

Kata kunci : Desa Sumberklampok, jalak bali, peubah pelestarian, penangkaran

INTAN PURNAMASARI. Identification of Determinant Societal Variables for Successful Bali Mynah (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912) Conservation. Supervised by ARZYANA SUNKAR and YANTO SANTOSA.

(7)

economic and cultural variables.

(8)
(9)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan

pada

Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata

IDENTIFIKASI PEUBAH SOSIAL PENENTU

KEBERHASILAN PELESTARIAN JALAK BALI

(Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912)

INTAN PURNAMASARI

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(10)
(11)

Judul Skripsi : Identifikasi Peubah Sosial Penentu Keberhasilan Pelestarian Jalak Bali (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912)

Nama : Intan Purnamasari NIM : E34090039

Disetujui oleh

Dr Ir Arzyana Sunkar, MSc Pembimbing I

Dr Ir Yanto Santosa, DEA Pembimbing II

Diketahui oleh

Prof Dr Ir Sambas Basuni, MS Ketua Departemen

(12)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah yang berjudul Identifikasi Peubah Sosial Penentu Keberhasilan Pelestarian Jalak Bali (Leucopsar rothschildi

Stresemann, 1912) berhasil diselesaikan. Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Dr. Ir. Arzyana Sunkar, M.Sc dan Bapak Dr. Ir. Yanto Santosa, DEA selaku pembimbing yang telah banyak memberi saran dan arahan selama penelitian berlangsung dan dalam penulisan skripsi ini. Penghargaan penulis sampaikan kepada Balai Taman Nasional Bali Barat, Kelompok Penangkar Manuk Jegeg, Keluarga Bapak Nana Rukmana, Bapak Ismu, Bapak Abdul Kadi, Mas Andre, Mas Ari, Mas Ganda, Mas Boneng, dan Rita Novita, yang telah banyak membantu selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, kakak-kakak ku tercinta, seluruh keluarga besar KSHE, HIMAKOVA dan anggrek hitam, serta sahabat-sahabat terbaik saya atas segala doa dan kasih sayangnya.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Juli 2013

(13)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL ix

DAFTAR GAMBAR ix

DAFTAR LAMPIRAN ix

PENDAHULUAN

Latar Belakang 1

Rumusan Masalah 1

Tujuan 2

Manfaat 2

METODE

Lokasi dan Waktu 2

Alat dan Bahan 2

Jenis Data 2

Teknik Pengumpulan Data 4

Analisis Data 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Umum Lokasi Penelitian 5

Karakteristik Responden 7

Peubah Budaya 9

Peubah Pelestarian Jalak Bali 11

Hubungan antar Karakteristik Responden 11

Hubungan antara Peubah Budaya dengan Karakteristik Responden 13 Hubungan antara Peubah Pelestarian dengan Karakteristik Responden 14 Hubungan antara Peubah Pelestarian dengan Peubah Budaya 15 SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan 16

Saran 16

DAFTAR PUSTAKA 16

LAMPIRAN 19

(14)

DAFTAR TABEL

1 Jenis data yang dikumpulkan 3

2 Persentase karakteristik responden 7

3 Persentase responden berdasarkan sistem religi 9

4 Persentase tingkat pengetahuan responden 10

5 Data kegiatan penangkaran jalak bali 11

6 Hubungan antar karakteristik responden 12

7 Hubungan antara peubah budaya dengan karakteristik responden 13 8 Hubungan antara peubah pelestarian dengan karakteristik responden 14 9 Hubungan antara peubah pelestarian dengan peubah budaya 15

DAFTAR GAMBAR

1 Lokasi Penelitian 2

2 Kandang jalak bali 7

DAFTAR LAMPIRAN

1 Panduan wawancara 19

2 Lembar kuesioner 21

3 Hasil analisis chi-square antar karakteristik responden 22 4 Hasil analisis chi-square antara karakteristik responden dengan peubah

budaya 26

5 Hasil analisis chi-square antara karakteristik responden dengan peubah

pelestarian jalak bali 37

6 Hasil analisis chi-square antara peubah budaya dengan peubah

(15)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Jalak bali (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912) merupakan satwa endemik yang saat ini habitat alaminya hanya ditemukan di Taman Nasional Bali Barat (TNBB) dan menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) version 3.1 (2012) termasuk kedalam satwa yang berstatus terancam punah (critically endangered). Alikodra (1987) menyatakan bahwa jalak bali memiliki sifat biologis yang peka terhadap gangguan, memerlukan sarang khusus untuk berkembangbiak, serta mengalami tekanan dari masyarakat karena memiliki potensi ekonomi yang tinggi. Kegiatan pelestarian oleh karenanya penting dilakukan untuk meningkatkan kondisi populasi jalak bali baik secara insitu maupun eksitu melalui kegiatan penangkaran, salah satunya yaitu penangkaran jalak bali di Desa Sumberklampok.

Telah banyak kajian yang dilakukan untuk mengidentifikasi peubah-peubah penentu keberhasilan pengelolaan populasi satwaliar di alam maupun di penangkaran, namun sebagian besar masih berhubungan dengan peubah satwaliar itu sendiri (Teddy 1998; Prayana 2012; Purwaningsih 2012; Ratnawati 2012; Azis 2013). Penelitian yang mengkaji peubah-peubah sosial dalam keberhasilan pelestarian jalak bali serta teruji secara statistik masih belum ditemukan. Alikodra (1987), Bayu (2000), Kusnanto (2000) dan Suansa (2011) menyatakan bahwa masyarakat yang memiliki interaksi kuat dengan kawasan konservasi memberikan pengaruh terhadap keberhasilan pengelolaan kawasan karena mereka adalah pihak yang paling memahami kondisi lingkungan yang ada di sekitarnya. Kajian mengenai peubah sosial terkait dengan keberhasilan kegiatan penangkaran jalak bali yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Sumberklampok oleh karenanya penting untuk dilakukan.

Rumusan Masalah

Kegiatan pelestarian dapat dipengaruhi oleh karakteristik internal manusia yang melakukan kegiatan tersebut dan juga tingkat kebutuhannya. Hasil penelitian Syarif (2010) menunjukkan pertumbuhan tinggi pohon kedawung berkorelasi positif dengan petani yang menanamnya dengan rasa suka sedangkan hasil penelitian Wello (2008) menunjukkan keberadaan spesies tertentu yang digunakan masyarakat Sumba untuk kebutuhan adat, konsumsi, dan kebutuhan rumah. Lebih lanjut, Tarigan (1993) menyatakan bahwa partisipasi seseorang dipengaruhi oleh (1) keadaan sosial yaitu pendidikan, pendapatan, kebiasaan, kepemimpinan, keadaan keluarga, kemiskinan, kedudukan sosial, dan lainnya; (2) program pembangunan; dan (3) tingkat pengetahuan yang dimiliki. Pengetahuan mengenai manfaat dari suatu kegiatan akan membentuk sikap positif yang kemudian memunculkan niat dan diimplementasikan dalam bentuk perilaku.

(16)

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peubah-peubah sosial yang berperan dalam pelestarian jalak bali di Desa Sumberklampok.

Manfaat

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan terutama bagi pengelola kawasan konservasi dalam meningkatkan upaya pemberdayaan masyarakat dalam pelestarian satwaliar secara eksitu.

METODE

Lokasi dan Waktu

Penelitian dilakukan di Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng Provinsi Bali (Gambar 1). Penelitian dilakukan pada bulan Februari sampai Maret 2013.

`

Gambar 1 Lokasi penelitian

Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat tulis, perekam suara, kamera, panduan wawancara (Lampiran 1), dan kuesioner (Lampiran 2).

Jenis Data

(17)

Tabel 1 Jenis data yang dikumpulkan

No. Jenis Data Parameter Variabel Sumber Data

1. Peubah Sosial a. Karakteristik

masyarakat

Karakteristik responden

Suku, profesi penangkar, tingkat pendidikan, pendapatan, umur,

Jumlah penggunaan jalak bali dalam upacara keagamaan, intensitas pemanfaatan, bentuk pemanfaatan, asal jalak bali yang dimanfaatkan, jumlah individu jalak bali yang dimanfaatkan dalam satu jenis upacara keagamaan

Wawancara

Sistem organisasi & kemasyarakatan

Jumlah peraturan tertulis dan tidak tertulis, organisasi kemasyarakatan

Wawancara, observasi

Kesenian Jumlah penggunaan jalak bali dalam tarian, lagu, puisi, sajak, gurindam, lukisan, dongeng, cerita rakyat, dan simbol-simbol

Wawancara

Pengetahuan Tingkat & sumber pengetahuan Wawancara

Bahasa Jumlah penggunaan jalak bali sebagai nama jalan, merk, nama tempat, nama musim, nama bulan

Wawancara observasi

Mata Pencaharian

Jumlah penggunaan spesies secara ekonomi, Intensitas pengambilan (bahan konsumsi, obat, atau perdagangan)

Jumlah penggunaan unsur jalak bali dalam sistem teknologi dan peralatan (alat produktif, senjata, wadah, sumber api, pengolahan makanan, pembuat makanan, tempat berlindung dan alat transfer) SDM, sanitasi), Akses untuk melakukan penangkaran, Pihak yang terlibat dalam penangkaran, Jumlah bibit awal, Jumlah yang terjual, Jumlah yang ilepasliarkan, Jumlah dana yang dikeluarkan

Wawancara, Observasi

3. Jenis satwa yang ditangkar

Jalak Bali Bioekologi jalak bali, Studi pustaka

4. Lokasi studi Kondisi lokasi penelitian

Letak, luas, iklim, topografi, demografi masyarakat

(18)

Teknik Pengumpulan Data

Kegiatan pengumpulan data primer meliputi wawancara dan observasi lapang. Selain itu dilakukan pengumpulan data sekunder melalui studi pustaka. a. Wawancara

Wawancara menggunakan panduan wawancara dan kuesioner dengan unit sampel yaitu kepala keluarga. Jumlah responden yang diambil sebanyak 79 responden yang terdiri atas 19 responden anggota kelompok organisasi penangkar (15 orang penangkar dan 4 orang calon penangkar jalak bali) yang diambil secara sensus serta 60 responden yang diambil secara acak berdasarkan keterwakilan suku yaitu Bali dan Madura dengan jumlah masing-masing 30 responden.

b. Observasi lapang

Kegiatan observasi dilakukan terhadap aktivitas penangkaran jalak bali oleh para penangkar, serta kegiatan harian masyarakat Sumberklampok.

c. Studi Pustaka

Pustaka dikumpulkan melalui laporan Desa Sumberklampok tahun 2012, laporan bulanan kelompok penangkar jalak bali, serta karya ilmiah.

Analisis Data

Penentuan korelasi antar peubah karakteristik responden dan peubah budaya terhadap peubah pelestarian dilakukan dengan menggunakan uji chi square. Pengujian dilakukan dengan bantuan software SPSS 20. Pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan probabilitas (asymptotic significance) sebagai berikut:

1. Jika probabilitas > 0,05, maka H0 diterima

2. Jika probabilitas < 0,05, maka H0 ditolak atau H1 diterima

Peubah-peubah yang menunjukan adanya korelasi kemudian dipilih sebagai peubah penentu kelestarian jalak bali.

Hubungan antar karakteristik responden

Pengujian dilakukan terhadap 79 responden. Peubah yang diuji yaitu R1, R2, R3, R4, R5dan R6 yang menghasilkan 15 pasang peubah. Hipotesa yang dibangun :

H0 = R1/R2/R3/R4/R5/R6tidak berkorelasi dengan R1/R2/R3/R4/R5/R6 H1= R1/R2/R3/R4/R5/R6berkorelasi dengan R1/R2/R3/R4/R5/R6 Keterangan :

R1 = Suku; R2 = Tingkat pendidikan; R3 = Tingkat pendapatan; R4 = Umur; R5 = Profesi penangkar; R6 = Masa mukim

Hubungan karakteristik responden dengan peubah budaya

Pengujian dilakukan terhadap 79 responden. Peubah budaya yang diuji adalah X1, X2, X3, X4, dan X5 dengan 5 peubah responden yaitu R1, R2, R3, R4, R5dan R6 yang menghasilkan 30 pasang peubah. Hipotesa yang dibangun :

(19)

Keterangan :

R1 = Suku; R2 = Tingkat pendidikan; R3 = Tingkat pendapatan; R4 = Umur; R5 = Profesi penangkar; R6 = Masa mukim; X1 = Jumlah upacara keagamaan yang melibatkan jalak bali; X2 = Jumlah peraturan mengenai jalak bali; X3 = Jumlah kesenian dengan unsur jalak bali; X4= Tingkat pengetahuan mengenai jalak bali; X5 = Jumlah penggunaan jalak bali dalam terminology atau penamaan.

Hubungan peubah budaya dengan pelestarian jalak bali

Pengujian dilakukan terhadap 30 responden yang terdiri atas 15 responden penangkar dan 15 responden non penangkar. Peubah kelestarian yang diuji adalah Y1, Y2, Y3, Y4, Y5, Y6, Y7, dan Y8 dengan 5 peubah budaya yaitu X1, X2, X3, X4, dan X5 yang menghasilkan 40 pasang peubah. Hipotesa yang dibangun :

H0 = Y1/Y2/Y3/Y4/Y5/Y6/Y7/Y8 tidak berkorelasi dengan X1/X2/X3/X4/X5 H1 = Y1/Y2/Y3/Y4/Y5/Y6/Y7/Y8 berkorelasi dengan X1/X2/X3/X4/X5 Keterangan :

X1 = Jumlah upacara keagamaan yang melibatkan jalak bali; X2 = Jumlah peraturan mengenai jalak bali; X3 = Jumlah kesenian yang mengandung unsur jalak bali (tarian, nyanyian, puisi, sajak, lukisan, dongeng, lagu dan simbol-simbol dalam masyarakat); X4= Tingkat pengetahuan mengenai jalak bali; X5 = Jumlah penggunaan jalak bali sebagai nama jalan, nama tempat, brand, nama musim, nama bulan; Y1 = Jumlah individu dalam populasi; Y2 = Jumlah anakan yang dihasilkan; Y3 = Jumlah anakan yang lahir; Y4 = Jumlah anakan yang mati; Y5 = Lama menangkar; Y6 = Jumlah bibit awal jalak bali; Y7 = Jumlah jalak bali yang terjual; Y8 = Jumlah jalak bali yang dilepasliarkan.

Peubah-peubah responden penentu pelestarian jalak bali

Pengujian dilakukan terhadap 30 responden yang terdiri atas 15 responden penangkar dan 15 responden non penangkar. Peubah pelestarian yang diuji adalah Y1, Y2, Y3, Y4, Y5, Y6, Y7, dan Y8 dengan 5 peubah responden yaitu R1, R2, R3, R4, R5 dan R6 yang menghasilkan 48 pasang peubah. Variabel yang berkorelasi dipilih sebagai peubah penentu kelestarian jalak bali. Hipotesa yang dibangun :

H0 = Y1/Y2/Y3/Y4/Y5/Y6/Y7/Y8 tidak berkorelasi dengan R1/R2/R3/R4/R5/R6

H1= Y1/Y2/Y3/Y4/Y5/Y6/Y7/Y8 berkorelasi dengan R1/R2/R3/R4/R5/R6 Keterangan :

R1 = Suku; R2 = Tingkat pendidikan; R3 = Tingkat Pendapatan; R4 = Umur; R5 = Profesi penangkar; R6 = Masa mukim; Y1 = Jumlah individu dalam populasi; Y2 = Jumlah anakan yang dihasilkan; Y3 = Jumlah anakan yang lahir; Y4 = Jumlah anakan yang mati; Y5 = Lama menangkar; Y6 = Jumlah bibit awal jalak bali; Y7 = Jumlah jalak bali yang terjual; Y8 = Jumlah yang dilepasliarkan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

(20)

Desa Sumberklampok merupakan desa enclave di Taman Nasional Bali Barat dengan luas wilayah sebesar 28.969,67 Ha yang terdiri dari hutan lindung seluas 28.383,26 Ha dan pemukiman masyarakat seluas 32 Ha (Peraturan Desa Sumberklampok No. 1/2011 tentang Rencana pembangunan jangka menengah Desa Sumberklampok tahun 2011-2016). Desa Sumberklampok secara administratif terletak di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah utara : Selat Bali

Sebelah selatan : Hutan tutupan/ Kabupaten Jembrana Sebelah Barat : Cekik / Gilimanuk

Sebelah Timur : Desa Pejarakan

Desa Sumberklampok terbagi menjadi 3 dusun yaitu Dusun Tegal Bunder, Dusun Sumberklampok dan Dusun Sumber Batok. Jumlah penduduk Desa Sumberklampok sebanyak 3.184 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 869. Sebagian besar masyarakat Desa Sumberklampok bekerja sebagai petani lahan kering dengan produksi utamanya jagung, cabe, kacang tanah dan ketela pohon. Sebagian lagi menggantungkan hidupnya dari pekerjaan mencari kayu bakar untuk dijual. Masyarakat desa tersebut sering berinterkasi dengan kawasan untuk mengakses sumberdaya berupa kayu bakar, kayu sonokeling, madu hutan dan daun-daun untuk pakan ternak (Ismu 2008).

Desa Sumberklampok memiliki tingkat kemajemukan etnis dan sosial yang tinggi, terdiri dari penduduk asli Bali, Jawa, Madura dan Bugis dengan latar belakang yang berbeda. Penduduk yang berasal dari Madura pada jaman Belanda didatangkan untuk membuka lahan hutan menjadi perkebunan kelapa, kayu putih dan kapuk, sedangkan penduduk Bali yang menetap di kawasan tersebut dibedakan menjadi 3 yaitu (1) Kabupaten Karangasem yang mengungsi pada saat terjadi letusan Gunung Agung, (2) Pulau Nusa Penida, dan (3) Eks transmigran Timor Leste (Ismu 2008). Desa Sumberklampok memiliki berbagai kelompok masyarakat untuk menunjang kehidupan sosial masyarakat seperti kelompok dasa wisama, seka tempak, seka duka, kelompok tani, kelompok nelayan, ratipan, seka truna truni untuk kelompok pemuda serta kelompok kesenian tradisional seperti seka gong ibu-ibu, seka gong bapak-bapak, seka gong anak-anak serta kelompok kesenian adrah bagi umat muslim. Kelompok-kelompok sosial tersebut dapat meningkatkan kretifitas masyarakat dan kerukunan antar sesama.

Desa Sumberklampok juga memiliki kelompok penangkar jalak bali yang bernama Manuk Jegeg. Manuk jegeg memberikan akses kepada masyarakat Desa Sumberklampok untuk ikut berpatisipasi dalam pelestarian jalak bali melalui kegiatan penangkaran jalak bali. Kegiatan penangkaran jalak bali di Desa Sumberklampok berlangsung sejak November 2010. Penangkaran tersebut bertujuan untuk (1) meningkatkan kesejahteraan masyarakat; (2) meningkatkan peran serta masyarakat dalam konservasi jalak bali secara eksitu; dan (3) mengembalikan citra Desa Sumberklampok melalui Desa Wisata Konservasi berbasis jalak bali.

(21)

masih dalam tahap mempersiapkan sarana dan prasarana (Gambar 2) penangkaran jalak bali yang merupakan syarat utama untuk seorang penangkar.

Gambar 2 Kandang jalak bali

Karakteristik Responden

Karakteristik penangkar pada Tabel 2 meliputi gaya hidup dan kepribadian termasuk didalamnya motivasi untuk melakukan suatu kegiatan yang menurut Kotler (1980) dalam Setyono et al. (1991) merupakan karakteristik psikografik. Karakteristik seperti umur, pendidikan, dan lainnya dapat mempengaruhi kemampuan dan kemauan seseorang untuk ikut berpartisipasi dalam suatu kegiatan (Amba 1998).

Tabel 2 Persentase karakteristik responden

Karakteristik Responden Penangkar Non penangkar

Asal Madura 66,70% 51,60%

Bali 33,30% 48,40%

Umur

22-40 tahun 20,00% 46,90%

41-59 tahun 60,00% 31,20%

60-78 tahun 20,00% 21,90%

Pendidikan

Rendah 40,00% 54,70%

Sedang 53,30% 42,20%

Tinggi 6,70% 3,10%

Masa mukim

5-28 tahun 6,70% 32,80%

29-52 tahun 73,30% 46,90%

53-76 tahun 20,00% 20,30%

Penghasilan per bulan

< Rp 1.500.000 13,30% 56,20%

Rp 1.500.000 ≤ x < Rp 3.000.000 80,00% 39,10%

≥ Rp 3.000.000 6,70% 4,70%

(22)

Responden asal Madura (66,70%) adalah buruh di perkebunan kelapa milik Belanda yang sengaja didatangkan pada tahun 1822, sedangkan responden asal Bali adalah pengungsi Kabupaten Karangasem akibat letusan Gunung Agung pada tahun 1963, pendatang dari Pulau Nusa Penida, dan Eks transmigran Timor Leste yang datang pada tahun 2000 (Ismu 2008). Asal daerah akan berimplikasi pada persepsi tentang nilai aturan dan norma kelompok serta peran yang merupakan aspek-aspek kultur subyektif (cara khas suatu golongan kebudayaan memandang lingkungan sosialnya) (Siswiyanti 2006).

Umur Responden

Sebaran umur responden bervariasi antara 22 sampai 76 tahun (Tabel 2) dengan mayoritas kelas umur produktif (15-65 tahun) (Lembaga Demografi FE-UI 1980) dan digolongkan dalam kelas umur (KU) dewasa (Santrock 1996). Slamet (1985) dalam Amba (1998) menyatakan bahwa untuk dapat berpartisipasi, seseorang harus memiliki kemampuan dan keterampilan. Kemampuan seseorang berkorelasi erat dengan umur. Sebanyak 80% penangkar ada dalam KU dewasa produktif sehingga mampu berpartisipasi dalam kegiatan pelestarian jalak bali.

Tingkat Pendidikan Responden

Tingkat pendidikan dibedakan berdasarkan jangka menempuh pendidikan yang menurut Aprollita (2008) dapat dikategorikan sebagai rendah (≤6 tahun), sedang (7-11 tahun), dan tinggi (12-21 tahun). Sebanyak 53,30% penangkar berpendidikan sedang sedangkan 54,70% non penangkar berpendidikan rendah (Tabel 2). Pendidikan akan mempengaruhi cara bertindak dan berfikir seseorang (Amba 1998), semakin tinggi pendidikan diharapkan semakin baik pula cara berfikir dan cara bertindak untuk terlibat dalam suatu kegiatan.

Masa Mukim Responden

Masa mukim responden bervariasi antara 5 sampai 76 tahun (Tabel 2). Mayoritas responden lahir dan besar di Desa Sumberklampok. Sastropoetro (1998) dalam Amba (1998) menyatakan bahwa keadaaan sosial masyarakat, keadaaan alam sekitar, keadaan goegrafis daerah, dan kebiasaan lama dalam masyarakat akan mempengaruhi tingkat partisipasi seseorang. Masa mukim responden yang tinggi (73,30%) menunjukkan adanya manfaat yang diperoleh yang mendorong timbulnya rasa bertanggungjawab akan potensi sumberdaya alam di sekitar mereka dengan menjadi seorang penangkar jalak bali.

Penghasilan Responden

(23)

Amba (1998) bahwa besar pendapatan berkorelasi positif dengan kemampuan dan kesanggupan untuk berpartisipasi dalam suatu kegiatan.

Peubah Budaya

Budaya memiliki peran penting dalam pelestarian spesies. Pelestarian budaya menurut Ramakrishan (2007) memberikan pengaruh yang positif terhadap kelestarian spesies, sebagaimana ditunjukkan oleh masyarakat Baduy yang menggunakan pengetahuan tradisionalnya dalam pengelolaan hutan sehingga tercapai pola pengelolaan hutan yang berkelanjutan berdasarkan hasil penelitian Suansa (2011). Identifikasi peubah budaya dalam penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan unsur budaya menurut Koentjaraningrat (2002) yang meliputi sistem religi dan upacara keagamaan, organisasi sosial, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian, sistem teknologi, dan peralatan.

Sistem Religi dan Upacara Keagamaan

Sistem religi dan upacara keagamaan mengindikasikan berbagai pemanfaatan spesies dalam kegiatan keagamaan. Upacara keagamaan hanya ditemukan pada responden yang beragama Hindu (Tabel 3) yang disebut tumpek kandang bertujuan untuk keselamatan hewan peliharaan dan dilakukan setiap 6 bulan sekali.

Tabel 3 Persentase responden berdasarkan sistem religi

Sistem religi Profesi Responden

Penangkar Non penangkar

Hindu 33,33 % 49,12 %

Islam 66,67 % 50,88 %

Organisasi Sosial dan Kemasyarakatan

Unsur-unsur dalam organisasi sosial diatur oleh adat istiadat dan aturan-aturan mengenai berbagai kesatuan di lingkungan dimana seseorang hidup dan bergaul dari hari ke hari (Koentjaraningrat 2002). Peraturan tertulis mengenai perlindungan sumberdaya alam tertuang dalam peraturan adat warga Bali ( awig-awig) yang diperjelas dalam Pararem yaitu aturan adat yang berlaku untuk 1 banjar (dusun) disertai penjelasan mengenai sanksi dan denda jika terjadi pelanggaran. Bunyi awig-awig adalah sebagai berikut:

sareng miara keasrian tur kelestarian wana ring wewengkon desa”.

“sareng miara keasrian tur kelestarian segara miwah pantai ring wewidangan desa adat”.

(terjemahan: “ikut serta memelihara keindahan dan kelestarian hutan di wilayah desa”. “ikut serta memelihara keindahan dan kelestarian laut dan pantai di wilayah desa adat”).

(24)

dapat menjadi penangkar jalak bali dan merupakan wadah untuk bertukar pengalaman mengenai teknik pemeliharaan dan pengetahuan jalak bali.

Kesenian

Jalak bali yang hidup di Desa Sumberklampok dalam cerita rakyat, tidak diperbolehkan untuk ditangkap dan dikonsumsi karena rasa dagingnya yang pahit yang dikarenakan jalak bali kerap memanfaatkan pohon kayu pahit sebagai pakannya. Seluruh penangkar jalak bali mengetahui cerita tersebut yang disampaikan secara turun temurun.

Sistem Pengetahuan

Sebanyak 27,84% responden memiliki pengetahuan yang tinggi mengenai jalak bali yang muncul dalam diskusi atau pembicaraan (Tabel 4). Tingkat pengetahuan responden dibedakan berdasarkan total skor responden atas pilihan jawaban pada kuesoner yang diberikan mengenai tingkat pengetahuan jalak bali (Lampiran 2). Tingkat pengetahuan tersebut kemudian dikategorikan sebagai rendah (38-40), sedang (41-43), dan tinggi (≥ 44).

Tabel 4 Persentase tingkat pengetahuan responden

Tingkat Pengetahuan Profesi Responden Jumlah Penangkar Non penangkar

Rendah 0% 10,13% 10,13%

Sedang 0% 62,03% 62,03%

Tinggi 18,98% 8,86% 27,84%

Desa Sumberklampok merupakan habitat alami jalak bali dan merupakan desa enclave Taman Nasional Bali Barat sehingga masyarakat sering terlibat dalam kegiatan pelestarian jalak bali oleh TNBB yang salah satunya dilakukan melalui kegiatan penyuluhan.

Sistem Bahasa

Bahasa merupakan alat komunikasi baik melalui tulisan, lisan atau gerakan yang menunjukkan tujuan yang ingin disampaikan (Anas et al. 1994) yang dapat muncul dalam penamaan dan terminologi. Nama “jalak bali” tidak ditemukan digunakan dalam penggunaan nama jalan, brand, tempat, indikator datangnya suatu musim, dan lainnya.

Sistem Mata Pencaharian Hidup

Sitem mata pencaharian mengindikasikan adanya pemanfaatan spesies secara ekonomi termasuk intensitas pengambilan untuk dijadikan bahan konsumsi, obat atau pakan ternak, atau perdagangan. Berbeda dari hasil penelitian Setyono et al. (1991) yang menyimpulkan bahwa usaha ternak sapi potong di Kecamatan Jonggol dan Cariu, Kabupaten Bogor tidak dikembangkan secara komersial karena merupakan usaha tabungan, seluruh penangkar jalak bali Desa Sumberklampok menangkarkan jalak bali karena nilai komersial jalak bali tinggi.

(25)

(menunggu surat izin edar secara resmi). Keuntungan ekonomi yang sudah didapatkan adalah melalui kegiatan wisata. Tercatat sebanyak 31 kunjungan dilakukan ke penangkaran jalak bali Desa Sumberklampok pada bulan Juni 2011 hingga Desember 2012 oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Pemasukan dari kegiatan kunjungan wisata saat ini dikelola oleh Manuk Jegeg untuk kegiatan rekonstruksi habitat untuk rencana persiapan pelepasliaran jalak bali pada tahun 2014.

Sistem Teknologi dan Peralatan

Terdapat delapan macam sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik dalam masyarakat yang hidup dari pertanian yang mencakup alat-alat produktif, senjata, wadah, alat menyalakan api, alat mengolah makanan, pembuat pakaian, tempat berlindung serta alat transfer (Koentjaraningrat 2002). Tidak ditemukan adanya pemanfaatan unsur jalak bali dalam sistem teknologi dan peralatan masyarakat Desa Sumberklampok.

Peubah Pelestarian Jalak Bali

Kegiatan penangkaran jalak bali sudah dimulai sejak November 2010, namun indukan jalak bali baru diperoleh pada bulan Juni 2011 sebanyak 15 pasang burung yang dipinjamkan oleh Asosiasi Penangkar Curik Bali (APCB). Data perkembangan kegiatan penangkar jalak bali di Desa Sumberklampok disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5 Data kegiatan penangkaran jalak bali Peubah Pelestarian Penangkar ke-

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

(26)

jalak bali yang tinggi sehingga mudah stress termasuk akibat kebisingan. Tidak sedikit lokasi penangkaran yang terletak di dekat jalan raya. Hal ini sejalan dengan pernyataan Alikodra (1987) yang menyatakan bahwa jalak bali memiliki sifat biologis yang sangat peka terhadap adanya gangguan. Mudah mengalami stress dalam keadaan lingkungan yang tidak wajar, sehingga kemampuan berkembangbiak sering berjalan tidak normal. Tingkat kematian yang tinggi terjadi pada awal kegiatan penangkaran. Salah seorang penangkar menyatakan bahwa sampai dengan bulan Februari 2013 tercatat sebanyak 9 ekor dari 12 anakan yang diperolehnya mati. Hal ini diduga akibat kurangnya keahlian para penangkar, serta kurangnya pemeliharaan dan perawatan terhadap burung sehingga terserang penyakit. Penyakit yang pernah ditemui oleh para penangkar yaitu folio dan diare. Umumnya burung yang terserang folio akan mengalami kematian.

Manuk Jegeg telah melakukan berbagai upaya seperti perbaikan pakan dan kandang, tukar pengalaman dengan penangkar yang telah berhasil, serta melakukan penukaran indukan kepada APCB yang dilakukan pada tanggal 31 Desember 2012 sebanyak 15 pasang indukan yang dititipkan APCB kepada pihak TNBB. Para penangkar juga telah melakukan upaya seperti mempelajari perilaku burung untuk mengetahui pola perilaku harian burung dan pemeliharaan kesehatan jalak bali dengan pemberian vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh, dan pengecekan kesehatan burung setiap hari saat pemberian pakan.

Hubungan antar Karakteristik Responden

Hasil analisis korelasi antar karakteristik responden berdasarkan hasil uji chi-square pada selang kepercayaan 95% disajikan pada Tabel 6. Hasil analisis korelasi secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 3. Umur berkorelasi dengan masa mukim. Mayoritas responden merupakan masyarakat yang lahir dan besar di Desa Sumberklampok (Tabel 2). Umur juga berkorelasi dengan pendidikan, sehingga masa mukim juga berkorelasi dengan pendidikan responden. Responden yang berumur tua cenderung berpendidikan lebih rendah. Fasilitas umum termasuk gedung sekolah yang baru dibangun pada tahun 1963 setelah Sumberklampok ditetapkan dan diakui sebagai desa menyulitkan responden yang berumur tua untuk mendapatkan pelayanan pendidikan formal.

Tabel 6 Hubungan antar karakteristik responden

Peubah yang berkorelasi Nilai probabilitas (asymptotic significance)

Umur ~ Masa mukim 0,000

Umur ~ Pendidikan 0,000

Masa mukim ~ Penghasilan 0,023

Masa mukim ~ Asal 0,007

Masa mukim ~ Pendidikan 0,004

Penghasilan ~ Profesi 0,011

(27)

tersebut pada pada tahun 1922 cenderung memiliki luas lahan yang lebih besar. Lahan garapan yang semakin luas berimplikasi pada peningkatan penghasilan.

Penghasilan berkorelasi dengan profesi sebagai penangkar (Tabel 6). Responden dengan penghasilan tinggi memiliki kecenderungan untuk menjadi penangkar. Penangkar jalak bali rata-rata telah mengeluarkan biaya sebesar Rp. 5.000.000 untuk mebuat kandang serta Rp 250.000 per bulan untuk biaya pakan jalak bali. Selain itu dalam surat kerjasama peminjaman indukan jalak bali antara penangkar dengan pihak Asosiasi Pelestari Jalak Bali (APCB) ditetapkan bahwa seorang penangkar harus memberikan jaminan berupa sapi jika terjadi kematian pada indukan jalak bali yang dipinjamkan akibat kelalaian penangkar.

Hubungan Peubah Budaya dengan Karakteristik Responden

Hasil analisis korelasi antara peubah budaya dengan karakteristik responden disajikan pada Tabel 7. Hasil analisis korelasi secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 4. Keanggotaan dalam organisasi penangkar berkorelasi dengan masa mukim dan profesi responden sebagai penangkar. Sebanyak 93,30% anggota organisasi merupakan masyarakat asli Sumberklampok yang lahir dan besar di desa tersebut. Masa mukim responden memiliki korelasi dengan umur responden (Tabel 6) yang kemudian berkaitan pula dengan profesi responden sebagai penangkar. Responden menganggap menjadi seorang penangkar membutuhkan keahlian, ketelitian dan keterampilan yang cukup tinggi sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang dinilai mampu menjadi penangkar jalak bali. Amba (1998) menyatakan bahwa keahlian dan ketelitian membutuhkan keterampilan yang didapat melalui pengetahuan. Responden dengan usia yang lebih tua cenderung tidak berkeinginan untuk menjadi penangkar jalak bali. Hal ini sejalan dengan pendapat Lunandi (1989) dalam Amba (1998) yang menyatakan semakin tua usia dapat mengakibatkan timbulnya gangguan dan hambatan fisiologis seperti berkurangnya pendengaran dan penglihatan.

Tabel 7 Hubungan antara peubah budaya dengan karakteristik responden Peubah yang berkorelasi Nilai probabilitas

(asymptotic significance) Keikutsertaan dalam organisasi penangkar ~ Masa mukin 0,015

Keikutsertaan dalam organisasi penangkar ~ Penghasilan 0,022 Keikutsertaan dalam organisasi penangkar ~ Profesi 0,000

Pengetahuan ~ Masa mukim 0,002

Pengetahuan ~ Pendidikan 0,033

Pengetahuan ~ Profesi 0,000

Pengetahuan ~ Penghasilan 0,007

Cerita rakyat ~ Umur 0,008

Cerita rakyat ~ Asal 0,006

Cerita rakyat ~Masa mukim 0,000

Cerita rakyat ~ Penghasilan 0,001

Cerita rakyat ~Profesi 0,000

Peraturan adat ~ Asal 0,000

(28)

Peubah yang berkorelasi Nilai probabilitas (asymptotic significance)

Upacara adat ~ Profesi 0,038

Organisasi penangkar merupakan suatu wadah yang dibangun untuk para penangkar jalak bali serta masyarakat lain yang ingin berkontribusi dalam pelestarian jalak bali. Keanggotaan dalam organisasi penangkar akan memberikan akses kepada anggotanya untuk menjadi penangkar jalak bali. Keanggotaan dalam organisasi penangkar juga berkorelasi dengan penghasilan responden. Seluruh penangkar jalak bali merupakan anggota kelompok penangkar. Responden dengan penghasilan tinggi memiliki kecenderungan untuk menjadi penangkar, sehingga akan berkorelasi juga dengan keanggotaan organisasi penangkar.

Pengetahuan mengenai jalak bali memiliki hubungan dengan masa mukim responden. Responden dengan periode masa mukim yang panjang memiliki tingkat pengetahuan jalak bali yang lebih tinggi. Amba (1998) menyatakan bahwa pengalaman hidup seseorang dapat meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya. Pengetahuan juga berkorelasi dengan pendidikan akhir responden yang sejalan dengan pernyataan Amba (1998) bahwa seseorang yang berpendidikan tinggi cenderung memiliki pengetahuan yang lebih luas. Pengetahuan juga berkorelasi dengan profesi responden. Responden dengan tingkat pengetahuan jalak bali yang tinggi cenderung memiliki keinginan untuk menjadi penangkar sebagaimana dinyatakan oleh Siswiyanti (2006) bahwa tingkat pengetahuan seseorang berkorelasi positif dengan tingkat partisipasinya dalam suatu kegiatan karena pengetahuan akan manfaat yang diterimanya.

Cerita rakyat mengenai jalak bali berkorelasi dengan umur, asal, masa mukim dan penghasilan responden. Cerita jalak bali lebih bayak diketahui oleh responden yang usianya tergolong tua, memiliki periode masa mukim yang lebih panjang, memiliki penghasilan yang lebih tinggi dan memiliki profesi sebagai penangkar sehingga responden asal Madura lebih banyak mengetahui cerita mengenai jalak bali.

Peraturan adat mengenai jalak bali berkorelasi dengan asal dan masa mukim. Peraturan adat mengenai perlindungan satwa khususnya jalak bali hanya dimiliki oleh penduduk Bali sehingga akan berkorelasi juga dengan masa mukim mereka. Upacara adat memiliki korelasi dengan profesi responden sebagai penangkar. Upacara adat yang melibatkan jalak bali yang ditujukan untuk keselamatan hewan peliharaan dalam hal ini jalak bali hanya dilakukan oleh penangkar jalak bali yang berasal dari umat hindu.

Hubungan Peubah Pelestarian dengan Karakteristik Responden

Hasil analisis korelasi antara peubah pelestarian dengan karakteristik responden berdasarkan uji chi chi-square menunjukkan bahwa hanya peubah lama memelihara yang berkorelasi nyata dengan peubah responden yaitu penghasilan dan profesi (Tabel 8). Hasil analisis korelasi secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 5.

Tabel 8 Hubungan antara peubah pelestarian dengan karakteristik responden Peubah yang berkorelasi Nilai probabilitas (asymptotic significance)

(29)

Lama memelihara ~ Profesi 0,000

Lama memelihara burung berkorelasi nyata dengan penghasilan responden. Responden dengan penghasilan tinggi cenderung memiliki periode lama memelihara jalak bali yang lebih panjang. Hal tersebut diduga dipengaruhi oleh besarnya modal untuk menjadi seorang penangkar jalak bali serta jumlah biaya yang harus dikeluarkan setiap bulannya untuk kegiatan penangkaran. Penghasilan responden yang tinggi akan mampu menutupi biaya penangkaran jalak bali yang dikeluarkan setiap bulannya sehingga dapat menambah jangka waktu memelihara jalak bali.

Profesi memiliki hubungan dengan lama memelihara burung jalak bali. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan penangkaran jalak bali bukan hanya tergantung pada kondisi tempat penangkaran serta kondisi burung yang ditangkarkan tetapi dipengaruhi pula oleh penangkar. Ketika seseorang memiliki keinginan untuk melakukan kegiatan penangkaran dan melakukannya dengan benar maka berpengaruh terhadap keberhasilan penangkarannya, sehingga dapat menambah jangka waktu memelihara jalak bali.

Hubungan Peubah Pelestarian dengan Peubah Budaya

Hasil analisis korelasi antara peubah pelestarian dengan peubah budaya menggunakan uji chi-square pada selang kepercayaan 95% disajikan pada Tabel 9. Hasil analisis korelasi secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 6. Periode lama memelihara burung jalak bali berkorelasi nyata dengan cerita rakyat, keanggotaan dalam organisasi penangkar dan pengetahuan responden. Keanggotaan dalam organisasi penangkar memberikan kemudahan dalam memperoleh akses untuk menjadi penangkar serta memperoleh tambahan pengetahuan mengenai jalak bali dan teknik menangkar jalak bali, sehingga keanggotaan organisasi penangkar berkorelasi dengan periode lama memelihara jalak bali.

Tabel 9 Hubungan antara peubah pelestarian dengan peubah budaya Peubah yang berkorelasi Nilai probabilitas

(asymptotic significance)

Lama memelihara ~ Cerita rakyat 0,028

Lama memelihara ~ Keanggotaan dalam organisasi penangkar 0,000

Lama memelihara ~ Pengetahuan 0,000

(30)

kemunculannya pada cerita rakyat yang ada di masyarakat. Cerita rakyat tersebut kemudian memotivasi masyarakat Desa Sumberklampok untuk mengembalikan desa mereka sebagai habitat alami jalak bali melalui kegiatan penangkaran jalak bali. Masyarakat Desa Sumberklampok sedang melakukan persiapan untuk pelepasliaran jalak bali yang rencananya akan dilakukan pada tahun 2014 mendatang. Kegiatan yang mereka lakukan antara lain persiapan burung yang akan dilepasliarkan serta persiapan untuk rekonstruksi habitat jalak bali dengan menanam berbagai jenis pohon yang biasa dimanfaatkan oleh jalak bali di tempat-tempat yang dahulu merupakan habitat jalak bali di desa mereka.

Terdapat korelasi nyata antara pengetahuan responden dengan lama memelihara burung jalak bali. Pengetahuan mempengaruhi seseorang dalam bersikap. Pengetahuan yang tinggi mengenai jalak bali akan mendukung keberhasilan penangkaran jalak bali yang dilakukan, sehingga dapat memotivasi responden dalam melanjutkan kegiatan penangkaran jalak bali dalam waktu yang lebih lama. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Siswiyanti (2006) yang menyatakan bahwa semakin tinggi pengetahuan seseorang maka akan semakin tinggi tingkat partisipasinya dalam suatu kegiatan karena semakin mengetahui manfaat yang akan diterimanya. Schoorl (1982) dalam Amba (1998) juga menyatakan bahwa masyarakat akan ikut berpartisipasi dalam suatu kegiatan apabila mereka memiliki kemampuan dan pengetahuan tentang kegiatan tersebut. Semakin tinggi pengetahuan seseorang tentang suatu kegiatan, maka akan semakin besar pula kemungkinannya untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Peubah sosial penentu keberhasilan pelestarian jalak bali di Desa Sumberklampok adalah penghasilan, profesi responden, keanggotaan dalam organisasi penangkar jalak bali, pengetahuan, serta cerita rakyat mengenai jalak bali. Peubah-peubah tersebut dikategorikan sebagai peubah ekonomi dan budaya.

Saran

1. Program pemberdayaan masyarakat melalui pelibatan masyarakat dalam pelestarian spesies hendaknya mempertimbangkan aspek hubungan antara komunitas lokal dengan spesies yang akan dilestarikan.

2. Diperlukan kajian lebih lanjut mengenai peubah yang berkorelasi untuk mengetahui tingkat korelasi antar peubah yang menjadi peubah penentu keberhasilan pelestarian jalak bali

3. Diperlukan kajian mengenai tingkat keberhasilan pelepasliaran jalak bali yang berasal dari penangkaran masyarakat di Desa Sumberklampok.

DAFTAR PUSTAKA

(31)

Amba M. 1998. Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pelestarian hutan mangrove (studi kasus di kecamatan Teluk Ambon Baguala, Kotamadya Ambon, Maluku) [tesis]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

Anas Z, Rubiyatno, Wartinah, Suradi, Waridah S, Sukardi J. 1994. Antropologi. Jakarta (ID): Bumi Aksara.

Aprollita. 2008. Kemandirian pembudidaya ikan patin di kolam lahan gambut di Desa Tangkit Baru, Kec. Kumpe Ulu, Kab. Muaro Jambi, Provinsi Jambi [tesis]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

Azis AS. 2013. Teknik penangkaran dan aktivitas harian jalak bali di Penangkaran UD Anugrah Kediri Jawa Timur [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

Bayu A. 2000. Hubungan kondisi sosial ekonomi masyarakat pemukiman dalam kawasan (enclave) dengan penggunaan lahan di taman nasional gunung halimun (studi kasus di Kampung Cier, Desa Cisarua, Resort Cigudeg) [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

Garibaldi A, Turner N. 2004. Cultural keystone species: implications for ecological conservation and restoration. Ecology and Society 9 (3) : 1.

Ismu I. 2008. Draft ringkasan lokasi Taman Nasional Bali Barat (TNBB) [internet]. (diunduh 2013 Jan 3). Tersedia pada : http//www.rareplanet.org. [IUCN] International Union for the Conservation of Nature. 2012. IUCN red list

of threatened species. Version 2012.2 [internet]. (diunduh 2013 Feb 3). Tersedia pada : http//www.iucnredlist.org.

Koentjaraningrat. 2002. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta (ID) : Rineka Cipta. Kusnanto K. 2000. Bentuk-bentuk dan intensitas gangguan manusia pada daerah

tepi kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Jawa Barat [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

[Lembaga Demografi FE-UI] Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. 1990. Buku pegangan bidang kependudukan. Jakarta (ID) : Lembaga penerbit FE-UI.

[PP] Peraturan Pemerintah. 2011. Peraturan Desa Sumberklampok No. 1 Tahun 2011 tentang Rencana pembangunan jangka menengah Desa Sumberklampok tahun 2011-2016. Bali (ID) : PP.

______________________. 2012. Peraturan Gubernur Bali No. 44 Tahun 2012 tentang Upah minimum Kabupaten Buleleng tahun 2013. Bali (ID) : PP. Prayana A. 2012. Teknik penangkaran dan aktivitas harian mambruk victoria

(Goura victoria Fraser 1844) di Mega Bird and Orchid Farm, Bogor, Jawa Barat [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

Purwaningsih DA. 2012. Faktor-faktor penentu keberhasilan penangkaran merak hijau jawa (Pavo muticus muticus) di Taman Margasatwa Ragunan dan Taman Burung Taman Mini Indonesia Indah (TMII) [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

Ramakrishan PS. 2007. Ecology and traditional wisdom [internet]. (diunduh 2013 Mei 15). Tersedia pada : http//ignca.nic.in/.

Ratnawati LD. 2012. Keberhasilan penangkaran buaya muara Crocodylus porous

(32)

Santrock JW. 1996. Adolescence. By Times Mirror Higher Education. Alih bahasa : Dra. Shinto B. Adelar, M. Sc. Dan Sherly Saragih, S. Psi. 2003. Perkembangan Remaja. Jakarta (ID) : Erlangga.

Setyono DJ, Cyrila LENSD, Mulatsih S, Wardhani DW, Ismail A, Yanto H. 1991. Identifikasi faktor-faktor sosial ekonomi produktivitas usaha peternakan sapi potong di Kecamatan Jonggol dan Cariu Kabupaten Bogor [laporan akhir penelitian]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

Siswiyanti Y. 2006. Hubungan karakteristik anggota`masyarakat sekitar hutan dan beberapa faktor pendukung dengan partisipasinya dalam pelestarian hutan di kawasan pemangkuan hutan parung panjang kabupaten bogor [tesis]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

Suansa NI. 2011. Penggunaan pengetahuan etnobotani dalam pengelolaan hutan adat Baduy [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

Syarif NR. 2010. Tipologi habitat kedawung (Parkia timoriana (DC.) Merr) di zona rehabilitasi Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur [tesis]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

Tarigan U. 1993. Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan reboisasi dan penghijauan di Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Studi Kasus di Kecamata Tigapanah) [tesis]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

Teddy. 1998. Analisis faktor-faktor penentu keberhasilan usaha penangkaran rusa: studi kasus di Penangkaran Rusa Perum Perhutani [tesis]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

Umar. 2009. Persepsi dan perilaku masyarakat dalam pelestarian fungsi hutan sebagai daerah resapan air (studi kasus hutan Penggaron Kabupaten Semarang) [tesis]. Semarang (ID) : Universitas Diponegoro.

(33)

LAMPIRAN

Lampiran 1 Panduan Wawancara

Panduan Wawancara A.Karakteristik Responden

1. Nama Responden 2. Umur

3. Jenis Kelamin 4. Suku

5. Masa mukim 6. Pendidikan terakhir

7. Pekerjaan (Penangkar/non penangkar) 8. Tingkat pendapatan per bulan

B.Peubah Budaya

Sistem religi dan upacara keagamaan 1. Jenis-jenis upacara keagamaan

2. Frekuensi pelaksanaan upacara keagamaan

3. Jumlah upacara keagamaan yang melibatkan unsur jalak bali 4. Jumlah yang digunakan dalam satu kali upacara keagamaan 5. Asal jalak bali yang dimanfaatkan untuk kegiatan keagamaan 6. Bagian jalak bali yang digunakan

Sistem organisasi dan kemasyarakatan

1. Jumlah peraturan tertulis yang berkaitan dengan jalak bali 2. Jumlah peraturan tidak tertulis yang berkaitan dengan jalak bali

3. Organisasi penangkar jalak bali (sejarah, struktur organisasi, fungsi dan wewenang, program kerja, sistem keuangan)

Sistem pengetahuan

1. Tingkat pengetahuan terhadap jalak bali

2. Sumber pengetahuan masyarakat terkait jalak bali Kesenian

(34)

6. Jumlah penggunaan jalak bali dalam narasi, cerita rakyat, mitos Penamaan dan terminologi dalam bahasa

1. Penggunaan unsur jalak bali sebagai nama jalan, nama tempat, brand, 2. Penggunaan unsur jalak bali sebagai indikator datangnya musim atau

bulan.

Lampiran 1 Panduan Wawancara (lanjutan)

Sistem Mata Pencaharian : tipe penggunaan spesies secara ekonomi (intensitas pengambilan)

Sistem teknologi dan pealatan : Pemanfaatan unsur jalak bali dalam sistem teknologi dan peralatan (alat produktif, senjata, wadah, sumber api, pengolahan makanan, pembuat makanan, tempat berlindung dan alat transfer)

C.Peubah Pelestarian

1. Waktu mulai menangkar 2. Asal bibit jalak bali 3. Jumlah bibit

4. Jumlah populasi 5. Jumlah kelahiran 6. Jumlah kematian 7. Sex ratio

8. Struktur umur 9. Laju Pertumbuhan 10.Jumlah yang terjual

11.Jumlah yang dilepasliarkan

12.Manajemen penangkaran jalak bali (kandang, pakan, kesehatan, SDM, reproduksi)

13.Akses melakukan kegiatan penangkaran

14.Pihak yang terlibat dalam kegiatan penangkaran

(35)

Lampiran 2 Lembar kuesioner

Lembar kuesioner pengetahuan masyarkat terhadap jalak bali

No Daftar Pertanyaan

Skala Penilaian S Rg TS 1 Jalak bali merupakan satwa dilindungi

2 Jalak bali merupakan satwa endemik pulau Bali 3 Jalak bali merupakan icon pulau bali

4 Jalak bali merupakan satwa yang perlu dijaga dan dilestarikan

5 Populasi jalak bali semakin hari semakin berkurang 6 Salah satu penyebab penurunan populasi adalah perburuan

jalak bali

7 Perburuan jalak bali sangat mempengaruhi kelestarian jalak bali

8 Masyarakat harus ikut menjaga kelestarian jalak bali 9 Masyarakat menghendaki kelestarian jalak bali 10 Masyarakat mengetahui lokasi (habitat) jalak bali 11 Mayarakat mengetahui perilaku jalak bali

12 Perlu adanya pengelolaan populasi jalak bali 13 Kegiatan penangkaran jalak bali merupakan salah

satu upaya pelestarian jalak bali

14 Selain kegiatan penangkaran, masyarakat juga melakukan kegiatan

pengelolaan habitat jalak bali seperti penanaman pohon sarang, pakan, dan lainnya

15 Kegiatan pelestarian jalak bali dilakukan atas inisiatif masyarakat

(36)

Lampiran 3 Hasil analisis chi-square antar karakteristik responden

a. 0 cells (0.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.75.

umur * masa mukim

a. 2 cells (22.2%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3.44.

umur * pendidikan

pendidikan

Total rendah sedang tinggi

(37)

N of Valid Cases 79

a. 3 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .65.

Lampiran 3 Hasil analisis chi-square antar karakteristik responden (lanjutan) umur * penghasilan

a. 3 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .86.

umur * profesi

Profesi

Total penangkar non penangkar

umur

a. 1 cells (16.7%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3.23.

(38)

a. 0 cells (0.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.29.

asal * pendidikan

pendidikan

Total rendah sedang tinggi

Asal Madura 21 19 3 43

Bali 20 16 0 36

Total 41 35 3 79

Lampiran 3 Hasil analisis chi-square antar karakteristik responden (lanjutan) Chi-Square Tests

a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1.37.

asal * penghasilan

a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1.82.

asal * profesi

profesi

Total Penangkar non penangkar

Asal madura 10 33 43

Continuity Correctionb .592 1 .442

Likelihood Ratio 1.140 1 .286

Fisher's Exact Test .391 .222

Linear-by-Linear

Association 1.104 1 .293

N of Valid Cases 79

a. 0 cells (0.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6.84. b. Computed only for a 2x2 table

(39)

pendidikan

Total rendah sedang tinggi

masa mukim

5-28 tahun 11 10 1 22

29-52 tahun 15 24 2 41

53-76 tahun 15 1 0 16

Total 41 35 3 79

Lampiran 3 Hasil analisis chi-square antar karakteristik responden (lanjutan) Chi-Square Tests

a. 3 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .61.

masa mukim * penghasilan

Penghasilan Total

Linear-by-Linear Association 4.177 1 .041

N of Valid Cases 79

a. 3 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .81.

masa mukim * profesi

Profesi Total

penangkar non penangkar

masa mukim

Linear-by-Linear Association 1.685 1 .194

N of Valid Cases 79

a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3.04.

pendidikan * penghasilan

penghasilan Total

x < 1500000 1500000 <= x < 3000000 x >= 3000000

pendidikan rendah 22 18 1 41

(40)

tinggi 0 3 0 3

Linear-by-Linear Association 2.391 1 .122

N of Valid Cases 79

a. 5 cells (55.6%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .15. Lampiran 3 Hasil analisis chi-square antar karakteristik responden (lanjutan) pendidikan * profesi

profesi Total

penangkar non penangkar

pendidikan

a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .57.

penghasilan * profesi

profesi Total

penangkar non penangkar

penghasilan

a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .76.

(41)

Total 43 36 79

a. 0 cells (0.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.75.

Lampiran 4 Hasil analisis chi-square antara karakteristik responden dengan peubah budaya (lanjutan)

umur * keanggotaan

keanggotaan Total

anggota non anggota

umur

a. 1 cells (16.7%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4.09.

umur * upacara

a. 3 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .22.

(42)

Value df Asymp. Sig. (2-sided)

a. 0 cells (0.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.10.

Lampiran 4 Hasil analisis chi-square antara karakteristik responden dengan peubah budaya (lanjutan)

Linear-by-Linear Association .204 1 .651

N of Valid Cases 79

a. 4 cells (44.4%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1.72.

asal * peraturan

a. 0 cells (0.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 16.41. b. Computed only for a 2x2 table

asal * keanggotaan

keanggotaan Total

anggota non anggota

Asal madura 13 30 43

bali 6 30 36

Total 19 60 79

(43)

Value df Asymp. Sig.

(2-a. 0 cells (0.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8.66. b. Computed only for a 2x2 table

Lampiran 4 Hasil analisis chi-square antara karakteristik responden dengan peubah budaya (lanjutan)

Linear-by-Linear Association 1.194 1 .274

N of Valid Cases 79

a. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .46. b. Computed only for a 2x2 table

asal * cerita

Linear-by-Linear Association 7.364 1 .007

N of Valid Cases 79

a. 0 cells (0.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 15.04. b. Computed only for a 2x2 table

asal * pengetahuan

pengetahuan Total

38-40 41-43 > = 44

(44)

bali 6 22 8 36

a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3.65.

Lampiran 4 Hasil analisis chi-square antara karakteristik responden dengan peubah budaya (lanjutan)

masa mukim * peraturan

peraturan Total

a. 0 cells (0.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.29.

masa mukim * keanggotaan

keanggotaan Total

anggota non anggota

masa mukim

a. 1 cells (16.7%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3.85.

masa mukim * upacara

(45)

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)

Pearson Chi-Square .939a 2 .625

Likelihood Ratio 1.324 2 .516

Linear-by-Linear Association .012 1 .912

N of Valid Cases 79

a. 3 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .20.

Lampiran 4 Hasil analisis chi-square antara karakteristik responden dengan peubah budaya (lanjutan)

masa mukim * cerita

cerita Total

a. 0 cells (0.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6.68.

masa mukim * pengetahuan

pengetahuan Total

Linear-by-Linear Association 4.908 1 .027

N of Valid Cases 79

a. 4 cells (44.4%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1.62.

(46)

Value df Asymp. Sig. (2-sided)

Pearson Chi-Square 2.682a 2 .262

Likelihood Ratio 3.820 2 .148

Linear-by-Linear Association 1.114 1 .291

N of Valid Cases 79

a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1.37.

Lampiran 4 Hasil analisis chi-square antara karakteristik responden dengan peubah budaya (lanjutan)

pendidikan * keanggotaan

keanggotaan Total

anggota non anggota

pendidikan

Linear-by-Linear Association 2.071 1 .150

N of Valid Cases 79

a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .72.

pendidikan * upacara

Linear-by-Linear Association .711 1 .399

N of Valid Cases 79

a. 4 cells (66.7%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .04.

(47)

Pearson Chi-Square 3.947a 2 .139

Likelihood Ratio 5.026 2 .081

Linear-by-Linear Association .120 1 .729

N of Valid Cases 79

a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1.25.

Lampiran 4 Hasil analisis chi-square antara karakteristik responden dengan peubah budaya (lanjutan)

Linear-by-Linear Association .331 1 .565

N of Valid Cases 79

a. 5 cells (55.6%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .30.

penghasilan * peraturan

Linear-by-Linear Association .325 1 .569

N of Valid Cases 79

a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1.82.

penghasilan * keanggotaan

keanggotaan Total anggota non anggota

(48)

Pearson Chi-Square 7.657a 2 .022

Likelihood Ratio 8.009 2 .018

Linear-by-Linear Association 5.294 1 .021

N of Valid Cases 79

a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .96.

Lampiran 4 Hasil analisis chi-square antara karakteristik responden dengan peubah budaya (lanjutan)

Linear-by-Linear Association .535 1 .465

N of Valid Cases 79

a. 4 cells (66.7%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .05.

penghasilan * cerita

Linear-by-Linear Association 9.018 1 .003

N of Valid Cases 79

a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1.67.

(49)

Pearson Chi-Square 13.947a 4 .007

Likelihood Ratio 14.573 4 .006

Linear-by-Linear

Association 12.590 1 .000

N of Valid Cases 79

a. 5 cells (55.6%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .41.

Lampiran 4 Hasil analisis chi-square antara karakteristik responden dengan peubah budaya (lanjutan)

a. 0 cells (0.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6.84. b. Computed only for a 2x2 table

profesi * keanggotaan

keanggotaan Total

anggota non anggota

profesi penangkar 15 0 15

a. 1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3.61. b. Computed only for a 2x2 table

profesi * upacara

(50)

tidak ada ada

profesi penangkar 14 1 15

non penangkar 64 0 64

Total 78 1 79

Lampiran 4 Hasil analisis chi-square antara karakteristik responden dengan peubah budaya (lanjutan)

a. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .19. b. Computed only for a 2x2 table

profesi * cerita

a. 0 cells (0.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6.27. b. Computed only for a 2x2 table

(51)

Pearson Chi-Square 47.972a 2 .000

Likelihood Ratio 49.273 2 .000

Linear-by-Linear

Association 35.528 1 .000

N of Valid Cases 79

a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1.52.

Lampiran 5 Hasil analisis chi-square antara karakteristik responden dengan peubah pelestarian jalak bali

umur * lama memelihara

lama memelihara Total

x < 6 bulan 6 <= x <

Linear-by-Linear Association 1.517 1 .218

N of Valid Cases 30

a. 10 cells (83.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .17.

umur * total burung

total burung Total

0-3 ekor 4-7 ekor >= 8 ekor

Linear-by-Linear Association .030 1 .863

N of Valid Cases 30

a. 7 cells (77.8%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .17.

umur * jumlah anak mati

jumlah anak mati Total

(52)

Pearson Chi-Square 5.707a 4 .222

Likelihood Ratio 4.629 4 .328

Linear-by-Linear Association 2.035 1 .154

N of Valid Cases 30

a. 7 cells (77.8%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .17.

Lampiran 5 Hasil analisis chi-square antara karakteristik responden dengan peubah pelestarian jalak bali (lanjutan)

umur * jumlah anak lahir

jumlah anak lahir Total 0-3 ekor 4-7 ekor >= 8 ekor

Linear-by-Linear Association 1.045 1 .307

N of Valid Cases 30

a. 7 cells (77.8%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .33.

umur * jumlah anakan

jumlah anakan Total

0-3 ekor 4-7 ekor

Linear-by-Linear Association .360 1 .549

N of Valid Cases 30

a. 4 cells (66.7%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .67.

asal * lama memelihara

lama memelihara Total

(53)

Likelihood Ratio 2.460 3 .483

Linear-by-Linear Association 1.129 1 .288

N of Valid Cases 30

a. 6 cells (75.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .27.

Lampiran 5 Hasil analisis chi-square antara karakteristik responden dengan peubah pelestarian jalak bali (lanjutan)

asal * total burung

total burung Total

0-3 ekor 4-7 ekor >= 8 ekor

Linear-by-Linear Association .089 1 .765

N of Valid Cases 30

a. 4 cells (66.7%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .27.

asal * jumlah anak mati

jumlah anak mati Total

0-3 ekor 4-7 ekor >= 8 ekor

Linear-by-Linear Association .673 1 .412

N of Valid Cases 30

a. 4 cells (66.7%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .27.

asal * jumlah anak lahir

jumlah anak lahir Total

(54)

Linear-by-Linear Association .535 1 .464 N of Valid Cases 30

a. 4 cells (66.7%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .53.

asal * jumlah anakan

jumlah anakan Total

0-3 ekor 4-7 ekor

asal madura 19 3 22

bali 7 1 8

Total 26 4 30

Lampiran 5 Hasil analisis chi-square antara karakteristik responden dengan peubah pelestarian jalak bali (lanjutan)

Chi-Square Tests

a. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1.07. b. Computed only for a 2x2 table

lama tinggal * lama memelihara

lama memelihara Total

x < 6 bulan 6 <= x < 12 bulan 12 <= x <18

Linear-by-Linear Association 1.639 1 .200

N of Valid Cases 30

a. 10 cells (83.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .13.

lama tinggal * total burung

total burung Total

0-3 ekor 4-7 ekor >= 8 ekor

(55)

N of Valid Cases 30

a. 7 cells (77.8%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .13.

lama tinggal * jumlah anak mati

jumlah anak mati Total 0-3 ekor 4-7 ekor >= 8 ekor

Lampiran 5 Hasil analisis chi-square antara karakteristik responden dengan peubah pelestarian jalak bali (lanjutan)

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)

Pearson Chi-Square 3.467a 4 .483

Likelihood Ratio 3.716 4 .446

Linear-by-Linear Association 1.378 1 .241

N of Valid Cases 30

a. 7 cells (77.8%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .13.

lama tinggal * jumlah anak lahir

jumlah anak lahir Total 0-3 ekor 4-7 ekor >= 8 ekor

Linear-by-Linear Association 1.834 1 .176

N of Valid Cases 30

a. 7 cells (77.8%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .27.

lama tinggal * jumlah anakan

jumlah anakan Total

0-3 ekor 4-7 ekor

Linear-by-Linear Association 1.569 1 .210

N of Valid Cases 30

a. 4 cells (66.7%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .53.

pendidikan * lama memelihara

(56)

x < 6 bulan 6 <= x < 12

Lampiran 5 Hasil analisis chi-square antara karakteristik responden dengan peubah pelestarian jalak bali (lanjutan)

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)

Pearson Chi-Square 2.510a 6 .867

Likelihood Ratio 3.261 6 .775

Linear-by-Linear Association .241 1 .623

N of Valid Cases 30

a. 8 cells (66.7%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .07.

pendidikan * total burung

total burung Total

0-3 ekor 4-7 ekor >= 8 ekor

Linear-by-Linear Association .012 1 .913

N of Valid Cases 30

a. 7 cells (77.8%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .07.

pendidikan * jumlah anak mati

jumlah anak mati Total 0-3 ekor 4-7 ekor >= 8 ekor

Linear-by-Linear Association .456 1 .500

N of Valid Cases 30

a. 7 cells (77.8%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .07.

pendidikan * jumlah anak lahir

Figur

Gambar 1  Lokasi penelitian
Gambar 1 Lokasi penelitian . View in document p.16
Tabel 1  Jenis data yang dikumpulkan
Tabel 1 Jenis data yang dikumpulkan . View in document p.17
Gambar 2  Kandang jalak bali
Gambar 2 Kandang jalak bali . View in document p.21
Tabel 2 Persentase karakteristik responden
Tabel 2 Persentase karakteristik responden . View in document p.21
Tabel 3  Persentase responden berdasarkan sistem religi
Tabel 3 Persentase responden berdasarkan sistem religi . View in document p.23
Tabel 5  Data kegiatan penangkaran jalak bali
Tabel 5 Data kegiatan penangkaran jalak bali . View in document p.25
Tabel 7  Hubungan antara peubah budaya dengan karakteristik responden
Tabel 7 Hubungan antara peubah budaya dengan karakteristik responden . View in document p.27

Referensi

Memperbarui...