Analisis Produksi Terhadap Program Sinetron Tukang Bubur Naik Haji The Series (Episode 402 Dan 403)

129  16  Download (2)

Teks penuh

(1)

BUBUR NAIK HAJI THE SERIES (Episode 402 dan 403)

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar

Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I)

Disusun Oleh :

SUCI NURUL KHAIRIYAH

NIM : 109051000215

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

i Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memeperoleh gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I) di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan skripsi ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Juli 2013

(3)
(4)
(5)

i SUCI NURUL KHAIRIYAH

ANALISIS PRODUKSI PROGRAM SINETRON TUKANG BUBUR NAIK HAJI THE SERIES (Episode 402 dan 403)

Kini televisi menjadi media dalam menyampaikan dakwah. Tayangan sinetron yang bertema religi/Islami salah satu bentuknya. Menyampaikan pesan dakwah melalui media televisi sangat efektif karena pesan yang disampaikan dalam bentuk audio (suara) dan visual (gambar) terlebih televisi merupakan media yang sangat dekat dengan masyarakat. Sinetron Tukang Bubur Naik Haji the series yang diproduksi PT. Sinemart merupakan salah satu sinetron yang bertema religi/Islami yang mempunyai tujuan untuk menyampaikan pesan dakwah namun juga hiburan. Cerita yang diangkat merupakan komodifikasi realita masyarakat sehari­hari sehingga pesan yang ingin disampaikan akan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

penelitian ini ingin mengetahui Bagaimana proses produksi terhadap program sinetron Tukang Bubur Naik Haji the series?, kemudian apa saja faktor penghambat yang dialami pihak­pihak terkait dalam proses produksi sinetron Tukang Bubur Naik Haji the series?

Pendekatan kualitataif yang bersifat deskriptif digunakan dalam penelitian ini, yaitu menggambarkan keadaan sebenar­benarnya. Sebagai penelitian lapangan, peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam terhadap pihak­pihak terkait dalam proses produksi sinetron Tukang Bubur Naik Haji the series dan faktor penghambat yang dialami pihak­pihak terkait. Selain itu peneliti juga melakukan observasi langsung untuk melihat jalannya proses shooting juga editing untuk episode yang sedang diteliti. Serta melihat langsung dokumen­ dokumen yang terkait dalam proses penelitian seperti skenario, jadwal pengambilan gambar dan daftar kerabat kerja yang bertugas.

Tahapan pelaksanaan produksi suatu program televisi yang melibatkan banyak peralatan, orang dan juga biaya yang tidak sedikit. Proses produksi sinetron ini, dapat dilihat melalui enam tahapan dalam pembentukan konstruksi sosial media massa dalam produksi sinetron bertema religi/Islami. Dimulai dari tahapan penyiapan, pemilihan realitas, pembingkaian skenario, pembentukan realitas subjektif, pengemasan realitas simbolik, dan terakhir tahap penentapan realitas objektif.

(6)

ii

Segala puji bagi Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yang telah memberikan berbagai macam nikmat dan kemudahan dalam kehidupan. Yang dengan ke­Maha Rahiman­Nya, menuntun penulis bertemu dengan orang­orang yang Shaleh dan memberi petunjuk ke jalan yang benar melalui tangan­tangan mereka. Shalawat teriring salam selalu tercurahkan untuk baginda nabi besar Muhammad SAW beserta para keluarga serta para sahabatnya dan kita umatnya.

Alhamdulillah, penulis telah menyelesaikan skripsi berjudul “ANALISIS PRODUKSI PROGRAM SINETRON TUKANG BUBUR NAIK HAJI THE SERIES” yang dalam isinya penulis menyadari masih jauh dari sempurna. Namun dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati, penulis meyakini bahwa skripsi ini tidak akan selesai tanpa bantuan serta dukungan dari berbagai pihak, baik secara moril maupun materil. Maka penulis mengucapkan terimakasih sebesar­besarnya kepada:

1. Ayahanda dan Ibunda tercinta, Bapak Heriawan S.Pd dan Ibu Isticharoh, terimakasih atas segala do‟a, kesabaran serta kasih sayang untuk penulis. Semoga beliau selalu dalam lindungan Allah SWT.

(7)

iii

serta sekretaris Jurusan KPI Ibu Hj. Umi Musyarofah, M.A.

4. Bapak Dr. H. Sunandar, M.A, selaku dosen pembimbing yang telah dengan sabar membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Dosen dan staf pengajar FIDKOM yang telah memberikan banyak ilmu pengetahuan dan kesabaran dalam mendidik selama penulis menjalani studi. 6. Bagian administrasi dan tata usaha yang telah banyak membantu memberi

kemudahan dalam penyelesaian administrasi. Serta segenap pegawai Perpustakaan Utama dan Perpustakaan FIDKOM, atas kemudahan penulis mengakses buku­buku penunjang sebagai referensi dalam penelitian ini. 7. Pihak rumah produksi sinetron Tukang Bubur Naik Haji the series, PT

Sinemart, Mba Dini selaku Humas PT Sinemart dengan izin beliau penulis dapat melakukan penelitian langsung di lokasi syuting sinetron Tukang Bubur Naik Haji the series.

8. Penulis Ide cerita Sinetron Tukang Bubur Naik Haji the series, H. Imam Tantowi yang telah meluangkan waktu untuk penulis dalam menjawab pertanyaan seputar cerita sinetron Tukang Bubur Naik Haji the series.

(8)

iv Satriawan.

11.Untuk kokoku, Muhammad Kosasih terimakasih atas dukungan, doa dan kesediaannya mengantarku dalam melakukan penelitian ini.

12.Teman­teman kelasku KPI F selalu di hati yang wanita, yanti, yunita, popi, silvi, vinti, filza, tuti, riri, imeh, juga teman­temanku KPI F selalu di hati yang pria yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah menjadi motivator, sehingga penulis dengan segera menyelesaikan skripsi ini. Serta seluruh teman­teman KPI A, B, C, D, E, dan G angkatan 2009.

13.Semua pihak, yang tidak disebutkan satu persatu namun tidak mengurangi rasa hormat dan terimakasih penulis.

14.Serta Anda yang sedang membaca skripsi saya ini.

Akhir kata, semoga skripsi ini bermanfaat khususnya untuk penulis dan umumnya pembaca. Dan penulis mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan. Terimakasih

Jakarta, Juli 2013

(9)

v

Abstrak ... i

Kata Pengantar ... ii

Daftar Isi ... v

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Batasan dan Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 6

D. Tinjauan Pustaka ... 6

E. Metodologi Penelitian ... 8

F. Sistematika Penulisan ... 10

BAB II TINJAUAN TEORI A. Konstruksi Sosial Media atas Realitas Sosial ... 12

B. Perencanaan Produksi Program Televisi ... 16

1. Tahap Penyiapan Komponen Komunikasi ... 17

2.Tahap Pemilihan Realitas ... 22

3.Tahap Pembingkaian Skenario ... 25

4.Tahap Pembentukan Realitas Subjektif ... 26

5.Tahap Pengemasan Realitas Simbolik ... 28

6.Tahap Penetapan Realitas Subjektif ... 29

C. Produksi Sinetron Televisi ... 29

1.Pengertian Program ... 29

(10)

vi HAJI THE SERIES

A. Sekilas Tentang PT Sinemart ... 40

1. Sejarah Berdiri dan Perkembangan ... 40

2. Program Sinetron Religi Produksi Sinemart ... 44

B. Sekilas Tentang Sinetron Tukang Bubur Naik Haji the series 38 1. Latar Belakang dan Perkembangan Sinetron ... 38

2. Daftar Pemain dalam Produksi Sinetron Tukang Bubur Naik Haji the series ... 44

3. Kerabat Kerja Produksi Sinetron Tukang Bubur Naik Haji the series ... 45

BAB IV ANALISIS PRODUKSI TERHADAP PROGRAM SINETRON TUKANG BUBUR NAIK HAJI THE SERIES (EPISODE 402­403) A. Proses Produksi Program Sinetron Tukang Bubur Naik Haji the series ... 51

1. Tahap Penyiapan Komponen Komunikasi ... 51

2. Tahap Pemilihan Realitas ... 63

3. Tahap Pembingkaian Skenario ... 65

4. Tahap Pembentukan Realitas Subjektif ... 66

5. Tahap Pengemasan Realitas Simbolik ... 72

6. Tahap Penetapan Realitas Objektif ... 74

(11)

vii

(12)

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Televisi sebagai media penyampai informasi yang mampu menyajikan segala bentuk pesan melalui audio (suara) sekaligus visual (gambar) dianggap menjadi media yang efektif dalam menyampaikan berbagai pesan. Sebagai salah satu saluran penyampaian pesan yang bersifat massa, televisi mampu menyebarkan informasi secara luas, serempak serta pada khalayak yang bersifat heterogen. Televisi dengan segala kelebihannya mampu menjaring khalayak dan memberikan pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan masyarakat yang menyaksikannya.Televisi menampilkan berbagai macam tayangan yang di dalamnyaterdapatpengalaman­pengalaman yang sengaja dibuat oleh komunikator dibalik siaran televisi yang mampu memberikan ide, masukan, dan pengetahuan terhadap khalayak yang menyaksikannya.Dengan karakteristiknya yang mampu membangkitkan perasaan intim (dekat) karena mampu menyentuh langsung rangsang penglihatan dan pendengaran manusia menjadikannya layaknya hal wajib yang tidak bisa ditingggalkan oleh penontonnya.

(13)

atau keagamaan melalui media televisi yang dapat disajikan melalui berbagai macam bentuk, ada yang disajikan dalam bentuk features seperti program Mozaik Islam di Trans7, ada pula dalam bentuk dialog seperti program dakwah hati ke hati bersama mamah Dedeh di ANTV, maupun dalam bentuk ceramah seperti Indonesia Menghapal di TPI serta Damai Indonesiaku di TV One. Selain itu, dakwah melalui program religi/keagamaan di televisi, kini banyak disajikan dalam bentuk sinetron seperti tukang bubur naik haji the series yang merupakan hasil garapan dari rumah produksi Sinemart.Sebagai sebuah program hiburan, sinetron banyak dimintai masyarakat.Sinetron hadir dalam bentuk audiovisual, sehingga melalui audiovisual inilah sinetron dapat memberikan pengalaman­pengalaman baru kepada penontonnya, pengalaman itu menyampaikan berbagai aspek seperti nuansa pemikiran (kognitif), perasaan (afektif), sikap (konatif) kepada penontonnya.Akan tetapi efek yang paling signifikan adalah aspek efek terhadap kognitifnya dibandingkan aspek efek terhadap afektif dan konatif.Maka dari sinilah sinetron dapat dijadikan sebagai media komunikasi yang berfungsi sebagai media tabligh, yaitu media untuk mengajak kepada kebenaran dan kembali menginjakkan kakinya di jalan Allah SWT.1

Sajian hiburan berupa sinetron yang dibarengi pendidikan keagamaan memang bukan yang pertama kali.Beberapa rumah produksi telah melahirkan judul­judul bertemakan keagamaan, baik yang sengaja dibuat sebagai identitas dari rumah produksi tersebut, maupun karena alasan menyesuaikan dengan keinginan masyarakat, salah satunya Sinemart.Sinemart sebagai salah satu

1

(14)

rumah produksi terkemuka di Indonesia, telah banyak melahirkan beberapa judul sinetron yang bertemakan religi/keagamaan.Bahkan sinetron yang bertemakan religi/keagamaan yang diawali dari novel kemudian layar lebar kemudian diangkat menjadi sebuah sinetron seperti Ketika Cinta Bertasbih dan Dalam Mihrab Cinta. Kemudian kini masih dalam produksi , yakni sinetron tukang bubur naik haji the series.

(15)

Bahkan anak mereka Rumanah (Citra Kirana) dilarang berhubungan dengan Robby (Andi Arsyil), adik ipar bang Sulam. Fitnah­fitnah tentang keluarga bang Sulam pun terus berdatangan.2

Islam dalam sinetron ini, dituturkan dengan bahasa sederhana yang mudah dicerna oleh orang awam sekalipun.Pembawaan atau karakter yang dibuat dalam sinetron ini, digambarkan sedekat mungkin dengan kenyataan. Cerita dalam sinetron ini pun merupakan komodifikasi dari realita.Alur cerita yang diambil dari pengalaman­pengalaman yang terjadi di sekitar masyarakat serta pengembangan cerita menjadi nilai plus tersendiri, yang menjadikan sinetron ini sayang untuk dilewatkan. Tukang Bubur Naik Haji The Series merupakan sebuah sinetron yang ditayangkan di RCTI minggu hingga kamis pukul 19:00 s/d 22:30 WIB kecuali jumat yakni pukul 19:00 s/d 21:00 WIB karena ada tayangan X Factor Indonesia. Karena program sinetron Tukang Bubur Naik Haji the series merupakan program yang diunggulkan stasiun televisi RCTI sehingga jam tayang sinetron ini berubah­ubah. Sinetron ini diproduksi oleh Sinemart. Pemainnya antaralain ialah Mat Solar, Uci Bing Slamet, Citra kirana, Aditya Herpavi Rahman dan masih banyak lagi. Sinetron ini juga mengalahkan Kemilau Cinta Karmila yang berjumlah 365 episode pada tangga 8 januari 2013, sehingga membuat sinetron ini menjadi sinetron dengan episode terbanyak urutan ke­lima di Indonesia setelah Cinta Fitri, Putri yang di Tukar, Islam KTP, dan Anugerah. Berikut ini tabel sinetron dengan episode terpanjang di Indonesia:3

2

Sinopsis Sinetron Tukang Bubur Naik Haji the series dalam goggle diakses 26 januari 2013Pukul 14:00 WIB

3

(16)

JUDUL Cinta Fitri 1002 episode 7 season Putri yang di Tukar 676 episode 1 season

Islam KTP 558 episode 1 season

Anugerah 473 episode 1 season

Tukang Bubur Naik Haji The Series

404 episode (masih tayang)

1 season

Sebuah sinetron yang bukan sekedar menjadi tontonan tetapi dapat menjadikan tuntunan bagi penontonnya karena memberikan pengetahuan agama, moral serta budaya bahkan diminati masyarakat hingga bertahan dalam episode yang panjang merupakan tayangan yang baik untuk masyarakat. Maka, dari latar belakang diatas, penulis ingin melakukan analisis lebih mendalam aspek pra produksi, produksi hingga pasca produksi program sinetron Tukang Bubur Naik Haji the series sehingga dapat di saksikan oleh penonton..

Berdasarkan itu pula penelitian ini, penulis beri judul “ANALISIS PRODUKSI PROGRAM SINETRON TUKANG BUBUR NAIK HAJI THE SERIES (EPISODE 402­403) ”.

B. Batasan dan Rumusan Masalah

(17)

Sedangkan rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana proses produksi terhadap program sinetron Tukang Bubur Naik Haji the series, berdasarkan enam tahapan konstruksi sosial media massa?

2. Apa saja hambatan yang dialami dalam proses produksi?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah mengetahui proses pra produksi, produksi dan pasca produksi sinetron tukang bubur naik haji the series serta hambatan yang dialamai selama proses produksi sinetron tukang bubur naik haji the series.

Sedangkan kegunaan yang dapat diambil dalam penelitian ini antara lain: 1. Kegunaan Akademis

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi dan dokumentasi ilmiah untuk perkembangan ilmu pengetahuan, terutama dibidang produksi siaran TV berupa sinetron.

2. Kegunaan Praktis

Pnelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan khususnya untuk penulis dan umumnya bagi para pembaca.Serta memberikan informasi kepada pihak­pihak terkait yang memiliki perhatian terhadap produksi siaran televisi khususnya sinetron.

D. Tinjauan Pustaka

(18)

dan baru menemukan satu skripsi yang membahas tentang analisis produksi program sinetron melalui rumah produksi, diantaranya:

Anne Chrisnasari menemukan pada penelitian tersebut analisis format pada program Kerukunan Umat Beragama dan bagaimana proses produksinya. Persamaan dalam skripsi ini, bagaimana proses produksinya dan perbedaan dalam skripsi ini bagaimana format pada acara Kerukunan Umat Beragama.4

Arry Susanti menemukan ada penelitian tersebut analisis desain program

Assalamu‟alaikum Ustadz di RCTI dan bagaimana proses produksinya.

Persamaan dalam skripsi ini, bagaimana proses produksinya dan perbedaan dalam skripsi ini bagaimana format pada acara Kerukunan Umat Beragama. 5

Qurnia Nirmalasari menemukan pada penelitian tersebut, analisis pelaksanaan program produksi sinetron tersebut, yang meliputi Pra produksi, produksi, dan pasca produksi. Persamaan dalam penelitian tersebut, analisis produksi terhadap program sinetron bertema religi. Perbedaannya analisis produksi sinetron pada skripsi ini menggunakan enam tahapan proses pembentukan konstruksi sosial media massa dalam produksi sinetron bertema religi/Islami.6

Sedangkan judul proposal skripsi penulis adalah “ANALISIS PRODUKSI TERHADAP PROGRAM SINETRON TUKANG BUBUR

4

Anne Chrisnasari. Analisis Produksi Program Kerukunan Umat Beragama di TVRI

(Jakarta: Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam. 2006)

5

Arry Susanti. Analisis Deskriptif Program Assalamu’alikum Ustadz di RCTI. (Jakarta: Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam. 2005)

6

(19)

NAIK HAJI THE SERIES”.Yang menjadikan perbedaan judul peneliti dengan skripsi sebelumnya adalah terletak pada subjek yang digunakan dan subjek tersebut berbeda dari tingkat mutunya dibandingkan subjek penelitian sebelumnya.

E. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat

deskriptif, yaitu menggambarkan keadaan yang sebenarnya.Sebagai

penelitian lapangan, penelitian ini menitikberatkan pada penggunaan

teknik berupa wawancara mendalam yang dilakukan peneliti dengan pihak

yang terlibat langsung dengan penelitian yang dimaksud serta observasi

langsung di lapangan. Menurut Lofland, sumber utama dalam penelitian

kualitatif adalah kata­kata, tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen yang lain.7

2. Subjek dan Objek penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah tim produksi sinetron tukang

bubur naik haji the series, sedangkan objeknya adalah proses produksi sinetron tukang bubur naik haji the series yang merupakan sinetron hasil garapan dari Sinemart.

3. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kantor rumah produksi Sinemart yang terletak di Jl. Panjang 7­9 Kedoya Elok Plaza B1 DD/61­63, Kedoya

7

(20)

Selatan, Jakarta Barat, Kode pos 11520. Serta lokasi syuting tukang bubur naik haji the series yaitu di Jl. Mandiri, Alternatif Cibubur, Depok, Jawa Barat. Sedangkan waktu penelitian dilakukan selama bulan Januari­juni

2013.

4. Tahapan Penelitian

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut:

a. Observasi, peneliti menggunakan observasi di lokasi produksi sinetron tukang bubur naik haji the series dengan cara pengamatan langsung dan mencatat fenomena yang terjadi selama proses produksi berlangsung bertempat di Jl. Mandri, Alternatif Cibubur, Depok, Jawa Barat serta ruang editing serta mastering sinetron tukang bubur naik haji bertempat dikantor Sinemart yang terletak di Jl. Panjang 7­9 Kedoya Elok Plaza B1 DD/61­63, Kedoya Selatan, Jakarta Barat, Kode pos 11520.

(21)

c. Teknik Olah Data

Teknik olah data yang dilakukan oleh penulis adalah dengan cara mengumpulkan data­data yang diperoleh melalui wawancara, tinjauan lokasi, serta dokumen yang berhubungan dengan objek penelitian kemudian peneliti menjabarkan, menerangkan, menginterpretasikan, data­data secara apa adanya, kemudian memberi kesimpulan. Sedangkan teknik dan metode laporan penelitian ini, penulis mengacu

kepada “Buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis dan

Disertasi)” yang diterbitkan oleh CeQDA UIN Jakarta.

F. Sistematika Penulisan

Agar penulisan skripsi ini lebih terarah dan sistematis, maka penulis membagi pokok­pokok permasalahan ke dalam lima bab yaitu sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN berisi Latar Belakang Masalah, Batasan dan Rumusan Masalah, Tujuan dan Kegunaan Penelitian, Tinjauan Pustaka, Metodologi Penelitian, serta Sistematika Penulisan BAB II TINJAUAN TEORI berisi Konstruksi Sosial Media atas Realitas

Sosial, Perencanaan Produksi Program Sinetron Televisi (meliputi Tahap Penyiapan Komponen, Tahap Pemilihan Realitas, Tahap Pembingkaian Skenario, Tahap Pembingkaian Realitas Subjektif, Tahap Pengemasan Realitas Simbolik, Tahap Penetapan Realitas Subjektif), Produksi Program Televisi (meliputi Pengertian Program, Pengertian Sinetron).

(22)

(meliputi Sejarah Berdiri dan Perkembangan, Program Religi yang sudah di Produksi Sinemart), Sekilas Tentang Sinetron Tukang Bubur Naik Haji the series (meliputi Latar Belakang dan Perkembangan sinetron, Daftar Pemain yang Terlibat dalam Produksi Sinetron Tukang Bubur Naik Haji the series, Kerabat Kerja Produksi Sinetron Tukang Bubur Naik Haji the series). BAB IV ANALISIS PRODUKSI TERHADAP PROGRAM SINETRON

TUKANG BUBUR NAIK HAJI THE SERIES EPISODE 402­ 403 berisi Proses Produksi Program Sinetron Tukang Bubur Naik Haji The Series (meliputi Tahap Penyiapan Komponen dakwah, Tahap Pemilihan Realitas, Tahap Pembingkaian Skenario, Tahap Pembentukan Realitas Subjektif, Tahap Pengemasan Realitas Simbolik, Tahap Penetapan Realitas Objektif). Dan Faktor Penghambat Produksi Sinetron Tukang Bubur Naik Haji The Series.

(23)

12

TINJAUAN TEORI

A.Konstruksi Sosial Media Atas Realitas Sosial

Burhan Bungin mengutip penjelasan Berger dan Luckmann dalam

buku “Konstruksi Sosial Media Massa” tentang pengertian realitas sosial

dengan memisahkan pemahaman “kenyataan” dan “pengetahuan”. Realitas

diartikan sebagai kualitas yang terdapat dalam realitas­realitas yang diakui sebagai memiliki keberadaan (being) yang tidak tergantung kepada kehendak kita sendiri. Sedangkan pengetahuan di definisikan sebagai kepastian bahwa realitas­realitas itu nyata (real) dan memiliki karakteristik.

Proses konstruksinya jika dilihat dari perpektif teori Berger & Luckmann berlangsung melalui interaksi sosial yang dialektis dari tiga bentuk realitas yang menjadi entry consept, yakni:

Objective reality, merupakan suatu kompleksitas definisi realitas (termasuk ideologi dan keyakinan) serta rutinitas tindakan dan tingkah laku yang telah mapan terpola, yang kesemuanya dihayati oleh individu secara umum sebagai fakta.

Simbolic realita, merupakan ekspresi simbolik dari apa yang dihayati

sebagai “objective reality” misalnya teks produk industri media, seperti berita

di media cetak atau elektronika, begitupun yang ada di film­film.

(24)

baru.1Dialektika ini berlangsung dalam proses dengan tiga „moment‟ simultan

Dialektika ini berlangsung dalam proses dengan tiga „moment

simultan. Pertama, eksternalisasi (penyesuaian diri) dengan dunia sosiokultural sebagai produk manusia. Kedua, objektivasi, yaitu proses dimana individu mengidentifikasikan dirinya dengan lembaga­lembaga sosial atau organisasi sosial tempat individu menjadi anggotanya.

Melalui tiga proses ini, maka realitas sosial (iklan televisi) pertama dapat dilihat dari ketiga tahap tersebut. Sebagai bagian dari tahap eksternalisasi, dimulai dari interaksi antara pesan iklan dengan individu pemirsa melalui tayangan televisi. Eksternalisasi adalah bagian penting dalam kehidupan individu dan melalui bagian dari dunia sosio­kulturalnya. Dengan kata lain, ekternalisasi terjadi pada tahap yang sangat mendasar, dalam satu pola perilaku interaksi antara individu dengan produk­produk sosial masyarakatnya. Dengan demikian, tahap eksternalisasi ini berlangsung ketika produk sosial tercipta dalam masyarakat, kehidupan individu mengeksternalisasikan (penyesuaian diri) kedalam sosio­kulturalnya sebagai bagian dari produk manusia.

Tahap objektivitas produk sosial terjadi dalam dunia intersubyektif masyarakat yang dilembagakan.Pada tahap ini sebuah produk sosial berada pada proses institusionalis, sedangkan individu oleh Berger dan Luckmann (1990:49) mengatakan, memanifestasikan diri dalam produk­produk kegiatan manusia yang tersedia, baik bagi produsen­produsennya maupun bagi orang lain sebagai unsur dari dunia bersama. Objektivitas ini bertahan lama sampai

1

Deddy N Hidayat, Konstruksi Sosial Industri Penyiaran: Kerangka Teori Mengamati Pertarungan di Sektor Penyiaran, makalah dalam diskusi “UU Penyiaran, KPI dan Kebebasan

(25)

melampaui batas tatap muka dimana mereka dapat dipahami secara langsung. Jadi dengan demikian yang terpenting tahap objektivitas ini adalah melakukan signifikansi, memberikan tanda bahasa dan simbolisasi terhadap benda yang disignifikasi, melakukan tipifikasi terhadap kegiatan seseorang yang kemudian menjadi objektivikasi linguistik yaitu pemberian tanda verbal maupun simbolisasi yang kompleks.

Internalisasi dalam arti umum merupakan dasar; pertama, bagi

pemahaman mengenai „sesama saya‟, yaitu pemahaman individu dan orang

lain; kedua; bagi pemahaman mengenai dunia sebagai sesuatu yang maknawi dari kenyataan sosial.2

Kesimpulannya teori dan pendekatan konstruksi sosial atas realitas terjadi secara simultan melalui tiga proses sosial, yaitu eksternalisasi, obyektivasi, dan internalisasi. Tiga proses ini terjadi diantara individu satu dengan individu lainnya dalam masyarakat.

Melalui “Konstruksi Sosial Media Massa”: Realitas Iklan Televisi

dalam Masyarakat Kapitalis (2000), teori dan pendekatan konstruksi sosial atas realitas Peter L.Berger dan Luckmann telah di revisi dengan melihat variabel atau fenomena media massa menjadi sangat substansi dalam proses ekternalisasi, subyektivasi, dan internalisasi. Dengan demikian sifat dan kelebihan media massa, telah memperbaiki kelemahan proses konstruksi sosial

atas realitas yang berjalan lamban itu. Subtansi “teori konstruksi sosial media

massa” adalah pada sirkulasi yang dan luas sehingga konstruksi sosial

berlangsung dengan sangat cepat dan sebarannya merata. Realitas yang

2

(26)

terkonstruksi itu juga membentuk opini massa, massa cenderung apriori dan opini masyarakat cenderung sinis.

Posisi “konstruksi sosial media massa” adalah mengoreksi substansi

kelemahan dan melengkapi “konstruksi sosial atas realitas”, dengan

menempatkan seluruh kelebihan media massa dan efek media pada

keunggulan “konstruksi sosial media massa atas realitas”.3

Gambar 1. Proses Konstruksi Sosial Media Massa4

Namun proses simultan yang digambarkan di atas tidak bekerja secara tiba­tiba, namun terbentuknya proses tersebut melalui beberapa tahap penting. Dari konten konstruksi sosial media massa, dan proses kelahiran konstruksi sosial media massa melalui tahap­tahap berikut: (a) tahap menyiapkan materi konstruksi; (b) tahap sebaran konstruksi; (c) tahap pembentukan konstruksi realitas; dan (d) tahap konfirmasi. Penelitian ini ditemukan proses konstruksi dalam konteks produksi iklan di tv. Peter L. Berger dan Luckmann mengangkat mengenai bagaimana individu mengkonstruksi realitas melalui

3

Burhan Bungin, Konstruksi Sosial Media Massa, (Jakarta: Kencana, 2011), cet. 2. H. 194

4

(27)

media massa, penulis juga ingin mengangkat realitas melalui media massa yaitu analisis produksi terhadap program sinetron, dalam hal ini sinetron Tukang Bubur Naik Haji the series yang di tayangkan stasiun televisi RCTI. Yang pada awalnya merupakan kisah nyata kemudian diangkat menjadi sebuah FTV dan sinetron.

B.Perencanaan Produksi Program Sinetron Televisi

Menurut Burhan Bungin ada enam tahapan dalam melakukan konstruksi sosial media massa atas realitas dalam hal ini produksi terhadap program sinetron Tukang Bubur Naik Haji the series. Enam tahapan itu terdiri dari:

1. Tahap Penyiapan

2. Tahap Pemilihan Realitas 3. Tahap Pembingkaian Skenario 4. Tahap Pembentukan Realitas

5. Tahap Pengemasan Realitas Simbolis 6. Tahap Penentapan Realitas Objektif

Dimana enam tahapan tersebut, beberapa dari tahapan diatas sangat berkaitan dengan konteks komunikasi yaitu S (pelaku konstruksi) M (objek konstruksi) CH (format/skenario) R (segmentasi/target audiens) EH (iklan/rating). Selain itu juga berkaitan dengan konteks management atau yang disebut 6 M yaitu man, money, matery, machine, methode, marketing.

(28)

1. Tahap Penyiapan Komponen Komunikasi

Proses ini disebut juga perencanaan atau praproduksi adalah semua kegiatan sampai dengan pelaksanaan liputan (shooting). Yang termasuk kegiatan praproduksi antara lain penuangan ide atau gagasan ke dalam outline, pembuatan format/skenario/treatment, script, storyboard, program meeting, hunting (peninjauan lokasi liputan), production meeting, technical meeting, pembuatan dekor, dan lain­lain.5

Pada tahap Praproduksi (perencanaan) ini harus dilaksanakan dengan sebaik­baiknya, agar proses selanjutnya dapat berjalan dengan baik dan lancar. Barawal dari timbulnya ide atau gagasan dan berpijak dari ide atau gagasan ini, produser mulai mengerjakan berbagai kegiatan untuk menghubungkan berbagai data yang diperlukan untuk bahan pengembangan ide atau gagasan tersebut.

Akhirnya produser yang bersangkutan bekerja sama dengan pengarah acara atau sutradara serta penulis naskah. Bahan­bahan yang terkumpul kemudian dirangkai oleh penulis naskah menjadi suatu naskah, sesuai dengan format yang telah ditentukan.6

Tahap ini sangat penting sebab jika tahap ini dilaksanakan dengan rinci dan baik maka sebagian pekerjaan dan produksi yang di rencanakan sudah beres. Hal­hal yang harus ada dalam tehap ini meliputi:

a. Pelaku Konstruksi

Dalam sebuah produksi program sinetron yang menjadi pelaku konstruksi pada tahap persiapan meliputi penulis ide cerita,

5

Ibid., h. 75.

6

(29)

penulis skenario, produser, sutradara, pimpinan produksi dan beberapa kerabat kerja.

Tahap ini meliputi pemberesan semua kontrak, perizinan, dan surat menyurat. latihan para artis dan pembuatan setting, meneliti dan melengkapi peralatan yang dibutuhkan.

Perencanaan di atas kertas, meliputi outline, format/skenario/treatment, script, storyboard, perencanaan lokasi, dekorasi, lighting, biaya, peralatan pendukung, transportasi, jadwal kegiatan, pemain/artis pendukung, dan perencanaan lain yang mendukung proses produksi dan pasca produksi7. Menurut J.B Wahyudi maka perlulah daftar yang jelas tentang masing­masing kegiatan, yaitu8:

1) Daftar Utama. Memuat segala sesuatu yang diperlukan untuk shooting (liputan) untuk keperluan sebelum produksi.

2) Outline. Memuat tanggal, topik, tujuan, pemeran, jalan cerita; (1) inti cerita, (2) sub inti cerita, (3) klimaks, (4) sub klimaks, (5) penutup, (6) credits titile, (7) situasi pembuka, (8) model, (9) musik, (10) efek .

3) Jadwal waktu/kegiatan. Memuat perencanaan waktu­baik selama masa praproduksi, produksi, maupun pascaproduksi­harus dituangkan ke dalam jadwal waktu yang matang. penyimpangan dari jadwal kegiatan akan berpengaruh terhadap jalannya proses produksi tersebut dan juga akan memengaruhi pembiayaan.

7

J.B Wahyudi, Dasar-Dasar Manajemen Penyiaran., h. 94.

8

(30)

4) Rencana pembiayaan. Memuat penyusunan rencana memiliki sifat yang masih fleksibel atau tidak dapat diperkirakan dengan pasti. Untuk itu pada rencana biaya disediakan biaya tak terduga atau dana taktis yang harus dipertanggungjawabkan di kemudian hari, setelah seluruh kegiatan selesai.

5) Daftar peralatan. Memuat daftar alat­alat produksi yang digunakan selama proses produksi dilakukan. Karena jenis peralatan sangat kompleks, maka jumlah, jenis, tipe, warna, dan ciri­ciri lain harus ditulis dengan jelas.

6) Daftar kerabat kerja. Memuat orang­orang yang terlibat langsung dalam produksi, misalnya sutradara, pengarah lampu, pengarah teknik, kamerwan, soundman, dll.

7) Daftar artis. Memuat daftar artis, artis pendukung, dan artis tamu harus sudah siap sewaktu perencanaan, dalam arti bahwa para artis yang ditunjuk itu sudah menyatakan diri bersedia dengan menandatangani kontrak. pemilihan artis utama disesuaikan dengan jiwa cerita yang akan diproduksi.

8) Daftar lokasi. Memuat lokasi pengambilan gambar/shooting dpat diluar atau di dalam ruangan.

9) Daftar Properties. Memuat sarana penunjang atau pendukung yang digunakan oleh artis, artis pendukung, dan artis tamu.

(31)

sifatnya pemikiran diatas kertas.Dalam produksi program televisi, hal ini dapat berakibat kegagalan.9

b. Objek Konstruksi

Pada sebuah produksi sinetron yang menjadi objek konstruksi meliputi:

a) Produser Pelaksana

Produser Pelaksana adalah seseorang yang beretanggung jawab terhadap pelaksanaan produksi satu mata acara siaran secara menyeluruh.Disini prosedur pelaksana mewakili lembaga, misalnya RCTI, SCTV, TVRI, TPI, dan lain­lain.

b) Produser

Produser adalah seseorang yang di tunjuk mewakili prosedur pelaksana.

c) Pengarah Acara/Sutradara/Direcctor

Sutradara adalah seseorang yang di tunjuk untuk bertanggung jawab secara teknis pelaksanaan produksi satu mata acara siaran.

d) Penulis naskah/Writer

Writer adalah seseorang yang pekerjaannya membuat naskah untuk mata acara siaran.

e) Artis/Aktor

Artis/Aktor adalah orang yang memerankan peran atau tokoh utama dalam cerita.Mereka memainkan peran sesuai dengan naskah yang telah dibuat.

9

(32)

f) Engineering

Engineering adalah orang yang harus meyiapkan segala hal yang berkaitan dengan alat­alat produksi, seperti kamera, mik, dan listrik. g) Gaffer

Gaffer adalah pembantu penata cahaya h) Go-fer

Go­fer adalah pembantu umum produksi i) Juru kamera

Juru kamera adalah seseorang yang mengoperasikan kamera elektronik

j) Klepper

Klepper adalah seseorang yang bertugas memegang klep/slate. c. Format

Pembentukan konstruksi sosial media massa dalam bentuk sinetron yang bertema religi/Islami. Tahap ini meliputi penetapan jangka waktu kerja (time schedule), penyempurnaan naskah, pemilihan artis, lokasi, dan crew. selain estimasi biaya, penyediaan biaya, dan rencana alokasi merupakan bagian dari perencanaan yang perlu dibuat secara hati­hati Dan teliti.

d. Segmentasi/Target audiens

Target audiens dalam sebuah sinetron sangat penting di tentukan, namun yang paling penting adalah harus sesuai dengan fungsi dari televisi yaitu meliputi :

(33)

3) Mampu memengaruhi penonton (persuasif), 4) Mampu menghibur penonton (entertaining), dan 5) Mampu menakuti penonton.10

Dengan begitu siapaun target audiens dari suatu program televisi khususnya program sinetron, penonton dapat manfaat dari program tersebut.

e. Menentapkan Tujuan Program

Setelah diketahui segmentasi yang ingin dicapai selanjutnya menentukan tujuan program. Dalam sinetron religi/Islami pastinya memiliki tujuan untuk menyampaikan pesan dakwah namun terdapat hiburan juga sehingga dapat diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Berdasrkan itu, sinetron yang tayang prime time, kemudian menjadi tontonan keluarga sehingga banyka iklan yang tampil dengan berbagai jenis.

2. Tahap Pemilihan Realitas/Produksi (Peliputan)

Produksi adalah seluruh kegiatan liputan (shooting) baik di studio, di lapangan, atau di studio maupun lapangan.Proses liputan (shooting) juga di sebut taping.11

Dalam pemilihan realitas ini, berkaitan dengan prinsip management yaitu 6M (man, money, material, methode,machiene, marketing). Yang semuanya saling berkaitan satu sama lain.

Man/pelaku konstruksi, dalam melakukan produksi meliputi seorang sutradara/pengarah acara bekerjasama dengan para artis, tim produksi mencoba mewujudkan apa yang di rencanakan dalam kertas dan tulisan (shooting script) menjadi gambar, susunan gambar yang dapat bercerita.

10

RM. Soenarto, Programa Televisi Dari Penyusunan Sampai Pengaruh Siaran, h. 6.

11

(34)

Proses pemilihan realitas menggunakan realitas peta analog yaitu suatu konstruksi dibangun berdasarkan konstruksi sosial media massa, seperti sebuah analogi kejadian yang seharusnya terjadi, bersifat rasional, dan dramatis. 12

Dalam pelaksanaan produksi ini, DOP dan sutradara menentukan jenis shoot yang akan diambil dalam adegan (scene). Biasanya sutradara menyiapkan suatu daftar shoot (shootlist) dari setiap adegan. Semua shoot yang dibuat dicatat oleh bagian pencatat dengan pencatat kode waktu (time code) dengan nomor pada pita. Nomor itu berputar ketika kamera dihidupkan dan terekam pada gambar. Catatan kode waktu ini nanti akan berguna dalam proses editing. Proses ini disebut juga menentukan cara/method dalam sebuah proses produksi.

Biasanya gambar hasil shooting dikontrol setiap malam di akhir shooting hari itu untuk mengetahui kualitas baik dan buruknya hasil shooting pada hari itu. Apabila masih kurang baik maka adegan perlu di ulang pengambilan gambarnya. Semua adegan yang ada di dalam naskah/skenario hari itu diambil, kemudian hasil gambar asli (original) dibuat catatannya untuk kemudian masuk dalam proses post production yaitu editng.

Kamera merupakan “senjata” bagi tim produksi, sebab tanpa kamera

maka produksi televisi (studio dan dilapangan) tidak dapat berlangsung. Dari kamera inilah dihasilkan gambar sesuai dengan skenario yang dituangkan dalam shooting script.Kamera merupakan machiene/alat dalam proses pengambilan gambar.

12

(35)

Seorang DOP dan sutradara menentukan jenis shoot yang akan diambil dalam adegan (scene). Dalam proses produksi di sebut juga material/materi dalam pengambilan gambar. Berikut ini adalah beberapa posisi kamera, yang apabila terangkaikan akan menjadi suatu cerita yang hidup.13

a. Long Shot atau LS, yang menunjukkan keseluruhan tubuh dari kepala sampai kaki.

b. Very Long Shot atau VLS, yang menunjukkan orang yang berada di lingkungan sekitarnya. Dalam ukuran ini lingkungan di sekitar orang itu terlihat lebih dominan. VLS akan menampilkan panorama yang memenuhi layar.

c. Wide Angle atau sudut lebar adalah ukuran pengambilan gambar yang memasukkan keadaan sekeliling, jadi sudut lebar akan memberikan pandangan atau keseluruhan keadaan.

d. Medium Long Shot atau MLS, yang menunjukkan mulai dari bagian kepala sampai tepat di bawah lutut.

e. Mid Shot atau MS, yang menunjukkan mulai dari bagian kepala sampai pinggul. Ukuran MS berfungsi untuk menunjukkan siapa sedang melakukan aksi itu.

f. Close Up atau CU, yang menunjukkan bagian kepala. Dalam merekam suatu gambar subjek yang tengah melakukan aksi, maka CU berfungsi untuk memfokuskan sebuah aksi yang tengah di lakukan. Gamba CU merupakan elemen utama gambar televisi.

13

(36)

g. Big Close Up atau BCU, yang menunjukkan gambar wajah yang memenuhi layar televisi.

Istilah­istilah ukuran gambar di atas adalah istilah yang pada umumnya berlaku di stasiun televisi. Setiap gambar memiliki ukurannya masing­masing.Apapun istilah yang di gunakan pada intinya ukuran pengambilan gambar itu di perlukan untuk merujuk kepada jarak subjek atau objek dari kamera dan seberapa dominan subjek atau objek itu memenuhi layar.

Dalam sebuah proses produksi diperlukan prasarana dan sarana produksi. Prasarana produksi umumnya meliputi, gedung/ruang dengan penyejuk udara (AC), studio produksi dan studio rekaman suara (audio recording), ruang visual editing/penyuntingan gambar, ruang preview, dll. Sarana produksi umumnya meliputi, kamera elektronik dan film dengan kelengkapannya, peralatan lampu (lighting) dan shiny board, peralatan suara (sound system), proyektor, tripod kamera, genset, slate/klepper, sarana transportasi, property shooting, dll. Dalam proses produksi disebut juga machine/alat yang dibutuhkan dalam proses pengambilan gambar. 3. Tahap Pembingkaian Skenario

(37)

terjemahkan ke dalam bentuk gambar dan suara bercerita. , dan terakhir story board (urutan­urutan (sequence) yang dilukiskan.14

4. Tahap Pembentukan Realitas Subjektif

Sebelum menjadi naskah skenario/script sebelumnya terdapat beberapa tahap yaitu meliputi tahap menyeleksi, mengedit, membuang, menonjolkan, mendalam terkait cerita yang akan dijadikan naskah skenario/script.

Pascaproduksi adalah semua kegiatan setelah peliputan/shooting/taping sampai materi itu dinyatakan selesai dan siap di siarkan atau di putar kembali.Yang termasuk kegiatan pascaproduksi antara lain editing (penyuntingan), manipulating (pengisian suara), subtitile, titile, ilustrasi, efek, dan lain­lain.15

Pascaproduksi terdapat juga pada tahap ini memiliki tiga langkah utama, yakni editing oofline, editing online, dan mixing. Dalam hal ini terdapat dua macam editing, yaitu: pertama, yang disebut editing dengan teknik analog atau linear, kedua, editing dengan teknik digital atau non­ linear dengan komputer.16

a. Editing offline dengan teknik analog atau linear

Setelah shooting selesai script boy/girl membuat logging, yaitu mencatat kembali semua hasil shootingdan gambar. Kemudian berdasarkan catatan itu sutradara akan membuat editing kasar yang disebut editing offline sesuai dengan gagasan yang ada dalam sinopsis

14

J.B Wahyudi, Teknologi Informasi dan produksi Citra Bergerak, h.79.

15

J.B Wahyudi, Teknologi Informasi dan produksi Citra Bergerak, h.75.

16

(38)

dan treatment. Sesudah hasil editing offline ini dirasa pas dan memuaskan barulah dibuat editing script.Naskah editing ini sudah dilengkapi dengan uraian untuk narasi dan bagian­bagian yang perlu diisi dengan ilustrasi musik. Naskah editing ini formatnya sama dengan skenario.

b. Editing online dengan teknik analog atau linear

Berdasarkan naskah editing, editor mengedit hasil shooting asli. Sambungan­sambungan setiap shoot dan adegan (scene) dibuat tepat berdasarkan catatan time code dalam naskah editing. Demikian pula sound asli ditemukan dengan level yang seimbang dan sempurna. Setelah editingonline ini siap, proses berlanjut dengan mixing.

c. Mixing

Narasi yang sudah direkam dan ilustrasi musik yang juga sudah direkam, di masukkan ke dalam pita hasil editing online sesuai dengan petunjuk atau ketentuan yang terdapat dalam naskah editing.Kesimbangan antara effect(terdiri dari sound effect dan Visual Effect), suara asli, suara narasi dan musik harus dibuat sedemikian rupa sehingga tidak saling mengganggu dan terdengar jelas.

d. Editing offline dengan teknik digital atau non­linear

Editing digital atau non­linear adalah editing yang menggunakan komputer dengan peralatan khusus untuk editing. Alat editing tersebut bermacam­macam nama, jenis, dan fasilitasnya, misalnya: Pinacle, Matrox, Canupus, dll.

e. Editing online dengan teknik digital atau non­linear

(39)

penyempurnaan hasil editing offline dalam komputer, sekaligus dengan mixing dengan musik ilustrasi atau efek gambar (misalnya perlu animasi atau wipe effect) dan suara (sound effect) atu narasi) yang harus dimasukkan. Sesudah semua sempurna, hasil online ini kemudian dimasukkan kembali dari file menjadi gambar pada DV cam/mini DV dengan kualitas broadcast standar. Setelah program dimasukan pita, boleh dikatakan pekerjaan selesai dan kelanjutannya adalah bagian dari pekerjaan di stasiun televisi.Penayangan program di stasiun televisi dibatasi oleh frame waktu oleh karena itu, dalam screnning hal ini juga perlu diperhatikan. Apabila program ternyata melebihi frame waktu yang disediakan, harus dipotong ditempat yang tidak mengganggu kontinuitas program.17

kelima langkah utama pascaproduksi tersebut merupakan hal yang sangat penting bagi seorang produser, penulis naskah, dan sutradara. Karena hal tersebut dapat menghasilkan sebuah tayangan yang menarik dan enak di tonton.18

Pada tahap ini, merupakan hasil dari evaluasi lima tahap diatas sehingga dapat di lihat dari enam prinsip manajemen yang terdiri dari man, money, method, matery, machiene, marketing pada bagian mana yang bergerak secara statis maupun dinamis.

5. Tahap Pengemasan Realitas Simbolik

Pada tahap ini, mulai telah disiapkan naskah yang akan digunakan dalam proses shooting/pengambilan gambar di lokasi. Ada tiga cara pengemasan realitas simbolik berdasarkan Kekuatan priming (berdasarkan

17

Ibid, h. 22­24

18

(40)

rundown), kekuatan signing (berdasarkan bahasa naskah), framing (berdasarkan hasil pembingkaian kisah nyata. Diantara ketiga cara pengemasan tersebut dapat di dapat dilihat kekuatan mana yang paling dominan terjadi pada saat proses pengambilan gambar di lokasi.

6. Tahap Penetapan Realitas Subjektif

Pada tahap ini, merupakan tahap evaluasi dari tahap­tahap sebelumnya.

C. Produksi Sinetron Televisi 1. Pengertian Program

Secara etimologi, kata “program” berasal dari bahasa Inggris yaitu

Programme (penulisan gaya bahasa Inggris) atau Program (penulisan gaya Amerika), yang berarti acara atau rencana.19Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, program adalah acara (seperti sebuah siaran, pagelaran, dsb).20

Program adalah segala hal yang ditampilkan stasiun penyiaran untuk memenuhi kebutuhan audiensnya.21Secara teknis penyiaran televisi, program televisi diartikan sebagai penjadwalan atau perencanaan siaran televisi dari hari ke hari, dari jam ke jam setiap harinya. Dalam program siaran dikenal sebagai istilah yang sering digunakan, diantaranya, sebagai berikut:

a. Siaran. Mata acara atau rangkaian mata acara berupa pesan­pesan dalam bentuk suara, gambar, atau suara dan gambar yang dapat didengar dan/atau dilihat oleh khalayak dengan pesawat penerima

19

Morissan, M.A, Manajemen Media Penyiaran: Strategi Mengelola Radio&Televisi,

(Jakarta: Kencana, 2008), cet. Ke­1, h. 97.

20

Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1998), cet. Ke 1, h. 702.

21

(41)

siaran televisi dengan atau tanpa alat bantu.

b. Penyiaran.Seluruh kegiatanyang memungkinkan terselenggaranya siaran radio dan/atau siaran televisi yang meliputi segi idiil, perangkat lunak dan perangkat keras melalui sarana pemancar atau sarana transmisi di darat atau di antariksa dengan menggunakan gelombang elektormagnetik atau transmisi kabel, serat optik, atau media lainnya, dipancarluaskan untuk dapat diterima oleh khalayak dengan pesawat penerima siaran televisi dengan alat bantu.

c. Pola acara. Susunan mata acara yang memuat penggolongan, jenis, hari, waktu dan lamanya serta frekuensi siaran setiap mata acara dalam suatu periode tertentu sebagai panduan dalam penyelengggaraan siaran.

d. Acara siaran. Program siaran, jadwal, rencana siaran dari hari ke hari dan dari jam ke jam.

e. Format acara.Presentasi suatu program siaran.Misalnyaformat talkshow, format reportase, features, variety show, musik sinetron drama, acara komedi, klips video, dan seterusnya.

f. Kelompok acara.Pengelompokkan acara di Indonesia berpedoman pada klasifikasi Unesco, yang pengelompokannya didasari oleh maksud dan tujuan acara­acara siaran. Pembagian itu meliputi: pemberitaandan penerangan, pendidikan, kebudayaan, dan hiburan.

g. Judul acara.Nama (title) dari satu mata acara; misalnya Liputan 6, Lenong rumpi, Rumah Masa Depan, Mega Sinetron, Lintasan Berita, dan lain­lain.

(42)

i. Jenis acara siaran.Jenis­jenis acara yang terdapat dalam kelompok acara; seperti:pemberitaan (Liputan 6), Pendidikan (Pembinaan Bahasa Indonesia), penerangan (Siaran Pedesaan), hiburan (variety music), dan kebudayaan (Apresiasi Budaya, Jejak Rasul, dan seterusnya).22

Di atas merupakan istilah­istilah yang digunakan dalam sebuah programa siaran baik pada stasiun radio maupun stasiun televisi.

Pada umumnya isi program siaran di televisi maupun radio meliputi acara seperti diterangkan berikut dengan tentunya penggunaan berbagai nama berbeda sesuai dengan keinginan stasiun televisi masing­ masing. Yakni, News Reporting (Laporan Berita), Talk Show, Call-inshow, Documentair, Magazine/Tabloid, Rural program, Advertising, Education/Instructional, Art&Culture, Music, Soap Operas/Sinetron/Drama, TV Movies, Game show/show, ComedySituation /Comedy, dan lain­lain.23

Berbagai jenis program siaran tersebut bukanlah sesuatu yang mutlak harus ada semuanya.Acara­acara tersebut sangat bergantung dari kepentingan masing­masing stasiun penyiaran televisi yang bersangkutan. Pada umumnya memang sebagian besar dari contoh jenis program diatas tersebut adalah acara­acara disiarkan oleh stasiun penyiaran televisi.

Hal penting dalam menyiapkan program televisi harus berpedoman berdasarkan kebijaksanaan umum siaran televisi dilatarbelakangi oleh negara masing­masing. Secara universal penyelenggaran siaran televisi memiliki ciri­ciri sebagai berikut:

22

RM. Soenarto, Programa Televisi Dari Penyusunan Sampai Pengaruh Siaran, (Jakarta: FFTV­IKJ Press, 2007), cet ke­1, h. 3­5.

23

(43)

a. Mampu memberi informasi (informatif), b. Mampu mendidik penonton (edukatif), c. Mampu memengaruhi penonton (persuasif), d. Mampu menghibur penonton (entertaining), dan e. Mampu menakuti penonton.24

Terdapat juga klasifikasi jenis program yang terdapat dalam dua kelompok besar,25 yaitu program acara karya artistik dan karya jurnalisktik.

Menurut J.B Wahyudi, Program karya artistik sumber berasal dari ide gagasan dari perorangan maupun tim­kreatif. Pada proses produksi mengutamakan keindahan dan kesempurnaan sesuai perencanaan. Jenis karya artistik meliputi:

a. Drama/sinetron b. Musik

c. Lawak/akrobat

d. Quiz ( ada pertanyaan, ada jawaban) e. Informasi Iptek

f. Informasi pendidikan g. Informasi pembangunan h. Informasi kebudayaan

i. Informasi hasil produksi, termasuk iklan dan public service j. Informasi flora dan fauna

k. Informasi sejarah/dokumenter

l. Informasi apa saja yang bersifat non politik.

Program karya artistik sumbernya berasal dari masalah hangat (peristiwa dan pendapat). Pada proses produksi mengutamakan kecepatan dan kebenaran. Jenis karya jurnalistik meliputi:

a. Berita aktual (siaran berita)

b. Berita non aktual (features, majalah udara)

c. Penjelasan tentang masalah hangat (dialog, monolog, panel diskusi, current affairs).

24

RM. Soenarto, Programa Televisi Dari Penyusunan Sampai Pengaruh Siaran, h. 6.

25

(44)

2. Pengertian Sinetron

Kata Sinetron sebetulnya ialah gabungan dua kata, sinema dan elektronik.Pertama kali istilah ini muncul dari kalangan siaran di TVRI sekitar 1978­an untuk menamai satu program acara drama atau sandiwara, di mana para pemainnya adalah aktor dan aktris film layar lebar (bidang sinematografi).Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh Soemardjono (salah satu pendiri dan mantan pengajar Institut Kesenian Jakarta). Kemudian istilah itu menjadi baku di kalangan insan penyiaran di Indonesia dan masyarakat sampai saat ini.26

Istilah sinetron merupakan singkatan dari sinema elektronika.Elektronika dalam sinetron itu lebih mengacu pada mediumnya, yaitu televisi atau televisual yang merupakan medium elektronik selain radio.

Sinema elektronik atau yang lebih popular dalam akronim sinetron adalah sandiwara bersambung yang disiarkan oleh stasiun televisi.Dalam bahasa Inggris, sinetron disebut soap opera (opera sabun), sedangkan dalam bahasa Spanyol disebut telenovela.27Istilah sinetron lazimnya digunakan oleh masyarakat luas. Bahkan istilah itu telah menjadi istilah baku dalam perfilman Indonesia. Sinetron bersifat pedagogik (pendidikan) dan propagandis bagi masyarakat.

Adapun pengertian sinetron sendiri menurut Undang­Undang perfilman ayat 1 pasal 1 adalah:

Pengertian sinetron sama dengan pengertian film, yaitu karya cipta seni

26

Hidajanto Djamal dan Andi Fachruddin, Dasar-Dasar Penyiaran, Sejarah, Organisasi, Operasional, dan Regulasi.(Jakarta: Prenada Media Group, 2011), h.162.

27

(45)

dan budaya yang merupakan media komunikasi pandang dengan yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada seluloid, pita video, piringan video, jenis dan ukuran melalui kimiawi, proses elektronik atau proses lainnya dengan atau tanpa suara yang dapat dipertunjukkan atau ditayangkan dengan sistem proyeksi mekanik, elektronik atau lainnya.28

Drama/sinetron memiliki berbagai jenis cerita, setiap jenis tentunya memiliki cirinya masing­masing. Beberapa jenis itu antara lain:

a. Drama Tragedi

Cerita drama yang termasuk jenis ini adalah cerita yang berakhir dengan duka lara atau kematian.

b. Drama Komedi

Komedi merupakan salah satu jenis sinetron yang paling digemari oleh penonton.Komedi menyajikan cerita lucu semua konflik untuk menimbulkan kesan lucu. Jenis drama ini dapat digolongkan menjadi beberapa jenis lagi:

1) Komedi Situasi, cerita lucu yang kelucuannya bukan berasal dari para pemainnya, melainkan karena situasinya. Contohnya. Kecil-Kecil Jadi Manten.

2) Komedi Slapstik, cerita lucu yang diciptakan dengan adegan menyakiti para pemainnya, atau dengan vulgar dan kasar. Contohnya, Jinny Oh Jinny.

3) Komedi Satire, cerita lucu yang penuh sindiran tajam. Contohnya,

28

(46)

Wong Cilik.

4) Komedi Farce, cerita lucu yang bersifat dagelan, sengaja menciptakan kelucuan­kelucuan dengan dialog dan gerak laku lucu.29

c. Drama Horor

Jenis ini menampilkan cerita dan pagadeganan dengan tujuan menimbulkan rasa takut melalui hal­hal yang menyeramkan.Misalnya sinetron Disini Ada Setan.

d. Laga

Cerita laga berisi tentang kisah yang menampilkan banyak adegan perkelahian atau pertempuran.Sinetron dengan cerita laga, misalnya Misteri Gunung Merapi.

e. Melodrama

Jenis ini bersifat sentimental dan melakonis.Ceritanya cenderung terkesan mendayu­dayu dan mendramatisir kesedihan.Tokoh protagonis dibuat semenderita mungkin. Contohnya, Bidadari.

f. Drama Sejarah

Drama sejarah adalah cerita jenis drama yang menampilkan kisah sejarah masa lalu, baik tokoh maupun peristiwanya.

Selain jenis yang disebutkan di atas, sinetron di Indonesia memiliki tema­tema yang bisa dikatakan hampir semuanya sama. Tema itu sendiri adalah pokok pikiran dalam sebuah karangan.Atau dalam sinetron, tema juga dapat dikatakan sebagai dasar cerita yang ingin disampaikan oleh pemilik ide atau penulis skenario.

29

(47)

Tema yang cukup laris dalam sinetron­sinetron Indonesia saat ini, antara lain sebagai berikut:30

1) Percintaan

Tema seperti ini banyak menghiasi sinetron atau film di Indonesia.

Tema ini ditandai dengan pembubuhan kata „cinta‟ itu sendiri pada

judul sebuah sinetron. Seperti: Yang Muda Yang Bercinta, Cinta Fitri, Ada Apa Dengan Cinta.

2) Rumah Tangga

Tema ini biasanya bercerita tentang problema rumah tangga atau keluarga. Seperti: Keluarga Cemara, Noktah Merah Perkawinan. 3) Perselingkuhan

Tema ini bercerita tentang seorang suami atau istri tertarik pada laki­ laki atau wanita lain. Yang biasanya berkisar pada masalah tentang sepasang suami istri yang mengalami konflik dalam rumah tangganya lalu salah satu atau keduanya berhubungan dengan wanita atau laki­laki lain. Contohnya pada sinetron Calon Ibu Untuk Anakku.

4) Persahabatan

Tema ini biasanya bercerita tentang kehidupan anak atau remaja yang sam kemudian membentuk geng.Cerita yang selalu ditonjolkan seputar kehidupan tokoh utama dengan teman­teman satu gengnya. Seperti, Kepompong, Arti Sahabat.

5) Kepahlawanan

Tema ini biasanya digunakan dalam sinetron yang ditujukkan untuk anak­anak.Tokoh utama digambarkan sebagai seseorang yang hebat

30

(48)

serta memiliki kelebihan dibandingkan tokoh yang lainnya. Seperti, Panji Manusia Millenium, Si Alif.

6) Religius

Sinetron ini berorientasi pada tema­tema keagamaan dan tidak melulu berpihak pada agama mayoritas saja. Konflik­konflik dan plot banyak disisipi pemikiran­penikiran keagamaan, demikian pula dengan tokoh­tokohnya. Seperti, Tukang Bubur Naik Haji the series, Berkah.

Selain jenis sinetron yang dominan ada di Indonesia, berikut akan uraikan unsur­unsur yang selalu ada dalam sebuah produksi, anatara lain:31

a) Produser Pelaksana

Produser Pelaksana adalah seseorang yang beretanggung jawab terhadap pelaksanaan produksi satu mata acara siaran secara menyeluruh.Disini prosedur pelaksana mewakili lembaga, misalnya RCTI, SCTV, TVRI, TPI, dan lain­lain.

b) Produser

Produser adalah seseorang yang di tunjuk mewakili prosedur pelaksana.

c) Sutradara

Sutradara adalah seseorang yang di tunjuk untuk bertanggung jawab secara teknis pelaksanaan produksi satu mata acara siaran. d) Penulis naskah/Writer

Writer adalah seseorang yang pekerjaannya membuat naskah untuk mata acara siaran.

31

(49)

e) Artis/Aktor

Artis/Aktor adalah orang yang memerankan peran atau tokoh utama dalam cerita.Mereka memainkan peran sesuai dengan naskah yang telah dibuat.

f) Engineering

Engineering adalah orang yang harus meyiapkan segala hal yang berkaitan dengan alat­alat produksi, seperti kamera, mik, dan listrik.

g) Gaffer

Gaffer adalah pembantu penata cahaya h) Go-fer

Go­fer adalah pembantu umum produksi i) Juru kamera

Juru kamera adalah seseorang yang mengoperasikan kamera elektronik

j) Klepper

Klepper adalah seseorang yang bertugas memegang klep/slate. Di atas merupakan unsur­unsur yang harus ada dalam sebuah

proses produksi baik formatnya sinetron, talk show, dan lain­lain.

Memproduksi sebuah sinetron, tata laksana kerjanya hampir sama

dengan memproduksi film. Diperlukan perencanaan dan persiapan matang

sebelum produksi berlangsung.Produksi program sinetron biasanya lahir

dari sebuah gagasan atau ide.Lewat suatu riset gagasan diolah menjadi

(50)

bertanggung jawab pada sebuah program kemudian mengumpulkan staff

untuk memilih sutradara, menentukan jadwal kerja, dan menetapkan

estimasi biaya produksi.32

Program sinetron dalam televisi memiliki berbagai corak.Sinetron

lepas adalah sinetron yang satu kali tayang selesai, sinetron serial disebut

juga FTV, sementara itu terdapat sinetron serial.Sinetron serial memiliki

format yang berbeda­beda pula juga durasi yang berbeda. Jika pada

sinetron lepas berdurasi panjang sekitar 90 menit sedangkan dalam

sinetron berdurasi pendek sekitar 30 menit.Sementara itu telenovela adalah

bentuk sinetron yang corak sajiannya bagaimana novel.Sinetron bercorak

telenovela episode­episodenya berjumlah banyak, tetapi bisa juga

berjumlah sedikit atau sering disebut miniseri, biasanya jumlahnya tidak

lebih dari 6 episode.

Telenovela sebagaimana sebuah novel adalah sinetron dengan

cerita bersambung. Jadi apabila penontonnya tidak mengikuti 2 atau 3

episode meskipun tokoh utamanya sama, mereka akan kehilangan alur

cerita. Berbeda dengan sinetron serial, penonton dapat mengikuti episode

secara meloncat­loncat tanpa kehilangan alur cerita.

Sinetron serial biasanya memiliki benang merah untuk menghubungkan episode yang satu dengan episode yang lain. Benang merah ini dapat menggunakan tiga kemungkinan.Pertama, tempat kejadian.Kedua, tokoh yang menjadi sentral figure atau tokoh utama.Ketiga, kejadian khusus yang selalu menjadi pokok permasalahan.

32

(51)

40

PT SINEMART DAN SINETRON TUKANG BUBUR NAIK HAJI THE SERIES

A. Sekilas Tentang PT Sinemart

1. Sejarah Berdiri dan Perkembangan

Sinetron Tukang Bubur Naik Haji the series merupakan sinetron yang di produksi oleh PT. Sinemart yang merupakan salah satu perusahaan rumah produksi di Indonesia yang didirikan pada tanggal 17 Januari 2003 di Jakarta oleh Leo Sutanto, Sentot Sahid, Heru Hendrianto dan Lala Hamid. Leo Sutanto, yang telah dikenal di dunia perfilman Indonesia, namun selama 25 tahun karirnya dia mempunyai kerinduan untuk menyampaikan cerita­cerita yang inspirasional. Dari keinginan inilah Sinemart terbentuk.

Proyek pertama Sinemart adalah “malam pertama” (2003) , sebuah serial televisi untuk SCTV yang pada akhirnya mendapat banyak nominasi di ajang SCTV Awards 2003. Namun terobosan besar pertama sinemart adalah adaptasi sebuah film layar lebar “Ada Apa Dengan Cinta?” (2003) menjadi sebuah serial TV. Kala itu, proses audisi untuk pemeran di kemas dalam bentuk reality show, yang merupakan acara realitas berskala nasional pertama di Indonesia.

(52)

Ditambah pula divisi Sinemart Pictures Sinemart yang telah berhasil membuat 20 film layar lebar. Sampai saat ini, semua produksi menjanjikan rating tinggi dan tanggapan memuaskan dari publik nasional dan internasional (terutama Asia Tenggara).1

Sinemart, yang diambil dari 3 kata „Sinema‟, „Art‟ dan „Mart‟ menggambarkan secara tepat apa visi dari perusahaan ini. Sinemart berusaha menciptakan sebuah campuran sempurna antara „seni‟ dan

„dagang‟ melalui medium film. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya,

kerinduan akan menyampaikan cerita­cerita yang inspirasional merupakan fondasi Sinemart untuk mengembangkan sebuah serial televisi atau film layar lebar.2

Sebuah cerita inspirasional tentunya subjektif dengan selera orang, namun cara Sinemart menceritakan bisa digambarkan sebagai kombinasi dari artistik dan komersil, yang menurut Sinemart sangat tepat sebagai penarik perhatian dari berbagai umur dan latar belakang. Ekslusif tetapi mudah dijangkau, menjadi idaman Sinemart dapat dilihat khalayak luas. Sinemart akan mengerjakan dan mempromosikan produksi secara maksimum namun tanpa kesan akan mengintimidasi publik. Adalah ikrar Sinemart untuk meneruskan kontribusi­kontribusi Sinemart ke dalam industri perfilman Indonesia dengan selalu mencari dan memberi kesempatan bagi darah­darah baru, terobosan baru dalam presentasinya dan (tentunya) cerita­cerita baru yang inspirasional.

Memproduksi tayangan sinetron dan berhasil menjadikannya tayangannya nomor wahid, bukan pekerjaan mudah. Bukan saja karena

1

PT Sinemart dalam goggle di alihbahasakan oleh penulis. Diakses 15 maret 2013 Pukul 13:30 WIB

2

(53)

faktor keberuntungan, tapi kejelian dalam memilih tema cerita, penentuan pemain, penetapan sutradara dan mampu menangkap selera penonton, merupakan kunci keberhasilan itu.

Sejak masih memakai nama Prima sampai berubah menjadi Sinemart, production house (PH) milik Leo Soetanto ini, telah menunjukkan "kehebatannya". Tidak kurang dari 100 judul dengan ribuan episode dan ratusan jam tayang, membuktikan bahwa Sinemart bukan sekedar hadir. Tapi dia mampu memberikan kontribusi yang besar dijagad hiburan televisi negeri ini.

Tayangannya Putri Yang Ditukar yang tayang pada 29 September 2010 dan berakhir 25 November 2011, sebanyak 700 episode, merupakan sinetron produksi Sinemart yang fenomenal.

Di dalam perjalanannya, Sinemart telah melahirkan berbagai sinetron dan bahkan film layar lebar, dalam berbagai genre. Meski terkadang kurang berhasil, tapi 90% dari produk­produk sinetron yang dihasilkannya, berhasil dipasaran. Karena selain pemilihan ceritanya yang pas, juga setiap produksinya bertabur bintang.

Para bintangnya terbilang bintang papan atas. Ada Nikita Willy, Asmirandah, Marshanda, yang menjadi iconnya.

Maka, tidak heran, bila kini Sinemart dipercaya oleh RCTI untuk mengisi tayangan sinetronnya di jam­jam prime­time. Sekarang ini, empat judul produksinya: Tukang Bubur Naik Hajithe series, Berkah, Yang Muda Yang Bercinta, Cinta 7 Susun menjadi tayangan unggulan RCTI.

(54)

dimulai sejak Senin, 28 Mei 2012, sekarang ini termasuk sinetron andalan dari RCTI.3

Sinetron yang dibintangi oleh : Mat Solar (Haji Sulam), Uci Bing Slamet (Rodiah), Nani Wijaya (Emak),Citra Kirana (Rumanah), Andi Arsyil (Robby), Aditya Herpavi ( Rahmadi), El Manik (Kyai Zakaria), Marini Zumarnis (istri Kyai Zakaria), Salim Bungsu (Mang Odjo), Latief Sitepu (H. Muhidin), Shinta Muin (Hj. Maemunah), Dorman Borisman (H. Rasidi), menjadi tayangan yang segar.

Cerita keseluruhan Tukang Bubur Naik Haji The Series seperti menonton kehidupan masyarakat sehari­hari, yang di dalamnya termasuk perilaku kita sendiri. Kita yang seolah­olah seorang dermawan sejati, padahal sebenarnya kita sangat mengharapkan pujian orang. Sebenarnya ada kecenderungan kita ingin pamer. Bagaimana kita selalu berpenampilan suci, padahal apa yang kita lakukan seringkali keji. Bahkan kepada orang yang pernah menolong kita sekalipun. Kepalsuan­kepalsuan yang hanya kita sendiri yang tahu, selalu membuat kita tersenyum jengah. Kesemuanya disajikan secara manis dan lucu dalam serial ini.

Ada tokoh Haji Sulam, yang penyabar, selalu tersenyum, ia memiliki usaha bubur ayam. Berkat ketekunan dan keikhlasannya, akhirnya ia bisa naik haji dan memperbesar usaha bubur ayamnya. Haji Sulam tinggal bersama Rodiah istrinya, dan Emak.

Tetangga Haji Sulam, H. Muhidin dan Hj. Maemunah, entah mengapa selalu memusuhi keluarganya. Bahkan anak mereka, Rumanah

3

(55)

dilarang berhubungan dengan Robby, adik Haji Sulam. Fitnah­fitnah tentang keluarga Haji Sulam pun berdatangan.

Bagaimanakah keluarga Haji Sulam menyikapi segalan nikmat dan cobaan yang ia dan keluarga hadapi sehari­hari. Semoga acara ini bisa menjadi cermin bagi kita pemirsa untuk berkaca dan berbenah diri.

Lewat tokoh­tokoh inilah, sinetron ini menjadi terus menarik dan selalu ditunggu pemirsa.

Kantor Sinemart terletak di Jl. Panjang 7­9 Kedoya Elok Plaza B1 DD/61­63, Kedoya Selatan, Jakarta Barat, Kode pos 11520.4

2 Program Sinetron Religi yang Sudah di Produksi Sinemart a) Astaghfirullah

b) Tuhan Ada Dimana­mana c) Pintu Hidayah

d) Kodrat e) Jalan takwa f) Maha Kasih g) Takwa h) SurgaMu i) Soleha j) Aisyah

k) Munajah Cinta l) Hamba­hamba Allah m)Aqso dan Madinah

4

Figur

gambar (shooting) demi mendapatkan data­data yang akurat seputar

gambar (shooting)

demi mendapatkan data­data yang akurat seputar p.20
Gambar 1. Proses Konstruksi Sosial Media Massa4

Gambar 1.

Proses Konstruksi Sosial Media Massa4 p.26
Figuran
Figuran p.62
gambar dan suara secara bagus. Sarana dan  prasarana di siapkan oleh

gambar dan

suara secara bagus. Sarana dan prasarana di siapkan oleh p.72
gambar yang kemudian diperankan oleh para tokoh dalam sinetron tersebut.

gambar yang

kemudian diperankan oleh para tokoh dalam sinetron tersebut. p.77
gambar dan suara dari lokasi shooting dengan menambahkan ilustrasi music

gambar dan

suara dari lokasi shooting dengan menambahkan ilustrasi music p.83
pengambilan gambar diluar/ shooting outdor.

pengambilan gambar

diluar/ shooting outdor. p.86
gambar yaitu pada proses shooting sehingga dapat disaksikan di televisi.

gambar yaitu

pada proses shooting sehingga dapat disaksikan di televisi. p.96

Referensi

Memperbarui...