LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk
memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 (satu) di
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli
saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya
bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, 23 Juni 2011
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur bagi Allah Rabb alam semesta. Shalawat dan salam
semoga senantiasa tercurah kepada junjungan dan tauladan, Nabi Muhammad SAW,
keluarga dan para sahabatnya. Alhamdulillah atas rahmat dan karunia kekuatan yang
diberikan Allah hingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul
Kontrak Waralaba Dalam Perspektif Hukum Positif Dan Hukum Syariah (Studi Kasus Pada Bakmi Raos Dan Bakmi Tebet).Skripsi ini tersusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Program Sarjana Strata Satu (S1) pada
Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna karena
keterbatasan yang penulis miliki, karenanya penulis mengucapkan terima kasih untuk
saran dan kritik yang diberikan. Penulis juga menyadari bahwasanya penyusunan
skripsi ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa bantuan berbagai pihak, untuk itu
penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof.Dr.H.M. Amin Suma, SH, M.A, M.M selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ibu Dr. Euis Amalia, M. Ag, selaku Ketua Jurusan dan Bapak Mu‟min Roup, S.Ag., MA selaku Sekretaris Jurusan Prodi Muamalah Fakultas Syariah dan
Hukum.
3. Bapak Muhammad Maksum, S.Ag., MA dan Bapak M. Nuzul Wibawa S.Ag.,
sabar dan penuh perhatian membimbing serta memberikan dukungan moril
sehingga skripsi ini selesai.
4. Bapak Drs. Noryamin Aini, MA selaku Dosen Pembimbing Akademik yang
telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan di tengah kesibukannya.
5. Bapak Rudianto selaku General Manager PT. Raos Aneka Pangan dan Ibu Hj.
Titi Budiarti S.Pd, selaku pemilik Bakmi Tebet yang telah mengizinkan penulis
untuk melakukan penelitian di tempat usahanya.
6. Pimpinan Perpusatakaan yang telah memberikan fasilitas untuk mengadakan
studi perpustakaan.
7. Para dosen pengajar di Fakultas Syariah dan Hukum yang telah banyak
memberikan ilmunya kepada penulis dan teman-teman lainnya agar lebih
mendalami materi perkuliahan.
8. Ayahanda penulis Aiptu. Syahriani dan Ibunda Eni Sugiarti yang telah
memberikan kasih sayangnya dan menjadi inspirasi penulis sehingga penulis
bisa menjadi seperti sekarang ini. Terima kasih untuk semua pengorbanan yang
telah diberikan.
9. Kakakku Era Natida Amd, dan adikku Renanda Ulfa yang telah memberikan
dorongan semangat agar penulis segera merampungkan studi di kampus ini.
Terima kasih buat doanya. Maaf kalau penulis suka iseng kalau di rumah,
10.Teman-teman seperjuangan selama di UIN semuanya khususnya anak-anak
jurusan Perbankan Syariah kelas D tahun 2007 ( terutama buat Darto, Ipul.
Becek, Neily, Citra dll) yang telah menemani penulis selama menempuh
pendidikan. Banyak kisah yang telah kita lewati bersama semoga tidak akan
dilupakan selama-lamanya (lebay mode). Tetap kompak ya !!!
11.Teman-teman KKN kelompok 101 E-Baduy yang sudah memberikan
pengalaman luar biasa selama KKN di Cicakal (kalo diinget mah seru, tapi kalo
suruh ulangin lagi mah ente-ente aja dah..hihihi) jaga silaturahmi terus ya
12.Untuk anak-anak the Kobong‟s family yang selalu menemani penulis di kala sedang pusing mikirin tugas kuliah. Thanks bro, kapan-kapan kita ngebolang
lagi.
13.Semua pihak yang telah membantu baik selama penulis menjalani kuliah
maupun saat menulis skripsi, yang tidak dapat disebutkan satu persatu karena
memang banyak sekali, penulis mengucapkan terima kasih .
Jakarta, Juli 2011
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 5
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 5
D. Review Kajian Terdahulu 6
E. Kerangka Teori dan Konseptual 8
F. Metode Penelitian 12
G. Sistematika Penulisan 14
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Mengenai Syirkah
1.Pengertian Syirkah 16
2.Rukun Syirkah 17
3.Bentuk Syirkah 17
1.Pengertian Waralaba (Franchise) 19
2.Waralaba Sebagai Bisnis 21
3.Waralaba Sebagai Perjanjian 23
C. Perjanjian Dalam Hukum Positif Dan Hukum Syariah
1.Pengertian Perjanjian Menurut Hukum Positif Dan Hukum Syariah 26
2.Syarat Sah Perjanjian Menurut Hukum Positif Dan Hukum Syariah 29
3.Asas-Asas Perjanjian Dalam Hukum Positif Dan Hukum Syariah 32
4.Prestasi Dan Wanprestasi 37
5.Berakhirnya Perjanjian Menurut Hukum Positif Dan Hukum Syariah39
6.Penyelesaian Sengketa 41
BAB III PROFIL WARALABA
A.Profil Bakmi Raos 44
B. Sistem Waralaba Pada Bakmi Raos 47
C.Profil Bakmi Tebet 49
D.Sistem Waralaba Bakmi Tebet 52
BAB IV ANALISA
B.Analisis Kontrak Pada Waralaba Bakmi Raos dan Bakmi Tebet
Dilihat Dari Syarat Sah Dan Asas-Asas Perjanjian Dalam
Perspektif Hukum Positif 61
C.Analisis Struktur dan Substansi Isi Kontrak Pada Waralaba Bakmi
Raos Dan Bakmi Tebet Dalam Perspektif Hukum Positif 71
D. Analisis Kontrak Pada Waralaba Bakmi Raos Dan Bakmi Tebet
Dalam Perspektif Hukum Syariah 78
BAB V PENUTUP
A.Kesimpulan 84
B. Saran 85
DAFTAR PUSTAKA 87
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Waralaba atau yang biasa disebut franchise yaitu perusahaan atau seseorang
(franchisee) yang diberikan hak untuk menggunakan merek, cipta, paten untuk
menyalurkan produk/ jasa pihak franchisor) dengan memberikan imbalan (fee)1 atau
dengan kata lain franchise adalah perikatan/ perjanjian dimana salah satu pihak
diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan
intelektual (HKI) atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki oleh pihak lain
dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak lain dalam
rangka penyediaan dan atau penjualan barang atau jasa.2
Perjanjian waralaba
sebagaimana tercantum dalam PP RI No.16 Tahun 1997 yang kemudian diubah
menjadi PP RI No.42 Tahun 2007 tentang Waralaba pasal 4 ayat (1) dan (2) mengatur
bahwa waralaba diselenggarakan berdasarkan perjanjian tertulis antara Pemberi
Waralaba dengan Penerima Waralaba dengan memperhatikan hukum Indonesia dan
menggunakan Bahasa Indonesia.
Waralaba (franchise) sendiri adalah sebuah format usaha baru yang saat ini
sedang menjamur di Indonesia. Fenomena ini dapat kita buktikan dengan semakin
banyaknya usaha-usaha waralaba di Indonesia, baik yang merupakan waralaba asing
1
Siti Nurviani, Waralaba sebagai suatu perikatan atau perjanjian, artikel diakses pada 21 Juni 2011 dari http://www.untukku.com/artikel-untukku/waralaba-sebagai-suatu-perikatan-atau-perjanjian-untukku.html
2
seperti KFC, Mc Donald ataupun waralaba lokal seperti Indomart, Klenger Burger
dan merk waralaba lainnya. Perkembangan ini sepatutnya memberi nilai positif bagi
pertumbuhan ekonomi di Indonesia kerena dapat menghasilkan devisa bagi negara.
Bisnis sinergi seperti ini memang dianggap menguntungkan. Jaringan
pemasaran dan omset dapat berkembang lebih cepat sehingga memperoleh
kepercayaan yang luas dari masyarakat terhadap citra bisnis waralabanya tanpa harus
mengeluarkan modal sendiri. Pewaralaba juga akan mendapat keuntungan berupa
management fee dan royalty fee.3
Konsep franchise berkembang karena di satu sisi ada pengusaha yang sudah
berhasil dalam menjalankan bisnisnya, tetapi kekurangan modal untuk
mengembangkan usaha lebih besar lagi. Dan di sisi lain ada pihak yang memiliki
modal, tetapi belum/tidak memiliki pengalaman atau keahlian dalam berbisnis di
bidang tersebut.4
Dikarenakan adanya kepentingan antara dua belah pihak yang terlibat dalam
bisnis waralaba inilah maka terjadilah suatu bentuk kerjasama bisnis. Bentuk
kerjasama yang melibatkan antara pengusaha yang kekurangan modal dengan pihak
yang ingin membuka usaha dengan tidak/belum memiliki pengalaman atau keahlian
berbisnis. Kedua pihak ini melakukan kesepakatan yang biasanya disahkan dalam
sebuah kontrak atau perjanjian bisnis. Waralaba merupakan suatu perjanjian yang
3
Siti Najma, Bisnis Syariah dari Nol (Jakarta:Hikmah,2007), hal.176
4Hertanto Widodo, “Franchise Syariah why not?”, artikel diakses pada 20 Desember 2010 dari
bertimbal balik karena baik pemberi waralaba maupun penerima waralaba,keduanya
berkewajiban untuk memenuhi prestasi tertentu.5
Melalui kontrak tercipta perikatan atau hubungan hukum yang menimbulkan
hak dan kewajiban pada masing-masing pihak yang membuat kontrak. Dengan kata
lain, para pihak terikat untuk mematuhi kontrak yang telah mereka buat. Kontrak
sangat bermanfaat sebagai pegangan, pedoman, dan alat bukti bagi pihak
pembuatnya.adanya kontrak yang baik mencegah terjadinya perselisihan, karena
semua perjanjian sudah diatur dengan jelas sebelumnya.6
Pada praktek saat ini banyak waralaba konvensional yang memakai konsep
yang cenderung menguntungkan bagi pewaralaba dan merugikan terwaralaba,
misalnya dalam penetapan royalty fee. Waralaba konvensional umumnya
memberikan kewajiban royalty fee pada terwaralaba walaupun terwaralaba dalam
kerugian. Tentu saja hal ini sangat merugikan pihak mitra selaku franchisee.
Namun saat ini banyak pewaralaba muslim mencoba memodifikasi sistem
waralaba konvensional supaya lebih adil. Bakmi langgara milik Wahyu Saidi
misalnya tidak mengenakan royalty fee bila terwaralaba memiliki omzet kurang dari
Rp 15 juta perbulan.7
Dari uraian penjelasan diatas itulah maka penulis ingin meneliti kontrak bisnis
pada waralaba konvensional dan waralaba syariah. Yang menjadi alasan pemikiran
5
Gunawan Widjaja, Waralaba, cetakan ke-2 (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2003), hal.77
6
Frans Satriyo Wicaksono, Panduan lengkap membuat surat-surat kontrak
(Jakarta:Visimedia.2008), hal.2
7
penulis adalah karena saat ini banyak sudah lembaga-lembaga yang mencantumkan
label syariah pada nama mereka, contohnya bank syariah, hotel syariah, rumah makan
syariah dan lain-lain. Salah satu yang mengikuti tren tersebut adalah waralaba
syariah. Fenomena penggunaan label syariah ini dikarenakan syariah sendiri sudah
menjadi kebutuhan bagi masyarakat.
Tapi pada kenyataannya masih banyak usaha yang mengaku memakai sistem
syariah tapi sebenarnya tidak syariah. Karena itu penulis ingin mengkaji lebih jauh
dari penerapan prinsip syariah pada usaha waralaba yang tertuang dalam kontrak.
Suatu kontrak bisnis mencerminkan bagaimana suatu kerjasama berjalan. Karena dari
kontrak bisnis dijelaskan berbagai macam aspek, mulai dari hak dan kewajiban,
wanprestasi sampai penyelesaian sengketa. Dari kontrak inilah maka dapat dilihat
secara keseluruhan apakah ketentuan pelaksanaan kegiatan bisnis dilakukan sesuai
kaidah hukum syariah atau tidak, karena bisa saja pihak yang bekerjasama
mengklaim bahwa usaha mereka telah sesuai syariah tetapi dalam kontrak bisnisnya
banyak ditemukan penyimpangan.
Sebagai studi kasus, penulis akan mengambil contoh dari kontrak bisnis pada
dua waralaba yang bergerak di bidang kuliner, yaitu Bakmi Raos dan Bakmi Tebet.
Bakmi Raos adalah seperti waralaba yang memiliki konsep waralaba secara umum.
Didirikan oleh H. Bimada pada tahun 2002, waralaba ini bergerak di bidang usaha
bakmi, dengan semboyan “Berani Diadu Rasanya”. Waralaba kedua adalah Bakmi
Tebet yang didirikan oleh Bapak Wahyu Saidi, seorang doktor yang membuka usaha
syariah dalam pengelolaannya. Membagi hasil, bukan membagi untung, kira-kira
begitu konsepnya.
Dari penjabaran di atas maka penulis ingin mencoba membahas tentang
perbandingan kontrak bisnis kedua waralaba ini, baik ditinjau dari sudut pandang
hukum perjanjian positif sekaligus hukum perjanjian dalam Islam yang meliputi
segala aspek yang umum termuat dalam suatu perjanjian kerjasama (syirkah). Maka
dari itu skripsi ini mengambil judul “Kontrak Waralaba Dalam Perspektif Hukum Positif Dan Hukum Syariah (Studi Kasus Pada Bakmi Raos Dan Bakmi Tebet)”
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Dari latar belakang masalah yang telah dijabarkan maka masalah yang akan
coba dibahas dibatasi hanya meliputi kontrak bisnis pada waralaba Bakmi Tebet dan
Bakmi Raos dan aplikasi konsep dari kontrak bisnis waralaba dengan perumusan
masalah sebagai berikut:
a.Bagaimana aplikasi konsep kontrak yang diterapkan pada waralaba Bakmi Raos
dan Bakmi Tebet?
b.Apakah kontrak waralaba pada bakmi Raos dan Bakmi Tebet telah dibuat
sesuai dengan standar kaidah hukum positif dan hukum syariah?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah untuk menjawab
Berdasarkan penelitian ini diharapkan dapat diambil manfaatnya baik bagi
penulis sendiri maupun bagi pihak lain. Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Menambah pengetahuan di berbagai bidang ilmu khususnya bidang ilmu hukum
dalam bidang perjanjian waralaba dan ilmu ekonomi bisnis dalam hal waralaba.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi para pihak yang bergerak di
bidang waralaba serta memberikan suatu pengetahuan kepada para pembaca skripsi
ini mengenai waralaba waralaba beserta isi perjanjiannya.
D. Review Kajian Terdahulu
Dari hasil penelusuran yang telah dilakukan pada literatur yang sudah ada,
penulis menemukan beberapa penelitian terdahulu mengenai waralaba seperti:
Judul Skripsi Pembahasan Skripsi Perbedaan
1.Skripsi tahun
Skripsi Dewi Irma Fitriana.”Strategi Pengembangan Bisnis Waralaba Lembaga Pendidikan
Pendidikan
sistem pengelolaan dalam hal
E. Kerangka Teori dan Konseptual
Waralaba berasal dari kata “wara” yang berarti lebih istimewa dan laba berarti
untung. Jadi kata waralaba berarti usaha yang memberikan keuntungan lebih/
istimewa.11
Menurut istilah waralaba adalah hak khusus yang dimiliki oleh orang
perseorangan atau badan usaha terhadap sistem bisnis dengan ciri khas usaha dalam
rangka memasarkan barang dan/atau jasa yang telah terbukti berhasil dan dapat
dimanfaatkan dan/atau digunakan oleh pihak lain berdasarkan perjanjian waralaba.
Selain pengertian waralaba, perlu dijelaskan pula apa yang dimaksud dengan
franchisor dan franchisee.
Franchisor atau pemberi waralaba adalah orang perseorangan atau badan usaha
yang memberikan hak untuk memanfaatkan dan/atau menggunakan waralaba yang
dimilikinya kepada penerima waralaba.
Franchisee atau penerima waralaba adalah orang perseorangan atau badan
usaha yang diberikan hak oleh pemberi waralaba untuk memanfaatkan dan/atau
menggunakan waralaba yang dimiliki pemberi waralaba.12
Sedangkan kontrak atau perjanjian merupakan suatu peristiwa hukum dimana
seorang berjanji kepada orang lain atau dua orang saling berjanji untuk melakukan
atau tidak melakukan sesuatu.13
11
Darmawan Budi Suseno, Sukses Usaha Waralaba Mudah, risiko Rendah dan Menguntungkan
(Yogyakarta: Cakrawala.2007). hal. 19
12
Dalam penulisan naskah kontrak tersebut diperlukan kejelian dalam menangkap
berbagai keinginan pihak-pihak, memahami aspek hukum, dan bahasa kontrak.
Penulisan kontrak perlu mempergunakan bahasa yang baik dan benar dengan
berpegang pada aturan tata bahasa yang berlaku. Dalam penggunaan bahasa, baik
bahasa Indonesia maupun bahasa asing harus tepat, singkat, jelas dan sistematis.
1. Anatomi Kontrak Bisnis
a. Bagian I
Merupakan keterangan mendasar meliputi: judul, tanggal, para pihak, kata
sepakat menggunankan latar belakang (recital), mengenai sesuatu untuk apa
perjanjian diadakan, tidak melangar hukum (sesuatu sebab yang halal) dan pasal 1
yang isinya tentang definisi.
b. Bagian II
Merupakan bagian dari kontrak berisi tentang isi kontrak yang khas. Bagian
inilah yang membedakan isi kontrak yang satu dengan kontrak yang lain. Yang dapat
dilakukan adalah mengkoleksi contoh-contoh kontrak atau literatur-literatur tentang
kontrak dalam suatu check list berikut contohnya.
c. Bagian III
Merupakan suatu bagian kontrak yang berisi pasal-pasal yang harus ada di
semua kontrak yang dibuat meliputi isi kontrak yang prinsip antara lain yaitu:
13
Ahmadi Miru, Hukum Kontrak & Perancangan Kontrak (Jakarta: PT RajaGrafindo
wanprestasi (even of default), peringatan (notice) atau somasi, ganti rugi atau denda,
force majeure atau keadaan darurat, Penyelesaian sengketa (settlement of dispute),
bahasa yang dipakai, ketentuan amandemen untuk kontrak jangka panjang, the entire
agreement (kalimat dari keseluruhan perjanjian), penutup dan tanda tangan.
2. Syarat Sahnya Kontrak
Dari bunyi Pasal 1338 ayat (1) jelas bahwa perjanjian yang mengikat hanyalah
perjanjian yang sah. Supaya sah pembuatan perjanjian harus mempedomani Pasal
1320 KUH Perdata. Pasal 1320 KUH Perdata menentukan empat syarat sahnya
perjanjian yaitu
a.Kesepakatan
b.Kecakapan
c.Hal tertentu
d.Sebab yang dibolehkan
Istilah perjanjian/kontrak dalam hukum Indonesia disebut akad dalam hukum
Islam.14 Akad adalah pertemuan ijab dan kabul sebagai pernyataan kehendak dua
pihak atau lebih untuk melahirkan suatu akibat hukum objeknya. Tujuan akad adalah
untuk melahirkan suatu akibat hukum.
14
Syamsul Anwar, Hukum Perjanjian Syariah: Studi tentang Teori Akad dalam Fikih Muamalat
Adapun yang dimaksud dengan istilah hukum kontrak/akad syari‟ah disini
adalah keseluruhan dari kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan hukum di
bidang muamalah khususnya perilaku dalam menjalankan hubungan ekonomi antara
dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum
secara tertulis berdasarkan hukum Islam.15
Dalam hukum kontrak syariah terdapat asas-asas perjanjian yang melandasi
penegakan dan pelaksanaannya. Asas-asas perjanjian tersebut diklasifikasikan
menjadi asas-asas perjanjian yang tidak berakibat hukum dan sifatnya umum dan
asas-asas perjanjian yang berakibat hukum dan sifatnya khusus. Adapun asas-asas
perjanjian yang tidak berakibat hukum dan sifatnya umum adalah:
1)Asas Ilahiah atau Asas Tauhid
2)Asas Kebebasan (Al-Hurriyah)
3)Asas Persamaan Atau Kesetaraan
4)Asas Keadilan (Al „Adalah)
5)Asas Kerelaan (Al-Ridha)
6)Asas Kejujuran dan Kebenaran (Ash Shidiq)
7)Asas Tertulis (Al Kitabah)
15
Sedangkan asas-asas perjanjian yang berakibat hukum dan bersifat khusus
adalah:
1)Asas Konsensualisme atau Asas Kerelaan (mabda‟ ar-rada‟iyyah)
2)Asas Kebebasan Berkontrak (mabda‟ hurriyah at-ta‟aqud)
3)Asas Itikad Baik
4)Asas Kepastian Hukum (Asas Pacta Sunt Servanda)
5)Asas Kepribadian (Personalitas)
F. Metode Penelitian
1. Tempat Penelitian
Tempat penelitian diadakan di kantor pusat PT Raos Aneka Pangan yang
beralamat di Kodam Bintaro Permai No 9 R dan Bakmi Langgara cabang ke-10 yang
beralamat di Jalan Nusantara, Depok Jaya, Depok.
2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif berupa perbandingan antara dua
objek penelitian. Penelitian ini adalah membandingkan dua kontrak bisnis pada dua
waralaba yaitu bakmi Raos dan bakmi Tebet apakah sesuai dengan perjanjian yang
3. Sumber Data
a. Data Primer
Data primer diperoleh dari objek penelitian langsung, bukan melalui
sumber-sumber lain. Data ini diperoleh melalui observasi langsung dan atau melalui
wawancara pada objek penelitian.
b. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh bukan melalui objek penelitian langsung, tapi dari
sumber lain, misalnya melalui literatur-literatur seperti dokumen, buku, website dan
lain-lain.
4. Teknik Pengumpulan Data
a. Wawancara
Adalah percakapan dengan maksud tertentu percakapan itu dilakukan oleh dua
pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang
diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.
b. Dokumentasi
Metode dokumentasi dilakukan dengan cara mencari data tentang hal-hal atau
variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen
c. Teknik Analisis Data
Adapun metode pengolahan data yang digunakan adalah komparasi antara
kontrak bisnis pada waralaba bakmi Raos dan bakmi Tebet apakah telah sesuai
dengan kaidah-kaidah hukum perjanjian positif dan syariah. Perbandingan di sini
meliputi asas perjanjian, struktur dan substansi kontrak dilihat dari hukum positif dan
hukum syariah.
4. Teknik Penulisan
Penulisan skripsi ini ditulis dengan mengikuti “Pedoman Penulisan Skripsi UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta”
G. Sistematika Penulisan
Skripsi ini dibuat dengan dibagi secara garis besar meliputi beberapa bagian
yaitu:
1. Bab I Pendahuluan: adalah bagian yang berisi latar belakang masalah,
pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, review
kajian terdahulu, kerangka konsep, metode penelitian, dan sistematika penulisan
2. Bab II Kajian Kepustakaan: adalah bagian yang membahas tentang tinjauan
umum mengenai waralaba, tinjauan umum tentang perjanjian menurut hukum
3. Bab III Profil Waralaba: adalah bagian yang membahas mengenai hasil
penelitian yang dilakukan secara independen dalam artian tidak dicampur
dengan opini peneliti.
4. Bab IV Analisa: adalah bagian yang berisi analisis data penelitian yang telah
didapatkan guna menjawab masalah penelitian.
5. Bab V Kesimpulan: adalah bagian kesimpulan yang ditarik dari pembuktian
atau uraian yang telah ditulis sebelumnya dan berkaitan erat dengan pokok
masalah penelitian. Kesimpulan adalah jawaban masalah berdasarkan data yang
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Mengenai Syirkah
1. Pengertian Syirkah
Secara harfiah makna “syirkah” adalah “ikhtilath” (percampuran)16, sedangkan
pengertian syirkah dapat didefinisikan oleh Wahbah al-Zuhaily dalam Fiqh
al-Islamiy wa adillatuh Juz IV, al-syirkah menurut fuqaha Malikiyah, al-syirkah adalah
kebolehan (atau izin) bertasharruf bagi masing-masing pihak yang
berserikat.maksudnya masing-masing pihak saling memberikan izin kepada pihak
lain dalam mentasharrufkan harta (objek) perserikatan. Menurut ulama fuqaha
Hanabilah, al-syirkah adalah persekutuan dalam hak dan tasharruf.menurut fuqaha
Syafi‟iyah, al-syirkah adalah berlakunya hak atas sesuatu bagi dua pihak atau lebih
dengan tujuan persekutuan. Sedang menurut fuqaha Hanfiyah. Al-syirkah adalah akad
antara para pihak yang berserikat dalam hal modal dan keuntungan.17 Atau syirkah
adalah ikatan kerjasama yang dilakukan dua orang atau lebih dalam perdagangan18
Secara umum landasan dasar syariah mengenai syirkah dapat dilihat pada
ayat-ayat Al Qur‟an dan hadits berikut :
16
Sayid Sabiq, Fikih Sunnah, Jilid 13, Penerjemah H. Kamaluddin A. Marzuki (Bandung: Al-Ma‟arif,1987), hal.193
17Ghufron A. Mas‟adi,
Fiqh Muamalah Kontekstual,(Jakarta:PT RajaGrafindo Persada,2002), hal. 192
18
a Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian
mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain kecuali orang yang beriman
dan mengerjakan amal saleh (Shaad: 24)
b Dari Abu Hurairah, RasulullH SAW bersabda, sesungguhnya Allah azza wa
jalla berfirman,”Aku pihak ketiga dari dua orang yang berserikat selama salah
satunya tidak mengkhianati lainnya.” (HR. Abu Dawud dan Al-Hakim)19
2. Rukun Syirkah
Beberapa ketentuan umum mengenai syirkah/musyarakah sebagaimana diatur
dalam fatwa DSN MUI No.08/DSN-MUI/IV/2000 mengenai musyarakah adalah
sebagai berikut :
1. Ijab dan Qabul. Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh pihak untuk
menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad)
2. Pihak-pihak yang berkontrak harus cakap hukum
3. Obyek akad (modal, kerja, keuntungan dan kerugian)
4. Biaya Operasional dan Persengketaan
3. Bentuk Syirkah
Syirkah secara umum terbagi dalam tiga bentuk, yaitu syirkah ibahah, syirkah
amlak, dan syirkah uqud20
19Ghufron A. Mas‟adi,
1.) Syirkah Ibahah, yaitu persekutuan hak semua orang untuk dibolehkan
menikmati manfaat sesuatu yang belum ada di bawah kekuasaan orang
2.) Syirkah Amlak (Milik),yaitu persekutuan antara dua orang atau lebih untuk
memiliki suatu benda. Syirkah Amlak terbagi dua, yaitu:
a) Syirkah Milik Jabriyah yang terjadi tanpa keinginan para pihak yang
bersangkutan, seperti persekutuan ahli waris
b) Syirkah Milik Ikhtiyariyah yang terdiri atas keinginan para pihak yang
bersangkutan
3.) Syirkah Uqud yaitu persekutuan antara dua orang atau lebih yang timbul dengan
adanya perjanjian. Syirkah Uqud terbagi menjadi 5, yaitu syirkah „inan, syirkah
„amal, syirkah mufawadhah, syirkah wujuh21, dan syirkah mudharabah22
a) Syirkah‟Inan adalah kontrak kerjasama antara dua orang atau lebih. Setiap
pihak memberikan suatu porsi dari keseluruhan dana dan berpertisipasi dalam
kerja. Namun porsi masing-masing pihak, baik dalam dana maupun kerja atau
bagi hasil, berbeda sesuai dengan kesepakatan mereka.
b) Syirkah „Abdan adalah kontrak kerjasama dua orang seprofesi untuk menerima
pekerjaan secara bersama dan berbagi keuntungan dari pekerjaan itu
20
Gemala Dewi dkk, Hukum Perikatan Islam di Indonesia, cetakan ke-2, hal.118
21
Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid jilid 2. Penerjemah Abu Usamah Fakhtur (Jakarta: Pustaka Azzam,2007), hal. 496
22
c) Syirkah mufawadhah adalah kontrak kerjasama antara dua orang atau lebih.
Setiap pihak memberikan suatu porsi dari keseluruhan dana dan berpartisipasi
dalam kerja. Setiap pihak membagi keuntungan secara sama
d) Syirkah Wujuh adalah kontrak antara dua orang atau lebih yang tidak memiliki
modal sama sekali tetapi mereka mempunyai keahlian bisnis. Mereka membeli
barang secara kredit dari suatu perusahaan,dan menjual barang tersebut secara
tunai. Mereka berbagi dalam keuntungan dan kerugian berdasarkan jaminan
kepada penyuplai yang disediakan oleh setiap mitra
e) Syirkah Mudharabah adalah kerjasama antara tenaga dan harta, seseorang
(pihak pertama/pemilik modal/shohibul mal) memberikan hartanya kepada
pihak lain (pihak kedua/pengelola/mudharib) yang digunakan untuk berbisnis,
dengan ketentuan bahwa keuntungan yang diperoleh akan dibagi
masing-masing pihak sesuai dengan kesepakatan. Bila terjadi kerugian maka
ketentuannya berdasarkan syara‟ bahwa kerugian dibebankan kepada harta, dan
tidak dibebankan sedikit pun kepada pengelola
B. Tinjauan Umum Mengenai Waralaba 1. Pengertian Waralaba (Franchise)
Pengertian Franchise berasal dari bahasa Perancis affranchir yang berarti to
yang diperoleh seorang wirausaha untuk menjalankan sendiri suatu usaha tertentu di
wilayah tertentu.23
Franchise ini merupakan suatu metode untuk melakukan bisnis, yaitu suatu
metode untuk memasarkan produk atau jasa ke masyarakat. Selanjutnya disebutkan
pula bahwa franchise dapat didefinisikan sebagai suatu sistem pemasaran atau
distribusi barang dan jasa, di mana sebuah perusahaan induk (franchisor)
memberikan kepada individu atau perusahaan lain yang berskala kecil dan menengah
(franchisee), hak – hak istimewa untuk melaksanakan suatu sistem usaha tertentu dengan cara yang sudah ditentukan, selama waktu tertentu, di suatu tempat tertentu.
Adapun definisi franchise menurut Asosiasi Franchise International adalah
“suatu hubungan berdasarkan kontrak antara franchisor (pemberi warlaba /
pewaralaba) dengan franchisee (penerima waralaba/terwaralaba). Pihak franchisor
menawarkan dan berkewajiban memelihara kepentingan terus-menerus pada usaha
franchise dalam aspek-aspek pengetahuan dan pelatihan. Sebaliknya franchisee
memiliki hak untuk beroperasi di bawah merek atau nama dagang yang sama,
menurut format dan prosedur yang ditetapkan oleh franchisor dengan modal dan
sumber daya franchisee sendiri.24
Istilah franchise ini selanjutnya menjadi istilah yang akrab dengan masyarakat,
khususnya masyarakat bisnis Indonesia dan menarik perhatian banyak pihak untuk
23
Richard Burton Simatupang, Aspek Hukum Dalam Bisnis (Jakarta:PT. Rineka Cipta, 2003), hal.56
24
mendalaminya kemudian istilah franchise dicoba di Indonesiakan dengan istilah
„waralaba‟ yang diperkenalkan pertama kali oleh Lembaga Pendidikan dan
Pengembangan Manajemen (LPPM) sebagai padanan istilah franchise. Waralaba
berasal dari kata “wara” yang berarti lebih istimewa dan laba berarti untung. Jadi kata
waralaba berarti usaha yang memberikan keuntungan lebih/ istimewa
Jadi pada dasarnya waralaba (franchise) merupakan salah satu bentuk
pemberian lisensi, hanya saja agak berbeda dengan pengertian lisensi pada umumnya,
waralaba menekankan pada kewajiban untuk mempergunakan sistem, metode, tata
cara, prosedur, metode pemasaran dan penjualan maupun hal-hal lain yang telah
ditentukan oleh pemberi waralaba secara eksklusif, serta tidak boleh dilanggar
maupun diabaikan oleh penerima lisensi.
2. Waralaba Sebagai Bisnis
Dalam bentuknya sebagai bisnis, waralaba memiliki dua jenis kegiatan:25
1) Waralaba produk dan merek dagang
Dalam waralaba produk dan merek dagang, pemberi waralaba memberikan hak
kepada penerima waralaba untuk menjual produk yang dikembangkan oleh pemberi
waralaba yang disertai dengan pemberian izin menggunakan merek dagang milik
pemberi waralaba. Atas pemberian merek izin penggunaan merek dagang tersebut
biasanya pemberi waralaba memperoleh suatu bentuk pembayaran royalty fee di
25
muka, dan selanjutnya pemberi waralaba memperoleh keuntungan (yang selanjutnya
disebut royalti berjalan) melalui penjualan produk yang diwaralabakan kepada
penerima waralaba. Dalam bentuknya yang sederhana ini, waralaba produk dan
merek dagang serinkali mengambil bentuk keagenan, distributor atau lisensi
penjualan.
2) Waralaba format bisnis
Agak berbeda dengan waralaba produk dan merek dagang, waralaba format
bisnis menurut pengertian yang diberikan oleh Martin Mandelson dalam Franchising:
Petunjuk Praktis bagi Franchisor dan Franchisee, waralaba format bisnis
adalah:”pemberian sebuah lisensi oleh seseorang (pemberi waralaba) kepada pihak
lain (penerima waralaba),lisensi tersebut memberi hak kepada penerima waralaba
untuk berusaha dengan menggunakan merek dagang/nama dagang pemberi waralaba,
dan untuk menggunakan seluruh paket, yang terdiri dari seluruh elemen yang
diperlukan untuk membuat seorang yang sebelumnya belum terlatih dalam bisnis dan
untuk menjalankannya dengan bantuan yang terus menerus atas dasar-dasar yang
telah ditentukan sebelumnya.” Martin Mandelson meyatakan bahwa waralaba format
bisnis ini terdiri atas:26
26
a Konsep bisnis yang menyeluruh dari pemberi waralaba
b Adanya proses permulaan dan pelatihan atas seluruh aspek pengelolaan bisnis,
sesuai dengan konsep pemberi waralaba
c Proses bantuan dan bimbingan yang terus menerus dari pihak pemberi waralaba
3. Waralaba Sebagai Perjanjian
Dalam franchise ada dua pihak yang terlibat yaitu franchisor atau pemberi
waralaba dan franchisee atau penerima waralaba di mana masing – masing pihak terikat dalam suatu perjanjian yaitu perjanjian waralaba.
Perjanjian waralaba adalah perjanjian formal. Hal tersebut tersebut dikerenakan
perjanjian waralaba disyaratkan tertulis sesuai dalama Pasal 4 PP RI No.42 Tahun
2007 tentang waralaba untuk dibuat secara tertulis dalam bahasa Indonesia dan
mengikuti hukum yang berlaku di Indonesia. Hal ini diperlukan sebagai perlindungan
bagi kedua belah pihak yang terlibat dalam perjanjian waralaba tersebut. Selain itu
suatu waralaba diwajibkan memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:
a memiliki ciri khas usaha;
b terbukti sudah memberikan keuntungan;
c memiliki standar atas pelayanan dan barang dan/atau jasa yang ditawarkan yang
dibuat secara tertulis;
e adanya dukungan yang berkesinambungan; dan
f Hak Kekayaan Intelektual yang telah terdaftar.
Secara umum dikenal adanya dua macam atau jenis kompensasi yang dapat
diminta oleh pemberi waralaba (franchisor) dari penerima waralaba (franchisee).
Pertama, kompensasi langsung dalam bentuk moneter (direct monetary
compensation) adalah lump sum payment dan royalty. Lump sum payment adalah
suatu jumlah uang yang telah dihitung terlebih dahulu yang wajib dibayarkan oleh
penerima waralaba (franchisee) pada saat persetujuan pemberian waralaba disepakati.
Sedangkan royalti adalah jumlah pembayaran yang dikaitkan dengan suatu presentasi
tertentu yang dihitung dari jumlah produksi dan/atau penjualan barang dan/atau jasa
yang diproduksi atau dijual berdasarkan perjanjian, baik disertai dengan ikatan suatu
jumlah minimum atau maksimum jumlah royalti tertentu atau tidak.
Kedua, kompensasi tidak langsung dalam bentuk nilai moneter (indirect and
nonmenetary compensation). Meliputi antara lain keuntungan sebagai akibat dari
penjualan barang modal atau bahan mentah, yang merupakan satu paket dengan
pemberian waralaba, pembayaran dalam bentuk deviden ataupun bunga pinjaman
dalam hal pemberi waralaba juga turut memberikan bantuan finansial, baik dalam
bentuk ekuitas atau dalam wujud pinjaman jangka pendek maupun jangka panjang,
waralaba, perolehan data pasar dari kegiatan usaha yang dilakukan oleh penerima
lisensi dan lain sebagainya.27
Pasal 5 PP No.42 Tahun 2007 manegaskan bahwa klausul waralaba setidaknya
harus memuat hal-hal sebagai berikut :
a nama dan alamat para pihak;
b jenis Hak Kekayaan Intelektual;
c kegiatan usaha
d hak dan kewajiban para pihak;
e bantuan, fasilitas, bimbingan operasional, pelatihan, dan pemasaran yang
diberikan Pemberi Waralaba kepada Penerima Waralaba;
f wilayah usaha;
g jangka waktu perjanjian;
h tata cara pembayaran imbalan;
i kepemilikan, perubahan kepemilikan, dan hak ahli waris;
j penyelesaian sengketa; dan
k tata cara perpanjangan, pengakhiran, dan pemutusan perjanjian.
27
Selanjutnya pemberi waralaba harus menyampaikan klausul perjanjian kepada
penerima waralaba paling singkat dua minggu sebelum penandatangan perjanjian
waralaba.28
C. Perjanjian Dalam Hukum Positif Dan Hukum Syariah
1. Pengertian Perjanjian Menurut Hukum Positif Dan Hukum Syariah
Kontrak dalam Hukum Indonesia, yaitu Burgerlijk Wetboek (BW) disebut
overeenkomst yang bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti perjanjian.
Menurut Peter Mahmud Marzuki dalam suatu kesempatan perkuliahan Magister
Hukum UGM, bahwa perjanjian mempunyai arti yang lebih luas daripada kontrak.
Kontrak merujuk pada suatu pemikiran akan adanya keuntungan komersil yang
diperoleh kedua belah pihak. Sedangkan perjanjian dapat saja berarti social
agreement yang belum tentu menguntungkan kedua belah pihak secara komersil.29
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, perjanjian adalah “persetujuan tertulis atau dengan lisan yang dibuat oleh dua pihak atau lebih, masing-masing bersepakat
akan mentaati apa yang tersebut dalam persetujuan itu.30 Perjanjian menurut Kamus
Hukum adalah “persetujuan yang dibuat oleh dua pihak atau lebih, tertulis maupun
28
Peraturan Menteri Perdagangan RI No.31/M-DAG/PER/8/2008 tentang Penyelenggaraan Waralaba Pasal 5 Ayat 3
29
Hasanuddin Rahman, Seri Keterampilan Merancang Kontrak Bisnis : Contract Drafting, (T.tp, Citra Aditya Bakti, 2003) hal.2
30
lisan, masing-masing sepakat untuk mentaati isi persetujuan yang telah dibuat
bersama.31
Pengertian perjanjian atau kontrak diatur di pasal 1313 KUH Perdata pasal 1313
KUH Perdata berbunyi “ Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu pihak
atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih”. Ada tiga sumber norma yang ikut mengisi suatu perjanjian, yaitu undang-undang, kebiasaan dan
kepatutan sebagaimana termuat dalam Pasal 1339 KUH Perdata.
Dalam Islam, perjanjian umumnya disebut dengan akad. Setidaknya ada dua
istilah dalam Al Qur,an yang berhubungan dengan perjanjian, yaitu istilah al-„aqdu
(akad) dan al-„ahdu (janji). Pengertian akad secara bahasa adalah ikatan, mengikat.
Kata al-„aqdu terdapat dalam QS. Al-Maidah ayat 1, bahwa manusia diminta untuk
memenuhi akadnya.
Menurut Fathurrahman Djamil, istilah al-„aqdu ini dapat disamakan dengan
istilah verbintenis dalam KUH Perdata. Sedangkan istilah al-„ahdu dapat disamakan
dengan istilah perjanjian atau overeenkomst, yaitu suatu pernyataan dari seorang
untuk mengerjakan sesuatu yang tidak berkaitan dengan orang lain. Istilah ini
terdapat dalam QS. Ali Imran ayat 76.32
Para ahli hukum Islam memberikan definisi akad sebagai “pertalian antara Ijab
dan Qabul yang dibenarkan oleh syara‟ yang menimbulkan akibat hukum terhadap
31
Sudarsono, Kamus Hukum (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), hal. 363
32
objeknya”. Atau akad adalah pertemuan ijab dan kabul sebagai pernyataan kehendak
dua pihak atau lebih untuk melahirkan suatu akibat hukum objeknya.33
Abdoerraoef mengemukakan terjadinya suatu perikatan melalui tiga tahap yaitu
sebagai berikut :
1. Al „Ahdu (perjanjian), yaitu pernyataan dari seseorang untuk melakukan sesuatu
atau tidak melakukan sesuatu dan tidak ada sangkut pautnya dengan kemauan
orang lain. Janji ini mengikat orang yang menyatakannya untuk melaksanakan
janjinya tersebut, seperti yang difirmankan oleh Allah SWT dalam QS. Ali
Imran ayat 76
2. Persetujuan,yaitu pernyataan setuju dari pihak kedua untuk melakukan sesuatu
atau tidak melakukan sesuatu sebagai reaksi terhadap janji yang dinyatakan
pihak pertama. Persetujuan tersebut harus sesuai dengan janji pihak pertama
3. Apabila dua buah janji dilaksanakan maksudnya oleh para pihak, maka
terjadilah apa yang dinamakan „akdu‟ oleh Al Qur‟an yang terdapat dalam QS.
Al-Maidah ayat 1. Maka, yang mengikat masing-masing pihak sesudah
pelaksanaan perjanjian bukan lagi perjanjian atau „ahdu itu, tetapi „akdu
Perbedaan yang terjadi dalam proses perikatan antara Hukum Islam dan KUH
Perdata adalah pada tahap perjanjiannya. Pada Hukum Perikatan Islam, janji pihak
pertama terpisah dari janji pihak kedua (merupakan dua tahap), baru kemudian lahir
33
Syamsul Anwar, Hukum Perjanjian Syariah: Studi tentang Teori Akad dalam Fikih
perikatan. Sedangkan pada KUH Perdata, perjanjian antara pihak pertama dan kedua
adalah satu tahap yang kemudian menimbulkan perikatan antara mereka. Dalam
hukum perikatan Islam titik tolak yang paling membedakannya adalah pentingnya
unsur ikrar (ijab dan qabul) dalam tiap transaksi. Apabila dua janji antara para pihak
tersebut disepakati dan dilanjutkan dengan ikrar, maka terjadilah perikatan.34
2. Syarat Sah Perjanjian Menurut Hukum Positif Dan Hukum Syariah
Selanjutnya untuk sahnya suatu perjanjian menurut pasal 1320 Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata diperlukan empat syarat yaitu :
a. Kesepakatan ( toesteming / izin ) kedua belah pihak.
b. Kecakapan Bertindak
c. Mengenai suatu hal tertentu
d. Suatu sebab yang halal (Geoorloofde oorzaak)
Dua syarat yang pertama, dinamakan syarat-syarat subyektif, karena mengenai
orang-orangnya atau subyeknya yang mengadakan perjanjian, sedangkan dua syarat
yang terakhir dinamakan syarat-syarat obyektif karena mengenai perjanjiannya
sendiri atau obyek dari perbuatan hukum yang dilakukan itu
Apabila syarat pertama dan kedua tidak terpenuhi maka perjanjian itu dapat
dibatalkan. Artinya, bahwa salah satu pihak dapat mengajukan kepada pengadilan
34
untuk membatalkan perjanjian yang disepakatinya. Tetapi apabila para pihak tidak
ada yang keberatan maka perjanjian itu tetap dianggap sah. Syarat ketiga dan keempat
tidak terpenuhi maka perjanjian itu batal demi hukum. Artinya bahwa dari semula
perjanjian itu dianggap tidak ada atau batal demi hukum.35
Ada beberapa syarat untuk kontrak yang berlaku umum tetapi di atur di luar
pasal 1320 KUH Perdata, yaitu sebagai berikut :
a. Kontrak harus dilakukan dengan itikad baik
b. Kontrak tidak boleh bertentangan dengan kebiasaan yang berlaku
c. Kontrak harus dilakukan berdasarkan asas kepatutan
d. Kontrak tidak boleh melanggar kepentingan umum
Apabila kontrak dilakukan dengan melanggar salah satu dari 4 (empat) prinsip
tersebut, maka konsekuensi yuridisnya adalah bahwa kontrak yang demikian tidak
sah dan batal demi hukum ( null and void ).
Sedangkan dalam hukum Islam, para ulama fikih menetapkan beberapa syarat
umum yang harus dipenuhi oleh suatu akad. Disamping itu, setiap akad juga memiliki
syarat-syarat khusus. Akad jual-beli memiliki syarat tersendiri, sedangkan akad
al-wadi‟ah, al-hibah dan lain-lain demikian juga. Adapun syarat-syarat umum suatu
akad itu adalah:36
35
Salim HS, Hukum Kontrak:Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak (Jakarta: Sinar
Grafika,2003), hal.35
36
1) Pihak-pihak yang berakad itu telah cakap bertindak hukum (mukallaf) atau jika
obyek akad itu merupakan milik orang yang tidak atau belum cakap bertindak
hukum, maka harus dilakukan oleh walinya.
2) Obyek akad itu diakui oleh syara‟. Untuk obyek akad ini disyaratkan pula: (i)
berbentuk harta; (ii) dimiliki seseorang; dan (iii) bernilai menurut syara‟.
3) Akad itu tidak dilarang oleh nash (ayat atau hadits) syara‟
4) Akad yang dilakukan itu memenuhi syarat-syarat khusus yang terkait dengan
akad itu.
5) Akad dapat memberikan faidah.
6) Ijab itu berjalan terus, tidak dicabut sebelum terjadinya qabul.
7) Ijab dan qabul mesti bersambung sehingga bila seseorang yang berijab sudah
berpisah sebelum adanya qabul, maka ijab tersebut menjadi batal.
Dalam hal rukun akad, ulama Hanafiyah berpendapat bahwa rukun akad adalah
ijab dan qabul. Adapun yang mengadakan akad atau hal-hal lainnya yang menunjang
terjadinya akad tidak dikategorikan rukun sebab keberadaannya sudah pasti.37. Ulama
selain Hanafiyah berpendapat bahwa akad memiliki beberapa rukun, yaitu:38
37Rachmat Syafe‟i, Fiqh Muamalah : Untuk IAIN, STAIN,PTAIS dan Umum
(Bandung: Pustaka Setia,2004), hal.45
38
M. Nadratuzzaman Hosen dkk, Materi Dakwah Ekonomi Syariah, (Jakarta: PKES,
1) „Aqid ialah orang yang berakad, terkadang masing-masing pihak terdiri dari
satu orang, terkadang terdiri dari beberapa orang
2) Ma‟qud „alaih ialah benda-benda yang diakadkan
3) Maudhu‟ al-„aqd ialah tujuan atau maksud pokok mengadakan akad
4) Shighat al-„aqd ialah ijab dan qabul
3. Asas-Asas Perjanjian Dalam Hukum Positif Dan Hukum Syariah
Menurut Hukum Perdata, sebagai dasar hukum utama dalam berkontrak,dikenal
5 (lima) asas penting sebagai berikut :39
a. Asas Kebebasan Berkontrak ( Freedom of contract )
Asas kebebasan berkontrak dapat dianalisis dari ketentuan Pasal 1338 ayat (1)
KUH Perdata, yang berbunyi: “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku
sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.”
b. Asas Konsensualisme
Asas konsensualisme dapat disimpulkan dalam Pasal 1320 ayat ( 1 ) KUH
Perdata. Dalam pasal itu ditentukan bahwa salah satu syarat sahnya perjanjian, yaitu
adanya kesepakatan kedua belah pihak. Asas konsensualisme merupakan asas yang
menyatakan bahwa perjanjian pada umumnya tidak diadakan secara formal, tetapi
39
cukup dengan adanya kesepakatan kedua belah pihak. Kesepakatan merupakan
persesuaian antara kehendak dan pernyataan yang dibuat oleh kedua belah pihak.
Dalam perjanjian tertulis, bentuk dari konsensualitas salah satunya adalah
dengan pembubuhan tanda tangan dari pihak-pihak yang terlibat dalam perjanjian
tersebut. Tanda tangan selain sebagai persetujuan kesepakatan, juga sebagai
persetujuan tempat, waktu, dan isi perjanjian. Tanda tangan juga sebagai tanda
kesengajaan para pihak untuk berkontrak sebagai bukti suatu peristiwa.40
c. Asas Pacta Sunt Servanda
Asas pacta sunt servanda atau disebut juga dengan asas kepastian hukum. Asas
ini berhubungan dengan akibat perjanjian. Asas pacta sunt servanda merupakan asas
bahwa hakim atau pihak ketiga harus menghormati substansi kontrak yang dibuat
oleh para pihak, sebagaimana layaknya sebuah undang-undang. Mereka tidak boleh
melakukan intervensi terhadap substansi kontrak yang dibuat oleh para pihak. Asas
pacta sunt servanda dapat disimpulkan dalam Pasal 1338 ayat ( 1 )KUH Perdata yang
bunyinya : Perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang.
d. Asas Itikad Baik (Goede Trouw)
Asas itikad baik dapat disimpulkan dari Pasal 1338 ayat ( 3 ) KUH Perdata
Pasal 1338 ayat ( 3 ) KUH Perdata berbunyi “ Perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik”. Asas itikad merupakan asas bahwa para pihak, yaitu pihak kreditur dan
40
Frans Satriyo wicaksono, Panduan Lengkap Membuat Surat-Surat Kontrak, (Jakarta:
debitur harus melaksanakan substansi kontrak berdasarkan kepercayaan atau
keyakinan yang teguh atau kemauan baik dari para pihak.
e. Asas Kepribadian ( Personalitas )
Asas kepribadian merupakan asas yang menentukan bahwa seseorang yang
akan melakukan dan atau membuat kontrak hanya untuk kepentingan perseorangan
saja. Hal ini dapat dilihat dalam pasal 1315 dan pasal 1320 KUH Perdata.
Sedangkan dalam hukum syara‟, asas-asas yang harus terdapat dalam hukum
perikatan Islam, Fathurrahman Djamil mengemukakan enam asas, yaitu asas
kebebasan, asas persamaan atau kesetaraan, asas keadilan, asas kerelaan, asas
kejujuran dan kebenaran, dan asas tertulis.41 Namun, ada asas utama yang mendasari
setiap perbuatan manusia, termasuk perbuatan muamalat, yaitu asas ilahiah atau asas
tauhid.
a. Asas Ilahiah atau Asas Tauhid
Kegiatan muamalah termasuk perbuatan perjanjian, tidak pernah akan lepas dari
nilai-nilai ketauhidan. Dengan demikian manusia memiliki tanggung jawab akan hal
itu. Tanggung jawab kepada masyarakat, tanggung jawab kepada pihak
kedua,tanggung jawab kepada diri sendiri, dan tanggung jawab kepada Allah SWT.
Kegiatan muamalat termasuk perbuatan perikatan, tidak akan lepas dari nilai
ketauhidan.
41
b. Asas Kebebasan ( Al-Hurriyah )
Terdapat kaidah fiqhiyah yang artinya,”Hukum asal dari segala sesuatu adalah
boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya”.42 Kaidah fiqih tersebut bersumber hadits riwayat al Bazar dan at-Thabrani yang artinya: “Apa-apa yang dihalalkan
Allah adalah halal, dan apa-apa yang diharamkan Allah adalah haram, dan apa-apa
yang didiamkan adalah dimaafkan. Maka terimalah dari Allah pemaaf-Nya. Sungguh
Allah itu tidak melupakan sesuatupun”.43
c. Asas Persamaan Atau Kesetaraan
Dalam melakukan kontrak para pihak menentukan hak dan kewajiban
masing-masing didasarkan pada asas persamaan dan kesetaraan. Tidak diperbolehkan
terdapat kezaliman yang dilakukan dalam kontrak tersebut. Sehingga tidak
diperbolehkan membeda-bedakan manusia berdasar perbedaan warna kulit, agama,
adat dan ras.
d. Asas Keadilan (Al „Adalah)
Dalam asas ini para pihak yang melakukan kontrak dituntut untuk berlaku benar
dalam mengungkapkan kehendak dan keadaan, memenuhi perjanjian yang telah
mereka buat, dan memenuhi semua kewajibannya.
42
Ahmad Sudirman Abbas, Qawaid Fiqhiyyah Dalam Perspektif Fiqh ,(Jakarta:Adelina
Bersaudara,2004), hal.63
43
e. Asas Kerelaan (Al-Ridha)
Dalam QS.an-Nisa (4): 29, dinyatakan bahwa segala transaksi yang dilakukan
harus atas dasar suka sama suka atau kerelaan antara masing-masing pihak, tidak
boleh ada tekanan, paksaan, penipuan, dan mis-statement. Jika hal ini tidak dipenuhi
maka transaksi tersebut dilakukan dengan cara yang batil.
f. Asas Kejujuran dan Kebenaran (Ash Shidiq)
Jika kejujuran ini tidak diterapkan dalam kontrak, maka akan merusak legalitas
kontrak dan menimbulkan perselisihan diantara para pihak. QS.al-Ahzab (33): 70
disebutkan yang artinya, ”Hai orang –orang yang beriman, bertaqwalah kamu
kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”. Suatu perjanjian dapat
dikatakan benar apabila memiliki manfaat bagi para pihak yang melakukan perjanjian
dan bagi masyarakat dan lingkungannya.
g. Asas Tertulis (Al Kitabah)
Suatu perjanjian hendaknya dilakukan secara tertulis agar dapat dijadikan
sebagai alat bukti apabila di kemudian hari terjadi persengketaan. Dalam
QS.al-Baqarah (2); 282- 283 dapat dipahami bahwa Allah SWT menganjurkan kepada
manusia agar suatu perjanjian dilakukan secara tertulis, dihadiri para saksi dan
diberikan tanggung jawab individu yang melakukan perjanjian dan yang menjadi
saksi tersebut. Selain itu dianjurkan pula jika suatu perjanjian dilaksanakan tidak
4. Prestasi Dan Wanprestasi
Istilah prestasi dalam hukum kontrak adalah pelaksanaan dari isi kontrak yang
telah dibuat para pihak dengan kesepakatan bersama. Suatu kontrak yang bermakna
prestasi ada tiga yaitu :44
a menyerahkan suatu barang
b melakukan suatu perbuatan
c tidak melakukan suatu perbuatan.
Sedangkan wanprestasi menurut Subekti adalah apabila si berutang (debitur)
tidak melakukan apa yang dijanjikannya, alpa atau lalai atau ingkar janji atau juga
melanggar perjanjian, bila melakukan atau berbuat sesuatu yang tidak boleh
dilakukannya maka dikatakan melakukan wanprestasi. Tidak dipenuhinya kewajiban
oleh debitur disebabkan oleh dua kemungkinan alasan, yaitu:
a. Karena kesalahan debitur, baik dengan sengaja tidak dipenuhi kewajiban
maupun karena kelalaian
b. Karena keadaan memaksa (overmacht), force majeure, jadi di luar kemampuan
debitur.
Mariam Darus menyebutkan wujud dari tidak memenuhi perikatan
(wanprestasi) terbagi tiga yaitu:45
44
1) Debitur sama sekali tidak memenuhi perikatan,
2) Debitur terlambat memenuhi perikatan,
3) Debitur keliru atau tidak pantas memenuhi perikatan
Untuk mengetahui sejak kapan debitur dalam keadaan wanprestasi, perlu
diperhatikan apakah dalam perikatan itu ditentukan tenggang waktu pelaksaanaan
pemenuhan prestasi atau tidak. Dalam hal tenggang waktu pelaksanaan pemenuhan
prestasi “tidak ditentukan”, perlu memperingatkan debitur supaya ia memenuhi
prestasi. Tetapi dalam hal telah ditentukan tenggang waktunya, menurut ketentuan
pasal 1238 KUH Perdata debitur dianggap lalai dengan lewatnya tenggang waktu
yang telah ditetapkan dalam perikatan. Kreditur dapat menuntut debitur yang telah
melakukan wanprestasi hal-hal sebagai berikut :46
a) Kreditur dapat meminta pemenuhan prestasi saja dari debitur;
b) Kreditur dapat menuntut prestasi disertai ganti rugi kepada debitur (Pasal 1267
KUH Perdata);
c) Kreditur dapat menuntut dan meminta ganti rugi, hanya mungkin kerugian
karena keterlambatan
d) Kreditur dapat menuntut pembatalan perjanjian;
45
Mariam Darus, KUH Perdata Buku III Hukum Perikatan dengan Penjelasan
(Bandung:Alumni,2005), hal.23
46
e) Kreditur dapat menuntut pembatalan disertai ganti rugi kepada debitur. Ganti
rugi itu berupa pembayaran uang denda.
Seorang debitur yang dituduh lalai dan dituntut hukuman kepadanya, ia dapat
melakukan pembelaan terhadap dirinya dari hukuman yang akan diberikan dengan
mengajukan beberapa alasan. Pembelaan tersebut ada tiga macam, yaitu:
a Karena adanya keadaan memaksa (overmacht atau force majeur)
b Mengajukan bahwa kreditur sendiri juga telah lalai (Exceptio non adimpleti
contractus)
c Mengajukan bahwa kreditur telah melepaskan haknya untuk menuntut ganti
rugi (rechtverwerking)
5. Berakhirnya Perjanjian Menurut Hukum Positif Dan Hukum Syariah
Dalam Pasal 1381 KUH Perdata menyebutkan tentang cara berakhirnya suatu
perikatan, yaitu: “Perikatan-perikatan hapus karena :
a. pembayaran;
b. karena penawaran pembayaran tunai diikuti dengan penyimpanan atau
penitipan;
c. karena pembaharuan hutang;
d. karena perjumpaan hutang atau kompensasi;
f. karena pembebasan hutangnya;
g. karena musnahnya barang yang terhutang;
h. karena kebatalan atau pembatalan;
i. karena berlakunya suatu syarat batal,
j. karena lewatnya waktu, hal mana akan diatur dalam suatu bab tersendiri”.
Menurut Salim,dalam prakteknya dikenal pula cara berakhirnya kontrak yaitu:47
a. Jangka waktu berakhir;
b. Dilaksanakan obyek perjanjian;
c. Kesepakatan ke dua belah pihak;
d. Pemutusan kontrak secara sepihak oleh salah satu pihak;
e. Adanya putusan pengadilan.
Sedangkan dalam Islam, selain telah tercapai tujuannya, akad dipandang
berakhir apabila terjadi fasakh (pembatalan) atau telah berakhir waktunya. Fasakh
terjadi dengan sebab-sebab sebagai berikut.48
a Di-fasakh, karena adanya hal-hal yang tidak dibenarkan syara‟
b Dengan sebab adanya khiyar, baik khiyar rukyat, cacat, syarat, atau majelis
47
Salim HS, Hukum Kontrak, Teori & Teknik Penyusunan Kontrak (Jakarta: Sinar Grafika, 2008,), hal.163
48
c Salah satu pihak dengan persetujuan pihak lain membatalkan karena merasa
menyesal atas akad yang baru saja dilakukan
d Karena kewajiban yang ditimbulkan oleh akad tidak dipenui oleh pihak-pihak
yang bersangkutan
e Karena habis waktunya
f Karena tidak mendapat izin pihak yang berwenang
g Karena kematian
6. Penyelesaian Sengketa
Penyelesaian perselisihan dalam Hukum Perjanjian Positif maupun Hukum
Perikatan Islam, pada prinsipnya boleh dilaksanakan dengan jalan perdamaian
(shulhu), yang kedua dengan jalan arbitrase (tahkim), dan yang terakhir melalui
proses peradilan (al-Qadha)
Teori Perbandingan Hukum Perjanjian Menurut Hukum Positif Dengan Hukum Syariah
Perjanjian Menurut Hukum Positif
Perjanjian Menurut Hukum Syariah
Asas-asas
Syarat Sah Tidak bertentangan dengan UU Tidak bertentangan dengan syara‟ dan ketentuan Ulil Amri (UU) Subjek
Perjanjian
Harus sudah dewasa, sehat akal pikiran,dan tidak dilarang oleh sesuatu peraturan perundang-undangan untuk melakukan suatu perbuatan tertentu
Pihak-pihak yang berakad itu telah cakap bertindak hukum (mukallaf) atau jika obyek akad itu merupakan
i Karena berlakunya suatu syarat batal, yang diatur dalam bab
b Dengan sebab adanya khiyar, baik khiyar rukyat, cacat, ditimbulkan oleh akad tidak dipenui oleh pihak-pihak yang bersangkutan
mana akan diatur dalam suatu
bab tersendiri”.
pihak yang berwenang g Karena kematian
Penyelesaian Sengketa
a Jalur Perundingan
b Jalur Perwasitan (arbitrase) c Jalur Pengadilan
a Jalan Perundingan b Arbitrase
BAB III
PROFIL WARALABA
A. Profil Bakmi Raos
Mengusung bendera PT Raos Aneka Pangan, yang kemudian menjadi wadah
Bakmi Raos Group, Bima memulai usaha pada 2003. Ia ingin menyediakan makanan
yang bermutu dan terjangkau secara harga oleh semua lapisan masyarakat. Di
samping menciptakan lapangan pekerjaan bagi para pedagang kecil kaki lima yang
ingin sukses bersama.49
Bimada sosok yang ulet menapaki karir bisnis dari tangga terbawah. Awalnya ia
menjadi pekerja di sebuah perusahaan freight forwarder di bilangan Jakarta Utara.
Namun setelah mengetahui istrinya mengidap penyakit kanker, ia putuskan untuk
mengubah arah hidupnya.
Tahun 2002 ia mulai mencoba berbisnis dengan membeli franchise restoran
bakmi bersama kakaknya. Langkah pertamanya langsung tersandung. Restoran
franchisenya bangkrut dalam tempo setahun.
Gagal di franchise, ia membuka gerobak mie ayam di Villa Bintaro, Jakarta
Selatan. Usaha ini dalam tiga bulan juga bangkrut. Padahal ia sudah ikut kursus
membuat mie di beberapa tempat. Meski gagal, ia masih memikirkan usaha sejenis.
49
Suatu waktu, seorang teman menawarinya resep membuat bakmi. Resep inilah
yang menjadi cikal bakal Bakmi Raos. Setelah merasa cocok, Bima merekrut orang
yang mau berjualan bakmi dengan gerobak.
Mulanya tiga gerobak ia buat dengan modal Rp 10 juta, dengan sistem bagi
hasil usaha. Dari harga Rp 6.000 per mangkuk yang terjual, ia mendapat margin Rp
1.500 per mangkuk, dan pedagang Rp 1.000. Jika sehari 40 mangkuk bakmie terjual,
maka dan dalam sebulan (dihitung 25 hari kerja), maka si pedagang bisa
mendapatkan uang Rp 1 juta. Ini tentunya cukup menggiurkan pedagang. Apalagi
telah diberi fasilitas penginapan dan uang makan. Pendapatan si pedagang pun akan
utuh.
Pola usaha itu terus berkembang. Dari hanya tiga gerobak, bertambahlah
menjadi sepuluh. Dalam tempo setahun, Bima sudah memiliki 193 gerobak. Jumlah
pedagang yang dilatihnya mencapai 700-an orang. Sayangnya, sejalan waktu
sebagian besar pedagang itu mengundurkan diri.
Para pedagang kecil yang ia bina berasal dari Cirebon, Sukabumi dan wilayah
lainnya. Semua diberi penginapan, tapi sebagian dari mereka justru hanya numpang
tidur dan memilih berjualan rokok di kawasan Blok M.
Akhirnya model ini tak bertahan lama. Bima pun memilih untuk membangun
usaha secara profesional, tanpa mengandalkan para pedagang yang tidak serius.
Bima membangun pola kemitraan. Dengan pola ini, ia tak lagi perlu menggaji
mitranya. Mereka cukup membeli mie dan minyak goreng dari Bima plus gerobak
yang ia rancang. Kemitraan ini terus berkembang hingga menghasilkan jaringan mitra
di mana-mana.
Kini usaha bakmi ayamnya berkembang pesat dengan omset hingga miliar per
tahunnya. Warung di garasi pun kini menjelma menjadi sebuah perusahaan bernama
PT. Raos Aneka Pangan dengan brand Bakmi Raos. Perusahaan milik Bimada itu
juga telah mendapat penghargaan 'Dji Sam Soe Award 2006'. PT Raos Aneka Pangan
kini memiliki aset sekitar Rp 250-Rp 500 juta dengan omset usaha pertahun mencapai
Rp 1-3 Miliar. Usaha itu kini melebarkan sayap hingga di Medan, Lampung,
Samarinda, Balikpapan, Manado, Surabaya, Bogor, Bandung, Purwakarta,
Yogyakarta, Batam, Cirebon.
Usahanya tersebut kini telah mencapai ratusan kedai dengan karyawan tetap 27
orang. Bimada juga memiliki 80 pedagang mi gerobak binaan. "Dulu ada 123
pedagang yang kita subsidi diberi gerobak dan mi dengan menyicil Rp 300 ribu
selama 10 bulan tapi banyak yang justru kabur bawa pulang panci saya," cerita
Bimada kepada detikFinance disela-sela 'Dji Sam Soe Award 2006' di Gedung SPC,
Jakarta, Selasa (26/6/2007).50
Bimada mengaku terkejut bahwa usahanya membina pengusaha kecil bisa
berbuah penghargaan. Bimada menggeser 234 finalis yang terpilih mengikuti ajang
50
ini. "Saya buktikan dari 8 gerobak digarasi rumah sekarang omset bisa miliaran. Mie
saya racik sendiri di home industry di rumah tanpa bahan pengawet. Kelebihannya
pada minyaknya dan mi nya yang khas," ujarnya bangga. Seiring dengan
perkembangan perusahaan, kini PT Raos Aneka Pangan (RAP), mengembangkan
beberapa varian makanan dengan konsep kemitraan. Saat ini PT RAP telah
berkembang menjadi lebih dari 300 outlet, mini resto dan restoran.
B. Sistem Waralaba Pada Bakmi Raos
Dengan dukungan sistem manajemen yang handal dan karyawan yang
berdedikasi tinggi, PT RAP terus berusaha mengembangkan dan menyempurnakan
layanan dalam rangka mengatisipasi kebutuhan para mitra usaha. PT RAP didukung
dengan good management, team tenaga ahli yang berpengalaman serta teknologi yang
mutakhir. PT RAP selalu meningkatkan kemampuan dan pengetahuan karyawan
dalam bidang kuliner serta kemampuan manajerial sebagai standart “workforce”. PT
RAP ke depan diharapkan akan menjadi perusahaan terkemuka dalam bidang jasa
kuliner dengan kualitas service dan produk yang khas, istimewa dan terjamin dengan
menetapkan “Bakmi Raos” sebagai brand yang dapat berkompetisi dalam bidang
kuliner. PT RAP juga memiliki sertifikasi halal MUI No. 030520704, sertifikasi halal
MUI No. 030530804 dan Sertifikasi Nasional Indonesia LTI PB-SNI Pr-019-2007.
Pembukaan gerai dilakukan dengan pola kemitraan dimana permodalan
melakukan pengelolaan sistem manajemen. Basic concept kerjasama adalah sebagai
berikut:
Seluruh/sebagian permodalan untuk penyediaan tempat, pembangunan resto,
penyediaan bahan baku, penggajian dan biaya overhead lainnya sampai promosi
ditanggung oleh mitra.
PT RAP melakukan pengelolaan resto mulai dari set up tempat, interior,
pelatihan karyawan, sampai dengan menjalankan operasional sehari-hari.
Termasuk juga untuk melakukan program dalam rangka peningkatan penjualan
secara teknis.
Adapun tahapan proses kemitraan adalah sebagai berikut
a. Mengisi formulir kemitraan dan kontrak kerjasama
b. Survey lokasi, kelayakan usaha dan konsep
c. Perencanaan renovasi dan promosi
d. Implementasi pekerjaan renovasi
e. Persiapan pembukaan resto/gerai
f. Promosi