• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan Dinas Tata Ruang Dan Tata Bangunan Kota Medan (Studi Tentang Pelayanan Izin Mendirikan Bangunan Di Kecamatan Medan Johor)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peranan Dinas Tata Ruang Dan Tata Bangunan Kota Medan (Studi Tentang Pelayanan Izin Mendirikan Bangunan Di Kecamatan Medan Johor)"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR PUSTAKA

Bungin, Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana

Danin, Sudarman. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandung: Pustaka Setia Dwi, Yuni. 2008. Panduan Praktis Mengurus IMB. Yogyakarta: Pustaka

Grahatama

Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Ramaja Rosdakarya

Napitupulu, Paimin. 2001. Pelayanan Public & Customer Satisfation”. Bandung: P.T. Alumni

Narwoko, Dwi dan Bagong Suyanto. 2010. Sosiologi: Suatu Pengantar dan

Terapan. Jakarta: Kencana

Nasution, Arifin.2008. Perencanaan Pembangunan Daerah. Medan: USU Press Pelly, Zainul. 1997. Pengantar Sosiologi. Medan: USU Press

Ridwan, Juniarso. 2010. Hukum Administrasi Negara dan Kebijakan Pelayanan

Publik. Bandung: Nuansa

Saleh, Muwafik. 2010. Publlic Service Communication. Malang: UMM Press Singarimbun, Masri. 2008. Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES

Soekanto, Soerjono. 2009. Sosiologi suatu pengantar. Jakarta: Rajawali Pers Sugiyono. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : CV Alfabeta

Sukoco, Badri Munir. 2007. Manajemen Administrasi Perkantoran Modern. Surabaya : Gelora Aksara Pratama

Susanta, Gatut. 2002. Mudah Mengurus IMB. Jakarta: Raih Asa Sukses

Suyanto, Bagong. 1995. Metode Penelitian Sosial. Surabaya: Airlangga University Press

(2)

Sumber Undang- Undang :

Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Undang- Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik

Peraturan Daerah Kota Medan No. 5 Tahun 2012 tentang Retribusi Izin Mendirikan Bangunan.

Sumber internet :

http://www.pemkomedan.go.id/layanan.php. Diakses pada tanggal 1September 2012 pada pukul 13.15 WIB

(3)

BAB III

METODE PENELITIAN

III.1.Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Menurut Danin (2002:41), penelitian deskriptif adalah penelitian yang memusatkan perhatian terhadap masalah- masalah atau fenomena- fenomena yang ada pada saat penelitian dilakukan, kemudian menggambarkan fakta- fakta dan menjelaskan keadaan dari objek penelitian yang sesuai dengan kenyataan sebagaimana adanya dan mencoba menganalisa untuk memberikan kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh.

Menurut Bogdan dan Taylor (Moleong, 2007: 3), penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan terhadap manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang- orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya.

III.2.Lokasi Penelitian

(4)

III.3.Informan Penelitian

Penelitian kualitatif tidak dimaksudkan untuk membuat generalisasi dari hasil penelitiannya. Oleh karena itu, pada penelitian kualitatif tidak dikenal adanya populasi dan sampel. Informan penelitian adalah subjek yang memahami informasi objek penelitian sebagai pelaku maupun orang lain yamg memahami objek penelitian (Bungin, 2007: 76).

Informan penelitian ini meliputi tiga macam, yaitu :

1. Informan kunci (Key Informan) merupakan mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian,

2. Informan utama merupakan mereka yang terlibat langsung dalam interaksi sosial yang diteliti,

3. Informan tambahan merupakan mereka yang dapat memberikan informasi walaupun tidak langsung terlibat dalam interaksi sosial yang diteliti.( Suyanto, 2005: 171)

Dalam menentukan informan penelitian, penulis menggunakan teknik Berdasarkan uraian tersebut, maka informan penelitian yang digunakan penulis dalam penelitian ini terdiri atas:

1. Informan kunci (Key Information) adalah Kepala Dinas Tata Kota dan Tata Bangunan Kota Medan

2. Informan utama adalah kepala bidang Dinas Tata Ruang Kota dan Tata Bangunan Kota Medan

(5)

berdasarkan data tahun 2012 dari Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan, pembangunan yang banyak dilakukan di daerah Medan Johor dengan jumlah surat yang masuk sebanyak 277.

Dalam menentukan informan penelitian ini, peneliti menggunakan teknik yaitu dengan menggunakan teknik purposive sampling. Menurut Sugiyono (2008: 53), yang dimaksud dengan purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu.

III.4. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data dan informasi, keterangan- keterangan dan data- data yang diperlukan, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :

1.Teknik Pengumpulan Data Primer, yaitu teknik pengumpulan data yang diperoleh langsung ke lokasi penelitian (field research) untuk mencari data yang lengkap dan berkaitan dengan masalah yang diteliti. Data primer tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

a. Metode Observasi atau pengamatan adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data melalui pengamatan dan penginderaan. b. Metode wawancara atau interview adalah teknik memperoleh keterangan

(6)

2.Teknik Pengumpulan Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh dari sumber kedua atau sumber sekunder untuk mendukung data primer. Penulis menggunakan cara untuk memperoleh data sekunder sebagai berikut :

a. Studi kepustakaan, yaitu pengumpulan data yang diperoleh melalui buku- buku ilmiah, tulisan, karangan ilmiah yang bekaitan dengan penelitian.

b. Dokumentasi yaitu dengan mengggunakan catatan- catatan yang ada dalam lokasi penelitian serta sumber- sumber lain yang relevan dengan masalah penelitian.

III.5. Teknik Analisa Data

Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa data kualitatif yaitu menguraikan serta menginterpretasikan data yang di peroleh di lapangan dari para key informan. Penganalisaan ini didasarkan pada kemampuan nalar dalam menghubungkan fakta, data dan informasi, kemudian data yang diperoleh akan dianalisis sehingga diharapkan muncul gambaran yang dapat mengungkapkan permasalahan penelitian.

Miles dan Huberman ( Sugiyono, 2008: 91 ) mengemukakan bahwa aktifitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus- menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Adapun langkah- langkah dalam melakukan analisis data yaitu :

1. Reduksi Data

(7)

peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.

2. Penyajian Data

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan dan hubungan antar kategori. Dengan menyajikan data maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, dan merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut.

3. Penarikan Kesimpulan

(8)

BAB IV

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

IV.1. Gambaran Umum Kota Medan

Wilayah kota medan hampir secara keseluruhan berbatasan dengan Daerah Kabupaten Deli Serdang, yaitu sebelah Barat, Selatan dan Timur. Sepanjang wilayah Utara nya berbatasan langsung dengan Selat Malaka, yang diketahui merupakan salah satu jalur lalu lintas terpadat di dunia. Karenanya secara geografis kota Medan didukung oleh daerah-daerah yang kaya Sumber daya alam seperti Deli Serdang , Labuhan Batu, Simalungun, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Karo, Binjai dan lain-lain. Kondisi ini menjadikan kota Medan secara ekonomi mampu mengembangkan berbagai kerjasama dan kemitraan yang sejajar, saling menguntungkan, saling memperkuat dengan daerah-daerah sekitarnya.

Di samping itu sebagai daerah yang pada pinggiran jalur pelayaran Selat Malaka, Maka Kota Medan memiliki posisi strategis sebagai gerbang (pintu masuk) kegiatan perdagangan barang dan jasa, baik perdagangan domestik maupun luar negeri (ekspor-impor). Posisi geografis Kota Medan ini telah mendorong perkembangan kota dalam 2 kutub pertumbuhan secara fisik , yaitu daerah terbangun Belawan dan pusat Kota Medan.

(9)

Tabel IV.1

(10)

Tabel IV.2

Banyaknya Kelurahan dan Lingkungan

Menurut Kecamatan di Kota Medan

No Kecamatan Kelurahan Lingkungan

1 Medan Tuntungan 9 76

(11)

Medan Kota memiliki 146 lingkungan, sedangkan Kecamatan yang memiliki kelurahan yang paling sedikit adalah Kecamatan Medan Polonia dan Medan Marelan masing- masing sebanyak 5 kelurahan dengan jumlah lingkungan untuk Kecamatan Medan Polonia sebanyak 46 lingkungan dan Medan Marelan sebanyak 88 lingkungan.

IV.2. Gambaran Umum Dinas Tata Ruang dan Tata Ruang Kota Medan Dalam sejarahnya bidang penataan ruang/ kota dan bangunan pada awalnya merupakan bagian dari pekerjaan umum. Pengawasan bangunan dan planologi (perencanaan wilayah dan kota) sampai dengann tahun 1950 dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum. Pada tahun 1950, Dinas Pekerjaan Umum dipisah menjadi 2 (dua) dinas, yaitu Dinas pekerjaan Umum dan Dinas Pengawasan Bangunan.

Pada tahun 1963, Dinas Pengawasan Bangunan dimekarkan menjadi 2 (dua) dinas; yaitu Dinas pengawasan Bangunan- bangunan dan dinas planologi. Dalam hal ini, dinas planologi dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Walikotamadya KDH Tingkat II Medan tanggal 22 Juni 1963 terhitung mulai 1 Juli 1963.

(12)

tahun 1987 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Tata Kota Kotamadya Dati II Medan.

Pada tahun 2001, berdasarkan Peraturan Daerah No.4 tahun 2001 tentang Pembentukkan Organisasi dan Tata Kerja Dinas- Dinas Daerah di Lingkungan Pemerintah Kota Medan; dibentuk Dinas Tata Kota dan Tata Bangunan yang merupakan penggabungan kembali fungsi pengawasan bangunan- bangunan dan penataan ruang kota dalam satu dinas; sebagaimana sebelum tahun 1963. Penggabungan Dinas Tata Kota dengan sebagian Dinas Bangun- Bangunan dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas pelayanan perizinan dan penataan ruang serta penataan bangunan oleh Pemerintah Kota Medan. Perda tersebut menjelaskan kedudukan Dinas Tata Kota dan Tata Bangunan adalah unsure pelaksana Pemerintahan Kota Medan dalam bidang penataan kota yang dipimpin oleh seorang kepala dinas

(13)

IV.2.1. Visi dan Misi A. Visi

Dalam mewujudkan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan mencanangkan suatu visi yaitu “Terwujudnya Kota Medan yang Tertata, Nyaman, Modern, dan Berdaya Saing.”

B. Misi

Pencapaian visi tersebut dilakukan melalui 5 misi sebagai berikut :

1. Menyusun dan mengevaluasi rencana tata ruang dan kebijakan penataan tuang dan penataan bangunan secara berkualitas dan berkesinambungan dengan melibatkan stake holder.

2. Mengembangkan manajemen organisasi SDM, Program Kerja dan Sarana Prasarana yang berkelanjutan

3. Memberikan pelayanan dan informasi yang prima dengan mengembangkan tekhnologi system informasi

4. Mengendalikann kebijakan penataan ruang dan bangunan melalui pengawasan, pembinaan, penertiban, dan koordinasi pembangunan

5. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penataan ruang dan bangunan

IV.2.2. Struktur Organisasi

Struktur organisasi Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan : a. Bagian Sekretariat, terdiri dari :

(14)

3. Sub Bagian Penyusunan Program

b. Sub Bidang Pengukuran dan Pemetaan terdiri dari : 1. Seksi Pengukuran

2. Seksi Pemetaan

3. Seksi Pengembangan Data dan Sistem c. Sub Dinas Tata Ruang terdiri dari :

1. Seksi Penelitian Rencana Tata Ruang 2. Seksi Perencanaan Tata Letak

3. Seksi Evaluasi dan Pengembangan Rencana Tata Ruang d. Sub Dinas Tata Bangunan terdiri dari :

1. Seksi Perancangan Bangunan 2. Seksi Konstruksi Bangunan

3. Seksi Konservasi Bangunan dan Kawasan e. Sub Dinas Pengawasan terdiri dari :

1. Seksi Pengawasan 2. Seksi Penyuluhan 3. Seksi Pengaduan

f. Kelompok Jabatan Fungsional

IV.2.3. Tugas Pokok dan Fungsi

(15)

Kota Medan. Pada Bagian Kesembilan pasal 54 dan 55 dari Perda tersebut menetapkan tugas pokok dan fungsi Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan, Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintah daerah di bidang tata ruang dan tata bangunan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. Sedangkan Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan menyelenggarakan fungsi :

a. perumusan kebijakan teknis di bidang tata ruang dan tata bangunan

b. penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang tata ruang dan tata bangunan

c. pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang tata ruang dan tata bangunan; dan d. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Walikota sesuai dengan tugas dan

fungsinya

Ada pun tugas dan fungsi Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan berdasarkan peraturan Kota Medan No. 3 tahun 2009 disebutkan bahwa : Sekretariat mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Dinas lingkup kesekreatariatan meliputi pengelolaan administrasi umum, keuangan dan penyusunan program. Dengan fungsi :

a. penyusunan rencana, program, dan kegiatan kesekretariatan b. pengkoordinasian penyusunan perencanaan program Dinas

(16)

d. pengelolaan dan pemberdayaan sumber daya manusia, pengembangan organisasi, dan ketatalaksanaan

e. pelaksanaan koordinasi penyelenggaraan tugas- tugas Dinas f. penyiapan bahan pembinaan, pengawasan dan pengendalian g. pelaksanaan monitoring evaluasi, dan pelaporan kesekretariatan

h. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya

Bidang Pengukuran dan Pemetaan bertugas melaksankan Tugas dinas lingkup pengukuran, pemetaan, pengembangan data dan sistem, dengan fungsi :

a. penyusunan rencana, program, dan kegiatan Bidang Pengukuran dan Pemetaan

b. penyusunan petunjuk teknis lingkup pengukuran, pemetaan, pengembangan data dan sistem

c. pengumpulan dan pengolahan data yang berhubungan dengan bidang tugas Bidang Pengukuran dan Pemetaan

d. penyelenggaraan kegiatan pengukuran pemetaan dan fotogrametri rencana kota

e. penyelenggaraan kegiatan di bidang pengukuran tanah dan ketinggian bangunan untuk rencana pengembangan data tata ruang kota.

f. Penyelenggaraan pemeliharaan/ perawatan dan pembaharuan peta dasar, foto udara, dan dokumentasi lapangan, serta penerapan GIS dalam pemetaan

(17)

h. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya

Seksi Pengukuran menyelenggarakan fungsi :

1. Penyiapan rencana, program, dan kegiatan Seksi Pengukuran 2. Penyusunan bahan petunjuk teknis lingkup pengukuran

3. Pelakasanaan pengukuran untuk bahan penetapan rencana kota dan untuk menerapkan ketinggian

4. Pelaksanaan pengukuran tanah untuk menentukkan letak tanah/ lokasi secara tepat sesuai permohonan untuk mendapatkan Keterangan Rencana Peruntukkan (KRP) dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB)

5. Penyiapan bahan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan tugas 6. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai dengan

tugas dan fungsinya

Seksi Pemetaan menyelenggarakan fungsi :

1. Penyiapan rencana, program, dan kegiatan Seksi Pemetaan 2. Penyusunan bahan petunjuk teknis lingkup pemetaan

3. Pembuatan peta- peta ikhtiar dan memetakan seluruh hasil pengukuran yang telah dibuat oleh Seksi Pengukuran

4. Penyiapan bahan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan tugas 5. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai dengan

(18)

Seksi Pengembangan Data dan Sistem menyelenggarakan fungsi :

1. Penyiapan rencana, program, dan kegiatan Seksi Pengembangan Data dan Sistem

2. Penyusunan bahan petunjuk teknis lingkup pengembangan data dan sistem 3. Pelaksanaan pemetaan fotografis dan memetakan hasil evaluasi yang telah

terwujud di lapangan

4. Pelaksanaan pemeliharaan/ perawatan dan pembaharuan peta dasar dan foto udara yangdikembangkan dengan pola GIS.

5. Pelaksanaan pengumpulan, penghimpunan dana dan informasi untuk penyusunan dan evaluasi rencana tata ruang kota serta kebijaksanaan teknis penataan ruang kota dan bangunan

6. Penyiapan bahan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksaanaan tugas 7. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai denga tugas

dan fungsinya

Bidang Tata Ruang mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Dinas lingkup penelitian rencana tata ruang dan tata letak, evaluasi, dan pengembangan rencana tata ruang, dengan fungsi :

a. Penyusunan rencana program, dan kegiatan Bidang pengukuran dan pemetaan b. Penyusunan petunjuk teknis llingkup prengukuran, pemetaan, pengembangnan

data dan system

(19)

d. Pelaksanaan penelitian terhadap lokasi permohonan Keterangan Rencana Peruntukkan (KRP) dan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) agar sesuai dengan rencana tata ruang kota dan kebijaksanaaan teknis penataan ruang dan bangunan

e. Perencanaan dan penelitian kelayakan site plan (tata letak) pada permohonan IMB agar sesuai dengan rencana tata ruang kota dan kebijaksanaan teknis penataan ruang dan bangunan

f. Perencanaan kebutuhan fasillitas sosial dan umum pada suatu kawasan atau lingkungan

g. Penyusunan advis plan

h. Penyusunan perencanaan penelitian/ survey dalam rangka perumusan, penyusunan, evaluasi/ revisi dan pengembangan rencana tata ruang kota, kawasan strategis, dan kebijaksanaan teknis penataan ruang kota dan bangunan yang telah ditetapkan

i. Penyusunan, dan penyebarluasan ketentuan- ketentuan norma, standar, pedoman dan manual bagi pelaksanaan penataan ruang di daerah dengan memperdomani ketentuan yang berlaku

j. Pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan pelaporan lingkup bidang tata ruang k. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan tugas

dan fungsinya

Seksi Penelitian Rencana Tata Ruang menyelenggarakan fungsi :

(20)

2. Penyusunan bahan petunjuk teknis lingkup penelitian rencana tata ruang 3. Pelaksanaan penelitian/ survey terhadap lokasi permohonan Keterangan

Rencana Peruntukan (KRP) dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang meliputi peruntukkan tanah, rencana jalan, garis sempadan bangunan, ketinggian bangunan, koefisien dasar bangunan (KDB) dan kebutuhan fasilitas parkir, serta ketentuan- ketentuan dalam rencana tata ruang kota dan ketentuan lainnya

4. Penyusunan plot setiap advis plan yang telah diproses pada peta kerja rencana tata ruang kota

5. Pemberian saran terhadap permohonan perijinan yangmemerlukan kajian kelayakan

6. Penyiapan bahan monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas 7. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai dengan

tugas dan fungsinya

Seksi Rencana Tata Letak menyelenggarakan fungsi :

1. Penyiapan rencana, program, dan kegiatan Seksi Rencana Tata Letak 2. Penyusunan bahan petunjuk teknis lingkup rencana tata letak

3. Perencanaan dan penggambaran site plan (tata letak) permohonan IMB maupun advis plan (Keterangan Rencana Peruntukkan/ KRP) sesuai dengan hasil penelitian Seksi Penelitian Rencana Ruang ataupun hasil evaluasi Seksi Evaluasi dan Pengembangan Rencana Tata Ruang

(21)

5. Penyiapan bahan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan tugas 6. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai dengan

tugas dan fungsinya

Seksi Evalusi dan Pengembangan Rencana Tata Ruang menyelenggarakan fungsi :

1. Penyiapan rencana, program, dan kegiatan Seksi Evaluasi dan Pengembangan Rencana Tata Ruang

2. Penyusunan bahan petunjuk teknis lingkup evaluasi dan pengembangan rencana tata ruang

3. Penyiapan dan penyusunan perencanaan penelitian/ survey dalam rangka perumusan, evaluasi, revisi dan pengembangan rencana tata ruang kota

4. Penyiapan plot advis plan yang telah dievaluasi pada peta kerja rencana tata ruang dan kebijaksanaan teknis penataan ruang kota dan bangunan

5. Penyiapan bahan dan data penyusunan rencana tat aruang kota, kawasan strategis dan tata lingkungan, serta mempersiapkan dan meyebarluaskan norma, standar, pedoman, dan manual lingkup penataan ruang

6. Penyiapan bahan monitoring,evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan tugas 7. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai dengan

tugas dan fungsinya

Bidang tata bangunan mempunyai tugas perancangan, konstruksi, dan konservasi bangunan dan kawasan, dengan fungsi :

(22)

b. Penyusunan petunjuk teknis lingkup tata bangunan

c. Pelaksanaan proses penerbitan Izin Mendirikan Bangunan (IMB)

d. Penelitian setiap permohonan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) menyangkut desain dan konstruksi bangunan sesuai advis plan

e. Pemberian bimbingan kepada masyarakat menyangkut desain arsitektur, fasilitas bangunan, dan konstruksi bangunan

f. Pengawasan, memfasilitasi dan membina upaya- upaya pelestarian dan konservasi bangunan, kawasan dan lingkungan kota serta memberikan usulan- usulan peningkatan pelestarian bangunan/ kawasan

g. Pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan pelaporan lingkup bidang tata bangunan

h. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya

Seksi Perancangan Bangunan menyelenggarakan fungsi :

1. Penyiapan rencana, program, dan kegiatan seksi perancangan bangunan

2. Penyusunan bahan pedoman dan standar disain serta fasilitas dan prasarana bangunan/ kelompok bangunan

3. Pelaksanaan proses penerbitan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) sesuai dengan ketentuan

4. Penelitian setiap permohonan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) menyangkut desain arsitektur dan perhitungan retribusi

(23)

6. Penyiapan bahan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan tugas 7. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai dengan

tugas dan fungsinya

Seksi Konstruksi Bangunan menyelenggarakan fungsi :

1. Penyiapan rencana, program, dan kegiatan seksi konstruksi bangunan

2. Penyiapan dan penyusunan standar penilaian dan pemeriksaan gambar konstruksi bangunan sesuai standar dan ketentuan yang berlaku

3. Penelitian setiap permohonan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) menyangkut konstruksi bangunan

4. Pemberian bimbingan dan saran kepada masyarakat menyangkut konstruksi bangunan

5. Penyiapan bahan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan tugas 6. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai dengan

tugas dan fungsinya

Seksi Konservasi Bangunan dan Kawasan menyelenggarakan fungsi :

1. Penyiapan rencana, program dan kegiatan seksi konservasi bangunan dan kawasan

2. Pelaksanaan penelitian dan perencanaan serta penyusunan ketentuan- ketentuan teknis konservasi terhadap bangunan- bangunan dan kawasan yang perlu dilestarikan maupun direvitalisasi

(24)

4. Penyiapan bahan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan tugas 5. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh kepala bidang sesuai dengan tugas

dan fungsinya

Bidang Pengendalian Pemanfaatan Ruang mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Dinas lingkup pengawasan, penyuluhan, dan pengaduan, dengan fungsi :

a. Penyusunan rencana, program, dan kegiatan Bidang Pengendalian Pemanfaatan

b. Penyusunan petunjuk teknis lingkup pengawasan, penyuluhan, dan pengaduan c. Pelaksanaan pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan mendirikan

bangunan agar tidak menyimpang dari IMB dan ataua tanpa IMB

d. Pelaksanaan kordinasi dengan instansi terkait untuk penindakan/ penertiban terhadap bangunan yang menyimpang dan tanpa IMB

e. Pelaksanaan kegiatan penyuluhan/ sosialisasi kepada masyarakat yang berkenaan dengan kebijakan dibidang rencana tata ruang kota serta menggali dan meningkatkan peran serta partisipasi masyarakat dalam pembangunan kota

f. Penerimaan/ proses pengaduan dan keberatan masyarakat sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku

(25)

h. Pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan pelaporan lingkup bidang pengendalian pemanfaatan ruang

i. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya

Seksi Pengawasan menyelenggarakan fungsi :

1. Penyiapan rencana, program, dan kegiatan seksi pengawasan 2. Penyusunan petunjuk teknis lingkup tata bangunan

3. Pelaksanaan pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan mendirikan bangunan agar tidak menyimpang dari IMB

4. Penelitian, menganalisa, dan mengevaluasi bangunan yang menyimpang dari SIMB dan tanpa SIMB

5. Pembuatan laporan dan perintah stop secara tertulis tentang pelaksanaan pembangunan yang tidak memiliki SIMB dan menyimpang dari SIMB

6. Penyiapan bahan dan data pelaksanaan koordinasi dengan instansi terkait untuk penindakan/ penerbitan terhadap bangunan yang menyimpang dan tanpa IMB

7. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai dengan tugas dan fungsinya

Seksi Penyuluhan menyelenggarakan fungsi :

(26)

3. Pelaksanaan kegiatan penyuluhan dan bimbingan teknis kepada masyarakat menyangkut penerapan rencana tata ruang kota dan kebijaksanaan penataan ruang kota dan bangunan

4. Penyiapan bahan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan tugas 5. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai dengan

tugas dan fungsinya

Seksi Pengaduan menyelenggarakan fungsi :

1. Penyusunan rencana, program, dan kegiatan Seksi pengaduan 2. Penyusunan petunjuk teknis lingkup pengaduan

3. Penerimaan, penelitian, dan proses pengaduan dan keberatan masyarakat dalam bidang bangunan dan pemanfaatan ruang sesuai dengan peraturan dan ketentuan yangberlaku

4. Pelaksanaan proses hukum terhadap pelaksanaan pekerjaan mendirikan bangunan yang menyimpang dari IMB dan atau tanpa iMB sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan yang berlaku dengan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk diajukan ke pengadilan

5. Penyiapan bahan monitoring, evalusi dan pelaporan pelaksanaan tugas

(27)

Tabel IV.3

Banyaknya Berkas Permohonan Izin Mendirikan Bangunan (SIMB) Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan

(28)

IV.2.4. Karakteristik Pegawai Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan

Untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan saat ini didukung oleh SDM sebanyak 154 orang yang terdiri atas :

a. PNS : 129 orang b. Pegawai Honor : 25 orang

dengan perincian sebagai berikut :

Tabel IV.4

Jumlah Pegawai DTRTB Kota Medan Berdasarkan

Tingkat Pendidikan Formal

NO PENDIDIKAN JUMLAH

1 S2 Teknik 3 Orang

2 S2 Non Teknik 5 Orang

3 S1 Teknik 23 Orang

4 S1 Non Teknik 22 Orang

5 D3 Teknik 1 Orang

6 D3 Non Teknik 2 Orang

7 STM 21 Orang

8 SMA 41 Orang

9 SMEA 7 Orang

10 SMP 4 Orang

129 Orang

Sumber : DTRTB Kota Medan

(29)

berasal dari pendidikan teknis untuk S2 ada sebanyak 3 orang, untuk S1 sebanyak 23 orang, dan pegawai yang memiliki pendidikan D3 hanya 1 orang, serta pegawai yang memiliki tingkat pendidikan STM dan tingkat pendidikan SMEA masing- masing ada sebanyak 21 orang dan 7 orang.

Menurut Golongan :

Tabel IV.5

Jumlah Pegawai DTRTB Kota Medan Berdasarkan Golongan

NO GOLONGAN JUMLAH

1 Golongan I 1 Orang

2 Golongan II 22 Orang

3 Golongan III 102 Orang

4 Golongan IV 4 Orang

129 Orang

Sumber : DTRTB Kota Medan

(30)

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini seluruh data yang diperoleh dengan melakukan studi kepustakaan, wawancara dan juga hasil observasi terhadap fenomena- fenomena yang berkaitan dengan judul penelitian akan dianalisis sesuai dengan tujuan penelitian yang telah dibahas pada bab sebelumnya yaitu untuk mengetahui peranan Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan (DTRTB) Kota Medan dalam memberikan pelayanan Izin Mendirikan Bangunan, dan untuk mengetahui faktor- faktor apakah yang menyebabkan terjadinya hambatan- hambatan terhadap Pelayanan IMB pada DTRTB Kota Medan serta solusinya.

Dalam mengumpulkan data yang diperlukan untuk menjawab permasalahan secara mendalam, ada beberapa tahapan yang dilakukan peneliti yaitu: Pertama, penelitian diawali dengan pra penelitian yaitu pengumpulan berbagai dokumen tertulis tentang profil Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan baik mengenai visi, misi, struktur organisasi, Tugas Pokok Fungsi, dan Karakteristik pegawai DTRB. Kedua, peneliti melakukan sejumlah wawancara dengan beberapa informan yang sudah ditetapkan untuk mendapatkan informasi dan fakta- fakta yang lebih akurat mengenai permasalahan penelitian. Ketiga, peneliti melakukan observasi terhadap proses pelayanan IMB untuk mengetahui bagaimana keadaan di lapangan.

(31)

merupakan key informan dalam penelitian ini karena Kepala DTRTB mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian.

Untuk informan utama penelitian ini meliputi kepala bidang yang ada di DTRTB yaitu Kepala Bidang Pengukuran Dan Pemetaan, Bapak Ir. Zulkifli, MAP; Kepala Bidang Tata Ruang, Bapak Benny Iskandar ST, MT; Kepala Bidang Tata Bangunan, Bapak Ramadhan ST; Kepala Bidang Pengendalian dan Pemanfaatan Ruang, Bapak Drs. Ali Tohar. Mereka merupakan Informan utama karena mereka yang terlibat langsung dalam interaksi sosial yang diteliti.

Untuk informan tambahan penelitian ini meliputi masyarakat yang mengurus surat izin mendirikan bangunan di DTRTB Kota Medan dan masyarakat yang sedang melakukan pembangunan di Medan Johor. Peneliti mengambil informan tambahan di Medan Johor karena berdasarkan data dari Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan, pembangunan yang banyak dilakukan di Kecamatan Medan Johor dengan jumlah surat yang masuk sebanyak 277 surat. Mereka merupakan informan tambahan karena mereka yang dapat memberikan informasi walaupun tidak langsung terlibat dalam interaksi sosial yang diteliti.

(32)

dapat menggali informasi- informasi yang lebih mendalam dari para informan. Berikut ini akan dipaparkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti .

V.1 Peranan Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Dalam Memberikan Pelayanan IMB

Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan sebagai unsur pelaksana Pemerintahan Kota Medan mempunyai tugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pelayanan yang diberikan kepada masyarakat adalah pelayanan izin mendirikan bangunan.

Kinerja pemerintah yang paling banyak mendapat sorotan dari masyarakat adalah rendahnya kualitas pelayanan yang merupakan kondisi sangat mengkhawatirkan yang dilakukan oleh aparatur pemerintah. Berkaitan dengan penelitian yaitu Peranan Dinas Tata Ruang Dan Tata Bangunan Kota Medan (Studi Tentang Pelayanan Izin Mendirikan Bangunan Di Kecamatan Medan Johor), peneliti telah mengajukan beberapa pertanyaan kepada kepala dinas dan pegawai DTRTB Kota Medan serta kepada masyarakat sebagai informan tambahan. Dan pada bab ini akan dianalisis.

a. Kesederhanaan

(33)

Dalam berbagai kegiatan terdapat prosedur yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan. Secara teori prosedur didefenisikan sebagai rangkaian aktivitas, tugas- tugas, langkah- langkah, keputusan- keputusan, perhitungan- perhitungan dan proses- proses, yang dijalankan melalui serangkaian pekerjaan yang menghasilkan suatu tujuan yang diinginkan.

Prosedur/ tata cara pengurusan IMB di Kota Medan sudah memiliki tahapan- tahapan, pertama pemohon akan mengisi formulir dan melengkapi persyaratan administrasi dan persyaratan teknis, kedua, kemudian bidang Pengukuran dan Pemetaan akan melakukan penelitian peruntukkan ke lokasi yang dimohon sesuai dengan rencana kota, ketiga, apabila lokasi yang dimohon sesuai dengan rencana tata ruang Kota Medan, maka berkas permohonan akan dilanjutkan ke bidang Tata Ruang untuk dilakukan perencanaan tata letak bangunan dan pengembangan situasi bangunan. Keempat, setelah itu berkas akan diteruskan ke bidang Tata Bangunan untuk dilakukan penelitian perencanaan pembangunan kontruksi bangunan, pelestarian dan konservasi bangunan, apabila semua proses telah dilakukan maka surat IMB akan ditandatangani oleh Walikota Medan atau Kepala Dinas TRTB tergantung kepada luas bangunan.

Peneliti juga menanyakan hal tersebut kepada Kepala Dinas TRTB yang bernama Bapak Ir. Samporno Pohan, MT mengenai apakah prosedur pengurusan IMB sudah efektif, beliau mengatakan sebagai berikut :

“Prosedur pengurusan IMB yang dilakukan di dinas TRTB sudah efektif, karena

sudah ada alurnya. Prosedur itu semua akan berjalan efektif tergantung kepada

kelengkapan persyaratan IMB yang dilengkapi oleh pemohon, apabila

(34)

persyaratan, baru selanjutnya permohonan IMB dapat diproses.” (Wawancara

dengan Kepala Dinas TRTB, Bapak Ir. Samporno Pohan, MT, Rabu 21 Maret 2013).

Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat. Masyarakat juga mengatakan bahwa mereka sudah mengetahui bahwa terdapat alur dalam pengurusan IMB. Tetapi yang menjadi masalah ketika prosedur yang ada mengharuskan masyarakat mengurus persyaratan yang diminta dan persyaratan yang diberikan masih kurang. Masyarakat harus mengurus kembali persyaratan yang diminta, seperti adanya persyaratan izin rapat dengan tetangga yang ditandatangani oleh lurah setempat. Disebabkan pengurusan persyaratan yang kurang yang masih harus dilengkapi membuat masyarakat berpendapat bahwa pengurusan izin di DTRTB berbelit- belit.

Dari pemaparan di atas maka peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa prosedur izin mendirikan bangunan di Kota Medan dapat dikatakan tidak sulit dan tidak memberatkan masyarakat, apabila masyarakat pengurus IMB telah terlebih dahulu melengkapi persyaratan yang diminta.

b. Kejelasan

Pegawai DTRTB mempunyai tugas pokok dan fungsi yang jelas. Di mana setiap bidang menanggungjawabi beberapa seksi di bawahnya yang juga telah memiliki tugas dan fungsi masing- masing.

(35)

persyaratannya di formulir yang tersedia di loket DTRTB. Pertama persyaratan administrasi, yaitu melengkapi dokumen- dokumen yang diminta terkait dengan pengurusan IMB, seperti fotokopi KTP, fotokopi surat kepemilikan tanah, fotokopi Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang, surat kuasa yang bermeterai bagi pemohon yang bukan pemilik tanah, kemudian melengkapi persyaratan teknis berupa gambar atau denah bangunan; dan apabila masyarakat masih ada kurang paham terhadap persyaratan yang di minta maka masyarakat dapat menanyakkannya langsung kepada pegawai DTRTB.

Untuk mengetahui apakah ada perbedaan pengurusan IMB untuk tempat tinggal, usaha dan melakukan renovasi, maka peneliti melakukan wawancara dengan Kepala Dinas TRTB yang bernama Bapak Ir. Samporno Pohan, MT, beliau mengatakan :

“Yang membedakannya terletak pada pengurusan persyaratan yang diminta. Jika

ingin membangun rumah, persyaratannya tidak banyak karena kita menganggap

bahwa rumah tempat tinggal itu tidak memiliki dampak yang terlalu besar

terhadap lingkungannya. Tetapi jika bangunan ruko, prosesnya tetap sama tapi

yang membedakannya itu biaya retribusi IMB nya karena ruko itu bersifat

komersil. Untuk renovasi juga hampir sama, prosedurnya sama, yang

membedakannya itu adalah dia harus melampirkan IMB bangunan yang lama,

tetapi apabila belum pernah mengurus IMB, maka akan dihitung izin yang lama

dan izin yang baru”. (Wawancara dengan Kepala Dinas TRTB, Bapak Ir.

(36)

Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat juga diketahui, ternyata ada beberapa persyaratan yang dibutuhkan untuk mengurus perizinan memberatkan masyarakat, seperti persyaratan teknis, bagi masyarakat yang ingin membangun rumah sederhana merasa persyaratan untuk membuat gambar/ denah bangunan yang memiliki tampak depan dan tampak samping akan membuat mereka mengeluarkan biaya lebih untuk membayar jasa konsultan. Masyarakat juga mengatakan bahwa untuk persyaratan sertifikat tanah sebaiknya boleh melalui notaris sehingga masyarakat tidak perlu lagi mengurus sertifikat tanah ke BPN (Badan Pertanahan Nasional).

(37)

c. Kepastian Waktu

Kepastian waktu berarti adanya ketentuan jangka waktu penyelesaian pelayanan publik mulai dari dilengkapinya atau dipenuhinya persyaratan teknis dan persyaratan administratif sampai dengan selesainya suatu proses pelayanan. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Dinas TRTB yang bernama Bapak Ir. Samporno Pohan, MT mengenai waktu pengurusan IMB, beliau menngatakan sebagai berikut :

“Waktu untuk pengurusan IMB tergantung luas bangunan yang dimohon. Untuk

bangunan yang luasnya di bawah 400 m maka pengurusannya selama 14 hari

sedangkan jika luas bangunan di atas 400 m maka prosesnya selama 16 hari.”

(Wawancara dengan Kepala Dinas TRTB, Bapak Ir. Samporno Pohan, MT, Rabu

21 Maret 2013 )

Akan tetapi berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat diketahui bahwa pengurusan IMB yang mereka lakukan satu hingga dua bulan. Mereka mengatakan pengurusan izin mereka memakan waktu lama karena ada persyaratan yang masih kurang sehingga mereka harus melengkapi izin itu kemudian baru izin mereka dapat di proses. Sehingga dapat dikatakan bahwa proses perizinan mendirikan bangunan di Kota Medan belum memiliki kepastian waktu karena masyarakat yang mengurus masih ada yang memakan waktu hingga 2 bulan.

d. Akurasi

(38)

tentang izin mendirikan bangunan. Masyarakat juga mengatakan dengan mengurus izin mendirikan bangunan mereka merasa lebih tenang karena pembangunan yang mereka lakukan telah sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku.

Pengurusan IMB disertai dengan sertifikat dan tanda bukti yang sah sebagai jaminan hukum. Hal ini sangat penting karena dengan diberikannya sertifikat IMB tersebut berlaku seumur hidup dan sebagai bukti yang sah terhadap kepemilikan bangunan yang didirikan si pemohon.

Pengurusan IMB ini dimaksudkan agar pembangunan yang dilakukan teratur, tidak semrawut dan memperhatikan kaidah- kaidah yang berlaku. Oleh sebab itu apabila ada permohonan IMB yang lokasi pembangunannya tidak sesuai dengan RTRW Kota Medan maka permohonan IMB tersebut akan ditolak.

(39)

Demikian halnya dengan bangunan yang belum mempunyai izin. Untuk mengetahui bagaimana tindakan yang dilakukan oleh pihak DTRTB terhadap bangunan yang tidak mempunyai izin, maka peneliti melakukan wawancara dengan Kepala Bidang Pengendalian dan Pemanfaatan Ruang yaitu Bapak Drs. Ali Tohar, beliau mengatakan :

“Pihak DTRTB akan melakukan tindakan terhadap bangunan yang tidak memiliki

IMB, mekanisme tindakan yang diambil seperti melakukan penghentian

pembangunan, memberikan surat peringatan, melakukan pengosongan lokasi

pembangunan, membongkar bangunan. Tetapi hanya untuk bangunan yang

terpantau oleh DTRTB, karena untuk mengawasi seluruh kota Medan ini, jumlah

patroli pihak DTRTB masih kurang.” (Wawancara dengan Kepala Bidang

Pengendalian dan Pemanfaatan Ruang, Bapak Drs. Ali Tohar, Jumat 01 Februari

2013 )

(40)

Tetapi berdasarkan pengamatan peneliti di Kecamatan Medan Johor, pihak DTRTB tidak melakukan pengawasan patroli setiap hari selama proses pembangunan berlangsung. Mereka hanya melakukan sesekali bahkan ada bangunan yang mulai dari awal proses pembangunannya hingga selesai tidak pernah diawasi oleh pihak DTRTB. Hal tersebut dibenarkan oleh pemilik bangunan, Bapak Ali mengatakan :

“Pihak DTRTB pernah datang ke sini patroli tapi tidak setiap hari hanya

beberapa kali saja.” (Wawancara dengan masyarakat Kecamatan Medan Johor,

Bapak Ali, Jumat 22 Februari 2013 )

Jadi dapat dikatakan bahwa pengurusan IMB sudah memiliki jaminan hukum karena disertai dengan sertifikat dan tanda bukti yang sah. Tetapi untuk pengawasan yang dilakukan terhadap bangunan yang sedang proses pembangunan belum maksimal karena pihak DTRTB tidak melakukan patroli setiap hari.

e. Keamanan

(41)

bangunan tidak semraut, menjaga ketertiban, keselarasan, kenyamanan, dan keamanan dari bangunan itu sendiri terhadap penghuninya maupun lingkungan sekitaranya.

Dari hasil wawancara dengan masyarakat juga mengatakan, bahwa mereka mengurus izin mendirikan bangunan agar mereka merasa lebih tenang karena pembangunan yang mereka lakukan telah sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku dan mereka juga mengurus IMB untuk mendapatkan kredit dari Bank, karena pihak Bank akan memberikan kredit apabila memiliki surat IMB.

f. Tanggung jawab

Pelaksanaan pelayanan publik yang dilakukan oleh aparatur pemerintah harus sesuai dengan wewenang masing- masing. Di sini ditunjuk peran penyelenggara pelayanan publik atau pejabat yang bertanggungjawab atas penyelenggaraan pelayanan dan penyelesaian keluhan atau persoalan dalam pelaksanaan pelayanan.

Dalam memberikan pelayanan IMB kepada masyarakat, pihak DTRTB melakukan koordinasi dengan dinas atau instansi lain. Untuk mengetahui koordinasi yang dilakukan oleh DTRTB maka peneliti menanyakkan kepada Kepala Dinas TRTB yang bernama Bapak Ir. Samporno Pohan, MT, beliau mengatakan :

“Pihak DTRTB melakukan koordinasi dengan dinas atau instansi lain

untuk pengurusan IMB, misalnya dengan lurah, lurah akan di minta untuk

menandatangani jika ada bangunan rapat dengan tetangga, dan DTRTB juga

(42)

bangunan bersejarah yang akan dilakukan renovasi, maka pihak DTRTB akan

bekerja sama dengan instansi terkait yang berhubungan dengan renovasi

tersebut, misalnya: Dinas Pariwisata yang mempunyai tugas untuk melestarikan

bangunan itu, atau adanya permohonan untuk mendirikan bangunan sekolah

maka harus ada surat rekomendasi dari Dinas Pendidikan.” ( Wawancara dengan

Kepala Dinas TRTB, Bapak Ir. Samporno Pohan, MT, Rabu 21 Maret 2013 )

Tetapi di dalam memberikan pelayanan IMB, pihak DTRTB tidak ada melakukan kerjasama dengan pihak konsultan. Jadi, masyarakat di dalam membuat gambar atau denah bangunannya dapat membuat gambar bangunan sendiri atau menggunakan jasa konsultan. Dengan gambar bangunan yang sesuai dengan persyaratan yang ada di formulir.

Dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Keluhan atau komplain sering kali timbul selama proses pengurusan IMB yang dilakukan. Untuk mengetahui keluhan atau komplain yang biasanya dilakukan masyarakat, maka peneliti melakukan wawancara dengan Kepala Dinas TRTB yang bernama Bapak Ir. Samporno Pohan, MT, beliau mengatakan :

“Dalam melakukan pengurusan IMB, masyarakat memiliki keluhan atau

kompalin terhadap pelayanan yang diberikan, misalnya: tata letak bangunan

yang tidak sesuai dengan keinginan masyarakat karena adanya rencana

pelebaran jalan, atau izin yang dimohon tidak sesuai dengan peruntukannya,

kemudian adanya rasa ketidakpuasan terhadap waktu penyelesaian karena

ketentuan prosesnya hanya 2 minggu tetapi kemudian yang menjadi

(43)

tidak lengkap. Sehingga proses melengkapi persyaratan- persyaratan

administrasi dan teknis gambarnya sudah melewatkan waktu dan menimbulkan

komplain dari masyarakat. (Wawancara dengan Kepala Dinas TRTB, Bapak Ir.

Samporno Pohan, MT, Rabu 21 Maret 2013)

Keluhan dan komplain yang dirasakan oleh masyarakat dapat disampaikan ke Dinas TRTB. Sehingga keluhan dari masyarakat tadi akan dicari solusi terbaik oleh pihak DTRTB.

Jadi dapat dikatakan, DTRTB Kota Medan sebagai organisasi pemerintah yang memberikan pelayanan IMB kepada masyarakat telah melakukan tanggung jawab dengan melakukan koordinasi dengan dinas atau instansi lain yang terkait dengan pengurusan IMB yang diminta.

g. Kelengkapan Sumber Daya

Dalam memberikan pelayanan IMB ketersedianya sumber daya merupakan faktor yang sangat penting untuk diperhatikan. Sumber daya itu meliputi sarana dan prasarana kerja, peralatan kerja dan pendukung lainnya yang memadai termasuk penyediaan sarana teknologi komunikasi dan informatika (telematika); serta kualitas dan kuantitas SDM yang memadai untuk menjalankan tugas dan fungsinya.

(44)

demikian. Untuk mengetahui peralatan yang mendukung fungsi pelayanan, penulis melakukan wawancara dengan Bapak Benny Iskandar ST, MT, Kepala Bidang Tata Ruang. Beliau mengatakan bahwa :

“Saat ini sarana dan prasarana yang ada di bidang tata ruang sudah memadai,

hanya saat ini sedang dalam masa transisi, yaitu proses penyusunan rencana

detail tata ruang yang baru. Sehingga masih perlu untuk mempelajari

implementasi bagaimana RTRW itu diterjemahkan ke dalam proses perizinan.

Untuk sarana dan prasaranan yang ada di bidang Tata Ruang sendiri sudah

cukup baik, di mana 2 tahun belakangan ini, sejak kepala dinas yang baru,

dulunya tata letak masih dilakukan secara manual, sekarang semua sudah

menggunakan laptop, lebih mengarah ke teknologi. Untuk pengukuran juga

begitu, sekarang kita sudah menggunakan GPS, tidak lagi menggunakan meteran

seperti tahun- tahun sebelumnya.” ( Wawancara dengan Kepala Bidang Tata

Ruang, Bapak Benny Iskandar ST, MT, Rabu 30 Januari 2013 )

Namun ada juga di beberapa bidang yang sarana dan prasarananya belum memadai, seperti untuk Bidang Pengukuran Dan Pemetaan, Peneliti melakukan wawancara dengan Kepala Bidang Pengukuran Dan Pemetaan, Bapak Ir. Zulkifli, MAP. Beliau mengatakan :

Untuk bidang Pengukuran dan Pemetaan sendiri, sampai saat ini peralatan teknis sudah memadai dan lengkap, karena kami sudah menggunakan teknologi

komputerisasi, tetapi untuk sarana transportasi belum memadai, karena untuk

transportasi pegawai Bidang Pengukuran dan Pemetaan masih menggunakan

(45)

Pemko Medan tetapi belum ada realisasinya”. ( Wawancara dengan Kepala

Bidang Pengukuran Dan Pemetaan, Bapak Ir. Zulkifli, MAP, Senin 28 Januari 2013)

Hal senada juga disampaikan Kepala Bidang Pengendalian dan Pemanfaatan Ruang, Bapak Drs. Ali Tohar,beliau mengungkapkan bahwa :

“Sarana dan prasarana Bidang Pengendalian dan Pemanfaatan Ruang juga

masih kurang, peralatan untuk pembongkaran yang digunakan oleh Bidang

Pengendalian dan Pemanfaatan ruang masih manual dan untuk alat transportasi

juga masih kurang untuk pengawasan keliling, saat ini mobil patroli yang ada di

DTRTB sebanyak 7 unit yang digunakan untuk mengawasi 21 kecamatan di Kota

Medan, jadi setiap mobil patroli digunakan untuk mengawasi 3 kecamatan

dengan beberapa kelurahan sehingga belum mencukupi untuk melakukan

pengawasan untuk seluruh Kota Medan. Pihak DTRTB sendiri sudah

mengusulkan kepada Pemko Medan untuk pengadaan barang, tetapi sampai

sekarang belum ada realisasinya. ( Wawancara dengan Kepala Bidang

Pengendalian dan Pemanfaatan Ruang, Bapak Drs. Ali Tohar, Jumat 01 Februari

2013 )

(46)

jarang menggunakan fasilitas tersebut. Mereka lebih sering langsung menanyakkan kepada pegawai DTRTB mengenai persyaratan pengurusan IMB.

Gambar V.1

Fasilitas internet yang disediakan oleh DTRTB

Sumber : Hasil Dokumentasi peneliti pada saat di DTRB

(47)

daya manusia dalam melaksanakan suatu pelayanan harus terpenuhi secara kualitas dan kuantitas.

Sumber Daya manusia yang dimiliki oleh DTRTB saat ini berjumlah 154 pegawai. Dari 129 pegawai negeri sipil yang ada di DTRTB hanya 48 orang yang berasal dari pendidikan teknik sedangkan 71 pegawai lagi berasal dari pendidikan non teknik. Padahal seperti yang diketahui bahwa sebagian besar tugas dari DTRTB berada di bidang teknis.

Jumlah pegawai DTRTB juga saat ini dirasa masih belum mencukupi untuk memberikan pelayanan IMB yang optimal kepada masyarakat. Untuk mengetahui bagaimana SDM yang ada di DTRB, peneliti melakukan wawancara dengan Kepala Dinas TRTB, Bapak Ir. Samporno Pohan, MT, beliau mengatakan: “SDM atau pegawai yang ada di DTRTB masih kurang, baik dari segi kualitas

maupun kuantitas, jumlah pegawai masih belum mencukupi untuk di beberapa

bidang seperti Bidang Pengukuran Dan Pemetaan; dan Bidang Pengendalian

dan Pemanfaatan Ruang. Dari segi kualitasnya juga masih banyak pegawai yang

tidak sesuai dengan SDM nya, di mana ada pegawai yang penempatannya tidak

sesuai dengan jurusannya, misalnya pegawai bukan berasal dari jurusan teknis

tetapi melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan teknis.” ( Wawancara dengan Kepala Dinas TRTB, Bapak Ir. Samporno Pohan, MT, Rabu 21 Maret 2013 )

(48)

patroli untuk mengawasi 21 kecamatan di Kota Medan. Jika dilihat dari jumlah pegawai Bidang Pengendalian dan Pemanfaatan Ruang maka terdapat ketidaksesuaian jumlah pegawai dengan banyaknya tugas dan fungsi yang harus dilakukan.

Dari hasil penjelasan di atas, dapat dilihat bahwa kesediaan sarana, prasarana serta sumber daya manusia yang ada di DTRTB Kota Medan belum dapat dikatakan baik dan memadai untuk memberikan pelayanan IMB kepada masyarakat.

h. Kemudahan Akses

Kemudahan akses berarti tempat dan lokasi serta pelayanan yang memadai, mudah dijangkau oleh masyarakat dan dapat memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan informatika. Dinas TRTB memberikan informasi mengenai pengurusan izin mendirikan bangunan melalui website DTRTB Kota Medan. Pihak DTRTB juga melakukan penyuluhan yaitu melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat yang dilakukan berdasarkan tahun anggaran tetapi sampai saat ini belum pernah dilakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat secara langsung karena belum adanya anggaran sehingga pengurusan IMB ini hanya diinformasikan kepada camat, jadi camat yang mensosialisasikan kepada warganya untuk mengurus IMB.

(49)

bagaimana pelaksanaan program IMB keliling, peneliti melakukan wawancara dengan Kepala Dinas TRTB, Bapak Ir. Samporno Pohan, MT, beliau mengatakan: “Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, kami membuat program

IMB keliling yang digunakan untuk lebih mempermudah masyarakat dalam

mengurus IMB, khususnya bagi masyarakat yang daerahnya jauh dari lokasi

DTRTB, seperti: Medan Belawan dan Labuhan, Jadi masyarakat dapat mengurus

IMB di kantor camat, berkas permohonan IMB dari kantor camat akan di bawa

ke DTRTB dengan mobil IMB keliling, dan jika permohonan sudah selesai

diproses, hasilnya akan di bawa ke kantor camat atau pegawai kantor camat

yang akan datang ke DTRTB untuk mengambil IMB nya dan pelayanan yang

diterima oleh masyarakat yang mengurus IMB dengan menggunakan IMB

keliling atau langsung mengurus IMB ke DTRTB mendapat pelayanan yang sama

dari pihak DTRTB. Demikian juga dengan masyarakat yang mengurus IMB

secara langsung ke DTRTB atau melalui perantara, pihak DTRTB tetap

memberikan pelayanan yang sama.” ( Wawancara dengan Kepala Dinas TRTB,

Bapak Ir. Samporno Pohan, MT, Rabu 21 Maret 2013 )

(50)

i. Kedisplinan

Aparatur pemerintah memberi pelayanan harus bersikap disiplin, sopan, dan santun, ramah, serta memberikan pelayanan dengan ikhlas. Setiap organisasi memilii norma- norma atau nilai- nilai yang akan mengatur bagaimana setiap anggota organisasi tersebut dalam bertindak dan berperilaku di dalama organisasi tersebut. Demikian juga dengan DTRTB Kota Medan. Peneliti melakukan wawancara dengan Kepala Dinas TRTB, Bapak Ir. Samporno Pohan, beliau mengatakan bahwa:

“Pegawai DTRTB didalam memberikan pelayanan kepada masyarakat memiliki

norma- norma yang mengatur perilaku pegawai DTRTB Kota Medan yang

terdapat di dalam kode etik perilaku pegawai di dalam Keputusan Kepala Dinas

Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan Nomor : 800/ 2342”. ( Wawancara

dengan Kepala Dinas TRTB, Bapak Ir. Samporno Pohan, MT, Rabu 21 Maret 2013 )

Sebenarnya untuk setiap Pegawai Negeri Sipil yang ada di Indonesia sudah ditetapkan perundang- undangan mengenai norma- norma yang mengatur tingkah dan perilaku mereka selama menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Misalnya tidak boleh korupsi, datang tepat waktu, dan sebagainya. Tetapi melalui kode etik yang ditetapkan di DTRTB maka, norma- norma tersebut lebih dipertegas lagi. Dengan begitu, akan ada kesamaan perilaku dari setiap pegawai di DTRTB Kota Medan.

(51)

pegawai DTRTB langsung memberikan penjelasan kepada masyarakat apabila ada pemohon yang ingin menanyakkan mengenai persyaratan yang mereka kurang mengerti. Masyarakat juga melakukan konsultasi dengan pihak DTRTB terkait dengan bangunan yang mereka bangun, seperti informasi lokasi tempat yang akan mereka bangun dan mengenai gambar bangunan yang akan mereka dirikan.

j. Kenyamanan

Lingkungan pelayanan seharusnya tertib, teratur, disediakan ruang tunggu yang nyaman, bersih, rapi, lingkungan yang indah dan sehat serta dilengkapi dengan fasilitas pendukung pelayanan seperti parkir, toilet, tempat ibadah, dan lain- lain.

Gambar V.2 Ruang Tunggu DTRTB Kota Medan

Sumber : Hasil Dokumentasi peneliti pada saat di DTRB

(52)

Gambar V.3

Skema Proses Permohonan IMB

Sumber : Hasil Dokumentasi peneliti pada saat di DTRB

Gambar V.4 Miniatur Kota Medan

(53)

Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat yang mengurus IMB, mengatakan bahwa sarana dan prasarana yang ada di DTRTB sudah cukup baik, karena di DTRB terdapat ruang tunggu dan ruangannya juga memiliki interior yang cukup menarik dan ada bunga yang menghiasi meja loket.

Berdasarkan hasil pengamatan peneliti di lapangan, Dinas TRTB juga menjaga kebersihan dan keindahan ruangannya, terlihat dari petugas kebersihan yang selalu membersihkan ruangan jika ruangan tidak bersih dan mengurus taman yang ada di sekitar bangunan DTRTB.

V.2 Kendala Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Dalam Memberikan Pelayanan IMB

(54)

yang mereka lakukan untuk turun ke lapangan mengawasi pembangunan yang dilakukan masyarakat.

Kendala lain yang dihadapi oleh Dinas TRTB adalah kurangnya persyaratan yang diberikan oleh masyarakat, baik persyaratan administrasi maupun persyaratan teknis. Dari segi administrasi, adanya surat yang belum diurus oleh masyarakat seperti surat rapat dengan tetangga. Bahkan ada masyarakat yang hanya memberikan gambaran bangunanya tidak sesuai dengan yang diminta sehingga pihak DTRTB tidak dapat memproses pengurusan IMB nya.

Selain itu, sarana dan prasarana yang ada juga masih belum mencukupi. Bidang Pengukuran dan Pemetaan di dalam menjalankan tugasnya untuk melakukan kegiatan pengukuran dan pemetaan di lapangan masih menggunakan transportasi pribadi. Demikian juga halnya dengan Bidang Pengendalian dan Pemanfaatan Ruang. Mereka masih kekurangan transportasi untuk melakukan pengawasan ke lapangan. Bidang Pengendalian dan Pemanfaatan Ruang juga di dalam menjalankan tugasnya masih menggunakan peralatan yang manual seperti palu untuk melakukan pembongkaran terhadap bangunan yang tidak sesuai dengan izin yang telah diterbitkan oleh DTRTB.

(55)

BAB VI

PENUTUP

VI.1. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan tentang Peranan Dinas Tata Ruang Dan Tata Bangunan Kota Medan (Studi Tentang Pelayanan Izin Mendirikan Bangunan Di Kecamatan Medan Johor), maka peneliti menarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Prosedur pengurusan IMB pada DTRTB Kota Medan sudah dapat dikatakan baik. Pemohon cukup mengisi formulir permohonan IMB dan melengkapi persyaratan- persyaratan yang dibutuhkan.

2. Berdasarkan hasil penelitian peneliti, maka terlihat bahwa kualitas dan kuantitas pegawai yang ada di DTRTB masih belum mencukupi untuk memberikan pelayanan secara maksimal kepada masyarakat. Terlihat dari jumlah pegawai untuk beberapa bidang yang belum mencukupi dan dari 129 pegawai negeri sipil yang ada di DTRB hanya ada 49 pegawai yang memiliki kemampuan teknis.

3. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai persyaratan yang diminta membuat waktu yang diperlukan untuk mengurus IMB membutuhkan waktu yang lebih lama

(56)

5. Masih kurangnya sosialisasi Dinas TRTB kepada masyarakat terkait prosedur dan persyartaan IMB karena terkendala dengan anggaran

VI.2. Saran

1. Dengan keterbatasan sumber daya manusia, ada baiknya Kepala Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan segera mengajukkan permohonan kembali kepada Walikota Medan untuk penambahan jumlah pegawai yang memiliki kualitas yang baik terutama di bidang teknis.

2. DTRTB Kota Medan sebaiknya tetap melakukan permohonan pengadaan barang kepada Pemerintah Kota Medan untuk melengkapi sarana dan prasaran yang ada di DTRTB, seperti: mobil patroli dan peralatan- peralatan canggih untuk membantu pegawai DTRTB melakukan pembongkaran terhadap bangunan yang bermasalah.

3. DTRTB Kota Medan sebaiknya mengadakan sosialisasi secara langsung kepada masyarakat mengenai prosedur serta persyaratan dalam proses pengurusan IMB agar tidak terjadi lagi masyarakat yang mengurus IMB dengan berkas yang tidak lengkap. Sosialisasi dilakukan agar masyarakat benar- benar paham tentang setiap persyaratan yang dibutuhkan dan benar- benar paham bagaimana prosedur dari penerbitan IMB itu sendiri.

(57)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Kerlinger (Singarimbun, 2008: 37), teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstrak, defenisi, dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antar konsep.

Untuk memudahkan penulis dalam rangka menyusun penelitian ini, maka dibutuhkan teori- teori sebagai pedoman kerangka berpikir untuk menggambarkan dari sudut mana peneliti menyoroti masalah yang dipilih. Pedoman tersebut disebut kerangka teori. Kerangka teori merupakan landasan berpikir untuk melakukan penelitian dan teori yang dipergunakan untuk menjelaskan fenomena sosial yang menjadi objek penelitian. Kerangka teori diharapkan memberikan pemahaman yang jelas dan tepat bagi peneliti dalam memahami masalah yang diteliti.

II.1. Peranan

Menurut Pelly (1997: 91), peranan adalah pola perilaku yang diharapkan dari seseorang yang memiliki status.

(58)

tafsiran mereka terhadap tanggapan orang lain. Hal ini sekaligus berarti bahwa peranan menentukkan apa yang diperbuatnya bagi masyarakat serta kesempatan- kesempatan apa yang diberikan oleh masyarakat kepadanya.

Menurut Levinson (Soekanto, 2009: 213) peranan mungkin mencakup tiga hal, yaitu sebagai berikut :

1. Peranan meliputi norma- norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan – peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan

2. Peranan merupakan suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi

3. Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat.

II.2. Sistem

Menurut Syamsi ( 2004:16) sistem adalah sekumpulan kegiatan yang terdiri dari sub- subsistem yang saling berinteraksi satu dengan lainnya dan berproses untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan Menurut Kast ( Syamsi, 2004: 17) sistem adalah suatu penggabungan, pernyataan dari dua atau lebih bagian- bagian, komponen- komponen, atau sub- sub sistem yang interdependen, dan ditandai oleh batas- batas yang jelas dari lingkungan supra sistemnya.

(59)

1. Fleksibel, walaupun sistem yang efektif adalah sistem yang terstruktur dan terorganisir dengan baik, namun sebaiknya cukup fleksibel agar lebih mudah disesuaikan dengan keadaan yang sering berubah

2. Mudah diadaptasikan, sistem yang baik juga harus cepat dan mudah diadaptasikan dengan kondisi baru tanpa mengubah sistem yang lama maupun mengganggu fungsi utamanya

3. Sistematis, agar berfungsi secara efektif, hendaknya sistem yang ada bersifat logis dan sistematis, yaitu sistem yang dibuat tidak akan mempersulit aktivitas pekerjaan yang telah ada

4. Fungsional, sistem yang efektif harus dapat membantu mencapai tujuan yang telah ditentukan

5. Sederhana, sebuah sistem seharusnya lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami dan dilaksanakan

6. Pemanfaatan sumber daya yang optimal, sistem yang dirancang dengan baik akan menjadikan penggunaan sumber daya yang dimiliki organisasi dapat dioptimalkan pemanfaatannya

Secara umum, menurut Laudon dan Laudon ( Sukoco, 2007: 32),sebuah sistem yang ideal memiliki unsur sebagai berikut :

(60)

menjalankan metode dan prosedur dalam sistem. Dalam beberapa instansi, output dari satu sistem menjadi input untuk sistem yang lain

2. Processing, perubahan dari input menajdi output yang diinginkan dilakukan pada saat pemrosesan yang melibatkan metode dan prosedur dalam system. Biasanya, aktivitas ini akan secara otomatis mengklasifikasikan, mengonservasikan, menganalisis, serta memperoleh kembali data atau informasi yang dibutuhkan

3. Ouput, setelah melalui pemrosesan input akan menjadi output, berupa informasi pada sebuah kertas atau dokumen yang tersimpan secara elektronik. Output ini akan didistribusikan kepada bagian atau pegawai yang membutuhkan. Untuk itu, kualitas output mempunyai dampak yang signifikan terhadap kinerja bagian yang berkaitan, karena bisa jadi output pada suatu subsistem ( departemen atau bagian) tertentu merupakan input dari sistem (departemen atau bagian) lain

4. Feedback, pemberian umpan balik mutlak diperlukan oleh sebuah sistem, karena hal itu akan membantu organisasi untuk mengevaluasi dan memperbaiki sistem yang ada sekarang menjadi lebih baik lagi.

(61)

II.3. Prosedur

Menurut Syamsi ( 2004:16) prosedur adalah suatu rangkaian metode yang telah menjadi pola tetap dalam melakukan suatu pekerjaan yang merupakan suatu kebulatan.

Pada hakikatnya prosedur itu diterapkan bagi pekerjaan yang terjadi berulang- ulang. Sehingga untuk tahun- tahun berikutnya tidak akan mengalami hambatan dan segala sesuatunya diharapkan dapat berjalan lancar. Dalam prosedur biasanya dicantumkan batas waktu untuk setiap langkah, sehingga prosedur itu akan berjalan sesuai dengan batas waktu yang sudah ditetapkan

Selain itu, suatu prosedur mempunyai ciri yang bersifat stabil di satu pihak dan fleksibel di lain pihak. Ini kelihatan saling bertentangan. Di sini ada sebagian dari langkah yang bagaimanapun harus diikuti sepenuhnya akan tetapi ada juga sebagiann kecil langkah yang bisa luwes cara penerapannya dengan melihat situasi dan kondisinya. Secara umum dikatakan, bahwa sasaran yang stabil akan menjadikan prosedur yang stabil juga. Sebaliknya apabila sasarannya berubah maka prosedur pelaksanaannya juga akan ikut berubah.

(62)

II.4. Pelayanan Publik

II.4.1. Defenisi Pelayanan Publik

Menurut UU No 25 tahun 2009 tentang pelayanan publik, Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.

Menurut Wasistiono (Saleh, 2010: 24), pelayanan publik adalah sebagai pemberian jasa yang diberikan oleh suatu organisasi (perusahaan, pemerintah, swasta) kepada publiknya dengan atau tanpa pembayaran guna memenuhi kebutuhan dan atau kepentingan masyarakat.

Sedangkan menurut Pamudji (Napitupulu, 2007: 165), konsep pelayan publik diturunkan dari makna public service yang berarti: “berbagai aktivitas yang bertujuan memenuhi kebutuhan masyarakat akan barang dan jasa”.

II.4.2. Asas- Asas Pelayanan Publik

Menurut Undang- Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik, Adapun asas-asas pelayanan publik adalah:

1. Kepentingan umum, yaitu; Pemberian pelayanan tidak boleh mengutamakan kepentingan pribadi dan/atau golongan.

2. Kepastian hukum, yaitu Jaminan terwujudnya hak dan kewajiban dalam penyelenggaraan pelayanan.

(63)

4. Keseimbangan hak dan kewajiban, yaitu Pemenuhan hak harus sebanding dengan kewajiban yang harus dilaksanakan, baik oleh pemberi maupun penerima pelayanan.

5. Keprofesionalan, yaitu Pelaksana pelayanan harus memiliki kompetensi yang sesuai dengan bidang tugas.

6. Partisipatif, yaitu Peningkatan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan dengan memperhatikan aspirasi, kebutuhan, dan harapan masyarakat.

7. Persamaan perlakuan/ tidak diskriminatif, yaitu Setiap warga negara berhak memperoleh pelayanan yang adil.

8. Keterbukaan, yaitu Setiap penerima pelayanan dapat dengan mudah mengakses dan memperoleh informasi mengenai pelayanan yang diinginkan. 9. Akuntabilitas, yaitu Proses penyelenggaraan pelayanan harus dapat

dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

10.Fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok rentan, yaitu Pemberian kemudahan terhadap kelompok rentan sehingga tercipta keadilan dalam pelayanan.

11.Ketepatan waktu, yaitu Penyelesaian setiap jenis pelayanan dilakukan tepat waktu sesuai dengan standar pelayanan.

Gambar

Tabel IV.1
Tabel IV.2
Tabel IV.3
Tabel IV.4
+6

Referensi

Dokumen terkait

Tata cara pelayanan yang dilakukan di Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan sudah cukup baik karena telah memiliki standar operasional prosedur dan masyarakat dapat

Melalui penelitian yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa indikasi-indikasi rendahnya kualitas pelayanan izin mendirikan bangunan (IMB) tersebut adalah sebagai

x Melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang peraturan daerah tentang izin mendirikan bangunan.Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan terlihat bahwa yang merupakan

Peningkatan pelayanan publik yang dilakukan oleh pemerintah kepada masyarakat dalam upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat khususnya di dinas tata ruang kota Bekasi

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi Dinas Tata Kota dan Tata Bangunan, Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh

Di samping ketentuan-ketentuan tersebut diatur juga dalam peraturan ini lebih rinci mengenai dokumen administrasi dan dokumen teknis, pelaksanaan pembangunan, penerbitan

MENDIRIKAN BANGUNAN BERDASARKAN PERATURAN DAERAH KOTA MEDAN NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG RETRIBUSI IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN. Bab ini berisikan mengenai pemeriksaan izin tata

Persyaratan merupakan syarat (dokumen) yang harus dipenuhi dalam pengurusan suatu jenis pelayanan, baik persyaratan teknis maupun administratif. Dinas Tata Ruang