• Tidak ada hasil yang ditemukan

Iklan di Televisi dan Keputusan Membeli

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Iklan di Televisi dan Keputusan Membeli"

Copied!
105
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Iklan di Televisi dan Keputusan Membeli

(Studi Korelasional Tentang Iklan Maybelinedi Televisi Terhadap Keputusan Membeli Mahasiswi Ilmu Komunikasi Fisip USU)

Diajukan Oleh : Rosida Zulsufiyani

100904100

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

2

Iklan di Televisi dan Keputusan Membeli

(Studi Korelasional Tentang Iklan Maybeline di Televisi Terhadap Keputusan Membeli Mahasiswi Ilmu Komunikasi Fisip USU)

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Program Strata1 (S1) pada Departemen Ilmu Komunikasi

Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

Rosida Zulsufiyani 100904100

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

3

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

Lembar Persetujuan

Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh:

Nama : Rosida Zulsufiyani

Nim : 100904100

Departemen : Ilmu Komunikasi

Judul : Iklan dan Keputusan Membeli

(studi Korelasional Tentang iklan Maybeline di Televisi Terhadap Keputusan membeli Mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP USU)

Medan, Mei 2014

Dosen Pembimbing Ketua Dapartemen

Dra.Rusni, MA Dra. Fatma Wardy Lubis, MA

NIP. 195108941985032001 NIP. 196208281987012001

Dekan FISIP USU

Prof. Dr. Badaruddin, M.Si

(4)

4

PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, semua sumberbaik yang dikutip mauoun diruju telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika dikemudian hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya bersedia diproses sesuai dengan hokum yang berlaku.

Nama : Rsida Zusufiyani

NIM : 100904100

Tanda tangan :

(5)

5

HALAMAN PERNAYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai Civitas akademik Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Rosida Zulsufiyani

NIM : 100904100

Departemen : Ilmu Komunikasi

Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas : Sumatera Utara

Jenis Karya : Skripsi

Demi pengembanagan Ilmu Pengetahuan, menyutujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Eksklusif (Non-ekslusive Royalty-Free Right) atas karya ilmiah sayaa yang berjudul:

Iklan di Televisi dan Keputusan Membeli.

Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Non-ekslusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mangalihmedia/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya,

Dibuat di : Medan

Pada Tanggal : Mei 2014

Yang Menyatakan

(6)

6

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayahNya, saya dapat menyelesaikan skripsi ini.Penulisan skrsipi ini diakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosialdan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (USU).Saya menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada masa penyusunan skripsi ini sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan skripsi ini.

Ucapan terima kasih yang paling besar saya ucapkan kepada Almarhum ayah saya bapak H.M. Hanif Sahib, SE yang walaupun sudah tiada, namun saya yakin beliau pasti terus mendoakan saya, dan ibu saya tercinta yaitu Ibu Susi yang terus mendukung saya dalam menyelesaikan tugas akhi saya ini.

Dan saya mengucapkan terima kasih kepada:

1) Bapak Prof.Dr. Badaruddin, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

2) Ibu Dra. Fatma Wardy Lubis, MA selaku ketua Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU.

3) Ibu Dra. Dayana, M.Si selaku sekretaris Departemen Ilmu komunikasi FISIP USU. 4) Ibu Dra. Rusni, MA selaku dosen pembimbing saya yang telah bersedia meluangkan

waktunya, memberikan tenaga dan pikirannya untuk mengarahakan saya dalam penyusunan skripsi ini.

5) Bapak Tangkas dan Kak Maya yang membantu urusan dalam proses penyelesaian skripsi.

6) Seluruh dosen dan staf pengajar Departemen ilmu Komunikasi khususnya, dan FISIP USU pada umumnya yang telah mendidik dan membantu penulis selama perkuliahan. 7) Kepada adik-adik Mahasiswi Ilmu Komunikasi yang telah membantu saya dalam

menyelesaikan penilitian dalam skripsi ini.

8) Kepada adik-adik saya M.Ihsan Ma’ruf dan Adinda Noor Khairiah yang telah memberikan dukungan dalam penyelesaian skripsi ini.

(7)

7

10)Kepada Lonal M. Siregar yang telah memberikan supportnya kepada saya untuk menyelesaikan skripsi ini.

11)Kepada seluruh teman-teman seperjuangan menuntut ilmu di Dpeartemen Ilmu Komunikasi angkatan 2010.

12)Dan kepada semuanya yang telah mendukung penulis dalam penyelesaian pendidikan dan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih atas bantuan yang telah diberikan oleh semua pihak.Harapan penulis semoga skripsi ini kelak dapat bermanfaat dan jika ada kesalahan penulis memohon maaf serta menerima kritik dan saran yang membangun.

Medan, Mei 2014

Penulis,

(8)

8 ABSTRAKSI

Penelitian ini berjudul Tayangan iklan Maybeline di televisi dan keputusan Membeli, sebuah studi korelasional tentang hubungan antara Tayangan Iklan Maybeline di Televisi dan Keputusan Membeli di kalangan Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Departemen Ilmu Komunikasi USU. Adapun permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini adalah “Sejauhmanakah hubungan antara tayangan Iklan Maybeline di Televisi terhadap Keputusan Membeli di kalangan Mahasiswi Ilmu Komunikasi USU?”

Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah komunikasi, komunikasi massa, iklan, media iklan televisi, teori AIDDA, dan teori S-O-R.

Penelitian ini menggunakan korelasional, yaitu metode yang melihat ada tidaknya suatu hubungan antara variabel yang satu dengan variabel yang lain. Penarikan sampel dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode total sampling, dimana yang diteliti yaitu Mahasiswi Ilmu Komunikasi stambuk 2011 dengan jumlah 79 orang.

Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.Datadalam penelitian ini dianalisis menggunakan analisis tabel tunggal, analisis tabel silang dan uji hipotesis menggunakan Rank Spearman.

Hasil keseluruhan penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tayangan Iklan Maybeline di Televisi dengan Keputusan Membeli mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU. Hubungan tersebut kuat dan tinggi.Hasil ini diperoleh dengan menggunakan uji hipotesa yang dilambangkan dengan rs.diperoleh hasilnya yaitu rs= 0,815, dan berdasarkan

(9)

9 ABSTRACT

This study , entitled Impressions Maybeline ads on television and Buying decisions , a correlational study of the relationship between Maybeline in TV Ad Impressions and Purchase Decision among student Faculty of Social and Political Sciences Department of Communication USU . The problems studied in this research is " to what extent the relationship between Maybeline ad impressions on television the Buying Decision Science Communication among USU Student ? "

The theory used in this study is communication , mass communication , advertising , television advertising media , AIDDA theory , and the theory of SOR .

This study uses the correlational , ie methods that look at whether there is a relationship between one variable with another variable . Sampling in this study is the total sampling method , which is studied Communication Studies student Stambuk 2011 with number 79 . In collecting the data , researchers used a questionnaire containing questions relating to problems under study . Datadalam this study were analyzed using the analysis of a single table , cross table analysis and hypothesis testing using Spearman Rank .

(10)

10 DAFTAR ISI BAB 1

Pendahuluan

1.1Latar Belakang Masalah………13

1.2Perumusan Masalah………...17

II.1.5 Fungsi dan Tujuan Komunikasi………..28

II.1.6 Metode Komunikasi………...29

II.1.7 Teknik Komunikasi………30

II.2 Komunikasi Massa II.2.1 Pengertian Komunikasi Massa………..30

II.2.2 KarakteristikKomunikasi Massa………31

II.2.3 Fungsi Komunikasi Massa………....33

II.3 Komunikasi Pemasaran II.3.1 Defenisi komunikasi Pemasaran………...34

II.3.2 Jenis Komunikasi Pemasaran………....35

II.3.3 Tujuan Komunikasi Pemasaran……….36

II.4 Iklan

II.6 Media Iklan Televisi……….42

(11)

11

II.6.2 Komponen Iklan Televisi………43

II.6.3 Kelebihan Iklan di Televisi……….45

II.6.4 Kelemahan Iklan di Televisi………...46

II.7 Teori AIDDA………48 III.1 Deskripsi Lokasi Penelitian……….55

III.2 Metodologi Penelitian……….59

III.3 Populasi dan Sampel………...59

III.4 Teknik Pengumpulan Data………...60

III.5 Teknik Analisis Data………...61

BAB IV Pembahasan IV.1 Pelaksanaan Pengumpulan Data……….63

IV.1.1 Tahap Awal………..63

IV.1.2 Pengumpulan Data………...64

IV.2 Teknik Analisis Data………...64

IV.3 Analisia Tabel Tunggal………65

IV.3.1 Iklan Maybeline………65

IV.3.2 Keputusan Membeli………..77

IV.4 Analisi Tabel Silang……….82

(12)

12

Tabel 3.2………53

Tabel 4………...65

Tabel 5………...66

Tabel 6………...67

Tabel 7………...66

Tabel 8………...68

Tabel 9………...69

Tabel 10……….69

Tabel 11……….70

Tabel 12……….71

Tabel 13……….72

Tabel 15……….72

Tabel 16……….73

Tabel 17……….74

Tabel 18……….75

Tabel 19……….75

Tabel 20……….76

Tabel 21……….76

Tabel 22……….77

Tabel 23……….78

Tabel 24……….78

Tabel 25……….79

Tabel 26……….80

Tabel 27……….81

Tabel 28……….82

Tabel 29……….84

(13)

8 ABSTRAKSI

Penelitian ini berjudul Tayangan iklan Maybeline di televisi dan keputusan Membeli, sebuah studi korelasional tentang hubungan antara Tayangan Iklan Maybeline di Televisi dan Keputusan Membeli di kalangan Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Departemen Ilmu Komunikasi USU. Adapun permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini adalah “Sejauhmanakah hubungan antara tayangan Iklan Maybeline di Televisi terhadap Keputusan Membeli di kalangan Mahasiswi Ilmu Komunikasi USU?”

Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah komunikasi, komunikasi massa, iklan, media iklan televisi, teori AIDDA, dan teori S-O-R.

Penelitian ini menggunakan korelasional, yaitu metode yang melihat ada tidaknya suatu hubungan antara variabel yang satu dengan variabel yang lain. Penarikan sampel dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode total sampling, dimana yang diteliti yaitu Mahasiswi Ilmu Komunikasi stambuk 2011 dengan jumlah 79 orang.

Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.Datadalam penelitian ini dianalisis menggunakan analisis tabel tunggal, analisis tabel silang dan uji hipotesis menggunakan Rank Spearman.

Hasil keseluruhan penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tayangan Iklan Maybeline di Televisi dengan Keputusan Membeli mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU. Hubungan tersebut kuat dan tinggi.Hasil ini diperoleh dengan menggunakan uji hipotesa yang dilambangkan dengan rs.diperoleh hasilnya yaitu rs= 0,815, dan berdasarkan

(14)

9 ABSTRACT

This study , entitled Impressions Maybeline ads on television and Buying decisions , a correlational study of the relationship between Maybeline in TV Ad Impressions and Purchase Decision among student Faculty of Social and Political Sciences Department of Communication USU . The problems studied in this research is " to what extent the relationship between Maybeline ad impressions on television the Buying Decision Science Communication among USU Student ? "

The theory used in this study is communication , mass communication , advertising , television advertising media , AIDDA theory , and the theory of SOR .

This study uses the correlational , ie methods that look at whether there is a relationship between one variable with another variable . Sampling in this study is the total sampling method , which is studied Communication Studies student Stambuk 2011 with number 79 . In collecting the data , researchers used a questionnaire containing questions relating to problems under study . Datadalam this study were analyzed using the analysis of a single table , cross table analysis and hypothesis testing using Spearman Rank .

(15)

13 BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Seiring perkembangan dunia yang pesat, perkembangan kondisi pasar sekarang ini

membawa pengaruh terhadap strategi yang harus ditetapkan perusahaan dalam

menawarkan dan memasarkan produk mereka.Bergulirnya waktu ke waktu konsumen

semakin well-informed, dimana segala produk yang diinginkan dapat diketahui dengan cepat melalui informasi yang tersedia di berbagai media. Oleh sebab itu, perusahaan harus

pintar dalam memilih cara yang tepat untuk menginformasikanproduk perusahaannya.

Secara umum dapat dikatakan bahwa untuk meraih sukses dalam mencapai sasaran

pasar suatu perusahaan, diperlukan strategi yang tepat pada sasaran.Untuk mencapai

sasaran dalam suatu usaha pemasaran, selalu membutuhkan alat dalam penyampaian

informasi kepada konsumennya, salah satunya dengan mengeluarkan iklan tentang

produk suatu perusahaan yang menarik bagi konsumen. Penyampaian iklan akan

membantu dalam mengenalkan produk kepada konsumen. Iklan mempunyai peranan

penting dalam menancapkan merek suatu produk ke pikiran konsumen. Pola hidup

masyarkat modern sangat tergantung oleh keadaan dunia luar, baik dari segi pola pikir,

sikap maupun tingkah laku yang berkembang di dunia luar akan cepat diamati kemudian

diikuti. Segala sesuatu yang membuat seseorang tampil lebih menarik akan mendapat

(16)

14

Media atau saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan dalam bentuk iklan

ini diantaranya adalah televisi, radio, majalah dan surat kabar. Pegiklanan di media

televisihingga saat ini masih dianggap cara yang paling efektif dalam mempromosikan

produk terutama di Indonesia yang masyarakatnya masih brand minded dimana merek yang pernah muncul di iklan televisi lebih digemari daripada yang tidak diiklankan

televisi.

Saat ini media televisi sudah menjadi bagian hidup masyarakatmodern dari segala

lapisan, baik eksekutif puncak, staf biasa, mahasiswa, ibu rumah tangga, remaja dan

anak-anak.Saat ini sudah tidak dapat dihitung lagi berapa banyak iklan yang disampaikan

melalui media televisi. Iklan-iklan dibuat semenarik mungkin dan dengan tingkat

kreatifitas yang tinggi dengan harapan konsumen akan tertarik pada produk yang

diiklankan. Karena dengan mengeluarkan promosi yang baik maka masyarakat luas akan

tertarik dan kemudian mengkonsumsi produk perusahaan tersebut.

Dalam penyampaiannya, iklan televisi, mempunyai jangkauan yang luas dan

menghasilkan gambar hidup deisertai dengan gaya penyampaian, nada penyampaian,

pilihan kata-kata serta unsur format yang dapat didengar dan disaksikan langsung oleh

pemirsa, yang sering diistilahkan dengan audiovisual. Biasanya iklan televisi ditayangkan

berulang-ulang agar pesan yang disampaikan lebih cepat diterima oleh pemirsa.Iklan

televisi, biasanya ditayangkan pada sela-sela acara dengan durasi waktu yang singkat.

Inilah kenapa kemasan iklan harus menarik karena pemirsa tidak akan melihat iklan jika

iklan tersebut tidak menarik perhatiannya, sehingga pemirsa seringkali mengganti

(17)

15

Seperti yang diakatakan Burhan Bungin, teknologi secara fungsional telah meguasai

masyarakat,bahkan pada fungsi yang substansial seperti mengatur beberapa system norma

di masayarakat, umpamanya sistem lalu lintas di jalan raya, sistem komunikasi, seni

pertunjukan, dan sebagainya. Dalam dunia pertelevisian, sistem teknologi telah

menguasai jalan pikiran masyarakat, televisi menguasai pikiran-pikiran manusia dengan

cara membangun teater dalam pikiran manusia (theater of mind), sebagaimana gambaran realitas dalam iklan televisi (Bungin, 2008: 97).

Dalam visualisasi iklan di televisi, seringkali digambarkan dengan tokoh yang

menarik,keadaan yang menyenangkan, efek yang dirasakan dibuat begitu nyata dan

meyakinkan, sehingga masyarakat akan terpengaruh secara langsung atau tidak langsung,

dan secara cepat atau lambat.

Kosmetik sebagai salah satu alat untuk mempercantik diri menjadi suatu kebutuhan

yang tidak dapat ditinggalkan oleh seseorang yang ingin tampil lebih menarik. Pada

umumnya masyarakat luas beranggapan bahwa dengan memiliki tampilan wajah yang

cantik, bersih dan menawan akan memiliki nilai lebih. Keadaan seperti ini, merupakan

peluang bagi produsan produk kecantikan untuk mengeluarkan suatu produk yang sedang

dibutuhkan oleh pasar tersebut.Promosi yang baik dari perusahaan produk kecantikan

yang marak juga menyebabkan semakin kuatnya tingkat konsumerisme pada

produk-produk kecantikan, maka perusahaan berusaha mengenalkan produk-produk-produk-produk yang

diharapkan dapat menarik minat masyarakat untuk menggunakan produk kecantikan dari

perusahaan tersebut, mengingat banyaknya perusahaan kosmetik yang meluncurkan

(18)

16

Maybeline adalah produk kosmetik yang didirikan pada tahun1915 oleh T.LWilliams

di New York, amerika Serikat. Nama Maybeline merupakan gabungan dari Maybel

(nama saudara perempuan T.L Williams yang menjadi inspirasi produknya) dan Vaseline.

Perusahaan ini diambil alih oleh L’oreal Group sejak tahun1996, setelah sebelumnya

sempat diambil alih oleh Plough Inc pada tahun 1967 dan grup investor Wassestein

Parella & Co pada tahun 1990. Produk pertama yang diluncurkan Maybeline adalah

Maybeline Cake Mascara pada tahun1917.Pada saat L’oreal membeli produk Maybeline

di Amerika Serikat, membutuhkan dana yang besar, tetapi, dalam waktu lima tahun

berikutnya setelah dilakukan perpaduan budaya Amerika Serikat dan teknologi Prancis,

ternyata memberikan kontribusi yang besar. Maybeline tidak saja berkembang di

Amerika Serikat, tetapi juga meluas ke seluruh dunia dengan omset miliaran dollar per

tahun. (www.wikipedia.org/wiki/Maybeline).

Untuk menghadapi persaingan antarperusahaan kosmetik yang mengeluarkan produk

sejenis dalam menarik minat konsumen tentu saja diperlukan promosi yang juga menarik

bagi konsumen. Salah satu cara yang digunakan Maybeline adalah dengan

mempromosikan produknya melalui media televisi yang diharapkan masyarakat

Indonesia akan lebih mengenal produknya. Media televisi juga dimanfaatkan untuk

memberitahu masyarakat Indonesia tentang popularitas Maybeline di luar

negri.Iklan-iklan yang ddibuat oleh Maybeline menggunakan model internasional sehingga

memberikan kesan mewah dan elegan kepada calon konsumen.

(19)

17

model iklan pertama yang berasal dari artis Indonesia. Sherina membintangi iklan clear

smooth yaitu bedak yang memiliki ketahanan yang baik walau dipakai seharian dengan

segala aktifitasnya yang padat.

Maybeline dipilih sebagai produk yang diteliti karena masyarakat sekarang ini lebih

suka membeli barang-barang yang memiliki prestisi dari luar negri.Maybeline sendiri

yang berasal dari Amerika yang kemudian memasarkan produknya di Indonesia tentu

memiliki tempat sendiri bagi calon konsumen.Dari sekian banyak produk kosmetik yang

berasal dari luar negri, Mayebeline dipasarkan dengan range harga yang cukup terjangkau

sehingga dapat mencakup semua konsumen dengan latar belakang ekonomi yang

berbeda-beda.

Mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP USU menjadi salah satu bagian dai segmentasi

pemasaran produk Maybeline yang sangat potensial. Berdasarkan uraian diatas, maka

peneliti tertarik untuk meneliti tentang iklan Maybeline dan keputusan membeli

Mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP USU.

1.2Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka peneliti mengajukan perumusan

masalah sebagai berikut “sejauh manakah tayangan iklan Maybeline berpengaruh

(20)

18 1.3Pembatasan Masalah

Agar ruang lingkup tidak teralu luas dan permasalahan yang diteliti menjadi jelas,

terarah dan spesifik maka pebatasan masalah yang akan diteliti adalah sebagai berikut:

1. Penelitian ini bersifat korelasional.

2. Masalah yang diteliti adalah tayangan iklan Maybeline di televisi.

3. Masalah yang akan diteliti adalah apakah ada hubungan antara iklan Maybeline

terhadap keputusan membeli.

4. Subjek yang diteliti adalah Mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP USU yang aktif

perkuliahan angkatan 2011 yang pernah melihat iklan Maybeline.

5. Penelitian dilakukan pada bulan januari-Maret 2014, dengan lama penelitian

disesuaikan dengan kebutuhan.

1.4Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:

1. Tujuan penelitian ini untuk melihat tayangan Maybeline dengan pengambilan

keputusan untuk membeli di kalangan Mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP USU

Medan.

2. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat konsumsi Mahasiswi Ilmu komunikasi

FISIP USU Medan terhadap Maybeline.

3. Tujuan penelitian ini untuk mencari hubungan iklan Maybeline dalam mempengaruhi

pengambilan keputusan untuk membeli di kalangan Mahasiswi Ilmu Komunikasi

FISIP USU Medan.

4. Tujuan penelitian ini untuk mencari keputusan membeli produk Maybeline karena

(21)

19 1.5Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Secara akademis, penelitian ini diharapkan sebagai sumber bacaan tentang

komunikasi terutama periklanan di lingkungan Universitas Sumatera Utara.

2. Secara teoritis, untuk menerapkan ilmu yang diterima penulis selama menjadi

Mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP USU, serta menambah wawasan peneliti

mengenai pengaruh iklan Maybeline terhadap pengambilan keputusan untuk membeli

di kalangan Mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP USU.

3. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi peneliti yang

(22)

20 BAB II

URAIAN TEORITIS

A. Kerangka Teori

Teori adalah himpunan konstruk atau konse, defenisi, dan proporsi yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala dengan menjabarkan relasi diantara variabel, untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut (Kerlinger, 1986). Teori menurut Wilbur Schram adalah suatu perangkat yang saling berkaitan, pada abstraksi dengan kadar yang tinggi, dan daripadanya proposisi bisa dihasilkan yang dapat diuji secara ilmiah, dan pada landasannya dapat dilakukan prediksi mengenai perilaku (Effendy, 2003: 241).

Seorang peneliti sebelum melakukan penelitian perlu menusun kerangka teori

karena kerangka teori merupakan landasan berpikir untuk menggambarkan dari sudut

mana peneliti menyoroti masalah yang akan diteliti.

II.1 Komunikasi

II.1.1 Defenisi Komunikasi

Istilah komunikasi dalam bahasa inggris berasal dari kata latincommunication, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama disini maksudnya adalah sama makna.

Melalui komunikasi orang berusaha mendefenisikan sesuatu, termasuk istilah “komunikasi” itu sendiri.Sampai saat ini terdapat banyak defenisi komunikasi yang berasal dari banyak ahlli.Menurut Bernard Berelson dan Gary A. Stetner “komunikasi adalah gagasan, emosi, keterampilan, dan sebagainya, dengan menggunakan symbol-simbol, kata-kata, gambar, figure, grafik, dan sebagainya. Tindakan atu proses transmisi itulah biasanya disebut komunikasi” (Mulyana, 2007: 68).

Seperti ilmu-ilmu lainnya, ilmu komunikasi pun menyelidiki gejala

komunikasi. Tidak hanya dengan pendekatan secara ontologis (apa itu

komunikasi) tetapi juga secara epistimologis (untuk apa komunikasi itu

(23)

21 II.1.2 Proses Komunikasi

Dalam berkomunikasi ada proses yang terjadi untuk menyamakan pesan dari

komunikator ke komunikan. Ada dua tahap proses komunikasi yaitu secara primer

dan sekunder.

a. Proses komunikasi secara primer

Proses komunikasi secara primer adalah proses pemyampaian pikiran

dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang

(symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam komunikasi adalah bahasa, kial, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya yang secara

langsung mampu menerjemahkan pikiran dan atau perasaan komunikator

kepada komunikan.

Bahasa yang paling banyak digunakan dalam komunikasi karena

bahasa yang mampu menerjemahkan pikiran seseorang kepada orang lain.

Baik berbentuk ide, informasi, atau opini baik mengenai hal yang konkret

maupun yang abstrak, bukan saja tentang hal atau peristiwa yang terjadi saat

sekarang, melainkan juga pada masa lalu dan masa akan datang.

Kial (gesture) memang dapat menerjemahkan pikiran seseorang sehingga terekspresikan secara fisik.Akan tetapi menggapai tangan, atau

memainkan jari-jemari atau mengedipkan mata, atau menggerakkan anggota

tubuh lainnya hanya dapat mengkomunikasikan hal-hal tertentu saja (sangat

terbatas).

Isyarat dengan menggunakan alat seperti tongtong, bedug, sirine, dan

lain-lain sert warna yang mempunyai makna tertentu. Namun lambang

tersebut amat terbatas kemampuannya dalam mentransisikan pikiran seseorang

(24)

22

Gambar sebagai lambang yang banyak dipergunakan dalam

komunikasi melebihi kial, isyarat, dan warna dalam hal kemampuan

menerjemahkan pikiran seseorang, tetapi tidak melebihi bahasa.Buku-buku

yang ditulis dengan bahasa sebagai lambang untuk menerjemahkan pemikiran

tidak mungkin diganti dengan gambar apalagi oleh lambang-lambang

lainnya.Namun demi efektifnya komunikasi, lambang-lambang tersebut sering

dipadukan penggunaannya. Pikiran atau perasaan seseorang baru diketahui

akan ada dampaknya kepada orang lain apabila ditransmisikan oleh media

primer tersebut yaitu lambang-lambang. Dengan demikian, pesan (message) yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan terdiri atas isi

(content) dan lambang (symbol).

Proses komunikasi berlangsung pertama-tama komunikator menyandi

(encode) pesan yang akan disampaikan kepada komunikan. Hal ini berarti komunikator memformulasikan pikiran dan atau perasaannya ke dalam

lambang (bahasa) yang diperkirakan akan dimengerti oleh komunikan. Setelah

itu komunikan mengawa-sandi (decode) pesan dari komunikator.Ini berarti komunikan menafsirkan lambang yang mengandung pikiran dan atau perasaan

komunikator dalam konteks pengertiannya. Yang penting dalam proses

penyandian (coding) ialah bahwa komunikator dapat menyandi dan komunikan dapat mengawa-sandi hanya ke dalam kata bermakna yang pernah

diketahui dalam pengalaman masing-masing.

(25)

23

dengan pengalaman komunikator, akan timbul kesukaran untuk mengerti satu sama lain (Effendy, 2006: 11-13).

b. Proses komunikasi secara sekunder

Proses komunikasi secara sekunder adalah penyampaian pesan oleh

seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai

media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.

Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan

komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang

relatif jauh atau jumlahnya banyak. Surat, telepon, surat kabar, majalah, radio,

televisi, film, dan banyak lagi media adalah media kedua yang sering

digunakan dalam komunikasi. Media merupakan alat atau sarana yang

diciptakan untuk meneruskan komunikasi dengan bahasa.Sejalan dengan

berkembangnya masyarakat beserta peradaban dan kebudayaannya,

komunikasi bermedia (mediated communication) mengalami kemajuan dengan memadukan komunikasi berlambang bahasa dengan komunikasi berlambang

gambar dan warna.Maka film, televisi, dan video pun sebagai media yang

mengandung bahasa, gambar, dan warna.

Pentingnya peranan media, yakni media sekunder, dalam proses

komunikasi disebabkan oleh efisiennya dalam mencapai komunikan. Surat

kabar, radio, atau televisi misalnya, merupakan media yang efisien dalam

mencapai komunikan dalam jumlah yang banyak.Akan tetapi komunikasi

bermedia efektif dalam menyampaikan pesan yang bersifat informatif.

Sementara untuk menyampaikan pesan persuasif komunikasi dengan tatap

(26)

24

berlangsung seketika dan komunikator mengetahui tanggapan atau reaksi

komunikan pada saat itu juga.

Sementara dengan menggunakan komunikasi bermedia, komunikator

tidak dapat mengetahui kerangka acuan khalayak yang menjadi sasaran

komunikasinya, umpan balik tidak berlangsung pada saat itu dan dinamakan

umpan balik tertunda (delayed feedback).Hal ini karena sampainya tanggapan atau reaksi khalayak pada komunikator memerlukan tenggang waktu. Namun,

bagaimanapun juga dalam komunikasi bermedia, misalnya surat, poster,

spanduk, radio, televisi, atau film,umpan balik akan terjadi.

Komunikasi sekunder merupakan sambungan dari komunikasi primer untuk menembus dimensi ruang dan waktu, maka dalam menata lambang-lambang untuk memformulasikan isi pesan komunikasi, komunikator harus memperhitungkan ciri-ciri atau sifat-sifat media yang akan digunakan. Untuk menentukan media yang akan digunakan perlu didasari pertimbangan mengenai siapa komunikan yang dituju. Komunikan media surat, poster, atau papan pengumuman akan berbeda dengan komunikan surat kabar, radio, televisi, atau film (Effendy, 2006 : 16-18).

Unsur-unsur dalam proses komunikasi

• Sender (komunikator)

Proses komunikasi dimulai atau berawal dari sumber atau pengirim pesanyaitu

dimana gagadan, ide atau pikiran berasal, yang kemudian disampaikan ke pihak

lainnya, yaitu penerima pesan. Sumber atau pengirim pesan disebut komunikator

(sender).

• Penyandian (encoding)

Yakni proses pengalihan pikiran kedalam bentuk lambang atau dapat pula diartikan

sebagai kegiatan yang dilakukan sumber untuk menerjemahkan pikiran dan

ide-idenya kedalam suatu bentuk yang dapat diterima oleh indra pihak penerima.

(27)

25

• Pesan (message)

pesan merupakan seperangkat lambang bermakna yang disampaikan komunikator.

Pesan memiliki wujud (physical) yang dapat dirasakan atau diterima oleh indra. Dominick mendefenisikan pesan sebagai the actual physical product that the source encodes yaitu produk fisik aktual yang telah di encoding sumber (Morrisan, 2009: 19).

Antara encoding dan pesan keduanya tampak serupa.Encoding merupakan proses yang terjadi di otak untuk menghasilkan pesan, sedangkan pesan merupakan hasil dari

proses encoding yang dapat dirasakan atau diterima oleh indra.

• Saluran (media atau channel)

Yakni jalan yang dilalui pesan yang disampaikan dari komunikator kepada

komunikan. Para ahli komunikasi, pada mulanya berpendapat bahwa komunikasi

tatap muka (face to face communication) atau disebut juga komunikasi interpersonal sebagai bentuk komunikasi yang memiliki efek atau pengaruh paling kuat jika

dibandingkan dengan komunikasi massa, karena komunikasi interpersonal terjadi

secara langsung, melibatkan sedikit orang atau mungkin hanya dua orang yang sedang

berbicara,serta adanya umpan balik yang bersifat segera. Namun demikian,

perkembangan komunikasi massa menunjukkan bahwa pengaruh atau efek

komunikasi massa saat ini sangat sulit dibedakan dengan komunikasi interpersonal.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa umpan balik pada komunikasi massa bisa

bersifat langsung dan segera. Kecepatan umpan balik yang diterima media penyiaran

dari audiensnya, misalnya dalam program interaktif, memiliki kecepatan yang sama

(28)

26

Decoding

Yaitu pengawasandian, proses dimana komunikan menetapkan makna pada lambang

yang disampaikan oleh komunikator kepadanya.Decoding merupakan kegiatan untuk menerjemahkan atau menginterpretasikan pesan-pesan fisik kedalam suatu bentuk

yang memiliki arti bagi penerima.

• Komunikan (receiver)

Penerima atau disebut juga audiens merupakan sasaran target dari pesan atau yang

menerima pesan dari komunikator. Penerima dapat berupa satu individu, satu

kelompok, lembaga atau bahkan kumpulan manusia yang tidak saling mengenal.

• Umpan balik (feedback)

Yakni tanggapan atau respon dari penerima pesan yang membentuk dan mengubah

pesan yang disampaikan sumber.Umpan balik menjadi tempat perputaran arah dari

arus komunikasi.Artinya, sumber pertama, kemudian menjadi penerima, sementara

penerima pertama menjadi sumber baru.Umpan balik berguna bagi sumber karena

umpan balik memungkinkan sumber untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan

yang muncul.Umpan balik juga penting bagi penerima karena memungkinkan

penerima berusaha untuk mengubah elemen-elemen dalam komunikasi.

• Gangguan (noise)

Gangguan yang tidak terencana yang terjadi dalam proses komunikasi sebagai akibat

diterimanya pesan lain oleh komunikan yang berbeda dengan pesan yang disampaikan

oleh komunikator kepadanya. Gangguan yang sangat kecil mungkin dapat diabaikan,

namun terlalu banyak gangguan dapat menghambat pesan untuk mencapai

tujuannya.Gangguan ada tiga jenis, yaitu gangguan semantik, gangguan mekanik, dan

gangguan lingkungan. Gangguan semantik terjadi bilamana orang memiliki arti yang

(29)

27

muncul masalah dengan alat yang membantu terjadinya komunikasi.Gangguan

lingkungan terjadi jika sumber gangguan berasal dari luar elemen-elemen

komunikasi.Semakin besar gangguan, maka pesan yang diterima menjadi semakin

tidak jelas.

II.1.3 Bentuk Komunikasi

Menurut Onong Uchjana Effendy ada beberapa bentuk komunikasi, antara lain sebagai berikut:

1. Komuniksi pribadi (personal communication)

a. Komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) b. Komunikasi intrapribadi (intrapersonal communication) 2. Komunikasi kelompok (group communication)

a. Komunikasikelompok kecil (small group communication) 1. Ceramah (lecture)

2. Diskusi panel (panel discussion) 3. Forum

4. Seminar

5. Curahsaran (brainstorming)

b. Komunikasi kelompok besar (large group communication/public speaking)

3. Komunikasi organisasi (organization communication) 4. Komunikasi massa (mass communication)

a. Komunikasi massa cetak (printed mass communication) 1. Surat kabar

2. Majalah

3. Buku, dan lain-lain

b. Komunikasi massa elektronik (electronic mass communication) 1. Radio

2. Televisi 3. Film, dan

lain-lain (Effendy, 2006: 7).

II.1.4 Sifat Komunikasi

Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari komunikatorkepada

komunikan yang memiliki beberapa sifat. Berdasarkan sifatnya, komunikasi dapat

diklasifikasikan sebagai berikut:

(30)

28 a. Komunikasi lisan (oral communication) b. Komunikasi tulisan (written communication) 2. Komunikasi nonverbal

a. Komunikasi kial (gesture communication) b. Komunikasi gambar (pictorial communication)

3. Komunikasi tatap muka (face-to-face communication) 4. Komunikasi bermedia (mediated communication)

(Effendy, 2006: 7)

II.1.5 Fungsi dan Tujuan Komunikasi

Menurut Onong Uchjana Effendy, terdapat beberapa fungsi komunikasi yaitu

menginformasi (to inform), mendidik (to educate), menghibur (to entertain), mempengaruhi (to infect).

a. Menyampaikan informasi (to inform)

Memberikan informasi kepada masyarakat.Karena perilaku menerima informasi merupakan perilaku alamiah masyarakat. Dengan menerima informasi yang benar masyarakat akan aman tentram. Informasi akurat diperlukan oleh beberapa bagian masayarakat untuk bahan dalam memperoleh keputusan.Informasi dapat dikaji secara mendalam sehingga melahirkan teori-teori baru. Dengan demikian, akan menambah perkembangan ilmu pengetahuan. Informasi disampaikan pada masyarakat melalui tatanan komunikasi, tetapi lebih banyak melalui kegiatan mass communication.

b. Mendidik (to educate)

Mendidik masyarakat. Kegiatan komunikasi pada mayarakat dengan memberikan informasi tidak lain agar masyarakat menjadi lebih baik, lebih maju, lebih berkembang kebudayaannya. Kegiatan masyarakat dalam arti luas adalah memberikan berbagai informasi yang dapat menambah kemajuan masyarakat denagan tatanan komunikasi massa. Sedangkan kegiatan mendidik masyarakat dalam arti sempit adalah memberikan berbagai informasi dan juga berbagai ilmu pengetahuan melalui berbagai tatanan kelompok pda pertemuan-pertemuan, kelas-kelas, dan sebagainya.

c. Menghibur (to entertain)

(31)

29 d. Mempengaruhi (to influence)

Mempengaruhi masyarakat.Kegiatan memberikan berbagai informasi pada masyarakat juga dapat dijadikan sarana untuk mempengaruhi masyarakat tersebut kearah perubahan sikap dan perilaku yang diharapkan. (Effendy, 2006: 20).

Komunikasi memiliki tujuan utama yaitu untuk menyampaikan pesan.Penyampaian pesan adalah tujuan yang paling utama. Menurut Onong Uchjana Effendy, ada beberapa tujuan dari komunikasi antara lain sebagai berikut :

a. Mengubah sikap (to change the attitude), kegiatan memberikan berbagai informasi pada masyarakat dengan tujuan supaya masyarakat akan berubah sikapnya.

b. Mengubah opini/pendapat/pandangan (to change the opinion), memberikan berbagai informasi pada masyarakat dengan tujuan akhirnya supaya masyarakat mau berubah pendapat dan persepsinya terhadap tujuan informasi itu disampaikan. c. Mengubah perilaku (to change behavior), kegiatan memberikan berbagai

informasi pada masyarakat dengan tujuan supaya masyarkat akan berubah perilakunya.

d. Mengubah masyarakat/perubahan sosial (to change the society), perubahan sosial dan partisipasi sosial, memberikan berbagai informasi pada masyarakat yang tujuan akhirnya supaya masyarakat mau mendukung dan ikut serta terhadap tujuan informasi itu disampaikan (Effendy, 2005:55).

II.1.6 Metode Komunikasi

Kata metode berasal dari bahasa inggris, artinya rangakain yang sistematis. Metode

komunikasi berarti kegiatan-kegiatan yang teroganisir yang meliputi:

1. Komunikasi informative (informative communication) 2. Komunikasi persuasive (persuasive communication) 3. Komunikasi pervasive (pervasive communication) 4. Komunikasi koersif (coersif communication) 5. Komunikasi instruktif (instructive communication) 6. Komunikasi manusiawi (human communication)

(32)

30 II.1.7 Teknik Komunikasi

Teknik berasal dari kata technicon, bahasa yunani, yang berarti kterampilan komunikasi, maka teknik komunikasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Jurnalistik (journalism)

2. Hubungan masyarakat (public relation) 3. Periklanan (advertising)

4. Publisitas (publicity) 5. Propaganda

(Effendy, 2006:8)

II.2 Komunikasi Massa

II.2.1 Pengertian Komunikasi Massa

Menurut pendapat Tan dan Wright, dalam Liwert 1991, komunikasi massa merupakan

bentuk komunikasi yang menggunakan saluran (media) dalam menghubungkan komunikator

dan komunikan secara massal, berjumlah banyak, bertempat tinggal yang jauh (terpencar),

sangat heterogen, dan menimbulkan efek tertentu. Defenisi komunikasi yang paling

sederhana dikemukakan oleh Bittner, yakni komunikasi massa adalah pesan yang

dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang (Ardianto, 2004: 3).

Dari defenisi tersebut dapat diketahui bahwa komunikasi massa harus menggunakan

(33)

31

(keduanya dikenal sebagai media elektronik) ; surat kabar dan majalah (keduanya disebut

sebagai media cetak) ; serta media film.

Ahli komunikasi lainnya, Joseph A. Devito merumuskan defenisi komunikasi massa

pada intinya merupakan penjelasan tentang pengertian massa, serta tentang media yang

digunakannya. Ia mengemukakan defenisinya dalam dua item, yakni “pertama, komunikasi

massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa, kepada khalayak yang liar biasa

banyaknya. Ini tidak berarti bahwa khalayak meliputi seluruh penduduk atau semua orang

yang menonton televisi, tetapi ini berarti bahwa khalayak itu besar dan pada umumnya agak

sukar didefenisikan. Kedua, komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh

pemancar-pemancar yang audio dan atau visual. Komunikasi massa akan lebih logis bila

didefenisikan menurut bentuknya : televisi, radio siaran, surat kabar, majalah dan film

(Ardianto, 2004, 6).

Dari beberapa defenisi komunikasi massa yang dikemukakan para ahli komunikasi,

nampaknya tidak ada perbedaan yang mendasar, bahkan defenisi tersebut saling melengkapi

satu sama lainnya. Bahkan secara tidak langsung dari pengertian komunikasi massa dapat

diketahui pula ciri-ciri komunikasi massa yang membedakannya dengan bentuk komunikasi

lainnya.

II.2.2 Karakteristik Komunikasi Massa

Seperti yang dikatakan oleh Severin dan Tankard, Jr bahwa komunikasi itu adalah

keterampilan, seni, dan ilmu, dikaitkan dengan pendapat Devito bahwa komunikasi massa itu

ditujukan kepada massa melalui media massa dibandingkan dengan jenis

komunikasi-komunikasi lainnya, maka komunikasi-komunikasi massa mempunyai ciri-ciri khusus atau karakteristik

(34)

32

Ada beberapa karakteristik komunikasi massa menurut Ardianto, yaitu sebagai berikut:

1. Komunikasi massa berlangsung satu arah

Hal ini berarti bahwa tidak terdapat arus balik dari komunikan kepada komunikator. Karena komunikasi yang dilakukan menggunakan media massa maka komunikator dan komunikan tidak dapat melakukan kontak langsung. Komunikator aktif menyampaikan pesan, komunikan pun aktif menerima pesan, namun diantara keduanya tidak dapat melakukan dialog. Dengan demikian, komunikasi massa bersifat satu arah.

2. Komunikator pada komunikasi massa melembaga

Media massa sebagai saluran komunikasi merupakan lembaga, yakni suatu institusi atau organisasi. Komunikator pada media massa, misalnya wartawan surat kabar atau penyiar televisi, karena media yang digunakan merupakan suatu lembaga dalam menyebarluaskan pesan komunikasinya bertindak atas nama lembaga, sesuai dengan ketentuan surat kabar atau stasiun televisi yang diwakilinya.

3. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum

Komunikasi massa bersifat terbuka, artinya komunikasi massa ditujukan untuk semua orang dan tidak ditujukan untuk sekelompok tertentu. Oleh karena itu, pesan komunikasinya bersifat umum dan mengenai kepentingan umum.

4. Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan

ciri lain dari komunikasi massa adalah memiliki kemampuan untuk menimbulkan keserempakan pada pihak khalayak dalam menerima pesan-pesan yang disebarkan. Dengan jumlah sasaran khalayak atau komunikan yang dicapai relative banyak dan tidak terbatas, dan komunikan yang banyak tersebut secara serempak pada waktu yang bersamaan memperoleh pesan yang sama pula.

5. Komunikasi bersifat heterogen

Khalayak yang merupakan kumpulan anggota masyarakat yang terlibat dalam proses komunikasi massa sebagai sasaran yang dituju komunikator bersifat heterogen. Dalam keberadaannya yang terpencar-pencar satu sama lain, tidak saling mengenal dan tidak memiliki kontak pribadi, serta perbedaan-perbedaan lain seperti : jenis kelamin, usia, agama, ideology, pekerjaan, pendidikan, pengalaman, kebudayaan, pandangan hidup, keinginan, cita-cita dan sebagainya. 6. Komunikasi massa mengutamakan isi ketimbang hubungan

Setiap komunikasi melibatkan unsur isi dan unsur hubungan sekaligus.Pada komunikasi antarpribadi, hal tersebut sangat penting. Sebaliknya, pada komunikasi massa yang penting adalah unsur isi. Dalam komunikasi massa, pesan harus disusun sedemikian rupa berdasarkan sistem tertentu dan disesuaikan dengan karakteristik media massa yang digunakan.

7. Stimulasi alat indra terbatas

Dalam komunikasi massa, stimulasi alat indra bergantung pada jenis media massa. Pada surat kabar dan majalah, pembaca hanya melihat. Pada siaran radio dan rekaman auditif, khalayak hanya mendengar. Sedangkan pada media televisi dan film, menggunakan indra penglihatan dan pendengaran.

(35)

33

Pada komunikasi massa, komunikator tidak dapat mengetahui kerangka acuan khalayak yang menjadi sasaran komunikasinya, umpan balik tidak berlangsung pada saat itu dan dinamakan umpan balik tertunda (delayed feedback).Hal ini karena sampainya tanggapan atau reaksi khalayak kepada komunikator memerlukan tenggang waktu. (Ardianto, 2004: 7-12).

II.2.3 Fungsi Komunikasi Massa

Fungsi komunikasi massa bagi masyarakat menurut Dominick, terdiri dari surveilance (pengawasan), interpretation (penafsiran), linkage (pertalian), transmission of values (penyebaran nilai) dan entertainment (hiburan).

1. Surveilance (pengawasan)

Fungsi pengawasan komunikasi massa dibagi dalam bentuk utama: (1) warning of beware surfeilance (pengawasan peringatan), (2) instrumental surfeilance (pengawasan instrumental). fungsi pengawasan peringatan terjadi ketika media

menginformasikan tentang ancaman dari angina topan, meletusnya gunung merapi,

kondisi efek yang memprihatinkan, tayangan inflasi atau adanya serangan militer.

Peringatan ini dengan serta merta dapat menjadi ancaman.Fungsi pengawasan

instrumental adalah penyampaian atau penyebaran informasi yang memiliki kegunaan

atau dapat membantu khalayak dalam kehidupan sehari-hari. Berita tentang apa yang

sedang dimainkan dibioskop, bagaimana harga-harga saham di bursa efek,

produk-produk baru, ide-ide tentang mode, resep masakan, dan sebagainya.

2. Interpretation (penafsiran)

Fungsi penafsiran hampir mirip dengan fungsi pengawasan. Media massa tidak hanya

memasok fakta dan data, tetapi juga memberikan penafsiran terhadap

kejadian-kejadian penting. Organisasi atau industri media memilih dan memutuskan

(36)

34

mengajak para pembaca atau pemirsa memperluas wawasan dan membahasnya lebih

lanjut dalam komunikasi antarpribadi atau komunikasi kelompok.

3. Linkage (pertalian)

Media massa dapat menyatukan anggota masyarkat yang beragam, sehingga

membentuk linkage (pertalian) berdasarkan kepentingan dan minat yang sama tentang sesuatu.

4. Transmission of values (penyebaran nilai-nilai)

Fungsi penyebaran nilai tidak kentara.Fungsi ini juga disebut socialization (sosialisasi). Sosialisasi mengacu kepada cara, dimana individu mengadopsi perilaku

dan nilai kelompok. Media massa yang mewakili gambaran masyarakat itu ditonton,

didengar dan dibaca. Media massa mewakili dengan model peran yang kita amati dan

diharapkan menirunya.

5. Entertainment (hiburan)

Mengenai hal ini memang jelas tampak pada televisi, film, dan rekaman suara. Media

massa lainnya seperti surat kabar dan majalah, meskipun fungsi utamanya adalah

informasi dalam bentuk pemberitaan, rubrik-rubrik hiburan selalu ada, misalnya cerita

pendek, cerita panjang, atau cerita bergambar.

(Arianto, 2004: 15-18).

II.3 Komunikasi Pemasaran

(37)

35

Doyle, Peter (2000) dalam bukunya ‘Value Based Communications’ menyatakan bahwa suatu perusahaan tidaklah cukup hanya memproduksi suatu

produk yang bagus namun perusahaan tersebut harus pula mengkomunikasikan nilai

dari produknya kepada para konsumen potensial secara efektif. Pada saat ini produk

yang bersaing untuk menarik perhatian konsumen sangatlah besar sehingga meraih

perhaian mereka menjadi masalah utama. Berkenaan dengan hal ini diperlukan

komunikasi pemasaran untuk membuat konsumen mengenal suatu produk,

mengkomunikasikan nilai fungsional dan atribut emosional produk tersebut, merayu

konsumen dengan kelebihan produk tersebut dibandingkan dengan produk kompetitor

sejenis, dan memastikan konsumen pernah membeli produk tersebut walaupun hanya

sekali. Bagi perusahaan baru, jika tidak memperhatikan masalah komunikasi ini maka

penawaran yang dilakukan akan lambat naiknya, produk yang diciptakan akan ditiru

oleh kompetitor, dan tentu saja perusahaan tersebut akan gagal dalam mencapai

tingkat proporsi pemasaran yang penting untuk meraih masa kritis. Sedangkan, untuk

perusahaan yang telah mapan, kemampuan komunikasi yang tidak memadai akan

meningkatkan resiko untuk tidak dihargai oleh konsumennya dan competitor baru

akan mengikis citra perusahaan tersebut dalam kepemimpinan dan inovasi.

(Sumarwan, dkk; 2013: 345-346)

II.3.2 Jenis Komunikasi pemasaran

Jenis komunikasi pemasaran yang terlibat dalam hal ini dapat berwujud

sebagai berikut:

a. Periklanan

b. Promosi penjualan

(38)

36 d. Penjualan perseorangan

e. Respon langsung

Kemajuan di teknologi informasi memberi arti bahwa saat ini komunikasi

dipandang hubungan dua arah atau proses interaktif. Hal ini tidak hanya menyangkut

masalah penyiaran informasi suatu perusahaan dan produk yang dihasilkan, namun

jga menemukan cara untuk mendorong konsumen agar mengungkapkan kebutuhan

mereka dan tingkat kepusan mereka terhadap produk dan layanan yang tersedia.

Ada dua tipe utama maslaah komunikasi pemasaran, yaitu keterlibatan yang

besar (high involvement) dan keterlibatan yang rendah (low involvement).Situasi pembelian dalam keterlibatan yang besar, pembeli mencari informasi yang

berhubungan dengan keuntungan emosional yang diatawarkan produk saingan. Fungsi

komunikasi disini adalah untuk membantu memecahkan masalah ini dengan

menyediakan informasi untuk membawa mereka kedalam proses pengenalan produk

dan membangun sikap yang mendorong mereka untuk membeli produk tersebut.

Fungsi komunikasi disini bukan lagi membujuk konsumen untuk mencobanya, tetapi

memperkuat kebiasaan konsumen untuk membeli.

Masalahnya menjadi kontroversial dalam situasi keterlibatan rendah ketika

pembelanjaan pemasaran dan komunikasi tidak meningkatkan penjualan.Penempatan

posisi produk yang tepatdengan nilai konsumen yang atraktif (manfaat yang

diharapkan lebih besar daripada biaya yang diperkirakan) dan sistem distribusi

pemasaran secara menyeluruh tanpa program komunikasi pemasaran yang baik.

Apabila target konsumen tidak perduli terhadap produk dan manfaatnya serta biaya

dan nilainya maka hanya ada sedikit peluang merek akan melakukan

(39)

37 II.3.3 Tujuan Komunikasi Pemasaran

Ada tiga tujan dasar dalam komunikasi pemasaran yang masing-masing dapat

menjadi fokus dari komunikasi pemasaran tersebut, yaitu:

1. Membangun kesadaran: yaitu membangun suatu tingkat kepedulian

tertentu terhadap informasi penting yang disampaikan berkenaan dengan

organisasi produk atau jasanya.

2. Penetrasi pesan: mempertahankan tingkat keberadaan tertentu yang

diharapkan dari citra (image), manfaat utama, dan pengenalan nama dari waktu ke waktu di memori konsumen

3. Rangsangan melakukan tindakan: memotivasi konsumen yang disasar

(target customers) agar serta mengambil tindakan tertentu karena penetrasi pesan dan tindakan hanya dapat terjadi setelah konsumen memiliki tingkat

kepedulian tertentu, perusahaan perlu terlebih dahulu membangun

kesadaran dan pemahaman sebelum melangkah kepada tujuan komunikasi

pemasaran lainnya.

II.4 Iklan

II.4.1 Defenisi Iklan

Periklanan adalah bagian penting dari dari banyak strategi

pemasaran.Positioning dan komunikasi yang disampaikan melalui iklan seringkali menentukan kejelasan dan waktu untuk usaha penjualan serta promosi lainnya.iklan

tidak hanya merupakan elemen yang menentukan dari bauran pemasaran (marketing mix) tetapi juga menghabiskan biaya yang sulit dievaluasi. Ini disebabkan karena tidak mudah untuk menulusuri naiknya tingkat penjualan yang terkait dengan

(40)

38

Kasali (1995: 10) mengemukakan kata iklan (advertising) berasal dari bahasa yunani yang artinya “mengubah jalan konsumn untuk membeli”. Iklan adalah segala

bentuk presentasi non-pribadi dan promosi gagasan barang atau jasa oleh sponsor

tertentu yang harus dibayar (Kotler, 2005:277).

II.4.2 Fungsi Iklan

Adanya iklan berfungsi agar pesan yang disampaikan dalam iklan dapat

sampai kepada audience. Ada beberapa fungsi iklan antara lain adalah sebagai

berikut:

1. Informing (memberi informasi)

Periklanan membuat konsumen sadar (aware)akan merek-merek baru dan mendidik mereka terhadap berbagai fitur dan manfaat merek, serta

memfasilitasi penciptaan citra merek (brand image) yang positif. Karena merupakan suatu bentuk komunikasi yang efektif, berkemampuan

menjangkau khalayak luas dengan biaya yang relatif rendah.Periklanan

memfasilitasi pengenalan (introducing) merek-merek baru, meningkatkan jumlah permintaan terhadap merek yang sudah ada dan meningkatkan

puncak kesadaran dalam benak konsumen (TOMA- top of mind awareness) untuk merek-merek yang sudah ada dalam kategori produk yang matang.

2. Persuasing (membujuk)

Iklan yang efektif akan mampu mempersuasi (membujuk) pelanggan

untuk mencoba produk dan jasa yang diiklankan. Persuasi berbentuk

mempengaruhi permintaan primer.Yakni, menciptakan permintaan bagi

(41)

39

membangun permintaan sekunder, yaitu permintaan bagi merek

perusahaan yang spesifik.

3. Reminding (mengingatkan)

Iklan menjaga agar merek perusahaan tetap segar dalam ingatan para

konsumen saat kebutuhan muncul yang berhubungan dengan produk yang

diiklankan. Dampak periklanan di masa lalu dapat memungkinkan merek

pengiklan untuk hadir di benak konsumen sebagai suatu kandidat merek

yang akan dibeli.

4. Adding value ( memberikan nilai tambah)

Periklanan memberi nilai tambah pada merek dengan mempengaruhi

persepsi konsumen.Periklanan yang efektif menyababkan merek

dipandang lebih elegan, lebih bergaya, lebih bergengsi, dan bisa lebih

unggul dari tawaran pesaing.

5. Assisting (bantuan untuk upaya lain perusahaan)

Pada saat-saat lain, peran utama periklanan adalah sebagai pendamping

yang memfasilitasi upaya-upaya lain dari perusahaan dari proses

komunikasi pemasaran. Peran penting lain dari periklanan adalah

membantu perwakilan penjualan. Ikaln mengawali produk-produk

penjualan dan memberikan pendahuluan yang bernilai bagi wiraniaga

sebelum melakukan kontak personal dengan para pelanggan yang

perspektif. (Shimp, 2003: 357).

II.4.3 Tujuan Periklanan

Tujuan periklanan yang utama adalah menjual atau mengiklankan penjualan barang,

(42)

40

segera, meskipun banyak juga penjualan yang baru erjadi pada waktu mendatang. Dari segi

lain, periklanan yang periklanan yang rill adalah mengadakan komunikasi secara efektif.

Pemasaran bertujuan memberitau serta memberi petunjuk kepada pembeli potensial

dan untuk meningkatkan penjualan. Dalam periklanan diusahakan agar dapat menarik

perhatian, minat, keinginan, keyakinan, serta menimbulkan tindakan membeli dengan

memanfaatkan media yang tersedia seperti televisi, majalah, surat kabar dan lainnya.

II.4.4 Dampak Iklan

Menurut Kasali ( 1995: 45) berpendapat bahwa secara umum iklan mempunyai

dampak untuk:

1. Menarik calon konsumen menjadi konsumen loyal selama jangka waktu tertentu.

2. Mengembangkan sifat positif calon konsumen yang diharapkan menjadi pembeli

yang potensial di masa yang mendatang.

II.4.5 Strategi Periklanan

1. Periklanan yang berorientasi pada manfaat produk atau keistimewaan produk (producy benefit or oriented advertising)

Strategi iklan yang berorientasi pada manfaat produk atau

keistimewaan-keistimewaan produk adalah suatu strategi periklanan yang mengkomunikasikan

kegunaan atau keistimewaan suatu merek atau produk kepada konsumen. Hasil

yang diperoleh akan lebih memuaskan jika product featureatau product benefit yang ditonjolkan bersifat unik,dalam arti tidak memiliki pesaing.

(43)

41

Strategi ini merupakan suatu cara untuk memberikan atau menempelkan suatu

kepribadian (personality) pada suatu merek. Strategi ini sering dijadikan bila produk yang diiklankan tidak memiliki product feature atau benefit yang unik. 3. Periklanan yang berorientasi pada permasalahan atau peluang (problem or

opportunity oriented advertising)

Strategi iklan ini merupakan strategi periklanan yang dijalankan dengan mencari

permasalahan suatu produk untuk dinetralisir melalui iklan.Alternatif lainnya

adalah mencari peluang untuk dieksplor dalam periklanan. Strategi ini didasarkan

pada pandangan selama masih ada sales resistance problem, mayoritas konsumen tidak akan mau membeli produk tersebut. Karena itu, permasalahan tersebut harus

diatasi oleh pabriknya maupu n melalui periklanan.

4. Periklanan yang berorientasi pada kompetitif (competitive positioning oriented advertising)

Sebagai akibat perkembangan ekonomi dan teknologi informasi, konsumen atau

calon konsumen dipaksa menerima informasi diluar batas kemampuan untuk

menyimpan dan mengingatnya. Kita dipaksa menyimpan jutaan nama perusahaan,

produk, merek, tempat, nama orang, konsep dan sebagainya. Akhirnya dikepala

manusia nama-nama itu disederhanakan, disusun menurut tangga-tangga.Anak

tangga teratas dipersiapkan sebagai yang paling bermutu, tangga kedua untuk

merek kedua, dan seterusnya.Hal ini tidak mudah sebab ini menyangkut persepsi

bagaimana meyakinkan calon pembeli bahwa produk tersebut berada di tangga

pertama.Posisi ini dicapai melalui suatu komunikasi periklanan dengan strategi

merebut sepotong kapling dari suatu ceruk yang masihtersedia di pasaryang

(44)

42

Dari penjelasan diatas, maka kita dapat melihat bahwa iklan dan komunikasi pemasaran

adalahhal yang saling melengkapi.

II.5 Media Iklan

Media iklan merupakan alat yang digunakan dalam kegiatan periklanan.Media

bukanlah suatu penyampaian berita yang pasif, bahkan sering media itu dapat mempengaruhi

efektivitas beritanya. Adapun faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan media

adalah: tujuan periklanan, sirkulasi media, keperluan berita, waktu dan lokasi dimana

keputusan membeli dibuat, biaya advertesi, kerjasama dan bantuan promosi yang

diatawarkan, dan karakteristik media, kebaikan dan keburukan media. Media periklanan

adalah sebuah lembaga yang mempunyai kegiatan usaha (alat komunikasi/penerangan) yang

ditujukan kepada orang banyak atau masyarakat umum. Beberapa contoh media adalah:

televisi, radio, majalah, dan surat kabar (Swasta, 2000: 257).

Dalam kenyataannya sering kita jumpai bahwa perusahaan sering menggunakan

beberapa media sekaligus dalam periklanan. Disamping menggunakan media televisi juga

menggunakan media surat kabar. Hal ini dipandang perlu karena masing-masing jenis media

memiliki karakteristik yang bergerak sekalipun hanya dinikmati lebih lama meskipun

gambarnya tidak bergerak dan tanpa suara.

II.6 Media iklan Televisi

Perangkat televisi dari hari ke hari menjadi sumber informasi yang utama di dalam

keluarga.Sektor komunikasi terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi dan

(45)

43

perusahaan-perusahaan dalam mengiklankan produknya agar lebih dikenal oleh

masyarakat.Televisi menjadi media yang begitu digemari dalam mengiklankan produk yaitu

karena memasang iklan di televisi memberi dampak yang besar dan cepat.

II.6.1 Bentuk Iklan di Televisi

Iklan televisi terdiri dari beberapa bentuk, Kasali mengemukakan bentuk-bentuk iklan di televisi:

1. Pensponsoran

Banyak sekali acara televisi yang penayangannya dan pembuatannya dilakukan atas biaya sponsor atau pengiklan. Pihak sponsor bersedia membiayai seluruh biaya produksi plus fee untuk televisi.

2. Partisipasi

Bentuk iklan di televisi ini agak berbeda dengan bentuk sebelumnya,namun akan dapat mengurangi beban biaya dan resiko. Melalui iklan sepanjang 15, 30 dan 60 detik, iklan disisipkan diantara satu atau beberapa acara (spots)

3. Spots announcements

Bentuk iklan televisi ini mengacu pada pengertian announcement iklan tersebut ditempatkan pada pergantian acara.

4. Public service announcement

Bentuk iklan ini biasanya dimuat atas permintan pemerintah atau suatu LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) untuk menggalang solidaritas masyarakat atas suatu masalah. (Kasali, 1993: 121)

II.6.2 komponen dalam Iklan Televisi

Iklan televisi biasanya mempunyai empat komponen yang penting dalam mendesain

tampilannya, yaitu: gaya penyampaian, nada penyampaian, pilihan kata-kata, dan unsur

format. Keempat komponen tersebut merupakan bagian dari kreativitas dalam menyampaikan

suatu citra dan pesan yang terpadu dalam melaksanankan pesan.

Menurut Kotler (2001: 154-160) para pembuat atau pemasang iklan televisi harus

mempunyai konsep kreatif. Biasanya, penulis naskah iklan dan pengarah seni akan

bekerjasama untuk menghasilkan banyak konsep kreatif, dengan harapan salah satu dari

konsep-konsep tersebut akan menjadi ide besar yang menarik. Oleh karena itu, para pembuat

iklan harus menentukan gaya penyampaian, pilihan kata, dan unsur format yang menarik

(46)

44 a. Gaya penyampaian

Semua pesan biasanya dapat disajikan dengan berbagai gaya penyampaian, sesuai

dengan pesan yang akan disampaikan kepada konsumen.

b. Pilhan kata-kata

Pembuat iklan harus menggunakan kata-kata yang dapat menarik perhatian

konsumen. Selain itu juga penulis iklan di tuntut untuk jeli melihat bagaimana

kata-kata yang dirangkainya akan muncul dimata para calon pembeli. Penataan

kata yang teliti dan cermat akan sangat membantu menarik perhatian. Oleh karena

itu, pilihlah kata-kata yang dapat dimengerti, dapat dipahami, sopan, dan mudah

diingat, sehingga konsumen akan mudah memahami pesan yang disampaikan

yang pada akhirnya pesan tersebut akan dengan mudah mendapat respon dari

konsumen (Kasali, 1993: 84-85).

c. Nada penyampaian

Komunikator harus memilih nada yang tepat untuk iklannya. Setiap iklan harus

menyatakan sesuatu yang bersifat positif tentang produk atau dengan kata lain

bahwa produknya adalah yang terbaik. Komunikator harus bisa menggunakan

nada penyampaian yang tepat, bentuk bahasa yang tepat, dan cocok, sehingga

pesan yang telah disampaikan akan dipercaya oleh konsumen (Sulaksana, 2003:

61-64).

d. Unsur format

Unsur format seperti ukuran iklan, gambar, warna, dan ilustrasi akan sangat

mempengaruhi dampak iklan maupun biayanya. Iklan ukuran besar menarik lebih

banyak perhatian, walau tidak sebesar biaya yang dikeluarkan. Gambar, warna,

dan ilustrasi yang menarik akan meningkatkan efektivitas iklan. Sehingga akan

(47)

45 II.6.3 Kelebihan Iklan di Televisi

Iklan di televisi mempunyai beberapa kelebihan. Kelebihan iklan televisi antara lain:

dapat dinikmati oleh siapa saja, waktu dan siarannya sudah tertentu. Dapat memberikan

kombinasi antara suara dengan gambar yang bergerak (Swasta, 2000: 255).

Sedangkan menurut Frank Jeffkins memyatakan bahwa kelebihan-kelebihan iklan

televisi adalah sebagai berikut:

1. Kesan realistik

Sifatnya yang visual dan merupakan kombinasi warna-warna, suara dan gerakan

membuat iklan-iklan di televisi Nampak begitu hidup nyata kelebihan ini tidak

dimiliki oleh media lain. Dengan kelebihan ini, para pengiklan dapat

menunjukkan dan memamerkan kelebihan dan keunggulan produknya secara

detail.Jika produk itu sebuah makanan awet, maka pengiklan dapat menunjukkan

kemasan yang khas secara jelas sehingga para konsumen dapat dengan mudah

mengenalinya di toko-toko. Sekalipun ingatan konsumen terhadap apa yang

diiklankan timbul tenggelam, namun iklan visual akan menancapkan kesan yang

lebih dalam, sehingga para konsumen begitu melihat produknya akan segera

teringat iklannya di televisi. Pengaruh ini dapat diperkuat lagi, jika pembuatan

iklannya dilakukan dengan teknologi grafis computer.

2. Repetisi/pengulangan

Iklan televisi dapat ditayangkan hingga beberapa kali dalam sehari sampai

(48)

46

menyaksikannya, dan dalam frekuensi yang cukup sehingga pengaruh iklan itu

bangkit.Dewasa ini, para pembuat iklan televisi tidak lagi berpanjang-panjang.

Mereka justru membuat iklan televisi yang singkat namun semakin menarik , agar

ketika ditayangkan pemirsa tidak bosan.

3. Masyarakat lebih tanggap

Ditayangkannya iklan televisi yang biasanya ditonton pada saat kita dirumah dan

bersantai bersama keluarga, maka masyarakat lebih siap memberikan

perhatian(dibandingkan dengan iklan poster yang dipasang ditengah jalan,

masyaakatsibuk dengan aktifitasnya, menuju suatu tempat atau akan bergegad ke

kantor tentunya tidak akan sempat memperhatikannya). Perhatian terhadapiklan

televisi akan semakin besar, jika materinya dibuat dengan standar teknis yang

tinggi, dan menggunakan tokoh-tokoh ternama sebagai pemerannya.

4. Adanya pemilihan arena siaran (zoning) dan jaringan kerja (networking) yang

mengefektifkan jangkauan masyarakat. Seorang pengiklan dapat menggunakan

satu kombinasi atau banyak kombinasi stasiun televisi sekaligus untuk membuat

iklannya, bahkan ia bisa saja membuat jaringan kerja dengan semua stasiun

televisi, sehingga iklannya akan ditayangkan oleh semua stasiun televisi.

5. Terkait dengan media lain.

Tayangan iklan di televisi mungkin saja terlupakan begitu cepat, tetapi kelemahan

ini bisa diatasi dengan wahana iklan lain (Jefkins, 1997: 110-113).

II.6.4 Kelemahan iklan di televisi

Jika iklan televisi begitu berpengaruh bahkan terkesan sebagai media iklan yang

(49)

47

terus dominan sebagai wahana iklan, hal ini disebabkan karena iklan-iklan televisi juga

memiliki kelemahan.

Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Frank Jefkins yang menyatakan

kelemahan-kelemahan iklan adalah:

1. Televisi cenderung menjangkau pemirsa secara massal sehingga pemilihan (untuk

membidik pangsa pasar tertentu) sering sulit dilakukan. Pihak pengiklan akan

lebih selektif dalam membidik pangsa pasar yang dikehendakinya kalau ia

menggunakan media pers.

2. Jika yang diperlukan calon pembeli dalah data-data yang lengkap mengenai suatu

produk atau perusahaan pembuatnya, maka televisi tidak akan bisa menandingi

media pers.

3. Karena pemirsanya yang sulit dipilah-pilah, maka iklan televisi justru terbilang

mahal, apalagi terdapat ribuan iklan lainnya yang membujuk, sehingga pangsanya

Nampak lebih kecil. Semuanya itu tidak memberikan alas an yang sah atas

mahalnya iklan televisi, dan wajar saja kalai para pengiklan kemudian memilih

media cetak untuk iklan mereka.

4. Hal-hal kecil lainnya bisa dan biasa dikerjakan banyak dikerjakan orang sambil

menonton, sama seperti mereka mendengarkan siaran radio. Akibatnya,

konsentrasi mereka terpecah. Kemungkinan “zipping” menambah peluang

terpecahnya pemirsa iklan. Seoarang pemirsa yang merasa terganggu oleh adanya

iklan dapat mengeliminasi iklan atau suaranya. Atau mengganti saluran dengan

menggunakan remote control. Jika memutar iklan program-program rekaman,

mereka dapat melewati iklan iklan-iklan yang disisipkan pada acara yang hendak

mereka nikmati dengan teknik “zipping”, yaitu menggunakan tombol percepat

(50)

48

5. Karena pembuatan iklan televisi butuh waktu yang cukup lama, maka ia tidak

cocok untuk iklan-iklan khusus atau bahkan yang bersifat darurat yang harus

segera mungkin disiarkan (misalnya iklan konser yang akan berlangsung dua hari

lagi).

6. Di Negara-negara yang memiliki cukup banyak stasiun televisi, atau yang jumlah

total pemirsanya relative sedikit, biaya siaran mungkin cukup rendah sehingga

memungkinkan iklan ditayangkan panjang dan berulang-ulang, hal ini dapat

membuat pemirsa bosan.

7. Kesalahan serius yang dibuat produsen iklan televisi, menggunakan model atau

penyaji yang sama dengan iklan lainnya akan membuat pemirsa bingung dan

bosan. (Jefkins, 1997: 113-115).

II.7 Teori AIDDA

AIDDA adalah akronim dari kata-kata Attention (perhatian), Interest (perhatian), Desire (hasrat), Decision (keputusan), dan Action (kegiatan). Konsep AIDDA ini adalah proses psikologis pada diri khalayak. Berdasarkan konsep

AIDDA itu khalayak akan membaca dan melakukan action apa yang dianjurkan pihak penyusun berita atau tajuk atau artikel, maka pertama-tama mereka harus

membangkitkan perhatiannya (attention).

Sebuah iklan akan memberikan efek bagi responden yang mendengarkan dan

atau menyaksikan sebuah iklan, adapun efek iklan menurut Jefkins (1997:

234-235) adalah:

Gambar

Tabel 3.2 Operasional variabel
Tabel 4 Intensitas menonton
Tabel 5
Tabel 7
+7

Referensi

Dokumen terkait

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tayangan iklan BlackBerry di televisi terhadap minat beli mahasiswa FISIP USU, untuk mengetahui

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) hubungan antara sikap terhadap iklan televisi produk TjeFuk dengan intensi membeli, (2) tingkat sikap terhadap

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP IKLAN KOMERSIAL DI TELEVISI DENGAN INTENSI MEMBELI PADA.. PRODUK

Penggambaran stereotype perempuan dalam iklan kecantikan di televisi yang telah menjadi budaya populer di masyarakat antara lain adalah tayangan iklan kecantikan

Sebagai informasi pada perusahaan yang memproduksi, dan memasarkan produk pond’s, tentang hubungan ketertarikan iklan pond’s di televisi dengan keputusan membeli produk Pond’s

TERPAAN IKLAN AXIS DAN KEPUTUSAN MEMBELI (Study Analisis Korelasi Antara Terpaan Iklan AXIS Pada Media Televisi Dan Faktor Lingkungan Sosial Pengguna AXIS Dengan

Dalam sebuah penelitian, peneliti membatasi objek masalah yang akan diteliti yaitu: Iklan yang diteliti adalah tayangan iklan televisi rokok Djarum 76 dalam episode

Sumber : Lemonilo.com Gambar 4.1 Contoh Iklan Mie Lemonilo di Televisi Dari gambar diatas dapat terlihat beberapa contoh tayangan iklan produk mie instan alami Lemonilo di Televisi