• Tidak ada hasil yang ditemukan

Minat Membaca Karya Sastra pada Siswa Kelas XII SMK Budhi Warman II Pekayon Jakarta Timur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Minat Membaca Karya Sastra pada Siswa Kelas XII SMK Budhi Warman II Pekayon Jakarta Timur"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

Oleh:

SITI ZURAIDAH LUTHFIATI

1111013000032

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)
(5)

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. September 2015.

Latar belakang penelitian ini adalah masih rendahnya kemampuan baca pada masyarakat Indonesia saat ini khususnya para siswa di sekolah. Berbeda dengan negara-negara maju seperti Jepang yang menjadikan membaca sebagai suatu budaya atau kebiasaan. Salah satu yang mempengaruhi membaca tersebut adalah minat. Minat baca adalah merupakan hasrat seseorang atau siswa terhadap bacaan, yang mendorong munculnya keinginan dan kemampuan untuk membaca, diikuti oleh kegiatan nyata membaca bacaan yang diminatinya. Minat baca bersifat pribadi dan merupakan produk belajar.

Minat merupakan salah satu faktor yang cukup penting yang mempengaruhi kemampuan membaca. Menurut Crow dan Crow dalam bukunya

Educational Pshycology minat bisa berhubungan dengan gaya gerak yang mendorong kita cenderung atau merasa tertarik pada orang, benda atau kegiatan, itupun bisa berupa pengalaman efektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri. Dengan kata lain, minat dapat menjadi penyebab kegiatan dan penyebab partisipasi dalam kegiatan.

Subjek dalam penelitian ini adalah kelas XII SMK Budhi Warman II semester ganjil Tahun Ajaran 2015-2016. Penulis menggunakan metode deksriptif kualitatif untuk mengolah data. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah dengan wawancara dan teknik analisis data angket dengan menggunakan rumus

P= x100%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan hasil angket yang masuk (berjumlah 40) maka dari persentase angket menunjukkan 77,5% menyatakan bahwa siswa tidak pernah meluangkan waktunya untuk membaca, sedangkan hanya ada 22,5% siswa yang sering menghabiskan waktunya untuk membaca. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa minat siswa dalam membaca sebuah karya sastra masih kurang dan perlu ditingkatkan. Sebaiknya, untuk meningkatkan minat siswa dapat dilakukan dengan membimbing serta mendampingi siswa terutama guru bidang studi pada setiap pertemuan mata pelajaran Bahasa Indonesia.

(6)

Teaching, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta. September 2015. Background this study was still low ability reading on the current Indonesia community especially students in school. In contrast to developed countries such as Japan which makes the reading as a culture or habit. The one that affects the reading interest. Interest is read is someone's desire or students against reading, which prompted the emergence of desire and the ability to read, followed by the real activities of the reading interest. Reading is personal interest and is a product of learning.

Interest is one of the factors that are important enough that affects reading skills. According to Crow and Crow in his Educational Pshycology interest could be related to a pushing motion styles we tend to be or feel interested in people, things or activities, that can be effective experience stimulated by the activity itself. In other words, the interest can be the cause of events and causes of the participation in the activity.

The subject in this research is the class XII SMK Budhi Warman II semester ganjil academic year 2015-2016. The author uses qualitative deksriptif method to process data. This research data collection technique is interview and question form analysis techniques using the formula P = F/Nx100%.

The results showed that based on the results of the now coming in (numbering 40) now shows the percentage of 77.5% stated that the students never take the time to read, whereas there are only 22.5% of students who often spend time for reading. Thus, it can be concluded that interest students in reading a work of literature is still lacking and needs to be improved. To achieve perfection, should interest students can be done with a guide and accompany the students mainly study teacher at every meeting of the Indonesia language subjects.

(7)

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. shalawat dan salam penulis

curahkan kepada Nabi Muhammad saw yang telah menyelamatkan manusia dari

jalan sesat menuju jalan lurus yang diridai Allah SWT.

Dalam rangka memenuhi kewajiban untuk mencapai gelar sarjana pendidikan penulis telah menyelesaikan skripsi yang berjudul “Minat Membaca Karya Sastra pada Siswa Kelas XII SMK Budhi Warman II Pekayon Jakarta Timur”. Selama penulisan skripsi ini, tentunya tidak luput dari pihak-pihak yang telah membantu baik secara moril dan materiil. Oleh karena itu, penulis

mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam

menyelsaikan skripsi ini:

1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, M.A. Selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Makyun Subuki, M. Hum. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan

Sastra Indonesia Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Dona Aji Karunia Putra, M.A. selaku sekretaris Jurusan Pendidikan Bahasa

dan Sastra Indonesia Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Dra. Hindun, M. Pd. selaku dosen penasehat akademik.

5. Dra. Mahmudah Fitriyah. ZA, M. Pd. selaku dosen pembimbing yang dengan

kesabaran serta ketulusan meluangkan waktu dan fikirannya untuk

membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

6. Pardi Supardi, S.S., M.Pd selaku Kepala Sekolah SMK Budhi Warman II

yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di

sekolah.

7. Eva Andriani, S. Pd selaku guru bahasa Indonesia SMK Budhi Warman II

yang telah memberikan pengarahan, bimbingan, pengalaman, dan membantu

(8)

penyusunan skripsi ini.

9. Ayahanda H.M. Lutfi Azhari dan Ibunda Ati Rusmiati tercinta yang

senantiasa selalu mendukung dan mendoakan saya dalam hal apapun

sehingga saya bisa seperti sekarang ini.

10.Siti Nazilah Luthfiati, M. Fikri Hazami, dan M. Faisal Zamzami,

saudara-saudara kandungku yang selalu memotivasi penulis dan memberikan

keceriaannya di setiap waktu.

11.Nur Wachidah, Indri P. Yusuf, Banat Jullieat, Isma Rusan Farhani, Mira

Rosiana, Nona Yuni Safira, Muthianissa Oktaviani, dan Siti Anisah,

sahabat-sahabatku yang tak pernah henti memberikan doa, semangat, motivasi,

keceriaan, dan keyakinan untuk menyelesaikan skripsi ini.

12.Teman-teman PBSI-A angkatan 2011 yang telah banyak membantu dan

memberikan semangat serta motivasi kepada penulis.

Terima kasih atas segala bantuan dan dorongan yang telah kalian berikan

kepada penulis, semoga Allah SWT memberikan balasan kebaikan. Semoga

skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada penulis khususnya dan pembaca

umumnya.

Jakarta, Oktober 2015

Penulis

(9)

DAFTAR ISI ... iii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 5

C. Pembatasan Masalah ... 5

D. Perumusan Masalah ... 5

E. Tujuan Penelitian ... 6

F. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II KAJIAN TEORI A. Hakikat Minat ... 8

1. Pengertian Minat ...8

2. Macam-macam Minat ... 11

B. Hakikat Membaca ... 14

1. Pengertian Membaca ... 14

2. Tujuan membaca ... 16

C. Hakikat Sastra ... 17

1. Macam-macam karya sastra ... 20

a. Cerpen ... 20

b. Puisi ... 22

c. Drama ... 24

d. Novel ... 27

e. Pantun ... 29

(10)

C. Subjek Penelitian ... 33

D. Instrumen Penelitian ... 33

E. Teknik Pengumpulan Data ... 33

F. Teknik Analisis Data ... 35

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum SMK Budhi Warman II ... 37

B. Hasil Penelitian ... 40

BAB V PENUTUP A. Simpulan ... 56

B. Saran ... 56

(11)

Lampiran 2 : Data Minat Membaca Karya Sastra Kelas XII SMK Budhi

Warman II Pekayon Jakarta Timur

Lampiran 3 : Lembar wawancara dengan guru bahasa Indonesia

(12)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Membaca adalah bagian dari pengajaran bahasa yang mengalami

perkembangan dari masa ke masa, terutama di negara yang kondisi sosial

ekonominya sudah bagus, seperti negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Pemikiran-pemikiran dalam bidang komunikasi di negara-negara tersebut

berpengaruh pula pada belahan bumi lainnya, yaitu di negara-negara

berkembang seperti Indonesia.

Selain itu, membaca juga merupakan salah satu keterampilan berbahasa

yang sangat penting di samping tiga keterampilan berbahasa lainnya. Hal ini

karena membaca merupakan sarana untuk mempelajari dunia lain yang

diinginkan sehingga manusia bisa memperluas pengetahuan, bersenang-senang,

dan menggali pesan-pesan tertulis dalam bahan bacaan. Walaupun demikian,

membaca bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Membaca adalah sebuah

proses yang bisa dikembangkan dengan menggunakan teknik-teknik yang sesuai

dengan tujuan membaca tersebut.1

Pentingnya budaya membaca juga telah ditegaskan Taufik Ismail. Dalam tulisannya yang berjudul “Agar Anak Bangsa Tak Rabun Membaca Tak Pincang Mengarang”. Memang penyakit malas membaca sekarang ini terjadi kepada siapa saja mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Hal ini merupakan suatu

keadaan yang sangat memprihatinkan. Banyak orang yang ingin menguasai ilmu

pengetahuan dan ilmu teknologi dan ingin bersaing dengan negara-negara lain

tetapi kenyataannya penyakit malas itu sulit dihilangkan. Padahal keadaan suatu

bangsa ini lebih ditentukan oleh seberapa besar masyarakat yang mau

menjadikan membaca buku itu hal yang utama.

1

(13)

Keterampilan membaca pada umumnya diperoleh dengan cara

mempelajarinya di sekolah. Keterampilan berbahasa ini merupakan suatu

keterampilan yang sangat unik serta berperan penting bagi pengembangan

pengetahuan dan sebagai alat komunikasi bagi kehiduan manusia. Dikatakan

unik karena tidak semua manusia, walaupun telah memiliki keterampilan

membaca, mampu mengembangkannya menjadi alat untuk memberdayakan

dirinya atau bahkan menjadikannya budaya bagi dirinya sendiri dikatakan

penting bagi pengembangan pengetahuan karena presentase transfer ilmu

pengetahuan terbanyak dilakukan melalui membaca.

Sementara itu, masyarakat di negara-negara berkembang ditandai oleh

rendahnya kemampuan membaca serta budaya baca yang belum tertanam

dengan baik. Fakta menunjukkan bahwa Indonesia, Venezuela, dan

Trinidad-Tobago kemampuan baca penduduknya berada pada urutan terakhir dari 27

negara yang diteliti. Apakah kemampuan baca berpengaruh secara signifikan

terhadapa kemajuan suatu negara atau sebaliknya, masih harus dibuktikan hanya

hipotesis yang menyatakan negar maju masyarakatnya maju pula dalam

membacanya, telah terbukti.2

Membaca merupakan kegiatan untuk mendapatkan makna dari apa yang

tertulis dalam teks. Untuk keperluan tersebut, selain perlu menguasai bahasa

yang dipergunakan, seorang pembaca perlu juga mengaktifkan berbagai proses

mental dalam sistem kognisinya.

Oleh karena itu, kegiatan membaca bukanlah suatu kegiatan yang

sederhana seperti apa yang diperkirakan banyak pihak sekarang ini. Kegiatan

membaca bukan hanya kegiatan yang terlihat secara kasat mata, dalam hal ini

siswa atau mahasiswa melihat sebuah teks, membacanya dan setelah itu diukur

dengan kemampuan menjawab sederet pertanyaan yang disusun mengikuti teks

tersebut sebagai alat evaluasi, melainkan dipengaruhi pula oleh faktor-faktor dari

dalam maupun dari luar pembaca. Kegiatan membaca bukan hanya kegiatan

yang melibatkan prediksi, pengecekan skema, atau dekoding, akan tetapi juga

2

(14)

merupakan interaksi grafofonik, sintaktik, semantik, dan skematik. Di samping

itu, keterlibatan pembaca di dalam mencari arti dari teks yang ia baca

mempengaruhi pula.3

Salah satu yang mempengaruhi membaca tersebut adalah minat. Minat

baca adalah merupakan hasrat seseorang atau siswa terhadap bacaan, yang

mendorong munculnya keinginan dan kemampuan untuk membaca, diikuti oleh

kegiatan nyata membaca bacaan yang diminatinya. Minat baca bersifat pribadi

dan merupakan produk belajar. Apabila seorang siswa tidak mempunya minat

dalam membaca, terutama membaca buku pelajaran di sekolah, hal itu akan

membuat proses belajar mereka sedikit terhambat. Ini sudah menjadi tugas para

guru untuk meningkatkan minat baca mereka.

Salah satu faktor lain yang dapat menurunkan minat baca pada anak dapat

ditemukan di kelas bahasa, saat materi pemahaman bahasa (reading comprehension), para guru terlalu sering meminta siswanya berhenti di setiap paragraf untuk menjelaskan dan mendiskusikan pemahaman, bukannya

mendapatkan gambaran besar, alur, dan informasinya lebih dulu. Akibatnya,

siswa tidak lagi bisa menikmati dan mengikuti proses yang ada dalam materi

bacaan dengan baik dan hanya bisa mendiskusikan satu sudut pandang

pemahaman.4

Dalam membaca karya sastra pada umumnya mereka lebih menyukai

bacaan yang ringan saja seperti halnya komik-komik, cerpen yang suka muncul

di dalam majalah-majalah anak, puisi-puisi yang terdapat dalam buku pelajaran

bahasa Indonesia, dan novel-novel bertemakan percintaan yang pada saat ini

sudah digandrungi para remaja tersebut. Sampai itu saja batasan bacaan meraka

pada saat ini.

Tetapi tidak semua dari mereka minat bacanya kurang. Ada beberapa yang

mempunyai minat baca yang lebih dibandingkan teman-teman lainnya

dikarenakan dia memang hobi membaca. Bahan bacaan yang ia baca bisa

dimulai dari surat kabar, ensiklopedia, sampai ke novel sastra yang sebenarnya

3

Ibid, h.247

4

(15)

bahasanya belum ia pahami betul. Dari hobi itulah kita sebagai calon guru bisa

meningkatkan minat baca mereka termasuk mengajak teman-teman lainnya

untuk lebih sering membaca buku atau bahan bacaan lainnya.

Salah satu hal yang dapat kita lakukan untuk mengembangkan kebiasaan

membaca buku yaitu dengan memanfaatkan waktu luang untuk membaca di

mana saja dan kapan saja. Baik itu buku pelajaran, koran, majalah, novel,

maupun buku ensiklopedia. Namun saat ini banyak orang yang tidak mau

membaca meskipun mereka memiliki waktu luang. Mereka lebih banyak

berbicara atau membicarakan orang lain dalam kesehariannya.

Pada masa sekarang ini, pentingnya membaca telah semakin sering

diperbincangkan oleh berbagai kalangan masyarakat dalam berbagai kesempatan

dan forum. Hal ini sudah merupakan tuntutan kehidupan modern yang terasa

semakin mendesak. Kehidupan modern yang salah satu ciri pokoknya adalah

perkembangan ilmu teknologi yang semakin menuntut sikap orang mempunyai

ketepatan dan kecepatan yang tinggi untuk menafsirkan dan menyerap berbagai

informasi. Informasi bukan hanya sumber-sumber lisan tetapi yang terutama dari

sumber-sumber yang tertulis. Sekarang ini sumber-sumber tertulis semakin

membudaya sehingga dapat terlihat pentingnya membaca. Maka dari itu untuk

memperoleh kemampuan membaca, maka minat baca tinggi memegang peranan

tinggi. Tanpa adanya minat membaca maka kehidupan ini akan diwarnai

ketertinggalan. Minat membaca harus dipupuk, dibina, dan dibimbing.

Pada kegiatan belajar mengajar di dalam kelas sudah terlihat jelas

bagaimana minat baca yang diperlihatkan oleh para siswa. Ada yang sangat

antusias dan sangat mengapresiasi pelajaran membaca karya sastra ada juga

yang cuek-cuek saja sambil mengikuti pelajaran. Maka dari itu peneliti ingin

mengangkat masalah tentang minat membaca karya sastra upaya meningkatkan

(16)

Berangkat dari penjelasan dia atas, oleh karena itu penulis memilih judul: “Minat Membaca Karya Sastra pada Siswa Kelas XII SMK Budhi Warman II Pekayon Jakarta Timur”

B. Indentifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dapat diindentifikasikan

masalah-masalah yang berkaitan dengan minat membaca karya sastra sebagai berikut:

1. Kurangnya minat siswa dalam membaca karya sastra.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat membaca siswa.

3. Peran guru untuk meningkatkan minat siswa dalam membaca karya sastra.

C. Pembatasan Masalah

Pada penelitian ini penulis membatasi masalah agar dapat dibahas dengan

jelas dan tidak meluas, hal yang diteliti yaitu minat siswa dalam membaca karya

sastra. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas XII SMK Tahun Pelajaran

2015/2016. Lembaga pendidikan yang dimaksud adalah SMK.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah, maka dapat disusun rumusan masalah sebagai

berikut:

1. Bagaimana minat siswa dalam membaca karya sastra?

2. Bagaimana usaha guru untuk meningkatkan minat baca karya sastra pada

anak didik mereka?

E. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Untuk mendeskripsikan minat siswa dalam membaca karya sastra.

2. Untuk mengetahui usaha guru dalam meningkatkan minat baca karya sastra

(17)

F. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian ini

menjadi pengalaman, dan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi

manfaat, baik secara teoretis maupun praktis. Untuk lebih jelas mengenai kedua

manfaat tersebut, dapat diuraikan sebagai berikut.

Manfaat teoretis

1. Sebagai bahan pembelajaran bagi guru dalam mengetahui kemampuan minat

membaca siswa.

2. Sebagai panduan guru-guru dan pengajar bahasa Indonesia untuk

mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap membaca sebuah karya

sastra.

Manfaat Praktis

1. Untuk Siswa

Bagi para yang suka membaca karya sastra agar pengetahuannya dalam

bidang bahasa dan sastra Indonesia lebih luas setelah ia membaca sebuah

karya sastra dan siswa senang membaca karya sastra ketika pelajaran bahasa

Indonesia sedang berlangsung di dalam kelas.

2. Untuk Guru

Sebagai evaluasi diri bagi guru untuk menigkatkan kulaitas dalam kegiatan

proses belajar mengajar di kelas dan lebih memotivasi siswa dalam membaca

karya sastra termasuk puisi, cerpen, novel, dan lain sebagainya.

3. Untuk Sekolah

Sebagai wacana untuk memberikan motivasi kepada guru Bahasa Indonesia

untuk mengembangkan proses belajar mengajar, perihal materi ajar terkait

keterampilan membaca guna mengetahui minat membaca siswa di sekolah

(18)

4. Untuk Mahasiswa

Sebagai pengetahuan tentang pembelajaran bahasa Indonesia terkait

membaca karya sastra, sehingga dapat mengetahui minat membaca siswa

dan menambah bekal dalam belajar melalui penelitian ini. Selain itu, dapat

mempermudah mahasiswa dalam mencari referensi terkait penelitian serupa

(19)

BAB II

KAJIAN TEORETIS A. Hakikat Minat

1. Pengertian Minat

Minat merupakan salah satu faktor yang cukup penting yang

mempengaruhi kemampuan membaca. Tampubolon mengatakan bahwa

minat adalah perpaduan antara keinginan dan kemauan yang dapat

berkembang jika ada motivasi. Sebagai contoh, seseorang mungkin

mempunyai minat untuk membaca sebuah buku bacaan sastra, tetapi

harganya mahal maka ia tidak melaksanakannya.

Menurut Crow dan Crow, minat (interest) bisa berhubungan

dengan gaya gerak yang mendorong kita cenderung atau merasa tertarik

pada orang, benda atau kegiatan, itupun bisa berupa pengalaman efektif

yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri. Dengan kata lain, minat dapat

menjadi penyebab kegiatan dan penyebab partisipasi dalam kegiatan.1

Muhibbin Syah mengatakan dalam bukunya bahwa secara

sederhana, minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau

keinginan yang besar terhadap sesuatu. Menurut Reber (1998), minat

tidak termasuk istilah populer dalam psikologi karena ketergantungannya

yang banyak pada faktor-faktor internal lainnya seperti: pemusatan,

perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan.2

Terdapat tiga batasan minat, yakni (1) suatu sikap yang dapat

mengikat perhatian seseorang ke arah objek tertentu secara selektif, (2)

suatu perasaan bahwa aktivitas dan kegemaran terhadap objek tertentu

sangat berharga bagi individu, dan (3) bagian dari motivasi atau kesiapan

yang membawa tingkah laku ke suatu arah atau tujuan tertentu.

Menurut Syaiful Bahri, minat adalah kecenderungan yang menetap

untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas. Seseorang yang

1

L.D. Crow dan A. Crow, Educational Psychology, (New York: American Book Company, 1958) h. 248

2

(20)

berminat terhadap suatu aktivitas akan memperhatikan aktivitas itu secara

konsisten dengan rasa senang. Dengan kata lain, minat adalah suatu rasa

lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada

yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu

hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat

atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat.

Minat tidak hanya diekspresikan melalui pertanyaan yang

menunjukkan bahwa anak didik lebih menyukai sesuatu daripada yang

lainnya, tetapi dapat juga diimplementasikan melalui partisipasi aktif

dalam suatu kegiatan. Anak didik yang berminat terhadap sesuatu

cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap sesuatu

yang diminati itu dan sama sekali tak menghiraukan sesuatu yang lain.3

Minat besar pengaruhnya terhadap aktivitas belajar. Anak didik

yang berminat terhadap suatu mata pelajaran akan mempelajarinya

dengan sungguh-sungguh, karena ada daya tarik baginya. Anak didik

mudah menghapal pelajaran yang menarik minatnya. Proses belajar akan

berjalan lancar bila disertai minat. Minat merupakan alat motivasi yang

utama yang dapat membangkitkan minat anak didik agar pelajaran yang

diberikan mudah anak didik pahami. Ada beberapa macam cara yang

dapat guru lakukan untuk membangkitkan minat anak didik sebagai

berikut:

a. Membandingkan adanya suatu kebutuhan pada diri anak didik,

sehingga dia rela belajar tanpa paksaan.

b. Menghubungkan bahan pelajaran yang diberikan dengan persoalan

pengalaman yang dimiliki anak didik, sehingga anak didik mudah

menerima bahan pelajaran.

c. Memberikan kesempatan kepada anak didik untuk mendapatkan hasil

belajar yang baik dengan cara menyediakan lingkungan belajar yang

kreatif dan kondusif.

3

(21)

d. Menggunakan berbagai macam bentuk dan teknik mengajar dalam

konteks perbedaan individual anak didik.4

Minat dipengaruh oleh faktor yang ada dalam diri dan dari luar diri

(lingkungan). Namun, faktor yang paling dominan berpengaruh adalah

faktor lingkungan. Menurut Bloom minat seseorang dipengaruhi oleh

lingkungan. Menurut pendapat ini faktor-faktor yang mempengaruhi

minat diantaranya adalah pekerjaan sosial ekonomi, jenis kelamin,

pengalaman, kepribadian, dan pengaruh lingkungan. Faktor-faktor ini

saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Walaupun besar

pengaruhnya sudah pasti tidak akan sama.

Minat akan berkembang membentuk suatu kebiasaan. Dengan kata

lain, minat akan menjadi syarat terbentuknya kebiasaan. Bila kegiatan

membaca dilandasi minat yang tinggi, maka kegiatan itu akan dilakukan

secara tetap dan teratur. Kebiasaan merupakan hasil pelaziman yang

berlangsung pada waktu yang lama. Bentuk-bentuk minat akan

dimanifestasikan dalam pilihan suka atau tidak suka dan senang atau tidak

senang terhadap suatu objek, kegiatan, dan gagasan, atau orang yang akan

memuaskan kebutuhannya.5

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa minat

merupakan dasar pembentukan suatu kebiasaan. Kebiasaan akan

terbentuk manakala pembaca memiliki keinginan yang tinggi terhadap

kegiatan membaca. Kegiatan membaca yang tinggi dan terus-menerus

akan membentuk kebiasaan.

Jika kita akui secara jujur, rasanya sedikit sekali masyarakat Indonesia

yang bisa mengisi waktu senggang mereka untuk membaca. Berbeda

sekali dengan masyarakat Jepang misalnya, di mana dan kapan saja

selama tidak melakukan pekerjaan lain mereka tidak pernah lepas dari

buku. Mereka membaca dan membaca terus. Banyak masyarakat kita

4

Ibid, h.167 5

(22)

masih terdapat anggapan bahwa membaca adalah pekerjaan guru atau

pekerjaan lainnya. Inilah yang menjadi pokok permasalahan sebagai

penyebab utama rendahnya minat siswa untuk membaca.

Crow dan Crow berpendapat ada tiga faktor yang menjadi timbulnya

minat, yaitu:

a. Dorongan dari dalam diri individu, misalnya dorongan untuk makan,

ingin tahu seks. Dorongan untuk makan akan membangkitkan untuk

bekerja atau mencari penghasilan, minat terhadap produksi makanan

dan lain-lain. Dorongan ingin tahu atau rasa ingin tahu akan

membangkitka minat untuk membaca, belajar, menuntut ilmu, dan

lain-lain. Dorongan seks membangkitkan minat untuk menjalin

hubungan dengan lawan jenis, minat terhadap pakaian dan lain-lain.

b. Motif sosial, dapat menjadi faktor yang membangkitkan minat untuk

melakukan suatu aktivitas tertentu. Misalnya minat tethadap pakaian

karena ingin mendapat persetujuan atau perhatian orang lain. Minat

untuk belajar atau menuntut ilmu pengetahuan timbul karena ingin

mendapat penghargaan dari masyarakat.

c. Faktor emosional, minat mempunyai hubungan yang erat dengan

emosi. Bila seseorang mendapatkan kesuksesan pada aktivitas akan

menimbulkan perasan senang dan hal tersebut akan memperkuat

minat terhadap aktivitas tersebut, sebaliknya suatu kegagalan akan

menghilangkan minat terhadap hal tersebut.6

2. Macam-macam minat

Menurut Abdul Rahman dan Muhbib Abdul Wahab7 minat dapat

digolongkan menjadi beberapa macam, ini tergantung pada sudut pandang

dan cara pengolongan misalnya timbulnya minat, berdasarkan arahnya

6

Lestar D. Crow dan Alice Crow, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: Nur Cahaya, 2005) h. 321

7

(23)

minat, dan berdasarkan cara mendapatkan atau mengungkapkan minat itu

sendiri.

a. Witherington di dalam Abdurrahman Saleh dan Muhbib Abdul Wahab

mengatakan bahwa berdasarkan timbulnya, minat tidak dapat

dibedakan menjadi minat primitif dan minat kultural. Minat primitif

adalah minat yang timbul karena kebutuhan biologis atau

jaringan-jaringan tubuh, misalnya kebutuhan akan makanan, perasaan enak

atua nyaman, kebebasan beraktivitas dan seks. Minat kultural atau

minat sosial, adalah minat yang timbulnya karena proses belajar,

minat ini tidak secara langsung berhubungan dengan kita.

b. Joner di dalam Abudrrahman Saleh dan Muhbib Abdul Wahab

mengatakan bahwa berdasarkan arahnya, minat dapat dibedakan

menjadi minat intrinsik dan ekstrinsik. Minat intrinsik adalah minat

yang langsung berhubungan dengan aktivitas itu sendiri, ini

merupakan minat yang lebih mendasar atau minat aseli. Sebagai

contoh: seseorang belajar karena memang pada ilmu pengetahuan atau

karena senang membaca, bukan karena ingin mendapatkan pujian.

Minat ekstrinsik adalah minat yang berhubungan dengan tujuan akhir

dari kegiatan tersebut, apabila tujuannya sudah tercapai ada

kemungkinana minat tersebut hilang. Dalam minat ekstrinsik ada

uasaha untuk melanjutkan aktivitas sehingga tujuannya akan menurun

atau hilang.

c. Super & Ciets di dalam Abudrrahman Saleh dan Muhbib Abdul

Wahab mengatakan bahwa berdasarkan cara mengungkapkan minat

dapat dibedakan menjadi emapat yaitu: Expressed interest, manifest interset, tested interest, inventioned interest.

1) Expressed interest adalah minat yang diungkapkan dengan cara meminta kepada subjek untuk menyatakan atau menuliskan

kegiatan-kegiatan baik yang berupa tugas maupun bukan tugas

yang disenangi dan paling tidak disenangi. Dari jawabannya

(24)

2) Manifest interest adalah minat yang diungkapkan dengan cara mengobservasi atau melakukan pengamatan secara langsung

terhadap aktivitas-aktivitas yang dilakukan subyek atau dengan

mengetahui hobinya.

3) Tested interest, adalah minat yanag diungkapkan cara menyimpulkan dari hasil jawaban tes objektif yang diberikan,

nilai-nilai yang tinggi pada suatu objek atau masalah biasanya

menunjukkan minat yang tinggi pula terhadap hal tersebut.

4) Inventoried interset, adalah minat yang diungkapkan dengan menggunakan alat yang sudah distandardisasikan, di mana biasanya

berisi pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada subjek apakah

ia senang atau tidak senang terhadap sejumlah aktivitas atau

seseuatu objek yang ditanyakan.8

Berdasarkan macam-macam minat yang telah penulis uraikan,

maka yang sejalan dengan penelitian yang penulis lakukan yaitu minat

intrinsik dan inventoried interset. Minat intrinsik merupakan salah satu bagian dari minat berdasarkan arahnya, minat tersebut adalah minat yang

berhubungan dengan aktivitas seseorang yang memiliki tujuan mendasar

seperti seseorang membaca sebuah karya sastra karena memang ingin

mendapat ilmu dan pengalaman baru, bukan hanya sekedar untuk

mengisi waktu luang saja, sedangkan inventoried interset merupakan salah satu bagian cara mengungkapkan minat yang berhubungan dengan

cara untuk mengetahui minat subjek melalui alat yang memuat

pertanyaan untuk mengetahui apakah seseorang berminat atau tidak

dalam membaca sebuah karya sastra.

8

(25)

B. Hakikat Membaca

1. Pengertian Membaca

Dalam kehidupan sehari-hari peranan membaca tidak dapat

dipungkiri. Ada beberapa peranan yang dapat disumbangkan oleh

kegiatan membaca antara lain: kegiatan membaca dapat membantu

memecahkan masalah, dapat memperkuat suatu keyakinan/ kepercayaan

pembaca, sebagai suatu pelatihan, memberi pengalaman astetis,

meningkatkan prestasi, memperluas pengetahuan dan sebagainya.

Henry Guntur Tarigan mengungkapkan membaca yaitu suatu

proses yang dilakuan serta dipergunakan oleh pembaca untuk

memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media

kata-kata/bahasa tulis.9 Definisi lain yang lebih lengkap adalah melihat

dan memahami tulisan dengan melisankan atau hanya dalam hati. Definisi

itu mencakup tiga unsur dalam kegiatan membaca, yaitu pembaca (yang

melihat, memahami, dan melisankan dalam hati), bacaan (yang dilihat),

dan pemahaman (oleh pembaca).10

Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud membaca adalah suatu

proses yang bersangkut paut dengan bahasa. Oleh karena itu, para pelajar

harus dibantu untuk menanggapi atau memberi respon terhadap

lambang-lambang visual yang menggambarkan tanda-tanda yang sama yang telah

mereka tanggapi sebelum itu.

Tampubolon di dalam bukunya berpendapat bahwa usaha-usaha

untuk membentuk kebiasan membaca hendaklah dimulai sedini mungkin

dalam kehidupan, yaitu sejak masa anak-anak. Pada masa anak-anak,

usaha pembentukan dalam arti peletakan fundasi minat yang baik dapat

dimulai sejak kira-kira umur dua tahun. Setelah anak mulai sekolah dan

telah dapat membaca permulaan (huruf, kata, dan kalimat), dia perlu

semakin dirangsang untuk membuka dan membaca buku-buku sesuai

9

Henry Guntur Tarigan, MEMBACA sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung: Angkasa, 2008) h. 7

10

(26)

dengan yang dipelajarinya di sekolah. Selain itu, mereka juga perlu

sesekali dibawa ke perpustakaan. 11

Kurt Franz dan Bernhard Meier mengatakan mengapa remaja

membaca atau tidak membaca, hanya dapat diterangkan bila diketahui

keperluan komunikasinya. Dalam literatur dalam jangkauan ini terdapat –

analog dengan pembagian jenisnya – banyak sekali alasan “dorongan membaca” pada remaja. Berkat jasa ilmu pengetahuan sosial modern maka kebergantungan keadaan, sikap, kecenderungan, kebiasaan,

perhatian, dan keperluan tertentu pada faktor-faktor yang ditentukan

secara sosial dapat diketahui. Hal itu dalam garis besar dan secara

keseluruhannya dapat berlaku pula bagi motivasi membaca. Tak dapat

diragukan lagi bahwa instansi-instansi sosial primer dan sekunder

mempengaruhi keadaan dan sikap membaca (rumah orang tua, sekolah,

kelompok, atau perkumpulan). Perkembangan motivasi membaca juga

selalu berhubungan dengan pensosialan anak. Seperti telah dilakukan

pada jenis teks, juga di sini dapat dilihat dua alur dasar motif-motifnya,

yaitu informasi dan hiburan. Dalam hal itu kedua kompenen tersebut

bertumpang tindi dan bekerja sama, tetapi agaknya salah satu dari kedua

motif itu dominan. 12

Giehrl masih menunjukkan jenis utama dalam membaca yang

dirinci sebagai berikut:

a. Membaca informatif

b. Membaca evasoris

c. Membaca kognitif

d. Membaca literatis

Penyelidikan empiris dapat menunjukkan bahwa di hampir semua jenis sekolah, motif membaca “pertama-tama adalah sebagai hiburan”, dan ini

11

Tampubolon, Kemampuan Membaca (Teknik Membaca Efektif dan Efisien), (Bandung: Angkasa, 2008) h. 228-229

12

(27)

jauh melebihi membaca untuk kepentingan belajar (informasi, “pembangunan”).13

2. Tujuan membaca

Setiap aspek kehidupan melibatkan kegiatan membaca. Dengan

melakukan kegiatan membaca tersebut, tentu dengan tujuan yang

berbeda-beda. Dengan demikian, orang membaca dengan berbagai tujuan:

a. Kesenangan

b. Menyempurnakan membaca nyaring

c. Menggunakan strategi tertentu

d. Memperbaharui pengetahuan tentang suatu topik

e. Mengaitkan informasi baru dengan informasi yang telah diketahui

f. Memperoleh informasi untuk laporan lisan atau tertulis

g. Mengkonfirmasi atau menolak prediksi

h. Menampilkan suatu eksperimen atau mengaplikasikan informasi yang

diperoleh dari suatu teks dalam beberapa cara lain dan mempelajari

tentang struktur teks14

i. Membaca untuk menemukan atau mengetahui penemuan-penemuan

yang telah dibuat oleh sang tokoh; apa-apa yang telah dibuat oleh

sang tokoh; apa yang telah terjadi pada tokoh khusus, atau untuk

memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta.

j. Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada

setiap bagian cerita, apa yang terjadi mula-mula pertama, kedua, dan

seterusnya. Setiap tahap dibuat untuk memecahkan suatu masalah,

adegan-adegan, dan kejadian buat dramalisasi. Ini disebut membaca

untuk mengetahui urutan atau susunan organsisasi cerita.

k. Membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang

baik dan menarik, masalah yang terdapat dalam cerita, apa-apa yang

dipelajari atau yang dialami sang tokoh, dan merangkum hal-hal yang

13

Ibid, h. 9

14

(28)

dilakukan oleh sang tokoh untuk mencapai tujuan. Membaca seperti

ini disebut membaca untuk memperoleh ide-ide utama.15

Dengan membaca, seseorang dapat bersantai, berinteraksi dengan

perasaan dan pikiran, memperoleh informasi, dan meningkatkan ilmu

pengetahuan. Menurut Bowman, membaca merupakan sarana yang tepat

untuk mempromosikan suatu pembelajaran sepanjang hayat. Membaca

bukanlah suatu kegiatan pembelajaran yang mudah. Banyak faktor yang

dapat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam membaca. Secara umum,

faktor-faktor tersebut dapat diidentifikasi seperti guru, siswa, kondisi

lingkungan, materi pelajaran, serta teknik pengajaran membaca. 16

C. Hakikat Sastra

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa sastra mengandung pengertian sebagai berikut:

1. Bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai di kitab-kitab (bukan

bahasa sehari-hari).

2. Kesusastraan, karya tulis, yang juga dibandingkan dengan tulisan lain

memiliki berbagai ciri keunggulan, seperti keaslian, keartistikan,

keindahan dalam isi dan ungkapannya, drama, epik, dan lirik.

3. Kitab suci (Hindu), (kitab) ilmu pengetahuan.

4. Pustaka, kitab primbon (berisi) ramalan, hitungan, dan sebagainya.

5. Tulisan dan huruf.17

Bagi banyak orang, misalnya, karya sastra menjadi sarana untuk

menyampaikan pesan tentang kebenaran, tentang apa yang baik dan buruk.

Ada pesan yang sangat jelas disampaikan, ada pula yang bersifat tersirat

secara halus. Karya sastra juga dapat dipakai untuk menggambarkan apa yang

15

Henry Guntur Tarigan, Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung: Angkasa, 1983) h.9

16

Samsu Somadyo, Strategi dan Teknik Pembelajaran Membaca, (Yogyakarta, Graha Ilmu, 2011) h.2

17

(29)

ditangkap sang pengarang tentang kehidupan di sekitarnya. Kemampuan

sastra dalam menyampaikan pesan menempatkan sastra menjadi sarana kritik

sosial. Contohnya dapat dilihat dari kehidupan sekitar kita sehari-hari, seperti

penggunaan puisi dalam demonstrasi. Tetapi, kritik sosial dapat juga

disampaikan oleh teks dengan cara yang lebih tersirat dan halus melalui

piranti-piranti sastra, seperti penggunaan simbol dan nada ironis.18

Pengajaran sastra tidak dapat dipisahkan dari pengajaran bahasa.

Namun pengajaran sastra tidak dapat disamakan dengan pengajaran bahasa.

Perbedaan Sastra ialah teks-teks yang tidak hanya disusun atau dipakai untuk

suatu tujuan komunikatif yang praktis dan yang hanya berlangsung untuk

sementara. Sebuah karya sastra dapat dibaca menurut tahap arti yang

berbeda-beda. Dalam sebuah novel, kita tidak hanya menjadi maklum akan

pengalaman dan hidup batin tokoh-tokoh fiktif, tetapi juga lewat

peristiwa-peristiwa dapat diperoleh pengertian mengenai tema yang lebih umum

sifatnya, misalnya tema sosial, penindasan dalam masyarakat dan

sebagainya.19

Karena sifat rekaannya, sastra secara tidak langsung mengatakan

sesuatu mengenai kenyataan dan tidak menggugah kita untuk langsung

bertindak. Oleh karena itu, sastra memberikan kekuasaan untuk

memperhatikan dunia-dunia lain, kenyataan-kenyataan yang terdapat dalam

angan-angan, dan sistem nilai yang mungkin tidak dikenal atau tidak dihargai.

Bahasa sastra dan pengolahan bahan lewat sastra dapat membuka batin untuk

membuka pengalaman baru atu mengajak kita untuk mengatur pengalaman

tersebut dengan suatu cara yang baru.20

Hirarki keduanya terletak pada tujuan akhirnya. Pada pengajaran

sastra yang dasarnya mengemban misi afektif (memperkaya pengalaman

siswa dan menjadikannya lebih tanggap terhadap peristiwa-peristiwa di

sekelilingnya) yang memiliki tujuan akhir menanam, menumbuhkan, dan

18

Melani Budianta. Membaca Sastra. (Magelang: INDONESIATERA, 2006) h. 19-20 19

Partini Sardjono Pradotokusumo, Pengkajian Satra,(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, September 2005) h. 28-29

20

(30)

mengembangkan kepekaan terhadap masalah-masalah manusiawi,

pengenalan dan rasa hormatnya terhadap tata nilai baik dalam konteks

individual maupun sosial. Sastra memang tidak dapat dikelompokkan ke

dalam aspek pembelajaran berbahasa karena bukan merupakan bidang yang

sejenis tetapi pembelajaran sastra dilaksanakan secara terintegrasi dengan

pembelajaran bahasa baik dengan keterampilan menulis, membaca,

menyimak, maupun berbicara. Sastra memiliki fungsi dalam kehidupan

manusia, yaitu:

1. Fungsi rekreatif, memberikan rasa senang, gembira atau menghibur.

2. Fungsi didaktif, mengarahkan dan mendidik pembaca karena mengandung

nilai-nilai moral.

3. Fungsi estetika, memberikan keindahan bagi pembaca karena bahasanya yang

indah.

4. Fungsi moralitas, membedakan moral yang baik dan tidak baik bagi

pembacanya karena sastra yang baik selalu mengandung nilai-nilai moral

yang tinggi.

5. Fungsi religiusitas, mengandung ajaran-ajaran agama yang harus diketahui

oleh pembaca.

Tingkat apresiasi seorang siswa terhadap nilai sebuah karya sangat

bergantung pada tingkat pengalaman belajarnya. Sebagai contoh, jika seorang

siswa telah mengalami proses belajar agama secara mendalam maka tingkat

apresiasinya terhadap nilai seni baca Al-Qur’an dan kaligrafi akan mendalam

pula. Dengan demikian, pada dasarnya seorang siswa baru akan akan

memiliki apresiasi yang memadai terhadap objek tertentu apabila sebelumnya

ia telah mempelajari materi yang berkaitan dengan objek yang dianggap

mengandung nilai penting dan indah tersebut.21

21

(31)

1. Macam-macam karya sastra: a. Cerpen

Pengertian cerita pendek telah banyak dibuat dan dikemukakan

oleh pakar sastra, sastrawan. Memang membuat definisi cerita pendek

itu tidaklah mudah. Walaupun demikian, akan diterakan beberapa

pengertian cerita pendek yang dikemukakan oleh mereka.

Dalam buku Tifa Penyair dan Daerahnya, H.B. Jassin megemukakan bahwa cerita pendek ialah cerita yang pendek. Jassin

jauh lebih jauh mengungkapkan bahwa tentang cerita pendek ini orang

boleh bertengkar, tetapi cerita yang sertus halaman panjangnya sudah

tentu tidak bisa disebut cerita pendek dan memang tidak ada cerita

pendek yang demikian panjangnya. Cerita yang panjangnya sepuluh

atau dua puluh halaman masih bisa disebut cerita pendek tetapi ada

juga cerita pendek yang panjangnya hanya satu halaman.

Pengertian yang sama dikemukakan oleh Sumardjo dan Saini di

dalam buku mereka Apresiasi Kesusastraan. Mereka berpengertian

bahwa cerita pendek (atau disingkat cerpen) adalah cerita yang

pendek. Tetapi dengan hanya melihat fisiknya yang pendek orang

belum dapat menetapkan sebuah cerita yang pendek adalah sebuah

cerpen.

Sumardjo juga mengemukakan pengertian cerita pendek di

dalam bukunya Catatan Kecil tentang Menulis Cerpen. Ia berpengertian bahwa cerita pendek adalah fiksi pendek yang selesai dibaca dalam “sekali duduk”. Cerita pendek hanya memiliki satu arti satu krisis dan satu efek untuk pembacanya. Untuk ukuran Indonesia

cerpen terdiri dari 4 sampai 15 halaman.22

22

(32)

Struktur Cerpen

1) Tema

Menurut Stanton tema adalah sebuah arti pusat

pengalaman-pengalaman, tema cerita mempunyai nilai khusus

atau nilai universal, yaitu memberikan kekuatan dan kesatuan

kepada peristiwa-peristiwa yang digambarkan dan menceritakan

sesuatu kepada seseorang tentang kehidupan pada umumnya.

Tema tidak selalu dinyatakan secara eksplisit oleh pengarang,

artinya tema itu tidak dinyatakan secara terang-terangan oleh

pengarang. Dia memasukkan tema itu secara bersama-bersama

dengan atau kejadian dalam cerita. 23

2) Alur

Dalam pengertian yang luas, plot sebuah cerita adalah

keseluruhan rangkaian peristiwa yang terdapat di dalamnya.

Biasanya plot dibatasi hanya pada peristiwa-peristiwa yang

mempunyai hubungan sebab akibat, yang kalau salah satu di

antaranya dihilangkan akan merusak jalan cerita.

Peristiwa-peristiwa tidak hanya meliputi yang bersifat fisik seperti

percakapan atau perbuatan, tetapi juga termasuk perubaha sikap

tokoh yang mengubah jalan nasib.24

3) Latar

Unsur lain yang ada dalam sebuah cerita adalah latar atau setting.

Banyak teori sastra yang menunjukkan pengertian tentang latar

ini. Abrams mengatakan bahwa latar cerita atau drama adalah

tempat terjadinya peristiwa secara umum atau waktu

berlangsungnya suatu tindakan. Sejajar dengan pendapat di atas

23

Siti Sundari, dkk., Memahami Cerpen-cerpen Danarto, (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1978) h. 26

24

(33)

ialah apa yang dikatakan oleh Kenney bahwa latar adalah unsur

fiksi yang menyatakan di mana dan kapan peristiwa terjadi.25

4) Tokoh/Pelaku

Tugas pokok pelaku dalam cerpen adalah melaksanakan atau

membawa tema cerita menuju ke sasaran tertentu. Oleh karen itu,

cerita yang tanpa pelaku sulit menggiring masalah ke tujuan yang

akan dicapai.26

b. Puisi

Puisi adalah karya sastra. Semua karya sastra bersifat

imajinatif. Bahasa sastra bersifat konotatif karena banyak digunakan

makna kias dan makna lambang (majas). Dibandingkan dengan bentuk karya sastra yang lainnya, puisi lebih bersifat konotatif.

Bahasanya lebih banyak kemungkinan makna. Hal ini disebabkan

terjadinya pengkonsentrasian atau pemadatan segenap kekuatan

bahasa di dalam puisi. Struktur fisik dan struktur batin puisi juga

padat. Keduanya bersenyawa secara padu bagaikan telur dalam

adonan roti.27

Selanjutnya “Puisi merupakan ekspresi pengalaman batin (jiwa) penyair mengenai kehidupan manusia, alam, Tuhan sang pencipta,

melalui media bahasa yang estetik yang secara padu dan utuh, dalam bentuk teks yang dinamakan puisi.”28

Di balik kata-katanya yang ekonomis, padat, dan padu tersebut

puisi berisi potret kehidupan manusia. Puisi menyuguhkan

persoalan-persoalan kehidupan manusia dan juga manusia dalam hubungannya

dengan alam dan Tuhan sang pencipta.29

25

Ibid, h.58

26

Wijaya Heru Santoso dan Sri Wahyuningtyas, Pengantar Apresiasi Prosa, (Surakarta: Yuma Pustaka, 2010) h.6

27

Hermawan J. Waluyo, Teori dan Apresiasi Puisi, (Jakarta: Erlangga, 1995) h. 23 28

Widjojoko & Hidayat Endang, Teori dan Sejarah Sastra Indonesia, (Bandung: Upi Press, 2006) Cet ke-1. h. 51

29

(34)

Dari definisi di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa puisi

merupakan karya sastra yang meliputi emosi, imajinasi, pemikiran,

ide, nada, irama, kesan pancaindera, susunan kata, kata kiasan,

kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur.

Hakekat Puisi

1) Tema atau Makna

Jelas bahwa dengan puisinya sang penyair ingin

mengemukakan sesuatu bagi para penikmatnya. Sang penyair

melihat-melihat atau mengalami beberapa kejadian dalam

kehidupan masyarakat sehari-hari. Dia ingin mengememukakan,

mempersoalkan, mempermasalahkan hal-hal itu dengan cara

sendirinya. Disamping itu setiap puisi juga harus mengandung

makna, sekalipun mungkin dalam beberapa puisi makna tersebut

rada saru samar, terlebih pun kalau sang penyair begitu mahir mempergunakan “figurative language” dalam karyanya.

2) Rasa

Menurut Henry Guntur Tarigan, yang dimaksud dengan rasa

atau feeling adalah “the poet’s attitude toward his subject matter”,

yaitu sikap dan penyair terhadap pokok permasalahan yang

terkandung dalam puisinya.

3) Nada

Nada dalam dunia perpuisian adalah sikap sang penyair

terhadap pembacanya, atau dengan perkataan lain: sikap sang

penyair terhadap para penikmat karyanya. Nada yang

dikemukakan oleh seorang penyair dalam sesuatu sajak, akan ada

sangkut-pautnya atau hubungannya yang erat dengan tema dan

(35)

4) Tujuan atau Amanat

Tujuan dapat mendorong orang melakukan sesuatu. Hanya

terkadang tujuan tersebut tidak disadari; namun dia tetap ada:

secara eksplisit atau secara implisit. Demikian pula halnya dengan

seorang penyair. Sadar atau tidak sadar dia mempunyai tujuan

dengan sajak-sajak ciptaannya itu. Apakah tujuan ini pertama

sekali untuk memenuhi kebutuhan pribadi sendiri atau yang

lainnya, bergantung kepada pandangan hidup sang penyair. Ayip

Rosidi mengatakan bahwa pertama kali adalah untuk memuaskan

diri sendiri, sesudah itu baru pada yang lain-lainnya.30

c. Drama

Menurut Melani Budianta drama adalah sebuah genre sastra

yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya

dialog atau cakapan di antara tokoh-tokoh yang ada. Selain

didominasi oleh cakapan yang langsung itu, lazimnya sebuah karya

drama juga memperlihatkan adanya semacam petunjuk

pemanggungan yang akan memberikan gambaran tentang suasana,

lokasi, atau apa yang dilakukan oleh tokoh.31

Suwardi Endraswara mengemukakan dalam bukunya bahwa

drama adalah karya yang memiliki daya rangsang cipta, rasa, dan

karsa yang amat tinggi. Sesungguhnya, dalam drama juga terkandung

aspek negatif, diantaranya drama yang memuat kekerasan dan adegan

seksual, kadang memicu penonton untuk meniru. Drama yang

menawarkan erotica tersembunyi pun sering memengaruhi romantika

hidup berkeluarga. Bahkan romantika dalam drama seringkali juga

memperdaya antar-pelaku untuk saling berkasih-kasihan di luar

panggung. Begitu pula drama yang sedih, sering memengaruhi

30

Henry Guntur Tarigan, Prinsip-prinsip Dasar Sastra, (Bandung: ANGKASA, 1993) h. 10-20

31

(36)

penonton harus menjiwai kesedihan. Namun, dibalik hal-hal negatif,

ada pula muatan aspek positif drama, yakni sebagai berikut.

1) Drama agaknya merupakan sarana yang paling efektif dan langsung

untuk melukiskan dan menggarap konflik-konflik sosial, dilema

moral, dan problema personal tanpa menanggung

konsekuensi-konsekuensi khusus dari aksi-aksi kita.

2) Aktor-aktor drama memaksa kita untuk memusatkan perhatian kita

pada protagonist lakon, untuk merasakan emosi-emosinya, dan

untuk menghayati konflik-konfliknya, justru untuk ikut sama-sama

merasakan penderitaan yang mengurangi pembinaan dan

ketidakadilan yang dialami pelaku-pelaku atau tokoh-tokoh drama.

3) Melalui tragedi, misalnya, dengan sedikit terluka di hati, dapat

belajar bagaimana hidup dengan penuh derita, dan mengajarkan

dan memberikan wawasan suatu ketabahan dan dengan kemuliaan

dapat menandinginya.

4) Melalui komedi, kita dapat menikmati peluapan gelaktawa sebagai

suatu pembukaan tabir rahasia mengenai untuk apa manusia

menentang/melawan dan untuk apa pula manusia mempertahankan

atau membela sesuatu.

5) Melodrama yang ditulis dengan baik, fantasi, atau farce, dapat

mengusir keengganan, memperluas imajinasi kita, dan untuk

sebentar membawa diri keluar dari diri kita sendiri, sehingga tak

mengherankan jika drama telah pula dikenal berfungsi terapis.32

Unsur-unsur Drama

a. Alur

Seperti juga bentuk-bentuk sastra lainnya, maka suatu lakon

haruslah bergerak maju dari suatu permulaan (beginning) melalui suatu pertengahan (middle) menuju suatu akhir (ending), dalam

32

(37)

drama, bagian-bagian ini dikenal dengan istilah-istilah eksposisi,

komplikasi, dan resolusi.

Eksposisi suatu lakon mendasari serta mengatur gerak atau

action dalam masalah-masalah waktu dan tempat. Eksposisi memperkenalkan para pelaku kepada kita, yang akan

dikembangkan dalam bagian utama lakon itu, dan memberikan

suatu indikasi mengenai resolusi.

Komplikasi bertugas mengembangkan konflik. Sang

pahlawan atau pelaku utama menemui gangguan,

penghalang-penghalang dalam pencapaian tujuannya; dia membuat

kekeliruan-kekeliruan dan sebagainya.

Resolusi haruslah berlangsung secara logis dan mempunyai

hubungan yang wajar dengan apa-apa yang mendahuluinya, yang

terdapat dalam komplikasi. Butir yang memisahkan komplikasi

dari resolusi itu biasanya disebut klimaks.33

b. Penokohan

Menurut Tarigan, penokohan dalam drama terbagi atas empat

jenis pelaku atau aktor yang biasa dipergunakan dalam teater,

diantaranya adalah:

1) The foil, tokoh kontra dengan tokoh lainnya. Tokoh yang membantu menjelaskan tokoh ainnya.

2) The type character, tokoh yang berperan dengan tepat dan tangkas.

3) The static character, tokoh statis yang tetap saja keadaanya, baik pada awal maupun pada akhir suatu lakon. Dengan kata

lain tokoh ini tiada mengalami perubahan.

4) The character who develpos in the course of the play, tokoh yang mengalami perkembangan selama pertunjukan. 34

33

Henry Guntur Tarigan, Prinsip-prinsip Dasar Sastra, (Bandung: ANGKASA, 1993) h. 75 34

(38)

c. Dialog

Dalam setiap lakon, dialog itu harus memenuhi dua hal,

yaitu:

1) Dialog harus dapat mempertinggi nilai gerak.

Seorang darmawan haruslah dapat berbuat lebih banyak

selain dari pada membuat dialognya menarik hati, dia harus

pula membuatnya baik dan wajar selalu.

2) Dialog harus baik dan bernilai tinggi.

Yang dimaksud dengan baik dan bernilai tinggi di sini ialah

bahwa dialog itu haruslah lebih terarah dan teratur dari pada

percakapan sehari-hari. 35

d. Novel

Istilah novel dalam bahasa Indonesia berasal dari istilah novel

dalam bahasa Inggris. Sebelumnya istilah novel dalam bahasa Inggris

berasal dari bahasa Itali, yaitu novella (yang dalam bahasa Jerman

novelle). Novelle diartikan sebuah barang baru yang kecil, kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa.

H.B. Jassin berpengertian bahwa novel adalah cerita mengenai

salah satu episode dalam kehidupan manusia, suatu kejadian yang luar

biasa dalam kehidupan itu, sebuah krisis yang memungkinkan

terjadinya perubahan nasib pada manusia (1965, dalam Faruk,

1997:265).36

Menurut Tarigan, kata novel berasal dari kata Latin novellus

yang diturunkan pula dari kata novies yang berarti “baru”. Dikatakan baru karena kalau dibandingkan dengan jenis-jenis sastra lainnya

seperti puisi, drama, dan lain-lain, maka jenis novel ini muncul

kemudian.37

35

Ibid, h.77

36

AntilanPurba, Sastra Indonesia Kontomporer, (Yogyakarta: GrahaIlmu, 2011) h.62-63

37

(39)

Unsur-unsur Novel

1) Tema

Menurut Furqonul dan Abdul, tema adalah gagasan sentral dalam

suatu karya sastra. Dalam novel, tema merupakan gagasan utama

yang dikembangkan dalam plot. Hampir semua gagasan yang ada

dalam hidup ini bisa dijadikan tema, sekalipun dalam praktiknya

tema-tema yang paling sering diambil adalah beberapa aspek atau

karkater dalam kehidupan ini, seperti ambisi, kesetiaan,

kecemburuan, frustasi, kemunafikan, ketabahan, dan

sebagainya.38

2) Manusia (Tokoh)

Manusia yang dimaksud ialah pelaku atau tokoh dalam cerita

rekaan. Pelaku atau tokoh diganti dengan istilah manusia karena

pada umumnya pelaku atau tokoh adalah manusia dan jarang

dengan pelaku binatang atau yang lain. Apabila terdapat pelaku

bukan manusia, biasanya pelaku itu merupakan tokoh simbolik.39

3) Plot / Alur

Plot atau alur adalah penceritaan rentetan peristiwa yang

penekanannya ditumpukan pada sebab-akibat.40 Alur dibagi

menjadi tiga yaitu alur maju, alur mundur, dan alur campuran

(maju dan mundur).

4) Latar atau Setting

Furqonul dan Aziez mengungkapkan bahwa istilah ini berkaitan

dengan elemen-elemen yang memberikan kesan abstrak tentang

lingkungan, baik tempat maupun waktu, di mana para tokoh

menjalanan perannya.41

38

Furqonul Aziez dan Abdul Hasim,Menganalisis Fiksi (Sebuah Pengantar), (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010) h. 75

39

Wijaya Heru Santosa, Pengantar Apresiasi Sastra, (Surakarta: Yuma Pustaka, 2010) h.53-55

40

Ibid, h.56

41

(40)

e. Pantun

Pantun adalah puisi Melayu asli yang cukup mengakar dan

membudaya dalam masyarakat. Pantun merupakan salah satu jenis

puisi lama. Lazimnya pantun terdiri atau empat larik atau empat baris

bila dituliskan, bersajak a-b-a-b ataupun a-a-a-a. Pantun pada mulanya

merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang

tertulis.

Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian, yaitu sampiran dan

isi. Sampiran adalah dua baris pertama dan biasanya tak punya

hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud. Dua

baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun

tersebut.42

Ciri-ciri formal pantun:

a. Satu bait terdiri dari empat baris (larik).

b. Tiap larik terdiri dua bagian yang sama. Bagian yang sama

pembentuk larik itu disebut periodus. Jadi, tiap lirik terdiri dari

dua periodus. Tiap periodus terdiri dari dua kata.

c. Pola sajak (rima) akhir pantun berupa sajak berselang: a-b-a-b.

d. Pantun terbagi menjadi dua bagian, yaitu baris kesatu dan baris

kedua disebut sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat

disebut isi. Baris kesatu dan kedua menyediakan irama bagi baris

ketiga dan keempat. Dalam pantun yang baik sampiran itu

merupakan kiasan kepada isinya.

e. Dalam pantun, satu bait sudah lengkap. Dapat diartikan satu bait

sudah utuh dan tidak perlu ditambah lagi meskipun ada juga

pantun yang lebih dari satu bait.

f. Pantun bersifat liris, berupa persaan atau pikiran.43

42

Damayanti, Sastra Indonesia, (Yogyakarta: Araska, 2013) h. 114

43

(41)

D. Penelitian yang Relevan

Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Nurhilaliyah, mahasiswi

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan dengan judul skripsi “Minat Siswa dalam Membaca Puisi dengan Menggunakan Buku Teks Kelas VII SMP Islam Al-Khasyi’un”. Dari

hasil penelitian Nurhilaliyah diperoleh angka 87,5% dengan jumlah siswa 35

menyatakan minat terhadap materi membaca puisi, sedangkan 75% dengan

jumlah siswa 30 menyatakan senang membaca buku teks bahasa Indonesia.

Maka dapat disimpulkan bahwa minat siswa dalam membaca puisi dengan

menggunakan buku teks kelas VII berkategori baik.

Perbedaan yang peneliti Nurhilaliyah lakukan dengan yang saya teliti

adalah objeknya. Nurhilaliyah menggunakan objek puisi dan buku teks

sedangkan saya menggunakan objek karya sastra.

Penelitian kedua dilakukan oleh Halima Tusadiah, mahasiswi Universitas

Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan dengan judul skripsi “Minat Membaca Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah (MTs) Islamiyah Ciputat”.

Dari hasil penelitian Halima Tusadiah dapat disimpulkan bahwa minat siswa

dalam membaca buku pelajaran bahasa Indoensia di MTs Islamiyah masih

sangat kurang.

Perbedaan yang peneliti Halima Tusadiah lakukan dengan yang saya teliti

sama dengan penelitian Nurhilaliyah yaitu objeknya. Halima Tusadiah

menggunakan objek Buku Pelajaran Bahasa Indonesia sedangkan saya

menggunakan objek karya sastra.

Penelitian ketiga dilakukan oleh Titi Widyawati, mahasiswi Universitas

Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Psikologi dengan judul skripsi “Dukungan Orang Tua dan Sikap Terhadap Membaca Kaitannya dengan Minat Membaca pada Siswa MTs Pembangunan UIN Jakarta”.

Dari hasil penelitian Titi Widyawati dapat disimpulkan bahwa empat dari

(42)

kelamin memberikan sumbangsih secara signifikan yaitu reliable alliance, reassurance of worth, attachment, guidance, social intergation, opportunity for nurturance, sikap terhadap membaca. Koefisien regresi yang dihasilkan dari variabel sikap dan dukungan terhadap minat dengan membaca adalah

0,777. Variabel sikap berpengaruh terhadap minat dengan koefisien regresi

sebesar 0,684. Variabel dukungan orang tua berpengaruh terhadap minat

dengan koefisien regresinya 0.093.

Perbedaan penelitian Titi Widyawati dengan yang saya teliti adalah selain

meneliti tentang minat membaca, Titi Widyawati juga meneliti bagaimana

dukungan orang tua dan sikap mereka terhadap minat membaca pada siswa

MTs Pembangunan dengan memberikan pernyataan yang ada pada angket.

Jika dilihat dari ketiga judul skripsi di atas, persamaan penelitian mereka

dengan yang saya teliti adalah kita sama-sama meneliti tentang bagaimana

minat membaca siswa, baik itu membaca puisi dengan buku teks, membaca

(43)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMK Budhi Warman II yang beralamat

di Jl. Raya Bogor KM.28 Pekayon, Jakarta Timur. Pelaksanaan penelitian dan

pengumpulan data ini dimulai dari bulan Agustus-Oktober 2015 .

B. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian tentang minat

baca karya sastra adalah metode deskriptif. Nana Syaodih mengemukakan

metode deskriptif adalah suatu bentuk metode yang paling dasar. Ditujukan

untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada,

baik fenomena yang bersifat alamiah ataupun rekayasa manusia. Penelitian

ini mengkaji bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan,

dan perbedaannya dengan fenomena lain.1

Menurut Margono, dalam metode deskriptif peneliti segera melakukan

analisis data dengan memberi pemaparan gambaran mengenai situasi yang

diteliti dalam bentuk uraian naratif.2 Selain itu, penelitian ini juga

menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu pendekatan penelitian yang

menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari

orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.3 Pendekatan kualitatif dapat

digunakan untuk mengungkapkan dan memahami sesuatu di balik fenomena

yang sama sekali belum diketahui. Pendekatan ini bertujuan untuk

mendapatkan pemahaman yang sifatnya umum terhadap kenyataan sosial dari

perspektif partisipan.4 Oleh karena itu, penelitian yang penulis lakukan

menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif.

1

Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012) h. 72

2

Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004) h. 39

3

Ibid, h. 36

4

(44)

C. Subjek Penelitian

Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas XII SMK Budhi

Warman II Pekayon. Peneliti akan menyebar angket ke seluruh siswa kelas

XII , terdiri dari 4 kelas yang berjumlah 120 siswa. Setiap kelas diambil 10

sampel untuk diolah datanya oleh peneliti.

Sampel yang akan diambil dalam penelitian ini sebanyak 40 siswa dari

seluruh populasi. Pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling

(sampel acak). Pengambilan sampel secara acak berarti setiap individu dalam

populasi mempunyai peluang yang sama untuk dijadikan sampel.

Individu-individu tersebut punya peluang yang sama, bila mereka memiliki

karakteristik yang sama atau diasumsikan sama.5

D. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian kualitatif instrumen penelitian ini adalah peneliti

sendiri. Namun, untuk mendukung dan memperkuat data, peneliti

menyebarkan angket dan melakukan wawancara.

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, instrumen yang peneliti

gunakan dalam penelitian ini adalah pernyataan-pernyataan berupa angket,

yang kemudian diberikan kepada objek penelitian, yaitu siswa yang peneliti

pilih untuk dijadikan sampel dalam penelitian ini. Selain angket, peneliti juga

menggunakan instrumen wawancara dengan mengajukan

pertanyaan-pertanyaan kepada guru bahasa Indonesia untuk mendapatkan informasi yang

akurat tentang bagaimana ketertarikan para siswa dalam membaca terutama

membaca karya sastra.

E. Teknik Pengumpulan Data

Adapaun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah

wawancara dan angket.

5

(45)

1. Wawancara

Wawancara atau interview barangkali dapat dikatakan merupakan alat tukar menukar informasi yang tertua dan banyak digunakan umat

manusia dari seluruh zaman. Dalam penelitian, terutama penelitian

sosiologi dan antropologi, wawancara juga sering digunakan dan bahkan

merupakan alat pengumpul data favorit.6 Menurut Basrowi dan Suwandi

dalam bukunya mengatakan bahwa wawancara adalah semacam dialog

atau tanya jawab antara pewawancara dengan responden dengan tujuan

memperoleh jawaban-jawaban yang dikehendaki.7 Pada penelitian ini

penulis melakukan wawancara dengan guru bahasa Indonesia untuk

mengetahui bagaimana proses pembelajaran bahasa Indonesia dan

bagaimana minat siswa dalam membaca karya sastra.

2. Angket

Hadeli menyatakan angket adalah satu teknik pengumpulan data yang

berbentuk kumpulan pertanyaan.8 Menurut Burhan, angket tersebut

disebarkan kepada responden untuk diminta jawaban mereka. Setelah

angket itu terkumpul, biasanya dilanjutkan dengan proses editing, koding,

dan tabulasi. Dari hasil tabulasi tersebut antara lain bisa disajikan bentuk

tabel. Di tabel itulah tercermin berbagai gambaran tentang para

responden yang telah diteliti. Gambaran yang tertuang dalam tabel

tersebut merupakan cerminan dari keadaan nyata yang terbesar di tengah

masyarakat. Ia merupakan hasil “meringkas” kenyataan para responden

yang terbesar di masyarakat.9

Pada penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan cara

memberikan daftar pernyataan dan kemudian responden diminta untuk

memberikan tanggapan terhadap pernyataan tersebut, apakah ya atau tidak

6

Op, Cit, h.28 7

Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian Kuantitatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008) h. 141

8

Hadeli, Metode Penelitian Kependidikan, (Jakarta: Quantum Teaching, 2006) h.75

9

(46)

dengan disertai alasan mereka terkait pernyataan di dalam angket yang

diberikan kepada seluruh siswa Kelas XII SMK Budhi Warman II Tahun

Ajaran 2015/2016.

Teknik pengumpulan data selanjutnya dilakukan dengan random sampling (secara acak). Peneliti membuat daftar inisial nama siswa lalu dikocok. Hasil pengocokan itu yang nantinya akan diolah datanya oleh

peneliti.

[image:46.595.89.487.268.606.2]

TABEL

KISI-KISI TENTANG MINAT MEMBACA KARYA SASTRA PADA SISWA KEL

Gambar

KISI-KISI TENTANTABEL  G MINAT MEMBACA KARYA SASTRA PADA
Tabel 1
Tabel 2
Tabel 3
+7

Referensi

Dokumen terkait

Setiap guru pada umumnya atau guru bahasa pada khususnya harus benar-benar memahami bahwa tujuan akhir pengajaran bahasa ialah agar par a siswa terampil berbahasa:

Diharapkan bagi peneliti selanjutnya yang melakukan penelitian sejenis untuk mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi Sisa Hasil Usaha di luar faktor modal sendiri

Kegiatan ini dimaksudkan agar tersedianya dokumen hasil survei tingkat kepuasan masyarakat pengguna angkutan AKDP, terkait dengan kualitas pelayanan publik yang telah

 Hubungan Sistem Konfigurasi Elektron dengan Letak Unsur dalam Tabel Periodik Unsur  Sifat-Sifat Unsur dan Massa Atom Relatif (Ar)  Sifat Keperiodikan Unsur. 

Pokja I Jasa Konsultansi Bagian Layanan Pengadaan Barang dan Jasa Sekretariat Daerah Kabupaten Muara Enim Tahun 2017 akan melaksanakan Pengumuman Prakualifikasi untuk paket

Saran yang dikemukakan pada penelitian ini yaitu: kiranya kepemimpinana entelcerdas (entrepre-neur, teladan, cerdas, demokratis) dapat diimplementasikan oleh semua

Tes tertulis: menilai kemampuan peserta didik dalam mengevaluasi tentang perubahan dan perkembangan politik, sosial dan ekonomi masa Orde Baru dan awal Reformasi serta peran

Penggunaan media sosial juga dapat memberikan dampak yang negatif terhadap masyarakat, seperti yang kita lihat sekarang media sosial dijadikan media untuk