• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kontrak waralaba dalam perspektif hukum positif dan hukum syariah : studi kasus pada bakmi raos dan bakmi tebet

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kontrak waralaba dalam perspektif hukum positif dan hukum syariah : studi kasus pada bakmi raos dan bakmi tebet"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk

memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 (satu) di

Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya

cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam

Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli

saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya

bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri

(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Jakarta, 23 Juni 2011

(4)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur bagi Allah Rabb alam semesta. Shalawat dan salam

semoga senantiasa tercurah kepada junjungan dan tauladan, Nabi Muhammad SAW,

keluarga dan para sahabatnya. Alhamdulillah atas rahmat dan karunia kekuatan yang

diberikan Allah hingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

Kontrak Waralaba Dalam Perspektif Hukum Positif Dan Hukum Syariah (Studi Kasus Pada Bakmi Raos Dan Bakmi Tebet).Skripsi ini tersusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Program Sarjana Strata Satu (S1) pada

Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna karena

keterbatasan yang penulis miliki, karenanya penulis mengucapkan terima kasih untuk

saran dan kritik yang diberikan. Penulis juga menyadari bahwasanya penyusunan

skripsi ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa bantuan berbagai pihak, untuk itu

penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Prof.Dr.H.M. Amin Suma, SH, M.A, M.M selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Ibu Dr. Euis Amalia, M. Ag, selaku Ketua Jurusan dan Bapak Mu‟min Roup, S.Ag., MA selaku Sekretaris Jurusan Prodi Muamalah Fakultas Syariah dan

Hukum.

3. Bapak Muhammad Maksum, S.Ag., MA dan Bapak M. Nuzul Wibawa S.Ag.,

(5)

sabar dan penuh perhatian membimbing serta memberikan dukungan moril

sehingga skripsi ini selesai.

4. Bapak Drs. Noryamin Aini, MA selaku Dosen Pembimbing Akademik yang

telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan di tengah kesibukannya.

5. Bapak Rudianto selaku General Manager PT. Raos Aneka Pangan dan Ibu Hj.

Titi Budiarti S.Pd, selaku pemilik Bakmi Tebet yang telah mengizinkan penulis

untuk melakukan penelitian di tempat usahanya.

6. Pimpinan Perpusatakaan yang telah memberikan fasilitas untuk mengadakan

studi perpustakaan.

7. Para dosen pengajar di Fakultas Syariah dan Hukum yang telah banyak

memberikan ilmunya kepada penulis dan teman-teman lainnya agar lebih

mendalami materi perkuliahan.

8. Ayahanda penulis Aiptu. Syahriani dan Ibunda Eni Sugiarti yang telah

memberikan kasih sayangnya dan menjadi inspirasi penulis sehingga penulis

bisa menjadi seperti sekarang ini. Terima kasih untuk semua pengorbanan yang

telah diberikan.

9. Kakakku Era Natida Amd, dan adikku Renanda Ulfa yang telah memberikan

dorongan semangat agar penulis segera merampungkan studi di kampus ini.

Terima kasih buat doanya. Maaf kalau penulis suka iseng kalau di rumah,

(6)

10.Teman-teman seperjuangan selama di UIN semuanya khususnya anak-anak

jurusan Perbankan Syariah kelas D tahun 2007 ( terutama buat Darto, Ipul.

Becek, Neily, Citra dll) yang telah menemani penulis selama menempuh

pendidikan. Banyak kisah yang telah kita lewati bersama semoga tidak akan

dilupakan selama-lamanya (lebay mode). Tetap kompak ya !!!

11.Teman-teman KKN kelompok 101 E-Baduy yang sudah memberikan

pengalaman luar biasa selama KKN di Cicakal (kalo diinget mah seru, tapi kalo

suruh ulangin lagi mah ente-ente aja dah..hihihi) jaga silaturahmi terus ya 

12.Untuk anak-anak the Kobong‟s family yang selalu menemani penulis di kala sedang pusing mikirin tugas kuliah. Thanks bro, kapan-kapan kita ngebolang

lagi.

13.Semua pihak yang telah membantu baik selama penulis menjalani kuliah

maupun saat menulis skripsi, yang tidak dapat disebutkan satu persatu karena

memang banyak sekali, penulis mengucapkan terima kasih .

Jakarta, Juli 2011

(7)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI iv

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 5

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 5

D. Review Kajian Terdahulu 6

E. Kerangka Teori dan Konseptual 8

F. Metode Penelitian 12

G. Sistematika Penulisan 14

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Mengenai Syirkah

1.Pengertian Syirkah 16

2.Rukun Syirkah 17

3.Bentuk Syirkah 17

(8)

1.Pengertian Waralaba (Franchise) 19

2.Waralaba Sebagai Bisnis 21

3.Waralaba Sebagai Perjanjian 23

C. Perjanjian Dalam Hukum Positif Dan Hukum Syariah

1.Pengertian Perjanjian Menurut Hukum Positif Dan Hukum Syariah 26

2.Syarat Sah Perjanjian Menurut Hukum Positif Dan Hukum Syariah 29

3.Asas-Asas Perjanjian Dalam Hukum Positif Dan Hukum Syariah 32

4.Prestasi Dan Wanprestasi 37

5.Berakhirnya Perjanjian Menurut Hukum Positif Dan Hukum Syariah39

6.Penyelesaian Sengketa 41

BAB III PROFIL WARALABA

A.Profil Bakmi Raos 44

B. Sistem Waralaba Pada Bakmi Raos 47

C.Profil Bakmi Tebet 49

D.Sistem Waralaba Bakmi Tebet 52

BAB IV ANALISA

(9)

B.Analisis Kontrak Pada Waralaba Bakmi Raos dan Bakmi Tebet

Dilihat Dari Syarat Sah Dan Asas-Asas Perjanjian Dalam

Perspektif Hukum Positif 61

C.Analisis Struktur dan Substansi Isi Kontrak Pada Waralaba Bakmi

Raos Dan Bakmi Tebet Dalam Perspektif Hukum Positif 71

D. Analisis Kontrak Pada Waralaba Bakmi Raos Dan Bakmi Tebet

Dalam Perspektif Hukum Syariah 78

BAB V PENUTUP

A.Kesimpulan 84

B. Saran 85

DAFTAR PUSTAKA 87

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Waralaba atau yang biasa disebut franchise yaitu perusahaan atau seseorang

(franchisee) yang diberikan hak untuk menggunakan merek, cipta, paten untuk

menyalurkan produk/ jasa pihak franchisor) dengan memberikan imbalan (fee)1 atau

dengan kata lain franchise adalah perikatan/ perjanjian dimana salah satu pihak

diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan

intelektual (HKI) atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki oleh pihak lain

dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak lain dalam

rangka penyediaan dan atau penjualan barang atau jasa.2

Perjanjian waralaba

sebagaimana tercantum dalam PP RI No.16 Tahun 1997 yang kemudian diubah

menjadi PP RI No.42 Tahun 2007 tentang Waralaba pasal 4 ayat (1) dan (2) mengatur

bahwa waralaba diselenggarakan berdasarkan perjanjian tertulis antara Pemberi

Waralaba dengan Penerima Waralaba dengan memperhatikan hukum Indonesia dan

menggunakan Bahasa Indonesia.

Waralaba (franchise) sendiri adalah sebuah format usaha baru yang saat ini

sedang menjamur di Indonesia. Fenomena ini dapat kita buktikan dengan semakin

banyaknya usaha-usaha waralaba di Indonesia, baik yang merupakan waralaba asing

1

Siti Nurviani, Waralaba sebagai suatu perikatan atau perjanjian, artikel diakses pada 21 Juni 2011 dari http://www.untukku.com/artikel-untukku/waralaba-sebagai-suatu-perikatan-atau-perjanjian-untukku.html

2

(11)

seperti KFC, Mc Donald ataupun waralaba lokal seperti Indomart, Klenger Burger

dan merk waralaba lainnya. Perkembangan ini sepatutnya memberi nilai positif bagi

pertumbuhan ekonomi di Indonesia kerena dapat menghasilkan devisa bagi negara.

Bisnis sinergi seperti ini memang dianggap menguntungkan. Jaringan

pemasaran dan omset dapat berkembang lebih cepat sehingga memperoleh

kepercayaan yang luas dari masyarakat terhadap citra bisnis waralabanya tanpa harus

mengeluarkan modal sendiri. Pewaralaba juga akan mendapat keuntungan berupa

management fee dan royalty fee.3

Konsep franchise berkembang karena di satu sisi ada pengusaha yang sudah

berhasil dalam menjalankan bisnisnya, tetapi kekurangan modal untuk

mengembangkan usaha lebih besar lagi. Dan di sisi lain ada pihak yang memiliki

modal, tetapi belum/tidak memiliki pengalaman atau keahlian dalam berbisnis di

bidang tersebut.4

Dikarenakan adanya kepentingan antara dua belah pihak yang terlibat dalam

bisnis waralaba inilah maka terjadilah suatu bentuk kerjasama bisnis. Bentuk

kerjasama yang melibatkan antara pengusaha yang kekurangan modal dengan pihak

yang ingin membuka usaha dengan tidak/belum memiliki pengalaman atau keahlian

berbisnis. Kedua pihak ini melakukan kesepakatan yang biasanya disahkan dalam

sebuah kontrak atau perjanjian bisnis. Waralaba merupakan suatu perjanjian yang

3

Siti Najma, Bisnis Syariah dari Nol (Jakarta:Hikmah,2007), hal.176

4Hertanto Widodo, “Franchise Syariah why not?”, artikel diakses pada 20 Desember 2010 dari

(12)

bertimbal balik karena baik pemberi waralaba maupun penerima waralaba,keduanya

berkewajiban untuk memenuhi prestasi tertentu.5

Melalui kontrak tercipta perikatan atau hubungan hukum yang menimbulkan

hak dan kewajiban pada masing-masing pihak yang membuat kontrak. Dengan kata

lain, para pihak terikat untuk mematuhi kontrak yang telah mereka buat. Kontrak

sangat bermanfaat sebagai pegangan, pedoman, dan alat bukti bagi pihak

pembuatnya.adanya kontrak yang baik mencegah terjadinya perselisihan, karena

semua perjanjian sudah diatur dengan jelas sebelumnya.6

Pada praktek saat ini banyak waralaba konvensional yang memakai konsep

yang cenderung menguntungkan bagi pewaralaba dan merugikan terwaralaba,

misalnya dalam penetapan royalty fee. Waralaba konvensional umumnya

memberikan kewajiban royalty fee pada terwaralaba walaupun terwaralaba dalam

kerugian. Tentu saja hal ini sangat merugikan pihak mitra selaku franchisee.

Namun saat ini banyak pewaralaba muslim mencoba memodifikasi sistem

waralaba konvensional supaya lebih adil. Bakmi langgara milik Wahyu Saidi

misalnya tidak mengenakan royalty fee bila terwaralaba memiliki omzet kurang dari

Rp 15 juta perbulan.7

Dari uraian penjelasan diatas itulah maka penulis ingin meneliti kontrak bisnis

pada waralaba konvensional dan waralaba syariah. Yang menjadi alasan pemikiran

5

Gunawan Widjaja, Waralaba, cetakan ke-2 (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2003), hal.77

6

Frans Satriyo Wicaksono, Panduan lengkap membuat surat-surat kontrak

(Jakarta:Visimedia.2008), hal.2

7

(13)

penulis adalah karena saat ini banyak sudah lembaga-lembaga yang mencantumkan

label syariah pada nama mereka, contohnya bank syariah, hotel syariah, rumah makan

syariah dan lain-lain. Salah satu yang mengikuti tren tersebut adalah waralaba

syariah. Fenomena penggunaan label syariah ini dikarenakan syariah sendiri sudah

menjadi kebutuhan bagi masyarakat.

Tapi pada kenyataannya masih banyak usaha yang mengaku memakai sistem

syariah tapi sebenarnya tidak syariah. Karena itu penulis ingin mengkaji lebih jauh

dari penerapan prinsip syariah pada usaha waralaba yang tertuang dalam kontrak.

Suatu kontrak bisnis mencerminkan bagaimana suatu kerjasama berjalan. Karena dari

kontrak bisnis dijelaskan berbagai macam aspek, mulai dari hak dan kewajiban,

wanprestasi sampai penyelesaian sengketa. Dari kontrak inilah maka dapat dilihat

secara keseluruhan apakah ketentuan pelaksanaan kegiatan bisnis dilakukan sesuai

kaidah hukum syariah atau tidak, karena bisa saja pihak yang bekerjasama

mengklaim bahwa usaha mereka telah sesuai syariah tetapi dalam kontrak bisnisnya

banyak ditemukan penyimpangan.

Sebagai studi kasus, penulis akan mengambil contoh dari kontrak bisnis pada

dua waralaba yang bergerak di bidang kuliner, yaitu Bakmi Raos dan Bakmi Tebet.

Bakmi Raos adalah seperti waralaba yang memiliki konsep waralaba secara umum.

Didirikan oleh H. Bimada pada tahun 2002, waralaba ini bergerak di bidang usaha

bakmi, dengan semboyan “Berani Diadu Rasanya”. Waralaba kedua adalah Bakmi

Tebet yang didirikan oleh Bapak Wahyu Saidi, seorang doktor yang membuka usaha

(14)

syariah dalam pengelolaannya. Membagi hasil, bukan membagi untung, kira-kira

begitu konsepnya.

Dari penjabaran di atas maka penulis ingin mencoba membahas tentang

perbandingan kontrak bisnis kedua waralaba ini, baik ditinjau dari sudut pandang

hukum perjanjian positif sekaligus hukum perjanjian dalam Islam yang meliputi

segala aspek yang umum termuat dalam suatu perjanjian kerjasama (syirkah). Maka

dari itu skripsi ini mengambil judul “Kontrak Waralaba Dalam Perspektif Hukum Positif Dan Hukum Syariah (Studi Kasus Pada Bakmi Raos Dan Bakmi Tebet)”

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Dari latar belakang masalah yang telah dijabarkan maka masalah yang akan

coba dibahas dibatasi hanya meliputi kontrak bisnis pada waralaba Bakmi Tebet dan

Bakmi Raos dan aplikasi konsep dari kontrak bisnis waralaba dengan perumusan

masalah sebagai berikut:

a.Bagaimana aplikasi konsep kontrak yang diterapkan pada waralaba Bakmi Raos

dan Bakmi Tebet?

b.Apakah kontrak waralaba pada bakmi Raos dan Bakmi Tebet telah dibuat

sesuai dengan standar kaidah hukum positif dan hukum syariah?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah untuk menjawab

(15)

Berdasarkan penelitian ini diharapkan dapat diambil manfaatnya baik bagi

penulis sendiri maupun bagi pihak lain. Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Menambah pengetahuan di berbagai bidang ilmu khususnya bidang ilmu hukum

dalam bidang perjanjian waralaba dan ilmu ekonomi bisnis dalam hal waralaba.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi para pihak yang bergerak di

bidang waralaba serta memberikan suatu pengetahuan kepada para pembaca skripsi

ini mengenai waralaba waralaba beserta isi perjanjiannya.

D. Review Kajian Terdahulu

Dari hasil penelusuran yang telah dilakukan pada literatur yang sudah ada,

penulis menemukan beberapa penelitian terdahulu mengenai waralaba seperti:

Judul Skripsi Pembahasan Skripsi Perbedaan

1.Skripsi tahun

Skripsi Dewi Irma Fitriana.”Strategi Pengembangan Bisnis Waralaba Lembaga Pendidikan

(16)

Pendidikan

sistem pengelolaan dalam hal

(17)

E. Kerangka Teori dan Konseptual

Waralaba berasal dari kata “wara” yang berarti lebih istimewa dan laba berarti

untung. Jadi kata waralaba berarti usaha yang memberikan keuntungan lebih/

istimewa.11

Menurut istilah waralaba adalah hak khusus yang dimiliki oleh orang

perseorangan atau badan usaha terhadap sistem bisnis dengan ciri khas usaha dalam

rangka memasarkan barang dan/atau jasa yang telah terbukti berhasil dan dapat

dimanfaatkan dan/atau digunakan oleh pihak lain berdasarkan perjanjian waralaba.

Selain pengertian waralaba, perlu dijelaskan pula apa yang dimaksud dengan

franchisor dan franchisee.

Franchisor atau pemberi waralaba adalah orang perseorangan atau badan usaha

yang memberikan hak untuk memanfaatkan dan/atau menggunakan waralaba yang

dimilikinya kepada penerima waralaba.

Franchisee atau penerima waralaba adalah orang perseorangan atau badan

usaha yang diberikan hak oleh pemberi waralaba untuk memanfaatkan dan/atau

menggunakan waralaba yang dimiliki pemberi waralaba.12

Sedangkan kontrak atau perjanjian merupakan suatu peristiwa hukum dimana

seorang berjanji kepada orang lain atau dua orang saling berjanji untuk melakukan

atau tidak melakukan sesuatu.13

11

Darmawan Budi Suseno, Sukses Usaha Waralaba Mudah, risiko Rendah dan Menguntungkan

(Yogyakarta: Cakrawala.2007). hal. 19

12

(18)

Dalam penulisan naskah kontrak tersebut diperlukan kejelian dalam menangkap

berbagai keinginan pihak-pihak, memahami aspek hukum, dan bahasa kontrak.

Penulisan kontrak perlu mempergunakan bahasa yang baik dan benar dengan

berpegang pada aturan tata bahasa yang berlaku. Dalam penggunaan bahasa, baik

bahasa Indonesia maupun bahasa asing harus tepat, singkat, jelas dan sistematis.

1. Anatomi Kontrak Bisnis

a. Bagian I

Merupakan keterangan mendasar meliputi: judul, tanggal, para pihak, kata

sepakat menggunankan latar belakang (recital), mengenai sesuatu untuk apa

perjanjian diadakan, tidak melangar hukum (sesuatu sebab yang halal) dan pasal 1

yang isinya tentang definisi.

b. Bagian II

Merupakan bagian dari kontrak berisi tentang isi kontrak yang khas. Bagian

inilah yang membedakan isi kontrak yang satu dengan kontrak yang lain. Yang dapat

dilakukan adalah mengkoleksi contoh-contoh kontrak atau literatur-literatur tentang

kontrak dalam suatu check list berikut contohnya.

c. Bagian III

Merupakan suatu bagian kontrak yang berisi pasal-pasal yang harus ada di

semua kontrak yang dibuat meliputi isi kontrak yang prinsip antara lain yaitu:

13

Ahmadi Miru, Hukum Kontrak & Perancangan Kontrak (Jakarta: PT RajaGrafindo

(19)

wanprestasi (even of default), peringatan (notice) atau somasi, ganti rugi atau denda,

force majeure atau keadaan darurat, Penyelesaian sengketa (settlement of dispute),

bahasa yang dipakai, ketentuan amandemen untuk kontrak jangka panjang, the entire

agreement (kalimat dari keseluruhan perjanjian), penutup dan tanda tangan.

2. Syarat Sahnya Kontrak

Dari bunyi Pasal 1338 ayat (1) jelas bahwa perjanjian yang mengikat hanyalah

perjanjian yang sah. Supaya sah pembuatan perjanjian harus mempedomani Pasal

1320 KUH Perdata. Pasal 1320 KUH Perdata menentukan empat syarat sahnya

perjanjian yaitu

a.Kesepakatan

b.Kecakapan

c.Hal tertentu

d.Sebab yang dibolehkan

Istilah perjanjian/kontrak dalam hukum Indonesia disebut akad dalam hukum

Islam.14 Akad adalah pertemuan ijab dan kabul sebagai pernyataan kehendak dua

pihak atau lebih untuk melahirkan suatu akibat hukum objeknya. Tujuan akad adalah

untuk melahirkan suatu akibat hukum.

14

Syamsul Anwar, Hukum Perjanjian Syariah: Studi tentang Teori Akad dalam Fikih Muamalat

(20)

Adapun yang dimaksud dengan istilah hukum kontrak/akad syari‟ah disini

adalah keseluruhan dari kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan hukum di

bidang muamalah khususnya perilaku dalam menjalankan hubungan ekonomi antara

dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum

secara tertulis berdasarkan hukum Islam.15

Dalam hukum kontrak syariah terdapat asas-asas perjanjian yang melandasi

penegakan dan pelaksanaannya. Asas-asas perjanjian tersebut diklasifikasikan

menjadi asas-asas perjanjian yang tidak berakibat hukum dan sifatnya umum dan

asas-asas perjanjian yang berakibat hukum dan sifatnya khusus. Adapun asas-asas

perjanjian yang tidak berakibat hukum dan sifatnya umum adalah:

1)Asas Ilahiah atau Asas Tauhid

2)Asas Kebebasan (Al-Hurriyah)

3)Asas Persamaan Atau Kesetaraan

4)Asas Keadilan (Al „Adalah)

5)Asas Kerelaan (Al-Ridha)

6)Asas Kejujuran dan Kebenaran (Ash Shidiq)

7)Asas Tertulis (Al Kitabah)

15

(21)

Sedangkan asas-asas perjanjian yang berakibat hukum dan bersifat khusus

adalah:

1)Asas Konsensualisme atau Asas Kerelaan (mabda‟ ar-rada‟iyyah)

2)Asas Kebebasan Berkontrak (mabda‟ hurriyah at-ta‟aqud)

3)Asas Itikad Baik

4)Asas Kepastian Hukum (Asas Pacta Sunt Servanda)

5)Asas Kepribadian (Personalitas)

F. Metode Penelitian

1. Tempat Penelitian

Tempat penelitian diadakan di kantor pusat PT Raos Aneka Pangan yang

beralamat di Kodam Bintaro Permai No 9 R dan Bakmi Langgara cabang ke-10 yang

beralamat di Jalan Nusantara, Depok Jaya, Depok.

2. Jenis Penelitian

Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif berupa perbandingan antara dua

objek penelitian. Penelitian ini adalah membandingkan dua kontrak bisnis pada dua

waralaba yaitu bakmi Raos dan bakmi Tebet apakah sesuai dengan perjanjian yang

(22)

3. Sumber Data

a. Data Primer

Data primer diperoleh dari objek penelitian langsung, bukan melalui

sumber-sumber lain. Data ini diperoleh melalui observasi langsung dan atau melalui

wawancara pada objek penelitian.

b. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh bukan melalui objek penelitian langsung, tapi dari

sumber lain, misalnya melalui literatur-literatur seperti dokumen, buku, website dan

lain-lain.

4. Teknik Pengumpulan Data

a. Wawancara

Adalah percakapan dengan maksud tertentu percakapan itu dilakukan oleh dua

pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang

diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.

b. Dokumentasi

Metode dokumentasi dilakukan dengan cara mencari data tentang hal-hal atau

variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen

(23)

c. Teknik Analisis Data

Adapun metode pengolahan data yang digunakan adalah komparasi antara

kontrak bisnis pada waralaba bakmi Raos dan bakmi Tebet apakah telah sesuai

dengan kaidah-kaidah hukum perjanjian positif dan syariah. Perbandingan di sini

meliputi asas perjanjian, struktur dan substansi kontrak dilihat dari hukum positif dan

hukum syariah.

4. Teknik Penulisan

Penulisan skripsi ini ditulis dengan mengikuti “Pedoman Penulisan Skripsi UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta”

G. Sistematika Penulisan

Skripsi ini dibuat dengan dibagi secara garis besar meliputi beberapa bagian

yaitu:

1. Bab I Pendahuluan: adalah bagian yang berisi latar belakang masalah,

pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, review

kajian terdahulu, kerangka konsep, metode penelitian, dan sistematika penulisan

2. Bab II Kajian Kepustakaan: adalah bagian yang membahas tentang tinjauan

umum mengenai waralaba, tinjauan umum tentang perjanjian menurut hukum

(24)

3. Bab III Profil Waralaba: adalah bagian yang membahas mengenai hasil

penelitian yang dilakukan secara independen dalam artian tidak dicampur

dengan opini peneliti.

4. Bab IV Analisa: adalah bagian yang berisi analisis data penelitian yang telah

didapatkan guna menjawab masalah penelitian.

5. Bab V Kesimpulan: adalah bagian kesimpulan yang ditarik dari pembuktian

atau uraian yang telah ditulis sebelumnya dan berkaitan erat dengan pokok

masalah penelitian. Kesimpulan adalah jawaban masalah berdasarkan data yang

(25)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Mengenai Syirkah

1. Pengertian Syirkah

Secara harfiah makna “syirkah” adalah “ikhtilath” (percampuran)16, sedangkan

pengertian syirkah dapat didefinisikan oleh Wahbah al-Zuhaily dalam Fiqh

al-Islamiy wa adillatuh Juz IV, al-syirkah menurut fuqaha Malikiyah, al-syirkah adalah

kebolehan (atau izin) bertasharruf bagi masing-masing pihak yang

berserikat.maksudnya masing-masing pihak saling memberikan izin kepada pihak

lain dalam mentasharrufkan harta (objek) perserikatan. Menurut ulama fuqaha

Hanabilah, al-syirkah adalah persekutuan dalam hak dan tasharruf.menurut fuqaha

Syafi‟iyah, al-syirkah adalah berlakunya hak atas sesuatu bagi dua pihak atau lebih

dengan tujuan persekutuan. Sedang menurut fuqaha Hanfiyah. Al-syirkah adalah akad

antara para pihak yang berserikat dalam hal modal dan keuntungan.17 Atau syirkah

adalah ikatan kerjasama yang dilakukan dua orang atau lebih dalam perdagangan18

Secara umum landasan dasar syariah mengenai syirkah dapat dilihat pada

ayat-ayat Al Qur‟an dan hadits berikut :

16

Sayid Sabiq, Fikih Sunnah, Jilid 13, Penerjemah H. Kamaluddin A. Marzuki (Bandung: Al-Ma‟arif,1987), hal.193

17Ghufron A. Mas‟adi,

Fiqh Muamalah Kontekstual,(Jakarta:PT RajaGrafindo Persada,2002), hal. 192

18

(26)

a Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian

mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain kecuali orang yang beriman

dan mengerjakan amal saleh (Shaad: 24)

b Dari Abu Hurairah, RasulullH SAW bersabda, sesungguhnya Allah azza wa

jalla berfirman,”Aku pihak ketiga dari dua orang yang berserikat selama salah

satunya tidak mengkhianati lainnya.” (HR. Abu Dawud dan Al-Hakim)19

2. Rukun Syirkah

Beberapa ketentuan umum mengenai syirkah/musyarakah sebagaimana diatur

dalam fatwa DSN MUI No.08/DSN-MUI/IV/2000 mengenai musyarakah adalah

sebagai berikut :

1. Ijab dan Qabul. Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh pihak untuk

menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad)

2. Pihak-pihak yang berkontrak harus cakap hukum

3. Obyek akad (modal, kerja, keuntungan dan kerugian)

4. Biaya Operasional dan Persengketaan

3. Bentuk Syirkah

Syirkah secara umum terbagi dalam tiga bentuk, yaitu syirkah ibahah, syirkah

amlak, dan syirkah uqud20

19Ghufron A. Mas‟adi,

(27)

1.) Syirkah Ibahah, yaitu persekutuan hak semua orang untuk dibolehkan

menikmati manfaat sesuatu yang belum ada di bawah kekuasaan orang

2.) Syirkah Amlak (Milik),yaitu persekutuan antara dua orang atau lebih untuk

memiliki suatu benda. Syirkah Amlak terbagi dua, yaitu:

a) Syirkah Milik Jabriyah yang terjadi tanpa keinginan para pihak yang

bersangkutan, seperti persekutuan ahli waris

b) Syirkah Milik Ikhtiyariyah yang terdiri atas keinginan para pihak yang

bersangkutan

3.) Syirkah Uqud yaitu persekutuan antara dua orang atau lebih yang timbul dengan

adanya perjanjian. Syirkah Uqud terbagi menjadi 5, yaitu syirkah „inan, syirkah

„amal, syirkah mufawadhah, syirkah wujuh21, dan syirkah mudharabah22

a) Syirkah‟Inan adalah kontrak kerjasama antara dua orang atau lebih. Setiap

pihak memberikan suatu porsi dari keseluruhan dana dan berpertisipasi dalam

kerja. Namun porsi masing-masing pihak, baik dalam dana maupun kerja atau

bagi hasil, berbeda sesuai dengan kesepakatan mereka.

b) Syirkah „Abdan adalah kontrak kerjasama dua orang seprofesi untuk menerima

pekerjaan secara bersama dan berbagi keuntungan dari pekerjaan itu

20

Gemala Dewi dkk, Hukum Perikatan Islam di Indonesia, cetakan ke-2, hal.118

21

Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid jilid 2. Penerjemah Abu Usamah Fakhtur (Jakarta: Pustaka Azzam,2007), hal. 496

22

(28)

c) Syirkah mufawadhah adalah kontrak kerjasama antara dua orang atau lebih.

Setiap pihak memberikan suatu porsi dari keseluruhan dana dan berpartisipasi

dalam kerja. Setiap pihak membagi keuntungan secara sama

d) Syirkah Wujuh adalah kontrak antara dua orang atau lebih yang tidak memiliki

modal sama sekali tetapi mereka mempunyai keahlian bisnis. Mereka membeli

barang secara kredit dari suatu perusahaan,dan menjual barang tersebut secara

tunai. Mereka berbagi dalam keuntungan dan kerugian berdasarkan jaminan

kepada penyuplai yang disediakan oleh setiap mitra

e) Syirkah Mudharabah adalah kerjasama antara tenaga dan harta, seseorang

(pihak pertama/pemilik modal/shohibul mal) memberikan hartanya kepada

pihak lain (pihak kedua/pengelola/mudharib) yang digunakan untuk berbisnis,

dengan ketentuan bahwa keuntungan yang diperoleh akan dibagi

masing-masing pihak sesuai dengan kesepakatan. Bila terjadi kerugian maka

ketentuannya berdasarkan syara‟ bahwa kerugian dibebankan kepada harta, dan

tidak dibebankan sedikit pun kepada pengelola

B. Tinjauan Umum Mengenai Waralaba 1. Pengertian Waralaba (Franchise)

Pengertian Franchise berasal dari bahasa Perancis affranchir yang berarti to

(29)

yang diperoleh seorang wirausaha untuk menjalankan sendiri suatu usaha tertentu di

wilayah tertentu.23

Franchise ini merupakan suatu metode untuk melakukan bisnis, yaitu suatu

metode untuk memasarkan produk atau jasa ke masyarakat. Selanjutnya disebutkan

pula bahwa franchise dapat didefinisikan sebagai suatu sistem pemasaran atau

distribusi barang dan jasa, di mana sebuah perusahaan induk (franchisor)

memberikan kepada individu atau perusahaan lain yang berskala kecil dan menengah

(franchisee), hak – hak istimewa untuk melaksanakan suatu sistem usaha tertentu dengan cara yang sudah ditentukan, selama waktu tertentu, di suatu tempat tertentu.

Adapun definisi franchise menurut Asosiasi Franchise International adalah

“suatu hubungan berdasarkan kontrak antara franchisor (pemberi warlaba /

pewaralaba) dengan franchisee (penerima waralaba/terwaralaba). Pihak franchisor

menawarkan dan berkewajiban memelihara kepentingan terus-menerus pada usaha

franchise dalam aspek-aspek pengetahuan dan pelatihan. Sebaliknya franchisee

memiliki hak untuk beroperasi di bawah merek atau nama dagang yang sama,

menurut format dan prosedur yang ditetapkan oleh franchisor dengan modal dan

sumber daya franchisee sendiri.24

Istilah franchise ini selanjutnya menjadi istilah yang akrab dengan masyarakat,

khususnya masyarakat bisnis Indonesia dan menarik perhatian banyak pihak untuk

23

Richard Burton Simatupang, Aspek Hukum Dalam Bisnis (Jakarta:PT. Rineka Cipta, 2003), hal.56

24

(30)

mendalaminya kemudian istilah franchise dicoba di Indonesiakan dengan istilah

„waralaba‟ yang diperkenalkan pertama kali oleh Lembaga Pendidikan dan

Pengembangan Manajemen (LPPM) sebagai padanan istilah franchise. Waralaba

berasal dari kata “wara” yang berarti lebih istimewa dan laba berarti untung. Jadi kata

waralaba berarti usaha yang memberikan keuntungan lebih/ istimewa

Jadi pada dasarnya waralaba (franchise) merupakan salah satu bentuk

pemberian lisensi, hanya saja agak berbeda dengan pengertian lisensi pada umumnya,

waralaba menekankan pada kewajiban untuk mempergunakan sistem, metode, tata

cara, prosedur, metode pemasaran dan penjualan maupun hal-hal lain yang telah

ditentukan oleh pemberi waralaba secara eksklusif, serta tidak boleh dilanggar

maupun diabaikan oleh penerima lisensi.

2. Waralaba Sebagai Bisnis

Dalam bentuknya sebagai bisnis, waralaba memiliki dua jenis kegiatan:25

1) Waralaba produk dan merek dagang

Dalam waralaba produk dan merek dagang, pemberi waralaba memberikan hak

kepada penerima waralaba untuk menjual produk yang dikembangkan oleh pemberi

waralaba yang disertai dengan pemberian izin menggunakan merek dagang milik

pemberi waralaba. Atas pemberian merek izin penggunaan merek dagang tersebut

biasanya pemberi waralaba memperoleh suatu bentuk pembayaran royalty fee di

25

(31)

muka, dan selanjutnya pemberi waralaba memperoleh keuntungan (yang selanjutnya

disebut royalti berjalan) melalui penjualan produk yang diwaralabakan kepada

penerima waralaba. Dalam bentuknya yang sederhana ini, waralaba produk dan

merek dagang serinkali mengambil bentuk keagenan, distributor atau lisensi

penjualan.

2) Waralaba format bisnis

Agak berbeda dengan waralaba produk dan merek dagang, waralaba format

bisnis menurut pengertian yang diberikan oleh Martin Mandelson dalam Franchising:

Petunjuk Praktis bagi Franchisor dan Franchisee, waralaba format bisnis

adalah:”pemberian sebuah lisensi oleh seseorang (pemberi waralaba) kepada pihak

lain (penerima waralaba),lisensi tersebut memberi hak kepada penerima waralaba

untuk berusaha dengan menggunakan merek dagang/nama dagang pemberi waralaba,

dan untuk menggunakan seluruh paket, yang terdiri dari seluruh elemen yang

diperlukan untuk membuat seorang yang sebelumnya belum terlatih dalam bisnis dan

untuk menjalankannya dengan bantuan yang terus menerus atas dasar-dasar yang

telah ditentukan sebelumnya.” Martin Mandelson meyatakan bahwa waralaba format

bisnis ini terdiri atas:26

26

(32)

a Konsep bisnis yang menyeluruh dari pemberi waralaba

b Adanya proses permulaan dan pelatihan atas seluruh aspek pengelolaan bisnis,

sesuai dengan konsep pemberi waralaba

c Proses bantuan dan bimbingan yang terus menerus dari pihak pemberi waralaba

3. Waralaba Sebagai Perjanjian

Dalam franchise ada dua pihak yang terlibat yaitu franchisor atau pemberi

waralaba dan franchisee atau penerima waralaba di mana masing – masing pihak terikat dalam suatu perjanjian yaitu perjanjian waralaba.

Perjanjian waralaba adalah perjanjian formal. Hal tersebut tersebut dikerenakan

perjanjian waralaba disyaratkan tertulis sesuai dalama Pasal 4 PP RI No.42 Tahun

2007 tentang waralaba untuk dibuat secara tertulis dalam bahasa Indonesia dan

mengikuti hukum yang berlaku di Indonesia. Hal ini diperlukan sebagai perlindungan

bagi kedua belah pihak yang terlibat dalam perjanjian waralaba tersebut. Selain itu

suatu waralaba diwajibkan memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:

a memiliki ciri khas usaha;

b terbukti sudah memberikan keuntungan;

c memiliki standar atas pelayanan dan barang dan/atau jasa yang ditawarkan yang

dibuat secara tertulis;

(33)

e adanya dukungan yang berkesinambungan; dan

f Hak Kekayaan Intelektual yang telah terdaftar.

Secara umum dikenal adanya dua macam atau jenis kompensasi yang dapat

diminta oleh pemberi waralaba (franchisor) dari penerima waralaba (franchisee).

Pertama, kompensasi langsung dalam bentuk moneter (direct monetary

compensation) adalah lump sum payment dan royalty. Lump sum payment adalah

suatu jumlah uang yang telah dihitung terlebih dahulu yang wajib dibayarkan oleh

penerima waralaba (franchisee) pada saat persetujuan pemberian waralaba disepakati.

Sedangkan royalti adalah jumlah pembayaran yang dikaitkan dengan suatu presentasi

tertentu yang dihitung dari jumlah produksi dan/atau penjualan barang dan/atau jasa

yang diproduksi atau dijual berdasarkan perjanjian, baik disertai dengan ikatan suatu

jumlah minimum atau maksimum jumlah royalti tertentu atau tidak.

Kedua, kompensasi tidak langsung dalam bentuk nilai moneter (indirect and

nonmenetary compensation). Meliputi antara lain keuntungan sebagai akibat dari

penjualan barang modal atau bahan mentah, yang merupakan satu paket dengan

pemberian waralaba, pembayaran dalam bentuk deviden ataupun bunga pinjaman

dalam hal pemberi waralaba juga turut memberikan bantuan finansial, baik dalam

bentuk ekuitas atau dalam wujud pinjaman jangka pendek maupun jangka panjang,

(34)

waralaba, perolehan data pasar dari kegiatan usaha yang dilakukan oleh penerima

lisensi dan lain sebagainya.27

Pasal 5 PP No.42 Tahun 2007 manegaskan bahwa klausul waralaba setidaknya

harus memuat hal-hal sebagai berikut :

a nama dan alamat para pihak;

b jenis Hak Kekayaan Intelektual;

c kegiatan usaha

d hak dan kewajiban para pihak;

e bantuan, fasilitas, bimbingan operasional, pelatihan, dan pemasaran yang

diberikan Pemberi Waralaba kepada Penerima Waralaba;

f wilayah usaha;

g jangka waktu perjanjian;

h tata cara pembayaran imbalan;

i kepemilikan, perubahan kepemilikan, dan hak ahli waris;

j penyelesaian sengketa; dan

k tata cara perpanjangan, pengakhiran, dan pemutusan perjanjian.

27

(35)

Selanjutnya pemberi waralaba harus menyampaikan klausul perjanjian kepada

penerima waralaba paling singkat dua minggu sebelum penandatangan perjanjian

waralaba.28

C. Perjanjian Dalam Hukum Positif Dan Hukum Syariah

1. Pengertian Perjanjian Menurut Hukum Positif Dan Hukum Syariah

Kontrak dalam Hukum Indonesia, yaitu Burgerlijk Wetboek (BW) disebut

overeenkomst yang bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti perjanjian.

Menurut Peter Mahmud Marzuki dalam suatu kesempatan perkuliahan Magister

Hukum UGM, bahwa perjanjian mempunyai arti yang lebih luas daripada kontrak.

Kontrak merujuk pada suatu pemikiran akan adanya keuntungan komersil yang

diperoleh kedua belah pihak. Sedangkan perjanjian dapat saja berarti social

agreement yang belum tentu menguntungkan kedua belah pihak secara komersil.29

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, perjanjian adalah “persetujuan tertulis atau dengan lisan yang dibuat oleh dua pihak atau lebih, masing-masing bersepakat

akan mentaati apa yang tersebut dalam persetujuan itu.30 Perjanjian menurut Kamus

Hukum adalah “persetujuan yang dibuat oleh dua pihak atau lebih, tertulis maupun

28

Peraturan Menteri Perdagangan RI No.31/M-DAG/PER/8/2008 tentang Penyelenggaraan Waralaba Pasal 5 Ayat 3

29

Hasanuddin Rahman, Seri Keterampilan Merancang Kontrak Bisnis : Contract Drafting, (T.tp, Citra Aditya Bakti, 2003) hal.2

30

(36)

lisan, masing-masing sepakat untuk mentaati isi persetujuan yang telah dibuat

bersama.31

Pengertian perjanjian atau kontrak diatur di pasal 1313 KUH Perdata pasal 1313

KUH Perdata berbunyi “ Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu pihak

atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih”. Ada tiga sumber norma yang ikut mengisi suatu perjanjian, yaitu undang-undang, kebiasaan dan

kepatutan sebagaimana termuat dalam Pasal 1339 KUH Perdata.

Dalam Islam, perjanjian umumnya disebut dengan akad. Setidaknya ada dua

istilah dalam Al Qur,an yang berhubungan dengan perjanjian, yaitu istilah al-„aqdu

(akad) dan al-„ahdu (janji). Pengertian akad secara bahasa adalah ikatan, mengikat.

Kata al-„aqdu terdapat dalam QS. Al-Maidah ayat 1, bahwa manusia diminta untuk

memenuhi akadnya.

Menurut Fathurrahman Djamil, istilah al-„aqdu ini dapat disamakan dengan

istilah verbintenis dalam KUH Perdata. Sedangkan istilah al-„ahdu dapat disamakan

dengan istilah perjanjian atau overeenkomst, yaitu suatu pernyataan dari seorang

untuk mengerjakan sesuatu yang tidak berkaitan dengan orang lain. Istilah ini

terdapat dalam QS. Ali Imran ayat 76.32

Para ahli hukum Islam memberikan definisi akad sebagai “pertalian antara Ijab

dan Qabul yang dibenarkan oleh syara‟ yang menimbulkan akibat hukum terhadap

31

Sudarsono, Kamus Hukum (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), hal. 363

32

(37)

objeknya”. Atau akad adalah pertemuan ijab dan kabul sebagai pernyataan kehendak

dua pihak atau lebih untuk melahirkan suatu akibat hukum objeknya.33

Abdoerraoef mengemukakan terjadinya suatu perikatan melalui tiga tahap yaitu

sebagai berikut :

1. Al „Ahdu (perjanjian), yaitu pernyataan dari seseorang untuk melakukan sesuatu

atau tidak melakukan sesuatu dan tidak ada sangkut pautnya dengan kemauan

orang lain. Janji ini mengikat orang yang menyatakannya untuk melaksanakan

janjinya tersebut, seperti yang difirmankan oleh Allah SWT dalam QS. Ali

Imran ayat 76

2. Persetujuan,yaitu pernyataan setuju dari pihak kedua untuk melakukan sesuatu

atau tidak melakukan sesuatu sebagai reaksi terhadap janji yang dinyatakan

pihak pertama. Persetujuan tersebut harus sesuai dengan janji pihak pertama

3. Apabila dua buah janji dilaksanakan maksudnya oleh para pihak, maka

terjadilah apa yang dinamakan „akdu‟ oleh Al Qur‟an yang terdapat dalam QS.

Al-Maidah ayat 1. Maka, yang mengikat masing-masing pihak sesudah

pelaksanaan perjanjian bukan lagi perjanjian atau „ahdu itu, tetapi „akdu

Perbedaan yang terjadi dalam proses perikatan antara Hukum Islam dan KUH

Perdata adalah pada tahap perjanjiannya. Pada Hukum Perikatan Islam, janji pihak

pertama terpisah dari janji pihak kedua (merupakan dua tahap), baru kemudian lahir

33

Syamsul Anwar, Hukum Perjanjian Syariah: Studi tentang Teori Akad dalam Fikih

(38)

perikatan. Sedangkan pada KUH Perdata, perjanjian antara pihak pertama dan kedua

adalah satu tahap yang kemudian menimbulkan perikatan antara mereka. Dalam

hukum perikatan Islam titik tolak yang paling membedakannya adalah pentingnya

unsur ikrar (ijab dan qabul) dalam tiap transaksi. Apabila dua janji antara para pihak

tersebut disepakati dan dilanjutkan dengan ikrar, maka terjadilah perikatan.34

2. Syarat Sah Perjanjian Menurut Hukum Positif Dan Hukum Syariah

Selanjutnya untuk sahnya suatu perjanjian menurut pasal 1320 Kitab

Undang-Undang Hukum Perdata diperlukan empat syarat yaitu :

a. Kesepakatan ( toesteming / izin ) kedua belah pihak.

b. Kecakapan Bertindak

c. Mengenai suatu hal tertentu

d. Suatu sebab yang halal (Geoorloofde oorzaak)

Dua syarat yang pertama, dinamakan syarat-syarat subyektif, karena mengenai

orang-orangnya atau subyeknya yang mengadakan perjanjian, sedangkan dua syarat

yang terakhir dinamakan syarat-syarat obyektif karena mengenai perjanjiannya

sendiri atau obyek dari perbuatan hukum yang dilakukan itu

Apabila syarat pertama dan kedua tidak terpenuhi maka perjanjian itu dapat

dibatalkan. Artinya, bahwa salah satu pihak dapat mengajukan kepada pengadilan

34

(39)

untuk membatalkan perjanjian yang disepakatinya. Tetapi apabila para pihak tidak

ada yang keberatan maka perjanjian itu tetap dianggap sah. Syarat ketiga dan keempat

tidak terpenuhi maka perjanjian itu batal demi hukum. Artinya bahwa dari semula

perjanjian itu dianggap tidak ada atau batal demi hukum.35

Ada beberapa syarat untuk kontrak yang berlaku umum tetapi di atur di luar

pasal 1320 KUH Perdata, yaitu sebagai berikut :

a. Kontrak harus dilakukan dengan itikad baik

b. Kontrak tidak boleh bertentangan dengan kebiasaan yang berlaku

c. Kontrak harus dilakukan berdasarkan asas kepatutan

d. Kontrak tidak boleh melanggar kepentingan umum

Apabila kontrak dilakukan dengan melanggar salah satu dari 4 (empat) prinsip

tersebut, maka konsekuensi yuridisnya adalah bahwa kontrak yang demikian tidak

sah dan batal demi hukum ( null and void ).

Sedangkan dalam hukum Islam, para ulama fikih menetapkan beberapa syarat

umum yang harus dipenuhi oleh suatu akad. Disamping itu, setiap akad juga memiliki

syarat-syarat khusus. Akad jual-beli memiliki syarat tersendiri, sedangkan akad

al-wadi‟ah, al-hibah dan lain-lain demikian juga. Adapun syarat-syarat umum suatu

akad itu adalah:36

35

Salim HS, Hukum Kontrak:Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak (Jakarta: Sinar

Grafika,2003), hal.35

36

(40)

1) Pihak-pihak yang berakad itu telah cakap bertindak hukum (mukallaf) atau jika

obyek akad itu merupakan milik orang yang tidak atau belum cakap bertindak

hukum, maka harus dilakukan oleh walinya.

2) Obyek akad itu diakui oleh syara‟. Untuk obyek akad ini disyaratkan pula: (i)

berbentuk harta; (ii) dimiliki seseorang; dan (iii) bernilai menurut syara‟.

3) Akad itu tidak dilarang oleh nash (ayat atau hadits) syara‟

4) Akad yang dilakukan itu memenuhi syarat-syarat khusus yang terkait dengan

akad itu.

5) Akad dapat memberikan faidah.

6) Ijab itu berjalan terus, tidak dicabut sebelum terjadinya qabul.

7) Ijab dan qabul mesti bersambung sehingga bila seseorang yang berijab sudah

berpisah sebelum adanya qabul, maka ijab tersebut menjadi batal.

Dalam hal rukun akad, ulama Hanafiyah berpendapat bahwa rukun akad adalah

ijab dan qabul. Adapun yang mengadakan akad atau hal-hal lainnya yang menunjang

terjadinya akad tidak dikategorikan rukun sebab keberadaannya sudah pasti.37. Ulama

selain Hanafiyah berpendapat bahwa akad memiliki beberapa rukun, yaitu:38

37Rachmat Syafe‟i, Fiqh Muamalah : Untuk IAIN, STAIN,PTAIS dan Umum

(Bandung: Pustaka Setia,2004), hal.45

38

M. Nadratuzzaman Hosen dkk, Materi Dakwah Ekonomi Syariah, (Jakarta: PKES,

(41)

1) „Aqid ialah orang yang berakad, terkadang masing-masing pihak terdiri dari

satu orang, terkadang terdiri dari beberapa orang

2) Ma‟qud „alaih ialah benda-benda yang diakadkan

3) Maudhu‟ al-„aqd ialah tujuan atau maksud pokok mengadakan akad

4) Shighat al-„aqd ialah ijab dan qabul

3. Asas-Asas Perjanjian Dalam Hukum Positif Dan Hukum Syariah

Menurut Hukum Perdata, sebagai dasar hukum utama dalam berkontrak,dikenal

5 (lima) asas penting sebagai berikut :39

a. Asas Kebebasan Berkontrak ( Freedom of contract )

Asas kebebasan berkontrak dapat dianalisis dari ketentuan Pasal 1338 ayat (1)

KUH Perdata, yang berbunyi: “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku

sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.”

b. Asas Konsensualisme

Asas konsensualisme dapat disimpulkan dalam Pasal 1320 ayat ( 1 ) KUH

Perdata. Dalam pasal itu ditentukan bahwa salah satu syarat sahnya perjanjian, yaitu

adanya kesepakatan kedua belah pihak. Asas konsensualisme merupakan asas yang

menyatakan bahwa perjanjian pada umumnya tidak diadakan secara formal, tetapi

39

(42)

cukup dengan adanya kesepakatan kedua belah pihak. Kesepakatan merupakan

persesuaian antara kehendak dan pernyataan yang dibuat oleh kedua belah pihak.

Dalam perjanjian tertulis, bentuk dari konsensualitas salah satunya adalah

dengan pembubuhan tanda tangan dari pihak-pihak yang terlibat dalam perjanjian

tersebut. Tanda tangan selain sebagai persetujuan kesepakatan, juga sebagai

persetujuan tempat, waktu, dan isi perjanjian. Tanda tangan juga sebagai tanda

kesengajaan para pihak untuk berkontrak sebagai bukti suatu peristiwa.40

c. Asas Pacta Sunt Servanda

Asas pacta sunt servanda atau disebut juga dengan asas kepastian hukum. Asas

ini berhubungan dengan akibat perjanjian. Asas pacta sunt servanda merupakan asas

bahwa hakim atau pihak ketiga harus menghormati substansi kontrak yang dibuat

oleh para pihak, sebagaimana layaknya sebuah undang-undang. Mereka tidak boleh

melakukan intervensi terhadap substansi kontrak yang dibuat oleh para pihak. Asas

pacta sunt servanda dapat disimpulkan dalam Pasal 1338 ayat ( 1 )KUH Perdata yang

bunyinya : Perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang.

d. Asas Itikad Baik (Goede Trouw)

Asas itikad baik dapat disimpulkan dari Pasal 1338 ayat ( 3 ) KUH Perdata

Pasal 1338 ayat ( 3 ) KUH Perdata berbunyi “ Perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik”. Asas itikad merupakan asas bahwa para pihak, yaitu pihak kreditur dan

40

Frans Satriyo wicaksono, Panduan Lengkap Membuat Surat-Surat Kontrak, (Jakarta:

(43)

debitur harus melaksanakan substansi kontrak berdasarkan kepercayaan atau

keyakinan yang teguh atau kemauan baik dari para pihak.

e. Asas Kepribadian ( Personalitas )

Asas kepribadian merupakan asas yang menentukan bahwa seseorang yang

akan melakukan dan atau membuat kontrak hanya untuk kepentingan perseorangan

saja. Hal ini dapat dilihat dalam pasal 1315 dan pasal 1320 KUH Perdata.

Sedangkan dalam hukum syara‟, asas-asas yang harus terdapat dalam hukum

perikatan Islam, Fathurrahman Djamil mengemukakan enam asas, yaitu asas

kebebasan, asas persamaan atau kesetaraan, asas keadilan, asas kerelaan, asas

kejujuran dan kebenaran, dan asas tertulis.41 Namun, ada asas utama yang mendasari

setiap perbuatan manusia, termasuk perbuatan muamalat, yaitu asas ilahiah atau asas

tauhid.

a. Asas Ilahiah atau Asas Tauhid

Kegiatan muamalah termasuk perbuatan perjanjian, tidak pernah akan lepas dari

nilai-nilai ketauhidan. Dengan demikian manusia memiliki tanggung jawab akan hal

itu. Tanggung jawab kepada masyarakat, tanggung jawab kepada pihak

kedua,tanggung jawab kepada diri sendiri, dan tanggung jawab kepada Allah SWT.

Kegiatan muamalat termasuk perbuatan perikatan, tidak akan lepas dari nilai

ketauhidan.

41

(44)

b. Asas Kebebasan ( Al-Hurriyah )

Terdapat kaidah fiqhiyah yang artinya,”Hukum asal dari segala sesuatu adalah

boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya”.42 Kaidah fiqih tersebut bersumber hadits riwayat al Bazar dan at-Thabrani yang artinya: “Apa-apa yang dihalalkan

Allah adalah halal, dan apa-apa yang diharamkan Allah adalah haram, dan apa-apa

yang didiamkan adalah dimaafkan. Maka terimalah dari Allah pemaaf-Nya. Sungguh

Allah itu tidak melupakan sesuatupun”.43

c. Asas Persamaan Atau Kesetaraan

Dalam melakukan kontrak para pihak menentukan hak dan kewajiban

masing-masing didasarkan pada asas persamaan dan kesetaraan. Tidak diperbolehkan

terdapat kezaliman yang dilakukan dalam kontrak tersebut. Sehingga tidak

diperbolehkan membeda-bedakan manusia berdasar perbedaan warna kulit, agama,

adat dan ras.

d. Asas Keadilan (Al „Adalah)

Dalam asas ini para pihak yang melakukan kontrak dituntut untuk berlaku benar

dalam mengungkapkan kehendak dan keadaan, memenuhi perjanjian yang telah

mereka buat, dan memenuhi semua kewajibannya.

42

Ahmad Sudirman Abbas, Qawaid Fiqhiyyah Dalam Perspektif Fiqh ,(Jakarta:Adelina

Bersaudara,2004), hal.63

43

(45)

e. Asas Kerelaan (Al-Ridha)

Dalam QS.an-Nisa (4): 29, dinyatakan bahwa segala transaksi yang dilakukan

harus atas dasar suka sama suka atau kerelaan antara masing-masing pihak, tidak

boleh ada tekanan, paksaan, penipuan, dan mis-statement. Jika hal ini tidak dipenuhi

maka transaksi tersebut dilakukan dengan cara yang batil.

f. Asas Kejujuran dan Kebenaran (Ash Shidiq)

Jika kejujuran ini tidak diterapkan dalam kontrak, maka akan merusak legalitas

kontrak dan menimbulkan perselisihan diantara para pihak. QS.al-Ahzab (33): 70

disebutkan yang artinya, ”Hai orang –orang yang beriman, bertaqwalah kamu

kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”. Suatu perjanjian dapat

dikatakan benar apabila memiliki manfaat bagi para pihak yang melakukan perjanjian

dan bagi masyarakat dan lingkungannya.

g. Asas Tertulis (Al Kitabah)

Suatu perjanjian hendaknya dilakukan secara tertulis agar dapat dijadikan

sebagai alat bukti apabila di kemudian hari terjadi persengketaan. Dalam

QS.al-Baqarah (2); 282- 283 dapat dipahami bahwa Allah SWT menganjurkan kepada

manusia agar suatu perjanjian dilakukan secara tertulis, dihadiri para saksi dan

diberikan tanggung jawab individu yang melakukan perjanjian dan yang menjadi

saksi tersebut. Selain itu dianjurkan pula jika suatu perjanjian dilaksanakan tidak

(46)

4. Prestasi Dan Wanprestasi

Istilah prestasi dalam hukum kontrak adalah pelaksanaan dari isi kontrak yang

telah dibuat para pihak dengan kesepakatan bersama. Suatu kontrak yang bermakna

prestasi ada tiga yaitu :44

a menyerahkan suatu barang

b melakukan suatu perbuatan

c tidak melakukan suatu perbuatan.

Sedangkan wanprestasi menurut Subekti adalah apabila si berutang (debitur)

tidak melakukan apa yang dijanjikannya, alpa atau lalai atau ingkar janji atau juga

melanggar perjanjian, bila melakukan atau berbuat sesuatu yang tidak boleh

dilakukannya maka dikatakan melakukan wanprestasi. Tidak dipenuhinya kewajiban

oleh debitur disebabkan oleh dua kemungkinan alasan, yaitu:

a. Karena kesalahan debitur, baik dengan sengaja tidak dipenuhi kewajiban

maupun karena kelalaian

b. Karena keadaan memaksa (overmacht), force majeure, jadi di luar kemampuan

debitur.

Mariam Darus menyebutkan wujud dari tidak memenuhi perikatan

(wanprestasi) terbagi tiga yaitu:45

44

(47)

1) Debitur sama sekali tidak memenuhi perikatan,

2) Debitur terlambat memenuhi perikatan,

3) Debitur keliru atau tidak pantas memenuhi perikatan

Untuk mengetahui sejak kapan debitur dalam keadaan wanprestasi, perlu

diperhatikan apakah dalam perikatan itu ditentukan tenggang waktu pelaksaanaan

pemenuhan prestasi atau tidak. Dalam hal tenggang waktu pelaksanaan pemenuhan

prestasi “tidak ditentukan”, perlu memperingatkan debitur supaya ia memenuhi

prestasi. Tetapi dalam hal telah ditentukan tenggang waktunya, menurut ketentuan

pasal 1238 KUH Perdata debitur dianggap lalai dengan lewatnya tenggang waktu

yang telah ditetapkan dalam perikatan. Kreditur dapat menuntut debitur yang telah

melakukan wanprestasi hal-hal sebagai berikut :46

a) Kreditur dapat meminta pemenuhan prestasi saja dari debitur;

b) Kreditur dapat menuntut prestasi disertai ganti rugi kepada debitur (Pasal 1267

KUH Perdata);

c) Kreditur dapat menuntut dan meminta ganti rugi, hanya mungkin kerugian

karena keterlambatan

d) Kreditur dapat menuntut pembatalan perjanjian;

45

Mariam Darus, KUH Perdata Buku III Hukum Perikatan dengan Penjelasan

(Bandung:Alumni,2005), hal.23

46

(48)

e) Kreditur dapat menuntut pembatalan disertai ganti rugi kepada debitur. Ganti

rugi itu berupa pembayaran uang denda.

Seorang debitur yang dituduh lalai dan dituntut hukuman kepadanya, ia dapat

melakukan pembelaan terhadap dirinya dari hukuman yang akan diberikan dengan

mengajukan beberapa alasan. Pembelaan tersebut ada tiga macam, yaitu:

a Karena adanya keadaan memaksa (overmacht atau force majeur)

b Mengajukan bahwa kreditur sendiri juga telah lalai (Exceptio non adimpleti

contractus)

c Mengajukan bahwa kreditur telah melepaskan haknya untuk menuntut ganti

rugi (rechtverwerking)

5. Berakhirnya Perjanjian Menurut Hukum Positif Dan Hukum Syariah

Dalam Pasal 1381 KUH Perdata menyebutkan tentang cara berakhirnya suatu

perikatan, yaitu: “Perikatan-perikatan hapus karena :

a. pembayaran;

b. karena penawaran pembayaran tunai diikuti dengan penyimpanan atau

penitipan;

c. karena pembaharuan hutang;

d. karena perjumpaan hutang atau kompensasi;

(49)

f. karena pembebasan hutangnya;

g. karena musnahnya barang yang terhutang;

h. karena kebatalan atau pembatalan;

i. karena berlakunya suatu syarat batal,

j. karena lewatnya waktu, hal mana akan diatur dalam suatu bab tersendiri”.

Menurut Salim,dalam prakteknya dikenal pula cara berakhirnya kontrak yaitu:47

a. Jangka waktu berakhir;

b. Dilaksanakan obyek perjanjian;

c. Kesepakatan ke dua belah pihak;

d. Pemutusan kontrak secara sepihak oleh salah satu pihak;

e. Adanya putusan pengadilan.

Sedangkan dalam Islam, selain telah tercapai tujuannya, akad dipandang

berakhir apabila terjadi fasakh (pembatalan) atau telah berakhir waktunya. Fasakh

terjadi dengan sebab-sebab sebagai berikut.48

a Di-fasakh, karena adanya hal-hal yang tidak dibenarkan syara‟

b Dengan sebab adanya khiyar, baik khiyar rukyat, cacat, syarat, atau majelis

47

Salim HS, Hukum Kontrak, Teori & Teknik Penyusunan Kontrak (Jakarta: Sinar Grafika, 2008,), hal.163

48

(50)

c Salah satu pihak dengan persetujuan pihak lain membatalkan karena merasa

menyesal atas akad yang baru saja dilakukan

d Karena kewajiban yang ditimbulkan oleh akad tidak dipenui oleh pihak-pihak

yang bersangkutan

e Karena habis waktunya

f Karena tidak mendapat izin pihak yang berwenang

g Karena kematian

6. Penyelesaian Sengketa

Penyelesaian perselisihan dalam Hukum Perjanjian Positif maupun Hukum

Perikatan Islam, pada prinsipnya boleh dilaksanakan dengan jalan perdamaian

(shulhu), yang kedua dengan jalan arbitrase (tahkim), dan yang terakhir melalui

proses peradilan (al-Qadha)

Teori Perbandingan Hukum Perjanjian Menurut Hukum Positif Dengan Hukum Syariah

Perjanjian Menurut Hukum Positif

Perjanjian Menurut Hukum Syariah

(51)

Asas-asas

Syarat Sah Tidak bertentangan dengan UU Tidak bertentangan dengan syara‟ dan ketentuan Ulil Amri (UU) Subjek

Perjanjian

Harus sudah dewasa, sehat akal pikiran,dan tidak dilarang oleh sesuatu peraturan perundang-undangan untuk melakukan suatu perbuatan tertentu

Pihak-pihak yang berakad itu telah cakap bertindak hukum (mukallaf) atau jika obyek akad itu merupakan

i Karena berlakunya suatu syarat batal, yang diatur dalam bab

b Dengan sebab adanya khiyar, baik khiyar rukyat, cacat, ditimbulkan oleh akad tidak dipenui oleh pihak-pihak yang bersangkutan

(52)

mana akan diatur dalam suatu

bab tersendiri”.

pihak yang berwenang g Karena kematian

Penyelesaian Sengketa

a Jalur Perundingan

b Jalur Perwasitan (arbitrase) c Jalur Pengadilan

a Jalan Perundingan b Arbitrase

(53)

BAB III

PROFIL WARALABA

A. Profil Bakmi Raos

Mengusung bendera PT Raos Aneka Pangan, yang kemudian menjadi wadah

Bakmi Raos Group, Bima memulai usaha pada 2003. Ia ingin menyediakan makanan

yang bermutu dan terjangkau secara harga oleh semua lapisan masyarakat. Di

samping menciptakan lapangan pekerjaan bagi para pedagang kecil kaki lima yang

ingin sukses bersama.49

Bimada sosok yang ulet menapaki karir bisnis dari tangga terbawah. Awalnya ia

menjadi pekerja di sebuah perusahaan freight forwarder di bilangan Jakarta Utara.

Namun setelah mengetahui istrinya mengidap penyakit kanker, ia putuskan untuk

mengubah arah hidupnya.

Tahun 2002 ia mulai mencoba berbisnis dengan membeli franchise restoran

bakmi bersama kakaknya. Langkah pertamanya langsung tersandung. Restoran

franchisenya bangkrut dalam tempo setahun.

Gagal di franchise, ia membuka gerobak mie ayam di Villa Bintaro, Jakarta

Selatan. Usaha ini dalam tiga bulan juga bangkrut. Padahal ia sudah ikut kursus

membuat mie di beberapa tempat. Meski gagal, ia masih memikirkan usaha sejenis.

49

(54)

Suatu waktu, seorang teman menawarinya resep membuat bakmi. Resep inilah

yang menjadi cikal bakal Bakmi Raos. Setelah merasa cocok, Bima merekrut orang

yang mau berjualan bakmi dengan gerobak.

Mulanya tiga gerobak ia buat dengan modal Rp 10 juta, dengan sistem bagi

hasil usaha. Dari harga Rp 6.000 per mangkuk yang terjual, ia mendapat margin Rp

1.500 per mangkuk, dan pedagang Rp 1.000. Jika sehari 40 mangkuk bakmie terjual,

maka dan dalam sebulan (dihitung 25 hari kerja), maka si pedagang bisa

mendapatkan uang Rp 1 juta. Ini tentunya cukup menggiurkan pedagang. Apalagi

telah diberi fasilitas penginapan dan uang makan. Pendapatan si pedagang pun akan

utuh.

Pola usaha itu terus berkembang. Dari hanya tiga gerobak, bertambahlah

menjadi sepuluh. Dalam tempo setahun, Bima sudah memiliki 193 gerobak. Jumlah

pedagang yang dilatihnya mencapai 700-an orang. Sayangnya, sejalan waktu

sebagian besar pedagang itu mengundurkan diri.

Para pedagang kecil yang ia bina berasal dari Cirebon, Sukabumi dan wilayah

lainnya. Semua diberi penginapan, tapi sebagian dari mereka justru hanya numpang

tidur dan memilih berjualan rokok di kawasan Blok M.

Akhirnya model ini tak bertahan lama. Bima pun memilih untuk membangun

usaha secara profesional, tanpa mengandalkan para pedagang yang tidak serius.

(55)

Bima membangun pola kemitraan. Dengan pola ini, ia tak lagi perlu menggaji

mitranya. Mereka cukup membeli mie dan minyak goreng dari Bima plus gerobak

yang ia rancang. Kemitraan ini terus berkembang hingga menghasilkan jaringan mitra

di mana-mana.

Kini usaha bakmi ayamnya berkembang pesat dengan omset hingga miliar per

tahunnya. Warung di garasi pun kini menjelma menjadi sebuah perusahaan bernama

PT. Raos Aneka Pangan dengan brand Bakmi Raos. Perusahaan milik Bimada itu

juga telah mendapat penghargaan 'Dji Sam Soe Award 2006'. PT Raos Aneka Pangan

kini memiliki aset sekitar Rp 250-Rp 500 juta dengan omset usaha pertahun mencapai

Rp 1-3 Miliar. Usaha itu kini melebarkan sayap hingga di Medan, Lampung,

Samarinda, Balikpapan, Manado, Surabaya, Bogor, Bandung, Purwakarta,

Yogyakarta, Batam, Cirebon.

Usahanya tersebut kini telah mencapai ratusan kedai dengan karyawan tetap 27

orang. Bimada juga memiliki 80 pedagang mi gerobak binaan. "Dulu ada 123

pedagang yang kita subsidi diberi gerobak dan mi dengan menyicil Rp 300 ribu

selama 10 bulan tapi banyak yang justru kabur bawa pulang panci saya," cerita

Bimada kepada detikFinance disela-sela 'Dji Sam Soe Award 2006' di Gedung SPC,

Jakarta, Selasa (26/6/2007).50

Bimada mengaku terkejut bahwa usahanya membina pengusaha kecil bisa

berbuah penghargaan. Bimada menggeser 234 finalis yang terpilih mengikuti ajang

50

(56)

ini. "Saya buktikan dari 8 gerobak digarasi rumah sekarang omset bisa miliaran. Mie

saya racik sendiri di home industry di rumah tanpa bahan pengawet. Kelebihannya

pada minyaknya dan mi nya yang khas," ujarnya bangga. Seiring dengan

perkembangan perusahaan, kini PT Raos Aneka Pangan (RAP), mengembangkan

beberapa varian makanan dengan konsep kemitraan. Saat ini PT RAP telah

berkembang menjadi lebih dari 300 outlet, mini resto dan restoran.

B. Sistem Waralaba Pada Bakmi Raos

Dengan dukungan sistem manajemen yang handal dan karyawan yang

berdedikasi tinggi, PT RAP terus berusaha mengembangkan dan menyempurnakan

layanan dalam rangka mengatisipasi kebutuhan para mitra usaha. PT RAP didukung

dengan good management, team tenaga ahli yang berpengalaman serta teknologi yang

mutakhir. PT RAP selalu meningkatkan kemampuan dan pengetahuan karyawan

dalam bidang kuliner serta kemampuan manajerial sebagai standart “workforce”. PT

RAP ke depan diharapkan akan menjadi perusahaan terkemuka dalam bidang jasa

kuliner dengan kualitas service dan produk yang khas, istimewa dan terjamin dengan

menetapkan “Bakmi Raos” sebagai brand yang dapat berkompetisi dalam bidang

kuliner. PT RAP juga memiliki sertifikasi halal MUI No. 030520704, sertifikasi halal

MUI No. 030530804 dan Sertifikasi Nasional Indonesia LTI PB-SNI Pr-019-2007.

Pembukaan gerai dilakukan dengan pola kemitraan dimana permodalan

(57)

melakukan pengelolaan sistem manajemen. Basic concept kerjasama adalah sebagai

berikut:

 Seluruh/sebagian permodalan untuk penyediaan tempat, pembangunan resto,

penyediaan bahan baku, penggajian dan biaya overhead lainnya sampai promosi

ditanggung oleh mitra.

 PT RAP melakukan pengelolaan resto mulai dari set up tempat, interior,

pelatihan karyawan, sampai dengan menjalankan operasional sehari-hari.

Termasuk juga untuk melakukan program dalam rangka peningkatan penjualan

secara teknis.

Adapun tahapan proses kemitraan adalah sebagai berikut

a. Mengisi formulir kemitraan dan kontrak kerjasama

b. Survey lokasi, kelayakan usaha dan konsep

c. Perencanaan renovasi dan promosi

d. Implementasi pekerjaan renovasi

e. Persiapan pembukaan resto/gerai

f. Promosi

Gambar

Grafika,2003), hal.35 36
Grafika,2003.

Referensi

Dokumen terkait

Asas Hukum Perjanjian yang belum dilaksanakan dengan baik adalah asas kebebasan berkontrak yang terdapat dalam Pasal 1338 KUH Perdata yang erat hubungannya dengan asas

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keabsahan kontrak elektronik pada transaksi perdagangan melalui internet ( e-commerce ) dalam perspektif KUH Perdata khususnya di CV

Perjanjian penjualan perumahan dengan menggunakan kontrak baku dianggap sah menurut KUH Perdata dan UUPK karena meskipun dibuat secara sepihak oleh pelaku usaha, dalam pasal ini

Perjanjian dalam e-commerce jika ditinjau dengan Hukum Perjanjian di Indonesia yang bersumber pada KUH Perdata adalah sah karena telah memenuhi syarat yang diharuskan

Baba Rafi Indonesia tersebut, membuat penulis tertarik untuk meneliti tentang Perlindungan Hukum Bagi Penerima Waralaba dalam Kontrak Standar pada Perjanjian Waralaba di

Bila diperhatikan dari bentuk transaksi/perjanjian yang dilakukan dalam waralaba Tokkebi Snack’s Malang dalam perspektif Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) dapat

Hasil penelitian menunjukkan pembagian keuntungan dalam perjanjian waralaba perspektif hukum Islam menggunakan sistem bagi hasil, dengan persentase yang bervariatif yaitu: 50:50

i PENERAPAN AKAD ISTIJRAR DALAM TRANSAKSI JUAL BELI BAHAN BANGUNAN DITINJAU DARI PERSPEKTIF ASAS-ASAS HUKUM KONTRAK PERDATA DAN ETIKA BISNIS ISLAM Studi Kasus pada Toko Budi