• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH DANCE MOVEMENT THERAPY TERHADAP PERBAIKAN DEPRESI PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH DANCE MOVEMENT THERAPY TERHADAP PERBAIKAN DEPRESI PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2"

Copied!
117
0
0

Teks penuh

(1)

i

TERHADAP PERBAIKAN DEPRESI

PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh

Derajat Sarjana Kedokteran pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun oleh

TIARA KUSUMA DEWI 20130310015

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

(2)

i

TERHADAP PERBAIKAN DEPRESI

PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh

Derajat Sarjana Kedokteran pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun oleh

TIARA KUSUMA DEWI 20130310015

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

(3)

ii

TERHADAP PERBAIKAN DEPRESI

PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2

Disusun oleh : TIARA KUSUMA DEWI

20130310015

Telah disetujui dan diseminarkan pada tanggal 7 November 2016

Dosen Pembimbing Dosen Penguji

dr. Denny Anggoro Prakoso, M.Sc. Dr. dr. H. Kusbaryanto, M.Kes. NIP : 19810621 200710 173076 NIP : 19650807 199701 173022

Mengetahui, Kaprodi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

(4)

iii NIM : 20130310015 Program Studi : Pendidikan Dokter

Fakultas : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Karya Tulis Ilmiah yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Karya Tulis Ilmiah ini.

Apabila kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan Karya Tulis Ilmiah ini hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Yogyakarta, 7 November 2016 Yang membuat pernyataan

(5)

iv

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan hidayah dan anugerah-Nya sehingga Karya Tulis Ilmiah ini dapat terselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, para sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Pengaruh Dance Movement Therapy

terhadap Perbaikan Depresi pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2” ini diajukan untuk memenuhi sebagian syarat memperoleh derajat sarjana kedokteran pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Pada kesempatan ini, ijinkan penulis mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini. Ucapan terimakasih kepada :

1. Allah SWT yang telah memberikan kelancaran dalam penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini.

2. dr. H. Ardi Pramono, Sp.An., M.Kes. selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

(6)

v

Adinda Puspa Dewi yang selalu mendukung dan senantiasa mendoakan. 6. Rifki Nur Pratama, yang selalu memberikan dukungan dalam segala hal. 7. Puskesmas Dlingo II, yang telah memberikan izin dalam penelitian ini

serta seluruh warga dan kader kesehatan Desa Muntuk dan Desa Terong yang telah senantiasa membantu dalam terselenggaranya penelitian.

8. Teman-teman satu kelompok bimbingan, Nindy Ellena, Nafi’atus Syarifah, dan Novihani Hidayati yang telah banyak membantu.

9. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari kata sempurna. Masih banyak kekurangan baik dari segi isi maupun penulisannya, untuk itu penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya. Penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun agar di kemudian hari penulis dapat mempersembahkan suatu hasil yang lebih baik.

Akhir kata, penulis mengharapkan Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan menambah khasanah ilmu pengetahuan terutama dalam bidang kedokteran. Terimakasih.

Yogyakarta, 7 November 2016 Peneliti

(7)

vi

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ...x

ABSTRAK...xi

BAB I PENDAHULUAN ...1

A.Latar Belakang Masalah ...1

B.Rumusan Masalah ...5

C.Tujuan Penelitian ...5

D.Manfaat Penelitian ...5

E.Keaslian Penelitian ...7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...9

A.Tinjauan Pustaka ...9

B.Kerangka Teori ...25

C.Kerangka Konsep ...26

D.Hipotesis ...26

BAB III METODE PENELITIAN ...27

A.Desain Penelitian ...27

B.Populasi dan Sampel Penelitian ...27

C.Lokasi dan Waktu Penelitian ...30

D.Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ...30

E.Instrumen Penelitian ...32

F.Cara Pengumpulan Data ...33

G.Uji Validitas Dan Reliabilitas ...34

H. Analisis Data ...35

(8)

vii

B.PEMBAHASAN ...43

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...53

A.KESIMPULAN... ...53

B.SARAN ...53

DAFTAR PUSTAKA...55

(9)

viii

Tabel 2. Kriteria Diagnosis Diabetes Melitus ... 13

Tabel 3. Desain Penelitian ... 27

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden ... 39

Tabel 5. Frekuensi Tingkat Depresi Responden ... 41

Tabel 6. Perbedaan Rerata Pretest dan Posttest Skor Depresi Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Kelompok Kontrol dan Kelompok Perlakuan ... 42

(10)
(11)

x Lampiran 3. Modul Dance Movement Therapy Lampiran 4. Analisis Data SPSS

(12)

xi 1

Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 2Bagian Kedokteran Keluarga dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas

Muhammadiyah Yogyakarta

ABSTRACT

Background : International Diabetes Federation (IDF) predicts that Indonesia has increasing of amount of diabetic patient 10 million in 2015 to be 16,2 million in 2030. The improvement of diabetes mellitus phenomenom will be followed by complication of diabetes which causes the depression. Dance Movement Therapy is one of nonpharmacotherapy alternatives that can be used to overcome the problem of depression because it is a fun physical activity, a means of verbal and nonverbal communication, a means of self-expression, a means of social interaction, fun games, and a means of releasing tension. This benefits can lead a positive mood for someone with depression so that there are improvement of depression score. The research has purpose to know the influence of Dance Movement Therapy on the improvement of depression score in patient with type 2 diabetes melitus.

Methods : The design of this research was a Quasi-Experiment pretest and posttest with control group design. The subjects were 48 diabetes melitus patient in Puskesmas Dlingo II. 24 subjects in Desa Muntuk as intervention group and 24 subjects in Desa Terong as control group. Interventions administered for 4 times and once time per week with a duration of 30-60 minutes as module guides. The depression score was evaluated with PHQ-9 (Patient Health Questionnaire). The data was analyzed by Wilcoxon test and Mann-Whitney test.

Results : Based on the calculation mean+SD of the Wilcoxon test for the intervention group is 7,79 + 4,232 for pretest and 4,79 + 2,859 for posttest with p value is 0,000, then for the control group is 4,00 + 3,426 for pretest and 3,88 + 4,225 for posttest with p value is 0,445. The results of 2 samples Mann-Whitney test calculation of mean rank values for intervention group is 30,90 and 18,10 for control group with p value 0,001.

Conclusions : Based on the results of research, it can be concluded that dance movement therapy has influence significantly to improvement of depression score in patient with type 2 diabetes melitus.

(13)

xii 1

Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 2Bagian Kedokteran Keluarga dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas

Muhammadiyah Yogyakarta INTISARI

Latar Belakang : International Diabetes Federation (IDF) memprediksi Indonesia mengalami kenaikan jumlah pasien diabetes melitus dari 10 juta penduduk pada tahun 2015 menjadi sekitar 16,2 juta penduduk pada tahun 2040. Peningkatan kejadian diabetes melitus diikuti dengan peningkatan kejadian komplikasi akan menyebabkan depresi. Dance Movement Therapy merupakan latihan fisik rekreasional, sarana komunikasi verbal dan non verbal, sarana ekspresi diri, sarana interaksi sosial, permainan yang menyenangkan, dan sarana pelepas ketegangan. Manfaat tersebut dapat menimbulkan suasana hati yang positif bagi seseorang yang mengalami depresi sehingga dapat terjadi perbaikan skor depresi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh Dance Movement Therapy terhadap perbaikan depresi pada pasien diabetes melitus tipe 2.

Metode Penelitian : Desain penelitian ini adalah Quasi Experiment pretest-posttest with control group design. Subjek penelitian ini adalah 48 pasien diabetes melitus tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Dlingo II yang terdiri dari 24 pasien dari Desa Muntuk sebagai kelompok perlakuan dan 24 pasien dari Desa Terong sebagai kelompok kontrol. Perlakuan diberikan selama 4 kali yaitu 1 kali setiap minggunya dengan durasi 30-60 menit sesuai modul. Kuesioner yang digunakan untuk menilai tingkat depresi adalah PHQ-9 (Patient Health Questionnaire). Analisis data yang digunakan adalah Wilcoxon test dan Mann-Whitney test.

Hasil analisis : Berdasarkan hasil Wilcoxon test untuk kelompok perlakuan didapatkan Mean+SD pretest 7,79 + 4,232 dan posttest 4,79 + 2,859 dengan nilai p 0,000, sedangkan untuk kelompok kontrol didapatkan nilai Mean+SD pretest 4,00 + 3,426 dan posttest 3,88 + 4,225 dengan nilai p 0,445. Hasil perhitungan 2 sampel Mann-Whitney test diperoleh nilai mean rank kelompok perlakuan 30,90 dan kelompok kontrol 18,10 dengan nilai p 0,001.

Kesimpulan : Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Dance Movement Therapy mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap perbaikan depresi pada pasien diabetes tipe 2

(14)
(15)

xi 1

Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 2Bagian Kedokteran Keluarga dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas

Muhammadiyah Yogyakarta

ABSTRACT

Background : International Diabetes Federation (IDF) predicts that Indonesia has increasing of amount of diabetic patient 10 million in 2015 to be 16,2 million in 2030. The improvement of diabetes mellitus phenomenom will be followed by complication of diabetes which causes the depression. Dance Movement Therapy is one of nonpharmacotherapy alternatives that can be used to overcome the problem of depression because it is a fun physical activity, a means of verbal and nonverbal communication, a means of self-expression, a means of social interaction, fun games, and a means of releasing tension. This benefits can lead a positive mood for someone with depression so that there are improvement of depression score. The research has purpose to know the influence of Dance Movement Therapy on the improvement of depression score in patient with type 2 diabetes melitus.

Methods : The design of this research was a Quasi-Experiment pretest and posttest with control group design. The subjects were 48 diabetes melitus patient in Puskesmas Dlingo II. 24 subjects in Desa Muntuk as intervention group and 24 subjects in Desa Terong as control group. Interventions administered for 4 times and once time per week with a duration of 30-60 minutes as module guides. The depression score was evaluated with PHQ-9 (Patient Health Questionnaire). The data was analyzed by Wilcoxon test and Mann-Whitney test.

Results : Based on the calculation mean+SD of the Wilcoxon test for the intervention group is 7,79 + 4,232 for pretest and 4,79 + 2,859 for posttest with p value is 0,000, then for the control group is 4,00 + 3,426 for pretest and 3,88 + 4,225 for posttest with p value is 0,445. The results of 2 samples Mann-Whitney test calculation of mean rank values for intervention group is 30,90 and 18,10 for control group with p value 0,001.

Conclusions : Based on the results of research, it can be concluded that dance movement therapy has influence significantly to improvement of depression score in patient with type 2 diabetes melitus.

(16)

xii 1

Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 2Bagian Kedokteran Keluarga dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas

Muhammadiyah Yogyakarta INTISARI

Latar Belakang : International Diabetes Federation (IDF) memprediksi Indonesia mengalami kenaikan jumlah pasien diabetes melitus dari 10 juta penduduk pada tahun 2015 menjadi sekitar 16,2 juta penduduk pada tahun 2040. Peningkatan kejadian diabetes melitus diikuti dengan peningkatan kejadian komplikasi akan menyebabkan depresi. Dance Movement Therapy merupakan latihan fisik rekreasional, sarana komunikasi verbal dan non verbal, sarana ekspresi diri, sarana interaksi sosial, permainan yang menyenangkan, dan sarana pelepas ketegangan. Manfaat tersebut dapat menimbulkan suasana hati yang positif bagi seseorang yang mengalami depresi sehingga dapat terjadi perbaikan skor depresi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh Dance Movement Therapy terhadap perbaikan depresi pada pasien diabetes melitus tipe 2.

Metode Penelitian : Desain penelitian ini adalah Quasi Experiment pretest-posttest with control group design. Subjek penelitian ini adalah 48 pasien diabetes melitus tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Dlingo II yang terdiri dari 24 pasien dari Desa Muntuk sebagai kelompok perlakuan dan 24 pasien dari Desa Terong sebagai kelompok kontrol. Perlakuan diberikan selama 4 kali yaitu 1 kali setiap minggunya dengan durasi 30-60 menit sesuai modul. Kuesioner yang digunakan untuk menilai tingkat depresi adalah PHQ-9 (Patient Health Questionnaire). Analisis data yang digunakan adalah Wilcoxon test dan Mann-Whitney test.

Hasil analisis : Berdasarkan hasil Wilcoxon test untuk kelompok perlakuan didapatkan Mean+SD pretest 7,79 + 4,232 dan posttest 4,79 + 2,859 dengan nilai p 0,000, sedangkan untuk kelompok kontrol didapatkan nilai Mean+SD pretest 4,00 + 3,426 dan posttest 3,88 + 4,225 dengan nilai p 0,445. Hasil perhitungan 2 sampel Mann-Whitney test diperoleh nilai mean rank kelompok perlakuan 30,90 dan kelompok kontrol 18,10 dengan nilai p 0,001.

Kesimpulan : Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Dance Movement Therapy mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap perbaikan depresi pada pasien diabetes tipe 2

(17)

1 A. Latar Belakang Masalah

International Diabetes Federation (IDF) mendefinisikan diabetes

sebagai suatu kondisi kronis yang terjadi dimana tubuh tidak dapat menghasilkan cukup insulin atau tidak dapat menggunakan insulin, dan didiagnosis dengan mengamati peningkatan kadar glukosa dalam darah. Dampak dari tingginya glukosa dalam darah (dikenal sebagai hiperglikemia) menyebabkan kerusakan di berbagai jaringan dalam tubuh, mengarah ke berkembangnya kecacatan dan komplikasi kesehatan yang mengancam jiwa (International Diabetes Federation, 2015).

(18)

negara di dunia dengan penduduk yang menderita diabetes melitus sebanyak 10 juta penduduk dan diprediksi akan meningkat menjadi peringkat keenam dengan 16,2 juta penduduk menderita diabetes melitus pada tahun 2040 (International Diabetes Federation, 2015).

Orang dengan diabetes melitus memiliki risiko lebih tinggi terhadap masalah kesehatan dibandingkan orang tanpa diabetes melitus. Kadar glukosa darah yang tinggi dapat menyebabkan penyakit serius yang mempengaruhi jantung, pembuluh darah, mata, ginjal dan saraf. Komplikasi akibat diabetes melitus adalah penyebab utama kecacatan, penurunan kualitas kehidupan dan kematian dini. (International Diabetes Federation, 2015).

Pasien diabetes melitus terutama yang mengalami komplikasi, mempunyai risiko depresi lebih tinggi dibanding masyarakat umum. Dalam sebuah meta analisis yang menunjukkan hubungan yang bermakna antara depresi dan diabetes melitus disebutkan bahwa terdapat hubungan 2 arah antara depresi dan diabetes melitus yaitu depresi dikaitkan dengan 60% peningkatan diabetes melitus tipe 2 sedangkan diabetes melitus tipe 2 terkait dengan 15% depresi tingkat sedang (Egede & Ellis, 2010).

(19)

sakit. Penelitian ini terinspirasi oleh surat Al-Quran yaitu surat Ar-ra’du ayat 11:

َ هَ هنإ ۗ هَ رْ أ ْن هن ظفْحي هفْ خ ْن هْي ي نْيب ْن تابِقع هل

ۗ ْ سفْنأب ا ا رِيغي ٰىهتح ْ قب ا رِيغي

َف اء س ْ قب هَ دارأ ا إ

لا ْن هن د ْن ْ ل ا ۚ هل هدر

Artinya : “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

(20)

dengan melukis, memahat, bermain musik atau drama, menari atau bergerak (Pylvänäinen, et al. 2015).

Dance Movement Therapy adalah salah satu bentuk terapi non farmakologi yang dapat digunakan untuk mengatasi depresi karena

merupakan integrasi antara aspek fisik, emosional, kognitif, dan sosial

(Chaiklin & Wengrower, 2009). Dance Movement Therapy bertujuan sebagai sarana komunikasi baik verbal maupun non verbal, sarana ekspresi

diri dengan gerakan, sarana interaksi sosial, permainan yang

menyenangkan, dan sarana pelepas ketegangan. Beberapa manfaat tersebut

dapat menimbulkan suasana hati yang positif bagi seseorang yang

mengalami depresi (Helmich, et al., 2010). Dance Movement Therapy ini dapat digunakan pada semua usia mulai dari anak-anak hingga lanjut usia.

Penerapan Dance Movement Therapy ini dapat disesuaikan dengan aspek budaya, sosial, dan spiritual masyarakat setempat (Pylvänäinen, et al. 2015).

(21)

B. Rumusan Masalah

Apakah terdapat pengaruh antara Dance Movement Therapy terhadap perbaikan depresi pada pasien diabetes melitus tipe 2? Bagaimana pengaruhnya?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui pengaruh Dance Movement Therapy terhadap perbaikan depresi pada pasien diabetes melitus tipe 2.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui proporsi tingkat depresi pasien diabetes melitus tipe 2 sebelum diberi intervensi Dance Movement Therapy.

b. Mengetahui proporsi tingkat depresi pasien diabetes melitus tipe 2 setelah diberi intervensi Dance Movement Therapy.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara praktis dan teoritis sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

(22)

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Pasien Diabetes Melitus Tipe 2

Pasien diabetes melitus tipe 2 menjadi lebih senang dan bahagia karena dapat berinteraksi dan mengekspresikan perasaannya dalam bentuk gerakan-gerakan sehingga mengurangi tingkat depresi. b. Bagi Masyarakat

Dapat menambah wawasan, pengetahuan, dan ketrampilan dalam memahami dan merawat pasien diabetes melitus tipe 2 serta memberikan cara alternatif untuk mengurangi tingkat depresi sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien diabetes melitus tipe 2.

c. Bagi Tenaga Kesehatan

Memberikan informasi dan masukan dalam memberikan perawatan pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang mengalami depresi dan menyediakan modul Dance Movement Therapy sebagai alternatif terapi non farmakologi untuk mengatasi masalah depresi pada pasien diabetes melitus tipe 2.

d. Bagi Peneliti

(23)

e. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dalam melakuakan pengembangan penelitian lebih lanjut.

E. Keaslian Penelitian

(24)
(25)

9 A.Tinjauan Pustaka

1. Diabetes Melitus Tipe 2

a. Definisi

Menurut American Diabetes Association diabetes melitus adalah sebuah kumpulan penyakit metabolik yang ditandai dengan adanya hiperglikemia yang disebabkan karena kurangnya sekresi insulin, aksi insulin, atau keduanya. Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, saraf, jantung dan pembuluh darah (American Diabetes Association, 2009).

Gejala-gejala hiperglikemia termasuk poliuria, polidipsia, berat badan menurun, kadang-kadang dengan polifagia, dan penglihatan kabur. Gangguan pertumbuhan dan kerentanan terhadap berbagai macam infeksi juga dapat menyertai hiperglikemia kronik. Konsekuensi akut yang mengancam jiwa dari diabetes yang tidak terkontrol adalah hiperglikemia dengan ketoasidosis atau sindrom hiperosmolar nonketosis (American Diabetes Association, 2009).

b. Epidemiologi

(26)

memperkirakan bahwa secara global, glukosa darah yang tinggi adalah salah satu dari tiga faktor resiko tertinggi untuk kematian dini, setelah hipertensi dan merokok (WHO, 2014).

Berdasarkan survei yang dilakukan International Diabetes Federation (IDF) penduduk yang hidup dengan kondisi diabetes dapat ditemui di setiap negara. Pada tahun 2015 jumlah penduduk di dunia mencapai 7,3 milyar dengan penduduk yang menderita diabetes melitus sebanyak 415 juta atau sekitar 8,8% dan paling banyak pada usia 20-66 tahun. Penduduk yang meninggal akibat diabetes melitus pada tahun 2015 mencapai 5 juta penduduk (International Diabetes Federation, 2015). Di Indonesia sendiri angka diabetes melitus masih sangat tinggi dan menempati peringkat ketujuh dunia yaitu mencapai 10 juta penduduk pada tahun 2015 dan diprediksikan akan meningkat mencapai 16,2 juta penduduk pada tahun 2040 (International Diabetes Federation, 2015). c. Klasifikasi

Berdasarkan etiologinya, diabetes melitus dapat dibagi dalam 4 tipe : 1) Tipe 1

Diakibatkan destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut dan dapat bersifat autoimun ataupun idiopatik.

2) Tipe 2

(27)

3) Tipe lain

a) Defek genetik fungsi beta b) Defek genetik fungsi insulin c) Penyakit pankreas eksokrin d) Endokrinopati

e) Obat atau zat kimia f) Infeksi

g) Sebab imunologi yang jarang

h) Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan diabetes melitus 4) Diabetes melitus gestational

(Konsensus PERKENI, 2006). d. Faktor Risiko

1) Berat badan lebih dan obese (IMT ≥ 25 kg/m2) 2) Riwayat penyakit diabetes melitus di keluarga

3) Mengalami hipertensi (TD ≥ 140/90 mmHg atau sedang dalam terapi hipertensi)

4) Pernah didiagnosis penyakit jantung atau stroke (kardiovaskular) 5) Kolesterol HDL < 35 mg/dl dan / atau Trigliserida > 250 mg /dL atau

sedang dalam pengobatan dislipidemia

6) Riwayat melahirkan bayi dengan BBL > 4000 gram atau pernah didiagnosis diabetes melitus gestasional

(28)

8) Riwayat GDPT (Glukosa Darah Puasa Tergangu) / TGT (Toleransi Glukosa Terganggu)

9) Aktifitas jasmani yang kurang (PERMENKES, 2014). e. Penegakan Diagnosis

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (PERMENKES) Nomor 5 Tahun 2014 tentang Panduan Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer langkah penegakan diagnosis diabetes melitus adalah sebagai berikut :

1) Hasil Anamnesis (Subjective)

a) Keluhan khas : Polifagia, Poliuri, Polidipsi, dan Penurunan berat badan yang tidak jelas sebabnya.

b) Keluhan tidak khas : lemah, kesemutan (rasa baal di ujung-ujung ekstremitas), gatal, mata kabur, disfungsi ereksi pada pria, pruritus vulvae pada wanita, dan luka yang sulit sembuh.

2) Pemeriksaan Fisik

Penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya 3) Pemeriksaan Penunjang

a) Pemeriksaan gula darah sewaktu b) Pemeriksaan gula darah puasa

(29)

4) Kriteria Diagnosis

Tabel 2. Kriteria Diagnosis Diabetes Melitus Bukan (sumber : Konsensus PERKENI, 2006)

f. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan diabetes melitus didasarkan pada rencana diet, latihan fisik dan pengaturan aktivitas fisik, agen-agen hipoglikemik oral, terapi insulin, pengawasan glukosa di rumah, dan pengetahuan tentang diabetes dan perawatan diri. Diabetes melitus adalah penyakit kronik, dan pasien perlu menguasi pengobatan dan belajar bagaimana menyesuaikan agar tercapai kontrol metabolik yang optimal. Pasien diabetes melitus tipe 1 dalam terapinya selalu membutuhkan insulin. Pada pasien diabetes melitus tipe 2 terdapat resistensi insulin dan defisiensi insulin relatif sehingga dapat ditangani tanpa insulin. Rencana diet pada pasien dimaksud untuk mengatur jumlah kalori dan karbohidrat yang dikonsumsi setiap hari. Latihan fisik mempermudah transpor glukosa ke dalam sel-sel dan meningkatkan kepekaan terhadap insulin (Price & Wilson, 2014).

g. Komplikasi

(30)

Komplikasi metabolik diabetes melitus disebabkan oleh perubahan yang relatif akut dari konsentrasi glukosa plasma. Komplikasi metabolik yang paling serius adalah diabetes ketoasidosis (DKA). Hiperglikemia, hiperosmolar, koma nonketotik adalah komplikasi metabolik akut dari diabetes melitus yang paling sering terjadi. Komplikasi metabolik lain antara lain hipoglikemia akibat reaksi terapi insulin (Price & Wilson, 2014).

2. Depresi

a. Definisi

Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tidak berdaya, serta bunuh diri (Kaplan & Sadock, 2010). Depresi adalah salah satu gangguan mood yang ditandai oleh hilangnya perasaan kendali dan pengalaman subjektif adanya penderitaan berat. Mood adalah keadaan emosional internal yang meresap dari seseorang, dan bukan afek, yaitu ekspresi dari isi emosional saat itu (Kaplan & Sadock, 2010).

b. Etiologi

Faktor penyebab depresi dapat dibagi menjadi faktor biologi, faktor genetik, dan faktor psikososial.

(31)

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat kelainan pada amin biogenik, seperti: 5 HIAA (5-Hidroksi indol asetic acid), HVA (Homovanilic acid), MPGH (5 methoxy-0-hydroksi phenil glikol), di dalam darah, urin dan cairan serebrospinal pada pasien gangguan mood. Neurotransmiter yang terkait dengan patologi depresi adalah serotonin dan epineprin. Penurunan serotonin dapat mencetuskan depresi, dan pada pasien bunuh diri, beberapa pasien memiliki serotonin yang rendah. Pada terapi despiran mendukung teori bahwa norepineprin berperan dalam patofisiologi depresi (Kaplan & Sadock, 2010). Selain itu aktivitas dopamin pada depresi adalah menurun. Hal tersebut tampak pada pengobatan yang menurunkan konsentrasi dopamin seperti Respirin, dan penyakit dimana konsentrasi dopamin menurun seperti parkinson, adalah disertai gejala depresi. Obat yang meningkatkan konsentrasi dopamin, seperti tyrosin, amphetamine, dan bupropion, menurunkan gejala depresi (Kaplan & Sadock, 2010).

2) Faktor Genetik

(32)

mood. Jika kedua orangtua menderita gangguan depresi, terdapat kemungkinan 50-75% anaknya menderita gangguan mood (Kaplan & Sadock, 2010).

3) Faktor Psikososial

Faktor psikososial yang mempengaruhi depresi meliputi: peristiwa kehidupan dan stressor lingkungan, kepribadian, psikodinamika, kegagalan yang berulang, teori kognitif dan dukungan sosial (Kaplan & Sadock, 2010). Peristiwa kehidupan yang menyebabkan stres, lebih sering mendahului episode pertama gangguan mood dari episode selanjutnya. Para klinisi mempercayai bahwa peristiwa kehidupan memegang peranan utama dalam depresi, klinisi lain menyatakan bahwa peristiwa kehidupan hanya memiliki peranan terbatas dalam onset depresi (Kaplan & Sadock, 2010).

c. Derajat Depresi dan Penegakan Diagnosis

Berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) di Indonesia depresi dapat digolongkan dalam 3 tingkatan yaitu depresi ringan, sedang, dan berat. Untuk episode depresi dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakan diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat. Diagnosis depresi tersebut dapat ditegakkan berdasarkan gejala-gejala berikut :

(33)

a) Afek depresif

b) Kehilangan minat dan kegembiraan, dan

c) Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas.

2) Gejala lainnya

a) Konsentrasi dan perhatian berkurang b) Harga diri dan kepercayaan diri berkurang c) Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna d) Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis

e) Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri f) Tidur terganggu

g) Nafsu makan berkurang (Maslim, 2013)

3. Depresi pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2

(34)

diabetes melitus yang mempunyai komplikasi jika mengalami depresi maka tingkat mortalitasnya akan meningkat jauh lebih tingggi dibandingkan dengan pasien diabetes melitus dengan komplikasi tanpa depresi (Egede & Ellis, 2010).

Prevalensi depresi secara signifikan lebih tinggi di antara pasien dengan diabetes melitus tipe 2 (17,6%) dibandingkan mereka tanpa diabetes (9,8%). Disebutkan juga bahwa prevalensi wanita dengan diabetes (23,8%) lebih tinggi dibanding pria dengan diabetes (12,8%) (Ali et al., 2006).

Terdapat hubungan dua arah antara depresi dan diabetes melitus tipe 2. Penelitian menunjukkan bahwa selain depresi menjadi konsekuensi dari diabetes, depresi juga bisa menjadi faktor risiko untuk timbulnya diabetes (Knoll et al., 2006). Selain itu, keadaan depresi meningkatkan resiko kematian pada pasien diabetes melitus (Katon et al., 2008).

4. Dance Movement Therapy (DMT)

a. Definisi

(35)

(Fredricks, 2008). Dance Movement Therapy adalah alternatif terapi yang dapat digunakan untuk masalah tubuh dan pikiran yang terdiri dari beberapa komponen aspek yaitu bahasa tubuh, gerakan, ekspresi, konseling, sarana komunikasi verbal dan non verbal, serta rehabilitasi yang digunakan untuk menterapi seseorang (Cruz, 2012).

b. Unsur Dance Movement Therapy

Terdapat tiga unsur yang ada dalam Dance Movement Therapy yaitu : 1) Gerakan

Substansi baku tari adalah gerak dan gerak merupakan pengalaman fisik yang paling elementer dari kehidupan manusia. Gerak merupakan media yang paling tua dari manusia untuk menyatakan keinginannya dan gerak merupakan bentuk refleksi spontan dari gerak batin manusia (Arini, 2008).

2) Musik

Dalam Dance Movement Therapy musik memiliki peran yang besar terhadap gerakan memotivasi dan mendorong melakukan gerakan. Musik yang digunakan dapat dipilih sesuai dengan tujuan

(Cruz, 2012).

3) Ritme

(36)

memanfaatkannya. Ritme akan memungkinkan gerakan yang berkesinambungan dan selaras (Pericleous, 2011).

c. Tahapan Dance Movement Therapy

Dalam intervensi Dance Movement Therapy ada beberapa jenis metode yang dapat digunakan namun pada dasarnya semua metode tersebut terdiri dari beberapa pendekatan antara lain :

1) Imitasi : imitasi / refleksi / peniruan gerakan 2) Mirroring

3) Simbolisasi tubuh : menggali postur, gestur, mimik, dan gerakan yang spesifik yang merupakan ciri khas dalam sebuah emosi yang spesifik (misal marah, sedih, bahagia dan sebagainya).

4) Menggali gerakan : disesuaikan dengan perasaan yang sedang dialami 5) Gerakan asli : menggunakan gerakan-gerakan bebas sesuai keinginan /

bergerak sesuai keinginan. (Martinec, 2013).

Meekums membagi Dance Movement Therapy dalam 4 tahapan : 1) Tahap persiapan yang meliputi pemanasan

2) Inkubasi, gerakan-gerakan santai membentuk simbolisasi 3) Iluminasi, gerakan-gerakan utama yang memiliki arti

4) Evaluasi, diskusi menuju akhir dari proses (Meekums, et al.,2015).

d. Intensitas dan Durasi

(37)

dapat dilakukan dengan kisaran 30-60 menit atau 60-90 menit di setiap kegiatannya (Earhart, 2009; Pinniger, 2012).

Frekuensi Dance Movement Therapy direkomendasikan dilakukan secara reguler tiap seminggu sekali (Fredricks, 2008). Sumber lain mengatakan bahwa Dance Movement Therapy dilakukan dua kali setiap minggunya (Cruz, 2012).

e. Manfaat

Dalam sebuah systematic review dijelaskan Dance Movement Therapy efektif digunakan pada orang dengan gangguan mental, kesehatan, sosial, fisik, dan gangguan psikologis. Dance Movement Therapy banyak digunakan pada pasien dengan gangguan mental dan psikologis seperti kecemasan, stres, depresi yang berhubungan dengan penyakit kronis dan kanker untuk mengurangi gangguan mental mereka dan memperbaiki mood. Keefektifan Dance Movement Therapy telah banyak diteliti sebagai salah satu modalitas dalam psikoterapi (Strassel, 2011).

(38)

f. Dance Movement Therapy di Indonesia

Dance Movement Therapy telah banyak diadaptasi di Indonesia salah satunya oleh Nitami Oktavia Indiarti, et al. (2014) dengan menggunakan lagu dolanan Jawa sebagai pengiring dalam melakukan

Dance Movement Therapy. Berdasarkan penelitian tersebut terdapat perbedaan yang bermakna antara selisih skor depresi sebelum dan sesudah diberi perlakuan Dance Movement Therapy dibanding kelompok yang tidak mendapatkan perlakuan Dance Movement Therapy.

Lagu dolanan Jawa adalah bentuk seni sastra tradisional atau nyanyian rakyat dengan suatu irama dan permainan tertentu, oleh sekelompok anak-anak. Lagu-lagu dolanan memiliki lirik atau syair yang tersusun dari kata-kata indah yang memiliki makna (Fuadhiyah, 2011).

(39)

Pada Dance Movement Therapy dengan menggunakan lagu dolanan Jawa memiliki tempo irama sedang, sehingga subjek dapat menangkap irama dari instrumen lagu dolanan Jawa (Purbowinoto, 2013). Campbell (2002) menyatakan bahwa musik yang didengar seseorang akan disalurkan oleh syaraf auditory kemudian aktivitas suara yang ditimbulkannya direkam pada EEG (Electri Ensepalo Gram) terutama pada lapisan korteks serebri yang superficial, yang kemudian mengalir antara fluktuatuing sipoles yang terbentuk dari dendrit-dendrit sel kortikal dan badan sel. Dendrit-dendrit tersebut berorientasi serupa dan merupakan unit-unit yang bersatu dengan kompleks pada korteks serebri. Aktivitas banyak unit dendrit tersebur berjalan sinkron untuk membentuk corak gelombang alfa yang menandakan kondisi heightened awareness dan tenang.

(40)

keseluruhan serta tingkat kesadaran (Atwater, 2009). Sesuai mekanisme yang dijelaskan oleh Atwater (2009), gelombang alfa tercipta pada korteks cerebri melalui hubungan kortikal dengan thalamus. Gelombang ini merupakan hasil dari osilasi umpan balik spontan dalam sistem talamokortikal (Guyton & Hall, 2006).

(41)

B. Kerangka Teori

Diabetes Melitus (DM)

Klasifikasi

DM tipe 1, DM tipe 2, DM gestational, DM tipe lain Gejala

Gejala Khas : Polidipsi, Poliuri, Polifagi, BB menurun tanpa sebab

Gejala Lain : Luka lama sembuh, mati rasa, pandangan kabur, dan lain-lain

Faktor Resiko

1. Riwayat Keluarga 3. Usia 2. Aktivitas Fisik Kurang 4. Obesitas

Penatalaksanaan

1. Farmakologi : Obat oral, insulin

2. Nonfarmakologi : diet, aktivitas fisik teratur , cek gula darah rutin, kontrol teratur

Komplikasi

Stroke, gangguan ginjal, gangguan seksual, penyakit pembuluh darah, ulkus kaki, penyakit jantung koroner, gangguan penglihatan, neuropati

Depresi

Etiologi

Faktor Biologi, Faktor Genetik, Faktor Psikososial Klasifikasi

Depresi Ringan, Depresi Sedang, Depresi Berat Gejala

Afek depresif, Kehilangan minat dan kegembiraan, Mudah lelah

Dance Movement

Therapy Intensitas

Durasi : 30-60 menit atau 60-90 menit Frekuensi : 1-2 x / minggu

(42)

C.Kerangka Konsep

Keterangan :

: Variabel yang diteliti

: Faktor yang tidak dikendalikan Gambar 2. Kerangka Konsep

D.Hipotesis

H0 : Tidak terjadi perbaikan depresi pada pasien diabetes melitus tipe 2 setelah dilakukan Dance Movement Therapy.

H1 : Terjadi perbaikan depresi pada pasien diabetes melitus tipe 2 setelah dilakukan Dance Movement Therapy.

- Usia

- Tingkat pendidikan - Tingkat religius - Dukungan Keluarga Dance Movement

Therapy

Depresi pada pasien Diabetes

(43)

27 A. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian quasi experimental dengan rancangan pre-post test with control group yang menggunakan 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Rancangan ini mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan kelompok kontrol dan kelompok perlakuan, pemilihan kedua kelompok ini tidak menggunakan teknik acak (Nursalam, 2008).

Tabel 3 : Desain Penelitian

Subjek Pre test Intervensi Post test Kelompok

perlakuan

O I OI-A

Kelompok kontrol O - OI-B

Keterangan :

O : Pengukuran tingkat depresi sebelum intervensi.

OI-A : Pengkuran tingkat depresi setelah intervensi kelompok perlakuan. OI-B : Pengkuran tingkat depresi setelah intervensi kelompok kontrol. I : Diberikan Dance Movement Therapy.

B. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi Penelitian

(44)

Populasi terjangkau : pasien diabetes melitus tipe 2 di Desa Terong dan Desa Muntuk yang kontrol di Puskesmas Dlingo II, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

2. Sampel Penelitian

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan convenient sampling. Menurut Dahlan (2009), perkiraan besar sampel berdasarkan rumus penelitian analitik numerik berpasangan, sebagai berikut :

N =

[

-

]

2

keterangan :

Z : deviat baku alfa Z : deviat baku beta

S : standar deviasi dari selisih nilai antar kelompok X1 – X2 : selisih rerata minimal yang dianggap bermakna Kesalahan tipe I ditetapkan 5%, sehingga Z = 1,64. Kesalahan tipe II ditetapkan 10%, sehingga Z = 1,28.

Dari penelitian sebelumnya diketahui bahwa : X1 – X2 = 2 dan S = 2,90.

N =

[

S 1- 2

]

2

N =

[

1,64 1,2 2,90

2

]

(45)

N = 17,9 = 18 orang

Untuk menghindari kemungkinan drop out maka perhitungan jumlah sampel menjadi :

N’ = N/(1-f)

N : besar sampel yang dihitung

f : perkiraan proporsi drop out = 20% = 0,2 maka, N’ = N/(1-f)

N’ = 18/(1-0,2) N’ = 22,5 = 23 orang

Maka dapat ditetapkan besar sampel minimal adalah 23 orang perkelompok.

Untuk mendapatkan sampel yang homogen dibuat kriteria inklusi dan eksklusi. Adapun kriteria tersebut antara lain :

a. Kriteria inklusi

1) Responden adalah pasien yang didiagnosis diabetes melitus tipe 2 yang berasal dari Desa Terong atau Desa Muntuk yang kontrol rutin di Puskemas Dlingo II dan berusia 18-70 tahun serta mengalami depresi.

2) Bersedia menjadi responden.

3) Mampu berkomunikasi dengan baik. b. Kriteria eksklusi

1) Gangguan jiwa berat.

(46)

3) Mengonsumsi obat antidepresan. c. Kriteria drop out

Tidak mengikuti kegiatan perlakuan lebih dari satu kali

C. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa Terong dan Desa Muntuk yang termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas Dlingo II, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan dalam periode April – Oktober 2016.

D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

1. Variabel Penelitian

a. Variabel bebas (independent) : Dance Movement Therapy.

b. Variabel terikat (dependent) : Depresi pada pasien diabetes melitus tipe 2.

(47)

2. Definisi Operasional

a. Pasien diabetes melitus tipe 2 adalah seseorang yang didiagnosis diabetes melitus tipe 2 yang berasal dari Desa Terong atau Desa Muntuk yang kontrol rutin di Puskesmas Dlingo II, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Skala yang digunakan adalah skala nominal.

b. Perbaikan depresi adalah perbaikan tingkatan status kesehatan jiwa yang diukur berdasarkan kuesioner PHQ-9 (Patient Health Questionnaire) kepada pasien diabetes melitus tipe 2 dari Desa Terong atau Desa Muntuk yang kontrol rutin di Puskesmas Dlingo II, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta dengan menghitung skor total dari kuesioner tersebut dan mengklasifikasikannya dalam 5 tingkat yaitu depresi minimal (skor 0-4), depresi ringan (skor 5-9), depresi sedang (skor 10-14), depresi sedang-berat (skor 15-19), dan depresi berat (skor 20-27). Skala yang digunakan adalah skala ordinal.

(48)

bertujuan untuk mengekspresikan perasaan dalam bentuk gerakan-gerakan. Skala yang digunakan adalah skala nominal.

E. Instrumen Penelitian

1. Kuesioner

a. Data karakteristik responden : nama, jenis kelamin, umur, agama, alamat, pendidikan terakhir, pekerjaan, status pernikahan, jumlah anak, tinggal dengan siapa, aktivitas yang dilakukan saat ini, riwayat penyakit, dan riwayat pengobatan (obat yang rutin diminum).

b. Instrumen untuk mengukur tingkat depresi

Instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat depresi adalah PHQ-9 (Patient Health Questionnaire). Instrumen PHQ-9 yang dikembangkan oleh Dr. Robert L. Spitzer (1999) yang terdiri dari 9 pertanyaan dan responden hanya tinggal memilih salah satu dari jawaban yang telah disediakan yang disesuaikan dengan kondisinya sekarang. Interpretasi skor PHQ-9 adalah depresi minimal (skor 0-4), depresi ringan (skor 5-9), depresi sedang (skor 10-10-4), depresi sedang-berat (skor 15-19), dan depresi berat (skor 20-27).

(49)

pemahaman pasien karena tidak semua pasien dapat mengerti bahasa Indonesia.

2. Media Dance Movement Therapy

a. Laptop untuk memutar musik. b. Speaker.

c. Modul Dance Movement Therapy sebagai panduan kader kesehatan yang dibuat oleh Nitami Oktavia Indiarti, et al. (2014) yang telah dilakukan validasi oleh pakar.

F. Cara Pengumpulan Data

Sumber data dalam penelitian ini menggunakan data primer melalui kuesioner dan wawancara yang dilakukan peneliti. Alur pengumpulan data sebagai berikut :

1. Tahap persiapan

Tahap persiapan yang dilakukan meliputi pembuatan izin penelitian yang ditujukan kepada kepala Puskesmas Dlingo II, melakukan survey lokasi di Puskesmas Dlingo II, menetapkan sampel penelitian, pengambilan data pasien dari kader setempat, dan memeriksa kelengkapan instrumen.

2. Tahap pelaksanaan

(50)

menggunakan PHQ-9 sebelum dilakukan intervensi baik kepada kelompok kontrol maupun kelompok perlakuan, memberikan perlakuan Dance Movement Therapy sebanyak 4 kali yaitu satu kali setiap minggunya dan dilakukan selama satu bulan pada kelompok perlakuan, melakukan post test dengan mengukur tingkat depresi dengan PHQ-9 pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan langsung setelah intervensi keempat.

3. Tahap akhir

Menganalisis data, pembuatan kesimpulan hasil penelitian, dan seminar hasil penelitian.

G. Uji Validitas Dan Reliabilitas

(51)

hasil Cronbach Alfa=0,714. Suatu instrumen dikatakan memiliki tingkat reliabilitas tinggi jika nilai koefisien Cronbach Alfa > 0,60. Dengan demikian kuesioner tersebut dapat digunakan sebagai alat pengumpul data karena kuesioner tersebut telah memenuhi syarat kelayakan suatu instrumen.

Uji validitas untuk instrumen yang digunakan yaitu uji validitas untuk modul Dance Movement Therapy. Modul Dance Movement Therapy yang akan digunakan telah divalidasi oleh pakar. Modul berisi langkah-langkah gerakan yang terdiri dari tiga tahapan yaitu step I, II, dan III (modul terlampir) (Indiarti, 2014).

H. Analisis Data

Untuk menganalisis data peneliti menggunakan program analisis statistika komputer. Analisis yang digunakan meliputi :

1. Analisis univariat

(52)

gambaran karakteristik responden yang dinyatakan dalam mean, median, dan modus.

2. Analisis bivariat

Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui perubahan skor depresi menggunakan analisis data pretest dan posttest untuk masing-masing kelompok perlakuan dan kelompok kontrol menggunakan uji paired t Test bila terdistribusi normal dan Wilcoxon signed Rank Test jika data tidak terdistribusi normal.

Analisis untuk mengetahui perbedaan skor depresi saat pretest dan posttest antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol menggunakan Independent t Test jika data terdistribusi normal dan apabila data tidak terdistribusi normal menggunakan Mann Whitney U-test. Dari hasil uji statistik akan didapatkan nilai signifikasi. Jika nilai sig > 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak. Sebaliknya jika nilai sig < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima.

I. Kesulitan Penelitian

(53)

memiliki pasien diabetes melitus tipe 2 yang cukup banyak, pasien kontrol dengan teratur, dan memiliki kader yang aktif.

2. Penelitian tidak dapat mendapatkan responden dengan jenis kelamin yang seimbang karena terbatasnya jumlah responden.

3. Kuesioner PHQ-9 (Patient Health Questionnaire-9) yang seharusnya diisi langsung oleh responden tidak dapat dilakukan tetapi harus didampingi oleh kader / asisten peneliti karena sebagian besar responden adalah lansia, banyak yang tidak bisa membaca, dan tidak mengerti cara pengisiannya sehingga peneliti merubah kuesioner dengan menggunakan bahasa jawa.

J. Etika Penelitian

1. Meminta ethical clearance dari Komisi Etik Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

2. Menjelaskan maksud, tujuan, dan manfaat perlakuan yang akan diberikan kepada calon responden dan meminta informed consent. 3. Menjaga kerahasiaan data respondennya (Confidentiality). Informasi

(54)

38 A. HASIL PENELITIAN

1. Gambaran Lokasi Penelitian

Kecamatan Dlingo merupakan salah satu kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kecamatan Dlingo memiliki luas wilayah 3.797,803 Ha yang digunakan sebagai bangunan umum, jalan, sawah, pemukiman, pekuburan, tempat wisata, lapangan olahraga, dan lain-lain. Kecamatan Dlingo terdiri dari 6 desa antara lain Desa Terong, Desa Jatimulyo, Desa Mangunan, Desa Muntuk, Desa Temuwuh, dan Desa Dlingo. Batas Kecamatan Dlingo di sebelah utara adalah Kecamatan Patuk, Gunung Kidul. Di sebelah Timur dan Selatan adalah Kecamatan Playen, Gunung Kidul, dan di sebelah Barat adalah Kecamatan Imogiri dan Pleret, Bantul. Kecamatan Dlingo dihuni oleh 8.894 KK. Jumlah keseluruhan penduduk Kecamatan Dlingo adalah 36.514 orang. Tingkat kepadatan penduduk adalah 650 jiwa/km2.

(55)

2. Karakteristik Responden

Responden dalam penelitian ini adalah pasien diabetes melitus tipe 2 yang kontrol serta mendapatkan pengobatan rutin di Puskesmas Dlingo II. Jumlah responden yang ada dalam penelitian adalah 24 pasien dari Desa Muntuk untuk kelompok perlakuan dan 24 pasien dari Desa Terong untuk kelompok kontrol. Semua pasien menyelesaikan penelitian secara lengkap tidak ada yang drop out. Data dari seluruh responden baik dari kelompok perlakuan ataupun kelompok kontrol digunakan dalam analisis data. Hasil tentang karakteristik responden dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui gambaran umum responden penelitian yang meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan.

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden di Desa Terong dan Desa Muntuk, Dlingo, Bantul, Yogyakarta

(56)

Berdasarkan tabel 4 dapat diketahui bahwa responden pada kelompok perlakuan dan kontrol mayoritas berusia 51-70 tahun yaitu 16 orang (66,7%) untuk kelompok perlakuan dan 18 orang (75%) untuk kelompok kontrol. Karakteristik jenis kelamin didominasi oleh perempuan pada kelompok perlakuan yaitu 18 orang (75%) sedangkan laki-laki untuk kelompok kontrol yaitu 13 orang (54,2%). Karakteristik pendidikan responden untuk kedua kelompok adalah SD yaitu 18 orang (75%) untuk kelompok perlakuan dan 10 orang (41,7%) untuk kelompok kontrol. Sedangkan untuk karakteristik pekerjaan responden pada kelompok perlakuan didominasi oleh pengrajin bambu yaitu 10 orang (41,7%) dan untuk kelompok kontrol didominasi oleh petani yaitu 10 orang (41,7%).

(57)

3. Distribusi frekuensi tingkat depresi kelompok kontrol dan kelompok

perlakuan

Hasil pengukuran dengan menggunakan kuesioner pada kelompok kontrol dan perlakuan berdasarkan PHQ-9 (Patient Health Questionnaire-9) pada tabel 5 menunjukkan tingkat depresi sebelum diberikan perlakuan (pretest) dan sesudah diberikan perlakuan (posttest).

Tabel 5. Frekuensi Tingkat Depresi Responden Tingkat

Depresi

Frekuensi

Pretest Posttest

N % N %

Perlakuan

Minimal 5 20,8 14 58,3

Ringan 13 54,2 9 37,5

Sedang 4 16,7 1 4,2

Sedang-berat 2 8,3 - 0

Kontrol

Minimal 17 70,8 19 79,2

Ringan 5 20,8 2 8,3

Sedang 1 4,2 2 8,3

Sedang-berat 1 4,2 1 4,2

(58)

4. Efektivitas Dance Movement Therapy terhadap perbaikan skor

depresi pada pasien diabetes melitus tipe 2

Tabel 6. Perbedaan Rerata Pretest dan Posttest Skor Depresi Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Kelompok Perlakuan dan Kelompok Kontrol Kelompok Hasil Analisa Wilcoxon signed rank test

Keterangan N Mean + SD P menunjukkan pada kelompok perlakuan terdapat penurunan skor depresi yang bermakna secara statistik antara pretest dan posttest setelah diberikan perlakuan Dance Movement Therapy (p<0,05). Pada kelompok kontrol juga terjadi penurunan skor depresi antara pretest dan posttest tetapi dengan nilai yang tidak bermakna secara statistik (p>0,05).

Tabel 7. Hasil Uji Beda Selisih Skor Depresi Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Pretest dan Posttest antara Kelompok Perlakuan dan Kontrol

Keterangan Kelompok Mann-Whitney Test P value Mean Rank Z

(59)

B. PEMBAHASAN

1. Karakteristik Responden

Responden dalam penelitian ini adalah seluruh pasien diabetes melitus tipe 2 yang memenuhi kriteria inklusi di Desa Muntuk untuk kelompok perlakuan dan Desa Terong untuk kelompok kontrol. Responden yang tidak mengikuti penelitian sesuai kriteria maka dinyatakan dropout. Jumlah responden yang memenuhi kriteria inklusi untuk kelompok perlakuan adalah 24 orang dan kelompok kontrol adalah 24 orang. Seluruh responden menyelesaikan penelitian secara lengkap. Karakteristik responden dalam penelitian ini yang digunakan untuk mengetahui gambaran umum responden penelitian yang meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan.

Hasil penelitian berdasarkan usia, responden pada kelompok kontrol dan perlakuan mayoritas berusia 51-70 tahun yaitu 16 orang (66,7%) untuk kelompok perlakuan dan 18 orang (75%) untuk kelompok kontrol. Seperti yang diketahui pada seseorang dengan lanjut usia mengalami kerentanan terhadap perubahan sistem fisiologis, kerentanan terhadap penyakit, dan kerentanan psikologis antara lain perasaan tidak berguna, mudah sedih, insomnia, stres, depresi, anxietas, demensia, dan delirium (Setiati, dkk., 2009).

(60)

mempengaruhi terjadinya depresi pada seseorang. Perempuan memiliki faktor resiko yang lebih tinggi daripada laki-laki dan ditemukan fakta bahwa prevalensi depresi banyak terjadi pada perempuan dengan rasio antara perempuan dan laki-laki 2 : 1. Faktor psikologis seperti perubahan hormon dapat membuat wanita lebih rentan (Blazer, et al., 2004).

Karakteristik pendidikan responden untuk kedua kelompok adalah SD yaitu 18 orang (75%) untuk kelompok perlakuan dan 10 orang (41,7%) untuk kelompok kontrol.. Menurut survey kualitas hidup di Amerika Serikat menunjukkan bahwa semakin rendah tingkat pendidikan maka semakin buruk kualitas hidup seseorang, dengan rendahnya kualitas hidup menyebabkan kerentanan terhadap depresi pada seseorang (Nursalam, 2008).

Data pekerjaan pada responden pada kelompok perlakuan didominasi oleh pengrajin bambu yaitu 10 orang (41,7%) sedangkan pada kelompok kontrol didominasi oleh petani yaitu 10 orang (41,7%). Sebelumnya banyak dari responden yang bekerja di perkantoran dan pekerjaan lainnya namun setelah didiagnosis diabetes melitus tipe 2 terjadi perubahan pekerjaan akibat kemunduran fungsi fisik atau kondisi tubuh yang menurun dan tidak seperti sebelumnya. Kemunduran fungsi fisik dan perubahan pekerjaan ini juga merupakan faktor-faktor yang berpotensi menyebabkan depresi.

(61)

nilai p>0,05 yang berarti karakteristik usia dan pendidikan homogen, akan tetapi untuk karakteristik jenis kelamin dan pekerjaan didapatkan nilai p<0,05 yang menunjukkan karakteristik jenis kelamin dan pekerjaan tidak homogen.

2. Perbedaan Tingkat Depresi Pretest dan Posttest pada Pasien Diabetes

Melitus Tipe 2 Desa Terong dan Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo,

Bantul, Yogyakarta.

Hasil pretest dari responden Desa Terong sebagai kelompok kontrol dan Desa Muntuk sebagai kelompok perlakuan terhadap tingkat depresi sebelum diberikan Dance Movement Therapy diperoleh skor depresi responden kelompok kontrol adalah tingkat depresi kategori minimal sebanyak 17 orang (70,8%). Untuk kelompok perlakuan, sebelum diberikan perlakuan tingkat depresi kategori ringan yaitu sebanyak 13 orang (54,2%).

(62)

depresi akan memiliki fungsi fisik yang lebih buruk, kontrol gula darah yang buruk dan tingkat komplikasi yang lebih tinggi dibanding pasien diabetes melitus tanpa depresi. Pasien diabetes melitus yang mempunyai komplikasi jika mengalami depresi maka tingkat mortalitasnya akan meningkat jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pasien diabetes melitus dengan komplikasi tanpa depresi (Egede & Ellis, 2010).

Mayoritas tingkat depresi pada pretest kedua kelompok responden hanya depresi kategori minimal dan ringan sedangkan untuk kategori lainnya yaitu sedang dan sedang-berat hanya sedikit dan tidak ada yang masuk dalam kategori berat, hal ini dapat disebabkan pasien diabetes melitus tipe 2 di Desa Terong dan Desa Muntuk rutin mengikuti kegiatan yang diadakan oleh puskesmas setempat yaitu Puskesmas Dlingo II berupa kegiatan pengobatan gratis, pemeriksaan rutin gula darah, serta senam diabetes sehingga para pasien diabetes melitus tipe 2 dapat berkumpul, melakukan kegiatan dan berinteraksi satu sama lain yang dilakukan satu bulan sekali. Adanya kegiatan ini akan memberikan dukungan sosial bagi para pasien diabetes melitus tipe 2, sesuai dengan teori yang telah dikemukakan yaitu dukungan sosial dapat memperbaiki koping atau memodifikasi pengaruh stressor psikososial maupun dampaknya (Suyanto, 2011).

(63)

menurunkan tingkat depresi pada kelompok perlakuan sehingga didapatkan skor depresi yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok kontrol.

Hasil posttest dari responden kelompok perlakuan di Desa Muntuk setelah dilakukan perlakuan Dance Movement Therapy selama 4 kali pertemuan dalam kurun waktu 1 bulan didapatkan hasil bahwa tingkat depresi yang sebelumnya didominasi oleh tingkat depresi ringan sebanyak 13 orang (54,2%) dan mengalami perbaikan menjadi tingkat depresi minimal sebanyak 14 orang (58,3%). Untuk kelompok kontrol di Desa Terong setelah ditunggu tanpa diberikan perlakuan apapun selama 1 bulan didapatkan hasil bahwa tingkat depresi yang sebelumnya didominasi oleh tingkat depresi minimal sebanyak 17 orang (70,8%) tetap didominasi oleh tingkat depresi minimal namun jumlahnya menjadi 19 orang (79,2%).

(64)

Faktor lain yang dapat menyebabkan perbaikan tingkat depresi antara lain ketaatan pasien diabetes melitus tipe 2 dalam mengikuti perlakuan, dukungan keluarga, dukungan kader kesehatan, dan sebagainya.

3. Pengaruh Pemberian Dance Movement Therapy terhadap Perbaikan

Depresi pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Desa Terong dan

Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Bantul, Yogyakarta.

Hasil uji beda Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan perbedaan rerata skor depresi pasien diabetes melitus tipe 2 saat pretest dan posttest pada kelompok perlakuan dengan skor rerata mean + SD pretest 7,79 + 4,232 dan posttest 4,79 + 2,859 dengan nilai signifikansi 0,000. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan atau bermakna secara statistik antara skor pretest dan posttest kelompok perlakuan setelah diberikan Dance Movement Therapy.

Berdasarkan hasil uji beda Wilcoxon Signed Rank Test untuk kelompok kontrol didapatkan skor rerata mean + SD pretest 4,00 + 3,426 dan posttest 3,88 + 4,225 dengan nilai signifikansi 0,445. Pada kelompok kontrol juga terjadi penurunan skor depresi dari pretest ke posttest tetapi tidak signifikan / tidak bermakna secara statistik.

(65)

perlakuan, didapatkan nilai mean rank kelompok kontrol 18,10 sedangkan kelompok perlakuan 30,90 dengan nilai signifikansi yaitu 0,001. Hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan bermakna atau signifikan pada selisih skor pretest dan posttest pada kelompok perlakuan setelah diberikan Dance Movement Therapy dibandingkan kelompok kontrol. Hipotesis dari penelitian ini terbukti yaitu Dance Movement Therapy dapat memperbaiki tingkat depresi pada pasien diabetes melitus tipe 2.

Dance Movement Therapy adalah salah satu aktivitas fisik rekreasional yang dapat menurunkan depresi seseorang. Aktivitas rekreasional ini dapat menurunkan ketidakmampuan dan psychological distress yang dialami seseorang (Pinniger, et al., 2012). Dancing adalah bentuk alternatif olahraga. Dance Movement Therapy dapat menjadi salah satu bentuk olahraga aerobik (Earhart, 2009).

(66)

Faktor lain yang menjadi penyebab depresi adalah kurangnya dopamin dan peningkatan hormon kortison. Sehingga memerlukan regulasi yang tepat agar depresi yang dialami dapat berkurang dan teratasi (Kaplan & Sadock, 2010).

Terdapat bukti bahwa aktivitas fisik akan menginduksi perubahan endorfin, tingkat monoamine, dan juga mengurangi tingkat hormon stres kortisol (Helmich, et al., 2010). Latihan fisik juga dapat mengatur sintesis neurotransmitter dan merangsang pelepasan kalsiun, mengakibatkan sekresi dopamin dan asetilkolin meningkat (Tseng, et al., 2011).

Selain itu, pada orang yang mengalami depresi sering enggan untuk mengekspresikan diri dan berkomunikasi karena mereka takut bahwa apa yang mereka katakan atau lakukan akan dianggap tidak benar oleh orang lain. Seseorang yang mengalami depresi kurang bisa berekpresi dengan apa yang dia rasakan dan dia alami (Pericleous, 2011).

(67)

menggerakan tubuhnya dan membuat suatu kesatuan gerakan (Pericleous, 2011; Cruz, 2013).

Pada saat menari, seorang individu diharapkan dapat mengekspresikan perasaan yang sedang dirasakan baik senang, sedih, marah secara spontan, meningkatkan kemampuan kreativitas melalui menciptakan gerakan, serta dapat mengurangi ketegangan yang sedang dirasakan (Pericleous, 2011).

Menurut American Cancer Society (AMS), Dance Movement Therapy membantu pasien mengembangkan bahasa nonverbal yang menawarkan informasi tentang apa yang terjadi di dalam tubuh mereka, meningkatkan komunikasi mereka dengan diri mereka sendiri dan orang lain, mengurangi isolasi dan memberikan rasa harapan untuk masa depan (Nauert, 2010).

(68)

Dance Movement Therapy yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan lagu dolanan jawa, dalam pelaksanaannya memerlukan kepatuhan dari responden yang mengikuti kegiatan. Kepatuhan ini tidak mudah diperoleh sehingga memerlukan kerjasama dengan kader kesehatan setempat untuk mengingatkan jadwal pelaksanaan sehingga para pasien diabetes melitus tipe 2 ini rutin dalam melaksanakan kegiatan. Musik dan gerakan yang menghibur juga sangat mempengaruhi kepatuhan responden, maka dari itu setiap pelaksanaan kegiatan ini responden diajak bernyanyi bersama dengan lagu dolanan jawa yang menghibur dan menyenangkan sehingga tercipta interaksi antar pasien diabetes melitus tipe 2. Terciptanya suasana yang menyenangkan ini dapat membuat responden merasa nyaman dan tercipta suasana yang positif dalam diri mereka.

(69)

53 A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa Dance Movement Therapy efektif berpengaruh dalam perbaikan tingkat depresi pada pasien diabetes melitus tipe 2 pada kelompok perlakuan dibanding kelompok kontrol dengan nilai signifikansi yaitu 0,001.

B. SARAN

1. Bagi Institusi dan Tenaga Kesehatan

Kegiatan Dance Movement Therapy dapat digunakan sebagai alternatif non-farmakologi perawatan terhadap depresi dan dapat dikembangkan dan disesuaikan sesuai kultur masyarakat setempat

2. Bagi Kader Kesehatan

Dapat menggunakan Dance Movement Therapy sebagai kegiatan rutin bagi pasien diabetes melitus tipe 2 karena merupakan kegiatan yang menyenangkan untuk para pasien diabetes melitus tipe 2 di Desa Terong dan Desa Muntuk serta dapat mengembangkan kegiatan ini dengan pelatihan pada kader-kader di daerah lain sehingga tercipta kader terlatih dalam kegiatan ini.

(70)

Dapat berpartisipasi langsung secara aktif dan rutin melakukan dance Movement Therapy sehingga mendapatkan kegiatan yang menarik dan saling berinteraksi dengan pasien diabetes melitus tipe 2 lainnya serta kader kesehatan sehingga pasien diabetes melitus tipe 2 merasa bahagia terhindar dari depresi yang rentan terjadi pada mereka.

4. Bagi peneliti selanjutnya

(71)

55

systematic review and meta‐analysis. Diabetic Medicine, 23(11), 1165-1173.

American Diabetes Association. (2009). Diagnosis and classification of diabetes mellitus. Diabetes care, 32(Supplement 1), S62-S67.

Ardiana, Dika Rizki. (2015). Efektifitas dance/movement therapy dengan lagu dolanan jawa terhadap fungsi kognitif lansia pasca bencana. Karya Tulis Ilmiah strata satu, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta.

Arini, S.H.D. (2008). Seni Budaya Jilid 2. Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejurusan.

Atwater, H. (2009). Binaural Beats and the Regulation of Arousal Levels.

Diakses 2 Mei 2016, dari

http://www.monroeinstitute.org/journal/binaural-beast-and-the-regulation-ofarousal-levels/

Blazer, G., Steffens, D.C., Busse, E.W. (2004). The American Psychiatric Publishing Textbook of Geriatric Psychiatry (3rd ed.). Washington DC : American Psychiatry Publishing.

Campbell, D. T., & Stanley, J. C. (2002). Experiment and Quasi-Eksperimental Design for Research Chicago.

Chaiklin, S., & Wengrower, H. (Eds.). (2015). The art and science of dance/movement therapy: Life is dance. [electronic version]. Routledge.

Cruz, R. F., & Berrol, C. F. (2012). Dance/Movement Therapists In Action: A Working Guide to Research Options. [electronic version]. Charles C Thomas Publisher.

Dahlan, S. (2009). Besar sampel dan cara pengambilan sampel dalam penelitian kedokteran dan kesehatan. Surabaya : Salemba Medika. Djohan. (2006). Terapi musik “ teori dan aplikasi. Yogyakarta: Galang

Gambar

Tabel 1. Keaslian Penelitian
Tabel 2. Kriteria Diagnosis Diabetes Melitus
Gambar 2. Kerangka Konsep
Tabel 3 : Desain Penelitian
+6

Referensi

Dokumen terkait

Diabetes Journal menyebutkan bahwa penggunaan insulin pada pasien diabetes melitus tipe 2 bisa mengurangi komplikasi pada kardiovaskular, walau insulin tidak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat gambaran tingkat depresi pada populasi yang menderita diabetes mellitus tipe 2.. Responden penelitian ini adalah

Dilihat dari segi usia terbanyak pasien diabetes melitus yang mengalami depresi adalah pada usia lebih dari 60 tahun, hal ini dikarenakan penurunan kualitas hidup

Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai penggunaan obat antihipertensi pada pasien diabetes melitus tipe 2

Untuk mengetahui pengaruh senam kaki diabetes terhadap perubahan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Enemawira, maka

Melihat banyaknya kasus diabetes melitus tipe 2 dengan komplikasi dan kepatuhan pasien diabetes melitus untuk mengkonsumsi obat masih rendah, maka penelitian ini

autogenik terhadap penurunan kadar glukosa darah pada pasien diabetes melitus..

Asuhan keperawatan pada pasien diabetes melitus tipe 2 di ruang poli bedah trauma dan