Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk memenuhi persyaratan memperoleh
Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I)
Oleh Yayah Tazriyah NIM: 105053001841
JURUSAN MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
Komunikasi Universitas Islam Negeri Jakarta Juni 2010. Skripsi ini telah diterima sebagai syarat memperoleh gelar Sarjana Strata 1 (S 1) pada jurusan Manajemen Dakwah.
Jakarta, Juni 2010 Panitia Sidang Munaqosah
Ketua Merangkap Anggota Sekretaris Merangkap Anggota
Drs. Wahidin Saputra, MA Dra. Halimah, M.Ag. NIP: 19700903 199603 1 00 1 NIP: 19590413 199603 2 001
Anggota
Penguji I Penguji II
Dr. M. Idris Abd Shomad, MA Drs. M. Sungaidi, MA.. NIP: 19610725 200003 1 00 1 NIP: 9600803 199703 1 006
Pembimbing,
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya itu bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ciputat, 15 Juni 2010
Allhamdulillah, penulis panjatkan puji dan syukur kepada Dzat yang Maha Mengatur, Allah SWT. Tuhan semesta alam yang memberi petunjuk kepada orang-orang yang dikehendakinya dan menyesatkan orang-orang yang mengingkari kebenaran. Akhirnya, jerih payah dan kesabaran menanti kepastian yang telah digoreskan oleh Sang Sutradara kehidupan telah terjawabkan. Tanpa keridhoan -Nya, mimpi ini tak pernah jadi kenyataan.
Untaian shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada pemimpin kita, pemimpin yang sejati, pemimpin yang abadi, pemimpin dunia akhirat, yakni Nabi Muhammad Saw.
Di pengantar skripsi ini, dengan segala kerendahan dan ketulusan hati penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada:
1. Bapak Dr. Arief Subhan. MA selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi
2. Bapak Drs. Cecep Castrawijaya, MA selaku ketua jurusan Manajemen Dakwah, terima kasih atas masukan dan idenya ketika penulis hendak menyusun skripsi ini.
3. Bapak, H. Mulkannasir, BA. S.Pd, MM selaku Sekretaris Jurusan Manajemen Dakwah 4. Bapak Noor Bekti Negoro, SE, S.TP, M.Si, Selaku dosen pembimbing yang telah
memberikan masukan kepada penulis dan telah ikhlas meluangkan waktunya untuk mendiskusikan tentang penyusunan skripsi ini.
5. Bapak Drs. Wahidin Saputra, MA dan Drs. H. Mahmud Djalal, MA selaku penguji yang telah memberikan kritik dan masukan kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini. 6. Orang tua tercinta; Ayahanda H. Husen dan Ibunda Hj. Umyanah. Terima kasih yang
tulus, rasa ta’dzim dan hormat penulis haturkan atas Kesabaran, nasehat, dan kasih sayang yang tak pernah berhenti sampai kapanpun..
7. kakak dan adikku tercinta, Nurhasanah, Ahmad, dan Umairi. Thanks atas persaudaraan yang indah ini.
8. Suamiku tercinta, Win Al Farisi. Terimakasih yang tak ada habisnya atas semua bimbingan, pengorbanan, keikhlasan dan dukungan kepada penulis.
Zikra dan Bapak jefri yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian dan telah ikhlas meluangkan waktunya untuk memberikan masukan dan data yang diperlukan penulis
13. Teman-teman Manajemen Dakwah angkata 2005 terutama sahabatku Amy, Nur, Nisa, Lifah, Very, Nada, Ainul. Thanks atas semangat yang selalu kalian berikan, akhirnya penulis bisa menyusul kalian untuk meraih kesuksesan bersama.
14. semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini baik secara moril maupun materiil yang tidak bisa penulis satu-persatu.
Semoga apa yang kita laksanakan senantiasa bermanfaat bagi kita kelak.
Semoga segala usaha, bantuan, pengorbanan, dan harapan kita semua senantiasa mendapatkan pahala setimpal dari Allah SWT, dan semua angan dan cita-cita dapat tercapai sempurna. Amien.
Jakarta, 15 Juni 2009
Allhamdulillah, penulis panjatkan puji dan syukur kepada Dzat yang Maha Mengatur, Allah SWT. Tuhan semesta alam yang memberi petunjuk kepada orang-orang yang dikehendakinya dan menyesatkan orang-orang yang mengingkari kebenaran. Akhirnya, jerih payah dan kesabaran menanti kepastian yang telah digoreskan oleh Sang Sutradara kehidupan telah terjawabkan. Tanpa keridhoan -Nya, mimpi ini tak pernah jadi kenyataan.
Untaian shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada pemimpin kita, pemimpin yang sejati, pemimpin yang abadi, pemimpin dunia akhirat, yakni Nabi Muhammad Saw.
Di pengantar skripsi ini, dengan segala kerendahan dan ketulusan hati penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada:
1. Bapak Dr. Arief Subhan. MA selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi
2. Bapak Drs. Cecep Castrawijaya, MA selaku ketua jurusan Manajemen Dakwah, terima kasih atas masukan dan idenya ketika penulis hendak menyusun skripsi ini.
3. Bapak, H. Mulkannasir, BA. S.Pd, MM selaku Sekretaris Jurusan Manajemen Dakwah 4. Bapak Noor Bekti Negoro, SE, S.TP, M.Si, Selaku dosen pembimbing yang telah
memberikan masukan kepada penulis dan telah ikhlas meluangkan waktunya untuk mendiskusikan tentang penyusunan skripsi ini.
5. Bapak Drs. Wahidin Saputra, MA dan Drs. H. Mahmud Djalal, MA selaku penguji yang telah memberikan kritik dan masukan kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini. 6. Orang tua tercinta; Ayahanda H. Husen dan Ibunda Hj. Umyanah. Terima kasih yang
tulus, rasa ta’dzim dan hormat penulis haturkan atas Kesabaran, nasehat, dan kasih sayang yang tak pernah berhenti sampai kapanpun..
7. kakak dan adikku tercinta, Nurhasanah, Ahmad, dan Umairi. Thanks atas persaudaraan yang indah ini.
8. Suamiku tercinta, Win Al Farisi. Terimakasih yang tak ada habisnya atas semua bimbingan, pengorbanan, keikhlasan dan dukungan kepada penulis.
Zikra dan Bapak jefri yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian dan telah ikhlas meluangkan waktunya untuk memberikan masukan dan data yang diperlukan penulis
13. Teman-teman Manajemen Dakwah angkata 2005 terutama sahabatku Amy, Nur, Nisa, Lifah, Very, Nada, Ainul. Thanks atas semangat yang selalu kalian berikan, akhirnya penulis bisa menyusul kalian untuk meraih kesuksesan bersama.
14. semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini baik secara moril maupun materiil yang tidak bisa penulis satu-persatu.
Semoga apa yang kita laksanakan senantiasa bermanfaat bagi kita kelak.
Semoga segala usaha, bantuan, pengorbanan, dan harapan kita semua senantiasa mendapatkan pahala setimpal dari Allah SWT, dan semua angan dan cita-cita dapat tercapai sempurna. Amien.
Jakarta, 15 Juni 2009
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR... ii
DAFTAR ISI... iv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah... 7
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7
D. Metodologi penelitian ... 8
E. Tinjauan Pustaka ... 10
F. Sistematika Penulisan ... 10
BAB II TEORI TENTANG STRATEGI, POSITIONING DAN BANK SYARIAH A. Teori Strategi 1. Pengertian Strategi ... 14
2. Tahapan-tahapan Strategi... 16
a. Perumusan Strategi ... 16
b. Implementasi Strategi... 17
c. Evaluasi Strategi ... 20
B. Teori Positioning 1. Pengertian Positioning ... 21
2. Ciri-ciri positioning... 23
3. langkah langkah positioning ... 24
C. Bank Syariah
ii
A. Sejarah Berdirinya Bank Syariah Mandiri ... 42
B. Visi, Misi, dan Budaya Organisasi... 45
C. Struktur Organisasi ... 48
D. Produk dan Jasa Bank Syariah Mandiri ... 49
BAB IV PENEMUAN DAN PEMBAHASAN A. Strategi Positioning Bank Syariah Mandiri ... 61
1. Mengidentifikasi Keunggulan Bersaing Yang Mungkin ... 62
2. Memilih Keunggulan Bersaing Yang Tepat ... 65
3. Mengkomunikasikan Posisi yang telah dipilih ... 65
B. Siklus Pertumbuhan Bank Syariah Mandiri... 66
C. Penentuan Posisi BSM Dibidang industri Perbankan Syariah. 67 D. Perbandingan Umum BSM dengan Bank Syariah Lain... 69
BAB V PENUTUP KESIMPULAN... 77
SARAN- SARAN... 78
A. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini semakin pesatnya arus teknologi dan informasi telah
mempengaruhi banyak hal seperti kebutuhan, gaya hidup, dan keinginan yang
semakin meningkat dan beragam. Kondisi ini membuat produsen memilki
peluang bisnis, di mana mereka saling berlomba untuk memasarkan suatu
produk sejenis dengan keunggulan dan merek berbeda dari pesaingnya.
Sehingga kemudian alternative suatu produk sejenis yang ditawarkan dan
dipasarkan menjadi lebih beragam. Hal ini menyebabkan masyarakat menjadi
semakin teliti dalam menerima dan menyeleksi informasi yang mereka
terima. Juga secara tidak langsung membuat tantangan yang dihadapi pemasar
menjadi lebih kompetitif dalam memasarkan produknya, terutama dalam
menciptakan suatu brand image (citra merek) yang kompetitif berdasarkan
persepsi konsumen.
Positioning membukakan kunci strategis mendobrak pasar.
Bagaimanapun pasar adalah hakim yang paling berkuasa untuk menilai kinerja
organisasi. Padahal seperti kita ketahui dinamika pasar berlandaskan kepada
persepsi pelanggan. Konsekuensinya akan tergantung kepada dinamika
persepsi konsumen. Jika dalam strategi korporat ditekankan bagaimana
menekankan kepada bagaimana positioning keluaran organisasi (produk atau
jasa) agar bersemayam di tempat yang tepat dalam persepsi konsumen.
Menurut Craven (1991:270) bahwa positioning memegang peran
yang sangat besar dalam strategi pemasaran, setelah melakukan analisis pasar
dan analisis pesaing dalam suatu analisis internal perusahaan (total situation
analysis). Alasannya dunia sekarang ini dilanda over komunikasi, terjadi
ledakan barang,media, maupun iklan. Akibatnya pikiran para prospek menjadi
ajang pertempuran. Oleh karena itu, agar dapat berhasil dalam suatu
masyarakat yang over komunikasi, perusahaan apa pun sebaiknya mampu
menciptakan suatu posisi yang mempertimbangkan tidak hanya kekuatan dan
kelemahan perusahaan sendiri, tetapi juga kekuatan dan kelemahan
pesaingnya dalam pikiran prospeknya. Itulah sebabnya, ancangan dasar
‘positioning’ tidak lagi sekadar menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda
dengan yang lain, tetapi memanfaatkan dengan cerdik apa yang ada di dalam
pikiran dan mengkaitkan hubungan-hubungan yang telah ada, hal ini karena
pikiran manusia juga memiliki tempat bagi setiap keping informasi yang telah
dipilih untuk disimpan.
Sementara itu, pikiran konsumen sering dianologikan sebagai
benteng terakhir pertahanan melawan riuhnya komunlkasi, sebagai tempat
menyaring, menerima atau menolak informasi yang ditawarkannya. Apabila
ternyata pikiran konsumen telah terbentuk, biasanya produsen lain mengalami
melakukan reposisi. Konkritnya, satu hal pokok yang perlu dilakukan dalam
usaha ‘memaku mati’ pesan di dalam pikiran seseorang adalah sama sekali
bukan yang berhubungan dengan pesannya, tapi justru pikiran itu sendiri.
Pikiran yang bersih adalah pikiran yang belum dipoles oleh merk lain.
Sehingga peranan positioning merupakan sistem yang terorganisir dalam
upaya menemukan suatu hal yang tepat, pada waktu yang tepat di dalam
pikiran seseorang.
Pembidikan pasar menentukan pesaing perusahaan. Perusahaan
harus meneliti posisi pesaing dan memutuskan posisinya yang terbaik.
Penentuan posisi (positioning) adalah tindakan untuk merancang citra
perusahaan serta nilai yang ditawarkan sehingga pelanggan dalam suatu
segmen memahami dan menghargai kedudukan perusahaan dalam kaitannya
dengan pesaing. Tugas penentuan posisi terdiri dari tiga langkah: mengenali
keunggulan bersaing yang mungkin untuk dimanfaatkan, memilih yang paling
tepat dan secara efektif mengisyaratkan kepada pasar tentang posisi yang
dipilih perusahaan. Strategi penentuan posisi produk perusahaan kemudian
akan memungkinkan perusahaan beranjak ke langkah berikutnya, yaitu
merencanakan strategi pemasaran bersaingnya. Penentuan posisi dapat
dikelompokkan menjadi penentuan posisi menurut nilai, menurut pesaing,
menurut manfaat, menurut penggunaan, menurut pemakai, menurut kategori
Dalam hal ini, setiap perusahaan selalu berusaha untuk dapat tetap
hidup berkembang dan mampu bersaing. Maka setiap perusahaan selalu
menetapkan dan menerapkan suatu strategi dan cara pelaksanaan kegiatan
pemasaran yang dilakukan diarahakan untuk dapat mencapai sasaran
perusahaan.
Dengan semakin berkembangnya kemajuan teknologi di era
globalisasi seperti sekarang ini, perusahaan dituntut untuk dapat bersaing di
dunia bisnisnya. Salah satu bentuk usaha yang dapat dilakukan agar mampu
bertahan adalah dengan menerapkan suatu penempatan (positioning) antara
produk suatu perusahaan dengan perusahaan lain. Dengan melakukan
penempatan (positioning) produk, suatu produk akan membentuk citra produk
tertentu di benak konsumen.
Dunia perbankan pada saat ini merupakan salah satu urat nadi
perekonomian sebuah Negara. Tanpa bank, dapat dibayangkan bagaimana
sulitnya menyimpan dan mengirim uang, memperoleh tambahan modal usaha
atau melakukan transaksi perdagangan internasional secara efektif dan aman.
Pada kenyataannya dunia perbankan mengalami banyak sekali
perkembangan, salah satunya yaitu dengan munculnya konsep perbankan baru
yaitu sistem perbankan syariah yang menggunakan prinsip bagi hasil.
Terhadap perkembangan banyak kalangan yang belum mengerti tentang
perbedaan system perbankan syariah dan konvesional serta bagaimana system
itu berjalan. Masyarakat umum atau awam menganggap perbankan
berbeda dengan Bank konvensional yaiu straegi yang berlandaskan Syariat
Islam.
Pada tahun 2005 saat tejadi krisis moneter banyak bank-bank
konvensional besar maupun kecil mengalami kebagkrutan tetapi pada saat itu
bank syariah dapat bertahan. Sejak itu pula bank syariah berkembang. Saat ini
bank yang beroperasi bank syariah dan bank konvensional. Persaingan yang
sehat adalah persaingan yang akan membawa suatu perusahaan menjadi lebih
baik, dimana Allah SWT. Berfirman
ﻜ و
ﺔﻬﺟو
ﻮه
ﺎﻬ ﻮ
اﻮ ﺳﺎﻓ
تاﺮ ﺨ ا
ﺎ أ
اﻮ ﻮﻜ
تﺄ
ﻜ
ﻪ ا
ﺎ ﺟ
نإ
ﻪ ا
ﻰ
آ
ء ﺷ
(١٤٨ﺮ ﺪ
(١٤٨)“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap
kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja
kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat).
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.(QS: Al-Baqarah 148)
Bank secara umum merupakan perusahaan yang menyediakan jasa
keuangan bagi seluruh lapisan masyarakat, dimana funsinya sebagai lembaga
intermediary antara masyarakat yang membutuhkan dana dan masyarakat yang
kelebihan dana, disamping menyediakan jasa-jasa keuangan lainnya. Oleh
karena bank berfungsi sebagai perantara keuangan , maka dalam hal ini factor
kepercayaan dari masyarakat merupakan factor utama dalam menjalankan bisnis
mendapatkan kepercayaan dan menjaga kepercyaan tersebut, sehingga dapat
memperoleh simpati dari para calon nasabahnya.
Bisnis perbankan di Indonesiadi era tahun 1960-an dan 1970-an
merupakan bisnis yang belum begitu terkenal, kesan bank masih angker, bank
tidak perlu mecari nasabah tetapi nasabahlah yang mencari bank. Kemudian di
era tahun 1980-an dan tahun 1990-an kesan dunia perbankan menjadi terbalik,
karena di era ini justru perbankan mulai aktif mengejar nasabah. Bahkan dengan
keluarnya fakto 88 dan UU no.7 tahun 1992, perbankan di Indonesia tumbuh
subur dan banyak perbankan baru berdiri.
Untuk itulah, maka bagi suatu perusahaan jasa keuangan seperti
bank Syariah Mandiri, hendaknya menyusun konsep pemasaran yang strategis
yang dapat menyelaraskan turbulensi lingkungan yang ketat akan persaingan
dengan sasaran, strategi dan program pemasaran yang sesuai dengan syariah.
Semua itu dapat dilakukan oleh suatu perusahaan dengan resegmentation,
retargeting, dan repositioning. Tujuan pokok startegi, segmentasi, targeting dan
positioning adalah memposisikan suatu merek dalam benak konsumen
sedemikian rupa sehingga merek tersebut memiliki keunggulan kompetitif jika
produk / jasa tersebut menawarkan atribut-atribut determian (yang penting dan
dinilai unik oleh pelanggan). Untuk itu langkah pertama yang harus adalah
melakukan segmentasi pasar secara cermat.
Segmentasi mengacu pada pengelompokkan ulang pasar,
sedangkan repositiong berusaha membentu citra baru yang jelas , beda dan
unggul secara relative disbanding dengan bank-bank yang lainnya.
Pembentukan brand image ini merupakan hal yang sangat penting bagi suatu
perusahaan untuk tetap tumbuh dalam persaingan, sehingga mampu menarik
minat beli konsumen / nasabah bahkan dapat mempertahankan nasabah yang
sudah memberi kepercayaan terhadap Bank Syariah Mandiri.
Berdasarkan uraian tersebut, kajian dalam skripsi ini akan lebih
focus kepada masalah, “Strategi Positioning Bank Syariah Mandiri
Cabang Tangerang”.
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Penulisan penelitian ini dibatasi pada perumusan permasalahan
mengenai strategi positioning Bank Syariah Mandiri Cabang Tangerang.
Dengan demikian dalam penulisan ini dirumuskan masalah sebagai
berikut:
1. bagaimana strategi positioning yang diterapkan oleh Bank Syariah Mandiri
Cabang tangerang?
C. Tujuan dan manfaat penelitian 1. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui strategi positioning pada Bank Syariah Mandiri
Cabang Tangerang
2. Manfaat Penelitian
a. Manfaat akademis: Hasil penelitian ini dapat dijadikan informasi
mahasiswa agar mengetahui konsep strategi positioning pada Bank
Syariah Mandiri.
b. Manfaat Praktis: Memberikan suatu kontribusi berupa wawasan
keilmuan mengenai strategi positioning pada Bank Syariah Mandiri.
c. Manfaat perusahaan Bank Syariah Mandiri: Hasil penelitian ini
diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menerapkan
strategi positiong.
D. Metodologi Penelitian
1. Metode Penelitian
Metode penelitian cara atau strategi menyeluruh untuk menentukan
atau memperoleh data yang diperlukan.1 Dalam hal penelitian ini penulis
menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan menggunakan penelitian
yang menghasilkan data deskriptif, yaitu metode yang digunakan untuk
menggambarkan secara terperinci fenomena-fenomena tertentu dan kemudian
menganalisisnya, serta menginterpresentasikannya melalui data yang
terkumpul.2
2. Subjek dan Objek Penelitian a. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah Bank Syariah Mandiri Cabang
Tangerang, yang didalamnya terdapat pengurus atau pengelola, staff dan
karyawan yang dapat dijadikan sebagai sumber informasi dalam penelitian ini.
1
Irawan Soehartono, Metode Penelitian Social, (Bandung: Rosda Karya, 1996) h. 9
2
Jalaluddin Rahmat, Metode Penelitian Komunikasi ( Bandung : Remaja Rosda Karya,
b. Objek Penelitian
Adapun yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah Strategi
Positioning Bank Syariah Mandiri Cabang Tagerang.
3. Teknik Pengumpulan data
Adapun teknik pengumpulan data yanmg penulis gunakan untuk
memperoleh data sesuai dengan tujuan penelitian adalah :
a. Study perpustakaan (Lubrary Reseach)
Merupakan data primer dalam penulisan ini. Dengan metode ini
penulis memperoleh data dari beberapa literaturetertulis, baik dari buku-buku,
majalah, surat kabar, jurnal, makalah, artikel dan semua literature yang
berkaitan dengan peulisan ini.
b. Study Lapangan (Field Research)
Yaitu dengan mendatangi perusahaan yang bertujuan untuk
mendapatkan sumberdata primer yang meliputi teknik pengumpulan data yang
menggunakan:
c. Wawancara,
Yakni proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan
cara tanya jawab dan bertatap muka antara penanya dengan responden dengan
menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara), guna
mendapatkan data-data mengenai strategi positioning pada bank syariah mandiri.
Dalam teknik wawancara ini, penulis memberikan pertanyaan kepada staf Bank
Syariah Mandiri yang disiapkan secara terstruktur berkenaan dengan data-data
d. Observasi Secara Langsung,
Yaitu dengan melakukan pengamatan dan meninjau secra langsung
serta mencatat data-data yang akan diteliti.
e. Dokumentasi,
Yaitu dengan mengambil data-data dan informasi yang tersedia di
Bank Permata Syariah yaitu berupa brosur, naskah, buku dan sebagainya yang
berkaitan dengan masalh penelitian.
4. Teknik Analisa Data
Setelah data yang dibutuhkan dalam penulisan skripsi ini terkumpul. Maka
langkah selanjutnya adalah mengelola dan menganalisis data tersebut. Data yang
terkumpul dianalisis dengan analisis deskriptif, yaitu data yang terkumpul disusun
dan dilaporkan yang sebelumnya diklasifikasi menurut urutan pembahasan dan
pada akhirnya diambil kesimpulan.3
Adapun teknik penulisan dan transliterasi yang digunakan berpedoman
pada buku pedoman penulisan karya ilmiyah(skripsi,tesis, dan disertasi) yang
disusun oleh Tim UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, diterbitkan oleh UIN Jakarta
Press, Tahun 2007.
E. Tinjauan Pustaka
Dalam penyusuan skripsi ini telah dilakukan tinjauan pustaka oleh
penulis pada Perpustakaan utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan
Perpustakaan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, namun ternyata tidak ada
mahasiswa/I sebelumnya yag menul dalam masalah yang hampir sama atau
3
menyerupai dengan judul yang akan penulis buat. Oleh karena itu, tidak ada
data yang tentang skripsi mahasiswa/I atau buku yang disusun oleh seseorang
yng sama atau hampir sama dengan maslah tersebut diatas.
F. Sistematika Penulisan
Untuk lebih memudahkan penulisan dalam pembahasan skripsi ini,
maka penulis menuangkannya dalam sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB 1 : membicarakan hal-hal bersifat teknis operasional untuk melangkah pada bab-bab selanjutnya yang mencangkup latar belakang
masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat
penelitian, metodologi penelitian, tinjauan pustaka dan sistematika
penulisan.
BAB II :TINJAUAN TEORI
Bab ini penulis mengkaji secara teoritis mengenai strategi,
pengertian strategi, tahapan strategi, perumusan strategi,
implementasi strategi ,evaluasi strategi, positioning, pengertian
positioning, ciri-ciri positioning, langkah-langkah dalam
positioning, bank Syariah, pengertian dan sejarah Bank Syariah,
tujuan dan prinsip Bank Syariah, produk-produk Bank Syariah.
BAB III : merupakan gambaran umum mengenai Bank Syariah Mandiri
yang terdiri dari Sejarah singkat dan perkembangan Bank Syariah
Mandiri, Visi dan misi Bank Syariah Mandiri, Struktur organisasi,
BAB IV : Merupakan pembahasan inti yang akan menjawab dari perumusan masalah yang telah ditentukan yang meliputi temuan dan analisis
Strategi Positioning yang diterapkan oleh Bank Syariah Mandiri
Cabang Tangerang yang meliputi :cara mengenali
keunggulan-keunggulan yang mungkin dapat ditampilkan dalam hugungan
dengan pesaing,cara memilih keunggulan – keunggulan yang kuat
atau menonjol, cara menyampaikan itu secara efektif kepada
target pasar, siklus pertumbuhan Bank syariah Mandiri, penentuan
posisi Bank Syariah Mandiri dibidag industry perbankan syariah,
perbandingan umum BSM dengan bank syariah lain.
BAB V : merupakan penutup yang berisikan kesimpulan dan saran-saran sebagai sumbangan ide penulis untuk melengkapi kekurangan yang
1. Pengertian Strategi
Dari segi etimologi, kata strategi berasal dari bahasa yunani, yaitu stratogos yang berasal dari kata stratogos yang berarti militer Ag, yang berarti memimpin. Dalam konteks awalnya, strategi diartikan general ship atau sesuatu yang dilakukan oleh para jendral dalam membuat rencana untuk menaklukan musuh dan memenangkan perang1. Sehingga tidak mengherankan jika pada awal perkembangannya istilah strategi digunakan dan populer dilingkungan militer. Namun seiring perkembangan ilmu pengetahuan strategi berkembang untuk semua kegiatan organisasi termasuk keperluan ekonomi, sosial, budaya dan agama.2
Penggunaan kata strategi dalam manajemen atau suatu organisasi diartikan sebagai kiat cara dan taktik utama yang dirancang secara sistematik dalam melaksanakan fungsi manajemen yang terarah pada tujuan strategi organisasi3.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, pengertian dari strategi :4
a. Ilmu dan seni menggunakan semua sumber daya bangsa untuk melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam perang dan damai
1
Setiawan Hari Purnomo dan Zuelkiflimansyah, Manajemen Strategi Sebuah Konsep pengantar, (Jakarta: Lembaga Penerbitan Fakultas Ekkonomi UI, 1999), h.8
2
Rafi’udin dan Maman Abdul Djaliel, Prinsip dan strategi Dakwah, (Bandung : Pustaka Setia), h. 76
3
Hadari Nawawi, Manajemen Strategi Organisasi Non Profit Bidang Pemerintahan dengan Ilustrasi dibidang Pendidikan, (Yogyakarta : Gadjah Mada Universitas Press, 2000), Cet. Ke-1, h.147
4
b. Ilmu dan seni memimpin bala tentara untuk menghadapi musuh dalam perang dalam kondisi yang menguntungkan
c. Tempat yang baik menurut siasat perang
d. Rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus
Untuk mengetahui lebih jelas mengenai strategi penulis mengedepankan pengertian strategi yang dikemukakan beberapa pakar diantaranya :
a. menurut Sondang Siagian, strategi adalah cara terbaik untuk mempergunakan dana, daya dan tenaga yang tersedia sesuai dengan tuntutan perubahan lingkungan5.
b. Menurut Onong Uchana, Strategi pada hakikatnya adalah perencanaan dan manajemen untuk mencapai suatu tujuan.6
c. Menurut Prof. Dr. A. M. Kardiman, Strategi adalah penentuan tujuan utama yang berjangka panjang dan sasaran dari suatu perusahaan atau organisasi serta pemilikan cara-cara bertindak dan mengalokasikan sumber daya-sumber daya yang diperlukan untuk mewujudkan tujuan tersebut.7
d. Menurut Dr. Fuad Anshori mengatakan bahwa “dalam pengertian dasarnya strategi dan titik adalah metode titik untuk memenangkan suatu persaingan. Pesaingan itu berbentuk pertempuran fisik untuk merebut suatu wilayah dengan memakai senjata dan tenaga
5
Sondang Siagian, Analisis Serta Perumusan Kebijaksanaan dan Strategi Organisasi, (Jakarta : PT. Gunung Agung, 1986), Cet. Ke-2, h. 17
6
Onong Uchana Effendi, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 1999), h. 32
7
manusia. Sedangkan dalam bidang non militer, strategi dan taktik adalah suatu cara untuk memenangkan suatu persaingan antara kelompok-kelompok yang berbeda orientasi hidupnya.8
2. Tahapan-tahapan strategi
Seperti yang dikatakan oleh Joel Ross dan Michael, bahwa sebuah organisasi tanpa adanya strategi umpama kapal tanpa kemudi, bergerak berputar dalam lingkaran. Organisasai yang demikian seperti pengembara tanpa tujuan tertentu.
a. Perumusan Strategi
Dalam perumusan strategi termasuk didalamnya adalah pengembangan tujuan, mengenali peluang dan ancaman eksternal, menetapkan kekuatan dan kelemahan secara internal, menetapkan suatu objektifitas, menghasilkan strategi alternative, memilih strategi untuk dilaksanakan. Dalam perumusan strategi juga ditentukan suatu sikap untuk memutuskan, memperluas, menghindari atau melakukan suatu keputusan dalam suatu proses kegiatan.
Teknik perumusan strategi yang penting dapat dipadukan menjadi kerangka kerja, diantaranya:
1) Tahap in put (masukan)
Dalam tahap ini proses yang dilakukan ialah meringkas informasi sebagai masukan awal. Dasar yang diperlukan untuk merumuskan strategi. 2) Tahap pencocokan
8Fuad Anshori, Strategi Perjuangan Umat Islam Indonesia, (Bandung : Mizan, 1990), h.
Proses yang dilakukan ialah memfokuskan pada menghasilkn strategi alternative yang layak dengan memadukan factor-faktor eksternal dan internal.
3) Tahap keputusan
Menggunakan ancaman teknik setelah diproses dari input secara sasaran dalam mengevaluasi strategi alternative yang diidentifikasi dalam tahap 2 (dua).
Perumusan strategi haruslah selalu melihat kearah depan tujuan artinya peran perencanaan amatlah penting dan mempunyai andil yang besar.
b. Implementasi Strategi
setelah para manajer memilih strategi yang ditetapkan, maka langkah berikutnya adalah melaksanakan strategi yang ditetapkan tersebut. Dalam tahp pelaksanakan strategi yang telah dipilih sangat membutuhkan komitmen dan kerjasama dari seluruh unit, tingkat dan anggota organisasi. Tanpa adanya komitmen dan kejasama dalam pelaksanaan strategi, maka proses formulasi dan analisis strategi hanya akan menjadi impian yang jauh dari kenyataan. Implementasi strategi bertumpu pada alokasi dan pengorganisasian sumber daya manusia yang ditampakkan melalui penetapan struktur organisasi, mekanisme kepemimpinan yang dijalankan berikut budaya perusahaan dan organisasi.9
1). Penetapan Struktur Organisasi
Manajemen strategi menentukan bahwa strategi dan struktur organisasi yang digunakan perusahaan haruslah sesuai atau cocok. Intiya pinjaman harus
9 M. Isnam Yusanto dan M. Widjaja Kusuma, Manajemen strategi perspektif syariah,
meneliti secara cermat struktur organisasi yang sedang berjalan dan bertanya apakah perusahaan memiliki organisasi yang tepat untuk mendukung.strategi tersebut.
Alfred Chandler mengutarakan suatu prinsip yaitu “Struktur follous strategy” yang berarti struktur organisasi harus dibentuk mendukung agar penerapan strategi yang telah dibuat dapat lebih efektif. Jika suatu saat strategi diubah maka perusahaan wajib untuk mengubah atau menyesuaikan struktur organisasinya.10
Untuk mendapatkan struktur organisasi yang paling efektif adalah harus disesuaikan dengan tuntunan strategi organisasi, karena desain struktur organisasi erat kaitannya dengan kegiatan dan sumber daya pentingorganisasi. Jika struktur organisasi sesuai dengan perubahan yang diusulkan didalam strategi, dan itu menunjukan organisasi dalam kondisi sangat kuat. Namun bila struktur organisasi tidak sejalan dengan formulasi strategi maka strategi yang telah ditetapkan akan sulit untuk diimplementasikan sehingga organisasi dalam kondisi yang sangat lemah.
2). Mekanisme Kepemimpinan
Dalam konteks menejemen strategi, kepemimpinan strategi adalah kemampuan dalam mengantisipasi setiap permasalahan yang terjadi, memiliki visi, mampu mempertahankan fleksibilitas organisasi, dan dapat memberikan atau
10 Agustinus Sri Wahyudi, Manajemen Strategic Pengantar Proses Berfikir Strategic,
mendelegasikan kuasa kepada orang lain untuk menciptakan perubahan strategi yang perlu.11
3). Budaya Organisasi
Setiap organisasi memiliki budaya yang terbentuk. Keberadaan sebuah budaya dalam organisasi sangat memberikan peran yang penting bagi kelangsungan hidup organisasi dan dalam pelaksanaan strategi organisasi. Budaya dapat menjadi pengikat sekaligus motivator rasa kebersamaan para anggota organisasi melalui pemahaman yang sama tentang tata cara dan batasan perilaku dalam berorganisasi.12
Artinya , setiap perusahaan akan membentuk budaya sendiri yang berbeda dengan organisasi lain. Begitu pula budaya merupakan komponen yang menyebabkan suatu strategi dapat diimplementasikan pada suatu organisasi, sementara strategi tersebut tidak dapat diimplementasikan pada organisasi lain dengan kondisi yang relative sama. Budaya suatu organisasi merupakan sikap dan nilai-nilai, gaya manajemen dan kebiasaan mengambil keputusan dari orang-orang yang ada di dalam organisasi.
Oleh sebab itu, budaya suatu organisasi harus tercipta sejak awal berdirinya organisasi seiring dengan penetapan struktur, visi, misi, tujuan dan berbagai harapan yang diinginkannya.
11
Amirullah dan Sari Budi Candika, Manejemen Stratejik, (Yogyakarta: Graha Ilmu,2002), Cet. Ke-1, h. 165
12
c. Evaluasi Strategi
Tahap akhir dari dalam strategi ialah evaluasi strategi. 3 (Tiga) macam aktivitas mendasar untuk mengevaluasi strategi adalah13:
1) Meninjau factor-faktor eksternal dan internal yang menjadi dasar strategi. Adanya perubahan factor eksternal seperti tindakan yang dilakukan. Perubahan yang ada akan menjadi satu hambatan dalam pencapaian tujuan. Begitu pula dengan factor internal yang diantaranya strategi tidak efektif atau aktifitas implementasi yang buruk dapat berakibat buruk pula bagi hasil yang akan dicapai. 2) Mengukur prestasi (membandingkan hasil yang diharapkan dengan kenyataan) Menyelidiki penyimpangan dari rencana , mengevaluasi prestasi individual dan menyimak kemajuan yang dibuat kearah pencapaian sasaran yang dinyatakan criteria untuk mengevaluasi strategi harus dapat diukur dan mudah dibuktikan. Criteria yang meramalkan hasil lebih penting daripada criteria yang mengungkapkan apa yang telah terjadi.
3) Mengambil tindakan korektif untuk memastikan bahwa prestasi sesuai dengan rencana dalam mengambil tindakan korektif tidak harus berarti bahwa strategi yang sudah ada akan ditinggalkan atau bahkan strategi baru harus dirumuskan. Tindakan koretif diperlukan bila tindakan atau hasil tindakan tidak sesuai dengan yang dibayangkan semula atau pencapaian yang direncanakan, maka disitulah tindakan korektif diperlukan.
13
Tindakan korektif harus menempatkan posisi yang lebih baik untuk kebih mampu memanfaatkan kekuatan internal, menghindari, mengurangi dan meringankan ancaman eksternal serta mampu memperbaiki kelemahan internal.
Segala tindakan koretif harus konsisten secara internal dan bertanggung jawab secara social. Evaluasi strategi diperlukan karena keberhasilan hari ini bukan merupakan jaminan keberhasilan dimasa depan. Evaluasi strategi mungkin berupa tindakan yang kompleks dan peka, karena terlalu banyak penekanan pada evaluasi strategi akan merugikan suatu hasil yang dicapai, evaluasi strategi sangat penting untuk memastikan sasaran yang dinyatakan telah dicapai. Evaluasi perlu untuk organisasi dari semua kegiatan dengan mempertanyakan pertanyaan dan asumsi manajerial, harus memicu tinjauan dari nilai-nilai yang merangsang kreatifitas.
B. Konsep Positioning
1. Pengertian Positioning
itu harus menyeleksi dan kemudian mencari perbedaan lebih lanjut melalui perbedaan-perbedaan tersendiri.
Menurut Kotler (1997: 262): “Positioning is the act of designing the company’s offer so that it occupies a distinct and value placed in the target
customer mind”. Maknanya, mencari ‘posisi’ di dalam pasar, langkah ini dilakukan setelah menentukan strategi segmentasi yang di pakai. Dengan kata lain positioning adalah suatu tindakan atau langkah-langkah dari produsen untuk mendesain citra perusahaan dan penawaran nilai dimana konsumen didalam suatu segmen tertentu mengerti dan menghargai apa yang dilakukan suatu segmen tertentu, mengerti dan menghargai apa yang dilakukan suatu perusahaan, dibandingkan dengan pesaingnya
Sedangkan menurut Cravens (1991:255),keputusan pemilihan target pasar merupakan titik vokal dari strategi pemasaran itu sendiri dan menjadi dasar dalam menentukan tujuan dan pengembangan strategi positioning.
Oleh karena itu, strategi positioning merupakan faktor utama dalam meningkatkan kekuatan posisi pasar perusahaan di suatu pasar tertentu dibanding pesaing-pesaingnya. Dari definisi di atas terkandung pengertian bahwa positioning berorientasi pada pikiran atau persepsi konsumen. Jadi positioning
1. Ciri-Ciri Positioning
Apabila kita menawarkan merek yang hanya meliputi merek tunggal, kita secara langsung dapat mengembangkan strategi kampanye.
Akan tetapi untuk membantu kita menentukan daya saing maka positioning harus memilki sifat atu cirri-ciri sebagai berikut :(Tom Brannan,2005 :17)
a. Strategis
Positioning harus bersifat strategis, bukan hanya untuk solusi jangka pendek atau tujuan periklanan.
b. Tulus ikhlas
Bagaimana membuat positioning secara akurat dalam rangka mengefektifkan biaya karena banyaknya persaingan yang menyerang target kita. c. Menuntun Pelanggan
Sifat positioning lebih banyak diterapkan pada pasar bisnis dan produk berteknologi tinggi.
d. Dapat di sampaikan
Suatu produk harus mampu memberikan alas an secara rasional, atau minimal mendekati rasional, sebelum produk tersebut masuk kepasar.
e. Berlapang dada
Multi produk atau merek perusahaan memilki perbedaan yang cukup signifikan dengan produk jasa tunggal.
Positioning ini sangat berkaitan dengan hirarki tenaga pendukung dipasar.
Positioning perlu memilki kemampuan menangkap pikiran pelanggan. Paling tidak menagkap sector yang berada di atas.
g. Khusus
Pada tahap ini perlu mencari positioning yang berbeda dari para pesaing. Pemahaman tentang persaingan merupakan unsur dasar dari pengembangan
positioning.
h. Berkelanjutan
Positioning tidak hanya bersifat sementara, tetapi berkelanjutan sepanjang waktu. Namun, dalam pemasaran waktu bukanlah hal yang mutlak.Untuk membangun merek yang kuat diperlukan biaya besar, agar merek bisa tetap bertahan. Dengan merek yang kuat dan kokoh bisa mengambil keuntungan dari investasi.
i. Menggerakkan
Positioning harus bisa memotivasi para pelanggan potensial agar lebih menyukai merek yang kita tawarkan daripada merek pesaing.
j. Katalisator
Positioning yang dilakukan harus bisa memberikan solusi kreatif dan bisa memainkan peranannnya sebagai katalisator.
2. langkah langkah Positioning
Menurut Kotler dan Amstrong ( 2001 : 270 ), ada tiga langkah dalam menentukan strategi positioning, yaitu :
Konsumen memilih produk dan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan apabila produk dan jasa tersebut memberikan nilai tambah dan terbaik bagi mereka. Kunci untuk memenangkan dan mempertahankan konsumen adalah memahami kebutuhan dan keinginan pelanggan.
Perusahaan mendiferensiasikan tawaran pasarnya menurut lima dimensi : produk , pelayanan , personalia , dan citra. ( Kotler , 2005 , 350 )
1). Diferensiasi Produk
Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan produsen untuk diperhatikan , diminta , dicari , dibeli , digunakan , atau dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan atau keinginan pasar yang bersangkutan ( Fandy Tjiptono , 1995 ;76 ) 2). Diferensiasi Jasa
Jika produk fisik tidak mudah di diferensiasi, kunci keberhasilan dalam persaingan terletak pada penambahan jasa atau pelayanan yang menambah nilai serta perbaikan mutu produk fisik tersebut ( Kotler , 2005 :354 )
Yang menjadi dasar diferensiasi pelayanan adalah : a). Kemudahan pemesanan
kemudahan pemesanan mengacu pada seberapa mudah pelanggan dapat melakukan pemesanan keperusahaan , seperti penggunaan jasa internet , telepon , alat cetak computer , dll.
b). Pengiriman ( Dilevery )
c). Pemasangan ( Installation )
pemasangan mengacu pada pekerjaan yang dilakukan untuk membuat produk tertentu beroperasi dilokasi yang direncanakan.
d). Pelatihan Pelanggan ( Customer Training )
pelatihan pelanggan mengacu pada pelatihan para pegawai pelanggan untk menggunkan peralatan dari penjual secara tepat dan efisien.
e). Konsultasi Pelanggan ( Customer Consulting )
Konsultasi pelanggan mengacu pada pelayanan data , system informasi , dan saran yang diberikan penjual pada pembeli.
f). Pemeliharaan dan Perbaikan ( Maintenance and Repair )
Yaitu merupakan program pelayanan prusahaan untuk membantu pelanggan , menjaga agar produk yang dibeli oleh konsumen senantiasa dalam kondisi kerja yang baik.
g). Pelayanan Lain –lain
Perusahaan dapat menemukan berbagai cara untuk mendiferensiasikan jasa atau layanan bagi pelanggan seperti : garansi produk , pemeliharaan secara gratis.
C. Konsep Bank Syariah
1. Pengertian dan Sejarah Bank Syariah
berbeda. Namun secara teknis untuk penyebutan Bank Islam dan Bank Syariah mempunyai pengertian yang sama.14
Dalam Ensiklopedi Islam, Bank Islam berarti "Lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran serta pengedaran uang yang pengoprasiannya disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariat Islam".
Sedangkan menurut Amin Aziz, Bank Syariah (Islam) merupakan lembaga perbankan yang sistem operasinya berdasarkan syariat Islam. Hal ini dipertegas dengan UU No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan UU No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan Bab 1 pasal 1 ayat 3 disebutkan, Bank Syariah adalah bank umum yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah yang kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. 15
Jauh sebelum lahirnya Bank Syariah, sistem Profite Sharing (bagi hasil) seperti Mudhorobah dan Musyarokah dipastikan sudah ada sebelum datangnya Islam. Di Timur Tengan Pra-Islam, kemitraan-kemitraan bisnis yang berdasarkan atas konsep Mudhorobah telah berjalan berdampingan dengan konsep pinjaman sistem bunga sebagai cara untuk membiayai berbagai aktivitas ekonomi. Setelah kedatangan Islam, transaksi keuangan berbasis bunga dilarang dan semua dana harus disalurkan atas dasar profit sharing. Teknik kemitraan bisnis dengan menggunakan prinsip Mudhorobah, dipraktekkan sendiri oleh Nabi Muhammad SAW ketika bertindak sebagai Mudhorib (wakil atau pihak yang dimodali) untuk istrinya Siti Khodijah. Sementara Khalifah yang ke-dua, Umar bin Khattab
14
Warkum Sumitro, Asas-Asas Perbankan Islam dan Lembaga-Lembaga Terkait: BMI Dan Takaful Di Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), h. 5
15
menginvestasikan uang anak yatim pada para saudagar yang berdagang di jalur perdagangan antara Madinah dan Irak.16
Kemitraan-kemitraan bisnis berdasarkan profite sharing yang sederhana semacam itu berlanjut dengan bentuk yang sama sekali tidak berubah selama beberapa abad, tetapi tidak berkembang menjadi sarana untuk investasi berskala luas yang membutuhkan pengumpulan dana besar-besaran dari banyak penabung perorangan meskipun menurut Mazhab Hanafi, bisa saja memperluas kemitraan Mudhorobah dengan mengikuti bentuk sederhana itu. Perkembangan tidak terjadi sampai bermunculannya institusi-institusi keuangan Islam.
Pada masa selanjutnya beberapa eksperimen awal untuk perbankan Islam berlangsung di Melayu pada pertengahan tahun 1940-an. Di Pakistan pada akhir tahun 1950-an, melalui jamaah Islami pada tahun 1969 Egypt's Mit Gamar Seving Banks (1963-1967). Akan tetapi perbankan Islam tersebut tidak bertahan lama beroperasi, seperti Bank Pakistan bubar setelah beroperasi dua tahun saja. Sedangkan di Mesir Mit Gamar ditutup pada pertengahan tahun 1967 karena beberapa alasan dan operasionalnya diambil alih Bank Nasional Mesir dengan berdasarkan bunga. Satu-satunya institusi Islam yang bertahan pada periode awal adalah Nasser Sosial Bank (Mesir) dan Tabungan Haji (Malaysia).
Diawal tahun 1970-an dibentuk OKI yang antara lain diprakarsai oleh almarhum Raja Faizal dari Arab Saudi yang juga menyarankan tiap negara Islam agar mendirikan Bank Islam. Berdirinya OKI mendorong terbentuknya Islamic
16Latifa M. Algaoud dan Mervyn K. Louis, Perbankan Syariah "Prinsip Dan Praktek ",
Develeopment Bank (IDB) pada tahun 1975 yang dianggap sebagai pemicu tumbuhnya Bank Islam di manca Negara dengan pesat.17
Walaupun pada awal perkembangannya banyak yang menentang perkembangan Bank Syariah, akan tetapi perkembangan Bank Syariah di dunia terus menunjukkan angka yang sangat signifikan. Adapun perkembangan Bank Syariah secara keseluruhan di dunia pertahun 2000 adalah sebagai berikut : lembaga yang didirikan sebanyak 176 Lembaga Keuangan Syariah (LKS), total asset yang dimiliki sebanyak $147,7 billiun, jumlah modal sebesar $7 billiun. Sedangkan penyebaran LKS di dunia kurang lebih 30 Negara Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, USA, Eropa dan Rusia.18
Berkembangnya Bank-bank Syariah di negara-negara Islam berpengaruh ke Indonesia. Secara historis perkembangan perbankan syariah di Indonesia tidak terlepas dari perkembangan dan kemajuan perbankan syariah internasional, serta perkembangan dinamika pemikiran dan upaya dari para ulama, ahli ekonomi baik secara individual maupun institusional. Pada periode 1980-an, diskusi mengenai Bank Syariah sebagai pilar ekonomi Islam mulai dilakukan. Keberadaan Bank Syariah di Indonesia telah melalui proses yang panjang.
Baru setelah pemerintah mengeluarkan paket kebijaksaan 27 oktober 1988 (Pakto 1988) umat Islam banyak yang mendirikan Bank-bank Islam. Awal mula berdirinya perbankan syariah modern di Indonesia dapat dicatat pada waktu pendirian Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Dana Mardhatillah dan BPR Berkah
17
Zainul Arifin, Memahami Bank Syariah : Lingkup, Peluang, Tantangan Dan Prospek, (Jakarta: Alvabet 1999), h.12
Amal Sejahtera pada awal 1991 di Bandung yang di prakarsai oleh ISED (Institute for Shariah Economic Development), kemudian pada bulan November 1991 berdiri Bank Muamalat Indonesia (BMI) di Jakarta. Gagasan pembentukan Bank Syariah Nasional tersebut terkait erat dengan pokok pemikiran yang dihasilkan loka karya Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 18-20 Agustus 1090 di Cisarua-Bogor, dengan topik utama "Masalah bunga Bank dan Perbankan". Pokok pemikiran tersebut akhirnya dibawa dalam kongres tahunan MUI pada tanggal 22-25 Aguatus 1990 yang menyetujui penyusunan cetak biru pendirian Bank Umum Syariah pertama di Indonesia, yaitu Bank Muamalat Indonesia (BMI).19
Dalam rangka pemberian landasan hukum bagi beroperasinya perbankan syariah, dalam undang-undang No.7/1992 dimuat tentang perbankan dengan prinsip bagi hasil yang selanjutnya diatur secara rinci dalam PP No. 72 Tahun 1992 tentang bank dengan prinsip bagi hasil. Berdasarkan UU No. 7/1992 Bank Syariah dipahami sebagai bank bagi hasil, selebihnya Bank Syariah harus tunduk pada seluruh peraturan perbankan umum yang berlaku. Pada umumnya peraturan perbankan umum belum mengakomodir keunikan operasional Bank Syariah, karena pada saat itu tidak ada peraturan perundangan lainnya yang mendukung sistem operasonal Bank Syariah. Oleh karenanya manajemen Bank Syariah cenderung mengadopsi produk-produk perbankan konvensional yang disyariahkan dengan variasi produk yang terbatas. Akibatnya tidak semua kebutuhan masyarakat terakomodasi dan produk yang ada tidak kompetitif terhadap semua produk Bank Konvensional.
19Direktorat Perbankan syariah. Arah Kebijakan Dan Perkembangan Perbankan Syariah
Selama lebih dari enam tahun beroperasi, kecuali Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 dan peraturan pemerintah Nomor 72 Tahun 1992, praktis tidak ada peraturan perundang-undangan lainya yang mendukung sistem beroperasinya perbankan syariah. Ketiadaan perangkat hukum pendukung ini memaksa perbankan syariah menyesuaikan produk-produknya dengan hukum positif yang berlaku (yang nota bene berbasis bunga/konvensional), di Indonesia. Akibatnya ciri- ciri Syariah yang melekat padanya menjadi tersamar dan Bank Islam di Indonesia tampil seperti layaknya Bank Konvensional.
Karena dibatasinya perkembangan Syariah saat itu membuat BMI menjadi pemain tunggal dipasar dengan sejumlah problema terutama berkaitan dengan masalah pengelolaan likuiditas dan mitra kerjasama. Sehingga dengan keterbatasan tersebut selama periode tahu 1992 hingga 1998 hanya berdiri satu Bank Syariah, yaitu Bank Muamalat Indonesia (BMI) dan 78 Bank Pengkreditan Rakyat Syariah (BPRS) sebagai pelaku perbankan yang terbesar di berbagai kota di Indonesia.
2. Tujuan dan Prinsip Bank Syariah
a. Tujuan
1) Mengarahkan kegiatan ekonomi umat untuk ber-muamalah secara Islami, khususnya ber-muamalah dalam perbankan, agar terhindar dari praktek-praktek riba atau jenis-jenis usaha/perdagangan lain yang mengandung unsur gharar
(tipuan), dimana usaha tersebut dilarang dalam islam juga menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan ekonomi umat.
2) Untuk menciptakan suatu keadilan dibidang ekonomi, dengan jalan meratakan pendapatan melalui kegiatan investasi agar tidak terjadi kesenjangan antara pemilik modal (orang kaya) dengan yang membutuhkan dana (orang miskin). 3) Untuk meningkatkan kualitas hidup umat, dengan jalan membuka peluang
berusaha kepada kelompok miskin, yang diarahkan kepada usaha yang produktif, menuju kemandirian berusaha (berwira usaha)
4) Untuk membantu menanggulangi (mengentaskan) masalah kemiskinan, yang pada umumnya merupakan program utama dari Negara-negara yang sedang berkembang
5) Untuk menjaga kestabilan sistem keuangan pemerintahan
6) Untuk menyelamatkan ketergantungan orang-orang Islam terhadap bank non-Islam (konvensional) yang menyebabkan umat non-Islam berada di bawah kekuasaan bank, sehingga umat Islam tidak bisa melaksanakan ajaran agamanya secara penuh, terutama di bidang bisnis dan perekonomiannya.20
b. Prinsip Bank Syariah
Dalam operasinya, Bank Syariah mengikuti aturan-aturan dan norma-norma Islam, yaitu:
21Heri Sudarsono, Bank Dan Lembaga Keuangan Syariah, (Yogyakarta: Ekonisia, 2003),
1) Bebas dari bunga (riba);
2) Bebas dari kegiatan spekulatif yang non produktif seperti perjudian (maysir);
3) Bebas dari hal-hal yang tidak jelas dan meragukan (gharar);
4) Bebas dari hal-hal yang rusak atau tidak sah (bathil)
Secara singkat empat prinsip di atas bisa disebut anti MAGRIB (Maysir, Gharar, Riba, dan Bathil).21
3. Produk-produk Bank Syariah
Pada dasarnya, produk yang ditawarkan oleh perbankan syariah dapat dibagi menjadi tiga bagian besar,22 yaitu;
a. Produk Penyaluran Dana (Financing)
Dalam menyalurkan dananya pada nasabah, secara garis besar produk pembiayaan syariah terbagi kedalam empat katagori yang dibedakan berdasarkan tujuan penggunaannya, yaitu:
1) Prinsip Jual-Beli (Ba'i)
Prinsip jual-beli dilaksanakan sehubungan dengan adanya perpindahan kepemilikan barang atau benda (transfer of property). Tingkat keuntungan bank ditentukan di depan dan menjadi bagian harga atas barang yang dijual.
Transaksi jual-beli dapat dibedakan berdasarkan bentuk pembayaran dan waktu penyerahan barangnya, yakni sebagai berikut:
a) Pembiayaan Murabahah
22
Ascarya Diana Yumanita, Bank Syariah, (Jakarta: Bank Indonesia 2005), h. 4
23Adiwarman Karim, Bank Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), ed. Ke-3,
Murabahah (al-ba'i bi tsaman ajil) lebih dikenal dengan
Murabahah saja. Murabahah berasal dari kata Ribhu
(keuntungan), adalah transaksi jual-beli dimana bank menyebut jumlah keuntungannya. Bank bertindak sebagai penjual, sementara nasabah sebagai pembeli. Harga jual adalah harga beli bank dari pemasok ditambah keuntungan (margin).
Kedua belah pihak harus menyepakati harga jual dan jangka waktu pembayaran. Harga jual dicantumkan dalam akad jual-beli dan jika telah disepakati dapat berubah selama berlakunya akad. Dalam perbankan, murabahah selalu dilakukan dengan cara pembayaran cicilan (Bi Tsaman Ajil).23
b) Pembiayaan Salam
Salamadalah transaksi jual-beli yaitu barang yang diperjual belikan belum ada. Oleh karena itu, barang diserahkan secara tangguh sementara pembayaran dilakukan secara tunai. Sekilas transaksi ini mirip jual-beli ijon, namun dalam transaksi ini kualitas, kuantitas, harga dan waktu penyerahan barang harus ditentukan secara pasti. Dan harga jual dicantumkan dalam akad jual-beli dan jika telah disepakati tidak dapat berubah selama berlakunya akad.24
24
Ibid., h. 98
25 M. Nadratuzzaman Hosen, dkk, Materi Dakwah Ekonomi Syariah, (Jakarta: PKES,
c) Pembiayaan Istishna'25
Produk istishna' menyerupai produk salam, tapi dalam
istishna' pembayarannya dapat dilakukan oleh bank dalam beberapa kali (termin) pembayaran. Skim istishna' dalam Bank Syariah umumnya di aplikasikan pada pembiayaan manufaktur dan kontruksi.
Ketentuan umum pembiayaan istishna' adalah spesifikasi barang pesanan harus jelas seperti jenis, macam ukuran, mutu dan jumlahnya. Harga jual yang telah disepakati dicantumkan dalam akad istishna' dan tidak boleh berubah selama berlakunya akad.
2) Prinsip Sewa (Ijarah)
Transaksi ijarah dilandasi adanya perpindahan manfaat. Jadi pada dasarnya prinsip ijarah sama dengan primsip jual-beli, tapi perbedaannya terletak pada objek transasksinya. Bila pada jual-beli objek transasksinya adalah barang, pada ijarah objek transasksinya adalah jasa.
Pada akhir masa sewa, bank dapat saja menjual barang yang disewakan kepada nasabah. Karena itu dalam perbankan syariah dikenal sewa yang diikuti berpindahnya kepemilikan (Ijarah Muntahhiyah Bittamlik).
26
3) Prinsip Bagi Hasil (Syirkah)
Produk pembiayaan syariah yang didasarkan atas prinsip bagi hasil adalah sebagai berikut:
a) Pembiayaan Musyarakah
Bentuk umum dari usaha bagi hasil adalah musyarakah
(syirkah atau syarikah). Transaksi musyarakah dilandasi adanya keinginan para pihak yang bekerjasama untuk meningkatkan nilai aset yang mereka miliki secara bersama-sama. 26
Secara spesifik bentuk kontribusi dari pihak yang bekerjasama dapat berupa dana, barang perdagangan (trading asset), kewiraswastaan (enterpreneur-ship), kepandaian (skill), kepemilikan (property), peralatan (equipment), atau intangible asset (seperti hak paten atau goodwill), kepercayaan/reputasi
(kredit-worthiness) dan barang-barang lain yang dapat dinilai dengan uang.
Ketentuan umum pembiayaan musyarakah adalah sebagai berikut:
i) Semua modal disalurkan untuk dijadikan modal proyek musyarakah dan dikelola bersama-sama. Setiap pemilik modal berhak turut serta dalam menentukan kebijakan usaha yang dijalankan oleh pelaksana proyek.
27Muhammaf Syafi’I, Antonoi, Bank Syariah Dari Teori Ke Praktek, (Jakarta: Gema
ii) Biaya yang timbul dalam pelaksanaan proyek dan jangka waktu proyek harus diketahui bersama. Keuntungan dibagi sesuai porsi kesepakatan sedangkan kerugian dibagi sesuai dengan porsi kontribusi modal.
iii) Proyek yang akan dijalankan harus disebutkan dalam akad. Setelah proyek selesai nasabah mengembalikan dana tersebut bersama bagi hasil yang telah disepakati untu bank.
b) Pembiayaan Mudharabah
Secara spesifik terdapat bentuk musyarakah yang populer dalam produk perbankan syariah yaitu mudharabah. Mudharabah adalah bentuk kerjasama antara dua atau lebih pihak dimana pemilik modal (shahib al-maal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian pembagian keuntungan. Bentuk ini menegaskan kerjasama dalam paduan kontribusi 100% modal kas dari
shahib al-maal dan keahlian dari mudharib.
Transaksi jenis ini tidak mensyaratkan adanya wakil shahib al-maal dalam manajemen proyek. Sebagai orang kepercayaan,
b. Produk Penghimpunan Dana (Funding)
Penghimpunan dana di Bank Syariah dapat berbentuk giro, tabungan dan deposito. Prinsip operasional syariah yang diterapkan dalam penghimpunan dana masyarakat adalah wadiah dan mudrarabah.27
1) Prinsip Wadia’ah
Prinsip wadia’ah yang diterapkan adalah wadi’ah yad dhamanah yang diterapkan pada produk rekening giro. Wadi’ah dhomanah berbeda dengan
Wadi’ah Amanah. Dalam wadi’ah amanah, pada prinsipnya harta titipan tidak boleh dimanfaatkan oleh yang dititipi. Sementara itu, dalam wadi’ah yad dhamanah, pihak yang dititipi (bank) bertanggung jawab atas keutuhan harta titipan sehingga ia boleh memanfaatkan harta titipan tersebut.28
Karena wadi’ah yang diterapkan dalam produk giro perbankan ini juga disifati
dengan yad dhamanah, implikasi hukumnya sama dengan qardh, dimana nasabah bertindak sebagai yang meminjamkan uang, dan bank bertindak sebagai yang dipinjami.
2) Prinsip Mudharabah
Dalam mengaplikasikan prinsip mudharabah, penyimpan atau deposan bertindak sebagai shohib maal (pemilik modal) dan bank sebagai mudhorib
(pengelola). Dana tersebut digunakan bank untuk melakukan murabahah atau
ijarah. Dapat pula dana tersebut digunakan bank untuk melakukan mudharah
kedua. Hasil usaha ini akan dibagi hasilkan berdasarkan nisbah yang disepakati.
28
Adiwarman Karim, Bank Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), ed. Ke-3, h.107
29
Berdasarkan kewewenangan yang diberikan oleh pihak penyimpan dana, prinsip
mudharabah terbagi menjadi dua:
a) Mudharabah muthlaq
b) Mudharabah muqayyad
3) Akad Pelengkap
Seperti yang terjadi pada penyaluran dana, maka dalam pelaksanaan penghimpunan dana, bisaanya juga diperlukan akad pelengkap. Akad pelengkap mini juga tidak ditujukan untuk mencari keuntungan, namun ditujukan untuk memepermudah pelaksaanaan pembiayaan. Meskipun tidak ditujukan untuk mencari keuntungan, dalam akad pelengkap ini bank dibolehkan untuk meminta pengganti biaya-biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan akad ini. Salah satu akad pelengkap yang dapat dipakai untuk penghimpunan dana adalah akad
wakalah.
c. Jasa Perbankan (Service)
Selain melaksanakan fungsinya sebagai intermediarise (penghubung) antara pihak yang membutuhkan dana (deficit unit) dengan pihak yang kelebihan dana (surplus unit), Bank Syariah dapat pula melakukan berbagai pelayanan jasa perbankan kepada nasabah dengan mendapat imbalan berupa sewa atau keuntungan.
Beberapa bentuk jasa perbankan yang disediakan oleh bank syariah adalah:29 1) Hiwalah (Alih Utang-Piutang)
30 H. Karnaen A. Perwataatmadja dan H. Muhammad Syafi’i Antonio.M. Ec, Apa Dan
Tujuan fasilitas hiwalah adalah untuk membantu supplier
mendapatkan modal tunai agar dapat melanjutkan produksinya. Bank mendapat ganti biaya atas jasa pemindahan piutang. Untuk mengantisipasi resiko kerugian yang akan timbul, bank perlu melakukan penelitian atas kemampuan pihak yang berutang dan kebenaran transaksi antara yang memindahkan piutang dengan yang berutang.
2) Rahn (Gadai)
Tujuan akad rahn adalah untuk memberikan jaminan pembayaran kembali kepada bank dalam memberikan pembiayaan. Atas izin bank, nasabah dapat menggunakan barang tertentu yang digantikan dengan tidak merugikan nilai dan merusak barang yang digadaikan.
Barang yang digadaikan wajib memiliki kriteria: (i) milik nasabah sendiri, (ii) jelas ukuran, sifat, dan nilainya ditentukan berdasarkan nilai riil pasar, (iii) dapat dikuasai namun tidak boleh dimanfaatkan oleh bank.
3) Qardh
Qardh adalah pinjaman uang. Aplikasi qardh dalam perbankan biasanya dalam empat hal yaitu: (i) sebagai pinjaman talangan haji, (ii) sebagai pinjaman tunai dari produk kartu kredit syariah, (iii) sebagai pinjaman kepada pengusaha kecil, (iv) sebagai pinjaman kepada pengurus bank.
4) Perwakilan(Wakalah)
Bank dan nasabah yang dicantumkan dalam akad pemberian kuasa harus cakap hukum. Kusus untuk pembukuan L/C, apabila dana nasabah ternyata tidak cukup, maka penyelesaan L/C dapat dilakukan dengan pembiayaan
mudharabah, murabahah, ijarah, slam, atau musyarakah.
5) Garansi Bank (Kafalah)
Di Indonesia yang sebagian besar penduduknya beragama islam, telah muncul kebutuhan akan adanya bank yang melakukan pelayanan berdasarkan prinsip syariah. Denagan adanya keinginan tersebut kemudian didukung dengan dikeluarkan UU No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan. Sejak adanya undang-undang tersebut maka, pada bulan November 1998 memberikan peluang yang sangat baik bagi tumbuhnya bank-bank syariah di Indonesia. Undang-undang tersebut memungkinkan bank-bank beroperasi sepenuhnya secara syariah atau membuka cabang – cabang khusus syariah dan istilah yang dipakai adalah “ Bank berdasarkan prinsip – prinsip syariah ” atau disebut juga “ Bank Syariah ”.
Jadi bank syariah adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip – prinsip syariah Islam atau bank yang tata cara beroperasinya mengacu kepada ketentuan Al-Qur’an dan Hadist Nabi.1
A. Sejarah Berdirinya
Krisis moneter dan ekonomi sejak Juli 1997, yang disusul dengan krisis politik nasional telah membawa dampak besar dalam perekonomian nasional. Krisis tersebut telah mengakibatkan perbankan Indonesia yang didominasi oleh bank-bank konvensional mengalami kesulitan yang sangat parah. Keadaan tersebut
1
Karnaen Perwata Atmadja dan M. Syafi’I Antonio. Apa dan Bagaimana Bank Islam, ( Yogyakarta : Dana Bakti Wakaf, 1999 ) , h. 1
menyebabkan pemerintah Indonesia terpaksa mengambil tindakan untuk merestrukturisasi dan merekapitalisasi sebagian bank-bank di Indonesia.
Lahirnya Undang No. 10 tahun 1998, tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan, pada bulan November 1998 telah memberi peluang yang sangat baik bagi tumbuhnya bank-bank syariah di Indonesia. Undang-Undang tersebut memungkinkan bank beroperasi sepenuhnya secara syariah atau dengan membuka cabang khusus syariah.
PT Bank Susila Bakti (PT Bank Susila Bakti) yang dimiliki oleh Yayasan Kesejahteraan Pegawai (YKP) PT Bank Dagang Negara dan PT Mahkota Prestasi berupaya keluar dari krisis 1997 - 1999 dengan berbagai cara. Mulai dari langkah-langkah menuju merger sampai pada akhirnya memilih konversi menjadi bank syariah dengan suntikan modal dari pemilik2.
Dengan terjadinya merger empat bank (Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Exim dan Bapindo) ke dalam PT Bank Mandiri (Persero) pada tanggal 31 Juli 1999, rencana perubahan PT Bank Susila Bakti menjadi bank syariah (dengan nama Bank Syariah Sakinah) diambil alih oleh PT Bank Mandiri (Persero).
PT Bank Mandiri (Persero) selaku pemilik baru mendukung sepenuhnya dan melanjutkan rencana perubahan PT Bank Susila Bakti menjadi bank syariah, sejalan dengan keinginan PT Bank Mandiri (Persero) untuk membentuk unit syariah.
2
Langkah awal dengan merubah Anggaran Dasar tentang nama PT Bank Susila Bakti menjadi PT Bank Syariah Sakinah berdasarkan Akta Notaris: Ny. Machrani M.S. SH, No. 29 pada tanggal 19 Mei 1999. Kemudian melalui Akta No. 23 tanggal 8 September 1999 Notaris: Sutjipto, SH nama PT Bank Syariah Sakinah Mandiri diubah menjadi PT Bank Syariah Mandir 3.
Pada tanggal 25 Oktober 1999, Bank Indonesia melalui Surat Keputusan Gubernur Bank Indonesia No. 1/24/KEP. BI/1999 telah memberikan ijin perubahan kegiatan usaha konvensional menjadi kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah kepada PT Bank Susila Bakti. Selanjutnya dengan Surat Keputusan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia No. 1/1/KEP.DGS/1999 tanggal 25 Oktober 1999, Bank Indonesia telah menyetujui perubahaan nama PT Bank Susila Bakti menjadi PT Bank Syariah Mandiri.
Senin tanggal 25 Rajab 1420 H atau tanggal 1 November 1999 merupakan hari pertama beroperasinya PT Bank Syariah Mandiri. Kelahiran Bank Syariah Mandiri merupakan buah usaha bersama dari para perintis bank syariah di PT Bank Susila Bakti dan Manajemen PT Bank Mandiri yang memandang pentingnya kehadiran bank syariah dilingkungan PT Bank Mandiri (Persero).
PT Bank Syariah Mandiri hadir sebagai bank yang mengkombinasikan idealisme usaha dengan nilai-nilai rohani yang melandasi operasinya. Harmoni antara
3
idealisme usaha dan nilai-nilai rohani inilah yang menjadi salah satu keunggulan PT Bank Syariah Mandiri sebagai alternatif jasa perbankan di Indonesia.
B. Visi, Misi dan Budaya Organisasi
Setiap perusahaan pasti memiliki visi dan misi begitu juga P.T. Bank Syariah Mandiri dalam menjalankan usahanya memiliki visi dan misi yang merupakan komitmen bersama untuk mencapai harapan Bank Syariah Mandiri sesuai syariat Islam.
Adapun visi dan misi P.T. Bank Syariah Mandiri adalah sebagai berikut : 1.Visi perusahaan
Visi P.T. Bank Syariah Mandiri adalah ” Menjadi Bank Syariah Terpercaya Pilihan Mitra Usaha“
2. Misi Perusahaan
Bank Syariah Mandiri memiliki beberapa misi, guna memperjelas arah tujuannya. Misi – misinya adalah :
a. Menciptakan suasana pasar perbankan syariah agar dapat berkembang dengan mendorong terciptanya syarikat dagang yang terkoordinasi dengan baik.
b. Mencapai pertumbuhan dan keuntungan yang berkesinambungan melalui sinergi dengan mitra strategis agar menjadi bank syariah terkemukan di Indonesia yang mampu meningkatkan nilai bagi para pemegang saham dan memberikan kemaslahatan bagi masyarakat luas.
d. Menunjukkan komitmen terhadap standar kerja operasional perbankan dengan pemanfaatan teknologi mutakhir serta memegang teguh prinsip keadilan, keterbukaan dan kehati-hatian.
e. Mengutamakan mobilisasi pendanaan dari golongan masyarakat menengah dan ritel, memperbesar fortopolio pembiayaan untuk skala menengah dan kecil serta mendorong terwujudnya manjemen zakat, infaq, shodaqoh yang lebih efektif sebagai cerminan kepedulian social.
f. Meningkatkan permodalan sendiri dengan mengundang perbankan lain, segenap lapisan masyarakat dan investor asing.
3. Budaya Perusahaan
Selain memilki visi dan misi Bank Syariah Mandiri juga mempunyai budaya perusahaan karena, Bank Syariah Mandiri merupakan bank yang beroperasi atas dasar prinsip syariat islam , maka perusahaan ini mempunyai budaya perusahaan yang mengacu kepada sikap akhlakul karimah ( budi pekerti yang mulia ) yang terangkum dalam lima sikap dasar yang di sebut SIFAT, yaitu :
a. Shidiq ( Integritas )
Bersikap jujur terhadap diri sendiri, orang lain dan Tuhan Yang Maha Esa. b. Istiqomah ( konsisten )
Konsisten adalah kunci menuju sukses. Pegang teguh komitmen , sikap optimis , pantang menyerah , kesabaran , percaya diri dan bijaksana.
Berkarya sesuai keahlian dan kecerdasan , disiplin , mentaati peraturan , bekerja keras dan inovatif.
d. Amanah ( Tanggung Jawab )
Terpercaya karena tanggung jawab dan saling menghormati dalam menjalankan tugas serta melayani mitra usaha dengan baik.
e. Tabligh ( Kepemimpinan )
C. Struktur Organisasi Bank Syariah Mandiri Cimone Tangerang
D. Produk dan jasa Bank Syariah Mandiri 1. Tabungan Berencana BSM
Adalah tabungan berjangka yang memberikan nisbah bagi hasil berjenjang serta kepastian bagi penabung maupun ahli waris untuk memperoleh dananya sesuai target pada waktu yang di inginkan, dengan perlindungan asuransi gratis.
2. Tabungan Simpatik BSM
Adalah tabungan dalam mata uang rupiah berdasarkan prinsip wadiah, yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat berdasarkan syarat-syarat tertentu yang disepakati.
3. Tabungan BSM
Adalah tabungan dalam mata uang rupiah dengan akad akad Mudharabah Mutlaqoh yang penarikannya berdasarkan syarat-syarat tertentu yang disepakati. 4. Tabungan BSM Dollar
Adalah tabungan dalam mata uang dollar yang penariaknnya dan setorannya dapat dilakukan setiap saat berdasarkan syarat-syarat tertentu yang disepakati.
5. Tabungan Mabrur BSM
Adalah tabungan yang bertujuan membantu masyarakat untuk merencanakan ibadah haji dan umrah.
6. Tabungan Kurban BSM