• Tidak ada hasil yang ditemukan

BENTUK-BENTUK PENGENDALIAN PERILAKU DESTRUKTIF AUTIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BENTUK-BENTUK PENGENDALIAN PERILAKU DESTRUKTIF AUTIS"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Manusia dilahirkan dan kemudian melalui beberapa fase perkembangan dalam

kehidupannya, baik secara psikologis dan fisiologis. Melewati fase-fase perkembangan sedari

masih dalam kandungan hingga terlahir dan menjalani serta melewati beberapa tahap

perkembangan adalah proses yang dialami setiap manusia pada umumnya. Mengenai

perkembangan manusia, Santrock (2002:20) mendefinisikan perkembangan adalah pola gerakan

atau perubahan yang dimulai dari pembuahan dan terus berlanjut sepanjang siklus kehidupan.

Banyak hal yang bisa terjadi dalam proses perkembangan itu, mulai dari perkembangan dalam

kognitif, biologis dan sosiemosional. Ketiga proses ini saling berkaitan secara berbelit-belit

karena saling berhubungan dan dalam setiap perkembangannya antara satu dengan yang lain,

seperti adanya proses sosioemosional membentuk kognitif atau sebaliknya dan juga bagaimana

proses biologis mempengaruhi proses kognitif begitu seterusnya yang terjadi dalam kehidupan

manusia yang sehat secara jasmani dan rohani.

Dalam otak manusia terdapat sistem-sistem penting terkait dengan perkembangan

manusia, di mana proses sosioemosional, biologis dan kognitif itu terjadi di dalam otak, tapi otak

bukanlah satu-satunya tempat perkembangan. Jika sistem-sistem itu mengalami hambatan dalam

perkembangannya maka akan terjadi sesuatu berupa gangguan yang gejalanya tampak sedari usia

dini atau ketika tahap perkembangan selanjutnya, hingga muncul gejala atau simptom terkait

dengan gangguan perkembangan yang disadari oleh lingkungan sekitar ketika berinteraksi atau

mengenali perbedaaan melalui perilaku atau fisik yang terlihat dikarenakan gangguan

perkembangan.

Beberapa tahun terakhir ini perkembangan dunia anak-anak khususnya perkembangan

terhadap fisik dan psikologis yang mengalami gangguan atau disebut dengan gangguan

perkembangan, banyak dibicarakan kemudian dikembangkan akan pemahaman dan ilmu yang

mempelajarinya guna pengembangan ilmu pengetahuan dan mempermudah manusia dalam

mengatasi permasalahaanya, terkait gangguan perkembangan pada anak atau keluarga mereka.

(2)

kemampuan yang terjadi ketika anak belum berusia tiga tahun. Autisme merupakan gangguan

perkembangan yang berat pada anak. Menurut Colman,M Andrew dalam Oxford Dictionary of

Psychology (2003 : 68) tentang autisme ini tertulis bahwa gangguan ini pertama kali di jelaskan

pada tahun 1943 oleh psikiater anak asal Austria yaitu Leo Kanner (1894-1981). Gangguan ini

juga dapat disebut autism, anak autism, dan Sindrome Kanner. Mengenai gejala-gejala yang

muncul dan menandakan seorang anak berpotensi menjadi penyandang autis, dipaparkan oleh

Maulana pada tahun 2008 yaitu gejalanya sudah tampak sebelum anak berusia tiga tahun.

Perkembangan mereka terganggu terutama dalam hal komunikasi, interaksi dan perilaku.

Keterbatasan yang dimiliki oleh penyandang autis menjadi salah satu masalah dalam penanganan

atau bagaimana bersikap dengan mereka. Kemampuan untuk berempati social adalah hal yang

lumrah pada diri orang nomal, tentang bagaimana kita memahami orang lain, baik dari segi

perilaku, emosi yang dimunculkan orang lain dan juga pendapat dari mereka. Namun hal ini

tidak pada anak penyandang autism, karena mereka memiliki kesulitan untuk berempati. Maka

dari itu lingkungan yaitu orang normal-lah yang berempati pada mereka.

Jumlah penderita laki-laki empat kali lebih besar dibanding penderita wanita. Gangguan

perkembangan mengalami peningkatan di beberapa tahun terakhir ini, diperjelas dengan data

statistik mengenai penyandang autisme, yaitu bila 10-20 tahun yang lalu jumlah penyandang

autism hanya 2-4 per 10.000 anak, tiga tahun belakangan jumlah tersebut meningkat menjadi

15-20 anak atau 1 per 500 anak. Tiga tahun belakangan, di AS ditemukan 15-20-60 anak, kira-kira

1/200 atau 1/250 anak (Maulana,2008:18). Hal serupa juga dikemukakan oleh Budhiman (2000) yaitu “Bila sepuluh tahun yang lalu jumlah penyandang autism dipekirakan satu per 5.000 anak, saat ini meningkat menjadi satu per 500 anak” (www.kesos.unpad.ac.id).

Walaupun belum ada data resmi mengenai jumlah penyandang autistik di Indonesia,

namun lembaga sensus di Amerika Serikat melaporkan bahwa pada tahun 2004 di Indonesia

terdapat 475.000 anak dengan ciri Autistik (Ramdhani, Thiomina, Prastowo, dan

Kusumawardhani,2009). Terdapat kemungkinan besar bahwa hingga pada tahun 2011 ini

semakin bertambah. Informasi mengenai perkembangan jumlah penyandang Autisme

kenyataannya meningkat pesat. Data terbaru dari Centre for Disease Control and Prevention

(3)

persen dari data tahun 2002 yang memperkirakan angkanya 1 dibanding 150 anak

(www.kompas.com).

Perilaku yang diberikan kepada anak Autisme tidak dapat disamaratakan dengan perilaku

yang diberikan kepada anak normal kebanyakan. Begitu juga perilaku yang anak Autisme

munculkan, misal dalam hal penyampaian emosi. Suryawati (2010) melakukan penelitian

mengenai autism dan mengatakan bahwa pada penyandang autis memilki kesulitan untuk

mengendalikan emosinya. Emosi menurut Aristoteles (seperti yang ditulis Lewis & Jones: 2000)

adalah suatu kondisi yang menyebabkan seseorang begitu berubah dan mempengaruhi

keputusannya, dimana kondisi itu dipengaruhi oleh suatu hal yang menyenangkan.

Kesulitan dalam penyampaian emosi ini terjadi sebagaimana pada beberapa anak autis di

SMP N 18 Malang, peneliti mendapatkan informasi dari salah satu Guru Pendamping Khusus

(shadow teacher), mengenai beberapa kejadian yang pernah terjadi oleh anak autis dikarenakan

kesulitan untuk menyampaikan perilaku atas emosi yang dirasakannya. Subjek pertama berinisial

RF usia 14 tahun, melakukan tindakan berupa tidur di jalan dikarenakan dirinya merasa

dibohongi. Subjek kedua dengan inisial BV duduk di kelas tiga SMP karena mengamuk di kelas

dan merasa kesal pada teman-temannya yang mengolok-olok dirinya sebagai Autis. Subjek

ketiga yaitu MA dengan perilaku memukul tembok kemudian memukul-mukul kepalanya

dikarenakan ia dimarahi oleh Shadownya.

Kesulitan untuk mengendalikan emosi pada autisme dan berdampak pada perilaku dari

emosi ini dijelaskan oleh Moetrasi (dalam Ramdhani,2008) bahwa sistem limbik adalah salah

satu bagian otak yang mengalami kelainan pada penyandang autis. Gangguan pada system limbic

yang merupakan pusat emosi mengakibatkan anak autis kesulitan mengendalikan perilaku dari

emosi tersebut.

Mengenai permasalahan pada penyandang autis mengenai perilaku emosi, telah

dilakukan beberapa penelitian salah satunya dilakukan oleh Ramdhani dan Thiomina pada tahun

2008. Dalam penelitian ini mengungkapkan tentang salah satu efek emosi negative yaitu dapat

menimbulkan perilaku yang membahayakan orang lain dan juga berpotensi membahayakan diri

sendiri yang berlebihan atau biasa disebut temper tantrum. Perilaku membahayakan diri sendiri

(4)

mengancam, merusak dan membahayakan. Setiap perilaku destuktif itu muncul, perlu dilakukan

pengendalian agar tidak berkelanjutan, karena dilakukan oleh penyadang autism yang pada

kenyataannya mengalami kesulitan dalam mengekspresikan emosi, maka orang terdekat perlu

mengendalikan perilaku dari emosi tersebut. Autisme tidak mengetahui bagaimana cara

mengeksperesikan emosi mereka secara tepat seperti manusia normal pada umumnya

dikarenakan adanya gangguan pada sistem kerja otaknya, sehingga ketika autisme melakukan

hal-hal yang di luar kewajaran terkait dengan emosi yang dirasakan dan keinginan untuk

mengungkapakannya maka bisa terjadi perilaku yang tidak diinginkan. Padahal dirinya sendiri

tidak tahu bagaimana hal yang seharusnya atau perilaku tepat untuk menunjukkan emosi tersebut

dikarenakan kurangnya fleksibilitas dalam berpikir dan bertingkah laku yang merupakan salah

satu dari tiga area kesulitan yang dialami seorang anak diawali sebelum usia tiga tahun. Contoh

kasus seperti yang diungkapkan oleh Chandler,Prevezer, Newson, dan Christie (2009 :13)

mengenai kesulitan kurangnya fleksibilitas dalam berpikir dan bertingkah laku adalah :

bahwa ketika seorang anak normal senang menirukan gerakan, tertarik pada pola tertentu, menyusun mainan mereka dan pergi ke toko mainan dan aktifitas lainnya dalam keseharian, tetapi anak autis mengalaminya lebih lama. Selain itu, tingkah laku tersebut dapat menjadi alasan kepanikan dan kemarahan bagi seorang penderita autis, ketika dia tidak mendapatkan sesuatu yang dia inginkan atau harapkan.

Dari beberapa penelitian terdahulu mengenai perilaku destruktif autis yaitu perilaku yang

hiperkenetis, agresif, menolak beraktifitas dengan alasan yang tidak jelas, membenturkan kepala,

menggigit, mencakar dan menarik rambut (Moetrasi dalam Ramdhani,2008) dan kenyataan yang

terjadi di lingkungan yang di temukan oleh peneliti seperti anak autis yang membanting-banting

dirinya, mencakar dan menggigit orang disekitarnya serta melempar hingga menghancurkan

barang disekitarnya disebabkan oleh berbagai alasan. Terkait perilaku yang muncul akibat

kesulitan memperoses emosi ini, maka dibutuhkan sosok pengendali atas perilaku yang tidak

diharapkan itu agar tidak mengarah kepada hal yang lebih membahayakan lagi dan mengancam

keselamatan autism atau lingkungan sekitar yang disebut perilaku destruktif. Sosok pengendali

perilaku ini bisa berasal dari keluarga atau orang terdekat penyandang autism, yang menyaksikan

atau berada di sekiar autism ketika perilaku itu muncul.

Pentingnya keberadaan pengendali perilaku destruktif autism ini sangat dibutuhkan,

(5)

pengungkapan emosi itu berbahaya bagi dirinya ataupun orang disekitarnya. Berdasarkan cerita

dari salah satu Shadow Teacher yang dipaparkan diatas, perilaku yang ditunjukkan oleh anak

autism itu, mereka (autisme) tidak mengeluhkan panasnya berbaring di jalan, atau sakitnya

memukul-mukul kepala. Mereka sekedar mengungkapkan atau mengekpresikan emosi yang

dirasa. Mengenai ketidaktahuan atau tidak adanya keluhan atas perilaku itu yang memang dirasa

tidak baik itu, juga diungkapkan oleh Soekadji (1983) yang menyebutkan perilaku destruktif ini

sebagai problema psikologis yaitu problema psikologis juga dapat dikenali meskipun klien tidak

mengeluh, tetapi orang-orang disekitarnya merasakan pengaruh tidak menyenangkan akibat

tindakan-tindakan klien; atau orang-orang sekitar menilai klien tidak efektif, destruktif

(merusak), tidak bahagia, mengganggu dan menjengkelkan.

Mengetahui bentuk-bentuk pengendalian perilaku destruktif ini baik bagi mereka yang

bergelut dengan para penyandang autis, karena dapat berguna untuk keluarga, guru pendamping

atau orang-orang yang disekitarnya terdapat penyandang autis, agar lebih memiliki keterampilan,

menambah pengetahuan dan memiliki kesiapan diri apabila autism yang berada disekitarnya

berperilaku yang membahayakan diri autis atau lingkungan sekitar, maka melalui penelitian ini

permasalahan itu dapat terbantu dan mengurangi keresahan akan perilaku dalam pengendalian

perilaku destruktif dari penyandang autis. Dan dari pengendalian ini juga bermanfaat bagi

penyandang autis karena dapat meminimalisir efek buruk dari perilaku destruktif yang dilakukan

pada dirinya sendiri, seperti yang biasanya terdapat luka atau memar akibat perbuatannya, maka

dengan adanya pengendalian ini maka perilaku yang menyebabkan memar itu dapat ditahan

hingga tidak terjadi dan akhirnya penyandang autis tidak lagi mengalami luka-luka ringan

sampai berat akibat perbuatannya sendiri.

Berdasarkan paparan di atas, mengenai autisme dan perilaku destruktif yang dilakukan

autisme serta pentingnya memahami bagaimana sikap yang seharusnya dan pengendalian yang

tepat ketika perilaku destruktif itu muncul oleh penyandang Autisme, agar dapat membantu dan

sedikit menambah referensi dan pemahaman akan bagaiamana perilaku atau sikap yang

dilakukan kepada penyandang autis ketika menunjukkan perilaku yang menagarah kepada

perilaku destruktif.

(6)

Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti mengajukan rumusan penelitian ini yaitu

bagaimana pengendalian terhadap perilaku destruktif yang muncul pada Autisme ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk pengendalian dari Orang tua atas

perilaku destruktif yang dilakukan oleh penyandang Autisme.

D. Manfaat Penelitian : 1) Secara teoritis

Suatu penelitian akan bemakna jika bermanfaat bagi kalangan yang bersangkutan dan

dapat menjadi ilmu pengetahuan tambahan dalam kajian ilmu Psikologi Klinis dan

Perkembangan.

2) Secara Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan pemahaman baru kepada

para keluarga yang memilki anggota penyandang Autisme, untuk lebih memperdalam

lagi pengetahuannya bagaimana memperlakukan dan mengendalikan perilaku destruktif

(7)

BENTUK-BENTUK PENGENDALIAN PERILAKU DESTRUKTIF AUTIS

SKRIPSI

Diajukan kepada Universitas Muhammadiyah Malang sebagai salah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Psikologi

Disusun Oleh:

MEYRITHA TRIFINA SARI 08810223

FAKULTAS PSIKOLOGI

(8)

BENTUK-BENTUK PENGENDALIAN PERILAKU DESTRUKTIF AUTIS

SKRIPSI

Diajukan kepada Universitas Muhammadiyah Malang sebagai salah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Psikologi

Disusun Oleh:

MEYRITHA TRIFINA SARI 08810223

FAKULTAS PSIKOLOGI

(9)

i

BENTUK-BENTUK PENGENDALIAN PERILAKU DESTRUKTIF AUTIS

SKRIPSI

Diajukan Kepada Universitas Muhammadiyah Malang Sebagai Salah Satu Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Psikologi

Oleh:

MEYRITHA TRIFINA SARI 08810223

FAKULTAS PSIKOLOGI

(10)

ii

LEMBAR PERSETUJUAN

1. Judul Skripsi : Bentuk-bentuk pengendalian perilaku destruktif autis

2. Nama Peneliti : Meyritha Trifina Sari

3. NIM : 08810223

4. Fakultas : Psikologi

5. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang

6. Waktu penelitian : 8 Februari 2012 – 11 Maret 2012

7. Tanggal Ujian : 13 April 2012

Malang, 13 April 2012

Pembimbing I Pembimbing II

(11)

iii

LEMBAR PENGESAHAN

BENTUK-BENTUK PENGEDALIAN PERILAKU DESTRUKTIF AUTIS

Yang disiapkan dan disusun oleh :

Nama : Meyritha Trifina Sari

NIM : 08810223

Fakultas : Psikologi

Telah dipertahankan di depan penguji pada tanggal 13 April 2012 dan

dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima sebagai kelengkapan guna

memperoleh gelar sarjana Psikologi pada Universitas Muhammadiyah Malang.

Susunan Tim Penguji :

Penguji I : 1. Latipun, Dr.,M.Kes ( )

Penguji II : 2. M.Salis Yuniardi, M.Psi. ( )

Penguji III : 3. RR Siti Suminarti F, Dra.,M.Si ( )

Penguji IV : 4. Adhyatman Prabowo, M.Psi ( )

Mengesahkan,

Dekan Fakultas Psikologi

Universitas Muhammadiyah Malang

(12)

iv

SURAT PERNYATAAN Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Meyritha Trifina Sari

NIM : 08810223

Fakultas/Jurusan : Psikologi

Universitas Muhammadiyah Malang

Menyatakan bahwa skripsi/karya ilmiah yang berjudul :

“ Bentuk-bentuk pengendalian perilaku Destruktif Autis “

Adalah bukan karya orang lain baik sebagian maupun keseluruhan kecuali

dalam bentuk kutipan yang digunakan dalam naskah ini dan telah disebutkan

sumbernya.

1. Hasil tulisan karya ilmiah/skripsi dari penelitian yang saya lakukan

merupakan Hak bebas Royalti non eksklusif, apabila digunakan sebagai

sumber pustaka.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan

apabila pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia mendapatkan sanksi sesuai

dengan undang-undang yang berlaku.

Mengetahui Malang, April 2012

Ketua Program Studi Yang Menyatakan,

(13)

v

Kata Pengantar

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi dengan “ Bentuk-Bentuk Pengendalian Perilaku Destruktif Autis “ sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana psikologi di Universitas

Muhammadiyah Malang.

Dalam proses peyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan

bimbingan dan petunjuk serta bantuan yang bermanfaat dari berbagai pihak. Oleh

karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima

kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Dra. Cahyaning Suryaningrum,M.Si, selaku Dekan Fakultas Psikologi

Universitas Muhammadiyah Malang.

2. Dr.Latipun,M.Kes selaku dosen pembimbing I telah bersedia untuk

memberikan bimbingan dan arahan yang sangat berguna, hingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

3. Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi selaku dosen pembimbing II yang telah

banyak meluangkan waktu dan kesabaran untuk memberikan bimbingan dan

arahan yang sangat berguna, hingga penulis dapat meyelesaikan skripsi

dengan baik.

4. Mohammad Shohib,M.Si selaku dosen wali yang selama ini telah

membimbing dan memberikan pengarahan serta motivasi sejak awal

perkuliahan hingga selesainya skripsi ini,

5. Segenap dosen di Fakultas Psikologi. Terima kasih atas segala bimbingan dan

curahan ilmu-ilmunya selama masa perkuliahan.

(14)

vi

7. Subyek dan Informan penelitian, yaitu kepada Bapak dan Ibu Rudi, serta

Bapak dan Ibu Serra. Terima kasih atas kesediaannya dalam memberikan

informasi.

8. Saudara-saudaraku Mba Cici, Mas Endar, Mba neti, Mas Dani dan

keponakan-keponakanku tersayang Kanaya, Kaylana dan Kenzie.

9. Teman-teman tercinta dan “gokil “ di kost Perum.Bukit Cemara Tujuh Kav.9.

10.Teman-teman Fakultas Psikologi, terutama teman-teman di Kelas D dan

khususnya Happak : Intan, Anis, Icha yang sudah bersama penulis dari awal

memasuki kuliah hingga akhir menyelesaikan dan kita lulus bersama.

11.Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu disini, yang telah

banyak memberikan bantuan pada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari tiada satupun karya manusia yang sempurna, sehingga

kritik dan saran demi perbaikan karya skripsi ini sangat penulis harapkan. Meski

demikian, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti

khususnya dan pembaca pada umumnya.

Malang, April 2012

Penulis

(15)

vii INTISARI

Trifina, Sari Meyritha. (2012).Bentuk-bentuk pengendalian perilaku desturktif autis. Skripsi, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. Pembimbing : (1) Dr.Latipun, M.Kes (2) Muhammad Salis Yuniardi,M.Psi

Kata kunci :Bentuk-bentuk pengendalian, Perilaku destruktif, dan Autis

Pada dasarnya individu membutuhkan pengendalian atas perilakunya yang disebabkan oleh luapan emosi yang diungkapkan menjadi perilaku yang berpotensi destruktif. Agar tidak semakin parah, maka dibutuhkan pengendalian. Tidak terkecuali,pada penyandang autis yang memilki keterbatasan dalam berperilaku yang sesuai, juga diperlukan pengendali untuk mengendalikannya ketika menunjukkan perialku destruktif untuk menghindari dampak negative dari perilaku tersebut .

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan 4 orang subjek. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah menggunakan wawancara dan observasi. Adapun analsia data yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Sedangkan keabsahan data yang digunakan adalah menggunakan teknik triangulasi.

(16)
(17)

ix 1. Pengertian Perilaku Destruktif ... 14

2. Definisi Bentuk Perilaku Destruktif ... 15

3. Pengendalian Periaku Destruktif ... 16

(18)

x BAB III : METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian ... 21

B. Batasan Istilah ... 22

C. Subjek Penelitian ... 22

D. Konteks penelitian ... 22

E. Jenis data dan Instrumen Penelitian ... 23

F. Prosedur Penelitian ... 25

G. Teknik Analisis Data ... 28

H. Keabsahan Data... 29

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi subjek penelitian ... 30

B. Hasil Penelitian 1. Perilaku Destruktif Autis ... 30

a. perilaku destruktif yang merugikan diri autis... ... 31

b. perilaku destruktif yang merugikan lingkungan... ... 31

2. Bentuk Pengendalian perilaku Destruktif... .. 32

C. Pembahasan ... 38

BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ... 45

B. Saran ... 45

DAFTAR PUSTAKA ... 47

(19)

xi

DAFTAR TABEL Nomor Tabel :

Tabel 4.1 Tabel Data Subyek Penelitian ... 30

Tabel 4.2 Tabel perilaku, bentuk pengendalian dan dampak perilaku

(20)

xii

DAFTAR LAMPIRAN Nomor Lampiran :

Lampiran 1 Pedoman Wawancara (Guide Interview) ... 50

Lampiran 2 Deskripsi data penelitian ... 51

Lampiran 3 Dinamika Psikologis ... 62

Lampiran 4 Verbatim Subyek 1 ... 71

Lampiran 5 Verbatim Subyek 2 ... 75

Lampiran 6 Verbatim Subyek 3 ... 78

Lampiran 7 Verbatim Subyek 4………. 84

Lampiran 8 Verbatim informan lain ………. 90

Lampiran 9 verbatim informan lain ………... 93

Lampiran 10 observasi RD ……… 95

Lampiran 11 observasi SR………. 96

(21)

DAFTAR PUSTAKA

Christie,Phil.,Newson,Elizabeth.,Prevezer,Wendy.,Chandler, Susie. (2009). Langkah Awal berinteraksi dengan Anak Autis.(terjemahan oleh Manipuspika, Shanti Yana). Jakarta : Gramedia.

Chaplin,J.P. (2006). Kamus lengkap psikologi (cetakan ketujuh) Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Colman,M Andrew.(2003). Oxford dictionary of psychology. New York: Oxford University Press.

Goode,W.J.(2004). Sosiologi Keluarga.Jakarta: Bumi Aksara

Hairiyah,N.(2005) Hubungan antara pengendalian diri dengan kecendrungan perilaku mengambil resiko pada mahasiswa pecinta alam dengan spesialisasi arung jeram. Skripsi. Fakultas Psikologi UMM Malang.

Jones-Haviland,J.M.,& Lewis,M. (Ed).(2000). Handbook of emotion.New York London: The Guilford Press.

Kartono,L.I & Mar’at,S.(2006).Perilaku manusia (pengantar singkat tentang psikologi). Bandung :Refika Aditama.

Khotimah,D.K. (2004 ) Hubungan frekuensi pelaksanaan shalat tahajud dengan pengendalian emosi. Skripsi , Fakultas Psikologi Universitas

Muhammadiyah Malang.

Koswara,E. 1996. Teori-teori kepribadian.Bandung : PT.Eresco Bandung.

Latipun, 2010. Pedoman penulisan skripsi. Malang: Fakultas Psikologi UMM.

Breton,Marlyn Le. 2004. Diet intervention and autism implementing the gluten free and casein free diet for autistic children and adults a practical guide for parents. London. Jessica Kingsley Publishers. Dari www.jkp.com

Martin, Nicole. 2009. Art as an early intervention tool for children with autism. London. Jessica Kingsley Publishers. Dari www.jkp.com

Maulana, M.2009. Anak autis: mendidik anak autis dan gangguan mental lain menuju anak cerdas dan sehat. Jogjakarta: Kata Hati.

(22)

Moleong, L.J. 2007. Metodologi penelitian kualitatif (Ed.Revisi) Bandung: Remaja Rosdakarya.

Prasetyono,d.2008.Serba-serbi anak autis.Jogjakarata: Diva Press.

Ramdhani, N & Thiomina, R. (2008). Mengenali pola emosi anak-anak autistik. www.neila.staff.ugm.ac.id. diakses tanggal januari 2012

Ramdhani,N.,Thiomina, Prastowo, B.N., & Kusumawardhani, S.S. (2009). Advanced Help for mentoring autistic disorder ‘AHMAD’: development of edutainment software for mentoring children with autism. www.neila.staff.ugm.ac.id diakses tanggal januari 2012.

Santrock,W.John. (1995). Perkembangan Masa Hidup (jilid kesatu)(terjemahan oleh Damanik,Juda dan Chusairi, Achmad) Jakarta : Erlangga.

Sari, P.A.(2006). Peran Keluarga dalam melakukan penanganan perilaku anak Autis usia sekolah di sekolah Autis Universitas Negeri Malang. Skripsi, Fakultas Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang.

Schustack & Friedman,2006. Kepribadian : Teori klasik dan riset modern. Jakarta. Penerbit Erlangga.

Suryawati,A.I.,(2010).Model Komunikasi Penanganan Anak Autis Melalui Terapi Bicara Metode Lovaas. Jurnal Ilmiah Faklutas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,01,36.

Sugiyono (2009). Memahami penelitian kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Tavris, Carol. Wade,. (2008). Psikologi. Jilid 2. Jakarta: Erlangga

Wirawan,C.(2010). Faktor-faktor yang melatarbelakangi perilaku destruktif pada remaja pelaku balap liar.Skripsi. Fakultas Psikologi UMM.

Yuwono.2009. Memahami anak autistic Kajian Teori dan Empirik. Bandung : Alfabeta.

http://kesos.unpad.ac.id/?p=552 ( diakses tanggal 19 November 2011 )

http://psikologi-pendidikan/situs-belajar-psikologi.com. (diakses tanggal,2 November 2011)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subyek mengalami gangguan autis regresif dengan menggunakan metode dari lovaas (terapi perilaku) dapat menangani anak

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subyek mengalami gangguan autis regresif dengan menggunakan metode dari lovaas (terapi perilaku) dapat menangani anak

Hasil pengujian diperoleh kesimpulan bahwa untuk hipotesis Pengendalian Perilaku berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial telah terbukti kebenarannya sedangkan,

Strategi pembelajaran yang dilakukan guru adalah dengan mengajarkan pada anak autis tentang bagaimana bersosialisasi, beradaptasi, cara mengendalikan emosi dan menghadapi setiap

Strategi pembelajaran yang dilakukan guru adalah dengan mengajarkan pada anak autis tentang bagaimana bersosialisasi, beradaptasi, cara mengendalikan emosi dan menghadapi setiap

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh dari sensory story terhadap penurunan perilaku temper tantrum pada anak autis yang mengalami kesulitan

Permasalahan yang dihadapi remaja dalam perilaku seksualnya adalah bagaimana mereka memiliki perilaku seksual yang sehat dan terhindar dari berbagai implikasi

Perilaku yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu bagaimana perilaku keagamaan muslimah bercadar di perkampungan Al-Nadzir, bentuk-bentuk kegiatan mereka dan perilaku