• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS EFEKTIVITAS PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (Studi Kasus : Persepsi Masyarakat Miskin Terhadap Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan di Kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ANALISIS EFEKTIVITAS PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (Studi Kasus : Persepsi Masyarakat Miskin Terhadap Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan di Kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso"

Copied!
131
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS EFEKTIVITAS PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (Studi Kasus : Persepsi Masyarakat Miskin Terhadap Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan di Kecamatan Tegalampel

Kabupaten Bondowoso)

Skripsi

Oleh Fariz Huzein NIM. 080810101039

PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN JURUSAN ILMU EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS JEMBER

(2)

ANALISIS EFEKTIVITAS PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (Studi Kasus : Persepsi Masyarakat Miskin Terhadap Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan di Kecamatan Tegalampel

Kabupaten Bondowoso)

SKRIPSI

diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Studi Ekonomi Pembangunan (S1)

dan mencapai gelar Sarjana Ekonomi

Oleh Fariz Huzein NIM 080810101039

PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN JURUSAN ILMU EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS JEMBER

(3)

1. Ayahanda (Alm. Imam Jahdi) dan ibunda (Asni Moerinda) tercinta yang senantiasa memberi dukungan setiap langkah-langkah aku, kasih sayang, doa serta pengorbanan yang tidak dapat di hitung. Kalian memang merupakan penyemangat hidup aku.

2. Kakak-kakakku, Fahmi Hakim dan Helmi Rahman serta adikku Ilham Maulana, terima kasih atas kasih sayang dan doanya.

3. Guru-guru sejak TK sampai Perguruan Tinggi terhormat, yang telah memberikan ilmu dan membimbing dengan penuh kesabaran

(4)

“ Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalatmu

sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar “ ( Al-Baqarah : 153 )

“ Hal yang mudah akan terasa sulit jika yang pertama dipikirkan

adalah kata SULIT. Yakinlah bahwa kita memiliki kemampuan dan kekuatan “

“Jangan awali hari dengan penyesalan hari kemarin,

(5)

Nama : Fariz Huzein NIM : 080810101039

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah yang berjudul “Analisis Efektivitas Program Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus: Persepsi Masyarakat Miskin Terhadap Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan di Kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso)” adalah benar-benar hasil karya sendiri, kecuali kutipan yang sudah saya sebutkan sumbernya, belum pernah diajukan pada institusi mana pun dan bukan karya jiplakan. Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya, tanpa ada tekanan dan paksaan dari pihak mana pun serta bersedia mendapat sanksi akademik jika ternyata di kemudian hari pernyataan ini tidak benar.

Jember, Juni 2013 Yang menyatakan,

(6)

ANALISIS EFEKTIVITAS PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (Studi Kasus : Persepsi Masyarakat Miskin Terhadap Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan di Kecamatan Tegalampel

Kabupaten Bondowoso)

Oleh Fariz Huzein NIM 080810101039

Pembimbing

(7)

MASYARAKAT (Studi Kasus: Persepsi Masyarakat Miskin Terhadap Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan di Kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso)

Nama Mahasiswa : Fariz Huzein

NIM : 080810101039

Jurusan : Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Konsentrasi : Ekonomi Regional

Tanggal Persetujuan : 12 Mei 2013

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dr. Teguh Hadi Prianto SE., M.Si Edy Santoso SE., M.Sc NIP. 19700206 199403 1 002 NIP. 19751105 200812 1 001

Ketua Jurusan,

(8)

(Studi Kasus : Persepsi Masyarakat Miskin Terhadap Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan di Kecamatan Tegalampel

Kabupaten Bondowoso)

Yang dipersiapkan dan disusun oleh: Nama : Fariz Huzein NIM : 080810101039

Jurusan : Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan telah dipertahankan di depan panitia penguji pada tanggal:

28 Juni 2013

dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima sebagai kelengkapan guna memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi Universitas Jember.

Susunan Panitia Penguji

1. Ketua : Drs. Badjuri, ME (...) NIP. 19531225 198403 1 002

2. Sekretaris : Dr. Regina Niken W, SE., M.Si (...) NIP. 19740913 200112 2 001

3. Anggota : Edy Santoso, SE., M.Sc (...) NIP. 19751105 200812 1 001

Mengetahui/Menyetujui, Universitas Jember

Fakultas Ekonomi Dekan,

(9)

Fariz Huzein

Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Jember ABSTRAKSI

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh tahap perencanaan terhadap kinerja fasilitator pada PNPM-MP di kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso; untuk mengetahui pengaruh tahap pelaksanaan terhadap kinerja fasilitator pada PNPM-MP di kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso; untuk mengetahui pengaruh tahap perencanaan terhadap efektivitas PNPM-MP di Kecamatan tegalampel Kabupaten Bondowoso; untuk mengetahui pengaruh tahap pelaksanaan terhadap efektivitas PNPM-MP di Kecamatan tegalampel Kabupaten Bondowoso; dan untuk mengetahui kinerja fasilitator terhadap efektivitas PNPM-MP di Kecamatan tegalampel Kabupaten Bondowoso.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang dilengkapi dengan data sekunder. Data primer yang dikumpulkan berdasarkan persepsi masyarakat miskin tentang PNPM-MP. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari instansi pemerintah atau lembaga-lembaga sosial yang terkait dengan penelitian ini. Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Model Persamaan Struktural (Structural Equation Modelling atau SEM).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahap perencanaan berpengaruh signifikan dan positif terhadap kinerja fasilitator; tahap pelaksanaan berpengaruh signifikan dan positif terhadap kinerja fasilitator; tahap perencanaan berpengaruh signifikan dan positif terhadap efektivitas PNPM-MP; tahap pelaksanaan berpengaruh signifikandan positif terhadap efektivitas PNPM-MP; dan kinerja fasilitator berpengaruh signifikan dan positif terhadap efektivitas PNPM-MP.

(10)

Fariz Huzein

Economics and Development Studies, Faculty of Economics, University of Jember

ABSTRACT

The purpose of this study to determine the effect on the performance of the planning stage in PNPM-MP facilitators in Tegalampel subdistrict Bondowoso district; implementation phase to determine the effect on the performance of the facilitators in PNPM-MP in Tegalampel subdistrict Bondowoso district; planning stage to determine the effect on the effectiveness of PNPM-MP in Tegalampel subdistrict Bondowoso district; to determine the effect of the implementation phase of the effectiveness of PNPM-MP in Tegalampel subdistrict Bondowoso district, and to determine the effectiveness of the performance of facilitators PNPM-MP in Tegalampel subdistrict Bondowoso district .

The data used in this study is primary data that comes with secondary data. Primary data were collected by the poor public perception of the PNPM-MP. Secondary data is data obtained from government or social institutions associated with this study. The analysis model used in this study is Structural Equation Model (SEM).

The results showed that the planning significant and positive impact on the performance of the facilitator; stages of implementation significant and positive impact on the performance of facilitators; stages of planning significant and positive impact on the effectiveness of PNPM-MP; signifikandan positively influence the implementation phase of the effectiveness of PNPM-MP, and the performance of facilitators significant and positive impact on the effectiveness of PNPM-MP.

(11)

penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Efektivitas Program Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus: Persepsi Masyarakat Miskin Terhadap Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan di Kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso)”. Skripsi ini disusun bertujuan untuk menyelesaikan pendidikan strata satu (S1) pada Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Jember.

Dalam penyusunan hingga terselesaikannya skripsi ini, tentunya tak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis pada kesempatan ini menyampaikan ungkapan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Dr. Teguh Hadi Prianto SE., M.Si dan Edy Santoso SE., M.Sc, selaku pembimbing I dan II yang dengan perhatian dan kesabarannya telah memberikan dorongan, bimbingan, dan sampai dengan selesainya penyusunan skripsi ini. 2. Bapak Dr. I Wayan Subagiarta SE., M.Si, selaku Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi

dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Jember.

3. Bapak Dr. M Fathorrazi SE., M.Si, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Jember.

4. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Jember yang telah memberikan ilmu kepada saya sampai akhir saya dapat menyelesaikan studi ini.

5. Seluruh karyawan dan staf Fakultas Ekonomi Universitas Jember yang memberikan waktunya demi kelancaran penelitian.

(12)

Kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso yang senantiasa membantu penulis dalam pencarian data dan memberikan informasi yang dibutuhkan.

9. Sahabatku (Yusuf Rendy, Henny Novika, Endy Rusmanhadi, Bebsy Jiwa Akbar, Inayatul, Khaerul yahya, Feri Marwanto, Septian Triyudana, Denny Andrian, Dody Rahmanto, Taufik Hidayat, Alvian, Gema Budiarto, Makhrus Afif, dan Pandu Setyo) yang selalu memberikan semangat dan dukungan.

10.Teman-teman seperjuangan IESP 2008 terima kasih telah menjadi teman baikku selama kuliah.

11.Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu oleh penulis yang telah membantu penyelesaian skripsi ini,

Dengan segala kemampuan dan pengetahuan serta pengalaman yang penulis miliki, maka disadari sepenuhnya skripsi ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat diharapkan.

Akhirnya, semoga skripsi ini memberikan manfaat dan guna bagi pembaca pada umumnya dan mahasiswa Fakultas Ekonomi pada khususnya.

(13)

HALAMAN PERSEMBAHAN………... iii

HALAMAN MOTTO……… iv

HALAMAN PERNYATAAN……….. v

HALAMAN PEMBIMBING.….………. vi

HALAMAN TANDA PERSETUJUAN SKRIPSI……… vii

HALAMAN PENGESAHAN……….. viii

ABSTRAK………. ix

ABSTRACT……….. x

PRAKATA………. xi

DAFTAR ISI………...……….. xiii

DAFTAR TABEL……… ... xvi

DAFTAR GAMBAR………...……… xviii DAFTAR LAMPIRAN……… xix

BAB.1.PENDAHULUAN………. 1

1.1Latar belakang………..………. 1

1.2Rumusan masalah……….. 5

1.3Tujuan penelitian……… 5

1.4Manfaat penelitian……….. 6

BAB.2.TINJAUAN PUSTAKA……….. 7

2.1 Landasan Teori………..………. 7

2.1.1 Teori Pembangunan……… 7

2.1.2 Konsep Kemiskinan ………... 7

2.1.3 Pemberdayaan Masyarakat..……….. 10

2.1.4 Konsep Persepsi……….… 12

(14)

2.2.2 Hipotesis Penelitian……….... 27

BAB.3.METODE PENELITIAN……….……….. 29

3.1 Jenis Penelitian…..……….…… 29

3.2 Jenis data……….…..………. 29

3.3 Metode Pengumpulan Data……….…..………... 30

3.4 Populasi dan Metode Pengambilan Sampel ……….……… 30

3.4.1 Populasi……….. 30

3.4.2 Metode Pengambilan Sampel ……….…….……. 30

3.5 Identifikasi Variabel dan Definisi Variabel……….…... 31

3.5.1 Identifikasi Variabel……….. 31

3.5.2 Definisi Variabel………... 31

3.6 Skala Pengukuran………...……….. 33

3.7 Uji Instrumen…………...……….. 34

3.7.1 Uji Validitas……….…….. 34

3.7.2 Uji Reliabilitas……….……….…….. 34

3.8 Metode Penelitian Data………..…… 35

3.8.1 Uji Asumsi SEM……….………..…. 35

3.8.2 Struktur Equation Modelling( SEM)………..…….……. 36

3.9 Kerangka Pemecahan Masalah……….……….…. 40

BAB.4. PEMBAHASAN ………..……..……… 43

4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian……….….... 43

4.1.1 Letak dan Keadaan geografis………..…….…… 43

4.1.2 Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Umur...…. 43

4.2 Deskriptif Hasil Penelitian……….………... 45

4.2.1 Deskriptif Karakteristik Responden……….………. 45

(15)

4.3.3 Uji Reliabilitas………..………. 55

4.4 Evaluasi Uji Asumsi SEM ……… 56

4.4.1 Uji Normalitas……… 56

4.4.2 Uji Multikolinearitas……….. 57

4.4.3 Uji Outliers………. 57

4.5 Hasil Analisis SEM………. 58

4.5.1 Uji Model………... 58

4.5.2 Uji Kausalitas………. 59

4.5.3 Pengaruh Antar Variabel Penelitian……… 61

4.6 Pembahasan……….... 64

4.6.1 Pengaruh Tahap Perencanaan Terhadap Kinerja Fasilitator….. 65

4.6.2 Pengaruh Tahap Pelaksanaan Terhadap Kinerja Fasilitator….. 65

4.6.3 Pengaruh Tahap Perencanaan terhadap Efektivitas PNPM-MP. 66 4.6.4 Pengaruh Tahap Pelaksanaan Terhadap Efektivitas PNPM-MP. 67 4.6.5 Pengaruh Kinerja Fasilitator Terhadap Efektivitas PNPM-MP.. 67

BAB.5. KESIMPULAN DAN SARAN……….. 68

5.1 Kesimpulan ………. 68

5.2 Saran……… 69

DAFTAR PUSTAKA……….……….. 70

(16)

Kecamatan Tegalampel Kabupaten bondowoso Thun 2009 –2011……… 4

2.1 Penelitian Sebelumnya………. 22

3.1 Uji Kesesuaian Model ………. 39

4.1 Komposisi Menurut Jenis kelamin di Kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso Tahun 2011……….. 44

4.2 Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur di Kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso Tahun 2011……… 44

4.3 Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin………...….. 45

4.4 Distribusi Responden Menurut umur………... 46

4.5 Distribusi Jawaban Responden Menurut Klasifikasi Tingkatan Skor Tentang Tahap Perencanaan……… 48

4.6 Distribusi Jawaban Responden Menurut Klasifikasi Tingkatan Skor Tentang Tahap Pelaksanaan………. 49

4.7 Distribusi Jawaban Responden Menurut Klasifikasi Tingkatan Skor Tentang Kinerja Fasilitator……….. 51

4.8 Distribusi Jawaban Responden Menurut Klasifikasi Tingkatan Skor Tentang Efektivitas PNPM Mandiri Pedesaan………. 52

4.9 Loading Factors (Λ) Pengukuran Variabel Eksogen……….. 54

4.10 Loading Factors (Λ) Pengukuran VariabelEndogen……….. 55

4.11 Rekapitulasi Hasil Uji Reliabilitas………... 56

4.12 Indeks Kesesuaian Model SEM... 58

4.13 Nilai Koefisien Jalur dan Pengujian Hipotesis……… 59

(17)
(18)
(19)

Lampiran 2 : Hasil Jawaban Responden Lampiran 3 : Hasil distribusi Responden

Lampiran 4 : Hasil Confimatory Factor Analysis Variabel Eksogen Lampiran 5 : Hasil Confimatory Factor Analysis Variabel Endogen Lampiran 6 : Hasil Uji Reliabilitas Data

Lampiran 7 : Hasil Uji SEM

(20)

BAB I. PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Pembangunan ekonomi di Indonesia saat ini sedang dihadapkan pada kenyataan yang masih luasnya tingkat kemiskinan terutama di pedesaan. Pada umumnya di negara yang berkembang seperti Indonesia ini masalah pendapatan rendah dan masalah kemiskinan merupakan masalah utama dalam pembangunan ekonomi. Dalam upaya meningkatkan pendapatan perkapita dari distribusi pendapatan merupakan dimensi yang perlu mendapat perhatian terutama untuk melihat tingkat pendapatan dan pembagian pendapatan diantara warga masyarakatnya. Aspek ini terkait dengan masih besarnya rakyat miskin di Indonesia, yang terutama di pedesaan.

Salah satu tujuan pembangunan nasional adalah meningkatkan kinerja perekonomian agar mampu menciptakan lapangan kerja dan merata kehidupan yang layak bagi seluruh rakyat yang pada gilirannya akan mewujudkan kesejahteraan penduduk Indonesia. Salah satu sasaran pembangunan nasional adalah menurunkan tingkat kemiskinan. Permasalahan kemiskinan memang merupakan permasalahan yang kompleks dan bersifat multidimensional. Oleh karena itu, upaya pengentasan kemiskinan harus dilakukan secara komprehensif, mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat, dan dilaksanakan secara terpadu (LEMHANNAS, 1997:17-18).

(21)

dihadapkan pada kenyataan yang masih luasnya tingkat kemiskinan terutama di pedesaan.

Kemiskinan juga merupakan sebuah hubungan sebab akibat (kausalitas melingkar) artinya tingkat kemiskinan yang tinggi terjadi karena rendahnya pendapatan perkapita, pendapatan perkapita yang rendah terjadi karena investasi perkapita yang juga rendah. Tingkat investasi perkapita yang rendah disebabkan oleh permintaan domestik perkapita yang rendah juga dan hal tersebut terjadi karena tingkat kemiskinan yang tinggi dan demikian seterusnya, sehingga membentuk sebuah lingkaran kemiskinan sebagai sebuah hubungan sebab dan akibat (teori Nurkse) dan telah dibuktikan untuk contoh kasus lingkar kemiskinan di Indonesia (Sumanta, dalam Apriyanti, 2011:1-2).

Sebuah studi tentang kemiskinan mengemukakan sebuah kesimpulan menarik mengenai mengapa berbagai program pemerintah tidak mengubah kondisi kemiskinan yaitu banyaknya penduduk yang membutuhkan bantuan tetapi tidak tersentuh, sebab penentuan kelompok sasaran program pengentasan kemiskinan sangat dipengaruhi oleh kepentingan aparat pelaksana, sehingga yang paling membutuhkan bantuan sering terpinggirkan. Data tersedia pada umumnya hanya menjelaskan indikasi program-program yang telah dan akan dilaksanakan tidak dapat mengungkapkan efektivitas penggunaan dalam mengatasi kemiskinan di daerah atau dalam suatu kelompok masyarakat tertentu. Serta berapa banyak penduduk miskin yang telah diangkat derajat hidupnya melalui program tersebut. Hal ini menunjukkan secara umum masih banyaknya masalah dalam pelaksanaan program pengentasan kemiskinan di Indonesia, sehingga program tersebut belum dapat dikatakan efektif (Yunus, 2009:59).

(22)

pembangunan, sedangkan kemandirian terwujud dari kemampuan swadaya dan gotong-royong masyarakat untuk mencukupi kebutuhan sendiri melalui pendayagunaan segenap potensi baik sumber daya alam, sumber daya manusia, kelembagaan masyarakat, modal finansial, maupun modal sosial yang ada.

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri merupakan salah satu program pembangunan yang berfungsi untuk meningkatkan efektivitas penanggulangan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja di tingkat pedesaan dan perkotaan yang diluncurkan oleh pemerintah pada tahun 2007. Melalui PNPM Mandiri dirumuskan kembali mekanisme upaya penanggulangan kemiskinan yang melibatkan unsur masyarakat, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga tahap hasil. PNPM Mandiri dilaksanakan melalui proses pembangunan partisipatif, kesadaran kritis, dan kemandirian masyarakat, terutama masyarakat miskin, yang ditumbuhkembangkan sehingga mereka bukan lagi obyek melainkan sebagai subyek upaya penanggulangan kemiskinan (DEPDAGRI, 2008:3).

Pelaksanaan PNPM Mandiri di Indonesia dimulai dengan Program Pengembangan Kecamatan (PPK) sebagai dasar pengembangan pemberdayaan masyarakat. Tahun 2008 diperluas dengan melibatkan Program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW) serta diprioritaskan pada desa-desa tertinggal, atau disebut juga dengan PNPM Mandiri Pedesa-desaan.

(23)

Kecamatan Tegalampel merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Bondowoso yang memiliki jumlah keluarga miskin yang cukup besar. Dilihat dari tingkat kesejahteraan masyarakat, Kecamatan Tegalampel menghadapi persoalan yang cukup kompleks berkenaan dengan kemiskinan atau penyandang masalah kesejahteraan sosial. Sebagai berikut merupakan klasifikasi rumah tangga miskin dan rumah tangga pada masing-masing desa tahun 2009 – 2010 di Kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso.

Tabel 1.1 Jumlah Rumah Tangga dan Rumah Tangga Miskin Menurut Klasifikasi

Kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso Tahun 2009 – 2011.

*RTM (Rumah Tangga Miskin), RT (Rumah Tangga) Sumber: BPS Kab Bondowoso, diolah Februari 2013

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa masalah kesejahteraan sosial penduduk masing-masing desa merupakan masalah yang perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah dan masyarakat. Sehingga program pemberdayaan masyarakat seperti PNPM Mandiri Pedesaan sangat dibutuhkan, dengan maksud agar tujuan dari program tersebut dapat terlaksana. PNPM Mandiri Pedesaan di Kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso dimulai pada tahun 2009.

Dari alasan tersebut di atas, maka penelitian ini dilakukan dalam rangka mencari tahu sejauh mana Efektivitas Program Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus pada persepsi masyarakat miskin terhadap PNPM Mandiri Pedesaan di Kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso).

Desa 2009 2010 2011

RTM RT RTM RT RTM RT

Karanganyar 807 1309 769 1760 769 1760 Sekarputih 614 1424 645 1610 645 1610 Tegalampel 345 746 429 597 429 597 Mandiro 900 1238 984 1284 984 1284 Tanggulangin 576 812 449 815 449 815 Klabang 1190 979 960 1025 960 1025 Klabang Agung - - 225 324 225 324

Purnama - - 854 876 854 876

(24)

1.2 Rumusan Masalah

Upaya mempercepat penanggulangan kemiskinan di wilayah perdesaan salah satunya melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas program pemberdayaan masyarakat (studi kasus: persepsi masyarakat miskin terhadap PNPM Mandiri Pedesaan di Kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso).

Berdasarkan latar belakang tersebut maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah:

a. Apakah tahap perencanaan berpengaruh terhadap kinerja fasilitator pada PNPM Mandiri Pedesaan Kecamatan tegalampel Kabupaten Bondowoso ? b. Apakah tahap pelaksanaan berpengaruh terhadap kinerja fasilitator pada PNPM

Mandiri Pedesaan Kecamatan tegalampel Kabupaten Bondowoso ?

c. Apakah tahap perencanaan berpengaruh terhadap efektivitas PNPM Mandiri Pedesaan di Kecamatan tegalampel Kabupaten Bondowoso ?

d. Apakah tahap pelaksanaan berpengaruh terhadap efektivitas PNPM Mandiri Pedesaan di Kecamatan tegalampel Kabupaten Bondowoso ?

e. Apakah kinerja fasilitator berpengaruh terhadap efektivitas PNPM Mandiri Pedesaan di Kecamatan tegalampel Kabupaten Bondowoso ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah : a. Untuk menganalisis pengaruh tahap perencanaan terhadap kinerja fasilitator

pada PNPM Mandiri Pedesaan Kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso;

b. Untuk menganalisis pengaruh tahap pelaksanaan terhadap kinerja fasilitator pada PNPM Mandiri Pedesaan Kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso;

(25)

d. Untuk menganalisis pengaruh tahap pelaksanaan terhadap efektivitas PNPM Mandiri Pedesaan di Kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso;

e. Untuk menganalisis pengaruh kinerja fasilitator terhadap efektivitas PNPM Mandiri Pedesaan di Kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso.

1.4 Manfaat Penelitian

a. Bagi Umum sebagai referensi bagi peneliti-peneliti lain terutama yang memiliki objek penelitian yang sama, serta pihak-pihak yang terkait dengan bidang ini;

b. Bagi ilmu pengetahuan sebagai sarana pengembangan pengetahuan ilmiah dalam rangka meningkatkan ilmu pengetahuan di bidang ekonomi khususnya masalah pemberdayaan masyarakat dalam menanggulangi kemiskinan; c. Bagi objek diharapkan dengan penelitian ini dapat memberikan solusi

(26)

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Teori Pembangunan a. Aliran Klasik

Menurut Adam Smith, dalam berlangsungnya perkembangan ekonomi diperlukan adanya spesialisasi. Spesialisasi dalam proses produksi akan dapat meningkatkan ketrampilan tenaga kerja, dapat mendorong ditemukannya alat-alat atau mesin baru dan akhirnya dapat mempercepat dan meningkatkan produksi.

b. Aliran Post-Keynesian

Harrod dan Domar menekankan pentingnya peranan akumulasi kapital dalam proses pertumbuhan. Hal ini bahwa akumulasi kapital itu mempunyai peranan ganda, yaitu menimbulkan pendapatan dan menaikkan kapasitas produksi dengancara memperbesar persediaan kapital. Pembentukan kapital bila tidak dibarengi dengan kenaikan pendapatan yang sudah ada akan menganggurkan kapital dan tenaga. Karena itu kenaikan pendapatan diperlukan utuk menghindari alat-alat kapital dan pengangguran tenaga kerja. Dengan demikian tujuan teori perkembangan ekonomi ialah menemukan keadaan-keadaan yang dibutuhkan untuk mempertahankan tingkat pengerjaan penuh dalam jangka waktu lama, yaitu tingkat perkembangan pendapatan yang dibutuhkan untuk memelihara pendapatan pada tingkat pengerjaan penuh. (Irawan dan Suparmoko, 1990:17-22)

2.1.2 Konsep Kemiskinan

(27)

pangan, papan, kesehatan, dan pendidikan. Dimensi ekonomi dapat diukur dengan nilai rupiah meskipun harganya selalu berubah ubah setiap tahunnya tergantung pada tingkat inflasi rupiah (Ellies, 1994:132).

Menurut Todaro (dalam Chriswardani, 2009:5), salah satu generalisasi (anggapan sederhana) yang terbilang paling sahih (valid) mengenai penduduk miskin adalah bahwasanya mereka pada umumnya bertempat tinggal di daerah-daerah pedesaan, dengan mata pencaharian pokok di bidang pertanian dan kegiatan kegiatan lainnya yang erat hubungannya dengan sektor ekonomi tradisional. Pengertian kemiskinan itu sangat luas, dimana mengelompokkan ukuran kemiskinan menjadi 5 macam, yaitu :

a. Kemiskinan Absolut, yang diartikan sebagai suatu keadaan dimana tingkat pendapatan dari seseorang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pokoknya seperti sandang, pangan, pemukiman, kesehatan dan pendidikan. Ukuran ini dikaitkan dengan batasan pada kebutuhan pokok atas kebutuhan dasar minimum yang memungkinkan seseorang dapat hidup secara layak. Seseorang yang mempunyai pendapatan dibawah kebutuhan minimum, maka orang tersebut dikatakan miskin;

b. Kemiskinan Relatif, yang berkaitan dengan distribusi pendapatan yang mengukur ketidakmerataan. Dalam kemiskinan relatif ini, seseorang yang telah mampu memenuhi kebutuhan minimumnya belum tentu disebut tidak miskin. Kondisi seseorang atau keluarga apabila dibandingkan dengan masyarakat sekitarnya mempunyai pendapatan yang lebih rendah, maka orang atau keluarga tersebut berada dalam keadaan miskin;

c. Kemiskinan natural adalah keadaan miskin karena dari awalnya memang miskin. Kelompok masyarakat tersebut menjadi miskin karena tidak memiliki sumberdaya yang memadai baik sumberdaya alam, sumberdaya manusia maupun sumberdaya pembangunan, atau kalaupun mereka ikut serta dalam pembangunan, mereka hanya mendapatkan imbalan pendapatan yang rendah; d. Kemiskinan kultural mengacu pada sikap hidup seseorang atau kelompok

(28)

Kelompok masyarakat seperti ini tidak mudah untuk diajak berpartisipasi dalam pembangunan, tidak mau berusaha untuk memperbaiki dan merubah tingkat kehidupannya. Akibatnya tingkat pendapatan mereka rendah menurut ukuran yang dipakai secara umum;

e. Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang disebabkan oleh faktor-faktor buatan manusia seperti kebijakan ekonomi yang tidak adil, distribusi aset produksi yang tidak merata, korupsi dan kolusi serta tatanan ekonomi dunia yang cenderung menguntungkan kelompok masyarakat tertentu.

Menurut Badan Pusat Statistik (dalam Laksana, 2012:12) kriteria untuk menentukan keluarga/rumah tangga dikategorikan miskin apabila sebagai berikut:

a. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m2 per orang; b. Jenis lantai tempat tinggal dari tanah / bambu / kayu murahan;

c. Jenis dinding tempat tinggal dari bambu / bersama-sama dengan rumah tangga lain;

d. Tidak memiliki fasilitas buang air besar / bersama-sama dengan rumah tangga lain;

e. Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik;

f. Sumber air minum berasal dari sumur / mata air tidak terlindung / sungai / air hujan;

g. Bahan bakar memasak sehari-hari adalah kayu bakar / arang / minyak tanah; h. Hanya mengkonsumsi daging / susu / ayam satu kali dalam seminggu; i. Hanya memebeli satu stel pakaian baru dalam setahun;

j. Hanya sanggup makan sebanyak satu / dua kali dalam sehari;

k. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas / poliklinik;

l. Sumber penghasilan rumah tangga adalah : petani dengan luas lahan 500 m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan dan pekerjaan lainnya dengan pendapatan di bawah Rp 600.000,00 per bulan;

(29)

n. Tidak memiliki tabungan / barang yang mudah dijual dengan nilai minimal Rp 500.000,00 seperti sepeda motor (non-kredit), emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.

2.1.3 Pemberdayaan Masyarakat

Menurut Suharto (dalam Swedianti, 2011a:5) mendefinisikan pemberdayaan masyarakat sebagai suatu proses dimana masyarakat, terutama mereka yang miskin sumber daya, kaum perempuan, dan kelompok terabaikan lainnya, didukung agar mampu meningkatkan kesejahteraannya secara mandiri. Dalam proses ini, lembaga berperan sebagai fasilitator yang mendampingi proses pemberdayaan masyarakat. Pada prinsipnya masyarakatlah yang menjadi aktor dan penentu pembangunan. Usulan-usulan masyarakat merupakan dasar bagi program pembangunan lokal, regional, bahkan menjadi titik pijak bagi program nasional.

Pemberdayaan pada dasarnya merupakan suatu proses yang dijalankan dengan kesadaran dan partisipasi penuh dari para pihak untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas masyarakat sebagai sumber daya pembangunan agar mampu mengenali permasalahan yang dihadapi dalam mengembangkan dan menolong diri menuju keadaan yang lebih baik, mampu menggali dan kelompoknya, serta mampu mengeksistensikan diri secara jelas dengan mendapat manfaat darinya. Pemberdayaan adalah sebuah ”proses menjadi”, bukan ”proses instan”. Sebagai proses, pemberdayaan mempunyai tiga tahapan yaitu penyadaran, pengkapasitasan, dan pendayaan.

(30)

Tahap pengkapasitasan bertujuan untuk memampukan masyarakat miskin sehingga mereka memiliki keterampilan untuk mengelola paluang yang akan diberikan. Tahap ini dilakukan dengan memberikan pelatihan-pelatihan, lokakaya dan kegiatan sejenis yang bertujuan untuk meningkatkan life skill dari masyarakat miskin. Pada tahap ini sekaligus dikenalkan dan dibukakan akses kepada sumberdaya kunci yang berada di luar komunitasnya sebagai jembatan mewujudkan harapan dan eksistessi dirinya. Selain memampukan masyarakat miskin baik secara individu maupun kelompok, proses memampukan juga menyangkut organisasi dan sistem nilai. Pengkapasitasan organisasi melalui restrukturisasi organiasasi pelaksana sedangkan pengkapasitasan sistem nilai terkait dengan ”aturan main” yang akan digunakan dalam mengelola peluang.

Pada tahap pendayaan, masyarakat miskin diberikan peluang yang disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki melalui partisipasi aktif dan berkelanjutan yang ditempuh dengan memberikan peran yang lebih besar secara bertahap sesuai dengan kapasitas dan kapabilitasnya, diakomodasi aspirasinya serta dituntun untuk melakukan self evaluation terhadap pilihan dan hasil pelaksanaan atas pilihan.

Konsep pemberdayaan masyarakat dapat dikembangkan sebagai mekanisme perencanaan dan pembangunan yang bersifat bottom up yang melibatkan peran serta masyarakat dalam berbagai kegiatan perencanaan dan pembangunan. Dengan demikian, program penanggulangan kemiskinan disusun sesuai dengan yang dibutuhkan oleh masyarakat yang berarti dalam penyusunan program penanggulangan kemiskinan dilakukan penentuan prioritas berdasarkan besar kecilnya tingkat kepentingan sehingga implementasi program akan terlaksana secara efektif dan efisien.

(31)

usaha sendiri tanpa tergantung pada orang lain. Dalam pemandirian masyarakat miskin hendaknya tidak mengabaikan potensi dan kapasitas yang tersisa dalam diri maupun kelompoknya serta menghindarkan diri dari budaya cepat puas dan merasa cukup. Dalam pemandirian masyarkat miskin diajak untuk mengembangkan jejaring komunikasi sehingga mereka bisa menambah wawasan dan selalu diingatkan untuk memiliki pikiran yang maju berwawasan jauh ke depan untuk menjangkau kondisi yang lebih baik.

2.1.4 Persepsi

Persepsi adalah suatu proses tentang petunjuk petunjuk inderawi (sensory) dan pengalaman masa lampau yang relevan diorganisasikan untuk memberikan kepada kita gambaran yang terstruktur dan bermakna pada suatu situasi tertentu terhadap lingkungan oleh seorang individu. Dengan kata lain persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi kedalam otak manusia. Persepsi merupakan keadaan integrated dari individu terhadap stimulus yang diterimanya. Apa yang ada dalam diri individu, pikiran, perasaan, pengalaman-pengalaman individu akan ikut aktif berpengaruh dalam proses persepsi (www.wikipedia.org/wiki/persepsi).

Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri individu, yang mencakup beberapa hal antara lain :

a. Fisiologis. Informasi masuk melalui alat indera, selanjutnya informasi yang diperoleh ini akan mempengaruhi dan melengkapi usaha untuk memberikan arti terhadap lingkungan sekitarnya. Kapasitas indera untuk mempersepsi pada tiap orang berbeda-beda sehingga interpretasi terhadap lingkungan juga dapat berbeda;

(32)

c. Minat. Persepsi terhadap suatu obyek bervariasi tergantung pada seberapa banyak energi atau perceptual vigilance yang digerakkan untuk mempersepsi. Perceptual vigilance merupakan kecenderungan seseorang untuk memperhatikan tipe tertentu dari stimulus atau dapat dikatakan sebagai minat; d. Kebutuhan yang searah. Faktor ini dapat dilihat dari bagaimana kuatnya seseorang individu mencari obyek-obyek atau pesan yang dapat memberikan jawaban sesuai dengan dirinya;

e. Pengalaman dan ingatan. Pengalaman dapat dikatakan tergantung pada ingatan dalam arti sejauh mana seseorang dapat mengingat kejadian-kejadian lampau untuk mengetahui suatu rangsang dalam pengertian luas;

f. Suasana hati. Keadaan emosi mempengaruhi perilaku seseorang, mood ini menunjukkan bagaimana perasaan seseorang pada waktu yang dapat mempengaruhi bagaimana seseorang dalam menerima, bereaksi dan mengingat (Gibson, 2000:55).

2.1.5 Efektivitas PNPM Mandiri Pedesaan

Sumaryadi (2005:105) berpendapat bahwa organisasi dapat dikatakan efektif bila organisasi tersebut dapat sepenuhnya mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Efektivitas umumnya dipandang sebagai tingkat pencapaian tujuan operatif dan operasional. Efektivitas merupakan salah satu dimensi dari produktivitas, yaitu mengarah kepada pencapaian untuk kerja yang maksimal, yaitu pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas dan waktu. Suatu program atau kegiatan, yang dinilai efektif apabila output yang dihasilkan dapat memenuhi tujuan yang diharapkan. Dalam teori sistem, suatu organisasi dipandang sebagai satu dari sejumlah elemen yang saling tergantung. Aliran input dan output merupakan titik awal dalam menggambarkan suatu organisasi.

Tingkat efektivitas pelaksanaan PNPM Mandiri Pedesaan dapat diukur melalui sebagai berikut:

(33)

b. Tahap proses/pelaksanaan meliputi gotong royong, teknologi, ketepatan penggunaan dana dan tujuan program, pengawasan pengadaan barang dan jasa dan waktu pelaksanaan kegiatan;

c. Peran Fasilitator meliputi sebagai narasumber, sebagai pelatih, sebagai mediator, sebagai penggerak, dan komunikasi.

Sedangkan tujuan akhir yang diharapkan oleh PNPM Mandiri Pedesaan meliputi Kemampuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, kemampuan meningkatkan keswadayaan masyarakat dalam mendukung PNPM Madiri Pedesaan, kemampuan memperluas kesempatan kerja serta kemampuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Www.Pnpm-Mandiri.Org).

Sehubungan dari penjelasan tersebut maka efektivitas adalah menggambarkan seluruh siklus perencanaan, proses/pelaksanaan, hasil dan peran Fasilitator yang mengacu pada hasil guna daripada suatu program atau kegiatan yang menyatakan sejauhmana tujuan (kualitas, kuantitas, dampak dan waktu) telah dicapai, serta ukuran berhasil tidaknya suatu organisasi mencapai tujuannya dan mencapai target-targetnya.

Menurut Uphoff, Cohen, dan Goldsmith (dalam Swedianti, 2011b:5-6) mendefinisikan partisipasi sebagai keterlibatan aktif masyarakat dalam proses pengambilan keputusan tentang apa yang akan dilakukan dan bagaimana cara kerjanya, keterlibatan masyarakat dalam keterlibatan program dan pengambilan keputusan yang telah ditetapkan melalui sumbangan sumber daya atau bekerja sama dalam suatu organisasi, keterlibatan masyarakat menikmati hasil dari pembangunan, serta dalam evaluasi pada pelaksanaan program.

(34)

Bentuk partisipasi dapat dikelompokkan menjadi 2 jenis, yaitu bentuk partisipasi yang diberikan dalam bentuk nyata (memiliki wujud) dan juga bentuk partisipasi yang diberikan dalam bentuk tidak nyata (abstrak). Bentuk partisipasi yang nyata misalnya uang, harta benda, tenaga dan keterampilan sedangkan bentuk partisipasi yang tidak nyata adalah partisipasi buah pikiran, partisipasi sosial, pengambilan keputusan dan partisipasi representatif. Partisipasi uang adalah bentuk partisipasi untuk memperlancar usaha-usaha bagi pencapaian kebutuhan masyarakat yang memerlukan bantuan. Partisipasi harta benda adalah partisipasi dalam bentuk menyumbang harta benda, biasanya berupa alat-alat kerja atau perkakas. Partisipasi tenaga adalah partisipasi yang diberikan dalam bentuk tenaga untuk pelaksanaan usaha-usaha yang dapat menunjang keberhasilan suatu program. Sedangkan partisipasi keterampilan, yaitu memberikan dorongan melalui keterampilan yang dimilikinya kepada anggota masyarakat lain yang membutuhkannya. Dengan maksud agar orang tersebut dapat melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan kesejahteraan sosialnya.

Menurut Uphoff, Cohen, dan Goldsmith (dalam Swedianti, 2011c:6-7) membagi partisipasi ke dalam beberapa jenis tahapan, yaitu:

a. Tahap perencanaan, ditandai dengan keterlibatan masyarakat dalam kegiatankegiatan yang merencanakan program pembangunan yang akan dilaksanakan di desa, serta menyusun rencana kerjanya;

b. Tahap pelaksanaan, yang merupakan tahap terpenting dalam pembangunan, sebab inti dari pembangunan adalah pelaksanaannya. Wujud nyata partisipasi pada tahap ini dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu partisipasi dalam bentuk sumbangan pemikiran, bentuk sumbangan materi, dan bentuk keterlibatan sebagai anggota proyek;

(35)

2.1.6 Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pedesaan adalah program nasional penanggulangan kemiskinan terutama yang berbasis pemberdayaan masyarakat. Pengertian yang terkandung mengenai PNPM Mandiri adalah :

a. PNPM Madiri adalah program nasional dalam wujud kerangka kebijakan sebagai dasar dan acuan pelaksanaan program-program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat. PNPM Mandiri dilaksanakan melalui harmonisasi dan pengembangan sistem serta mekanisme dan prosedur program, penyediaan pendampingan dan pendanaan stimulant untuk mendorong prakarsa dan inovasi masyarakat dalam upaya penanggulangan kemiskinan yang berkelanjutan;

b. Pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk menciptakan/meningkatkan kapasitas masyarakat, baik secara individu maupun berkelompok, dalam memecahkan berbagai persoalan terkait upaya peningkatan kualitas hidup, kemandirian dan kesejahteraannya. Pemberdayaan masyarakat memerlukan keterlibatan yang besar dari perangkat pemerintah daerah serta berbagai pihak untuk memberikan kesempatan dan menjamin keberlanjutan berbagai hasil yang dicapai.

(http://id.wikipedia.org/wiki/PNPM_Mandiri_Perdesaan, diakses pada tanggal 25/01/2013)

Visi PNPM Mandiri Pedesaan dalah tercapainya kesejahteraan dan kemandirian masyarakat miskin pedesaan. Kesejahteraan berarti terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat. Kemandirian berarti mampu mengorganisir diri untuk memobilisasi sumber daya di luar lingkungannya, serta mengelola sumber daya tersebut untuk mengatasi masalah kemiskinan.

Misi PNPM Mandiri Pedesaan adalah:

(36)

d. Peningkatan kualitas dan kuantitas prasarana sarana sosial dasar dan ekonomi masyarakat.

Pengembangan jaringan kemitraan dalam pembangunan Dalam rangka mencapai visi dan misi PNPM Mandiri Pedesaan, strategi yang dikembangkan PNPM Mandiri Pedesaan yaitu menjadikan rumah tangga miskin (RTM) sebagai kelompok sasaran, menguatkan sistem pembangunan partisipatif, serta mengembangkan kelembagaan kerjasama antar desa. Berdasarkan visi, misi, dan strategi yang dikembangkan, maka PNPM Mandiri Pedesaan lebih menekankan pentingnya pemberdayaan sebagai pendekatan yang dipilih.

Tujuan Umum PNPM Mandiri Perdesaan adalah meningkatnya kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin di perdesaan dengan mendorong kemandirian dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan pembangunan.

Tujuan Khususnya meliputi:

a. Meningkatkan partisipasi seluruh masyarakat, khususnya masyarakat miskin dan atau kelompok perempuan, dalam pengambilan keputusan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan pelestarian pembangunan;

b. Melembagakan pengelolaan pembangunan partisipatif dengan mendayagunakan sumber daya;

c. Mengembangkan kapasitas pemerintahan desa dalam memfasilitasi pengelolaan pembangunan partisipatif;

d. Menyediakan prasarana sarana dasar dan ekonomi yang diprioritaskan oleh masyarakat;

e. Melembagakan pengelolaan dana bergulir;

f. Mendorong terbentuk dan berkembangnya Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD);

g. Mengembangkan kerja sama antar pemangku kepentingan dalam upaya penanggulangan kemiskinan perdesaan.

(37)

a. Transparansi dan Akuntabel. Masyarakat harus memiliki akses yang memadai terhadap segala informasi dan proses pengambilan keputusan, sehingga pengelolaan kegiatan dapat dilaksanakan secara terbuka dan dipertanggung-gugatkan, baik secara moral, teknis, legal maupun administratif;

b. Desentralisasi. Kewenangan pengelolaan kegiatan pembangunan sektoral dan kewilayahan dilimpahkan kepada Pemerintah Daerah atau masyarakat, sesuai dengan kapasitasnya;

c. Keberpihakan pada Orang/ Masyarakat Miskin. Semua kegiatan yang dilaksanakan mengutamakan kepentingan dan kebutuhan masyarakat miskin dan kelompok masyarakat yang kurang beruntung;

d. Otonomi. Masyarakat diberi kewenangan secara mandiri untuk berpartisipasi dalam menentukan dan mengelola kegiatan pembangunan secara swakelola; e. Partisipasi/ Pelibatan Masyarakat. Masyarakat terlibat secara aktif dalam

setiap proses pengambilan keputusan pembangunan dan secara gotong-royong menjalankan pembangunan;

f. Prioritas. Pemerintah dan masyarakat harus memprioritaskan pemenuhan kebutuhan untuk pengentasan kemiskinan, kegiatan mendesak dan bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya masyarakat, dengan mendayagunakan secara optimal berbagai sumberdaya yang terbatas;

g. Kesetaraan dan Keadilan Gender. Laki-laki dan perempuan mempunyai kesetaraan dalam perannya di setiap tahap pembangunan dan dalam menikmati secara adil manfaat kegiatan pembangunan tersebut;

h. Kolaborasi. Semua pihak yang berkepentingan dalam penanggulangan kemiskinan didorong untuk mewujudkan kerjasama dan sinergi antar-pemangku kepentingan dalam penanggulangan kemiskinan;

i. Keberlanjutan. Setiap pengambilan keputusan harus mempertimbangkan kepentingan peningkatan kesejahteraan masyarakat, tidak hanya untuk saat ini tetapi juga di masa depan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

(38)

program adalah pembangunan yang berbasis masyarakat dengan cara sebagai berikut :

a. Menggunakan kecamatan sebagai lokus program untuk mengharmonisasikan perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian program;

b. Memposisikan masyarakat sebagai penentu/pengambil kebijakan dan pelaku utama pembangunan pada tingkat lokal;

c. Mengutamakan nilai-nilai universal dan budaya lokal dalam proses pembangunan partisipatif;

d. Menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang sesuai dengan karakteristik sosial, budaya dan geografis;

e. Melalui proses pemberdayaan yang terdiri atas pembelajaran, kemandirian, dan keberlanjutan.

Program penanggulangan kemiskinan yang berbasis pemberdayaan masyarakat dapat dikategorikan sebagai berikut:

a. PNPM-Inti: terdiri dari program/kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis kewilayahan, yang mencakup PPK, P2KP, PISEW, dan P2DTK;

b. PNPM-Penguatan: terdiri dari program-program pemberdayaan masyarakat berbasis sektoral, kewilayahan, serta khusus untuk mendukung penanggulangan kemiskinan yang pelaksanaannya terkait pencapaian target tertentu. Pelaksanaan programprogram ini di tingkat komunitas mengacu pada kerangka kebijakan PNPM Mandiri.

Ruang lingkup kegiatan PNPM-Mandiri pada dasarnya terbuka bagi semua kegiatan penanggulangan kemiskinan yang diusulkan dan disepakati masyarakat meliputi:

a. Penyediaan dan perbaikan prasarana/sarana lingkungan permukiman, sosial dan ekonomi secara padat karya;

(39)

c. Kegiatan terkait peningkatan kualitas sumberdaya manusia, terutama yang bertujuan mempercepat pencapaian target MDGs;

d. Peningkatan kapasitas masyarakat dan pemerintahan lokal melalui penyadaran kritis, pelatihan ketrampilan usaha, manajemen organisasi dan keuangan, serta penerapan tata kepemerintahan yang baik.

2.2 Tinjauan Hasil Penelitian Sebelumnya

Hasil penelitian Rahmantika (2011) tentang “Analisis Efektifitas Program Pinjaman Dana Bergulir Pada Unit Pengelola Kegiatan (Upk) Pnpm Mandiri Dan Kelompok Simpan Pinjam Perempuan (Spp) Di Kecamatan Situjuh Limo Nagari Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2008-2010” dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, menunjukkan bahwa Efektifitas Pengelolaan dana bergulir dipengaruhi oleh 3 hal yaitu Unit Pengelola Kegiatan (UPK) sebagai pengelola dan penyalur seluruh dana bergulir di tingkat kecamatan, aturan dan prosedur atau mekanisme perguliran, serta pemanfaat langsung berupa kelompok peminjam sebagai pengelola dan penyalur dana bergulir kepada anggotanya. Efektifitas pengelolaan dana bergulir oleh Unit Pengelola kegiatan dapat dilihat dari kinerja UPK tahun 2008-2010. Secara umum kinerja UPK semakin membaik dari tahun ketahun. Terutama dengan tidak adanya Kelompok peminjam yang melakukan tunggakan. Efektifitas Prosedur mekanisme perguliran, yang didapat dari kuesioner yang dibagikan kepada pemanfaat dana bergulir, dianggap sudah efektif baik persepsi umum terhadap PNPM, proses seleksi, proses penyaluran dan pencairan dana serta proses pendampingan.

(40)

pendidikan, tingkat pendapatan, persepsi, dan kepemimpinan. Terdapat hubungan antara tingkat partisipasi masyarakat dengan efektivitas program PEB PNPM-MP. Efektivitas program PEB PNPM-MP mencakup peningkatan pendapatan masyarakat dan pengembangan modal sosial yang ada di masyarakat. Modal sosial yang ada di masyarakat terbagi menjadi tiga, yaitu tingkat kepercayaan, tingkat jaringan sosial, dan tingkat kerjasama. Setelah masyarakat mengikuti program PEB PNPM-MP, sebagian besar masyarakat mengalami peningkatan pendapatan dan pengembangan modal sosial.

Berdasarkan penelitian Nanik (2011) tentang “Dampak PNPM-MP Bidang Simpan Pinjam Perempuan Terhadap Rumah Tangga Miskin di Kecamatan Jelbuk Kabupaten Jember, tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh faktor bantuan modal dan faktor kinerja tenaga pendamping terhadap faktor pemberdayaan keluarga miskin pada PNPM; pengaruh faktor bantuan modal dan faktor kinerja tenaga pendamping terhadap faktor kesejahteraan masyarakat; serta pengaruh pemberdayaan miskin terhadap faktor kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Jelbuk Kabupaten Jember. Model analisis yang digunakan adalah analisis Model Persamaan Struktural (Structural Equation Modeling atau SEM). Hasil penelitian bahwa faktor bantual modal dan faktor kinerja tenaga pendamping berpengaruh positif dan signifikan terhadap faktor pemberdayaan masyarakat miskin pada PNPM; bantuan modal dan faktor kinerja tenaga pendamping berpengaruh positif dan signifikan terhadap faktor kesejahteraan masyarakat; serta faktor pemberdayaan miskin berpengaruh positif dan signifikan terhadap faktor kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Jelbuk Kabupaten Jember.

(41)

pemberdayaan masyarakat terhadap faktor kesejahteraan masyarakat pada Program Pengembangan Kecamatan (PPK) di Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember. Model analisis yang digunakan adalah Analisis Model persamaan Struktural (Structural Equation Modeling atau SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor bantuan langsung masyarakat dan faktor kinerja tenaga pendamping berpengaruh signifikan dan positif terhadap faktor pemberdayaan masyarakat pada Program Pengembangan Kecamatan (PPK); faktor bantuan langsung masyarakat dan faktor kinerja tenaga pendamping berpengaruh signifikan dan positif terhadap kesejahteraan masyarakat; serta pengaruh faktor pemberdayaan masyarakat berpengaruh signifikan dan positif terhadap faktor kesejahteraan masyarakat pada Program Pengembangan Kecamatan (PPK) di Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember.

[image:41.595.113.510.593.749.2]

Menurut penelitian Andari (2012) tentang “Pengaruh Pemberdayaan Ekonomi Dalam PNPM Mandiri Perkotaan Terhadap Kemiskinan di Kecamatan Lumajang Kabupaten Lumajang, dengan model analisis yang digunakan adalah Analisis Model persamaan Struktural (Structural Equation Modeling atau SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian modal berpengaruh terhadap pemberdayaan keluarga miskin. Variabel ketepatan program berpengaruh terhadap pemberdayaan masyarakat miskin, variabel pemberian modal, ketepatan program, dan pemberdayaan ekonomi mempunyai pengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat miskin.

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu Nama & Judul Variabel Metode

Analisis Hasil Rahmantika. (Analisis Efektifitas Program Pinjaman Dana Bergulir Pada Unit Pengelola Kegiatan (Upk) Pnpm Mandiri Dan Kelompok Simpan Pinjam Perempuan (Spp) Di Kecamatan

Efektivitas dana bergulir, kinerja UPK, mekanisme perguliran Deskriptif Kualitatif

1. Efektifitas Pengelolaan dana bergulir dipengaruhi oleh 3 hal yaitu Unit Pengelola Kegiatan (UPK) sebagai pengelola dan penyalur seluruh dana bergulir di tingkat

(42)

Nama & Judul Variabel Metode Analisis

Hasil

Situjuh Limo Nagari Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2008-2010)

pemanfaat langsung berupa kelompok peminjam sebagai pengelola dan penyalur dana bergulir kepada anggotanya;

2. Efektifitas pengelolaan dana bergulir oleh Unit Pengelola kegiatan dapat dilihat dari kinerja UPK tahun 2008-2010. Secara umum kinerja UPK semakin membaik dari tahun ketahun. Terutama dengan tidak adanya Kelompok peminjam yang melakukan tunggakan.

3. Efektifitas Prosedur mekanisme perguliran, yang didapat dari

kuesioner yang dibagikan kepada pemanfaat dana bergulir, dianggap sudah efektif baik persepsi umum terhadap PNPM, proses seleksi, proses penyaluran dan pencairan dana serta proses

pendampingan. Karina Swedianti. (Partisipasi Masyarakat Dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (Kasus Implementasi Program Ekonomi Bergulir Pnpm-Mp Di Desa Cimanggu I Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor) Partisipasi masyarakat, karakterisitik individu, manajemen program, efektivitas program ekonomi bergulir. Analisis Kuantitatif dan Kualitatif

1. Partisipasi masyarakat dalam Program Ekonomi Bergulir PNPM-MP terbagi menjadi empat tahap, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap

menikmati hasil, dan tahap monitoring atau evaluasi. partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan sedang, tahap pelaksanaan dan hasil tinggi, sedangkan tahap evaluasi sangat rendah;

(43)

Nama & Judul Variabel Metode Analisis

Hasil

tingkat partisipasi

masyarakat dalam Program Ekonomi Bergulir adalah tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, persepsi, dan kepemimpinan;

3. Terdapat hubungan antara tingkat partisipasi

masyarakat dengan efektivitas program PEB PNPM-MP. Efektivitas program PEB PNPM-MP mencakup peningkatan pendapatan masyarakat dan pengembangan modal sosial yang ada di

masyarakat. Modal sosial yang ada di masyarakat terbagi menjadi tiga, yaitu tingkat kepercayaan, tingkat jaringan sosial, dan tingkat kerjasama. Setelah masyarakat mengikuti program PEB PNPM-MP, sebagian besar masyarakat mengalami peningkatan pendapatan dan

pengembangan modal sosial.

Nanik Indah Rupiani (Dampak PNPM-MP Bidang Simpan Pinjam Perempuan Terhadap Rumah Tangga Miskin di Kecamatan Jelbuk Kabupaten Jember) Bantuan modal, kinerja tenaga pendamping, pemberdayaan keluarga miskin, dan kesejahteraan masyarakat Model Persamaan Struktural (Structural Equation Modeling atau SEM)

1. faktor bantuan modal dan faktor kinerja tenaga pendamping berpengaruh positif dan signifikan terhadap faktor

pemberdayaan masyarakat miskin pada PNPM; 2. bantuan modal dan faktor

(44)

Nama & Judul Variabel Metode Analisis Hasil Sidartawan (Dampak PNPM-MP Terhadap Kesejahteraan Masyarakat di Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember) Bantuan langsung masyarakat, kinerja tenaga pendamping, pemberdayaan masyarakat, dan kesejahteraan masyarakat Model Persamaan Struktural (Structural Equation Modeling atau SEM)

1. faktor bantuan langsung masyarakat dan faktor kinerja tenaga pendamping berpengaruh signifikan dan positif terhadap faktor pemberdayaan masyarakat pada Program

Pengembangan Kecamatan (PPK);

2. faktor bantuan langsung masyarakat dan faktor kinerja tenaga pendamping berpengaruh signifikan dan positif terhadap

kesejahteraan masyarakat; 3. pengaruh faktor

pemberdayaan masyarakat berpengaruh signifikan dan positif terhadap faktor kesejahteraan masyarakat pada Program

Pengembangan Kecamatan (PPK) di Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember

Retno Wulan Andari (Pengaruh Pemberdayaan Ekonomi Dalam PNPM Mandiri perkotaan Terhadap Kemiskinan di Kecamatan Lumajang Kabupaten Lumajang Tahun 2010 Pemberian modal, ketepatan program, pemberdayaan masyarakat, dan kesejahteraan masyarakat. Model Persamaan Struktural (Structural Equation Modeling atau SEM)

1. pemberian modal berpengaruh terhadap pemberdayaan keluarga miskin;

2. Variabel ketepatan program berpengaruh terhadap pemberdayaan masyarakat miskin; 3. variabel pemberian modal,

(45)

Nama & Judul Variabel Metode Analisis

Hasil

Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan di

Kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso)

2.2.1 Kerangka Konseptual

Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah, tujuan, dan tinjauan pustaka dapat disimpulkan bahwa penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh tahap perencanaan dan tahap pelaksanaan terhadap efektivitas PNPM-MP melalui kinerja fasilitator di Kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso. Tahap perencanaan (X1) dapat diukur melalui 5 (Lima) indikator yaitu Sosialisasi (X1.1), Musyawarah (X1.2), Pelatihan (X1.3), Sasaran Bantuan (X1.4), dan Kelembagaan (X1.5). Tahap pelaksanaan (X2) diukur melalui 5 (Lima) indikator yaitu Gotong royong (X2.1), Teknologi (X2.2), Ketepatan penggunaan dana dan tujuan program (X2.3), Pengawasan pengadaan barang dan jasa (X2.4), dan Waktu pelaksanaan kegiatan (X2.5). Kinerja fasiliator (Z) diukur melalui 5 (Lima) indikator yaitu Sebagai narasumber (Z1), sebagai pelatih (Z2), sebagai mediator (Z3), sebagai penggerak (Z4), dan komunikasi (Z5). Efektivitas PNPM-MP (Y) diukur melalui 4 (Empat) indikator yaitu sumber daya manusia (Y1), keswadayaan masyarakat (Y2), kesempatan kerja (Y3), dan kesejahteraan masyarakat (Y4).

(46)
[image:46.595.113.508.100.488.2]

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

2.2.2 Hipotesis

Hipotesis merupakan suatu pernyataan yang bersifat sementara atau suatu dugaan, anggapan, pendapat asumsi yang mungkin benar atau salah, yang masih harus dibuktikan kebenarannya, dengan melakukan suatu penelitian dan uji hipotesis. Berdasarkan landasan teori dan penelitian terdahulu peneliti maka dapat diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut:

H1 : Diduga tahap perencanaan berpengaruh signifikan dan positif terhadap kinerja fasilitator;

Tahap Perencanaan

(X1)

Tahap Pelaksanaan

(X2)

Kinerja Fasilitator

(Z)

Efektivitas PNPM-MP

(Y)

H1

H2

H4

H5

X1.1 X1.2 X1.3 X1.4 X1.5

X2.1

H3

X2.2 X2.3 X2.4 X2.5

Z1

Z3

Z2

Z4

Z5

Y2

Y3

Y4

(47)

H2 : Diduga tahap pelaksanaan berpengaruh signifikan dan positif terhadap kinerja fasilitator;

H3 : Diduga tahap perencanaan berpengaruh signifikan dan positif terhadap efektivitas PNPM-MP;

H4 : Diduga tahap pelaksanaan berpengaruh signifikan dan positif terhadap efektivitas PNPM-MP

(48)

BAB III. METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan methode explanatory, yaitu jenis penelitian yang cermat terhadap fenomena sosial tertentu yang menjelaskan hubungan kausal antara variabel–variabel melalui pengujian hipotesis, dalam penelitian ini metode eksplanatori digunakan untuk mengolah hasil penelitian, membantu merumuskan permasalahan yang terjadi, dan identifikasi untuk penelitian selanjutnya dalam mengambil keputusan yang akurat dari hasil penelitiannya.

Penelitian ini juga menggunakan metode diskriptif, yaitu jenis penelitian yang menggambarkan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta, sifat-sifat hubungan antar fenomena yang diselidiki (Usman, 2009:4). Metode diskriptif ini digunakan untuk menjelaskan analisis permasalahan, melakukan pemahaman dasar pada teori dan hasil penelitian terdahulu utuk kemudian mengungkap hipotesis yang akan diuji.

3.2 Jenis Data a. Data Primer

Data primer yaitu data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh suatu organisasi atau perorangan langsung dari obyeknya (Santoso dan Tjiptono, dalam Kusumawati, 2012a;19). Data primer dalam penelitian ini adalah berupa jawaban dari kuesioner atas pertanyaan yang telah dibuat oleh peneliti;

b. Data Sekunder

(49)

3.3 Metode Pengumpulan Data a. Kuesioner

Metode pengumpulan data dengan cara memberikan kepada responden sejumlah pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner.

b. Wawancara

Salah satu teknik pengumpulan data secara langsung atau interview secara langsung antara peneliti dan responden/informan yang diwawancara.

3.4 Populasi dan Metode Pengambilan Sampel 3.4.1 Populasi

Menurut Arikunto (1998:153) populasi (universe), adalah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga, pada penelitian ini populasinya adalah rumah tangga miskin di Kecamatan Tegalampel Kabupaten Bondowoso sebanyak 5315 RTM pada tahun 2011.

3.4.2 Metode Pengambilan Sampel

Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah berdasarkan teknik random sampling, yaitu mengambil sebagian sampel dari populasi yang ada dalam penelitian ini secara acak. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini ditentukan menggunakan rumus sebagai berikut:

Jumlah sampel = Jumlah Indikator x 5 sampai 10

Karena dalam penelitian ini terdapat 19 indikator, maka jumlah sampel yang digunakan adalah :

Jumlah sampel = 19 x 6 = 114

(50)

perbandingan 5 s.d 10 observasi untuk setiap estimated parameter. Dengan mengacu pada kedua pendapat tersebut maka jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sejumlah 114 responden.

3.5 Identifikasi Variabel dan Definisi Operasinal Variabel 3.5.1 Identifikasi Variabel

Variabel-variabel yang akan diteliti dikelompokan menjadi tiga macam yaiitu:

a. Variabel eksogen (X), yaitu variabel bebas atau variabel yang tidak tergantung pada variabel lain. Yang termasuk variabel independen dalam penelitian ini adalah tahap perencanaan dan tahap pelaksanaan;.

b. Variabel endogen atau intervening (Z), yaitu variabel perantara yang secara konkret pengaruhnya tidak tampak tetapi secara teoritis dapat mempengaruhi hubungan antara variabel bebas dan tergantung yang sedang diteliti. Dalam hal ini yang merupakan variabel intervening adalah kinerja fasilitator;

c. Variabel endogen terikat (Y), yaitu variabel yang terikat atau tergantung pada variabel lain. Dalam hal ini yang merupakan variabel endogen terikat adalah efektivitas PNPM-MP.

3.5.2 Definisi Variabel Operasional

Variabel Operasional merupakan variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini. Definisi Operasional yang dimaksudkan untuk menjelaskan istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian. Untuk mengetahui masalah-masalah tersebut maka definisi dari variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

a. X1 adalah persepsi masyarakat miskin pada tahap perencanaan yang diukur melalui indikator sebagai berikut:

1) Sosialisasi PNPM-MP, proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat tentang PNPM-MP;

(51)

guna mengambil keputusan bersama dalam penyelesaian atau pemecahan masalah yang menyangkut dengan kegiatan PNPM-MP;

3) Pelatihan, mempersiapkan pelaku PNPM-MP untuk mengambil jalur tindakan tertentu yang dilukiskan oleh teknologi dan membantu peserta memperbaiki prestasi;

4) Sasaran bantuan, bahwa sasaran penerima bantuan dari program PNPM-MP adalah masyarakat miskin sebagai pemegang peran utama dalam pelaksanaan program dan telah sesuai dengan kebutuhan masyarakat miskin;

5) Kelembagaan, yaitu lembaga pengengola kegiatan PNPM-MP merupakan lembaga yang dipercaya dan aspiratif untuk mendorong timbul dan berkembangnya partisipasi dan kemandirian masyarakat. b. X2 adalah persepsi masyarakat miskin pada tahap pelaksanaan yang diukur

melalui indikator sebagai berikut:

1) Gotong royong, pelaksanaan kegiatan program melibatkan keikutsertaan masyarakat miskin, pemerintah setempat dan kelompok peduli untuk bersama-sama menanggulangi kemiskinan di wilayahnya;

2) Teknologi, penggunaan teknologi dalam kegiatan pelaksanaan program menggunakan teknologi yang sederhana, tepat, dan biaya murah;

3) Ketepatan penggunaan dana dan tujuan program, kesesuaian alokasi dana dan tujuan program saat pelaksanaan program sehingga bantuan tidak menyimpang;

4) Adanya pengawasan pengadaan barang dan jasa kegiatan PNPM di lapangan untuk menghindari kecurangan;

5) Waktu pelaksanaan kegiatan di lapangan sesuai dengan rencana program. c. Z adalah persepsi masyarakat miskin terhadap kinerja fasilitator yang diukur

melalui indikator sebagai berikut:

(52)

2) Sebagai pelatih, yaitu kemampuan membantu masyarakat dalam mempelajari dan memahami keterampilan atau pengetahuan baru dalam upaya pemberdayaan masyarakat dan pelaksanaan program;

3) Sebagai mediator, yaitu berperan sebagai orang yang dapat menengahi terjadinya perbedaan kepentingan antara kelompok atau individu di masyarakat;

4) Sebagai penggerak, yaitu kemampuan merangsang dan mendorong masyarakat untuk menemukan serta mengenali potensi dan kapasitasnya sendiri;

5) Komunikasi, yaitu kemampuan menjalin hubungan sosial dan antar manusia, yaitu kemampuan untuk membina hubungan yang harmonis dengan masyarakat dan rekan kerja, berkaitan dengan bagaimana memperlakukan dan berinteraksi dengan masyarakat.

d. Y adalah efektivitas PNPM Mandiri Pedesaan. Indikatornya sebagai berikut: 1) Kemampuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia;

2) Kemampuan meningkatkan keswadayaan masyarakat dalam mendukung PNPM Madiri Pedesaan;

3) Kemampuan memperluas kesempatan kerja;

4) Kemampuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

3.6 Skala Pengukuran

Skala pengukuran adalah acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval dalam alat ukur. Alat ukur tersebut jika digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitaif. Menurut Sugiono, (dalam Kusumawati, 2012c:22), skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti yang selanjutnya disebut variabel penelitian. Untuk keperluan penellitian analisis kuantitas maka jawaban itu dapat diberi skor sebagai berikut :

(53)

c. Netral (N) = 3

d. Setuju (S) = 4

e. Sangat Setuju (SS) = 5

3.7 Uji Instrumen 3.7.1 Uji Validitas

Suatu tes atau alat instrument pengukuran dapat dikatakan valid apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurannya atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan tujuan pengukuran (Dimyati, 2009a: 32). Suatu alat ukur yang valid mampu mengungkapkan data dengan tepat dan memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut. Cermat artinya pengukuran tersebut mampu memberikan gambaran yang mengenai perbedaan yang sekecil-kecilnya diantara subjek yang satu dengan yang lainnya.

Uji validitas dilakukan dengan menggunakan analisis konfirmatory (confirmatory faktor analysis) pada masing-masing variabel laten. Indikator-indikator dari suatu variabel dikatakan valid jika mempunyai loading faktor signifikan pada (α = 1%).

3.7.2 Uji Reliabilitas

Selain harus valid, instrument juga harus reliabel (dapat diandalkan). Instrument reliabel apabila alat ukur tersebut memperoleh hasil-hasil yang konsisten. Dengan demikian instrument ini dapat dipakai dengan aman karena dapat bekerja dengan baik pada waktu yang berbeda dan kondisi yang berbeda (Dimyati, 2009b:32). Jadi reliabilitas menunjukkan seberapa besar pengukuran dapat memberikan hasil yang reliatif tidak berbeda bila dilakukan pengukuran kembali terhadap subyek yang sama.

(54)

3.8 Metode Penelitian Data

3.8.1 Uji Asumsi Structural Equation Modelling (SEM)

Setelah dilakukan uji validitas dan reliabilitas pada masing-masing variabel laten, maka dilakukan uji asumsi klasik untuk melihat apakah prasyarat yang diperlukan dalam permodelan SEM dapat terpenuhi adalah asumsi multivariate normal, tidak adanya multikolinearitas atau singularitas dan outlier.

a. Uji Normalitas

Normalitas yaitu sebaran data yang akan dianallisis, untuk melihat apakah asumsi normalitas dapat dipenuhi sehingga data dapat diolah lebih lanjut. Uji normalitas perlu dilakukan baik untuk normalitas terhadap data univariat maupun normalitas multivariate dimana beberapa variabel yang digunakan sekaligus dalam analisis terakhit. Untuk menguji dilanggar atau tidaknya, maka dapat dilakukan dengan nilai statistik z untuk skewness dan kurtosisnya dan secara empirik dapat dilihat dengan critical ratio (CR) skewness value. Jika dipergunakan tingkat signifikan 1% (0,01), maka nilai CR yang berada diantara -2,58 sampai dengan 2,58 (-2,58 ≤ CR ≥ 2,58) dikatakan data distribusi normal, baik secara univariate maupun secara multivariate (Ghozali, 2005a: 128).

b. Uji Multikolinearitas

Multikolinearitas dapat dilihat melalui determinan matriks konvarians. Nilai determinan yang sangat kecil atau mendekati nol, maka menunjukkan indikasi terdapatnya masalah multikolinearitas atau singularitas, sehingga data itu tidak dapat digunakan untuk penelitian (Tabachnick dan Fidell, dalam Ghozali, 2008c:231).

c. Uji Outliers

(55)

dengan memperhatikan nilai mahalnobis distance. Kriteria yang digunakan adalah berdasarkan nilai chi square pada derajat kebebasan (degree of freedom) sebesar jumlah variabel indikator pada tingkat signifikasi p < 0,01. Kasus yang mempunyai nilai mahalnobis distance lebih besar dari nilai chi square yang disarankan, maka kasus tersebut adalah multivariate outliers square yang disaratkan, maka

Gambar

Tabel 1.1 Jumlah Rumah Tangga dan Rumah Tangga Miskin Menurut Klasifikasi
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
Gambar 3.1 Kerangka Pemecahan Masalah
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari penelitian ini bahwa Implementasi Program Desa Pesisir Tangguh di Desa Tanjung Pasir belum berjalan dengan baik dan efektif karena beberapa faktor,

Metode tutor sebaya adalah cara mengajar yang dilakukan dengan menjadikan teman dalam kelompok peserta didik yang dipandang memiliki kemampuan atau kompetensi

Toisaalta vain harvoissa puheis- sa ja diskursseissa puhuttiin vahvasti esimerkiksi sellaisista lähestymistavan perusperi- aatteista kuin kaikkien maailman ihmisten

Berdasarkan uraian hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan di SMAS Taman Mulia Sungai Raya, penggunaan metode mengajar guru pada mata pelajaran sosiologi masih

Bahan makanan ini sampai sekarang sebagian besar (90%) masih di impor dari luar negeri. Bahan makanan sumber protein sebagai penyusun utama pakan unggas adalah bungkil-bungkilan

Hasil survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2013 lalu menunjukkan bahwa media sosial twitter merupakan media sosial

Dengan adanya Perancangan dan Implementasi Data Remunerasi Pegawai pada Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pematangsiantar maka data akan tersimpan rapi

bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 46 ayat (2) Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 3 Tahun 2015 tentang Tata Cara Pemilihan, Pengangkatan dan Pemberhentian