ANALISIS DETERMINAN KERAGAMAN KONSUMSI
PANGAN PADA KELUARGA NELAYAN
DEWI MEITASARI
A54104035
PROGAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
Analyze Determinant of Food Diversity on Fisherman Family Dewi Meitasari
ABSTRACT
The objective of this study was to analyze determinant of food diversity on fisherman family. Design of this study is cross sectional study. Criteria of the sample are family who have mean of livelihood as fisherman and have prosperity according to BKKBN (Pra KS and KS I). Amount of the samples are 65 family. Type data was using primary data and secondary data. Primary data (characteristic family, mother’s knowlegde of nutrition, and dietary of family) was collected by structural questionare interview. Secondary data was about the location of this study has obtained from village office. Result of this study explain that education (p = 0.043) and expanditure (p = 0.019) corelate positive with food diversity. The corelation was analyze by Spearman’s corelation. Factors which determinant of food diversity are education (OR = 6.090) and expanditure (OR = 7.806). It means increasing of education and expanditure was equal with increasing of food diversity.
DEWI MEITASARI. A54104035. Analisis Determinan Keragaman Konsumsi Pangan pada Keluarga Nelayan. Dibawah bimbingan Yekti H. Effendi dan Ikeu Tanziha
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisis determinan keragaman konsumsi pangan pada keluarga nelayan. Tujuan khusus penelitian ini adalah : (1) Mengetahui karakteristik keluarga dan pengetahuan gizi ibu pada keluarga nelayan; (2) Menganalisis konsumsi zat gizi (energi, protein, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, C) pangan keluarga nelayan; (3) Menganalisis tingkat kecukupan energi dan protein keluarga nelayan; (4) Menganalisis keragaman konsumsi pangan keluarga nelayan; (5) Menganalisis hubungan antara karakteristik keluarga, pengetahuan gizi ibu, dan tingkat kecukupan energi serta protein dengan keragaman konsumsi pangan; (6) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keragaman konsumsi pangan keluarga nelayan
Desain penelitian ini adalah cross sectional study. Penelitian ini dilakukan di Desa Grogol, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Penentuan tempat dilakukan secara purposive (disengaja) dengan pertimbangan kesesuian wilayah dan populasi dalam penelitian ini yaitu keluarga nelayan. Pengumpulan data primer dilaksanakan selama lebih kurang satu bulan, pertengahan Juni sampai Juli 2007. Contoh dalam penelitian ini adalah keluarga nelayan yang tinggal di Desa Grogol, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Pengambilan populasi contoh dilakukan secara purposive dengan kriteria keluarga yang kepala keluarganya mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan dan memiliki tingkat kesejahtera menurut BKKBN yaitu Keluarga Pra-Sejahtera (Pra KS) dan Keluarga Sejahtera (KS I). Adapun jumlah populasi yang memenuhi kriteria sebanyak 187 keluarga. Jumlah contoh ditentukan berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus Slovin yaitu sebesar 65 keluarga dengan proporsi keluarga Pra KS 26 KK dan KS I sebanyak 39 KK.
Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan cara tehnik wawancara terstruktur kepada contoh dengan menggunakan kuisioner. Data primer meliputi karakteristik keluarga, pengetahuan gizi ibu, dan konsumsi pangan keluarga. Data sekunder mengenai keadaan umum wilayah yang diperoleh dari kantor desa.
Besar keluarga contoh memiliki proporsi terbesar (38.46%) termasuk dalam kategori sedang. Lebih dari separuh kepala keluarga (64.62%) maupun ibu (69.23%) contoh termasuk dalam kelompok usia dewasa awal. Hal tersebut menunjukkan bahwa usia baik kepala keluarga maupun ibu mayoritas tergolong dalam usia produktif. Sebesar 72.31% kepala keluarga dan 69.23% ibu berada pada tingkat pendidikan dasar. Hal tersebut dapat diterjemahkan bahwa mayoritas tingkat pendidikan baik kepala keluarga maupun ibu tergolong rendah. . Lebih dari separuh (60.00%) keluarga berada pada tingkat pengeluaran di atas garis kemiskinan. Sebagian besar ibu memiliki tingkat pengetahuan gizi rendah (81.54%).
Kecukupan Protein (AKP) per kapita per hari adalah 51.8 gram. Lebih dari separuh (53.85%) keluarga berada pada tingkat kecukupan energi yang cukup sedangkan 46.15% keluarga mengalami defisit tingkat kecukupan energi. Lebih dari separuh (55.38%) keluarga memiliki tingkat kecukupan protein yang cukup dan 44.62% mengalami defisit tingkat kecukupan protein.
Hanya 21.54% keluarga mengonsumsi pangan beragam. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga yang mengonsumsi pangan beragam baik jumlah maupun jenis masih rendah.
Tidak ada hubungan yang signifikan (p > 0.05) antara besar keluarga, usia kepala keluarga dan ibu, lama pendidikan ibu dengan keragaman konsumsi pangan. Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara tingkat pendidikan kepala keluarga (p = 0.043), pengeluaran per kapita per bulan (p = 0.019), dan pengeluaran pangan perkapita perbulan (p = 0.021) dengan keragaman konsumsi pangan.
Tidak ada hubungan yang signifikan (p > 0.05) antara pengetahuan gizi ibu terhadap keragaman konsumsi pangan. Begitu juga untuk tingkat kecukupan energi dan protein dengan keragaman konsumsi pangan.
DEWI MEITASARI. A54104035. Analisis Determinan Keragaman Konsumsi Pangan pada Keluarga Nelayan. Dibawah bimbingan Yekti H. Effendi dan Ikeu Tanziha
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisis determinan keragaman konsumsi pangan pada keluarga nelayan. Tujuan khusus penelitian ini adalah : (1) Mengetahui karakteristik keluarga dan pengetahuan gizi ibu pada keluarga nelayan; (2) Menganalisis konsumsi zat gizi (energi, protein, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, C) pangan keluarga nelayan; (3) Menganalisis tingkat kecukupan energi dan protein keluarga nelayan; (4) Menganalisis keragaman konsumsi pangan keluarga nelayan; (5) Menganalisis hubungan antara karakteristik keluarga, pengetahuan gizi ibu, dan tingkat kecukupan energi serta protein dengan keragaman konsumsi pangan; (6) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keragaman konsumsi pangan keluarga nelayan
Desain penelitian ini adalah cross sectional study. Penelitian ini dilakukan di Desa Grogol, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Penentuan tempat dilakukan secara purposive (disengaja) dengan pertimbangan kesesuian wilayah dan populasi dalam penelitian ini yaitu keluarga nelayan. Pengumpulan data primer dilaksanakan selama lebih kurang satu bulan, pertengahan Juni sampai Juli 2007. Contoh dalam penelitian ini adalah keluarga nelayan yang tinggal di Desa Grogol, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Pengambilan populasi contoh dilakukan secara purposive dengan kriteria keluarga yang kepala keluarganya mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan dan memiliki tingkat kesejahtera menurut BKKBN yaitu Keluarga Pra-Sejahtera (Pra KS) dan Keluarga Sejahtera (KS I). Adapun jumlah populasi yang memenuhi kriteria sebanyak 187 keluarga. Jumlah contoh ditentukan berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus Slovin yaitu sebesar 65 keluarga dengan proporsi keluarga Pra KS 26 KK dan KS I sebanyak 39 KK.
Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan cara tehnik wawancara terstruktur kepada contoh dengan menggunakan kuisioner. Data primer meliputi karakteristik keluarga, pengetahuan gizi ibu, dan konsumsi pangan keluarga. Data sekunder mengenai keadaan umum wilayah yang diperoleh dari kantor desa.
Besar keluarga contoh memiliki proporsi terbesar (38.46%) termasuk dalam kategori sedang. Lebih dari separuh kepala keluarga (64.62%) maupun ibu (69.23%) contoh termasuk dalam kelompok usia dewasa awal. Hal tersebut menunjukkan bahwa usia baik kepala keluarga maupun ibu mayoritas tergolong dalam usia produktif. Sebesar 72.31% kepala keluarga dan 69.23% ibu berada pada tingkat pendidikan dasar. Hal tersebut dapat diterjemahkan bahwa mayoritas tingkat pendidikan baik kepala keluarga maupun ibu tergolong rendah. . Lebih dari separuh (60.00%) keluarga berada pada tingkat pengeluaran di atas garis kemiskinan. Sebagian besar ibu memiliki tingkat pengetahuan gizi rendah (81.54%).
Kecukupan Protein (AKP) per kapita per hari adalah 51.8 gram. Lebih dari separuh (53.85%) keluarga berada pada tingkat kecukupan energi yang cukup sedangkan 46.15% keluarga mengalami defisit tingkat kecukupan energi. Lebih dari separuh (55.38%) keluarga memiliki tingkat kecukupan protein yang cukup dan 44.62% mengalami defisit tingkat kecukupan protein.
Hanya 21.54% keluarga mengonsumsi pangan beragam. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga yang mengonsumsi pangan beragam baik jumlah maupun jenis masih rendah.
Tidak ada hubungan yang signifikan (p > 0.05) antara besar keluarga, usia kepala keluarga dan ibu, lama pendidikan ibu dengan keragaman konsumsi pangan. Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara tingkat pendidikan kepala keluarga (p = 0.043), pengeluaran per kapita per bulan (p = 0.019), dan pengeluaran pangan perkapita perbulan (p = 0.021) dengan keragaman konsumsi pangan.
Tidak ada hubungan yang signifikan (p > 0.05) antara pengetahuan gizi ibu terhadap keragaman konsumsi pangan. Begitu juga untuk tingkat kecukupan energi dan protein dengan keragaman konsumsi pangan.
ABSTRACT
The objective of this study was to analyze determinant of food diversity on fisherman family. Design of this study is cross sectional study. Criteria of the sample are family who have mean of livelihood as fisherman and have prosperity according to BKKBN (Pra KS and KS I). Amount of the samples are 65 family. Type data was using primary data and secondary data. Primary data (characteristic family, mother’s knowlegde of nutrition, and dietary of family) was collected by structural questionare interview. Secondary data was about the location of this study has obtained from village office. Result of this study explain that education (p = 0.043) and expanditure (p = 0.019) corelate positive with food diversity. The corelation was analyze by Spearman’s corelation. Factors which determinant of food diversity are education (OR = 6.090) and expanditure (OR = 7.806). It means increasing of education and expanditure was equal with increasing of food diversity.
ANALISIS DETERMINAN KERAGAMAN KONSUMSI
PANGAN PADA KELUARGA NELAYAN
DEWI MEITASARI
A54104035
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Pertanian pada
Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga
PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
Judul Skripsi : Analisis Determinan Keragaman Konsumsi Pangan pada
Keluarga Nelayan
Nama : Dewi Meitasari
NRP : A54104035
Disetujui
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
dr. Yekti Hartati Effendi, SKed Dr. Ir. Ikeu Tanziha, MS NIP. 140 092 953 NIP. 131 628 329
Diketahui
Dekan Fakultas Pertanian IPB
Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr NIP. 131 124 019
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Analisis
Determinan Keragaman Konsumsi Pangan pada Keluarga Nelayan” benar-benar
merupakan hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan sebagai karya ilmiah
pada perguruan tinggi atau lembaga apapun.
Bogor, Juni 2008
ANALISIS DETERMINAN KERAGAMAN KONSUMSI
PANGAN PADA KELUARGA NELAYAN
DEWI MEITASARI
A54104035
PROGAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
Analyze Determinant of Food Diversity on Fisherman Family Dewi Meitasari
ABSTRACT
The objective of this study was to analyze determinant of food diversity on fisherman family. Design of this study is cross sectional study. Criteria of the sample are family who have mean of livelihood as fisherman and have prosperity according to BKKBN (Pra KS and KS I). Amount of the samples are 65 family. Type data was using primary data and secondary data. Primary data (characteristic family, mother’s knowlegde of nutrition, and dietary of family) was collected by structural questionare interview. Secondary data was about the location of this study has obtained from village office. Result of this study explain that education (p = 0.043) and expanditure (p = 0.019) corelate positive with food diversity. The corelation was analyze by Spearman’s corelation. Factors which determinant of food diversity are education (OR = 6.090) and expanditure (OR = 7.806). It means increasing of education and expanditure was equal with increasing of food diversity.
DEWI MEITASARI. A54104035. Analisis Determinan Keragaman Konsumsi Pangan pada Keluarga Nelayan. Dibawah bimbingan Yekti H. Effendi dan Ikeu Tanziha
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisis determinan keragaman konsumsi pangan pada keluarga nelayan. Tujuan khusus penelitian ini adalah : (1) Mengetahui karakteristik keluarga dan pengetahuan gizi ibu pada keluarga nelayan; (2) Menganalisis konsumsi zat gizi (energi, protein, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, C) pangan keluarga nelayan; (3) Menganalisis tingkat kecukupan energi dan protein keluarga nelayan; (4) Menganalisis keragaman konsumsi pangan keluarga nelayan; (5) Menganalisis hubungan antara karakteristik keluarga, pengetahuan gizi ibu, dan tingkat kecukupan energi serta protein dengan keragaman konsumsi pangan; (6) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keragaman konsumsi pangan keluarga nelayan
Desain penelitian ini adalah cross sectional study. Penelitian ini dilakukan di Desa Grogol, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Penentuan tempat dilakukan secara purposive (disengaja) dengan pertimbangan kesesuian wilayah dan populasi dalam penelitian ini yaitu keluarga nelayan. Pengumpulan data primer dilaksanakan selama lebih kurang satu bulan, pertengahan Juni sampai Juli 2007. Contoh dalam penelitian ini adalah keluarga nelayan yang tinggal di Desa Grogol, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Pengambilan populasi contoh dilakukan secara purposive dengan kriteria keluarga yang kepala keluarganya mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan dan memiliki tingkat kesejahtera menurut BKKBN yaitu Keluarga Pra-Sejahtera (Pra KS) dan Keluarga Sejahtera (KS I). Adapun jumlah populasi yang memenuhi kriteria sebanyak 187 keluarga. Jumlah contoh ditentukan berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus Slovin yaitu sebesar 65 keluarga dengan proporsi keluarga Pra KS 26 KK dan KS I sebanyak 39 KK.
Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan cara tehnik wawancara terstruktur kepada contoh dengan menggunakan kuisioner. Data primer meliputi karakteristik keluarga, pengetahuan gizi ibu, dan konsumsi pangan keluarga. Data sekunder mengenai keadaan umum wilayah yang diperoleh dari kantor desa.
Besar keluarga contoh memiliki proporsi terbesar (38.46%) termasuk dalam kategori sedang. Lebih dari separuh kepala keluarga (64.62%) maupun ibu (69.23%) contoh termasuk dalam kelompok usia dewasa awal. Hal tersebut menunjukkan bahwa usia baik kepala keluarga maupun ibu mayoritas tergolong dalam usia produktif. Sebesar 72.31% kepala keluarga dan 69.23% ibu berada pada tingkat pendidikan dasar. Hal tersebut dapat diterjemahkan bahwa mayoritas tingkat pendidikan baik kepala keluarga maupun ibu tergolong rendah. . Lebih dari separuh (60.00%) keluarga berada pada tingkat pengeluaran di atas garis kemiskinan. Sebagian besar ibu memiliki tingkat pengetahuan gizi rendah (81.54%).
Kecukupan Protein (AKP) per kapita per hari adalah 51.8 gram. Lebih dari separuh (53.85%) keluarga berada pada tingkat kecukupan energi yang cukup sedangkan 46.15% keluarga mengalami defisit tingkat kecukupan energi. Lebih dari separuh (55.38%) keluarga memiliki tingkat kecukupan protein yang cukup dan 44.62% mengalami defisit tingkat kecukupan protein.
Hanya 21.54% keluarga mengonsumsi pangan beragam. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga yang mengonsumsi pangan beragam baik jumlah maupun jenis masih rendah.
Tidak ada hubungan yang signifikan (p > 0.05) antara besar keluarga, usia kepala keluarga dan ibu, lama pendidikan ibu dengan keragaman konsumsi pangan. Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara tingkat pendidikan kepala keluarga (p = 0.043), pengeluaran per kapita per bulan (p = 0.019), dan pengeluaran pangan perkapita perbulan (p = 0.021) dengan keragaman konsumsi pangan.
Tidak ada hubungan yang signifikan (p > 0.05) antara pengetahuan gizi ibu terhadap keragaman konsumsi pangan. Begitu juga untuk tingkat kecukupan energi dan protein dengan keragaman konsumsi pangan.
DEWI MEITASARI. A54104035. Analisis Determinan Keragaman Konsumsi Pangan pada Keluarga Nelayan. Dibawah bimbingan Yekti H. Effendi dan Ikeu Tanziha
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisis determinan keragaman konsumsi pangan pada keluarga nelayan. Tujuan khusus penelitian ini adalah : (1) Mengetahui karakteristik keluarga dan pengetahuan gizi ibu pada keluarga nelayan; (2) Menganalisis konsumsi zat gizi (energi, protein, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, C) pangan keluarga nelayan; (3) Menganalisis tingkat kecukupan energi dan protein keluarga nelayan; (4) Menganalisis keragaman konsumsi pangan keluarga nelayan; (5) Menganalisis hubungan antara karakteristik keluarga, pengetahuan gizi ibu, dan tingkat kecukupan energi serta protein dengan keragaman konsumsi pangan; (6) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keragaman konsumsi pangan keluarga nelayan
Desain penelitian ini adalah cross sectional study. Penelitian ini dilakukan di Desa Grogol, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Penentuan tempat dilakukan secara purposive (disengaja) dengan pertimbangan kesesuian wilayah dan populasi dalam penelitian ini yaitu keluarga nelayan. Pengumpulan data primer dilaksanakan selama lebih kurang satu bulan, pertengahan Juni sampai Juli 2007. Contoh dalam penelitian ini adalah keluarga nelayan yang tinggal di Desa Grogol, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Pengambilan populasi contoh dilakukan secara purposive dengan kriteria keluarga yang kepala keluarganya mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan dan memiliki tingkat kesejahtera menurut BKKBN yaitu Keluarga Pra-Sejahtera (Pra KS) dan Keluarga Sejahtera (KS I). Adapun jumlah populasi yang memenuhi kriteria sebanyak 187 keluarga. Jumlah contoh ditentukan berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus Slovin yaitu sebesar 65 keluarga dengan proporsi keluarga Pra KS 26 KK dan KS I sebanyak 39 KK.
Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan cara tehnik wawancara terstruktur kepada contoh dengan menggunakan kuisioner. Data primer meliputi karakteristik keluarga, pengetahuan gizi ibu, dan konsumsi pangan keluarga. Data sekunder mengenai keadaan umum wilayah yang diperoleh dari kantor desa.
Besar keluarga contoh memiliki proporsi terbesar (38.46%) termasuk dalam kategori sedang. Lebih dari separuh kepala keluarga (64.62%) maupun ibu (69.23%) contoh termasuk dalam kelompok usia dewasa awal. Hal tersebut menunjukkan bahwa usia baik kepala keluarga maupun ibu mayoritas tergolong dalam usia produktif. Sebesar 72.31% kepala keluarga dan 69.23% ibu berada pada tingkat pendidikan dasar. Hal tersebut dapat diterjemahkan bahwa mayoritas tingkat pendidikan baik kepala keluarga maupun ibu tergolong rendah. . Lebih dari separuh (60.00%) keluarga berada pada tingkat pengeluaran di atas garis kemiskinan. Sebagian besar ibu memiliki tingkat pengetahuan gizi rendah (81.54%).
Kecukupan Protein (AKP) per kapita per hari adalah 51.8 gram. Lebih dari separuh (53.85%) keluarga berada pada tingkat kecukupan energi yang cukup sedangkan 46.15% keluarga mengalami defisit tingkat kecukupan energi. Lebih dari separuh (55.38%) keluarga memiliki tingkat kecukupan protein yang cukup dan 44.62% mengalami defisit tingkat kecukupan protein.
Hanya 21.54% keluarga mengonsumsi pangan beragam. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga yang mengonsumsi pangan beragam baik jumlah maupun jenis masih rendah.
Tidak ada hubungan yang signifikan (p > 0.05) antara besar keluarga, usia kepala keluarga dan ibu, lama pendidikan ibu dengan keragaman konsumsi pangan. Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara tingkat pendidikan kepala keluarga (p = 0.043), pengeluaran per kapita per bulan (p = 0.019), dan pengeluaran pangan perkapita perbulan (p = 0.021) dengan keragaman konsumsi pangan.
Tidak ada hubungan yang signifikan (p > 0.05) antara pengetahuan gizi ibu terhadap keragaman konsumsi pangan. Begitu juga untuk tingkat kecukupan energi dan protein dengan keragaman konsumsi pangan.
ABSTRACT
The objective of this study was to analyze determinant of food diversity on fisherman family. Design of this study is cross sectional study. Criteria of the sample are family who have mean of livelihood as fisherman and have prosperity according to BKKBN (Pra KS and KS I). Amount of the samples are 65 family. Type data was using primary data and secondary data. Primary data (characteristic family, mother’s knowlegde of nutrition, and dietary of family) was collected by structural questionare interview. Secondary data was about the location of this study has obtained from village office. Result of this study explain that education (p = 0.043) and expanditure (p = 0.019) corelate positive with food diversity. The corelation was analyze by Spearman’s corelation. Factors which determinant of food diversity are education (OR = 6.090) and expanditure (OR = 7.806). It means increasing of education and expanditure was equal with increasing of food diversity.
ANALISIS DETERMINAN KERAGAMAN KONSUMSI
PANGAN PADA KELUARGA NELAYAN
DEWI MEITASARI
A54104035
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Pertanian pada
Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga
PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
Judul Skripsi : Analisis Determinan Keragaman Konsumsi Pangan pada
Keluarga Nelayan
Nama : Dewi Meitasari
NRP : A54104035
Disetujui
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
dr. Yekti Hartati Effendi, SKed Dr. Ir. Ikeu Tanziha, MS NIP. 140 092 953 NIP. 131 628 329
Diketahui
Dekan Fakultas Pertanian IPB
Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr NIP. 131 124 019
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Analisis
Determinan Keragaman Konsumsi Pangan pada Keluarga Nelayan” benar-benar
merupakan hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan sebagai karya ilmiah
pada perguruan tinggi atau lembaga apapun.
Bogor, Juni 2008
PRAKATA
Bismillahhirrahmanirrahiim
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat-Nya,
sehingga penulis berhasil menyelesaikan skripsi ini. Semoga setiap langkah selalu
dihaturkan untuk senantiasa beribadah kepada-Nya. Tema yang diambil dalam
penelitian ini adalah keragaman konsumsi pangan dengan judul “Analisis
Determinan Keragaman Konsumsi Pangan pada Keluarga Nelayan”
Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna
mengingat keterbatasan-keterbatasan yang dihadapi dan dimiliki penulis selama
berlangsungnya penelitian. Semoga hasil yang diperoleh dari penelitian ini dapat
dimanfaatkan dengan baik oleh pihak-pihak yang membutuhkannya.
Bogor, Juni 2008
UCAPAN TERIMA KASIH
Atas terselesaikannya skripsi ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih dan
penghargaan kepada:
1. dr Yekti H. Effendi, SKed dan Dr. Ir. Ikeu Tanziha, MS selaku dosen
pembimbing skripsi yang telah sabar membimbing, memberikan motivasi,
kritik, saran, dan solusi atas terselesaikannya skripsi ini.
2. Dr. Ir. Drajat Martianto, MSi selaku dosen penguji, yang telah berkenan
memberikan saran dan kritik demi kesempurnaan skripsi ini.
3. Ir. Retnaningsih, MSi, selaku dosen pemandu seminar.
4. Dr. Ir. Evy. Damayanthi, MS selaku dosen pembimbing akademik, yang telah
berkenan memberikan bimbingan kepada penulis selama menjadi mahasiswa.
5. Seluruh staf pengajar yang telah memberikan tinta ilmu kepada penulis dan
Komisi Pendidikan GMSK atas segala bantuannya.
6. Para pembahas seminar yaitu Friska Amelia, Ida Hildawati, Noni Eka, dan
Yuza Anzola yang telah memberi saran dan kritik yang berarti dalam
penyempurnaan skripsi ini.
7. Ibu dan Bapak, serta keluarga tercinta, yang selalu mendo’akan, memberikan
semangat, dukungan, dan kasih sayang yang tanpa ujung.
8. Teman-teman GMSK 41 (Yesa, Friska, Henny, Ida, Kartika H, Lola, Noni,
Ratna, Ermita, Dewi K, Ima, Rizka) dan semua pihak yang telah membantu
terselesaikannya skripsi ini namun tak dapat disebutkan satu persatu.
Bogor, Juni 2008
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bojonegoro, Jawa Timur pada tanggal 7 Mei 1985.
Penulis merupakan anak terakhir dari empat bersaudara dari pasangan Samiran
dan Sulasmi’ah.
Tahun 2004, penulis lulus dari SMU Negeri I Bojonegoro Jawa Timur.
Pada tahun yang sama, penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Gizi
Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB).
Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif di beberapa kepanitiaan kampus
dan organisasi kemahasiswaan. Organisasi yang pernah diikuti yaitu Paguyuban
Angkling Darmo (PAD) tahun 2004-2008 dan Badan Konsultasi Gizi tahun
Usia.……….………... 31 Pendidikan... 32 Pengeluaran.…... 32 Pengetahuan Gizi Ibu...………... 33 Konsumsi Pangan………...……….………... 34 Tingkat Kecukupan Energi dan Protein.………... 34 Keragaman Konsumsi Pangan...………... 35 Frekuensi Konsumsi menurut Jenis Pangan... 36 Hubungan Karakteristik Keluarga dengan Keragaman Konsumsi
Pangan....………... 38 Besar Keluarga………..…... 38 Usia………..…………... 39 Pendidikan... Pengeluaran...
40 42 Pengeluaran per kapita per bulan... 44 Pengeluaran Pangan... 45 Hubungan Pengetahuan Gizi Ibu dengan Keragaman Konsumsi
Pangan... 47
Hubungan TKE dan TKP dengan Keragaman Konsumsi Pangan... 49 Tingkat Kecukupan Energi... 49 Tingkat Kecukupan Protein... 50 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keragaman Konsumsi
Pangan…………... 53
KESIMPULAN DAN SARAN... 55 Kesimpulan…………...…….………...………... 55 Saran...………..……….………... 55
DAFTAR PUSTAKA………... 56
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Contoh kuisioner keragaman konsumsi pangan ...…… 16 2. Indikator keragaman konsumsi pangan secara kualitatif ..………… 18 3 Jenis data, cara pengumpulan data, bahan dan alat pengumpulan
data... 23 4. Pengategorian karakteristik keluarga... 24 5. Pertanyaan tentang pengetahuan gizi ibu... 25 6. Pengategorian pengetahuan gizi ibu... 25 7. Pengategorian konsumsi zat gizi pangan... 26 8. Angka Kecukupan Energi dan Protein (AKE dan AKP)
berdasarkan umur dan jenis kelamin... 27 9. Pengategorian tingkat kecukupan energi dan protein... 28 10. Pengategorian keragaman konsumsi pangan... 28 11. Sebaran keluarga berdasarkan besar keluarga... 31 12. Sebaran keluarga berdasarkan kategori usia kepala keluarga dan
ibu... 31 13. Sebaran keluarga berdasarkan tingkat pendidikan kepala keluarga
dan ibu... 32 14. Sebaran keluarga berdasarkan pengeluaran/kapita/bulan... 32 15. Sebaran keluarga berdasarkan pengetahuan gizi ibu... 33 16. Rata-rata konsumsi zat gizi pangan per kapita per hari... 34
17. Sebaran keluarga berdasarkan tingkat kecukupan energi... 35 18. Sebaran keluarga berdasarkan tingkat kecukupan protein... 35 19. Sebaran keluarga berdasarkan keragaman konsumsi pangan... 36 20. Sebaran keluarga berdasarkan besar keluarga pada keluarga dengan
konsumsi pangan beragam dan tidak beragam ... 38 21. Sebaran keluarga berdasarkan usia kepala keluarga dan ibu pada
keluarga dengan konsumsi pangan beragam dan tidak beragam... 40 22. Sebaran keluarga berdasarkan tingkat pendidikan pada keluarga
dengan konsumsi pangan beragam dan tidak beragam... 41 23. Rata-rata dan standar deviasi pengeluaran (Rp/kap/bln) pada
keluarga dengan konsumsi pangan beragam dan tidak beragam ... 43 24. Sebaran keluarga berdasarkan pengeluaran per kapita per bulan
pada keluarga dengan konsumsi pangan beragam dan tidak beragam... 44 25. Sebaran keluarga berdasarkan pengeluaran pangan per kapita per
bulan pada keluarga dengan konsumsi pangan beragam dan tidak beragam... 45 26. Rata-rata dan standar deviasi pengeluaran pangan keluarga
(Rp/bulan) menurut jenis pangan ... 46 27. Sebaran jawaban contoh berdasarkan pertanyaan pengetahuan gizi
dengan konsumsi pangan beragam dan tidak beragam... 48 29. Sebaran keluarga berdasarkan tingkat kecukupan energi pada
keluarga dengan konsumsi pangan beragam dan tidak beragam... 49 30. Sebaran keluarga berdasarkan tingkat kecukupan protein keluarga
beragam dan tidak beragam... 50 31. Sebaran keluarga berdasarkan rata-rata konsumsi pangan per kapita
perhari... 51
32. Sebaran keluarga berdasarkan rata-rata dan standar deviasi konsumsi zat gizi pangan per kapita perhari pada keluarga dengan konsumsi pangan beragam dan tidak beragam... 52 33. Faktor –faktor yang mempengaruhi keragaman konsumsi pangan
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Analisis Deskriptif... 60 2. Analisis Deskriptif pada Keluarga dengan Konsumsi Pangan
Beragam...
60
3. Analisis Deskriptif pada Keluarga dengan Konsumsi Pangan Tidak
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Setiap manusia di Indonesia berhak memperoleh pangan yang cukup,
aman, dan bergizi. Hak azasi manusia atas akses pangan telah dinyatakan dalam
Undang-Undang Nomor 7 tahun 1996 tentang pangan. Konsumsi pangan dan gizi
yang cukup dan seimbang adalah syarat bagi pertumbuhan dan perkembangan
tubuh manusia mulai dari kandungan sampai dewasa, hal ini juga mempengaruhi
perkembangan emosi, jiwa, dan kemampuan motoriknya. Generasi yang kokoh
yaitu kuat fisik dengan intelegensia tinggi akan menjadi penerus suatu bangsa
untuk membangun negara dalam semua bidang, baik ekonomi, sosial, dan politik
yang dinamis serta berkelanjutan (Bimas Ketahanan Pangan 2001).
Pola konsumsi pangan yang seimbang adalah konsumsi pangan yang dapat
menyediakan zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur dalam jumlah yang
cukup sesuai umur, jenis kelamin, dan aktivitas fisik, yang terdiri dari pangan
yang beragam (Riyadi 1996). Keragaman konsumsi pangan sangat penting, hal ini
karena tidak ada satu jenis pangan yang mengandung zat gizi secara lengkap baik
jenis maupun jumlah. Dengan mengonsumsi pangan yang beragam maka
kekurangan zat gizi dalam satu jenis akan dilengkapi oleh kandungan zat gizi dari
jenis pangan lainnya. Adanya prinsip saling melengkapi antar berbagai pangan
tersebut akan menjamin terpenuhinya mutu gizi seimbang dalam jumlah cukup
(Riyadi 1996). Keragaman konsumsi pangan mempunyai pengaruh yang besar
terhadap kualitas zat-zat gizi dalam pangan. Hal ini dapat diketahui bahwa pilihan
yang luas dari kelompok pangan yang berbeda menunjukkan jaminan
perlindungan terhadap defisiensi zat-zat gizi esensial (Roe diacu dalam
Rahmawati 2000).
Masyarakat nelayan merupakan salah satu komunitas yang selalu
berhadapan dengan berbagai masalah, seperti kurangnya modal, kualitas hasil
tangkapan yang buruk, jumlah tangkapan sedikit, tekanan dari majikan, dan
musim yang selalu berubah. Masalah-masalah tersebut yang dapat mempengaruhi
keragaan ekonomi dan kehidupan rumah tangga para nelayan. Hal tersebut yang
menjadi menyebab terjadinya kurangnya keragaman konsumsi terhadap pangan
Perumusan Masalah
Keragaman konsumsi pangan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: (1)
Ketersediaan pangan, jenis, dan jumlah pangan dalam pola makanan di suatu
daerah tertentu, biasanya berkembang dari pangan setempat atau dari pangan yang
telah ditanam, (2) Pola sosial budaya, pola kebudayaan mempengaruhi seseorang
dalam memilih pangan. Berdasarkan hal-hal yang berkaitan dengan keragaman
konsumsi pangan maka permasalahan penelitian yang akan dijawab dalam
penelitian ini adalah Bagaimana karakteristik dan pengetahuan gizi ibu pada
keluarga nelayan?. Bagaimana konsumsi zat gizi pangan dan tingkat kecukupan
energi serta protein pada keluarga nelayan ? Bagaimana keragaman konsumsi
pangan pada keluarga nelayan?. Bagaimana hubungan antara karakteristik
keluarga, pengetahuan gizi, dan tingkat kecukupan energi serta protein dengan
keragaman konsumsi pangan?. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi
keragaman konsumsi pangan pada keluarga nelayan?.
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Menganalisis determinan keragaman konsumsi pangan pada keluarga
nelayan.
Tujuan Khusus
1. Mengetahui karakteristik keluarga dan pengetahuan gizi ibu pada keluarga
nelayan.
2. Menganalisis konsumsi zat gizi (energi, protein, kalsium, fosfor, besi,
vitamin A, dan C) pangan dan tingkat kecukupan energi serta protein pada
keluarga nelayan.
3. Menganalisis keragaman konsumsi pangan pada keluarga nelayan.
4. Menganalisis hubungan antara karakteristik keluarga, pengetahuan gizi
ibu, dan tingkat kecukupan energi serta protein dengan keragaman
konsumsi pangan.
5. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keragaman konsumsi
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada seluruh
pihak terutama bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Selain itu, hasil penelitian
ini juga dapat memberikan gambaran tentang keragaman konsumsi pangan yang
terjadi di wilayah Kabupaten Cirebon, serta dapat memberikan sumbangan
TINJAUAN PUSTAKA
Nelayan
Sebagian besar nelayan di Indonesia merupakan nelayan tradisional yang
selalu berhadapan dengan berbagai masalah, seperti kurangnya modal, kualitas
hasil tangkapan yang buruk, jumlah tangkapan sedikit, tekanan dari majikan, dan
musim yang selalu berubah. Masalah-masalah tersebut yang dapat mempengaruhi
keragaan ekonomi dan kehidupan rumah tangga para nelayan (Pasandaran 1990,
diacu dalam Baliwati, Pranadji & Retnaningsih 1992).
Secara sosiologis, karakteristik komunitas nelayan berbeda dari komunitas
petani. Petani menghadapi situasi ekologi yang dapat dikontrol. Menurut Rogers
(1969) diacu dalam Satria (2001), petani (peasant) juga memiliki banyak
karakteristik, seperti mutual distrust, perceived limited goods, limited views of this
world, dan limited aspiration. Sedangkan nelayan dihadapkan pada situasi
ekologis yang sulit untuk mengendalikan produknya mengingat perikanan
memiliki sifat open access sehingga nelayan juga harus berpindah-pindah dan ada
elemen risiko yang harus dihadapi lebih besar daripada yang dihadapi petani
(Pollnack 1988, diacu dalam Satria 2001). Selain itu, nelayan juga harus
berhadapan dengan kehidupan laut yang keras sehingga membuat mereka
umumnya bersikap keras, tegas, dan terbuka.
Rumah tangga nelayan memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Deptan 1991,
diacu dalam Baliwati , Pranadji & Retnaningsih 1992) :
1. Rumah dan barang yang dimiliki terbatas dan sangat sederhana.
2. Tingkat kesehatan dan pendidikan rendah.
3. Produktivitas kerja rendah.
4. Keterampilan kurang memadai.
5. Kurang dapat mengikuti pembaharuan dan kurang memperoleh
kesempatan berperan serta dalam pembangunan.
Masyarakat nelayan terbagi menjadi dua kelompok yaitu nelayan juragan
dan nelayan buruh. Pembagian ini akibat dari perbedaan kepemilikian alat
tangkap, organisasi kerja penangkapan ikan, dan pendapatan dari sistem bagi hasil
(Hermanto 1986, diacu dalam Baliwati et,. al 1992). Faktor pendapatan memiliki
mempengaruhi ketersediaan pangan, akan menjadi masalah bagi penduduk yang
memiliki pendapatan rendah karena tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan
sehari-hari dalam jumlah yang diperlukan sehingga terjadi ketidakcukupan
konsumsi pangan (Birowo 1983, diacu dalam Baliwati et,. al 1992).
Menurut Satria (2001) nelayan dibedakan menjadi dua yaitu nelayan kecil
dan nelayan besar. Nelayan kecil mencakup berbagai karakteristik nelayan baik
berdasarkan kapasitas teknologi (alat tangkap dan armada) maupun budaya.
Nelayan kecil menangkap ikan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari. Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa mereka tidak menjual hasil
tangkapannya. Hasil tangkapan yang dijual biasanya dialokasikan untuk
memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari (khususnya pangan), dan bukan
diinvestasikan kembali untuk melipatgandakan keuntungan. Sedangkan nelayan
besar dicirikan oleh skala usaha yang besar, baik kapasitas teknologi penangkapan
maupun jumlah armadanya. Mereka berorientasi pada keuntungan (profit
oriented) dan umumnya melibatkan sejumlah buruh nelayan sebagai anak buah
kapal (ABK) dengan orientasi kerja yang semakin kompleks. Nelayan besar juga
disebut sebagai nelayan industri (industrial fisher).
Perbedaan dalam penggunaan teknologi penangkapan menyebabkan
terbatasnya daerah penangkapan ikan karena nelayan hanya dapat bekerja di
daerah sekitar pantai saja. Nelayan yang menggunakan teknologi penangkapan
yang relatif rendah disebut nelayan skala kecil. Umumnya menggunakan kapal
berukuran kecil (3-5 GT) dan mesin berkekuatan rendah (0-3 HP) (Tim Fakultas
Perikanan IPB 1991, diacu dalam Baliwati et,. al 1992).
Pada umumnya perempuan dalam komunitas nelayan tidak terlibat
langsung dalam kegiatan produksi (penangkapan ikan), kecuali untuk beberapa
jenis kegiatan, seperti pengumpulan tanaman laut (shellfish), penangkapan ikan
dengan beachseine. Kaum perempuan atau istri-istri para nelayan lebih banyak
berperan dalam kegiatan pengolahan (pemindangan) maupun pemasaran (Satria
2001).
Menurut Goodwin (1990) diacu dalam Satria (2001) menyatakan bahwa
dalam komunitas nelayan, status sosial sebagai istri nelayan dengan peran-peran
nelayan. Tentu saja, prestise yang lebih tinggi tersebut disebabkan oleh sikap
mereka yang relatif lebih mandiri. Kemandirian ini merupakan konsekuensi dari
peran suami yang lebih banyak memiliki waktu di laut sehingga untuk menjaga
komunitas diperlukan peran aktif dari istri nelayan.
Konsumsi Pangan
Konsumsi pangan merupakan informasi tentang jenis dan jumlah pangan
yang dikonsumsi oleh seseorang atau sekelompok orang pada waktu tertentu.
Konsumsi pangan dipengaruhi oleh beberapa faktor dalam pemilihan jenis atau
banyaknya pangan yang dimakan, hal tersebut dapat berbeda antara individu baik
ditingkat keluarga maupun daerah. Faktor ekonomi dan harga, serta faktor sosial
budaya dan religi yang ada di suatu daerah sangat mempengaruhi konsumsi
pangan (PSKPG 2002). Akan tetapi, faktor-faktor yang sangat berpengaruh adalah
jenis dan banyaknya pangan yang diproduksi dan tersedia, tingkat pendapatan,
dan pengetahuan gizi (Haper, Deaton & Driskel 1986).
Menurut Riyadi (1996), bahwa pola konsumsi pangan dipengaruhi oleh
banyak faktor, diantaranya yang terpenting adalah: (1) Ketersediaan pangan, jenis,
dan jumlah pangan dalam pola makanan di suatu daerah tertentu, biasanya
berkembang dari pangan setempat atau dari pangan yang telah ditanam. Bila
pangan tersedia secara kontinyu, maka dapat membentuk kebiasaan makan, (2)
Pola sosial budaya, pola kebudayaan mempengaruhi seseorang dalam memilih
pangan. Hal ini juga mempengaruhi jenis pangan apa yang harus diproduksi,
bagaimana cara pengolahannya, penyalurannya, penyiapannya, dan penyajiannya.
Pilihan pangan biasanya ditentukan oleh adanya faktor-faktor penerimaan atau
penolakan terhadap pangan oleh seseorang atau sekelompok orang.
Menurut Baliwati dan Roosita (2004), konsumsi pangan adalah jenis dan
jumlah pangan yang dimakan oleh seseorang atau kelompok dengan tujuan
tertentu pada waktu tertentu. Konsumsi pangan dimaksudkan untuk memenuhi
kebutuhan individu secara biologis, psikologi maupun sosial. Hal ini terkait
dengan fungsi makanan yaitu gastronomik, identitas budaya, religi, dan magis,
Konsumsi pangan dan gizi cukup serta seimbang merupakan salah satu
faktor penting yang menentukan tingkat kesehatan dan intelegensia manusia,
sebab tingkat kecukupan gizi seseorang sangat mempengaruhi keseimbangan
perkembangan jasmani dan rohani yang bersangkutan. Pola konsumsi pangan dan
gizi rumah tangga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, sosial, dan budaya
masyarakat (Bimas Ketahanan Pangan 2001).
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Pangan
Besar keluarga
Hubungan antara laju kelahiran yang tinggi dan kurang gizi sangat nyata
pada masing-masing keluarga. Sumber pangan keluarga, terutama mereka yang
sangat miskin akan lebih mudah memenuhi kebutuhan pangannya jika yang harus
diberi makan jumlahnya lebih sedikit. Pangan yang tersedia untuk satu keluarga
yang besar mungkin cukup untuk keluarga yang besarnya setengah dari keluarga
tersebut, tetapi tidak cukup untuk mencegah gangguan gizi pada keluarga yang
besar tersebut (Suhardjo 1989).
Pendapatan
Kenaikan tingkat pendapatan perorang, akan menyebabkan perubahan
dalam susunan pangan yang dikonsumsi. Akan tetapi, pengeluaran untuk pangan
yang lebih banyak tidak menjamin lebih beragamnya konsumsi pangan.
Kadang-kadang, perubahan utama yang terjadi dalam kebiasaan makanan adalah pangan
yang dimakan itu lebih mahal (Suhardjo 1989).
Terdapat kecenderungan dengan semakin tingginya pendapatan terjadi
perubahan dalam pola konsumsi pangan, yaitu pangan yang dikonsumsi akan
lebih beragam. Namun kadang-kadang peningkatan pendapatan tidak
menyebabkan jenis pangan yang dikonsumsi menjadi beragam, tetapi justru yang
sering terjadi adalah pangan yang dibeli harganya lebih mahal (PSKPG 2002).
Tingkat pendapatan juga menentukan pola konsumsi pangan atau jenis
pangan yang akan dibeli. Orang miskin biasanya akan membelanjakan sebagian
pendapatan tambahannya untuk pangan, sedangkan pada orang kaya porsi
untuk jenis pangan padi-padian akan menurun tetapi untuk pangan yang berasal
dari susu akan bertambah jika pendapatan keluarga meningkat. Semakin tinggi
pendapatan, semakin besar pula persentase pertambahan pembelanjaannya
termasuk untuk buah-buahan, sayur, dan jenis pangan lainnya (Berg 1986).
Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang dapat dilihat berdasarkan lamanya atau jenis
pendidikan yang dialami baik formal maupun informal. Menurut Suhardjo (1996),
tingkat pendidikan seseorang umumnya dapat mempengaruhi sikap dan
perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan menurut Syarief (1988)
diacu dalam Hardinsyah (2007) menyatakan bahwa tingkat pendidikan formal
umumnya mencerminkan kemampuan seseorang untuk memahami berbagai aspek
pengetahuan, termasuk pengetahuan gizi.
Pengetahuan gizi
Pengetahuan gizi didasarkan pada tiga kenyataan yaitu, status gizi yang
cukup adalah penting bagi kesehatan dan kesejahteraan, setiap orang hanya akan
cukup gizi jika pangan yang akan dikonsumsinya mampu menyediakan zat gizi
yang diperlukan untuk pertumbuhan tubuh yang optimal, pemeliharaan, dan
energi serta ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk
dapat belajar menggunakan pangan dengan baik untuk kesejahteraan gizi
(Suhardjo 1996). Haper, Deaton, dan Driskel (1986) menyatakan bahwa
pengetahuan gizi mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembentukan
kebiasaan makan seseorang. Pengetahuan gizi akan mempengaruhi seseorang
dalam memilih jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsinya.
Pengetahuan, sikap, dan perilaku tentang gizi dan kesehatan merupakan
faktor yang menentukan dalam penyediaan pangan dalam keluarga. Ibu-ibu yang
berpengetahuan gizi baik akan mengupayakan kemampuan menerapkan
pengetahuannya di dalam pemilihan dan pengolahan pangan, sehingga konsumsi
pangan yang mencukupi kebutuhan lebih terjamin (Khumaidi 1989).
Pengetahuan memiliki hubungan yang erat dengan baik buruknya kualitas
gizi, maka orang akan tahu dan berupaya untuk mengatur pola konsumsi
pangannya sedemikian rupa sehingga seimbang, tidak kekurangan, dan tidak
kelebihan. Pengetahuan gizi, sikap terhadap gizi, dan keterampilan gizi secara
bersama-sama akan menentukan perilaku gizi (Pranadji 1988).
Survei Konsumsi Pangan
Survei konsumsi pangan adalah alat untuk memperoleh informasi yang
dibutuhkan dalam menyusun suatu kegiatan atau program. Dampak dari perbaikan
konsumsi pangan dan gizi akan mendukung keberhasilan peningkatan kualitas
hidup manusia. Survei konsumsi pangan dimaksudkan untuk mengetahui dan
menelusuri konsumsi pangan baik dilihat dari jenis-jenis pangan,
sumber-sumbernya maupun jumlah yang dikonsumsi, termasuk kebiasaan makan serta
faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi pangan tersebut (Suhardjo,
Hardinsyah & Riyadi 1988).
Survei konsumsi pangan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui
konsumsi pangan seseorang atau kelompok orang (baik berupa keluarga, rumah
tangga, penghuni asrama, penduduk desa atau wilayah), baik secara kuantitatif
maupun kualitatif. Survei konsumsi pangan secara kuantitatif dimaksudkan untuk
mengetahui jumlah pangan yang dikonsumsi. Sedangkan survei konsumsi pangan
secara kualitatif digunakan untuk mengetahui frekuensi makan, frekuensi
konsumsi menurut jenis pangan yang dikonsumsi, dan menggali informasi tentang
kebiasaan makan (food habit) serta cara memperoleh pangan (Suhardjo,
Hardinsyah, dan Riyadi 1988).
Metode pengumpulan data yang dapat dilakukan secara kuantitatif adalah
metode mengingat-ingat (method recall), penimbangan (weighed method), dan
food record method. Sedangkan metode pengumpulan data secara kualitatif
menggunakan riwayat makan (dietary history ) dan frekuensi pangan (food
frequency) (Riyadi 2004). Pemilihan metode dapat didasarkan pada beberapa
pertimbangan yaitu tujuan survei, ketelitian yang diinginkan, ketersediaan biaya,
waktu, dan tingkat keahlian tenaga pengumpul data (enumerator) (Kusharto dan
Metode recall 24 jam
Metode ini digunakan untuk memperkirakan jumlah pangan yang
dikonsumsi oleh seseorang selama 24 jam yang lalu atau sehari sebelum
wawancara dilakukan. Pengukuran konsumsi menggunakan ukuran rumah tangga
(URT) untuk mengetahui porsi pangan, kemudian dikonversi keukuran metrik
(gram) (Riyadi 2004).
Metode recall memiliki keunggulan yaitu murah dan tidak memakan
waktu banyak. Kekurangannya adalah data yang dihasilkan kurang akurat karena
mengandalkan ingatan seseorang yang terbatas dan tergantung dari keahlian
tenaga pencatatan dalam mengkonversikan URT menjadi satuan berat (gram)
(Kusharto dan Sa’diyyah 2006).
Food record
Metode ini umumnya dilakukan selama 7 hari, dimana responden
melakukan pencatatan semua pangan dan minuman yang dikonsumsi. Pencatatan
dilakukan oleh responden dengan menggunakan URT atau menimbang langsung
berat pangan yang dikonsumsi (Riyadi 2004).
Metode food record merupakan metode yang akurat untuk survei
konsumsi pangan di tingkat keluarga. Tetapi metode ini juga memiliki kekurangan
seperti biaya mahal, perlu partisipasi yang tinggi dari responden, pola konsumsi
pangan rumah tangga yang dapat berubah (Kusharto dan Sa’diyyah 2006).
Weighed method
Metode penimbangan mengukur secara langsung berat setiap jenis pangan
yang dikonsumsi oleh seseorang pada saat wawancara (Riyadi 2004). Pengukuran
penggunaan pangan untuk konsumsi dilakukan dengan cara menimbang bahan
pangan dalam keadaan mentah (proses persiapan), setelah masak (penyajian), dan
setalah pangan tersebut dikonsumsi (mengamati sisa yang tidak dimakan)
(Kusharto dan Sa’diyyah 2006).
Metode penimbangan ini juga akurat untuk digunakan karena dilakukan
penimbangan secara cermat dan tepat terhadap makan yang dikonsumsi. Tetapi
responden, dan adanya kemungkinan perubahan pola konsumsi pangan dari
kebiasaan sehari-hari dengan adanya kehadiran kita (Kusharto dan Sa’diyyah
2006).
Food Frequency Questionaire (FFQ)
FFQ merupakan kuesioner yang menggambarkan frekuensi responden
dalam mengonsumsi beberapa jenis makanan dan minuman. Frekuensi konsumsi
makanan dilihat dalam satu hari atau minggu atau bulan atau tahun. Kuesioner
terdiri dari daftar jenis makanan dan minuman.
Kelebihan FFQ adalah relatif murah, dapat digunakan untuk melihat
hubungan antara diet, penyakit, dan lebih representatif. Sedangkan
keterbatasannya yaitu adanya kemungkinan tidak menggambarkan porsi yang
dipilih oleh responden, tergantung pada kemampuan responden untuk
mendiskripsikan dietnya.
Beberapa jenis FFQ adalah sebagai berikut :
1. Simple or nonquantitative FFQ, tidak memberikan pilihan tentang porsi
yang biasa dikonsumsi, sehingga menggunakan standar porsi.
2. Semi quntitative FFQ, memberikan porsi yang dikonsumsi, misalnya
sepotong roti, secangkir kopi.
3. Quntitative FFQ, memberikan pilihan porsi yang biasa dikonsumsi
responden, seperti kecil, sedang atau besar.
(Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia 2007).
Penggunaan metode FFQ pangan bertujuan untuk memperoleh data
konsumsi secara kualitatif dan informasi deskriptif tentang pola konsumsi.
Metode ini umumnya tidak digunakan untuk memperoleh data kuantitatif pangan
ataupun intik konsumsi zat gizi. Metode frekuensi pangan dapat juga digunakan
untuk menilai konsumsi pangan secara kuantitatif. Hal ini tergantung dari tujuan
studi, apakah hanya ingin menggali frekuensi pangan saja atau juga sekaligus
dengan konsumsi zat gizinya. Dengan metode ini, kita dapat menilai frekuensi
penggunaan pangan atau kelompok pangan tertentu (misalnya: sumber energi,
minggu, bulan atau tahun) dan sekaligus mengestimasi konsumsi zat gizinya.
Kuisioner mempunyai dua komponen utama yaitu daftar pangan dan frekuensi
penggunaan pangan (Gibson 1993).
Biasanya metode ini digunakan untuk mengukur konsumsi pangan suatu
keluarga. Keuntungan menggunakan metode ini antara lain lebih cepat
mengumpulkan data, relatif lebih murah, dapat mengetahui pangan yang biasa
dikonsumsi keluarga, dapat diambil oleh enumerator yang tidak berpengalaman,
dan hasilnya dapat distandarisasi secara umum (Howarth 1990 dalam Gibson
1993).
Tingkat Konsumsi Zat Gizi
Manusia memerlukan energi untuk mempertahankan hidup, menunjang
pertumbuhan, dan melakukan aktivitas fisiknya yang dibutuhkan secara sosial dan
ekonomi. Energi diperoleh dari karbohidrat, lemak, dan protein yang terdapat
pada bahan makanan. Kandungan karbohidrat, lemak, dan protein suatu bahan
makanan menentukan nilai energinya (Almatsier 2002).
Konsumsi energi penduduk dikatakan mencukupi bila memenuhi
kebutuhan untuk metabolisme basal dan aktivitas fisik sehari-hari. Jumlah
kebutuhan ini disebut kecukupan gizi, yaitu jumlah zat gizi yang sebaiknya
dikonsumsi oleh setiap individu agar dapat hidup sehat (PSKPG 1994).
Agar hidup sehat dan dapat mempertahankan kesehatannya, manusia
memerlukan sejumlah zat gizi. Oleh karena itu, jumlah zat gizi yang diperoleh
melalui konsumsi pangan harus mencukupi kebutuhan tubuh untuk melakukan
kegiatan baik internal maupun eksternal, pemeliharaan tubuh, dan pertumbuhan
bagi yang masih dalam taraf pertumbuhan (bayi, anak-anak, dan remaja) atau
untuk aktivitas pemeliharaan tubuh bagi orang dewasa dan usia lanjut (Hardinsyah
& Martianto 1992).
Muhilal (1985) dalam Hardinsyah dan Martianto (1992) membedakan
istilah kebutuhan gizi dan kecukupan gizi. Kebutuhan gizi (Nutrient Requierment)
adalah banyaknya zat gizi minimal yang diperlukan seseorang agar hidup sehat.
Sedangkan kecukupan gizi (Recommended Dietary Allowances) adalah jumlah
orang (sekitar 97.5 % populasi) hidup sehat. Kebutuhan dan kecukupan gizi
biasanya disusun berdasarkan kelompok umur dan berat badan tertentu menurut
jenis kelamin (Hardinsyah & Martianto 1992).
Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan atau Recommended
Dietary Allowances (RDA) adalah tingkat konsumsi zat-zat gizi esensial yang
dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi hampir semua orang sehat di suatu
negara. AKG untuk Indonesia berdasarkan patokan berat badan untuk
masing-masing kelompok umur, gender, dan aktivitas fisik yang ditetapkan secara berkala
melalui survei penduduk. AKG juga disusun untuk kondisi khusus, yaitu bagi ibu
hamil, dan menyusui. AKG digunakan sebagai standar untuk mencapai status gizi
optimal bagi penduduk dalam hal penyedian pangan secara nasional dan regional
serta penilaian kecukupan gizi penduduk golongan masyarakat tertentu yang
diperoleh dari konsumsi pangan (Almatsier 2005).
Menilai tingkat konsumsi pangan (untuk energi dan zat gizi) diperlukan
suatu standar kecukupan yang dianjurkan atau Recommended Dietry Allowances
(RDA) untuk populasi yang diteliti. AKG yang digunakan untuk Indonesia adalah
hasil Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII tahun 2004. Penyajian Angka
Kecukupan Gizi (AKG) tersebut berdasarkan kepada kelompok umur, jenis
kelamin, tinggi badan, berat badan, aktivitas, dan kondisi fisiologis khusus (hamil
atau menyusui). Tingkat kecukupan energi dan protein keluarga menurut Latief,
Atmarita, Minarto, Basuni, dan Tilden (2000) dalam WNPG (2000) dibagi
menjadi dua yaitu defisit (< 70%) dan cukup (> 70%).
Keragaman Konsumsi Pangan
Household Dietary Diversity (keragaman konsumsi pangan rumah tangga)
merupakan jumlah jenis makanan yang berbeda yang dikonsumsi selama periode
tertentu yang ditetapkan. Keragaman konsumsi pangan adalah indikator yang baik
untuk alasan sebagai berikut (Swindale & Bilinsky 2006):
Konsumsi pangan yang lebih beragam berhubungan dengan peningkatan
hasil pada berat kelahiran, status anthropometrik anak, dan peningkatan
Konsumsi pangan yang lebih beragam berkaitan erat dengan faktor seperti:
kecukupan energi dan protein, persentase protein hewani (protein kualitas
tinggi), dan pendapatan rumah tangga. Bahkan pada rumah tangga yang
sangat miskin, peningkatan pengeluaran untuk makanan yang dihasilkan
dari penghasilan tambahan berhubungan dengan peningkatan kualitas dan
kuantitas konsumsi pangan.
Menurut FAO (2007) keragaman konsumsi pangan adalah jumlah pangan
atau kelompok pangan yang berbeda yang dikonsumsi selama periode tertentu
yang ditetapkan yaitu dapat bertindak sebagai indikator alternatif dari keamanan
makanan pada berbagai keadaan, termasuk negara dengan pendapatan sedang atau
menengah, daerah pedesaan dan urban, serta untuk berbagai musim.
Pola konsumsi pangan yang seimbang adalah konsumsi pangan yang dapat
menyediakan zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur dalam jumlah yang
cukup sesuai umur, jenis kelamin, dan aktivitas fisik, yang terdiri dari pangan
yang beragam (Riyadi 1996). Keragaman konsumsi pangan sangat penting, hal ini
karena tidak ada satu jenis pangan yang mengandung zat gizi dalam jenis dan
jumlah yang lengkap. Dengan mengonsumsi pangan yang beragam maka
kekurangan zat gizi dalam satu jenis akan dilengkapi oleh kandungan zat gizi dari
pangan lainnya. Adanya prinsip saling melengkapi antar berbagai pangan tersebut
akan menjamin terpenuhinya mutu gizi seimbang dalam jumlah cukup (Riyadi
1996).
Setiap bahan pangan mempunyai susunan kimia yang berbeda-beda dan
mengandung zat gizi yang bervariasi baik jenis maupun jumlahnya. Diantara
beragam jenis bahan pangan yang tersedia di alam ada yang kaya akan satu jenis
zat gizi, ada pula yang lebih dari satu jenis zat gizi, sebaliknya ada yang miskin
akan zat gizi (Suhardjo & Kusharto 1992).
Kuisioner keragaman konsumsi pangan adalah alat yang menyediakan
pendekatan yang lebih cepat, mudah digunakan, dan hemat biaya untuk mengukur
perubahan pada kualitas konsumsi pangan rumah tangga maupun individu.
Keragaman konsumsi pangan adalah ukuran kualitatif dari konsumsi pangan yang
mercerminkan akses rumah tangga terhadap variasi pangan yang beragam dan
konsumsi pangan dibuat dengan menjumlahkan baik pangan atau kelompok
pangan yang berbeda yang dikonsumsi selama periode referensi tertentu. Skor
keragaman konsumsi pangan yang disebutkan terdiri dari perhitungan kelompok
makanan yang sederhana yang dikonsumsi individu atau rumah tangga yang
dikonsumsi selama 24 jam (FAO 2007).
Jumlah kelompok pangan yang beragam yang dikonsumsi dihitung untuk
menggambarkan kualitas konsumsi secara lebih baik, bukan hanya jumlah ragam
pangan yang dikonsumsi. Dengan mengetahui konsumsi rumah tangga tersebut,
sebagai contoh, rata-rata dari 4 kelompok pangan yang berbeda menandakan
bahwa konsumsi pangan mereka menawarkan keragaman baik dalam zat gizi
makro maupun mikro. Ini adalah indikator yang lebih berarti daripada mengetahui
rumah tangga mengonsumsi empat pangan yang berbeda, yang mungkin saja
semuanya dari kelompok pangan padi-padian (Swindale dan Bilinsky 2006).
Untuk mengetahui keragaman konsumsi pangan dapat digunakan suatu kuisioner
yang berisikan tabel daftar konsumsi pangan yang dimakan baik dalam rumah
maupun luar rumah. Contoh kuisioner keragaman konsumsi pangan sebagai
Tabel 1 Contoh kuisioner keragaman konsumsi pangan
No. Kelompok Pangan Contoh Ya = 1
Tidak
= 0
1. Padi-padian Roti, mie, biskuit, cookies atau
makanan lainnya yang terbuat dari
millet, sorgum, jagung, beras, dan
gandum.
2. Sayuran dan
umbi-umbian kaya vitamin A
Labu kuning, wortel, dan ubi jalar
3. Umbi-umbian Kentang, ubi kayu atau makanan dari
batang
4. Sayuran daun hijau tua Daun ubi kayu dan lain-lain
5. Sayuran lainnya Tomat, bawang putih,
6. Buah kaya vitamin A Aprikot, mangga, dan semangka
7. Buah-buahan lainnya Buah liar
8. Jeroan (kaya zat besi) Hati, ginjal, dan jantung
9. Daging Daging sapi, babi, kambing, domba,
kelinci, ayam, bebek atau burung
10. Telur
11. Ikan Ikan segar atau ikan asin
12. Kacang-kacangan Kacang, biji-bijian
13. Susu dan produk
olahan susu
Susu, yogurt, atau olahannya
14. Minyak dan lemak Minyak, lemak, dan mentega
15. Gula Gula, madu, dan gula buah
16. Bumbu dan minuman Lada, garam, kopi, teh, dan alkohol
Starchy Staple Food Ratio
The Food Policy Support Activity (FPSA) membuat Starchy Staple Ratio
(SSR) baik sebagai indikator kemajuan FPSA, maupun sebagai ukuran penting
pada perubahan kualitas konsumsi pangan. SSR merupakan ukuran jumlah
padi-padian dan umbi pada total konsumsi pangan rumah tangga, yaitu menurun saat
pendapatan meningkat dan konsumsi pangan menjadi lebih beragam (FAO 2007).
SSR sebagai indikator meningkatkan ukuran kesejahteraan gizi. Jarak
ukuran suatu alat biasanya digunakan untuk mengawasi keamanan pangan dan
kecukupan konsumsi pangan. Tetapi apakah kita menggunakan ukuran
berdasarkan belanja atau konsumsi pangan rumah tangga, atau hasil
anthropometrik individu, semua ukuran yang ada memiliki batasan tertentu.
Kegiatan FPSA meneliti jumlah ukuran yang berhubungan langsung dengan
kualitas pangan yang dikonsumsi rumah tangga dan menghindar dari beberapa
batasan tersebut. Salah satu ukuran tersebut adalah Starchy Staple Ratio (SSR)
yang diubah menjadi ukuran yang sangat sensitif pada peningkatan konsumsi
pangan, dan juga indikator yang sangat kuat dari pola sejarah peningkatan (FAO
2007).
SSR didefinisikan sebagai proporsi energi yang dikonsumsi dari “sesuatu
yang mengandung tepung” (padi-padian dan umbi-umbian). Seperti banyak
ukuran hasil gizi, di sini ada hubungan yang kuat dan dapat dihubungkan antara
konsumsi rumah tangga per kapita dan SSR. Tetapi tidak seperti ukuran yang
berdasarkan belanja rumah tangga (seperti garis kemiskinan), ukuran ini tidak
membutuhkan keputusan yang seenaknya tentang target biaya pengeluaran
konsumsi. Dan tidak seperti hasil anthropometrik, SSR tidak dipengaruhi oleh
faktor lingkungan dan kesehatan yang dapat mempengaruhi perkembangan gizi
(FAO 2007).
SSR merupakan sumbangan karbohidrat pangan terhadap total konsumsi
energi. Nilai SSR ini dapat digunakan sebagai gambaran kualitas keragaman
konsumsi pangan, semakin kecil nilai SSR, maka porsi makanan berpati semakin
kecil sehingga menu makanan semakin beragam dan berkualitas. (FAO 2003
Tabel 2 Indikator keragaman konsumsi pangan secara kualitatif
Keragaman Konsumsi
Pangan Rendah
( 3 kelompok pangan )
Keragaman Konsumsi
Pangan Sedang
(4-5 kelompok pangan)
Keragaman Konsumsi
Pangan Tinggi
( 6 kelompok pangan)
Padi-padian
Sayuran hijau
Buah-buahan
Padi-padian
Sayuran hijau
Buah-buahan
Minyak
Padi-padian
Sayuran hijau
Buah-buahan
Minyak
Sayuran lainnya
Ikan
Kacang-kacangan
KERANGKA PEMIKIRAN
Keragaman konsumsi pangan sangat penting, hal ini karena tidak ada satu
jenis pangan yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang lengkap.
Dengan mengonsumsi pangan yang beragam maka kekurangan zat gizi dalam satu
jenis akan dilengkapi oleh kandungan zat gizi dari pangan lainnya. Adanya prinsip
saling melengkapi antar berbagai pangan tersebut akan menjamin terpenuhinya
mutu gizi seimbang dalam jumlah cukup (Riyadi 1996). Keragaman konsumsi
pangan keluarga dapat dilihat dari banyaknya jenis kelompok pangan yang
dimakan, yang diukur menggunakan Starchy Staple Food Ratio (SSR).
Konsumsi pangan merupakan informasi tentang jenis dan jumlah pangan
yang dikonsumsi (dimakan) oleh seseorang atau sekelompok orang pada waktu
tertentu. Konsumsi dipengaruhi oleh beberapa faktor dalam pemilihan jenis atau
banyaknya pangan yang dimakan, hal tersebut dapat berbeda antara individu baik
di tingkat keluarga maupun daerah. Faktor ekonomi dan harga, serta faktor sosial
budaya dan religi yang ada di suatu daerah sangat mempengaruhi konsumsi
pangan (PSKPG 2002). Akan tetapi, faktor-faktor yang sangat berpengaruh di
mana saja adalah jenis dan banyaknya pangan yang diproduksi dan tersedia,
tingkat pendapatan, dan pengetahuan gizi (Harper et., al 1986).
Hubungan keragaman konsumsi pangan dengan konsumsi pangan yaitu
dengan adanya peningkatan skor keragaman konsumsi pangan individu maupun
keluarga maka akan terjadi meningkatnya kecukupan gizi konsumsi. Skor
keragaman konsumsi pangan berkaitan secara positif dengan meningkatnya
Gambar 1. Kerangka konsep pemikiran keragaman konsumsi pangan
Variabel yang diteliti
Variabel yang tidak diteliti
Garis yang menunjukkan hubungan antar variabel Karakteristik keluarga:
usia, jumlah anggota, pendidikan, dan pengeluaran
Konsumsi pangan Daya beli
Ketersediaan pangan keluarga
Pengetahuan gizi ibu
Tingkat kecukupan energi dan protein
KERAGAMAN KONSUMSI
PANGAN