Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan (S.Pd.)
Oleh:
SITI ZURAIDAH LUTHFIATI
1111013000032
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. September 2015.
Latar belakang penelitian ini adalah masih rendahnya kemampuan baca pada masyarakat Indonesia saat ini khususnya para siswa di sekolah. Berbeda dengan negara-negara maju seperti Jepang yang menjadikan membaca sebagai suatu budaya atau kebiasaan. Salah satu yang mempengaruhi membaca tersebut adalah minat. Minat baca adalah merupakan hasrat seseorang atau siswa terhadap bacaan, yang mendorong munculnya keinginan dan kemampuan untuk membaca, diikuti oleh kegiatan nyata membaca bacaan yang diminatinya. Minat baca bersifat pribadi dan merupakan produk belajar.
Minat merupakan salah satu faktor yang cukup penting yang mempengaruhi kemampuan membaca. Menurut Crow dan Crow dalam bukunya
Educational Pshycology minat bisa berhubungan dengan gaya gerak yang mendorong kita cenderung atau merasa tertarik pada orang, benda atau kegiatan, itupun bisa berupa pengalaman efektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri. Dengan kata lain, minat dapat menjadi penyebab kegiatan dan penyebab partisipasi dalam kegiatan.
Subjek dalam penelitian ini adalah kelas XII SMK Budhi Warman II semester ganjil Tahun Ajaran 2015-2016. Penulis menggunakan metode deksriptif kualitatif untuk mengolah data. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah dengan wawancara dan teknik analisis data angket dengan menggunakan rumus
P= x100%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan hasil angket yang masuk (berjumlah 40) maka dari persentase angket menunjukkan 77,5% menyatakan bahwa siswa tidak pernah meluangkan waktunya untuk membaca, sedangkan hanya ada 22,5% siswa yang sering menghabiskan waktunya untuk membaca. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa minat siswa dalam membaca sebuah karya sastra masih kurang dan perlu ditingkatkan. Sebaiknya, untuk meningkatkan minat siswa dapat dilakukan dengan membimbing serta mendampingi siswa terutama guru bidang studi pada setiap pertemuan mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Teaching, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta. September 2015. Background this study was still low ability reading on the current Indonesia community especially students in school. In contrast to developed countries such as Japan which makes the reading as a culture or habit. The one that affects the reading interest. Interest is read is someone's desire or students against reading, which prompted the emergence of desire and the ability to read, followed by the real activities of the reading interest. Reading is personal interest and is a product of learning.
Interest is one of the factors that are important enough that affects reading skills. According to Crow and Crow in his Educational Pshycology interest could be related to a pushing motion styles we tend to be or feel interested in people, things or activities, that can be effective experience stimulated by the activity itself. In other words, the interest can be the cause of events and causes of the participation in the activity.
The subject in this research is the class XII SMK Budhi Warman II semester ganjil academic year 2015-2016. The author uses qualitative deksriptif method to process data. This research data collection technique is interview and question form analysis techniques using the formula P = F/Nx100%.
The results showed that based on the results of the now coming in (numbering 40) now shows the percentage of 77.5% stated that the students never take the time to read, whereas there are only 22.5% of students who often spend time for reading. Thus, it can be concluded that interest students in reading a work of literature is still lacking and needs to be improved. To achieve perfection, should interest students can be done with a guide and accompany the students mainly study teacher at every meeting of the Indonesia language subjects.
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. shalawat dan salam penulis
curahkan kepada Nabi Muhammad saw yang telah menyelamatkan manusia dari
jalan sesat menuju jalan lurus yang diridai Allah SWT.
Dalam rangka memenuhi kewajiban untuk mencapai gelar sarjana pendidikan penulis telah menyelesaikan skripsi yang berjudul “Minat Membaca Karya Sastra pada Siswa Kelas XII SMK Budhi Warman II Pekayon Jakarta Timur”. Selama penulisan skripsi ini, tentunya tidak luput dari pihak-pihak yang telah membantu baik secara moril dan materiil. Oleh karena itu, penulis
mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam
menyelsaikan skripsi ini:
1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, M.A. Selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Makyun Subuki, M. Hum. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Dona Aji Karunia Putra, M.A. selaku sekretaris Jurusan Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Dra. Hindun, M. Pd. selaku dosen penasehat akademik.
5. Dra. Mahmudah Fitriyah. ZA, M. Pd. selaku dosen pembimbing yang dengan
kesabaran serta ketulusan meluangkan waktu dan fikirannya untuk
membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
6. Pardi Supardi, S.S., M.Pd selaku Kepala Sekolah SMK Budhi Warman II
yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di
sekolah.
7. Eva Andriani, S. Pd selaku guru bahasa Indonesia SMK Budhi Warman II
yang telah memberikan pengarahan, bimbingan, pengalaman, dan membantu
penyusunan skripsi ini.
9. Ayahanda H.M. Lutfi Azhari dan Ibunda Ati Rusmiati tercinta yang
senantiasa selalu mendukung dan mendoakan saya dalam hal apapun
sehingga saya bisa seperti sekarang ini.
10.Siti Nazilah Luthfiati, M. Fikri Hazami, dan M. Faisal Zamzami,
saudara-saudara kandungku yang selalu memotivasi penulis dan memberikan
keceriaannya di setiap waktu.
11.Nur Wachidah, Indri P. Yusuf, Banat Jullieat, Isma Rusan Farhani, Mira
Rosiana, Nona Yuni Safira, Muthianissa Oktaviani, dan Siti Anisah,
sahabat-sahabatku yang tak pernah henti memberikan doa, semangat, motivasi,
keceriaan, dan keyakinan untuk menyelesaikan skripsi ini.
12.Teman-teman PBSI-A angkatan 2011 yang telah banyak membantu dan
memberikan semangat serta motivasi kepada penulis.
Terima kasih atas segala bantuan dan dorongan yang telah kalian berikan
kepada penulis, semoga Allah SWT memberikan balasan kebaikan. Semoga
skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada penulis khususnya dan pembaca
umumnya.
Jakarta, Oktober 2015
Penulis
DAFTAR ISI ... iii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 5
C. Pembatasan Masalah ... 5
D. Perumusan Masalah ... 5
E. Tujuan Penelitian ... 6
F. Manfaat Penelitian ... 6
BAB II KAJIAN TEORI A. Hakikat Minat ... 8
1. Pengertian Minat ...8
2. Macam-macam Minat ... 11
B. Hakikat Membaca ... 14
1. Pengertian Membaca ... 14
2. Tujuan membaca ... 16
C. Hakikat Sastra ... 17
1. Macam-macam karya sastra ... 20
a. Cerpen ... 20
b. Puisi ... 22
c. Drama ... 24
d. Novel ... 27
e. Pantun ... 29
C. Subjek Penelitian ... 33
D. Instrumen Penelitian ... 33
E. Teknik Pengumpulan Data ... 33
F. Teknik Analisis Data ... 35
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum SMK Budhi Warman II ... 37
B. Hasil Penelitian ... 40
BAB V PENUTUP A. Simpulan ... 56
B. Saran ... 56
Lampiran 2 : Data Minat Membaca Karya Sastra Kelas XII SMK Budhi
Warman II Pekayon Jakarta Timur
Lampiran 3 : Lembar wawancara dengan guru bahasa Indonesia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Membaca adalah bagian dari pengajaran bahasa yang mengalami
perkembangan dari masa ke masa, terutama di negara yang kondisi sosial
ekonominya sudah bagus, seperti negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.
Pemikiran-pemikiran dalam bidang komunikasi di negara-negara tersebut
berpengaruh pula pada belahan bumi lainnya, yaitu di negara-negara
berkembang seperti Indonesia.
Selain itu, membaca juga merupakan salah satu keterampilan berbahasa
yang sangat penting di samping tiga keterampilan berbahasa lainnya. Hal ini
karena membaca merupakan sarana untuk mempelajari dunia lain yang
diinginkan sehingga manusia bisa memperluas pengetahuan, bersenang-senang,
dan menggali pesan-pesan tertulis dalam bahan bacaan. Walaupun demikian,
membaca bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Membaca adalah sebuah
proses yang bisa dikembangkan dengan menggunakan teknik-teknik yang sesuai
dengan tujuan membaca tersebut.1
Pentingnya budaya membaca juga telah ditegaskan Taufik Ismail. Dalam tulisannya yang berjudul “Agar Anak Bangsa Tak Rabun Membaca Tak Pincang Mengarang”. Memang penyakit malas membaca sekarang ini terjadi kepada siapa saja mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Hal ini merupakan suatu
keadaan yang sangat memprihatinkan. Banyak orang yang ingin menguasai ilmu
pengetahuan dan ilmu teknologi dan ingin bersaing dengan negara-negara lain
tetapi kenyataannya penyakit malas itu sulit dihilangkan. Padahal keadaan suatu
bangsa ini lebih ditentukan oleh seberapa besar masyarakat yang mau
menjadikan membaca buku itu hal yang utama.
1
Keterampilan membaca pada umumnya diperoleh dengan cara
mempelajarinya di sekolah. Keterampilan berbahasa ini merupakan suatu
keterampilan yang sangat unik serta berperan penting bagi pengembangan
pengetahuan dan sebagai alat komunikasi bagi kehiduan manusia. Dikatakan
unik karena tidak semua manusia, walaupun telah memiliki keterampilan
membaca, mampu mengembangkannya menjadi alat untuk memberdayakan
dirinya atau bahkan menjadikannya budaya bagi dirinya sendiri dikatakan
penting bagi pengembangan pengetahuan karena presentase transfer ilmu
pengetahuan terbanyak dilakukan melalui membaca.
Sementara itu, masyarakat di negara-negara berkembang ditandai oleh
rendahnya kemampuan membaca serta budaya baca yang belum tertanam
dengan baik. Fakta menunjukkan bahwa Indonesia, Venezuela, dan
Trinidad-Tobago kemampuan baca penduduknya berada pada urutan terakhir dari 27
negara yang diteliti. Apakah kemampuan baca berpengaruh secara signifikan
terhadapa kemajuan suatu negara atau sebaliknya, masih harus dibuktikan hanya
hipotesis yang menyatakan negar maju masyarakatnya maju pula dalam
membacanya, telah terbukti.2
Membaca merupakan kegiatan untuk mendapatkan makna dari apa yang
tertulis dalam teks. Untuk keperluan tersebut, selain perlu menguasai bahasa
yang dipergunakan, seorang pembaca perlu juga mengaktifkan berbagai proses
mental dalam sistem kognisinya.
Oleh karena itu, kegiatan membaca bukanlah suatu kegiatan yang
sederhana seperti apa yang diperkirakan banyak pihak sekarang ini. Kegiatan
membaca bukan hanya kegiatan yang terlihat secara kasat mata, dalam hal ini
siswa atau mahasiswa melihat sebuah teks, membacanya dan setelah itu diukur
dengan kemampuan menjawab sederet pertanyaan yang disusun mengikuti teks
tersebut sebagai alat evaluasi, melainkan dipengaruhi pula oleh faktor-faktor dari
dalam maupun dari luar pembaca. Kegiatan membaca bukan hanya kegiatan
yang melibatkan prediksi, pengecekan skema, atau dekoding, akan tetapi juga
2
merupakan interaksi grafofonik, sintaktik, semantik, dan skematik. Di samping
itu, keterlibatan pembaca di dalam mencari arti dari teks yang ia baca
mempengaruhi pula.3
Salah satu yang mempengaruhi membaca tersebut adalah minat. Minat
baca adalah merupakan hasrat seseorang atau siswa terhadap bacaan, yang
mendorong munculnya keinginan dan kemampuan untuk membaca, diikuti oleh
kegiatan nyata membaca bacaan yang diminatinya. Minat baca bersifat pribadi
dan merupakan produk belajar. Apabila seorang siswa tidak mempunya minat
dalam membaca, terutama membaca buku pelajaran di sekolah, hal itu akan
membuat proses belajar mereka sedikit terhambat. Ini sudah menjadi tugas para
guru untuk meningkatkan minat baca mereka.
Salah satu faktor lain yang dapat menurunkan minat baca pada anak dapat
ditemukan di kelas bahasa, saat materi pemahaman bahasa (reading comprehension), para guru terlalu sering meminta siswanya berhenti di setiap paragraf untuk menjelaskan dan mendiskusikan pemahaman, bukannya
mendapatkan gambaran besar, alur, dan informasinya lebih dulu. Akibatnya,
siswa tidak lagi bisa menikmati dan mengikuti proses yang ada dalam materi
bacaan dengan baik dan hanya bisa mendiskusikan satu sudut pandang
pemahaman.4
Dalam membaca karya sastra pada umumnya mereka lebih menyukai
bacaan yang ringan saja seperti halnya komik-komik, cerpen yang suka muncul
di dalam majalah-majalah anak, puisi-puisi yang terdapat dalam buku pelajaran
bahasa Indonesia, dan novel-novel bertemakan percintaan yang pada saat ini
sudah digandrungi para remaja tersebut. Sampai itu saja batasan bacaan meraka
pada saat ini.
Tetapi tidak semua dari mereka minat bacanya kurang. Ada beberapa yang
mempunyai minat baca yang lebih dibandingkan teman-teman lainnya
dikarenakan dia memang hobi membaca. Bahan bacaan yang ia baca bisa
dimulai dari surat kabar, ensiklopedia, sampai ke novel sastra yang sebenarnya
3
Ibid, h.247
4
bahasanya belum ia pahami betul. Dari hobi itulah kita sebagai calon guru bisa
meningkatkan minat baca mereka termasuk mengajak teman-teman lainnya
untuk lebih sering membaca buku atau bahan bacaan lainnya.
Salah satu hal yang dapat kita lakukan untuk mengembangkan kebiasaan
membaca buku yaitu dengan memanfaatkan waktu luang untuk membaca di
mana saja dan kapan saja. Baik itu buku pelajaran, koran, majalah, novel,
maupun buku ensiklopedia. Namun saat ini banyak orang yang tidak mau
membaca meskipun mereka memiliki waktu luang. Mereka lebih banyak
berbicara atau membicarakan orang lain dalam kesehariannya.
Pada masa sekarang ini, pentingnya membaca telah semakin sering
diperbincangkan oleh berbagai kalangan masyarakat dalam berbagai kesempatan
dan forum. Hal ini sudah merupakan tuntutan kehidupan modern yang terasa
semakin mendesak. Kehidupan modern yang salah satu ciri pokoknya adalah
perkembangan ilmu teknologi yang semakin menuntut sikap orang mempunyai
ketepatan dan kecepatan yang tinggi untuk menafsirkan dan menyerap berbagai
informasi. Informasi bukan hanya sumber-sumber lisan tetapi yang terutama dari
sumber-sumber yang tertulis. Sekarang ini sumber-sumber tertulis semakin
membudaya sehingga dapat terlihat pentingnya membaca. Maka dari itu untuk
memperoleh kemampuan membaca, maka minat baca tinggi memegang peranan
tinggi. Tanpa adanya minat membaca maka kehidupan ini akan diwarnai
ketertinggalan. Minat membaca harus dipupuk, dibina, dan dibimbing.
Pada kegiatan belajar mengajar di dalam kelas sudah terlihat jelas
bagaimana minat baca yang diperlihatkan oleh para siswa. Ada yang sangat
antusias dan sangat mengapresiasi pelajaran membaca karya sastra ada juga
yang cuek-cuek saja sambil mengikuti pelajaran. Maka dari itu peneliti ingin
mengangkat masalah tentang minat membaca karya sastra upaya meningkatkan
Berangkat dari penjelasan dia atas, oleh karena itu penulis memilih judul: “Minat Membaca Karya Sastra pada Siswa Kelas XII SMK Budhi Warman II Pekayon Jakarta Timur”
B. Indentifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dapat diindentifikasikan
masalah-masalah yang berkaitan dengan minat membaca karya sastra sebagai berikut:
1. Kurangnya minat siswa dalam membaca karya sastra.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat membaca siswa.
3. Peran guru untuk meningkatkan minat siswa dalam membaca karya sastra.
C. Pembatasan Masalah
Pada penelitian ini penulis membatasi masalah agar dapat dibahas dengan
jelas dan tidak meluas, hal yang diteliti yaitu minat siswa dalam membaca karya
sastra. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas XII SMK Tahun Pelajaran
2015/2016. Lembaga pendidikan yang dimaksud adalah SMK.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah, maka dapat disusun rumusan masalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana minat siswa dalam membaca karya sastra?
2. Bagaimana usaha guru untuk meningkatkan minat baca karya sastra pada
anak didik mereka?
E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Untuk mendeskripsikan minat siswa dalam membaca karya sastra.
2. Untuk mengetahui usaha guru dalam meningkatkan minat baca karya sastra
F. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian ini
menjadi pengalaman, dan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi
manfaat, baik secara teoretis maupun praktis. Untuk lebih jelas mengenai kedua
manfaat tersebut, dapat diuraikan sebagai berikut.
Manfaat teoretis
1. Sebagai bahan pembelajaran bagi guru dalam mengetahui kemampuan minat
membaca siswa.
2. Sebagai panduan guru-guru dan pengajar bahasa Indonesia untuk
mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap membaca sebuah karya
sastra.
Manfaat Praktis
1. Untuk Siswa
Bagi para yang suka membaca karya sastra agar pengetahuannya dalam
bidang bahasa dan sastra Indonesia lebih luas setelah ia membaca sebuah
karya sastra dan siswa senang membaca karya sastra ketika pelajaran bahasa
Indonesia sedang berlangsung di dalam kelas.
2. Untuk Guru
Sebagai evaluasi diri bagi guru untuk menigkatkan kulaitas dalam kegiatan
proses belajar mengajar di kelas dan lebih memotivasi siswa dalam membaca
karya sastra termasuk puisi, cerpen, novel, dan lain sebagainya.
3. Untuk Sekolah
Sebagai wacana untuk memberikan motivasi kepada guru Bahasa Indonesia
untuk mengembangkan proses belajar mengajar, perihal materi ajar terkait
keterampilan membaca guna mengetahui minat membaca siswa di sekolah
4. Untuk Mahasiswa
Sebagai pengetahuan tentang pembelajaran bahasa Indonesia terkait
membaca karya sastra, sehingga dapat mengetahui minat membaca siswa
dan menambah bekal dalam belajar melalui penelitian ini. Selain itu, dapat
mempermudah mahasiswa dalam mencari referensi terkait penelitian serupa
BAB II
KAJIAN TEORETIS A. Hakikat Minat
1. Pengertian Minat
Minat merupakan salah satu faktor yang cukup penting yang
mempengaruhi kemampuan membaca. Tampubolon mengatakan bahwa
minat adalah perpaduan antara keinginan dan kemauan yang dapat
berkembang jika ada motivasi. Sebagai contoh, seseorang mungkin
mempunyai minat untuk membaca sebuah buku bacaan sastra, tetapi
harganya mahal maka ia tidak melaksanakannya.
Menurut Crow dan Crow, minat (interest) bisa berhubungan
dengan gaya gerak yang mendorong kita cenderung atau merasa tertarik
pada orang, benda atau kegiatan, itupun bisa berupa pengalaman efektif
yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri. Dengan kata lain, minat dapat
menjadi penyebab kegiatan dan penyebab partisipasi dalam kegiatan.1
Muhibbin Syah mengatakan dalam bukunya bahwa secara
sederhana, minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau
keinginan yang besar terhadap sesuatu. Menurut Reber (1998), minat
tidak termasuk istilah populer dalam psikologi karena ketergantungannya
yang banyak pada faktor-faktor internal lainnya seperti: pemusatan,
perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan.2
Terdapat tiga batasan minat, yakni (1) suatu sikap yang dapat
mengikat perhatian seseorang ke arah objek tertentu secara selektif, (2)
suatu perasaan bahwa aktivitas dan kegemaran terhadap objek tertentu
sangat berharga bagi individu, dan (3) bagian dari motivasi atau kesiapan
yang membawa tingkah laku ke suatu arah atau tujuan tertentu.
Menurut Syaiful Bahri, minat adalah kecenderungan yang menetap
untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas. Seseorang yang
1
L.D. Crow dan A. Crow, Educational Psychology, (New York: American Book Company, 1958) h. 248
2
berminat terhadap suatu aktivitas akan memperhatikan aktivitas itu secara
konsisten dengan rasa senang. Dengan kata lain, minat adalah suatu rasa
lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada
yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu
hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat
atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat.
Minat tidak hanya diekspresikan melalui pertanyaan yang
menunjukkan bahwa anak didik lebih menyukai sesuatu daripada yang
lainnya, tetapi dapat juga diimplementasikan melalui partisipasi aktif
dalam suatu kegiatan. Anak didik yang berminat terhadap sesuatu
cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap sesuatu
yang diminati itu dan sama sekali tak menghiraukan sesuatu yang lain.3
Minat besar pengaruhnya terhadap aktivitas belajar. Anak didik
yang berminat terhadap suatu mata pelajaran akan mempelajarinya
dengan sungguh-sungguh, karena ada daya tarik baginya. Anak didik
mudah menghapal pelajaran yang menarik minatnya. Proses belajar akan
berjalan lancar bila disertai minat. Minat merupakan alat motivasi yang
utama yang dapat membangkitkan minat anak didik agar pelajaran yang
diberikan mudah anak didik pahami. Ada beberapa macam cara yang
dapat guru lakukan untuk membangkitkan minat anak didik sebagai
berikut:
a. Membandingkan adanya suatu kebutuhan pada diri anak didik,
sehingga dia rela belajar tanpa paksaan.
b. Menghubungkan bahan pelajaran yang diberikan dengan persoalan
pengalaman yang dimiliki anak didik, sehingga anak didik mudah
menerima bahan pelajaran.
c. Memberikan kesempatan kepada anak didik untuk mendapatkan hasil
belajar yang baik dengan cara menyediakan lingkungan belajar yang
kreatif dan kondusif.
3
d. Menggunakan berbagai macam bentuk dan teknik mengajar dalam
konteks perbedaan individual anak didik.4
Minat dipengaruh oleh faktor yang ada dalam diri dan dari luar diri
(lingkungan). Namun, faktor yang paling dominan berpengaruh adalah
faktor lingkungan. Menurut Bloom minat seseorang dipengaruhi oleh
lingkungan. Menurut pendapat ini faktor-faktor yang mempengaruhi
minat diantaranya adalah pekerjaan sosial ekonomi, jenis kelamin,
pengalaman, kepribadian, dan pengaruh lingkungan. Faktor-faktor ini
saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Walaupun besar
pengaruhnya sudah pasti tidak akan sama.
Minat akan berkembang membentuk suatu kebiasaan. Dengan kata
lain, minat akan menjadi syarat terbentuknya kebiasaan. Bila kegiatan
membaca dilandasi minat yang tinggi, maka kegiatan itu akan dilakukan
secara tetap dan teratur. Kebiasaan merupakan hasil pelaziman yang
berlangsung pada waktu yang lama. Bentuk-bentuk minat akan
dimanifestasikan dalam pilihan suka atau tidak suka dan senang atau tidak
senang terhadap suatu objek, kegiatan, dan gagasan, atau orang yang akan
memuaskan kebutuhannya.5
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa minat
merupakan dasar pembentukan suatu kebiasaan. Kebiasaan akan
terbentuk manakala pembaca memiliki keinginan yang tinggi terhadap
kegiatan membaca. Kegiatan membaca yang tinggi dan terus-menerus
akan membentuk kebiasaan.
Jika kita akui secara jujur, rasanya sedikit sekali masyarakat Indonesia
yang bisa mengisi waktu senggang mereka untuk membaca. Berbeda
sekali dengan masyarakat Jepang misalnya, di mana dan kapan saja
selama tidak melakukan pekerjaan lain mereka tidak pernah lepas dari
buku. Mereka membaca dan membaca terus. Banyak masyarakat kita
4
Ibid, h.167 5
masih terdapat anggapan bahwa membaca adalah pekerjaan guru atau
pekerjaan lainnya. Inilah yang menjadi pokok permasalahan sebagai
penyebab utama rendahnya minat siswa untuk membaca.
Crow dan Crow berpendapat ada tiga faktor yang menjadi timbulnya
minat, yaitu:
a. Dorongan dari dalam diri individu, misalnya dorongan untuk makan,
ingin tahu seks. Dorongan untuk makan akan membangkitkan untuk
bekerja atau mencari penghasilan, minat terhadap produksi makanan
dan lain-lain. Dorongan ingin tahu atau rasa ingin tahu akan
membangkitka minat untuk membaca, belajar, menuntut ilmu, dan
lain-lain. Dorongan seks membangkitkan minat untuk menjalin
hubungan dengan lawan jenis, minat terhadap pakaian dan lain-lain.
b. Motif sosial, dapat menjadi faktor yang membangkitkan minat untuk
melakukan suatu aktivitas tertentu. Misalnya minat tethadap pakaian
karena ingin mendapat persetujuan atau perhatian orang lain. Minat
untuk belajar atau menuntut ilmu pengetahuan timbul karena ingin
mendapat penghargaan dari masyarakat.
c. Faktor emosional, minat mempunyai hubungan yang erat dengan
emosi. Bila seseorang mendapatkan kesuksesan pada aktivitas akan
menimbulkan perasan senang dan hal tersebut akan memperkuat
minat terhadap aktivitas tersebut, sebaliknya suatu kegagalan akan
menghilangkan minat terhadap hal tersebut.6
2. Macam-macam minat
Menurut Abdul Rahman dan Muhbib Abdul Wahab7 minat dapat
digolongkan menjadi beberapa macam, ini tergantung pada sudut pandang
dan cara pengolongan misalnya timbulnya minat, berdasarkan arahnya
6
Lestar D. Crow dan Alice Crow, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: Nur Cahaya, 2005) h. 321
7
minat, dan berdasarkan cara mendapatkan atau mengungkapkan minat itu
sendiri.
a. Witherington di dalam Abdurrahman Saleh dan Muhbib Abdul Wahab
mengatakan bahwa berdasarkan timbulnya, minat tidak dapat
dibedakan menjadi minat primitif dan minat kultural. Minat primitif
adalah minat yang timbul karena kebutuhan biologis atau
jaringan-jaringan tubuh, misalnya kebutuhan akan makanan, perasaan enak
atua nyaman, kebebasan beraktivitas dan seks. Minat kultural atau
minat sosial, adalah minat yang timbulnya karena proses belajar,
minat ini tidak secara langsung berhubungan dengan kita.
b. Joner di dalam Abudrrahman Saleh dan Muhbib Abdul Wahab
mengatakan bahwa berdasarkan arahnya, minat dapat dibedakan
menjadi minat intrinsik dan ekstrinsik. Minat intrinsik adalah minat
yang langsung berhubungan dengan aktivitas itu sendiri, ini
merupakan minat yang lebih mendasar atau minat aseli. Sebagai
contoh: seseorang belajar karena memang pada ilmu pengetahuan atau
karena senang membaca, bukan karena ingin mendapatkan pujian.
Minat ekstrinsik adalah minat yang berhubungan dengan tujuan akhir
dari kegiatan tersebut, apabila tujuannya sudah tercapai ada
kemungkinana minat tersebut hilang. Dalam minat ekstrinsik ada
uasaha untuk melanjutkan aktivitas sehingga tujuannya akan menurun
atau hilang.
c. Super & Ciets di dalam Abudrrahman Saleh dan Muhbib Abdul
Wahab mengatakan bahwa berdasarkan cara mengungkapkan minat
dapat dibedakan menjadi emapat yaitu: Expressed interest, manifest interset, tested interest, inventioned interest.
1) Expressed interest adalah minat yang diungkapkan dengan cara meminta kepada subjek untuk menyatakan atau menuliskan
kegiatan-kegiatan baik yang berupa tugas maupun bukan tugas
yang disenangi dan paling tidak disenangi. Dari jawabannya
2) Manifest interest adalah minat yang diungkapkan dengan cara mengobservasi atau melakukan pengamatan secara langsung
terhadap aktivitas-aktivitas yang dilakukan subyek atau dengan
mengetahui hobinya.
3) Tested interest, adalah minat yanag diungkapkan cara menyimpulkan dari hasil jawaban tes objektif yang diberikan,
nilai-nilai yang tinggi pada suatu objek atau masalah biasanya
menunjukkan minat yang tinggi pula terhadap hal tersebut.
4) Inventoried interset, adalah minat yang diungkapkan dengan menggunakan alat yang sudah distandardisasikan, di mana biasanya
berisi pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada subjek apakah
ia senang atau tidak senang terhadap sejumlah aktivitas atau
seseuatu objek yang ditanyakan.8
Berdasarkan macam-macam minat yang telah penulis uraikan,
maka yang sejalan dengan penelitian yang penulis lakukan yaitu minat
intrinsik dan inventoried interset. Minat intrinsik merupakan salah satu bagian dari minat berdasarkan arahnya, minat tersebut adalah minat yang
berhubungan dengan aktivitas seseorang yang memiliki tujuan mendasar
seperti seseorang membaca sebuah karya sastra karena memang ingin
mendapat ilmu dan pengalaman baru, bukan hanya sekedar untuk
mengisi waktu luang saja, sedangkan inventoried interset merupakan salah satu bagian cara mengungkapkan minat yang berhubungan dengan
cara untuk mengetahui minat subjek melalui alat yang memuat
pertanyaan untuk mengetahui apakah seseorang berminat atau tidak
dalam membaca sebuah karya sastra.
8
B. Hakikat Membaca
1. Pengertian Membaca
Dalam kehidupan sehari-hari peranan membaca tidak dapat
dipungkiri. Ada beberapa peranan yang dapat disumbangkan oleh
kegiatan membaca antara lain: kegiatan membaca dapat membantu
memecahkan masalah, dapat memperkuat suatu keyakinan/ kepercayaan
pembaca, sebagai suatu pelatihan, memberi pengalaman astetis,
meningkatkan prestasi, memperluas pengetahuan dan sebagainya.
Henry Guntur Tarigan mengungkapkan membaca yaitu suatu
proses yang dilakuan serta dipergunakan oleh pembaca untuk
memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media
kata-kata/bahasa tulis.9 Definisi lain yang lebih lengkap adalah melihat
dan memahami tulisan dengan melisankan atau hanya dalam hati. Definisi
itu mencakup tiga unsur dalam kegiatan membaca, yaitu pembaca (yang
melihat, memahami, dan melisankan dalam hati), bacaan (yang dilihat),
dan pemahaman (oleh pembaca).10
Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud membaca adalah suatu
proses yang bersangkut paut dengan bahasa. Oleh karena itu, para pelajar
harus dibantu untuk menanggapi atau memberi respon terhadap
lambang-lambang visual yang menggambarkan tanda-tanda yang sama yang telah
mereka tanggapi sebelum itu.
Tampubolon di dalam bukunya berpendapat bahwa usaha-usaha
untuk membentuk kebiasan membaca hendaklah dimulai sedini mungkin
dalam kehidupan, yaitu sejak masa anak-anak. Pada masa anak-anak,
usaha pembentukan dalam arti peletakan fundasi minat yang baik dapat
dimulai sejak kira-kira umur dua tahun. Setelah anak mulai sekolah dan
telah dapat membaca permulaan (huruf, kata, dan kalimat), dia perlu
semakin dirangsang untuk membuka dan membaca buku-buku sesuai
9
Henry Guntur Tarigan, MEMBACA sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung: Angkasa, 2008) h. 7
10
dengan yang dipelajarinya di sekolah. Selain itu, mereka juga perlu
sesekali dibawa ke perpustakaan. 11
Kurt Franz dan Bernhard Meier mengatakan mengapa remaja
membaca atau tidak membaca, hanya dapat diterangkan bila diketahui
keperluan komunikasinya. Dalam literatur dalam jangkauan ini terdapat –
analog dengan pembagian jenisnya – banyak sekali alasan “dorongan membaca” pada remaja. Berkat jasa ilmu pengetahuan sosial modern maka kebergantungan keadaan, sikap, kecenderungan, kebiasaan,
perhatian, dan keperluan tertentu pada faktor-faktor yang ditentukan
secara sosial dapat diketahui. Hal itu dalam garis besar dan secara
keseluruhannya dapat berlaku pula bagi motivasi membaca. Tak dapat
diragukan lagi bahwa instansi-instansi sosial primer dan sekunder
mempengaruhi keadaan dan sikap membaca (rumah orang tua, sekolah,
kelompok, atau perkumpulan). Perkembangan motivasi membaca juga
selalu berhubungan dengan pensosialan anak. Seperti telah dilakukan
pada jenis teks, juga di sini dapat dilihat dua alur dasar motif-motifnya,
yaitu informasi dan hiburan. Dalam hal itu kedua kompenen tersebut
bertumpang tindi dan bekerja sama, tetapi agaknya salah satu dari kedua
motif itu dominan. 12
Giehrl masih menunjukkan jenis utama dalam membaca yang
dirinci sebagai berikut:
a. Membaca informatif
b. Membaca evasoris
c. Membaca kognitif
d. Membaca literatis
Penyelidikan empiris dapat menunjukkan bahwa di hampir semua jenis sekolah, motif membaca “pertama-tama adalah sebagai hiburan”, dan ini
11
Tampubolon, Kemampuan Membaca (Teknik Membaca Efektif dan Efisien), (Bandung: Angkasa, 2008) h. 228-229
12
jauh melebihi membaca untuk kepentingan belajar (informasi, “pembangunan”).13
2. Tujuan membaca
Setiap aspek kehidupan melibatkan kegiatan membaca. Dengan
melakukan kegiatan membaca tersebut, tentu dengan tujuan yang
berbeda-beda. Dengan demikian, orang membaca dengan berbagai tujuan:
a. Kesenangan
b. Menyempurnakan membaca nyaring
c. Menggunakan strategi tertentu
d. Memperbaharui pengetahuan tentang suatu topik
e. Mengaitkan informasi baru dengan informasi yang telah diketahui
f. Memperoleh informasi untuk laporan lisan atau tertulis
g. Mengkonfirmasi atau menolak prediksi
h. Menampilkan suatu eksperimen atau mengaplikasikan informasi yang
diperoleh dari suatu teks dalam beberapa cara lain dan mempelajari
tentang struktur teks14
i. Membaca untuk menemukan atau mengetahui penemuan-penemuan
yang telah dibuat oleh sang tokoh; apa-apa yang telah dibuat oleh
sang tokoh; apa yang telah terjadi pada tokoh khusus, atau untuk
memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta.
j. Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada
setiap bagian cerita, apa yang terjadi mula-mula pertama, kedua, dan
seterusnya. Setiap tahap dibuat untuk memecahkan suatu masalah,
adegan-adegan, dan kejadian buat dramalisasi. Ini disebut membaca
untuk mengetahui urutan atau susunan organsisasi cerita.
k. Membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang
baik dan menarik, masalah yang terdapat dalam cerita, apa-apa yang
dipelajari atau yang dialami sang tokoh, dan merangkum hal-hal yang
13
Ibid, h. 9
14
dilakukan oleh sang tokoh untuk mencapai tujuan. Membaca seperti
ini disebut membaca untuk memperoleh ide-ide utama.15
Dengan membaca, seseorang dapat bersantai, berinteraksi dengan
perasaan dan pikiran, memperoleh informasi, dan meningkatkan ilmu
pengetahuan. Menurut Bowman, membaca merupakan sarana yang tepat
untuk mempromosikan suatu pembelajaran sepanjang hayat. Membaca
bukanlah suatu kegiatan pembelajaran yang mudah. Banyak faktor yang
dapat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam membaca. Secara umum,
faktor-faktor tersebut dapat diidentifikasi seperti guru, siswa, kondisi
lingkungan, materi pelajaran, serta teknik pengajaran membaca. 16
C. Hakikat Sastra
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa sastra mengandung pengertian sebagai berikut:
1. Bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai di kitab-kitab (bukan
bahasa sehari-hari).
2. Kesusastraan, karya tulis, yang juga dibandingkan dengan tulisan lain
memiliki berbagai ciri keunggulan, seperti keaslian, keartistikan,
keindahan dalam isi dan ungkapannya, drama, epik, dan lirik.
3. Kitab suci (Hindu), (kitab) ilmu pengetahuan.
4. Pustaka, kitab primbon (berisi) ramalan, hitungan, dan sebagainya.
5. Tulisan dan huruf.17
Bagi banyak orang, misalnya, karya sastra menjadi sarana untuk
menyampaikan pesan tentang kebenaran, tentang apa yang baik dan buruk.
Ada pesan yang sangat jelas disampaikan, ada pula yang bersifat tersirat
secara halus. Karya sastra juga dapat dipakai untuk menggambarkan apa yang
15
Henry Guntur Tarigan, Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung: Angkasa, 1983) h.9
16
Samsu Somadyo, Strategi dan Teknik Pembelajaran Membaca, (Yogyakarta, Graha Ilmu, 2011) h.2
17
ditangkap sang pengarang tentang kehidupan di sekitarnya. Kemampuan
sastra dalam menyampaikan pesan menempatkan sastra menjadi sarana kritik
sosial. Contohnya dapat dilihat dari kehidupan sekitar kita sehari-hari, seperti
penggunaan puisi dalam demonstrasi. Tetapi, kritik sosial dapat juga
disampaikan oleh teks dengan cara yang lebih tersirat dan halus melalui
piranti-piranti sastra, seperti penggunaan simbol dan nada ironis.18
Pengajaran sastra tidak dapat dipisahkan dari pengajaran bahasa.
Namun pengajaran sastra tidak dapat disamakan dengan pengajaran bahasa.
Perbedaan Sastra ialah teks-teks yang tidak hanya disusun atau dipakai untuk
suatu tujuan komunikatif yang praktis dan yang hanya berlangsung untuk
sementara. Sebuah karya sastra dapat dibaca menurut tahap arti yang
berbeda-beda. Dalam sebuah novel, kita tidak hanya menjadi maklum akan
pengalaman dan hidup batin tokoh-tokoh fiktif, tetapi juga lewat
peristiwa-peristiwa dapat diperoleh pengertian mengenai tema yang lebih umum
sifatnya, misalnya tema sosial, penindasan dalam masyarakat dan
sebagainya.19
Karena sifat rekaannya, sastra secara tidak langsung mengatakan
sesuatu mengenai kenyataan dan tidak menggugah kita untuk langsung
bertindak. Oleh karena itu, sastra memberikan kekuasaan untuk
memperhatikan dunia-dunia lain, kenyataan-kenyataan yang terdapat dalam
angan-angan, dan sistem nilai yang mungkin tidak dikenal atau tidak dihargai.
Bahasa sastra dan pengolahan bahan lewat sastra dapat membuka batin untuk
membuka pengalaman baru atu mengajak kita untuk mengatur pengalaman
tersebut dengan suatu cara yang baru.20
Hirarki keduanya terletak pada tujuan akhirnya. Pada pengajaran
sastra yang dasarnya mengemban misi afektif (memperkaya pengalaman
siswa dan menjadikannya lebih tanggap terhadap peristiwa-peristiwa di
sekelilingnya) yang memiliki tujuan akhir menanam, menumbuhkan, dan
18
Melani Budianta. Membaca Sastra. (Magelang: INDONESIATERA, 2006) h. 19-20 19
Partini Sardjono Pradotokusumo, Pengkajian Satra,(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, September 2005) h. 28-29
20
mengembangkan kepekaan terhadap masalah-masalah manusiawi,
pengenalan dan rasa hormatnya terhadap tata nilai baik dalam konteks
individual maupun sosial. Sastra memang tidak dapat dikelompokkan ke
dalam aspek pembelajaran berbahasa karena bukan merupakan bidang yang
sejenis tetapi pembelajaran sastra dilaksanakan secara terintegrasi dengan
pembelajaran bahasa baik dengan keterampilan menulis, membaca,
menyimak, maupun berbicara. Sastra memiliki fungsi dalam kehidupan
manusia, yaitu:
1. Fungsi rekreatif, memberikan rasa senang, gembira atau menghibur.
2. Fungsi didaktif, mengarahkan dan mendidik pembaca karena mengandung
nilai-nilai moral.
3. Fungsi estetika, memberikan keindahan bagi pembaca karena bahasanya yang
indah.
4. Fungsi moralitas, membedakan moral yang baik dan tidak baik bagi
pembacanya karena sastra yang baik selalu mengandung nilai-nilai moral
yang tinggi.
5. Fungsi religiusitas, mengandung ajaran-ajaran agama yang harus diketahui
oleh pembaca.
Tingkat apresiasi seorang siswa terhadap nilai sebuah karya sangat
bergantung pada tingkat pengalaman belajarnya. Sebagai contoh, jika seorang
siswa telah mengalami proses belajar agama secara mendalam maka tingkat
apresiasinya terhadap nilai seni baca Al-Qur’an dan kaligrafi akan mendalam
pula. Dengan demikian, pada dasarnya seorang siswa baru akan akan
memiliki apresiasi yang memadai terhadap objek tertentu apabila sebelumnya
ia telah mempelajari materi yang berkaitan dengan objek yang dianggap
mengandung nilai penting dan indah tersebut.21
21
1. Macam-macam karya sastra: a. Cerpen
Pengertian cerita pendek telah banyak dibuat dan dikemukakan
oleh pakar sastra, sastrawan. Memang membuat definisi cerita pendek
itu tidaklah mudah. Walaupun demikian, akan diterakan beberapa
pengertian cerita pendek yang dikemukakan oleh mereka.
Dalam buku Tifa Penyair dan Daerahnya, H.B. Jassin megemukakan bahwa cerita pendek ialah cerita yang pendek. Jassin
jauh lebih jauh mengungkapkan bahwa tentang cerita pendek ini orang
boleh bertengkar, tetapi cerita yang sertus halaman panjangnya sudah
tentu tidak bisa disebut cerita pendek dan memang tidak ada cerita
pendek yang demikian panjangnya. Cerita yang panjangnya sepuluh
atau dua puluh halaman masih bisa disebut cerita pendek tetapi ada
juga cerita pendek yang panjangnya hanya satu halaman.
Pengertian yang sama dikemukakan oleh Sumardjo dan Saini di
dalam buku mereka Apresiasi Kesusastraan. Mereka berpengertian
bahwa cerita pendek (atau disingkat cerpen) adalah cerita yang
pendek. Tetapi dengan hanya melihat fisiknya yang pendek orang
belum dapat menetapkan sebuah cerita yang pendek adalah sebuah
cerpen.
Sumardjo juga mengemukakan pengertian cerita pendek di
dalam bukunya Catatan Kecil tentang Menulis Cerpen. Ia berpengertian bahwa cerita pendek adalah fiksi pendek yang selesai dibaca dalam “sekali duduk”. Cerita pendek hanya memiliki satu arti satu krisis dan satu efek untuk pembacanya. Untuk ukuran Indonesia
cerpen terdiri dari 4 sampai 15 halaman.22
22
Struktur Cerpen
1) Tema
Menurut Stanton tema adalah sebuah arti pusat
pengalaman-pengalaman, tema cerita mempunyai nilai khusus
atau nilai universal, yaitu memberikan kekuatan dan kesatuan
kepada peristiwa-peristiwa yang digambarkan dan menceritakan
sesuatu kepada seseorang tentang kehidupan pada umumnya.
Tema tidak selalu dinyatakan secara eksplisit oleh pengarang,
artinya tema itu tidak dinyatakan secara terang-terangan oleh
pengarang. Dia memasukkan tema itu secara bersama-bersama
dengan atau kejadian dalam cerita. 23
2) Alur
Dalam pengertian yang luas, plot sebuah cerita adalah
keseluruhan rangkaian peristiwa yang terdapat di dalamnya.
Biasanya plot dibatasi hanya pada peristiwa-peristiwa yang
mempunyai hubungan sebab akibat, yang kalau salah satu di
antaranya dihilangkan akan merusak jalan cerita.
Peristiwa-peristiwa tidak hanya meliputi yang bersifat fisik seperti
percakapan atau perbuatan, tetapi juga termasuk perubaha sikap
tokoh yang mengubah jalan nasib.24
3) Latar
Unsur lain yang ada dalam sebuah cerita adalah latar atau setting.
Banyak teori sastra yang menunjukkan pengertian tentang latar
ini. Abrams mengatakan bahwa latar cerita atau drama adalah
tempat terjadinya peristiwa secara umum atau waktu
berlangsungnya suatu tindakan. Sejajar dengan pendapat di atas
23
Siti Sundari, dkk., Memahami Cerpen-cerpen Danarto, (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1978) h. 26
24
ialah apa yang dikatakan oleh Kenney bahwa latar adalah unsur
fiksi yang menyatakan di mana dan kapan peristiwa terjadi.25
4) Tokoh/Pelaku
Tugas pokok pelaku dalam cerpen adalah melaksanakan atau
membawa tema cerita menuju ke sasaran tertentu. Oleh karen itu,
cerita yang tanpa pelaku sulit menggiring masalah ke tujuan yang
akan dicapai.26
b. Puisi
Puisi adalah karya sastra. Semua karya sastra bersifat
imajinatif. Bahasa sastra bersifat konotatif karena banyak digunakan
makna kias dan makna lambang (majas). Dibandingkan dengan bentuk karya sastra yang lainnya, puisi lebih bersifat konotatif.
Bahasanya lebih banyak kemungkinan makna. Hal ini disebabkan
terjadinya pengkonsentrasian atau pemadatan segenap kekuatan
bahasa di dalam puisi. Struktur fisik dan struktur batin puisi juga
padat. Keduanya bersenyawa secara padu bagaikan telur dalam
adonan roti.27
Selanjutnya “Puisi merupakan ekspresi pengalaman batin (jiwa) penyair mengenai kehidupan manusia, alam, Tuhan sang pencipta,
melalui media bahasa yang estetik yang secara padu dan utuh, dalam bentuk teks yang dinamakan puisi.”28
Di balik kata-katanya yang ekonomis, padat, dan padu tersebut
puisi berisi potret kehidupan manusia. Puisi menyuguhkan
persoalan-persoalan kehidupan manusia dan juga manusia dalam hubungannya
dengan alam dan Tuhan sang pencipta.29
25
Ibid, h.58
26
Wijaya Heru Santoso dan Sri Wahyuningtyas, Pengantar Apresiasi Prosa, (Surakarta: Yuma Pustaka, 2010) h.6
27
Hermawan J. Waluyo, Teori dan Apresiasi Puisi, (Jakarta: Erlangga, 1995) h. 23 28
Widjojoko & Hidayat Endang, Teori dan Sejarah Sastra Indonesia, (Bandung: Upi Press, 2006) Cet ke-1. h. 51
29
Dari definisi di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa puisi
merupakan karya sastra yang meliputi emosi, imajinasi, pemikiran,
ide, nada, irama, kesan pancaindera, susunan kata, kata kiasan,
kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur.
Hakekat Puisi
1) Tema atau Makna
Jelas bahwa dengan puisinya sang penyair ingin
mengemukakan sesuatu bagi para penikmatnya. Sang penyair
melihat-melihat atau mengalami beberapa kejadian dalam
kehidupan masyarakat sehari-hari. Dia ingin mengememukakan,
mempersoalkan, mempermasalahkan hal-hal itu dengan cara
sendirinya. Disamping itu setiap puisi juga harus mengandung
makna, sekalipun mungkin dalam beberapa puisi makna tersebut
rada saru samar, terlebih pun kalau sang penyair begitu mahir mempergunakan “figurative language” dalam karyanya.
2) Rasa
Menurut Henry Guntur Tarigan, yang dimaksud dengan rasa
atau feeling adalah “the poet’s attitude toward his subject matter”,
yaitu sikap dan penyair terhadap pokok permasalahan yang
terkandung dalam puisinya.
3) Nada
Nada dalam dunia perpuisian adalah sikap sang penyair
terhadap pembacanya, atau dengan perkataan lain: sikap sang
penyair terhadap para penikmat karyanya. Nada yang
dikemukakan oleh seorang penyair dalam sesuatu sajak, akan ada
sangkut-pautnya atau hubungannya yang erat dengan tema dan
4) Tujuan atau Amanat
Tujuan dapat mendorong orang melakukan sesuatu. Hanya
terkadang tujuan tersebut tidak disadari; namun dia tetap ada:
secara eksplisit atau secara implisit. Demikian pula halnya dengan
seorang penyair. Sadar atau tidak sadar dia mempunyai tujuan
dengan sajak-sajak ciptaannya itu. Apakah tujuan ini pertama
sekali untuk memenuhi kebutuhan pribadi sendiri atau yang
lainnya, bergantung kepada pandangan hidup sang penyair. Ayip
Rosidi mengatakan bahwa pertama kali adalah untuk memuaskan
diri sendiri, sesudah itu baru pada yang lain-lainnya.30
c. Drama
Menurut Melani Budianta drama adalah sebuah genre sastra
yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya
dialog atau cakapan di antara tokoh-tokoh yang ada. Selain
didominasi oleh cakapan yang langsung itu, lazimnya sebuah karya
drama juga memperlihatkan adanya semacam petunjuk
pemanggungan yang akan memberikan gambaran tentang suasana,
lokasi, atau apa yang dilakukan oleh tokoh.31
Suwardi Endraswara mengemukakan dalam bukunya bahwa
drama adalah karya yang memiliki daya rangsang cipta, rasa, dan
karsa yang amat tinggi. Sesungguhnya, dalam drama juga terkandung
aspek negatif, diantaranya drama yang memuat kekerasan dan adegan
seksual, kadang memicu penonton untuk meniru. Drama yang
menawarkan erotica tersembunyi pun sering memengaruhi romantika
hidup berkeluarga. Bahkan romantika dalam drama seringkali juga
memperdaya antar-pelaku untuk saling berkasih-kasihan di luar
panggung. Begitu pula drama yang sedih, sering memengaruhi
30
Henry Guntur Tarigan, Prinsip-prinsip Dasar Sastra, (Bandung: ANGKASA, 1993) h. 10-20
31
penonton harus menjiwai kesedihan. Namun, dibalik hal-hal negatif,
ada pula muatan aspek positif drama, yakni sebagai berikut.
1) Drama agaknya merupakan sarana yang paling efektif dan langsung
untuk melukiskan dan menggarap konflik-konflik sosial, dilema
moral, dan problema personal tanpa menanggung
konsekuensi-konsekuensi khusus dari aksi-aksi kita.
2) Aktor-aktor drama memaksa kita untuk memusatkan perhatian kita
pada protagonist lakon, untuk merasakan emosi-emosinya, dan
untuk menghayati konflik-konfliknya, justru untuk ikut sama-sama
merasakan penderitaan yang mengurangi pembinaan dan
ketidakadilan yang dialami pelaku-pelaku atau tokoh-tokoh drama.
3) Melalui tragedi, misalnya, dengan sedikit terluka di hati, dapat
belajar bagaimana hidup dengan penuh derita, dan mengajarkan
dan memberikan wawasan suatu ketabahan dan dengan kemuliaan
dapat menandinginya.
4) Melalui komedi, kita dapat menikmati peluapan gelaktawa sebagai
suatu pembukaan tabir rahasia mengenai untuk apa manusia
menentang/melawan dan untuk apa pula manusia mempertahankan
atau membela sesuatu.
5) Melodrama yang ditulis dengan baik, fantasi, atau farce, dapat
mengusir keengganan, memperluas imajinasi kita, dan untuk
sebentar membawa diri keluar dari diri kita sendiri, sehingga tak
mengherankan jika drama telah pula dikenal berfungsi terapis.32
Unsur-unsur Drama
a. Alur
Seperti juga bentuk-bentuk sastra lainnya, maka suatu lakon
haruslah bergerak maju dari suatu permulaan (beginning) melalui suatu pertengahan (middle) menuju suatu akhir (ending), dalam
32
drama, bagian-bagian ini dikenal dengan istilah-istilah eksposisi,
komplikasi, dan resolusi.
Eksposisi suatu lakon mendasari serta mengatur gerak atau
action dalam masalah-masalah waktu dan tempat. Eksposisi memperkenalkan para pelaku kepada kita, yang akan
dikembangkan dalam bagian utama lakon itu, dan memberikan
suatu indikasi mengenai resolusi.
Komplikasi bertugas mengembangkan konflik. Sang
pahlawan atau pelaku utama menemui gangguan,
penghalang-penghalang dalam pencapaian tujuannya; dia membuat
kekeliruan-kekeliruan dan sebagainya.
Resolusi haruslah berlangsung secara logis dan mempunyai
hubungan yang wajar dengan apa-apa yang mendahuluinya, yang
terdapat dalam komplikasi. Butir yang memisahkan komplikasi
dari resolusi itu biasanya disebut klimaks.33
b. Penokohan
Menurut Tarigan, penokohan dalam drama terbagi atas empat
jenis pelaku atau aktor yang biasa dipergunakan dalam teater,
diantaranya adalah:
1) The foil, tokoh kontra dengan tokoh lainnya. Tokoh yang membantu menjelaskan tokoh ainnya.
2) The type character, tokoh yang berperan dengan tepat dan tangkas.
3) The static character, tokoh statis yang tetap saja keadaanya, baik pada awal maupun pada akhir suatu lakon. Dengan kata
lain tokoh ini tiada mengalami perubahan.
4) The character who develpos in the course of the play, tokoh yang mengalami perkembangan selama pertunjukan. 34
33
Henry Guntur Tarigan, Prinsip-prinsip Dasar Sastra, (Bandung: ANGKASA, 1993) h. 75 34
c. Dialog
Dalam setiap lakon, dialog itu harus memenuhi dua hal,
yaitu:
1) Dialog harus dapat mempertinggi nilai gerak.
Seorang darmawan haruslah dapat berbuat lebih banyak
selain dari pada membuat dialognya menarik hati, dia harus
pula membuatnya baik dan wajar selalu.
2) Dialog harus baik dan bernilai tinggi.
Yang dimaksud dengan baik dan bernilai tinggi di sini ialah
bahwa dialog itu haruslah lebih terarah dan teratur dari pada
percakapan sehari-hari. 35
d. Novel
Istilah novel dalam bahasa Indonesia berasal dari istilah novel
dalam bahasa Inggris. Sebelumnya istilah novel dalam bahasa Inggris
berasal dari bahasa Itali, yaitu novella (yang dalam bahasa Jerman
novelle). Novelle diartikan sebuah barang baru yang kecil, kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa.
H.B. Jassin berpengertian bahwa novel adalah cerita mengenai
salah satu episode dalam kehidupan manusia, suatu kejadian yang luar
biasa dalam kehidupan itu, sebuah krisis yang memungkinkan
terjadinya perubahan nasib pada manusia (1965, dalam Faruk,
1997:265).36
Menurut Tarigan, kata novel berasal dari kata Latin novellus
yang diturunkan pula dari kata novies yang berarti “baru”. Dikatakan baru karena kalau dibandingkan dengan jenis-jenis sastra lainnya
seperti puisi, drama, dan lain-lain, maka jenis novel ini muncul
kemudian.37
35
Ibid, h.77
36
AntilanPurba, Sastra Indonesia Kontomporer, (Yogyakarta: GrahaIlmu, 2011) h.62-63
37
Unsur-unsur Novel
1) Tema
Menurut Furqonul dan Abdul, tema adalah gagasan sentral dalam
suatu karya sastra. Dalam novel, tema merupakan gagasan utama
yang dikembangkan dalam plot. Hampir semua gagasan yang ada
dalam hidup ini bisa dijadikan tema, sekalipun dalam praktiknya
tema-tema yang paling sering diambil adalah beberapa aspek atau
karkater dalam kehidupan ini, seperti ambisi, kesetiaan,
kecemburuan, frustasi, kemunafikan, ketabahan, dan
sebagainya.38
2) Manusia (Tokoh)
Manusia yang dimaksud ialah pelaku atau tokoh dalam cerita
rekaan. Pelaku atau tokoh diganti dengan istilah manusia karena
pada umumnya pelaku atau tokoh adalah manusia dan jarang
dengan pelaku binatang atau yang lain. Apabila terdapat pelaku
bukan manusia, biasanya pelaku itu merupakan tokoh simbolik.39
3) Plot / Alur
Plot atau alur adalah penceritaan rentetan peristiwa yang
penekanannya ditumpukan pada sebab-akibat.40 Alur dibagi
menjadi tiga yaitu alur maju, alur mundur, dan alur campuran
(maju dan mundur).
4) Latar atau Setting
Furqonul dan Aziez mengungkapkan bahwa istilah ini berkaitan
dengan elemen-elemen yang memberikan kesan abstrak tentang
lingkungan, baik tempat maupun waktu, di mana para tokoh
menjalanan perannya.41
38
Furqonul Aziez dan Abdul Hasim,Menganalisis Fiksi (Sebuah Pengantar), (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010) h. 75
39
Wijaya Heru Santosa, Pengantar Apresiasi Sastra, (Surakarta: Yuma Pustaka, 2010) h.53-55
40
Ibid, h.56
41
e. Pantun
Pantun adalah puisi Melayu asli yang cukup mengakar dan
membudaya dalam masyarakat. Pantun merupakan salah satu jenis
puisi lama. Lazimnya pantun terdiri atau empat larik atau empat baris
bila dituliskan, bersajak a-b-a-b ataupun a-a-a-a. Pantun pada mulanya
merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang
tertulis.
Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian, yaitu sampiran dan
isi. Sampiran adalah dua baris pertama dan biasanya tak punya
hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud. Dua
baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun
tersebut.42
Ciri-ciri formal pantun:
a. Satu bait terdiri dari empat baris (larik).
b. Tiap larik terdiri dua bagian yang sama. Bagian yang sama
pembentuk larik itu disebut periodus. Jadi, tiap lirik terdiri dari
dua periodus. Tiap periodus terdiri dari dua kata.
c. Pola sajak (rima) akhir pantun berupa sajak berselang: a-b-a-b.
d. Pantun terbagi menjadi dua bagian, yaitu baris kesatu dan baris
kedua disebut sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat
disebut isi. Baris kesatu dan kedua menyediakan irama bagi baris
ketiga dan keempat. Dalam pantun yang baik sampiran itu
merupakan kiasan kepada isinya.
e. Dalam pantun, satu bait sudah lengkap. Dapat diartikan satu bait
sudah utuh dan tidak perlu ditambah lagi meskipun ada juga
pantun yang lebih dari satu bait.
f. Pantun bersifat liris, berupa persaan atau pikiran.43
42
Damayanti, Sastra Indonesia, (Yogyakarta: Araska, 2013) h. 114
43
D. Penelitian yang Relevan
Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Nurhilaliyah, mahasiswi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan dengan judul skripsi “Minat Siswa dalam Membaca Puisi dengan Menggunakan Buku Teks Kelas VII SMP Islam Al-Khasyi’un”. Dari
hasil penelitian Nurhilaliyah diperoleh angka 87,5% dengan jumlah siswa 35
menyatakan minat terhadap materi membaca puisi, sedangkan 75% dengan
jumlah siswa 30 menyatakan senang membaca buku teks bahasa Indonesia.
Maka dapat disimpulkan bahwa minat siswa dalam membaca puisi dengan
menggunakan buku teks kelas VII berkategori baik.
Perbedaan yang peneliti Nurhilaliyah lakukan dengan yang saya teliti
adalah objeknya. Nurhilaliyah menggunakan objek puisi dan buku teks
sedangkan saya menggunakan objek karya sastra.
Penelitian kedua dilakukan oleh Halima Tusadiah, mahasiswi Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan dengan judul skripsi “Minat Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah (MTs) Islamiyah Ciputat”.
Dari hasil penelitian Halima Tusadiah dapat disimpulkan bahwa minat siswa
dalam membaca buku pelajaran bahasa Indoensia di MTs Islamiyah masih
sangat kurang.
Perbedaan yang peneliti Halima Tusadiah lakukan dengan yang saya teliti
sama dengan penelitian Nurhilaliyah yaitu objeknya. Halima Tusadiah
menggunakan objek Buku Pelajaran Bahasa Indonesia sedangkan saya
menggunakan objek karya sastra.
Penelitian ketiga dilakukan oleh Titi Widyawati, mahasiswi Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Psikologi dengan judul skripsi “Dukungan Orang Tua dan Sikap Terhadap Membaca Kaitannya dengan Minat Membaca pada Siswa MTs Pembangunan UIN Jakarta”.
Dari hasil penelitian Titi Widyawati dapat disimpulkan bahwa empat dari
kelamin memberikan sumbangsih secara signifikan yaitu reliable alliance, reassurance of worth, attachment, guidance, social intergation, opportunity for nurturance, sikap terhadap membaca. Koefisien regresi yang dihasilkan dari variabel sikap dan dukungan terhadap minat dengan membaca adalah
0,777. Variabel sikap berpengaruh terhadap minat dengan koefisien regresi
sebesar 0,684. Variabel dukungan orang tua berpengaruh terhadap minat
dengan koefisien regresinya 0.093.
Perbedaan penelitian Titi Widyawati dengan yang saya teliti adalah selain
meneliti tentang minat membaca, Titi Widyawati juga meneliti bagaimana
dukungan orang tua dan sikap mereka terhadap minat membaca pada siswa
MTs Pembangunan dengan memberikan pernyataan yang ada pada angket.
Jika dilihat dari ketiga judul skripsi di atas, persamaan penelitian mereka
dengan yang saya teliti adalah kita sama-sama meneliti tentang bagaimana
minat membaca siswa, baik itu membaca puisi dengan buku teks, membaca
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMK Budhi Warman II yang beralamat
di Jl. Raya Bogor KM.28 Pekayon, Jakarta Timur. Pelaksanaan penelitian dan
pengumpulan data ini dimulai dari bulan Agustus-Oktober 2015 .
B. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian tentang minat
baca karya sastra adalah metode deskriptif. Nana Syaodih mengemukakan
metode deskriptif adalah suatu bentuk metode yang paling dasar. Ditujukan
untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada,
baik fenomena yang bersifat alamiah ataupun rekayasa manusia. Penelitian
ini mengkaji bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan,
dan perbedaannya dengan fenomena lain.1
Menurut Margono, dalam metode deskriptif peneliti segera melakukan
analisis data dengan memberi pemaparan gambaran mengenai situasi yang
diteliti dalam bentuk uraian naratif.2 Selain itu, penelitian ini juga
menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu pendekatan penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari
orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.3 Pendekatan kualitatif dapat
digunakan untuk mengungkapkan dan memahami sesuatu di balik fenomena
yang sama sekali belum diketahui. Pendekatan ini bertujuan untuk
mendapatkan pemahaman yang sifatnya umum terhadap kenyataan sosial dari
perspektif partisipan.4 Oleh karena itu, penelitian yang penulis lakukan
menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif.
1
Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012) h. 72
2
Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004) h. 39
3
Ibid, h. 36
4
C. Subjek Penelitian
Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas XII SMK Budhi
Warman II Pekayon. Peneliti akan menyebar angket ke seluruh siswa kelas
XII , terdiri dari 4 kelas yang berjumlah 120 siswa. Setiap kelas diambil 10
sampel untuk diolah datanya oleh peneliti.
Sampel yang akan diambil dalam penelitian ini sebanyak 40 siswa dari
seluruh populasi. Pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling
(sampel acak). Pengambilan sampel secara acak berarti setiap individu dalam
populasi mempunyai peluang yang sama untuk dijadikan sampel.
Individu-individu tersebut punya peluang yang sama, bila mereka memiliki
karakteristik yang sama atau diasumsikan sama.5
D. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian kualitatif instrumen penelitian ini adalah peneliti
sendiri. Namun, untuk mendukung dan memperkuat data, peneliti
menyebarkan angket dan melakukan wawancara.
Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, instrumen yang peneliti
gunakan dalam penelitian ini adalah pernyataan-pernyataan berupa angket,
yang kemudian diberikan kepada objek penelitian, yaitu siswa yang peneliti
pilih untuk dijadikan sampel dalam penelitian ini. Selain angket, peneliti juga
menggunakan instrumen wawancara dengan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan kepada guru bahasa Indonesia untuk mendapatkan informasi yang
akurat tentang bagaimana ketertarikan para siswa dalam membaca terutama
membaca karya sastra.
E. Teknik Pengumpulan Data
Adapaun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah
wawancara dan angket.
5
1. Wawancara
Wawancara atau interview barangkali dapat dikatakan merupakan alat tukar menukar informasi yang tertua dan banyak digunakan umat
manusia dari seluruh zaman. Dalam penelitian, terutama penelitian
sosiologi dan antropologi, wawancara juga sering digunakan dan bahkan
merupakan alat pengumpul data favorit.6 Menurut Basrowi dan Suwandi
dalam bukunya mengatakan bahwa wawancara adalah semacam dialog
atau tanya jawab antara pewawancara dengan responden dengan tujuan
memperoleh jawaban-jawaban yang dikehendaki.7 Pada penelitian ini
penulis melakukan wawancara dengan guru bahasa Indonesia untuk
mengetahui bagaimana proses pembelajaran bahasa Indonesia dan
bagaimana minat siswa dalam membaca karya sastra.
2. Angket
Hadeli menyatakan angket adalah satu teknik pengumpulan data yang
berbentuk kumpulan pertanyaan.8 Menurut Burhan, angket tersebut
disebarkan kepada responden untuk diminta jawaban mereka. Setelah
angket itu terkumpul, biasanya dilanjutkan dengan proses editing, koding,
dan tabulasi. Dari hasil tabulasi tersebut antara lain bisa disajikan bentuk
tabel. Di tabel itulah tercermin berbagai gambaran tentang para
responden yang telah diteliti. Gambaran yang tertuang dalam tabel
tersebut merupakan cerminan dari keadaan nyata yang terbesar di tengah
masyarakat. Ia merupakan hasil “meringkas” kenyataan para responden
yang terbesar di masyarakat.9
Pada penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan cara
memberikan daftar pernyataan dan kemudian responden diminta untuk
memberikan tanggapan terhadap pernyataan tersebut, apakah ya atau tidak
6
Op, Cit, h.28 7
Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian Kuantitatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008) h. 141
8
Hadeli, Metode Penelitian Kependidikan, (Jakarta: Quantum Teaching, 2006) h.75
9
dengan disertai alasan mereka terkait pernyataan di dalam angket yang
diberikan kepada seluruh siswa Kelas XII SMK Budhi Warman II Tahun
Ajaran 2015/2016.
Teknik pengumpulan data selanjutnya dilakukan dengan random sampling (secara acak). Peneliti membuat daftar inisial nama siswa lalu dikocok. Hasil pengocokan itu yang nantinya akan diolah datanya oleh
peneliti.
[image:46.595.89.487.268.606.2]TABEL
KISI-KISI TENTANG MINAT MEMBACA KARYA SASTRA PADA SISWA KEL