• Tidak ada hasil yang ditemukan

SIKAP DAN PRESTASI BELAJAR PKn SISWA KELUARGA LENGKAP DAN KELUARGA SINGLE PARENT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "SIKAP DAN PRESTASI BELAJAR PKn SISWA KELUARGA LENGKAP DAN KELUARGA SINGLE PARENT"

Copied!
141
0
0

Teks penuh

(1)

SIKAP DAN PRESTASI BELAJAR PKn

SISWA KELUARGA LENGKAP DAN

KELUARGA SINGLE PARENT

Oleh

HERIDA

Tesis

Sebagai Salah Satu syarat Untuk Mencapai Gelar

MAGISTER PENDIDIKAN

Pada

Program Pascasarjana Pendidikan Ilmu Pengetahuan Soaial

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

PROGRAM PASCA SARJANA MAGISTER PENDIDIKAN IPS

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(2)

ABSTRAK

SIKAP DAN PRESTASI BELAJAR PKn SISWA

KELUARGA LENGKAP DAN KELUARGA SINGLE PARENT

Oleh

HERIDA

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan apakah ada perbedaan antara siswa yang diasuh oleh keluarga lengkap dengan siswa yang diasuh oleh keluarga single parent dari segi sikap dan prestasi belajar mereka.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif dengan populasi siswa yang berjumlah 707 orang. Pengambilan sampel menggunakan tehnik sampling purposive. Untuk menguji hasil tes skala sikap dan tes hasil belajar dihitung sekaligus digunakan program anates. Untuk menganalisis perbedaan data hasil tes siswa keluarga lengkap dan siswa keluarga single parent digunakan uji beda rata-rata (Uji T).

Hasil penelitian menunjukkan : (1) sikap antara siswa yang diasuh oleh keluarga lengkap dan keluarga single parent mencapai besaran 0,490 > 0,05 sehingga Ho diterima, (2) prestasi belajar siswa keluarga lengkap dan siswa keluarga single parent mencapai skor 0,681 > 0,05 sehingga Ho diterima , (3) kombinasi sikap dan prestasi belajar antara siswa keluarga lengkap dan siswa keluarga single parent menyatakan 0,490 > 0,05 dan 0,681 > 0,05 sehingga Ho diterima, (4) Perbedaan sikap dan prestasi belajar antara siswa yang diasuh oleh keluarga lengkap bila dibandingkan dengan siswa yang diasuh oleh keluarga single parent

mencapai besaran 99,125 > 97,875 yang berarti rerata siswa yang berasal dari keluarga utuh memiliki rerata lebih baik dari pada siswa yang berasal dari keluarga single parent.

(3)
(4)
(5)
(6)

DAFTAR ISI

1.2 Identifikasi Masalah... 1.3 Pembatasan masalah... 1.4 Rumusan Masalah... 1.5 Tujuan Penelitian... 1.6 Manfaat Penelitian... 1.7 Ruang Lingkup Penelitian... 1.8 Lingkup Keilmuan/kajian keilmuan...

BAB II TINJAUAN PUSTAKA,KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS

2.1 Prestasi Belajar Pendidikan Kewarganegaraan…………... 2.1.1 Hakekat PendidikanKewarganegaraan...

2.1.2 Prestasi Belajar……... 2.1.3 Faktor- faktor yang mempengaruhi Prestasi belajar…….

(7)

………. 2.7 Hasil Penelitian yang Relevan ………...

2.8 Kerangka Pikir ………..

2.9 Hipotesis...

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian... 3.2 Tempat dan Waktu penelitian... 3.3 Populasi Penelitian... 3.4 Sampel Penelitian... 3.5 Definisi Operasional dan Definisi Konseptual... 3.5.1 Keluarga Lengkap... 3.5.2 Keluarga Single Parent... 3.5.3 Sikap... 3.5.4 Prestasi Belajar... 3.6 Teknik Pengumpulan Data... 3.7 Instrumen Penelitian………... 3.7.1 Instrumen Prestasi Belajar... 3.7.2 Instrumen Hasil Belajar Asfek Sikap……… 3.8 Uji Peryaratan Instrumen...

3.8.1 Uji Persyaratan Instrumen Sikap... 3.8.1.1Tingkat Kesukaran Butir Tes Skala Sikap……… 3.8.1.2 Daya Beda Tes Skala Sikap………...….. 3.8.1.3 Validitas Tes Skala Sikap……….………... 3.8.1.4 Reliabilitas Tes Skala Sikap…….………... 3.8.2 Uji Persyaratan Instrumen Prestasi Belajar... 3.8.2.1Tingkat Kesukaran Butir Soal Prestasi Belajar…

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian………..…

(8)

Situasi dan Kondisi Sekolah………...…………

4.2 Deskripsi Data……….

4.2.1 Data Prestasi Belajar Siswa dari Keluarga Utuh………… 4.2.2 Data Prestasi Belajar Siswa dari keluarga Single Parent

4.3 Pengujian Persyaratan Analisis Data…...………

4.3.1 Uji Normalitas………

4.3.2 Uji Homogenitas………

4.4 Pengujian Hipotesis……….

4.4.1 Pengujian Hipotesis Tidak Ada Perbedaan Sikap antara Siswa yang Diasuh oleh Keluarga Lengkap atau Utuh dan Sikap Siswa yang Diasuh oleh Keluarga Single

Parent…………....

4.4.2 Pengujian Hipotesis Tidak Ada Perbedaan Prestasi Belajar PKn antara Siswa yang Diasuh oleh Keluarga Lengkap atau Utuh dan Prestasi Belajar PKn Siswa yang Diasuh oleh Keluarga Single Parent…………

4.4.3 Pengujian Hipotesis Tidak Ada Perbedaan Sikap dan Prestasi Belajar PKn antara Siswa yang Diasuh oleh Keluarga Lengkap atau Utuh dengan Sikap dan Prestasi Belajar PKn Siswa yang Diasuh oleh Keluarga Single

Parent………...

4.4.4 Pengujian Hipotesis Siswa yang Berasal dari Keluarga Lengkap atau Utuh Memiliki Sikap dan Prestasi Belajar PKn yang Lebih Baik dari pada Siswa dari Keluarga

Single Parent………

4.5 Pembahasan………...

4.5.1 Tidak Ada Perbedaan Sikap antara Siswa yang Diasuh oleh Keluarga Lengkap atau Utuh dan Sikap Siswa yang Diasuh oleh Keluarga Single Parent…………

4.5.2 Tidak Ada Perbedaan Prestasi Belajar PKn antara Siswa yang Diasuh oleh Keluarga Lengkap atau Utuh dan Prestasi Belajar PKn Siswa yang Diasuh oleh Keluarga

Single Parent………….

4.5.3 Tidak Ada Perbedaan Sikap dan Prestasi Belajar PKn antara Siswa yang Diasuh oleh Keluarga Lengkap atau Utuh dengan Sikap dan Prestasi Belajar PKn Siswa yang Diasuh oleh Keluarga Single Parent………

4.5.4 Siswa yang Berasal dari Keluarga Lengkap atau Utuh Memiliki Sikap dan Prestasi Belajar PKn yang Lebih Baik dari pada Siswa dari Keluarga Single Parent……..

4.6 Keterbatasan Penelitian………... V. SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

(9)

Lampiran-Lampiran Daftar Riwayat Hidup

(10)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Proses pendidikan berlangsung secara terus menerus dalam kehidupan manusia,

melalui pendidikan diharapkan anak memperoleh pengetahuan, keterampilan dan

sikap yang sangat diperlukan untuk memecahkan persoalan-persoalan yang

dihadapi, hampir semua pengetahuan, keterampilan, sikap dan prilaku manusia

dibentuk, diubah, dan berkembang karena belajar. Aktifitas belajar bagi setiap

individu tidak selamanya disebabkan oleh faktor inteligensi yang rendah, akan

tetapi juga disebabkan oleh faktor lingkungan.

Secara garis besar proses pendidikan dapat terjadi dalam tiga lingkungan

pendidikan yaitu pendidikan dalam keluarga (pendidikan informal), pendidikan

dalam lingkungan sekolah (pendidikan formal) dan pendidikan di dalam

lingkungan masyarakat (pendidikan non formal). Ketiga lingkungan pendidikan

tersebut saling berkaitan dan tak dapat dipisahkan, karena manusia sepanjang

hidupnya selalu akan menerima pengaruh dari tiga lingkungan pendidikan yang

utama yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat. dan disebut tripusat pendidikan

(11)

Pendidikan di dalam keluarga merupakan pendidikan kodrati, di dalam

keluargalah individu pertama kali berhubungan dengan orang lain dan di dalam

keluarga pula awal pengalaman pendidikan dimulai. Pengalaman anak di dalam

keluarga memberikan kesan tertentu yang terus melekat sekalipun tidak

selamanya disadari oleh anak, kesan tersebut mewarnai sikap dan prilaku yang

terpancar dalam interaksinya dengan lingkungan. Segala sikap dan tingkah laku

kedua orang tuanya akan diamati oleh anak baik disengaja maupun tidak disengaja

sebagai pengalaman bagi anak. karena keluarga adalah lingkungan pendidikan

yang pertama dan utama (Slameto, 2010:61).

Ki Hajar Dewantoro dalam (Tirtarahardja, 2005:169) mengatakan bahwa suasana

kehidupan keluarga merupakan tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan

pendidikan orang-seorang (pendidikan individual) maupun pendidikan sosial.

Bedasarkan keterangan di atas keluarga sebagai salah satu wahana pendidikan

merupakan tempat terjadinya proses pendidikan anak dimana orang tua berperan

sebagai pendidik bagi anak-anaknya, karena sebagian besar kehidupan anak ada

di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima adalah

dalam keluarga. Orang tua memiliki pengaruh yang kuat terhadap perkembangan

pendidikan anak dalam melaksanakan kegiatan belajar untuk mencapai prestasi

belajar yang diharapkan, di samping itu juga keberadaan orang tua memegang

peranan yang sangat penting untuk membentuk sikap dan memberi dorongan atau

(12)

Orang tua yang kurang memperhatikan pendidikan anaknya dapat menyebabkan

anak tidak atau kurang berhasil dalam belajarnya. Hasil yang didapatkan, nilai

atau prestasi belajarnya kurang memuaskan atau bahkan mungkin gagal dalam

studinya. Hal ini dapat terjadi pada anak dari keluarga yang kedua orang tuanya

sibuk mengurus pekerjaan mereka(Slameto, 2010: 61

Untuk menciptakan manusia yang berkualitas dan berprestasi tinggi, maka siswa

harus memiliki sikap dan prestasi belajar yang baik. Prestasi belajar adalah

kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman

belajarnya .(Sudjana ,2009: 22), sedangkan Ahmadi (2003: 21) menyatakan

bahwa prestasi belajar adalah hasil kegiatan yang telah dicapai dalam usaha

belajar yang ditandai oleh adanya perubahan situasi yang terlihat dalam proses

perkembangan diri siswa untuk mencapai tujuan. Prestasi banyak digunakan di

dalam berbagai bidang dan diberi pengertian sebagai kemampuan, keterampilan,

sikap seseorang dalam menyelesaikan sesuatu hal.

Salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan sikap dan prestasi belajar

anak adalah faktor keutuhan keluarga, karena pada umumnya sebuah keluarga

mempunyai dua sosok penanggung jawab dalam kelangsungan hidup keluarga.

Sosok ayah sebagai kepala keluarga dan sosok ibu sebagai pendamping serta

pelaksana dari delegasi yang ditinggalkan oleh kepala keluarga terutama dalam

pendidikan anak.

Beberapa hasil penelitian telah memberi gambaran bahwa ayah mempunyai arti

yang berbeda-beda di mata anak. Seorang anak kecil memandang ayahnya

(13)

mengatasi masalah. Bagi seorang anak laki-laki yang sedang tumbuh, ayah

dijadikan model yang patut dicontoh utamanya dalam proses sosialisasi. Untuk

anak perempuan, ayah dipandang sebagi pendorong berkembangnya feminimitas

yang akan terjadi jika ayah sering memberi komentar kepada anak perempuannya,

baik mengenai pakaian, tatanan rambut, tingkah laku serta sifat-sifat

kewanitaannya (Tirtaraharja, 2005: 171).

Pada masa sekarang ini kehidupan dalam keluarga sangat bervariasi. Ada keluarga

yang disebut dengan keluarga besar yang terdiri dari ayah, ibu, anak dan anggota

keluarga lain seperti kakek, nenek, paman dan sebagainya. Ada juga yang disebut

keluarga inti yang hanya terdiri atas ayah, ibu dan anak.

Ditinjau dari kelengkapan struktur keluarga terdapat keluarga yang utuh atau

lengkap dan keluarga yang tidak utuh (single parent). Keluarga lengkap atau utuh

adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu yang masih lengkap keduanya dengan

beberapa orang anak, sedangkan keluarga tidak lengkap atau utuh (single parent)

adalah keluarga yang hanya terdapat satu orang tua saja baik itu ayah ataupun ibu

dan anak-anaknya.

Bukanlah sebuah pilihan ketika tatanan ideal atau struktur keluarga itu kemudian

tidak dapat berjalan dengan baik dalam sebuah keluarga, karena tidak semua

keluarga hidup bahagia sesuai dengan yang diharapkan, dan tidak sedikit

pasangan yang hidup berumah tangga dihadapkan pada suatu persoalan atau

permasalahan yang tidak ada titik temu, sehingga tidak jarang pula pasangan

suami isteri memutuskan untuk bercerai, disamping itu juga bisa disebabkan

(14)

jawab dan peran orang tua dalam pengasuhan anak.

Single parent adalah keluarga yang terdiri dari orangtua tunggal baik ayah atau

ibu sebagai akibat dari perceraian dan kematian.

Single parent menjadi contoh ketidak utuhan sebuah kelengkapan tatanan rumah

tangga apakah yang disebabkan karena faktor perceraian atau pasangan hidupnya

meninggal. Orang tua tunggal atau biasa disebut dengan istilah single parent

adalah orang tua yang hanya terdiri dari satu orang saja, dimana di dalam rumah

tangga ia berperan sebagai ibu dan juga berperan sebagai bapak. Tugas sebagai

orang tua terlebih bagi seorang ibu, akan bertambah berat jika menjadi orangtua

tunggal (single parent). Setiap orang terlebih bagi wanita tentunya tidak pernah

berharap menjadi single parent, keluarga lengkap pastilah idaman setiap

orang, namun adakalanya nasib berkehendak lain. Kenyataannya kondisi ideal

tersebut tidak selamanya dapat dipertahankan atau diwujudkan.

Keluarga yang utuh dengan figur seorang ayah yang menjadi pelindung atau

seorang ibu yang memberikan sentuhan kelembutan kasih diakui senantiasa

menjadi impian setiap manusia. Pangkal masalah yang sering dihadapi keluarga

yang hanya dipimpin oleh single parent adalah masalah anak. Anak akan merasa

dirugikan dengan hilangnya salah satu orang yang berarti dalam hidupnya.

SMA Negeri 1 Bandar lampung sebagai salah satu lembaga pendidikan formal

termasuk salah satu sekolah yang menjadi pilihan utama bagi siswa siswi lulusan

Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk melanjutkan sekolahnya. Dari segi input

siswa yang masuk sekolah ini adalah siswa yang memiliki prestasi atau hasil

(15)

Bandar lampung tanpak bahwa nilai yang diterima di SMA Negeri 1 Bandar

lampung pada tahun 2011/2012 nilai tertinggi 100,450, nilai terendah 87,805, dan

nilai rata-rata 89,811. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1.1 Peringkat Sekolah berdasarkan nilai seleksi Penerimaan Siswa Baru Tahun Pelajaran 2011/ 2012

No Nama sekolah Nilai rata-rata N. Tertinggi N. Terendah

1.

(16)

Berdasarkan Tabel 1. 1.tersebut maka bukan hal yang sulit bagi siswa untuk

memperoleh nilai KKM yang telah ditetapkan untuk setiap mata pelajaran di SMA

Negeri 1 Bandar lampung. Nilai KKM untuk mata pelajaran Pendidikan

kewarganegaraan (PKn) di SMA Negeri 1 Bandar lampung adalah 72 untuk

siswa kelas X, 73 untuk siswa kelas XI dan 75 untuk kelas XII. Menurut data

yang peneliti himpun dari hasil pengamatan dan wawancara terhadap siswa

SMA Negeri 1 Bandar lampung dimana jumlah siswa secara keseluruhan adalah

707 siswa , terdiri dari 327 siswa laki-laki dan 380 siswa perempuan yang berasal

dari latar belakang keluarga yang berbeda yakni 652 siswa berasal dari keluarga

lengkap atau keluarga utuh dan 55 siswa berasal dari keluarga single parent .

Data tersebut menggambarkan bahwa siswa SMA Negeri 1 Bandar lampung

terdiri dari latar belakang keluarga yang memiliki perbedaan, ada siswa yang

berasal dari keluarga single parent, dan ada siswa yang berasal dari keluarga

lengkap atau utuh. Adapun keadaan siswa yang berasal dari keluarga single

parent di SMA Negeri 1 Bandar lampung yang penulis dapatkan adalah dari

jumlah 55 orang siswa yang berasal dari keluarga single parent terdiri dari 7 orang

siswa berasal dari single paren ayah yang mengasuh dan mendidik anaknya, dan

48 siswa yang diasuh oleh single parent ibu sebagai akibat perceraian dan karena

meninggal dunia, hal ini dapat dilihat pada Tabel berikut.

(17)

Tabel 1.2 Sebaran siswa Single parent di SMA Negeri 1 Bandar lampung TP. 2011-2012

Kls SP. AYAH SP. IBU JUMLAH

Meninggal Perceraian Meninggal Perceraian X

Berdasarkan Tabel 1.2 di atas bila dibandingkan jumlah siswa yang diasuh oleh

single parent ayah, jumlah single parent ibu memiliki perbedaan yang cukup

besar dari 55 siswa yang berasal dari keluarga single Parent Ibu disebabkan oleh

suami meninggal berjumlah 22 siswa dan sebagai akibat perceraian atau berpisah

dengan suami sebanyak 26 siswa, sedangkan siswa yang diasuh oleh single

parent ayah sebagai akibat perceraian berjumlah 6 orang dan meninggal 1 orang.

Dalam penelitian ini peneliti hanya berfokus pada siswa yang diasuh oleh single

parent ibu, karena rata-rata siswa yang diasuh oleh single parent ayah pada

umumnya masih kumpul dan diasuh atau dididik oleh keluarga dari pihak suami.

Kondisi siswa yang diasuh oleh single parent di SMA Negeri 1 Bandar lampung

Sangat beragam baik secara ekonomi maupun secara social. Dalam keluarga

single parent ibu, ada juga beberapa siswa yang secara ekonomi masih

mendapatkan bantuan dari pihak keluarga baik bantuan dari keluarga ayah

ataupun keluarga Ibu karena pengaruh kultur budaya yang berbeda sehingga

dalam pengasuhan dan tanggung jawab terhadap siswa yang berasal dari keluarga

(18)

dan prestasi belajar dari masing-masing siswa yang diasuh oleh keluarga single

parent satu sama lainnya. Dengan perbedaan tersebut tentunya sikap dan prestasi

belajar siswa di sekolah memiliki perbedaan, baik siswa yang diasuh oleh

keluarga utuh maupun yang diasuh oleh single parent itu sendiri.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru BP dan siswa di sekolah yang dapat

penulis himpun ada sebagian siswa yang kurang mendapatkan perhatian dari

orang tuanya baik siswa yang berasal dari keluarga utuh maupun siswa yang

diasuh oleh orang tua single parent yang mengakibatkan motivasi belajar anak

tersebut menjadi menurun yang berakibat rendahnya prestasi belajar siswa.

Menurut penilaian dari beberapa orang guru, catatan wali kelas dan guru BP

masih banyak siswa yang kurang disiplin, siswa sering melakukan pelanggaran

terhadap tata tertib sekolah antara lain siswa sering terlambat , siswa sering tidak

masuk sekolah tanpa keterangan, berpakaian tidak rapi dan tidak sesuai dengan

ketentuan sekolah, adanya perkelahian antar teman dan kadang-kadang siswa juga

berlaku kurang sopan terhadap teman ataupun guru di sekolah. Disamping

kurang disiplin, siswa juga kurang bertanggung jawab terhadap tugas yang

diberikan seperti tugas piket di kelas dan bila diberi tugas oleh guru

kadang-kadang tidak dikerjakan. Hal ini tentu akan berimbas pada prestasi atau nilai

hasil belajar siswa dalam belajar.

Komunikasi antara guru dan orang tua siswa dalam upaya untuk mendidik anak

sering dilakukan di SMAN 1 Bandar lampung, namun yang menjadi kendala

adalah kurang komunikatifnya orang tua siswa terhadap pihak sekolah tidak

(19)

masalah anaknya. Orang tua hanya datang kesekolah bila ada panggilan dari pihak

sekolah, namun kadang-kadang ada panggilanpun orang tua siswa tidak

mengindahkan panggilan tersebut sehingga pihak sekolahlah yang berupaya

mendatangi rumah siswa (Home Visit).

PKn merupakan program pendidikan atau mata pelajaran yang memiliki tujuan

utama untuk mendidik siswa agar menjadi warga negara yang baik, demokratis,

disiplin dan bertanggung jawab, berdasarkan hal tersebut merupakan tanggung

jawab besar bagi guru-guru terutama guru PKn dalam membentuk karakter siswa

agar menjadi manusia-manusia yang disiplin, bertanggung jawab dan pada

akhirnya dapat menjadi warga negara yang baik. Seorang siswa yang memiliki

tanggung jawab pada dirinya maka siswa tersebut secara tidak langsung akan

lebih serius dalam meningkatkan prestasi belajarnya.

Berdasarkan penilaian yang ada pada guru mata pelajaran PKn diketahui hasil

atau prestasi belajar PKn pada semester gasal tahun pelajaran 2011-2012 sangat

bervariasi hal ini dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. 3 Hasil Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran PKn pada Semester Ganjl 2011/2012

(20)

Berdasarkan Tabel 1.3 di atas tampak bahwa siswa yang belum mencapai KKM

ada 177 siswa atau 25%, sedangkan yang telah mencapai KKM ada 530 siswa

atau 75%. Adanya perbedaan prestasi belajar siswa ini banyak dipengaruhi oleh

berbagai faktor baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal yaitu

faktor yang bersumber dari dalam individu seperti kecerdasan, perhatian, minat,

bakat, motivasi, kematangan dan kesiapan. Sedangkan faktor eksternal adalah

semua faktor yang bersumber dari luar seperti lingkungan yang terdiri dari

lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.

Lingkungan keluarga meliputi cara orang tua mendidik, relasi antar anggota

keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua dan

latar belakang kebudayaan. Lingkungan sekolah meliputi metode mengajar,

kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah,

alat pelajaran, waktu sekolah dan lain-lain, sedangkan lingkungan masyarakat

meliputi keadaan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul dan bentuk

kehidupan masyarakat.

Berdasarkan observasi awal prestasi belajar PKn yang dicapai oleh siswa di

SMA Negeri 1 Bandar lampung sangat bervariasi, baik prestasi belajar PKn

siswa yang berasal dari keluarga lengkap maupun prestasi belajar PKn siswa

(21)

Tabel 1. 4 Hasil Belajar siswa yang berasal dari keluarga lengkap dan siswa dari keluarga Single Parent dalam mata pelajaran PKn pada semester ganjil 2011/2012

Kelas Jumlah siswa N. Rata-rata

kelas

N.Siswa dari K.Lengkap

(22)

Berkaitan dengan sikap dan prestasi belajar siswa di SMA Negeri 1 Bandar

lampung tentunya tidak lepas dari latar belakang keluarga yang berbeda dari

masing-masing siswa. Faktor lingkungan keluarga mempunyai andil yang cukup

besar dalam kegiatan belajar siswa di sekolah dimana orang tua dari

masing-masing siswa memiliki cara dan pola tersendiri dalam mengasuh dan

membimbing anak. Cara dan pola tersebut tentu akan berbeda-beda antara satu

keluarga dengan keluarga yang lainnya. Pola asuh orang tua ini merupakan

gambaran tentang sikap dan perilaku orang tua dan anak dalam berinteraksi,

berkomunikasi, selama mengadakan kegiatan pengasuhan.

Kegiatan pengasuhan orang tua akan memberikan perhatian, peraturan disiplin,

hadiah dan hukuman, serta tanggapan terhadap keinginan anaknya. Sikap,

perilaku dan kebiasaan orang tua ini selalu dilihat, dinilai dan ditiru oleh anak

yang kemudian menjadi kebiasaan pula bagi anak-anaknya. Kenyataan seperti ini

terlihat dengan adanya perbedaan sikap dan prestasi dalam belajar beberapa siswa.

Ada siswa yang memiliki sikap dan prestasi belajar positif atau baik, ada pula

siswa yang memiliki sikap dan prestasi belajar yang negatif atau kurang baik.

Terutama sikap demokratis, disiplin dan bertanggung jawab dalam mengerjakan

tugas-tugas yang diberikan, hal ini tentunya akan berimbas pada prestasi belajar

PKn siswa di sekolah, meskipun guru telah berupaya secara optimal untuk

membangkitkan motivasi siswa untuk mengikuti kegiatan belajar, dan

menanamkan sikap-sikap demokratis, disiplin dan bertanggung jawab kepada

(23)

Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang

Perbedaan sikap dan prestasi belajar PKn pada siswa yang berasal dari keluarga

lengkap atau Utuh dan siswa yang berasal dari keluarga single parent di SMA

Negeri 1 Bandar lampung.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat diidentifikasikan

permasalahan sebagai berikut.

1. Adanya perbedaan latar belakang keluarga siswa di SMA Negeri 1 Bandar

lampung

2. Ada pengaruh orang tua terhadap sikap dan prestasi siswa di SMA

Negeri 1 Bandar lampung.

3. Adanya perbedaan dalam tanggung jawab orang tua terhadap pengasuhan

siswa .

4. Prestasi belajar siswa yang bervariasi.

5. Banyaknya siswa yang melakukan pelanggaran terhadap tata tertib di

sekolah baik siswa yang diasuh oleh keluarga utuh maupun siswa yang

diasuh oleh keluarga single parent.

6. Kurangnya perhatian dan komunikasi orang tua dengan pihak sekolah.

7. Perubahan sifat hubungan orang tua/ keluarga dengan anaknya akan

diiringi pula dengan perubahan hubungan guru-siswa.

8. Keadaan keluarga utuh dan yang tidak utuh juga mempengaruhi sikap dan

psikologis dalam belajar, sehingga pada akhirnya akan berujung pada hasil

(24)

1. 3 Pembatasan Masalah

Agar penelitian lebih terarah dan dapat dikaji lebih mendalam maka diperlukan

pembatasan masalah. Dalam penelitian ini pembatasan masalahnya sebagai

berikut .

1. Penelitian terbatas pada siswa siswi di SMA Negeri 1 Bandar Lampung

Tahun pelajaran 2011/2012.

2. Sikap siswa dalam belajar, terutama sikap , disiplin dan bertanggung jawab

siswa dalam belajar pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di

SMA Negeri 1 Bandar lampung

3. Prestasi belajar terbatas pada prestasi belajar PKn yang diambil nilai

rapot semester gasal SMA Negeri 1 Bandar lampung Tahun Pelajaran

2011/2012.

1. 4 Perumusan Masalah

Sesuai dengan identifikasi masalah tersebut di atas, maka rumusan masalah

penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :

1. Apakah ada perbedaan sikap antara siswa yang diasuh oleh keluarga

lengkap atau utuh dan siswa yang diasuh oleh keluarga single parent?

2. Apakah ada perbedaan prestasi belajar PKn antara siswa yang diasuh oleh

keluarga lengkap atau utuh dan siswa yang diasuh oleh keluarga single

parent?

3. Apakah ada perbedaan sikap dan prestasi belajar PKn siswa yang diasuh

oleh keluarga lengkap atau utuh dengan siswa yang diasuh oleh keluarga

(25)

4. Manakah yang lebih baik sikap dan prestasi belajar PKn antara siswa yang

diasuh oleh keluarga lengkap atau utuh bila dibandingkan dengan siswa

yang diasuh oleh keluarga single parent?

1.5 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Untuk menjelaskan apakah ada perbedaan sikap antara siswa yang diasuh

oleh keluarga lengkap atau utuh dengan siswa yang diasuh oleh keluarga

single parent.

2. Untuk menjelaskan apakah ada perbedaan prestasi belajar PKn antara

siswa yang diasuh oleh keluarga lengkap atau utuh dengan siswa yang

diasuh oleh keluarga single parent.

3. Untuk menjelaskan apakah ada perbedaan sikap dan prestasi belajar PKn

antara siswa yang diasuh oleh keluarga lengkap dengan siswa yang diasuh

oleh keluarga single parent.

4. Untuk menjelaskan manakah yang lebih baik antara sikap dan prestasi

belajar PKn antara siswa yang diasuh oleh oleh keluarga lengkap dan

siswa yang diasuh oleh keluarga single parent.

1.6 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak.

Berikut ini akan dibahas manfaat penelitian baik secara teoritis maupun secara

(26)

a. Secara Teoritis

IPS merupakan transmisi dari pendidikan kewarganegraan (PKn). Sekolah

sebagai wahana pendidikan yang memiliki tugas mengembangkan

kepribadian siswa yang utuh dan sesuai dengan tuntutan masyarakat yaitu

menciptakan manusia yang berpendidikan dengan sikap, nilai dan moral

yang berlaku di masyarakat. Melalui penelitian ini diharapkan guru dapat

lebih mengembangkan aspek afektif yang berkaitan dengan aspek sikap, nilai

dan moral seperti yang diharapkan oleh masyarakat. Hasil penelitian ini

diharapkan juga dapat memberikan sumbangan bagi kemajuan pengetahuan

pada umumnya dan pada mata pelajaran PKn pada khususnya, serta dapat

dijadikan pedoman dalam mengadakan penelitian selanjutnya.

b. Secara Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan

masukan kepada kepala sekolah, orang tua dan guru SMAN 1 Bandar

Lampung yang terkait dengan kesulitan yang dihadapi oleh setiap anak dalam

belajar dan pengawasan terhadap perkembangan anak.

Bagi siswa dapat memberikan dorongan untuk lebih meningkatkan

pemahaman dalam konsep diri yang positif sehingga dapat meningkatkan

prestasi belajarnya.

1.7 Ruang Lingkup Penelitian

Agar penelitian ini memberikan arah yang tepat, maka penelitian ini dibatasi pada

ruang lingkup perbedaan sikap (Y1) dan prestasi belajar PKn (Y2) antara siswa

(27)

keluarga single parent (X2).

1. 8 Ruang lingkup keilmuan / Kajian Keilmuan

Setiap disiplin ilmu tidak boleh melepaskan diri dari kewajiban untuk

mengembangkan aspek afektif dari peserta didik, karena seseorang dengan

pendidikan yang tinggi tidak akan berarti apa-apa bila tidak memiliki sikap, nilai

dan moral seperti yang diharapkan oleh masyarakat. Pendidikan ilmu sosial

memiliki kewajiban untuk mengembangkan nilai dan moral yang berlaku di

masyarakat yang menjadi bagian dari kepribadian individu siswa.

Menurut Roberta Woolever dan Scott (1987) dalam Ridwan (2011), Pendidikan

IPS terdapat 5 tradisi atau 5 perspektif yang tidak saling menguntungkan secara

eksklusif, melainkan saling melengkapi. Adapun lima perspektif pada tujuan inti

pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial adalah sebagai berikut.

1. IPS sebagai Transmisi Kewarganegaraan ( social studies as citizenship

transmission),

2. IPS sebagai ilmu- ilmu sosial (social studies as social sciences)

3. IPS sebagai penelitian mendalam (social studies as reflective inquiry),

4. IPS sebagai kritik kehidupan social (social studies as social criticism)

5. IPS sebagai pengembangan pribadi individu (social studies as personal

devwlopment of the individual).

Penelitian ini terpokus pada IPS sebagai transmisi kewarganegaraan

(social studies as citizenship transmission), Pendidikan Kewarganegaraan (Pkn)

(28)

kewarganegaraan serta pendidikan hukum dan kemasyarakatan. Sebagai

pendidikan kewarganegaraan, Pkn bertujuan mempersiapkan siswa menjadi

warganegara yang baik. Hal ini sejalan dengan tujuan IPS yang dikaitkan dengan

salah satu misinya yaitu mempersiapkan siswa menjadi warganegara yang baik.

Selain itu salah satu tujuan IPS adalah pendidikan kewarganegaraan, hal ini

merupakan pengaruh dan tradisi pendidikan IPS sebagai “citizenship trasmission”,

maka PKn akan senantiasa berkaitan dengan tradisi pendidikan IPS.

Ada 10 konsep social studies dari NCSS dalam Pargito (2010:35), yaitu (1) cultur;

(2) time, continuity and change; (3) people, places and environments; (4)

individual development and identity; (5) individuals, group, and institutions; (6)

power authority and govermance; (7) production, distribution and consumption;

(8) science, and society; (9) global connections; (10) civics ideals and practices).

Salah satu tema IPS di atas menunjukkan tentang civics ideals and practices. Misi

yang dibawa Pendidikan IPS adalah pengembangan keilmuan sekaligus nilai dan

kewarganegaraan. Secara nasional, tujuan pendidikan IPS adalah untuk

mendukung tujuan pendidikan nasional yang dalam pasal 3 UU SISDIKNAS

tahun 2003 disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk

berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan

bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,

kreatif, mandiri dan menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggung

(29)

PKn merupakan bidang kajian kewarganegaraan yang ditopang berbagai disiplin

ilmu yang relevan, yaitu ilmu politik, hukum, sosiologi, antropologi, psikologi dan

disiplin ilmu lainnya. Mata pelajaran PKn merupakan mata pelajaran yang

memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu

melaksanakan hak dan kewajiban untuk menjadi warga negara Indonesia yang

cerdas, trampil, berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.

Uraian di atas tampak bahwa PKn merupakan bagian dari kajian ilmu-ilmu sosial

atau IPS pada konsentrasi program S2 Pendidikan IPS tempat peneliti menimba

ilmu, sehingga peneliti menganggap perlu mengadakan penelitian yang membahas

tentang perbedaan sikap dan prestasi belajar PKn antara siswa yang diasuh oleh

keluarga lengkap dengan siswa yang diasuh oleh keluarga single parent di SMA

(30)

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS

2.1. Prestasi Belajar Pendidikan Kewarganegaraan

2.1.1. Hakekat Pendidikan Kewarganegaraan

Pendidikan kewarganegaraan menurut Depdiknas (2006) dalam (Winataputra dan

Budimansah, 2007:99) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada

pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak

dan kewajibannya untuk menjadi warga negara yang cerdas, terampil dan

berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila danUUD 1945. Sedangkan Malik

Fajar (2004:6-8) mengatakan bahwa PKn sebagai wahana untuk

mengembangkan kemampuan, watak dan karakter warganegara yang demokratis

dan bertanggungjawab.

Selanjutnya Maftuh dan Sapriya (2005:321) “PKn merupakan program

pendidikan atau mata pelajaran yang memiliki tujuan utama untuk mendidik

siswa agar menjadi warga negara yang baik, demokratis, disiplin dan

bertanggung jawab”. Hal itu sejalan dengan fungsi dan tujuan pendidikan nasional

yakni mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban

bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Serta

(31)

beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,

berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta

bertanggung jawab (UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Pasal 3).

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa Pendidikan

Kewarganegaraan (PKn) sebagai mata pelajaran yang diajarkan di sekolah,

merupakan program pengajaran yang membekali setiap siswa untuk menjadi

warga negara yang baik, dan mampu berfikir kritis, cakap, disiplin, bertanggung

jawab dan demokratis.

Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP, 2006), merumuskan tujuan mata

pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah sebagai berikut.

1) Berfikir secara kritis, rasional dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan.

2) Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta anti korupsi.

3) Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya.

4) Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi dan komunikasi.

Rumusan tersebut sejalan dengan aspek-aspek kompetensi yang akan

dikembangkan dalam pembelajaran PKn yaitu mencakup pengetahuan

kewarganegaraan (civic knowledge), keterampilan kewarganegaraan ( civic

skills), dan watak atau karakter kewarganegaraan (civic disposition). PKn

sebagaimana yang telah kita ketahui tujuannya adalah agar setiap warga negara

(32)

Menurut Maftuh dan Safriya (2005:320) to be good citizens adalah Warga negara

yang baik, diantaranya warga negara yang memiliki kecerdasan (civil inteligence)

baik intelektual emosional, sosial, maupun spiritual, memiliki rasa bangga dan

taanggung jawab (civil responsibility) dan mampu berpartisipasi dalam

bermasyarakat dan bernegara (civil partisipation).

Standar Isi yang dikembangkan oleh BNSP (2006 : 271) menjelaskan mengenai

ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang meliputi

aspek-aspek sebagai berikut:

1. Persatuan dan Kesatuan bangsa, meliputi: Hidup rukun dalam perbedaan, Cinta lingkungan, Kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, Sumpah Pemuda, Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Partisipasi dalam pembelaan negara, Sikap positif terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia,Keterbukaan dan jaminan keadilan, 2. Norma, hukum dan peraturan, meliputi: Tertib dalam kehidupan

keluarga, Tata tertib di sekolah, Norma yang berlaku di masyarakat, Peraturan-peraturan daerah, Norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Sistim hukum dan peradilan nasional, Hukum dan peradilan internasional,

3. Hak asasi manusia meliputi: Hak dan kewajiban anak, Hak dan Kewajiban anggota masyarakat, Instrumen nasional dan internasional HAM, Pemajuan,penghormatan dan perlindungan HAM,

4. Kebutuhan warga negara meliputi: Hidup gotong royong, Harga diri sebagai warga masyarakat, Kebebasan berorganisasi, Kemerdekaan mengeluarkan pendapat, Menghargai keputusan bersama, Prestasi diri, Persamaan kedudukan warga negara,

5. Konstitusi Negara meliputi: Proklamasi kemerdekaan dan konstitusi Yang pertama, Konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di Indonesia, Hubungan dasar negara dengan konstitusi,

6. Kekuasan dan Politik, meliputi: Pemerintahan desa dan kecamatan, Pemerintahan daerah dan otonomi, Pemerintah pusat, Demokrasi dan sistem politik, Budaya politik, Budaya demokrasi menuju masyarakat madani, Sistem pemerintahan, Pers dalam masyarakat demokrasi, 7. Pancasila meliputi: kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan

(33)

8. Globalisasi meliputi: Globalisasi di lingkungannya, Politik luar negeri Indonesia di era globalisasi, Dampak globalisasi, Hubungan

internasional dan organisasi internasional, dan Mengevaluasi globalisasi (Winataputra dan Budimansyah, 2007:103).

PKn memiliki posisi yang menunjang dalam pencapaian tujuan nasional, karena

sebagian besar tujuan pendidikan nasional telah terdapat dalam PKn, melalui

pembelajaran PKn. Sebagaimana dikatakan oleh Cholsin (2007:114) dalam pusat

kurikulum menyatakan fungsi dan tujuan mata pelajaran PKn untuk SD dan MI,

SMP dan Mts, SMA dan MA adalah sebagai wahana untuk membentuk warga

negara cerdas, terampil dan berkarakter yang setia kepada bangsa dan negara

Indonesia dengan merefleksikan dirinya dalam kebiasaan berfikir dan bertindak

sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945.

2.1.2 Prestasi belajar

Prestasi belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata yaitu prestasi dan

belajar. Prestasi adalah hasil kegiatan yang telah dicapai dalam usaha belajar yang

ditandai oleh adanya perubahan situasi yang terlihat dalam proses perkembangan

diri siswa untuk mencapai tujuan (Ahmadi,2003: 21).

Prestasi banyak digunakan di dalam berbagai bidang dan diberi pengertian sebagai

kemampuan, atau keterampilan, sikap seseorang dalam menyelesaikan sesuatu

hal. Sedangkan menurut Witherington dalam Purwanto (2004),” Prestasi adalah

hasil yang dicapai individu melalui usaha yang dialami secara langsung dan

(34)

Berdasarkan beberapa definisi yang di kemukakan tersebut di atas, jelas terlihat

perbedaan dalam kata-kata tertentu sebagai penekanan, namun intinya sama yaitu

hasil dari suatu kegiatan dari keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Berhasil

atau tidaknya prestasi belajar banyak tergantung dari bagaimana proses belajar

yang dialami oleh siswa.

Pelaksanaan proses belajar mengajar diperlukan adanya evaluasi yang nantinya

akan dijadikan tolok ukur maksimal yang telah dicapai siswa setelah melakukan

kegiatan belajar selama waktu yang telah ditentukan. Bila pemberian materi suatu

mata pelajaran telah dirasa cukup, guru dapat melakukan tes yang hasilnya akan

digunakan sebagai ukuran dari prestasi belajar tentunya tidak hanya terdiri dari

nilai mata pelajaran saja, akan tetapi juga mencakup nilai sikap dan perilaku

siswa selama berlangsungnya proses belajar mengajar.

Belajar merupakan proses dasar dari perkembangan hidup manusia. Dengan

belajar manusia melakukan perubahan-perubahan sehingga tingkah lakunya

berkembang. Ahmadi (2003;109) mengemukakan “Belajar adalah suatu tindakan

untuk mengubah diri dari tidak tahu, dan tidak dapat menjadi tahu dan dapat

melaksanakan dan sebagainya”. Menurut Witherington dalam Purwanto (2004;84)

“Belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri

sebagai suatu pola baru daripada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian”. Slameto (2010;2) belajar adalah suatu proses

usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku

yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam

(35)

Berdasarkan beberapa pengertian belajar yang dikemukakan di atas dapat diambil

kesimpulan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang dinyatakan

dalam bentuk penguasaan atau intelektual dan kecakapan dasar dalam bidang

studi pada khususnya dan berbagai aspek kehidupan pada umumnya.

Menurut Sumadi Suryabrata (2006: 25), menyatakan bahwa “Prestasi belajar

adalah hasil yang dicapai dari suatu latihan, pengalaman yang harus didukung

oleh kesadaran”. Hal senada diungkapkan oleh Winkel (2004: 15) bahwa prestasi

belajar adalah “Hasil usaha yang dapat dicapai siswa setelah melakukan proses

belajar yang berlangsung dalam interaksi subjek dengan lingkungan yang

berlangsungg dalam interaksi subjek dengan lingkungannya yang akan disimpan atau dilaksanakan menuju kemajuan”

Prestasi belajar menurut Tu’u (2004:75) adalah hasil yang dicapai seseorang

ketika mengerjakan tugas atau kegiatan tertentu. Selain itu prestasi belajar adalah

penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata

pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan

oleh guru. Sedangkan menurut Syah (2004:11) menjelaskan bahwa “prestasi

belajar merupakan taraf keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di

sekolah dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu”.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa prestasi belajar adalah

hasil atau taraf kemampuan yang telah dicapai siswa setelah mengikuti proses

(36)

keterampilan, dan pengetahuan dan kemudian akan diukur dan dinilai yang

kemudian diwujudkan dalam angka atau pernyataan.

Prestasi belajar siswa dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.

1) Prestasi belajar siswa adalah hasil belajar yang dicapai siswa ketika

mengikuti dan mengerjakan tugas dan kegiatan pembelajaran di

sekolah,

2) Prestasi belajar siswa tersebut terutama dinilai aspek kognitifnya

karena bersangkutan dengan kemampuan siswa dalam pengetahuan

atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis dan evaluasi,

3) Prestasi belajar siswa dibuktikan dan ditunjukkan melalui nilai atau

angka nilai dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh guru terhadap

tugas siswa dan ulangan-ulangan atau ujian yang ditempuhnya.

Secara garis besarnya karateristik prestasi belajar dapat disebutkan sebagai

berikut.

a. Prestasi belajar seseorang merupakan perubahan perilaku yang dapat

diukur dalam hal ini dengan menggunakan tes,

b. Prestasi belajar seseorang menunjuk pada individu sebagai sebab artinya

individulah sebagai pelakunya,

c. Prestasi belajar dapat dievaluasi dengan menggunakan standard tertentu

baik berdasarkan norma kelompok ataupun norma yang tidak ditetapkan,

d. Prestasi belajar menunjukkan pula pada hasil kegiatan yang disengaja

(37)

Prestasi belajar dapat diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil evaluasi dapat

memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa. Sedangkan

prestasi belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil yang telah

dicapai dari usaha belajar terhadap nilai akhir mata pelajaran PKn yang diterima

di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk angka.

2.1.3 Faktor- faktor yang mempengaruhi Prestasi belajar

Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar menurut Sungalang dalam ( Tu’u, 2004:78) adalah kecerdasan, bakat, minat dan perhatian, motif, cara

belajar, sekolah, lingkungan keluarga. Faktor-faktor yang yang mempengaruhi

belajar dibedakan menjadi dua kategori yaitu faktor internal dan eksternal.

A. Faktor Internal

1). Faktor Jasmaniah ; dalam faktor jasmaniah ini dapat dibagi menjadi

dua yaitu faktor kesehatan dan cacat tubuh. Faktor kesehatan dan

cacat tubuh memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan belajar

individu.

2). Faktor Psikologis, terdiri dari :

a) Inteligensi/kecakapan

Inteligensi atau kecakapan terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan

untuk menghadapi dan ke dalam situasi yang baru dengan cepat

dan efektif, mengetahui/menggunakan konsep-konsep yang abstrak

secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat

(38)

b) Perhatian

Menurut Al-Ghazali dalam Slameto (2010:56) bahwa perhatian

adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itupun semata-mata

tertuju kepada suatu objek (benda/hal) atau sekelompok objek.

Untuk dapat menjamin belajar yang lebih baik maka seorang harus

mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya.

c) Minat

Minat besar pengaruhnya terhadap belajar karena bila bahan

pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa

tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya. Bahan pelajaran yang

menarik minat siswa lebih mudah dipelajari dan disimpan karena

minat menambah kegiatan belajar.

d) Bakat

Bakat adalah kemampuan untuk belajar. Jika bahan pelajaran yang

dipelajari siswa sesuai dengan bakatnya maka hasil belajarnya

lebih baik karena ia senang belajar dan pastilah selanjutnya ia lebih

giat lagi dalam belajarnya.

e) Motivasi

bahwa motivasi erat sekali hubungannya dengan tujuan yang

akan dicapai dalam belajar, di dalam menentukan tujuan itu dapat

disadari atau tidak akan tetapi untuk mencapai tujuan itu perlu

berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah

(39)

f) Kematangan

Kematangan adalah tingkat/fase dalam pertumbuhan seseorang,

dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan

kecakapan baru. Kematangan adalah suatu organ atau alat

tubuhnya dikatakan sudah matang bila dalam diri manusia sudah

mencapai kesanggupan untuk menjalankan fungsinya

masing-masing. Kematangan itu datang dengan sendirinya sehingga

dalam belajarnya akan lebih berhasil jika anak itu sudah siap atau

matang untk mengikuti proses belajar mengajar.

g) Kesiapan

Kesiapan menurut James Drever dalam Slameto (2010:58) :

Preparednes to respond or react artinya kesediaan untuk memberi

respon atau bereaksi.

B. Faktor eksternal

Faktor yang berasal dari luar siswa yakni keadaan atau kondisi lingkungan

di luar siswa yaitu beberapa pengalaman-pengalaman, keadaan keluarga,

lingkungan sekitar dan sebagainya, suasana keluarga yang mendorong

anak untuk maju, selain itu lingkungan sekolah yang tertib, teratur dan

disiplin merupakan pendorong dalam proses pencapaian prestasi belajar (Tu’u, 2004:81).

Sementara itu Sunarto (2009) mendeskripsikan faktor-faktor yang

mempengaruhi prestasi belajar ada dua yaitu: faktor-faktor intern yang terdiri dari

(40)

ekstern terdiri dari keadaan lingkungan keluarga, keadaan lingkungan sekolah,

dan keadaan lingkungan masyarakat.

Melengkapi kedua pendapat di atas kiranya perlu penulis sajikan pandangan

Muhibbin Syah mengenai hal tesebut. Menurut beliau faktor-faktor yang

mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa di sekolah, secara garis besar dapat

dibagi menjadi:

1. Factor internal ( faktor dari dalam diri siswa), yakni keadaan kondisi

jasmani atau rohani siswa seperti, a) faktor fisiologis yaitu keadaan fisik yang sehat dan segar serta kuat akan menguntungkan dan

memberikan hasil belajar yang baik. Tetapi keadaan fisik yang kurang baik akan berpengaruh pada siswa dalam keadaan belajarnya, b) faktor psikologis yang termasuk faktor psikologis yang mempengaruhi prestasi belajar adalah ; inteligensi, perhatian , minat, dan motivasi , dan bakat.

2. Faktor eksternal . yang termasuk faktor-faktor ini antara lain adalah; a)

faktor sosial yang terdiri dari lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat, b) faktor non sosial yang meliputi, keadaan dan letak gedung sekolah, rumah tempat tinggal keluarga, alat-alat dan sumber belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa. Factor-faktor tersebut dipandang turut menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa, c)faktor pendekatan belajar(approach to learning) yakni jenis upaya belajar peserta didik yang meliputi jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dn metode yang digunakan peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran ( Muhibin Syah, 2008:139)

Sedangkan Ahmadi dan Supriyono (2004:130) mengatakan bahwa faktor–faktor

yang mempengaruhi prestasi belajar anak adalah faktor dalam diri (faktor internal)

dan faktor dari luar diri (faktor eksternal).

Yang termasuk faktor internal adalah :

a. Faktor jasmaniah (fisiologis) baik yang bersifat bawaan maupun yang

diperoleh. Yang termasuk faktor ini misalnya penglihatan, pendengaran,

(41)

b. Faktor psikologis baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh

yang terdiri atas :

a) Faktor potensial, yaitu kecerdasan dan bakat

b) Faktor kecakapan nyata, yaitu unsur–unsur kepribadian seperti

sikap kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi, penguasaan diri.

c) Faktor kematangan fisik maupun psikis, yang termasuk factor

eksternal ialah :

a. Faktor sosial yang terdiri atas lingkungan keluarga, lingkungan

sekolah, lingkungan masyarakat dan lingkungan kelompok

b. Faktor budaya seperti : adat istiadat, ilmu pengetahuan,

teknologi, kesenian.

c. Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas rumah, fasilitas belajar

dan iklim.

d. Faktor lingkungan spiritual atau keamanan.

Semua faktor diatas akan saling berinteraksi secara langsung maupun tidak

langsung dalam mencapai prestasi belajar dan lingkungan yang berpengaruh

terhadap perubahan sikap individu dan inilah yang disebut lingkungan pendidikan.

Disamping itu lingkungan juga dapat memberikan pengaruh yang positif maupun

negatif terhadap perkembangan anak didik.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kesiapan siswa dalam

proses belajar mengajar sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa, dengan

demikian prestasi belajar siswa dapat berdampak positif bilamana siswa itu

(42)

Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar menurut peneliti yang menjadi

obyek penelitian adalah faktor lingkungan, keluarga atau orangtua yang mengasuh

siswa dan lingkungan yang mengelilingi siswa tersebut yaitu lingkungan

keluarga, sekolah dan masyarakat.

2.1.4 Hasil belajar Aspek Kognitif dalam PKn

Salah satu indikator tercapai atau tidaknya suatu proses pembelajaran adalah

dengan melihat hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Hasil belajar merupakan

cerminan tingkat keberhasilan atau pencapaian tujuan dari proses belajar yang

telah dilaksanakan yang pada puncaknya diakhiri dengan suatu evaluasi. Hasil

belajar diartikan sebagai hasil ahir pengambilan keputusan tentang tinggi

rendahnya nilai siswa selama mengikuti proses belajar mengajar, pembelajaran

dikatakan berhasil jika tingkat pengetahuan siswa bertambah dari hasil

sebelumnya (Djamarah, 2005: 25).

Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006: 3) hasil belajar merupakan hasil dari suatu

interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Oleh karenanya hasil belajar

merupakan tingkat penguasaan yang telah dicapai siswa dalam proses belajar

mengajar.

Sukmadinata (2007: 102) mengatakan hasil belajar merupakan realisasi atau

pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki

seseorang. Sedangkan hasil belajar menurut Arikunto (2006:63) sebagai hasil

yang telah dicapai seseorang setelah mengalami proses belajar dengan terlebih

(43)

Suparno dalam Sardiman (2004: 38) mengatakan bahwa hasil belajar dipengaruhi

oleh pengalaman subjek belajar dengan dunia fisik dan lingkungannya. Hasil

belajar seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui si subjek belajar,

tujuan, motivasi yang mempengaruhi proses interaksi dengan bahan yang sedang

dipelajari.

Berdasarkan uraian di atas dalam penelitian ini adalah hasil belajar PKn yang

telah di capai oleh siswa dalam proses belajar mengajar berupa pengalaman, dan

kecakapan serta kemampuan siswa setelah mengalami proses belajar mengajar.

Prestasi belajar atau hasil belajar PKn menggambarkan kompetensi-kompetensi

yang harus dimiliki oleh siswa yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan

karakter tingkah laku sebagai warga Negara.

Adapun kompetensi yang diharapkan dalam mata pelajaran PKn adalah

dimilikinya seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dari seorang

warganegara dalam berhubungan dengan negara serta mampu turut serta dalam

memecahka persoalan yang dihadapi masyarakat, bangsa dan negara sesuai

dengan profesi dan kapasitas masing-masing. Sifat cerdas yang dimaksud tampak

dalam kemahiran, ketepatan dan keberhasilan dalam bertindak, sedangkan sifat

tanggung jawab diperlihatkan sebagai kebenaran tindakan ditinjau dari nilai

agama, moral, etika dan budaya.

Pendidikan Kewarganegaraan harus memenuhi tiga aspek yaitu pengetahuan,

keterampilan (skill) dan pembentukan karakter. Menurut Center for Civic

(44)

Government, ketiga komponen pokok tersebut ialah civic knowledge, civic skills,

dan civic dispositions (Bronson,dalam Aina mulyana, 2012 ).

Pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge) merupakan materi substansi

yang harus diketahui oleh warga negara. Pada prinsipnya pengetahuan yang harus

diketahui oleh warga negara berkaitan dengan hak dan kewajiban sebagai warga

negara, pengetahuan tentang struktur dan sistem poitik dan pemerintahan,

nilai-nilai universal dalam masyarakat demokratis, cara-cara kerja sama untuk

mewujudkan kemajuan bersama, serta hidup berdampingan secara damai dalam

masyarakat internasional. Keterampilan kewarganegaraan (civic skills) merupakan

keterampilan yang dikembangkan dari pengetahuan kewarganegaraan agar

pengetahuan yang diperoleh menjadi sesuatu yang bermakna karena dapat

dimanfaatkan dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan berbangsa dan

bernegara. Civic skills mencakup intellectual skills (keterampilan intelektual) dan

participation skills (keterampilan partisipasi). Karakter kewarganegaraan (civic

dispositions) merupakan sifat-sifat yang harus dimiliki setiap warga negara untuk

mendukung efektivitas partisipasi politik, berfungsinya sistem politik yang

sehat, berkembangnya martabat dan harga diri serta kepentingan umum.

Hasil belajar memiliki peran penting dalam proses belajar mengajar. Penilaian

terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi sampai sejauh mana

keberhasilan seorang siswa dalam belajar. Selanjutnya dari informasi tersebut

guru dapat memperbaiki dan menyusun kembali kegiatan belajar pembelajaran

(45)

Hasil belajar siswa meliputi hasil belajar kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Hasil belajar kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang dinyatakan

dengan nilai yang diperoleh siswa setelah menempuh tes. Hasil belajar

psikomotorik berkaitan dengan keterampilan dan kemampuan bertindak siswa

yang diperoleh dari hasil pengamatan terhadap siswa ketika mengamati,

menganalisis atau melakukan percobaan/ekperimen. Sedangkan untuk hasil

belajar afektif diperoleh dari hasil pengamatan sikap dan perilaku siswa ketika

mengikuti pelajaran atau melakukan percobaan.

Menurut Gagne dalam Surya (2003:41) “prestasi belajar dapat dikelompokkan ke

dalam 5 (lima) kategori yaitu : 1) keterampilan intelektual, 2) informasi verbal, 3)

strategi kognitif, 4) keterampilan motorik, dan 5) sikap.

Bloom dalam Wuryani (2006:210) mengklasifikasikan kemampuan

belajar menjadi tiga kategori yaitu:

1). Ranah kognitif, meliputi kemampuan intelektual yang terdiri dari pengetahuan/ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sistesis dan

evaluasi,

2). Ranah afektif, berkenaan dengan sikap dan minat yang terdiri dari penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi,

3). Ranah psikomotorik, mencakup yang berupa keterampilan fisik (motorik) dan kemampuan bertindak yang terdiri atas gerakan reflek, Ketrampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan komplek, dan gerakan ekpresif dan interpretatif.

Berdasarkan uraian di atas aspek kognitif hasil belajar PKn siswa adalah hasil

belajar yang berkenaan dengan kemampuan intelektual siswa yang dinyatakan

dengan nilai yang diperoleh berupa angka-angka setelah melakukan kegiatan

(46)

C1. Pengetahuan merujuk pada kemampuan seseorang untuk mengingat

kembali hal-hal yang telah dipelajari siswa, aspek pengetahuan dapat

mencakup hal-hal khusus, misalnya mengingat definisi istilah, fakta-fakta,

prinsip, prosedur/generalisasi atau teori-teori misalnya mengingat teori

hukum atau teori politik dan sebagainy,

C2. Pemahaman, yakni merujuk pada pengetahuan seseorang akan apa

yang akan dikomunikasikan dan dapat menggunakan ide atau materi yang

sedang dikomunikasikan itu tanpa harus dikaitkan dengan materi lain,

C3. Penerapan (aplikasi ), yaitu kemampuan menggunakan

abstraksi-abstraksi dalam situasi khusus dan konkrit. Abstraksi ini mungkin dalam

bentuk ide-ide umum, aturan atau metode yang digeneralisasikan atau

teori yang harus diingat dan diterapkan,

C 4. Analisis, yaitu kemampuan seseorang untuk melakukan penguraian

sebuah informasi ke dalam unsur-unsur atau bagian bagiannya sehingga

hierarki ide menjadi jelas dan atau hubungan-hubungan antara ide-ide

yang dinyatakan menjadi eksplisit.

C 5. Sintesis, yaitu kemampuan memadukan unsur-unsur atau

bagian-bagian dari suatu ide sedemikian rupa sehingga membentuk suatu

informasi utuh,

C 6. Penilaian (evaluasi ), yaitu kemampuan memberikan pertimbangan

(47)

2.1.5 Hasil Belajar Aspek Sikap dalam PKn

Menurut Hamalik (2006: 30) hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan

terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut misalnya dari tidak tahu

menjadi tahu dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah

menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2004:22).

Sedangkan menurut Kingsley dalam Sudjana (2004:22) tiga macam hasil belajar

mengajar :1). Keterampilan dan kebiasaan, 2). Pengetahuan dan pengarahan, 3).

Sikap dan cita-cita.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah

kemampuan keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh siswa setelah ia

menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengkonstruksikan

pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan adalah mendidik warganegara yang baik

melalui visi, misi, tujuan dan ruang lingkup.Visi mata pelajaran PKn adalah

terwujudnya suatu mata pelajaran yang berfungsi sebagai sarana pembinaan watak

bangsa (nation and character building) dan pemberdayaan warganegara. Adapun

misi mata pelajaran adalah membentuk warganegara yang baik yakni warganegara

yang sanggup melaksanakan hak dan kewajibanya dalam kehidupan bernegara

(48)

Hasil belajar PKn yang berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek

menurut Bloom dalam Winkel (2004: 188-189) adalah sebagai berikut.

1. Penerimaan: mencakup kepekaan akan adanya suatu perangsang dan

kesediaan untuk memperhatikan rangsangan itu seperti buku pelajaran atau penjelasan yang diberikan oleh guru. Kesediaan itu dinyatakan dalam memperhatikan sesuatu, seperti memandangi gambar yang dibuat di papan tulis.

2. Partisipasi: mencakup kerelaan untuk memperhatikan secara aktif dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan. Kesediaan ini dinyatakan dalam memberikan reaksi terhadap rangsangan yang disajikan seperti membaca secara nyaring bacaan yang diunjuk.

3. Penilai/penentuan sikap: mencakup kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesutu dan membawa diri sesuai dengan penilaian itu. Mulai dibentuk suatu sikap: menerima, menolak, atau mengabaikan. Kemampuan tersebut dinyatakan dalam suatu perkataan atau tindakan seperti mengungkapkan pendapat.

4. Organisasi: mencakup kemampuan untuk membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan dalam kehidupan. Nilai-nilai yang diakui dan diterima ditempatkan pada suatu skala nilai.

5. Pembentukan pola hidup: mencakup kemampuan untuk menghayati nilai-nilai kehidupan sedemikian rupa, sehingga menjadi milik pribadi (internalisasi) dan menjadi pegangan nyata dan jelas dalam mengatur kehidupannya sendiri. Orang telah memiliki suatu perangkat nilai yang jelas hubungannya satu sama lain yang menjadi pedoman dalam bertindak dan konsisten selama kurun waktu yang cukup lama. Kemampuan itu dinyatakan dalam pengaturan hidup di berbagai bidang.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar aspek sikap

dalam PKn adalah siswa mampu memberikan perhatiannya dalam suatu aktivitas

atau peristiwa yang dihadapi kemudian dapat memberikan reaksi dengan cara

melibatkan diri atau berpartisipasi di dalamnya, dapat menilai melalui ekpresi

berupa sikap menerima atau menolak atau berupa sikap positif atau negatif dan

dapat mengidentifikasi, memilih, memutuskan nilai atau norma yang akan

diaplikasikan yang pada akhirnya mampu meyakini, memperaktekkan dan

(49)

Hasil belajar sikap dalam pembelajaran PKn pada intinya adalah sikap yang

dimiliki oleh siswa sebagai warganegara yang baik antara lain menjadi

warganegara yang menyadari akan hak dan kewajibannya, taat terhadap hukum

dan tata tertib dalam kehidupan bermasyarkat dan bernegara, menghargai

pemerintah, menghargai konstitusi dsb.

2. 2 Pengertian Sikap

Secara historis istilah “sikap” (attitude) digunakan pertama kali oleh Spencer

(1862) dalam Ahmadi (2003:161) yang pada saat ini diartikan sebagai status

mental seseorang. Dalam kamus besar bahasa Indonesia sikap diartikan sebagai

kesiapan untuk bertindak (Poerwadarminta, 2006:458). Sikap ini akan memberi

arah suatu perbuatan atau suatu tindakan seseorang. Tapi dalam hal ini tidak

berarti bahwa semua tindakan atau perbuatan seseorang itu sama dengan sikap

yang ada padanya.

Sedangkan Syah (2008) mengatakan sikap adalah gejala internal yang berdimensi

efektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon (response tendensy)

dengan cara yang relatif tetap terhadap obyek orang, barang dan sebagainya, baik

secara positif maupun negatif.

Purwanto (2004:14) menjelaskan bahwa sikap atau yang dalam bahasa inggris

disebut attitude adalah suatu cara tertentu terhadap suatu perangsang atau

(stimulus). Suatu kecenderungan untuk bereaksi dengan cara tertentu terhadap

suatu perangsang atau situasi yang dihadapi baik mengenai orang, benda-benda

(50)

Selanjutnya menurut Gerungan (2004:149) menjelaskan bahwa sikap atau

attitude merupakan sikap pandang atau sikap perasaan, tetapi sikap mana disertai

oleh kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan sikap terhadap obyek tersebut.

Sarwono (2002) menyebutkan bahwa sikap adalah kesiapan pada seseorang untuk

bertindak secara tertentu terhadap hal-hal tertentu.

Menurut Thurstone, Likert & Osgood sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau

reaksi perasaan. Secara spesifik Thurston sendiri memformulasikan sikap sebagai “derajat afek positif atau afek negatif terhadap suatu obyek ” Edward,

(1957) dalam Azwar (2007:3).

Sikap telah didefenisikan oleh para ahli dalam banyak versi bahkan hampir

mencapai puluhan definisi. Pada umumnya sikap dapat dimasukkan ke dalam tiga

kerangka pemikiran seperti berikut.

1. Kerangka pemikiran yang pertama mengatakan bahwa sikap adalah “suatu

bentuk evaluasi atau reaksi perasaan atau sikap seseorang terhadap suatu

obyek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun

perasaan yang tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada obyek tersebut” (Azwar, 2007:5).

Dapat dikatakan bahwa sikap menurut kerangka pemikiran ini adalah

terbatas pada aspek penilaian semata (AFEK) terhadap suatu obyek.

Kelompok pemikiran kedua mengatakan bahwa sikap adalah semacam

kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu “

(Azwar, 2007 : 5). Dapat pula dikatakan bahwa kesiapan yang dimaksud

(51)

apabila individu dihadapkan pada stimulus yang menghendaki adanya

respon.

Adapun kelompok pemikiran yang ketiga adalah kelompok yang

berorientasi pada skema triadik (triadic sceheme). Menurut pemikiran ini

sikap merupakan konstalasi komponen-komponen kognitif, afetif, dan

konatif yang saling berinteraksi dalam memahami, merasakan dan

berperilaku terhadap suatu objek (Azwar, 2007:5).

Pendapat lain mengatakan bahwa sikap merupakan “faktor lain yang

mempengaruhi hasil belajar siswa dan merupakan sesuatu yang dipelajari,

dan juga sikap menentukan bagaimana individu bereaksi terhadap situasi

serta menentukan apa yang dicari individu dalam kehidupan” (Slameto,

2010:188).

Rumusan di atas menyatakan bahwa sikap mengandung tiga komponen yaitu

komponen kognitif, komponen afektif, dan komponen tingkah laku. Sikap selalu

berkenan dengan suatu objek, dan sikap terhadap objek ini disertai dengan

perasaan, positif atau negatif, orang mempunyai sikap positif terhadap suatu objek

yang bernilai dalam pandanganya, dan ia akan bersikap negatif terhadap objek

yang dianggapnya tidak bernilai dan atau juga merugikan. Sikap ini kemudian

mendasari dan mendorong kearah sejumlah perbuatan yang satu sama lainnya

berhubungan.

Menyimak uraian sikap di atas dapat dipahami bahwa sikap adalah tindakan atau

tingkah laku sebagai reaksi atau respon terhadap suatu rangsangan atau stimulus

(52)

merupakan penentu dalam tingkah laku manusia. Sebagai reaksi maka sikap selalu

berhubungan dengan dua alternatif yaitu senang atau tidak senang, menerima atau

menolak. Mendekati atau menjauhi, memihak atau tidak memihak, favorit atau

tidak favorit, positif atau negatif.

Pada prinsipnya sikap itu dapat kita anggap suatu kecenderungan siswa untuk

bertindak dengan cara tertentu. Dalam hal ini perwujudan sikap belajar siswa akan

ditandai dengan munculnya kecenderungan-kecenderungan baru yang telah

berubah ( lebih maju atau lebih mundur) terhadap suatu objek, tata nilai, peristiwa

dan sebagainya. Dalam bahasan ini yang berperan sebagai subyek yaitu siswa dan

objek yaitu keluarga yang mengasuh anak. Anak merupakan cermin kehidupan

orang tuanya. Dalam hal ini sikap dan tingkah laku seseorang anak banyak

dipengaruhi oleh keluarganya karena lingkungan keluarga adalah tempat pertama

kali bagi anak untuk meletakkan dasar pola-pola sikap terhadap orang lain,

terhadap suatu permasalahan dan kehidupan secara umum. Lingkungan keluarga

secara potensial juga membentuk sikap pribadi anak untuk hidup secara disiplin

dan lebih bertanggung jawab serta mampu berdiri sendiri.

2.2.1 Karakteristik sikap

Berdasarkan pengertian sikap dapat dipastikan bahwa sikap itu merupakan faktor

yang ada dalam diri individu yang dapat mendorong atau dapat menimbulkan

perbuatan atau tingkah laku tertentu.

Walgito (2006: 54-55) berpendapat bahwa karakteristik sikap yaitu :

Bahwa sikap tidak dibawa sejak lahir dimana sikap selalu terbentuk dalam

Gambar

Tabel 1.1  Peringkat Sekolah berdasarkan nilai seleksi Penerimaan Siswa Baru                    Tahun Pelajaran 2011/ 2012
Tabel 1.2  Sebaran siswa Single parent di SMA Negeri 1 Bandar lampung                   TP
Tabel 1. 4  Hasil Belajar siswa yang berasal dari keluarga lengkap dan siswa dari
Gambar 1.1  Perbedaan sikap dan prestasi  belajar
+3

Referensi

Dokumen terkait

Lingkungan sekitar rumah dan sekolah yang peduli dan memberikan perhatian yang baik terhadap anak dari keluarga single parent dapat membantu perkembangan sosial

Berdasarkan analisis data penelitian, dapat ditarik kesimpulan bahwa metode yang digunakan oleh keluarga single parent di Desa Monggot dalam pendidikan moral

Pengaruh Keadaan keluarga dan sikap disiplin Siswa terhadap prestasi belajar siswa Kelas XI AV SMK N 1 Saptosari.. Oleh : Joko Rudhito

Perbedaan Intensi Melakukan Hubungan Seksual Pranikah Remaja Putri dari Keluarga Utuh dengan Keluarga Single Parent Mother ……… 36. Identifikasi Variabel

Pada keluarga single parent yang waktu perceraiannya pada usia anak masih kecil akan mengakibatkan minimnya pendidikan karakter pada anak jika dibandingan dengan waktu

Dampak pola asuh orang tua tunggal (single parent) pada prestasi belajar siswa di SD N 08 Indralaya Palembang, yaitu: Anak yang diasuh dengan pola asuh otoritative (otoriter)

BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Ibu sebagai Orang Tua Tunggal ... Macam-macam Ibu sebagai Orang Tua Tunggal ... Peran Ibu dalam Keluarga.... Sikap Ideal Keluarga Single

Penelitian ini juga hanya merupakan suatu bentuk penelitian yang berusaha mendeskripsikan strategi single parent dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga HASIL PENELITIAN STRATEGI