• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis determinan keragaman konsumsi pangan pada keluarga nelayan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis determinan keragaman konsumsi pangan pada keluarga nelayan"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS DETERMINAN KERAGAMAN KONSUMSI

PANGAN PADA KELUARGA NELAYAN

DEWI MEITASARI

A54104035

PROGAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(2)

Analyze Determinant of Food Diversity on Fisherman Family Dewi Meitasari

ABSTRACT

The objective of this study was to analyze determinant of food diversity on fisherman family. Design of this study is cross sectional study. Criteria of the sample are family who have mean of livelihood as fisherman and have prosperity according to BKKBN (Pra KS and KS I). Amount of the samples are 65 family. Type data was using primary data and secondary data. Primary data (characteristic family, mother’s knowlegde of nutrition, and dietary of family) was collected by structural questionare interview. Secondary data was about the location of this study has obtained from village office. Result of this study explain that education (p = 0.043) and expanditure (p = 0.019) corelate positive with food diversity. The corelation was analyze by Spearman’s corelation. Factors which determinant of food diversity are education (OR = 6.090) and expanditure (OR = 7.806). It means increasing of education and expanditure was equal with increasing of food diversity.

(3)

DEWI MEITASARI. A54104035. Analisis Determinan Keragaman Konsumsi Pangan pada Keluarga Nelayan. Dibawah bimbingan Yekti H. Effendi dan Ikeu Tanziha

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisis determinan keragaman konsumsi pangan pada keluarga nelayan. Tujuan khusus penelitian ini adalah : (1) Mengetahui karakteristik keluarga dan pengetahuan gizi ibu pada keluarga nelayan; (2) Menganalisis konsumsi zat gizi (energi, protein, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, C) pangan keluarga nelayan; (3) Menganalisis tingkat kecukupan energi dan protein keluarga nelayan; (4) Menganalisis keragaman konsumsi pangan keluarga nelayan; (5) Menganalisis hubungan antara karakteristik keluarga, pengetahuan gizi ibu, dan tingkat kecukupan energi serta protein dengan keragaman konsumsi pangan; (6) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keragaman konsumsi pangan keluarga nelayan

Desain penelitian ini adalah cross sectional study. Penelitian ini dilakukan di Desa Grogol, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Penentuan tempat dilakukan secara purposive (disengaja) dengan pertimbangan kesesuian wilayah dan populasi dalam penelitian ini yaitu keluarga nelayan. Pengumpulan data primer dilaksanakan selama lebih kurang satu bulan, pertengahan Juni sampai Juli 2007. Contoh dalam penelitian ini adalah keluarga nelayan yang tinggal di Desa Grogol, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Pengambilan populasi contoh dilakukan secara purposive dengan kriteria keluarga yang kepala keluarganya mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan dan memiliki tingkat kesejahtera menurut BKKBN yaitu Keluarga Pra-Sejahtera (Pra KS) dan Keluarga Sejahtera (KS I). Adapun jumlah populasi yang memenuhi kriteria sebanyak 187 keluarga. Jumlah contoh ditentukan berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus Slovin yaitu sebesar 65 keluarga dengan proporsi keluarga Pra KS 26 KK dan KS I sebanyak 39 KK.

Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan cara tehnik wawancara terstruktur kepada contoh dengan menggunakan kuisioner. Data primer meliputi karakteristik keluarga, pengetahuan gizi ibu, dan konsumsi pangan keluarga. Data sekunder mengenai keadaan umum wilayah yang diperoleh dari kantor desa.

Besar keluarga contoh memiliki proporsi terbesar (38.46%) termasuk dalam kategori sedang. Lebih dari separuh kepala keluarga (64.62%) maupun ibu (69.23%) contoh termasuk dalam kelompok usia dewasa awal. Hal tersebut menunjukkan bahwa usia baik kepala keluarga maupun ibu mayoritas tergolong dalam usia produktif. Sebesar 72.31% kepala keluarga dan 69.23% ibu berada pada tingkat pendidikan dasar. Hal tersebut dapat diterjemahkan bahwa mayoritas tingkat pendidikan baik kepala keluarga maupun ibu tergolong rendah. . Lebih dari separuh (60.00%) keluarga berada pada tingkat pengeluaran di atas garis kemiskinan. Sebagian besar ibu memiliki tingkat pengetahuan gizi rendah (81.54%).

(4)

Kecukupan Protein (AKP) per kapita per hari adalah 51.8 gram. Lebih dari separuh (53.85%) keluarga berada pada tingkat kecukupan energi yang cukup sedangkan 46.15% keluarga mengalami defisit tingkat kecukupan energi. Lebih dari separuh (55.38%) keluarga memiliki tingkat kecukupan protein yang cukup dan 44.62% mengalami defisit tingkat kecukupan protein.

Hanya 21.54% keluarga mengonsumsi pangan beragam. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga yang mengonsumsi pangan beragam baik jumlah maupun jenis masih rendah.

Tidak ada hubungan yang signifikan (p > 0.05) antara besar keluarga, usia kepala keluarga dan ibu, lama pendidikan ibu dengan keragaman konsumsi pangan. Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara tingkat pendidikan kepala keluarga (p = 0.043), pengeluaran per kapita per bulan (p = 0.019), dan pengeluaran pangan perkapita perbulan (p = 0.021) dengan keragaman konsumsi pangan.

Tidak ada hubungan yang signifikan (p > 0.05) antara pengetahuan gizi ibu terhadap keragaman konsumsi pangan. Begitu juga untuk tingkat kecukupan energi dan protein dengan keragaman konsumsi pangan.

(5)

DEWI MEITASARI. A54104035. Analisis Determinan Keragaman Konsumsi Pangan pada Keluarga Nelayan. Dibawah bimbingan Yekti H. Effendi dan Ikeu Tanziha

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisis determinan keragaman konsumsi pangan pada keluarga nelayan. Tujuan khusus penelitian ini adalah : (1) Mengetahui karakteristik keluarga dan pengetahuan gizi ibu pada keluarga nelayan; (2) Menganalisis konsumsi zat gizi (energi, protein, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, C) pangan keluarga nelayan; (3) Menganalisis tingkat kecukupan energi dan protein keluarga nelayan; (4) Menganalisis keragaman konsumsi pangan keluarga nelayan; (5) Menganalisis hubungan antara karakteristik keluarga, pengetahuan gizi ibu, dan tingkat kecukupan energi serta protein dengan keragaman konsumsi pangan; (6) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keragaman konsumsi pangan keluarga nelayan

Desain penelitian ini adalah cross sectional study. Penelitian ini dilakukan di Desa Grogol, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Penentuan tempat dilakukan secara purposive (disengaja) dengan pertimbangan kesesuian wilayah dan populasi dalam penelitian ini yaitu keluarga nelayan. Pengumpulan data primer dilaksanakan selama lebih kurang satu bulan, pertengahan Juni sampai Juli 2007. Contoh dalam penelitian ini adalah keluarga nelayan yang tinggal di Desa Grogol, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Pengambilan populasi contoh dilakukan secara purposive dengan kriteria keluarga yang kepala keluarganya mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan dan memiliki tingkat kesejahtera menurut BKKBN yaitu Keluarga Pra-Sejahtera (Pra KS) dan Keluarga Sejahtera (KS I). Adapun jumlah populasi yang memenuhi kriteria sebanyak 187 keluarga. Jumlah contoh ditentukan berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus Slovin yaitu sebesar 65 keluarga dengan proporsi keluarga Pra KS 26 KK dan KS I sebanyak 39 KK.

Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan cara tehnik wawancara terstruktur kepada contoh dengan menggunakan kuisioner. Data primer meliputi karakteristik keluarga, pengetahuan gizi ibu, dan konsumsi pangan keluarga. Data sekunder mengenai keadaan umum wilayah yang diperoleh dari kantor desa.

Besar keluarga contoh memiliki proporsi terbesar (38.46%) termasuk dalam kategori sedang. Lebih dari separuh kepala keluarga (64.62%) maupun ibu (69.23%) contoh termasuk dalam kelompok usia dewasa awal. Hal tersebut menunjukkan bahwa usia baik kepala keluarga maupun ibu mayoritas tergolong dalam usia produktif. Sebesar 72.31% kepala keluarga dan 69.23% ibu berada pada tingkat pendidikan dasar. Hal tersebut dapat diterjemahkan bahwa mayoritas tingkat pendidikan baik kepala keluarga maupun ibu tergolong rendah. . Lebih dari separuh (60.00%) keluarga berada pada tingkat pengeluaran di atas garis kemiskinan. Sebagian besar ibu memiliki tingkat pengetahuan gizi rendah (81.54%).

(6)

Kecukupan Protein (AKP) per kapita per hari adalah 51.8 gram. Lebih dari separuh (53.85%) keluarga berada pada tingkat kecukupan energi yang cukup sedangkan 46.15% keluarga mengalami defisit tingkat kecukupan energi. Lebih dari separuh (55.38%) keluarga memiliki tingkat kecukupan protein yang cukup dan 44.62% mengalami defisit tingkat kecukupan protein.

Hanya 21.54% keluarga mengonsumsi pangan beragam. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga yang mengonsumsi pangan beragam baik jumlah maupun jenis masih rendah.

Tidak ada hubungan yang signifikan (p > 0.05) antara besar keluarga, usia kepala keluarga dan ibu, lama pendidikan ibu dengan keragaman konsumsi pangan. Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara tingkat pendidikan kepala keluarga (p = 0.043), pengeluaran per kapita per bulan (p = 0.019), dan pengeluaran pangan perkapita perbulan (p = 0.021) dengan keragaman konsumsi pangan.

Tidak ada hubungan yang signifikan (p > 0.05) antara pengetahuan gizi ibu terhadap keragaman konsumsi pangan. Begitu juga untuk tingkat kecukupan energi dan protein dengan keragaman konsumsi pangan.

(7)

ABSTRACT

The objective of this study was to analyze determinant of food diversity on fisherman family. Design of this study is cross sectional study. Criteria of the sample are family who have mean of livelihood as fisherman and have prosperity according to BKKBN (Pra KS and KS I). Amount of the samples are 65 family. Type data was using primary data and secondary data. Primary data (characteristic family, mother’s knowlegde of nutrition, and dietary of family) was collected by structural questionare interview. Secondary data was about the location of this study has obtained from village office. Result of this study explain that education (p = 0.043) and expanditure (p = 0.019) corelate positive with food diversity. The corelation was analyze by Spearman’s corelation. Factors which determinant of food diversity are education (OR = 6.090) and expanditure (OR = 7.806). It means increasing of education and expanditure was equal with increasing of food diversity.

(8)

ANALISIS DETERMINAN KERAGAMAN KONSUMSI

PANGAN PADA KELUARGA NELAYAN

DEWI MEITASARI

A54104035

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Pertanian pada

Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga

PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(9)

Judul Skripsi : Analisis Determinan Keragaman Konsumsi Pangan pada

Keluarga Nelayan

Nama : Dewi Meitasari

NRP : A54104035

Disetujui

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

dr. Yekti Hartati Effendi, SKed Dr. Ir. Ikeu Tanziha, MS NIP. 140 092 953 NIP. 131 628 329

Diketahui

Dekan Fakultas Pertanian IPB

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr NIP. 131 124 019

(10)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Analisis

Determinan Keragaman Konsumsi Pangan pada Keluarga Nelayan” benar-benar

merupakan hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan sebagai karya ilmiah

pada perguruan tinggi atau lembaga apapun.

Bogor, Juni 2008

(11)

ANALISIS DETERMINAN KERAGAMAN KONSUMSI

PANGAN PADA KELUARGA NELAYAN

DEWI MEITASARI

A54104035

PROGAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(12)

Analyze Determinant of Food Diversity on Fisherman Family Dewi Meitasari

ABSTRACT

The objective of this study was to analyze determinant of food diversity on fisherman family. Design of this study is cross sectional study. Criteria of the sample are family who have mean of livelihood as fisherman and have prosperity according to BKKBN (Pra KS and KS I). Amount of the samples are 65 family. Type data was using primary data and secondary data. Primary data (characteristic family, mother’s knowlegde of nutrition, and dietary of family) was collected by structural questionare interview. Secondary data was about the location of this study has obtained from village office. Result of this study explain that education (p = 0.043) and expanditure (p = 0.019) corelate positive with food diversity. The corelation was analyze by Spearman’s corelation. Factors which determinant of food diversity are education (OR = 6.090) and expanditure (OR = 7.806). It means increasing of education and expanditure was equal with increasing of food diversity.

(13)

DEWI MEITASARI. A54104035. Analisis Determinan Keragaman Konsumsi Pangan pada Keluarga Nelayan. Dibawah bimbingan Yekti H. Effendi dan Ikeu Tanziha

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisis determinan keragaman konsumsi pangan pada keluarga nelayan. Tujuan khusus penelitian ini adalah : (1) Mengetahui karakteristik keluarga dan pengetahuan gizi ibu pada keluarga nelayan; (2) Menganalisis konsumsi zat gizi (energi, protein, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, C) pangan keluarga nelayan; (3) Menganalisis tingkat kecukupan energi dan protein keluarga nelayan; (4) Menganalisis keragaman konsumsi pangan keluarga nelayan; (5) Menganalisis hubungan antara karakteristik keluarga, pengetahuan gizi ibu, dan tingkat kecukupan energi serta protein dengan keragaman konsumsi pangan; (6) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keragaman konsumsi pangan keluarga nelayan

Desain penelitian ini adalah cross sectional study. Penelitian ini dilakukan di Desa Grogol, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Penentuan tempat dilakukan secara purposive (disengaja) dengan pertimbangan kesesuian wilayah dan populasi dalam penelitian ini yaitu keluarga nelayan. Pengumpulan data primer dilaksanakan selama lebih kurang satu bulan, pertengahan Juni sampai Juli 2007. Contoh dalam penelitian ini adalah keluarga nelayan yang tinggal di Desa Grogol, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Pengambilan populasi contoh dilakukan secara purposive dengan kriteria keluarga yang kepala keluarganya mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan dan memiliki tingkat kesejahtera menurut BKKBN yaitu Keluarga Pra-Sejahtera (Pra KS) dan Keluarga Sejahtera (KS I). Adapun jumlah populasi yang memenuhi kriteria sebanyak 187 keluarga. Jumlah contoh ditentukan berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus Slovin yaitu sebesar 65 keluarga dengan proporsi keluarga Pra KS 26 KK dan KS I sebanyak 39 KK.

Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan cara tehnik wawancara terstruktur kepada contoh dengan menggunakan kuisioner. Data primer meliputi karakteristik keluarga, pengetahuan gizi ibu, dan konsumsi pangan keluarga. Data sekunder mengenai keadaan umum wilayah yang diperoleh dari kantor desa.

Besar keluarga contoh memiliki proporsi terbesar (38.46%) termasuk dalam kategori sedang. Lebih dari separuh kepala keluarga (64.62%) maupun ibu (69.23%) contoh termasuk dalam kelompok usia dewasa awal. Hal tersebut menunjukkan bahwa usia baik kepala keluarga maupun ibu mayoritas tergolong dalam usia produktif. Sebesar 72.31% kepala keluarga dan 69.23% ibu berada pada tingkat pendidikan dasar. Hal tersebut dapat diterjemahkan bahwa mayoritas tingkat pendidikan baik kepala keluarga maupun ibu tergolong rendah. . Lebih dari separuh (60.00%) keluarga berada pada tingkat pengeluaran di atas garis kemiskinan. Sebagian besar ibu memiliki tingkat pengetahuan gizi rendah (81.54%).

(14)

Kecukupan Protein (AKP) per kapita per hari adalah 51.8 gram. Lebih dari separuh (53.85%) keluarga berada pada tingkat kecukupan energi yang cukup sedangkan 46.15% keluarga mengalami defisit tingkat kecukupan energi. Lebih dari separuh (55.38%) keluarga memiliki tingkat kecukupan protein yang cukup dan 44.62% mengalami defisit tingkat kecukupan protein.

Hanya 21.54% keluarga mengonsumsi pangan beragam. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga yang mengonsumsi pangan beragam baik jumlah maupun jenis masih rendah.

Tidak ada hubungan yang signifikan (p > 0.05) antara besar keluarga, usia kepala keluarga dan ibu, lama pendidikan ibu dengan keragaman konsumsi pangan. Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara tingkat pendidikan kepala keluarga (p = 0.043), pengeluaran per kapita per bulan (p = 0.019), dan pengeluaran pangan perkapita perbulan (p = 0.021) dengan keragaman konsumsi pangan.

Tidak ada hubungan yang signifikan (p > 0.05) antara pengetahuan gizi ibu terhadap keragaman konsumsi pangan. Begitu juga untuk tingkat kecukupan energi dan protein dengan keragaman konsumsi pangan.

(15)

DEWI MEITASARI. A54104035. Analisis Determinan Keragaman Konsumsi Pangan pada Keluarga Nelayan. Dibawah bimbingan Yekti H. Effendi dan Ikeu Tanziha

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisis determinan keragaman konsumsi pangan pada keluarga nelayan. Tujuan khusus penelitian ini adalah : (1) Mengetahui karakteristik keluarga dan pengetahuan gizi ibu pada keluarga nelayan; (2) Menganalisis konsumsi zat gizi (energi, protein, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, C) pangan keluarga nelayan; (3) Menganalisis tingkat kecukupan energi dan protein keluarga nelayan; (4) Menganalisis keragaman konsumsi pangan keluarga nelayan; (5) Menganalisis hubungan antara karakteristik keluarga, pengetahuan gizi ibu, dan tingkat kecukupan energi serta protein dengan keragaman konsumsi pangan; (6) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keragaman konsumsi pangan keluarga nelayan

Desain penelitian ini adalah cross sectional study. Penelitian ini dilakukan di Desa Grogol, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Penentuan tempat dilakukan secara purposive (disengaja) dengan pertimbangan kesesuian wilayah dan populasi dalam penelitian ini yaitu keluarga nelayan. Pengumpulan data primer dilaksanakan selama lebih kurang satu bulan, pertengahan Juni sampai Juli 2007. Contoh dalam penelitian ini adalah keluarga nelayan yang tinggal di Desa Grogol, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Pengambilan populasi contoh dilakukan secara purposive dengan kriteria keluarga yang kepala keluarganya mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan dan memiliki tingkat kesejahtera menurut BKKBN yaitu Keluarga Pra-Sejahtera (Pra KS) dan Keluarga Sejahtera (KS I). Adapun jumlah populasi yang memenuhi kriteria sebanyak 187 keluarga. Jumlah contoh ditentukan berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus Slovin yaitu sebesar 65 keluarga dengan proporsi keluarga Pra KS 26 KK dan KS I sebanyak 39 KK.

Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan cara tehnik wawancara terstruktur kepada contoh dengan menggunakan kuisioner. Data primer meliputi karakteristik keluarga, pengetahuan gizi ibu, dan konsumsi pangan keluarga. Data sekunder mengenai keadaan umum wilayah yang diperoleh dari kantor desa.

Besar keluarga contoh memiliki proporsi terbesar (38.46%) termasuk dalam kategori sedang. Lebih dari separuh kepala keluarga (64.62%) maupun ibu (69.23%) contoh termasuk dalam kelompok usia dewasa awal. Hal tersebut menunjukkan bahwa usia baik kepala keluarga maupun ibu mayoritas tergolong dalam usia produktif. Sebesar 72.31% kepala keluarga dan 69.23% ibu berada pada tingkat pendidikan dasar. Hal tersebut dapat diterjemahkan bahwa mayoritas tingkat pendidikan baik kepala keluarga maupun ibu tergolong rendah. . Lebih dari separuh (60.00%) keluarga berada pada tingkat pengeluaran di atas garis kemiskinan. Sebagian besar ibu memiliki tingkat pengetahuan gizi rendah (81.54%).

(16)

Kecukupan Protein (AKP) per kapita per hari adalah 51.8 gram. Lebih dari separuh (53.85%) keluarga berada pada tingkat kecukupan energi yang cukup sedangkan 46.15% keluarga mengalami defisit tingkat kecukupan energi. Lebih dari separuh (55.38%) keluarga memiliki tingkat kecukupan protein yang cukup dan 44.62% mengalami defisit tingkat kecukupan protein.

Hanya 21.54% keluarga mengonsumsi pangan beragam. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga yang mengonsumsi pangan beragam baik jumlah maupun jenis masih rendah.

Tidak ada hubungan yang signifikan (p > 0.05) antara besar keluarga, usia kepala keluarga dan ibu, lama pendidikan ibu dengan keragaman konsumsi pangan. Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara tingkat pendidikan kepala keluarga (p = 0.043), pengeluaran per kapita per bulan (p = 0.019), dan pengeluaran pangan perkapita perbulan (p = 0.021) dengan keragaman konsumsi pangan.

Tidak ada hubungan yang signifikan (p > 0.05) antara pengetahuan gizi ibu terhadap keragaman konsumsi pangan. Begitu juga untuk tingkat kecukupan energi dan protein dengan keragaman konsumsi pangan.

(17)

ABSTRACT

The objective of this study was to analyze determinant of food diversity on fisherman family. Design of this study is cross sectional study. Criteria of the sample are family who have mean of livelihood as fisherman and have prosperity according to BKKBN (Pra KS and KS I). Amount of the samples are 65 family. Type data was using primary data and secondary data. Primary data (characteristic family, mother’s knowlegde of nutrition, and dietary of family) was collected by structural questionare interview. Secondary data was about the location of this study has obtained from village office. Result of this study explain that education (p = 0.043) and expanditure (p = 0.019) corelate positive with food diversity. The corelation was analyze by Spearman’s corelation. Factors which determinant of food diversity are education (OR = 6.090) and expanditure (OR = 7.806). It means increasing of education and expanditure was equal with increasing of food diversity.

(18)

ANALISIS DETERMINAN KERAGAMAN KONSUMSI

PANGAN PADA KELUARGA NELAYAN

DEWI MEITASARI

A54104035

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Pertanian pada

Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga

PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(19)

Judul Skripsi : Analisis Determinan Keragaman Konsumsi Pangan pada

Keluarga Nelayan

Nama : Dewi Meitasari

NRP : A54104035

Disetujui

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

dr. Yekti Hartati Effendi, SKed Dr. Ir. Ikeu Tanziha, MS NIP. 140 092 953 NIP. 131 628 329

Diketahui

Dekan Fakultas Pertanian IPB

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr NIP. 131 124 019

(20)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Analisis

Determinan Keragaman Konsumsi Pangan pada Keluarga Nelayan” benar-benar

merupakan hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan sebagai karya ilmiah

pada perguruan tinggi atau lembaga apapun.

Bogor, Juni 2008

(21)

PRAKATA

Bismillahhirrahmanirrahiim

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat-Nya,

sehingga penulis berhasil menyelesaikan skripsi ini. Semoga setiap langkah selalu

dihaturkan untuk senantiasa beribadah kepada-Nya. Tema yang diambil dalam

penelitian ini adalah keragaman konsumsi pangan dengan judul “Analisis

Determinan Keragaman Konsumsi Pangan pada Keluarga Nelayan”

Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna

mengingat keterbatasan-keterbatasan yang dihadapi dan dimiliki penulis selama

berlangsungnya penelitian. Semoga hasil yang diperoleh dari penelitian ini dapat

dimanfaatkan dengan baik oleh pihak-pihak yang membutuhkannya.

Bogor, Juni 2008

(22)

UCAPAN TERIMA KASIH

Atas terselesaikannya skripsi ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih dan

penghargaan kepada:

1. dr Yekti H. Effendi, SKed dan Dr. Ir. Ikeu Tanziha, MS selaku dosen

pembimbing skripsi yang telah sabar membimbing, memberikan motivasi,

kritik, saran, dan solusi atas terselesaikannya skripsi ini.

2. Dr. Ir. Drajat Martianto, MSi selaku dosen penguji, yang telah berkenan

memberikan saran dan kritik demi kesempurnaan skripsi ini.

3. Ir. Retnaningsih, MSi, selaku dosen pemandu seminar.

4. Dr. Ir. Evy. Damayanthi, MS selaku dosen pembimbing akademik, yang telah

berkenan memberikan bimbingan kepada penulis selama menjadi mahasiswa.

5. Seluruh staf pengajar yang telah memberikan tinta ilmu kepada penulis dan

Komisi Pendidikan GMSK atas segala bantuannya.

6. Para pembahas seminar yaitu Friska Amelia, Ida Hildawati, Noni Eka, dan

Yuza Anzola yang telah memberi saran dan kritik yang berarti dalam

penyempurnaan skripsi ini.

7. Ibu dan Bapak, serta keluarga tercinta, yang selalu mendo’akan, memberikan

semangat, dukungan, dan kasih sayang yang tanpa ujung.

8. Teman-teman GMSK 41 (Yesa, Friska, Henny, Ida, Kartika H, Lola, Noni,

Ratna, Ermita, Dewi K, Ima, Rizka) dan semua pihak yang telah membantu

terselesaikannya skripsi ini namun tak dapat disebutkan satu persatu.

Bogor, Juni 2008

(23)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bojonegoro, Jawa Timur pada tanggal 7 Mei 1985.

Penulis merupakan anak terakhir dari empat bersaudara dari pasangan Samiran

dan Sulasmi’ah.

Tahun 2004, penulis lulus dari SMU Negeri I Bojonegoro Jawa Timur.

Pada tahun yang sama, penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Gizi

Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian

Bogor melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB).

Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif di beberapa kepanitiaan kampus

dan organisasi kemahasiswaan. Organisasi yang pernah diikuti yaitu Paguyuban

Angkling Darmo (PAD) tahun 2004-2008 dan Badan Konsultasi Gizi tahun

(24)
(25)

Usia.……….………... 31 Pendidikan... 32 Pengeluaran.…... 32 Pengetahuan Gizi Ibu...………... 33 Konsumsi Pangan………...……….………... 34 Tingkat Kecukupan Energi dan Protein.………... 34 Keragaman Konsumsi Pangan...………... 35 Frekuensi Konsumsi menurut Jenis Pangan... 36 Hubungan Karakteristik Keluarga dengan Keragaman Konsumsi

Pangan....………... 38 Besar Keluarga………..…... 38 Usia………..…………... 39 Pendidikan... Pengeluaran...

40 42 Pengeluaran per kapita per bulan... 44 Pengeluaran Pangan... 45 Hubungan Pengetahuan Gizi Ibu dengan Keragaman Konsumsi

Pangan... 47

Hubungan TKE dan TKP dengan Keragaman Konsumsi Pangan... 49 Tingkat Kecukupan Energi... 49 Tingkat Kecukupan Protein... 50 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keragaman Konsumsi

Pangan…………... 53

KESIMPULAN DAN SARAN... 55 Kesimpulan…………...…….………...………... 55 Saran...………..……….………... 55

DAFTAR PUSTAKA………... 56

(26)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Contoh kuisioner keragaman konsumsi pangan ...…… 16 2. Indikator keragaman konsumsi pangan secara kualitatif ..………… 18 3 Jenis data, cara pengumpulan data, bahan dan alat pengumpulan

data... 23 4. Pengategorian karakteristik keluarga... 24 5. Pertanyaan tentang pengetahuan gizi ibu... 25 6. Pengategorian pengetahuan gizi ibu... 25 7. Pengategorian konsumsi zat gizi pangan... 26 8. Angka Kecukupan Energi dan Protein (AKE dan AKP)

berdasarkan umur dan jenis kelamin... 27 9. Pengategorian tingkat kecukupan energi dan protein... 28 10. Pengategorian keragaman konsumsi pangan... 28 11. Sebaran keluarga berdasarkan besar keluarga... 31 12. Sebaran keluarga berdasarkan kategori usia kepala keluarga dan

ibu... 31 13. Sebaran keluarga berdasarkan tingkat pendidikan kepala keluarga

dan ibu... 32 14. Sebaran keluarga berdasarkan pengeluaran/kapita/bulan... 32 15. Sebaran keluarga berdasarkan pengetahuan gizi ibu... 33 16. Rata-rata konsumsi zat gizi pangan per kapita per hari... 34

17. Sebaran keluarga berdasarkan tingkat kecukupan energi... 35 18. Sebaran keluarga berdasarkan tingkat kecukupan protein... 35 19. Sebaran keluarga berdasarkan keragaman konsumsi pangan... 36 20. Sebaran keluarga berdasarkan besar keluarga pada keluarga dengan

konsumsi pangan beragam dan tidak beragam ... 38 21. Sebaran keluarga berdasarkan usia kepala keluarga dan ibu pada

keluarga dengan konsumsi pangan beragam dan tidak beragam... 40 22. Sebaran keluarga berdasarkan tingkat pendidikan pada keluarga

dengan konsumsi pangan beragam dan tidak beragam... 41 23. Rata-rata dan standar deviasi pengeluaran (Rp/kap/bln) pada

keluarga dengan konsumsi pangan beragam dan tidak beragam ... 43 24. Sebaran keluarga berdasarkan pengeluaran per kapita per bulan

pada keluarga dengan konsumsi pangan beragam dan tidak beragam... 44 25. Sebaran keluarga berdasarkan pengeluaran pangan per kapita per

bulan pada keluarga dengan konsumsi pangan beragam dan tidak beragam... 45 26. Rata-rata dan standar deviasi pengeluaran pangan keluarga

(Rp/bulan) menurut jenis pangan ... 46 27. Sebaran jawaban contoh berdasarkan pertanyaan pengetahuan gizi

(27)

dengan konsumsi pangan beragam dan tidak beragam... 48 29. Sebaran keluarga berdasarkan tingkat kecukupan energi pada

keluarga dengan konsumsi pangan beragam dan tidak beragam... 49 30. Sebaran keluarga berdasarkan tingkat kecukupan protein keluarga

beragam dan tidak beragam... 50 31. Sebaran keluarga berdasarkan rata-rata konsumsi pangan per kapita

perhari... 51

32. Sebaran keluarga berdasarkan rata-rata dan standar deviasi konsumsi zat gizi pangan per kapita perhari pada keluarga dengan konsumsi pangan beragam dan tidak beragam... 52 33. Faktor –faktor yang mempengaruhi keragaman konsumsi pangan

(28)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Analisis Deskriptif... 60 2. Analisis Deskriptif pada Keluarga dengan Konsumsi Pangan

Beragam...

60

3. Analisis Deskriptif pada Keluarga dengan Konsumsi Pangan Tidak

(29)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Setiap manusia di Indonesia berhak memperoleh pangan yang cukup,

aman, dan bergizi. Hak azasi manusia atas akses pangan telah dinyatakan dalam

Undang-Undang Nomor 7 tahun 1996 tentang pangan. Konsumsi pangan dan gizi

yang cukup dan seimbang adalah syarat bagi pertumbuhan dan perkembangan

tubuh manusia mulai dari kandungan sampai dewasa, hal ini juga mempengaruhi

perkembangan emosi, jiwa, dan kemampuan motoriknya. Generasi yang kokoh

yaitu kuat fisik dengan intelegensia tinggi akan menjadi penerus suatu bangsa

untuk membangun negara dalam semua bidang, baik ekonomi, sosial, dan politik

yang dinamis serta berkelanjutan (Bimas Ketahanan Pangan 2001).

Pola konsumsi pangan yang seimbang adalah konsumsi pangan yang dapat

menyediakan zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur dalam jumlah yang

cukup sesuai umur, jenis kelamin, dan aktivitas fisik, yang terdiri dari pangan

yang beragam (Riyadi 1996). Keragaman konsumsi pangan sangat penting, hal ini

karena tidak ada satu jenis pangan yang mengandung zat gizi secara lengkap baik

jenis maupun jumlah. Dengan mengonsumsi pangan yang beragam maka

kekurangan zat gizi dalam satu jenis akan dilengkapi oleh kandungan zat gizi dari

jenis pangan lainnya. Adanya prinsip saling melengkapi antar berbagai pangan

tersebut akan menjamin terpenuhinya mutu gizi seimbang dalam jumlah cukup

(Riyadi 1996). Keragaman konsumsi pangan mempunyai pengaruh yang besar

terhadap kualitas zat-zat gizi dalam pangan. Hal ini dapat diketahui bahwa pilihan

yang luas dari kelompok pangan yang berbeda menunjukkan jaminan

perlindungan terhadap defisiensi zat-zat gizi esensial (Roe diacu dalam

Rahmawati 2000).

Masyarakat nelayan merupakan salah satu komunitas yang selalu

berhadapan dengan berbagai masalah, seperti kurangnya modal, kualitas hasil

tangkapan yang buruk, jumlah tangkapan sedikit, tekanan dari majikan, dan

musim yang selalu berubah. Masalah-masalah tersebut yang dapat mempengaruhi

keragaan ekonomi dan kehidupan rumah tangga para nelayan. Hal tersebut yang

menjadi menyebab terjadinya kurangnya keragaman konsumsi terhadap pangan

(30)

Perumusan Masalah

Keragaman konsumsi pangan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: (1)

Ketersediaan pangan, jenis, dan jumlah pangan dalam pola makanan di suatu

daerah tertentu, biasanya berkembang dari pangan setempat atau dari pangan yang

telah ditanam, (2) Pola sosial budaya, pola kebudayaan mempengaruhi seseorang

dalam memilih pangan. Berdasarkan hal-hal yang berkaitan dengan keragaman

konsumsi pangan maka permasalahan penelitian yang akan dijawab dalam

penelitian ini adalah Bagaimana karakteristik dan pengetahuan gizi ibu pada

keluarga nelayan?. Bagaimana konsumsi zat gizi pangan dan tingkat kecukupan

energi serta protein pada keluarga nelayan ? Bagaimana keragaman konsumsi

pangan pada keluarga nelayan?. Bagaimana hubungan antara karakteristik

keluarga, pengetahuan gizi, dan tingkat kecukupan energi serta protein dengan

keragaman konsumsi pangan?. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi

keragaman konsumsi pangan pada keluarga nelayan?.

Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Menganalisis determinan keragaman konsumsi pangan pada keluarga

nelayan.

Tujuan Khusus

1. Mengetahui karakteristik keluarga dan pengetahuan gizi ibu pada keluarga

nelayan.

2. Menganalisis konsumsi zat gizi (energi, protein, kalsium, fosfor, besi,

vitamin A, dan C) pangan dan tingkat kecukupan energi serta protein pada

keluarga nelayan.

3. Menganalisis keragaman konsumsi pangan pada keluarga nelayan.

4. Menganalisis hubungan antara karakteristik keluarga, pengetahuan gizi

ibu, dan tingkat kecukupan energi serta protein dengan keragaman

konsumsi pangan.

5. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keragaman konsumsi

(31)

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada seluruh

pihak terutama bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Selain itu, hasil penelitian

ini juga dapat memberikan gambaran tentang keragaman konsumsi pangan yang

terjadi di wilayah Kabupaten Cirebon, serta dapat memberikan sumbangan

(32)

TINJAUAN PUSTAKA

Nelayan

Sebagian besar nelayan di Indonesia merupakan nelayan tradisional yang

selalu berhadapan dengan berbagai masalah, seperti kurangnya modal, kualitas

hasil tangkapan yang buruk, jumlah tangkapan sedikit, tekanan dari majikan, dan

musim yang selalu berubah. Masalah-masalah tersebut yang dapat mempengaruhi

keragaan ekonomi dan kehidupan rumah tangga para nelayan (Pasandaran 1990,

diacu dalam Baliwati, Pranadji & Retnaningsih 1992).

Secara sosiologis, karakteristik komunitas nelayan berbeda dari komunitas

petani. Petani menghadapi situasi ekologi yang dapat dikontrol. Menurut Rogers

(1969) diacu dalam Satria (2001), petani (peasant) juga memiliki banyak

karakteristik, seperti mutual distrust, perceived limited goods, limited views of this

world, dan limited aspiration. Sedangkan nelayan dihadapkan pada situasi

ekologis yang sulit untuk mengendalikan produknya mengingat perikanan

memiliki sifat open access sehingga nelayan juga harus berpindah-pindah dan ada

elemen risiko yang harus dihadapi lebih besar daripada yang dihadapi petani

(Pollnack 1988, diacu dalam Satria 2001). Selain itu, nelayan juga harus

berhadapan dengan kehidupan laut yang keras sehingga membuat mereka

umumnya bersikap keras, tegas, dan terbuka.

Rumah tangga nelayan memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Deptan 1991,

diacu dalam Baliwati , Pranadji & Retnaningsih 1992) :

1. Rumah dan barang yang dimiliki terbatas dan sangat sederhana.

2. Tingkat kesehatan dan pendidikan rendah.

3. Produktivitas kerja rendah.

4. Keterampilan kurang memadai.

5. Kurang dapat mengikuti pembaharuan dan kurang memperoleh

kesempatan berperan serta dalam pembangunan.

Masyarakat nelayan terbagi menjadi dua kelompok yaitu nelayan juragan

dan nelayan buruh. Pembagian ini akibat dari perbedaan kepemilikian alat

tangkap, organisasi kerja penangkapan ikan, dan pendapatan dari sistem bagi hasil

(Hermanto 1986, diacu dalam Baliwati et,. al 1992). Faktor pendapatan memiliki

(33)

mempengaruhi ketersediaan pangan, akan menjadi masalah bagi penduduk yang

memiliki pendapatan rendah karena tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan

sehari-hari dalam jumlah yang diperlukan sehingga terjadi ketidakcukupan

konsumsi pangan (Birowo 1983, diacu dalam Baliwati et,. al 1992).

Menurut Satria (2001) nelayan dibedakan menjadi dua yaitu nelayan kecil

dan nelayan besar. Nelayan kecil mencakup berbagai karakteristik nelayan baik

berdasarkan kapasitas teknologi (alat tangkap dan armada) maupun budaya.

Nelayan kecil menangkap ikan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup

sehari-hari. Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa mereka tidak menjual hasil

tangkapannya. Hasil tangkapan yang dijual biasanya dialokasikan untuk

memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari (khususnya pangan), dan bukan

diinvestasikan kembali untuk melipatgandakan keuntungan. Sedangkan nelayan

besar dicirikan oleh skala usaha yang besar, baik kapasitas teknologi penangkapan

maupun jumlah armadanya. Mereka berorientasi pada keuntungan (profit

oriented) dan umumnya melibatkan sejumlah buruh nelayan sebagai anak buah

kapal (ABK) dengan orientasi kerja yang semakin kompleks. Nelayan besar juga

disebut sebagai nelayan industri (industrial fisher).

Perbedaan dalam penggunaan teknologi penangkapan menyebabkan

terbatasnya daerah penangkapan ikan karena nelayan hanya dapat bekerja di

daerah sekitar pantai saja. Nelayan yang menggunakan teknologi penangkapan

yang relatif rendah disebut nelayan skala kecil. Umumnya menggunakan kapal

berukuran kecil (3-5 GT) dan mesin berkekuatan rendah (0-3 HP) (Tim Fakultas

Perikanan IPB 1991, diacu dalam Baliwati et,. al 1992).

Pada umumnya perempuan dalam komunitas nelayan tidak terlibat

langsung dalam kegiatan produksi (penangkapan ikan), kecuali untuk beberapa

jenis kegiatan, seperti pengumpulan tanaman laut (shellfish), penangkapan ikan

dengan beachseine. Kaum perempuan atau istri-istri para nelayan lebih banyak

berperan dalam kegiatan pengolahan (pemindangan) maupun pemasaran (Satria

2001).

Menurut Goodwin (1990) diacu dalam Satria (2001) menyatakan bahwa

dalam komunitas nelayan, status sosial sebagai istri nelayan dengan peran-peran

(34)

nelayan. Tentu saja, prestise yang lebih tinggi tersebut disebabkan oleh sikap

mereka yang relatif lebih mandiri. Kemandirian ini merupakan konsekuensi dari

peran suami yang lebih banyak memiliki waktu di laut sehingga untuk menjaga

komunitas diperlukan peran aktif dari istri nelayan.

Konsumsi Pangan

Konsumsi pangan merupakan informasi tentang jenis dan jumlah pangan

yang dikonsumsi oleh seseorang atau sekelompok orang pada waktu tertentu.

Konsumsi pangan dipengaruhi oleh beberapa faktor dalam pemilihan jenis atau

banyaknya pangan yang dimakan, hal tersebut dapat berbeda antara individu baik

ditingkat keluarga maupun daerah. Faktor ekonomi dan harga, serta faktor sosial

budaya dan religi yang ada di suatu daerah sangat mempengaruhi konsumsi

pangan (PSKPG 2002). Akan tetapi, faktor-faktor yang sangat berpengaruh adalah

jenis dan banyaknya pangan yang diproduksi dan tersedia, tingkat pendapatan,

dan pengetahuan gizi (Haper, Deaton & Driskel 1986).

Menurut Riyadi (1996), bahwa pola konsumsi pangan dipengaruhi oleh

banyak faktor, diantaranya yang terpenting adalah: (1) Ketersediaan pangan, jenis,

dan jumlah pangan dalam pola makanan di suatu daerah tertentu, biasanya

berkembang dari pangan setempat atau dari pangan yang telah ditanam. Bila

pangan tersedia secara kontinyu, maka dapat membentuk kebiasaan makan, (2)

Pola sosial budaya, pola kebudayaan mempengaruhi seseorang dalam memilih

pangan. Hal ini juga mempengaruhi jenis pangan apa yang harus diproduksi,

bagaimana cara pengolahannya, penyalurannya, penyiapannya, dan penyajiannya.

Pilihan pangan biasanya ditentukan oleh adanya faktor-faktor penerimaan atau

penolakan terhadap pangan oleh seseorang atau sekelompok orang.

Menurut Baliwati dan Roosita (2004), konsumsi pangan adalah jenis dan

jumlah pangan yang dimakan oleh seseorang atau kelompok dengan tujuan

tertentu pada waktu tertentu. Konsumsi pangan dimaksudkan untuk memenuhi

kebutuhan individu secara biologis, psikologi maupun sosial. Hal ini terkait

dengan fungsi makanan yaitu gastronomik, identitas budaya, religi, dan magis,

(35)

Konsumsi pangan dan gizi cukup serta seimbang merupakan salah satu

faktor penting yang menentukan tingkat kesehatan dan intelegensia manusia,

sebab tingkat kecukupan gizi seseorang sangat mempengaruhi keseimbangan

perkembangan jasmani dan rohani yang bersangkutan. Pola konsumsi pangan dan

gizi rumah tangga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, sosial, dan budaya

masyarakat (Bimas Ketahanan Pangan 2001).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Pangan

Besar keluarga

Hubungan antara laju kelahiran yang tinggi dan kurang gizi sangat nyata

pada masing-masing keluarga. Sumber pangan keluarga, terutama mereka yang

sangat miskin akan lebih mudah memenuhi kebutuhan pangannya jika yang harus

diberi makan jumlahnya lebih sedikit. Pangan yang tersedia untuk satu keluarga

yang besar mungkin cukup untuk keluarga yang besarnya setengah dari keluarga

tersebut, tetapi tidak cukup untuk mencegah gangguan gizi pada keluarga yang

besar tersebut (Suhardjo 1989).

Pendapatan

Kenaikan tingkat pendapatan perorang, akan menyebabkan perubahan

dalam susunan pangan yang dikonsumsi. Akan tetapi, pengeluaran untuk pangan

yang lebih banyak tidak menjamin lebih beragamnya konsumsi pangan.

Kadang-kadang, perubahan utama yang terjadi dalam kebiasaan makanan adalah pangan

yang dimakan itu lebih mahal (Suhardjo 1989).

Terdapat kecenderungan dengan semakin tingginya pendapatan terjadi

perubahan dalam pola konsumsi pangan, yaitu pangan yang dikonsumsi akan

lebih beragam. Namun kadang-kadang peningkatan pendapatan tidak

menyebabkan jenis pangan yang dikonsumsi menjadi beragam, tetapi justru yang

sering terjadi adalah pangan yang dibeli harganya lebih mahal (PSKPG 2002).

Tingkat pendapatan juga menentukan pola konsumsi pangan atau jenis

pangan yang akan dibeli. Orang miskin biasanya akan membelanjakan sebagian

pendapatan tambahannya untuk pangan, sedangkan pada orang kaya porsi

(36)

untuk jenis pangan padi-padian akan menurun tetapi untuk pangan yang berasal

dari susu akan bertambah jika pendapatan keluarga meningkat. Semakin tinggi

pendapatan, semakin besar pula persentase pertambahan pembelanjaannya

termasuk untuk buah-buahan, sayur, dan jenis pangan lainnya (Berg 1986).

Pendidikan

Tingkat pendidikan seseorang dapat dilihat berdasarkan lamanya atau jenis

pendidikan yang dialami baik formal maupun informal. Menurut Suhardjo (1996),

tingkat pendidikan seseorang umumnya dapat mempengaruhi sikap dan

perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan menurut Syarief (1988)

diacu dalam Hardinsyah (2007) menyatakan bahwa tingkat pendidikan formal

umumnya mencerminkan kemampuan seseorang untuk memahami berbagai aspek

pengetahuan, termasuk pengetahuan gizi.

Pengetahuan gizi

Pengetahuan gizi didasarkan pada tiga kenyataan yaitu, status gizi yang

cukup adalah penting bagi kesehatan dan kesejahteraan, setiap orang hanya akan

cukup gizi jika pangan yang akan dikonsumsinya mampu menyediakan zat gizi

yang diperlukan untuk pertumbuhan tubuh yang optimal, pemeliharaan, dan

energi serta ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk

dapat belajar menggunakan pangan dengan baik untuk kesejahteraan gizi

(Suhardjo 1996). Haper, Deaton, dan Driskel (1986) menyatakan bahwa

pengetahuan gizi mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembentukan

kebiasaan makan seseorang. Pengetahuan gizi akan mempengaruhi seseorang

dalam memilih jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsinya.

Pengetahuan, sikap, dan perilaku tentang gizi dan kesehatan merupakan

faktor yang menentukan dalam penyediaan pangan dalam keluarga. Ibu-ibu yang

berpengetahuan gizi baik akan mengupayakan kemampuan menerapkan

pengetahuannya di dalam pemilihan dan pengolahan pangan, sehingga konsumsi

pangan yang mencukupi kebutuhan lebih terjamin (Khumaidi 1989).

Pengetahuan memiliki hubungan yang erat dengan baik buruknya kualitas

(37)

gizi, maka orang akan tahu dan berupaya untuk mengatur pola konsumsi

pangannya sedemikian rupa sehingga seimbang, tidak kekurangan, dan tidak

kelebihan. Pengetahuan gizi, sikap terhadap gizi, dan keterampilan gizi secara

bersama-sama akan menentukan perilaku gizi (Pranadji 1988).

Survei Konsumsi Pangan

Survei konsumsi pangan adalah alat untuk memperoleh informasi yang

dibutuhkan dalam menyusun suatu kegiatan atau program. Dampak dari perbaikan

konsumsi pangan dan gizi akan mendukung keberhasilan peningkatan kualitas

hidup manusia. Survei konsumsi pangan dimaksudkan untuk mengetahui dan

menelusuri konsumsi pangan baik dilihat dari jenis-jenis pangan,

sumber-sumbernya maupun jumlah yang dikonsumsi, termasuk kebiasaan makan serta

faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi pangan tersebut (Suhardjo,

Hardinsyah & Riyadi 1988).

Survei konsumsi pangan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui

konsumsi pangan seseorang atau kelompok orang (baik berupa keluarga, rumah

tangga, penghuni asrama, penduduk desa atau wilayah), baik secara kuantitatif

maupun kualitatif. Survei konsumsi pangan secara kuantitatif dimaksudkan untuk

mengetahui jumlah pangan yang dikonsumsi. Sedangkan survei konsumsi pangan

secara kualitatif digunakan untuk mengetahui frekuensi makan, frekuensi

konsumsi menurut jenis pangan yang dikonsumsi, dan menggali informasi tentang

kebiasaan makan (food habit) serta cara memperoleh pangan (Suhardjo,

Hardinsyah, dan Riyadi 1988).

Metode pengumpulan data yang dapat dilakukan secara kuantitatif adalah

metode mengingat-ingat (method recall), penimbangan (weighed method), dan

food record method. Sedangkan metode pengumpulan data secara kualitatif

menggunakan riwayat makan (dietary history ) dan frekuensi pangan (food

frequency) (Riyadi 2004). Pemilihan metode dapat didasarkan pada beberapa

pertimbangan yaitu tujuan survei, ketelitian yang diinginkan, ketersediaan biaya,

waktu, dan tingkat keahlian tenaga pengumpul data (enumerator) (Kusharto dan

(38)

Metode recall 24 jam

Metode ini digunakan untuk memperkirakan jumlah pangan yang

dikonsumsi oleh seseorang selama 24 jam yang lalu atau sehari sebelum

wawancara dilakukan. Pengukuran konsumsi menggunakan ukuran rumah tangga

(URT) untuk mengetahui porsi pangan, kemudian dikonversi keukuran metrik

(gram) (Riyadi 2004).

Metode recall memiliki keunggulan yaitu murah dan tidak memakan

waktu banyak. Kekurangannya adalah data yang dihasilkan kurang akurat karena

mengandalkan ingatan seseorang yang terbatas dan tergantung dari keahlian

tenaga pencatatan dalam mengkonversikan URT menjadi satuan berat (gram)

(Kusharto dan Sa’diyyah 2006).

Food record

Metode ini umumnya dilakukan selama 7 hari, dimana responden

melakukan pencatatan semua pangan dan minuman yang dikonsumsi. Pencatatan

dilakukan oleh responden dengan menggunakan URT atau menimbang langsung

berat pangan yang dikonsumsi (Riyadi 2004).

Metode food record merupakan metode yang akurat untuk survei

konsumsi pangan di tingkat keluarga. Tetapi metode ini juga memiliki kekurangan

seperti biaya mahal, perlu partisipasi yang tinggi dari responden, pola konsumsi

pangan rumah tangga yang dapat berubah (Kusharto dan Sa’diyyah 2006).

Weighed method

Metode penimbangan mengukur secara langsung berat setiap jenis pangan

yang dikonsumsi oleh seseorang pada saat wawancara (Riyadi 2004). Pengukuran

penggunaan pangan untuk konsumsi dilakukan dengan cara menimbang bahan

pangan dalam keadaan mentah (proses persiapan), setelah masak (penyajian), dan

setalah pangan tersebut dikonsumsi (mengamati sisa yang tidak dimakan)

(Kusharto dan Sa’diyyah 2006).

Metode penimbangan ini juga akurat untuk digunakan karena dilakukan

penimbangan secara cermat dan tepat terhadap makan yang dikonsumsi. Tetapi

(39)

responden, dan adanya kemungkinan perubahan pola konsumsi pangan dari

kebiasaan sehari-hari dengan adanya kehadiran kita (Kusharto dan Sa’diyyah

2006).

Food Frequency Questionaire (FFQ)

FFQ merupakan kuesioner yang menggambarkan frekuensi responden

dalam mengonsumsi beberapa jenis makanan dan minuman. Frekuensi konsumsi

makanan dilihat dalam satu hari atau minggu atau bulan atau tahun. Kuesioner

terdiri dari daftar jenis makanan dan minuman.

Kelebihan FFQ adalah relatif murah, dapat digunakan untuk melihat

hubungan antara diet, penyakit, dan lebih representatif. Sedangkan

keterbatasannya yaitu adanya kemungkinan tidak menggambarkan porsi yang

dipilih oleh responden, tergantung pada kemampuan responden untuk

mendiskripsikan dietnya.

Beberapa jenis FFQ adalah sebagai berikut :

1. Simple or nonquantitative FFQ, tidak memberikan pilihan tentang porsi

yang biasa dikonsumsi, sehingga menggunakan standar porsi.

2. Semi quntitative FFQ, memberikan porsi yang dikonsumsi, misalnya

sepotong roti, secangkir kopi.

3. Quntitative FFQ, memberikan pilihan porsi yang biasa dikonsumsi

responden, seperti kecil, sedang atau besar.

(Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas

Indonesia 2007).

Penggunaan metode FFQ pangan bertujuan untuk memperoleh data

konsumsi secara kualitatif dan informasi deskriptif tentang pola konsumsi.

Metode ini umumnya tidak digunakan untuk memperoleh data kuantitatif pangan

ataupun intik konsumsi zat gizi. Metode frekuensi pangan dapat juga digunakan

untuk menilai konsumsi pangan secara kuantitatif. Hal ini tergantung dari tujuan

studi, apakah hanya ingin menggali frekuensi pangan saja atau juga sekaligus

dengan konsumsi zat gizinya. Dengan metode ini, kita dapat menilai frekuensi

penggunaan pangan atau kelompok pangan tertentu (misalnya: sumber energi,

(40)

minggu, bulan atau tahun) dan sekaligus mengestimasi konsumsi zat gizinya.

Kuisioner mempunyai dua komponen utama yaitu daftar pangan dan frekuensi

penggunaan pangan (Gibson 1993).

Biasanya metode ini digunakan untuk mengukur konsumsi pangan suatu

keluarga. Keuntungan menggunakan metode ini antara lain lebih cepat

mengumpulkan data, relatif lebih murah, dapat mengetahui pangan yang biasa

dikonsumsi keluarga, dapat diambil oleh enumerator yang tidak berpengalaman,

dan hasilnya dapat distandarisasi secara umum (Howarth 1990 dalam Gibson

1993).

Tingkat Konsumsi Zat Gizi

Manusia memerlukan energi untuk mempertahankan hidup, menunjang

pertumbuhan, dan melakukan aktivitas fisiknya yang dibutuhkan secara sosial dan

ekonomi. Energi diperoleh dari karbohidrat, lemak, dan protein yang terdapat

pada bahan makanan. Kandungan karbohidrat, lemak, dan protein suatu bahan

makanan menentukan nilai energinya (Almatsier 2002).

Konsumsi energi penduduk dikatakan mencukupi bila memenuhi

kebutuhan untuk metabolisme basal dan aktivitas fisik sehari-hari. Jumlah

kebutuhan ini disebut kecukupan gizi, yaitu jumlah zat gizi yang sebaiknya

dikonsumsi oleh setiap individu agar dapat hidup sehat (PSKPG 1994).

Agar hidup sehat dan dapat mempertahankan kesehatannya, manusia

memerlukan sejumlah zat gizi. Oleh karena itu, jumlah zat gizi yang diperoleh

melalui konsumsi pangan harus mencukupi kebutuhan tubuh untuk melakukan

kegiatan baik internal maupun eksternal, pemeliharaan tubuh, dan pertumbuhan

bagi yang masih dalam taraf pertumbuhan (bayi, anak-anak, dan remaja) atau

untuk aktivitas pemeliharaan tubuh bagi orang dewasa dan usia lanjut (Hardinsyah

& Martianto 1992).

Muhilal (1985) dalam Hardinsyah dan Martianto (1992) membedakan

istilah kebutuhan gizi dan kecukupan gizi. Kebutuhan gizi (Nutrient Requierment)

adalah banyaknya zat gizi minimal yang diperlukan seseorang agar hidup sehat.

Sedangkan kecukupan gizi (Recommended Dietary Allowances) adalah jumlah

(41)

orang (sekitar 97.5 % populasi) hidup sehat. Kebutuhan dan kecukupan gizi

biasanya disusun berdasarkan kelompok umur dan berat badan tertentu menurut

jenis kelamin (Hardinsyah & Martianto 1992).

Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan atau Recommended

Dietary Allowances (RDA) adalah tingkat konsumsi zat-zat gizi esensial yang

dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi hampir semua orang sehat di suatu

negara. AKG untuk Indonesia berdasarkan patokan berat badan untuk

masing-masing kelompok umur, gender, dan aktivitas fisik yang ditetapkan secara berkala

melalui survei penduduk. AKG juga disusun untuk kondisi khusus, yaitu bagi ibu

hamil, dan menyusui. AKG digunakan sebagai standar untuk mencapai status gizi

optimal bagi penduduk dalam hal penyedian pangan secara nasional dan regional

serta penilaian kecukupan gizi penduduk golongan masyarakat tertentu yang

diperoleh dari konsumsi pangan (Almatsier 2005).

Menilai tingkat konsumsi pangan (untuk energi dan zat gizi) diperlukan

suatu standar kecukupan yang dianjurkan atau Recommended Dietry Allowances

(RDA) untuk populasi yang diteliti. AKG yang digunakan untuk Indonesia adalah

hasil Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII tahun 2004. Penyajian Angka

Kecukupan Gizi (AKG) tersebut berdasarkan kepada kelompok umur, jenis

kelamin, tinggi badan, berat badan, aktivitas, dan kondisi fisiologis khusus (hamil

atau menyusui). Tingkat kecukupan energi dan protein keluarga menurut Latief,

Atmarita, Minarto, Basuni, dan Tilden (2000) dalam WNPG (2000) dibagi

menjadi dua yaitu defisit (< 70%) dan cukup (> 70%).

Keragaman Konsumsi Pangan

Household Dietary Diversity (keragaman konsumsi pangan rumah tangga)

merupakan jumlah jenis makanan yang berbeda yang dikonsumsi selama periode

tertentu yang ditetapkan. Keragaman konsumsi pangan adalah indikator yang baik

untuk alasan sebagai berikut (Swindale & Bilinsky 2006):

 Konsumsi pangan yang lebih beragam berhubungan dengan peningkatan

hasil pada berat kelahiran, status anthropometrik anak, dan peningkatan

(42)

 Konsumsi pangan yang lebih beragam berkaitan erat dengan faktor seperti:

kecukupan energi dan protein, persentase protein hewani (protein kualitas

tinggi), dan pendapatan rumah tangga. Bahkan pada rumah tangga yang

sangat miskin, peningkatan pengeluaran untuk makanan yang dihasilkan

dari penghasilan tambahan berhubungan dengan peningkatan kualitas dan

kuantitas konsumsi pangan.

Menurut FAO (2007) keragaman konsumsi pangan adalah jumlah pangan

atau kelompok pangan yang berbeda yang dikonsumsi selama periode tertentu

yang ditetapkan yaitu dapat bertindak sebagai indikator alternatif dari keamanan

makanan pada berbagai keadaan, termasuk negara dengan pendapatan sedang atau

menengah, daerah pedesaan dan urban, serta untuk berbagai musim.

Pola konsumsi pangan yang seimbang adalah konsumsi pangan yang dapat

menyediakan zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur dalam jumlah yang

cukup sesuai umur, jenis kelamin, dan aktivitas fisik, yang terdiri dari pangan

yang beragam (Riyadi 1996). Keragaman konsumsi pangan sangat penting, hal ini

karena tidak ada satu jenis pangan yang mengandung zat gizi dalam jenis dan

jumlah yang lengkap. Dengan mengonsumsi pangan yang beragam maka

kekurangan zat gizi dalam satu jenis akan dilengkapi oleh kandungan zat gizi dari

pangan lainnya. Adanya prinsip saling melengkapi antar berbagai pangan tersebut

akan menjamin terpenuhinya mutu gizi seimbang dalam jumlah cukup (Riyadi

1996).

Setiap bahan pangan mempunyai susunan kimia yang berbeda-beda dan

mengandung zat gizi yang bervariasi baik jenis maupun jumlahnya. Diantara

beragam jenis bahan pangan yang tersedia di alam ada yang kaya akan satu jenis

zat gizi, ada pula yang lebih dari satu jenis zat gizi, sebaliknya ada yang miskin

akan zat gizi (Suhardjo & Kusharto 1992).

Kuisioner keragaman konsumsi pangan adalah alat yang menyediakan

pendekatan yang lebih cepat, mudah digunakan, dan hemat biaya untuk mengukur

perubahan pada kualitas konsumsi pangan rumah tangga maupun individu.

Keragaman konsumsi pangan adalah ukuran kualitatif dari konsumsi pangan yang

mercerminkan akses rumah tangga terhadap variasi pangan yang beragam dan

(43)

konsumsi pangan dibuat dengan menjumlahkan baik pangan atau kelompok

pangan yang berbeda yang dikonsumsi selama periode referensi tertentu. Skor

keragaman konsumsi pangan yang disebutkan terdiri dari perhitungan kelompok

makanan yang sederhana yang dikonsumsi individu atau rumah tangga yang

dikonsumsi selama 24 jam (FAO 2007).

Jumlah kelompok pangan yang beragam yang dikonsumsi dihitung untuk

menggambarkan kualitas konsumsi secara lebih baik, bukan hanya jumlah ragam

pangan yang dikonsumsi. Dengan mengetahui konsumsi rumah tangga tersebut,

sebagai contoh, rata-rata dari 4 kelompok pangan yang berbeda menandakan

bahwa konsumsi pangan mereka menawarkan keragaman baik dalam zat gizi

makro maupun mikro. Ini adalah indikator yang lebih berarti daripada mengetahui

rumah tangga mengonsumsi empat pangan yang berbeda, yang mungkin saja

semuanya dari kelompok pangan padi-padian (Swindale dan Bilinsky 2006).

Untuk mengetahui keragaman konsumsi pangan dapat digunakan suatu kuisioner

yang berisikan tabel daftar konsumsi pangan yang dimakan baik dalam rumah

maupun luar rumah. Contoh kuisioner keragaman konsumsi pangan sebagai

(44)

Tabel 1 Contoh kuisioner keragaman konsumsi pangan

No. Kelompok Pangan Contoh Ya = 1

Tidak

= 0

1. Padi-padian Roti, mie, biskuit, cookies atau

makanan lainnya yang terbuat dari

millet, sorgum, jagung, beras, dan

gandum.

2. Sayuran dan

umbi-umbian kaya vitamin A

Labu kuning, wortel, dan ubi jalar

3. Umbi-umbian Kentang, ubi kayu atau makanan dari

batang

4. Sayuran daun hijau tua Daun ubi kayu dan lain-lain

5. Sayuran lainnya Tomat, bawang putih,

6. Buah kaya vitamin A Aprikot, mangga, dan semangka

7. Buah-buahan lainnya Buah liar

8. Jeroan (kaya zat besi) Hati, ginjal, dan jantung

9. Daging Daging sapi, babi, kambing, domba,

kelinci, ayam, bebek atau burung

10. Telur

11. Ikan Ikan segar atau ikan asin

12. Kacang-kacangan Kacang, biji-bijian

13. Susu dan produk

olahan susu

Susu, yogurt, atau olahannya

14. Minyak dan lemak Minyak, lemak, dan mentega

15. Gula Gula, madu, dan gula buah

16. Bumbu dan minuman Lada, garam, kopi, teh, dan alkohol

(45)

Starchy Staple Food Ratio

The Food Policy Support Activity (FPSA) membuat Starchy Staple Ratio

(SSR) baik sebagai indikator kemajuan FPSA, maupun sebagai ukuran penting

pada perubahan kualitas konsumsi pangan. SSR merupakan ukuran jumlah

padi-padian dan umbi pada total konsumsi pangan rumah tangga, yaitu menurun saat

pendapatan meningkat dan konsumsi pangan menjadi lebih beragam (FAO 2007).

SSR sebagai indikator meningkatkan ukuran kesejahteraan gizi. Jarak

ukuran suatu alat biasanya digunakan untuk mengawasi keamanan pangan dan

kecukupan konsumsi pangan. Tetapi apakah kita menggunakan ukuran

berdasarkan belanja atau konsumsi pangan rumah tangga, atau hasil

anthropometrik individu, semua ukuran yang ada memiliki batasan tertentu.

Kegiatan FPSA meneliti jumlah ukuran yang berhubungan langsung dengan

kualitas pangan yang dikonsumsi rumah tangga dan menghindar dari beberapa

batasan tersebut. Salah satu ukuran tersebut adalah Starchy Staple Ratio (SSR)

yang diubah menjadi ukuran yang sangat sensitif pada peningkatan konsumsi

pangan, dan juga indikator yang sangat kuat dari pola sejarah peningkatan (FAO

2007).

SSR didefinisikan sebagai proporsi energi yang dikonsumsi dari “sesuatu

yang mengandung tepung” (padi-padian dan umbi-umbian). Seperti banyak

ukuran hasil gizi, di sini ada hubungan yang kuat dan dapat dihubungkan antara

konsumsi rumah tangga per kapita dan SSR. Tetapi tidak seperti ukuran yang

berdasarkan belanja rumah tangga (seperti garis kemiskinan), ukuran ini tidak

membutuhkan keputusan yang seenaknya tentang target biaya pengeluaran

konsumsi. Dan tidak seperti hasil anthropometrik, SSR tidak dipengaruhi oleh

faktor lingkungan dan kesehatan yang dapat mempengaruhi perkembangan gizi

(FAO 2007).

SSR merupakan sumbangan karbohidrat pangan terhadap total konsumsi

energi. Nilai SSR ini dapat digunakan sebagai gambaran kualitas keragaman

konsumsi pangan, semakin kecil nilai SSR, maka porsi makanan berpati semakin

kecil sehingga menu makanan semakin beragam dan berkualitas. (FAO 2003

(46)

Tabel 2 Indikator keragaman konsumsi pangan secara kualitatif

Keragaman Konsumsi

Pangan Rendah

( 3 kelompok pangan )

Keragaman Konsumsi

Pangan Sedang

(4-5 kelompok pangan)

Keragaman Konsumsi

Pangan Tinggi

( 6 kelompok pangan)

Padi-padian

Sayuran hijau

Buah-buahan

Padi-padian

Sayuran hijau

Buah-buahan

Minyak

Padi-padian

Sayuran hijau

Buah-buahan

Minyak

Sayuran lainnya

Ikan

Kacang-kacangan

(47)

KERANGKA PEMIKIRAN

Keragaman konsumsi pangan sangat penting, hal ini karena tidak ada satu

jenis pangan yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang lengkap.

Dengan mengonsumsi pangan yang beragam maka kekurangan zat gizi dalam satu

jenis akan dilengkapi oleh kandungan zat gizi dari pangan lainnya. Adanya prinsip

saling melengkapi antar berbagai pangan tersebut akan menjamin terpenuhinya

mutu gizi seimbang dalam jumlah cukup (Riyadi 1996). Keragaman konsumsi

pangan keluarga dapat dilihat dari banyaknya jenis kelompok pangan yang

dimakan, yang diukur menggunakan Starchy Staple Food Ratio (SSR).

Konsumsi pangan merupakan informasi tentang jenis dan jumlah pangan

yang dikonsumsi (dimakan) oleh seseorang atau sekelompok orang pada waktu

tertentu. Konsumsi dipengaruhi oleh beberapa faktor dalam pemilihan jenis atau

banyaknya pangan yang dimakan, hal tersebut dapat berbeda antara individu baik

di tingkat keluarga maupun daerah. Faktor ekonomi dan harga, serta faktor sosial

budaya dan religi yang ada di suatu daerah sangat mempengaruhi konsumsi

pangan (PSKPG 2002). Akan tetapi, faktor-faktor yang sangat berpengaruh di

mana saja adalah jenis dan banyaknya pangan yang diproduksi dan tersedia,

tingkat pendapatan, dan pengetahuan gizi (Harper et., al 1986).

Hubungan keragaman konsumsi pangan dengan konsumsi pangan yaitu

dengan adanya peningkatan skor keragaman konsumsi pangan individu maupun

keluarga maka akan terjadi meningkatnya kecukupan gizi konsumsi. Skor

keragaman konsumsi pangan berkaitan secara positif dengan meningkatnya

(48)

Gambar 1. Kerangka konsep pemikiran keragaman konsumsi pangan

Variabel yang diteliti

Variabel yang tidak diteliti

Garis yang menunjukkan hubungan antar variabel Karakteristik keluarga:

usia, jumlah anggota, pendidikan, dan pengeluaran

Konsumsi pangan Daya beli

Ketersediaan pangan keluarga

Pengetahuan gizi ibu

Tingkat kecukupan energi dan protein

KERAGAMAN KONSUMSI

PANGAN

Gambar

Tabel 1 Contoh kuisioner keragaman konsumsi pangan
Tabel 2  Indikator keragaman konsumsi pangan secara kualitatif
Gambar 1.  Kerangka konsep pemikiran keragaman konsumsi pangan
Tabel 3  Jenis data, cara pengumpulan data, bahan dan alat pengumpulan data
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ika dan Ghazali (2012) yang menemukan bukti empiris bahwa keefektifan komite audit akan mengurangi jangka

Untuk mewujudkan profil lulusan guru yang professional perlu dirancang sebuah kurikulum yang menjamin ketercapaian kompetensi lulusan sesuai SN Dikti LPTK mmembuat rencana

Gedung H, Kampus Sekaran-Gunungpati, Semarang 50229 Telepon: (024) 8508081,

Pasca pemberitaan konflik sengketa wilayah antara Indonesia dengan Malaysia di media massa banyak terjadi demonstrasi, masyarakat kecewa dan marah karena sikap Malaysia yang

Dikatakan bahwa adanya hubungan yang sangat bermakna antara motivasi dengan pelaksanaan mobilisasi pasca operasi sectio caesarea dan penilitian lain yang dilakukan oleh

Sejak kemunculannya, teknologi Web telah diperkirakan akan menjadi teknologi yang lebih dari sekedar untuk mengirimkan web pages (Dokumen HTML) antara HTTP client dan server,

Judul Skripsi : Hubungan Depresi dan Sindroma Dispepsia pada Pasien Penderita yang Diberi Kemoterapi di RSUP H.. Adam

Dengan demikian, seseorang cenderung bekerja dengan penuh semangat apabila kepuasan dapat diperolehnya dari pekerjaannya dan kepuasan kerja karyawan